• Kabut 1 : Rahasia Perjalanan

    Kabut 1 : Rahasia Perjalanan


    146 views

    Ceritamaya | Suatu malam sekitar pukul 11 malam dalam keadaan hujan angin yang mulai

    mereda, aku dan istriku dalam kendaraan merasakan kedinginan.

    Sialnya, tiba-tiba ban kendaraanku kempis, sehingga dengan terpaksa aku
    menghentikan kendaraan dan aku memaksakan kendaraanku berhenti di depan
    sebelah kiri sebuah warung yang kebetulan masih buka.

    Segera setelah turun, akupun mulai mengganti ban yang kempis, sementara
    istriku masih di dalam kendaraan…
    Mungkin entah hawa dingin yang menggigit sehingga perutkupun melilit lapar
    dan rasa lapar itu juga dirasakan istriku.
    “Mas, aku lapar …. Ke warung itu dulu, yaa…”kata istriku yang malam itu
    mengenakan blouse ketat dan tampak olehku payudara montok nya yang
    berukuran 36C menantang.

    “Setelah ini selesai, dik..”kataku
    “Aku lapar banget nich….”katanya dan akupun tak melarang istriku menuju
    warung itu, karena ku pikir aku dapat melihat dari tempat aku mengganti
    ban kendaraanku.
    Kulihat pula, saat istriku di pintu warung lekuk tubuh dan pinggul istriku
    tercetak jelas dan bahkan rok klok elastis ketat di pinggul tampak
    menerawang sehingga paha padat dan selangkangan istriku tampak jelas
    Sekitar 15 menit kemudian aku selesai, dan aku menuju warung itu.
    Aku celikukan masuk ke dalam warung itu, saat kulihat istriku tak ada di
    dalam, hanya penjaga warung tua sekitar 70 tahunan dan seorang lelaki tua
    berambut gondrong berumur sekitar 60 tahunan dengan memakai ikat kepala.

    “Minum apa, mas?”kata penjaga warung tua itu
    “Kopi, pak..”jawabku sambil mataku nanar mencari cari kemana gerangan
    istriku.

    Aku hanya diam, saat lelaki tua berambut gondrong dan memakai ikat kepala
    itu duduk di sebelahku, aku tersenyum, dan tak lama penjaga warung tua itu
    memberikan secangkir kopi kental panas.

    “Pak, maaf… Bapak tidak melihat…
    “Oooo itu istri mas?”kata lelaki tua berambut gondrong di sebelahku sambil
    menepuk pundakku.

    Setelah tepukan itu, tubuhkupun menggigil sejenak dan hatikupun serasa
    ciut, gilanya nyalikupun ikut-ikutan ciut.

    “Mungkin istri mas lagi cebok…”katanya sambil memandang tajam padaku.
    Nyalikupun menghilang entah kemana, dan aku hanya terlonggong saat lelaki
    tua itu meneruskan bicaranya yang begitu menyakitkanku.

    “Istri mas suka cebok sendiri atau diceboki?”katanya dengan senyum yang
    mencibir dan tangannya menarik tangan kananku.
    “Yok kita lihat istri mas yang sedang cebok….”katanya dan seperti kerbau
    dicocok hidungnya aku mengikuti lelaki tua berambut gondrong dengan ikat
    kepala itu ke dalam warung dari bambu itu.

    Lelaki tua itu menarikku ke sebuah bilik kecil yang gelap dan menyuruhku
    duduk di sebuah bangku menghadap dinding bambu itu yang mempunyai cela itu
    sehingga sinar dari bilik di sebelahnya masuk.
    Belum sempat aku berpikir
    “Mau lihat istrimu cebok, mas..?”katanya sambil mendorong kepalaku ke arah
    celah itu dan deeeeer…….. seperti petir di siang bolong….aku begitu tak
    percaya….

    Istriku yang mungil dengan tinggi 155 cm dan usianya yang 40 tahun,
    istriku masih tampak 6 tahun lebih muda dari usia sesungguhnya karena
    rambutnya yang dipotong pendek juga sifatnya yang supel dan enerjik
    Istriku yang dikenal sebagai wanita terhormat dan agak mirip-mirip bintang
    blue film Hong Kong yang sexy itu.

    Mataku serasa lepas saat kulihat istriku tengah berdiri di depan seorang
    lelaki tua kepala botak yang duduk di ranjang bambu berumur antara 60 – 70
    tahun seperti penjaga warung dan lelaki tua yang mengajakku ke kamar
    dimana aku disuruh duduk seperti seorang pesakitan yang terjerat ratusan
    pasal yang memberatkan hukumanku.

    Lelaki tua botak itu tengah melotot melihat istriku yang tidak berdiri
    saja, melainkan tangan kiri istriku memegang bagian depan rok klok elastis
    ketat di pinggul sehingga selangkangan istriku dengan bulu kemaluan yang
    lebat tersingkap jelas di depan mata rabun lelaki tua itu.

    “Cepaaat gosok tempikmu, Jeng Yati …..”kata lelaki tua botak itu dan
    menyebut nama istriku dan aku semakin tertegun saat kulihat tangan kanan
    istriku dengan cepat menggosok-gosok bibir vagina nya sendiri dan kudengar
    istriku mendesis-desis dengan mata terpejam dan tak lama kemudian kudengar
    suara kecepak dari arah selangkangan istriku.
    Aku semakin bergidik saat suara kecepak lendir vagina istriku keras
    menandakan nafsu istriku sudah memanas, dan aku tak habis pikir karena
    setahuku selama ini istriku tak pernah melakukakan menggosok-gosok
    selangkangan nya sendiri.

    “Buka tempikmu, Jeng Yati ….”kata lelaki tua botak itu memerintah istriku
    dan aku melihat jelas bagaimana jari-jari istriku membuka lebar bibir
    vagina nya sehingga tampak jelas liang vagina berwarna pink terkuak lebar.

    “Lepas……”
    “Bukaaa…Jeng Yati …. Lepas…. Buka ….”perintah lelaki tua berkepala botak
    itu dan desahan berat nafas istriku semakin keras dan bunyi kecepak lendir
    vagina istriku semakin jelas terdengar di bilik bambu itu.

    “Sekarang elusi itilmu, Jeng Yati …”perintah lelaki tua berambut gondrong
    itu dan istriku pun benar-benar mengelus kelentit nya sendiri disertai
    erangan
    “Mbbbbaaaaaaaaacchhhhhhh……..”desis istriku dan pantat bahenol mengelinjang
    karena elusan jari tangannya sendiri ke kelentit istriku.
    “Ayo gosok cepat itil mu Jeng Yati …… cepaat Jeng Yati ….”perintah lelaki
    tua botak itu dan erangan dan desisan istriku pun memenuhi bilik bambu itu

    “Mbaacch …mbaaachhh … mbaaaacghhhh …..”istriku merintih dan mendesis saat
    jari tangan istriku sendiri menggosok-gosok kelentit nya dan tak ayal lagi
    pantat bahenol istriku dan selangkangan istriku bergoyang keras seperti
    penyanyi dangdut terkenal.
    “Aduuch mbaah ….aducch mbaaah …zzzuuuuamikuuuu …mbaaaghhh … akuu ….
    Nggaaaak tahaaaan mbaaaaaacgghhhh …..mbaaaaaaaaaaaaaaaaghhhhhhh …. “
    “Cepaat Jeng Yatiiiiii…..Cepaaat ……” teriak lelaki tua berkepala botak
    seolah suporter yang memberikan dukungan pada idolanya dan
    “Mbbbbaaaaaaaaaacccghhhh akuuuuuu ….. keluaaaarr ….. Ngngngngngng
    ……..”istriku mengerang keras disertai pantat bahenol istriku yang
    tersentak-sentak tak karuan saat orgasme nya meledak.
    Istriku seorang wanita terhormat, dan kulihat baru kali ini melakukan
    masturbasi bukan di depan suaminya tapi di depan lelaki tua berkepala
    botak, yang selayaknya jadi kakeknya, dan aku tak tahu asal usul dan dari
    kelas ekonomi yang berbeda dariku dan istriku.

    Sejenak aku berpikir seperti itu, dan aku melihat istriku limbung dan
    dengan cepat lelaki tua berkepala botak beruban itu dengan sigap memeluk
    tubuh istriku yang limbung…

    Kedua mata lelaki tua berkepala botak beruban itu nanar menjelajahi
    gundukan payudara montok istriku yang masih terbungkus blouse ketat dan
    aku semakin tertegun saat kutahu istriku hanya mengenakan BH tipisnya
    sehingga kedua puting susu istriku tampak mencuat dari balik blouse ketat
    nya….
    “Mbbaaacchhh zzuuudaaaachhh …. Zuuuuamikuuuu naanti ke siiiniii….”desis
    istriku menghiba dengan kedua mata terkatup…

    “Diaam ….. suamimu sudah tak berkutik ….sudah diurus anak buahku
    ….”katanya sambil mendudukkan istriku yang sudah loyo di ranjang bambu di
    sebelah kirinya..
    “Mbaaaah…..”istriku mendesih jari-jari tangan kanan istriku meremas
    pergelangan lelaki tua berkepala botak beruban itu saat kulihat jari-jari
    tangan lelaki tua yang besar-besar itu tengah mengelus-elus bergantian
    kedua puting susu istriku yang mencuat dari balik blouse ketat nya.
    “Zzzuudaaach mbaaaah …”istriku mendesis dan lelaki tua berkepala botak
    beruban itu tak mengindahkan desisan istriku bahkan jari-jari tangan kanan
    lelaki tua yang besar-besar itu malah memelintir sambil menarik-narik
    puting susu sebelah kanan istriku … tidak itu saja tangan kirinya yang
    memeluk istriku yang loyo itupun menyusup diantara ketiak kiri istriku dan
    jari-jari tangan kiri lelaki tua yang besar-besar itu ikut pula memencet,
    memelintir sambil menarik narik puting susu kiri istriku …..

    Kabut 1 : Rahasia Perjalanan

    “Mbaaaah .. zzudaaah mbaaaah … heeeh … oooccghh …mbaaaah …..”istriku
    mendesis desis dan lelaki tua itupun sudah merasa telah menguasai istriku
    dan jari-jari tangan kanan lelaki tua yang besar-besar itu dengan cepat
    melepas satu per satu kancing blouse ketat istriku dan gundukan payudara
    montok istriku yang seolah akan tumpah keluar dari BH tipisnyapun membuat
    jakun lelaki tua berkepala botak beruban.

    Dengan satu tarikan terputuslah tali BH istriku dan terkuallah kedua
    payudara montok istriku dengan kedua puting susu hitam sebesar kelingking
    menjulang kaku…..
    “Mbaaaaaaaaaaacccghhhhh ….. “istriku mengerang saat dengan kasarnya kedua
    tangan lelaki tua berkepala botak beruban itu meremas-remas kedua payudara
    montok istriku dan jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu tanpa
    ampun memencet, memelintir sambil menarik narik kedua puting susu hitam
    sebesar kelingking …..
    Kedua tangan istriku hanya dapat memengang pergelangan tangan lelaki tua
    berkepala botak beruban itu tanpa perlawanan, dimana nafsu istriku sudah
    menguasai dirinya
    Kedua mata istriku sayu memandang ke depan …

    “Pentilmu besar, Jeng Yati ….. mbah suka pentil besar …”katanya diantara
    dengusan nafas tuanya dimana mulut ompongnya melumat telinga kanan
    istriku, leher istriku yang mengerang, mendesah dan mendesis merasakan
    kesakitan dalam nikmat saat bersamaan kedua tangan keriput itu
    meremas-remas payudara montok istriku secara kasar dan seolah tanpa
    kasihan memencet, memelintir sambil menarik narik kedua puting susu hitam
    sebesar kelingking yang menegang kencang…..

    Aku begitu tertegun, istriku yang selama ini aku perlakukan dengan lembut
    malah mengerang dan mengkangkangkan kedua kakinya oleh ulah kasar lelaki
    tua berkepala botak beruban itu…

    Tanpa malu lagi jari-jari tangan kiri istriku menggosok-gosok selangkangan
    nya di daerah bibir vagina nya sendiri dan bahkan dengan jari-jari tangan
    kanan istriku menguik uik dan menggosok-gosok kasar kelentit nya sendiri
    sehingga bilik bambu itu ramai oleh erangan istriku yang sudah tak
    terkendali lagi dan
    “Mbbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaggghhhhhhhhh……ngngngngngngngng ……..”kembali
    istriku mengejan keras disertai pantat bahenol istriku tersentak-sentak
    tak karuan melepas derita nafsu birahinya saat mencapai orgasme kedua nya
    malam itu….

    Tubuh sexy istriku yang letoy lemas itu melorot bersandar di dada lelaki
    tua berkepala botak beruban itu, rok klok elastis ketat di pinggul tak
    lagi pada tempatnya tersingkap memamerkan selangkangan dan bulu kemaluan
    yang lebat nya …. Sedangkan kedua payudara montok ber puting susu hitam
    sebesar kelingking sudah terkual naik turun oleh nafas nya yang
    mendengus-dengus tak beraturan….
    Lelaki tua berkepala botak beruban itu rupanya cukup kuat menopang tubuh
    lunglai istriku, yang biasanya tertidur sesaat setelah orgasme kedua nya
    meledak, dan tangan keriput itu langsung mengerayangi selangkangan istriku

    “Zzzuddaaaaaaghh mbaaaaah akuuuu caaapaaaaiiiiii ……”rintih istriku dan
    lelaki tua berkepala botak beruban itu semakin mendekati selangkangan
    istriku dan
    “Mbaaaaaaccchhhh …… “istriku mengerang saat kulihat jari-jari tangan
    lelaki tua yang besar-besar itu menggosok-gosok kelentit istriku dan

    “Eeeeeeggggghhhhhhh ….”istriku melenguh saat kulihat jari telunjuk besar
    lelaki tua berkepala botak beruban itu menerobos liang vagina istriku yang
    sudah dibanjiri lendir vagina akibat dua kali orgasme berturut-turut…

    “Aaamfffuuun mmbbaaaah … oocghh .. occgghhh … oocccgghhh … zzzz …zzzz ….
    Giiilaaaaa…. Mbaaaagghhhhffffff …..mbaaggh … aaaaamfuuunnnnnzzzz gghhhh….”

    Istriku mengerang-erang seperti orang kesakitan tetapi erangan itu berubah
    “Mmbbaaaagggh …. Gilaaaaa …. Ennnaaaaaaccggghhhh ….zzzuuaaaamikuuuu …
    gaaaak peerrnaaaagghhh …. Mbaaagghh … koook .. dikoreeeegggghhh
    koreeeegghhhhzzzz …”
    Kedua matakupun tertuju ke selangkangan istriku dan benar jari telunjuk
    besar lelaki tua berkepala botak beruban itu tengah mengkorek-korek liang
    vagina istriku seolah ada sesuatu yang tertinggal di dalam liang vagina
    istriku atau tepatnya lelaki tua berkepala botak beruban itu mengetahui
    liang vagina istriku sedang kegatalan….

    Kini ketiga jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu telah masuk
    ke liang vagina istriku yang sudah histeris keenakan, jari-jari tangan
    lelaki tua yang besar-besar itu itu bukan saja mengkorek-korek liang
    vagina istriku bahkan menggaruk-ngaruk liang vagina istriku sehingga
    istriku mengangkat pantat bahenol nya ….
    Tangan kanan istriku hanya memegang erat pergelangan tangan lelaki tua
    berkepala botak beruban yang bergerak cepat, menggaruk-ngaruk liang vagina
    istriku yang menggelinjang tak karuan dan selangkangan istriku menuruti
    gerakan garukan lelaki tua berkepala botak beruban itu, sementara itu
    kedua kaki istriku mengejang kejang kaku dan melemah dan paha padat
    istriku mengapit kencang dan melemah tangan lelaki tua berkepala botak
    beruban itu….

    “Mbbbbbbaaaaaaaaaaaaaaaaagggghhhhh…… ngngngngngngngngngng …….”istriku
    mengejan keras dan kedua kaki nya mengejang disertai pantat bahenol
    istriku tersentak-sentak tak karuan saat orgasme ketiga istriku tak dapat
    dibendungnya lagi…..

    Aku hanya dapat berpikir kenapa istriku begitu terangsang hebat? Kenapa
    istriku mau melayani lelaki tua berkepala botak beruban yang tak dikenal
    istriku ? Kenapa istriku mau diperlakukan kasar? Mengapa istriku ? Mengapa
    dan mengapa?

    Yang jelas istriku dapat mencapai 3 kali orgasme dalam waktu kurang dari 1
    jam…..

    “Enak Jeng Yati ?”kata lelaki tua berkepala botak beruban itu
    “Enaaghh mbaah….”desis istriku sementara pantat bahenol nya masih
    tersentak-sentak kecil merasakan kenikmatan orgasme ketiganya.

    “Aku suka jembut lebatmu Jeng Yati ….. apalagi ini …..”kata lelaki tua
    berkepala botak beruban itu sambil meremas-remas kasar payudara montok
    istriku
    “Kubikin air susu Jeng Yati keluar he he …..”katanya terkekeh kekeh dan
    “hap” mult ompong keriput itu melahap payudara montok kiri istriku
    kemudian sambil memonyongkan mulut ompong keriputnya mengelamuti puting
    susu hitam sebesar kelingking kiri istriku dan lidah panjang nya menjilati
    puting susu hitam sebesar kelingking kiri istriku

    “ooogghhh mbaaaaaaah aaaaiiiiir zzzuuzzuuuuukuuuuuu…….”istriku
    mendengus-dengus dan “zzzzzeeerrrr” air susu istriku memancar keras ke
    lantai… belum istriku tersadar kembali … Lelaki tua berkepala botak
    beruban itu sudah mencaplok payudara montok kanan istriku dan menjilati
    puting susu hitam sebesar kelingking kanan istriku dan “zzzeeerr” kini
    kedua puting susu hitam sebesar kelingking istriku memancarkan air susu
    dengan keras nya……

    Aku tertegun saat lelaki tua berambut gondrong, yang tadi membimbingku di
    bilik kamar tempatku mengintip, sudah masuk ke bilik dimana istriku yang
    masih terbengong melihat kedua puting susu hitam sebesar kelingking
    memancarkan air susunya secara deras, memasuki kamar itu….

    “Jeng Yati mulai detik ini … Jeng Yati akan merasakan gatal minta diisap
    puting susu mu sama lelaki selain suamimu… he he …..”katanya terkekeh dan
    langsung melahap payudara montok kanan istriku dan lelaki tua berkepala
    botak beruban itupun tak kalah gesit melahap payudara montok kiri istriku
    ……

    Baca Juga : Diperkosa Negro

    Kini kulihat seperti dua orang bayi kehausan kedua lelaki tua itu
    menghisap dan mengempot kedua payudara montok istriku sementara itu
    istriku hanya dapat memegang erat kedua kepala lelaki tua itu karena
    merasakan kegatalan yang amat sangat di kedua puting susu hitam sebesar
    kelingking nya oleh hisapan dan sedotan kedua lelaki tua itu….

    Belum hilang bingungku, kulihat tangan kedua lelaki tua itu mengerayangi
    selangkangan istriku dan
    “Ooooooggghhhhhhh …..”istriku melenguh panjang dengan kedua mata tertutup
    dan menengadahkan kepalanya saat jari telunjuk besar kedua lelaki tua itu
    menusuk dan masuk ke liang vagina istriku .

    Pemandangan yang mencengangkan kulihat jari telunjuk besar kedua lelaki
    tua itu berebut dengan ganasnya menusuk, mengkorek-korek dan mengocok
    liang vagina istriku sambil dengan kasar menghisap dan mengempot kedua
    payudara montok istriku …. Menggigit gigit kedua puting susu hitam sebesar
    kelingking istriku …..

    Tubuh istriku limbung, nafas istriku mendengus-dengus seperti banteng yang
    terluka, blouse ketat nya basah oleh keringatnya ….kedua kaki istriku
    mengejang kencang ….. pantat bahenol bergoyang tak karuan oleh kedua jari
    telunjuk besar kedua lelaki tua yang berebut tempat mengocok,
    menggaruk-ngaruk, mengkorek-korek liang vagina istriku dengan ganas dan
    begitu kasarnya….

    “Mmmmbbbaaaaaaaaaaaaaaaccchhhhhhh ngngngngngng ……..”istriku mengerang
    keras dan mengejan …..tubuhnya bergetar hebat, pantat bahenol istriku
    tersentak-sentak tak karuan dan kedua kakinya mengejang kaku tangannya
    menekan keras kepala kedua lelaki tua itu ke kedua payudara montok nya
    saat orgasme ke empatnya malam itu meledak dan serasa oleh menghancurkan
    dan meloloskan tulang-tulangnya….. sehingga tubuh istriku yang mengejang
    kuat kemudian melemah dan lemas sampai kepalanya tertunduk lemah ke depan
    dan limbung sementara itu kedua lelaki tua itu terus menghisap dan
    menyedot kedua payudara montok istriku sampai air susu istriku habis dan
    melepas tubuh istriku yang langsung terbanting ke ranjang bambu itu dengan
    blouse ketat yang tak terkancing dan rok klok elastis ketat di pinggul
    yang tersingkap sehingga selangkangan nya yang ditumbuhi bulu kemaluan
    yang lebat terpampang di depan lelaki tua yang sudah berdiri melepas
    celana pendek komprangnya……

    Mataku seakan terlepas melihat kedua batang kemaluan seperti botol sprite
    tengah tegak berdiri minta direndam dan di lemaskan di dalam liang vagina
    istriku yang basah kuyup oleh lendir vagina nya …..

    Lelaki tua berambut gondrong itu memegang kedua pergelangan kedua kaki
    istriku dan kemudian menarik kedua kaki istriku sehingga pantat bahenol
    istriku tepat di pinggir ranjang bambu itu kemudian lelaki tua berambut
    gondrong itu mengangkat dan mendorong kedua pergelangan kaki istriku
    sehingga kedua kaki istriku dengan paha padat nya terkangkang lebar dan
    selangkangan istriku tepat di pinggir ranjang bambu itu…. Tampak bibir
    vagina istriku telah terbuka yang sudah basah oleh lendir vagina istriku
    dan liang vagina istriku berwarna pink tampak terbuka …..

    Lelaki tua berambut gondrong itu pun mendekatkan kepala jamur nya yang
    besar itu ke arah liang vagina istriku dan
    “Mbaaaaagghhhhhhhhh….”istriku melenguh saat kepala jamur itu menempel dan
    langsung berusaha menjejali liang vagina istriku dan tubuh lelaki tua
    berambut gondrong itu kini sudah diantara kedua paha padat istriku dan
    begitu lelaki tua berambut gondrong itu membuka lebar bibir vagina istriku
    dengan jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu dan tangannya
    memebgang batang kemaluan seperti botol sprite nya … maka kedua kaki
    istriku pun terlepas dan terkulai di lantai…..

    Rupanya lelaki tua berkepala botak beruban itu tahu maksud boss nya dan
    dia menaiki ranjang bambu itu dengan kedua lututnya dan mengkangkangi
    tubuh istriku berhadapan dengan boss nya sehingga pantat kerempeng lelaki
    tua berkepala botak beruban berada tepat di wajah letoy istriku ….
    Sementara itu, kedua tangan istriku ditekan oleh kedua betis lelaki tua
    berkepala botak beruban , sehingga praktis istriku tak dapat bergerak ….

    Lelaki tua berkepala botak beruban itu menarik kedua lipatan lutut istriku
    sehingga kedua kaki istriku terkangkang lebar dan selangkangan istriku
    yang ber bulu kemaluan yang lebat itu terpampang dan dengan mudahnya
    lelaki tua berambut gondrong itu dengan mudah membuka lebar bibir vagina
    istriku sehingga liang vagina istriku berwarna pink itu ikut terkuak lebar
    yang selanjutnya kepala jamur besar lelaki tua berambut gondrong itu
    menempel di pinggiran liang vagina istriku …..

    “setelah kamu rasakan kontolku……kau jadi perempuan gatal Jeng Yati ….tak
    puas dengan suamimu ….. Jeng Yati ingin kontol kontol lain selain suamimu
    ha ha……”
    “Jangaaaan mbaaaah ……”isak istriku saat lelaki tua berambut gondrong itu
    berkata, mungkin istriku berpikir tak mau jadi istri gatal yang selalu
    ingin dijejali batang kemaluan selain batang kemaluan ku

    “Suaaamikuuuuu …..”
    “hehe he ….. suamimu akan takluk padamu Jeng Yati he he ….” Katanya dan

    “Mbaaaaaaaaaaggggghhhhhh ………”istriku melenguh panjang saat lelaki tua
    berambut gondrong itu menekan hingga masuk kepala jamur nya ke liang
    vagina istriku dan begitu lelaki tua berambut gondrong itu melepas kuakan
    bibir vagina istriku maka tampak bibir vagina istriku menggelembung oleh
    desakan kepala jamur lelaki tua berambut gondrong itu….
    Saat itu, aku tak dapat berpikir bagaimana nanti bentuk bibir vagina
    istriku jika batang kemaluan seperti botol sprite lelaki tua berambut
    gondrong itu menjejali liang vagina istriku …..

    “Ngngngngngngngnghhhhhhhhhhhhzzzz……. Amfuuuuuuuuuuuunn………”rintih istriku
    keras saat lelaki tua berambut gondrong itu menekan batang kemaluan
    seperti botol sprite nya menjejali liang vagina istriku dan bukan lagi
    menggelembung ….. bibir vagina istriku tampak terikut masuk ke dalam oleh
    jejalan batang kemaluan seperti botol sprite lelaki tua berambut gondrong
    itu…..CerpenSex

    “Aaaamfuuuuuuuuuuuun ….. mmmmmmbaaaaaaaaaccccccchhhhhhhhzzzzz …..
    zzzzzaakiiiiiiit ….mbbaaaaaaaaaaagghhhh ….” Istriku mengerang kesakitan

    Tapi tampaknya lelaki tua berambut gondrong itu tak memperhatikan erangan
    istriku yang lunglai dan tubuhnya tak dapat bergerak karena kedua tangan
    nya ditekan betis lelaki tua berkepala botak beruban dan kedua lipatan
    lutut istriku dipegang erat oleh lelaki tua berkepala botak beruban ….

    “Aaamfuuuuun mbaaagghhh ….. zzzzzudddaaaaagghhh …..”istriku mengerang dan
    tanpa sadar istriku yang hanya dapat menggerakkan kepalanya ….. mengangkat
    kepalanya dan tanpa sengaja wajah istriku pun langsung menempel ke
    selangkangan lelaki tua berkepala botak beruban itu dan kesempatan itu tak
    disia siakan oleh lelaki tua berkepala botak beruban itu untuk menurunkan
    pantatnya dan kini lelaki tua berkepala botak beruban itu menggosok-gosok
    lubang anus dan buah pelirnya ke wajah istriku ..

    Lelaki tua berambut gondrong itu pun mendesakkan semakin dalam batang
    kemaluan seperti botol sprite nya ke liang vagina istriku sehingga bibir
    vagina istriku semakin terikut masuk melipat ke dalam liang vagina istriku
    ….

    “mmmbbbbbbb … bbbb … bbb….. bbbb … “kini suara istriku berubah oleh
    desakan batang kemaluan seperti botol sprite lelaki tua berambut gondrong
    itu menjejali liang vagina nya sementara itu mulutnya tertekan oleh buah
    pelir dan hidungnya mengelus-elus lubang anus lelaki tua berkepala botak
    beruban ….

    Baru setengah masuk dan mungkin karena sesak lelaki tua berambut gondrong
    itu menarik keluar batang kemaluan seperti botol sprite nya keluar sampai
    hanya kepala jamur nya yang tertinggal di liang vagina istriku dan lelaki
    tua berambut gondrong itu memajumundurkan batang kemaluan seperti botol
    sprite nya ..

    “MMbbb mmmbbbb ….” semakin gencar desisan istriku yang tertutup buah pelir
    lelaki tua berkepala botak beruban itu saat lelaki tua dengan cepatnya
    memajumundurkan batang kemaluan seperti botol sprite yang hanya separuh
    masuk di liang vagina istriku dan aku baru teringat kalau istriku paling
    suka batang kemaluan ku separuh jalan mengocok liang vagina nya karena
    kata istriku G spot nya bergesekan dengan kepala jamur dan batang kemaluan
    ku…
    Terngiang desisan istriku saat G spotnya tergelitik dan hanya beberapa
    menit biasanya istriku orgasme …..

    Sedangkan kini, liang vagina istriku tengah dijejali batang kemaluan
    seperti botol sprite yang ber kepala jamur lebih besar dari punyaku …. Aku
    tak bisa merasakan bagaimana nafsu istriku melambung tinggi oleh gesekan
    antara kepala jamur dan batang kemaluan seperti botol sprite lelaki tua
    karena pasti gesekan itu semakin kuat ke G Spot istriku karena topi baja
    dan batang kemaluan lebih besar dari punyaku….

    Belum sempat aku berpikir lebih lanjut
    “Mmmmmmmmmbbbbbbbzzzzzzzz…….”istriku mendesis dan “croook crook…” kudengar
    lendir vagina istriku semakin banyak karena orgasme ke limanya…..

    “Aaaaammmppppzzzzzz……..”istriku mengerang-erang saat lelaki tua berambut
    gondrong menekan kuat menjejalkan liang vagina istriku sampai seluruhnya
    masuk sehingga bibir vagina istriku pu terikut masuk dan mulut istriku
    juga sudah dijejali buah pelir lelaki tua berkepala botak beruban itu…

    Aku hanya bisa melihat bagaimana bibir vagina istriku terlipat lipat
    keluar masuk saat batang kemaluan seperti botol sprite lelaki tua berambut
    gondrong keluar masuk mengaduk aduk di semua dinding liang vagina istriku
    yang terbuka maksimal karena besarnya batang kemaluan seperti botol sprite
    lelaki tua berambut gondrong itu….

    Sehingga tampak dari tempatku mengintip bagaimana kedua lelaki tua itu
    mengejai istriku yang berkelejot setidaknya istriku dua kali lagi mencapai
    orgasmenya…. Sampai akhirnya lelaki tua berambut gondrong itu menghujam
    dalam dan pantatnya tersentak menekan nekan semakin dalam ke liang vagina
    istriku saat air maninya menyembur di dalam liang vagina istriku sehingga
    berbunyi “prreeeeet preeet” saat sebagian air maninya berbalik keluar
    diantara sela sela liang vagina istriku dan desakan batang kemaluan
    seperti botol sprite nya di liang vagina istriku …..

    Entah berapa kali istriku orgasme kembali, saat mereka bertukar tempat,
    dimana lelaki tua berkepala botak beruban kini tengah menyetubuhi istriku
    tak kalah brutalnya….. sehingga tampak bagaimana istriku yang dalam posisi
    tertelentang dengan kedua lipatan lututnya ditarik ke atas sehingga seolah
    istriku sedang jongkok, dan selangkangan tepat di pinggir ranjang bambu
    sehingga kedua lelaki tua itu dengan mudah menjejalkan dan mengobok-obok
    setiap senti liang vagina dan dinding rahin istriku yang terus
    mengerang-erang dan mendesis-desis disertai nafsu istriku yang tak
    terkontrol seperti seorang pelacur jalanan dengan kata-kata kotor yang tak
    pantas disebutkan oleh wanita terhormat.
    Mulut istriku hanya mendesis-desis saat buah pelir dan yangmengherankanku,
    kedua lelaki tua itulah yang merasakan dan memerawani mulut istriku yang
    disumpal buah pelir dan batang kemaluan seperti botol sprite, karena
    selama ini istriku menolak mengulum batang kemaluan dan buah pelir ku.
    Nafas istriku terdengar mendengus-dengus seperti sehabis berlari kencang
    sehingga gundukan payudara montok istriku naik turun disertai keringat
    yang membasahi tubuh setengah telanjang istriku.

    Aku begitu nelongso melihat bagaimana istriku, seolah seorang pelacur
    jalanan, atau seorang gundik mengabdi pada tuannya atau seperti seorang
    budak nafsu yang harus melayani tuannya dengan baik tanpa pamrih, melayani
    dengan baik kedua lelaki tua itu , menggilir tubuh istriku untuk
    melepaskan nafsu syahwatnya yang membuatku akhirnya tak sadarkan diri…
    mungkin juga istriku yang digilir oleh kedua lelaki tua itu bergantian
    sepanjang malam hingga pagi …..

    Aku terbangun dan aku kaget saat kudapati aku dan istriku sudah berada di
    mobil….. aku tak habis pikir saat aku melihat sekeliling karena
    kendaraanku di pinggir jalan dimana hanya sawah dan pepohonan rimbun di
    sekelilingnya dan tak ada warung seperti tadi malam…..

    Benarkah kejadian yang kulihat? Aku dapat menjawab saat aku mendekati
    istriku … bau air mani laki-laki begitu menyengat dan tampak satu kancing
    blouse ketat istriku tak terkancing dan blouse ketat nya hampir tak dapat
    menampung kedua payudara istriku semakin montok itu dan kedua puting susu
    hitam sebesar kelingking mencuat dari blouse ketat nya karena istriku tak
    mengenakan BH tipisnya….

    Dengan hati-hati aku menyingkap rok klok elastis ketat di pinggul istriku
    dan kutemui selangkangan istriku yang ku tahu ber bulu kemaluan yang lebat
    itu kini telah gundul bersih dan tmapak kelentit dan bibir vagina istriku
    terpampang yang membuat batang kemaluan tegang….

    Akupun menghidupkan mesin dan meninggalkan tempat itu…..

    Aku terus bertanya? Benarkah? Istriku juga tak menceritakan malam itu…..
    Hanya istriku menjadi genit dan agak seronok dalam berpakaian dimana dia
    membeli lebih banyak blouse ketat yang menonjolkan kedua payudara montok
    nya dan rok klok elastis ketat di pinggul atau rok span elastis atau
    celana panjang ketat yang membuat pantat bahenol nya tercetak jelas…..

    Aku tak mengerti ….. hanya di ranjang istriku semakin ganas …. Dan
    terlihat dia mulai tak puas denganku…..yang paling banter hanya 2 – 3 kali
    orgasme yang dialaminya saat bersetubuh denganku….

    Pertanyaan dan demi pertanyaan selalu menghantuiku…. Benarkah kejadian
    malam itu?
    Hanya sebuah kabut yang menutupi pemandangan indah…

  • Ciciku Yang Hott..

    Ciciku Yang Hott..


    129 views

    Ceritamaya | Aku dan cici-ku sama-sama sekolah di SMU swasta di Surabaya. Aku di kelas satu, umurku 16 tahun. Sementara cici-ku kelas tiga, umurnya 18 tahun. Terus terang, cici-ku orangnya cakep. Kulitnya juga putih. Tingginya 161 cm, beratnya 48 kg. Rambutnya sebahu dicat kecoklatan. Tubuhnya telah tumbuh jadi sexy. Dadanya nampak menonjol. Gara-gara penasaran, pernah kulihat bra miliknya. Ia mempunyai bra dengan berbagai macam model dan berbagai warna. Mereknya kebanyakan Triumph dan ukurannya 34C. Ia pertama kali memakai bra waktu kelas 2 SMP.

    Pada suatu siang sepulang sekolah, aku dan cici-ku lagi jalan-jalan di mal. Saat itu kami berdua masih memakai seragam. Waktu itu kita sedang antri beli minuman. Saat itu ada cowok pribumi anak STM yang berkulit hitam dan berambut grondrong. Tampangnya sangar dan badannya tinggi tegap. Ia memandangi cici-ku terus. Matanya memandang lekat-lekat ke cici-ku, mula-mula ke wajahnya lalu turun ke seluruh tubuhnya sampai ke ujung kaki. Cara melihatnya sangat kurang ajar seperti bagaikan menelanjanginya. Terutama selain wajahnya, ia juga menatap lekat-lekat ke arah dadanya. Memang baju seragam yang dipakai cici-ku waktu itu agak tipis kainnya sehingga bra-nya terlihat dengan jelas. Apalagi payudaranya cukup menonjol.Ditambah lagi wajahnya yang cakep dan kulitnya yang putih. Sepertinya cowok itu terangsang habis oleh cici-ku. Sementara itu cici-ku juga merasa kalau ia dilihatin seperti itu. Sepertinya ia kesal dibegituin. Sehingga orang itu ditatapnya balik. Dan orang itu malah balas memandanginya lekat-lekat. Sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka berdua saling bertatapan. Kini justru aku yang agak takut.

    “Kurang ajar bener itu orang. Ngeliatin orang seenaknya. Kamu labrak
    dia dong,” perintahnya.
    “Sudahlah Ci, biarin aja. Wong namanya juga orang iseng,” kataku.
    “Kamu itu gimana sih. Jadi cowok bukannya ngebelain kakak. Memang
    kamu suka ya ngeliat kehormatan cici dilecehkan seperti itu,”
    serunya.
    “Bukan begitu. Sudahlah namanya juga orang iseng. Mending kita jalan
    aja yuk. Nggak usah ditanggepin,” kataku sambil mengajak dia pergi.
    Kebetulan saat itu aku telah selesai membeli minuman.
    “Alaah, bilang aja kamu takut. Dasar cowok pengecut. Coba, kamu
    berani nggak berantem sama dia,” ejek cici-ku.
    Aku diam saja karena dalam hati aku mengakui kebenaran kata-katanya itu. Setelah itu aku menoleh ke belakang melihat orang itu, ternyata dia masih terus memandangi cici-ku. Saat ia melihatku, ia mengacungkan tinjunya kepadaku. Lalu aku buru-buru menoleh ke depan kembali. Ceritamaya

    Di dalam mobil, cici-ku terus mengata-ngataiku.
    “Dasar cowok banci. Penakut.”
    “Bukan begitu. Justru aku nggak mau nanti terjadi apa-apa terhadap cici.”
    “Terjadi apa-apa gimana maksudmu?” tanyanya dengan nada tinggi.
    “Nggak, bu-bukan gitu maksudku.”
    “Terjadi apa-apa gimana! Ayo jawab!!”
    “Maksudku, kalo ditanggapi, nanti malah nekat. Kalo misalnya dia
    nanti nekat megang-megang cici gimana?”
    “Kamu itu gimana sih. Memangnya cici diam aja kalo mau dipegang-pegang gitu. Trus ada kamu disini, buat apa. Kamu itu goblok banget sih. Masa nggak berani membela kehormatan cici-mu.”
    “Bukan gitu. Ngapain kita cari gara-gara. Nanti kalo dia mukul gimana?”
    “Berarti memang kamu takut khan. Huh, benar-benar pengecut!”
    “Memang cici sendiri nggak takut berantem sama dia.”
    “Goblok! Tolol! Memangnya ngapain cici mau berantem sama dia.
    Kamulah yang harusnya maju melawan dia. Dasar cowok banci! Penakut!”
    Terus terang, memang cici-ku pada dasarnya nggak suka dengan cowok-cowok semacam itu.

    Seharian itu aku masih terus memikirkan kejadian itu sambil berandai-andai. Seandainya cowok itu nekat mengajak berkelahi, terus terang memang aku takut menghadapinya. Dan terus terang, hal lain yang dalam hati kuakui, cici-ku memang orangnya cakep, body-nya sexy dan sering bikin cowok-cowok suka ngeliatin. Dan kejadian seperti ini telah sering kali terjadi. Yang aku ingat persis sampai sekarang, ketika kita pergi berenang, ada cowok pribumi juga yang ngeliatin dia terus. Kali ini malah lebih parah karena ia bisa melihat lekukan payudara cici-ku yang nampak bagian atasnya serta pahanya yang putih mulus. Jujur saja, diam-diam kadang aku pun juga bisa jadi ngaceng sendiri. Meskipun aku tidak pernah punya pikiran untuk berbuat yang nggak-nggak kepadanya. Seperti saat ini, ketika ia memakai kaus tank-top ketat warna hijau muda dan celana pendek. Nampak belahan dada bagian atasnya terutama kalau dia menunduk. Memang kalau di rumah, ia agak berani dan cuek berpakaian. Karena disini serumah cuman ada aku dan seorang pembantu cewek yang agak tua. Orangtuaku tinggal di kota lain dan rumah ini disewa buat aku dan ciciku sekolah di kota
    ini. Beberapa kali aku pernah melihatnya tidak memakai bra, terutama kalau malam hari menjelang tidur. Bahkan pernah satu kali, sewaktu dia kelas 1 SMU, aku melihatnya telanjang bulat! Saat itu ia lupa mengunci pintu kamarnya sehingga aku masuk begitu saja.

    Tiga hari setelah itu (saat malam Minggu)…
    Entah kenapa mendadak malam itu aku terbangun. Aku tidak ngeliat jam, tapi menurut perasaanku saat itu sekitar tengah malam. Setelah bangun aku segera keluar dari kamarku. Saat itu ruang tengah telah gelap gulita. Namun kulihat pintu kamar cici-ku sedikit terbuka dan lampu didalamnya menyala terang benderang. Karena pengin tahu aku berjalan mendekatinya. Semakin dekat dari kamarnya, aku mendengar ada suara cowok di dalam kamarnya! Karena penasaran, aku masuk ke kamarnya. Aku ingin berbicara namun entah kenapa aku jadi seperti tidak bisa berbicara. Dan saat kulihat…ternyata cici-ku sedang berduaan dengan cowok. Dan cowok itu adalah cowok pribumi di mal beberapa hari lalu!! Mereka tidak memperhatikanku karena mereka nampak asyik bermesraan.

    Aku jadi bingung, sejak kapan mereka saling mengenal. Kok bisa-bisanya cici-ku yang biasanya (maaf, bukannya sara) tidak suka bergaul dengan cowok pribumi kok sekarang malah bermesraan dengan cowok ini!! Karena bingung dan penasaran, aku bersembunyi di balik lemari dan dengan leluasa melihat apa yang dilakukan mereka berdua ini.

    Saat itu ciciku memakai daster warna merah coklat yang sangat jarang sekali dipakainya. Mereka berdua duduk berdempetan di ranjang. Kedua tangan cowok itu memegang-megang tubuh cici-ku sambil ia menciumi rambut dan leher cici-ku. Cici-ku nampak menonjol dadanya di balik daster tipis yang dikenakannya. Cowok itu kemudian menyentuh dadanya dan dengan kedua tangannya diraba-rabainya dan diremas-remas sambil terus menciumi leher ciciku yang putih serta rambutnya yang hitam kecoklatan.

    Sejenak perhatianku terganggu oleh kantong kresek Hero yang tergeletak di lantai di dekat ranjang. Aku agak heran kok bisa ada kantong kresek itu padahal kita tidak pernah ke Hero supermarket. Mungkin dibawa oleh cowok ini, pikirku. Namun perhatianku segera beralih kembali ke adegan seru yang ada di depanku ini.

    Cowok itu kini mulai menciumi bibir cici-ku dan tangannya mulai bergerilya di bagian bawah. Tangannya dimasukkan di balik daster cici-ku, diraba-rabainya pahanya. Lalu daster itu dinaikkan ke atas sehingga nampaklah kini paha cici-ku yang putih mulus serta CD berwarna merah menyala. Sejenak ia memandang warna merah putih yang kontras dan indah itu. Lalu diraba-rabainya pahanya yang putih mulus. Setelah itu gantian “bagian merahnya” yang dipegang-pegang dan diraba-rabai. Jarinya dimainkan dan digesek-gesekkan di daerah sensitif itu. Ia melakukan itu sambil menciumi cici-ku dan tangan yang satunya meraba-raba payudaranya.

    Selama ini kulihat reaksi cici-ku sama sekali tidak melawan. Bahkan ia menikmati saja diperlakukan seperti itu oleh cowok itu. Dalam hati aku berpikir, dia suka mengata-ngataiku pengecut karena aku dianggap tidak berani membela kehormatannya saat dia dilecehkan oleh cowok pribumi tak dikenal. Namun sekarang apa kenyataannya, malah dia menyerahkan kehormatan dirinya secara sukarela kepada cowok pribumi yang tak dikenal dan justru menikmati hal itu! Kalau begini persoalannya, tentu nggak salah sikapku selama ini. Buat apa dibela kalau yang dibela ternyata memang mau dengan suka rela. Kalau sekarang misalnya aku tiba-tiba mendatangi mereka dan menantang cowok itu, jangan-jangan malah cici-ku menyuruh cowok itu untuk menghajarku supaya aku tidak menghalangi mereka. Sudah malu babak belur pula. Seandainya pun aku bisa menghajar cowok itu, toh juga tidak ada gunanya. Kalau pada dasarnya memang mau, cici-ku bisa saja terus berhubungan diam-diam dengan cowok itu.

    Ternyata omongan dan sikapnya selama ini sungguh berbeda dengan perbuatannya sekarang ini. Jadi ada pepatah baru,” Mulut mengatakan tidak mau kencing berdiri namun diam-diam melakukan kencing sambil berlari”. Selama ini ia bersikap tidak suka dan tak mau bergaul dengan cowok pribumi namun pada saat ini justru ia sedang bermesraan dengan cowok pribumi. Aku dimaki-maki karena dianggapnya diam saja saat dia diliatin sama cowok tak dikenal, ternyata justru dia mau digrepe-grepe oleh cowok tak dikenal, malah menikmati pula. Akhirnya kuputuskan aku akan menyaksikan saja apa yang akan terjadi seterusnya.

    Cowok itu jadi makin berani. Daster cici-ku yang bagian bawahnya telah terbuka, kini diloloskannya dari kepala dan kedua tangan cici-ku yang dengan sukarela mengangkat kedua tangannya supaya dasternya bisa terlepas dari tubuhnya. Bra-nya juga berwarna sama, merah menyala yang kontras dengan tubuhnya yang putih mulus. Dengan penuh nafsu, cowok itu melepaskan bra cici-ku yang pengaitnya ada di depan. Sambil memandangi payudara cici-ku dari jarak begitu dekat, ia meloloskan tali bahunya dari kedua tangannya. Lagi-lagi cici-ku “bersikap kooperatif” membiarkan cowok itu membuka bagian rahasianya.

    Cowok itu memandangi payudara cici-ku sambil tersenyum-senyum. Memang payudaranya benar-benar indah dan sungguh mengggoda. Jauh lebih indah dan padat berisi dibanding yang kulihat beberapa tahun lalu. Belahannya begitu sempurna dan keduanya nampak simetri. Celah lekukan diantara payudaranya betul-betul indah. Putingnya berwarna segar kemerahan. Kedua ujung putingnya menonjol.

    Baca Juga : Relik

    Langsung saja kedua tangan cowok itu merengkuh masing-masing satu payudara cici-ku. Diraba-raba dan diremas-remasnya. Dirasakan kekenyalannya. Jari jemarinya meraba-raba dan memilin-milin kedua putingnya terutama ujungnya yang nampak sensitif. Terbukti karena cici-ku dibuat mendesah-desah perlahan karenanya.

    Setelah cukup puas bermain-main dengan payudara, cowok itu melepas baju kaus dan celana panjangnya sendiri, berikut celana dalamnya. Sehingga kini ia telanjang bulat dihadapan ciciku. Kulitnya coklat kehitaman. Badannya tegap serta dadanya bidang. Cici-ku nampak jengah karenanya, mungkin terutama karena batang penisnya yang besar dan panjang telah ngaceng dengan kuatnya. Apalagi kepala penisnya yang disunat jadi makin nampak besar. Kelihatan pula urat-uratnya menonjol di tubuh penisnya yang lebih hitam dibanding kulitnya. Seluruh paha dan kakinya berbulu lebat.

    Kemudian ia melepaskan CD merah cici-ku sehingga kini keduanya telah telanjang bulat. Lagi-lagi ciciku dengan sukarela membiarkan cowok itu melucuti pakaian terakhir yang melekat di tubuhnya. Rambut kemaluannya nampak cukup lebat. Cowok itu membuka lebar-lebar paha cici-ku mungkin supaya ia bisa melihat dengan jelas vagina dan klitoris cici-ku. Betul-betul kurang ajar cowok itu!

    Lalu direbahkannya cici-ku dan kembali ia menciumi leher, rambut, dan seluruh wajah cici-ku. Dikulum dan dilumatnya bibir cici-ku sementara tangannya meraba-raba tubuh cici-ku terutama payudara dan paha. Kemudian mulutnya turun ke bawah, dari leher ke bagian dada. Dikecupinya kedua payudara cici-ku dan dikulumnya putingnya bergantian, lidahnya bergerak-gerak melingkari putingnya, putingnya digerak-gerakkannya dengan lidahnya, dan terakhir putingnya dikenyot-kenyot. Dan tangannya digesek-gesekkan di vagina terutama klitorisnya. Membuat cici-ku tanpa malu-malu lagi mendesah-desah tak keruan.
    “Oooh, ahhhh, oohhhhh.”
    Aku pun jadi terangsang juga menyaksikan dan mendengar itu. Penisku
    telah berdiri tegak dan cairan pre-cum ku mulai keluar.

    Cowok itu kemudian menjilati vagina cici-ku. Wah, gila! Seperti AV Jepang saja. Tak jelas apa yang dilakukannya namun cici-ku jadi makin mendesah-desah dan mengerang-ngerang dibuatnya.

    Lalu ia menindih tubuh cici-ku, pahanya yang hitam berbulu menempel di paha cici-ku yang putih mulus sementara dadanya yang bidang menempel ke payudara cici-ku. Kembali dengan penuh nafsu ia menciumi bibir cici-ku kemudian ke lehernya.

    Tak lama kemudian, ia membuka lebar-lebar kedua paha ciciku. Diatur posisi penisnya di depan vagina cici-ku. Lalu dengan gerakan mendorong ke depan, dimasukkan kepala penisnya ke dalam liang vagina cici-ku.
    “Oooohhhh.”
    Lalu gerakan mendorong sekali lagi, mungkin untuk memasukkan seluruh penisnya ke dalam.
    “aaahhhhhhhh.”
    Setelah itu terjadilah gerakan berirama ketika ia memainkan penisnya di dalam vagina cici-ku. Tentu pada saat itu cowok itu – yang bahkan namanya pun aku tak tahu- telah berhasil merenggut kehormatan cici-ku secara telak. Bahkan bukan tidak mungkin pula kalau ia adalah cowok pertama yang menikmati keperawanan cici-ku. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka kalau cici-ku bisa berkelakuan seperti saatini. Aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukannya karena cowok itu dalam posisi memunggungiku saat ia mem-”banging” cici-ku. Hanya bisa kulihat tubuhnya bergerak maju mundur. Aku tak bisa melihat cici-ku karena tertutup oleh punggungnya. Namun gerakan-gerakan itu membuat desahan-desahan cici-ku jadi makin liar dan makin cepat iramanya.
    “Ooooh…Aaahhh….Ooohhhhh….Ahhhhhh…..Ooohhhhhh.”

    Namun hal itu tak berlangsung lama. Karena tak lama kemudian mereka berubah posisi menghadap ke samping sehingga kini aku bisa melihat dengan jelas. Cowok itu menyuruh cici-ku menungging di depannya yang dengan patuh diikutinya. Nampak punggungnya yang putih mulus dan payudaranya bergerak-gerak menggantung dengan bebasnya. Kayaknya cowok itu ingin menikmati cici-ku dalam posisi doggy style. Namun sebelum itu, ia memegang dan menyangga payudara cici-ku. Kedua payudara yang indah itu kini berada dalam genggamannya, ditepuk-tepuknya dan diremas-remasnya.

    Setelah puas memainkan payudaranya, kini dimasukkannya penisnya yang besar ke dalam lubang vagina cici-ku lalu dikocoknya di dalamnya. Saking nafsunya sampai-sampai seluruh tubuh cici-ku jadi ikut terdorong maju mundur mengikuti gerakan “kocokan” cowok itu. Cici-ku jadi makin mendesah-desah tak karuan dibuatnya. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang termasuk payudaranya juga bergoyang-goyang tak karuan. Bahkan ranjang pun jadi ikut tergoyang-goyang. Dengan posisi sekarang, kini aku bisa melihat langsung maupun dari refleksi kaca besar di meja rias di samping ranjang. Cowok itu nampak sangat puas menikmati “menggedor-gedor” seluruh tubuh cici-ku itu. Kini pandangannya mengarah ke kaca besar meja rias itu, tertuju ke tubuh cici-ku yang bergoyang-goyang karena kocokan penisnya itu. Memang betul-betul dahsyat pemandangan itu!

    Setelah puas menggedor dalam posisi doggy style, kini cowok itu merebahkan dirinya telentang di ranjang. Nampak penisnya yang besar berdiri dengan tegaknya. Kepala penisnya mengkilap basah mungkin karena cairan pre-cum bercampur dengan cairan vagina cici-ku.

    Lalu ia “membimbing” ciciku supaya “duduk dengan manis” diatas tubuh cowok itu dengan posisi yang tentunya diatur supaya penisnya berada di dalam vagina cici-ku. Setelah masuk ke dalam, dengan tangannya ia menggerakkan tubuh cici-ku naik turun. Mula-mula cici-ku agak canggung. Namun lama kelamaan ia jadi keenakan naik turun menunggang penis cowok itu. Payudaranya bergerak-gerak dan berputar-putar naik turun mengikuti gerakan tubuhnya. Namun aku tak lama bisa menikmati payudaranya karena kedua tangan cowok itu segera merengkuh payudara cici-ku dan kembali, untuk kesekian kalinya hari itu, meremas-remasnya. Nampak kontras perbedaan tubuh mereka. Cici-ku yang putih bergoyang-goyang di atas tubuh cowok itu yang hitam. Namun rupanya cici-ku sudah tidak mempedulikan segalanya. Karena ia terus-terusan menggerakkan tubuhnya naik turun sambil terus mendesah-desah dan berteriak-teriak. Diantara suara desahannya itu, aku juga bisa
    mendengar suara beradunya penis cowok itu dengan vagina cici-ku.
    “Ahhhhh, ahhhhhh, ahhhhhh, ahhhhhhh….” Ceritamaya
    “Shleeb, shleeb, shleeb…”
    Saat itu aku pun juga merasa ikutan “naik”. Tanpa sadar kukocok penisku menikmati pemandangan itu. Sementara cici-ku makin lama mendesah-desah makin cepat dan makin tinggi suaranya. Sampai akhirnya ia mendapatkan orgasme.

    Setelah itu mereka berganti posisi. Tubuh cici-ku yang lebih kecil ditindihnya. Pahanya yang hitam berbulu kembali menempel di paha cici-ku yang putih mulus. Cici-ku sepertinya kegelian karena bulu-bulu di paha cowok itu menggelitik pahanya dan vaginanya. Kini giliran cowok itu yang diatas untuk menyetubuhinya dengan gaya missionaris. Kembali penisnya dimasukkan ke dalam vagina cici-ku. Kemudian benar-benar habis-habisan ia mengocoknya. Sampai-sampai seluruh ranjang kembali bergoyang-goyang.

    Setelah itu ia mengubah sedikit posisinya. Ia menyetubuhi cici-ku dengan mengangkat kedua paha cici-ku dan menaruh diatas bahunya. Lalu kembali disodoknya cici-ku yang putih mulus itu dengan penisnya yang hitam besar. Tentu sodokannya itu membuat kembali terjadi “gempa setempat”. Seluruh tubuh cici-ku bergoyang-goyang. Kedua payudara cici-ku bergerak-gerak dan berputar-putar mengikuti irama gerakan sodokan cowok itu.

    Cukup lama ia menggenjot cici-ku seperti itu. Setelah puas meng-“over-power” cici-ku seperti itu, akhirnya ia mengalami ejakulasi dan memuntahkan seluruh spermanya di dalam tubuh cici-ku.

    Saat itu aku pun akhirnya juga mengalami ejakulasi yang terhebat yang pernah kualami. Kurasakan sperma yang tumpah di celanaku amat sangat banyak. Aku merasa sangat puas sekali. Setelah itu aku merasa ngantuk sekali dan tertidur.

    …….
    …….

    Entah berapa lama kemudian, aku setengah sadar terbaring di ranjangku, dalam kondisi setengah sadar dan setengah bermimpi. Ooh, ternyata barusan aku cuma bermimpi, pikirku. Namun kurasakan celanaku basah kuyup dan bau sperma. Hmm, ternyata barusan aku mimpi basah mengenai cici-ku dan cowok tak dikenal. Dalam hati aku bersyukur bahwa semuanya ini hanyalah mimpi. Sungguh aku tidak mengharapkan kalau cici-ku dibegituin betulan sama cowok itu. Meski harus kuakui dengan jujur, bahwa itu adalah mimpi yang indah.
    Mimpi yang sangat indah.
    Dan juga sangat riil.
    Sampai-sampai sulit dibedakan antara mimpi dan kenyataan.

    Pagi harinya…
    Aku bangun agak terlambat. Begitu bangun aku langsung teringat akan mimpi indah kemarin malam. Saat itu aku sudah betul-betul bangun dan sadar kalau saat ini bukan mimpi. Seketika kupegang celanaku, ternyata memang malam itu aku mimpi basah dengan hebat dan mengeluarkan sperma banyak sekali. Bahkan saking banyaknya, ada sisa sperma yang mengering di pahaku dan membekas sampai ke seprei-ku.

    Badanku terasa lemas gara-gara keluar sperma yang sangat banyak malam tadi. Setelah cuci muka, aku keluar kamar. Tak lama kemudian keluarlah ciciku dari kamarnya. Tampangnya kusut dan rambutnya awut-awutan. Tampangnya seperti orang yang baru bangun. Tidak biasanya jam segini ia baru bangun. Biasanya ia selalu bangun lebih pagi dariku.

    Namun yang mengherankanku adalah, ia memakai daster merah coklat yang sama persis dengan mimpiku semalam. Padahal daster itu biasanya jarang dipakainya. Dan bra yang dipakainya pun warnanya merah menyala. Hal ini terlihat dari talinya yang kelihatan di bahunya. Belakangan setelah ia selesai mandi, kulihat diantara tumpukan baju kotor, bra dan CD warna merah menyala yang modelnya sama persis dengan mimpiku kemarin!

    Dan yang paling membuatku terkejut adalah, sewaktu pintu kamarnya terbuka agak lebar, kulihat ada kantong kresek Hero di tempat yang sama dengan yang kulihat kemarin!!

    Kini aku jadi penasaran, apakah kemarin malam cici-ku betul-betul telah disetubuhi dan bercinta dengan cowok itu ataukah memang cuma mimpi? Untuk membuktikannya, aku mempunyai ide bagus, yaitu dengan mencek seprei di ranjangnya yang bisa jadi ada bukti bekas-bekas “pertempuran” malam itu kalau memang itu benar-benar terjadi.

    Namun sayangnya aku tidak mendapat kesempatan itu. Karena disaat aku sedang mandi, seprei berikut sarung bantal dan guling serta comforter yang ada di bawah seprei telah diganti dengan yang baru.
    Sementara yang lama telah dicuci di dalam mesin cuci dan comforter-nya telah dikirim ke laundry.
    Kebetulankah?
    Atau untuk menghilangkan bukti?

    Kini aku benar-benar tidak tahu, apakah kejadian malam itu hanya mimpi?
    Ataukah mimpi yang terjadi bersamaan dengan kenyataan?
    Atau memang kenyataan?

    Oleh karena sejak saat itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan cowok STM itu.
    Jadi di dunia ini, hanya cici-ku seoranglah yang tahu akan kejadian sesungguhnya.
    Ataukah ada diantara pembaca yang tahu kejadian sesungguhnya?
    Entahlah.

  • Karyawan Ganjen

    Karyawan Ganjen


    95 views

    Ceritamaya | Aku kerja dì sesuatu salon. Salon ìtu terletak dì satu komplex perkantoran. Dìkomplex ìtu ada sesuatu supermarket besar 3 lantaì dìmana lantaì paling atas dìpakai untuk food court. Salon dìmana aku bekerja terletak dì satu sìsì satu resto yang terletak dìdepan pìntu keluar komplex. Kerjaanku dì salon ya cucì rambut dan krìmbat.

    aku masìh junìor dì salon ìtu sehìngga memperoleh tugas yang rìngan-ringan saja. 1 harì aku memperoleh customer, seorang laki-laki berusia 30an, ganteng banget deh orangnya, suka aku ngelìatnya. nasib baik dìa mo potong rambut dan sesudah ìtu krìmbat. Aku mendapat tugas mencucì rambutnya, kemudìan stylìst memotong rambutnya. Selesaì potong rambut aku yang handle krìmbatnya. nasib baik meja yang aku pakai untuk krìmbat agak terpìsah yang laen gara-gara salon ketìka ìtu rame.

    Memang ìtu meja tambahan yang baru dìpakai kalo salon rame, gara-gara tambahan maka mempunyai letak agak terpìsah darì deretan meja laennya. Selama aku ngerjaìn krìmbat, dìa ngajakìn bercakap-cakap.

    “Namanya siapa”.
    “ìnes pak”.
    “Kok pak sìh manggìlnya, jadì ngrasa dah tua”.
    “abìs ìnes mestì manggìl apa? Bang aja deh ya”. Darì Logatnya kayanya dìa orang darì tapìan na ulì.
    “Kamu yang palìng muda ya dìsìnì”.
    “ìya bang, masì junìor”.
    “Tapì asìk kok krìmbat nya”.
    “Makasìh bang”.
    “Kamu palìng cantìk deh Nes, mana seksì lagì”.
    “Ah bìasa ja bang, abang terlalu mujì ìnes neh, jadì malu”.
    “Kamu pulangnya jam brapa Nes”. “Kalo salon tutup bang”.
    “ìya jam brapa”. “Napa sìh bang nanya-nanya, mo anterìn ìnes pulang”.
    “Mau?” Aku cuma tersenyum.
    “Jam 6an bang salonnya tutup”.

    Selesaì krìmbat, aku dapet tìp yang lumayan besar, belon pernah aku dapet tìp sebesar ìtu.

    “Makasì banyak bang, eh abang namanya sapa ya”‘
    “Frans”, jawabnya sambìl menìnggalkan salon. gara-gara banyak kerjaan harì ìtu, aku lupa akan obrolanku bang Frans.

    Pulangnya, ketìka melaluì resto dìderetan palìng ujung darì sìsì dìmana salon berada, tìba-tiba aku mendengar dìndìng kaca restonya dìketuk-ketuk. Aku menoleh, kulìhat bang Frans senyum sambìl manggìl aku ayunan tangannya. aku masuk ke resto ìtu dan duduk dìseblahnya.

    “Nes, mo makan apa neh”.
    “wah abang beneran neh mo nganterìn ìnes pulang?’
    “Makan dulu lah”.

    Aku pesen ja makanan yang aku rasa enak, harga gak kulìhat lagì, pastì dìbayarìn sì abang. Sambìl makan sì abang senyum ngelìatìn aku terus.

    “Betul kan, kamu tu cantìk lo Nes”.
    “abang neh, gak brentìnya mujì ìnes, cuma pakai baju kumel gìnì ja dìbìlang cantìk”.
    “Ya udah, abìs makan aku belììn kamu pakaian ya”.
    “Bener bang?” Dìa membuat ganguank.

    Pesenanku dateng dan aku mulaì menyantap makanan lahap, enak banget terasa, palagì dìbayarìn. Kalo bayar ndìrì mah mìkìn sejuta kalì makan dìsìtu gara-gara harga makanannya mahal2. Habìs makan, aku dìajaknya ke mal yang mempunyai letak gak jauh darì komplex perkantoran. Aku membìarkan tanganku dìbersama sì abang. Bangga lagì jalan ma lelakì ganteng kaya sì abang, mana dìbersama2 lagì. Kìta masuk ke dept store yang ada dì mal.

    “Nes kamu pìlìh deh mo belì pakaian apa”.
    “Beneran nìh mo belììn ìnes pakaian, abang baek banget sìh”.

    Aku melakukan dugaan pastì ada bakwan dìbalìk udang, tapì egp ja lah, yang pentìng kan dìblanjaìn, lagìan sì abang ganteng banget. Gak rugì deh dìentot ma dìanya. Aku belì jìns, tanktop, trus aku nanya,

    “Daleman bole belì bang”.
    “Bole bangetz, belì yang seksì-seksi Nes”. Aku belì g strìng dan bra yang tìpìs, kalo ampe dìa ngajakìn maen, aku mo pakai tu lìngerìe.

    Selesai blanja, aku digandengnya menuju basement, parkiran.

    “Kamu mesti pulang cepet Nes”.
    “Mangnya abang mo ajak Ines kemana, Ines kos kok bang, gak da yang nungguin”.
    “Ketempatku yuk”.
    “Mo ngapain bang”.
    “Kita ngobrol santai ja, kamu besok kerja gak”.
    “Besok giliran aku off bang”.

    Aku masuk ke mobilnya. Dalam perjalanan pulang, kami ngobrol ngalor ngidul. aku open aja kedianya. Aku crita petualangan sexku dengan lelaki yang sudah bukan abg lagi. Aku bilang sudah sebulan ini aku gak kencan ama lelaki.

    “Wah, kalo gitu kamu dah napsu banget dong Nes. Aku kan sudah gak termasuk abg, jadi boleh dong ikut dalam petualangan Ines”.
    “Bisa diatur kok bang”. Selama perjalanan, dia mengelus pahaku dari luar jeans ketatku tentunya.
    “Ih, si abang, dah napsu sama Ines ya”.
    “Kalo napsu sih dari tadi Nes”.
    “Kalo dah napsu artinya dah ngaceng ya bang”, kataku sambil mengelus selangkangannya.
    “Ih, kayanya besar ya bang, keras lagi”, aku mulai meremas selangkangannya.
    “Ines mo liat duluan, buka aja ritsluitingnya”.

    Aku segera menurunkan ritsluiting celananya dan tanganku masuk ke dalam cdnya merogoh kontolnya.

    “Ih besar banget bang, panjang lagi. Ines belum pernah ngerasain yang sebesar dan sepanjang ini”, kataku sambil mengeluarkan kontolnya.

    Segera kukocok2nya batangnya. Lalu aku menunduk dan mengemut kepala kontolnya.

    “Nes, diisep sampe aku ngecret dong”.
    “Tempatnya sempit bang, Ines kocok aja yach. non0k Ines jadi basah bang, dah kepingin kemasukan kont0l gede abang”, aku mulai mengocok kontolnya keatas dan kebawah. Dia jadi melenguh kenikmatan.
    “Masih jauh bang, tempatnya”.
    “Enggak kok Nes, sebentar lagi sampe”, katanya sambil mempercepat lajunya kendaraan. Tak lama kemudian, sampailah kami di satu rumah. Dia belum ngecret dan aku menyudahi seponganku.
    “Bang besar banget rumahnya kaya kont0l abang aja besar, punya abang ya”.
    “Bukan Nes, punya kantor. Ini mes kantor, buat tamu yang perlu nginep. Sekarang lagi kosong, jadi kita pake aja yach”.

    Kami menuju ke bagian belakang rumah, ada kolam renang disana. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan dan tertutup tembok tinggi sehingga gak mungkin ada yang bisa ngintip.

    Aku duduk didipan dipinggir kolam renang, dia duduk disebelahku. Dia memelukku. Dia mencium pipiku sambil jemarinya membelai-belai bagian belakang telingaku. Mataku terpejam menikmati usapan tangannya. Kupandangi wajahnya yang ganteng dengan hidungnya yangmancung. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya dia mencium bibirku. Dilumatnya mesra. aku menjulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Lama dia mempermainkan lidahku di dalam mulutnya.

    Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Dia membelai pangkal lenganku yang terbuka. Dibukanya telapak tangannya sehingga jempolnya bisa menggapai permukaan dadaku sambil membelai pangkal lenganku. Bibirnya kini turun menyapu leherku seiring telapak tangannya meraup toketku. Aku menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutku di saat lidahnya menjulur menikmati leherku yang jenjang,

    “baaang….”. Aku memegang tangannya yang sedang meremas toketku dengan penuh napsu.

    Bukan untuk mencegah, aku membiarkan tangannya mengelus dan meremas toketku yang montok.

    “Nes, aku ingin melihat toketmu”, ujarnya sambil mengusap bagian puncak toketku yang menonjol. Dia menatapku. Aku akhirnya membuka tank top ketatku di depannya. D

    ia terkagum-kagum menatap toketkua yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Toketku begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasku yang memburu. Sambil berbaring aku membuka pengait BH-nya di punggungku. Punggungku melengkung indah. Dia menahan tanganku ketika aku akan menurunkan tali BH-ku dari atas pundakku. Justru dengan keadaan BH-ku yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat toketku semakin menantang.

    “Toketmu bagus, Nes”, dia mencoba mengungkapkan keindahan tubuhku. Perlahan dia menarik turun cup BH-ku. Mataku terpejam.

    Karyawan GanjenPerhatiannya terfokus ke pentilku yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Diusapnya pentilku lalu dipilin dengan jemarinya. Aku mendesah. Mulutnya turun ingin mencicipi toketku.

    “Egkhh..” rintihku ketika mulutnya melumat pentilku. Dipermainkannya dengan lidah dan giginya. Sekali-sekali digigitnya pentilku lalu diisap kuat-kuat sehingga membuat aku menarik rambutnya.

    Puas menikmati toket yang sebelah kiri, dia mencium toketku yang satunya. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan keluar dari mulutku. Sambil menciumi toketku, tangannya turun membelai perutku yang datar, berhenti sejenak di pusarku lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perutku. Dibelainya pahaku sebelah dalam terlebih dahulu sebelum dia memutuskan untuk meraba nonokku yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang kukenakan.

