• [News] Magdalena Diperkosa!

    [News] Magdalena Diperkosa!


    179 views

    Cipanas, KBB

    Ceritamaya | Tyson ( 28 ) , tersangka kasus pemerkosaan yang diperkirakan melibatkan artis muda papan atas Indonesia ini, semalam mengakui perbuatannya yang diyakini melibatkan pengusaha sebuah perusahaan besar yang pernah memiliki hubungan asmara dengan korban sebelumnya, saat ini oknum kepolisian berusaha mengumpulkan bukti-bukti kuat lainnya, namun memiliki kendala dimana korban enggan mengakui kebenaran peristiwa yang mencoreng nama baiknya,..
    Magdalena ( 23 ), artis yang tergolong penatang baru ini, sendiri mengatakan bahwa kejadian itu hanya isu belaka, diyakini untuk menjatuhkan nama baiknya, dan mungkin hanya melibatkan seseorang yang mirip dengannya, karena ini pihak kepolisian sendiri kesulitan untuk memproses kasus ini lebih lanjut..

    Kepolisian yang menggelar jumpa pers kemarin malam, dengan menghadirkan tersangka Tyson menyatakan masih mengejar 3 orang tersangka lainnya..Tyson sendiri menerangkan dengan gamblang perihal kejahatan yang telah dilakukannya bersama 3 orang temannya tersebut, tersangka sendiri yang bertindak sebagai supir saat melakukan penculikan itu,..

    Demikian yang dituturkan oleh Tyson ( TY ) tersangka yang asli Bojonegoro, namun diberikan nama salah satu petinju kelas berat dunia, itu dikarenakan waktu istrinya melahirkan Tyson, bapaknya sempat dipukuli oleh warga, karena kedapatan mencopet di pasar, karena trauma, bapaknya berharap anaknya bisa kuat seperti si leher beton kalau kedapatan mencopet seperti dirinya,.. ( * Red : Ga nyambung, Mike Tyson kan terkenalnya kapan ya,..HOHOHO )

    ” Sungguh pak , saat itu saya hanya diajak, ” Katanya memulai wawancara dengan wajah bersalah, ” Kawan saya ‘ Trisna ( TR ) ‘ menemui saya seminggu sebelum kejadian , dia mengajak saya untuk sebuah pekerjaan membawa mobil kearah puncak, bayarannya 1.000.000 , untuk 2 hari kerja, saya tentu tidak menolaknya.. “

    Tersangka TY meneguk segelas air yang ada diatas meja, sebelum kembali melanjutkan pembicaraanya…Sementara kawan-kawan wartawan tak henti mengabadikan pengakuan saudara TY yang bukan hanya sebuah kejahatan biasa namun juga sebuah kasus Selebritas yang memancing puluhan Wartawan yang ingin memuat berita ini..

    ” Hari itu, sekitar pukul 17.00 saya pergi dari rumah kearah terminal UKI, tempat perjanjian dengan TR , disana ada ada 2 orang lagi yang merupakan kawan dari saudara TR yaitu saudara Cahaya ( RC ) yang berperawakan tinggi besar, dan saudara Silvi ( SS ) yang berperawakan tak kalah seram namun kulitnya hitam dan berambut ikal,.. Saudara TR memperkenalkan saya pada mereka, sebelum mengajak saya kearah sebuah Mercedes S class, didalamnya saya diperkenalkan dengan BOS yang memberikan saya uang muka 500.000 dan menjanjikan bonus lebih bila semua bisa berjalan dengan lancar sesuai rencana, ..”

    ” Saat itu saya pun diserahkan konci mobil sebuah Kijang Kapsul , berwarna merah yang saat ini telah ditahan oleh pihak kepolisian, beserta STNK nya untuk saya bawa, BOS pun mengeluarkan sebuah kertas yang berisikan peta vila yang menjadi tempat tujuan, sebelum beliau menyuruh saya keluar dan menyuruh saya mengikuti TR, SS , dan RC untuk melakukan tugas yang disuruh, sungguh saya gak tahu kalo POLIGAMI itu kejahatan, eh maaf maksud saya yang saya lakukan saat itu akan mengarah pada kejahatan..” Tersangka TY kembali meneguk air minumnya, tampak sekali ketegangan tersangka,..

    ” Saya hanya menuruti perintah dari saudara TR, mobil kijang kapsul itu sendiri sudah dimodifikasi serupa mobil menjemput uang, dimana bagian kabin dengan ruang supir terpisah, saya hanya menunggu dibelakang sebuah hotel, sempatlah saya menunggu selama hampir setengah jam, hingga saudara TR dan RC datang sambil membawa seseorang yang ditutupi dengan katung yang menutupi wajah, sungguh saya tidak tahu saat itu terjadi penculikan, sungguh…”

    Sementara SS sambil berlari langsung masuk ke jok sebelah saya, dan langsung memerintahkan saya untuk mengemudi langsung kearah tujuan yang telah diberikan oleh BOS, sepanjang perjalanan saya berusaha bertanya kepada SS apa yang sebenarnya mereka lakukan, namun hanya dijawab dengan uang 100.000 yang cukup untuk menutup mulut saya, ya iya pak, Jin aja doyan duit apalagi saya.. Ceritamaya

    Kira-kira hampir 3 jam saya memacu mobil dengan kecepatan cukup tinggi, saya sempat takut sepanjang perjalanan kami karena cukup banyak mobil-mobil polisi, untung saja polisi-polisi itu tidak curiga pada mobil kami,

    Villa-nya besar, dan mewah pak, ada sebuah pos penjagaan yang kebetulan saat itu sich tidak ada yang menjaga sehingga SS yang membukakan pintu, di sana sudah terparkir mobil Mercedes yang tadi sore dipakai oleh BOS,..

    Setelah itu saya pun memarkir mobil yang kami kendarai, dan bergegas turun terlebih dahulu bersama SS, diikuti oleh RC dan TR sambil membawa seorang wanita, ya saya yakin itu seorang wanita karena dadanya itu besar banget, 34E kali ya, orangnya gak terlalu tinggi kalau ayam istilahnya ayam Bangkok dech gitu, kecil berisi,..bajunya TankTop warna biru dengan celana jeans biru yang pendek banget,. Pahanya yang mulus waduh dech,..

    Untung aja badan kita-kita ini gede, dari di mobil sampai kita masukin ke dalem rumah wanita itu berontak terus, hanya mungkin mulutnya itu di perban hingga tak bisa berkata banyak,.. kecuali,.. ” Huuuh mhh ughhh ” ya seperti suara yang teredam begitu dech,..

    Di dalam, BOS sudah duduk di ruang tamu, ruang tamunya besar dan mewah, sofa-sofa yang besar dengan model eropa antik, dengan warna senada dengan karpetnya yang memainkan warna coklat gelap, namun permainan cahaya dari satu buah lampu mewah yang digantung tepat ditengah ruangan, permainan gypsum di langit-langit ruangan, yang terdiri dari dua lapisan, dimana lapisan kedua diberian jarak sekitar 5-8 cm, sengaja diletakan lampu neon berwarna agak kebiruan, sehingga memberikan kesan soft pada warna-warna diruangan itu,..

    Televisinya juga, sengaja memilih menggunakan Plasma bukan LCD ini dimaksudkan untuk disatukan dengan dekorasi kayu ukiran, dengan gaya Bali, bercampur jepara, dominasi warna kayu sengaja ditonjolkan diruangan ini,.., ( *Red : ini supir apa lulusan desain interior ?? )

    Nah setelah saya mengamati keadaan di ruangan itu, saya menyaksikan dimana wanita itu didorong kearah sofa,.. tepat dihadapan BOS,. Nah BOS sendiri hanya tertawa-tawa sambil menghisap cerutunya,..

    ” Kerja bagus, kerja bagus,.. ” Boss memuji kami,..” Buka ” perintahnya kemudian,..

    Ya ampun, betapa terkejutnya saya waktu melihat wajah dibalik karung itu,.. itu loh mas, Sora Aoi, eh bukan Magdalena, masa gak tau Magdalena sich, yang bawa acara gossip itu, sama iklan apa ya, Alarm mobil itu ya,.. Duh rasanya langsung Ser-seran,.. Nah muka Magdalena sendiri kayak terkejut melihat BOS yang menatapnya tajam, sepertinya mereka punya masalah pribadi sendiri,..

    Langsung juga ada rasa takut, wah ini sich masalah udah kriminal, saya kira yang mau diculik siapanya BOS, taunya kenapa jadi artis begini, kan bener aja, saya ditangkep polisi kan sekarang,..

    Bukannya saya gak berusaha bertanya ada apa ini,, saya nanya ke saudara RC yang kemudian meneruskan ke BOS pertanyaan saya tadi,.. kemudian malah saya dikasih uang tunai satu juta lagi, ya diem lah pak, akhirnya saya kembali diam, nah masalahnya setelah itu saya kebelet kebelakang, mau buang hajat, saya izin ke saudara RC yang kebetulan ada di sebelah saya, dan menyuruh saya mengikuti koridor ke arah kiri menuju WC,..

    Nah saya angkat kaki dari situ, bukan buat kabur, tapi perut gak enak dan malu juga kalau kentut-kentut terus kan,.. akhirnya sambil megangin perut saya kebelkang tuch,.. Nah pak polisi saya serius kalau anda tanya motivasi apa hingga terjadi penculikan itu, motive-nya saya gak tau,..

    Saya kembali keruang tamu itu kira-kira 15 menit kemudian, kagetnya saya ngeliat apa yang sedang terjadi, BOS sendiri hanya cengengesan melihat itu, kalau saya bukan cengengesan, tapi juga ngacai, gimana gak, temen-temen wartawan juga pasti ngacai juga,..

    SS sudah berdiri dibelakang tubuh bugil Magdalena, Baju dan Branya telah tersingkap hingga hanya celana dalam berwarna Pink-nya yang tersisa, sementara payudara-nya yang besar dengan areloa yang berwarna merah kecoklatan, terbungkus oleh tangan SS yang begitu besar, tubuh SS yang berotot dengan Tato gambar dilarang buang air besar di punggungnya, tubuhnya yang hitam bersanding dengan kulit mulus Magdalena, Wah kontras sekali,..

    Wajah Magdalena seperti ketakutan, matanya memerah seperti orang yang habis menangis, entah apa yang dirasakannya, apalagi payudara-nya sedang diremasi yang membuatnya seperti menutup matanya, sementara mengigit lidah bagian bawahnya sendiri, sesekali dia mendesah-desah kecil merasakan remasan tangan SS yang sesekali memainkan putingnya itu,..

    Jemarinya begitu asyik memainkan puting itu sambil meremasi payudaranya,. Wajah SS yang sejelek saya, mulai menyibak rambut panjang Magdalena, sambil menciumi bagian punggungnya itu,.. Magdalena merintih-rintih sambil bertumpu di sofa,.. BOS sendiri hanya tersenyum-senyum sambil menghisap cerutunya,.. entah ada apa diantara mereka, yang pasti saya dibayar untuk diam, dan tak mau perduli,..

    SS menarik wajah Lena, sambil memaksa Lena mencium bibir monyongnya,..

    ” Jangan-jangan tolong jangan,.. ” ya pokoknya gitu Magdalena menolak perbuatan SS,.. Tapi si SS terus aja menyosorkan bibirnya itu, pelan-pelan dia ngelumat bibir Magdalena,.. sambil tangannya gak pernah berhenti ngerjain payudara itu,..

    Sambil ngerjain payudara Magdalena, SS menyempatkan tangannya menarik lepas celana dalam Magdalena, nah seru tuch adegan tarik-tarikan, SS berusaha menarik lepas celana dalam Pink itu, sementara Lena sendiri berusaha mempertahankan celana dalamnya tetap ditempatnya,.. sementara SS terus menyodorkan mulutnya melumat bibir Lena, tangan Lena dan SS beradu memperebutkan celana dalam, hingga akhrinya Lena menyerah saat RC ikut turun tangan dan memelorotkan celana dalam itu,..

    Wah luar biasa banget, mata ini rasanya mau copot saat vagina dengan bulu-bulu halus kemaluan itu terekam oleh mata saya, vagina yang begitu terawat, sementar Lena tampaka malu-malu dan berusaha menutupi vagina-nya itu, RC yang berjongkok dibawahnya langsung menyodorkan lidahnya bermain di bibir vagina Lena,..

    Tubuh Lena langsung menggelinjang saat lidah RC menyusur di kulit mulusnya,..
    ” Jangan Bang saya mohon.. ” Pintanya sambil menahan kepala botak RC yang sedang berada tepat di depan selangkangan-nya itu, tapi emang dasar gak ngerti Bahasa Indonesia, si RC cuek aja, dia malah makin berjuang menjilati selangkangan Magdalena itu,..

    Jelas yang punya-nya langsung bergetar-getar, sementara tanpa sadar saya makin lama makin mendekat, dan melihat dengan jelas bagaimana si RC memainkan lidahnya di mulut vagina Lena itu,..

    Lidahnya menyapu-nyapu sementara jemarinya membuka vagina itu,..
    ” Harum,.. ” komentar si RC,. Pengen saya ikutan tapi gak berani,..

    Lidah RC tampak berusaha dikeluarkan sepanjang-panjang-nya, perlahan membelah vagina itu, dan mencapai daerah daging lebih dari vagina itu, pelan-pelan mulut RC makin mendekat dengan vagina itu, hingga akhirnya menempel seperti ikan sapu-sapu,. Perlahan ia menyedot clitorisnya,.. iya saya yakin dia menyedot clitorisnya sampai membuat Magdalena mendesah-desah tak karuan,..

    Nah sementara itu SS juga makin liar mengerjai Magdalena, bukan cuma sekedar memainkan tangannnya di payudara Magdalena itu, tapi juga mulai menyusu dipayudaranya itu, kedua lelaki hitam itu tampak begitu antusias mengerjai gadis secantik Magdalena itu,..

    Sambil menyedot payudaranya, sesekali SS juga menciumi wajah Magdalena, lidahnya keluar menjilati wajah dan Pipinya, sementara Magdalena lebih banyak merintih dan mendesah dijepit keduanya,..

    RC yang tampak mulai tak sabar menaikan satu kaki Magdalena ke atas sofa, pelan-pelan lidahnya yang masih berada di bibir vagina Magdalena itu masih meneruskan perjuangannya tak hanya sekedar lidah yang beraksi, namun telunjuknya mulai bekerja,.. RC melepaskan Cincin Batu Akik yang ada di tangannya lalu langsung menancapkan jemarinya itu ke vagina Lena,.. Magdalena sampai sedikit terlonjak, kembali ia merintih memohon,..

    ” Jangan Pak, jangan,.. ” Tangannya pun berusaha menahan laju jemari RC, namun SS ikut campur dan menarik jemari Lena dari daerah selangkangannya itu, pelan-pelan RC berusaha mendesakan jemarinya itu, sementara RC mendesak, Lena hanya bisa mendesah,..

    Jemari yang akhirnya masuk itu sempat didiamkan sebentar, wajah Lena yang merem melek sementara bibirnya bergerak-gerak resah membuat saya makin tak tenang, demikian juga dengan TR yang berdiri beberapa langkah dari saya, yang sembari tadi juga menyaksikan dengan begitu antusias,..

    RC mulai menggoyangkan jemarinya itu, sementara tubuh Lena seperti bergoyang-goyang tak tentu arah, tak hanya itu wajah-nya yang tampak resah dan mata yang setengah dipejamkan, membuatnya terlihat kuyu, bagian dada-nya yang basah oleh keringat membuat pemandangan yang kian mengirahkan,..

    Jemari RC keluar masuk begitu cepat membuat Lena mendesah-desah tak karuan, namun tak hanya itu saja, SS mulai usil untuk ikut memasukan jemarinya dalam vagina Lena, perlahan menyeruak masuk yang membuat Magdalena terlonjak saat dia merasakan dua jemari dari dua orang yang berbeda bersiap menyetubuhinya,..perlahan jemari SS pun kian dalam menyelusup,..

    Kedua jemari itu tampak bekerja sama dengan apik, saat jemari SS keluar, jemari RC menusuk kedalam, ataupun sebaliknya, membuat tubuh Magdalena tergetar-getar merasakan sensasi nikmat yang dirasakannya,..

    Desahannya membuat saya kian bernafsu, sementara liang vaginanya pun mulai basah, jemari kedua lelaki yang bermain di vaginanya, payudara montok Magdalena yang luar biasa itu ada dalam remasan tangan SS yang masih begitu bernafsu menciumi Lena,.. Sesekali memagut bibir Lena, namun kadang hanya menjilati wajahnya,.. Jijik lihat-nya tapi entah kenapa SS tampak begitu menyukai melakukan hal demikian,..

    Jemari keduanya yang bahu membahu mengerjai Lena itu mulai membuahkan hasil, perlahan tapi pasti liang vagina Lena itu mulai basah oleh cairan cintanya sendiri, kemudian percaya gak percaya dia mulai mendesah-desah, dan malah menyodorkan bibirnya sendiri pada SS, RC pun berusaha ikut mencium namun Lena selalu menolak ciuman RC tersebut,.

    Entah berapa menit berlalu yang pasti tubuh Lena mulai menggelinjang-gelinjang, ia sendiri tampak resah, ia terus mengigiti bibir bawahnya sambil sesekali menciumi SS, hingga akhirnya tubuh Lena menggelinjang hebat, gemetaran dan dari vaginanya, mulai menetes cairan cintanya, begitu banyak hingga membuat RC dan SS yang tengah berkolaborasi takjub, menyaksikan bagaimana Lena berorgansme seperti di film-film porno Jepang,..

    Nafas Lena begitu memburu, tubuhnya bergetar beberapa saat, mulutnya pun tak henti menceracau tak jelas, yang pasti tubuhnya terus gemetaran sebelum akhirnya ia ambruk dalam pelukan SS,..

    SS yang tak mau menyia-nyiakan waktu langsung menyodorkan penisnya pada Lena, awal-nya ia sempat menolak, namun akhirnya ia pasrah dengan keinginan SS, ia pun mulai mengocok penis SS, sementara RC tak mau kalah dan menyodrokan penisnya itu pada Lena,.. kini ada dua penis yang harus dilayani oleh artis Sexy itu,.

    Melihat pemandangan demikian membuat si Otong mengelepar-gelepar di dalam celana saya yang makin sempit saja rasanya, semula tangisan dan air mata yang mengalir dari sudut mata Magdalena membuat saya sedikit iba, namun sekarang malah dia yang terlihat lapar menghisap kedua penis dari SS dan RC yang berada dikedua sisinya,..

    Melihatnya menghisap dan mengoral dengan penuh sensasi membuat saya menarik nafas panjang, bagaimana tidak, payudara Lena yang besar itu terpental ke kanan dan kiri, sementara saat menghisap penis SS, sesekali dia menjilati buah zakarnya sampai menyelusuri seluruh bagian penis dari SS, bahkan dia bagaikan setengah bernyanyi di depan kepala penis SS yang lumayan besar sehingga menyerupai MIC, SS sendiri mendesah tak karuan, saat lidah Lena menjelajahi segaris lubang di kepala penis SS..

    Tapi jangan lupa tangan Lena pun ikut bekerja mengocok penis RC, silih berganti memberikan service yang tidak kalah dahsyatnya dengan yang Magdalena berikan pada SS, rasanya saat itu saya ingin sekali ikut mengerjainya, tapi melihat TR yang hanya bisa berdiri sambil memegangi selangkangannya, sementara si BOS juga duduk diatas sofa sambil tertawa-tawa kecil menikmati hiburan dari Magdalena dan para anak buahnya..

    Rasanya seluruh darah dalam tubuh saya mengalir cepat kearah selangkangan, rasanya udah senut-senut aja liat yang ginian pak, apalagi pas SS menarik Lena yang tadi berjongkok sambil mengoral penisnya, memposisikannya menghadap dipan yang memiliki kaca cermin sehingga tak hanya memantulkan wajah cantik Lena yang tengah Horny , namun juga wajah SS yang sama jeleknya dengan wajah saya,..Tapi SS lebih hitam sich daripada saya…Hahaha…

    TY tertawa sambil mengambil air minumnya, dia menatap para wartawan sekalian, ” jadi mau dilanjut ga nich?? “ tanyanya pada para wartawan saat itu..Sontak para wartawan yang mulai ikut terangsang berat mendengar cerita TY langsung menganguk, TY pun hanya tertawa dan menjawab, ” Males ah..hehehe 


    Untung saja Kompol yang tampaknya ikut terangsang mendengar cerita TY menyelamatkan hasrat kami yang tertunda itu, ditariknya pistolnya dan diacungkan didepan tersangka TY, sebelum kembali memasukan pistolnya dalam sarung , ternyata itu cukup untuk membuat tersangka TY gelagapan, dan langsung bereaksi,..” Iya pak , ini dilanjut ga jadi melesnya.. “ Sambil meneguk air minumnya lagi sebelum kembali bercerita..

    Lena terpaksa mengoral penis hitam itu, sambil melihat pantulan bayangan mereka berdua, RC sendiri tampak mengalah, karena pangkat SS lebih tinggi dari dia, ia kembali mundur sambil menunggu waktu yang akan diberikan padanya nanti,.. ia menutupi penisnya yang sudah keras berdiri itu sambil mencari cincin batu akik-nya yang entah ditaruh dimana tadi,..

    Beralih ke pemandangan SS yang sedang dioral oleh Lena, Penis itu dibalut oleh lidah Lena, tapi yang saya heran, entah sejak kapan Magdalena mulai menjadi begitu cooperative, malah kian bernafsu sementara penis yang menjajali mulutnya itu ia balut dengan lidahnya, menghisapi buah zakarnya sementara tangannya terus bergerak naik turun mengocok penis SS,..

    SS sendiri mendesah-desah tak karuan, tangannya terus bergerak menyibak rambut Lena, terkadang pinggulnya ikut bergerak menyetubuhi mulut Lena yang membuat Gadis itu sesekali tersedak , mungkin penis SS menyentuh tenggorokannya,. Tangan SS pun meremasi payudara Lena, memainkan putingnya itu yang membuat Lena mendesah diantara hisapannya,..

    Tak sabar lagi, SS menarik tubuh Lena, ia mendorong tubuh gadis itu kea rah pinggiran sofa, sebelum memainkan penisnya dengan tangannya sendiri kea rah bibir vagina Lena,. Semula Lena berusaha menghindar dengan meminta,..

    ” Jangan Pak, jangan perkosa saya,. Jangan, jangan, ” ya seperti itu berulang-ulang, tapi kemudian ia hanya bisa pasrah saat SS menangkap pinggulnya dan mulai menjejalkan penisnya dalam vagina-nya, penis itu mulai menyeruak bibir vagina Lena, sebelum akhirnya menembus vagina Lena,..

    Lena sendiri hanya bisa pasrah merasakan penis itu mulai masuk, ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil mengigit bibirnya, ia mulai mendesah saat penis SS mulai tenggelam lebih dalam lagi, berulang-ulang hingga akhirnya penis SS tenggelam seutuhnya dalam vagina Lena,..

    Baru penis itu tenggelam seutuhnya dalam vagina Lena, SS langsung memacu penisnya keluar masuk dalam vagina Lena, Lena sampai mendesah-desah tak karuan, Payudaranya terpental kesana kemari sebelum akhirnya tertangkap oleh SS dan langsung meremas payudara itu,..

    Sambil memacu Lena, suara tumbukan antara pinggang SS dengan pantat montok Lena menimbulkan bunyi-bunyian yang dahsyat, perlahan penis itu kian menambah kecepatannya sementara lena sendiri makin tak berdaya dan tenggelam dalam desahannya,..

    Remasan kasar dari SS membuat Lena pasrah, sesekali tangannya mencoba menghentikan remasan tangan SS yang cenderung terlalu kasar, hingga menimbulkan bekas-bekas merah di dada-nya,.atau sesekali menarik kasar puting payudara lena yang membuat Lena mendesah merintih kesakitan,,

    Tiba-tiba tubuh Lena menggelinjang, ia gemetaran hebat sebelum desahan yang begitu erotis itu terdengar menyelusup di kuping saya, gak tahan dech,..

    ” Ehhhhhh, oughhhh ” wah nusuk banget, bikin jantung deg-degan, apalagi ekspersi wajahnya yang gak biasa, ditambah ia gemetaran hebat membuat pemandangan itu kian erotis,. Sementara SS masih begitu bernafsu mengoyangkan penisnya keluar masuk dalam vagina Lena,..

    SS ikut mendesah mungkin merasakan bagaimana vagina Magdalena menjepit penisnya, ia mengangkat tubuh Lena yang bertumpu di pinggiran sofa, dan mencium bibir artis itu, perlahan mereka bercumbu, sementara penis SS masih begitu cepat keluar masuk dalam liang kewanitaanya,..

    Menumbuk kasar gerakan yang tak beraturan itu tenyata mampu membawa Lena sampai kepuncak kenikmatanya, perlahan gadis itu kian menurut bahkan saat SS tak lagi memompa pinggulnya, giliran Lena yang menggerakan tubuhnya kearah penis SS gantian menyetubuhi SS yang sudah demikian berkeringat, sementara tubuh berkeringat dengan wajah layu Magdalena membuat lelaki manapun iba, dan terangsang, melihat wajah SS yang berkeringat itu membuat para lelaki mau muntah, jelek banget soalnya,..

    Setelah mengumpulkan tenaga beberapa menit gantian SS yang lebih gila dari sebelumnya mengerakan penisnya keluar masuk dalam vagina Magdalena memompanya begitu cepat sambil memainkan payudara Lena yang sedikit memerah itu,.. sesekali ia menciumi punggung Lena terus memacu penisnya keluar masuk,..

    Tubuh Lena kembali menggelinjang, tapi kali ini SS ikut menggelinjang, ternyata keduanya menginjak kabel yang terkelupas kulitnya, hingga tersetrum hahaha, gak boong, SS mencabut penisnya dari vagina Lena ia mendorong Lena kebawah sambil mengocok penisnya sendiri, Lena membantu SS mengocok penisnya sambil memalingkan wajahnya menjauh, namun SS malah menarik wajah Lena, dan memaksa Lena membuka mulutnya, sementara Sperma SS yang begitu banyak itu mulai tumpah di mulut Lena,..

    Terpaksa Lena pun menelan sperma itu, karena ancaman dari SS juga yang akan menamparnya kalau samapai Lena menyia-nyiakan, hasil karyanya,.. Lena pun menelan perlahan sperma itu sambil menahan rasa jijik, seselesainya SS langsung meminta Lena membersihkan penis SS dengan lidahnya,..

    Tak banyak menolak, Lena pun terpaksa menuruti keinginan SS dan menjilati penis itu hingga bersih, pemandangan dimana lidah Lena menyapu penis SS yang mulai lemas itu benar-benar terekam jelas dalam ingatan saya, sexy banget, wajah Lena yang mulai layu itu, tampak begitu telaten membersihkan penis SS,..

    “ Minum dulu sebentar, ” TY meminta air minum pada polisi disebelahnya sebelum kembali berkata,.. ” Belum selesai masih ada beberapa adegan dahsyat lagi “ sembari tersangka TY melanjutkan ceritanya

    Nah baru selesai Lena dikerjai oleh SS yang kini sudah kembali mengenakan celana dalam Boxernya itu dan kembali berdiri di sebelah BOS, teman saya TR sudah maju kedepan, ia mengangkat tubuh Lena kembali berdiri, tangannya langsung meremas payudara Lena yang membuat pemiliknya merintih menahan rasa sakit, tangan itu langsung berpindah ke bagian selangkangan Lena,.. membelai vagiannya itu sebelum kemudian bermain di bibir vaginanya,..

    Tangan TR yang besar dan berotot itu bermain didepan lubang kenikmatan Lena, memainkan klitorisnya sambil sesekali menyeruak masuk, klitoris Lena yang tampaknya sudah mulai membesar itu membuat saudara TR lebih mudah menyentil-nyentil klitoris Lena yang membuat empunya mendesah-desah sambil mengeluh kenikmatan, menikmati bagaimana TR mengerjai dirinya..

    Wajah horny Lena yang terpantul dicermin bersaing kontras dengan wajah TR yang sumringah, sementara jarinya pun sudah sampai di bibir vagina Lena yang sudah basah,. Sesekali dia berusaha meneroboskan jari telunjuknya, namun tertahan, wah pasti sempit banget dan terawatt banget vagina-nya itu,. setiap kali TR berusaha memasukan jemarinya dalam vagina Lena saat itu juga Lena menceracau mungkin menahan sakit, tapi wajahnya tampak begitu menikmati,..

    Tanpa sedikitpun belas kasihan TR menarik jemarinya dan meneroboskan jemarinya, kali ini 2 buah jari, telunjuk dan jari tengahnya menyeruak masuk dalam vagina Lena, Lena pun mengerang entah kesakitan atau kenakan, namun wajah kesakitan itu justru membuat saya makin tak kuasa menahan amukan dari balik celana dalam saya Pak,..

    TR mengoyangkan jemarinya dalam vagina Lena, jempolnya sengaja ditaruh di depan, menempel pada Clitorisnya, sebelum makin cepat jemarinya keluar masuk dalam vagina Lena, tiap jemari itu masuk, saat itu juga jempol TR mengurut klitoris Lena, memberikan gadis itu sensasi nikmat,..

    Semakin cepat jemari TR keluar masuk dalam vagina Lena, semakin banyak juga cairan vagina Lena yang keluar, merembes dari dalam vaginanya, keluar menyelusup diantara jemari TR dan merambat keluar membasahi hingga kepahanya, sama dengan yang terjadi saat RC dan SS mengerjai Lena tadi demikian juga keringatnya yang membasahi seluruh tubuh gadis cantik itu, membuat suasana makin panas, desahan Lena juga membuat saya sedikit iba, namun ya benar-benar sensual,..

    Tak berapa lama disertai erangan nikmat , desahan yang membuat jantung saya memacu darah dengan sangat cepat menuju ke ‘adek’ saya itu, tubuh artis muda itu menggelijang, mungkin ya, sekali lagi mungkin saat itu Lena mencapai organsme..

    Nah teman saya itu TR langsung memanfaatkan kesempatan itu, bukannya berhenti memainkan vagina Lena, malah makin dahsyat memaksa tangannya keluar masuk dalam cagina Lena, pelan-pelan makin lama makin cepat yang membuat Lena makin gemetaran, desahannya itu dahsyat banget, sementara Boss hanya tertawa-tawa saja tampak begitu puas dengan apa yang dikerjakan oleh TR yang notabene-nya anak buahnya itu,..

    Entah berapa lama Lena bergetar, tubuhnya sampai terangkat angkat,.. sementara TR berusaha mencium Lena, yang membuat gadis cantik itu jelas menghindar, bagaimana tidak, teman saya si TR itu kan ( maaf ) sumbing, bibirnya yang punya bekas jaitan itu berusaha memagut bibir Lena, sementara Magdalena sendiri jelas berusaha menghindar,..

    Namun dengan tubuh yang masih gemetaran itu, Lena tak bisa jauh menghindar hingga akhirnya berhasil menangkap bibir Lena, pelan-pelan ia mencumbu Lena, jemarinya masih keluar masuk dalam vagina Lena, sementara tangan yang lain memainkan vagina Lena,..

    Gadis itu terlihat sudah pasrah, terlebih saat itu RC yang belum dapat jatah sudah berdiri dihadapannya, ditumpuk seperti saat dengan SS tadi,.. penis RC menggantung diselangkangannya, menarik tangan Lena untuk mulai mengocok penisnya itu, mungkin karena tak lagi punya banyak pilihan Lena pun mulai menggoyangkan tangannya mengocok penis itu,..

    Baca Juga : Liburan Panas Istri Pejabat

    Pelan-pelan penis itu dikocok oleh Lena yang membuat pemiliknya ikut merem melek mendesah, sementara TR tak lagi memainkan jemari-nya di vagina Lena yang sudah demikian basahnya oleh cairan cinta gadis cantik itu, sementara penis RC yang sedang dikocok oleh Lena itu mulai bermain nakal,..

    RC membimbing penis itu ke bibir Vaginanya, Lena sempat menggelengkan kepalanya, meminta RC untuk tidak memperkosanya,.. namun dasar RC yang bahasa Indonesia aja gak ngerti apalagi bahasa Isyarat, jelas tak memperdulikan apa yang dipinta oleh Lena,. Pelan-pelan penisnya yang ukurannya lumayan besar itu mulai menyeruak masuk, sementara Lena hanya bisa bersender di tubuh TR yang sedang menciumnya, menutup matanya merasakan penis RC mulai menyeruak masuk dalam vaginanya,..

    ” Ughh, hmmm,.. ” sempat terdengar desisan kesakitan dari mulut Lena, samara-samar, namun penis RC mulai masuk lebih dalam lagi, penisnya tak sebesar milik SS tadi, namun tetap membuat Lena mendesah-desah tak karuan tubuhnya dimasuki demikian rupa,..

    RC menarik tubuh Lena dari pelukan TR, mungkin cemburu juga Lena belum menciumnya dari tadi,..dengan penis yang masih didalam vagina Lena, RC merebahkan tubuhnya diatas sofa mahal itu sambil berusaha mendesakkan Lena kini duduk diatas pinggang RC merintih-rintih merasakan gerakan penis di dalam vagina-nya .

    Lena hanya mendesah-desah sementara RC mulai menggerakan pinggulnya membuat penisnya keluar masuk dalam vagina Lena, sementara tangannya tak putus memainkan payudara Lena yang menggantung itu..Meremas sambil memainkan putting payudara-nya,..

    Tubuh Magdalena yang kuyup oleh keringatnya itu mulai terpancing kembali birahinya,seperti tadi, Lena mulai aktive menggerakan pinggulnya naik turun, bukan sekedar gerakan maju mundur, tapi naik turun yang membuat saya bisa melihat penis RC timbul tenggelam dalam vagina Lena,..

    Wajah Lena yang berkeringat dan kuyu, namun mulai mendesah-desah membuat pentalan payudaranya yang kesana kemari kian Erotis, sesekali RC menangkap payudara itu dan memainkannya, meremas-remas yang membuat Lena kian mendesah tak karuan, meras Lena sudah jatuh dalam peluaknnya, RC yang tadi tiduran membangunkan tubuhnya, masih dalam posisi WOT tapidalam posisi itu RC dapat memeluk Lena, dan menyusu di payudaranya,..

    Lena mendesis-desis merasakan bagaimana payudaranya dimainkan oleh RC, tak hanya itu payudaranya yang disedoti oleh RC mulai membuat Lena kian mendesah-desah tak karuan, desahan terdengar begitu erotis, bibirnya yang begitu sedap untuk dilumat membuat RC meninggalkan payudara itu dan menjejali bibir Lena,..

    Magdalena tak bisa banyak melawan, ia hanya bisa pasrah sambil menggerakan tubuhnya, tak lagi naik turu, mungkin lelah, hanya gerakan maju mundur, sementara RC masih begitu bernafsu menjejali penisnya dalam vagina Lena,..sementara lidah keduanya beradu, saling bercumbu mesra, penuh dengan nafsu membara yang membuat RC kian bersemangat memacu Lena,..

    Tak lama tubuh Sexy Magdalena kembali tersetrum oleh terjangan Organsme, tubuh itu menggigil sambil mendesah-desah hebat, wajahnya sampai ternegadah keatas sementar RC masih bersemangat memacu penisnya dalam vagina Lena, ia berpindah menciumi dan menyusu payudara Lena,.. sambil terus menggerakan pinggulnya membelah tubuh Lena,

    Beberapa lama lena terus menggelinjang, sementara RC tak memberikannnya kesempatan istirahat dan terus memacunya, namun yang membuat Lena gemetaran adalah satu perkataan dari TR yang dari tadi diam disebelah saya,..

    ” Wa wiwutan,.. ” hmm kira-kira artinya begini,.. ” Gue ikutan,.. ” Maklum ( maaf ) teman saya ini sumbing,..

    RC mengintip kearah TR, sebelum tersenyum,, berhenti sesaat sambil rebahan di atas sofa itu,.. Lena memandang kuyu kearah TR yang memelorotkan celananya hingga penisnya yang lebar itu membuat Lena terbelalak, TR berjalan mendekat dengan penis tegak didepannya,..

    Lena menggelengkan kepala, dengan nafasnya yang tersenggal-senggal, sementara Boss dan SS yang dari tadi diam sambil menahan nafas, hanya terkekeh melihat aksi anak buahnya itu,.. TR langsung menarik wajah Lena,..Menyodokan penisnya itu dalam mulut Lena,..

    Magdalena sendiri tampak kesuliatan memasukan penis TR yang lebar itu dalam mulutnya,.. pelan-pelan Lena terpaksa memasukan penis itu dalam mulutnya, sementara Lena mulai mendesah kemabli, saat RC mulai kembali menggoyangkan penisnya dalam vagina Lena,..

    Setengah penis TR dapat masuk dalam bibir Lena, sebelum kemudian kian dalam yang ditelan oleh Lena, TR sampai merem melek merasakan sedotan Lena yang sampai membuat pipi gadis itu kembang kempis,..

    ” Waaa,.. weeenakkk… ” Desis si TR lucu,..
    Namun ternyata bukan itu tujuan TR, setelah penisnya cukup basah ia langsung mendorong tubuh Lena dalam pelukan RC, ia sedikit menarik bokong Lena hingga keatas dan mulai memainkan penisnya di depat anus Lena,..

