• The Orgy Club: Welcome to the Club

    The Orgy Club: Welcome to the Club


    58 views

    Note:

    Cerita ini merupakan remake dari cerita lawas berjudul sama, The Orgy Club. Terima kasih pada sang penulis asli yang membuat cerita ini. Saya tertarik membuat ulang cerita ini karena tertarik dengan konsepnya yang bagus, namun sayangnya prosesnya terkesan grusa-grusu. Nah di sini lah saya bermaksud menyempurnakan tulisan ini dengan plot yang lebih mengalir halus, adegan seks yang lebih detil dan hot, serta menambahkan unsur BB tentunya yang menjadi tema di situs kesayangan kita ini. Dimohon masukan dari mupengers sekalian, bila sambutannya hangat saya berencana untuk membuat sekuelnya.

    ————————————————-

    Ceritamaya | Namaku Rico (20 tahun), seorang mahasiswa perantauan yang kuliah di ibukota. Aku mau bercerita tentang pengalaman gilaku di sebuah kost-kostan mahasiswa. Kost-kostan itu untuk campur pria dan wanita, beberapa dari penghuninya mahasiswa seperti aku dan beberapa lainnya karyawan. Sebulan pertama segalanya nampak normal-normal saja, tapi beberapa hari setelah bulan kedua barulah aku tahu rahasia seram (atau seru? tergantung dari mana melihatnya) di tempat itu. Hari itu aku sedang bersiap-siap mau berangkat kuliah siang ketika kulihat dari seberang kamar Hany (19 tahun), gadis cantik di kamar seberang yang berpayudara montok, keluar dari kamarnya ke kamar mandi tanpa memakai apapun kecuali sandal jepit. Handuk saja cuma ditenteng dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menenteng peralatan mandinya.

    Kulitnya yang putih mulus ditambah bodinya yang langsing dengan tinggi badan yang termasuk sedang serta bongkahan pantatnya yang bulat indah langsung membuatku menelan ludah melihatnya. Aku yang masih pria normal terang saja terangsang disuguhi pemandangan tak terduga ini dan langsung terkena komplikasi mata-jantung-kemaluan. Mataku melotot melihat tubuh telanjangnya, jantungku langsung berdegup kencang, dan darahku langsung mengalir ke bawah mengisi pembuluh darah di penisku hingga menegang. Setelah masuk ke kamar mandi, entah sengaja atau tidak, Hany sedikit menutup pintu untuk menggantungkan handuk dan pandangan matanya bertemu dengan pelototan mataku. Anehnya ia tidak terlihat kaget, malah tersenyum menggoda dan sedikit meremas payudaranya sendiri. Yang lebih membuat jantungku semakin berdebar-debar, tanpa terlebih dulu menutup pintu kamar mandi ia mengarahkan gagang shower ke tubuhnya dan mengguyur badannya dengan santai-santai saja seakan aku yang menonton dia mandi adalah hal yang normal. Beberapa saat setelah membilas tubuhnya untuk membersihkan sabun di badannya ia menoleh ke belakang dan tersenyum nakal melihat padaku yang daritadi terbengong di depan pintu kamarku. Kuliah langsung terlupakan begitu dia menggunakan jemari telunjuk kanannya untuk mengajakku ke kamar mandi. Langsung saja aku melemparkan diktat kuliahku ke kamar dan melepas seluruh bajuku, termasuk CD-ku, sehingga burungku yang sudah bangkit dari tadi langsung seperti terbebas dari sangkarnya. Lalu aku berjalan dengan agak pelan ke kamar mandi bersama itu. Tanpa malu-malu Hany menyambutku dalam keadaan tanpa busana seperti itu. Saat aku masuk ke kamar mandi ia cuma tersenyum.

    “Eh Rico…lu belum pernah mandi bareng cewek ya?”

    “Pernah sih sama mantan gua dulu, tapi kalau yang seseksi kamu belum” jawabku sambil mengagumi keindahan tubuhnya yang menggiurkan dalam keadaan basah seperti ini, terutama bagian payudara dan pinggulnya yang semok itu.

    Ia memutar tubuhnya hingga memunggungiku dan diraihnya kedua tanganku dan menggiring keduanya ke payudaranya yang bulat itu. Aku lalu meremas puting gumpalan kenyal itu sambil sedikit mengusap-usap dengan gerakan melingkar yang lembut. Bibirnya yang indah mengeluarkan desahan yang membuat birahiku semakin membara.

    “Aaahh.. eemmhh.. eemmhh..” saat ia sedikit menoleh ke samping, langsung saja kulumat bibirnya itu.

    Desahannya sedikit tertahan dan bercampur dengan lenguhanku. Lalu tangan kiriku mulai mencari klitorisnya dan mulai menggesek-gesekkan jariku ke daging sensitif itu dengan lembut. Desahannya semakin menggema di dalam mulutku dan dipantulkan oleh dinding kamar mandi. Aku sudah tak sabar lagi memasukkan penisku ke vaginanya. Maka setelah lima menitan ber-french kiss dan grepe-grepe, aku membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Tapi ia menolak sambil melepas pagutanku.

    Sambil sedikit mendesah ia bilang, “Gini aja, lebih kerasa sodokannya!” seraya menunggingkan pantatnya ke arahku dan menyandarkan lengannya ke tembok.

    Oke deh, pikirku sambil mendorong punggungnya supaya ia lebih menunduk. Tangan kananku memegang batang penisku dan mengarahkan ke vaginanya yang telah siap menanti. Setelah menempel pas di bibir vaginanya, langsung saja kutekan batang kemaluanku yang sudah tegang hingga amblas ke dalamnya dengan perlahan.

    “Aaarrgghh..!!” Hany mengerang panjang

    “Kenapa Han? Sakit?” tanyaku sambil meremas payudaranya

    “Agak sih….tapi enak…banget Ric.. uuhh.. aargghh..”

    Memang batang kemaluanku terjepit cukup ketat di antara dinding vaginanya yang berdenyut-denyut sehingga terasa seperti dipijat. Sekali lagi Hany mengerang lumayan keras waktu aku mulai mendorong pinggulku maju mundur. Vaginanya makin becek sehingga penisku semakin enak keluar-masuk liang senggamanya itu. Sensasi yang kuperoleh pun rasanya luar biasa sekali membuatku juga mulai mendesah-desah keenakan. Aku memegangi pantat seksinya dan sesekali menamparnya dengan gemas. Lalu kutempelkan dadaku ke punggungnya dan mulai meremas-remas payudara montoknya yang menggantung berat. Pasti teman-temanku tidak percaya kalau aku berhasil bercinta dengan Hany, the most wanted girl in campus to sex with! Sungguh gadis satu ini benar-benar menggairahkan. Ceritamaya

    “Uuuhh.. aahh..” desahku ditimpali pekikan Hany.

    Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat mulai menjalar ke ujung kepala batang kemaluanku. Tanpa sempat kutahan, air maniku pun keluar sebagian di dalam vagina Hany karena belum sempat kecabut keluar, sedangkan sebagian lainnya bercipratan di pantat Hany. Pada semburan berikutnya Hany sempat berputar dengan cepat, berlutut di depanku dan menerima semprotan air maniku di wajah cantiknya. Ia membuka mulutnya menerima spermaku yang menyemprot semakin lemah. Setelah itu ia mulai menjilati seluruh cairan putihku di wajahnya dan mengusap-usap pantatnya untuk menyeka maniku yang ada di punggung dan pantatnya lalu itu dijilatnya sampai habis. Aku merasa agak lemas setelah orgasme tapi sangat puas dan parahnya aku kepingin lagi, hehehe…so pasti lah! Hany yang mengetahui pikiranku berkata,

    “Ric lanjutin saja di kamar aja yuk, dingin nih disini”

    “Ok…kamar gua atau kamar lu Han?”

    “Kamar gua ajalah. Kamarlu kan berantakan!” jawabnya tersenyum nakal

    Aku nyengir malu. Lalu tiba-tiba aku mengangkat tubuhnya dan kugendong dia ke kamarnya. Tubuhnya yang masih sedikit basah dengan air semakin membuatnya tampak menggairahkan karena nampak berkilauan di bawah sinar matahari. Sesampainya di kamarnya aku rebahkan dia di ranjangnya dan aku mulai menjilati semua sisa-sisa air yang menempel di tubuhnya. Dia mulai mendesah-desah lagi saat kujilati puting coklatnya yang sudah kembali mengeras. Ia lalu meraih kepalaku dan menekannya sehingga aku terbenam dalam-dalam ke payudaranya. Aku yang sudah konak berat mulai mengenyot dan mengigiti putingnya dan sambil meremasinya. Desah kenikmatan Hany pun mengisi kamar berukuran sedang itu. Setelah merasa puas menyusu payudaranya, aku mulai mengarahkan batang kemaluanku yang sudah keras lagi ke dalam vaginanya. Dia memekik kaget saat penetrasi dan langsung kugenjot habis-habisan. Jepitan dinding vaginanya benar-benar legit sampai aku mengerang-erang nikmat sekali dan ia sendiri menjerit-jerit keenakan. Lalu aku melumat bibir tipisnya dan dia juga membalas dengan bergairah. Dada kami bergesekan dan sensasi yang ditimbulkan benar-benar aduhai. Lalu selang beberapa menit kemudian aku keluar lagi tanpa sempat kutahan.

    “Han.. eemmhh.. keeluuaar.. dii.. daaleemm.. nniihh..” kata-kataku terputus-putus oleh erang nikmat dan sensasi orgasme.

    “Nnggakk.. papa.. kooqq..” rupanya dia juga mengalami sensasi yang sama.

    Lalu aku ambruk di sampingnya untuk istirahat. Hany juga lelah kelihatannya.

    “Rico..”

    “Ya?”

    “Welcome to the club!” katanya membuatku heran.

    “Apa…what club?”

    “The Orgy Club! Gini lho di sini, di kost-kostan ini, sex is totally free. Sama cewek manapun di kost ini, kamu boleh main semaumu. Dan kalau ceweknya tidak mau, kamu boleh perkosa dia. Di sini ceweknya adalah budak seks. Aku, Angeline, Amel, sama Sabrina yang indo bule itu adalah budak-budak seks cowok di sini. Terus Alex, Leo, Anton, Joko, Mario, Indra, bahkan Om Deddy yang punya kos plus istrinya, Mbak Eva, lalu Pak Kasimun si penjaga kost ini, dan sekarang kamu berhak merkosa kita berempat.Tapi kami juga boleh minta main kalau kepingin. Pokoknya totally free deh!”

    Tentu saja aku agak kaget dan terperangah mendengarnya.

    “Semua orang?” tanyaku.

    “Pokoknya syaratnya adalah kamu orang kost di sini. Benernya kamu diajak Indra kost ke sini bukan cuma untuk menghibur kamu yang baru putus sama mantanmu tapi karena dia juga denger kamu orang yang asyik soal seks. selama sebulan ini kami sudah menyelidiki kamu apakah kamu pantas atau nggak masuk klub ini, dan ternyata kamu cocok, selamat ya!” katanya sambil mencium bibirku

    Perasaanku campur aduk, bingung, kaget juga senang. Ternyata Indra punya tujuan lain mengajakku ngekost di sini. Dia ingin aku dapat melupakan Sarah yang selingkuh dan mengenalkan dunia sex yang lebih bebas. Wah thank’s Ndra! Lu emang sobat mesum yang baik

    “Jadi gua berhak main dengan kalian cewek berempat walaupun kalian tidak mau?”

    “Yup! Selain itu ada juga anggota dari luar kost yang sudah kita seleksi untuk meramaikan klub?” jawab Hany dengan tersenyum.

    “O gitu? Misalnya…?”

    “Ada si Melinda, pacarnya Leo itu, terus Bang Obar si tukang anter galon air, Pak Somad, tukang nasi goreng keliling langganan anak-anak di sini, terus Mbak Tari sama Mbak Mirna, mereka juga available loh!”

    “Mbak Tari? Mbak Mirna yang mana?”

    “O iya dasar cowok, itu karyawati yang kerja di butik #### deket kampus, itu kan punya Mbak Eva”

    “Pantes gua ga tau, ga pernah main ke butik, kalau tau gitu, tar kapan-kapan main ke sana juga ah hehehehe!” kataku, “ckk…ckkkk…gua baru tau ada perkumpulan segila ini, maklum anak kota kecil hehehe…eh tapi apa aman Han, kalau kena grebek aparat kan berabe tuh?”

    “Tenang…Om Deddy punya temen di kepolisian yang jadi backing kita, Pak Usno, itu tuh kan lagi kapan tuh kita lagi main PS3 di ruang tengah, ada bapak agak gemuk yang datang itu”

    “Ooo…itu jadi dia itu polisi ya?”

    “Iya, sebagai balas jasanya dia juga dapet jatah dari kita cewek-cewek di sini”, terangnya, “terus, satu lagi ini pasti lu suka Ric!”

    “Wah apa lagi nih?” aku semakin penasaran dibuatnya.

    “Klub kita ini, setiap bulan weekend pertama ngadain orgy di rumahnya Om Deddy. Di sana acaranya seru deh, ada game-game nakal, tuker-tukeran pasangan, ujung-ujungnya ya orgy party lah!”

    Aku benar-benar kehabisan kata-kata, percaya tidak percaya, tapi aku benar-benar telah di klub ini dan mengalaminya sendiri. Sungguh dalam hidup ini banyak hal yang di luar dugaan dan pengetahuan kita.

    “Ooo…, jadi waktu kapan itu gua balik ke sini sampe malem ga ada siapa-siapa selain Pak Kasimun, ternyata lu orang lagi party ya? Pantes besok paginya gua liat muka lu orang pada lemes gitu”

    Hany mengangguk mengiyakan

    “Emm.. weekend kan tiga hari lagi nih. Kali ini gua boleh dateng dong?”

    “Like i Just said to you, lu kan udah anggota klub ini sekarang. Jadi lu berhak ke sana.”

    “Wah sik, asyik….asyik…beneran nih? ga sabar gua nunggunya!” aku kegirangan mendengarnya, seperti mimpi saja, tapi semuanya nyata, aku baru saja mengalaminya sendiri dengan teman sekampusku ini.

    Angeline

    Angeline

    “Well…well, jadi calon member baru ini udah lolos seleksi ya!” tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.

    Kami menoleh ke arah pintu yang lupa kututup. Ternyata Angeline sudah berdiri di ambang pintu. Angel (24 tahun) adalah seorang pramugari sebuah maskapai penerbangan lokal, maka tidak heran ia memiliki tubuh yang ideal, tinggi 172cm dengan paha jenjang yang indah, ditambah wajahnya yang cantik dengan rambut sebahu. Dia berdiri di depan pintu dengan seragam merah pramugarinya sambil menarik koper kecil berodanya. Sepertinya ia baru saja bebas tugas setelah kira-kira seminggu lamanya tidak berada di kost karena tugas di luar.

    “Eh Kak Angel, baru pulang nih?”

    “Iya cape sih butuh istirahat sebenarnya, tapi mergokin lu orang lagi ngentot gua juga jadi gatel nih” jawab Angel sambil menyandarkan bahunya ke kusen pintu, “Ric, welcome to the club ya!

    “Hehehe…iya Kak, omong-omong sekarang Kak Angel kepengen sama saya nih?” godaku

    “Why not, sapa takut?” jawab Angel sambil wajahnya memerah menahan nafsunya.

    “Tapi bentar ya, break dulu nih, cape baru garap si Hany nih!”

    “Nih pake ini dong!” kata Hany sambil menarik laci di bufet sebelah ranjangnya dan mengeluarkan sesatchet Irex lalu menyodorkannya padaku.

    Langsung kusambar Irex itu dan kuminum dengan semangat. Kemudian aku turun dari ranjang dan menghampirinya. Kudorong tubuhnya ke dinding dan kupagut bibirnya yang disambutnya dengan panas. Sambil bercumbu, tangan kami saling raba tubuh pasangan masing-masing. Aku menggerayangi tubuhnya, roknya kusingkap dan kedua tanganku meremas bongkahan pantatnya yang montok yang masih terbungkus pantyhouse hitamnya. Selang beberapa menit kemudian pengaruh Irex tadi mulai terasa, tubuhku berangsur-angsur segar dan siap memulai pertempuran berikutnya.

    “Wow….udah keras lagi bo!” kata Angel yang memijat penisku yang mengeras perlahan-lahan dalam genggamannya

    Kemudian ia langsung berjongkok di depanku, tanpa basa-basi dicaploknya batang kemaluanku. Setelah mengusap-usap batang penisku yang di dalam mulutnya dengan lidahnya, dia mulai mengocok-ngocokku dengan memaju-mundurkan kepalanya. Kadang-kadang lidahnya menyusuri bagian bawah batang kemaluanku dan mengemut buah zakarku.

    “Aahh.. yaahh.. teruss.. terus…gituin Kak!” aku mendesah-desah, tidak kuat menahan birahi dan aktivitas itu berlangsung agak lama.

    Aku yang tidak sabar lagi segera menarik tubuh Angel dan mendudukkannya di tepi meja di dekat pintu kamar, kuposisikan diriku di antara kedua belah paha jenjangnya.

    “Kak Angel, saya udah gak tahan nih!” pintaku di tengah kecupan-kecupan liar kami.

    “Aku juga Ric! Cepat kerjai memekku!” balas Angeline dengan tatapan sayu memelas penuh nafsu.

    “Hmm…Kakak bener-bener konak berat ya?” godaku sambil menciumi telinga dan lehernya.

    “Nnngghh.. Give me that Rico! Please..” pinta Angeline

    Aku memagut kembali bibirnya, sambil berciuman kupeloroti panty house hitam beserta celana dalamnya, lalu kurenggangkan posisi kakinya agar mengangkang lebar. Terlihatlah kini di hadapanku vagina vagina pramugari cantik yang merekah merah segar, kontras dengan kulitnya yang putih. Bulu-bulu di sekitar vaginanya terpotong rapi, menandakan bahwa ia memang cukup telaten merawat organ kewanitaannya tersebut. Pemandangan itu semakin membuatku tak henti-hentinya menelan ludah. Aku duduk di kursi dan membenamkan wajahku ke selangkangan Angel dan mulai menjilati liang kenikmatannya sambil kepalaku terus dipegang dan dijambakinya. Sementara itu tanganku menyusup ke bawah kemejanya yang masih belum terbuka, sampai di dadanya tanganku terus menyusup ke balik branya, akhirnya kupegang dan kuremas payudaranya yang indah dan berkulit halus, putingnya kupermainkan hingga terasa makin keras. Tak lama kemudian, kurasakan daerah vagina Angel bergetar dan makin lama getarannya makin hebat, hingga tak akhirnya saat aku sedang menggigit-gigit kecil klitorisnya, Angel pun mengerang panjang disertai tubuhnya mengejang.

    “Ooghh iiyyaahh.. Terrusshh.. Mmmppffhh.. Ghhaahh..” desah Angel mengeluarkan cairan orgasme dari vaginanya

    Wajahku langsung tersembur oleh cairan bening yang hangat dari liang sorgawi Angel. Dengan lahapnya aku menyeruput lelehan lendir kenikmatan yang tak henti-hentinya meleleh dari dalam vagina Angel. Hal ini tentunya membuat Angel yang baru saja mencapai orgasme dilanda rasa geli yang amat sangat.

    “Hhhaahh ssttoopp!! Sttoopp!! Ghiillaahh.. Ohh Sttoopp Sshh..” erang Angel sambil berusaha menjauhkan selangkangannya dari wajahku.

    Tetapi aku justru tak mau memindahkan mulut dan jilatannya sedikit pun dari vagina yang sedang dibanjiri cairan nikmat itu. Aku tidak mau melewati setetespun cairan gurih itu. Mulut dan wajahku pun belepotan oleh lendirnya. Baru setelah kurasakan vaginanya telah bersih, aku beranjak ke bibirnya. Dengan masih mengulum lendir dari vaginanya itu aku menyuapkannya ke bibir indah di hadapanku. Angel langsung mengerti apa yang akan kuperbuat terhadapnya. Ia pun langsung membuka mulutnya seraya berkata,

    “Ludahin! Ludahin ke aku Ric!” pintanya dengan tatapan sayu menggairahkan sambil meremas-remas lembut payudaranya sendiri.

    Aku langsung meludahkannya ke dalam mulut pramugari cantik itu dan langsung disambutnya dengan desahan bergairah.

    “Mmmhh…enakkhh!” bisik Angeline setelah menelan lendir kenikmatannya sendiri.

    Aku yang semakin terbakar gairahnya melihat adegan itu melucuti pakaian atasnya yang masih tersisa. Setelan luar, kemeja, dan bra-nya pun berceceran di atas maupun meja kamar Hany hingga Angel pun telanjang di hadapanku. Tubuh molek Angel membuatku melongo, sama indahnya dengan Hany, namun lebih tinggi, dan payudaranya lebih kecil sedikit. Pemandangan indah itu membuatku tak sabar lagi untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Aku pun lalu menempelkan tubuhku ke tubuhnya yang terduduk di tepi meja sambil menggesekkan penisku yang sejak tadi telah menegang penuh di vaginanya.

    “Woow…kerasnya!” kagum Angel sambil menggenggam penisku.

    “Aaahh.. Kak Angel..” lenguhku saat jemari lentiknya menggenggam dan meremas lembut penisku.

    Angel langsung mengocok penis di genggaman tangan kanannya itu dengan penuh kelembutan. Sementara itu tangan kirinya mengusap-usap vaginanya sendiri yang mulai basah kembali. Rupanya ia pun tak sabar ingin segera disetubuhi. Dipindahkannya tangan kirinya yang sudah dibasahi lendir kenikmatannya ke penisku dan dibalurinya penisku itu dengan lendirnya.

    Baca Juga : Agnes Monica XXX: Birth Of The Slut Queen

    “Eeemmmh…anget Kak, enak!” bisikku sambil memejamkan matanya.

    “Hhhmm?? Anget? Aku punya yang panas Ric!” tantang Angel sambil menempelkan penisku ke bibir vaginanya. “Cepat Ric! Masukin kontol lu, aku nggak sabar! Please..” katanya dekat telingaku

    “Ooowwhh.. Mmmhh..” desahnya ketika kudorong penisku membelah bibir vaginanya.

    Angel mendongak sambil memejamkan matanya menikmati penetrasi yang kulakukan. Tanpa buang waktu lagi aku mulai menggoyangkan pinggulku menghujam-hujam vaginanya. Penisku terasa seperti ditarik dan diremas bersamaan karena seretnya vagina itu. Payudara Angel yang berukuran sedang itu berguncang-guncang di hadapanku seolah mengundangku melumatnya. Aku pun menyambar putingnya dengan gigiku dan menggigitnya tanpa berhenti menggenjotnya. Beberapa barang seperti buku dan alat tulis di atas meja Hany berjatuhan ke bawah karena tersenggol tangan Angel yang sedang seperti cacing kepanasan.

    “Sshh… enak Ric, enak bangethhh!!” ujar Angel mendesis.

    Bagaikan kuda liar, Angel juga aktif menggoyangkan pinggulnya sampai meja di bawahnya ikut bergoyang dan berderit. Keringat menetes dengan di kening dan dadanya. Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik meluapkan gairah di dalam dirinya.

    “Ooohh.. Iyaahh terusshh Kak… Ssshh!” aku pun semakin meracau tak karuan.

    Angel memelukku dengan erat, kuku-kuku di jarinya kadang menggores punggungku dan kakinya melingkar di pinggang saya merapatkannya sehingga penisku terasa semakin rapat di vaginanya. Tak henti-hentinya mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Sembari menggenjot penisku dalam vaginanya, tangan kananku meremasi payudaranya. Aroma parfum berkelas yang masih terasa pada tubuhnya menambah sensasi erotis persetubuhan kami. Beberapa lama kemudian kami mencapai puncak berbarengan, aku ejakulasi dalam vagina Angel, spermaku muncrat mengisi liang vaginanya. Sementara Angel memekik keras sambil mencengkeram pundakku, wajahnya terlihat sangat menikmati orgasme yang baru saja dialaminya.

    “Aaahh…aaahhh” ternyata masih terdengar suara desahan lain dari belakangku.

    Wah, saking asyiknya dengan pramugari cantik ini, aku sampai lupa dengan Hany. Ternyata dari tadi ia menonton kami sambil masturbasi dengan vibratornya hingga orgasme. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku mengangkat tubuh Angel yang sudah lemas ke ranjang. Setelahnya aku membaringkan tubuhku di samping kedua wanita itu.

    “Gimana? Puas ga?” tanya Hany

    “Whew…puas banget, gua ga nyangka bisa masuk klub seperti ini, gua kirain yang ginian cuma ada di negara-negara Eropa” jawabku sambil geleng-geleng kepala

    “Kurang update lu Ric, jauh-jauh amat ke luar negeri, di Jakarta sekarang juga udah ada kok” kata Angel, “kamu pernah baca Jakarta Undercover ga?” aku mengangguk, “klub kita masih skala menengah atau malah kecil lah kalau dibanding yang diliput di sana, banyak yang lebih gila lagi”

    Saat itu Amelia (20 tahun) lewat depan kamarnya Hany. Dia berhenti sejenak dan mengerenyitkan dahi melihat kami bertiga bugil di ranjang lalu meneruskan langkahnya ke kamarnya.

    “Ehhh….!” refleks aku jadi salah tingkah dan meraih guling menutupi tubuh telanjangku

    Melihat reaksiku Hany dan Angeline malah tertawa.

    “Hihihi…kita maklum kok, kan pendatang baru…masih malu-malu, kita dulu juga gitu, ya ga Han?” kata Angel menyikut pelan ke Hany

    “Iya lah, biasa aja…tar ke sana pasti ga bakal malu-malu lagi, yang ada mungkin malu-maluin!” timpal Hany lalu keduanya tertawa renyah berbarengan.

    “Iya ya hehehe…kan ini orgy club ya, jadi si Amel juga bisa dipake dong?” tanyaku setelah baru sadar aku sudah jadi anggota klub,

    “Kan gua udah jelasin tadi Ric, Amel juga gua sebut tadi” kata Hany

    “Bener nih? Dia itu kan good girl di kampus, lu orang ga main-main kan?” aku makin penasaran dan antusias

    “Ah…lu aja ga tau, si Amel emang di luaran ja’im Ric, tapi kalau udah aaahh….aaahhh…aahhh…ganas loh dia hihihii!” sahut Angel

    “Jadi gua bisa entotin dia? Terus katanya ada aturan kalau ga mau boleh diperkosa kan Han?” tanyaku meyakinkan

    “Yoi man! Rape her as the way you like it!” Hany memberiku semangat.

    Aku segera keluar dari kamar Hany meninggalkannya dan Angel untuk mencari Amel tanpa memakai apa-apa, hanya sandal jepit. Seperti juga Hany, Amel adalah teman kampusku, bedanya Amel sefakultas denganku sedangkan Hany berbeda. Ia lebih tua empat bulan dariku dan terpaut satu angkatan di atasku. Kami pernah sekelas dalam dua mata kuliah, dari situlah aku mengenalnya walau tidak dekat. Maka ketika pertama kali masuk ke kost ini, ia adalah orang yang kukenal selain Indra. Dari situ kami semakin dekat karena aku kadang bertanya tentang kuliah dan juga pernah meminjam diktat darinya. Selama ini aku menganggapnya cewek baik-baik karena baik di kampus maupun di kost ia berpakaian biasa saja, tidak terbilang seksi, paling kalau malam pakai celana pendek atau kaos tanpa lengan, yang menurutku sih wajar. Memang aku pernah agak heran ketika suatu hari tidak sengaja aku melihat Bang Obar, si tukang air, keluar dari kamar Amel yang sebelumnya tertutup. Waktu itu sih tidak ada pikiran negatif, mungkin baru membantu Amel memperbaiki dispenser atau apa mungkin. Tidak kusangka ternyata ia anggota orgy club, yang berarti bisa dipakai. Amel memiliki wajah yang manis dengan postur sedang, sedikit lebih jangkung dari Hany. Payudaranya lumayan besar sehingga kalau sedang memakai kaos ketat akan tampak sangat menantang.

    Amelia

    Amelia

    Kulihat pintu kamar Amel setengah terbuka, tapi ia tidak ada di dalam. Hmmm…mungkin dia ke lantai atas untuk menjemur baju. Segera aku menaiki tangga ke atas. Benar saja Amel sedang mencuci. Saat kudatangi ia dalam posisi berjongkok membelakangiku dan memasukkan cucian ke dalam mesin cuci.

    “Hah…Rico, mau apa?” ia membalik kaget begitu mendengar aku masuk dan menutup pintu.

    “Hehehe…pura-pura ga tau ah lu Mel, kan aturan orgy club: setiap cewek jadi budak seks. kalau gak mau boleh diperkosa. Ya kan?” tanyaku berjalan mendekatinya

    “Ehh…iya tapi…gak sekarang please…gua lagi ga pengen!” Amel terlihat panik sambil melangkah mundur.

    “Makanya Mel, gua bikin lu kepengen deh, ketagihan malah hehehe!” aku semakin mendekatinya

    Ketika Amel mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada tembok di belakangnya. Saat itu dengan sigap kupeluk badannya yang ramping dan kudekap ke tubuhku.

    “Jangan Ric…gila lu…jangan!!” Amel meronta berusaha lepas dariku.

    Sementara aku melanjutkan aksiku. Tangaku menyingkap rok denimnya sehingga paha mulusnya terekspos, kuraba dan kurasakan kemulusannya hingga akhirnya tanganku menyentuh wilayah segitiga emasnya yang masih terbungkus celana dalam. Jariku dengan liar mengelus-elus wilayah sensitif itu, sebentar saja sudah terasa basah menembus celana dalamnya.

    “Kok panik Mel? Lu juga kan anggota klub. Budak seks dong artinya!” kataku menggodanya.

    “Ehh…tapi…eeemmm” belum sempat kalimatnya selesai bibirnya sudah kulumat.

    Dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha melepaskan bibirku dari bibirnya dan menjauhkan tanganku dari tubuhnya namun tidak berhasil karena aku lebih kuat. Kudesak dia ke dinding sambil terus melumat bibirnya, mulutnya masih terkatup belum mau membuka. Dia memberontak dan secara tiba-tiba dia berhasil lepas dari cengkeramanku. Namun dengan sigap aku berhasil meraih pergelangan tangannya, kudorong dan kuhimpit dia ke arah mesin cuci.

    “Aaawww…sakit!!” erangnya saat kutelikung tangannya ke belakang.

    Tanganku yang satu menyusup lewat bagian atas celana dalamnya dan mulai mengobok-obok di dalamnya. Aku merasakan bulu-bulu kemaluannya yang sangat lebat, di antara kerimbunan bulunya jariku segera mengarah ke belahannya dan menyeruak masuk.

    “Aaahhh Ric!!” erangnya ketika kugesek-gesekkan jariku pada bibir vaginanya yang sudah becek.

    Kuintensifkan serangan jariku pada vaginanya untuk menjinakkannya. Tubuhnya menggeliat-geliat menahan sensasi itu. Beberapa saat kemudian setelah merasa ia tidak terlalu memberontak lagi, aku melepaskan tangannya dan beralih menyingkap kaosnya sehingga kelihatan dada montoknya yang masih tertutup bra berwarna pink bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Kemudian kutarik ke atas cup branya dan terpampanglah kedua gunung kembar Amel yang indah dengan putingnya yang kemerahan tegang naik turun dengan cepat karena nafasnya sudah yang tidak teratur.

    “Mel, gua entot sekarang ya, udah basah gini, lu juga konak kan wakaka!” sahutku sambil memeloroti celana dalamnya hingga ke lutut dan kutempelkan kepala penisku ke bibir vaginanya.

    “Ooohh.., oohh.., jaanggaann.., jaannggaann!” tolaknya namun dengan suara mendesah

    “Ssttt…jangan ribut Mel…tar kedengeran orang di luar, kita lagi outdoor loh, mendingan enjoy my cock, wether you like it or not!”

    “Aaaaahh!” sebuah desahan panjang terlontar dari mulutnya saat kutekan penisku hingga amblas ke vaginanya.

    Setelah semakin lama semakin penisku semakin lancar keluar masuk ke vaginanya karena daerah itu semakin berlendir. Aku dapat merasakan penisku masuk hingga menyentuh ke dalam rahimnya. Aku menyetubuhinya dengan tempo sedang sambil memberikan sentuhan-sentuhan erotis pada tubuhnya dengan lembut. Lama-lama dia pun terhanyut dalam permainan yang kupimpin dan mulai mengikuti iramanya. Kedua puting payudaranya kupilin-pilin sampai terasa semakin keras di tanganku. Kuperhatikan roman wajahnya yang manis itu semakin merah dan semakin menggairahkan kalau lagi horny begitu.

    “Ooohh.. Mmmhh..” desah Amel mengiringi persetubuhan kami.

    “Mel… Ssshh…asoy Mel!!” lenguhku, “lu suka kan dientotin gini?”

    “Ngaco…siapa yang enjoy?” sahut Amel sewot

    Hhhmmm…masih jaim juga nih cewek, akan kukerjai dia sampai takluk. Maka di tengah genjotan tiba-tiba aku berhenti dan kucabut perlahan penisku.

    “Loh kok?” Amel membalik dan menatapku heran, terlihat sekali ia merasa kekecewa dan tanggung, ia pasti masih menginginkan penisku berada dalam relung kewanitaannya dan mengobok-oboknya dengan ganas.

    “Loh kok apa Mel, kan katanya siapa yang enjoy?” kataku dengan senyum menggoda

    Kupandangi wajah kecewa Amel sambil tetap meremas-remas payudaranya.

    “Please…Ric!” ucapnya pelan.

    “Please apa? Ngomong dong!” kataku terus menggodanya.

    Jarinya bergerak menggantikan penisku bermain di sekitar kemaluannya. Digosok-gosoknya vaginanya yang sudah benar-benar becek itu. Ia benar-benar menginginkan penis ku terus mengobok-obok vaginanya. Sambil mengelus-elus dan mengeluar masukkan jari tangan kanannya ke dalam vaginanya, ia menggelinjang dan merintih. Sementara itu tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya sendiri.

    “Please…perkosa guaa…entot gua…aahhh…perlakukan aku sesukamu Ric! ” racau Amel tanpa malu-malu lagi.

    Tidak pernah kusangka Amel yang terlihat seperti gadis alim itu bisa memohon seperti orang haus seks seperti ini. Penampilan memang seringkali menipu. Aku masih terus menggodanya, kupegang selangkangannya dan jariku bergerak mengocoki vaginanya menyebabkan ia semakin terbakar birahi dan semakin mendesis-desis serta menggeliat tak karuan. Kuangkat dagunya lalu aku mulai mencium mulutnya, kumainkan lidahnya. Sambil terus berciuman dan mendekap tubuhnya, aku menurunkan tubuhku hingga terduduk di sebelah mesin cuci dan bersandar ke tembok sementara Amel kini di pangkuanku. Mulutku turun ke dadanya dan menciumi payudaranya, kukenyot-kenyot kedua payudaranya bergantian sampai basah kuyup karena keringat dan juga air liurku.

    “Naik sini Mel!” kataku sambil memegang penisku.

    Tanpa buang-buang waktu, Amel pun menaiki batang kejantananku hingga benda itu terbenam dalam vaginanya.

    “Aahh.. aahh..!” erangannya menahan nikmat.

    Amel mulai menaik-turunkan tubuhnya dari tempo lambat berangsur-angsur naik dan cepat sekali sampai terdengar suara becek seiring dengan suara benturan alat kelamin kami. Slep.. slep…cplok.. cplok…demikian kira-kira bunyinya.Ekspresi wajahnya yang sedang menikmati genjotan penisku dalam vaginanya benar-benar seksi. Kedua payudaranya yang bergoyang-goyang di depan wajahku kembali kuhisap sekaligus kuhirup aroma tubuhnya yang berkeringat bercampur wangi parfumnya, membuat gairahku bertambah. Wajah Amel menengadah ke atas sambil terus mendesah, leher jenjangnya basah dengan keringat. Gerakan pinggul nya semakin tak beraturan, kadang berputar kadang naik-turun. Penisku pun makin basah oleh cairan yang keluar dari liang kemaluannya. Sambil terus bergerak naik-turun, ia meremasi rambutku dan menekan wajahku ke payudaranya

    “Isepin Ric, isep yang kuat….aahhh enak!!” desahnya lirih.

    Akupun mengenyot payudaranya semakin liar, tanganku juga terus menggerangi bagian tubuh lainnya.

    Tak lama kemudian Amel merintih, “Ooh…Ric, gua mau keluar…uuhhhhh…”.

    Dengan menahan sekuat tenaga agar tidak orgasme duluan, aku yang tadinya pasif, kini menggerakkan pinggul menyambut genjotan dalam vaginanya. Dan….

    “Arrggghhh….keluar Ric!!”, Amel mendesah panjang seperti melepaskan suatu beban berat dalam dirinya.

    Sedangkan aku hanya bisa menambah 2-3 sentakan lagi sebelum kutarik keluar penisku. Aku ingin keluar di mulutnya dan merasakan teknik oralnya.

    “Isepin Mel!” kataku seraya menurunkan dia dari pangkuanku

    Aku lalu berdiri sementara Amel berlutut di hadapanku meraih penisku yang sudah basah. Ia membuka mulutnya dan mengarahkan senjataku ke sana, dan….

    “Aaakkhh..” erangku saat ia mulai mengulum kepala penisku.

    “Eeemmmm…..mmhhh” gumam Amel saat mengulum penisku

    Tangannya tidak diam saja, kadang mengocok, kadang membelai lembut batang penisku. Mataku setengah terpejam menikmati pelayanan mulut Amel terhadap penisku. Amel pun kelihatannya sangat menikmati mengoral penisku. Sensasi yang ditimbulkan akibat sapuan lidahnya pada kepala penisku membuatku tegang sehingga tanganku meremas rambut Amel. Tangan kananku meraih payudaranya dan memijatinya lembut, sementara tangan kiriku mengelusi kepalanya. Tidak sampai lima menit kemudian, spermaku muncrat di dalam mulutnya. Amel sempat kaget ketika penisku memuntahkan lahar putihnya karena aku tidak memberinya peringatan, tapi selanjutnya ia dapat menguasai semprotan-semprotan itu, tidak terlalu banyak memang karena sudah terkuras sebagian ketika bersama Hany dan Angeline sebelumnya. Mulutnya baru lepas ketika penisku berhenti ejakulasi dan menyusut. Setelah itu ia menelan semua sperma yang tersisa di mulutnya.

    Setelah selesai, Amel bangkit, ia memungut bra dan celana dalamnya yang berceceran lalu dipakainya kembali dan merapikan kaos serta roknya yang telah tersingkap ke atas. Ia lalu memberikan kecupan ringan di bibirku

    “Puas?” tanyanya
    Aku hanya mengganguk kemudian memeluknya.

    “Udah ah! Sekarang bantuin gua aja!” sahutnya melepaskan diri dari dekapanku.

    Aku membantunya memasukkan cucian dalam ember ke mesin cuci sambil ngobrol-ngobrol santai menghilangkan kecanggungan diantara kita. Dia bercerita tentang awalnya masuk kost ‘gila’ ini, ternyata kasusnya mirip denganku, pacarnya diam-diam menduakannya dengan gadis lain setelah berhasil merebut keperawanannya. Seorang kakak kelas, yang dulu pernah kost disini tapi sudah keluar setelah lulus, yang mengajaknya ke sini. Di kost/ klub orgy ini Amel juga dapat melampiaskan sisi liar dalam dirinya, dimana ia merasa jenuh dengan imej cewek alim atau mahasiswi teladan. Status cewek alim tersebut juga memberinya nilai lebih karena lebih mewarnai kehidupan seks di klub ini. Ia juga mengaku sangat enjoy menjadi budak seks di klub ini, setidaknya untuk saat ini. Gilaaa….!! Dunia ini makin aneh aja.

    “Jujur aja gua lebih suka diperkosa, langsung spontan gitu daripada dikasih rayuan-rayuan gombal, sok gentle ke gua yang ujung-ujungnya ngajak ML juga” demikian pengakuan Amel padaku, “di klub ini lah gua bisa menjadi diri gua yang lain selain sehari-hari yang membosankan itu”

    Setelah memasukkan semua cucian ke mesin cuci lalu menyalakannya sambil ngobrol beberapa topik yang nggak jelas, aku mengajak Amel makan bareng karena memang sudah waktunya makan siang dan aku masih belum makan sejak bangun tadi, tentu perut keroncongan apalagi tenaga terkuras menggarap tiga wanita.

    “Ih…ogah!” katanya sambil mengernyitkan dahi dan memandangku, “ntar gua dikira makan sama orang gila ga pake baju kaya gini!” lanjutnya sambil meremas penisku dan tersenyum.

    “Eehhehe….ya gua pake baju dulu lah, yuk turun!” ajakku cengengesan

    Bang Obar

    Bang Obar

    Akhirnya kita turun bareng. Di bawah, sayup-sayup terdengar suara erangan dari kamar Angeline yang terletak dekat tangga, pintunya tidak tertutup benar sehingga suara itu semakin terdengar ketika kami makin mendekatinya.

    “Wah Kak Angel keliatannya lagi asyik tuh Mel, padahal baru pulang dia!” kataku

    “Liat aja kalau mau, ga usah malu-malu gitu!” kata Amel sambil dengan santainya mendorong pintu kamar Angeline hingga terbuka.

    Aku langsung terpana melihat adegan di atas ranjang dimana Angel sedang berdogie-style dengan Bang Obar, si tukang air, sambil menjilati vagina Hany yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan mengakangkan kedua kakinya. Ketiganya hanya menoleh sebentar ke arah pintu dan melanjutkan pergumulan mereka ketika melihat yang datang adalah kami.

    “Dah biasa kok di sini, asal liat situasi aja” kata Amel, “lu orang mau titip apa ga? Kita mau keluar makan nih” tanyanya pada Hany dan Angel yang sedang asyik berthreesome

    “Emang mau pada kemana nih? Eeeemmmh!” tanya Hany yang sedang menikmati jilatan Angel pada vaginanya.

    “Paling ke pujasera seberang warnet itu Han” jawabku

    “Kalo gitu…titip pempek ya…aahh….dua kapal selam besar, yang pedes…aaahhh….iyah Kak, jilat lebih dalam!” desahnya sambil meremas rambut Angel

    Sementara itu Angel masih ditunggangi oleh Bang Obar yang terus memompa lubang vaginanya dengan tusukan-tusukan yang keras sehingga tubuh telanjangnya tersentak-sentak dan terkadang bibir luar kemaluannya ikut melesak masuk karena kecepatan sodokan penis pria itu, ditambah lagi ukurannya lumayan besar. Payudara Angel yang indah itupun tak lepas dari sasaran Bang Obar, kedua daging kenyal itu diremas dengan penuh nafsu oleh si pengantar air tersebut dari belakang sembari sesekali meremas dan menampar pantatnya.

    “Enak kan Non Angel? udah lama gak ketemu, Abang kangen banget nih” sahur Bang Obar, “Ayo ikutan aja sini daripada bengong gitu!” ajaknya pada kami.

    “Ngga ah, laper, cape, lagian di dalem udah sempit gitu!” jawab Amel dengan santai, “gih…lu pake baju dulu Ric!” ia menyapukan pandangan

    “Okay….tunggu ya Mel!”

    Pak Kasimun

    Pak Kasimun

    Aku buru-buru ke kamar untuk segera berpakaian. Setelah memakai baju dan celana kupastikan HP dan dompet sudah masuk ke celana, lalu aku masuk ke kamar mandi di kamarku untuk pipis dan merapikan rambut. Merasa sudah cukup berbenah diri, aku pun siap berangkat. Tapi sebelum aku melangkahkan kaki keluar kamar aku sudah tercekat melihat Pak Kasimun tengah mendekap tubuh Amel dari belakang sambil menciumi leher jenjangnya. Mata Amel setengah terpejam menikmati belaian Pak Kasimun pada tubuhnya, tangannya terlihat mengelus-elus selangkangan si penjaga kost itu dari luar celananya. Sementara tangan Pak Kasimun menyingkap rok denimnya dan mengelusi paha mulusnya, tangan satunya menyingkap kaos Amel hingga bra-nya terlihat lalu dengan lincah menyusup ke balik cup bra itu. Penasaran dan nafsu, aku menunda keluar dan terus mengintip dari jendela kamarku.

    “Eeenngghh!” Amel mendesah lebih keras ketika tangan Pak Kasimun masuk ke balik celana dalamnya dan mengobok-obok di sana, “jangan sekarang Pak, mau keluar dulu nih!” erangnya lirih.

    “Sebentar aja Non, kan Den Rico nya juga masih beres-beres di kamar tuh” jawab pria itu sambil melirik ke kamarku, namun tidak melihatku karena aku mengintip melalui celah antara tirai yang menutupi jendela kamar.

    Aku terangsang dan penasaran untuk melihat tindakan mereka berdua lebih jauh tapi tidak tahu kenapa, kok saat itu ada rasa cemburu dalam diriku melihat Amel diperlakukan seperti itu, oleh penjaga kost bertampang di bawah standar itu pula. Apakah mulai timbul rasa suka pada Amel dalam hatiku? Padahal selama ini aku tidak pernah menaruh perasaan tersebut terhadapnya walau memang kuakui kecantikan dan prestasinya yang cukup lumayan di kampus. Namun saat ini aku memutuskan untuk terus menyaksikan mereka tanpa berusaha menghentikannya. Pak Kasimun mendorong tubuh Amel hingga terhimpit pada tembok di sebelah pintu kamar Angeline, kemudian tangannya dengan lincah menurunkan celana dalam Amel hingga ke lutut dan kakinya menggeser sedikit kedua kaki Amel agar lebih membuka. Setelahnya, pria itu dengan buru-buru membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya. Wah benda itu lumayan gede juga dan masih ngaceng. Ceritamaya

    “Oghh..” kudengar lenguhan Pak Kasimun saat ujung penisnya melesak ke vagina Amel.

    “Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh” Amel juga mendesis tercekat.

    Pak Kasimun sepertinya agak kesulitan mendorong penisnya masuk ke dalam liang vagina Amel yang lumayan peret itu. Berkali-kali ia terus mendorong batang penisnya. Amel pun ikut membantunya dengan menggeser pantatnya hingga penis pria itu terdorong masuk. Tubuhku gemetar karena terangsang menonton adegan mereka

    “Ouchh.. Hhahh..” desahan Amel semakin nyaring terdengar

    Dengan pelan Pak Kasimun kembali menarik penisnya dari liang vagina Amel lalu didorongnya lagi hingga bertambah dalam batang itu menerobos masuk ke dalam vagina Amel yang sudah mulai bisa beradaptasi. Kini mulailah si penjaga kost itu bergerak maju mundur dengan cepat. Tangan Pak Kasimun yang tadinya berpegangan pada kedua sisi pinggul Amel mulai menyusup ke balik branya yang sudah tersingkap dan bergerak meremas kedua payudaranya. Tubuh Amel menggelinjang saat menikmati sodokan Pak Kasimun dengan tempo cepat itu ditambah remasan pada payudaranya. Sungguh pemandangan yang sexy. Posisi bersetubuhnya persis seperti ketika denganku di tempat jemuran tadi. Setelah kurang lebih lima menit menyaksikan adegan yang mendebarkan itu, perasaanku sungguh campur aduk antara horny dan juga cemburu.

    “Aauw..aaauww…udah mau Pak!” erang Amel sambil mendongakkan kepalanya,

    “Bapak juga Non…uuuhh enaknya memek Non!” sahut Pak Kasimun sambil mempercepat kocokan penisnya

    Tak lama kemudian tampak tubuh Amel mengejang diiringi erangan panjangnya “Aahh.. aakkhh.. oohh keluaar Pak!” matanya membeliak-beliak dan mulutnya terbuka menganga lebar.

    Kini aku pun keluar dari pengintaian menghampiri mereka. Kulihat mereka sepertinya biasa saja kupergoki dalam keadaan seperti itu,

    “Ooppss…Den Rico” sapa Pak Kasimun “selamat yah Den, akhirnya masuk jadi anggota juga” katanya.

    “Uuuhh…lama amat sih, jadi aja gua keburu dientot sama Pak Kasimun tuh” Amel sedikit mengomel sambil merapikan kembali pakaiannya, “Yuk buruan, gua laper nih!”

    Di dalam kamar sana, pergumulan panas masih berlanjut, kini Hany sedang naik turun di atas penis Bang Obar sementara Angel berlutut di atas wajah si pengantar air itu berhadapan dengan Hany, keduanya berpelukan saling berpagutan bibir dan saling raba tubuh masing-masing. Bang Obar yang berbaring telentang di bawah kedua wanita itu sepertinya enjoy banget melumat dan mengorek-ngorek vagina Angel sambil menikmati penisnya dikocok-kocok oleh vagina Hany. Adegan selanjutnya terputus karena Amel menutup pintu kamar itu dan menarik lenganku agar segera beranjak dari situ.

    “Ntar malem yah Non! Hehehe…bapak tunggu nih!” goda Pak Kasimun sambil meremas pantat Amel.

    “Yah, asal saya udah selesai bikin tugas kuliah deh” jawab Amel asal

    Kuraih tangan Amel dan berlalu dari situ. Saat kugenggam tangannya kurasakan jantungku berdegub lebih cepat, apakah memang benar mulai timbul rasa suka pada Amel? Aku belum bisa menjawabnya, biarlah semua berjalan secara alami saja. Yang pasti sekarang ini aku ingin makan dulu mengisi perut dan mereload tenagaku sebelum cerita ini berlanjut.

    By: Caligula

  • Aske Bidadari Yang Terluka

    Aske Bidadari Yang Terluka


    48 views

    Ceritamaya | Nama saya Lia, Cecilia Lengkapnya, mungkin para pembaca sudah banyak yang familiar dengan saya melalui kisah “Aske Yang Perawan” dan “Aske Dan Pegawai Baru” cerita ini merupakan episode terakhir dari kisah perjalanan hidupku dan Aske.

    *****

    Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat aku terbangun dari tidurku yang lelap, aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurku meskipun dering jam weker terus mengganggu telingaku.
    “Uhh..!!” akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidur, mengumpulkan tenagaku dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari Sabtu, aku belum mempunyai rencana untuk menikmati Weekend ini.
    “Enaknya ngapain yach hari ini” pikirku mencari ide sambil menggosok gigi, usai gosok gigi dan mencuci muka aku berjalan ke meja riasku, masih belum menemukan ide.

    Kutatap wajahku dari cermin riasku.

    “Lia.. Lia.. Kenapa kamu belum punya kekasih?” gumamku sambil termenung di depan cermin, kubuka kancing gaun tidurku satu persatu sampai terbuka seluruhnya, kupandangi buah dadaku sendiri yang tersembul dengan puting yang coklat kemerahan, aku memang punya kebiasaan tidak pernah memakai bra saat tidur. Kuremas dua gunung kembarku itu dengan ke dua tanganku, sambil mataku tetap memandangi cermin.

    ” Hmm.. Lumayan besar dan sekal” gumamku.

    Buah dadaku memang berukuran lumayan besar hingga aku harus selalu mengenakan bra ukuran 36 B, aku berdiri sambil terus mengagumi diriku sendiri dari cermin riasku, aku cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 167 cm dan berat badan 45 kg, akupun memiliki kulit yang putih mulus, tubuh yang seksi dan wajah yang cantik, tapi kenapa sampai saat ini aku masih takut untuk punya pasangan hidup, harus ku akui, aku masih sangat trauma dengan kejadian pemerkosaan yang aku alami beberapa waktu yang silam.

    “Huh.. Masa bodo amat” pikirku.

    Cukup lama aku mematut diriku di depan cermin, kuraba perutku yang mulus dan ramping, lalu kuturunkan tanganku ke bagian selangkangan, Kuelus vaginaku yang ditumbuhi bulu bulu halus..

    “Ohh..” Hasrat birahiku melonjak menjalari seluruh tubuhku, kumain mainkan dengan jariku hingga cairan kewanitaanku membasahi bibir vaginaku.

    Aku sudah tidak bisa mengontrol tanganku lagi saat itu, dengan posisi masih tetap berdiri, kunaikkan sebelah kakiku ke atas meja rias, lalu aku mulai memasukan salah satu jariku ke dalam lubang kemaluanku sendiri dengan perlahan.. Sangat pelan.. Sambil tetap memandangi tubuh telanjangku dari cermin di depanku, aku mulai memaju mundurkan jariku, ku kocok di dalam lubang vaginaku dengan lembut, makin lama makin cepat dan lebih cepat lagi.. Cairan kewanitaanku makin membanjiri seluruh dinding liang vaginaku.

    “Sshh.. Oughh.. Nikmat sekali..” tubuhku menggeletar hebat.
    “Sshh.. Ohh..” aku mendesah panjang, mataku terpejam, merasakan getaran kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhku, 10 menit aku melakukan masturbasi sebelum akhirnya tubuhku menegang.
    “Ahh..” aku melenguh pelan saat telah mencapai orgasme, aku puas, gumamku menatap cermin.

    Kubuka laci meja riasku, mencari tissue untuk menyeka keringat yang membasahi wajahku, tiba tiba selembar foto terjatuh, kuambil foto itu, aku tertegun sesaat sambil memandangi foto itu, foto saat aku dan Aske sedang merayakan ulang tahunnya di perusahaan tempat kami bekerja dulu.

    “Aske.. Bagaimana hidupmu sekarang..?” tanyaku dalam hati, aku jadi teringat kejadian 8 bulan yang lalu, saat kami di perkosa dan di gagahi oleh Alex dan Paul, setelah kejadian itu Aske langsung mengundurkan diri dari perusahaan, sepertinya dia mengalami trauma berat, dia tidak mau di hubungi oleh siapapun, termasuk olehku, berkali kali aku mencoba menelepon dan mendatangi rumahnya, tapi dia selalu mengelak dan berusaha untuk tidak menemuiku, kami kehilangan komunikasi sampai dengan saat ini.

    Tiba tiba aku merasa sangat kangen kepada sahabatku itu, aku meraih handphoneku dan mencoba menghubunginya, berharap Aske tidak mengganti nomor HP-nya.

    “Hallo..!!” terdengar suara riang dan renyah dari ujung sana.
    “Hai Aske apa kabar?” seruku gembira, karena dia belum mengganti nomor HPnya, satu jam kami mengobrol dan saling melepas kangen, akhirnya kami sepakat untuk bertemu sore hari ini di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan.

    Hampir jam 6 sore dan kami sudah ngobrol cukup lama saat Aske memohon aku untuk ikut dengannya menghadiri acara pesta seorang rekanan kerjanya.

    “Kak Lia.. Ikut yaa.. Aske mohon please..” pinta Aske dengan gaya kekanakannya, akhirnya aku mengangguk mengiyakan.
    “Ya sudahlah.. Aku juga tidak punya acara hari ini” jawabku yang langsung di sambut dengan sorak riang Aske.

    Acara itu sendiri diselenggarakan di sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Pusat, Aske saat itu mengenakan gaun pesta panjang warna hitam dengan motif ukiran cina, Aske terlihat makin cantik dengan gaun itu, apalagi gaun itu lumayan ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi, sementara akupun mengenakan gaun biru panjang tanpa lengan dengan selendang biru muda transparan yang aku lingkarkan di pundakku.

    “Haii.. Gimana, sudah beres semua?” tanya Aske ke beberapa orang laki-laki yang ada di depan lobi hotel.
    “Beres Bu.. Semuanya lancar” jawab seorang dari mereka.

    Terus terang aku tidak mengerti dengan pembicaraan mereka, tapi pasti berkaitan dengan acara pesta, kan Aske event organizernya.. pikirku, sebelumnya Aske memang bercerita bahwa saat ini kegiatannya adalah menjadi event organizer untuk acara para konglomerat.

    Kami sudah berada di dalam hall hotel tersebut, dan kami ikut hanyut dalam suasana pesta yang berkesan aristokrat, ada sekitar kurang lebih 60 orang laki laki dan perempuan yang berada di ruangan besar ini, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, makan, minum, ngobrol dan lain lain sambil diiringi alunan musik yang lembut, maklum, rata-rata mereka sudah berusia kurang lebih 40 tahunan.

    Kusapukan pandanganku ke sekitar ruangan besar itu, sambil meminum segelas wine, Aske memang pintar mengemas acara pesta, semuanya tampak sangat mewah dan terorganisir pikirku. Lalu Aske menyempatkan diri mengenalkanku ke beberapa orang yang kebetulan lewat di depan kami.

    “Selamat malam nona Aske..” tegur seorang laki-laki paruh baya.
    “Eh Pak Yos.. Maaf saya datang agak telat.. Kenalkan ini teman kepercayaan saya.” jawab Aske sambil tersenyum ramah kepada laki laki itu yang ternyata adalah si empunya acara pesta tersebut.
    “Lia..” ujarku mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
    “Kamu cantik sekali Lia..” jawab Pak Yos memujiku sambil tersenyum ramah, aku langsung mengucapkan terima kasih atas pujiannya tersebut.

    Saat itu seorang laki-laki datang ke arah kami.

    “Hallo, selamat malam semua, acara utamanya sudah akan di mulai, silahkan ambil tempat masing masing..” sapa orang itu sambil tersenyum.
    “Ini Pak Pri.. Dia penanggung jawab acara ini”, ujar Pak Yos sambil mempersilakan kami mengikutinya.

    Kami duduk di salah satu meja dan menyaksikan dan mendengarkan lagu lagu yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi yang cukup terkenal. Aku masih duduk sambil memegang gelas wine, kepalaku sudah terasa agak berat dan pusing akibat terlalu banyak menenggak minuman tersebut, tak lama kemudian aku pun permisi untuk ke toilet.

    “Ke.. Aku ke toilet dulu yach..” ujarku sambil berdiri.
    “Aske temenin deh..” jawab Aske menawarkan diri.

    Aske

    Aske

     

    Aske sibuk merapikan gaunnya, sementara aku masih memperhatikan wajahku di depan cermin toilet, kepalaku terasa makin berat akibat pengaruh wine tersebut.

    “Aduh.. Kayaknya aku kebanyakan minum wine nih Ke..”, ujarku setengah menyesal kepada Aske.

    Kami sudah akan ke luar dari toilet saat tiba tiba muncul dua orang laki-laki dan langsung masuk ke dalam ruangan toilet, kebetulan saat itu memang hanya kami berdua yang berada di toilet tersebut.

    “Eh.. Bapak-Bapak salah masuk..” ujarku bingung, karena yang masuk itu Pak Pri dan Pak Yos, sementara Aske hanya diam saja sambil tersenyum ke arah mereka.
    “Tenang Lia.. Kita cuma mau mencicipi tubuh kamu yang seksi itu kok” ujar Pak Pri sambil mendekatiku dan berusaha meraih tubuhku, sementara Pak Yos mengunci pintu toilet dari dalam, seketika itu juga aku tersurut mundur berusaha mengelak dari terkaman Pak Pri. Hingga akhirnya tubuhku tertahan oleh washtafel yang berada di belakangku.

    “Apa apaan ini.. Aske.. Hentikan mereka..!!” jeritku sambil berusaha mendorong tubuh Pak Pri yang saat itu sudah mendekap dan menggumuli tubuhku, sementara tangannya sibuk berusaha menyingkapkan belahan gaunku, saat itu aku memang mengenakan gaun panjang yang belahannya sampai ke pangkal pahaku. Tak lama setelah itu, Pak Yos dan Aske mendekatiku, mereka membalikan tubuhku dengan paksa hingga posisiku tengkurap di atas washtafel.

    “Hentikan.. Aske.. Mau apa kalian..!!” jeritku sambil berusaha meronta dari himpitan tubuh Pak Pri yang menindihku dari atas, sementara Pak Yos memegangi kedua tanganku dengan erat sambil berusaha menciumi bibirku.
    “Mmh.. Jangann.. Mmhh.. Hentikan.. Aske..!!” jeritku di sela sela mulut Pak Yos yang sedang mengulum bibirku, saat kurasakan jari Aske mulai membuka resleting gaunku, lidah Pak Yos masih bermain-main di dalam mulutku saat Aske yang di bantu Pak Pri berusaha melepaskan gaunku, mereka menariknya dengan paksa melewati kedua tanganku, sehingga gaun bagian atasku merosot hingga sebatas perut.

    “Bajingan kalian.. Brengsek..!!” teriakku sambil terus berontak dari himpitan ke tiga orang itu, tapi sepertinya mereka sudah tidak peduli dengan jeritanku, Aske malah sudah melepaskan braku yang tanpa tali, sehingga kini buah dadaku terbuka dan menggantung tanpa penutup apapun, aku melenguh pelan, menahan sakit saat Pak Yos mulai meremas remas buah dadaku dengan kasar, mulutnya mulai mengulum bibirku kembali sambil sesekali menggigit bibirku yang mungil, sementara Aske menjambak rambutku dan menariknya ke atas sehingga kepalaku menjadi terdongak dan tidak dapat mengelak dari mulut Pak Yos yang sedang mengulum bibirku dengan beringas.

    “Jangann.. Jangann.. Lakukan itu.. Lepaskan saya.. Biadab kamu Aske..” jeritku panik saat Pak Pri mulai melolosi celana dalamku, aku berusaha menendangkan kakiku saat kurasakan celana dalamku ditarik paksa melewati lututku, betisku dan akhirnya lepas dari ke dua kakiku, kemudian Pak Pri mulai memposisikan tubuhnya tepat di belakang tubuhku, aku tidak dapat melihatnya karena posisi tubuhku masih menelungkup sementara Pak Yos memegangiku dengan erat, tapi aku bisa mendengar Pak Pri menurunkan resleting celananya, dan mulai memain-mainkan ujung kemaluannya di bibir vaginaku.

    “Jangan.. Perkosa saya.. Saya mohon..” keluhku lemah sambil memejamkan mataku, aku mulai menangis saat itu, sementara Pak Yos masih saja menciumi seluruh wajah dan leherku sambil satu tangannya meremas remas buah dadaku, dia sepertinya sama sekali tidak merasa iba melihatku menangis. Aku mendengar Pak Pri mulai mendesah sambil sesekali melenguh panjang, tapi aku tidak merasakan sesuatu menyentuh bagian selangkanganku, merasa penasaran, kupaksakan kepalaku menoleh ke arah samping.

    “Astaga.. Aske kamu sudah gila..!!” seruku saat kulihat Aske sedang mengoral batang penis Pak Pri sambil sesekali mengocoknya dengan tangannya yang mungil itu, Aske hanya menoleh dan tersenyum ke arahku, sepertinya dia sangat menikmati permainan itu, rambutnya yang panjang sampai tersibak saat Aske menaikturunkan kepalanya dengan cepat, mengocok kemaluan Pak Pri di dalam mulutnya, aku makin terperangah saat kulihat Aske berjongkok membelakangi tubuh Pak Pri yang duduk di atas lantai, lalu Aske menyibakkan belahan gaun hitamnya dan menyingkapkan celana dalamnya, kemudian tangannya memegang batang penis Pak Pri dan membimbingnya masuk ke dalam liang vaginannya, sementara Pak Pri memegang pinggang Aske yang saat itu sedang menurunkan tubuhnya dengan perlahan di atas pangkuan Pak Pri.

    “Ahh.. Sshh..” Aske mendesah panjang saat batang penis Pak Pri amblas seluruhnya ke dalam liang kemaluannya, Aske sempat menaik turunkan tubuhnya beberapa kali, lalu tiba tiba dia berdiri dan menghampiriku.
    “Kak Lia nggak perlu takut.. Enak kok..” ujar Aske sambil tertawa kecil dan membelai rambutku, ingin rasanya kutampar wajah Aske saat itu juga, tapi tanganku masih di pegangi dengan erat oleh Pak Yos.

    “Jangan.. Jangan.. Dimasukin.. Sakitt..!! Hentikan..!!” jeritku saat kurasakan liang vaginaku mulai dijejali oleh batang kemaluan Pak Pri, rupanya saat itu Pak Pri sudah berada di belakangku, dia menyingkapkan gaunku dan mulai berusaha memasukkan kemaluannya ke dalam lubang vaginaku.

    “Sakitt.. Lepaskan..!!” jeritku parau, aku mencoba menggerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan saat batang kemaluannya mulai menyeruak masuk, aku berusaha mengelakkan batang penisnya dari vaginaku, tapi gerakanku tertahan karena dengan sigap Pak Pri memegang dan menahan pinggulku, sementara Aske membimbing batang penis Pak Pri dengan tangannya dan mengarahkannya masuk ke dalam liang kemaluanku.

    “Arghh.. Sakitt.. Ouhh..!!” aku melenguh lemah menahan sakit saat kemaluan Pak Pri menghunjam masuk menggesek seluruh dinding liang vaginaku, dan aku kembali menjerit saat Pak Pri mendorongkan tubuhnya membuat seluruh batang penisnya tertanam di dalam lubang kemaluanku.

    “Lepaskan.. Perihh..!!” gumamku lirih saat Pak Pri mulai memompa vaginaku, makin lama gerakannya semakin cepat, sehingga tubuhku pun ikut terguncang guncang mengikuti gerakan tubuh Pak Pri yang bergerak maju mundur. Aku merasakan batang penisnya seperti menggerus gerus dinding vaginaku saat kemaluannya bergerak maju mundur, sehingga menimbulkan rasa perih dan sakit di seluruh liang kemaluanku.

    “Benar kan Aske bilang.. Walaupun sudah tidak perawan lagi tapi dia masih sempit kan Pak..!!” ujar Aske kepada Pak Pri, Pak Pri hanya melenguh, tidak menjawab komentar Aske.

    Aku memang sudah tidak perawan lagi akibat pemerkosaan yang aku alami dulu, tapi sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi berhubungan badan dengan siapapun, paling paling aku hanya melakukan masturbasi, sehingga vaginaku masih tetap sempit dan terasa sakit saat batang penis Pak Pri menerobos masuk ke dalam lubang kemaluanku.

    Pak Pri masih terus memompa vaginaku, sementara aku hanya bisa pasrah dan menangis merasakan sakit dan perih saat kemaluanku di obrak abrik oleh batang penis Pak Pri, tubuhku sudah sangat lemah saat Pak Yos mulai melepaskan pegangan tangannya dari ke dua tanganku dan mulai menggumuli tubuh Aske, ku lihat Pak Yos sudah melepaskan gaun yang di kenakan Aske, menelanjanginya lalu meremas remas buah dadanya sambil menciumi bibir Aske, Aske pun langsung membalasnya dengan sangat bernafsu, akhirnya mereka pun bersetubuh di samping tubuhku yang sedang di perkosa oleh Pak Pri

    Baca Juga : Bercinta Dengan Ibu Kost

    “Keparat Aske.. Dia sengaja menyerahkanku ke orang orang biadab ini” pikirku.

    Tiba tiba kudengar Pak Pri mendengus keras sambil menghentakkan pantatnya dengan keras ke arah depan sambil tangannya mencengkeram pinggangku dengan erat, aku sudah tidak dapat meronta lagi saat itu, aku hanya bisa menangis dan memejamkan mata saat Pak Pri mengeluarkan seluruh cairan spermanya di dalam lubang vaginaku, kurasakan cairan hangat menyembur, mengisi dan membanjiri liang kewanitaanku.

    “Terima kasih Lia.. Rasanya nikmat sekali menggagahi kamu..” ujar Pak Pri sambil tertawa penuh kemenangan, bersamaan dengan itu kulihat Aske tiba tiba menghentikan aktivitasnya, dia melepaskan batang penis Pak Yos dari liang vaginanya dan menyuruh Pak Yos mengambil posisi di belakang tubuhku, lalu Aske mengoral dan mengocok kemaluan Pak Yos, kemudian Aske mengarahkan batang penis Pak Yos ke liang vaginaku sambil tetap mengocoknya dengan cepat sampai Pak Yos mencapai orgasme, membuat seluruh cairan spermanya menyembur keluar dan membasahi bibir kemaluanku.

    Aku merasa malu dan amat terhina di perlakukan seperti itu oleh mereka, aku memandang Aske dengan perasaan sangat marah.

    “Kejam sekali kamu Ke..!! Kamu sengaja mau membuat Kak Lia hamil..?” seruku geram.
    “Saya memang dendam sama kamu.. Kak Lia..!! dulu.. Waktu saya di perkosa, Kak Lia tidak berusaha menolong saya” ujar Aske ketus.
    “Tapi.. Aske.. Saat itu Kak Lia juga di perkosa..!!” jawabku bingung sambil berusaha berdiri, tapi tiba tiba Pak Yos menyergapku dari belakang, dia memelukku dan membalikan tubuhku sehingga posisiku menjadi terlentang menghadap tubuhnya.

    Pak Yos dengan sigap langsung menindihku sambil tangannya berusaha memasukan batang penisnya ke dalam liang vaginaku yang telah basah oleh cairan sperma Pak Pri dan spermanya.

    “Jangann..!!” jeritku, saat liang kemaluanku kembali di terobos dengan paksa..

    Sementara itu Aske tampak tertawa puas melihat aku kembali di perkosa oleh mereka, sudah beberapa kali Pak Pri dan Pak Yos bergantian menggarap tubuhku, sampai akhirnya mereka puas dan meninggalkanku sambil tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai tubuhku, Aske sempat melirik dan tersenyum ke arahku sebelum akhirnya dia pun ke luar mengikuti kedua orang itu.

    Aku masih tergolek lemas di atas washtafel toilet, seluruh tubuhku terasa pegal dan sakit, tapi aku tetap mencoba untuk berdiri walaupun rasa perih dan ngilu masih mendera di sekitar selangkanganku, kuraih braku yang teronggok di samping washtafel dan mengenakannya sambil membetulkan gaun bagian atasku yang tadi dilolosi oleh mereka. Aku telah membersihkan cairan sperma Pak Pri dan Pak Yos yang melekat di sekitar selangkanganku, lalu mengenakan celana dalamku kembali saat tiba tiba seorang office boy masuk dan kemudian memaksaku untuk melayani nafsu bejatnya, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menolaknya, aku hanya bisa diam dan pasrah saat office boy itu menghunjamkan batang penisnya dan mulai memompa liang vaginaku dengan kasar.

    Hari itu aku di perkosa oleh tiga orang termasuk oleh office boy itu yang ternyata mengaku kalau dia di suruh oleh mereka.

    Semua perlakuan keji itu memang telah di rencanakan oleh Aske, tapi aku masih tidak mengerti kenapa Aske tega menjebakku seperti itu, dan tentu saja aku sangat tidak terima dengan semua perbuatannya.

    Suatu saat nanti, akan kubalas semua perbuatannya terhadapku..!

  • Donita XXX: The Private Life 2

    Donita XXX: The Private Life 2


    44 views

    Perhatian sebelum membaca !

    • Cerita berikut hanyalah fiksi semata, jika ada kesamaan, mungkin sekali memang disengaja.
    • Cerita ini hanya karangan biasa yang ditulis untuk melampiaskan fantasi yang tidak terlampiaskan dan dituangkan dalam bentuk cerita agar tidak menjadi kanker didalam kepala. Jadi, jika ada diantara anda yang sulit membedakan antara fantasy dan realitas, silakan hubungi paranormal atau dukun terdekat. Atau jika ada yang marah-marah karena cerita ini silakan hubungi rumah sakit jiwa untuk memeriksa kesehatan jiwa anda.
    • Kemungkinan besar cerita ini tidak menarik bagi pembaca dan cenderung membosankan, tapi bisa sebagai tambahan koleksi cerita seru, sambil kita sama-sama menunggu cerita yang lebih hebat dari para MASTER KBB.
    • Di dalam dunia maya penulis mengakui,tidak bisa melarang anda untuk tidak meng-copy paste , menyebarkan, serta mengkomersilkan tanpa izin dari penulis. Hanya kesadaran anda-lah yang bisa. “hargai dong karya orang!”.
    • Terakhir penulis hanya seorang biasa yang baru belajar membuat cerita seru. Jadi masih bisa dibilang “anak bawang”. Oleh karena itu penulis sangat menerima saran, kritikan, masukan bahkan cacian dan makian khususnya, jika itu bisa ditolerir dan bisa memberikan konstribusi ke hasil tulisan.

    *******************************************

    Ceritamaya | Malam beranjak semakin larut, membuai semua anak manusia untuk terus hanyut terlelap dalam buaian mimpi-mimpi mereka. Begitu juga yang dialami oleh kedua insan yang baru saja melakukan aktivitas pemuasan nafsu yang sangat nikmat dan melelahkan. Tubuh yang sudah luluh lantak dan tidak bertenaga lagi, membuat keduanya tidur dengan nyenyak tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka. Setelah melakukan aktivitas sex yang sangat liar dan dahsyat, Donita serta pak Supri tertidur pulas diatas sofa panjang itu. Tubuh langsing Donita yang memiliki berat tubuh lumayan ringan, tidur berdekapan dengan nyamannya diatas tubuh pak Supri. Kemaluan mereka masih saling bertautan, walaupun penis si supir sudah memuntahkan seluruh isinya ke dalam liang vagina sang nona majikan, tapi benda kokoh yang satu itu masih saja tetap dalam kondisi yang cukup kuat, untuk terus terbenam di dalam lubang hangat nan sempit milik Donita. Cairan hasil persetubuhan yang masih merembes keluar dari kedua kelamin, tidak sedikit pun mengusik tidur mereka. Apalagi hujan mulai turun, membuat suasana semakin nyaman dan cocok untuk membuat semua orang terus tidur dengan lelapnya. Tanpa disadari oleh mereka berdua, ternyata ada seseorang yang sejak dari tadi melihat semua aktivitas yang dilakukan oleh Donita dan supirnya. Ya, cuma ada satu orang yang berada di rumah itu selain mereka berdua, yang tak lain dan tak bukan adalah Asmirandah. Sewaktu dia terbangun karena kehausan, ia mendengar ada suara erangan dan desahan di ruang depan. Saat melihat apa yang terjadi disitu, dia mendapati sahabat baiknya Donita, sedang bersetubuh dengan panasnya bersama pak supirnya sendiri. Gadis manis itu benar-benar tidak menyangka kalau Donita, sahabat yang sudah sangat dikenalnya selama ini, bisa berubah menjadi sebegitu liarnya saat berhubungan sex dengan pak Supri, layaknya pelacur yang sedang melayani pelanggannya saja. Selama ini ia berfikir bahwa wajar jika artis-artis wanita sepertinya bertingkah laku seperti wanita jalang di depan om-om produser atau para pejabat yang menyewa mereka untuk ‘dipakai’. Itu dilakukan sebagai jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan atau pun untuk mendapatkan uang. Tetapi dengan melihat langsung apa yang dilakukan Donita, dia benar-benar tidak habis fikir, bagaimana mungkin sahabat baiknya itu bisa melakukan hal yang sedemikian rupa bersama sang supir yang jelas-jelas kelas sosialnya jauh berbeda dengan dirinya. Yah, setelah melihat langsung ukuran ‘senjata’ milik pak Supri dan bagaimana cara pak tua itu memuaskan gairah liar sahabatnya, Asmirandah tidak heran kalau Donita bisa berubah menjadi sedemikian rupa. Walaupun gadis itu tidak tahu kenyataan, bahwa sejak awal sahabatnya telah terlebih dahulu takluk karena menerima ancaman dari sang supir, sehingga Donita terpaksa memuaskan nafsu bejat pria tua itu. Sebenarnya, sejak melihat adegan panas yang disuguhkan langsung oleh Donita dan pak Supri, nafsu Asmirandah sudah naik dan ingin turut bergabung pula dalam percintaan panas sahabatnya. Tapi ternyata dia masih punya perasaan segan dan malu terhadap mereka berdua. Masa’ ia menawarkan tubuhnya begitu saja kepada pak tua itu, kalau dia melakukan hal yang demikian, itu sama saja dengan mengatakan bahwa dia adalah perempuan murahan yang terlalu mudah untuk ‘dipakai’. Ia hanya melampiaskan nafsunya dengan menggosok-gosokan tangannya ke selangkangannya dari balik hotpantsnya. Asmirandah merasakan selangkangannya makin basah saja, maka karena tidak tahan melihat pemandangan panas di depannya lebih lama lagi, akhirnya ia memilih kembali ke kamar untuk melanjtkan tidur, dan berharap gairah yang sudah terlanjur naik dapat segera turun.

    ************************************************

    Keesokan paginya…

    Donita terbangun dari tidurnya. Dengan kepala yang masih sedikit pusing, dia mencoba untuk bangkit dari sofa. Tapi ia masih belum bisa mengumpulkan tenaganya secara utuh, sehingga memilih untuk duduk sejenak. Ia heran melihat tubuhnya ditutupi selimut dan juga tidak mendapati pak Supri yang tidur bersamanya semalam. Terfikir olehnya, apakah sang supir yang bangun terlebih dahulu yang menyelimuti tubuhnya. Saat merasa tubuhnya sudah cukup kuat untuk bergerak, ia beranjak bangun untuk mencari pak Supri. Tiba-tiba dia teringat pada Asmirandah yang masih tertidur di kamarnya. Segera dia membatalkan niat untuk mencari si supir dan bergegas menuju kamar tidurnya. Saat membuka pintu, gadis itu melihat ternyata sahabatnya sudah tidak ada lagi di dalam kamar, berikut barang-barang bawaan berupa tas jinjing hitam dan sebuah hp black berry yang ia letakkan diatas meja kamarnya ketika ia membaringkan Asmirandah semalam. Donita menduga-duga, apakah sahabatnya pulang dengan melihat dirinya bersama pak Supri tidur berbugil ria diruang depan atau justru sahabatnya itulah yang menyelimuti dirinya ketika sedang terlelap. Tak mau ambil pusing dengan semua itu, Donita masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap, karena dirinya memiliki jadwal syuting sinetron hari ini. Setelah mandi dan mengenakan pakaian yang menurutnya menambah daya tarik dirinya, ia tidak lupa menyapukan sedikit make-up tipis ke wajah cantiknya dan bergegas turun ke bawah.

    “Paaaak! paaaak Supriii! paaaakkkk! dimana sey?”

    Sungguh terlalu! hari masih pagi, tapi dara cantik ini sudah berteriak-teriak layaknya pedagang saat menjajakan barang dagangannya saja. Pak Supri yang sudah dipanggil-panggil dengan keras itupun, tidak juga menjawab maupun menampakkan batang hidungnya. Kesal karena tidak ada jawaban dari supirnya, ia pun memilih pergi ke kamar supirnya yang terletak di bagian belakang rumah. Sesampainya di depan pintu, Donita sedikit ragu. Apakah tidak akan terjadi sesuatu yang buruk dengan pergi kekamar supirnya ini. Bisa-bisa pak Supri yang mesum itu kalap dan bangkit nafsunya saat melihat dirinya, dan berusaha menyeretnya ke dalam kamar lalu diperkosa habis-habisan. Tapi waktu tidak lagi memberinya kesempatan untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Akhirnya dia memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamar sang supir meski diliputi perasaan was-was dan takut. tok! tok! tok!

    “Pak Supri! pak! anterin aku dong!” perlahan dia mengetuk pintu dan memanggil orang tua itu.

    “Iya….iya! sebentar non! lagi mandi nih!” terdengar suara orang tua itu dari dalam.

    Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya pintu dibuka dan mucullah wajah supir memuakkan itu.

    Pak Supri

    “Ade ape non? mau dientot lagi? hak hak hak!”

    Benar-benar kurang ajar pak tua ini. Sebegitu mudahnya dia mengeluarkan kata-kata cabul seperti itu di hadapan seorang wanita, apalagi yang ada di hadapannya ini adalah majikannya sendiri. Tapi supir itu bicara layaknya kepada seorang pelacur saja. Kontan telinga Donita panas mendengar perkataan sang supir yang jelas-jelas sangat merendahkan dirinya.

    “Heh pak! kalo ngomong yang sopan dikit ya! pernah makan bangku sekolahan ga? aku ni majikan bapak! Jadi tolong dijaga mulutnya! Bapak mau saya pecat hah?” bentaknya, kesal juga diperlakukan seperti itu.

    “ya, ya non! maap! kan cuman canda doang! galak amat sih? jangan suka marah-marah non, nanti cepet tua loh! oke manis? hak hak hak” ujarnya meminta maaf sambil tangannya menowel dagu gadis cantik itu.

    “Udah tunggu apa lagi? cepetan ganti baju! gara-gara bapak aku jadi telat tau!”

    Dengan terburu-buru Donita beranjak pergi menjauh dari sarang sang iblis tua, takut jika dia gelap mata dan menyeret dirinya ke dalam kamarnya untuk disetubuhi lagi. Setelah majikannya pergi, sang supir membuka baju yang ia kenakan. Sambil bersiul, pak tua itu mengambil “seragam dinas kesupiran-nya” dan memakainya secepat kilat. Setelah selesai, sempat-sempatnya dia menarik resleting celana dan mengeluarkan “batang” kebanggaannya. Dikocok dan dielus-elusnya secara perlahan ‘ular besar’ itu hingga berdiri tegak.

    “ He he he…., sabar ya jon, sabar! nanti ente ane kasih lagi deh memek tuh cewek, oce? sabar ya! sekarang ente istirahat dulu, tunggu tanggal mainnya…. hak hak hak!” ujarnya sinting kepada penisnya, seakan-akan benda itu hidup dan mengerti perkataannya saja. Sesudah mengunci pintu kamar dan tentu saja mengamankan ‘senjata’ yang bisa membuat para wanita takluk pada dirinya, ia membuka pintu bagasi lalu mengeluarkan mobil mewah milik sang artis. Saat mencari-cari gadis itu, ternyata Donita sedang duduk menunggu di kursi teras rumah dan langsung naik kedalam mobil begitu mobil dikeluarkan. Donita duduk dikursi belakang, tapi dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan sang supir yang acap kali ketahuan sedang melirik-lirik tubuhnya melalui kaca spion mobil sepanjang perjalanan. Tentu saja dia gelisah. Bagaimana mungkin gadis itu bisa tenang, jika mengingat peristiwa yang tadi malam dilakukan oleh mereka berdua. Terbayang dalam pikiran gadis itu, bisa saja pak Supri ini menculiknya atau membawanya ke tempat yang sepi, dan memaksa dirinya untuk kembali memuaskan nafsu birahi sang supir yang terus membara layaknya api yang tidak mau padam. Apalagi jika dirinya menolak, yah sudah pasti si supir akan kembali membuka jurus ampuhnya, yang tak lain dan tak bukan adalah ancaman akan menyebarkan video mesum yang dibintangi oleh sang artis. Membuat dirinya terangsang juga memikirkan hal yang demikian. Ceritamaya

    Pak Supri yang melihat sang nona majikan melalui kaca mobil, bisa melihat raut kegelisahan yang terpancar dari wajah cantik sang artis. Dia hanya bisa tertawa geli dalam hatinya, dan berusaha mencari-cari cara apa lagi yang seru dan asik untuk mengerjai dan menikmati berjuta kenikmatan yang ditawarkan oleh tubuh molek gadis itu. Karena sedang ayik-asyiknya terlarut dalam khayalan masing-masing, tidak terasa mobil telah sampai di lokasi dan langsung dibawa masuk ke dalam pelataran parkir tertutup sebuah gedung, yang merupakan tempat akan dilakukannya beberapa pengambilan scene sinetron yang dibintangi oleh Donita. Setelah mobil diparkir, gadis itu turun dan menghampiri pak Supri yang masih duduk dalam mobil.

    “Pak, nanti jemput aku jangan kelamaan ya! nih uang untuk rokok!” pesannya pada supir itu seraya memberinya tiga lembar uang lima puluh ribu.

    Dengan cepat pak Supri mengambil uang itu dan dengan cepat pula, supir itu menarik kerah kaus yang dikenakan Donita. Dibukanya kancing-kancing kaus itu dengan cekatan, dan disingkapnya bra coklat milik gadis itu keatas. Otomatis, kedua buah dada Donita yang montok dan ranum terbuka dan menggantung dengan bebasnya dihadapan wajah si tua bangka itu. Donita yang terkejut dengan perbuatan supirnya, berusaha untuk memberontak. Tapi dengan kuat, tangannya meremas pergelangan tangan sang artis, sehingga membuat gadis itu kesakitan dan berbisik pelan.

    “Non diem aja! saya mau nyusu bentar! kalo non ngelawan gitu, nanti ada orang yang bakalan datang dan ngeliat kita, non mau? jadi tenang aja ya manis!” bisiknya di dekat telinga gadis itu dengan raut wajah jeleknya yang sangat serius dan agak sedikit menyeramkan.

    Kali ini perbuatan si supir benar-benar sudah melewati batas, melakukan hal cabul seperti itu ditempat terbuka begini. Donita sebenarnya masih ingin melawan, tetapi dia takut apabila ada orang yang kebetulan lewat lalu mendekat karena ada sedikit kegaduhan di tempat itu dan memergoki dirinya dalam kondisi sekarang, bisa celaka!. Dan juga ancaman serta kata-kata supirnya barusan, menandakan pria tua ini tidak main-main. Bisa saja dia ‘mendiamkan’ dirinya dengan caranya sendiri yang mungkin lebih berbahaya, sehingga membuatnya pasrah saja dengan perlakuan supirnya itu. Berdiri diluar mobil dengan kondisi tubuh setengah terbuka seperti sekarang, jelas membuat gadis cantik itu gemetar ketakutan setengah mati. Memang tempat parkiran itu tertutup dan dipenuhi banyak mobil, tapi bisa saja sewaktu-waktu ada orang yang kebetulan lewat dan melihat perbuatan yang sedang mereka lakukan. Selagi berbagai macam hal sedang berkecamuk dalam pikiran sang artis, dengan sangat bernafsu supir itu meremas-remas payudaranya. Donita bisa merasakan jari jemari pak Supri melingkari puting susunya dan menggoyang-goyang benda bulat kenyal itu, seperti mengocok obat sebelum diminum. Donita mulai terengah-engah akibat perbuatan si supir dan sedikit kesulitan mengatur nafasnya. Jantungnya berdetak dengan keras, rasa takut perbuatan mesum sang supir dilihat orang lain dibarengi dengan api nafsu yang berkobar. Gadis itu sudah tidak punya lagi keinginan untuk melawan, pasrah menerima resiko apaun yang akan terjadi.

    Mulai merasa bosan hanya dengan meremas, bibir hitam tebal milik sang supir mendekat dan melumat tanpa ampun pentil susu yang sudah sedari tadi mengacung, menantangnya untuk dilahap. Tubuh gadis itu sedikit melonjak kaget ketika merasakan mulut serta lidah hangat milik supirnya, mengenyot dan menghisap puting payudaranya. Ditambah lagi bibir pria tua itu aktif mencium dan menjilat setiap jengkal wilayah payudaranya. Tanpa disadari Donita reflek memajukan tubuhnya, seolah-olah memberikan akses kepada supirnya agar lebih leluasa menikmati dan melahap setiap jengkal bagian tubuhnya yang indah itu. Merasa bahwa nona majikannya sudah takluk seutuhnya, pak Supri menambah hisapan dan jilatannya dengan menggigit-gigit pelan puting mungil kemerahan itu, membuat sensasi kenikmatan yang diterima Donita semakin menjadi-jadi, menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya.

    “oooooohhhhhhh!!! pakkkkkhhhh! jangan kenceng-kenceng nyedotnyaaahh!!” lenguhnya menahan nikmat, seraya mengingatkan supirnya agar tidak terlalu keras menghisap buah dadanya.

    Sang supir tersenyum puas melihat reaksi dan ekspresi wajah sang artis yang merah padam menahan gelora birahi. Andai kata ada orang yang kebetulan melintasi tempat itu dan melihat mereka berdua, dijamin dia bakal langsung menubruk dan memerkosa sang artis saat itu juga. Tapi entah mengapa, sejak dari tadi tidak ada sedikit pun tanda-tanda akan adanya seseorang yang melintas ataupun menuju ke tempat parkiran itu. Entah karena semua orang sedang sibuk-sibuknya bekerja atau memang karena sang iblis, yang memberikan kesempatan emas kepada pak Supri agar bisa melakukan perbuatan mesumnya pada sang artis. Sedang asyik-asyiknya mengunyah puting sang nona majikan, tiba-tiba hand phone milik pak tua itu berbunyi.

    “Wong edaaan!!!! gak tau orang lagi enak apa! sontoloyo!!” makinya kesal.

    Bgaimana tidak kesal? sedang asyik menyusu,ada saja orang yang mengganggu. Tapi setelah melihat layar hpnya, raut wajah supir itu berubah.

    “Oalah cup! koe rupanya toh! ho’h, ho’h! gue langsung kesana ya! iya rebes, santai aja!” (hmmm.. patut dicurigai nih nada bicara si supir)

    Setelah memutus sambungan telepon, dimasukkannya hp itu ke saku bajunya.

    “Non, kita lanjutin dirumah lagi ya nanti, acara nyusunya! bapak ada kerjaan dulu nih! jemputnya jam berapa ntar?” tanyanya enteng, tanpa merasa bersalah sedikitpun.

    “hhh… jam dua! jangan telat, ya pak!” jawab gadis itu dengan nafas yang tersengal-sengal.

    Tampaknya Donita sudah bisa menerima status tidak resminya sebagai alat pemuas syahwat pak Supri. Hal ini bisa dilihat dari sikapnya yang tidak memarahi sang supir, yang sudah melakukan perbuatan cabul seperti itu di tempat umum. Setelah bisa mengontrol dirinya, Donita membetulkan kembali pakaiannya yang sudah acak-acakan dan agak sedikit kusut.

    “ Ya udah non, bapak pergi dulu! dadah!” pamitnya seraya mengemudikan mobil meninggalkan tempat itu.

    Donita cuma bisa memendam kekesalan dalam hati, walau agak kecewa dengan pekerjaan ‘tanggung’ supirnya. Sadar bahwa sudah ditunggu sedari tadi, dia pun meninggalkan lapangan parkir itu dengan terburu-buru.

    “Yaahhh…. dimarahin lagi deh sama si bos!” batinnya dalam hati sambil melangkah cepat.

    ******************************

    Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, membuat sang mentari kini berada tepat ditengah-tengah langit sembari memancarkan sinarnya yang terik dan menyengat. Jarum jam menunjukkan angka dua kurang sepuluh menit. Tampak Donita sedang duduk kelelahan di atas sebuah kursi plastik sambil mengipas-ngipas tubuhnya. Pengambilan adegan sinetron kejar tayang yang dilakoninya kini sudah selesai. Saat sedang istirahat dengan santainya, tiba-tiba lawan mainnya yang seorang artis cowok ganteng sekaligus penyanyi dan saat ini sering diburu oleh nyamuk-nyamuk infotaintment karena baru saja memutuskan kekasihnya yang sudah sangat lama dipacari (bagi yang sering nonton sinetron sc**, pasti tau deh siapa tuh cowok), muncul dengan membawa sepiring nasi goreng.

    “Hay cantik! sendirian aja ni! o ya neh tadi pak sutradara nitipin nasi goreng buat elo. Dimakan ya.” ujarnya dengan senyuman.

    Baca Juga : Kirey XXX: Coming Back

    “Ow, thanks! maaf kalo ngerepotin. Pas banget, gue lagi laper berat ne!” jawabnya disertai senyuman yang tak kalah manis, membuat pemuda itu agak salah tingkah.

    “Ok, sama-sama. Kalo gitu gue pulang dulu ya, dah!”

    “Daahhh!”

    Sepeninggal pemuda itu, Donita langsung melahap nasi goreng itu. Memang sedari tadi dia sudah kelaparan, rencananya ia ingin maklan di rumah saja. Yah tapi sayangkan kalau makanan itu ditolak?. Setelah menghabiskan makanannya, gadis itu menelepon pak Supri untuk menjemputnya. Sebelum sempat memencet nomor sang supir, rupanya pak tua itu sudah lebih dulu meneleponnya.

    “Halo pak! lagi dimana? aku dah selesai neh!”

    “Saya dah di depan non!” jawabnya di seberang telepon.

    “Oh ya udah! aku kesana ya!”

    Setelah membereskan barang-barang bawaannya dan berpamitan kepada semua kru, ia berjalan keluar dari gedung menuju tempat si supir menunggu. Terlintas dalam benaknya bila sudah sampai dirumah nanti apakah pak Supri akan ‘menggarapnya’ lagi?, jawabannya sudah tentu pasti. Tidak mungkin pak tua itu akan melepaskan kesempatan emas begitu saja, apalagi dirumah sedang tidak ada orang. Pak Supri dapat dengan leluasa menyetubuhinya dimana pun dan kapan pun dia mau. Lelah membayangkan semua itu, ia memilih pasrah saja. Membiarkan semuanya terjadi layaknya air yang mengalir. Cuma satu hal saat ini yang ingin ia lakukan, memanfaatkan waktu senggang yang dimiliki untuk istirahat sepuasnya. Begitu sampai di tempat supirnya menunggu, dia langsung masuk ke dalam mobil. Namun, saat baru akan membuka pintu belakang mobilnya, terdengar suara sang supir yang berkata,

    “Non, jangan duduk dibelakang dong! didepan atuh, temanin bapak nyetir!”

    “Males ah! aku mau nyantai dibelakang. Lagian untuk apa seh?”

    “Hmmm? jadi nolak neh ceritanya? non mau jadi bintang porno lokal? okeh, tinggal bapak upload nih videonya ke internet” (waow, benar-benar pakar iptek ne tua bangke, pake kata-kata upload segala cin!)

    “Eh..eh jangan pak, jangan! masa gara-gara itu aja bapak marah? aku capek pak, pengen istirahat di belakang bentar. Boleh ya? pleaseeee!” pintanya dengan wajah memelas.

    “Nggak! sekali di depan tetep didepan! cepetan naek!” perintah si supir galak.

    Tidak ingin memperpanjang urusan dan juga khawatir mendengar ancaman supirnya, Donita pun mengalah untuk duduk di kursi depan bersama supirnya. Memang itulah yang ingin sekali dihindari gadis itu. Alasan ‘capek’ dan ‘pengen istirahat’ itu hanyalah trik untuk mengelabui supirnya. Sejak awal dia memang ingin menghindari semua kemungkinan yang bisa berujung persetubuhan dengan tua bangka itu. Akhirnya dengan perasaan sangat terpaksa, gadis manis itu akhirnya membuka pintu depan, lalu duduk bersebelahan dengan supirnya yang menyeringai dan menatap dirinya dengan pandangan aneh. Donita menebak-nebak apa maksud dari ekspresi wajah pak Supri. Apakah itu pertanda senang bagi sang supir karena telah berhasil menaklukkan dan menguasai dirinya atau ada hal lain yang disembunyikan. Entahlah, yang jelas dia sudah sangat lelah. Lelah karena dihujani aktivitas syuting yang menguras tenaganya dan juga lelah karena mendapat persoalan baru dengan supirnya ini. Ditengah berbagai macam hal yang berputar-putar dalam pikirannya, gadis itu merasakan belaian halus di kepalanya.

    “Non capek ya? kasian! emang ngapain aja seh seharian?” tanyanya sok perhatian dan pura-pura tak tahu kegiatan majikannya.

    “Ya iyalah pak! kan abis kerja seharian! emang ada apa seh nanya-nanya? tumben bapak perhatian!” jawabnya yang curiga dengan sikap baik orang tua itu.

    “Enggak juga kok. Kan udah kewajiban saya untuk nyenengin dan melayani majikan. Apalagi untuk urusan ngentot! betul gak non? hua ha ha ha!”

    Ingin rasanya dia menonjok wajah jelek pria buruk rupa itu, tapi dia masih bisa menahan diri dan memilih diam saja. Merasa kata-katanya tidak direspon, sang supir tidak menunda-nunda lagi aksinya. Tangan kiri yang digunakan untuk menggerakkan persneling gigi mobil, meluncur cepat menuju ke depan kancing celana jeans yang dipakai Donita dan membukanya. Donita yang tidak siap dengan serangan itu, tidak sempat bereaksi sehingga sang supir berhasil membuka kancing celananya.

    “Pak, stop! apa-apaan ih? udah gila ya!” Donita membentak sang supir dan berusaha menahan tangan yang ingin menyentuh alat vitalnya.

    Melihat pelawanan majikannya, supir itu menjambak rambut panjang gadis itu dan menarik kepalanya ke arah wajahnya sendiri. Tak lupa laju mobil diperlambat dan dibawa agak ke tepi jalan.

    “ Heh non, bapak bilang sama non ya! bapak udah capek kalo tiap kali mau entotin non harus ngancem non berkali-kali. Jadi gini aja, kalo non sekali lagi melawan, bapak gak bakalan ngancem lagi. Bakal langsung tak sebarin tu video. mau hah? kita liyat aja pa kata orang-orang kalo video non beredar! biar non sekeluarga malu seumur hidup!! gimana?” ucapnya dengan suara bergetar yang penuh kemarahan tepat di hadapan wajah gadis itu.

    Donita cuma bisa mengangguk. Mata indahnya mulai berkaca-kaca, perlahan-lahan air mata tumpah mengalir membasahi pipinya. Dengan kasar supir itu melempar kembali tubuh majikannya ke kursi sampingnya. Donita sudah tidak bisa menahan lagi isak tangisnya, ia menumpahkan segala kekesalan dan rasa tidak berdayanya melalui tangisannya. (wah, nangisnya acting ato beneran nih? secara artis gitu loh!)

    “Oalah! kok pake acara nangis segala sih? kan nanti mau dikasih kontol! jangan nangis lagi ya manis! cup cup cup, diem anak cantik!”

    Entah setan macam apa yang ada di dalam diri pria tua ini, sehingga bisa membuatnya bertingkah seperti itu. Tangannya kini mencoba lagi beroperasi di sekitaran daerah vagina Donita yang masih tertutup celana. Gadis itu kini hanya diam saja, membiarkan tangan supirnya menyusup masuk kedalam celananya. Begitu masuk, tangan itu merayap seperti ular, melewati pinggiran celana dalam dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Digosoknya naik turun kedua pasang bibir memek Donita, membuat tubuh gadis itu menggeliat keenakan. Elusan halus nan pelan pada bibir memeknya, jelas membuat nafsunya merambat naik. Dirinya yang tadi terisak-isak, kini mulai sedikit melenguh dan mendesah pelan. Pak Supri melihat perubahan pada majikannya, lalu semakin menambah gencar serangannya. Dua jari yang digunakan untuk mengelus, dimasukkannya ke dalam lubang vagina itu perlahan dan didiamkan sejenak. Donita mengekspresikan rasa nikmat yang diberikan jari supirnya, dengan cara meremas keras pegangan tangan dipintu mobil seraya menggigit bibirnya. Sayang, kaca mobil itu terlalu gelap jika dilihat dari luar, kalau tidak sudah pasti pengemudi yang datang dari arah berlawanan dapat melihat aktivitas kedua insan yang kepalanya sudah penuh diisi dengan nafsu birahi. Pak Supri bisa merasakan jarinya kini sudah sangat basah oleh lendir yang keluar dari memek nona majikannya, menandakan gadis itu sudah sangat siap untuk disetubuhi. Mula-mula dikeluar masukkan jarinya secara perlahan. Seiring dengan makin banyaknya lendir vagina yang keluar, sang supir semakin meningkatkan kecepatan kocokan jarinya.

    “nnnnggghhh……!!! nnnggghh…ouuuuhhh….!!!!” tak tahan juga dia untuk tidak melenguh.

    Pak supir itu juga tak mampu lagi menahan nafsunya lebih lama. Tapi karena sedang mengemudi, terpaksa dia membagi konsentrasinya antara menyetir dengan aktivitas mengubel-ubel vagina majikannya. Bahkan jarinya harus sering keluar dari vagina, untuk menggerak dan mengganti persneling gigi. Akhirnya Donita memasukkan sendiri jari tangannya ke dalam vaginanya. Dikorek-korek vaginanya sendiri seakan-akan ada barang yang tertinggal di dalamnya. Pak Supri menambah kecepatan, tak sanggup melihat adegan masturbasi itu lebih lama. Begitu mobil memasuki pintu gerbang, langsung diparkirkan di halaman depan. Pak Supri buru-buru turun menutup pintu gerbang dan membuka pintu depan mobil. Digendongnya yang terduduk lemas, sepetonya gadis itu sudah mencapai orgasmenya dengan bermasturbasi tadi. Dibawanya tubuh lunglai Donita kekolam renang di samping rumah. Begitu sampai pinggiran, ia membuka seluruh pakaian gadis dan mencampakkannya kesembarang tempat. Setelah sang nona majikan telanjang bulat, buru-buru ia juga menelanjangi diri sendiri dan menceburkan tubuh mereka ke kolam. Kedua tangannya yang sudah keriput termakan usia tapi masih bertenaga mendekap erat tubuh sang artis.

    “Ooouuufffpppph, pak! pelan-pelan dong!” protes Donita, karena tiba-tiba ceburkan paksa.

    “Ehehehe…! maap non. Soalnya baru kali ni bapak berenang sambil bugil, dengan cewek cakep lagi. Gimana? asikkan? hua hak hak!” ujarnya sambil memeluk erat Donita.

    Tak ayal lagi, payudara montok dan kenyal milik sang artis berdesakan kuat dengan dada kerempeng miliknya. Sehingga kedua insan berbeda jenis kelamin itu dapat mendengar detak jantung pasangannya masing-masing. Akhirnya mimpi lama sang supir hampir terwujud. Dulu sewaktu masih muda, pak Supri punya sebuah impian. Jika sudah menjadi orang kaya dan menikah dengan seorang wanita cantik nanti, ia akan membuat sebuah rumah mewah dilengkapi sebuah kolam renang yang besar, sehingga setiap hari ia dan istrinya bisa bercinta sepuasnya di kolam itu seharian. Walaupun impian menjadi kaya dan menikah itu sampai sekarang tidah pernah terkabulkan, tapi impian bercinta dengan seorang gadis cantik jelas sudah hampir terealisasi sekarang. Tinggal memasukkan penisnya ke dalam liang vagina si cantik Donita, maka impian itu benar-benar akan resmi menjadi kenyataaan. Bercinta di dalam kolam renang pun menjadi sensasi baru bagi Donita. Selama menjalani kehidupan seksnya, ia tak pernah membayangkan sedikit pun untuk melakukan aktivitas sex di dalam air. Hal ini benar-benar menjadi pengalaman baru bagi mereka berdua.Tangan kasar pak Supri mulai menggerayangi tubuh gadis itu. Sang supir meremas payudara Donita dan memainkan putingnya. Suara desahan pelan keluar dari bibir seksinya.

    Gadis itu melingkarkan tangannya ke leher supirnya dan mencium bibir hitam nan tebal milik sang supir dengan agresif. Tanpa ragu dan jijik ia bermain lidah dengan pria yang mungkin seusia dengan kakeknya. Keduanya terlibat percumbuan liar di tepian air kolam yang merendam mereka sebatas dada. Pak Supri meremas pantat berisi Donita dengan gerakan sedikit mengangkat, lalu menyenderkan punggung gadis itu ke bibir kolam sehingga tubuh Donita sedikit terangkat, memudahkannya untuk melumat dengan ganas payudara basah sang artis. Bibir tebal supir itu mencium dan menyedot kulit payudara serta putingnya sehingga menimbulkan rasa geli dan nikmat. Tak bosan-bosannya ia menikmati benda yang satu itu, dijilat, dihisap, digigit, dan ditariknya dengan gemas puting mungil Donita, membuat tubuh gadis itu bergelinjangan menahan rasa nikmat, otomatis air kolam pun turut bergoyang-goyang karena aktivitas mereka. Puas mengerjai buah dada majikannya, pak Supri mengangkat tubuh Donita dan mendudukkannya di tepi kolam. Tubuh pak tua itu sediri masih berada dalam air. Sekarang, vagina Donita tepat berhadapan dengan wajah sang supir. Mulut pak Supri perlahan maju menuju vagina Donita dan dimainkannya ‘daging’ lezat milik nona majikannya.

    “Mmmhh…. paakkkhhhhh!!! gelihh…. auukkhhh!” erangnya saat lidah hangat pak Supri menjilati belahan vaginanya dan menyeruak masuk ke dalam liang sempit milknya.

    Permainan lidah sang supir mengakibatkan nafu birahi sang artis kini sudah sangat memuncak. Ingin dia meminta pada pak Supri agar jangan mempermainkannya lagi dan memohon agar pak tua itu segera menjebloskan kontol besar memeknya. Tapi, ia sudah tidak mau merendahkan dirinya lebih jauh lagi di hadapan sang supir. Seluruh kenikmatan yang diterima, ditumpahkan dengan desahan dan jambakan dalam desahan dan jambakan pada rambut putih beruban pak Supri.

    “Iiiiyyyyaaaaahhhh! paakkkkhhh!!! jilaaattthh, akhhh!!!! terussshhh!!!”

    Lidah pak Supri bergerak-gerak liar menjilati bagian dalam liang rahim nona majikannya, tak lupa juga dia menjilat klitoris sang artis yang sangat sensitif. Ditambah dengan remasan yang dilakukan kedua tangan pak Supri, satu di pantat dan satu lagi di sebelah payudaranya membuat Donita merasakan semua aliran rangsangan kenikmatan itu mengalir ke seluruh urat syarafnya. Setelah merasa cukup untuk sesi pemanasan, ia menarik kembali tubuh Donita ke dalam air. Pak Supri menatap lembut wajah nona majikannya yang cantik jelita. Rambut hitam panjangnya basah terurai, belum lagi bibir merah dan indah Donita yang sedikit merekah, membuat sang supir tidah tahan untuk tidak melumatnya kembali. Mereka pun berciuman sambil berpelukan erat. Penis pak Supri diremas dengan kuat oleh tangan halus Donita.

    “Masukin pak! please masukin kontol bapak ke memek aku! ayoooohh!!” mohonnya pada sang supir sambil tangannya mengocok pelan penisnya.

    Mendengar permintaan gadis itu, si supir segera mengambil alih aroma besarnya dari tangan Donita dan menekannya ke bibir vagina nona majikannya.

    “oookkkkhhh…. besarkkhh!! pelaaan pakkhhh! kontol lu besar tauuukkhh! jangan dipaksaain, bisa robek memek gueh!” mulai lagi keluar kebiasaan buruk sang artis saat bersetubuh.

    Tubuh Donita mengejang seperti orang yang menahan sakit, ketika pak Supri melesakkan si penis dengan kuat kedalam liang memeknya yang kecil. Begitu sudah masuk semuanya, ia langsung menyodok kencang. Supir tua itu menggenjot sambil tangannya memegang paha Donita dan meletakkan kaki jenjang sang artis di kedua tangannya, jadilah gadis itu melayang dalam air dengan kedua kaki yang ditopang oleh lengan supirnya. Punggungnya disandarkan di dinding kolam, serta kedua tangan memeluk erat leher si supir. Erangan nikmatnya sesekali terhambat ketika mulut mereka saling berpagutan. Pak Supri melepaskan pegangannya pada kaki kiri Donita, tangannya yang kasar merayap membelai pipi mulus si artis. Membelai lembut bibir ranumnya, dan semakin turun untuk meremas payudaranya. Diremasnya payudara gadis itu dengan gemas dan kuat, jari-jarinya dengan nakal mecubit-cubit daerah aorela dan memainkan puting yang sudah keras sehingga makin mengeras. Sementara bibir tebal si tua bangka menyusur bergerak menjelajah bagian telinga. Dijilatnya cuping telinga sang artis, membuat gadis itu semakin terengah-engah dan menggelinjang tak karuan. Jilatan didaerah telinga terus berlanjut turun menuju buah dada yang masih menganggur. Dihisap dan dikenyot kuat buah melon itu, membuat bekas cupangan kemerahan diseluruh permukaan kulit lembut payudara gadis itu. Merasa kurang leluasa dengan posisi itu, dibaliknya tubuh majikannya sehingga kini tubuh sang artis menghadap ke tepian kolam dan membelakangi supirnya. Kaki kiri Donita diangkat dan kembali ia melesakkan kontol memasuki liang nikmat sang artis. Tak lupa tangannya yang sebelah lagi mencengkram buntalan susu gadis itu. Pak Supri menarik keluar kontolnya sebagian, lalu kembali menghujamkan benda itu kedalam liang memek Donita sedalam mungkin, begitu dilakukan berulang kali. Air kolam beriak dengan keras akibat sodokan-sodokan brutal pak Supri. Tubuh Donita terlonjak-lonjak, pantatnya bertumbukan keras dengan tulang kelamin supirnya, walaupun tenaga sodokan sang supir sedikit diredam oleh air. Gadis itu merasakan sedikit rasa perih disekitar dinding memek, karena bergesekan kuat dengan batang besar berurat supirnya. Tapi segera rasa sakit itu itu sirna digantikan rasa nikmat tiada tara. Seluruh syaraf disekitar kelaminnya mengirim semua kenikmatan yang diterima ke seluruh penjuru tubuh membuat gadis itu kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri. Pinggulnya secara reflek menjemput tumbukan sang supir, berusaha menggali semua kenikmatan yang ada. Dinding vagina Donita terus meremas dan mencengkram penis pak Supri, membuat dia semakin menggasak vagina itu dengan seluruh tenaganya.

    “Emmmffffhhhh!!!! nnnggghhh….!! aaaakkkhhh!!!” sebuah ekspresi kenikmatan yang hebat keluar dari mulut sang artis.

    Benar-benar edan pak supir ini. Walaupun kondisi fisiknya sudah tua renta, tetapi masih memiliki stamina layaknya anak muda. Mungkin benar kata orang, usia boleh tua, tapi semangat harus tetap muda. Kembali ke kolam, Donita kini sudah hamper berada diambang batas kekuatannya. Ia sudah tidak bisa menahan kenikmatan ini lebih lama lagi. Kontol sang supir yng mengaduk-aduk liang rahimnya sungguh membuatnya gila. Tangannya mencengkram kuat ubin pinggiran kolam, tubuhnya meronta-ronta sangking nikmatnya. Payudara yang menggantung bebas, terpental kesana kemari akibat tumbukan brutal pinggul sang supir. Benar-benar suatu kenikmatan dahsyat yang diberikan oleh pak Supri. Sang supir yang sudah diambang batas itu pun benar-benar merasakan nikmatnya hidup saat liang vagina legit majikannya, meremas dan berusaha meremukkan batangan kontolnya didalam sana. Nafasnya terasa sesak, seiring semakin kencang penisnya diremas. Pak tua itu tahu bahwa majikannysa akan sampai dipuncak kenikmatannya sebentar lagi. Tak ingin kalah, pak Supri meremas kuat pantat Donita dan menggoyang serta menyodok secepat yang ia bisa. Ceritamaya

    “ooouuugggghhhh…. iyyyahhh!!! enaaaakkk…. lebbbih keraaasss… paakkhhh!! yanggghh… eeghhfff…. kenceennggg!! AAAhhhgggHHH!!” Donita mengerang kuat dengan badan melengkung ke belakang, meresapi kenikmatan orgasme yang dirasakannya.

    Melihat nona majikannya sudah keluar duluan, Sang supir pun semakin menambah kecepatannya. Sambil menggenjot, pak Supri bisa merasakan otot-otot memek Donita masih berkontraksi selepas orgasme, berusaha meremas penisnya agar menumpahkan muatannya secepat mungkin. Ia pun semakin brutal menyentakkan penisnya. Setelah beberapa sodokan kuat, ia tidak tahan lagi. Dengan tubuh bergetar ia memeluk Donita dan memompakan semua benihnya dalam tubuh gadis itu.

    “Nnnnnhgggggghhhh!!! Makanhh…. niiiikhhh peejjuuukkhhh guueeekkkhhhh…!! Huuurrrgghh!!!”

    Lenguhan panjang keluar dari mulut sang supir. Ditekannya sedalam mungkin penisnya sampai mentok, batangan super itu pun menyemburkan semua isinya, memenuhi rongga kewanitaan sang artis. Bahkan ada sebagian yang keluar dari vagina, karena sangking banyaknya sperma yang dikeluarkan sehingga nampak sedikit gumpalan air mani kental pak Supri dipermukaan air kolam. Nafas keduanya memburu tidak beraturan. Tubuh Donita yang sedari tadi siang kelelahan karena aktivitas di lokasi syuting kini bertambah lunglai akibat persetubuhan dengan supirnya. Sadar akan kondisi nona majikannya yang sudah sangat kecapaian, pak tua itu segera menarik keluar kontolnya dari vagina Donita. Begitu terlepas, pak Supri bergegas mengangkat Donita keluar dari kolam. Dengan tetap bertelanjang ria, sang supir menggendong tubuh majikannya yang sepertinya sudah agak kehilangan kesadaran untuk dibawa masuk ke kamar melalui pintu samping. Tanpa disadari oleh keduanya, ada sesosok bayangan orang yang berdiri di samping tembok depan rumah mengintip mereka. Sepetinya orang itu sudah sedari tadi berada disana. Sosok misterius itu menyeringai sambil melihat hasil rekaman adegan persetubuhan Donita dan sang supir, yang direkam melalui handycam miliknya. Siapakah sebenarnya orang itu dan apa sebenarnya tujuannya merekam adegan panas Donita?? Semuanya masih menjadi teka-teki yang belum dapat terjawab.

    *********************************

    NB: Sebenernya ni cerita ditulis tanpa kerangka karangan, apa yang ada di kepala itu deh yang ditulis. Jadi kalo da yang mau protes kurang panjang, kurang mantap, jelek ato sebagainya, silakan aja itu hak ente-ente sekalian. Bagi yang ngefans ama Asmirandah ato Donita, ane cuma bisa bilang I’m sorry. secara ane juga ngefans ama mereka. Tapi ni kan cuma cerita, gak ada sangkut pautnya ama doi berdua didunia nyata. ya ga?. Btw, ada yang masih mau dilanjutin? ditunggu kritik dan sarannyaDan ane harap kepda penulis2 yang udah pro untuk menganalisis ni cerita, ada kekurangannya kah? ato bagian yang jelekkah? ditunggu bantuan and pertolongannya. Cheers! 

    Regards.

    Mr. Bento

  • Di Paksa Melayani Nafsu Seks Pakdeku

    Di Paksa Melayani Nafsu Seks Pakdeku


    95 views

    Ceritamaya | Sejak kegadisanku hilang, aku menjadi pendiam. Keceriaan yang selama ini menjadi ciri khasku seolah-olah hilang sirna. Aku menjadi sangat berubah. Selangkanganku masih terasa sakit hingga beberapa hari setelah kejadian itu.

    Di Paksa Melayani Nafsu Seks Pakdeku

    Cerita Se Sedarah
    Mbak Ningsih yang selama ini sangat memperhatikanku sangat heran melihat perubahan yang terjadi pada diriku. Akhirnya aku mengaku terus terang kepada Mbak Ningsih tentang kejadian yang menimpaku. Ia hanya menghela napas merasa prihatin akan musibah yang kualami.
    Kira-kira satu bulan sejak aku dinodai Pakdheku, Mbak Ningsih minta pamit kepadaku dan juga Pakdheku. Mbak Ningsih setelah lulus SMK diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Malang dan pindah ke Malang. Sehingga sejak saat itu aku yang baru masuk SMU harus tinggal berdua saja dengan Pakdhe.
    Suatu hari, kira-kira seminggu sejak kepergian Mbak Ningsih, saat itu aku sedang mencuci pakaianku dan pakaian Pakdhe. Hari itu sekolahku libur karena tanggal merah jadi aku bersih-bersih rumah. Pakdhe seperti biasanya merapikan tanaman di halaman depan yang sudah mulai tumbuh tidak teratur.
    Setelah kuselesaikan cucianku dan kujemur, aku berniat mandi. Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba tangan Pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Aku tidak sempat berteriak karena tiba-tiba Pakdhe sudah memelukku. Tubuhnya yang hanya tertutup celana kolor dan sudah basah penuh keringat memelukku erat-erat. Aku tidak berani berteriak karena diancam kalau tidak mau melayani nafsunya aku akan diusir dari rumah itu dan tidak dibiayai sekolahku. Aku merasa takut sekali dengan ancamannya hingga dengan air mata yang kutahan aku pasrah akan apa yang dilakukan Pakdhe padaku.
    Tangan Pakdhe dengan cekatan melucuti dasterku, bra-ku lalu celana dalamku hingga aku benar-benar bugil. Tanpa membuang waktu Pakdhe segera melepas kolornya dan telanjang bulat. Batang kemaluannya yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai. Kemudian Pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh telanjangku ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibirku dengan rakusnya.
    Mulutku masih tertutup saat lidah Pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulutku. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidahnya yang mendesak-desak bibirku, akhirnya bibirku pun terbuka. Pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku dan mendorong-dorong lidahku. Ceritamaya

    Mula-mula aku diam saja, namun lama-kelamaan aku jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan Pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perutku. Aku mulai bereaksi. Lidahku tanpa sadar membalas dorongan lidah Pakdhe.
    Tubuhku mulai menggerinjal dalam pelukan Pakdhe saat tangan Pakdhe mulai menggerayangi buah pantatku. Tangan Pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantatku lalu ditariknya tubuhku hingga semakin ketat lengket dalam pelukannya.
    Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulutku, tangan Pakdhe menekan kepalaku hingga aku disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluannya yang sudah keras nampak mengacung tegak di depan wajahku. Ditariknya wajahku ke selangkangannya dan disuruhnya mulutku menciumi batang kemaluannya itu. Dengan agak risi aku terpaksa membuka mulutku dan mulai menciumi batang kemaluannya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan.
    Kepalaku didorong maju mundur oleh tangan Pakdhe yang mencengkeram rambutku hingga batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulutku. Kerongkonganku tersodok-sodok ujung kepala kemaluan Pakdhe yang keluar masuk dalam mulutku. Kudengar napas Pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluannya semakin mengeras dalam kuluman mulutku.
    Mungkin karena tak tahan, Pakdhe segera menarik tubuhku agar berdiri lalu mendudukanku di sisi bak mandi. Mulutnya segera mencecar payudaraku kanan dan kiri silih berganti. Aku menggelinjang hebat manakala mulut Pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudaraku. Tangan Pakdhe pun tak tinggal diam. Tangannya mulai merayap ke selangkanganku yang terbuka lebar dan mulai meremas gundukan bukit kemaluanku.
    Aku sampai megap-megap mendapat rangsangan seperti itu. Aku semakin tersiksa oleh gejolak nafsu.

    Mulut Pakdhe lalu merayap menyusuri perutku dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluanku. Dikuakkanya kedua bibir kemaluanku dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluanku.
    Tubuhku yang duduk di sisi bak mandi hampir saja terjatuh karena menggelinjang saat lidah Pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluanku. Tanpa sadar tanganku mencengkeram rambut Pakdhe dan menekankan kepalanya agar lebih ketat menekan bukit kemaluanku.
    Aku semakin blingsatan menahan rangsangan yang diberikan Pakdhe di selangkanganku. Tanpa sadar mulutku mendesis-desis dan dudukku bergeser tak karuan. Perutku mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak. Tubuhku terasa mulai mengawang dan pandangan mataku nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang aku mencapai orgasmeku.
    Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba Pakdhe sudah berdiri di hadapanku. Batang kemaluannya yang keras dicocokkan ke bibir kemaluanku dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluanku yang sudah basah dan licin. Aku menggelinjang lagi saat benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluanku. Bibir Pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibirku sambil mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya semakin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluanku.
    Aku masih duduk di bibir bak mandi sementara Pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluanku sambil berdiri. Mungkin karena kesulitan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluanku. Tubuhku lalu diturunkan dari bibir bak mandi dan dibaliknya hingga aku berdiri dengan tangan bertumpu bak mandi. Lalu Pakdhe menempatkan diri di belakangku dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluanku dari celah bongkahan pantatku.
    Punggungku didorong Pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kakiku lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluanku. Setelah arahnya tepat, Pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluanku.
    Kembali aku mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluanku. Dinding-dinding lubang kemaluanka serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan Pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluanku berdenyut-denyut. Pakdhe yang napasnya mulai memburu semakin kuat mengayunkan pantatnya maju mundur hingga gesekan batang kemaluannya pada dinding lubang kemaluanku semakin cepat.
    Pinggulku yang dipegang Pakdhe terasa agak sakit karena jari-jari Pakdhe mulai mencengkeram. Pinggulku ditarik dan didorong oleh tangan kuat Pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuhku mulai terhentak dan aku mulai limbung. Kembali aku merasa melayang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya dan napasnya semakin menderu.
    Pantatku yang ditarik dan didorong Pakdhe maju mundur semakin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari Pakdhe semakin terasa di pinggulku. Gerakan ayunan pantat Pakdhe semakin tak terkendali. Tak lama kemudian aku kembali mencapai orgasmeku. Pakdhe pun kukira mencapai puncak kenikmatannya karena aku merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan Pakdhe ke dalam lubang kemaluanku dengan diiringi geraman yang keluar dari mulut Pakdhe.
    Pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluanku selama beberapa saat. Napasnya yang mulai teratur terasa hangat menerpa kulit pipiku. Tulang kemaluannya menekan kuat di bukit buah pantatku. Aku merasa sedikit geli karena rambut kemaluan Pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantatku. Batang kemaluan Pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya.
    Tubuhku sudah terasa lemas tak bertenaga. Aku hanya memejamkan mata karena lemas dan malu karena untuk kedua kalinya aku berhasil digagahi Pakdheku sendiri. Aku membiarkan saja saat Pakdhe memandikanku seperti bayi. Tangannya yang kokoh menyabuni seluruh lekuk tubuhku. Tubuhku kembali menggerinjal saat tangannya yang kokoh mulai menyabuni payudaraku yang baru mulai tumbuh. Putingku yang mencuat dipermainkannya dengan gemas.
    Tubuhku semakin menggelinjang saat tangannya mulai menyentuh perutku lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluanku yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jarinya menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluanku dan berlama-lama menyabuni daerah itu.
    Aku tak berani memandang Pakdhe saat ia mengangsurkan sabun ke tanganku dan menyuruhku menyabuninya. Dengan agak kaku tanganku mulai menyabuni punggung Pakdhe yang kekar. Tanganku bergerak hingga seluruh punggung Pakdhe kugosok merata dengan sabun. Lalu Pakdhe membalikkan tubuhnya menghadapku. Tangannya mengelus-elus kedua payudaraku sementara aku disuruhnya menyabuni tubuh bagian depannya.
    Tanganku bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas Pakdhe mulai memburu saat tanganku yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluannya yang tadi kendur sudah mulai mengembang. Tanganku yang agak ragu dipegang Pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni daerah kemaluan Pakdhe. Rambut kemaluannya sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras. Lucu sekali kelihatannya seperti pistol namun “gombyok”. Ya!! Kelihatannya seperti pistol gombyok!! Seperti pistol tapi lebat ditumbuhi rambut atau gombyok!!
    Aku semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam diriku saat sapuan-sapuan lidah panas mulai menyerbu tengkukku. Aku menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri leherku.. pundakku.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggungku. Aku semakin menggelinjang. Lidah itu terus merayap ke bawah dan pinggangku mulai dijilati. Kakiku serasa lemah tak bertenaga. Aku hanya pasrah saat tubuhku didorong ke tempat tidurku dan dijatuhkan hingga aku tengkurap di tempat tidurku. Tubuhku lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat.
    Kakiku mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulku. Pantatku terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatku dengan gemas. Pantatku terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatku dan mulai menjilati lubang anusku. Aku benar-benar seperti terbang mengawang. Aku belum tahu siapa yang memelukku dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhku. Aku hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatku saat lidah itu mulai menjilati lubang anusku.
    Aku tercekik kaget saat tubuhku dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurku. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuliku adalah Pakdhe Mitro, orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti orang tuaku. Aku tak tak mampu berteriak karena mulutku langsung dibekap dengan bibirnya. Lidahku didorong dorong dan digelitik. Aku terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuhku terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan.
    Tubuhku menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudaraku yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kakiku dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, lalu Pakdhe menindih tubuhku yang sudah telanjang bulat di antara kedua pahaku yang terkangkang. Aku merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluanku di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe.

    Baca Juga : MELAYANI NAFSU SEKS TANTE DEPAN RUMAH SUAMI IMPOTEN

    Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhku. Dari mulutku, bibir Pakdhe bergeser menjilati seluruh batang leherku, kemudian turun ke dua belah payudaraku. Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku yang baru sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudaraku hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulut Pakdhe Mitro. Aku sangat terangsang dan sudah tidak mampu berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bagian bawahku.
    Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perutku menjadi sasaran jilatan lidahnya. Tubuhku semakin menggelinjang hebat. Akal sehatku sudah benar-benar hilang. Kobaran napsu sudah menjeratku. Pantatku terangkat tanpa dapat kucegah saat lidah Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkanganku yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Aku merasa kegelian yang amat sangat menggelitik selangkanganku.
    Tubuhku serasa mengawang di antara tempat kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluanku dan menggelitik kelentitku. Lubang kemaluanku semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidahnya yang panas. Aku hanya mampu menggigit bibirku sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkanganku. Tubuhku semakin melayang dan seperti terkena aliran listrik yang maha dahsyat.
    Aku tak mampu lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutku. Pantatku terangkat seperti menyongsong wajah Pakdhe yang menekan bukit kemaluanku. Lalu tubuhku seperti terhempas ke tempat kosong. Aku merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahku. Tubuhku menggelepar dan tanpa sadar kujepit kepala Pakdhe dengan kedua kakiku untuk menekannya lebih ketat menempel selangkanganku.
    Belum sempat aku mengatur napas tiba-tiba mulutku sudah disodori batang kemaluan Pakdhe Mitro yang tanpa kutahu sejak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahku. Batang kemaluannya yang besar, hitam panjang dan tampak mengkilat mengacung di depan wajahku seperti hendak menggebukku kalau aku menolak menciuminya.
    Dengan rasa jijik aku terpaksa menjulurkan lidahku dan mulai menjilati ujung topi bajanya yang mengkilat. Aku hampir muntah saat lidahku menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang kemaluan Pakdhe. Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajahku tidak memberiku kesempatan lain.
    Aku hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kemaluan Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulutku dan menjejalkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena susah bernapas. Batang kemaluannya yang besar memenuhi mulutku yang masih kecil.
    Kudengar Pakdhe menggumam tanpa jelas apa yang diucapkannya. Pantatnya digerak-gerakannya hingga batang kemaluannya yang masuk ke dalam mulutku mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutku. Aku hampir tersedak saat ujung kemaluan Pakdhe menyentuh-nyentuh kerongkonganku. Aku hanya mampu melotot karena hampir tersedak. Tanpa sadar kedua tanganku mencengkeram pantat Pakdhe Mitro.
    Setelah puas “mengerjai” mulutku dengan batang kemaluannya, Pakdhe menggeser tubuhnya dan menindihku lagi dengan posisi sejajar. Kedua pahaku dikuaknya dan dengan tangannya, dicucukannya batang kemaluannya ke arah bukit kemaluanku. Aku merasa geli saat ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang kemaluanku yang sudah basah.
    Dari rasa geli dan nikmat, tiba-tiba aku merasa perih di selangkanganku saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kemaluannya mulai menerobos ke dalam lubang kemaluanku yang masih perawan. Aku merintih kesakitan dan air mataku mulai mengalir. Aku tersadar akan bahaya! Namun terlambat. Pakdhe yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayuku dan mengatakan kalau sakitku hanya sebentar dan berganti rasa nikmat yang tidak terkira.
    Pakdhe menarik pantatnya ke atas hingga batang kemaluannya yang terjepit di dalam lubang kemaluanku tertarik keluar. Gesekan batang kemaluannya yang besar di dalam dinding lubang kemaluanku menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Aku mulai dapat menikmati rasa nikmat itu. Ini mungkin karena pengaruh teh yang kuminum sehingga aku benar-benar belum sadar akan bahaya yang kuhadapi. Yang kuinginkan hanya satu yaitu menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam diriku.
    Aku kembali merintih kesakitan saat Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kemaluannya menerobos lebih dalam ke dalam lubang kemaluanku. Lagi-lagi Pakdhe membisikiku kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menarik lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berganti nikmat saat batang kemaluannya ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang kemaluanku.
    Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin sangat membantu pergerakan batang kemaluan Pakdhe dalam jepitan lubang kemaluanku. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kemaluan Pakdhe meneronos semakin dalam ke dalam lubang kemaluanku. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan teratur. Hingga suatu saat aku menggigit bibirku keras-keras saat selangkanganku terasa perih sekali. Selangkanganku terasa robek saat Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kemaluannya hampir masuk separuh ke dalam lubang kemaluanku.
    Aku sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkanganku. Pakdhe segera menghentikan gerakannya dan memberiku kesempatan untuk bernapas. Aku merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini aku dapat merasakan lubang kemaluanku seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluanku. Ceritamaya
    Kembali rasa sakit yang tadi menyentakku berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat saat batang kemaluan Pakdhe yang semakin lancar mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang kemaluanku. Rasa nikmat terus meningkat sehingga tanpa sadar aku menggoyangkan pantatku untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.
    Aku seperti gila. Rasa sakit itu sudah benar-benar hilang tergantikan rasa nikmat yang benar-benar memabukkan. Pakdhe semakin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya. Empat kali mendorong lalu didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantatku terangkat saat Pakdhe menarik pantatnya.
    Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perutku terasa kejang. Tubuhku mulai melayang. Tanganku semakin kuat mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangku. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang kudengar bergemuruh di telingaku.
    Mataku semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahku. Aku hampir menjerit saat ada sesuatu yang kurasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang tiba-tiba melumat bibirku menghentikan teriakanku. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirku. Aku merasa tubuhku seolah-olah terhempas di awan. Tubuhku mengejat-ngejat saat aku mencapai puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibirku pun mulai berkelojotan di atas perutku. Lalu ia menggeram dengan dahsyat..
    Dan akhirnya kurasakan ada semburan cairan hangat yang memancar dari batang kemaluan Pakdhe yang terjepit dalam lubang kemaluanku. Batang kemaluannya berkedut-kedut dalam jepitan lubang kemaluanku. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa saat lalu ambruk menindihku. Napas ku hanya tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun kudengar menggemuruh di telingaku.
    Air mataku mengalir saat kusadari segalanya telah terlambat bagiku. Kegadisanku telah terenggut oleh Pakdhe. Orang yang selama ini kuanggap sebagai pengganti ayahku. Lalu dengan lembut Pakdhe mengusap air mataku dan berjanji akan menyayangiku sepanjang sisa hidupnya. Aku menjadi agak terhibur dengan perkataannya.