    Dia secara tiba-tiba menghentikan kegiatannya lalu berdiri di samping dipan. Aku tertegun sejenak memandangnya. Dia masih berdiri sambil memandang tubuhku yang tergolek di dipan, menantang. Kulitku yang tidak terlalu putih membuat matanya tak jemu memandang. Perutku begitu datar. Celana jeans ketat yang kupakai terlihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatku yang sempurna. Puas memandang tubuhku, dia lalu membaringkan tubuhnya disampingku.

    Dirapikannya untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leherku. Dibelainya lagi toketku. Dia mencium bibirku sambil memasukkan air liurnya ke dalam mulutku. aku menelannya. Tangannya turun ke bagian perut lalu membuka kancing celana jinsku dan menurunkan ritsluitingnya, kemudian menerobos masuk. Jemarinya mengusap dan membelai selangkanganku yang masih tertutup CDku. jari tengahnya membelai permukaan CDku tepat diatas nonokku, basah. Dia terus mempermainkan jari tengahnya untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuhku. Pinggulku perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang kualami.

    Dia menyuruhku untuk melepas celana jeans yang kupakai. Aku menurunkan celana jinsku perlahan. CD hitam yang kukenakan begitu mini sehingga jembut keriting yang tumbuh disekitar nonokku hampir sebagian keluar dari pinggir CDku. Dia membantu menarik turun celana jeansku. Aku menaikkan pinggulku ketika dia agak kesusahan menarik celana jeansku. Diapun melepas pakean. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan CD. Kami berpelukan. Aku menyentuh kontolnya dari luar CDnya, lalu kuplorotkan CDnya. Langsung kontolnya yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk kubelai dan kugenggam.

    “Tangan kamu pintar juga ya, Nes,”´ ujarnya sambil memandang tanganku yang mengocok kontolnya.
    “Ya, mesti dong!” jawabku sambil cekikikan.

    Jari-jarinya masuk dari samping CD langsung menyentuh bukit nonokku yang sudah basah. Telunjuknya membelai-belai itilku sehingga aku keenakan.

    “Diisep lagi Nes. Kan sekarang lebih leluasa” katanya. Aku tertawa sambil mencubit kontolnya. Dia meringis. ”
    “Nggak muat di mulut Ines, tadi dimobil kan cuma kepalanya yang masuk. Itu juga udah ampir gak muat. gede banget sih kontolnya” selesai berkata demikian aku langsung tertawa kecil.
    “Kalau yang dibawah, gimana, muat gak?” tanyanya lagi sambil menusukkan jari tengahnya ke dalam nonokku.

    aku merintih sambil memegang tangannya. Jarinya sudah tenggelam ke dalam liang nonokku. Aku merasakan nonokku berdenyut menjepit jarinya. Segera CDku dilepaskannya. Perlahan tangannya menangkap toketku dan meremasnya kuat. Aku yang sekarang meringis.

    Kuusap lembut kontolnya yang sudah keras banget. Aku begitu kreatif mengocok kontolnya sehingga dia merasa keenakan. Dia tidak hanya tinggal diam, tangannya membelai-belai toketku yang montok. Dipermainkannya pentilku dengan jemarinya, sementara tangannya yang satunya mulai meraba jembut lebat di sekitar nonokku. Dirabanya permukaan nonokku. Jari tengahnya mempermainkan itilku yang sudah mengeras. kontolnya kini sudah siap tempur dalam genggamanku, sementara nonokku juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental karena diobok-obok .

    Dia memeluk tubuhku sehingga kontolnya menyentuh pusarku. Dia membelai punggungku lalu turun meraba pantatku yang montok. Aku membalas pelukannya dengan melingkarkan tanganku di pundaknya. Dia meraih pantatku, diremasnya dengan sedikit agak kasar lalu dia menaiki tubuhku. Kakiku dengan sendirinya mengangkang. Dia menciumi lagi leherku yang jenjang lalu turun melumat toketku. Dia terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuhku.

    Dia melebarkan kedua pahaku sambil mengarahkan kontolnya ke bibir nonokku. Aku mengerang lirih. Mataku perlahan terpejam. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan laju birahiku yang semakin kuat. Dia menatapku, matanya penuh nafsu.

    “Aku ingin mengent0ti kamu, Nes” bisiknya pelan, sementara kepala kontolnya masih menempel di belahan nonokku.

    Kata ini ternyata membuat wajahku memerah. Aku menatapnya sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan mataku. Dia berkonsentrasi penuh dengan menuntun kontolnya yang perlahan menyusup ke dalam nonokku. Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti kontolnya membelah nonokku yang ternyata begitu kencang menjepit kontolnya. nonokku begitu licin hingga agak memudahkan kontolnya untuk menyusup lebih ke dalam. Aku memeluk erat tubuhnya sambil membenamkan kuku-kukuku di punggungnya hingga dia agak kesakitan. Namun aku tak peduli.

    “Baang, gede banget, ohh..” aku menjerit lirih. Tanganku turun menangkap kont0lku.
    “Pelan bang”. Akhirnya kontolnya terbenam juga di dalam nonokku.

    Dia berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding nonokku. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai dia memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Dia melumat bibirku sambil perlahan-lahan menarik kontolnya untuk selanjutnya dibenamkan lagi. Dia menyuruhku membuka kelopak mataku. Aku menurut. Dia sangat senang melihat mataku yang semakin sayu menikmati kontolnya yang keluar masuk nonokku.

    “Aku suka non0kmu, Nes..non0kmu masih rapet” ujarnya sambil merintih keenakan.
    “Kamu enak kan, Nes?” tanyanya, lalu kujawab dengan anggukan kecil.

    Dia menyuruhku untuk menggoyangkan pinggulku. Aku langsung mengimbangi gerakannya yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangku.

    “Suka kont0lku, Nes?” tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum sambil meremas2 kontolnya dengan jepitan nonokku.
    “Ohh.. hh..” dia menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat.

    Dia mencoba mengangkat dadanya, membuat jarak dengan dadaku dengan bertumpu pada kedua tangannya. Dengan demikian dia semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan kontolnya ke dalam nonokku. Kuperhatikan kontolnya yang keluar masuk dalam nonokku. Aku semakin melebarkan kedua pahaku sementara tanganku melingkar erat dipinggangnya. Gerakan naik turunnya semakin cepat mengimbangi goyangan pinggulku yang semakin tidak terkendali.

    “Nes.. enak banget, kamu pintar deh.” ucapnya keenakan.
    “Ines juga, bang”, jawabku. Aku merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan.

    Berulang kali aku mengeluarkan kata, “aduh” yang kuucapkan terputus-putus. Aku merasakan nonokku semakin berdenyut sebagai pertanda aku akan mencapai puncak pendakianku. Dia juga merasakan hal yang sama denganku, namun dia mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang dialaminya. Sepertinya dia tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja. Dia mempercepat goyangan kontolnya ketika dia menyadari aku hampir nyampe. Diremasnya toketku kuat seraya mulutnya menghisap dan menggigit pentilku. Dihisapnya dalam-dalam.

    “Ohh.. hh.. baaaang..” jeritku panjang.

    Dia membenamkan kontolnya kuat-kuat ke nonokku sampai mentok agar aku mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhku melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhku kejang. Kepalanya kutarik kuat terbenam diantara toketku. Pada saat tubuhku menyentak-nyentak dia tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.

    “Nes, aakuu.. keluaarr, Ohh..hh..” jeritnya.

    Aku yang masih merasakan orgasmeku mengunci pinggangnya dengan kakiku yang melingkar di pinggangnya. Saat itu juga dia memuntahkan peju hangat dan kentel dari kontolnya. Kurasakan tubuhku bagai melayang. secara spontan aku menarik pantatnya kuat ke tubuhku. Mulutnya yang berada di belahan dadaku menghisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitku. Dia mencengkram toketku. Diraupnya semuanya sampai-sampai aku kesakitan. Dia tak peduli lagi. Dia
    juga merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggulku pada saat dia mengalami orgasme. Tubuhnya akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuhku. kontolnya masih berada di dalam nonok ku. aku mengusap-usap permukaan punggungnya.

    “Ines puas sekali dientot abang”, kataku. Dia kemudian mencabut kontolnya dari nonokku.

    Aku masuk kembali ke rumah, langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower . Aku membersihkan badanku yang basah karena keringat habis digeluti bang Frans tadi. Setelah aku selesai, ganti dia yang masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Ketika dia keluar dari kamar mandi, aku berbaring diranjang telanjang bulat.

    “Nes, kamu kok mau aku ajak ngent0t”, katanya.
    “Kan Ines dah lama gak ngerasain nikmatnya kont0l bang, mana kont0l abang besar lagi”, jawabku tersenyum.
    “Malem ini kita men lagi ya bang”.
    “Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem”, katanya sambil berpakaian.

    Baca Juga : Pengamen Arab

    Aku pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu.

    Di kamar kita langsung melepas pakaian masing2 dan bergumul diranjang. Aku menggenggam kontolnya. Dia melenguh seraya menyebut namaku. Dia meringis menahan remasan lembut tanganku pada kontolnya. Tanganku mulai bergerak turun naik menyusuri kontolnya yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap kepala kontolnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari lubang diujungnya. Kembali dia melenguh merasakan ngilu nikmat akibat usapanku. Kocokanku semakin cepat.

    Dengan lembut dia mulai meremas-remas toketku. Aku menggenggam kontolnya dengan erat. Pentilku dipilin2nya. Aku masukan kontolnya kedalam mulutku dan mengulumnya. Dia terus menggerayangi toketku, dan mulai menciumi toketku. Napsuku semakin berkobar. Jilatan dan kulumanku pada kontolnya semakin mengganas sampai-sampai dia terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Dia membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku.

    Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahnya menyentuh nonokku dengan lembut. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahnya di nonokku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajahnya ke dalam nonokku. kontolnya kemudian kukempit dengan toketku dan kugerakkan maju mundur, sebentar. Dia menciumi bibir nonokku, mencoba membukanya dengan lidahnya. Tangannya mengelus pahaku bagian dalam.

    Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Dia menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. kontolnya ditempelkannya pada bibir nonokku. Digesek-gesekkannya, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. nonokku yang sudah banjir membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Dia sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala kontolnya menggesek-gesek itilku yang juga sudah menegang.

    “Baang.?” panggilku menghiba.
    “Apa Nes”, jawabnya sambil tersenyum melihat aku tersiksa.
    “Cepetan..” jawabku. Dia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kont0l.

    Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku.

    “Ines sudah pengen dientot bang”, kataku. Aku melenguh merasakan desakan kontolnya yang besar itu.

    Aku menunggu cukup lama gerakan kontolnya memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, kontolnya juga panjang. Aku sampai menahan nafas saat kontolnya terasa mentok di dalam, seluruh kontolnya amblas di dalam. Dia mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam nonokku membuat kontolnya keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan.

    Naik turun mengikuti irama enjotannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakannya sudah tidak beraturan karena yang penting enjotannya mencapai bagian-bagian peka di nonokku. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. kontolnya menjejali penuh seluruh nonokku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kontolnya sangat terasa di seluruh dinding nonokku. Aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. aku mengakui keperkasaan dan kelihaiannya di atas ranjang. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga ngent0t dengannya.

    Dia bergerak semakin cepat. kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitiveku. Aku meregang tak kuasa menahan napsu, sementara dia dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras. Melihat reaksiku, dia mempercepat gerakannya. kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Aku meraih tubuhnya dan
    kudekap. Kuirengkuh seluruh tubuhnya sehingga dia menindih tubuhku dengan erat. Aku membenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Aku meregang. Tubuhku mengejang-ngejang.

    “baang..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. Dia menciumi wajah dan bibirku.

    Aku mendorong tubuhnya hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuemut kontolnya yang masih tegak itu. Lidahku menjilati, mulutku mengemut. Tanganku mengocok-ngocok kontolnya. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuhnya. nonokku berada persis di atas kontolnya.

    “Akh!” pekikku tertahan ketika kontolnya kubimbing memasuki nonokku.

    Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan seluruh kontolnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak. Pinggulku bergerak turun naik.

    “Ouugghh. Nes.., luar biasa!” jeritnya merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangannya mencengkeram kedua toketku, diremas dan dipilin-pilin. Dia lalu bangkit setengah duduk.

    Wajahnya dibenamkan ke dadaku. Menciumi pentilku. Dihisapnya kuat-kuat sambil diremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulku. Dia menggoyangkan pantatnya.

    Tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pingguku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Dia merasa pejunya udah mau nyembur. Dia semakin bersemangat memacu pinggulnya untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku terus memacu.

    sambil menjerit-jerit histeris. Dia mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejunya nyemprot begitu kuat dan banyak membanjiri nonokku. Aku pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengannya. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. “Baaang., nikmaat!” jeritku tak tertahankan. Aku lemes, demikian pula dia. Tenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! Akhirnya kami tertidur kelelahan.

  • Seks Dengan Adik temanku

    Seks Dengan Adik temanku


    120 views

    Ceritamaya | Cerita sex yang kali ini akan diberikan adalah kiriman dari saudara andi yang berpengalaman atau memiliki cerita seks dengan adik temannya. Dani menceritakan dengan singkat kisahnya, walau tidak berarturan dalam tata bahasa, tapi cukup menarik dan sangat memuaskan untuk dibaca. selamat menikmati.

    Seks Dengan Adik temanku

    Ini kisah nyata yang gue  alami waktu gue  masih SMA… Pada waktu itu gue  kelas 3 SMA.. Sebut saja namaku dani. Disekolah si gue  tergolong cowok yang ganteng dan digemari para cewek.. Mengapa tidak, gue  yang tingginya 175cm, hidung mancung, kulit putih,trus pandai bermain Basket. Pada waktu itu gue  sangat dekat dengan teman gue  sebut saja namanya angga. Kami berteman sangat dekat sekali. Karena kami berteman dari kami masih SMP sampai SMA pun kami bersama-sama. Suatu hari gue  bermain kerumahnya angga. Sesampai di rumah angga gue  di kejutkan oleh sesosok cewek cantik yang tidak lain adalah adik temanku angga. Sebut saja namanya Dewi. pada saat itu Dewi terlihat sangat manis sekali. karena pakaian yang di kenakannya terlalu minim,dan kebetulan sekali Dewi pada saat itu Dewi sedang membersihkan halaman rumah. Kuperhatikan mukanya yang manis,putih, tinggi mungkin 160cm. bisa di katakan Dewi adalah cewek tercantik di sekolahnya. Sejenak kuperhatikan buah dadanya yang montok dan bodynya yang aduhai montok itu yang membuat nafasku tak beraturan.

    aku sangat kaget melihat Dewi. karena setiap kali gue  bermain ke rumahnya angga jarang sekali gue  melihat Dewi. pada saat itu Dewi berumur 14 tahun. pada saat gue  masuk rumah angga, Dewi menegurku.”eh kakak dani” sejenak gue  terdiam, dan berfikir dalam hati ” tumben – tumbennya Dewi menegurku” gue  pun membalasnya “eh Dewi, angganya ada nga…?” “oh kakak, ada tuh di dalam sedang mandi mungkin. bentar ya Dewi panggilin. Kakak dani duduk aja dulu di teras.” gue  pun langsung duduk diteras. Tiba-tiba Dewi keluar “Kakak dani bentar ya,kakakku lagi mandi tuh. Katanya gue  temenin kakak dani dulu.” gue pun sangat senang, mengapa tidak, gue  bisa mengobrol dengan adik teman gue  yang cantik. gue  pun mulai memperhatikan Dewi dari ujung kakinya sampai kepalanya. Memang cantik benar adik temanku ini gumamku. kulitnya yang mulus dan putih, trus gue  pun melihat pahanya yang putih semakin membuat nafasku tak beraturan. Tiba-tiba Dewi tersenyum dan menegurku “kakak dani kok lihatin Dewi trus..?” gue pun kaget lalu kujawab saja dengan nada yang kecil “oh itu soalnya Dewi cantik sih…. trus Dewi sekarang udah kelas berapa…?” Dewi pun menjawabnya ” kelas 3 SMP ka.” “oh kelas 3 SMP ya….!” kami berdua pun mengobrol sampai akhirnya angga pun keluar. “Oi Vid maap yah lama soalnya air kerannya macet jadi harus ngambil air di tetangga ni.” dengan sedikit kesal sih,aku pun menjawab ” nga apa-apa soalnya kan ada adik kamu tuh yang temanin gue  ngobrol.” Kami berdua pun berangkat karena kami harus menghadiri acara ulang tahunnya temen sekelas kami. Tapi gue  sangat sedikit menyesal. Karena kapan lagi gue  bisa mengobrol sama adik temanku ini. Ceritamaya

    Pada suatu hari akhirnya gue  bisa mengobrol sama adik temanku dan dimulai dari situlah kejadiannya..
    Pada saat itu gue  berencana pergi ke rumah angga mau bikin tugas,karena sudah kelas 3 jadi tugas yang diberikan sangatlah banyak. Jadi gue  berencana untuk membuat tugas dirumahnya angga. Sesampainya di rumah angga, gue pun mengetuk pintu rumahnya. Yang keluar ternyata adiknya angga yaitu Dewi. Kulihat Dewi yang sedang memakai celana pendek dan baju yang hanya se utas tali. ketika kutanya tentang angga dan tujuanku kerumahnya, angganya nga ada, kebetulan sekali,pada saat itu orang tua angga sering keluar kota untuk urusan bisnis,sedangkan angga sedang keluar sama pacarnya.
    Akupun langsung menghubungi angga. Dan ternyata angga pulangnya sedikit kemalaman. sedangkan pada waktu itu jam masi menunjukkan pukul 15:30. angga menyuruh adiknya untuk menemani gue  sampai angga pulang dari kencannya. Adiknya hanya setuju-setuju saja.
    Akupun disuruh masuk sama Dewi,karena berhubung Dewi lagi sedang menonton Film Korea. gue pun menemani Dewi menonton Film Korea. Tiba-tiba dalam film tersebut ada adegan saling berciuman. Serentak Dewi pun malu. Trus waktu gue  melihat mukanya yang merah, gue  pun langsung mengajak ngobrol. “Dewi pernah ciuman nga seperti di film itu….?” kulihat wajahnya tambah merah, bisa dikatakan seperti kepiting rebus. Dewipun hanya menggelengkan kepala. gue pun senang mengetahuinya. Kulihat bibirnya yang berwarna merah muda, yang keliatan sekali masih belum di sentuh oleh laki-laki. gue pun coba memancing untuk mengetahui apakah Dewi mau ciuman denganku atau tidak, jika tidak gue  akan pasrah dengan keaadan ini. “Dewi mau ga coba ciuman kek di film…?” Wajah Dewi memerah, dan hanya berkata “Malu kak,soalnya Dewi nga pernah Ciuman.” gue pun kebingungan, gue  pun mencoba mendekati Dewi perlahan-lahan. Kemudian gue  membisikkan ketelinganya ” Ga usah malu kan cuman kita berdua. kakak kamu sedang pergi,sedangkan orang tua kamu sedang keluar kota.”

    Kemudian kudekapkan bibirku kebibir Dewi. kupikir Dewi bakalan menjauhin bibirnya, ternyata tidak malahan Dewi membalas ciuman saya.tak disangka bibirnya Dewi halus trus lembut juga. kami berduapun saling berciuman selama 10menit. Tiba-tiba nga di sengaja Dewi menyentuh anuku yang sedang lagi dalam keadaan tegak lurus ke atas. Sontak Dewi kaget karena menyentuh kontolku. Gimana kontolku ga mo tegap melihat Dewi yang begitu seksi dan bibirnya yang lembut. “maap ka Dewi nga sengaja beneran kok” gue pun menjawab dengan nada yang sopan”oh nga apa-apa kok”
    Akupun berpikir bagaimana caranya agar Dewi bisa menyentuh lagi dan memainkan kontolku ini. gue  pun memberanikan diri ” Dewi mau coba pegang anuku ga….?” wah tidak disangka Dewi tidak menolaknya… gue pun langsung membuka celanaku. kulihat Dewi sedikit malu dan kaget dengan menutup setengah wajahnya karena melihat kontolku yang berukuran 20Cm dan berdiameter 5cm. Kemudian gue pun mengambil tangannya dan menyentuhnya ke kontolku. Wah serasa di surga. mengapa Tidak, ternyata bukan cuma bibirnya saja yang lembut dan halus, tapi tangannya juga. kulihat Dewi sedikit keasikan memainkan kontolku. Kemudian sambil Dewi memainkan kontolku, gue  mencium bibirnya kembali.

    Baca Juga : Linda anak Tante Maya

    Aku pun sedikit-sedikit coba menyentuh dadanya yang menonjol. Kemudian gue  pun coba memasukkan tanganku kedalam bajunya dan ternyata Dewi tidak memakai Bra. Waktu kuremas buah dadanya udah mengeras yang tandanya Dewi pun menikmatinya. Tak dihitung lagi gue  langsung memainkan buah dadanya yg berukuran sekitar 34 A. Dan juga tak Lupa gue  memainkan putingnya yang masih mekar itu.
    “Ah… Ah… Ah.. Ah…. enak ka… Ah… Ah…” Kulihat Dewi semakin keenakan.. gue pun langsung membuka bajunya. kali ini gue  melihat sesuatu yang sangat di luar pikiran saya. yaitu putingnya yang masih berwarna merah muda yang pengen sekali gue  melumatnya.
    Akupun tak menyianyiakan kesempatan yang begitu beruntung ini.
    “Cin coba donk masukkan ke mulut Dewi “
    “ takut kha”… ” takut kenapa..?..”
    “ Nga apa-apa, dah to dicoba dulu …” pintaku
    “ Rasanya gimana kha … ?” tanyanya
    “ Dah to di coba nanti kan tahu rasanya ..”
    Lalu dengan sedikit ragu dia mengarahkan ujung kontolku ke mulutnya, mula-mula bibirnya yang lembut itu menempel di ujung kontolku, kemudian dia membuka sedikit bibirnya lalu kepala kontolku sudah masuk ke mulutnya, lalu dilepas lagi dan berkata “ Kok asin ya kha “ tanyanya, “ Iya nga apa-apa memang rasanya begitu. Selanjutnya dimasukkannya lagi kontolku ke mulutnya sedikit demi sedikit, dengan pelan-pelan gue  membantu mendorong agar kontolku bisa masuk semua di mulutnya. Lalu ku gerak-gerakkan sehingga kontolku maju mundur di mulutnya, dan dia juga mulau mengimbangi dengan memaju mundurkan mulutnya. “ Cin … enak sekali Cin …” gue  merasa keenakan kontolku di emut Dewi … ketika ujung kontolku berada di bibirnya; “ Cin disedot dong alonya “ …. gue  meminta dia untuk menyedot dan ternyata walaupun belum pengalaman sedotannya enak sekali …

    Pada saat itu gue pun pengen ngerasain vaginanya.. karena gue  belom pernah melihat yang real.. biasanya gue  melihat yang begituan lewat internet atau nga lewat DVD or Hp teman. gue pun coba memasukkan tanganku ke celana mininya. dan tak disangka ternyata waktu gue  menyentuh Vaginanya telah basah. Itu pertanda Dewi menikmati nya selama ini.. gue pun langsung membuka Celananya.. setelah gue  membuka celananya, terlihat jelas Cd nya yg sudah basah. Tak kusiasiakan kesempatan ini.. gue  langsung membuka Cdnya.. Yang tampak disana adalah vagina yang halus dan basah. gue pun coba memasukkan jari telunjukku ke vaginanya. tak disangka,ternyata Dewi masih perawan tulen, takkan kubiarkan keperawanannya di ambil orang lain. kemudian gue  coba memainkan jari telunjukku ke lobang vaginannya.
    “Ah…. sakit ka.. ah.. ah… sakit.. ka..”
    Akupun makin bersemangat memainkan jari telunjukku. gue  hanya diam sambil mempercepat sedotan mulut dan gesekkan jari tanganku di kedua daerah sensitifnya, lalu. “Ahhh. ahhh. mmmmmhgh.” secara tiba-tiba Dewi mengejang sambil tubuhnya terangkat tinggi keatas,yang tandanya Dewi mau Orgasme. gue pun dengan cepatnya menggoyangkan tanganku… Tiba-tiba Dewi Orgasme. Itu kurasakan karena ada sesuatu cairan yang panas. “Cin kamu orgasme ya…?” Dewipun menjawab dengan wajah yang malu ” ia ka gue  orgasme,makasih ya ka….!!”kulihat Dewi mulai lemas. ketika gue  melihat Dewi orgasme gue pun ingin orgasme juga tapi gue  ingin merasakan vaginanya.. “Cin kamu kan udah orgasme,ka belum ni. Dewi maukan bantu kakak orgasme…? ” ia ka nnti Dewi bantu..trus Dewi musti ngapain..?” mendengar itu gue pun gembira… nafasku lebih tak beraturan… “Aku pengen rasain kontolku di masukin ke vagina Dewi…!!! bisa nga…?” “takut ka sakit” “tenang aja kakak nanti akan pelan-pelan kok.” Ceritamaya

    Akupun langsung menyuruh Dewi gaya belakang. Pelan-pelan kumasukkan.. sedikit sulit untuk memasukkannya,karena Dewi masi perawan jadi vaginanya masih tertutup lobang yang kecil.. Tapi karena vaginanya sudah basah, gue pun coba-coba memasukkannya dengan perlahan-lahan sampai masuk 1/3 kontolku. Pada saat kontolku masuk sepenuhnya,Kumulai mengenjot-enjot vaginanya sampai vaginanya mengeluarkan darah bercampur maninya… “ah.. ah.. ah.. sakit.. ah… sakit.. kha.. “sakit… cuman kata-kata itu yang kudengar keluar dari mulutnya. Mendengar suaranya yang lembut gue  lebih cepat mengenjot vaginanya… kemudian gue  membaringkannya dengan kedua kakinya di dadaku.. gue pun mulai mengenjotnya dengan cepat.. Tiba-tiba Dewi menyempitkan kakinya yang pertanda Dewi mau orgasme untuk yang kedua kali… “khaa,,, khaa.. Dewi mau pipisss… ahh… enak kha,,, tapi Dewi mau pipis nhi…. udah ga tahan kha…” Mendengar kata itu gue  semakin bergairah dan mempercepat enjotan ku.. “Sabar Cin… kita keluarin sama-sama…kha juga udah mau keluar nhi.. sabar yah..” mendengar itu Dewi pun berusaha untuk menahan nya… gue pun langsung mengenjotnya dengan cepat. “Cin kha udah mau keluar ni.. Cin gimana..?” “Dewi juga udah mau keluar…” “crott… crottt… crottt… crottt…” kamipun orgasme bersamaan,tapi gue  menumpahkannya di atas perut Dewi..
    Kemudian gue  memeluk Dewi sambil mencium keningnya. “Cin gue  sayang sama kamu” “Aku juga sayang sama kakak. sebenarnya gue  sudah meyukai kakak waktu Dewi kelas 1 SMP..” kami jadian pada saat itu. Setelah itu kami membersihkan diri kami masing-masing.. Tak berapa lama kakaknya Dewi datang. Tapi kami berdua hanya diam-diam saja seperti tidak terjadi apapun. Karena berhubung orang tua angga nga ada,angga meminta gue  untuk menemaninya tidur dengan nya malam ini..
    Tanpa banyak basa basi gue  langsung menerimanya.. Kulihat wajah Dewi juga senang.
    Pada malam harinya waktu angga tidur gue  menggunakan kesempatan dalam kesempitan.. Kami berdua pun melakukan kejadian yang serupa waktu sore tadi.
    Mulai pada saat itu kami sering melakukan hubungan intim di mana saja kita ketemuan…..

    Demikian cerita dari dani, anda ingin mengirim cerita anda, kisah nyata ataupun pengalaman pribadi, silahkan hubuni admin untuk menampilkan cerita anda, sekian.

  • Aske Bidadari Yang Terluka

    Aske Bidadari Yang Terluka


    112 views

    Ceritamaya | Nama saya Lia, Cecilia Lengkapnya, mungkin para pembaca sudah banyak yang familiar dengan saya melalui kisah “Aske Yang Perawan” dan “Aske Dan Pegawai Baru” cerita ini merupakan episode terakhir dari kisah perjalanan hidupku dan Aske.

    *****

    Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat aku terbangun dari tidurku yang lelap, aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurku meskipun dering jam weker terus mengganggu telingaku.
    “Uhh..!!” akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidur, mengumpulkan tenagaku dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari Sabtu, aku belum mempunyai rencana untuk menikmati Weekend ini.
    “Enaknya ngapain yach hari ini” pikirku mencari ide sambil menggosok gigi, usai gosok gigi dan mencuci muka aku berjalan ke meja riasku, masih belum menemukan ide.

    Kutatap wajahku dari cermin riasku.

    “Lia.. Lia.. Kenapa kamu belum punya kekasih?” gumamku sambil termenung di depan cermin, kubuka kancing gaun tidurku satu persatu sampai terbuka seluruhnya, kupandangi buah dadaku sendiri yang tersembul dengan puting yang coklat kemerahan, aku memang punya kebiasaan tidak pernah memakai bra saat tidur. Kuremas dua gunung kembarku itu dengan ke dua tanganku, sambil mataku tetap memandangi cermin.

    ” Hmm.. Lumayan besar dan sekal” gumamku.

    Buah dadaku memang berukuran lumayan besar hingga aku harus selalu mengenakan bra ukuran 36 B, aku berdiri sambil terus mengagumi diriku sendiri dari cermin riasku, aku cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 167 cm dan berat badan 45 kg, akupun memiliki kulit yang putih mulus, tubuh yang seksi dan wajah yang cantik, tapi kenapa sampai saat ini aku masih takut untuk punya pasangan hidup, harus ku akui, aku masih sangat trauma dengan kejadian pemerkosaan yang aku alami beberapa waktu yang silam.

    “Huh.. Masa bodo amat” pikirku.

    Cukup lama aku mematut diriku di depan cermin, kuraba perutku yang mulus dan ramping, lalu kuturunkan tanganku ke bagian selangkangan, Kuelus vaginaku yang ditumbuhi bulu bulu halus..

    “Ohh..” Hasrat birahiku melonjak menjalari seluruh tubuhku, kumain mainkan dengan jariku hingga cairan kewanitaanku membasahi bibir vaginaku.

    Aku sudah tidak bisa mengontrol tanganku lagi saat itu, dengan posisi masih tetap berdiri, kunaikkan sebelah kakiku ke atas meja rias, lalu aku mulai memasukan salah satu jariku ke dalam lubang kemaluanku sendiri dengan perlahan.. Sangat pelan.. Sambil tetap memandangi tubuh telanjangku dari cermin di depanku, aku mulai memaju mundurkan jariku, ku kocok di dalam lubang vaginaku dengan lembut, makin lama makin cepat dan lebih cepat lagi.. Cairan kewanitaanku makin membanjiri seluruh dinding liang vaginaku.

    “Sshh.. Oughh.. Nikmat sekali..” tubuhku menggeletar hebat.
    “Sshh.. Ohh..” aku mendesah panjang, mataku terpejam, merasakan getaran kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhku, 10 menit aku melakukan masturbasi sebelum akhirnya tubuhku menegang.
    “Ahh..” aku melenguh pelan saat telah mencapai orgasme, aku puas, gumamku menatap cermin.

    Kubuka laci meja riasku, mencari tissue untuk menyeka keringat yang membasahi wajahku, tiba tiba selembar foto terjatuh, kuambil foto itu, aku tertegun sesaat sambil memandangi foto itu, foto saat aku dan Aske sedang merayakan ulang tahunnya di perusahaan tempat kami bekerja dulu.

    “Aske.. Bagaimana hidupmu sekarang..?” tanyaku dalam hati, aku jadi teringat kejadian 8 bulan yang lalu, saat kami di perkosa dan di gagahi oleh Alex dan Paul, setelah kejadian itu Aske langsung mengundurkan diri dari perusahaan, sepertinya dia mengalami trauma berat, dia tidak mau di hubungi oleh siapapun, termasuk olehku, berkali kali aku mencoba menelepon dan mendatangi rumahnya, tapi dia selalu mengelak dan berusaha untuk tidak menemuiku, kami kehilangan komunikasi sampai dengan saat ini.

    Tiba tiba aku merasa sangat kangen kepada sahabatku itu, aku meraih handphoneku dan mencoba menghubunginya, berharap Aske tidak mengganti nomor HP-nya.

    “Hallo..!!” terdengar suara riang dan renyah dari ujung sana.
    “Hai Aske apa kabar?” seruku gembira, karena dia belum mengganti nomor HPnya, satu jam kami mengobrol dan saling melepas kangen, akhirnya kami sepakat untuk bertemu sore hari ini di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan.

    Hampir jam 6 sore dan kami sudah ngobrol cukup lama saat Aske memohon aku untuk ikut dengannya menghadiri acara pesta seorang rekanan kerjanya.

    “Kak Lia.. Ikut yaa.. Aske mohon please..” pinta Aske dengan gaya kekanakannya, akhirnya aku mengangguk mengiyakan.
    “Ya sudahlah.. Aku juga tidak punya acara hari ini” jawabku yang langsung di sambut dengan sorak riang Aske.

    Acara itu sendiri diselenggarakan di sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Pusat, Aske saat itu mengenakan gaun pesta panjang warna hitam dengan motif ukiran cina, Aske terlihat makin cantik dengan gaun itu, apalagi gaun itu lumayan ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi, sementara akupun mengenakan gaun biru panjang tanpa lengan dengan selendang biru muda transparan yang aku lingkarkan di pundakku.

    “Haii.. Gimana, sudah beres semua?” tanya Aske ke beberapa orang laki-laki yang ada di depan lobi hotel.
    “Beres Bu.. Semuanya lancar” jawab seorang dari mereka.

    Terus terang aku tidak mengerti dengan pembicaraan mereka, tapi pasti berkaitan dengan acara pesta, kan Aske event organizernya.. pikirku, sebelumnya Aske memang bercerita bahwa saat ini kegiatannya adalah menjadi event organizer untuk acara para konglomerat.

    Kami sudah berada di dalam hall hotel tersebut, dan kami ikut hanyut dalam suasana pesta yang berkesan aristokrat, ada sekitar kurang lebih 60 orang laki laki dan perempuan yang berada di ruangan besar ini, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, makan, minum, ngobrol dan lain lain sambil diiringi alunan musik yang lembut, maklum, rata-rata mereka sudah berusia kurang lebih 40 tahunan.

    Kusapukan pandanganku ke sekitar ruangan besar itu, sambil meminum segelas wine, Aske memang pintar mengemas acara pesta, semuanya tampak sangat mewah dan terorganisir pikirku. Lalu Aske menyempatkan diri mengenalkanku ke beberapa orang yang kebetulan lewat di depan kami.

    “Selamat malam nona Aske..” tegur seorang laki-laki paruh baya.
    “Eh Pak Yos.. Maaf saya datang agak telat.. Kenalkan ini teman kepercayaan saya.” jawab Aske sambil tersenyum ramah kepada laki laki itu yang ternyata adalah si empunya acara pesta tersebut.
    “Lia..” ujarku mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
    “Kamu cantik sekali Lia..” jawab Pak Yos memujiku sambil tersenyum ramah, aku langsung mengucapkan terima kasih atas pujiannya tersebut.

    Saat itu seorang laki-laki datang ke arah kami.

    “Hallo, selamat malam semua, acara utamanya sudah akan di mulai, silahkan ambil tempat masing masing..” sapa orang itu sambil tersenyum.
    “Ini Pak Pri.. Dia penanggung jawab acara ini”, ujar Pak Yos sambil mempersilakan kami mengikutinya.

    Kami duduk di salah satu meja dan menyaksikan dan mendengarkan lagu lagu yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi yang cukup terkenal. Aku masih duduk sambil memegang gelas wine, kepalaku sudah terasa agak berat dan pusing akibat terlalu banyak menenggak minuman tersebut, tak lama kemudian aku pun permisi untuk ke toilet.

    “Ke.. Aku ke toilet dulu yach..” ujarku sambil berdiri.
    “Aske temenin deh..” jawab Aske menawarkan diri.

    Aske

    Aske

     

    Aske sibuk merapikan gaunnya, sementara aku masih memperhatikan wajahku di depan cermin toilet, kepalaku terasa makin berat akibat pengaruh wine tersebut.

    “Aduh.. Kayaknya aku kebanyakan minum wine nih Ke..”, ujarku setengah menyesal kepada Aske.

    Kami sudah akan ke luar dari toilet saat tiba tiba muncul dua orang laki-laki dan langsung masuk ke dalam ruangan toilet, kebetulan saat itu memang hanya kami berdua yang berada di toilet tersebut.

    “Eh.. Bapak-Bapak salah masuk..” ujarku bingung, karena yang masuk itu Pak Pri dan Pak Yos, sementara Aske hanya diam saja sambil tersenyum ke arah mereka.
    “Tenang Lia.. Kita cuma mau mencicipi tubuh kamu yang seksi itu kok” ujar Pak Pri sambil mendekatiku dan berusaha meraih tubuhku, sementara Pak Yos mengunci pintu toilet dari dalam, seketika itu juga aku tersurut mundur berusaha mengelak dari terkaman Pak Pri. Hingga akhirnya tubuhku tertahan oleh washtafel yang berada di belakangku.

    “Apa apaan ini.. Aske.. Hentikan mereka..!!” jeritku sambil berusaha mendorong tubuh Pak Pri yang saat itu sudah mendekap dan menggumuli tubuhku, sementara tangannya sibuk berusaha menyingkapkan belahan gaunku, saat itu aku memang mengenakan gaun panjang yang belahannya sampai ke pangkal pahaku. Tak lama setelah itu, Pak Yos dan Aske mendekatiku, mereka membalikan tubuhku dengan paksa hingga posisiku tengkurap di atas washtafel.

    “Hentikan.. Aske.. Mau apa kalian..!!” jeritku sambil berusaha meronta dari himpitan tubuh Pak Pri yang menindihku dari atas, sementara Pak Yos memegangi kedua tanganku dengan erat sambil berusaha menciumi bibirku.
    “Mmh.. Jangann.. Mmhh.. Hentikan.. Aske..!!” jeritku di sela sela mulut Pak Yos yang sedang mengulum bibirku, saat kurasakan jari Aske mulai membuka resleting gaunku, lidah Pak Yos masih bermain-main di dalam mulutku saat Aske yang di bantu Pak Pri berusaha melepaskan gaunku, mereka menariknya dengan paksa melewati kedua tanganku, sehingga gaun bagian atasku merosot hingga sebatas perut.

    “Bajingan kalian.. Brengsek..!!” teriakku sambil terus berontak dari himpitan ke tiga orang itu, tapi sepertinya mereka sudah tidak peduli dengan jeritanku, Aske malah sudah melepaskan braku yang tanpa tali, sehingga kini buah dadaku terbuka dan menggantung tanpa penutup apapun, aku melenguh pelan, menahan sakit saat Pak Yos mulai meremas remas buah dadaku dengan kasar, mulutnya mulai mengulum bibirku kembali sambil sesekali menggigit bibirku yang mungil, sementara Aske menjambak rambutku dan menariknya ke atas sehingga kepalaku menjadi terdongak dan tidak dapat mengelak dari mulut Pak Yos yang sedang mengulum bibirku dengan beringas.

    “Jangann.. Jangann.. Lakukan itu.. Lepaskan saya.. Biadab kamu Aske..” jeritku panik saat Pak Pri mulai melolosi celana dalamku, aku berusaha menendangkan kakiku saat kurasakan celana dalamku ditarik paksa melewati lututku, betisku dan akhirnya lepas dari ke dua kakiku, kemudian Pak Pri mulai memposisikan tubuhnya tepat di belakang tubuhku, aku tidak dapat melihatnya karena posisi tubuhku masih menelungkup sementara Pak Yos memegangiku dengan erat, tapi aku bisa mendengar Pak Pri menurunkan resleting celananya, dan mulai memain-mainkan ujung kemaluannya di bibir vaginaku.

    “Jangan.. Perkosa saya.. Saya mohon..” keluhku lemah sambil memejamkan mataku, aku mulai menangis saat itu, sementara Pak Yos masih saja menciumi seluruh wajah dan leherku sambil satu tangannya meremas remas buah dadaku, dia sepertinya sama sekali tidak merasa iba melihatku menangis. Aku mendengar Pak Pri mulai mendesah sambil sesekali melenguh panjang, tapi aku tidak merasakan sesuatu menyentuh bagian selangkanganku, merasa penasaran, kupaksakan kepalaku menoleh ke arah samping.

    “Astaga.. Aske kamu sudah gila..!!” seruku saat kulihat Aske sedang mengoral batang penis Pak Pri sambil sesekali mengocoknya dengan tangannya yang mungil itu, Aske hanya menoleh dan tersenyum ke arahku, sepertinya dia sangat menikmati permainan itu, rambutnya yang panjang sampai tersibak saat Aske menaikturunkan kepalanya dengan cepat, mengocok kemaluan Pak Pri di dalam mulutnya, aku makin terperangah saat kulihat Aske berjongkok membelakangi tubuh Pak Pri yang duduk di atas lantai, lalu Aske menyibakkan belahan gaun hitamnya dan menyingkapkan celana dalamnya, kemudian tangannya memegang batang penis Pak Pri dan membimbingnya masuk ke dalam liang vaginannya, sementara Pak Pri memegang pinggang Aske yang saat itu sedang menurunkan tubuhnya dengan perlahan di atas pangkuan Pak Pri.

    “Ahh.. Sshh..” Aske mendesah panjang saat batang penis Pak Pri amblas seluruhnya ke dalam liang kemaluannya, Aske sempat menaik turunkan tubuhnya beberapa kali, lalu tiba tiba dia berdiri dan menghampiriku.
    “Kak Lia nggak perlu takut.. Enak kok..” ujar Aske sambil tertawa kecil dan membelai rambutku, ingin rasanya kutampar wajah Aske saat itu juga, tapi tanganku masih di pegangi dengan erat oleh Pak Yos.

    “Jangan.. Jangan.. Dimasukin.. Sakitt..!! Hentikan..!!” jeritku saat kurasakan liang vaginaku mulai dijejali oleh batang kemaluan Pak Pri, rupanya saat itu Pak Pri sudah berada di belakangku, dia menyingkapkan gaunku dan mulai berusaha memasukkan kemaluannya ke dalam lubang vaginaku.

    “Sakitt.. Lepaskan..!!” jeritku parau, aku mencoba menggerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan saat batang kemaluannya mulai menyeruak masuk, aku berusaha mengelakkan batang penisnya dari vaginaku, tapi gerakanku tertahan karena dengan sigap Pak Pri memegang dan menahan pinggulku, sementara Aske membimbing batang penis Pak Pri dengan tangannya dan mengarahkannya masuk ke dalam liang kemaluanku.

    “Arghh.. Sakitt.. Ouhh..!!” aku melenguh lemah menahan sakit saat kemaluan Pak Pri menghunjam masuk menggesek seluruh dinding liang vaginaku, dan aku kembali menjerit saat Pak Pri mendorongkan tubuhnya membuat seluruh batang penisnya tertanam di dalam lubang kemaluanku.

    “Lepaskan.. Perihh..!!” gumamku lirih saat Pak Pri mulai memompa vaginaku, makin lama gerakannya semakin cepat, sehingga tubuhku pun ikut terguncang guncang mengikuti gerakan tubuh Pak Pri yang bergerak maju mundur. Aku merasakan batang penisnya seperti menggerus gerus dinding vaginaku saat kemaluannya bergerak maju mundur, sehingga menimbulkan rasa perih dan sakit di seluruh liang kemaluanku.

    “Benar kan Aske bilang.. Walaupun sudah tidak perawan lagi tapi dia masih sempit kan Pak..!!” ujar Aske kepada Pak Pri, Pak Pri hanya melenguh, tidak menjawab komentar Aske.

    Aku memang sudah tidak perawan lagi akibat pemerkosaan yang aku alami dulu, tapi sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi berhubungan badan dengan siapapun, paling paling aku hanya melakukan masturbasi, sehingga vaginaku masih tetap sempit dan terasa sakit saat batang penis Pak Pri menerobos masuk ke dalam lubang kemaluanku.

    Pak Pri masih terus memompa vaginaku, sementara aku hanya bisa pasrah dan menangis merasakan sakit dan perih saat kemaluanku di obrak abrik oleh batang penis Pak Pri, tubuhku sudah sangat lemah saat Pak Yos mulai melepaskan pegangan tangannya dari ke dua tanganku dan mulai menggumuli tubuh Aske, ku lihat Pak Yos sudah melepaskan gaun yang di kenakan Aske, menelanjanginya lalu meremas remas buah dadanya sambil menciumi bibir Aske, Aske pun langsung membalasnya dengan sangat bernafsu, akhirnya mereka pun bersetubuh di samping tubuhku yang sedang di perkosa oleh Pak Pri

    Baca Juga : Bercinta Dengan Ibu Kost

    “Keparat Aske.. Dia sengaja menyerahkanku ke orang orang biadab ini” pikirku.

    Tiba tiba kudengar Pak Pri mendengus keras sambil menghentakkan pantatnya dengan keras ke arah depan sambil tangannya mencengkeram pinggangku dengan erat, aku sudah tidak dapat meronta lagi saat itu, aku hanya bisa menangis dan memejamkan mata saat Pak Pri mengeluarkan seluruh cairan spermanya di dalam lubang vaginaku, kurasakan cairan hangat menyembur, mengisi dan membanjiri liang kewanitaanku.

    “Terima kasih Lia.. Rasanya nikmat sekali menggagahi kamu..” ujar Pak Pri sambil tertawa penuh kemenangan, bersamaan dengan itu kulihat Aske tiba tiba menghentikan aktivitasnya, dia melepaskan batang penis Pak Yos dari liang vaginanya dan menyuruh Pak Yos mengambil posisi di belakang tubuhku, lalu Aske mengoral dan mengocok kemaluan Pak Yos, kemudian Aske mengarahkan batang penis Pak Yos ke liang vaginaku sambil tetap mengocoknya dengan cepat sampai Pak Yos mencapai orgasme, membuat seluruh cairan spermanya menyembur keluar dan membasahi bibir kemaluanku.

    Aku merasa malu dan amat terhina di perlakukan seperti itu oleh mereka, aku memandang Aske dengan perasaan sangat marah.

    “Kejam sekali kamu Ke..!! Kamu sengaja mau membuat Kak Lia hamil..?” seruku geram.
    “Saya memang dendam sama kamu.. Kak Lia..!! dulu.. Waktu saya di perkosa, Kak Lia tidak berusaha menolong saya” ujar Aske ketus.
    “Tapi.. Aske.. Saat itu Kak Lia juga di perkosa..!!” jawabku bingung sambil berusaha berdiri, tapi tiba tiba Pak Yos menyergapku dari belakang, dia memelukku dan membalikan tubuhku sehingga posisiku menjadi terlentang menghadap tubuhnya.

    Pak Yos dengan sigap langsung menindihku sambil tangannya berusaha memasukan batang penisnya ke dalam liang vaginaku yang telah basah oleh cairan sperma Pak Pri dan spermanya.

    “Jangann..!!” jeritku, saat liang kemaluanku kembali di terobos dengan paksa..

    Sementara itu Aske tampak tertawa puas melihat aku kembali di perkosa oleh mereka, sudah beberapa kali Pak Pri dan Pak Yos bergantian menggarap tubuhku, sampai akhirnya mereka puas dan meninggalkanku sambil tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai tubuhku, Aske sempat melirik dan tersenyum ke arahku sebelum akhirnya dia pun ke luar mengikuti kedua orang itu.

    Aku masih tergolek lemas di atas washtafel toilet, seluruh tubuhku terasa pegal dan sakit, tapi aku tetap mencoba untuk berdiri walaupun rasa perih dan ngilu masih mendera di sekitar selangkanganku, kuraih braku yang teronggok di samping washtafel dan mengenakannya sambil membetulkan gaun bagian atasku yang tadi dilolosi oleh mereka. Aku telah membersihkan cairan sperma Pak Pri dan Pak Yos yang melekat di sekitar selangkanganku, lalu mengenakan celana dalamku kembali saat tiba tiba seorang office boy masuk dan kemudian memaksaku untuk melayani nafsu bejatnya, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menolaknya, aku hanya bisa diam dan pasrah saat office boy itu menghunjamkan batang penisnya dan mulai memompa liang vaginaku dengan kasar.

    Hari itu aku di perkosa oleh tiga orang termasuk oleh office boy itu yang ternyata mengaku kalau dia di suruh oleh mereka.

    Semua perlakuan keji itu memang telah di rencanakan oleh Aske, tapi aku masih tidak mengerti kenapa Aske tega menjebakku seperti itu, dan tentu saja aku sangat tidak terima dengan semua perbuatannya.

    Suatu saat nanti, akan kubalas semua perbuatannya terhadapku..!

  • Glory Days 1: Satu Rumah, Satu Cowok & Tujuh Wanita

    Glory Days 1: Satu Rumah, Satu Cowok & Tujuh Wanita


    179 views

    Prolog

    Ceritamaya | Pernah kebayang gak?? Jadi perjaka di usia 23 tahun, dan harus hidup diantara cewek-cewek cantik yang super sexy, sedangkan lu harus mencari kekasih masa kecil-lu yang dah lu bela-belain sampe musti lari dari rumah di kampung, pindah ke kota besar, supaya lu bisa nepatin janji lu ma pacar masa kecil lu untuk masuk ke universitas terbaik di Negara lu?? Sedangkan lu sendiri gak tahu gimana wujud pacar lu itu sekarang, bahkan lu lupa namanya , umurnya jadi musti gimana ??
    Cerita ini adalah buku harian dari orang beruntung itu, sedangkan emang dia sendiri terlalu lugu yang cenderung bodoh, berusaha untuk mimpi masa kecil dimana ke kota besar pun baru kali ini sepanjang hidupnya, berbekal uang 1.000.000 hasil kerja part time, harus cari uang untuk biaya masuk universitas, bayar les, tempat tinggal dan biaya hidup, tapi seengaknya dia mau tuch berusaha, kira-kira berhasil gak ya ??

    ^^^^^

    ACT I : Lapar … NEWPARADISE

    Tampang pas-pasan, bibir tebal, rambut ikal, pendek lagi, dengan tas kemping yang rasanya sudah semakin berat karena perut yang kosong ini sudah mulai memainkan orkestra, rasanya langkah pun semakin berat, oh ya laki-laki ini bernama Jaka, ya ga keren untuk ukuran anak kampung sekalipun , entah kenapa bapaknya dapat ilham buat ngasih nama anaknya seperti itu , sehingga terkadang Jaka mengaku namanya Jack.. biar agak-agak bau import katanya

    Lampu-lampu kota sudah mulai menyala sepanjang jalan dengan perut keroncongan Jaka terus berjalan sambil membaca Koran mencari tempat tinggal dia selama di kota besar ini, bukan, bukan dia gak mencari tempat tinggal dari tadi, atau cari tempat yang mewah, tapi gara-gara budgetnya yang pas-pasan itu , jelas sulit baginya untuk mencari tempat tinggal yang layak , ya 500.000 untuk satu tahu gitu loh, di kota besar lagi,..

    Entah sudah berapa kali Jaka ditolak pemilik-pemilik kost-kostan , ada yang mau menerima tapi tempatnya ternyata sarang gembong narkoba, yang kayaknya ga banget dech buat cowok lugu dari kampung macam Jaka , ada lagi tempat yang menerimanya namun lebih mirip pabrik pemalsuan uang, ya ampun bisa-bisa belum masuk Universitas udah masuk hotel prodeo dech hehehe.. Ceritamaya

    Aroma Mie Kuah dari salah satu sudut restoran benar-benar membuat air liur Jaka menetes, bau bawang putih yang digoreng hingga memberikan keharuman yang benar-benar wah,.Ataupun bau kuah daging yang benar-benar menggugah selera,.akhirnya Jaka menyerah juga dan bergegas masuk ke kedai makanan itu, dan bergegas memesan semangkuk mie kuah porsi besar,.

    ” Pak, pak 1 mangkuk ya, tapi double.. “
    ” Ok bos,..15.000 ” jawab si penjual itu..

    Jaka pun mengambil uang di dompetnya, terbayang sudah mie kuah yang sedap dengan potongan daging dan kuah yang penuh dengan kaldu, ditambah dua buah udang rebus yang menambah kenikmatan apalagi ditambah kecap asin untuk membuatnya bertambah nikmat dengan irisan sayur-sayuran diatasnya yang membuat Mie kuah itu makin mengugah selera..

    Rogoh Saku kiri, rogoh saku kanan, wajah Jaka mulai cemas, belum juga ditemukannya dompet yang menyimpan seluruh uangnya, dilepasnya tas gendongnya masih penasaran dibongkarnya tas itu untuk mencari si dompet yang tiba-tiba raib, Jaka pun hanya dapat menelan ludah saat menyadari dompetnya hilang,..

    ” Oh tidak !! ” pikir Jaka,..
    Belum lagi semangkuk Mie Kuah dengan ukuran ekstra sudah menunggu dihadapannya, sedangkan si penjual dengan kumis melintang dan wajah yang sanggar sudah menatapnya dengan tatapan yang sangat menyeramkan..Lagi-lagi Charlie Jaka hanya bisa menelan ludah , kali ini karena ketakutan..

    ” Kenapa ?? Ga punya duit ?? ” Tanya si penjual , galak..
    ” Domm… dompet saya hilang pakkk benar.. “
    ” Oh ya sudah,.. ” Jawab si penjual enteng..kali ini sambil mengambil mangkuk mie di hadapan Jaka..Jaka pun hanya bisa pasrah saja melihat Mie itu mulai menjauh..

    ” Nich, makan ini aja.. ” kata si penjual galak, ” Ga punya uang koq mau makan enak.. “
    Sambil melempar Koran bekas pada Jaka, tepat mengenai wajahnya…

    Gontai Jaka pun berjalan keluar kedai, perut lapar yang makin membuat langkahnya berat, belum lagi semua uang simpananya hilang, benar-benar bahkan untuk pulang ke kampung pun sudah tak punya uang…

    Hanya sebuah Koran yang menemaninya kini, Koran yang tadi dilempar oleh si penjual makanan, hampir saja Jaka memakan Koran itu, namun baru segigit saja rasanya sudah tak enak.. Membuat Jaka urung memakannya..

    Sementara malam sudah semakin gelap , langkah kaki Jaka membawanya ke sebuah taman yang sunyi, duduk melepas penat, ditaruhnya tas besarnya disamping, sambil memegangi perutnya yang berbunyi tanpa henti, Jaka pun merebahkan tubuhnya, dia pun membuka Koran lusuh yang masih dipegangnya..dibukanya Koran itu, entah untuk apa, sebuah kolom iklan langsung menarik perhatiannya..

    NewParadise
    Terima Teman Sewa Kamar..
    Khusus pria..
    Sewa murah dan terjangkau..
    Fasilitas lengkap
    Boleh hutang
    Alamat : Jln.. XXX no. XX

    Langsung saja Jaka meloncat dari kursi taman itu dan bergegas menggendong tas gendongnya, bagaikan mendapatkan undian 1 milyar baginya membaca iklan itu, rasanya ingin sekali berterima kasih pada si penjual Mie tadi, yang sebenarnya sudah membuatnya menyumpah-nyumpah kesal karena pelitnya si penjual tadi..

    Tanya sana Tanya sini..Akhirnya sampai juga Jaka ke rumah kontrakan itu, rumah 2 lantai dengan dinding yang didominasi warna biru muda, indah sekali, tidak terlalu besar namun terlihat nyaman, NewParadise begitu yang tertulis pada papan nama di depan gerbangnya,

    Jantung Jaka berdetak demikian cepat, rasanya tangan ini tak kuat untuk memencet bel rumah itu, satu kalimat di iklan membuat Jaka sedikit ragu dengan rumah kontrakan NewParadise ini..

    Khusus laki-laki

    Cetak miring , dibold lagi, kenapa?? Apa maksudnya ini, apalagi rumah kontrakan macam ini tidak mungkin murah, begitu bagus, berkali-kali lipat lebih indah dibanding rumahnya dikampung..

    Jangan-jangan..
    Jangan-jangan…

    Ini rumah kontrakan para homo, terbayang olehnya..4 orang lelaki setengah baya mewawancarainya..

    ” Jadi kamu Jack ?? ” kata si salah satu bapak yang berkaca-mata
    Sambil menelan ludah Jaka hanya dapat mengangguk..
    ” Ayo buka baju.. ” perintah yang satunya lagi..Bapak botak dengan jidat licin bercahaya..
    Jaka pun hanya dapat mengikuti perintah mereka..perlahan dibukanya kaus lengan panjangnya itu,..Jaka pun hanya dapat pasrah melihat wajah mereka yang senyum-senyum sendiri, sementara matanya terus memandangi tubuhnya dari atas sampai keujung kaki,..

    ” TIDAK !!!!! ” bunyi pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Jaka yang mengerikan, pintu itu mulai terbuka, ingin rasanya Jaka bergegas kabur dari pintu gerbang rumah ini, terbayang olehnya yang keluar adalah bapak botak dengan jidat yang bercahaya tadi…

    Jantungnya berdetak makin keras, ingin lari pun rasanya kaki ini sudah tak kuat, hingga sosok dibalik pintu itu pun keluar dari rumah itu…

    ” Hay..Cari siapa ?? ” suara halus yang damai menyelusup ke telinga Jaka, hancur semua bayangan homo-homo menyeramkan tadi, yang ini, yang ini, benar-benar surga dunia, bidadari yang benar-benar cantik menyapa di pintu rumah itu.

    ACT II : Passing Test

    Kali ini liurnya benar-benar menetes bukan karena aroma Mie Kuah tapi karena Bidadari itu hanya mengenakan tanktop putih dengan rok mini, wow !!! rasanya mata Jaka mau copot melihatnya, apalagi puting gadis cantik itu tercetak jelas pada tanktop putihnya, potongan tanktopnya pun sangat rendah hingga membuat belahan payudaranya sedikit terlihat,..

    Jantung Jaka berdegup makin kencang, untung dia tidak lari tadi, kalau gak ini bisa jadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, Jaka pun hanya bisa tertegun melamun, sementara seonggok benda hidup mulai menggeliat dibalik celana dalamnya..

    ” Halo… ” Suara itu memanggil Jaka yang hanya bisa bengong menatap mahluk cantik dihadapannya, Rambut gadis itu terurai panjang dengan rambut semi highlight potonganya pun gaya terkini, benar-benar sedap dipandang, senyumnya pun begitu manis..

    ” Halo… ” Panggilan kedua dari gadis itu membangunkan Jaka dari lamunannya,.

    Jaka pun hanya dapat tersenyum sambil tersipu malu, ..

    ” Cari siapa ya ?? ” Tanya gadis itu, merdu sekali suaranya
    ” Ga cari siapa-siapa ” Jawab Jaka terbata-bata..
    ” Jadi kamu orang iseng ya ?? ” Tanya gadis itu sedikit takut sambil mulai bersembunyi dibalik pintu,..
    ” Bukan !! ” Jaka panik ” Tenang, saya bukan mau isenk, saya baca iklan tentang rumah kontrakan, apa masih ada kamar ?? “
    ” Oooowww… ” Gadis itu menatap sedikit tak percaya..

    Jaka pun hanya melongok saja , sambil berharap dia mendapat kesempatan untuk bisa tinggal bersama gadis secantik ini,..
    ” Ya sudah, ayo masuk kalo gitu.. ” kata gadis itu,..Mata tampak masih sedikit curiga..

    Oh merdu sekali terdengar di telinga Jaka…
    Jaka pun melangkah masuk ke dalam rumah itu, “NewParadise” tapi matanya tak pernah lepas dari bokong gadis itu, oh indah sekali saat bokong yang bulat padat itu bergerak mengikuti langkah dari pemiliknya, tak berapa lama sampailah mereka berdua di ruang tamu rumah itu, tidak terlalu besar tapi nyaman, kursi yang membentuk letter L berwarna Maroon, sementara disudut ruangan terdapat televisi 29 inci, rasanya tak percaya Charlie melihat ada televisi sebesar itu sedangkan dikampungnya televise terbesar hanya seukuran 16 inci..

    ” Ayo duduk.. ” ajak gadis itu, mempersilahkan Jaka duduk di sofa itu,..
    Perlahan Jaka pun mendaratkan pantatnya diatas sofa empuk itu, matanya tak pernah lepas menatap wajah cantik dihadapannya,..

    ” Oh, aku salah satu penghuni disini, bisa dibilang aku yang punya ide untuk membuat rumah kontrakan ini, desain ruangan dan perabotnya hasil rancangan ku,..Hmmm oh ya hampir lupa nama saya Maria..22 tahun Interior Desainer.. ” kalimat itu meluncur indah dari mulut mungil gadis itu,..

    Maria, oh Maria cantik sekali namanya secantik orangnya
    ” Hmm, nama anda siapa ?? ” Tanyanya..membangunkanku dari hayalan
    ” Jack, nama saya Jack, ” Agak tegang juga berbicara dengan wanita secantik ini apalagi jarak sedekat ini, rasanya hembusan nafasnya pun terdengar di telinga Charlie..
    Gadis itu menatap Jaka seolah tak percaya nama Jaka adalah Jack

    ” Se..se benernya nama saya Jaka, ” Jaka ga enak hati sendiri

    ” Hmmm, Jaka , lucu ya namanya..” Maria tersenyum, Jaka pun hanya bisa mengangguk lugu, sambil senyum-senyum sendiri..

    ” Jadi kerja atau kuliah ?? ” Tanya Maria lagi..
    ” Ca.. Calon mahasiswa, ” Jawab Jaka , rasanya jantungnya mau copot saat Maria mengambil gelas diatas meja, yang membuatnya sedikit membungkuk, Payudaranya makin tercetak jelas pada tanktop putihnya, apalagi saat payudaranya tertekan pada pahanya membuat seolah payudara itu mau meloncat keluar dari tanktop putih itu..

    ” Mau minum ?? ” Tanya Maria,..
    Jaka hanya menggeleng , matanya tak pernah lepas sedikit pun dari payudara Maria, berkedip pun tidak,..

    ” Ok, mau lihat-lihat dulu ?? ” ajak Maria, setelah menegak minumannya, lagi lagi payudara itu membusung saat Maria menaruh gelas minumannya,..Jaka pun hanya mengganguk sambil mengikuti Maria yang menarik tangan Jaka, lembut sekali tangannya..

    ” Disini ada beberapa peraturan,.. ” sambil mengajak Jaka berjalan kearah tangga, Maria beberapa langkah didepan, hingga untuk pertama kalinya sejak dilahirkan, Jaka menatap surga dunia meski masih sedikit berkabut,..

    Paha mulus yang cukup panjang, padat sekali hingga berujung pada pangkal paha yang menutupi bagian paling sensitive lubang buaya yang memberikan berjuta kenikmatan, Celana dalam Maria yang membuat Jaka mulai sulit bernafas karena jantungnya terlalu cepat berdetak, rasanya hidung Jaka pun mulai menghangat, seperti orang mau mimisan, tak cukup itu, rasanya celana ini segera sobek , belum pernah rasanya penis Jaka menjadi sekeras ini…

    Baca Juga : WONDERWOMAN RAPE

    Seolah tak menyadari bahwa celana dalamnya terpampang di kedua bola mata Jaka, Maria malah melangkah makin tinggi meninggalkan Jaka, seolah sengaja membuat Jaka memandangi dirinya, yang justru membuat jantung Jaka berdebar makin cepat sambil menghayalkan pemandangan dibalik celana dalam itu..

    Jaka bahkan tak pernah tahu bagaimana bentuk kemaluan wanita yang membuatnya berhayal tak jelas,..

    Tiba-tiba Maria memanggil, “Ayo naik, lagi lihat apa sich ?? “
    ” gak..gak lihat apa-apa koq ” Jaka gelagapan menjawabnya..

    Maria pun hanya tersenyum saat Jaka mulai melangkah naik,
    ” Peraturan pertama, dilarang mencampuri privacy orang lain ” kata Maria sambil tersenyum,..
    ” hmmm, yang ini kamar Sherry.. ” sambil menujuk kamar diujung lorong itu,..

    ” Ya, siapa yang memanggil ?? ” Jawab orang dibalik pintu kamar itu, dan tiba-tiba kamar itu terbuka, seorang gadis cantik tersenyum menatap Jaka dan Maria, cukup tinggi juga, sedikit lebih tinggi dibanding Jaka,

    Tak kalah cantik dengan Maria, walaupun payudaranya tak sebesar Maria, namun tubuhnya lebih ideal, dan yang terpenting yang membuat darah dihidung Jaka mulai menetes keluar adalah,..

    Sherry yang dengan santainya menyapa Charlie wlaupun tubuh sexynya hanya terbalut handuk putih dengan motif Puuka diujungnya,..

    ” Halo,, penghuni baru ?? ” Tanya cewek yang dipanggil Sherry ” Aku Sherry, 23 tahun, sekarang bekerja sebagai pramugari , kamu ?? “

    ” Sa..sa…saya Jack, eh Jaka ” Jaka gelagapan sambil berusaha menyedot darah dihidungnya masuk kembali, ” 2..23 tahun , calon mahasiswa.. ” Jaka kembali menelan ludah

    ” Owhh, lucu ya” jawab Sherry sambil tersenyum , sambil membenarkan posisi handuknya, yang sedikit melorot membuat payudaranya sedikit terlihat, wow indah sekali kata Jaka, sedangkan Sherry seolah tak perduli kalau yang dihadapannya ini juga seorang lelaki

    Apalagi tubuhnya setengah basah begitu membuat tubuhnya sedikit bercahaya terkena pantulan lampu kamarnya, membuat tubuh sexynya bertambah ‘mantab’ dan jelas membuat nafas Jaka pun makin berat saja,..

    ” Ya nanti kita ngobrol lagi ya, mau ganti baju dulu.. ” Sherry kembali tersenyum sambil menutup pintu kamarnya,..

    ” Itu Sherry , cantik ya..” kata Maria seolah menggoda Jaka,..
    Jaka pun kembali hanya dapat mengganguk kecil,..

    ” Ok , peraturan kedua dilarang masuk kamar orang lain sebelum mengetuk pintu,.. “
    Jaka hanya mengganguk, saat tiba-tiba Maria membuka sebuah pintu tiba-tiba…

    ” Upss, maksudnya untuk mencegah hal-hal semacam ini, makanya peraturan kedua itu dibuat,.. ” Maria tersenyum, sementara darah segar kembali meluncur turun dari hidung Jaka, lebih deras dari sebelumnya,

    Ya jelas saja , yang berada dibalik pintu itu adalah seorang gadis cantik dan manis yang sedang berganti pakaian, benar-benar kali ini lebih parah, baju yang dikenakan gadis itu pun baru sebatas setengah dadanya, sehingga hanya menutupi puting payudaranya, sementara payudara bagian atasnya terbuka, kali ini rasanya jantung Jaka pun sudah nyaris putus melihatnya,.. sementara hidungnya pun bertambah mimisan..

    ” Mariaa… ” bentak gadis cantik itu..
    ” Upss.. ” Maria tertawa, sambil menutup pintu itu, saat gadis cantik itu melempar sesuatu kearah pintu..
    ” PLUUK !! ” sebuah BH mendarat diwajah Jaka,…
    Maria pun bergegas mengangkat BH gadis tadi dari wajah Jaka,..sementara Jaka pun meraih saku jaketnya , mengambil selembar tissue untuk melap mimisan di hidungnya..

    ” Hehehe, sory ya, yang tadi itu, Karen… Calon mahasiswa juga seperti kamu, umurnya baru 19 tahun,..” Kata Maria,..
    ” Ouwwh..Karen tipe wanita intelek, wajahnya terlihat pintar sekali, namun tak mengurangi kecantikannya ” pikir Jaka
    ” Oh ya, peraturan ketiga, kita ke sini,.. ” sambil berbelok di sudut ruangan menuju sebuah kamar mandi, di sudutnya sebuah kaca besar, dengan sebuah wastafel tempat sikat gigi, ataupun sekedar cuci muka,..

    ” Lihat nich, lihat disini.. ” Tunjuk Maria,..
    ” Hmmm, dibalik pintu ini, ada label yang bisa dibulak-balik untuk menunjukan apakah sedang ada orang atau gak,.. jangan lupa untuk menggantinya kalau sedang memakainya ya,..” Terang Maria, ” Hmmm , biar lebih mudah masuk yuk.. “

    ” Ahhhhhh !!! ” suara teriakan, sementara kali ini bocor sudah tissue yang tadi digunakan Jaka untuk menyumpal hidungnya yang mimisan,…

    Seorang gadis cantik, yang benar-benar Topless.. berusaha menutupi payudaranya yang tak berbusana, jemari-jemari mungilnya berusaha menutupi payudaranya yang besar, namun tetap saja tak bisa, menutupi seluruh permukaannya, bahakan puting sebelah kirinya dapat terlihat jelas oleh Jaka meskipun sudah berusaha ditutupi oleh jemari mungilnya..