    Mungkin sadar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya,.. Lena langsung berusaha berontak menolak,.. tak terbayang penis TR mengoyak anusnya itu,..
    ” Jangan pak, saya gak mau,.. ” Namun ternyata TR sama budeknya dengan RC,..

    Malahan dia menyelupkan penisnya itu dalam anus Lena,..Tubuh bagian atas Lena sampai terangkat dibuatnya,.. sementara penis itu mulai menyeruak masuk, sempat tertahan oleh sempitnya anus Lena, wajah Lena yang tampak mendesis kesakitan, sampai membuat Lena mengigit jarinya sendiri menahan rasa sakit, air matanya meleleh sementara tak berdaya ia menahan rasa sakit oleh tusukan penis TR di anusnya,..

    Saya sampai merinding melihat pemandangan itu, iba oleh rasa sakit yang dirasakan oleh Lena, namun yang nisa saya lakukan hanya melihat lena dikerjai oleh kedua itu, sementara penis TR kian tenggelam dalam anus Magdalena,..

    TR sampai mendesis hebat saat seluruh penisnya itu tenggelam, sementara Lena sendiri tak berhenti mendesah menahan rasa sakit,. Mulailah keduanya menggumuli Magdalena, keduanya menggerakan pinggul masing-masing, sementara Lena terlihat kuyu ditengahnya, menahan rasa perih di anusnya,..

    Tubuh Magdalena melengkung merasakan rasa sakit, sementara payudaranya dikerjai oleh RC yang ada dibawahnya keduanya memompa Magdalena dengan penuh nafsu membuat artis muda itu tak kuasa mendesah-desah diantara rasa sakit yang dirasakannya, perlahan penis di anusnya kian memberontak, kian lancar keluar masuk dalam lubang anusnya itu, keringatnya bercucuran sementara matanya masih merah merasakan rasa perih yang mulai pudar itu,..

    RC memaksa Lena mencium wajahnya, sementara penis keduanya sibuk mengaduk vagina Lena itu, pelan-pelan lidahnya menyapu wajah Lena, sebelum melumat bibirnya, mungkin senang akhirnya bisa mendapatkan bibir ranum artis itu, sementara Lena kian mendesah tak ada lagi rintihan kesakitan yang tadi dirasakannya yang ada hanya desahan yang luar biasa panjang dan terdengar erotis,..

    TR sendiri tampak begitu antusias menyodomi Lena, artis itu menggelinjang-gelinjang hebat, sambik melolong panjang saat tubuhnya benar-benar menekuk,.. dia gemetaran tercetak jelas pada suaranya yang bergetar,.

    Beberapa detik tubuhnya bergetar, sementara TR dan RC masih begitu bersemangat menyetubuhi Lena,.. Payudara Lena tak pernah lepas dari serbuan dua lelaki itu, sementara lidah keduanya pun membasahi tubuh Magdalena,.. Penis mereka yang timbul tenggelam keluar masuk dalam tubuh sexynya dibalas dngan desahan-desahan erotis yang membuat pendengarnya kian bernafsu,..

    Entah sudah berapa lama berlalu, yang pasti tubuh mereka bertiga sudah kuyup oleh keringatnya masing-masing, hingga akhirnya TR lebih dulu mencabut penisnya, mungkin saking sempitnya liang anus Lena membuatnya lebih cepat sampai dibanding RC, Penisnya diarahkan ke mulut Lena yang sedang terbuka, dimasukannya penisnya itu dalam mulut Lena sementara ia menggerakan pinggulnya menyetubuhi mulut Lena yang masih sibuk menerima terjangan penis RC di dalam vagina-nya,..

    Tak berapa kemudian, sambil mencabut penisnya dari mulut Lena, TR mengocok penisnya itu sambil memaksa Lena membuka mulutnya,.. dia mendesah-desah sendiri tampak sibuk mengocok penisnya sebelum akhirnya spermanya meleleh langsung ke mulut Lena,.. Seperti tadi, Lena pun terpaksan menelan sperma TR itu,. Perlahan ia menelan sperma , dan membersihkan penis TR yang mulai layu itu hingga bersih,..

    Perjuangan Lena belum selesai, Rc masih tampak begitu antusias menyetubuhinya, ia mendorong tubuh Lena ke bantalan sofa, ia menggangkangi Lena sambil menyerudukan penisnya keluar masuk dalam vagina itu, Kian lama ia kian cepat menggerakan pinggulnya naik turun, sementara Lena tak hentinya mendesah hingga tubuhnya kembali gemetaran, dan saat itu tiba-tiba RC melolong hebat, spermanya meluber keluar dari dalam vagina Lena,.. sebelum kemudian ia mencabut penisnya itu dari dalam vagina Lena dan menyodorkan ke Lena, seperti SS dan TR tadi minta dibersihkan,..

    Wajah Lena yang keletihan itu namun matanya amsih tampak bernafsu, perlahan ia menjejali mulutnya dengan penis RC, pelan-pelan dan telaten dia membersihkan penis itu dari sperma dan cairan vaginanya sendiri, seolah tak perduli dengan vaginanya yang masih dirembesi oleh sperma RC, ia menjilati penis RC hingga bersih, sebelum mengistirahatkan tubuhnya ke atas sofa,..dengan nafas yang tersengal-sengal, dadanya naik turun sejurus dengan tarikan nafasnya,..

    ” Nah ini pak momen yang bikin saya bisa tetap tersenyum meski sebentar lagi saya mendekam di dalem situ pak “ Terang TY saat ditanya apa yang membuat dia sampai tega melakukan hal biadab itu,..

    BOS kemudian menyuruh saya untuk sekalian mencicipi hidangan itu,.. tentu aja saya gak melewatkan kesempatan langka itu,. Pelan-pelan saya mendekati tubuh indah artis itu sambil menahan kerasnya si Otong dibawah sana yang bikin saya jadi agak susah untuk berjalan,..

    Pelan-pelan saya mengangkat tubuh Magdalena itu ke pelukan saya,.. memang ada beberapa bekas semprotan sperma di dada-nya, tapi gak saya peduliin, pelan pak saya angkat dia ke atas sofa, saya tidurin di atas sofa itu, terus pelan-pelan saya remes itu payudara-nya,..

    ” Waduh, kenyal banget dech pak, suer ” pelan-pelan, saya remes payudara-nya, pake tangan kanan, lalu saya maenin pentilnya,. Remes-remes-remes, mendesah-desah gitu Magdalena-nya pak, duh makin horny aja, makin saya remes tuch payudaranya,.. saya menini pelan-pelan, tapi dengan remasan yang bertenaga,..

    Bibirnya itu pak, bergerak-gerak pengen saya nyium mulutnya itu, bibirnya yang sexy, beeh bikin gak nahan, tapi kepikiran itu abis nyepongin TR, SS, sama RC jadi saya gak jadi nyium pak, tapi mulutnya itu mendesah terus yang makin bikin gak nahan pak,..

    Tau-tau, percaya gak percaya, dia meluk saya,.lidahnya jilat-jilat telinga saya, ughh merinding banget dech rasanya,.. tangan saya ditarik dari cuma maen di dadanya supaya turun ke bagian selangkangannya itu, tegang juga, tapi pelan-pelan saya mulai active sendiri maenin tangan saya..

    Pas tangan saya sampe itu, tubuh Magdalena langsung menggelinjang gitu, pelukannya makin erat, kerasa selangkangannya yang udah basah itu, pelan pelan saya cari bagian clitirosinya, saya sentuh sambil saya maenin jari saya di clitorisnya itu, desahannya yang langsung menusuk masuk dalam telinga saya itu, jelas bikin saya tambah horny..

    Tersangka TY mengambil air minum di atas mejanya lagi, sambil membenarkan sesuatu di balik celananya,.. saya dan semua orang yang berada diruangan itu pun membenarkan onderdil masing-masing, sebelum akhirnya TY melanjutkan menerangkan kembali kronologi kejahatan yang dilakukannya..

    Nah, selangkangannya yang sudah basah itu membuat saya makin gampang menyelusupkan jemari saya dalam selangkangannnya itu, pelan-pelan, saya tusukin jari tengah saya diselangkangannya, wah langsung mengigil gitu badannya, saya jejelin lagi aja tangan saya itu, terus saya gerakin jari saya pelan-pelan, keluar masuk keluar masuk, wah gampang banget basahnya, jadi bisa makin cepet aja saya gerakin tangan saya itu,..

    Dari yang cuma mendesah-desah aja, sampe akhirnya Magdalena nyium saya, pelan-pelan bibirnya itu ngedekat ke bibir saya, mungkin dia terangsang sama bibir tebal saya ini kali ya, nah gak cuma ciuman, lidahnya itu juga bergerak-gerak, bikin saya terpaksa membalas permainan lidahnya itu, tapi tangan saya masih tetep bergerak donk dibawah sana,..

    Duh makin lama, saya sengajain juga itu tangan saya jempol di taro di clitorisnya, sementara jari tengah saya masih saya gerakin semau saya aja, desahannya makin kacau, sambil saya remesin terus payudaranya yang montok itu, asli bukan silicon,..

    Dari ciuman turun ke bagian dada saya, pertama disingkap dulu kaus saya itu keatas, saya berenti maenin clitorisnya, buka baju dulu, sebelum kembali mencelupkan jemari saya ke vaginanya itu, baru ditinggal sebentar udah nyempit lagi, kembali dech saya usahain buat masukin jari saya itu, tubuhnya menggelinjang-gelinjang lagi, suara desahannya itu yang,..” ehhh, hmmmm… ” Itu gak tahan dech rasanya,.. terus mendesah samapi akhrinya tangan saya kembali masuk dalam vaginanya itu,..

    Kembali saya katrol tangan saya itu maju mundur dalam liang kewanitaanya yang hangat dan basah itu, bahkan pake tangan aja saya bisa rasain gimana otot-otot vaginanya itu menjepit jemari saya,..tangannya yang mungil-mungil itu merambat di dada saya, pelan-pelan jarinya itu memainkan puting saya, ampe menggigil rasanya saat lidahnya menjilat pentil saya itu, merinding dech pokoknya,..

    ” Tapi tolong yang setelah ini di off aja ya wawancaranya,.. “ pinta tersangka TY itu,. Kami para wartawan pun sepakat mematikan alat perekam kami, dan mendengarkan dengan seksama cerita dari tersangka TY ini,.. Sambil menanti apa sich yang sangat dirahasiakan itu.

    Nah setelah itu lidahnya yang memainkan pentil saya itu merambat turun, mulai dari dada, melewati pusar dan melepas celana saya,.. masih terbalut celana dalam, apalagi melihat reaksi Magdalena itu membuat saya makin kegilaan, saya makin tenggelamin tangan saya itu dalam vagina-nya, makin saya pacu jemari-jemari saya itu,.. Ceritamaya

    ” ughh, hmmm aughhhh,.. ” mendesah terus menerus, sampai akhirnya tubuhnya tiba-tiba menggelinjang hebat, jemari saya makin terjepit di dalam sana, sementara Magdalena sendiri memeluk saya erat-erat, ia mencium saya sekenanya, tubuhnya terus menerus menggelinjang,.

    Cairannya sendiri begitu kental dan banyak, saat saya tarik jemari saya dari dalam vagina-nya itu, seperti orang kelaparan Magdalena langsung menyosor jemari saya itu, dijilatinya jemari saya sampai bersih, setelah itu dia tersenyum menatap saya,.. duh luluh dech liat senyumannya itu,..

    Gak lama lidahnya kembali mendarat di dada saya, terus membasahi pentil saya itu smabil sesekali memainkan payudara saya dengan tangannya, sementara tangan yang lain sibuk melucuti celana saya,.. ciuman dan permainan lidahnya makin lama makin turun , sementara tangannyapun sudah menyingkap celana dalam saya,..

    Batang kemaluan saya pun yang sudah menegang sempurna, dalam dekapan tangan Magdalena yang tampak takjub dengan ukuran penis saya itu,.. sampai-sampai dia ngomong begini,.. ” Wow gede banget,.. ” RC, SS, TR dan Boss pun sampai ikut terkesima, beneran loh, saya gak bohong,..

    ” Udah dimatiin kan ?? , Off Record ” Tiba-tiba tersangka TY kembali bertanya demikian, meyakinkan, dalam hati apa dia mau nyombong ya,.. Setelah mendapatkan kode YA dari kami, saudara TY kembali meneruskan ceritanya

    Pelan-pelan, Magdalena dengan tatapan mata nakalnya itu, mulai menundukan kepala-nya, tangannya mengocok penis saya, sementara lidahnya sudah sampai di kepala kemaluan saya,. Pelan-pelan membasahi kemaluan saya itu dengan lidahnya, sambil mulai menghisapi penis saya itu, sesekali lidahnya mulai bermain di batang kemaluan saya, ataupun di buah zakar saya,..

    Gak karuan rasanya melayang nikmat, sambil juga merinding tiap kali merasakan sedotannya,.. huuh rasanya itu benar-benar membuat saya melayang, namun entah kenapa saat itu saya merasakan ada satu kekawatiran lain, apa ya saya benar-benar lupa,.. sementara Magdalena terus menyedoti penis saya itu dengan penuh nafsu, membuat saya makin gak karuan,..

    Resah menggerakan pinggul kesana kemari, sementara juga menahan rasa ingin organsme di service seperti ini, uugh rasanya itu, lidah yang begitu halus membalut penis saya, ughh merinding lah pokoknya,..

    Sampai akhirnya saya teringat dengan sesuatu yang sangat sangat sangat penting,.. saya membuka mata saya, melihat kebawah saat Magdalena mengeluarkan penis saya dari mulutnya,.. penis yang layu dan sangat kecil,..

    Saya lupa, pengobatan saya di Mak Erot belum selesai, masih 2 kali datang lagi, tapi Mak Erot keburu meninggal, jadi tertunda dan gak boleh dipakai selama 14 hari,..

    Magdalena menatap saya dengan pandangan bertanya-tanya, sementara para RC,TR,SS dan Boss menertawakan saya, saya hanya duduk terdiam menahan malu di atas sofa, sementara penis layu saya berada dalam gengaman Magdalena,

    Para Wartawan pun ikut tertawa, demikian juga Para Polisi, yang kemudian membawa tersangka TY meninggalkan ruangan, air mata membasahi mata saya menahan tawa,.. sementara hanya ini yang dapat saya laporkan dari KAPOWIL Cipanas, sambil menunggu tersangka lain tertangkap, dan dapat menjelaskan motif dan tujuan penculikan seperti yang diungkapkan saudara TY,. ( CHD/KBRM )
    ————————————————————————–
    DISCLAIMER :

    Berita diatas hanya sebuah kebohongan belaka, kesamaan tokoh dan kejadian adalah disengaja, namanya juga FanFiction, tidak ada niatan untuk memfitnah, ataupun menjelekan individu tertentu, namanya juga FanFiction,..
    Tidak ada keutungan material yang didapat dari penulisan berita ini, dalam berita ini terkandung hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seksual dan pemerkosaan, penulis tidak bertanggung jawab, dengan segala pikiran kotor yang timbul karenanya,..


    Sebelumnya terima kasih bagi yang telah membaca berita ini,. Soalnya cerita ini dibikinnya asal banget Hehehe,..


    Kantor Berita Republik Mupeng
    DS Forum Property

  • 2 Sisi Kehidupan

    2 Sisi Kehidupan


    123 views

    Ceritamaya | Aneh seorang guru yang mengajarkan norma dan aturan sosial kepada murid-muridnya, bagaimana bisa menjadi seorang pelacur yang jelas-jelas menentang semua norma yang ia ajarkan, apakah karena alasan ekonomi atau masalah kebutuhan akan seks yang menyebabkan ini terjadi mari kita ikuti kisah berikut ini.

    Juni Rosa permepuan berumur 31 tahun mempunyai pekerjaan sebagai seorang guru di sekolah swasta ternama di Surabaya. Rosa telah menikah dengan pria bernama Suhendra yang pekerjaannya adalah teknisi di pengeboran minyak lepas pantai milik perusahaan asing yang hanya bisa pulang 5-6 bulan sekali.
    Rosa bertekad memulai profesinya sebagai High Class Call Girl saat ia tahu melihat bukti bahwa suaminya main belakang, selama bekerja di lepas pantai Suhendra suka membawa gadis-gadis nakal. Hal ini ia ketahui dari teman suaminya yang mempunyai dendam terhadapa suaminya, teman suaminya itu menunjukan beberapa foto hasil jepretannya sendiri yang berisikan foto suaminya sedang memluk dan mencium mesra gadis-gadis nakal.

    Rosa memulai kariernya di bidang pelacuran kelas tinggi dengan memasang sebuah iklan di koran, begini bunyi iklannya “Massage Maria, cantik dan berpengalaman menerima panggilan hub. 0812160700X “, dengan nama samaran Maria maka dimulailah petualangan terlarang Bu guru kita ini.

    SMS mulai mengalir ke handphone Rosa yang berisikan panggilan panggilan tapi ada juga SMS yang berisikan kalimat-kalimat porno, Rosa tidak menanggapi semua SMS itu karena hal itu akan membuang waktu saja begitu juga dengan percakapan dengan calon-calon kliennya semua gagal mencapai kata sepakat. Karena harga yang ditetapkan oleh Rosa sangat tinggi yaitu 1,5 juta sekali datang, tentu saja jarang yang berani memboking Rosa.

    Sampai suatu saat ada panggilan HP yang masuk saat ia mengajar di kelasnya
    “Permisi anak-anak ibu mau terima telpon dulu jangan ramai ya!”kemudian Rosa berjalan keluar kelas dan menerima panggilan itu.
    “Hallo Maria? ” terdengar suara berat seorang lelaki0
    “Ya dengan siapa Pak? “
    “Berapa tarif kamu semalam? “
    “1,5 juta bayar di muka, tidak kurang dari itu “
    “Ok done deal, kita ketemu di Kafe Bon Ami, Darmo Selatan jam 18.30 nanti malam sampai disana langsung miss call aku ya bye ..tut tut tut”

    Dalam hati Rosa merasa berdebar dan aneh karena ini adalah pertama kalinya ia akan mendapatkan panggilan serius dan anehnya orang tersebut tidak menawar harga yang ia ajukan, Rosa termenung memikirkan telepon yang baru saja ia terima sampai seorang muridnya menegur
    “Bu, Ibu sakit ya? ” tanya seorang muridnya
    “Oh nggak apa-apa kok, ayo masuk lagi” sambil memegang pundak muridnya

    Setelah selesai mengajar Rosa segera pulang dan mempersiapkan diri, ia mandi dan berdandan secantik mungkin tapi tidak menor, dengan mengenakan gaun malam warna hitam yang anggun, Rosa berangkat ke Bon Ami menggunakan taksi.
    Rasa berdebar semakin menjadi saat ia memasuki kafe dan dengan tangan sedikit gemetar ia memanggil no. HP lelaki yang tadi siang menelponnya segera saja terdengar bunyi handphone di pojok ruangan yang rupanya sengaja di taruh di atas meja oleh pemiliknya.

    Mata Rosa memandang ke arah sumber bunyi tersebut dan melihat lelaki berumur 45 tahun keturunan cina dengan pakaian necis dan berkacamata minus yang melambaikan tangan seolah olah sudah mengenal dirinya
    “Hi Maria, silahkan duduk disini “
    Ujar lelaki itu sambil berdiri menjabat tangan Maria yang tak lain adalah nama samaran Rosa.

    “Ok kita makan dulu atau langsung pergi nih? ” tanya lelaki itu.
    “Kita bisa langsung pergi setelah pembayaran di lakukan ” ujar Rosa ketus
    “Wow santai saja non jangan takut ini aku bayar sekarang “
    Sebuah amplop coklat disodorkan dan langsung di buka dan dihitung oleh Rosa
    “Ok 1,5 juta kita berangkat, omong omong nama bapak siapa ” tanya Rosa
    “Teman-teman memanggil aku A Cun, yuk berangkat “
    A Cun menggandeng tangan Rosa dengan mesra seperti istrinya sendiri.

    Dengan menggunakan mercy new eyes, A Cun membawa Rosa meninggalkan kafe dengan santai tapi pasti mobil dibawa menuju ke arah daerah perumahan elit di daerah Dharmahusada. Ketika sampai di depan sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi A Cun membunyikan klaksonnya, pagar besi itu terbuka secara otomatis meskipun tidak tampak orang di halaman rumah mewah itu, setelah mobil masuk sampai di teras rumah seseorang dengan seragam batik berlari kecil menghampiri mobil.
    “Selamat datang Koh A Cun “sambil membukakan pintu mobil.
    “Yang lainnya sudah pada kumpul toh, Yok? ” tanya Koh A Cun pada lelaki berseragam itu
    “Sudah Pak, silahkan Pak ” kata petugas yang bernama Yoyok ini .

    Mobil A Cun segera dibawa untuk di parkir oleh yoyok yang rupanya bertugas sebagai valet service. Acun dan Rosa langsung masuk ke dalam rumah mewah itu
    “Ini rumah Koh A Cun ” tanya Rosa kagum melihat ruang tamu yang besar dan dipenuhi barang mewah
    “Oh bukan, ini rumah perkumpulan semacam klub bagi kami untuk melepas kepenatan” ucap Koh Acun seraya membuka pintu ruang tengah yang di dalamnya berisi 3 orang lelaki dan 3 perempuan.

    Di ruangan itu tersedia 5 kasur king size, 2 meja biliard, 3 set sofa mewah dan sebuah mini bar yang tertata apik serasi dengan ruang yang relatif besar itu, dari suasana ruangan sudah dapat diperkirakan bahwa ruangan ini sering di pakai sebagai ajang maksiat .
    “Hoi Cun, lama sekali kamu, dapet barang baru ya?” tanya seorang lelaki cina berumur 56 tahun yang di panggil Koh A Liong.
    “Ah nggak enak ah ngomong gitu di depan orang ” elak A Cun
    “Koh A Cun, mending kamu kasih Mbak ini buat aku saja, kamu pake saja salah satu SPG yang aku bawa” ucap lelaki berbadan gemuk besar dan berkulit sawo matang yang dipanggil dengan panggilan Pak Angkoro.

    A Cun mengamati SPG yang ditawarkan padanya, diantara tiga SPG itu ada satu yang paling menarik hatinya yaitu Lyvia Go. SPG berumur 21 tahun berdarah cina dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg berwajah mirip Ineke, dengan penampilannya yang mengenakan rok super mini dengan atasan kemeja ketat nan tipis membuat A Cun tak mampu menolak tawaran Pak Angkoro
    “Ok deh, Pak Angkoro boleh ambil Maria, saya pinjam Lyvia ” sahut acun sambil langsung menarik pinggang Lyvia dan mereka berdua melakukan deep kissing yang sangat panas sampai terdengar lenguhan lenguhan nafas mereka.

    Lyvia yang diciumi dengan ganas segera membalas ciuman itu sambil membuka kancing kemejanya yang seakan tak muat menampung payudaranya yang montok. Dengan rakus Koh A Cun memelorotkan BH Lyvia dan menghisap puting berwarna coklat muda itu, sambil bercumbu tangan Koh Acun bergerak melingkar pinggang Lyvia dan melepas kait rok mini dan meloloskan rok itu turun sehingga kini Lyvia Go hanya mengenakan BH yang sudah tidak menutupi payudaranya dan sebuah celana dalam berwana putih berenda tipis yang sangat seksi sekali melekat di tubuhnya yang putih bak mutiara.

    Dengan sekali angkat tubuh Lyvia Go dibawa Koh ACun menuju ranjang terdekat, lalu menelentangkannya sambil meloloskan celana dalam seksi itu dari tempatnya sehingga tampaklah kemaluan Lyvia yang sudah dicukur bersih, tanpa membuang waktu A Cun segera menjilat dan menusuk nusukkan lidahnya ke dalam vagina Lyvia yang diikuti dengan erangan nikmat dari Lyvia.

    “Ahh, aduh enak Koh, dasyat aargh “
    “Enak ya Go? Kamu sudah berapa kali ngeseks selama jadi SPG ” tanya A Cun sambil mengocok vagina Lyvia dengan dua jari sambil terkadang menggosok kelentit mungil itu dengan jempolnya.
    “Ini yang ke tu..juh aah hi hi hi aduh geli Koh “
    “Yang pertama ama siapa ” selidik A Cun mencari cari daerah g-spot dengan ujung jarinya
    “Yang pertamaa, aduh yah yah aauh disitu Koh enak, yang pertama sama Pak Angkoro di WC showroom aah”

    Untuk mengakhiri pemanasan ini maka A Cun menempelkan lidahnya di kelentit Lyvia, kemudian menggeleng-gelengkan dan memutar-mutar kepalanya dengan lidah tetap menempel di kelentit. Menerima rangsangan dasyat itu tubuh Lyvia melengkung bagai busur panah yang siap melesatkan anak panahnya.
    “Aduh Koh A Cun, aargh masukin sekarang Koh jangan siksa aku lebih lama lagi hm? “.

    Melihat Lyvia sudah terangsang berat maka Koh A Cun segera menghentikan permainan oralnya dan melepas bajunya sendiri dengan cepat, Lyvia yang melihat Koh A Cun melepas bajunya kagum melihat badan Koh Acun yang berotot, dadanya yang bidang dan perutnya yang terbagi 8 kotak sangat seksi di mata Lyvia yang biasanya melayani Pak Angkoro yang gendut. Semakin bernafsu untuk segera bersetubuh maka Lyvia Go membantu melepas celana Koh A Cun dan betapa kagetnya Lyvia Go ketika celana itu merosot langsung nongol benda sepanjang 16.5 cm (wah ternyata Koh A Cun tidak pakai celana dalam loh, tapi dengan tidak memakai celana dalam juga sangat baik bagi kesuburan pria kata Pak dokter).

    Dengan posisi kaki yang di buka lebar lebar, Lyvia menanti Koh Acun sambil tangan kanannya menggosok gosok klitorisnya sendiri, Koh Acun mengambil posisi di tengah tengah kaki Lyvia yang terbuka lebar dan mengarahkan penisnya di muka pintu gerbang kewanitaan Lyvia
    “Aku masukin ya Lyv?”
    “Sini kubantu Koh ” Lyvia memegang penis A Cun dan mengarahkannya ke liang senggamanya
    “Seret banget ya Lyv, jadi susah masuk nih”
    “Koh jangan bercanda melulu ah, kapan masuknya?”
    “Ya udah nih rasain Lyv”
    “Aauh aah aah pelan dikit Koh “
    Akhirnya pelan tapi selamat, penis Koh A Cun amblas ke dalam vagina Lyvia dan permainan kuda kudaan khusus dewasapun dimulai, Koh A Cun memaju mundurkan pantatnya dengan tempo sedang sambil memegang kedua betis Lyvia sebagai tumpuan tangannya .

    Beralih ke ibu guru kita yaitu Rosa Maria yang cuma bengong melihat permainan permainan liar di sekelilingnya.
    “Wah suasananya panas ya? ” Pak Angkoro menegur Rosa Maria yang bengong
    “Ah nggak juga Pak, kan ada AC” balas Rosa risih
    “Nggak panas gimana, coba kamu lihat orang orang itu pada telanjang ngapain coba?”
    “Eeng eeng gimana ya Pak “
    “Eng eng eng apa, ayo lepas bajumu, kamukan sudah di bayar toh? “
    Rosa merasa harga dirinya diinjak-injak, di dalam hati Rosa Maria berkata “Aku adalah seorang guru yang dihormati dan disegani oleh anak didik dan rekan sekerjaku kenapa demi dendam pada suami aku harus menjerumuskan diriku ke dalam lembah nista tapi sudah terlambat”, air mata mulai menetes di pipi Rosa.

    “Wah, kok malah nangis iki piye? Waduh!!” Pak Angkoro mengelus-elus perutnya yang besar karena bingung.
    “Nggak Pak, ayo kita mulai aja permainan ini ” Rosa mengusap air matanya.
    “Ya gitu dong, itu baru semangat profesional jangan nangis lagi ya “
    Rosa membuka gaun malamnya dengan pedih dan rasa hampa, demikian juga Pak Angkoro beliau membuka seluruh pakaiannya memperlihatkan tubuhnya yang gemuk dan hitam.

    “Sini Ros, bapak akan membuat kamu melayang layang ” pangil Pak Angkoro
    Rosa yang masih malu dan canggung menutup tubuhnya yang bugil dengan tangannya sedapat mungkin sambil melangkah ke arah Pak Angkoro
    “Wah kok malu malu gitu, jangan kuatir Ros bapak nggak akan kasar kasar sama kamu “, Pak Angkoro memandang tubuh Rosa dari atas ke bawah. Jakunnya naik turun memandang tubuh Rosa yang menggiurkan, kulitnya yang kuning langsat bagai kulit putri kraton meskipun tidak seputih Lyvia tapi pancaran erotik dari mata Rosa bagai sinar pancasona pusaka tanah jawa. Dan cara gerak Rosa Maria sungguh membangkitkan gairah, keayuan khas gadis jawa terpancar dari setiap lekuk tubuhnya dan terutama payudaranya yang berwarna kuning gading sungguh mengundang birahi lelaki manapun yang melihatnya.

    Dengan lembut Pak Angkoro meletakan kedua telapak tangannya di atas payudara Rosa dan mulai memijat lembut sambil perlahan ia melekatkan bibirnya ke bibir Rosa yang sensual di lumatnya bibir Rosa, semakin lama semakin panas sampai kedua tubuh itu seolah menjadi satu, Pak Angkoro melingkarkan tangannya ke pinggang Rosa dan menariknya sampai lekat pada tubuhnya dan mencumbu Rosa dengan penuh nafsu. Dihisap dan dimasukannya lidahnya kedalam relung relung mulut Rosa sehingga mau tak mau Rosa membalas pagutan-pagutan liar itu.

    Baca Juga : Akibat Dimanja

    Hasrat kewanitan Rosa benar-benar dibangkitkan oleh Pak Angkoro yang berlaku seperti kuda jantan dan mendominasi seriap permainan ini. Rosa mulai merasakan hawa panas naik dari dadanya ke ubun-ubun yang membuat Rosa semakin tak berdaya melawan hawa maksiat yang begitu kental dalam ruangan ini sehingga akhirnya Rosapun terlarut dalam hawa maksiat itu.

    “Ros aku minta dioral dong ” sambil menyodorkan penis hitamnya yang berdiameter 5 cm dengan panjang 14 cm.
    “Nggak ah Pak, jijik saya! ih! “
    “Wah kamu kudu profesional Ros, kalau kerja jangan setengah-setengah gitu dong, gini aja kamu tak oral kalau sampai kamu orgasme berarti kamu kudu ngoral aku yah? “
    Belum sempat Rosa menjawab Pak Angkoro telah menyelusupkan kepala diselangkangan Rosa dan mulai melancarkan segala jurus simpanannya mulai dari jilat, tusuk sampai jurus blender yang memnyapu rata seluruh dinding permukaan vagina Rosa sehingga dalam waktu 7 menit Rosa sudah di buat kejang-kejang.
    “Oooh Pak oouh oh pa..ak” Rosa meregangkan ototnya sampai batas maksimal.
    “Tuh kamu udah orgasme, nggak bisa bohong sekarang giliranmu” ucap Pak Angkoro senang

    Pak Angkoro menarik kepala Rosa dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang penisnya sendiri sambil mengocok ringan, setelah mulut Rosa dalam jangkauan tembak Pak Angkoro segera menjejalkan penisnya ke dalam mulut Rosa
    “Ayo dong Rosa” Pak Angkoro menyuapkan penisnya seperti menyuapkan makanan pada anak kecil, setelah penisnya berada dalam mulut Rosa maka dengan menjambak rambut Rosa Pak Angkoro memaju mundurkan kepala Rosa
    “Ehm ehm Pak Angko.. ehm ehm” Rosa berusaha berbicara tapi malah tersenggal senggal
    “Udah diam aja deh Ros jangan banyak bicara emut!”

    Setelah lima menit berjalan Rosa akhirnya secara mandiri mengulum ujung penis Pak Angkoro, sementara tangannya mengocok dengan kasar pangkal penis Pak Angkoro.
    “Yes gitu Ros, wah kamu lebih hebat dari istriku loh, mau gak kamu jadi gundikku?” Pak Angkoro berbicara ngawur karena keenakan dioral Rosa. Merasa jenuh dengan permainan oral akhirnya Rosa meminta untuk bercinta.
    “Udahan dong Pak, kita ngesks yang bener aja ya?” tanya Rosa dengan halus
    “Ok, kamu yang minta loh”

    Pak Angkoro menarik Rosa yang tadinya mengoral dia dalam posisi jongkok menuju meja biliard dan menyuruh Rosa menumpukan kedua tangannya menghadap meja bilirad sementara Pak Angkoro yang berada di belakang Rosa mengatur posisi sodokan perdananya.
    “Ros nungging dikit dong, ya gitu sip!” Pak Angkoro mengelus pantat Rosa yang bahenol kemudian mengarahkan senjatanya ke vagina Rosa.
    “Aaouh Pak Angkoro, pelan Pak sakit penisnya bapak sih kegedean ” ucap Rosa setengah meledek.
    “Wah kamu itu muji apa menghina Ros? mungkin vaginamu yang kekecilan Ros” Pak Angkoro membalas ejekan rosa dengan menarik pinggul Rosa ke belakang secara cepat maka amblaslah seluruh penis Pak Angkoro.
    “Auuw gede banget, aauw aah ” Rosa mulai menggoyang pinggulnya berusaha menyeimbangi goyangan Pak Angkoro

    Pak Angkoro membenamkan penisnya dalam-dalam dengan menarik pinggul Rosa kebelakang, dengan penis masih tertancap di vagina Rosa kemudian Pak Angkoro memutar pinggulnya membentuk lingkaran sehingga penis yang didalam vagina Rosa menggencet dan menggesek setiap syaraf syaraf nikmat di dinding vagina .
    “Aauh, Rosa keluar ahh” Rosa mengalami orgasme yang menyebabkan setiap otot di tubuh Rosa mengencang sehingga tubuhnya kelojotan tidak terkendali.
    “Loh Ros, kok sudah KO, belum 10 menit kok udah orgasme wah ini kalau cowok namanya edi, ejakulasi dini kalau kamu berarti menderita odi orgasme dini, ayo terusin sampai aku keluar juga “
    Pak Angkoro mengganti posisi bersenggama dengan mengangkat tubuh Rosa dan menidurkannya di meja biliard. Kemudian kaki rosa dibentangkan oleh Pak angkoro lebar-lebar dan dengan kekuatan penuh penis besar itu menerjang mendobrak pintu kewanitaan Rosa, sampai-sampai klitorisnya ikut tertarik masuk, Rosa yang masih dalam keadaan orgasme makin menggila menerima sodokan itu sehingga secara refleks rosa mencakar bahu Pak angkoro.

    “Oouchh Rosa kamu ini apa-apaan sih, kok main cakar-cakaran segala?”
    “Oouh aash sorry, abis rosa nggak tahan sih ama sodokannya Mas yang begitu perkasa” bujuk rosa agar Pak angkoro tidak marah.
    “Jangan cakar lagi ya, kalo tidak rasain ini” Pak Angkoro menggigit puting Rosa dengan lembut tapi sedikit menyakitkan.
    “Aauw nakal deh” ucap rosa sambil menggoyangkan pinggulnya sendiri agar penis Pak Angkoro tetap menggesek dinding vaginanya.

    Dalam waktu singkat Rosa yang mula-mula seorang guru telah berevolusi menjadi pelacur kelas tinggi yang benar benar profesional baik dari kebinalan maupun ucapannya, semua sudah berubah Rosa kini benar benar seorang pelacur sejati.

  • 4Bia 1: Apartment 1303 (Aura Kasih)

    4Bia 1: Apartment 1303 (Aura Kasih)


    124 views

    Ceritamaya | “Ra, congrats ya say.. tempat neduh barunya,” canda seorang wanita yang wajahnya tidak asing bagi pembaca majalah-majalah khusus pria dewasa.

    Aura dan wanita itu melakukan ‘toast’ gelas di tangan mereka, di rias dengan manis tawa keduanya. Malam ini Aura Kasih merayakan pesta di sebuah kondo tempat kediaman barunya, lantaran lagu yang dibawakannya meledak di pasaran. Ia undang seluruh kerabat dan beberapa anggota keluarga di acara special ini. Pesta berlangsung meriah meski sederhana, Aura gembira meski ada sesuatu mengganjal di hati kecilnya. Malam semakin larut, kolega beserta family pamit satu per satu.

    “Say, aku nginep dong.. temenin kamuu, yah?,” teman Aura tadi melontar tanya.

    “Boleh, but not tonight yah… ada acara khusus, hihi” jawab Aura dengan kerlingan mata genit.

    “Cie ciee.. pasti ada yang mau ehem malam ini, haha.” Keduanya tertawa, Aura langsung menggelitik pinggang teman yang meledeknya itu. “Tapi kemana Ra gacoan lo.. kok nggak kelihatan?”.