    Cerita Seks,Cerita Sex,Cerita Dewasa,Cersex,Cerita Ngentot,Cerita Panas,Cerita Sex ABG,Cerita Bokep,Cerita Sedarah,Cerita Tante,Cerita Sex Selingkuh,Cerita Sex STW,Cerita Sex Pasutri,Cerita Sex Janda

    Incoming search terms:

  • Alya Rohali XXX: Akibat Ditinggal Suami

    Alya Rohali XXX: Akibat Ditinggal Suami


    48 views

    Ceritamaya | Alya Rohali namanya, adalah seorang pembawa acara dan bintang sinetron Indonesia. Lahir di Jakarta, 1 Desember 1976. Meski sudah berusia 35 tahun, tapi dia masih kelihatan cantik dan seksi. Alya mengawali kariernya sebagai None Jakarta Barat 1994, kemudian terpilih sebagai Harapan I None Jakarta 1994. Dua tahun kemudian Alya dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 1996. Putri pasangan Rohali Sani dan Atit Tresnawati ini juga menjadi wakil Indonesia pada ajang Miss Universe 1996 di Amerika Serikat. Setelah tugasnya sebagai Puteri Indonesia usai, Alya mulai masuk ke dunia hiburan di Indonesia. Alya membintangi beberapa sinetron, di antaranya Meniti Cinta, Istri Impian, dan Kejar Kusnadi. Alya juga dikenal sebagai pembawa acara. Bersama pembawa acara Helmi Yahya, dirinya sukses memandu acara secara live Kuis Siapa Berani? yang ditayangkan di Indosiar. Pada tahun 2002, Alya meraih sebuah penghargaan Panasonic Award sebagai Presenter Kuis terfavorit. Meski sibuk di dunia entertainment, Alya tak lupa akan pentingnya pendidikan. Setelah mendapat gelar Sarjana Hukum dari Universitas Trisakti, Alya mengambil program S2 Magister Hukum dan S2 Magister Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia telah menamatkan S2 Magister Hukumnya dan fokus pada S2 Magister Kenotariatannya, karena ia kelak akan mencari nafkah dari menjadi notaris dimana notaris tidak mengenal usia lanjut dan dari sekarang ia telah mengurangi kegiatan keartisannya. Alya menikah dengan Eri Surya Kelana pada tanggal 4 Maret 1999. Pernikahan mereka tidak dapat dipertahankan dan mereka resmi bercerai 13 Agustus 2003. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki seorang anak perempuan, Namira Adjani Ramadina (lahir Desember 1999). Hampir tiga tahun menjanda, Alya kembali menambatkan hatinya pada pengusaha dari Madura bernama Faiz Ramzy Rachbini. Mereka menikah 23 Juli 2006. Bertempat di Crown Plasa, sebuah hotel megah di pusat Jakarta, Alya dan Ramzi mengikat janji setia di depan penghulu. Akad nikah dimulai tepat jam 09.00 pagi, dilanjutkan dengan syukuran khusus anggota keluarga kedua mempelai jam 12.00. Malamnya, jam 19.00, pesta resepsi digelar di tempat yang sama, ballroom hotel, hingga jam 22.00. Bagi Alya, ini adalah pernikahan keduanya, sementara bagi Ramzi yang adalah salah seorang pemilik Crown Plasa tersebut, pernikahan ini adalah yang pertama. Tak heran jika pesta yang digelar terbilang wah, meski sebelumnya Alya pernah berujar, tak ingin merayakan pernikahannya dengan pesta.
    “Enggaklah, enggak akan dirayakan gimana-gimana. Yang dulu kan, sudah. Jadi sekarang syukuran sederhana saja,” ucap Alya suatu kali. Konon, pesta meriah ini adalah permintaan dari keluarga besar Ramzi. Ini adalah wujud rasa bahagia mereka, mengingat kesendirian Ramzi yang sudah begitu lama, 44 tahun.

    Di malam pertamanya, dada Ramzy berdebar-debar. Bagaimana pun, Alya adalah seorang artis, salah satu artis tercantik di Indonesia malah. Dan malam ini dia akan menidurinya, merasakan hangat tubuhnya, memuaskan hasratnya yang meledak-ledak dan menggelora. Dengan hanya bercelana kolor, Ramzy menunggu Alya yang sedang membersihkan make-up di kamar mandi. Tidak lama kemudian pintu terbuka, dan muncullah wajah manis sang istri,
    “Nggak lama kan nunggunya, Mas?” sapa Alya mesra.
    Semerbak parfum aroma melati menyergap penciuman Ramzy. Suasana agak sedikit kaku. Ramzy segera mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana. Sambil tersenyum, dia mengulurkan tangan dan dengan gerakan yang tidak diduga, dia menarik badan Alya hingga wanita itu jatuh ke dalam dekapannya. Ramzy langsung menciumi pipi Alya kiri dan kanan secara bergantian.
    ”Mas!” Alya terlihat agak terkejut, tetapi tidak menolak. Dia malah melemaskan badannya dan pasrah ke dalam pelukan sang suami.
    Dengan merangkul pundaknya, Ramzy membimbing Alya duduk di atas tempat tidur. Wajah Alya terlihat agak memerah karena sedikit malu.
    “Sayang, santai aja, kita kan sudah resmi jadi suami istri sekarang.” Ramzy berkata.
    Alya menatapnya sejenak lalu mencubit paha laki-laki itu, “Ah, mas ini, biar gimana saya kan perempuan,“ katanya masih dengan roman muka malu.
    “Mau minum apa, sayang?” Ramzy menawarkan minuman sambil berdiri menuju lemari pendingin di bawah televisi kamar hotel. Ya, mereka menikmati malam pertama di Crown Plaza, di kamar termahal dan terbaik.
    “Eh, nggak usah, Mas. Aqua aja lah, yang di gelas.” jawab Alya.
    Ramzy mengambil segelas kecil aqua dan untuknya sendiri, ia mengambil sekaleng Sprite. “Nggak capek, sayang?” tanyanya memecah keheningan sejenak.
    “Iya, Mas, capek banget. Nggak nyangka aku kalau undangan bakal segitu banyak.” sahut Alya sambil memutar kepalanya, berusaha melemaskan lehernya yang terasa kaku.
    “Banyak tamu-tamu yang datang tanpa undangan. Ini kan pernikahan pertamaku, jadi teman-teman ortuku pada datang semua.” Ramzy menjelaskan. Tanpa menunggu komando, ia meraih kedua pundak Alya dan mulai melancarkan pijatan ringan. Siapa pun akan merasa nyaman jika pundaknya dipijat, asal jangan terlalu keras.
    Merasa nyaman, Alya segera mengubah posisi duduknya sehingga sekarang ia membelakangi sang suami. Ramzy terus melancarkan pijatan sampai ke punggung sang istri. Alya terlihat sangat menikmati pijatannya, badannya  sampai menggeliat-geliat keenakan. Ceritamaya

    “Eh, ternyata mas pintar mijat juga ya?!” Alya memuji.
    “Kalau kamu mau, saya pijetin deh seluruh tubuh kamu,” Ramzy menawarkan. Dia sudah tak sabar untuk mengeksplor tubuh mulus Alya yang cuma dibalut kimono biru tipis, tertutama bokong dan payudaranya yang tampak bulat menggoda.
    “Mau dong, pijetan mas enak banget, nggak sakit,” sahut Alya suka.
    “Telungkup sayang, biar bagian belakangnya dulu yang aku pijat,” kata Ramzy memberi arahan.
    Alya segera tidur telungkup sambil menjaga kimononya agar tidak tersingkap. Inilah perempuan. Meski sudah jelas-jelas mau main, apalagi ini adalah suaminya sendiri, masih aja malu. Ramzy maklum, memang begitulah perempuan, pembawaannya di awal selalu munafik. Dia mulai memijat bagian telapak kaki Alya sambil menyesuaikan tekanan pijatan agar sang istri merasa nikmat. Meski kurus, Alya ternyata mampu menerima pijatan yang agak keras.  Ramzy mengurut kedua kaki Alya sampai sebatas lutut. Terasa badan Alya mulai melemas dan pasrah oleh pijatannya. Namun karena tidak ada cream, maka pijatannya jadi kurang maksimal. Ramzy segera meraih tube cream body lotion yang memang tersedia di kamar hotel, dia lalu membalurkannya ke bagian betis sang istri. Alya menggeliat-geliat menikmati pijatannya, antara nikmat dan sedikit rasa sakit.
    “Egh, nggak nyangka kalau mas ternyata pintar mijet, tahu gitu saya udah dari dulu minta dipijat sama mas Ramzy,” Alya berujar, matanya terpejam keenakan.
    Ramzy cuma tersenyum dan kembali mengecup pipi sang istri. Pijatannya mulai naik ke bagian paha. Dengan menelusupkan tangan di bawah kimono Alya, dia usap paha mulus sang istri yang terasa halus dan hangat. Ramzy  menjaga agar jangan sampai dekat dengan selangkangannya, dia ingin membangkitkan gairah Alya sedikit demi sedikit.
    ”Mas, enak!” mata Alya semakin terpejam. Nafasnya terdengar mulai berat sekarang.
    Setelah kedua kaki, Ramzy berpindah ke bagian tangan. Pertama tangan kanan dahulu, lalu tangan kiri. Setelah keduanya selesai, dia melanjutkan dengan mengurut pundak, punggung lalu pinggang Alya. Berhubung masih tertutup kimono, maka pijatannya hanya menekan-nekan saja.
    “Sayang, punggungnya mau diurut pakai cream?“ Ramzy bertanya.
    “Boleh,” jawab Alya pelan.
    Pelan-pelan Ramzy menarik ke bawah kimono sang istri dan melepas ikatan di bagian depannya. Terpaparlah punggung Alya yang putih mulus, di kedua sisinya menyembul daging buah dada Alya yang kegencet badan. Wanita itu ternyata sudah melepas BH-nya, pantas saja Ramzy bisa melihat sedikit tonjolan putingnya tadi. Ramzy segera mengurut punggung Alya dengan cream sambil sesekali menyentuh daging buah dada Alya di sisi kiri dan kanan.

    Dari punggung, pijatannya turun terus sampai ke bongkahan pantat Alya yang montok. Ramzy sengaja memasukkan tangannya ke balik celana dalam Alya agar bisa memegang serta mengurut daging montok di kedua gundukan pantat sang istri. Terasa sangat empuk dan kenyal disana. Ramzy terus meremas-remas dan memijitnya penuh nafsu hingga memberi efek rangsangan.
    ”Egh, uhhh…!” Alya mulai melenguh pelam. Dia diam saja ketika celana dalamnya mulai ditarik turun oleh Ramzy. Bahkan saat sang suami meminta izin untuk melepas kimononya, Alya juga mengangguk saja.
    Kondisi Alya kini sudah telanjang bulat. Terlihat bongkahan pantatnya yang putih dan mulus. Ramzy terus meremas-remas dan mengelusnya penuh nafsu. Dari belahan pantat, tangannya kemudian bergerak ke bawah, ke bagian pangkal paha Alya yang tampak basah dan memerah. Dipandanginya sejenak lubang vagina Alya yang ditumbuhi bulu-bulu rimbun sebelum tangan Ramzy meluncur menyentuh belahannya.
    ”Ahh… mas!” Alya langsung mendesis dengan pantat terangkat-angkat saat Ramzy mulai mengusapnya pelan. Klitorisnya yang mencuat mungil terus digesek-gesek oleh laki-laki itu, sementara dua jari Ramzy yang lain sudah menusuk masuk ke dalam belahannya untuk mengurut dan mengocok disana hingga membuat dinding vagina Alya jadi makin basah dan memerah.
    ”Telentang, sayang!” Ramzy meminta Alya untuk berganti posisi. Dia ingin memandang dan menikmati kemontokan payudara sang istri yang dari tadi masih tersembunyi.
    Begitu Alya sudah telentang, Ramzy segera meraih bongkahan padat itu dan meremas-remasnya penuh nafsu. Dia melakukannya sambil terus mengocok vagina Alya semakin cepat.
    ”Oughhh… mas!” Alya merintih, nafasnya jadi tambah memburu saat Ramzy memilin dan memelintir puting susunya kuat-kuat.
    Alya pasrah saja ketika kedua kakinya dilebarkan oleh sang suami. Terpampanglah belahan merah muda miliknya dengan pinggiran coklat yang berbulu lebat. Pelan, Ramzy mendekatkan kepalanya dan mencium benda itu. ”Ughhh… mas!” rengek Alya saat lidah kasar Ramzy menyentuh ujung klitorisnya. Alya melenguh dan merintih lirih saat Ramzy mulai menjilatinya.
    “Permainanmu halus sekali, Mas. Aku suka. Sudah lama sekali aku tidak merasakan yang seperti ini,” puji Alya jujur.
    “Kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu ke tingkat kepuasan yang lebih tinggi lagi,” janji Ramzy.

    Alya mengangguk penuh semangat. “Cepat lakukan, mas. Aku menginginkannya!” ucapnya dengan wajah memerah penuh gairah.
    Alya mengira Ramzy akan segera menyutubuhinya, tapi ternyata tidak. Alih-alih menggunakan penisnya, Ramzy malah kembali mencolokkan kedua jarinya ke dalam lubang vagina Alya yang sudah licin oleh pelumas. Pelan-pelan ia mengocoknya keluar masuk sambil mencari pusat titik kenikmatan di dalam vagina sang istri. Mulanya Alya diam saja, tapi tidak lama kemudian dia mulai bersuara, merintih, dan mendesis. Gerakan tangan Ramzy tidak lagi mencolok keluar masuk, tetapi menekan-nekan ke atas langit-langit dinding vagina Alya sampai badan Alya agak terangkat karena gerakan Ramzy yang sedikit kasar. Alya makin merintih dan suaranya makin berisik, lalu berteriak-teriak nikmat.
    “Aduh! Aduduh! Aku nggak tahan, mas! Aduh, rasanya mau keluar! Aghhh… aku nggak tahan, mas! Aaaahhhhhhh…” bersamaan dengan itu, menyemprotlah cairan kewanitaan mengenai tubuh Ramzy, sebagian bahkan masuk ke mulutnya. Ramzy sudah tahu risiko itu dan dia menyukainya.
    “Mas, maaf banget ya. Aku nggak bisa nahan, abis nikmatnya udah nggak kebendung sih. Seumur-umur, baru sekali ini aku merasakannya.” kata Alya penuh kepuasan. Dia merasakan badannya begitu lemas dan ngantuk.
    Ramzy tidak mempedulikan apa yang diocehkan oleh wanita cantik itu. Sekarang adalah gilirannya, dan Alya harus memuaskannya. Dia segera menyergap mulut Alya agar wanita itu berhenti berbicara. Ramzy melumatnya dalam-dalam sambil tangannya terus meremas dan memijit-mijit gundukan payudara sang istri. Di luar dugaaan, Alya ternyata membalasnya dengan penuh gairah. Lidahnya menjulur keluar untuk menyambut lidah Ramzy yang berusaha menerobos masuk. Dengan cepat merekapun sudah saling jilat dan hisap. Puas memagut bibir Alya, Ramzy turun untuk menjilat dan menciumi kedua puting sang istri. Dia jepit benda mungil yang sudah mengacung tegak kemerahan itu dengan belahan bibirnya. Sambil terus menghisap, Ramzy juga melepas celana boxernya sehingga batangnya yang sudah mengeras tajam menempel ke paha mulus Alya. Dibimbingnya tangan sang istri untuk meraih dan memegangnya. Rasanya nikmat sekali begitu Alya mengusap-usap dan mengocoknya lembut.

    Tidak tahan, Ramzy segera naik dan mengangkangi tubuh bugil Alya. Ia arahkan ujung penisnya ke mulut vagina Alya yang masih kelihatan sempit. “Ah, besar bener senjatamu, mas!“ bisik Alya sambil membantu mengarahkan batang Ramzy agar tidak salah jalan.
    ”Emang punya suamimu yang dulu tidak sebesar ini?” Ramzy mulai menekan penisnya, terasa ujungnya sudah mulai masuk.
    Vagina Alya terasa sangat basah dan licin.
    ”Nggak tahu, aku sudah lupa!” Alya sedikit merintih merasakan gesekan di lubang vaginanya. Sudah lama benda itu tidak menerima benda asing yang cukup tegap.
    ”Akan kubuat kamu cuma mengungat punyaku!” tekad Ramzy sambil terus menekan penisnya hingga pelan-pelan vagina Alya menyeruak terbuka dan menelannya. Ramzy tak peduli meski pemiliknya berkali-kali berteriak ooh ohh ohh… dia merasa sangat nikmat sekali.
    Memeluk tubuh mulus Alya dan menciumi bibirnya, Ramzy mulai memompa pinggulnya perlahan-lahan dan makin lama semakin cepat. Pada posisi tekanan maksimal, Alya berteriak gila sambil mencengkeram sprei, kepalanya menggeleng-geleng liar ke kanan dan ke kiri. Tidak sampai 5 menit dia sudah mencapai klimaksnya lagi. Ramzy beristirahat sejenak. Lalu ia genjot lagi tubuh montok Alya setelah wanita itu sedikit tenang. Alya kembali merintih dan mengeluh lagi. Meski badannya lelah dan lemas sekali, tapi Alya sangat menikmatinya. Dan kembali dia mencapai orgasmenya dalam jeda hanya 2 menit.
    ”Diteruskan apa nggak, sayang?” Ramzy mengkonfirmasi, tidak tega juga dia menyetubuhi Alya yang sudah lemas tak bertenaga.
    “Terusin aja, mas, sampai kamu keluar. Aku mau merasakan semburan hangat pejuhmu di dalam memekku,” sahut Alya. Sambil merintih-rintih dia lalu menambahkan, “Aku lemes banget, mas, tapi enak. Aah… aah…”
    Ramzy berkonsentrasi penuh untuk mencapai klimaksnya. Sambil menggenjot tubuh bugil Alya semakin cepat, akhirnya dia jemput rasa itu. Ramzy membenamkan penisnya dalam-dalam saat spermanya menyembur keluar. Diciuminya bibir tipis Alya sebagai rasa terima kasih.
    ”Ehm, mas!” kelihatannya semburan itu juga membawa kenikmatan tersendiri bagi Alya, dia kembali menjerit orgasme. Ramzy merasakan sekujur liang vagina Alya berdenyut-denyut saat cairan mereka bertemu dan bercampur menjadi satu.
    Ramzy terus menancapkan penisnya sampai mengecil dan terlepas dengan sendirinya. Alya yang kelelahan dengan cepat tertidur pulas. Wanita itu terlentang telanjang. Setelah meremas dan memilin puting Alya sekali lagi, Ramzy bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Dia bersihkan bekas-bekas lendir di sekitar kemaluannya. Ramzy juga membasahi handuk kecil dengan air hangat dan digunakannya untuk membersihkan sekujur kemaluan sang istri. Lalu sambil masih tetap bugil, dia menyusul tidur di samping Alya. Dia peluk wanita cantik itu dan menutup tubuh telanjang mereka dengan selimut tebal.

    Sekitar sejam mereka tidur, Alya yang terbangun dahulu. Dia duduk dan meraih jam tangan di meja kecil sebelah tempat tidur. “Aduh nggak terasa waktunya kok cepet bener ya,“ katanya.

    “Kenapa, sayang, santai aja lah,” Ramzy memeluknya dari belakang dan kembali memenceti gundukan payudara Alya satu per satu.
    “Maunya sih gitu, malah pengen tambah lagi, hehehe.”  selesai berkata begitu, Alya segera menaiki tubuh Ramzy dan menciumi wajah laki-laki itu.
    Dia menyingkap selimut untuk mencari penis Ramzy yang terasa sudah tegak membesar. Alya menggenggamnya erat dan mulai menjilati ujungnya. Dia menyantap penis itu dengan lahap, dijilati seluruh bagiannya, termasuk kantung zakarnya, lalu berusaha melahap batangnya, tapi tidak sampai setengah mulut, sudah kepenuhan. Batang Ramzy memang terlalu besar untuk mulut Alya yang mungil. Diperlakukan begitu, batang Ramzy jadi semakin menegak dan mengeras. Alya segera mengambil inisiatif untuk mengangkanginya sambil membimbing batang itu memasuki tubuhnya. Begitu masuk, dia kemudian bergerak liar sampai akhirnya terjerembab di atas dada Ramzy karena orgasmenya. Di akhir pertempuran, Alya berkali-kali memuji Ramzy sebagai orang yang pandai melayani wanita. Dia merasa beruntung karena sudah memilih laki-laki itu sebagai suami. Begitulah, selama sisa malam itu, dan beberapa hari setelahnya, mereka habiskan waktu dengan bercinta dan bercinta. Tidak ada waku terbuang tanpa acara adu kelamin, hingga akhirnya Alya hamil dan pada tanggal 29 Agustus 2007, Alya melahirkan anak keduanya di RS Pondok Indah. Memiliki berat 3 kg dan panjang 47,5 cm serta berjenis kelamin perempuan, bayi yang diberi nama Diarra Annisa Rachbini itu dilahirkan melalui operasi caesar. Tanggal 10 Oktober 2010 Alya melahirkan anak ketiga yang juga berjenis kelamin perempuan, dan diberi nama Savannah Nadja Rachbini. Lengkaplah sudah kebahagiaan pasangan itu. Dan sekarang, 23 Juli 2014 Alya dan Ramzy berniat merayakan 6st anniversary mereka  dengan menginap semalam di Crown Plaza, tempat mereka melangsungkan pernikahan yang begitu mewah dan tak terlupakan. Mereka cuma pergi berdua saja, anak-anak sudah dititipkan ke rumah neneknya.

    ####################

    ”Hallo, my sexy. Gimana, bagus nggak?” tanya Ramzy, setelah menghias seluruh ruangan dengan lilin, layaknya candle light dinner.
    Dia sudah menyiapkan ini sejak dari pagi hari. Sengaja dia tidak masuk kerja agar bisa memberi kejutan pada sang istri. Lilin baru ia nyalakan setengah jam sebelum Alya masuk.
    ”Wow! I love it! Emm… I just love it so… much thanks!” kata Alya, terlihat mengaguminya dengan segenap perasaan.
    Ramzy juga telah memesan makanan. Meski biasanya makanan berbau menyengat agak dilarang masuk ke hotel, tapi dengan kuasanya sebagai salah satu pemilik Crown Plaza, aturan itu lebih dilonggarkan. Ia memesan Tony Roma’s baby back favoritenya dan Blue Ridge kesukaan Alya. Mereka bersantap di meja makan suite kamar hotel, sambil melihat kembali dvd pernikahan mereka. Alya jadi teringat masa-masa itu, memory ketika ia sangat kurang tidur karena harus menyiapkan segalanya. Meski sudah ada wedding planer, tapi Alya tetap melakukan ini dan itu, meyakinkan kalau segalanya sudah siap. Ia tidak ingin ada cacat dalam pernikahannya, meski ini adalah pernikahannya yang kedua. Dan akhirnya ia sungguh puas akan hasilnya, semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana. Alya sungguh bahagia, walaupun ia  jadi sangat kelelahan karenanya. Setelah meniup lilin mati, mereka membersihkan diri, gosok gigi dan lainnya. Ramzy sudah menunggu Alya di atas ranjang saat hapenya berbunyi. Padahal saat itu ia sudah telanjang, siap menyetubuhi sang istri.
    “Ah, sial!” sambil mengumpat, Ramzy menerima panggilan. Dari Ella, sekretarisnya.
    “Kan sudah aku bilang, malam ini aku jangan diganggu!” semprotnya.
    “Tapi, pak…” Ella menjawab ragu-ragu, menyadari kesalahannya. “Ini dari pak Menteri.”
    Mendengar kata ‘menteri’, Ramzy langsung terdiam. “Ya sudah, lanjutkan. Ada apa?” ini pasti penting.
    ”Begini, pak…” Ella menjelaskan, menteri PU yang baru ingin mengecek proyek yang ditangani Ramzy. Letaknya di luar Jawa. ”Tiketnya sudah siap, pak. Malam ini bapak berangkat bersama rombongan pak menteri.”

    “Sial!” Ramzy mengumpat lagi. ”Apa tidak bisa ditunda?” tuntutnya.
    ”Maaf, pak. Saya sudah menyampaikan itu, tapi pak menteri tetap memaksa.” terang Ella.
    ”Argh!” Ramzy mengumpat frustasi. Malam fantastisnya bersama Alya musnah sudah. ”Jam berapa pesawat berangkat?” tanyanya kemudian.
    ”Jam 8, pak. Pesawat terakhir.” jawaban Ella sedikit melegakan Ramzy. Dia masih punya sedikit waktu.
    ”Baik, sampaikan pada pak menteri, aku akan langsung menuju bandara. Kita ketemu disana.” putusnya.
    ”Baik, pak.” Ella menutup telepon.
    Menghela nafas berat, Ramzy melirik Alya yang terlihat murung di sebelahnya. ”Harus pergi ya, pah?” tanya wanita itu lirih. Meski sudah sering ditinggal-tinggal seperti ini, tak urung Alya tetap kecewa juga. Ini kan malam spesial buat mereka.
    ”Iya, sayang. Maaf ya, pak menteri sudah menungguku di bandara jam 8 nanti. Aku nggak bisa lama lama, tapi dengan sisa waktu yang ada, aku akan membuat kamu puas deh.” janji Ramzy. Jam di dinding menunjukkan pukul 5 sore, mereka masih punya banyak waktu.
    ”Iya, pah, nggak apa-apa. Mamah bisa ngerti kok. Cepetan deh lakukan, nanti papah terlambat lagi. Jalanan kan macet jam-jam segini.” Alya segera melepas seluruh pakaiannya hingga ia pun telanjang bulat, sama seperti sang suami.
    Ramzy segera menghampiri dan memeluknya, dengan mesra ia mencium dan menjilati leher Alya yang jenjang. ”Ahhh… pah!” membuat Alya mendesah-desah kegelian. Apalagi saat jilatan sang suami semakin turun ke bawah, menuju ke bongkahan payudaranya yang membulat indah, desahan Alya semakin jelas terdengar. ”Eghsss… pah! Uhh.. uhh.. ahh..” dia menggelinjang.
    Ramzy semakin bernafsu saat mendengarnya. Dengan lahap ia terus menjilat dan menghisap buah dada ranum sang istri. Puting Alya yang mencuat mungil kemerahan, ia cucup dan sedot-sedot ringan, membuat Alya semakin merintih dan menggelinjang.

    ”Oughh… pah!” desisnya mesra.
    Ramzy bisa merasakan kalau puting itu sudah tegak mengacung, tanda kalau Alya sudah horny berat. Ia yakin vagina Alya pasti juga sudah banjir sekarang. Ramzy segera menyusupkan tangannya ke selangkangan sang istri dan menggelitik disana.
    ”Ahhhhsss… pah! Ahhh… mamah jadi pengen nih!” Alya makin menggelinjang. Tubuhnya yang putih dan mulus tersentak-sentak kesana-kemari seiring tusukan jari Ramzy pada lubang vaginanya.
    Ramzy yang juga terangsang berat, merasa penisnya jadi ngaceng sekali. Dia segera melumat bibir Alya sebagai pelampiasan nafsunya sambil tangannya tidak berhenti membelai dan mencolok lubang vagina wanita yang sudah memberinya 2 anak itu. Benda itu terasa benar-benar basah dan melebar. Meski vagina Alya sudah tidak sempit lagi, tapi Ramzy tetap menyukainya. Dia tetap merasa beruntung bisa menikmati tubuh molek sang istri, yang pastinya sangat didambakan oleh setiap lelaki di luar sana. Ramzy menyodorkan penisnya di mulut Alya.
    ”Sayang, hisap penisku dong.” pintanya saat ciuman mereka sudah terlepas.
    Dia segera berbaring di ranjang, membiarkan Alya mengurut dan memegangi penisnya sebentar sebelum akhirnya melahap dan mengulumnya dengan penuh nafsu. Kepala Alya terlihat naik turun dengan cepat, bibirnya menjepit erat batang Ramzy, sementara lidahnya menyedot-nyedot nikmat seperti orang yang kehausan.
    ”Auhhh… sayang!” Ramzy mendesah keenakan.
    Hisapan Alya benar-benar luar biasa. Ella saja tidak terasa seperti ini, padahal bibir sekretarisnya itu terlihat sedikit lebih tebal dari punya Alya. Tidak tahan, Ramzy pun berkata. ”Ahh… sudah, sayang! Nanti aku bisa moncrot duluan. Aku ingin keluar di dalam vaginamu daripada disini!”
    Mengangguk mengerti, Alya segera melepaskan penis itu. Dan sekarang ganti ia yang berbaring di ranjang, siap untuk menerima serangan sang suami. Alya membuka pahanya lebar-lebar,memamerkan vagina merahnya yang sudah basah saat Ramzy mulai merayap menaiki tubuhnya. ”Pah, jilatin dulu dong, vaginaku gatel nih.” pintanya manja.

    Sambil meremas-remas dan menciumi payudara Alya, Ramzy tersenyum, ”Oh, mamah mau juga yah?” tanyanya. Memang tidak biasanya Alya meminta oral, kalau pas lagi sangat bernafsu seperti sekarang aja dia meminta.
    Ramzy segera menunduk dan mulai menjilati vagina Alya yang basah kemerahan. “Ohh… terus, pah! Terus, gatel banget nih klitoris mamah! Yah, jilat yang itu! Oughh… ahhh…!” tubuh molek Alya mengeliat-geliat keenakan seiring lidah Ramzy yang bergerak semakin liar di dalam liang vaginanya.

    Baca Juga : Donita XXX: The Private Life 2

    Ramzy melirik jam di dinding, cepat sekali waktu berlalu, sudah setengah jam sekarang. Dia harus cepat melakukannya kalau tidak mau ketinggalan pesawat. Kalau menuruti Alya, bisa habis waktu 1 jam cuman untuk acara jilat-menjilat. Ramzy segera menarik kepalanya dan berbisik. ”Sudah ya, mah. Nanti aku ketinggalan pesawat.”
    Alya terlihat ingin protes, tapi segera mengurungkannya karena benar apa yang dikatakan oleh sang suami.
    ”Iya, pah. Cepat lakukan. Nanti papah terlambat!” Sedikit kecewa, karena ia begitu menikmati jilatan Ramzy pada lubang vaginanya, Alya pun membuka kakinya lebar-lebar, memberi jalan pada Ramzy untuk segera menyetubuhinya.
    ”Trims ya, sayang!” sambil berkata begitu, Ramzy pun menusukkan penisnya. Jlebbb! Dengan mudah benda itu masuk menembus kemaluan Alya yang memang sudah sangat basah dan melebar.
    ”Auw, pelan-pelan, pah!” rintih Alya saat Ramzy mulai menggoyang pinggulnya. Gerakannya begitu kaku dan kasar.
    ”Auww, ohh.. ngilu, pah! Oohh…” rintih Alya lagi saat Ramzy menggenjot tubuhnya semakin cepat. Payudara Alya yang tidak begitu padat sampai terpantul-pantul kesana kemari karenanya.
    Tapi seperti tidak mendengar, Ramzy terus menggila dengan genjotannya. Dia merasa tanggung untuk berhenti sekarang. Jepitan vagina Alya terlalu sayang untuk dilepaskan. Bahkan ia menggenjot lebih cepat lagi agar jepitan benda itu menjadi semakin kuat dan keras.
    ”Aghh… pah! Pelan-pelan… aku…” kata-kata Alya terputus saat dirasakannya penis sang suami meledak di dalam sana. Ramzy sudah ejakulasi. Sambil membenamkan penisnya dalam-dalam di liang rahim Alya, laki-laki itu menembakkan spermanya berulang kali hingga vagina Alya jadi semakin basah dan lengket.

    ”Agh.. aghh.. aghh..” terengah-engah keenakan, Ramzy mencabut penisnya. Terlihat lelehan sperma keluar dari lubang vagina Alya yang merah dan mengkilat, membasahi sprei.
    ”Kok cepat sekali, pah?” ada sedikit nada protes dalam suara Alya. Dia sedang dalam posisi tanggung sekarang, gairahnya lagi di ubun-ubun, menuntut untuk dipuaskan.
    ”Iya, sayang. Maaf ya, nanti kalau papah kembali, aku ganti deh!” kata Ramzy sambil beranjak pergi ke kamar mandi.
    Alya menghela nafas berat. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Dipegangnya sang vagina yang masih terasa panas dan membengkak, dan dipenuhi sperma Ramzy. Terasa nikmat sekali saat ia mencolok dan mengusap-usapnya pelan. Alya terus melakukannya hingga tanpa sadar ia mulai merintih dan mendesah. Biarlah kalau harus masturbasi, yang penting ia mendapat kepuasan. Tapi baru juga merasa nikmat, Ramzy sudah mengganggunya.
    ”Sayang, tolong telepon mang Ujang ya, suruh kemari jemput aku untuk mengantar ke bandara.” teriak laki-laki itu dari dalam kamar mandi.
    ”Iya, pah!” bersungut-sungut dalam hati, Alya pun menarik tangannya. Dia segera menghubungi mang Ujang, sopir pribadi mereka.
    ”Gimana, sayang?” tanya Ramzy begitu keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih telanjang, tapi penisnya sudah mengkerut mungil karena tersiram air dingin. Alya jadi malas untuk membangunkannya lagi.
    ”Iya, mang Ujang sudah meluncur kemari.” Alya meraih baju tidur tipis di lemari dan mengenakannya. Karena tidak memakai daleman, puting dan bulatan bokongnya jadi tampak merawang indah saat tersorot lampu kamar. Ramzy agak sedikit menelan ludah saat melihatnya.
    ”Sayang aku harus pergi, kalau tidak, akan kugarap tubuh mamah semalaman.” bisiknya mesra sambil tangannya meraih payudara Alya dan meremas-emasnya pelan.
    Yang diremas cuma menggeliat dan merintih keenakan. Sayang sekali, benda sebagus ini harus ditinggal hanya karena ajakan semena-mena seorang menteri tolol!

    Sambil mengenakan pakaian, Ramzy terus memandangi tubuh molek Alya. Dia teringat saat awal menikah dengan Alya dulu, semua teman dan koleganya menyebutnya beruntung karena bisa memperistri salah satu artis tercantik di Indonesia. Meski cuman mendapat jandanya, Ramzy tidak pernah merasa menyesal. Tubuh Alya memang terasa sangat nikmat dan selalu bisa memancing gairahnya. Jandanya aja seperti itu, bagaimana pas gadisnya dulu ya? Ah, Ramzy tidak bisa membayangkan bagaimana nikmatnya. Tak terasa, penisnya kembali menegang saat mengingat-ingat hal itu.
    ”Ugh, kalau disini terus, bisa-bisa aku hilang kendali.” batin Ramzy dalam hati.
    Sambil mengecup mesra bibir tipis Alya, dia pun pamit. ”Aku tunggu mang Ujang di loby aja. Mama malam ini tidur aja disini, biar besok pagi dijemput sama mang Ujang.”
    Mengangguk mengiyakan, Alya mengantarkan kepergian Ramzy hingga ke pintu.
    ”Hati-hati ya, sayang. I love u!” bisiknya pada laki-laki itu.
    ”I love u too,” Ramzy mencium bibir Alya sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan menuju lift.
    Selepas kepergian sang suami, Alya masuk ke kamar mandi untuk membasuh tubuh sintalnya. Ia berniat untuk langsung tidur aja sehabis mandi nanti. Tapi baru saja ia keluar dari kamar mandi, dengan tubuh masih dibalut baju tidur tipis, terdengar bel di pintu depan. Alya mengintip, seorang laki-laki tua, kira-kira berumur 50 tahun, berdiri di depan kamarnya. Itu mang Ujang.
    ”M-maaf, bu. Saya terlambat. Habis jalanan macet banget sejak keluar pintu tol.” sapa laki-laki itu ramah begitu Alya membukakan pintu.
    “Lho, bapak nunggu mang Ujang di loby lho, masa nggak ketemu?” tanya Alya heran.
    “Ah, begitu ya, bu?” mang Ujang nampak sangat menyesal.
    ”Biar saya telepon, siapa tahu bapak masih ada disana.” Alya segera berbalik untuk mengambil hapenya yang tergeletak di atas meja, tidak menyadari pandangan mang Ujang yang melotot memandangi bulatan pinggulnya saat ia berjalan membelakangi.

    Sementara Alya berbicara dengan Ramzy, mang Ujang memindai tubuh mulus Alya mulai dari atas hingga bawah. Sekilas pandang saja, dia sudah mengetahui kalau wanita itu tidak memakai daleman. Terlihat dari puting Alya yang mencuat indah dan juga bokongnya yang terlihat mulus tanpa terlihat alur celana dalam. Membayangkannya membuat mang Ujang kesulitan menelan ludah. Ia terangsang, perlahan-lahan penis tuanya bangkit dan menggeliat. Sudah sejak dulu ia mengagumi majikannya itu. Sebagai salah satu artis tercantik di Indonesia, Alya memang selalu tampil luar biasa. Pesonanya selalu bisa menarik perhatian setiap laki-laki, termasuk mang Ujang. Tapi sebagai seorang sopir, ia harus tahu diri. Mang Ujang harus menekan hasratnya dengan cukup mengagumi sosok Alya Rohali, tanpa pernah bisa menyentuh apalagi memiliki. Paling banter, sebagai pelampiasan rasa penasaranya, dia onani di kamar mandi sambil membayangkan ngentot dengan sang majikan. Itu sudah cukup baginya. Tapi sekarang, waktu dan kesempatan terbuka bagi mang Ujang. Mereka cuma berdua saja di dalam kamar hotel yang sepi. Akankah dia berani untuk melakukannya? Memperkosa seorang Alya Rohali yang terkenal?! Entahlah. Kita lihat saja nanti. Mang Ujang segera mengalihkan pandangannya begitu melihat Alya menutup telepon, ia pura-pura sibuk melihat lukisan yang ada di dinding.
    ”Wah, mang, bang Ramzy sudah berangkat duluan naik taksi. Dia rupanya kelamaan nunggu abang, takut telat sampai ke bandara.” kata Alya.
    Mang Ujang bersorak dalam hati mendengarnya. Berarti mereka benar-benar berdua saat ini. Pura-pura menyesal, laki-laki itu pun berkata.
    ”Ya kalau gitu, saya balik aja. Bu. Ibu malam ini mau menginap disini apa pulang ke rumah?”
    Alya tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. ”Pulang aja deh, mang. Nggak enak tidur di hotel sendirian.”
    “Gimana kalau saya temani?’ tanya mang Ujang, tentu saja dalam hati.
    Tersenyum mengiyakan, ia pun menyahut. ”Ya ibu berbenah aja dulu, saya tunggu disini.”
    ”Baik, mang. Tunggu ya, nggak lama kok!” Alya segera berbalik dan masuk ke kamar, sementara mang Ujang menunggu dengan tetap berdiri di depan pintu.

    Mang Ujang

    Dengan menggunakan pintu lemari sebagai penghalang, Alya mengganti bajunya. Tapi baru saja mengenakan BH dan CD, ia mendengar pintu kamar ditutup dari dalam. Mang Ujang mau ngapain? Batin Alya saat mendengar suara langkah kaki halus mendekatinya.
    ”Mang?” ia memanggil, tapi tidak ada jawaban.
    Alya pun menoleh dan kaget. Ah, apa yang nampak berada tepat di belakangnya sama sekali berada di luar nalarnya. Mang Ujang, sopir setianya yang sudah mengabdi puluhan tahun di keluarganya, benarkah melakukan ini? Disana, laki-laki tua itu berdiri tanpa bercelana panjang. Penisnya yang besar tampak menggantung dan diacung-acungkan ke arah Alya. Sementara kemejanya juga setengah terbuka, menampakkan dada mang Ujang yang tipis dan kerempeng.
    ”M-mang Ujang… m-mau apa?” tanyanya meski sudah tahu apa yang diinginkan oleh laki-laki tua itu.
    Tidak menjawab, mang Ujang malah menyeringai penuh kemesuman, menampakkan giginya yang menghitam karena asap rokok. Dia terus berjalam mendekati Alya. Bagai terkena sihir, Alya terpana. Bukannya berteriak atau melawan, ia malah terjatuh lemas, tak berkutik bagai burung yang terjerat dalam jaring perangkap, tak berdaya. Seluruh kehendak dan jiwanya terlempar jauh, melayang tanpa tahu kemana akan jatuh. Hasratnya yang tadi terputus bersama Ramzy dengan cepat kembali dan menyelimuti dirinya, membuat matanya tak berkedip menatap tonjolan penis mang Ujang yang kini hanya berjarak dua jengkal dari wajahnya.
    ”Bu Alya?” bisik mang Ujang halus.
    Suara itu bagai guruh yang memekakkan di keheningan mereka. Membuat Alya sedikit tersadar. Dia ingin menyahut,  tetapi lidahnya terjerat kelu. Ia malah membisu. Sementara matanya, oohh matanya tak lepas  memandang kontol besar sang sopir pribadi. Leher Alya membeku, tak mampu untuk membuatnya berpaling dari kemaluan yang mempesona itu. Betapa indah bentuknya, betapa sedap baunya, betapa nikmat rasanya. Rasanya Alya tak sabar untuk segera mengulum, mencium dan menjilati penis itu.

    ”Ehm,” dia refleks menjilat bibir. Alya menelan liurnya sendiri dalam upaya menekan keinginannya yang meledak-ledak.
    ”Mbak Alya?” kembali terdengar bisikan mang Ujang. Bukan lagi memanggil ’Bu’ tapi ’Mbak’, menunjukkan bahwa laki-laki tua itu ingin mendekatkan diri, sedekat penisnya yang kini sudah tinggal sejengkal dari wajah Alya.
    ”Ahh,” tak berkedip Alya memandangi ujung penis mang Ujang yang bulat bak jamur, terlihat memerah mengkilat karena seluruh darah laki-alki itu telah terdesak kesana.
    Lubang kencingnya nampak mungil di tengah, terlihat sedikit basah. Warna batangnya yang coklat muda kemerahan dikelilingi oleh urat-urat yang bertonjolan sedemikian kekarnya, tampak sangat jantan dan menggemaskan. Tak pernah terbayang di benak Alya bahwa akan ada penis seperti ini di dunia.
    ”Mbak Alya?” mang Ujang berbisik sekali lagi sebelum akhirnya penisnya menempel dan menyentuh wajah Alya.
    ”Aaghh…!” Alya terhenyak, tapi tidak mampu menolak saat ujung penis laki-laki itu mengusap-usap pipi, hidung dan bibirnya. Aroma kelelakian mang Ujang menerpa hidungnya, yang kemudian menembus masuk ke paru-parunya dan dengan tajamnya menghunjam ke sanubarinya. Seketika membuat Alya lumpuh total. Dia tak mampu menolak saat penis itu mendesak bibirnya dan memaksanya untuk terkuak.
    Bagai disodori es krim yang super lezat, dengan disertai desahan dan lenguhan pelan, bibir Alya pun perlahan-lahan bergerak melumat. Lidahnya mulai menjilati kepala jamur itu. Bibirnya mengulum dagingnya yang terasa kenyal dan padat. Alya memasukkan benda itu ke dalam mulutnya dan mulai menghisapnya dengan penuh nafsu, memindahkan segala rasa pada penis itu untuk dibawa masuk ke tenggorokannya. Penis mang Ujang benar-benar telah meruntuhkan moralitasnya. Gara-gara benda itu, Alya kehilangan nalar sebagai istri setia seorang Faiz Ramzy Rachbini. Gairahnya yang tadi terputus kini seperti menemukan tempat pelampiasan. Kekuatan erotik yang memancar dari kontol mang Ujang membuatnya menyerah begitu mudah.
    ”Ahh… mbak Alya! Ahh… enak sekali, mbak! Jilatanmu begitu nikmat! Ahh…” desah mang Ujang demi melihat bibir mungil Alya yang telah penuh oleh batang penisnya.
    Alya sudah tidak lagi peduli akan suara-suara yang bergema di sekitarnya, yang ia pedulikan sekarang adalah bibirnya yang terus melumat penuh nafsu penis mang Ujang yang aroma, besar dan panjangnya mampu membuatnya terlempar melayang dalam jerat erotik tanpa batas. Belum pernah ia menyaksikan pesona penis seindah, sebesar dan sepanjang ini. Alya tidak mampu mengukur seberapa besar ukuran sebenarnya. Yang jelas, benda ini 2 sampai 3 kali lebih besar dari punya Ramzy. Padahal dengan Ramzy saja, Alya kadang-kadang tidak kuat menghadapi, apalagi dengan ini? Ugh, entah bagaimana rasanya. Membayangkannya saja sudah membuat nafsu birahi Alya melambung tinggi hingga jutaan kali.

    ”Oohh, ampuni aku, pah, aku telah terjajah dan diinjak-injak oleh birahiku sendiri. Ampuni aku, paahh…” batin Alya dalam hati.
    Penis mang Ujang telah membangkitkan gelombang dahsyat pada dirinya, membuat Alya tak mampu lagi menanggulangi kecuali akhirnya pasrah dalam sejuta kenikmatan yang ditawarkan oleh si sopir tua. Saat jari-jari mang Ujang  membongkar dan melepas busananya, bukannya melawan, Alya malah menantinya dengan penuh nafsu. Dan ketika terasa jari-jari tangan itu memelintir puting susunya, tak terbayangkan lagi, entah di langit yang ke berapa ia melayang-layang dalam nikmat birahi yang tak terperikan ini. Kini tubuh Alya sudah telanjang bulat. Begitu juga dengan mang Ujang. Selangkangan laki-laki itu masih mengangkangi wajahnya, membuat Alya seperti anak lembu yang lagi menyusu pada puting induknya. Alya terus  menggerakkan mulut dan bibirnya ke biji pelir dan batang penis mang Ujang, mencucup dan menghisapnya kuat-kuat untuk meraih kenikmatan yang telah disiapkan oleh laki-laki tua itu sebagai jawaban atas kehausan nafsu birahinya. Tangan Alya yang kini tidak bisa dikontrol, ikut ambil bagian dengan menggenggam penis sang sopir tua, ia mengocoknya pelan hingga mulutnya lebih leluasa mencium dan menjilati pangkal dan batangnya. ”Ehss… mbak… oughhh…” desahan dan rintihan yang terus keluar dari mulut mang Ujang menjadi pendorong semangat bagi Alya agar mulutnya menjilat lebih ganas lagi. Cekalan jari-jari mang Ujang pada rambutnya menjadikan Alya makin liar menyusup-nyusup lidah ke biji pelir laki-laki itu. Dia telah sepenuhnya terbakar nafsu birahi sekarang. Tak ada lagi hambatan dan norma-norma yang bisa menghentikannya. Alya tidak protes saat tangan-tangan kurus mang Ujang mengangkat dan membimbingnya untuk naik ke atas ranjang. Dengan pantat masih tetap di tepian ranjang dan lutut yang bertumpu di lantai, Alya telungkup di kasur tempat tadi dia bergumul bersama Ramzy, suaminya, yang kini sudah ia lupakan sepenuhnya. Ia rasakan tubuh kerempeng mang Ujang mulai menindih tubuhnya. Laki-laki itu memagut kuduknya, juga lehernya, lalu tengkuk, dan dilanjutkan bahu dan akhirnya seluruh lembah dan dataran punggung Alya, dicium dan dijilati hingga meninggalkan bekas-bekas cupang memerah yang berserakan disana sini. Sambil melakukannya, tangan mang Ujang menggapai tangan Alya yang terentang di kasur, dan meremas jari-jarinya untuk bersama-sama menelusuri nikmat itu. Itulah awal saat tangan-tangan si sopir pribadi mulai menyusuri lengannya, hingga ke wilayah ketiaknya, dan terus berlanjut hingga ke buah dada Alya yang bulat menggoda. Remasan-remasan tangan mang Ujang ke kedua payudaranya memaksa Alya untuk mendesah dan merintih dengan hebatnya.
    ”Mang ujang… ampuunn… ughhhh… enaknya…” Dan kemudian dia langsung terhempas ke jurang yang sangat dalam saat bibir dan lidah mang Ujang meluncur dari punggungnya, melewati wilayah pinggulnya, menjilati sedikit bulatan bokongnya, sebelum akhirnya turun lagi untuk mendesak belahan pantatnya.

    Alya benar-benar tidak mampu mengelak dari kenikmatan tak terperi yang diberikan oleh laki-laki tua itu. Baru kali ini ada seseorang yang dengan sukarela mau menjilati pantatnya, lubang duburnya, lubang pembuangan kotorannya. Lidah kasar mang Ujang bergerak melingkar, seperti mengebor lubang pantatnya. Bibir laki-laki itu menyedot cairan yang keluar dari pantat Alya. Dia tampak tidak jijik sama sekali dengan semua itu. Mang Ujang melahap semua cairan yang ditemuinya di sekitar pantat sang majikan, menyedotnya habis hingga pantat Alya tampak makin mulus dan mengkilat. Sambil melakukannya, mang Ujang juga meremas-remas bulatan pantat Alya penuh kemesraan. Semua itu menjadikan Alya serasa terbang ke awang-awang, nikmatnya sungguh tak terperi. Pada posisi berikutnya, ia merasakan pinggul dan pantat mang Ujang mendesak-desak bokongnya, seperti berusaha memasuki lubang senggamanya dari belakang. Rasa nikmat yang dirasakan Alya membuatnya refleks meraih batang penis yang hangat itu. Ia menggenggamnya mantap dengan jari-jari tangannya yang lentik, merasakan betapa panjang, besar dan kerasnya benda itu dan mengarahkannya tepat ke lubang yang dituju. Vagina Alya yang telah lama menanti, tampak telah basah kuyup oleh cairan birahi. Benda itu menghangat dalam lelehan lendir yang tak henti-hentinya mengalir keluar dari lubangnya. Alya merasakan katup bibir kemaluannya langsung mengencang saat penis besar mang Ujang mulai menembusnya. Dia merasakan kegatalan pada tepi-tepi klitorisnya sedikit terobati saat benda itu menggesek pelan disana. Dinding-dinding vagina Alya spontan mengeras dan tegang mengetat untuk menahan tusukan penis mang Ujang yang secara pelan namun pasti terus merangsek maju, menggedor-gedor gerbang vaginanya, dan tanpa kenal menyerah terus menggesek relung vaginanya hingga ke bagian yang paling dalam. Dan ketika batang itu telah terlahap seluruhnya, laki-laki itu menghentikan desakannya sesaat. Alya marah, meradang, saat mengetahuinya. Nafsunya yang lagi di puncak, tiba-tiba diputus dengan cara seperti ini.
    “Kurang ajar kamu, mang! Mengapa kamu tega menyiksaku dengan cara seperti ini?” batinnya dalam hati.
    Dengan perasaan jengkel, tak ayal Alya segera berusaha menggerakkan bokongnya untuk menjemput batang penis itu agar tidak diam saja. Untungnya, mang Ujang cepat mengerti. Dengan tangan kirinya, laki-laki itu meraih rambut Alya yang terurai berantakan di punggungnya, dan seperti layaknya seorang sais profesional, ia menariknya ke belakang hingga kepala Alya terdongak. Sambil mulai menghantamkan penisnya keluar masuk di dalam vagina sempit sang majikan, mang Ujang menggunakan rambut hitam Alya seperti tali kekang kuda.
    ”Aghhh… mang, ampuunn… kontolmu itu… aahh…” genjotan mang Ujang  membuat seluruh ranjang bergoyang-goyang.
    Alya berusaha meraba-raba mencari pegangan untuk menahan rasa nikmat yang ia terima. Korbannya adalah seprei ranjang hotel yang segera digenggam dan diremas-remasnya kuat-kuat hingga terbongkar lusuh tak karuan.

    ”Mang… pelan-pelan, mang… ughhh… pelan-pelan…” setiap tusukan penis mang Ujang ke kemaluannya selalu menghasilkan siksaan sekaligus kenikmatan bagi Alya.
    Rintihannya terus bergema memenuhi seluruh isi kamar, seakan meminta dan memohon, entah kepada siapa, untuk turut serta berbagi siksa nikmat yang sedang diterimanya. Rintihan itu terus menerus ia keluarkan mengiringi kocokan penis mang Ujang yang tidak menampakkan tanda-tanda kapan hendak berhenti. Kemudian, dengan tanpa mencabut penisnya, mang Ujang meraih dan mengangkat kaki kiri Alya. Ia membalikkan tubuh mulus sang majikan, kemudian mendorongnya sedikit lebih ke tengah ranjang. Kaki itu tak pernah diturunkannya lagi, hanya disandarkan pada bahunya yang kurus hingga membuat selangkangan Alya menjadi sangat terbuka. Vagina mantan Puteri Indonesia itu terkuak sangat lebar, memudahkan bagi mang Ujang untuk meneruskan tusukan dan kocokannya.
    “Teruuss.. Mang, teruuss.. ugh, enaakk.. enakk sekali!” kembali sensasi erotik menyambangi tubuh mulus Alya, ia merintih sambil cairan cintanya muncrat-muncrat karena desakan batang besar sang sopir pribadi. Gelombang kenikmatan yang mengalun bertalu-talu itu membuat seluruh tubuh Alya bergelinjang tak karuan. Tangannya berusaha menggapai payudaranya semdiri untuk memijit dan meremas-remasnya penuh nafsu sebagai upaya mengurangi deraan nikmat yang tanpa batas itu. Entahlah, kesadaran Alya seperti tak tampak lagi, yang tersisa hanyalah kenikmatan luar biasa yang membuat seluruh tubuhnya semakin tenggelam dan terperosok ke dalam jurang penuh gairah. Mang Ujang menjatuhkan kaki Alya dari bahunya. Dengan nafsu yang buas dan liar, dia merubuhkan tubuhnya ke atas tubuh mulus Alya. Dengan genjotan penisnya yang semakin cepat, ditindihnya sang majikan. Bibirnya menjemput bibir Alya dan langsung melumatnya dengan rakus. Alya menyambut dengan sama lahapnya. Lidah dan bibir mereka saling mencucup dan menghisap, membuat air liur keduanya bercampur dan saling bertukar. Tangan mang Ujang ikut merangsek dengan memijit dan meremas-remas kedua bongkahan buah dada Alya yang bergoyang-goyang indah seiring semakin cepatnya ia menghunjamkan penis. Mang Ujang merasa batangnya mentok di liang peranakan Alya yang sempit. Selama ini belum pernah ada yang mampu menyentuh lubang peranakan itu. Panjang penis Ramzy yang hanya separoh dari penis mang Ujang jelas tak akan pernah menyentuh titik lokasi itu. Padahal justru di situlah sebenarnya letak titik-titik saraf yang peka, yang mampu membuat perempuan menerima kenikmatan dari genjotan penis seorang lelaki.

    Alya merasa sungguh sangat beruntung kali ini. Dengan mang Ujang, ia bisa merasakan nikmatnya. Akibat tusukan laki-laki tua itu, aliran birahinya yang selama ini tidur terpendam, perlahan mendesak keluar dari lubang vaginanya, menuntut untuk muncul ke permukaan, seperti perasaan ingin kencing yang sangat mendesak. Perasaan seperti ini belum pernah ia rasakan selama 6 tahun perkawinannya dengan Ramzy. Alya sudah sering orgasme. Tapi untuk orgasme kali ini, rasanya sungguh sangat berbeda. Benar-benar nikmat dan memuaskan. Lalu apa yang selama ini ia rasakan? Apakah itu orgasme semu? Dan apakah ini orgasme yang sebenarnya? Entahlah, dia sendiri juga tidak tahu. Tiba-tiba saja, dengan tanpa isyarat sebelumnya, mang Ujang mengangkat kaki kanan Alya dan diseberangkan melewati tubuhnya yang merebah ke samping. Sekarang posisi Alya adalah miring membelakangi sopir tua itu  yang tanpa henti terus menusukkan penisnya dan menggenjot tubuh mulus sang majikan dengan penuh nafsu. Memeluk dari belakang, tangan mang Ujang bebas menggerayangi payudara Alya yang bergoyang-goyang indah seirama dengan genjotan pinggulnya. Ia juga mencucup dan menjilati leher jenjang Alya dan memberi banyak cupang disana.
    ”Aghhh… mang!” Rasa ingin kencing semakin mendera tubuh hangat Alya.
    Dengan sepenuh kekuatan, ia menggoyang-goyangkan pinggulnya untuk segera menjemput rasa itu. Alya berteriak, mengaduh, merintih dan berteriak kembali saat rasa nikmat itu bukannya mereda, tapi malah semakin menjadi-jadi. Ia tak dapat lagi menghindar. Rasanya sudah seperti di ujung, siap meledak untuk meruntuhkan pertahanan terakhirnya.
    ”Mang Ujaaangg… akuu… oohh…” tubuh Alya langsung merinding dan gemetar saat dengan kedutan-kedutan besar, ia merasa ada sesuatu yang tumpah dari dalam liang vaginanya.
    Cairan itu rasanya mengalir tanpa henti, sangat banyak dan juga sangat nikmat sekali, membuat Alya terkulai lemas untuk sesaat. Sementara itu, penis perkasa mang Ujang sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, bahkan ia semakin mempercepat kocokannya. Alya pasrah saja menerimanya. Meski sedikit terasa ngilu, tapi sebanding dengan apa yang ia raih malam ini.

    Mang Ujang yang rupanya masih jauh dari tujuannya, meraih tubuh Alya dan mengangkatnya ke atas hingga posisi Alya jadi telentang sekarang dengan tetap menindih tubuh si sopir tua yang terus menancap dan menggenjotkan batang penisnya. Walaupun posisi mang Ujang berada di balik punggung Alya, tapi ujung kemaluannya masih tetap saja mampu menyentuh lubang peranakan sang artis idola. Kaku, panjang, dan besarnya penis mang Ujang membuat seakan tak ada celah yang tersisa lagi dalam ruang kemaluan Alya yang memang menjadi sangat menyempit akibat orgasmenya barusan. Alya sadar, tanpa bantuannya, mustahil bagi mang Ujang untuk meraih klimaksnya. Jadi dia berusaha bangkit dan memainkan pinggulnya. Ia goyang pantatnya yang bulat sedemikian rupa agar dapat mengimbangi genjotan mang Ujang yang semakin menggila. Bahkan kemudian Alya bergerak bangun setengah menduduki selangkangan laki-laki tua itu dengan kedua tangannya masih bertumpu pada dada kerempeng si mamang sehingga penis besar mang Ujang dapat sepenuhnya masuk dalam lahapan vaginanya. Alya mengikuti genjotan sang sopir dengan menaik-turunkan pantatnya, membuat payudara besarnya ikut bergoncang-goncang, yang segera dipegang dan diremas-remas kuat oleh mang Ujang. Rambut Alya yang panjang sepunggung terhambur ke kanan maupun kiri, tergerai kusut tak karuan akibat genjotan edan penis si sopir tua. Tapi Alya tak pernah menduga, posisi yang sedang ia lakoni ini justru menjadi bumerang baginya. Dengan cepat gairahnya terdongkrak dan terkerek naik. Rasa gatal pada dinding vaginanya datang lagi dengan begitu cepat. Dorongan nafsu merenggut seluruh saraf-saraf pekanya kembali. Dan rasa lemas di tubuhnya langsung lenyap, berganti dengan semangat penuh gairah untuk menggenjot penis mang Ujang agar dapat lebih dalam lagi memasuki lubang vaginanya. Alya kembali kesetanan. Ia kembali merintih dan mendesah. Dia lah yang sekarang mempercepat keluar masuknya penis sang sopir ke dalam jepitan kemaluannya. Batang besar, panjang dan keras milik mang Ujang membuatnya terbakar hidup-hidup, bahkan lebih keras dari yang tadi. Ceritamaya
    ”Arghhh… mang!” Alya berteriak sebagai ganti desahannya, ia melakukannya untuk menjemput nikmat yang tak terperikan ini. Dan saat itulah ia kembali merasakannya.
    Dari celah bibir rahimnya, desakan ingin kencing kembali mengejar ke depan, menuju gerbang vaginanya. Karena sudah tahu betapa nikmat dan dahsyatnya rasa itu, Alya pun bergegas mengejar. Genjotan dan naik turun pantatnya dibuatnya semakin menggila agar rasa itu segera datang. Sepasang payudaranya yang masih dalam genggaman mang Ujang, terlempar ke atas dan ke bawah begitu kuat akibat perbuatannya itu. Tapi Alya tak peduli. Rasa itu telah sampai di gerbang vaginanya dan siap untuk meledak, tidak mungkin untuk dilepaskan lagi. Diiringi dengan teriakan yang paling keras, dia pun orgasme sekali lagi.
    ”AARRGGHHHHH…!!!” Rasanya begitu nikmat saat cairan bening itu kembali menyemprot dan menyembur keluar.

    Tubuh Alya sampai bergetar dan terkejang-kejang seiring lelehan cairan cintanya yang mengalir deras dari liang vaginanya. Saat itulah, tiba-tiba ada rasa marah dan benci yang menyelinap di hatinya. Alya kecewa kepada Ramzy, sang suami. Selama 6 tahun pernikahan mereka, ia merasa tidak dihargai sebagai istri. Ia merasa dilecehkan karena Ramzy tidak pernah mampu memberikan kenikmatan sebagaimana yang ia terima dari mang Ujang hari ini. Alya merasa bahwa Ramzy cuma mencari enaknya sendiri, tanpa mempedulikan perasaan atau kebutuhan Alya. Laki-laki itu seperti tidak bersungguh-sungguh berusaha memberikan kepuasan orgasme pada dirinya dalam setiap persetubuhan mereka. Beda dengan mang Ujang, yang hanya dalam 1 kali permainan, sanggup membuatnya orgasme berkali-kali. Menyadarinya, Alya meraung menangis. Ia terisak sejadi-jadinya. Mang Ujang yang belum menyadari keadaan sang majikan, terus menggerakkan pinggulnya untuk menggenjot tubuh mulus Alya. Malah kembali ia meraih tubuh wanita cantik itu agar kembali merapat ke tubuhnya. Ketiaknya ia serang habis-habisan. Payudara Alya diremasnya penuh nafsu. Rupanya kakek tua itu juga sudah hampir mencapai puncak. Terasa aliran spermanya sudah merasuk ke batang penisnya, siap untuk ditembakkan ke kedalaman vagina Alya yang sempit dan hangat. Menyadari hal itu, Alya segera tersadar. Ia usap air matanya dan segera melepas jepitan vaginanya pada batang penis sang sopir. Ia tidak mau mang Ujang meledak di dalam. Alya tidak mau hamil karena ulah laki-laki tua itu. Dengan tubuh sempoyongan, ia bergegas turun dari ranjang. Tapi rupanya mang Ujang salah pengertian dengan sikapnya ini. Dia berpikir bahwa Alya ingin mengubah posisi agar bisa dapat meminum air maninya, seperti yang biasa dilakukan si Mar, pembantu sebelah rumah. Jadi begitu melihat sang majikan turun, dia langsung ikut menyusul turun. Dengan tangannya, mang Ujang menekan pundak Alya agar wanita itu jongkok. Kemudian dia jambak rambut Alya yang hitam lebat hingga majikannya itu menengadah.
    ”Ehm, mang… aku…” Alya ingin protes, tapi terlambat.
    ”Ayo, mbak Alya, telan… minum pejuku…” sambil berkata, mang Ujang menyodorkan penis besarnya ke mulut Alya, meminta wanita cantik itu untuk menghisap dan menampung spermanya.
    Tidak bisa melawan, Alya pun membuka mulutnya. Dia telan penis itu dan dihisapnya dengan rakus. Tapi baru juga beberapa jilatan, tiba-tiba…
    “Argghhhhh… mbak Alya! Aku keluar! ARGHHHH…!!!” terdengar suara mang Ujang yang meregang penuh kenikmatan.
    Desahan dan rintihannya memenuhi ruang sempit kamar hotel, bersamaan dengan semprotan cairan putih kental yang amat banyak dari batang penisnya, yang tanpa ampun tumpah ruah memenuhi mulut manis Alya.

    “Hmph, glek!” Alya segera menelan semuanya agar tidak tersedak.
    Dia berusaha agar tak ada setetespun yang tercecer. Di luar dugaan, meski tidak pernah melakukan ini sebelumnya, rasanya ternyata tidak begitu menjijikkan. Ia menyukainya. Kenapa Ramzy tidak pernah melakukan ini sebelumnya? Ah, sekali lagi Alya kecewa dengan laki-laki itu. Kelelahan, mereka sama-sama tergolek di tempat tidur, telentang bersisian di atas ranjang dengan tubuh tetap telanjang. Kenikmatan nafsu birahi sejenak membuat Alya sedikit terlena. Ia agak gelagapan saat mang Ujang mencolek payudaranya untuk menarik perhatiannya. Dia melenguh manja ketika tangan laki-laki itu terus turun untuk mengelus dan memainkan lubang vaginanya yang sudah sangat basah dan memerah. Mereka berpelukan dan saling memagut sesaat.
    ”Kenapa mang Ujang begitu berani pamer burung tadi?” tanya Alya penasaran. Mang Ujang hanya memberikan senyum tipis sebagai jawaban.
    ”Apa tidak takut aku teriak?” tanya Alya lagi.
    Kembali laki-laki itu tidak menjawab. Alya sebenarnya tidak butuh jawaban, karena 9 dari 10 wanita, entah itu gadis, istri ataupun janda, pasti akan melakukan hal yang sama dengannya. Mereka akan langsung jatuh terduduk apabila dihadapkan pada pemandangan yang sedemikian spektakuler, sebuah tampilan penis super besar yang begitu mempesona dan menggetarkan jiwa.
    ”Saat pertama datang, mang Ujang terkesan sangat sopan, sama sekali tidak menampakkan akan berlaku ‘kurang ajar’ kepadaku. Tapi kenapa mang Ujang bisa nekat seperti tadi?” Alya bertanya lagi.
    Kali ini mang Ujang mau menjawab. ”Karena ada kesempatan, bu.” Dia kembali memanggil ’Bu’, tanda kalau suasana sudah kembali ’normal’. Mang Ujang bercerita kalau sudah sejak lama ia menginginkan dan mengagumi tubuh mulus Alya. Naluri kelelakiannya mendorong untuk selalu mencari kesempatan, tapi tidak pernah didapat karena Alya memang jarang sendirian. Begitu tahu kalau tadi mereka cuma berdua saja di kamar hotel, Mang Ujang sadar inilah kesempatan emas baginya untuk bisa mencicipi tubuh mulus sang majikan. Dan dia memanfaatkannya dengan baik.
    ”Jadi tadi spontan aja, gitu?” tanya Alya penasaran.
    Mang Ujang mengangguk mengiyakan. ”M-maaf, bu, karena sudah berlaku kurang ajar sama ibu. Saya siap dipecat! Tapi saya mohon, jangan tuntut saya ke pengadilan, saya benar-benar khilaf. Saya takut dipenjara, bu!” rengeknya.
    Alya tertawa mendengarnya. ”Siapa juga yang mau nuntut mang Ujang. Saya malah suka dengan kenekatan mamang.”
    Perkataan Alya membuat laki-laki tua itu melongo. ”S-suka? Maksudnya?” dia bertanya tak mengerti.
    ”Ya pokoknya suka. Dan sekarang, saya memutuskan untuk pulang besok pagi aja. Saya mau mang Ujang tidur disini untuk menemani saya malam ini.” sambil berkata, Alya makin mengeratkan pelukannya ke tubuh kurus sang sopir pribadi.
    ”Ehm, b-baik, bu.” dan sebagai laki-laki normal, tentu saja mang Ujang tidak menolaknya.

    By: Iisamu Takeo

  • Kirey XXX: Coming Back

    Kirey XXX: Coming Back


    37 views

    Suatu siang 

    di sebuah rumah di kompleks perumahan elite di ibukota

    Ceritamaya | Kedua pria itu nampak sangat profesional walau wajah mereka mirip para om senang yang suka nongkrong di nightclub. Mereka menjelaskan dengan baik job yang ditawarkan kepada wanita cantik berambut panjang yang duduk di hadapan mereka. Itu semua terlihat dari wajah wanita itu yang tampak berseri-seri. Betapa tidak, ia ditawari membintangi sebuah film sebagai peran pembantu yang tidak terlalu menyita waktu sehingga tidak perlu mengabaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.

    “Bagaimana Bu Kirey? Apakah penawaran kita cukup membuat anda tertarik?” tanya pria berdasi merah itu penuh harap.

    Kirey, ya…demikian ia dipanggil, nama populer dari wanita 34 tahun yang terlahir di Selong, NTB, dengan nama Nurzairina itu. Namanya sempat naik daun di dunia musik tanah air pada pertengahan 90an lewat album perdananya yang bertajuk ‘Terlalu’. Selain menyanyi, Kirey juga membintangi beberapa sinetron, diantaranya Anakku Terlahir Kembali, bersama Desy Ratnasari dan Tamara Bleszynski. Selain kemampuannya, Kirey juga dikenal dengan penampilannya yang typikal wanita innocent, dengan rambut hitam panjang dan wajah lembut keibuan, sehingga pesonanya tetap terpancar walau ia tanpa mengumbar keseksian tubuh atau gosip-gosip miring yang sekedar cari sensasi belaka. Sayang karirnya di dunia hiburan hanya seumur jagung, setelah menikah pada awal dekade 2000an, namanya seakan terbenam bak matahari senja. Ia lebih memilih fokus membina keluarga terutama setelah melahirkan anaknya. Namun ia selalu mendapat tempat khusus terutama di hati para penggemarnya.
    “Baiklah, saya memang sudah lama ingin berkiprah lagi di dunia entertaintment, tapi tanpa mengabaikan tugas saya sebagai istri dan sebagai ibu, dan setelah membaca skenarionya juga mendengar penjelasan bapak-bapak berdua saya merasa terpanggil untuk menyetujuinya” katanya sambil tersenyum manis.
    “Betul Bu. Walau Bu Kirey sudah lama mundur tapi penggemar pasti gak akan lupa sama Ibu yang makin… eh maaf… cantik begitu…” sahut lelaki yang berdasi polkadot dengan perut buncit.
    “Ehhh… anda terlalu menyanjung, mari silakan diminum dulu!” bantah Kirey seraya mempersilakan minum mereka.

    Kedua tamunya pun tertawa berderai setelah persetujuan dicapai. Perbincangan mereka terhenti sejenak oleh datangnya pembantu yang membawa baki berisi kue-kue kering.

    “Oh iya… maaf Bu. Kalau tidak keberatan, tolong pak sopir di depan juga dikasih minum. Kasian dia pasti haus,” ujar lelaki berdasi merah.
    Kirey tersenyum dan menyuruh pembantunya membawakan minum buat sopir di luar. Mereka kembali terlibat pembicaraan serius mengenai kontrak pembuatan film. Namun, lagi-lagi ada gangguan datang. Kali ini, si sopir yang masuk tergopoh-gopoh.
    “Eh…oh… tolong, si mbok kepeleset di depan. Dia pingsan,” kata sopir bertubuh besar serta berjambang itu.
    Ia membopong pembantu yang tadi mengantar minuman. Tanpa setahu Kirey, si sopir mengerdipkan mata kepada kedua temannya. Kirey tergopoh-gopoh memberitahu pembantunya yang lain. Mereka kemudian membawa pembantu yang pingsan itu ke kamarnya dan membaringkannya di ranjang.
    “Bagaimana ? Perlu panggil dokter?” tanya wanita cantik itu dengan raut wajah cemas.
    Si sopir dan si perut buncit berlagak mengecek denyut nadi pembantu setengah baya itu.
    “Nggak kok, nggak apa-apa. Cuma kaget. Kamu tunggu di sini, kasih minum kalau sudah bangun,” ujar si gendut.
    “Syukurlah kalau gitu.Inah…kamu ambil minum dan tunggu si mbok bangun ya?” perintah Kirey pada pembantu yang satunya, “Yuk, kita ke depan lagi,” lanjutnya kepada dua tamunya.
    “Eh, kamu apain dia?” lelaki itu berbisik kepada si sopir.
    Pria bercambang itu memberi kode pukulan di belakang kepala. Si gendut tersenyum dan memberi kode jempol. Kirey dan kedua tamunya sudah kembali duduk di ruang tamu. Mereka kembali serius membincangkan soal kontrak dan honor. Wajah Kirey nampak serius membaca draft skenario yang baru dikeluarkan si dasi merah dari tasnya. Menurut pria itu, draft baru itu merupakan revisi dari draft sebelumnya yang telah dibaca Kirey. Kirey membaca dengan teliti baris demi baris, tiba-tiba dahinya mengernyit ketika melihat sebuah revisi. Ceritamaya

    “Loh…Pak, apaan ini? kenapa jadi ada skenario seperti ini?” tanyanya merujuk pada sebuah adegan yang mengharuskannya beradegan ranjang dengan lawan main dengan memperlihatkan tubuh telanjangnya dan tanpa peran pengganti.

    “Hehehe…iya Bu, adegan itu untuk pemanis film, Ibu tahu sendiri kan, sekarang ini kan di sini sedang trend film-film yang mengumbar seksualitas sampai Miyabi dan Terra Patrick saja diundang ke sini untuk ikut bermain film. Nah untuk film kita sekarang kita berencana memakai Ibu untuk mengisi adegan ini, pemirsa tanah air pasti haus adegan seks yang diperankan oleh pemeran-pemeran tanah air, lagipula….”

    “Cukup…saya tidak pernah menyetujui hal itu, skenario ini tidak cocok untuk saya dan saya mundur!” Kirey berdiri dengan marah karena merasa terhina diharuskan melakukan adegan ranjang yang vulgar.

    Kedua pria itu malah tertawa cengengesan melihat reaksi Kirey yang marah itu. Saat itu, si sopir juga keluar dari ruang dalam sambil senyum-senyum. Kirey mulai merasa ada gelagat buruk dari sikap mereka, jantungnya berdebar lebih kencang.

    “Inah! Antarkan tamu!” Kirey memanggil Inah, “maaf Pak, saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, dan kalian boleh pergi”

    “He he he… maaf Bu Kirey, sekarang si Inah juga pingsan tuh!” sahut si sopir terkekeh
    “Apa?” Kirey makin terhenyak, ia makin yakin telah mengundang tiga serigala masuk ke rumahnya.
    “Betul Bu, cuma gue jitak kepalanya sedikit aja pingsan. Payah tuh dua pembokat,” sahutnya lagi sambil cengengesan kayak Amrozy tersangka bom Bali.
    “Eh, apa-apaan… ada apa ini?” Kirey mulai takut, suaranya bergetar.
    Si gendut berlagak mencoba menjelaskan.
    “Begini Bu Kirey. Maksud si Idrus ini Bu Kirey sekarang cuma sendirian di rumah ini sama kami bertiga. Betul gitu kan Drus?”
    Kirey baru akan membuka mulutnya saat Idrus kembali berucap.
    “Iya Diq. Kita kan nggak mau diganggu dua pembokat waktu senang-senang sama Bu Kirey…hak hak hak hak ?” (Loh kok ketawanya mirip seseorang di Kisahbb ya?)
    Lelaki berdasi merah yang dipanggil Diq (Shidiq) oleh temannya cuma manggut-manggut. Pria itu berpostur sedang dengan kulit sawo matang, dan berbibir dower. Kirey mulai menyadari dirinya dalam bahaya. Saat itu suami dan anaknya sedang main ke rumah mertua mungkin malam baru pulang, berarti tinggal ia sendiri saja di sini. Ia sudah hendak beringsut membalikkan badan dan berlari ke arah pintu tapi kalah cepat dari Idrus yang dengan sigap menyambar tubuhnya dari belakang.
    “Tolong!! Kalian mau apa!?”
    Kirey meronta, tangannya mencoba menepis kedua tangan Idrus yang menggerayanginya. Tapi tentu saja sulit. Tangan mungil Kirey tak ada artinya menghadapi tangan kekar Idrus. Kini Idrus malah mengunci kedua pergelangannya ke belakang lalu menghempaskan tubuh mereka ke atas sofa.
    “Aaahhh…sakitt…lepaskan saya…kalian bajingan!!”
    “Bu nggak usah repot-repot melawan dan teriak. Sakit kan tangannya dikunci gitu,” kata Idrus setengah berbisik di dekat telinga Kirey, “mending ikut aja apa yang kita mau”
    Kirey begitu tersiksa dengan posisi seperti itu. Apalagi, Idrus menyempatkan menjilat pipinya yang mulus. Artis mungil itu pucat pasi. Kedua pria itu kini duduk mengapitnya.
    “Ibu kan udah tanda tangan kontrak, harus profesional dong, sekarang kita akan casting Ibu terlebih dulu” kata Idrus seraya mengelus pipi Kirey

    “Ahhh… saya nggak mau… tolong… berhenti…. AIIIHHH!!” Kirey memekik karena tingkah Idrus yang makin kurang ajar dengan mengelus dada kirinya.
    Shidiq juga ikut-ikutan memulai aksi bejatnya, tangannya meraih dan meremas payudara kanan Kirey yang bulat dan kenyal.
    “Pertama-tama kita akan scanning tubuh Ibu dulu hueheheh!!!” sahut Idrus Dower sambil mengoyak kasar kerah kaos yang dipakai Kirey hingga robek dan terlihat dadanya yang masih terbungkus bra putih.

    Kirey pun menjerit karenanya sementara ketiga pria itu berdecak kagum melihat indahnya gunung kembar Kirey yang masih tertutup bra. Shidiq lalu menarik bra Kirey hingga lepas lalu secara bersamaan mereka menggerayangi payudaranya yang sudah terbuka.

    “Jangann!!! Aaahh!” Kirey merintih-rintih, mengiba-iba agar mereka berhenti mempermainkannya.

    Namun tetap saja Idrus dan Shidiq yang mengapitnya terus meremas-remas sepasang payudaranya. Mereka kini bahkan mulai menjilati dan mengulum puting Kirey secara bersamaan.

    “Toket Ibu bener-bener mantep. Saya suka jenis yang seperti ini, mmmhhhh” kata Shidiq sambil menjepit puting Kirey dan mengguncang-guncangkannya.
    “Kalian…ohhh…lepaskan saya!!” Kirey mengiba.
    “Kita jamin film ini bakal masuk box office Bu!” timpal Idrus sambil mencengkeram payudara Kirey dengan sebelah tangan dan memilin-milin putingnya.
    “Sekarang kita lihat apa Ibu sudah layak untuk adegan panas, tuh liat, kameramen kita sudah datang. Ayo Do, siap action!” lanjutnya.
    Kirey menjerit ketakutan melihat si sopir yang sudah kembali lagi ke ruang tengah sambil membawa kamera. Lampu kamera tampak menyala, tanda alat tersebut mulai bekerja. Kembali tubuh indah Kirey digerayangi sejadi-jadinya oleh kedua pria itu.
    “Gantian pegangin dong… gue juga pengen mimik cucu” kata si Idrus.

    Kedua temannya tertawa, lalu Shidiq ganti memegangi tangan Kirey. Idrus dengan kegirangan langsung menggenggam kedua payudara Kirey, meremas-remasnya dengan gemas dan menarik-narik kedua putingnya ke atas. Kirey tentu saja menjerit-jerit kesakitan. Shidiq berinisiatif merenggut putus bra Kirey dan mengikat kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Kirey menangis waktu bajunya dipreteli satu persatu hingga kini ia hanya tinggal memakai bra yang telah robek dan celana dalamnya saja. Betapa indah tubuhnya, langsing dan putih mulus, perutnya masih begitu rata walaupun pernah melahirkan. Ketiga pria tak bermoral itu menelan ludah melihat keindahan tubuh Kirey. Idrus sangat menikmati menyusu dari payudara Kirey, tangannya meremas sepasang gunung kembar itu sambil mulutnya mengenyoti secara bergantian. Sapuan lidah kasar pria itu membuat putingnya mau tak mau mengeras. Shidiq kini merenggangkan kedua kaki Kirey sehingga selangkangan artis cantik itu terbuka bebas. Pria itu lalu mengelus-elus gundukan yang berlapis celana dalam di wilayah sensitif itu.
    “Bu Kirey, anda memang benar-benar berbakat, berbakat untuk main film bokep hhahaha” kata Shidiq sambil menarik bagian tepi cd Kirey.
    Kirey menjerit dan meronta-ronta namun semuanya sia-sia. Si Dodo mengclose-up pangkal paha Kirey dengan kameranya. Vagina artis berwajah lembut itu tampak menggairahkan, celah di antara dua bibirnya tampak masih mulus dan rapat padahal sudah pernah dipakai untuk melahirkan anak.
    “Pinjam memeknya sebentar, ya Bu?” Idrus tiba-tiba mengambil posisi di antara kedua belah paha Kirey.

    “Jangaaaan…. oohhh…. jangaaaannnn!!!” Kirey menjerit-jerit.
    Gendut mengoyak celana dalam Kirey hingga robek. Lalu tangannya mengucek-ngucek vagina yang ditumbuhi rambut yang tak seberapa lebat itu. Pria itu membenamkan wajahnya di sana dan lidahnya mulai menyapu bagian bibir vaginanya dari bawah ke atas. Dua jempolnya dengan kasar melebarkan celah vagina Kirey, lalu lidahnya langsung menusuk-nusuk ke dalam. Dari dalam, lidah yang kasar itu menyapu naik hingga menyentuh klitoris. Kirey menggelinjang dan mendesah tak tertahankan saat lidah itu mempermainkan titik sensitif itu. Desahannya makin tak karuan terutama saat Shidiq naik ke dadanya dan mengangkangi wajahnya.
    “Diisep Bu, kita bakal bikin film yang gak kalah hot sama filmnya Sasha Grey!” perintahnyanya sambil mendorong penisnya menyumpal bibir mungil Kirey.
    Perasaan Kirey benar-benar campur aduk dibuatnya. Di satu sisi, ia merasa terhina dengan perlakuan itu. Ia mual juga karena harus mengulum kontol milik lelaki asing yang mengaku orang dari rumah produksi itu. Namun, rangsangan intens di klitorisnya begitu menggelitik birahinya. Apalagi, Idrus juga terus memilin-milin putingnya dengan jarinya. Kirey nyaris gagal mempertahankan harga dirinya untuk tidak orgasme ketika pria itu tak henti-henti menghisap klitorisnya. Tapi ia bersyukur karena Idrus berhenti sebelum ia mencapai orgasme. Terhina tapi merasakan siksaan birahi yang menghanyutkan adalah dilema yang luar biasa. Tapi Kirey tak harus memilih, lolos dari perasaan hina, ia masuk ke alternatif kedua… rasa sakit. Itulah yang kini dirasakannya saat Idrus dengan tanpa perasaan menusukkan penisnya dengan penuh nafsu ke dalam vagina wanita itu sedalam-dalamnya. Memang Kirey bukan lagi gadis, tapi penetrasi sekasar itu terasa sekali sakitnya, apalagi ditambah ukuran penis Idrus yang besar, lebih besar daripada milik suaminya. Ia mencoba menjerit, tapi mulutnya tersumpal penis Shidiq.
    “Memek Bu…hihhhh….sereet….sekali…mantaphh!!.” Idrus terus meracau sambil menggenjot pinggulnya dan tangannya berpegangan pada kedua betis Kirey.
    Kirey mencoba menyangkal kenikmatan yang didapatnya. Ia memejamkan matanya yang berlinang air mata erat-erat saat cairan hangat memenuhi rongga vaginanya, disusul beberapa detik kemudian di dalam mulutnya! Sperma Shidiq yang tumpah ruah di mulutnya mau tak mau membuat Kirey gelagapan, sebagian cairan itu tertelan sebagian lainnya meleleh di pinggiran bibirnya yang indah, aromanya yang menusuk sungguh membuatnya jijik, tapi ia mencoba menahan semua itu agar tidak terlalu menderita. Idrus, Shidiq dan Dodo terkekeh-kekeh di hadapan korbannya yang terkapar di sofa dengan napas terengah-engah.

    Idrus masih saja asyik meremas dan mengenyot gunung kembar wanita itu selama beberapa saat ke depan. Kirey sudah terlalu lelah untuk melawan ketika Idrus mengangkat tubuhnya hingga kini terlentang di atas meja tamu. Kepala Kirey dengan rambut hitamnya yang panjang dan indah menjuntai di ujung meja. Si Dodo masih dengan kameranya mendekati Kirey dari arah kepala. Kirey panik ketika Dodo mengeluarkan penisnya dan mendekatkannya ke wajahnya, kepalanya yang merah bersunat itu mengarah ke bibirnya yang masih belepotan sperma. Sambil terus mengarahkan kamera, tangan kiri Dodo menjulur ke dada kiri Kirey dan menjepit putingnya.
    “Ayo Bu Kirey…emut kontol gua, dah konak nih dari tadi nyuting aja!” perintahnya seraya menjejal-jejalkan kepala penisnya ke bibir wanita itu
    Dengan pasrah Kirey membuka mulutnya dan membiarkan penis Dodo memasukinya. Pada saat bersamaan, Shidiq kini mengambil posisi di antara kedua belah pahanya mengambil gilirannya menikmati vaginanya. Pria itu tanpa buang-buang waktu, mendorong penisnya masuk ke vagina Kirey yang masih terasa pedih. Setelah beberapa kali tarik dorong, akhirnya vagina Kirey menelan seluruh batangan penis Shidiq.

    “Aaaahhh!!” erang Kirey yang dilanda gelinjang nikmat yang sangat dahsyat.

    Kini wanita itu mendesah dengan hebatnya. Tanpa bisa ditahannya sensasi nikmat yang melanda sekujur tubuhnya memaksa pinggulnya bergoyang menyambut penis Shidiq seolah menginginkan agar benda itu menembus lebih dalam lagi dan mengaduk-aduk vaginanya yang sudah gatal untuk disodoki.

    “Bu, enhak sekali ya, Bu .., Bu perett, yaahh..sssipp!”, ceracau Shidiq sambil menahan nikmat penisnya diempot-empot bibir vagina Kiret.

    Sesungguhnya ucapan pria itu sama sekali tidak salah. Kirey memang mulai merasakan nikmatnya pemerkosaan ini, hal ini terlihat dari gelinjang tubuhnya dan erangannya yang bukan lagi erangan sakit melainkan erangan nikmat.

    Itulah yang diharapkan Shidiq yang merasa sangat puas melihat korbannya takluk. Dalam hati Kirey berkecamuk penyesalan dan kesedihan karena ketidakberdayaannya melawan mereka dan malah ikut menikmati, terbayang wajah suami dan anaknya, betapa ia telah mengkhianati mereka, tapi sungguh ia tidak bisa apa-apa lagi, malah yang terus menerpa adalah kenikmatan terlarang itu yang membuatnya semakin terhempas-hempas di dalamnya. Pergumulan dalam hatinya itu berlangsung sampai ketika Idrus menarik penisnya keluar dan memberi giliran pada Dodo yang sedang merasakan penisnya dioral.
    “Nih Do…gantian loe sikat memeknya, enak banget loh!” katanya sambil menggenggam penisnya yang masih tegang.
    Ia lalu pindah ke sudut meja sebelah sana, ternyata ia ingin menyemprotkan spermanya ke wajah cantik Kirey. Tidak sampai semenit, wajah Kirey basah belepotan oleh cairan putih kental. Setumpuk sperma malah sampai menutup sebelah matanya. Setelah semburan spermanya mereda, Idrus memaksa Kirey mengulum penisnya sampai bersih. Sementara di bawah sana Dodo, si sopir, tengah menikmati kehangatan tubuh wanita itu. Dengan terus menyodoki vaginanya, tangan menggerayangi tubuh mulus wanita itu dan meremasi payudaranya. Nafasnya yang mengendus dengan liar menyertai nafsu birahinya yang benar-benar tak terkendali lagi. Idrus yang kini memegang kamera dan menyuting juga tidak tinggal diam, tangannya meremas-remas dan memenceti payudara Kirey serta lekuk-lekuk tubuh lainnya. Dodo nampaknya tak mampu bertahan terlalu lama lagi. Hanya sekitar 20 menitan ia mennggenjot Kirey, lalu ia menarik penisnya keluar lalu tanpa dapat menahannya spermanya muncrat di perut dan permukaan vagina Kirey. Ketiga lelaki itu tertawa kerkekeh-kekeh menyaksikan tubuh telanjang Kirey yang sudah basah oleh keringat dan cipratan sperma. Idrus mengarahkan kameranya ke bagian-bagian tubuh Kirey, wajahnya yang belepotan sperma dan vaginanya yang becek dan bulu-bulunya yang berlumuran sperma Dodo.
    “Ayo Bu, kita lanjutin di kamar mandi sekalian bersih-bersih, cepat dan jangan coba macam-macam!” perintah Dodo sambil menarik lengan Kirey hingga turun dari meja.
    Mungkin Kirey sudah tersungkur kalau tubuhnya tidak dipapah oleh Dodo karena masih belum pulih tenaganya. Dodo menyeret pelan tubuh telanjangnya menuju ke kamar mandi. Tak pernah terbayangkan oleh Kirey akan diperlakukan sedemikian rupa. Berada di dalam kamar mandinya sendiri, dikerumuni tiga lelaki asing yang semuanya telanjang. Shidiq membuka kran dan air hangat mengguyur sekujur tubuh Kirey membersihkan bekas-bekas pemerkosaan di hadapan 3 pasang mata pria itu, salah satunya dengan kamera yang menyala. Tangan-tangan kasar mereka mulai mengelus dan menyabuni setiap inchi tubuhnya. Tak terbayangkan pula tangan-tangan itu menyabuni pangkal pahanya yang sudah pasti diikuti dengan masuknya dua tiga batang jari ke lubang vaginanya. Pengalaman baru pula bagi Kirey ketika harus mencuci bersih tiga batang penis yang tadi memperkosanya. Malah, Idrus kembali bangkit nafsunya dan menyetubuhinya sekali lagi di bawah shower! Diposisikannya tubuh Kirey bersandar pada tembok dan tubuh kekar pria itu memepetnya, kaki kiri wanita itu diangkatnya sambil tangan satunya mengarahkan penisnya yang sudah keras lagi.

    “Jangan….sudah….auhhhh… aaahh!” Kirey merintih merasakan penis Idrus melesak masuk ke vaginanya.
    Bibir Idrus mendekati bibir Kirey mencoba untuk menciumnya. Kirey sempat memalingkan mukanya tiga kali ke kiri dan kanan tapi percuma saja ia melawan. Ruang geraknya begitu terbatas dan lelaki itu begitu kuat, sementara ia sudah kehabisan tenaga.

    “Eeehhmmm….mmmhh” bibir mereka pun akhirnya berpagutan, lidah Idrus menerobos masuk dan mengais-ngais mulut wanita itu.
    “Hehehe…film ini kalau disebar pasti lebih heboh dari si Ariel” kata Dodo sambil mensyuting mereka, ia mengclose up bibir Kirey dan Idrus yang tengah berpagutan, lidah mereka beradu dan liur bertautan.

    Baca Juga : Aline XXX: Erotic Tour in U.S.

    Kirey cuma bisa pasrah mengikuti permainan Idrus yang menggenjotnya dengan cepat, buah dadanya yang berukuran sedang bergesekan dengan dada pria itu, sesekali diremas-remas oleh mereka yang mengerubunginya. Semakin terangsang melihat wajah Kirey yang sedang basah dan dilanda birahi, Idrus menyodok dengan keras hingga penisnya menyentuh dinding terdalam di vagina Kirey, sesaat ciuman mereka terlepas tapi dia kembali mengulum bibir wanita itu. Kocokannya makin cepat dan keras dengan pegangan pada pinggulnya Idrus bisa lebih bebas melesakkan penisku sedalam dalamnya. Kirey merasakan gelombang orgasme kembali menerpanya, tubuhnya serasa bergetar, darahnya menggelegak dan pandangan matanya berkunang-kunang selama beberapa saat, sampai akhirnya seperti ada ledakan dahsyat dari dalam tubuhnya yang membuat tubuhnya menggeliat dan erangannya keluar tanpa tertahankan lagi. Ketiga pria itu tertawa ketika melihatnya orgasme lagi. Kirey yang sudah terlalu capek, tidak sanggup menopang tubuhnya lagi, ia melorot hingga terduduk di sudut dengan shower masih mengguyur tubuhnya. Belum sempat ia mengatur nafas, Idrus menyuruhnya menjilati penisnya hingga bersih. Kirey meraih batangan itu dan mulai menjilatinya dengan perasaan yang jijik. Kemudian Shidiq dari segera mengangkat tubuhnya dan memasukkan penisnya ke vagina Kirey yang cuma melenguh tertahan. Pria itu segera memaju mundurkan penisnya dengan posisi berdiri, hanya bedanya dari belakang, jadi Kirey kini bertumpu pada kedua telapak tangannya di tembok. Ia hanya bisa berteriak teriak kecil karena penis itu sangat besar diameternya. Tangan pria itu tidak henti-hentinya meremas-remas payudaranya yang menggelantung. Pria itu mencapai orgasmenya seperempat jam kemudian. Setelah mandi mereka menghanduki tubuhnya sampai kering, tapi bukan berarti akhir semua penghinaan itu. Mereka menggiringnya ke kamar tidur dan melarangnya menutupi tubuhnya dengan handuk yang kecil sekalipun. Jadilah Kirey dengan rambutnya yang lebat terurai sebahu, berjalan telanjang bulat diiringi ketiga pria itu ke kamarnya.

    Sampai di kamar salah satu dari mereka mendorongnya hingga tersungkur di ranjang.

    “Wah udah bersih lagi nih, siap dientot lagi!”, kata Dodo kepada Shidiq

    “Yoi, udah siap kan Bu?”, timpal Idrus

    Kirey yang sudah tergeletak tak berdaya itu hanya bisa mengiba-iba dengan suara lemah, yang pastinya tidak dihiraukan oleh mereka. Kemudian, Dodo mendekap tubuh telanjangnya dan menindihnya di atas tempat tidurnya. Kirey sudah benar benar tidak berdaya menghadapinya. Tak lama kemudian, ia merasa ada dua jari yang mengisi vaginanya.

    “Tambah basah aja nih hehehe”, katanya

    Ingin sekali ia berontak, tetapi tangan dan kakinya sangat lemas. Kemudian, ia merasa ada penis yang menyeruak masuk ke dalam vaginanya. Ia hanya menjerit tertahan menahan sakit yang luar biasa itu. Tanpa memperdulikannya, pria itu segera memompanya keluar masuk dengan agak susah. Setelah beberapa lama, Kirey pun menjadi terangsang dan mulai menikmati genjotan itu. Pintar sekali Dodo membangkitkan kembali birahi wanita itu, dia bisa memulai genjotan genjotan dengan cepat dan kemudian mempercepatnya. Diperlakukan begitu, Kirey pun tidak bisa bertahan lama. Hanya sebentar saja ia sudah orgasme lagi. Saat Dodo keluar, dia tidak menarik penisnya dari vagina Kirey. Berkali kali penisnya memuntahkan sperma di dalam vagina Kirey. Baru kemudian dia menarik penisnya dari vagina wanita itu. Setelah itu segera ada penis lain lagi yang segera mengisi vaginanya dan mulai memompaku. Kirey dibuat kewalahan menghadapi gangbang yang dilakukan ketiga pria itu. Kirey yang sudah capek hanya bisa terkulai dengan lemas dan penuh keringat. Aku sudah tidak mempedulikan lagi siapa yang menusuk vaginanya, siapa yang memasukkan penisnya ke mulutnya. Ia hanya bisa mengikuti permainan mereka tanpa daya. Jam lima sore barulah mereka puas melampiaskan nafsunya. Ketiganya tertawa dan mulai berpakaian lagi sambil melihat tubuh telanjang Kirey yang sudah belepotan sperma terlentang di ranjangnya. Namun tampaknya ini baru permulaan bagi artis cantik ini.

    “Nah sekarang ibu tinggal pilih, mau rekaman ini kita sebar luaskan atau mau menandatangani kontrak untuk film kami?” ancam Idrus dengan suara tenang tapi tegas, tangannya menyodorkan surat kontral dan pena pada wanita itu.

    “Hitung-hitung ibu kan juga dapet untung, nama ibu akan kembali terangkat karena kembali lagi ke dunia entertainment.” timpal Shidiq sambil mengepulkan asap dari mulutnya

    Dengan berat hati, Kirey pun menandatangani kontrak itu, ia tidak ingin ancaman itu terjadi. Mau ditaruh dimana mukanya nanti kalau rekaman seperti itu tersebar luas. Bagaimana reaksi suami dan anaknya nanti?

    ########################################

    Setengah tahun kemudian

    Dalam sebuah konfrensi pers

    Kembalinya Kirey ke dunia entertaiment ditanggapi beragam, namanya banyak menghiasi tayangan infotainment dan media cetak, apalagi ia kembali sebagai sosok yang berbeda yang berani beradegan panas dalam film perdananya. Hari itu adalah konfrensi pers yang digelar setelah hari pertama pemutaran film yang dibintangi Kirey yang berjudul ‘Sundel Bolong Striptease’.

    “Mbak Kirey…apa yang membuat Mbak memutuskan kembali ke dunia entertainment dan berani beradegan panas dalam fillm pertama Mbak?” tanya seorang wartawan infotainment.

    “Pertama-tama saya berterima kasih dulu untuk Bapak Raam, Manoj, dan Dhamoo Punjabi, yang telah mengajak saya bergabung dalam film ini” jawab Kirey tersenyum manis melalui mick di meja panel sambil menatap kepada ketiga pria yang duduk di meja yang sama, “mengenai pertanyaan ini…saya menyukai tantangan, dan saya ingin mencoba sesuatu yang baru, untuk itu saya harus bekerja dengan profesional sesuai tuntutan skenario. Menurut saya adegan itu masih dalam batas kewajaran dan sudah melalui proses editing dan sensor oleh yang berwenang.”

    “Miss Brooke, what is your impression about your first appearance in Indonesia?” tanya wartawan lain yang ditujukan pada seorang wanita cantik berambut pirang yang duduk di sebelah Kirey.

    Wanita bule itu tidak lain adalah Ashlyn Brooke, seorang bintang porno asal Amerika yang turut bermain dalam film tersebut. Meskipun hanya muncul kurang dari setengah film, penampilannya di samping kembalinya Kirey dengan adegan panasnya lah yang menjadi daya tarik film yang sebenarnya ceritanya biasa-biasa saja itu.

    “Well…” Ashlyn mengembangkan senyumnya yang manis, “I think Indonesia is beautiful country and the people are so friendly. It is a wonderful experience in my career to take a part in a movie here”

    Sementara di tempat lain juga sedang terjadi demonstrasi yang dilakukan ormas-ormas radikal yang menentang peredaran film yang mereka anggap tak bermoral tersebut. Namun tingkah laku kampungan mereka justru yang mengundang rasa penasaran orang untuk menontonnya sehingga justru semakin mereka berteriak, penonton justru semakin melonjak.

    ##############################

    Malam harinya

    Di sebuah ruangan sebuah rumah mewah

    Sebuah pesta pribadi sedang di gelar di rumah itu, semakin malam pesta menjadi semakin liar hingga akhirnya menjadi sebuah pesta seks. Para wanita dan pria yang berjumlah sekitar 20an orang berbaur menjadi satu, mereka mulai mabuk oleh pengaruh alkohol, beberapa orang sudah masuk ke kamar dan melakukan hubungan seks, yang lain ada yang masih mengobrol di sudut ruangan. Di sebuah sofa panjang yang disusun membentuk setengah lingkaran nampak duduk tiga orang pria India yang masing-masing sedang dilayani seorang wanita. Mereka menikmati pelayanan pasangan masing-masing sambil mengobrol dengan bahasa mereka sehingga para wanita itu tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ceritamaya

    (terjemahan bahasa Indonesia)

    “Hehehe…ide yang hebat, memunculkan lagi artis lama dengan imej yang berbeda walau caranya sedikit maksa” kata Raam, yang penisnya tengah dioral oleh Deby Ayu, sang pemeran utama di film tersebut, pada Manoj, saudaranya.

    Mata pria setengah baya itu merem melek karena permainan lidah Deby yang begitu membuainya ke alam kenikmatan.

    “Si Idrus memang kerjanya rapi, berkat dia pelacur di bawah ini akhirnya bisa diajak ikut proyek kita” kata Manoj yang sedang dioral Kirey, tangan pria itu menjulur ke bawah meremas-remas payudara artis cantik itu.

    “Artis lama yang kembali ditambah bintang bokep Hollywood, memang daya tarik yang luar biasa”timpal Dhamoo yang sedang berbaring di sofa menikmati penisnya diurut oleh vagina Ashlyn yang ber-woman on top di atas selangkanganya.

    “Belum lagi para fanatik goblok itu, berkat mereka biaya promosi kita bisa dapet diskon gede-gedean hahaha” kata Manoj sambil tertawa.

    “Yah lagian mereka juga diam-diam suka kok sama film kaya gituan, periksa aja di hp atau komputer mereka” kata Dhamoo.

    “Ayo Kirey, naik ke sini cantik” Manoj menarik Kirey ke dekapannya dan dipangkunya.

    Tanpa disuruh Kirey meraih penis panjang pria itu dan memasukkannya ke vaginanya. Perlahan-lahan ia menurunkan tubuhnya sambil mendesah hingga penis pria itu terbenam seluruhnya ke liang surganya.

    Malam itu para produser, pemeran dan beberapa crew pemting beserta beberapa wanita panggilan kelas atas tenggelam dalam pesta liar merayakan kesuksesan film mereka yang mencapai jumlah penonton yang bisa dibilang fantastis dalam hari pertama saja. Film yang sebenarnya hanya menjual sensasi dan membodoh-bodohi masyarakat yang anehnya justru sedang digandrungi.

    By: Caligula 1985

  • Office Cutie 3: Gairah di Rumah Tua

    Office Cutie 3: Gairah di Rumah Tua


    87 views
    • Bacaan ini khusus untuk dewasa, bukan untuk bacaan anak di bawah umur.
    • Say no to rape & drug’s in the real world
    • Satu lagi ^ _ ^, dilarang meng-copy paste, dan menampilkan cerita ini ditempat lain selain di KBB, Telur Rebus n Arsipgue.
     *****************************

    Ceritamaya | Di pagi hari yang cerah ini, aku bersiul-siul dengan gembira, kugiring dan kuparkirkan kendaraan mewahku, motor bebek dukun berwarna merah keluaran berpuluh-puluh tahun yang silam. Di depan kaca spion, kurapikan rambutku dan kusisir dengan rapi, Ck Ckk. Ckkk, betapa tampannya aku ini, bibirku yang tebal selalu menebarkan senyuman yang ramah, mataku yang bulat besar begitu indah mempesona, apalagi jika Aku menatap bokong para gadis cantik yang berseliweran di hadapanku. Ahhhh…ssshhh oohhh….my office, my playground, my PALACE!! Sebuah senyuman mengembang di bibir seksiku, gimana rasanya jika aku menjadi atasan disini, pasti asik…

    “SELMYYY….kesini kamu!!“ aku berteriak memanggil seorang pegawai tua yang tergopoh-gopoh menghampiriku, ia menunduk ketakutan menatap lantai, kupandangi sosok kurus itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, ckk ckkk.. ckkkk…, begitu kotor, dekil, tak terawat.

    “KAMU TUH BEGO YA?? Muka saya ini ada di sini, bukan di bawah kaki kamu, liat ke sini…! Coba kamu jawab yang benar, dimana muka saya??“ kubentak pegawai tuaku yang tidak berguna itu.
    “Di pantat Pakkkkk….. !!!“ Selmy menatapku, ia menjawabku dengan mimik wajahnya yang meyakinkan.
    “HAHHH………??? “ Aku tersentak panik ketika mendengar jawaban SELMY pegawai tuaku, dengan reflek tanganku meraba-raba pantatku yang sekal, tiba-tiba…
    “BLETAKKKK ! HEU….DUHHHHHH……… Ehh Ibuu…??!! “ kepalaku terdorong keras ke belakang  ketika sebuah getokan keras yang berasal dari sebuah payung mampir di jidatku. Aku gelagapan ketika khayalan tiba-tiba saja berubah menjadi kenyataan, di hadapanku berdiri sesosok tubuh kurus dengan wajahnya yang keriput, matanya mendelik tidak kalah besar dengan mataku yang membeliak karena terkejut, sementara tangan kirinya memegangi sebuah payung berwarna biru muda yang sebelumnya dipakai untuk mengembalikan kesadaranku, dengan suara kerasnya. (BLETAKKKKK!!!)
    “Kamu nggak denger saya teriak-teriak dari tadi HAHHH….!! Dipanggil-panggil MALAH CENGENGESAN NGGAK PUGUH!!“
    Aku terbata-bata ketika seorang wanita tua keriput menimpukiku dengan suaranya yang melengking-lengking, nafas Bu Selmy ngos-ngosan karena nafsu amarah yang memuncak sampai keubun-ubun.
    “Panggil Shasha sama Vania, suruh mereka keruangan saya, CEPATT…!! nggak pake lama….!! ”
    “Saaa….saya Buuu?? (waduhhhh, apakah aku bakal di foursome bareng sama bu Selmy ?? NGEHEKKKK…!!NOOOO….!!)“ Mata-ku membesar indah, aku yang rajin dan teliti mencoba memastikan perintah bu Selmy, telingaku kembali terasa sakit ketika  mendengar suaranya yang melengking tinggi.
    “YA IYA-LAH KAMUU….!! EMANGNYA SAYA YANG NAMANYA UJANGG…!!?? BLAMMMMM!!!!” Bu Selmy membanting pintu mobilnya kemudian dengan sigap si penyihir tua memarkir mobil mewahnya. DIITTTT…. Diiiiittttt!! suara klakson mobil Bu Selmy membuatku setengah berlari, aku segera melaksanakan perintahnya menjemput Nona Shasha yang cantik.

    Ceritamaya

    “Tokkk.. Tokkkk…  “
    “Yaa, Masukkk….” terdengar suara merdu Non Shasha, aku segera menerobos masuk, kututup pintu di belakangku, aku menatap wajahnya yang cantik, tubuh mulusnya tampak begitu seksi, aku lupa diri menyaksikan keindahan sepasang paha mulusnya. Kuraih tubuh mulus Non Shasha yang kelabakan menahan nafsu birahiku, kulumat dan kukecupi bibirnya yang mungil, kuemut dan terus kuemut hingga tubuh mulusnya. Ia gemetar menahan nafsu birahi yang mulai membakarnya, Nona Shasha menarik bibirnya untuk mengambil nafas, wajahnya merona merah ketika aku menatap wajahnya, untuk sesaat kami hanya berdiri berpelukan, saling memandang satu sama lain.
    Kukecup lembut bibirnya kemudian kudorong tubuh mulusnya duduk di pinggiran meja, kedua pahanya yang mulus mengangkang ketika kurogohkan tanganku masuk kedalam rok mininya, aku tersenyum karena Non Shasha mulai menuruti permintaanku, hari ini ia mulai tidak mengenakan celana dalamnya, kucelupkan jari telunjukku hingga amblas terbenam, digigit belahan vaginanya. Kutusuki belahan sempit di selangkangannya hingga ia menggeliat keenakan, tengah asik-asiknya aku mengeluar-masukkan jariku tiba-tiba aku mengingat perintah Bu Selmy….
    “Non Ehmmmm…itu Nonnnnnn…, Euuuuuuu, tadi Bu Selmy manggil Non Shasha sama Non Vania” aku berbisik di dekat telinganya tanpa menghentikan gerakan jariku yang semakin aktif menusuk-nusuk belahan vaginanya.
    “Ahhh Ahhhh.. Ahhhh… Hahhhh…?? !! Aduh ujang….!!, Kenapa nggak bilang dari tadi, minggir ah..!! Duhhhh KAMU…!!” Non Shasha yang tengah sibuk menikmati gerakan-gerakan jari telunjukku tiba-tiba tersentak kaget, suara-suara ah dan ah-nya mendadak lenyap, dengan gemas dijewernya kupingku hingga aku mengaduh kesakitan, ditepiskannya tanganku hingga jariku terpelanting dari jepitan bibir vaginanya.
    Nona Shasha segera merapikan roknya. Setelah menyambar sebuah map di atas meja, ia meninggalkanku yang masih horny menatap punggungnya yang menjauh, cegluk, cegluk, berkali-kali aku menelan ludahku, kuusap-usap kupingku yang terasa sakit, biar sakit namun hatiku terasa begitu gembira., seperti orang yang sedang jatuh cinta, I love U Non Shasha. Cintaku, sarung penisku.
    “Hnnnhhhhhhhhhhhhhhhh…“ Aku menghela nafas panjang-panjang untuk meredakan nafsu birahiku, dengan langkah gontai aku mengekori langkah Non Shasha
    Aku menolehkan wajahku ketika mendengar suara langkah-langkah kecil yang terburu-buru. Ahhhh, Vaniaku  berlari-lari kecil , pikiran kotorku tiba-tiba meledak dengan keras. Hmmmm, apakah Vaniaku yang cantik juga tidak mengenakan celana dalam sesuai dengan permintaankuku??
    Aku membalikkan tubuhku kemudian berbelok ke arah dapur, Lohhhh, ngapain si Sarif bengong di sisi tangga.
    “Riiffff, Sariffff….,WOOOIIIII “ Aku berteriak keras untuk menyadarkannya
    “HEUUUUUH….!! GELO SIAHHH!!“ Sarif tersentak kemudian mengumpat kesal.
    “Lu kenapa Rifffff ?? “ Aku bertanya padanya.
    “Jangggg, Sini…tadi gua ngeliat itunya Non Vania, pas dia turun tangga, nggak sengaja gua nengok ke atas, gua  ngeliat MEMEKNYA…, gila Jangg, Gua sampe shock!!“ Sarif menarikku, kemudian berbisik di telinggaku.
    “Ssssttt…jangan bilang siapa-siapa Rifff, bahaya tau!!“ aku berusaha melindungi kehormatan Non Vania.
    “Hahh ?? napa gitu ?? “
    “Bisa dipecat lu nanti, disangkanya lu udah berani kurang ajar , bertingkah mesum…..! melakukan pelecehan seksual…tidak senonoh!“
    “Oooooooo, Ehhh lu jangan bilang siapa-siapa ya Jang” bibir Sarif membentuk huruf O, kemudian ia berbisik dengan cemas
    “Iya Riff, tapi traktir gue makan siang ya“
    “Iya.., iya…., tapi awas lu…!! jaga bacot lu yang rada bawel itu.”
    “Beres Rifff, tenang aja, rahasia lu aman bersama UJANG…, he he he.” Aku memberikan janjiku sambil menepuk dada..
    *************************
    Hari Jumat, jam 19.01
     Aku menghampiri mobil Honda Jazz berwarna silver metalik yang menjemputku di depan rumah kostku dan masuk ke dalamnya. Aku duduk mengangkang di bangku belakang, permukaan celanaku menggembung, membengkak tanpa dapat kukendalikan. Nona Shasha menyetir di belakang kemudi sedangkan Nona Vania duduk di sebelahku, ekor mata Vania sering melirik ke arah selangkanganku, aku membuka resleting celanaku kemudian menarik batang penisku keluar, kuraih tubuh mungil Vania dan kupangku di pangkuanku.
    “Ihhhh., Ujangg norakk…!! ntar ada yang liat……., Ujangg”
    “Ahhh kalemmm aja Nonn, sepi iniiii.”
    “UJANGGG…ada pengamenn….!! Ada anak kecil!” Nona Vania tampak khawatir ketika aku memamerkan batang penisku, seorang pengamen cilik mendekati mobil kami, dengan liar kucumbui batang leher Non Vania hingga ia merintih lirih.
    “Hahhh??“ pengamen cilik itu terkejut setengah mati menyaksikan-ku yang tengah memangku Nona Vania, tanganku  masuk ke dalam rok mininya, cup.., cupphhh, ciumanku mendarat di leher, rahang dan pipinya, kemudian kulumat bibir mungilnya dengan bernafsu.
    “Ehhhhh….,Emmm.., jangan bilang siapa-siapa ya…^_^ ” Non Shasha tersenyum ramah sambil memberikan uang 10 ribuan, pengamen cilik itu terus menengok ke belakang, sebentar menatap Nona Shasha yang tersenyum ramah, kemudian kembali menengok lagi ke belakang.
    “UJANGGG…!! Idihhhh….Euuuufffhhhh“ Nona Vania meronta dari pangkuanku ketika aku hendak berbuat lebih jauh, aku membiarkannya meloloskan diri, bukan karena aku rela melepaskan tubuh mungilnya yang mulus namun karena mobil yang kami tumpangi mulai memasuki kawasan yang agak ramai, jalanan mulai kembali sepi ketika mobil kami memasuki sebuah jalan kecil, agak berlumpur di daerah pedesaan.
    Sasha

    Sasha

    “Di mana ini Nonnn ?? “ sambil menengok kesana kemari aku bertanya pada Non Shasha.
    “Rumah ini baru disita sama bu Selmy karena pemiliknya nggak bisa bayar hutang..  “ Nona Vania menjelaskan secara singkat sambil keluar dari dalam mobil.
    “Yaaaa…, sebenarnya sich kami takut….waktu bu Selmy meminta kami untuk memeriksa rumah ini…, karena…itu kami ngajak kamu…Jang” Nona Shasha menjelaskan dengan singkat, aku buru – buru membuka pintu mobil. Setelah berada di luar kurenggangkang tubuhku kesana kemari untuk mengusir rasa pegal yang menyiksa selama perjalanan, hemm, suasana yang masih asri, masih banyak pohon-pohon besar ditepi jalan setapak menuju rumah tua itu…
    “Ujanggg.., Emmmm, kamu duluan gihhh….” Nona Vania dan Non Shasha mendorong punggungku,
    “Lohhhh… kenapa ?? Ehhhh… Uhhh…“Entah kenapa Aku tiba-tiba bergidik ngeri, mataku menelusuri jalan setapak menuju rumah tua besar yang menyeramkan, berkali-kali kepalaku menengok ke kanan dan kiri, gelap, seram, duh, batang penisku sampai berkedut karena ketakutan,akhirnya aku sampai juga di depan pintu rumah itu itu dengan tangan kanan kudorong pintu rumah tua itu, sementara tangan kiriku memegangi emergency lamp yang diberikan oleh Nona Shasha.
    “Krekeeettttt…..!!! “Bunyi pintu tua itu serasa menyayat telinggaku,
    “Hiiii… Hiiii hiiii Hiiii Hiiiii….!! “
    “ANJRITTT……!!“ aku berteriak keras, jantungku melompat keluar mendengar suara cekikikan yang mengerikan, tepat disebelah batang kemaluanku, sementara “Ujang junior” terjengkang tak sadarkan diri..
    “Awwwww!!“ Nona Shasha dan Nona Vaniapun menjerit dan melompat sangking kagetnya. Dengan terburu-buru tangan kananku merogoh Hpku yang mendadak berbunyi dengan nada dering alarm yang membuat bulu kuduk kami merinding.
    “UJANGGG…ngapain sihh pake nada kaya gitu!!“ Nona Vania mencubit punggungku dengan gemas.
    “Iya nihhhhhh…bikin kaget aja!!!” satu cubitan keras Non Shasha ikut mendarat di punggungku.
    “BEUUUUU……!! Bukan non Shasha sama Non Vania aja yang kaget..!! Saya juga kagettt!!” aku buru-buru mematikan suara Hp-ku yang membuat kami bertiga hampir lari terbirit-birit ketakutan, sementara suara angin yang berlari di antara pepohonan membuat suasana hatiku semakin tidak menentu, akhirnya kami bertiga memberanikan diri masuk ke dalam rumah tua itu (jangannnn dorong-doronggg Nonnn, aku juga tatut nehhhh, aku berteriak didalam hati), sebuah rumah tua di tengah kawasan perkebunan yang jauh dari keramaian, dengan korek api kunyalakan lampu cempor yang tergantung disudut ruangan.
    “WAhhhh…Nonnnn, koq kaya di warung remang-remang yahh suasananya, he he he he he…” Aku terkekeh sambil mematikan emergency lamp di tangan kiriku. Nona Vania dan Nona Shasha duduk saling bersebelahan di sebuah kursi sofa tua panjang.
    “kamu sering ya Jangg, ke tempat seperti itu ?? “ Nona Vania menatapku dengan tatapan mata curiga.
    “Enggakkkk, kan ada Non Vania sama Non Shasha yang lebih cantik dan bohay…., ngapain saya ke tempat seperti itu ??”
    “Dasarrr… , nggak usah ngerayu gitu dehhh, nggaku ajaa…, kamu sering kan ke tempat seperti itu??” Nona Shasha ikut mendesakku sambil menatapku dengan tatapan nakalnya.
    Vania

    Vania

    “Enggak Nonnn, Suerrrr….. “ Aku mengacungkan kedua tanganku keatas membentuk huruf V dan DHUARRRRR…..!!!, GLEKKK, CEGLUK!! aku segera menarik tanganku turun ketika tiba-tiba terdengar bunyi geledek yang memekakkan telinga (bibirku berkata tidak, tetapi hatiku menggakui segalanya). Suara angin bergemuruh, berlari kencang diantara pohon-pohon besar yang tumbuh dengan subur di sekeliling rumah tua itu.
    “WAhhhh…sepertinya bakal turun hujan deras ya??“ Nona Shasha bangkit dan melangkah ke dekat jendela, tangan mungilnya mendorong daun jendela hingga terbuka merekah ke samping, ia hanya mendesah pelan ketika aku memeluk tubuh seksinya dari belakang, satu persatu pakaian Nona Shasha mulai berjatuhan ke lantai hingga tubuh seksinya telanjang bulat tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya, kuremas induk payudaranya dengan gemas, hingga ia mengaduh kesakitan.
    “Ahhh… Ujangg pelan-pelan dong…..mmmhhh..mmmmnnn “ bibirnya yang mungil agak manyun, aku hanya terkekeh sambil menggerayangi dua gundukan bukit susunya yang semakin mengenyal, kusumpal bibirnya dengan bibirku untuk meredakan keluh kesahnya. Kupeluk dan kubelit tubuh mulusnya dengan erat, kudorong hingga ia duduk di tepian jendela, kedua kakinya yang halus mulus mengangkang lebar, seolah-olah memperlihatkan keelokan wilayah intimnya kepadaku yang sedang melotot sambil berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka lebar.
    “WAHHH….Nonnn…segerrrrrr…mulussss, hehehe“ kedua tanganku merayapi permukaan pahanya yang halus mulus,  sementara kepalaku mulai terbenam di selangkangannya.
    “aaaaaaaaa…. Ahhhhhh, aaaaaaaaaahhsss!!“ nafas Nona Shasha tersendat-sendat ketika aku mulai menarikan batang lidahku menggelitiki bibir vaginanya yang merekah, aroma harumnya yang semerbak membuatku semakin bergairah.
    “Slllccckkkk…,, Ckkkkkk.. Ckkkk Cpphhhh… Sllllccckkkkk” dengan tekun lidahku berkali-kali mengoreki belahan vaginanya yang mulai basah dilelehi cairan kewanitaannya yang gurih dan lezat.
    “uhhhh. ?!.. awwhhhhsss…. aaahhhh“ Nona Shasha semakin resah gelisah ketika ujung lidahku menusuki clitorisnya, kukaiti daging mungil itu hingga pemiliknya tersentak sambil mendesah dan merintih keenakan, kuciumi belahan vaginanya dengan rakus  sebelum kuemut kuat-kuat bibirnya
    “Aduhhh, jangannn… Nonnn saya maluu!!“ aku pura-pura malu ketika Non Shasha dan Non Vania melepaskan pakaianku, mereka hanya tertawa kecil ketika aku pura – pura ketakutan.
    “Ihh, Ujang, jangan begitu ah.., sebell!!”
    “Iya… Pura-pura nehhh, padahal aslinya nggak kaya gini…, buas dalam bercinta he he he he….”
    “WAHHHH…belajar dari mana Nonn?? koqq jadi pada jago nyepong sihh?“ aku memuji ketangkasan lidah dan mulut mereka yang mempermainkan batang kemaluanku.
    Kusodorkan batang penisku ke depan masuk kedalam rongga mulut Nona Shasha yang ternganga, HAPPPPPP….., mulutnya mencaplok kepala penisku, kedua pipinya tampak kempot ketika mengemut-ngemut kepala penisku, kutarik bahunya agar ia berdiri, kurendahkan batang penisku dan kutempelkan kepala penisku hingga menggesek belahan vaginanya, desahanku dan rintihan lirih Nona Shasha saling bersahutan ketika gesekan demi gesekan yang nikmat itu membuat kami semakin terlena jauh kealam birahi yang penuh dengan kenikmatan.
    “aaaaaaaaaaaa…. Ahhhhhhhh…. Bllllsshhhh“ kukait belahan vaginanya dengan batang penisku, dengan sedikit paksaan melesatlah penisku mengarungi lorong sempitnya yang terasa hangat dan nikmat,
    Lubang vagina Nona Shasha berdenyut – denyut, mengenyot dan memijati batang kemaluanku yang sedang asik berendam semakin dalam menusuk liang vaginanya yang peret. Dengan terengah Nona Shasha menengadahkan wajahnya menatap wajahku, kupandangi wajahnya yang cantik dan sensual, matanya tampak sayu, keringat-keringat lembut mulai membasuh tubuh mulusnya yang mengkilap indah dibawah pancaran sinar lampu cempor.
    “Ujanggggggghhhhhh…, enakkkkk…. Ohhhhhhhhh!!“ Nona Shasha menggeliat resah ketika aku mulai mengayunkan batang kemaluanku, merojok-rojok belahan nikmat di selangkangannya, sesekali penis besarku tertekuk ke kiri dan kanan sangking sempitnya belahan vaginanya yang sedang kusodok-sodok dengan penuh nafsu binatang yang semakin membara di dadaku, kedua tanganku mencapit pinggangnya yang ramping, tubuh mungilnya tampak kewalahan ketika aku semakin mempercepat irama sodokanku, sesekali tubuhnya bergetar hebat menahan rasa nikmat yang mendera vaginanya dan menyengat tubuh mungilnya yang putih mulus.
    “Awwwwwwwww…. Crrrtttt… rrrtttt… Crrrrrr” tiba-tiba saja tubuh mungil Non Shasha mengejang selama beberapa saat kemudian terkulai lemah sambil bersandar pada tubuhku, kupeluk erat-erat tubuhnya, ia baru saja dihajar rasa nikmat yang begitu kejam memeras tenaga dan keringatnya yang mengucur dengan deras.
    “Ujanggg…, jangan disitu.., aku nggak suka….” Nona Shasha protes ketika aku membalikkan tubuhnya dan berusaha mengait liang anusnya yang mengkerut ketakutan. Aku sama sekali tidak menghiraukan keluh kesahnya, dengan paksa aku membongkar lubang duburnya.
    “Auhhhhhh… Ngggghghhh…!! Pelannnhh.. Ohhhhh Pelannnnhhhh” tubuhnya terperanjat ketika dengan kasar kepala penisku menyusup masuk ke dalam jepitan lubang anusnya, ia kembali memekik keras ketika aku menghentakkan batang penisku,

    Baca Juga : OFFICE CUTIE 2: SELINGKUH? KUJEBOL PACARMU!