    ” Judy,.. kan udah dibilang jangan lupa ganti label kalau ada orang… ” Seru Maria,..
    ” Upss… ” Karen malah tersenyum menatap Jaka, sementara Mimisan di hidung Charlie bertambah parah, jantungnya pun berdegup dengan kencang, pikirannya melayang membayangkan para gadis-gadis cantik ini, sementara nafasnya pun semakin sesak hingga akhirnya Jaka terjatuh lemas dengan hidung yang mimisan..

    Semakin lama semakin gelap…

    ACT III : Welcome to Paradise

    ” Hallooo.. ” Suara – suara para bidadari seolah memanggil Jaka, sambil menepak-nepak wajahnya mencoba membangunkan Jaka
    Matanya perlahan membuka , remang-remang sebelum wajah cantik para gadis yang memanggil dapat dilihat Jaka dengan jelas,..

    Untunglah mereka kini sudah berbusana, kalau gak, mungkin Jaka bisa pingsan lagi untuk kedua kalinya,..Namun tetap saja, busana yang mereka kenakan itu begitu minim sehingga lekuk tubuh ke-4 gadis itu dapat dinikmati oleh siapapun yang melihatnya..

    ” Sory ya..yang tadi itu test masuk.. ” Kata Maria,..
    ” Eh,.. ehmm test masuk?? ” Tanya Jaka kebinggungan..
    ” Ya, kami disini semua wanita, sedangkan hidup dikota besar seperti ini…. ” Wajah Karen tampak serius,..

    ” Wanita semua ?? ” Jaka tambah binggung

    ” Ya singkatnya , kami merasa agak ketakutan saat ini, beberapa hari terakhir katanya ada orang aneh yang berkeliaran, sedangkan kami berlima disini semuanya wanita… ” kata Sherry yang terlihat paling dewasa diantara para gadis itu..

    ” 5 orang ?? dan wanita semua ?? ” Jaka semakin binggung,
    ” Ya 5 orang, ada satu lagi yaitu Sara, umurnya 20 tahun, dia mahasiswi ” terang Judy..
    ” hmm kayaknya dia sedang kerja paruh waktu .. ” lanjut Judy

    ” Oh ya sebaiknya kita perkenalkan diri lagi saja..” kata Maria..
    ” Okk… ” Seru para gadis lainnya..

    ” Pertama… aku Maria, 22 tahun..interior desainer.. ” Maria berkata sambil meloncat, payudaranya pun ikut terpental, membuat jantung Jaka kembali berdegup kencang..

    ” aku..aku Sherry..23 tahun, pramugari.. ” Mata Sherry menjentik seolah menggoda Jaka.

    ” Hmm, namaku Karen , 19 tahun, calon mahasiswi.. ” Tangannya menyilang, menekan payudaranya yang besar itu, sehingga membuatnya terlihat semakin besar…

    ” Ya ampun ” pikir Jaka, si ‘otongnya’ kembali berteriak dibalik celananya,..” test masuk, test masuk.. ” Pikir Jaka lagi..

    ” Oh iya,..awww” kata gadis bernama Judy, sambil meletakan minumannya. ” Nama ku Judy, 20 tahun, aku actress dan calon mahasiswi juga.. ” Judy sibuk mencari tissue sebelum disodorkan oleh Sherry

    Ya Tuhan, Jaka hanya bisa menelan ludah saat Judy melap payudaranya yang basah terkena tumpahan minuman, tangannya menyusup diantara pakaiannya yang serba minim itu, melap payudaranya yang basah,.. Branya yang berwarna biru muda mulai tampak dari balik pakaiannya..lagi-lagi Jaka hanya bisa menelan ludah..

    ” Ok..ok.. sekarang Jack eh Jaka.. ” seru Maria..
    ” Berapa yang kamu punya untuk membayar kontrakan disini ?? ” lanjut Maria..

    Gadis-gadis yang lain hanya mengangguk..
    ” Ngu..ngutang boleh gak ?? ” Malu sekali Jaka mengatakannya..

    ” Haaaahhhhhh !!!!! ” Serempak para gadis berteriak dengan suara nyaring…
    Jaka pun hanya dapat menutup telinganya dengan kedua jarinya..terbayang olehnya dia akan diusir lagi…

    Para gadis itu berkumpul dan berdiskusi dengan setengah berbisik, mereka pun membelakangi Jaka seolah takut Jaka mendengar pembicaraan mereka..namun malah jadi pertunjukan bokong-bokong indah yang membelakangi Jaka, gadis-gadis itu benar-benar sexy, pantat mereka begitu indah sehingga membuat Jaka makin sulit bernafas..

    ” Bagaimana ini, sepertinya dia orang baik.. ” bisik Maria yang diamini ketiga gadis lainnya..
    ” Ya sepertinya dia bukan serigala berbulu domba,.. ” Karena menambahkan..
    ” Lalu bagaimana ?? ” Tanya Sherry..
    ” Ya sudah kita wawancara saja dulu.. ” Judy memberi alternative..

    Ke empat gadis tadi berbalik dan kembali duduk ditempatnya semula..
    ” Ok , Jaka kenapa kamu bisa gak punya uang ?? ” Tanya Maria
    ” Kayaknya saya kecopetan, benar saya benar-benar kecopetan.. ” Jaka berusaha meyakinkan..

    ” Ohhh.. ” yang lain hanya berkomentar demikian..

    ” Kami disini semua wanita, apa kamu yakin ga kan macam-macam pada kami ?? ” Tanya Maria lagi..

    ” Ya itu benar ” kata Sherry, sambil melangkah mendekati Jaka…
    Duduk dipangkuan Jaka yang membuat Jaka gelagapan sebelum akhirnya Sherry menarik tangan Jaka kearah payudaranya

    ‘Ya Tuhan’ pikir Jaka, saat telapak tangannya untuk pertama kali sejak dia dilahirkan, menyentuh payudara wanita, rasanya kenyal di tangan Jaka sementara Sherry hanya tersenyum saja menatap wajah Jaka,..

    Ingin rasanya Jaka mencengkram dan meremas payudar Sherry, namun tak ada keberanian dan diapun masih terlalu polos untuk melakukan hal itu, Jaka pun membulatkan tekad demi impian masa kecilnya dahulu, dia pun bergegas berdiri..

    ” Saya, saya memiliki impian, meskipun bapak di kampung melarang saya berkuliah di kota, namun saya memiliki janji dengan pacar masa kecil saya untuk bertemu di tahun depan di universitas yang sama di kota ini,..Jadi..Jadi saya berusaha untuk itu.. ” Jaka menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan, membuat para gadis itu terpesona,..

    ” Jadi maksudnya kamu masih perjaka ?? ” Tanya Judy.. ” Koq polos banget ?? “

    ” Hahhhh ” Jaka binggung menjawabnya, apalagi dia tahu ini test masuk, namun mengakui cowok seumur dia masih perjaka itu memalukan,..

    Akhirnya Jaka menjawabnya dengan anggukan kecil, sambil menekuk wajahnya dalam-dalam,..

    ” OK, kamu diterima,.. ” Mereka berempat berkata nyaris bersamaan..

    ” Yess !!! ” Jaka nyaris tak percaya mendengarnya..

    ” Tapi,..bayar dengan tubuh-mu… ” Seru Maria

    ” Hahhhhh ??? ” Jaka tak percaya mendengarnya, tanpa sadar tangannya pun menutupi tubuhnya seolah takut diperkosa,..

    ” No..no no.. bukan macam itu, kamu harus membersihkan rumah ini, mencuci, belanja dan memasak..OK ?? ” terang Maria, sementara para gadis lainnya hanya tertawa melihat tingkah Jaka..

    ” Hehehe.. ” Jaka tersipu malu,..

    ” Sekarang kita pesta !!! ” Ajak Sherry.. Sambil meniup terompet

    Malam penyambutan Jaka bergabung di NewParadise pun berlangsung meriah, mengakrabkan para penghuni lama dengan Jaka, saat ini Jaka benar-benar bahagia bisa sampai di kota besar ini..Ada Maria yang pemabuk berat, ada Judy yang baru minum sedikit saja sudah teler, ada lagi Sherry yang marah-marah saat mabuk, ataupun Karen yang menjadi liar saat mabuk, nyaris saja Karen membuka semua pakaiannya, sedangkan hari itu Jaka pun mulai menjadi pembantu dirumah itu..

    ACT IV : STALKER

    ” Sayur, sabun , makanan kecil… ” Jaka tampak sibuk membawa barang belanjaan sementara tangannya penuh oleh barang belanjaan, dia pun harus memeriksa barang pesanan, khawatir kalau-kalau ada yang terlupa,..

    Hingga..” Bruukkk !!! ” tak sengaja dia menabrak seseorang,..
    Jaka pun terjatuh, demikian juga dengan orang itu,..Jaka yang masih menutup matanya meringis kesakitan bergegas minta maaf, dia bergegas membuka matanya, namun yang terpampang dihadapannya justru paha mulus, dengan celana dalam hitam…

    Jantung Jaka langsung berdegup dengan kencang, matanya tak mampu berpaling dari celana dalam itu,..Dan ” Brukk !!! ” sebuah tendangan mendarat dikepalanya, Jaka pun kembali terjatuh…

    Jaka sempat melihat wajah cantik wanita itu, cantik sekali, namun sebelum Jaka sempat untuk kembali meminta nomor handphone, eh salah minta maaf..Wanita itu bergegas pergi,..tapi wanita cantik masih sempat saja mengumpat Jaka dengan kasar, padahal Jaka benar-benar gak sengaja..

    Setelah pusing dikepalanya hilang, Jaka pun langsung mengumpulkan barang belanjannya yang terhambur, setelah memastikan barang belanjaanya lengkap, Jaka pun bergegas pulang, karena masih ada mencuci, menyapu dan mengepel yang belum dikerjakannya..

    BH…BH…CELANA DALAM, Jaka harus menjemur sambil mengelap mimisannya, entah sudah berapa liter darah yang keluar hanya dalam 2 hari tinggal di rumah ini, Jaka sungguh tak mengerti kenapa mereka ga mencuci perabotan pribadinya sendiri, sementara Jaka tak menyadari sesosok misterius mengawasinya..

    Malam pun tiba, Jaka pun ingin rasanya bergegas membuka buku untuk belajar buat testnya 2 hari lagi, namun…

    ” Hahahahaha… ” suara tawa seolah tak pernah berhenti, pagi harus belanja, siang membereskan rumah, bahakan saat malam hari pun para gadis itu hanya bisa bercanda dan tertawa hingga menimbulkan kegaduhan,

    ” Rasanya tak tahan lagi 2 hari tinggal disini, belum juga belajar namun hanya dikerjai saja, bagaimana mungkin orang sebodoh dirinya bisa lulus masuk ke universitas kedokteran sesuai janji.. ” Mungkin ini yang terpikir oleh jaga, apalagi test dasar akan diadakan 2 hari lagi, bagaiman mungkin Jaka bisa mendapatkan nilai bagus bila seperti ini,..

    Saat mereka terlelap pun sudah terlanjur malam untuk bisa belajar, mata Jaka terlanjur mengantuk untuk membaca buku pelajaran pun rasanya sudah mustahil hingga Jaka pun kembali tertidur seperti hari-hari kemarin, ingin rasanya angkat kaki dari rumah ini, namun tanpa uang sepeserpun rasanya tidak mungkin bagi Jaka untuk mencari tempat tinggal gratis seperti dirumah ini,..

    Jaka terbangun dari tidurnya saat sebuah suara halus masuk ketelinganya..
    ” Ouhh sayang..peluk aku.. ” Ya ampun Maria, dengan payudaranya yang tak tertutupi oleh bra lagi, hanya celana dalam yang menutupi bagian sensitivenya saat Jaka mendapati Maria tertidur disebelahnya..

    Dari mulutnya tercium bau alcohol..
    ” Ya ampun, gimana mau belajar.. ” Pikir Jaka,..

    Tiba-tiba tangan Maria, menempel di selangkangannya memijat penisnya yang makin mengeras, Jaka pun menelan ludah, sementara punggungnya merasakan bagamana payudara Maria menempel dikulitnya, lembut sekali, sementara putingnya yang merah kecoklatan pun dapat terasa menusuk kulit Jaka..

    Jaka panik, entah harus melakukan apa..
    ” Test masuk, test masuk.. ” Jaka mulai berpikir, kalau-kalau ini juga termasuk ujian untuk tinggal di NewParadise ini..

    Jaka pun bergegas berdiri dan mengambil baju dan jaketnya,.. Menenteng buku pelajarannya dan bergegas keluar rumah, menuju taman di daerah itu yang cukup terang agar dia dapat belajar dengan tekun..

    Dia berjalan dengan santai, menikmati dinginnya malam, sementara dia tak menyadari sesosok pria misterius menyusup masuk ke rumah kontrakan itu..

    ####

    Tangan orang misterius itu menjamahi payudara Karen, memainkan putingnya dengan lembut namun sesekali menariknya dengan kasar membuat Karen hanya dapat menahan air matanya yang mulai menetes keluar, sedangkan dengan ancaman pria misterius tadi membuat Karen ketakutan untuk berteriak minta tolong…

    Orang itu melepas piyama yang dikenakan Karen dan menarik celana tidurnya, hanya tinggal celana dalamnya yang berwarna merah muda yang menempel ditubuhnya, Karen ketakutan setengah mati, sementara orang misterius itu makin nekad menyalurkan hasratnya, lidahnya mulai bermain dipayudara Karen, menjilatnya , menghisapnya sesekali ditengah hisapannya dia memainkan puting payudara Karen dengan lidahnya, membuat Karen meringis nikmat,..terasa kumis orang itu yang cukup tebal yang bergesekan pada payudara Karen yang mulus itu sehingga memberikan rasa geli yang unik…

    Sementara lidahnya bekerja, tangan orang itu pun tak berhenti menjelajahi pada mulus Karen, tangannya menyelusuri paha Karen sebelum berhenti dipangkalnya..dari balik celana dalamnya orang itu mengerakan tangannya mengikuti garis bibir kemaluan Karen, membuat gadis itu mendesah tak karuan menikmati sentuhan tangan dari pria itu,..

    ” Uggghh ” desah Karen tak tertahan..

    Tangan pria misterius itu yang satunya berpindah menggantikan peran mulutnya pada payudara Karen, Pria itu mencoba mencium Karen, pertama Karen berusaha menolaknya, dipalingkannya wajahnya ke kanan dan kekiri, menghindari sosoran bibir tebal orang itu, namun orang itu tak kehabisan akal dan mengerakan tangannya yang berada dimulut vagina Karen berusaha memberikan rangsangan pada Karen,..

    ^^^

    Ya ampun pintu rumah belum dikunci.. ” setelah berjalan sekitar setengah jam Jaka baru teringat kalau dia lupa mengunci rumah, ya jelas saja dia tak mengunci rumah, karena memang dia belum diberikan duplikat kunci oleh penghuni yang lain,..

    Jaka pun bergegas berbalik arah kembali ke NewParadise , dengan penuh kekawatiran kalau-kalau ada orang yang masuk dalam rumah..sepanjang perjalanan dia terus berdoa agar tidak ada pencuri yang masuk

    ^^^

    Jemari orang itu dengan lihai memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat Karen terbuai tak berdaya menikmati gerakan tangan orang itu pada vaginanya, dirasakannya vaginanya mulai basah, sementara dirinya pun mulai tak kuasa untuk tak mendesah,..

    Akhirnya pagutan bibir orang itu pun disambut oleh Karen, dengan lelluasa orang itu pun menjulurkan lidahnya, memainkan lidah Karen, tak percaya rasanya akibat permainan tangan orang itu yang memberikan rangsangan pada payudara dan vagina Karen yang bermain tanpa henti membuat Karen membiarkan saja orang itu menguasai dirinya,..

    Tangan yang berada dimulut vaginanya pun mulai berani bermain lebih jauh, menarik celana dalamnya kesamping yang memberikan akses bagi tangan orang itu untuk mengekplore vaginanya lebih jauh, celah kemaluan Karen diselusuri oleh jemari orang itu, berhenti di clitorisnya, menekan klitoris itu samabil memberikan rangsanagan lainnya, membuat Karen tak berdaya menikmati permainan orang itu,..

    Rasanya Karen pun akan menyesal bila berteriak, baru kali ini dia merasakan kenikmatan dari permainan jari seorang Pria, Jemari orang itu begitu mahir membawa Karen ke zona kenikmatan yang terlarang, vaginanya pun mulai bertambah basah, dan kini Karen pun tak segan untuk membalas ciuman orang itu..

    Jari orang itu mulai menyelusup dalam vaginanya membelah vagina Karen dan menyeruak masuk,..Telunjuk orang itu mulai basah oleh cairan vagina Karen, perlahan orang itu mulai mngerekan jemarinya menggelitik dalam vagina Karen membuat Karen mendesah tak karuan keeenakan..

    ^^^

    Terdengar sedikit kegaduhan yang memancinng perhatian Jaka dari arah kamar Karen, namun dia teringat peraturan untuk tak mencampuri urusan orang lain, hingga Jaka pun urung naik ke atas untuk melihat keadaan Karen, terlintas dalam benaknya kalau Karen hanya berbicara sambil tidur karena mabuk,..

    Jaka pun kembali sibuk untuk mencari kunci rumah di setiap laci di rumah itu, agar dia bisa belajar di luar rumah dengan tenang..

    ^^^

    Puas menggelitiki vagina Karen yang demikian sempit, lelaki itu pun mulai mengoyangkan jemarinya naik turun sambil sesekali menekan-nekan vagina Karen berusaha mencari G-spotnya, dia begitu menikmati bagaimana reaksi Karen saat orang itu menggerakan jemarinya naik turun, deru nafas Karen pun semakin memburu,..

    Jemari orang itu pun makin liar mengerjai Karen,. Tak tertahan lagi bagi Karen apalagi orang itu telah berhasil menemukan G-spotnya dan terus merangsang bagian kelemahanya itu, membuat dia hanya dapat pasrah menikmati organsme yang menyerangnya,.

    Tubuhnya mengejang tiba-tiba, seluruh ototnya mengeras sementara orang itu yang menyadari bahwa Karen akan segera berorgansme, justru makin liar memainkan jemarinya pada vagina Karen.. hingga Gadis itu pun menjerit tertahan tak lagi mampu menahan Organsmenya..

    ” Ughhh… ” Karen mendesah..

    Sementara cairan vaginanya merembes turun dari vaginanya, membasahi seleuruh jemari orang itu, hingga jemari orang itu pun begitu basaholeh lender vaginanya, orang itu pun menjulurkan jemarinya ke mulut Karen, Karen pun seolah mengerti dan membersihkan jemari itu dengan mulutnya,..

    Sementara tangan orang itu yang satunya lagi memelorotkan celana dalam Karen sebelum diapun memelorotkan celananya sendiri sebatas lutut,.

    Penis orang itu lumayan besar, terasa oleh Karen saat penisnya menyentuh bibir vaginanya, dan bermain di mulut vaginanya itu,..Karen mendesir menikmati rangsangan itu,..sementara orang itu pun memindahkan kedua kaki Karen ke panggungnya, sehingga memudahkannya untuk mengerjai Karen..

    Karen pun hanya bisa pasrah saja saat penis orang itu mulai menyeruak masuk, dalam hatinya pun mulai merasa tanggung dengan kenikmatan yang diberikan oleh orang itu,
    Penis orang itupun mulai menyeruak masuk dalam vagina Karen, tertahan sesaat karena sempitnya vagina gadis itu, sementara Karen pun menikmati batang kemaluan Pria itu yang mulai bersatu dalam tubuhnya,.. sodokan demi sodokan menyeruak masuk lebih dalam Karen pun hanya dapat menutup wajahnya dengan Bantal kepala untuk mencegah desahannya terdengar oleh orang lain..

    Sebuah sodokan Kuat dari orang itu berhasil membuat penis orang itu tertampung sepenuhnya pada vagina Karen, orang itu tampak begitu menikmati bagaimana vagina Karen menjepit batang kemaluannya, sementara vagina Karen pun mulai berdenyut menikmati batang penis yang masuk begitu dalam pada vaginanya,..

    Orang itu berhenti sesaat menikmati bagaimana vagina Karen memijat batang penisnya,.. kepala penisnya pun dapat merasakan bagaimana Vaginanya mengeluarkan sedikit cairan pelumas yang berusaha merembes keluar untuk membasahi seluruh permukaan penis pria itu..

    Setelah puas dengan kehangatan yang diberikan oleh vagina Karen, orang itu pun mulai menggenjot Karen, dengan kecepatan yang bervariasi, sementara Karen pun hanya dapat menekan bantal yang menutupi wajahnya lebih dalam untuk mencegahnya berteriak dengan keras, suara desahan yang tertahan menyelimuti ruangan itu..

    Terkadang bermain dengan pacuan cepat yang membuat Karen mendesah dengan Liar, kadang memacu Karen dengan kecepatan lambat yang membuat Karen begitu menikmati permainan orang itu, orang itu semakin merasa diatas angin sementara Karen pun seolah tak perduli dengan siapa lagi dia bercinta saat orang itu mulai menguleknya dengan gerakan berputar yang membawa Karen terbang ke atas langit pun Karen tak perduli lagi untuk segera memagut bibir orang itu untuk meredah desahannya..

    Entah berapa menit berlalu saat orang itu berpindah ke sisi Karen dan mengerjai Karen dari samping,..Diangkatnya kaki Karen sehingga memberikannya keleluasaan untuk memacu Karen lebih cepat dan lebih dalam , mereka pun saling berciuman, sementara Lidah orang itu pun terkadang menyelusuri wajah cantik Karen, turun ke lehernya membuat Karen bergidik apalagi saat lidah itu bermain ditelinganya.. Ceritamaya

    ” Hmmm, a.. aku mau keluar ” desah Karen..
    ” Sebentar aku juga mauuuu.. ” akhirnya orang itu berbicara juga, dikira bisu tadi..

    Beberapa menit kemudian pacuan orang itu pun bertambah cepat,
    ” Uggghhh ” desah Karen saat tak kuasa lagi menahan organsmenya yang kedua..
    ” Ouuwwh ” orang itu pun mencapai puncak beberapa detik kemudian saat merasakan jepitan otot-otot vagina Karen yang mendadak mengencang membuatnya tak mampu lagi menahan klimaksnya..

    Karen pun dapat merasakan bagaimana penis dalam vagina-nya mulai berdenyut sedikit demi sedikit mengeluarkan cairan yang menembak pada vagiannya..

    ” Ke.. keluarin donkk…jangan didalem ” pinta Karen panik
    Orang itu pun menuruti kemauan Karen dan mencabut penisnya, dan menembakan spermanya di dada Karen saking banyaknya sebagia terlempar ke wajah Karen..

    ” Sekarang jilatin ” perintah orang itu..
    ” Engak..” Karen panik
    ” Jilat!! ” bentak orang itu sambil mengacungkan penisnya ke wajah Karen
    ” Engggaaakk, engak mau.. ” Karen pun mulai berontak saat orang itu memaksa Karen untuk menjilati penisnya yang berlumuran sperma, Jaka yang dari tadi memang sudah curiga dengan kegaduhan dari kamar tidur Karen pun bergegas melupakan tujuannya mencari konci rumah untuk minggat dan berlari kearah kamar Karen, apalagi para penghuni yang lainnya tampak terlelap karena mabuk,..

    Dibukanya kamar Karen yang memang tak terkunci itu oleh Jaka, jaka pun hanya dapat melongok melihat tubuh Karen yang tak berbusana serta seorang pria kurus tak dikenal berkulit hitam dan berkumis tebal bertato serta tak berbusana juga, menyodorkan penisnya ke wajah Karen..

    Karen pun meloncat ketakutan kearah pintu sementara Jaka pun bergegas mengejar orang itu yang berusaha kabur,..

    ” Oiii, sapa lu…Jangan Lari.. ” Teriak Jaka sementara orang itu berlari menabrak jaka bergegas turun untuk kabur,..

    Jaka yang terjatuh karena tabrakan orang itu pun bergegas berdiri dan mengejar orang itu kebawah, saat pria itu sibuk mengenakan sepatunya Jaka pun berhasil menangkap orang itu tepat didepan pintu rumah itu,..

    Namun sial dasar orang misterius itu sedang panic membuat tenaga yang dikeluarkan orang itu lebih kuat dari yang sebenarnya dimiliki oleh orang itu, saat Jaka berusaha memeluk orang itu, Orang itu pun bereaksi memukul wajah Jaka tepat di dagunya..

    Jaka pun terjatuh seketika, tak sadarkan diri sementara orang itu pun berhasil melarikan diri, sementara para gadis yang lainnya pun terbangun karena kegaduhan itu, dan mendapati Jaka yang tertidur di depan pintu..

    to be continued…

  • Kakak Kelasku

    Kakak Kelasku


    90 views

    Ceritamaya | Mula mula gue ingin memperkenalkan diri. Nama gue Daron. Gue ada kesempatan belajar di Malaysia karena ayah gue bekerja di sana. Ketika itu gue berumur 15-16 kira-kira kelas 1 SMA. Pertama kali masuk skolah ada upacara bendera. Waktu lagi kenalan ama temen-temen baru ada cewe’ datang dari arah pintu gerbang dengan terburu-buru, soalnya semua murid sudah berbaris. Gue liatin tuh cewe’..”OK jugak nih..”. Setelah gue tanya temen gue ternyata die kakak kelas. Umurnya 17an kira-kira kelas 3 SMA. Namanya Molly.
    “Cute juga nama doi”.
    Tiba -tiba dari belakang ade rekan sekelas megang bahu gue.
    “Ngapain loe nanyain tentang kakak gue?”.
    Buset dah, kaget gue. Gue cuma takut dipukulin soalnya die ‘gangster’ di sekolahan.
    “Ah..enggak kok. Nanya doank” kata gue dengan gementar.

    Balik dari sekolah gue terus ngebayangin tuh cewe. Gue nggak bisa ngilangin die dari pikiran gue. Gila cantik banget. Bibirnya yang kecil dan tipis, buah dadanya yang montok (mungkin boleh dibilang lebih besar dari ukuran teman sebayanya), betisnya yang putih dan mulus, pokoknya absolutely perfect. Gue cuma bisa ngebayangin kalo-kalo die mau ama gue.

    Di suatu pagi yang cerah (gue belajar kalimat kayak gini waktu kelas 4 SD), gue ama nyokap pergi ke deretan toko-toko di deket rumah. Maksudnya sih mau nyari toko musik, soalnya gue mau belajar main gitar. Setelah kira-kira 1 bulan baru gue tau bahwa guru gitar gue sama ama adiknya Molly. Terus guru gue tu nyaranin kita berdua ngadain latihan bersama di rumahnya. Gue girang banget. Mungkin ada kesempatan gue ngeliatin wajah cantik kakaknya. Yah.. walaupun kagak “buat” ngeliat wajahnya juga udah cukup.

    Waktu liburan semester adiknya (biar lebih gampang gue tulis Jason) ngundang gue ke rumahnya untuk latihan gitar barengan. Terus gue tanya ada siapa aja di rumahnya.
    “Gue ama kakak gue doank kok” jawabnya. Wah.. berdebar-debar nih rasanya. Tapi gue juga rasa diri gue sendiri bodoh. Soalnya die aja kagak kenal gue, malahan cuma ngobrol sekali-sekali melalui chatting. Tapi gue ngak peduli.

    Jason sebenarnya belom mastiin kapan gue bisa dateng ke rumahnya. Tapi gue ngak peduli dateng ke rumahnya hari itu karena gue cuma ada waktu hari itu. Sampai di depan pagarnya gue neken bell. Kelihatannya sepi. Tiba-tiba pagar terbuka (pagar automatik nih) terus kakaknya muncul.
    “Nyari siapa?”.
    “Jason” gue bilang.
    “Wah, maaf, Jasonnya nggak ada tuh.”
    Wah.. sekarang baru gue sadar suara Molly ternyata lembut lagi ‘cute’.
    “Oh.. ya udah, terima kasih.”
    Gue muterin badan gue, belagak mau pergi gitu. Tiba-tiba suara yang lembut itu terdengar lagi.
    “Eh.. nggak masuk dulu? Daripada capek bolak-balik mendingan tunggu di sini.”
    Wah!! Peluang emas!

    Terus gue masuk dan dihidangin minuman dingin ama Molly. Terus dia duduk dihadapan gue ngajakin gue ngobrolin sesuatu. Dalam sekelip mata, pemandangan di depan gue menjadi sangat indah. Kebetulan dia memakai baju T-Shirt tipis dan skirt pendek jadi gue bisa ngeliat bahagian pahanya yang putih mulus. Sekali-sekala gue ngelirik ke bagian dada dan pahanya. Gue rasa sih dia tau tapi dia belagak nggak peduli.
    “Kapan Jason balik?” tanya gue.
    “Nggak tau kayaknya sih nanti jam 6″
    Gue ngelirik jam tangan gue. Sekarang jam 2 petang.

    Kira-kira selama 15 menit kami ngobrol kosong. Tiba-tiba ntah gimana jam di meja sebelahnya jatuh. Kami terkejut dan dia terus membereskan benda-benda yang berselerak. Dari belakang gue bisa ngeliat pinggulnya yang putih mulus. Tiba tiba jeritan kecilnya menyadarkan lamunan gue. Ternyata jarinya terluka kena kaca. Naluri lelaki gue bangkit dan terus memegang jarinya. Tanpa pikir panjang gue isep aja darah yang ada di jarinya. Waktu darahnya udah beku gue mengangkat wajah gue. Ternyata selama ini die ngeliatin gue. Tiba-tiba dia ngomong
    “Ron, kok lu ganteng banget sih?”
    Gue hanya tersipu-sipu. Terus gue diajakin ke tingkat atas untuk ngambil obat luka. Waktu duduk di sofa, gue usapin aja tuh ubat ke jarinya. Tiba-tiba datang permintaan yang tidak disangka-sangka.
    “Ron, cium gue dong, boleh nggak?”.
    Gue bengong doank nggak tau mo jawab apaan. Tapi bibirnya udah deket banget ama bibir gue. Langsung gue lumat bibir mungilnya. Dia memejamkan matanya dan gue nyoba untuk mendesak lidah gue masuk ke dalam mulutnya. Dia membalas dengan melumat bibir gue. Tanpa sadar tangan tangan gue udah merayap ke bagian dadanya dan meremas-remas payudaranya yang montok dari luar pakaiannya. Dia mendesah lirih. Dan mendengarnya, ciuman gue menjadi semakin buas.

    Kakak KelaskuKini bibir gue turun ke lehernya dan kembali melumat dan menggigit-gigit kecil lehernya sambil tangan gue bergerak ke arah skirt pendeknya dan berusaha meraba-raba pahanya yang putih dan mulus. Tiba-tiba tangannya membuka resleting celana gue dan coba meraih anu gue. Gue semakin ganas. Gue elus-elus celana dalamnya dari luar dan tangan gue satu lagi meremas-remas payudaranya yang montok. Dia mendesah dan melenguh.

    Akhirnya gue berhenti melumat bibir dan lehernya. Gue coba melepaskan t-shirtnya yang berwarna pink. Tetapi tangannya mencegah.
    “Ke kamar gue aja, yuk!”
    Ajaknya sambil menuntun tangan gue. Gue sih ikut aja. Gue kunci pintu kamarnya dan langsung gue raih t-shirtnya hingga dia hanya mengenakan bra putih dan skirt birunya. Gue kembali melumat bibirnya dan coba membuka kaitan branya dari belakang. Sekarang die bener-bener telanjang dada. Langsung gue lumat payudaranya. Gue remas-remas dan gue jilatin puting kiri dan kanannya.

    Tanpa disadari dia mengerang.
    “ummh..ahh..!”
    Gue malah lebih bernafsu. Tiba-tiba tangannya yang lembut meraih penis gue yang sangat besar. Kira-kira 14 cm panjangnya. Dia langsung mengelus-elus dan mulai mengocok penis gue itu. Gue mengerang
    “Ahh..Molly..terusin..ahh!”

    Kira-kira 15 menit gue melumat payudaranya. Sekarang gue nyoba ngebuka skirt hitamnya. Setelah terlepas gue tidurin dia di ranjang dan kembali melumat bibirnya sambil mengusap-usap vaginanya dari luar CDnya dan tangan gue yang satu lagi memelintir puting payudara kanannya.
    “Ahh.. Daron.. ummhh!” Erangnya.

    Akhirnya kami berdiri. Dia melepaskan baju dan celana gue dan meraih penis gue yang sangat tegang. Dia nyuruh gue duduk. Terus dia jongkok di depan gue. Dia nyium kepala penis gue dan menjilatnya. Kemudian die berusaha mengulum dan menghisap penis gue yang besar. Gue mengerang keenakan.
    “Ummhh..Molly..!!”
    Akhirnya gue nggak tahan dan menyuruhnya berhenti. Gue nggak mau keluar terlalu awal.

    Terus perlahan-lahan gue lepasin celana dalam putihnya dan memandang sebuah lubang berwarna merah jambu dengan bulu-bulu yang halus dan tidak terlalu banyak di sekelilingnya. Langsung gue tidurin dan gue kangkangin kakinya. Kelihatan vaginanya mulai merekah. Gue yang udah nggak tahan terus menjilati dan menghisap-hisap bahagian selangkangan dan menuju ke arah vaginanya. Gue isep dan jilatin klitorisnya. Molly menggelinjang keenakan sambil mendesah dan mengerang.
    “Awwhh.. uhh.. Darroonn..!!
    Tiba tiba orgasme pertamanya keluar. Tubuhnya menggelinjang dan dia menjambak rambut gue dan sprei di ranjangnya.

    Baca Juga : Nasib PRT

    Kemudian gue melebarkan kedua kakinya dan mengarahkan penis gue ke arah lubang kenikmatannya. Sebelum gue masukkin gue gesekin dulu penis gue di pintu lubang vaginanya. Dia mendesah kenikmatan. Akhirnya gue dorong penis gue ke dalam vaginanya. Terasa agak sempit kerana baru 1/3 dari penis gue masuk. Perlahan-lahan gue tarik lagi dan gue dorong sekuat-kuatnya. Ketiga kalinya baru berhasil masuk sepenuhnya.

    “Aawwhh..sakit, Ron!!”
    Dia mengerang kesakitan. Maka gue berhenti sejenak nunggu rasa sakit dia hilang. Akhirnya gue mulai bergerak maju mundur. Semakin lama gerakan gue semakin cepat. Terasa penis gue bergesekan dengan dinding vaginanya. Kami berdua mengerang kenikmatan.
    “Ahh..Molly..enakk!!”
    “Mmhh..awwhh..Ron, terus, cepet lagi!”
    Gue semakin bernafsu dan mempercepat genjotan gue. Akhirnya dia menjerit dan mengerang tanda keluarnya orgasme ke dua.

    Lantas kami berdiri dan gue puter badannya hingga membelakangi gue (doggy style). Gue tundukkin badannya dan gue arahin penis gue ke arah vaginanya dan gue genjot sekali lagi. Kedua payudaranya berayun-ayun mengikut gerakan genjotan gue. Gue pun meremas-remas pantatnya yang mulus dan kemudian ke depan mencari putingnya yang sangat tegang. Kami berdua banjir keringat.

    Gue puter putingnya semakin keras dan payudaranya gue remas-remas sekuat-kuatnya.
    “Ahh, Daron..gue pingin keluar..!!” jeritnya.
    Terus gue percepat gerakan gue dan die menjerit untuk orgasmenya yang kali ketiga. Gue pikir-pikir gue ni kuat juga ya.. Tapi gue juga merasa mo keluar sekarang. Gue nggak sampai hati ngeluarin sperma gue di vaginanya. Langsung gue cabut penis gue dari vaginanya dan gue puter badannya. Gue arahin penis gue ke mulutnya yang langsung mengulum dan melumat penis gue maju mundur. Gue mengerang kenikmatan
    “Akhh..Mol, gue keluar..!!”
    Gue semburin sperma gue didalam mulutnya dan ditelannya. Sebagian mengalir keluar melalui celah bibirnya. Terus penis gue dibersihin dan dijilatin dari sisa-sisa sperma.

    Kemudian gue ngeliat jam di meja. Pukul 5.30!! Mati kalau nggak cepet-cepet. Selepas kami memakai baju semula dia ngucap terima kasih ke gue.
    “Makasih, Ron! Belum pernah gue ngrasa sebahagia ini. Sebenarnya dari pertama kali gue ngeliat loe gue udah suka” Katanya.
    “Oh, emang mungkin jodoh kali soalnya waktu ngeliat loe di gerbang sekolah gue juga udah suka.” kata gue.
    “Tapi gimana dengan adik loe?”
    “Nggak apa-apa, dia juga nggak bakalan marah. Adik gue bentar lagi datang. Jadi latihan bareng nggak?”
    “Nggak, ah. Males, udah letih latihan tadi” kata gue sambil tersenyum.
    Dia pun balas tersenyum. Akhirnya gue balik rumah dengan perasaan gembira. Mimpi gue udah tercapai.

  • Aku Di Perkosa Di Kantor Kerjaku

    Aku Di Perkosa Di Kantor Kerjaku


    169 views

    Cerita Maya | Nindia adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri dalam kota Surabaya. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja pada bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selamanya tampil elegan dan harum.

    Cerita Sex Aku Di Perkosa Di Kantor Kerjaku

    Aku Di Perkosa Di Kantor Kerjaku

    Suatu hari di sore hari nindia terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu sudah dikunci oleh Pak hosi dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam dalam kantor bank tersebut hendak diberhentikan karena pengurangan karyawan, nindia merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berisi banyak juga korban PHK kali ini. Cerita Maya

    “Mau kemana nindia? ”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
    nindia terkejut, ada hosi dan Diman. Mereka menyeringai.
    “Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang lepas.. ”, nindia menyapa itu berdua yang mendekatinya.
    “nindia, kami bakal diberhentikan besok.. ”, hosi berkata.
    “Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa.. ”, nindia menjawab.
    Di pendatang hujan mulai turun.
    “Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang kian muda menyangkal sambil menatapnya tajam.
    “I.., iya.., kelak aku belikan kenang-kenangan.. ”, nindia meningkah.

    Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. hosi mencekal lengan nindia. Sebelum nindia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang sambil mereka.
    “Aah! Jangan Pak! ”.
    Diman menarik blus warna ungu milik nindia. Gadis itu terkejut & tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja nindia. Kenang-kenangan untuk seumur hidup! ”.
    hosi menyeringai tahu Diman merobek kaos dalam katun nindia yang berwarna putih berenda. nindia berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
    “Jangann! Lepaskann! ”, nindia berusaha meronta.

    Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu nindia. Kedua lelaki itu telah sejak lama memperhatikan nindia. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang serta sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya tatkala ke kamar mandi. Saat ini tersebut sudah tidak tahan lagi. nindia menyepak Diman secara keras.
    “Eit, melawan juga si Mbak ini.. ”, Diman hanya menyeringai.
    nindia di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan pada meja tersebut berhamburan bersih.
    “Aahh! Jangan Pak! Jangann! ”, nindia mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
    Sementara kedua tangannya terus dicekal hosi, Diman sekarang lebih leluasa meritul celana panjang warna ungu nindia. Sepatunya terlepas.

    Diperlakukan seperti itu, nindia juga mulai dari merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya sudah terlepas jatuh. nindia lemas. Hal ini menguntungkan ke-2 penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu nindia. nindia mengenakan setelan pakaian pada berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat nindia yang kencang start ditepuk sama hosi bertubi-tubi, “Plak! Plak! ”.

    Tubuh nindia memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging dalam meja seperti ini ia tampak amat menggairahkan. Diman menjambak rambut nindia sehingga dapat mengamati wajahnya. Bibirnya yang maksimum berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
    “Sret! ”, nindia tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
    Menyusul branya ditarik beserta kasar. nindia benar-benar ngerasa terhina. Ia dibiarkan cuma dengan menggunakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis hosi yang besar & keras mulai melesak pada vaginanya.
    “Ouuhh! Adduhh..! ”, nindia merintih.
    Seperti anjing, hosi mulai dari menyodok nyodok nindia daripada belakang. Selama tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. nindia hanya mampu menangis tak berdaya.

    Baca Juga Cerita Seks Wanita Gym Yang Super Sexy

    Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa nindia membuka mulutnya. nindia memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh itu. hosi mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir nindia yang padat itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Seketika hosi mencabut kemaluannya serta menarik nindia.
    “Ampuunn.., hentikan Pak.. ”, nindia menangis tersengal-sengal.
    hosi hidup dalam atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, nindia dinaikkan di pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terkuak.

    “Slebb! ”, kemaluan hosi kembali masuk ke vagina nindia yang sudah biasa basah.
    nindia menggelinjang sakit, melenguh dan mengerang. hosi kembali memeluk nindia sambil memaksa melumat bibirnya. Lalu start mengaduk aduk tempik gadis itu. nindia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut hosi ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan bersimbah menyodorkan masuk di lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
    “Nghhmm..! Nghh! Jahannaamm..! ”, nindia mencoba meronta, akan tetapi tidak memerintah.

    hosi langsung melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. nindia luwes tak sanggup sementara kedua mungkum pada tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari kepil maupun belakang. Tubuhnya yang becek oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis & merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan ke-2 pemerkosanya yang semakin cepat serta di mendadak berhenti. nindia ditelentangkan dengan tergesa lalu hosi menyodokkan kemaluannya ke lubang gadis tersebut. nindia gelagapan ketika hosi mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala nindia dipegang erat dan..
    “Crrt! Crrt! ”, cairan sperma hosi muncrat di dalam mulutnya, berulang kali.
    nindia merasakan akan muntah. Tapi hosi terus menekan hidung nindia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. hosi terus memainkan batang kemaluannya di muncung nindia hingga bersih. nindia tersengal sengal berusaha menodong seluruh enceran lengket yang sedang tersisa di langit-langit mulutnya.

    Mendadak Diman ikut memasukkan baur kemaluannya ke mulut nindia. Kembali lubang putri tersebut diperkosa. nindia terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga balik minuman sperma mengisi mulutnya. Masuk di tenggorokannya. nindia menangis sesenggukan. Diman memakai seluar pada nindia untuk membersihkan sisa spermanya.
    “Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk.. ”, ujar hosi lalu menggagas gerbang belakang.
    Tak lambat lantas 3 orang satpam lain masuk.
    “Ayo, saat ini giliran kalian! ”, nindia terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
    Ia bakal diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tidak kembali malam ini karena kudu ke rumah saudaranya sampai tentu tak akan tersedia yang mencarinya.

    nindia ditarik di tengah lobby bank tersebut. Dikelilingi 6 orang2 perwira kekar yang telah merintis pakaiannya masing-masing terlintas nindia dapat melihat tangkai tempik mereka yang sudah mengeras.
    “Ayo nindia, kulum punyaku! ”, nindia yang seharga mengenakan stocking itu dipaksa mengoral tersebut berputar.
    Tubuhnya tiba-tiba di buat di keadaan sebagaimana merangkak. Dan sesuatu yang rusuh mulai dari melesak paksa dalam terowongan anusnya.
    “Akhh.., mmhh.., mhh.. ”, nindia menangis tak berdaya.
    Provisional mulutnya dijejali batang puki, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
    “Akkghh! Isep teruss..!, Ayoo”.
    Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya menyembur mengisi muncung nindia. Gadis itu merengap menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi secara sangat sanding. & lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. nindia dipaksa mengangkat sperma semata satpam tersebut bersinggungan. Itu juga bergiliran menyodomi & memperkosa semua lubang pada tubuh nindia berputar.

    Jasad nindia yang sintal itu basah berbanjir keringat serta sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya nindia ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam tersebut bergiliran merencah kemaluan mereka di wajahnya, sesekali itu memasukkannya ke mulut nindia dan mengocoknya disana, sampai secara bersinggungan sperma tersebut muncrat dalam seluruh wajah nindia.

    Ketika sudah selesai nindia telentang dan tinggal nadi lemas. Uci-uci & wajahnya belepotan enceran sperma, keringat dan larutan matanya sendiri. nindia pingsan. Akan tetapi karet satpam itu ternyata belum puas.
    “Belum pagi nih”, ujar salah seorang daripada satpam tersebut.
    “Iya, saya masih belum puas.. ”.
    Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

    Tubuh telanjang nindia diikat menjelang. Lantas itu membawanya di besok kantornya. Bagian tamat bank itu memang tetap sepi serta banyak semak belukar. nindia yang masih dalam kondisi lemas diletakkan begitu aja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat silam. Hujan telah berhenti tetapi udara sedang begitu dinginnya. Mulut nindia disumpal beserta serawal dalamnya. Ketika malam bertambah larut baru nindia tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya tetap dalam stan terbuka bulat dan terikat tidak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

    Tiba-tiba sekadar terdengar suara beberapa laki-laki. Serta tersebut terkejut begitu menyerap.
    “Wah! Ada hadiah nih! ”, aroma alkohol sanding tampak dari lubang mereka.
    nindia berusaha minggat ketika itu mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tetapi ia tak berdaya. Tersedia 8 orang-orang yang datang. Tersebut segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Jasad nindia start dijadikan bulan-bulanan. nindia hanya bisa menangis berserah dan merintih tertahan.

    Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian karet perwira tersebut bergiliran memperkosanya. Semua mungkum di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat berangasan. Kembali nindia bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, pada pantat, dada & wajahnya. Setiap kali hendak semaput, seseorang akan menampar wajahnya terlintas ia meleset tersadar. Cerita Maya
    “Ini kan teller di bank depan? ”

    Itu tertawa-tawa sambil terus memperkosa nindia dengan berbagai posisi. nindia yang sedang tersekat serta terbungkam cuma bisa patuh menuruti perlakuan tersebut. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan menusuk dari terowongan pantat & vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang titit. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, nindia tak tahan lagi serta akhirnya terlengar. Entah sudah biasa berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke semua tubuh nindia sebelum akhirnya meninggalkannya demikian saja setelah mereka lega.

  • Balada Sang Penari Jalanan

    Balada Sang Penari Jalanan


    99 views

    SINOPSIS

    Kisah seorang penari jalanan yang berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya ibukota, menyusuri suka-duka dunia yang tak selalu cerah.

    Story codes

    M/F, 1st, reluc, cons

    DISCLAIMER

    – Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
    – Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
    – Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
    – Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu. Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan. 
    – Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
    – Ide cerita ini didapat dari satu lagu lama Iw*n F*ls, satu video musik, satu doujinshi, lingkungan sekitar tempat aktivitas penulis, dan beberapa pengamatan penulis.
    – Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda? Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com. Selamat membaca.


    -Ninja Gaijin-
    ***********************************

    Ceritamaya | Ibukota memang keras. Semua orang di dalamnya mesti berjuang dan berkorban biar tidak tersingkir, dan tidak semua jalan yang bisa dilalui itu terang-benderang…Izinkan saya menceritakan kisah hidup saya. Nama saya Darmini, tapi orang nggak banyak yang mengenal nama asli saya. Bapak dan Simbok memanggil saya Denok, itu panggilan biasa untuk anak perempuan di kampung saya, tapi artinya nggak cuma itu. Denok juga berarti montok alias sintal, dan rupanya arti itu yang lebih diingat banyak orang dalam kehidupan saya di Ibukota. Masa kecil saya dihabiskan di kampung, jauh dari Ibukota. Saya anak semata wayang Bapak dan Simbok, sekeluarga petani penggarap yang tak berpunya. Sejak kecil saya diajari menari oleh Simbok, karena beliau sendiri waktu muda adalah seorang penari, dan masih sering ditanggap kalau ada acara di kampung. Sayang, kehidupan kami yang damai di kampung terhenti ketika suatu hari saya dan Simbok dapati Bapak gantung diri. Ternyata Bapak punya banyak utang gara-gara gila judi, dan beliau tidak mampu bayar utangnya itu. Kami jelas sedih karena Bapak sudah tidak ada, tapi juga bingung karena beberapa hari setelah Bapak dimakamkan, kami diusir dari rumah karena rumah kami disita bandar judi yang memberi utang kepada Bapak. Kami tak punya tempat tujuan, dan uang simpanan kami tak seberapa. Simbok akhirnya nekat mengajak saya pindah ke Ibukota mencari penghidupan.

    “Denok, kita ndak bisa apa-apa lagi di sini, di kota kita bisa coba cari uang, mudah-mudahan di sana mendingan daripada di sini,” kata Simbok.

    Saya cuma lulusan SMP, Simbok lulusan SD. Kami sama-sama nggak sadar hidup di Ibukota begitu beratnya. Melamar kerja kesana-kemari, nggak diterima karena dianggap pendidikan kurang tinggi. Cari kerja yang nggak perlu ijazah, saingan banyak sekali. Akhirnya setelah cukup lama mencermati berbagai kesempatan yang ada, Simbok memutuskan untuk memanfaatkan keahlian kami. Dengan bermodal pakaian dan perlengkapan yang kami bawa dari kampung, serta radio tape bekas dan kaset-kaset musik tradisional yang kami beli dari pasar loak dengan sisa uang, mulailah kami berdua menjadi penari jalanan.

    Waktu gadis-gadis seumur saya yang di kota sedang siap-siap ujian akhir SMA atau menjalani tahun pertama kuliah, dan yang di desa menunggu dijodohkan oleh orangtuanya, saya mulai menjalani kehidupan baru, menjajakan keahlian seni tari bersama Simbok. Awalnya kami berkeliling Ibukota, sekadar mencari keramaian di mana kami bisa memperoleh beberapa lembar rupiah demi menyambung hidup. Kami biasa mulai pagi-pagi, menjajaki jalan-jalan Ibukota untuk mencari orang-orang yang mau kami hibur dengan tarian kami. Ternyata nggak gampang juga mencari uang dengan cara seperti ini, paling-paling yang kami dapatkan hanya cukup untuk makan kami berdua, satu atau dua kali pada hari itu. Dan nggak di semua tempat kami bisa mendapat penonton yang bersedia membayar, kadang-kadang kami malah diusir atau dihardik. Setelah cukup lama, kami ketemu tempat di mana kami bisa selalu dapat penonton dan uang: satu pasar induk yang cukup besar, dan lingkungan di sekitarnya. Kami pun menyewa satu kamar kontrakan murah di dekat Pasar. Banyak orang di Pasar, yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, haus hiburan murah yang bisa bikin mereka ingat kampung masing-masing. Kehadiran kami di sana selalu disambut senyum, tawa, dan lembar-lembar uang yang kumal hasil perasan keringat mereka. Walaupun tak jarang lembar-lembar itu diberikan kepada kami dengan kurang sopan misalnya dengan diselipkan ke pakaian kami. Apa saya dan Simbok memang menggoda? Entah ya. Saya sendiri tidak merasa cantik. Sebagai anak petani yang sering main di luar sejak kecil, kulit saya jadi agak gelap terbakar matahari. Tapi Simbok juga dari dulu selalu mengajari dan mengingatkan saya untuk merawat tubuh biarpun dengan cara sederhana, jadi biarpun sawo matang, kulit saya tetap mulus dan tidak jerawatan apalagi bopeng-bopeng lho.

    Oh ya, tadi kan saya sudah cerita arti nama panggilan saya, Denok. Dipikir-pikir benar juga sih kalau dibilang saya montok. Enggak tahu kenapa, biarpun rasanya dari kecil makanan saya bergizi pas-pasan, kok tetap saja badan saya bisa jadi ya. Sebelum remaja saja tetek saya sudah tumbuh, dan sekarang jadinya subur gumebyur sampai-sampai saya selalu kuatir dengan kemben saya tiap kali menari. Bokong saya juga kencang gara-gara dibentuk latihan olah tubuh dalam tarian. Ada yang bilang bahenol, saya sih matur nuwun saja kalau ada yang anggap begitu. Herannya, biarpun atas bawah gede, tengahnya tidak ikut gede, perut dan pinggang saya masih singset. Saya anggap masih singset soalnya kayaknya nanti badan saya akan jadi seperti badan Simbok, tengahnya mulai ikutan lebar. Nah, kalau Simbok itu memang cantik. Sampai umur segitu pun beliau tetap cantik. Apalagi kalau sudah pakai sanggul dan rias, wuihh. Semua orang nengok dan nggak lihat apa-apa lagi. Saya sendiri selalu merasa jelek lho kalau tampil bersama Simbok. Ah, tapi sedunia cuma saya sendiri yang nganggap muka saya jelek. Selain Simbok, orang-orang yang biasa nonton kami menari kok semuanya bilang saya cantik. Saya pikir, itu sih pinter-pinternya Simbok mendandani saya aja. Waktu pertama kali didandani buat ngamen, saya protes, kok repot amat. Rambut mesti disasak, disanggul, disunggar, pakai tusuk dan kembang. Muka mesti dibedaki tebal-tebal, sampai beda warna dengan badan. Mungkin tinggal tahi lalat di pipi saya saja yang nggak ketutupan. Alis saya yang sudah tebal dibikin tambah tebal. Bibir juga dikasih gincu warna merah mentereng. Saya waktu itu ngeluh, Ceritamaya

    “Kok sudah kayak penganten aja, Mbok.”

    Simbok menjawab, “Yang namanya penari itu nggak boleh biasa-biasa aja, nduk. Mesti kinclong, manglingi. Kita mesti bikin senang yang nonton.”

    Lama-lama saya biasa juga memakai riasan seperti itu, malah saya jadikan guyonan sama Simbok.

    “Mbok, aku wis saban hari jadi penganten, ntar kalau nikah beneran mesti kayak apa diriasnya?” Rias wajah yang tebal jadi bagian seragam kerja saya, sama seperti kemben, kain batik, dan selendang.

    Tapi memang yang namanya nasib itu jalannya nggak ada yang tahu. Dua bulan kami menetap di dekat Pasar, musibah datang lagi. Waktu sedang nyebrang jalan, Simbok ketabrak mobil. Luka parah. Saya panik, orang-orang di sekitar ramai-ramai ngangkut Simbok ke rumah sakit. Tapi Simbok nggak tertolong. Simbok meninggal di rumah sakit setelah dua hari dua malam berusaha diselamatkan dokter di sana. Sebenarnya sejak ketabrak juga Simbok sudah nggak ada harapan, tapi entah kenapa beliau lama sekali meninggalnya. Sekaratnya sampai seharian. Sampai nggak tega saya melihatnya. Waktu itu ada yang bisik-bisik, mungkin Simbok pasang susuk, makanya meninggalnya susah. Orang kok tega ya ngomong seperti itu. Tapi apakah itu benar atau nggak, saya nggak mau tahu, biarlah itu jadi rahasia Simbok. Saya akhirnya sendirian di Ibukota, sepeninggal Simbok. Ditambah lagi, uang habis untuk mbayar rumah sakit dan pemakaman, malah mesti berutang ke mana-mana. Saya nggak mampu mengadakan acara macam-macam buat Simbok, hanya bisa mendoakan sendiri semoga arwah Simbok bisa tenang di alam sana dan ketemu lagi dengan Bapak. Seminggu lebih saya di kontrakan saja karena terlalu sedih. Mungkin saban hari saya menangis, sedih mengingat Simbok, juga kesepian. Akhirnya saya memaksa diri untuk keluar lagi, ngamen lagi, karena uang sudah habis dan saya juga mesti hadapi para tukang tagih utang yang nggak mau tahu kesulitan saya. Jadi, seminggu sesudah Simbok dimakamkan, saya kembali siap-siap untuk keluar, menari. Di hadapan cermin saya tata rambut saya sendiri, saya pasang sanggul dan kembang, saya bedaki muka saya biar nggak kelihatan bekas-bekas menangis, saya pakai lagi kemben dan kain, saya sampirkan selendang di leher. Ealah, pas keluar kamar saya malah ketemu dengan ibu yang punya kontrakan. Si ibu nggak pake basa-basi langsung nagih tunggakan 2 bulan. Saya nggak punya uang, jadi saya cuma bisa bilang maaf, dan si ibu malah ngancam secara halus. Nggak apa-apa nggak bayar, katanya, tapi besok kamu keluar dari tempat saya. Haduh biyung, kok nggak habis-habis ya cobaan buat saya. Saya mau usaha dulu, kata saya, nanti akan saya bayar. Hari itu saya berangkat ngamen, berusaha cari uang buat hidup.

    *****

    Sang Juragan Beras

    Sang Juragan Beras


    Sialnya, hari itu pasar agak sepi, dan sesudah dua jam saya baru dapat Rp5000 sesudah menari di pangkalan ojek. Saya nggak bisa konsentrasi, kepala penuh dengan pikiran, gimana caranya supaya nanti kalau pulang sudah punya cukup uang untuk bayar kontrakan. Belum utang-utang lainnya. Menjelang siang, saya sedang jalan di barisan toko-toko besar di samping Pasar. Dan di depan toko beras paling besar di Pasar, saya melihat Juragan sedang menghitung segepok uang. Beliau baru saja terima uang banyak, rupanya ada orang yang habis mborong. Saya waktu itu cuma kenal beliau sebagai ‘Juragan’. Beliau pemilik toko beras yang besar itu. Beliau sudah tua, lebih tua daripada Simbok, mungkin umurnya sudah 50 atau 60 tahun. Kepalanya hampir botak, rambutnya tipis beruban, kumis dan jenggotnya jarang-jarang. Badannya besar dan perutnya gendut. Sekali dua kali saya dan Simbok pernah menari di depan tokonya, dan pegawai-pegawainya memberi kami uang tapi beliau tidak. Tapi beliau pernah meminjamkan uang kepada Simbok, dan Simbok sempat mengembalikannya. Saya beranikan diri menghampiri Juragan. Dia sendirian di depan toko, sementara anak buahnya sibuk di dalam dan di belakang. Tokonya sedang sepi, tidak ada pembeli.

    “Juragan,” pinta saya. “Anu… saya…”

    Juragan melihat saya dengan acuh. “Ada apa, Denok?”

    “…saya… saya…” Duh, saya nggak kuat bilangnya. Tapi saya harus bilang. “…saya boleh pinjam uang, Juragan? Uang saya sudah habis untuk biaya pemakaman Simbok… sekarang saya mesti bayar kontrakan dua bulan…”

    “Hah?” Juragan melihat saya dengan aneh, “Kamu perlu uang?”

    “Tolong, Juragan,” saya meminta lagi, “Saya sudah ditagih, hari ini harus ada, atau saya diusir. Saya janji akan kembalikan secepatnya.”

    Eh, kok Juragan langsung mengantongi segepok uang yang tadi dia hitung-hitung.

    “Denok,” kata beliau dengan dingin, “Aku ini pedagang, bukan tukang ngasih utang. Kamu perlu uang? Kerja sana. Atau kamu jualan aja.”

    “Saya sekarang juga lagi kerja, Juragan,” saya jengkel tapi tidak berani menunjukkan; sepertinya Juragan tidak mau meminjamkan uang. “Cuma takutnya saya tidak bisa dapat cukup uang hari ini buat bayar kontrakan. Kalau jualan, saya ndak punya apa-apa, mesti jual apa?”

    Tapi lantas tatapan Juragan kok berubah jadi aneh… Beliau mendekati saya dan merangkul saya. Tangannya yang besar itu memegang bahu saya.

    “Siapa bilang kamu nggak punya apa-apa?” bisiknya. “Badan kamu bagus, Denok. Aku mau kok mbayar buat itu.” Beliau menarik badan saya mendekat ke badannya, sampai pipi saya nempel di samping dadanya yang gemuk.

    “Ihh?!” saya kaget dengar bisikan Juragan itu. Duh, inikah yang namanya bisikan iblis? “Badan… saya?” Bisikan Juragan terus terngiang di kepala saya. Merinding bulu kuduk saya membayangkan apa maksudnya itu.

    “Kalau kamu mau, Denok, aku lunasi tagihan kontrakanmu yang dua bulan itu sekalian mbayar untuk bulan depan,” bisik Juragan lagi.

    Duh, biyung, saya mesti gimana? Saya perlu uang, tapi apa mesti dengan cara seperti ini? Tapi kalau nggak, bagaimana lagi? Yang ada saya bakal diusir, nggelandang, dan…ujung-ujungnya sama saja. Saya nggak punya pilihan lain…

    “…mau, Juragan…” saya berbisik, lirih sekali sampai nggak kedengaran. Kalau saja nggak ketutupan bedak, mungkin sudah kelihatan muka saya berubah merah seperti cabe.

    Juragan ketawa, badannya yang gendut itu sampai terguncang-guncang. “Bagus, Denok. Ayo ikut aku. Kamu ikutin aja kataku, nanti kubayar kamu, ya?”

    Lantai atas toko beras itu rumah Juragan. Juragan membawa saya naik tangga di samping toko, masuk ke rumahnya. Juragan ternyata tinggal sendirian. Saya penasaran, apa Juragan nggak punya istri? Kami masuk ke rumah Juragan. Saya terus memandangi lantai, tidak berani mengangkat kepala, tapi sekali-sekali saya ngintip kesana-kemari melihat keadaan.

    Juragan rupanya tinggal sendirian di atas tokonya. Ada foto tua yang menunjukkan Juragan dengan seorang perempuan—istrinya kah? Juragan menggandeng tangan saya masuk ke satu kamar. Kamar tidurnya. Dia nyuruh saya duduk di ranjang. Saya duduk, sambil menundukkan kepala. Juragan berdiri di depan saya, mengamati sekujur tubuh saya. Dia menyentuh dagu saya, sambil bilang,

    “Denok, angkat kepalamu, lihat aku.” Saya nurut. Mungkin dia lihat mata saya ketakutan setengah mati.

    “Buka kembenmu,” katanya.

    Dia taruh selembar uang Rp50.000 di samping saya. Saya menengok, melihat uang itu. Besar sekali buat saya. Biasanya seharian menari saya tidak pernah dapat uang sebanyak itu. Tapi saya tetap ragu. Juragan tiba-tiba mau mengambil lagi uang itu.

    “Kalau nggak mau ya sudah,” katanya dengan nada kurang senang.

    Tapi saya tahan uang itu dengan tangan saya, lalu saya ngangguk. Haduh, Simbok, Bapak, maafkan saya. Saya lepas ikatan kemben di punggung saya, lalu pelan-pelan saya urai lilitan kain kemben merah yang membebat badan saya. Pas tinggal selembar lilitan yang menutup tetek saya, saya jadi malu, dan saya tahan selembar itu dengan lengan saya. Juragan tersenyum melihat saya.

    “Wahh…susu kamu gede, ya? Bikin orang nafsu ajah…” saya lihat Juragan nyengir lebar setelah ngomong itu. sumpah, baru kali ini ada laki-laki blak-blakan ngaku seperti itu.

    Lembar uang lima puluh ribu yang tadi ditaruh Juragan di sebelah saya dia ambil, lipat, lalu dia selipkan ke… aduh! Dia selipkan ke belahan dada saya!

    “Itu buat kamu, Denok,” katanya. Duh, nggak percaya rasanya. Sebelumnya saya dan Simbok mesti menari seharian, sampai pegal-pegal, buat dapat uang kurang dari lima puluh ribu. Tapi… sekarang saya dapat uang sebanyak itu … kok gampang banget?

    “Beneran buat saya…?” Masih tidak percaya, saya tanya lagi.

    “Iya… asal kamu buka semuanya,” kata Juragan sambil menyeringai. “Badan kamu bagus, Denok. Montok… bahenol…”

    Duh, apa maksudnya itu? Apa Juragan suka dengan tubuh saya? Seumur-umur belum pernah ada orang yang bilang itu ke saya… Jantung saya deg-degan mendengarnya. Juragan menarik kain kemben yang masih ditahan tangan saya, dan kainnya meluncur begitu saja tanpa saya tahan. Saya masih tutupi gunung kembar saya dengan kedua tangan. Aduh… malu banget rasanya, telanjang di depan orang lain…Tapi saya bisa dapat uang…

    “Nah, Denok, sekarang buka kainnya, ya?” sekarang Juragan minta saya buka juga kain batik coklat yang saya pakai.

    Mungkin karena tadi saya malu-malu dan lambat sekali waktu buka kemben, Juragan mendekati saya dan menyingkap kain batik saya. Saya sontak mundur, tapi tangan Juragan lantas memegang pundak saya.

    “Jangan takut, Denok…” katanya.

    Juragan juga memegang paha saya yang masih sebagian tertutup kain batik. Dia remas sedikit paha saya. Suara “Eihh” keluar dari mulut saya, malu karena sentuhan Juragan. Tangannya lantas nyelip ke bawah kain saya! Kulit tangan Juragan bersentuhan dengan kulit paha saya, dan saya makin deg-degan. Dia terus remas-remas paha saya. Saya nggigit bibir, takut keluar suara macam-macam dari mulut saya. Tangan satunya terus nyibak kain saya, sampai ke dekat pinggang… Duh, biyung, sedang diapakan saya ini? Kain saya tinggal nyangkut di pinggang saja, sementara kedua kaki, betis, dengkul, sampai paha saya sudah dikeluarkan dari bungkusnya, sedikit lagi kancut saya kelihatan!

    “Rebahan saja, Denok!” suruh Juragan.

    Saya nuruti perintahnya, pelan-pelan saya rebahkan badan atas saya. Kedua tangan saya tetap nutupi sepasang tetek saya. Sanggul yang belum saya copot (apa seharusnya saya copot juga?) ngganjal belakang kepala saya. Dan sambil saya rebahan itu, tangan Juragan beraksi sangkutan terakhir kain saya di pinggang. Aduhhh biyung. Kedua tangan saya bagi tugas: satu melintang di depan dada, satu turun ke bawah nutupi kancut saya.

    Saya ragu-ragu, tapi nggak tahu kenapa, saya juga kok ngerasa gairah saya bangkit? Waduh? Kok begini jadinya? Juragan terus-terusan melihat sekujur tubuh saya, sambil memuji.

    “Ayo dong, nggak usah ditutupin,” kata Juragan. “Tanganmu disingkirin dong? Denok, kalau kamu mau kupegang, kutambah dua puluh ribu, ya…”

    Kedua tangan saya dipegang Juragan, lalu pelan-pelan diletakkan di samping badan saya. Duh, buyar deh pertahanan saya. Sekarang susu saya nggak ada lagi yang menutupi. Sekarang kancut saya kelihatan.

    “Euh… Juragan… mau pegang?” kata saya bingung. “Ja… jadi sekarang tujuh puluh ribu?”

    Juragan juga sudah buka baju, dan hanya dengan bercelana pendek beliau naik ke ranjang, posisi merangkak di atas badan saya. Gede sekali badannya, kalau dilihat di atas pasti saya ketutupan.

    “Eh!?” pekik saya waktu tangan Juragan yang besar menggenggam tetek saya.

    “Wooh, Denok, empuk ya susumu,” kata Juragan. “Kenyal-kenyal kalau diremas…”

    “Kh… ihh… apa iya…?” kata saya, sambil merasa jari-jari Juragan memenceti sepasang tetek saya. Muka Juragan mendekat ke muka saya.

    “Bibir kamu nggemesin, Denok. Merah, kelihatannya empuk… Ayo, cium aku,” pintanya.

    “Ci… cium?”

    “Ya. Belum pernah ciuman? Nggak susah kok, cuma bibir ketemu bibir.”

    “Eh… kalau cium bibir saya belum pernah, Juragan… paling-paling cium pipi, cium tangan…”

    “Ya udah, nggak apa-apa! Ayo…”

    “…”

    Muka Juragan yang lebar itu menempel ke muka saya, bibirnya yang lebar menempel ke bibir saya, memaksa mulut saya terbuka. Duh, lidahnya ikut main juga, masuk-masuk ke mulut saya, mengajak bergulat lidah saya. Beda sekali rasanya dengan cium pipi atau cium tangan, rasanya hangat, geli… Saya kurang suka bau mulut Juragan, jijik dengan lidahnya yang basah, tapi saya merasa nggak mau melawan, nggak tahu kenapa… Lidahnya melumat lidah saya, bibirnya melumat bibir saya. Lama sekali kami ciuman, ciuman saya yang pertama, kepala saya terhimpit kepalanya. Duh, yang saya lakukan ini salah nggak ya? Iya, saya mulai sadar saya sedang jual badan saya… itu sebenarnya salah, tapi kok… kenapa saya jadi nggak peduli? Kenapa saya malah jadi bergairah membayangkan bagaimana kelihatannya saya sekarang? Saya nyaris telanjang, susu saya habis diremas-remas, bibir merah saya dilalap, dan badan saya dihimpit badan laki-laki. Bunyi-bunyi jilatan, desahan, dan cairan di mulut saya. Dan saya malah makin larut. Lidah saya mulai menjilat balik lidah Juragan. Air liur Juragan saya telan.

    “Uaahhh…” keluh saya ketika Juragan akhirnya menarik bibirnya.

    Sisa liur kami dari ciuman basah tadi masih nyantol seperti tali yang menyambung bibir saya dan bibir Juragan.

    “Juragan… rasanya kok beda ya…” kata saya. “Jiah!”

    Saya kaget waktu Juragan mencubit-cubit pentil saya.

    “Gimana Denok, kamu suka dicium seperti tadi? Enak kan?”

    “Ahn…” desah saya karena keenakan pentil saya dimain-mainkan, akibatnya omongan saya sudah nggak terkendali,

    “Iya Juragan… saya suka dicium kayak tadi…”

    “Bener? Bagus, bagus,” Haduh! Juragan nyentuh bagian depan kancut saya! Katanya, “Aku bikin kamu tambah enak di sini ya?”