    Aura langsung menggeser slide Black berry Torch 9810 nya ke atas, “iya dia bilang lagi ada bisnis sebentar sama Om Punjabi.. terkait film layar lebar baru nya,”

    Teman Aura itu hanya ‘Oo…”. Padahal di BB-nya, Aura membaca pesan yang sudah sedari siang mengatakan kalau pria yang tengah digossipkan dekat dengannya (untuk mengaburkan opini massa bahwa kemunculannya sebagai artis bukan simpanan pejabat) akan telat hadir, dan Aura me-reply ‘tidak usah datang saja karena sudah pada pulang’. Tentu kehadiran nya memang hanya agar massa berpendapat, ‘oh ya benar kehidupan Aura sebagai artis normal.. punya pacar’, jadi percuma saja sia-sia jika tidak menghasilkan opini demikian. Ceritamaya

    “Jadi lo mau pesta sendiri niih.. ‘gak ngajak-ngajak,” ledek temannya lagi. Aura kembali menggelitik gemas pinggang temannya itu.

    “Hmm, oke deh…next time ya Ra”, wanita itu pamit cipika cipiki sekiranya cukup bersenda gurau dan beberapa temannya ikut pamitan pulang.

    Aura Kasih

    Aura Kasih

    Kehampaan mulai menyelimuti Aura. Kemewahan terkadang tak selalu mampu bahagiakan seseorang. Tanpa orang yang kita kenal dan kita sayang disekitar, semua akan terasa hambar, begitulah yang dirasa Aura kini. Aura menyibak tirai jendela, nikmati kerlap-kerlip cahaya lampu kota metropolitan yang terlihat dari kondo, membuat damai hati. Namun tiga ketukan pintu buyarkan lamunannya, jantung penyanyi seksi itu berdegup keras seketika, tahu siapa orang tersebut. Tibalah acara khusus dimaksudnya tadi, yakni pemerasan tubuh yang dilakukan supir pribadinya yang sudah berlangsung lama. . Ceklek!, pintu terbuka dengan sendirinya. Sesosok pria tua buruk rupa tersenyum begitu mesum di balik pintu, air liur lelaki tua itu meneretes ke lantai lihat sang artis ‘si seksi’ Aura Kasih membuka pintu dengan gaun minim. Namanya Rudiman, disapa Pak Rudi oleh Aura.

    “Non, giliran Bapak pesta nih he he he. Mari bercinta Non Aura, Slurp!”, mata Pak Rudi menyapu tubuh Aura dari kaki hingga ujung rambut, diakhiri jilat bibir bagai pemburu menatap mangsanya.

    Ingin Aura pergi..berlari.. lepas bebas dari siksaan birahi terbang di angkasa bagai merpati. Tapi, apakah ia mampu menolak sesuatu yang nikmat diterima tubuh? Selalu mendapat orgasme berulang dimana tiada pernah ia dapati dari produser ataupun pejabat Negara yang mem-booking? Tentu tidak jawabnya.

    ***

    “Mari bercinta denganku.. nana-nana-nananana.. ayo ikuti irama!,” Aura bernyanyi seraya melenggak-lenggok tubuh seksinya, tapi kali ini ia melakukannya bukan di atas panggung, tapi di atas kasur.. dimana Pak Rudiman tidur merebah di bawahnya. Otomatis tentu celana dalam jenis apa dan warna apa yang dikenakan Aura, Pak Rudi dapat melihat jelas. Sambil disuguhi tarian erotis Aura, Pak Rudi onani.

    “Ulang lagi Non nyanyi nya dari depan! lepas cangcut nya!,” suruh Pak Rudi dengan tatapan keras, seolah perintah itu mutlak seperti seorang atasan pada bawahan. Tidak boleh ditolak, harus dikerjakan.

    Aura hanya bisa menghela nafas, kartu As berupa foto-foto aib buatnya tak punya pilihan lain. Ia angkat naik bagian bawah gaun malam merah marun nya sedikit, hanya dengan dua jari ia tarik turun CD mini warna hitamnya, langsung melorot turun dengan sendiri dari tungkai paha sampai mata kaki lantaran kulitnya begitu licin dan halus. CD Aura mendarat tepat di atas wajah Pak Rudi karena memang selangkangannya sejajar vertical.

    “Hmhh..wangi Non cangcut nya…apalagi memeknya ya, hihihi. Hmh Hmhh,” Pak Rudi langsung menciumi CD yang ber-aromakan vagina Aura Kasih itu. “Kayak ada lendir basah-basah gini sih Non..? apa Non Aura keluar peju ya..terangsang striptis di tonton Bapak? Hak hak hak hak.” Pak Rudi terus mengejek, pipi Aura bersemu merah jambu.

    “Ngg.. nggak kok Pak, bukaan!” Aura berkilah.

    “terus apa dong.. kalo bukan peju memek? masa’ air pipis.. kecut dong? Hehehe, tapi nggak deh.. pipis Non Aura juga pasti manis hihihihi,” Pak Rudi terus membuat Aura merasa malu.

    “Ayoo eh.. joget lagi!,” hardik si tua itu dengan suara sedikit keras. Aura yang takut langsung menjalani perintah. Sambil malu-malu, Aura terus menari di atas Pak Rudi. Sesekali penyanyi seksi itu merapatkan paha lantaran vaginanya dapat terlihat jelas. Pada akhirnya, Pak Rudi memaksa Aura meregangkan lagi kedua belah kaki jenjangnya lebar-lebar. Bahkan sesekali Aura diisengi dengan bibir vaginanya disentuh atau di toel sampai Aura mendesah lirih.

    pak rudi

    Pak Rudi

    “Cukup Non! Ayo sini.. memeknya duduk di atas muka Bapak, leh leh leh hihihi,” suruh supir bejat itu sambil lidah melet-melet seakan tak sabar untuk menjilat.

    “Ahhh…Pak, Ahhhhh… emhh”. Aura keenakan di jilmek. Ia tumpu kedua telapak tangan ke belakang di perut Pak Rudi, lalu menggoyang pinggulnya. Pak Rudi jadi seperti di jejali vagina wajahnya oleh Aura. Ia tersenyum mesum di selangkangan tahu majikan seksinya sudah tenggelam dalam lautan birahi.

    “AAHHHHHH!!,” Aura mendesah keras-keras luapkan kenimatan orgasme. Pak Rudi langsung menyeruput habis cairan cinta yang mengalir keluar. Aura melejang-lejang, sementara wajah Pak Rudi semakin bahagia terbenam di selangkangannya.

    Selesai orgasme, Aura langsung ambruk rebah di atas tubuh Pak Rudi, nafasnya terengah-engah. Ia rasakan di samping pipinya persis penis Pak Rudi yang mengacung tegak. Siap mem-penetrasi liang cintanya. Puas membuat kewanitaan Aura nge-crit nge-crit, Pak Rudi kembali mengejek,

    “Enak ya Non? Hehehe keluarnya sampe begitu banget, hak hak hak hak.”.

    Aura hanya dapat diam, bahkan hingga Pak Rudi menyerang lagi dengan cumbuan Aura juga tak berbuat apa-apa. Ia pasrah total. Bagi Aura, tubuh seksi dan wajah cantiknya sudah merupakan bagian gaji supir yang harus ikhlas diberikan.

    “Non Aura dandan *Sruuup*, seksi betul malem *cup!* ini. Pasti *Sruup!*, sengaja biar Bapak *Sruuph!*, lebih..*Sruuuph!*, napsu..iya kan?”. Aura tidak menyahut, bagaimana mungkin?. Ia rebah di ranjang dengan dada diremas dan dihujani ribuan kenyotan rakus. Mana baru saja orgasme lagi.

    Tepat disampingnya ada piring kecil berisi sepotong kue sisa acara pesta. Kue itu di oles ke payudara Aura untuk di lahap disitu. Laparnya birahi Pak Rudi membuat gunung kembar Aura kemerahan oleh sebab bukan hanya dijilat dan dikenyot, tapi juga digigit kecil-kecil lantaran gemas pada toket Aura.

    “Sruuup, cep cep nyooot…nyoot Ahhh….pas susunya, huak hak hak”, bandot itu senang bukan main berkuasa atas dada montok majikan ngetop.

    Disingkapnya bagian bawah gaun malam Aura untuk mengoles kue ke paha dan vagina. Aura mencakar pundak Pak Rudi karena jari tengah bajingan tua itu mengobok-obok lubang vaginanya, vagina pun kembali banjir seketika.

    “Hmmhh… wangi memeknya kemana-mana… memek artis sih ya..beda hihihihi,” ejek Pak Rudi.

    Aura tambahan menggeliat berdesis nikmat ketika kue yang merata di paha putihnya di jilat habis. “Leep, Ahhh…enyak enyak! Paha mulus rasa coklat, hak hak hak,” Aura terus di-lecehi.

    “Whuaa.. ketemu lagi sama memek Non Aura. Kali ini ditambah coklat, hihihihi.”, Pak Rudi membuka lebar mulut persis di depan vagina Aura

    Aura cuma menggeleng kepala maksudnya tidak,

    “Aaa..” Pak Rudi meledek, sengaja belum melahap vagina mungil Aura yang sudah pasrah jika di jilmek, “Aam..emm.. gurih-gurih manis! hihihi, Slurp! Slurp! Shrrrrrrp!,” Aura melepas erangan seksi sekeras mungkin sambil menjambak rambut kaya uban Pak Rudi. Siksaan birahi yang dilancarkan lelaki tua itu begitu dahsyat.

    Aura lagi-lagi kena jilmek penuh nafsu, sampai-sampai ia merasa kewanitaannya hilang, habis di mangsa. Cairan cinta Aura membludak keluar vagina tak terbendung oleh sebab orgasme. Pak Rudi tertawa cekikikan lihat Aura blingsatan lagi, lantas ia menggoda, “Yaah.. dia keluar lagii. Non Aura bener-bener suka ya di jilatin memeknya? Ayo ngakuu..hihihi, Bapak juga suka sama memek Non kok.. Hmhh, cup.cup, Sluuurp! Shrrrrrp!”.

    Pak Rudiman menyeruput juice vagina Aura Kasih hingga hanya tersisa bercak ludah di sekitar vagina. Masih belum cukup, tubuh Aura dibalik telungkup. Bagian belakang terbuka Aura itu di olesi juga oleh Pak Rudi dengan kue mulai dari punggung, pantat, paha hingga betis dan menjilati bagian tersebut hingga mengkilap air liur.

    Begitu bernafsu Pak Rudi pada pelantun lagu ‘Mari Bercinta’ tersebut. Piring kue kosong lantaran kue habis. Lidahnya melaksanakan tugas bersih-bersih dengan baik, bagai induk kucing memandikan anaknya. Aura menggelinjang diperlakuan demikian, seolah tubuhnya begitu di inginkan untuk dinikmati. Pak Rudi sengaja berlama-lama menyerang bagian belakang Aura tersebut. Vagina Aura juga kembali kena sasaran jilat lidah dari belakang karenanya, membuat gairah Aura cepat kembali naik.

    “Cup.Ahhh.. waktunya ngentot Non Aura, ayo nungging! memeknya Bapak mau sodok dari belakang ‘Plak!,’ heh heh,” Pak Rudi memerintah Aura seperti pelacur yang di beli-nya saja.

    Aura yang sudah terangsang pasrah diseret ke tepi ranjang. Pinggul seksinya diangkat tinggi-tinggi. Dua detik kemudian, Aura merasa belahan kemaluan nya digesek kepala penis. Ia menggoyang pinggul seraya berkata,

    “emh, Pak.. cukup! jangan permainkan aku!.” Pak Rudi tersenyum menang mendengar itu, jelas bahwa Aura sudah dalam genggaman.

    Gerbang surga Aura di rentang lebar-lebar Pak Rudi. Aura meremas sprei menanti detik-detik penis Pak Rudi membelah vaginanya, ‘slep..! slep..! slep..!’ perlahan namun pasti, penis Pak Rudi menyeruak masuk vagina. Tiba-tiba saja ‘JLEBB!,’

    “AHH.. nggh!!,” Aura mengerang.

    Dengan iseng Pak Rudi menyodokkan sisa batang penis ke vagina Aura Kasih hingga mentok, tertancap mantap dalam-dalam.

    “Oooookh… memek artis emang.hgh.. bedaa! ohhh.. ohh.enak! sempit!”, wajah Pak Rudi minta ampun jeleknya menikmati jepitan vagina awal persenggamaannya dengan sang artis, Aura Kasih. Ia cengkram erat pinggang Aura, lalu bergerak brutal hingga tubuh Aura dibuat terpental-pental karenanya. Erangan, desahan dan lenguhan mereka berdua membahana di kamar kondo yang cukup luas tersebut.

    Pak Rudi berjongkok setengah berdiri di ranjang, dengan ini dia melanjut entotan. Posisi ini buat dirinya serasa berkuasa dan gagah dalam menyenggamai Aura, buahkan erangan nikmat bersuara lantang bagi Aura berkali-kali oleh sebab penis menyodok over dalam. Pantat Aura yang nungging menantang semakin lama semakin rendah karena terus dihujam, sampai akhirnya harus telungkup. Namun demikian, insting wanita buat Aura tetap angkat pinggul menyambut sodokan. Suara tepukan pantat sekal dan biji zakar terdengar kencang sekali. Aura menggigit bantal dan menarik sprei hingga kusut. Sama seperti kusut rambutnya, wajahnya dan vagina-nya. Kepala Aura bergeleng ke kanan dan kiri, rambutnya kian awut-awutan, peluh membuat kulit putihnya mengkilap. Keadaannya demikian seksi, jika saja Pak Rudi tidak menenggak jamu pria, tentu spema nya sudah muncrat dari tadi. Pak Rudi menjambak rambut panjang Aura. Racauannya jorok, sodokan-sodokannya kasar terhunus dalam di penghujung ejakulasi. Suara menggeram-nya kian lama kian keras. Aura merasakan penis lelaki tua yang tertancap ketat vaginanya itu semakin keras dan berkedut seakan tak lama lagi mau muncrat. Aura terhentak ke belakang, rambutnya ditarik hingga kepalanya terdongak ke atas. CROOT!!!. Pak Rudi sampai pada klimaksnya. Dia kelojotan menikmati tiap semburan air mani yang memancar di vagina Aura Kasih. Aura mendesah panjang bukan orgasme dari persetubuhan, melainkan sebuah kepasrahan total. Perkosaan yang tak mampu ditolaknya, malah dinikmatinya. Liang senggama artis-nya yang mahal dan berharga, yang tidak sembarang orang dapat merasakan, dinikmati cuma-cuma oleh Pak Rudiman supir-nya, bertubi-tubi ditembaki mani hingga mani meluap keluar seusainya. Pak Rudi tersenyum puas lalu ambruk di ranjang menindih Aura setelah kecrotan sperma selesai. Aura merasa ngilu sekali di selangkangan lantaran liang-nya lama di gali penis yang suka dengannya. Ia hampir terlelap kelelahan melayani nafsu gila supirnya itu, dengan mata kriyep-kriyep, terdengar kata-kata bandot itu,

    “memek Non Aura enak banget, Bapak ketagihan nih… jangan tidur dulu Non! Bapak kepengen ngentot lagi.”.

    -# #-

    aura

    aura

    Mata Aura terbuka sedikit demi sedikit, siuman karena wajahnya diciprati air. Ia ketahui dirinya telanjang bulat di bath tub sekarang, dimana Pak Rudi berdiri di sebelahnya juga tanpa busana dan tersenyum mesum ke arahnya.

     “Non Aura, Bapak mandiin ya?,” kata Pak Rudi seraya memutar keran shower.

    Aura yang tadinya merasa lemah lesu tak bertenaga, menjadi kembali segar oleh guyuran air. Lekuk-lekuk tubuhnya yang bak gitar Spanyol berkulit putih, bertambah seksi dengan adanya butiran-butiran air melekat.

    “Tetek nya Non montok banget, soy asooy…”, Pak Rudi meremas-remas payudara Aura dengan gemas.

    Tangan hitamnya mengembara di ‘Gunung’ kembar besar nan kenyal Aura, Aura berdehem-dehem menahan gerayangan Pak Rudi setengah hati. Puting Aura mencuat ke atas tanda ia menikmati toketnya di jajah tangan brengsek supirnya.

    “Oooh.. Paak.. sudah Paak!,” pinta Aura lirih ketika putingnya menjadi korban puntiran.

    Pak Rudi malah kian gemas, ditariknya puting Aura keras-keras ke atas hingga Aura pun mendesah lantang lantaran daerah super sensitive wanita-nya itu diperlakukan demikian. Aura menghempas ke samping kedua tangan, ia merasa percuma menahan aksi tangan supirnya yang bernafsu bejat. Dadanya membusung, pasrah ikuti kemana puting di tarik dijadikan objek mainan. Pak Rudi terkekeh lihat kepasrahan Aura yang dikerjainya hanya diam dan menikmati. Mulut Pak Rudi terbuka lebar,

    “Hap!”, toket Aura tertangkap.

    Dada montok Aura dikenyotnya habis-habisan seolah ingin ditelan saja. Aura menggelinjang tak karuan, kakinya grasah-grusuh dalam bath tub. Kepala Pak Rudi membenam di antara kedua gunung salju Aura. Digesek-gesek ke pipi seolah massage saja. Puas memainkan payudara Aura ke wajah, Pak Rudi kembali berdiri. Aura menatap supirnya itu begitu gagah, seakan ia berada dalam kendali. Penis Pak Rudi yang mengacung salah satu penyebabnya.

    “Kocokin pake’ toket Non!!”, suruh Pak Rudi semena-mena.

    Aura segera menjalankan perintah, ia jepit dan kocok penis dengan payudaranya. Pak Rudi keenakan, sesekali ia dorong kepala Aura ke penis minta di cium atau di jilat. Tak tahan dengan kenyalnya toket, enak oral dan seksinya ekspresi Aura, Pak Rudiman menggeram laksana kerbau jantan, “CROOOT!! CROTT!! CROOTTT!!,” air mani nya bermuncratan. Cairan putih pekat melekat penuhi sekujur wajah Aura. Pak Rudi tertawa puas melihat wajah Aura Kasih belepotan sperma nya. Sesudah itu Aura di mandikan. Khusus malam ini Pak Rudi tidak pulang ke kontrakan. Sepanjang malam hingga pagi Aura ia setubuhi.

    ***

    Keesokan harinya.

    “Mari, ber.U-huk.uhuk.uhuk !”, Aura terbatuk ketika sedang warm out sing. Seorang pria tampan berpakaian formal mendekati dirinya.

    “Kenapa kamu?”.

    “Nggak, gapapa…lagi serek aja, kemaren sempet flue dikit terus pilek…gini deh jadinya” kilah Aura beralasan, pria itu hanya balik menasehati Aura untuk beristirahat yang cukup dan menjaga kondisi.

    Padahal bukan itu yang menjadi sebab. Dalam perjalanan menuju studio latihan, Pak Rudi menyuruh Aura ‘karaoke’ dan menenggak maninya. Bagaimana tidak membuat rusak pita suara? serak saja sudah syukur. Sperma masih menyisa di langit-langit mulut, dan Pak Rudi melarang keras Aura minum. Ia ingin Aura bernyanyi dengan sperma di kerongkongan. Sambil duduk di kursi bulat berputar, Aura meneruskan nyanyi semampunya.

    aura

    aura

    “Ok, cukup latihannya !”, pria tadi yang merupakan Manager Aura langsung meng-awali tepuk tangan.

    Semua orang yang cukup banyak ada disitu menyambut ajakan tersebut agar Aura terhibur. Aura membalas dengan senyum manis, tahu kalau itu hanya untuk buatnya tetap semangat.

    “Ra, kalau gitu aku duluan ke Bandung ngatur tempat konser ya. Kamu nyusul malam ini kan?”, pria itu mengingatkan Aura akan jadwal kegiatannya.

    “Bandung?”.

    “Lho, lupa?. Itu, ada perusahaan pembuat baju yang ingin menggunakan kamu sebagai model. Mereka menggelar acara dimana kamu konser di dalamnya. Yaah.. konser kecil-kecilan.. tapi fee dari mereka lumayan besar!”.

    “Ooh, iya yah. Maaf Ka’, akhir-akhir ini aku banyak masalah, jadi suka nggak konsen,” keluh Aura, dengan masalah yang dimaksud adalah pergolakan batin antara menikmati pemerasan seksual Pak Rudi atau melaporkan hal tesebut, dengan konsekuensi aib terbuka ke muka umum.

    “Masalah apa sih ?. Kamu belum cerita nih kayaknya”.

    “Engg.. Nggak, gak usah. Disana aja deh.. ‘ntar”.

    “Ok deh, janji ya.. kamu bakal cerita”.

    “Iya janji. Jadii, aku ke Hotel ***** dulu ya kalo nggak salah. Baru besok paginya baru breaving di tempat konser ?”.

    “Sip, nah itu inget. Kamu istirahat aja dulu. Aku udah booking tempat yang privacy kok disana, jadi kamu bisa *ehem* sama yayang kamu hihihi”.

    “Iih, nggak lah… katanya dia lagi ada jadwal syuting. Jadi ‘gak bisa nemenin aku, sebel deh” keluh Aura manja.

    “Hahaha, kasihan yang bakal kedinginan. Ok deh, aku tunggu disana ya.. bye”. (Dingin ? ‘gak mungkin… Pak Rudi !?), Aura membatin.

    Ia berjalan menuju mobil operasional keartisannya. Dimana telah menunggu Pak Rudi si supir cabul yang siap membukakan pintu. Melihat parkiran sepi, saat Aura lewat hendak duduk, sempat-sempatnya Pak Rudi menepuk pantat. Kontan Aura merengut kesal. Pak Rudi tertawa lihat Aura tak berdaya dipermainkan olehnya. Di dalam mobil juga, masih saja melontarkan pertanyaan berbentuk pelecehan.

    “Gimana Non suaranya, tambah merdu?”.

    “Jangan gitu lagi ah Pak! latihan-ku jadi berantakan”.

    “Huak hak hak hak. Maap Non, iya deh lain kali ‘ndak”. Sambil berbincang, tangan Pak Rudi ikut ‘berbincang’. Sepanjang jalan, Aura habis digerayang.

    Mereka tiba menjelang maghrib. Aura membuka pintu kamar dan berbenah di dalam. Pakaian sudah rapih, namun dirinya yang perlu dibenahi lantaran Pak Rudi datang mengacak-acak. Berulang kali Aura katakan bahwa ia perlu istirahat, namun Pak Rudi masa bodoh. Nafsunya seakan tak pernah habis. Melihat Aura berpakaian lengkap saja ‘Rudi junior’ bangun, apalagi tanpa busana, jadilah Aura disetubuhi terus menerus.

    “Bapak tunggu di bawah ya Non, makasih memeknya huak hak hak hak” tawa Pak Rudi, menutup reseleting celana dengan ekspresi puas, setelah tabungan sperma habis di transfer ke rekening (memek) Aura. Meninggalkan Aura di ranjang telanjang bulat dengan vagina menganga penuh sperma.

    Baca Juga : Jurang Cinta

    Ternyata waktu konser, tak ada ruang bagi Pak Rudi untuk dapat setubuhi Aura. Hanya dalam perjalanan saja, itupun cuma oral seks. Disana Aura disibuki fans yang minta tanda tangan dan foto bersama. Sang manager pun selalu mengawal kemana Aura pergi, Pak Rudi pun berakhir hanya dengan onani. Sepulang dari konser seminggu di Bandung, tiba di Jakarta, Pak Rudi langsung todong Aura punya memek. Aura kesal namun tak berdaya. Kesal lantaran tubuh malah menikmati perkosaan bukannya menolak. Sementara Pak Rudi tertawa keras keluar kamar apartemen dengan ekspresi puas, puas melampiaskan nafsu binatang-nya yang sempat tertahan beberapa waktu.

    ***

    aura

    aura

     Ting !, pintu lift membuka.

    “Met malem Neng Aura yang cantik, mau kemana nih.. seksi betul?,” sapa satpam yang menjaga pintu utama Apartemen.

    “Oh, biasa… Dinner with someone,” sahut Aura tersenyum tipis, senyum dan jawaban yang menyembunyikan suatu hal.

    “Boleh ikut ‘gak? hehehe”.

    “Gak boleh hihihi”, mereka bersenda gurau. “Ya udah mas, ditungguin nih. Daah…”.

    “Oh iya Neng, sejak balik dari luar kota.. di atas nemuin kejadian aneh nggak?”.

    “Nggak tuh, ada apa emangnya?”.

    “Oo, ya sudah bagus deh.”

    “Ada apa sih Mas?”

    “Nggak. Ituuu… anuu…”.

    “Anu, anu apa?”.

    “Tapi si Neng jangan takut ya? nanti pindah lagi…”.

    “Pindah apa maksudnya.. nggak deh, apaan sih? Cepat dong.. jangan bikin penasaran!.”.

    “Saya sebenernya disuruh tutup mulut sama Bos ke semua orang, khususnya artis-artis yang ada disini! takut pada berubah pikiran!” si satpam berbisik.

    “Nggak kok, janji deh…”, kata Aura penasaran.

    “Ya udah, gini ceritanya. Jadi.. selang dua hari Neng pergi keluar kota, tetangga seberang kiri kamar Mbak persis, kamar no. 213.. penghuni nya meninggal secara misterius”.

    “Misterius..?? misterius gimana?”.

    “Posisi matinya tidak normal. Duduk di lantai tapi seperti orang dikejar sesuatu, kepalanya menoleh hingga patah, ekspresi mukanya ketakutan. Hiiy, serem deh pokoknya,” bulu kuduk Aura serentak bangun mendengar cerita yang di utarakan.

    “Yaah, mas nakutin aja deh”, Aura meremas baju si penjaga Apartemen.

    “Naah.. Neng udah janji ya, ‘gak bakal pindah meski saya cerita. Yang lebih menakutkan lagi”, tiba-tiba HP Aura berdering. Ia melihat nick ‘Supir maniak seks’ di layar, langsung saja pergi tanpa pamit. “Neeng, masih ada lagii…”, sayang suara itu di telan bumi. Pesan penting tersebut justru tidak sampai ke telinga Aura.

    Di perjalanan, jantung Aura masih berdegup kencang. Pak Rudi melihat sesuatu yang lain dari majikannya.

    “Ada apa Non seksi?” kok sepertinya tegang? Hmm,” Aura diam sejenak, menarik nafas lalu bercerita apa yang di dengarnya tadi.

    Reaksi Pak Rudi hanya ‘Oo… ‘ndak usah takut, kan ada Bapak hehehe” katanya sok, tangannya beraksi meremas payudara Aura setelah mengoper gigi.

    Ketika lampu lalu lintas merah, payudara montok Aura disambar mulut rakus toket itu, meninggalkan jejak liur di sekujur dada. Jika lampu hijau, payudara jadi mainan jari tangan.

    “Paak, emhh..kalo gitu Ahhh…mulai malam ini, ssh..Bapak ssh..nginep aja di apartemen ya? temanin aku. Nggak usah pulang!”. Kontan Pak Rudi tertawa keras mendengarnya, merasa Aura betul-betul sudah dalam kekuasaan, langsung meninggikan hidung serasa dibutuhkan.

    “Bisa..bisa..bisa… Baik Non, *ehem* tapii.. syaratnya,” *Sreet*, Pak Rudi menarik turun resleting celana, setelah meminggirkan mobil parkir di tempat sepi. “isep kontol Bapak.. terus kalo keluar, telan peju nya, ayo!,” suruhnya sambil melipat kedua tangan bergaya angkuh.

    Wajah Aura layu mendengarnya, lagi-lagi seks. Ia hanya pasrah saat Pak Rudi mendorong kepalanya minta penis dimanjakan mulut. Aura menggesek bibir sensualnya ke penis Pak Rudi berulang kali. Membuat Pak Rudi melenguh-lenguh keenakan. Selagi lidahnya mengitari kepala penis di dalam mulut, Aura dikagetkan dengan, Croot! Crott!, semprotan cairan kental menyembur deras dalam jumlah banyak. Cairan itu langsung ditelannya agar tidak terasa mual terlalu lama di mulut. Malam itu Aura tidaklah dinner di suatu tempat yang elegan bersama sang kekasih maupun Manajemen artis. Melainkan dengan Pak Rudiman si supir cabul. Ia diajak makan nasi goreng gerobak murahan sambil ‘petting’ di mobil yang berlokasi di pinggir sebuah pantai. Sambil menunggu pesanan matang, Pak Rudi menarik lepas celana dalam Aura. Dengan begitu memek Aura bisa dikobelnya habis-habisan. Selesai makan, ia jilati klitoris Aura sampai vaginanya banjir lendir. Lalu digenjot vagina legit Aura itu hingga lubangnya menganga penuh sperma. Sepulang bermain mobil goyang, semalaman Pak Rudi memakai liang vagina Aura berkali-kali, Aura sampai pingsan beberapa kali.

    ***

    Hari demi hari berlalu. Dari pagi hingga malam hidup Aura normal layaknya artis. Tapi ketika menginjak tengah malam, Aura berubah menjadi budak seks. Ia diperlakukan tak lebih dari tempat pelampiasan nafsu bejat. Tiap ada kesempatan, Pak Rudi selalu ‘setor tunai’ sperma ke vagina Aura. Diakhiri tawa gila, tawa puas karena lega. Suatu sore menjelang Maghrib, seusai melampiaskan nafsu binatangnya pada Aura, Pak Rudi ke lantai bawah hendak menghirup udara senja ditemani sebatang rokok. Semilir angin berhembus menerpa wajahnya, ‘Wuuussh !’.

    “Pak, Paak…  mampir kesini Paak”, sebuah suara menyapa dengan lembut.

    Mata Pak Rudi melihat seorang gadis muda sebaya Aura di kamar sebelah. Gadis itu sangatlah cantik, pantas jika disetarakan artis atau foto model. Pak Rudi tergoda atas panggilan tersebut, lantas menghampirinya. Si gadis masuk ke dalam, meninggalkan jejak pintu sedikit terbuka. Pak Rudi melongok sedikit, sejenak ia merasa aneh. Kamar si gadis terang namun pengap, baunya pun tak sedap. Baru masuk dua langkah ke dalam, gagang pintu memutar dan pintu menutup dengan sendirinya. Lampu mati, ruangan berubah menjadi gelap dimana ia terkunci di dalamnya. Pak Rudi panik, ia menekan tombol saklar lampu berulang kali, “Ctak! Ctek! Ctak! Ctek!”, namun lampu tak kunjung menyala.

    Di dekat jendela, ada bayangan hitam fisik wanita berambut panjang. Bau anyir darah memenuhi ruangan tersebut.

     “Neng, jangan becanda ah.. Bapak mau keluar nih”, Pak Rudi memutar gagang pintu namun tak bisa terbuka.

    “Kok cepet-cepet Paaak?. Kalo di sebelah.. la-maaa”, Pak Rudi kaget mendengarnya, darimana gadis itu tahu ?, pikirnya.

    “Maksud si Neng ?”.

    “Saya tahu lho Pak, apa-apa yang terjadi di seluruh tempat iniii..”.

    “……….”, Pak Rudi diam membisu.

    okta

    sang sosok misterius

    “Uwaaaaaa.. Se-se.. se.. Setaaaaaan!!!!”.“Bapak tampaknya suka yaaa.. menyetubuhi wanita tak berdaya?. Kalau begituu, sama saya aja Pak”, tiba-tiba lampu menyala, gadis itu menampakan diri dengan fisik menyeramkan berposisi anjing.

     Rambutnya acak-acakan berujung runcing. Kulitnya hitam, baju compang-camping, bau kotoran dan giginya bertaring. Pak Rudi lemas tak bertenaga, kakinya serasa tak bertulang. Ia jatuh terduduk, makhluk tersebut mendekat. Pak Rudi merangkak dengan sisa tenaga yang ada, perjuangan untuk dapat terus hidup. Makhluk itu seperti sengaja membiarkan Pak Rudi menuju balkon. Tapi tiba-tiba makhluk tersebut bergerak cepat menyulutkan teror. “HRRRGH *Dap-dap-dap*, HRRRGGGH *Dap-dap-dap*”.

    “Uwaaaaaaa… tol.. tol.. ongh”, Pak Rudi terkejut kehabisan nafas, suaranya lemah bertatapan jarak dekat dengan makhluk tersebut. Sang makhluk memamerkan taring nya. Pak Rudi yang sudah sangat takut mengeluarkan tenaga extra, bangkit dan lari secepat kilat. Malang, ia lupa bahwa pintu yang dibukanya adalah pintu menuju balkon.

    “Oi-oi-oi,” suara seorang pria yang ada di balkon entah kenapa dan sejak kapan berada disitu. BRAK!! mereka bertabrakan. “WAAAAAAAAAAAAAAA…!!!”.

    GABRUK!!!. Pak Rudi dan orang yang ditabraknya jatuh dari ketinggian. Pak Rudi menimpa seseorang yang baru keluar dari Apartemen, yang ditabrak Pak Rudi menimpa sebuah mobil. 4 orang meninggal di tempat.

    ***

    Tok!, tok!, tok!. “Spadaa… permisiii…”.

    “Iya sebentar.. siapa ya?”, Aura menguap karena sempat terlelap sehabis melayani nafsu gila Pak Rudi.

    Ia terkejut setelah tahu orang yang mengetuk pintu pria berseragam Polisi.

    “Maaf mengganggu, kami dari kepolisian.. apakah Saudari mengenal Bapak Rudi?”, seketika rasa kantuk Aura hilang. “ada apa ya Pak?”.

    Pihak kepolisian menjelaskan yang terjadi, bersama mereka pergi ke bawah. “Kyaaaaa!,” reaksi Aura saat melihat mayat Pak Rudi, yang lebih membingungkan bukan hanya Pak Rudi, tapi ada 3 orang pria tua bertampang mesum lain yang menjadi korban, serta 3 orang selebritis yang tengah di wawancara polisi lantaran terlibat kenal dengan si korban. Ceritamaya

    ***

    Seminggu berlalu.

    Aura mengunci pintu kamarnya, bulat untuk angkat kaki pindah ke apartemen lain.

    “Mau  kemana Mbaaak?”.

    “Eh, kaget aku.. ituu, aku mau.. pindah”.

    “Nggak betah ya.. tinggal disinii?”.

    “Oh.. nggak sih. Cuma itu aja, setelah kejadian kemarin.. aku jadi sering mimpi buruk gitu, kurang nyaman disini sendiri”.

    “Lho, khan saya selalu nemenin Mbak. Saya pikir kejadian itu bisa bantu kesulitan Mbak selama inii”, Aura kaget mendengarnya, apa maksud wanita dihadapannya itu.

    Aura menyunggingkan senyum, tanpa curiga ia mengajaknya berjabat tangan. “Oh ya.. aku belum tahu nama kamu, Aura”. Gadis berwajah pucat itu menyambut, “Oktaa… Oktariny,” Aura merasa tangan si gadis dingin seperti mayat.

    Selepas berjabat tangan, Aura merasa tiba-tiba raut wajah si gadis terlihat marah melihat ke belakangnya, dan saat itu juga seseorang menepuk bahu Aura dari belakang. “Neng Aura… ayo turun!”.

    “Eh.. Mas Johan.. iya Mas sebentar. Aku lagi ngobrol samaa…”, kata-kata Aura terputus, gadis yang bersamanya barusan menghilang begitu saja.

    “Lhoo.. kok?”. Aura keheranan.

    “Ayo Neng lekas!,” satpam penjaga Apartemen yang bernama Johan itu menarik Aura ke dalam lift.

    “Kemana ya tuh cewek? pergi begitu aja.. nggak sopan, nggak jelas!,” Aura mengeluh.

    “si Neng lagi ngapain?”.

    “Aku..? ya ngobrolah.. kenalan tadi sama cewek sebelah, eh.. terus tahu-tahu dia ngilang pergi gitu aja nggak pake’ pamitan!”.

    “Neng, waktu itu cerita saya belum selesai lho.”

    “Cerita yang mana?”.

    “Yang di seberang kamar Mbak mati misterius itu..”. Mereka berbincang, sementara lift terus turun ke lantai bawah, diselang satu dua orang berlalu lalang keluar masuk elevator. Hingga tinggal mereka saja berdua.

    “Oh.. terus, ada cerita apa lagi?”.

    “Sehari setelah pria di seberang kamar Neng diketemukan meninggal, wanita muda di kamar sebelah Neng juga diketemukan meninggal.. mati bunuh diri. Posisi tubuhnya nungging seperti anjing lagi minum, mulutnya nyatu di piring susu anjing piaraannya. Di dalam mulutnya masih tersisa makanan anjing.”.

    Aura lemas mendengarnya, “dan yang lebih menyeramkan lagi.. ternyata umur kematian mayat si wanita muda lebih dulu meninggal daripada laki-laki yang ditemukan pertama.”.

     “Kok bisa ya? kenapa?”.

    “Dari gossip yang beredar.. dia itu foto model amatir, menjajaki karier dengan jalan jadi simpanan salah satu pejabat. Nah pejabat itu yang nyewain dia tinggal di Apartemen ini, tapi sayangnya dia selingkuh. Ketahuan suka bawa pacar, jadi dia dikasih waktu 1 bulan untuk pergi dari Apartemen ini disuruh pulang kampung. Otomatis tuh cewek stress lantaran karir-nya ‘Tamat’. Dua minggu sebelum dia mati persis orang gila, saya lihat dia begitu itu.. merangkak seperti anjing, meninggalnya pun berposisi anjing. Namanya Ok.. Ok.. Ok..”.