    Aku tersenyum merasakan batang besar panjang di selangkanganku tertancap kokoh di jepitan anus Non Shasha. Kutarik pinggulnya sambil menyodok-nyodokkan penisku menyodomi liang anusnya yang mungil, aku semakin bersemangat menyodomi Non Shasha ketika mendengar suara desahan nafasnya yang tersendat disertai rengekan-rengekan kecilnya yang terdengar semakin menggairahkan.
    “Vaa.. Vaniaaa..?? Ohhhhhh…mmhhh, Vania, jangan ahh, aduhh mmmhh… Vania sadarrr..Ohhhh Mmmmhh Mhhhhh“ Shasha tampak gugup ketika Vania memeluk tubuhnya sambil menggerayangi bulatan susunya,  bibir Vania melumat dan mengulum bibirnya. Untuk beberapa saat Shasha berusaha menolak perlakuan Vania, namun nikmatnya perlakuan Vania malah membuatnya seperti kehilangan kendali, ia memeluk tubuh Vania dan membalas melumat bibir mungil Vania, kuikuti tubuh Shasha yang merosot turun hingga meringkuk menungging diatas lantai kayu, kutarik kedua tangannya kebelakang, tubuhnya tersentak-sentak dengan kencang mengikuti irama sodokan-sodokan batang penisku yang semakin cepat dan kuat.
    “PLOKKK.. PLOKKK PLOKKKKK…..” terdengar suara persetubuhan yang semakin memanas ketika aku menunggangi tubuh mungil Nona Shasha dengan liar dan kasar, erangan dan rintihan kecilnya terdengar begitu merdu menggairahkan ditelinggaku. Kutusuk dan terus kutusukkan batang penisku menyodomi liang anusnya yang sempit dan kering.
    “Ahhhh… aaaaaa… Aooowwwwwww!!“ Nona Shasha melolong keras ketika aku menjejalkan seluruh batang kemaluanku ke dalam liang anusnya yang mulai memar kemerahan akibat dihajar olehku.
    “Ehmmm, Ujang…pelan-pelan dong, Oww…gggggakkkkkhhhaa….jangan kasar gitu auhhhh“ Nona Shasha mencoba merayuku di tengah suara nafasnya yang tersendat-sendat, aku terus menyodok-nyodokkan batang penisku merojoki liang anusnya tanpa pernah menghentikan gerakanku sedetikpun. Semakin keras ia mengeluh, semakin kuat pula kuhentakkan batang penisku menyodominya, sementara jariku terus mengucek-ngucek klitorisnya, Non Shasha hanya dapat meringis pasrah menghadapi serangan brutalku yang sedang menyodomi liang anusnya.
    “Awwww. Krrrttttt…….kkkkrrrtttttt… “kuku Nona Shasha mencakar-cakar lantai kayu itu, punggungnya berkali melengkung terangkat ke atas, tubuh mulusnya gemetar dengan hebat, ia seperti sedang menahan sesuatu yang akan meledak dengan nikmat di dalam vaginanya, terdengar suara erangan kerasnya yang menggairahkan, di sela-sela desah nafasnya yang tersendat-sendat.
    Cuurrrrttttttt crrrutttttt…….., tubuh Nona Shasha mengejang ketika aku membenamkan batang penisku dalam-dalam, telapak tanganku segera membuka ke atas menampung cairan vaginanya yang meleleh, kusekakan cairan vaginanya merata pada buah pantat Nona Shasha yang bulat padat, aroma cairan vagina non Shasha tercium yang kuat di udara membuatku semakin terlena menusuki liang anusnya yang tersungkur-sungkur mengikuti irama sodokan-sodokan kuatku, PLAKK..!! PLAKKK…!! PLAKKK…..!! buah pantat Non Shasha yang bulat padat terguncang dihantam oleh selangkanganku.
    “Plophhhhh” terdengar suara letupan keras ketika aku mencabut penisku dari jepitan anus Non Shasha kemudian kupukuli buah pantatnya seperti sedang bermain drum. Non Shasha menarik pinggulnya ketika jari telunjukku menyentuh lingkaran otot anusnya yang memar merekah, kutundukkan kepalaku dan kuciumi dubur Non Shasha yang sudah teruji kelayakannya dalam memberikan kenikmatan, liang anus yang mungil sempit.
    “UJANG!“ aku menolehkan kepalaku ke arah suara Non Vania yang mendesah memanggilku, ia duduk bersandar santai mengangkang di atas kursi sofa tua itu, kemolekan selangkangan Non Vania seakan menghipnotisku yang merangkak mengejar wilayah intimnya.
    “ahhhhhh…., UJANGhhhhhhhnn!!” kedua tangan Non Vania mendekap dan membelai kepalaku yang terbenam di selangkangannya, kuhirup aroma vaginanya yang segar, kujulurkan lidahku mengulas-ngulas belahan vaginanya yang berwarna pink.
    “Eummm, slllccckkk.. ckkk mmm ckkk, itu Nonn,umm siapa nama pegawai baru, yang bule itu nyammmm.. mmmmm.. yang baru lulus kuliah itu lohhh…muahhh” sambil menikmati hidangan vagina Non Vania aku mencoba mengumpulkan informasi “daging segar impor”..
    “Hati-hati JANG, ituuu…, ohhhh…., bias habis nanti kaa..mhuuhh hhhsss, dia ahli bela dir” Non Vania berusaha mengingatkanku.
    “Wahhh,kalau soal bela diri saya juga hebat loh Nonn…., pokoknya Ujang mah nggak ada lawannya dehhhhh, He he he duhhhh memek!” kuemut bibir vagina nona Vania dan kugigit kecil hingga ia terperanjat dan menjewer kupingku, aku bangkit berdiri sambil menyodorkan permen loli besar di selangkanganku.
    “he he he.., ihhh Ujangggggg….. “
    Non Vania menggeser posisinya diraihnya batang penisku, jemari tangannya yang lentik mengelus-ngelus buah terong besar panjang yang menghiasai selangkanganku kemudian cuppp.. cupppp.. cupppp.., berkali-kali ciumannya mendarat di kantung pelir, batang dan dikepala penisku, lidahnya yang basah dan hangat menari-nari melingkari permen loli kesukaannya, dihisap dan diemutnya kuat-kuat kepala penisku hingga bibirku yang tebal termanyun-manyun keenakan, bola mataku mendelik ketika Non Shasha ikut mengeroyok batang penisku, kedua tanganku membelai kepala dua orang gadis Chinese bertubuh mungil putih mulus tengah asik menservice batang kontolku. Nona Vania mengangkangkan sepasang paha mulusnya kesamping, kutatap dalam-dalam matanya yang sayu, sepasang mata yang haus akan kenikmatan, sepasang mata sipit yang mengharapkan kenikmatan dariku. Kuletakkan kepala penisku pada belahan vaginanyakemudian kucokel-cokel belahan vaginanya dengan kepala penisku, slopp…slopppp….slllloooppphh…
    “Ujanggg.., jangan digituin ah….aaaa”
    “Abis digimanain dong Non??“
    “Ya, dimasukin dong ahh, pake nanya lagi he he he” Nona Vania mencubit lenganku yang sedang menggerayangi payudaranya.
    “bener nihhh pengen dimasukin??“aku menggodanya
    “He eh” ia menjawab sambil mengangguk kecil, Vaniaku yang cantik tersenyum manis menatapku.
    “Yaa udahhh kalau Non Vania maksa, saya cuma bisa menuruti keinginan Non Vania…tahan dikit nonnnn, titit saya juga pengen masuk ke dalam liang memek Non Vania yang peret… he he he….”
    “Nnnngggghhhhh…Nnnnnnhhh…ooohhhhhhh!!” berkali-kali  tubuh mungil Vaniaku yang cantik menggelinjang dan menggigil hebat menahan desakan kepala penisku yang berusaha merojok vaginanya, mata sipitnya terpejam rapat-rapat, keningnya mengkerut membentuk angka “11”, sedangkan mulutnya membentuk angka O besar disertai desahan panjangnya yang terhembus keluar ketika batang penisku menerobos membelah belahan liang vaginanya yang mungil, nafasnya terengah-engah seperti sedang berlari dipacu oleh nafsu birahi yang menggelora, butiran keringat mulai mengucur dengan deras di lehernya.
    “Uhhhhhh…. Hsssshhhhh… ujaann..nnnggghhhh “ tubuh mungil Vagina menggeliat resah ketika batang penisku tertancap dengan semakin sempurna di jepitan vaginanya.
    “Gimana Nonnnn? nggak sakitkan?? rasanya cuma seperti digigit semut aja koqqq” kedua tanganku mencapit pinggangnya.
    “semutnya.., ehhh semuttt ahhhhhhhhh“ Nona Vania gelagapan ketika aku mulai mengayunkan batang penisku dengan gerakan yang liar dan brutal, sementara Nona Shasha memeluk tubuhku dari belakang, sebuah bisikan-bisikan  mesum dibisikkannya ketelinggaku.
    “Terus ujang, terussss, ewe Vania, iya betul, entot terus Jangg sampai kamu puas, gimana rasanya jangggg, enak ya rasa memek Amoy… hmmmmmm? ohhh UJANGGG… kamu kuat bangeeetttt..sichhhh cupp cuppp…, cupph” Nona Shasha menciumi pundakku, aku semakin liar mengayunkan batang penisku ketika mendengarkan desahan-desahan mesum Nona Shasha.
    “Ahhhh… Aaaaaaaaaa…sebentarrrrhhh ahhhh Ujjnnanggghhhh” Nona Vania kewalahan menerima sodokan-sodokan liarku, bibirnya menceracau tidak karuan, aku bertambah nafsu merojoki vaginanya ketika mendengar rengekan-rengekan kecilnya, kupompa hingga ia terguncang hebat dan mengejang, Crrruuuu… crrrrrrrrrrttttt…penisku disiram oleh cairan vaginanya yang terasa panas nikmat, kuaduki vaginanya perlahan-lahan, kuusap keringat yang mengucur deras didahinya, kutundukkan wajahku merapat kewajahnya, bibirku mengecupi bibir mungilnya yang termegap – megap berusaha mengambil nafas-nafas panjang.
    Kubalikkan tubuhnya menungging, kutekankan punggungnya hingga susunya tertekan di bangku sofa, kutarik bokongnya ke atas, kutekan buah pantatnya bagaikan seorang pedagang yang tengah membelah buah duren, kutempelkan kepala penisku di pintu kenikmatan anal sex, terdengar lenguhan panjang ketka perlahan-lahan kepala penisku mulai terbenam kedalam anus Nona Vania.
    “Unnnhhhhh…Ujangggggg… aaaaaaaaaaa!!“ Nona Vania mendorongkan tangan kirinya kebelakang, berusaha menahan gerakan penisku, kutarik kedua tangannya ke belakang sambil menghentakkan batang penisku dengan sekuat-kuatnya.
    “aaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrhhhhhhhhh…………………. “ gejolak nafsuku semakin meledak-ledak ketika punggung Nona Vania melengkung ke atas disertai suara erangan kerasnya yang merdu, jantungku serasa berhenti berdetak ketika penisku melesat menyodomi duburnya.
    “ahhhhh haaaahhhhkkkk…owwwww…owwwww…..awww…aaakkk” kutunggangi anus Vania dengan penisku, kenikmatan itu seperti asik memeras keringat ditubuhku dan tubuhnya yang semakin basah kuyup oleh butiran keringat yang mengucur deras, mengguyur tubuhku dan tubuh mulusnya yang terayun dan tersentak disodomi oleh batang penisku.
    “he he he., gimana non.., asik nggak ?? “ aku bertanya  sambil menggenjot-genjotkan batang penisku merojok liang anus Vania, hanya erangannyalah yang kudengar, ia terlalu sibuk menahan serangan liarku.
    “ahhhhhhhh… aaaaaaaaaaa….Crrrrrrrr….” kujambak dan kutarik rambut Non Vania ke belakang sambil menyentakkan penisku dalam-dalam, kujilati belakang telinganya yang tengah menggigil mencapai puncak klimaks, sementara batang penisku tetap terayun dengan kuat.
    “DHUARRRr….!! EHAKKK CROOTTT.. KECROOTTTT…..” Suara geledek yang sangat keras membuat-ku kehilangan kendali, mataku mendelik ketika kepala penisku “mengucapkan sumpah serapah” disertai muncratnya spermaku menyiram liang anusnya, nafasku bersahutan dengan nafasnya.
    “Sialan….bikin kaget aja! Tolong Non“ Aku menyodorkan batang penisku yang sempat kaget dan pingsan kehadapan Nona Shasha, ia tertawa sambil menarik batang penisku.
    “He hehe. duhhh kaciannnn…kaget yaaaaa??“ dengan penuh kasih sayang Nona Shasha membelai-belai batang penisku, dielus, dijilat dan dibelainya hingga penisku kembali berdiri dengan tegak perkasa, cuphh, satu kecupan kecilnya mampir di kepala penisku, lidahnya membelit melingkari kepala kemaluanku, mulutnya terbuka lebar menganga kemudian mencaplok kontolku, kubiarkan Nona Shasha bermain dengan batang kemaluanku yang semakin mengeras.
    “Ujanggggg…aku di atas ya??“ Nona Shasha meminta agar aku terlentang di atas lantai kayu.
    “Hemmmm?? Tapiii harus yang liar ya Nonnnnn!!“ aku bernegosiasi dengannnya.
    “yeeee…, pake nawa segala, emangnya dipasar ?? “ Nona Shasha merangkak menaiki tubuhku yang tinggi besar seksi hitam legam, sungguh cocok jika aku yang “ganteng” ini bersanding dengan Nona Shasha yang cantik bertubuh mungil putih dan mulus, kedua tanganku mendekap pinggulnya, aku tersenyum ketika ia menarik penisku, kemudian diletakkannya kepala penisku di tengah-tengah rekahan bibir vaginanya, ada rasa geli yang menggelitik ketika kepala penisku mengulas belahan vaginanya, plesetttt…kepala penisku terpeleset ketika ia berusaha memasukkan batang penisku.
    “Mau dibantuin Nonnn ??”
    “Nggak…nggakkk usahhh….hampir masukkk…emmmmhh!” mata sipit Non Shasha membeliak lebar ketika aku menyentakkan batang penisku ke atas, tubuh mungilnya menggeliat indah, kedua tangannya bertumpu di dadaku, nafasnya tersendat-sendat ketika kedua tanganku menarik pinggulnya untuk turun dan duduk di kursi kenikmatan di selangkanganku. Aku menatap wajahnya yang merona merah, untuk beberapa saat kami berdua hanya diam saling berpandangan, tanganku mengusap-ngusap pinggangnya yang ramping.
    “Ayoo Nonnn…tolong perkosa saya…he he he”
    “begini ya janggg…cara merkosa kamu ?? hemmm“ Nona Shasha tertawa kecil sambil menekan kedua bahuku, kemudian ia mulai menaik turunkan pinggulnya.
    “Lebihh cepat Nonnnn!!”
    “Ini juga udah cepat janggg….mmmhhh Hssshhhh…aaaahhhhh.. crrrr crrrtttttt” belum begitu lama Nona Shasha menaik-turunkan pinggulnya tiba-tiba ia menjerit kecil, Shashaku yang seksi mencapai klimaks, aku mendekap tubuh mungilnya yang terkulai lemas, kupeluk erat tubuh mungilnya yang mulus, basah dan hangat.
    “waduhhhh, padahal memek Non Shasha  baru turun naek sebentar, masa udah meledak lagi he he he” aku mengusap punggungnya yang berkeringat.
    “Titit kamu kegedean sich Janggg…enakkk” Nona Shasha menggakui kekalahannya, telapak tangannya membelai pipiku dengan lembut, kuraih tangannya yang sedang mengelus pipiku kemudian kekecup tangannya dengan mesra, kedua tanganku merayap semakin turun, kutekan-tekan bokongnya sambil menyentak-nyentakkan batang penisku keatas, kusodoki vaginanya dengan gerakan-gerakan yang kuat dan teratur, kedua kakiku mengangkang menerima kehadiran tubuh mungil Nona Shasha yang terlungkup tanpa daya merintih diatas tubuh hitamku, hingga ia akhirnya kembali memekik kecil ketika batang penisku membuat cairan vaginanya meledak – ledak dengan nikmat. Vania merangkak dan berlutut di sisi kananku,
    “Shaaaaa… geser dongggg…aku mauuuu!!” Nona Vania merengek agak Non Shasha turun dari atas tubuhku.
    “Nggak bolehhhh…, he he he“ Nona Shasha menggoda Non Vania. Ia mengeluh ketika Vania mencubit pinggulnya yang sedang bergeser dari atas selangkanganku, Non Shasha memeluk tubuhku dari sebelah kiri, kepalanya bersandar di dadaku, sementara tanganku membelit memeluk tubuhnya yang mulus.
    “nnnggggghhhhh.. mmmmppppphhhh…aaaaaaaaaaaahhhhhh!!” Nona Vania menggigit bibir bawahnya ketika kepala penisku bersusah payah menyelam ke dalam belahan vaginanya yang mungil sempit. Ia tampak menderita ketika perlahan-lahan kepala penisku membongkar belahan sempit di selangkangannya.
    “Auhhhh.. uhhhhhhh……” tubuh Nona Vania tersentak-sentak ke atas ketika aku menyentakkan batang penisku berkali-kali kusodokkan penisku merojok-rojok belahan vaginanya. Nona Vania berusaha melawan sodokanku dengan memutar dan menghempaskan vaginanya ke bawah.
    “Clepppp… cleppppp…. Cleppppp…. Nahhh ini baru benarrrr, hehehe, Non Shasha harus belajar dari Non Vania…Weissshhhtttt!“ aku kagum dengan kelihaian Non Vania, ia begitu liar menaik turunkan pinggulnya, jeritan-jeritan liarnya terdengar menggairahkan. Seiring dengan hempasan-hempasan vaginanya mendesak selangkanganku.
    “Ahhhhhh!! Ahhhhhhh!!, ewe akuuuu, ohhhh terusss, entotttt!! Terus UJANGGG…terusssssss….yaaaaa…. UJANGG seperti ithuuu Ohhhh.., nikmatnyaa!!” jeritan-jeritan Vania semakin keras, ia memekik histeris ketika vaginanya disodoki oleh penisku.
    “Woww!! Vania!“ Non Shasha berlutut di sisi Vania, ia bengong menatap  Vania yang begitu liar dan binal.
    “Shaaaa…peluk akuu Shaaaa… pelukkkk!!” Nona Vania berusaha memeluk tubuh Non Shasha yang tampak risih ketika berpelukan dengan Nona Vania yang tengah diamuk nafsu birahi.
    “Ehhhh…, iniii…ehhh aduhhh mmmhppphhhh” bibir Nona Vania mengulum bibir Non Shasha, tangan kirinya membelit tubuh mulus Non Shasha sementara tangan kanan Vania menggerayangi lekuk liku tubuh Non Shasha yang molek.
    “Hmmmmm…Ckkkk…mmmmmhhh Vaniaaaa mmmmmpp.. ckk ckk “Non Shasha mulai membalas melumat bibir Vania, suara decakan-decakan mulai berkumandang dengan semakin keras ketika bibir mereka saling berpangutan.
    “Jrebbb…Blessssshhh…bluesssshh jrebbbbb…cleppp” kuladeni hempasan-hempasan vagina Vania dengan merojokkan batang penisku kuat-kuat ke atas, kuhantam dan terus kuhantam liang sempit di selangkangannya.
    “Owwwww…..Crrrrtttt!!” gerakan-gerakan liar Vania tiba-tiba berhenti, kepalanya bersandar di bahu Shasha, kedua gadis cantik bermata sipit itu saling berpelukan dengan mesra, Shasha memeluk tubuh Vania yang terkulai dan meringis lemah.
    “UJANGG…pelan-pelann dong, kasihan Vania ihh!!” Nona Shasha memintaku memperlembut irama sodokan-sodokanku.
    “Nnggg.. hakkss nggak apa Shaaaaa…nggak apa… ohhhh!!” Nona Vania memberikan lampu hijau untukku, aku tersenyum sambil menghentakkan penisku ke atas kuat-kuat.
    “JROSSSHHHH….JREBBBBBB…JREBBBBBBBBBB….ooww!!” Nona Vania melolong liar ketika penisku menyodoki vaginanya dengan kasar, kulesatkan dan kupanah memek sempitnya dengan penisku yang masih mengacung perkasa tanpa mempedulikan lolongan-lolongan liar Non Vania.
    Bergantian mereka menunggangi batang penisku yang memacu mereka hingga bergantian mencapai puncak klimaks, bahkan kini Nona Vania menjejalkan vaginanya ke mulutku, kucaplok vaginanya dan kulahap selangkangannya.
    “Unnnhhhh…crrrr…crrrrr….” Nona Vania meledakkan cairan kewanitaannya cairan gurih itu meleleh ke dalam mulutku, kuseruput dan kutelan cairan gurih penambah tenaga itu, setelah berhasil menguasai diri Nona Vania meggeser tubuhnya ia berbaring di pelukanku sebelah kanan, kedua matanya terpejam rapat, bibir mungilnya tersenyum puas.

    Ceritamaya

    “aaaaaaaaa….crrrrrrrrr.. crrrrrrrrr” Nona Shasha ambruk menindihku, cairan vaginanya menyiram batang penisku, kupacu dan kurojokkan penisku kuat-kuat, kupacu vaginanya hingga tubuh mulusnya kelojotan menggeliat gelisah di atas tubuhku.
    “Crooottttt…kecrootttttt!!” spermaku meledak berkali-kali di dalam vagina Shasha, kedua tanganku memeluk erat-erat tubuh mulus kedua gadis cantik berwajah oriental itu yang sudah terlebih dahulu terkulai puas, aku berbaring di atas lantai kayu sambil memeluk erat-erat tubuh mungil mereka yang putih mulus tanpa cela, sesekali tangan kedua gadis bermata sipit itu mengelus dan menarik-narik batang penisku sambil tertawa nakal.
    (Hmmmmmm…, jadi cewe bule itu namanya…. )“ dalam hati kuukir nama seorang gadis cantik berambut pirang yang baru lulus kuliah dan bekerja diperusahaan XXXX tempatku mencari nafkah dan mencari kenikmatan ^_^, aku tersenyum sambil mengecupi kening Non Shasha dan Non Vania yang sudah  tertidur pulas, terlelap dalam pelukan nafsu liarku.
    Bunggg…bungg….bersambungggg…
    he he he, thank’s  for reading
    ^_^ , see u next episode….
  • Tamara Bleszynski’s Hidden Diary 2

    Tamara Bleszynski’s Hidden Diary 2


    65 views

    Ceritamaya | “Ohh.. ohhkh..” Tamara melenguh penuh nafsu. Tubuhnya yang telanjang bulat mengangkangi penis Pak Abdul yang terlentang di atas ranjang. Tamara menggerakkan pantatnya naik turun membuat penis Pak Abdul yang membenam di dalam vaginanya terkocok dengan hebat oleh vagina yang sudah basah itu sampai menimbulkan bunyi berdecak. Sementara Pak Abdul mengerang-erang merasakan nikmatnya jepitan vagina Tamara yang membetot penisnya kuat-kuat.
    “Ohh.. terus Tam.. Ayo.. terus.. Genjot terus..” terdengar Samy memberi semangat pada Tamara. Dia sendiri sibuk merekam adegan persetubuhan antara Tamara dengan penjaga villa yang sudah tua itu. Pak Abdul kemudian menarik tubuh Tamara sampai menempel dengan tubuhnya sendiri dan mendekap tubuh mulus yang telanjang bulat itu. Sambil bibirnya sibuk melumat bibir Tamara, penis Pak Abdul terus menyodok vagina artis cantik itu.
    Tidak puas dengan gaya itu, Pak Abdul lalu menyuruh Tamara untuk menungging dengan posisi merangkak. Pantat Tamara yang padat terlihat membulat dengan posisi semacam itu.

    “Ohh.. pantatnya Mbak Tamara montok banget nih..” Pak Abdul mengelus-elus pantat yang putih mulus itu dan meremasinya dengan gemas. Dia lalu mengarahkan penisnya kembali ke liang vagina majikannya yang seksi itu.
    “Ehhk.. ohh..” Tamara merintih saat penis Pak Abdul kembali melesak ke dalam liang vaginanya.
    “Ohh..” Pak Abdul mengejang dan mengerang tertahan. Lalu sambil mencengkeram pantat Tamara, Pak Abdul kembali menggerakkan pantatnya, membuat penisnya kembali menyodok vagina Tamara. Pak Abdul juga menggerakkan pantat Tamara maju mundur membuat penisnya makin gencar menyodok-nyodok vagina artis cantik itu. Gerakan Pak Abdul membuat tubuh Tamara tersentak-sentak maju mundur, payudaranya yang terkenal indah bergoyang-goyang menggemaskan mengikuti gerakan tubuhnya yang telanjang.
    “Ohh.. ohh.. ahh.. aahh..” Tamara mengerang dan merintih bagai orang gila. Wajahnya tampak kepayahan dan merah padam menahan desakan seksualnya yang kian menggebu. Selang sepuluh menit bersenggama, Tamara merasakan orgasmenya kembali meledak.
    “OHHKKH.. OHHGGH.. AHH.. AHH..” Tamara melenguh dan mengejang kuat sambil menggigit bibirnya. Orgasmenya meledak begitu dahsyat seolah meledakkan tubuhnya menjadi ribuan keping. Pak Abdul ikut tak tahan saat dia merasakan vagina Tamara yang berdenyut seperti meremas penisnya keras seperti cengkeraman seorang pegulat.
    “Ohhkh.. ohh..” Pak Abdul mengejang-ngejang merasakan kenikmatan yang mengaliri tubuhnya. Seketika spermanya menyembur mengisi rahim Tamara. Selama beberapa detik Pak Abdul menekan penisnya dalam-dalam di liang vagina Tamara untuk menuntaskan ejakulasinya.Keduanya lalu tergolek kelelahan di atas ranjang. Dengan nafas tersengal penuh kepuasan, Pak Abdul mencium bibir Tamara seperti mengucapkan terima kasih. Ini adalah kali kesepuluh Tamara melakukan hubungan seksual dengan kedua pria tersebut. Secara bergantian Samy dan Pak Abdul memaksa Tamara untuk bersenggama baik sendiri sendiri maupun bertiga sekaligus seolah-olah Tamara adalah seorang pelacur murahan. Sepanjang satu hari penuh Tamara terus menerus dipaksa melakukan hubungan seksual oleh keduanya, kadang-kadang mereka juga meminta Tamara menghibur keduanya dengan tarian bugil. Ceritamaya

    Menjelang tengah malam barulah Tamara diijinkan pulang. Tamara langsung terkapar di ranjang karena kelelahan. Seluruh enersinya seolah terserap habis setelah sehari semalam tubuhnya dijadikan sebagai pelampiasan nafsu seksual oleh mantan sopir dan penjaga villanya, yang jelas statusnya tidak sebanding dengan dirinya. Sepanjang malam Tamara dihantui mimpi buruk. Dalam mimpinya Tamara merasa Samy dan Pak Abdul mengejar-ngejar dirinya untuk kembali memaksanya melakukan hubungan seks.
    Tamara terbangun keesokan paginya dengan tubuh letih. Dia baru merasa segar setelah merendam diri dalam bak air hangat selama beberapa puluh menit. Selesai mandi, Tamara segera berdandan rapi lengkap dengan sapuan make up tipis. Hari ini dia ada jadwal untuk syuting iklan. Memakai kemeja warna hitam dan celana jeans biru agak ketat dan sepatu hitam tumit tinggi membuat kulitnya terlihat makin putih. Tamara baru saja melangkah beberapa meter dari kamarnya saat seseorang menegurnya.
    “Mbak Tamara..” tegur orang itu membuat Tamara sedikit terkejut.
    “Oh, kamu..” kata Tamara setelah tahu siapa yang menegurnya. Dia adalah satpamnya yang biasa berjaga di depan. Nama ‘Robert’ tertera pada baju seragamnya. Robert adalah pria kekar yang berasal dari Indonesia timur. Perawakannya hitam, tinggi dan tegap dengan wajah keras. Rambutnya pendek keriting dengan kumis melintang menghiasi wajahnya.
    “Ada apa Bob?” Tanya Tamara pendek. Tamara biasa memanggilnya Bob, kependekan dari Robert.
    Bob tidak segera menjawab. Dia justru terlihat gelisah, membuat Tamara merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
    “Ada apa?” Tamara kembali bertanya, kali ini nadanya cemas, mendadak dia juga ikut gelisah.
    “Eh.. ini.. ” Bob menyerahkan amplop yang sedari tadi digenggamnya. Tamara menerimanya dengan perasaan curiga. Pelan-pelan dibukanya amplop itu. Mendadak Tamara terdiam membeku seperti patung saat melihat isinya. Foto-foto mesranya dengan Mike Lewis kini seperti berpindah tangan.
    “Saya menemukan itu tercecer di lantai.” kata Robert datar, tapi ucapan itu membuat perut Tamara seolah terisi oleh timah berat. Sesuatu yang buruk melintas di benak Tamara.
    “Eh.. iya..” Tamara tergagap sesaat. “Te.. terima kasih Bob..” Tamara berujar gugup. Apalagi saat dia mendengar jawaban Robert.
    “Masa cuman terima kasih sih Mbak?” tanya Robert dengan tersenyum aneh, matanya berkilat-kilat saat mengucapkan hal itu.
    “Oh.. iya..” kata Tamara, dia lalu sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Tapi Robert menggeleng, menolak apapun yang akan dikeluarkan Tamara dari tasnya.
    “Saya nggak minta uang lho Mbak.” kata Robert kalem. Jantung Tamara seperti mencelos mendengarnya.
    “Maksud.. maksudmu..?” Tamara tergagap, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
    “Saya minta imbalan dari Mbak Tamara, tapi saya nggak mau uang.” kata Robert lancar seolah sudah melatih ini sejak lama. Hal itu membuat Tamara makin gelisah.
    “Kamu mau apa dari saya?” Tamara bertanya gelisah.
    “Oh, gampang Mbak..” Robert mulai menunjukkan aslinya. “Saya cuma minta Mbak Tamara mau saya ajak begituan juga.”

    Selama beberapa detik lamanya Tamara terdiam, tapi kemudian dia meledak.
    “Kamu gila!” Tamara meraung murka. Foto-foto yang ada di genggamannya dilemparkan ke wajah Robert. Tapi anehnya Robert tenang-tenang saja.
    “Kalau Mbak Tamara nggak mau juga nggak apa-apa.” ujar Robert santai sambil memunguti foto-foto yang berceceran di lantai. “Tapi kalau foto-foto ini jatuh ke tangan Mas Rafly, Mbak Tamara pasti berubah pikiran.” Seperti ada petir yang menyerempet tubuhnya, Tamara langsung terkesiap pucat. Tubuhnya mendadak gemetar.
    “Tidak mungkin..” Tamara menggeleng lemah. Sekujur tubuhnya terasa lemas seolah tulangnya terbuat dari karet. Dia merasa kehidupannya terlontar kembali ke beberapa hari yang lalu.
    “Gimana Mbak?” tanya Robert, membuat Tamara terbangun dari ketakutan yang mencengkeramnya.
    “Jangan Bob..” Tamara berkata lirih. “Jangan berikan foto-foto itu pada Rafly..”
    “Jadi Mbak setuju dengan syarat saya?” tanya Robert. Hal itu membuat Tamara kian panik. Tangannya meremas jari jemarinya sendiri, sementara keringat dingin makin deras membasahi tubuhnya. Tamara mendadak merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Bagaimana mungkin dirinya begitu ceroboh membiarkan ada foto yang tercecer. Tamara seolah jadi gila menghadapi semua ini. Dia sudah dipecundangi oleh orang-orang yang sama sekali tidak selevel dengannya.
    “Gimana Mbak?” tanya Robert setelah keheningan yang tercipta selama beberapa saat. Tamara tersentak gugup mendengarnya.
    “Baik Bob..” Tamara menjawab gemetar. Dia menunduk menghindari tatapan Robert yang seolah telah menelanjangi dirinya. “Saya mau, tapi kamu jangan persulit saya..” jawab Tamara setengah memohon.
    “He.. he.. he.. Beres itu Mbak.” Robert tertawa penuh kemenangan. “Kalau gitu tunggu apa lagi?” kata Robert lagi, dia lalu menggandeng Tamara dan menariknya ke dalam kamar.
    “Jangan sekarang Bob..” Tamara menolak saat Robert menariknya ke dalam kamar. “Saya harus syuting hari ini..”
    “Mbak Tamara telat sih nggak bakal dimarahi sutradara.” Robert berkata kalem sambil mengunci pintu, membuat Tamara tak bisa menjawab lagi. Selama beberapa saat lamanya Tamara hanya bisa berdiri mematung dengan tubuh gemetar. Campuran antara marah, muak, takut dan jengkel yang menjadi satu membuat nafas Tamara seolah menyumbat di tenggorokan.
    Sementara itu Robert berdiri di hadapannya menatap keindahan tubuh majikannya yang memang sangat indah. Tatapannya terpusat pada bagian dada Tamara yang menonjol di balik kemeja hitamnya.
    “Mendekat ke sini dong Mbak.” kata Robert sambil memberi isyarat dengan jarinya menyuruh Tamara mendekat. Dan tanpa menunggu Tamara mendekatinya, Robert langsung menarik tubuh Tamara ke dalam pelukannya yang kokoh. Dihimpitnya tubuh Tamara dengan lengannya yang kekar dan didekapkan ke tubuhnya sendiri. Dan tanpa peringatan sama sekali, Robert langsung mendaratkan ciuman yang paling ganas dan paling brutal pada bibir Tamara. Dilumatnya bibir seksi itu dengan sebuah kuluman kuat yang membuat bibir Tamara seolah-olah tersedot ke dalam bibirnya yang kasar. Tamara sampai membeliak dan meronta-ronta merasakan lumatan bibir Robert yang brutal, tapi lengan kekar Robert mendekap tubuh artis cantik itu dengan erat membuat Tamara tidak bisa bergerak sedikitpun. Selama beberapa menit Tamara terpaksa pasrah merelakan bibirnya dilumat habis-habisan oleh satpamnya itu. Selama berciuman Tamara juga merasa lidah Robert mendesak-desak mencoba menerobos ke dalam mulutnya. Dalam keadaan seperti itu Tamara pasrah dengan membiarkan lidah satpamnya tersebut meluncur ke dalam mulutnya. Maka dengan leluasa lidah Robert mengaduk-aduk rongga mulut Tamara, dibelitnya lidah Tamara dengan lidahnya sendiri selama beberapa menit. Tamara tanpa sadar akhirnya merespon permainan Robert, lidahnya membelit lidah si satpam dengan keganasan yang nyaris sama, dan keduanya terus menyatukan bibir mereka seolah tidak ingin dipisahkan.

    Sementara bibir dan lidahnya menyerbu bibir Tamara, tangan Robert juga bergerilya menikmati keindahan tubuh artis seksi itu. Tangannya yang kekar bergerilya menelusuri dan menggerayangi punggung Tamara, dan ketika sampai ke daerah pantat, tangan itu langsung mencengkeram bongkahan pantat wanita cantik itu dan meremasinya dengan penuh kegemasan.
    Puas menikmati bibir Tamara, Robert lalu menjambret kemeja artis cantik itu sehingga membuat Tamara menjerit kecil. Lalu tanpa merasa perlu membuka kancing kemeja Tamara, Robert langsung menarik kemeja itu dengan kekuatan yang sanggup mematahkan balok kayu, kancing kemeja Tamara langsung terburai menampakkan bagian dada dan perut yang putih mulus.
    “Nah. Mbak Tamara sudah nggak butuh baju ini.” kata Robert garang. Dia segera melolosi kemeja itu dari tubuh Tamara, lalu dengan keganasan yang sama, Robert segera membetot BH Tamara sampai BH itu jebol dan lepas dari tubuh Tamara. Sepasang payudara indah yang bulat dan padat segera mencuat telanjang di depan mata, seolah menunggu untuk dijamah, membuat birahi Robert menggelegak dengan cepat.
    “Ohh.. montoknya..” Robert meneguk ludah dan mendengus-dengus penuh nafsu menatap keindahan payudara Tamara yang telanjang. Bentuknya yang bulat dan padat membuat Robert tidak tahan lagi untuk segera menjamahnya. Dielus-elusnya payudara yang kenyal itu seolah ingin menaksir nilai keindahannya. Lalu dengan kekuatan mirip cengkeraman seekor gorila, Robert mulai meremas-remas payudara indah Tamara, membuat artis itu meringis antara sakit bercampur geli.
    Tidak cukup hanya dengan belaian dan remasan, Robert kemudian mulai mendaratkan ciuman dan jilatan pada kedua belah payudara Tamara membuat wanita cantik itu merinding merasakan sesuatu yang basah menari-nari di atas payudaranya.
    “Ohh.. ohhk.. nhh.. nhh.. ohhh..” Tamara mulai merintih-rintih merasakan rangsangan yang diberikan oleh satpamnya itu. Lidah Robert kemudian bergerak menjilati puting payudara Tamara dengan ganas. Disentil-sentilnya puting yang mulai mengeras itu dengan ujung lidahnya sambil sesekali digigiti menggunakan bibir, sementara tangan kekarnya juga tidak berhenti meremasi payudara indah itu.
    Dirangsang sedemikian gencarnya oleh Robert dengan permainan yang sangat lihai membuat birahi Tamara pelan tapi pasti mulai menggelegak. Robert melihat perubahan pada diri Tamara. Wanita cantik itu mulai megap-megap dan wajahnya merah padam menahan desakan nafsu yang membakar tubuhnya.
    Mendapat apa yang dicarinya, Robert membimbing Tamara menuju ranjang, lalu membaringkan tubuh Tamara yang setengah telanjang di sana. Kedua tangan Tamara diaturnya pada posisi di atas kepala sehingga dia bisa dengan leluasa menggeluti kembali sepasang payudara montok artis cantik itu. Payudara mulus itu diremasi, dijilati dan dikenyot dengan segala macam cara yang bisa dia lakukan.
    Kemudian Robert mulai mengarahkan tangannya ke bagian bawah. Dia mulai membuka kait celana jeans yang dipakai Tamara.

    “Jangan Bob..” Tamara berujar lirih saat Robert mulai memelorotkan celana jeans yang dia pakai. Tapi pengaruh rangsangan yang dialaminya membuat Tamara hanya bisa pasrah, maka dengan mudah Robert menarik celana jeans itu lepas dari tubuh Tamara, menyisakan selembar celana dalam putih tipis berenda nyaris transparan yang menutupi daerah kemaluan Tamara.
    “Ohh..” Robert tertegun sambil meneguk ludah melihat kemolekan dan kemulusan tubuh Tamara yang hanya tinggal mengenakan celana dalam. “Mulus.. ohh.. montok..” Robert menggumam tak jelas ketika mengelus-elus paha Tamara yang sehalus pualam, membuat Tamara merinding.
    “Kayaknya bakal lebih hot kalau..”
    Robert menjambret celana dalam Tamara lalu menarik celana dalam itu kuat-kuat. Diiringi suara kain robek, celana dalam Tamara langsung tercabik membuat pakaian terakhir yang melekat di tubuh mulus Tamara lepas. Kini artis cantik itu sudah sepenuhnya telanjang.
    “Ohh.. gila.. mulus banget..” Robert panas dingin menyaksikan wanita yang selama ini begitu ingin dia telanjangi sekarang sudah benar-benar telanjang bulat di hadapannya, begitu pasrah untuk diapakan saja. Tapi tampaknya Robert tidak mau terburu-buru dalam mengerjai Tamara. Robert mengangkangkan kaki kedua kaki Tamara membuat vagina artis seksi itu membuka lebar, maka dengan leluasa Robert mulai mengobok-obok daerah paling rahasia Tamara dengan tangannya. Dielus-elusnya dan diremasinya daerah kemaluan Tamara yang licin tak berbulu, membuat Tamara menggeliat dan mendesah nikmat. Desahan Tamara kian keras saat Robert memasukkan jari tangannya ke dalam liang vagina artis itu sambil mengaduk-aduk liang vagina itu dengan gerakan kasar.
    “Oohh.. ohh.. aahh.. ahh..” Tamara mengerang dan menggeliat tak terkendali merasakan rangsangan Robert yang mengaduk-aduk vaginanya. Tubuh Tamara langsung mengeras, tangannya mengepal mencengkeram seprai seolah akan merobek seprai itu.
    Mengetahui rangsangannya berhasil, Robert makin bersemangat. Dia makin gencar mengaduk-aduk dan mengocok vagina Tamara, apalagi ketika dia menyentuh klitoris Tamara yang membuat Wanita cantik itu kian tersiksa oleh desakan orgasmenya yang kian menggebu.
    “Ayo.. Jangan ditahan Mbak.. Keluarin aja.. Ayo..” Robert menyemangati Tamara sambik terus mengobok-obok vagina artis seksi itu, membuat Tamara makin tak tahan.
    “Nnhh.. ngghh.. oohggh.. ohh..” Tamara melenguh sambil menggigit bibir. Rangsangan Robert dirasakan kian hebat menyiksa sekujur syarafnya yang sudah menegang. Akhirnya Tamara menyerah pada libidonya yang kian meledak, tubuhnya kembali mengejang keras dan melengkung kaku sementara kakinya menyepak-nyepak tak terkendali.
    “OHHHKKH.. OHHH.. AAHH.. AAHH…!! Tamara mengerang keras, gelombang orgasme kembali menghantam seluruh syarafnya. Wajah Tamara memerah dan menegang seperti balon yang mau meledak. Selama beberapa detik tubuh mulus itu menggelepar-gelepar seperti terkena sengatan listrik, kemudian seperti balon bocor tubuh Tamara kembali melemas.
    “Ohh.. yeah..” Robert tersenyum penuh kemenangan. “Bagaimana Mbak..? Enak kan?” tanya Robert. Tamara diam saja, nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja lolos dari kejaran singa. Tamara merasa tubuhnya sangat letih sekaligus juga merasa amat puas. Dia tidak bisa membantah kalau dirinya memang mendapatkan kenikmatan orgasme yang gila-gilaan.

    “Sekarang gantian, Mbak Tamara yang puasin saya.” ujar Robert sambil melucuti pakaiannya sendiri. Sebentar saja satpam itu sudah bertelanjang di hadapan Tamara. Tubuhnya yang kekar tampak hitam legam. Ada bekas luka di dadanya yang bertato motif tribal. Tubuh Robert tampak begitu kuat dan kokoh. Tamara tertegun melihat penis Robert yang berdiri tegang. Begitu legam dan kokoh, ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan penis Samy membuat Tamara merinding.
    Robert lalu berlutut di depan Tamara yang terlentang pasrah. Ditariknya kedua kaki Tamara ke arah luar, membuat vagina Tamara terkuak. Kemudian dia menindih tubuh putih mulus itu. Tamara merasa udara di dalam tubuhnya terdesak keluar saat tubuh Robert yang tinggi besar itu menindih tubuhnya. Dirasakannya tangan Robert yang kekar mencengkeram pundaknya seolah menekan tubuhnya ke bawah. Tamara juga merasakan benda tumpul menggesek-gesek celah vaginanya berusaha masuk ke dalam liang vaginanya. Sementara Robert dengan nafas mendengus-dengus mendorong-dorong pantatnya, memaksa penisnya menerobos ke dalam vagina Tamara.
    “Ohhkk.. Ohh..” Tamara menjerit kesakitan saat penis Robert yang luar biasa besar membenam di dalam liang vaginanya. Tamara merasa seolah vaginanya terbakar dan terbelah ketika penis itu mendesak masuk. Meskipun vaginanya sudah basah oleh cairan orgasme, tapi karena ukuran penis Robert yang di luar batas membuat Tamara kesakitan. Tapi Robert tampaknya tidak peduli. Dia terus berusaha mendorongkan penisnya sampai terbenam ke dalam vagina Tamara.
    “Ohh.. Sempit banget..” Robert mengerang saat penisnya membenam seluruhnya di dalam liang vagina Tamara. Tamara merasakan bagian bawah perutnya seperti ditusuk oleh besi membara. Dia sampai meneteskan air mata menahan rasa sakit yang mendera daerah kemaluannya. Tamara bahkan berusaha melebarkan kakinya selebar mungkin untuk mengurangi rasa sakit itu meskipun sama sekali tak ada manfaatnya.
    “Ohkk.. sakiit.. sakit Bob.. oohh..” Tamara merintih ketika Robert mulai menarik dan mendorong penisnya menyodok vagina Tamara. Meski bukan perawan lagi, tapi vagina Tamara memang terlalu sempit untuk menampung penis Robert. Tapi pelan-pelan vagina Tamara mulai menyesuaikan diri untuk menerima penis besar Robert meskipun Tamara harus menjerit-jerit kesakitan setiap kali penis besar itu menggenjot vaginanya.
    “Ahkk.. ohh.. sakiit.. sakiit..” Tamara menjerit dan meronta-ronta. Baru saat inilah Tamara benar-benar merasakan mengalami perkosaan yang sesungguhnya. Penis Robert dirasakannya bagai tongkat berduri yang menghancurkan vaginanya. Tapi meskipun kesakitan, pelan-pelan Tamara juga merasakan sebuah sensasi kenikmatan aneh yang mengaliri tubuhnya. Birahinya seolah terpuaskan oleh penis Robert yang luar biasa itu. Pelan tapi pasti, rintihan kesakitan Tamara mulai berubah menjadi desahan-desahan manja. Vaginanya sekarang sudah mampu menerima sodokan penis Robert. Robert juga makin lancar menggenjot vagina Tamara. Gerakan sodokan penis Robert makin lama makin cepat dan ganas membuat Tamara melenguh-lenguh penuh nikmat.

    “Ohh.. ohh.. ahh.. ahh.. nnhh.. nghh..ohh..” Tamara menggeliat-geliat menikmati setiap sodokan penis Robert pada vaginanya. Kepalanya menggeleng liar dan tangannya mencengkeram pundak Robert dengan keras sampai kuku jarinya menggores pundak kekar itu. Hal itu membuat Robert justru makin bersemangat dalam menggenjot vagina Tamara. Gerakan penisnya makin ganas membuat tubuh Tamara yang mulus tersentak-sentak di bawah tindihan tubuh Robert yang tinggi tegap.
    Selama hampir sepuluh menit Robert memacu tubuh mulus Tamara. Penisnya yang besar memompa vagina artis cantik itu dengan gila-gilaan membuat pertahanan Tamara jebol.
    “AHHHGGHH.. AAHH…” Tamara mengerang keras, tubuhnya menggeliat kuat seperti akan mengangkat tubuh hitam tegap ya tengah menindihnya, tapi tangannya mencengkeram pundak kekar Robert kuat-kuat membuat kuku jarinya menancap makin dalam melukai punggung satpamnya tersebut. Wajah Tamara berubah merah padam, tubuhnya mengejang seolah sedang mencoba mengeluarkan telur sebesar bola sepak dari tubuhnya. Tamara menggigit bibirnya mencoba menahan dorongan orgasmenya yang meledak-ledak, tapi gelombang orgasme itu terlalu kuat menghantam syaraf seksualnya.
    “OHHHKKHH… OHH…AAHHH…!!” Tamara melolong keras. Tubuhnya bagai patung perunggu, menegang dan mengeras. Cengkeraman tangannya makin keras seperti ingin merobek punggung pria yang sedang menggagahinya. Orgasme Tamara kembali meledak tak tertahankan dan menghantam sekujur syarafnya secara gila-gilaan. Selama beberapa detik tubuh mulus Tamara menggeliat-geliat merasakan kenikmatan orgasme sebelum kemudian tubuh putih mulus itu melemas kembali. Tapi Robert tampaknya masih jauh dari selesai. Penisnya masih kokoh membenam di dalam liang vagina Tamara dan terus menyodok-nyodok vagina artis cantik itu kuat-kuat. Tamara hanya bisa merintih pasrah, membiarkan saja satpamnya itu memompa vaginanya, tubuh Tamara terlalu lemas untuk bergerak. Akhirnya selama beberapa menit tubuh Tamara seperti boneka seks yang tersentak-sentak tanpa daya di bawah dekapan satpamnya yang menggagahinya.
    Tidak puas dengan posisi seperti itu, Robert segera bangkit dan menarik tubuh Tamara dari ranjang. Dipaksanya Tamara berdiri mengangkang dengan tangan bertumpu pada tepi ranjang sehingga posisi Tamara agak menungging.
    “Ohh.. pantatnya.. Gede, mulus, montok..” Robert membelai dan meremas-remas bongkahan pantat Tamara yang bulat padat, lalu dia kembali mengarahkan penisnya ke liang vagina Tamara.
    “Ohhkk..” Tamara merintih saat penis besar itu kembali melesak masuk ke dalam liang vaginanya. Kali ini penis Robert melesak dengan lancar. Vagina Tamara sudah beradaptasi dengan penis besar itu. Meski begitu Tamara tetap merasa kesakitan vaginanya dijejali penis sebesar itu. Tamara mengernyit menahan sakit saat penis Robert kembali menggenjot vaginanya.
    “Ahhk… ahh… ohh..” Tamara mengerang antara kesakitan bercampur nikmat. Penis Robert dengan kasar menyodok-nyodok vaginanya berulang-ulang. Cairan vagina Tamara yang membludak seolah berbuih melicinkan gesekan penis Robert pada dinding vaginanya. Sebagian cairan vagina itu mengalir membasahi paha Tamara sebelah dalam. Robert kian ganas memperkosa Tamara. dengan tangan terus-menerus meremas-remas pantat Tamara, penis Robert menyodok vagina artis sinetron cantik itu dengan gerakan tidak teratur, kadang cepat kadang pelan, membuat Tamara kian tersiksa oleh kenikmatan yang kembali mendera tubuhnya. Kadang-kadang saking terangsangnya, Tamara menggoyangkan pantatnya sendiri maju mundur untuk mempercepat sodokan penis Robert pada vaginanya. Robert tertawa senang di tengah dengus kenikmatannya menyaksikan Tamara yang menggoyangkan pantatnya sendiri.
    “He he he.. Oke juga nih Mbak..” Robert tertawa melecehkan. “Ayo, goyang terus… Ayo.. terus…” Robert menyemangati. Dia lalu menghentikan sodokan penisnya sama sekali, untuk mengetahui reaksi Tamara.

    Secara reflek Tamara langsung menggerakkan pantatnya lebih kuat dan lebih cepat. Orgasme berkali-kali telah membuat Tamara kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. yang dia inginkan sekarang hanyalah bagaimana meraih kenikmatan seksual sebanyak mungkin. Karena itulah Tamara terus menerus menggoyangkan pantatnya membuat vaginanya tetap terpompa oleh penis Robert. Sementara itu Robert juga mengimbangi gerakan pantat Tamara yang kian liar. Robert memegangi pinggul Tamara lalu menarik pinggul yang bulat itu maju mundur mempercepat goyangan pantat Tamara.
    “Ayo.. terus.. goyang terus..” Robert menyemangati Tamara yang makin liar, sementara tangannya terus meremasi pantat Tamara yang montok dengan penuh kegemasan. Tamara kian tak tahan menerima sodokan penis Robert. Perlakuan Robert yang brutal ternyata justru membuat orgasme Tamara lebih cepat meninggi. Tamara merasakan gelombang orgasme kembali meregangkan syaraf seksualnya mencoba menembus pertahanannya.
    “Nhhh… nghh… ohh… ohh…” Tamara melenguh sambil menggigit bibir. Gerakan pantatnya seolah dipercepat beberapa kali lipat, gesekan penis Robert pada dinding vagina Tamara kian cepat sampai menimbulkan suara berdecak keras. Dan kembali tubuh mulus yang telanjang bulat itu mengejang dan menegang kaku. Wajah cantik Tamara merah padam sementara bibirnya mendesis-desis tidak terkendali.
    “OHHHKKH… OHHH… AAHH..!!” kembali Tamara mengerang keras. Orgasmenya kembali menggelora, seperti ada seekor singa yang mencakar tubuhnya dari dalam. Vagina Tamara berdenyut kencang seolah menghisap penis Robert dan mencengkeram penis itu keras sekali. Meski begitu, entah apa yang menjadi doping Robert, penis satpam itu tetap saja berdiri tegak seperti tongkat baja yang tidak bisa lemas. Penis itu terus menyodok vagina Tamara meski wanita cantik itu sudah kepayahan.
    Robert lalu mendekap tubuh telanjang Tamara, lalu masih dengan kemaluan yang menyatu, mereka lalu berlutut di lantai. Robert kemudian menunggingkan pantat Tamara, memaksa artis cantik itu berposisi merangkak dengan bertumpu pada lutut dan siku. Dengan posisi pantat Tamara yang menungging lebih tinggi dari kepala, Robert makin leluasa menggagahi wanita cantik itu. Dia melebarkan kedua kaki Tamara, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Segera saja penis Robert kembali menggenjot vagina artis seksi itu secara brutal.
    “Ahhkh… aahh… oohh…” Tamara merintih-rintih lirih merasakan vaginanya kembali digenjot oleh penis Robert. Tubuh Tamara kian lemas mengalami perkosaan yang begitu lama. Lenguhan dan erangan Tamara akhirnya lenyap sama sekali dan hanya menyisakan rintihan-rintihan tak berdaya. Tubuh mulusnya yang telanjang bulat tersentak maju mundur dengan pasrah mengikuti sodokan penis Robert pada vaginanya. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lemas. Meski begitu gelombang orgasme terus-menerus menghajar tubuhnya, membuat Tamara hanya bisa menggeliat lemah dan menggigit bibir merasakan kenikmatan yang sekaligus sangat menyakitkan.
    Tiba-tiba.
    “PLAKK!” sebuah tamparan yang luar biasa keras menghajar pantat Tamara, membuat artis cantik itu menjerit kesakitan. Seperti ada seterika panas yang menyentuh pantatnya, tubuh Tamara langsung meronta-ronta. Air mata Tamara kembali mengalir membasahi pipinya. Lalu sekali lagi, dengan kekuatan penuh Robert menampar pantat montok itu.
    “AHH..! AHKK..!” Tamara menjerit kesakitan merasakan pedih pada pantatnya, bilur kemerahan langsung menjiplak pada pantat yang putih mulus itu.
    “AHH..! SAKIT..! AMPUN..! SAKIIT..!” Tamara meraung-raung kesakitan ketika tamparan demi tamparan mendera pantatnya. Tubuh Tamara menggeliat-geliat liar dan menandak-nandak. Hal itu tampaknya membuat Robert kembali bersemangat. Rupanya cara itu dipakai oleh Robert untuk membangkitkan lagi perlawanan Tamara, terbukti Tamara kembali menggerakkan tubuhnya merespon genjotan penis Robert. Selama hampir sepuluh menit Robert menyetubuhi Tamara sambil menampari pantat wanita cantik itu. Hal itu sungguh membuat Tamara merasa tersiksa. Rasa pedih pada pantatnya diimbangi oleh kenikmatan yang didapatnya dari genjotan penis Robert pada vaginanya.

    Baca Juga : Tamara Bleszynski’s Hidden Diary

    Merasa belum terpuaskan dengan posisi doggy style yang dipraktekkannya, Robert memaksa Tamara kembali menelentang di lantai, lalu direntangkannya kedua tangan Tamara ke samping dan dipeganginya pergelangan tangan wanita itu erat-erat. Kemudian kembali penis Robert menyodok-nyodok vagina Tamara. Tamara tidak bisa bergerak dengan posisi seperti itu. Tubuh Robert yang tinggi besar dan hitam legam menindih tubuh putih mulus Tamara dengan ketat. Sodokan penis Robert menggenjot vagina Tamara dengan begitu kasar membuat pantat Tamara sampai terbanting-banting keras di lantai marmer yang dingin.
    Tamara yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya bisa pasrah dan berharap perkosaan yang dialaminya ini cepat berakhir. Meski begitu Tamara harus menunggu cukup lama untuk itu. Selang sepuluh menitan Robert menggenjotkan penisnya, tubuh Tamara kembali menggeliat dan mengejang, hanya kali ini terlalu lemah.
    “Ohh… aahh…” Tamara mengerang lirih dengan tubuh mengejang dan gemetar. Dari vaginanya yang kembali berdenyut keras, Robert segera tahu kalau artis cantik yang sedang digagahinya itu kembali mengalami orgasme. Vagina Tamara mencengkeram penis Robert dengan kuat seolah hendak membetot penis itu sampai lepas. Kali ini Robert tidak tahan lagi. Cengkeraman vagina Tamara membuat penis yang sudah begitu ingin berejakulasi itu akhirnya bereaksi.
    “Ohh.. oghh..” Robert melenguh seperti kerbau terluka. Wajahnya menengadah dengan mata terpejam. Tubuh hitam legam itu mengejang, lalu Robert mendorong penisnya sedalam-dalamnya ke vagina Tamara membuat wajah cantik Tamara mengernyit kesakitan.
    “Ooohhh…” Robert melenguh panjang, dan. “Crt.. crt.. crt..” spermanya segera menyembur deras, mengisi rahim wanita cantik yang sedang digagahinya itu. Begitu banyak sperma Robert menyembur sampai sebagian meleleh keluar membasahi lantai.
    Kelelahan tapi puas, Robert akhirnya terkapar di samping tubuh telanjang Tamara. Sementara di sebelahnya, Tamara menangis terisak meratapi nasibnya.
    “Ternyata Mbak Tamara memang benar-benar hot..” Robert membelai rambut kemerahan Tamara lalu mengecup pipi wanita cantik itu pelan. “Kapan-kapan kalau saya lagi konak, Mbak Tamara mau kan ngentot sama saya lagi..?” tanya Robert sambil tersenyum penuh pelecehan. Lalu dia segera bangkit dan berpakaian kemudian meninggalkan Tamara begitu saja.
    Tamara menangis tersedu-sedu, kehormatannya kehormatannya sebagai artis dan sebagai wanita sudah benar-benar hilang dirampas oleh orang-orang yang sama sekali tak sebanding dengannya. Tamara benar-benar terhina. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak perlakuan mereka. Kedua orang itu, Robert dan Samy punya senjata mematikan yang bisa membuatnya tak berdaya melawan. Akhirnya dengan tertatih Tamara berjalan menuju kamar mandi.
    Di lokasi syuting Tamara benar-benar kehilangan konsentrasi. Sutradara, yang sudah marah besar karena Tamara terlambat beberapa jam, jadi makin mudah marah karena begitu banyak adegan yang seharusnya mudah menjadi harus diulang-ulang berkali-kali. Tamara terpaksa menelan kemarahan sutradara dengan pasrah.
    Syuting hari itu molor beberapa jam. Tamara baru bisa meninggalkan lokasi syuting jam 10 malam. Sepanjang perjalanan Tamara hanya melamun. Musik yang mengalun dari CD player di mobilnya tidak lagi bisa menghibur kegalauan hatinya yang memikirkan apa yang akan menimpanya setelah ini. Mendadak HP di dalam tas Tamara berdering keras, mengagetkan Tamara dari lamunannya. Nyaris saja Tamara kehilangan kendali atas mobilnya. dengan gemetar Tamara memelankan mobilnya lalu menyalakan HP nya.
    “Ha.. halo..” Tamara berkata gemetar.
    “Halo Mbak Tamara..” jawab si penelepon. Tamara langsung pucat mendengar suara itu. Bulu kuduknya langsung meremang.
    “Mau apa lagi kamu Bob?” Tamara bertanya gugup. Jelas sekali kalau dia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya setelah tahu dia bicara dengan siapa.
    “Ah.. Mbak Tamara pakai pura-pura lupa..” Robert menjawab kurang ajar. “Biasa kan Mbak. Masa musti dijelasin?”
    Tamara makin gugup mendengar ucapan Robert. Tubuhnya terasa panas dingin setelah paham maksud dari perkataan itu. Jelas Robert bermaksud untuk menggagahinya lagi.
    “Baiklah Bob.” jawab Tamara akhirnya. “Kamu tunggu aja di rumah. Saya sedang dalam perjalanan.” kata Tamara dengan suara ditekan seolah sedang mengucapkan sesuatu yang normal.
    “Oh, nggak Mbak. Saya nggak mau di rumah.” Robert menolak. “Kurang bebas. Mbak ketemu saya di sini.” Robert lalu menyebut sebuah alamat dan meminta Tamara untuk datang ke alamat itu. Hal itu membuat Tamara makin gelisah. Dia menduga akan ada rencana jahat yang akan dijalankan oleh Robert. Meski begitu Tamara tidak punya pilihan lain. Dia segera mengarahkan mobilnya ke alamat yang disebutkan Robert. Tapi Tamara tidak menyangka kalau alamat yang dimaksud ternyata mengarah ke sebuah daerah kumuh di pinggiran Jakarta.

    Tamara meremang ketika melewati daerah itu. Suasana yang gelap membuat rasa takut menyelinap ke dalam hati Tamara. Deretan rumah yang lebih layak disebut gubuk tampak berjajar tak beraturan. Masing-masing rumah tampak seperti onggokan papan berdiri di keremangan. Satu atau dua berkas cahaya jingga lemah memancar di sela-selanya. Jalan utamanya yang tidak beraspal tampak hancur dan becek. Terlalu rusak untuk dilalui mobil. Tamara terpaksa turun dari mobilnya dan berjalan kaki menyusuri jalan yang rusak itu. Beberapa kali Tamara mengeluh karena kakinya terperosok ke dalam kubangan yang kotor dan bau.
    Makin jauh melangkah ke dalam lingkungan itu makin membuat Tamara takut. Situasi di lingkungan itu tidak ubahnya seperti sebuah komplek pelacuran kelas rendah. Jalanannya hanya diterangi oleh lampu yang terlalu redup untuk disebut penerangan jalan. Di beberapa tempat tampak gerombolan pria sedang nongkrong di pinggir jalan, merokok, yang sangat yakin adalah ganja, dan minum minuman keras. Sepanjang jalan itu Tamara merasa seluruh mata pria yang ada di sana memelototi dirinya. Tamara merasa agak beruntung karena suasana sangat remang-remang dan dia sendiri memakai topi dan kacamata gelap membuat jatidirinya tersamarkan.
    Ini gila, pikir Tamara dengan jantung dag dig dug luar biasa. Tamara tidak bisa mengerti mengapa Robert menyuruhnya datang ke tempat semacam ini. Tamara juga tidak berani bertanya kepada orang di sekitar situ meski dia tidak tahu di mana harus bertemu dengan Robert. Untungnya Robert menghubungi HP nya dan memberitahu Tamara ke mana harus pergi.
    Tempat yang dituju oleh Tamara ternyata terletak di ujung jalan yang berdekatan dengan lapangan luas yang tampaknya merupakan bekas sawah atau kebun terlantar. Tempat itu bisa dibilang sebagai tempat yang paling mewah untuk ukuran lingkungan tersebut. Sebuah rumah petak semi permanen yang terbuat dari tembok dan papan, beratap genteng suram yang sebagian sudah reyot. Tampaknya rumah itu adalah rumah petak yang disewakan kalau melihat bentuknya yang terbagi menjadi beberapa bagian dimana masing-masing bagian memiliki pintu sendiri-sendiri.
    Tamara menuju pintu yang paling kiri, yang berhiaskan topeng rangda khas Bali berambut dan berlidah panjang. Agak gemetar Tamara mencoba mengetuk pintunya, tapi belum sempat Tamara mengetuk, pintu itu langsung terbuka. Robert yang hanya memakai celana pendek selutut berdiri di hadapan Tamara. Tanpa menunggu, Robert langsung menarik tangan artis cantik itu dan membawanya ke dalam kamar kemudian mengunci pintunya.
    “Selamat datang di rumah saya Mbak.” kata Robert sambil membungkuk ringan seolah menghormat. “Yah, lebih pantas disebut gubuk sih.” Sambung Robert. Tamara setuju dengan pernyataan terakhir itu. Gubuk yang menyedihkan tepatnya. Ruangan sepetak itu terbagi menjadi tiga bagian sempit. Bagian paling belakang adalah kamar mandi. Bagian tengahnya dipakai untuk tidur, dilengkapi dengan sebuah kasur yang dihamparkan begitu saja di lantai, dilapisi sehelai seprai tua berwarna kuning pudar.
    “Gimana Mbak? Suka nggak dengan tempat ini?” Robert bertanya sambil memeluk tubuh wanita cantik itu dari belakang. Bibir Robert mulai menjelajahi dan menciumi leher serta pundak Tamara yang putih mulus, sementara tangan Robert menggerayangi payudara Tamara yang masih tertutup kaus.
    “Ohh… mmhh… ohh…” Tamara mendesah merasakan rangsangan yang diberikan Robert. “Jangan Bob… ohhh… Lepasin…” Tamara meronta pelan ketika tangan Robert mulai mencengkeram payudaranya dan meremasinya dengan ganas.
    “Sudahlah Mbak, jangan membantah.” Robert terus mendesak Tamara. Dia menyibakkan rambut Tamara yang kecoklatan sehingga tengkuk Tamara yang bening terlihat dengan jelas. Robert lalu mulai menciumi dan menjilati tengkuk artis cantik itu. Rangsangan pada daerah sensitif itu membuat Tamara seperti tersengat listrik. Kakinya langsung lemas saat daerah peka rangsangan itu tersentuh oleh kecupan dan jilatan Robert.
    “Oohh… ohh…” Tamara mendesah-desah. “Jangan… ohh..” Tamara menggeliat menolak rangsangan yang diberikan oleh Robert, tapi tubuh dan libidonya tidak bisa dibohongi dan ingin terus menikmati cumbuan dari satpamnya tersebut. Hal itu pula yang membuat Tamara tidak kuasa menolak saat Robert menarik kaus yang dipakainya sampai lepas, membuat tubuh Tamara bagian atas tinggal terbalut BH berwarna putih berenda.

    “Ohh.. Mbak Tamara emang punya body yang mantap..” kata Robert saat membalikkan tubuh Tamara sehingga keduanya saling berhadap-hadapan. Kemudian tanpa basa-basi lagi, Robert langsung melumat bibir Tamara dengan sebuah ciuman ganas, sementara tangan si satpam yang kekar meremas-remas payudara montok Tamara dari luar BH yang masih melekat di tubuhnya.
    “Ohh… mmhh… mmh… jangan… ohh…” Tamara makin tidak tahan. Dia mendesah-desah merasakan gelombang libido yang kian meninggi. Dia menyambut ciuman Robert dengan bernafsu. Lidah merekapun saling membelit seperti sepasang belut.
    Kemudian Robert meraba punggung Tamara dan meraih kait BH yang dipakai oleh wanita itu. Lalu Robert menarik BH Tamara ke bawah sampai lepas dari tubuh yang mulus itu, membuat payudara Tamara yang mulus dan kencang mencuat telanjang. Putingnya yang merah segar terlihat menegang mengundang nafsu, seolah payudara mulus itu berkata ‘remasi dan cumbui aku’. Dan segera Robert mencumbui sepasang payudara indah itu dengan remasan dan jilatan. Lidah Robert yang kasar menari di atas puting payudara Tamara, Robert menjilati dan menyentil-nyentil puting payudara itu, membuat puting yang merah segar itu mengeras.
    “Ohh… ohh… nnhh… nhh…” Tamara mengerang tak terkendali merasakan cumbuan ganas Robert pada payudaranya, Robert yang makin ganas sekarang mengenyot-ngenyot dan menghisap-hisap payudara Tamara, membuat dirinya tampak seperti bayi besar. Robert menyusu pada payudara Tamara dengan kenyotan yang ganas, membuat akal sehat Tamara benar-benar dilumpuhkan, sampai-sampai artis cantik itu menurut saja saat Robert mulai menjamah celana panjang jeansnya. dengan kasar Robert memelorotkan celana panjang Tamara sampai lepas lalu merenggut celana dalam wanita cantik itu.
    “Ohh… ohh… mulus..” Robert terpana melihat kemolekan tubuh putih mulus Tamara yang berdiri telanjang bulat di hadapannya. Meskipun sudah pernah meniduri Tamara, tapi Robert tetap saja kagum pada keindahan tubuh Tamara yang luar biasa itu.
    Robert kemudian menyuruh Tamara untuk berbaring terlentang di atas kasur, dia mengatur posisi kaki Tamara sampai mengangkang seperti orang yang akan melahirkan. dengan posisi seperti itu, vagina Tamara menjadi terkuak sangat lebar. Robert lalu mendekatkan wajahnya ke daerah kemaluan Tamara. Tamara merinding saat merasakan dengus nafas pria itu, yang menandakan wajah Robert sudah begitu dekat dengan vaginanya.
    “Ahh…” Tamara mendesah ketika Robert mulai menyapukan lidahnya pada bibir vagina Tamara. Jilatan pertama itu serentak merontokkan penolakan terakhir Tamara. Getaran kenikmatan yang diterimanya membuat wanita cantik itu takluk sepenuhnya. Kepasrahan total Tamara membuat Robert kian bersemangat, dia makin gencar mengobok-obok kemaluan Tamara. Robert menguak bibir vagina Tamara dengan jari-jarinya lalu menjilati liang vagina artis cantik itu. dengan lincah lidah itu mengaduk-aduk liang vagina Tamara membuat birahi Tamara makin tak tertahan.
    “Oohh… oohh… aahh… aahh…” lenguhan Tamara kian tak terkendali. Tubuhnya yang putih mulus menggeliat ke kiri ke kanan. Tubuh telanjang Tamara bergetar hebat menahan sensasi orgasme yang kian tak tertahan yang menghantam syaraf seksualnya. Apalagi saat Robert menjilati klitoris Tamara. Tubuh mulus itu bergetar makin liar dan meronta hebat seolah ada api yang memanggangnya. Tidak tahan menerima rangsdngan itu, Tamara akhirnya meledak dalam gelombang orgasme.
    “OOOHHHGGHHH……!!” Tamara mengerang keras. Tubuhnya menggeliat makin kuat dan menekuk ke atas membuat payudaranya makin membusung tegak dan bergoyang liar. Wajah Tamara berubah merah, lebih merah dari kepiting rebus. Dia menggigit bibir sambil tersengal-sengal. Tamara merasa tubuhnya seolah diremas oleh kekuatan dahsyat dari arah dalam. Orgasme itu begitu kuat menghantam tubuh Tamara membuat tubuh itu menegang dan menggeliat-geliat cukup lama diiringi oleh cairan kewanitaan yang mengalir keluar dari vagina Tamara. Robert tanpa ragu langsung menjilati cairan vagina itu. Robert percaya jika dia meminum cairan vagina seorang wanita maka selain menambah keperkasaan, juga akan membuat wanita yang bersangkutan akan pasrah padanya.
    Tamara yang baru saja dilanda gelombang orgasme terbaring tak berdaya, nafasnya terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuhnya membuat tubuh putih mulus yang telanjang itu tampak berkilat tertimpa cahaya lampu. Tubuh itu tergolek pasrah, siap untuk diapakan saja. Melihat kepasrahan Tamara, Robert tidak mau membuang waktu lagi. Dia segera membuka celana pendeknya dan celana dalamnya sekaligus. Penisnya yang berukuran besar segera mencuat tegak. Robert segera menempatkan dirinya di depan kemaluan Tamara yang sudah basah. Diarahkannya penis besarnya ke vagina Tamara. Wanita cantik itu menggeliat lemah saat ujung penis Robert menggesek bibir vaginanya. Robert kemudian memegangi pinggul Tamara, lalu dia mendorong pantatnya maju sambil menarik pinggul Tamara. dengan satu dorongan keras, penis Robert langsung membenam di dalam liang vagina Tamara.

    “Ehhhkk…” Tamara merintih sambil menggeliat saat penis besar Robert menembus kemaluannya.wajah cantiknya mengernyit menahan sakit yang mendera bagian bawah perutnya, seolah penis Robert merobek kemaluannya jadi dua.
    Perlahan Robert menggerakkan pantatnya. Penisnya yang sudah menyatu dengan vagina Tamara tertarik keluar dengan seret. Vagina Tamara seolah tidak merelakan penis itu dari cengkeramannya.
    “Nnhhh… ohh…” Tamara melenguh pelan. Wajah cantiknya mengernyit merasakan gesekan penis Robert pada dinding vaginanya saat Robert mendorongkan penisnya kembali. Penis besar itu kembali membenam di dalam liang vagina Tamara, membuat tubuh mulus artis cantik itu menggeliat. Seketika tangannya memeluk erat pinggang Robert. Robert menanggapinya dengan mencengkeram pundak Tamara. Lalu kembali Robert menggerakkan pantatnya, penisnya mulai menggenjot vagina Tamara dengan gerakan teratur.
    “Ohh.. yes.. ohh.. yes..” Robert meracau merasakan nikmatnya bersenggama dengan seorang wanita secantik dan seseksi Tamara Bleszynski. Dekapan tangan kekar Robert makin erat dan sodokan penisnya kian kuat membuat tubuh Tamara mengejang-ngejang dan menggeliat-geliat. Sodokan penis Robert pada vagina Tamara jelas berhasil membangkitkan kembali birahi wanita cantik itu. Desahan dan erangan kenikmatan meluncur dari mulut Tamara tanpa bisa dicegah.
    “Ahhkh… oohh… oohhkh… nnhh…nnhh… ohh…” erangan Tamara makin tak terkendali, tubuh mulusnya menggeliat liar di bawah dekapan satpam bertubuh kekar itu. Desahan yang keluar dari mulut Tamara mulai berubah menjadi desahan manja seolah mengatakan ‘jangan berhenti’ pada pria yang sedang menggumuli tubuh mulusnya yang telanjang bulat. Robert makin bersemangat mengetahui respon Tamara. Gerakannya makin kuat menggenjot vagina Tamara sampai pantat wanita itu terbanting-banting.
    Selama hampir sepuluh menit mereka bersenggama. Birahi Tamara makin memuncak tak terbendung lagi. Tubuh mulus wanita cantik itu menggelepar liar sementara kakinya menyepak-nyepak tak terkendali.
    “OOOOHHHHKKHH… OHH…!!” Tamara mengerang keras. Seperti ada aliran listrik tegangan tinggi menyengatnya, tubuh Tamara menegang dan bergetar keras. Tangan Tamara makin kuat memeluk punggung Robert, kuku jarinya mencakar-cakar, menciptakan goresan-goresan lecet pada punggung si satpam. Birahi Tamara meledak dahsyat membuat tubuhnya menegang selama beberapa detik.
    “Ohh… ohh… yess… ohh…” Robert makin bersemangat menggenjot vagina Tamara. Sodokan-sodokan penis Robert membuat tubuh Tamara tersentak-sentak lemah tanpa daya. Tapi Robert belum puas. Dia memaksa Tamara berdiri dengan agak membungkuk dan tangannya menumpu pada dinding. Robert menyuruh Tamara membuka kedua kakinya sampai vaginanya terbuka lebar. Robert melihat cairan vagina Tamara menetes-netes membasahi bagian dalam paha wanita cantik itu.

    Posisi seperti itu membuat pantat Tamara yang bulat padat terlihat makin menantang. Robert tidak tahan untuk tidak meremasi pantat mulus itu. Selama beberapa puluh detik Robert meremasi pantat Tamara, sebelum penisnya kembali membenam ke dalam liang vagina bintang iklan sabun LUX itu.
    “Ohhkk… ohh… aahh… aahh… oohh…” Tamara kembali mengerang penuh nikmat ketika Robert menggerakkan pantatnya. Penis besar si satpam kembali menyodok dan menggenjot vagina Tamara. Kali ini gerakan Robert lebih kasar dan tidak beraturan. Kadang penis Robert menyodok dengan gerakan cepat, kadang gerakannya pelan dan kasar. Tubuh mulus Tamara yang telanjang tersentak maju mundur mengikuti irama genjotan penis Robert. Payudara Tamara bergoyang liar tiap kali tubuhnya tersentak maju mundur. Hal itu membuat Robert gemas. Dia segera menjamah sepasang payudara indah yang menggantung telanjang itu dan meremasinya dengan kekuatan mirip cengkeraman gorila. Tamara sampai meringis-ringis kesakitan. Erangan kenikmatannya bercampur dengan jerit kesakitan yang sesekali meluncur lirih dari bibir wanita bertubuh indah itu. Tidak jarang pula Robert mempermainkan puting payudara Tamara. Dipencet-pencetnya dan dipilin-pilinnya puting payudara Tamara yang menegang itu dengan jarinya, membuat birahi wanita itu segera kembali memuncak. Kali ini orgasme Tamara meledak lebih cepat dari sebelumnya. Tubuh bintang sinetron cantik itu kembali menegang dan menggeliat liar.
    “Ohhkk… ohh…” Tamara melolong dengan kepala menandak-nandak. Kedua kakinya gemetar seolah tidak mampu lagi menyangga berat badannya sendiri. Cairan vaginanya makin membanjir setelah orgasme untuk kali ketiga.
    Tapi meskipun sudah menggagahi Tamara sampai berkali-kali wanita itu mengalami orgasme, Robert sama sekali belum terpuaskan. Penisnya masih saja mencuat tegang, sama kokohnya seperti sebelumnya. Apakah karena pengaruh cairan vagina Tamara yang diminumnya atau faktor lain, yang jelas Robert masih jauh dari selesai. Kemudian dengan kasar dia mendorong Tamara sampai tersungkur ke lantai lalu ditariknya pantat montok artis itu sampai menungging lebih tinggi ketimbang kepalanya yang nyaris menyentuh lantai. dengan posisi itu, Robert sangat leluasa untuk membenamkan penisnya sedalam mungkin pada liang vagina Tamara. Ceritamaya
    “Ahhk…” Tamara megerang lirih saat penis si satpam yang seperti bor menerobos vaginanya. Rasa nyeri membuat Tamara tak kuasa menahan air matanya. Kembali wanita bertubuh putih mulus itu harus merasakan penderitaan ketika penis Robert menggenjot vaginanya.
    Kedua orang yang amat berbeda status itu bersenggama dengan penuh nafsu. Begitu bernafsunya sampai mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengintip dari celah dinding papan dengan tatapan nanar. Mata itu melotot disertai deru nafas yang terengah-engah, sementara tangan kiri si pengintip terlihat sibuk mengocok penisnya.
    “Ohh… oghh…” si pengintip meneguk ludah dengan jakun naik turun menyaksikan bagaimana tubuh putih mulus Tamara yang telanjang bulat digenjot berulang-ulang oleh tubuh tinggi besar dan hitam legam. Kekontrasan yang tercipta oleh penyatuan dua tubuh yang amat bertolak belakang itu sangat membangkitkan nafsu, membuat si pengintip tidak rela bahkan untuk sekedar berkedip sekalipun.

    “Ohh… ohh… Gila… bagaimana bisa…” ujar si pengintip dalam bisikan amat pelan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari adegan persetubuhan antara Tamara dengan satpamnya. Selang beberapa menit dia kembali melihat tubuh Tamara menggelepar-gelepar dengan wajah merah padam.
    “Oohhkkhh… ohh…” Tamara kembali mengerang, kali ini tidak sekeras sebelumnya karena tenaganya sudah habis terkuras, tapi vaginanya tetap berdenyut kuat meremas dan membetot penis Robert yang membenam di dalamnya. Akhirnya Robert menyerah setelah sekian kali sensasi orgasme vagina Tamara merajam penisnya.
    “Ohh… ohh…” Robert melenguh seperti seekor babi, spermanya yang sedari tadi ditahan akhirnya menyembur tak tertahan. Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam vagina Tamara sampai nyaris tak tertampung, sebagian cairan sperma itu menetes-netes membasahi lantai.
    “Ohkk… nnhh…” si pengintip ikut mengerang. Rupanya dia juga tidak tahan lagi. Kocokan tangannya akhirnya membuatnya berejakulasi. Spermanya muncrat dan berceceran di tanah.
    Selanjutnya selama semalam suntuk Robert terus-menerus memaksa Tamara untuk melakukan hubungan badan. Seolah tidak ada puasnya, Robert terus-menerus menggagahi tubuh mulus artis cantik itu. Tamara tidak bisa berbuat lain kecuali menuruti keinginan Robert. Disamping karena terpaksa, diam-diam Tamara juga menikmati persetubuhannya dengan satpamnya tersebut. Dan sepanjang malam itu pula si pengintip mendapatkan rejeki nomplok, menikmati pemandangan yang amat membangkitkan nafsunya, sesuatu yang barangkali tidak akan didapatkannya kembali.
    “Ohh… nhhh… ohh…” Tamara melenguh keras dalam dekapan lengan kekar Robert sementara pantatnya yang padat bergerak naik turun memompa vaginanya sendiri pada penis Robert. Posisi tubuh Tamara yang berada di atas tubuh Robert membuat wanita itu leluasa mengatur irama permainan. Robert menyambut setiap gerakan Tamara dengan kegairahan yang sama.
    “Ohh… yeah…teruss… teruss… ayo… lebih keras… ayo…” Robert memberi semangat pada Tamara untuk menggoyangkan pantat Lebih kuat.

    End of part 2

  • Kabut 5

    Kabut 5


    55 views

    Ceritamaya | Akupun dalam keadaan lunglai berbenah… aku juga mengajak istriku setelah
    selesai merias wajah..
    “Aku nggak pucat, kan mas? tanya istriku tanpa rasa sungkan apalagi takut
    padaku. Aku hanya mengernyitkan dahi, tak kuasa membantah, entah kenapa
    istriku tampak lebih cantik, sensual dan genit, kedua payudara montok nya
    semakin menonjol montok dan dari balik gaunnya yang ketat kedua puting
    susu hitam sebesar kelingking mencuat menantang…

    Kebiasaannya istriku kalau kedua puting susu hitam sebesar kelingking
    masih mencuat berarti istriku masih terangsang ….
    Aku keluar dari pintu samping rumah mewah itu menuju garasi mobil yang
    cukup untuk 6 mobil……Tapi tak semudah yang aku bayangkan saat aku dan
    istriku akan melangkah keluar rumah mewah itu…..

    Kulihat ada 2 orang bersama Pak Kotim dengan pakaian lusuh…. yang satu
    pemuda kepala plontos berkulit hitam, seorang lagi lelaki tua berambut
    gondrong beruban sebaya dengan Pak Kotim

    Begitu Pak Kotim melihatku dan istriku bergegas…
    “Kemana kamu?bentaknya
    Aku terus menarik istriku yang beringsut ketakutan…

    “Diam kamu?” bentaknya…dan seperti sebuah karung akupun jatuh terduduk di
    samping istriku yang gemetar….

    Ketiga orang itupun mendatangi istriku yang hanya bisa berdiri gemetaran….
    Istriku semakin tampak sexy dan sensual dalam keadaan gemetar memeaki rok
    panjang terusan dari bahan seperti coldoray, lehernya tertutup rapat, tapi
    di bagian dadanya berresleting sampai ke perut dan belahan panjang di
    bagian depan dan sekitar beberapa centimenter potongan belahan itu
    bertumpuk hingga mendekati selangkangan istriku

    ketiga orang itupun mengerubuti istriku pemuda kepala gundul berkulit
    hitam mendorong istriku ke tembok garasi dan langsung meremas-remas kedua
    payudara montok istriku yang masih terbalut gaun….
    “Jangaaaan paaaak…….”istriku mengerang dan kulihat tangan kanan lelaki tua
    berambut gondrong beruban itu menyusup di belahan panjang di bagian depan
    gaun istriku

    Kulihat istriku yang disandarkan oleh pemuda kepala gundul berkulit hitam
    itu kedua mata istriku terbelalak saat kulihat jari-jari tangan lelaki tua
    berambut gondrong beruban yang besar-besar itu mengobok-obok selangkangan
    istriku yang tak memakai celana dalam…
    Tangan kiri lelaki tua berambut gondrong beruban itu menyingkapkan rok
    bagian bawahnya ketat sehingga selangkangan tanpa ada bulu kemaluan
    istriku tersingkap…

    “dul…kayak kepalamu…”kata lelaki tua berambut gondrong beruban itu sambil
    mengelus-elus selangkangan istriku yang membuat istriku mendesis-desis
    “ohhh enak Jeng Yati?”katanya

    Tiba-tiba dengan kasar jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu
    menjejali liang vagina istriku
    “Aaaammpfffuuuun mbaaaaaaah …..”istriku mengerang
    Lelaki tua berambut gondrong beruban itu mengorek-ngorek liang vagina
    istriku yang langsung mengerang ngerang
    Sedangkan pemuda kepala gundul berkulit hitam kedua telapak tangan hitam
    kasarnya meremas-remas kedua payudara montok istriku yang masih terbalut
    rok panjang terusan dari bahan seperti coldoray, lehernya tertutup rapat,
    tapi di bagian dadanya berresleting sampai ke perut dengan kasarnya, dan
    jari telunjuk dan ibu jari yang besar dan kasar pemuda kepala gundul
    berkulit hitam itu memelintir dan memencet kedua puting susu hitam sebesar
    kelingking istriku sehingga istriku mengerang panjang…..

    Rupanya lelaki tua berambut gondrong beruban itu tidak puas dan dia
    jongkok sejajar dengan kepalanya tepat berada di selangkangan istriku
    dimana jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu tetap
    mengobok-obok dan bahkan mengorek-ngorek liang vagina istriku sehingga
    istriku menggerakan pantat bahenol berputar dan maju mundur ….

    Lelaki tua berambut gondrong beruban itu mengangkat paha padat kanan
    istriku dengan tangan kirinya sehingga istriku berdiri terkangkang lebar
    dan aku yang duduk bersimpuh di sebelah istriku bisa melihat bagaimana
    jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu mengocok liang vagina
    istriku kemudian jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu
    mengorek-ngorek liang vagina istriku seolah ada sesuatu yang tertinggal di
    liang vagina istriku dimana jari telunjuk, jari tengah dan jari manis
    lelaki tua itu bersama-sama masuk dan dimekarkan sambil ditekuk kemudian
    ditarik keluar..dan kedua mata istriku terbelalak dan mulut ternganga
    lebar mengerang parau….
    Sementara itu, jari telunjuk dan ibu jari yang besar dan kasar lelaki tua
    berambut gondrong beruban itu memencet, memelintir sambil menarik narik
    kelentit istriku sehingga istriku merengek seperti orang menangis……..

    Kabut 5Pemuda kepala gundul berkulit hitam berhasil membuka resleting rok panjang
    terusan dari bahan seperti coldoray, lehernya tertutup rapat, tapi di
    bagian dadanya berresleting sampai ke perut dan terkuallah kedua payudara
    montok istriku dimana kedua puting susu hitam sebesar kelingking istriku
    sudah menegang kencang.
    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itu langsung mengulum dan
    menyedot-nyedot kedua payudara montok istriku bergantian dengan bibir
    tebal hitamnya sampai tampak pagutan-pagutan merah di permukaan payudara
    montok istriku
    Tiba-tiba jari telunjuk dan ibu jari yang besar dan kasar pemuda kepala
    gundul berkulit hitam itu langsung memencet, memelintir sambil menarik
    narik kedua puting susu hitam sebesar kelingking istriku …..

    Tubuh istriku menggelinjang bergetar ..pantat bahenol bergoyang maju
    mundur dada istriku membusung dan keringat istriku membanjir, mulut kecil
    istriku merengek seperti orang menangis karena merasakan empat rangsangan
    kasar yang tak pernah dirasakan sekaligus sebelumnya…..
    kedua payudara montok istriku yang disedot-sedot bergantian oleh bibir
    tebal hitam pemuda kepala gundul berkulit hitam sehingga meninggalkan
    pagutan-pagutan merah diseluruh permukaan payudara montok nya…..
    kedua puting susu hitam sebesar kelingking istriku merasakan jari telunjuk
    dan ibu jari yang besar dan kasar pemuda kepala gundul berkulit hitam
    memencet, memelintir sambil menarik narik
    istriku juga merasakan jari telunjuk, jari tengah dan jari manis lelaki
    tua berambut gondrong beruban mengocok kemudian menggaruk dan jari
    telunjuk, jari tengah dan jari manis lelaki tua itu bersama-sama masuk dan
    dimekarkan sambil ditekuk kemudian ditarik keluar dari liang vagina
    istriku dan istriku pun merasakan bagaimana lelaki tua berambut gondrong
    beruban memencet, memelintir sambil menarik narik kelentit istriku.

    Tak lama kemudian istriku pun mengerang panjang dengan suara serak dan
    merengek seperti orang menangis dan mengejan panjang dengan pantat bahenol
    istriku tersentak-sentak tak karuan saat pagi itu mencapai orgasme dengan
    sangat liar…..

    Kedua lelaki berbeda umur itu terus mengerjai kelentit, liang vagina,
    kedua puting susu hitam sebesar kelingking dan kedua payudara montok
    istriku …… membuat istriku merengek seperti orang menangis, mengerang
    panjang, keringat istriku pun membasahi rok panjang terusan istriku dan
    nafas istriku mendengus-dengus seperti lokomotif uap yang selip menarik
    gerbong-gerbong beratnya …kedua mata istriku terbelalak meredup dan
    terbalik….dan kemudian mengejan panjang ketiga kalinya…..

    Tubuh istriku pun lunglai terduduk melorot bersandar dinding garasi …..
    tiba-tiba lelaki tua berambut gondrong beruban itu menjambak rambut pendek
    istriku dengan tangan kirinya sehingga istriku merangkak mengikuti tarikan
    jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu ….seperti anjing….

    Lelaki tua berambut gondrong beruban itu duduk di sebuah jok mobil yang
    dilepas di hadapanku sekitar dua meter sambil terus menjambak rmabut
    pendek istriku ..Sementara itu, tangan kanannya memelorotkan celana pendek
    dekilnya dan terkuallah batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml yang
    menggelantung lemas

    “ayo kulum kontolku Jeng Yati …”perintahnya
    Istriku menolak dengan berusaha menggelengkan kepalanya mejauh, tapi
    istriku mengerang saat dengan kasar tangan kiri lelaki tua berambut
    gondrong beruban itu menarik keras ke atas rambut pendek istriku kemudian
    mendekatkan ke batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml nya dan karena
    kesakitan dan tanpa rasa kasihan lelaki tua berambut gondrong beruban
    semakin menarik rambut istriku mendekatkan wajah istriku ke batang
    kemaluan seperti kaleng axe 150 ml yang lemas menggelantung

    “Ammpppmmmmmmffff…..”istriku tak bisa meneruskan kata-katanya saat kedua
    tangan lelaki tua berambut gondrong beruban meraih belakang kepala istriku
    dan menggosok-gosokkan wajah istriku ke selangkangan nya dimana batang
    kemaluan seperti kaleng axe 150 ml lelaki tua berambut gondrong beruban
    masih menggelantung itu

    Karena letak jok itu rendah maka tak ayal lagi pantat bahenol istriku
    menungging nungging karena kaki kanan istriku tertekuk saat diseret lelaki
    tua berambut gondrong beruban sedangkan kaki kiri istriku masih terjulur
    ke belakang maka dari tempatku berdiri terlihatlah belahan bibir vagina
    istriku yang terkuak menampakkan ujung liang vagina yang memerah itu…..

    Rupanya pemandangan ini terlihat juga oleh pemuda kepala gundul berkulit
    hitam itu dan serta merta pemuda kepala gundul berkulit hitam itu melepas
    celana dekilnya dan terkuallah batang kemaluan seperti kaleng KIT interior
    175 ml yang sudah menegang kaku…….

    Istriku tak mengetahui saat pemuda kepala gundul berkulit hitam itu telah
    berada dibelakang istriku dengan posisi berdiri dengan kedua lututnya
    karena istriku masih dibingungkan oleh cengkraman kedua tangan keriput
    lelaki tua berambut gondrong beruban yang terus menggosok-gosokkan wajah
    istriku ke batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml loyonya….
    Dengan cepat pemuda kepala gundul berkulit hitam itu mengangkat paha padat
    kiri istriku dengan tangan kekar kirinya sehingga istriku terkangkang
    lebar seperti anjing kencing dimana salah satu kakinya diangkat…..

    Maka semakin terkuak lebar bibir vagina istriku dan pemuda kepala gundul
    berkulit hitam itupun mengarahkan batang kemaluan seperti kaleng KIT
    interior 175 ml nya dengan tangan kanannya ke bibir vagina istriku yang
    ternganga lebar ….

    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itupun menggosok-gosokkan kepala jamur
    nya ke bibir vagina istriku yang ternganga lebar yang membuat istriku
    mendesis-desis dimana batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml lelaki tua
    berambut gondrong beruban masih menggosok-gosok wajah istriku …

    “mmmpppfff ….. mmmmpppfzz ……”
    “Aaaaaaaaaa ….. ngngnghhhhhhhhhhhhhhhh…… mmmmmpppfffffffzzzzzz.
    …”istriku mengerang dan mulutnya ternganga lebar saat pemuda kepala
    gundul berkulit hitam itu menjejalkan batang kemaluan seperti kaleng KIT
    interior 175 ml nya ke liang vagina istriku dan kesempatan itupun
    digunakan oleh lelaki tua berambut gondrong beruban untuk menjejalkan
    batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml loyonya ke mulut istriku ..

    Kini posisi istriku yang seperti anjing kencing dimana paha padat kirinya
    diangkat ke atas oleh tangan kekar kiri pemuda kepala gundul berkulit
    hitam yang menjejali liang vagina istriku dengan batang kemaluan seperti
    kaleng KIT interior 175 ml nya langsung mengocok batang kemaluan seperti
    kaleng KIT interior 175 ml nya maju mundur keluar masuk dengan cepatnya di
    liang vagina istriku tanpa ampun….
    Karena cepatnya pemuda kepala gundul berkulit hitam itu mengocok keluar
    masuk batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml nya tak ayal lagi
    batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml lelaki tua berambut gondrong
    beruban yang masih loyo itupun terkulum masuk ke mulut istriku sehingga
    kudengar nafas istriku mendengus-dengus dan mendesis-desis
    “mmmmppffzzzz … mmmpppfffzzzz ….”
    Tubuh istriku berguncang-guncang maju mundur sehingga kedua payudara
    montok istriku bergerak menggelantung bebas dan Pak Kotim yang dari tadi
    mengocok batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat sebesar cacing
    tanah yang masih loyo karena pagi harinya sudah menjejali liang vagina
    istriku kini mendekati tubuh istriku yang berguncang-guncang maju mundur
    dan Pak Kotim mendekati kedua payudara montok istriku yang sudah penuh
    pagutan-pagutan merah akibat bibir tebal hitam pemuda kepala gundul
    berkulit hitam yang terus menerus mengempot yang bergerak menggelantung
    bebas ….
    Pak Kotim pun meraih puting susu hitam sebesar kelingking kanan istriku
    dengan jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar itu dan seperti pemuda
    kepala gundul berkulit hitam tadi maka jari telunjuk dan ibu jari yang
    besar dan kasar Pak Kotim pun memencet, memelintir sambil menarik narikputing susu hitam sebesar kelingking kanan istriku ….

    Entah kenapa yang tadinya istriku seakan berontak, begitu Pak Kotim
    memencet, memelintir sambil menarik narik puting susu hitam sebesar
    kelingking kanan istriku ….maka istriku pun tiba-tiba menggerakkan
    tangannya yang tadi hanya menopang tubuhnya dalam posisi merangkak kini
    jari-jari tangan kanan istriku meraih batang kemaluan seperti kaleng axe
    150 ml lelaki tua berambut gondrong beruban

    Pak Kotim mendekatkan mulutnya ke puting susu hitam sebesar kelingking kanan istriku dan “ting tung” terdengar bunyi bel…..

    Pak Kotim pun mengurungkan niatnya untuk mengempot puting susu hitam
    sebesar kelingking payudara montok kanan istriku untuk membuka pintu
    gerabng rumah mewah itu….

    “Kebetulan…”kudengar Pak Kotim berkata setelah membuka jendela kecil pagar
    rumah mewah itu….
    “Kamu lihat teman temanmu….”
    “Ada apa. Mbah Kotim ..?”
    Akupun melihat seorang pemulung kecil masuk dan Pak Kotim segera menyeret
    pemulung kecil itu ke garasi mobil yang luas itu…..

    “Lihat…jang…..”kata Pak Kotim ….kulihat mulut pemulung kecil itu ternganga
    lebar melihat pemandangan seorang wanita sexy dan cantik tengah mengulum
    dan menyedot-nyedot batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml lelaki tua
    berambut gondrong beruban yang loyo sambil mengocok dengan jari-jari
    tangan nya
    Sedangkan temnnya lainnya, pemuda kepala gundul berkulit hitam tengah
    menjejali liang vagina wanita dan mengeluarmasukkan batang kemaluan
    seperti kaleng KIT interior 175 ml nya di liang vagina wanita yang sama ……

    “Ini Bu Yati, Jang teman baru kita…”kata Pak Kotim
    “Bu Yati akan mengajari kamu mencapai surga dunia….sini kamu, Jang…”kata
    lelaki tua berambut gondrong beruban

    Pak Kotim pun mendekatkan Ujang, pemulung kecil ke lelaki tua berambut
    gondrong beruban
    “Duduk sini..”kata lelaki tua berambut gondrong beruban

    Ujang, pemulung kecil itupun duduk di paha lelaki tua berambut gondrong
    beruban

    Pak Kotim jongkok di sebelah kanan istriku yang masih dalam posisi
    merangkak dan pantat bahenol nya yang menungging nungging karena kocokan
    batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml pemuda kepala gundul
    berkulit hitam di liang vagina istriku

    “Jeng Yati kulum kontol ujang ini…”kata lelaki tua berambut gondrong
    beruban sambil mengeluarkan batang kemaluan belum disunat sebesar spidol
    white board milik Ujang yang masih loyo itu

    Istriku melirik dan tak kunyana kedua mata istriku berbinar melihat batang
    kemaluan belum disunat sebesar spidol white board milik Ujang ….
    Istriku melepas kuluman batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml lelaki
    tua berambut gondrong beruban yang masih juga loyo….

    “Bu Yatiiiiii …..”kudengar Ujang mengerang saat kulihat mulut istriku
    mengulum dan menyedot-nyedot batang kemaluan belum disunat sebesar spidol
    white board milik Ujang
    Batang kemaluan belum disunat sebesar spidol white board milik Ujang pun
    langsung berdiri tegak

    “Uuuuugghhh zaaangaaaan ….”tiba-tiba istriku mengerang ….melepas batang
    kemaluan belum disunat sebesar spidol white board milik Ujang

    Kulihat pemuda kepala gundul berkulit hitam itu rupanya menjejalkan jari
    telunjuk yang besar dan kasar ke lubang anus istriku

    “Diam kamu lonteeee……”bentak pemuda kepala gundul berkulit hitam
    “Ya diam kamu….”hampir bersamaan kedua lelaki tua membentak

    “iiiihhh zzzakiiit ….uuuggghhhh ….zaaaakiiiit maaaaazzzzz …… ammmfuuun
    …..” istriku mendesis-desis meringis menahan sakit saat jari telunjuk yang
    besar dan kasar pemuda kepala gundul berkulit hitam terus menjejali lubang
    anus istriku

    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itu kemudian membuat ludah dan
    meneteskan tepat di lubang anus istriku

    “Amfuuuun mbaaaaaagggghhhh ….zaaakiiiiiit ….”
    Pemuda kepala gundul berkulit hitam meneteskan lagi dan rintihan istriku
    mulai mereda …. rupanya ludah pemuda kepala gundul berkulit hitam sudah
    masuk ke lubang anus istriku

    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itu tiba-tiba menjulurkan kedua
    kakinya diantara kedua paha padat istriku sehingga posisi istriku duduk
    dengan kedua betisnya
    “Adddduuuggghhh maaazzuuuuk ke muluuuut rahiiiiiimkuuu … mbaaaaaagggghhhh
    ….”istriku mendesis-desis karena posisi istriku yang duduk di kedua betis
    nya membuat batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml pemuda
    kepala gundul berkulit hitam menembus masuk ke mulut rahim istriku
    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itu menekuk kedua kakinya terkangkang
    lebar sehingga pinggang istriku diantara kedua paha pemuda kepala gundul
    berkulit hitam

    “kamu sini, jang…”kata Pak Kotim … Ujang, pemulung kecil tampak
    ragu….sambil melihat mulut istriku yang mendesis-desis merasakan sosokan
    batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml pemuda kepala gundul
    berkulit hitam di mulut rahim istriku

    “Bu Yati kulum kontolku lagiiii..”katanya mendekatkan batang kemaluan
    belum disunat sebesar spidol white board milik Ujang ke mulut istriku ….
    Istriku pun langsung mencaplok dan mengulum dan menyedot-nyedot batang
    kemaluan belum disunat sebesar spidol white board milik Ujang …
    Ujangpun merem melek
    “Enaaaak Bu Yatiiiii…..”
    “Udah Jang kamu kan perjaka…kamu harus dapat perawan….”kata lelaki tua
    berambut gondrong beruban sambil menarik pantat ujang

    “Perawan ? ini kan ….” belum sempat Ujang berkata
    “Nich Jang… perawannya ….”kata pemuda kepala gundul berkulit hitam itu
    sambil membuka belahan pantat bahenol istriku sehingga lubang anus istriku
    ternganga lebar

    “Tak apalah nggak dapat memek perawan …..dapat anus perawan….”kata ujang
    langsung melangkahi pemuda kepala gundul berkulit hitam ….

    Kini bocah ujang, pemulung kecil itu sudah berdiri di atas kedua betisnya
    dan mengarahkan batang kemaluan belum disunat sebesar spidol white board
    miliknya ke lubang anus istriku

    Ujang tidak langsung memasukkan batang kemaluan belum disunat sebesar
    spidol white board miliknya hanya menekan nekan kepala jamur berkulup
    tebal nya ke lubang anus istriku

    Dan perbuatan Ujang menekan-nekan kepala jamur berkulup tebal itu membuat
    sensasi pada istriku
    “Eggj ….Eeegff …eeegghhhhggg ….”istriku mendesis-desis tak karuan dan
    pantat bahenol tersentak-sentak maju mundur dan hal ini membuat kepala
    jamur batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml pemuda kepala
    gundul berkulit hitam itu menyentuh-nyentuh mulut rahim istriku dan
    beberapa saat istriku mengejan panjang dan
    “mmmmpppffzz ….”lelaki tua berambut gondrong beruban itupun menjejali
    mulut istriku kembali dengan batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml
    nya…..

    Pak Kotim meyusup di bawah lutut tertekuk pemuda kepala gundul berkulit
    hitam dan melahap dan mengulum dan menyedot-nyedot payudara montok istriku
    dengan lahap dan suara hirupan air susu istriku yang memancar tengah
    disedot sedot Pak Kotim dan istriku menggeram kencang diantara sumpalan
    batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml milik lelaki tua berambut
    gondrong beruban saat batang kemaluan belum disunat sebesar spidol white
    board milik Ujang menjejali lubang anus istriku

    Lengkaplah sudah istriku melayani keempat laki-laki bersamaan….di lubang
    anus, di mulut, di liang vagina dan kedua payudara montok dan kedua puting
    susu hitam sebesar kelingking yang mana Pak Kotim mengulum dan
    menyedot-nyedot tanpa ampun…..dan tangan istriku pun juga mengocok batang
    kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat sebesar cacing tanah itu milik Pak Kotim

    Kudengar istriku menggeram, mengejan panjang, 5 kali dan akhirnya airmani
    ketiga lelaki yang dilayani istriku menyembur-nyembur di dalam mulut,
    liang vagina dan lubang anus nya dan ditangan istriku masih tegar batang
    kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat sebesar cacing tanah kepunyaan
    Pak Kotim yang belum ejakulasi

    Aku hanya teringat Ujang, pemulung kecil itu mengerang ” Bu Yatiiiii
    ….akuuu mau pipiiiissss …akuuu mauuu pipiiiis di lubang anus Bu
    Yatiiiiiii…..”

    Ketiga lelaki itupun tersungkur bersama istriku dan keringat bercampur
    baur….. dan mereka tertidur dengan pulasnya dimana batang kemaluan seperti
    kaleng axe 150 ml masuk di mulut istriku dimana air mani lelaki tua
    berambut gondrong beruban masih tercecer di sekitar bibir istriku dan juga
    batang kemaluan belum disunat sebesar spidol white board milik Ujang masih
    tertanam di lubang anus istriku dan istriku dalam posisi tertelungkup
    liang vagina istriku masih dijejali batang kemaluan seperti kaleng KIT
    interior 175 ml pemuda kepala gundul berkulit hitam ….

    Baca Juga : Kabut 4 : Malam Yang Panjang

    Sementara itu, Pak Kotim yang belum ejakulasi duduk melihat pemandangan
    itu dan masuk ke dalam rumah Sedangkan aku hanya terduduk lemas melihat
    pemandangan istriku yang lunglai melayani empat lelaki segala umur
    sekaligus

    Belum lagi aku berpikir jauh Pak Kotim keluar dengan kamera digital dan
    video cam….

    Dan Pak Kotim dengan senyum senyum mengabadikan peristiwa dimana istriku
    tertidur pulas kecapain sehabis melayani ketiga lelaki segala umur …….
    Pak Kotim tersenyum puas dalam kemenangan menghabiskan semua memory kamera
    digital dan video cam yang ada dari berbagai sudut utamanya terfokus di
    mulut istriku yang penuh dengan air mani dan masih mengulum batang
    kemaluan seperti kaleng axe 150 ml lelaki tua berambut gondrong beruban
    dan disekitar liang vagina istriku yang masih disumpal batang kemaluan
    seperti kaleng KIT interior 175 ml pemuda kepala gundul berkulit hitam dan
    lubang anus istriku yang masih dijejali batang kemaluan belum disunat
    sebesar spidol white board milik Ujang

    Pak Kotim masuk ke rumah lagi dan entah apa yang dikerjakan selama sekitar
    setengah jam di dalam rumah mewah itu.

    Pak Kotim keluar kembali dan tanpa rasa kasihan langsung menjambak istriku
    berdiri istriku hanya mengaduh dan menyeringai dan suara hampir bersamaan
    keluar “pluk” plok” saat kedua batang kemaluan milik pemuda kepala gundul
    berkulit hitam terlepas dari liang vagina istriku dan batang kemaluan
    belum disunat sebesar spidol white board milik Ujang lepas dari lubang
    anus istriku dan kulihat dari lubang anus istriku mengalir air mani Ujang
    dan dari liang vagina istriku mengalir air mani pemuda kepala gundul
    berkulit hitam …

    sambil terus menarik rambut istriku, Pak Kotim menarik lenganku. Aku dan
    istriku diseret Pak Kotim sampai akhirnya di depan kamar Pak Kotim
    kembali…

    Pak Kotim mendorong dan menendangku sampai kepalaku terantuk ranjang kecil
    Pak Kotim sehingga aku duduk di lantai di bagian bawah ranjang Pak Kotim
    dengan mata berkunang-kunang….

    Sementara itu, Pak Kotim menyeret istriku masuk ke kamar mandi dan sperti
    tadi pagi, Pak Kotim memandikan istriku cuman suara mengigil istriku tanpa
    suara merintih atau bahkan mengerang …..

    Akhirnya, Pak Kotim menggandeng istriku yang telanjang bulat masuk ke
    kamar dan mendorong kasar istriku sehingga tertelentang dan kedua kaki
    istriku terkangkang lebar di tengah ranjang kecil Pak Kotim …..

    Tanpa rasa rikuh Pak Kotim langsung meyosorkan bibir tebal hitam nya ke
    arah selangkangan istriku dan jari-jari tangan lelaki tua yang besar-besar
    itu langsung membuka lebar bibir vagina sambil menggosok-gosok bibir
    vagina istriku dan lidah panjang kasar Pak Kotim pun menjilati kelentit
    istriku yang membuat istriku duduk terkangkang lebar
    Lidah panjang kasar Pak Kotim dengan gerakan cepat menjilati kelentit
    istriku yang membuat istriku mendesis-desis tak karuan sambil mendongakkan
    kepalanya….

    Istriku mengerang saat jari telunjuk, jari tengah dan jari manis Pak Kotim
    mengobok-obok liang vagina istriku sementara itu, bibir tebal hitam Pak
    Kotim menghisap-hisap kelentit istriku yang menegang…..

    Istriku menopang tubuhnya dengan kedua tangannya dan tak ayal lagi pantat
    bahenol istriku terangkat-angkat karena bibir tebal hitam semakin kuat
    menghisap-hisap kelentit istriku sementara itu, jari telunjuk, jari tengah
    dan jari manis Pak Kotim bukan saja mengocok liang vagina istriku tapi
    juga menggaruk dan mengorek-ngorek liang vagina istriku dengan ketiga jari
    telunjuk, jari tengah dan jari manis Pak Kotim tertekuk sambil ditarik
    keluar dan istrikupun mengerang keras dan memngangkat pantat bahenol
    tinggi-tinggi sampai akhirnya istriku mengejan panjang mencapai orgasme…..
    Pak Kotim terus mempermainkan liang vagina, kelentit, dan bibir vagina
    istriku dengan lidah panjang kasar dan jari-jari tangan lelaki tua yang
    besar-besar itu tanpa ampun sampai istriku mengejan panjang sampai dua
    kali lagi dengan posisi pantat bahenol terangkat tinggi seperti orang yang
    sedang kayang…

    Rupanya Pak Kotim sudah gak tahan lagi, maka dia mernagkak ke atas
    menjilati perut ke atas dan
    “Mbbaaaaaaaaaccchhhh ………….”istriku mendesah keras saat jari-jari tangan
    lelaki tua yang besar-besar itu meremas-remas kedua payudara montok
    istriku dan menekan ke tengah sehingga dengan mudah lidah panjang kasar
    Pak Kotim menjilati kedua puting susu hitam sebesar kelingking istriku dan
    desahan istriku semakin berat saat air susu istriku keluar memancar keras
    dan ditambung di mulut ompong Pak Kotim sehingga Pak Kotim tak sabar juga
    langsung mencaplok payudara montok kanan istriku sambil terus
    meremas-remas kasar kedua payudara montok istriku. istriku hanya
    meremas-remas bahun Pak Kotim yang begitu ganas mengulum dan
    menyedot-nyedot payudara montok kanan istriku
    Istriku menggelinjang dan menggeliat tak karuan pantat bahenol istriku
    bergoyang dan dari tempatku melihat batang kemaluan seperti botol sprite
    200cc berurat sebesar cacing tanah Pak Kotim pun menggosok-gosok
    selangkangan tanpa bulu kemaluan itu dimana lendir vagina sudah membasahi
    bibir vagina nya menandakan istriku terangsang hebat…

    begitu air susu istriku habis, Pak Kotim memulai manuver ke bawah….. kedua
    tangan keriputnya menekan lutut istriku melebar sehingga kini kedua kaki
    istriku terkangkang lebar dan kedua kaki Pak Kotim menahan sendi lutut
    istriku dengan kedua paha kerempangnya sehingga seolah istriku jongkok
    terkangkang lebar dan bibir vagina istriku terikut terbuka….

    Pak Kotim pun menggosok-gosok kepala jamur nya ke bibir vagina istriku
    yang terbuka
    “Mbaaaaaagggghhhh ….”istriku mendesah berat saat kepala jamur Pak Kotim
    mulai menyundul-nyundul bibir vagina istriku yang merekah

    “uuuuuuuuuughhhhhhhh …….” istriku melenguh panjang saat kulihat jelas
    kepala jamur nya mendesak masuk ke liang vagina istriku maka kulihat bibir
    vagina istriku menggelembung
    Mendadak sontak batang kemaluan ku yang dari tadi tertidur menegang saat
    kulihat proses desakan batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat
    sebesar cacing tanah melesak masuk liang vagina istriku …bukan saja bibir
    vagina istriku semakin menggelembung tetapi kulihat liang vagina istriku
    terkuak lebar dijejali batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat
    sebesar cacing tanah Pak Kotim dan istriku begitu keras melenguh panjang,
    istriku mendengus-dengus seperti lokomotif uap yang selip menarik
    gerbong-gerbong beratnya dan dengusan istriku membuat liang vagina istriku
    seperti katup membuka menutup walaupun relatif kecil sehingga seolah liang
    vagina dan bibir vagina istriku melahap batang kemaluan seperti botol
    sprite 200cc berurat sebesar cacing tanah Pak Kotim.
    begitu masuk seperempat bagian, kulihat bibir vagina istriku yang tadinya
    menggelembung terikut masuk ke dalam liang vagina istriku karena begitu
    besarnya batang kemaluan Pak Kotim dan karena bibir vagina istriku masuk
    maka kelentit istriku pun terikut masuk dan karena jepitan batang kemaluan
    seperti botol sprite 200cc berurat sebesar cacing tanah begitu kuat maka
    kelentit istriku pun solah digosok dan terjepit….
    “Ngngngngngng…”istriku mengejan panjang …..saat orgasme nya meledak
    tubuhnya bergetar walaupun batang kemaluan seperti botol sprite 200cc
    berurat sebesar cacing tanah Pak Kotim masih separuh masuk di liang vagina
    istriku.
    Posisi mengunci kedua paha Pak Kotim pada kedua paha padat istriku yang
    terkangkang lebar membuat istriku hanya dapat menggerakkan tubuh bagian
    atasnya….

    “ooooooggghhhh mbaaaaaagggghhhh …..”istriku melenguh kembali saat Pak
    Kotim menekan masuk kembali batang kemaluan seperti botol sprite 200cc
    berurat sebesar cacing tanahnya ke dalam liang vagina istriku yang terbuka
    maksimal sehingga bibir vagina dan kelentit istriku yang terikut masuk tak
    lagi dapat bergerak dan terjadi gesekan kuat antara bibir vagina, kelentit
    dan dinding liang vagina istriku dengan permukaan batang kemaluan Pak
    Kotim yang tak rata karena urat-urat yang menonjol tak merata di seluruh
    permukaannya membuat sensasi dan membuat istriku mengerang, melenguh,
    mendesis-desis, menggeram, mendengus-dengus seperti lokomotif uap yang
    selip menarik gerbong-gerbong beratnya, terisak-isak dengan kedua mata
    istriku terbelalak, terbalik-balik dan menatap sayu memandang wajah tua
    Pak Kotim dengan meremas lemah kedua lengan Pak Kotim dan mengejan panjang
    berkali-kali menandakan istriku terus menerus orgasme dan terlihat lubang
    anus istriku terbuka saat mencapai multiple orgasme ….

    “Enak Jeng Yati ?tanya Pak Kotim lembut
    “Heeqq eeeeeeeghhh….”istriku hanya bisa menjawab
    “Apanya yang enak Jeng Yati ..?”
    “Anunya mbaaaaaagggghhhh Kooottiim hhheeeqqqqqhhhh …….”
    “Anu apa Jeng Yati ..?
    “Anunyaa mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiimmzzzzz …..”
    “Anu apaaaa!!!”tiba-tiba Pak Kotim membentak sambil menarik keras rambut
    pendek istriku hingga istriku tertunduk
    “Katakan!!!”
    “Koooontoooolll mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiimmzzzzz ….ngngngngngng
    …..”meluncurlah kata-kata yang tak sepantasnya dari mulut istriku kepada
    lelaki tua berumur 70 tahunan yang hanya seorang jongos pak Karto, jongos
    untuk membuka menutup pintu pagar rumah mewah itu, sekarang sudah menjadi
    lelaki tua yang membuka lebar liang vagina istriku …
    “Enak mana dengan punya suamimu …Katakan ke suamimu…”bentak Pak Kotim
    Istriku rupanya tak mau ditarik rambutnya itupun menjawab
    “Mmmaaaaazzzz … kooontooool mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiimm
    bbbbeeezzzzaaaar …. enaaaaaaaggghhh …… ennaaaaghhh kooontoool
    mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiimmzzzzz ngngngngngngng…..”istriku mengejan
    panjang karena orgasme
    “Katakan kamu gundikuu … kamu lonteku…aku juraganmu… aku germomu ….bilang
    ke suamimu …”
    “Maaaazzz akuuu gundik mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiimm …..akuuu lonte
    mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiimmzzzzz…… mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiim
    juragaaankuuu mmmaaazzz …. mbaaaaaagggghhhh Kooootiiiiiimm eeeghhh ….
    geeermooookuuuuu …..maaaaaazzzzzzz ngngngngngngngngngngngng….”istriku
    mengejan kembali saat batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat
    sebesar cacing tanah Pak Kotim seluruhnya masuk di dalam liang vagina
    istriku dan Pak Kotim langsung menarik cepat dan “Plook” suara keras
    terdengar saat batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat sebesar
    cacing tanah Pak Kotim terlepas dari cengkraman liang vagina istriku dan
    Pak Kotim menarik keras rambut istriku sehingga tubuh istriku terpuntir
    dari tertelentang hingga tertelungkup dan Pak Kotim mendekatkan wajah
    istriku ke selangkangan Pak Kotim

    “Kulum kontolkuuuu…lonteekuu….”
    Tangan kanan istriku pun meraih batang kemaluan seperti botol sprite 200cc
    berurat sebesar cacing tanah Pak Kotim tanpa ragu…mengocok nya dan lidah
    istriku menjulur menjilati lubang kencing kepala jamur Pak Kotim
    “Enaaaak lonteeeeekuuuu …..enaak Jeng Yati ….tunjukkan ke suamimu kalau
    kkamu pinter nyepong kontol……ooooogghhh enaaaak Jeng Yati …”
    Istriku pun mengulum dan menyedot-nyedot kepala jamur Pak Kotim ..Pak
    Kotim menggesr duduknya sehingga aku bisa melihat jelas bagaimana istriku
    melayani Juragan jongosnya dengan baik, entah karena melihatku tak berdaya
    atau rasa terima kasih kepada Pak Kotim yang membuatnya lemas mendapatkan
    multi orgasme karena batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat
    sebesar cacing tanah Pak Kotim tadi menjejali liang vagina istriku ….

    Enak Jeng Yati enak gundikku…enak lonteku…”kata itu yang terus terucap
    dari mulut lelaki tua berumur 70 tahunan itu

    Selagi gencar-gencarnya istriku mengulum dan menyedot-nyedot kontol Pak
    Kotim tiba-tiba masuk pemuda kepala gundul berkulit hitam dan lelaki tua
    berambut gondrong beruban diikuti Ujang, pemulung kecil ….

    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itu langsung menarik pinggang istriku
    sehingga istriku turun dari ranjang Pak Kotim dan posisi istriku merangkak
    ..mulutnya terus mengulum dan menyedot-nyedot batang kemaluan seperti
    botol sprite 200cc berurat sebesar cacing tanah Pak Kotim yang kini duduk
    di tepi ranjangnya dan istriku tak memperdulikan tubuhnya ditarik pemuda
    kepala gundul berkulit hitam itu hingga turun di lantai dengan posisi
    merangkak….

    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itupun mengkangkangkan kedua kaki
    istriku dan memegang batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml
    mengarah ke liang vagina istriku dari belakang

    “Aku belum ndul…”kata lelaki tua berambut gondrong beruban itu
    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itupun diam dan bergeser dan lelaki
    tua berambut gondrong beruban berdiri pada kedua lututnya mendekatkan
    batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml ke pantat bahenol istriku yang
    menungging nungging karena sibuk mengocok dan mengulum dan menyedot-nyedot
    batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat sebesar cacing tanah
    Pak Kotim

    “Eeeggghhmmpppffff ……”istriku mendesis saat batang kemaluan seperti kaleng
    axe 150 ml lelaki tua berambut gondrong beruban itu menjejali liang vagina
    istriku

    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itu tiba-tiba berpaling ke arahku

    “Kok nggak ikut?”tanyanya
    “Dia suami Bu Yati . ndul”kata Pak Kotim disela desisannya
    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itupun menyeretku dan mendekat ke
    istriku dan kemudian memukulku dan menyeretku keluar kamar

    Istriku pun menghentikan kulumannya….menatapku…. diseret keluar kamar

    “Jangaaan maaazzz..”kata istriku dan tangan istriku dipaksa meraih batang
    kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml pemuda kepala gundul berkulit
    hitam itu hingga duduk bersebalahan dengan Pak Kotim

    “Kocok kontolku Bu Yati :”kata pemuda kepala gundul berkulit hitam
    Istriku pun mengocok kedua batang kemaluan kedua lelaki itu dan sambil
    melirikku mengulum dan menyedot-nyedot kedua batang kemaluan itu
    bergantian

    “Ujang sedotin susu Bu Yati …”kata Pak Kotim ke Ujang, dan pemulung kecil
    itupun langsung tiduran di bawah dada istriku untuk mengulum dan
    menyedot-nyedot kedua payudara montok istriku dan Ujang, pemulung kecil
    semakin lahap menghisap-hisap dan mengempot kedua payudara montok istriku
    setelah air susu istriku keluar

    “Mbaaaaaagggghhhh akuuu mauu keluar… genjoot cepaaat mbaaaaaagggghhhh
    uuubaaan ……”istriku mendesis-desis dan nafasnya mendengus-dengus seperti
    lokomotif uap yang selip menarik gerbong-gerbong beratnya mersakan kocokan
    batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml lelaki tua berambut gondrong
    beruban di liang vagina istriku
    “Mbaaaaaagggghhhh akuuu keluuuuaaar …”istriku mengerang dan lelaki tua
    berambut gondrong beruban menjejalkan dalam-dalam batang kemaluan seperti
    kaleng axe 150 ml nya ke liang vagina istriku dengan menarik pinggul
    istriku sehingga pantat bahenol menempel ke selangkangan lelaki tua
    berambut gondrong beruban itu

    Lelaki tua berambut gondrong beruban itupun kembali mengeluarmasukkan
    batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml nya ke liang vagina istriku
    semakin cepat dan “plok” lelaki tua berambut gondrong beruban itu melepas
    batang kemaluan seperti kaleng axe 150 ml nya dari liang vagina istriku
    dan dengan berjalan ke samping istriku dengan kedua lututnya menarik keras
    rambut pendek istriku yang masih asyik mengocok dan mengulum dan
    menyedot-nyedot batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml pemuda
    kepala gundul berkulit hitam itu

    Kini mulut istriku ternganga lebar menunggu masuknya batang kemaluan
    seperti kaleng axe 150 ml lelaki tua berambut gondrong beruban itu di
    mulutnya dan istriku mengulum dan menyedot-nyedot batang kemaluan itu dan
    pemuda kepala gundul berkulit hitam itu langsung turun berdiri di kedua
    lututnya lamgsung menjejalkan batang kemaluan seperti kaleng KIT interior
    175 ml ke liang vagina istriku dari belakang

    “enak Jeng Yati aku mau keluaaar …”kata lelaki tua berambut gondrong
    beruban itu dan istriku malah melepas kulumannya dan membuka mulutnya
    lebar dan “Crot crrooot ” air mani lelaki tua berambut gondrong beruban
    menyembur masuk mulut istriku

    “Telan lonte telan…”bentak lelaki tua berambut gondrong beruban dan
    istriku menelan air mani lelaki tua berambut gondrong beruban itu dan
    tercecer di lanti karena pemuda kepala gundul berkulit hitam dengan kuat
    menyodok-nyodokan batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml nya
    di liang vagina istriku sehingga wajah, dan rambut istriku dipenuhi air
    mani yang tak sempat ditelan istriku

    Pemuda kepala gundul berkulit hitam itu semakin cepat menyodok-nyodokan
    batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml nya dan seperti lelaki
    tua berambut gondrong beruban melepas batang kemaluan seperti kaleng KIT
    interior 175 ml dari liang vagina istriku dan menyodorkan batang kemaluan
    seperti kaleng KIT interior 175 ml nya ke mulut istriku untuk menyemburkan
    air maninya di mulut istriku

    Pak Kotim langsung menarik tangan istriku setelah istriku menjilati
    btkmkit pemuda kepala gundul berkulit hitam sampe bersih dari air mani dan
    kembali istriku mengocok dan mengulum dan menyedot-nyedot kepala jamur
    batang kemaluan seperti botol sprite 200cc berurat sebesar cacing tanah
    Pak Kotim dan Ujang, pemulung kecil itupun membuka bongkahan pantat
    istriku dan lubang anus istrikupun terbuka maksimal dan pemulung kecil
    itupun menjejali lubang anus istriku dengan batang kemaluan belum disunat
    sebesar spidol white board milik Ujang ….

    Akupun merasa lemas seperti istriku dan aku hanya dapat melihat mereka
    berempat menggilir istriku sampai lemas

    Aku tersadar entah kapan yang jelas ada di rnjang pengantinku bersama
    istriku yang tertidur pulas…

    Mimpikah aku?

    Aku tak ingat lagi sampai akhirnya pintu rumahku digedor-gedor orang yang
    memanggil namaku dan istriku

    Kulihat jam 1 … satu apa?”pikirku
    Aku buka pintu rumahku
    “Wah ketiduran ya pak…sampe lupa hidupkan lampu..”

    Karena saking capeknya stelah mengucapkan terima kasih dan menghidupkan
    lampu..akupun tertidur kembali…

    Esok harinya aku terbangun…

    “Aku pusing mas..”kata istriku
    Kebetulan Pak Karto datang dan begitu tahu istriku sakit malamnya Pak
    Karto datang dengan lelaki cina bernama dr. Tan
    “istri bapak terlalu capek…”katanya akan menaiki mobilnya dan dia memnta
    mendekatinya
    “Istri cantik-cantik jangan disuruh kerja keras terus… kasihan,
    pak..”katanya lirih agar tak terdengar Pak Kotim

    Hampir 2 minggu istriku tidak bekerja beberapa hari dan anehnya istriku
    tak mau turun tempat tidur saat aku di rumah…. aku tak mengerti kenapa?
    Istriku menerima sepucuk surat dari Pak Karto dan istriku menyatakan dia
    diberhentikan dari pekerjaannya… dengan hanya memberi pesangon yang amat
    kecil…

    Akhirnya, istriku sembuh dan ceria kembali
    Aku agak kaget saat seperangkat alat suntik tertinggal di bawah ranjang
    pengantinku, padahal selama 2 minggu dr. Tan tak pernah ke rumah saat ada
    aku dan istriku sama sekali tak menceritakan kalau dr. Tan pernah ke
    rumah.

    Jawabannya….adalah saat hari Minggu dr. Tan ke rumah dia menawarkan
    istriku pekerjaan di proyeknya
    Belum aku jawab istriku menerima tawaran itu. Aku hanya berpikir kenapa
    seorang dokter berprofesi pemborong bangunan
    Dokter Pemborong Kandungan

    Awal istriku kerja di dr. Tan memang berangkat dan pulang sendiri, dia
    begitu ceria…
    Kemudian setelah 2 minggu, ada perubahan dimana dr. Tan mau maunya antar
    jemput istriku bekerja… padahal nota bene istriku adalah anak buahnya
    Akupun tak menghiraukan, perubahan yang ke dua adalah pulang istriku
    selalu malam sekitar jam 7 malam dan dr. Tan mengatakan kalau ada lembur
    setiap kali dia mengantar dan menemuiku.
    Perubahan ketiga adalah saat sebulan istriku kerja … istriku langsung
    tidur setelah mandi dengan air panas….

    Aku menanyakannya dan jawabannya adalah memang proyeknya termasuk besar
    sehingga perlu mengeluarkan banyak tenaga dan pikirannya agar proyek yang
    diterima dr. Tan dapat cepat selesai atau setidaknya tepat waktu, begitu
    istriku beralasan.
    Hari ke 35, entah kenapa saat kerjaku istirahat aku ingin ke tempat
    istriku bekerja… dan kebetulan aku dapat ijin dari atsanku setengah hari….
    Sesampai di proyek … kebetulan sepi .. karena kutahu dari satpam gempal
    bernama Markus, berperawakan hitam kekar berotot, karena supply bahannya
    terlambat sejak seminggu yang lalu….bahkan dia menggerutu karena sudah 3
    hari ini tidak pulang karena teman satpam nya sakit…. sambil memberikan
    kartu identitas merah yang hanya 3 buah itu…

    “Bu Yati di kantor sana, pak.. Bapak bisa langsung sendiri ke sana di
    lantai 3 … “katanya

    Akupun membuka pintu, ada seorang operator laki-laki dan seorang satpam…

    “Silahkan, pak… “kata satpam itu menghormat, aku sedikit bingung karena
    satpam itu begitu menghormat…. baru kusadari setelah stapam itu melihat
    kartu identitas merah tanpa memeriksanya dan sempat ku baca di papan tulis
    operator kalau merah langsung masuk tanpa diperiksa

    Akupun menapaki tangga sampai akhirnya kusampai lantai tiga dan membuka
    pintu masuk lantai 3 dan kudapati ruang tamu yang kosong dan didekat pintu
    masuk Direktur kudapati meja operator yang kosong juga

    Akupun mendekati pintu Direktur yang sedikit terbuka karena door closer
    yang , aku bermaksud mengetok pintunya, tapi

    ” Tuaaaan Taaaan …..ampfuuuun …..” kudengar jelas suara istriku
    mendesis-desis, akupun sperti orang dungu menuju pintu lantai tiga dan
    memutar anak kuncinya sehingga pintu itu terkunci dan kembali mendekati
    pintu direktur yang tak tertutup rapat.

    Akupun mengintip….kulihat istriku duduk di kursi yang kurasa aneh
    bentuknya terbuat dari besi tetapi aku tak dapat melihat apa yang
    dikerjakan Tuan dokter Tan karena tertutup badan Tuan dokter Tan … aku
    hanya melihat istriku yang menengadah sambil mendesis-desis dan mulut
    istriku ternganga lebar …

    Keinginankupun muncul… dan begitu ingin tahunya aku untuk melihat apa yang
    dilakukan Tuan dokter Tan terhadap istriku dan mataku mencari tempat
    dimana bisa mengintip jelas…

    Akupun menuju jendela nako rayben berselambu hijau di dekat kursi ruang
    tunggu… dan aku melihat satu kaca paling bawah tak terpasang dan akupun
    melihat besi tertekuk ujungnya di bawah kursi.
    Akupun mengambil dan aku sedikit heran saat selambu itu kukait dan besi
    itu kuletakkan di daun jendela sebalah bawah maka aku bisa melihat jelas
    dari sibakan selambu yang terkait ujung besi yang tertekuk itu….

    Akupun melihat jelas istriku duduk dikursi besi dimana kedua tangannya
    terikat semacam bahan dari kulit di tempat tangan dan kedua kaki istriku
    pun terikat di tempat kaki kursi besi itu.
    Posisi kedua tangan istriku terbuka lurus ke samping dan kedua kaki
    istriku tertekuk seolah jongkok sehingga dari tempatku mengintip terlihat
    istriku degan kedua kakinya yang terkangkang lebar dan tampak jelas
    selangkangan istriku tanpa ada bulu kemaluan
    Rupanya kursi besi itu merupakan kursi portable dapat di pindah tapi
    dikait oleh semacam mur berbentuk V pada lantai.

    “istirahat dulu Zuz Yati,”kudengar Tuan dokter Tan berkata dan berdiri
    sambil memencet remote control.
    dan kulihat besi dimana kedua kaki istriku terika bergerak sehingga kedua
    kaki istriku pun turun….

    dan kedua tangan istriku bergerak dan rupanya telapak tangan istriku
    langsung menangkup kedua payudara montok nya dan kulihat istriku yang
    masih memakai baju bahan kaos itu meremas-remas sendiri kedua payudara
    montok nya karena grakan alat itu.

    “Zaaakiiit Tuaaaan ….”istriku merintih dan kutahu jari telunjuk dan ibu
    jari istriku memencet sendiri kedua puting susu hitam sebesar kelingking
    nya yang masih terbungkus baju bahan kaos itu …

    Tiba-tiba kudengar sesuatu dan rupanya pegangan pintu masuk lantai 3
    bergerak ke bawah menandakan ada yang akan membuka…

    Akupun mendekat
    “Kurang ajar dikunci sama tamu tadi… kita kehilangan waktu untuk ngintip
    Tuan dokter Tan ngerjain Bu Yati ..”

    “Makanya pinjam video kamera .. kita bisa nonton gimana Tuan dokter Tan
    ngerjain Bu Yati habis-habisan…”kata yang satunya

    “kita patungan pinjam video kameranya….”
    “Wah kita bisa tunjukin ke Bu Yati … siapa tau Bu Yati bisa kita kerjain
    bertiga…”kata lainnya

    Hatikupun terkesiap…dan kudengar langkah kaki menuruni tangga….
    Akupun tahu kenapa besi itu tertekuk persis membuka selambu hijau jendela
    nako..

    “Eeegggghhzzzz …”kudengar suara istriku merintih

    Akuun bergeas ke tempat semula
    Kulihat kedua kaki istriku posisi jongkok terkangkang lebar kembali dan
    kulihat Tuan dokter Tan tengah memasang sesuatu ke support kursi…
    dan kutahu sebuah alat sebesar sikat gigi yang berbulu sikat halus
    dipermukaannya sehingga aku teringat batang kemaluan belum disunat sebesar
    spidol white board milik Ujang
    Dildo spidol berbulu itu tepat dihadapan liang vagina istriku dimana bibir
    vagina istriku yang tanpa ada bulu kemaluan sudah terbuka karena kedua
    paha padat istriku benar-benar terkangkang lebar

    “Aaaaaggghhh aaaduuuuuccggghh Tuaaaaan …”istriku mengerang saat kulihat
    Dildo spidol berbulu mulai menjejali liang vagina istriku pelan tapi pasti
    dan kulihat hanya perut istriku yang bergerak maju mundur karena tubuh
    istriku diikat kuat. di kursi besi itu

    Lelaki cina tua itupun berdiri sambil terkekeh-kekeh melihat istriku yang
    mendesis-desis dengan mulut yang ternganga lebar merasakan dildo spidol
    berbulu menjejali liang vagina nya

    “Aduugh .. aduuugh … aduuuughh … aduuugghh …Tuaaaan Taaaan …..”istriku
    merintih rintih

    “Enak Zuz Yati ?tanya Tuan dokter Tan …. “Ini masih masuk aja … he he …”

    “Tuaaaan Taaaan …. Tuaaaan Taaaan ….aduuuuuuuuugghh …
    “Kenapa sayang…. kenapa Zuz Yati sayaaang ….keluarkan aja kalau gak kuat
    nahan ….”

    “Akkkkuuuuuu keluaaaaaaaarrr …ngngngngngngngng …..”istriku mengejan
    panjang dan gerakan pantat bahenol istriku terlihat aneh karena terikat
    kuat

    Tuan dokter Tan menghentikan dengan menombol tombol remote control…
    “Coba kita lihat rekamannya…”katanya dan kulihat TV menyala dan
    terlihatlah kejadian dimana dildo spidol berbulu menjejali liang vagina
    istriku sampe istriku orgasme

    “Sekarang Tahap kedua ..”katanya
    “Tuaaaan Taaaan …”istriku merintih kembali dan kulihat rupanya dildo
    spidol berbulu yang menjejali liang vagina istriku itu berputar pada
    porosnya…

    “Aduuugghh … Tuaaaan Taaaan aduuugghh … Tuaaaan Taaaan aku nggaaaak
    tahaaaan …akuuu keluaaar ….”istriku mencapai orgasmenya

    “Aaaaaaaaggggghhhh …….. aaaaaaaaaagggggghhhhh …….aaaaaaaaaagggggghhhhh …….
    aaaaaaaaaagggggghhhhh ……. ….”istriku mengerang ngerang dengan kedua
    matanya terbelalak dan mulut ternganga lebar saat dildo spidol berbulu
    semakin cepat berputar di dalam liang vagina istriku .