    Juragan menyibak kancut saya dan menowel… menowel… itil saya!

    “Coba kalau begini…”

    “Nhaaaa!! Iyhaaah? Aahh… jangan!!”

    Seperti kesetrum saya waktu itil saya ditowel dan dikocok jari-jari Juragan. Kenapa ini… kok badan saya bereaksi seperti itu?

    “Ooh… heehhh… aduh Juragan… kena…pa ini?” saya meracau, bingung dengan badan saya sendiri.

    Saya belum pernah disentuh orang di bagian situ. Sumpah, saya nggak tahu ada apa gerangan. Rasanya ada sesuatu yang mau keluar dari dalam badan saya… Saya takut. Juragan terus memain-mainkan itil saya tanpa ampun. Rasanya panas dingin, kalang kabut, merinding! Dan… aduh, nikmat! Ditambah lagi, sekarang Juragan memasuk-masukkan jarinya juga ke… belahan memek saya!

    “Aduh, aduh, ahh… Juragan! Juragan udah… jangan! Ah… saya… saya… aduh juragan ada yang mau keluar Juragan… aduh…”

    Memang, saya merasa seperti mau pipis… Haduh bagaimana ini, masa’ saya pipis di depan Juragan? Jari-jari Juragan terus main di kemaluan saya, dan nggak tahu kenapa, saya malah ngangkat-ngangkat selangkangan saya!

    “Uuuuaaahhh… iyaaA!!”

    Bobol-lah pertahanan saya akhirnya, dan terdengar bunyi “criiit” dari itil saya yang memuncratkan sesuatu. Aduhhh… malunya. Saya merasa seperti barusan pipis di ranjang Juragan. (Belakangan saya tahu itu bukan pipis). Tapi… kok rasanya enak dan nikmat sekali, sampai ada yang keluar dari badan saya sesudah itil dan memek saya dimain-mainkan Juragan? Sampai saya ngangkat pinggul saya?

    “Haahh… haduhh…” Saya tersengal-sengal, sehabis ngecrit, badan saya seperti habis kena setrum atau kesambar petir. Duh, edan tenan. Sampai gemetaran. Juragan senyum di depan muka saya, sambil bilang, “Nah, itu buat permulaannya, Denok…”

    Dan tahu-tahu saja, Juragan sudah buka celana, dan menempelkan… menempelkan… anunya di belahan memek saya!

    “Aduh, Juragan…! Itu… Kok ditempel ke anu saya?!” kata saya. Memang saya belum tahu banyak mengenai badan laki-laki dan wanita.

    “Ini namanya kontol, Denok,” Juragan menjelaskan, “Kontol ini mau masuk ke memekmu…”

    Saya melotot melihat anunya Juragan yang gede dan berurat itu. “Tapi… tapi nggak bakal muat, Juragan!”

    “Nggak apa-apa… Kukasih kamu tiga puluh ribu lagi kalau kamu mau kumasuki.”

    Kali ini Juragan tidak nunggu jawaban saya. Beliau langsung saja menurunkan badannya yang besar itu, menghimpit badan saya di bawahnya. Dan anunya… kontolnya… masuk ke memek saya! Ampuun! Sakit! Saya sampai njerit!

    “AaaaAAAA!! Aduuuu!!”

    Juragan mendengus dan menggerung. “Huoooh! Kamu masih perawan ya Denok!? Sempit banget!”

    Perawan? Aduh biyung… saya diperawani Juragan! Badan Juragan yang berat menindih badan saya, dadanya menggencet susu saya, kontolnya yang gede itu mencoblos memek saya… menerobos kehormatan saya… Saya merasa sakit campur nikmat campur malu… Aduh, Bapak, Simbok, saya sudah bukan perawan lagi!

    “Aku masuk lebih dalam lagi, ya, Denok?” Juragan bertanya tanpa menunggu jawaban, menerobos tambah dalam ke anu saya. Saya cuma bisa bersuara ah uh saja. Lalu pelan-pelan Juragan menarik kontolnya sampai keluar semua… Beliau raih belakang kepala saya, nyuruh saya melihat. Di kontolnya kelihatan bercak darah, darah perawan saya! Haduh biyung. Juragan ketawa, lalu beliau cium bibir saya lagi. Sambil mencium, anunya dia masukkan lagi ke memek saya.

    Baca Juga : Bijin-Kei/ Siasat Paras Elok

    Saya njerit lagi, tapi mulut saya ketutupan mulutnya. Sesudah itu Juragan terus nggenjot saya, keluar masuk, keluar masuk, tambah lama tambah kencang. Badan saya diguncang-guncang, kepala saya menenggak-nenggak, sepasang susu saya gondal-gandul, digoyang gerakan Juragan. Saya sampai nggak bisa ngomong, cuma bisa ndesah dan njerit nggak karuan. Saya berusaha minta Juragan jangan kencang-kencang, tapi beliau tidak mendengarkan. Tapi…kok saya merasa nikmat, ya? Duh, saya lagi di… dientot sama Juragan, dan saya baru tahu ngentot itu… enak… sudah gitu… saya… dibayar? Kenapa ndak dari dulu saja, ya?Terlintas pikiran seperti itu dalam kepala saya. Tapi saya acuhkan. Saya luluh akibat gempuran-gempuran Juragan. Waktu beliau rebahan dan minta saya tegak, saya nurut. Dan badan saya gerak sendiri, naik-turun sambil masih tersodok kontolnya.

    “Aah! Aiih!! Hiih!”

    Duh, saya sudah nggak tahu lagi apa yang keluar dari bibir saya, atau seperti apa kelihatannya saya. Muka saya pasti kelihatan mesum banget. Dada saya gonjang-ganjing. Juragan kelihatan senang.

    “Hah… uh… Ayo terus Denok… aku senang ndengar suaramu kalau dientot… mbikin tambah nafsu. Kamu juga suka, kan?” Juragan berusaha ngajak bicara. Saya njawab dengan lenguhan dan ocehan nggak jelas, ah-ah uh-uh. “Hauhh… Ga…n! Enakh… ahh…”

    “Denokh… uh… nanti kalau udah sampai… kamu njerit yang keras ya?” pinta Juragan di sela-sela nafasnya yang memburu.

    “Sampai?” Saya bingung apa maksudnya.

    “Nanti juga kamu… uh… hh… rasa sendiri,” kata Juragan.

    “Yang seperti… uh… tadi. Aku mau… keluarin di dalam kamu kalau kamu udah… sampai, ya?”

    “Hah… ough… di… dalam?” sumpah, saya nggak ngerti apa maksudnya Juragan, dan nggak sempat mikir juga. Mana sempat mikir, kalau kepala saya penuh dengan perasaan nikmat karena dientot Juragan. Tapi nggak lama kemudian saya merasa ada yang memuncak dalam badan saya, seperti waktu itil dan memek saya dimain-mainkan tadi. Apa sudah waktunya?

    Saya nggak bisa kendalikan badan saya. Saya makin getol nggoyang pinggul, merasakan kontol Juragan dalam anu saya.

    “Eahh!! Uwahh!! Haduhh!! JURAGAAAN!! ANNGGGHHHH!!” Dan menjeritlah saya.

    Juragan mendengar saya njerit, dan langsung memegangi tangan saya sambil ngangkat pinggulnya sehingga burungnya masuk sedalam-dalamnya ke memek saya.

    “Khn! Ghooh!”

    Mata saya melotot, mulut saya nganga, mungkin lidah saya menjulur keluar, saya sudah nggak peduli semesum apa tampang saya selagi saya menjerit keenakan itu. Saya merasakan ada yang keluar di dalam kemaluan saya. Basah dan hangat. Dari anunya Juragan. Untuk pertama kalinya ada orang yang menebar benihnya di dalam badan saya.

    “Hiyahh…” erang saya.

    Badan saya condong ke depan, kedua tangan saya bertumpu ke dada Juragan, kepala saya mendongak, menganga sambil memekik. Dan akhirnya ambruklah badan saya ke dada Juragan, ngos-ngosan, mendesah-desah. Susu saya yang tergencet jadi menyembul ke samping badan, pentilnya mencuat keras. Beberapa lama saya terkulai di atas badan Juragan yang empuk. Dia lantas menggeser saya dan bangun, lalu memakai lagi bajunya. Sambil berpakaian, dia ngomong ke saya.

    “Hehehe. Lumayan juga bisa ndapat perawan siang-siang begini… Kalau kamu mau, Denok, cari uang itu nggak susah…”

    Beliau jatuhkan enam lembar lima puluh ribuan ke dekat muka saya. Saya nggeletak nggak karuan di ranjang Juragan, mandi keringat, ngos-ngosan.

    “Itu buat kamu,” kata Juragan. “Cukup kan buat bayar kontrakan kamu tiga bulan?”

    Saya berbaring agak lama sampai akhirnya kekuatan saya kembali. Buru-buru saya pakai lagi kemben dan kain saya. Haduh, tampang saya pasti sudah ndak karuan. Bedak saya sampai luntur dan nempel di seprai ranjang Juragan. Juragan terus duduk memperhatikan saya yang kalang kabut pakai baju. Beliau diam saja. Saya pamitan dan buru-buru turun. Di bawah, di depan toko mulai ramai. Beberapa orang pegawai Juragan manggil saya, tapi saya nggak berani menghadapi mereka, apalagi pas acak-acakan begini. Saya sampai setengah lari meninggalkan toko beras Juragan, langsung ke kontrakan. Ee, ternyata ibu pemilik kontrakan lagi nangkring di depan.

    “Siang-siang kok udah balik, Denok? Lah, kok berantakan gitu? Habis ngapain kamu?”

    Semua pertanyaannya saya acuhkan, saya jejalkan uang yang saya dapat ke tangannya, lalu saya langsung mabur ke kamar. Saya langsung buka pakaian serta sanggul, masuk kamar mandi, dan mandi…ngguyur sekujur tubuh, cuci muka. Masih nggak percaya apa yang barusan saya lakukan dengan Juragan. Saya barusan serahkan keperawanan saya ke Juragan… ditukar uang kontrakan tiga bulan. Apa saya sedih atau malu? Apa saya mestinya sedih atau malu? Nggak tahulah… Tapi yang terjadi malah tangan saya mulai meraba-raba selangkangan saya, memainkan itil saya seperti yang dilakukan Juragan tadi…

    *****

    Saya si Denok, penari jalanan. Ini kisah kehidupan saya. Sesudah hari itu, ada yang berubah dalam kehidupan saya. Saya tetap mencari penghidupan dengan menari untuk orang-orang di Pasar. Tapi ada yang lain…sekarang, kapan saja saya perlu uang, saya nggak lagi segan-segan menawarkan badan saya kepada laki-laki. Saya tahu ini nggak benar, dan harusnya saya berhenti, tapi godaan duit terlalu kuat. Saya si Denok, penari jalanan, semua orang di Pasar kenal saya. Siapa yang tidak kenal si Denok yang berkemben merah, berbedak dan bergincu tebal, bertahi lalat di pipi. Dan sekarang saya dikenal juga sebagai Denok yang susunya montok, pantatnya sintal, goyangannya mantap. Sudah malam, dan saya baru saja menari buat beberapa orang supir truk pengangkut sayur yang habis bongkar muatan. Saya kalungkan selendang saya ke salah seorang, saya beri senyum manis dan saya bisikkan harga saya kalau dia mau.

    “Bener nih, segitu?” kata si supir yang bertubuh kerempeng, berambut cepak, dan mulutnya bau minuman.

    “Iya Bang… tapi buat satu orang aja ya… kalau yang lain mau ikutan, nambah.”

    “Hehehe,” katanya sambil menjamah kemben saya.

    “Mau dong nyobain,” dia remas tetek saya.

    Dari semua orang yang ada di sana, cuma dia dan satu orang temannya yang ‘nanggap’ saya. Saya bawa supir-supir itu ke deretan kios kosong di dalam pasar, yang nggak laku-laku disewa karena letaknya terlalu ke dalam. Saya buka salah satunya dan saya nyalakan lampunya, dan dua orang supir itu pun saya layani di sana. Saya digilir mereka berdua di sana. Mereka minta saya layani mereka sekaligus. Jadilah saya dijepit mereka berdua… satu orang ngentoti memek saya, dan yang satunya saya kasih bokong saya.

    “Waduh, Neng, pantatnya sempit amat, nih,” kata orang yang nyoblos pantat saya. “Baru pertama kali?”

    “Ah, enggak Bang,” kata saya malu-malu, disela nafas memburu.

    Temannya iseng menanya, sudah pernah sama berapa orang saya bersetubuh. Berapa ya? Saya pikir mungkin dua puluh atau lebih. Saya nggak ngitung. Saya nggak peduli… yang saya pikir cuma kerja seperti ini lebih gampang dapat uang. Saya juga nggak pernah merasa sendirian lagi.

    “Uohhh… buang di dalem boleh gak Neng?” tanya supir yang di depan saya.

    Saya ngangguk. Dia muncrat di dalam memek saya. Saya ngerti itu sebenarnya bahaya, tapi rasanya lebih enak… anget dan lebih puas aja rasanya. Dan sesudahnya, saya dapat duit. Sebulan-dua bulan sesudah Juragan ngambil kegadisan saya, saya jadi makin berpengalaman sebagai lonte. Sudah banyak orang di Pasar yang merasakan badan saya: kuli, pedagang, preman, petugas, tukang ojek, supir dan lain sebagainya. Dan saya pun jadi makin akrab dengan mereka semua. Saya seperti nyimpan semua rahasia mereka. Hihihi… Saya tahu siapa yang kontolnya paling gede, siapa yang lemah syahwat, kadang-kadang saya sampai tahu urusan rumah tangga mereka. Saya tahu orang-orang yang sehari-harinya kelihatan galak atau rajin ke tempat ibadah, tapi kalau sudah pengen, mereka nyari saya juga. Saya juga berkali-kali tidur dengan Juragan. Juragan sering nyuruh saya coba hal-hal baru. Misalnya ngemut dan nyedot. Atau pakai tetek saya buat njepit kontol. Juga bahwa lubang pantat saya bisa dientot juga. Duh, waktu pertama kali nyoba itu, saya jejeritan. Sakit! Minta ampun sakitnya. Tapi lama-lama kebiasa juga. Saya juga jadi makin kenal dengan Juragan. Perempuan yang ada di foto bersama Juragan itu benar istrinya, tapi sudah meninggal. Meninggal waktu melahirkan anak pertama, anaknya juga tidak selamat. Juragan selama ini kesepian, dan kehidupannya cuma ngurus toko beras saja. Saya jadi kasihan sama Juragan, ternyata beliau sendirian juga seperti saya. Saya juga jadi tahu bahwa dulu, sewaktu muda dan masih tinggal di kampungnya, Juragan pernah kepincut seorang penari juga. Cuma waktu itu Juragan belum punya apa-apa, apalagi penari itu juga simpanan seorang camat. Juragan cuma bisa nonton dan mengagumi dari jauh tiap kali si penari itu mentas.

    Kata Juragan, saya mirip penari itu. Mungkin karena itu juga Juragan selalu minta saya pakai pakaian dan riasan penari lengkap tiap kali beliau nanggap saya…Yah, saya juga ikut senang kalau bisa bikin Juragan senang. Makin hari saya makin larut dalam kehidupan sebagai penari yang juga jualan badan. Karena uang, harga diri saya lupakan, dan saya jadi bahan pelampiasan nafsu laki-laki. Tiap kali ada orang menggencet saya, menjamah saya, memasuki badan saya… sebenarnya saya ingat jalan ini tidak benar, tapi badan saya terus minta lebih. Saya jadi nggak tahu lagi apa saya masih terus melakukannya hanya karena duit. Makin lama saya makin gawat. Melayani dua-tiga orang sekaligus. Sudah nggak terhitung orang yang membuang benih di dalam rahim saya. Saya pun makin berani. Akhirnya saya nggak bisa lagi hitung berapa orang yang sudah merasakan badan saya, dan saya pun bunting… Wajar, kalau ingat sudah begitu banyak orang yang bisa menghamili saya. Tapi saya terus melacur walaupun perut saya membesar. Dan saya juga terus datang ke Juragan. Terakhir kali saya tidur dengan Juragan, perut saya sudah mulai menonjol, dan beliau kelihatan agak khawatir dengan saya. Ceritamaya

    “Sudahlah Denok… Kamu berhenti saja, ingat keadaan kamu,” kata Juragan sambil pelan-pelan menggenjot saya.

    “Ndak apa-apa Juragan…” kata saya.

    Saya tersenyum buat Juragan. Saya ingat dulu saya tidak senyum buat beliau waktu pertama kali beliau tiduri saya. Tapi sekarang, di antara semua pelanggan saya, saya cuma bisa senyum untuk Juragan… Senyum setulus hati. Kenapa? Entahlah… saya sendiri juga nggak tahu. Mungkin karena sesudah Simbok meninggal, Juragan-lah yang paling dekat dengan saya? Yang jelas saya sungguh menikmati saat-saat bersama Juragan. Termasuk sekarang, waktu beliau sedang senggama dengan saya, sambil tampangnya khawatir. Rasanya saya ingin bikin beliau nggak khawatir. Bukannya sakit, malu, atau jijik, saya bahagia tiap kali badan Juragan bersatu dengan badan saya.

    *****

    Hampir setahun sesudah saya dan Simbok meninggalkan rumah untuk jadi penari jalanan di Jakarta, ada satu lagi kejadian yang ngubah hidup saya. Saya sudah enam bulan bunting, tapi tetap masih keliling menari… Saya seharusnya sudah berhenti. Tapi saya mbandel. Saya pingsan di jalan. Pastinya ada yang melihat dan membantu saya, soalnya saya siuman di rumah sakit. Tengah malam. Dan di samping tempat tidur rumah sakit, duduk sendirian sambil pegangi tangan saya, ada Juragan.

    “Kamu sudah sadar Denok? Syukuuur…” kata Juragan sewaktu melihat saya siuman.

    Juragan menangis. Saya nggak bisa apa-apa karena masih lemas. Selanjutnya Juragan kasih tahu saya, beliau dan anak buahnya yang bawa saya ke rumah sakit. Dan bahwa saya keguguran.

    “Duh, untung kamu masih selamat, Denok… Tapi anakmu…” Juragan bilang itu semua sambil nangis.

    Beliau bilang teringat istrinya, dan sudah takut saya bakal mengalami kejadian yang sama. Beliau genggam tangan saya erat-erat, nggak dilepas-lepas. Dan…

    “Denok, maaf… maafin aku. Kalau bukan karena yang pertama kali itu, kamu nggak usah sampai seperti ini… Aku salah, Denok, aku yang ndorong kamu sampai jadi begini… Salahku gede sekali sama kamu, Denok…”

    Dengan sedikit kekuatan yang sudah muncul, saya coba rangkul beliau sebisanya.

    “Juragan… nggak apa-apa… mungkin ini sudah jalan hidup Denok…”

    “Nggak, nggak boleh lagi, Denok… Mulai sekarang biar aku yang nanggung kamu, Denok. Kamu nggak boleh lagi melacur. Biar aku nebus dosaku ke kamu, Denok.”

    “Juragan…” saya cuma bisa bilang itu karena masih lemah, sambil berusaha senyum. Kata-kata Juragan penuh arti…

    Juragan mendekatkan mukanya ke muka saya

    “Jangan panggil Juragan lagi… panggil namaku saja… namaku…”

    *****

    Ibukota memang keras. Tapi buat mereka yang gigih dan mujur, selalu ada jalan. Sesudah saya keluar dari rumah sakit, Juragan melamar saya. Sekarang saya sudah jadi istri Juragan, dan kehidupan saya jadi jauh lebih baik. Waktu kondangan pernikahan, semua orang di Pasar datang dan memberi selamat ke saya, si Denok, penari jalanan berkemben merah yang sudah ketemu jodoh. Untungnya, Juragan termasuk dihormati di Pasar dan semua orang tidak ada yang mempermasalahkan pilihan beliau untuk mengangkat saya yang hina dan pernah terjerumus ini. Kini hari-hari saya dihabiskan mengurus Juragan dan membantu Juragan menjalankan toko beras. Juragan dan saya sadar bahwa perbedaan umur kami itu jauh banget, dan Juragan juga sudah tidak muda. Saya berusaha menjalankan peran sebagai istri dengan sebaik-baiknya untuk Juragan. Tapi ada peran lama saya yang nggak saya lupakan. Sekali-sekali, kalau Juragan minta, saya akan kenakan lagi kemben merah dan batik, sanggul dan kembang, bedak tebal dan gincu merah, untuk kemudian melayani Juragan di ranjang. Memang dulu penampilan penari saya yang membuat Juragan kesengsem, dan memang dengan berpakaian seperti itulah saya jalani malam pertama kami. Itu jadi kenangan penting buat kami, waktu Juragan didatangi seorang penari jalanan…

    TAMAT

  • Terapis Cabul: Birahi Segitiga

    Terapis Cabul: Birahi Segitiga


    171 views

    Ceritamaya | Wanita itu selalu datang dengan kaos kasual dan celana jins ketatnya. Ibu itu walau sudah berusia sekitar 37 tahun masih nampak sehat dan kencang. Bodynya yang tidak lagi langsing tetap tidak dapat menyembunyikan jejak kecantikannya di masa remaja. Bahkan dengan body yang semakin berisi tersebut, justru semakin menonjolkan lekuk tubuh yang montok dan menggemaskan. Pak Totok, lelaki berusia 60an tahun itu selalu menyembunyikan kekaguman seksualnya di hadapan ibu setengah muda itu. Posisi dia sebagai seorang yang dipercaya sebagai ahli terapi dituntut untuk menjaga keprofesionalannya di hadapan pasien-pasiennya. Apalagi bu Susan ini adalah salah seorang pasien yang direkomendasikan oleh ponakannya, sesama ahli terapi yang dulu belajar ilmu dari dirinya. Ibu yang cantik itu adalah kawan istri dari ponakannya itu. Dengan hubungan-hubungan itu, Pak Totok jelas tidak mungkin mempunyai kesempatan untuk melakukan tindakan tercela terhadap pasiennya tersebut. Jejak rekam Pak Totok sebagai seorang ahli terapi spiritual termasuk berjalan mulus. Tidak pernah sepanjang kariernya, dia melakukan tindakan tidak terpuji. Walaupun sebenarnya, Pak Totok pun tidak mengingkari bahwa beberapa kali dia tergoda oleh beberapa pasien wanitanya. Pak Totok sendiri bukan pria yang berkelakuan baik di sepanjang hidupnya. Di masa muda, dia pun terkenal jago dalam menaklukan perempuan. Namun karena usianya yang tidak lagi muda, dan kehidupannya yang sempurna bersama istri dan anak-anaknya, lelaki tua itu kini lebih cenderung menjadi family man.

    totok

    Pak Totok

    Walau demikian, setelah dia mulai dikenal sebagai ahli terapi spiritual, dia banyak memiliki pasien dari berbagai kalangan, termasuk ibu-ibu muda yang mendapat masalah keluarga. Dengan pasien-pasien semacam itulah, Pak Totok kerap tergoda untuk melakukan tindakan terpuji. Namun sejauh ini dia berhasil menghindari godaan-godaan tersebut.  Apalagi istrinya adalah seorang yang setia dan sangat mempercayainya. Hampir tidak pernah sang istri mencampuri kegiatannya dalam melakukan terapi. Walau terapi yang dilakukannya menggunakan bentuk-bentuk pijatan dan totok urat, tetapi bagi wanita setia itu hanyalah bagian dari resiko pekerjaan yang harus dilakukan suaminya. Demikian pula Pak Totok pun tidak pernah kedapatan melakukan penyimpangan dari proses terapinya. Tapi entah kenapa, di usia profesinya sebagai ahli terapi setelah hampir sepuluh tahun, tiba-tiba Pak Totok merasakan hal yang berbeda pada pasien yang bernama Bu Susan ini. Seperti yang diceritakan di awal, body Bu Susan memang tidak seistimewa para artist sinetron, tetapi untuk ibu seusia dia, tubuh Bu Susan termasuk istimewa. Tidak lagi langsing tetapi justru bagi pria berpengalaman seperti Pak Totok, tubuh itu ideal sebagai sebuah simbol sensualitas yang sebenarnya. Pak Totok bahkan merasakan ada potensi sensual yang besar dari wanita terhormat itu. Walau Bu Susan selalu berpakaian biasa, dengan kaos kasualnya, tetapi kaos yang tidak begitu ketat itu tetap tidak dapat menyembunyikan bungkahan besar kedua dadanya. Bungkahan yang walau tidak lagi kencang membusung dan mulai sedikit menggantung, tetapi justru mengundang decak kagum para pria karena montoknya. Payudara yang wajar untuk ibu ibu dengan dua anaknya yang sudah beranjak remaja. Ceritamaya

    Satu hal lain yang menonjol dari ibu itu adalah bungkahan pantatnya yang membulat dan kencang. Semua pria yang berpengalaman pasti tahu akan potensi seksual dari ibu seperti Bu Susan ini. Pantat itulah yang selalu membuat Pak Totok menelan ludah. Bu Susan memang cenderung menggunakan pakaian yang tidak terlalu ketat untuk menyembunyikan dadanya, tetapi untuk bagian bawah, Bu Susan menyukai celana yang ketat yang menampilkan lekukan pantat dan pahanya yang menggiurkan. Paha yang langsing itu sangat serasi dengan pantatnya yang menggumpal ketat. Point lain yang menggoda Pak Totok adalah kulit mulus putih Bu Susan yang terawat. Mungkin juga karena biasanya pasiennya adalah wanita-wanita di sekitar kampungnya yang biasanya tidak semulus dan seputih Bu Susan, maka setiap kali menyentuh kulit ibu itu, Pak Totok tidak dapat menahan gejolak birahinya. Memang Bu Susan adalah istri seorang pegawai pemerintahan berpangkat lumayan. Sehingga dia selalu dapat merawat tubuhnya dengan luluran dan makanan yang sehat. Pak Totok masih ingat ketika pertama kali berjumpa dengan wanita itu. Mulanya Bu Susan terlihat ragu untuk menjalani terapi. Dia pergi ke Pak Totok atas rekomendasi suami temannya, yaitu keponakan Pak Totok tadi. Keluhan utama dari ibu itu adalah masalah perutnya dan masalah kegelisahan hatinya terhadap suaminya. Pak Totok tahu bahwa masalah sakit perut wanita itu bisa jadi akibat dari stress pikirannya karena kecurigaannya selalu pada suaminya. Tetapi sepanjang terapi, Bu Susan tidak bisa terus terang mengenai masalah dengan suaminya, walau dia menyinggung tentang ketidaknyamanannya pada aktivitas suaminya. Secara ringkas, Pak Totok tahu bahwa Bu Susan curiga pada kesetiaan suaminya. Bagi Pak Totok, informasi itu sudah cukup untuk mengurai persoalan Bu Susan. Metode yang dipakainya adalah relaksasi pada pasien baik secara mental maupun secara fisik. Secara mental, Pak Totok akan membimbing pasien-pasiennya dengan bacaan doa dan secara fisik, dia akan menerapinya dengan pijatan dan minuman herbal ramuannya sendiri. Dengan sabar Pak Totok mencoba untuk membuat Bu Susan nyaman dan mempercayainya, karena point penting dari terapi spiritualnya adalah kepercayaan pasiennya pada dirinya. Pelan-pelan Bu Susan semakin mempercayai pria tua itu dan menjadi pasien favorit Pak Totok. Pak Totok bahkan terang-terangan memperlakukan Bu Susan sebagai pasien istimewanya, karena khusus untuk wanita itu, Pak Totok selalu menyempatkan diri menyediakan waktunya. Biasanya Pak Totok tidak terlalu ngoyo untuk menggarap pasiennya, karena pekerjaannya sebagai ahli terapi hanyalah pekerjaan sambilan karena diberkati bakat istimewa saja. Dia sendiri masih sering bekerja sebagai seorang makelar barang antik yang sudah mulai jarang dilakukannya. Karena Pak Totok sudah cukup berumur dan kelima anaknya pun sudah semuanya bekerja dan mandiri. Pak Totok ingat, pertama kali Bu Susan datang ke rumahnya dengan berbaju biru lengan panjang yang agak longgar. Baju itu berbahan halus dan lembut sehingga lekukan kainnya menempel lembut pada badan wanita itu. Pak Totok ingat sekali, walau pakaian itu adalah pakaian yang wajar dan sopan, namun tepat di bagian dada, kain yang lembut itu membentuk lekukan yang indah. Kedua tonjolannya nampak membusung dan di bagian tengahnya, kain itu meliuk ke bawah mengikuti belahan dada montoknya. Pemandangan itulah yang selalu diingatnya. Apalagi sepertinya, wanita itu menggunakan bh yang bagus sehingga dadanya yang besar terlihat membusung menyedot perhatiannya. Kala itu Bu Susan diantar oleh ponakannya yang pernah menerapinya sebentar, hanya pada pijatan-pijatan di leher dan lengan. Ponakannya menyerahkan Bu Susan sebagai pasien Pak Totok karena melihat permasalahannya cukup berat untuk dikerjakannya sendiri. Satu hal yang kurang dari Bu Susan adalah sikap tubuhnya yang cenderung agak membungkuk. Pak Totok tahu sikap itu adalah karena ketidak pedean Bu Susan pada dadanya yang besar. Sikap itu wajar dan umum pada beberapa wanita dengan dada besar, mungkin karena malu atau tidak percaya diri. Itulah yang justru akan diubah oleh Pak Totok.

    susan

    Bu Susan

    Waktu itu dengan pelan dan pandangan sedikit tidak percaya, Bu Susan menceritakan masalah sakit perutnya yang sering kambuh dan emosinya yang tidak stabil, terutama saat-saat sebelum dan semasa menstruasi. Bagi Pak Totok, masalah itu adalah problem yang sering dihadapinya terutama pada ibu-ibu dengan hubungan yang tidak terlalu baik dengan suaminya. Bu Susan masih tidak membuka diri pada semua persoalannya, walau Pak Totok sendiri sudah dapat mendiagnosanya melalui kemampuannya membaca perasaan orang.
    “Iya bu, saya mengerti. Terapinya nanti ada dua jenis bu. Pertama terapi fisik, yang akan membantu ibu untuk rileks, dan yang kedua adalah terapi spiritual” papar Pak Totok pada Bu Susan waktu itu.
    Bu Susan nampak masih bimbang terutama pada terapi spiritual. Jelas hal tersebut karena latar belakang dan lingkungan wanita itu, karena berasal dari kalangan terdidik yang cenderung lebih percaya pada bentuk-bentuk pengobatan medis.
    “Yang spiritual itu gimana, Om?” Bu Susan memanggilnya om karena mengikuti ponakannya yang mengantarnya.
    “Nanti biar Yitno (ponakan Pak Totok) ikut menjelaskan. Intinya terapinya akan melalui bentuk bentuk spiritual, seperti doa, minum air yang sudah saya kasih jampi-jampi, dan yang penting ibu yakin dengan proses yang dijalani” jelas Pak Totok.
    Bu Susan masih nampak gelisah.
    “Yang penting lainnya, adalah sikap pasrah bu. Pasrah itu akan membantu mengendalikan emosi ibu”.
    Penjelasan itu nampak masuk akal bagi Bu Susan. Dalam nalar terdidiknya, sugesti dan sikap percaya akan membantu menyelesaikan masalah psikologis. Apalagi dulu dia juga pernah kuliah psikologi sebelum menikah dengan suaminya. Bu Susan lalu memutuskan untuk mencoba dulu terapinya. Pak Totok menyembunyikan perasaan girangnya, karena wanita cantik itu bersedia menjalani terapi. Untung dia tidak memperlihatkannya dengan jelas, karena waktu itu Bu Susan masih diantar oleh ponakannya dan dia tidak mau kelihatan begitu bernafsu pada wanita itu. Pada saat terapi itulah awal dari godaan Pak Totok yang sesungguhnya. Seperti biasa, dia menyilahkan pasiennya untuk berbaring di dipan ruang terapinya. Bu Susan pun menurutinya. Bukan main pemandangan yang dilihat Pak Totok. Wanita itu berbaring di depannya dengan lurus, dan tepat di dadanya, gundukan itu semakin terlihat jelas. Gundukan yang menonjol jelas karena ukurannya, dan tidak mampu tertutupi oleh kain bajunya yang lembut dan tipis. Tanpa sengaja Pak Totok menelan air liurnya. Pada awalnya dia memijat lembut kedua tangan Bu Susan. Pak Totok kembali tercekat, merasakan lembutnya kulit putih itu. Belum pernah dia merasakan sensasi kulit yang sangat lembut dari sekian banyak pasiennya selama ini.
    “Oh dasar aku ini ahli terapi kampung, biasanya punya pasien mbok mbok bakul pasar”, pikirnya.
    Bu Susan hanya diam saja. Sesekali dia menjawab pertanyaan Pak Totok di seputar keluhan kesehatannya.
    “Hmm, memang bu, biasanya masalah emosi akan berpengaruh ke masalah lambung”, jelas Pak Totok.
    Bu Susan mengangguk mengiyakan. “Iya pak, setiap emosi saya naik, perut saya pasti bermasalah”.
    Pak Totok yang duduk di samping dipan sambil mengurut tangan Bu Susan kembali menjelaskan hal-hal masalah pengendalian emosi,
    “yang penting ibu rileks dulu, terapi fisik ini untuk membantu ibu rileks. Makanya ibu kalau bisa jangan terlalu tegang. Santai saja bu, gak usah takut sama saya”.
    “Lho siapa yang takut Om?”
    “Ya siapa tahu ibu gak percaya sama saya. Padahal untuk dapat menerima energi saya, kita harus saling percaya bu” jelas Pak Totok.
    “Saya percaya kok Om. Yitno juga sudah cerita tentang Om. Cuma mungkin masih perlu adaptasi dengan terapi ini”.
    “Baguslah bu, gimana pijatan saya, terlalu keras?”
    “Gak Om. Enak kok”, jawab Bu Susan nampak mulai lebih santai.

    Pak Totok lalu berpindah ke tangan yang lain. Dia mengurut wanita itu dari telapak tangan hingga ke lengannya. Semua inci dari kulit wanita itu begitu lembutnya. Tak henti-henti Pak Totok memuji dalam hati kepandaian wanita itu dalam merawat diri. Setelah beberapa saat, Pak Totok mulai mengurut bagian kaki. Sayangnya Bu Susan mengenakan celana jins ketat sehingga Pak Totok tidak dapat mengurutnya dengan keras.
    “Bu, maaf, besok lagi kalau ke sini bawa celana pendek atau celana agak lemas kainnya. Kalau diurut dengan celana jins yang keras justru tidak baik untuk kesehatan”, jelasnya.
    “Iya Om, tadi soalnya belum bersiap untuk terapi”.
    Di bagian ini, Pak Totok tidak lama melakukan pijatan. Tetapi dia sempat mengagumi bagian lain yang indah dari wanita itu. Gundukan pantat montoknya sangat mengundang hasrat lelaki itu. Kala itu Bu Susan terbaring telungkup, sehingga Pak Totok leluasa mengagumi bungkahan pantat itu. Sensasi itu luar biasa bagi Pak Totok, karena selama puluhan tahun dia sudah tidak merasakan perasaan seperti ini. Selama ini dia paling hanya sedikit tergoda, dan pikirannya pun tidak pernah semesum ini. Dalam hati dia menyalahkan pikiran nakalnya karena dia adalah orang tua yang dihormati di kampung karena kemampuan spiritualnya. Baru kali inilah dirinya seperti remaja kembali yang dengan malu-malu menyentuh dan mengagumi cewek idamannya. Selanjutnya Pak Totok menyilahkan Bu Susan untuk duduk bersila. Dia lalu ikut naik ke dipan dan duduk di belakang wanita itu.
    “Sekarang saya hendak menyalurkan energi ke punggung Ibu”, katanya. Bu Susan hanya mengangguk.
    “Tolong ibu jangan membungkuk. Usahakan rileks dan konsentrasi pada getaran yang saya transfer”.
    Bu Susan menurut. Dibusungkannya dadanya, sesuatu yang jarang dilakukannya. Di belakangnya, lelaki tua itu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggungnya. Tangan itu terasa hangat. Perlahan tapi pasti, Bu Susan merasakan seuatu serupa getaran melewati punggungnya. Hangat dan menenangkan. Tetapi Pak Totok merasakan sesuatu yang lain. Di tengah konsentrasinya menyalurkan energi, Pak Totok dapat melihat gundukan dada wanita itu semakin menonjol karena posisinya yang membusung. Apalagi tepat di mukanya, leher bagian belakang wanita itu nampak sangat halus dan harum. Mati-matian Pak Totok berusaha menepis perasaan mesumnya mengingat posisinya sebagai ahli terapi.
    “Gimana Bu? Apakah terasa nyaman?”
    “Hm, iya Om. Kok bisa Om?” tanya Bu Susan heran.
    “Ini namanya terapi energi. Sekarang kosongkan pikiran, saya hendak menyalurkannya sampai selesai”
    Terapi seperti itu menyita energi dalam Pak Totok. Beberapa saat kemudian, dia sudah kelelahan dan menyudahi terapinya. Bu Susan nampak senang dan mengalami sedikit kemajuan.
    “Sudah bu. Kalau mau, kita lanjutkan minggu depan, Bu”, kata Pak Totok setelah merapalkan doanya.
    “Makasih sekali, Om”. Sore itu terapi berjalan lancar dan setelah ponakannya dan Bu Susan pergi Pak Totok menghela nafas dan memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi. Baginya peristiwa siang itu membuatnya kembali seperti remaja. Wanita itu membuatnya mabuk kepayang seperti remaja kembali. Bahkan malamnya, dia tidak dapat berhenti memikirkan lembutnya kulit wanita itu. Wajah cantiknya, dan tubuh montoknya.

    ####################

    Pagi esoknya, Pak Totok mendapati kembali apa yang sudah lama tidak dirasakannya, yaitu ereksi pagi hari yang amat sangat. Ketika dia bangun, istrinya sudah beranjak ke pasar, sementara dirinya terbaring dengan perasaan aneh. Sudah lama dia tidak merasakan ketegangan yang sangat seperti pagi itu. Dibiarkannya sebentar batangnya sambil duduk di kasur, menunggu sampai batang itu mereda, namun sekian lama, tidak juga birahinya mereda. Dia lalu menuju kamar mandi. Di kamar mandipun, setelah diguyur dengan air dingin, penisnya tetap tegang luar biasa. Pak Totok merasa heran, darimana perasaan itu muncul kembali. Hanya karena seorang pasien yang menarik hatinya, dia kembali seperti remaja yang dilanda puber. Setelah beberapa saat penisnya tidak ada perubahan, Pak Totok memutuskan membiarkan batang itu tegang. Dipakainya kembali kolornya walau terasa aneh karena mengganjal di selangkangannya. Sengaja dia tidak mengenakan cd, karena berharap ketegangannya dapat turun sendiri. Dia lalu menuju ke meja makan. Di situ sudah tersedia kopi panas seperti biasa, dan beberapa cemilan jajan pasar kesukaannya. Biasanya istrinya atau menantunya yang menyediakan segala jamuan itu. Tiba-tiba dia ingat menantunya, seorang wanita muda berusia 26 tahun yang tinggal bersama dia dan istrinya. Menantunya itu seorang wanita yang setia pada keluarga dan merelakan tinggal bersama mereka karena istri Pak Totok tidak rela ditinggal oleh semua anaknya. Anak bungsunya sendiri, yaitu suami menantu mereka itu, setiap hari pergi ke kantornya, sedang sang menantu tinggal di rumah mengurusi urusan rumah tangga. Darmi, nama menantunya itu ternyata sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Pak Totok tiba-tiba berpikiran aneh. Di tengah posisi penisnya yang masih tegang, tiba-tiba dia ingin melihat bagaimana menantunya sekarang. Seperti apa pakaiannya. Dalam ingatannya selama ini, menantunya itu memiliki tubuh yang seksi  walaupun sudah beranak satu. Selama ini, Pak Totok tidak pernah berpikir mengenai sang menantu itu sebagai objek seksual. Saat ini Darmi juga sedang mengandung anaknya yang kedua, setelah berjarak 5 tahun dengan anak yang pertama. Anak mereka yang pertama sudah sekolah di tk tidak jauh dari rumah Pak Totok. Setelah menghirup kopi dan menyantap beberapa jajanan, Pak Totok menyeret tubuhnya ke belakang. Benar saja, di sana, Darmi sang menantu sedang menjemur pakaian. Seperti yang selama ini biasa dilihatnya, Darmi mengenakan daster lengan pendek dengan bawahan hingga ke lututnya. Tidak seperti biasanya, di tengah birahinya di pagi hari, Pak Totok tiba-tiba berubah melihat perempuan muda yang sudah biasa dilihatnya itu. Pemandangan yang biasa itu sekarang menjadi pemandangan yang menggoda di matanya. Di halaman belakang, Darmi mengenakan daster lengan pendek, di mana payudaranya menonjol besar, pantat menggelembung dan perut yang mulai membusung karena kehamilan di atas 7 bulan. Di teras belakang diam-diam Pak Totok mengagumi tubuh menantunya, walau tidak sesingset body Susan. Jelas tubuh wanita itu semakin membengkak karena kehamilannya, termasuk bagian pantat dan dadanya, namun sex appealnya tetap ada dan hampir pasti tubuh Darmi akan kembali ke bentuk semula yang indah itu setelah melahirkan nanti. Ia memang pandai merawat tubuh dan rutin berolah raga sehingga dulu seusai melahirkan yang pertama pun bentuk tubuhnya pulih dengan relatif cepat. Sial bagi Pak Totok, penisnya semakin menegang tanpa kompromi. Ujung penisnya berdenyut-denyut. Tanpa sadar dia meraba kolornya dan mengurut penisnya dari luar celananya. Darmi masih tidak sadar diawasi oleh tatapan binal mertuanya, karena posisinya sedang membelakangi Pak Totok. Sial bagi Pak Totok, karena terlalu sibuk memandangi menantunya, tanpa sadar kakinya menabrak kaleng bekas biskuit yang sering dijadikan mainan anaknya. Klontang! Bunyi yang keras itu mengagetkan kedua insan itu. Pak Totok gugup dan memegang selangkangannya takut menantunya melihatnya.

    darmi

    Darmi

    Darmi menoleh kaget, dan bertanya kawatir, “ada apa, Pak?”
    “Eh, gak papa Mi”, katanya dan secara spontan dia membalikkan badan hendak masuk kembali ke rumah. Sialnya dia tidak melihat batang kain pel yang disandarkan di dekat pintu. Kakinya terantuk batang itu dan karena gugup dia terjembab ke belakang. “Aduh!”
    “Awas Pak!”, teriak Darmi ambil lari mengejar mertuanya.
    Darmi sangat kawatir melihat mertuanya jatuh terkapar. Segera dihampirinya dan dipegangnya punggung mertuanya itu.
    Pak Totok meringis kesakitan. “Gimana Pak? Sakit sekali?”, tanya Darmi panik.
    “Gak papa, Mi. Cuma kaget saja..” kata Pak Totok menenangkan. Hanya pantatnya yang sedikit sakit. “Sini Pak, saya bantu berdiri, hati hatii…” kata Darmi sambil menopang punggung lelaki itu.
    Pak Totok berdiri dengan dibantu Darmi. “Gak papa kok, Mi”, katanya.
    “Sini, saya bantuin masuk ke dalam, Pak”.
    Waktu berdiri itulah Pak Totok kembali didera malu yang sangat. Dari balik kolornya tonjolan batang itu nampak sangat jelas dan tepat di depan menantunya yang montok. Jelas Darmi melihat tonjolan itu.  Darmi pun jelas kaget. Mertuanya yang sangat dihormatinya itu entah kenapa sedang didera birahi. Tapi Darmi pura-pura tidak memperhatikan tonjolan itu. Dia dengan telaten menopang punggung Pak Totok dan membimbingnya masuk ke rumah. Sambil berjalan tertatih Pak Totok menyembunyikan mukanya dari pandangan Darmi. Jelas menantunya melihat ereksinya. Tapi berdekatan dengan perempuan montok itu, Pak Totok kembali tidak dapat menahan birahinya. Pak Totok dapat merasakan tekanan payudara Darmi di punggungnya. Payudara itu sepertinya tidak mengenakan bh, mungkin karena faktor kehamilan dan bengkaknya kelenjar susunya. Penisnya saat ini malah semakin tegang, walau pantatnya agak ngilu karena jatuh tadi. Tanpa sengaja tangannya meraih pinggang Darmi sekalgus sebagai penopang tubuhnya yang limbung. Darmi membiarkan tangan itu karena kondisi mertuanya yang baru saja terjatuh. Perjalanan dari teras belakang ke sofa di ruang tengah seperti perjalanan yang tiada akhir bagi Pak Totok.  Sampai di sofa ruang tengah, Darmi membantu mertuanya duduk.
    “Pak, kakinya diluruskan dulu. Yang sakit mana Pak?” tanyanya dengan berusaha tenang.
    “Ya pantatnya ini, Mi. Tapi gak begitu kok. Tolong ambilkan saja minyak urut di kamar depan Mi”.
    Darmi berlari ke kamar mertuanya. Kesempatan itu digunakan oleh Pak Totok untuk membetulkan letak penisnya. Batang yang tegang itu susah untuk disembunyikan dibalik kolor tanpa cd nya. Di tengah sibuknya menyembunyikan ketegangannya, Darmi kembali dengan membawa minyak urut. Pak Totok segera memindahkan tangannya, walau sekilas Darmi sempat melihat aktivitas itu.

    Baca Juga : The Hottest Liveshow Continues: Santi

    “Sini, Pak. Mana yang sakit?” tanyanya sambil bersimpuh di depan Pak Totok.
    “Udah Mi, biar Pak sendiri”.
    “Gak usah, Pak, sini, biar Mimi”. kata Darmi memaksa.
    Pak Totok menurut dan dia menunjuk bagian belakang pantatnya. Darmi menarik pantat itu sehingga Pak Totok sekarang duduk miring di sofa dengan bagian kanan pantatnya ke atas. Dengan tenang Darmi melorotkan kolor mertuanya sedikit. Pak Totok tercekat. Jelas dia kawatir penisnya terlihat dari belakang. Dengan tenang Darmi membubuhkan minyak ke pantatnya bagian atas, dan menggosok-gosoknya.  Tangan wanita itu seperti mengandung listrik bagi Pak Totok yang sedang dilanda birahi. Nafasnya terengah, tapi dia membiarkan wanita itu mengurut pantatnya. Posisi itu tidak membuat Darmi leluasa mengurut pantat mertuanya.
    “Pak, bisa tengkurap gak?”
    “Hmm, wah, gak usah Mi”, kata Pak Totok gelagepan. Darmi pun tahu masalahnya.
    “Gini aja Pak, nungging aja, biar saya urut dari belakang”
    Pak Totok menurut. Darmi menurunkan kembali kolornya hingga semua pantat mertuanya terekspos keluar. Karena ditarik dengan keras, penis Pak Totok ikut terurai keluar dari kolornya. Pak Totok sudah tidak dapat lagi menahan sensasi yang dirasakannya. Dibiarkannya penis itu keluar dan menggantung kaku di selangkangannya. Sementara menantunya mengurut pantatnya dari belakang. Darmi mengurut mertuanya dari pinggang hingga pantat bagian bawah. Dalam posisinya itu, dia dapat melihat testis mertuanya yang menggantung. Tetapi dia belum bisa melihat penis lelaki itu. Entah kenapa, dia penasaran untuk melihat seperti apa penis mertuanya itu. Dengan seolah-olah tidak sengaja, sambil memijit Darmi melongokkan kepalanya sedikit ke samping melihat ke bagian depan selangkangan mertuanya.
    “Gimana, Pak? Masih sakit?” tanyanya sambil mengurut.
    “Udah mendingan, Mi”, dalam pikiran Pak Totok justru tangan wanita itu yang menjadi masalahnya. Tangan yang seperti menyetrumnya dan mengalirkan sensasi luar biasa. Penisnya semakin menegang.
    Darmi bergetar hebat ketika sekilas dia dapat melihat batang penis mertuanya yang menggantung di selangkangannya. Penis itu panjang dan berurat, beda dengan milik suaminya yang agak pendek dan bulet mulus. Penis mertuanya nampak keras dan berurat-urat mengerikan. Itulah pertama kali Darmi melihat penis lain selain milik suaminya. Debaran jantung Darmi semakin mengeras. Penis itu begitu besar dan panjang di matanya. Berbentuk kasar dan kuat. Seperti belalai yang sedang kaku mengantung di depan selangkangan mertuanya. Tangan Darmi menjadi gemetar. Tanpa sadar cairan kewanitaannya mengucur dari liang rahimnya. Pak Totok sangat tahu, bahwa perempuan hamil pada usia-usia akhir cenderung untuk selalu horny. Dia berpikir, mungkinkah Darmi menantunya itu juga horny melihat penisnya?  Penasaran dengan reaksinya menantunya, Pak Totok nekat membalikkan tubuhnya. Pikir Darmi, mungkin mertuanya capek dalam posisi nungging begitu, maka dia membiarkan Pak Totok merubah posisinya.

    Alangkah kagetnya Darmi, ketika mertuanya itu dengan tenang duduk dengan tetap membiarkan kolornya terbuka. Sebatang penis kaku dan panjang menjulur dari selangkangannya dan mencuat ke atas menyentuh perut lelaki tua itu. Darmi membelalak diam, bingung untuk bersikap. Di depannya mertuanya sendiri duduk dengan penis mencuat ke atas sambil menatapnya.
    “Ppppakk…” katanya akhirnya.
    “Kenapa, Mi?” tanya Pak Totok.
    “Mmm….” Darmi semakin bingung.
    Sementara sedari tadi lubang kewanitaannya sudah membasah. Memang sejak kehamilannya semakin menua, Darmi semakin sering horny. Hampir setiap malam dia menagih suaminya untuk disenggamai, namun karena suaminya sibuk, dia hanya bisa memberi setidaknya seminggu tiga kali. Kali ini di depannya sebatang penis tersedia, sayangnya penis itu milik mertua yang dihormatinya.
    “Bapak kenapa itunya…?” tanya Darmi tanpa sadar.
    “Gak tahu kenapa ini, Mi. Sejak melihatmu dari tadi tiba-tiba kok jadi seperti ini”, kata Pak Totok gemetar sambil membiarkan penisnya melonjak-lonjak dari selangkangannya.
    Selagi Darmi merasa kikuk berhadapan dengan mertuanya, tiba-tiba terdengar suara motor menderu di halaman rumah. Cepat cepat Pak Totok menaikkan celana kolornya, sedang Darmi langsung berdiri dan bergegas ke belakang. Ibu mertuanya perlahan mendekat masuk ke rumah, sedang Darmi sudah berada di dapur meneruskan pekerjaannya. Dari belakang didengarnya kedua mertuanya bercakap tentang cedera pinggang bapak mertuanya. Darmi belum mampu meredakan debar jantungnya, dan masih grogi untuk bergabung dengan kedua orang tua itu. Sementara itu celana dalam perempuan itu sudah sangat basah. Darmi bergegas ke kamar mandi untuk melepas cdnya. Sebentar lagi dia harus menjemput anaknya dari sekolah. Nampaknya kamar mandi menjadi ruang yang tepat untuk menghindari perjumpaan dengan kedua mertuanya. Sialnya Darmi lupa membawa cd ganti. Berhubung buru-buru untuk menjemput anaknya, maka Darmi meninggalkan kamar mandi tanpa mengenakan cd dan segera keluar lewat pintu belakang menuju sekolah anaknya yang tidak jauh dari rumah itu. Setelah menantunya pergi menjemput anaknya, Pak Totok menggunakan kamar mandi. Semenjak kaget dengan kehadiran istrinya, penisnya sudah bersikap normal dan berada dalam ukuran sewajarnya. Tetapi di kamar mandi tiba-tiba Pak Totok melihat onggokan pakaian kotor bekas dipakai menantunya dalam ember. Penisnya yang belum sempat terpuaskan langsung kembali mencuat ke atas. Dengan gemetar, Pak Totok mengambil cd menantunya itu. Nampak jelas di bekas bagian selangkangan cd itu basah kuyup bekas cairan kewanitaan Darmi. Pak Totok menciumi cd itu dengan penuh birahi. Gairahnya harus dituntaskan. Maka dengan cepat, dia membungkus penisnya dengan cd wanita itu. Dikocoknya batang kerasnya dengan cd itu. Beberapa saat kemudian tumpahlah cairan kenikmatannya memenuhi cd mungil itu. Pak Totok mengerang lalu meredakan deru nafasnya menikmati orgasmenya bersama cd menantunya. Setelah nafasnya reda, cepat cepat Pak Totok menaruh kembali cd itu ke dalam ember dan membasuh badannya. Perasaan bersalah tiba-tiba mendera dirinya karena menjadikan birahi pada menantunya sendiri.

    ####################

    Siangnya, di kamar mandi Darmi terpana mendapati cdnya penuh cairan kental. Jantungnya berdebar keras membayangkan apa yang dilakukan oleh Bapak mertuanya. Jelas lelaki itu menjadikan dirinya sebagai objek fantasi seksual, sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bagi Darmi, selama ini mertuanya itu lelaki terhormat yang sudah dianggap seperti bapak kandungnya sendiri. Sejauh yang dia ingat, lelaki itu tidak pernah melihatnya dengan nakal. Baginya, lelaki itu sudah tua dan tidak mungkin berpikir yang bukan bukan padanya. Itulah yang membuat selama ini Darmi tidak terlalu memikirkan pakaian yang dikenakannya selama berada di rumah. Dia terbiasa memakai pakaian asal nyaman, seperti daster tipis pendek, atau bahkan celana ketat dari bahan kaos semacam legging pendek. Untuk bagian atas, sudah agak beberapa lama Darmi melepas bh nya karena kehamilannya yang membuat susunya membengkak dan tidak nyaman mengenakan bh. Semua bh nya menjadi sempit dan dia hanya mempunyai satu buah bh menyusui yang besar. Sejak kejadian itu Darmi berusaha menghindari bapak mertuanya itu. Demikian juga Pak Totok, dia pun canggung untuk berduaan dengan Darmi. Perasaan bersalah karena menjadikan menantunya sebagai objek seksual membuatnya salah tingkah berhadapan dengan wanita itu. Mereka menjadi jarang bertatap muka, apalagi Darmi yang selalu berusaha menghindari tatapan mata lelaki tua itu. Walau canggung dan agak kesal dirinya dijadikan objek seksual oleh mertua yang dianggapnya seperti ayah sendiri itu, Darmi pada akhirnya selalu bertanya-tanya ada apa dengan tubuhnya. Kenapa tiba-tiba mertuanya bernafsu pada dirinya. Darmi menjadi sering menatap tubuhnya dalam cermin. Di muka cermin, dia mendapati tubuhnya biasa saja. Paling-paling hanya tambah berisi karena kehamilannya. Memang payudara semakin membengkak, tapi itu khan hal yang biasa bagi ibu hamil. Peristiwa itu membuatnya lama-lama mengagumi tubuhnya sendiri. Dia mendapati pantatnya yang sekal dan montok menggelembung. Pinggangnya yang masih membentuk lekuk walau perutnya mulai membusung. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa terjawab oleh Darmi. Hanya saja, dia merasa lega, setelah kejadian itu, dia tidak pernah mengalami lagi kejadian sejenis. Walau kadang-kadang dengan sengaja dia meninggalkan cd nya sebelum bapak mertuanya itu mandi. Tapi selama seminggu itu, dirinya tidak pernah mendapati kembali bercak sperma mertuanya di pakaian dalamnya itu. Darmi lalu berpikir bahwa mungkin saat itu kebetulan saja mertuanya sedang birahi dan kebetulan hanya ada cdnya yang dapat digunakan untuk membantu menuntaskan hasratnya. Diam-diam Darmi merasa lega dengan kesimpulannya sendiri itu. Pak Totok memang merasa menyesal atas tindakannya pada menantunya sendiri. Dia merasa malu bukan main, justru setelah hasratnya tertuntaskan lewat cd milik Darmi. Setelah itu pikiran Pak Totok cukup kacau. Dia bingung dengan apa yang telah dilakukannya sendiri.

    ############################

    Beberapa hari kemudian, Yitno, keponakan sekaligus muridnya itu datang bersama istrinya. Pak Totok memang sangat dekat dengan keponakannya itu, walau keduanya pernah punya masalah. Pak Totok tidak terlalu suka dengan watak ponakannya itu. Walaupun berbakat dalam meneruskan ilmu terapinya, namun Yitno cenderung tidak bisa dipercaya terutama pada nafsunya terhadap perempuan. Pak Totok pernah memarahi Yitno karena berselingkuh dengan salah satu pasiennya. Untung saja istri Yitno tidak sampai tahu persitiwa itu, tetapi sejak itu Pak Totok selalu berhati-hati mengontrol ponakannya itu. Untung dia tidak menggarap Bu Susan, pikir Pak Totok, mungkin juga Yitno tidak enak karena Bu Susan itu teman dekat istrinya sendiri. Seperti biasa mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Walau kurang senang dengan wataknya, tetapi Pak Totok selalu membutuhkan ponakannya itu, karena pengetahuan dan pengalamannya yang luas. Yitno memang seorang pekerja yang rajin, pemborong bangunan yang mempunyai banyak relasi. Selalu saja Yitno mempunyai bahan pembicaraan dan kemungkinan-kemungkinan pekerjaan baru. Banyak pasien Pak Totok berasal dari relasi Yitno. Mereka lalu membicarakan tentang Bu Susan, walau cuma sekilas. Istri Yitnolah yang menanyakan perihal Bu Susan.
    “Om, gimana terapinya jeng Susan?”
    Pak Totok berusaha bersikap biasa, walau dirinya berdebar karena mempunyai pikiran yang nakal terhadap Bu Susan.
    “Ya kondisinya masih harus pelan-pelan mengurainya. Aku tertarik untuk mengerjakan masalah Bu Susan ini dengan serius. Hanya saja sepertinya dia harus dilatih untuk yakin dengan terapi ini”.
    “Gimana maksudnya, Om?”, tanya istri Yitno lagi.
    “Gini, kemarin khan dia diantar oleh Yitno. Coba terapi besok usahakan dia datang sendiri. Itu penting untuk meneguhkan niatnya dalam melakukan terapi ini. Masalahnya menurutku cukup berat, Nin”, jawab Pak Totok pada istri Yitno. Nama istri Yitno itu adalah Anin. Umurnya sedikit dibawah Bu Susi.
    “Oh gitu Om. Oke deh, nanti saya sampaikan sama dia”, jawab Anin.

    ###########################

    Sore itu Susan sedang bersantai dengan suaminya di ruang tengah, ketika Anin mengirim sms ke hpnya.
    ‘jeng, besok jadi terapi ke Om Pak Totok? beliau menganjurkan untuk jeng datang sendiri karena niatnya penting’
    Susan baru menyadari janjinya dengan lelaki tua itu. Segera dijawabnya sms Anin: ‘ok bu. makasih banget’.
    Lalu dia berkata pada suaminya, “Mas, besok aku terapi di tempat omnya Anin”.
    Suaminya hanya melihat sebentar lalu kembali menonton tivi, sambil bertanya, “terapi apa Sus?”
    “Lambungku. Aku ke sana sendiri kok, siang”
    “O ya sudah,soalnya aku juga besok ada rapat sampai sore hari”

    #######################

    Hanya dengan memikirkan kedatangan Susan nanti sore membuat hati Pak Totok berbunga-bunga. Hari itu Darmi menantunya melihatnya begitu riang. Sejak pagi lelaki tua itu sudah mandi dan bersiul-siul riang. Bahkan seharian Pak Totok mertuanya itu bermain dengan cucunya dengan gembira. Darmi juga diam-diam memperhatikan mertuanya itu berdandan agak berlebihan siang itu. Dia melihat mertuanya itu bercermin cukup lama, sambil bersenandung. Sorenya, Pak Totok bagai mendapat durian runtuh. Susan yang dirindukannya datang sendiri dengan mengenakan kaos kasual biasa dan celana ketat untuk senam. Kedatangan wanita itu merubah semua suasana hati Pak Totok. Dengan antusias lelaki itu menyilakan Susan ke ruang terapinya, dan menggarapnya secara serius. Kali ini dia dapat memijat kaki Susan lebih lama dan nyaman karena tidak mengenakan celana jins. Bahkan Pak Totok sedikit agak terlalu lama mengerjakan bagian pantat. Percakapan mereka mulai lebih cair. Dengan kesabaran dan pengalamannya, Pak Totok mampu membuat Susan lebih terbuka dan rileks dengan percakapan mereka.  Nampaknya Susan mulai lebih mempercayai lelaki itu. Susan merasakan dampak yang positif dari terapi yang dijalaninya seminggu lalu. Selama satu jam kemudian, terapi selesai dan Pak Totok memberikan dua botol air yang sudah diberi doa pada Susan. Satu botol untuk diminum, dan sebotol yang lain untuk dibuang ke halaman belakang rumah Susan. Susan menerima air bermantra itu dengan yakin. Keyakinannya didasari oleh reaksi tubuhnya yang semakin nyaman setelah menjalani dua kali terapi. Bahkan mereka akhirnya bertukar nomer hp untuk komunikasi lebih lanjut.

    #########################

    Darmi akhirnya tahu apa penyebab berubahnya sikap mertuanya. Setelah kunjungan pasien wanita kota yang cantik itu, mertuanya kembali blingsatan dan matanya selalu mengikuti ke mana tubuh Darmi melangkah. Darmi tiba tiba sadar, bahwa sang mertua sepertinya birahi pada pasiennya itu dan membutuhkan pelampiasan pada tubuhnya, tubuh menantunya sendiri. Keyakinannya itu semakin kuat setelah didapatinya kembali cdnya berlumuran sperma di sore hari tepat setelah kedatangan pasien istimewanya itu. Fakta itu membuatnya kesal, karena ternyata dirinya hanyalah pelampiasan dari gairah lelaki itu pada perempuan lain. Kekesalan yang dipendamnya karena hanya dirinyalah yang mengerti kejadian itu. Darmi semakin kesal pada mertuanya, ketika akhirnya sang mertua merubah jadwal pertemuan dengan ibu cantik itu. Susan diminta untuk datang lebih sering ke rumah Pak Totok karena terapinya membutuhkan perlakuan khusus, yang menurut Pak Totok sendiri karena masalahnya yang unik dan berat. Darmi kesal, karena dia menyadari hasrat lain dari keputusan mertuanya itu. Sejak saat itu, Susan diterapi oleh Pak Totok setiap minggu dua kali. Susan sendiri menerima keputusan itu, karena dia juga merasa semakin percaya dengan kapasitas Pak Totok.  Darmi selalu mencoba mencuri-curi pandangan ketika mertuanya sedang menggarap Susan. Sejauh ini dia melihat apa yang dilakukan mertuanya masih wajar seperti biasanya dia melakukan terapi. Hanya saja, Darmi merasa perhatian mertuanya itu pada Susan sangat berlebihan. Darmi semakin sering melihat mertuanya berkirim sms ke seseorang, yang dia curigai bu Susan itu. Suatu saat Darmi menemukan hp mertuanya tergeletak di meja. Darmi cepat cepat melihat-lihat catatan SMS dari hp Pak Totok. Di situ terlihat begitu banyak kiriman sms pada wanita kota itu. Bahkan beberapa kalimat mencerminkan kemesraan lebih pada wanita itu walau tidak nampak menonjol. Misalnya Pak Totok menyelipkan kata-kata “pinter”, “cantik”, bahkan “sayang” pada smsnya. Walaupun demikian, pembicaraan mereka masih sebatas proses terapi seperti nasehat Pak Totok pada apa yang perlu dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Yang menarik perhatiannya adalah sms Pak Totok yang menganjurkan Susan untuk ‘menegakkan punggung’nya, untuk menambah percaya dirinya. Darmi tahu arah pembicaraan mertuanya itu. Dia tahu bahwa Susan, wanita kota itu mempunyai dada yang montok dan sintal serta mengkal dan kencang padat. Dengan menegakkan punggung, maka dadanya akan semakin mencuat ke atas dan membentuk pemandangan yang membuat liur laki laki banjir.

    ####################

    Tiba tiba Darmi sering menjadi sasaran ‘salah sentuh’ mertuanya. Pada saat Pak Totok meminta cucunya untuk digendong, dia akan dengan tanpa sengaja menggesek payudara Darmi. Pada saat Darmi mencuci piring di wastafel, tiba-tiba Pak Totok seolah mencari-cari benda di bufet atas sambil menyenggolkan selangkangannya di pantat Darmi. Pada saat mereka bertemu di koridor rumah, Pak Totok akan ‘tanpa sengaja’ menyenggol lengan dan bahkan dada Darmi. Mulanya Darmi membiarkan saja tingkah mertuanya. Lama-lama karena kesal dia memutuskan untuk menggoda mertuanya itu. Herannya meskipun kesal, Darmi justru merasakan birahi ketika bersentuhan dengan mertuanya. Mungkin karena dampak dari kehamilannya dan mudah basahnya lubang kewanitaannya. Pada akhirnya Darmi justru ingin memanfaatkan birahi mertuanya pada Bu Susan untuk menuntaskan hasratnya sendiri pada penis mertuanya itu yang panjang dan keras. Darmi semakin penasaran dengan tingkah laku mertuanya itu. Dia bertanya-tanya seberapa berani laki laki tua itu menggarap pasiennya. Beberapa kali dengan pura-pura sibuk di dapur, Darmi diam-diam berbalik menunggu di balik jendela ruang terapi mertuanya. Beberapa pertemuan hanya terapi-terapi biasa. Diam-diam Darmi justru berharap mertuanya itu melakukan sesuatu yang nakal pada Bu Susan. Hingga pada suatu siang, Darmi menemukan pemandangan ‘yang diharapkannya’. Di dipan terapi Susan nampak berbaring telungkup biasa. Tapi di sampingnya, mertuanya mengurut kaki dengan meletakkan betis Bu Susan di pahanya. Dengan cara itu kaki Bu Susan tepat berada di selangkangan Pak Totok. Yang membuat mata Darmi terbelalak adalah penis mertuanya itu dibiarkan mencuat keluar dari lobang kolornya dan menyentuh tepat pada telapak kaki lembut pasiennya. Pemandangan itu membuat Darmi merasa birahi dan membasahkan lobang vaginanya. Hingga pada suatu saat, Darmi sempat mencuri lihat sms mertuanya pada Bu Susan.
    “Pinter sayang. Besok jangan lupa ya. Gak usah bawa apa apa. Pake minyak wangi yang kemarin. Sama celana senam itu, kalau bisa kaosnya yang warna kuning itu”.

    #######################

    Besok siangnya, Darmi semakin penasaran dan bernafsu melihat tingkah mertuanya. Saat itu mertuanya ikut duduk di dipan terapi di samping kepala Bu Susan. Dengan lagak wajar, Pak Totok mengurut lengan Bu Susan. Yang tidak wajar adalah, Pak Totok membiarkan penisnya keluar dari kolor kumalnya dan tepat berada di depan muka Bu Susan. Pemandangan itu bagi Darmi sangat seksi karena walau posisi muka bu Susan tepat di depan penis mertuanya, tetapi ibu cantik itu diam saja dan hanya menatap lekat-lekat pada batang yang mencuat tegang itu. Sampai akhir terapi tidak terjadi kejadian yang lebih. Tetapi justru kejadian itu membuat Darmi sangat terangsang. Tepat setelah Bu Susan berpamitan, Darmi mengambil pose di depan wastafel sambil sedikit menungging. Pak Totok nampak tertegun menatap posenya. Darmi membiarkan pantatnya membungkah terbuka sementara daster pendeknya terangkat ke atas. Lebih gila lagi, Darmi membiarkan selangkangannya tanpa celana dalam. Pak Totok melongo menatap celah memeknya yang sudah basah kuyup. Dengan pandangan dingin Darmi menunjuk ke arah bokongnya, sambil berkata,
    “Pak, cepat masukkan. Mumpung ibu sedang ke pasar”.
    Dengan gugup bercampur birahi memuncak, Pak Totok memposisikan dirinya di belakang Darmi. Diplorotkannya celana kolornya, dihunusnya penisnya dan segera disodokkannya ke dalam vagina menantunya itu. Darmi terpekik kaget karena kasarnya sodokan pertama itu. Tapi karena kesal bercampur birahi, Darmi membalas menyodokkan pantatnya ke belakang.
    “Ayo Pak, sodok memekku seperti kamu pengen nyodok memek Bu Susan!” goda Darmi sambil menggoyang pantatnya. Pak Totok tertegun, menantunya itu tahu apa yang dirasakannya.
    “Ayo Pak, kamu khan sangat ingin menyodok memek Bu Susan. Sini kubantuin, Pak. Punyaku juga enak lhooo, gak kalah sama Bu Susssaannnnnn….”, goda Darmi lagi sambil meremas penis itu dengan vaginanya. Ceritamaya

    Pak Totok juga merasakan nikmat akibat penisnya dijepit vagina menantunya yang masih terasa seret. Ia pun mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naik-turun dan terus dipercepat diimbangi gerakan pinggul Darmi. Keduanya terus berpacu menggapai nikmat.Pak Totok mendengus, kesal campur birahi.
    “Baiklah, dasar memek gatel”, katanya kasar sambil menyodok kuat-kuat.
    “Kontolmu itu yang gatel pak tua mesum!” balas Darmi yang makin hilang kendali merasakan nikmat yang baru kali ini dirasakan.
    Pak Totok mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan keras. Sesekali disentakkan kedepan sehingga batang penisnya mentok ke dalam vagina menantunya itu
    “Oh…Bapak !”jerit Darmi penuh nikmat setiap kali mertuanya itu menyodokkan penisnya, terasa batang itu menghantam dasar lubang vaginanya yang terdalam.
    Semakin sering Pak Totok melakukannya, semakin bertambah nikmat yang dirasakan Darmi. Darmi tertawa sambil menggoyang pantatnya tak kalah liar. Jadinya mereka bersenggama dengan kasar seperti dua anjing kampung yang mengejar kenikmatan hewani. Darmi merintih-rintih kenikmatan, sementara di belakangnya, lelaki tua kurus itu mendengus-dengus memacu nafasnya. Kejadian buru-buru itu memberikan sensasi yang luar biasa bagi dua insan berlainan jenis beda usia itu. Mereka memacu gairahnya sambil berdiri, Darmi memegang bibir wastafel, sementara mertuanya berkacak pinggang menyodok-nyodok dari belakang. Tak lama kemudian, pada hentakan yang sekian kali, wanita hamil itu merasakan otot di seluruh tubuhnya meregang, juga terasa ada yang berdenyut-denyut di dalam lubang vaginanya.
    “Ahk..! Ahduh akhh!” teriaknya tertahan merasakan orgasme yang untuk pertama kali dari persetubuhan terlarangnya dengan sang mertua
    Sangat nikmat dirasakan Darmi, seluruh tubuhnya terasa dialiri listrik berkekuatan rendah yang membuatnya berdesir. Sementara Pak Totok yang belum keluar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Menyebabkan birahi Darmi mulai naik lagi dan namun ia menarik tubuhnya hingga penis mertuanya itu terlepas.