    “OKTARINY!” sahut Aura cekatan.

    “Ok.. Ok.. Ok.. Ok.. Ok..”.

    “Mas..Mas Johan kenapa? Maas.. jangan bikin takut ah!”, Aura bertanya karena melihat ada sesuatu yang tidak beres pada diri si satpam penjaga Apartemen. Tiba-tiba ada suara di belakang Aura.

    “Nyebut namaku.. berarti manggil akuu…”, Makhluk itu ternyata ada di dalam lift.

    “UWAAAAAAAAAAAAAAAA…!!!”, Aura dan Johan teriak bersamaan.

    okta

    Oktariny

    ***

    Ting!, pintu lift membuka. Johan tergeletak tak bernyawa di sudutan. Aura keluar dari sana, berjalan dengan senyum, senyuman yang tak biasa, senyum Aura dan…Oktariny.

  • 6 jam Bercinta Di Kota Bogor

    6 jam Bercinta Di Kota Bogor


    128 views

    Cerita Maya | Awalnya begini, waktu itu sekitar bulan Februari 2010, saya ingin mengunjungi teman lama saya di Bogor dengan kendaraan umum, saya sampai di kota yang menurut saya banyak menyimpan kenangan di masa lalu, sebab saya pernah merasakan kesegaran udara kota ini sekian tahun yang lalu. Oh ya, saya sekarang berumur 33 tahun, umur yang hampir matang dan saya pernah mengenyam pendidikan di kota ini selama hampir 6 tahun.

    Cerita Sex 6 jam Bercinta Di Kota Bogor

    6 jam Bercinta Di Kota Bogor

    Sampai di Bogor saya bingung ingin kemana dulu sebab setelah sampai, ada rasa rindu di dada untuk mengetahui lebih lama tentang perubahan kota ini. Setelah berkeliling Kebun Raya saya merasa penat, akhirnya saya mampir ke pusat jajan di Mal Pasar Bogor. Pikiran saya menerawang jauh ke masa lalu, sambil berjalan saya mengamati banyak orang lalu lalang di sekitar mal tersebut.Dalam hati mudah-mudahan ketemu teman, jadi kan enak bisa ada yang temani. Ketika saya menuju sebuah tempat duduk di pusat jajan saya berpapasan dengan seorang wanita, yah sekitar 25 tahun dengan berpakaian rapi seperti karyawati umumnya. Dengan tersenyum saya menyapa, “Hai,” masalahnya wanita itu telah tersenyum duluan dengan saya.

    Perlu diketahui saya memang kuper bila berhadapan dengan wanita, saya tidak berani bicara dahulu tanpa didahului.“Rasanya saya pernah kenal dengan.. Mas..”Wah saya dipanggil “Mas”, tapi tidak apa deh, dengan senyum lagi saya jawab,“Dimana..”Dengan sedikit basa-basi akhirnya saya perkenalkan diri saya dan saya ajak makan bersama, kebenaran saya sedang lapar, eh dia juga mau.

    Sambil menikmati makanan, saya banyak diam sebab saya takut, jangan-jangan saya dijebak oleh sesuatu yang saya tidak tahu kemudian saya diperas, pikiran tersebut selalu menghantui saya.Tapi lama-kelamaan saya mulai memahami situasi. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Nadia yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi.Dengan sedikit berhati-hati saya memberanikan diri untuk mengajak Nadia untuk beristirahat, sebab dari pembicaraan antara saya dengan dia saya simpulkan Nadia juga sedang sumpek pikirannya, dia sedang mencari luapan emosi yang mendera di hatinya. Dengan sedikit halus Nadia menolak ajakan saya, sebab katanya dia takut saya berbuat jahat. Wah pikirannya sama dengan saya. Terus saya pikir lagi, mungkin wanita ini perempuan yang tidak benar (maaf.. WTS), tidak tahunya wanita benar-benar wanita karier, tapi belum menemukan karier yang jelas.Dari gaya bicaranya Nadia suka dengan saya, kemudian saya melanjutkan lagi diskusi sampai hampir sejam lebih. Cerita Maya

    Dengan sedikit ragu saya ajak kembali, akhirnya dengan senyum dia menyetujui tapi dengan syarat, katanya bahwa saya jangan macam-macam. Wah saya jadi gemetar, tapi naluri seorang laki-laki normal saya katakan, saya tidak akan macam-macam apabila dia tidak mecam-macam juga.Oke, sepakat kami menuju sebuah tempat di daerah pinggiran kota Bogor, tempatnya mendukung untuk sepasang yang sedang gundah gulana untuk mengemukakan perasaan yang lebih jauh. Saya pesan sebuah ruangan paviliun yang terdiri dari kamar mandi, kamar tidur dan ada teras di dalam dengan nuansa alami. Yah di situlah saya melanjutkan kisah cerita dari hati ke hati.

    Saya mendengarkan dengan sabar tapi sesekali saya berikan pandangan yang luas tentang arti hidup, mamang kata teman-teman saya, saya dapat memberikan rasa nyaman bila bicara, itu kata teman-teman saya (khususnya yang wanita) saya sendiri tidak merasa demikian, wah GR nih.Kurang lebih setengah jam berlalu tanpa saya duga sambil bercerita Nadia menangis sambil merapatkan kepalanya di lengan saya, wah saya jadi gerogi tapi saya tahan untuk terus memberikan dorongan moril. Tapi sekali lagi sebagai laki-laki normal saya tidak bisa menahan gejolak kelaki-lakian saya, saya usap rambutnya sambil membelai-belai, tak lama kemudian tangisnya reda. Kami saling berpandangan sekian detik.Detik selanjutnya Nadia memeluk erat tubuh saya, wah saya semakin tidak karuan dibuatnya.

    Dengan bisikan halus saya mengingatkan jangan macam-macam, terus Nadia malah mempererat pelukannya dan berkata sepertinya kami memang sudah macam-macam, wah tantangan nih saya pikir. Saya balas pelukannya dengan sedikit perlahan-lahan dan saya kecup keningnya, dengan refleks Nadia mencium bibir saya, yah saya layani dengan sedikit hati-hati, saya takut hatinya masih rapuh dan terbawa emosi saja.Semakin lama ciuman kami semakin panas, saya mulai melakukan aksi menjalankan kewajiban sebagai seorang Bani Adam memberikan kenikmatan kepada seorang Bani Hawa. Dengan pasrah dibiarkannya buah dadanya saya usap-usap terus saya remas dengan sepenuh perasaan.

    Baca Juga Cerita Seks Tante Rahayu Membuatku Nafsu Birahi

    Sedikit demi sedikit saya lepaskan baju kerjanya yang terdiri dari beberapa kancing. Akhirnya terlepas sudah baju dengan tangan kanan saya letakkan di atas meja sedang tangan kiri terus bergerilia antara “Gunung Sahari” hingga ke “Gunung Agung”.Sementara lidah kami terus bergelora saling melilit sesamanya. Semakin ganas saja rupanya tanpa sedikit sabar kameja saya direnggutnya, saya maklum gelora nafsunya semakin naik, dia lepaskan bibirnya kemudian menjilat-jilat leher saya. Wah saya tidak tinggal diam, saya telusuri dengan lidah di balik telinga terus merayap ke leher dengan sedikit gigitan kecil, lalu saya kulum ujung payudaranya yang sedikit kecoklatan, semakin mengejang payudaranya.Saya gigit-gigit kecil, “Ahh.. hh.. Mass.. tekann teruss..”Tanpa saya sia-siakan, saya gotong tubuh setengah bugil ke atas tempat tidur dan saya rebahkan, kemudian saya lepas roknya, terlihatlah seonggok daging yang masih terlapisi sehelai bahan tipis yang tembus pandang. Saya terpana sejenak dengan pemandangan yang sangat indah yang susah dilukiskan dengan kata-kata. Terus saya buka perlahan-lahan sambil saya jilati dari pangkal paha sampai ujung kaki, saya buat Nadia seperti mimpi. Tanpa saya perintah celana panjang saya dilepasnya hingga CD saya pun dilepaskan.Wah “adik” saya itu rupanya sudah menggeliat dengan sangat elegans.

    Diusapnya dengan belaian halus sambil sesekali dipijit, “Aahh.. ahh,” saya melenguh semakin nafsu. Tiba-tiba dihisapnya ujung batang kemaluan saya, “Aahh.. ahh.. jangann!” dengan reflek saya angkat kepalanya, saya memang belum pernah dihisap kemaluan saya oleh siapapun. Saya takut kena penyakit, kata orang-orang pintar.Tapi tindakan saya malah membuat matanya semakin syahdu, liar, nafsu, campur aduk. Ditepisnya tangan saya, dikulumnya lagi sambil bergerak maju mundur. Pikir saya, biarin deh saya yakin dia wanita bersih. Saya merasakan dunia ini berputar, “Nikmatt.. ahh.. ahh terus yang kencang sedotnya.. ahh.. ahh..” tangan saya terus meremas-remas rambutnya yang terurai bebas lepas seperti nafsu manusia bila lepas kendali.

    Samaikn lama ujung kemaluan saya berdenyut-denyut menandakan saya hampir klimaks.Saya sadar, kemudian saya minta lepaskan untuk memberi peluang istirahat, dengan sedikit merenggangkan kedua pahanya, saya usap dengan jari tengah bibir kemaluannya yang sudah basah dengan lendir kewanitaan. “Ahh..” lenguhan panjang terdengar, saya teruskan dengan menjilati hutang kemaluan di sekitar liang kemaluan.“Eehaacckk.. aahh.. aahh..” pantatnya digerakkan semakin liar dengan kedua tangan menyanggah tubuhnya. Sedikit saya gigit ujung klitorisnya dia bergelinjang hingga terlepas dari jangkauan lidah saya.

    Saya berusaha menghampiri lagi tapi.. “Maass.. jangan terusskan.. ahh..” sambil tangannya menggenggam batang kemaluan saya dan ditariknya menuju liang kemaluannya yang sudah siap untuk dimasuki benda tumpul.Dengan susah saya tekan, tidak berhasil akibat licinnya landasan kemaluannya dan sempitnya lubang surganya. Tapi tanpa kehilangan kontrol akhirnya saya berhasil masuk, “Aahh.. ahh..” Saya diamkan beberapa detik di dalam kemudian saya gerakkan perlahan-lahan sambil meresapi kenikmatan yang ditimbulkan oleh gesekkan antara dua kutup yang saling membutuhkan.

    Sepuluh menit berlalu kami saling cengkram, saling gigit, saling goyang, dan seterusnya akhirnya saya berinisiatif untuk di bawah agar kenikmatan ada pada wanita.Tanpa membuang waktu Nadia menggerakkan pantatnya turun naik sambil berputar putar mencari titik kenikmatan yang sangat dasyat dengan beberapa gerakan tertentu. Saya merasakan Nadia semakin nikmat bila pergerakan sedikit menekan ke arah samping kanan, mungkin disitulah letak syaraf yang sangat sensitip bahkan super sensitip untuk dinikmati oleh seorang wanita yang tengah dirasuki nikmat yang luar biasa. Suara kami saling bertalu seirama dengan gerakan yang semakin dasyat. “Aakhh..” dengan menghimpitkan kedua pahanya Nadia melenguh dengan kencang dan kejang.

    Wah, sudah orgasme rupanya sang betina. Saya semakin nafsu dibuatnya.Beberapa saat saya balikkan tubuhnya, saya tekan dengan kemaluan saya yang menurut ukuran sedikit di atas normal dan berurat-urat. Hal itu dikatakan oleh Nadia sebelum kami bertempur tadi. Saya tekan dari belakang, “Aahhk..” saya pikir masuk ke liang dubur kok sempit sekali tapi tidak tahunya benar-benar di liang kemaluannya, yang konon katanya bila dimasukkan melalui belakang, dinding kemaluan semakin rapat sehingga dapat menyedot benda-benda yang ada di sekitarnya.“Teruss.. teruss tekan.. ahkk,” tangan saya tak lepas dari pentil payudaranya.

    Semakin lama ujung kemaluan saya berdenyut keras, menandakan akan ada badai dasyat. Saya hentikan tekanan kemaluan saya dalam lubang kemaluannya. Saya balikkan lagi tubuhnya dengan sangat perlahan tapi pasti. Saya ambil bantal untuk mengganjal pantatnya yang seksi agar ruang gerak kemaluan saya dapat masuk ke lembah yang lebih dalam dan dasyat lagi.Benar juga, setelah saya lepaskan “torpedo” saya, Nadia bergelinjang sangat dasyat, “Ahhk.. ah.. akk.. Mass.. kamu kok.. hbff..” wah tidak ada kata-kata lagi yang dapat diucapkan secara normal. Cerita Maya

    Begitu pula saya dengan sedikit sisa tenaga yang ada, saya tekan sekuat perasaan. Beberapa detik kemudian saya sadar akan bahaya bagi Nadia.  bisikan beberapa kata, “Yang.. saya.. tumpahkan.. dimaanaa..” dengan tersenyum dan mata yang telah hilang hitamnya didekapnya saya sangat erat sambil berucap, “Te.. terussin.. Maass..” dengan ucapan demikian saya mempercepat gerakan tapi pasti, akhirnya..“Aahhk.. aohh.. nnff.. ahh..”“Crott.. crott.. crott.. crot..”Saya dekap tubuhnya dengan sangat erat, saking dasyatnya permainan ini hingga saya takut kehilangan momentum yang tidak pernah saya dapati ini.Saya dan Nadia saling peluk. “Terima kasih.. Mass.. karena telah.. memberikan semangat lahir dan batin,” sambil mengecup kening saya. Saya hanya tersenyum penuh arti.

    Akhirnya saya berpisah dan hingga saat ini saya tidak pernah bertemu lagi. Jika dipikir-pikir hal itu bagai mimpi, tapi itu kenyataan adanya. Sering saya melamun, akankah hal itu dapat terjadi lagi? jawabnya ada pada kenyataan alam. Oke, bagi rekan-rekan yang ingin mengoreksi atau mengomentari atau berteman atau lebih dari itu, saya hanya manusia biasa yang dapat menerima dengan ikhlas. Layangkan ke e-mail saya. Hanya orang dewasalah yang akan saya balas, terima kasih atas perhatiannya.

  • ABG 17 Tahun Di Perkosa Mbah Dukun

    ABG 17 Tahun Di Perkosa Mbah Dukun


    322 views

    Cerita Maya | Mbah Sukro adalah dukun sakti yang tinggal di desa pedalaman di lereng gunung di pulau Jawa. Usianya diatas 60 tahun. Badannya kurus, namun masih sehat. Ia adalah dukun sakti yang menguasai dunia perdukunan sehingga tidak ada yang berani melawannya.

    Ia termasuk dukun yang kaya raya karena ia tak segan-segan mematok harga tinggi bagi para kliennya. Uang bukanlah pantangan baginya. Yang menjadi pantangan saat ia belajar ilmu saktinya adalah ia sama sekali tidak boleh berhubungan intim dengan wanita. Apabila melanggarnya, maka kesaktiannya akan hilang seharian sampai matahari terbenam hari berikutnya.

    Oleh karena banyak dukun-dukun saingannya yang iri akan kesaktiannya, tentu adalah hal yang riskan apabila kesaktiannya hilang walau hanya sehari. Apabila saat itu ada dukun iseng yang menyantetnya, ia sama sekali tidak ada pertahanan diri. Untuk menghindari hal itu, telah bertahun-tahun ia tidak pernah berhubungan intim dengan wanita termasuk kedua istrinya. Dengan demikian ia akan selalu menjadi orang sakti yang tak terkalahkan.
    Salah satu klien utama Mbak Sukro adalah Pak Wijaya, seorang pengusaha yang belakangan ini namanya semakin membumbung tinggi. Sejak ditangani oleh Mbah Sukro, hampir seluruh bisnisnya selalu lancar.
    Namun pada suatu ketika, dua kali berturut-turut ia kalah tender. Oleh karena itu ia pergi ke desa Mbah Sukro untuk berkonsultasi dengannya. Berdasarkan ‘penglihatan’ Mbah Sukro, ternyata ia dijegal oleh salah satu pesaingnya yang menggunakan jasa dukun sakti dari luar pulau. Cerita Maya

    Dan pengaruh negatif dari dukun tersebut rupanya telah memasuki dalam rumah Pak Wijaya, sehingga hal itu mempengaruhi performance dirinya maupun orang lain yang tinggal secara tetap di dalam rumah tersebut.
    Untuk mengatasinya, menurut Mbah Sukro, harus dipasang jimat menurut delapan arah mata angin di dalam area rumah Pak Wijaya. Jimat itu harus dipasang sehari satu setiap jam 4 pagi dengan disembahyangi sepanjang hari sampai matahari terbenam.
    Untuk keperluan itu, maka Pak Wijaya mengajak Mbah Sukro untuk datang dan menginap di rumahnya selama 8 hari untuk memasang ke-delapan jimat itu. Oleh karena tugas ini cukup berat dan sangat menguras tenaga, Pak Wijaya berjanji akan memberi imbalan yang sangat besar dan ia memberi uang muka sebesar 50% di depan.
    Selain memasang jimat, Pak Wijaya juga meminta Mbah Sukro untuk membimbing putrinya, A-mei yang masih SMU dan baru berusia 17 tahun. Karena belakangan ini ia merasakan putrinya telah berani melawannya apalagi tanpa sepengetahuannya telah berpacaran dengan teman sekelasnya. Bisa jadi hal ini disebabkan pengaruh negatif di dalam rumah itu, pikirnya.
    Sehingga kini Mbah Sukro tinggal di rumah Pak Wijaya selama delapan malam. Pagi, siang, dan sore hari digunakan untuk memasang dan menyembahyangi jimat. Sementara malamnya ia meluangkan waktu beberapa jam untuk mengajar olah pernapasan bagi A-mei untuk menghilangkan pengaruh negatif dari dalam dirinya.

    Dan hal itu dilakukan berdua di dalam kamar A-mei. Pak Wijaya membolehkan hal itu karena ia tahu pasti akan pantangan Mbah Sukro menyentuh wanita. Sehingga keamanan diri putrinya akan tetap terjamin.
    Sementara itu, proses pemasangan jimat itu berlangsung lancar sampai hari terakhir.

    Sehingga kini lengkaplah sudah seluruh persyaratan jimat sebagai pelindung rumahnya beserta seisinya yang bakal mampu bertahan selama bertahun-tahun.
    Petang itu sehabis matahari terbenam…
    Mbah Sukro mengatakan kepada Pak Wijaya kalau seluruh jimatnya telah terpasang dengan rapi.

    Sehingga ia minta supaya sisa pembayarannya dapat segera dilunasi. Namun rupanya terdapat kesalahpahaman diantara keduanya. Karena Pak Wijaya berpendapat sisa pembayarannya akan dilunasi dalam waktu dua bulan yaitu setelah pengumuman keputusan pemenang tender proyek berikutnya. Hal itu untuk membuktikan bahwa jimat yang dipasang memang telah benar-benar bekerja.
    Sementara Mbah Sukro menganggap bahwa sisa pembayaran harus dilunasi begitu pemasangan jimat telah selesai. Mendengar pendapat Pak Wijaya, ia merasa ditipu oleh kliennya itu. Padahal ia telah mencurahkan seluruh energinya untuk membuat jimat itu benar-benar bekerja.
    Oleh karena ia adalah orang desa yang tidak biasanya beradu mulut dan mungkin ditambah karena Pak Wijaya adalah salah satu klien besar, maka akhirnya dengan terpaksa ia mengalah. Namun di dalam hati ia merasa sakit hati. Dan diam-diam ia berniat membalas dendam kepada kliennya itu. Ia tidak mungkin membatalkan jimat yang telah dipasang oleh dirinya sendiri itu. Oleh karena itu ia akan mengambil sisa bayarannya itu dengan caranya sendiri sekaligus membalas dendam, dengan menggunakan A-mei, puterinya. Tentu bukanlah hal sulit baginya untuk membuat A-mei takluk kepadanya.
    Karena Mbah Sukro akhirnya setuju dengan pendiriannya, maka Pak Wijaya sama sekali tak menaruh curiga kepadanya. Sehingga Mbah Sukro bisa melakukan menurut apa maunya dengan bebasnya.
    Sementara bagi A-mei sendiri, yang di hari pertama mula-mula merasa aneh disuruh Papanya belajar pernapasan, namun setelah melakukannya ia merasakan manfaat dari pernapasan yang diajarkan oleh Mbah Sukro. Oleh karena itu ia mau meneruskan setiap hari sampai hari itu, hari kedelapan.
    Malam itu ketika proses pengajaran normal telah berakhir, mereka berbincang-bincang,
    “Ternyata pernapasan begini ada manfaatnya juga ya Mbah. A-mei sekarang jadi lebih tenang dibanding sebelumnya.”
    “Memang betul, Nik. Tapi sebenarnya ada cara lain yang bisa membuat pikiran jadi lebih nyaman lagi.”
    “Gimana caranya Mbah?”
    “Prinsipnya kamu harus menghilangkan prasangka buruk di dalam pikiranmu sampai kamu tidak merasakan adanya ancaman bahaya dari luar. Dengan begitu maka pikiran otomatis akan menjadi tenang.”
    “Wah susah sekali itu Mbah, gimana caranya menghilangkan prasangka buruk di dalam pikiran karena datangnya tiba-tiba?”
    “Ya harus latihan Nik. Namun latihannya tidak mudah dan tidak cocok untuk gadis muda seusia kamu. Karena itu, lupakan sajalah.”
    “Lho kok begitu, Mbah? Khan Mbah sendiri yang bilang kalau pikiran yang tenang dan nyaman itu bagus buat semua orang nggak peduli usia.”
    “Karena untuk latihan ini, kamu harus menghilangkan semua prasangka buruk. Dan hal itu tidak mungkin karena saat ini pun tanpa disadari kamu telah punya prasangka buruk terhadap Mbah.”
    “Ah, aku sama sekali nggak punya pikiran buruk kok terhadap Mbah.”
    “Ah, masa? Kalau begitu, coba sekarang berani nggak kamu buka seluruh baju kamu di depan Mbah.”
    “Ah, Mbah yang benar aja!” protes A-mei sambil matanya melirik ke arah pintu keluar.
    “Nah, itulah. Sekarang kamu punya pikiran takut khan terhadap Mbah? Sebenarnya kenapa sekarang kamu memakai pakaian? Karena kamu malu dilihat telanjang bulat oleh Mbah. Padahal kalau pikiranmu tulus, kamu tidak akan mempunyai pikiran seperti itu.”
    “Tapi kenapa harus sampai buka baju segala, Mbah?”
    “Karena itu adalah cara latihan yang paling praktis dan efisien untuk menghilangkan perasaan malu dan waswas yang timbul. Tapi sudahlah, lupakan saja. Makanya tadi Mbah bilang kalau latihan ini tidak cocok untuk anak gadis apalagi yang masih muda seperti kamu.”
    “Ooh, jadi begitu toh. Terus kalau A-mei mau coba sedikit dan sebentar aja, gimana Mbah?” tanya A-mei penasaran.
    “Ini bukan untuk coba-coba. Kalau kamu pengin latihan, kamu harus betul-betul manut (nurut) dengan Mbah tanpa prasangka apa-apa. Kalau tidak, mending tidak usah.”
    Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya…
    “OK deh, aku mau jalanin Mbah. Asalkan Mbah betul-betul tidak punya maksud jahat.”
    “Tidak bisa seperti itu. Kamu harus 100% percaya sama Mbah dulu baru bisa latihan.”
    “Hmmm. OK, OK, aku percaya sama Mbah. Dengan cara Mbah ngomong seperti ini, aku percaya Mbah nggak punya tujuan jahat. Apalagi khan, hihihi, Mbah juga sudah tua,” katanya sambil tersenyum geli sendiri.
    (Dalam hati Mbah Sukro memaki, sialan bocah ini. Rupanya ia meragukan kemampuanku. Rasain kau nanti, batinnya).
    “Jadi kamu benar-benar mau latihan dan ini adalah kemauanmu sendiri ya?”
    “Iya, Mbah. Aku mau coba latihan ini. Beneran!”
    “Baiklah, sekarang coba kamu berlatih napas seperti biasa tanpa perlu memejamkam mata,” kata Mbah Sukro sambil berjalan mengelilingi A-mei.
    A-mei saat itu mengenakan baju kaus biru tua dengan krah dan celana pendek yang ukurannya sedikit diatas paha. Ia adalah seorang gadis yang cantik. Rambutnya panjangnya sebahu. Ditambah lagi kulitnya yang putih. Usianya masih belia, baru 17 tahun, namun tubuhnya telah tumbuh menjadi tubuh seorang gadis dewasa. Baju biru yang dikenakannya itu nampak menonjol di bagian dadanya. Pertanda payudaranya telah tumbuh. Seandainya bukan Mbah Sukro yang punya pantangan, cowok mana pun pasti akan tergiur kecantikan dan ke-sexy-annya.
    “Omong2, kamu sudah punya pacar, Nik?”
    “Sudah Mbah.”
    “Kamu sudah pernah ngapain saja dengan dia?”
    “Maksud Mbah?”
    “Maksudnya, sejauh mana hubungan kamu dengan dia? Apakah kamu pernah tidur dengan dia?”
    “Idih, Mbah. Ya nggak dong. Kok Mbah jadi nanya yang nggak-nggak sih?”
    “Mbah sengaja nanya hal-hal seperti ini, untuk pemanasan latihan kamu. Untuk itu sejak sekarang kamu nggak boleh punya pikiran jelek, mengerti?
    “OK, Mbah. Aku mengerti.”
    “Jadi, kamu pernah ngapain aja dengan dia?”
    “Cuman ciuman dan peluk-pelukan aja Mbah. Sambil saling pegang-pegang juga,” kata A-mei dan mukanya bersemu kemerahan.
    “Kalo pipimu kemerahan gitu, kamu jadi makin cantik saja, Nik. Cuman gitu aja? Jadi kamu masih perawan?”
    “Iya Mbah.”
    “Bagus, bagus. Lalu apakah dia pernah ngeliat kamu nggak pake baju?”
    “Iiih, Mbah. Ya nggak dong”, katanya sementara mukanya makin merah.
    “Ingat, kamu harus membuang pikiran kotor kamu.
    “Baik, Mbah.”
    “Bagus. Sekarang apakah kamu siap untuk memasuki tahap latihan yang lebih tinggi?”
    “Siap Mbah.”
    “Bagus. Kalo begitu sekarang ayo coba kamu buka baju kaus kamu.”
    Tanpa protes A-mei segera melepas dua kancing baju kausnya sendiri. Lalu dicopotnya baju yang dikenakannya dan dibuang ke lantai.
    Nampak kulit tubuh putih A-mei dengan gundukan kecil di dada yang tertutup oleh bra hijau muda.
    “Wah, Nik, tubuhmu betul-betul putih mulus,” kata Mbah Sukro sambil matanya tak lepas memandangi A-mei. Baru pertama kali ini ia melihat tubuh gadis yang seputih ini. Apalagi sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat tubuh perempuan yang telanjang.
    “Sekarang coba kamu lepas penutup dada kamu. Mbah pengin lihat seperti apa isinya.”
    Dengan patuh A-mei membuka branya sehingga kini ia berdiri di hadapan Mbah Sukro dengan dadanya telanjang. Nampak payudaranya yang kecil tapi indah dan putingnya berwarna kemerahan.
    “Wow! Dadamu indah sekali. Kamu sungguh beruntung.”
    “Sekarang coba lepas rokmu, Nik,” perintah Mbah Sukro yang dengan patuh dipenuhi oleh A-mei. Dilepasnya rok yang melekat di tubuhnya sehingga kini ia hanya memakai celana dalam saja.
    “Waduuh, mulusnya tubuh kamu Nik. Betul-betul pemandangan yang indah,” kata Mbah Sukro kagum sambil memandangi pahanya dan payudaranya. Sehingga mau tak mau A-mei jadi makin memerah mukanya. Namun karena ia memutuskan untuk latihan, maka ia berusaha menahan perasaan malunya.
    “Bagaimana perasaan kamu sekarang, Nik? Kamu malu telanjang di depan Mbah?”
    “Se-sebenarnya malu sekali Mbah.”
    “Nah, itulah. Terbukti kalau kamu masih perlu latihan lebih lanjut lagi. Sebenarnya kamu nggak perlu malu. Soalnya tubuh kamu indah sekali kok Nik. Jadi sekarang berani nggak kamu betul-betul telanjang bulat disini?” kata Mbah Sukro.
    A-mei nampak ragu.
    “Masa perlu sampai semuanya, Mbah?”
    “Kalau kamu pengin latihannya sempurna ya harus. Apalagi terbukti sekarang kamu masih belum berhasil menghilangkan perasaan malu. Mumpung Mbah masih disini. Hari ini adalah hari terakhir Mbah disini. Besok kalau kamu pengin latihan sudah tidak bisa lagi. Masa kamu mau latihan seperti ini dengan sembarang orang?”
    “Hmmmh, OK, kalo gitu A-mei nurut aja deh.”
    Dan tak lama kemudian segera dilepasnya cd yang dipakainya dengan sukarela.
    Kini ia betul-betul telanjang bulat tanpa selembar benang pun di hadapan Mbah Sukro.
    Mbah Sukro nampak memandangi tubuh telanjang A-mei dari atas ke bawah.
    “Wow. Ckckck. Suiit, suiiit. Hebat, hebat. Benar-benar aduhai indahnya tubuhmu, Nik.” Mbah Sukro jadi ngaceng juga melihat A-mei yang telanjang bulat. Hmm, sayang sekali aku tak bisa menikmati tubuhmu, batinnya. Namun tak apalah, yang penting aku sudah memberi pelajaran kepada Wijaya, papamu yang penipu itu. Biar tahu rasa kau sekarang, puterimu yang masih perawan berhasil kutipu mentah-mentah. Lumayan aku bisa cuci mata ngeliat anak gadismu telanjang bulat. Sungguh ini adalah pembalasan yang setimpal.
    Namun rupanya ia tidak ingin berhenti sampai disitu saja. Dalam hati ia berpikir, biarlah kupinjam dulu anak gadismu untuk kumain-mainin bentar, pikirnya.
    “Cowok kamu pernah lihat susu kamu?”
    “Pernah mbah.”
    “Tadi katanya belum pernah. Awas kalo kamu bohong ya?”
    “Bukan gitu Mbah. Maksudku tadi aku belum pernah telanjang bulat seluruh badan gini dengan dia.”
    “OK, nggak apa-apa. Lalu reaksi dia gimana waktu ngeliat susu kamu?”
    “Dia suka Mbah…dia pernah megang-megang juga. Katanya dadaku bagus.”
    “Oh ya? Dia megangnya gimana? Apa begini?” tanya Mbah Sukro sambil kedua tangannya menempel ke kedua payudara A-mei.