    “Katakan kalau keluar Zuz Yati …katakan kalau keluar pelacuuur …” kata
    Tuan dokter Tan sambil terkekeh-kekeh

    “Aakkkuuuu keluaaaaar Tuaaaan Taaaan ……”istriku mengerang dan dengan
    santainya Tuan dokter Tan membuat garis lurus kecil di papan sebelahnya

    Rupanya Tuan dokter Tan membuat score seperti dalam penghitungan suara dan
    dildo spidol berbulu itu terus berputar di dalam liang vagina istriku dan
    dua, tiga akhirnya istriku mencapai orgasme 3 kali

    “Wwwaaaauuuuuggh wwwaaaaaaaugghhhh ……. wwwaaaaaaaugghhhh …….
    wwwaaaaaaaugghhhh ……. “istriku mengerang aneh rupanya selain berputar
    dildo spidol berbulu itu juga maju mundur di dalam liang vagina istriku

    dan Tuan dokter Tan mengeluarkan sesuatu dan membuka baju bahan kaos itu
    istriku dan terkuallah payudara montok istriku dengan kedua puting susu
    hitam sebesar kelingking yyang tegak mencuat dan Tuan dokter Tan mengambil
    sesuatu dan kulihat benda sebesar tabung suntikan itu dipasangkan ke kedua
    puting susu hitam sebesar kelingking yang tegak mencuat dan tak ayal lagi
    istriku mendengus-dengus sambil merintih ….

    Kini istriku menegadah dan melolong merasakan kedua benda itu
    menyedot-nyedot kedua puting susu hitam sebesar kelingking nya dan gerakan
    spiral dildo spidol berbulu di liang vagina istriku

    dan istriku hanya bisa menggeram “keluuuar … keluaaar … keluaaarr …” dan
    Tuan dokter Tan menghentikan saat istriku sudah tak mampu bersuara
    “keluar” lagi….

    “Lebih baik dari kemarin ….”katanya dan menunjukkan core boardnya ke
    istriku
    “6 kali ….”katanya terkekeh-kekeh …

    “Jadi 1 tambah 3 tambah 6 …lumayan ..10 kali orgasme…”katanya sambil
    menonbol remote control
    “Hhhhhehehhheheheheheheh …..”kudengar istriku mendesah saat dildo spidol
    berbulu itu keluar dari liang vagina istriku

    Tuan dokter Tan kemudian memposisikan istriku duduk sebelum melepas tali
    tali yang mengikat istriku.

    Tuan dokter Tan memapah istriku yang bermandikan keringat dan lemas dan
    kemudian menidurkan istriku ke sofa….

    Tuan dokter Tan membuka celananya dan mengeluarkan batang kemaluan seperti
    kaleng KIT interior 175 ml belum disunat yang loyo dan mendekatkan ke
    mulut istriku
    istriku hanya membuka mulutnya dan kemudian kulihat istriku mengulum dan
    menyedot-nyedot batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml belum
    disunat Tuan dokter Tan sampai akhirnya menegang…
    Tuan dokter Tan pun mengkangkangkan kedua kaki istriku dan kulihat batang
    kemaluan seperti kaleng KIT interior 175 ml belum disunat menjejali liang
    vagina istriku yang basah kuyup oleh lendir vagina nya karena 10 kali
    orgasme.
    Tuan dokter Tan pun memmompa pantatnya mengeluarmasukkan btklmkit belum
    disunat nya di liang vagina istriku dan dengan kasar menggigit kedua
    payudara montok istriku bergantian sambil memencet, memelintir sambil
    menarik narik kedua puting susu hitam sebesar kelingking istriku
    Tak kunyana istriku sempat keluar 3 kali
    “Koontolmu aneh Tuaaaan Taaaan ….”
    sampai akhirnya mencabut batang kemaluan seperti kaleng KIT interior 175
    ml belum disunat yang berdenytut denyut itu dan serta merta menjejali
    mulut istriku dengan batang kemaluan Tuan dokter Tan yang belum disunat
    seperti kaleng KIT interior 175 ml dan kulihat istriku meneguk air mani
    Tuan dokter Tan.
    Tuan dokter Tan terus menggosok-gosok batang kemaluan yang belum disunat
    seperti kaleng KIT interior 175 ml ke wajah istriku yang lunglai…

    Tuan dokter Tan kemudian masuk ke kamar mandi dan membiarkan istriku yang
    terbaring lunglai.

    Akupun bergegas keluar lantai 3 dan menemui satpam tua yang masih terlihat
    kekar bernama Pak Masri dan operator bernama Suwanto, orang cina, kalau
    aku sudah menemui istriku.

    Aku berusaha seolah cepat meninggalkan ruang itu, tapi aku kembali.

    “Kurang ajar, tuch tamu, main kunci segala, besok jangan lupa kamu Wanto,
    pinjam video kamera….”kata Pak Masri

    Akupun meninggalkan mereka berdua.

    “Sudah ketemu Bu Yati, pak?”kata Markus lelaki hitam besar…
    :”sudah ,” jawabku singkat
    “Bu Yati asyik, kan? katanya santai tanpa curiga kalau yang diajak bicara
    adalah suami Bu Yati, istriku
    “Emang, kenapa pak Markus ? tanyaku
    “Loch, bapak gak lihat toch?katanya
    “Lihat?? Lihat apa, pak Markus ?tanyaku seolah penasaran

    “Yah, pokoknya kalau pulang Bu Yati lemas, saya selalu disuruh menggendong
    Bu Yati masuk mobil … paha padat nya mulus dan kedua payudara nya montok
    berisi… sering saya sengaja menggendong Bu Yati sambil meremas-remas nya,
    pak…. saya juga sering meremas-remas pantat bahenol Bu Yati kalau Tuan
    dokter Tan masih di kantor…” katanya santai
    “Emang Bu Yati itu sebagai apa di sini?”tanyaku
    “Ya sebenarnya sekretarisnya atau paling tepat gundiknya Tuan dokter Tan
    ,pak.. Kami juga pengen mainin Bu Yati ..”katanya polos
    “Maksud kami?
    “Ya, kami bertiga, kan spesial di sini…bapak tahu Pak Masri dan Suwanto
    tadi, kan? hanya kami bertiga yang boleh masuk ke lantai tiga lainnya
    tidak boleh kecuali tamu vip..”katanya

    Percakapan itu membuat hatiku berdegup kencang, tak ada rasa untuk
    mencegah, gila… rupanya Pak Karto dan Pak Kardi memasukkan “ilmu”nya
    sangat dalam, aku sadar dan tahu, tapi acuh tak acuh….

    Akupun pulang….

    Hari-hari berikutnya, istriku selalu pulang letoy… setelah mandi langsung
    tidur ….. setiap hari.

  • The Gladiator Tale: Blood and Semen

    The Gladiator Tale: Blood and Semen


    53 views

    Daftar istilah asing

    • gladiator – petarung bersenjata yang bertarung di arena untuk menghibur penonton pada jaman Romawi Kuno
    • lanista – pemilik sekolah gladiator
    • senator – jabatan pada masa Romawi Kuno yang sekarang kurang lebih setara dengan anggota dewan / senat.
    • ludus – sekolah/asrama gladiator
    • gladius – pedang pendek lurus
    • sica – pedang lengkung
    • myrmillo – jenis gladiator yang dipersenjatai mirip legiuner dengan helm, tameng dan gladius
    • retiarius – jenis gladiator yang dipersenjatai dengan trisula, belati dan jala, bertarung dengan mengandalkan kelincahan.
    • Venatio – pertarungan antara gladiator dengan hewan buas
    • noxii – terpidana mati yang dipaksa bertarung di arena sampai mati
    • dominus/ domina – tuan/nyonya, sebutan bagi atasan oleh budak/pelayan

    —————————————————
    Republik Roma, 101 SM

    Ceritamaya | Gegap gempita keriuhan penonton di arena pertandingan gladiator itu sementara mereda ketika dua gerbang besar dibuka, satu di setiap sisi arena . Dari keluar dari gerbang timur melangkah seorang gladitor retiarius dengan tubuh tinggi dan berotot, kulit hitam legamnya yang berkeringat nampak mengkilap di bawah sinar matahari yang hari itu bersinar terik. Sebagai catatan, retiarius adalah gladiator dengan dengan senjata jaring untuk menjerat lawan mereka serta sebilah tombak trisula. Pelindung badan retiarius lebih minim, hanya berupa pelindung lengan, bahu serta tulang kering, tanpa helm, karena type petarung ini lebih mengandalkan kecepatan dan kelincahan.
    “Kita sambut….HASDRUBAL!! Jagal dari Sahara!!” seru pembawa acara dari podium utama.
    Penonton menyambut meriah dengan teriakan dan tepuk tangan, taruhan mulai dipasang di antara mereka. Setelah itu gerbang barat membuka dan seorang gladiator type myrmilo yang akan menjadi lawan Hasdrubal melangkah keluar ke arena berpasir. Ia memiliki tubuh yang lebih besar dan kulitnya pucat, wajahnya tertutup oleh helm berukiran ikan mitologis dan rambut pirangnya yang panjang melambai tertiup angin. Lengan kanannya yang bertato khas Celtik memegang pedang gladius yang masih berlumuran darah lawan sebelumnya sementara tangan kirinya memegang perisai berukuran sedang. Seketika semua orang dalam kerumunan itu mengenalinya karena dialah sesungguhnya yang ditunggu-tunggu oleh mereka, juara  tak terkalahkan dari arena, pembunuh tak kenal ampun dari kepulauan Britania yang saat itu masih barbar. Dia pernah menghabisi lima lawan sekaligus dalam suatu pertandingan, bukan hanya manusia, binatang-binatang liar seperti macan, singa, dan beruang pun sudah menjadi korbannya.
    “Dan dari sisi barat, inilah dia….sang juara bertahan, LIBERIUS!! Bayangan Kematian!!”
    Sambutan penonton lebih meriah dan histeris dari sebelumnya, mereka sudah tidak sabar melihat darah tertumpah di arena. Kedua gladiator tersebut mendekati pusat arena dan berbalik menghadap podium utama dimana tamu penting yang meliputi senator, pejabat lokal, lanista (pemilik sekolah gladiator), beserta keluarganya duduk. Setelah editor (penyelenggara acara) memberi isyarat tanda pertarungan dimulai, terompet pun dibunykan. Hasdrubal membuka serangan awal dengan melompat ke arah Liberius yang dikejutkan oleh kecepatannya belum cukup sadar untuk menghindari ujung trisulanya. Sambil berlindung di balik tamengnya ia berusaha mendekati Hasdrubal. Namun gladiator dari Afrika itu menggunakan kelincahannya tetap menjaga jarak dan menyerang Liberius dengan trisulanya. Begitu Liberius menjauh, ia mulai mempersiapkan serangan jaring, mula-mula ia tancapkan mata garpunya ke pasir guna mencegah senjata itu tersangkut ke jaring. Ia memutar-mutar jaring itu lalu melemparkannya ke arah Liberius dan mengena, namun bagaikan singa, Liberius terus merangsek ke depan dalam jeratan jaring. Gladius di tangannya berkelebat dan menusuk paha Hasdrubal hingga ia terjatuh. Namun dengan lincah ia berguling ke samping dan berhasil bangkit ketika Liberius melangkah maju dan berusaha menyerang lengannya yang memegang jaring. Meskipun dihalau dengan trisula, Liberius yang dilindungi oleh tamengnya terus melancarkan serangan. Senjata mereka beradu menimbulkan bunyi berdentang yang nyaring. Keduanya melompat ke belakang menjaga jarak dan bersiap menyerang kembali. Orang-orang menahan nafas menyaksikan duel ini semakin mendebarkan. Kedua gladiator ini memang petarung berpengalaman yang sudah memiliki rekor bertarung yang tidak diragukan lagi, sehingga tidak heran penonton hari itu lebih banyak dari hari-hari biasa. Hasdrubal kembali menyerang, kali ini ia merangsek ke depan sambil mengayunkan trisulanya berusaha menebas Liberius. ‘Trang!’ Liberius menghantamkan tamengnya pada senjata lawan membuat tangan Hasdrubal bergetar, saat itulah ia melakukan manuver berupa gerakan memutar ke belakang punggung si gladiator Afrika  dan menyikut punggungnya. Ceritamaya

    “Aaakkhhh!!” Hasdrubal mengaduh dan terhuyung-huyung merasakan sakit pada tulang punggungnya.
    Tanpa memberi kesempatan, Liberius menerjang dan menebaskan gladiusnya, namun gerakannya dengan segera terbaca oleh Hasdrubal yang menusukkan trisulanya. Sekali lagi tameng Liberius menyelamatkannya namun kali ini karena jarak yang dekat, trisula Hasdrubal berhasil menggores lengan kiri Liberius lalu ‘trang!’ Hasdrubal dengan cepat memutar senjatanya dan memakai ujung bawahnya menghantam kepala Liberius yang dilindungi helm. Walaupun pukulan itu hanya menghantam helmnya, namun tak urung Liberius pun terhuyung ke belakang dan telinganya berdenging akibat hantaman keras itu pada pelindung kepalanya. Selama beberapa saat keduanya saling hindar, saling tangkis dan saling tunggu kesempatan menyerang balik. Hasdrubal nampak berada di atas angin ketika ia kembali menyarangkan pukulan ke helm Liberius sehingga memaksa gladiator bertubuh raksasa itu melepas dan membuang helmnya karena penyok sehingga terlihatlah wajah garang di balik helm itu yang terdapat beberapa luka codet hasil pertarungan. Namun akhirnya dalam suatu kesempatan Liberius berhasil menemukan celah di antara serangan Hasdrubal yang meleset dan berhasil memotong lengannya yang memegang trisula. Penonton langsung berseru kegirangan melihat adegan darah tertumpah dan anggota tubuh terpotong itu. Kemunafikan sikap sosial masyarakat Romawi terhadap gladiator tersebut menyebabkan beberapa filsuf secara gamblang menyerang para senator dan warga professional yang menganggap gladiator itu rendah dan sederajat dengan pelacur namun juga gemar menonton aksi mereka di arena.
    “Liberius!! Liberius!! Liberius!!” demikian seruan dari bangku penonton mengelu-elukan nama sang juara bertahan yang berhasil mengalahkan lawannya.
    Hasdrubal berlutut dan meringis kesakitan memegangi lengannya yang terpotong, ia telah kalah dan siap untuk menerima nasibnya.
    “Selamat…kau…pemenangnya, cepat lakukan, aku tidak sudi hidup sebagai orang cacat!” kata Hasdrubal.
    “Akan kulakukan secepat mungkin kawan, tanpa rasa sakit!”
    Liberius meletakkan pedangnya di depan tenggorokan Hasdrubal. Setelah menunggu beberapa saat untuk melihat suasana hati para penonton, editor bersiap memberi keputusan.  Ia merentangakan tangannya yang terkepal ke depan, menyiapkan jempolnya, inilah saat yang paling mendebarkan karena akan menentukan hidup atau matinya mereka yang kalah. Beberapa detik kemudian, sang editor mengarahkan jempolnya ke bawah, pertanda Hasdrubal harus mati. Liberius yang juga ingin mengakhiri penderitaan lawannya itu segera mendorongnya ke depan hingga gladius itu mengiris leher Hasdrubal. Pertandingan selesai, Hasdrubal ambruk ke pasir bergelimang darahnya. Seorang budak segera masuk ke arena untuk menyeret tubuh Hasdrubal yang sudah tidak bernyawa itu keluar dari arena. Sementara sang pemenang, Liberius, mendapat hadiah uang, ketenaran, perhatian publik dan ranting palma. Sebuah kemenangan gemilang yang mengakhiri pertandingan seru hari itu.

    ########################
    Ludus Ampilatus

    Di kamarnya Liberius menghitung uang yang didapatnya hari itu, jumlah yang cukup besar. Dia memperhatikan catatan tabungannya dengan hati senang.
    “Ya…segera, ” ia mengingatkan dirinya sendiri, “segera kebebasan itu akan kuperoleh”
    Ia tidak sadar seseorang sudah berdiri di pintu kamarnya yang setengah terbuka dan memperhatikannya.
    “Ohhh…dominus (tuan)…maaf saya tidak memperhatikan” sahut pria bertubuh besar itu lalu berdiri ketika menyadari kehadiran tuannya.
    “Tidak apa, santai saja…” pria umur empat puluhan berpostur sedang itu tersenyum dan melangkah masuk.
    Pria ini bernama Quintus Ampilatus, salah satu lanista terkenal di Pompeii, sudah empat tahun lebih Liberius bertarung di bawah nama ludusnya. Ia sudah mendatangkan banyak keuntungan bagi pria ini melalui pertaruhan nyawa di arena. Sebagai gladiator andalan, Ampilatus pun memberikannya kamar pribadi, terpisah dari para budak dan gladiator lainnya yang kebanyakan tidur bersama dalam sel atau kamar sempit.
    ” Penampilan yang bagus Liberius” katanya, “seperti biasa kau memang tidak pernah mengecewakan” puji pria itu seraya menepuk pundaknya.
    “Melayani anda, kehormatan bagiku” Liberius berkata dengan suara rendah.
    “Besok malam kita mendapat undangan untuk hadir di villa Senator Gaius, bersiaplah untuk itu! Bersihkan dirimu, saya sudah menyiapkan hadiah kecil di kamar mandi” Ampilatus mengangkat alis dengan senyum penuh arti.

    ——————————-

    marcia

    Marcia

    “Selamat sore tuan!” sapa seorang gadis budak berparas cantik menyambut Liberius di tempat pemandian.
    Liberius hanya mengangguk membalas sapaan gadis itu, inilah hadiah yang dimaksud oleh tuannya, seperti biasa Ampilatus memang terbilang royal dalam memberi penghargaan bagi para gladiator maupun pelayannya. Gadis berambut hitam ikal itu membuka ikat pinggang Liberius kemudian tuniknya. Terakhir ia membuka cawat pria itu dan langsung tertegun melihat penis Liberius yang berukuran besar itu, padahal itu baru setengah ereksi. Gladiator itu pun melangkah masuk ke dalam bak dan menyandarkan punggung lalu menghela nafas. Air dingin itu terasa memberi kesegaran di musim panas seperti ini, bekas-bekas pertarungan tadi seolah hilang olehnya. Setelah merapikan pakaian Liberius, gadis itu pun melepas pakaiannya, gaun biru muda dari bahan tipis itu pun terlepas dari tubuhnya lalu ia melepaskan juga celana dalamnya. Kemudian dengan santai ia pun masuk ke bak, meraih handuk bersih di bibir bak dan mulai mengelap tubuh kekar Liberius.
    “Aku baru pernah melihatmu, siapa namamu?” tanya Liberius bersandar pada posisi nyaman merenggangkan otot-ototnya, meskipun matanya setengah terpejam, ia mengamati tubuh telanjang si gadis budak itu, begitu indah dan putih dengan payudara sedang dan bulu kemaluan dibiarkan tumbuh lebat pada selangkangannya.
    “Marcia! Aku baru bulan kemarin masuk ke sini dan bekerja di bagian dapur” jawab gadis itu sambil mengelap pundak Liberius, darahnya berdesir meraba lengannya yang kokoh itu, tubuhnya yang penuh luka tebasan dan tato di lengan kanannya menciptakan aura macho dalam diri gladiator itu.
    “Nama yang indah, seindah orangnya” puji Liberius, “darimana asalmu? Dari logat bicara sepertinya kau dari timur. Hhhmmm…biar kutebak…Persia?”
    Marcia menggeleng dengan wajah tertunduk menyembunyikan senyum dikulum, merasa tersanjung dengan pujian tadi.
    “Mesir…tidak-tidak, mereka tidak seputih ini, Asiria?” tebaknya lagi
    Marcia mengangguk dan tersenyum, ia berpindah ke pundak yang satu lagi disertai pijatan.
    “Kau berasal dari jauh, apa masih punya keluarga di sini?”
    Gadis itu menggeleng, “kedua orang tua dan dua adik saya semua meninggal…wabah, hanya aku yang selamat dan berakhir di tangan penjual budak dan sampai di tempat ini” katanya lirih.
    Liberius manggut-manggut perlahan, ia merasa kasihan dengan gadis ini.
    “Nasehatku manis….keraslah pada dirimu di negeri asing ini, maka kehidupan itu akan terasa lembut, jangan sebaliknya karena itu akan menjadi bencana bagimu” kata gladiator itu menatap tajam mata Marcia.
    “Eeemmm” gadis itu mengangguk memikirkan kata-kata bijak sang gladiator, ia tak menyangka dari orang kasar seperti Liberius bisa keluar nasehat seperti itu.
    Tiba-tiba ia terhenyak ketika tangan pria itu meraih pantatnya dan menariknya mendekat, wajah sangar gladiator itu kini tidak sampai sejengkal dengan vaginanya, hembusan nafasnya terasa betul. Marcia terdiam mematung, ia memang sudah siap untuk momen ini, pandangan mereka bertemu ketika Liberius menengadah melihat reaksi wajahnya. Ia pasrah saja dan saat gladiator itu mendekatkan wajahnya dan mencium wilayah kewanitaannya tersebut.

    “Eeemmmhhh” lenguh gadis itu dengan mata terpejam.
    Tubuh Marcia pun semakin bergetar, ia merapatkan selangkangannya ke bibir Liberius sambil meremas rambut pirang panjang pria itu. Lidah Liberius semakin liar mengais-ngais liang kenikmatannya. Marcia merasakan vaginanya semakin membasah seiring dengan rangsangan yang semakin kuat dan tanpa sadar ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya supaya Liberius lebih leluasa menciumi kemaluannya. Gladiator itu menghisap klitorisnya kuat-kuat serta ujung lidahnya dengan lincah menggelitik titik sensitif itu. Jari-jari tangannya yang besar ikutan mengocok liang kenikmatan Marcia diselingi permainan lidah di klitorisnya. Marcia makin menjerit nikmat, ia benar benar dibuatnya kelojotan karena permainan tangan dan oralnya, nikmat sekali.
    “Yahhh…masukin sekarang, aku sudah tidak tahan!” desahnya memohon.
    Namun Liberius tidak menggubrisnya, ia masih menikmati menjilati vagina gadis budak itu, ia hanya menyeringai mesum melihat wajah Marcia yang telah memerah akibat birahi tinggi, rambut hitamnya yang terurai membuatnya terkesan semakin seksi saja.
    “Berbaliklah manis!” perintah Liberius.
    Marcia membalikkan tubuhnya dengan posisi menungging, tangannya bertumpu pada bibir bak. Ia berharap pria itu segera melakukannya dengan posisi doggie, tapi malah kembali tangan dan lidahnya yang menyentuh organ kenikmatannya, gadis itu pun makin menceracau ketika lidah kasap Liberius menyentuh anusnya
    “Kumohon tuan…setubuhi aku!” desah Marcia tak tahan menghadapi pemanasan Liberius yang gemilang, nafasnya sudah tersengal-sengal menahan gejolak birahi.
    “Hehehe…baiklah kalau kau sudah tak sabar manis!” Liberius bangkit hingga air hanya merendam lututnya ke atas sedikit, penisnya sudah ereksi penuh dan siap untuk mengeksekusi gadis itu, jantung Marcia pun makin berdebar-debar menyaksikan penis yang besar dan gagah itu, horny sekaligus ada rasa takut vaginanya dibobol benda sebesar itu.
    Tangannya mencengkram erat bibir bak saat merasakan kepala penis Liberius mulai mengusap bibir vaginanya
    “Aakkkhhh….aaaww.. ” teriak Marcia kaget ketika tanpa aba aba sang gladiator mendorong masuk penisnya dengan keras dan sekali dorong, meskipun vaginanya sudah basah kuyup akibat dijilati tadi, namun ukuran penis itu yang besar dan sodokan kencangnya membuat gadis itu kaget, sakit bercampur nikmat, semua beraduk menjadi satu.
    Wajah seram Liberius tersenyum penuh kemenangan melihat gadis itu menggeliat karena sodokannya. Kini tangan pria itu mulai bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuh Marcia yang indah, tangan itu merayap ke bawah dan meraih payudaranya. Dengan perkasanya gladiator itu memompa tubuh Marcia yang tak berdaya menungging tersebut. Liberius mempercepat sodokan-sodokan penisnya seolah ingin menghajar habis vagina Marcia merintih-rintih sampai keluar air mata, nafas pria itu memburu tak karuan seperti kerbau liar.

    “Luar biasa…vaginamu benar-bener sempit dan nikmat sekali…aahhh” kata Liberius sambil terus memompa tubuh gadis budak itu tanpa ampun.
    Tangan besar Liberius melingkupi seluruh payudara Marcia dan meremas-remasnya dengan gemas. Pinggulnya terus maju mundur untuk melesakkan penisnya berulang kali melewati bibir kecil vagina Marcia yang sudah merah basah itu. Dengan gerakan memutar membuat pinggul gadis Asiria ini ikut bergerak seirama dengan gerakan penisnya. Marcia sepertinya berusaha menikmatinya walaupun rasa sakit itu masih terasa di selangkangannya.
    “Akhh..akhh…akhhh…” desah Marcia ketika sodokan batang penis Liberius menjarah vaginanya dengan cepat dan penuh tenaga.
    Tubuhnya berguncang hebat dan payudaranya-pun menjadi seperti terombang-ambing karena berguncang. Dia tidak lagi menghiraukan rasa sakit di selangkangannya dan jika tadi desahan dan rintihannya berupa rasa sakit sekarang berubah menjadi rasa nikmat.
    “Akhhh…terus tuan…enak….yah terus!” Marcia berubah menjadi liar.
    Lalu dalam menit berikutnya Liberius pun mempercepat genjotannya dan memeluk Marcia dari belakang sambil meremas payudaranya yang menggantung bebas itu dengan mesra lalu menusukkan sebuah tusukan tunggal namun dalam.
    “Aku juga keluar….ooohhh” erang Marcia setelah tahu Liberius mencapai puncak kenikmatan.
    Crettt…crettt…crett…entah berapa kali penis sang gladiator menyemburkan sperma di dalam vagina sang gadis hingga bercampur dengan cairan orgasme gadis Asiria itu. Liberius merasakan hangat pada penisnya dan seperti dicengkeram erat oleh vagina Marcia. Gadis itu lalu ambruk dalam posisi masih tengkurap, kepalanya bersandar lemar pada bibir bak, sementara Liberius menindihnya sebentar sebelum bangkit dan mencabut penisnya dari dalam vagina gadis itu. Saat penisnya tercabut nampak lelehan cairan putih susu membasahi selangkangan Marcia.
    “Gadis pintar…ternyata kamu berpengalaman juga ya hahaha” puji Liberius sambil membelai dada Marcia.
    Gadis itu tersenyum simpul, “tuan juga…nama besar tuan sebagai juara memang bukan omong kosong…orgasme tadi sungguh dahsyat dan aku baru pernah merasakan penis raksasa seperti milik anda ini hihi..”
    “Oooh…jadi kamu suka dengan punyaku?” goda Liberius sambil menggerakkan penisnya membelai belai pantat Marcia.
    Marcia mengangguk, “punya anda luar biasa, besar, panjang, dan juga keras” jawabnya jujur dan memang sebelumnya ia hanya penasaran dan hanya bisa membayangkannya, tapi ternyata memang luar biasa. Liberius kembali bersandar pada dinding bak, lalu meminta Marcia duduk di pangkuannya. Gadis itu menurut saja, ia merasa tubuhnya kecil sekali dalam dekapan tubuh raksasa sang gladiator. Mereka ngobrol ringan, lalu tak lama kemudian Liberius meraih dagu Marcia, dipandanginya wajah cantik khas timur tengah itu dan diciumnya bibirnya dengan hangat. Marcia pun mengimbangi ciumannya, lidah mereka saling beradu dengan penuh gairah. Tangan Liberius mulai bergerak menelusuri antara dada dan paha Marcia. Di tengah perciumbuan, Marcia merasakan bahwa sesuatu yang ia duduki terasa mulai agak mengeras. Ia melihat ke bawah air sana melihat penis Liberius sudah setengah ereksi lagi. Ia meraih kepala penisnya dan jemari lentiknya mulai membelai batangan itu. Sebelum penuh ereksinya tiba-tiba Marcia masuk ke dalam air dan menangkap penis itu dengan mulutnya, Di dalam air ia memainkan kulup penis itu dengan lidahnya dan mengulumnya dengan mahir.

    “Ouuhh….yahh…” Liberius menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan oral seks yang diberikan Marcia di dalam air dingin, penisnya pun makin mengeras.
    Sudah hampir lima menit Marcia bertahan melakukan oral seks di dalam air, sementara Liberius makin tak tahan menerima pelayanan mulut gadis itu. Maka ia pun menarik kepala gadis itu. Marcia timbul dengan tersenyum nakal, wajah dan rambutnya telah basah membuatnya nampak semakin menggairahkan.
    “Anda suka barusan itu?” tanyanya
    Liberius mengangguk, “Ya, suka sekali tapi jangan terlalu lama nanti keluar duluan”
    “Ya benar, jangan cepat-cepat keluar, aku masih menginginkannya” Marcia berkata dengan suara lirih yang menggoda sambil naik ke pangkuan pria itu.
    Marcia meraih penis raksasa Liberius dan mengarahkannya ke arah vaginanya. Mata sang gladiator melihat tangan gadis itu menggenggam penis besarnya untuk diselipkan di antara bibir kemaluannya.
    “Oouuccchhh….!!” lenguh Marcia saat kepala penis itu membelah bibir vaginanya, ia memejamkan mata dan menahan nafas untuk menikmatinya.
    Dan dilepasnya dari pegangan saat kepala penis itu mulai menyelinap di antara bibir kemaluannya dan melesak ke dalam vaginanya seiring tubuhnya yang terus turun hingga ia berdebar nikmat. Liberius mencium bibirnya lembut. kali ini Marcia lebih dapat menikmati proses penetrasi. Penis raksasa itu masuk makin ke dalam hingga terasa sekali kepalanya menekan dinding vagina Marcia. Setelah merasa posisinya pas, Marcia mulai menggoyangkan tubuhnya perlahan. Bibir Liberius merambat turun dari bibir gadis itu ke payudaranya, mulutnya yang besar seolah hendak menelan seluruh bongkahan payudara kiri gadis itu. Ia mengenyot-ngenyot bongkahan kenyal itu dengan rakus, dijilat dan dihisap-hisap sampai meninggalkan bekas merah di kulitnya yang putih. tangannya kembali meremas bongkahan kenyal itu. Mereka mulai bersetubuh dalam posisi berpangkuan. Kali ini Marcia lebih aktif dan lebih menikmati seluruh rangsangan yang menjalari tubuhnya. Ia menaik-turunkan tubuhnya dengan sepenuh perasaan, lembut tapi kadang menyentak. Sementara tangan Liberius terus menelusuri permukaan tubuh gadis itu, bibirnya menjelajah leher, pundak, dada dan bibirnya.
    “Ooohhh…enak sekali penismu, besar dan panjang, ohhh…aku ingin terus disetubuhi!!” rintih Marcia.
    “Hhhmmm…oohh…vaginamu juga enak, terus goyang manis puaskan dirimu, uuuhh…,” desah Liberius yang sibuk menghisap kedua payudara gadis itu silih berganti sementara tangannya tetap aktif dengan meremas-remas pinggul dan membelai punggungnya.
    Mata Marcia membeliak-beliak, kepalanya mendongak dan mulutnya setengah terbuka dan mengeluarkan rintihan serta lenguhan menikmati penis gladiator itu merojok-rojok vaginanya. Ia merasakan lubang vaginanya pehun sesak dengan jejalan batang raksasa itu, sehingga gesekan-gesekan penis Liberius terasa betul oleh dinding vaginanya, ia juga merasakan klitorisnya tergesek-gesek oleh batang tersebut.

    “Tuan, aku mau keluar, aku sudah tidak tahan lagi, ooohhh..penismu…hisapanmu…,” Marcia mengerang.
    Gerakan naik turun Marcia semakin cepat tapi tidak beraturan, tubuhnya mulai mengejang dan mengejut-ngejut, air di sekeliling mereka juga semakin berkecipak. Liberius yang mengetahui gadis itu sudah di ambang orgasme lagi, segera menambah ritme remasan tangannya di kedua payudaranya, dan mulutnya menambah daya hisapannya menjadi lebih lama dan berulang-ulang, payudara itu seperti mau ditelan saja olehnya. Tidak sampai lima menit, Marcia pun melenguh panjang saat puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh untuk yang kedua kalinya, ia menekan pantatnya ke bawah kuat-kuat. Sssrrrrr….sssrrrr…vaginanya menyemburkan cairan orgasme menghangatkan penis Liberius. Tubuh Marcia terlihat bergetar dengan hebat, pantatnya mengejut-ngejut, sampai akhirnya tubuhnya ambruk di dada bidang Liberius, vaginanya berkedut-kedut, di mulutnya tersungging senyum kepuasan. Gladiator itu kemudian menambah sensasi nikmatnya dengan mengecup lembut bibir gadis budak itu berkali-kali, tangannya meremas-remas lembut pantatnya dan membelai punggungnya. Marcia sungguh tidak menyesal bercinta dengan sang juara, pria itu memang benar-benar perkasa, bukan cuma di arena tapi juga dalam bercinta. Lamunan gadis itu lepas saat Liberius memagut bibirnya dan mulai mengajaknya beradu lidah lagi, lidah besar pria itu menyapu-nyapu langit-langit mulutnya, lengannya yang kokoh memeluk erat tubuhnya. Lama kelamaan tubuh Marcia yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Ia berusaha menggeliat, tapi tubuhnya dipeluk erat, pria itu makin meningkatkan cumbuannya lalu kemudian bangkit berdiri mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di bibir bak. Penisnya yang masih menancap segera ia maju-mundurkan pada liang vagina gadis itu. Kembali Marcia diombang-ambingkan di tengah lautan birahi. Pria itu memagut lehernya sambil menekan masuk seluruh batang penisnya
    “Oh…benar-benar keras, masuknya dalam sekali, sungguh juara sejati dia” ceracau gadis itu dalam hatinya merasakan penis Liberius melesak hingga mentok ke dinding vaginanya.
    Liberius menggerakkan penisnya seperti gerakan mengaduk untuk meningkatkan rangsangan pada klitoris gadis itu. Kali ini dalam waktu relatif cepat, Marcia kembali diterpa gelombang orgasme. Ia meronta dan mengerang.
    “Ooohhh…oohhh…sebentar lagi manis….sssshhh!!” Liberius melenguh bagai kerbau liar saat merasa penisnya akan segera menyemprotkan isinya.

    Gladiator itu semakin mempercepat kocokan penisnya di liang kenikmatan Marcia, gerakan keluar masuknya sekarang lebih leluasa karena lubang vagina gadis itu sudah basah oleh cairan kenikmatannya yang membanjir, bunyi kecipak alat kelamin mereka bertumbukan semakin menambah sensasi kenikmatan. Akhirnya dengan sekali hentakan yang kuat Liberius membenamkan penisnya dalam-dalam.
    “Aaaaaahhhhhh!!” erangnya keras sampai dua orang prajurit penjaga ludus Ampilatus yang berjaga tidak jauh dari situ dapat mendengarnya sayup-sayup.
    “Sang juara sedang menikmati hadiahnya” kata si prajurit pertama pada rekannya yang lebih junior dan baru bertugas dua minggu di ludus.
    “Sepertinya hadiahnya cukup istimewa” balas rekannya tersenyum, mereka lalu meneruskan tugas berjaganya.
    Marcia berkelojotan mendapatkan serangan seperti ini, sensasi nikmat yang ia rasakan saat ini belum pernah ia alami sebelumnya. Sesaat Liberius menurunkan frekuensinya dan menurunkan tubuh gadis itu sehingga mereka kembali berendam di bak. Nafas keduanya terdengar memburu, mereka saling berpagutan meresapi sisa-sisa kenikmatan yang barusan saja mereka rengkuh. Penis raksasa Liberius yang masih tertanam di dalam lubang vagina Marcia perlahan-lahan mulai lemas, Marcia yang tadinya merasakan lubang vaginanya begitu sesak oleh jejalan penis itu mulai merasakan kekosongan akibat mengecilnya benda itu. Selang beberapa saat, pagutan penuh nafsu mereka berganti menjadi kecupan-kecupan ringan, senyum lemas tersungging di mulut mereka.
    “Luar biasa…aku betul-betul puas, tapi sungguh aku sudah tidak kuat lagi,” Marcia berkata dengan genit.
    Liberius memeluk tubuh gadis budak itu dan membelai punggungnya lembut.
    “Ini hanya hubungan badan, jangan pernah mencintaiku ataupun orang sepertiku” katanya pelan dekat telinga gadis itu.
    Marcia diam tidak berkata-kata, selain merasa puas secara seksual entah mengapa ia juga mulai merasakan kehangatan bersama pria ini, walau tampangnya seram namun ia dapat berkata lembut dan bersifat kebapakan.

    ############################
    Keesokan harinya

    Dalam gelap malam Liberius berjalan di belakang mengikuti Ampilatus menyusuri jalan-jalan kota Pompeii yang mulai lenggang. Sesekali terdengar seruan peringatan dari penjaga malam yang berkeliling agar hati-hati dengan api, karena di musim panas dan kering seperti ini, kecerobohan kecil dapat menyebabkan kebakaran dan api dengan mudah dapat menjalar ke perumahan yang letaknya berhimpit-himpitan itu. Ampilatus memang tidak memberi tahu apa tujuan undangan kali ini, namun Liberius dapat mengira-ngiranya. Ini bukanlah pertama atau kedua kali dirinya diundang secara khusus ke kediaman pejabat atau bangsawan Roma, biasanya mereka membutuhkan gladiator untuk meramaikan pesta-pesta di kediaman mereka untuk pertunjukan duel tertutup sebagai bumbu dari pesta, tidak jarang dirinya menjadi pemuas wanita dalam pesta-pesta liar yang menjadi gaya hidup para kalangan atas saat itu. Ia bahkan pernah dipanggil untuk melayani para nyonya-nyonya pejabat dan bangsawan yang tidak ragu membayar mahal untuk memenuhi dahaga seksual mereka. Dia meragukan bahwa ia sedang dipanggil untuk tujuan baik. Tak ada yang tidak kenal dengan senator satu ini, ia memegang pengaruh yang cukup besar di republik, sebelum menjadi senator dulu, ia dikenal sebagai seorang jenderal yang brilian. Liberius telah mendengar nama besarnya sebagai salah satu jenderal Romawi yang pernah menyerang negerinya. Ia juga dikenal memiliki seorang istri yang cantik bernama Aurelia, yang berasal dari garis keturunan keluarga terhormat di republik. Liberius pernah melihatnya beberapa kali wanita itu duduk di samping belakang suaminya ketika menonton pertandingan, dan ia pun harus mengaku pesona wanita itu sungguh membuatnya terpukau. Senator Gaius memang tampak sebagai lelaki sempurna, ia memiliki istri cantik, dua anak perempuan yang mewarisi kecantikan ibu mereka, dan karir cemerlang. Ia juga tidak pernah mengambil istri lain atau selir yang sebenarnya sah-sah saja pada masa itu, selain itu ia pun tidak pernah terlihat dalam pesta-pesta liar kalangan atas Roma yang penuh kegilaan. Ketika mereka sampai di sebuah vila mewah yang merupakan rumah dinas pejabat, penjaga mengantar mereka ke pintu samping. Seorang pria berpostur pendek berusia sekitar empat puluhan menyambut mereka. Pria ini bernama Zacharias bin Memnon, sekretaris pribadi sang senator. Walau sudah berpenampilan seperti orang Romawi dan berbahasa Latin dengan fasih, nama dan hidungnya yang agak bengkok tidak bisa menyembunyikan darah Yahudinya. Senyuman dan garis-garis wajahnya memperlihatkan sifatnya yang licik dan tidak bisa dipercaya, janggut merahnya yang pendek dan suaranya yang berat membuatnya kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.
    “Saudara Ampilatus…selamat malam, mari kita ke ruanganku dulu sambil menunggu dominus bersiap-siap” sapanya seraya merangkul Ampilatus, “dan kau sang juara, kedatanganmu sudah ditunggu, mari!” ia menepuk lengan berotot Liberius dan menengadah untuk menatap wajahnya, lalu membawa mereka ke ruangannya.
    Mereka pun sampai ke ruangan Zacharias yang telah diterangi oleh pelita berukiran indah, gulungan perkamen dan dokumen memenuhi meja dan raknya. Ia menutup pintu dan berpesan pada penjaga agar jangan sembarangan membiarkan orang masuk. Setelah ngobrol basa-basi sejenak dengan Ampilatus dan Liberius, Zacharias mulai memperlihatkan mimik serius dan mulai masuk ke pokok pembicaraan
    “Baiklah juara…” demikian pria Yahudi itu memanggil Liberius, “sebelum bertemu dominus-ku, agaknya aku sebagai perpanjangan lidah dan tangannya perlu menjelaskan terus terang tentang pertemuan malam ini”

    Liberius mengangguk setuju, demikian pula Ampilatus berdiri dalam bayang-bayang dan mengangguk setuju .
    “Dominus membutuhkan bantuanmu, seorang pria yang kuat secara fisik serta mempunyai gen prajurit sejati…” kata Zacharias sambil berjalan mengitari tubuh raksasa gladiator itu, “ia selalu ingin seorang anak laki-laki sebagai pewaris, namun seperti yang kalian tahu, ia hanya memiliki dua anak perempuan, cantik dan sehat memang…tapi ia belum merasa cukup tanpa anak laki-laki. Ia pernah punya seorang anak laki-laki namun anak itu meninggal ketika masih bayi” Zacharias menghela nafas, baik Liberius dan Ampilatus terus menyimak penuturan si Yahudi itu, “…masih dalam suasana duka, bencana berikutnya menyusul ketika dua tahun yang lalu dalam pertempuran melawan bajak laut di perairan Sisilia.”
    “Apa yang terjadi?” Liberius penasaran bertanya.
    “Ia terluka cukup parah, selangkangannya terpukul waktu menyelamatkan prajuritnya. Memang selamat dan seperti yang kalian lihat ia masih dapat berdiri dan berjalan tegak, namun….” Zacharias menelan ludah sejenak, “sejak itu ia mengalami masalah dalam berhubungan badan, padahal keinginannya memiliki anak laki-laki belum juga kesampaian”
    Liberius mulai mengerti tujuan mereka memanggilnya, “Saya mengerti, jadi senator ingin…”
    “Meminjam bibitmu!” kata Zacharias sebelum Liberius selesai, “kau akan melayani domina dan membuatnya melahirkan anak laki-laki, dominus melihat anda adalah pilihan yang paling tepat di antara gladiator lainnya, dan ia juga berkata para dewa telah merestuinya lewat mimpi bahwa kelak anak itu akan menjadi orang besar!”
    “Tapi apakah domina…?” tanya Liberius.
    “Domina juga telah setuju, tapi rahasia ini harus terjaga, kalau suatu hari nanti ada isu-isu tidak sedap, nyawa anda, juara, juga orang lain yang terlibat termasuk diriku, akan terancam, kamu mengerti itu, juara?” Zacharias menengadah menatap dalam-dalam mata Liberius untuk meyakinkan bahwa ia sangat serius.
    Liberius mengangguk menyanggupinya, saat itu pintu diketuk dan Zacharias membukakan pintu. Seorang prajurit melaporkan sesuatu padanya. Zacharias mengangguk, setelah prajurit itu pergi ia berbalik lagi ke arah mereka.
    “Baiklah tuan-tuan, makan malam telah siap dan dominus telah menunggu anda di ruang makan, mari!” katanya dengan tersenyum.
    Seorang pria tampan berumur tiga puluhan lebih memakai tunik putih yang dibordir dengan indah menyambut mereka di ruang makan. Dia tidak lain adalah Senator Gaius, sang tuan rumah yang mengundang mereka malam ini.
    “Ah…ini dia sang juara, Liberius, sungguh kehormatan bagiku dapat bertatap muka dengan anda secara langsung malam ini!”
    “Demikian juga bagiku senator” balas Liberius sambil membungkuk memberi hormat.
    Di ruangan yang telah tertata apik itu telah tersedia berbagai jenis makanan dan minuman yang mengundang selera. Sang senator mempersilakan mereka menikmati jamuan yang telah ia persiapkan itu. Mereka pun makan sambil mengobrol, Ampilatus terlihat akrab dengan Gaius karena memang mereka sudah sering bertemu sebelumnya. Gaius hanya beberapa meter dari Liberius, tangannya memegang cawan berisi anggur kualitas terbaik
    “Mari Liberius, saya bersulang untuk kemenanganmu kemarin!” sahutnya sambil mengangkat cawan itu pada sang gladiator.
    Liberius meletakkan paha babi yang sedang disantapnya dan meraih cawan di mejanya menyambut sang senator.
    “Terima kasih senator!” jawabnya singkat.

    “Hahaha….saya mengundang anda malam ini memang ada tujuan khusus, saya perlu bantuan…bantuan yang hanya dapat dilakukan oleh anda” ia meneguk anggurnya sejenak sebelum melanjutkan, “ya…saya telah memperhatikan banyak orang di republik ini dan pilihan itu jatuh pada anda, yang saya rasa paling tepat untuk itu”
    Sang senator menghampiri Liberius dan memintanya untuk berdiri. Gladiator itu menegakkan badannya, sang senator memandanginya dari atas ke bawah seolah-olah sedang memilah-milah budak yang dijual di pasar.
    “Penampilan fisik yang sempurna, perkasa bak Hercules…saya rasa Zacharias telah menjelaskan semuanya kan?” kata Gaius melirik sejenak pada sekretarisnya yang lalu mengangguk padanya, “untuk jasamu dan bila hasilnya sesuai harapan, saya bersedia membayar berapapun termasuk yang selalu anda mau….kebebasan, ya kan?”
    Liberius terhenyak, inilah yang selama ini ia tunggu, hanya dengan memberikan bibitnya ia dapat memperoleh kebebasan itu, namun apakah semudah itu? hanya meminjamkan bibit? Apakah tidak ada risiko dengan harga semahal itu?
    “Domina sendiri? Apakah dia setuju?” Liberius bertanya untuk lebih meyakinkan
    “Hahaha…” Gaius tertawa sambil menepuk-nepuk lengan kekar Liberius, “kami sudah membicarakan hal ini dari awal, demi tujuan itu, istriku pun sudah siap, anda tidak perlu khawatir, hanya perlu menjalankan tugas anda”

    ————————-
    Setelah jamuan makan malam, Liberius diantar ke sebuah ruangan, pengawal membukakan gerbang ruangan itu dan kemudian dia ditinggalkan sendirian di dalam. Liberius terperangah melihat kemewahan ruangan itu, lantainya berlapis marmer putih berkualitas, patung-patung gaya Yunani menghiasi sudut-sudut ruangan, udara dipenuhi beraroma bunga dan rempah-rempah yang membangkitkan gairah, cahaya lembut dari pelita menerangi ruangan itu.
    “Anda pasti Liberius sang juara!” kata sebuah suara wanita dari balik kelambu ungu yang menutupi sebuah ranjang di tengah ruangan
    “Hormat saya domina!” Liberius memberi salam sambil sedikit menunduk
    “Tidak perlu seformal itu, kemarilah!” panggil suara lembut itu.
    Dengan berdebar-debar, gladiator itu melangkahkan kakinya ke sana, begitu menyibakkan kelambu, ia langsung terpana oleh pesona kecantikan wanita itu, wanita yang sering dilihatnya dari kejauhan yang biasa duduk di sebelah suaminya ketika menontonnya bertanding di arena. Kecantikannya bak Venus, dengan rambut coklat dan mata gelap, ‘dewi yang turun ke dunia’ itu yang duduk di tepi ranjang di hadapannya. Aurelia telah berdandan begitu cantik malam itu, gaun terusan berwarna merah yang indah menutupi tubuhnya, gelang emas berukir yang indah menghiasi kedua lengannya, sepasang payudaranya yang montok dan padat terlihat menggoda di balik belahan dadanya yang rendah, juga pahanya yang jenjang dan mulus itu di antara belahan roknya. Pemandangan itu membuat penis Liberius berdiri tegak dan terasa sempit karena tertahan oleh cawatnya.
    “Kita bukan pertama kalinya bertemu bukan?” Aurelia berdiri dan menyambut sang gladiator.
    “Ya, saya sering melihat anda di podium”
    “Hanya saja tidak sedekat sekarang ini” kata wanita itu memberikan senyumnya yang sangat menawan.
    “Di sini kita sebagai pria dan wanita, jadi anda santai saja” katanya sambil berjalan ke meja dekat situ lalu meraih poci perak berisi anggur. Dia menghela napas dan menuangkan anggur ke dalam dua cawan indah yang harganya jauh melebihi melebihi pendapatannya bertaruh nyawa di arena selama sebulan.
    “Minumlah ini dan menenangkan saraf anda!” seraya menyodorkan cawan yang satu pada Liberius, “tidak perlu menjadi takut padaku. Nasib kita telah diputuskan sehingga kita bertemu di ruangan ini. Anda jalankan tugas anda, dan sesuai perjanjian kebebasan itu akan menjadi milik anda.”
    Liberius meneguk anggurnya setelah menyambut toast wanita itu, anggur bagus, aromanya harum, manisnya pas dan kehangatannya mengalir cepat dalam darah. Tiga kali mereka bersulang dan meneguk minuman itu. Liberius mulai merasakan pengaruh anggur itu, ia melihat pipi Aurelia memerah. Wanita itu terlihat semakin cantik, dia mengamati lebih jelas lekuk-lekuk tubuhnya, belahan dadanya yang menggiurkan, dan bentuk tubuhnya yang masih langsing walaupun pernah melahirkan, kulitnya yang mulus tampak terlalu halus untuk merasakan tangannya yang kasar.

    aurellia

    Aurellia

    “Domina…anda…anda cantik sekali malam ini” gladiator mengucapkan setengah dari kegugupannya, anggur membuatnya mampu secara bebas mengutarakan perasaan hatinya terus terang.
    Seorang petarung perkasa di arena seperti dirinya sekalipun dapat merasa gugup dan canggung bila berhadapan dengan wanita yang membuatnya terpesona.
    “Ssshhh….suamiku sedang menonton, aku bisa merasakan matanya padaku” bisik Aurelia sambil menempelkan jarinya ke mulut Liberius, “jangan berkata sembarangan, ia pencemburu, lakukan saja yang harus kita lakukan” sambil menarik lengan kekar itu dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.
    Liberius mengangguk dan mengamati wajah cantik itu, matanya yang lembut sangat keibuan tapi dia bisa merasakan pergumulan emosi dalam tatapan mata.
    “Apakah dominus, benar tidak pernah menyentuh anda lagi?” Aurelia menangguk pelan.
    “Ceritakan sekilas mengenai dirimu, bagaimana kau bisa sampai ke negeri ini? apakah masih  punya keluarga?”
    “Aku dulu adalah perwira suku Celtic di Kepulauan Britania, semuanya begitu bahagia, aku punya seorang istri dan seorang anak laki-laki sampai tujuh tahun lalu, kami berperang dengan suku musuh kami. Mereka berhasil menjebak kami dengan menyerang garis belakang, yaitu desa kami, hampir semua penduduk termasuk anak dan istriku terbantai oleh mereka. Saat itu lah Roma melihat peluang, ketika kami dan musuh kami sudah lelah berperang, mereka menyerang keduanya dan berhasil merebut dua wilayah sekaligus, semua yang menyerah dan masih hidup dijual sebagai budak”
    Aurelia menghela nafas dan merapatkan duduknya ke arah gladiator itu hingga bisa merasakan dan keperkasaan tubuhnya.
    “Sepertinya kita berdua memang punya kisah sedih masing-masing.” katanya lirih.
    “Yang selanjutnya terjadi aku pun bingung, entah harus kusyukuri atau merupakan kutukan bagiku, orang-orang Romawi memaksaku bertarung di arena, aku bertemu dengan kepala suku musuh yang telah membantai desa kami dan di sana aku memenggal kepalanya” Liberius melanjutkan ceritanya, “juga para bawahannya, semua kuhabisi dengan tanganku, ketika kuangkat tinggi-tinggi potongan kepala mereka aku merasa sangat puas….puas karena membalaskan semua dendamku, namun setelahnya aku merasa kosong…aku sudah mencapai tujuanku membalaskan dendam keluargaku, lalu apa? sejak itu aku hanya hidup untuk bertarung hingga sekarang”
    Aurelia meraih telapak tangan Liberius dan menggenggamnya erat, “maaf aku mengingatkan pada kenangan buruk” katanya
    “Tidak apa domina, ini sudah takdirku” jawab Liberius melingkarkan tangannya pada bahu wanita itu lalu perlahan bergerak ke bawah dan singgah pada buah dada wanita itu.
    Aurelia tak menyingkirkan tangan besar Liberius dari dadanya, dia hanya menatap jari-jarinya yang mulai bergerak di dadanya dan kemudian memandangi wajah sang gladiator.
    “Anda sudah siap juara?” tanyanya
    “Ya domina, saya siap melayani anda malam ini!” tangan Liberius yang satunya mulai bergerak melepaskan tali pundak yang menyangga gaun Aurelia.

    Baca Juga : Angel in Cage 2

    Segera saja dia menyibak gaun itu hingga payudara indah istri senator ini terpampang jelas tanpa penghalang. Kedua telapak tangannya bergerak ke buah dada wanita itu dan meremasnya dengan lembut hingga membuat putingnya mencuat menusuk lembut telapak tangannya. Matanya menatap wajah cantik itu yang mulai memerah karena terangsang, makin lama makin mendekatinya. Aurelia mendekatkan bibirnya tanpa diminta, tangannya meraih leher pria itu sehingga bibir mereka pun menempel dan segera terlibat percumbuan panas. Wanita itu membuka mulut untuk menyambut lidah kasap sang gladiator yang sudah menjilat-jilat bibirnya. Mereka berpelukan erat, bercumbu dan beradu lidah. Sudah lama sejak suaminya terluka dalam perang ia tidak merasakan kenikmatan seksual. Liberius bisa mendengar lenguhan lirih wanita itu saat dia menciumnya. Ia sadar kalau wanita ini tak akan pasrah diapakan saja malam ini. Sementara bagi Aurelia yang haus akan sentuhan pria dikala gairahnya tengah menyala-nyala bagaikan menemukan air di padang gurun. Gairahnya makin meninggi ketika ia merasakan kedua tangan pria itu terus memainkan kedua daging kenyal tersebut sambil menelusuri perutnya yang rata hingga menuju ke bawah sambil memeloroti gaunnya yang masih menyangkut di tubuh. Di lain pihak, pikiran Aurelia juga bergumul. Orang ini bukan suaminya, bagaimana mungkin dirinya sebagai seorang wanita terhormat harus melakukan seperti ini? Apakah pantas melakukan semua ini hanya demi ambisi memperoleh anak laki-laki? Dia memejamkan mata mencoba untuk melawan kehangatan yang menyebar melalui kulitnya. Darahnya berdesir saat merasakan pria itu memeloroti gaunnya yang sudah setengah terbuka. Ia menyaksikan mata jalang pria itu memandangi tubuh polosnya yang tinggal ditutupi celana dalam saja. Anggur yang tadi diminumnya membuatnya ingin terus merasakan kenikmatan terlarang itu.
    “Domina, anda benar-benar cantik. Seandainya anda bukan istri senator dan saya bukan gladiator….” kata Liberius dengan penuh kekaguman pada wanita ini.
    “Jangan teruskan…” Aurelia menempelkan dua jari ke bibir pria itu, “kumohon…lakukan saja yang harus kita lakukan”
    Liberius pun menurunkan kepala dan mulai menyusu payudaranya, tangannya meremas pinggulnya yang montok.
    “Aaahhh…” desah Aurelia, tubuhnya menggeliat dengan tangan memeluk kepala pria itu ke dadanya.
    Liberius sedang mengisap puting wanita itu, lidahnya menyapu-nyapu putingnya hingga makin mengeras.
    Aurelia pasrah menikmati apa yang dilakukan gladiator ini terhadap tubuhnya. Dia sama sekali tidak berusaha untuk mencegahnya. Dalam benaknya sama sekali tak pernah terlintas melakukan perbuatan seperti ini sampai malam ini dan suaminya sedang mengintipnya. Vaginanya sudah terasa sangat basah oleh gairah. Tangan kiri Liberius bergerak turun ke bawah dan menelusuri kulit perut wanita itu dan menyusup masuk ke celana dalamnya hingga menyentuh vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Kedua paha Aurelia masih merapat erat menahan gerakan jemari Liberius. Sementara jemari sang gladiator terus menggerayangi perut bagian bawahnya disertai lidahnya yang menari dalam mulutnya. Akhirnya kedua paha Aurelia pun melemas dan mulai bergerak membuka. Jari-jari besar Liberius langsung menyeruak masuk ke bibir vaginanya. Begitu merasakan klitorisnya bergesekan dengan jari-jari itu, Aurelia membuka kedua pahanya lebih lebar untuk memberikan ruang seutuhnya pada pria itu untuk berbuat sekehendak hati terhadap daerah paling rahasia dari tubuhnya. Liberius melepaskan simpul di samping celana dalam itu sehingga terlepaslah kain terakhir yang menutupi tubuh wanita itu.

    Aurelia merasakan bagian bawahnya semakin basah. Dia sedang berada dalam lingkaran perasaan yang membuatnya tidak peduli lagi kalau suaminya yang sedang mengintip merasa cemburu karena ia begitu menikmati persetubuhan ini. Nafasnya semakin memburu cepat saat dia merasa tubuhnya ditindih, dibelai, dan dijilati gladiator itu. Ciuman bibir Liberius menjalar bebas ke sekujur tubuh sang istri senator. Kedua belah paha Aurelia terpentang lebar saat jemari Liberius bergerak keluar masuk dalam vaginanya. Ia telah berada di perbatasan dari puncak kenikmatannya saat tiba-tiba pria itu menghentikan aksinya. Kedua matanya yang semula terpejam rapat langsung terbuka menatap begitu Liberius berhenti. Pria itu sedang membuka pakaiannya sendiri. Begitu cawatnya dibuka, batang penisnya mengacung dengan tegak dan keras
    “Demi Mars….ia seperkasa dewa perang, besar sekali penisnya!” Aurelia terpana melihat penisnya yang besar itu, untuk pertama kalinya ia menyadari perbedaan di antara milik gladiator ini dan suaminya
    “Domina, anda yakin para dewa membiarkan ini terjadi?” tanya Liberius
    Aurelia terdiam sesaat lalu akhirnya mengangguk.
    “Liberius…” dia berbisik lagi saat sang gladiator menempelkan kepala penisnya pada bibir vaginanya, “panggil namaku…Aurelia, aku bukan domina-mu, sudak kubilang disini kita hanya pria dan wanita”
    Mata mereka saling tatap, dan tangan Aurelia memeluk erat tubuh besar di atasnya, ia merasakan punggung pria itu yang begitu kokoh. Liberius mulai menekan masuk penisnya perlahan-lahan, matanya menatap lembut lalu berbisik pelan pada wanita itu
    “Bukalah untukku Aurelia…aku ingin merasakan vaginamu meremas erat penisku saat kumasuki.” lalu dia kembali melumat bibirnya.
    Untuk pertama kalinya Liberius memanggil wanita itu langsung dengan namanya, sesuatu yang menghilangkan kecanggungan akibat perbedaan status di antara mereka. Aurelia menginginkan batang penis gladiator itu memasuki tubuhnya, mengaduk-aduk vaginanya hingga ia menjerit-jerit dalam kenikmatan karena sudah terlalu lama ia tidak menikmati kenikmatan hubungan seksual. Saat ini ada seseorang yang ingin memuaskan dia seperti apa yang pernah dilakukan suaminya dulu, bahkan mungkin lebih dari itu. Aurelia membuka pahanya menyambut penis Liberius. Gladiator itu mendorong pinggulnya ke depan dan batang penisnya yang telah menempel di vagina wanita itu pun dengan sendirinya menemukan jalan masuk.
    “Aaaaahhhh…..” Aurelia membelalakkan mata sambil meremas kain seprei ketika penis besar itu menyeruak masuk membelah bibir vaginanya.
    Ia pun akhirnya melingkarkan kedua pahanya pada pinggang Liberius dan tumitnya menempel erat pada pantat gladiator itu untuk mendorongnya masuk semakin dalam. Perlahan penis Liberius mulai mengisi vagina Aurelia melebihi apa yang pernah dirasakannya. Setiap kocokannya membawa mereka berdua semakin tinggi dan bertambah tinggi ke puncak kenikmatan. Tak menunggu lebih lama, setelah masuk setengahnya Liberius menyentakkan penis kerasnya seutuhnya hingga ke dasar vagina sang istri senator ini. Ia menghentakkannya agak keras sehingga wanita itu menjerit
    “Maaf…sakitkah?” Liberius berhenti sejenak melihat wajah wanita itu meringis sampai matanya berair.
    Aurelia menggeleng, “tidak apa….teruskan juara….aku milikmu malam ini” lalu ia memagut bibir pria itu.
    Setiap kali gladiator itu menarik keluar batang penisnya, kedua kakinya menahannya seakan ingin segara penis itu melesak ke dalam vaginanya kembali. Sama sekali tak terlintas dibenaknya kalu kini dirinya adalah wanita terhormat yang selama ini memegang teguh nilai-nilai moral. Ia hanya melampiaskan dahaga batinnya dari apa yang sudah lama tak pernah ia dapatkan dari suaminya, juga demi ambisi suaminya mendapatkan keturunan laki-laki.

    Keduanya sudah dimabuk birahi dan membiarkan satu sama lain menguasai dirinya. Pelukan di punggung Liberius menjadi rabaan lembut dari Aurelia. Gladiator itu menyadari kalau hal itu mengisayaratkan bahwa wanita itu ingin lebih, dari sekadar penis yang tertanam di vaginanya. Maka ia pun dengan penuh perasaan memompa vagina sang istri senator. Ketika melihat ekspresi meringis pada wajah wanita itu berganti menjadi ekspresi nikmat disertai desahan sensual, Liberius memompa penisnya lebih dalam
    “Terus juara…ooohh yang keras, yang dalam, oooohh” erang Aurelia.
    Mendapat arahan seperti itu Liberius menaikkan frekuensi genjotannya, kini ia tak lagi hanya memaju mudurkan saja, ia menggunakan kekuatan panggulnya untuk menyodok lebih dalam. Akibatnya badan Aurelia pun ikut berguncang ketika penisnya menghujam vaginanya. Liberius kemudian mengangkangkan kaki wanita itu selebar-lebarnya, ia ingin penisnya benar-benar masuk sedalam-dalamnya, memberi sensasi luar biasa bagi keduanya. Saat Liberius terlihat memburu nafas, Aurelia juga berimprovisasi dengan mengaitkan kakinya di bekalang pantat pria itu. Aurelia terus memancing sang gladiator agar menusuk lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi. Tapi sesaat kemudian, Liberius mengendurkan kaitan kaki Aurelia agar tubuhnya berada pada posisi yang tepat. Ia ingin remasi payudara wanita itu sambil terus memompa. Saat jarinya memainkan puting Aurelia, wanita itu seperti orang kelojotan, mulutnya meracau tak jelas. Ia merasakan kenikmatan tiada tara saat vaginanya dijejali penis besar sang gladiator, putingnya mendapat rangsangan yang hebat. Liberius juga menikmati kepuasan Aurelia, ia terus menghisap puting wanita itu kiri dan kanan bergantian. Tak lama kemudian, Liberius merasakan urat-urat di bagian bawah penisnya memberikan isyarat kenikmatan yang luar biasa. Badannya menegang, rasa panas menjalar di seluruh tubuhnya, ia telah di ambang orgasme.
    “Aurelia…aku mau keluar, ahhh….ahh” sahutnya memberi peringatan tanpa menghentikan genjotannya.
    “Aaahh…aku juga, tambah keras lagi, tambah kerass…aaahh” jawab Aurelia.
    Liberius pun memfokuskan pada sodokannya. Ia benar-benar membenamkan penisnya sedalam-dalamnya. Berat tubuhnya digunakan untuk membantu hal itu. Efeknya, tempat tidur tempat mereka bergumul pun berderit-derit. Tak sampai lima menit, sperma Liberius sudah menggumpal di ujung penisnya dan siap untuk muncrat. Sodokannya makin tak terkendali, yang pasti dalam dan keras hingga akhirnya dengan satu sentakan menyeburlah cairan putih kental itu.
    “Oooohhhhhh…….” dahsyat sekali klimaks Liberius, demikian pula dirasakan oleh Aurelia, dinding vaginanya berkedut keras, dan menyusul lenguhan pria itu.
    “Aaaaaahhhhhh……” tubuh Aurelia menggelinjang hebat di bawah tindihan tubuh besar Liberius, ia merasakan cairan hangat dan kental memenuhi vaginanya.
    Liberius menyosor bibir Aurelia, meski penisnya masih menghentak-hentak vagina wanita itu. Aurelia juga membalas pagutan itu dengan ganas karena ia tak ingin kehilangan kenikmatan orgasmenya. Lebih dari tiga kali, hentakan penis Liberius dan kedutan vagina Aurelia terjadi bersamaan mengantarkan keduanya ke surga dunia.
    “Hhhhmm…kau juara bukan hanya di arena!” ujar Aurelia setelah klimaks mereda.
    “Anda juga…punyaku seperti diremas-remas, sungguh enak” balas Liberius

    Mereka saling peluk dan berpagutan ketika badan mereka kembali mengendur dari ketegangan. Aurelia yang sebelumnya ditindih Liberius, bangkit dan membalik posisinya di atas Liberius.
    “Sekarang giliranku juara…” wanita itu tersenyum lemah sambil meraih penis Liberius yang mulai tegang lagi.
    Penis tersebut dimasukkan kembali ke dalam vaginanya. Aurelia kini memegang kendali permainan. Goyangannya naik-turun mengurut penis besar tersebut, kadang ia selingi dengan gerakan maju mundur. Gerakan pinggulnya terlihat sangat piawai. Liberius juga disuguhi pemandangan yang sangat sensual, ia bisa melihat bagaimana tubuh wanita itu, payudaranya yang ikut bergoyang-goyang, juga ekspresi wajahnya yang keenakan. Dengan semangat wanita itu menggoyangkan pinggulnya untuk mencapai kepuasan. Sesekali pinggulnya dihentak-hentakkan secara vertikal sehingga beberapa kali penis Liberius nyaris keluar dari sangkar hangatnya itu.
    “Oh…luar biasa…aahhh…kau sungguh perkasa…aahhh…aahhh!!” racau Aurelia sembari terus memompa penis Liberius dengan himpitan vaginanya.
    Sang gladiator juga melakukan gerakan aktif menusuk ke atas dengan cepat sehingga membuat batang kemaluannya menyentuh dinding rahim Aurelia. Wanita cantik itu pun berteriak dan meciumku bibirnya dalam-dalam.
    “Terush…terus tusuk aku…uuuhh” ucapnya meminta lebih dan Liberius menyanggupi dengan melakukan tusukan seperti barusan yang kembali berulang, sambil meremasi payudaranya dan kadang mengenyotnya.
    Akhirnya, Aurelia pun mengejang dan otot vaginanya mencengkeram penis pria itu erat-erat. Seiring dengan ciuman bibirnya Liberius tahu kalau wanita itu sedang mengalami orgasme  lagi. Aurelia menghentak keras ketika dinding vaginanya terasa menegang. Ia juga merasakan penis sang gladiator berkedut-kedut. Vaginanya pun banjir oleh cairan kenikmatan mereka berdua, ia akhirnya ambruk di atas tubuh kekar Liberius, peluh membasahi tubuh mereka.
    Semuanya sudah berakhir dan mereka berdua benar-benar merasa amat kelelahan. Sementara itu, dari tempat persembunyiannya Gaius tersentak. Dia tidak pernah menyangka istrinya yang cantik dan alim itu begitu bergairah bercinta dengan seorang gladiator, lebih bergairah ketika bercinta dengan dirinya dulu. Ini sungguh di luar dugaannya, sang senator sungguh dibakar oleh api cemburu. Diam-diam ia meratapi dirinya sendiri yang telah kehilangan kemampuan bercintanya karena luka dalam pertempuran itu, ia merasa menjadi pecundang di ranjang. Setelah keduanya mencapai orgasme ia tidak tahan lagi, terlebih ketika melihat kemesraan keduanya pasca orgasme. Sang senator pun melabrak masuk mengejutkan kedua orang di atas ranjang itu,
    “Cukup sudah sampai sini! Cepat berpakaian dan bangun!” bentaknya sambil melemparkan gaun yang tergeletak di tepi ranjang pada istrinya, “dan kau budak!! Segera keluar dari tempat ini!!” tundingnya dengan wajah merah padam pada Liberius.
    Liberius buru-buru turun dan memunguti pakaiannya, lalu memakainya kembali.
    “Gaius…!”
    “Diam! Kita bicara nanti!” bentak Gaius memotong protes istrinya, ia lalu meraih lengan Liberius yang sudah berpakaian kembali dan menariknya keluar dari kamar.
    “Ingat budak…kalau kejadian malam ini sampai tersebar keluar hati-hati dengan nyawamu, mengerti?!” ucapnya dengan pelan namun mengancam, “pengawal antar tamu keluar!” serunya memanggil pengawal.
    Dua prajurit datang dan mengantarkan Liberius hingga ke gerbang villa. Dalam perjalanan pulang, hati Liberius dilanda kegalauan, ia berharap bahwa Aurelia akan baik-baik saja setelah malam ini.

    ########################
    Dua bulan kemudian

    Hari-hari dengan cepat berlalu, Liberius belum pernah bertemu lagi dengan Aurelia lagi, wanita itu bahkan tidak pernah hadir lagi mendampingi suaminya menonton pertandingan. Ia menduga tentu suaminya yang cemburuan itu melarangnya hadir agar tidak bertemu lagi dengan dirinya, hal itu terlihat dari sorot mata sinis Senator Gaius ketika menontonnya. Hingga suatu malam, atasannya, Ampilatus, mengetuk pintu kamarnya.
    “Liberius…ada tamu untukmu” katanya, seseorang berjubah hitam berkerudung mengikutinya di belakang.
    Lanista itu mempersilakan sosok berkerudung itu masuk lalu ia menutup kembali pintu kamar.
    “Anda…??” tanya gladiator itu.
    Sebelum melanjutkan kata-katanya orang tersebut menyingkap kerudungnya. Betapa berdebar jantung gladiator itu melihat wajah di balik kerudung, lututnya seperti lemas seakan hendak jatuh berlutut di depan sosok itu, perasaan yang belum pernah dialaminya bahkan ketika menghadapi lawan yang paling mengerikan sekalipun. Venus yang hidup itu, Aurelia, sang istri senator, wanita yang dirindukannya selama dua bulan ini telah berdiri di hadapannya.
    “Domina…anda…apa kabar anda?” sapa Liberius berusaha menyembunyikan kegembiraannya
    “Aurelia…kau tidak pernah menjadi budakku, kenapa masih memanggilku seperti itu?” Aurelia berkata agak ketus.
    “Maaf….Aurelia, bagaimana anda datang ke sini? Apakah suami anda…”
    “Tidak, dia sedang ada tugas di luar kota, aku ke sini atas kemauanku sendiri. Pertama aku ingin berterima kasih padamu?”
    “Terima kasih? Untuk apa?”
    “Aku hamil…sudah sebulan lebih, pastinya berkat bibitmu karena aku tidak pernah melakukannya lagi dengan siapapun” katanya sambil mengelus perutnya yang belum terlalu kelihatan membesar.
    “Ah, selamat! Bukankah itu yang kau dan suamimu inginkan!”
    “Lebih tepatnya yang dia inginkan” kata Aurelia dingin.
    “Anda jauh-jauh ke sini hanya untuk itu?”
    “Tentu tidak, itu tadi terima kasih dari kami suami istri, tapi aku pribadi juga ingin berterima kasih untuk malam yang indah itu” Aurelia meraih simpul tali jubahnya di leher sehingga jubah itu terlepas, di baliknya ia memakai gaun hijau sederhana agar tidak terlalu mencolok selama perjalanan, wajahnya pun nyaris polos tanpa sapuan make up seperti rakyat jelata, namun semua itu tidak mengurangi kecantikannya, “apakah kau tidak merindukan malam itu lagi, juara?”
    ”Ah, A…Aurelia…apakah harus disini?” kata Liberius bergetar, sama sekali tak menyangka kalau wanita itu akan meminta hal itu lagi.
    ”Aku tidak tahu setelah ini apakah kita masih bisa bertemu lagi, Gaius sangat protektif, pertengahan tahun depan ia akan menyelesaikan masa dinas di Pompeii dan kami akan pulang ke Roma” ia melepaskan kancing besar di bahu kirinya lalu disusul yang kanan sehingga gaun yang sudah tanpa penahan itu pun jatuh melorot di bawah kakinya, dengan tubuh polos tinggal celana dalam, ia mendekati sang gladiator.
    Liberius menelan ludan dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya nanar memandangi tubuh Aurelia yang indah itu, kedua buah dadanya begitu menantang
    “Tapi ini….”
    “Tapi apa? kenapa kau begitu berbeda di hadapanku dengan di arena? Begitu gugup dan salah tingkah?” Aurelia tersenyum menggoda, ia berhenti sebentar untuk membuka celana dalamnya, kini tidak sehelai benangpun tersisa di tubuh polosnya “dominusmu telah mengatur semuanya, kita punya waktu sampai besok pagi, apakah aku begitu jelek di matamu, sehingga sikapmu begitu canggung?” ia membelai dada bidang pria itu.

    Wanita itu sudah berdiri hanya sejengkal di hadapan Liberius, ia dapat merasakan hembusan nafasnya. Perlahan ia memberanikan diri menyentuh wajah cantik itu, mata mereka saling tatap penuh arti. Liberius menatap dalam-dalam mata indah Aurelia, wanita itu terlihat sangat kehausan dan sudah pasrah menerima apa pun perbuatannya.
    “Aurelia, bukan jelek, kau justru sangat cantik, hanya saja kita….”
    ”Moralitas Roma, aturan-aturan protokol…sungguh melelahkan bagiku, aku ingin bebas sejenak walau hanya sekali saja” Aurelia berkata lirih, “lakukanlah…lakukan sesukamu, aku ingin jadi kekasihmu walau hanya malam ini saja”.
    Wajah mereka saling mendekat dan sejenak kemudian keduanya sudah berciuman. Liberius melepaskan kerinduannya dengan memagut mulut Aurelia dengan penuh gairah, ia hisap bibir tipis itu sambil sesekali memasukkan lidahnya dan menggigit kecil bibir mungil itu. Mereka berpagutan sambil berpelukan dalam hasrat membara. Liberius membelai punggung wanita itu turun hingga ke pantatnya, tangannya meremas bongkahan yang sekal itu. Ia lalu menggendong tubuh mulus Aurelia dan meletakkannya berbaring di atas dipan tempatnya tidur. Bibir mereka kembali saling melumat dan saling bergerak lincah untuk memberi kenikmatan pada mulut masing-masing. Tangan besar Liberius memberi remasan ringan dengan gerakan memutar lembut yang membuat Aurelia menggelinjang, terutama ketika pria itu memainkan putingnya.
    ”Terus terang…malam itu aku masih belum puas, aku masih penasaran bercinta denganmu, tolong malam jangan biarkan perasaanku menggantung lagi, setubuhi aku sesukamu, jadikan aku kekasihmu malam ini saja!” kata Aurelia dengan tatapan memelas, dadanya membusung seolah meminta pria itu melumatnya.
    Liberius pun bereaksi dengan menunduk dan menyambarnya rakus. Putingnya yang sensitif ia jilati dan kenyot bergantian antara yang kiri dan yang kanan.
    “Mmhhh…” Aurelia melenguh, kedua tangannya mencengkeram kepala Liberius meremas-remas rambutnya yang panjang dan kasar.
    Setelah bermain cukup lama di payudaranya, tangan besar Liberius mengusap paha dalam Aurelia ke arah liang vaginanya. Ia lantas membelai wilayah kewanitaan itu dengan lembut, ia merasakan bibir vagina wanita itu sudah mulai becek, desah nafasnya juga semakin berat.
    “Kau berbaringlah” Aurelia memintanya untuk tidur terlentang, “malam ini aku bukan istri senator, bukan wanita terhormat yang biasa kau lihat seperti sehari-hari tapi seorang wanita jalang yang haus sentuhan pria” katanya dengan nada yang menggoda, “puaskan aku juara, aku tidak akan melupakan malam ini!”
    Aurelia menggesekkan buah dadanya ke dada bidang sang gladiator sambil menggenggam penisnya. Setelah sampai di bawah ia segera mengulum penis besar itu. Tak lama kemudian, wanita itu merebahkan tubuhnya di atas sang gladiator, ia arahkan vaginanya tepat di atas wajah pria itu.
    “Jilati juara…jilat sepuasmu…aaahhhh!!” sebelum meminta lebih jauh ia sudah merasakan sapuan lidah pria itu pada bibir vaginanya, “yah enak…”
    Mereka kini saling oral dengan gaya 69. Aurelia lanjut mengoral penis besar di tangannya, sesekali ia juga mengocok dan memijit buah zakarnya. Liberius merem melek merasakan nikmatnya lidah Aurelia yang bermain-main di sekujur penisnya. Dia pun mengimbanginya dengan menjilati vagina wanita itu. Rambut kemaluannya yang lebat terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Liberius merasakan aroma kewanitaan yang terawat dan sudah becek karena birahi tinggi, nafsunya pun semakin menggelora. Lidahnya terus beraksi menyusup ke dalam menggelitik dinding vagina wanita itu, sesekali ia mengigit lembut bibir vagina dan klitorisnya, demikian pula tangannya tidak tinggal diam. Pantat Aurelia yang sintal itu ia remas-remas, kadang ia tampar pelan, kadang juga ia tekan pantat wanita itu sehingga vaginanya menekan mukanya. Aurelia pun menjerit pelan dan menggeliat merasakan kenikmatan di selangkangannya, terlebih saat gladiator itu menjilati klitorisnya.
    “Ahh…ahh…eennaakkk…terruuss….teruuss..” desah Aurelia sambil terus mengocoki penis besar Liberius.
    Mendengar desahan nikmat sang istri senator, Liberius semakin memperhebat jilatannya. Jari-jarinya juga masuk untuk mengorek-ngorek liang kenikmatannya dan membelai pelan biji klitorisnya, Gesekan lembut pada titik sensitif tersebut membuat Aurelia makin menggelinjang hebat dilanda api birahi.
    ”Augh…” Aurelia semakin hanyut dalam lautan birahi, remasan dan kocokannya pada penis pria itu makin cepat, begitu juga hisapan-hisapannya.

    Sepuluh menit sudah mereka saling oral kelamin masing-masing dan akhirnya Aurelia mencapai klimaksnya, tubuhnya mengejang sebelum terkulai lemas. Wanita cantik itu tak sanggup berkata-kata lagi saat orgasme pertamanya keluar. Cairan orgasmenya yang membanjir segera diseruput oleh Liberius.
    ”Kamu memang pintar memuaskanku juara” kata Aurelia yang nafasnya semakin memburu.
    ”Bukan,” Liberius menggeleng sambil menciumi telinga wanita itu ”justru tubuh andalah yang begitu cantik dan memiliki tubuh yang begitu indah. Aku sangat menginginkannya,” bisik gladiator itu.
    ”Aku juga menginginkanmu, juara…puaskan aku, jangan buat aku menunggu lagi!” kata wanita itu
    Mengangguk penuh kepastian, dengan gerakan cepat Liberius kembali mencumbu tubuh sang istri senator. Aurelia segera membuka kakinya lebar-lebar, mempersilakan Liberius untuk menusuk lubang vaginanya. Liberius memiringkan tubuh wanita itu hingga berbaring menyamping, dan kaki kirinya ia naikkan ke pundaknya. Tanpa banyak omong lagi, ia pun menempelkan kepala penisnya ke bibir vagina Aurelia yang sudah basah. Ia mendorong masuk, lalu menarik keluar, sesekali gerakannya memutar, terus selama beberapa kali hingga penisnya mentok ke dasar vagina wanita itu. Setelahnya barulah ia mulai memompa liang vagina Aurelia. Kali ini Liberius memilih bermain gentle dan menikmati vagina wanita itu secara perlahan-lahan. Setiap sodokannya ia lakukan dengan sepenuh hati, begitu nyaman dan mesra hingga menghasilkan desahan dan rintihan nikmat dari mulut manis Aurelia yang jarang merasakan nikmatnya bercinta. Belum juga lima menit setelah mencapai puncak tadi, Aurelia sudah nampak lebih bernafsu dari sebelumnya. Sekarang dia lebih berani dalam bereaksi, mungkin karena setelah orgasmenya dia menjadi berpikir untuk menikmati persetubuhan ini.
    ”Aaa…Aurelia…kau wanita yang luar biasa…cantik dan pintar bercinta,” sahut Liberius sambil menggenjot, tangannya meremasi payudara Aurelia yang mulai basah berkeringat.
    ”Arhhh… kamu juga… penismu enak,” ceracau Aurelia.
    Aurelia memejamkan mata menghayati setiap sodokan pada vaginanya, ia juga menggigit-gigit bibirnya seperti ingin melawan rasa nikmat yang sudah menyelubungi tubuh sintalnya. Nafasnya sangat tidak teratur, begitu ngos-ngosan, sementara rambut coklatnya sudah acak-acakan. Sungguh pemandangan yang sangat sensual. Seiring waktu yang berjalan, Liberius semakin mempercepat sodokan penisnya dan semakin berani mengeksplorasi gaya tusukannya. Aurelia kembali mengerang ketika berganti gaya menjadi doggy style dengan tiba-tiba dari belakang pria itu menyodokkan penis besarnya dengan cepat sehingga menyentuh rahimnya.
    “Akhhh…sakit…pelan…akhhh.” desahnya di sela-sela genjotan.
    “Maaf…aku akan lebih lembut!” kata Liberius, ia lalu memperlambat pompaannya terhadap vagina wanita cantik itu.
    Kesempatan itu dipergunakan Aurelia untuk mengambil nafas panjang. Tangan Liberius menggerayangi payudara montoknya dari arah belakang dan dengan penuh nafsu ia meremas kedua gunung kembar itu sehingga kembali Aurelia melenguh merasakan kenikmatan.Tak lama kemudian dengan pompaan sedang Aurelia menegangkan kedua pahanya dan tubuhnya menggelinjang hebat, ia telah mencapai orgasmenya saat itu. Liberius dapat merasakan cairan hangat membasahi batang kemaluannya seiring dengan remasan kuat dinding-dinding vaginanya terhadap penisnya yang masih bercokol di dalamnya. Cairan kewanitaannya semakin banyak yang keluar dan meluber keluar sehingga membasahi dipan di bawahnya.Begitu merasakan remasan dinding-dinding vagina Aurelia sudah mengendur dan orgasmenya sudah hampir selesai, dengan sekuat tenaga Liberius menusukkan batang kejantanannya lagi ke vagina sang istri senator.
    Kontan, Aurelia pun menjerit dengan mata membelakak, “Akhhh…pelan…!!” protesnya
    Namun kali ini Liberius malah mempercepat sodokan-sodokan batang kemaluannya
    “Vaginamu benar-benar nikmat Aurelia. Penisku serasa dipijat-pijat dari tadi.” pujinya sambil tetap memompa penisnya di dalam liang kewanitaan Aurelia sambil kedua tangannya tak henti-hentinya meremas payudara ranumnya dan menggerayangi seluruh lekuk tubuhnya. Aurelia sekarang sudah mulai dapat menikmati pompaan Liberius yang berirama cepat. Klitorisnya terkadang ikut masuk melesak kedalam tiap kali batang kejantanan gladiator itu melolosi bibir vaginanya. Desahan mereka berdua bersahutan memenuhi ruangan kecil itu. Suara berdecak dari tumbukan alat kelamin mereka terdengar nyaring di kamar sederhana itu. Rambut Aurelia sudah semakin acak-acakan sementara keringat membasahi tubuhnya yang seksi itu. Lima menit kemudian Liberius merasakan batang kejantanannya sudah berkedut kencang dan sudah mau menyemburkan lahar kenikmatannya. Ia pun percepat sodokannya lalu di sodokan terakhir ia menghunjamkan penisku sedalam-dalamnya di liang vagina Aurelia lalu menyemprotkan spermanya di dalam liang kenikmatannya berulang-ulang. Mereka ambruk dalam posisi berbaring menyamping di atas dipan sementara dari belakang Liberius masih mendekap wanita cantik itu dengan penis masih tertancap di dalam vaginanya.
    “Kamu sungguh liar juara, dari suamiku kami tidak pernah sedahsyat ini.” kata Aurelia sambil memandang sayu pada Liberius.
    Liberius melihat raut muka penuh kepuasan di wajah cantik itu. Aurelia lalu menarik lepas batang kemaluan yang masih bercokol di vaginanya perlahan, begitu terlepas cairan putih kental mengalir dari bibir vaginanya yang sekarang sudah berbentuk lubang menganga seperti huruf O dan gelambirnya juga sudah separuh keluar, mungkin karena besarnya penis Liberius yang telah mengaduk-aduknya.

    Aurelia bergeser ke bawah meraih penis Liberius yang mulai mengendur, ia memasukkan batang yang masih belepotan sperma dan cairan kewanitaannya itu ke dalam mulutnya lalu mengoralnya perlahan.
    “Uhh…Aurelia!” Liberius merem-melek oleh emutan dan jilatan lidah wanita itu, “ternyata kita sama-sama liar yah.” ucapnya sambil tersenyum memandang wanita itu yang terus mengulum penisnya.
    “Karena aku yang sekarang adalah wanita jalang, bukan istri senator…kenapa aku tidak boleh bertingkah seperti wanita jalang setidaknya untuk malam ini?” balas Aurelia
    Sepuluh menit kemudian Liberius kembali berejakulasi tetapi kali ini di dalam mulut Aurelia dan sebagian cairan putih itu terciprat di wajah cantiknya. Keduanya berbaring telanjang saling berpelukan. Aurelia tersenyum, matanya penuh dengan kepuasan. Malam itu Aurelia menginap di situ dan baru pulang keesokan paginya. Setelah malam kedua bersama istri senator yang cantik itu, selama beberapa hari ke depan Liberius tidak pernah berhenti memikirkannya. Wanita itu seringkali hadir dalam mimpinya, mimpi dari mereka menjadi kekasih, bahkan menjadi suami dan istri. Ia pernah bermimpi memperoleh kebebasan dan menjadi warga kehormatan. Dalam mimpi ia juga melihat perut Aurelia yang sudah membengkak dengan seorang anak dan dia tidur di sampingnya. Mimpi-mimpi ini begitu nyata sehingga ia sering merenung, apakah ada arti dari mimpi-mimpi tersebut? Selama berbulan-bulan ke depan, Liberius menunggu berita dari wanita itu. Setiap kali ia bertarung di arena ia berharap dapat melihatnya di podium seperti dulu, namun ia sudah tidak pernah terlihat lagi mendampingi suaminya. Akhirnya ia mendapat kabar dari salah seorang prajurit yang sering ngobrol dengannya mengenai kabar Aurelia.
    “Istri senator sedang hamil tua dan akan melahirkan seorang anak laki. Dia banyak istirahat akhir-akhir ini dan sudah jarang terlihat di muka umum” kata sang prajurit.
    Ada rasa senang mendengar kabar itu, anak laki-laki, berarti tujuannya telah tercapai. Senator Gaius menjanjikan hadiah untuk itu, ia berharap sang senator tidak akan lupa janjinya.

    #############################
    Februari 100 SM

    Hari itu adalah menjelang Festival Lupercalia, yaitu perayaan memasuki musim semi dan juga penghormatan terhadap serigala betina yang membesarkan Remus dan Romulus, dua orang pendiri Roma yang dibuang ketika bayi. Sebuah pertandingan besar telah disiapkan untuk menyambut festival tersebut, tentunya Liberius sang bintang arena tidak akan absen darinya. Seperti biasa, sehari sebelum pertarungan, Ampilatus selaku lanista, menyediakan makanan mewah untuk para gladiatornya yang akan bertarung besok; Beberapa gladiator makan dengan rakusnya karena menganggap ini adalah jamuan terakhir mereka, beberapa lainnya memanfaatkan waktu dengan mengucapkan salam perpisahan pada teman-temannya, sementara sisanya menahan diri dan makan secukupnya berserah pada takdir yang akan ditentukan dalam pertarungan besok. Liberius sendiri termasuk yang makan secukupnya dan tidak terlalu banyak omong, hanya sesekali ia mengobrol atau menanggapi gurauan temannya. Hatinya berharap kebebasan itu datang keesokan harinya karena biasanya pada perayaan-perayaan penting, pejabat yang memimpin pertandingan akan memberi kemurahan hati dengan menganugerahkan rudis (pedang kayu tanda kebebasan) pada pemenang atau mereka yang bertarung dengan baik. Bila ia mendapatkan rudis berarti tidak perlu lagi menebus kebebasannya dengan uang yang mungkin bisa dipakai untuk modal usaha setelah bebas nanti.
    “Liberius!” Ampilatus menepuk bahunya dari belakang membuyarkan lamunannya, “sebentar lagi, besok mungkin pertempuran terakhirmu, apa yang kau inginkan mungkin akan segera tercapai…ya kebebasan itu”
    Liberius hanya mengangguk lalu menyeruput lagi sup yang sedang disantapnya.
    “Mungkin selama ini aku belum pernah menanyakan hal ini karena yakin akan kemampuanmu, tapi bila saja terjadi sesuatu padamu di arena, akan kau wariskan pada siapa uang yang telah kau kumpulkan selama ini yang jumlahnya sudah cukup banyak itu?”
    Gladiator itu terdiam berpikir, ia sudah tidak punya keluarga lagi, mula-mula terlintas di benaknya para wanita yang pernah bercinta dengannya, pelacur maupun budak, tapi yang mana? Tiba-tiba ia teringat lagi, seorang gadis budak yang pernah membuatnya merasa iba dan tersentuh.
    “Marcia, gadis Asiria itu” jawabnya mantap
    “Baiklah kalau itu keputusanmu, aku jamin hartamu akan diwariskan padanya bila terjadi sesuatu padamu, istirahatlah yang cukup untuk besok, semoga berjaya di arena” Ampilatus mengangkat cawan mengajaknya bersulang.

    #########################
    Keesokan harinya

    Acara pagi dimulai dengan venatio/ perburuan hewan dimana gladiator akan bertarung dengan hewan-hewan buas. Ketika venatio berakhir, binatang-binatang yang mati diseret keluar dari arena.Matahari bakal semakin terik, bau anyir darah pun semakin tercium seiring dengan panasnya suasana di bawah tenda arena. Lagu dan nyanyian mengalihkan perhatian penonton dari kesibukan pembersihan arena. Liberius sedang menunggu gilirannya tampil dalam acara berikutnya, yaitu noxii, dimana para narapidana, sampah masyarakat, dan kriminal digiring ke arena dengan persenjataan dan pelindung seadanya untuk dibantai oleh gladiator. Kemungkinan untuk selamat bagi golongan terhukum ini sangat kecil karena mereka biasanya berhadapan dengan gladiator senior dengan zirah dan senjata lengkap. Orang Romawi percaya bahwa pertunjukkan gladiator memperbolehkan orang hukuman untuk bertarung dan menunjukkan sifat yang mengakar dalam nilai-nilai moral Romawi yaitu virtus/ kebajikan. Di sinilah mereka mendapat kesempatan untuk menunjukkan keberanian dan semangat ketika berhadapan dengan maut, dengan kematian setidaknya mereka dapat mengangkat kehidupan biadab mereka ke tingkat yang lebih tinggi dengan mati seperti orang Romawi.
    “Liberius, bersiaplah, kau akan menjadi algojo” kata Ampilatus mendatangi Liberius di ruang tunggu seraya menyodorkan cawan berisi anggur, “aku ingin memberimu selamat terlebih dahulu, kemungkinan kau akan memperoleh kebebasan setelah ini dengan tampil sebaik mungkin”
    Gladiator itu menerima cawan itu dan meminumnya setelah bersulang dengan sang dominus.
    “Liberius!” seru prajurit penjaga gerbang memanggil namanya.
    “Dominus, sudah saatnya!” gladiator itu meraih gladiusnya dan bersiap ke arena.
    “Eeerrr…Liberius!” lanista itu memanggilnya, Liberius berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, “…..tidak….tidak apa-apa….” ia seperti mau mengatakan sesuatu tapi tidak bisa, “oohh…kau tidak memakai helm?”
    “Tidak perlu, lawan kali ini enam orang, helm membatasi pandangan dan mengurangi pendengaran”
    “Baik..semoga berhasil!”
    Senyum menghiasi wajah sangar gladiator itu sambil melambai pada Ampilatus dan memberi salam pada para rekannya di lorong itu, ia berjalan ke arah gerbang yang telah terbuka.

    Penonton bersorak ketika Liberius memasuki arena seperti biasa. Dia melayangkan pandangnya ke arah podium utama tempat para tamu terhormat. Senator Gaius duduk di bangku kehormatan, tanpa istrinya, di sebelahnya duduk walikota Pompeii, Calixtus. Dari gerbang lainnya keluarlah tujuh orang hanya memakai cawat dan menyandang senjata. Mereka semua adalah para bandit Gunung Vesuvius yang berhasil ditaklukkan oleh pasukan Romawi dan akan dieksekusi di arena. Yang brewok dan berambut gimbal adalah ketua mereka yang bernama Negrimus, seorang dengan reputasi mengerikan, rampok yang tidak pernah membiarkan korbannya hidup dan juga pemerkosa brutal. Setelah aba-aba mulai dan terompet dibunyikan pertarungan berdarah pun dimulai. Salah satu dari mereka melemparkan tombaknya ke arah Liberius yang dapat ditangkis dengan mudah dengan perisainya. Keenam orang tersebut membentuk lingkaran di sekeliling Liberius untuk mengepungnya. Denting senjata dan perisai berlangsung selama beberapa saat. Buk! Liberius menendang bandit yang memegang martil sebelum ia melakukan sebuah pukulan keras. Bandit itu terjengkang dan Liberius memanfaatkan kesempatan itu untuk menghujamkan gladiusnya ke pahanya.
    “Aaaakkkhhh!!” jerit kesakitan langsung terdengar dari mulut si bandit yang pahanya tertembus gladius hingga menancap di tanah.
    Tanpa membuang kesempatan, Liberius merebut martilnya yang terlepas, ia mengangkatnya lalu memukulkannya sekuat tenaga. ‘Krak!’ terdengar suara tulang berderak yang memualkan disusul gemuruh riuh seruan dari bangku penonton. Bandit itu tewas dengan kepala hancur berantakan, otak dan isi kepalanya berceceran di atas pasir, sebagian menempel di martil. Beberapa wanita termasuk istri walikota sampai memalingkan wajah dan menahan mual karena tidak tahan melihatnya. Kelima bandit lainnya sempat ciut nyalinya melihat kematian teman mereka yang mengerikan itu dan sosok raksasa Liberius yang gagah itu.
    “Maju tolol, toh kita harus mati juga!” bentak Negrimus menendang pantat salah seorang anak buahnya yang melangkah mundur.
    Sadar tidak ada pilihan lagi, para bandit terhukum itu pun kembali menyerang Liberius. Negrimus yang bersenjatakan sica (pedang melengkung) melakukan serangkaian serangan gencar untuk menekan Liberius habis-habisan. Pertarungan berlangsung semakin sengit, keempat anak buah Negrimus juga tak kalah ganas menyerang sang juara. Dengan tubuhnya yang besar, Liberius memang tidak mampu bergerak lincah, namun ia piawai memainkan tameng dan gladiusnya untuk menangkis setiap serangan mereka. Beberapa saat kemudian ia berhasil menghabisi lawan kedua, gladiusnya menembus bawah dagu bandit berkepala botak bersenjata sama dengannya hingga ujung senjata itu keluar di ubun-ubunnya. Ia mencabut senjatanya dan menendang tubuh lawannya yang sudah tidak bernyawa, ketika hendak melakukan serangan berikutnya, mendadak ia merasakan sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya, rasa pening disertai otot-otot tubuhnya serasa kejang. Seorang bandit menyerangnya dengan tombak namun ia terlambat menghindarinya sehingga mengenai rusuk kanannya. Sebelum senjata itu menusuk lebih dalam ia dengan cepat membuang tameng dan gladiusnya untuk menahan gagang tombak. Kini ia sedang adu tenaga dengan si bandit yang menusuknya sambil menahan sakit. Ceritamaya

    “Dia kena! Serang!!” seru Negrimus merangsek ke depan berbarengan dengan dua anak buahnya.
    Liberius mengerahkan segenap tenaganya ke tangannya yang menahan tombak itu, dengan tenaganya yang besar ia mengangkat gagang tombak sehingga tubuh si bandit juga ikut terangkat lalu memutar tubuhnya hingga bandit itu terpaksa melepaskan pegangannya dari gagang tombak dan terjatuh.
    “Aaaahhhh!” Liberius memekik sambil menarik keluar tombak yang menancap di rusuknya lalu mengacung-acungkan mata tombak ke arah empat lawannya itu.
    Para penonton termasuk Senator Gaius dan Ampilatus, serta gladiator lain yang menyaksikan lewat lubang di lorong tunggu, menahan nafas dan dada mereka berdebar menyaksikan pertunjukkan yang makin menegangkan itu.
    Dalam waktu relatif singkat Liberius merasakan staminanya turun drastis, keringat dingin mulai mengucuri dahi dan tubuhnya, belum lagi kini ditambah luka bekas tusukan yang terus mengucurkan darah.
    “Apa yang terjadi? Racun…anggur itu…tapi kenapa?” ia menatap ke arah Ampilatus di podium utama.
    Lanista itu hanya mampu membalas sorot mata garang gladiatornya dengan tatapan penuh rasa bersalah dan penyesalan sebelum akhirnya tertunduk tidak sanggup menatap lagi.
    “Maaf kawan…aku terlalu jauh, aku tidak menyangka ambisiku pada akhirnya harus mengorbankan dirimu” katanya dalam hati.
    Bandit yang terlempar oleh Liberius tadi memungut martil yang menghancurkan kepala temannya, lalu berbarengan mereka menyerang gladiator yang terluka itu. Seorang bandit yang menyerang dari sisi kiri dengan kampak, Liberius menahan dengan gagang tombak, namun karena tenaganya cukup kuat, kampak itu menebas putus gagang tombak dan terus turun mengenai bahu kirinya. Dengan raungan bagaikan harimau terluka, Liberius menghantam kepala bandit itu dengan gagang tombak yang putus lalu menghujamkan mata tombak ke dada si bandit. Namun racun semakin menjalar di tubuhnya, kepalanya semakin pening dan tenaganya makin terkuras sehingga ia tidak sanggup menghindari serangan lainnya, pedang Negrimus berhasil menebas punggungnya dan bandit yang satunya lagi menusukkan pedangnya ke perut sang juara. Beberapa penonton yang mengaggumi Liberius berteriak ngeri dan tidak berani melihat. Sambil menahan pedang yang menusuk perutnya, Liberius menyarangkan beberapa bogem ke wajah lawannya. Bandit itu tetap bertahan, kesempatan berikutnya datang ketika dari arah samping Negrimus mencoba menusuknya dengan sica. Liberius segera menyambar leher bandit itu, kembali ia memaksakan diri menghimpun tenaganya mengangkat tubuh si bandit ke samping. Jrebbbb…senjata Negrimus menikam punggung anak buahnya sendiri yang langsung menjerit dan tewas seketika. Ia menendang mayat itu sehingga menindih Negrimus, namun begitu berbalik ia melihat martil terayun mengincar kepalanya, cepat-cepat ia menahannya dengan lengan yang terlindungi oleh sisik-sisik logam. Serangan fatal itu berhasil ditahan oleh lengannya sehingga tidak berakibat fatal, namun tak urung lengan kirinya terasa remuk oleh serangan tersebut. Sebelum lawannya sempat menstabilkan posisi, ia menjegalnya hingga terjatuh lalu mencabut pedang pendek di perutnya dan….
    “Aaaaaaa…..!!” bandit itu menjerit melihat mata pedang menghujam ke arah wajahnya.
    Jeritan itu terputus saat pedang itu terbenam di mulutnya yang menganga hingga tembus menancap di tanah. Buru-buru ia menyambar gladiusnya yang tergeletak tak jauh dari situ.

    Kini ia tinggal berhadapan dengan si kepala bandit Negrimus. Penonton makin tegang, terutama Senator Gaius dan Ampilatus yang tahu persis apa yang terjadi pada sang gladiator.
    “Kau yakin sudah melakukannya” bisik sang senator pada Ampilatus yang duduk di sebelahnya.
    “Tentu sudah, aku sendiri yang memberikannya” jawab Ampilatus dengan suara pelan.
    “Kalau saja Roma memiliki prajurit seperti dia, kita tidak akan perlu takut lagi kepada para barbar Galia dan Jerman” kata Senator Gaius yang diaminkan oleh mereka di dekat situ yang mendengar.
    Kedua petarung yang tersisa saling menjaga jarak dan menunggu kesempatan menyerang. Liberius yang sudah kehilangan banyak darah dan pandangannya mulai kabur tetap berdiri dalam posisinya dengan gagah tidak ingin menunjukkan kondisinya yang sudah payah pada lawannya dan penonton. Negrimus menyerang dengan pedangnya dan Liberius menangkisnya sehingga keduanya terlibat adu pedang beberapa saat. Sesungguhnya Negrimus hanya ingin mengetes kondisi Liberius, ia menyeringai melihat Liberius yang menangkis serangannya dengan susah payah. Setelah mundur sejenak dan mengatur strategi, kembali Negrimus menyerang, kali ini lebih ganas. Ribuan pasang mata menatap tak berkedip ke arah dua orang yang sedang bertarung itu. Tegang, iba, kagum, bersemangat, berbagai macam perasaan mewarnai koloseum Pompeii saat itu. Dalam kondisi terluka parah, Liberius tak sempat menghindari manuver Negrimus yang akhirnya berhasil menusuk perutnya dengan sica. Bandit itu menarik kembali senjatanya dan sang juara pun terjatuh pada kedua lututnya. Ia memandang dengan marah dan kecewa pada tuannnya dan sang senator. Bagaimanapun Senator Gaius tidak ingin skandal meminjam bibitnya bocor dan menodai karir serta reputasinya yang nyaris tak bercacat di depan publik. Maka untuk mencegah kemungkinan buruk di masa depan, Liberius harus dilenyapkan.
    “Aku tidak pernah percaya pada orang barbar!” demikian bentaknya ketika Ampilatus mencoba membujuknya untuk mengurungkan niat tersebut.
    “Hahaha…aku tidak menyangka, aku akhirnya dapat mengalahkan sang juara, Liberius, bayangan kematian” Negrimus menendang gladius Liberius menjauh darinya sambil tertawa mengejek siap mengakhiri nyawanya
    Bandit itu mengayunkan pedangnya ke samping leher sang juara untuk menebasnya. Namun sebelum sica menyentuh lehernya, Liberius melakukan gerakan tak terduga dengan memiringkan lehernya ke samping dan menurunkan kepalanya sehingga tebasan Negrimus hanya mengenai angin. Selagi bandit itu terkejut dan terbawa oleh tenaga tebasannya sendiri, Liberius menangkap lengannya dan memelintirnya. Negrimus berteriak kesakitan dan menjatuhkan senjatanya. Dengan sisa tenaga terakhirnya, Liberius menyambar sica sang bandit sebelum menyentuh tanah. Satu tebasan dengan segera memisahkan kepala sang bandit dari tubuhnya. Suara gemuruh langsung memenuhi koloseum menyoraki kemenangannya, dari mereka yang mengaguminya maupun yang menang taruhan. Kembali Liberius jatuh berlutut tidak kuat lagi menopang tubuhnya yang sudah kehilangan banyak darah dan keracunan. Ia berlutut menghadap podium utama, bahkan Senator Gaius dan Ampilatus pun tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka atas kemenangannya yang luar biasa ini. Sementara bagi Liberius, ia merasakan pandangannya semakin kabur, sorak sorai penonton yang mengelu-elukannya juga semakin tidak terdengar, di deretan bangku penonton, ia sekonyong-konyong melihat istri dan anak laki-lakinya yang telah lama mendahuluinya. Mereka tersenyum padanya dengan penuh kebanggaan, kepada mereka ia pun balas tersenyum, senyum yang tulus dan hangat dari wajahnya yang seram. Itu adalah senyumnya yang terakhir karena setelah itu kepalanya jatuh tertunduk dan tubuhnya tidak bergerak lagi dalam posisi berlutut.

    Setelah diumumkan sang juara gugur dalam pertempuran, semua yang hadir berdiri dan memberikan penghormatan terakhir padanya.
    “Di medan perang maupun di arena, aku telah banyak mereka yang menyongsong maut dengan gagah, namun tidak ada yang membuatku lebih terharu dibandingkan kematiannya. Ketika mempelajari sejarah, aku selalu penasaran dan membayangkan betapa gagahnya Raja Leonidas dari Sparta ketika gugur dalam pertempuran melawan Persia. Sekarang rasa penasaran itu sudah terjawab, aku telah menyaksikan Leonidas dalam dirinya. Dia memang bukan orang Romawi, namun ia telah mati seperti orang Romawi dan ia adalah bagian dari kita. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi virtus, marilah kita memberikan penghormatan terakhir pada Liberius, sang juara Pompeii, biarlah semangatnya tetap dalam hati kita selalu!” demikian Senator Gaius menyampaikan pidato ketika mengakhiri pertandingan hari itu, walaupun dialah yang otak di balik kematian tragis Liberius, namun kata-kata berisi kekaguman itu mengalir begitu saja tanpa dibuat-buat. Bagi sang juara yang telah gugur di arena itu, sang senator memakamkannya dengan prosesi mewah dan terhormat, ia juga membangun sebuah monumen baginya. Pada monumen tersebut tertulis, ‘Didirikan untuk mengenang Liberius, juara Pompeii, gladiator terbaik republik’

    ##########################
    Epillog

    Pertengahan tahun itu Aurelia melahirkan anak yang dikandungnya, seorang bayi laki-laki yang sehat dan gagah. Ia dididik dengan baik dan kelak tumbuh menjadi seorang pria yang cerdas, berwawasan luas dan ahli bertarung di medan perang. Anak itu diberi nama sama dengan ayahnya, Gaius Julius Caesar yang lebih dikenal dalam sejarah dengan nama Julius Caesar, yang kelak akan memberi pengaruh besar terhadap sejarah bangsanya dan juga dunia, dialah yang menjadi peletak dasar Kekaisaran Romawi dan memperluas wilayahnya hingga Mesir dan Galia (Prancis). Marcia, si gadis Asiria itu, terkejut begitu diumumkan dirinya menerima sejumlah uang bernilai besar, kaget, senang, sekaligus sedih karena bersamaan dengan berita gugurnya Liberius di arena. Uang itu lebih dari cukup untuk menebus kebebasannya. Ia lalu pindah ke desa tak jauh dari Pompeii dimana ia membeli sebidang tanah dan mendirikan sebuah penginapan dari uang yang tersisa. Belakangan ia menikah dengan seorang pria lokal dan berkeluarga. Mereka hidup bahagia dan dikaruniai banyak anak, usaha mereka pun maju sehingga menjadi keluarga terpandang di desa tersebut. Setiap tahun setiap hari kematian Liberius, ia selalu menyempatkan diri berziarah di makamnya
    “Mungkin dia hanyalah orang kasar yang hanya mampu memegang senjata, sekarang ini mungkin tidak ada lagi yang mengingat namanya selain aku, tapi bagaimanapun tanpa dia, tidak akan ada hari ini yang indah bersamamu dan anak-anak, mungkin aku masih menjadi budak hingga ajal menjelang.” katanya pada suaminya di depan makam sang gladiator.
    Marcia dikaruniai umur panjang hingga rambutnya memutih dan akhirnya menutup mata dengan tenang, ia sempat menyaksikan Pemberontakan Spartacus dan Perang Sipil Roma. Ampilatus, sesuai yang dijanjikan sang senator, menjadi pejabat publik di Roma namun ia tidak lama menikmati posisinya. Dihantui perasaan bersalah dan penyesalan, ia mulai mengalami gangguan kejiwaan dan meninggal dalam kegilaan hanya dua tahun setelah menjabat, istri dan anaknya jatuh bangkrut setelah kematiannya dan menghabiskan sisa hidup mereka dalam kemelaratan.

    TAMAT
    By: Shusaku

  • Holiday’s Challenge 3: Monica, si Gadis Peternak

    Holiday’s Challenge 3: Monica, si Gadis Peternak


    50 views

    Perhatian sebelum membaca !

    Cerita Holiday’s Challenge menceritakan tentang sifat-sifat seorang wanita yang mungkin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
    Tidak ada unsur kepolosan dari seorang wanita yang terkandung dalam cerita ini, hanya ada sifat-sifat wanita nakal dan bitchy
    Cerita ini hanya mengkisahkan wanita-wanita dengan sifat yang tidak biasa yang mencari ‘pengalaman’ baru di saat liburan.
    Kemungkinan besar cerita ini tidak akan menarik, mungkin cenderung membosankan, tapi bisa sebagai penambah koleksi cerita seru sambil menunggu cerita-cerita yang lebih hebat dari para pengarang lainnya
    HAPPY READING ^_^

    *************************************

    Ceritamaya | Berbeda dengan 3 temannya, Moniq sudah menentukan pekerjaan apa yang akan dicobanya. Dari dulu, dia ingin sekali menjadi peternak karena dia memang suka sekali dengan boneka sapi yang lucu-lucu. Di dalam kamarnya, mungkin ada lebih dari 10 boneka sapi dengan berbagai ukuran.

    “tok tok tok !!”.

    “Bi Inah yaa ?”.

    “iyaa non…”.

    “masuk, Bi…”.

    “ini susunya, non…”.

    “waah…asiiik…”. Moniq langsung meneguk habis segelas susu yang dibawa Bi Inah.

    Moniq sangat suka minum susu, tapi anehnya badannya tidak bertambah tinggi. Dibandingkan dengan 3 temannya pun, Moniq lah yang paling mungil dan imut-imut namun badannya benar-benar sekal dan begitu padat berisi. Moniq adalah anak satu-satunya dari kedua orang tuanya, tak heran kalau dia agak manja karena selalu dimanja kedua orang tuanya. Keluarga Moniq adalah keluarga yang harmonis dan sangat berada. Moniq mendapatkan kehangatan dan kasih sayang dari kecil, tapi semuanya berubah saat ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung. Waktu itu, Moniq baru kelas 1 SMA, awalnya Moniq berubah dari periang menjadi pendiam. Tapi, Ibunya yang sama-sama sedih, berhasil menyemangati Moniq sehingga lama kelamaan Moniq kembali periang. Moniq kesepian sekali saat ibunya harus menggantikan peran ayahnya sebagai direktur utama sebuah perusahaan sehingga otomatis ibunya menjadi super sibuk dan sering ke luar negeri. Di saat itulah Moniq terjerumus ke dalam lembaran hitam dari kehidupan seorang wanita. Moniq yang memang polos berhasil diperdaya oleh guru olahraganya sehingga keperawanannya pun terenggut. Kejadian itu membangkitkan ‘sesuatu’ yang ada di dalam diri Moniq. Sesuatu yang benar-benar liar dan nakal yang sebenarnya tak akan mungkin ada di dalam diri seorang gadis yang manja dan polos seperti Moniq. Sejak itu, sisi gelap Moniq semakin menguasainya tapi sama sekali tak mempengaruhi sifatnya.

    “non Moniq mau kemana ?!”, tanya Bi Inah yang kaget setelah mendengar mesin mobil.

    “Moniq mau jalan-jalan…”.

    “jangan non…nanti kalo ibu tau..bisa marah..”.

    “biarin…”.

    Moniq pun langsung melaju pergi dengan mobilnya.

    “yeey !!!”, teriak Moniq lepas dan merasa sangat senang berhasil keluar dari rumahnya. Moniq pun mencari-cari secarik kertas yang berisi sebuah alamat.

    Alamat yang di dapat Moniq dari seorang penjual kambing di Jakarta. Moniq pun menuju alamat tersebut yang merupakan alamat dari orang yang katanya memiliki peternakan. Lumayan jauh juga perjalanan yang ditempuh gadis imut itu, tapi sekarang dia sudah sampai di perbatasan desa. Moniq pun membuka jendela. Ceritamaya

    “hemmhh…enak udaranya”, ujar Moniq sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati segarnya udara pedesaan yang tak terkontaminasi oleh asap kendaraan.

    “permisi, Pak…”, sapa Moniq melihat seorang bapak yang berjalan di pinggir.

    “ada apa, neng ?”. Bapak itu agak terkejut setelah melihat wajah cantik Moniq.

    “saya mau numpang nanya..Bapak tau alamat ini nggak ?”, dengan nada suaranya yang manja.

    “oh ini mah rumahnya Bapak Jali…”.

    “kalo dari sini gimana, Pak ? masih jauh nggak ?”.

    “nggak terlalu jauh, neng..tinggal lurus aja…”.

    “makasih yaa, Pak…”.

    “sama-sama, neng…”. Tak sampai 5 menit, Moniq sampai di rumah yang ada bangunan-bangunan seperti kandang. Moniq pun keluar dari mobil.

    “hst..hst…”. Beberapa orang laki-laki saling memanggil satu sama lain dengan bahasa isyarat. Semuanya pun memandangi Moniq yang berjalan ke arah Jali.

    “ckck…cakep banget..”, hampir semua lelaki yang memandangi Moniq berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sisanya, memandangi Moniq dengan pikiran-pikiran jorok dengan tonjolan yang segera muncul di celana mereka.

    “permisi, Pak…”.

    “iya, neng ? ada keperluan apa ya ?”.

    “saya mau ketemu Bapak Jali..dimana yaa ?”.

    “oh, saya Pak Jali…ada perlu apa neng cari saya ?”.

    “begini, Pak…”.

    “sebentar neng..kita ngobrol di teras aja…mari, neng…”.

    “iya, Pak…”. Moniq pun mengikuti Jali ke teras rumahnya.

    “jadi, neng ini namanya siapa ? kok bisa tahu nama saya ?”.

    “oh iyaa..nama saya Monica, Pak..”.

    Jali pun menyambut tangan Moniq yang putih nan mulus itu. Alus banget tangannya nih cewek, ujar Jali dalam hati.

    “jadi neng Monica ini ada keperluan apa ? kok neng Monica bisa tahu rumah saya ?”.

    “mm…maaf, Pak…panggil saya neng Moniq aja..”.

    “oh iya, neng Moniq..”.

    “jadi gini, Pak…saya tau alamat Bapak dari penjual kambing di Jakarta, Pak…”.

    “he emh..terus ?”.

    “saya mau tahu caranya ternakkin hewan ternak, Pak…”.

    “ouh begitu..”. Ada seorang wanita keluar dari dalam rumah.

    “ada tamu ?”.

    “permisi, Bu…”, Moniq pun berdiri dan menjabat tangan wanita itu.

    “neng ini siapa ya ?”.

    “saya Moniq..”.

    “neng Moniq..ini istri saya, namanya Nunung..”.

    “neng Moniq ada perlu apa yaa ?”.

    “saya mau belajar ternakkin sapi dan kambing, Bu…”.

    “ooh…”.

    Meski agak polos, Moniq tahu kalau Nunung cemburu dengannya. Bagaimana tidak cemburu, wajah Moniq begitu cantik nan imut. Postur tubuhnya yang mungil didukung wajah imutnya memang tak diragukan lagi, Moniq bisa membuat laki-laki gemes dan gregetan terhadapnya.

    “kalo boleh tau, rumah Pak RT dimana ya, Pak ?”, tanya Moniq.

    “saya Pak RT, neng…”.

    “oh..Bapak..Pak RT di sini ?”.

    “iya, neng…kenapa neng Moniq ?”.

    “saya…”. Belum selesai Moniq berbicara, ada seorang pria.

    “permisi, Pak…maav saya telat..tadi saya ada urusan…”.

    “iye gak ape-ape, Yib…”.

    “lho ? Bapak ?”.

    “eh neng…”.

    “neng Moniq kenal ama Toyib ?”.

    “tadi saya nanya ke Bapak ini…”.

    “kebetulan banget nih ada si Toyib..”.

    “kenapa, Pak ?”.

    “ini neng Moniq mau belajar cara ternak…tolong di ajak ngiter, Yib…”, Jali sedikit melirik wajah istrinya yang kelihatan bt sehingga tak berani mengajukan diri untuk mengajak Moniq berkeliling.

    “ayo neng Moniq…”.

    “mari, Pak, Bu…”. Moniq pun berkeliling dengan dipandu Toyib. Moniq pun diajak berkenalan oleh pekerja lainnya.

    “nah ini kandang sapi, neng…”.

    “iih mana mana sapinya ?”.

    “kok beda sii ?”.

    “ha ? beda apanya, neng ?”.

    “beda sama ini…”, Moniq menunjukkan hpnya yang ada gambar kartun sapi.

    “hahaha…ya beda lah, neng..sapi dimana-mana yaa kayak gini, neng…”, Toyib tertawa geli.

    Tapi, ia merasa bingung juga. Masa iya, cewek cakep gini polos n’ lugu kayak anak kecil, pikir Toyib. Moniq pun diajak melihat kandang ayam dan juga kandang kambing.

    “neng Moniq nggak pulang ? udah sore ?”.

    “rumah saya jauh, Pak…n’ kayaknya saya belum dapet apa-apa, Pak…”.

    “lho ? terus ? neng Moniq mau nginep gitu ?”.

    “iyaa, tadinya saya mau nginep di rumah Pak Jali..tapi kayaknya Bu Nunung cemburu..bisa-bisa perang dunia tiga ntar…hihi..”.

    “haha..Ibu Nunung emang cemburuan, neng…”.

    “oh gitu yaa, Pak..”.

    “terus neng Moniq gimana ?”.

    “nggak tau nih, Pak…saya juga bingung..”.

    “ng…kalo neng mau..neng bisa nginep di rumah saya..”.

    “di rumah Bapak ?”.

    “tapi kalo neng gak yakin sama saya juga gak apa-apa…”.

    “gak yakin ? maksudnya ?”.

    “kalo neng Moniq takut di apa-apain ama saya ntar saya tanyain temen saya yang lain..”.

    “saya sii nggak takut..Bapak orangnya baik..tapi istri Bapak nanti marah nggak ?”.

    “saya udah cerai 5 bulan yang lalu, neng…”.

    “maaf, Pak…saya nggak tau…”.

    “nggak apa-apa neng…jadi gimana, neng ?”.

    “mm…boleh deh, Pak…maaf kalo nanti saya ngerepotin..”.

    “tenang aja, neng…”. Bagai gayung bersambut, Toyib merasa senang sekali. Serumah dengan cewek cantik, seperti mimpi rasanya. Sedari tadi, mata Toyib tak henti-hentinya memandangi kemulusan kulit Moniq. Hanya dengan dilihat, Toyib bisa membayangkan betapa mulusnya dan betapa halusnya kulit Moniq yang putih seperti susu itu. Moniq dan Toyib pun kembali ke rumah Jali.

    “gimana, neng Moniq ?”.

    “Pak Toyib sih banyak ngejelasin, tapi sayanya masih kurang ngerti..hehe..”.

    “oh..Toyib emang yang paling tau peternakan saya..soalnya dia yang pertama kali kerja sama saya..”.

    “oh gitu yaa, Pak…”.

    “terus neng Moniq mau ke sini lagi besok ?”.

    “nng..gini, Pak…saya mau nginep di rumah Pak Toyib…rumah saya jauh dari sini…lagian saya capek bolak balik, Pak…”.

    “apa neng Moniq gak takut nginep di rumah Toyib ? cuma berdua sama Toyib ?”.

    Pertanyaan yang tidak sengaja terlontar dari mulut Jali itu semakin menegaskan kalau bandot tua itu tak rela Moniq menginap di rumah Toyib.

    “saya nggak takut, Pak…Pak Toyib orangnya baik banget…”, puji Moniq sambil memandang ke arah Toyib dan tersenyum.

    “oh yaudah kalo gitu…”. Jali menatap Toyib dengan pandangan mata penuh rasa iri, sementara pandangan mata Toyib bersinar-sinar seperti orang yang menjuarai perlombaan dan mendapatkan hadiah yang istimewa.

    “kalo gitu..saya ama Pak Toyib pulang dulu yaa, Pak…”, izin Moniq.

    “bentar, neng…”. Jali masuk ke dalam rumah dan sebentar langsung keluar lagi dengan secarik kertas di tangannya.

    “ini nomer telpon Bapak, neng…kalo neng Moniq mau nanya atau minta tolong..langsung telpon aja yaa, neng…”.

    “okee deh, Pak…beres..”. Dasar bandot maruk, udah punya bini cakep masih aje ngincer daon muda, ujar Toyib dalam hati.

    Pertama kali melihatnya, Toyib langsung kesemsem dengan Moniq. Toyib tak pernah membayangkan akan bertemu dengan wanita yang imut-imut dan begitu menggemaskan. Wajah Moniq sangat sedap dilihat, tentu tak akan bosan dipandangi seharian. Tapi, yang paling menarik perhatian Toyib adalah warna kulit Moniq. Begitu putih merona bagai mutiara dan terlihat sangat halus dan sangat mulus, tak ada luka atau lecet sedikit pun.

    Bagi Toyib, Moniq benar-benar bibit unggul, kandidat yang paling tepat untuk memperbaiki keturunan. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Baru kali ini, Toyib naik mobil mewah seperti mobil milik Moniq. Biasanya Toyib hanya naik angkot, atau paling keren, naik taksi, belum pernah pria tua itu naik mobil mewah. Joknya terasa lembut dan nyaman, aroma mobil pun harum dan membuat rileks, acnya pun sejuk sekali.

    “rumah Bapak lewat mana nih, Pak ?”.

    “luruuus aja, neng…ntar kalo ada belokan, saya kasih tau..”.

    “oke, Pak…”.

    “neng, saya boleh nanya nggak ?”.

    “mau nanya apa, Pak ?”.

    “neng Moniq kenapa mau belajar ternak ?”.

    “yaa sebenernyaa sii awalnyaa mau ngerjain tugas dosen aja, Pak…tapi denger penjelasan Pak Toyib tadi..Moniq jadi tertarik juga..”.

    “oh gitu…”.

    “eh maaf Pak…tadi saya gak sopan…bahasain diri pake nama…”.

    “nggak apa-apa kok, neng..”.

    “saya kebiasaan kalo udah ngerasa deket sama orang..suka pake nama..”. Udah cantik, imut-imut, baik, sopan, n’ kaya, benar-benar cewek sempurna, pikir Toyib.

    “gak apa-apa, neng…justru kerasa lebih deket..hehe..”.

    “hmm…oh iyaa yaa..ngomong-ngomong Pak Toyib udah berapa lama kerja sama Pak Jali ?”.

    “pertama mulai kerja sih umur 38..jadi kira-kira udah 5 tahunan lha, neng…”.

    “wah lama juga yaa…kalo gitu umur Bapak 43 yaa sekarang ?”.

    “iyaa, neng…kalo neng Moniq umurnya berapa ?”.

    “Moniq baru mau 20, Pak..hehe”.

    “oh baru 20…pantes masih imut-imut…”, rayuan kampung Toyib pun mulai keluar.

    “iih Pak Toyib bisaa aja nih..”, balas Moniq dengan nada manja dan mencubit lengan Toyib.

    “hehe..”. Toyib merasa berbunga-bunga karena Moniq tak marah digoda olehnya.

    “nah di depan belok kanan, neng..”.

    “nah rumah saya yang itu tuh, neng…”.

    “oh yang itu yaa ? mobil Moniq parkir dimana nih, Pak ?”.

    “hmm…di situ aja neng..”. Setelah mobilnya terparkir, Moniq pun mengikuti Toyib masuk ke dalam rumah.

    “maaf neng, rumah saya kecil n’ berantakan…”.

    “gak apa-apa, Pak…Moniq malah suka rumah kecil kok…”.

    “bagus kalo gitu, neng..hehe..oh iyaa, neng…di sini kamar neng Moniq..”. Sebuah kamar yang rapih dan cukup bersih untuk seorang pria yang tinggal sendirian. Ada sebuah ranjang cukup besar dengan kelambu di atasnya seperti model ranjang favorit untuk pengantin dan sebuah lemari besar di pojok kamar.

    Toyib

    Toyib

    “wah..kamarnya rapih…”.

    “iya dong, neng..hehe…kan kamar ini kamar saya…”.

    “lho ? terus ntar Pak Toyib tidur di mana ?”.

    “yaa…saya mah gampang, tidur di luar juga bisa..”.

    “tapi tetep di dalem rumah kan ?”.

    “iya lha, neng…”.

    Toyib pun keluar dari kamar. Moniq langsung merapikan pakaiannya ke dalam lemari.

    “neng Moniq mau makan apa ?”, tanya Toyib ke Moniq yang baru keluar kamar.

    “hmm…Moniq mau fried chickenn…”.

    “apa neng? prait..prait ciken ? apa tuh, neng ?”.

    “emm…ayam goreng yang di tepungin itu lho, Pak ?”.

    “aduh saya gak tau, neng…tapi kalo ayam goreng biasa sih ada yang jual deket sini…”.

    “gak apa-apa deh, Pak…ini, Pak uangnya…”.

    “gak usah, neng…”.

    “masa Moniq udah ngerepotin Pak Toyib, makan di bayarin juga…”. Moniq memaksa Toyib menerima uangnya.

    “hmm..yaudah deh, neng..saya beli ayam gorengnya dulu ya neng..”.

    “oke, Pak…”. Toyib kembali dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Toyib dan Moniq pun makan bersama sambil bercanda dan bersenda gurau. Toyib semakin kesemsem dengan si gadis imut yang ada di hadapannya. Enak sekali ngobrol dengan Moniq yang periang dan mudah tertawa. Tawa renyah Moniq membuat suasana rumah Toyib menjadi hangat. Sudah 5 bulan, rasa sepi dan dingin selalu terasa ketika Toyib pulang ke rumahnya sendiri. Jadi, tak heran kalau Toyib senang sekali dengan kehadiran Moniq.

    “kamar mandinya dimana, Pak ?”.

    “ayo ikutin saya, neng…”.

    “iyaa, Pak…”.

    “nah ini kamar mandinya, neng…”. Toyib pun meninggalkan Moniq di dalam kamar mandi dan kembali menonton tv kecilnya.

    “Pak..Moniq tidur duluan yaa…”.

    “iya, neng…”, jawab Toyib.

    *******************

    Keesokan harinya.
    “hooaahhmm…eennggg !!!”, Moniq ngulet meregangkan otot-otot tubuhnya.

    “hemm…”, Moniq menikmati segarnya udara pedesaan di pagi hari setelah membuka jendela. Moniq keluar dari kamar, Toyib pas sekali mau keluar rumah.

    “Pak Toyib ! mau kemana ?”.

    “eh neng Moniq udah bangun…”.

    “iyaa, Pak…Moniq baru bangun nih…Pak Toyib mau kemana sih ?”.

    “saya mau ke rumah Pak Jali, neng…”.

    “kok Pak Toyib nggak bangunin Moniq sih ?”.

    “tadi saya mau bangunin…tapi neng Moniq keliatan pules banget…makanya saya nggak enak mau bangunin neng Moniq…”.

    “oh..yaudah, Pak Toyib tunggu sebentar yaa..Moniq mau ganti baju dulu kalo gitu…”.

    “oke, neng…”.

    Sambil menunggu Moniq kembali, Toyib pun berandai-andai. Pria tua itu membayangkan kalau dia berhasil mendekati Moniq untuk mau menjadi istrinya. Terbayang oleh Toyib akan kehidupan yang sangat indah jika berhasil memperistri Moniq. Pertama, tentu kehidupannya tak akan sesulit sekarang yang harus bekerja keras membanting tulang untuk kehidupan sehari-hari karena pasti dibantu oleh Moniq. Kedua, dan yang paling penting adalah memiliki istri dengan wajah begitu cantik dan imut ditambah tubuh yang sintal dan padat pasti akan membuat betah jika di rumah.

    “kyuut…”, lama kelamaan tonjolan di celana Toyib pun semakin terlihat sebab Toyib sedang membayangkan jika menjadi suami Moniq, dia akan menyuruh Moniq untuk mengenakan daster transparan setiap harinya atau malah akan melarang Moniq mengenakan apapun jika di rumah mereka nanti agar bisa memandangi tubuh Moniq yang putih mulus.

    “Pak Toyib ?”.

    “e e eh neng Moniq udah selesai…”, Toyib langsung berdiri supaya Moniq tidak melihat tonjolan di celananya karena sedang ngaceng berat.

    “ayo, Pak Toyib…kita ke tempat Pak Jali…”.

    “ayo, neng…”. Moniq memakai kaos hitam dan celana pendek sepaha, 6 cm di atas lututnya.