    Darmi kemudian duduk bersimpuh di depan mertuanya. Batang penis mertuanya itu mengacung tepat di wajah manisnya. Ia langsung meraih batang yang masih tegang dan basah itu
    “Bapak belum pernah ngerasain mulutku kan?” ia tersenyum nakal menantang mertuanya.
    “Hehehehe…ternyata kamu nakal banget ya kalau lagi ngentot, ayo…Bapak juga pengen ngerasain disepong sama kamu” ia meraih kepala menantunya.
    Tanpa babibu lagi, Darmi pun memasukkan penis itu ke mulutnya dan mengulumnya dengan nikmat. Sungguh pemandangan yang erotis, seorang wanita hamil melakukan oral seks dengan mertuanya sendiri yang berusia terpaut jauh darinya. Pak Totok merem-melek, gairahnya seakan semakin terbakar melihat dan merasakan bibir menantunya yang cantik ini melahap dan mengulum batang penisnya yang sedang ngaceng dan ia sangat menikmati sentuhan lidah dan bibir wanita itu, dibiarkan sang menantu memanjakan penisnya dengan mulutnya sambil meremas-remas rambutnya. Darmi dengan penuh nafsu mengulum dan menjilati batangan itu. Teknik oralnya semakin terampil hingga nikmat yang dirasakan mertuanya pun semakin tinggi. Bahkan istri yang telah puluhan tahun mendampinginya itu pun tidak mau mengulum penisnya apalagi menelan air maninya. Tapi kini menantunya sendiri, seorang istri yang sedang hamil itu dengan rakus melakukannya. Pak Totok pun merasa beruntung memiliki menantu seperti Darmi. Tidak terpikirkan apa reaksi istri dan putranya bila tahu perbuatan gila mereka. Pria setengah baya itu merasa batang penisnya semakin sensitif dikulum dan dilumati mulut Darmi. Dan tanpa dapat ditahan lagi muncratlah cairan kenikmatan hangat dari otot tegang itu, yang segera dilahap dengan rakus oleh Darmi. Penis itu dikulum hingga hampir sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya sehingga sperma yang tercurah langsung masuk ke tenggorokannya dan tertelan. Darmi merasakan nikmat aroma dan rasa cairan khas berwarna putih kental itu memenuhi mulutnya. Demikian pula Pak Totok, tubuh tuanya meregang tersentak-sentak seiring curahan cairan kenikmatannya yang dengan rakus ditelan menantunya. Darmi bahkan juga menjilati cairan yang meleleh dibatang kontol hingga tuntas. Mereka melakukannya agak buru-buru karena khawatir sang nyonya segera datang.  Tengah asyik-asyinya menikmati cleaning service dari menantunya, Pak Tokok mendengar suara motor istrinya datang. Mereka pun segera memisahkan diri. Pak Totok terengah-engah sambil membetulkan celananya, sementara dengan dingin Darmi menurunkan dasternya dan kembali mencuci piring sambil mengatur kembali nafasnya yang naik turun. Pak Totok terbirit-birit menuju kamar mandi sementara istrinya masuk membawa belanjaan dengan tanpa kecurigaan apa pun.
    “Wuiihh…puas deh!” kata Pak Totok dalam hati sambil kencing.
    Petualangan gilanya dengan menantu cantiknya barulah awal, masih banyak kesempatan untuk melakukannya lagi, belum lagi pasiennya yang seksi dan menggiurkan itu, akan seperti apakah kelanjutan kisah ini?

    To be continued
    By: Maharani Dewi

  • Vagina Yang Sempit

    Vagina Yang Sempit


    218 views

    Cerita Maya | Rosa yang sedang mabok matanya memerah agak pusing setelah meminum sebotol wine bareng aku kita bercandaan ketawa ketiwi, kemudian aku ceritakan kisahku tentang petualanganku akan seks, Rosa mempunyai wajah yang imut umur dia 27 tahun tinggi penampilannya menarik dia belum mempunyai anak.

    Waktu pertama kali kenal dengannya, Rosa cenderung tertutup dan pendiam. Tak heran kalau aku sebelumnya tak tahu kalau dia sebenarnya adalah tetanggaku sendiri, soalnya dia bisa dikatakan tak pernah keluar rumah kalau tidak ada urusan penting kecuali pergi ke Gereja tentunya.

    Aku mengenalnya saat ada acara di kantor suamiku yang melibatkan para Istri dan Suami karyawannya. Kedua Suami kami sama-sama bekerja di perusahaan swasta tetapi pada bagian yang berlainan.

    Dari perkenalan pertama itulah kemudian kami semakin bertambah akrab, aku jadi tahu kebiasaan kebiasaannya, apa yang dia suka dan dibencinya.

    Dan dari situlah aku paham kalau dia mempunyai rasa ketertarikan yang tinggi saat aku berbicara soal sex, meskipun wajahnya sering jadi bersemu kemerahan karenanya.

    Percakapan kami sore ini, yang telah dipengaruhi oleh beberapa gelas wine mengarah pada hal sex, atau pada deskripsi yang lebih sempit, kekurangan dalam kehidupan sexnya.

    Meskipun dia sangat-sangat naif, dalam hal ini sangat mengejutkan, ternyata Rosa lebih tertarik dari apa yang kuduga sebelumnya. Selalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang sangat besar tentang bagaimana rasanya menjalani apa yang disebutnya dengan istilah ‘pesta liar’.

    Telah dia ceritakan padaku seluruh kehidupan sexualnya, termasuk masa sekolah hingga bersuami (yang tak lebih dari hanya sekitar ciuman saja).

    Sex yang normal saja, mungkin hanya sekali dalam seminggu dengan menu utama tak lebih dari persetubuhan yang biasa saja. Aku sangat yakin bahwa dia belum pernah mengalami orgasme pada kehidupan sex-nya.

    Setelah dia menceritakan padaku tentang itu semua, aku memutuskan untuk mengajaknya bergabung dalam petualangan sex-ku.
    Dengan wajah yang merona merah karena malu, dia memintaku untuk menceritakan semuanya dari awal.

    “Setelah suamiku berangkat kerja”, aku mengawalinya,

    “Ada teman suamiku yang ‘berkunjung’ ke rumah dan bertanya padaku apakah bisa singgah sejenak untuk sekedar… yah, kamu pasti sudah bisa menduga apa yang terjadi kemudian kan?”.

    “Dia datang saat suamimu tak di rumah?” tanyanya. Dia kelihatan sangat terkejut dan itu membuatku ingin tertawa saja.

    Keteruskan ceritaku padanya, setelah beberapa jam kemudian teman suamiku itu menelpon dua temannya untuk diajak bergabung.

    “Kamu bersetubuh dengan tiga orang sekaligus pada waktu yang sama?!”

    Kata persetubuhan yang keluar dari mulutnya benar benar mengejutkanku. Aku tertawa dan bilang padanya itu semua tak pernah direncanakan sebelumnya, itu terjadi begitu saja.

    Mungkin saja karena kami sudah telalu bergairah dan aku sendiri memenuhi pikiran mereka dengan hal-hal yang membuat mereka terangsang. Aku menceritakan pada Rosa secara detail tentang orgasme yang kudapat, dan tentang betapa menggairahkannya tubuh tubuh mereka, khususnya dengan Rai.

    “Dalam tiga puluh lima tahun kehidupanku, belum pernah aku menjumpai penis seperti punyanya Rai.” kataku. Wajahnya makin memerah, nafasnya berubah jadi berat sewaktu kuceritakan dengan rinci tentang pengalamanku. Cerita Maya

    “Rai benar-benar sangat membuatku tergila-gila, sosok pejantan perkasa yang akan selalu memberimu kepuasan abadi” kataku padanya.

    “Penisnya yang paling besar dan keras yang pernah kulihat. Kepala penisnya sangat besar bisa menyemprotkan sperma dengan kuat dan sangat indah”.

    Rosa tak mampu mengucapkan sepatah kata. Aku lihat situasi ini menyiksanya dengan kenikmatan, dan aku tahu hal ini sangat tabu baginya.

    Mengetahui dia tak pernah benar-benar terpuaskan dalam hidupnya, aku bersumpah kalau sekarang dia telah orgasme tanpa menyentuh dirinya sendiri.

    “Yang bener…, kamu sangat… sangat nakal” dia mengambil nafas. “Aku tak akan pernah bisa melakukan hal itu pada Paulus”. katanya menjelaskan.

    Aku tertawa seraya bilang padanya, “Bukan untuk Paulus, kamu perlu memperhatikan dirimu sendiri”. pengaruh situasi membuatku lebih mudah untuk mengatakannya.

    “Kamu tahu Nanda, selangkanganku sudah jadi sangat basah hanya dengan menceritakan semua ini padamu”. Aku menggodanya.

    Dari mulutnya terdengar lenguhan lirih, kedua kakinya bergerak maju mundur dengan pelan diatas kursinya. Setelah beberapa pertanyaan lagi, aku katakan padanya kalau aku harus segera pulang dan membiarkannya mempertimbangkan usulanku untuk lebih memberi perhatian pada kebutuhan dirinya sendiri.

    Aku mempunyai dua hal yang harus kukerjakan, pertama melepaskan gairah dalam vaginaku dan kedua, menelpon. Aku orgasme tiga kali sore itu, orgasme terakhir kuperoleh hanya dengan membayangkan wajah Rosa yang sedang mengalami orgasme lewat permainan mulutku pada vaginanya.

    Aku tidak melihat dan mendengar kabarnya selama seminggu ini. Aku pikir dia telah kembali pada kebiasaanya dan bergaul dengan teman-temannya yang alim untuk menghapus pikirannya dari dosa yang kutebarkan padanya.

    Aku menelponnya pada Sabtu kemudian dan menanyakan apakah dia dapat membantuku merapikan beberapa hal yang sulit. Saat aku menemuinya di depan pintu rumahku, dia kelihatan malu-malu.

    “Masuklah” sambutku, “Akan kutuangkan segelas minuman untuk mengusir grogimu”.

    Awalnya dia hendak menolak minuman yang kusuguhkan padanya, yah, memang ’sedikit beralkohol’ sih. Dan memang dia belum pernah meminumnya selama ini. Tetapi setelah aku bujuk, akhirnya dia mau meminumnya juga.

    Dia hanya diam saja hingga gelas ketiga yang kemudian membuatnya jadi lebih terbuka. Dia kelihatan begitu manis waktu menanyakan apakah aku pernah bertemu Rai lagi.

    “Maunya sih begitu” ku lanjutkan “Tapi James sedang dalam perjalanan kemari sekarang” dia kelihatan terkejut.

    Tangannya nampak gemetar menghabiskan sisa minumannya, “Sedang kemari? James? Pria pertama yang kamu ceritakan padaku itu ?”.

    “Ya”, aku tertawa “Dia pasti akan tiba sebentar lagi”.

    Benar saja tak lama setelah kata terakhirku, terdengar bunyi bell dan James masuk dengan membawa sebotol anggur, memelukku, dan memandang dengan cermat pada Rosa. Setelah sedikit ngobrol-ngobrol, Rosa sudah bisa akrab dengan James.

    “Aku menceritakan tentang kisah kita pada Rosa, James” kami berdua dikejutkan oleh suara gelas yang djatuhkan Rosa.

    “Oh tidak…, aku jadi sangat malu” kata Rosa.

    “Jangan sayang, itu adalah hal yang indah, kita sama-sama dewasa dan kita menikmatinya, bukan begitu Yanna ?” kata James menjelaskan.

    “Tentu saja” jawabku sambil menuju ke pintu karena terdengar belnya berbunyi. Setelah kembali lagi pada mereka aku berkata, “Rosa, ini Rai, Rai, ini Rosa”.

    “Apa yang sedang kalian rencanakan” tanyanya.

    Keduanya mengangkat bahu dan bertanya padaku, “Yanna ?”.

    “Kita semua adalah teman yang sedang berkumpul menikmati senja yang indah ini” kataku.
    Aku tak tahu bagaimana atau kapan semua ini berawal, tapi yang jelas suasana menjadi bertambah hangat dan menggairahkan.

    James belakangan bersumpah padaku kalau Rosalah yang pertama kali berusaha mendekatinya. Kita duduk pada meja minum di dapur, James dan Rosa pada sisi yang satu, sedangkan aku dan Rai di sisi yang satunya lagi

    Galas yang ada dalam tanganku hampir saja terjatuh karena terkejut saat Rosa bertanya pada James “Bagaimana bisa lebih dari satu orang pria melakukannya dengan seorang wanita?”. Rai tertawa dan bilang padanya kalau kita akan senang sekali menunjukkan caranya pada Rosa.

    Aku menjadi sangat terangsang karena situasi ini. Rai menyuruhku untuk memandang ke seberang meja, mata Rosa terpejam rapat, nafasnya memburu. James telah bergeser lebih mendekat pada Rosa, akhirnya kami sadar kalau tangannya bergerak maju mundur dengan pelan di bawah meja.

    “Ya Nanda” ucapku.

    James terus melanjutkan manipulasinya atas vagina Rosa dengan jarinya, tangan yang satunya lagi telah menyusup dibalik baju Rosa, menyentuh payudaranya. James menutup mulut Rosa dengan ciuman yang dalam. Sedangkan tangan Rai telah berada dalam rokku untuk mencumbu vaginaku yang telah basah.

    “Ayo kita pindah ke ruang kelurga” usulku. James menghentikan ciumannya dan menarik tangannya dari dalam rok Rosa. Rosa terlihat sangat mempesona, payudaranya bergerak turun naik seirama dengan nafasnya, orgasmenya sudah hampir dekat.

    Kami berjalan menuju ke ruang keluarga. Rai segera melucuti pakaianku, sementara kami berdua melihat James melepaskan atasan Rosa melewati kepalanya. Dia mengenakan setelan bra dan celana dalam biru muda yang cocok sekali dengan warna kulitnya, vaginanya tercetak jelas dibalik celana dalamnya yang telah berubah warnanya menjadi biru tua karena basah.

    Aku telah telanjang dan berlutut untuk melepaskan celan Rai dan membebaskan penisnya yang sudah amat tegang.

    Aku berhenti sejenak untuk menyaksikan payudara Rosa yang terlepas dari bra nya, begitu kencang, penuh dan puting besar yang telah keras. Nafasku terhenti dan nafsuku melonjak tinggi begitu James menarik turun celana dalam Rosa yang telah basah dengan pelan-pelan.

    Kami sama sama telanjang sekarang. Rambut kemaluanku yang selalu kucukur rapi membentuk huruf ‘V’, sedangkan milik Rosa walaupun masih ‘alami’ tapi tetap terlihat lebat dan indah.

    Tangan James segera bergerak mencumbui klitoris Rosa, mengexpose lebih luas labia majoranya. Penis Rai yang ereksi penuh tercetak jelas pada celana yang masih dikenakannya.

    Kami berdua terpaku memandang Rosa yang terlihat begitu sexy kala James mendudukkannya bertumpu pada kedua lututnya. James menurunkan celanya, penisnya terlontar keluar, mengacung ke atas ke bawah tepat di depan wajah Rosa.

    “Oh…tidak, punyamu sungguh besar”, gumam Rosa sambil menggenggam penis James. James memang memiliki penis yang indah, yang paling menonjol adalah bentuk kepala penisnya yang besar yang akan terasa menakjubkan saat itu menembus dalam vaginamu. Tapi dibandingkan dengan milik Rai, punya James tidaklah seberapa.

    “Jilat”, perintah James. Rosa kelihatan ragu ragu untuk membuka mulutnya. James bergerak sedikit ke atas membuat Rosa mengangkat sedikit pantat indahnya untuk selanjutnya tak mau jauh dari penis di hadapannya.

    Aku benar benar menjadi terbakar saat Rosa tetap terpaku lalu aku mulai mengendus vaginanya dari belakang, dan mulai menjilati dari klitoris hingga lubang anusnya yang rapat. Rai bergerak ke belakangku dan melesakkan kepala penisnya yang besar ke dalam vaginaku.

    Aku begitu bernafsu menjilati vagina Rosa, terpacu oleh lenguhannya yang tertahan penis James yang memenuhi rongga mulutnya.

    Penis Rai terasa penuh dalam vaginaku. Rai yang melihatku begitu bernafsu menjilati vagina Rosa menjadikannya menghentakkan pinggulnya dengan seluruh kekuatannya, membuat wajahku menampari pantat Rosa.

    Selang beberapa waktu kemudian “Ohhhh….Rai, Aku…”, Rosa menggeram seiring orgasmenya mengaliri lidahku. Aku mengangkat wajaku dari vaginanya. Begitu dia menoleh ke belakang, seulas senyuman terkembang di wajahnya.

    “Yanna, ternyata kamu yang melakukannya?” tanyanya terkejut.

    Aku hanya mampu menjawab, “Ya, sayang” seiring Rai yang menyetubuhiku tak hentinya dengan bebas dari belakang. Vaginaku coba beradaptasi dengan ukurannya, orgasmeku mulai merangkak, kepalaku terayun begitu Rai mulai melepaskan spermanya dalam diriku. Gerakan pinggangnya begitu dalam dan cepat.

    Rai mencabut penisnya dari tubuhku, dia menyemprotkan sisa sperma terakhirnya pada vaginaku yang terbuka dan diatas perutku.

    Nafasnya yang memburu laksana seekor banteng di arena matador, melepaskan tekanan birahinya yang baru saja meledak. James sekarang berada di belakang Rosa dan mulai melesakkan batang penisnya pada vaginanya.

    Rosa meringis kesakitan, memohon pada James untuk begerak pelan saat James mendorong dengan cepat seluruh batang penisnya menyeruak dalam vagina Rosa. James mulai bergerak pelan, tangannya mencengkeram pinggul Rosa dan menggerakkannya berlawanan dengan ayunan pinggangnya sendiri, mengubur batang penisnya dalam vaginanya yang rapat. Ekspresi yang tergambar pada wajah James sungguh tak terkira, dia menggeram melampiaskan perasaan yang menggempur dirinya.

    Rai memposisikan dirinya hingga penisnya tepat di hadapan wajah Rosa. Dia menggerakkan kepala Rosa sampai menyentuh penisnya yang basah berkilat oleh campuran sperma kami. Rosa mulai bergerak menjilati batangnya, menjilati cairanku dan sperma Rai.

    Aku langsung mempermainkan vaginaku dengan jemariku karenanya. Penis Rai mulai membesar begitu dia melihat temannya yang sibuk menyetubuhi Rosa dari belakang. Rosa mengocok penis Rai dengan kedua belah telapak tangannya, lalu mencoba membuka lebar lebar mulutnya agar muat menampung kepala penis Rai.

    James benar benar menikmati apa yang tengah dirasakannya, memukuli bongkahan pantat Rosa, mendorong pantatnya lebih ke depan lagi dan lagi agar penisnya bisa menyeruak lebih ke dalam vagina Rosa lagi.

    Serangan dua orang pria dari depan dan belakang yang baru saja beberapa waktu lalu dikenalnya, tak ayal lagi menjadikan Rosa seperti sebuah Rollercoaster yang dengan kecepatan tinggi bergerak naik, naik dan naik menuju ke puncak kenikmatan persetubuhan baru dalam hidupnya.

    Rosa meneriakkan orgasmenya seirama dengan bunyi becek yang keluar dari vaginanya. Tubuhnya terlihat menegang kaku dalam beberapa detik, matanya terpejam rapat, kepalanya mendongak keatas meresapi setiap ledakan orgasme yang didapatnya.

    Wajah dan tubuhnya yang telah basah oleh keringat menjadi semakin basah dan berkilat oleh lampu dalam ruangan ini. Adegan dan suasana ini tak terbandingkan meskipun oleh film peraih puluhan Piala Oscar!!!

    Kepala James mendongak ke atas dan mulai mengosongkan sperma yang memenuhi kantung bolanya ke dalam vagina Rosa. Kepala Rosa terlempar menjauh dari penis Rai begitu James untuk yang terakhir kalinya mendorong batang penisnya ke dalam vaginanya dan menghabiskan sisa spermanya.

    Aku meraih orgasmeku sendiri bersamaan waktu James menarik penisnya keluar dari vagina Rosa, sebuah lubang merah jambu nan basah dan dihiasi dengan rambut kemaluan yang hitam pekat. Sperma James perlahan meleleh keluar dari vaginanya.

    Rosa rebah kecapaian diatas lantai, matanya terpejam, tubuhnya berguling terlentang, pahanya terlihat masih bergetar perlahan menikmati sisa getaran kenikmatan yang ada.

    Rai mengambil bantalan sofa dan menempatkannya dibawah pantat Rosa. Mata Rosa terbuka memandangnya.

    “Jangan, tak mungkin aku dapat manampungmu”.

    Rai tak mengacuhkannya, dia memegang kedua kaki Rosa dan menempatkannya diatas pundaknya, kemudian mulai memposisikan penisnya mengarah ke vaginanya yang sudah basah kuyup itu.

    “Tidak, jangan” dia merintih begitu Rai mulai mendorong penisnya memasuki vaginanya.”Oh…nggghhh…, dia merobekku” .

    Rai tak bergeming, tetap bergerak. Rintihan Rosa berubah menjadi racauan begitu Rai menggerakkan masuk keluar separuh batang penisnya. Penis Rai terlihat basah oleh sperma James karenanya. Mata Rosa terpejam rapat, dia gigit bibirnya kuat kuat.

    Aku mendekatkan vaginaku ke wajah Rosa, memandang sperma dari vaginaku yang jatuh menetes pada pipinya dan mulai menggesekkan vaginaku pada mulut dan dagunya. Dengan bantuan James, Rai mengangkat kaki Rosa, membentangkannya lebar lebar dan mulai mengerjai vagina Rosa.

    Kedua buah zakarnya terayun ayun menghantam pantat Rosa. Sedangkan vaginaku melumuri wajah naifnya dengan cairanku dan sperma Rai. Segera saja aku merasakan gerakan lidahnya pada vaginaku begitu aku mengesksploitasi wajahnya.

    Beberapa waktu kemudian aku berhenti menggunakan lidahnya untuk memuaskanku dan duduk menyaksikan Rai memberinya persetubuhan yang selama ini didambanya.

    Suara dan baunya sungguh sangat menakjubkan saat Rai menggerakkan batangnya menembus vagina Rosa berulang kali. Akhirnya Rai berteriak kalau dia tak sanggup lagi menahan lahar spermanya yang akan keluar.

    Ditariknya penisnya keluar, dan mulai mengocok penisnya dengan tangannya sendiri diatas vagina Rosa. Aku segera mendekat dan meraihnya ke mulutku. Tembakan spermanya mengguyur tenggorokanku seiring denyutan demi denyutan yang mengosongkan kantung spermanya.

    Aku menatap Rosa, rambut kemaluannya yang hitam pekat dan bibir kemaluannya yang kemerahan terlumuri oleh sperma Rai yang tak tertampung dalam mulutku. Kutanyakan padanya apakah dia menyukai apa yang baru saja didapatkannya, jawabannya hanya “Oh…nikkmat”.

    Aku mengisi kembali gelas anggur kami. Rosa bangkit dan duduk menyilangkan kakinya, cairan yang mengalir keluar dari dalam vaginanya dengan cepat membasahi karpet.

    James yang baru saja menyaksikan temannya yang telah memberikan pada Rosa sebuah persetubuhan terhebat dalam hidupnya, masih saja mengocok batang penisnya dengan pelan dan berkata “Masih ada satu hal yang kuinginkan darinya”.

    Perlahan dia mendekati Rosa sambil terus mengocok penisnya. “Buka mulutmu, sekarang”, katanya.
    Meskipun merasakan kekuatannya belum pulih benar, Rosa mulai menghisap habis batang penis James dalam mulutnya.

    Dengan kedua tangan James memegangi belakang kepala Rosa, James menggerakkan kepalanya berlawanan dengan gerakan pinggangnya sendiri. James menahan kepala Rosa agar tidak melepaskan penisnya saat dia menggeram orgasme.

    Jakunnya terlihat jelas naik turun saat dia memenuhi mulut Rosa dengan semburan spermanya hingga ada yang meleleh keluar dari samping celah mulutnya.

    Untuk beberapa saat keheningan merajai ruangan ini. Hanya suara nafas yang mulai mereda saja yang terdengar lirih.

    Rosa bangkit berdiri dan mulai mengenakan pakaiannya diatas kedua belah kaki yang masih gemetaran, celana dalamnya yang semula telah kering segera saja menjadi basah kembali seiring dengan warnanya yang berubah agak gelap karena cairan yang keluar dari vaginanya. Sambil mengenakan gaunnya, dia mengatakan kalau dia harus segera pulang, dia sedang menunggu telephone dari suaminya.

    Para pria berbaring diatas lantai, beristirahat sejenak setelah menyirami bukit birahi Rosa yang tandus. Beberapa menit setelah Rosa berlalu dan meredakan nafas yang memburu, kualihkan perhatianku pada para pria.

    “Boys, hadiah telah kalian terima, sudah puas kan?, Ayo, cepat bawa senjata kalian kemari dan urus aku!”.

    “Kalau Paulus mengetahuinya, oh… mati aku!!!” seru Rosa. “Berjanjilah padaku kalau ini akan selalu menjadi rahasia antara kamu dan aku,” teriaknya.

    “Tentu saja Nanda, jangan gusar gitu dong” kataku sambil membelai rambutnya.

    “Gusar? Kamu bilang gusar? Benar.. Yanna, aku merasa seperti seorang pelacur. Aku mempunyai affair dibelakang suamiku dengan bukan hanya satu, tapi dengan dua orang pria dan kamu!” katanya, menpis tanganku menjauh dari rambutnya.

    Kini sudah satu minggu setengah sejak terakhir kalinya aku bertemu dan bicara dengan Rosa. Aku tahu dia pasti malu atau katakanlah merasa bersalah setelah melakukan hubungan sex untuk pertama kalinya diluar ikatan perkawinannya. Dan itu merupakan pertama kali baginya dan sangat menakjubkan!.

    Aku telah ‘membagi’ penis yang paling mengagumkan dari apa yang ku miliki setahun belakangan ini dengan nama Rai dan James.

    Dengan tanpa sepengetahuan Rosa dan berdasar kesetiaan mereka, itu adalah sebuah rencana yang tak mungkin diskenario lebih baik lagi. Paulus, suami Rosa sedang pergi ke luar kota beberapa hari untuk keperluan Gereja.

    Rai dan James mampir ke tempatku. Mereka menjumpai aku dan Rosa yang sedang berjemur di pinggir kolam renang. Rosa seperti biasanya, sangat naif saat mereka mendekat tapi sangat anggun, mempesona, tinggi dengan rambut hitam pekat, dan figur yamg mangagumkan.

    Kemudian pada sore harinya mereka datang ‘berkunjung’. Obrolan hanyalah seputar bagaimana caranya agar mereka dapat menikmati keindahan tubuh Rosa sepuas puasnya. Hanya dengan memikirkannya saja telah membuatku basah dan ingin segera mendapatkan penyalurannya.

    Sepanjang malam itu aku aku memperoleh rangkaian persetubuhan yang dahsyat dari mereka berdua. Mereka dengan bercanda menyampaikan padaku bahwa mereka akan membunuhku bilamana aku tidak membantu mereka untuk mendapatkan Rosa.

    Kombinasi antara penis keras mereka dan mulit orgasme yang sudah tak terhitung lagi membuatku berjanji untuk melakukan apa saja yang mereka minta.

    Pada hari kepergian suamiku dalam tugas luar kota berikutnya, mereka datang lagi. Kali ini mereka membawa seorang teman baru lagi, Jay. Jay adalah seorang Ambon yang pernah mereka janjikan dulu.

    Aku tahu Rai dan James telah memanfaatkanku, tetapi apa yang kudapatkan dari mereka berdua benar benar dapat memuskan kebutuhan biologisku.

    Rai adalah seorang pria yang sangat mencengangkan dengan penis berurat kerasnya sedangkan James tak sekeras Rai, tetapi dia mempunya kepala penis yang lebih besar. Aku menikmati mereka berdua karena ukuran tak begitu penting bagiku, yang penting mereka dapat secara rutin mengisi kehampaan vaginaku diluar percintaan dengan suamiku sendiri tentunya.

    Aku tak mempunyai masalah dalam urusan ranjang dengan suamiku, kehidupan sex kami cukup panas. Tapi persetubuhan yang menyeluruh dan penuh dari mereka membuatku selalu memperoleh ledakan multi orgasme berbeda dari apa yang kudapat dari suamiku.

    Baca Juga Cerita Seks Sekretaris Istriku

    Mereka berdua selalu bilang padaku bahwa gadis gadis seumuran mereka tidak dapat memuaskan mereka seperti yang kulakukan. Mereka sadar kalau vaginaku adalah milik mereka dan membawa seorang teman baru untukku adalah cara mereka menunjukkan hal itu. Tak perlu dikatakan lagi, aku memperoleh persetubuhan yang panas malam itu.

    Jay pamit lebih dulu sedangkan dua penis kesayanganku ‘menginap’ sampai pagi, menyetubuhiku lagi dan lagi hingga mereka pergi berselang hanya sepuluh menit sebelum kepulangan suamiku. Sekujur tubuhku penuh dengan sperma yang mereka tumpahkan barkali-kali.

    Ranjang penuh noda dan basah karena sperma. Aku taruh spreinya ke mesin cuci dan segera mandi membersihkan tubuhku saat suamiku datang. Kamar tidur kami penuh dengan aroma sex dan terjadilah lagi, aku orgasme di dalam mulut suamiku dan memberinya menu cairan asin dari vaginaku.

    Kembali pada Rosa…

    “Aku tak percaya telah membiarkan mereka melakukan semua ini terhadapku” gumam Rosa. “Dan aku tak sanggup menatap langsung ke matamu setelah apa yang telah terjadi antara kita” sambungnya lagi.

    Aku tahu apa yang diperlukan dalam percakapan ini… sebotol anggur. Satu jam berlalu setelah aku menjadi seorang pendengar yang setia dan selalu mengisi gelasnya jika telah kosong. Dapat kukatakan dari arah percakapan ini setelah waktu terus berlalu, bahwa dia di sini tidak untuk mengungkapkan betapa jalangnya dirinya tetapi lebih kepada alasan yang lain lagi!!!
    Akhirnya dia bertanya ” Apakah kamu sudah ketemu sama mereka lagi sejak itu?”.

    “Oh, belum” kataku berbohong,

    “Oh…. sayang.., aku sangat gelisah dalam dua hari ini,” dia menambahkan, wajahnya jadi memerah.

    “Aku tak pernah menyangka kalau ada yang begitu besar dan keras,” katanya dengan menghindari menyebutkan ‘kata’ itu. “Bisa aku tanya hal yang sangat pribadi Yanna?”.

    Aku mengangguk dan bilang padanya bahwa dia dapat bertanya padaku segalanya.

    “Apakah kamu… bisexual?. Apa kamu sering melakukannya dengan wanita?”.

    Aku tertawa kecil dan mengatakan padanya kalau aku tidak menganggap demikian, tidak dalam perasaan yang sesungguhnya, tapi, ku katakan padanya bahwa melihat dirinya dalam suasana yang menggairahkan seperti kala itu menyebabkan semua itu terjadi begitu saja.

    Setelah beberapa gelas anggur lagi, aku bertanya kepadanya ” Jujur saja, kamu menikmati sore itu bukan?”.

    “Maksudku, itulah kenapa kamu berada disini sekarang, benar bukan?” sebelum dia dapat menjawab, aku menambahkan “Kamu mendapatkan orgasme sedikitnya selusin dengan Rai dan James dan sekali saat melakukannya denganku. Sekarang katakan padaku dengan sejujur-jujurnya, itu semua adalah kegiatan sexual yang selama ini kamu impikan bukan?”.

    Pengaruh anggur telah bekerja. Nafasnya menjadi berat dan putingnya tercetak jelas pada atasan ketatnya. Dia menganggukkan kepalanya. Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi payudaranya yang penuh.

    Aku lebih menyudutkannya lagi dengan kembali mengingatkan dia akan bagaimana bergairahnya James kala menyetubuhinya, dan bagaimana penis keras Rai telah mengantarkannya pada orgasme yang berkepanjangan sore itu.

    “Ceritakan padaku Rosa, kamu dapat menceritakan segalanya”

    “Kita berbagi rahasia”.

    “Katakan padaku bagaimana kau menyukainya, bagaimana kau membutuhkannya,” aku mendesaknya.

    “Sumpah…, …ya!!!” akhirnya dia mengakuinya. “Aku memang menyukainya, aku melakukan masturbasi pagi dan malam dalam mingu mingu terakhir. Semua ini begitu tabu dan penuh dosa.A

    ku merasa begitu menginginkannya dan sangat ingin melakukannya lagi!”.

    Aku begitu terkejut mendengarkan seorang Nyonya yang begitu alim, lugu dan tertutup akhirnya menjadi sangat ‘terbuka’.

    “Maksudku, apa mereka suka melakukannya denganku” tanyanya.

    “Oh ya”, aku meyakinkannya. “Aku sangat yakin kalau kamu serasa bagaikan seorang perawan bagi mereka”.

    “Maksudku, aku tak ingin mereka menganggap aku seorang yang,… kamu tahu, aku sama sekali tak punya pengalaman dalam hal ini”. katanya.

    Aku tertawa lagi dan mengatakan padanya kalau mereka akan rela melewati rintangan apapun hanya untuk dapat menikmati vaginanya yang rapat itu lagi. Wajahnya kembali bersemu merah dan bertanya padaku bagaimana aku bisa bersama mereka sepanjang waktu.

    Kukatakan padanya bahwa mereka adalah pasangan bercintaku dalam setahun belakangan ini dan vaginaku tak bisa menampung penisnya Rai waktu pertama kali, tapi sekarang Rai dapat memasukkannya dengan lancar

    “Tapi bagaimana dengan suamimu?” tanyanya keheranan. “Apakah dia tak merasakan perbedaannya dalam dirimu?”.

    “Dia tak pernah menanyakan hal itu, tapi aku tahu dia pasti tak merasakannya. Begini, dia tetap rutin menggauliku, dan tebak hari apa biasanya dia melakukannya?”.

    “Oh.. sayangku…,” Rosa terperanjat, tangannya menutupi mulutnya. “Kamu sungguh nakal sekali!”.

    “Apakah mereka,.. mmm… maksudku para pria mau datang hari ini, mungkin sekedar untuk minum secangkir kopi”. dengan cepat dia bertanya.

    “Ya, pasti mereka mau,” kataku. “Tapi suamiku Teddy akan pulang sekitar jam empat sore nanti”. aku mengamati reaksinya, wajahnya tertunduk dengan mata menatap lantai.

    “Tapi kita bisa datang ke rumahmu dan aku tinggal menulis pesan untuk suamiku kalau aku sedang pergi belanja atau arisan apalah sama kamu. Bukankah katamu suamimu sedang keluar kota untuk beberapa hari sekarang ini?” kataku menghiburnya.

    “Oh ya, tentu kita bisa melakukannya” jawabnya dengan nada gembira. ” Apa kamu akan menelpon mereka?”.

    Dia benar-benar tak sabar dan ingin segara melakukannya. Tak mungkin lagi untuk menolaknya…

    “Aku akan menelpon mereka sekarang,” kataku, melihatnya duduk dikursi. Tangannya meremas pegangan kursi dengan kuat.

    Rosa segara pulang ke rumahnya untuk mandi. Aku melakukan hal yang sama dan mengatakan padanya akan langsung menelponnya begitu Rai dan James tiba nanti.

    Aku tak sabar untuk melihat reaksinya nanti saat melihat Jay datang bersama kami.

    Para pria datang kira-kira satu jam kemudian. Kami membuat sedikit rencana untuk’aksi’ nanti. James dan aku akan datang duluan dan Rai beserta Jay menyusul sejam kemudian.

    Kami berangkat ke rumah Rosa dan mendapat sambutan yang hangat, dia kemudian memintaku untuk membantunya di dapur. Roknya yang lebar dan panjang berayun ke depan dan belakang di sela sela pinggangnya saat aku mengikutinya dari belakang.

    “Mana Rai” tanyanya.

    “Dia akan segera datang, kira-kira sejaman lagi deh” kataku padanya “Dia tertahan oleh pekerjaannya”.

    Rosa menuangkan anggur yang kubawakan dari rumah untuk kami, tentu saja di rumahnya tak mungkin ada persediaan anggur.

    Suaminya tak akan mengijinkan hal itu. Kami pergi ke ruang keluarga dan mengobrol di sana. Setelah lebih dari 45 menitan, aku minta pada Rosa untuk menunjukkan suasana rumahnya pada James.

    Aku dapat mendengarnya saat dia menunjukkan ruang bawah tangga dan mereka berdua menaiki tangga untuk melihat kamar tidur utama.

    Seperti yang direncanakan, aku menemui Rai dan Jay sebelum mereka membunyikan bel.
    “Mereka di atas” kataku menjelaskan,

    “Sudah lebih dari 45 menit yang lalu”. Kami bergandengan dan bergelak pelan layaknya pencuri berjalan keatas menuju ke kamar tidur utama.

    Pintunya tidak dikunci dan sedikit terbuka sehingga kami dapat menyaksikan pemandangan paling sexy yang ku saksikan hari ini.

    Rosa sedang bertumpu pada kedua siku dan lututnya di ujung tempat tidur, pantatnya mendongak tinggi, desahannya terdengar pelan. Roknya tersingkap hingga pinggang, kepalanya membelakangi kami, rata dengan kasur.

    Celana dalamnya tergeletak begitu saja pada lantai di dekat tempat tidur. James berlutut, wajahnya terkubur dalam pantat Rosa, menjilat dengan kuat pada klitorisnya yang basah hingga lubang anusnya.

    Aroma sexual memenuhi seluruh ruangan. Dan yang lebih tabu lagi, semua itu dilakukannya di rumahnya sendiri, bahkan diatas ranjang yang pastinya selalu dijaga kesuciannya oleh Sang Suaminya !!!

    Rupanya Rosa telah berubah menjadi seseorang yang berbeda sama sekali saat sisi ‘gelapnya’ terkuak. Dia telah mempersetankan segala aturan dan larangan yang selama ini mendoktrinnya…
    “Wuu-huu” teriak Rai “Saatnya pesta”

    Rosa segera bangkit menyingkirkan James dari vaginanya. Kepalanya menatap lurus ke arah kami dan menatap kami bertiga satu persatu. “Oh sayangku…” katanya.

    “Rosa, ini Jay teman baru kita” aku menjelaskan padanya.

    “Dia hitam sekali”.

    “Ya, dia seorang Ambon” sambungku. “Waah… apa nih yang sedang dilakukan James?
    Kelihatannya menggairahkan bagiku”.

    “Apa Nyong Ambon mencumbu vagina?” aku tanya pada Jay dengan pandangan menggoda.

    “Itu salah satu favoritku sayang” jawabnya kembali.

    Dengan cepat kulepaskan pakaianku kemudian menarik rok Rosa melewati kepalanya memperlihatkan payudaranya yang kini berayun bebas. “Wah, Rosa nggak pake BH hari ini” kataku, mengagumi putingnya yang sudah mengeras karena terangsang.

    James menarik Rosa ke posisi semula dan aku bergabung dengan mereka bersamaan dengan Jay yang menjelajahi belahan pantatku dengan lidahnya dan mulai mencumbui vaginaku. Rai tak mau menyia-nyiakan waktu dan langsung mengincar bibirku, menyodorkan penisnya yang baru setengah ereksi ke bibirku.

    Dalam posisi seperti ini aku dapat memasukkan seluruh bagian penisnya ke dalam mulutku, dan erangan kenikmatan keluar dari mulutnya menyuarakan apa yang tengah dirasakannya.

    Teriakan Rosa jadi bertambah keras, aku tahu letupan orgasme akan segera menyongsongnya dan aku segera mempermainkan putingnya dengan jariku begitu dia mencapai orgasme pertamanya di wajah James.

    Dia sungguh sangat cantik saat sedang dilanda orgasme!!! Kepala ranjang menjadi bergoyang maju mundur begitu James memompa vaginanya dengan penisnya. Kulepaskan mulutku dari penis Rai dan memberi semangat pada James agar menyetubuhi jiwa dan raganya.

    Ini membuat James menjadi lebih terbakar lagi gairahnya, dan memuji Rosa betapa ketat dan basah vaginanya dan dia akan segera mengisinya dengan sperma panasnya. Setelah beberapa menit, dia berteriak dan melepaskan spermanya dalam vagina Rosa.

    Aku mengarahkan kepala Rosa pada batang penis Rai dan dia mulai menjilatinya ke atas dan ke bawah.

    Aku menghampiri James yang sedang berbaring istirahat di tepi ranjang dan segera membersihkan penisnya dari sisa spermanya yang bercampur dengan cairan kewanitaan Rosa menggunakan mulutku. Jay langsung memanfaatkan situasi ini untuk segera melesakkan penis hitamnya ke vagina Rosa.

    Dia kelihatan seperti akan protes pada awalnya saat penis hitam Jay menerobos masuk ke dirinya dan langsung mengerang begitu penis Jay telah menyentuh dinding rahimnya.

    Jay segera membuat gerakan memacu, mengocok vaginanya yang segera saja mengantarkan Rosa pada gerbang orgasme keduanya, sebuah klimaks yang panjang. Wajahnya mengekspresikan perpaduan antara rasa sakit dan kenikmatan tiada tara.

    Seiring dengan Rosa yang tengah menikmati ledakan orgasmenya, aku tarik Jay dari tubuh Rosa, penis hitam panjangnya nampak berkilat berkilauan oleh cairan Rosa. Rai menarik Rosa, memeluknya dalam dekapan dadanya.

    Menghisap dan menggigit puting Rosa kemudian menempatkan penisnya dalam vagina Rosa yang telah kosong. Rosa menurunkan pantatnya perlahan memasukkan penis Rai yang ukurannya masih terlalu besar baginya, hingga akhirnya dapat tertampung masuk seluruhnya.

    Dia mulai menaik turunkan pantatnya diatas tubuh Rai. Lenguhan nikmatnya bergema di seluruh sudut kamar. Rai memegang erat pinggangnya menarik turun tubuhnya, beradu dengan tubuhnya sendiri hingga mengeksposs belahan pantat Rosa pada Rai.

    Aku mengambil Baby Oil dari kamar mandi Rosa dan melumurkannya pada batang penis Jay. Jay memposisikan dirinya di belakang Rosa dan mulai memaksakan penisnya untuk masuk dalam lubang anus Rosa yang masih perawan. Dia berteriak memohon jangan dan tidak berulang ulang, mencoba melepaskan diri dari penis Jay di belakangnya.

    Rai mendekapnya erat dalam pelukannya, tangannya melingkar erat di pinggang Rosa. Jay kini mulai dapat memasukkan kepala penisnya ke dalam lubang anus Rosa dan menekan perlahan lebih ke dalam.

    Rosa nyaris berteriak keras begitu Jay akhirnya berhasil memasukkan seluruh batang penisnya ke dalam lubang anusnya. Bersamaan dengan penis Rai di dalam vagina Rosa, Jay mulai mengayun maju mundur penisnya dalam lubang anus Rosa dengan variasi dangkal dalam menyebabkan Rosa langsung mendongakkan kepalanya ke atas. Jay menggeram hebat begitu spermanya menyembur dalam anus Rosa.

    James tiba-tiba menggantikan posisi Jay dan segera meggasak kembali lubang anus Rosa, sperma Jay meleleh keluar dari lubang anus Rosa begitu James melesakkan penisnya ke dalam.

    Dia juga tak sanggup bertahan lama dan dalam menit berikutnya menanamkan penisnya dalam dalam, mencengkeram dan memukul bongkahan pantat Rosa, menariknya rapat-rapat menempel erat dengan tubuhnya. Pinggangnya bergerak cepat maju mundur mengiringi pengisian lubang anus Rosa dengan spermanya lebih banyak lagi.

    Rai mengeluarkan penisnya dan mengincar lubang anus Rosa sebagai pelepasan terakhir juga. Untuk 10 menit ke depan Rai menggoyang Rosa dari belakang. Aku mendekati Rosa dan menarik rambutnya ke belakang membuat wajahnya menengadah keatas.

    Langsung kuberi dia ciuman yang panjang dan dalam. Kemudian menyodorkan vaginaku ke depan wajah, hidung dan mulutnya. Kupegang kepalanya dan mendekatkannya pada bibir vaginaku, melingkarkan kedua pahaku pada lehernya memaksanya untuk membenamkan mulut dan lidahnya lebih dalam lagi pada vaginaku dengan tanganku yang mengendalikannya dari belakang kepalanya.

    Dan meledaklah orgasmeku. Reflek ku himpit kuat kuat kepalanya dengan kedua belah pahaku, menekan ke depan pantatku agar semakin dalam wajahnya tenggelam dalam vaginaku. Aku menggeram hebat. Cerita Maya

    Tubuhku mengejang ngejang untuk beberapa saat, lalu lemas menyelubungiku. Rosa segera menarik kepalanya dari jepitan kedua pahaku seperti orang yang kehabisan nafas, Rai mendekatkan kepalanya ke arah vaginaku dan langsung menghisap habis cairan kenikmatanku, membuat wajahnya belepotan karenanya.

    Jay dan James mengocok batang penis mereka saat Rai berteriak bahwa orgasmenya sudah dekat di dalam lubang anus Rosa. Rai menarik keluar penisnya dari anus Rosa dan segera mengocoknya di depan wajah Rosa. Teriakan Rai mengiringi tembakan spermanya pada wajah, pipi dan mulut Rosa yang terbuka menunggu.

    Detik berikutnya Jay sudah berada diantara paha Rosa dan bersiap untuk memasukkan batang penisnya dalam vagina Rosa yang sudah sangat basah. Berdiri di ujung tempat tidur, dia memegangi kedua tumit kaki Rosa dan mulai menggoyang Rosa kembali.

    Bibir tengah vaginanya mencengkeram erat sekeliling batang penis Jay seiring tiap hentakan, kelentitnya ikut tedorong masuk begitu Jay menekan masuk penisnya. Orgasme Rosa berkesinambungan, Jay menggeram keenakan. James kemudian melumuri payudara dan perut Rosa dengan spermanya.

    Jay tidak mengendorkan gerakannya sampai pada saat penisnya terasa akan meledak oleh dorongan spermanya, dan akhirnya meyirami rahim Rosa dengan guyuran sperma panasnya. Rosa berbaring terlentang dengan kaki yang masih terpentang lebar.

    Sperma melumuri sekujur tubuhnya, dan meleleh keluar dari kedua lubang bawahnya. Para pria mengoles oleskan penis mereka yang basah pada wajah Rosa. Sedangkan aku juga telah mendapatkan lagi orgasmeku sendiri dengan permainan jari tanganku.

    Aku pandangi Rosa, lalu mulai menjilat dan mengisap membersihkan sekujur tubuhnya dari sisa-sisa sperma. Tangannya membelai rambutku saat aku membersihkan sperma para pria yang masih tertinggal pada vaginanya.

    Aku kenakan kembali pakaianku secepat aku melepasnya tadi dan bilang pada mereka kalau aku tak dapat tinggal lebih lama lagi dan harus segera pulang karena suamiku sedang ada di rumah sekarang.
    Aku terbangun keesokan harinya, segera ke rumah Rosa begitu suamiku berangkat ke kantor. Aku harus mencari tahu tentang semua kejadian semalam.

  • Desahan Seorang Pembantu

    Desahan Seorang Pembantu


    196 views

    Cerita Maya I Namanya Tinah, dari kampung. Suaminya meninggal tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah satu
    anaknya juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di desa. Tinah berwajah cukup manis;

    Desahan Seorang Pembantu

    Desahan Seorang Pembantu

    lumayan tinggi untuk ukuran perempuan kita; rambut sepundak lebih; hampir seumur adikku. Ia sebagian
    besar bertugas mengasuh anaknya adikku yang masih di bawah balita, walau juga membantu satu temannya
    bersih – bersih rumah. Kondisi psikologisnya yang seperti itu membuatnya sering terlihat diam dan kurang
    dapat memahami apa yang diperintahkan adikku, kasihan memang.
    Aku sering berkunjung ke rumah adikku,Karena suaminya sering ke luar kota, sehingga aku terkadang
    diminta untuk menemani atau bila mereka sedang ke luar kota bersama maka aku yang menjaga rumah. Sikapku
    terhadap Tinah dan temannya biasa saja, tidak ada yang khusus. Mereka pun demikian. Tinah berpakaian
    biasa – biasa saja bila di rumah adikku. Berkaos dan bercelana selutut, kadang memakai rok. Terkadang
    kaos yang dipakai Tinah sedikit longgar. Sehingga jika ia menundukkan badan, sedikit terlihat belahan
    dada bahkan gunung kembarnya yang masih tertutup BH. Wajar jika aku kadang – kadang mataku mencuri –
    curi kesempatan itu. Ukurannya biasa saja, 32 mungkin.

    Saat itu aku sedang diminta untuk menjaga rumah adikku, karena keluarganya akan pergi hingga sore dan
    Tinah tinggal di rumah, karena kondisi perutnya yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik,
    aku sudah datang di sana.

    “Mas..Tinah di rumah, perutnya agak kurang beres. adikku memberi tahu.
    “Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat.

    Aku bergegas memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Tinah lalu mengunci pagar. Aku masuk rumah lalu
    cepat – cepat duduk di depan komputer, browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung
    pekerjaannya. Mengecek email; cari info ini itu dlsb..he3x. 10 menit kemudian Tinah menyajikan segelas
    es teh untukku.

    “Makasih ya Tin“, ucapku.
    “Iya Pak..silakan diminum“, kata Tinah.

    Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, padahal
    terdengar sedikit asing di telinga. Tinah lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, Cerita Maya

    “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung.

    Tinah kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan
    mainan yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku
    menatap layar komputer di situs DS. Saat Tinah mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke keranjang,
    baru aku menyadarinya. Sesekali aku meliriknya.

    “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini
    gara – gara masuk situs DS jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata.

    Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Tinah bersimpuh di lantai merapikan mainan di
    keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus
    penutup warna biru. Tinah jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap sebagian keindahan
    tubuhnya.

    “Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar,
    “Ke kamar mandi mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar
    Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi.

    Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing dengan
    penis yang sedikit tegang.

    “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut.
    “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.

    Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer, melanjutkan ngubek – ubek DS.

    “Cari camilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan
    nge – net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai kacang dan diatasnya
    kulapis dengan selai blueberry,
    “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak
    antar ruangan agak dekat.

    Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, Tinah sedang di
    kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang
    melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Tinah bertatapan mata, tidak ada sesuatu,
    biasa saja. Kumakan roti sambil n – DS lagi.

    Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tinah sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi.

    “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku
    belum minum air putih, walau telah ada es teh.

    Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada
    air yang mengucur dari dispenser. Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana.

    ”Lah..pintunya kok sedikit mbuka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin
    ngintip aku”.

    Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya
    baru aku ngeh..Tinah sedang mandi.

    ”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat
    bin masalah.
    Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Tinah. Tiba –
    tiba

    ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana.
    ”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.
    ”Pak..Pak”, Tinah memanggilku.
    ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”.
    ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan
    kalimatnya.

    Sejak Tinah bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi.

    ”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya.

    Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir.
    ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak pa – pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama
    Ibu”, Tinah tahu keraguanku.
    ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa rame”, jawabku.
    ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah lagi”, Tinah kembali meyakinkanku dan meminta aku
    cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi.
    ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. Sambil tetap menimbang, take it or leave it. Aku menaruh
    gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu.

    Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya.

    ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu diriku.
    ”Masuk aja Pak”, Tinah tetap membujukku.

    Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi
    oleh Tinah.

    Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak,

    ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk.

    Tinah berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha;
    pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua.
    Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru, yang disangga tangan
    kirinya. Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak.

    ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3
    langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.

    ”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan.

    Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi.

    ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”.
    ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Tinah tersenyum.
    ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Tinah.
    ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”.
    ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang
    tubuh Tinah.

    Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini
    sabunnya”. Tinah mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami
    mau tidak mau bersentuhan.

    ”Makasih ya”, ujarku.

    Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya.

    ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Tinah.
    ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”.
    ”Iya..nanti di rumah”.
    ”Nggak di sini saja Pak?”.
    ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”.
    ”Di kamar mandi ini saja Pak..”.
    ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”.
    ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah nolongin saya”. Matanya memohon.

    Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala.

    ”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku.
    ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia memahami
    kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.

    Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga
    sesekali ke pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di
    meja makan. Posisi Tinah masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap
    agak terbuka. Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok.

    ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku.

    Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi.

    “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Tinah.

    Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd –
    ku.

    “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya.
    “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir.

    Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya. Sengaja
    kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Tinah sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan
    tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih
    ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang penis sambil
    kuelus.

    Tinah lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan.

    “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak
    item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku
    makin mengembang dan itu jelas dilihat Tinah.

    Baca Juga : Gadis Hiper

    Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Tinah lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak
    membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur.

    “Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Tinah.
    “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum.

    Tinah lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak. Mengambil lagi segayung,
    diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher;
    pundak; dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri;
    perut; penis; bola – bolaku.

    “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”.

    Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya
    senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga.
    Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya.
    Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan
    depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun.
    Sedikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya,

    “biar Tinah yang pegang kendali”.
    “Balik badan Pak”, perintahnya.

    Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki
    sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya.

    “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“. Kembali air mengguyur tubuh belakangku,
    sebanyak 3x.

    Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin
    berdebar.

    “Sudah selesai Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“.
    “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi.
    “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“.
    “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh depannya. Ia hanya
    menatapku.

    Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi.
    Kugosok leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke dada; kedua susu dan
    pentilnya; serta perut. Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil –
    pentilnya. Tinah juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya,
    lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya sedikit membuat huruf o kecil dan

    “ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya.

    Vagina luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah cukup
    membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas
    sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Tinah memegang pinggir bak mandi, mulai
    erat.

    Kumainkan lagi pentil – pentilnya….,Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian.
    Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya.

    “Ouuh Paakk..“, Tinah mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut,
    “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, tapi Tinah diam saja.

    Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat.
    Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi
    dari pinggang belakangnya. Tinah sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Aku
    senang bermain – main di susu yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup,
    begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan

    ”kamu diam saja ya..cup”.
    ”Geli Paakk..”, Tinah mendesah lagi.

    Dua pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari
    gelombang radio. Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku.

    ”Aahh..hmmppff”, erangnya.

    Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya
    dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Tinah.

    Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciumanku di
    belakang leher dan daun – daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah
    menghangat dan sedikit basah.

    ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat.

    Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku
    kutekan – tekankan di lubang kencingnya.

    ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”.

    Kuku – kuku jemari Tinah terasa menggores dua paha depanku.

    ”Kenapa Tinah..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku.

    Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1
    masukkan lidah. Tinah terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan
    kananku melakukan hal yang sama. Tinah hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan

    ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang.

    Vagina dalamnya makin hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya
    menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi
    vaginanya.

    ”Jjanggann Ppakk..jorok..”, dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”,
    jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan
    tubuhnya.

    Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku
    kuarahkan menatapnya. Tinah agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens
    menyerang vagina luar dan dalamnya.

    ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan
    dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu.

    Cairan lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali
    kumasukkan ke vagina dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya.

    ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas
    dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit
    manis.

    Kudekap erat Tinah dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku tetap diusap –
    usap oleh Tinah.

    Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Tinah dapat belajar dariku. Tangan kanannya
    meremas dan menarik – narik penisku.

    ”Panjang ya Pak”, tanya Tinah.
    ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku.
    ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan bola – bolaku.

    Tinah merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah
    meng – oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas.

    ”Kamu mau ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya nggak usah..nggak
    pa – pa”. Tinah menatapku dan kubelai rambutnya.

    Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya. Tinah mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit
    penisku memasuki mulutnya. Tinah menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya.

    ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat
    mengerti penjelasan gurunya.

    Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas.

    ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang
    ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.

    Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin
    masing – masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir
    bak mandi. Kembali aku bermain – main di gunung Tinah. Penisku yang telah panas dan mengacung sekali
    kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya. Ikat rambutnya aku lepas sehingga
    dirinya terlihat makin seksi kala menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari.

    Aku geser – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan pada Tinah.

    ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku kumasukkin..hmm.. ?”.
    ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan.
    ”Eemmppff..”, erangnya.

    Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa menyentuh dinding belakang.

    ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menggerakkan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding
    – dindingnya yang masih kuat.

    Dua tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 pelan 3
    kuhentakkan dalam – dalam.

    Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah makin
    hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.Sekarang tanpa hitungan,
    kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. Cerita Maya

    ”Oohh..oohh…hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Sedang aku sedikit menggeram dan
    ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”.
    ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tinah makin rapat.

    Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu – satu
    serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami.

    ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”.
    ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di llluuaarrr”, tanyaku.
    ”Dddaalllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah.

    Mendengar itu serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Tinah tak
    tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu

    ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat – kuat.

    Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Tinah panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri
    penisku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya.
    Kukecup dan kugigit leher belakangnya. Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam – dalam.
    Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali.

    ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang
    yang kanan di vaginanya.

    Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku dengan
    membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin berlama – lama di
    hangatnya vagina Tinah.

    ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak mungkin
    Pak.Burung Bapak pas di mpek saya”, Tinah menjawab dan mencium bibirku pula.
    ”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya,
    ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut kamu laporin”. Sambil mengusap – usap
    punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak
    kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas keluar dari celana”.
    ”Oo gitu..nakal ya kamu.

    Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya.

    ”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Tinah.

    Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam lagi bibirnya,

    ”sekarang..mandi yang beneran”.
    ”Heeh..iya Pak”, Tinah menjawab sambil tersenyum manis.

    Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap – usap punggung serta kepalanya.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Uang Bisa Beli Segalanya?

    Uang Bisa Beli Segalanya?


    98 views

    SINOPSIS
    Benarkah uang bisa beli segalanya, bahkan kehormatan?

    Story codes
    MF, anal, reluc

    DISCLAIMER
    – Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
    – Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
    – Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
    – Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia nyata adalah kejahatan dan penulis menentang semua itu. Penulis harap pembaca cukup bijak untuk dapat membedakan dunia nyata dan khayalan.
    – Penulis tidak memperoleh keuntungan uang apapun dari cerita ini dan tidak memaksudkan cerita ini dijadikan sumber pendapatan bagi siapapun.
    – Ide cerita ini didapat dari satu manga hentai dan berita terkini.
    – Ada komentar? Ide cerita? Mau diposting di situs anda? Silakan kontak penulis di ninjaxgaijinATyahoo dot com. Selamat membaca.

    Uang Bisa Beli Segalanya
    -Ninja Gaijin & Yohana-

    ***********************************
    Suyat

    Ceritamaya | Suyat baru saja duduk santai di depan televisi ketika dia mendengar pintu depan rumah kontrakannya diketuk.

    “Siapa sih?”, keluhnya gusar, “ngganggu waktu istirahatku aja…”

    Suyat pegawai rendahan di satu kantor pemerintah daerah yang mengurusi pungutan kepada pengusaha yang jelas merupakan tempat kerja yang basah dan kadang-kadang Suyat pun kecipratan basahnya. Sebelum tamu yang sekarang mengetuk pintunya, tadi Suyat kedatangan seorang kurir dari satu perusahaan besar setempat, mengantarkan tas yang penuh berisi uang tunai. Perusahaan itu sedang bermasalah karena sudah bertahun-tahun menunggak setoran kepada negara, dan sekarang berusaha membuat kasusnya dihilangkan dengan menyogok atasan Suyat. Tapi berhubung zaman sekarang transfer bank gampang dilacak aparat antikorupsi, para pengusaha dan pejabat korup jadi lebih memilih menggunakan uang tunai. Dan tentunya para pelaku utama tidak saling bertemu langsung. Mereka menggunakan kroco seperti si kurir tadi dan Suyat. Tentu agar tidak ribut, para kroco itu diberi bagian uang sogokan. Suyat sudah biasa dengan peran sebagai perantara uang sogok. Karena dia masih hidup “sederhana” di kontrakan, tidak ada yang mencurigainya terlibat korupsi. Suyat sendiri memang tidak bisa nyimpan uang banyak. Uang bagiannya tidak pernah ditabung atau dibelikan barang; biasanya habis dia pakai judi atau jajan PSK di lokalisasi.

    “TOKKK… TOKKKK TOKKK, TOOKKKK…!!!!!”

    Dengan malas Suyat membuka pintu rumahnya, matanya melotot dengan nafas seakan tercekik, bulu kuduknya berdiri seperti duri landak melihat siapa yang datanng.

    “lay lay lay lay lay panggil akusi jablay,abang jarang pulang aq jarang di belay! Bla blab la blahhhhh” terdengar suara nyanyian dangdut yang membuat Suyat tersentak ngeri.

    “E-ehhh, ada apa ini ? ada apa ??” sontak saja Suyat gelagapan.

    “ihh, abang ganteng.., jangan pura-pura ngak tau gitu dong ah, duitnya dong bang..”

    “nihhh., gopekkkk…”

    “Gopekkk ?? ganteng-ganteng masa cuma ngasih gopek!! Yang bener aja bang.!!”

    “pake nawar lagi, udah ah , ni cecenggg…, ga bisa nambah…”

    “Goceng boleh nggak bang…?? Dikasih plus-plus loh….”

    “eeeuu-deuhhh…amit-amit, kaga-kaga….: @_@ !!!!!!!!!! Mampus dahhhh, pentil gua….ihhhh”

    “yiahhh abanggg dikasih yang enak-enak kaga mau ,yaw dahhh dada gantengggg…muachhhh” sembari cengar-cengir si bencong mencolek dada Suyat tepat di bagian pentilnya kmudian barulah bencong itu ngeloyor pergi.

    Mau tak mau Suyat langsung merinding merasakan “sentuhan maut” si bencong. Dengan sekali tendang tertutuplah pintu itu menghempaskan kenangan “indah” dalam otak Suyat dengan santai suyat duduk di atas sebuah kursi sofa empuk yang baru saja dibelinya walaupun dibeli dengan uang panas kursi itu terasa empuk saat diduduki. Sementara itu, di luar kontrakan, seorang perempuan muda menunggu pintu yang diketoknya terbuka dengan jantung berdegup penuh semangat. Dia melihat sepeda motor tua dan tali jemuran di luar pintu kontrakan itu. Memang tidak kelihatan seperti tempat tinggal orang berada. Tapi menurut kontaknya, orang yang tinggal di rumah itu cukup mampu. Kalau dia berhasil meyakinkan orang ini, berarti ada tambahan penghasilan! Suyat membuka pintu dan melongo melihat perempuan cantik di baliknya. Perempuan itu berumur kira-kira dua puluhan awal, bertubuh jangkung, rambutnya diwarnai pirang, dan di bawah alisnya yang tebal tampak sepasang mata yang mengenakan lensa kontak berwarna biru. Blazer coklat muda yang dikenakannya tampak ketat membungkus sepasang payudara cukup besar, yang belahannya mengintip di balik blus coklat tua berpotongan dada rendah. Sementara itu roknya hanya mencapai separo paha, dilanjutkan stoking membawa gelap yang membungkus sepasang kaki yang indah. Dia juga menenteng satu tas besar.

    “Halo, selamat sore… Nama saya Melina, salam kenal,” kata perempuan itu sambil menjabat tangan Suyat, “Mas… Suyat? Saya dapat kontak Anda dari teman Anda Mas James. Boleh saya minta waktu Mas Suyat sebentar?” Melina tersenyum manis, tanpa peduli yang dihadapinya seorang laki-laki bertampang berantakan dan kusut.

    “Em… boleh aja. Sebentar aja kan?” Suyat mempersilakan Melina masuk. Yah, tidak ada ruginya ngobrol sama cewek… lagian dia cakep juga…

    Melina bergerak cepat, dia memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Begitu bisa duduk menghadapi Suyat, Melina langsung bicara. Dia mulai dengan menanyakan impian Suyat, apakah Suyat ingin cepat kaya. Lalu dia mulai mengoceh mengenai cara agar impian-impian Suyat cepat tercapai, terutama keberhasilan dalam keuangan. Bahwa uang bisa dicapai dengan cepat lewat satu jenis bisnis, dan bisnis itulah yang sedang dijalani Melina. Bisnis multilevel marketing. Melina menceritakan kisah sukses beberapa orang yang sudah menjalani bisnis model itu, yang sudah bisa beli mobil mewah, tamasya ke luar negeri, dan semacamnya. Dengan penuh semangat Melina menjelaskan prospek bisnis itu berikut kelebihannya kepada Suyat, berharap Suyat akan tertarik. Suyat mendengarkan semua itu dengan bosan. Ceritamaya

    “Dasar MLM” gerutunya.

    Awal-awalnya ngajak kenalan, memancing dengan sekadar bilang ‘ada tawaran bisnis’, ujung-ujungnya mengajak ikut supaya orang yang masuk duluan jadi lebih kaya. Pakai ngasih mimpi-mimpi surga segala.

    Tapi Suyat tidak bisa tidak memandangi sosok Melina yang berpenampilan seksi. Sambil dongkol. Sialan… sengaja ngirim cewek seksi gini, biar aku ga mikir… Lihat tuh bajunya, ampe nempel ke badan gitu…

    Bukannya menyimak omongan Melina, Suyat malah membayangkan yang aneh-aneh.

    “Ah… kayaknya asyik juga ngecrot di muka dan badannya. Lama-lama jadi horny juga ngelihatin dia ngoceh. Pengen deh cobain ngentot ama dia. Tapi yang model begini biasanya maunya sama yang kaya… yang punya banyak duit. Eh…aku kan lagi banyak duit sekarang?”

    “Kalau ikut sekarang, setoran awalnya bisa lebih kecil…” Melina terus menjelaskan prospek bisnis MLM-nya tanpa berhenti.

    “Stop stop,” kata Suyat. Dia sudah tahu apa yang mau dilakukannya.

    Suyat meraih tas yang tadi dititipkan kurir perusahaan, mengambil segepok uang, lalu menaruhnya di depan Melina. Melina bengong, tidak tahu apa maksudnya.

    “Eh… Mas Suyat ini uang maksudnya buat apa?”

    “Cukup nggak sejuta?” tanya Suyat. “Aku udah punya duit, jadi nggak perlu lagi ikut em-el-em kamu, Tensh*t atau apa itu namanya. Ini baru sebagian kecil dari yang kupunya. Kalau mau lagi aku masih punya banyak.” Melina memperhatikan uang yang ditaruh di depannya.

    “Iya, tapi…”

    “Aku mau beli badan kamu buat hari ini. Segini cukup nggak?” ujar Suyat sambil nyengir lebar.

    “Uuhh…” Wajah cantik Melina berubah merah padam karena marah. Sedetik kemudian dia meledak. “SEMBARANGAN!! Emangnya aku bisa dibeli? Mentang-mentang kamu punya duit, terus kamu kira bisa beli segalanya? Jangan macam-macam ya!?” Jelas Melina murka akibat ditawar oleh Suyat.

    Suyat menghadapi Melina yang naik pitam dengan santai. Tanggapannya bukan dengan membalas makian Melina, melainkan dengan melempar lagi segepok uang ke hadapan Melina.

    “Masih kurang ya?”