    Baca Juga Cerita Seks Menikmati 2 Tante Sekaligus

    “Iih, Mbah. Jangan Mbah,” kata A-mei sambil secara refleks bergerak mundur.
    “Lho, kenapa. Ayo jawab. Ingat kamu tidak boleh punya pikiran kotor. Mengerti?, kata Mbah Sukro sementara kedua tangannya masih menempel ke dada A-mei.
    “Me-mengerti Mbah.”
    “Jadi gimana caranya memegang susu kamu? Apakah begini?”, katanya sambil tangannya dilepaskan dari dada A-mei sebentar lalu diremasnya kedua payudara A-mei.
    “Atau begini?” kata Mbah Sukro, sambil kedua ibu jarinya meraba-raba dan menggerak-gerakkan kedua putingnya.
    “Ya..ya..ya semuanya Mbah,” kata A-mei tertunduk malu.
    “Huahahaha. Wah, cowok kamu memang beruntung dan pintar cari pacar.”
    “Lalu kamu suka digituin sama cowok kamu?”
    “Suka Mbah.”
    “Sama seperti sekarang, kamu juga suka Mbah begini-in?” katanya sambil meraba-rabai seluruh bagian payudara A-mei.
    “Ehmm… suka Mbah.”
    “Bagus. Itu wajar karena itu tandanya kamu gadis yang sudah dewasa.”
    Ia memperhatikan dan merasakan kedua puting A-mei kini semakin mengeras dan menonjol dibanding pertama kali telanjang. Mungkin karena suhu kamar yang agak sejuk atau mungkin karena tegang dengan suasana itu.
    “Umurmu berapa sih Nik?”
    “Tujuh belas tahun. Aku baru ulang tahun 4 bulan lalu.”
    “Jadi memang kamu sudah jadi gadis dewasa. Kamu ibarat bunga yang baru mekar dan harum semerbak yang sudah siap dihisap madunya, Nik. Kamu sudah siap untuk kawin, Nik.”
    “Iiih. Aku khan baru umur 17 tahun. Masih lama untuk married, Mbah.”
    “Ah, nggak betul itu. Istri pertama Mbah waktu menikah sama Mbah dulu juga seumuran kamu, Nik, 17 tahun juga..”
    “Oh ya? Kapan itu Mbah?”
    “Wah, itu sudah lama sekali. Dulu waktu dia masih muda dan cantik. Sekarang istri Mbah sudah tidak muda lagi, sudah 40 tahun lebih. Tapi meskipun dulu waktu dia masih muda juga nggak bisa ngalahin kamu, Nik. Kamu jauh lebih cantik dan lebih putih dari dia. Ya memang beda lah, gadis desa dibandingkan dengan anak gadis pengusaha kaya di kota besar. Tapi jeleknya orang kota itu suka kawin telat. Padahal itu tidak bagus untuk hormon tubuh. Terutama cewek. Apalagi kawin itu sebenarnya enak lho.”
    “Memang enaknya apa sih Mbah?”
    “Enaknya apa, itu mesti dirasakan sendiri baru tahu, Nik. Dan untuk orang kota yang kawin telat seperti kamu gini, perlu ada persiapan lahir batin dari sekarang. Supaya nantinya tidak kagok dan bisa membahagiakan suami sejak malam pertama perkawinan.”
    “Persiapannya apa aja sih Mbah?”
    “Persiapannya seperti apa susah diungkapkan dengan perkataan. Lebih jelas kalau dilakukan langsung. Mbah bisa ngajarin kamu sekarang. Asalkan pikiran kamu tenang dan ikhlas karena ini semua demi membahagiakan suami kamu kelak. Gimana, mau nggak?”
    “Ehhm, tapi aku nggak tahu mesti gimana, Mbah?”
    “Nggak usah kuatir, Nik. Kamu manut aja sama Mbah, nanti khan kamu jadi bisa sendiri,” katanya sambil penuh nafsu memandangi sekujur tubuh A-mei yang telanjang,” Yuk, sekarang kamu lanjutkan latihan ini dulu, setelah itu kamu Mbah ajari yang itu,” katanya.
    Sebenarnya awalnya Mbah Sukro hanya ingin membalas dendam dengan mempermainkan A-mei dengan cara menyuruhnya telanjang bulat di depannya saja. Namun kini setelah melihat cewek ini telanjang bulat dan begitu penurut begini, Mbah Sukro jadi bernafsu ingin menikmati tubuh perawannya. Apalagi sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menikmati seorang wanita, itupun juga dengan kedua istrinya yang sudah tidak muda lagi. Kini di depan matanya ada seorang gadis perawan yang bersikap sangat kooperatif terhadapnya. Ditambah lagi ia tak pernah menikmati gadis kota seperti A-mei gini. Sekaligus ini adalah pembalasan yang telak terhadap papanya. Namun yang menjadi kendalanya adalah ia tidak mungkin melanggar pantangannya sendiri. Karena salah-salah taruhannya adalah nyawanya.
    Ah, sungguh bodoh kau ini, batin Mbah Sukro. Kenapa mesti takut kehilangan kesaktianmu barang sehari? Bukankah kau ada di dalam rumah yang telah dilindungi oleh jimat yang kaupasang sendiri? Biarpun kesaktianmu hilang, asalkan kau tidak keluar rumah sampai matahari terbenam besok, semuanya akan baik-baik saja. Dan kau bisa meninggalkan rumah ini setelah matahari terbenam.
    Sekaligus hal ini membuktikan bahwa apabila tidak ada serangan yang mampu mengenai dirinya, hal itu menandakan kalau jimat yang dipasangnya betul-betul bekerja. Hehehe, rasain kau, Wijaya. Salahmu sendiri kamu meragukan jimatku. Kini anak gadismu yang akan kupake untuk membuktikan apakah jimat itu betul-betul bekerja. Lumayan juga bisa menikmati anak perawanmu yang manis ini.
    Setelah teringat akan kesaktian jimatnya sekaligus cara untuk membalas perlakuan kliennya itu, kini nafsu birahinya jadi benar-benar tak terbendung lagi, yang harus dilampiaskan saat itu juga.
    “Waduuh, mulusnya kamu Nik. Sampai-sampai kamu bikin Mbah jadi ngaceng. Apalagi baru kali ini Mbah lihat Nonik seperti kamu gini telanjang. Betul-betul putih dan merangsang.
    “Nah gitu, bagus. Pikiran kamu tetap tenang ya,” kata Mbah Sukro mengelilingi A-mei memandangi sekujur tubuh telanjangnya dalam jarak dekat. Saat berada di belakang A-mei, kedua tangannya meraba-raba punggungnya yang putih mulus dari atas sampai ke bawah dan diremas-remasnya pantat A-mei yang bulat sexy itu.
    “Hmm, kulitmu halus dan mulus banget, Nik.”
    Lalu tangannya beralih ke depan, kini meraba-rabai payudara A-mei.
    “Waah, susumu betul-betul kenyal Nik. Dan putih mulus. Lihat tuh, Iiiih, puting kamu segar banget dan menonjol gini,” komentar Mbah Sukro dan kedua telunjuknya digesekkan di kedua puting A-mei.
    “Aduuh. Jangan gitu Mbah. Geli,” kata A-mei sambil tubuhnya menggeliat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Mbah Sukro.
    “Aah, masa cuma diginiin aja kok geli. Tapi gimana rasanya, Nik? Enak khan?”
    “Nggak mau ah Mbah, kalo gini,” kata A-mei. Namun “protesnya” cuman di mulut saja karena ia membiarkan Mbah Sukro jari jemari dukun tua itu meraba-raba dadanya. Kelihatan kalau sebenarnya ia menikmati permainan itu.
    “Nah, sekarang kita lanjutkan latihan tingkat berikutnya sekaligus Mbah ajarin kamu gimana caranya membahagiakan suamimu kelak. Ingat, ini semua demi kebaikan kamu sendiri. Mengerti?”
    “Mengerti, Mbah.”
    “Bagus. Nah, sekarang Mbah juga melepas semua baju Mbah jadi kita sama-sama bugil.”
    Mbah Sukro melepas baju hitamnya sehingga nampak dadanya yang hitam telanjang. Kulitnya telah berkeriput. Kemudian ia membuka sarungnya. Nampak tonjolan di balik celana dalamnya.
    “Supaya kamu tidak penasaran, ini Mbah tunjukkan kontol pria dewasa milik Mbah yang bisa memuaskan anak gadis seperti kamu, Nik.”
    Tanpa malu-malu lagi, bandot tua umur 60 tahun itu melepas celana dalamnya di depan A-mei, gadis belia berumur 17 tahun. Kini Mbah Sukro juga telah telanjang bulat. Nampak kulit tubuhnya yang hitam legam dan keriput. Sungguh kontras berbeda dengan A-mei yang putih mulus dan segar. Namun A-mei tersipu malu dibuatnya, karena meski telah berumur 60-an dan kulitnya telah keriput, namun kontol Mbah Sukro masih mampu ngaceng dengan tegaknya. Apalagi ukurannya termasuk besar dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus, terutama kepalanya yang disunat jadi nampak makin besar.
    “Nah, lihat, kontol Mbah sekarang jadi ngaceng gara-gara ngeliat gadis muda belia telanjang bulat. Karena Mbah jadi terangsang karena kemulusan tubuhmu, A-mei, dan juga karena kecantikan wajahmu, keindahan susumu, kulitmu yang putih halus, pahamu, rambut kemaluanmu, dan daya tarik seksualmu secara keseluruhan yang membuat orang laki normal jadi ingin menikmati dirimu. Apalagi Mbah sebelumnya nggak pernah mencicipi nonik-nonik seperti kamu gini. Jadi, beginilah suamimu nanti, juga akan terangsang terhadap kamu sama seperti Mbah sekarang. Dan untuk itu kamu harus bisa melayani suamimu dengan sebaik mungkin, bikin dia puas. Dengan begitu, kamu juga akan mendapatkan kepuasan yang luar biasa. Nah, supaya nantinya kamu tidak canggung dengan suami kamu, mari sekarang kamu latihan dulu dengan Mbah.”
    Lalu didekapnya A-mei dan diciumi wajahnya dengan penuh nafsu. Dijelajahi wajah gadis belia nan cantik itu dengan bibirnya. Dilumatnya bibir A-mei dengan ganas. Diciuminya lehernya sambil tangannya meraba-raba payudara A-mei dan meremas-remasnya. Kontolnya yang hitam dan berdiri tegak itu menempel di tubuh putih A-mei.
    A-mei didorongnya ke arah tempat tidurnya lalu ditidurkannya ia dengan telentang di atas kasur. Ia sengaja membuka kaki A-mei lebar-lebar supaya ia bisa melihat dengan jelas vagina A-mei yang masih perawan itu. Vaginanya berwarna kemerahan. Sementara diatasnya nampak rambut-rambut kemaluannya yang halus tumbuh di atas kulitnya yang putih. Klitorisnya nampak mencuat di bagian atas liang vaginanya.
    Digarapnya gadis belia yang masih perawan itu oleh si bandot tua. Diciuminya kedua payudara A-mei. Mukanya dibenamkan ke dua bukit kembar itu. Mulutnya aktif menjilati seluruh bagian payudara perawan itu. Terutama kedua putingnya yang diemut dan dikenyot-kenyot di dalam mulutnya. A-mei merasakan kedua putingnya bergantian dikenyot-kenyot di dalam mulut Mbah Sukro yang hangat. Apalagi suhu ruangan yang ber-AC awalnya membuatnya agak kedinginan. Kini kecupan-kecupan hangat Mbah Sukro mampu menghangatkan tubuhnya terutama dadanya.
    Meskipun usianya telah kepala enam, namun rupanya Mbah Sukro tahu bagaimana caranya membuat panas seorang dara perawan belasan tahun. Terbukti A-mei sangat menikmati permainan lidah dan kenyotan Mbah Sukro diatas payudaranya. Apalagi Sukronya yang lebat menggelitik payudaranya yang membuatnya makin terangsang. Tanpa sadar, ia mendesah-desah dibuatnya.
    “Ehhhmm, ehhmmm, ooohhh, oooohhhhh.”
    Suara desahannya itu bercampur dengan suara kecupan Mbah Sukro yang asyik menciumi payudara A-mei.
    Mbah Sukro menyuruh A-mei berbalik telungkup. Rambutnya yang sebahu menempel di punggungnya yang putih mulus. Pantatnya nampak sexy menonjol. Segera diciuminya sekujur punggung dan pantat A-mei yang putih. Kembali Sukronya menggelitik sekujur punggung A-mei.
    Lalu diraba-raba kedua pantat A-mei dan diremas-remasnya pantat nan sexy itu. Didudukinya punggung A-mei dan kontolnya yang hitam ditempelkan di punggung A-mei yang putih. Nampak kontras perbedaan warnanya. Digesek-gesekkan batang kontolnya berikut kedua pelirnya di sekujur punggung putih A-mei. Bagaikan kuas hitam yang menyapu seluruh bagian kanvas putih. Sementara kontol Mbah Sukro telah mulai basah karena cairan pre-cum. Sehingga di beberapa tempat, punggung A-mei menjadi sedikit basah terkena gesekannya.
    Digesek-gesekkan batang kontolnya ke pantat A-mei. Lalu dijepitnya diantara kedua pantat A-mei dan digesek-gesekkannya. Sehingga ujung kontol Mbah Sukro jadi semakin basah yang membuat pantat A-mei menjadi ikutan basah.
    Setelah puas bermain-main di punggungnya, kembali A-mei ditelentangkan. Kedua kaki A-mei dibukanya lebar-lebar. Lalu kepalanya menyusup diantara kedua paha mulus A-mei. Dijilatinya vagina perawan A-mei yang kemerahan itu. Dan setelah itu diemut-emut dan dihisap-hisap vagina perawan itu. Lidahnya nampak begitu lincah menari-nari di sekitar wilayah terlarang milik dara muda itu. Sehingga tanpa dicegah lagi vaginanya menjadi basah dibuatnya, membuat A-mei mendesah-desah karena kenikmatan yang dirasakannya itu.
    “Nah, sekarang coba kamu genggam dengan tangan kamu, Nik”, kata Mbah Sukro menyuruh A-mei memegang batang kontolnya. Yang segera dilakukannya tanpa protes.
    “Bagus, nah sekarang coba kamu kocok pelan-pelan.”
    “Ya, bagus begitu. Lakukan terus, jangan berhenti dulu,” kata Mbah Sukro menikmati kontol hitamnya dikocok oleh tangan halus milik gadis putih mulus itu. Sementara kedua tangannya memegang-megang payudara cewek itu. Kedua putingnya nampak makin mengeras dan memanjang. Sehingga membuat Mbah Sukro meraba-raba puting segar kemerahan milik dara perawan itu dengan kedua ibu jarinya yang hitam. Nampak ia sangat bernafsu sekali dengan kedua payudara A-mei sampai-sampai ia menciuminya dengan liar. Dijulurkannya lidahnya kesana kemari di dada dara ini. Terutama di kedua putingnya karena ia tahu bahwa bagian ini adalah bagian sensitif buat cewek ini.
    Lalu ditelentangkannya A-mei dan ditindihnya dara yang putih mulus itu dengan tubuhnya yang hitam dan kulitnya telah keriput. Diciuminya bibir dan leher dara itu dengan penuh nafsu. Dadanya yang hitam dan keriputan menempel di payudara cewek muda itu. Meski usianya telah tua, namun ia nampak masih perkasa saja. Batang kontolnya masih mengeras dengan gagahnya menempel di dekat vagina cewek itu.
    Setelah puas menciumi A-mei, kini saatnya ia menikmati ‘hadiah utamanya’. Ia membuka kedua paha A-mei lebar-lebar. Sementara batang kontolnya yang hitam dan berurat itu menegang dengan keras. Didekatkannya kepala penisnya yang membesar itu ke depan liang vagina perawan itu, yang saat itu nampak pasrah dan tanpa perlawanan sama sekali. Lalu segera didorongnya tubuhnya ke depan, dan, ugh dinding vagina perawan itu rupanya mampu menahan daya laju benda tumpul itu.
    Mbah Sukro mencobanya lagi dengan lebih bertenaga, dan akhirnya,
    “Cleeeep”,
    kepala penisnya akhirnya berhasil masuk ke dalam tubuh dara yang kini sudah menjadi tidak perawan lagi itu.
    “Aaahhhhhh”, seketika A-mei menjerit karena rasa nyeri saat kepala penis Mbah Sukro masuk ke dalam tubuhnya.
    Lalu didorongnya tubuhnya sehingga seluruh penisnya amblas masuk ke dalam tubuh gadis yang kini tentunya sudah bukan gadis lagi itu.
    “AAAhhhhhh,” A-mei kembali menjerit merasakan perih di vaginanya.
    Namun Mbah Sukro tidak mempedulikan jeritan gadis itu. Pikirannya telah dipenuhi nafsu ingin menikmati tubuh gadis muda itu selama dan semaksimal mungkin. Segera dimaju-mundurkan penisnya di dalam tubuh gadis itu, menikmati rapatnya gesekan vaginanya.
    “Ahhhh, aaahhhh, aaahhhhhh, aaahhhhhh,” A-mei mendesah-desah dibuatnya. Rasa nyeri dan perih yang mula-mula dirasakannya kini menjadi bercampur dengan rasa enak yang tak terbayangkan sebelumnya. Rasa perih-perih enak itu membuatnya tidak mempedulikan apa-apa lagi dan tanpa dapat dicegah lagi membuatnya mendesah-desah dan merintih-rintih tak keruan. Ia tidak mempedulikan lagi bahwa pria yang menikmati tubuhnya itu sudah uzur dan keriputan. Sementara rasa perih dan nyeri itu berangsur-angsur hilang, sehingga kini hanya tinggal rasa enaknya saja. Membuatnya makin lupa diri akan tata krama sebagai seorang gadis muda yang harus menjaga kehormatan dirinya.
    Sementara Mbah Sukro makin semangat menyetubuhi cewek muda putri kliennya itu. Kapan lagi aku bisa menikmati tubuh cewek muda cantik dan sexy kayak gini, pikirnya. Dan masih perawan lagi. Di desa tidak ada cewek yang kayak gini. Biarlah kesaktianku hilang sehari tak masalah. Meski sudah tua, tapi ia masih kuat untuk mengocok gadis muda itu. Penisnya dengan gagahnya mengobrak-abrik vagina cewek itu. Membuat A-mei benar-benar tak berkutik dan hanya bisa mendesah-desah menikmati apa yang dilakukan pria tua itu terhadap dirinya.
    Mbah Sukro terus menyetubuhi A-mei dengan menindihnya. Sementara kontolnya terus mengocok-ngocok vagina gadis itu, mulutnya asyik mengulum dan menghisap-hisap payudara cewek itu. Mbah Sukro yang biasa mengemut rokok kretek kini mendapat rejeki nomplok bisa mengemut susunya A-mei.
    Nampak kontras sekali pemandangan itu. Tubuh pria kurus yang hitam dan keriput itu menindih tubuh gadis muda yang putih mulus. Dan kontolnya yang hitam menembusi ke dalam tubuh gadis itu.
    Lalu Mbah Sukro menyetubuhi A-mei dalam posisi doggy style. Meski tua-tua begitu, dengan gayanya seperti koboi ia sanggup juga ‘menunggang’ dan menggoyang-goyang tubuh A-mei yang lagi-lagi hanya bisa menjerit-jerit dan mendesah-desah keenakan. Kedua payudaranya bergoyang-goyang dibuatnya. Direngkuhnya payudara gadis itu dengan kedua tangannya dan diremas-remasnya sambil terus menggoyang tubuh gadis muda itu. Sementara itu, digenjotnya terus A-mei dengan kontolnya.
    Ia mengganti posisi. Ditaruhnya kedua kaki A-mei di pundaknya, lalu dimasukkannya penisnya ke dalam vagina cewek itu dan dikocoknya. Dipandanginya kedua payudara A-mei yang bergerak-gerak mengikuti gerakan penisnya itu. Akhirnya A-mei tidak tahan lagi dan ia mendapatkan orgasmenya. Itulah orgasmenya yang pertama gara-gara disetubuhi oleh seorang laki-laki.
    Setelah mengetahui A-mei baru mengalami orgasme, Mbah Sukro merasa bangga juga. Bangga karena bisa menikmati kemulusan dan keperawanannya serta bangga bisa membuat gadis muda 17 tahun mengalami orgasme. Tak lama setelah itu, akhirnya ia mengalam ejakulasi juga dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam vagina A-mei.
    Setelah seluruh spermanya habis, ia mencabut batang kontolnya yang baru saja mengambil korbannya dengan memerawani A-mei, gadis belia itu. Ia tersenyum saat melihat ada bercak darah di sekitar vagina A-mei. Bangga juga ia bisa merenggut keperawanan gadis muda seperti A-mei ini sekaligus membuatnya orgasme.
    “Waah, gila ternyata kamu betul-betul masih perawan ya, Nik. Nggak rugi Mbah ngasih pelajaran ke gadis cantik dan sexy seperti kamu.
    “Nah, sekarang kamu sudah tahu khan gimana caranya memuaskan suamimu kelak. Dan sekarang kamu sudah mengerti gimana rasanya enaknya kawin.”
    “Iya Mbah. A-mei nggak nyangka kalo rasanya begini enak.”
    “Sekarang setelah “pelajaran” selesai, kamu boleh pake bajumu lagi. Nanti masuk angin. Sekarang Mbah mau tidur dulu ya. Karena “pelajaran ini”, sekarang Mbah jadi capek sekali.”
    “Iya Mbah, A-mei juga capek sekali. OK, sampe ketemu besok pagi Mbah.”
    “Baik. Selamat malam.”
    Malam itu Mbah Sukro kehilangan kesaktiannya dan secara fisik cape sekali. Namun ia merasa aman karena terlindungi oleh jimatnya. Sementara hatinya puas. Karena akhirnya ia berhasil mengambil “sisa bayarannya” dengan memerawani dan menikmati kehangatan A-mei di ranjang sekaligus membalas sakit hatinya terhadap Pak Wijaya. Sementara A-mei pun juga tidur dengan puas karena ia merasa mendapat “pendidikan” yang berharga dari Mbah Sukro sekaligus merasakan kenikmatan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Sementara Pak Wijaya yang telah tertidur pulas sama sekali tidak tahu akan peristiwa yang terjadi malam itu.
    Keesokan harinya, seperti yang direncanakan sebelumnya, setelah seharian istirahat total, Mbah Sukro meninggalkan rumah itu setelah matahari terbenam. Ia tiba di rumahnya saat hari menjelang subuh.
    Sejak meninggalkan rumah itu, ia merasakan bagian ulu hatinya agak nyeri. Namun ia tidak terlalu menggubrisnya. Tapi alangkah kagetnya saat keesokan harinya, rasa nyeri itu bukannya hilang malah makin bertambah. Dan malamnya, ulu hatinya bagai ditusuk-tusuk. Sungguh ia tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi, karena kesaktiannya sebenarnya telah pulih. Apakah kini telah ada dukun lain yang lebih sakti yang menjahili dirinya? Ia sibuk memikirkan siapa orang yang berani menjahili dirinya. Sementara itu rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya ia benar-benar tak tahan lagi.
    Dan beberapa hari kemudian, ada kabar heboh, yaitu Mbah Sukro, dukun sakti yang tiada tandingannya, yang disegani kawan maupun lawan, dengan tidak disangka-sangka meninggal dunia tanpa diketahui secara pasti penyebabnya. Hal ini sungguh mengejutkan terutama bagi dukun-dukun yang selama ini menjadi lawannya. Karena susungguhnya tidak ada seorang pun yang berani menjahilinya.
    Lalu apa penyebab kematiannya? Ternyata kematiannya bukan disebabkan oleh para pesaingnya. Ia lupa bahwa ia telah mengaktifkan jimat pelindung yang akan menyerang balik siapa pun yang mengganggu penghuni rumah itu. Dengan menipu gadis polos seperti A-mei apalagi sampai melangkah terlalu jauh dengan merenggut kegadisannya, ia telah secara fatal mengganggu penghuni rumah itu. Sehingga jimatnya kini bekerja menyerang dirinya sendiri. Oleh karena pikirannya melulu terfokus untuk menangkal kemungkinan serangan dari pihak luar serta arogansi dirinya yang merasa sebagai orang sakti tiada tandingan dan ditambah pikirannya yang dipenuhi nafsu birahi, malam itu ia sama sekali melupakan kemungkinan serangan balik dari jimat yang dipasangnya sendiri.
    Namun semuanya sudah terlambat. Ia tak dapat menangkal serangan jimat itu karena sumber kekuatannya berasal dari dirinya. Semakin ia mengerahkan tenaganya untuk menahan serangan, semakin kuat serangan jimat itu terhadap dirinya. Sementara, setelah disembahyangi selama 8 hari, kekuatan jimat itu tidak bisa dibatalkan sebelum kekuatannya akan menurun dengan sendirinya setelah beberapa tahun. Cerita Maya

    Jadi kini terbuktilah kalau jimat yang dipasang di rumah itu benar-benar ampuh. Namun ironisnya, justru pemasangnyalah yang menjadi korban pertama dan satu-satunya dari jimat tersebut.
    Demikianlah nasib Mbah Sukro yang berakhir tragis. Orang sakti yang tak terkalahkan dan tak ada orang lain yang sanggup mengalahkannya, pada akhirnya jatuh karena kesalahan dirinya sendiri dan meninggal karena kesaktiannya sendiri. Dan itulah akhir lembaran hidupnya.
    Sementara, ini adalah awal lembaran kehidupan baru bagi A-mei. Ia sama sekali tak terpengaruh atau tahu menahu akan dunia mistik yang terjadi di sekitar dirinya. Tapi yang jelas, kejadian malam itu sungguh telah mengubah kehidupannya. Dari semula gadis yang polos dan lugu, kini ia menjadi sangat haus untuk mendapatkan pengalaman baru yang sangat menggelorakan hati itu, lagi, lagi, dan lagi.

  • ABG Dan Pembantu Yang Seksi

    ABG Dan Pembantu Yang Seksi


    189 views

    Cerita Maya | Sebut saja namaku Fredi, umurku saat ini 36 tahun, aku sudah mempunyai istri dan seorang
    Silvik. Kehidupanku juga sudah sangat mapan dengan jabatanku sebagai manager sebuah
    perusahaan besar. aku mempunyai kebiasaan yang lain daripada yang lain dengan sering kali
    mengajak tukar pasangan kepada teman-temanku. Dan sering juga aku diajak tukar pasangan
    dengan teman-temanku. Namun yang aku tukarkan bukan istriku tapi gadis-gadis ABG yang aku
    kencani. Teman yang paling sering mengajaku untuk bertukar pasangan adalah Juna, jadi kita
    sudah tau selera kita masing-masing.

    Malam itu setelah aku mengencani seorang gadis ABG muda, aku membawanya kesebuah hotel dan
    terus menikmati tubuhnya yang sangat bergairah. ABG ini namanya Nita, umurnya masih 23
    tahun, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih, memeknya masih ditumbuhi bulu-bulu
    halus, klitoris yang merah merona, membuat persetubuhanku malam itu sangat memuaskanku
    hingga aku tertidur lelap karena 10 rondeku bersama dengan Nita.
    Pagi harinya setelah aku terbangun aku mendapatkan penawaran dari Juna, dia mengajakku
    untuk bertukar pasangan dengannya karena Juna tau kalau semalam aku habis meniduri seorang
    ABG. Tanpa memakai lama, aku langsung menyetujui ajakan Juna untuk bertukar pasangan
    dengan syarat wanita yang dibawa Juna harus menarik dan bergairah, lalu aku meminta Juna
    untuk mengirimkan foto wanita yang akan ditukarkan. Tak berapa lama Juna mengirimkan
    sebuah foto wanita yang sangat menarik sekali. Kulitanya putih, bibirnya tipis, wajahnya
    imut, dan yang pasti bentuk tubunya sangat menarik perhatianku. Tanpa lama aku lansgung
    menelpon Juna dan langsung menyuruh Juna kehotel tempatku semalam meniduri Nita.
    Pagi harinya setelah aku terbangun aku mendapatkan penawaran dari Juna, dia mengajakku
    untuk bertukar pasangan dengannya karena Juna tau kalau semalam aku habis meniduri seorang
    ABG. Tanpa memakai lama, aku langsung menyetujui ajakan Juna untuk bertukar pasangan
    dengan syarat wanita yang dibawa Juna harus menarik dan bergairah, lalu aku meminta Juna
    untuk mengirimkan foto wanita yang akan ditukarkan. Tak berapa lama Juna mengirimkan
    sebuah foto wanita yang sangat menarik sekali. Kulitanya putih, bibirnya tipis, wajahnya
    imut, dan yang pasti bentuk tubunya sangat menarik perhatianku. Tanpa lama aku lansgung
    menelpon Juna dan langsung menyuruh Juna kehotel tempatku semalam meniduri Nita.
    Sambil menunggu Juna datang, aku melihat Nita udah bangun. “Ada apa om, mau maen lagi
    gak”, katanya sambil tersenyum. “Belum puas semalem ya Nit. Temen om tadi nelpon ngajakin
    om tuker pasangan. Nita mau gak maen ama temennya om. Dia juga ahli kok nggarap cewek abg
    kaya Nita”, jawabku. “Kalo nikmat ya Nita sih mau aja”, Nita bangun dari tempat tidur dan
    masuk kamar mandi.
    Aku menyusulnya. Sebenarnya aku napsu lagi ngeliat Nita yang masih telanjang bulat, tetapi
    karena Silvi mau dateng ya aku tahan aja napsuku. Kita mandi sama sambil saling menyabuni
    sehingga Penisku ngaceng lagi. “Om, kontolnya ngaceng lagi tuh, maen lagi yuk”, ajak Nita
    sambil ngocok kontolku. “Kan Nita mau maen ama temennya om, nanti aja maennya.
    Temen om ama ceweknya lagi menuju kemari”, jawabku. Sehabis mandi, kita sarapan dulu. Nita
    tetep aja bertelanjang bulat sementara aku cuma pake celSilvi pendek saja. Selesai makan
    aku menarik Nita saung dipinggir kolam renang yang ada dibelakang rumahku. Nita kupeluk
    dan kuciumi sementara tanganku sibuk meremes2 toket montoknya. Nitapun gak mau kalah,
    kontolku digosok2nya dari luar celSilvi ku.
    Sedang asik, Juna dan Silvi datang. Juna sudah biasa kalo masuk rumahku langsung nyelonong
    aja kedalem, karena kami punya kunci rumah masing2. Silvi ternyata cantik juga, seperti
    bintang sinetron berdarah arab yang aku lupa namanya. Silvi make pakean ketat, sehingga
    toketnya yang besar tampak sangat menonjol. Pantatnya yang besar juga tampak sangat
    menggairahkan. Silvi terkejut melihat Nita yang bertelanjang bulat. Kuperkenalkan Nita
    pada Juna, Juna langsung menggandeng Nita masuk ke rumah.
    “An, Juna bilang dia nikmat banget ngentot sama kamu, Memek kamu bisa ngempot ya, aku jadi
    kepingin ngerasain diempot juga”, kataku sambil mencium pipinya. “An, kamu napsuin banget,
    tetek besar dan pantat juga besar”. “Nita kan juga napsuin pak”, jawabnya sambil duduk
    disebelahku di dipan. “Jangan panggil pak dong, panggil om. Kan saya belum tua”, kataku
    sambil memeluknya. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai bagian belakang
    telinganya.
    Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis,
    hidungnya yang mancung lalu bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium
    bibirnya. Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima
    lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif
    menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan.
    Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi.
    Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga jempolku bisa
    menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu
    lehernya seiring telapak tanganku meraup toketnya. Silvi menggeliat bagai cacing
    kepSilvisan terkena terik mentari.Cerita Maya
    Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat lidahku menjulur menikmati
    lehernya yang jenjang. “Om….” Silvi memegang tanganku yang sedang meremas toketnya dengan
    penuh napsu. Bukan untuk mencegah, karena dia membiarkan tanganku mengelus dan meremas
    toketnya yang montok.”Sil, aku ingin melihat toketmu”, ujarku sambil mengusap bagian
    puncak toketnya yang menonjol. Dia menatapku. Silvi akhirnya membuka tank top ketatnya di
    depanku. Aku terkagum-kagum menatap toketnya yang tertutup oleh Bra berwarna merah.
    Toketnya begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasnya yang
    memburu. Sambil berbaring Silvi membuka pengait Branya di punggungnya. Punggungnya
    melengkung indah. Aku menahan tangan Silvi ketika dia mencoba untuk menurunkan tali Bra
    nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan Bra nya yang longgar karena tanpa pengait
    seperti itu membuat toketnya semakin menantang. “toketmu bagus, Sil”, aku mencoba
    mengungkapkan keindahan pada tubuhnya.

    Perlahan aku menarik turun cup Branya. Mata Silvi terpejam. Perhatianku terfokus ke
    pentilnya yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu
    runcing dan kaku. Kuusap pentilnya lalu kupilin dengan jemariku. Silvi mendesah. Mulutku
    turun ingin mencicipi toketnya. “Egkhh..” rintih Silvi ketika mulutku melumat pentilnya.

    Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit pentilnya lalu kuisap kuat-
    kuat sehingga membuat Silvi menarik rambutku. Puas menikmati toket yang sebelah kiri, aku
    mencium toket Silvi yang satunya yang belum sempat kunikmati. Rintihan-rintihan dan
    desahan kenikmatan keluar dari mulut Silvi. Sambil menciumi toket Silvi, tanganku turun
    membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari
    lembah di bawah perut Silvi.

    Kubelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba
    Vaginanya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Silvi. Aku secara
    tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping dipan. Silvi tertegun sejenak
    memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka jeans warna hitamnya. Aku
    masih berdiri sambil memandang tubuh Silvi yang tergolek di dipan, menantang. Kulitnya
    yang tidak terlalu putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar.

    Celana jeans ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada
    bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna. Puas
    memandang tubuh Silvi, aku lalu membaringkan tubuhku disampingnya. Kurapikan untaian
    rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Silvi. Kubelai lagi
    toketnya. Kucium bibirnya sambil kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. Silvi
    menelannya.

    Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans Silvi
    yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan
    Silvi yang masih tertutup celSilvi dalamnya. jari tengah tanganku membelai permukaan
    celSilvi dalamnya tepat diatas Vaginanya, basah. Aku terus mempermainkan jari tengahku
    untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuh Silvi. Pinggul Silvi perlahan bergerak
    ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.

    aku menyuruh Silvi untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Tangan kanan Silvi berhenti
    pada permukaan kancing celananya. Silvi lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting
    celana jeansnya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga jembut keriting
    yang tumbuh di sekitar Vaginanya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya. Aku
    membantu menarik turun celana jeans Silvi. Pinggulnya agak Nitaikkan ketika aku agak
    kesusahan menarik celana jeans Silvi. Akupun melepas celana pendekku. Posisi kami kini
    sama-sama tinggal mengenakan celana dalam.

    Tubuhnya semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu
    menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal. Kami berpelukan. Kutarik tangan kirinya
    untuk menyentuh Penisku dari luar celana dalamku. “Oh..” Silvi menyentuh Penisku yang
    tegang. “Kenapa, Sil?” tanyaku. Silvi tidak menjawab, malah melorotkan celana dalamku.
    Langsung Penisku yang panjangnya kira-kira 19cm serta agak gemuk dibelai dan digenggamnya.

    Belaiannya begitu mantap menandakan Silvi juga begitu piawai dalam urusan yang satu ini.
    “Tangan kamu pintar juga ya, Sil,”´ ujarku sambil memandang tangannya yang mengocok
    Penisku. “Ya, mesti dong!” jawabnya sambil cekikikan. “Om sama Nita semalem maen berapa
    kali?” tanyanya sambil terus mengurut-urut Penisku. “Kamu sendiri semalem maen berapa kali
    sama Juna?” aku malah balik berrtanya. Mendapat pertanyaan seperti itu entah kenapa
    nafsuku tiba-tiba semakin liar.

    Silvi akhirnya bercerita kalau Juna napsu sekali tadi malem menggeluti dia. Mau berapa
    kali Juna meminta, Silvi pasti melayaninya. Mendengar perjelasan begitu jari-jariku masuk
    dari samping celana dalam langsung menyentuh bukit Vagina Silvi yang sudah basah.
    Telunjukku membelai-belai i tilnya sehingga Silvi keenakan. “Kamu biasa ngisep kan, An?”
    tanyaku. Silvi tertawa sambil mencubit Penisku. Aku meringis.

    “Kalo punya om mana bisa?” ujarnya. “Kenapa memangnya?” tanyaku penasaran. “Nggak muat di
    mulutku,” selesai berkata demikian Silvi langsung tertawa kecil. “Kalau yang dibawah,
    gimana?” tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam Vaginanya. Silvi merintih
    sambil memegang tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang Vaginanya. Aku merasakan
    Vaginanya berdenyut menjepit jariku. Ugh, pasti nikmat sekali kalau Penisku yang diurut,
    pikirku. Segera celana dalamnya kulepaskan.

    Perlahan tanganku menangkap toketnya dan meremasnya kuat. Silvi meringis. Diusapnya lembut
    Penisku keras banget. Tangannya begitu kreatif mengocok Penisku sehingga aku merasa
    keenakan. Aku tidak hanya tinggal diam, tanganku membelai-belai toketnya yang montok.
    Kupermainkan pentilnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba
    jembut lebat di sekitar Vagina Silvi. kuraba permukaan Vagina Silvi.

    Jari tengahku mempermainkan itilnya yang sudah mengeras. Penisku kini sudah siap tempur
    dalam genggaman tangan Silvi, sementara Vagina Silvi juga sudah mulai mengeluarkan cairan
    kental yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengobok-obok Vaginanya. Kupeluk tubuh
    Silvi sehingga Penisku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba
    pantatnya yang montok. Silvi membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku.Cerita Maya

    Kedua telapak tanganku meraih pantat Silvi, kuremas dengan sedikit agak kasar lalu aku
    menaiki tubuhnya. Kaki Silvi dengan sendirinya mengangkang. Kuciumi lagi lehernya yang
    jenjang lalu turun melumat toketnya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap
    lekuk dan tonjolan pada tubuh Silvi. Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan
    Penisku ke bibir Vaginanya. Silvi mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam.

    Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Silvi
    menatap aku, matanya penuh nafsu seakan memohon kepadaku untuk memasuki Vaginanya.”Aku
    ingin mengentotmu, Sil” bisikku pelan, sementara kepala Penisku masih menempel di belahan
    Vagina Silvi. Kata ini ternyata membuat wajah Silvi memerah. Silvi menatapku sendu lalu
    mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun
    Penisku yang perlahan menyusup ke dalam Vagina Silvi.

    Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti Penisku membelah
    Vaginanya yang ternyata begitu kencang menjepit Penisku. Vaginanya begitu licin hingga
    agak memudahkan Penisku untuk menyusup lebih ke dalam. Silvi memeluk erat tubuhku sambil
    membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan.

    Namun aku tak peduli. “Om, gede banget, ohh..” Silvi menjerit lirih. Tangannya turun
    menangkap Penisku. “Pelan om”. Soalnya aku tahu pasti ukuran Penis Juna tidaklah sebesar
    yang kumiliki. Akhirnya Penisku terbenam juga di dalam Vagina Silvi. Aku berhenti sejenak
    untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding Vagina
    Silvi.

    Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang
    begitu sempurna. Kulumat bibir Silvi sambil perlahan-lahan menarik Penisku untuk
    selanjutnya kubenamkan lagi. Aku menyuruh Silvi membuka kelopak matanya. Silvi menurut.
    Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati Penisku yang keluar masuk
    dari dalam Vaginanya. “Aku suka Vaginamu, Sil.. Vaginamu masih rapet” ujarku sambil
    merintih keenakan.

    Baca Juga Cerita Seks Pembantu Plus – Plus

    Sungguh, Vagina Silvi enak sekali. “Kamu enak kan, Sil?” tanyaku lalu dijawab Silvi dengan
    anggukan kecil. Aku menyuruh Silvi untuk menggoyangkan pinggulnya. Silvi langsung
    mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. “Suka
    Penisku, Sil?” tanyaku lagi. Silvi hanya tersenyum. Penisku seperti diremas-remas ditambah
    jepitan Vaginanya. “Ohh.. hh..” aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba
    mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku.
    Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan Penisku ke dalam
    Vagina Silvi.

    Kuperhatikan Penisku yang keluar masuk dari dalam Vaginanya. Dengan posisi seperti ini aku
    merasa begitu jantan. Silvi semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar
    erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Silvi
    yang semakin tidak terkendali. “Sil.. enak banget, kamu pintar deh.” ucapku keenakan.
    “Silvi juga, om”, jawabnya. Silvi merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan.
    Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, “aduh” yang diucapkan terputus-putus.

    Aku merasakan Vagina Silvi semakin berdenyut sebagai pertanda Silvi akan mencapai puncak
    pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan
    dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya
    rangsangan yang kualami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu
    posisi saja. Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari Silvi hampir nyampe. Kuremas
    toketnya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit pentilnya.

    Kuhisap dalam-dalam. “Ohh.. hh.. om..” jerit Silvi panjang. Aku membenamkan Penisku kuat-
    kuat ke Vaginanya sampai mentok agar Silvi mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya
    melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat
    terbenam diantara toketnya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak sanggup untuk
    bertahan lebih lama lagi. “Siiiilll, aakuu.. keluaarr, Ohh.. hh..” jeritku.

    Silvi yang masih merasakan orgasmenya mengunci pinggangku dengan kakinya yang melingkar di
    pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan peju hangat dari Penisku. Kurasakan tubuhku
    bagai melayang. Secara spontan Silvi juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang
    berada di belahan dada Silvi kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya.

    Telapak tanganku mencengkram toket Silvi. Kuraup semuanya sampai-sampai Silvi kesakitan.
    Aku tak peduli lagi. Pejuku akhirnya muncrat membasahi Vaginanya. Aku merasakan nikmat
    yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Silvi pada saat aku mengalami orgasme.
    Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Silvi. Penisku masih berada di dalam
    Vagina Silvi. Silvi mengusap-usap permukaan punggungku. “Silvi puas sekali dien tot om,”
    katanya. Aku kemudian mencabut Penisku dari Vaginanya. Dari dalam Juna keluar sudah
    berpakaian lengkap. “Pulang yuk An, sudah sore”, ajaknya.

    Aku masuk kembali ke kamar. Nita ada di kamar mandi dan terdengar shower nyala. Aku bisa
    mendengarnya karena pintu kamar mandi tidak ditutup. Tak lama kemudian, shower terdengar
    berhenti dan Nita keluar hanya bercelSilvi pendek. Ganti aku yg masuk ke kamar mandi, aku
    hanya membersihkan tubuhku. Keluar dari kamar mandi, Nita berbaring diranjang telanjang
    bulat. “Kenapa Nit, lemes ya dientot Juna”, kataku. “Lebih enak ngentot sama om, Penis om
    lebih besar soalnya”, jawab Nita tersenyum. “Malem ini kita men lagi ya om”.

    Hebat banget Nita, gak ada matinya. Pengennya dien tot terus. “Ok aja, tapi sekarang kita
    cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem”, kataku sambil berpakaian.
    Nita pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah
    hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu.

    Di kamar kita langsung melepas pakaian masing-masing dan bergumul diranjang. Tangan Nita
    bergerak menggenggam Penisku. Aku melenguh seraya menyebut namanya. Aku meringis menahan
    remasan lembut tangannya pada Penisku. Nita mulai bergerak turun naik menyusuri Penisku
    yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjuknya mengusap kepala Penisku yang
    sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya.