    Betis dan sedikit paha Moniq yang putih mulus sekarang bisa terlihat. buset, ni cewek emang bener-bener bening, pikir Toyib. Di dalam mobil, Toyib dan Moniq pun bercengkrama dengan hangatnya seperti keluarga.

    “nih, neng..pake ini aja…kalo kotor kan gak apa-apa…”. Moniq melepaskan sandalnya dan mengenakan sepatu boot yang diberikan Toyib. Lucu kelihatannya, sepatu boot terlihat kebesaran ketika dipakai Moniq.

    “ayo neng, kita ke kandang ayam dulu…”.

    “yuuk…”. Toyib pun mengajari Moniq untuk mengganti air minum dan menyebarkan makanan ayam. Selain itu, Moniq pun belajar cara mengambil telur ayam dan menentukan mana yang baik untuk ditetaskan dan mana telur yang bisa dijual.

    “sekarang ke kandang mbek yaa, Pak ?”.

    “iya, neng…”. Mereka berdua masuk ke dalam kandang kambing. Ada sekitar 2 orang pria yang sedang memberi makan kambing.

    “eh ada neng Moniq…”, goda salah satu pria.

    “eh Pak Wawan…lagi ngasih makan mbek yaa ?”.

    “iyaa nih neng Moniq…mau coba kasih makan gak, neng ?”.

    “boleh juga, Pak…”.

    “nih neng…”. Wawan menyerahkan rumput yang sedang digenggamnya.

    “mbeknya nggak gigit kan, Pak ?”.

    “nggak lah, neng…nggak tega ngegigit neng…hehe..”.

    “bisa aja nih, Pak Wawan…”.

    “aww…”, Wawan teriak kecil saat Moniq mencubit perutnya.

    Wawan jadi semakin gemas saja dengan kelakuan gadis imut ini, meski hanya dicubit Moniq, batang Wawan bereaksi. Dengan perlahan, Moniq menjulurkan rumput yang di genggamnya ke mulut kambing yang langsung disambar kambing itu.

    “ehhh…ampir aja…”, Moniq refleks menarik tangannya takut di sambar kambing itu.

    “tenang aja, neng…ga bakal digigit kok…”. Moniq pun memberanikan diri dan akhirnya tenang setelah berhasil mengelus-elus kepala si kambing.

    “Pak Sani lagi ngapain ?”, sapa Moniq dari belakang dan memegang kedua bahu Sani.

    “ini neng..lagi merah susu kambing…”.

    “susu kambing rasanya gimana sih, Pak ?”.

    “neng Moniq mau nyobain ? nih, neng..”. Moniq mengambil gelas plastik yang diberikan Sani.

    “iih…aneh Pak rasanya..anyeep..”, komentar Moniq manja.

    “haha..yaa emang gitu rasanya, neng…anyep tapi lebih sehat lho, neng daripada susu sapi…”.

    “emang iyaa ya, Pak ?”.

    “iya neng…kalo abis minum susu kambing..badan neng Moniq pasti lebih seger rasanya…”.

    “oh gitu yaa, Pak…”.

    “makanya, neng…abisin susunya…”.

    “iyaa deh, Pak…”.

    “hahaha…”. Sani pun tertawa geli melihat tingkah polah Moniq yang memencet hidungnya dan memejamkan matanya bagai orang minum jamu saja. Usai dari kandang kambing, Moniq dan Toyib pun pergi ke kandang sapi. 3 orang pekerja pun langsung menggoda Moniq. Kapan lagi bisa bercanda dan menggoda cewek cantik di kandang sapi, udah gitu ceweknya gak marah digodain, gampang ketawa, bikin tambah gemes aja, semua itu dirasakan oleh 3 orang pria yang ada di kandang sapi.

    “neng Moniq mau belajar caranya merah susu sapi gak ?”.

    “wah mau mau mau mau, Pak…”.

    “sini, neng…perhatiin saya..”. Toyib pun mencolek sesuatu yang berwarna kuning di gelas plastik.

    Toyib mengolesi kedua tangannya dengan sesuatu yang berwarna kuning.

    “Pak…itu apa sii ?”.

    “ini mentega, neng…”.

    “mentega buat apa, Pak ?”.

    “supaya licin, neng..jadinya sapinya gak ngerasa sakit..soalnya kalo dia sakit..gak mau ngeluarin susu…”.

    “oh gitu yaa, Pak…”.

    “nah neng Moniq sekarang perhatiin…neng megangnya di sini…abis itu remes pelan-pelan sambil diurut ke bawah kayak gini, neng…”. Begitu Toyib mengurut, susu langsung terpancar menuju ember yang ada di bawah perut sapi itu. Toyib pun mencontohkan beberapa kali.

    “sini, Pak…Moniq mauu cobaa…”. Toyib pun digantikan Moniq duduk di dingklik. Moniq melumuri kedua tangannya dengan mentega seperti yang dilakukan Toyib tadi.

    “dari sini yaa ?”.

    “agak ke atas neng…”.

    “di sini ?”.

    “iya di situ, neng…sekarang neng coba remes sambil di urut ke bawah pelan-pelan…”.

    “mooo !!!”, tiba-tiba si sapi agak meloncat. Moniq yang kaget langsung terjungkang ke belakang.

    “aduuwwhhh, sakiit…”.

    “neng Moniq gak apa-apa ?”.

    “gak apa-apa kok, Pak…”, ujar Moniq membersihkan kedua sikunya yang kotor.

    “kok sapinya ngamuk sii, Pak ?”.

    “neng Moniq kekencangan kali…”.

    “iyaa kali yaa..Moniq coba lagi deh..”. Dengan lebih hati-hati, Moniq pun lancar memerah susu sapi bahkan sampai embernya penuh.

    “asiik juga yaa merah susu sapi..hihihi…”.

    “wah neng Moniq ada bakat jadi tukang perah susu nih kayaknya..”.

    “pokoknya kalo ada sapi yang mau diperah..panggil Moniq aja yaa..hihihi…”.

    “tapi neng Moniq bisa diperah juga gak ? hehe…”, celoteh jorok keluar dari mulut Maman.

    “iih Pak Maman…masa Moniq mau diperah juga ? emangnya Moniq sapi…wee…”, balas Moniq sambil memeletkan lidahnya. Moniq benar-benar membawa suasana baru bagi para pekerja di tempat Jali sehingga mereka semua jadi giat bekerja. Selain jadi pemandangan indah untuk cuci mata, Moniq enak sekali di ajak ngobrol karena Moniq tidak marah malah menanggapi candaan-candaan para pekerja yang cenderung jorok dan vulgar, tapi Moniq masih menjaga jarak dengan semuanya, tak mau terjadi apa-apa.

    “semuanya, Moniq pulang dulu yaa…”.

    “iyaa neng…”.

    “makasi udah ngajarin Moniq yaa…”.

    “sama-sama, neng…”.

    “ati-ati, neng Moniq…”. Moniq dan Toyib pun kembali ke rumah dan makan malam.

    “uunnghh !! pegeell !!!”.

    “capek ya, neng ?”.

    “iyaa nih, Pak…capek bangeet…Moniq mau ganti pakean dulu deh..abis ituu..tiduuurr !!”.

    “Pak Toyib…Moniq tidur duluan yaa…”.

    “iyaa neng…”.

    Moniq terlelap dalam kelelahan. Sementara itu, pintu kamar terbuka dan ada yang masuk ke dalam kamar.

    “mm ??”. Meski kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya, Moniq merasa aneh. Kedua kakinya terasa terbuka lebar tapi tak bisa digerakkan, begitu juga dengan kedua tangannya. Dan ada sesuatu di dalam mulutnya. Moniq pun membuka matanya dan mendapati dirinya telah terikat ke ranjang seperti huruf X. Dan ada kain yang menyumpal mulutnya.

    “eh neng Moniq udah bangun…”.

    Moniq melihat pria masuk ke dalam kamarnya. Ternyata yang melakukan semua ini tak lain dan tak bukan adalah Toyib.

    “dari tadi di tungguin akhirnya bangun juga..hehe..”.

    “emph mmphh !!!”. Moniq kelihatan ingin berbicara sesuatu, tapi tentu tak bisa karena tersumpal kain.

    “neng Moniq gak usah ngomong..nikmatin aja haha !!”. Toyib mengeluarkan gunting dari saku celananya.

    “ssrtt srrt srrtt”, bunyi kain yang sedang digunting. Toyib menggunting piyama yang dikenakan Moniq mulai dari lubang lehernya terus turun sampai ke celana dalam satu garis lurus. Pakaian Moniq pun terbelah jadi dua, kiri dan kanan. Bagai orang yang mendapat gaji pertama, jantung Toyib berdetak cepat, merasa gugup dan deg-degan sekaligus tak sabar ingin melihat apa yang ada di dalam pakaian Moniq yang kemarin-kemarin hanya bisa dibayangkan dalam pikirannya yang kotor. Toyib menyibakkan baju Moniq ke kanan dan ke kiri. Mata Toyib pun terbuka lebar.

    “gllkk…”, Toyib menelan ludahnya sendiri melihat kemulusan kulit Moniq.

    Hanya dengan melihat perut Moniq yang rata dan payudaranya yang masih terbungkus bra, ‘adik’ Toyib sudah mencuat ke atas, membuat tonjolan di celananya.

    Toyib pun mengelus-elus dan membelai perut Moniq.

    “neng Moniq…kulitnya alus banget…”, Toyib pun mencubiti kecil-kecil perut Moniq saking gemasnya. Tubuh Moniq begitu mulus dan begitu harum. Bagai kue yang baru diangkat dari oven, tubuh Moniq terlihat sangat ‘segar’ dan kelihatan begitu ‘lezat’ untuk disantap.

    “cupph cuphh cuuphh…”, Toyib menciumi perut Moniq terus menerus sebelum mulai menjilatinya.

    Pusar Moniq pun dicolok-colok Toyib dengan lidahnya. Banyak waktu yang dimiliki Toyib membuat pria tua itu ingin menikmati ‘kelezatan’ dari setiap jengkal tubuh Moniq secara perlahan. Toyib pun melangkah ke tahap selanjutnya, dia menggunting tali bh Moniq di kedua sisi. Toyib pun dag dig dug lagi, penasaran ingin tahu bagaimana bentuk payudara dari seorang gadis imut. Toyib langsung melongo, matanya terbuka lebar, air liur hampir menetes keluar. Kemasan susu terindah yang pernah Toyib lihat seumur hidupnya. Moniq hanya bisa pasrah, kedua buah payudaranya menjadi tontonan Toyib. Gumpalan daging kembar yang sangat indah. Bentuknya benar-benar bulat sempurna, terlihat penuh berisi dan sangat kencang, putih mulus, dan yang sangat mengundang birahi adalah pucuk payudaranya yang berwarna pink agak pucat, sangat serasi dengan kulitnya. Tanpa ragu-ragu, Toyib langsung mencengkram kedua buah payudara yang sangat mengundang birahi itu. Toyib meremasi gunung kembar Moniq dengan kasar, semakin lama semakin kencang remasannya karena pria tua itu sangat gemas dengan keempukan, kekenyalan, dan kelembutan payudara Moniq.

    “hmmffhh !!”, ekspresi Moniq menunjukkan orang yang sedang meringis kesakitan.

    Toyib pun memainkan kedua puting Moniq, memencet-mencet, menarik-nari, dan memilin-milin ‘tutup’ kemasan susu Moniq. Ekspresi wajah Moniq pun berubah menjadi ekspresi nikmat. Tapi, ekspresi Moniq segera berubah lagi saat Toyib menyentil putingnya yang sudah keras dengan sangat kencang. Toyib terus menyentil kedua puting Moniq bergantian. Tubuh Moniq hanya bisa berkedut-kedut merasakan sakit.

    “happhh !! nyymmhh !!”, Toyib langsung menyantap payudara kanan Moniq. Toyib mengemuti puting Moniq yang kenyal, menghisap dan menyedot kuat-kuat bagai bayi yang sedang lapar-laparnya.

    “mmffhh…”. Kedua pucuk payudara Moniq dikunyah terus oleh Toyib. Kadang digigit kencang oleh Toyib lalu ditarik-tarik ke atas.

    “cuuupphhh !! cuuupphhh !!”, Toyib pun mencupangi kedua buah payudara Moniq. Kulit payudara Moniq pun langsung kelihatan memerah di beberapa titik yang habis dicupang Toyib. Toyib tersenyum senang, dia telah berhasil membuat tanda di payudara Moniq yang menggiurkan itu.

    “PLAAKK !!!”, sebuah tamparan sangat kencang mendarat di payudara kanan Moniq. Ekspresi wajah Moniq berubah seketika, menahan rasa pedih dan ‘panas’ di payudara kanannya.

    “PLAAKK !!!”, payudara kiri Moniq pun ditampar kencang juga oleh Toyib yang kelihatan begitu puas melihat Moniq yang terlihat kesakitan.

    Moniq pun tak berdaya merasakan pedih karena Toyib terus menampari kedua susunya. Gumpalan daging Moniq yang tadinya begitu putih mulus kini berubah menjadi kemerah-merahan bekas tamparan dari Toyib. Toyib mencupangi leher, lengan, dan belahan dada serta perut Moniq karena pria tua itu ingin membuat tanda di sekujur tubuh indah Moniq. Ketiak Moniq pun tak luput dari Toyib. Ketika ketiaknya diciumi dan dijilati, Moniq pun menggeliat-geliat kegelian. Karena harum, Toyib pun jadi betah di daerah itu sehingga membuat Moniq tersiksa dalam rasa geli. Ketiak Moniq pun basah kuyup karena air liur Toyib.

    “hehe..geli ya neng ?”, ledek Toyib melihat Moniq yang uget-uget dari tadi. Toyib merasa cukup bermain dengan tubuh bagian atas Moniq, saatnya berpindah konsentrasi ke bagian bawahnya. Bagian tubuh Moniq yang paling membuat Toyib penasaran. Gunting yang dipegang Toyib pun bergerak mendekati daerah Moniq yang paling pribadi.

    “kres kres kres…”. Dengan sangat hati-hati, Toyib mengguntingi celana Moniq yang sudah terbelah menjadi 2 sisi untuk menghilangkan sisa kain yang masih menutupi selangkangan Moniq.

    Akhirnya daerah kewanitaan Moniq pun tak tertutup kecuali cd yang masih setia melekat. Satu-satunya kain yang memisahkan Toyib dengan ‘surga dunia’ yang ada di tengah-tengah selangkangan Moniq yang putih mulus itu. Tak sabar ingin melihat ‘hadiah’nya, Toyib langsung menggunting pinggir kanan dan kiri cd Moniq. Bagian tengah cdnya kini sudah terputus sehingga Toyib mudah melipat ke bawah.

    “waahh…”, pandangan mata Toyib semakin berapi-api, nafasnya semakin memburu melihat lembah kenikmatan milik Moniq. Tak pernah terbayang di pikiran Toyib bisa melihat vagina seindah ini. Bentuk alat kelamin yang begitu indah, bibir vagina Moniq terlihat begitu rapat, kulit di sekitarnya pun berwarna putih mulus, warna belahan bibir vaginanya seperti warna merah muda, dan sama sekali tak ada bulu yang menghiasi kelaminnya, benar-benar bersih dan sangat mulus. Belum lagi, semerbak aroma harum yang tercium oleh Toyib. Toyib tersenyum penuh arti memandangi tengah-tengah selangkangan Moniq. Toyib tersenyum karena vagina Moniq yang menggiurkan dan sangat menggugah selera itu hanya untuk dirinya seorang. Tak akan ada orang lain yang bisa mengganggunya untuk mendapatkan kenikmatan sebanyak-banyaknya bahkan si pemilik vagina pun tak bisa mengganggu Toyib karena sudah terikat kuat ke ranjang.

    Baca Juga : Holiday’s Challenge 2: Intan si Gadis Nelayan

    Toyib langsung membenamkan wajahnya ke selangkangan Moniq, menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma harum dari vagina Moniq sebanyak-banyaknya. Tubuh Moniq langsung gemetar saat lidah Toyib mulai melakukan kontak fisik.

    “mmffhh…”, hanya itu yang keluar dari mulut Moniq seiring tubuhnya yang berkedut-kedut. Toyib asik menyapu belahan bibir vagina Moniq dari bawah ke atas lalu kembali ke bawah dan seterusnya. Tonjolan sensitif Moniq pun disentil-sentil Toyib dengan lidahnya membuat Moniq semakin menggeliat-geliat. Lidah Toyib begitu lincah menari-nari di daerah kewanitaan Moniq. Toyib pun mencicipi sedikit cairan yang meleleh keluar dari celah sempit milik Moniq itu.

    “ayo neng…keluarin lagi dong…enak banget…”, komentar Toyib sebelum mulai menyerbu vagina Moniq dengan lebih ganas. Moniq hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tubuhnya berkedut-kedut merasakan kenikmatan yang luar biasa yang berasal dari vaginanya. Toyib semakin buas menggerogoti vagina Moniq, melahap vagina indah itu bagai tak ada hari esok. Tanpa diketahui Toyib, Moniq sebenarnya sangat menikmati ketidak-berdayaannya untuk melindungi daerah yang paling intim dari tubuhnya. Moniq sangat suka jika merasa tak berdaya di hadapan pria, Moniq akan mematuhi semua perintah pria yang menjadi teman sexnya meski kadang membuatnya tersiksa. Tapi, semakin tersiksa, Moniq akan semakin bergairah. Tubuh Moniq menegang, perutnya sedikit terangkat ke atas, Toyib langsung memasang mulutnya.

    “ssrrppphh..ssllrrrppp…”. Sekejap saja, cairan vagina Moniq langsung habis. Toyib membuka bibir vagina Moniq dengan kedua jari telunjuknya dan langsung menggali bagian dalam vagina Moniq dengan lidahnya.

    Mengais-ngais dan menyedot sisa-sisa cairan yang tersisa di sela-sela bibir vagina Moniq. Memang, sudah sewajarnya Toyib begitu rakus menguras vagina Moniq karena rasa vagina Moniq sangat gurih dan ada sedikit rasa manis bahkan Toyib sedang berusaha ‘menimba’ vagina Moniq lagi. Sesekali Toyib menjilati dan menciumi selangkangan Moniq yang begitu harum.

    “hei ! senangnya dalam hati, aku beristri dua, serasa dunia, ana yang funya !!”, Toyib pun terpaksa bangun dan mencari hpnya setelah mendengar ringtonenya.

    “siape sih ah..ganggu orang aje..gak tau ape..lagi enak-enaknye makan memek…”, Toyib ngedumel.

    “sialan tuh Jali..lagi enak-enaknye disuruh ke sono lagi..”. Toyib pun keluar kamar, tak lama kemudian Toyib kembali. Sambil tersenyum, Toyib meremas kencang biskuit yang dipegangnya.

    “neng Moniq…Abang pergi bentar yaa..”, ujar Toyib sambil menabur remah-remah biskuit ke selangkangan Moniq yang sudah basah kuyup oleh air liur Toyib.

    “ati-ati neng..disini banyak tikus ama semut…hehe..”. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Toyib keluar kamar. Moniq tak bisa berbuat apa-apa untuk membersihkan vaginanya yang penuh dengan remah-remah biskuit karena kedua kaki dan tangannya masih terikat ke ranjang. Moniq dag dig dug sekali, dia berharap Toyib segera pulang sebelum tikus, semut, kecoa, atau hewan-hewan kecil lain ‘menyatroni’ dan masuk ke dalam vaginanya. Tapi, tetap saja Moniq merasa ‘panas’ apalagi saat memikirkan kalau dia sama sekali tak mampu melindungi daerah paling intim dari tubuhnya bahkan dari hewan kecil sekalipun. Rasa pegal terasa di mulut, kaki, dan tangan gadis mungil itu.

    “cklek…”. Rasa lega dirasakan Moniq saat Toyib masuk ke kamar.

    “alo neng Moniq…gimana ? memeknya gak apa-apa kan ? hehe..”. Toyib mendekati dan melihat daerah segitiga Moniq yang masih penuh dengan remah-remah biskuit.

    “wah masih ada biskuitnya ya, neng ? kalo gitu Abang aja yang makan…hehe”, Toyib langsung mengambil posisi untuk ‘menyantap’ alat kelamin Moniq lagi.

    “wah enak juga biskuit rasa memek yee hahahaha !!!”.

    “mmffhh mfh..”.

    “neng Moniq mau ngomong sesuatu ?”.

    “umm..”, Moniq mengangguk.

    “tapi neng Moniq jangan teriak ya..”. Moniq pun kembali mengangguk. Dengan hati-hati, Toyib mengeluarkan kain dari mulut Moniq dan menyiapkan tangannya yang lain untuk membekap mulut Moniq seandainya dia teriak.

    “lepasin donk, Pak Toyib..Moniq pegel nih…”. Toyib terkejut mendengar perkataan Moniq. Nada suaranya sama sekali tak menunjukkan kalau dia marah atau ingin teriak, seolah biasa saja, tak terjadi apa-apa.

    “tapi, neng Moniq gak bakal macem-macem kan ?”.

    “nggak, Pak..”. Toyib melepaskan ikatan di tangan dan kaki Moniq. Moniq hanya duduk sambil mengelus-elus kedua pergelangan kakinya yang ada bekas ikatan tali.

    “neng Moniq nggak marah ?”.

    “nggak, Pak…”, jawab Moniq sambil tersenyum lebar.

    “Moniq cuma pegel…”, jawaban Moniq semakin membingungkan Toyib. Moniq duduk di tepi ranjang.

    “Moniq suka kok kayak tadi…”, Toyib sangat terkejut mendengar jawaban Moniq.

    Toyib tak menyangka Moniq akan mengeluarkan jawaban yang membuatnya serasa di dalam mimpi. Toyib memang memiliki perilaku sex yang agak menyimpang, dia suka sekali memperlakukan wanita dengan kasar sebelum mulai bersenggama. Toyib sudah menikah 2x, dua mantan istrinya tak ada yang tahan dengan prilaku sexnya. Tak heran kalau Toyib merasa bermimpi. Kini, di hadapannya ada seorang gadis muda yang cantik dan bilang kalau dia juga suka bermain ‘kasar’.

    “yang bener, neng ?”.

    “bener, Pak…”.

    “kalo gitu…”. Toyib langsung menyelinapkan tangannya ke bawah selangkangan Moniq.

    “berarti memek ni punya siapa ?”, Toyib mengobel-obel vagina Moniq.

    “mmm..punyaa..hh..Pak..Toyibhh…”.

    “gak ada Pak Toyib..adanya Bang Toyib..panggil gue Bang Toyib !!”.

    “ii..yaa, Bangg..eemmmhh..”.

    “sekali lagi gue tanya. ni memek punya siape ?!”.

    “punya Bang Toyib…oouummhhh..”.

    “bagus bagus…”.

    “ooouuhhh…oohh oohh uuuhh…”, Toyib semakin cepat mengorek-ngorek vagina Moniq.

    “enak yaa dikobel ? hahaha !!”, ledek Toyib.

    “enaaakk Baangghhh…ooohhhh !!”. Moniq pun memegang kencang tangan Toyib, menekan vaginanya ke bawah.

    “OOOUUHHHHH !!!”, lenguh Moniq mendapatkan orgasmenya.

    “bagus ya lo bikin tangan gue basah..ayo jilatin !!”.

    “iya, Bang…”.

    Moniq menjilati punggung tangan, telapak tangan, dan sela-sela jari tangan kiri Toyib lalu 5 jari Toyib pun dikulum dengan sangat telaten oleh Moniq. Toyib mengajak Moniq berdiri. Dipeluknya tubuh Moniq yang mungil namun sangat padat berisi itu.

    “pokk !! pokk !!”, Toyib menampari dan meremasi kedua bongkahan pantat Moniq yang kenyal. Memang, Moniq sedikit merintih kesakitan, tapi ekspresi mukanya menunjukkan kalau dia senang bahkan kelihatan sangat bergairah dan begitu ‘ingin’.

    “ayo sekarang lo jongkok !!”. Moniq langsung jongkok.

    “sekarang bukain celana gue !!”. Dengan hati-hati, Moniq menelanjangi bagian bawah Toyib. Moniq mengusap-usap tonjolan yang ada di kolor Toyib lalu menciumi tonjolan itu, benar-benar seperti cewek nakal.

    “lo demen ama kontol gue ye ? hahaha”.

    “iyaa, Bang…”. Lidah Moniq menjalar di sekitar tonjolan itu. Bagai orang yang mempunyai 2 kepribadian, Moniq benar-benar seperti orang yang sangat berbeda. Yang tadinya kelihatan imut dan polos, sekarang kelihatan seperti cewek murahan yang begitu menyukai apa yang ada di dalam kolor bau apek itu, sebuah benda yang paling utama dalam hubungan seksual yang bisa mengantarkan ke puncak kenikmatan. Moniq tak sabar, dia langsung melorotkan kolor Toyib. Spontan, ‘senjata’ Toyib langsung menyembul keluar. Sambil terus menarik celana Toyib ke bawah, mata Moniq tak bisa lepas dari benda tumpul yang ada di selangkangan Toyib. Bukannya kenapa-kenapa, Moniq sudah lumayan banyak melihat kejantanan pria-pria, mungkin sudah sekitar 6x dia melihat ‘ular’ yang berbeda, tapi dia tak pernah melihat yang seperti ini. Leher penis seorang pria memang agak timbul dari batangnya, tapi mungkin hanya beberapa milimeter saja atau paling maksimal 1/2 cm dari batangnya. Sedangkan topi penis Toyib lebih timbul, mungkin 1,5 cm dari batangnya, sehingga terlihat seperti King Cobra yang akan menangkap mangsanya.

    “kenapa ?? kaget ngeliat kontol gue ??”.

    “…”. Moniq hanya bisa diam, kedua matanya tak bisa beralih dari batang aneh itu.

    “jawab !!”.

    “i..iya, Bang…”.

    “biar gak kaget..lo jilatin kontol gue biar tau rasanya..”.

    “iyaa, Bang…”.

    Moniq mulai menggenggam penis Toyib dan mengocoknya perlahan.

    “cupp cupp cupp…”. Moniq mencumbui helm merah muda Toyib dengan lembutnya. Bau apek memang menyengat sekali di hidung Moniq, tapi gadis mungil itu kelihatan begitu terbius, begitu asik mencumbui sekujur batang kejantanan Toyib dan tak ketinggalan buah pelirnya juga. Ceritamaya

    “aammhh…mmhhh..emmm…cllpphh…”. Moniq ‘menelan’ kedua telur puyuh Toyib bergantian.

    “uuhhh…”, eluh Toyib keenakan. Sudah lama, ‘perkakas’nya itu tidak mendapat perhatian dari seorang wanita sebegitu intensnya. Moniq tak segan-segan menciumi dan menjilati bagian pangkal dari ‘tonggak’ milik Toyib.

    Moniq sudah mulai berkaraoke. Pipinya kembang kempis seiring keluar masuknya penis Toyib.

    “slebbh slbbhh…”.

    “oohhhh uuuhh maantaabbhh !!!”. Nikmatnya sungguh tiada tara, Moniq benar-benar tahu cara menggunakan lidahnya. Toyib terus mengeluh-eluh keenakan, apalagi Moniq menggunakan tangannya untuk ‘mengurus’ buah pelir Toyib. Toyib menarik kepala Moniq menjauh dari selangkangannya.

    “lo udah biasa nyepongin orang ?”.

    “iyaa, Bang…”.

    “wahaha !! gak nyangka, muka polos tapi udah biasa nyepong..bagus bagus…sekarang buka mulut lo !”. Moniq membuka mulutnya selebar mungkin. Toyib menggerakkan kepala penisnya mengitari mulut Moniq 3x putaran sebelum memukul-mukulkan batangnya ke kedua pipi Moniq seolah-olah sedang menampari Moniq dengan ‘pentungan’nya. Toyib memegangi kepala Moniq dan mengarahkan juniornya ke mulut Moniq.

    “jlbbhh !!”. Toyib langsung menusukkan penisnya masuk ke dalam mulut Moniq.

    “heegghhh !!”, mata Moniq terbelalak, dia kelojotan menerima penis Toyib yang masuk dengan tiba-tiba dan sangat dalam.

    “ohog ohog”.

    Air mata terlihat keluar dari sela-sela kedua mata Moniq.

    “ohok ohok ohok !!!”, Moniq terbatuk-batuk ketika Toyib sudah mengeluarkan penisnya.

    Penis Toyib yang menyentuh sampai ke pangkal kerongkongannya membuat Moniq jadi mual, ingin muntah. Moniq menyeka air matanya dan tersenyum sambil memandang wajah Toyib, setelah itu Moniq mengelus-eluskan penis Toyib ke pipinya sendiri seperti orang yang sedang bermanja-manja dengan hewan peliharaan kesayangannya. Dalam hati, Toyib merasa senang bukan kepalang. Inilah wanita yang dicari-carinya selama hidupnya. Begitu cantik, imut, mungil, dan montok. Dan paling penting bagi Toyib adalah sifat Moniq yang begitu penurut, menerima semua perlakuannya dengan senang hati. Moniq membuka mulutnya lagi.

    “mau lagi ?”. Moniq mengangguk. Seakan luluh dengan sikap penurut Moniq, Toyib mendorong penisnya dengan perlahan, tak ingin menyakiti Moniq.

    “oohhh angeetthhh !!!”. Batang kejantanan Toyib telah ditelan seluruhnya oleh Moniq.

    Mulut Moniq mengatup di penis Toyib dengan begitu rapat, tak mau membiarkan penis itu keluar. Lidah Moniq pun membelai manja tugu milik Toyib.

    “uaahhh…”, Moniq bisa bernafas lega, penis Toyib telah keluar dari mulutnya. Moniq menjulurkan lidahnya, mengulik lubang kencing Toyib. Toyib merinding hebat, rasa geli, sedikit ngilu bercampur dengan rasa nikmat dirasakan Toyib di pucuk alat reproduksinya. Toyib pun terpaksa menjauhkan organnya itu dari lidah Moniq yang benar-benar ‘berbahaya’. Berbahaya karena hampir membuat Toyib orgasme. Toyib pun langsung menggendong Moniq, dan menghempaskan tubuh putih mulusnya ke ranjang. Benar-benar menggiurkan melihat Moniq terkulai pasrah di atas ranjang. Tubuhnya yang mungil namun montok seakan-akan mengundang Toyib untuk mendekat. Pria tua itu langsung menerkam tubuh putih mulus itu. Dicumbuinya jengkal demi jengkal tubuh Moniq dengan penuh nafsu. Sementara si gadis mudanya pun begitu menikmati cumbuan dan cupangan Toyib yang penuh gairah. Saatnya merengkuh kenikmatan dari tubuh indah ini, pikir Toyib. Toyib mulai mendobrak masuk ke dalam pintu surga dunia milik Moniq dengan tongkatnya.

    “hhnnmmhhhh…eeennnhhh…”, Moniq meresapi senti demi senti benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya melalui vaginanya. Sensasinya lain, kepala penis Toyib bagai payung di dalam rahim Moniq. Semakin dalam dan semakin dalam ‘jamur’ Toyib memasuki liang senggama Moniq.

    “eegghhh oohhh !!”, Toyib mengerang keenakan, penetrasi terhadap alat kelamin Moniq begitu nikmat. Sempit dan peretnya liang kewanitaan Moniq sangat memberikan sensasi luar biasa pada Toyib.

    Semakin panjang rudal Toyib yang menyesaki liang vagina Moniq. Terasa sangat terjepit, seperti ditarik dan dihisap masuk semakin dalam. Akhirnya, tombak Toyib sepenuhnya mengisi rongga vagina Moniq. Moniq masih membiasakan diri dengan benda besar nan tumpul yang membuat liang vaginanya terasa penuh sesak, apalagi terasa ada yang mengganjal di ujung rahimnya, sama sekali tak pernah dirasakan olehnya. Toyib langsung memagut bibir Moniq yang merah merekah.

    “hheemmm…cpphhh…mmmm…”, gumam keduanya. Bibir Toyib melekat begitu erat dengan bibir Moniq. Keduanya saling pagut, saling lumat, dan saling membelitkan lidah. Bibir tipis Moniq habis dihisap, dikulum, dan disedot oleh Toyib. Pinggul Toyib mulai bergerak naik turun.

    “uummm…”. Alat kelamin Toyib terasa seperti pompa gabus bagi Moniq karena kepala penis Toyib benar-benar menghalangi celah-celah di dalam liang vagina Moniq seperti tutup botol gabus.

    “gimana, enak ??”, ejek Toyib sambil terus menggenjot dengan perlahan untuk memancing gairah Moniq agar semakin tinggi.

    “enaak bangeed, Bangh…”, lirih Moniq. Moniq sama sekali belum pernah merasakan sensasi ini. Alat kelaminnya tak pernah terasa begitu ‘tersumbat’ seperti sekarang, gesekannya terasa lebih ‘memabukkan’, kejutan listrik terus menerus mengalir.

    “oouuhh yeeehhhh aahhh hhuuuhhh…”, desahan Moniq diiringi nafas Toyib yang menderu-deru.

    Hujaman tombak Toyib semakin cepat bagai piston motor yang dipacu semakin cepat, membuat Moniq semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Sungguh nikmat yang tiada duanya, Moniq sampai lupa sedang ada dimana, siapa yang sedang menggumulinya, bahkan Moniq hampir lupa siapa namanya. Rasa nikmat itu benar-benar menguasai pikiran Moniq, membuatnya serasa seperti melayang-layang di udara. Toyib mencabut batangnya keluar, wajah Moniq menunjukkan wajah ‘tanggung’ dan meminta untuk ditojos lagi.

    “jleebbhh !!!”.

    “HEEGGGHHH !!!”, mata Moniq terbelalak, vaginanya terasa ngilu luar biasa.

    Toyib tersenyum melihat ekspresi Moniq yang terkejut sekaligus merasakan ngilu, pria tua itu semakin merasa berkuasa atas tubuh gadis imut yang sedang ‘dikait’nya. Berkali-kali Toyib melakukan ‘tusukan maut’nya, berkali-kali juga mata Moniq terbelalak dan tubuhnya tersentak kencang ke atas. Kedua alat kelamin itu sama-sama saling mengunci posisi masing-masing sambil terus bergesakkan.

    “ooohh oohhh terusshh Baangghh eemmhhh ooouuhhh !!”.

    “POKKHHH !!”.

    “AWWHHH !!!”. Tamparan kencang mendarat di payudara Moniq. Tubuh Moniq terkejut, tapi wajah Moniq menunjukkan ekspresi nakal. Persetubuhan antara Moniq dan Toyib yang dibumbui unsur penyiksaan terus berlangsung. Pria tua itu bagai menemukan belahan jiwanya. Gadis muda yang sedang digumulinya sangat pasrah, malah semakin hot dan semakin bergairah jika semakin disiksa. Bekas-bekas cupangan bertambah di leher dan payudara Moniq. Payudara Moniq kini agak memerah karena terus ditaboki oleh Toyib. Wajah Moniq pun basah kuyup oleh air liur Toyib. Desahan dan nafas keduanya saling balap-balapan. Keringat bercucuran dari tubuh 2 insan yang sangat bertolak belakang. Sang gadis muda terlihat begitu menikmati disetubuhi sang pria tua. Sang pria tua pun begitu bersemangat menggeluti tubuh montok sang gadis muda. Moniq dan Toyib sama-sama sedang tenggelam dalam lautan kenikmatan. Keduanya merasa seperti di surga, sama-sama tak ingin kenikmatan yang mereka rasakan berakhir. Tubuh keduanya bersatu dengan alat kelamin mereka sebagai penghubung. Moniq dan Toyib bergerak selaras, irama gerakan mereka berdua begitu harmonis dan serasi, seperti sudah terjalin komunikasi batin yang sangat kuat di antara mereka. Desahan Moniq tak terdengar lagi, Moniq sudah terlalu lemas. Dia sama sekali tak tau sudah berapa kali Toyib membuatnya orgasme. Semua karena bentuk tongkat Toyib yang tak biasa, memberikan kenikmatan yang juga tak seperti biasanya.

    “AAGGHHH HEENNN OOKKHHH !!!”, kenikmatan yang dirasakan Toyib sudah mencapai puncaknya.

    Alat reproduksi Toyib sedang mengisi rahim Moniq dengan berjuta-juta sperma. Kepuasan dan rasa bangga yang tiada tara bagi Toyib, bisa menyirami rahim gadis secantik Moniq dengan benih-benihnya. Moniq mengatur ritme nafasnya, perutnya kembang kempis karena bernafas dengan cepat. Senyuman tulus menghiasi wajah Moniq. Toyib juga tersenyum, tapi Toyib heran. Sudah dikasari dan diperkosa, tapi malah tersenyum seperti menandakan kalau dia merasa senang. Toyib pun tidur di samping dan memeluk Moniq. Keduanya tidur kelelahan, si Toyib kelelahan setelah puas melampiaskan nafsu setannya kepada Moniq dan menumpahkan semua maninya ke dalam rahim Moniq, sedangkan Moniq kelelahan akibat orgasme yang terus menerus sampai vaginanya terasa ‘pegal’, tapi sekarang rahimnya terasa hangat dan nyaman karena genangan sperma Toyib.

    “mm..nyymm…”, mata Moniq terbuka sendiri. Dia melihat keadaan sekitar, tak ada siapapun. Hanya dia sendiri yang ada di atas ranjang yang awut-awutan itu.

    “duuuhh…”, Moniq terasa ngilu di V-zone miliknya saat turun dari ranjang.

    “gara-gara Bang Toyib nih…”, ujar Moniq bicara sendiri sambil tersenyum. Dia pun berjalan keluar kamar dengan sedikit mengangkang. Tak pernah rasanya sengilu ini bahkan sampai tak bisa merapatkan kedua pahanya, tapi Moniq merasa begitu senang. Sampai sekarang, Moniq baru merasakan apa arti dari hujaman dan hantaman dari sebuah batang kejantanan pria. Moniq makan makanan yang ada di meja makan, sepertinya telah disediakan Toyib dari pagi.

    Sambil terus makan, Moniq mengenang momen-momen tadi malam. Memori yang tak bisa dilupakan oleh Moniq, dia tak pernah merasa begitu dikuasai, begitu tak berdaya, seakan Toyib memang sudah mempunyai hak penuh atas dirinya. Perlakuan kasar Toyib malah menjadi daya tarik sendiri di mata Moniq. Begitu jantan dan begitu perkasa, membuat Moniq mesem-mesem sendiri. Namanya juga Moniq, semakin dikasari malah semakin bergairah. Ketiga teman akrabnya pun sampai keheranan, mengapa Moniq begitu suka dikasari saat berhubungan intim. Padahal sifatnya manja, biasanya orang dengan sifat manja, tidak mau kalah, tapi Moniq malah mau membiarkan orang ‘menang’ atas dirinya.

    “oh iyaa, aku telpon aja Bang Toyib…bego banget sih…”. Moniq men-dial nomer Toyib di hpnya.

    “halo, Bang Toyib ?”.

    “ada apa, neng ?”.

    “Bang Toyib lagi di mana ?”.

    “lagi di tempatnya Pak Jali, neng…”.

    “oh..pulangnya jam berapa ?”.

    “jam 3an kali, neng..emang kenapa, neng ?”.

    “oh..kalo gitu Moniq tunggu yaa..Moniq mau ngomong tentang tadi malem..”.

    “i..iyaa, neng…”. Jam dinding pun menunjukkan pukul 3, Moniq sudah mandi, tubuhnya sudah bersih dan wangi kembali. V-zonenya pun terlihat indah lagi, tapi tetap saja ada bekas-bekas cupangan di sekujur tubuh Moniq, terutama di payudaranya.

    Toyib masuk ke dalam rumah, begitu terkejut saat melihat Moniq. Bagaimana tidak terkejut, Moniq sama sekali tak mengenakan apapun, hanya kalung yang mengekang lehernya dan tali yang menjuntai ke lantai. Toyib pun tau kalau yang dikenakan Moniq adalah kalung anjing yang biasa digunakan untuk mengekang anjing.

    “neng ?! neng Moniq ?!”. Moniq tersenyum dan berjalan mendekati Toyib.

    “Bang Toyib udah Moniq tunggu dari tadi…”.

    “neng Moniq kenapa begini ?”.

    “bukannya Bang Toyib suka kalau Moniq kayak gini ?”.

    “tapi kenapa neng..?”.

    “pokoknya Moniq akan nurutin Bang Toyib…”. Moniq menyerahkan tali kekangnya kepada Toyib. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi, apakah nyata atau tidak, Toyib menerima tali kekang Moniq dengan ragu-ragu.

    Moniq pun turun dan bertumpu pada kedua tangan dan lututnya.

    “bener nih ?”. Moniq mendongak ke atas, tersenyum sambil mengangguk.

    “oke kalo gitu…”. Toyib menarik tali kekang Moniq lalu duduk di bangku. Moniq duduk di bawah, pantatnya menempel di lantai.

    “hmm..mulai sekarang gue bakal manggil lo Momon…kayak nama sapinya Pak Jali…hahaha..lo gak keberatan kan ?”. Moniq pun menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum manis.

    “bagus bagus hahaha !!”, Toyib mengelus-elus kepala Moniq.

    “ayo Mon, sekarang bukain sepatu Abang…”. Moniq pun melepaskan sepatu boot Toyib. Kedua kaki Toyib sangat bau amis, tapi Moniq sama sekali tak terlihat jijik.

    “kayaknya kaki Abang kotor…ayo dibersihin, Mon…pake lidah..hehe..”. Moniq benar-benar menjilati kedua kaki Toyib. Telapak dan punggung kaki serta sela-sela jari-jari kaki Toyib dijilati Moniq berkali-kali. Moniq pun mengemuti kesepuluh jari kaki Toyib hingga berlumuran air liur.

    “bagus..bagus..sekarang sebagai hadiahnya..”. Toyib berjalan ke depan kamarnya.

    “ayo sini Mon…”, Toyib memanggil Moniq seperti memanggil hewan peliharaannya.

    “mooo !!”, jawab Moniq lalu merangkak ke kamar Toyib. Hari-hari Moniq pasti akan lebih ‘sibuk’ setelah kejadian ini dan tentu semuanya akan diabadikan lewat handycam Moniq.

    BERSAMBUNG!

  • Lula Kamal XXX: Lukisan Petaka

    Lula Kamal XXX: Lukisan Petaka


    39 views

    Ceritamaya | “Jadi, apa yang membuatmu datang ke sini?” Lula bertanya pada remaja laki-laki yang duduk di depannya.
    “Saya ke sini bukan karena keinginan saya sendiri, tapi orang tua saya yang memaksa.” jawab Azzam, sambil matanya nanar menatap meja.
    “Ya, baiklah… baiklah… Jadi, ada masalah apa?” Lula memperhatikan bagaimana tubuh kurus Azzam gemetar, anak itu tampak sangat terguncang.
    “Mereka… mereka menganggap saya gila.” sahut bocah itu, air mata mulai mengalir di sudut matanza yang cekung.
    “Maaf?” Lula ingin memastikan kalau ia tidak salah dengar.
    “MEREKA MENGANGGAP SAYA GILA!” Azzam mengulang lagi perkataannya, kali ini lebih keras, dan makin banyak pula air mata yang tumpah di pipinya. Bocah itu tergugu.
    “Te-tenangkan dirimu, Zam… err, kamu bisa menceritakan kejadiannya padaku secara perlahan-lahan.” Lula mencoba menenangkan. Ia memperbaiki duduknya, meletakkan bokong bulatnya lebih nyaman lagi ke kursi.
    “Ini semua karena lukisan bintang jatuh itu!” jawab Azzam lirih.
    “Sebentar, aku akan mengambil kertas kosong dan mencatat beberapa poin penting yang kamu sampaikan. Baiklah, humm… lukisan bintang jatuh? Maksudmu sebuah lukisan yang menggambarkan bintang jatuh?” Lula mulai mencoret-coret catatannya. Payudaranya yang besar sedikit berombak saat ia melakukan itu.
    “Ya, lukisan bintang jatuh pembawa sial!” seru Azzam, tampak sangat geram.
    “Eh, kenapa kamu beranggapan lukisan itu membawa sial?” Lula menatap mata bocah itu yang masih merah dan penuh dengan air mata itu.
    “…” Azzam terdiam, matanya lekat memandang wanita cantik yang sekarang ada di depannya. Seperti baru sadar kalau wanita yang berpakaian putih ini adalah Lula kamal, artis sekaligus dokter cantik yang sering ia lihat di TV.
    “Azzam?” Lula memanggil, menarik lagi bocah itu ke alam nyata.
    “L-lukisan itu, entahlah… ada yang aneh dengan lukisan itu.” bahu Azzam bergidik saat mengatakannya, tapi matanya masih lekat memandang Lula, eh… ralat: payudara Lula. Ya, mata Azzam sedang terarah ke sana sekarang, memperhatikan betapa besar dan menariknya daging kembar itu.
    “Aneh bagaimana? Apakah lukisannya terlihat menakutkan?” tanya Lula, tidak menyadari ke arah mana mata si bocah terarah.
    “T-tidak, tidak! B-bukan menakutkan… tapi, aneh…” Azzam menelan ludah, dalam pikiran mudanya mulai terbentuk bayangan sepasang payudara yang besar dan putih mulus milik Lula, dengan puting coklat kemerahan seukuran jari yang mencuat indah ke depan.

    “Hmm… kamu bisa menceritakannya dengan lebih detail?” Lula menggeser duduknya, menempatkan kedua susunya di atas meja.
    Azzam yang melihatnya, jadi makin susah untuk ngomong. “S-saya ceritakan d-dari awal?”
    “Ya, ceritakan semuanya, aku siap mendengarkan.” Lula menyiapkan penanya, siap mencatat apapun yang penting.
    “Lu-lukisan ini, warisan dari mendiang nenek saya…” Azzam memulai, matanya sama sekali tak berkedip, terus memperhatikan payudara sang dokter yang dirasanya semakin membusung. ”… lukisan yang menggambarkan pemandangan alam di malam hari di suatu padang rumput di daerah pegunungan, dengan fenomena alam berupa bintang jatuh.”
    “Lalu apa yang aneh dengan lukisannya?” tanya Lula, jari-jarinya mulai bergerak untuk menulis.
    “Susunya… eh, bintangnya…” jawab Azzam gugup, kemontokan payudara Lula membuatnya susah untuk konsentrasi.
    “Susu apa bintang?” Lula bertanya menggoda. Senyum yang tersungging di bibir tipisnya makin membuatnya terlihat menarik.
    Azzam ikut tersenyum sebelum melanjutkan ceritanya. “Lukisan itu menggambarkan langit malam kelam dengan sepuluh titik terang berwarna putih yang dapat saya pastikan itu adalah sekumpulan bintang. Salah satu bintang digambarkan lebih rendah daripada sembilan bintang lain dan memiliki ekor di belakangnya. Itu adalah bintang jatuh.” terangnya.
    “Sepertinya aku sudah bisa membayangkan bagaimana lukisan itu. Tapi, semuanya normal-normal saja kan?” tanya Lula, catatan di bukunya semakin banyak sekarang.
    “Sangat tidak normal! Saat pertama kali saya melihat bintang jatuh itu, Widya, salah seorang teman saya yang paling cantik, diperkosa orang. Akibatnya, dia harus opname di rumah sakit karena kemaluannya robek. Sulit saya terima, karena setiap hari dia selalu diantar jemput sopir.” membayangkan paras Widya yang cantik, ditambah dua bulatan daging milik Lula yang sekarang ada di depan matanya, membuat penis Azzam perlahan menggeliat.
    “Ehm… kurasa itu hanya sebuah kebetulan.” sahut Lula. ”Kemana si sopir saat kejadian itu?” tanyanya.
    “Mobilnya mogok, jadi agak telat sampai di sekolah. Widya yang tidak sabar menunggu, memilih untuk pulang jalan kaki. Saat itulah dia diperkosa. Pelakunya belum diketahui sampai sekarang. Dan saya yakin, INI BUKAN KEBETULAN!” Azzam membantah, terlihat sangat yakin.
    “Apa maksudmu?” Lula bertanya tidak mengerti.
    “Setelah kejadian itu, bintang jatuh di dalam lukisan menghilang tanpa bekas.” kata-kata Azzam bergema di ruangan itu.
    “…” Lula terdiam, tangannya yang dari tadi sibuk menulis, sekarang berhenti. Ia berusaha mencerna sekaligus membantah keterangan Azzam, tapi dia kehabisan kata-kata. “Serius?” akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut manisnya.
    “Tentu saja! Saya tidak mungkin salah lihat.” Azzam terlihat sangat emosional, se-emosional penisnya yang semakin tegak membesar.
    “Mungkin terkena kotoran yang menempel? Atau…” Lula mencoba memberi alternatif.

    Azzam

    Tapi Azzam langsung memotongnya. “Tidak mungkin! Karena hilangnya benar-benar alami. Tak ada bekas kotoran atau apa pun. Seolah bintang jatuh itu tidak pernah ada di dalam lukisan.”
    “Aneh…” Lula bergumam. Ia meletakkan ujung penanya di pipi, tampak tengah berpikir keras.
    “Apa saya bilang!” Azzam mengangguk, matanya makin melotot memandang payudara Lula yang sekarang tidak terhalang tangan. Wuih, benda itu memang benar-benar menggoda. Sudah besar, terlihat sangat bulat lagi. Pasti rasanya empuk sekali, batin Azzam dalam hati. Penisnya makin membesar saja di dalam celana.
    “Eh, ya… oke… ini memang aneh, sulit untuk dipercaya. Tapi mungkin saja kamu mabuk saat itu atau…” Lula kembali menekuri catatannya.
    “Saya masih enam belas tahun, Dok! Saya tidak mungkin meminum minuman keras!” sela Azzam cepat, merasa dilecehkan.
    “Oh, oke… maaf…” Lula tersenyum, dia sedikit memajukan dadanya, membuat bulatan payudaranya makin terlihat membusung.
    “D-dokter pasti tak akan percaya akan ceritaku selanjutnya.” dan Azzam menikmati pemandangan indah itu dengan senang hati.
    “Tak apa-apa, ceritakan saja!” Lula mempersilahkan.
    “…” tapi bukannya membuka suara, Azzam malah sibuk membenahi celananya. Penisnya sudah ngaceng sempurna sekarang, terasa ketat di sela selangkangannya, sakit sekali.
    “Jadi?” Lula menunggu dengan senyum di bibir.
    Azzam meluruskannya sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Enam hari… enam hari sejak kejadian itu, lukisan tersebut menampakkan kembali gambar bintang jatuh.” katanya sambil menghembuskan nafas lega. Penisnya sudah mapan sekarang, terasa lebih nyaman.
    “…” Lula tidak berkomentar, hanya tangannya yang bergerak untuk kembali sibuk mencatat.
    “Bintang di langit yang semula ada sembilan, mendadak berubah menjadi delapan.” Azzam meneruskan kata-katanya.
    “Oke, ini mulai terdengar absurd.” Lula mengutarakan pikirannya.
    “Saya juga merasa begitu! TAPI INI SUNGGUHAN!” seru Azzam agak lebih keras, takut dikira berbohong.
    “Zam, kamu tidak menggunakan obat-obatan kan?” tanya Lula lembut, dia tidak mau pertanyaannya menyakiti perasaan bocah itu.
    “SAYA TIDAK SEDANG BERCANDA, DOK!” tapi tetap saja Azzam merasa tersinggung.
    “La-lalu? Apa yang terjadi setelah kau melihat bintang jatuh itu lagi?” Lula mengubah topik.
    “Salah seorang teman kecilku… Dia juga diperkosa di rumahnya!” Azzam berkata pedih. Terbayang di pikirannya wajah manis Adelia saat mereka bermain bersama 8 tahun yang lalu.
    “Wahahaha, ini tidak mungkin.” Lula tertawa, tapi segera terdiam begitu menatap wajah garang si bocah.

    “INI KENYATAAN, DOK!” Azzam sedikit berteriak.
    “Tidak, ini kebetulan.” Lula masih tidak percaya dengan omongan bocah itu.
    “TIDAK! INI BUKAN KEBETULAN! Berhentilah meragukan cerita saya, Dok!” Atau aku remas susumu! ancamnya, tapi dalam hati. ”Inilah kenapa orang tua saya menganggap saya gila. MEREKA TIDAK PERCAYA AKAN CERITA SAYA!” Azzam kembali ingin menangis. Ceritamaya
    “Eh… iya… baiklah… biarkan aku berpikir sejenak.” Lula membaca kembali catatannya, mencari apapun yang aneh dan tidak wajar. Dan hasilnya, semua terlihat tidak wajar!
    “…”
    Sementara itu, Azzam memanfaatkan kesempatan itu untuk mengamati tubuh si Dokter lebih lekat lagi. Dengan rambut disanggul ke belakang, Lula terlihat sangat cantik dan seksi. Kulitnya putih bersih. Meski tubuhnya tidak terlalu langsing, tapi karena lumayan tinggi, jadinya terlihat montok dan berisi. Dan inilah yang paling mencolok, dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat warna krem, dengan jaket putih yang tidak dikancingkan, makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kaki mulusnya makin bersinar menyilaukan.
    “Ok, jadi begini… kamu bilang, setiap kali kamu melihat bintang jatuh, ada orang yang kamu kenal mengalami pemerkosaan? Kemudian jumlah bintang di dalam lukisan berkurang. Ini absurd, Zam!” Lula menyampaikan kesimpulannya.
    “TAPI INI NYATA!” Azzam bersikeras. ”Saya mohon, percayalah pada saya, Dok. Saya berbicara jujur. Dan saya sedang dalam kondisi sehat. Saya tidak mabuk, saya tidak…”
    “Baiklah, Zam…” Lula mengangguk, dia bisa mengerti bagaimana perasaan bocah itu. ”Apa pemerkosaan selalu terjadi bertepatan dengan saat kamu melihat lukisan bintang jatuh itu?” tanyanya kemudian.
    “Tidak persis sama. Biasanya ada selang beberapa jam atau hari. Lalu, bintang itu hilang setelah pemerkosaan terjadi.” sahut Azzam, lega karena si dokter cantik akhirnya percaya.
    “Dan setelah lewat enam hari, bintang jatuh kembali muncul dengan jumlah bintang di langit berkurang?” Lula menebak.
    “Ya, seperti itu…” Azzam mengedikkan bahunya, membenarkan ucapan wanita cantik itu.
    “Oke, aku asumsikan kamu berbicara dengan jujur. Artinya ini adalah pengalaman supernatural. Ini memang terjadi pada sebagian orang. Tapi, untuk kasus seperti ini rasanya aneh sekali.” Lula mengetuk-ngetukkan penanya ke meja. Kertasnya sudah hampir penuh oleh catatan.

    “Saya tidak tahu, semuanya saya alami begitu saja.” Azzam menyahut.
    “Lalu apa yang kamu lakukan setelah menyadari kemungkinan keterhubungan antara lukisan dengan kejadian di sekitarmu?” tanya Lula, dia kembali menggeser duduknya. Padahal kursinya terlihat cukup empuk, tapi bokongnya yang bulat dan besar seperti tidak nyaman.
    “Saya meminta orang tua saya untuk menyingkirkan lukisan tersebut.” Azzam melirik sekilas paha putih mulus Lula yang sedikit tersingkap ketika wanita itu memindahkan kakinya.
    “Berhasil?” Lula bertanya lagi.
    “Hanya dua hari. Lukisan itu kembali dipasang setelah dua hari.” jelas Azzam, penisnya terasa semakin membesar saja di dalam celana.
    “Kenapa?” dengan mata bulatnya yang lebar, Lula menatap bocah kelas 1 SMA itu.
    “Karena mereka menganggap lukisan itu warisan yang berharga dari mendiang nenek saya. Mereka ingin menjaganya.” Azzam membalas dengan kembali menatap payudara Lula lekat-lekat.
    “Aneh, memangnya mereka tidak melihat keanehan pada lukisan itu? Misalnya gambar bintang yang berkurang itu?” untuk yang sekarang, Lula menyadari ke arah mana mata si bocah memandang, tapi dia membiarkannya saja.
    “Mereka… mereka tidak percaya akan hal itu. Di mata mereka, lukisan itu tampak normal dengan jumlah bintang yang tidak berubah.” jelas Azzam, dia tampak kesulitan saat mau menelan ludahnya.
    “Jadi, hanya kamu yang bisa melihat fenomena menghilangnya bintang dari lukisan?” tanya Lula, terus berusaha mengorek keterangan. Biar saja bulatan payudaranya menjadi santapan asal itu bisa membuat Azzam tenang.
    “Kurasa begitu…” Azzam mengangguk. Matanya tak berkedip sama sekali, dia berusaha memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh si dokter cantik dengan semaksimal mungkin.
    “Setelahnya…“ Lula terus memancing.
    “Mereka membawa saya ke sini.” bayangan payudara Lula yang berada dalam genggamannya membuat penis Azzam yang sudah ngaceng berat menjadi semakin tegang dan kaku.
    “Hmm, baiklah. Mereka menganggapmu mengalami beban mental dan membawamu ke dokter, pilihan yang tepat…” Lula mengangguk dan tersenyum.
    “Tapi, Dok…” Azzam keberatan dibilang mengalami gangguan jiwa. Dia masih waras, masih sangat waras malah. Buktinya, dia masih bisa ngaceng melihat Lula yang begitu cantik dan seksi.

    “Ya, aku berasumsi kamu berbicara apa adanya. Tenang saja. Walaupun sedikit aneh, aku mempercayainya.“ Lula meletakkan penanya dan bersandar di kursi. Tubuh montoknya makin terlihat menggiurkan saat dia menegakkan punggung.
    “…” lagi-lagi Azzam tak berkedip saat melihatnya. Wanita seperti inilah yang selalu hadir dalam mimpi dan fantasinya setiap malam. Bukan main indahnya tubuh dokter yang satu ini. Perut Lula yang langsing dan BH yang nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun… besar dan menjulang, bikin penisnya makin nyut-nyutan. Sejenak Azzam menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
    “Lalu, kapan terakhir kali kamu melihat lukisan itu?” Lula bertanya lagi, terlihat tak peduli dengan tatapan nakal si bocah.
    “Tadi pagi… saya tidak sengaja melihatnya dan sudah tergambar satu bintang jatuh di sana. Tak ada lagi bintang di langit.” jelas Azzam dengan nafas mulai berat.
    “Oh ya? Lalu apakah selama ini kecelakaan terus terjadi pada orang terdekatmu?” Lula menanyakan sesuatu yang ia sendiri sebenarnya tahu jawabannya.
    “Ya. Terry, tetangga sebelah rumah saya, dia diperkosa saat suaminya sedang dinas jaga malam. Selanjutnya, mbak Mia, kakak ipar saya, diperkosa oleh seseorang yang pura-pura bertamu ke rumahnya. Lalu ada bu Aida, ibu teman saya, diperkosa saat suaminya tidak ada di rumah. Juga ada Emily, teman kakak saya, yang diperkosa sepulang dari main ke rumah. Selanjutnya, Bu Asih, teman arisan ibu saya, juga diperkosa…”
    “Tu-tunggu!” Lula memotong, merasa ada yang aneh dengan keterangan Azzam.
    “Ya?” Azzam menunggu, siap dengan segala kemungkinan pertanyaan.
    “Semuanya diperkosa tanpa diketahui siapa pelakunya?” tanya Lula.
    “Ya, begitulah… mereka sadar telah menjadi korban perkosaan, tapi tidak punya bayangan atau memori bagaimana peristiwa itu bisa terjadi.” jelas Azzam.
    ”Mereka lupa?” tanya Lula tak percaya. Baru kali ini dia menghadapi kasus seperti ini.
    Azzam mengangguk. ”Lupa saat pemerkosaan terjadi. Tapi ingat sebelum dan sesudahnya.” jelasnya.
    Lula menggeleng-gelengkan kepala, ”Aneh!” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. ”Eh, sebentar…” seperti mendapat ilham, Lula kembali melihat catatannya. Setelah membaca sebentar dan membuat beberapa coretan, dia kembali memandang Azzam, si bocah balas menatap dengan mata tak pernah beralih dari gundukan dada si dokter.
    “Sudah kuduga ada yang aneh. Setelah dipikir-pikir, aku baru menyadari apa itu…” Lula mengangguk-angguk, tampak puas dengan hasil analisanya. ”Zam, siapa yang terakhir kali mengalami pemerkosaan?” dia bertanya.
    “Minggu lalu, Rina, anak Pak RT yang juga teman adikku. Diperkosa setelah pulang dari les.” jawab Azzam.
    ”Apakah adikmu ikut les?” tanya Lula lagi.
    ”Ya.” Azzam mengangguk. ”Saya yang menjemput mereka, seperti biasa.”

    Baca Juga : Alya Rohali XXX: Akibat Ditinggal Suami

    “Benar sekali, tidak salah lagi…” Lula mengetukkan penanya dengan keras ke atas meja, membuat Azzam sedikit kaget.
    “Benar apanya, Dok?” tanya si bocah tidak mengerti.
    “Ah, tidak, tidak apa-apa… Aku hanya sedang berpikir. Tidak salah lagi, ini bukan sebuah kebetulan.” cetus Lula.
    “Jadi sekarang dokter percaya pada saya?” tanya Azzam penuh harap.
    “Kurang lebih ya. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal…” Lula menggantung ucapannya.
    “Apa itu, Dok?” tanya Azzam antusias.
    “Para korban itu… apa kamu sempat berinteraksi dengan mereka semua?”  tanya Lula, suaranya terdengar tegang.
    “Err… ya, se-sepertinya begitu.” Azzam membenarkan. “Walau hanya sebentar…” tambahnya kemudian.
    Tapi itu sudah cukup untuk membuat Lula langsung gemetar dan pucat pasi. “Ini gawat!” katanya ketakutan.
    “Eh? Kenapa, Dok?” Azzam masih tidak mengerti.
    “Menurutku, setelah bintang jatuh itu muncul, wanita pertama yang kamu jumpai akan menjadi korban pemerkosaan, begitu!” terang si dokter cantik.
    ”…” Azzam terdiam, tampak berpikir dan mengingat-ngingat. Setelah itu dia mengangguk lemah. ”Dokter benar!” tampak kekecewaan dan penyesalan yang amat dalam di raut mukanya yang memelas.
    “Eh, tunggu!” Lula tersadar, lalu cepat-cepat dia mengutarakan pikirannya. “Dan kalau memang pola ini benar, maka korban selanjutnya adalah… katakan padaku, Zam… siapa wanita pertama yang kamu ajak bicara hari ini, selain keluargamu tentunya karena kutukan ini sepertinya tidak berlaku untuk mereka?” tanyanya gemetar, takut dengan jawaban yang akan diberikan oleh si bocah.
    “…” Azzam terdiam, berusaha mengingat.
    “Zam, katakanlah…” Lula meminta, suaranya lirih dan parau.
    “Eh, itu…” Azzam memucat begitu tahu siapa orangnya.
    “Jangan bilang…” Lula ikut pucat, bisa menebak apa jawabannya.
    “B-benar, Dok… Dokter Lula adalah wanita pertama selain keluarga yang berinteraksi dengan saya hari ini.” kata Azzam. Tersirat penyesalan yang amat sangat di matanya yang sipit.
    “Be-begitu ya?” meski sudah mengira, tak urung Lula tetap lemas juga saat mendengarnya.
    “M-maafkan saya, Dok… saya tidak bermaksud…” Azzam berdiri, ingin meminta maaf pada Lula karena sudah menimpakan nasib buruk pada wanita cantik itu.
    ”Pergilah, Zam! Konsultasi ini sudah selesai. Terima kasih sudah datang kemari…” Lula memalingkan muka, setitik air bening mulai menetes di sudut matanya yang lentik.
    “T-tapi, Dok…” Azzam tidak sampai hati meninggalkannya.
    ”Pergilah, Zam!” Lula berseru, sedikit lebih keras. Dia berdiri dan membuka pintu, mengusir si pembawa petaka dengan halus.
    “Ehm, i-iya, Dok. Baik!” meski tidak enak hati, Azzam sempat memperhatikan bagaimana goyangan pinggul Lula saat wanita itu berjalan tadi. Ugh, sungguh menggiurkan. Kalau saja situasinya tidak segawat sekarang, ingin rasanya ia disini seharian, menemani dokter setengah baya yang cantik dan seksi ini.

    #####################

    Sepeninggal Azzam, dengan badan masih gemetar dan jantung berdegup kencang, Lula bergegas masuk ke kamar pribadinya yang terletak tepat di sebelah ruang prakteknya. Kamar itu sebenarnya cukup besar, tapi jadi terasa sempit dan sesak oleh kehadiran ranjang besi berlapis kasur busa mahal tepat di tengah ruangan. Di pojok, ada lemari susun dari kayu yang bersebelahan dengan jendela lebar berkaca gelap. Lula segera menarik tirainya yang bergambar bunga untuk menghalangi pandangan orang, dia ingin mengganti baju. Sambil membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya, Lula mengaduk isi lemari. Dari sana, diambilnya sebuah daster berwarna putih. Untuk sesaat dipandanginya daster itu, seperti menimbang apakah cocok untuk membalut tubuh sintalnya. Kemudian setelah memutuskan, tanpa memperhatikan kiri kanan, Lula mulai melepas blus dan rok pendeknya yang sudah basah oleh keringat. Gara-gara AC di ruang prakteknya rusak, dia jadi harus ganti seperti ini tiap hari.
    “Besok harus beli yang baru”, batin Lula pada dirinya sendiri.
    Sekarang hanya tinggal BH dan celana dalam berwarna putih berenda-renda yang menempel di tubuh mulusnya. Sekujur tubuhnya yang seksi itu nyaris telanjang, payudaranya yang sekal dan padat terlihat begitu menonjol dengan puting yang berwarna merah kecoklatan membayang di balik mangkuk BH-nya, sementara pinggangnya yang ramping ditambah pinggul yang bulat padat bertemu membentuk segitiga berbelahan sempit yang bersih rapi tanpa bulu. Lula baru saja akan memakai daster yang didapatnya di lemari, ketika tiba-tiba pintu ruang kamarnya terbuka dan seseorang menyerbu masuk, lalu menutup pintu dan menguncinya. Lula yang masih setengah telanjang, menjerit kaget bercampur marah.
    ”Hei, apa yang kau lakukan? Pergi dari sini!” hardiknya dengan nada tinggi melengking.
    Tapi si penyusup menanggapinya dengan seringai liar. ”Tenang saja, Dok. Saya cuma pingin melihat keindahan tubuh dokter dari dekat. Dan ngomong-ngomong, saya sudah ingat semuanya sekarang!” kata Azzam kalem.
    ”Keluar, Zam… Jika tidak, aku akan teriak!” sengit Lula sambil menutup tubuh polosnya dengan daster, belahan payudaranya yang menonjol tampak mengintip malu-malu dari sela-sela BH-nya.
    Azzam buru-buru menegak air liur saat melihatnya. ”Semua korbanku berkata begitu, Dok.” seringainya. ”Silakan berteriak sekerasnya, tidak ada yang akan menolong dokter sekarang.”
    ”J-jadi kamu yang melakukannya! Kamu yang memperkosa mereka semua!” Lula mundur ke tembok, menjauhi si bocah pembawa petaka, sadar akan bahaya yang mengancam dirinya.
    Azzam mengangguk. ”Jadi sebaiknya dokter nurut saja sama saya. Percuma melawan, toh hasilnya akan sama. Saya tidak ingin menyakiti bu dokter, saya cuma ingin merasakan kehangatan dan kelembutan tubuhmu.” jawabnya masih dengan ketenangan yang sama seperti sebelumnya.
    Mendengar itu, Lula segera berteriak sekencang-kencangnya. ”TOLONG! SIAPAPUN, TOLONG AKU!” dia berusaha untuk menyelamatkan diri.

    Azzam menggelengkan kepala. ”Percuma, Dok. Tulah bintang jatuh telah menjauhkan semua orang dari tempat ini. Tidak akan ada yang datang menolong dokter. Siapa pun yang terpilih, tidak akan bisa menghindar!” sambil berkata begitu, Azzam mulai berjalan pelan mendekati si dokter cantik.
    ”Ja-jangan, Zam! Ampuni aku!” Lula menggeleng. Tubuh sintalnya terlihat lumpuh dan gemetar.
    Kontras dengan wanita cantik itu, Azzam terlihat begitu yakin dan pasti dengan segala tindakannya. Sosok bocah lugu 16 tahun yang tadi menangis sesenggukan saat menceritakan kisahnya, kini hilang entah kemana, terganti dengan sosok monster pemakan wanita yang siap untuk menyantap hidangannya. Mata Azzam tak berkedip memandangi tubuh mulus Lula, hidungnya kembang kempis dengan suara berat, raut mukanya sudah merah kecoklatan, sementara air liur mulai menetes dari sudut bibirnya yang menghitam. Penisnya yang kaku dan keras, tampak menonjol dari balik celana, siap untuk keluar dan menemukan mangsanya. Lula bukannya tidak tahu hal itu, tapi dia benar-benar tidak sanggup untuk melawan. Mendadak tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga, sementara kakinya menjadi tambah gemetar. Bahkan dia tak sanggup untuk menyangga bobotnya lebih lama lagi.
    “Apakah begini yang dirasakan semua korban itu?” Batinnya dalam hati sebelum ambruk di lantai. Badannya lumpuh oleh ketakutan dan kekalutan.
    ”Itu lah yang terjadi pada semua korbanku, Dok!” kata Azzam seperti menjawab pertanyaannya. Senyum kemenangan terukir di bibirnya yang tebal.
    Lula diam saja. Hatinya terasa sedih dan sakit, tapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Malah sekarang terjadi sesuatu yang aneh pada dirinya. Degup jantungnya terasa semakin cepat, begitu juga dengan aliran darahnya. Nafasnya mulai memburu, sementara keringat dingin mulai mengalir di dahi dan lehernya yang jenjang.
    “Tidak! Aku tidak mungkin terangsang!” Lula berusaha melawan perasaan itu. Tapi cairan bening yang mulai merembes keluar dari lubang vaginanya, tidak bisa dibohongi.
    Azzam yang melihatnya, dengan senyum makin lebar, segera meraih tangan Lula dan membawa wanita cantik berpostur tinggi itu ke arah tubuhnya untuk dipeluk. Dalam keadaan normal, Lula pasti menolak dilecehkan seperti itu. Tapi sekarang, karena pengaruh sihir lukisan, dia cuma bisa diam dan menurut apapun perlakuan Azzam. Dalam pelukan si bocah, Lula menangis sesenggukan karena tak bisa melawan, cuma itu yang bisa ia lakukan. Azzam yang sudah terasuki nafsu setan, tidak mempedulikannya. Dia meraih dagu Lula dan memagut bibir Lula yang lebar tapi tipis untuk kemudian melumatnya dengan gemas. Lula berusaha mengatupkan bibirnya agar si bocah tidak bisa mengulumnya. Namun upayanya itu hanya bertahan beberapa detik, setelah Azzam mendekap tubuhnya makin erat, ia pun menyerah. Gesekan antara tubuhnya dan tubuh si bocah malah menimbulkan nikmat yang amat sangat, yang pada gilirannya makin menambah nafsu birahinya.

    Tanpa sadar, secara perlahan-lahan, Lula pun membuka mulutnya. Azzam segera menerobos, lidahnya membelit dan menjilati seluruh rongga mulut si dokter cantik, mengajaknya untuk saling menghisap dan bertukar air liur. Lula, meski masih dengan agak berat hati, mulai meladeninya. Bibirnya yang tipis mencari, mengejar kemana pun lidah Azzam bergerak, menghisap bibir tebal pemuda tanggung itu dan menelan ludah mereka yang keluar semakin banyak. Bunyi decapan dan desisan dengan cepat memenuhi ruang kamar yang tidak begitu besar itu.
    ”Auw!” jerit Lula ketika dengan sekali sentak, Azzam berhasil melepas kait BH-nya.
    Payudaranya yang bulat dan padat, yang dari tadi cuma mengintip sebagian,  kini terburai keluar, menggantung telanjang di depan dadanya, terlihat begitu menggairahkan. Bentuknya sangat bagus dan sempurna meski ukurannya sangat besar, benda itu terlihat masih sangat kenyal dan padat, tidak terlihat turun sama sekali, dengan puting susu merah segar seukuran ibu jari yang mencuat indah ke depan.
    ”Wow!” Azzam kesulitan menelan ludah saat melihatnya, ternyata payudara Lula lebih indah dari yang ia bayangkan sebelumnya. Gemetar, tangannya terjulur untuk memegang dan mengelusnya,
    ”Ohh… lembut sekali, Dok!” gumam Azzam sambil terus bergerak menjelajahi payudara Lula yang mulus dan terawat.
    Dia meremas-remas dan memijiti benda bulat kembar itu dengan dua tangan, bersamaan kiri dan kanan. Puting susunya yang terasa mengganjal di telapak tangan, tidak lupa ia pilin dan tarik-tarik ringan, sesekali juga dijepitnya diantara jari dan dipencetnya kuat-kuat. Azzam tampak gemas sekali dengan benda itu. Lula mengejang mendapat perlakuan seperti itu. Kesadarannya mulai hilang, apalagi saat Azzam mulai menjilat dan menghisap putingnya, ia pun makin tenggelam dalam dorongan nafsu seksual yang amat dahsyat, yang tidak mungkin ia lawan balik. ”Oughh… Zam!” rintihnya pelan dengan tubuh bergetar merasakan lidah si bocah menyapu permukaan payudaranya yang sensitif, untuk kemudian hinggap di putingnya dan menghisap kuat-kuat disana, nenen seperti bayi yang baru lahir, menghisap bergantian kiri dan kanan. Dengan mulut masih menempel di payudara Lula, Azzam perlahan membaringkan tubuh mulus si dokter cantik ke atas kasur yang ada di tengah ruangan. Tangannya mulai meraba dan mengelus-elus sepasang paha panjang dan putih mulus milik sang dokter yang berada di hadapannya.

    Tangan Azzam bergerak mulai dari lutut hingga ke pangkal paha, dan berakhir di celana dalam putih berenda yang dipakai oleh Lula Kamal. Lalu dengan kasar dia menarik celana dalam itu hingga terlepas. Lula sekarang benar-benar sempurna telanjang bulat terbaring di depannya. Azzam memandangi kemulusan tubuh wanita itu dengan takjub.
    ”Dari semua korbanku, dokter lah yang paling cantik!” bisiknya dengan deru nafas memburu.
    Azzam mulai menelusuri sekujur tubuh telanjang Lula dengan bibir dan tangannya. Bibir Lula yang merah segar tak henti-hentinya ia lumat, sementara tangannya terus menggerayangi dan meremas payudara Lula yang bulat membusung. Bahkan dalam kondisi berbaring seperti sekarang, benda itu masih terlihat padat dan berdiri tegak, benar-benar membangkitkan gairah. Sambil memilin-milin putingnya, Azzam menjilati perut dan pinggang Lula yang sedikit berlemak. Kemudian dia membuka paha wanita itu lebar-lebar hingga ia bisa melihat vagina Lula yang sempit, yang licin tak berbulu. Lula memang secara rutin selalu mencukur rambut kemaluannya, dia suka selangkangannya bersih daripada ditumbuhi bulu-bulu keriting yang bikin gatal. Azzam pun mendekatkan wajahnya dan dengan ujung lidah, dia menyapu liang vagina Lula secara perlahan, dari bawah ke atas. Hmm, rasanya lembut sekali, baunya juga sangat wangi, sungguh berbeda dengan vagina korbannya yang lain. Dia jadi ketagihan. Menjulurkan lidahnya makin panjang, Azzam pun menjilat dan menghisap vagina itu dengan rakus.
    ”Ohh… ahh… ohh… ehsss…” tanpa sadar, Lula mulai mendesah merasakan kenikmatan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
    Apalagi saat Azzam mengemut dan menghisap klitorisnya, dia makin tak tahan. Dengan tubuh menggelinjang cepat, Lula pun menjerit.
    ”Arrghhhhh…!” gairah yang dari tadi ia tahan, akhirnya meledak juga.
    Azzam yang mengetahui Lula mulai terangsang, makin buas menggeluti tubuh mulusnya. Dia mengangkangkan kaki Lula dan membenamkan wajahnya makin dalam ke belahan vagina wanita cantik itu. Bibir dan lidahnya bergerak makin cepat, terus-menerus mengorek dan menjelajahi liang sempit Lula yang terasa semakin licin dan basah. Sementara tangannya yang kurus, tak henti-hentinya meremas dan memijit-mijit payudara Lula sambil tak lupa memilin-milin putingnya.
    ”Oohh…!!!” tak kuat menahan gairah, Lula pun akhirnya mengalami orgasme. Tubuh montoknya mengejang sesaat sebelum akhirnya melemas kembali. Dari dalam vaginanya, mengucur deras cairan bening yang hangat tapi agak kental.

    Melihat korbannya sudah tidak berdaya, Azzam tersenyum puas karena berhasil menaklukkan dokter cantik yang juga artis itu. Perlahan dia membuka pakaiannya satu-persatu sampai telanjang bulat, sama seperti Lula. Penisnya yang panjang dan besar sudah terlihat tegak mengacung dengan begitu gagahnya. Sedikit kasar, Azzam menarik tubuh Lula yang tergolek lemas bugil di atas ranjang, perlahan diangkatnya kaki wanita itu ke atas, lalu dibukanya lebar-lebar hingga ia bisa melihat lubang vagina Lula dengan jelas. Benda itu itu tampak sangat basah, juga sedikit menganga, siap untuk menerima kehadiran penisnya. Menempatkan dirinya tepat diantara kedua kaki Lula, Azzam pun melakukannya. Pelan-pelan dia merebahkan diri dan menindih tubuh mulus sang dokter cantik sambil sesekali mencium bibir Lula yang tipis. Lula hanya bisa menggeliat sambil mendesah nikmat merasakan sentuhan ujung penis Azzam di bibir kemaluannya. Lula sebenarnya mengetahui kalau sebentar lagi statusnya sebagai seorang wanita terhormat akan direnggut secara paksa, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kutukan lukisan telah menguasai dirinya, membuatnya pasrah pada nafsu birahi, sehingga tidak mampu untuk melawan sedikitpun. Malah yang ada, vaginanya seperti senut-senut, terasa sangat gatal, dan berharap penis besar Azzam segera menggaruknya untuk menuntaskan rasa dahaganya. Pelan tapi pasti, Lula mulai berharap agar persetubuhan itu segera berlangsung!
    ”Ini dia, Dok. Tahan ya!” Azzam mendorong pantatnya maju, membuat penisnya menyeruak masuk ke dalam vagina Lula secara perlahan-lahan.
    Lula meringis menahan sakit sekaligus enak pada liang vaginanya.  Vaginanya yang masih terasa sempit meski dia sudah pernah melahirkan. Azzam sendiri merasa kesulitan saat akan memasukkan penisnya lebih jauh, dia merasakan jepitan vagian Lula begitu kuat, seperti melawan desakan penisnya. Tapi dengan satu dorongan kuat, batangnya pun akhirnya amblas seluruhnya. Masuk. mentok di dalam vagina Lula, hingga menabrak mulut rahim wanita cantik itu.
    ”Arghhh…” Lula merintih kecil merasakan penis Azzam yang besar dan panjang memenuhi liang vaginanya.
    Meski terasa nikmat, tak urung air matanya tetap mengalir juga membasahi pipinya yang mulus. Sebagai seorang istri, sepasrah apapun dia, tetap ada sedikit rasa menyesal di relung hatinya. Dia telah mengkhianati cinta sang suami.
    ”Ehh…” Azzam mengerang lirih. ”Gila, vagina dokter kenceng banget!” serunya kegirangan.
    Bocah itu masih diam, tetap pada posisi semula. Dia membiarkan penisnya terbenam dalam di vagina Lula yang sempit dan hangat tanpa berusaha untuk menggerakkkannya. Dia ingin menikmati kedutan dinding vagina Lula yang menyelimuti seluruh batangnya, membuat penisnya serasa diremas dan dipijit-pijit halus. Nikmat sekali.

    Selama tiga menit, tidak ada pergerakan apapun dari keduanya. Lula yang sudah terangsang berat, akhirnya jadi tak tahan. Apalagi di dalam vaginanya, penis Azzam terasa semakin mengeras dan membengkak besar. Sambil pura-pura mendesah, dia pun mulai menggoyangkan pantatnya, menariknya maju mundur, sambil sesekali memutarnya, hingga membuat penis Azzam  yang menancap dalam, mulai tertarik keluar masuk.
    ”Ahh… Zam!” desah Lula pelan saat penis si bocah mulai menyetubuhinya.
    Dan rintihannya berubah menjadi jeritan kecil saat Azzam tanpa peringatan sebelumnya, mendesakkan penisnya kuat-kuat hingga menusuk begitu dalam. Lula menggigit bibirnya merasakan sakit sekaligus nikmat pada lubang vaginanya. Sementara itu, Azzam terus bergerak memompa tubuhnya untuk menggenjot tubuh mulus Lula dengan penisnya yang besar dan panjang. Mula-mula pelan, tapi saat vagina Lula dirasanya mulai terbiasa dan menjadi bertambah basah, bocah itu pun mempercepat genjotannya. Badan Lula sampai terguncang-guncang karenanya, kaki wanita itu mengejang-ngejang, kedua payudaranya bergoyang cepat, secepat tusukan Azzam yang semakin brutal, sementara kepalanya terdongak ke atas dengan bibir terkatup rapat, antara menahan sakit dan nikmat yang dirasakan di dalam vaginanya. Lula cuma bisa merintih menjerit-jerit merasakan serangan bocah kecil itu. Azzam yang melihatnya, menjadi semakin bernafsu. Dia memompa semakin cepat sambil mulutnya tak henti menciumi dan menjilati payudara Lula yang bulat besar. Putingnya yang mencuat kemerahan, ia hisap dan sedot-sedot keras, seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Ceritamaya
    ”Ahh.. ohh.. ahh…” Lula yang diserang atas bawah, mendesah manja.
    Sedikit rasa sakit yang sempat ia rasakan di awal permainan, kini telah hilang sepenuhnya, tergantikan oleh rasa nikmat yang amat sangat, membuatnya semakin liar dalam menggerakkan pinggul.
    ”Oughh…” Azzam menggeram merasakan betapa sempit dan rapatnya vagina dokter cantik itu. Gesekan kemaluan Lula amat terasa di batang penisnya. Ohh… nikmatnya! Sprei di ranjang itu sudah acak-acakan. Dipannya berderit setiap kali Azzam melakukan gerakan menusuk.

    ”Ohh… ahh… ohh…” desahan Lula juga semakin keras terdengar.
    Saatnya sudah hampir tiba bagi dia. Dengan mata terpejam dan mulut menjerit-jerit, Lula pun menjemput orgasmenya. Tubuh montoknya terguncang-guncang saat rasa nikmat itu datang. Cairan cintanya menyembur deras, tapi tidak sampai tumpah karena disumbat oleh penis besar Azzam. Penuh kepuasan, Lula menikmatinya sampai tetes terakhir. Azzam yang sempat menghentikan goyangannya, begitu tahu kalau rasa itu telah berlalu, kembali menggenjot pinggulnya, kali ini lebih keras dan lebih dalam. Vagina Lula yang becek membuat gerakannya menjadi lebih sempurna. Kedua tangannya memegangi payudara Lula yang membusung indah dan meremas-remasnya penuh nafsu. Benda itu tampak mengkilap sekarang, basah oleh keringat.
    ”Ughh.. aghh.. ughh..” dengan geraman yang makin sering terdengar, Azzam menusukkan penisnya dalam-dalam.
    Sensasi yang sedari tadi ia kejar, kini terasa sudah semakin dekat. Hingga akhirnya,
    ”ARGHHHHHH…!!!” dari ujung penisnya, menyembur cairan mani yang amat banyak.
    Tubuh kurus Azzam berkedut-kedut saat cairan putih yang licin dan lengket itu memenuhi liang rahim Lula. Dengan nafas masih ngos-ngosan, dan tubuh basah oleh keringat, Azzam ambruk sambil mendekap tubuh mulus si dokter cantik. ”Ohh… saya puas sekali, Dok! Inilah persetubuhan paling nikmat yang pernah saya rasakan!” bisik Azzam di telinga Lula, lalu mencium bibir wanita cantik itu dan melumatnya dengan rakus. Lula tidak sanggup untuk membalas, bahkan untuk sekedar mebuka mata saja ia tidak mampu. Tubuhnya terasa sangat letih dan lemah. Dan sedetik kemudian, ia pun jatuh ke dalam jurang kehampaan yang gelap dan kelam. Lula pingsan.

    ***

    Keesokan harinya, sebuah surat kabar pagi memberitakan.

    ”LULA KAMAL (42), ARTIS SEKALIGUS DOKTER TERNAMA, DITEMUKAN TELAH DIPERKOSA DI RUANG PRAKTEKNYA. PELAKU MASIH BELUM DIKETAHUI, DAN SEKARANG MASIH DALAM PENGEJARAN POLISI.”

    Azzam menelan ludah. Perlahan-lahan ia melirik ke arah lukisan bintang jatuh yang tergantung di dinding ruang keluarga. Seluruh bintangnya sudah menghilang tanpa bekas. Dan seperti biasa, ia juga lupa kemana saja ia semalam setelah pulang dari konsultasi dengan dr. Lula Kamal. Yang diingatnya cuma kegiatan sebelum itu dan ketika ia bangun tadi. Selebihnya gelap

    By: Iisamu Takeo

  • Antara 13 VS 31

    Antara 13 VS 31


    50 views

    Ceritamaya | Namaku Erlan umur 42 tahun, istriku bernama Afreny umur 31 tahun tinggi 160 cm berat 58 kg.Aku telah mempunyai anak satu orang putra umur 13 tahun dan putri 8 tahun.
    Kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja tanpa ada hal-hal yang membuat kami berselisih faham. Cuma ada sedikit keanehan dalam diri istriku. Ada perubahan sikap dalam beberapa hari belakangan ini. Baik dalam berbicara maupun dalam perilaku sehari-hari. Kalau biasanya paling bawel dan rada emosi kalau ada masalah yang membuatnya tidak senang. Tetapi sekarang sedikit agak diam , lembut dan bawaan tenang. Aku sebenarnya ingin mengetahui apa sebab yang terjadi, tetapi aku kurang ingin tahu lebih banyak masalah keadaanya. Hal itu aku biarkan dan seolah tidak terjadi apa-apa. Suatu ketika aku melihat anaku yang paling besar pulang dari sekolah. Anakku yang besar sudah SMP kelas 1 di sekolah negeri. Anaku pulang bersama temannya dari sekolah, kulihat badannya sama tinggi dengan anakku kira-kira 158 cm dan perawakan tubuhnya agak berisi dibanding anakku, kira-kira berat badannya 48-50 kg. Kulit anak tersebut sawo matang namun bersih. Sepertinya anak tersebut adalah kawan akrab anakku. Dan baru kuketahui anak tersebut bernama Budi dan sudah sering main ke rumah ketika aku sedang bekerja. Dan kalau aku lagi dinas keluar kota atau ada pelatihan ke luar kota, anakku sering mengajaknya tidur di rumah. Bedanya si Budi anaknya ramah, supel, mudah bergaul dan pandai mengambil hati orang dan lebih dewasa dan mandiri. Lain dengan anaku, sikapnya cuek, belum dewasa, belum bisa mandiri, kurang bergaul dengan teman-temanya, dan tidak dapat mengambil hari orang. Sehingga kalau Budi main ke rumah atau tidur di rumahku, seperti gak ada apa-apa dan seolah masa bodoh. Mungkin Budi tau sikap anak lelakiku dan tau kalau ada sedikit kekurangan atau juga tidak suka mengganggu orang lain jadi Budi senang bermain dengan anakku. Dengan sikap Budi tersebut membuat istriku Afreny simpatik, apalagi Budi sering membantu dirumah entah itu menyapu halaman, membersihkan kamar anak lelakiku bahkan belajar bersama dan mengajari anak perempuanku belajar. Karena sikapnya itu Budi seolah sudah dianggap istriku sebagai anaknya sendiri. Bukan hanya itu, karena sikap kedewasaanya membuat istriku seolah ada tempat curhat mengenai sikap anak lelakiku. Dan kalau aku perhatikan malah si Budi justru lebih sering dekat dengan istriku ketimbang anak lelakiku, entah itu duduk atau nonton TV, makan, bahkan istriku masak, Budi selalu ada di dekatnya. Hal itu membuat istriku semakin simpatik pada Budi dan senang sekali dibuatnya.

    Dari pengamatanku itu, aku seperti melihat keanehan dalam diri Budi. Sepertinya ada sesuatu yang ia inginkan atau yang rencanakan. Tetapi apa ? aku tidak dapat mengetahuinya. Malah persahabatannya dengan anaku, sepertinya biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa, malah dengan istriku Budi seolah menemukan teman wanita yang dianggapnya istimewa atau paling spesial. Dari keanehan-keanehan itu membuatku menjadi penasaran ada apa dibalik kebaikan Budi selama ini? Maka untuk mengungkap perilaku Budi, aku mempunyai rencana sendiri untuk dijalankan. Dan rencana itu adalah aku berpura-pura akan keluar kota bersama teman selama satu hari. Dengan dali itu aku ingin mengetahui apa yang terjadi. Keesokan harinya ketika anak-anakku berangkat ke sekolah, sedangkan aku masih di rumah dengan rencana telah disiapkan. Kubilang pada istriku. Ceritamaya
    “Mi … kalau mau ke pasar, pergi saja dan bawa kunci. Nanti aku bawa kunci serep”
    “Perginya jam berapa Pi?” tanya istriku
    “Bentar lagi, kira-kira jam 7” jawabku.
    “Oh … iyalah kalau begitu aku ke pasar dulu ya Pi” sahut istriku.
    “Ya” jawabku yang lagi di kamar mandi.
    Setelah istriku pergi, aku telah menyiapkan keperluan seperti sarung, baju trening, racun nyamuk, makanan ringan buat persiapan. Sebab aku bukanya ke luar kota, tetapi bersembunyi di atas loteng rumahku sebagai tempat pengintaianku. Di atas loteng aku tiduran, karena sudah aku persiapan terlebih dahulu untuk mengintai dan tak lama kudengar pintu rumah dibuka, dan rupanya istriku telah pulang dari pasar. Kira-kira pukul 12.30 siang, anak-anakku sudah pulang dari sekolah. Dan samar-samar kudengar ada suara yang sudah hafal di telingaku yaitu suara Budi. Ternyata Budi datang lagi ke rumahku. Setelah makan siang anak-anakku disuruh belajar siang setelah usai makan siang, karena kalau malam jam 22.00 wib sudah wajib tidur. Setelah belajar siang kurang lebih satu jam setengah, anak-anaku wajib tidur siang. Dalam pengintaianku di atas loteng, kulihat Budi yang tidak tidur siang. Memang perumahan di mana tempatku tinggal kalau siang agak sepi, sehingga suasana lingkungan menjadi tenang. Dari atas loteng di mana plafon rumahku telah aku lobangi sebesar uang seratus rupiah. Ada juga plafon rumah rusak karena bocor oleh hujan sehingga tidak perlu aku lobangi. Kulihat Budi duduk di sofa ruang tamu sendirian sambil membaca buku pelajaran sekolahnya.
    Selang beberapa menit aku melihat istriku datang dan duduk di dekat Budi lalu berbicara.

    “Lagi baca apa Bud ?”
    “Ini Bu, Budi lagi belajar pelajaran Biologi, minggu depan kata Bapak guru ada ulangan harian, jadinya Budi  mesti menghafal tentang tumbuh-tumbuhan, sifatnya dan lainnya.”
    “Bud, Rio sudah kamu kasih tau kalau ada ulangan minggu depan?” tanya Istriku.
    “Sudah Bu“ jawab Budi, “makanya Budi ngajak  Rio belajar bersama, karena Budi perhatikan Rio susah sekali memahi hampir semua mata pelajaran Bu. Karena Rio sudah Budi anggap sebagai saudara, jadi Budi kasihan saja takut nanti Rio tidak dapat naik kelas.” Jelas Budi sembari tetap fokus akan buku pelajaran yang ia baca
    Tak lama kulihat istriku terdiam. Tampak matanya sedikit memerah dan tak lama butir-butir air menetes di kedua pipinya. Istriku kulitnya  putih agak kuning langsat, tinggi kurang lebih 160 cm, berat 58 kg. Rambut ikal dan hitam sebahu, hidung mancung, mata bulat, dan bibir sedikit tipis. Wajah cantik meski usia sudah berkepala empat. Bentuk payudaranya 36B dan pinggul bulat dan besar dengan ukuran celana 34. Budi terkejut melihat istriku sesegukan, istriku menangis.
    “Bu, ada apa?” suara Budi lembut bertanya “kenapa Ibu menangis?”
    Lalu istriku menjawab “Bud, Ibu minta tolong kepada kamu”
    “Ya Bu, minta tolong apa?”. Tanya Budi sambil mulai memfokuskan dirinya kepada perkataan istriku.
    “Ibu berharap kepadamu, tolong bantu Rio dalam belajar. Rio, kalau Ibu lihat bayak kekurangan, baik dalam belajar, kemauan, kemandirian, pergaulan dan kedewasaan.” ujar istriku dengan mata mulai berkaca-kaca dan melawan emosinya,
    “Jadi hanya kepadamu,  Ibu berharap Bud ! Karena kamu teman dekatnya yang bisa diajak ngobrol.Selama ini Ibu merasa kuatir, bagaimana perkembangan Rio ke depannya”  tambah istriku sambil mengusap airmatanya yang mulai menetes turun dari kedua matanya, “tapi syukurlah ada kamu teman yang dianggapnya baik kepadanya.”
    Dengan berlinang air mata istriku menyampaikan keluh kesah kepada Budi. Mungkin dengan anak itu dia dapat menyampaikan isi hatinya. Dan Budi seolah memahami apa yang dirasakan istriku.

    Dan dengan rasa ibanya tangan kiri Budi merangkul pudak kiri istriku kemudian Budi memeluk istriku sambil berkata,” Bu, Budi janji akan membantu Rio sesuai keingan Ibu.
    Tidak hanya kepada Rio, kepada Icak juga Budi akan bantu dalam belajar.”
    Sambil dirangkul Budi, pipi istriku diusap, menghapus air mata istriku yang jatuh dipipinya. Kepala istriku terjatuh di pundak Budi. Budi terus membelai pipi dan rambut istriku. Seolah ada tempat mencurahkan isi hatinya, istriku memejamkan matanya.
    Tidak hanya itu, Budi sedikit mulai berani mengecup kening istriku. Istriku hanya diam saja atas kelembutan sifat Budi.
    Budi berkata lagi, ”Bu, Budi janji akan membantu Ibu, tidak hanya mengajari kedua anak Ibu. Tetapi apapun perkejaan di rumah Ibu, Budi akan bantu mengerjakannya.”
    Istriku berkata, “Terima kasih Bud atas kebaikan kamu. Ibu tidak dapat berkata apa – apa kecuali terima kasih kepadamu.” ujar istriku sambil memeluk tubuh budi.
    “Tidak apa-apa Bu, dengan di ijinkannya Budi main kesini, Budi sudah senang.”balas Budi sambil membelai belai rambut panjang istriku yang tergerai.
    “Bu …”, Ucap budi dengan ragu tanpa melanjutkan kalimatnya.
    “Ada apa Bud, Budi mau bicara apa?” jawab istriku
    “Anu Bu, selama ini Bud, kurang deket sama orang tua Budi, terutama sama Emak.
    Emak Budi, sering marah saja. Ndak tau sebabnya, Mungkin keluarga Budi kurang mampu, jadi mamak sering marah-marah. Entah kenapa kalo sama Ibu, Budi merasa nyaman, bahagia sekali.”
    “Mungkin Mamamu, ada masalah jadi kurang mood terhadap anak-anaknya.
    Nanti juga baik lagi Ibu yakin.”  Jawab istriku sambil tersenyum.
    “Tapi jujur, bu.  Ibu orangnya baik, ramah tidak pemarah jadi Budi sangat suka dan senang kepada Ibu. Bahkan Budi begitu sayang kepada Ibu. “ Ujar budi kepada istriku.
    “Aaah …. Kamu bisa saja Bud !”,
    “Ibu juga sering marah-marah juga kok!” jawab Istriku.
    “Kamu saja yang belom tau” tambah istriku lagi.

    “Bu … ”,
    “Iya Bud?”,
    “Boleh Budi mencium Ibu ?”,
    “Kenapa Budi mau mencium Ibu ? ” tanya Istriku.
    “Karena Budi sangat sayang kepada Ibu , Budi juga menganggap Ibu sebagai ibu kandung Budi !!!” jelas budi  kepada istriku dan membuat istriku tersenyum manis.
    “Bud, Kamu menganggap Ibu sebagai Ibu kandungmu dan Ibu juga menganggap kamu sebagai anak Ibu. Ibu tidak keberatan kamu mencium Ibu” jawab istriku dan Budi membuat Budi ikut tersenyum.
    Dari atas loteng tempat aku mengintip kulihat dengan pelan Budi mulai mencium kening istriku, Istriku pun memejamkan matanya. Tidak hanya kening, ciuman Budi berpindah-pindah. Mata, hidung, dan kedua pipi istriku. Masih dalam rangkulan tangan kiri Budi, dan kepala istriku juga masih tersandar di bahu Budi. Sedangkan tangan kanan Budi juga membelai wajah, rambut dan leher Istriku. Kulihat juga bibir istriku agak sedikit terbuka, entah menandahkan apa. Apakah suka atau rasa cinta terhadap anak atau perasaan yang lain.Tapi dengan jelas, ciuman Budi mulai merambat turun keleher putih istriku. Di daerah sekitar leher putih istriku itu ciuman Budi cukup lama.
    Disitu istriku mulai berguman dan berbisik, “Bud, Budi sudah Bud … jangan disitu Ibu geli Nak.“. Sehingga kini ciuman Budi beralih naik kepipi dan kening terus hidung istriku.
    Dari atas dengan seksama aku terus memperhatikan tingkah anak itu.
    Dan hatiku berkata , “Dari mana anak ini belajar ciuman seperti itu? Di usia yang masih belia 13 tahunan sudah pandai beradegan cium seperti itu. Apa ini pengaruh teknologi sekarang dan dunia internet yang sedang menjamur?”
    Kini sedikit demi sedikit bibir Budi sudah merambat turun dan mendekati bibir istriku.
    Dan cup cup bibir Budi mengecup bibir istriku. Kecupan sesaat itu setidaknya menyentakan hati istriku, dapat terlihat dari gerakan bibirnya. Namun hanya sesaat, selanjutnya bibir Budi kembali mengecup bibir istriku kembali.

    Entah apa yang ada dibenak dan pikiran istriku, terlihat bibirnya kembali terbuka dan menerima kembali kecupan bibir Budi. Budi sepertinya mulai berani dan sedikit demi sedikit melumat bibir mungil istriku. Istriku sepertinya tidak keberatan dengan lumatan bibir Budi, dan sepertinya istriku mengimbangi lumatan bibir Budi. Maka terjadilah lumatan lumatan bibir antara Budi dan istriku. Dari atas loteng sampai kedengaran bunyi cucpp … cuuuppp … cuuupp. Sambil melumat bibir Istriku, kuperhatikan tangan Budi yang ada di pundak kiri istriku mulai bergerak turun. Perlahan tapi pasti tangan itu bergerak turun, dan kini telapak tangan kanan Budi sudah berada di atas sebuah bukit. Yaitu bukit lunak istriku. Aku di atas loteng cukup kaget melihat perilaku anak itu Manakala telapak tangan  itu dengan halus dan lembutnya sedikit mulai aktif bergerak gerak meremasi bukit kembar istriku. Gerakan halus dan lembut telapak tangan Budi diatas payudara istriku itu  membuatku sedikit tegang. Maklum baru pertama kali ini aku melihat anak yang masih muda belia sudah mengerti masalah sexual. Dengan pelan telapak tangan Budi mengusap-usap payudara istriku. Sejauh ini istriku hanya diam dan terus melayani lumatan bibir Budi, belum lagi usapan lembut telapak tangan Budi yang kini mulai berani meremas payudara istriku dengan lembut dan pelan. Di atas sofa yang rendah berbentuk huruf L kedua anak orang yang berbeda usia terus melakukan aksi cium dan melumat bibir. Remasan jari-jari tangan Budi di payudara istriku yang masih utuh memakai daster warna putih dihiasi bunga-bunga biru langit, seolah tidak disia-siakan oleh Budi. Remasan-remasan lembut namun intense dilakukan Budi, membuat istriku sesekali berusaha menjauhkan tangan Budi dari dadanya. Namun usaha itu hanya sebatas memegang tangan Budi, tetapi sejauh itu tidak menepiskan tangan Budi dari payudaranya malah samar-samar aku mendengar gumaman dari mulut istriku yang tersumbat bibir Budi, Hmmmmmm…Aku jadi tambah tegang manakala jari-jari kecil Budi, berusaha melepas kancing-kancing daster istriku. Istriku memang suka memakai daster berkancing depan, entah karena apa aku juga tidak memasalahkannya. Yang jelas daster yang dipakai istriku berkancing sampai ke bawah dadanya. Belum lagi panjang daster yang dipakai istriku tidak seperti daster yang dipakai hari-hari sebelumnya. Daster yang dipakainya tidak terlalu panjang sampai ke pergelangan kaki, dan juga tidak terlalu pendek hingga ke pangkal paha. Tetapi hanya sebatas lututnya saja. Walaupun begitu, bila duduk di kursi sofa agak rendah, mau tidak mau pasti akan naik keatas bagian bawa dasternya. Hal ini juga yang dialami oleh istriku, bagian bawa dasternya naik kurang lebih 15 cm. Dan makin jelaslah kemulusan dan putihnya kedua belah paha istriku.

    Ketika kancing pertama terbuka, tampak jelas putihnya permukaan bagian atas dada istriku. Dan kancing kedua terbuka, mulai terlihat lereng gunung kembar istriku walau belum tampak BH yang dipakai istriku. Kini jari-jari Budi, mulai menjamah kancing ketiga. Kancing ketiga mulai dibuka dengan pelan dan lepas. Kini sudah terlihat BH warna putih ukuran 36B yang dikenakan istriku. Kancing keempat juga mulai dilepaskan oleh jari-jari tangan Budi, semakin jelas gumpalan payudara istriku yang putih menghiasi dadanya. Dan kini kancing terakhir mulai akan dilepas oleh Budi, kancing terakhir itu kurang lebih lima jari orang dewasa dibawa payudara istriku mulai dibuka oleh Budi, dan akhirnya lepas lah kancing tersebut. Bibir Budi dan istriku masih bertaut seolah ular cobra yang saling mematuk. Jari-jari Budi sekarang mulai naik kepangkal leher istriku, terus kembali turun dan turun lagi hingga menyentuh bagian atas payudara muluis istriku. Kembali Budi meremas remas payudara istriku dengan pelan dan lembut. Kiri dan kanan payudara istriku diremas-remas oleh Budi. Secara bergantian. Payudara istriku masih terbungkus rapi oleh BH putih ukuran 36B. Payudara istriku masih kencang walaupun sudah tidak muda lagi dan sudah mempunyai dua orang anak. Budi sekarang telah melepaskan lumatan di bibir istriku, sekarang dia mulai menciumi leher putih istriku. Kini mulai kudengar desahan mulut istriku takala Budi mencium lehernya, di tambah jari-jari tangan kanan Budi aktif meremas remas payudara istriku.
    “Oohhhhh …, Jaaa … ngaaaannn  nakkkk, tolong jangaaaannnn lakukan ini, ibu mohon Bud!!! Aahhhhhh Bud, sudaaaahhhh laaahhhh,  awwwwwhhhh …. “, lenguh istriku terputus putus karena kebimbangan antara menikmati atau menyudahi pemainan anak kurang ajar ini.

    Budi

    Bibir Budi pun sekarang mulai bergerak turun, tidak hanya dileher, tetapi mulai menelusuri bagian dada istriku. Lereng bukit kembar istriku tidak luput dari ciuman dan kecupan-kecupan halus. Belahan payudara istriku tidak luput dari sapuan bibir kecilnya. Reaksi istriku bukannya menolak atau menjauhkan wajah dan kepala Budi, namun seolah membiarkan apa yang dilakukan oleh Budi.Jari-jari tangan Budi, mulai menyusup ke balik BH putih istriku, tak lupa jari itu meremas-remasnya benda kenyal yang tergantung indah di dada istriku. Dengan gerakan perlahan dan lembut, Budi menurunkan tali BH istriku baik kiri dan kanan, dan dengan gerakan yang sedemikian pelannya akhirnya tali BH itu turun dari pudaknya dan sekarang jatuh di lengan kiri dan kanan istriku. Dan dengan tetap kelembutannya Budi membuka cup BH putih itu dan bullll! bullll! kiri dan kanan payudara istriku terpampang cukup jelas dan menantang. Memang kuakui, walau tidak muda lagi, namun bentuk payudara istriku tidak menggantung seperti kebanyakan ibu-bu rumah tangga lainnya. Tetapi masih cukup kencang, padat dan urat-urat biru cukup jelas terlihat. Bentuk putingnya tidak hitam, tetapi warnanya merah hati, begitu juga  lingkaran disekeliling puting susunya juga berwarna merah hati. Puting susu istriku lumayan besar, seukuran ibu jari orang dewasa. Aku yang bersembunyi di atas loteng terus memperhatikan perilaku Budi, bocah perusia 13 tahun itu semakin tegang. Apalagi di bawah sana istriku mulai terdenger desahan-desahannya.
    “Oohhhhh …. Budddddd, Jaaa jjaaaannnggaaannn  Buddddd .. awww…..saadarr lahhh nakkkk, Janggannn lakukan inniii …” Istriku terus merintih dan memohon agar Budi menghentikan aksi-aksinya.
    Namun aksi Budi terus berlanjut, bibir Budi sudah mendekat ke puting susu istriku dan suuppp, puting susu istriku diemut-emut oleh Budi. Selanjutnya istriku semakin merintih rintih.
    “Awwwhhhh Bud … sudaahhh lahhh nakkkkk, Cuukupp, …. hentikan, sadarlah nak, nanti dilihat Rio. Hmmnghhh Awwwwhhhh Bud “. lenguhan istriku berusaha menghentikan perbuatan pemuda ini walau lebih terlihat seperti rancau kenikmatan.

    “Bu, Budi cuma ingin tahu saja apakah masih ada air susunya apa ngga.” balas Budi sambil terus mengenyot gemas payudara istriku.
    “Bud, Ibu sedang tidak mempunyai adik bayi jadi tidak ada air susunya. Jadi sudahla nak, ibu takut dilihat oleh anak-anak ibu dan dilihat oleh orang” ujar istriku.
    “Tapi Bu, Budi ingin merasakannya saja, Budi mohon Bu “, ucap Budi sambil memilin milin dada istriku yang bebas dari emutan nakalnya.
    “Oooohhhh Bud,  Ibu takut nak  … eemnghhh”ujar istriku di sertai lenguhan panjang.
    Dan akhirnya istriku tidak dapat berbuat banyak selain membiarkan aksi Budi dikedua payudaranya. Kiri dan kanan payudara istriku diemut dan diremas-remas oleh jari tangan Budi, dam desahan  serta rintihan dari mulut istriku terus terdengar halus. Sepertinya jari tangan Budi mulai merambat turun, kalau tadi masih meremas-remas payudara istriku yang sangat kencang itu, kini mulai menyusuri bagian perut istriku. Walau masih terbalut daster yang tergantung di kedua lengannya, tetapi terlihat dari luar daster, perut istriku sedikit rata tidak seperti ibu-ibu lainnya Jari-jari tangan Budi terus turun dan turun, hingga sekarang jari tangan Budi sudah berada di pangkal paha bagian luar istriku. Sambil tetap mengemut-emut payudara istriku, Tangan kanan nya ikut aktif mengelus-elus paha putih istriku. Elusan-elusan lembut jari-jari tangan Budi, membuat tubuh istriku bergerak-gerak dan mengelinjang seperti cacing kepanasan. Entah itu kegelian atau ada perasaan lain, namun akibat elusan itu mau tidak mau daster bawah istriku mulai naik ke atas. Aku yang melihat dari atas bertambah tegang, tak kusangka temannya Rio bisa sepandai dan seliar dari apa yang kubayangkan. Istriku bertambah gelisah dan merintih.
    “sudahhhhhh cuuukkkppp  hentikan nakk …  kita sudah terlalu jauh …Ingat nakkkk! saddaaaarrrr Awwhhhh” rancauan istriku akibat permainan liar Budi.
    Budi seperti tidak memperdulikan rintihan dan permohonan memelas istriku. Jari-jari tangannya terus mengelus-ngelus paha istriku,baik kiri dan kanan. Bagian luar dan dalam pun tidak luput dari jamahan jari-jari Budi. Jari-jari tangan Budi, terus dengan intense mengelus bagian luar dan bagian dalam, hingga waktu jarinya masuk kebagian dalam paha istriku. Tangannya pun ikut terus merambat naik dan masuk ke bagian dalam, hal itu membuat buat istriku terus memohon kepada Budi.

    “ampun Bud” …… Jangan  nak, hentikannnnn … sudahhh, cukup … hentikaaann, ooohhhhh … Bud … Budi sudahlah nak … Iiiiiiihhhhhh” jerit istriku dengan lirih.
    Teriakan kecil istriku memang sangat kecil, Sebab istriku mungkin sadar atau takut perbuatan merekaakan  terdengar ke tetangga kiri dan kanan rumah kami, dan juga takut akan membangunkan anak-anakku yang sedang tertidur pulas. Tubuhnya bergerak gerak kekiri dan kanan kadang pinggulnya terkadang keatas. Rasa geli dan perasaan lain mungkin melanda dirinya. Tetapi sejauh ini tidak ada usaha untuk menjauhkan diri atau lari dari kenakalan Budi. Hal ini bisa aku mengerti, disamping tangan kiri Budi masih merangkul bahu istriku, belum lagi mulut Budi tidak henti hentinya mengisap-isap puting susu istriku, ditambah jari-jari tangan kanan Budi bergerilya di bagian bawa daster istriku. Entah apa yang ada di dalam diri istriku, jika tadi gerakannya tubuh agak keras, kini mulai agak tenang. Gerakan kedua pahanya yang tadi kuat menjepit tangan Budi agar tidak terlalu jauh masuk ke dalam pangkal pahanya. Namun sekarang sedikit melonggar,  bahkan mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh Budi, ketika menggerakan tangannya melebarkan paha kiri atau kanan istriku. Semakin terbuka kedua belah paha istriku, semakin tampak secarik kain putih yang melekat di antara kedua paha bagian atas istriku.
    Jari-jari tangan Budi terus merambat naik dan naik, kemudian tak lupa mengelus-elus kedua paha bagian dalam istriku kiri dan kanan. Dan kembali lagi jari-jari tangan Budi bergerak naik hingga menyentuh celana dalam warna putih bagian atasnya. Di bagian atas celana dalam istriku jari-jari Budi semakin berani bergerilya. Kadang ke samping kiri dan kanan kadang keatas perut, kadang kembali lagi ke bagian atas celana dalam istriku. Dalam balik celana dalam warna putih istriku, terdapat rimbunan rumput warna hitam lebat nan keriting. Jari tangan Budi, kembali bergerak-gerak dan kini jari itu mulai menelusuri kebagian bawa celana dalam istriku. Sambil bergerak jari-jari Budi, mengusap dan menekan bagian tengah selangkangannya. Dibagian itu jari Budi berputar-putar lembut, hingga istriku kembali merintih dan mendesah sambil pinggulnya diangkat seperti kegelian.
    “Oooohhhhh. … Budi … Sudaaaahhhh Bud …jangan terlalu jauh Bud, ibu malu, Bud kalau ada yang merlihat, aduuuuuuhhhh “ …….. Ibu mohon nakkkkk…hentikan.” Rancauan istriku yang membuatku sedikit geram, namun sedikit membuat diriku merasakansuatu sensasi yang seharusnya tak kurasakan saat melihat istriku di gauli orang lain.

    ###################
    Suara hati Budi 

    “Ya … ampun  sungguh kegilaanku  ini sudah terlalu jauh, Tapi kenapa aku terus melakukan ini, Tapiiiiiii… Aahhhhhhh … aku hanya menuruti kata hatiku dan pikiran saja. Sungguh aku tidak membayangkan dapat berbuat seperti ini, tapi sebagai seorang  laki-laki, aku perlu tau apa itu perempuan, tentang sifatnya, tentang, kemauannya, tentang rahasia dirinya, apalagi tentang bagian-bagian perempuan yang belum pernah aku bayangkan bahkan ku sentuh selama ini.” ujar hati kecilku yang saat ini sedang berkecamuk “Ibu Afreny ini, sungguh sama sekali tak kusangka selain cantik, tubuhnya memang indah, kulitnya halus dan kencang walau sudah berusia dan punya anak dua. Tanganku sedari tadi menelusuri tengah-tengah bagian luar celana dalam Ibu Afreny. Aku baru merasakan kehalusan kulit Ibu Afreny.” kataku mengagumi kemolekan tubuh moleh seorang ibu rumahtangga yang sedang kugauli.
    “Gila bener ini! Aku jadi gemeteran  melakukan ini! tadi Ibu Afreny berkali-kali memohon untuk kuhentikan perbuatanku terlarang ini. Tapi rasanya aku tidak bisa melakukan itu, sebab aku sudah merasakan hal yang lain yakni gairah seorang lelaki muda, yang pingin tahu hal-hal yang berbau sex. Apalagi kesempatan ini baru aku alami sekarang.” bisikan jahat dalam pikiran nya untuk membenarkan perbuatan nya ini.
    Jari-jariku pingin tahu dan pingin menelusuri apa yang ada di dalam celana dalam warna putih milik Ibu Afreny, Ibu sahabatku Rio. Pelan-pelan sekali aku mengusap-usap belahan tengah celana dalam Ibu Afreny, lalu jariku bergerak naik. Aku merasakan halus dan empuknya bagian atas celana dalam seorang wanita,. sepertinya dibagian itu sama seperti punya aku. Rambut hitam yang selalu tumbuh disetiap kemaluan baik perempuan dan lelaki. Sepertinya rambut milik Ibu Afreny sangat lebat sekali. Membuatku makin aku penasaran, aku naikan jari tanganku keatas dan pas dikaret celana dalam warna putih itu, aku selipkan kelima jari-jari ku. Aku semakin gemetar manakala aku merasakan lembut dan lebatnya rambut hitam milik Ibu Afreny. Ibu Afreny menggerakan pinggulnya,  entah karena apa aku pun tak mengerti. Aku teruskan saja sambil ku usap-usap,  terus turun lagi hingga menyentuh daerah yang paling dicari oleh lelaki, terutama aku yang baru pertama kali menyetuh daerah itu. Aku merasakan vagina Ibu Afreny hangat dan sedikit terasa licin. Licin karena apa aku kurang paham. Namun aku terus saja meraba-raba vagina Ibu Afreny. Ibu Afreny semakin merintih dan mendesah, sehingga membuat ku bimbang rntah memang karena ingin aku berhenti atau memang ingin aku terus melakukan hal ini. Jari-jariku semakin sering aku gerak-gerakan  naik dan turun, aku merasakan bertambah licin daerah vagina Ibu Afreny. Tanpa aku sadari sedari tadi. batang penisku sudah lama tegak berdiri, dan membuat aku kurang nyaman karena terjepit oleh celana pendekku. Karena merasa sakit dan kurang nyaman aku terpaksa melepaskan elusan dan rabaan terhadap vagina Ibu Afreny. Dan jari tanganku keluar dari celana dalam Ibu Afreny, lalu aku langsung membenarkan letak posisi batang penisku.  Karena aku merasa masih kurang nyaman juga, maka akhirnya kukeluarkan batang penisku dari dalam celana pendek dan kolor warna putih yang aku pakai ini. Dan bulll! Keluarlah batang penisku dengan tegak bagaikan tonggak kayu dan membuat sedikit agak legah.

    #########################
    Lain hal dengan Bud, ternyata apa yang dikeluarkan oleh Budi dari celana pendeknya, membuat aku yang sedang mengintip dari atas loteng sedikit tercengang dan berkata dalam hati “ Gilllaaaaa !!!!”,
    “Sungguh tidak kupercaya kalau tidak melihat dengan mata kepala kusendiri! Ternyata temannya Rio itu memiliki penis yang melebihi penis ukuran orang dewasa termasuk diriku!” ujarku dalam hati karena sedikit shock.
    Sungguh manusia ini banyak keanehan, anak berusia 13 tahun mempunyai penis sebesar dan sepanjang itu. Mungkin panjang penis anak itu  kira-kira 20 cm. Dan bulat lingkarannya  kalau diukur dengan cm bisa mencapai 13 cm lebih, suatu hal yang tidak masuk akan tapi betul-betul nyata! Penis anak itu masih tegak berdiri dengan kepalanya berwarna pink mengkilat, di bawah batang penis baru ditumbuhi oleh rambut-rambut hitam yang masih tipis. Aku takjub dengan apa yang kulihat dan masih terasa belum percaya, sambil terus memperhatikan gerak-gerik dan apa yang di lakukan Budi terhadap istriku. Budi kembali memasukan jari-jarinya ke dalam celana dalam putih istriku, Istriku kembali dibuat gelagapan. Terkadang pahanya mengatub menjepit tangan Budi, kadang juga terbuka seperti memberikan jalan buat Budi agar terus menjamah vagina istriku. Jari-jari Budi semakin sering meraba-raba vagina istriku. Dan kuperhatikan sepertinya jari-jari tangan Budi bergerak kebelakang pinggul istriku. Di sana dia meremas-remas pinggul bulat istriku. Sambil meremas-remas,  Budi menurunkan karet celana dalam istriku bagian belakang hingga turun ke bawah pinggulnya. Di bagian atas mulut Budi masih menyedot-nyedot puting susu istriku dengan lahapnya. Kadang mencium leher istriku serta kembali melumat bibir istriku. Di bawah sana jari tangan Budi sudah mengalihkan tanganya ke pinggul sebelah kanan istriku. Rupanya Budi berusaha menurunkan celana dalam istriku, karena bagian belakang celana dalam istriku sudah turun ke bawa pinggulnya. Dengan gerakan pelan tapi pasti akhirnya karet celana dalam sebelah kanan istriku turun juga dari atas pinggangnya. Namun tidak terlalu turun masih nyangkut di pinggul sebelah kanannya. Akan tetapi dengan hanya turun baru sebatas bawa selangkangannya istriku, sudah tanpak jelas bukit kemaluan istriku yang ditumbuhi rambut hitam yang lebat. Saking lebatnya kurang lebih tiga centi dibawa pusar, rambut hitam kemaluan istriku menyetuh pusarnya.

    Baca Juga Cerita Maya Keponakanku, Selingkuhan Istriku

    Budi mencium bibir istriku dengan lembut dan mesra. istriku seolah menyambut dengan hangat kecupan dan lumatan bibir Budi. Diselingi remasan terhadap payudara istriku kiri dan kanan, lalu tangan Budi bergerak turun dan kembali menyusup diantara kedua belah paha putih istriku dan langsung menyetuh bukit kemaluan istriku. Kulihat jam menunjukan pukul 14.00 wib, dibawa sana dua anak manusia berbeda usia terus melakukan aktifitas yang seharus tak lazim. Kulihat kini Budi menghentikan aktifitas tangan kanannya dibawa selangkangan istriku, terus tangannya membelai-belai rambut hitam istriku bahkan pipi mulusnya. Kemudian tak lupa pipi kening dan bibir istriku diciumnya dengan mesra.
    Lalu kudengar Budi berkata dengan pelan, “Bu …”
    “ iyahh Bud, Ada apa ?“ sahut Afreny sambil  mendesah lembut.
    “Kita ke kamar depan yuk’ Bu.“jawab Budi sambil asik menjamahi tubuh molek istriku.
    “Kenapa kamar depan Bud? “ tanya Afreny pelan.
    “Takut kalau-kalau Icak dan Rio bangun Bu “, ujarnya sedikit terputus karena menyupangi leher jenjang istriku, “Makanya kita ke sana saja ya Bu.“ lanjutnya sambil mengajak Afreny.
    “ jangan nak,  tidak usah dilanjutkan lagi!“ pinta Afreny lembut sambil menahan lenguhan kenikmatan yang ia rasakan. “Cukuplah ya Bud “, sambung istriku untuk membujuk Budi menghentikan permainan ini, walau dari dalam lubuk hati istriku ini secara jujur dan gamblang  ia menikmati betapa mendebarkan dan mengasyikan-nya hubungan terlarang ini.
    “Gak apa-apa kok Bu “sahut Budi sambil mengelus dan mengecup lembut pipi Afreny.
    “Jangan nak, Ibu sekarang sudah merasa bersalah dan berdosa “,
    “Ibu takut . apa yang barusan tadi dilihat oleh orang”,
    “Ayo’ lah Bu “ bujuk budi sambil dengan pelan dan penuh kasih sayang Budi meraih dan menarik lengan istriku Afreny untuk beranjak dari sofa yang dia duduki.dan berbeda dari kalimat penolakan yang ia lontarkan sejak awal, tubuh istriku ternyata lebih jujur dan beranjak dari sofa yang didudukinya mengikuti bujuk rayu jejaka yang umurnya terpaut 20 tahun itu seperti kerbau yang dicolok hidungnya.

    Dalam kondisi baju daster bagian atas sudah melorot sampai ke lengan kiri dan kanan bersamaan dengan tali BH putihnya ikut melorot ke lengannya, Belum lagi bagian bawah dasternya yang naik ke atas pinggang sehingga celana dalam warna putih yang dikenakan istriku tadi juga sudah melorot kebawa pas dibawa pinggulnya atau bagian depan sudah dibawa pangkal pahanya, Budi merangkul mesra istriku layak nya pasangan pengantin baru menuju kamar depan yang berukuran 3 x3 meter. Sambil kepala istriku bersandar di pundak Budi akhirnya keduanya masuk ke kamar depan dan kliikkkk … akhirnya kamar itu dkunci dari dalam oleh pasangan yang sedang dilanda birahi itu. Aku pun mengendap-endap seperti maling merangkak menelusuri loteng rumahku sendiri  berpindah posisi menuju kamar maksiat itu. Sebenernya kamar depan jarang dipakai, hanya untuk tamu atau family yang datang saja, sebab loteng plafon yang terbuat dari bahan triplek juga banyak yang rusak dan ada bolong-bolongnya, sehingga dari atas cukup jelas sekali apalagi pintu jendela menghadap ke arah matahari terbenam yang sinarnya cukup terang sekali. Di dalam kamar itu terdapat satu buah springbed ukuran 2×2 tidak memakai tiang dengan satu buah bantal guling dan bantal tidur.Jadi langsung diletakan saja di lantai kadang kamar itu dipakai oleh Budi tidur bila menginap di rumahku. Budi dan istriku mendekati springbed itu, kemudian mereka berdua berhenti. Budi  memutar tubuh istriku hingga keduanya saling berhadapan. Lalu dengan lembut dan mesranya Budi berbisik,
    “Buuuu … Buuuuu … Buuddii sayang Ibu “ bisik bocah itu dengan gemetaran.
    “Ibu tau nak “ jawab istriku.
    Dan tiba tiba saja istriku berubah drastis, dengan pengalaman yang ia miliki ia memeluk dan mencium bibir Budi dengan mesra untuk mengusir kegugupan perjakanya itu.

    #########################
    Suara hati Afreny

    “Oh Tuhan apa yang kulakukan, dan mengapa bisa  berakhir seperti ini. Sebari tadi aku berusaha  memegang teguh janji perkawinanku dengan mas  Erlan … tetapi kini aku malah mencumbui anak ini.”
    Aku merasakan secara perlahan tangan Budi meraih pinggangku. Dan aku sadar bahwa celana dalamku sudah melorot ke bawa pinggulku. Ini akibat tangan nakal Budi yang kubiarkan bebas bergerilya. Akupun bingung kok bisa-bisanya anak itu berbuat nekad seperti ini, padahal usianya masih muda baru 13 tahun, tetapi hal-hal yang hanya di ketahui  oleh orang dewasa seperti ini ia sudah dapat  mengerti. Aku juga heran sampai saat ini aku sepertinya tidak bisa berbuat banyak dan seolah ada perasaan lain pada anak ini. Kini tubuhku sudah sedikit merapat ke tubuh Budi dan ketika itu ada sesuatu yang membuatku sedikit bergetar, dan getaran tersebut adalah getaran getaran yang telah sudah sejak lama tak kurasakan bahkan tidak pernah kurasakan sama sekali saat bersama suamiku.  Aku merasakan ada yang mengganjal di bawah daerah kemaluanku. Benda yang mengganjal di bawah pusarku paling bawa terasa sekali, menyentuh nyentuh daerah kemaluanku. Budi semakin menarik pinggulku ke arah tubuhnya, dan benda itu semakin kuat mengganjal bahkan menyodok daerah kemaluanku. Aku dapat menduga benda itu adalah batang penis Budi yang sudah menegang dan sangat keras sekali. Tapi entahlah apakah memang benar benda itu bantang penisnya Budi yang mengganjal di daerah kemaluan, apakah ada sesuatu yang disimpan Budi di kantong celananya. Kami masih saling lumat bibir, tidak hanya itu Budi berusaha melepas dasterku yang sudah jatuh di kedua lenganku. Tidak sulit bagi Budi untuk melepaskannya karena dengan pelan dia menurunkan kedua tangaku dan menurunkan secara perlahan dan terus melewati kedua  jari tanganku, kemudian terus diturunkan lagi melewati pinggulku, terus dilepaskan saja oleh Budi hingga jatuh di kedua kakiku.

    Sekarang kini hanya tinggal BH dan celana dalam putihku yang masih melekat, itupun sudah  tak sempurna lagi. Tali BH-ku  sudah jatuh kedua lenganku, sedangkan cupnya berukuran 36B sudah terbuka yang menampakan keindahan payudaraku. Rasa malupun mulai menyelimuti diriku, di hadapan anak yang baru berusia 13 tahun ini aku seperti bahan mainannya. Walau sebenarnya anak ini seusia dengan anakku Rio, yang kadang sering melihatku telanjang dada bahkan telanjang bulat di kamar ketika selesai mandi.
    Namun dalam keadaan seperti ini rasa kuatir dan was-was dan malu muncul, maklum aku sebagai seorang perempuan bahkan seorang ibu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Itu semua hanyalah pikiranku saja, tapi ternyata berbeda dari apa yang kuhadapi.
    Budi menatapku dengan tatapan penuh arti, tatapan sebuah permintaan, dan tatapan birahi seorang anak yang baru beranjak remaja. Lalu Budi juga membuka baju kaosnya dengan sangat cepat sekali, aku hanya menatap wajahnya dengan penuh kecemasan, aku tidak mengetahui kapan dia membuka celana pendeknya, yang kutahu tiba-tiba Budi meraih pinggulku dirapatkannya ke tubuhnya sambil meremas-remas pinggulku.
    Kembali aku merasakan benda tumpul menyodok daerah kemaluanku. Akupun berciuman kembali dengan Budi tidak hanya itu Budi telah berhasil melepaskan pengait BH ku. Dan BH ku dilepaskannya dari kedua belah tanganku. Kemudian aku berbicara pelan kepada Budi,
    “Kenapa kamu berperilaku seperti ini nak ?“.ujarku sambil menatap dalam matanya yang terlihat memang agak gugup “Tidak kau merasa takut apa yang akan kamu lakukan ?“.
    Kulihat tampaknya Budi hanya diam, tidak menjawab pertanyaanku dan mengalihkan pandangannya dari tatapanku. Aku pegang bahunya, dan ia menatapku sembari membelai pipiku. Perasaanku tidak menentu, tiba-tiba aku memeluknya dengan erat. Lalu aku rasakan celana dalamku terasa pelan-pelan melorot turun dan terus turun ke bawah hingga jatuh di bawa kakiku seperti halnya baju dasterku. Aku semakin erat memeluknya  tidak hanya itu sambil meraba, Budi menekankan pinggulku ke arahnya hingga terasa sekali benda yang dari tadi mengganjal itu tidak lain batang penisnya yang sudah semakin tegang. Itu kutahu karena ketika berpelukan, tanganku sedikit turun ke pinggul Budi dan tak ditemukan lagi kolor yang melekat di pinggulnya.