    Hardikan Melina berhenti, tapi wajahnya masih kelihatan marah. Suyat kemudian berdiri dari tempat duduknya, mengambil uang yang ditaruhnya, lalu dengan tak sopannya dia sisipkan gepokan uang tadi di belahan dada Melina yang sedari tadi membuatnya gemas. Melina kaget dan berusaha menahan tangan Suyat.

    “Eh, Melina… Kan kamu tadi yang bilang kita mesti punya duit biar bisa ngejar mimpi? Aku udah punya duit. Mimpiku sih nggak macem-macem,” komentar Suyat. “Rasain aja. Enak gak rasanya duit? Kalau mau lagi, aku masih punya.”

    “Kamu tinggal ngelayanin aku aja, nanti semua ini bisa buat kamu,” kata Suyat, sesudah mengambil segepok lagi dan menggunakannya untuk menampar-nampar lembut pipi Melina.

    Melina mulai terdiam, mulai tergoda… “Mendingan gini kan, daripada kamu sibuk ngajak-ngajakin orang ikutan bisnis ga jelas ini?”

    Suyat lalu meninggalkan Melina. “Aku mau mandi dulu ya. Kamu pikirin aja dulu, mau apa nggak.”

    *****

    Selagi Suyat mandi, Melina melongo memandangi tiga gepok uang di hadapannya. Tiga juta. Kalau dia kerja normal, mungkin itu setara dengan gaji sebulan… Tapi pekerjaannya sekarang, mencari orang untuk ikut MLM, benar-benar berat dan menyebalkan, apalagi dia belum juga mulai mendapat penghasilan langsung dari bisnis yang dia jalani. Kebetulan dia tinggal sendirian, dan uang tabungannya mulai menipis… Akhirnya Melina memutuskan.

    *****

    Suyat keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebagai ganti celana. Dilihatnya Melina masih duduk dengan wajah resah di ruang depan kontrakannya. Wajah Melina memerah. Tiga gepok uang yang tadi dipakai Suyat untuk membelinya tergeletak tak tersentuh di depan Melina.

    “…iya deh… mau…” bisik Melina, nyaris tak terdengar.

    “Nah, gitu dong, pinter,” kata Suyat sambil mendekat.

    Berhubung sudah konak dari tadi, dia tak berlama-lama, dan langsung melepas handuknya. Melina memandanginya dengan kebingungan, sebentar lihat sebentar tunduk, dengan muka yang terasa panas saat melihat suguhan diselangkangan suyat, sebuah batang mengacung tepat di hadapan wajah Melina yang cantik merona.

    “Ya udah, mulai, jilatin tuh,” perintah Suyat. “Pernah nyepong nggak?”

    Melina belum pernah melakukan oral seks sebelumnya, pengalamannya dalam seks tidak banyak. Tapi sebagai perempuan muda yang sehat, hormon kelaminnya mulai bekerja membuat dia mulai tergoda. Dengan ragu-ragu, ia membungkuk dan menjilat barang Suyat yang sudah mengacung ke depan. Melina mulai menjilati kemudian mengulum penis Suyat yang terus membesar. Suyat menyuruh Melina menggunakan tangan untuk mengocok dan memainkan lidahnya, dan Melina mengikuti semua itu. Lalu Suyat mulai meraba payudara Melina yang masih tertutup baju. Pijatan dan rabaan itu membuat Melina mulai terangsang, selangkangannya terasa basah. Melina juga makin terangsang karena merasa bisa membangkitkan gairah Suyat. Dia mulai tak peduli bahwa dalam keadaan normal, dia tak bakal melirik Suyat yang memang tak ada ganteng-gantengnya, ataupun kenyataan bahwa dia hanya melayani Suyat karena uang. Ditambah lagi, posisi mereka berdua rawan, karena lingkungan rumah kontrakan Suyat cukup ramah dan mereka ada di depan, bagaimana kalau ada orang tiba-tiba datang? Suyat mulai mendesah keenakan dan menggerak-gerakkan pinggulnya selagi Melina terus mengisap kemaluannya. Tiba-tiba penis Suyat menyentak di dalam mulut Melina dan Melina kaget merasakan semprotan cairan hangat di dalam mulutnya. Sebagian cairan mani Suyat sampai meluber keluar mulut Melina, menetes ke bajunya.

    “Mmmmhhh… enaaak…” desah Suyat sambil menarik keluar penisnya dari mulut Melina.

    Melina terduduk dengan mani mengalir dari mulutnya.

    “Bagus… Ayo sekarang dipangku,” kata Suyat.

    Melina masih berpakaian lengkap ketika dia menuruti perintah Suyat. Suyat kemudian menyuruhnya bergoyang, dan Melina menggoyang-goyangkan pantatnya menggoda kemaluan Suyat. Melina sudah bukan perawan, dia pernah berhubungan seks dengan seorang pacarnya sebelumnya, tapi pengalamannnya tidak banyak. Suyat kembali menggerayangi payudara Melina, menikmati kelembutan dada dan pantat Melina yang merapat ke tubuhnya. Suyat lalu membuka blazer Melina, lalu membuka rok Melina. Melina merasakan vaginanya mulai basah selagi Suyat meremas-remas payudaranya dan menggesek-gesekkan penis ke selangkangannya.

    “Eh, kumasukin ya?” Suyat siap menyetubuhi Melina yang dipangkunya, dia menempatkan kepala burungnya di depan kewanitaan Melina.

    Suyat melepas celana dalam Melina, menggosok-gosokkan kepala burungnya, membuka bibir kemaluan Melina, lalu mulai mempenetrasi ke atas. Melina masih sempit walaupun sudah bukan perawan, sehingga Suyat mesti pelan-pelan, sampai akhirnya bisa memasukkan seluruh batangnya ke liang Melina. Melina tak bisa menahan diri, dia mengerang keenakan ketika senjata Suyat menembusnya. Suyat mulai menggerakkan kemaluannya di dalam vagina Melina, keluar masuk, tusukan-tusukannya merangsang Melina lebih lanjut. Walaupun awalnya enggan, makin lama Melina makin menikmati. Pinggul Melina mulai bergerak mengimbangi gerakan Suyat, mencoba mendapat lebih banyak kenikmatan. Ketika melihat ke bawah, Melina melihat penis Suyat terbenam di dalam tubuhnya lalu keluar lagi, berulangkali. Suyat makin bersemangat menggenjot Melina, suara kulit bertemu kulit memenuhi ruangan. Suyat serasa ada di surga. Melina tidak hanya cantik, tapi vaginanya juga masih rapat. Suyat bisa merasakan gairahnya sendiri terus meningkat, menuju puncak. Melina juga merasakan hal yang sama, tusukan-tusukan Suyat dan cengkeraman tangan Suyat di pantat dan dadanya membuatnya kewalahan. Dia menggeliat sambil mendesah-desah keenakan,

    “Oh… ohh… lagi…”

    Suyat mengubah posisi, dia mendorong Melina sehingga merunduk ke depan dan akhirnya tersungkur dalam posisi merangkak. Keduanya jadi berposisi doggy style, Suyat menyetubuhi Melina dari belakang.

    “Ahh… sebentar lagi nih… Udah mau keluar nihh…!!” seru Suyat selagi dia menggenjot makin cepat. “UUAHHH!”

    Suyat tiba-tiba mencabut kejantanannya, mendorong Melina, lalu membalik tubuh Melina. Rupanya Suyat sengaja… Ketika Melina sudah menggeletak telentang di lantai, Suyat berhenti menahan ejakulasinya dan memuncratkan maninya ke wajah perempuan itu.

    “Aaah…. Ah… hahahaha…”

    Suyat tertawa puas ketika dia melihat wajah Melina yang tadinya bermake-up tebal telah dia bikin berantakan dengan semburan maninya. Melina terengah-engah, masih juga tak percaya dia mau merelakan orang ini menyetubuhinya hanya karena uang.

    “Oke, ronde ketiga…” Suyat sudah siap-siap menikmati tubuh Melina lagi.

    Melina berusaha memprotes, “Ah… jangan duluh… istirahat dulu…” tapi protesnya hilang terhapus jeritan yang muncul ketika Suyat mencubit pentilnya. “Jangaaaaannnn…” tolak Melina ketika Suyat menjilati leher dan dadanya. Tapi badannya berkata lain, Melina kembali terangsang. Pikirannya ikut-ikut berkata lain, tiga juta buat sekadar ngentot sama orang lumayan juga, lagian aku nikmatin juga kan?

    Melina

    “Kalau boleh ngentot bo’olmu, kutambah lima ratus ribu,” bisik Suyat.

    Melina cuma memelototi Suyat dengan tak percaya. Dia belum pernah melakukan seks anal sebelumnya.

    “Udah sejauh ini, kan? Sekalian aja…” kata Suyat lagi.

    Tanpa menunggu, Suyat langsung memasang ereksinya di pintu terlarang Melina.

    “Yok anal yook…tung ning nang ning nung!” canda Suyat.

    “Eh tunggu! Aku belum bilang mauuAUAAHHH!!”

    Melina tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, dia keburu menjerit ketika anusnya diterobos paksa Suyat. “SAKITTT!! AHHH!!” Melina sampai memejamkan mata dan meringis akibat saluran belakangnya terasa pedih didesak terbuka oleh Suyat, mendengar jeritan Melina Suyat malah semakin bernafsu mendesakkan batangnya , kontan saja mata Melina melotot saat batang itu menjebol liang Anusnya.

    “Huuhhh… uhhhhuhhh…”

    Melina merasa seperti mau menangis ketika menahan sakit disodomi Suyat. Suyat malah protes.

    “Eh kan aku bayar, jangan kayak kesakitan gitu dong! Kalo nggak menikmati, kamu pura-pura keenakan aja, napa?”

    Tapi Melina benar-benar kesakitan, dan wajahnya menunjukkan rasa benci.

    Baca Juga : Tiga Pemain Asing

    “Eh… apa nih maksudnya?” tanya Suyat. “Bayarnya masih kurang? Bilang aja. Aku mesti bayar berapa biar kamu jadi suka dianal?”

    Melina terdiam sejenak, menahan sakit, berpikir, dan…

    “Tiga juta lagi,” katanya mantap.

    “Bungkusss,” ujar Suyat sambil tersenyum lebar.

    Dan seketika ekspresi Melina berubah. Demi tambahan itu dia bersedia pura-pura doyan disodomi. Melina mulai mendesah-desah seksi dan memain-mainkan payudaranya sendiri.

    “Ahh… anh… enak…” desahnya.

    Suyat mengayunkan batangnya menikmati liang dubur Melina yang menggigit kuat benda di selangkangannya, seret dan peretnya liang anus Melina membuat Suyat menggeram-geram nikmat sementara Melina meneruskan reaksi pura-pura sukanya, padahal sebenarnya pantatnya terasa nyeri.

    “Enak… dibo’ol enak… Ayo lagi Mas… sodok pantat Melina…”

    Dan makin lama reaksi Melina makin hebat, sampai Suyat mulai tidak percaya bahwa Melina pura-pura.

    “AHH! Gede… banget… kontol Mas… ada di… pantatKU…HH!! AH! AW! TERUS MAS! TERUS! DIKIT LAGI… IAH… AH! AAAHHHH!!!”, Suyat memacu batangnya dengan semakin kuat

    Tak tahunya, Melina malah orgasme betulan selagi disodomi Suyat!

    “Sudah massss,”

    “waduhhhh, jangan ngeluh melulu dongg, aku kan udah bayar mahal, kalo gini caranya sihhh, bisa rugi Bandar…., berdiri….”

    “berdiri ?? kemana massss….”

    “yaaa mau ngentot lagi, masa mau jalan-jalan…, udahhh nurut ajaaa..”

    “b-bentar mass bentarrrr…”

    Dengan tak sabaran suyat menarik pergelangan tangan Melina didudukkannya gadis itu di atas sebuah meja kecil sambil menyuruh Melina membuka kedua kakinya lebar lebar. Mata Suyat melotot sambil mengejar selangkangan Melina yang becek oleh lender-lendir licin beraroma harum, berkali-kali lidah Suyat mengait-ngait daging mungil yang terselip di belahan bibir vagina bagian atas. Dengan spontan kedua kaki Melina yang jenjang melejang nikmat saat mulut Suyat melumat selangkangannya, setelah puas melahap vagina Melina, Suyat duduk di atas kursi dan meminta Melina untuk duduk di atas batangnya.

    “Ayo sinii…”

    “tapi mass, aku capek sekalii”

    “ahh capek apanya ?? kamu kan cuma ngangkang, sini ngak, kalo nggak mau berarti batall…lhoo” Suyat mengancam Melina

    “yeee, Mas Suyat, masa begitu sich…, yawdah, mas Suyat maunya apa, aku turuti….”

    “nahhh gitu dong baru sipppp… he he he”

    Dengan hati dongkol Melina menghampiri Suyat, agak risih juga rasanya ketika harus menurunkan vaginanya pada batang Suyat yang masih tegak perkasa,

    Melina kini berpegangan pada bahu Suyat, dengan perlahan ia menurunkan vaginanya. Semakin turun vagina gadis itu semakin turun pula buah empuk di dada Melina mendekati mulut Suyat.

    “Oufffhhh…hssshhh Mas Suyattt”

    Reflek Melina menarik dadanya kebelakang saat merasakan kepala Suyat terbenam di belahan payudaranya, nafas laki-laki yang baru dikenalnya itu menghembus keras dan terasa hangat. Gairah nakal membuat Melina makin merinding, tangan kirinya menjambak rambut Suyat sementara wajahnya yang cantik terangkat ke atas merasakan hisapan mulut lelaki itu yang tengah menikmati puncak payudaranya, pangutan-pangutan kasar dan jilatan lidah membuat gundukan buah dada Melina membuntal semakin indah. Sesekali Melina meringis merasakan gigitan gemas Suyat pada buntalan payudaranya kemudian mendesah panjang merasakan nikmat saat mulut suyat mengulum putting susunya yang meruncing. Laki-laki itu begitu rakus menyusu di dadanya. Tangan Suyat mencekal pinggang dan menarik pinggang Melina ke bawah hingga vagina Melina bertemu dengan kepala kemaluannya. Nafas keduanya terdengar berat saat berusaha menyatukan alat kelamin mereka, belahan bibir vagina Melina yang peret masih terasa sulit untuk ditembus oleh batang Suyat.

    “Massss…!!”

    “OUGGHH…..oenakkkkkk…”

    Keduanya saling berpelukan erat saat kepala kemaluan Suyat mendesak masuk ke dalam belahan bibir vagina Melina. Inci demi inci batang Suyat tenggelam semakin dalam hingga akhirnya selangkangan Melina bergesekan dengan rimbunnya rambut kemaluan Suyat. Entah kemaluan siapa yang berkedutan, batang Suyatkah yang berkedut ataukah dinding vagina Melina yang seret berkontraksi meremas – remas benda asing yang mengganjal di dalamnya.

    “slleeepppp.. slepppp… blllsssshhh…” terdengar suara becek yang menggoda saat liang vagina Melina bergerak turun naik mengocok-ngocok batang penis Suyat yang terjepit di antara belahan bibir vaginanya. Gerakan keduanya semakin lancar, Melina terlihat menikmati menaik turunkan vaginanya pada batang Suyat sementara Suyat menikmati menyentak-nyentakkan batang kemaluannya ke atas menyambut turunnya vagina Melina.

    “ahhh.. ahhh hhhhnnnnn ahhhh”

    butir-butir keringat Melina membalut basah tubuh moleknya yang sedang bergerak turun naik di atas tubuh Suyat. Harumnya tubuh gadis itu berbaur dengan aroma cairan vagina yang meleleh keluar

    “plakk. Plakkk auhhh hssshh ahhh plakkkk” terdengar suara lenguhan dan rintihan saat Suyat menampar buah pantat Melina agar gadis itu bekerja dengan lebih giat lagi.

    Suara tamparan terdengar dengan lebih keras pada buah pantat Melina yang memar kemerahan dan Melina semakin cepat menaik turunkan pinggulnya, tubuh Melina seperti sedang tersengat listrik hingga mengejang , bibirnya merintih merasakan vaginanya berdenyut dengan nikmat, Suyat memeluk tubuh Melina yang kelelahan sementara mulutnya terus bekerja menciumi bibir Melina yang sedang merintih hebat di dalam amukan badai kenikmatan.

    “crutttt.. cruttttt…. Ennnhhhhh…”

    Melina membiarkan Suyat menjilati batang lehernya juga membiarkan tangan Suyat menggerayangi lekuk liku tubuhnya. Kecantikan Melina dan tubuh moleknya yang indah membuat nafsu syahwat Suyat bergolak berkali kali lipat dan batangnya tetap jreng berendam dalam nikmatnya kepitan vagina Melina yang sempit peret. Kali Ini Melina menungging di atas kursi sofa dan Suyat menaiki buah pantatnya, batang yang masih keras itu ditempelkan oleh pemiliknya pada kerutan liang anus Melina. Rasa lelah membuat Melina sulit untuk berpura-pura.

    “OWWWWWW…. Akhhhhhh”

    Melina merasakan sakit sesakit sakitnya saat batang Suyat merobek liang anusnya yang terluka. Di atas kursi sofa yang dibeli dengan uang panas itulah tubuh Melina tersungkur-sungkur. Tangan Suyat mencengkram pinggul Melina kuat-kuat, gerakan batang penisnya semakin cepat terayun menyodoki liang anus Melina yang mengerang kesakitan.

    “PLOKK PLOKK PLOKKKK…”

    “OUHHH, Hssshhh ahhhh M-masss Awwwwww….”

    Keluh kesah Melina terdengar di antara suara benturan buah pantatnya dengan selangkangan Suyat, mirip seperti suara orang sedang merengek. Suara rengekan Melina membuat suyat semakin bernafsu menghentak-hentakkan batang penisnya, suara pekik Melina membuat suyat kesetanan menjejal-jejalkan batangnya menikmati anus Melina yang menggigit kuat benda di selangkangannya.

    “Hnnngehhhhh, M-massss, di depan aja mass…”

    Melina menarik pinggulnya hingga batang kemaluan Suyat terlepas dari jepitan liang anusnya. Mata Suyat mendelik melihat susu Melina dan melotot tambah besar melihat belahan vagina Melina yang dihiasi rambut-rambut tipis yang tumbuh merintis. Sebelah kaki Melina tertekuk mengangkang dan yang satunya lagi jatuh terjuntai di pinggiran sofa

    Dengan jantung yang berdetak kencang Melina menunggu batang itu melesat dan Jrebbbb..

    “Ahhhhhhhhhhhhhhhhh…. Nikmattttt….”

    Tusukan – tusukan suyat yang prima dipadu dengan goyangan vagina Melina membuat gerakan itu tampak serasi, putih dan cantiknya wajah Melina terlihat kontras dengan wajah suyat yang semrawut dan acak-acakan. Tubuh Melina terguncang oleh desakan batang suyat yang menggenjot kuat belahan vaginanya.

    “Hhhh Hhhhh Hhhhh Hhhhhh…” nafas Melina terhembus keras setiap kali batang Suyat menyodok kasar selangkangannya yang mengangkang

    Tangan Melina memengangi perutnya yang rata karena mulai merasa kram, ia seperti sedang menahan sesuatu, dan sesuatu itu semakin sulit untuk dikendalikan ataupun untuk ditahan. Akhirnya sebuah letupan lendir kenikmatan membuat tubuh Melina melenting nikmat, gerakan tubuhnya yang indah membuat suyat kagum sekaligus bergairah. Suyat merasakan batang kemaluannya semakin menegang dan akhirnya Crotttttt…, menyemburlah lahar panas menyirami liang vagina Melina. Tubuh Suyat melengkung keenakan dan ambruk menindih tubuh Melina yang termegap kehabisan nafas, terlhat mulut Suyat melumat bibir Melina yang memejamkan kedua matanya sambil membalas lumatan bibir Suyat, lama keduanya tertidur.

    “aaa-ahhhh Mas Suyat…hoammmm”

    Melina yang masih mengantuk tampak pasrah saat Suyat menyeretnya ke bawah. Ia terlentang di bawah lantai kontrakan Suyat, kedua kakinya dicekal mengangkang ke atas oleh tangan laki-laki itu. Matanya mengerjap-ngerjap saat merasakan belahan vaginanya didesak oleh suatu benda tumpul yang hangat.

    “Pleppp Pleppp Plepppp…”

    Dengan santai Batang Suyat menusuk-nusuk liang vagina Melina, buah dada Melina terguncang mengikuti ritme tusukan batang Suyat. Melina merasakan tubuhnya kembali menghangat, dan peluh kembali meleleh disekujur tubuhnya seiring dengan semakin kuat tubuhnya yang molek terguncang. Dengusan nafas keras terdengar mengisi kembali ruangan itu, dengan keliaran nafsu birahi suyat melahap tubuh Melina yang mulus, digenjotnya liang vagina gadis itu yang kewalahan menghadapi kebuasannya sebagai seorang lelaki yang tengah mencari kenikmatan.

    “ahhh ahhh massss suyyahhhh crettt crettttt…,aduh-duh mass ahhh”

    Rasa ngilu mulai terasa, gesekan batang kemaluan Suyat yang terlalu kuat menggenjot membuat Melina merintih keras. Ia meringis dengan mata mendelik seolah tak percaya seberapa cepatnya batang kemaluan Suyat mengobrak-abrik kehormatannya, matanya yang indah mendelik-delik dan tubuhnya yang molek menggeliat kesana kemari karena tak tahan merasakan rasa nikmat disodok oleh batang laki-laki itu hingga akhirnya keduanya kembali mengejan nikmat, entah menuju sorga atau neraka. Melina yang cantik menyerahkan tubuhnya yang molek di bawah gepokan uang dengan 5 angka nol, kehormatannya tunduk di bawah lembaran uang seratus ribuan, uang?? yah uang bagaikan pisau dengan dua sisi yang tajam,di satu sisi uang bisa untuk menolong manusia namun di sisi lain uang juga dapat menjerumuskan manusia, semuanya tergantung pada bagaimana cara kita menggunakannya.

    *****

    Sesudahnya, Suyat melempar uang tunai senilai 6 juta kepada Melina yang tergeletak di lantai kontrakannya, dengan telanjang, wajah dan kemaluan dan dubur berleleran sperma.

    “Hehehe,” Suyat tertawa, “Enak juga bisa ngebeli kamu hari ini. Tuh lihat, mendingan kerja begini kan? Daripada kamu capek-capek ngebujuk orang ikut bisnis apaan itu. Kalo jual diri, duitnya langsung.”

    Melina tidak menjawab, hanya terengah-engah kelelahan. “Kalau mau lagi,” kata Suyat, “datang lagi aja kapan-kapan.”

    “…kapan…??” bisik Melina sambil tersenyum malu.

    “besok…” Jawab suyat sambil mencuil hidung Melina.

    *****

    -epilog-

    Sesudah hari itu, Melina beberapa kali lagi bertemu Suyat, hubungan mereka berdua tambah akrab hingga akhirnya mereka berpacaran dan kemudian menikah. Sementara itu karier Suyat tetap aman dan dia terus melakukan pekerjaan kotornya sebagai perantara sogokan dari pengusaha kepada pejabat-pejabat atasannya. Tapi sayang sepak terjang Suyat sebagai koruptor kelas teri segera berakhir ketika beberapa tahun kemudian Suyat tertangkap basah ketika namanya disebut-sebut sebagai bagian dari mafia pajak oleh Siswo Duadi, seorang polisi korup yang ‘bernyanyi’ ketika sedang disidik. Suyat yang saat itu sudah membeli rumah mewah untuk ditinggali bersama istrinya, Melina, langsung disorot media karena seharusnya pegawai setingkat Suyat tak mampu membeli rumah berharga miliaran. Melina pun ikut terseret-seret akibat sejumlah uang haram suaminya pun mampir di rekeningnya dan ia pun menikmati uang itu. Ceritamaya

    Selama beberapa bulan Suyat ditahan dan kasusnya simpang siur sampai media mulai melupakannya (ya seperti biasalah kasus di negeri ini mudah dilupakan begitu saja) hingga akhirnya kembali menghebohkan ketika ditemukan seseorang yang mirip dirinya sedang menonton kontes waria internasional di sebuah night club gay di Bali. Seorang wartawan yang kebetulan meliput berhasil menangkap gambar orang yang diduga Suyat itu dengan kameranya. Yang lebih heboh lagi, wartawan itu, dengan gaya seperti paparazi tulen, berhasil menangkap gambar Suyat sedang berjalan ke sebuah hotel sambil merangkul seorang waria yang adalah salah satu kontestan lomba itu. Nama Suyat kembali bergaung di pelosok negeri ini, para pakar pun cuap-cuap membandingkan foto yang terpampang di media dengan dirinya yang hanya beda model rambut dan kacamata saja (aneh katanya pakar, tapi bedain gitu saja sulit ya?). Setelah semua aparat dan pejabat heboh, Suyat pun akhirnya mengaku sambil tersenyum mesem malu-malu anjing di pengadilan bahwa dia memang membayar para penjaga untuk dilepaskan sementara dan jalan-jalan ke Bali. Ia juga mengaku selain ke kontes waria itu, dirinya juga bertemu dengan seorang pengusaha sekaligus politisi busuk bernama Bakir untuk membicarakan perihal penyimpangan pajak yang pernah dilakukannya. Dari kejadian ini bukan saja instansi pajak yang tercoreng tapi juga menyingkap moral polisi yang rendah. Jadi silakan jawab sendiri, di negeri ini benarkah uang bisa beli segalanya?

  • Berawal Dari Teman Chat Jadi Teman ML

    Berawal Dari Teman Chat Jadi Teman ML


    190 views

    Cerita Maya | Suatu sore, saya iseng2 chat karena memang sudah lama saya tidak masuk di arena itu. “Malampanjang” adalah nick yang sering saya gunakan dan biasa memasuki line DALxxx.

    Sambil santai menghisap rokok, saya mulai iseng berkenalan dengan orang-orang sesama MIRC-is. Sebut saja nicknya “Mahon_f”, salah satu teman baru MIRC saya. Setelah ngobrol ke sana kemari, dia menyebut diri anak Semarang dan baru setahun tinggal di sana, jadi bahasa Indonesianya agak kaku.
    Tetapi anehnya, bicaranya rada2 berani dibanding cewek lainnya, setelah ditelusuri, dia adalah anak bule dari USA. Bapaknya hijrah kerja di Semarang. Aku minta juga pic-nya dan langsung dikirim lewat DCC. Lumayan juga orangnya, agak montok, rambut pirang, ikal dan cantik. Hanya kulitnya merah karena kebanyakan kena sengat matahari.Nggobrol lama dan akhirnya aku mulai iseng untuk mengetahui kehidupan seksualnya. Ternyata dia termasuk orang yang menganut free sex.

    Aku minta nomor telponnya dan membuat janji dengannya untuk bertemu. Aku adalah anak Yogyakarta yang kuliah di Politeknik Negeri di Bandung, jadi harus jauh-jauh kesana dulu untuk bisa bertemu dengannya. Sedangkan dia masih kuliah di sebuah universitas swasta di Semarang.

    Akhir bulan aku pulang dan mampir ke Semarang untuk bertemu dengan Mahony (nama dia). Aku naik bus dan sampai disana kira-kira pukul 4 sore, lalu aku telpon dia supaya menjemputku.
    Suzuki Vitara metalik datang menghapiriku yang isinya 2 orang bule muda yang cantik-cantik.
    “Kamu malam panjang yaa..?” sapa dia sambil melempar senyum, membuat otakku tidak karuan menjawabnya.
    “Benar dan Kamu Mahony ya..?” balasku.
    “Iya, apa khabar malam panjang..?” sapa dia.
    Dada ini bergetar juga melihat gaya pakaiannya yang bersinglet ketat dan celama jeans rombeng sobek di lututnya.
    “Ayo masuk..! Dan *****., kenalkan kakakku, Garrel..” kata dia.
    Kami bersalaman, sambil melapas kaca mata hitamnya dia memperkenalkan namanya.
    “Hallo.. Aku Garrel, nama Kamu siapa..?” tanya dia.
    “Aku Harris (samaran).” balasku sambil bersalaman.
    Aku masuk ke dalam mobil dan berangkat karena sudah mengundang banyak mata memadang ke arah kami. Si Mahony pindah ke belakang menemani aku di belakang, sedangkan kakaknya gantian mengemudi mobil.
    Berjalan melintasi tugu muda dan simpang lima, lalu entah ke mana aku tidak tahu arah karena asyik ngobrol dengan si Mahony. Dia banyak menceritakan tentang situasi kota Semarang yang terlalu panas dan tentang teman-temannya dis***** Mahony orang yang supel dan cuek, jadi tidak terlalu kaku bicara dengan dia walaupun kadang bicaranya dicampur dengan bahasa Inggris.
    Setelah lama berkeliling Semarang, akhirnya sampai di sebuah rumah besar di perumahan elite Semarang. Kami disambut oleh seorang wanita bule setengah baya yang berbahasa Indonesia dengan fasih. Itu adalah Ibunya Mahony. Dimana di rumah itu hanya tinggal orang tua Mahony, dua orang anaknya dan tiga orang pembantu. Kami bertiga ngobrol seperti sudah kenal lama saja, padahal kami beru bertemu. Cerita Maya

    Malam hari tiba dan aku dipaksa untuk menginap dan tinggal disana, aku sih baik-baik saja, lagian disuguhi dengan kulit-kulit mulus setiap saat. Aku tidak kuat, kemaluannku terus menegang melihat itu semua, serta nafas yang tidak beraturan karena otak kotorku sudah dipenuhi bisikan-bisikan nafsu dari sang iblis.

    Aku pamit mandi, kesempatan itu tidak aku sia-siakan dengan melepaskan hasrat dengan beronani. Kamar mandi yang besar, lengkap dengan bak mandi tidur dan sebuah kaca besar di seberang. Tanpa komando, aku langsung melepas baju dan celana. Membasahi tubuhku dengan air hangat sambil mengocok batang kemaluanku perlahan. Berinspirasi membayangkan si Mahony dengan payudara yang menggantung indah dan Garrel tanpa selembar benang pun. Perlahan kukocok sambil memejamkan mataku.
    Tanpa sadar, sebuah tangan yang halus memegang pinggulku, terbelalak aku buka mata, terpana dan tidak bisa bergerak, Mahony sudah di depan mataku sambil tersenyum memegang handuk.
    “Waduh ketahuan nich..!” bisikku dalam hati.
    “Kamu lupa mengunci pintu, Haris..” katanya tersenyum.
    Suara yang lembut membuat jantungku berdegup kencang. Rupanya Mahony datang membawakan handuk buatku, dan sekarang dia mulai melepaskan baju singlet ketatnya. Seribu sumpah serapah keluar dalam batinku mengagumi keindahan tubuh moleknya. Tanpa berkedip dan nafas tidak beraturan, aku melihat pemandangan indah itu. Si Mahony secara perlahan membuka singletnya dan celana jeansnya. Hanya tinggal bra (36) dan celana dalamnya saja yang tersisa. Begitu mulus nan indah.

    Baca Juga Cerita Seks Threesome Bersama 2 Pria

    Perlahan dia merangkulku, sejuta maki ketidakpercayaan berkecamuk di dalam dada. Mencium lembut bibirku, aku hanya terdiam sebab belum pernah aku melihat bule berbugil ria di depanku, kecuali di dalam film BF yang sering aku toton.
    “Kenapa Kamu, Haris..?” tanya dia membuyarkan lamunanku.
    “Ehh.. ee.. tidak apa-apa kok.., ntar kalo ketahuan Ibu kamu gimana..?” tanyaku.
    “Tidak apa-apa, dia baru tidur di kamarnya..” jawabnya.
    Inilah kesempatanku, batinku mendukungku terhadap semua ***** Aku balas kecupan bibirnya dengan lembut, berpanggut dan terus berpanggut. Tanpa sadar, ritme kecupan kami menjadi cepat, mungkin karena nafsu kami yang sudah mulai berkobar. Bunuh aku dengan api nafsumu, hancurkan, lepaskan dalam semua kegirangan ***** Lama kami berpanggut di bawah siraman air dan uap hangat. Sampai aku beranikan diri membuka tali BH-nya, kini tampaklah sebuah gunung kembar menjulang dengan penuh gairah. Segera kusambut dengan usapan terlembutku.
    Cerita Panas – Kuremas dan kuresapi apa yang ada di dalam payudaranya. Aku kecup leher, dadanya dengan perlahan sambil tanganku meremas pantatnya. Putting yang tampak menantang dengan warna merah tua tampak menggoda dengan jemari lentiknya. Aku permainkan lidahku di seputar putingnya, melingkar, gigitan kecil menghiasi kulit mulusnya.

    “Aahh.. sshh.. aahh..” rintihnya ketika lidahku mengenai ujung putingnya.
    Aku hisap putingnya dan aku putar-putar dengan lidahku, sambil sesekali bergerak ke samping tubuhnya, rusuk, dan punggung. Aku memang suka menjilati tubuh lawan mainku sampai benar-benar basah seluruh tubuhnya dengan lidahku.
    Perlahan aku turun ke arah perut, pantat, paha, betis lalu naik lagi ke arah selangkangannya. Aku tidurkan dia di lantai kamar mandi, sambil aku angkat kedua kakinya hingga terkuak kini selangkangannya. Benar-benar indah vaginanya yang tanpa sebatang bulu pun menumbuhinnya, berwarna merah dengan klitoris yang sedikit menyembul. Aku urut dengan lidahku sepanjang pahanya menuju ke atas, berhenti di pinggir selangkangannya. Sambil aku remas-remas payudaranya, kuputar-putar lidahku di sekitar bibir kemaluannya, wangi dan sangat basah. Rupanya dia sudah terbakar nafsu emosi akibat cumbuanku. Dia terus meremas payudaranya sambil mendesah tidak karuan.

    Perlahan aku jilat ujung klitorisnya yang berwarna merah merekah, jilat dan jilat.
    “Aahh.. shh.. ooh.., Haris.. shh..” desahnya mengencang.
    Kujilati terus klitorisnya dan sesekali kukorek isi vaginanya dengan lidahku. Kubuka pinggir vaginanya dengan kedua tanganku, lalu kujilati bagian dalam vaginanya, kutusuk dengan lidahku sampai benar-benar basah dengan cairan hangat vaginanya. Aku lihat dia memejamkan mata sabil mendesis keras disertai dengan kata-kata berbahasa Inggris yang aku tidak mengerti artinya. Kadang menjambak rambutku disertai dengan lolongan panjang dan menekan kepalaku ke arah liang senggamanya dan mengangkat pinggulnya, aku tidak tahu apakah dia sudah ejakulasi atau belum, aku tidak perduli, aku terlalu sibuk dengan vagina indahnya.
    Tiba-tiba dia bangun dan membalikkanku dengan posisi telentang. Dengan liar dia kecupi dada dan putingku, hal itu tentu saja membuatku terbang dan meratap, sebab memang putingku adalah daerah “rawanku”, sambil aku sendiri mengocok batang kemaluanku yang terus menegang. Di kangkanginya tubuhku sambil dituntunnya kemaluanku ke arah vaginanya.

    “Bllueess.. ss..” terasa nikmat sekali setelah beberapa bulan aku menahan gejolak nafsuku.
    Terasa menggigit dan hangat di dalam vaginanya. Dia mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun, aku sungguh menikmatinya.

    Buah dadanya yang naik turun menciptakan sebuah pemandangan yang erotis bagi mataku. Tubuhku bergoncang hebat oleh karena goyangannya. Bagai kerasukan iblis seks, dia bergerak dengan tidak karuan, mendongak ke atas ke kiri dan ke kanan. Oohh.. aku sungguh terpuaskan. Aku coba melihat ke arah kaca kamar mandi, oohh.. pamandangan yang mampu mambuatku terangsang sendiri oleh karena tingkah liarnya.
    “Clep.. clep.. clepp..” suara bibir vagina bertemu dengan pangkal batang kejantananku di sertai dengan air hangat.
    Kulepaskan dia dan gantian aku yang berada di atas. Dengan posisi batang kejantananku yang masih menancap erat di vaginanya, aku mulai menggoyangnya dengan irama teratur, buah dadanya bergerak-gerak naik turun.
    “Ahh.. ahh.. nikmat Hariss.. oh yes..!” desahnya yang membuat nafsuku terbakar hebat.
    Kukangkangi dia di atas dengan posisi duduk, dengan batang kemaluanku yang masih tercepit, kurapatkan kedua kakinya, lalu aku mulai menggoyang. Dia mulai bergelinjang lagi sebab posisi itu begitu menekan vaginanya untuk bergesekan dengan batang kemaluanku.
    “Clepp.. clep.. clep.. cleepp..” disertai erangan kenikmatan keluar dari bibir kami.
    Posisi tersebut tentulah sangat kuat menggesek klitorisnya, sambil tanganku meremas buah dadanya. Ooh.. betapa nikmat dosa *****
    “Aaahh.. ahh.. ooh.. ooh.. I am coming.. I am coming.. oohh.. oohh.. aahh.. aahh..” desahnya liar.
    Sesaat berikutnya, dia mulai berkelojotan dengan jari yang meremas kuat pundakku, hingga menimbulkan luka gores yang pedih, hal itu justru menambah nilai kenikmatan tersendiri setelah nanti berhubungan intim dengannya.
    Aku berganti posisi dengan menggangkat satu kakinya ke atas, sehingga dia berposisi miring, sedangkan aku dengan leluasa melihat batang kemaluanku keluar masuk ke vaginanya yang sudah sangat bajir, berkilat-kilat oleh cairan vaginanya yang memerah dan merekah. Kugoyang terus sampai keringatku pun berjatuhan di pahanya. Bayangan yang tercipta di kaca kamar mandi sungguh terlihat indah, bagai dua mahluk yang terlibat pertempuran sengit. Saling menindih dan saling mengerang kenikmatan.

    “Clep.. clep.. cllepp.. ahh.. ahh.. sshh..” suara yang bergema di kamar mandi tersebut.
    Cerita Seks – Beradu dengan gemuruh nafsu di dalam dada ini, keringat pun berjatuhan di perut dan dada Mahony yang berkilat karena mulus kulitnya. Hingga pada akhirnya, sesuatu yang akan meledak bergerak turun dari dalam perut bawahku. Kugoyangkan dengan keras dan irama tempo yang sangat cepat agar kenikmatana itu dapat kuraih bersamaan dengannya.
    “Aahh.. ah.. ahh.. oohh.. oohh.. aahh..” desah panjangnya.

    Dia keluar untuk yang kedua kalinya dan aku pun dengan mata terpejam berusaha menghancurkan lubang vaginanya dengan sperma yang akan keluar menyembur ke vaginanya.
    “Aaahh.. aahh..” desahku mengimbangi semburan spermaku.
    “Crroott.. ccrroott.. ccrroott.. sseerr.. serr..” banyak sekali sperma yang keluar menyembur di daerah perut dia.
    Tiba-tiba Mahony memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil di kocok.
    “Aahh..” membuatku melayang, ditelannya sperma yang keluar dari batang kemaluannku, dijilati sampai terasa linu batang kejantananku.
    “Eemm.. srruupp.. srrupp.. ahh.. sshh.. shh..” desisnya.
    Aku bersandar pada dinding kamar mandi dengan nafas tidak baraturan seakan mau pacah rongga dada ***** Turut pula dia bersandar di perutku sambil terus menjilati kemaluanku.
    Dikecupnya bibirku sambil berucap, “Thanks..!”
    Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata oleh karena nafasku yang memburu.

    Beberapa saat kemudian, aku mandi dengannya di shower sambil bercanda dan tertawa, dan malam harinya, babak kedua terus berlanjut karena dia menyusul ke kamar tidurku. Hingga larut, kami masih bercengkrama dengan nafsu kami sampai tertidur dengan tanpa memakai selembar benang pun. Cerita Maya

    Pagi yang indah menyambutku dengan sebuah kecupan hangat di kening. Sambil beranjak dari tempat tidurku, dia menenteng celana dalamnya yang belum terpakai semalam. Siang itu, aku pulang ke Bandung, dengan diantarkannya sampai terminal Semarang. Kami berpisah dengan lambaian tangan dan sebuah kecupan panjang bibir di dalam mobil. Sebelumnya, dia memberikan alamat e-mailnya dan berharap aku tidak melupakan kenangan yang kami lakukan berdua.
    Beberapa hari kemudian, aku membuka e-mailku. Sebuah e-mail manis dari Mahoney disertai dengan kartu ucapan selamat pagi yang indah, membuat hatiku bersorak gembira. Isi tulisan terakhirnya, “Kapan Kamu maen ke Semarang lagi..?”
    “Ha.. ha.. ha..” dalam hati aku tertawa, apakah ini nyata..?

    Yang pasti, kutelepon dia malam harinya dan dia mengharapkan aku untuk main dan bermalam lagi di rumahnya, di Semarang.

    Cersex,Cerita Panas Dewasa,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Mesum,Cerita Hot,Cerita Sex Bergambar,Cerita Sex Panas,Cerita Bokep Seks,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Kisah Seks,Cerita Panas,Cerita Mesum

  • Pemerkosaan Merriana, Sang Ketua OSIS Cantik

    Pemerkosaan Merriana, Sang Ketua OSIS Cantik


    126 views

    Ceritamaya | Suatu pagi di sebuah Sekolah Negeri ternama terlihat sibuk aktivitas di sekolah. Semua murid baru saja berdatangan untuk menimba ilmu disekolah mereka, tak terkecuali dia. Ia adalah Meriana sang ketua OSIS sekaligus siswa berpengaruh sepanjang sejarah sekolah SMA Negeri  3 ******. Bagaimana tidak semenjak  ia menjadi ketua OSIS banyak sekali event – event besar yang diadakan di sekolah. Mulai dari konser musik dengan artis papan atas hingga menjadikan sekolah sebagai tuan rumah pada suatu kompetisi bagi sekolah elit lainnya di kota. Selain itu fasilitas kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya juga diperbaiki semua karena hasil jerih payahnya. Namun itulah yang terlihat dari depannya saja, kisah gelap di balik itu semua ada di dalam cerita ini.

    Merriana setelah turun dari mobilnya tidak langsung menuju ke kelas tetapi langsung ke ruang kerja OSIS dimana sudah ada sekitar 20 anggota yang menjadi tim suksesnya. Jangan bayangkan bahwa ruangannya hanya ukuran 4 X 4. Ruangan OSIS Merriana sungguh luas dan didalamnya sudah ada beberapa fasilitas seperti meja bundar seperti dalam konfrensi serta proyektor yang siap digunakan untuk membahas kegiatan – kegiatan yang dilakukan, bahkan tak ketinggalan AC di dalamnya.

    Pagi itu mereka langsung membahas mengenai kegiatan acara yang akan diadakan bulan ini dan bulan –bulan berikutnya. Merriana benar – benar seorang Dewi yang turun dari khayangan dan telah memberkati sekolah itu menjadi sekolah yang terpandang. Selain itu kecantikannya sangat luar biasa sangatsuituntuk menggambarkannya dengan kata – kata, namun bisa dijelaskan secara sederhana. Wajahnya sangat cantik dan imut. Rambutnya panjang terurai dan hitam lurus terawat. Bodynya begitu indah seperti sudah diciptakan oleh Tuhan dengan proporsional. Payudara yang montok namun diimbangi dengan pinggulnya yang juga semok sehingga bila diliha dari belakang tubuhnya seperti biola yang sangat indah dipandang. Apalagi seragam sekolahnya sangatlah ketat sehingga payudarnya terlihat menonjol serta rokabu – abunya yang pendek kira – kira 20cm diatas lutut dan juga ketat sehingga pinggulnya terlihat semok.  Tak ketinggalan kaos kaki panjang yang menutupi betisnya dan sepatu kets. Maka jangan pernah berhayal untuk menjadi pacarnya karena semua tidak ada berhasil menembaknya, bahkan pdkt dengannya sangatlah mustahil. Bagaimana tidak, baginya anak – anak disekolahnya itu hanyalah anak biasa yang tidak memiliki daya tarik baginya. Setiap ada yang mau mengajaknya berkenalan selalu tidak dihiraukannya. Tetapi Merriana lebih tertarik dengan pria yang lebih tua dari dirinya. Hingga suatu saat ada seorang anak yang sangat cupu bernama Brian. Ia ingin sekali bisa berdekatan dengan Merriana. Brian adalah lelaki yang cupu dari kacamata tebal yang ia gunakan, rambut yang terlalu rapi dan bajunya yang dimasukkan ke celana. Ia mencoba beberapa cara PDKT mulai dari via pesan singkat, chatting, social media namun tak satupun yang dibaca oleh Merriana. Ia juga berusaha untuk menelpon Marriana. Ceritamaya

    “hallo, ini Merriana ya”  sapa Brian lewat telepon
    “iya, dengan siapa yah” Jawab Merriana dengan suara yang lembut seolah nyanyian dari surga
    “mmmm…. Gue Brian….” Brian mejawab dengan terbata – bata karena gugup
    “hah, Brian siapa ya? Gue gak punya temen yang namanya Brian” Ujar Merriana dengan nada yang ketus kali ini
    “mmmm… jadi gue pengen kenal….” Kata Brian lagi dengan gugup
    Belum sempat meneruskan perkataannya Merriana menjawab “ Sorry ya, gue gak ada waktu buat kenalan sama cowok gak jelas”
    “tut…tut…tut..” suara telepon terputus
    Hati Brian hancur karena baru awalnya saja sudah sulit seperti ini,tetapi ia masih tidak menyerah dia akan melanjutkkannya besok lagi.
    Keesokan paginya Brian menunggu sesorang di sebuah parkiran mobil. Ternyata ia menunggu Merriana di parkiran eksklusif khusus untuk Merriana. Langsung saja ada sebuah mobil sedan sport menuju ke arah parkiran tersebut dengan kencangnya. Saat Merriana keluar dari mobil langsung saja Brian menghampirinya.
    “Merr, gue Brian yang tadi malam telpon kamu” Kata Brian agak gugup
    “mmm, ada apa Brian”Merriana mulai menanggapinya dengan posisi bersandar di mobil sambil menyilangkan tangannya ke dada.
    “gue pengen kasih ini ke kamu” Brian memberikan sepucuk bunga untuknya
    “wow, terima kasih Brian” Merriana pura –pura menerima bunga itu dan menciumnya
    “iya sama – sama” Kata Brian lagi dengan terbata – bata
    “oke gue mau ke kelas dulu” Kata Merriana sembarilengsung meninggalkan tempat itu
    “Yesss”  Brian sangat senang sekali akhirnya bunga itu diterima oleh Merriana

    Brian tidak tahu bahwa sebenarnya Merriana sama sekali tidak tertarik dengannya. Bunga yang ia terima dari Brian langsung ia lempar ke tempat sampah tanpamemikirkan perasaan yang tulus yang diberikan oleh anak yang memang tidak ganteng itu. Tetapi disisi lain Brian sangat senang dan mengeatakan kesemua temannya satu kelas.temannya hanya tersenyum sedikt untuk menghiburnya karena mereka sudah tahu bahwa bunga itu pasti dibuang. Tidak dengan sahabatnya Sandy yang menangapinya dengan serius dan merasa sangat senang. Sandylah yang selama ini memberikan semangat kepada sahabatnya itu untuk mendekati Merriana.
    “Sob, berhasil, semuanya karena elo Sob” Ujar Brian sambil memuji sahabatnya itu
    “oh ya, gitu dong itu baru temen gue, terusin Bro jangan nyerah” kata Sandy yang masih memberi semangat kepada sahabatnya itu.
    “eh ada apaan nih” Gery datang salah satu sahabat mereka
    “gini Ger, gue abis kasih bunga ke Merry, dan doi terima bunga gue” ujar Brian dengan wajah yang berbunga – bunga
    “hah,serius lo,selamat deh buat lo” Gery pun sahabat akrabnya juga memberikan selamat padanya
    Ketiga sahabat itu sangat bahagia dengan hal itu dan merayakannya bersama.Sepulang sekolah Sandy lewat di depan kelas Merriana dan mau membuang sampah. Dia kaget ada bunga mawar merah di dalamnya. Lalu ia langsung menghampiri sahabatnya Gery.
    “Sob, sini gue kasih tahu” ujar Sandy
    “apaan?” Tanya Gery
    “nih lihat” Sandymenunjukkan bunga itu
    “loh tuh bunga kan….” Gery
    “stttt…kita kagak usah kasih tau Brian” kata Sandy
    “mmm, oke gue ngerti” jawab Gery
    “Oi, Sob kalian ngapain, ayok pulang” tiba – tiba Brian datang
    “wah elo udah ditungguin juga” Gery menjawab
    Sandylangsung memasukkan bunga itu ke tasnya agar tidak melukai hati sahabatnya itu.“ayo deh kita cabut” Sandymengajak
    “oke” jawab mereka serentak

    Saat mereka pulang dan Brian sudah tidak ada,Sandy dan Gery mulai membicarakan masalah ini.
    “dasar tuh cewek, gue gak terimas sahabat gue dilecehin” ujar Sandysambil menatap bunga itu dengan penuh kekecewaan
    “hmmm, ya mau gimana lagi sob, Merry emang orangnya kayak gitu, tapi gue bener – bener gak habis pikir” Gery juga mengungkapkan kekesalannya“ya udah, yang penting besok kita nasehatin aja sahabat kita itu” Kata Sandy dengan mencoba bersabar
    “Yoi Sob” Gery mengiyakan
    Keesokan harinya Brian ingin menemui Meriana di ruang OSIS. Saat ia di dekat ruangan ia mendengar percakapan antara Merriana dengan teman – temannya.
    “eh, Mer denger – denger lo dapet bunga dari anak cupu siapa tuh namanya”  kata teman Merriana
    “oh, kalo iya emang kenapa?” Merriana menjawab seolah tidak peduli
    “ya gak papa sih, tapi kayaknya tuh cowok seneng banget waktu bunganya lo terima” kata teman Merriana
    “bodo, emang gue pikirin” Merriana menjawabnya dengan enteng
    “hahaha, elo emang suka bikin sensasi Mer, gue kira lo mau sama tuh cowok” kata temannya seolah meledek Merriana
    “cih najis gue, masak gue mau sama cowok yang tampangnya kayak cecurut gitu” kata Merriana menjelek  – jelekkan Brian
    Sontak suasana menjadi penuh tawa dari teman – teman Merriana. Brian yang mendengar itu langsung pergi meninggalkan tempat itu karena tidak mau ia terlalu banyak menerima sakit hati. Begitulah sosok asli Merriana di balik kegemilanganya dalam memimpin Organisasi Intra Sekolah. Tetapi Tuhan maha tahu dan akan segera membalaskan tindakannya. Suatu saat  OSIS akan mengadakan event yang spektakuler sehingga membutuhkan dana yang cukup besar untuk itu. Semua anggota OSIS sangat kebingungan ternyata budget untuk mengadakan event tersebut sangatlah besar, tetapi Merriana dengan mudahnya berkata
    “cuman duit segitu doang, ntar kita pasti dapet” ujarnya menenangkan anak buahnya
    “serius lo Mer, ini bisa sampe seratus juta lo” kata mereka
    “udah sini proposalnya  ntar gue ajuin ke kepala sekolah” kata Merriana
    “oke Mer, kalo elo pasti bisa di andalin”  kata mereka memberikan semangat

    Sebenarnya ada sesuatu di balik itu semua,hal ini akan diceritakan pada awal –awal Merriana menjadi ketua OSIS. Saat itu Ia mengadakan kegiatan di sekolah, dan mengajukan proposal angaran kepada Pak Sasongko selaku Kepala Sekolah.
    “permisi, Pak” sapa Merriana diluar pintu
    “iya, silahkan masuk, ada yang bisa bapak bantu?” ujar Pak Sasongko
    “jadi begini, kami dari OSIS akan mengadakan kegiatan sebagai berikut” ujar Merriana sembari mengajukan proposal
    “hmmm, coba bapak lihat proposalnya dulu”
    “iya,ini Pak” Katanya sambil menyerahkan proposal itu
    Setelah beberapa kali Pak Sasongko membuka buka halaman ia sampai pada anggaran,lalu beliau menutupnya kembali.
    “wah, maaf nak, angaran di Proposal kamu terlalu besar jadi kami tidak bisa memenuhinya” Pak Sasongko menolak
    “menurut kami anggaran seperti itu tentunya Sekolah yang elit inii bisa memenuhinya Pak” Ujar Merriana berusaha
    Setelah mereka saling berunding akhirnya Pak Sasongko mengatakan, baiklah kalau begitu nanti sepulang sekolah datang ke rumah bapak, nanti akan saya pertimbangkan lagi.
    “hah, sunguh, baikPak nanti saya akan kesana” Meriiana sangat senangmendengar sambutan itu
    “iya, tapi kamu harus datang sendirian ya” Kata Pak Sasongko
    “mmm, Baik Pak, terima kasih” Ujara Merryana yang masih sempat bingung
    Sepulang sekolah Merryana langsung menuju rumah Pak Sasongko untuk mendapatkan perstujuan anggaran proposal itu.

    sasongko

    Pak Sasongko

    “oh kamu Merry, silahkan masuk” Pak Sasongko membukakan pintu
    Merriana langsung masuk dan melihat rumah Pak Sasongko yang ternyata tidak ada penghuninya sama sekali. Dan di rumah itu hanya ada mereka berdua saja. Merriana langsung duduk di sofa, tetapi dia tidak menutupi pahanya sehingga menjadi pemandangan bagus buat Pak Sasongko yang sudah lama menginginkan hal itu. Pak Sasongko sudah lama menduda karena bercerai dengan istrinya dan anak – anaknya pun dibawa oleh istrinya juga.
    “jadi bagaimana anggarannya Pak” Merryana membuka pembicaraan
    “jadi begini Merry, bapak akan menerima proposal kamu, asalkan” kata Pak Sasongko sambil memandangi tubuh indah Merriana
    “asalkan apa Pak?” Merriana bertanya dengan bingung
    “asalkan kamu mau melayani bapak” kata pak Sasongko sambil langsung merangkul tubuh Merriana
    “tidak Pak, tolong lepaskan saya” Merriana berusaha melepaskan rangkulan tangan Pak Sasongko
    “ayo dong Merriana, bapak pasti akan berikan dana berapapun buat kamu asal kamu mau” ujar Pak Sasongko merayu Merriana
    “mmm,tapi Pak saya mohon jangan…..mmmmmhhh” Merriana mencoba bernegosisasi dalam posisi seperti itu namun terlambat bibirnya sudah dicium oleh Pak Sasongko.
    “sudahlah Merry, bapak hanya minta hal ini saja, kamu pasti tidak mau kan acara ini berakhir” ujar Pak Sasongko merayunya lagi
    Merriana akhirnya mau melakukan hubungan seks dengan pria paruh baya itu. Apalagi ternyata Merriana tampak menikmatinya karena penis Pak Sasongko sangat besar dan membuatnya ketagihan.
    “ah ah ah ah” Meriana mendesah seolah menikmati persetubuhan itu
    “bagaimana, Merry, akhirnya kamu menikmati juga kan” ujar Pak Sasongko menghibur Merriana
    Merriana hanya mengangguk saja karena ternyata ia sangat menyukai hubungan seks dengan pria yang lebih tua darinya.
    Itulah awal cerita mengapa kegiatannya selalu berhasil, karena ia selalu bisa melayani nafsu Kepala Sekolahnya,sehingga anggaran biaya berapapun selalu disetujui oleh sekolah.Kini ia harus menepati janjinya pada teman – temannya untuk memenuhi anggaran yang ada di proposalnya. Seperti biasa ia langsung menuju ke ruang Kepala Sekolah. Pak Sasongko langsungmempersilahkannya masuk.
    Hari itu adalah hari sabtu, sehingga seragam sekolah Merriana berbeda dari hari biasanya. Ia mengenakan kemeja putih dan rok putih bermotif kotak – kotak yang sangat pendek hingga 20 cm di atas lutut dan dasi panjang dengan motifsama. Pada hari itu ia tak menguraikan rambutnya, tetapi mengikat rambutnya ke  belakang sehingga memudahkan rencananya untuk memperoleh anggaran.
    “Baik Merriana kamu pasti tahu kan apa yang harus kamu lakukan” kata Pak Sasongko
    “hehe, iya donk Pak” Merriana mengiyakannya
    Langsung saja ia membuka kancing bajunya dan melepaskan rok putih kotak –kotaknya. Melihat hal itu Pak Sasongko langsung mendekapnya dan memelintir  payudara siswi kesayangannya itu.
    “mmmhhh aaaaaaahh” Meryana merasakan pijahan dan piliran di payudaranya.
    Setelah beberapa lama Merryana disuruh untuk menghisap penis Pak Sasongko. Merriana yang sudah terbiasa, menghisap penis orang tua itu dengan sangat lahapnya.
    “sluuup,, mmh  sluuup“ Meriana erus menggerak gerakkan kepalana
    “aaaahhhh, hisapan kamu semakin bagus saja Merriana” puji Pak Sasongko
    Setelah dihisap kini gantian Pak Sasongko membuat Merriana berorgasme. Ia menyuruh siswinya itu duduk di sofa yang ada di kantornya itu. Sambil terus mengobok – obok vagina Merriana.
    “aaaah aaaah ya Bapak aaaaahh” Merriana sangat menikmatinya dan sambil menyandarkan tubuhnya di sofa sambil merem – merem seolah tak terbayangkan kenikmatannyaSetelah selesai mengeluarkan cairan orgasme, Ia disuruh menungging dan berpegangan diatas meja.
    Langsung saja penis pak Sasongko menghujam vagina yang sudah siap itu. Vagiana Merriana, seolah sudah sangat hot dan sudah banyak mengeluarkan cairan orgasme sehingga saat disetubuhi kepala sekolahnya sampai mengelurkan suara. Hampir setengah jam, dan bel istirahat pun telah terlewat, akhirnya Pak Sasongkko juga sudah mencapai batas langsung mengeluarkan spermanya ke dalam vagina Merriana.ia pun sudah tidak takut kalau hamil karena ia sudah tahu celah yang tepat waktu kesuburannya serta ia juga mempunyai obat yang bisa menghentikan pertumbuhan embrio. Setelah itu akhirnya ia masih ngos –ngosan tapi dari ekspresi wajahnya ia amatlah senang sekali. Lalu Pak Sasongko tanpa pikir panjang langsung menandatangani proposal itu.  Setelah itu ia keluar ruangan dan memberitahukan kepada teman – temannya bahwa acara yang diselenggarakan pasti akan sukses.

    Merriana dan Pak Sasongko sepertinya tidak mengetahui bahwa dari tadi mereka telah diintip oleh siswa lainya yang kebetulan lewat. Mereka mendengar suara aneh, langsung saja mereka curiga. Semua ruangan sudah ditutup akhirnya mereka mencari cara, dan hasilnya adalah ventilasi masih terbuka. Mereka akhirnya bisa melihat aksi skandal itu, seolah sedang menonton video porno secara live. Tak ketinggalan mereka merekam kejadian tersebut dengan ponsel mereka. Anak – anak yang memergoki hal itu adalah Sandy, Gery dan Brian. Setelah berhasil merekam skandal itu mereka berunding, kali ini mereka mengajak teman – teman yang lainnya yang hatinya pernah tersakiti oleh Merriana, dan akhirnya sepakat untuk memberikan serangan belasan kepada gadis yang sombong itu. Sepulang sekolah salah satu anak menuju ruang OSIS, anak itu adalah Sandy. Di ruangan itu sudah ada Merriana yang sedang mengetik sesuatu di notebooknya dan untungnya ia sedang sendirian.
    “permisi, gue boleh masuk gak” Sandymenyapamereka
    “eh, siapa lo, emang ada apaan” kata Merriana
    “gue mau ngomong bentar sama lo Mer ” ujar Sandydengan mata yang tajam karena yakin ia berani melawan
    “emang lo mau ngomongin apaan” Merriana menanggapinya dengan nada yang sedikit cuek
    “gue mau ngomong soal, antara Lo  sama Kepsek” ujar Sandymasih berbasa – basi
    “gue gak ngerti apa yangelo omongin” Merriana masih mencoba pura – pura
    “oh jadi gitu, gimana kalo gue buktiin aja sendiri” kata Sandy sambil menunjukkan video di handphonenya
    “hah, tidaaaak, gak mungkin, elo!!!” Merriana sangat terkejut melihat vidio itu.
    “hmm gimana, lo pasti suka kan kalo semua orang tau, ternyata elo bisa dapet anggaran proposal dari hasil jadi pecun doang,, hahahaha” Sandy meledeknya
    “brengsek lo, pliss jangan sebarin tuh vidio” Merriana mulai merengak
    “udah gini aja, kamu selesaikan tugas kamu dulu, setelah itu gue tunggu elo diruang kelas gue, di XI IPS 1” ujarnya memberikan penawaran
    “emang mau ngapain..udah lo ntar bakal tau sendiri” Sandy membuat penasaran
    “udah ya gue cabut” Sandy meninggalkan ruangan
    Setelah selesai dengan tugas nya Merry langsung bergegas meninggalkan ruangan dan memakai tasnya sehinga nanti ia bisa langsung pulang. Ia langsung menuju ke kelas yang dimaksud Sandy. Ruang kelas itu terlihat sudah tutup tapi ia langsung membukanya. Sunguh sangat kaget ternyata di kelas itu sudah banyak anak yang datang. Bahkan salah satu di antara mereka telah memutar video di notebook mereka.