    Kembali aku melenguh merasakan ngilu akibat usapannya. Kocokannya semakin cepat. Dengan
    lembut aku mulai meremas-remas toketnya. Tangan Nita menggenggam Penisku dengan erat.
    Pentilnya kupilin2. Nita masukan Penisku kedalam mulutnya dan mengulumnya. Aku terus
    menggerayang toketnya, dan mulai menciumi toketnya. Napsuku semakin berkobar.

    Jilatan dan kuluman Nita pada Penisku semakin menggSilvis sampai-sampai aku terengah-engah
    merasakan kelihaian permainan mulutnya. Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawSilvin
    dengan posisi tubuhku. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku.
    Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahku menyentuh Vaginanya dengan lembut.
    Tubuhnya langsung bereaksi dan tanpa sadar Nita menjerit lirih. Cerita Maya

    Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahku di Vaginanya. Kedua pahanya
    mengempit kepalaku seolah ingin membenamkan wajahku ke dalam Vaginanya. Penisku kemudian
    dikempit dengan toketnya dan digerakkan maju mundur, sebentar. Aku menciumi bibir
    Vaginanya, mencoba membukanya dengan lidahku. Tanganku mengelus paha bagian dalam. Nita
    mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakinya yang tadinya merapat. Aku menempatkan diri
    di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Penis kutempelkan pada bibir Vaginanya.
    Kugesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Nita merasa ngilu bercampur
    geli dan nikmat. Vaginanya yang sudah banjir membuat gesekanku semakin lancar karena
    licin.

    Nita terengah-engah merasakannya. Aku sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala Penisku
    menggesek-gesek itilnya yang juga sudah menegang. “Om.?” panggilnya menghiba. “Apa Nit”,
    jawabku sambil tersenyum melihatnya tersiksa. “Cepetan..” jawabnya. Aku sengaja mengulur-
    ulur dengan hanya menggesek-gesekan Penis. Sementara Nita benar-benar sudah tak tahan lagi
    mengekang birahinya. “Nita sudah pengen dien tot om”, katanya.

    Nita melenguh merasakan desakan Penisku yang besar itu. Nita menunggu cukup lama gerakan
    Penisku memasuki dirinya. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, Penisku juga
    panjang. Nita sampai menahan nafas saat Penisku terasa mentok di dalam, seluruh Penisku
    amblas di dalam. Aku mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan
    mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam Vaginanya membuat Penisku keluar
    masuk dengan lancarnya. Nita mengimbangi dengan gerakan pinggulnya.

    Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotanku. Gerakan kami semakin lama semakin
    meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting
    enjotanku mencapai bagian-bagian peka di Vaginanya. Nita bagaikan berada di surga
    merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Penisku menjejali penuh seluruh Vaginanya, tak
    ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan Penisku sangat terasa di seluruh dinding
    Vaginanya. Nita merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini.

    Nita mengakui keperkasaan dan kelihaianku di atas ranjang. Yang pasti Nita merasakan
    kepuasan tak terhingga ngen tot denganku. Aku bergerak semakin cepat. Penisku bertubi-tubi
    menusuk daerah-daerah sensitivenya. Nita meregang tak kuasa menahan napsuku, sementara aku
    dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulku naik turun, ke kiri dan ke kanan. Erangannya
    semakin keras. Melihat reaksinya, aku mempercepat gerakanku. Penisku yang besar dan
    panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat.

    Aku pun demikian. Nita meraih tubuhku untuk didekap. Direngkuhnya seluruh tubuhku sehingga
    aku menindih tubuhnya dengan erat. Nita membenamkan wajahnya di samping bahuku. Pinggul
    nya diangkat tinggi-tinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan menekannya
    kuat-kuat. Nita meregang. Tubuhnya mengejang-ngejang. “om..”, hanya itu yang bisa keluar
    dari mulutnya saking dahsyatnya kenikmatan yang dialaminya nersamaku. Aku menciumi wajah
    dan bibirnya. Nita mendorong tubuhku hingga terlentang. Dia langsung menindihku dan
    menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhku. Kembali diemutnya Penisku yang masih tegak itu.
    Lidahnya menjilati, mulutnya mengemut. Tangannya mengocok-ngocok Penisku. Belum sempat aku
    mengucapkan sesuatu, Nita langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan
    masing-masing berada di samping kiri dan kSilvin tubuhku. Vaginanya berada persis di atas
    Penisku. “Akh!” pekiknya tertahan ketika Penisku dibimbingnya memasuki Vaginanya.

    Tubuhnya turun perlahan-lahan, menelan seluruh Penisku. Selanjutnya Nita bergerak seperti
    sedang menunggang kuda. Tubuhnya melonjak-lonjak. Pinggulnya bergerak turun naik.
    “Ouugghh.. Nit.., luar biasa!” jeritku merasakan hebatnya permainannya. Pinggulnya
    mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tanganku mencengkeram kedua toketnya,
    kuremas dan dipilin-pilin. Aku lalu bangkit setengah duduk. Wajah kubenamkan ke dadanya.

    Menciumi pentilnya. Kuhisap kuat-kuat sambil kuremas-remas. Kami berdua saling berlomba
    memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC.
    Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Nita berkutat
    mengaduk-aduk pinggulnya. Aku menggoyangkan pantatku. Tusukan Penisku semakin cepat
    seiring dengan liukan pinggulnya yang tak kalah cepatnya.

    Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya,
    selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang
    bertambah liar dan tak terkendali. AKu merasa pejuku udah mau nyembur. Aku semakin
    bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, Nita pun
    merasakan desakan yang sama. Nita terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai
    mengejang, mengerang panjang.

    Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejuhku nyemprot begitu kuat dan banyak
    membanjiri Vaginanya. Nita pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya.
    Sambil mendesakan pinggulnya kuat-kuat, Nita berteriak panjang saat mencapai puncak
    kenikmatan berbarengan denganku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan
    erat. “om, nikmaat!” jeritnya tak tertahankan. Nita lemes, demikian pula aku. Tenaga
    terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! akhirnya
    kami tertidur kelelahan.

  • ABG deketin Adiknya Dapat Kakaknya

    ABG deketin Adiknya Dapat Kakaknya


    290 views

    Cerita Maya | Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu dilakukan sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil pemilihan OSIS yang baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemilihan dimaksudkan sebagai regenerasi dan anak-anak kelas 3 sudah tidak boleh lagi dipilih jadi pengurus, kecuali beberapa orang pengurus inti yang bakalan “naik pangkat” jadi penasihat.

    Usai rapat, aku bergegas mau langsung pulang, soalnya sorenya ada acara rutin bulanan: pulang ke rumah ortu di kampung. Belum sempat aku keluar dari pintu ruangan rapat, suara nyaring cewek memanggilku.“Didik .. “ aku menoleh, ternyata Sarah yang langsung melambai supaya aku mendekat. “Dik, jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang pengin aku omongin sama kamu,” kata Sarah setelah aku mendekat.“Tapi Rah, sore ini aku mau ke kampung. Bisa nggak dapet bis kalau kesorean,” jawabku.“Cuman sebentar kok Dik. Cerita Maya

    Kamu tunggu dulu ya, aku mberesin ini dulu,” Sarah agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat. Akhirnya aku duduk kembali.“Dik, kamu pacaran sama Nita ya?” tanya Sarah setelah ruangan sepi, tinggal kami berdua. Aku baru mengerti, Sarah sengaja melama-lamakan membenahi catatan rapat supaya ada kesempatan ngomong berdua denganku.“Emangnya, ada apa sih?” aku balik bertanya.“Enggak ada apa-apa sih .. “ Sarah berhenti sejenak. “Emmm, pengin nanya aja.”“Enggak kok, aku nggak pacaran sama Nita,” jawabku datar.“Ah, masa. Temen-temen banyak yang tahu kok, kalau kamu suka jalan bareng sama Nita, sering ke rumah Nita,” kata Sarah lagi.“Jalan bareng kan nggak lantas berarti pacaran tho,” bantahku.“Paling juga pakai alasan kuno ‘Cuma temenan’,” Sarah berkata sambil mencibir, sehingga wajahnya kelihatan lucu, yang membuatku ketawa. “Cowok di mana-mana sama aja, banyak bo’ongnya.”“Ya terserah kamu sih kalau kamu nganggep aku bohong. Yang jelas, sudah aku bilang bahwa aku nggak pacaran sama Nita.”Aku sama sekali tidak bohong pada Sarah, karena aku sama Nita memang sudah punya komitmen untuk ‘tidak ada komitmen’. Maksudnya, hubunganku dengan Nita hanya sekedar untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. Hal itu yang kujelaskan seperlunya pada Sarah, tentunya tanpa menyinggung soal ‘seks’ yang jadi menu utama hubunganku dengan Nita.“Nanti malem, mau nggak kamu ke rumahku?” tanya Nita sambil melangkah keluar ruangan bersamaku.“Kan udah kubilang tadi, aku mau pulang ke rumah ortu nanti,” jawabku.“Ke rumah ortu apa ke rumah Nita?” tanya Sarah dengan nada menyelidik dan menggoda.“Kamu mau percaya atau tidak sih, terserah. Emangnya kenapa sih, kok nyinggung-nyinggung Nita terus?” aku gantian bertanya.“Enggak kok, nggak kenapa-kenapa,” elak Sarah. Akhirnya kami jalan bersama sambil ngobrol soal-soal ringan yang lain. Aku dan Sarahpun berpisah di gerbang sekolah. Nita sudah ditunggu sopirnya, sedang aku langsung menuju halte. Sebelum berpisah, aku sempat berjanji untuk main ke rumah Nita lain waktu.*****Diam-diam aku merasa geli. Masak malam minggu itu jalan-jalan sama Sarah harus ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi. Jangankan untuk ML, sekedar menciumpun rasanya hampir mustahil. Sebenarnya aku agak ogah-ogahan jalan-jalan model begitu, tapi rasanya tidak mungkin juga untuk membatalkan begitu saja. Rupanya aturan orang tua Sarah yang ketat itu, bakalan membuat hubunganku dengan Sarah jadi sekedar roman-romanan saja. Praktis acara pada saat itu hanya jalan-jalan ke Mall dan makan di ‘food court’.

    Di tengah rasa bete itu aku coba menghibur diri dengan mencuri-curi pandang pada Mbak Indah, baik pada saat makan ataupun jalan. Mbak Indah, adalah kakak sulung Sarah yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota ‘Y’. Dia pulang setiap 2 minggu atau sebulan sekali. Sama sepertiku, hanya beda level. Kalau Mbak Indah kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, sedang aku sekolah di kotamadya mudiknya ke kota kecamatan.Wajah Mbak Indah sendiri hanya masuk kategori lumayan. Agak jauh dibandingkan Sarah. Kuperhatikan wajah Mbak Indah mirip ayahnya sedang Sarah mirip ibunya. Hanya Mbak Indah ini lumayan tinggi, tidak seperti Sarah yang pendek, meski sama-sama agak gemuk.

    Kuperhatikan daya tarik seksual Mbak Indah ada pada toketnya. Lumayan gede dan kelihatan menantang kalau dilihat dari samping, sehingga rasa-rasanya ingin tanganku menyusup ke balik T-Shirtnya yang longgar itu. Aku jadi ingat Nita. Ah, seandainya tidak aku tidak ke rumah Sarah, pasti aku sudah melayang bareng Nita.Saat Sarah ke toilet, Mbak Indah mendekatiku.“Heh, awas kamu jangan macem-macem sama Sarah!” katanya tiba-tiba sambil memandang tajam padaku.“Maksud Mbak, apa?” aku bertanya tidak mengerti.“Sarah itu anak lugu, tapi kamu jangan sekali-kali manfaatin keluguan dia!” katanya lagi.“Ini ada apa sih Mbak?” aku makin bingung.“Alah, pura-pura. Dari wajahmu itu kelihatan kalau kamu dari tadi bete,” aku hanya diamsambil merasa heran karena apa yang dikatakan Mbak Indah itu betul.“Kamu bete, karena malem ini kamu nggak bisa ngapa-ngapain sama Sarah, ya kan?” aku hanya tersenyum, Mbak Indah yang tadinya tutur katanya halus dan ramah berubah seperti itu.“Eh, malah senyam-senyum,” hardiknya sambil melotot.“Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Indah ini lucu,” kataku.“Lucu kepalamu,” Mbak Indah sewot.“Ya luculah. Kukira Mbak Indah ini lembut kayak Sarah, ternyata galak juga!” Aku tersenyum menggodanya.“Ih, senyam-senyum mlulu. Senyummu itu senyum mesum tahu, kayak matamu itu juga mata mesum!” Mbak Indah makin naik, wajahnya sedikit memerah.“Mbak cakep deh kalau marah-marah,” makin Mbak Indah marah, makin menjadi pula aku menggodanya.“Denger ya, aku nggak lagi bercanda. Kalau kamu berani macem-macem sama adikku, aku bisa bunuh kamu!” kali ini Mbak Indah nampak benar-benar marah.Akhirnya kusudahi juga menggodanya melihat Mbak Indah seperti itu, apalagi pengunjung mall yang lain kadang-kadang menoleh pada kami. Kuceritakan sedikit tentang hubunganku dengan Sarah selama ini, sampai pada acara ‘apel’ pada saat itu.“Kalau soal pengin ngapa-ngapain, yah, itu sih awalnya memang ada.

    Tapi, sekarang udah lenyap. Sarah sepertinya bukan cewek yang tepat untuk diajak ngapa-ngapain, dia mah penginnya roman-romanan aja,” kataku mengakhiri penjelasanku.“Kamu ini ngomongnya terlalu terus-terang ya?” Nada Mbak Indah sudah mulai normal kembali.“Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu,” kataku lagi.“Tapi .. kenapa tadi sama aku kamu beraninya lirak-lirik aja. Nggak berani terus-terang mandang langsung?”Aku berpikir sejenak mencerna maksud pertanyaan Mbak Indah itu. Akhirnya aku mengerti, rupanya Mbak Indah tahu kalau aku diam-diam sering memperhatikan dia.“Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbak-nya mau diembat juga,” kataku sambil garuk-garuk kepala.Setelah itu Sarah muncul dan dilanjutkan acara belanja di dept. store di mall itu. Selama menemani kakak beradik itu, aku mulai sering mendekati Mbak Indah jika kulihat Sarah sibuk memilih-milih pakaian. Aku mulai lancar menggoda Mbak Indah.Hampir jam 10 malam kami baru keluar dari mall. Lumayan pegal-pegal kaki ini menemani dua cewek jalan-jalan dan belanja. Sebelum keluar dari mall Mbak Indah sempat memberiku sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Sarah.“Baca di rumah,” bisiknya.

    ***Aku lega melihat Mbak Indah datang ke counter bus PATAS AC seperti yang diberitahukannya lewat sobekan kertas. Kulirik arloji menunjukkan jam setengah 9, berarti Mbak Indah terlambat setengah jam.“Sori terlambat. Mesti ngrayu Papa-Mama dulu, sebelum dikasih balik pagi-pagi,” Mbak Indah langsung ngerocos sambil meletakkan hand-bag-nya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong.

    Sementara aku tak berkedip memandanginya. Mbak Indah nampak sangat feminin dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang juga berwarna hitam. Tahu aku pandangi, Mbak Indah memencet hidungku sambil ngomel-ngomel kecil, dan kami pun tertawa. Hanya sekitar sepuluh menit kami menunggu, sebelum bus berangkat.Dalam perjalanan di bus, aku tak tahan melihat Mbak Indah yang merem sambil bersandar. Tanganku pun mulai mengelu-elus tangannya. Mbak Indah membuka mata, kemudian bangun dari sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.“Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil berbisik.“Kan lain jurusan,” aku membela diri. “Adik-nya jurusan roman-romanan, Mbak-nya jurusan … “ Aku tidak melanjutkan kata-kataku, tangan Mbak Indah sudah lebih dulu memencet hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran selama perjalanan.***Yang disebut kamar kos oleh Mbak Indah ternyata sebuah faviliun.

    Faviliun yang ditinggali Mbak Indah kecil tapi nampak lux, didukung lingkungannya yang juga perumahan mewah.“Kok bengong, ayo masuk,” Mbak Indah mencubit lenganku. “Peraturan di sini cuman satu, dilarang mengganggu tetangga. Jadi, cuek adalah cara paling baik.”Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet ruang depan, sementara setelah meletakkan hand-bag-nya di dekat kakiku, Mbak Indah langsung menuju kulkas yang sepertinya terus on.“Nih, minum dulu, habis itu mandi,” kata Mbak Indah sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.“Kan tadi udah mandi Mbak,” kataku.“Ih, jorok. Males aku deket-deket orang jorok,” Mbak Indah tampak cemberut. “Kalau gitu, aku duluan mandi,” katanya sambil menyambar hand-bag dan menuju kamar. Aku lihat Mbak Indah tidak masuk kamar, tapi hanya membuka pintu dan memasukkan hand-bag-nya. Setelah itu dia berjalan ke belakang ke arah kamar mandi.“Mbak,” Mbak Indah berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. “Aku mau mandi, tapi bareng ya?”“Ih, maunya .. “ Mbak Indah menjawab sambil tersenyum. Melihat itu aku langsung bangkit dan berlari ke arah Mbak Indah. Langsung kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi. Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot.

    Terdengar desahan Mbak Indah, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku.“Katanya mau mandi?” setelah berkata itu, lagi-lagi hidungku jadi sasaran, dipencet dan ditariknya sehingga terasa agak panas. Setelah itu diangkatnya kaosku, dilepaskannya sehingga aku bertelanjang dada. Kemudian tangannya langsung membuka kancing dan retsluiting jeans-ku. Lumayan cekatan Mbak Indah melakukannya, sepertinya sudah terbiasa. Seterusnya aku sendiri yang melakukannya sampai aku sempurna telanjang bulat di depan Mbak Indah.“Ih, nakal,” kata Mbak Indah sambil menyentil rudalku yang terayun-ayun akibat baru tegang separo.“Sakit Mbak,” aku meringis.“Biarin,” kata Mbak Indah yang diteruskan dengan melepas blouse-nya kemudian kaos hitamnya, sehingga bagian atasnya tinggal BH warna hitam yang masih dipakainya. Aku tak berkedip memandangi sepasang toket Mbak Indah yang masih tertutup BH, dan Mbak Indah tidak melanjutkan melepas pakainnya semua sambil tersenyum menggoda padaku.

    Baca Juga Cerita Seks Ngentot Ibu Sekretaris Desa Dan Anaknya

    Birahi benar-benar sudah tak bisa kutahan. Langsung kuraih dan naikkan BH-nya, sehingga sepasang toket-nya yang besar itu terlepas.“Ih, pelan-pelan. Kalau BH-ku rusak, emangnya kamu mau ganti,” lagi-lagi hidungku jadi sasaran. Tapi aku sudah tidak peduli. Sambil memeluknya mulutku langsung mengulum tokenya yang sebelah kanan.Mbak Indah tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. Aku makin bersemangat saja, mulutku makin rajin menggarap toketnya sebelah kanan dan kiri bergantian. Kukulum, kumainkan dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat seranganku yang makin intens itu Mbak Indah mulai menjerit-jerit kecil di sela-sela desahannya.Beberapa menit kulakukan aksi yang sangat dinikmati Mbak Indah itu, sebelum akhirnya dia mendorong kepalaku agar terlepas dari toketnya. Mbak Indah kemudian melepas BH, kulot dan CD-nya yang juga berwarna hitam.

    Sementara bibirnya nampak setengah terbuka sambil mendesi lirih dan matanya sudah mulai sayu, pertanda sudah horny berat.Belum sempat mataku menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya sudah menggenggam rudalku. Kemudian Mbak Indah berjalan mundur masuk kamar mandi sementara rudalku ditariknya. Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa melihat kelakuan Mbak Indah itu.Mbak Indah langsung menutup pintu kamar mandi setelah kami sampai di dalam, yang diteruskan dengan menghidupkan shower.

    Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari shower. Dan …“mmmmhhhh …. “ bibirnya sudah menyerbu bibirku dan melumatnya. Kuimbangi dengan aksi serupa. Seterusnya, siraman air shower mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan menempel ketat dan sesekali saling menggesek, kedua tangan mengusap-usap bagian belakang tubuh pasangan, “Aaaaaahhh,” nikmat luar biasa.Tak ingat berapa lama kami melakukan aksi seperti itu, kami melanjutkannya dalam posisi duduk, tak ingat persis siapa yang mulai. Aku duduk bersandar pada dinding kamar mandi, kali ku luruskan, sementar Mbak Indah duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai kamar mandi.

    Kemudian kurasakan Mbak Indah melepaskan bibirnya dari bibirku, pelahan menyusur ke bawah. Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati leherku, berpindah-pindah. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di dadaku. Sebelah kanan-kiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. Kemudian turun lagi ke bawah, ke perut, berhenti di pusar. Tangannya menggenggam rudalku, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya terus mempermainkan pusarku. Puas di situ, turun lagi, dan bijiku sekarang yang jadi sasaran. Sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusap-usap kepala rudalku dengan lembut. Aku sampai berkelojotan sambil mengerang-erang menikmati aksi Mbak Indah yang seperti itu.

    Pelahan-lahan bibirnya merayap naik menyusuri batang rudalku, dan berhenti di bagian kepala, sementara tangannya ganti menggenggam bagian batang. Kepala rudalku dikulumnya, dijilati, berpindah dan berputar-putar, sehingga tak satu bagianpun yang terlewat. Beberapa saat kemudian, kutekan kepala Mbak Indah ke bawah, sehingga bagian batanku pun masuk 2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan, berkali-kali. Kadang-kadang aksinya berhenti sejenak di bagian kepala, dijilati lagi, kemudian diteruskan naik turun lagi. Pertahananku nyaris jebol, tapi aku belum mau terjadi saat itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, tapi Mbak Indah seperti melawan. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya aku berhasil mengangkat kepalanya dan melepas rudalku dari mulutnya.Kuangkat kepala Mbak Indah, sementara matanya terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya.

    Pelan-pelan kurebahkan Mbak Indah yang masih memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih sambil mulutku melahap kedua toketnya, sementara tanganku meremasnya bergantian.Erangannya, desahannya, jeritan-jeritan kecilnya bersahut-sahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan lagi mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, namun tercukur dan tertata rapi. Beberapa kali kugigit pelan bulu-bulu itu, sehingga pemiliknya menggelinjang ke kanan kiri. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar dan empuk itu. Kubuka lebar-lebar. Kudaratkan bibirku di bibir memeknya, kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuk-tusukan pelan ke daging menonjol di antar belahan memek Mbak Indah.

    Pantat Mbak Indah mulai bergoyang-goyang pelahan, sementara tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, karena jambakannya lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang memeknya, ku keluar masukkan dengan pelan. Desisan Mbak Indah makin panjang, dan sempat ku lirik matanya masih terpejam. Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang memeknya, tapi tangannya langsung meraih tanganku yang sedang beraksi itu dan menahannya. Kupelankan lagi, dan Mbak melepas tangannya dari tanganku. Setiap kupercepat lagi, tangan Mbak Indah meraih tanganku lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di dalam memeknya.

    Beberapa menit kemudian, kurasakan Mbak Indah mengangkat kepalaku menjauhkan dari memeknya. Mbak Indah membuka mata dan memberi isyarat padaku agar duduk bersandar di dinding kamar mandi. Seterusnya merayap ke atasku, mengangkang tepat di depanku. Tangannya meraih rudalku, diarahkan dan dimasukkan ke dalam lubang memeknya.“Oooooooooooohh ,” Mbak Indah melenguh panjang dan matanya kembali terpejam saat rudalku masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Mbak Indah mulai bergerak naik-turun pelahan sambil sesekali pinggulnya membuat gerakan memutar. Aku tidak sabar menghadapi aksi Mbak Indah yang menurutku terlalu pelahan itu, mulai kusodok-sodokkan rudalku dari bawah dengan cukup cepat. Mbak Indah menghentikan gerakannya, tangannya menekan dadaku cukup kuat sambil kepala menggeleng, seperti melarangku melakukan aksi sodok itu. Hal itu terjadi beberapa kali, yang sebenarnya membuatku agak kecewa, sampai akhirnya Mbak Indah membuka matanya, tangannya mengusap kedua mataku seperti menyuruhkan memejamkan mata. Aku menurut dan memejamkan mataku.Setelah beberapa saat aku memejamkan mata, aku mulai bisa memperhatikan dengan telingaku apa yang dari tadi tidak kuperhatikan, aku mulai bisa merasakan apa yang dari tadi tidak kurasakan.

    Desahan dan erangan Mbak Indah ternyata sangat teratur dan serasi dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, suara alat kelamin kami yang menyatu dan suara siraman air shower seperti sebuah harmoni yang begitu indah. Dalam keterpejaman mata itu, aku seperti melayang-layang dan sekelilingku terasa begitu indah, seperti nama wanita yang sedang menyatu denganku. Kenikmatan yang kurasakan pun terasa lain, bukan kenikmatan luar biasa yang menhentak-hentak, tapi kenikmatan yang sedikit-sedikit, seperti mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap sampai ke ulu hatiku.Beberapa menit kemudian gerakan Mbak Indah berhenti pas saat rudalku amblas seluruhnya. Ada sekitar 5 detik dia diam saja dalam posisi seperti itu. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku sambil melontarkan kepalanya ke belakang.

    Kubuka mataku, kupegang kuat-kuat kedua telapak tangannya dan kutahan agar Mbak Indah tidak jatuh ke belakang. Setelah itu pantatnya membuat gerakan ke kanan-kiri dan terasa menekan-nekan rudal dan pantatku.“Aaa .. aaaaaa … aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,” desahan dan jeritan kecil Mbak Indah itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke depan. Mbak Indah menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk tubukku, sedang kepalanya bersandar di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan kubelai-belai Mbak Indah yang baru saja menikmati orgasmenya. Sebuah cara orgasme yang eksotik dan artistik.Setelah puas meresapi kenikmatan yang baru diraihnya, Mbak Indah mengangkat kepala dan membuka matanya. Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut. Belum sempat aku membalas ciumannya, Mbak Indah sudah bangkit dan bergeser ke samping. Segera kubimbing dia agar rebahan dan telentang di lantai kamar mandi. Mbak Indah mengikuti kemauanku sambil terus menatapku dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Kemudian kuarahkan rudalku yang rasanya seperti empot-empotkan ke lubang memeknya, kumasukkan seluruhnya. Cerita Maya

    Setelah amblas semuanya Mbak Indah memelekku sambil berbisik pelan.“Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat,” aku mengangguk pelan mengerti maksudnya. Setelah itu mulai kugoyang-goyang pantatku pelan-pelan sambil kupejamkan mata. Aku ingin merasakan kembali kenikmatan yang sedikit-sedikit tapi meresap sampai ke ulu hati seperti sebelumnya. Tapi aku gagal, meski beberapa lama mencoba. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa, seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Nita. Bergerak maju mundur dari pelan dan makin lama makin cepat.“Aaaah… Hoooohh,” aku hampir pada puncak, dan Mbak Indah cukup cekatan. Didorongnya tubuhku sehingga rudalku terlepas dari memeknya. Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. Seterusnya tangannya meraih rudalku sambil setengah bangun. Dikocok-kocoknya dengan gengaman yang cukup kuat, seterusnya aku bergeser ke depan sehingga rudalku tepat berada di atas perut Mbak Indah.“Aaaaaaaah … aaaaaaahhh … crottt… crotttt ..,” beberapa kali spermaku muncrat membasahi dada dan perut Mbak Indah. Aku merebahku tubuhku yang terasa lemas di samping Mbak Indah, sambil memandanginya yang asyik mengusap meratakan spermaku di tubuhnya.“Hampir lupa ya?” lagi-lagi hidungku jadi sasarannya waktu Mbak Indah mengucapkan kata-kata itu.

    ***Selama di bus dalam perjalanan pulang aku memejamkan mata sambil mengingat-ingat pengalaman yang baru saja ku dapat dari Mbak Indah. Saat di kamar mandi, dan saat mengulangi sekali lagi di kamarnya. Seorang wanita dengan gaya bersetubuh yang begitu lembut dan penuh perasaan.“Kalau sekedar mengejar kepuasan nafsu, itu gampang. Tapi aku mau lebih. Aku mau kepuasan nafsuku selaras dengan kepuasan yang terasa di jiwaku.”Kepuasan yang terasa di jiwa, itulah hal yang kudapat dari Mbak Indah dan hanya dari Mbak Indah, karena kelak setelah gonta-ganti pasangan, tetap saja belum pernah kudapatkan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari Mbak Indah. Kepuasan dan kenikmatan yang masih terasa dalam jangka waktu yang cukup lama meskipun persetubuhan berakhir.“Ingat ya, jangan pernah sekali-kali kamu lakukan sama Sarah. Kalau sampai kamu lakukan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu!” Aku terbangun, rupanya dalam tidurku aku bermimpi Mbak Indah memperingatkanku tentang Sarah, adiknya. Dan bus pun sudah mulai masuk terminal.

    Cerita Sex Terbaru ABG | Cerita Sex Abg Mesum | Cerita Abg Adik Kakak

  • ABG Kost yang Nakal

    ABG Kost yang Nakal


    111 views

    Ceritamaya | Astaga! dia mengintipku! Saat aku baru melepas handuk sehabis mandi. Ya anak itu memang mengintipku! Aku tahu  persis dari kelebatan baju seragamnya dari balik kaca nako kamar kostku. Terlihat jelas itu memang dia! Firman! anak abg sebelah kamar kostku yang baru kelas 2 SMP!  Aku hanyalah seorang wanita yang telah bercerai, umurku pun sudah menginjak 35 tahun. Tapi mengapa anak abg itu nekad mengintipku?  Apakah aku harus marah? Ah tidak, aku bingung sekali karena aku tak merasakan kemarahan dalam diriku, sama sekali tidak. Aku justru bingung dengan diriku, ada apa ini? Entah kenapa aku justru merasa senang ada anak abg mengintipku ketika aku sedang dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun!  Entah kenapa aku  justru merasa tersanjung.

    Duhh memalukan sekali, kenapa kewanitaanku tiba-tiba terasa geli dan lembab memikirkan kejadian barusan. Ada apa dengan diriku? Tiba-tiba aku merasakan kegatalan yang menyeruak, yang terasa nikmat setelah 2 tahun perceraianku. Ini adalah rasa yang pertama kali kualami setelah selama 2 tahun aku tak pernah lagi “bersentuhan” dengan lelaki. Rasa nikmat itu seperti mengalir kuat tiba-tiba, berawal dari puting buah dadaku yang mengejang lalu merambat ke sela-sela pahaku. Aku merasa enak sekali, ingin sekali rasanya kuselesaikan saat itu juga. Tapi.. tidak! Itu sesuatu yang tabu bagiku, lagipula aku harus segera berangkat kerja, aku bisa terlambat dan kena potong gaji jika telat ngantor. Segera kupakai bajuku, sebuah seragam berupa gaun terusan panjang biru muda dengan sabuk kecil warna coklat yang melingkar di atas pinggangku. Oh Tuhan! pagi yang indah ini aku merasa manis sekali,  walaupun hatiku masih berdebar kencang akibat peristiwa “pengintipan” barusan. Ow. Dia sedang berdiri dengan seragam khasnya putih-biru. Tubuhnya tampak kurus, dan makin terlihat kurus setelah kulihat kakinya kering dan kecil. Innocence! keluhku. Sungguh anak abg ini seperti sosok yang tak berdosa dan terlalu muda untuk tahu soal-soal orang dewasa. Tapi siapa sangka, barusan ia kepergok mengintip ke dalam kamarku, memergoki ketelanjanganku entah untuk yang ke berapa kali. Yang aku tahu ya cuma tadi pagi itu. Aku melangkah mendekat ke arahnya. Canggung sekali rasanya ketika mendekati pelaku “kriminal” cilik ini. Aku belum memiliki keberanian untuk menginterogasinya, aku masih malu! Firman, usianya kutaksir sekitar 15 tahun. Ia tampak tenang banget ketika aku akan mendekat padanya. Dan tak kuduga sama sekali ia menyapaku dengan “ramah” banget,
    “Pagi Tante cantik…mau berangkat kerja ya?”
    “Sial!” aku menggerutu dalam hati.
    Nyantai banget anak ini, apa memang dia gak merasa kupergoki ya? Akhirnya kupaksakan menyambut ke-“ramah”-annya dengan sewajar mungkin,
    “Pagi juga Fir. Kok belum ke sekolah?”
    “Bentar lagi Tan, lagi nunggu temen mau njemput neh,” jawabnya tenang sambil matanya menatapku lekat-lekat.
    “Eh beraninya anak ini?” pikirku, apa dia gak tahu ya kalau aku sudah mergokin perbuatan nakalnya barusan?
    Aku tak bisa melamun lama-lama karena mobil antar-jemputku pasti sudah menungguku di ujung gang. Ceritamaya

    “Iya deh, aku berangkat dulu'” kataku sekenanya.
    “Silakan Tanteku yang cantik'” tukasnya tanpa ekspresi malu atau berdosa. Justru aku yang sekarang
    jadi salah tingkah karena pagi-pagi sudah dapet sanjungan dari cowok abg usil.
    “Iya Fir, thanks ya..dadahh!” Lagi-lagi aku kebingungan sendiri..
    “Thanks untuk apa Tan??” tanyanya sambil mencegat langkahku.
    Uh sebel banget aku dibuat kikuk seperti ini, bagaimana bisa anak abg ini membuat wanita dewasa
    sepertiku mati kutu? Aku mendekatinya sekali lagi dan segera kucubit gemas pipinya..
    “Huhh kamu ini, udah sekolah sana!” kataku agak sewot.
    Tapi dengan cekatan tanganku ditelikungnya sehingga dia balik memelukku
    “Hehehehe..jangan marah dong Tanteku nan cantik..”

    Aku sungguh merasa aneh, aku tak bisa marah dengan kenakalan anak ini dan herannya baru sekali itu aku merasa akrab dengan seseorang walaupun itu hanya seorang anak abg. Tapi cengkerama singkat pagi itu seakan memberiku semangat baru. Aku menjewer telinganya, dan dia balik menggelitik pinggangku. Lalu pada saat yang tak kuduga dia memelukku erat sehingga kepalanya menempel kuat pada dadaku. Mendadak hatiku gemuruh..ahh tidak. Dia bahkan lebih pantas jadi
    anakku. Kami berdua jadi saling goda dan tertawa. Aku berusaha keras untuk bercanda sewajarnya, layaknya seorang ibu kepada anaknya, atau kakak kepada adiknya, atau tante kepada ponakannya. Adegan itu tentu saja menjadi perhatian penghuni kos-kosan yang lain yang segera tersenyum-senyum melihat gurauan kami. Semoga saja mereka tidak berpikir yang tidak-tidak tentang kami yang berselisih usia jauh sekali. Tetapi ternyata justru aku yang terjebak untuk berpikir tidak-tidak. Karena..aduhh, tadi entah sengaja atau tidak dia Firman sempat meremas pantatku. Tiba-tiba kulitku meremang dan aku merasa geli sendiri. Apalagi kalau kuingat tadi kepalanya sempat menempel lama pada dadaku, dadaku serasa mengembang penuh seakan menyesak pada kain penutupnya.

    Siang itu sampai sore hari, aku terus teringat gurauan-gurauan Firman yang seakan membangunkanku dari  tidur yang panjang. Aku telah bercerai sejak 2 tahun lalu, rasanya sungguh menyakitkan sehingga kuputuskan untuk merantau ke Jakarta demi menghapus kenangan yang menyedihkanku. Pasca perceraian aku selalu menutup diri dari pergaulan yang serius dengan lawan jenis. Aku mengisi hari demi hari dengan kesibukan bekerja, senam, memasak, dan merawat diriku. Siapa tahu kelak aku akan ketemu jodoh yang lebih baik dari mantan suamiku, karena bagaimanapun aku harus punya pasangan kelak, punya keluarga, punya anak, dst. Jadi aku tak boleh terpuruk pada kesedihan yang menyiksa. Tapi…apakah aku ini masih cukup cantik dan menarik sehingga Firman yang masih ingusan itu nekad mengintipku dan menggodaku?? Ahh aku tak tahu pasti. Tiba-tiba saja pertanyaan-pertanyaan aneh ini berkelebatan terus dibenakku. Ahh narsisnya aku. Siapa tahu dia tadi cuma iseng saja? atau mungkin dia tak sengaja? Terus apa maksudnya dia tadi meremas pantatku? Apa maksudnya dia tadi menempelkan kepalanya pada dadaku? Aku berusaha melupakan pikiran-pikiran konyol ini dengan fokus pada kerjaan. Tapi anehnya aku malah gak bisa konsen. Bingung! aku jadi makin lekat pada sapaan Firman yang menggodaku dengan sebutan “Tante Cantik”.
    Sejujurnya, apakah dia cuma iseng atau sekedar membual tetap saja membuatku tersanjung. Sehingga aku jadi bertanya-tanya,
    “benarkah aku masih cantik dan menarik?”