    Kini aku dan Budi sudah sama-sama telanjang bulat dan akupun tidak dapat berkata apa lagi, karena kondisi sudah seperti ini hingga tidak dapat berbuat banyak. Apalagi sekarang tangan kanan Budi menaikan kaki kiriku ke atas springbed sehingga bagian bawah selangkangan agak terbuka. Dengan begitu batang penis Budi semakin terasa mengenai daerah vaginaku, bahkan sedikit mengenai bibir vaginaku. Aku semakin erat memeluk Budi, seperti ada kehangatan dan kenyaman dalam pelukan anak ini, getaran-getaran cinta seorang anak terhadap ibu, sebalik getaran cinta ibu terhadap anaknya. Batang penis Budi terasa hangat walau hanya menyenggol bibir luar vaginaku. Kini Budi membimbingku duduk di pinggir springbad, setelah duduk kami saling berpandangan dengan mesra. Kemudian Budi mengecup keningku, terasa sekali sentuhan lembut penuh kasih sayang diberikan anak ini.Sekilas aku melihat batang penis Budi yang tegang berdiri, Aku tercekat kaget dibuatnya. Astaga … Penis Budi … bisa sebesar dan sepanjang ini !? Apakah aku bermimpi? Aku tidak tahu ukurannya tapi yang jelas aku merasa ngeri, dan tiba-tiba aku memeluk Budi dengan erat sambil kepalaku kusandarkan ke bahunya. Walau gelora birahi ku sudah sampai ubun ubun, namun karena kengerian akan ukuran kemaluan anak ini akupun menjadi merasa sedikit takut dan ngeri sehingga aku berusaha untuk menghentikan permainan ini,
    “Hentikan saja ya nak  perbuatan ini. Kita sudah melampaui batas, seharusnya kita tidak melakukan perbuatan semacam ini. Seharusnya ibu memberikan pengertian kepadamu Bud, bukan menyesatkanmu dengan melakukan perbuatan tidak terpuji dan terlarang seperti ini.“
    “Tapi Bu, rasanya sulit untuk Budi hentikan. Karena dada ini, hati ini, otak ini, telah diselimuti dirasuki perasaan yang tidak bisa dihentikan. Apalagi keinginan itu sangat kuat Bu.“ ujar Budi membantah omonganku.
    “Tapi nak , kamu masih muda harus melawan hawa nafsumu “,
    “Bu Afenry, Budi mohon berikan kesempatan pertama buat Budi. Budi pingin sekali mencoba apa yang belum pernah Budi rasakan. Bolehkan Bu ? Tolonglah Bu hanya bersama Ibu saja.“ ujar Budi mengiba
    Mendengar hal tersebut sebagai seorang wanita khususnya sebagai seorang ibu hatiku menjadi luluh dibuatnya, apalagi pemuda ini memintanya dengan sopan penuh kesabaran dan kasih sayang. Tapi apakah pantas aku melakukannya ? Oooohhh apa yang mesti aku lakukan ?

    Setelah mempertimbangkan baik buruknya dan apa yang dilakukan Budi selama ini, maka dengan ketulusan hatiku yang bulat, akihirnya aku mengangguk kepada Budi sambil berbisik pelan.
    ”Baiklah  nak , Ibu mengijinkanmu.”. Sambil tersenyum kulanjutkan  perkataan ku, ”tapi Ingat ya Bud, Hanya sekali ini saja!“ tegasku kepadanya.
    Mendengar hal tersebut Budi-pun tersenyum,“ ……. Baik Bu “ … untuk Ibu, Budi akan turuti semua  kemauan ibu.”.
    Dengan senyum kekanak-kanakannya  Ia merebahkan tubuh polos ku keperaduan dengan  sangat lembut sekali, kemudian ia mengambil bantal lalu direbahkannya kepalaku ke bantal tersebut dengan lembut dan mengecup keningku dengan mesra. Sehingga kubandingkan dengan suamiku, kalau sudah ada maunya tidak bisa ditahan. Gerasa grusu saja, tanpa ada rasa sayang terhadap istri. Kalau dengan Budi terasa beda, anak ini lebih memberikan kasih sayangnya kepada seorang perempuan dan bisa menyenangkan hati perempuan seperti diriku. Sebagai seorang perempuan ada sedikit perasaan cemas, was-was, takut dan gemetaran. Maklum kalau dengan suamiku aku tidak ada getaran dan kecemasan, tetapi dengan orang lain yang belum lama kukenal perasaan semua itu muncul. Apalagi saat ini Budi berbaring disisiku kemudian dengan mesranya dia mencium dan melumat bibirku, kemudian tangannya aktif meremas-remas kedua payudaraku. Tangan itu bergerak turun dan turun menyusuri perut dan turun lagi kepinggulku sedikit diremasnya, kemudian kedepan dan tepat diatas tumpukan jerami hitam milikku yang hitam dan lebat. Aku bertambah cemas, rikuh, dan gelisah, bercampur  perasaan geli dan enak ketika Budi menyentuh daerah kemaluanku. Aku berusaha menjauhkan perasaan itu ketika  Budi sudah menyentuh bibir vaginaku. Dan akhirnya aku tidak tahan juga untuk mengeluarkan suara.
    “Ooooohhhh …. Buuuuuudddddd ….sudaahh …… iiihhh ….jnngaaaaaan dimaaaiinnnkan itu …. Ibuuuuuuuuu Budddddd….geeeeliiii….. eeeehhhhhhhh …. Enakkkkkk”, eranganku meledak terputus putus, walau aku sedikit dapat menahannya karena aku masih takut membangunkan anak anak ku atau terdengar oleh tetangga.

    Kemudian Budi mengehentikan aksinya di vaginaku. Lalu dia memandangku, aku paham maksud pandangan itu. Lalu aku mengangguk dan berbisik pelan,
    “Lakukanlah nak, hati-hati ya sayang, pelan pelan saja“  sambil kubelai wajah dan rambutnya., “Ibu takut dan ngeri …“,
    “Takut dan ngeri karena apa Bu?”, potong Budi dengan polosnya.
    “Batang penismu ini sayang, diluar perkiraan Ibu.“ ujarku sambil meremas remas lembut batang  kemaluannya yang sudah siap maju ke medan tempur itu, “Besar dan panjang , Tidak seperti punya Om Erlan. Ibu  takut nanti tidak muat.“,
    “Ajarin Budi ya bu, Budi belum pengalaman Bu.“ ujarnya sedikit gugup.
    Aku tersenyum kepada Budi sambil berbisik aku berbicara, “Baiklah Ibu akan membimbing kamu sayang.“, jawabku sembari memberi ciuman lembut ke bibirnya, sambil tanganku masih meremas remas lembut batang kemaluan yang besar dan keras tersebut.
    “Sekarang kamu naiki tubuh Ibu”, pintaku, Budi pun menurut, dia menaiki tubuhku lalu tak lupa dia menciumku, akupun dengan mesranya memeluk tubuhnya dengan erat.
    Lalu aku berbisik lagi ditelinganya, “ Sayang, sekarang kamu jongkok di kedua paha  Ibu ya.“
    Ternyata Budi sudah mengerti, dia lalu mendekatkan batang penisnya ke arah bibir vaginaku. Aku sendiri mulai tegang, karena batang penis Budi di atas anak seusianya. Di samping itu hanya penis suamiku yang selalu masuk ke dalam liang vaginaku, itupun ukuran panjangnya lebih kurang 11 cm yang lingkarannya lebih kecil 9 cm. Sekarang kepala penis Budi yang sedari tadi sudah tegang, sudah menempel di bibir vaginaku.
    Aku turut membantu Budi dengan sedikit melebarkan kedua pahaku, sehingga lubang vaginaku sedikit membuka. Dan baru aku sadari kalau sedari tadi ternyata di sekitar bibir vaginaku telah mengalir cairan kewanitaan ku sendiri, sehingga daerah sekitar vaginaku menjadi licin, dan mempermudah penis jumbo itu masuk ke liang kenikmatanku. Kepala penis Budi sudah mulai memasuki belahan vaginaku. Ada perasaan nyeri di sekitar vaginaku, sebab kepala penis Budi yang besar berusaha menyeruak masuk kedalam lubang vaginaku. Sehingga membuatku merintik rintih kesakitan segaligus keenakan karenanya

    “Aduh Buddddd besarr sekaliiii, pelannnn sayangggggg ……ibu merasa nyeri nih…aiiihhhh begituuuu sayangghhhhh enakkkkkkkk.“, rancauanku akibat perbuatan Budi.
    Kepala penis Budi terjepit di muara lubang vaginaku, akupun semakin merintih, merancau, dan sekaligur mengajari perjakaku ini bagaimana caranya memuaskan seorang wanita dengan penis besar dan nikmat yang dimilikinya itu. Kepala penis dan batang penis Budi terus menyeruak masuk secenti demi secenti, semakin bergerak masuk semakin otot vaginaku semakin menegang. Budi berusaha terus memasukan batang penisnya ke dalam lubang vaginaku. Akhirnya Budi baru menemukan teknik untuk memasukan batang ajaib miliknya itu di dalam liang vaginaku. Dia memaju mundurkan batang penisnya secara perlahan. Dengan begitu batang penisnya yang besar itu mulai bertambah dalam masuk. Kalau tadi baru seperempat saja, sekarang sudah setengahnya. Makin intense Budi memaju mundurkan batang penisnya, makin lama makin masuk batang penisnya. Usaha Budi ternyata membuahkan hasil dan dengan sekali genjotan saja batang penis Budi yang tinggal 2 centi akhirnya masuk semua, bersamaan dengan itu aku menjerit-jerit kenikmatan dan kurangkulkan tanganku ke leher kekasih mudaku ini sambil memberikan kecupan selamat ke pipinya. Aku terdiam, begitu juga Budi. tidak beberapa lama rupanya Budi sudah paham apa yang dia lakukan.Dia mulai memaju mundurkan batang penisnya di dalam liang vaginaku. Walau terasa sakit dan ngilu, aku berusaha tahan karena aku tidak ingin mengecewakan anak ini. Dan lambat laun, rasa perih dan ngilu tadi berubah menjadi enak dan nikmat, tak kubayangkan walau tubuh anak ini kecil, tetapi mempunyai senjata yang besar yang kini membuatku menikmatinya. Tidak dapat kubayangkan juga kalau batang penis Budi yang besar dapat ditampung oleh liang vaginaku. Aku berusaha mengimbangi goyangan dan maju mundurnya batang penis Budi dengan memutar mutar pinggulku hingga mengangkat pantatku.
    “Ooohhhh ….. Gilaaaa Kamu  … saaayanghhhh …ibu gak sanggupp….ampun sayang…uuhhhh …ohhh… nikmathhhh”, pekikku sembari menciumi bibir pengantin sehariku ini dengan penuh nafsu.

    Goyongan dan kocokan batang penis Budi, tak terasa sudah mencapai 30 menit. Aku merasakan ada letupan kecil di dalam liang vaginaku, Badanku seperti tegang dan urat sarafku seperti mengencang, persendianku seolah mau lepas, dan ooughh !! Aku rasanya tidak sanggup lagi, ada sesuatu yang kuat sepertinya akan keluar dari tubuhku, kedutan-kedutan kuat dari dalam liang vaginaku. Dan …
    “awwwhhhhhhh sayanghhhhhhhhhh ….”, pekikku panjang dan tubuhku melenting ke atas  dengan pinggul terangkat lalu
    Seeeeerrrrr….serrrrrr…suara cipratan cairan orgasmeku yang menyembur keluar seperti ledakan gunung berapi,
    “Ammmpunnnnn …saaaaayyyyy ibu …keluarrrrr…oooohhhh“ .
    Kujepit pinggul Budi kuat-kuat dengan kedua pahaku. Dan kupeluk tubuhnya dengan eratnya. Tubuhku lemas, tapi Budi masih juga menggoyangkan pinggulnya, sebab batang kenikmatan-nya masih keras dan menancap di lubang vaginaku. Budi belum juga mencapai orgasme, aku akan membantunya mencapai orgame dan dengan menyemangatinya Budi terus mengocok batang penisnya. Aku menyuruh Budi memelukku dan kusuruh dia berbalik dan gantian dia yang tidur terlentang tanpa melepaskan bantang penisnya yang masih menancap di liang vaginaku. Budipun menurut, ketika dia terlentang sekarang aku yang aktif menggoyangkan pinggulku sehingga batang penisnya semakin terasa masuk di dalam liang vaginaku. Gerakan pinggul semakin kencang tiba-tiba Budi  mengerang.
    “ Oooohhhhhhh Buuuuu …  Budddiii mau kencinggggggg … Buuuu … “
    “Kecinglah sayang,  kencinglah di dalam lobang vagina ibu sayang.“, ucapku sambil kucondongkan badanku ke depan dan memeluk tubuhnya sembari kutunganggi batang penisnya yang besar dan perkasa itu.
    Dan tiba-tibas aja, budi merangkul badanku erat seakan tidak akan meloloskanku kemana-mana dan menghujamkan batang kenikmatannyadengan hebat ke vaginaku.
    Dan…crotttttt….crottttt… crotttt, senjata  Budi memberondongkan air maninya ke dalam rahimku dengan banyak, sambil tangannya menekan pantatku kuat-kuat. Ceritamaya

    Akupun secara bersamaan orgasme yang kedua kalinya. Lalu aku jatuh di dada anak itu, kemudian tangan Budi memelukku dengan erat, akupun begitu memeluknya dengan erat sambil memejamkan mataku. Dalam keterpejamanku aku meresapi dan menikmati pengalaman pertamaku bersama seorang anak berusia 13 tahun, sahabat anakku Rio. Walau Budi masih muda belia, tetapi dia sudah memberikan kenikmatan dan kepuasan terhadapku. Akupun tadinya hanya berharap Budi sebagai teman akrab anakku, sekarang malah menjadi teman bercintaku.
    “Ohhhh…  kau harapanku segalanya. Akankah ini harus terus berlanjut selamanya…entahlah“ desah hatiku.
    Kurasakan tangan Budi mengelus punggungku. Akupun merasa nyaman dalam pelukan anak ini, kendati aku kuatir berat tubuhku lebih berat dari tubuhnya tetapi Budi tidak merasakan itu. Lalu tangannya sesekali meremas-remas pantatku.
    “Bu…”, bisik Budi halus
    “Iya sayang … ada apa sayangku?” balasku lirih karena barukali ini aku merasakan orgasme sehebat itu, bahkan multi orgasme hebat seperti itu  sambil mendekap terus lembut tubuhnya.
    “Terima kasih ya Bu atas pengalaman pertama diajarkan pada Budi.”, ucapnya sambil menatap  diriku dengan penuh arti.
    Aku tersenyum menatap mata anak ini yang masih di bawah tubuhku.
    “Iya nak , Budi harus janji tidak menceritakan persetubuhan kita berdua kepada siapapun ya!“,
    “Budi janji Bu  akan merahasiakan ini.”
    “Terima kasih anakku, sayangku”, ujarku dengan mesra sambil mengecup bibir Budi .
    “Ngomong-ngomong sayang, kenapa kamu ingin menyetubuhi Ibu? Padahal kamu sahabat Rio.”, tanyaku karena tiba tiba saja pertanyaanku terngiang di kepalaku.
    “Entahlah Bu, Budi tiba-tiba saja pingin menyetubuhi Ibu.”,jawab Budi sekenanya.
    “Pasti kamu suka baca sesuatu atau nonton film dewasa ya!“ selidiku dan dijawab dangan anggukannya dengan malu-malu.
    Aku mengusap-usap rambutnya, “Pantesan kamu ngebet bange. Udah ya jangan sering-sering nonton dan baca hal begituan, ingat sekolah kamu ya nak.“,  pintaku menasehatinya, kali ini sebagai seorang ibu kepada anaknya, bukan sebagai seorang wanita yang telah diberikan kepuasan dan kenikmatan biologis dari seorang lelaki.

    “Iya… Bu”, tukas  Budi dengan  sedikit kecewa.
    “hemh”, balasku singkat sekedar mengiyakan perkataannya, dan menghiraukan kekecewaan pemuda ini.
    “Tapi Bu kalau Budi ingin lagi gimana ?”, celetuknya sambil meringis.
    “Nahhhh kan kamu sudah janji hanya sekali saja kan ?”, balasku dengan mengingatkan perjanjian  yang kami buat tadi.
    “Tapi kalau kebelet gimana dong Bu “, ujarnya lagi karena tak mau kalah begitu saja.
    Aku pun tersenyum dan  mencium bibir mungilnya, “Ya sudahlah” ….. masalah itu nanti kita bicarakan lagi.
    “ ngomong ngomong sayang,  apakah kamu merasa puas  ?”. tanyaku untuk mengalihkan topik pembicaraan kami.
    “Ya Bu ….  Budi puas sekali, Ibu bagaimana?”, balasnya sambil melontarkan pertanyaan yang sama kepadaku sembari tangannya dengan lembut membelai belai kepalaku yang kini tertidur lemas di atas badannya.
    “Hmmmmmm  … Ibu lebih dari itu sayang dan sulit Ibu ceritakan.” jawabku sambil kepalaku tiduran di dada Budi.
    Kupemejamkan mataku dan memeluk erat tubuh Budi. Kelamin kami masih menyatu, aku seolah tidak mau melepaskan tubuh anak ini, biarlah batang penis anak ini berlama-lama di liang vaginaku dan sepertinya batang penis anak ini belum mengecil juga. Kamipun tertidur bersama, dalam pelukan kehangatan penuh birahi sehabis berpacu mengarungi lembah kenikmatan. Entah Jam berapa kami tertidur dengan mimpi indah kami berdua.

    ##########################

    Di atas loteng aku dari awal sampai akhir menyaksikan adegan panas antara istriku dan Budi, sahabat anakku Rio, yang berbeda usia sangat jauh 31 dan 13 tahun. Sungguh tidak masuk dalam akal sehat. ABG di usia yang masih muda belia sudah mengetahui perilaku seks. Bahkan istriku saja dibuatnya buta segala-galanya, dunia terkadang memang aneh. Entah apa yang terjadi selanjutnya antara istriku dan anak itu. Dari apa yang dibicarakan  mereka berdua, sepertinya akan ada kelanjutan lagi. Akhirnya aku hanya menghela nafas panjang lantas berbaring di atas loteng dan akupun tertidur dengan batang kemaluanku masih mengeras.

    S e l e s a i
    By: Kelana Jam

  • Suamiku Selingkuh Ngewe Dengan SepupuKu

    Suamiku Selingkuh Ngewe Dengan SepupuKu


    65 views

    Ceritamaya | Seharian aku menunggu suamiku pulang tapi dia tidak datang juga, aku takut kalau kabar yang aku dengar benar.
    Tadi siang aku mendengar dari temanku kalau suamiku sedang berduaan di sebuah cafe dengan wanita cantik, dan dia bilang kalau wanita itu lebih muda dariku dan penampilannya sungguh seksi.
    Akupun menjadi takut kalau-kalau suamiku akan selingkuh dariku seperti dalam cerita sex
    Akhir-akhir ini sikapnya memang sedikit berubah, dia lebih sering mengotak-atik ponselnya. Tapi aku tidak banyak nanya takutnya di bilang terlalu ikut campur urusannya meskipun aku adalah istrinya, pernikahan kami sudah berjalan selama 8 tahun lamanya.

    Dan anak kami juga sudah kelas 1 SD tahun ini, bagaimana jika mas Alan menghianatiku, sungguh aku begitu takut.

    Karena sekarang banyak terjadi perselingkuhan dan bukan hanya salah satu cerita dalam cerita dewasa. Apalagi suamiku bekerja di kantoran sedangkan aku hanya wanita yang hanya di rumah saja, dan jauh dari penampilan modis seperti halnya wanita karir yang bekerja di kantoran.

    Hubungan kami begitu langgeng selama ini, hanya saja sikap mas Alan lebih dingin akhir-akhir ini.

    Aku tahu dengan usia memasuki 30 tahun mungkin aku sudah terlihat lebih tua, tapi apa yang harus aku lakukan. Kalau aku harus merawat diri seperti wanita yang sering pergi ke salon, darimana aku harus dapat uang lebih.

    Sedangkan aku harus pintar-pintar menabung sisa dari menyisihkan uang belanja yang di berikan oelh suamiku, sebenarnya siapa wanita itu.

    Aku tidak banyak bertanya pada suamiku namun aku mempunyai saudara sepupu yang bekerja di kantor yang sama dengan suamiku. Aida namanya dan hari ini aku sudah ada janji dengannya di sebuah tempat makan yang tidak jauh dengan kantornya “Hei.. mbak.. tumben nih..” Katanya menyapaku lebih dulu “Iya.. ayo duduk dulu.. kita makan aja nanti mbak ceritain masalah mbak..” Kataku padanya. Ceritamaya

    Sambil makan akupun menceritakan tentang suamiku pada Aida sepupuku “Kamu kan satu kantor dengan suami mbak.. kamu tahu dia dekat dengan wanita lain nggak..” Aida terkejut kemudian dia bilang “Nggak mungkin lah mbak.. mas Alan selingkuh dari mbak.. mbak kan cantik..” Kata Aida padaku, diapun menenangkan hatiku. Dan berjanji akan memberitahuku kalau dia melihat mas Alan dengan wanita lain.

    Akupun pulang dengan hati sedikit lapang, karena Aida bilang kalau mas Alan masih seperti dulu. Dia tidak suka jalan sama wanita meskipun banyak wanita cantik di kantornya, sampai di rumah aku langsung masak kesukaan mas Alan.

    Mungkin aku yang kurang memberikan perhatian padanya, jadi aku akan berubah lebih perhatian dan akan percaya pada suamiku.

    Tepat jam pulang kantor dia tiba di rumah, aku langsung menyediakan makan malam dan mendekatinya “Makan dulu ya mas..” Tapi bukannya sikap lembut yang aku terima dia malah berkata dengan nada kasar “Kamu ngapain nanya-nanya tentang aku sama Aida.. kamu ingin mempermalukan aku..” Aku kaget karena suamiku tahu kalau aku menemui Aida, bukannya Aida bilang akan merahasiakannya dari suamiku.

    Bukannya lebih tenang sejak saat itu kami menjadi lebih sering bertengkar, bahkan ketika aku mencoba menghubungi Aida dia sepertinya tidak mau mengangkat telpon dariku.

    Mungkin dia juga kena marah suamiku karena itu dia menjadi takut untuk berhubungan denganku, dan akupun tidak lagi berhubungan dengannya apalagi aku takut kalau datang lagi menemui Aida suamiku akan tahu.

    Sikap suamiku benar-benar keterlaluan kini dia sudah dua hari tidak pulang, dan aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa. Akhirnya aku pergi ke rumah orang tuaku untuk menitipkan anakku, kebetulan hari ini tepat hari minggu. Aku berniat mencari suamiku tapi aku tidak memberitahu orang tuaku tentang masalah yang sedang aku hadapi.

    Kebetulan disana aku bertemu dengan tanteku, yakni orang tua dari Aida. Dia bilang kalau Aida sekarang sudah tidak tinggal dengannya lagi, tapi mengontrak di kawasan tempat dia bekerja, mendengar hal itu aku senang setelah mendapat alamat Aida aku segera menuju ke sana. karena aku ingin mengajak Aida untuk mencari tahu keberadaan suamiku, Aida teman satu kantornya dia pasti banyak tahu tentang teman suamiku.

    Baca Juga : Tukar Pasangan : Istri Teman Lamaku yang Punya Libido Tinggi

    Sampai di depan rumah kontrakan Aida aku begitu kaget, di halaman rumahnya yang tidak begitu luas terpakir mobil suamiku. Saat itu juga hatiku sudah mulai curiga, dengan langkah cepat aku masuk kedalam rumah Aida yang kebetulan tidak terkunci pintu depannya.

    Benar saja aku mendengar suara seseorang yang berada di dalam kamar rumah itu yang memang hanya ada satu kamar tidur itu.

    Tapi entah kenapa kakiku seperti tidak dapat melangkah lagi “Aahhhh.. maaaasss.. jangaaan.. aaaggggghhh… aaaagggghhh…” Di dalam sana aku melihat suamiku sedang melepas handuk yang di pakai oleh Aida sepupuku, ketika handuk itu terlepas merekapun saling menindih dengan tubuh keduanya dalam keadan telanjang bulat dan aku mampu melihatnya dengan jelas.

    Suamiku lalu mengacungkan kontolnya dan dengan mudah dapat masuk ke dalam kemaluan Aida “Ooouuuugggghhh… yang keraaaas… maaaas… aaaghhhh… aaaaggghhh….
    aagghhhh… aaagggggghhhhh…. aaaggghhhh… ” Aida sepertinya begitu menikmati permainan seks dari suamiku, dia begitu senang terdengar dari mulutnya diapun mendesah di sela senyumannya.

    Aida terus mendesah “OOouuuggghhhh…. aaaaggghhhh… aaaggghh.. niiikmaaaat sayaaaang… aaaggghh.. yaaaccchhh.. terussssss… aaaagggghhh..” Merekapun saling pagut dan saling berciuman sambil terus bergerak, saat Aida membalikan tubuhnya dan berganti dia yang berada di posisi atas. Saat itu juga aku mampu mengeraskan tangisanku meskipun masih dalam keadaan duduk di lantai. Ceritamaya

    Karena kakiku sepertinya tidak ada kekuatan untuk berdiri lagi “OOouuuggghhh…. aaggggghhh… mbaaak…. ” Aida melihat ke arahku, saat itu juga suamiku mas Alan juga melihat ke arahku. Mereka tertahan sejenak sebelum akhirnya sama-sama bangun lalu mengambil pakaian mereka masing-masing sedangkan aku benci pada kakiku yang tidak bisa berdiri juga.

    Hingga mas Alan mendekatiku dan berkata “Ayo kita pulang…” Dia berusaha menarik tanganku, saat itu juga aku memiliki kekuatan untuk berteriak sekeras-kerasnya hingga banyak orang yang menghampiri rumah kontrakan Aida, sebelum aku mampu berdiri aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Ketika terbangun aku sadar kalau aku sudah berada di dalam ruangan rumah sakit.

  • Keponakanku Jadi Pelampiasan Hasrat Birahiku

    Keponakanku Jadi Pelampiasan Hasrat Birahiku


    74 views

    Ceritamaya | Menjadi istri yang setia merupakan cita-cita kebanyakan wanita, termasuk diriku. Sinta namaku, umurku 37 tahun. Aku sudah menikah selama 15 tahun dan sudah dikarunia 2 orang anak laki-laki yang berumur 13 dan 10 tahun.
    Mas Andri adalah suamiku, umurnya lebih tua 5 tahun dari aku. Dia berkerja di sebuah instansi pemerintahan dan memiliki kedudukan yang cukup bagus sehingga kehidupan ekonomi keluargaku lebih dari cukup.
    Awalnya kehidupan ranjang kami baik-baik saja. Mas Andri selalu bisa memuaskanku, begitu juga dengan aku yang selalu memberikan pelayanan yang terbaik untuk suamiku. Namun perlahan-lahan Mas Andri berubah. Sikapnya sekarang seperti malas kalau berhubungan denganku. Dulu sebelum melakukan hubungan intim biasanya Mas Andri suka merayuku dengan hal-hal yang romantis tapi sekarang langsung masukin aja bahkan tanpa pemanasan. Tak jarang juga hubungan intim aku dengan Mas Andri tidak lebih dari 5 menit. Hampir dua tahun terakhir aku tidak pernah mencapai orgasme kalau ditidurin Mas Andri.
    Kadang aku suka bertanya-tanya, apakah Mas Andri punya wanita lain selain aku sehingga sudah tidak bergairah lagi dengan aku? Atau apakah aku ini sudah tidak cantik lagi di mata Mas Andri? Padahal menurut ibu-ibu komplek aku termasuk ibu yang ‘segar’ karena rajin merawat tubuhku. Kadang sehabis mandi aku suka berkaca sendiri sambil telanjang. Kuperhatikan bagian tubuhku satu persatu. Memang wajahku sekarang mulai ada kerutan-kerutan namun aku rasa dengan rambut panjang lurus dan hidungku yang mancung aku masih cantik. Tubuhku memang sudah tidak langsing lagi seperti muda dulu tapi aku rasa tubuhku masih kencang dan menarik tidak seperti ibu-ibu komplek teman arisanku yang sudah banyak lemak yang bergelambir. Payudaraku walau sedikit bergelantung tapi aku rasa masih seksi dengan ukuran sebesar 38B. Apalagi pantatku yang besar montok, aku rasa juga anak muda sekalipun gak banyak yang pantatnya semontok aku. Memang kehidupan ranjangku akhir-akhir ini menyiksaku, namun sebisa mungkin aku menjaga kesetiaanku terhadap Mas Andri sama halnya seperti aku menjaga keperawananku dulu.
    Awalnya aku menerima saja keadaan ini, namun saat aku berkenalan dengan dunia maya. Memang baru sebulan ini kami berlanggan internet di rumah kami, itu juga karena anak kami yang paling besar merengek-renget memintanya. Awalnya aku tidak pernah tertarik dengan namanya internet namun karena kejadian itu semuanya berubah. Ceritamaya
    Waktu itu suatu malam ketika aku habis berhubungan intim dengan Mas Andri yang seperti biasanya aku tidak mencapai orgasme. Saat itu aku tidak bisa tidur, Mas Andri dan anak-anak sudah pada tidur semua makanya aku iseng menyalakan computer dan membuka internet. Awalnya aku hanya membuka situs tentang pakaian-pakaian wanita, lalu aku membuka tentang alat-alat kebugaran. Waktu membuka situs tentang alat kebugaran di bagian bawah situs tersebut terdapat iklan tentang ‘sex toys’. Aku pun penasaran dan lalu ku klik link tadi. Awalnya aku terkejut saat kubuka situs itu langsung muncul barang-barang yang bentuknya seperti penis. “mungkinkah alat-alat ini yang dipakai untuk masturbasi?” tanyaku dalam hati. Aku memang tau apa itu masturbasi tapi aku belum pernah mencoba karena aku tidak tahu bagaimana melakukannya.
    Lalu rasa penasaranku semakin besar, kuketikkan kata “cara masturbasi” di google. Lalu muncullah situs-situs yang menjelaskan tentang masturbasi. Kubuka halaman tadi dan kubaca dengan seksama sambil membayangkan mainan berbentuk penis tadi masuk ke memekku. Tanpa kusadari tangan kanan ku sudah masuk ke dalam daster tidurku dan mengelus-elus celana dalam ku. Kurasakan rembesan basah mulai terasa di celana dalamku. Aku pun semakin menikmati dan kumasukan jari ke ke dalam celana dalam dan aku mulai memainkan klitorisku. Semakin cepat dan cepat aku memainkan klitorisku dan khayalanku terbang membayangkan tentang penis, tapi ntah penis siapa, yang pasti penis yang besar yang menghujam-hujam memek ku. Aku pun mencapai orgasme, orgasme yang selama ini terpendam dan tertahan. Terasa nikmat sekali sampai-sampai celana dalamku basah sekali terkena cairan memekku. Setelah selesai orgasme aku pun bisa tertidur pulas.
    Pagi hari aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Hasratku yang terpendam telah tersalurkan meski denga masturbasi. Kini pun aku telah siap memulai hari baru dengan ceria.
    Seperti biasa setelah suamiku pergi kerja dan anak-anak berangkat sekolah tinggallah aku sendiri. Pekerjaan rumah telah menantiku, namun aku dahulukan ke warung Bu Tuti karena kalau terlalu siang suka kehabisan sayuran untuk ku masak. Setelah berdandan alakadarnya aku pun pergi ke warung Bu Tuti. Aku masih mengenakan daster yang tadi malam dan aku juga belum mandi karena biasanya setelah beres semua kerjaan aku baru mandi.
    Aku belanja sayuran untuk kumasak di hari itu. Namun entah kenapa hari itu aku membeli timun padahal aku sendiri tidak tahu mau diapakan timunnya. Mungkin gara-gara saat kupegang timun tadi aku langsung kepikiran yang tadi malam.
    Sesampainya di rumah aku langsung membongkar kantung plastic belanjaan tadi. Timun lah yang aku cari, aku pegang-pegang sambil kunyalakan computer. Aku langsung membuka situs yang tadi malam, namun aku rasakan aku inginkan sesuatu yang lebih. Aku pun mulai mencari-cari dan sampailah pada sebuah situs yang menyajikan pornografi dalam bentuk video.
    Untuk beberapa saat aku memperhatikan video tadi. Adegan yang diperankan oleh orang-orang bule yang cantik mulus dan laki-laki dengan kontol yang gede, yang gedenya hampir sama dengan timun yang kupegang. Adegan itu dimulai dengan salaing ciuman dengan permainan lidah. Jantungku mulai berdetak tak beraturan, terasa panas mengalir. Aku pun mulai merasakan rangsangan birahi yang menggebu.
    Adegan dilanjutkan dengan hisapan kontol sang lelaki oleh sang wanita. Adegan yang baru bagiku karena selama ini aku belum pernah mencobanya dan Mas Andri pun belum pernah memintanya. Tanpa disadari aku pun mulai mulai menjilat-jilat timun yang kugenggam tadi dan tangan kiriku meraba-raba memekku yang sudah basah.
    Adegan pun berlanjut, begitu juga dengan timunku. Timunku perlahan-lahan sampai ke memek ku, dengan perlahan-lahan aku masukan. Rasa yang sangat aku rindukan. Otot-otot dinding memekku terasa terpenuhi dengan timun yang berukuran cukup lumayan besar. Sungguh aku merindukan kontol yang besar dan tahan lama. Dan tak lama berselang aku pun mencapai orgasme yang hebat.
    Sudah sebulan lebih aku memuaskan hasratku dengan masturbasi di depan computer. Hampir setiap pagi ketika suami dan anak-anak sudah berangkat aku pasti melakukannya. Mulai dengan melihat adegan bokep barat, india, Indonesia, negro sampai dengan membaca cerita-cerita panas. Mulai dari dengan jari tangan, timun atau pun terong aku memuaskan birahiku. Namun tetap saja aku merindukan kontol asli yang bisa memuaskanku. Bukan seperti kontol Mas Andri yang kencil dan kendur meskipun sudah ereksi, yang hanya bertahan 3 menit. Tapi kontol laki-laki sejati yang bisa memuaskan hasrat birahiku.
    Aku menjadi wanita yang terobsesi dengan kontol. Setiap laki-laki yang jumpai aku selalu membayangkan kontolnya sebesar apa. Aku selalu berimajinasi kalau kontol-kontol mereka itu menghujam memekku dengan perkasanya seperti adegan-adegan bokep di internet yang selalu kutonton saat masturbasi. Namun itu hanya dalam hayalanku. Aku tidak ada keberanian untuk merasakan kontol selain kontol suamiku. Atau juga memang tidak ada kesempatan.
    Hingga suatu hari kakak perempuanku menitipkan anaknya Rendi di rumahku. Rendi baru saja lulus kuliah, umurnya 22 tahun. Dia mau mengikuti wawancara kerja di kota ku. Wawancara kerja itu dilakukan beberapa tahap sehingga tidak selesai dalam satu hari makanya kakakku menyuruhnya untuk tinggal di rumahku dan kalau sudah pasti diterima baru mencari tempat kost.
    Hari itu seperti hari senin yang biasa. Jam 7 pagi seperti biasanya anak dan suamiku sudah berangkat dari rumah. Aku pun mulai menyalakan computer untuk ritual masturbasi yang sudah menjadi rutinitas akhir-akhir ini. Namun ketika aku mau membuka internet aku teringat sepupuku Rendi yang baru datang subuh tadi dengan kereta malam. Aku pun hendak mengurungkan niatku untuk masturbasi takut nanti ketahuan Rendi.
    Namun birahiku nampaknya sedang bergelora pagi ini. Aku nekat untuk tetap melakukan masturbasi. Aku berpikiran kalau Rendi akan tertidur pulas karena kelelahan setelah perjalanan panjang. Aku pun segera naik ke lantai 2, kamar tamu yang kami siapkan untuk Rendi. Aku hendak mengecek dia, apakah masih tertidur atau sudah terbangun.

    Baca Juga : Seks Yang Nikmat Bersama Istri Keponakanku

    Kalau masih tertidur maka bebaslah aku bermasturbasi.
    Aku dapati pintu kamar ruang tamu itu sedikit terbuka, kunci kamar itu memang sudah lama rusak sehingga pintunya tidak dapat tertutup rapat. Dari celah pintu itu aku lihat Rendi masih tidur terlentang. Aku pun lalu melangkah untuk kembali ke ruang tamu yang terdapat computer. Namun baru 2 langkah aku kembali ke pintu tadi. Aku memperhatikan pemandangan yang tadi sempat terlewat. Aku memperhatikan tonjolan di celana boxer yang Rendi kenakan saat tidur terlentang. Sungguh besar tonjolan kontol di celana boxer Rendi itu.
    Khayalan nakalku pun mulai melayang seiring tingginya birahiku pagi itu. Aku membayangkan seberapa besar kontol yang ada di dalam celana Rendi tersebut. Ah tidak, dia kan keponakaku. Aku mencoba berpikiran rasional. Aku mencoba menepikan khayalan nakal di otak ku. Namun semua itu sia-sia, tanpa sadar tangan kananku sudah masuk ke dalam dasterku. Tanganku sudah mengelus-elus memek yang masih terbungkus celana dalam.
    Ah, persetan dengan keponakan. Nafsu birahi telah menguasaiku. Aku pun mulai membuka celana dalam merah yang aku kenakan. Tanganku kian gencar memainkan memek ku yang sudah basah. Aku membayangkan besarnya kontol Rendi yang masih tertidur. Belum ereksi aja sudah menonjol besar seperti itu apalagi kalau sudah ngaceng. Ah.. pasti nikmat rasanya jika kontol Rendi yang sepertinya besar itu menghujam di memek ku. Dengan posisi duduk di kursi di depan pintu aku terus mengocok memek ku dengan jari-jari ku dan tak lama berselang aku pun mencapai orgasme yang sungguh nikmat.
    Setelah selesai ritual masturbasi yang tidak sesuai rencana itu aku melanjutkan pekerjaan rumah yang telah menjadi rutinitasku. Sepanjang melakukan pekerjaanku itu pikiranku terus terbayang kontol Rendi yang baru aku lihat sebatas tonjolan. Aku terus memperkirakan seberapa besarnya, seberapa panjangnya, kencangnya seperti apa, tahan seberapa lama. Ah, semakin lama semakin penasaran aku akan kontolnya Rendi. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Rendi yang terakhir kali bertemu masih bocah ingusan sekarang telah membangkitkan birahiku.
    Setelah selesai dengan pekerjaanku aku langsung mandi. Aku dapati juga Rendi telah selesai mandi dan sedang bersiap-siap untuk wawancara kerjanya pukul 10 nanti. Entah mengapa pagi itu aku ingin terlihat cantik di mata Rendi. Aku pun berdandan, padahal biasanya aku ga pernah pakai kosmetik jika tidak mau berpergian. Aku menggunakan celana legging agar pantatku bisa terlihat menonjol dan terlihat cetakan celana dalamnya. Lalu aku mengenakan baju kaos yang ketat dan bra yang kekecilan yang sudah lama tak ku kenakan agar toketnya terlihat menyembul dan terlihat belahannya. Entah kenapa aku seperti anak ABG yang ingin mencari perhatian laki-laki.
    Setelah selesai berdandan aku pun keluar kamar. Jam dinding menunjukan pukul 9 kurang 5 menit. Kudapati Rendi sedang berbenah dengan tasnya, mungkin sedang memeriksa bawaan untuk persiapan wawancarnya.

    “Udah siap Ren?” Tanyaku memulai pembicaraan.
    Aku berjalan berlenggak-lenggok layaknya pragawati yang memamerkan bokong menghampiri Rendi.
    “Eh, tante.. Doain aja ya biar bisa diterima.” Jawabnya.
    “Ya iya lah tante doa in, nanti kalau sudah diterima tinggalnya di sini aja ya Ren..” Entah kenapa ucapan itu tiba-tiba terlontar dariku. Padahal dari rencana awal juga Rendi akan ngekost kalau sudah diterima.

    “Ah, ntar ngerepotin tante.. Rendi lebih baik nge-kost aja..”
    “Gapapa ko Ren, kaya ma siapa aja..” Aku menyilangkan kakiku berharap Rendi melihat bokongku yang tercetak di celana legging. “Oh ya, emang wawancara kerjanya sampai kapan Ren..?” lanjutku lagi.

    “Sampai hari kamis tante, tapi Rendi baru pulangnya hari sabtu, hari jumat nya Rendi mau jalan-jalan dulu.. boleh kan tante?” Jawabnya seperti biasa tak ada reaksi yang berlebih dari Rendi setelah kupamerkan bokongku.

    “Ah gapapa ko’ Ren, lebih lama lagi juga gapapa ko”
    Ingin rasanya aku bertelanjang ria di depan Rendi dan mendekapnya. Ah.. tapi aku masih belum cukup gila. Tak lama kemudian Rendi pun berangkat untuk wawancara kerjanya. Seharian itu pikiranku terus menjurus ke kontol Rendi yang menjadikan rasa penasaranku cukup tinggi.
    Esok harinya rutinitas yang biasa pun berlalu, jam 7 pagi suami dan anak-anak ku sudah pada berangkat. Kali ini Rendi sudah bangun dari pagi otomatis acara masturbasi ku pun terhambat. Selama ini aku masturbasi selalu dengan rangsangan melihat bokep di internet yang komputernya ada di ruang tamu. Aku tidak terbiasa masturbasi dengan imajinasiku tanpa rangsangan secara visual. Dan rasanya tidak mungkin juga masturbasi dengan mengintip Rendi seperti kemarin, Rendi sekarang sudah terbangun, kalau ketahuan bisa berabe.
    Ah, tapi bisa aja kan minta langsung Rendi untuk memperlihatkan kontolnya. Pikiran gila terbesit di otakku. Ah, gila kali nanti kalau Rendi lapor ke kakak ku, trus nanti suami ku bisa tahu juga. Tapi kalau Rendi nya ikut terangsang dia pasti tidak akan ngelaporin terus aku juga bukan hanya bisa melihat kontol Rendi tapi bisa juga ngerasain memek ku di hujamnya dengan kontolnya yang gede. Aaaahhh.. pasti nikmat pikirku. Tapi apa aku bisa membuat Rendi terangsang. Ayo Sinta, kamu pasti bisa ! Aku benar-benar sudah kehilangan kewarasan. Nafsu sex menguasai diriku dan aku pun benar-benar melaksanakan rencana gilaku itu.
    Tidak seperti biasanya pagi itu aku mandi lebih awal, pekerjaan rumah yang biasa kukerjakan aku abaikan dahulu. Setelah mandi aku pun berdandan agar terlihat cantik. Setelah kupilah-pilih aku pun memutuskan daster tipis warna pink untuk kukenakan. Aku putuskan tidak menggunakan bra dan celana dalam agar Rendi bisa melihat cetakan putingku dan akan kupertontonkan memek serta bokong ku secara langsung. Pokoknya Rendi harus terangsang melihatku.
    Setelah selesai berdandan aku pun langsung mencari sosok keponakanku itu, dan kutemui dia di ruang tamu sedang membaca koran.
    “Pagi Ren… mau pergi jam berapa hari ini?”
    “Biasa tante jam 9… memang ada apa tante?” Kali ini Rendi mulai mengamati tubuhku.
    “Ah gapapa ko’.. Bisa minta tolong ga angkatin jemuran ke atas..”
    “Iya tante bisa, mana jemurannya?”
    Setelah menunjukan jemurannya Rendi pun mengangkatkannya. Aku sengaja jalan terlebih dahulu dengan harapan saat di tangga Rendi bisa melihat bokongku yang tidak terbungkus celana dalam secara langsung. Dan memang seperti yang aku perkirakan, saat di tangga Rendi melihat bokongku meski dengan curi-curi. ketika sudah sampai atas kulihat besarnya tonjolan di celana Rendi yang menandakan sudah ereksi.

    “Loh, sudah bangun lagi Ren?” tanyaku ketika sampai di atas.
    “Maksud tante? “ Rendi nampak bingung.
    “Itu dede yang di celana nya?” Mata ku tertuju ke tonjolan di celana Rendi.
    “Eh, ah.. eh..” Rendi tampak salah tingkah dan tak dapat menjawab.
    “Rendi terangsang ya lihat tante?” tanyaku lagi.
    Rendi tampak masih salah tingkah dan tidak menjawab pertanyaanku.
    “Boleh ga tante lihat dedenya Rendi?” Aku pun mulai membuka gesper dan kancing celana Rendi.
    “Ja.. ja.. jangan tante..” kata Rendi.
    Namun tak kulihat penolakan Rendi terhadap apa yang aku lakukan. Aku pun terus membuka celana Rendi. Kudapati kontol yang besar yang sudah ereksi kencang. Besarnya hampir sama dengan dengan kontol-kontol bule yang aku lihat di film bokep, namun punya Rendi lebih pendek sedikit.
    Aku pun langsung melahap kontol Rendi yang besar ke dalam mulutku. Mulutku penuh sesak dengan kontol Rendi dan rasanya mulutku tidak bisa menampung panjangnya kontol Rendi. Rendi terlihat menikmati permainan mulutku di kontolnya, begitu juga aku. Birahiku langsung menggebu-gebu, kontol yang selama ini kudambakan dan kuhayalkan sekarang bisa kurasakan di mulutku dan aku pun tak sabar untuk menerima sodokan kontol Rendi yang besar ini.
    Aku pun menudahi permainan mulutku, kini aku tarik Rendi ke kamar tamu yang tepat di sebelahku.
    “Jangan ah tante, nanti Om Andri tahu..”
    “Ayo lah, kalau Rendi ga bilang pasti ga akan tahu..” Jawabku sambil menarik tangan Rendi ke kamar.
    Rendi pun menuruti ajakan ku. Ku dudukan Rendi di ranjang dan aku pun langsung membuka dasterku yang membuatku menjadi telanjang bulat. Rendi nampak terbelalak melihat tubuh bugilku terpampang di depannya. Lalu aku lucuti satu per satu pakaian Rendi hingga sama telanjangnya denganku. Dadanya yang berbidang membuatku tak tahan. Berbeda sekali dengan perut Mas Andri yang buncit dan dadanya yang kendur.
    Aku langsung naik ke atas Rendi. Kuciumi mulut Rendi dengan penuh nafsu. Kugesek-gesekan kontolnya yang tegang ke bibir memek ku yang sudah membasah. Dan.. clepp.. terasa sensasi luar biasa waktu pertama kontol Rendi masuk ke memek ku. Terasa terganjal nikmat memeku. Lalu aku pun mulai bergoyang, berbeda sekali dengan waktu dengan Mas Andri. Biasanya aku harus bersusah payah menggoyang agar kontol Mas Andri mengenai titik sensitifku, namun dengan kontol Rendi yang besar hanya dengan sedikit goyang titik sensitifku sudah terasa nikmat. Dan hanya dengan sekitar tiga menit aku pun mencapai oragasme yang luar biasa.
    “Aaahhh……. Kamu di atas ya sayang…” aku minta untuk bertukar posisi, dan tak lama kemudian Rendi sudah menindihku dengan kontol yang tertancap di memek ku.
    “Tante haus Ren, puasin tante.. puasin tante sayang…”
    Mulutku mulai meracau tak karuan. Aku terbawa melayang birahiku yang mengebu dengan diiringi kocokan kontol Rendi yang perkasa. Aku berada di puncak kenikmatan birahi yang selama ini tak bisa aku dapatkan dari suamiku Mas Andri. Tubuhku terasa panas, keringat bercucuran dari tubuhku.
    Tak aku bayangkan dia keponakan dari kakak kandungku sendiri yang masih punya pertalian darah. Aku hanya menganggap dia lelaki perkasa yang bisa menyirami birahiku dan dahagaku. Ceritamaya
    “Terus sayang… terus… aaaahhhhh…”
    Aku pun mencapai orgasme yang kedua. Orgasme yang yang beruntun dengan posisi Rendi yang masih sama. Baru kali ini aku merasakan multi orgasme, oragasme yang begitu dasyat yang menjadikan tubuhku berkejang hebat. Sungguh perkasa sekali keponakan ku ini.
    Sudah hampir satu jam memek ku dihujam kontol Rendi yang perkasa. Sudah 6 atau 7 kali aku mencapai orgasme, ah untuk apa aku menghitung. Aku hanya menikmati…
    Nampaknya sekarang juga Rendi mau keluar, kocokannya terasa semakin cepat tidak beraturan. Kontolnya kurasa lebih menegang di memek ku. Beberapa saat kemudian terasa cairan hangat menyemprot di memek ku. Dan aku pun mencapai orgasme untuk entah yang keberapa kali. Kurasakan banyak sekali cairan sperma yang keluar dari kontolnya Rendi sampai meluap keluar dari memek ku. Lalu setelah kontolnya dicabut dari memek ku aku pun langsung menjilati kontol Rendi, membersihkan cairan sperma yang menempel di kontolnya sampai bersih. Aku menjilati sampai kontol Rendi tak tegang lagi. Bahkan walaupun sudah loyo kalau aku perhatikan masih lebih besar dibandingkan dengan kontol Mas Andri yang ngaceng. Sungguh perkasa keponakanku ini.
    Setelah satu jam lebih kami bergulat Rendi pun pergi untuk wawancara kerjanya. Hari itu aku rasa lemas sekali dan aku pun mengerjakan pekerjaan rumahku dengan malas. Aku sangat menikmati dan puas dengan pelayanan Rendi. Nampaknya Rendi pun demikian. Terbukti dengan terus diulanginya setiap pagi sebelum Rendi berangkat wawancara kerja.
    Akhirnya Rendi pun diterima kerja. Aku sudah menawarinya untuk tinggal bersama, aku masih ingin dipuaskan oleh sepupuku Rendi namun ia menolaknya dengan alasan tak enak saat bertemu Om Andri. Rendi pun mengekost tak jauh dari rumah kami dan kami pun masih suka mencuri-curi waktu untuk saling memuaskan birahi.
    Di satu sisi aku merasa berdosa terhadap Mas Andri, aku merasa hina dengan menggadaikan kesetiaanku sebagai seorang istri. Tapi si sisi lain aku hanya seorang wanita biasa yang ingin terpenuhi kebutuhan bathinku.

  • Wayang Hot: Perselingkuhan Abadi Banowati dan Arjuna

    Wayang Hot: Perselingkuhan Abadi Banowati dan Arjuna


    63 views

    Ceritamaya | Mata Arjuna menerawang jauh, seperti menembus gulungan awan. Dari sebuah pesanggrahan yang nyaman dan indah di hutan Pramanakoti, di pinggir Sungai Gangga, di atas bukit yang ia tempati saat itu memang bisa memandang ke segala arah, termasuk awan yang bergerombol seperti bulu-bulu domba yang berwarna putih bersih. Dewi Banowati yang ditunggunya belum nampak muncul. Dewi Banowati adalah putri dari Prabu Salya, raja di Mandraka.
    Banowati adalah seorang putrinya yang sangat cantik, bukan karena berhiaskan mutu manikam melainkan karena kecantikan yang sebenar-benarnya. Tingkah laku putri ini serba halus dan pantas. Pada mulanya Banowati jatuh cinta pada Arjuna, namun akhirnya ia menikah dengan Prabu Duryodana dan menjadi permaisuri di Hastinapura. Tetapi hatinya masih berat kepada Arjuna, yang secara sembunyi selalu mengunjungi.  Hari itu Arjuna mengunjungi pesanggrahan di hutan Pramanakoti, namun tempat itu seperti ditinggalkan penghuninya. Arjuna menunggu Tanpa sadari, Banowati mendekati Arjuna.
    “Adimas Arjuna!”
    Arjuna kaget sekali tapi masih tetap tenang seolah itu hal biasa, lumrah saja.
    “Ya?,” bisik Arjuna.
    Banowati membahasakan dirinya sebagai “mbakyu” atau kakak sejak pernikahannya dengan Duryodana, putra tertua para Kurawa yang satusnya lebih tua dari Pandawa.
    “Adimas Arjuna, jika Raden menghendaki, mbakyumu Banowati ini bisa memberikan segalanya malam ini. Kau tak usah sungkan.”
    “Sudah kutunggu,” bisik Arjuna lagi.
    Setelah menerima izin, Banowati mendekati Arjuna. Berdebar-debar hati Arjuna selagi makhluk paling cantik yang pernah dia lihat ini mendekati dirinya. Arjuna bersandar selagi Banowati makin dekat. Banowati kini berada sangat dekat dengan Arjuna, dan meraih tangannya. Tangan itu dipandunya menyentuh dadanya. Arjuna menanggapi dengan meremas-remas buah dada Banowati di balik pakaiannya, lalu menyelipkan tangan ke balik pakaian tipis Banowati untuk menyentuh langsung kulit Banowati. Arjuna bukan orang yang tak berpengalaman, dia juga mulai mengulum-ngulum telinga Banowati sambil membisikkan kata-kata mesra. Banowati membalas dengan mulai mendesah manja. Kemudian Arjuna menyibak pakaian Banowati dan mengeluarkan satu payudara sang permaisuri. Dia memain-mainkan pentil Banowati yang mengeras. Selanjutnya dia menyibak kembali sisi lain pakaian Banowati, menyingkap payudara sebelahnya, sambil berpindah ke belakang Banowati. Dari belakang, Arjuna meremas-remas kedua payudara Banowati sambil menggerumiti pundak sang permaisuri. Karena tubuh atasnya sudah setengah telanjang, tampaklah di seputar bahu dan dada Banowati batas antara lapisan bedak putih yang menutupi wajah dan lehernya dengan kulit tubuhnya yang berwarna lebih gelap. Banowati terengah, mendesah, menengok dan berusaha menempelkan wajahnya ke wajah Arjuna yang terus menggarap pundak dan lehernya. Ceritamaya

    Puas menggerayangi payudara Banowati, kedua tangan Arjuna meraih ke bawah dan menemukan simpul pengikat Banowati. Tanpa membuang waktu dibukanya simpul itu dan dilepasnya segera sabuk yang mengikat pakaian sang permaisuri. Setelah membantu membebaskan tubuh indah Banowati dari belitan sabuk dan pakaian, Arjuna tak segan-segan menggerayangi seluruh tubuh itu, hanya menghindari rambut dan wajah Banowati agar tak merusak dandanan rumit sang permaisuri. Selagi Arjuna mengelus pinggang dan pinggul Banowati, dinikmatinya erangan lembut dewi itu.
    Banowati tiba-tiba menggenggam kedua tangan Arjuna dan menjauhkan keduanya dari tubuhnya. Dia menoleh, tersenyum nakal, lalu beringsut maju sehingga tubuhnya menjauh dari Arjuna. Kemudian dia berbalik dan melepas pakaian tidur Arjuna, sehingga kini mereka berdua sama-sama nyaris telanjang. Diperhatikannya tubuh Arjuna yang bagus, sungguh tubuh seorang petarung yang tak kenal takut. Ditelusurinya beberapa bekas luka Arjuna dengan jemarinya yang halus, mulai dari leher, bahu, dada, perut, terus ke bawah…dan sampai pula tangan Banowati ke jendulan di balik cawat Arjuna. Banowati tersenyum, dan membuka cawat itu, mengeluarkan kejantanan Arjuna. Disentuhnya batang dan biji Arjuna, selagi wajahnya mendekat.
    “Akan aku tunjukkan keahlian mbakyumu ini,” kata Banowati, lalu dijilatnya ujung batang Arjuna.
    Setelah beberapa kali jilat, Banowati membuka mulut dan menyepong kejantanan sang kesatria. Sungguh erotis, pikir Arjuna ketika melihat bibir merah Banowati membelai batangnya dan wajah putih sang permaisuri maju-mundur di selangkangannya. Arjuna menikmati permainan bibir, lidah, gigi dan juga jemari Banowati, dan dia bertanya-tanya apakah keahlian ini yang membuat Banowati menjadi permaisuri? Rangsangan Banowati sungguh ampuh, dan cepat sekali mendorong Arjuna ke batas kemampuannya. Tanpa dapat menahan, Arjuna tiba-tiba memuncratkan benihnya dalam mulut Banowati. Sang permaisuri itu ternyata tak melepas kulumannya, dia menghisap seluruh mani yang dikeluarkan Arjuna. Setelah selesai, dengan lembut Banowati mengeluarkan kejantanan Arjuna dari mulutnya dan menyeka tetesan mani di sudut bibirnya. Banowati melihat kejantanan Arjuna mulai lemas, namun dia siap membuatnya tegak kembali.
    “Dimas Arjuna,” rayu Banowati selagi kembali merapat ke tubuh Arjuna, “inilah leher, dada, dan perut mbakyumu. Silakan kau sentuh sekehendakmu. Silakan jilat dan gigit dan remas…”
    Arjuna tak perlu menunggu lama menghujani tubuh Banowati dengan ciuman dan gigitan. Digenggamnya tubuh Banowati, lalu sang permaisuri itu pun didorong dengan lembut sehingga terbaring di futon, sementara Arjuna sendiri berubah posisi di atas tubuh wanita penghibur kelas tinggi itu. Arjuna terus meraba, menggerayangi, meremas, menggigit-gigit. Dilihatnya puting Banowati mengeras setelah dia jilati. Disaksikannya Banowati menggeliat dan merintih selagi dia mencupang leher dan dadanya. Mata Banowati terpejam dan bibir merah Banowati setengah terbuka, mengeluarkan suara-suara kenikmatan.
    “Bagaimana, mbakyu Banowati?” tanya Arjuna.
    “Sungguh nikmat, Raden …” kata Banowati sambil mendesah, dan menggerakkan pinggulnya ke atas sehingga bibir luar kemaluannya menyentuh selangkangan Arjuna.

    Pada waktu yang sama, tangan kiri Banowati juga bergerilya ke sana, menggenggam dan mengocok kejantanan Arjuna supaya tegak kembali. Tangan kanannya meraih belakang leher Arjuna, mendekatkan tubuh Arjuna. Dia berbisik kepada Arjuna,
    “Oh… Raden kau sungguh perkasa Raden … mohon jamahlah tubuh mbakyumu ini…”
    Banowati membawa tangan pasangannya ke gerbang kewanitaannya. Arjuna bisa merasakan kehangatan kewanitaan Banowati, serta cairan yang membasahi tempat itu. Tangan Banowati membimbing tangan Arjuna meraup cairan itu, lalu menggerakkannya ke arah muka mereka berdua. Arjuna dalam posisi berhadap-hadapan dengan Banowati, dan jemari mereka berdua yang basah berada di antara muka keduanya.
    “Apakah adimas ingin merasakannya?” tanya Banowati.
    Arjuna tak menjawab tapi dia menjilat cairan kewanitaan Banowati yang berlumuran dari jemari mereka berdua, sementara Banowati ikut melakukan hal yang sama.
    “Manisnya,” gumam Arjuna.
    Banowati tersenyum, pelan-pelan mendorong Arjuna menjauh, lalu menggeser tubuhnya sehingga kini sepenuhnya berada di atas pembaringan. Dia duduk, menarik sepasang kakinya yang indah mendekat ke tubuhnya, lalu mengangkat tinggi-tinggi keduanya, sampai memperlihatkan bagian bawah pantatnya kepada Arjuna. Pelan-pelan Banowati meregangkan kedua pahanya, kaki kanan dan kirinya bergerak saling menjauh melintasi lengkungan di udara sampai akhirnya dia berposisi mengangkang, kedua tungkainya membentuk sudut tumpul yang membuka ke atas, kewanitaannya yang tercukur bersih tersaji menantang di tengah-tengah sudut itu. Tangan kiri Banowati meraih celah kewanitaannya, jemarinya membuka bibir bawahnya pelan-pelan sambil memain-mainkan kelentitnya. Caranya memain-mainkan kemaluannya sendiri hanya membuat dia makin basah, sehingga cairan kewanitaannya mengalir turun sampai melewati lubang duburnya dan membasahi sarung futon yang dia duduki. Banowati menjilat bibirnya sendiri selagi sepasang matanya yang lapar menatap Arjuna. Arjuna menelan ludah sambil menonton pertunjukan cabul itu.
    “Maukah Raden?” undang Banowati. “Mbakyumu akan membawa kau ke puncak tertinggi…”
    Sambil menyeringai lebar, dengan terburu-buru Arjuna langsung menerkam Banowati, saking tak sabarnya dia untuk merasakan perempuan itu setelah digoda sejak kedatangan si Banowati. Banowati menggerakkan kakinya ke depan seolah hendak menyambut kedatangan Arjuna. Kedua kaki Banowati merangkul dan menarik tubuh Arjuna sementara tangannya menyambut kejantanan Arjuna. Arjuna masuk dengan mudah, gerbang yang sudah becek itu terasa gampang dimasuki namun setelah di dalam, amat sempit dan kesat. Sambil bergerak maju-mundur menyenggamai Banowati, berganti-ganti antara cepat dan lambat, Arjuna terheran-heran dengan betapa peretnya liang kewanitaan Banowati. Tapi si permaisuri ini, rasanya seolah dia sedang bersenggama dengan perawan saja. Agaknya kuatnya jepitan Banowati termasuk satu hal yang melambungkan statusnya di mata Duryodana.

    “Ahn… ahhh… ohh… Arjuna…- Raden … ungggh…”
    Arjuna melihat ekspresi wajah Banowati yang seputih salju itu berganti-ganti, antara sakit dan nikmat. Dirasakannya kaki Banowati yang mengunci tubuhnya mendorong tubuhnya lebih dekat, seolah tak ingin melepasnya.
    “Ehhh… enak sekali… ayolah Raden …” senyum Banowati terkembang sementara matanya terpejam, kata-katanya terlontar seolah tanpa dia pikirkan dulu. Arjuna hampir kehilangan akal merasakan bagaimana bagian dalam kewanitaan Banowati memijat-mijat dan merapat-merenggang secara bergantian di seputar kejantanannya, seolah-olah memijat batangnya. Belum pernah dia rasakan perempuan yang bisa melakukan itu. Apakah itu salah satu rahasia putra putri keraton prabu Salya? Arjuna memikirkan itu sambil mengulum telinga kanan Banowati, serta membenamkan hidungnya ke gelung rambut Banowati yang wangi. Banowati berubah posisi, kedua kakinya pindah dari punggung Arjuna, sekarang kedua betisnya dia sandarkan ke bahu Arjuna. Arjuna menarik mundur batangnya sampai hampir keluar, lalu mendesak sedalam mungkin. Dia mengulangi gerakan itu beberapa kali, dan setiap kali mendesak, Banowati menjerit lirih tanpa tertahan. Pinggul Banowati terus bergoyang mengimbangi gerakan Arjuna, kedua tangannya sekarang ada di samping kepala dan menggenggam seprei tempat tidur, sementara sepasang payudaranya berguncang-guncang mengikuti gerak Arjuna. Arjuna memang perkasa, sudah cukup lama persetubuhan mereka tapi dia tampak bisa bertahan. Sementara Banowati tampak sudah tak peduli lagi kalau di luar sana mungkin ada orang, dan mulai bersuara lebih keras seolah-olah ingin didengar semua orang di situ. Reaksinya makin liar, dia mulai menyentakkan kepala ke kanan-kiri sambil meremas-remas payudaranya sendiri. Teriakan-teriakannya yang penuh nafsu menerobos dinding kayu ruangan itu, didengar sayup-sayup oleh penjaga kamar Banowati yang jauh berada di luar pintu gerbang, ia terbengong-bengong membayangkan keelokan sang permaisuri. Keringat membasahi sekujur tubuh Banowati dan Arjuna selagi keduanya bertempur sengit demi kenikmatan. Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditakdirkan dalam cinta yang berbuncah dalam nafsu yang syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara.

    Arjuna membalik tubuh mereka, membuat tubuh Banowati berada di atas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak di atas batang yang mengacung keras di dalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Arjuna dengan lembut.
    “Sayaaang,,, kalau terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”
    Banowati tertawa. “Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”
    “Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani diriku,,,”
    Kalau Raden dapat terus mengeras di dalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihik,,,” Banowati tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung di depan mata Arjuna.
    “hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram di dalam dirimu,,,”
    Banowati menjatuhkan tubuhnya ke dada Arjuna. Menatap lekat mata si pejantan lananging jagad. Mereka kelelahan setelah memborong kenikmatan di atas ranjang. Banowati merebahkan kepala di dada telanjang Arjuna. Telinganya masih mendengar sisa-sisa gemuruh nafsu yang dilontarkan oleh jantung Arjuna.
    “Raden, bercinta denganmu aku sangat bahagia.”
    “Dengan Duryodana, bagaimana?”
    “Tak seindah ini.”
    “Anggap saja sebagai bonus, sayang.”
    Mereka tertawa bersama. Lalu, diam. Entah siapa yang memulai. Hening sejenak, sebelum Arjuna angkat bicara.
    “Kenapa diam?”
    “Tiba-tiba aku menyesali dosa-dosa yang menyertai cinta kita ini, Adimas. Kenapa aku mengkhianati suami sebaik Duryodana, sih? Bahkan sampai bertahun-tahun seperti ini. Kamu juga menyesal, Raden?”
    “Entahlah. Dosa-dosa yang sangat menyegarkan. Betapa nggak bermutunya cinta kita ya?”
    “Hhh… nggak bermutu bagaimana, Raden? Bukankah hubungan cinta ini kita sebut sebagai cinta suci kita? Apa hanya karena didasarkan sekedar demi bonus kenikmatan, kah?”
    “Embuh lah. Mau dibawa ke mana hubungan kita?”
    Mereka segera berkemas dan kembali ke Hastinapura.

    #####################
    Banowati, siapa pun tahu, ia adalah permaisuri Prabu Duryodana raja Hastinapura. Kemolekannya terkenal seantero negeri. Duryodana sangat membanggakan permaisurinya itu. Namun, apakah Duryodana tidak mengetahui hubungan spesial antara istrinya itu dengan Arjuna yang sudah berlangsung selama separoh usia perkawinan mereka? Bukan tidak tahu. Pejabat maupun koleganya di Hastinapura beberapa kali melaporkan mengenai hubungan Banowati-Arjuna, ia selalu menepisnya. Ia terlalu cinta dan sayang kepada Banowati. Dewi Banowati berwatak jujur, penuh belas kasih, jatmika (penuh dengan sopan santun), tetapi agak sedikit genit. Lagi pula, ia merasakan cinta dan kasih Banowati tidak ada perubahan, juga kepada anak-anak mereka. Termasuk urusan di ranjang. Banowati yang pernah melahirkan dua anaknya, Lesmana Mandrakumara dan Lesmanawati itu sangat pandai merawat diri. Jadi, apa yang harus dicurigai dari istrinya itu? Wahai angin yang tak henti berhembus, itulah kelihaian Banowati. Memang sejak kapan sih percintaan Banowati dan Arjuna itu dimulai? Konon, sebelum Banowati direngkuh oleh Duryodana menjadi istrinya, ia dan Arjuna sudah pacaran. Jangan-jangan…. Lesmana Mandrakumara itu bukan anak Duryodana!

    #######################
    Suasana taman itu sejuk, angin mengalir dengan lancar.
    Ada air yang mengucur dari tebing-tebing batu, ada pancuran buatan, bunga-bunga.
    Kicauan burung dan degung lebah yang mencari madu, di tengah hamparan rumput itu, di bawah lindungan pohon sawo kecik, ada sebuah gazebo, dengan bangku-bangku kayu, dilingkari parit buatan, disitulah Arjuna, ksatria Pandawa dan Banowati, Permaisuri Kerajaan Hastinapura duduk bercinta-cintaan.
    “Cinta kita ternyata tidak kampungan ya Raden!”
    “Tentu. Cinta Arjuna adalah cinta dengan sebuah nilai tambah”.
    “Maksud Raden?”
    “Tidak perlu saya jelaskan. Kamu toh bisa merasakannya. Terasa kan?”
    “Betul Raden. Raden lain dengan Gusti Suyudono!”
    “Itulah yang kumaksud dengan nilai tambah! Sudah berapa lamakah kita bercinta-cintaan?”
    “Baru dua jam Raden”.
    “Maksudku sudah berapa tahun?”
    “O, sudah lama. Tepatnya semenjak Lesmana Mandrakumara berada dalam kandungan
    Sekarang Lesmana sudah remaja”.
    “Berarti sudah belasan tahun ya?”
    “Benar Raden. Sudah lama. Tapi mengapa Raden belum merasa bosan?”
    “Kadang-kadang saya merasa bosan. Hidup ini kadang memang membosankan. Tapi di lain waktu
    saya justru merasa mendapatkan kekuatan baru bila menghadapimu”.
    “Tapi Raden, jangan terlalu banyak ngomong, Marilah kita mulai bercumbuan”.
    “Mari!”
    Arjuna dan Banowati lalu bercumbu lalu dilanjutkan dengan hubungan seks di gazebo itu. Mereka main sudah cukup lama bercinta ketika Banowati merasa bahwa Arjuna hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mencapai puncak, Arjuna juga mempercepat gerakannya, menusuk Banowati makin brutal dengan “batang pusaka”-nya selagi jerit rintih sakit campur nikmat sang permaisuri bergema memecah malam. Puncaknya sampai ketika Arjuna muncrat di dalam rahim Banowati, mengosongkan benih yang tersimpan dalam tubuhnya dalam beberapa sempburan sambil melenguh lega. Dan bagaimana dengan Banowati? Banowati menjerit keras dan lama, wajahnya banjir keringat, dan liang kewanitaannya menjepit erat kejantanan Arjuna . Sang permaisuri melakukan sesuatu yang sedari tadi tidak dilakukannya. Dia meraih wajah Arjuna dan mencium bibirnya. Arjuna, yang menahan diri karena dia menganggap Banowati mungkin tak suka kalau dia melakukan sesuatu yang bisa merusak rias wajah sempurna itu, menyambut bibir dan lidah sang permaisuri dengan senang hati.
    “Raden ingin menyirami dalam diriku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan bibitmu?,,,” tanya Banowati, tersenyum menggoda.
    “Seandainya boleh,,,” ucap Arjuna, meremas pantat Banowati dan menekannya ke bawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim si wanita.
    “Ooowwwhhsss,,, ,, Arjunaaa,, apa Raden bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni telurku,, sayaaang?,,,” Banowati mengusap pipi Arjuna, sambil mengulek batang Arjuna yang berusaha menyelusup lebih dalam.
    “Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam garba-ku,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

    Tiba-tiba Arjuna menggeleng, “Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Kurupati?,,,”
    Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.
    “Sayaaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Arjuna, tangannya mendorong tubuh Banowati untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Banowati. “Aku ingin melihatmu mengendarai tubuhku sayang,,,”
    Wanita itu tertawa. “Hahaaha,, aku ngga bisa sayaaang,,, selama bersama kakang  Duryudana kami lebih sering melakukan gaya yang biasa,,, Duryudana tak secerewet kamu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahhh,,,”
    Tiba-tiba Banowati teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Duryudana, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.
    “Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Arjuna dengan gaya keren, melipat kedua tangannya kebawah kepala. “Ok,,, pertunjukan satu nyonya permaisuri,,,” sambungnya, memandang Banowati menunggu wanita itu beraksi.
    “Hahhhh,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”
    Banowati menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Arjuna, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Arjuna hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak ke bawah.
    “Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin rahimnya ketagihan, semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh lorong rahimnya. Kali ini Banowati lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Arjuna yang merem melek menikmati servis dari kelaminnya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.
    “Arjunaku,,, ayo sayaaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Banowati menarik tubuh Arjuna untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Arjuna, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.
    “Ooowwwssshh,,, Arjuna kuu,,, akuuuu hanyaaa ingiin dirimuu,,, Ssshhh,,,”
    “Aku ingin dirimu yang selaaaluuu mengiissiii dirikuuu sayaaang,,,”
    “Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa aku kepuncak sayaaang,,,”
    Menjambak rambut sipejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat, Tubuhnya Banowati melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Arjuna yang begitu cepat menggasak di liangnya yang sempit.
    “Yyang keraas,,, Aaaggghh,,,”
    “lebiiihh dalaaaam,,, Aggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”
    “Radennn pastiii bisaaa membuahi sayaaaang,,,”
    Banowati sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya ini untuk menitipkan benih di rahimnya. Mendengar permohonan Banowati, Arjuna menghentak batangnya dengan kalap.
    “Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Mbakyuu,,,”
    Tiba-tiba Banowati menatap Arjuna garang.
    “Ku mohon sirami diriku Raden,,, izinkan aku pergi membawa buah cinta kita,,, Aaaghhhh,,,”
    Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat di antara decakan alat kawin yang membanjir. Di antara batang yang menghujam dengan ganas. Di antara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

    “Tidaaak Mbakyuu,,, Agggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”
    “Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”
    “lepaaass sayaaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”
    “Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”
    Banowati meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Arjuna memproklamirkan kenikmatan yang didapat. Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Arjuna. Lagi-lagi Arjuna menggelengkan kepala. bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Banowati. Tapi kelamin milik Banowati yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.
    “Aaagghhh Mbakyuu,,,”
    Arjuna meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan. Banowati yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih di rahimnya. Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Arjuna memeluk tubuh Banowati yang membuka lebar pahanya, menapak di kasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Arjuna menjejali pintu rahimnya.
    “Mbakyuu,,, Owwwhhh,,, sayaaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar di kelamin milikmu sayaaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.
    “Terimalaaah Mbakyuu,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaaang,,,” Arjuna terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.
    Aksi Arjuna membuat Banowati kalang kabut, penis Arjuna serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya.
    “Oooowwwhhh,,, Arjuna kuuh,,, akuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Arjuna yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.
    Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi di alat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan kelamin yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.
    “Oooowwwgghhh,, edaann,,, nikmat banget sayaaang,, edaann,,,”
    Banowati terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Arjuna yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.
    “Mbakyu,,, apa kau sadar, dengan yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Arjuna, sambil menciumi wajah cantik Banowati.
    “Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”
    Banowati tersenyum, membiarkan bibir Arjuna bermain-main di wajahnya.
    “Apa Raden bisa menikmati, menuntaskan semua di dalam tubuhku?,,,”
    “Nikmat bangeeet,,, nikmat banget sayang,,, milikmu seperti menghisap habis semua benihku,,,”

    ##########################
    Siang terasa tidak begitu panas, istana memang lagi sepi hanya ada satpam, staf sekretariat, klining servis dan dayang-dayang. Namun sebelum Arjuna datang mereka sudah diusir pergi oleh Gusti Ratu Banowati
    “Mbok! Semua harus menyingkir jauh-jauh, Taman ini harus dikosongkan dan dijaga, jangan sampai ada orang mendekat.
    Aku berniat untuk melakukan semedi. Menyatu dengan Sang Hyang Widi. Mengerti Mbok?”
    “Sendiko Gusti”.
    “Kalau aku belum keluar dari taman ini, Apapun yang terjadi tak ada seorangpun yang boleh masuk kemari. Mengerti Mbok?”
    “Sendiko Gusti”.
    “Supaya aku tidak kehausan ketika selesai semedi, coba kamu siapkan minuman dan nyamikan”.
    “Sendiko Gusti”.
    “Sekarang kamu boleh pergi”.
    “Sendiko Gusti”.
    Taman Istana Hastinapura siang itu sepi dan aman. Banowati mendapatkan beberapa nilai tambah dari Arjuna, jantung hatinya
    “Raden. Sudah ada berapa cupang di leher saya?”
    “Kalau tidak salah enam”.
    “Mengapa tidak tujuh Raden?”
    “Kalau kau maunya tujuh ya nanti kutambah”.
    “Cukup Raden. Aku sudah mendapatkan nilai tambah itu”.
    “Kau hanya bisa merasakannya”.
    “Benar Raden. Aku bisa merasakan betapa menyegarkan dosa ini!”
    “Dosa? Jadi kau menganggap cinta kita ini sebagai sebuah dosa”.
    “Bukan sebagai dosa. Memang dosa Raden”.
    Arjuna terdiam, Banowati memandangi rumputan, rambutnya tergerai dimainkan angin
    mata Banowati berkaca-kaca, tak lama kemudian dia menangis. Arjuna buru-buru memeluknya, Banowati lalu menyandarkan kepalanya ke dada Arjuna setelah tangis Banowati reda Arjuna berkata
    “Tangis adalah bagian dari Cinta”.
    “Bagian dari dosa”.
    “Dosa juga bagian dari kehidupan, Jadi sangat manusiawi”.
    “Aku sedang menyesali dosa-dosa itu Raden. Mengapa aku sudah mengkhianati Gusti Suyudono sampai belasan tahun. Sekedar untuk mendapatkan sebuah nilai tambah. Kurasa itu sangat kampungan Raden”.
    “Aku setuju. Aku mengerti”.
    “Kadang-kadang kita ini memang sangat kampungan. Cobalah bayangkan, Seluruh taman ini dikosongkan. Dijaga Supaya kita bisa puas bercumbuan bahkan berhubungan intim”.
    “Mereka tahunya junjungannya sedang semedi menyatu dengan Hyang Widi”.
    “Itu lebih kampungan lagi”.
    “Betul. Tapi akan lebih kampungan lagi bila kau terus terang pada mereka”.
    “Yang kutakutkan jangan-jangan sebenarnya mereka semua tahu”.
    “Memang mereka tahu. Itu pasti, Tapi mau apa? Anda adalah Permaisuri Kerajaan Hastinapura”.
    “Ya. Betapa mahalnya sebuah nilai tambah”
    “Memang”
    “Bagaimana kalau kita mulai lagi Raden?”
    “Setuju”
    Angin mendesau, matahari tambah bergeser ke arah barat, keringat membasahi wajah dan leher Banowati.

    “Mbakyu Banowati… maafkan.. aku telah…” belum sempat Arjuna menyelesaikan kalimat dengan bernafsu Banowati mencari bibir Arjuna dan menciuminya dengan garang. Oh,… gelagapan Arjuna dibuatnya. Ia tidak tahu, apakah Banowati marah atau sudah terangsang…. Arjuna membalas ciuman itu, lidahnya terjulur dan bertemu dengan lidah sang dewi. Beberapa saat lamanya lidah mereka berjalin seperti tak mau lepas. Tanpa banyak berkata-kata sang putri menurunkan gaunnya ke bawah, menampakkan dua gumpal buah dada yang tidak memakai beha. Puting susunya meruncing dan tegang.
    “Aku terangsang sekali membayangkan kita berdua tadi….” katanya terengah sambil mengasongkan kedua susunya ke arah Arjuna.
    Arjunapun menyambut, tangan kiri meremas dan mulut mengulum puting susu yang satunya. Tiba-tiba gerakan Arjuna terhenti. Dengan wajah kaget Banowati menatap heran. Arjuna lupa menggatungkan sejata panah yang dibawanya tadi. Gadis itu tersenyum dan merekapun melanjutkan permainan hangat ini. Buah dada besar montok dan kenyal itu ia kunyah sepuas hati.
    Banowati mendesah keenakan. Jemarinya mencengkram kepala, mengusutkan rambut Arjuna. Masih dalam posisi duduk sang dewi yang cantik luar biasa ini mengangkang .. melepas gaunnya yang sudah setengah terbuka…. Dia pun tidak bercelana dalam sehingga gundukan vaginanya yang tebal dan tidak berambut itu merekah di depan Arjuna. Cairan bening meluap keluar. Mengalir di sela-sela celah kemaluannya. Di tak pedulikannya. Dibiarkan lendir bening itu mengalir…. Bahkan dia menyuruh Arjuna untuk memegangnya… jemarinya menyelusup ke liang senggama Banowati, hangat dan sangat basah oleh cairan pelicin. Disentuh klentitnya yang merah oleh Arjuna dengan ujung jemari.
    “Akhh….” Banowati melolong tertahan.
    “Geli, Raden!” desahnya tersentak. Kemudian sembari memeluk leher, dan mencium kening Raden Arjuna dia mengajak ke dipan tempat mereka pernah bercinta.
    Tak banyak cingcong ia rengkuh dan gendong tubuh hangat Banowati ke pembaringan itu. Di sana ia baringkan. Tapi ketika pemuda itu hendak membuka celana, tiba-tiba sang permaisuri mendudukkan tubuhnya yang sudah bugil itu. Arjuna heran, apa yang akan dia perbuat.
    “Bukalah celanamu, Raden!” katanya tak sabar sembari menarik kancing celana panjang Raden Arjuna. Setelah memelorotkan celana dalam, dengan sangat bernafsu sang dewi memegangi pangkal kemaluan Arjuna yang kembali menegang.
    “Besar dan nikmat….” Seru Banowati sambil meremas-remas kemaluan Raden Arjuna.
    “Sekarang giliranku…” katanya agak keras.

    Baca Juga : Pemerkosaan Merriana, Sang Ketua OSIS Cantik

    Dewi Banowati turun dari dipan dan berdiri di samping Arjuna, di dorongnya dada ke arah pembaringan, menyuruh Arjuna berbaring disana. Ia menurut. Setelah Arjuna berbaring, dewi Banowati pun menaikkan sebelah kakinya dan mengangkang di atas. Perlahan dia menekuk tubuh Arjuna dan memeluk dari atas.
    “Masukkan, Raden.” Pintanya dengan nada gemas. Ia memegang batang kelamin itu dan memasukkannya ke dalam liang kemaluannya. Kemudian dengan agak kasar Banowati menghenyakkan pantatnya ke bawah agar kemaluan itu masuk lebih dalam ke tubuhnya.
    “Ehhhhh…. Hhhhh” desahnya kacau seperti anak kecil yang rakus menetek di susu ibunya. Dalam posisi di atas dia menaik turunkan pantatnya dengan cepat… oh… batang kemaluan itu dicengkram dan di gesek-gesek seperti itu. Geli rasanya.
    Posisi di bawah jarang dilakukan Arjuna …. Tapi kali ini ia menerima saja, karena ia ingin menikmati layanan Banowati. Kali ini Banowati yang giat menekan-nekankan pantatnya, maksudnya supaya punya Arjuna masuk lebih dalam. Sembari memeluk erat, sang dewi terus mengempot-ngempotkan pantatnya. Bunyi crek crek crek terdengar lagi… kali ini bahkan di tingkahi oleh jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut kekasihnya. Arjuna terus berbaring sembari meremas-remas pantatnya yang mulai berpeluh itu. Cairan vagina terasa terus merembes dari kemaluan Banowati. Dia sudah sangat terangsang. Liang kemaluannya sangat basah dan panas. Sesekali ia menekan dan menahan. Seolah hendak melumat habis seluruh kemaluan Arjuna dengan vaginanya. Terang saja Arjunapun semakin keenakan. Diam beberapa saat menahan tekanan, Banowati pun mengendurkan dan memulai lagi gerakan naik turunnya. Arjuna terus meremas-remas pantatnya. Dadanya yang kenyal itu menekan ke arah dada Arjuna, hampir membuatnya sesak nafas. Tapi Arjuna pasrah.. lha wong enak rasanya.
    Selama sepuluh menit Banowati bergerak naik turun, nggak cape-cape kelihatannya. Tubuhnya semakin basah oleh keringat, bahkan wajahnya sudah dipenuhi keringat sebesar-besar biji jagung. Sebagian mengalir ke ujung hidung dan menitik menimpa wajah Arjuna. Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang tergerai. Arjuna mencoba memiringkan kepala mencoba menghindari tetesan keringat dari wajahnya yang ayu.  Saat itulah Banowati menengadah dan menyurukkan kepalanya ke leher, memeluk Arjuna dengan kuat dan mulai mendesah berkepanjangan. Pantatnya menekan kuat sampai seolah kemaluan itu mau ditelannya sampai habis.
    “Raden.. enak sekali.. ahh” terasa kemaluan Banowati berdenyut hebat, tubuhnya bergetar tak kuasa menahan nikmat… nafasnya sangat memburu… dan..
    Banowati pun lunglai dalam pelukan…. Sementara air mani gadis itu mengalir tak tertahankan, meluap dan mengalir membasahi sampai bagian perut Arjuna.. dipeluknya gadis itu di punggungnya… membiarkan ia mengendurkan syaraf setelah tadi sangat tegang menikmati puncak orgasmenya. Sampai beberapa menit mereka masih berpelukan, kejantanan yang masih tegang itu masih berada di dalam ‘sangkar’-nya. Banowati diam tak bergerak dalam pelukan Raden Arjuna, sepertinya dia lupa ada sesuatu yang bersemayam dalam tubuhnya. Perlahan gadisnya ini mengatur nafasnya yang tidak teratur. Setelah agak reda… perlahan Banowati bangkit dan melepas persetubuhan mereka. Lambat ia mengangkat pantatnya ke atas. Perlahan alat kelamin itu keluar dari vagina Banowati. Ketika sudah keluar seluruhnya…. Cairan vagina yang kental nampak melumuri batang kemaluan Arjuna. Ketika bagian ‘kepala’-nya akan keluar terdengar seperti bunyi plastik lengket yang basah akan di lepas. Clep..crrrek. Banowati tersenyum mendengar suara itu. Entah suara lipatan kemaluannya atau karena lendir yang begitu banyak melumuri batang kemaluan Arjuna.

    ########################
    Arjuna dan Banowati mulai merasa bosan dan capek
    “Anda masih mau lagi Raden?”
    “Terserah situ”.
    “Jadi Raden belum puas?”
    “Manusia tidak pernah merasa puas dalam segala hal”.
    “Jawaban Raden terlalu ilmiah untuk urusan seks”.
    “Ya, kadang-kadang aku memang tidak cukup puas dengan sekedar predikat ksatria, pemanah ulung, play boy jempolan dan lain-lain itu. Kadang-kadang saya juga punya ambisi untuk jadi ilmuwan. Gombal ya?”
    “Kampungan Raden!”
    “Benar. Hari sudah akan sore. Sebaiknya Kangmasmu segera pergi”.
    “Hati-hati Raden. Jangan sampai kepergok satpam”.
    “Jangan risau mbakyu. Arjuna sudah berpengalaman puluhan tahun dalam menghadapi satpam. Permisi”.
    “Mari Raden. Kuantar sampai ujung tembok”.
    “Tidak usah”.
    “Baik Raden”.
    “Cepatlah berkemas, kita segera kembali ke Hastinapura. Jangan membuat Duryodana mencurigai hubungan kita,” kata Arjuna sambil melepas tangan Banowati yang melingkar di pinggangnya.
    “Aku masih ingin bersamamu, Raden,” jawab Banowati manja.
    “Iya. Aku pun begitu,” tukas Arjuna.

    ##########################
    Senja belum juga turun, namun Banowati sudah sampai di istananya. Langkah-langkah kakinya kali ini tidak seringan seperti kemarin sehabis berkencan dengan Arjuna. Ia merasa pandangan mata orang yang dijumpai di istana itu mengandung kebencian di hati mereka. O, apakah perasaan ini tanda-tanda rasa bersalahnya karena telah mengkhianati perkawinannya dengan Duryodana? Embuh ra urus! Ia segera masuk ke kamarnya. Di sana ia menemukan Duryodana yang sedang leyeh-leyeh setelah seharian bekerja keras.
    “Bagaimana acara semedi-mu di villa kita semalam, sayang?” sapa Duryodana sambil mengecup kening Banowati. Semedi? Hihihik … Banowati punya seribu macam alasan untuk bisa berkencan dengan Arjuna, salah satunya bersemedi di villa mereka.
    Banowati hanya memberikan seulas senyum menggairahkan. Dan itu telah membuat lelah Duryodana hilang seketika. Dalam kisah Mahabarata, Duryudana dikenal sebagai tokoh antagonis. Dia memiliki sifat dan sikap yang buruk. Berbagai watak yang tidak baik seperti tidak peduli,mau menang sendiri, kejam dan tidak menghargai dan mengindahkan nasehat para sesepuh dan berbagai watak yang tidak baik lainnya sudah menjadi watak kesehariannya. Namun Untuk urusan cinta dan kasih sayang kepada istrinya, Duryudana sangat berbeda dengan sifat kesehariannya. Duryudana menjadi sosok yang luar biasa dan mungkin bisa menjadi contoh yang baik dalam mencintai dan mampu menerima cinta apa adanya. Bahkan kesetiaan dia terhadap istrinya sangat tidak masuk akal.
    “Para Dewa  selalu memberikan berkatnya padamu, sayang,” kata Duryodana.
    “Kenapa begitu, Mas?” tanya Banowati sambil melingkarkan tangannya pada leher suaminya.
    “Begini… setiap kali kamu selesai bersemedi, wajahmu selalu sumringah. Bukankah itu pertanda para Dewa memberkatimu, istriku?” kata Duryodana.
    Mereka berpagutan. Lalu, sya…la…la…Mendengar permintaan Duryodana yang sudah terlanjur horny berat, mau tak mau pun pada akhirnya ia mau berrsetubuh sebagai istrinya yang tercinta. Walau di tiap persetubuhan itu, Duryodana tahu jika Banowati sama sekali tak menikmati sodokan batang penisnya.
    “Bagaimana Banowati bisa merasakan enak… jika setiap kali aku menyetubuhi lubang kenikmatannya, lubang itu terasa begitu los… dan longgar…” batin Duryodana.
    “Aku hampir sama sekali tak merasakan gesekan nikmat pada dinding vaginanya sama sekali…”
    Jelas saja yoni milik istrinya itu menjadi longgar, jika pada percintaan sebelumnya, vagina itu telah disesaki oleh batang lelaki yang sebesar gada rujakpolo.
    Digerakkannya pinggulnya maju mundur, berusaha merasakan kenikmatan yang masih tersisa. Dengan kedua tangannya yang bebas, Duryodana mulai meraba dan meremas kedua pantat bulat istrinya. Lagi-lagi, ia rasakan lubang yoni milik istrinya begitu kopong, sama sekali tak menggigit. Mungkin sejak melahirkan dua anaknya. Iseng. Duryodana mulai meraba lubang anusn istrinya.
    “Hei…. Mas….” Hardik Istrinya. “Jangan pernah coba buat masukin linggamu dalam pintu belakangku mas… …” ucap Banowati mengingatkan Duryodana setiap kali ia mencoba untuk menyentuh lubang anusnya. Duryodana senang melakukan itu dengan para selirnya. Sekilas, Duryodana sebenarnya ingin membunuh mereka berdua dan memotong lingga panjang milik Arjuna dengan pisau yang selalu ada di pinggangnya. Tapi Duryodana sama sekali tak ada niatan kuat untuk melakukan hal itu. Yang bisa dilakukan hanyalah menerima segala perlakuan mereka padanya. Padahal, Duryodana ingin sekali untuk dapat mencoba merasakan kenikmatan dengan istrinya. Tapi sudahlah, rasa untuk ingin merasakan Seks yang hot dengan istrinya sendiri hanyalah mimpi, toh diberi yoni milik istrinya ini saja Duryodana sudah bahagia. Walau sedikit sekali merasakan kenikmatan  pada vagina Banowati, setelah beberapa menit menggoyang-goyangkan pinggulnya, pada akhirnya Duryodana berhasil juga membuang sperma panas pada yoni milik istrinya. Okelah, mungkin saat ini, ia bisa membiarkan mereka berpuas-puas diri untuk saling menyetubuhi di dalam tempat lain, tapi hati-2 setelah perang Mahabarata ini usai. Kembali tergambar, masa dimana Banowati akhirnya berhasil dinikahinya meskipun dia tahu bahwa tak akan pernah mampu memiliki hati dan cintanya. Cinta kasih Banowati telah terengkuh dibawa pergi oleh Arjuna. Duryudana sadar akan kelemahan dirinya. Namun cintanya begitu telah tertanam dan tertancap kuat dalam relung hatinya. Biarlah apa kata orang tentang istrinya ataupun apapun sikap istrinya terhadap dirinya yang adakalanya tersirat mengungkapkan harapan sejatinya, baginya Banowati adalah satu-satunya wanodya (wanita) yang dikasihinya sepenuh hatidan tiada tergantikan. Meskipun bila dia mau puluhan bahkan ratusan wanita yang tidak kalah cantik dengan Banowati mampu didapatkannya, namun Duryudana tiada mau melakukan itu, karena Banowati selalu memenuhi pandangan di setiap sisi hatinya.

    #######################
    Di hari lain, Taman Istana Hastinapura siang itu sepi dan aman. Banowati mendapatkan beberapa nilai tambah dari Arjuna, jantung hatinya.
    “Bagaimana kalau kita mulai lagi Raden?”
    “Setuju”
    Angin mendesau, matahari tambah bergeser ke arah barat, keringat membasahi wajah dan leher Banowati. Selembar daun sawo kecik yang telah agak menguning lepas dari ranting lalu melayang jatuh. Siang itu, seluruh Warga Kurawa sedang keluar kota untuk menumpas gerombolan pengacau keamanan yang dimotori oleh para Pandawa.  Kira-kira menjelang sore, Arjuna dan Banowati mulai merasa bosan dan capek.
    “Anda masih mau lagi Raden?”
    “Terserah situ”.
    “Jadi Raden belum puas?”
    “Manusia tidak pernah merasa puas dalam segala hal”.
    “Jawaban Raden terlalu ilmiah untuk urusan seks”.
    “Ya, kadang-kadang aku memang tidak cukup puas dengan sekedar predikat ksatria, pemanah ulung, play boy jempolan dan lain-lain itu. Kadang-kadang saya juga punya ambisi untuk jadi ilmuwan. Gombal ya?”
    “Kampungan Raden!”
    “Benar. Hari sudah akan sore. Sebaiknya Kangmasmu segera pergi”.
    “Hati-hati Raden. Jangan sampai kepergok satpam”.
    “Jangan risau mbakyu. Arjuna sudah berpengalaman
    puluhan tahun dalam menghadapi satpam. Permisi”.
    “Mari Raden. Kuantar sampai ujung tembok”.
    “Tidak usah”.
    “Baik Raden”.
    Arjuna pergi. Banowati sendirian, dia lalu merapikan pakaian, rambut, make up, minum jamu galian singset, lalu melangkah ke luar taman. Di pintu taman itu satpam perempuan menghaturkan sembah.
    Banowati membalas dengan sedikit mengangkat telapak tangan lalu melaju ke keputren.
    Disana dayang-dayang sudah menunggu ketika junjungan mereka itu datang dan langsung masuk kamar. Dayang-dayang itu berbisik-bisik mendiskusikan junjungan mereka.
    “Habis semedi, wajah Gusti ratu berbinar-binar”.
    “Hyang Widi memang memberkatinya”.
    “Tapi Gusti Ratu capek sekali tampaknya”.
    “Ya, beliau langsung tidur”.
    “Itulah Ratu”
    “Beliau memang Ratu”
    “Permaisuri.”
    “Ya Permaisuri raja Gung Binatara”
    Banowati Permaisuri Kerajaan Hastinapura, tertidur pulas, dengan menyungging senyum.
    udara berangsur dingin, bersamaan dengan tenggelamnya Hyang Bagaskara, para fungsionaris Golongan Kurawa pun berdatangan dari luar kota. Istana kembali ramai, dayang-dayang sibuk, menyiapkan air hangat, minuman, dan makan malam.

    #########################
    Sebagai istri Kurupati, Dewi Banowati tidak pernah bisa melupakan lelaki pujaannya, Arjuna. Dan, Arjuna yang senantiasa dikuasai nafsu pun mengambil kesempatan di antara intrik politik dan kekuasaan menjelang perang Baratayudha dengan menemui dan mengajak Banowati berasyik masyuk di hutan perbatasan Astina. Perbuatan Dewi Banowati ini sebenarnya telah diketahui oleh pihak Kurawa, yakni Dursasana. Kepercayaan dan cinta Sang Kurupati yang demikian besar pada Dewi Banowati serta pergulatan menghadapi Pandawa untuk mempertahankan kekuasaan, sehingga mengabaikan laporan Dursasana yang memang berwatak brangasan atau tak sopan. Pada akhirnya, setelah Baratayudha selesai dengan kemenangan Pandawa, Dewi Banowati kembali kepelukan Arjuna. Salah satu pihak Kurawa yang selamat, yakni Aswatama putra Resi Durna, menyelinap diperkemahan Pandawa dan membunuh Dewi Banowati yang dianggap sebagai pengkhianat dan mata-mata yang menyebabkan kekalahan Kurawa. Lesmana anak siapa? Duryodana jingkrak-jingkrak gembira ketika Banowati mengabarkan kalau dirinya positif hamil. Lanang tenan, itulah predikat yang layak disandangkan kepada Duryodana yang saat itu baru dinobatkan sebagai raja muda Hastinapura yang kelak akan mewarisi tahta dari ayahnya. Dan, kabar kalau permaisurinya tengah mengandung calon jabang bayi, tentu saja ia bahagia bukan main. Duryodana bakal punya putra mahkota – dan ia sangat berharap anak yang lahir kelak adalah lelaki. Duryodana makin sayang kepada Banowati, permaisuri yang jelita. Ia perintahkan kepada para dayang untuk melayani 24 jam kebutuhan Banowati. Kandungan Banowati kudu sehat. Ia harus melahirkan manusia berkualitas, karena ia akan menjadi calon raja negara yang super power seantero jagad perwayangan. Banowati memanfaatkan kebaikan suaminya untuk merajuk jika ia menginginkan sesuatu hal, dan tanpa pikir panjang Duryodana mengabulkan keinginan istrinya. Kali ini – ini alasan yang bertama kali ia bikin – Banowati ingin menyegarkan pikiran di pesanggrahan di atas bukit yang tempatnya sangat sejuk dan tenang untuk tetirah. Duryodana tentu saja mengizinkan disertai permintaan maaf karena tak bisa mendampingi istrinya.
    “Yes!!!” pekik Banowati, lirih.

    ######################
    Di pesanggarahan Arjuna gelisah menunggu kedatangan Banowati. Sudah hampir dua bulan ia tak berjumpa dengan kekasih hatinya. Dasar Arjuna, pesan yang ia bawa melalui orang kepercayaannya sampai juga ke tangan Banowati dan disepakati untuk bertemu-kencan di pesanggrahan. Mereka pun melakukan olah-asmara seperti orang yang sangat kehausan di padang gersang. Edan. Cinta buta memang sering membuat gila orang yang melakoninya. Tapi, itulah cinta. Mereka tak bisa membedakan, cinta karena anugerah atawa cuma birahi semata? Embuh, ora urus.
    “Say, perutmu agak gendut ya?” tanya Arjuna sambil mengelus perut Banowati.
    “Iya. Di dalamnya ada anakmu!’ kata Banowati, kenes.
    Mereka tertawa. Banowati bersandar di dinding, gadis hamil itu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Setengah busana atasnya masih rapi tapi seluruh rok dan celananya sudah terbuka. Menampakkan kedua paha yang putih mulus dan montok. Sementara tumpukan daging putih kemerahan menyembul di sela rambut-rambut hitam yang nampak baru dicukur.
    Sedikit tengadah dan dengan tatapan mata sendu ia berujar lirih…  “Masukkanlah, Raden! Aku juga ingin menikmatinya….”
    Arjuna hanya terdiam.. mereka sama-sama sudah membuka busana bagian bawah, beberapa menit kemudian mereka bergelut di pojok ruangan itu. Dengan penuh nafsu ditekankan tubuhnya ke tubuh Permaisuri itu. Banowati membalas dengan merengkuh leher Arjuna dan menciuminya penuh nafsu.
    Tubuh Banowati terasa panas dan membara oleh gairah, bertubi-tubi diciuminya leher, pundak dan buah dadanya yang kenyal dan besar itu. Ia hanya melenguh-lenguh melepas nafasnya yang menderu. Setiap remasan dan kuluman… diiringi dengan erangan penuh kenikmatan. Tanpa disuruh Banowati membuka sebagian kancing bajunya. Menampakkan onggokan buah dada yang membulat dan putih. Tanpa membuka tali beha Banowati mengeluarkan buah dadanya itu dan mengasongkannya ke mulut Arjuna. Dengan rakus dikulumnya buah dada besar Banowati sepenuh mulut Arjuna. Banowati mengerang antara sakit dan enak. Nafas Arjuna pun semakin tersendat, hidung Arjuna beberapa kali terbenam ke bulatan kenyal dan hangat itu. Puncak dadanya basah oleh air liur Arjuna yang meluap karena nafsu. Licin dan agak susah meraih puting susunya yang mungil kemerahan itu. Jelas sekali kulihat proses peregangannya. Semula puting susu itu terbenam, namun dalam sekejap saja dia keluar menonjol dan mengeras. Banowati tahu susah mengulumnya tanpa memegang karena Arjuna mencengkram erat leher dan pinggang Permaisuri itu. Tanpa menunggu waktu Banowati memegangi buah dadanya dan mengarahkan putingnya ke mulut Arjuna. Arjuna pun mengulumnya seperti bayi yang kehausan. Mengulum dan menyedot sampai terdengar berbunyi mendecap-decap. Ia lihat Permaisuri itu, dalam sayu matanya merasakan kenikmatan, bibirnya tersungging senyuman dan tawa kecil.
    ‘Gigit sedikit, Raden.’ pintanya pada Arjuna.
    Arjuna menuruti kemauannya, dengan gigi ia gigit sedikit puting susunya.
    ‘Aih….’ Jeritnya lirih sambil menggigit bibir. Barangkali ia tengah merasakan sensasi rangsangan nikmat luar biasa di bagian itu. Arjuna merasakan tubuhnya melunglai menahan nikmat.
    Kemudian tubuh mereka saling mendekap semakin rapat. Gairah dan rangsangan nikmat menjalar dan memompa alirah darah semakin kencang. Secara naluriah Arjuna menyelusuri tubuh sintal Banowati. Mulai dari leher, terus ke punggung, meremas daging hangat di pinggul… terus ke bagian bawah. Akhirnya menyelip di antara paha. Permaisuri itu membuka pahanya sedikit, mengizinkan tangan Arjuna menggerayangi daerah itu.

    Dalam pelukan erat, tangan Arjuna mencoba masuk… ehm.. bagian itu terasa hangat dan basah. Banowati menggeser pantatnya sedikit. Kedua matanya memejam sembari menggigit bibir , desah-desah halus keluar tak tertahankan. Detak jantung Arjuna semakin kencang ketika ia bayangkan apa yang terjadi di’sana’. Gadisnya yang sedang hamil itu menggelinjang, nafasnya sesekali tertahan, sesekali ia seperti menerawang, apa yang dia harapkan? Arjuna tahu, Banowati menginginkan itu, dia mendorong-dorongkan pantatnya ke depan, agar bagian itu lebih tersentuh oleh jemarinya.
    Dengan penuh pengertian Arjuna pun turun… dari leher… buah dada.. wajah Banowati terseret ke bawah, Arjuna menikmati setiap lekuk liku tubuhnya yang hangat. Setiap sentuhan dan gesekan menimbulkan rintihan lirih dari mulutnya. Wajah Banowati menengadah, matanya setengah terpejam, bibir agak terbuka, dan sedikit air liur menetes dari salah satu sudutnya.
    “Teruskan, Raden… jangan hentikan..!” pintanya.
    “Puaskan aku….!” katanya lagi tanpa rasa sungkan. Yah, tak ada rahasia di antara mereka. Apa yang dia inginkan untuk memuaskan hasratnya, pasti dia minta, kapan saja mereka bertemu. Begitu pula aku… kalau lagi pingin, dia pasti kasih.
    Perlahan Arjuna menyusuri tubuhnya ke bagian bawah. Sekarang Arjuna sudah di atas perutnya yang mulus. Arjuna bermain-main sebentar di sana. seluruh tubuh Banowati memang sangat menggairahkan. Tidak ada lekuk tubuhnya yang tidak indah. Arjuna sangat menikmati semuanya.
    Tiba-tiba Banowati memegang kepala Arjuna, meremas sedikit rambutnya dan mendorong kepala Arjuna ke bawah.
    “Ayo, Raden, sudah gak tahan nih..! Jangan di situ aja dong….Aih..” Arjuna menurut…. Dulu Arjuna bilang ia ingin merasakan dan menjilati kemaluannya, dia bilang hal itu menjijikkan. Dalam keadaan terangsang dia sangat menginginkanya.
    Sesampai di bagian itu… Arjuna terpana menyaksikan pemandangan indah terbentang tepat di depan matanya. Setumpuk daging berwarna kemerahan berkilat di celah-celahnya.  Bagian itu, bibir kemaluan Banowati yang merah dan basah dipenuhi cecairan lendir yang bening. Dengan kedua jari telunjuk dibukanya celah itu lebih lebar… Klentitnya menyembul… nampak berkedut karena rangsangan nikmat tidak terkira. Berkali-kali ia berkedut… setiap denyutan dibarengi dengan nafas dan rintih tertahan Permaisuri itu. Arjuna memandang ke atas. Ke arah payudaranya yang terbuka, putingnya semakin mengeras. Nafasnya terengah-engah, buah dada ratu yang putih itu nampak naik turun dengan cepat. Terlihat lagi kemaluan gadisnya itu… semakin merah dan merekah.  Ia buka lagi dengan dua telunjuk… cairan kental pun mengalir deras. Meluap dan merembes sampai ke sela paha, persis seperti orang yang sedang ngiler. Cairan itu terus mengalir perlahan… sampai ke arah anus. Kemudian perlahan berkumpul dan akhirnya menitik ke lantai. Semakin lama semakin banyak titik-titik lendir bening yang jatuh di lantai kamar itu. Terasa Banowati merenggut rambutnya… dan menekankan kepala ke arah vaginanya yang sedang terangsang itu. Arjuna pun semakin bernafsu…. Dengan penuh semangat Arjuna pun mulai mengulum dan menjilati seluruh sudut kemaluan Banowati
    “Ahh…. Ahhhh… nikmat sekali, Raden!” Banowati merintih, tubuhnya menegang, cengkramannya di kepala Arjuna semakin kuat. Pahanya mengempot menekan ke arah muka, sementara kemaluannya semakin merah dan penuh dengan lendir yang sangat licin.
    Arjuna pun semakin dalam menusuk-nusukkan lidah ke liang senggamanya. Beberapa kali klentitnya tersentuh oleh ujung gigi, setiap sentuhan memberi pengaruh yang hebat. Permaisuri Hastina itu melolong menahan nikmat… Arjuna terus menyelusuri bagian terdalam vaginanya. Oh… hangat dan sangat-sangat basah. Tak bisa dibayangkan kenikmatan apa yang dirasakannya saat ini. barangkali sama nikmatnya dengan rangsangan yang diperoleh dari kemaluan Arjuna yang juga sudah mengeras sedari tadi.

    Rasanya sangat nikmat dan tergelitik terutama di bagian pangkal… rasanya ingin Arjuna melepaskan nikmat di saat itu juga. Tapi ia harus menyelesaikan permainan awal ini dulu, gadis gatal ini minta untuk segera di tuntaskan. Semakin Arjuna memainkan kemaluannya, semakin ia mengempot dan menekankan kepala ke arahnya. Sesekali Arjuna menengadah menatap wajahnya yang merah. Tampak ia menghapus air liurnya yang mengucur dengan lidahnya yang merah itu. Tiba-tiba ia tertawa mengikik… seperti ada yang lucu. Ia mengusap wajah Arjuna yang bergelimang cairan vaginanya. Sambil memandang penuh pengertian.
    “Lagi, Raden” pintanya.
    Arjuna mengulangi lagi kegiatan itu, putri itupun kembali merintih-rintih menahan rangsangan hebat itu di kemaluannya. Beberapa kali klentit itu disentuh dengan ujung gigi. Tiba saatnya, dia sudah sampai mendekati puncak. Nafas semakin memburu dan tubuhnya menegang hebat beberapa kali. Tanpa sungkan lagi, Banowati mengeluarkan lolongan penuh kenikmatan ketika rasa enak itu tiba…  “Ohhhhh… hhhh…ahhhhhhhh…” jeritnya lepas.
    “Enak sekali…”  Pantatnya mengempot ke depan setiap denyutan nikmat itu menyergap vaginanya… dan setiap denyutan diiringi dengan keluarnya cairan yang lebih banyak lagi. Beberapa cairan itu bagaikan menyembur dari liang senggamanya, Arjuna mundur sebentar, melihat bagaimana bentuknya vagina yang sedang mengalami orgasme.
    Tegang, merah, basah… berkedut-kedut, cairan pun membanjir sampai ke kedua pahanya….. mengalir dengan banyaknya sampai ke mata kaki… Arjuna pun tidak tahan melihat keadaan itu, cepat Arjuna berdiri… mengasongkan kemaluan yang sudah tegang itu ke arah Banowati. Banowati memeluk Arjuna, terasa tubuhnya bersimbah peluh, wajahnya yang memerah karena baru melepas nikmat itu disusupkannya ke leher Arjuna. Memeluk Arjuna semakin kuat…
    “Puaskanlah dirimu, Raden!”
    Arjuna pun mendekap tubuh sintal itu semakin erat. Rasa nikmat berkecamuk di titik kemaluan Arjuna. Terasa semakin menegang dan mengeras…. Tapi Arjuna ingin merasakan sensasi yang lain.
    Diturunkannya kepala Permaisuri itu ke bagian itu. Ia menurut, perlahan ia menyusuri tubuhnya dari dada terus turun ke bawah. Seperti yang dilakukan tadi, mulut Banowati menciumi perutnya dan terus turun… sesampai di bagian itu ia memandangi penis yang selama ini selalu dia senangi.
    Ia menengadah.. memandang Arjuna dengan senyuman nakal.
    “Besar sekali punyamu, Raden! Ini untukku untuk selamanya,” katanya sambil mengelus dan mulai meremas pangkalnya. Arjuna terkesiap… jemari lembut itu mulai mengocok-ngocok kemaluan Arjuna dengan penuh cinta.
    “Nikmatilah, Raden! Aku ingin kamu menikmati dan merasakan kenikmatan seperti yang aku rasakan, kamu milikku, tidak boleh untuk orang lain….” Arjuna mengangguk sambil tersenyum, perempuan kalau sudah cinta dan ingin pasti mau melakukan apa saja.
    Perlahan ia mulai mengocok pengkal kemaluan Arjuna… sesekali ia mengecup bagian kepalanya yang seperti topi baja itu. Lembut dan penuh kasih sayang. Beberapa kali pula ia menempelkannya di pipi sambil matanya terpejam.
    “Ohh.. inilah yang aku impikan selama ini. Kepunyaanku milik kekasihku yang perkasa…”  Kemudian ia meningkatkan kocokannya, kedua jemari tangan menggenggam dan meremas-remas menimbulkan rasa geli luar biasa. Kemaluan Arjuna semakin menegang menahan nikmat.. keras dan enak.

    Permaisuri itu sangat lihai mempermainkan jemarinya, seolah dia turut merasakan apa yang ia rasakan. Sambil terus jongkok dan menciumi pangkal kemaluan Arjuna jemarinya terus juga digesekkannya. Akhirny Arjuna pun tak tahan lagi… ia merenggut rambut di kepala Banowati, tubuhnya pun menegang. Arjuna mendorongkan pantatnya ke depan, paha mengejang menahan sesuatu yang bakal dikeluarkan.
    “mbakyu Banowati…” kata Arjuna sambil mencengkram rambutnya.
    Ia menatap Arjuna, wajahnya tepat di ujung kemaluan Arjuna yang sedang dicengkeramnya. Permaisuri itu tersenyum kecil…. Dia senang menatap Arjuna yang sedang dalam puncak nikmat. Maka, sambil setengah terpejam, Arjuna pun mengeluarkan segalanya, kemaluan Arjuna meledak dalam genggaman tangan Banowati, menyemburkan air mani yang sangat banyak, mengenai seluruh muka Permaisuri itu. Sebagian ada yang menyembur dan kena ke rambutnya. Kelopak mata Permaisuri itu berkedip menahan serangan air mani yang mendarat di wajahnya…
    “Hhhh…hhhh.hh,” perlahan nafas Arjuna mulai teratur… puncak itu sudah sampai, nikmat tak terlukiskan kata-kata.
    Banowati bangkit berdiri dan menuju pojok ruangan. Paha dan pantat mulusnya nampak gemulai ketika ia melangkah. Permaisuri itu mengambil baju, mengusapkannya di wajah yang penuh cairan mani. Menoleh ke arah Arjuna sambil tersenyum, kemudian berjalan ke arahnya. Merentangkan kedua tangan, memeluk kesatria itu dan menempelkan pipinya di pipi Arjuna.
    “Enak ya, Raden”
    Arjuna mengangguk, memeluk tubuh yang masih bersimbah peluh itu. Memandang matanya lekat-lekat. Ia membalas tatapan Arjuna,
    “Aku sangat mencintaimu, Raden. Kaulah milikku dan milikilah aku selamanya…”  Entah berapa lama mereka berpelukan sambil berdiri.
    Tak lama kemudian mereka sudah berpelukan hampir tanpa busana. Dia berada di bawah dalam posisi tradisional. Siap dan menanti untuk dimasuki oleh lelaki yang bukan kekasihnya ini.
    “Kalau malam begini… aku selalu membayangkan bersamamu, Raden.” Bisiknya di telinga, kedua tangan melingkar erat di leher Arjuna. Pipinya menempel erat dipipi Arjuna.
    “Benarkah?” jawab Arjuna sambil mencium pipi hangat itu. Banowati mengangguk.
    “Kadang bayanganmu begitui jelas seolah merasuki tubuhku…. Kalau begitu aku suka… emmh.. basah, Raden.”
    “Oh, ya?”
    “Iya… coba kamu rasakan, Raden.” Katanya sambil menggerakkan pantatnya, menggesekkan tumpukan kemaluannya di batang penis Arjuna. Ya, terasa hangat dan basah…  “Sebelum kamu datang, aku sudah membayangkan dirimu.. emhhmmm… tanpa sadar ‘dia’ pun … sudah basah… Arjuna mencium telinga Banowati, dia seperti merinding., tubuhnya menggelinjang karena merinding kegelian.
    “Kadang…” bisik Banowati lagi, “Keluar banyak sekali, sampai membasahi celanaku… sekarang juga udah begitu, Raden.”

    Ya, Arjuna merasakan itu, sangat hangat dan sangat basah. Penasaran Arjuna menyelusupkan jemari ke daerah itu. Ya ampun! Sepertinya Arjuna memasukkan tangan ke mangkok bubur yang hangat. Tak disangka, permisuri genit ini ternyata menyimpan bara begitu panas. Sebuah rahasia yang selama ini dia pendam…
    “Masukkan punyamu, Raden!” pinta Banowati … “Aku udah gak tahan lagi, sedari tadi aku menahan rasa terhadapmu… jangan sia-siakan malam ini… walau sebentar, aku akan puas….”  Gadis itu menggelinjang sekali lagi, membetulkan posisi berbaringnya dan membuka pahanya sedikit lebih lebar agar mudah Arjuna menggelosorkan kemaluan ke liang senggamanya yang hangat itu.
    Terasa meluncur dengan lancar memasuki kemaluan gadis itu. Terus masuk dan membenam sambil ke celah yang paling dalam. Gadis itu mengetatkan pahanya dan pantatnya mulai bergoyang ke kiri da ke kanan. Tubuhnya terasa semakin memanas. Pelukannya begitu erat dan buah dadanya yang menempel menekan ke dadanya. Dia sudah begitu bernafsu, nafsu yang di pendam lama dan ingin di lepaskan dalam pelukanku malam ini juga. Terus terang di menit-menit penuh cinta itu Arjuna tidak ingat lagi dengan raja Hastina, suami sang putri  ini. Gadis ini butuh dipuaskan. Hasrat yang sudah menyeruak tidak bisa lagi di tarik surut ke dalam. Segala rem sudah di lepas dan mereka pun melayang tanpa kendali menikmati semuanya malam ini. Terdengar hujan di luar semakin deras. Titik air yang berjuta-juta itu seolah berlomba terjun ke bumi menimbulkan suara gemuruh tidak henti-hentinya. Tapi gemuruh itu tak sedahsyat gemuruh nafsu mereka berdua, Arjuna dan Banowati yang tengah menikmati cinta. Entah sudah berapa kali batang kemaluan keluar masuk liang senggama Banowati. Sudah berapa kali pula dia menggepit-gepit dan memeluk Arjuna dengan erat dengan kedua tangannya. Entah berapa kali ia terengah dan menggelinjang menggeram penuh nikmat.
    “Hhhhhh… ehhhhhhh..hhhhhh….” erangnya setiap Arjuna mainkan dan menekan pantatnya ke kemaluan Banowati.
    Luar biasa, setiap tekanan ke bawah di balasnya dengan tekanan ke atas. Terasa sudah sepuluh menit Arjuna mengayun pinggul di atas tubuhnya. Liang kemaluannya terasa semakin rapat dan sangat licin, mencengkram kuat batang kemaluan yagn menegang. Arjuna mengendurkan sedikit gerakannya. Mengalihkan perhatian ke tubuh bagian atas. Banowati mengerti, ia meregangkan tubuhnya menarik kepalanya ke belakang, membiarkan buah dada besar yang putih berkeringat itu meenyeruak dari pelukannya. Buah dada permaisuri yang besar dan kenyal, tidak seperti payudara anak-anak kota yang besar tapi loyo. Dua gumpalan kenyal itu pun kusergap dengan mulutnya, Arjuna melahap dan kunyah-kunyah sepuas hati. Puting susunya yang merah itu ku kulum dan hisap-hisap sambil digigit sedikit. Hanya sebentar saja, gadis itu menjerit tertahan….
    “Ohhh.. geli, Raden!”
    Arjuna terus mengulum…. Berganti ke kiri dan ke kanan, kemudian tangannya pun meremas-remas pangkal payudara Banowati dengan gemas. Sangat kenyal, hangat dan enak rasanya.
    “Aku sudah gak tahan lagi… Raden,” rintihnya lirih, tubuhnya semakin panas dan berkeringat, tubuh Arjuna juga sama. Dalam hawa malam yang cukup sejuk karena hujan itu seolah tubuh mereka mengeluarkan uap. Tubuh bugil bermandi keringat yang mengebulkan asap nafsu birahi tak tertahankan.

    Setelah puas dengan buah dada kenyal itu, Arjuna memeluk punggung gadis itu. Terasa dia mengangkat lututnya, menggepitnya di pantatnya. Kemudian ia menurunkan kedua tangannya dan memelukku di pinggang.
    “Tekan-tekan lagi, Raden.” pintanya.
    Arjuna juga sudah pingin merasakan gesekan kemaluannya. Sambil saling berpagut erat Arjuna mengayunkan lagi pantatnya di atas rengakahan pahanya yang montok itu. Dia pun semakin menggepitk-gepitkan kakinya. Sekarang mereka konsentrasi ke setiap gesekan, setiap lipatan, setiap senti dari liang kemaluan Banowati. Malam ini sunguh hanya milik mereka berdua. Gesekan-gesekan itu semakin lama semakin berirama. Sementara Banowati melakukan aksi yang menambah kenikmatan, ia menggepit… lalu menahan. Gepit tahan gepit tahan…. Oh tak terlukiskan enaknya bercinta dengan gadis ini. Gesekan itu semakin intens mereka lakukan. Sampai-sampai mereka tak sadar kalau hujan sudah berhenti. Malam di luar terasa hening…. Tapi di atas dipan yang berbunyi kriak-kriuk ini dua tubuh saling memompa berpacu mengejar waktu. Takut kalau Dursasana dan Aswatama yang masuk. Arjunapun mempercepat ayunannya… sehingga di malam yang menjadi sunyi ini terdengar jelas suara penis yang keluar masuk ke kemaluan Banowati. Beradu rasa dalam limpahan cairan kemaluan Banowati. ‘Crekk.. Crekk.. Crekkk. Crek…Crekkk.. Crrek…kejantanannya naik turun menggesek lipatan-lipatan dinding kemaluan gadis itu. Bunyinya terdengar jelas sekali di telinga mereka berdua. Sesekali ia tekan akan kuat, gadis itu membiarkan dan menerima tekanan itu, menggeolkan pantatnya berkali-kali agar kelentitnya lebih tersentuh pangkal atas kemaluan yang keras.
    “Tekan terus, Raden.. aihh…”  Arjuna menekan lagi sambil menggerakkan pantat ke kiri dan ke kanan. Mungkin dia merasa gatal dan ingin gatal itu digaruk sampai tuntas…. Penggaruknya adalah batang kemaluan yang dia cengkram dan dia benamkan sedalam-dalamnya.
    “Ohhh..ohhhhhhhhh,” lolong gadis itu melepas nikmat. Seluruh liang senggamanya berkedut-kedut dan sembari menggepit kuat. Tubuh Banowati menggelinjang dan menegang menahan rasa enak ketika ia mengeluarkan air kewanitanya.
    “Eughhh…hhhhh… euuughhhhh….. ahhhhh… ” rintihnya sambil menyurupkan wajahnya ke leher Arjuna, lehernya nafasnya menderu, air liur berceceran dari bibirnya yang merah.
    “Terusin aja, Raden….. Kalau enak ngapain juga di berhenti” bisik Banowati seolah hendak menghapus keraguannya. Maka Arjuna pun meneruskan lagi, kali ini dengan irama yang lebih cepat dan… tak lama kemudian croott…crotttt… sambil menekan Arjuna mengeluarkan air mani di dalam kemaluan Banowati yang mencengkram erat itu. Oh nikmatnya.
    Beberapa menit telah berlalu. Sesudah menghapus keringat di dada, Banowati mengenakan pakaiannya. Kemudian sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia merapikan rambutnya yang kusut masai. Wajahnya tampak puas. Sangat puas telah beroleh kenikmatan yang selama ini didambakannya.

    ##########################
    Saatnya Banowati melahirkan anak pertamanya. Sayang sekali, Duryodana tidak ada di sampingnya. Ia sedang melakukan titian muhibah ke negeri jiran. Ia sempat memperkirakan kalau anak pertamanya akan lahir setelah ia pulang dari acara kenegaraan itu. Rupanya si jabang bayi ingin segera melihat dunia. Tangisan bayi memecah kesunyian istana keputren. Bidan istana yang membantu proses persalinan Banowati membawa bayi merah ke dekat wajah Banowati.
    “Anak lanang, gusti permaisuri,” kata bidan istana, setengah berbisik.
    “Syukurlah. Kakang Duryodana pasti akan sangat bahagia,” jawab Banowati.
    “Wajah anak ini tampan sekali, gusti!” kata bidan istana lagi.
    Banowati segera menatap wajah anaknya. Dan ia sangat terperanjat. Wajah anaknya mirip sekali dengan wajah Arjuna, kekasih gelapnya. Tak ada mirip-miripnya dengan Duryodana. Ia segera meminta bidan dan dayang-dayang lainnya untuk keluar kamar. Ia beralasan, ingin beristirahat.
    Bingung. Linglung. Itulah yang berkecamuk di pikiran dan dada Banowati. Bagaimana reaksi Duryodana nanti ketika melihat bayi itu? Ia pasti akan tahu kalau bayi itu bukan dari benihnya. Dalam kekalutan seperti itu hadir Bethari Durga masuk ke dalam kamarnya.
    “Bantu aku Bethari. Please… bla..bla…” sembah Banowati kepada Bathari berjenis kelamin perempuan itu.
    “Oke, gampang saja. Tapi ada tumbalnya!” sahut Bethari Durga.
    Kesepakatan diperoleh. Simsalabim. Wajah bayi itu disulap menjadi sangat mirip dengan Duryodana. Banowati lega hatinya.

    ##############################
    Maka, Duryodana melakukan acara sepasaran bayi sekaligus mengumumkan nama bayi lelaki itu: Lesmana Mandrakumara. Sebagai calon putra mahkota, Duryodana sangat mencintai Lesmana. Namun, dalam perkembangannya, Lesmana semakin berperilaku aneh, selalu kekanak-kanakan. Tidak pernah dewasa. Lesmana menderita keterbelakangan mental. Itulah tumbal yang disepakati oleh Banowati dan Bethari Durga. Dan saat dia harus maju perang sendiri ke medan perang, yang diingatnya hanyalah Banowati. Keselamatan Banowati adalah yang paling utama, maka dia memerintahkan prajurit kerajaan untuk mengamankan istri tercintanya ke tempat persembunyian. Ceritamaya
    “Suamiku bagaimana kabar dari perang Baratayuda? Apakah sudah berakhir? Apakah Kanda telah menyerahkan sebagian negri Astina kepada Pandawa?”
    Mendengar pertanyaan dari bibir indah istrinya Banowati, seakan menusuk perih jiwa Duryudana. Ia sadar, apa maksud dari pertanyaan istrinya, yang sebenarnya ingin memastikan keselamatan dari kekasih abadinya, Arjuna.
    “Istriku tercinta, perang masih berlangsung. Banyak sudah pepunden dan orang-orang terkasih telah gugur dalam peperangan ini. Eyang Bisma, telah gugur membela negri. Guru kami Durna, pun telah tiada. Dan suami dari kakakmu Surtikanti, Kanda Karna, pun telah gugur setelah menjadi senapati Astina. Kakakmu Surtikanti, mati bela pati,” geram Duryudana membayangkan gugurnya para andalannya yang gugur dalam pertempuran itu.
    “Lalu apa kata dunia, bila mereka-mereka yang telah memberikan nyawa untuk negri ini sementara aku kemudian menyerah kalah? Sungguh aku akan dicap menjadi orang tak tahu diri. Termasuk golongan pecundang. Berpesta pora di atas darah dan peluh orang-orang yang membantu kemulyaan kita. Ingat Banowati istriku, selama tubuh Duryudana ini masih tegak berdiri. Selama nyawaku masih berada dalam jasadku, selama itu pula aku akan tetap melanjutkan peperangan ini,” tekat Duryudana dengan menahan amarah dan dendam membara.
    “Namun bukankah Pandawa masih saudara kita sendiri Kangmas ? Bukankah sebenarnya Kangmas dapat menghindari perang saudara ini dengan memberikan hak mereka akan sepenggal tanah di Astina ini. Bukankah sebagai gantinyapun, rama Prabu Salya telah bersedia memberikan negeri Mandraka bila Kangmas menghendakinya ?” pedih Banowati tidak berdaya.
    “Oooo Banowati, dinda tidak mengerti bagaimana perih hati ini menyaksikan kemenangan sedikit demi sedikit diraih Pandawa. Meskipun itu juga tidak diperoleh dengan percuma. Banyak ksatria mereka yang tewas juga. Namun Pandawa masih lengkap berjumlah lima, sedangkan Kurawa ? Tinggal berjumlah lima, dinda. Seratus tinggal lima. Bagaimana pertanggungjawabanku terhadap adik-adikku yang berkorban demi kemulyaan kakaknya, kalau aku saat ini menyerah begitu saja. Tidak, dinda ! Tidak saat ini dan tidak untuk selamanya ! Meskipun Pandawa masih bersaudara dekat denganku, meskipun masa kecil kami lalui bersama, namun saat ini keyakinanlah yang membuat peperangan antara kami harus terjadi”
    “Oleh karenanya, kanda pamit kepadamu dinda. Ijinkanlah suamimu ini tuk maju ke medan laga. Perang pastilah menghasilkan hanya ada dua pilihan. Antara menang atau sebagai pecundang, antara masih hidup atau meregang nyawa. Itu yang kanda sadari dan tentunya juga si Adi. Dinda tahu bagaimana cinta kanda kepadamu. Dari awal kita menikah hingga kini tiada berkurang, bahkan terus bertambah dari waktu ke waktu. Cintaku buta, tidak peduli akan terpaan kejadian apapun ataupun gejolak di hatimu yang setidaknya aku ketahui,” lembut Duryodana mengungkapkan hal itu.
    Sebelum dia maju berperang melawan Pandawa, Duryodana harus yakin akan keselamatan Banowati, meskipun ia tahu dia maju berperang untuk menjemput maut.

    First comment: Duryodana ini cuckold yg sangat setia,,, and he did not regret it. Gw gak pernah suka Arjuna.

    By: Ruhul Yaqin

  • Om Pemuas Nafsuku

    Om Pemuas Nafsuku


    73 views

    Ceritamaya | Oom Icar, 47 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Sinta karena dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Oom Icar bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai bisa berhubungan dengan Sinta ini awalnya cukup konyol. Secara kebetulan keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan perbuatan iseng. Oom Icar saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan tetapnya dan Sinta saat itu sedang digandeng dr.Budi.

    Keduanya jelas-jelas bertemu di hotel sama-sama tidak bisa mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara pura-pura saling tak kenal.

    Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu dikesempatan tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Sinta mengaku hubungannya dengan dr.Budi karena kena bujuk rayu diajak beriseng dan cuma dengan laki-laki itu saja, sedang Oom Icar mengaku bahwa dia terpaksa mencari pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah menjalankan kewajibannya sebagai istri di ranjang. Masuk akal bagi Sinta karena dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Asmi, salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.

    Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau rahasianya terbongkar di luaran. Sinta takut hubungannya dengan dr.Budi didengar orang tuanya sedang Oom Icar juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak. Berikutnya karena terlanjur sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain. Ide ini terlontar oleh Oom Icar yang coba merayu Sinta ternyata diterima baik oleh Sinta.

    Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Oom Icar akan menjemput dan membawa Sinta ke hotel, Sinta meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng dengan Oom Icar tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Oom Icar, sempat kikuk malu dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini.

    Pasalnya Oom Icar yang sebenarnya juga sama tegang karena kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Sinta didiamkan begini jadi salah tingkah menghadapinya. Tapi waktu sudah masuk kamar hotel dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar keluwesan Oom Icar dalam bercumbu. Sinta pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya kalau sedang menghadapi dr.Budi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Oom tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Oom Icar menawarkan makan pada Sinta tapi ditolak karena masih merasa kenyang.

    “Aku minta rokoknya Oom.. Sinta pengen ngerokok.” pinta Sinta sebagai alternatif tawaran Oom Icar.
    “Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Oom yang pasangin. Oom nggak tau kalo Sinta juga ngerokok.”
    “Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Oom ke sini.” jelas Sinta menunjukan kepolosannya.
    “Kok sama, Oom juga sempat tegang waktu bawa Sinta di mobil tadi, takut kalo ada yang ngeliat.”

    Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam perjalanan. Sinta mulai menggoda Oom Icar.

    “Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Oom?” godanya dengan genit.
    “Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.” jawab Oom Icar setelah membakar sebatang rokok buat Sinta yang sudah langsung menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Oom Icar.
    “Mana, katanya mau pasangin buat Sinta?”
    “Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Oom musti cium dulu..”

    Menutup kalimatnya Oom Icar langsung menyerobot bibir Sinta memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Sinta hanya setelah itu dia menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Oom Icar sambil menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Oom Icar. Melihat ini Oom Icar semakin berlanjut.