    Baca Juga : Demi Tugas 5 (Final)

    “weits, selamat datang Merry sang ketua OSIS kita” sambut mereka dengan tertawa jahat
    “kalian, apa yang kalian lakukan” Merriana kaget dengan tindakan mereka
    “lo kagak usah takut, mereka sudah tau semua kok kebusukan elo” ujar Sandy
    “gue kagak terima, cepat serahin vidio itu atau…” Merriana mencoba menyerang mereka
    “ atau apa,emang apa yang bisa lo lakuin, gue bakal sebarin tuh vidio ke semua anak” Gerry mengancam balik
    “mmm, pliss jangan lakui itu, gue mau bayar berapapun ke kalian” ia mulai memelas
    “hahahahahah”semua anak di ruangan itu mulai tertawa
    Merriana hanya terdiam mendengartertawaan itu. Tiba –tiba ada seorang anak langsung mendekap tubuhnya dan memeras –meras payudara Merriana.
    “aaaaaahhhh, lepasin gue” Merriana berteriak
    “Merry, saat ini kita kagak butuh duit lo, kita cuman mau body lo aja” ujar anak yang memegang tubuh Merriana dan masih meremas – remas payudaranya.
    “aaaaaah, elo kan?” Merriana kenal dengan anak itu
    “iya gue,Ricky yang pernah elo tolak, padahal waktu PDKT udah nurutin semua kemauan lo” ujar Ricky mengingatkan masa lalunya.
    Merriana hanya terdiam dan merasa menyesal atas perbuatannya.
    “Merry, semua cowok disini adalah anak –anak yang udah lo mainin perasaannya, termasuk Brian sahabat gue ” kata Sandy
    “enggak, gue gak punya maksud…….aaaaahhh” Merriana mencoba mengelak tetapi kini Ricky malah memelintir puting susunya.
    “udah diem lo dasar perek” Ricky mengumpat

    sma

    “ lo inget, gue juga pernah lo mainin” ujar salah satu anak
    “enggaak plisss, gue minta maaf” ia mulai memelas
    “udah terlambat pecun” ujar anak itu sambil langsung meraih biir Merriana dan mencumbunya
    “mmmmmmmmmhhhhhh” suara Merriana saat dicumbu
    “gue pengen tau memek lo udah basah ato belum” ujaranak itu sambil memasukkan tanganya ke dalam rok Merriana
    “enggaaaaak lepasin gue, dasar brengsek kalian, gue bakal aduin lo pada ke Pak Sasongko” Merriana mulai kesal
    “hahahahah” mereka kembali tertawa kali ini lebih terkekeh –kekeh
    “Merry… Merrry, jadi lo mau minta tolong sama Pak Kepsek ya, lihat orangnya ada di belakang” ujar Gery sambil menunjuk kebelakang
    Merriana terkejut karena ternyata satu – satunya orang yang bisa menolongnya juga ada di sana.
    “bapak, tolong Merry Pak” Merriana memohon
    “mmm maaf Merry, jika video itu sampai tersebar, maka saya bisa dipecat, Bapak tidak bisa membantu kamu” ujar Pak Sasongko yang juga ketakutan
    “udah lo udah kagak punya pilihan, sekarang lo harus nurutin apa kata kita, kalo nggak abis riwayat lo” ancam Ricky yang masih meremas remas ayu dara Merriana

    Setelah terdiam cukup lama akhirnya Merriana mengiyakan.
    “oke, gue ngerti lepasin gue” Merriana menghiyakan dan melepaskan diri dari dekapan Ricky
    “awas lo, kalo coba –coba lari” kata Gery mengancam
    “gue gak bakal lari, sekarang apa mau kalian” Tanya Merriana
    “tenang kita kagak bakal apa-apain lo kok, kita cuman mau, lo cium semua cowok disini termasuk pak Sasongko” kata Sandy memberikan perintah
    sejenak Merriana memandang semua anak dan ternyata ada sembilan orang dan salah satunya adalah Pak Sasongko
    “ iya terserah apa elo, asal jangan sebarin tuh vidio” Ia mulai memelas dan diam berdiri menunggu untuk di cumbu
    “hahahahahah”  mereka tertawa lagi
    “Merriana yang cantik, bukan kita yang akan cium elo, tapi elo yang harus samperin kita satu persatu” ujar Sandy sambil tersenyum licik
    Merriana benar –benar terkejut karena ia harus mengantarkan bibir indahnya untuk diciumi laki – laki cabul. Iya pun menyanggupinya dan menuju ke salah satu anak yaitu Ricky dulu.
    “ayo sini manis” Ricky menggodanya.
    Merriana yang sedikit takut mulai mengarahkan bibirnya kearah Rciky dan percumbuan pun terjadi
    “mmmmmmhhhhh” suara cumbuan Merriana
    “haahh, bagus sekarang ke yang lain” Suruh Ricky
    Merriana langsung menuju keanak yang lain yang juga anak yang pernah dia mainkan perasaannya.sekali lagi ia mencumbunya.
    “gimana enak mana, ciuman gue ato Ricky” tanya anak itu
    Merriana tidak menjawabnya karena pertanyaan itu relatif“ayo cepet jawab” paksa anak itu
    “ciuman elo” ia menjawab lirih
    “apaaa, masak ciuman gue kurang sih” Ricky memprotes dan langsung meraih bibir Merrian lagi
    “mmmmmmmmmhhhhh” teriaknya saat dicumbu kali ini lebih lama cumbuannya
    “hah… sekarang enak mana?” tanya Ricky
    “plissss, jangan mainin gue” kini Merrianamulai menangis karena dipermainkan oleh anak – anak itu
    “haha, terusin ciumannya” suruh Ricky

    Kini Merriana menuju anak yang ketiga, tetapi anak itu tidak langsung mencumbunya.
    “Sebentar, gue mau elo memohon dulu ke gue” suruh anak itu
    “tapi…..” Merriana mencoba mengelak
    “gak ada tapi – tapian cepet bilang, pliss gue minta ciuman lo, cepeet!” paksa anak itu
    Merriana mengangguk dan mengatakan “ Pliss gue minta ciuman lo” pinta Merriana terpaksa
    “ Ohhh so sweet, iya sayang”  ujar anak itu sembari menyambar bibir Merriana
    “hah, sekarang jawab,enak mana ciuman gue atau dua anak tadi?” tanya anak itu
    “semuanya enak” jawab Merriana agar tidak dipermainkan lagi
    “hah, masak sama aja sih, ayo rasain lagi” anak itu mencumbunya kembali
    “mmmmmmmmmmhhhhhhh” kembali Merriana berteriak dalam cumbuannya
    “ gimana, sekarang”tanya anak itu lagi
    Merriana terdiam dan menutupi bibirnya dengan tangannya, sepertinya bibirnya sempet tergigit karena ciuman tadi begitu kasar.
    “cepet jawab!” bentak anak itu
    “iya…. ciuman lo paling enak” Merriana menjawab dengan air mata menetes di pipinya karena ia merasa dipermainkan
    “hahaha, denger ciuman gue paling enak ternyata sob” Ujar anak itu memancing temannya“aaaaah masa’ sih gimana kalo gue cium lagi” kata anak yang sebelumnya
    “wahh gue kagak terima, masak ciuman gue kalah enak” Ricky ikut – iktuan
    “sudaaaaaaaaahh hentikan,, ahahahah” Merriana menagis tersedu – sedu karena dari tadi dijadikan bulan –bulanan
    “sudah –sudah lanjutin ke anak lainnya” ujar anak yang ketiga menghibur Merriana
    Ciuman terus berlanjut bahkan Pak Sasongkopun kebaian dan yang terakhir adalah Brian. Saat itulah Sandy menghentikannya.
    “eiitsss, karna elo udah nyakitin perasaan dia karna bunganya udah lo buang, sekarang lo harus memohon ciuman dengan memberinya bunga” ujar Sandy mempermainkannya
    “tapi… mana bunganya” Merriana bertanya
    “lu petik di taman depan kelas” suruh Sandy
    Akhirnya Mrriana mengambil setangkai bunga untuk diberikan pada Brian
    “sekarang lo harus memohon sambil berlutut dan gak usah ngelawan ato lo mau dimainin lagi” ancam Sandy
    Karena takut akhirnya berlutut dan menyodorkan bunga pada Brian dan memohon ciuman.
    “Brian, plissss gue minta ciuman lo” Merriana memohon pada Brian si anak cupu dan itu benar – benar suatu penghinaan baginya
    “Sebentar sebentar gue mau foto dulu, ini  bakal jadi momen terindah sepanjang sejarah, sang ketua OSIS memohon ciuman pada anak cupu” ujar Gery sambil mengambil ponsel dengan kamera resolusi tingginya
    “hahahahahahah” semua anak tertawa melihat adegan itu dan merasa dendam mereka terbalaskan

    Merriana hanya bisa tertunduk malu atas apa yang terjadi pada dirinya. Brian langsung menerima bunga itu dan mengangkat Merriana berdiri dan langsung mencumbbunya. Teman – temannya langsung memotret momen yang indah bagi mereka dan memalukan bagi Merriana itu.
    “sudah, sekarang kalian puas” Merriana kesal
    Mereka tertawa setelah mengerjai Merriana habis – habisan.
    “Sekarang gue mau pulang” Merriana bersiap untukpulang
    “eiits, lo masih punya tanggungan, lo harus layanin kita dulu” ujar Ricky
    “enggaaak, jangaaaaaaaan” Meriana berteriak karena tangganya sudah dikunci oleh seorang anak
    Akhirnya semua akan melucuti pakian Merriana satu persatu mulai dari membuka kancing kemeja puthnya tanpa melepas dasinya, menarik branya hingga putus, melepaskan rok putih motif kotak –kotaknya. Dan merobek celana dalamnya. Sehinga kini Merriana bugil dengan kemaja putih yang terbuka tapi masih ada dasi yang diselempangkan ke belakangnya dan kaos kaki putih panjang yang menutupi betisnya dan spatu kets waran hitam putih. Satu persatu anak menghisap putting susu Merriana dan satunya meng obok –obok vaginanya.
    “aaaaaaaaah aaaaaaaaaaaaah aaaaaaah” Merriana berteriak area sensitifnya diserang oleh mereka bahkan ada yang menggigit putting susunya.
    “Aaaaaaaah aaaaaaaaah” teriakan dan tangisannya menderu di penjuru kelas
    Tak ada satu pun yang tahu kejadian ini, penjaga sekolah pun sudah pulang karena ini hari sabtu. Setelah selesai membuat Merriana orgasme maka anak yang dari tadi mengunci tangan Merriana langsung menundukkan badan Meriana ke meja dan menindihnya. Kini ia bersiap untuk memperkosa ketua OSIS yang telah menjadi idola tersebut.
    “aaaaaaahhhhhhhhhhhh, hentikaaaaaaaaaann” teriak Merriana karena penis anak itu telah menghujam vaginanya
    Anak itu terus memompa penisnya ke dalam vagina Merriana.
    “ah ah ah aha” tampaknya Merriana mulai menikmati hal itu
    “lo bener – bener pecun, lo seneng kan dikimpoin” kata anak itu
    Merriana diam saja dan masih mendesah merasakan hujaman dari penis anak yang tak ia kenal itu.
    “Merry, enak mana kimpoi sama gue atau sama Pak Sasongko?” tanya anak itu sambil terus memompa penisnya
    “mmmm aaaaaah aaaah aaaaah” Merriana tidak menjawabnya dan masih menikmati persengamaannya
    “jawab perek” paksa anak itu sambil menjambak rambutnya
    “aaaaaaaaaaaah, masih enak Pak Sasongko” jawabnya terpaksa dan tidak enak bila dia tidak menghormati  Kepala Sekolahnya
    “oh jadi gitu kalau begitu cobain nih” Anak itu malah mempercepat gesekannya agar membuat vagina Merriana kepasanasan
    “aaaaaaaaaaah aaaaaaaaaaah hentikaaaaaaaaaan aaaaaaaaaah plisssssss pelan –pelaaaaaaaaaan aaaaaaaaaaaaaah” Merriana berteriak karena vaginanya terasa seperti terbakar
    “aaaaaaaah aaaaaaaaaaah aaaaaaah iya punya lo, aaaaaaaaah punya lo juga aaaaaaaaaaaaa” Merriana mengiyakan sambil kesakitan tapi tangannya dipegangi oleh anak itu
    “jawab yang bener, yang paling enak punya siapa!”sentak anak itu lagi
    “iyaaaaaa punya elo yang paling enaaaaaaaaaak,, aaaaaaaaaaaaaah” Merriana menangis lagi dengan keras
    “bagus, penis gue memang hot, hahahaha” kata anak itu dengan tertawa

    Merriana hanya bisa melihat Pak Sasongko dan merasa tidak enak dengan beliau.
    “sekarang rasain ini” anak itu bersiap mengeluarkan spermanya
    “aaaaaaaaaah jangaaaaaaaan , jangaaaaaaaaaan di dalaaaaaaaam” Merrian berontak“crooooooooot” terlambat sperma sudah masuk di dalam vaginanya
    “aha aha ahaha” Meriana menangis karena rahimnya sudah terkena sperma milikorang yang tak ia kenal
    “eh sob ada yang bawa tisu gak?” tanya anak itu
    “kagak ada, pakai ini aja” kata salah satu anak sambil melemparkan rok putih motif kotak – kotak
    “jangaaaaaaaan, jangan rok gue” Merrian merengak
    “udah, diem aja lo” kata anak itu sambil mengusap sisa – sisa sperma yang ada di penisnya dengan rok Merriana
    “Sekarang giliran gue” ujar salah satu anak yang juga pernah disakiti oleh Merriana
    Masih dalam posisi seperti tadi tapi kini ada sesorang lagi yang juga memasukkan penisnya tapi kini ke mulut Merriana.
    “mmmmh mmmmmmmmmh” suara desahan Merriana hanya terdengar seperti itu saja
    Setelah beberapa lama salah satu di antara mereka mengeluarkan spermanya.yang lebih dulu adalah yang dari vaginanya tapi ia tidak mengeluarkan di dalam dan menyemprotkan di pinggul Merriana.
    “ahhhhh” desah anak itu
    “sini gue bersihin pantat elo” ia mengusap sperma yang ada di pinggulnya dengan rok itu tadi
    “mmmmphhhhh” Merriana hanya bisa berkata seprti itu karena mulutnya masih mengulum penis
    ”croooooooooot” sperma anak yang di depan masuk ke dalam mulutnya dan mencapai tenggorokannya. Mulutnya seperti ada cairan lengket yang menjijikkan sehingga ia mau memuntahkkannya tetapi mulutnya keburu dibungkam.
    “minum tuh gue, minum ato gue tabok lo”paksa anak itu
    Ia hanya bisa pasrah dan meneguk cairan menjijikkan itu ke dalam tenggorokannya.Selanjutnya ia digilirkembali kali ini dalam keadaan telantang di atas meja.
    “aaaah aaaaaah”Merriana hanya bisa mendesah
    “eh pecun enakan mana penis gue ato anak – anak tadi” tanya anak yang sedang menyetubuhinya
    “mmmmmmmmaaaaaahhh enakan punya elo” Merriana menjawab iaya saja karena pasti akan diapa –apakan lagi.
    “haaaah, masak kontol gue masih kurang sih” kata anak yang sebelumnya
    Yang lain pun juga ikut ikutan, akhirnya mereka menunggunya sampai mereka selesai. Setelah selesai ketiga anak itu duduk berjajar di atas meja panjang sekolah. Dan masing – masing mengelurkan penisnya. Ceritamaya
    “sekarang jilat nih kontol, coba rasain mana yang paling enak” suruh mereka
    “aaaaahh gak mungkin gue…….” Tolaknya
    “ah kebanyakan cingcong lo cepat!” mereka membentak lagi
    Akhirnya  ia tepaksa menjilati penis mereka satu persatu.
    “sekarang jawab mana yang paling enak” tanya mereka lagi
    “mmm, gak mungkin gue gak ngerti” Merriana tidak bisa menjawab
    “jawab gitu aja gak bisa, cepet jawab” mereka membentak lagi
    Akhirnya Merriana harus memilih diantara mereka, dengan melirik kearah mereka satu persatu.

    “Punya lo yang paling enak” sambil menunjuk anak yang di samping kiri
    “wah masak sih sini” anak yang ditengah menarik kepala Merriana untuk mengemut penisnya lagi
    “mmmmpppppppppphhhh” suara Merriana memberotak
    Belum selesai yang di samping kanan juga menariknya lagi.
    “mmmmmmmppppp” teriaknya lagi
    “oke sekarang lo pilih mana yang paling enak” tanya mereka lagi
    Karena merasa leleh dipermainkan iyapun menangis lagi kali ini lebih keras.
    “ahahahah, sudah hentikan, ahahahaha” Merriana menagis tersedu –sedu
    Mendengar tangisannya anak yang lain mengangkatnya dan menyetubuhinya lagi di atas bangku. Kali ini dalam posisi dipangku. Akhirnya semua anak telah mendapatkan giliran. Kini Merriana duduk bersandarkan tembok dalam kondisi telanjang dan hanya mengenakan kaos kaki panjangnya dan sepetu kets.
    “eh sob, gue punya cara buat ngeluarin pejuh kalian yang udah masuk tadi” kata salah sau anak
    “gimana? gimana?” anak-anak lain penasaran
    “sini, lo pegangin tangan dan kakinya” suruh anak itu
    Mereka lalu memegangi kedua tangan dan mengangkat selangkangan Merriana agar vaginanya terbuka.
    “nih liyatin cara gue” ujar anak itu sambil mulai melakukan sesuatu
    Ia menyentuh putting susu Merriana dengan jari telunjuknya
    “aaaaahhh” Merriana terangsang
    Lalu anak itu menarik telunjuknya hingga kebawah dan tetap menekannya. Ia menariknya hinga sampai ke vagina Meriiana. Setelah itu kelima jarinya langsing dimasukkan vaginanya yang sudah penuh denan spermas dan mengobok –obok vagina itu.
    “aaaaaaaahhh, aaaaaaaaaaaaaahh, hentikan” rintihnya kehabisan tenaga
    Anak itu terus mengocok dan mempercepat gerakannya hingga beberapa menit kemudian ia melepaskannya. Semua sperma mengalir seperti banjir bandang bahkan keluar juga urin Merriana. Langsung saja mereka menadahi cairan kotor itu dengan kemeja putih milik Merriana bahkan mereka mengusapkannya. Merriana tidak bisa berkutik melihat bajunya dikotori oleh cairan menjijikkan itu. Setelah selesai mereka mengucapkan kata – kata perpisahan.
    “ini bukan akhir dari lo, tapi ini awal dari kehancuran lo” ancam mereka
    Merriana tahu bahwa mereka pasti akan memperbudaknya lagi dan membuatnya harus melakukan apa kemauan mereka.
    “ayo cabut sob” ujar Gery
    Akhirnya mereka meninggalkan Merriana di dalam kelas dalam posisi duduk bersandar di tembok dengan baju kemeja putih yang menutupi vaginanya dan entah roknya sudah menghilang entah kemana.

    Bersambung
    By: Marshal Bluees

  • Seks Pertama Kali

    Seks Pertama Kali


    101 views

    Ceritamaya | Ini adalah pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks, yang uniknya juga dengan pacar pertamaku. Namaku Panji dan pacarku bernama Keke. Kami satu sekolah di Jakarta dan kami resmi menjadi pacar di kelas 3 setelah sekitar setahun sering pulang bareng karena rumah kami searah.

    Keke sendiri adalah seorang gadis yang bertubuh mungil, tingginya mungkin tidak lebih dari 155 cm dan bertubuh kurus, namun memiliki ukuran payudara yang besar, mungkin seukuran dengan payudara Febby Febiola. Sampai-sampai teman-temanku sering berkata kalau nafsu seksnya pun pasti besar. Tapi bukan itu yang jadi penyebab aku mencintainya, sikap manja dan tawanya yang lepas membuatku senang bersama dan bercanda dengannya.

    Hubungan pacaran kami layaknya gaya pacaran remaja era 90-an, tidak lebih dari nonton bioskop atau makan di restoran cepat saji. Tapi memang setelah pulang sekolah aku sering mampir ke rumahnya untuk ngobrol atau mengerjakan tugas bareng. Biasanya ada ibunya dan adik laki-lakinya yang masih smp. Ceritamaya

    Sehari menjelang acara liburan perpisahan sekolah kami, seperti biasa aku mengantarnya pulang dan mampir ke rumahnya. Ternyata hari itu ibunya sedang ke Kota Malang bersama adiknya untuk menjenguk kakaknya yang kuliah dan sedang sakit di sana. Sedangkan bapaknya memang biasa pulang malam. Jadilah kami hanya berdua di rumah tersebut.

    “Mau nonton VCD ga? Aku punya VCD baru ni,” katanya seperti biasa dengan ceria. “Boleh,” sahutku. “Bentar ya, aku mo ganti baju dulu, bau,” katanya sambil beranjak ke kamarnya. Aku pun memasukkan keping VCD ke dalam VCD playernya sambil menunggunya ganti baju.

    Tidak lama dia pun kembali ke ruang tengah dengan celana pendek sekitar 20 cm di atas lutut dan kaos ketat. Kami pun menonton film dengan duduk bersebelahan di sofanya. Film yang kami tonton adalah film Armageddon.
    Kugenggang tangannya dan menariknya menempelkan bahunya dengan bahuku, dia pun merapat dan lenganku pun kini berada di atas payudaranya yang kenyal. Dia sudah terbiasa dengan hal ini, toh biasanya pun seperti itu tiap kali nonton di bioskop atau di perjalanan.

    Semakin lama posisi duduknya makin bergeser dan kini dia tiduran dengan kepalanya berada di atas pahaku. “Cantiknya gadisku ini,” pikirku dalam hati. Tanganku pun kuletakkan di atas perutnya. Ketika adegan ada adegan panas di film, kurasakan nafasnya berubah. Terus terang aku pun merasa terangsang, pelan-pelan kugeser telapak tanganku ke atas payudaranya, tapi dia menolaknya.

    Karena terbawa suasana, kucium keningnya dan dia tersenyum kepadaku. Kulanjutkan dengan mengecup pipi dan bibirnya, lagi-lagi dia tersenyum. Itu adalah ciuman pertama kami. Ciuman yang awalnya hanya menempel kurang dari sedetik, kini sudah menjadi ciuman penuh nafsu. Lidah kami saling bermain dan tanganku pun sudah meremas-remas payudaranya.

    Tiba-tiba dia bangun dan duduk di sebelahku, “udah ya, nanti keterusan lagi”. “Sorry ya, abis kamu gemesin sih. Tau ngga, itu tadi ciuman pertamaku lho,” ujarku polos. “sammma,” jawabnya lagi sambil menampilkan senyumnya yang bikin makin cinta itu. Kami pun meneruskan menonton film dan hanya menonton.

    Setelah film selesai, dia bangkit dari duduknya, “Mau ke mana?” tanyaku. “Mau beresin baju dulu buat besok,” jawabnya. Memang besok kami akan pergi ke luar kota bersama seluruh teman satu sekolah.

    “Mau dibantuin?” tanyaku. “Ayo,” jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya. Aku pun mengikutinya ke kamarnya dan inilah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Kamarnya betul-betul menunjukkan kalau dia masih manja, dengan cat pink dan tumpukan boneka di atas ranjangnya.

    Dia mulai mengeluarkan baju-bajunya. “Yang ini jangan dibawa, terlalu seksi,” kataku ketika dia mengeluarkan bajunya yang memang tipis dan berbelahan dada besar. “Jangan protes doang, nih beresin sekalian,” jawabnya seolah protes dengan memasang wajah ngambek, tapi lagi-lagi tetap terlihat manja.

    Aku pun mengambil alih lemarinya dan kupilih-pilih baju yang kupikir cocok untuk dibawanya. Tiba-tiba muncul ide isengku untuk memilihkan juga pakaian dalamnya. Kuambil satu yang berwarna krim, “ih jangan pegang-pegang yang itu” jerit manjanya sambil berusaha merebut dari tanganku. Aku pun berlari menghindar, “Wah ini toh bungkusnya, gede juga,” candaku.

    Dia pun menarik tanganku dan memelukku untuk merebut bra dari tanganku yang lain. Segera saja kucium lagi bibirnya dan dia pun membalas ciumanku. “emmmh…emhhh,” suaranya mendesah sambil tangannya memegang tanganku.

    Baca Juga : Seks Dengan Adik temanku

    udorong tubuhnya ke ranjang sambil terus berciuman. Kini posisiku ada di atasnya dan menempel di tubuhnya. Terasa betul payudara kenyalnya di dadaku. Kugeser tubuhku ke sampingnya agar dapat meremas payudaranya. “emmmh…emhhhhh…emhhhh,” desahnya makin jelas dan kini tangannya sudah menyentuh penisku dari luar celanaku. “Sudah nafsu banget,” pikirku.

    Perlahan-lahan kumasukkan tanganku ke dalam kaosnya dan meremas payudaranya langsung. Kuangkat ke atas kaosnya sehingga kini terpampang payudaranya yang besar terbungkus bra krim. Segera kuciumi kedua payudaranya dan tidak lama dia pun melepas sendiri bra tersebut. Benar-benar payudara yang besar dan indah, warnanya kecoklatan dengan puting yang lebih gelap.

    Kumainkan kedua putingnya, kujilati bergantian. “emmmh….emhhhh…kamu juga buka dong,” pintanya sambil menahan desah. Segera kubuka baju seragam dan celana sekolahku hingga tinggal celana dalam, kulanjutkan dengan membuka celana pendeknya. “celana dalamnya jangan,” tolaknya ketika aku akan menarik lepas celana dalam coklatnya.

    Kulanjutkan jilatan-jilatanku di puting payudaranya, tangan kiriku memainkan puting yang satu lagi, sedangkan tangan kananku menggesek-gesek vaginanya dari luar celana dalam. “Enak?” tanyaku. Dia hanya mengangguk sambil meremas-remas penisku dari luar celana dalam. Tiba-tiba dia menarik keluar penisku. “dibuka aja ya?” tanyaku sambil kubuka celana dalamku.

    Tangannya makin kuat meremas-remas penisku, sementara tangan kananku mulai memasuki vaginanya dari samping celana dalamnya. Kugesekkan jari telunjukku ke bibir vaginanya yang sudah basah. Pelan-pelan kumasukkan jariku ke dalam vaginanya, kulihat kepalanya mendongak ke atas sambil terus mendesah.

    “Boleh dimasukin ga?” tanyaku sambil menatap wajahnya yang sekarang menjadi begitu seksi. “Pelan-pelan ya,” jawabnya dengan nafas terengah-engah. Mendapat persetujuan, aku pun berdiri di bawah ranjangnya dan di antara kedua kakinya. Kutarik lepas celana dalamnya sehingga kini untuk pertama kalinya aku melihat langsung vagina seorang gadis.

    Vaginanya berwarna coklat dan kedua bibir vaginanya begitu rapat seolah tidak ada lubang di sana. Bulu-bulu kemaluannya yang tipis sudah terkena lendir-lendir yang keluar dari vaginanya ketika kumasukkan jari telunjukku tadi. Kucium vagina tersebut, “iiiihh, apaan sih. Jangan dicium, jijik ah, “ tolaknya sambil kedua telapak tangannya menutup vaginanya.

    “Abis imut sih,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Kulepaskan kedua tangan yang menutupinya dan langsung kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Sesekali kujilat-jilat kedua putingnya. “ehmmm…ehhhhm….” lenguhnya makin tidak jelas. “Ji, masukin ji, masukin….emmmhhhh,” pintanya.

    Segera kudorong penisku memasuki lubang vaginanya, begitu sempit namun karena sudah dipenuhi cairan-cairan, akibat rangsangan tadi, perlahan-lahan penisku kun menembus vaginanya. “Oooooooh…ohhhhhhh,” kali ini aku pun ikut mendesah keenakan.

    Setelah penisku masuk seluruhnya, kurasakan denyutan-denyutan vaginanya menjepit kepala penisku, begitu nikmat. Kutatap wajahnya, mata kami pun berpandangan seolah membuat kesepakatan untuk mulai memompa.

    Kutarik pelan-pelan penisku lalu kumasukkan kembali pelan-pelan. “Ji, enak banget ji. Aduh enak banget….emmmmhh,” teriaknya makin meracau. Semakin lama kocokan penisku semakin kencang. Kedua tanganku pun terus memainkan kedua puting payudaranya, sambil sesekali meremasnya dan menjilatnya.

    Dia pun menarik tubuhku memeluknya. Kini tubuh kami serasa menempel, payudaranya menempel di dadaku yang telah berkeringat. Bibir kami berpagutan dan lidah kami saling membelit. Nikmat sekali. Hanya penisku yang masih bisa bergerak keluar masuk vaginanya. Ceritamaya

    “Ji…..ohhhhh…ohhhh….jiii ,” tiba-tiba tubuhnya menegang kemudia lemas sebentar. “Kamu keluar ya?” tanyaku sambil menghentikan kocokan penisku namun masih terbenam di vaginanya.”Iya, enak banget, enak banget. Kamu belum ya?” jawabnya sambil kepalanya menggeleng-geleng pelan seolah baru merasakan sangat enak.

    Tidak kujawab pertanyaannya tapi kembali kukocok penisku. “Jangan cepet-cepet, masih geli,” pesannya. Karena memang sebetulnya aku pun hampir ejakulasi, tidak lama kemudian aku pun mengeluarkan maniku. “Ohhhhhh…ohhhhh…ke….keee ,” racauku sambil menyemprotkan maniku ke dalam vaginanya.

    Kucabut penisku dan tidur di sebelahnya. “Enak banget, makasih ya ke,” ucapku. Dia Cuma tersenyum dan memelukku dengan kepalanya bersandar di dadaku. Setelah itu kami pun mandi bersama.

    Besoknya di acara liburan perpisahan sekolah, kami menjadi semakin rapat seperti sepasang pengantin baru. Kami pun beberapa kali mengulangi aktivitas seks di rumahnya. Hingga akhirnya kami berpisah jarak karena harus kuliah di kota yang berbeda dan berujung dengan putus karena sulit mempertahankan pacaran jarak jauh.

    TAMAT

  • Ketika BH hitam Bu Denok Terbuka

    Ketika BH hitam Bu Denok Terbuka


    400 views

    Cerita MayaNamaku Indra, dan ini ceritaku saat masih 18 tahun. Saat berangkat keyogya untuk kuliah aku bertemu dengan Bu Denok dan Pak Jerry suaminya. Bu Denok adalah mantan guruku saat SMP dulu. Setelah bercerita panjang lebar mereka menawarkan padaku untuk tinggal ditempat mereka selama aku kuliah. Setelah mendapat ijin orang tuaku, akupun menerima tawaran baik mereka karna aku memang tidak punya kenalan diyogya.

    Setelah sebulan tinggal bersama aku tahu kalau Pak Jerry yang bekerja diluar pulau sering sekali berangkat, sementara kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama neneknya dikalimantan untuk mernyelesaikan pendidikan dasar mereka. Aku sering melihat Bu Denok melamun sepulang dia dari mengajar disekolah. Bu Denok juga sering cerita panjang lebar padaku tentang kesepiannya dirumah selama ini. Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik.

    Dibalik sikap baik yang kuperlihatkan, terpendam hasrat yang ada sejak SMP dan tumbuh lagi sejak pertemuan kembali dengan Bu Denok sekarang. Waktu SMP dulu aku paling bersemangat jika pelajaran Bu Denok, selain cara mengajarnya yang enak aku bisa mengintip BH yang dia gunakan. Antara kancing didada dan kerah lehernya terdapat celah yang sering terbuka, sehingga jika diperhatikan secara teliti, orang pasti bisa melihat pakaian dalam yang ia gunakan. Dan selama penagamatanku Bu Denok selalu memakai BH warna Hitam. Cerita Maya

    Itu selalu menjadi santapanku setiap mata pelajarannya. Bahkan aku selalu memperhatikan gerak-geriknya selama disekolah. Waktu itu usianya 28 tahun, dengan wajahnya yang putih dan bentuk tubuhnya yang menawan membuatku selalu menjadikannya sebagai objek hayalan jika onani. Sekarang diusianya yang ke 34 tdak terlihat kalau Bu Denok telah memiliki 2 orang anak yang sudah SMP. Malah menurutku ia terlihat lebih menawan, terutama pada bagian pinggul dan dada ukuran 38arB yang lekukannya semakin terbentuk. Itu semua karena program BL yang diikutinya tiap senin dan kamis sore.

    Awalnya aku cuma mengkhayalkan tubuh Bu Denok jika sedang bermasturbasi. Kemudian aku melakukannya sambil memegang CD dan BH hitam milik Bu Denok, sampai akhirnya aku berani menguping jika Pak Jerry yang pulang dan sedang bercinta denagn Bu Denok. Sambil mendengar desahan dan erangan erotis dari dalam kamar, tanganku asik mngocok batang kontolku yang lumayan besar. Dan bila sudah keluar kubersihkan dengan CD atau BH Bu Denok yang akan dicuci besok.

    Akhirnya muncul niatku untuk mencicipi lubang vagina Bu Denok yang pasti sangat keset dan terawat. Aku melakukannya setelah 4 bulan tinggal disana, saat itu hari kamis dan suaminya sudah berangkat seminggu. Aku menunggu didalam kamar sambil membayangkan “malam pertama” yang akan kulalui bersama Bu Denok. Saat dia pulang dari BL aku membukakan pintu rumah.
    “Sore Ndra.. baru pulang?” Sapanya ramah dan tersenyum padaku.
    “Iya Bu.. baru aja” Balasku sambil mengangguk.
    Kemudian dia pergi kedapur membuat segelas susu lalu diletakkan datas meja makan. Kemudian ia masuk kamar untuk mandi. Saat dia mandi, kumasukkan serbuk tidur yang kubeli di apotik kedalam susu yang akan diminumnya.

    Sekitar 45 menit kemudian Bu Denok keluar dari kamar, ia menggunakan daster motif bunga warna biru dengan panjang selutut tanpa lengan dengan belahan dada yang agak rendah, sehingga jika dia agak membungkuk belahan payudaranya yang indah akan tampak jelas terlihat olehku. Setelah mengambil susu di atas meja dia duduk menemaniku menonton TV di ruang tengah.
    “Ada berita apa Ndra?” Tanyanya sambil meminum susu.
    “Biasa Bu.. politik gak ada habis-habisnya” Sahutku sambil mencuri pandang keketiaknya.
    “Bapa ada nelepon gak?”Tanyanya lagi sambil menghabiskan susu di gelas.
    “Belum Bu, mungkin masih ngelonin istri baru” Candaku.
    “Nakal ya..” Tegurnya sambil mencubit pinggangku.
    Aku tidak menghindar karena dengan itu aku bisa melihat belahan dadanya yang seperti ingin melompat dari dalam dasternya.

    Sekitar 5 menit kemudian Bu Denok mulai menguap dan kepalanya mulai jatuh karena sangat mengantuk.
    “Ndra ibu tidur duluan.. Gak tau kok ngantuk banget hari ini” Pamitnya.
    “Mungkin tadi terlalu diforsir tenaganya Bu” Sahutku dengan tersenyum.
    Kemudian Bu Denok masuk kamar dan menutupnya. Setelah 10 menit menunggu aku mulai beraksi, kuketuk pintunya pelan tiga kali lalu kupanggil namanya, tak ada jawaban. Kuulangi sekali lagi tetap tak ada jawaban, kuputar pegangan pintu dan kubuka dengan sangat perlahan dan kututup keras-keras. Bu Denok tidak bereaksi di atas kasurnya.

    Kulihat jam dinding, 18:13 masih banyak waktu pikirku. Aku naik keatas kasur lalu ku perhatikan wajahnya, cantik sekali. Kucium bibirnya dengan lembut, lalu kujilati wajahnya sampai basah kemudian ciumanku turun kelehernya. Kusapu sekeliling lehernya dengan jilatan dan sedotan hingga memerah. Setelah puas kuturunkan kepalaku kedadanya, walau masih berpakaian lengkap tapi bisa kurasakan kekenyalan sepasang payudara yang indah itu. Kedua tanganku secara perlahan tapi pasti meraih kedua bukit kembar itu lalu mengusapnya dengan lembut sementara kepalaku turun keselangkangnnya. Dibalik kain daster itu tercium aroma kewanitaan yang sangat merangsang.

    Kuhirup puas-puas wangi yang memabukkan itu, sehingga mengakibatkan remasan-remasan yang kulakukan kepayudara Bu Denok menjadi kasar dan tak terkendali. Tarikan napasku semakin berat seiring dengan hasrat yang semakin menggebu. Kemudian aku membuka semua pakaian yang mnelekat ditubuhku, dan menutup mataku dengan kain. Setelah itu kubuka daster yang dikenakan oleh Bu Denok kemudian kuatur posisi tubuhnya, Kedua tangan di atas kepala dan kaki yang membuka lebar. Lalu kubvka kain penutup mataku, pemandangan yang erotis dan menantang langsung terlihat dihadapanku. Tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan tak berdaya kini hanya ditutupi oleh BH hitam pada payudaranya yang montok dan CD pink yang menggembung pada selangkangannya. Batang penisku semakin tegak mengacung siap perang.

    Kudekati tindih tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan pasrah itu. Kucium bagian payudaranya yang tak tertutup BH, lalu tanganku menelusup kedalam BHnya dan meraih salah satu puting susunya kemudian memilin-milinnya. Dengan napas yang makin memburu kusingkap BHnya keatas sehingga kedua payudaranya langsung membusung kedepan seakan mengundangku untuk menikmatinya. Kuciumi kedua payudaranya lalu kukulum, kusedot dan kugigit-gigit putingnya sampai memerah. Setelah itu kulirik selangkangannya, CD pink Bu Denok tak mampu menutupi beberapa helai rambut hitam yang menjulur keluar dari balik CD itu. Kutahan hasrat itu karena aku ingin menikmatinya saat Bu Denok mulai sadar nanti.

    Kuraih kedua payudaranya kuremas-remas dengan kasar lalu kuletakkan batang penisku diantara sepasang susu yang indah itu. Kemudian aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, rasanya nikmat sekali walau pasti tak senikmat jika masuk kelubang vaginanya batinku. Pelan tapi pasti rasa nikmat mulai merasukiku, napasku mulai tersengal dan desahan mulai keluar dari mulutku tanpa diminta. Butir-butir keringat makin mengalir deras, kukulum bibir Bu Denok sejenak lalu kulanjutkan kembali genjotanku tanpa kenal lelah. Kulihat tubuh Bu Denok mulai berguncang karena gerakanku yang makin hebat.

    Sekitar 10 menit berlalu dan aku sudah lelah menahan, kuputuskan untuk segera mengeluarkannya. Gerakan pinggulku makin kupercepat dan kedua payudaranya makin kurapatkan. Rasa nikmat tak terlukiskan mulai menjalari batang penis dan menyebar keseluruh tubuhku. Cairan putih kental dari kepala penisku dan membanjiri permukaan tubuh indah Bu Denok yang tergolek diam. Kukocok batang penisku sambil memuntahkan cairan spermaku kewajahnya, desahan-desahan nikmat keluar dari mulutku.

    Setelah selesai aku beristirahat sejenak sambil menatap tubuh Bu Denok yang hanya tertutup oleh CD saja. Kemudian kuambil lap dan air hangat yang memang sudah kupersiapkan, kubersihkan setiap bagian tubuhnya yang terkena siraman spermaku. Setelah itu kucium-cium sebentar lalu kupasangkan lagi BHnya, kemudian kubongkar lemarinya kucari baju yang biasa digunakan Bu Denok kesekolah. Setelah dapat kupakaikan ketubuhnya. Samar-samar terlihat sekali kalau baju itu membentuk lekukan yang sangat indah aku berdecak kagum. Kemudian aku menunggu dia bagun sambil memainkan payudaranya yang indah.

    Baca Juga Cerita Seks Gairah Tante Maniak Seks

    Aku duduk disampingnya saat Bu Denok mulai membuka matanya. Cahaya lampu tampak menyilaukan matanya, kuperhatikan bagian dadanya yang terbuka. Batang penisku perlahan tapi pasti kembali mengeras melihat pemandangan yang erotis itu.
    “Jam berapa ini Ndra?” Tanyanya sambil mengucek mata.
    “10 lewat 5 jawabku” Sementara mataku terus menatap kebelahan dadanya.
    “Huuaah.. masih malam toh.. lagi ngapain kamu” Tegurnya sambil merentangkan tangan, otomatis belahan payudaranya terlihat sampai BHnya. Dan itu membuatku menjadi lupa diri.
    “Lagi liat ini Bu..” Tanganku langsung meremas salah satu payudaranya yang montok.
    “Jangan kurang ajar kamu ya” Bentaknya sambil menepis tanganku dan menutupi bagian dadanya yang terbuka.

    Sambil mendekatinya kuceritakan semua yang baru saja kulakukan tadi. Wajahnya tampak memerah karena kaget dan tak percaya. Tiba-tiba aku langsung memeluknya, dan mencium bibirnya. Tak sampai disitu, kurebahkan tubuhnya keatas ranjang dan kuhimpit dengan tubuhku. Kulanjutkan aktifitasku, mencium dan melumat bibirnya.
    “Jangan Ndra.. Ini dosa” Pinta Bu Denok lirih.
    Tapi aku terus menciuminya, tanganku mulai menyusup kebalik baju Bu Denok. Bu Denok menangkisnya, dengan sedikit gerakan aku berhasil menepisnya dan terus menyusup masuk sampai menyentuh payudara Bu Denok yang masih terbunkus BH. Aku meremas lembut payudaranya yang montok itu. Bu Denok mendesah, aku terus meremas tidak lupa ciumanku terus melumat bibirnya. Aku mengalihkan ciumanku ke lehernya. Bu Denok kembali mnedesah, jemari tanganku mulai nerayap kepunggungnya, dan terus melepas tali BHnya.

    “Berhasil” Batinku. Bu Denok tersentak.
    “Kita tidak boleh melakukan ini Ndra” sambil mendorongku kesamping.
    “Memang tidak boleh sih.. tapi..”
    Aku kembali merangkul Bu Denok, kali ini ciumanku lebih ganas dari pada yang pertama. Mulai dari bibir ke telinga terus menjalar ke lehernya. Jemari tanganku melanjutkan aksi lagi menarik keatas BH terus meremasnya, memuntir-muntir putingnya. Bu Denok pasrah dan kelihatan mulai panas dengan permainan yang kuterapkan. Aku mengangkat tubuh Bu Denok dan membuka baju serta BHnya, akupun demikian. Bu Denok tampak takjub melihat batang penisku. Aku memulai kembali aksiku, kali ini ciumanku kuarahkan ke payudaranya. Bu Denok menggeliat, apalagi tanganku menyentuh payudaranya yang satu lagi. Kami berdua telah bermandikan keringat, tangan Bu Denok menjambak rambutku.

    Permainanku jemariku mulai merangkak ke bawah dan berusaha menyelusup kebalik rok dan CDnya. Bu Denok tidak lagi menangkisnya. Jemari tanganku menyentuh rambut kelaminnya, lalu jemariku menggesek-gesek sekitar liang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan membenamkan kepalaku kepayudaranya, untuk mendapatkan kenikmatan lebih. Setelah beberapa lama, ciumanku mulai merangkak kebawah sampai kebatas rambut vaginanya yang sedikit terbuka. Aku kemudian memeloroti rok dan CDnya, akupun demikian. Aku kembali terkagum melihat tubuh telanjang Bu Denok. Payudaranya putih padat berisi dihiasi puting susu yang berwarna coklat kemerah-merahan. Sementara Vaginanya dikelilingi rambut kelamin yang lebat.

    Aku kembali beraksi, kali ini daerah sasaranku liang vaginanya. Aku menciumi dan menjilati yang agak menonjol disekitar liang vaginanya mungkin itu yang dinamakan kloritas. Setelah beberapa lama ciumanku kembali keatas, merentangkan tangannya yang menutupi payudaranya. Terus menjilati tubuhnya dan akhirnya mnedarat lagi di bibirnya. Batang penisku dengan mulut vagina Bu Denok saling beradu. Ini menyebabkan batang penisku ingin dimasukkan ketempatnya. Aku mengatur posisi dan melebarkan kaki bo Denok.
    Bu Denok tersadar dan berkata, “Kita sudah terlalu jauh.. jangan teruskan”
    Aku tidak lagi memperdulikan kata-kata Bu Denok karena hawa nafsuku sudah menuju puncak. Aku kembalimeraih Bu Denok dan menciumi bibirnya, kali ini lebih dahsyat lidahku bergoyang-goyang di mulutnya.

    Bu Denok tak bisa berbuat apa-apa dan kembali larut dalam kenikmatan. Batang penisku yang sudah gatal ingin memasuki liang vagina Bu Denok. Aku mengambil posisi yang pas, batang penisku mulai memasuki pintu kewanitaannya. Seperti masih perawan, batang penisku sering melenceng memasuki liang vagina Bu Denok, aku terus berusaha dan akhirnya masuk juga batang vaginaku keliang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan badannya berguncang.
    “Gila keset amat.. kaya belum punya anak aja” batinku.
    Bu Denok telah sedikit tenang dan batang penisku telah masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya semua batang kejantananku tenggelam di liang senggama Bu Denok. Aku menggoyangkan pinggulku sehingga batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Bu Denok. Makin lama makin cepat, Bu Denok mendesah sambil menyebut namaku. Kami berdua bermandikan keringat walaupun cuaca pada saat itu lumayan dingin.

    Erangan yang panjang disertai cairan hangat menerpa batang kejantananku yang masih berada didalamliang senggama Bu Denok. Rupanya Bu Denok telah mencapai orgasme, aku pun tidak tinggal diam dengan mempercepat gerakan batang kejantananku keluar masuk diliang senggama Bu Denok.
    “Inilah saatnya” Batinku.
    Akhirnya puncak kenikmatanku datang, spermaku muncrat didalam liang senggama Bu Denok bersamaan dengan cairan hangat yang kembali menyirami batang penisku, ternyata Bu Denok kembali orgasme. Malam itu berlanjut dengan beberapa kali orgasme Bu Denok, sampai akhirnya kami kelelahan dan tertidur.

    Pagi harinya, Bu Denok bangun lebih dulu dan langsung kekamar mandi. Sesaat kemudian aku terbangun dan mendengar guyuran air dikamar dan mengetoknya, Bu Denok pun membuka pintu kamar mandi. Kembali aku terkesima melihat Bu Denok yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Gairahku kembali memuncak, aku masuk dan langsung merangkul tubuh Bu Denok.
    “Mandi dulu dong” Pinta Bu Denok manja.
    Akupun menuruti ajakannya kemudian mengguyuri tubuhku dengan air. Beberapa saat setelah itu aku menyabuni tubuhku dengan sabun cair. Bu Denok turut membantu, malah dia menyabuni batang kejantananku yang kembali tegak.

    Rasa malu Bu Denok telah hilang, dia mengocok-ngocok batang kejantananku dengan lembut. Nikmat rasanya, dan pada saat hampir mencapai klimaksnya aku melepaskan tangan Bu Denok karena belum saatnya. Gantian aku yang menyabuni Bu Denok, mula-mula kedua tangannya lalu kedua kakinya. Sampailah kedaerah yang vital, aku berdiri dibelakang Bu Denok terus merangkulnya dan menyabuni payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Terdengar Bu Denok mendesah panjang. Usapanku kebawah melewati perutnya hingga sampai keliang senggamanya. Kembali aku mengusapnya dengan lembut. Busa sabun hampir menutupi liang senggama Bu Denok, kali ini Bu Denok merintih nikmat. Setelah puas aku mengguyur kedua tubuh kami yang masih berangkulan.

    Aku membalikkan tubuhnya dan kami pun saling berhadapan. Bu Denok kemudian mencium bibirku, aku membalasnya dan kemudian terjadi french kiss yang dahsyat. Tangan kami pun tidak tinggal diam, aku menyentuh payudara Bu Denok dan ia menyentuh batang kejantananku yang masih perkasa berdiri. Setelah beberapa lama, Bu Denok membimbing batang kejantananku memasuki liang senggamanya. Dengan melebarkan kakinya batang kejantananku kembali memasuki liang senggama Bu Denok. Bu Denok melilitkan tangannya ke leherku kemudian aku menggendong Bu Denok dan menyandarkan ke dinding kamar mandi. Cerita Maya

    Setelah itu aku kembali menggoyangkan pinggulku yang membuat kejantananku keluar masuk liang senggama Bu Denok. Akhirnya spermaku keluar dan membasahi seluruh dinding liang senggama Bu Denok. Ternayata ia belum mencapai klimaks, untuk membantunya aku menjilati liang senggama Bu Denok. Bu Denok sedikit menjerit dengan apa yang kulakukan, Akhirnya Bu Denok mengeluarkan juga cairan dari liang senggamanya dan pas mengenai wajahku. Bu Denok terkulai nikmat, aku mengguyuri kembali tubuh kami berdua.

    Aku dan Bu Denok telah selesai mandi, dan telah memakai pakaian masing-masing.
    “Lain kali.. aku minta lagi ya sayang” Bisikku sambil menelusupkan tangan ke balik baju kerjanya.
    “Atur aja” Desahnya manja.
    Kemudian Bu Denok berangkat kerja dan aku pergi kuliah. Pokoknya selama bertugas Pak Jerry keluar pulau, aku menggantikan tugasnya memenuhi hasrat biologis Bu Denok di tempat tidur.

  • Empat Mata XXX

    Empat Mata XXX


    103 views

    (Penonton bersorak-sorai dan bergemuruh menyambut kehadiran presenter Empat Mata XXX yang terkenal ndeso – Tukul Arwana saat pria berbibir ndower itu memasuki studio)

    Ceritamaya | “Selamat malam pemirsa, baik yang di studio maupun di rumah. Malam hari ini kita kedatangan tamu istimewa yang saya yakin sangat ditunggu-tunggu oleh pemirsa semua. Tamu kita kali ini tentunya tak asing lagi, dia adalah seorang artis terkenal, model, pemain sinetron, pemain film, bintang iklan dan kebetulan dia juga seorang janda kembang yang cantik, menarik, bodynya seksi dan wajahnya melankolis. Walaupun janda kembang ini sudah memiliki seorang anak, tapi saya yakin pasti banyak sekali pemirsa yang mengantri kalau-kalau artis satu ini akhirnya mau menikah lagi. Putra tunggal artis ini kini tinggal bersama mantan suaminya dan walaupun artis ini sudah sangat merindukan sang buah hati, tapi susah sekali bertemu dengannya, kalau saya usul sih, daripada repot mending bikin lagi yang baru. Sebenarnya dia sudah meminta saya menjadi pengganti mantan suaminya itu, tapi saya menolak karena sibuk syuting Empat Mata XXX dan menjadi bintang iklan dimana-mana, wahahahaha! Baiklah, mari kita sambut saja… Tamara Bleszynski!”

    (Penonton bersorak-sorai dan bergemuruh)

    Diiringi lagu yang dimainkan oleh band Peppy, sosok model dan pemain sinetron terkenal Tamara Bleszynski masuk ke panggung. Penonton makin ramai memberi sorak sorai karena penampilan Tamara yang cantik semakin terlihat seksi dengan balutan kemeja dan rok yang ketat berwarna gelap, kontras dengan kulitnya yang putih mulus tanpa cacat. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai indah menambah pesona. Rok yang dikenakan Tamara cukup pendek di bagian bawah sehingga kakinya yang jenjang terlihat menantang dan didukung oleh sepatu berhak tinggi, pantatnya yang bulat terdorong ke atas, sangat menggiurkan mata yang memandang. Tapi tentu saja dari semua kemewahan tubuh memikat Tamara, yang paling menarik adalah buah dadanya yang membusung dan ranum, sangat menggairahkan, konon katanya buah dada itu pernah diasuransikan. Ceritamaya

    Tukul yang didatangi Tamara langsung meneteskan air liur menatap keindahan body tamunya yang seksi ini. Kalau sama yang ginian, Vega alias Ngatini sih kalah jauh. Tak ayal, ular naga Tukul bergerak-gerak di selangkangannya.

    “Selamat malam, Tamara.” Sambut Tukul sok akrab.

    “Selamat malam.” Jawab Tamara lembut. Tutur katanya yang sopan membuat Tukul tambah belingsatan. Dia berusaha menekan ular naganya yang malah tambah ngaceng saat dekat dengan Tamara.

    Keduanya bersalaman dengan hangat. Tukul langsung keringetan. Tangan Tamara sangat halus dan mulus. Dengan aksi tipu-tipu pura-pura menyapa penonton, Tukul mengeluskan jempolnya yang besar ke tangan Tamara. Untung saja janda cantik itu sudah biasa menghadapi laki-laki yang memanfaatkan situasi seperti Tukul ini, jadi dia diam saja dan terus tersenyum ke arah penonton.

    (Penonton bersorak-sorai ‘Cium! Cium! Cium!’)

    Tukul berbisik pada Tamara, “Bagaimana Tamara? Penonton meminta saya mencium Tamara? Kalau tidak mau tidak apa-apa lho…”

    Tamara tersenyum manis. Sebagai tamu tidak pantas rasanya dia menolak host yang namanya kian kondang di Indonesia ini, lagipula apa salahnya sekedar cium pipi?

    “Boleh saja, kok Mas Tukul,” bisik Tamara, “cheek to cheek aja kan?”

    Tukul langsung tersipu-sipu malu. Wah, ini yang namanya kesempatan!

    “Iyalah, cuma cipika cipiki biasa aja, sekedar face to face.”

    (Penonton masih terus berteriak ‘Cium! Cium! Cium!’)

    Tamara menyodorkan pipinya pada Tukul untuk cipika-cipiki. Tapi dasar Tukul, mumpung ada kesempatan nyosor janda secantik Tamara, pasti tidak akan disia-siakannya. Kapan lagi dia bisa dekat dengan Tamara? Sambil memonyongkan bibirnya yang memble, Tukul mendekati pipi Tamara.

    Dengan senang hati Tamara menerima ciuman pipi kanan dan kiri dari Tukul, tapi janda kembang yang cantik itu kaget saat bibir nyonyor Tukul tiba-tiba saja nyosor ke bibirnya!

    ‘Nekat amat sih nih orang?!’ Batin Tamara, ‘Main sosor aja!’

    Tukul menikmati saat terindah dalam hidupnya ini. Dengan pandai dia memanfaatkan situasi dan berhasil mencium bibir indah Tamara. Mantan model itu terkejut dan langsung pucat pasi. Dia kaget sekali karena tiba-tiba saja diserang oleh Tukul. Tapi Tukul malah makin berani saat Tamara bereaksi dan mencoba melepaskan ciumannya.

    Bibir memble Tukul melekat di bibir Tamara dan ditekan-tekan dengan kasar, dia mengoleskan bibir besar yang basah oleh air liur itu ke bibir sang tamu. Tamara meronta sesaat tapi dia kemudian teringat kalau saat ini mereka sedang berhadapan dengan live audience, tidak saja yang berada di studio tapi juga sebagian besar masyarakat yang menonton di depan televisi sedang memperhatikannya, dia tidak ingin melakukan tindakan brutal dan emosional yang nantinya bisa menimbulkan keributan dan skandal. Sudah cukup semua masalah dan gosip yang menghantuinya sepanjang hidup, kalaupun ciuman si Tukul ini dinilai kurang ajar, dia bisa menuntutnya nanti di pengadilan, tentunya setelah acara ini selesai.

    Dasar si Tukul mupeng, bukannya berhenti malah tambah hot. Tangannya memeluk Tamara dan bergerak nakal menjelajahi setiap lekuk tubuh Tamara, berulang kali tangan Tukul yang masih memeluk Tamara meremas pantat ibu muda yang cantik itu dengan gemas. Lidah Tukul bergerak seperti ular dan mencoba memasuki lubang kecil mulut Tamara. Janda jelita itu menggeleng dan menolak, tapi apalah artinya penolakan Tamara terhadap seorang pria kutukupret seperti Tukul. Lidah Tukulpun segera masuk ke dalam rongga mulut Tamara dan menjelajah ruang itu dengan buas.

    Tamara geleng-geleng kepala. Mimpi apa dia semalam kok hari ini bisa-bisanya diajak french kiss sama Tukul? Setelah beberapa saat berciuman, akhirnya Tukul melepaskan Tamara yang megap-megap mengambil nafas. Ciuman sama Tukul ibarat menempelkan bibir ke alat penyedot debu, sedotannya maut!

    (Penonton bersorak-sorai dengan gembira)

    Tukul mendekati kamera sambil cengengesan. “Gimana pemirsa semua? Pengen ya? Pengen? Makanya jadi orang sukses! Jangan miskin terus! Usaha! Saya bisa begini juga karena bekerja dari nol, kesuksesan ini adalah hasil dari kristalisasi keringat! Saya dulu berawal dari pekerjaan kasar, lalu menjadi cover boy, lalu jadi pelawak sampai sekarang sukses seperti ini…”

    (Penonton mengelu-elukan Tukul dan tertawa terbahak-bahak)

    Tukul segera mempersilahkan Tamara duduk dan berbincang-bincang sejenak dengannya tentang hal-hal formal. Akhirnya tiba memperkenalkan tamu berikutnya.

    “Pemirsa, setelah mendapatkan restu dari pihak pengadilan, akhirnya Empat Mata XXX mendapat kehormatan untuk mempertemukan Tamara dengan mantan suaminya dalam rangka mencari titik temu secara kekeluargaan hak asuh Rasya anak Tamara dan Rafly. Setelah dikonfirmasi, telah datang tamu yang berikut ini, tidak lain dan tidak bukan, mantan suami Tamara, Rafly!”

    (Penonton bertepuk tangan saat Rafly masuk ke panggung, bersalaman dengan Tukul dan Tamara)

    Tukul mempersilahkan Rafly untuk duduk.

    “Baik, kembali ke… laptop!” Tukul memicingkan mata untuk membaca kalimat yang tertayang di layar monitor laptopnya. “Untuk Rafly, jadi kedatangannya hari ini ke edisi spesial Empat Mata XXX adalah untuk memberikan solusi bagi Tamara tentang hak asuh Rasya? Benar begitu?”

    Rafly mengangguk dan tersenyum. “Benar sekali, Mas Tukul. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya selaku pengasuh Rasya memberikan kesempatan pada Tamara untuk memperoleh kembali Rasya dengan syarat harus memenuhi beberapa permintaan saya.”

    “Untuk Tamara,” Tukul menunjuk ke arah tamunya yang cantik. “Bagaimana menurut Tamara penawaran Rafly ini?”

    “Menurut saya, ini kesempatan yang baik sekali bagi saya untuk membuktikan bahwa tekad saya untuk kembali berdua dengan buah hati saya sangat besar dan tidak akan terkikis oleh apapun juga. Saya bersedia melakukan apapun permintaan Rafly asalkan bisa kembali bersama Rasya.”

    Tukul kembali ke depan kamera. “Baiklah pemirsa, sepertinya Tamara dan Rafly akan melakukan perbincangan yang cukup hangat dan serius, apa yang akan terjadi selanjutnya? Saya akan kupas lebih jauh lagi, tetap di… EMPAT MATA XXX!!”

    ###

    “Setelah jeda iklan, akhirnya kita kembali bertemu.” Kata Tukul sambil cengengesan berdiri di depan kamera. “Saya minta maaf, slot iklan kami memang sudah sangat penuh dan banyak perusahaan yang mengantri untuk bisa menampilkan produknya di acara ini. Mudah-mudahan pemirsa sabar yah, ya begini ini ciri-cirinya acara yang sukses, iklannya banyak! Wahahahaah!”

    Tukul duduk kembali. “Back to… laptop! Untuk Rafly, silahkan mengutarakan keinginannya.”

    “Kalau Tamara ingin ketemu Rasya, ada tiga syarat yang harus dipenuhi.” Kata Rafly kemudian. Pria itu memandang ke arah Tamara dengan pandangan sinis penuh percaya diri, dia saat ini sedang berada di atas angin. “Bagaimana?”

    “Rafly,” Tamara memohon dengan lembut, wajahnya berubah memelas, dia sangat ingin berjumpa dengan Rasya, “kamu kan sudah tahu, apa saja yang telah aku korbankan untuk bisa berjumpa dengan Rasya. Kamu tetap saja selalu melarang aku menemuinya, kalau saja ada yang bisa aku lakukan, pasti akan aku penuhi, jangankan cuma tiga permintaan, sepuluh pun pasti aku penuhi.”

    “Tidak usah repot-repot.” Kata Rafly. “Cukup tiga permintaan saja, apa buktinya kalau kamu bersedia melakukan tiga permintaanku?”

    “Apa saja, hitam di atas putih?” tanya Tamara.

    Rafly mengangguk dan mengeluarkan beberapa helai kertas berupa surat perjanjian yang rupanya sudah ia siapkan sedari tadi. Rafly juga mengeluarkan ballpoint dan menandatangani beberapa bagian surat tersebut, lalu dia menyerahkannya pada Tamara.

    “Ini surat perjanjian yang sudah aku buat sejak dari rumah, dengan saksi Mas Tukul, Peppy, Ngatini dan semua pemirsa Empat Mata XXX, aku berjanji akan mempertemukan mantan istriku – Tamara Bleszynski untuk bisa menemui anakku – Rasya secara reguler seminggu sekali saat weekend, dengan syarat harus mau memenuhi tiga permintaanku.” Kata Rafly.

    Karena sangat ingin bertemu dengan Rasya, Tamara menandatangani surat perjanjian dengan cepat. Dia sudah tidak sabar lagi ingin segera berjumpa dengan putra tunggal yang sudah tiga bulan lebih tak bisa ditemuinya. Tamara menunjukkannya pada Tukul sebagai saksi dan mengembalikannya pada Rafly.

    “Rafly, memangnya apa tiga permintaan yang diajukan pada Tamara?” tanya Tukul.

    “Permintaannya adalah,” Rafly tersenyum sadis sambil membaca surat perjanjian yang sudah ditanda tangani Tamara. “Satu, selama acara ini berlangsung, dia harus menuruti semua permintaan saya, Mas Tukul dan Peppy. Dua, selama acara ini berlangsung saya ingin Tamara melepaskan semua pakaian yang sekarang ia kenakan sampai bugil. Tiga, saya ingin Tamara melayani Peppy dan Mas Tukul bermain cinta.”

    Tamara terbelalak, wajahnya memerah karena menahan amarah dan berdiri dengan wajah geram hendak memaki-maki Rafly. Dia sudah siap meninggalkan panggung, tapi beberapa orang sekuriti menahan Tamara. Janda cantik itu meronta-ronta, tapi tak dilepaskan oleh sekuriti.

    Rafly menunjukkan tanda tangan Tamara di surat perjanjian sambil berkata penuh percaya diri, “hitam di atas putih.”

    Tamara menundukkan kepala dan berhenti melawan.

    Tukul kemudian berdiri dan menunjuk ke arah kamera. “Baiklah pemirsa, sepertinya akan ada sesuatu yang menarik yang akan segera terjadi secara live di studio Empat Mata XXX, saya akan kupas lebih jauh lagi, tetap di… EMPAT MATA XXX!!”

    ###

    (Penonton bertepuk tangan dengan riuh menyambut kembalinya Tukul, Tamara dan Rafly)

    “Baiklah, balik maning nang… laptop!” si Tukul tersenyum melihat kata-kata yang tertera di layar monitor laptopnya. “Untuk Tamara: Sekarang saatnya untuk membuka baju yang dikenakan.”

    Tamara terkejut, “ma-maaf, Mas Tukul bilang apa?”

    “Buka baju yang Tamara kenakan sekarang juga.”

    Mata si cantik itu langsung terbelalak dan kemarahannya tak bisa dielakkan lagi. “Gi-gila! Berani-beraninya Mas Tukul bilang begitu pada saya di depan live audience!! Saya tidak mau!! Ini penghinaan! Saya akan tuntut semua…”

    Tukul mengambil surat yang dibawa Rafly yang ternyata sudah difotokopi pada saat jeda iklan tadi. “Silahkan dituntut, kan Tamara sendiri yang sudah menyetujui perjanjian kita ini?”

    “Saya tidak akan mau mengakui perjanjian menjijikkan semacam itu! Puih!” Tamara meludah ke wajah Tukul.

    Tukul berdiri dengan tenang dan cengengesan menghadap ke arah penonton, “Baiklah, kita tanyakan saja langsung pada pemirsa semua, khususnya pemirsa yang ada di studio saat ini. Bagaimana, ada yang tertarik melihat Tamara Bleszynski membuka baju untuk pertama kalinya di hadapan live audience?”

    (Penonton bersorak-sorai sambil berteriak-teriak kegirangan ‘Buka, buka, buka!!’)

    Saat itu barulah Tamara sadar kalau semua penonton di studio adalah laki-laki, tidak ada satupun penonton wanita, mereka mengepung stage dengan pandangan yang seram seakan hendak mencaplok Tamara mentah-mentah. Janda cantik yang seksi itupun semakin ketakutan melihat wajah-wajah mupeng dari para penonton.

    “Saya gak berani jamin mereka gak akan menyerang Tamara,” kata Tukul menakut-nakuti si cantik Tamara, “mending Tamara saya kasih tahu saja, sebenarnya penonton kali ini adalah pemirsa gabungan dari penjara-penjara di seantero Jawa, beberapa diantara mereka terdapat pemerkosa dan pembunuh, orang-orang katro yang taunya hanya bikin masalah. Jangan tanya saya kok bisa mereka dikumpulkan di sini, itu kerjaannya tim kreatif Empat Mata XXX. Kalau saya jadi Tamara, saya tidak akan mau mencari masalah dengan pemirsa di studio yang sepertinya sudah mulai memanas emosinya.”

    Tubuh Tamara bergetar ketakutan. “Lalu, apa yang Mas Tukul inginkan?”

    “Kalau mau aman dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” Tukul meringis lebar. “…saatnya membuka baju.”

    Mata Tamara terpejam dengan perasaan tak menentu. “Tidak mau!! Saya belum gila!! Saya tidak mau membuka baju di depan…”

    Beberapa penonton bangkit dan mendekati stage, para kru TV berusaha keras agar para tahanan yang mulai buas itu tidak melakukan tindakan nekat. “Tamara sudah lihat sendiri kan situasinya? Pilih mana, buka baju atau dikerjai ramai-ramai sama para tahanan ini?”

    Wajah Tamara memerah, airmata mulai menetes di pipi wanita jelita itu. Dengan tangan gemetar Tamara mulai membuka kancing bajunya. “I-ini mimpi buruk,” katanya menenangkan diri sendiri. “Ini tidak mungkin terjadi, tidak mungkin!”

    Tamara bergetar hebat ketika dia membuka kemejanya. “Aku harap sebelum semuanya terlambat, kamu menyadari kalau saat ini sedang melakukan kesalahan, Mas. Aku tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini. Aku memang telah menceraikanmu, tapi aku yakin kelak kau akan mendapat yang lebih baik lagi…”

    Rafly tak bergeming, dengan dingin dia menyingkirkan kemeja Tamara ke arah penonton yang langsung berebut dan menunjuk-nunjuk ke arah roknya. Tak perlu waktu lama untuk melepas rok itu. Tamara berdiri kedinginan di tengah ruangan dengan mengenakan pakaian dalam. Air mata mulai leleh membasahi pipinya.

    Mata Tamara mulai berkaca-kaca dan memohon ampun pada Rafly. Dia berusaha mengubah permintaan mantan suaminya itu, tapi hanya dibalas dengan pandangan mata tajam yang kejam.

    “Ke tengah-tengah ruangan dan mulailah melepaskan seluruh pakaian,” perintah Rafly. “Aku ingin memperlihatkan tubuh indahmu pada seluruh pemirsa baik yang di studio ataupun yang ada di rumah, seperti apa sebenarnya tubuh model tercantik di Indonesia itu. Tubuh yang dulu pernah menjadi milikku seorang.”

    Dengan wajah tertunduk Tamara melangkah ke tengah ruangan, di antara panggung dan penonton, tepat di depan kameraman yang meneguk ludah menahan nafsu. Tetes air mata yang menitik di pipi Tamara sempat dizoom olehnya. Tamara mulai melepaskan sepatunya, lalu dia duduk di pinggir stage untuk melepas stoking putih dan rok dalam.

    Inilah dia, Tamara Bleszynski, model terkenal yang sangat cantik dan menjadi idaman jutaan pria, hanya mengenakan BH dan celana dalam. Semua penonton di studio terdiam menatap keindahan tubuh Tamara yang sangat mempesona, mereka tidak mengira model cantik itu benar-benar akan menelanjangi dirinya sendiri di depan live audience. Air liur Tukul turun tanpa bisa dikendalikan. Keindahan tubuh Tamara benar-benar menakjubkan, untuk beberapa saat lamanya, semua penonton menahan nafas.

    (Akhirnya penonton bertepuk tangan dengan gembira, mereka yang hadir bersorak-sorai dan mengeluarkan kata-kata cabul yang ditujukan langsung pada sang artis)

    “Sudah ya?” kata Tamara sambil menahan diri agar tidak menangis, nada suaranya bergetar ketakutan, ia melirik ke arah Rafly memohon ampun. “Sudah cukup kan mempermalukan aku? Begini sudah puas kan?”

    “Apanya puas? Kamu masih pakai BH dan celana dalam,” jawab Rafly dingin. “lepaskan semuanya.”

    Dengan perasaan ragu Tamara meraih kait BH di bagian punggungnya, sudah kepalang tanggung, dia harus bertemu Rasya malam ini juga, rindunya sudah tak tertahankan. Apapun taruhannya, dia ingin bertemu anaknya. Rafly memang kejam dan tidak tahu diri, nekat mempermalukan mantan istrinya seperti ini, tapi dia punya alasan kuat untuk menjatuhkan harga diri Tamara yang sudah menceraikannya secara sepihak itu. Saat BH Tamara terlepas, buah dada sentosa yang besar dan kencang miliknya terpampang jelas untuk semua orang yang melihat. Penonton terhenyak melihat ukurannya dan berdecak kagum. Tamara belum berhenti, dia meraih celana dalamnya dan mencopotnya ke bawah. Dia telanjang.

    Tamara Bleszynski, artis cantik dan terkenal berdiri telanjang di hadapan live audience Empat Mata XXX dengan rambut tergerai indah dan dua tangan yang masing-masing berusaha menutup payudara dan gundukan selangkangan.

    Baca Juga : Tamara Bleszynski’s Hidden Diary 2

    Rafly berdiri, membisikkan sesuatu pada Tukul dan duduk di bar yang berada di dekat Ngatini. Tukul tersenyum-senyum cabul pada Tamara.

    “Tam, tolong dong, aku juga kayaknya jadi pengen telanjang kayak kamu.” Kata Tukul sambil meringis menjijikkan.

    Tamara termangu dan menatap Rafly dengan jengkel. Dia tak mengira Rafly akan menghinanya sampai serendah-rendahnya. Janda cantik itu mengira dia sudah bisa bertemu dengan Rasya dengan menelanjangi dirinya sendiri, ternyata masih jauh dari harapan. Setelah kata-kata Tukul itu Tamara jadi sadar sepenuhnya apa yang diinginkan Rafly darinya, dia ingin Tamara melayani Tukul di depan semua orang yang menonton. Dia ingin si cantik seksi Tamara dinikmati luar dalam oleh si katrok Tukul. Sudah kepalang tanggung, Tamara mendengus kesal.

    “Jangan malah bengong begitu, ayo ke sini!” panggil Tukul.

    Dengan langkah lemas Tamara mendekati Tukul. Dengan gerakan patah-patah karena malu dan grogi Tamara melucuti pakaian Tukul. Janda cantik itu melepas sepatu Tukul yang bau amis sebelum akhirnya melucuti celana. Tamara sempat berhenti sejenak di hadapan selangkangan Tukul, dia bisa melihat ular naga Tukul yang menggeliat dan membesar di dalamnya. Ukurannya membuat Tamara sangat takjub, luar biasa besar.

    Tamara meraih celana dalam Tukul dan memelorotkannya ke bawah. Penis berukuran massive milik Tukul meloncat keluar dengan perkasa dan menampar wajah Tamara yang berteriak kaget.

    Tamara menjerit ketakutan dan meloncat ke belakang, penonton tertawa-tawa.

    “Ayo semua, copot celananya juga! Kasihan kan, masa cuma Tamara doang yang telanjang?” ajak Tukul pada pemirsa di studio. “Kalau kalian telanjang kan lebih enak nanti colinya, iya nggak?”

    (‘Iyaaaa’ jawab penonton yang langsung melucuti pakaian mereka. Hampir semua orang di studio langsung telanjang, termasuk Peppy. Hanya yang berada di bar yang masih berpakaian lengkap, seperti Ngatini dan Rafly)

    Ketika Tukul lengah, Peppy berlari ke tengah dan menarik Tamara ke dekat bandnya. Tukul sudah siap protes tapi ditahan oleh Rafly. Tamara melirik ke arah mantan suaminya itu dengan pandangan kesal.

    Peppy langsung menyuruh Tamara berjongkok di hadapannya.

    Tamara tersentak saat melihat kemaluan Peppy. Masa iya sih? Ternyata tidak cuma janggutnya saja, jembut si Peppy juga dipelintir kecil! Wah wah, Tamara geleng-geleng kepala. Walaupun tidak begitu besar ukurannya, tapi kemaluan Peppy cukup mengintimidasi. Melihat Tamara sudah begitu dekat dengan penisnya, Peppy tambah nafsu. Penis itu kian menegak menantang Tamara.

    “Ku-kumohon,” pinta janda cantik itu terbata-bata. “jangan lakukan ini. Ini salah. Ini…”

    “Ambil penis saya dan masukkan ke mulut Mbak Tamara.”

    Tamara terkejut mendengar kata-kata Peppy, janda cantik itu bergerak mundur dan menggelengkan kepala. “Jangan… kumohon demi kehormatanku, jangan membuatku lebih terhina dari ini, Mas. Jangan permalukan aku, tidak seperti ini, aku tidak mau… di depan semua orang…”

    Rafly menggebrak meja dan membuat tubuh Tamara bergetar hebat. Tidak ada jalan lain, apapun akan dilakukannya untuk bertemu Rasya. Bahkan jika dia harus menghancurkan karir dan harga dirinya. Sesaat Tamara terdiam, kemudian terdengar suara Peppy.

    “Saya pengen disepong, Mbak. Ayo jangan lama-lama, lihat Mbak Tamara telanjang bikin saya terangsang hebat.”

    Dengan wajah merah karena malu dan mata tertutup, Tamara yang pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa meraih kemaluan Peppy dan memasukkannya ke dalam mulut. Wanita jelita yang menjadi dambaan jutaan pria di Indonesia itu lalu mulai menjilati dan mengulumnya. Inilah yang namanya impian menjadi kenyataan.

    “Lihat ke atas.” Perintah Peppy.

    Tamara tetap menyepong Peppy dengan mata tertutup. Dia tidak mau melihat ke atas dan menatap mata si gundul itu. Dia tidak mau menatap mata yang menatapnya dengan pandangan puas yang akan membuatnya jauh lebih terhina.

    “Aku bilang LIHAT KE ATAS!” ulang Peppy galak.

    Tak berdaya dan ketakutan, Tamara mendongak ke atas. Kini dia bukanlah Tamara Bleszynski yang anggun lagi, dia bukan lagi Tamara yang artis terkenal dengan gaya high class yang terkenal dan punya style di atas rata-rata. Dia kini hanyalah Tamara sang wanita jalang yang sebentar lagi akan terkenal di seluruh penjuru negeri sebagai wanita gampangan yang bisa dipesan kapan saja. Dia hanya seorang pelacur hina, tidak pantas lagi menjadi artis terkenal, tapi kalau itu bisa membuatnya bertemu dengan buah hatinya, Tamara rela.

    “Disedot dong, Mbak.” Kata Peppy. Aneh rasanya dikulum oleh wanita secantik Tamara, ada desir-desir jantung yang tak terkatakan yang dirasakan oleh Peppy.

    Tamara menggerakkan kepalanya dengan lebih cepat, mengangguk dengan sepenuh tenaga, berusaha membuat Peppy mengeluarkan air maninya. Awalnya janda itu memang menolak menyepong Peppy, tapi kini dia mati-matian ingin Peppy segera mengeluarkan cairan cintanya.

    “Udah udah,” kata Tukul.

    Tamara terus mengulum penis Peppy, sepertinya dia tidak mendengar perkataan Tukul. Peppy juga tetap menikmati kedahsyatan bibir Tamara yang bergerak cepat di kontolnya sambil merem melek.

    “Udah! Kesenengen kamu! Tak sobek-sobek!!” kembali Tukul protes sambil melotot ke arah Peppy, ditariknya Tamara menjauh dari si jenggot sehingga mulutnya terpaksa melepas batang kemaluan Peppy. Cairan bening mani Peppy menetes-netes dari pinggir bibir Tamara.