    Firman

    Firman

    Sepulang kerja, berbagai perasaan dan pikiran yang aneh terus berkelindan di benakku. Sampai-sampai di dalam kamar mandi, dengan telanjang bulat aku mematut-matut tubuhku di depan cermin, benarkah aku masih menarik. Ahh..belum ada kerutan,  kuraba payudaraku juga masih terasa kencang dan berisi, perutku juga tak berlemak, lenganku masih singset,  wajahku?? Ahhh aku tak tahu. Aku jadi merinding jika mengingat dia mengintipku. Tiba-tiba aku merasa ingin pembuktian. Aku harus membuktikan diri apakah aku ini masih menarik atau tidak? tak peduli  jika itu harus kuujicobakan kepada anak abg seperti Firman. Apa boleh buat. Ini adalah pilihan yang paling kecil resikonya ketimbang jika aku membuktikannya pada lelaki yang sudah dewasa, bisa-bisa aku jatuh pamor nanti hihihihi. Kebetulan aku sedikit tahu kebiasaan Firman kalau malam hari. Dia biasa duduk-duduk sendiri sambil baca-baca koran di tangga loteng untuk menjemur pakaian. Apakah kira-kira dia masih dengan kebiasannya itu? Kusibak tirai jendelaku dan aku mengintip keluar. Uhh benar sekali, dia masih di sana, seperti sedang melamunkan sesuatu. Tapi aku bingung, aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana aku harus memulainya agar rencanaku berjalan lancar. Ahai, aku masih punya beberapa jemuran yang masih basah yang biasanya kujemur pagi-pagi sekali. Tapiii…aku harus bagaimana? Dadaku gemuruh memikirkan rencana dan sensasi-sensasi aneh yang mulai mencengkeramku. Aku jadi ingin tampil menarik di hadapan anak ingusan itu saat ini.

    Segera kupilih daster terusan pendek yang kupikir cukup sexy, karena agak ketat, berbahan tipis dan menerawang kalau kena sinar lampu. Aku ingin banget melihat reaksi Firman nanti. Adeehh..tiba-tiba saja aku merasa geli lagi pada selangkanganku, geli-geli dan gatal seperti ingin disentuh. Tiba-tiba aku merasa membersitkan cairan..duhh kenapa kok aku tiba-tiba basah ya..?? Aku ragu apakah rencana ini harus kuteruskan? apakah aku tidak terkesan murahan? Tapi hasratku makin menggebu-gebu, rasanya keingintahuanku sudah tak bisa kutahan lagi. Toh aku tidak ngapa-ngapain, aku kan cuma pengen tahu reaksi anak abg itu? Ahh..lagi-lagi berusaha mencari-cari alibi untuk pembenaran
    rencanaku. Yahh. Mau tak mau kubulatkan saja tekadku. Sekarang! atau tidak sama sekali! Kakiku goyah saat kulangkahkan menuju tangga jemuran. Semakin mendekat ke arah Firman dadaku makin gemuruh, semoga tak ada penghuni kos-kosan lain yang tahu keadaanku saat itu, seorang wanita, janda pula! dengan busana yang mungkin hanya cocok untuk dipakai di dalam kamar tidur! Untungnya dia tak mengetahui kehadiranku. Tapi ketika sudah dekat, tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Tak kuduga senyumnya terkembang lebar, tampaknya sumringah sekali. Tapi saat aku sudah dekat sekali, senyumnya berubah jadi melongo tatkala diriku sudah demikian jelas dalam pandangan matanya. Matanya memandang lekat tubuhku, terutama bagian dadaku. Aku terhenyak sekaligus
    merasa tersanjung luar biasa.
    “Hai Fir! kok melongo? minggir dikit gih! Tante mau njemur ni..” sapaku memecah kesunyian..
    Lalu kudengar sahutannya dengan nada seperti gemetar..”Iiiiya Tan..silakan..” mulutnya makin
    melongo ketika aku menapaki tangga pertama.
    “Hei!! kok melongo sih?” hardikku penuh tanya.
    “Aaa..si..si..silakan Tan..,” sahutnya dengan suara yang masih gemetar.
    Aku melangkah terus hingga sejajar dengannya.
    “Kok kamu gemetar sihh..sakit yaa??” tanyaku sedikit kecewa.
    “Ee..enggak Tan..aku..aku..kaget..kukira Tante bidadari dari mana..” jawabnya.

    Baca Juga : Uang Bisa Beli Segalanya?

    Kulihat kepolosan dan kejujuran di matanya. Gubraak! Aduh anak ini! Dia bercanda atau serius sih? Aku jadi salah tingkah karena terus-terusan dipuji.
    “Uhh kamu ini, kecil-kecil udah pinter nggombal!” Aku menanggapi ucapan Firman dengan perasaan
    yang campur aduk.
    “Ehh..benerr Tan..suerr..tante bak bidadari turun dari kahyangan..dan aku ingin jadi Jaka Tarubnya
    hehehehh..”
    Deg! Jadi?? Bukankah Jaka Tarub itu juga suka ngintip?
    “Jadi kamu juga demen ngintip kayak Jaka Tarub dong?” Aku langsung mencoba menohok
    dia.
    “Ya tergantung Tan..” jawabnya lugas, tak ada keraguan di
    wajahnya.
    “Tergantung gimana??” aku jadi penasaran dan mengurungkan langkahku untuk menjemur pakaian.
    “Tergantung orangnya Tan…kalau orangnya cantik seperti Tante ya emang pantas diintip,” jawabnya terus terang.
    Hah? beraninya anak ini ngomong seperti itu. Tapi anehnya aku tak bisa marah atau jengkel, sebaliknya perasaanku malah jadi berbunga-bunga..
    “Weew Tante kok pipinya jadi merah sii? suka yaa??” tanyanya tiba-tiba, matanya serasa langsung
    menusuk mataku.
    “Duhh beraninya anak ini. Siapa yang ngajarin kurang ajar seperti itu” pikirku?
    “Huh suka apaan?” sahutku agak gemetar.
    “Suka diintipin..hehehehehhh..” jawabnya
    Terus terang. hatiku langsung berdegup kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Posisiku masih sejajar dengannya, berdiri saling berdekatan di tangga yang sempit itu.
    “Ja..jadii..kamu suka mengintip ya?” tanyaku memastikan.
    “Kan aku sudah bilang Tan. Tergantung siapa dulu orangnya,” jawabnya lagi sambil senyum-senyum menatap mataku.
    Aduh anak ini, berani banget dia ngomong yang menjurus-menjurus seperti itu. Dan matanya itu, tak henti menjelajah tubuhku bahkan menatap mataku secara langsung. Anehnya aku justru menjadi kikuk dilihatin seperti itu. Malah aku sekarang tertunduk tak berani beradu pandang dengannya. Ya ampuuunn…semua ucapannya itu jelas ditujukan langsung kepadaku. Anehnya, diperlakukan seperti itu aku mulai merasakan sensasi yang aneh, kulitku jadi merinding, pucuk-pucuk dadaku serasa menegang, dan sela-sela pahaku jadi terasa geli-geli. Malu sekali rasanya dikerjain anak ingusan ini. Aku merasa tidak kuat lagi berdekatan dengannya dan mendengar ucapan-ucapan yang menjurus mesum seperti itu. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan Firman, aku harus tak peduli dengan semuanya itu, atau pura-pura tak peduli. Aku melangkah gamang, satu persatu tangga kunaiki dengan goyah. Celakanya pada anak tangga terakhir angin nakal bertiup kencang menyibak gaunku dari bawah..wussshh..cepat sekali.  Tak sempat kutahan pakaian bawahku agar tak berkibar-kibar, tapi aku kerepotan sendiri karena tanganku sedang membopong seember jemuran.

    Aku berharap Firman tak mengetahui kejadian itu, bisa malu aku dibuatnya. Tapi dugaanku salah besar. Di bawah Firman malah sedang berjongkok melihat adegan bajuku disibak angin, wajahnya tersenyum-senyum penuh arti tanpa rasa malu sedikitpun. Aku lekas-lekas naik lagi menuju loteng agar penderitaanku segera berakhir. Tapi anehnya angin nakal itu seakan mengejarku. Bahkan ketika sampai di loteng pun pakaian bawahku masih tersingkap-singkap. Aduhhh..si Firman malah jadi kegirangan, senyumnya…ya ampuun itu bukan senyuman anak belia. Itu seringai serigala..
    “Tannn!!,” Firman setengah berteriak memanggilku dari anak tangga, “aku gak perlu ngintip
    kok Tan…sudah keliatan tuhh! …Pink!” serunya.
    Duhh malunya aku, pipiku rasa terbakar api. jantungku berdetak kencang. Anak itu jadi tahu dehh warna dalemanku, tapi berani sekali dia menggodaku seperti itu. Kurang ajar sekali dia!! Untuk beberapa saat aku ingin marah kepadanya. Tapi segera urung karena aku merasa aneh dengan tubuhku. Kulitku tiba-tiba terasa sensitif sekali. Pori-poriku meremang. Dan aku merasakan kegelian yang berkumpul enak sekali pada sela-sela pahaku. Ahh…aku merasakan basah di celana dalamku! Kenapa bisa begini?? Mengapa setelah kejadian memalukan ini aku malah menjadi begini? Entah mendapatkan keberanian darimana, mendadak terbersit keinginan agar Firman dapat melihat lebih jelas lagi bagian tubuhku yang mungkin jarang ia lihat. Aku tak berusaha membetulkan busanaku yang masih tersingkap, aku malah berpura-pura sibuk menjemur pakaianku yang cuma empat potong saja. Aku sendiri menjadi heran dengan diriku. Seolah  ada kekuatan yang memaksaku untuk memamerkan tubuhku di hadapan Firman. Seperti ada kekuatan yang menahanku agar tak cepat-cepat selesai menjemur pakaian. Aku menginginkan dia melihatku lebih jelas lagi, aku ingin dia mengintipku atau apapun! Aku ingin mendengar komentarnya mengenai tubuhku. Wusshh..angin nakal bertiup lagi. Menyingkap lebih ke atas dasterku. Tapi aku tak lagi berusaha menahannya. Aku membiarkan saja angin nakal itu. Dan saat aku menoleh ke bawah ke arah Firman dari atas loteng, Ia benar-benar melongo, matanya seakan melotot ke arahku tak berkedip sekejap pun! Hatiku pun berdegup makin kencang. Seluruh pori-pori di tubuhku terasa makin melebar dan mengembang, tubuhku terasa makin sensitif. Aku mulai menikmati adegan eksiku di depan anak belia ini. Tak bisa kupungkiri lagi aku merasa senang dengan perbuatanku ini. Ya aku merasa senang karena aku mulai merasakan kenikmatan tersendiri yang susah kuungkapkan dengan kata-kata. Aku bahkan mulai terlanda sensasi-sensasi aneh yang membuat bagian-bagian genitalku meremang geli, dan bagian paling genitalku pun membasah. Ughh kenapa bisa begini?? aku merintih tertahan. Rasa-rasa yang aneh itu terus menderaku hingga kurasakan sela-sela pahaku tidak sekedar lembap, melainkan sudah benar-benar basah dan becek. Bagaimanapun untuk hal yang satu ini orang lain tak boleh tahu, apalagi anak belia yang sedang menontonku saat ini. Segera kutangkupkan gaunku agar tak tersingkap lagi dan kutoleh anak itu. Hmmm…kemana dia? Firman sudah tak ada lagi di bawah loteng. Kemana perginya anak ingusan itu? Hhhh…entah kenapa aku merasa kecewa begitu tahu Firman sudah tak lagi menontonku, hatiku terasa hampa.

    Tapi..aku terkejut sekali mendengar suaranya memecah lamunanku.
    “Tante, tante cantik sekali,” suara Firman bergetar tepat di belakangku, jaraknya terasa sangat dekat sekali.
    Begitu kutolehkan kepala, astaga! benar sekali dia telah berada di belakangku, entah sejak kapan? Mungkin karena aku tadi terlalu “sibuk” membanggakan diri sampai-sampai aku tidak menyadari kalau Firman tahu-tahu telah beberapa centimeter di belakangku.
    “Ah bisa saja kamu Fir.”
    “Aku ngomong apa adanya Tan. Tante memang cantik.”
    Kurasa ia berkata dengan sungguh-sungguh, matanya menatap tajam ke mataku tanpa ragu. Tiba-tiba dengan berani ia merapat kepadaku, kudengar suaranya bergetar lirih,
    “Tan, aku boleh minta sesuatu?”
    “Aapa sih Fir?” cemas rasaku menunggu pertanyaan Firman.
    “Aku minta cium, Tan.’ katanya lugas.
    Aku sungguh-sungguh terkejut dengan permintaan Firman yang tanpa tedeng aling-aling itu. Aku tak tahu harus bagaimana, karena ada perasaan iba juga jika aku tak mengabulkan permintaannya, tapi mengabulkan juga salah. Aku sama sekali tak menyangka keadaan akan berlanjut seperti ini.
    “Kenapa Firman minta seperti itu?” tanyaku ragu-ragu sambil kuberanikan menatap matanya langsung. Tapi ternyata aku tak kuat berlama-lama beradu pandang dengannya.
    “Karena Tante Sari cantik. Aku sayang Tante sejak awal ketemu dulu.” jawabnya lugas.
    Mendengar jawabannya aku benar-benar terkejut. Tak
    kusangka ternyata ia benar-benar mengagumiku. Pipiku terasa
    hangat. Agar tidak mengecewakan hatinya aku mencoba menawar,
    “Hmm iya deh. Tapi kamu merem ya?”
    “Engga mau Tan, aku pengen seperti yang di filem-filem itu. Tante aja yang merem.” balasnya lagi tak kalah cerdik.
    “Iya deh kali ini tante penuhi permintaanmu. Tapi cukup sun pipi saja, gak boleh lebih atau enggak sama sekali,” jawabku tegas.
    Firman terlihat ragu sejenak, tanganku tiba-tiba dipegangnya erat-erat seakan takut kalau aku lepas darinya.
    “Iya deh Tan,” jawabnya masygul.
    Perlahan-lahan kakinya berjinjit, lalu tangannya memelukku erat. Saat wajahnya mendekat ke pipiku, entah kenapa tanpa kusadari mataku terpejam, seperti menanti ciuman seorang pacar. Aduhh, mendadak nafasku tersengal ketika kurasakan tangannya turun ke arah pantatku, menekannya di situ kuat sekali sehingga berdempetan dengan tubuhnya. Akhirnya kurasakan nafasnya yang panas menderu di pipiku, semakin dekat. Entah bagaimana tubuhku tiba-tiba terasa geli semua,
    bulu kudukku merinding. Dan ketika bibirnya menempel pada pipiku aku gemetar tiba-tiba.

    “Ini, ini bukan sun pipi” batinku.
    Ini…ini seperti endusan hewan liar yang hendak melumatkanku. Ia, ia tak sekedar menyentuhkan bibirnya ke pipiku, tetapi mengendus-endusnya, memoles-moleskannya, mengusap-usap pipiku dengan bibirnya. Lalu entah bagaimana mulanya tiba-tiba bibirnya telah memagut bibirku, lidahnya cepat sekali menyelusup ke dalam bibirku yang terperangah dan menyentuh lidahku. Aduhh..panas sekali lidahnya. Tiba-tiba segenap tubuhku serasa lemas, jiwaku rasa melayang larut ke dalam belitan lidahnya yang menyentil-nyentil langit-langit mulutku. Ahhh..sudah lama sekali aku tak merasakan yang seperti ini. Kusadari ini salah. Ini tak boleh. Tapi anak abg ini?? Mengapa ia begitu pintar membenamkanku ke dalam sensasi yang menggelitik seluruh pembuluh syarafku. Ohhh, Tuhann..tidak…ia meremas pantatku, lembut sekali. Ia meremas pantatku dan merapatkanku kepada tubuhnya. Terasa selangkanganku mulai geli dibuatnya. Ohhh tak boleh ini…bibirnya merangsek leherku, menjilatnya rakus. Eghh ia menyedoti leherku..bagaimana ini…geli sekali rasanya. Aduhhh…pantatku terus diremas-remasnya dengan gemas…geli-geli terasa mulai menjalar ke selangkanganku. Ia…ia…ahhh..kenapa ini?? rahimku mulai berkedut-kedut. Kurasa…kurasa…cairanku mulai memancut-mancut mengairi relung-relung kewanitaanku. Tuhann..gelinya..ahhh..anak ini….anak ini…
    “Firrr..stopp please…sudah..sudah,” aku meminta dengan memelas kepada Firman agar ia berhenti
    mencumbuku. Aku..aku…tak mau terus lagi…aku..aku sudah hampir menggapai puncak ketika anak ini terus menerus mencecar leherku, kudukku, bibirku..kakiku terasa lemas sekali dan hampir tak mampu menopang tubuhku. Tapi Firman tak mendengar permohonanku. Ia terus saja menciumi wajahku, bibirku, tengkukku, leherku…aihhhh….ia…iaa mencupangi leherku.. dan tangannya itu
    aduhh..aduhh, tangannya mulai menyingkap daster bawahku dan meremasi pantatku..ughhh tangannya tiba-tiba menyusup sela-sela pahaku.
    “Firrrr sudah..sudah…cukup Firrr..” aku merintih..meminta agar ia berhenti.
    Aku…aku…tak mau  meledak di depan anak ingusan ini. Nafasku terengah, tersengal. Tubuhku makin gemetar dan lemas kala kurasa tangan anak belia ini mulai berani mengusap permukaan celana dalamku. Aghh…malu sekali rasanya.
    “Tannn…tante sudah basahh banget,” bisiknya terengah-engah di telingaku, bibirnya terus
    menjelajah cuping-cuping telingaku.
    Ini….ini…aduhh…Jarinya terasa menekan-nekan dan menggesek permukaan selangkanganku yang membecek dan mulai merembes sampai ke paha-paha. Aku merasa tak sanggup bertahan lagi ketika bagian jarinya terasa menyentil-nyentil kelenjar syarafku yang paling peka. Aku merasa goyah. Ahhhh…aku meledak. Rasanya bergalon-galon cairan serasa menyembur dari rahimku, menabraki relung-relung kewanitaanku yang lama kering. Ohhh sungguh tak terperikan rasanya…sudah begitu lama..sudah terlalu lama kudamba rasa yang ingin kupungkiri. Seiring geletar-geletar tubuhku yang masih tak bisa lagi kukendalikan, jiwaku terasa mengawang, kesadaranku sirna berganti rasa indah, nikmat, enak  yang menjalar-jalar kemana-mana. Ahh Firman…Firman…ia terus saja mencumbuku dan merangsangku sepenuh jiwa. Ia bahkan tak menyadari kalau tantenya ini sudah merengkuhi puncak tertinggi berahi manusia. Ceritamaya
    “Firrr sudah..stop…,” aku memohon agar ia mau berhenti.
    “Stop..Firrr…” aku meminta lagi, dengan tenaga yang tersisa kucoba mendorong tubuhnya. Tapi ia tak bergeming, tangannya makin liar bergerilya menyusup-nyusup ke dalam celana dalamku dan menyentil-nyentil klitorisku secara langsung. Bukan itu saja. Ia menyeret tubuhku ke celah loteng yang agak gelap lalu tangannya menarik turun dasterku. Tali bra ku pun ikut tertarik turun, lepas melewati pundakku. Lalu payudaraku yang menggembung karena terangsang dan putingnya yang tegak kaku tak tertahankan lagi segera menyembul begitu saja ke udara…

    Aggghhh…Tuhannn…maafkan hambaMu ini. Anak abg ini benar-benar di luar dugaanku. Aku terlalu
    meremehkannya. Sesaat setelah buah dadaku terbebas dari kekangnya mulutnya segera melumat buah dadaku yang terbuka ke dalam mulutnya. Tubuhku makin lemas menahan rangsang yang kembali bergelora. Lututku goyah karena buah dadaku terlumat dengan buasnya. Ia benar benar… terlalu pintar mencumbu dan membangkitkan apiku yang lama terpadami. Aku tak tahan lagi. Ini sudah diluar batas kemampuanku. Dasterku makin melorot. Dadaku sudah terbuka sepenuhnya, tapi Firman terus mencoba menurunkannya dengan segala cara. Ini tak baik pikirku. Aku tak mau dia
    menganggapku murahan dengan membiarkan dia berbuat semaunya. Bagaimanapun aku masih punya harga diri. Akankah aku membiarkan saja dia mengerjaiku di loteng yang terbuka ini? Sungguh tak bermartabat rasanya. Aku harus melawan, aku harus memberontak. Tapi gimana caranya? Sedangkan tubuhku sendiri tengah menggelepar terkungkung berahi yang tinggi. Firman…Firman… ia memelorotkan celana pendeknya hingga bisa kulihat benda itu..yang tak asing lagi. Firman menubrukku hingga tubuhku terjengkang ke lantai yang dingin. Ia melumatku lagi, bibirku…buah dadaku. Aku tak bisa…tapi ughh..ini terlalu enak… aku tak bisa…sedang pelacurpun tak kan mau melakukannya di tempat seperti ini. Aku mendorong tubuh Firman agar menjauh, tapi lagi-lagi gagal karena ia bak kerasukan setan terus merangsekku dengan buas. Aku tak bisa berkutik lagi. Harga
    diriku ingin menentangnya, tapi tubuhku menginginkan lebih. Tuhannn..tolonglah aku. Aahhh…aku merasakan mulutnya melumat payudara kiriku, lidah yang basah dan hangat itu menyapu putingku sehingga benda itu mengeras tanpa dapat tertahankan. Firman terus mencucup dan menjilatinya sambil sesekali menjepitnya gemas dengan gigi-gigiku. Aku pun mulai mengelinjang, apalagi sambil menjilat, ia juga mulai meraba dan meremas-remas bulatannya. Puas dengan yang kiri, abg ini lalu berpindah ke yang kanan. Aku pun semakin merintih menerima aksinya. Terus disedot-sedotnya puting susuku sampai jadi basah semua oleh air liurnya. Sedang asyik-asyiknya menikmati payudaraku dikenyot-kenyot olehnya, tiba-tiba aku mendengar suara berat terbatuk-batuk dari bawah loteng. Deg!!! Firman terlonjak kaget dan melepaskan pagutannya dari puting buah dadaku yang masih terasa geli dan nyeri..kesempatan itu kugunakan untuk membenahi bajuku yang amburadul. Celana dalamku ternyata sudah turun ke paha, bra ku entah kemana. Aku tak bisa menemukannya karena gelap di situ. Tapi tak apa. Siapapun yang di bawah itu tak boleh memergokiku dalam keadaanku yang seperti ini, ini memalukan sekali.
    “Fir…udah, ada yang dateng” aku berbisik lirih dan menggeser tubuhku menjauhnya yang perhatiannya terpecah ke suara batuk-batuk di bawah tangga.
    Ketakutanku memberiku kekuatan lebih. Aku segera berjingkat-jingkat menjauhi Firman yang juga dengan terburu-buru mengenakan kembali celana pendeknya. Dengan segala kenekatanku aku berlari menuruni tangga. Tak ada siapa-siapa di bawah. Siapa yang batuk-batuk tadi? Ahhh aku tak peduli lagi. Aku segera berlari menuju kamarku dan menguncinya. Kulepaskan semua bajuku di dalam kamar mandi. Kuperiksa tubuhku di depan cermin, dadaku, leherku, pundakku hampir semua penuh bekas cupangan. Duhhh memalukan sekali. Walaupun tak tak bisa kupungkiri juga, betapa diriku telah terbebaskan dari dahaga yang berkepanjangan ini.  Membayangkan Firman yang masih ingusan itu, rasanya sungguh tak masuk akal jika dia yang kukira masih hijau itu berhasil mengecohku bahkan memberikan sesuatu yang luar biasa kepadaku. Rasanya sungguh mustahil jika telah sering melakukannya. Apakah anak itu memang suka “jajan”?? sebelum-sebelumnya? Ah jadi puyeng aku dibuatnya. Aku segera mandi sekali lagi, sekalian keramas untuk menghilangkan semua kebingungan yang berkelindan di kepalaku.

    Bersambung
    By: Sari Dewi

  • Abg Montok

    Abg Montok


    117 views

    Ceritamaya | Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya.

    Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.
    “Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian”, gumamku.
    Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.
    Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
    “Selamat sore Om. Tante ada?”
    “Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?”
    “Wah gimana ya..”
    “Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa”, kataku ramah.
    ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.
    “Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
    “Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru..”
    “Majalah apa sich?”, tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
    “Apa saja. Pokoknya yang terbaru”.
    “Oke silakan masuk dan pilih sendiri”.
    Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
    “Cari sendiri di rak bawah televisi itu”, kataku, kemudian membanting pantat di sofa.
    Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.
    “Nggak ada Om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku.
    “Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana”
    Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan”.
    Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
    “Sudah ketemu Ren?” tanyaku.
    “Belum Om”, jawabnya tanpa menoleh.
    “Mau lihat CD bagus nggak?”
    “CD apa Om?”
    “Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.”
    Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
    “Film apa sih Om?”
    “Lihat saja. Pokoknya bagus”, kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
    “Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
    “Bagus kan?”
    “Ini kan film porno Om?!”
    “Iya. Kamu suka kan?”
    Abg MontokDia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.
    Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
    “Kamu ingin begituan nggak?”, bisikku di telinganya.
    “Jangan Om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.
    Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
    “Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo..”
    “Tapi.. tapi.. ah jangan Om.” Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.
    “Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman..”
    Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.
    “Ohh.. ahh.. jangan Om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.
    Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.
    “Ahh..” keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
    “Enak kan beginian?” tanyaku sambil menatap wajahnya.
    “Iii.. iya Om. Tapi..”
    “Kamu pengin lebih enak lagi?”
    Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.
    “Kalau sakit bilang ya”, kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
    Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.
    “Auw.. sakit Om..” Renny menjerit tertahan.
    Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. “Ouuu..”, dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.

    Baca Juga : Keponakan ku Yang Uhui

    Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
    “Ahh.. ohh.. asshh…”, dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.
    “Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?”
    “Ouuu enak sekali Om…”
    Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.
    Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
    “Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
    “Tapi takut Om..”
    “Nggak usah takut. Takut apa sih?”
    “Hamil”
    Aku ketawa. “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong”
    Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.
    “Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD”.
    “Kalau ketahuan Tante gimana?”
    “Ya jangan sampai ketahuan dong”
    Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.

  • Acha Septriasa XXX: Potret Artis Masa Kini

    Acha Septriasa XXX: Potret Artis Masa Kini


    98 views

    Sebuah Karya Bersama Pimp Lord & Diny Yusvita.
    Original Idea by Diny Y. 
    Storyline & Opening by Pimp Lord. 
    Editing & Finishing by Diny Y.

    Ceritamaya | Dentuman musik menghentak jantung setiap pengunjung cafe itu. Beat kencang sang DJ terlebih dengan beragam campuran alkohol ataupun psikotropika membuat pengunjung Trance atau Nighters semakin fly high. Kebanyakan pengunjung adalah kumpulan gadis-gadis belia yang masih berusia belasan tahun, mereka dan beberapa temannya tampak menikmati betul suasana itu, dan seperti pada umumnya pengunjung Nightclub, pakaian yang dikenakan benar-benar mengundang birahi, rok yang sangat mini dan sebatang ‘menthol’ pada bibir sensual yang membuat diri semakin merasa seksi dan gaul. Beberapa pengunjung Café tersebut adalah para artis, baik itu yang sudah terkenal maupun yang baru naik daun, bahkan beberapa hanya seorang foto model yang berniat mencari om-om produser maupun seorang sutradara, agar bisa menaikkan karir hingga melambung tinggi. Tentu dengan semakin naik dan terkenal namanya, bayaran atas profesionalismenya pun akan semakin berlipat ganda.

    Adapun pengunjung lainnya berprofesi sebagai Paparazi, yang kerap kali mencari berita untuk di dramatisir dalam sebuah tabloid atau harian, dengan foto sebagai objeknya. Seperti halnya pria yang bernama Paimin ini, dia berasal dari kampung. Pekerjaan Paimin sebelumnya adalah fotographer kampung, jadi dengan modal itulah dia nekat untuk mengadu nasib di Jakarta kota Metropolitan ini. Dia punya kenalan di Jakarta ini, teman sekampungnya bekerja di salah satu tabloid yang sudah terkenal, lebih bonafit dibanding perusahaan yang mengolah tabloid tempatnya bekerja. Pada temannya itu sementara dia menebeng untuk Kost dan belajar mendalami keahlian pekerjaan yang diburunya dan juga disenangi olehnya. Pendalaman keahlian itu tidaklah memakan waktu lama dikarenakan Paimin bisa dikatakan ‘otak encer’, walaupun dari kampung. Oleh temannya ini pula Paimin dimodalkan Kamera mini digital, pemilik tabloid hanya cukup membayar Paimin dari hasil jepretan, memberikan uang saku untuk keperluan di luar serba-serbi, uang transport juga uang makan, tetapi tidak gaji tetap.

    Teman Paimin ini bernama Asep, orangnya kurus tinggi jangkung. Dia lebih dahulu melancong ke Jakarta dari Cirebon, mencoba mencari-cari pekerjaan, menetap dan mapan lebih dahulu dari Paimin. Di kampungnya dulu, Asep seringkali mendapat hinaan dengan dilempari batu karena tubuhnya yang kurus seperti lidi itu dan dilengkapi dengan wajah buruk rupa, tak jauh dari Paimin sebenarnya, sehingga sering diledeki dengan julukan ‘tengkorak hidup’. Paimin sering kali membelanya, maka dari itu Asep merasa berhutang budi pada Paimin. Walaupun Asep kurus dan wajahnya kampung, tetapi dia berbakat dalam hal fotographi. Semua hal yang difotonya menjadi bagus, karena bakat dalam cara pengambilan foto. Seperti foto-foto contoh makanan yang terdapat dijalan, seringkali terlihat enak, besar juga banyak. Padahal sewaktu kita cicipi tidaklah demikian. Jadi Asep juga dulu mantan Fotographer kampung, ketika dia lebih dulu pergi ke Jakarta, dia mewariskan pekerjaan itu pada Paimin, itupun Paimin tak puas. Menurutnya jika ingin kaya memang harus merantau dan mencari pekerjaan di Jakarta seperti Asep. Paimin masih teringat ketika redakturnya mulai berteriak dan marah-marah seperti orang kebakaran jenggot, memberikan komando kilat ketika deadline sudah mendekat. Paimin sedikit shock, karena dia baru saja bekerja untuk tabloid gosip itu, untung saja Paimin orang yang cepat beradaptasi, karyawan sebelumnya mengundurkan diri tanpa mau mengajarkan sedikit-sedikit karena mendapat tawaran yang lebih baik lagi, dan resign dalam waktu yang sangat singkat. Sedangkan Asep temannya tak bisa selalu mengajarkan dirinya, karena berada dalam wadah atau tempat kerja yang berbeda. Paimin memang beruntung ketika itu, karena Asep teman sekampungnya itu kenal dengan salah satu orang dalam, sehingga dia bisa mendapatkan posisi tersebut, walaupun bayaran yang didapatnya kurang sepadan. Setelah mendapat pekerjaan ini barulah Paimin mandiri, dia sewa Kost dekat kantornya itu, agar tidak ada biaya ongkos yang dewasa ini melonjak tinggi. Sekarang, di Café inilah Paimin sedang mencari-cari sasaran. Sambil menggaruk-garuk kepala karena uang sakunya habis dipakai menyogok security di pintu masuk tadi, itupun dia sebisa mungkin berdandan tidak seperti reporter pencari gossip. Mata Paimin liar mencari-cari sasaran, mengabadikan beberapa tubuh sexy dengan kamera digitalnya yang mini, dan pada akhirnya pandangan Paimin tertumbuk pada seorang gadis. Ceritamaya

    Sang gadis jelas berusaha mengeluarkan sex appeal terbaiknya, mencoba menarik banyak perhatian pria untuk memandangnya, namun sungguh sangat disayang, dengan pengaruh alkohol yang terkandung di dalam tubuhnya, gadis itu jelas-jelas kurang memperhatikan ‘letak’ pakaiannya yang terlalu berlebihan, segelas vodka on rock yang membasahi tenggorokannya itu juga membuatnya serasa bagai artis terkenal seperti yang berada di sekitarnya. Sang gadis malah melempar senyum pada seseorang dengan slim digicamnya, sang gadis berwajah imut itu malah bangga dan bergaya pada orang yang mengabadikannya, padahal sang gadis kini sedang dalam posisi sedikit mengangkang, sebatang menthol terlepit di jari lentiknya dan underwear hitam ter-expose jelas karena roknya terlalu mini. Tiba-tiba seorang gadis cantik berumur belasan seperti dirinya berdandan menor menghampirinya dengan tergesa-gesa, wajahnya sudah sering terlihat di beberapa sinetron.
    “Cha..cha…tuh Om Sutanto..!!”kata temannya yang sedang naik daun, ketika itu tingkat ketenaran sang gadis masih berada di bawah temannya itu.

    Mata sang gadis langsung saja mengarah pada sosok seorang pria dewasa berperut buncit layaknya om-om. Dia mengacuhkan pria yang baru saja mengabadikan pose nakalnya, si gadis benar-benar lugu, kenakalan disebabkan karena pergaulan dan ingin tenar saja. Dia tidak memikirkan efek dari dandanan nakalnya, dimana sang gadis sebenarnya dikenal sebagai gadis alim dan baik-baik oleh keluarga dan juga teman-temannya di sekolah. Om-om yang dimaksud dua gadis itu tampak banyak disapa semua pengunjung disitu, baik itu pria maupun wanita, semua berusaha ‘menjilatnya’, agar bisa main sinetron ataupun layar lebar Indonesia yang dipertanyakan mutunya itu. Karena takut didahului yang lain, maka teman sang gadis itu menarik tangannya agar dekat dengan si Om.

    “Om Sutanto…”sapa teman sang gadis pada si Om.

    “Eeehh…Cacha…wah…lagi disini juga toh..?!”tanya si Om sok ramah.

    “Iyaa…sama temen-temen sih“jawab gadis yang bernama Cacha itu.

    “Eh…film yang kamu bintangin kemaren, ratingnya bagus loh…selamat yah !”

    “Iya Om…makasih juga, kan berkat Om Sutanto hihihi”tawa teman si gadis tersenyum manis. Sang gadis yang berada di sebelahnya masih kikuk namun ikut tersenyum juga.

    “Ha ha ha…bisaaa aja kamu !”balas si Om sambil mencubit pipi Cacha yang mulus menggemaskan itu.

    “He he he…o iya Om..inii..Cacha mau kenalin temen…dia foto model majalah G****, tapi karirnya mentok gitu deh…kasian padahal cantik kan ?!”kata teman sang gadis yang seperti germo saja, mempromosikan barang baru.

    Si Om langsung melempar pandangan ke arah si gadis, walaupun dari tadi dia sudah tahu ada gadis cantik disebelahnya, hanya saja si Om tentunya ‘Jaim’. Sang gadis memberanikan diri menegarkan hati, karena si Om menatap tajam ke arahnya dari ujung kaki sampai ujung rambut hitam panjangnya.

    “Wah wah…punya bakat nih…”kata si Om, otaknya yang ngeres itu langsung mode on. Padahal belum jelas bakat apa yang dimaksud, bakat enak digarap di ranjang iya betul, tetapi bakat acting di perfilm-an belum tentu. Sang gadis jelas belum memperlihatkan kemampuan acting padanya.

    “Iya kan…”kata teman si gadis yang bangga, karena tidak salah membawa barang baru ‘selera’ si Om.

    “Siapa namanya…??”tanya si Om mengajaknya berjabat tangan berkenalan mendahului si gadis.

    “Mm…Je..Jelita…Jelita Septriasa !!”sang gadis pun menyambut perkenalan begitu senangnya.

    Yaph, itulah namanya, Jelita Septriasa atau kerap di panggil Acha saat ini. Acha pun langsung membayangkan dirinya akan bermain Film dan banyak uang. Mereka pun larut dalam perbincangan yang semakin akrab, mencari lokasi tempat duduk yang lebih privacy, tertawa-tawa dan minum bersama, tak sadar ada dua buah mata terus mengintai dengan slim digicamnya. Paimin terus mengabadikan kegiatan mereka, entah kenapa ia merasa kalau suatu saat gadis ini akan menjadi besar nantinya. Tentu dengan dekatnya seseorang dengan si Om produser tersebut, sebuah ketenaran sudah di tangan. Paimin mencoba mendekat dengan gerakan yang sebisa mungkin tidak mencurigakan, dia mencuri-curi dengar pembicaraan. Tak lama si Om dan Acha pun tampak bangkit seperti hendak pamit pada Cacha yang mempertemukan mereka, Cacha dan Acha bertemu pipi serta melambaikan tangan. Si Om produser pun juga tampak berpamitan dengan beberapa relasinya di Café tersebut dengan Acha di sampingnya. Banyak yang terlihat iri terhadap Acha saat itu. Paimin mengabadikan kejadian itu sebisanya, dan meneruskan perburuan photonya terhadap model dan artis lainnya yang ada disitu. Setelah itu pulang ke kostnya setelah merasa cukup mendapatkan bahan pekerjaannya.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

    # Kost-kostan #

    Paimin beristirahat menghela nafas sejenak, dia baru saja sampai disitu sekitar jam 3 pagi, memindahkan foto-foto hasil surfingnya di café ke computer. Agar file aman, Paimin membuat Back Up di CD atas file-file tersebut. Setelah itu baru dia melihat semua hasilnya, redaktur tabloid memintanya untuk mendapatkan foto Cacha teman Acha, karena sedang hot-hotnya dan pasti laris jika dijadikan bahan gosip. Tetapi diantara semua foto, Paimin malah terpaut pada sebuah foto Acha yang menantang dan mengundang gairahnya. Ya, foto itu adalah fotonya yang sedang duduk tanpa mengindahkan roknya yang terlalu pendek, ditambah sebatang menthol ciri khas ‘gadis extravaganza’. Paimin terlihat lebih antusias dan lebih bernafsu pada foto Acha itu, menurutnya gadis cantik seperti Cacha dengan dandanan seronok itu lusinan, tetapi yang seperti Acha ini masih bisa dibilang langka, saat itu memang Acha masih terlihat seperti gadis yang baru terpengaruh pergaulan, namun belum masuk ke dunia artis sesungguhnya yang hancur itu. Wajah Acha masih lugu sekali, sampai-sampai Paimin sayang jika foto itu juga jatuh ke tangan redaksi walaupun ditukar dengan uang. Paimin terobsesi pada Acha !! Paimin memutuskan untuk menyimpan beberapa foto yang terdapat Acha berposisi mengundang gosip, dia menggunakan foto Acha yang seperti itu hanya untuk bahan Onani saja, tidak lebih.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

    # Di sebuah Apartemen mewah di selatan Jakarta #

    Om Sutanto sedang meresapi nikmatnya mulut dan tenggorokan Acha, yang dengan ahli mendeepthroath penis si Om, lidahnya lembut menggelitik serta meremas pelan buah zakar itu. Kemudian Om Sutanto menjambak Acha dan melemparkannya ke lantai kamar itu, rupanya produser itu sudah bosan dengan seks konvensional, seks sang produser itu cenderung kasar. Dia mengangkangkan kaki Acha yang mulus itu lebar-lebar dan, “Hiiiihh !!”geramnya.