    “Bajunya basah keringetan nih, Oom bukain ya biar nggak kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang mulai mencoba melepas kancing baju Sinta.

    Lagi-lagi Sinta tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Oom Icar bekerja sendiri malah dibantu menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia tinggal mengenakan kutang saja. Sinta memang sudah terbiasa bertelanjang di depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Oom Icar menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Sinta menggelinjang manja.

    “Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Oom juga buka dulu bajunya?”
    “Iya, iya, Oom juga buka baju Oom..”

    Segera Oom Icar melucuti bajunya satu persatu sementara Sinta bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya, dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Sinta. Sekarang baru dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Oom Icar mengerti bahwa Sinta masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Sinta bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Sinta sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.

    “Sinta kurus ya Oom?” tanya Sinta sekedar menghilangkan salah tingkah karena susunya mulai digerayangi Oom Icar.
    “Ah nggak, kamu malah bodimu bagus sekali Sin.” jawab Oom Icar memuji Sinta apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah menggiurkan.
    “Tapi Oom kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Sinta liat ceweknya montok banget..”
    “Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi sih? Maunya nyari yang cakep kayak Sinta gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Oom Icar sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Sinta yang kebetulan terletak di bagian depan.
    “Oom sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik duluan?”
    “Justru karena yakin maka Oom berani bilang gitu. Coba aja pikir, ngapain Oom sampe berani ngajak Sinta padahal jelas-jelas udah tau temen baiknya Asmi, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik ditemenin cewek secakep Sinta, tentu Oom nggak akan nekat gini. Udah lama Oom seneng ngeliat kamu Sin.”

    Sinta kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan bersinar-sinar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai diremas tangan Oom Icar.

    “Emangnya, Oom seneng sama Sinta sejak kapan? Kayaknya sih Sinta liat biasa-biasa aja?”
    “Dari Sinta mulai dateng-dateng ke rumah Oom udah ketarik sama cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan?

    Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..” bicaranya menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja.

    “Aaa.. gemes mau diapain Oom?!”
    “Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau juga diremes-remesin gini.. sshmmm..” jawab Oom Icar dengan memperlihatkan contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Sinta.
    “Terusnya apalagi?”
    “Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?” tanya canda Oom Icar yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan

    Sinta, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan merangsang itu.

    “Itu bilangnya.. memek.” jawab Sinta dengan menoleh ke belakang sambil menggigit kecil bibir Oom Icar. Bahasanya vulgar tapi Oom Icar malah senang mendengarnya.
    “Iya, kalau memek Sinta ini dimasukin Oom punya, boleh kan?”
    “Dimasukin apa Oom..?”
    “Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Oom Icar dengan mengambil sebelah tangan Sinta meletakkan di jendulan penisnya.
    “Aaa.. ini kan bilangnya ******.. Dimasukin ini bahaya, kalo hamil malah ketauan orang-orang Oom?” Sinta bergaya pura-pura takut tapi tangannya malah meremas-remas jendulan penis itu.
    “Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Oom beliin pil pencegah hamilnya.”
    “Tapinya sakit nggak?” tanya Sinta sambil mematikan rokoknya ke asbak.
    “Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?” Oom Icar mengajak tapi sambil membopong Sinta pindah ke tempat tidur untuk masuk di babak permainan cinta.

    Om Pemuas NafsukuDi sini Sinta mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Sinta sudah pernah begini dengan dr.Budi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.

    “Ahahhggg.. gellii Oomm.. Sshh.. iihh.. Oom sakit gitu.. sssh.. hnggg..”

    Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa senang, yang begini justru memancing si Oom makin menjadi-jadi. Oom Icar yang nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status hubungannya dengan Sinta apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya.

    Sinta yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi bagian susunya dihisap saja sudah membuat Oom Icar buntu dalam asyik. Sibuk mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Sinta di bagian terakhir memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti ****** kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak peduli tingkatan kesopanan lagi.

    Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli yang terlalu menyengat.
    “Ssshh.. aahnggg.. geliii.. Oomm..” Oom Icar seru memuasi rasa mulutnya yang tentu saja membuat Sinta terangsang tinggi dalam tuntutan birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Oom betul-betul memuaskan sekali. Pada gilirannya Oom Icar merasa cukup dan menyambung untuk mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di sinilah baru terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.

    Sewaktu partama dimasuki, Sinta masih memejamkan mata, dia baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa mengira-ngira seberapa besar batang itu. “Aahshh..” dia mengerang dengan gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Oom Icar agar tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Sinta lewat kata-kata tapi Oom Icar mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk sambil membor penisnya lebih kalem.

    Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa dulu tubuhnya turun menghimpit Sinta lalu dari situ dia berlanjut membor sambil mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang diterima Sinta masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai bisa menyesuaikan dengan ukuran Oom Icar. Dia pun mulai meresapi nikmatnya batang Oom Icar.

    “Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap gesekannya membuat Sinta langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru dibukanya dengan batang kenikmatan Oom Icar. Saking asyiknya kedua tangan dan kakinya naik mencapit tubuh Oom Icar seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan penis dengan putaran vaginanya yang mengocok.

    Disambut kehangatan begini Oom Icar tambah bersemangat memompa, semakin lebih terangsang dia karena Sinta meskipun tidak bersuara tapi gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan menggaruk kepala Oom Icar, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan memanjat tubuh si Oom. Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak permainan, tambah tidak beraturan Sinta menggeliat-geliat. Sementara itu si Oom yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulasinya.

    Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara bersamaan. Sinta yang mulai duluan dengan memperketat belitannya.

    “Aduuhh.. ayyuhh.. Oomm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh.. hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh Oom.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Sin..” saling bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan dengan sentakan-sentakan erotis. Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya.

    Begitu nafas mulai tenang, Sinta memberi isyarat menolak tubuh Oom Icar meminta lepas, tapi sementara si Oom berguling terlentang di sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan kepalanya di dada Oom Icar. Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang masih mengkilap lengket itu.

    “Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Sinta sambil menarik penis Oom Icar.
    “Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Oom Icar dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Sinta.
    “Oom seneng ya sama aku?”
    “Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik, memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Sinta diangkat, bibirnya digigit gemas oleh Oom Icar.

    Sinta langsung bersinar bangga dengan pujian itu. Itu pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa ketagihan satu sama lain. Oom Icar jelas senang dengan teman kencan yang cantik menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di hotel di luar kota tapi sekali pernah Sinta mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Oom Icar sendiri.

    Suatu hari Tante Vera sedang berbisnis ke luar kota ketika Sinta datang bertandang siang itu untuk menemui Asmi. Kedua gadis itu memang membuat janji akan jalan-jalan ke mall sore nanti tapi karena waktunya masih jauh, Asmi mempergunakannya untuk keluar rumah sebentar. Oom Icar yang membuka pintu dan dia sendiri ketika melihat ada peluang yang baik langsung memanfaatkannya, karena begitu Sinta masuk sudah disambut dengan telunjuk di bibir memaksudkan agar Sinta tidak bersuara. Sinta sempat heran tapi ketika digandeng ke kamar Oom Icar dia kaget juga, segera mengerti tujuannya.

    “Iddihh Oom nekat.. nanti ketauan Oom.. Asmi memangnya ke mana?” katanya tapi dengan nada berbisik panik.
    “Sst tenang aja.. Kita aman, Asmi lagi pergi sebentar, Tante lagi keluar kota sedang Hari lagi tidur..” jelas Oom Icar. Hari adalah adik laki-laki Asmi yang duduk di kelas III SMP. Masih ada seorang lagi adik Asmi bernama Hendi yang duduk di kelas I SMA tapi dia tinggal dengan neneknya di Malang.
    “Iya tapi gimana kalo Asmi dateng Oom?”
    “Kan nggak ada yang tau kalau Sinta udah di sini. Mereka nggak bakalan berani masuk kamar Oom. Acaramu kan Oom denger masih nanti malem, kita bikin sebentar di sini yaa?”
    “Tapi Oom.?”
    “Udahlah di sini aja dulu, Oom mau ke luar sebentar. Tuch denger, kayaknya Hari udah bangun. Nih, Oom tebus waktumu untuk jajan-jajan sama Asmi nanti,” kata Oom Icar langsung memotong protes Sinta dengan mengulurkan sejumlah uang yang cepat diambilnya dari dompetnya untuk membujuk Sinta.

    Baca Juga : Guru Sexy

    Setelah itu segera dia keluar kamar meninggalkan Sinta yang karena merasa sudah terjebak terpaksa tidak berani keluar takut kepergok Hari. Melirik uang yang digenggamnya sepeninggal Oom Icar, hati Sinta menjadi lunak lagi karena si Oom memang pintar mengambil hati dan selalu royal memberi jumlah yang cukup menghibur. Meskipun begitu dia menguping dari balik pintu mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang.

    “Pak, barusan kayaknya ada yang dateng kedengeran pintu kebuka?” terdengar suara Hari menanyai ayahnya.
    “Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang Bapak yang buka pintu.”

    Baru saja sampai percakapan ini, tiba-tiba terdengar suara motor Asmi memasuki pekarangan. Tidak lama kemudian dia masuk ke rumah dan terdengar menanyai adiknya.

    “Har, barusan Mbak Sinta singgah ke sini nggak?”
    “Nggak tau, aku juga baru bangun..”
    “Oh ya? Padahal Mbak Asmi singgah barusan ke rumahnya, Mamahnya bilangnya ke sini?”
    “Ya mungkin aja Sinta tadi ke sini tapi ngira kamu nggak ada, jadi pergi ke tempat lain dulu.” kali ini Oom Icar ikut menimbrung pembicaraan.
    “Iya tapi aku ada janji sama dia nanti sore-sorean. ”
    “Oo.. kalo gitu paling-paling sebentar juga ke sini.” putus Oom Icar menghibur anaknya.

    Hening sebentar dan tidak lama kemudian terdengar suara Oom Icar memesan kedua anaknya agar jangan ada tamu atau telepon yang mengganggunya karena dia beralasan agak tidak enak badan dan akan tidur siang. Sesaat setelah itu dia pun masuk disambut Sinta yang bersembunyi di balik pintu langsung mencubit gemas lengannya tapi tidak bersuara, geli dengan sandiwara yang barusan didengarnya.

    Oom Icar tersenyum dan menggayut pinggang Sinta, menggandengnya ke tempat tidur. Sinta menurut karena tahu kalau menolak maka Oom Icar akan membujuknya terus, daripada berlama-lama lebih baik memberi saja agar waktunya lebih cepat selesai. Langsung diikutinya ajakan Oom Icar untuk membuka bajunya, hanya saja masih bingung jika permainan telah usai.

    “Tapi nanti aku ke luar dari sininya gimana Oom..?” tanyanya sambil menyampirkan celana dalamnya sebagai kain penutup terakhirnya yang dilepas.
    “Gampang, Oom pura-pura aja nyuruh mereka berdua keluar beli makanan, di situ Sinta bisa aman keluar dari sini.”
    “Ngg.. Oom bisa aja akalnya..” Sinta sedikit lega.
    “Oom kalo mikirin yang itu sih gampang. Sekarang yang Oom pikirin justru ngeluarin isinya barang ini yang enak gimana caranya.” timpal Oom Icar seraya mendekatkan tubuhnya yang sudah sama bertelanjang bulat dan mengambil tangan Sinta untuk diletakkan di batang penisnya yang masih menggantung lemas.

    Sinta malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap batang itu, menarik-narik, melocoknya dengan genggaman kedua tangannya sambil memandangi benda itu.

    “Yang enak tuh kayak apa sih?” godanya mulai bersikap manja-manja genit.
    “Yang enaknya.. ya jelas pake ini Sin.” jawab Oom Icar balas menjulurkan tangannya meremas selangkangan Sinta.
    “Iddihh si Ooom.. pengennya yang itu aja?” Sinta pura-pura jual mahal.
    “Abisnya barang enak, jelas kepengen Sin..” kata Oom Icar sambil mulai mengajak Sinta berciuman.

    Sinta memang memberi bibirnya tapi dia masih kelihatan setengah hati untuk balas melumat hangat, terlebih ketika akan diajak naik tempat tidur dia seperti merasa berat.

    “Nggak enak ah Oom, sungkan aku itu tempat tidurnya Tante..” katanya mengutarakan perasaannya yang tidak enak untuk bermain cinta di tempat tidur keluarga itu. Oom Icar rupanya bisa mengerti perasaan Sinta, dia tidak memaksa tapi menoleh sekeliling sebentar dan cepat saja menemukan cara yang lain.
    “Ya udah kalo gitu kita bikin sambil berdiri aja. Sini Oom yang atur, ya?” katanya sambil membawa Sinta ke arah kaki tempat tidur dan menyandarkan tubuh Sinta di palang-palang besi tempat tidur itu.

    Oom Icar memakai tempat tidur mahal tapi model kuno yang terbuat dari besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ pantat Sinta disandarkan di pagar bawah tempat tidur yang tingginya pas menyangga pantatnya, sedang kedua tangannya diatur Oom Icar melingkar di sepanjang besi melintang di antara dua tiang kelambu bagian kaki tempat tidur yang tingginya setinggi punggung, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tersandar menggelantung di besi melintang itu hampir pada masing-masing ketiak Sinta. Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri karena setelah itu Oom Icar mengambil dua ikat pinggang terbuat dari kain, lalu mengikat masing-masing lengan Sinta pada besi melintang itu.

    Sinta menurut saja memandangi geli sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan Oom Icar. Berikutnya barulah Oom Icar mulai merangsang dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Sinta dari mulai atas hingga ke bawah. Berawal mengerjai kedua susu Sinta dengan remasan dan kecap mulutnya dan kemudian berakhir mengkonsentrasikan permainan mulut itu di selangkangannya, membuat Sinta yang semula setengah hati mulai naik terangsang. Malah terasa cepat karena posisi kedua tangannya tidak bisa ikut membalas ini menimbulkan daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Oom Icar mulai memberi rasa geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak kepalanya kalau geli terlalu menyengat.

    Begitu tengah sedang asyik-asyiknya permainan pembukaan ini, di teras depan Asmi terdengar mengalunkan suaranya berduet mengiringi Hari dalam permainan gitarnya. Konyol memang buat Asmi, sahabat yang sedang ditunggu-tunggu untuk janji pergi bersama, ternyata sudah sejak tadi ada di dalam kamar rumahnya sendiri, sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya dikerjai mulut ayahnya, malah sudah tidak tahan rangsangan gelinya yang menuntut untuk lebih terpuaskan lewat garukan mantap penis ayah Asmi sendiri.

    “Ayyohh Oom.. janggan lama-lama.. masukkin dulu Oom punnyaa..” bahkan rintih Sinta sudah meminta Oom Icar segera mulai bersenggama. Oom Icar tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang setengah menegang menempel di celah vagina Sinta.

    Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung kepala bulatnya di klitoris Sinta agar menjadi lebih kencang lagi, baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya. Sinta menyambut seolah tidak sabaran, menjinjitkan kakinya untuk mengangkangkan pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya.

    Dia terpaksa menunggu Oom Icar bekerja sendiri menguakkan bibir vagina dengan jari-jarinya agar bisa menyesapkan kepala penisnya terjepit lebih dahulu, baru kemudian ditekan membor masuk. Meningkat kemudian lagu-lagu cinta Asmi yang berduet dengan Hari mengalun romantis, ini senada dengan Sinta yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Oom Icar.

    “Ngghh.. Ooomm.. Sssh.. hhshh.. ngghdduuh.. sshsmm.. hdduhh Oomm.. ennakk.. sshhh.. mmmh.. heehhs.. adduhh..” mengaduh-aduh rintih suaranya tapi bukan kesakitan melainkan sedang larut dalam nikmat.

    Kalau tadi Sinta masih setengah hati untuk melayani nafsu Oom Icar, sekarang dia juga ikut merasa keenakan, karena bermain dalam variasi posisi berdiri ini terasa santai dan mengasyikan sekali baginya. Tidak repot menahan tubuhnya tetap berdiri karena bisa menggelantung dengan kedua lengannya, sambil menerima tambahan enak tangan Oom Icar yang meremas-remas kedua susunya, memilin-milin geli putingnya, dia juga bisa ikut mengimbangi sodokan penis ini dengan kocokan vaginanya.

    Malah tidak berlama-lama lagi, ketika Oom Icar sudah serius tegang akan tiba dipuncaknya Sinta pun mengisyaratkan tiba secara bersamaan. “Aduuhh.. Oomm.. ayoo.. sshh.. duh Sinta mau keluarr.. sssh.. hhgh.. Ooomm..” desah Sinta tertahan. “Aduhhssh.. Iya ayoo Sin.. Oom juga sama-samaa.. aahghh..” segera mengejang Sinta menyentak-nyentak ketika orgasme diikuti Oom Icar tiba di ejakulasinya. Cerita Dewasa ini pun usai dengan kepuasan sebagaimana biasa yang didapati keduanya setiap mengakhiri jumpa cinta mereka.

  • Tamara Bleszynski’s Hidden Diary

    Tamara Bleszynski’s Hidden Diary


    55 views

    Ceritamaya | Sehelai lingerie berwarna pink tipis nyaris transparan dan sehelai g string sewarna berenda-renda tergeletak di lantai dekat ranjang. Di dekatnya, pakaian pria mulai dari kemeja, celana panjang sampai pakaian dalam terserak berantakan di beberapa tempat.
    “Ohh… ohggh… aahh… aahh…” desahan suara wanita terdengar begitu manja di tengah deru nafasnya yg memburu.
    “Ahh… yeah… c mon Tammy.. ahh.. yes.. ohh.. yes..” suara pria mengiringi desahan desahan manja sang wanita. Sepasang anak manusia bergulat di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, menyatu dalam sebuah persetubuhan ganas. Si wanita yg berwajah indo berposisi di atas memacu tubuhnya yg putih mulus dengan gerakan liar sambil melenguh-lenguh merasakan kenikmatan persetubuhannya, sementara si pria yg jelas orang bule memeluk tubuh mulus si wanita sambil mencumbui sepasang payudara mulusnya yg montok dan kenyal, sesekali payudara putih itu dijilati dengan penuh nafsu.
    “Ohh.. aahh.. Fuck me.. harder.. Mike.. ohh..” wanita yg disapa Tammy itu melenguh keras, tubuhnya mengejang dan menggeliat-geliat, wajahnya memerah tegang, seolah ingin mengeluarkan sesuatu yg sedari tadi ingin dia keluarkan dari tubuhnya. Saat itulah tubuhnya melengkung, wajahnya mendongak ke atas, sementara kuku jari tangannya membenam di pundak si pria.

    Suasana di kamar Presidential Suite itu jelas dirancang untuk membangun suasana yg romantis. Cahaya lampu kamar yg ada di lantai tertinggi hotel berbintang lima itu dibuat dengan mengimitasi candle light party yg temaram. Cahaya jingga mendominasi kamar berukuran luas itu, sementara harum bau pewangi ruangan yg disemprotkan secara otomatis menguarkan aroma yg membangkitkan erotisme. Alunan musik instrumental berirama acid jazz lembut makin menegaskan suasana penuh gairah itu.
    Ranjang berukuran besar itu berderit pelan, kelambu yg menutup sebagian ranjang bergaya neo klasik itu bergetar dengan lembut seiring dengan guncangan lembut yg terjadi. Sehelai lingerie berwarna pink tipis nyaris transparan dan sehelai g string sewarna berenda-renda tergeletak di lantai dekat ranjang. Di dekatnya, pakaian pria mulai dari kemeja, celana panjang sampai pakaian dalam terserak berantakan di beberapa tempat.
    “Ohh… ohggh… aahh… aahh…” desahan suara wanita terdengar begitu manja di tengah deru nafasnya yg memburu.
    “Ahh… yeah… c mon Tammy.. ahh.. yes.. ohh.. yes..” suara pria mengiringi desahan desahan manja sang wanita. Sepasang anak manusia bergulat di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, menyatu dalam sebuah persetubuhan ganas. Si wanita yg berwajah indo berposisi di atas memacu tubuhnya yg putih mulus dengan gerakan liar sambil melenguh-lenguh merasakan kenikmatan persetubuhannya, sementara si pria yg jelas orang bule memeluk tubuh mulus si wanita sambil mencumbui sepasang payudara mulusnya yg montok dan kenyal, sesekali payudara putih itu dijilati dengan penuh nafsu. Ceritamaya
    “Ohh.. aahh.. Fuck me.. harder.. Mike.. ohh..” wanita yg disapa Tammy itu melenguh keras, tubuhnya mengejang dan menggeliat-geliat, wajahnya memerah tegang, seolah ingin mengeluarkan sesuatu yg sedari tadi ingin dia keluarkan dari tubuhnya. Saat itulah tubuhnya melengkung, wajahnya mendongak ke atas, sementara kuku jari tangannya membenam di pundak si pria.
    AHHKKH… OHHH…” wanita itu melenguh keras, seluruh gejolak seksualnya meledak bertubi-tubi menciptakan sensasi luar biasa yg menggedor sekujur syarafnya, tubuhnya menegang kaku. Sementar si pria merasakan jepitan kuat mencengkeram penisnya. Vagina si wanita berdenyut keras seperti memijat penis yg mendekam di dalamnya.
    “Ohh.. Ahh..” pria bule itu mengerang keras, tidak tahan merasakan sensasi kenikmatan yg melanda penisnya. Penisnya berkedut sesaat lalu dengan lenguhan penuh nikmat, sperma si pria menyembur mengisi rahim wanita cantik itu.
    *
    Menelisik hubungan spesial antara Tamara Bleszinsky dengan Mike Lewis, bintang sinetron sekaligus model berdarah Eropa itu seperti mencoba mengendus tindak pidana korupsi, ada di depan hidungmu tapi tidak bisa kau buktikan. Selama berbulan-bulan para wartawan Infotainment mencoba mencoba mengungkap fakta itu, tapi tak satupun dari mereka yg berhasil. Padahal hampir semua orang paham kalau perceraian Tamara dengan Rafly disebabkan oleh perselingkuhan Tamara dengan Mike.
    Hal itu pula yg membuat Tamara Dan Mike bisa melenggang bebas. Selama ini memang keduanya punya trik khusus untuk menyembunyikan perselingkuhan mereka. Rafly sendiri sebenarnya tahu hal itu meskipun dia tidak berhasil membuktikannya. Itulah sebabnya dia mati-matian memproteksi Rassya dari bekas istrinya, karena dia ingin menangkap basah hubungan gelap Tamara secara langsung.
    Siang itu karena tidak ada jadwal syuting, Tamara terlihat sibuk melakukan latihan fitness di rumahnya yg luas. Memakai pakaian fitness yg ketat membuat lekuk tubuhnya yg menjadi fantasi liar banyak pria terlihat begitu jelas. Keringat yg membasahi tubuhnya yg putih membuatnya tampak makin seksi.
    Di tengah kesibukannya berlatih tiba-tiba terdengar dering telepon membuat Tamara menghentikan latihannya. Dengan gerakan enggan Tamara menghampiri telepon yg terletak di sudut ruangan.
    “Halo..” kata Tamara ogah-ogahan. Suara berkeresek terdengar dari seberang.
    “Halo Mbak.. Ini di pos depan ada paket amplop buat Mbak Tamara.” kata suara yg ternyata satpam di depan. “Saya antar sekarang Mbak?”
    “Ya. Bawa saja ke dalam.” kata Tamara Pendek. Dia segera menutup telepon, lalu menyambar mantel tidur yg ada di dekatnya untuk menutupi tubuhnya. Tamara lalu menuju ruang tengah. Sebuah amplop coklat besar yg tersegel rapat dan agak menggelembung karena terisi sesuatu. Tamara agak bingung melihatnya, mungkin surat penggemar yg dijadikan satu pikirnya. Dibaliknya amplop itu. Tidak ada nama pengirimnya. Dengan buru-buru Tamara merobek amplop itu, karena kurang hati-hati, isi amplop itu berhamburan keluar. Foto. Amplop itu berisi foto banyak sekali, tapi bukan foto sembarang foto. Seluruh foto yg ada ternyata adalah foto-foto yg memperlihatkan perselingkuhannya dengan Mike Lewis. Entah berapa banyak adegan mesranya dengan Mike yg diabadikan, mulai dari yg sekedar berpelukan atau berciuman sampai foto yg jelas memperlihatkan dirinya dalam pose telanjang bahkan tengah melakukan hubungan seks. Foto yg memperlihatkan saat mereka memasuki kamar Presidential Suite dua hari yg lalu juga ada.
    Seluruh tulang di tubuh Tamara seolah lenyap begitu melihat foto-foto itu. Tubuhnya langsung panas dingin seperti terserang demam mendadak. Perutnya serasa bergejolak seperti diaduk-aduk isinya. Dengan panik Tamara mengumpulkan foto-foto dan memasukkannya lagi ke dalam amplop. Selembar kertas bekas sobekan notes terselip di antara tumpukan foto.

    KETEMU DI KAFE BIASANYA, JAM 2 SIANG INI

    Tamara tertegun melihat kertas itu. Kepanikan luar biasa seperti seekor ular piton membelit tubuhnya. Otaknya bekerja keras mencoba mengungkap siapa yg mengirimkan foto-foto itu. Tapi dalam keadaan panik, karena dalam seperempat jam dia harus datang ke tempat yg diminta oleh pengirim surat kaleng itu, membuat Tamara tak bisa berpikir jernih. Tanpa mandi, Tamara segera berganti pakaian lalu menuju mobilnya.
    *
    Kafe yg berada di daerah Kemang itu terlihat sepi pada jam-jam seperti ini. Bisa dimengerti karena ini adalah jam kantor di saat aktifitas sedang sibuk-sibuknya. Tamara beberapa kali melirik jam tangan mewah berlapis emas yg melingkari pergelangan tangan kirinya dengan gelisah. Dia terlambat sepuluh menit dari seharusnya. Tamara sengaja duduk di sudut ruangan agar bisa mengawasi pengunjung yg lain. Dia memakai kaus ketat warna merah dan celana jins ketat. Tamara sengaja menyembunyikan identitasnya dengan memakai topi dan kacamata hitam. Begitulah yg biasa dia lakukan jika berduaan dengan Mike.
    Mendadak, seorang pria berjaket hitam dan berkacamata gelap duduk di depan Tamara. Tamara yg sedang kalut langsung terkejut dibuatnya, nyaris dia berteriak kalau pria itu tidak mencegahnya.
    “Jangan Mbak..” pria itu memberi isyarat agar Tamara diam. Tamara seperti mengenali suara pria itu.
    “Kamu..” Tamara mulai yakin siapa yg dihadapinya. “Samy. Kamu Samy kan?” Tamara menggeram marah. “Bajingan kamu..!”
    “Sst..” pria yg disapa dengan nama Samy itu memberi isyarat diam pada Tamara. “Jangan berisik Mbak. Apa mbak Tamara mau semua orang tahu?” Samy mengucapkan kalimat itu dengan tenang, seperti sudah melatihnya selama berhari-hari. Tamara merasakan ada nada ancaman dari suara Samy.
    “Apa maumu bangsat?” Tamara menajamkan suaranya dengan raut muka penuh kemarahan.
    “Wah. Langsung ke tujuan.” Samy tersenyum sinting. “Dulu waktu Mbak Tamara memecat saya sebagai sopir Mbak, kayaknya juga begitu.”
    Tamara kian panik dipermainkan seperti itu. Tangannya mencengkeram gelas minumannya yg masih penuh. Hampir saja Tamara menyiramkan isinya ke wajah Samy. Tamara ingat, dia pernah memecat Samy yg waktu itu bekerja padanya sebagai sopirnya. Samy sebenarnya tergolong rajin, tapi dia punya masalah sering teledor. Beberapa kali dia mengacaukan jadwal Tamara karena keteledorannya. Nama aslinya Samsudin. Umurnya tidak beda jauh dari Tamara. Tampangnya lugu dan culun, yg sebenarnya lebih mirip orang katro ketimbang kriminil dam punya selera humor yg kelewatan bahkan cenderung konyol. Hobinya cengar-cengir sendirian menambah kesan sebagai orang yg agak slebor. Tubuhnya kurus dan agak pendek, cuma 155 cm. Kulitnya gelap terbakar matahari. Kumis ikan lele model Tukul Arwana menambah kesan culun di wajahnya.
    “Jangan basa-basi!” Tamara kian kesal dengan kelakuan Samy. “Elo mau apa? Uang?”
    “Wah. Kalau itu sih pasti Mbak Tamara..” Samy menjawab konyol. “Siapa orangnya yg nggak doyan duit. Tapi ini lebih dari sekedar duit..”
    Tamara berdesir. Ada rasa tidak enak melintas di benaknya ketika mendengar perkataan Samy barusan.
    “Apa maksud elo?” Tamara bertanya gugup. Samy terlihat senang berada di atas angin. Jelas sekali dia sangat menikmati permainan ini.
    “Mbak Tamara pernah memecat saya kan?” tanya Samy. “Pakai acara memaki-maki pula.”
    Tamara hanya diam. Dia tidak tahu akan diarahkan ke mana pembicaraan ini.
    “Lalu apa yg elo mau sekarang?” Tamara bertanya gugup setelah terdiam beberapa saat. Samya tertawa mendengar kegugupan dalam ucapan Tamara.
    “Gampang saja kok Mbak, asal Mbak Tamara menuruti perintah saya, semua beres.” kata Samy blak-blakan. Tamara nyaris melompat dari kursinya. Wajahnya seperti ditampar mendengar hal itu. Tubuhnya langsung gemetar dan panas dingin.
    “Tapi kalau Mbak Tamara nggak mau juga nggak apa-apa.” Samy menambahi melihat reaksi Tamara. “Paling-paling foto mesumnya Mbak Tamara bakal nongol di internet. Dan Mas Rafly bakal nggak akan mengijinkan Mbak menemui Rassya buat selamanya. Gampang kan?”
    Rasanya seperti ada palu godam raksasa yg menghantam rontok sekujur tulang tubuh Tamara saat mendengar hal itu. Bagi Tamara, perselingkuhannya dengan Mike Lewis tersebar bukan masalah besar. Foto mesranya dengan Mike tersebar juga bukan masalah besar. Tapi bagi Tamara, lebih baik mati daripada dilarang menemui anak kandungnya sendiri untuk selamanya.
    “Jangan..” Tamara menggeleng lemah. Sebutir air mata mengalir di pipinya yg putih. “Jangan.. Gue bersedia mematuhi perintah elo, tapi please jangan sebarin foto-foto gue. Gue bisa mati kalau tidak diijinkan ketemu Rassya lagi.” Tamara meratap.
    Samy tertawa puas mendengar ucapan Tamara. Perasaan penuh kemenangan memenuhi sekujur tubuhnya, sebuah kemenangan yg sangat tak ternilai harganya yg bahkan jauh melebihi perkiraannya.
    “Bagus sekali Mbak..” Samy tersenyum licin, penuh kemenangan. “kalau begitu sekarang Mbak Tamara tandatangani surat pernyataan ini.” Samy mengeluarkan sebuah tumpukan kertas dari saku jaketnya.
    “Saya yg bertanda tangan di bawah ini, Tamara Bleszinsky sebagai pihak pertama, menyatakan bersedia mematuhi semua perintah dari pihak kedua yg bernama Samsudin. Jika saya melanggar perjanjian ini, saya bersedia menerima hukuman yg bentuknya diserahkan sepenuhnya pada pihak kedua. Demikian surat pernyataan ini saya buat tanpa paksaan dari pihak manapun.”
    Tamara membeku membaca isi surat perjanjian yg ada di tangannya. Jika dia menandatangani surat itu, berarti dia akan sepenuhnya dikuasai oleh Samy, bahkan lebih buruk lagi, dia akan menjadi budak Samy. Tapi Tamara juga takut kehilangan Rassya. Kebingungan melanda Tamara. Pilihan yg dihadapinya sama-sama sulit. Tapi akhirnya, karena kalut, Tamara memutuskan untuk menandatangani surat yg dibuat rangkap tiga itu.
    “Bagus sekali Mbak..” Samy tertawa. “Mbak Tamara memang pintar deh.” kata Samy sambil memasukkan surat perjanjian ke dalam sakunya. “Sekarang tugas pertama Mbak Tamara adalah..” Samy menatap wajah cantik artis itu dengan liar. “Mbak Tamara musti muasin saya..”
    Tamara terkesiap mendengarnya. Tubuhnya terasa lemas seolah tak bertulang.
    “Apa maksudmu..?” Tamara beratanya gemetar.
    “Masa nggak ngerti juga..” Samy menjawab tenang sambil tersenyum-senyum mesum.
    Tamara merinding ngeri. Ketakutannya yg terbesar terbukti benar. Dia menundukkan wajahnya sambil menangis pelan. Tapi karena Tamara telah menandatangani surat perjanjian maka dia tidak bisa menolak keinginan Samy. Secara legal Samy berhak memerintahkan apa saja pada Tamara. Tamara benar-benar tidak berdaya menghadapi akal Samy yg dengan lihai telah menjebaknya dengan dua senjata mematikan. Bahkan dengan pengacara sekelas Hotman Paris Hutapea atau Ruhut Sitompul sekalipun Tamara tidak yakin bisa keluar dari jeratan bekas sopirnya itu. Kalaupun Tamara bisa lolos dari jerat surat perjanjian yg ditandatanganinya, dia masih harus menghadapi ancaman kehilangan Rassya. Tamara bingung dan kalut memikirkan hal itu. Dia juga heran bagaimana caranya Samy bisa mendapatkan foto-foto pribadi itu. Padahal kalau Tamara mau cermat, dia pasti ingat pernah kehilangan kamera digital beberapa bulan lalu.
    Ketidakberdayaan itulah yg membuat Tamara menurut saat Samy mengajaknya pergi dengan memakai mobilnya. Tamara memperhatikan Samy membawanya ke arah Puncak. Tamara hafal jalan yg dilalui karena dia sering melewatinya bersama Mike. Sepanjang perjalanan, karena terlindung kaca mobil yg gelap, Samy dengan leluasa menggerayangi tubuh Tamara. Tangan Samy berkali-kali bercokol di payudara Tamara yg sering disebut-sebut sebagai payudara terindah di Indonesia itu sambil meremasinya dengan kasar. Tamara sendiri dipaksa untuk mengelusi bagian kemaluan Samy dengan tangannya.
    Semula Tamara mengira Samy akan membawanya ke villa. Tapi alangkah terkejutnya Tamara ketika Samy membelokkan mobilnya ke sebuah penginapan yg terkesan kumuh. Tamara merasa jengah berada di penginapan itu. Sering sekali dia melihat wanita malam kelas murah meriah berseliweran di depannya, bergandengan tangan dengan pria hidung belang. Mereka menyewa sebuah kamar yg sempit dan pengap tanpa AC, membuat Tamara kegerahan. Hanya ada sebuah ranjang berukuran besar yg membuat kamar sempit itu jadi makin sempit. Dilihat dari kondisinya, Tamara tidak yakin kalau seprai tempat tidurnya pernah diganti selama sebulan terakhir. Tamara bahkan melihat ada noda seperti bekas ceceran darah di tengah-tengah seprai berwarna kuning lusuh itu. Tamara tiba-tiba merasa dirinya jadi tidak ada bedanya dengan pelacur murahan yg dilihatnya di depan penginapan. Selama beberapa lama dia hanya bisa berdiri mematung.
    “Jangan diam saja di situ.” Samy berkata agak keras. “Sekarang elo ke sini.” Samy mulai meninggalkan sebutan ‘Mbak’ dan mulai menggunakan bahasa ‘elo gue’ pada Tamara. Tamara diam saja mendengar ucapan itu, tapi wajahnya memerah karena menahan malu dan marah.
    “Nah.. Sekarang gue mau elo lepasin semua baju elo sampai bugil.” kata Samy. “Iya, bugil.” ulangnya saat melihat reaksi Tamara yg terpekik tak percaya.
    “Tapi bukan asal bugil Tam.” Samy mengeluarkan barang bawaannya. Sebuah handycam. “Gue mau merekam elo bugil.”
    “Jangan Sam..” Tamara menggeleng lemah merasa dilecehkan. “Gue mau bugil di depan elo, tapi jangan direkam.. Please..” Tamara memohon dengan terisak, tapi Samy tertawa dingin.
    “Eln nggak berhak menawar.” Samy menukas. “Gue yg berkuasa di sini, jadi cepat lakukan.” Samy mengancam.
    Tamara terdiam dan terisak mendengarnya, tapi dia tidak bisa menolak keinginan Samy. Dengan menguatkan diri, Tamara menghapus air matanya. Perlahan dia mulai menarik kaus ketatnya, melewati kepalanya sampai kaus itu terlepas dari tubuhnya membuat tubuh Tamara bagian atas sekarang hanya berbalut sebuah bra berwarna hitam berenda. Samy langsung melotot menatap tubuh molek wanita cantik itu yg begitu putih dan mulus.
    “Ohh.. bra hitam.. yeah.. kesukaan gue nih..” kata Samy penuh nafsu sambil menyorot kemolekan tubuh Tamara dengan handycam. “Ayo, celananya juga. pelorotin celana elo.”
    Tamara terisak pelan mendengarnya. Dengan berat hati dia mulai membuka celana jeans ketat yg dipakainya lalu diturunkannya sampai lepas. Seketika itu pula sepasang kaki yg seputih pualam terpampang dengan indah menampakkan sepasang paha mulus dan betis indah yg berakhir pada selangkangan dan pinggul membulat yg masih tertutup celana dalam model G string yg juga berwarna hitam berenda.
    “Ohh..” Samy mendengus penuh nafsu melihat tubuh Tamara yg nyaris bugil. Kemulusan tubuh Tamara terlihat begitu kontras dengan pakaian dalam warna hitam yg dipakainya. Samy meminta Tamara membalikkan badan agar dia bisa menyorot punggung Tamara yg mulus dan pantat montoknya yg terbuka. Selama beberapa menit Samy memuaskan diri merekam tubuh mulus Tamara dari segala arah.
    “Sekarang lepasin bra sama celana dalamnya.” perintah Samy. Tamara menggeleng lemah mendengarnya. Air matanya kembali mengalir.
    “Gue bilang lepas!” Samy membentak. Tanpa daya sedikitpun Tamara menurut. Diraihnya kait bra di bagian punggungnya, dan sebentar saja bra hitam itu sudah terlepas dari tubuhnya dan jatuh ke lantai, membuat payudara Tamara yg putih mulus itu menggantung telanjang. Bentuknya memang indah, tidak tampak seperti payudara wanita yg sudah punya anak. Payudara mulus itu tetap terlihat montok dan kencang, bulat padat dengan puting berwarna pink segar mencuat menggairahkan.
    “Ohh.. montok.. ohh.. mulus..” Samy gemetar menahan nafsunya yg menggebu melihat keindahan payudara Tamara yg telanjang.
    “Ayo, celana dalamnya juga.” Samy berkata gemetar. Tamara tidak kuasa menolaknya, dia segera memelorotkan G stringnya sampai lepas dan melemparkannya ke lantai, membuat tubuh mulusnya kini benar-benar telanjang bulat. Daerah kemaluannya yg terbuka ditumbuhi rambut halus yg terawat cermat.
    “Ohh.. ohh.. mulus banget.. ohh..” Samy mengerang sambil terus menyorot tubuh bugil Tamara selama beberapa menit. Lalu setelah puas menikmati kemulusan tubuh Tamara, Samy menyuruh artis cantik itu mendekat. Dipaksanya Tamara berlutut di hadapannya.
    “Sekarang elo buka celana gue Tam.” perintah Samy, membuat Tamara bergidik ngeri. Tapi Tamara terpaksa menurut. Seketika penis Samy yg besar dan kokoh langsung mengacung tegak tepat di wajah Tamara membuat Tamara memalingkan wajahnya. Penis Samy ternyata jauh lebih besar dibanding penis Mike. Salah satu alasan Tamara berselingkuh adalah karena dia tidak pernah puas jika berhubungan badan dengan Rafly, tapi kalau melihat ukuran penis Samy, Tamara jadi ngeri membayangkan kalau Samy memperkosanya.
    “Elo pasti sering nyepongin kontolnya Mike kan Tam?” Samy bertanya membuat Tamara gugup. “Sekarang elo emut ****** gue.”

    Baca Juga : Cincin Perawan 5

    Tamara terkesiap ngeri, dia merasa jijik melihat penis Samy. Dia memang sering melakukan oral seks dengan Mike, tapi penis Mike jelas lebih bersih ketimbang penis yg sedang dia hadapinya.
    “Ayo.. tunggu apa lagi?” bentak Samy. Tamara merinding sesaat. Akhirnya dengan pasrah Tamara mulai menggenggam penis Samy yg berukuran super dan mengocoknya dengan lembut. Samy langsung mengejang merasakan kenikmatan kocokan tangan Tamara yg halus dan lembut pada penisnya. Lalu Tamara mulai membuka mulutnya.Kemudian memasukkan penis yg sedang dikocoknya ke dalam mulutnya.
    “Ohh.. ohh.. ahh.. nghh.. ohh..” Samy mengerang-erang menahan kenikmatan yg mulai mendesak tubuhnya ketika Tamara mulai mengulum penisnya Tamara memang lihai melakukan oral seks. Dia mulai mengeluarkan trik-triknya dengan mengeluarkan batang penis Samy dari mulutnya untuk dikocoknya dengan lembut dan kemudian dikulumnya kembali. Hal itu dilakukan Tamara berulang-ulang membuat Samy kian melenguh tak karuan. Kamar yg pengap itu jadi semakin pengap oleh permainan oral seks Tamara membuat keringat Tamara dan Samy bercucuran. Samy makin keenakan menikmati kuluman dan kocokan Tamara pada penisnya sambil tetap merekam wajah artis cantik itu saat mengulum penisnya. Wajah cantik Tamara terlihat kian menggairahkan dan membangkitkan nafsu.
    Selama sepuluh menit lamanya Tamara mengulum dan mengocok penis Samy sampai Samy berkelojotan menahan sekuat tenaga desakan kenikmatan ya melanda tubuhnya. Sampai pada klimaksnya, Samy tidak tahan lagi. Dia memegangi kepala Tamara dan menyodokkan penisnya dalam-dalam sampai mentok di tenggorokan artis cantik itu. Tamara membeliak kehabisan nafas sampai tubuhnya meronta-ronta. Samy makin brutal menyodokkan penisnya.
    “ARGHH.. ARGGHH.. OHH..!! Samy melenguh keras, tubuhnya mengejang. “Crt.. crt.. crt..” seketika sperma Samy menyembur ke dalam tenggorokan Tamara. Tamara merasakan ada cairan kental mengalir di tenggorokannya dan meluncur tak tertahankan ke dalam perutnya.
    “Ahh..” Samy melenguh penuh kelegaan. Rasanya seperti terlepas dari himpitan sebuah gunung batu saat dia menumpahkan spermanya di tenggorokan artis cantik itu. Tamara langsung terpuruk ke lantai sambil tersengal-sengal kehabisan nafas. Dia terisak sedih, harga dirinya terhempas ke titik paling hina seolah ada yg mendorong tubuhnya ke dalam jurang yg sangat dalam.
    “He he he..” Samy tertawa penuh kemenangan. “Elo memang jago banget nyepongnya Tam.” kata Samy mengejek. Tamara mendongak menatap Samy dengan wajah memelaskan.
    “Sudah cukup kan Sam?” Tamara bertanya lirih. “Gue udah puasin elo..”
    “Sudah cukup?” Samy tertawa. “Mulai saja belum..”
    Ucapan Samy membuat Tamara kembali tertunduk lemas.
    “Sekarang Tam, elo harus menari bugil.” perintah Samy tegas. Tamara terisak pelan mendengarnya. Tapi tanpa daya sedikitpun, Tamara mulai berdiri. Samy menyetel lagu berirama House Music untuk mengiringi tarian telanjang Tamara. Artis bertubuh seksi itupun mulai menggerakkan tubuhnya dengan gerakan yg sering dia lakukan kalau sedang dugem. Goyangam tubuh putih mulus Tamara yg telanjang bulat membuat nafsu Samy kembali bangkit. Sambil terus merekam tarian bugil Tamara, dia juga mengocok penisnya sendiri.
    “Ohh.. yeah.. terus Tam.. ayn goyang terus..” Samy menyemangati Tamara. “Ayo goyangin pantatnya juga. Pakai gaya ngebor..” Samy tertawa penuh nafsu saat melihat Tamara menggoyangkan pantatnya yg padat dengan gaya ngebor.
    Selama setengah jam Tamara memuaskan Samy dengan tarian bugil. Tubuhnya yg mulus bercucuran keringat membuat tubuh putih itu berkilat membangkitkan nafsu birahi. Tamara tersimpuh di lantai karena kelelahan. Tubuh seksinya bergetar seirama deru nafasnya yg tersengal.
    “gimana Tam? Puas? Mau lagi?” Samy mengejek. Tamara diam saja.
    “Sekarang Tam, elo musti onani di depan gue.” kata Samy. Tamara terkesiap mendengarnya, tapi dia tidak bisa menolaknya. Perlahan dia mulai menegakkan tubuhnya, dia mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil mengocok vaginanya dengan jari tangannya. Akibatnya libido Tamara mulai meninggi. Tubuhnya menggeliat dan mengejang sambil sesekali mengerang lirih.
    “Ohkkh.. ahh..” Tamara mengerang tertahan. Wajahnya seketika memerah menahan libidonya dan sekaligus malu. Tapi setelah beberapa menit, pelan-pelan Tamara mulai terhanyut oleh permainannya sendiri. Tamara kian liar dalam merangsang dirinya sendiri. Rasa malu Tamara pelan-pelan hilang dari pikiran, yg ada dalam benak Tamara sekarang adalah bagaimana mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin.
    “Ohh.. ohh.. ahh..” Tamara mengejang-ngejang, tubuhnya sampai menungging di lantai merasakan sensasi yg dibuatnya sendiri. Jari-jarinya masuk sampai mentok di dalam liang vaginanya sendiri. Cairan bening mengucur deras dari vaginanya membuatnya kian lancar dalam mengocok vaginanya sendiri.
    “Enggh.. ogghh.. ohh..” Tamara menggeliat liar sambil menggigit bibirnya sendiri. Desakan orgasmenya makin tak tertahankan membuat tubuhnya menggeliat kian tak terkendali.
    “Ohhkkh.. Ohhh..” Tamara mengerang keras saat orgasmenya meledak. Cairan vaginanya kian mengucur deras, menandakan kalau wanita cantik itu telah siap untuk bersenggama. Tamara terkapar lemas di lantai dengan nafas terengah-engah seperti baru saja berlari ribuan kilometer. Dia merasa malu sekaligus puas merasakan orgasmenya yg pertama. Gelombang orgasme itu menguasai tubuh Tamara begitu kuat sampai-sampai saat Samy mengangkat tubuhnya, Tamara tidak melawan sedikitpun. Dia membiarkan saja tubuhnya yg telanjang bulat dibaringkan di atas ranjang. Samy meletakkan handycamnya di atas meja yg posisinya diatur sedemikian rupa sehingga bisa menyorot ke seluruh ranjang dan merekam tubuh mulus Tamara yg bugil di atasnya. Tanpa membuang waktu lagi Samy segera melepaskan pakaiannya sampai bugil. Dia lalu berlutut di hadapan Tamara yg terlentang sambil mengatur posisi kaki artis cantik itu sampai mengangkang membuat liang vagina Tamara terbuka lebar.
    “Ohh.. mulus..” Samy meneguk ludah menatap kemolekan tubuh Tamara yg telanjang bulat di hadapannya, tubuh yg selama ini hanya bisa dibayangkannya itu sekarang terpampang di hadapannya siap untuk diapakan saja. Pelan-pelan Samy mencondongkan tubuhnya ke depan menindih tubuh mulus Tamara, lalu dia mulai menciumi bibir Tamara yg menggemaskan dan melumat bibir artis cantik itu dengan lumatan ganas. Samy juga menjilati dan mengenyot bibir seksi itu sambil mendesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Tamara. Pengaruh orgasme yg masih menyerang Tamara membuat artis sinetron itu merespon ciuman ganas Samy dan menyambut desakan lidah mantan sopirnya dengan bernafsu. Selama beberapa menit kedua orang yg berbeda status itu berpagutan dengan bibir menempel ketat, saling kulum dan saling lumat.
    Samy merasa mendapat angin mengetahui respon Tamara. Serangannya mulai berpindah. Tangannya mulai mengelusi payudara indah Tamara yg membusung begitu mulus. Samy kemudian menjilati payudara artis seksi itu sedangkan tangannya terus mengelus-elus dan meremasi payudara lembut itu dengan ganas. Jilatan-jilatan ringan ujung lidah Samy menari-nari di atas puting payudara Tamara membuat artis cantik itu kembali mengerang penuh nafsu.
    “Nghh.. ohh..” Tamara mendesah tertahan merasakan jilatan Samy pada puting payudaranya. Jilatan itu membuat tubuhnya kembali menegang. Saat itulah Tamara merasakan benda tumpul menggesek bibir vaginanya.
    “Ohkkh.. ahh..” Tamara mengerang lirih saat merasakan penis Samy melesak ke dalam liang vaginanya. Vagina Tamara yg basah membuat penis Samy melesak dengan mulus ke dalam liang vagina artis seksi itu. Tamara menggigit bibir merasakan penis Samy yg berukuran besar menjejali vaginanya.
    “Ehhggh.. ohh..” Samy mengerang merasakan jepitan vagina Tamara. Liang vagina artis itu seolah menyempit dan mencengkeram penisnya dengan kuat.
    “Ohh.. gila.. memek elo mantap banget Tam.. Ohh.. Sempit banget, padahal udah punya anak..” Samy berujar senang di tengah usahanya menggagahi artis cantik itu. Pemandangan yg membangkitkan nafsu tersaji di atas ranjang kumuh itu. Tubuh Tamara yg tinggi, putih, mulus dan telanjang bulat digeluti oleh sosok pria yg kurus dan legam.
    Pada awalnya mungkin Tamara merasa terpaksa, tapi saat Samy menyodok vaginanya, Tamara mulai merasakan sebuah sensasi kenikmatan yg tidak didapatkannya dari Mike. Tamara menjerit lirih menahan nikmat tiap kali penis Samy menggenjot vaginanya. Penis Samy yg besar membuat Tamara mendapatkan kenikmatan baru. Tubuhnya mulai merespon persetubuhan itu.
    “Nghh.. nhh.. ohh.. ohh.. ahh..” Tamara mengerang penuh kenikmatan merasakan sensasi persetubuhan yg dia lakukan dengan mantan sopirnya itu. Tidak tampak lagi Tamara yg diperkosa, yg ada sekarang adalah Tamara yg begitu menikmati persetubuhannya itu. Saking terangsangnya, Tamara membiarkan saja Samy membimbingnya dalam bersenggama. Masih dengan kelamin yg menyatu, keduanya saling peluk dan bertukar posisi. Tubuh Tamara berada di atas, lalu Tamara memposisikan dirinya dalam posisi berjongkok dengan kaki mengangkang seperti kaki kodok. Keduanya saling berpegangan tangan, lalu Tamara menggerakkan pantatnya naik turun membuat penis Samy kembali menggenjot vaginanya dengan keras. Suara berkecipak saat kedua alat kelamin itu saling sodok terdengar cukup jelas diiringi lenguhan Tamara yg kian menggila.
    “Hghh.. ehgh.. ohh.. ohh.. ahh.. ahh..” lenguhan Tamara kian liar seirama gerakan pantatnya yg kian kuat. Hampir sepuluh menit lamanya Tamara menggerakkan pantatnya seolah memaksa penis Samy sampai batas akhir. Meski begitu, karena sudah mengalami ejakulasi sebelumnya, Samy kali ini bisa bertahan lama, lagipula Samy tidak ingin terlalu cepat. Dia benar-benar ingin menikmati tubuh Tamara selama mungkin. Samy lalu menyuruh Tamara menungging dengan bertumpu pada lutut dan sikunya sehingga posisi pantat Tamara yg bulat padat lebih tinggi dari kepalanya. Dengan posisi itu, Samy sangat leluasa untuk menggenjot vagina artis cantik itu dari belakang dengan gerakan yg makin lama makin brutal membuat tubuh Tamara yg mulus itu tersentak-sentak maju mundur seirama genjotan penis Samy pada vaginanya.
    “Ahh.. ohh.. fuck.. ohh.. fuck..” Samy menggenjot vagina Tamara sambil melenguh dan meracau tidak karuan. Tapi perlakuan Samy yg brutal justru menimbulkan sensasi tersendiri pada diri Tamara. Artis cantik itu melenguh liar, menggigit bibirnya sendiri merasakan kenikmatan luar biasa yg melanda tubuhnya.
    Reaksi Tamara itu membuat Samy makin bersemangat. Digenjotnya vagina artis sinetron yg juga bintang iklan sabun mandi itu dengan kekuatan berlebihan, sampai pada klimaksnya Samy merasakan liang vagina artis seksi itu kembali menyempit dan berdenyut keras meremas penisnya.
    “OHHHKKH… AAHH..” Tamara melolong keras bagai seekor srigala. Tubuhnya menggelepar liar vaginanya mengucurkan cairan dan berdenyut keras sekali sampai Samy merasa penisnya bisa hancur oleh kekuatan cengkeraman vagina wanita cantik itu. Tamara kembali meledakkan orgasmenya yg kali ini bahkan lebih hebat dibanding yg pertama. Samy akhirnya menyerah, tak tahan lagi saat vagina Tamara menjepit penisnya keras. Dengan kekuatan penuh, dia melesakkan penisnya sedalam mungkin di liang vagina artis itu.
    “Ohhggh.. Ohh..” Samy melenguh sambil tubuhnya mengejang, lalu spermanya kembali menyembur deras, kali ini di dalam vagina Tamara, mengisi rahim wanita cantik itu dengan benihnya.
    Tamara terhempas di ranjang, nafasnya terengah-engah setelah mengalami persetubuhan dan orgasme yg gila-gilaan tersebut. Tubuh telanjangnya yg putih mulus bermandikan keringat sampai berkilat. Selama beberapa detik lamanya gelombang kejut orgasme membuat Tamara seolah melayang beberapa senti di udara. Untuk pertama kali sepanjang hidupnya,Tamara merasakan gelombang orgasme yg begitu dahsyat. Mike Lewis sekalipun belum pernah membuatnya orgasme sedemikian hebat. Jauh di dalam pikiran liarnya, dia justru ingin merasakan sensasi orgasme seperti itu lagi. Tapi hati kecilnya yg masih normal memberontak saat ingat kalau persetubuhan yg dialaminya ini adalah sebuah perkosaan. Kedua hal yg bertentangan itu membuat Tamara terguncang dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis terisak. Dan syok hebat yg dialaminya itu pula yg membuatnya tidak melawan saat Samy menarik tubuh mulusnya dan mendaratkan ciuman ganas di bibir seksinya.
    “Astaga. Gue lapar banget nih.” kata Samy tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya dari tubuh bugil Tamara. “Elo lapar juga nggak Tam?” tanya Samy. Tamara hanya mengangguk pelan. Samy segera mengenakan pakaiannya dan berlari keluar.
    “Jangan ke mana-mana.” kata Samy yg kepalanya menyembul dari balik pintu. “Dan jangan pakai baju.” katanya lagi sebelum menutup pintu. Tamara diam saja mendengar itu, tapi dia mematuhinya. Tamara hanya menutup tubuhnya yg telanjang dengan selimut, lalu berjalan tertatih menuju kamar mandi. Samy kembali ke kamar seperempat jam kemudian setelah Tamara selesai membersihkan bekas-bekas persetubuhan dari tubuhnya. Dilihatnya Samy membawa bungkusan dalam tas plastik yg mengeluarkan bau sedap yg langsung membuat perut Tamara bereaksi. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Tamara untuk menghabiskan makanan yg diberikan Samy padanya.
    Perut yg kenyang membuat keduanya seperti kembali terisi tenaganya. Samy kembali melancarkan aksinya. Ditariknya selimut yg menutupi tubuh Tamara. Tamara spontan menjerit kecil saat tubuhnya kembali telanjang bulat di hadapan Samy. Ceritamaya
    “Hehehe…” Samy tertawa. “Payudara elo montok banget Tam..” kata Samy sambil mengelus-elus payudara mulus Tamara yg membusung tegak. Tamara merinding dibuatnya, dia menahan nafas saat tangan kasar Samy menyentuh kulit payudaranya, seolah ada amplas kasar di atas payudaranya yg lembut.
    “Ohh.. mulus..” Samy mendengus merasakan kemulusan dan kelembutan payudara Tamara. Dia lalu mulai meremas-remas payudara lembut itu dengan ganas membuat Tamara mendesah menahan desakan birahinya yg mulai bangkit. Sambil terus meremas-remas payudara Tamara, Samy juga mulai mendaratkan ciuman-ciuman ganas pada puting payudara indah itu. Sesekali, seperti bayi yg menyusu, Samy juga mengulum puting payudara Tamara dan mengisap serta menyedotnya lembut. Sesekali lidah Samy juga menari di atas payudara Tamara, membuat birahi bintang sinetron cantik itu kian meledak.
    “Ohh.. ahh.. ahh..” Tamara mendesah liar di tengah deru nafasnya yg memburu menahan desakan libido yg tak terkendali.
    Pelan-pelan serangan lidah Samy meluncur ke daerah perut Tamara yg rata dan licin, dan terus turun ke bagian selangkangan artis cantik itu.
    “Ohh..” Tamara mendesah, tubuhnya mengejang saat Samy mulai mengaduk-aduk daerah kemaluannya. Samy makin menjadi-jadi. Samy menyusupkan wajahnya ke selangkangan Tamara sambil kedua tangannya mencengkeram bongkahan pantat Tamara yg montok.
    “Ohh.. ohh..” Tamara kembali mendesah merasakan lidah Samy menelusuri belahan vaginanya. Kakinya seolah lemas ketika rangsangan dari lidah Samy menyebar ke sekujur tubuhnya.
    “Ohh.. memek artis memang beda..” ujar Samy di tengah usahanya menjilati vagina Tamara. “Biar udah punya anak tapi tetap hot..” Tamara memang selalu rajin merawat organ vitalnya itu dengan cermat. Dia juga melakukan operasi vaginoplastis untuk memperbaiki bagian vitalnya itu.
    “Samy yg makin yakin telah menguasai artis seksi itu sepenuhnya, kian bersemangat. Dia memasukkan tipa jarinya sekaligus ke dalam liang vagina artis itu lalu mengaduk-aduk liang vagina itu dengan liar.
    “Ahhkkh.. ohgghh.. ohh..” Tamara mengejang-ngejang dengan kepala menggeleng ke kiri ke kanan merasakan sensasi kocokan jari tangan Samy. Tubuh Tamara dengan cepat merespon sensasi liar yg timbul dari kocokan jari tangan Samy pada liang vaginanya. Tubuh telanjang yg putih mulus itu menggeliat dan mengejang kuat.
    “OHHH… AHHH..” Tamara mengerang keras, pertahanannya jebol saat gelombang orgasme kembali melanda tubuhnya, vaginanya langsung basah oleh cairan kewanitaan yg membludak.
    Tidak mau membuang momen yg bagus itu, Samy buru-buru melepaskan seluruh pakaiannya sampai telanjang. Disuruhnya Tamara menghadap dinding dengan posisi berdiri menungging dan kedua tangan bertumpu pada tembok. Lalu dengan kasar Samy membenamkan penisnya ke dalam liang vagina Tamara.
    “Ohhkk..” Tamara mengerang lirih saat penis besar itu kembali menjejali vaginanya. Selama beberapa puluh detik Samy mendiamkan penisnya membenam di dalam liang vagina artis seksi itu seperti ingin menikmati kehangatan dan kelembutan cengkeraman vagina yg mulai berdenyut itu. Kemudian dengan tangan mencengkeram pantat Tamara yg padat, Samy melanjutkan usahanya menggagahi artis itu. Kembali digenjotnya vagina Tamara dengan gerakan kasar dan brutal. Tamara benar-benar tidak berdaya menolak perlakuan hina itu. Untuk kedua kalinya Tamara diperkosa oleh bekas sopirnya sendiri. Meski begitu, tanpa disadari, Tamara ternyata malah merasakan kenikmatan luar biasa dari persetubuhannya dengan bekas sopirnya itu. Tubuhnya tanpa sadar merespon begitu saja sehingga waktu Samy menghentikan sodokan penisnya, secara naluriah Tamara menggerakkan pantatnya sendiri maju mundur memaksa penis Samy terus memompa vaginanya.
    “Ohh.. yess.. ahh.. bagus Tam.. ohh.. ayo.. teruss.. terus..” Samy menyemangati goyangan Tamara yg kian liar. Tampaknya Tamara sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Yg dia inginkan hanyalah melampiaskan gairah seksualnya sebanyak dia mampu.
    Samy yg merasakan respon Tamara menjadi sangat puas telah berhasil menguasai artis cantik itu luar dalam. Dia makin liar dalam menggagahi Tamara. Gerakannya menjadi brutal membuat Tamara merasa tersiksa di tengah kenikmatan seksual yg menderanya. Desahan dan lenguhannya kian menjadi-jadi dan makin berubah menjadi manja. Samy tentu saja makin senang dengan reaksi Tamara. Selama sehari semalam penuh dia terus menerus menggagahi wanita cantik itu, mereguk kenikmatan seksual dari tubuh artis seksi itu sebanyak mungkin. Pikirannya kian dipenuhi impian liar yg selama ini hanya bisa diwujudkan dalam imajinasinya.
    “Ohh.. ohh.. ayo Tam.. terus.. lebih keras.. ayo..” Samy melenguh, memeluk erat tubuh telanjang Tamara yg bermandi keringat. 

    End of part 1

  • Seks Yang Nikmat Bersama Istri Keponakanku

    Seks Yang Nikmat Bersama Istri Keponakanku


    81 views

    Ceritamaya | Keponakanku yang baru menikah tinggal bersamaku karena mereka belum memiliki rumah sendiri. Tidak menjadi masalah bagiku karena aku tinggal sendiri setelah lama bercerai dan aku tidak memiliki anak dari perkawinan yang gagal itu. Sebagai pengantin baru, tentunya keponakanku dan istrinya, Ines, lebih sering menghabiskan waktunya di kamar.

    Pernah satu malam, aku mendengar erangan Ines dari kamar mereka. Aku mendekat ke pintu, terdengar Ines mengerang2, “Terus mas, enak mas, terus ……, yah udah keluar ya mas, Ines belum apa2″. Sepertinya Ines tidak terpuaskan dalam ‘pertempuran” itu karena suaminya keok duluan. Beberapa kali aku mendengar lenguhan dan diakhiri dengan keluhan senada. Kasihan juga Ines.
    Suatu sore, sepulang dari kantor, aku lupa membawa kunci rumah. Aku mengetok pintu cukup lama sampai Ines yang membukakan pintu. Aku sudah lama terpesona dengan kecantikan dan bentuk tubuhnya. Tinggi tubuhnya sekitar 167 cm. Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya cantik dengan bentuk mata, alis, hidung, dan bibir yang indah. Ines hanya mengenakan baju kimono yang terbuat dari bahan handuk sepanjang hanya 15cm di atas lutut.
    Paha dan betis yang tidak ditutupi daster itu tampak amat mulus. Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yang pendek. Pinggulnya yang besar melebar. Pinggangnya kelihatan ramping. Sementara kimono yang menutupi dada atasnya belum sempat diikat secara sempurna, menyebabkan belahan toket yang montok itu menyembul di belahan baju, pentilnya membayang di kimononya. Rupanya Ines belum sempat mengenakan bra. Lehernya jenjang dengan beberapa helai rambut terjuntai. Sementara bau harum sabun mandi terpancar dari tubuhnya. Ceritamaya
    Agaknya Ines sedang mandi, atau baru saja selesai mandi. Tanpa sengaja, sebagai laki-laki normal, kontolku berdiri melihat tubuhnya. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol dari balik kimononya. Melihat Ines sewaktu membelakangiku, aku terbayang betapa nikmatnya bila tubuh tersebut digeluti dari arah belakang. Aku berjalan mengikutinya menuju ruang makan. Kuperhatikan gerak tubuhnya dari belakang. Pinggul yang besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Ingin rasanya kudekap tubuh itu dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan kontolku di gundukan pantatnya. Dan ingin rasanya kuremas-remas toket montoknya habis-habisan.
    “Sori Nes, om lupa bawa kunci. Kamu terganggu mandinya ya”, kataku. “Udah selesai kok om”, jawabnya. Aku duduk di meja makan. Ines mengambilkan teh buatku dan kemudian masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian Ines keluar hanya mengenakan daster tipis berbahan licin, mempertontonkan tonjolan toket yang membusung. Ines tidak mengenakan bra, sehingga kedua pentilnya tampak jelas sekali tercetak di dasternya. Ines beranjak dari duduknya dan mengambil toples berisi kue dari lemari makan. Pada posisi membelakangiku, aku menatap tubuhnya dari belakang yang sangat merangsang.
    Kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2, kesempatan bagiku untuk menatapnya dari dekat tanpa rasa risih. Ines tidak menyadari bahwa belahan daster di dadanya mempertontonkan toket yang montok kala agak merunduk, kontolku pun menegang. Akhirnya pembicaraan menyerempet soal sex. “Nes, kamu gak puas ya sama suami kamu”, kataku to the point. Ines tertunduk malu, mukanya semu kemerahan. “Kok om tau sih”, jawabnya lirih. “Om kan pernah denger kamu melenguh awalnya, cuma akhirnya mengeluh.
    Suami kamu cepet ngecrotnya ya”, kataku lagi. “Iya om, si mas cepet banget keluarnya. Ines baru mulai ngerasa enak, dia udah keluar. Kesel deh jadinya, kaya Ines cuma jadi pemuas napsunya aja”, Ines mulai curhat. Aku hanya mendengarkan curhatannya saja. “Om, mandi dulu deh, udah waktunya makan. Ines nyiapin makan dulu ya”, katanya mengakhiri pembicaraan seru. “Kirain Ines nawarin mau mandiin”, godaku. “Ih si om, genit”, jawabnya tersipu. “Kalo Ines mau, om gak keberatan lo”, jawabku lagi. Ines tidak menjawab hanya berlalu ke dapur, menyiapkan makan. Sementara itu aku masuk kamarku dan mandi. kontolku tegang gak karuan karena pembicaraan seru tadi.
    Selesai mandi, aku hanya memakai celana pendek dan kaos, sengaja aku tidak memakai CD. Pengen rasanya malam ini aku ngentotin Ines. Apalagi suaminya sedang tugas keluar kota untuk beberapa hari. Kontolku masih ngaceng berat sehingga kelihatan jelas tercetak di celana pendekku. Ines diam saja melihat ngacengnya kontolku dari luar celana pendekku. Ketika makan malam, kita ngobrol soal yang lain, Ines berusaha tidak mengarahkan pembicaraan ke arah yang tadi. Kalo Ines tertawa, ingin rasanya kulumat habis-habisan bibirnya. Ingin rasanya kusedot-sedot toket nya dan ingin rasanya kuremas-remas pantat kenyal Ines itu sampai dia menggial-gial keenakan.
    Selesai makan, Ines membereskan piring dan gelas. Sekembalinya dari dapur, Ines terpeleset sehingga terjatuh. Rupanya ada air yang tumpah ketika Ines membawa peralatan makan ke dapur. Betis kanan Ines membentur rak kayu. “Aduh”, Ines mengerang kesakitan. Aku segera menolongnya. Punggung dan pinggulnya kuraih. Kubopong Ines kekamarnya. Kuletakkan Ines di ranjang. Tercium bau harum sabun mandi memancar dari tubuhnya. Belahan daster terbuka lebih lebar sehingga aku dapat dengan leluasa melihat kemontokan toketnya.
    Nafsuku pun naik,kontolku semakin tegang. Ketika aku menarik tangan dari pinggulnya, tanganku tanpa sengaja mengusap pahanya yang tersingkap. Ines berusaha meraih betisnya yang terbentur rak tadi. Kulihat bekas benturan tadi membuat sedikit memar di betis nya. Aku pun berusaha membantunya. Kuraih betis tersebut seraya kuraba dan kuurut bagian betis yang memar tersebut. “Pelan om, sakit”, erangnya lagi. Lama-lama suaranya hilang. Sambil terus memijit betis Ines, kupandang wajahnya. Matanya sekarang terpejam. Nafasnya jadi teratur. Ines sudah tertidur. Mungkin karena lelah seharian membereskan rumah. Aku semakin melemahkan pijitanku, dan akhirnya kuhentikan sama sekali.
    Kupandangi Ines yang tengah tertidur. Alangkah cantiknya wajahnya. Lehernya jenjang. Toketnya yang montok bergerak naik-turun dengan teratur mengiringi nafas tidurnya. pentilnya menyembul dari balik dasternya. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang besar melebar. Daster tersebut tidak mampu menyembunyikan garis segitiga CD yang kecil. Terbayang dengan apa yang ada di balik CDya, kontolku menjadi semakin tegang. Apalagi paha yang putih terbuka karena daster yang tersingkap. Kuelus betisnya. Kusingkapkan bagian bawah dasternya sampai sebatas perut.
    Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Di atas paha, beberapa helai bulu jembut keluar dari CD yang minim. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, sedang tubuhnya berwarna putih. Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya sambil kuamati wajah Ines. Kueluskan perlahan ibu jariku di belahan bibir memeknya. Kuciumi paha mulus tersebut berganti-ganti, kiri dan kanan, sambil tanganku mengusap dan meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha tersebut secara otomatis bergerak membuka agak lebar. Kemudian aku melepas celana pendekku. Kembali kuciumi dan kujilati paha dan betis nya.
    Kutempelkan kepala kontolku yang sudah ngaceng berat di pahanya. Rasa hangat mengalir dari paha Ines ke kepala kontolku. Kugesek-gesekkan kepala kontolku di sepanjang pahanya. Kontolku terus kugesek-gesekkan di paha sambil agak kutekan. Semakin terasa nikmat. Nafsuku semakin tinggi. Aku semakin nekad. Kulepaskan daster Ines, Ines terbangun karena ulahku. “Om, Ines mau diapain”, katanya lirih. Aku terkejut dan segera menghentikan aksiku. Aku memandangi tubuh mulus Ines tanpa daster menghalanginya. Tubuh moleknya sungguh membangkitkan birahi, toket yang besar membusung, pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar melebar,pentilnya berdiri tegak.
    “Nes, om mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau enggak”, kataku perlahan sambil mencium toket nya yang montok. Ines diam saja, matanya terpejam. Hidungku mengendus-endus kedua toket yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahku.pentil toket kanannya kulahap ke dalam mulutku. Badannya sedikit tersentak ketika pentil itu kugencet perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi atasku. “Om…”, rintihnya, rupanya tindakanku membangkitkan napsunya juga. Karena sangat ingin merasakan kenikmatan dientot, Ines diam saja membiarkan aku menjelajahi tubuhnya. kusedot-sedot pentil toketnya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar daerah lahapan bibirku. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutku.
    Kembali kusedot daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajah Ines tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toket harum itu kuciumi dan kusedot-sedot secara berirama. kon tolku bertambah tegang. Sambil terus menggumuli toket dengan bibir, lidah, dan wajahnya, aku terus menggesek-gesekkan kon tol di kulit pahanya yang halus dan licin. Kubenamkan wajahku di antara kedua belah gumpalan dada Ines. perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di lekukan tubuh yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutnya. Kiri dan kanan kuciumi dan kujilati secara bergantian.
    Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan lidahku, dan endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut dan pinggang Ines. Sementara gesekan-gesekan kepala kontolku kupindahkan ke betisnya. Bibir dan lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih mulus. wajahku bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut jembutnya yang keluar dari CDnya. Lalu kuendus dan kujilat CD pink itu di bagian belahan bibir no noknya. Ines makin terengah menahan napsunya, sesekali terdengar lenguhannya menahan kenikmatan yang dirasakannya.
    Aku bangkit, dengan posisi berdiri di atas lutut kukangkangi tubuhnya. kontolku yang tegang kutempelkan di kulit toket Ines. Kepala kontol kugesek-gesekkan di toket yang montok itu. Sambil kukocok batangnya dengan tangan kananku, kepala kon tol terus kugesekkan di toketnya, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit aku melakukan hal itu. Kuraih kedua belah gumpalan toket Ines yang montok itu. Aku berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping Ines dengan posisi badan sedikit membungkuk. Batang kontolku kujepit dengan kedua gumpalan toketnya.
    Kini rasa hangat toket Ines terasa mengalir ke seluruh batang kontolku.
    Perlahan-lahan kugerakkan maju-mundur kontolku di cekikan kedua toket Ines. Kekenyalan daging toket tersebut serasa memijit-mijit batang kontolku, memberi rasa nikmat yang luar biasa. Di kala maju, kepala kon tolku terlihat mencapai pangkal lehernya yang jenjang. Di kala mundur, kepala kon tolku tersembunyi di jepitan toketnya. Lama-lama gerak maju-mundur kontolku bertambah cepat, dan kedua toket nya kutekan semakin keras dengan telapak tanganku agar jepitan di batang kontolku semakin kuat. Aku pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketnya. Ines pun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”. Kontolku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan toket Ines. Oleh gerakan maju-mundur kontolku di dadanya yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tanganku di kedua toketnya, cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadanya yang menjepit batang kontolku.
    Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kontolku di dalam jepitan toketnya. Dengan adanya sedikit cairan dari kontolku tersebut aku merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kon tolku dengan toketnya. “Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” aku tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi. Nafas Ines menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirnya , yang kadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahan Ines semakin membuat nafsuku makin memuncak.
    Gesekan-gesekan maju-mundurnya kontolku di jepitan toketnya semakin cepat. kontolku semakin tegang dan keras. Kurasakan pembuluh darah yang melalui batang kontolku berdenyut-denyut, menambah rasa hangat dan nikmat yang luar biasa. “Enak sekali, Nes”, erangku tak tertahankan.. Aku menggerakkan maju-mundur kontolku di jepitan toket Ines dengan semakin cepatnya. Rasa enak yang luar biasa mengalir dari kontol ke syaraf-syaraf otakku. Kulihat wajah Ines. Alis matanya bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirnya akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketnya. Ada sekitar lima menit aku menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketnya itu.
    Toket sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku lalu membimbing kontol dan menggesek-gesekkan kepala kontol dengan gerakan memutar di kulit toketnya yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kiriku terus meremas toket kiri Ines, kontolku kugerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarnya, kepala kontolku kugesekkan memutar di kulit perutnya yang putih mulus, sambil sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya.
    Langsung kucopot CD minimnya. Pinggul yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perut yang semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam lebat menutupi daerah sekitar lobang memeknya. Kedua paha mulus Ines kurenggangkan lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan memeknya. Aku pun mengambil posisi agar kontolku dapat mencapai memek Ines dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang batang kontol, kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Ines.
    Rasa geli menggelitik kepala kontolku. kepala kontolku bergerak menyusuri jembut menuju ke memeknya. Kugesek-gesekkan kepala kon tol ke sekeliling bibir memeknya. Terasa geli dan nikmat. kepala kontol kugesekkan agak ke arah lobang. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang memek itu menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kontolku sambil terus memasuki lobang memek. Kini seluruh kepala kontolku yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut memek Ines. Jepitan mulut memek itu terasa hangat dan enak sekali. Kembali dari mulut Ines keluar desisan kecil tanda nikmat tak terperi. kontolku semakin tegang.
    Sementara dinding mulut memek Ines terasa semakin basah. Perlahan-lahan kontolku kutusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh batang yang tersisa di luar. Secara perlahan kumasukkan kontolku ke dalam memek. Terbenam sudah seluruh batang kontolku di dalam memek Ines. Sekujur batang kontol sekarang dijepit oleh memek Ines dengan sangat enaknya. secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk ko tolku ke dalam memeknya. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam memek hanya kepala kontol saja. Sewaktu masuk seluruh kontol terbenam di dalam memek sampai batas pangkalnya. Rasa hangat dan enak yang luar biasa kini seolah memijiti seluruh bagian kontolku. Aku terus memasuk-keluarkan kontolku ke lobang memeknya.
    Alis matanya terangkat naik setiap kali kontolku menusuk masuk memeknya secara perlahan. Bibir segarnya yang sensual sedikit terbuka, sedang giginya terkatup rapat. Dari mulut sexy itu keluar desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Aku terus mengocok perlahan-lahan memeknya. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali kukocok secara perlahan memeknya. Kurasakan enaknya jepitan otot-otot memek pada kontolku. Kubiarkan kocokan perlahan tersebut sampai selama dua menit. Kembali kutarik kontolku dari memek Ines. Namun kini tidak seluruhnya, kepala kontol masih kubiarkan tertanam dalam mulut memeknya. Sementara batang kontol kukocok dengan jari-jari tangan kananku dengan cepatnya.

    Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Ines. Ines mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kontolku pada dinding mulut memeknya, “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…”. Tiga menit kemudian kumasukkan lagi seluruh kontolku ke dalam memek Ines. Dan kukocok perlahan. Kunikmati kocokan perlahan pada memeknya kali ini lebih lama. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama aku tidak puas. Kupercepat gerakan keluar-masuk kontolku pada memeknya. Kurasakan rasa enak sekali menjalar di sekujur kontolku.
    Aku sampai tak kuasa menahan ekspresi keenakanku. Sambil tertahan-tahan, aku mendesis-desis, “Nes… memekmu luar biasa… nikmatnya…”. Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit. rasa gatal-gatal enak mulai menjalar di sekujur kontolku. Berarti beberapa saat lagi aku akan ngecret. Kucopot kontolku dari memek Ines.
    Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kontolku mudah mencapai toketnya. Kembali kuraih kedua belah toket montok itu untuk menjepit kontolku yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kontolku dapat terjepit dengan enaknya, aku agak merundukkan badanku. kontol kukocokkan maju-mundur di dalam jepitan toketnya. Cairan memek Ines yang membasahi kontolku kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kon tolku dan kulit toketnya. “Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, aku merintih-rintih keenakan. Ines juga mendesis-desis keenakan, “Sssh.. sssh… sssh…” Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah. Aku mempercepat maju-mundurnya kontolku. Aku memperkuat tekananku pada toketnya agar kontolku terjepit lebih kuat.
    Rasa enak menjalar lewat kontolku. Rasa hangat menyusup di seluruh kontolku.
    Karena basah oleh cairan memek, kepala kontolku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan toket Ines. Leher kontol yang berwarna coklat tua dan helm kontol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketnya. Lama-lama rasa gatal yang menyusup ke segenap penjuru kontolku semakin menjadi-jadi. Semakin kupercepat kocokan kontolku pada toket Ines. Rasa gatal semakin hebat. Rasa hangat semakin luar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya.
    Tiga menit sudah kocokan hebat kontolku di toket montok itu berlangsung. Dan ketika rasa gatal dan enak di kontolku hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga benteng pertahananku sambil mengocokkan kontol di kempitan toket indah Ines dengan sangat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yang luar biasa akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahananku. “Ines…!” pekikku dengan tidak tertahankan. Mataku membeliak-beliak. Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel kontolku saat menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot!
    Pejuku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam ke toket Ines. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leher Ines. Peju yang tersisa di dalam kontolku pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal lehernya, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas belahan toketnya. Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa… nes, nikmat sekali tubuhmu…,” aku bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kata Ines lirih. “Gak apa kalo om ngecrot didalem Nes”, jawabku.
    “Gak apa om, Ines pengen ngerasain kesemprot peju anget. Tapi Ines ngerasa nikmat sekali om, belum pernah Ines ngerasain kenikmatan seperti ini”, katanya lagi. “Ini baru ronde pertama Nes, mau lagi kan ronde kedua”, kataku. “Mau om, tapi ngecrotnya didalem ya”, jawabnya. “Kok tadi kamu diem aja Nes”, kataku lagi. “Bingung om, tapi nikmat”, jawabnya sambil tersenyum. “Engh…” Ines menggeliatkan badannya. Aku segera mengelap kontol dengan tissue yang ada di atas meja, dan memakai celana pendek. beberapa lembar tissue kuambil untuk mengelap pejuku yang berleleran di rahang, leher, dan toket Ines. Ada yang tidak dapat dilap, yakni cairan pejuku yang sudah terlajur jatuh di rambut kepalanya. “Mo kemana om”, tanyanya. “Mo ambil minum dulu”, jawabku. “Kok celananya dipake, katanya mau ronde kedua”, katanya. Rupanya Ines sudah pengen aku menggelutinya sekali lagi.

    Baca Juga : Kenikmatan Seks Luar Biasa Bersama Istri Dan Pembantuku

    Aku kembali membawa gelas berisi air putih, kuberikan kepada Ines yang langsung menenggaknya sampe habis. Aku keluar lagi untuk mengisi gelas dengan air dan kembali lagi ke kekamar. Masih tidak puas aku memandangi toket indah yang terhampar di depan mataku tersebut. mataku memandang ke arah pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang melebar indah. Terus tatapanku jatuh ke memeknya yang dikelilingi oleh bulu jembut hitam jang lebat. Betapa enaknya ngen totin Ines. Aku ingin mengulangi permainan tadi, menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya. Mengocok memeknya dengan kontolku dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan aku dapat menyemprotkan pejuku di dalam memeknya sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aku nyampe. Nafsuku langsung terbakar untuk memulai lagi.
    “Ines…,” desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual yang menantang itu kulumat-lumat dengan ganasnya. Sementara Ines pun tidak mau kalah. Bibirnya pun menyerang bibirku dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirku. Kedua tangankupun menyusup diantara lengan tangannya. Tubuhnya sekarang berada dalam dekapanku. Aku mempererat dekapanku, sementara Ines pun mempererat pelukannya pada diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketnya yang membusung terasa semakin menekan dadaku. Jari-jari tangan Ines mulai meremas-remas kulit punggungku.
    Ines mencopot celanaku, Ines pun merangkul punggungku lagi. Aku kembali mendekap erat tubuh Ines sambil melumat kembali bibirnya. Aku terus mendekap tubuhnya sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketnya yang montok menekan ke dadaku. Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilnya seolah-olah menggelitiki dadaku. kontolku terasa hangat dan mengeras. Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar Ines, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku. kontolku tergencet perut bawahku dan perut bawah Ines dengan enaknya.
    Sementara bibirku bergerak ke arah lehernya.kuciumi, kuhisap-hisap dengan hidungku, dan kujilati dengan lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah Ines sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai dagunya terbuka dengan luasnya. Ines pun membusungkan dadanya dan melenturkan pinggangnya ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahku dalam keadaan menggeluti lehernya, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya. Tangan kananku lalu bergerak ke dadanya yang montok, dan meremas-remas toket tersebut dengan perasaan gemas.
    Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. Aku berdiri dengan agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket. Kugeluti belahan toket Ines, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah toketnya sambil menekan-nekankannya ke arah wajahku. Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu. bibirku bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Kuciumi bukit toket nya, dan kumasukkan pentil toket di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot pentil toket kiri Ines.
    Kumainkan pentil di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat. “Ah… ah… om… geli…,” Ines mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada pentilnya. “Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…” Aku semakin gemas.
    toket Ines itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang kusedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya pentilnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ines mendesis-desis keenakan. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.
    Sampai akhirnya Ines tidak kuat melayani serangan-serangan awalku. Jari-jari tangan kanan Ines yang mulus dan lembut menangkap kontolku yang sudah berdiri dengan gagahnya. “Om.. Batang kontolnya besar ya”, ucapnya. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan kontolku secara berirama. Remasannya itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontolku.
    Kurengkuh tubuhnya dengan gemasnya. Kukecup kembali daerah antara telinga dan lehernya. Kadang daun telinga sebelah bawahnya kukulum dalam mulutku dan kumainkan dengan lidahku. Kadang ciumanku berpindah ke punggung lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya. Sementara tanganku mendekap dadanya dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku meremas-remas kedua belah toketnya. Remasanku kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kananku menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas kuat bukit toket kanannya dan bibirku menyedot kulit mulus pangkal lehernya yang bebau harum, kontolku kugesek-gesekkan dan kutekan-tekankan ke perutnya. Ines pun menggelinjang ke kiri-kanan.
    “Ah… om… ngilu… terus om… terus… ah… geli… geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” Ines merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tanganku di toketnya. Akibatnya pinggulnya menggial ke kanan-kiri. Goyang gialan pinggul itu membuat kontolku yang sedang menggesek-gesek dan menekan-nekan perutnya merasa semakin keenakan. “Ines… enak sekali Ines… sssh… luar biasa… enak sekali…,” aku pun mendesis-desis keenakan.

    “Om keenakan ya? Batang kontol om terasa besar dan keras sekali menekan perut Ines. Wow… kontol om terasa hangat di kulit perut Ines. tangan om nakal sekali … ngilu,…,” rintih Ines. “Jangan mainkan hanya pentilnya saja… geli… remas seluruhnya saja…” Ines semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratku. Dia sudah makin liar saja desahannya, rupanya dia sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa aku ini om dari suaminya. “om.. remasannya kuat sekali… Tangan om nakal sekali… Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kontol om … besar sekali… kuat sekali…”
    Ines menarik wajahku mendekat ke wajahnya. bibirnya melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau kalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kulit punggungnya yang teraih oleh telapak tanganku kuremas-remas dengan gemasnya. Kemudian aku menindihi tubuh Ines. kontolku terjepit di antara pangkal pahanya dan perutku bagian bawah sendiri. Rasa hangat mengalir ke batang kontolku yang tegang dan keras. Akhirnya aku tidak sabar lagi. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontolku untuk mencari liang memeknya.
    Kuputar-putarkan dulu kepala kontolku di kelebatan jembut disekitar bibir memek Ines. Ines meraih batang kontolku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu terbuka agak lebar. “Om kontolnya besar dan keras sekali” katanya sambil mengarahkan kepala kontolku ke lobang memeknya. kepala kontolku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, kontol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontolku pun terbenam di dalam memeknya. Aku menghentikan gerak masuk kontolku.
    “Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” Ines protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontolku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontolku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dan ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ines menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan. “Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara tenaga kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! kontolku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ines dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya.
    Sementara kulit batang kontolku bagaikan diplirid oleh bibir memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt! “Auwww!” pekik Ines. Aku diam sesaat, membiarkan kontolku tertanam seluruhnya di dalam memek Ines tanpa bergerak sedikit pun. “Sakit om… ” kata Ines sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya. Aku pun mulai menggerakkan kontolku keluar-masuk memek Ines. Aku tidak tahu, apakah kontolku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ines yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontolku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya.
    “Bagaimana Nes, sakit?” tanyaku. “Sssh… enak sekali… enak sekali… kontol om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memek Ines..,” jawabnya. Aku terus memompa memek Ines dengan kontolku perlahan-lahan. toketnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua pentilnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku. kontolku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontolku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ines. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala kontol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.
    Aku mengambil kedua kakinya dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontolku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ines kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontolku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku.
    Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan gerakan kontolku maju-mundur perlahan di memek Ines. Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah toketnya. Masih dengan kocokan kontol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas toket montok Ines. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua pentilnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. pentil itu semakin mengeras, dan bukit toket itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ines pun merintih-rintih keenakan.
    Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah. “Ah… om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kontol om membuat memek Ines merasa enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar memek, ya om. Ngecret di dalam saja… ” Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontolku di memek Ines. “Ah-ah-ah… bener, om. Bener… yang cepat… Terus om, terus… ” Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ines. Tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontolku di memek Ines. Terus dan terus. Seluruh bagian kontolku serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh memek Ines. Mata Ines menjadi merem-melek. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.
    “Sssh… sssh… Ines… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali memekmu…” “Ya om, Ines juga merasa enak sekali… terusss… terus om, terusss…” Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontolku pada memeknya. “Omi… sssh… sssh… Terus… terus… Ines hampir nyampe… sedikit lagi… sama-sama ya om…,” Ines jadi mengoceh tanpa kendali. Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau ngecret. Namun aku harus membuatnya nyampe duluan. Sementara kontolku merasakan memek Ines bagaikan berdenyut dengan hebatnya. “Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kurasakan kontolku dijepit oleh dinding memek Ines dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontolku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ines dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ines meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Ines pun berteriak tanpa kendali: “…keluarrr…!” Mata Ines membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ines kurasakan mengejang.
    Aku pun menghentikan genjotanku, kontolku yang tegang luar biasa kubiarkan tertanam dalam memek Ines. kontolku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek Ines. Kulihat mata Ines memejam beberapa saat dalam menikmati puncaknya. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontolku berangsur-angsur melemah, walaupun kontolku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ines lalu kuletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ines dengan mempertahankan agar kontolku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.
    “Om… luar biasa… rasanya seperti ke langit ke tujuh,” kata Ines dengan mimik wajah penuh kepuasan. kontolku masih tegang di dalam memeknya. kontolku masih besar dan keras. Aku kembali mendekap tubuh Ines. kontolku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ines, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ines secara berangsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontolku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontolku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan yang disemprotkan oleh memek Ines beberapa saat yang lalu.
    “Ahhh… om… langsung mulai lagi… Sekarang giliran om.. semprotkan peju om di memek Ines.. Sssh…,” Ines mulai mendesis-desis lagi. Bibirku mulai memagut bibir Ines dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas toket Ines serta memijit-mijit pentilnya, sesuai dengan irama gerak maju-mundur kontolku di memeknya. “Sssh… sssh… sssh… enak om, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis Ines. Sambil kembali melumat bibir Ines dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontolku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ines, keluar-masuknya kontol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Ines tidak henti-hentinya merintih kenikmatan, “Om… ah… ” kontolku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari toketnya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ines menyusup ke bawah dan memeluk punggungnya. Tangan Ines pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Ceritamaya
    Keluar-masuknya kontolku ke dalam memek Ines sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kontol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ines sedalam-dalamnya. kontolku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ines. Sampai di langkah terdalam, mata Ines membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, kontol kujaga agar kepalanya tetap tertanam di lobang memeknya.
    Remasan dinding memek pada batang kontolku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontolku pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak keluar ini Ines mendesah, “Hhh…” Aku terus menggenjot memek Ines dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Tangan Ines meremas punggungku kuat-kuat di saat kontolku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontolku dan memek Ines menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil Ines: “Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…” kontolku terasa empot-empotan luar biasa. “Nes… Enak sekali Nes… memekmu enak sekali… memekmu hangat sekali… jepitan memekmu enak sekali…”.

    “Om… terus om…,” rintih Ines, “enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontolku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontolku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontolku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di kontol pun semakin menghebat. “Ines… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu. “Om, Ines… mau nyamper lagi… Ak-ak-ak… aku nyam…”
    Tiba-tiba kontolku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ines mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu, aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontolku terasa disemprot cairan memek Ines, bersamaan dengan pekikan Ines, “…nyampee…!” Tubuh Ines mengejang dengan mata membeliak-beliak. “Ines…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ines sekuat-kuatnya. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Pejuku pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejuku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Ines yang terdalam. kontolku yang terbenam semua di dalam memek Ines terasa berdenyut-denyut.
    Beberapa saat lamanya aku dan Ines terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali. Aku menghabiskan sisa-sisa peju dalam kontolku. Crot! Crot! Crot! kontolku menyemprotkan lagi peju yang masih tersisa ke dalam memek Ines. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuh Ines maupun tubuhku tidak mengejang lagi.
    Aku menciumi leher mulus Ines dengan lembutnya, sementara tangan Ines mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil ngentotin Ines.

  • Ngentot Dengan Istri Bosku

    Ngentot Dengan Istri Bosku


    83 views

    Ceritamaya | Sebut saja namaku HAR (nama samaran), aku sudah menikah dengan 3 orang anak dan umurku masih 34 tahun. Isteriku cantik putih dan baik sekali bahkan saking baiknya dia mau menerima aku apa adanya, walaupun gajiku pas-pasan tapi dia tetap mencintaiku. Wajahku tidaklah ganteng atau macho akan tetapi biasa-biasa saja dan aku bukan pemuda yang tinggi, tinggiku hanya 160 cm dengan berat sekitar 55 kg. Tapi walaupun demikian aku termasuk orang yang beruntung karena beberapa kali aku memiliki selingkuhan yang cantik-cantik, jadi pengalamanku cukup banyak. Semua wanita yang menjadi pacar gelapku senang bermain seks denganku karena aku dapat memuaskan mereka, karena aku bisa memberikan kepuasan kepada mereka beberapa kali, bahkan sampai 8 kali orgasme ketika aku berpacaran dengan gadis bule.

    Pengalamanku kali ini terjadi ketika tahun 2002 saat aku pergi ke Yogyakarta untuk urusan bisnis. Kebetulan aku bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi penelitian dan ekowisata maka aku berangkat ke kota Yogya dalam acara pameran ekowisata. Saat itu aku pergi sendirian dengan menggunakan kereta executive. Pertama kalinya aku pergi ke Yogya sendirian jadi aku tidak begitu hapal kota yogya tapi dengan modal nekat dan keberanian akupun memberanikan diri seolah-olah aku sering datang ke kota tersebut. Tadinya aku akan pergi dengan isteri bos ku yang kebetulan sering pergi ke Yogya. Karena masih ada urusan di Jakarta maka isteri bosku tidak jadi menemaniku.

    Isteri bosku (bernama Mbak Wati) wajahnya cukup menarik dengan kulit yang coklat dan hitam manis dan badannya yang sintal walaupun usianya sudah menginjak 40 tahun tapi masih kelihatan sintal dan berisi, maklumlah sering aerobik dan olah raga. Pada waktu aku di Yogya Mbak Wati sering meneleponku hampir setiap hari bahkan sehari bisa lebih dari 2, pada mulanya aku sendiri tidak tahu mengapa dia sering telpon aku. Saat itu, aku tinggal di sebuh hotel yang lumayan bagus, bersih dan murah di dekat jalan Malioboro. Karena aku sendirian di kota itu aku seringkali kesepian dan aku selalu ingat anak dan isteriku. Akan tetapi itu semua hilang ketika Mbak Wati meneleponku dan aku selalu menggodanya bahwa aku kesepian dan horny di kota ini karena aku sering dengar erangan kenikmatan dari sebelah kamarku, dia hanya tertawa saja. Bahkan dia menggodaku untuk mencari wanita Yogya saja buat menemaniku.

    Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar bahwa bosku menyuruh Mbak Wati untuk menemaniku di Yogya, aku berfikir wah ini kesempatan yang baik buatku untuk menggodanya, memang keberuntungan masih berpihak pada diriku. Akhirnya dia bilang bahwa dia akan menyusul dengan menggunakan kereta dan minta di bookingkan satu kamar untuknya. Aku bilang pada hari itu mungkin kamar akan penuh.
    Dia sedikit kecewa lalu dia bilang, “Terus gimana dong, ..aku gak mau tinggal di hotel yang jauh dari kamu, ..ngomong-ngomong Har kamar kamu ada 2 bed apa satu?”
    “Kamarku Cuma satu bed tapi di bawah ranjang ada satu bed lagi jadi mungkin aku bisa pake, emang Mbak mau sekamar denganku?” aku menggodanya.
    “Boleh kalo nggak ada kamar lagi” aku setengah tidak percaya akan ucapannya.
    Aku berfikir inilah kesempatanya aku bisa mendekati dia dan menggodanya.
    “Tapi Mbak aku suka tidur telanjang paling Cuma pake celana dalam doang dan selimut, apa Mbak gak apa-apa? Aku sedikit meyakinkan dia akan kebiasaanku.
    “Nggak apa-apa siapa takut.. masalahnya aku juga kadang-kadang begitu juga”.
    Aku semakin senang mendengarnya. Lalu aku menawarkan untuk tinggal sekamar denganku bila tidak ada kamar kosong dan dia setuju.

    Ketika pada hari H nya, aku jemput dia di stasiun dan setelah bertemu aku ajak ke hotel tempat aku menginap, otak ngeresku mulai jalan dan aku mulai berfikir bagaimana caranya agar dia mau sekamar denganku lalu dengan akal bulusku aku berbohong bahwa kamar hotel penuh semua. Lalu aku langsung ajak Mbak Wati ke kamarku dan aku tidak menyangka ternyata dia mau sekamar denganku. Karena sebelumnya aku pikir dia hanya bercanda.

    Ketika malam tiba, aku sengaja mengambil satu tempat tidur lagi, untuk menjaga agar dia tidak mempunyai fikiran yang jelek tentang diriku, karena aku masih takut kalau Mbak Mbak Wati akan marah dan tersinggung bila aku seranjang dengannya karena biasanya itu akan dianggap tidak sopan dan senonoh serta murahan dan perempuan akan marah sekali bila dianggap seperti itu. Sebelum tidur kami mengobrol tentang macam-macam dan pada akhirnya bicara tentang seks. Saking seriusnya bicara tentang seks, aku memberanikan diri memancing reaksinya.

    “Mbak kalo ngomongin seks kayak gini, cewekku dulu seringkali udah basah duluan”.
    Lalu dia menjawab, “Ah itu sih biasa, aku aja suka basah”.
    Tak lama kemudian suasana berubah karena dia merasa perutnya agak sakit karena kembung. Aku mulai kasihan lalu aku menawarkan diri, “Biar aku refleksi dan pijit deh”.

    Lalu aku pijit kaki dan betisnya. Pada mulanya dia kesakitan dengan pijitanku tersebut. Otak kotorku mulai datang dan aku coba untuk memijit pahanya dan dia meringis kesakitan. Lama aku memijit pahanya dan makin lama kau kendurkan pijitanku tetapi dia masih mengerang bahkan ketika aku elus-elus dia masih mengerang. Dengan segenap keberanianku aku coba mengelus hingga ke pangkal pahanya dan dia mengerang semakin menjadi, tentu saja penisku langsung berdiri apalagi ketika aku pijit dan elus bagian pahanya dia membuka pahanya lebar-lebar. Lalu aku singkapkan rok tidurnya dan aku elus di pangkal paha kemudian aku beranikan diri mengelus vaginanya, ternyata Mbak wati diam saja dan mengerang, tanpa pikir panjang aku masukkan jari-jemariku ke balik celana dalamnya dan memainkan klitoris dan lubang vaginanya dengan jariku. Ternyata vaginanya sudah basah sekali, lalu aku tarik celana dalamnya dan aku mulai menciumi pahanya hingga sampailah pada gundukan vaginanya yang sangat merangsang.

    Aku hisap dan jilat vaginanya yang harum, Mbak wati semakin mengerang kenikmatan.
    “Oh.. oohh.. mmhh.. ohhmm.. sayangg.. ohmm” jilatanku semakin liar dan semakin terasa kakinya mulai mengejang..aku semakin mempercepat tempo jilatan mautku dan dia mengerang semakin keras.
    “Oohh.. ehheehmm.. ohh.. aauuaa.. hhmm” ternyata dia telah mencapai orgasme yang pertama.

    Ngentot Dengan Istri BoskuKemudian aku lepaskan celana dalamku karena kebetulan aku selalu tidur hanya memakai celana dalam dan saat itu aku hanya memakai kain sarung. Dengan penis yang masih menegang aku beralih posisi di atasnya dan menciumi bibir dan kedua susunya dengan jemari tanganku memainkah pentilnya. Karena tidak sabar lalu aku masukkan penisku yang sudah tegang. Sewaktu penisku masuk ke lubang kenikmatan tersebut terdengar erangan keenakan Mbak Wati.

    Vagina Mbak Wati serasa sempit karena tulang panggulnya yang seakan-akan mempersempit lubang kemaluannya. Akan tetapi aku merasaka kenikmatan yang luar biasa di penisku dengan lubangnya yang sempit itu. Aku keluar masukkan penisku dan Mbak Wati membuka lebar-lebar kakinya sambil menopang satu kaki ke dinding kamar. Aku semakin merasakan sensasi yang luar biasa ketika penisku keluar masuk, karena dinding lubang vagina dan tulang panggulnya yang menggesek-gesek batang kemaluanku begitu terasa sekali.

    Mbak Wati masih terus mengerang ketika aku menekan penisku di vaginanya dalam-dalam. Walaupun penisku tidak besar sekali tapi berukuran normal akan tetapi sensasi yang aku berikan ketika aku mengocok penisku di dalam vaginanya membuat Mbak wati mengerang, menjerit keenakan sambil matanya merem melek. Setelah hampir satu jam sejak pemanasan Mbak Wati kelihatan tegang kemudian di merapatkan kedua kakinya dan aku mengangkangkan kakiku sehingga lubang vaginanya semakin sempit. Dengan gaya seperti itu aku masih tetap terus mengocok vaginanya dan Mbak wati semakin mengerang keras.
    Akhirnya dia bilang, “Ohh sayang aku mau keluaarr.. ohh enakk”..

    Akhirnya Mbak Wati tidak bisa menahan gejolak yang ada dalam dirinya, maka jebollah pertahanannya dengan jeritan yang membuatku semakin bergairah. Aku masih mengocok penisku karena sampai saat itu aku masih bertahan dan aku ingin memberikan kenikmatan yang dasyat untuknya sehingga dia tidak bisa lupa dan terus ketagihan. Aku semakin mempercepat kocokanku, semakin cepat aku mengocok jeritan keenakan Mbak Wati semakin kencang dan tak tertahankan.

    Baca Juga : Derita Seorang Polwan

    Aku merasakan sensasi yang tiada taranya, sehingga aku merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari batang kemaluanku dan akupun mempercepat irama kocokanku. Badanku semakin menegang dan Mbak Wati semakin mengerang.
    “Ohh.. Mbak aku mau keluar.. Mbak udah mau lagi nggak? aku dah nggak tahan nih”
    “Ohh sayang aku juga mau keluar.. ohh.. oohh kita bareng sayaangg.. oohh aku keluaarr”
    “Aku juga Mbak, ..oohh Mbak eeaannakk?”
    Dan bobollah pertahananku dan pertahanannya.., Crot..crot..crot..
    “Oohh.. enaak..” akhirnya kami orgasme bersama-sama.
    “Oh, kamu hebat sayang.. sampai aku orgasme tiga kali, padahal aku jarang banget loh orgasme walaupun sama suamiku. Malah aku keseringannya nggak bisa orgasme”.

    Dengan peluh yang mengucur banyak sekali aku tidak segera mencabut penisku dari vaginanya, aku biarkan penisku merasakan sensasi vagina Mbak wati yang begitu nikmat. Akhirnya kamipun tertidur dengan tubuh masih telanjang.

    Malam itu kami lakukan lagi sampai 4 kali. Pada keesokan harinya kami lakukan lagi hingga siang hari sampai 3 kali. Begitu pula pada malam harinya hingga pagi kami lakukan lagi 3 kali. Setiap hari kami lakukan terus dan sampai kembali ke Jakarta kami masih tetap melakukannya di dalam kereta walaupun hanya sebatas permainan jari-jariku di kemaluannya dan dia mengocok penisku dengan ditutup selimut. Sesampainya di Jakarta kami masih sering melakukannya terkadang di rumahnya ketika boss dan orang-orang pergi atau di kantor saat semua orang sedang keluar. Mbak Wati termasuk wanita yang kuat sekali seperti kuda liar karena untuk membuatnya orgasme memerlukan waktu yang lama dan perlu laki-laki yang betul-betul kuat dan pandai memberikan sensasi hebat, sehingga suaminyapun tidak dapat mengimbanginya, tapi dengan aku Mbak Wati tidak bisa berbuat apa-apa karena setiap kali bersetubuh aku selalu memberikannya kepuasan.

    Akan tetapi sekarang kami tidak lagi, karena dia memiliki selingkuhan yang lainnya lagi. Sekarang aku kesepian lagi apalagi aku jarang sekali berhubungan dengan isteriku karena terkadang aku kasihan dia sering kecapaian.

    Teman-temanku bilang bahwa aku memang jantan karena bisa memuaskan perempuan. Bahkan mereka yang merasa jantan di ranjang tidak dapat mengimbangi permainanku hingga bisa memuaskan perempuan berkali-kali. Sampai wanita bulepun kewalahan karena mereka jarang sekali mendapatkan kepuasan dengan laki-laki bule walaupun mereka memiliki penis yang besar, tapi itu bukan jaminan.

  • Butuh Uang

    Butuh Uang


    96 views

    Part 1, The Beginning

    Ceritamaya | “OK… siap ya. 1… 2… 3….” Terdengar bunyi klik dari sebuah kamera yang bersamaan dengan kilatan cahaya lampu.
    “OK, sekali lagi. 1… 2… 3…. Cakep!”
    Saat itu di satu studio foto sedang dilakukan sesi pemotretan. Studionya tidak terlalu besar namun nyaman dan peralatannya juga cukup lengkap. Ada 2 buah kamera di sana dengan flash yang bagus, ada juga lampu besar berjumlah 2 buah, satu tripod dan satu payung reflektor yang digunakan untuk meredupkan pencahayaan. Ada juga beberapa kostum di sana, mulai dari gaun pesta, baju pengantin, tank top, rok mini, sampai beberapa bikini dan lingerie.
    “Coba ganti posenya lebih sexy sedikit… Ya begitu… 1… 2… 3…” demikian suara yang keluar dari seorang fotografer. Fotografer itu beberapa kali mengarahkan pose sang model, yang kelihatannya masih amatir. Nama fotografer itu adalah Pandu, fotografer profesional berumur 38 tahun yang sudah 10 tahun menekuni bidang fotografi. Fotografer berbadan gempal dan berambut keriting itu sebenarnya dari tadi sudah sangat nafsu melihat model amatir yang sedang berpose di hadapannya. Maklum saja, si model itu berwajah cantik dan masih malu-malu sehingga menambah kesan tersendiri bagi sang fotografer. Apalagi saat ini si model hanya memakai kemeja putih yang 2 kancing atasnya sudah terbuka, sehingga memamerkan lekukan dadanya yang ranum. Si model bernama Sherly. Mahasiswi semester 2 jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas swasta di kota itu. Umurnya baru 18 tahun, baru setahun lalu lulus dari SMA. Sherly memiliki wajah yang cantik dan badan yang langsing, yang merupakan syarat dasar jadi fotomodel. Ditambah lagi kulitnya yang putih mulus bak pualam. Dia sangat populer di kalangan laki-laki di kampusnya. Matanya yang bulat indah, juga bibirnya yang tipis seksi, dan hidung mancung menambah kesempurnaan gadis itu. Semua keindahan tubuh yang dimiliki Sherly akhirnya membawa dia menjadi model amatir seperti saat itu. Tapi itu juga karena terpaksa. Terpaksa karena mahasiswi cantik itu lagi kena krisis keuangan. Sherly termasuk mahasiswi yang boros. Pergaulannya dengan sosialita di kampusnya membuat dia menjadi suka hura-hura dengan teman-temannya (hangout, salon, shopping, dll) sehingga membuat uangnya cepat habis. Gaya hidupnya itu akhirnya membuat dia banyak kena tagihan kartu kredit dan tak bisa membayar uang kuliah, yang membuatnya terancam tak bisa ikut ujian semester. Untuk meminta ke orangtuanya dia tak mungkin karena dia sudah terlalu sering meminta uang, lagipula dia selalu dijatah uang bulanan yang sebenarnya lebih dari cukup. Dia akhirnya bingung cari uang ke mana. Untuk meminjam ke teman dia malu. Pacarnya juga tak bisa membantu karena juga sedang susah keuangan. Akhirnya pacarnya memberi saran untuk cari duit lewat modelling karena pacarnya kenal beberapa fotografer. Ceritamaya

    Pandu

    Pandu

    Hari itu sesi pemotretan ketiga buat Sherly dengan fotografer yang bebeda. Yang pertama sampai ketiga tidak banyak memberikan uang bagi Sherly karena hanya difoto untuk hunting foto biasa aja. Honornya juga tidak besar, hanya cukup untuk biaya makan seminggu. Lewat fotografernya yang ketiga dia akhirnya dikenalkan ke Pandu, yang katanya mau memberi honor besar asal mau difoto indoor dengan konsep apa saja. Maka sampailah Sherly di studio foto pribadi milik Pandu. Sherly sengaja tidak memberitahu pacarnya agar tidak ditanya-tanya nantinya, karena pacarnya akhir-akhir ini sangat cemburuan dan curiga kepadanya. Pokoknya gadis bertubuh sexy itu bertekad akan melakukan konsep foto apapun asal dapat banyak duit.
    “Sekarang coba buka satu kancing lagi Sherly,” kata Pandu.
    “Tapi malu Bang…” jawab gadis manis itu. Memang dia belum pernah difoto sampai buka kancing baju. Biasanya hanya difoto di outdoor dengan gaun biasa dan di hadapan beberapa fotogafer sekaligus.
    “Gak usah malu cantik, punya body oke gak apa apa dong diexpose,” ujar Pandu.
    “Iya… tapi…” jawab gadis itu ragu. Sebelumnya dia memang belum pernah foto sampai senekad ini. Kalau pacarnya tahu, pasti dia sudah dimarah-marahi habis-habisan.
    “Ngapain malu sih. Lagian kan cuman ada kita berdua di studio ini. Nanti hasil fotonya buat koleksi pribadi kok,” bujuk si fotografer.
    Akhirnya Sherly pun membuka 1 kancing bajunya lagi, sehingga dadanya mulai terbuka dengan lebih jelas. Dia masih mengenakan bra berwarna merah, yang menutupi payudara 34C nya yang ranum. Pandu makin bersemangat memainkan kameranya. Berbagai pose dia minta untuk dilakukan Sherly. Sekitar 20 kali jepret, Pandu mulai menaikkan tempo lagi. Dengan bujuk rayu dia meminta Sherly untuk membuka semua kancing kemeja yang tersisa. Sebagai fotografer yang sudah sering menghadapi model untuk pemotretan bertema sexy Pandu ternyata punya ilmu merayu yang ampuh; tentu saja begitu, kalau tidak pasti susah dong membuat cewek-cewek itu mau buka baju di depan kameranya? Tidak puas hanya dengan itu, setelah 20 jepretan lagi Pandu juga meminta Sherly melepas rok. Seperti sebelumnya, awalnya Sherly menolak karena alasan malu dan takut. Tapi Pandu lagi-lagi berhasil meyakinkan bahwa ini hanya foto private dan file fotonya akan disimpan sendiri. Maka akhirnya Sherly lepas rok dan tinggal mengenakan bra dan CD saja. Benar-benar pemandangan yang bisa membuat mata lelaki manapun melotot, termasuk si fotografer. Pandu menelan ludah melihat body putih mulus khas mahasiswi, dengan kulit mulus dada dan perut Sherly. Payudara Sherly yang montok sekarang tampak di depan Pandu dalam bra. Lengkung indah sepasang buah dada Sherly terpampang jelas. Pasti enak rasanya bisa berada di dekapan dada itu, batin Pandu.


    “Udah siap mulai belum Bang?” tanya Sherly membuyarkan khayalan nakal Pandu.
    “Eh udah… bentar ya…” kata Pandu sambil menyuruh Sherly duduk di sofa yang ada di studio. Dia kemudian mengarahkan 2 lampu ke tubuh Sherly. Paha Sherly yang putih mulus tanpa noda itu terpampang dengan jelas, yang membuat kepala Pandu mulai cenat-cenut.
    “Posenya gimana? Aduh Sherly grogi nih Bang…” kata Sherly sambil berusaha menutupi dadanya. Tanpa sadar Sherly menggigit bibirnya, tapi itu membuat wajahnya jadi terkesan nakal di mata Pandu. Makin gemaslah Pandu.
    “Terserah kamu aja. Yang penting relax,” kata fotografer gempal itu.
    Sherly lalu duduk dengan manis di atas sofa, kedua kakinya dirapatkan, wajahnya malu-malu. Pandu senang dengan ekspresi grogi modelnya. Sudah ingin rasanya dia menerkam gadis cantik itu. Tapi dia menahan diri. Baginya justru lebih baik dia santai-santai saja biar kelihatan profesional. 20 jepretan awal Sherly masih agak kaku, tapi selebihnya sudah mulai relax. Itu berkat kemahiran Pandu membuat rasa nyaman di hati Sherly. Apalagi Pandu membantu atur pose sang model, tentunya sambil meraba-raba sedikit, merasakan kehalusan kulit mulusnya.
    “Ayo sekarang Sherly, buka lebar kakinya ya” pinta Pandu.
    Mungkin karena sudah percaya dengan si fotografer, dengan santai Sherly membuka lebar pahanya, sambil berpose dengan sensual. Di balik kameranya Pandu bisa melihat bulu-bulu halus di sekitar CD si model. Pandu menelan ludah. Dengan cekatan dia langsung mengambil beberapa gambar close-up ke arah tersebut. Kemudian Pandu menyuruh Sherly berpose membelakangi kamera. Lima kali menjepret pose itu, dia kemudan menyuruh sang model merunduk kedepan dengan agak nungging. Pinggul sherly yang bulat menantang itu benar-benar terekspos frontal ke kamera. Pandu makin gerah, AC di ruangan tak bisa menetralisir keringatnya. Si fotografer bisa melihat vagina Sherly tercetak jelas di balik CD merahnya. Batang kemaluan Pandu sudah tegang berdiri melihat Sherly menungging dengan sexy di atas sofa.
    “Tahan posisinya ya Sherly,” kata Pandu sambil mendekat, dia ingin meraba pantat gadis itu. Dengan alasan agar Sherly lebih menunduk, Pandu menekan-nekan pantat gadis itu ke bawah. Sungguh kenyal dan lembut sekali tubuh gadis 18 tahun itu. Ingin rasanya Pandu memperkosa Sherly dengan posisi doggy style, menunggangi gadis cantik itu sampai puas. Tapi fotografer itu menahan diri. Dia sudah punya “senjata” untuk menikmati gadis itu nantinya.

    “Kata Johan kamu lagi butuh duit banget ya. Makanya mau jadi model freelance,” kata Pandu sambil tetap memainkan kameranya.
    “Iya Bang.” Jawab Sherly singkat. Mereka melakukan pembicaraan di sela-sela sesi foto.
    “Emang butuh berapa sih?”
    “Pokoknya banyak deh bang. Buat bayar uang kuliah nih, biar bisa ujian” jawab Sherly.
    “Sebenarnya saya mau bantu kamu sih, tapi…” kata Pandu menghentikan omongannya.
    “Tapi apa bang? Aku mau deh asal ada duitnya. Hehe… ” jawab Sherly cepat.
    “Tapi kayaknya kamu ga bakal mau.”
    “Ya Abang bilang dulu apa. Kali aja bisa.”
    “Tapi jangan marah ya. Ini juga kalau kamu lho. Aku dari dulu pengen banget foto cewe bugil. Konsep Nude Art gitu. Mau ga kamu jadi model bugilku yang pertama? Kalau kamu mau, aku kasih satu juta deh. Cuma foto doang.”
    Ada jeda beberapa detik di antara mereka. Sherly sangat kaget sebenarnya mendengar permintaan aneh sang fotografer. Difoto bugil. Dia belum percaya sang fotografer yang baru ditemuinya itu. Masa’ baru kenal sudah berbugil ria. Di samping itu dia takut jika nanti fotonya tersebar di internet seperti foto-foto artis yang dulu-dulu. Bisa malu dia dan keluarganya.
    “Tapi kalau kamu ga mau juga ga apa-apa. Gak maksa kok,” kata Pandu sambil tersenyum. “Oh iya, kamu pikir-pikir dulu bentar ya. Saya mau ke kamar mandi,” lanjut Pandu sambil pergi ke kamar mandi yang ada di belakang studio.
    Sepeninggal sang fotografer, Sherly hanya diam saja. Pikiran berkecamuk di otaknya. Di satu sisi dia butuh uang banyak, di sisi lain dia masih ragu. Untuk foto hanya pakai CD dan Bra seperti sekarang saja bukan perkara gampang buat mahasiswi cantik itu. Apalagi sekarang diminta untuk telanjang bulat. Benar-benar pertarungan batin bagi Sherly.
    “Gimana Sherly, mau ga?” kata Pandu dari balik pintu, yang membuyarkan lamunan gadis itu. “Ayolah, mau kan difoto gitu? Saya janji ga akan nyebarin. Buat koleksi pribadi saja,” bujuk Pandu. Dia seolah paham keraguan gadis itu.
    “Lagian kamu pasti sudah pernah kan bugil di depan cowok kamu,” pancing Pandu, yang dijawab anggukan Sherly. Dalam hati Pandu tertawa, pancingannya kena.
    “Nah itu dia, anggap aja aku cowokmu. Jadi ga usah malu. Janji deh ini cuma buat koleksi pribadi,” bujuk Pandu lagi dengan nada ramah menjerumuskan. “Emang sudah berapa cowok sih yang pernah lihat kamu telanjang?”
    “Ehhhh… tiga orang. Pacar pertamaku, pacarku yang sekarang dan dulu ada tetangga kost,” jawab Sherly malu-malu.
    “Ga masalah kan tambah satu orang lagi yang lihat kamu bugil? Lagian buat foto doang. Oke? I’m a professional photographer,” cecar Pandu dengan bertubi-tubi, menggoyahkan Sherly.
    Bujuk rayu dan iming-iming duit banyak akhirnya membuat Sherly pasrah. Toh dia juga sekarang sudah setengah bugil, jadi tanggung, pikirnya. Tinggal lepas bra dan CD saja. Lagipula Sherly juga sadar kalau dia sudah bukan perawan. Sudah beberapa lelaki melihat tubuh telanjanganya mulai dari sejak SMA dulu saat mulai nakal-nakalnya. Dia cuma mengaku tiga ke Pandu, padahal sebenarnya lebih. Apalagi tawaran si fotografer sangat menggiurkan menurutnya. Satu juta untuk foto, dan itupun hanya untuk koleksi pribadi. Tidak pakai modal pula. Kapan lagi bisa dapat duit gampang seperti sekarang, pikir Sherly dalam hati.

    “Tapi janji ga akan disebar kan?” Sherly memastikan sekali lagi.
    Pandu tertawa penuh kemenangan. “Saya janji Sherly,” katanya. “Nah sekarang buka bra dan CD kamu ya…?” rayu Pandu.
    Walaupun Sherly sudah setuju, tapi pas mau buka bra-nya, dia keliatan sangat grogi. Sambil melihat sang fotografer yang juga tegang dia sempat bertanya: “Cowokku ga bakal dikasih tahu juga kan?”
    “Ya ga mungkinlah. Nanti bisa-bisa saya dihajar,” kata pandu. “Ya udah ga usah banyak tanya, sekarang tolong buka bra. Aku mau lihat tokedmu yang montok itu. Dari tadi rasanya udah pengen motret toked sexy kamu Sher.”
    Dalam hati Sherly terbit rasa bangga dikomentari seperti itu. Seperti biasanya perempuan, Sherly senang kalau dianggap menarik, sexy, apalagi Pandu menyatakannya terang-terangan. Rasa bangga itu bikin Sherly makin berani. Segera kedua tangan Sherly menggapai pengait bra di punggungnya. Dengan mudah terlepaslah bra itu itu dari tubuhnya. Segera dilemparnya bra itu ke atas meja di sudut studio foto itu. Kini kedua payudara Sherly terbuka lebar-lebar dan bisa dilihat sang fotografer dengan bebasnya.
    “Wah… cakep banget dada kamu Sherly. Kamu emang cocok jadi fotomodel,” puji Pandu.
    Memang payudara Sherly betul-betul putih mulus dan indah menggoda. Dada ranum khas mahasiswi. Kedua putingnya berwarna kemerahan, nampak segar menantang untuk dikulum. Sejenak Pandu memandangi diri Sherly, sebelum akhirnya menyuruh gadis itu kembali berpose di atas sofa. Dengan semangat sang fotografer menyuruh berbagai gaya yang tak lepas dari pameran buah dada sherly yang berkualitas itu.  Pandu menyuruh Sherly meremas pelan dadanya sambil meminta ekspresi mulut mendesah. Pandu lalu mendekat ke arah Sherly. Sambil merapikan rambut sherly dia berbisik pelan ke telinga gadis itu: “Kamu seksi banget deh. Sudah kayak model majalah FHM.”
    “Makasih,” ucap Sherly pelan. Dipuji begitu membuat Sherly makin pede.
    “Ayo sekarang lebih hot ya,” pinta si fotografer sambil kembali ke belakang kamera. Sherly tersenyum malu-malu. Gadis itu lalu membelakangi kamera dan kemudian menunggingkan badannya ke arah kamera. Dia berpegangan pada sandaran sofa. “Seperti ini?” tanya Sherly.
    “ Yah, begitu, sexy banget deh badan kamu, sangat sexy…” ujar Pandu, sambil memfoto pose itu beberapa kali.
    Dada Sherly yang ranum makin sexy terlihat karena dia menungging. Sherly melirik ke arah Pandu yang terkagum-kagum didepannya. Sherly juga memperhatikan adanya tonjolan yang makin lama makin besar di selangkangan Pandu.

    Sesudah beberapa jepretan dalam pose itu, kemudian Pandu akhirnya tidak sabar untuk menikmati “hidangan utama” yaitu vagina gadis cantik itu. Disuruhnya Sherly melepas CD. Lagi-lagi butuh waktu lama agar Sherly untuk meng-iya-kan. Dia nampak grogi dan malu. Tapi Pandu sabar dan tidak keburu nafsu. Fotografer itu paham betul jika “mangsa”nya ini sudah dalam genggaman tangannya. 10 tahun bergelut di dunia fotografi adalah waktu yang cukup lama untuk menaklukan model-model seperti ini.
    “Ayolah dibuka CD-nya. Ngapain malu. Toh sudah beberapa cowok kan yang lihat mekimu”.
    Agak panas kuping Sherly mendengar kata-kata Pandu. Emang gue cewek gampangan apa? batinnya. Dia hanya diam waktu Pandu mendekat dan bilang: “Aku lepasin CD-nya ya?” Sherly tak menjawab, hanya mengangguk, wajahnya merah.
    Dengan cekatan Pandu memelorotkan celana dalam mini Sherly, sampai ke lutut. Vaginanya kini begitu jelas terpampang di depan muka si fotografer. Tampaklah bulu kemaluan si model yang nampak kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Mata Pandu seperti mau copot waktu memandang vagina Sherly. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan gadis berusia 18 tahun tersebut. Nafas laki-laki itu demikian memburu.
    “Sempurna. Benar-benar sempurna tubuhmu,” puji Pandu. Batang kemaluannya sudah sangat mengeras. Dengan cekatan Pandu mengambil beberapa foto. Fokus utamanya tetap ke vagina model itu. Tampak bulu kemaluan Sherly yang cukup lebat menjadi santapan blitz kameranya.
    “Kamu bakat jadi model majalah dewasa… luar biasa,” puji Pandu lagi sambil tetap menatap bagian yang paling rahasia itu.
    Pandu kemudian meminta Sherly untuk membuka lebar-lebar kedua pahanya sehingga dapat melihat liang vaginanya yang bagian dalam. Vagina yang masih sempit dan berwarna merah segar. Ingin rasanya Pandu membenamkan wajahnya ke liang vagina gadis itu. Beberapa kali hasil jepretannya buram karena tangannya gemetar. Fokusnya sekarang hanya ke dada dan vagina Sherly. Sesekali tangannya meraba-raba tubuh Sherly dengan alasan memperbaiki pose. Sambil tetap nungging, Sherly disuruh agar wajahnya selalu melihat kamera dan dibuat sesensual mungkin. Sherly sekuat tenaga mengusir rasa malunya. Dia mau terlihat profesional. Sambil berpose, dibayangkannya yang melihat tubuh telanjangnya bukanlah fotografer, melainkan pacarnya sendiri. Sherly memang sudah beberapa kali ML dengan pacarnya itu, jadi telanjang di depan pacarnya adalah hal yang biasa baginya. Ternyata hal itu lumayan berhasil. Sherly sudah mulai tidak grogi lagi.

    “Bagus Sherly… sexy banget… kamu mulai enjoy…” kata Pandu sambil tetap menjepret.
    Sudah hampir 200 jepretan total yang dia lakukan. Saat itu benar-benar Sherly begitu sexy dan merangsang mata laki2 yang memandangnya. Tubuhnya yang mulus, putih dan kencang itu terpampang diatas sofa hingga membuat darah fotografer itu tersirap naik.
    “Meki kamu kering banget. Kurang fotogenik. Harus sedikit basah,” kata Pandu seolah-olah fotografer profesional yang mengerti betul arti kata fotogenik dalam konsep foto nude.
    “Saya bantu bikin sedikit basah ya… mohon maaf sebelumnya,” ujarnya dengan sok sopan minta izin. Pandu lalu mulai mengusap-usap vagina bagian luar gadis itu. Sherly awalnya kaget ada tangan di vaginanya, tapi cepat-cepat dia bayangkan bahwa yang merabanya itu adalah pacarnya. Sherly tidak menolak (dan merasa tidak punya pilihan) saat tangan gempal pandu meremas pantat dan juga menjamah liangnya. Melihat tidak ada penolakan dari Sherly, pandu kembali memain-mainkan kemaluan Sherly yang masih rapat itu. Digosok-gosoknya lubang vagina Sherly itu hingga akhirnya basah. Sherly menggigit bibirnya. Dia lambat laun horny juga. Mana ada wanita yang tak naik libidonya saat vaginanya diraba-raba seperti itu. Apalagi yang Sherly bayangkan sekarang adalah pacarnya mencumbuinya.
    “Hmmmmmm…” desah gadis itu.
    Melihat Sherly yang sudah mulai horny, Pandu tersenyum penuh kemenangan. Strateginya akhirnya berhasil. Dia memang sengaja merangsang vagina Sherly agar cepat horny. Sebentar lagi dia akan menyantap vagina model amatir itu. Tanpa menunggu lama kemudian jemari pandu mulai bermain-main masuk ke dalam vagina Sherly. Saat Pandu melakukan itu, Sherly tidak melawan sedikit pun. Dia hanya menutup mata dan sekuat tenaga menahan desahannya. Mahasiswi cantik itu tanpa sadar ikut meregangkan pahanya sendiri, membiarkan jari-jari Pandu serakah mengorek-ngoreknya. “Sudah bisa mulai fotonya belum bang?” tanya Sherly di tengah-tengah kesibukan si fotografer menginvasi vaginanya.
    “Bentar lagi nih. Kalau sudah benar-benar basah sekali pasti bagus ditangkap kamera,” akal-akalan Pandu makin intensif sambil dia mempermainkan bagian tubuh terlarang model amatir itu.
    Sherly makin menggelinjang saat jari-jari fotografer cabul itu sekarang memainkan klitorisnya. Benda seperti kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jari Pandu yang membuat Sherly menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat, terlebih lagi jari-jari lainnya menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam liang itu. Sherly sadar bahwa ini bukan lagi bagian dari pemotretan.

    “Bang… Abang… ngapainnnn…?” Sherly bertanya basa-basi.
    “Aku pengen cobain mekimu. Nanti kubayar dua kali lipat jadi dua juta.”
    Habis berkata begitu Pandu membalikkan tubuh Sherly jadi telentang di atas sofa, lalu dia membenamkan kepalanya di selangkangan gadis itu. Kontan Sherly bergetar seperti disetrum listrik saat lidah Pandu menari-nari menyapu dinding vaginanya. Sherly tak sempat berontak karena begitu cepat Pandu memainkan titik-titik ternikmatnya. Apalagi dirinya juga sudah horny, sehingga membuat gadis itu hanya bisa pasrah.
    “Ah… euh… ah… aw… ” desah Sherly. “Tapi be… nar… ya Bang… du… a… ju… ta…” Sherly memastikan.
    “Iya tenang aja. Sekarang kamu tiduran gitu. Biarin aku nyicip mekimu yang segar ini” kata Pandu.
    Dan tanpa membuang waktu lagi dia membenamkan kepala di antara paha Sherly dan kembali menghirup aroma wangi liang kewanitaan Sherly. Pandu kembali menjilati bibir kemaluan model amatir itu. Mahasiswi yang sudah terangsang berat itu mengelus-elus kepala Pandu seraya membuka pahanya lebih lebar, kepalanya menengadah menatap langit-langit. Sherly sungguh tak menyangka dirinya bisa terlarut sedalam itu. Awalnya hanya foto, sekarang jadi persetubuhan terlarang. Walau merasa merendahkan dirinya dengan menggadaikan tubuhnya untuk duit, tapi Sherly segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Toh dia sudah tidak perawan, dan selama ini yang menikmati tubuhnya hanya pacarnya saja. Dan Sherly merasa sedikit marah karena pacarnya tidak bertanggung jawab atas kondisi keuangannya. Pikir Sherly, kalau pacarnya tidak bisa bantu, tak masalah dia kalau fotografer ini bisa “bantu”, walau dengan kondisi harus rela dicabuli seperti saat ini. Pikiran yang berkecamuk di otak Sherly segera teralihkan karena Pandu semakin menaikkan tempo permainan. Tangan kiri sang fotografer cabul itu sekarang menjulur ke atas memijati payudara kiri Sherly, sedangkan tangan kanannya mengelusi paha dan pantatnya, sesekali juga ikut memainkan jarinya pada vagina Sherly. Sebentar saja badan Sherly sudah menegang.
    “Oh baaaaannngggggg……!” Sherly menggigil tak berdaya sambil mencengkeram rambut keriting Pandu dengan kedua tangannya dan mencoba mendorongnya menjauh karena saking gelinya. Bahkan pacarnyanya tak berani melakukan itu padanya. Lidah si fotografer makin lama makin meningkat intensitas iramanya dan Sherly mulai kehilangan kendali pada tubuhnya. Dengan malu Sherly mulai menyadari kalau tubuhnya perlahan menikmati apa yang dilakukan oleh Pandu.
    “Aaah!!” lenguh Sherly keras sambil terus mencoba mendorong kepala Pandu.
    Lenguhan Sherly makin lama makin keras dan tubuhnya menggigil penuh nafsu birahi di bawah rangsangan luar biasa dari Fotografer itu. Sherly sudah tidak ingat lagi akan semua hal yang ia junjung tinggi, semua hilang ditelan nafsu (dan duit).