    “Dasar julung-julung! Keenakan kutukupret ini kalau dibiarkan lama-lama. Bintang utamanya kan saya, kok kamu melulu yang diserpis. Udah kamu pulang aja ke pohon, sana!” Kata Tukul menghentikan aksi Peppy. Si gundul berjenggot yang tadinya sudah merem melek itu terpaksa gigit jari karena Tamara sudah ditarik oleh Tukul kembali ke tengah panggung.

    Tukul membimbing Tamara kembali ke sofa. “Ayo Tam, berbaring di sini biar enak.”

    Akhirnya Tukul bisa menikmati keindahan sempurna tubuh telanjang Tamara Bleszynski secara langsung, padahal tadinya dia cuma bisa ngiler dan muncrat-muncrat menyaksikan keseksian Tamara. Dia tidak sendirian, seluruh pemirsa Empat Mata XXX bisa menyaksikan keindahan tubuh janda cantik itu, tubuh wanita dewasa yang sangat indah dan matang.

    Buah dada Tamara besar dan indah, bulat, kenyal dan kencang. Buah dada sempurna dari seorang wanita cantik yang memiliki tubuh indah. Tapi Tukul sudah tidak tahan lagi, kalau pakai foreplay nanti keburu mancrut, dia mau langsung saja! Dengan tangannya yang nakal Tukul menelusuri tubuh Tamara dari atas sampai ke bawah, ke gundukan selangkangannya. Rambut kemaluan Tamara rupanya dicukur rapi membentuk segitiga, indah sekali dipadu dengan bibir memek yang berwarna merah muda merekah. Wanita jelita ini sangat pandai menjaga tubuh luar dalam. Tapi tujuan utama Tukul adalah belahan bibir bawah yang harum milik Tamara. Ini dia hidangan utamanya!

    “Renggangkan kakimu, Tam,” kata Tukul. Wanita cantik itu menurut saja dengan malu-malu, dia tidak pernah bugil dan melakukan hal gila seperti ini sebelumnya, apa lagi di hadapan live audience. Malu-malu Tamara membuka kakinya dan Tukul langsung kagum melihat janda cantik itu ternyata sudah mulai mengeluarkan cairan cintanya. Sekali lagi Tamara memejamkan mata dan memutar kepalanya menghindari tatapan langsung Tukul.

    “Mas Tukul, jangan…”

    “Belum diapa-apain kok sudah bilang jangan. Aku gak akan melakukan apa-apa kok, Tam. Kamu sendiri yang akan melakukannya.”

    Tukul memposisikan penisnya tepat di bibir memek Tamara yang wangi. Bau memek yang sudah basah memenuhi udara studio, ac memang menyala tapi suasana tambah panas.

    “Matanya dibuka dong,” kata Tukul. “nggak enak menyetubuhi cewek yang merem melulu. Nanti seperti ngentotin kayu. Kalau cuma mau merem terus, mending aku sama Ngatini saja. Masa kamu kalah sama Ngatini? Ayo diambil kontolnya, Tam. Aku tunggu ya.”

    Dengan pandangan marah Tamara menatap ke arah Tukul, wanita cantik itu geram dengan sikap Tukul yang arogan, tambah macam-macam aja orang satu ini, Tamara tidak akan bisa menuntut ke polisi dan mengaku diperkosa kalau dia sendiri yang menarik penis Tukul dan memasukkannya ke dalam vaginanya. Tamara menggerutu dan meraih penis sang presenter. Dengan hati-hati Tamara memasukkan kemaluan Tukul ke dalam lubang memeknya.

    “Essstttt!!!” janda cantik itu merintih saat batang kemaluan Tukul perlahan memasuki kewanitaannya.

    Setelah seluruh batangnya masuk, Tukul mulai memompa vagina Tamara. “Waduhh, enaknyaaa!! Pet pet rapet-rapet!”

    Tukul cengengesan melihat wajah Tamara yang berusaha keras agar tidak terpancing birahinya. Bagaimana mungkin tidak terpancing? ****** Tukul Arwana yang sangat besar menyesaki liang kewanitaan Tamara, tubuh janda cantik itupun bergetar karena tidak mampu menahan rasa nikmat di vaginanya. Tamara memejamkan matanya sebisa mungkin saat Tukul meneruskan gerakan memompanya yang makin lama makin cepat.

    “Asoooy! Bisa kerasa kan, Tam? Unghhh! Rapetnya! Wah wah, salut! Sudah punya anak satu tapi memeknya masih rapet begini, enak banget!” dengan kurang ajar Tukul meletakkan satu tangannya di buah dada Tamara, wanita cantik itu menggigit bibir menahan diri. “Waduh, ini susu apa melon? Gede banget! Wah, enakkghh! HAAAHH!!! HAHHH!! Bisa kerasa kan kontolku tambah gede di dalam? Iyaaa!! Janda yang masih rapet gini memang asoy!! Fasilitas oke, pengalaman ada!! Ungghhh!! Ayo digoyang! Jangan diem ajaaa!”

    Tadinya Tukul mengira Tamara akan diam saja selama disetubuhi olehnya, tapi akhirnya wong ndeso itu mendengar nafas yang pendek dan cepat, lalu terdengar suara lenguhan pelan, walaupun tidak mau mengakui, si cantik itu jelas-jelas mulai terangsang, lenguhan Tamara makin jelas terdengar.

    “Esssttt…” Tamara menahan suara karena tak tahan rangsangan luar biasa yang ditimbulkan ****** Tukul dalam memeknya, tapi akhirnya wanita cantik itu menjerit, “Kyaaaaghhhh!! Ampuuun!! Ahh! Ahhh! Ahhh!”

    “Kamu siapa, Tam? Kamu siapa??” Tukul mempercepat sodokannya. “Dulu di infotainment katanya kamu ini binatang jalang, bener begitu?”

    “Aku ini binatang jalang, Mas Tukul! Aku ini bintang jalang!!” Tamara berteriak campur menangis merasakan kenikmatan sodokan Tukul. “Aku binatang jalang! Aaaarrghh! Aduuuhhh!! Ampuuun!! Ahh! Ahhh! Aa-kkuu… binatang jalaaang!!”

    “Memang jalang kamu ini. Puas kamu dirobek-robek memeknya? Puas puas puasssss?” tanya Tukul dengan sedikit berteriak.

    Tamara mengangguk-angguk sambil terpejam dan masih menahan kenikmatan yang makin lama makin memuncak di selangkangannya. “Aku puasss, Mas Tukul! Aku puasss!!”

    Tak perlu waktu lama bagi Tukul membuat Tamara mengeluarkan cairan cinta yang langsung membanjir di dalam memeknya, penis Tukul yang masih keluar masuk vagina Tamara berkecipak-kecipuk seperti seekor kodok di tengah empang, becek sekali rasanya. Walaupun Memek Tamara sudah pernah mengeluarkan seorang bayi, tapi perawatan tubuh yang rutin membuat memek itu terasa masih sempit bagi Tukul, baru saat banjir inilah, memek itu menjadi longgar. Tukul puas sekali merasakan air cinta Tamara membasahi penisnya, sementara janda cantik itu mengembik dan menangis tanpa bisa menghentikan gerakan Tukul yang terus memompa batang kemaluannya keluar masuk liang vaginanya. Tiba-tiba tubuh Tukul mengejang, hal yang paling ditakuti Tamara hampir menjadi kenyataan.

    “Aduuuh!” rengek janda cantik itu, “jangaaan, Mas Tukul! Keluarin di luar! Cabut! Cabut! Saya mohon jangan, mas! Di luar ajaaa!! Nanti kalau saya hamil gimana? Anak saya kayak apa nanti?? Jangaaaaan!!”

    Terlambat. Ujung gundul penis Tukul yang masih tertanam di memek Tamara meledak dan mengeluarkan cairan bening diiringi dengan deru nafas lega sang pemilik kemaluan. Tamara menjerit-jerit menolak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Tukul, sayangnya pria katro itu lumayan kuat. Semprotan pejuh Tukul ludes ditelan memek Tamara. Walaupun sudah mencapai klimaks, Tukul tidak melepaskan pelukannya.

    “Ampuuun,” Tamara bergumam, “udah dong, Mas Tukul… saya capek…”

    Tukul terdiam.

    “Udah, Mas. Saya harus ke belakang. Saya kebelet pipis…”

    Tukul masih tetap cuek dan membiarkan penisnya di dalam memek Tamara sampai mengecil sendiri. Beberapa orang penonton di studio yang sudah tidak kuat menahan nafsu akhirnya memutuskan untuk coli karena pemandangan yang sangat indah itu.

    “Udah aja ya, Mas…” kata Tamara memohon ampun, wajahnya yang cantik terlihat memelas dan makeupnya belepotan karena terkena airmata. “…Mas Tukul kan sudah mengeluarkan a-air ma-maninya di dalam, aku takut nanti aku hamil, Mas…”

    “Lho? Tamara ini gimana sih? Ini kan belum selesai!” kata Tukul dengan percaya diri, lalu dia kembali menggerakkan penisnya yang walaupun sudah lemas tapi belum terlalu mengecil. Sensasi kenikmatan menyetubuhi wanita secantik Tamara dan hangatnya lubang memek sang bintang membuat penis Tukul menegang kembali.

    “Jangan,” Tamara berbisik pada dirinya sendiri, “jangan lagi, aku tidak mau, jangan…”

    Tukul menarik penisnya keluar dari lubang memek Tamara, bentuknya yang gagah dan hitam belepotan cairan cinta yang tercampur di dalam memek sang bintang, hal itu memukau penonton yang langsung bertepuk tangan. Tukul melirik ke arah laptop dan langsung meneriakkan kalimat khasnya, “Kembali ke… laptop!”

    “Untuk Tamara Arwana, bagaimana kalau penis Mas Tukul dibikin tegang lagi?” kata Tukul sambil membaca kalimat di layar monitor laptopnya.

    “Ba-bagaimana?” suara Tamara yang lemah terdengar nyaris seperti bisikan.

    “Pakai tangan!”

    Tamara melirik ke arah Rafly yang menatapnya dingin, wanita cantik itu duduk bersimpuh untuk menservis kemaluan sang pembawa acara yang katro. Walaupun penis itu sebenarnya baru saja dipakai, tapi sentuhan lembut janda cantik seperti Tamara membuatnya cepat menegang kembali. Sepertinya gerakan Tamara amat kaku, ketahuan kalau dia jarang melakukan hal ini sebelumnya, duh, pantesan cerai, yang begini aja jarang-jarang.

    Setelah benar-benar keras, Tukul membimbing tubuh Tamara agar nungging dengan bersandar pada kursi sofa. Pantatnya yang indah terpampang jelas di depan Tukul dan pemirsa semua. Dengan nakal Tukul menampar pantat itu berulang-ulang sampai merah.

    (Penonton kembali berteriak ‘Masukin!, masukin, masukin!!’)

    “Uuuunggghhh!!” Tamara menggigit bibirnya sendiri saat Tukul kembali melesakkan penis ke dalam memeknya.

    Pria ndeso itu segera memompa vagina Tamara, kali ini dengan kecepatan yang lebih cepat dan stabil, pemirsa di rumah bisa mendengar kantung kemaluan Tukul yang menampar-nampar bibir vagina Tamara.

    “OHHHHH!” Tamara menjerit-jerit keenakan. “AHHHH!”

    Tukul diam saja saat penisnya maju mundur menyetubuhi Tamara. Bukannya tidak mau ngomong apa-apa, tapi pada saat ini Tukul sedang asyik berkonsentrasi dan menikmati tubuh indah Tamara Bleszynski, kapan lagi bisa begini? Mumpung ada kesempatan! Pria ndeso itu tengah berusaha keras membuat Tamara mengeluarkan cairan cinta berulang-ulang sebelum dia sendiri mengeluarkannya. Belum pernah sepanjang hidupnya Tamara disetubuhi sedemikian cepatnya sehingga dia terus saja mengeluarkan pelumas di dalam liang vaginanya.

    Tukul memeluk pinggul Tamara lebih erat sambil terus menggiling kemaluan model dan bintang sinetron itu. Tamara sudah mulai lupa kalau adegan ini adalah siaran langsung yang disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Dia berubah menjadi seorang wanita haus seks yang seakan tidak mau lagi peduli pada apapun, dia hanya menginginkan seks, seks dan seks.

    Tukul bisa merasakan memek Tamara mengejang saat wanita cantik itu hampir mencapai klimaks sekali lagi. Pria ndeso itu hanya berhenti sebentar untuk mencengkeram buah dada Tamara yang sentosa dengan kedua tangannya, lalu kembali meneruskan kegiatannya menyetubuhi sang janda. Ceritamaya

    “Ja-jangan!! Aku mohon, Mas Tukul! Jangan! Tidaaak mauu!! Jangaaan!! Jangan buat aku orgasme lagi! Jangaan! Kumohoon! ARRGGHHHHHH!!!”

    Tamara tidak dapat menahannya lagi, begitu pula dengan Tukul. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Tukul menembakkan isi kantung kemaluannya kepada sang pemilik vagina yang indah. Tamara menggeliat erotis saat sperma Tukul ditembakkan dalam-dalam di liang rahimnya. Pria berwajah ndeso itu akhirnya jatuh karena lemas kelelahan dan menubruk punggung Tamara dengan penis yang masih tertanam di dalam memeknya.

    “Tetap di empat… mata… XXX…” suara Tukul terdengar lemah saat jeda iklan muncul.

    ###

    Tukul berdiri dan mengenakan pakaiannya lagi sementara Tamara diam saja terbaring di lantai studio, pantatnya yang bulat merekah menantang langit dan cairan cinta bening yang kental menetes di antara kakinya. Dia tidak mengira keputusannya ikut bergabung dengan acara yang dipandu oleh Tukul ini akan berakhir dengan persetubuhan yang harus dijalaninya. Wajah Tamara terlihat kuyu dan sangat lelah, dia hanya ingin tidur dan beristirahat.

    Rafly tersenyum puas melihat mantan istrinya itu tergolek tak berdaya usai dikerjai oleh Tukul. “Rasain! Itu bayarannya buat istri yang seenaknya sendiri minta cerai! Kamu pengen ketemu Rasya? Huh! Jangan harap! Itu upahnya buat istri katro! Puas kamu dientotin Mas Tukul? Puass? Kamu pikir kita sudah mengadakan perjanjian? Dasar bloon, yang kamu tandatangani tadi justru keterangan resmi dari kamu untuk menyerahkan hak kepengasuhan Rasya total kepadaku. Kamu tidak diperbolehkan lagi menemuinya! Rasain! Makanya baca dulu sebelum tanda-tangan! Mampus!”

    Rafly meninggalkan ruangan dengan tertawa terbahak-bahak.

    Tamara menangis sesunggukan. Sialan! Dia sudah ditipu mentah-mentah! Si cantik itu hanya bisa menutup ketelanjangannya dengan tangan dan berharap mudah-mudahan karirnya di Indonesia belum tamat karena skandal ini.

    Tukul bangkit dan menyapa pemirsa untuk kali terakhir.

    “Baiklah, usai sudah Empat Mata XXX hari ini, semua yang terjadi hari ini hanyalah just kidding, just for laugh, pokoknya tetep positive thinking. Tunggu aksi Tukul ‘mengupas’ artis-artis cantik lain dengan lebih dalam lagi walaupun dalam balutan lelucon wong ndeso yang sederhana dan katro. Siapa bintang tamu selanjutnya?

    “Saksikan, hanya di… EMPAT… MATA… XXX!!”

  • Sales Promotion Girl

    Sales Promotion Girl


    117 views

    Ceritamaya | Panggil saja nama samaranku adalah Shinta. Tubuhku berkulit Putih mulus dengan tinggi 168 cm, orang bilang wajahku mirip bintang film Diana Pungky. Dengan kecantikanku ini banyak teman temanku sekampus yang tergila gila padaku tapi semuanya tidak ku perdulikan karena aku hanya konsentrasi pada pelajaran kuliah.

    Cerita ini bermula ketika Perusahaan expor-impor milik ayahku mengalami kebangkrutan karena selisih mata uang Dolar dan rupiah begitu tinggi sehingga ayahku menanggung hutang ratusan juta rupiah pada rekanan bisnisnya.Karena tak kuat menanggung stres akibat tekanan, ayahku meninggal dunia karena Hypertensi akut. Rumah dan 2 mobil kami terpaksa dijual untuk melunasi hutang hutang tersebut.Aku dan Ibuku ahirnya pindah kerumah kontrakan dengan sisa uang yang ada untuk modal hidup.Hal ini merupakan pukulan berat bagiku Karena dari kecil aku sudah terbiasa hidup senang dan mewah tetapi aku berusaha untuk berdaptasi.Dengan terpaksa Sementara waktu aku hentikan dulu kuliahku karena aku harus kerja untuk menambah pendapatan.Dengan modal wajah yang cantik plus body yang putih mulus aku dapat diterima sebagai SPG di perusahaan otomotif ternama di Jakarta. Di sini aku mempunyai teman akrab sesama SPG bernama Selly, orangnya juga cantik dengan tubuh tinggi semampai seperti Pragawati.Kami berdua sangat dikenal oleh para karyawan karena selain ramah juga pintar memikat pelanggan agar membeli kendaraan mewah yang kami promosikan, Sebagian besar mereka adalah para pria Pengusaha, apalagi dengan baju seragam ketat dan di padu dengan rok mini yang menampakkan keindahan kaki kami sampai keatas lutut menjadi daya tarik utama setiap stand pameran otomotif. Sebenarnya aku cukup risih juga dipandangi oleh para pembeli tetapi terpaksa kulupakan karena itulah cara kami menjual Mobil mewah.

    Diantara para SPG memang sering kudengar dari cerita Selly bahwa banyak diantaranya yang berlaku negatif yaitu selain mempromosikan barang otomotif juga bersedia diajak kencan oleh para Pembeli. Selly pun mengakui bahwa dirinya juga pernah melakukanya untuk menambah penghasilan, tapi hanya pelanggan tertentu saja yang ia layani. Aku hanya geleng geleng kepala mendengarnya karena selama ini aku tak berminat mencampuri urusan orang maka aku tidak memperdulikannya, yang penting aku tidak terbawa oleh arus mereka. Setelah beberapa bulan bekerja, musibah kedua menimpa kami lagi, Ibuku yang sudah tua mendadak kambuh lagi penyakit ginjalnya, kali ini lebih parah karena sudah lama tidak kontrol kesehatan lagi. Menurut dokter ibuku harus segera menjalani operasi ginjal dalam minggu ini atau tidak ada harapan lagi bila ditunda. Yang membuatku jadi pusing adalah masalah biayanya yang besar. Seluruh tabunganku yang ada hanya cukup untuk biaya rumah sakitnya saja sedang untuk operasinya masih butuh belasan juta rupiah. Hal ini aku ceritakan pula pada Selly teman baikku siapa tahu dia dapat menolongku.

    “Biaya operasi ibumu memang tinggi sekali, aku tak punya uang banyak untuk membantumu, tapi cobalah minta bantuan om Liem direktur perusahaan kita bekerja, karena dia pernah juga membantuku.” ujar Selly memberikan solusinya. Om Liem memang direktur pemilik perusahaan otomotif tempatku bekerja orangnya agak gemuk pendek WNI keturunan usianya 50-an, dengan pakaianya selalu rapi dan necis. Sebenarnya Aku paling tidak suka menjumpai orang ini, walaupun sudah tua tapi matanya selalu jelalatan bila melihat para karyawati SPGnya yang menggunakan seragam promosi yang ketat dan Rok mini yang tinggi, bahkan dia pernah dengan sengaja meraba pahaku ketika berpapasan dengannya di ruang ganti pakaian tapi segera kutepis dan kutinggal pergi.

    “Silahkan Masuk..!” terdengar suara dari balik pintu yang kuketuk… , eeh… Shinta, silahkan duduk Shinta… Tanpa ragu akupun duduk dikursi tamu yang berhadapan dengan meja kerja Om Liem yang mewah.
    “ada yang bisa kubantu… ?” tanya Om liem sambil menatap nakal kearahku. Aku jadi agak gugup dan sedikit berkeringat. Tanpa membuang waktu aku ceritakan masalahku untuk meminjam uang untuk biaya operasi ibuku sebesar 20 juta rupiah. Sejenak kulihat Om Liem berdiam diri, tapi kulihat lagi dia tersenyum licik sambil menatap tubuhku dalam dalam.
    “Mhmmm..itu hal yang mudah, kamu bisa dapatkan uang itu tanpa harus meminjam… tapi harus ada imbalannya… “kata Om Liem sambil berkedip nakal.

    “Saya tidak mengerti, imbalan apa yang Om Maksudkan ?” kataku agak serius.
    “Begini, Om Liem akan berikan uang sejumlah itu tanpa meminjam, tetapi sebagai imbalannya beri aku keperawananmu.”kata Om Liem singkat sambil tersenyum kurang ajar. Aku tertegun tak percaya mendengar permintaannya, benar benar ******* siTua ini umpatku dalam hati.
    “Aku tidak bersedia..!” kataku ketus sambil berdiri dan keluar dari kantornya.
    “Aku menunggumu bila berubah pikiran Shinta… !” selintas masih sempat kudengar suara Om Liem sebelum pergi… dasar *******, kataku lagi. Dirumah kutumpahkan semua kekesalanku dengan menangis sepuas puasnya, sepertinya aku tak punya pilihan lagi, bila tidak segera dioperasi ibuku akan meninggal tapi dipilihan lain aku harus menyerahkan keperawananku pada Bandot licik yang mengincar keindahan tubuhku. Tak ada cara lain untuk mendapatkan uang sebesar itu, Demi kesembuhan ibuku ahirnya kuputuskan untuk menjumpai Om Liem lagi keesok harinya. Dengan memakai seragam SPG dan rok mini yang ketat, jam 10 pagi aku datangi lagi ruangan kantor Om Liem.

    “he..he… he… akhirnya kau datang juga Shinta cantik, apakah kau sudah siap melayaniku diranjang..he.he..he..?” Om Liem tertawa penuh kemenangan. Aku hanya diam saja menerima ejekan itu.
    “Baiklah, Om Liem bisa menikmati tubuhku setelah kupastikan ibuku di operasi hari ini..”jawabku dengan berat hati.
    “Oke, No Problem “Om Liem menuliskan selembar cek dengan nominal sesuai yang ia janjikan kemarin kemudian didepanku dia menelpon rumah sakit untuk memastikan operasi hari ini.Segera aku masukan cek itu kedalam tas kecilku, aku memang membutuhkannya.

    “Semuanya sudah beres, sekarang kau tepati janjimu nona cantik, mari ikut aku..”kata Om Liem sambil menggandengku keluar ruangan.
    “*******… kali ini engkau menang.!” kataku dalam hati sambil mengikutinya masuk kedalam kemobil. Om Liem ternyata membawaku kesebuah hotel terkenal di Jakarta pusat. Sepertinya Om Liem sudah sering datang kemari, Setengah ketakutan aku melangkah masuk kehotel tersebut. Debaran jantungku semakin kencang ketika Om Liem menggandengku menuju kamar VIP dilantai lima. Beberapa pasang mata pegawai hotel nampak menatap kami, mungkin aneh dipandang seorang gadis muda cantik berjalan digandeng lelaki tua bangka menuju kamar hotel mereka pasti sudah tahu apa yang akan terjadi pada gadis cantik itu… ahh terlalu beruntung situa ini dapat kuda tunggangan yang aduhai. Aku terpaku diam berdiri didepan pintu kamar 508 yang sudah dibuka Om Liem, rasanya aku ingin segera lari dari tempat ini.

    “Ayo masuk Shinta.., kita selesaikan urusan kita.”kata Om liem sambil menarik lenganku dan menutup pintu kamar Hotel. Begitu pintu terkunci Om Liem Langsung memelukku merapat ketembok, rupanya napsunya sudah tak tertahankan lagi melihat kemulusan kulit tubuhku. Aku sedikit berontak ketika Tangan Om Liem mulai meraba pahaku yang putih, Mataku melotot marah padanya. Hampir saja kutampar wajahnya yang klimis itu.

    “Ingat perjanjian kita Shinta, keinginanmu sudah aku penuhi.. sekarang aku bebas menikmati keindahan tubuhmu.!” kata Om Liem sambil kembali mengangkat rok miniku sehingga menampakan kemulusan pahaku lalu menjamahinya. ..oughhhh..aaahh.. entah kemana keangkuhan dan kesombonganku selama ini, Kali ini aku tak berdaya melawannya, aku memang sudah terikat perjanjian itu dan tubuhku saat ini adalah miliknya. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika kurasakan tangan Om Liem mulai rajin menyusuri pahaku sampai kepangkal atas.. aah, Rasanya aku ingin menagis saja tapi air mataku tak ada yang keluar.
    “ooh… aahhhh… “suara napasku tak sanggup lagi kutahan ketika tangan Om liem mulai menyusup kedalam celana dalamku dan bermain disana. Om Liem tersenyum senang melihat Shinta tampak pasrah dalam pelukannya. Selama ini Shinta selalu angkuh bila didekatinya bahkan pernah mempermalukannya dihadapan para SPG yang lain. Setelah puas menjamahi selangkanganku, Om Liem lalu melepasku dan mengajakku berjalan kedalam ruang Utama yang lebih luas. Sambil berjalan mengikutinya aku merapikan kembali Rok miniku yang mulai acak acakan akibat jamahan Tangan Om Liem. Kulihat Sebuah Ranjang yang besar dan mewah di tengah ruangan ini.

    “Kamu tunggu disini dulu, aku mau minum Viagra biar bisa menjebol gawangmu.”kata Om Liem Sambil berkedip nakal. Aku memalingkan muka pura pura tidak mendengar perkataannya. Begitu Om Liem pergi Aku segera membuka tas kecilku, dari dalam tas itu kukeluarkan sebutir pil kontrasepsi yang sudah aku persiapkan dari rumah dan segera menelannya karena aku tak mau hamil akibat perbuatan Om Liem. Tampaknya Om Liem sudah biasa menyewa kamar hotel ini, Tak berani kubayangkan sudah berapa banyak gadis muda cantik yang sudah digarapnya diranjang itu. Temanku Selly yang cantikpun pernah cerita bahwa dirinya juga pernah digarap Om Liem disebuah kamar hotel bintang lima beberapa kali. Selera Om Liem Cukup tinggi pada perempuan cantik. Aku meletakkan tasku diatas meja kecil ketika kulihat Om Liem Yang bertubuh gemuk pendek mendekatiku.

    “Aku Sudah siap mejebol perawanmu nona cantik ..he..he”kata Om Liem sambil mulai memelukku, tangannya meraba payudaraku yang membusung kencang. Aku tak mampu menghindar lagi ketika mulutnya dengan bernapsu melumat lumat bibir merahku. Perasaan geli, jijik dan takut bercampur menjadi satu. Tapi ******* ini memang sudah sangat berpengalaman menaklukkan wanita. Tangannya kini makin berani menyusup ke dalam baju ketat lengan pendek yang kupakai, terus bergerak menyusup kebalik BH-ku, beberapa kancing bajuku lepas. Degub jantungku bertambah kencang dan napasku makin memburu ketika kurasakan tangan kasarnya mulai menggerayangi dadaku, apalagi jari-jarinya turut mempermainkan puting susuku. Aku hanya mandah saja ketika Om Liem mulai menjamah tiap jengkal tubuhku, aku sudah terikat perjanjian. Sambil menyupangi leherku yang putih bersih tangannya mulai menaikkan rok mini yang kupakai sambil meraba-raba pahaku yang jenjang dan mulus. Satu-persatu kancing bajuku dipretelinya tanpa dapat kucegah sehingga BH-ku yang berwarna merah muda, belahan dada, dan perutku yang rata nampak jelas menantang. Tanganku tak mampu menutupinya lagi. Melihat payudaraku yang kencang itu Om Liem makin bernafsu, dengan kasar BH itu dibukanya lepas dan menyembul lah payudaraku yang putih mulus dengan puting susu berwarna merah mu

    “wah..tubuhmu memang benar benar mulus dan indah Shinta.., sungguh beruntung aku dapat menikmatinya… he..he..” mata om liem melotot memandangi buah dadaku. Secara reflek tanganku berusaha menutupi payudaraku yang terbuka itu tetapi Om Liem yang sudah berpengalaman langsung menangkap kedua tanganku dan membentangkannya lebar lebar. Mataku terpejam tak sanggup menahan malu, selama ini belum pernah ada laki laki yang berani menjamahku karena aku sangat galak menjaganya, tapi kali ini aku tak berdaya menolaknya. Tubuhku mengelinjang gelinjang menahan birahi karena cumbuan Om Liem pada dadaku, secara bergantian Om Liem menghisap hisap kedua puting susuku yang kenyal itu bagaikan bayi yang kehausan.

    “oohh… oohhhh… ooohhhhhh”suara rintihanku tak dapat lagi kutahan. Bandot tua ini benar benar pintar merangsangku. Kemaluanku mulai terasa basah dibuatnya. Perlahan kurasakan Om Liem mulai membuka resleting rok miniku dan melorotkannya kebawah, tak lama celana dalamkupun menyusul lepas sehingga tubuhku yang indah sudah tak tertutup selembar benangpun. Aku mengeluh pasrah ketika Om Liem mendorongku hingga jatuh terlentang diatas kasur. Sambil berjalan mendekat dia melepas pakaiannya satu persatu. Setelah dia membuka celana dalamnya tampak olehku kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Gila.., ternyata penisnya besar juga, aku tak berani menatapnya. Dibentangkannya kedua belah pahaku di depan wajahnya. Tatapan matanya sangat mengerikan saat memandangi daerah selangkanganku yang ditubuhi bulu bulu halus, seolah-olah seperti monster lapar yang siap memangsaku. Om Liem membenamkan wajahnya pada selangkanganku, dengan penuh nafsu dia melahap dan menghisap hisap vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitorisku. Aku terpekik pekik kecil dibuatnya, Bandot tua ini benar benar ingin menikmati kecantikan tubuhku luar dalam. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang geli diiringi erangan nikmat yang terpaksa. Sampai akhirnya kurasakan otot tubuhku mengejang dahsyat, aku mencapai orgasme pertamaku. Cairan vaginaku tak dapat lagi kubendung.

    “Sluurrpp… sluurpp.. sshhrrpp..” demikian bunyinya ketika Om Liem menghisap sisa-sisa cairan Vaginaku.
    “Cairan Orgasme gadis perawan adalah resep awet mudaku selama ini..”kata Om Liem tersenyum puas.
    “Luar biasa Nikmatnya Vaginamu, sekarang saatnya kau nikmati pula penisku ini Shinta..”kata Om Liem sambil menyodorkan batang penisnya yang tegang ke muka ku.

    “Jangan… aku tak mau… !” kataku sambil berusaha menolak batang kemaluannya tapi Om Liem mengancam dan terus memaksakan penisnya masuk kemulutku sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulutku. Pada awalnya aku tetap menolak, namun dia menahan kepalaku hingga aku tidak dapat melepaskannya. Terpaksa kuturuti pula kemauannya kuhisap kuat kuat penisnya hingga matanya merem melek kenikmatan .Harga diriku benar benar jatuh saat ini, Aku dipaksa melayaninya dengan Oral. Tak terasa sudah 15 menit aku mengkaraoke Om Liem, Penisnya sudah semakin besar dan keras, dia mengakhirinya dengan menarik kepalaku.

    “Sekarang saatnya Aku pecahkan perawanmu Shinta..”kata Om Liem sambil menindih tubuhku dan membuka lebar-lebar kedua pahaku . Aku memejamkan mata menunggu detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku. Menyadari kalau aku masih perawan, Om Liem tak hanya melebarkan kedua pahaku. Namun dengan jari jemari tangannya Om Liem kemudian membuka kedua bibir vaginaku, kemudian dengan perlahan dipandunya batang penisnya yang sudah tegang kearah lubang vaginaku yang sudah terbuka.Setelah dirasa tepat, perlahan Om Liempun menekan pantatnya kebawah.

    “Auuw ..Akhh… auuww..! ” Aku memekik kesakitan sambil meronta ketika batang penis Om Liem mulai memasuki lubang kewanitaanku. Keringatku bercucuran membasahi tubuhku yang telanjang bulat, Keperawananku yang selama ini kujaga mulai ditembus oleh Om Liem tanpa sanggup kucegah lagi. Aku meronta ronta kesakitan… Om Liem yang sudah berpengalaman tak ingin serangannya gagal karena rontaanku segera tangan menahan pantatku, lalu dengan cepat, ditekan pantatnya kembali kedepan sehingga separuh batang kelakiannya pun amblas masuk kedalam Vaginaku.

    “Aakkhhh… !” Aku memekik kesakitan bersamaan dengan jebolnya keperawananku. Hancur sudah kehormatanku ditangan bandot tua itu. Sesaat aku masih meronta ronta pelan, namun karena pegangan kedua tangan Om liem dipantatku sangat kuat hingga rontaanku tiada arti. Batang penis terus menerobos masuk mengkoyak koyak sisa sisa Perawanku. Tangisanku mulai terdengar lirih diantara desah napas Om Liem yang penuh birahi.Tubuhku yang putih mulus kini tak berdaya dibawah himpitan tubun Om Liem yang gendut.Sesaat Om Liem mendiamkan seluruh batang penisnya terbenam membelah Vaginaku sampai menyentuh rahimku, perutku terasa mulas dibuatnya.

    “ha..ha..ha… tak perlu menangis nona cantik, kau sudah kuperawani saat ini, lebih baik nikmati saja ******ku ini.” ejek Om Liem sambil mulai menggoyang pantatnya maju mundur perlahan. Penis Om Liem kurasakan terlalu besar menusuk Vaginaku yang masih sempit, setiap gesekan penis Om Liem menimbulkan rasa nyeri yang membuatku merintih rintih, tetapi buat Om Liem terasa nikmat luar biasa karena Penisnya tercepit erat oleh memek Shinta yang masih rapat dan baru ditembus perawannya. Inilah nikmatnya makan gadis perawan muda yang selama ini membuat Om Liem jadi ketagihan. Semakin lama batang Penis Om Liem Semakin lancar keluar masuk menggesek Vaginaku karena cairan pelumas Vaginaku mulai keluar secara alamiah, rasa sakit dikemaluanku semakin berkurang, rintihanku perlahan mulai hilang berganti dengan suara napas yang berirama dan terengah engah. Tua bangka ini ternyata memang pintar membangkitkan nafsuku. hisapan hisapan lidahnya pada putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Bagai manapun juga aku adalah manusia normal yang juga punya napsu birahi, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh permainannya, tak ada guna menolak. lebih baik kunikmati saja perkosaan ini.

    “Ooooh… , oooouugh… , aahhmm… , ssstthh!” .erangan panjang keluar dari mulutku yang mungil. akhirnya aku biarkan diriku terbuai dan larut dalam goyangan birahi Om Liem. Aku memejamkan mata berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang sedang mencumbui tubuhku ini adalah lelaki muda idamanku. Penisnya kini mulai meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati perkosaan ini, aku tidak perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah Bandot tua yang sudah merenggut kehormatanku.

    Sales Promotion GirlDarah perawanku kurasakan mulai mengalir keluar membasahi seprai dibawah pantatku. Rasa sakitku kini mulai hilang. Sambil bergoyang menyetubuhiku bibirnya tidak henti-hentinya melumat bibir dan pentil susuku, tangannyapun rajin menjamahi tiap lekuk tubuhku sehingga membuatku menggeliat geliat kenikmatan .Rintihan panjang ahirnya keluar lagi dari mulutku ketika mulai mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku yang polos itu sehingga kulitku yang putih bersih kelihatan mengkilat membuat Bandot itu semakin bernapsu menggumuliku. Birahi Om Liem semakin menggila melihat tubuhku yang begitu cantik dan mulus itu tergeletak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang cukup besar itu. Sungguh ironi memang, gadis muda secantik aku terpaksa mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan kekasihku, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosaku.

    Tanpa memberiku kesempatan beristirahat Om Liem merubah posisi bersetubuh. Tubuhku ditariknya duduk berhadapan muka sambil mengangkang pada pangkuannya, Dengan sekali tekan penis Om Liem yang besar kembali menembus vaginaku dan terjepit erat dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangan kiri Om Liem memeluk pinggulku dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penis Om Liem menerobos masuk ke dalam kemaluanku. Tangan kanan Om Liem memeluk punggungku dan menekannya rapat-rapat hingga kini pinggulku melekat kuat pada pinggul Om Liem .
    “Ouughh..oohhh… ooohhhh… “Aku merintih halus ketika kurasakan batang penis Om Liem amblas seluruhnya hingga menyentuh rahimku. Rintihanku semakin keras saat Bandot itu mulai melumati buah dadaku sehingga menimbulkan perasaan geli yang amat sangat setiap kali lidahnya memyapu nyapu puting susuku . Kepalaku tertengadah lemas ke atas, pasrah dengan mata setengah terkatup menahan kenikmatan yang melanda tubuhku sehingga dengan leluasanya mulut Om Liem bisa melumati bibirku yang agak basah terbuka itu. Setelah beberapa saat puas menikmati bibirku yang lembut dia mulai menggerakkan tubuhku naik turun.

    “Hmm… Jepitan Memekmu sungguh nikmat sekali Shinta… beda dengan perempuan lain yang sering aku setubuhi… “suara Om Liem sayup sayup kudengar ditelingaku.Aku tak memperdulikannya lagi, saat ini tubuhku tengah terguncang guncang hebat oleh goyangan pinggul Om Liem yang semakin cepat. Terkadang Bandot ini melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Aku dipaksa terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakannya makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu.

    Dan ketika klimaks kedua itu sampai, aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dengan lelaki muda dan tampan. Walau pun sudah tua tapi Om Liem masih mampu menaklukan gadis muda sepertiku. Kali ini dia membalikkan badanku hingga posisi tubuhku menungging lalu mengarahkan kemaluannya diantara kedua belah pahaku dari belakang. Dengan sekali sentak Om Liem menarik pinggulku ke arahnya, sehingga kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluanku. “Oooooouh… ouuuhhgh!” untuk kesekian kalinya penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginaku dan Om Liem terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang gendut itu menempel ketat pada pantat mulusku.

    Selanjutnya dengan ganasnya Om Liem memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vaginaku yang masih rapat itu. Inilah pengalaman pertamaku dijamah oleh laki laki yang sudah sangat berpengalaman dalam bersetubuh, Walaupun berusaha bertahan aku ahirnya kewalahan juga menghadapi Om Liem yang ganas dan kuat itu. Bandot tua itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir satu jam ia menggoyang dan menyetubuhiku tetapi tenaganya tetap prima. Tangannya terus bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali, mungkin karena sebelumnya dia sudah minum obat kuat Viagra, aah… entahlah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting aku sudah melunasi perjanjianku dengan menyerahkan kegadisanku sebagai imbalan uang yang kubutuhkan.

    Aku pasrah saja ketika tubuhku kembali di terlentangkan Om Liem diatas kasur dan digumulinya lagi dengan penuh birahi. Rasanya tak ada lagi bagian tubuhku yang terlewatkan dari jamahannya. ******* itu ternyata tidak mau rugi sama sekali, kesempatan menyetubuhiku itu dimanfaatkan sebaik mungkin, Tak henti hentinya Om Liem melahap kedua buah dadaku yang terguncang-guncang terkena hentakan batang kemaluannya. Dengan rakus disedot-sedotnya puting susuku dengan kuatnya yang kiri dan kanan bergantian, mataku terpejam pejam dibuatnya, sungguh Om Liem menikmati puting susuku yang baru tumbuh itu dengan bernapsu. Tidak lama setelah aku mencapai klimaks berikutnya, dia mulai melenguh panjang, sodokanya makin kencang dan kedua payudaraku diremasnya dengan brutal sampai aku terpekik. Setelah itu dia nenekan penisnya dalam dalam hingga batang kemaluannya terbenam seluruhnya sampai menyentuh rahimku. aku berteriak kesakitan dan berusaha meronta tetapi Om Liem membekap bibirku dengan mulutnya sambil tangannya memeluk rapat pinggangku sehingga aku tak mampu bergerak lagi. Sambil meleguh panjang Om Liem menembakkan air maninya kedalam rahimku dengan deras tanpa ada perlawanan lagi dariku.

    Beberapa saat kemudian suasana jadi hening senyap hanya suara napas Om Liem terdengar naik turun diatas tubuhku yang masih menyatu dengan tubuhnya. Aku sudah kehabisan tenaga tak mampu bergerak lagi dan kurasakan maninya menyembur nyembur hangat memenuhi rahimku, semoga saja aku tidak hamil pikirku dalam hati. Beberapa saat kemudian Om Liem mulai bangkit dan mencabut kemaluannya dari tubuhku, dengan senyum kepuasan karena telah berhasil menikmati kecantikanku luar dalam. Tanganku segera bergerak selimut untuk menutupi tubuhku yang polos itu.Tak perlu kau tutupi lagi tubuhmu itu, aku sudah tahu dan merasakan semuanya… he..he… “Om Liem masih sempat mengejek sambil meninggalkanku terbaring lemas di atas ranjang, aku diam saja tak perduli ejekannya mentalku masih mengalami shok berat akibat kehilangan keperawanan. Vaginaku masih terasa sakit akibat paksaannya bersetubuh. Bercak bercak darah perawanku mulai mengering disela sela pahaku yang putih bercampur dengan sperma Om Liem yang menetes keluar dari dalam kemaluanku.

    “Benar benar *******… lelaki tua itu” kataku geram dalam hati. Air mataku jatuh menetes membasahi pipiku, tapi apa yang harus disesalkan, semuanya telah terjadi sesuai dengan kesepakatan yang kubuat.Tubuhku kini telah ternoda. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur, dengan selimut yang melilit ditubuhku aku memunguti kembali pakaianku yang tercecer dilantai, segera aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selintas kulihat Om Liem duduk menggenakan kimono disofa sambil menikmati sebatang cerutu dibibirnya.Om Liem tersenyum memandang tubuhku, Aku memalingkan muka dan mempercepat langkahku masuk kekamar mandi.

    Baca Juga : Memperkosa Sampai Hamil Ibu Cantik

    Aku mengenakan kembali baju dan rok miniku setelah lebih setengah jam membersihkan tubuhku . Dalam keadaan rapi Aku keluar dari kamar mandi, Kulihat Om Liem masih duduk di Sofa sambil memegang botol minuman.
    “Aku ingin pulang Om… perjanjian kita sudah selesai..!” kataku sambil meraih tas kecil milikku diatas meja.
    “Belum selesai Shinta… aku masih belum puas… !” kata Om Liem sambil berdiri menghampiriku.
    “Tapi..bukankah Om Liem tadi sudah mendapatkan keperawananku..sesuai dengan kesepakatan kita..!” kataku sambil menepiskan tangan Om Liem yang berusaha menjamah dadaku.

    “Memang benar..tapi aku merasa belum puas..!” kata Om Liem tersenyum kurang ajar.
    “Aku tak mau lagi Om… aku mau pulang … !kataku sambil melangkah cepat menuju pintu keluar kamar.
    “Shinta… aku akan menelpon ke Bank dan membatalkan cek yang kuberikan padamu bila kamu menolaknya..!” Ancam Om Liem sedikit keras. Langkahku jadi terhenti karena ancamannya, pikiranku jadi kalut, ******* ini benar benar licik.. Bila aku menolaknya dan Om Liem membatal cek itu dengan menelpon bank, maka akan sia sialah pengorbananku ini. Om Liem kembali mendekatiku dan meyentuh bahuku.

    “Bagaimana, kau bersedia melayaniku lagi..?tanyanya sambil meraih pinggangku yang langsing. Aah… benar benar sialan tua bangka ini, aku tak berdaya menolaknya .Kupikir pikir untuk apa lagi jual mahal, toh aku sudah tidak perawan lagi. Akhirnya dengan berat hati aku hanya dapat menganggukkan kepala .
    “Sekali ini saja Om… “kataku singkat.
    “Oke… no problem..”kata Om Liem senang sekali.

    Tanpa basa basi lagi Om Liem langsung membuka kancing kancing bajuku dan melepaskannya kelantai sehingga nampaklah BHku yang berwarna merah jambu. Dengan kasar BH itu ditariknya lepas sehingga buah dadaku yang putih bersih kembali terbuka lebar menampakan kemulusan kulitku yang tersembunyi. Aku memaki maki dalam hati tanpa mampu berbuat sesuatu untuk mencegahnya. Buah dadaku yang sudah terbuka lebar itu langsung diserang Om Liem dengan bernapsu, lumatan lumatannya makin menggila.Tubuhku menggelinjang gelinjang geli menahan birahi karena serangannya.” Ooughh… aahhh..ooughh..” Hisapan hisapan lidahnya pada puting susuku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku memejamkan mata pasrah berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang sedang mencumbui tubuhku ini adalah pria muda.

    “Sshh.. aaahhh… eemhh..!” aku mulai meracau tidak karuan saat jari-jarinya menyusup kedalam celana dalamku dan menusuk kemaluanku sambil memainkan klistorisku, sementara itu mulutnya tidak henti-hentinya menciumi payudaraku, sadar atau tidak aku kembali terbawa nikmat oleh permainannya. Perlahan lahan kurasakan tangan Om Liem mulai beraksi melepaskan resleting rok miniku dan melorotkannya kebawah, detak jantungku semakin keras, tak lama celana dalamkupun menyusul lepas sehingga dalam sekejap tubuhku sudah telanjang bulat. Sesaat mata Om Liem melotot memandangi tubuh polosku yang tampak putih bersih. Kemudian Om Liem yang bertubuh pendek meraih pinggangku yang ramping dan menuntunnya berjalan menuju kamar tidur utama. Aku hanya menurut saja kembali dibawa Om Liem kedalam kamar tidur, aku sudah menduga bahwa Om Liem ingin kembali mengerjai dan menikmati tubuhku yang putih mulus diatas kasur yang lembut itu, … aaaah… bandot ini sangat beruntung sekali… mendapatkan tubuhku tanpa perlawanan.

    Setelah membaringkanku diatas kasur, Om Liem segera membuka kimono yang dipakainya dengan tergesa gesa. Ternyata Om liem tak menggenakan apa apa dibalik kimononya. Aku memalingkan mukaku ketika Om Liem mulai membuka kedua pahaku lebar lebar sehingga bibir vaginaku terbelah luas menantang. Rupanya Om Liem sudah tak sabar ingin segera menyetubuhiku. Dengan pasti batang penisnya yang sudah tegang dari tadi mulai diarahkan kebibir kemaluanku yang sudah terbuka.
    “Pelan pelan Om… masih sakit… !” kataku berbisik sambil menahan napas ketika kurasakan penis Om Liem mulai menembus bibir vaginaku yang masih sempit.. Sambil membuka lebar kedua pahaku Om Liem mulai mendorong penisnya keselangkanganku kuat kuat.
    “auuww..aaahkhhh… !!aku memekik keras menahan yeri saat batang kemaluan Om Liem yang keras itu dengan paksa memasuki lubang kemaluanku yang masih sempit. Untuk kedua kalinya aku tak kuasa menolak Penis Om Liem yang tegang memasuki kemaluanku dalam dalam. Rasa nyeri masih terasa walaupun tidak sesakit ketika pertama kali Om Liem menembus perawanku..

    “He..he..Jepitan Memekmu sungguh nikmat sekali Shinta, lebih nikmat dari pada gadis gadis lain yang sudah pernah aku perawani… he..he… payudaramupun lebih kenyal dan berisi..”kata Om Liem sambil mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun menggauliku. Aku diam saja mendengar ejekannya, saat ini badanku mulai terguncang guncang seirama dengan goyangan tubuh Om Liem yang menindih tubuhku.

    “Oohh..ooohhhh… oooohhhhhh… “suaraku tak dapat kutahan lagi ketika gerakan Om Liem semakin cepat memacu tubuhku hingga tersentak sentak dengan keras.Birahiku jadi terangsang lagi, cairan vaginaku mulai banyak keluar sehingga Penis Om Liem kini sudah lancar keluar masuk vaginaku. Sambil tangannya mencengkram buah dadaku, goyangan Om Liem semakin menggila.
    “Oooouuh… oooohhhhhhhh… Om Liem… “Tubuhku semakin menggeliat geliat tak karuan ketika buah dadaku kembali dilumat lumat Om Liem dengan ganasnya. Gesekan Batang penis Om Liem semakin terasa nikmat. Ahirnya aku tak dapat bertahan lebih lama lagi, tubuhku mengejang lagi, aku mengalami Orgasme lebih dulu.
    “He..he… nikmat khan, bersetubuh denganku..?” kata Om Liem senang karena berhasil membuatku mencapai Orgasme. Aku memejamkan mata menahan malu telah diperdayainya hingga mengalami orgasme. Bandot tua ini memang bukan tandinganku, Pengalamanya sangat jauh dibandingkan aku yang baru hari ini mengenal Sex, sehingga dengan mudah dia dapat menaklukanku.
    “Sekarang giliranku untuk bersenang senang nona cantik… “kata Om Liem sambil merubah posisi tubuhku berbalik seperti orang merangkak. Rupanya Om Liem ingin menembakku dari belakang. Aku hanya dapat pasrah mengikuti kemauan bandot ini. Tepat di hadapanku terdapat kaca rias yang besar didinding, sehingga aku dapat melihat tubuhku telanjang bulat serta dibelakangku terlihat Om Liem sedang mengagumi kemulusan tubuhku.

    “Tak kusangka tubuhmu benar benar sempurna Shinta, kamu sungguh cantik sekali, beruntung sekali aku dapat memerawanimu… he..he… !” Om Liem tertawa sambil menyelipkan penisnya lagi di antara kedua kakiku lewat belakang. Dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju.

    “Oohhh.., oouugghh.., aaahhhhh.. Aakkhh..!” Suaraku kembali terdengar ketika penis Om Liem dengan paksa menembus tubuhku dari belakang. Dengan bernapsu Om Liem kembali menggoyangku maju mundur sehingga buah dadaku yang menggantung ikut terguncang guncang berirama. Sambil terus menggoyangku tangan Om Liem yang bebas kembali meremas remas buah dadaku yang menggantung lepas. Melalui cermin besar didepanku, terlihat Om Liem sedang menggauli tubuh telanjangku, selintas nampak seperti seorang bidadari sedang diperkosa habis habisan oleh iblis hidung belang. Karena sepertinya tidak berimbang sekali, yang satu gadis muda cantik dan satunya lagi bandot tua.

    “aaahhh… aaahhh… oouugghh ” Gerakan Om Liem Semakin cepat menyodok nyodok rahimku, rasanya aku sudah tak kuat lagi, tampaknya Bandot Tua itu juga sudah akan mencapai klimaxs. Tiba tiba Om Liem membalikan posisi tubuhku sehingga aku kembali terlentang dihadapannya. Sambil menindihku Om Liem kembali menghujamkan penisnya kedalam kemaluanku dengan kuat.
    “Ooouugghh… !!” Om Liem nampak menikmati jeritanku ketika dia menghunjamkan lagi penisnya ke vaginaku yang telah basah oleh cairan licin. Sambil terus menggenjot tubuhku, bibir Om Liem kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang ku yang terkulai lemas tertengadah ke atas. Suara hisapannya bergema keras diruangan ini. Gerakan dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Aku hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah “Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. ooohh..!” sementara tubuhku telah lemah dan semakin kepayahan. Akhirnya badan Om Liem pun menegang sambil mendekapku kuat kuat .

    “Aaahhhh… Sakit Ommm… !” kataku sambil berusaha melepaskan pelukannya yang kuat tapi Om Liem malah menekan kemaluannya dalam dalam tak perduli dengan jeritanku Dan “Akkh… Crooot.., crooooott..!” Om Liem berejakulasi di rahimku, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari belahan Vaginaku. Om Liem nampaknya menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati bibirku yang terbuka kepayahan . Om Liem mengerang kenikmatan di atas tubuhku yang sudah lemas, sementara rahimku terus menerima semburan sperma yang cukup banyak. Badan Om Liem menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu.

    Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhiku habis habisan serta merengut keperawananku yang selama ini menjadi Primadona SPG di perusahaanya. Senyum puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh ku yang tergolek tak berdaya di bawah pelukannya. Om Liem pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan, tubuhnya tampak lemas diatas tubuhku. Perlahan kudorong tubuh gemuknya kesamping agar tak membebani tubuhku. Ahirnya akupun tertidur kelelahan dipelukan Om Liem setelah beberapa ronde tadi melayani napsu birahinya yang tak putus putus. Sore harinya kembali aku digarapnya di kamar mandi ketika dipaksa mandi bersama, sambil berdiri merapatkan punggungku ketembok Om Liem kembali menggoyangku, sebelah kakiku diangkatnya keatas sehingga penisnya leluasa keluar masuk vaginaku, aku merintih rintih kecil dibuatnya. Sore itu aku terpaksa melayaninya sampai Bandot itu mendapatkan kepuasan dan dia semprotkan semua maninya dalam vaginaku.

    Setelah puas mengerjaiku barulah Om Liem mau melepaskanku dan mengantarkanku pulang. Sepanjang Jalan, aku hanya diam membisu disamping Om Liem yang mengemudikan mobil, Aku masih sakit hati padanya yang telah berhasil memperdayaiku, Tubuhku habis habisan dikerjainya, Vaginaku masih terasa sakit akibat paksaannya bersetubuh, bagian tubuhku yang tersembunyipun penuh dengan warna merah bekas cupangannya terutama dibagian buahdada dan paha putihku. Yang lebih menyakitkan lagi Om Liem mengambil celana dalamku tanpa dapat kutolak, katanya setiap gadis yang berhasil diperawaninya akan dikoleksi celana dalamnya bersama bercak-bercak darah perawan yang masih menempel.Sudah puluhan koleksi disimpannya. Terpaksa Saat itu aku pulang dengan menggunakan rok tanpa celana dalam.

    “Bila kamu butuh uang lagi, kamu bisa hubungi aku lagi Shinta… tentunya kamu tak keberatan khan, memberikan kenikmatan tubuhmu itu… he..he… “kata Om Liem sebelum aku turun dari mobilnya. Aku diam saja sambil berlalu darinya, sudah pukul 6 sore saat aku tiba didepan rumahku.

    Ternyata hampir seharian aku dikerjai bandot tua itu. Suatu saat akan kubalaskan dendamku ini, akan kuhabiskan hartanya, tunggulah tak akan lama lagi waktu itu akan tiba, kau harus bayar mahal kenikmatan yang kau dapat dari kemulusan tubuhku.

    Inilah pengalaman pertamaku yang kuceritakan secara vulgar buat pembaca, lain waktu aku akan ceritakan lagi kehidupan sexualku setelah kejadian ini dimana aku mulai terjerumus kedunia gadis panggilan High class, para pelangganku adalah pejabat dan pengusaha ternama di Jakarta.

    Tak ada pelanggan yang kecewa dengan kecantikan dan kemulusan tubuhku plus layanan istimewa. Hanya lelaki berduit saja yang dapat menjamah keindahan tubuhku ini.

  • Ngentot Tante Cantik Bernafsu

    Ngentot Tante Cantik Bernafsu


    407 views

    Cerita Maya | Sebelum aku menulis isi dari cerita ini, aku akan memberikan gambaran sekilas tentang tanteku ini. Tingginya sekitar 167-an, lingkar dadanya sekitar 34-an, pinggulnya 32-an, aku menambahkan “an” karena aku kurang tahu pasti besar masing-masing bagian tubuhnya itu.

    Ngentot Tante Cantik Bernafsu

    Kejadian itu terjadi di Denpasar Bali, tahun 1998, aku waktu itu kelas 3 SMU di salah satu SMU di Denpasar. Tapi sekarang aku kuliah di Jakarta di salah satu kampus yang tidak begitu terkenal di Jakarta. Aku memang sudah lama sekali sangat menginginkan tubuh tanteku itu, tapi butuh penantian yang lama, kira-kira sejak aku SMP. Mulailah kuceritakan isinya. Waktu itu sekitar jam 12.30 WITA, matahari benar-benar panasnya minta ampun, terus motorku endut-endutan. Wahhh! benar-benar reseh dah.

    Tapi akhirnya aku sampai di kost-kostan, langsung saja aku ganti baju, terus sambil minum air Aqua, wuahhh, segar tenan rek. Lalu tiba-tiba belum kurebahkan badan untuk istirahat handphone-ku bunyi, ternyata dari tanteku, lalu kujawab, Cerita Maya
    “Halo Tan, ada apa?”
    “Kamu cepet dateng ya!” ucap tanteku.
    “Sekarang?” tanyaku lagi.
    “La iya-ya, masa besok, cepet yah!” ujar tanteku.
    Lalu aku bergegas datang ke rumah tanteku itu.

    Sesampainya di sana, kulihat rumahnya kok sepi, tidak seperti biasanya (biasanya ramai sekali), lalu kugedor pintu rumah tanteku. Tiba-tiba tanteku langsung teriak dari dalam. “Masuk aja Wa!” teriak tanteku. Oh ya, namaku Dewa. Lalu aku masuk langsung ke ruang TV. Terus aku tanya,
    “Tante dimana sih?” tanyaku dengan nada agak keras.
    “Lagi di kamar mandi, bentar ya Wa!” sahut tanteku.
    Sambil menunggu tanteku mandi aku langsung menghidupkan VCD yang ada di bawah TV, dan menonton film yang ada di situ. Tidak lama kemudian tanteku selesai mandi lalu menghampiri aku di ruang TV. Oh my god! Tanteku memakai daster tipis tapi tidak transparan sih, tapi cetakan tubuhnya itu loh, wuiiihhh! Tapi perlu pembaca ketahui di keluargaku terutama tante-tanteku kalau lagi di rumah pakaiannya seksi-seksi.

    Aku lanjutkan, lalu dia menegurku.
    “Sorry ya Wa, Tante lama.”
    “Oh, nggak papa Tante!” ujarku rada menahan birahi yang mulai naik.
    “Oom kemana Tante?” tanyaku.
    “Loh Oom kamu kan lagi ke Singaraja (salah satu kota di Bali),” jawab tanteku.
    “Memangnya kamu nggak di kasih tau kalo di Singaraja ada orang nikah?” tanya tanteku lagi.
    “Wah nggak tau Tante, Dewa sibuk sih,” jawabku.
    “Eh Wa, kamu nggak usah tidur di kos-an yah, temenin Tante di sini, soalnya Tante takut kalo sendiri, ya Wa?” tanya tanteku sedikit merayu.

    Wow, mimpi apa aku semalam kok tanteku mengajak tidur di rumahnya, tidak biasanya, pikirku.
    “Tante kok nggak ikut?” tanyaku memancing.
    “Males Wa,” jawab tanteku enteng.
    “Ooo, ya udah, terus Dewa tidur dimana Tan?” tanyaku lagi.
    “Mmm… di kamar Tante aja, biar kita bisa ngobrol sambil nonton film, di kamar Tante ada film baru tuh!” ujar tanteku.
    Oh god! what a miracle it this. Gila aku tidak menyangka aku bisa tidur sekamar, satu tempat tidur lagi, pikirku.
    “Oke deh!” sahutku dengan girang.

    Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.
    “Waaa…! Dewaaa…! udah mandi belum?” teriak tanteku memanggil.
    “Bentar Tan!” jawabku.

    Memang saat itu aku sedang membersihkan motor, melap motor adalah kebiasaanku, karena aku berprinsip kalau motor bersih terawat harga jualnya pasti tinggi. Pada saat itu pikiran kotorku dalam sekejap hilang. Setelah melap motor, aku bergegas mandi. Di kamar mandi tiba-tiba pikiran kotorku muncul lagi, aku berpikir dan mengkhayalkan kemaluan tanteku, “Gimana rasanya ya?” khayalku.

    Terus aku berusaha menghilangkan lagi pikiran itu, tapi kok tidak bisa-bisa. Akhirnya aku mengambil keputusan dari pada nafsuku kupendam terus entar aku macam-macam, wah pokoknya bisa gawat. Akhirnya aku onani di kamar mandi. Pas waktu di puncak-puncaknya aku onani, tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang mengetuk. Kontan saja aku kaget, ternyata yang masuk itu adalah tanteku. Mana pas bugil, sedang tegang lagi kemaluanku, wah gawat!

    “Sibuk ya Wa?” tanya tanteku sambil senyum manja.
    “Eh… mmm… so… so… sorry Tan, lupa ngunci,” jawabku gugup.
    Tapi sebenarnya aku bangga, bisa menunjukkan batang kemaluanku pada tanteku. Panjang batang kemaluanku pas keadaan puncak bisa mencapai 15 cm, pokoknya “international size” deh.
    “Oh nggak papa, cepetan deh mandinya, terus langsung ke kamar ya, ada yang pengen Tante omongin.”
    “Oh my god, marah deh Tante, wah gawat nih,” pikirku.
    Lalu aku cepat-cepat mandi, terus berpakaian di dalam kamar mandi juga, tidak sempat deh melanjutkan onani, padahal sudah di puncak.

    Baca Juga Cerita Seks Calon Sekretaris Haus Seks

    Setibanya di kamar tanteku, aku melihat tante memakai celana pendek, sangat pendek, ketat, pokoknya seksi sekali, terus aku bertanya,
    “Ada apa Tan, kayaknya gawat banget sih?” tanyaku takut-takut sambil duduk di atas tempat tidur.
    “Enggak, Tante pengen cerita, tentang Oom-mu itu lho,” ujar tanteku.
    “Emangnya Oom kenapa Tan?” tanyaku lagi.
    Dalam hatiku sebenarnya aku sudah tahu oom itu orangnya agak lemah, jadi aku berharap tante menawarkan kemaluannya padaku. Dengan seksama aku medengarkan cerita tanteku itu.

    “Sebenernya Tante nggak begitu bahagia sama Oom-mu itu, tapi dibilang nggak bahagia nggak juga, sebabnya Oom-mu itu orangnya setia, tanggung jawab, dan pengertian, yang bikin Tante ngomong bahwa Tante nggak bahagia itu adalah masalah urusan ranjang,” ujar tanteku panjang lebar.
    “Maksud Tante?” tanyaku lagi.
    “Ya ampun, masih nggak ngerti juga, maksud Tante, Oom-mu itu kalo diajak begituan suka cepet nge-down, nah ngertikan?” tanya tanteku meyakinkan aku.
    “Ooo…” ucapku pura-pura tidak mengerti.
    “Mmm… Wa, mau nggak nolongin Tante?” tanya tanteku dengan nada memelas.
    “Bantu apa Tan?” tanyaku lagi.
    “Kan hari ini sepi, terus Oom-mu kan nggak ada, juga sekarang Tante lagi terangsang nih, mau nggak kamu main sama Tante?” tanya tanteku sembari mendekatkan tubuhnya kepadaku.

    Gila! Ternyata benar juga yang aku khayalkan, Tanteku minta! Cihui! ups tapi jangan sampai aku terlihat nafsu juga, pikirku dalam-dalam.
    “Tapi Dewa takut Tante, nanti ada yang ngeliat gimana?” ucapku polos.
    “Loh…! kan kamu ngeliat sendiri, emang di sini ada siapa? kan nggak ada siapa-siapa,” jawab tanteku meyakinkan.
    “Ya udah deh,” ujar tanteku sambil memulai dengan menempelkan tangannya ke kemaluanku yang sebenarnya sudah menegang dari tadi.
    “Wow… gede juga ya! Buka dong celanamu Wa!” ujar tanteku mesra.
    Lalu kubuka celanaku dengan cepat-cepat, dengan cepat pula tanteku memegang kemaluanku yang sudah over size itu. Sambil mengocok batang kemaluanku dengan tangan kirinya, tangan kanan tanteku memegang payudaranya dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang merangsang. “Emf… ehm… mmm… gede banget kemaluanmu Wa!” ujar tanteku.

    Aku tidak terlalu mendengarkan omongan tanteku, soalnya aku sudah “over” sekali. Lalu tanteku mulai menempelkan kemaluanku ke mulutnya, dan dengan seketika sudah dilumatnya batang kemaluanku itu.
    “Oh God! Eh… eh… ehm… e… nak… Tante… terus Tan…!” ujarku merasakan nikmatnya kuluman tanteku itu. Tanteku lalu merebahkan tubuhku di atas ranjangnya, lalu dengan ganas ia menyedot batang kemaluanku itu, lalu ia memutar tubuhnya dan meletakkan liang kemaluannya di atas mukaku tanpa melepaskan kemaluanku dari mulutnya. Dengan sigap aku langsung menjilat liang kemaluan tanteku. Merasakan itu tanteku mengerang keenakan. “Aaah… Wa… enak… terus Wa… terus jilat…!” erang tanteku keras-keras. Mendengar itu, nafsuku makin bertambah, dengan nafsu yang menggebu jilatan ke kemaluannya kutingkatkan lagi, dan akibatnya tanteku mengalami orgasme yang dahsyat, sampai-sampai mukaku kena semprotan cairan kewanitaannya. “Oh Dewa… Tante sayang kamu… uh… ka.. ka… mu ponakan Tante paling… heee… bat… aaah,” puji tanteku sambil mengerang merasakan nikmat.

    Aku merasa bangga karena aku masih bertahan, lalu aku membalikkan tubuh tanteku sehingga ia terlentang. Kuangkat kedua kakinya sehingga terpampanglah liang kemaluannya berwarna pink merekah. Sebelum aku mulai menu utamanya, pertama aku melucuti pakaiannya terlebih dahulu, setelah terbuka, aku mulai memainkan mulutku di puting payudaranya, dan kemaluanku yang telah “over” tadi kuletakkan di atas perutnya sambil menggesek-gesekkannya. Perlahan aku menciumi tubuh tanteku dengan arah menurun, mulai dari puting terus ke perut lalu ke paha sampai akhirnya tiba di bibir kemaluannya. Dengan penuh nafsu aku menjilat, menyedot, sampai menggigit saking gemasnya, dan rupanya tanteku akan mengalami orgasmenya lagi. “Ooohh… Waaa… Tante mau keee… luuu.. aar! Aaah…!” erang tanteku lagi sambil menjambak rambut kepalaku sehingga wajahku terbenam di kemaluannya. “Wa, udah ah, Tante nggak kuat lagi, Oom-mu mana bisa kayak gini, udah deh Wa, lansung aja tante pengen langsung ngerasain itu-mu.”

    Tubuhnya kutopang dengan tangan kiri, sementara tangan kiri membimbing batang kemaluanku mencari sarangnya. Melihatku kesulitan mencari liang kemaluan tanteku, akhirnya tanteku yang membimbing untuk memasukkan batang kemaluaku ke liang kemaluannya. Setelah menempel di lubangnya, perlahan kudorong masuk batang kemaluanku, dorongan itu diiringi dengan desahan tanteku. “Egghmm… terus Waa… pelan tapi terus Wa… egghhmm…!” desahan tanteku begitu merangsang. Aku sebenarnya tidak senang dengan permainan yang perlahan. Akhirnya dengan tiba-tiba dorongan batang kemaluanku, kukeraskan sehingga tanteku teriak kesakitan. “Aaahh… Waaa.. saaakitt… pelan-pelan… aargghhh…” teriak tanteku menahan sakitnya itu. Dan tidak percuma, batang kemaluanku langsung terbenam di dalam liang kehormatannya itu. Setelah itu batang kemaluanku, aku maju-mundurkan perlahan, untuk mencari kenikmatan.

    Dengan gerakan perlahan itu akhirnya tanteku menikmati kembali permainan itu. “Ah… uh… terus Wa… enak sekali… itu-mu gede sekali… eggghh… lebih enak dari Oom-mu itu… terus Waaa…” erang tanteku keenakan. Lalu lama-lama aku mulai mempercepat gerakan maju-mundur, dan itu mendapat reaksi yang dahsyat dari tanteku, ia juga mulai memainkan pinggulnya, hingga terasa batang kemaluanku mulai berdenyut, Cerita Maya
    “Tan… saya mauuu… kelu… arrr… nih…!”
    “Di dalam aja Waaa… Tante… juugaa… mauuu keeluaaarr… aaarrgghh…!”
    Akhirnya kami keluar bersama-sama, kira-kira enam kali semprotan aku mengeluarkan sperma. Aaahh… begitu nikmatnya.

    Setelah itu kucabut batang kemaluanku dari liang kemaluan tanteku, terus kuberikan ke mulut tanteku untuk dibersihkan. Dengan ganas tanteku menjilati spermaku yang masih ada di kepala kemaluanku hingga bersih. Setelah itu tanteku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan aku tetap berada di kamar, tiduran melepas lelah. Setelah tanteku selesai membersihkan diri, ia kembali ke kamar dan segera mencium bibirku, lalu ia bilang bahwa selama oom-ku di Singaraja, aku diharuskan tinggal di rumah tanteku dan aku jelas mengiyakan. Lalu tante juga bertanya apakah keadaan kostku bebas, maka kujawab iya. Lalu tante bilang bahwa kalau misalnya oom-ku ada di rumah, terus tanteku ingin main denganku, tanteku akan mencariku ke kost, aku hanya manggut-manggut senang saja.

    Cerita Sex Selingkuh,Cerita Sex Pasutri,Cersex,Cerita Sex 2017,Cerita Ngentot Terbaru,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Mesum,Cerita Hot,Cerita Sex Bergambar,Cerita Sex Panas,Cerita Bokep Seks,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Tante,Kisah Seks,Cerita Panas,Cerita Mesum,