    “Ah… Bang… Nngghh… oww… akukeluar… ahhhhhhh…!” erangnya lebih panjang di puncak kenikmatan.
    Tubuhnya jadi bergetar seperti mau meledak. Kedua belah paha Sherly semakin erat mengapit kepala Pandu. Tubuhnya lemas setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatnya menetes-netes. Sherly terenggah-engah dibuatnya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa. Baru kali ini dia menerima oral sex sehebat itu. Pandu menatap tubuh telanjangnya yang sudah lemas dengan penuh nafsu. Tubuh telanjang gadis itu benar-benar sexy sehabis orgasme.
    “Kamu cantik banget waktu orgasme tadi,” kata Pandu sambil mengamati wajah Sherly yang penuh keringat.
    Dia mengambil kameranya sebentar dan memotret Sherly yang baru selesai orgasme. Sebenarnya Sherly malu sekali. Mukanya memerah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
    “Aku benar-benar konak nih lihat body kamu. Sexy banget. Kontolku sudah tegang dari tadi,” kata Pandu sambil meletakkan kameranya. Dia sudah tidak sabar ingin membenanmkan kontol gendutnya ke liang gadis cantik itu. Ketika Pandu mau mendekati Sherly, tiba-tiba HP Sherly bunyi. Dari ringtonenya ketahuan kalau yang menelpon itu adalah pacar Sherly. Dengan sangat kaget Sherly segera berlari ke arah tasnya. Entah kenapa dia merasa takut dan ada perasaan bersalah. Sherly menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan dulu baru kemudian menerima telepon itu. Ternyata pacarnya sekarang ada di depan studio dan mau menjemputnya pulang. Mereka sempat berantem di telepon karena Sherly tak bilang ada pemotretan. Pacarnya tahu alamat studio milik Pandu dari temannya. Karena tidak mau nanti jadi bermasalah, Sherly akhirnya pamit ke pandu. Pandu dalam hati kecewa tapi tak mempermasalahkan. Masih ada hari esok. Gadis manis itu segera mengumpulkan CD dan bra lalu memakainya. Begitu juga dengan bajunya. Tak lupa dia merapikan riasan wajahnya di cermin yang ada di dalam studio itu. Dia tak mau pacarnya curiga akan “kejadian” barusan di dalam studio. Semua aktivitas Sherly itu tak luput dari jepretan Pandu. Fotografer itu menikmati sekali foto hidden seperti itu: saat Sherly memakai CD, bra, dan bajunya. Apalagi dengan ekspresi rada-rada takut dari sang model, benar-benar natural sehingga sangat fotogenik. Walau dalam hati sangat dongkol karena niat jahatnya terhalang pacar Sherly, tapi pandu dengan sok cool merelakan sang calon korban pergi. Sebelum pergi Sherly dikasih 500 ribu. Sherly protes karena kurang dari yang tadi dijanjikan yaitu 1 juta. Tapi Pandu bilang sedang tak pegang duit. Dia bakal transfer sisanya besok-besok dan berjanji akan membayar lebih. Sherly percaya dan lalu menemui pacarnya yang dari tadi menunggu di depan studio foto. Sebenarnya kalau dipikir-pikir Pandu licik juga. Menawarkan satu juta hanya untuk foto NUDE. Kalau Sherly pintar dia harusnya minta lebih dari 1 juta, untuk “jasa” karena mau mekinya dinikmati fotografer gendut itu. Tidak tahu apa karena Sherly memang tolol, atau mungkin karena Sherly merasa puas dengan oral sex Pandu  jadi dianggap “free”. Kadang kalau nafsu sudah memuncak, hitung-hitungan untung rugi tidak jalan.

    Sepeninggal Sherly, Pandu kemudian melampiaskan nafsunya yang tertunda dengan coli sambil memandang foto hasil jepretannya barusan. Sesudah crot, Pandu lalu mengedit beberapa foto, lalu membuka laptop untuk terhubung ke internet. Satu lagi janjinya ke Sherly dilanggar: Pandu langsung masuk ke forum dewasa dan memasang satu dua foto Sherly yang sudah seksi tapi masih pakai bra dan CD. Langsung saja orang-orang mupeng di sana berkomentar mesum. “minta lagi bro” “ada yang bugil gak?” “udah diekse belum” Demikian komentar cabul mereka yang belum ditanggapi oleh Pandu, karena dia tahu ini baru langkah awal. Sedangkan Sherly dibawa pacarnya, Lucky, ke kost untuk diinterogasi. Sesampainya di kost, yang ditakutkan Sherly terjadi. Dia dimarahi Lucky karena tidak memberi tahu. Pacarnya marah-marah karena merasa Sherly tidak jujur. 10 menit tanpa henti pacarnya meluapkan kemarahan. Karena Sherly memang merasa bersalah dia hanya diam saja. Lucky memperhatikan seluruh tubuh gadis itu untuk mencari-cari sesuatu tapi tidak menemukan apapun. Yang ada malah pacarnya mulai nafsu melihat Sherly yang duduk diam di atas ranjang seolah pasrah mau dihukum apapun karena bersalah. Lagian siapa sih laki-laki yang tidak nafsu melihat kecantikan dan kesexyan gadis muda itu. Om-om senang malah akan mau membayar mahal untuk merasakan isapan mulut & jepitan vagina mahasiswi ini. Apalagi sudah seminggu pacarnya tidak mendapat jatah karena Sherly baru datang bulan, jadi wajar nafsunya tak terkontrol.
    “Kamu sadar kamu salah?” Tanya Lucky, sambil mendekat.
    “Iya aku salah. Ga akan ngulangin lagi” jawab Sherly, nafasnya agak tersendat-sendat dan dadanya naik turun karena masih takut.
    “Karena kamu salah, kamu harus dihukum” kata Lucky.
    Lucky lalu membuka celana jins yang dipakainya, berikut CD putih. Sekarang di hadapan Sherly mengacung penis yang ukurannya biasa saja. Belum sempat Sherly ngomong apa-apa, pacarnya langsung menarik kepala gadis itu dan mengarahkan ke batangnya.
    “Ayo isap. Puasin aku. Ini hukuman karena sudah bikin aku galau,” paksa Lucky.
    Sherly yang tak punya pilihan lain, segera memasukkan penis itu ke dalam mulutnya. Lucky mengerang nikmat saat batang penisnya dikulum-kulum dan juga diputar-putar lidah Sherly. Sherly meraih dan memijat buah zakar pacarnya dengan lembut. Sherly memasukkan lebih dalam lagi batang pacarnya sampai kepala penisnya menyentuh ujung rongga mulut gadis itu.
    “Aaa… ahhh… ena… uuhhh!” desah Lucky bergetar. Wajah Lucky menegang dan cengkeramannya pada pundak Sherly makin mengeras. Sepertinya mau keluar.
    “Stop sayang. Aku sudah mau keluar,” kata Lucky sambil menarik penis dari mulut gadis itu. “Sekarang buka celanamu cepatttt…”

    Sebagai pacar yang penurut, Sherly lalu membuka celana dan CD-nya. Belum sempat dia membuka baju, Lucky sudah mendorongnya hingga telentang di atas ranjang. Sherly refleks mengangkang sehingga vaginanya yang segar dan sempit itu terpampang di hadapan Lucky yang sudah sangat horny. Lucky memperhatikan vagina Sherly masih basah (sisa-sisa orgasme dari Pandu yang belum dibersihkan tadi). Dia penasaran kenapa bisa basah tapi Sherly tak mau cerita. Kemudian Lucky naik ke ranjang lalu mengarahkan penisnya yang berukuran standar itu ke vagina Sherly. Sherly mendesah pelan saat vaginanya ditembus oleh penis pacarnya. Lucky mengeluarkan dan memasukkan penisnya lagi berulang-ulang, mengocok tubuh Sherly. Kocokan itu tampak membuat tubuh Sherly berguncang dan membuat buah dadanya bergerak-gerak di balik bajunya yang “lupa” dilepas. Walau sudah sering menikmati vagina gadis itu, Lucky tetap tergila-gila dengan liang sempit itu. Itu terbukti dengan kecepatan tinggi menggenjot vagina gadis itu. Akibatnya adalah Lucky hampir orgasme duluan. Tapi untuk mengulur waktu Lucky kini melepaskan diri dari tubuh Sherly. Mereka mengubah posisi. Sherly membalikkan badan dan menungging lalu ia membelakangi pacarnya. Lalu Lucky kembali menyetubuhi Sherly dengan posisi doggy style. Sherly kembali mendesah-desah saat dikocok seperti itu sementara wajah pacarnya agak memerah. Baju Sherly dan juga baju Lucky sama-sama basah oleh keringat. Apalagi mereka lupa menyalakan AC karena terburu-buru. Lucky termasuk cowok yang beruntung di antara cowok-cowok di kampusnya karena bisa ML sepuasnya dengan Sherly yang penurut. Sodokan-sodokan dengan posisi anjing kawin membuat adrenalin terpacu cepat.
    “Gila nih… kok aku mau keluar lagi ya…” kata Lucky di sela-sela sodokan. “Kita ganti gaya lagi babe!” perintahnya.
    “Terserah kamu aja deh babe, puasin aku,” jawab Sherly yang masih berharap kepuasan total.
    Lucky lalu tidur telentang dengan penisnya berdiri tegang. Lalu Sherly berada di atasnya perlahan-lahan memasukkan penis pacarnya ke vaginanya yang sempit itu, kemudian menggerak-gerakkan tubuhnya naik turun sambil ia mengerang-erang. Lucky pun juga mengeluarkan suara erangan sambil tangannya kembali meremas-remas payudara Sherly dari luar bajunya.
    “Ahhhhh… ahhhhhh… ahhhhh… ” desah lirih keluar dari mulut gadis cantik itu.

    Baca Juga : Pono, Gilirannya Mendapatkan Keberuntungan

    Posisi woman on top adalah posisi favorit Sherly, karena dia yang memegang kendali. Gadis 18 tahun itu memang mahir menggerakkan tubuhnya. Sherly memang aktif di ekskul dance sejak SMA dan sekarang pun dia ikut kursus belly dance, sehingga tubuhnya terbentuk indah dan goyangannya erotis sensual. Sudah banyak laki-laki yang tahu tentang Sherly “si dancer” yang mengkhayalkan Sherly menari seperti itu di atas tubuh mereka. Goyangan liar Sherly membuat Lucky tak bisa bertahan lama dan dia pun menyemprotkan spermanya ke liang gadis itu. Sherly kaget mendapat semprotan itu, bukan karena dia beruntung karena bukan masa suburnya saat itu, tapi karena dia masih belum puas sedangkan pacarnya sudah ejakulasi. Sherly yang belum mencapai orgasme makin mempercepat goyangannya agar dia bisa mendapatkan orgesmenya sendiri. Tapi apa daya penis Lucky telah lemas tak sampai 10 menit mereka berpacu. Sherly yang penasaran segera menarik vaginanya dari batang yang sudah lemas itu. Dia lalu merangkak kedepan dan memposisikan mekinya di hadapan wajah pacarnya.
    “Aku tanggung banget nih babe. Bantu oralin sampai keluar dong. Please,” pinta Sherly dengan wajah merah memelas.
    “Aaahh… udah Sher. Aku udah capek nih. Pake tangan sendiri aja sana!” kata Lucky egois.
    “Ayo dong babe. Please. Tanggung banget tau,” bujuk Sherly lagi.
    “Ahhhh… malas ah. Aku mau tidur. Capek. Lagian meki kamu bau peju.” Habis berkata begiu Lucky membalikkan wajah ke bantal.
    Dengan kesal Sherly meninggalkan pacarnya yang egois dan tak sanggup memuaskannya. Dia menuju ke kamar mandi yang terletak di kamar kost itu. Dalam kamar mandi, gadis cantik itu masturbasi dengan memainkan jari-jari mungilnya di dalam memeknya. Dia berusaha mencapai puncak yang gagal dia dapatkan dalam persetubuhannya dengan pacarnya. Desahannya pun mulai memenuhi kamar mandi itu.
    “Aah… ahh… aah…”
    Sherly mendesah nikmat. Walau tak senikmat penis yang merangsek vaginanya, jari-jarinya lumayan bisa menjadi “pengobat rindu”. Anehnya Sherly masturbasi sambil mengenang pengalamannya waktu dioral tadi oleh Pandu. Dia teringat bagaimana rasanya saat lidah fotografer itu menari-nari menyapu dinding vaginanya. Sherly masih ingat saat lidah fotografer itu menyentuh klitorisnya, saat tangan Pandu memijati payudara kiri Sherly sembari tangan kanannya mengelusi paha dan pantatnya, dan Sherly saat itu membayangkan bagaimana Pandu juga ikut memainkan jarinya pada vagina Sherly. Gadis cantik itu teringat bagaimana hanya dengan permainan lidah, Pandu bisa membuatnya mencapai orgasme. Kenangan singkat di studio foto tadi itu semakin meningkatkan birahi Sherly, sampai akhirnya dia pun menjerit keras saat orgasmenya pun datang.

    *****
    Part 2. Dibayar


    “bang pandu kpn byr yg 500. BU nih.”
    SMS itu dikirim Sherly ke nomor HP Pandu. Sudah beberapa hari sejak pemotretan yang berujung bugilnya Sherly di studio Pandu, tapi fotografer itu belum juga membayar sisa yang dijanjikan. Sebelum mengirim SMS itu Sherly ditelepon customer service kartu kredit yang mengingatkan tagihan sebesar 2,5 juta belum dibayar. Sebelumnya lagi Sherly ditagih temannya yang membayari dia beli diktat kuliah. Dan sebelumnya lagi Sherly diingatkan administrasi kampus bahwa kalau uang kuliahnya belum dilunasi, dia tak bisa ujian. Dan sebelumnya… ah sudahlah. Intinya Sherly dalam kondisi BU. Butuh Uang. Dan yang bisa dia tagih adalah janji Pandu. Pacarnya? Sebagai mahasiswa biasa yang kurang kreatif, pacarnya lagi-lagi tidak bisa bantu, dan malah mendorong Sherly untuk cari job modeling lagi. Sherly mulai merasa pacarnya sebagai cowok “mokondo” yang cuma ingin gituan gratis tanpa ngasih apa-apa. Bahkan kepuasan pun kemarin tidak dia kasih. HP Sherly bunyi lagi. MMS dari Pandu. Lho, kok malah dikirimi foto cewek berkebaya? Sesudahnya Pandu menelepon.
    “Halo, Sher. Pakabar? Sibuk gak?” sapa Pandu.
    “Eh, bang. Aku mau nanyain. Kapan mau…” kata Sherly, tapi langsung dipotong Pandu.
    “Sudah lihat gambarnya kan? Aku mau bikinin photoshoot tema kebaya, ada teman yang mau beli. KT (koleksi terbatas) lagi. Bisa sekarang gak? Kalau bisa aku jemput deh. Soal yang kemarin, itu aku mau lunasin sekarang. Cuma adanya cash, jadi sekalian kamu datang ke sini yah?”
    Dicecar seperti itu Sherly tidak sempat mikir, dan cuma bisa mengiyakan. Ketika dia bilang “mau” Pandu langsung girang dan suruh Sherly menunggu di depan kampusnya, nanti akan ada yang jemput. Lalu telepon langsung ditutup.

    *****

    Setengah jam Sherly menunggu di depan kampus, tiba-tiba muncul seorang laki-laki jelek di hadapannya naik motor yang sama jeleknya. Lelaki itu sudah tua, umurnya setengah baya. Rambutnya sudah mulai beruban. Tubuhnya kurus ceking.
    “Non Sherly yah? Saya Kosim, disuruh jemput sama Pak Pandu. Katanya suruh cari yang paling cakep di depan kampus, hak hak hak…” kata orang itu menggombal, disambung ketawa yang juga jelek.
    Giginya yang ompong dan gayanya yang sok playboy menambah kesan seram pada diri lelaki setengah baya itu. Walau ada sedikit ragu tapi Sherly naik ke motor Kosim. Keduanya pun berangkat ke tempat Pandu. Sherly sengaja tak memberitahu pacarnya, karena masih dongkol tidak dibantu. Menurut Sherly, Kosim tidak jago mengendarai motor. Kosim sering sekali mengerem mendadak dan sering salah memilih jalan yang tidak rata. Akibatnya bukan cuma satu kali payudaranya membentur punggung Kosim (yang jelas menikmati saat-saat itu). Makanya Sherly lega ketika akhirnya motor Kosim sampai di depan studio Pandu.
    “Hai, welcome,” sapa Pandu yang menunggu di depan studio dengan tersenyum lebar dan penuh arti.
    Dengan semangat Pandu menyalami Sherly, sekaligus curi-curi meraba tangan halus model amatir itu. Di sebelah Pandu ada seorang perempuan 30-an tahun yang Sherly belum kenal. “Sher kenalin ini Citra.”
    “Sherly,” kata Sherly menjabat tangan Citra. Sepintas Sherly memperhatikan pakaian Citra: rok Citra pendek sekali, memamerkan kakinya yang jenjang dan pahanya yang masih mulus.
    “Hai, aku Citra,” jawab Citra dengan nada genit. “Aku yang minta Pandu bikinin foto-foto tema kebaya. Buat salonku. Eh kamu manggil Pandu biasanya gimana, Mas apa Pak apa ‘Om Pandu’?”
    “Biasanya sih Bang Pandu,” kata Sherly.
    Citra menyikut Pandu. “Kalo sama cewek yang seumuran ini Pandu pantasnya dipanggil ‘Om’. Sherly, yuk ikut ke dalam? Kita siap-siap dulu.”
    Sherly, Pandu, dan Citra masuk. Kosim tetap di luar, nyengir mesum melihat Sherly dan Citra. Lelaki setengah baya itu menatap nanar kedua buah pantat gadis itu dari belakang. Tanpa sepengetahuan mereka, Kosim meraba-raba penisnya yang dari tadi sudah berdiri tegak.

    *****

    Sherly merasakan tangan Citra memasang anting di kanan kiri kupingnya. “Nah, selesai,” kata Citra. Cukup lama juga Citra mendandaninya. Sherly sekarang mengenakan busana sesuai tema, sehelai kebaya pendek dari bahan menerawang yang cantik berhias payet, hanya sedikit menutupi kemulusan kulit bahu dan lengan Sherly. Di balik kebayanya Sherly dipakaikan kemben tipis yang oleh Citra ditarik turun sehingga belahan payudara Sherly yang bagus mengintip di bagian leher kebaya. Bawahannya kain—tapi bukannya panjang sampai ke mata kaki, kainnya hanya sampai setengah paha, jadi malah seperti rok mini. Secara keseluruhan kesannya lebih banyak sexy daripada anggun. Tadi selain memperhatikan rok Citra yang pendek dan suara Citra yang genit, Sherly juga menganggap pemilik salon berumur 30-an itu memakai make-up tebal. Mirip cewek nakal, pikir Sherly. Ternyata dia dibegitukan juga oleh Citra, dirias cukup serius. Lipstik merah dan eyeshadow biru. Sherly awalnya mau protes, tapi sesudah melihat hasil akhirnya dia suka, wajahnya jadi terkesan lebih sensual. Lagipula sehari-hari pun Sherly memang biasa pakai kosmetik untuk tampil di kampus. Rambut panjang Sherly disanggul sederhana di belakang atas kepala.
    “Wuihhh… kereeen… kayak bidadari turun ke bumi…” puji Pandu ketika Citra mengantar Sherly masuk ruang pemotretan.
    Sherly malu-malu, sambil bertanya seolah tidak percaya, “Beneran keren Bang?” yang dijawab anggukan dan senyuman Pandu. Tanggapan itu membuat Sherly tersipu-sipu, dan makin percaya diri.
    “Ayo kita mulai.”
    Sherly berdiri di sebelah bangku di depan latar belakang polos. Pandu mengagumi hasil karya Citra di penampilan si model. Sekaligus membayangkan apa yang bakal dia lakukan berikutnya. Tentu tak hanya memotret…
    “Kita mulai pose duduk dulu, kamu duduk di bangkunya,” kata Sherly. Pandu memotret beberapa kali. Citra membantu mengarahkan Sherly berpose. Tak lama kemudian Citra bilang,
    “Aku tinggal dulu ya. Bikin foto-fotonya yang cantik. Daah.”

    *****

    Ketika Citra mau keluar dari ruang pemotretan, dia melihat Kosim mengintip di balik pintu.
    “Heh!” kata Citra mengagetkan Kosim. “Hayo, lagi lihat apa?”
    “Heeheeheehhee…” Kosim ketawa-ketawa tidak jelas. “Ngelihatin Non Sherly. Cakep sih.”
    “Huuu, dasar mesum,” kata Citra sambil menoyor Kosim. “Pantesan betah banget kerja di sini. Pandu sering bawa cewek kan.”
    “Iya… Iya Tante,” balas Kosim. “Apalagi Non Sherly ini. Wuiih. Tadi sih pas nganterin dia…”
    “Kenapa?”
    “Sempet ngerasain toketnya hihihi… Gede empuk, pasti enak tuh…”
    “Emangnya kamu apain dia??”
    “Tadi nyenggol-nyenggol pas di motor, Tante. Eh, kayaknya gedean punya dia deh daripada punya Tante…”
    Citra panas. Dia langsung tarik kerah kaos Kosim.
    “Enak aja panggil Tante, Tante. Lu kira gue udah setua itu hm?” katanya sambil pasang muka galak di depan Kosim yang tetap nyengir kurang ajar. Tapi lantas tangan Citra bergerak menggerayangi tubuh Kosim, sampai ke jendolan di depan celana Kosim. “Apa nih… Ckckck… Lu konak ya? Kenapa, konak juga sama tante-tante kayak gue?”
    “Iya dong… biar Non Sherly toketnya lebih gede… tapi Tante Citra tetep seksi… ADAWW!!” Kosim menjerit karena biji-nya diremas Citra.
    “Panggil gue Tante lagi… padahal ngaceng juga… awas lu ya?” ancam Citra. Tapi wajahnya berubah dari galak ke senyum nakal. Citra menarik Kosim pergi dari situ.

    *****


    “Sher, sekarang kamu pose berdiri ya,” kata Pandu sesudah sekitar 10 kali memotret Sherly yang duduk manis. Untuk membantu Sherly agar makin luwes berpose, Pandu memutar musik dance. Ternyata Sherly bereaksi; mengikuti naluri dancer-nya, Sherly tanpa malu-malu bergoyang.
    “Musiknya asyik nih Bang,” kata Sherly, tersenyum-senyum.
    “Tapi jangan terlalu hot goyangnya, nanti susah difoto,” Pandu tertawa melihat Sherly menari-nari, tidak tahan terbawa irama. “Eh Sher kamu bisa ngedance ya? Kelihatannya udah biasa tuh.”
    “Bisa Bang, aku kan dulu ekskul dance waktu SMA,” kata Sherly. “Suka nggak ngelihatnya?”
    “Suka, suka banget dong. Ntar kapan-kapan clubbing bareng, yuk. Pasti asyik nih ngedance bareng kamu,” ajak Pandu. “Tapi sekarang kita foto-foto dulu ya.”
    Beberapa kali foto kemudian, mulailah Pandu menjalankan rencananya. “Sher, bikin foto seksi lagi yuk…”
    Sherly senyum. “Dibayar lebih gak Bang?” tanyanya.
    “Tenang ajaaa. Apa sih yang ga bisa buat Sherly. Gini, ngelihatin kamu pake baju itu aku jadi punya ide. Gimana kalau… Kamu pake kebaya sama kainnya aja, ga usah sama kembennya?”
    “Ihh gila. Kebaya-nya kan tipis transparan gini Bang?” ujar Sherly tak percaya. “Entar tetep kelihatan dong semuanya…”
    Pandu mendekati Sherly dan memegang kedua bahu Sherly. “Itu intinya Sher… bikin foto seksi pake kebaya ini.”
    Sentuhan Pandu entah kenapa membikin Sherly teringat lagi orgasme waktu itu. “Tapi entar beneran dibayar yaaa…” pinta Sherly.
    “Pasti Sher… sekarang buka kembennya ya?” bujuk Pandu.
    Sherly masuk ke ruang ganti untuk mengubah penampilan seperti yang diminta Pandu. Agak repot berubah kostumnya karena yang diminta dibuka itu dalaman. Jadinya Sherly buka kebaya dulu, lalu buka kemben, dan memakai lagi kebaya tipisnya. Bahannya yang menerawang sama sekali tidak menutupi keindahan tubuh atas Sherly. Bahkan bentuk payudaranya terlihat jelas. Hanya saja putingnya tertutup ornamen payet di kebaya itu. Malu-malu, Sherly kembali ke tempat pemotretan dan mulai berpose. Pandu menjepret berkali-kali, sambil terus memuji keseksian Sherly. Kadang Pandu menunjukkan foto yang diambilnya ke Sherly dan bilang bahwa Sherly kelihatan cantik di foto itu. Dan sedikit demi sedikit Pandu berusaha mengurangi tutupan pakaian di badan Sherly. Pertama-tama kancing kebaya lepas satu demi satu. Kain penutup tubuh bawahnya juga diminta disingkap sehingga paha Sherly pun tampil utuh di kamera. Pandu terus mengarahkan dan memberi semangat

    “Iya gitu posenya Sher” “Cakep Sher” “Yang tadi bagus banget” “Kamu bakat jadi model besar nantinya” “Senyum yang manis Sher!”
    Dipuji seperti itu membuat Sherly makin pede. Sesudahnya Sherly makin santai dan foto-foto yang dibuat makin berani. Kainnya pun disuruh lepas, memperlihatkan bahwa di bawah kain itu Sherly memakai CD putih transparan. Pada satu pose, Pandu menyuruh Sherly berpose merangkak membelakanginya. Ketika berposisi itulah Pandu memperhatikan… ada yang basah! Sherly mulai terangsang! Pandu lalu menyuruh Sherly telentang dengan alasan mau memotret pose seperti itu dari atas. Sherly masih memakai kebaya tipis tapi bagian bawah tubuhnya hanya tertutup CD. Pandu berdiri mengangkang di atas tubuh telentang Sherly dan memotret terus.
    “Buka kakinya Sher” perintah Pandu, sambil dia melangkah mundur. Sherly merenggangkan kedua pahanya, selangkangannya terbuka di depan pandangan Pandu. Pandu jongkok dan mengarahkan kameranya ke arah kemaluan Sherly.
    “Lebarin lagi,” suruh Pandu sambil memegang dan merentangkan paha Sherly lebih lanjut. Pandu bisa mendengar nafas Sherly memburu ketika selangkangannya yang basah di balik CD dipotreti Pandu dari dekat. Si model itu malah nafsu ketika difoto dalam posisi tak senonoh. Tanpa terasa Sherly jadi nafsu lagi ketika difoto. Rasa malu sudah hilang dalam diri gadis muda itu, yang ada malah sisi liar yang pelan-pelan terkuak dalam dirinya akibat pujian dan tatapan nafsu dari si fotografer. Sherly sudah mulai berimprovisasi dengan pose yang lebih menantang. Dada ditonjolkan, bibir dibasah-basahkan dan senyum nakal menggoda. Sherly malah tak butuh berpikir lama saat sang fotografer meminta dia melepas sisa penutup tubuh sexynya. Tanpa protes Sherly mencopot kebaya tipis dan CD. Tampaklah vagina yang masih sempit dan berwarna merah segar itu. Ada jeda sebentar ketika Pandu menikmati pemandangan indah itu, sebelum akhirnya kembali lanjut mengabadikannya dalam foto. Fokus jepretan adalah ke daerah di sekitar selangkangan gadis berusia 18 tahun tersebut. Bulu kemaluan si model yang nampak kontras dengan kulitnya yang putih mulus menjadi sasaran kameranya.  Sherly benar-benar enjoy dan relax saat ini. Rasa malu sudah hilang. Ada kebanggaan tersendiri di dalam diri gadis muda itu saat menyadari dirinya dikagumi oleh lelaki. Apalagi Sherly tahu kalau Pandu sudah konak melihat kepolosan tubuhnya saat itu. Dia bisa menyaksikan tonjolan di balik celana fotografer itu.
    “Gimana bagus ga poseku bang?” tanya Sherly.
    “Bagus banget. Sumpah, aku suka banget Sher.”
    “Kalau suka berarti nanti honornya dobel dong. Hehe….”
    “Asal kamu mau nurut, honor tambahan ga masalah.”
    “Siap Bos…” jawab Sherly.
    Kemudian Pandu mulai berani menyentuh vagina gadis itu. Diusap-usapnya liang sempit itu, dengan alasan biar basah dan bagus ditangkap kamera. Malah Pandu meminta Sherly untuk menggosok-gosok vaginanya sendiri sambil difoto. Trik si fotografer berhasil, karena Sherly makin lama makin horny. Rasa canggung melakukan masturbasi di depan orang lain sudah hilang. Yang ada malah rasa nafsu yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Bagaimanapun dia adalah gadis muda normal yang nafsunya cepat naik saat berduaan telanjang seperti ini.

    “Ini saatnya,” kata Pandu dalam hati.
    Dia mulai berani memajukan wajahnya ke Sherly. Sherly yang sudah terangsang tak bisa menolak saat fotografer cabul itu melumat bibirnya. Mereka melakukan french kiss. Pandu kemudian mengarahkan tangan gadis itu ke celananya. Sambil berciuman dengan hot, si model amatir itu meremas batang Pandu. Pandu keluarkan penisnya dari celana, Sherly bisa melihat batang kokoh itu. Belum sempat gadis itu memegang kontol Pandu, Pandu sudah menggerakkan badan dan siap mengarahkan kontolnya ke liang gadis itu. Sherly kontan bergerak menolak saat Pandu menggesekkan batangnya.
    “Jangan Bang. Ga mau sejauh itu…”
    “Ayolah sherly. Kita berdua udah sama-sama horny nih. Ayo kita tuntasin, sayang…”
    Tapi Sherly masih menolak dengan tegas. Dia tak mau dicap gadis gampangan. Pandu berusaha membujuk gadis itu dengan diiming-imingi bayaran asal mau menurut. Lama-lama Sherly goyah juga. Dirinya memang sedang butuh uang.
    “Okelah bang. Tapi jangan ML ya. Aku sepong aja gimana?”
    “Ya udah kalau gitu,” kata Pandu sambil menarik kepala gadis itu dengan kasar ke batangnya. Dia agak kesal karena belum dapat menembus pertahanan Sherly sepenuhnya.
    Sherly menatap sebentar batang hitam besar itu sebelum akhirnya memasukkan batang Pandu ke bibir mungilnya. Penis di mulutnya ia hisap, oral sex bukan hal yang aneh buat gadis seperti dia, maka ia pun menggunakan semua pengalamannya dalam urusan sex, agar semuanya cepat selesai.
    “Arghhhhhhh…” desah Pandu menikmati perlakuan Sherly.
    Sherly menahan bau penis itu dengan berkonsentrasi mengulum. Penis Pandu ia hisap dari pelan lalu keras lalu pelan lagi, diselingi pula dengan jilatan-jilatan yang membuat Pandu belingsatan. Kemudian Pandu minta mengubah posisi jadi 69 dengan pria di atas. Dia juga ingin menikmati vagina gadis itu. Sherly sepertinya tak punya pilihan dan membiarkan Pandu menaiki tubuhnya.
    “Memek super nih…” kata fotografer itu. Pandu benar-benar mengagumi meki Sherly yang memang OK punya, masih kelihatan garis vertikalnya dengan kelentit yang sungguh imut dan mengeras. Segera Pandu meremas pantat Sherly dan menjilat perlahan paha dalam Sherly sebelum memasuki area vagina. Sherly melenguh, dan fotografer itu makin terangsang dengan suara sang model yang sendu. Sherly memainkan penis Pandu yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Pandu sibuk melumat vagina Sherly, sampai membuat paha mulus sherly menegang dan menjepit kepala fotografer cabul itu. Benar-benar pemandangan yang sanggat menggetarkan jiwa. Kalau saja cowok Sherly melihat, bisa-bisa kedua orang ini dibunuhnya karena kalap.

    Sherly yang makin terangsang karena mekinya dikerjai Pandu makin lama makin meningkatkan permainannya juga. Penis si fotografer yg besar dan panjang itu dikocok dengan cepat dan kepalanya langsung dijilati, diisap-isap, dikelamuti dan diemut-emut. Kadang penisnya dimasukkan mulut sampai hampir separo dan kemudian dikenyut-kenyut dengan mulut dan lidahnya. Pandu yang sudah punya jam terbang tinggi menghentikan sejenak aktivitasnya lalu menghadap Sherly. Dia tahu Sherly sudah sangat terangsang. Ini saatnya dia menikmati hidangan utama dari semua “perjuangan”-nya beberapa hari ini. Dilihatnya wajah gadis itu sudah merah karena horny.
    “Kamu sudah horny banget ya. Jadi gimana nih kelanjutannya…” Pandu menggoda Sherly dengan menggesekkan penisnya ke vagina Sherly yang basah. Sherly hanya diam saja sambil menggigit bibirnya. Walau sudah terangsang, dia masih tetap jaga image untuk tidak minta duluan.
    Pandu terus menggoda sherly, sambil membisiki Sherly, “Mau nggak… kalo mau minta dong.” Pandu mau membuat Sherly minta dicoblos sendiri. Sentuhan ujung penis Pandu di bibir vagina sherly membuat Sherly menggeliat. Gesekan-gesekan Pandu di luar vaginanya membuat Sherly akhirnya luluh, dia sudah tak peduli dengan tawaran bayaran Pandu. Dia minta dimasuki.
    “Ayo masukin Baaang… Sherly sudah ga tahan!” gadis itu meminta.
    “Masukin apa sayang?” Pandu masih tetap menggoda.
    “Masukin kontol abang ke memekku… Cepetan. Please!” pinta gadis itu.
    Pandu tertawa penuh kemenangan. Dan perlahan tapi pasti, fotografer itu mulai mendorong pantatnya maju, membuat penisnya menyeruak masuk ke dalam vagina Sherly secara perlahan-lahan. Sherly meringis menahan sesak pada vaginanya. Vaginanya masih sempit, terlalu kecil untuk dimasuki penis yang berukuran di atas rata-rata itu. Pandu sendiri merasa kesulitan saat memasukkan penisnya ke dalam vagina Sherly. Dia merasakan jepitan vagina Sherly begitu kuat, seperti melawan desakan penisnya, tapi dengan satu dorongan kuat, penis si fotografer akhirnya amblas seluruhnya di dalam vagina Sherly.
    “Ahhhkk…” Sherly merintih kecil merasakan sesuatu yang besar memenuhi liang vaginanya yang sempit.
    “Ehhh… akhirnya masuk juga…” fotografer itu mengerang lirih. “Gila, memekmu masih kenceng banget… jarang dipake sama cowokmu ya?”
    Pandu sedang meresapi nikmatnya jepitan vagina Sherly yang masih sempit untuk beberapa saat. Baru kemudian secara perlahan si fotografer mulai menggoyangkan pantatnya, melakukan gerakan memompa untuk menggenjot vagina Sherly dengan penisnya, mula-mula pelan, tapi saat vagina Sherly mulai terbiasa oleh penisnya, dia mulai mempercepat genjotan.

    Badan Sherly terguncang-guncang keras maju mundur, kakinya mengejang-ngejang dan menyentak-nyentak, kedua payudaranya bergoyang cepat, kepalanya terdongak ke atas, dan bibirnya terkatup rapat antara menahan sakit dan sensasi yang dirasakan di dalam vaginanya. Melihat itu Pandu jadi makin nafsu, sambil terus menggenjot vagina Sherly dia juga menciumi dan menjilati payudara Sherly sambil sesekali bibirnya mengulum puting susu Sherly. Kenyotan bibir si fotografer pada payudara Sherly menimbulkan sensasi baru dalam tubuh Sherly, membuat gerakannya menjadi semakin liar.
    “Aaahhh… ooohhhhh… aaahhhh…  ooohhhh…” desahan keras Sherly mulai terdengar manja.
    Rasa sakit pada vaginanya sudah hilang dan digantikan oleh kenikmatan yang luar biasa. Pandu sangat lihai memainkan penisnya, ditambah lagi kata-kata Pandu yang memuji sekaligus mengintimidasi Sherly yang membuat gadis itu makin melayang. Sungguh kenikmatan yang tiada tara bagi Sherly. Setelah 10 menit, si fotografer menyuruh Sherly menungging di atas sofa, lalu kembali diserangnya vagina Sherly dari belakang seperti seekor anjing. Kedua tangan kekarnya memegang pinggul Sherly dan menariknya hingga posisi pantat Sherly kini merapat dengan pinggul si fotografer, membuat penis Pandu membenam seluruhnya di dalam vagina Sherly.
    “Aaghhhhh!” erang si model dengan mata terpejam ketika penis Pandu mulai memasuki tubuhnya.
    Lalu mulailah Pandu menggenjot kembali vagina Sherly dengan kedua tangan memegangi pinggul Sherly. Dia mulai memaju-mundurkan kemaluannya mulai dari irama pelan kemudian makin cepat sehingga membuat tubuh Sherly tersodok-sodok dengan kencangnya.
    “Aahh… aahh… aahhh… oohh… oohh…” Sherly kembali menjerit-jerit saat Pandu menggenjotnya lagi.
    Tubuhnya sekarang basah oleh keringat. Payudaranya yang menggantung indah bergoyang-goyang seirama genjotan si fotografer itu. Perlahan Pandu mulai menjamah payudara Sherly dari belakang, sambil terus menggenjot vagina Sherly. Dia juga meremas-remas payudara Sherly. Erangan-erangan Sherly semakin keras, badan dan kepala semakin bergoyang-goyang tidak beraturan mencari titik-titik nikmat di dalam vaginanya.
    “Ahhhhh… terus… sodok… bang… Ahhhhhh….”
    Sherly semakin larut dengan permainan lelaki itu pada vaginanya. Pandu memompa vagina Sherly dengan cepat kemudian melambat dan cepat lagi, begitu seterusnya. Ini membuat Sherly semakin mendesah-desah keenakan, lelehan cairan kewanitaannya sudah keluar dan membasahi kedua paha bagian dalam Sherly.  Ceritamaya

    Saking larutnya dalam permainan, tanpa sadar Sherly menggerakkan pinggulnya apabila si fotografer dengan sengaja menghentikan genjotan pada vagina Sherly. Sherly dibuat melayang-layang. Sungguh kenikmatan seks yang belum pernah dia dapatkan dari Lucky pacarnya. Kalau sedang seperti ini, Lucky pasti sudah keluar dari tadi. Tapi Pandu berbeda, dia masih bertahan memuaskan gadis muda itu. Sherly menggerakkan badannya sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam ke liangnya. Dia sepertinya sudah mau orgasme. Mengetahui Sherly sudah di ambang klimaks, tiba-tiba Pandu melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya sherly membalikkan badan, berhadapan dengannya. Sherly harus mengakui stamina fotografer cabul ini sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsunya yang menggebu-gebu. Pandu memberi isyarat sambil menunjuk batangnya yang perkasa agar dinaiki Sherly. Sepertinya Pandu membiarkan gadis manis itu untuk mencari kepuasan sendiri dalam gaya woman on top, yang memang disenangi Sherly. Tanpa ragu si model amatir menuntun penis Pandu yang sudah mengeras ke arah vaginanya dan Sherly mengambil posisi menduduki perut Pandu yang buncit. Dengan bernafsu Sherly menggoyangkan pinggulnya diatas tubuh gempal itu. Sherly sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggama sungguh membuatnya seperti terbang ke awang-awang.
    “Ahhhh… ahhhhh… ahhhhhh…” desah gadis itu sambil menaikturunkan tubuhnya. Payudaranya yang besar itu naik turun seirama goyangan tubuhnya. Benar-benar pemandangan yang menggiurkan.
    “Ayo… goyang Sher… oohh!” Pandu sepertinya ketagihan dengan goyangan gadis itu. Pandu meraih kedua bukit mulus itu, meremas dan memilinnya, sehingga membuat Sherly makin liar saja.
    “Hebat banget goyangan kamu Sherly. Kapan pertama kali ngentot?” tanya Pandu sambil tetap meremas dada gadis yang sedang “bekerja” itu.
    Sambil menggoyangkan pinggulnya, Sherly menjawab terbata-bata, “Dulu di… SMA… hhhmmmhh… pas kelas… dua… aah…!” jawabnya.
    “Sama siapa?”
    “Sama… kakak kelas… ahhhhh…” desah Sherly dengan tertahan karena takut suaranya kedengaran sampai keluar ruangan studio foto.
    Dia makin liar memacu dan menggoyangkan pinggulnya. Pandu juga ikut melenguh keras saat merasakan vagina Sherly berkontraksi hebat seolah menyempit mencengkeram penisnya. Dilihatnya wajah Sherly merah padam menahan desakan orgasme.
    ‘Oh… bang… Sherly… mau ke… lu… ar… rrrrr!” jerit Sherly.
    Pandu juga merasakan akan segera orgasme. Sekitar 2 menit kemudian, akhirnya fotografer itu mengirimkan hentakan yang cukup keras disertai lenguhan panjang. Demikian pula halnya Sherly yang mencapai klimaks secara bersamaan, matanya membeliak dan tubuhnya berkelejotan. Ketika Sherly memandang ke depan, dilihatnya wajah fotografer itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kenikmatan karena telah berhasil menikmati modelnya sendiri.

    ===

    Sesudah beristirahat, mereka akhirnya bangkit, bebersih, dan berpakaian. Sherly agak lama bebersih di kamar mandi karena dia sekalian menghapus rias wajahnya. Kemudian dia kembali memakai baju biasa. Ketika keluar lagi, dia melihat Pandu menonton foto-foto di kamera.
    “Besok mampir sini Sher, kita lihat bareng foto-fotonya yang udah diolah,” pesan Pandu. Sherly tak memperhatikan itu.
    “Bang, bayaranku?” pintanya.
    “Oh, iya,” kata Pandu, lalu dia merogoh dompetnya. Sepuluh lembar seratus ribu disodorkan. Sherly menghitungnya.
    “Delapan… sembilan… sepuluh… Kok cuma sejuta Bang?? Kurang nih!” protes Sherly. “Kan kemarin yang belum dibayar lima ratus, terus buat shoot yang ini lima ratus, sama tadi… tadi Bang Pandu ngejanjiin sejuta lagi kalau kita…”
    “Sori banget Sher! Adanya baru segitu. Tadi Citra baru bayar DP aja, jadi duitnya yang ada ya segini. Makanya besok kamu datang, ntar aku bayarin deh sisanya!” Pandu ngeles, padahal sebenarnya dia sengaja mengikat Sherly.
    “Awas ya Bang. Beneran dibayar loh! Kalo enggak…” ancam Sherly, tapi wajah gadis itu senyum-senyum karena merasa kemaluannya ngilu seperti masih ada penis di dalamnya.
    “Kalo enggak apa?” goda Pandu.
    “…Ada deeh,” Sherly balas meledek. Pandu tertawa dan merangkulnya.
    “Yaudah, makasih ya buat hari ini. Ntar biar Kosim yang antar kamu pulang.”

    *****
    BERSAMBUNG…?
    By: Ninja Gaijin & Aliah Kusuma

  • Villa Di Ujung Lembah

    Villa Di Ujung Lembah


    86 views

    Ceritamaya | Sandra tidak dapat menyembunyikan kegembiraan yang ada dalam dirinya. Senyum mengembang selalu menghiasi wajahnya. Suaminya, David, seorang pengusaha muda terkemuka, menyiapkan kejutan untuk Sandra sebagai hadiah ulang tahun perkawinan mereka yang pertama. Ya, mereka hendak merayakan ulang tahun perkawinan mereka bersama. Kebersamaan mereka adalah suatu hal yang langka, karena kesibukan David sebagai seorang pengusaha sukses. Dengan menggunakan helikopter pribadi milik suaminya, mereka terbang menuju tempat kejutan tersebut berada. Mata Sandra yang tertutup menunggu dengan harap-harap cemas, David melarang membuka matanya hingga ia mengijinkan untuk membukanya. Saat-saat yang dinantikan akhirnya tiba, mereka sampai di tujuan. Setelah membimbing istrinya turun dari helikopter, David berbisik kepada istrinya,

    “Sekarang kamu boleh buka matamu.”

    Sandra membuka matanya, dan terkejut dengan pemberian suaminya. David memberinya sebuah villa di pegunungan sabagai hadiah ulang tahun pernikahan. Villa tersebut bergaya victorian. Tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil. Letak villa itu berada di ujung sebuah lembah, sehingga di belakang villa itu hanya terdapat sebuah jurang yang curam dan dalam. Villa tersebut dapat dikatakan terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Jika dikatakan sebagai sebuah villa, tempat itu tampak kurang dan sederhana sekali, tanpa taman yang menghiasi pekarangan, hanya sebuah menara tinggi yang menyerupai penangkal petir yang menghiasi belakang villa tersebut. Tapi di luar semua kekurangan itu, dari situ dapat dijumpai sebuah pemandangan pegunungan yang menakjubkan. Dan jika memberanikan diri untuk melihat ke dasar jurang, dapat terlihat sebuah sungai yang sedang mengalir di bawah sana. Sandra menyerbu ke dalam untuk melihat isinya villa tersebut diikuti oleh David dan anak buahnya yang membawa koper bawaan mereka. David lalu menunjukkan kamar tidur mereka. Sebuah kamar tidur yang luas disertai dengan kamar mandi di dalamnya. Di tengah ruangan terdapat ranjang klasik yang besar.

    “Bagus, sayang, villanya bagus,” kata Sandra dengan senangnya. David hanya tersenyum melihat ulah istrinya itu.

    “Kamu suka, sayang??” tanya David kepada istrinya.

    “Suka, suuuuukkkkkaaa sekali, terima kasih ya, sayang” jawab Sandra.

    “Kopernya di taruh di mana, pak?” tanya seorang anak buahnya.

    “Letakkan di atas ranjang saja, nanti saya yang membereskan, terima kasih,” jawab Sandra.

    “Sama-sama, bu,” jawab orang itu.

    Lalu David bercerita asal-usul villa tersebut.

    “Aku beli villa ini dua hari yang lalu. Aku membelinya dari temanku, kamu tahu kan Mr. Meier? Dia bercerita padaku dia membeli tanah ini sekitar 1985 an kalau tidak salah. Lalu sekitar tahun 1990 an, dia meminjamkannya kepada teman kuliahnya sewaktu di jerman untuk melakukan riset. Lalu Mr. Meier memberi kuasa kepada temannya itu untuk membangun tempat yang diperlukan untuk risetnya di tanah ini. Nah, jadilah villa ini.”

    “Lalu kemana temannya itu sekarang?” tanya Sandra.

    “Menurut Mr Meier, temannya itu dipulangkan ke Jerman oleh pihak imigrasi karena visanya sudah lewat lama sekali, kalau tidak salah sekitar tahun 1999,” jelas David.

    “Lalu, riset apa yang sedang dikerjakan orang itu?” Sandra kembali bertanya.

    “Kurang tahu, Mr. Meier pun tidak tahu apa yang dilakukan temannya itu, katanya dia selalu merahasiakan risetnya kepada dirinya. Jangan kan Mr. Meier, penduduk sini pun tidak tahu apa yang dikerjakan orang itu disini.”

    “Kabarnya, teman Mr. Meier itu suka membawa mayat yang entah didapat dari mana,” David masih melanjutkan ceritanya,”Pernah, ada orang yang memergokinya membawa mayat kemudian melaporkan bule itu ke polisi, lalu polisi datang dan memeriksa seluruh isi villa dan tak menemukan apapun, bahkan sehelai rambutpun tidak ada. Sehingga kabar itu tak terbukti.”

    Cerita David tersebut membuat Sandra bergidik.

    “Kan kabar tersebut tidak terbukti toh?” jelas David mencoba untuk menenangkan istrinya.

    “Lagipula kan ada aku yang menemani kamu, aku akan melindungi kamu,” sambung David yang lansung dijawab dengan peluk dan cium dari Sandra.

    “Terima kasih ya sayang…,” kata Sandra.

    “Aku belum sempat merenovasi villa ini, hanya membersihkan isi villa ini, nanti jika ada waktu aku akan minta temanku untuk merenovasinya,” David menjelaskan disambut dengan anggukan Sandra.

    Tiba-tiba Handphone David berbunyi.

    “Tunggu sebentar ya sayang, aku harus angkat ini.” Lalu David keluar meninggalkan Sandra sendiri di dalam. Sandra melihat-lihat ruangan tengah villa itu.

    Sandra tidak menyadari sepasang mata mengamati setiap gerak-geriknya di dalam villa. Setelah beberapa waktu, David kembali ke dalam, dengan wajah tampak kesal.

    “Ada apa, sayang?” tanya Sandra.

    “Maafkan aku sayang, tampaknya aku harus pergi,” jawab David.

    “Tapi sayang, kamu kan sudah janji….,” rengek Sandra.

    “Tapi ini penting sayang, tender yang sedang berlansung bermasalah, dan aku harus kembali ke Jakarta untuk menyelesaikannya,” jelas David berusaha menjelaskan.

    “Tenang sayang, mungkin juga tidak makan waktu lama, dan aku janji, setelah masalahnya selesai, aku secepatnya akan ke sini untuk bersama kamu, oke? Paling nanti sore aku sudah kembali.” David berusaha meyakinkan Sandra, walau istrinya tampak kecewa dengan penjelasan David.

    “Oke sayang aku pergi dulu ya, oh iya di dalam kamar ada satu hadiah lagi untukmu, di meja rias….,Enjoy your present and have fun,” kata David sambil berjalan meninggalkan Sandra menuju helikopter pribadinya. Dengan berat hati Sandra melepas suaminya pergi.

    Sandra kembali ke kamar dengan langkah gontai dan raut wajah sebal. Sandra kesal karena David kembali melanggar janjinya, justru di hari spesial bagi mereka berdua. Lalu Sandra menuju meja rias, di atasnya terdapat kotak kado seperti yang dikatakan David tadi. Sandra membuka kotak kado itu, sebuah kunci mobil tersimpan di dalamnya. Wajah Sandra tampak tidak ceria menerima kado itu, ia lebih memilih kebersamaan dengan suaminya daripada hadiah mobil itu. Untuk meredakan kekesalan hatinya, Sandra memutuskan untuk mandi air hangat. Dengan mengguyur tubuhnya dengan air hangat mungkin dapat mengendurkan segala ketegangan syarafnya. Sandra kemudian membongkar koper bawaanya yang diletakkannya di atas ranjang untuk mengambil perlengkapan mandi. Setelah semua perlengkapan mandi didapat, Sandra menuju kamar mandi yang juga berada dalam kamarnya. Sepasang mata terus mengikuti setiap gerak gerik Sandra. Sosok misterius tersebut mengintip dari tempat yang tidak disadari Sandra. Tanpa mengunci pintu terlebih dahulu, Sandra mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Sambil bercermin, Sandra membuka bajunya, melepaskannya kancing-kancing bajunya satu persatu, namun sesaat dia merasakan seperti ada yang memperhatikan dirinya. Perasaan tersebut membuat dirinya resah dan menghentikan aktifitasnya. Sandra beberapa kali memandang sekeliling kamar mandi itu, tapi dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ceritamaya

    “Aaah…mungkin hanya perasaanku saja,” pikir Sandra dalam hati, lalu ia meneruskan melepaskan kacing bajunya lalu membiarkannya jatuh ke lantai.

    Lalu ia melepaskan kancing dan menurunkan resluiting celana jeansnya, lalu memelorotkan celana itu dan membiarkan tergeletak di lantai kamar mandi. Kini hanya BH dan celana dalam yang masih melekat di tubuh Sandra. Pandangannya kini beralih ke refleksi pemandangan tubuhnya yang terpantul dari cermin besar yang terdapat di kamar mandi tersebut. Sandra memperhatikan dan mengagumi tubuhnya sendiri. Lalu kedua tangannya kebelakang berusaha meraih pengait BH 34Cnya. Tetapi ia mengurungkan niatnya, karena ia kembali merasakan ada yang memperhatikan dirinya. Ia pun kembali memeriksa kamar mandi tersebut, tetapi tetap saja dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Akhirnya Sandra menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, untuk membantunya merasa nyaman untuk melepaskan seluruh pakaiannya dan mandi. Lalu kembali Sandra meraih kait BH di bagian belakang punggungnya, membukanya, meloloskan kedua talinya dari bahunya yang putih mulus, lalu perlahan membiarkannya merosot dari tempatnya. Seketika sepasang payudara yang putih mulus mengantung indah tanpa penghalang apapun. Lalu Sandra meraih celana dalamnya, kemudian secara perlahan memelorotkanya ke bawah. Kini tubuh Sandra sudah tanpa sehelai benangpun di depan cermin. Kembali Sandra memandangi seluruh tubuhnya di cermin. Matanya menatap tubuhnya dari atas hingga ke bawah. Wajah orientalnya yang cantik dimahkotai dengan rambut hitam panjang sebahu. Kedua payudaranya tampak bulat dan kencang menantang, dengan puting dan areola bewarna coklat muda segar. Perutnya yang rata, lalu pinggangnya yang ramping dan pinggul yang mempesona serta bagian selangkangan yang tertutup bulu kemaluan yang lebat. Semua itu didukung pula dengan kedua kakinya yang jenjang. Kulitnya yang putih bersih menyempurnakan semua itu, membuatnya memiliki tubuh yang diidamkan semua wanita. Ia mengagumi tubuhnya sendiri. Sepasang mata misterius yang sedari tadi mengamati, tampak tak berkedip memandang kesempurnaan tubuh Sandra. Ia tampak bingung….

    “Lihat tubuhku ini, sempurna. Mungkin hanya kamu David, pria yang yang membiarkan wanita seperti aku ini kedinginan ,” Sandra membatin dalam hati.

    Ia membayangkan David menyentuh dan menjamah seluruh tubuhnya.Sandra berandai-andai jika suaminya tidak diganggu kesibukan pekerjaannya yang menjengkelkan itu, ia dan suaminya sedang bercinta saat ini. Lalu pandangannya kini tertuju ke daerah selangkangannya. Dengan tangan bergetar Sandra menyentuh selangkangannya, mencoba mencari bibir vaginanya. Tanpa sadar, Sandra mulai mengusap bibir kemaluannya dengan dua jari tangan kirinya. Kepuasan… dia menginginkan kepuasan… saat ini juga… segera… cepat… semakin cepat… segera…. Tangan kanan yang jarinya sempat ia kulum kini meraih bulat payudaranya yang kenyal. Jemarinya menarik puting susunya sendiri, memilin dan memijatnya, memohon kepuasan. Sandra mulai menghamba pada nafsunya sendiri tanpa disadari. Perlahan – lahan Sandra berbaring di lantai kamar mandi. Wanita molek itu mengangkat kakinya dan merenggangkannya lebar – lebar. Matanya yang indah dipejamkan bersamaan dengan keluarnya lenguhan nafsu dari bibirnya yang mungil. Ia seperti sedang kerasukan, mencari kepuasan dengan menikmati tubuhnya sendiri. Sang pengintip misterius tersebut tampak menahan nafas melihat apa yang sedang dilakukan Sandra di kamar mandi. Matanya pun makin menatap nanar. Jari jemari jenjang turun ke bawah, masuk di antara selangkangan. Dengan jari telunjuk dan jari manisnya sendiri, Sandra membuka lebar-lebar pintu cinta kewanitaannya, pintu cinta yang telah basah. Sudut ibu jari digesekkan ke bagian atas bibir memek untuk mencari kunci kenikmatan dan ketika ia menemukannya, Sandra melenguh pelan. Jari tengah dimasukkan ke dalam vagina, diputar untuk menjelajah dinding kemaluannya sendiri. Desahan demi desahan manja keluar dari mulutnya yang dahaga oleh nafsu.

    Jemari Sandra yang lentik basah oleh cairan cinta yang meleleh dari dalam liang kewanitaannya. Jari jemari itu bergerak lincah keluar masuk sementara remasan tangan pada payudara menjadi sumber kenikmatan lain. Ia terus menerus meremas, memilin dan meraba bagian membusungnya yang indah.

    “Eessssttt….. hmmmm….” desah Sandra keenakan, ia kian merenggangkan kaki dan mendesah tanpa bisa bertahan.

    Gerakan jemari Sandra makin lama makin cepat, makin buas, berubah dari gerakan lembut menjadi gerakan liar yang penuh tuntutan. Sandra sudah terbang ke atas awan kenikmatan membuatnya makin seperti orang kesurupan, ingin sesegera mungkin merasakan kenikmatan. Tubuh wanita cantik itu turun naik dengan cepat, menikmati gerakan jemarinya di kemaluannya, demikian berulang-ulang. Sandra makin memuncaki tangga nafsu. Dan akhirnya…

    “Hnnghhhhh!!!” geram Sandra mencoba melepas kepuasan yang tertahan. Mata wanita jelita itu dipejamkan rapat – rapat, tubuhnya mengejang. Ia merasakan cairan hangat lepas di dalam liang cintanya. Sandra membuka matanya.

    Tetes cairan kenikmatan kental meleleh melalui sela – sela jari jemari di selangkangannya. Si cantik itu terengah-engah. Ia menyandarkan siku di atas lantai kamar mandi untuk menopang tubuhnya yang bermandikan keringat. Ia baru saja memberikan kenikmatan pada dirinya sendiri. Sesuatu yang sebelumnya tidak ia perkirakan akan ia lakukan di kamar mandi seperti ini. Sandra lalu duduk terdiam di lantai kamar mandi. Nafasnya yang terengah-engah tadi secara perlahan berangsur normal.

    “Sial kau David!” Sandra berkata dalam hati, “Seharusnya aku mendapatkan kepuasan dari kamu!” Di dalam hatinya Sandra tidak dapat menyembunyikan kekesalannya kepada suaminya karena lebih mementingkan bisnisnya sehingga rencana untuk bercinta dengannya buyar.

    “Mungkin air hangat dapat menyegarkanku dan membuat aku melupakan semua ini,” pikirnya. Sandra bangkit menuju bathtub, menyibak tirai bathtub dan masuk ke dalam, ia lalu menyalakan shower dan mengatur suhunya. Siraman air hangat dari gagang shower menerpa tubuhnya memberi rasa segar serta menghilangkan kekesalan yang ada dalam dirinya. Setelah selesai membersihkan diri, Sandra mengeringkan tubuhnya lalu melilitkan handuk tersebut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Tidak lupa juga dia membereskan baju yang berserakan di lantai dan keluar dari kamar mandi. Sandra kembali membongkar koper bawaannya, untuk mencari pakaian yang cocok untuk dipakainya hari ini. Pilihannya jatuh pada sebuah sexdress bewarna hitam dengan corak bunga-bunga dan sebuah cardigan untuk membantu menghangatkan tubuhnya dari hawa dingin di pegunungan ini. Sandra segera membuka lilitan handuk di tubuhnya dan membiarkannya melorot ke lantai. Tubuh telanjangnya lalu mengenakan celana dalam hitam kemudian BH bewarna sama yang telah disiapkan sebelumnya, dilanjutkan dengan mengenakan gaun dan cardigan untuk menutupi tubuhnya. Sandra kembali membongkar kopernya untuk mengeluarkan alat-alat riasnya, kemudian menuju meja rias yang ada di sudut kamar. Setelah selesai menyisir dan sedikit berias, Sandra keluar kamar untuk melihat-lihat keseluruhan ruang di villa tersebut. Tiba-tiba telepon selularnya berbunyi. Ternyata dari David, suaminya. Sandra membuka telepon selularnya yang sudah low-bat itu, dan mendengar suara suaminya dari seberang sana.

    “Sayang, sorry sayang, aku benar-benar minta maaf, ternyata masalahnya tidak semudah itu, ini rumit sekali. Dan aku harus berangkat ke Singapore untuk membahas masalah ini. Tampaknya aku tak bisa kembali untuk menemani kamu sore ini.”

    “Sayang,….tapi cepat selasi kan?….. kapan selesainya?” tanya Sandra.

    “Kapan akan selesai nanti aku kabari kamu lagi sayang, sudah dulu ya sayang, aku harus segera naik pesawat, love you…..” lalu David lansung mematikan handphonenya.

    “Sial kau David, janjimu selalu kau langgar,” kata Sandra dalam hati sambil melempar Hpnya ke ranjang karena geram.

    Sandra lalu berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha melupakan David yang ingkar janji padanya, dengan berusaha menikmati villa pemberian suaminya tersebut. Ia menjelajahi seluruh ruangan dalam villa tersebut. Lalu Sandra menuju ruang di sebelah ruang keluarga. Ketika ia buka pintunya, ternyata ruangan tersebut adalah sebuah perpustakaan tua lengkap dengan buku-buku yang tersusun rapi di rak-raknya. Pandangan Sandra beralih ke sebuah piano yang berada di sudut ruangan.

    “Sayang aku tak dapat bermain piano,” pikirnya, lalu dengan isengnya, Sandra mencoba memencet beberapa tutsnya secara asal.

    Pandangan Sandra kembali menuju rak-rak buku tersebut. Sandra melihat-lihat koleksi buku yang ada di perpustakaan kecil tersebut, sambil berpikir mungkin ada satu atau dua buku yang dapat dia baca untuk membantu membunuh waktu menghabiskan hari. Lalu Sandra mulai memilih dan melihat-lihat satu persatu buku yang tersusun rapi di rak tersebut. Ternyata cukup banyak dan barvariasi koleksi perpustakaan tua ini. Tampaknya Sandra menemukan buku yang menarik baginya, buku tersebut berada jajaran pinggir buku dan susunan teratas rak didepannya. Ketika Sandra akan mengambil buku itu, buku tersebut tampak sulit untuk diambil, seketika terdengar bunyi “klik” dan tiba-tiba rak buku di depannya tampak seperti lepas dari dinding. Sandra dengan penasaran memeriksa rak tersebut. Ternyata buku yang hendak diambil Sandra merupakan kunci rahasia untuk memicu terbukanya sebuah pintu rahasia. Dengan dipenuhi rasa ingin tahu, Sandra mendorong dengan sekuat tenaga untuk membuka rak buku yang cukup berat itu. Dia berjalan memasuki pintu rahasia tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah lorong yang gelap dengan pencahayaan yang sangat minim. Di sebelah kirinya sebuah lorong gelap dengan tangga untuk turun ke bawah dan di sebelah kanannya sebuah lorong gelap lainnya. Sandra memberanikan diri masuk dalam kegelapan dan turun menyusuri tangga tersebut. Tangannya meraba-raba dinding untuk membantunya dalam kegelapan agar tidak terjatuh. Tampak cahaya matahari menyinari sebuah ruangan di ujung tangga. Tangga yang terbuat dari batu itu membawa Sandra menuju sebuah ruang rahasia di bawah tanah. Sinar matahari masuk melalui lubang angin yang dihiasi dengan jeruji besi. Sekilas mirip sebuah penjara. Ruang tersebut tampaknya telah lama ditinggalkan. Banyaknya sarang laba-laba dan debu yang menempel menegaskan hal itu. Sandra memeriksa ruangan itu. Ruangan tersebut tampak seperti sebuah laboratrium, karena terdapat banyak tabung reaksi dalam berbagai bentuk, mikroskop serta kertas-kertas yang berserakan.

    “Mungkin ini yang dimaksud David, tentang riset rahasia yang dilakukan orang jerman itu di tempat ini.” Sandra bergumam dalam hati.

    “Tetapi kenapa begitu rahasia sampai membangun tempat seperti ini? Apa riset yang sedang dilakukannya?” Sandra bertanya dalam hati.

    Sandra kemudian menemukan sebuah catatan yang tertinggal di atas sebuah meja. Catatan itu dibuat dengan ditulis tulisan tangan dengan menggunakan bahasa Jerman. Disitu tertulis “Meine wissenschaftlichen Zeitschriften”. Sandra mengingat-ingat mata pelajaran bahasa Jerman ketika ia SMA dulu, ia mengingat ia cukup pandai dalam mata pelajaran ini walaupun tidak mahir sekali.

    “Ini bukan sebuah catatan, tapi sebuah jurnal ilmiah,’ pikirnya.

    Lalu Sandra membuka-buka jurnal itu dan mencoba untuk mengerti apa yang tertulis dalam jurnal. Dengan mengambil garis besarnya dari beberapa kata yang ia mengerti dan gambar-gambar yang terdapat dalam jurnal tersebut, Sandra mengira-ngira jurnal ilmiah ini mengenai riset yang dilakukan oleh orang Jerman itu. Isi jurnal itu tampak seperti cerita fiksi ilmiah, tentang memberi kehidupan bagi tubuh yang sudah mati. Suatu hal yang tampak tak mungkin di dunia nyata. Menurut orang Jerman tersebut, ketika manusia mati organ-organ dalam tubuhnya tidak lansung mati. Dengan menggunakan kekuatan listrik yang sangat besar dapat membantu mengaktifkan kembali sel-sel dan organ tubuh yang ‘mati’ tersebut, dalam hal ini kekuatan listrik dapat diambil dari petir. Ini yang menjelaskan mengapa ada menara yang seperti penangkal petir di belakang villa. Sandra jadi teringat cerita horor Frankenstein mirip dengan riset ini. Ia jadi teringat cerita David tadi pagi mengenai mayat-mayat yang suka di bawa orang Jerman tersebut. Mungkin mayat-mayat tersebut digunakan untuk riset ini. Tidak heran mengapa polisi tidak dapat menemukan satu mayat pun di dalam villa, karena mayat-mayat tersebut dibawa ke ruang rahasia ini. Seketika bulu kuduk Sandra berdiri membuatnya bergegas meninggalkan ruang laboratrium tadi. Di sebelah laboratrium, terdapat sebuah ruangan. Sandra melihat sekeliling ruangan tersebut. Ruangan tersebut sama seperti laboratrium tadi memperoleh sinar matahari melalui sebuah lubang angin yang juga dihiasi jerusi besi. Di sudut ruangan terdapat sebuah tumpukan jerami yang di atasnya ditutupi sebuah sprei kotor dan lusuh.

    Tampak tumpukan jerami itu dipakai seseorang untuk tidur, seperti ada yang tinggal di ruangan itu. Seketika Sandra merasa takut, perasaannya mengatakan bahwa ia tidak sendirian di villa terpencil ini. Buru-buru Sandra menuju ujung ruangan, dimana terdapat dua buah tangga. Kedua anak tangga tersebut juga terbuat dari batu. Satu menuju ke bawah dan satu lagi menuju ke atas. Sandra kemudian memilih tangga yang menuju ke atas. Kembali ia memasuki kegelapan dan naik menyusuri tangga ke atas. Sandra bertemu dengan sebuah lorong gelap setibanya di atas. Lalu Sandra menyusuri lorong gelap itu sambil berlari. Ia ingin secepatnya keluar dari lorong gelap ini, keluar dan pergi dari villa ini. Ketika Sandra akan berjalan, pandangannya menangkap cahaya lain dari tembok. Lalu Sandra menuju sumber cahaya itu yang ternyata berasal dari sebuah lubang yang cukup besar. Sandra mengamati lubang tersebut, lalu terkejut setengah mati karena ternyata dari lubang tersebut dapat melihat dengan jelas pemandangan keseluruhan dari kamar mandi yang barusan dipakainya untuk masturbasi dan mandi. Sandra shock menyadari kemungkinan kegiatannya tadi di kamar mandi tadi ada orang lain yang melihat, karena perasaanya mengatakan demikian. Sandra semakin menyadari, bahwa ia tidak sendiri di villa tersebut. Tanpa pikir panjang lagi Sandra berusaha berlari keluar dari lorong gelap tersebut. Tiba-tiba sebuah sosok tinggi besar menghalangi jalannya. Sandra terkejut dan berteriak histeris dalam ketakutan yang sangat dalam, lalu ia merasa seluruh otot tubuhnya lemas, pandangannya kabur. Tubuhnya melorot jatuh ke lantai lorong yang gelap. Ia pingsan…Sosok tersebut mengangkat tubuh lunglai Sandra dalam gendongannya, membawa Sandra kembali ke ruang bawah tanah tadi. Sosok misterius itu meletakkan tubuh Sandra dengan hati-hati di atas tumpukan jerami yang telah dilapisi sprei lusuh. Sosok tersebut terus memperhatikan Sandra yang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu. Perlahan, ia mulai mendekati wanita cantik yang sedang terbaring di atas tumpukan jerami itu. Dia membelai rambut Sandra yang hitam panjang, menghirup aroma wangi shampoonya. Lalu punggung tangannya membelai wajah cantik Sandra yang mulus. Ia mengamati tubuh wanita cantik itu, tangannya yang besar itu lalu turun ke dada Sandra, menyentuh payudaranya yang kenyal, jari-jarinya mengenggam dan meremas kedua buah dada tersebut. Ia memberanikan diri membuka kancing cardigan Sandra, membiarkannya terbuka. Tangannya yang besar dengan gemetar berusaha menyingkap payudara dari gaun yang dipakai wanita cantik itu. Ia ingin melihat lagi pemandangan ia lihat di kamar mandi tadi, seketika payudara montok Sandra yang masih tertutup BH hitam tersingkap. Sosok tersebut tampak bingung dengan perbedaan bentuk tubuh antara dirinya dengan Sandra. Berulang-ulang ia membandingkan dadanya dengan dada Sandra. Sambil membiarkan bajunya terbuka, ia kembali berulang-ulang menyentuh dan mengenggam payudara Sandra dan membandingkan dengan menyentuh dadanya sendiri.

    Lalu sosok tersebut beralih ke daerah bawah tubuh Sandra. Tangan-tengan kekarnya menyingkapkan bagian bawah gaun Sandra. Sepasang paha putih dan bagian selangkangan yang masih tertutup celana dalam langsung menjadi pemandangan yang sangat indah. Paha Sandra benar-benar proporsional, tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil, membulat membentuk pinggul yang sempurna berakhir pada pinggang yang ramping. Sosok misterius itu menelan ludah melihat pemandangan yang di depannya. Jari-jari tangannya memberanikan diri meraih celana dalam hitam yang melingkari pinggul Sandra, lalu menariknya turun secara perlahan hingga di atas lutut Sandra. Kembali tangan sosok tersebut menyentuh bagian selangkangan Sandra yang tertutup bulu kemaluan yang lebat. Masih dengan wajah yang bingung, sosok tersebut juga membuka celananya, lalu memegang miliknya dan kembali menyentuh selangkangan Sandra, terus secara barulang-ulang. Sosok tersebut bingung dengan perbedaan kelamin antara mereka berdua. Beberapa saat kemudian, Sandra perlahan-lahan mulai siuman dari pingsannya. Untuk beberapa saat Sandra merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya, Dia sekarang berada di sebuah ruangan dan terbaring di atas tumpukan jerami yang dilapisi sebuah sprei lusuh. Samar-samar dilihatnya ada orang yang berdiri di dekat tubuhnya. Sandra mengejapkan matanya untuk melihat lebih jelas, perlahan bayangan samar yang dilihatnya mulai menampakkan bentuk aslinya, seseorang dengan wajah menyeramkan, dengan keadaan yang setengah telanjang sedang meraba-raba dirinya. Secara refleks, Sandra yang panik lansung bangun dari posisi tidurnya dan berteriak. Tanpa memperdulikan keadaan pakaiannya yang berantakan, Sandra lansung berdiri dan lari menjauhi sosok menyeramkan tersebut. Sandra berlari dan terus berlari tanpa menegok ke belakang, ia terus berlari menaiki tangga dan menyusuri lorong yang gelap. Akhirnya Sandra sampai kembali di ruang perpustakaan tua, tempat dimana dia menemukan pintu rahasia tersebut. Buru-buru Sandra menutup kembali pintu rahasia itu, lalu ia terus berlari menuju kamarnya dan mengunci pintunya. Ia merapikan kembali pakaiannya yang berantakan, lalu mencari Handphone untuk menghubungi suaminya.

    “Shhhiiitttt!!!” seru Sandra kesal menemukan baterai handphonenya habis, dan dia membutuhkan waktu untuk mencari chargernya. Dalam keadaan panik, Sandra lansung membongkar koper bawaanya untuk mencari charger HPnya. Tidak lama kemudian, Sandra berhenti membongkar kopernya, ia merasa aneh. Orang yang menyeramkan di bawah itu tidak mengejarnya ke sini. Orang yang ia pikir akan memperkosanya itu tidak berusaha untuk menangkapnya. Sandra yang penasaran, secara perlahan dan hati-hati mendekati pintu, membuka kuncinya, lalu mengintip melalui pintu untuk mengetahui apakah ada orang di luar kamarnya. Karena matanya tidak menangkap siapapun di luar kamarnya, Sandra memberanikan diri membuka pintu lalu memeriksa ruangan. Ternyata memang tidak ada orang yang mengejarnya.

    Hal ini membuat Sandra semakin penasaran, mengapa orang tersebut tidak mengejarnya. Lalu Sandra memberanikan diri untuk kembali ke ruangan perpustakaan tua. Kembali ia menarik buku yang menjadi kunci pintu rahasia. Rak buku tersebut kembali terbuka. Sandra memberanikan diri masuk ke dalamnya, secara perlahan-lahan dan hati-hati Sandra memasuki lorong rahasia yang gelap, menuruni tangga, melewati laboratrium rahasia, sehingga akhirnya ia sampai di tempat dimana ia melihat sosok menyeramkan tadi. Tapi ia tidak menemukan orang itu di tempat tadi. Mata Sandra menangkap sosok tinggi besar itu berada di sudut ruangan. Sosok tersebut menghadap ke tembok, tampak seperti ketakutan. Sandra memberanikan diri untuk mendekati sosok tersebut. Dengan gemetar tangan Sandra berusaha untuk menepuk bahunya. Sosok tersebut menoleh, lalu kembali menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, ia tampak seperti sangat ketakutan.

    “Astaga!” Sandra terkejut dalam hati, sekilas ia melihat wajah menyeramkan tadi. Sekilas ia juga melihat bukan mata seorang pembunuh atau seorang pemerkosa, tapi lebih cocok seperti mata seorang anak kecil yang sedang ketakutan.

    “Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu,” kata Sandra secara lembut sambil kembali menepuk bahu sosok tersebut.

    Secara perlahan, sosok tersebut membuka tangan yang menutup wajahnya dan menoleh ke arah Sandra. Wajah menyeramkan yang akhirnya diketahui Sandra sebagai seorang pria itu pucat dan dengan luka bekas jahitan di dahinya. Rambutnya pendeknya tampak gimbal seperti tidak pernah dikeramas selama berbulan-bulan. Mengingatkan Sandra akan wajah tokoh horor Hollywood, Frankenstein.

    “Astaga Tuhan, apa yang telah dilakukan orang terhadap pria ini, apakah ada orang yang tega berbuat seperti ini?” kata Sandra dalam hati penuh kasihan melihat kondisi wajah pria itu.

    “Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu,“ kata Sandra dengan lembut.

    “Namaku Sandra, namamu siapa??”

    Pria itu tampak bingung dengan pertanyaan Sandra.

    “Kamu mengertikan apa yang saya ucapkan??” Sandra kembali bertanya.

    Pria itu tidak bereaksi atas pertanyaan Sandra. Lalu Sandra mengulang kembali pertanyaannya dan akhirnya pria tersebut menjawab dengan anggukan kepala.

    “Namaku Sandra,” tanya Sandra sambil telapak tangannya menyentuh dadanya, “Namamu….????” telapak tangannya lalu ke dada pria itu.

    Sandra kembali mengulang pertanyaannya dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan tadi.

    “Eeeddddddiiiiii…..,” jawab pria itu dengan suara yang sangat berat.

    “Jadi namamu Edi?” jawab Sandra, dijawab dengan anggukan kepala pria yang bernama Edi itu.

    “Edi, tadi apa yang kamu lakukan kepada Sandra??”

    Pria itu menjawab dengan isyarat gerakan, ia menunjukan jarinya ke dada Sandra lalu menunjukan kembali ke dadanya sendiri. Sandra tampaknya mengerti apa yang dimaksud pria ini dan ia geli dengan kepolosannya. Benar-benar seperti anak kecil. Tampaknya pria ini bingung mengapa dadanya berbeda dengan milik Sandra.

    “Sandra adalah wanita sedangkan Edi itu adalah pria,” Sandra mencoba menjelaskan. “Ini namanya payudara, wanita memiliki payudara, karena nanti dia kelak akan menyusui anaknya, sedangkan pria seperti Edi tidak punya.” Edi menganggukkan kepalanya lalu mengulang perkataan Sandra “Pa…yu…da…ra…” Sandra tersenyum melihat kelakuan Edi.

    Lalu Edi menunjuk jarinya ke selangkangan Sandra, kemudian ia juga memegang alat vitalnya. Sandra terkejut melihat ukuran alat vital Edi yang masih ‘tidur’ itu. Ukurannya hampir sebesar milik suaminya ketika dalam keadaan ‘tegang’. Lalu Sandra kembali berusaha menjelaskan kepada Edi.

    “Ini namanya penis, hanya pria seperti Edi yang memiliki penis. Wanita seperti Sandra tidak mempunyai penis tapi vagina.”

    “Pe….nis….,va…gi…na…,” ulang Edi yang membuat Sandra kembali tersenyum.

    Entah apa yang ada di pikiran Sandra. Kekecewaannya terhadap David, yang seharusnya menemaninya dan memuaskan kebutuhan seksnya, membuat Sandra tidak berpikir panjang. Ia hanya berpikir libidonya dan bagaimana cara untuk memuaskan nafsu birahinya, ia juga ingin merasakan penis Edi dalam vaginanya, penis yang diperkirakannya berukuran besar dan panjang.

    Sandra kemudian memberanikan diri membuka baju Edi. Dilihatnya tubuhnya yang pucat juga penuh dengan luka jahitan. Jahitan-jahitan itu tampaknya seperti digunakan untuk menyambung bagian tubuh yang tadinya terpisah dan memasukan organ yang tubuh yang diperlukan, seperti di dahi, leher, lengan, pergelangan tangan dan pinggang. Juga terdapat luka bekas jahitan yang panjang di dada. Benar-benar mirip monster Frankenstein yang ada di film-film horor hollywood. Atau memang Edi adalah bahan riset orang Jerman itu? Sesaat terbesit dipikirannya, ia yakin bahwa Edi adalah Frankenstein yang ada di alam nyata, berdasarkan catatan-catatan ilmiah rahasia yang ia temukan , juga diperkuat dari cerita dari suaminya pagi hari tadi. Pasti Edi adalah manusia ciptaan hasil riset rahasia orang jerman itu. Tapi Sandra tidak peduli. Edi tampak tidak berbahaya seperti yang di film-film, malah Edi tampak seperti anak kecil yang polos. Tangan Sandra kini beralih ke celana Edi, jari-jari lentik Sandra bergerak menurunkan celana Edi yang sedari tadi sudah terbuka kancing dan resluitingnya. Setelah celananya turun, Sandra kembali melihat luka jahitan di pangkal paha dan sekitar pergelangan kaki Edi. Kini pria buruk rupa itu sudah telanjang bulat di hadapannya. Sandra kembali memandang tubuh telanjang Edi di hadapannya, tubuh yang penuh luka jahitan, dari kepala hingga ke ujung kaki, tapi matanya tidak dapat lepas dari benda yang menggantung di selangkangan. Sandra kemudian berlutut di depan Edi, memposisikan dirinya sedemikian rupa sehingga wajahnya menghadap penis Edi yang masih lemas.

    “Boleh Sandra pegang penis Edi?

    Edi mengangguk memberi persetujuan.

    Tangan Sandra kini dapat merasakan benda yang masih ‘tidur’ itu. Dirinya penasaran, sebesar apa penis Edi jika tegang dan keras. Elusan lembut jemari Sandra pada batang kemaluan Edi membuat pria menyeramkan itu bergetar dan menggelinjang, sambil matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Sandra meludahi tangannya, kemudian menggenggam penis yang ada di hadapannya. Tangannya secara perlahan-lahan mulai mengocok penis Edi, makin lama makin cepat. Mata Sandra terbelalak melihat penis Edi, yang secara perlahan kini mulai membesar dan mengacung tegak ke arahnya. Penis itu terlihat begitu besar dan panjang, bahkan jari-jari Sandra yang menggenggamnya tidak dapat melingkari seluruhnya. Penis Edi tampak kokoh dengan urat-urat di sekujur batangnya dengan ujungnya menyerupai jamur serta jauh lebih besar dan panjang daripada milik suaminya.

    Entah apa yang merasuki dirinya, membuat Sandra sangat menginginkan untuk mengoral penis Edi. Ia tidak peduli dengan bau badan Edi yang seperti orang yang tidak pernah mandi. Belum lagi benda yang sedang digenggamnya memiliki aroma yang tidak sedap. Sambil melanjutkan kocokannya, pelan-pelan, Sandra memajukan wajahnya untuk memasukkan penis tersebut ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Edi panik, ia buru-buru melepaskan penisnya dari genggaman Sandra.

    “Kenapa Edi???” tanya Sandra yang tampak bingung dengan kelakuan Edi barusan. Lalu Edi menjawab dengan terbata-bata
    “Pe…nis…pe…nis…Edi…ja..ja..ngan…dima…ma…kan.”

    Sandra tersenyum geli mendengar jawaban Edi yang terkesan polos.

    “Sandra bukan mau makan penis Edi, Sandra bukan pemakan manusia,” Sandra berusaha menjelaskan,” Sandra hanya ingin membuat Edi merasa nikmat, enak. Jangan takut Edi, Sandra tidak akan menyakiti Edi, Percaya sama Sandra.” lanjut Sandra berusaha meyakinkan Edi.

    Dengan ragu-ragu Edi yang sudah telanjang bulat kembali mendekati Sandra. Ia membiarkan Sandra yang dengan lembut meraih batang kemaluannya. Lalu secara perlahan Sandra mengocok batang penis itu dan membuka mulut menjilati permukaan penis itu. Edi itu menarik nafas panjang dan melenguh merasakan sapuan lidah Sandra pada penisnya.

    “Enak…Edi??” tanya Sandra sambil kembali melajutkan jilatannya di penis Edi.

    “E…..naakkhhh…,” jawab Edi singkat sambil menikmati sapuan lidah Sandra.

    Sandra memulai dengan mengulum buah pelir pria itu yang ditumbuhi bulu-bulu tebal sambil memijati batang penisnya dengan tangan. Gila…setan apa yang telah merasukinya, ia merasa jijik, benci dan muak pada dirinya, namun dorongan untuk meraih kepuasan bersama pria ini begitu besar. Ia melanjutkan servis oralnya dengan menjilati sekujur batang itu yang berurat, bentuknya yang panjang dan keras itu membuat libidonya semakin terpacu, ia membayangkan bagaimana bila penis yang sudah menegang dengan perkasa itu mengoyak-ngoyak dirinya. Jilatannya akhirnya sampai ke ujung penis Edi yang mirip jamur itu. Lidahnya menjilati wilayah itu, teknik yang biasa dipraktekannya pada suaminya yang membuatnya mengerang keenakan, Edi meracau tak karuan merasakan sensasi geli dan nikmat akibat sapuan lidah wanita cantik itu pada kepala penisnya. Kemudian Sandra membuka mulutnya untuk memasukkan penis itu. Kepalanya bergerak maju-mundur sambil memegang batang itu. Sambil mengisap ia memutarkan lidahnya mengitari kepala penis itu sehingga membuat Edi semakin keenakan. Sekitar seperempat jam Sandra melakukan oral seks terhadap pria itu sampai merasa pegal pada mulutnya, maka ia menggunakan tangan mengocok batang itu dan mengurangi kulumannya.

    Ia merasakan batang di dalam mulutnya itu semakin berdenyut saja. Lalu ia melepaskan penis yang sudah tegak dan mengeras sempurna itu dari mulutnya. Penis Edi begitu besar dan panjang. Sandra tidak bisa melepaskan pandangan dari benda menggantung yang ada di selangkangan Edi. Ukurannya dan bentuknya sangat mempesonanya.Bagaimana mungkin ia bisa tertarik pada alat vital Edi? Sandra tahu dia tak akan pernah bisa menjelaskan pada siapapun, bagaimana dia bisa tertarik pada manusia aneh bernama Edi ini. Dorongan seksual menggebu dalam batinnya menjadi gairah liar tak tertahankan yang mengurung perasaannya sendiri. Lalu Sandra kembali bangkit di hadapan Edi. Dia kini tahu siapa yang mengintipnya di kamar mandi tadi.

    “Edi….,Edi mau main dengan Sandra? tanya Sandra menggoda.

    Edi menjawab dengan menganggukan kepalanya pelan.

    “Edi….mau lihat Sandra seperti yang Edi lihat di kamar mandi tadi?”

    Edi kembali mengangguk dengan cepat.

    Entah apa yang merasuki Sandra. Dulu dia tidak pernah terlintas di pikirannya untuk berselingkuh dengan pria lain, karena ia berpikir ia mempunyai suami yang sempurna, tampan dan kaya raya. Tapi sekarang, dengan Edi, wajahnya pucat itu dapat dikatakan jauh dari tampan, bahkan cenderung menyeramkan. Dan penisnya, Sandra tidak dapat melepaskan pikirannya dari penis milik Edi, bahkan ia ingin segera menikmati penis Edi yang besar dan panjang itu di dalam vaginanya. Jari-jari lentik Sandra mulai melepaskan satu persatu kancing cardigannya dan membiarkannya jatuh ke lantai batu yang berlumut. Kemudian kedua tangannya menyingkirkan tali gaun dari kedua bahunya yang putih dan membiarkan gaun tersebut melorot dari tubuhnya lalu melangkahinya. Edi melihat pemandangan erotis di depannya sambil menelan ludah. Kini Sandra hanya mengenakan BH dan celana dalam bewarna hitam, sangat kontras dengan tubuhnya yang putih mulus. Lalu Sandra membungkuk, tangannya membantu kakinya untuk melepaskan sepatu sandalnya. Dalam posisi membungkuk, belahan payudara Sandra yang montok terlihat jelas. Payudaranya yang masih terbungkus BH seakan ingin meloncat keluar dari sangkarnya. Edi yang melihat pemandangan indah ini, merasa tenggorokannya menjadi kering dan sekali lagi ia menelan ludah. Kedua tangan Sandra bergerak perlahan ke belakang punggungnya berusaha untuk meraih kait BH yang terdapat di belakang punggungnya. Kemudian kedua tanganya mulai meloloskan tali BH dari kedua pundaknya yang mulus, lalu secara perlahan BH itu merosot dari tempatnya. Seketika sepasang payudara yang putih mulus mencuat telanjang, payudara yang sangat indah, bulat padat dan kenyal dengan puting berwarna coklat muda segar.

    Baca Juga : The Lustful Flight

    Sandra lalu membungkuk untuk.melepas lembaran terakhir yang melekat di tubuhnya. Kedua jari-jarinya bergerak secara perlahan ke samping kiri dan kanan pinggulnya, kemudian secara perlahan memelorotkan ke bawah. Kini Sandra benar-benar telanjang bulat, tubuhnya sudah tidak mengenakan sehelai benangpun. Edi tidak perlu mengintip lagi untuk melihat keindahan tubuh wanita cantik itu,. Kini keindahan tersebut ada di depan matanya. Tangan Sandra meraih tangan Edi yang masih terbengong-bengong melihat tubuh telanjangnya. Lalu Sandra membimbing kedua tangan besar Edi menuju ke sepasang buah dadanya.

    “Sentuh Sandra, Edi. Belai Sandra,” pinta Sandra.

    Tangan Edi dengan gemetar mulai bergerak menyentuh dan membelai. Tangan Edi kini bisa menyentuh payudara telanjang Sandra. Payudara Sandra segera tergenggam tanpa halangan oleh tangan buas Edi. Awalnya gerakan tangannya kaku dan kasar, tapi dengan sabar Sandra membimbingnya. Kemudian Sandra bergerak memunggungi Edi. Kembali ia membimbing tangan Edi untuk menyentuh payudaranya dari belakang melalui sela-sela ketiaknya.

    “Remas payudara Sandra…..Edi.”

    Edipun mengikuti kemauan wanita cantik itu. Ia meremas….

    “Aaauuu…….,” Sandra merintih kesakitan karena Edi terlalu kasar meremas buah dadanya, seketika Edi lansung menghentikan remasannya.

    “Yang lembut Edi, wanita ingin diperlakukan dengan lembut,” Sandra berusaha menjelaskan dengan sabar.

    Edi kembali mengulang apa yang dilakukan tadi, tapi kali ini remasannya lebih lembut.

    “Uugggh…..benar Edi….seperti itu…aaahhh,” desah Sandra menikmati remasan tangan kasar Edi di payudaranya.

    “Mainkan puting Sandra…..Edi,….oohhh, pakai jari Edi,” pinta Sandra

    Jari-jarinya yang besar beberapa kali memencet dan memilin puting Sandra. Sandra memiliki payudara yang kencang dan kenyal. Diremas dan digoyangnya payudara wanita jelita itu lalu meremas dan memilinnya sesuka hati.

    Sandra menikmati remasan Edi dari belakang, walaupun dapat dikatakan Edi amatir dalam hal ini. Tangan-tangan kasar itu mulai bisa beradaptasi sesuai dengan keinginan Sandra. Lalu ia mengajak Edi menuju tumpukan jerami yang ada di sudut ruangan, di tempat Sandra sebelumnya pernah terbaring. Lalu Sandra berbaring di tumpukan jerami yang beralaskan sprei lusuh itu. Edi tidak tahu bagaimana caranya membuai seorang wanita, dia tidak mengerti bagaimana caranya melakukan permainan cinta sejati. Dia tidak tahu bagaimana melakukan pemanasan. Sandra menarik tangan Edi, lalu ia membimbing tangannya untuk kembali bermain di payudaranya yang montok. Edi menikmati keindahan payudara Sandra, ia menangkup, meremas, menggoyang, menimang dan membelai payudara Sandra. Jari-jari Edi yang besar menyentil puting payudara Sandra sambil terus menggoyang payudara sang bidadari. Sekali lagi Edi meremas payudara wanita cantik itu dan menggoyang puting payudaranya dengan jempolnya yang besar. Sandra merintih tak berdaya, ia tak mampu mengontrol tubuhnya sendiri. Sensasi hangat serangan Edi membuatnya tenggelam dalam kenikmatan.

    “Sini Edi, sini mulut Edi…..,”desah Sandra sambil membimbing kepala Edi menuju payudaranya.

    “Edi boleh hisap, jilat terserah Edi…tapi jangan digigit,’ Sandra kembali mengajarkan.

    Edi menatap penuh pesona ke puting susu Sandra yang kini menjorok ke atas, benda mungil merekah itu seakan menantangnya. Sangat menggiurkan dengan warnanya coklat muda kemerahan. Seolah sudah mengerti apa yang akan dilakukan, bibir Edi yang tebal segera menuju ke sana, lalu melumat tanpa ampun puting yang sedari tadi terus menantangnya itu. Sandra menikmati ketika mulut hangat Edi menangkup puting payudaranya. Apalagi ketika bibir tebal pria itu lalu mencium dan lidahnya menjilat seluruh payudaranya. Sandra mendorong dadanya ke depan agar Edi bisa lebih leluasa menikmati dadanya. Gigi Edi bahkan menggigiti daerah ujung pentilnya dengan lembut, membuat sensasi kenikmatan menjalar dari dada ke seluruh tubuh.

    “Oooooh!” lenguh Sandra menahan nikmat.

    Dengan sigap lidah Edi melingkari pentil yang masih menonjol keluar. Hal ini membuat Sandra makin salah tingkah, tubuhnya melengkung ke belakang, matanya terpejam dan tanpa sadar wanita cantik itu menyorongkan buah dadanya ke mulut Edi yang terus merangsangnya. Sandra hanya bisa megap – megap menggapai nafas ketika gigi Edi mengunyah puting payudaranya, setelah pentil itu menonjol, lidah Edi ganti menjilati sisi areolanya. Sandra lalu membimbing tangan Edi untuk menjulurkan jarinya ke dalam selangkangannya, membiarkan jarinya masuk dan meraba bibir kemaluannya. Sandra melonjak kaget ketika jari-jari Edi yang ukurannya sangat besar mulai membelai bibir kemaluannya secara perlahan – lahan. Sandra malu pada dirinya sendiri, wajah wanita cantik itu memerah karena malu saat ia menyadari vaginanya sudah mulai basah padahal Edi belum melakukan apa-apa. Sandra terus membimbing tangan Edi untuk menunjukkan kepada pria buruk rupa tersebut bagian paling sensitif dari tubuhnya. Sandra membimbing jari Edi yang besar untuk bermain di daerah klitorisnya. Sandra menggigit bibir dan menarik nafas panjang ketika merasakan jari-jari Edi mulai menyentuh klitorisnya. Tubuh Sandra tersentak saat jari pria itu menggesek-gesek klitorisnya dengan jari sehingga membuat wanita itu semakin seperti cacing kepanasan. Daerah bibir kemaluannya semakin basah seiring dengan gesekan jari-jari Edi yang semakin intens.

    Lalu Sandra meminta Edi untuk berhenti memainkan jarinya di klitorisnya, kini ia meminta Edi untuk menggunakan mulut dan lidahnya. Edi hanya menurut, ia mengikuti seluruh keinginan Sandra. Edi membuka paha Sandra, wajahnya mendekat hingga berjarak hanya sepuluh centi dari vagina wanita cantik itu, matanya menatap nanar kemaluan yang berbulu lebat dengan bagian tengah yang memerah itu. Dengan lembut lalu membenamkan wajahnya pada vagina wanita itu. Tubuh “Ooooooohh… !” Sandra mendesah panjang menggelinjang begitu lidah Edi yang panas dan kasar itu menyapu bibir kemaluannya, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir merasakan sensasinya.

    “Ooohh…!” tak terasa Sandra mendesah sekali lagi merasakan jilatan panjang pada klitorisnya yang membuatnya serasa melayang.

    Ia merasakan ada suatu sensasi aneh dalam dirinya, walaupun ada perasaan jijik kepada pria ini, dia menginginkan pria ini terus melakukannya. Matanya membeliak-beliak dan vaginanya semakin berlendir tanpa bisa ditahannya. Tangan Edi juga turut bekerja merabai paha dan pantatnya yang putih mulus itu. Sekitar seperempat jam Edi memperlakukan Sandra demikian. Tanpa diajari oleh Sandra, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris wanita itu dan menghanyutkannya dalam permainan liar ini.

    “Eenngghh…aaahh !” Sandra pun akhirnya mendesah panjang dengan tubuh mengejang.
    Edi yang mengikuti instingnya melahap cairan orgasme Sandra dengan rakus sampai terdengar suara menghirupnya, dia menyedoti bibir vagina Sandra sehingga tubuhnya makin menggelinjang. Orgasme pertama begitu dahsyat baginya sehingga membuatnya takluk pada pria itu. Setelah beberapa saat menikmati orgasme pertama yang diberikan Edi kepada dirinya, Sandra kembali membimbing Edi untuk mengatur posisinya yang siap untuk disenggamai oleh Edi. Sesaat Sandra kembali mengenggam dan mengocok penis Edi sehingga penis tersebut kembali keras dan mengacung secara sempurna. Sandra hanya mengangguk pasrah pada pria buruk rupa yang berlutut tegak tepat di depan selangkangannya. Sandra menggenggam penis Edi dan menuntunnya pada liang senggamanya Wanita muda yang cantik itu bahkan membuka kakinya lebar-lebar, mengeluarkan desahan mesra kala penis raksasa milik Edi menyentuh paha bagian dalamnya. Sentuhan ringan ujung gundul kemaluan Edi mengalirkan sensasi dahsyat ke seluruh bagian tubuh Sandra, melejitkan nafsu birahinya sampai ke tingkat yang tak terkatakan. Sandra hanya terdiam, memejamkan mata dan menunggu. Awalnya ujung gundul kemaluan Edi hanya menyentuh bibir kemaluan Sandra saja, walaupun begitu vagina si cantik itu sudah basah dan siap menerima serangan. Ketika Edi benar-benar bersiap melesakkan kemaluannya, mata Sandra terbelalak melebar. Ujung penis Edi dioles kesana kemari, bibir vagina, rambut kemaluan, paha dalam, seluruh bagian sensitif di sekitar vagina Sandra dirambahnya. Edi tidak tahu mana yang enak dan mana yang tidak. Ia hanya mengamati perubahan wajah Sandra saja. Edi sendiri sekarang mulai maju, penisnya yang mengeras bagai baja seperti tak sabar ingin segera menjajah liang kenikmatan milik Sandra. Wanita cantik itu sendiri juga tak sabar, ia ingin Edi segera melakukannya, ia ingin penis itu segera masuk ke vaginanya yang dahaga. Tanpa ada seorangpun yang meminta, Sandra mengangkat kakinya lebih tinggi, memberikan Edi akses yang lebih bebas, si cantik itu telah menunggu.

    “Ma… masukkan saja, Edi.” Desis Sandra, tangannya mencengkeram dan kukunya menancap di pundak Edi. “A… aku menginginkannya… berikan padaku… berikan pada Sandra …..”

    Senyum Sandra yang manis mengundang Edi untuk segera melakukan apa yang mereka berdua inginkan. Dengan satu geraman yang keluar dari mulut Edi, kepala penis raksasa miliknya mulai masuk ke dalam vagina Sandra, sedikit demi sedikit, perlahan-lahan sekali. Lalu dengan satu hentakan pinggul yang kuat, pria itu memasukkan batang penisnya ke dalam vagina Sandra, merenggangkan dinding-dindingnya ke batas maksimal.

    “Aaaaaaaaaahhhhh!!!” teriak Sandra, gabungan rasa sakit dan kenikmatan yang dirasakannya tak terkatakan. Ia hanya bisa melolong tanpa daya. “Ooooohhhhhmmm… .”

    Luar biasa, penis Edi baru masuk hanya beberapa senti saja ke dalam vaginanya, tapi Sandra sudah melolong tak berdaya.

    “Sandra…sakit?” tanya Edi seketika menghentikan penetrasinya.

    Sadra hanya mengangguk sambil mengigit bibir bawahnya menahan sakit.

    “Sandra tidak apa-apa, Edi,” jelas Sandra tidak mau membuat Edi khawatir.

    “Terus…….Edi….. terus,” bisik Sandra yang sudah tak mampu menahan diri lagi. “Tidak apa-apa… pelan-pelan saja… jangan -… jangan terlalu cepat…”

    Lalu Edi meneruskan penetrasinya secara perlahan. Tubuh Sandra bergetar hebat merasakan batang kemaluan yang kerasnya bagai kayu mulai dilesakkan ke dalam kemaluannya, diiringi dengan nafas yang terengah-engah, Sandra mengangkat pinggul dan pantatnya agar Edi lebih leluasa. Lalu Edi kembali menusukkan penisnya lebih dalam lagi ke dalam vagina Sandra. Sandra sudah bersiap, ia merenggangkan kakinya dan memejamkan mata, lalu dengan satu sodokan penuh tenaga, Edi mendorong kemaluannya masuk ke dalam!

    “Aaaaaaaaaaaaahhhhh!!!” Sandra menjerit kesakitan.

    “Sa-sakit?” tanya Edi yang terkejut mendengar jerit kesakitan Sandra.

    “Sakit…” rengek Sandra.

    Kini, batang yang keras bagai baja itu telah melesak masuk dan akan terus masuk sampai ujung terdalam. Siap tidak siap, mau tidak mau, Sandra harus menahannya. Ukuran kemaluan Edi yang besar seakan membuat dia hendak merobek bibir kemaluan Sandra ketika penisnya ditanam dalam-dalam di vagina wanita itu.

    “Gakkghhh!! Aghhh!! Ahhh!” Sandra melenguh berulang, tenggorokannya tercekat. Rasa sakit yang tak tertahan membuatnya berontak secara reflek, sehingga membuat Edi menghentikan tusukannya.

    “Sandra……sakit…..?” tanya Edi yang dijawab dengan anggukan Sandra.

    “Nggak apa-apa Edi…..teruskan…tapi pelan-pelan,” pinta Sandra

    Kembali Edi memasukkan batang penisnya ke arah yang lebih dalam secara perlahan-lahan. Ketika Edi menusukkan lagi penisnya ke dalam vagina Sandra, si cantik itu memilih memejamkan mata dan menggigit bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Penis Edi terus saja mendesak ke dalam bagian terdalam vagina Sandra.

    “Ampuuuun!” batin Sandra, sungguh dia bisa merasakan setiap senti desakan penis Edi dalam liang rahimnya.

    Kali ini, penis Edi amblas lebih dalam dari sebelumnya, tanpa ampun menusuk terus ke dalam, sakitnya terasa sampai ke perut si cantik itu. Seluruh batang penis Edi amblas ke dalam vagina Sandra, semuanya masuk ke dalam, dari kepala penis sampai batas terbawah. Kantong kemaluan Edi menampar bagian bawah bibir vagina Sandra sampai ke lubang anusnya. Ya Tuhan! Edi benar-benar melakukannya, pria raksasa itu memasukkan semuanya sampai ke dalam! Sandra tidak percaya apa yang baru saja terjadi pada dirinya, seluruh batang penis Edi telah amblas! Masuk ke dalam liang kenikmatannya! Sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya, batang sekeras baja itu kini berada di dalam tubuhnya, masuk ke dalam liang rahimnya, menyodok seakan hendak mengoyak perut. Setelah seluruh batang penisnya masuk ke dalam, Edi kemudian diam, tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Kesempatan ini digunakan Sandra untuk membiasakan vaginanya dengan ukuran penis Edi yang besar. Nafsu birahi yang bercampur dalam benak Sandra membuatnya sangat bergairah. Ada perasaan aneh yang menyapu tubuh Sandra, gairah sensasi birahi yang menyelimuti dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Setelah beberapa saat, ia mulai terbiasa dengan ukuran kemaluan Edi. Vaginanya yang terus disiksa oleh kenikmatan mulai lengket pada batang penis sang pria buruk rupa, dinding vagina Sandra mulai merenggang dan menyesuaikan dengan ukuran penis yang menginvasi.

    “Sekarang, Edi, coba gerakkan pantat Edi maju mundur, tapi jangan sampai penis Edi keluar…nanti dimasukin lagi,” kata Sandra berusaha membimbing Edi.

    “Tapi pelan-pelan ya Edi….,” Sandra mengingatkan dan di jawab dengan anggukan kepala Edi.

    Edi mulai menggoyang penisnya dan memompa keluar masuk, sekali, dua kali, tiga kali… secara perlahan.

    “Aaaaaaaahhh……….aaaahhh,” desah Sandra mengiringi keluar masuknya penis Edi di kemaluannya.

    “Sandra tidak sakit???” tanya Edi secara lugu kepada Sandra.

    “Nnngghhhhakk Ediii…….teruskannnn…,” desah Sandra menikmati tusukan Edi.

    Sandra mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya… kenikmatan yang luar biasa.

    “Terus… terus… terus… jangan berhenti…,” Sandra tidak mau Edi mengakhiri permainannya.

    “Sandra …enak??” tanya Edi tanpa menghentikan hujaman penisnya secara perlahan.

    “enak… enak sekali… jangan berhenti…,” jawab Sandra.

    Sandra tidak percaya ini, setelah semua rasa sakit yang ia terima dari Edi, akhirnya ia menerima semuanya dengan penuh kenikmatan. Ia ingin Edi melanjutkannya tanpa henti, Sandra membuka kakinya lebar-lebar, ia ingin Edi masuk lebih dalam! Lebih dalam!

    “Eeedddiii…oohh…eennaakk?” tanya Sandra sambil menikmati hujaman batang kemaluan Edi. Ia ingin tahu apakah Edi menikmati apa yang sedang mereka lakukan sekarang.

    “Eee……nnaaakkhh….,” jawab Edi sambil terus mengoyangkan pinggulnya.

    “Ooooohhhh…” Sandra melenguh perlahan.

    Edi kini memegang pinggul Sandra dan mengelusnya lembut. Edi kini menunggu agar Sandra bisa menyesuaikan diri. Dengan sabar pria itu memperhatikan tubuh Sandra mulai relaks dan bisa membiasakan diri dengan ukuran kemaluan Edi yang memang di atas rata-rata lelaki pada umumnya. Sandra membuka mata dan menatap kekasih barunya dengan pandangan penuh pengertian, ia berusaha menyembunyikan sedikit rasa sakit yang masih dirasakannya, rasa sakit yang ditimbulkan oleh sesaknya desakan batang kejantanan Edi di dalam vagina mungilnya.Sandra mengerang perlahan, ia takut Edi akan menghentikan gerakannya kalau tahu dia kesakitan. Dengan sekuat tenaga, Sandra berusaha bertahan. Rasa sakit yang tadi begitu menyiksa kini sudah mulai banyak berkurang, sekali lagi wanita cantik itu memaksakan senyum pada Edi. Pria itu memperlakukan tubuh Sandra dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, ia bergerak pelan, memutar pinggul dan penisnya, menggiling kemaluan Sandra dengan tusukan yang sebisa mungkin tidak menyakitkan, sampai akhirnya dinding vagina Sandra yang elastis merenggang dan bisa menyesuaikan dengan ukuran penis Edi.

    “Sekarang… lebih….cepat…..Edi…..” Sandra meminta Edi untuk mempercepat hujaman penisnya. Edi tidak menjawab hanya melakukan apa yang Sandra minta. Sambil memegang pinggul dan paha Sandra, Edi mempercepat gerakan pantatnya, menghujamkan penisnya secara lebih cepat. Kedua payudara Sandra yang montok turut bergerak lebih cepat seiring hujaman penis Edi

    “Aaahh….oohhh…aaahhh….bbaagusss Edi….,” Sandra memuji ‘muridnya’ yang cepat belajar.

    Sandra merasakan kegairahan yang makin lama makin memuncak, membuatnya bingung dibuai kenikmatan yang tak seharusnya terjadi. Sandra tidak mampu berpikir dengan jernih, tubuhnya terasa melayang ke atas awan. Wanita cantik itu membiarkan tubuhnya lepas, mengikuti gerakan pria buruk rupa yang sedang menggumulinya. Sandra berharap perlakuan yang begitu nyaman dan enak ini tak akan pernah berakhir. Bidadari jelita itu membentangkan kakinya lebar-lebar, membiarkan lututnya membuka dan mengimbangi gerakan maju mundur Edi dengan hempasan pantat penuh nafsu. Wanita cantik yang tadinya takut dan jijik pada pria itu kini tergila-gila. Ia mengerang dan menjerit, membiarkan tubuh dan pikirannya terbebas. Setiap hentakan yang dilakukan Edi membuat Sandra makin mabuk oleh kenikmatan yang diberikan Edi. Selama hampir seperempat jam Sandra disetubuhi oleh Edi. Sandra kemudian mengangkat kakinya dan menggunakan kaki jenjang itu untuk memeluk pinggang Edi yang lebar sementara tangannya mengait di leher. Sandra yang merem melek menikmati permainan ini, bahkan dengan berani Sandra menggoyang pinggulnya untuk membalas sodokan penis Edi.

    “Sentuh nenen Sandra…..Edi, seperti tadi…..,”desah Sandra

    Tidak sabar menunggu Edi, Sandra menyambar kedua tangan besar Edi dan ditempelkan ke payudaranya yang montok. Tangan Edi meraih payudara Sandra dan meremasnya dengan gemas. Sandra meringis kesakitan bercampur nikmat,lalu Edi menjilatinya dengan lidah. Dia melakukannya dengan lembut. Wanita cantik itu menarik nafas dalam-dalam karena bibir Edi yang besar seakan memoles seluruh buah dadanya dengan air liur. Jilatan Edi mengitari puting Sandra yang mengeras dan sekali dua kali dia menggigit ujungnya dengan lembut. Sandra mulai terengah – engah, ia kesulitan mengatur aliran nafasnya sendiri. Matanya yang tadi terpejam kini terbuka lebar, menatap pria yang bukan suaminya tengah menggumulinya dengan penuh nafsu.

    “Aaaaaaaahh!!” Sandra menjerit karena sensasi yang ia rasakan.

    Sakit yang ia rasakan berasal dari selangkangannya berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Vagina Sandra yang ditembusi penis Edi berulang-ulang akhirnya mengeluarkan cairan cinta yang langsung membanjir. Rasa malu dan puas bercampur menjadi satu sehingga wajah Sandra memerah.

    Tangan mungil Sandra meremas pantat Edi yang keras, ia menancapkan kukunya dengan liar karena terangsang hebat. Tiap kali batang penis Edi dipompa keluar masuk, jari jemarinya mendesaknya agar bergerak lebih cepat dan menusuk lebih dalam. Kaki wanita cantik yang jenjang itu mengunci pinggang Edi dengan rapat seakan tak mau lepas dari persetubuhan yang membuatnya terangsang hebat. Lalu Edi melepaskan payudara Sandra dan kembali ke posisi semula.

    “Ah! Ah! Ah! Ah!” Sandra terengah-engah tiap kali penis Edi menerobos ke dalam vaginanya yang hangat dan basah. Sambil memegangi pinggul Sandra, manusia buruk rupa itu menyetubuhi Sandra dengan kecepatan yang makin lama makin meningkat. Keringat mulai membasahi sekujur tubuh telanjang Sandra yang putih mulus. Begitu pula Edi.

    “Huh! Hh! Huh! Hh!” Sandra melenguh berulang, tubuhnya bergerak seiring desakan penis Edi dalam vaginanya.

    “Engh! Engh! Engh! Huff! Ahhh!! Ahmm!!” Sandra mengeluarkan lenguhan berirama tiap kali Edi melesakkan penisnya ke dalam vagina Sandra.

    Wanita sintal itu tidak bisa mengumpulkan pikirannya dan berkonsentrasi, dia hanya mengikuti gerakan Edi. Sandra telah dibuai kenikmatan sehingga tidak bisa berpikir apalagi mengucapkan kata-kata. Tubuhnya turut bergoyang di bawah tindihan Edi. Sandra menyerah pada rasa nikmat yang ia rasakan di daerah selangkangan.

    “Ooooohhhh….aaahhh !!” Sandra mendesah panjang dan tubuhnya bergetar hebat, dia merasakan cairan vaginanya seperti tumpah semua. Sandra berteriak penuh kepuasan. “Ahhh.” Seluruh sudut tubuhnya mengeras untuk sesaat dan kemudian orgasme pun meledak dalam tubuhnya.

    Tak pernah sebelumnya saat bermain cinta dengan David, Sandra memperoleh kepuasan seksual seperti sekarang. Sandra terengah-engah usai mengalami orgasme. Tubuh telanjang Sandra tergolek tak berdaya tapi Edi masih terus memompa vaginanya. Edi masih belum selesai, pria bertampang Frankenstein itu masih terus melancarkan serangannya, cairan yang meleleh dari vagina Sandra makin melicinkan gerakan penisnya sehingga otomatis sodokannya pun makin cepat, terdengar bunyi decak cairan setiap penis itu menyodoknya.

    Tiba-tiba Edi berhenti dan menarik keluar kemaluannya. Sandra menggeleng kepalanya keras-keras, dia lalu merubah posisi agar Edi lebih nyaman, ia berbalik, melakukan posisi doggi style dengan merendahkan tubuhnya ke bawah hingga buah dadanya menempel di tumpukan jerami yang tidak semuanya terlapisi sprei lusuh tersebut. Permukaan tumpukan jerami yang kasar merangsang pentil payudara Sandra hingga menjorok ke depan. Sandra mengembik penuh kenikmatan saat batang kemaluan Edi yang sangat besar kembali melesat masuk ke dalam liang kewanitaannya tanpa bisa dihentikan. Sandra melejit nikmat ketika batang penis Edi digenjotkan di dalam kemaluannya, wanita cantik itu masih tidak percaya penis raksasa milik Edi bisa masuk ke dalam vaginanya. Belum pernah ada lelaki yang pernah melesakkan penis sedalam Edi, nyeri dan sakit yang dinikmati oleh Sandra bagaikan gadis yang sedang diambil keperawanannya. Si cantik itu menjerit-jerit dengan bingung, sebenarnya dia kesakitan atau malah keenakan. Saat ini Sandra sudah tidak peduli lagi siapa sebenarnya Edi, pria raksasa yang buruk rupa itu menyimpan keperkasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sandra bagaikan seorang budak seks yang duduk berlutut dan membiarkan seorang pria buruk rupa menggenjot vaginanya dari belakang, menanamkan nafsu birahinya dalam-dalam di liang kenikmatan yang diberikan oleh Sandra. Setelah selama ini, baru kali inilah Sandra tahu bagaimana rasa nikmat yang sesungguhnya. Tidak ada pria yang bisa menandingi Edi dalam hal memuaskannya. Sandra ingin selalu menghentakkan tubuhnya yang indah di atas penis tegak milik Edi. Sandra sudah dibuat terpukau oleh penis raksasa Edi.

    Sandra tidak ragu sedikitpun. Ia merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, benda itu bahkan menyentuh dinding rahimnya. Edi mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, gesekan-gesekan nikmat langsung terasa baik oleh yang si penusuk maupun yang ditusuk. Sandra menggelinjang nikmat, tubuhnya melengkung ke belakang, mulutnya mengeluarkan erangan. Edi kembali menaikkan tempo genjotannya, tangannya yang tadi cuma berpegangan pada pinggangnya menjalar ke depan meremasi dua payudaranya.
    “Oooohhh…aaahhh….eehhmm….!” suara lirih keluar dari mulut Sandra setiap kali Edi menyodok-nyodokkan penisnya.
    Kenikmatan dalam tubuh Sandra makin lama makin memuncak menuju sebuah ujung yang tak ingin ia capai dengan cepat. Sandra tahu inilah saatnya ia merasakan kenikmatan puncak itu! Kenikmatan yang tidak ia dapatkan dari suaminya yang lebih mementingkan bisnisnya daripada merayakan hari jadi pernikahan bersama istrinya. Edi mengerang hebat dan Sandra bisa merasakan batang penis Edi menegang dengan sangat keras di dalam liang kewanitaannya. Si cantik itu tidak ingin permainan seks yang indah ini segera berakhir, dia ingin Edi tetap menyetubuhinya selama mungkin. Tapi sekuat apapun Sandra berusaha bertahan, dia tetap seorang wanita biasa.

    Sandra tidak mampu lagi menahan orgasme. Dia mendesah panjang dan mengeluarkan banyak sekali cairan dari vaginanya. Tubuhnya mengejang, Sandra melepaskan seluruh kenikmatan puncak yang bisa ia rasakan, kenikmatan yang telah dihantarkan oleh seorang pria asing menyeramkan yang ternyata bisa memuaskannya.Serangan Edi semakin ganas, dan tak perlu waktu lama bagi Edi untuk segera menyemprotkan air maninya yang putih lengket ke dalam vagina wanita cantik itu. Tubuhnya mulai mengejang seiring nafasnya yang makin memburu. Sebuah erangan panjang menandai orgasmenya. Semprotan pejuh Edi menggila di dalam vagina Sandra, memenuhi seluruh ruang liang kewanitaan hingga luber keluar, membasahi pinggul dan kantung kemaluannya sendiri. Tanpa malu-malu Sandra memutar-mutar pantatnya dan mengisi seluruh rahimnya dengan sperma kiriman Edi. Saat semua usai, kedua insan berbeda jenis itu ambruk terkulai tak berdaya di atas tumpukan jerami itu. Sandra memejamkan matanya, ia benar-benar lelah, seluruh badannya terasa linu, tapi ia tidak akan memungkiri, rasa nikmat yang diberikan Edi benar-benar berbeda. Dia jauh lebih perkasa dari pria manapun.

    “Sandra… masih… sakit?” tanya Edi setelah terdiam lama. Matanya yang polos menatap Sandra takut, ia tidak mau wanita cantik yang berada di hadapannya ini kesakitan.

    Sandra tersenyum lembut sambil membelai rambut Edi.

    “Awalnya iya….waktu pertama,tapi lama-lama sakitnya hilang….malah Sandra sangat menikmatinya,” jawab Sandra.

    “Sandra…..”

    “Apa Edi…?”

    “Nngg…..Edi…Edi…” Edi tampak malu-malu.

    “Kenapa Edi…?” tanya Sandra sambil tersenyum.

    “Edi….mau…. lagi?” tanya Edi malu-malu.

    Sandra tersenyum, lalu ia bangkit berdiri dari tidurnya sambil mengandeng tangan Edi.

    “Tentu Edi, Sandra juga kepingin lagi ngerasain penis Edi itu,” jawab Sandra sambil tersenyum genit.

    Lalu Sandra mengajak Edi ke sudut ruangan, dimana tadi ia melihat terdapat sebuah bangku berdiri di sana. Sandra meminta Edi untuk duduk di sana. Edi menuruti keinginan Sandra. Lalu Sandra berlutut di hadapannya, membuka selangkangannya. Dengan jemari yang lentik, Sandra meraih penis yang menciut itu dan menggenggamnya. Edi merem melek merasakan penisnya digenggam oleh tangan halus seorang bidadari, lalu Sandra mulai menaik turunkan tangannya untuk mengocok penis Edi. Perlahan-lahan, penis Edi kembali membesar dan mengeras. Sandra mengocok perlahan batang yang sudah tegang itu dan membuka mulut menjilati permukaan batang itu. Pria itu menarik nafas panjang dan melenguh merasakan sapuan lidah Sandra pada penisnya.

    Setelah menjilati penis Edi hingga basah oleh liurnya, Sandra mulai memasukkan benda itu ke mulutnya.
    “Uuuhh… uugggh……..” desahan berat Edi mengiringi kenikmatan yang dirasakannya.
    Sandra bekerja keras mengulum dan memainkan lidahnya pada batang itu yang terasa sesak di mulutnya yang mungil.

    Benda itu bergetar setiap lidah Sandra menyapu kepalanya. Edi yang merasa nikmat itu memaju-mundurkan pinggulnya secara perlahan seperti gerakan menyetubuhi. Sandra berbisik kepada Edi, menyatakan betapa ia ingin memasukkan penisnya ke dalam vaginanya. Edi hanya duduk saja, terdiam tak tahu harus berbuat apa. Sandra menautkan satu kaki ke paha Edi dan mulai mengambil posisi untuk duduk di pangkuannya. Perlahan – lahan Sandra naik ke pangkuan Edi. Edi meneguk ludah, tangannya tak berani digerakkan, terkungkung walau tak terikat. Matanya menatap tak lepas belahan indah di selangkangan perempuan cantik yang kini duduk di pangkuannya. Sandra meletakkan kakinya ke lantai dan tangannya di lutut Edi, si cantik itu duduk membelakanginya. Bidadari jelita itu bisa merasakan gesekan antara belahan pantatnya dengan batang penis pada selangkangan Edi. Sambil memejamkan mata, si cantik itu mulai menggerakkan pantatnya yang seksi dan menggesek penis Edi, mencoba meletakkan penis itu di tengah belahan pantatnya, mempertemukan penis Edi dengan selangkangannya. Kini Sandra akan menaiki penisnya. Digenggamnya penis Edi yang sudah tegak berdiri itu, dan mengarahkan ke vaginanya. Tubuh Edi bergetar, ia bisa merasakan bibir kemaluan Sandra menggesek penisnya. Secara perlahan, Sandra mulai menurunkan pinggulnya, membiarkan penis Edi masuk ke dalam liang vagina secara perlahan. Tidak terlalu sulit bagi penis Edi memasuki vagina itu karena sudah basah dan licin. Erangan Sandra turut mengiringi proses penetrasi itu hingga akhirnya penis itu tertancap seluruhnya.

    “Sssshh……..aaaaahhhh,” desah Sandra seiring penis Edi memasuki vaginanya. Sandra bisa merasakan penis yang besar dan panjang itu meraja di liang rahimnya.

    Sandra mulai menggoyangkan tubuhnya naik-turun. Pantatnya bergerak naik-turun disertai gerakan memutar sehingga pria itu merasa penisnya seperti diperas. Secara refleks tangannya membimbing tangan Edi ke salah satu payudaranya seolah meminta pria itu meremasinya.

    Edi kemudian mengikuti naluri seksnya dan mulai memainkan payudara Sandra. Tangan satunya menelusuri tubuh yang molek itu, merasakan kulitnya yang halus dan lekuk tubuhnya yang indah. Sandra kembali terhanyut dalam persetubuhan itu.

    “Uugghhh….uuuggghh…..ugghh… !” desah Edi seiring genjotan Sandra yang semakin liar karena semakin dikuasai birahi.

    Kemudian Sandra menegakkan tubuhnya sejenak, lalu sesekali ia meliukkan pinggulnya sehingga Edi merasa penisnya seperti dipelintir. Dari bawah Edi juga ikut menggerakkan pinggulnya, tumbukkan mereka yang saling berlawanan arah itu menyebabkan penis itu menusuk lebih dalam. Sandra tidak menghiraukan yang lain lagi selain birahinya yang menuntut pemuasan, rasio, hati nurani, dan perasaan-perasaan lainnya untuk sementara terkubur. Edi menikmati goyangan Sandra sambil mendekap tubuhnya, tangannya meremasi payudaranya dari belakang. Leher Sandra yang jenjang itu dijilati dan digigit-gigit kecil hingga meninggalkan bekas merah. Sandra tiba-tiba menghentikan gerakan pinggulnya, Sandra mengubah posisi. Dia berbalik ke belakang, berhadapan langsung dengan Edi. Tubuh mereka begitu dekat membuat hembusan nafas Sandra bisa dirasakan hangat menyentuh wajah Edi. Sandra memposisikan vaginanya di atas penis yang sudah menghadap ke atas lalu perlahan melesakkannya kembali sambil duduk di pangkuan Edi. Sandra dan Edi saling bertatapan saat penisnya melesak seluruhnya ke dalam vagina Sandra. Kembali mengikuti nalurinya, tangan Edi meraih payudara Sandra, dielus dan diremasnya buah dada putih mulus, molek dan montok itu. Jemarinya menjepit pentil susu Sandra dan memutar-mutarnya dengan kasar. Dina merasa sangat malu saat pentil itu mulai membesar. Payudara Sandra menegang dan pentilnya membesar. Tangan Edi kini melepaskan buah dada Sandra, tapi kini giliran mulutnya yang menempel ke puting Sandra. Mulutnya mengemut, menghisap dan menjilatinya, lalu bergeser ke puting yang lain, demikian seterusnya, sehingga kedua payudara Sandra tidak luput dari serangan mulutnya. Sandra meraih pundak Edi dan perlahan mengangkat tubuhnya. Saat seluruh penis Edi hampir keluar dari vaginanya, Sandra menghentakkan tubuh ke bawah dan kembali. Sandra mulai menaik-turunkan tubuhnya sehingga penis Edi mengocok-ngocok vaginanya. Edi mengelus punggung Sandra yang sudah berkeringat, dadanya bergesekan dengan buah dada yang montok itu. Sandra semakin mendaki naik ke puncak birahinya, gerak-naik turun tubuhnya pun makin cepat. Penis Edi yang jauh lebih besar dari penis suaminya menjejal liangnya yang sempit dan memenuhinya dengan nikmat, memberinya kehangatan yang nikmat merajai liang vaginanya.

    Tiba-tiba Sandra merasa tubuhnya terangkat, ternyata Edi memang telah bangkit berdiri dari posisi duduknya. Dengan penis masih menancap di vagina, ia mengangkat kedua kaki wanita cantik itu. Sandra pun terkejut dan spontan memeluk leher pria itu agar tidak jatuh. hanya pahanya saja ditopang oleh kedua tangan kokoh Edi., ia menggendong Sandra dengan menopang pantatnya. Secara refleks Sandra makin mempererat pelukannya kepada Edi dan kini tusukan-tusukan penis Edi makin terasa olehnya, bahkan secara naluriah dia pun turut menggoyangkan pinggulnya. Dengan penis masih menancap di vagina Sandra, Edi menggendong gadis itu dengan menopang pantatnya dan berjalan perlahan-lahan. Edi mengangkat tubuh telanjang Sandra dan menyandarkannya ke tembok batu yang berlumut di belakangnya. Wanita cantik itu mengangkat kakinya dan mengaitkannya di pinggang Edi sementara tangannya menggantung di leher pria itu. Rasanya luar biasa nikmat bagi keduanya berada dalam posisi seperti ini. Dengan punggung Sandra bersandar pada tembok, kedua manusia berlainan jenis itu mulai bergerak bersamaan. Klitoris Sandra menempel di tubuh Edi dan setiap gerakan naik turun membuatnya tergesek seirama, tambahan bulu-bulu halus yang menyentuh ujung klitoris Sandra membuatnya melejit ke nirwana. Sandra memejamkan mata dan tidak bisa menahan untuk tidak mendesah keenakan. Ceritamaya

    “Aaahh….aaaahhh…..aaahhh,” desah Sandra seiring penis Edi memasuki vaginanya.

    Lalu kedua tangan Sandra meraih jeruji besi yang berasal dari lubang angin yang berada tepat di atas kepalanya. Dengan kedua tangan yang memegang jeruji besi di belakangnya, membiarkan payudaranya mengantung indah dan bebas bergerak mengikuti irama tusukan penis Edi. Edi sangat gemas melihat payudara Sandra yang terguncang-guncang dan wajahnya yang makin bersemu merah karena terangsang berat sehingga tempo genjotannya makin bertambah. Sandra menyorongkan buah dadanya ke arah mulut Edi. Pria buruk rupa itu menikmati payudara Sandra dengan penuh nafsu. Edi segera menyerang puting payudara Sandra. Dia menarik dan menghisap puting itu dengan mulutnya, lalu menjilati pinggiran puting payudara Sandra, setelah itu dia mengelamuti puting itu dan menggigitinya dengan penuh nafsu. Rangsangan yang dirasakan Sandra terlalu hebat sehingga menggiring wanita jelita itu ke puncak kenikmatan. Tanpa sadar kedua tangannya kembali memeluk leher Edi. Sandra juga menggerakkan pinggangnya lebih cepat dan kuku-kuku jarinya menancap di punggung Edi sampai akhirnya Sandra orgasme. Sandra bisa merasakan vaginanya meremas batang kemaluan Edi dengan sebuah remasan hebat dan dia mulai merintih serta menjerit lirih penuh nikmat. Akhirnya setelah selesai mengejang dan vaginanya banjir cairan cinta, Sandra membuka matanya. Selang beberapa menit kemudian tubuhnya berkelojotan, Sandra mencapai klimaks, tubuhnya mengejang dan mulutnya mengeluarkan erangan panjang menandai orgasmenya yang kesekian kali. Beberapa detik kemudian ia terkulai lemas di pelukan Edi.

    Edi menyandarkan punggung wanita itu di tembok dan menurunkan kaki kanannya karena saat itu Edi juga sudah mau keluar. Dia menyusul sekitar setengah detik orgasme Sandra, penisnya dia tekan lebih dalam sambil melenguh panjang melepaskan spermanya di dalam rahim wanita itu. Cairan putih kental itu yang tertumpah disana sehingga meluber keluar dan meleleh di daerah paha sekitar selangkangannya. Setelah mereguk sisa-sisa orgasme sambil berpelukan Edi memapah tubuh Sandra yang masih lemas dan membaringkannya kembali di atas tumpukan jerami tadi. Dua orang yang kelelahan itu akhirnya terlelap. Mereka berdua tertidur. Setelah sekitar satu jam tertidur, Sandra terbangun lalu bangkit dari tumpukan jerami itu. Ia memungut seluruh pakaian dan sepatu sandalnya yang berserakan di atas lantai batu yang berlumut itu. Sambil menenteng seluruh pakaian dan sepatu sandalnya, Sandra berjalan menuju tangga, hendak kembali ke atas, menuju kamarnya. Lalu ia menoleh ke arah Edi,

    “Ayo Edi, ikut Sandra ke atas.”

    Edi yang juga telanjang lansung bangkit dari tumpukan jerami itu, mengikuti tubuh telanjang Sandra menuju ke atas. Misteri di villa ujung lembah baru saja mulai, petualangan apakah yang menanti Sandra berikutnya?

    To be continued…

    By: Mike Deng

  • Bijin-Kei/ Siasat Paras Elok

    Bijin-Kei/ Siasat Paras Elok


    43 views

    SINOPSIS

    Jepang abad ke-15. Seorang jenderal samurai menerima kunjungan tak terduga dari seorang oiran…

    Story codes

    MF, cons

    DISCLAIMER

    – Cerita ini adalah fiksi dan berisi adegan-adegan yang tidak pantas dibaca mereka yang belum dewasa, jadi jika pembaca masih belum dewasa, harap tidak melanjutkan membaca. Penulis sudah mengingatkan, selanjutnya adalah tanggungjawab pembaca.
    – Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiktif. Kemiripan nama tokoh, tempat, lembaga dan lain-lain hanyalah kebetulan belaka dan bukan kesengajaan.
    – Sebagian tokoh dalam cerita ini digambarkan memiliki latar belakang (profesi, kelas sosial, suku dll.) tertentu. Tindakan mereka dalam cerita ini adalah fiksi dan belum tentu menggambarkan orang-orang berlatar belakang serupa di dunia nyata.
    – Pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan trafiking di dunia