    Zreeekh !! penis Om Sutanto langsung mendobrak paksa masuk ke vagina Acha tanpa merangsang Acha terlebih dahulu. Sehingga penis itu meluncur di vagina Acha tanpa lendir pelumas. Acha berteriak, persetubuhan ini sebenarnya lebih menjurus ke perkosaan dan sadisme. Remasan di payudara, jambakan di rambut, gigitan di leher dan tamparan di pipi, semua silih berganti diterima tubuh Acha. Namun Acha yang ingin sekali ketenaran dan banyak uang mencoba bertahan, sebagaimana artis-artis lainnya yang pernah digarap Om Sutanto, harus menerima derita seperti ini olehnya dan beberapa rekan Pejabat yang juga menaruh ‘minat’ pada artis, baik itu artis lama maupun artis pendatang baru.

    ********************************
    # Pada saat yang sama, di lokasi yang berbeda #

    “Siaaal…siaall…siaaa…Aaakh…Aakh…Ooohh”desah pria tersebut, dia adalah Paimin yang sedang onani di kamar kost-kostannya sambil memandangi foto Acha yang seronok itu di komputernya.

    Paimin tak sempat menyelesaikan kalimatnya, sekarang tangannya sudah lengket belepotan sperma yang ditumpahkannya, hal itu bersamaan dengan masuknya sperma Om Sutanto yang ejakulasi dan memuntahkan sperma dalam rahim Acha di apartemennya. Bagi Paimin, malam itu sudah usai, dia melampiaskan nafsu cukup dengan onani dari foto Acha akibat obsesi yang begitu tinggi. Namun bagi Acha, malam ini hanya sebuah permulaan, Om Sutanto mendekati dengan sebuah strap leher lengkap dengan rantainya. Yaph, Acha akan menjadi budak seks Om Sutanto setiap hari, baik itu hari libur maupun pulang sekolah karena saat itu Acha masih SMU. Acha akan menjadi budak seks sampai Om Sutanto bosan dan menemukan ‘barang baru’ untuk disalurkan menjadi artis.
    “Om..jangan Om…Acha mau diapain ?!”

    “Lhoo…kan kamu mau jadi artis kan ?”

    “I.iya..”

    “Yaa kalo kamu mau jadi artis..kamu musti jadi piaraan Om dulu…Cacha sama artis lain dulu juga begini…enak aja mau langsung main film ! engga ada yang gratis Non di dunia ! harus berjuang mati-matian ! penuh pengorbanan !!”doktrin Om Sutanto tegas.

    Acha diam seribu bahasa, kata-kata Om Sutanto ada benarnya juga, perjalanan hidup tidaklah mudah, apalagi ketenaran dan banyak uang, tentu ada ‘Harganya’ untuk ditukar.

    “Naah..jadi Om tanya lagi, terserah…kalo Acha mau pulang Om engga melarang, tetapi selamat tinggal ketenaran dan mandi uang…gimana ?!”kata Om menakut-nakuti Acha.

    Dia tahu betul gadis macam Acha ini ingin sekali tenar, kenal banyak artis ganteng, banyak uang dan naik kendaraan roda empat.

    Acha bimbang, tetapi bayang-bayang ketenaran dan mandi uang lebih menggodanya. Om Sutanto yang melihat Acha tak bereaksi, langsung memasang strap leher berantai yang segera menjadi hiasan leher Acha.

    “Jangan kasar-kasar ya Om…pliss ?!”pinta Acha, dia tidak mengatakan jangan, hanya meminta belas kasihan dengan sebuah siksaan yang lebih ringan.

    “Lhoo…terserah Om dong ehehehe”

    Om Sutanto berlalu sesaat mengambil sesuatu dan mendekatinya lagi dengan cambuk dan penis yang terbungkus kondom bergerigi. Om Sutanto memegang rantai dari strap itu agar Acha tidak bisa lari.

    “Jangan Om ampuun…!”

    “Lhoo…sinetron itu kan adegannya cuma nangis aja, nah biar engga susah…Om mau bikin kamu terbiasa…kaya artis-artis yang udah ngetop, biar kamu menjiwai aktingnya hihihi !!”terang Om Sutanto sambl menyeringai mesum.

    “Anak-anak sekarang…cuma mau ngetop bersedia jadi pelacur hina..Hiiihh !!”geram Om Sutanto melayangkan lecutan cambuknya. Berikutnya terdengarlah lengkingan Acha yang penuh derita, Acha yang tadinya pamit dengan orang tua untuk menginap dan bersenang-senang dengan teman-temannya, pada kenyataannya malah menyiksa diri untuk sebuah ketenaran dan banyak uang.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><>

    # Nasib baik #

    Keesokan hari ketika masuk pagi ke kantor tabloidnya, Paimin menyerahkan foto-foto hasil jepretannya. Redaktur tampak cukup puas dengan pekerjaan Paimin, ada beberapa foto Cacha bersama dengan Acha, tetapi tampaknya tidak menjadi perhatian khusus para redaksi. Mereka malah focus pada foto Cacha yang berduaan dengan artis senior pria, ataupun ketika berbicara dengan Produser-produser atau Sutradara terkenal. Perusahaan tabloid Paimin memberikan bonus lumayan padanya walaupun tidak banyak. Hari-hari berikutnya dia menerima perintah yang sama dengan artis yang berbeda, Paimin sudah terbiasa dan tahu harus apa yang dilakukan dan harus bagaimana dalam pekerjaannya. Dia berkeliling kota dan ‘nongkrong’ di tempat yang kira-kira banyak artis untuk mengumpulkan bahan, dan bos Paimin pun puas dengan hasil kerja Paimin. Lama kelamaan Paimin semakin besar menerima hasil bonus, dan berhasil menabung hingga bisa membeli sepeda motor, walaupun butut dan tua, setidaknya senada dengan wajahnya yang jauh dari tampan itu.

    # Nasib buruk #

    Suatu ketika, Paimin sedang senang-senangnya karena mendapat banyak hasil jepretan yang diluar biasanya, membayangkan bonus yang akan di dapatnya. Paimin melaju dari lokasi terakhir perburuan dan hendak kembali ke kantor untuk membuat tagihan jasa atas foto-fotonya, namun dari kejauhan dia melihat api menjulang tinggi, asap mengepul dan suara sirine meramaikan. Bayak orang berkumpul dan berlarian mengambil air tertampung ember untuk mencoba membantu memadamkan, mobil pemadam kebakaran sedang sibuk bekerja keras agar kebakaran tidak merembet, Paimin terkejut !! Ia menyaksikan kantor tabloidnya terbakar dilalap si jago merah. Menurut rumor persaingan bisnis, tetapi entahlah…tidak ada yang tahu menahu penyebabnya. Memang tidak ada korban nyawa pada peristiwa kebakaran itu, semua terselamatkan, tetapi tempat bekerja, piranti computer, data-data maupun alat-alat lain untuk bekerja, semuanya dimakan api. Paimin sempat melihat atasan-atasannya menangis karena kehilangan bisnis untuk mengeruk uang dari hasil gosip, begitu juga teman-temannya, walaupun jabatannya rendah dan bergaji UMR.

    (Siaall…!!), keluh Paimin kesal. Apes sekali nasib Paimin ini, baru saja dia mendapatkan pekerjaannya tak lama, dan baru saja bekerja beberapa bulan, tetapi harus menelan kenyataan dengan kembali menjadi seorang pengangguran. Paimin kembali ke kostnya berniat melampiaskan masalah dengan Onani pada foto Acha di komputer.

    ZZztt…!! LOG IN…ENTER USER NAME AND PASSWORD !!

    SUCCESS, PLEASE WAIT…! Klik…!! Klik..!! Paimin hendak masuk ke foldernya dan,

    READING ERROR !! FILE BROKEN…!!

    (Bangke…sialan nih Virus…!!),kata Paimin kesal dalam hati.

    Braaakk !! Braaakk !! “Komputer sialaan…Virus bangsaat !! Anjing !!”omel Paimin.

    Lengkap sudah penderitaan Paimin, baru saja hendak melampiaskan ketidak beruntungan nasibnya dalam pekerjaan pada Onani, tetapi gagal pula. Sudah jatuh tertimpa tangga namanya, Paimin lupa bahwa dia sudah membuat Back Up datanya di CD.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

    # Ke-esokan hari, di kostan #

    Lama Paimin termenung memikirkan nasibnya, dia menjadi pemarah dan seperti orang sinting karena Stress berat. Dia jadi sering mabuk dengan meminum minuman memabukkan yang murahan, tentu dia bingung harus bagaimana. Kemarin saja dia beruntung karena ada kandidat yang mengundurkan diri tiba-tiba. Tentu keberuntungan tidak selalu hadir setiap saat, bisa dikatakan jarang untuk orang sepertinya. Paimin sudah mencoba beberapa kali untuk melamar ke beberapa tempat, tetapi nihil karena memang belum ada lowongan. Beberapa temannya ada yang sudah mendapat pekerjaan tetapi tetap tidak dapat membantunya, begitu pula teman sekampungnya Asep. Dia mencoba menghubungi nomor HP-nya, tetapi sering tidak aktif, otomatis SMS tidak masuk dan tidak terbalas. Paimin Stress, wajah buruk rupanya yang berkulit hitam itu semakin menyeramkan. Dia mulai putus asa dengan hidupnya, dia berpikir keras bagaimana dia membayar uang kost ?? haruskah dia menjual sepeda motor bututnya yang harganya tak seberapa itu ?? haruskah dia kembali ke kampungnya ?? bisa-bisa ditertawakan dia. Paimin memang punya sedikit tabungan dari hasil bonusnya, tetapi tidaklah bisa menampung segalanya selamanya, kebutuhan pokok sangatlah mahal dewasa ini. Paimin menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dia bingung dan pusing. Paimin menyalakan Tv untuk menghibur diri…, Zzzztt !!
    (Pemirsa…per Film-an Indonesia rupanya telah mendapatkan artis pendatang baru yang berbakat…!!), suara Reporter Tv.

    (Jelita…atau panggilan akrabnya Acha…bagaimana kesan anda ketika membintangi film pertama anda…??), tanya suara Reporter Tv.

    (Waaahh…seru abis !! deg-degan and bangga banget !! seru pokoknya !!), jawab suara gadis ABG itu yang baru saja menjadi artis terkenal bernama Acha.
    (Gadis itu…!!), mata Paimin tertuju pada acara Tv itu, dia tak percaya.

    (Gilaaa…udah ngetop aja nih cewe…!!), dalam hati Paimin.

    Gadis yang menjadi obsesi seksnya itu, sekarang telah menjadi artis. Paimin kemudian teringat dengan hasil jepretan yang selalu digunakan olehnya sebagai bahan onani sudah di Back Up-nya di CD, dia mengobrak-abrik kamar kostnya dengan penuh emosi, dia lupa menaruh dimana, saking kesalnya dia membalikkan meja yang biasa untuk menaruh tabloid tempat kerjanya hingga menimbulkan suara gaduh.

    Gubraaaggkk !! Bruggk…!!

    “Woi…Oiii !! Apaan tuh !!,omel suara itu sedikit serak.

    Tap ! Tap ! Tap !!, orang tadi menaiki tangga. Tok !! tok !! tok !!.

    “Miin…suara paan tuh ?? jangan berisik dong !! gua tahu elo Stress !! tapi jangan rusakin barang gue yang ada disitu…kalo barang lo sih terserah !!”, tegas Bapak itu.

    (Naaah…ketemu asik !!), Paimin tampak senang karena berhasil menemukannya. Diapun berlalu menuju pintu. Cekleek !! Kreeett…!!, pintu terbuka.

    “Maaf Pak Andang berisik…saya lagi nyari barang penting Pak Maaf !!”kata Paimin tak enak hati, melihat wajah pemilik Kost itu marah dan sangar walaupun berumur.

    “Ya nyari barang silahkan…tapi jangan berisik ampe kedengeran ke bawah gitu !!”kata Pak Andang yang terganggu tiduran santainya.

    “Maaf Pak Andang…saya enggak berisik lagi deh..Maaf ya Pak sekali lagi !!”

    “Ya udah…nyari apa sih kamu Min, sampe gaduh gitu ?!”tanyanya iseng.

    “Oo…ini Pak, CD Musik…ya udah Maaf ya Pak, permisi !!”kata Paimin menunjukkan CD itu sebentar tak ingin si tua itu tahu terlalu banyak, lalu berniat menutup pintu.

    “Oo CD musik doing toh…ampe rebut banget, ya udah jangan berisik lagi ya !!”tegas Pak Andang sekali lagi.

    “Iya Pak permisi…”Paimin pun menutup pintu, dan Pak Andang berlalu ke bawah.

    (Aaah, rupanya nasib mempertemukan kita kembali sayang hak hak hak) gumam Paimin dalam hatinya dan tertawa cekikikan sendiri seperti orang gila, tanpa terasa penisnya kembali keras mengacung, kini dia sudah mengetahui nama gadis itu.

    Akhirnya keberuntungan pun berpihak padanya. Paimin mendapatkan sebuah ide dan menyeringai jahat, tahu apa yang harus dikerjakannya. Paimin kembali mencoba untuk menghubungi Asep melalui telepon di kost-kostannya, tetapi tidak ada yang mengangkat juga. Paimin berpikir untuk langsung mendatangi kostnya saja. Tetapi sebelumnya dia pergi ke toko komputer untuk memperbaiki komputernya yang rusak, setelah mempretelinya dia pun berangkat dengan sepeda motor bututnya.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><>
    # Rental komputer #

    Paimin memijakkan kakinya di sebuah rental ketik computer tak jauh dari tempat kost-annya itu, kebetulan disitu juga melayani perbaikan hardware, bongkar pasang, rakit maupun penginstalan software. Tempat itu tidaklah besar, tetapi juga memiliki usaha sampingan seperti Voucher Pulsa Handphone dan Alat Bantu Sex disampingnya yang tersekat pisah. Penjaga sekaligus pemiliknya yang bermulut tebal dengan bergigi sedikit maju menghampiri Paimin.

    “Ehm…Bang permisi, ini rental komputer ya ?!tanya Paimin berbasa-basi.

    “Iyalah Mas…masa iya warung remang-remang hehehe “jawab si Abang berkelakar.

    “Hehehe…bisa aja si Abang, bisa perbaikin HardDisk saya ga??”tanya Paimin.

    “Tergantung kerusakan..perbaikin gimana mas maksudnya ? error gitu gak mau ngeload ya ?”tanya si tukang rental itu balik.

    “Oo…begini…file-file saya engga bisa kebuka gitu..tulisannya si broken, kayanya sih kena virus, tolong diback up aja data saya yang masih bisa terselamatkan di Hard Disk ini, terus format aja dan pasangin anti virus !!”terang Paimin.

    “Waah…susah juga nih masalah nyelametin data yang kena virus…gak janji yah Mas…saya coba dulu, tinggalin aja gak usah kasih DP, nti aja kalo emang saya nyerah paling cuma ongkos periksa aja ceban !”kata si tukang rental.

    Paimin sebenarnya sedikit keberatan, dia ingin melihatnya langsung proses itu, jadi waktu bisa terbuka bisa langsung di-Cut ke Flash Disk tanpa diketahui olehnya File apa itu.

    “Engg…ga bisa saya liat ya Mas prosesnya…soalnya data perusahaan…emm rahasia gitu deh !”kata Paimin sedikit tak enak.

    “Wah…saya engga bisa Mas kalo kerja diliatin gitu, lagi juga ini udah malem saya mau tutup..kalo Mas mau buru-buru cari rental lain aja deh !!”kata si bibir maju sewot karena dicurigai. (File apaan sih…paling-paling gambar porno !!”, keluh tukang rental dalam hati.

    “Bukan gitu Mas aduh…ya udah saya tinggal deh kalo gitu, kapan rampung ?!”tanya Paimin karena ingin melanjutkan perjalanan ke kost Asep.

    “Tinggalin aja alamat sama no. telp rumah, atau HP kalo ada malah lebih bagus !”.

    Paimin yang tak mau ribut-ribut lagi tak enak langsung menulis Alamat dan No. HP, lalu kembali mengendarai motor bututnya dan pergi ke Kost.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

    # Kost-an Asep #

    “Woi…Sep…apa kabar fren ?!tanya Paimin lantang sok akrab.

    “Woy…elu Min hehehe kemana aja lu gak pernah maen lagi ??”sahut Asep.

    “Yaah…lu tau pan tempat kerja gue kebakaran dan gue jadi pengangguran gitu!”katanya dengan nada sedih.

    “Iya gue tahu..gue liat beritanya…cuma gue kan tau elu…pasti ngamuk-ngamuk gitu deh kaya orang gila ehehe makanya gue sengaja jaga jarak dulu…takut hihihi !!”ledek Asep. Paimin memang terkenal galak, nekat dan pemberani di kampung mereka.

    “Hehehe sialan lu…pantes aja gue telp ke HP ga diangkat-angkat”sahut Paimin tertawa ringan disambut tawa Asep.

    “Eh, omong-omong gak ada lowongan di tempat lo…ato dimana gitu ??”sambung Paimin lagi.

    “Wah..belum ada tuh Min…ntar deh ya kalo ada…!!”jawab Asep sekenanya.

    “Pssstt…Sep !! gini…gue sebenernya ada perlu nih sama lo…rahasia banget !!”tolong gue ya !!”bisik Paimin.

    “Boleh bantu apaan…jangan yang illegal aja”jawab Asep.

    “Yah elo…ya udah..gini, lo tolong print-in gambar ini deh buat gue !!”kata Paimin seraya mengeluarkan sesuatu berbentuk CD dan memberikannya ke Asep.

    “Apaan nih…lo mao ngeprint gambar bokep di CD ini buat dijualin..??”tanya Asep menerima CD itu.

    “Bukan…udah Load aja dulu ke DVD ROM lo !!”suruh Paimin. Asep pun memasukkan CD itu dan, “Anjriiiiitt…!!”gelo lu Min !! ini kan si Acha artis ABG fav gue..!! dapet dari mana lu ?!”tanya Asep antusias.

    “Hihihi…gue…siapa dulu..!”bangga Paimin.

    “Gilaa…walah, ada yang pake rok mini gini lagi !! di Tv Innocent banget nih cewe !”kata Asep antusias.

    “Itu dia maksud gua…ini foto mau gua minta tolong lu print-in buat gua !”terang Paimin.

    “Wah..jangan-jangan lo buat meres lagi yak ?!”tanya Asep.

    “Ya gitu deh hehehe gimana lo mau ikutan gak ?!”ajak Paimin.

    “Waduh, gak ngikut deh Min, gue gak mao urusan polisi…udah punya kerjaan tetep !!” tegas Asep.

    “Alaah..banci lu !! ya udah deh gue aja sini, tolong print-in beberapa lembar ya !!”sahut Paimin tak keberatan teman sekampungnya itu tidak ikutan acaranya. Asep pun melakukan apa yang disuruh Paimin karena tak enak juga.

    “Nih…lu kalo ada apa-apa jangan bawa-bawa nama gua lu yak !!”kata Asep sedikit takut, sambil mengeluarkan CD dan mengembalikannya ke Paimin.

    “Iya bawel…takut amat lu jadi orang ! btw thanks ya print-an gratisnya hehehe yo gua cabut dulu fren !!”kata Paimin.

    “Walah sialan lu..kesini perlu itu doang hehehe, Ok deh…Min, c u ya !”sahut Asep, setelahnya dia hanya menggelengkan kepala atas apa yang akan dilakukan teman sekampungnya pada artis pendatang baru itu nanti.

    Paimin keluar dari kostan Asep dengan rasa senang, dia kembali mengemudikan sepeda motor bututnya ke kost-kostannya untuk istirahat sebentar dan makan malam, setelahnya dia keluar menuju suatu tempat yang dirasanya akan ada Acha disana.

    Baca Juga : Cerita Dewasa Crot di Memek Ijah

    Tetapi na’as, dia lupa mengunci pintu kamarnya karena terlalu bernafsu ingin bertemu Acha dan memerasnya habis-habisan. Ada seseorang bertubuh gempal memasuki kamarnya, dia adalah Pak Andang Bapak pemilik kost Paimin. Tadinya dia hanya ingin meminjam CD lagu Paimin, karena di kost itu Paimin yang paling ramai kamarnya dengan musik atau full music. Bapak itu mencari-cari dan, dia melihat bungkus CD yang pernah ditunjukkan Paimin sekilas waktu itu. Dia meraihnya karena dia pikir isinya toh sama lagu. Pak Andang pun memasukkannya ke DVD Player dan ternyata malah file extension JPG atau gambar yang terbaca.

    (Waah…i.ini kan artis ngetop…kok bisa ?), tanya Pak Andang dalam hati. Dia buru-buru mematikannya, mengganti isinya dengan CD lain dan kembali menaruh barang itu ke tempat semula, si Bapak senang karena bisa melihat pemandangan. Sementara di tempat lain, ada pria bermulut maju sedang mengotak-atik isi Hard Disk Paimin. Dia sudah curiga bahwa isinya berbau hal mesum, diapun sama senangnya dengan Bapak pemilik kostan. Mereka berdua mengembangkan senyuman jahat.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
    # Café tempat Paimin melihat Acha pertama kali #

    “Siaall…sial banget gue !!”, gerutu Paimin.
    Paimin datang ke Café itu dengan harapan bisa menemui gadis itu dan memerasnya, namun kembali sial. Bartender di sana bilang kalau gadis itu sudah tak pernah lagi main ke cafe itu, mungkin sudah dapat tempat hang out yang baru. Persediaan uang di kantongnya menipis dan kritis.
    (Benarkah dia tidak pernah ke Club malam ini lagi ?), tanya Paimin dalam hati. Paimin berpikir, tampaknya dia harus mencari alamatnya dan menyaru sebagai reporter untuk mewawancarainya, mencari alamat Acha tentunya masih bisa dibilang mudah, karena koneksi Paimin yang masih terjalin hangat dengan beberapa temannya, mempunyai jaringan yang cukup luas, untuk sekedar mencari info alamat seorang artis itu mudah saja. Akhirnya Paimin pun mendapatkan alamat rumah Acha dengan usaha menghubungi teman-temannya.

    <><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
    # Kediaman Acha di Jakarta #

    Berrrmm…!!

    “Ya..ya..kiri dikit..bales kanan…cukup !!”suruh suara itu yang tak lain Ibunda Acha.

    Acha keluar dari mobil yang dikendarainya, ketika itu saudaranya Juwita Septriasa tidak ada di tempat, pembantunya juga sedang ke pasar, hanya ada Acha dan Sang Ibunda.

    “Cha..Acha…Mamah duluan yah ngantuk nih…!”kata Sang Bunda.

    “Ok Mah…aku juga kedalem nih abis nutup garasi !!”katanya sambil mengetik SMS. Ibu Acha pun langsung berlalu ke kamarnya meninggalkan Acha di garasi.

    “Non Acha…maaf Non..boleh saya ganggu sebentar..!!”kata seorang Pria berperawakan bengis, berkulit hitam dan bertubuh kurus itu. Acha tertegun, entah kapan Pria ini sudah ada di dekatnya. Kalau boleh jujur Acha sebenarnya sedikit takut dengan sosok pria misterius yang muncul tiba-tiba itu. Mata Acha pun merujuk ke arah Name Tag yang menggantung di leher hitamnya, dimana Acha berpikir pria ini salah satu Wartawan. Hati Acha pun senang bukan main, hal yang lumrah dirasakan oleh artis baru bangga karena terkenal. Padahal pria ini adalah Paimin yang bermaksud buruk dan mesum terhadapnya.

    “Mmm..siapa yah ??”tanya Acha sambil tersenyum semanis mungkin ke arahnya.

    “Perkenalkan…nama saya Paimin…dari tabloid P******!! bermaksud mewawancarai Non Acha sebentar jika tidak mengganggu..”kata Paimin sok ramah. Acha sempat berpikir bahwa dia tidak pernah dengar nama tabloid ini, Acha tidak mengikuti berita bahwa perusahaan yang memproduksi tabloid itu sudah terbakar habis, karena saat itu Acha dalam tahap ‘penggojlogan’ Om Sutanto untuk menjadi artis. Tapi satu hal yang pasti, pada saat ini perasaan Acha sedang melambung tinggi, senang dan tak peduli siapa..maupun tabloid mana yang akan mewawancarainya. Asalkan wajahnya bisa terpampang di tabloid dan membuat namanya semakin tenar dan berkibar.

    “Ooh..tidak tidak…silahkan duduk…maaf kalau berantakan !!”sambut Acha ramah.

    (Rumah lo rapih kok…paling Memek lo ntar yang gue bikin acak-acakan hihihi !),tawa Paimin mesum dalam hati.

    “Waah…ini sih rapih Non…bagus rumahnya !!”pujinya, lain dengan kata hatinya.

    “Ahahaha..bisa aja Mas Paimin ini !”sahut Acha seraya tertawa renyah.

    “Jadi…ada hal apa yang mau ditanyakan mengenai saya ?”kata Acha serasa artis besar.

    Paimin langsung menyeringai mesum ke arahnya, Acha sempat merasakan perasaan tidak enak melihat ekspresi wajah Paimin yang tiba-tiba berubah 180 derajat itu. Paimin mengeluarkan sesuatu dari tas buluknya, yang rupanya beberapa foto dirinya. Acha langsung terkejut, mimik wajahnya yang tadi tenang dan manis berubah juga 180 derajat, gadis itu serasa tersambar petir di siang bolong saja, yang jelas-jelas saat itu tidak hujan.

    “Pak…apa-apaan ini…Bapak dapat ini dari mana…Haah ?!”tanya Acha panik dan kalut.

    Jantungnya langsung berdegup kencang, mata jelitanya serasa ingin meneteskan air mata. Baru saja namanya naik daun, masa harus jatuh dan hancur gara-gara sebuah foto berpose nakal di sebuah Café, mana ada fotonya juga bersama Om Sutanto.

    “Ooh..begini Non, waktu itu saya kebetulan lagi nyari-nyari bahan buat tabloid, lagi nyari artis buat di foto, pas kebetulan ada Non Acha saya lihat lagi ngerokok di pojokkan pake rok mini lagi ehehe iseng aja sih waktu itu, ‘gak nyangka foto ini bakalan berguna suatu hati gitu hihihi”jawab Paimin sambil tertawa.

    (Bodoh…bodoh sekali aku ! kenapa, kenapa aku begitu ceroboh membiarkan orang asing mengabadikan aku sembarangan, dengan dandanan seperti ini…aku kira orang ini hanya iseng saja waktu itu !!), pikir Acha dalam hati. Pikirannya kalut sekali, dia bingung.

    “Baik, kalau begitu…Mas Paimin mau berapa Juta !! aku kasih, tapi kasih aku Master foto ini lalu cepet pergi dari sini !!”Acha menegarkan hatinya, mengeluarkan ultimatum yang ketus.

    “Wah wah…galak tenan hehehe…yo wis, saya minta 5 Juta..plus…pelayanan Non Acha seperti yang dirasakan Om Produser”sindir Paimin sambil menyeringai mesum.

    “Apa…gak! nggak mau ! aku tambah 5 Juta lagi tapi aku gak mau digituin !!”jawab Acha menolak permintaan disetubuhi Paimin.

    “Wah…saya sebetulnya memang suka uang, tapi..saya lebih penasaran dengan nikmatnya rasa tubuh Non Acha hak hak hak”sahut Paimin tertawa sinting.

    Acha ingin rasanya berlari meninggalkan pemerasnya itu, tetapi dia semakin lemas ketika tangan pria itu melambaikan fotonya yang memakai rok mini dan sedang merokok, yang bisa-bisa merusak image yang sudah dibangunnya susah payah melalui pelayanan tubuh hancur-hancuran ke Om Susanto serta beberapa relasinya yang beberapa adalah pejabat penting negara. Acha langsung merebut foto itu dan mengoyaknya menjadi serpihan dan melemparkan ke wajah Paimin, artis ABG berwajah manis itu menangis. Namun dengan santai Paimin berkata,

    “Robek aja Non sesukanya…nanti saya robek juga Memek Non kaya gitu hak hak hak !!”ancam Paimin sambil tertawa menang.
    Acha pucat pasi, sosok pria di hadapannya sungguh membuatnya ketakutan, wajah buruk rupa ditambah stress keuangan. Tak terasa Acha yang tadinya duduk, dia bangkit dan mundur ketakutan. Acha terbayang karirnya, karir yang akan ditukar dengan siksaan birahi yang diterimanya. Karir yang memberikan kemewahan baginya, yang mempertemukannya dengan Irwansyah kekasihnya, yang juga belum tahu tentang keadaan dirinya.
    ”Ja..jangan Mas…ada..ada Ibu saya di dalam !!” kata Acha ketakutan, dia mundur masuk ke ruangan depan. Pagar rumahnya juga belum sempat ditutup olehnya, karena tidak menyangka kejadiannya menjadi seperti ini.

    ”Ya…itu sih pinter-pinternya Non Acha aja gimana nahan teriakan hihihi”kata Paimin.

    Acha terus mundur, tak terasa dia terpojok ke kamarnya sendiri. Pintu itu masih terkunci, Paimin melihat di atas pintu itu ada tulisan “ACHA”, yang berarti kamarnya. Paimin lantas menyeringai, Acha yang sedang panik ketakutan itu tak sadar bahwa di belakangnya kamar dia sendiri.

    “Non, pas bener…ya udah ayo masuk ke kamer Non aja !! kalo di ruang tamu nanti Ibu Non tahu kan ?? ayo..!!”suruhnya.

    Acha yang dari tadi menutupi kedua payudara yang masih berpakaian lengkap itu, gara-gara pandangan ‘lapar’ Paimin, membalik tubuh indahnya. Dia membuka kunci, dan memutar handel pintu perlahan, karena tak rela akan disenggamai makhluk sejelek Paimin. Semesum-mesum wajah Pejabat atau Produser yang memakai tubuhnya, tidak separah wajah Paimin. Saat masih memutar handel pintu itu, Acha risih merasa pantatnya diremasi tangan kurus Paimin.

    “Non..montok banget !! artis sering fitness sih ya !!”leceh Paimin. Akhirnya pintu pun terbuka, dan ruangan mewah, kasur springbed dan boneka-boneka terjejer. Acha segera menutup pintu agar Ibunya tidak tahu kejadian ini. Paimin dengan menyebalkan duduk di kasur Acha. Acha benci sekali dengan orang yang memerasnya ini, dia berpikir kalau terlihat takut dan tunduk di depan orang seperti ini, hanya membuatnya senang. Acha membusungkan dada, dia masih tak berdaya namun mencoba tegar.

    “Ok, Non Acha pasti tau apa yang saya mau…pertama, panggil saya Tuan !!”perintah Paimin.
    ”Baik..Tuan ! tapi sebelum kita mulai, gue cuma mao bilang, ini semua cukup hari ini! lo musti janji ngembaliin barang itu, gue pasti hari ini nurutin semua yang elo mao plus gue kasih 5 Juta, kalo lo nekat maksa besok gue masih harus layanin lo dan seterusnya lagi, gue juga nekat lapor polisi, gak peduli sama karir artis gue, jadi cukup sekali ini aja OK!!”tegas Acha.

    “Hmmm…OK !!”jawab Paimin singkat. Tak masalah baginya asal bisa mencicipi Acha seharian penuh ini.

    “OK kita lanjut, berikutnya…hmm, buka semua pakaian Non sampe bugil gil gil hak hak hak”perintahnya seraya tertawa sinting.

    “Baik Tuan…!!”jawab Acha singkat dan ketus.

    Acha yang tak punya pilihan langsung menuruti perintah Paimin, si cantik itu melepas satu persatu pakaiannya, Paimin meminta Acha melempar Bra dan Celana dalamnya ke arahnya, Paimin menikmati pemandangan itu sambil menghirup harum pakaian dalam Acha, penisnya semakin mengacung saja, wajah Paimin langsung Mupetot (Muka pengen ngentot) melihat Acha telanjang. Beruntung Paimin, Acha suka sekali menjaga kemaluannya bersih, dia mencukur bulu kemaluannya. Paimin menarik tubuh Acha agar mendekat dan, Hap…!! Paimin langsung menjilat dan melahap vagina Acha sambil duduk di pinggiran ranjang. Acha merem melek keenakan juga sambil meremas rambut keriting pemerkosa yang dibencinya itu. Mulut hitam Paimin sangat rakus menyedot vagina Acha, seperti orang kelaparan, sampai-sampai Acha juga tak tahan untuk menolak orgasme pertama bersama pemerkosanya. Tubuh Acha bergetar hebat sambil menutup mulutnya, dia mencoba sebisa mungkin meredam suara karena takut terdengar Ibunya. Tersiksa sekali Acha orgasme yang seharusnya dilepas dengan erangan nikmat keras dan panjang terpaksa diredam dengan tangannya.

    “Sluurrpphh…Shrepph cep cep Aah…enyaaak…gurih Memeknya artis hihihi !!”ejek Paimin sambil tertawa menyebalkan. Acha kelelahan dan duduk di lantai sesaat, Paimin membiarkan pelacur artisnya itu istirahat sebentar sambil memandanginya dengan pandangan melecehkan, sementara Acha menatap balik dengan pandangan marah penuh kebencian, walaupun tidak menampik bahwa Paimin memberikannya kepuasan yang tidak pernah diberikan Irwansyah. Menurut Irwansyah, Oral sex itu kotor. Baik itu dari Acha ke dia, atau dia ke Acha

    “Naah sekarang…saya yakin Non pasti punya stocking bokep yang biasa dipake Striper iya kan ?! nah pake itu sekarang, yang warna hitam !!”suruh Paimin.

    Acha mengerti, yang dimaksud Paimin adalah Fishnet (jaring ikan), memang Acha dan artis harus punya ketika dia disuruh striptis Bos-bos jadi lebih hot dan seksi. Dia bangkit dan membuka lemari pakaiannya yang tersembunyi, untuk pakaian-pakaian yang seperti ini Ibunya memang tidak tahu menahu. Acha selalu seperti malaikat di matanya dan di mata pemirsa. Selagi mencari dia merasakan tangan Paimin meremas pantatnya dari belakang dengan gemasnya.

    “Hhmmm..gimana Non…ketemu ?!”katanya sambil menggerayangi tubuh Acha.

    Deg…!! Acha kaget, ketika Paimin memeluknya, dia merasakan penis Paimin yang panjang itu di pantatnya. Acha sebenarnya kaget akan dua hal, yang pertama dia kaget Paimin telah bugil, yang kedua batang penis Paimin yang panjang. (Mustahil !!), dalam hati Acha. Setelah berusaha terus mencari, perjuangan keras mengacuhkan kehadiran Paimin yang menempel ketat di belakang tubuhnya, akhirnya ketemu juga.

    “Nih..ya udah, Tuan tunggu dikasur dulu dong ! mau liat gue striptis kan pake ini ?!”kata Acha sebal seraya menunjukkan jaring ikan hitam itu. Paimin tersenyum mesum, pria berkulit hitam itu mencium pipi Acha yang mulus lalu kembali ke kasur.
    “Kayanya Non Acha udah biasa yah…Ok lah sok !!”kata Paimin.

    Acha mengenakan stocking hitam seksi bak pemain blue film itu, lalu menyetel musik untuk meredam suara permainan seks mereka. Lagu ‘Maps of the Problematique’ dari Muse pun mengalun, lagu yang berirama beat itu menambah goyangan Acha yang memang sudah Hot menjadi tambah Hot saja. Acha terpaksa harus merasa seksi di depan pemerkosanya itu, agar dia cepat menyetubuhinya, habis spermanya dan melepaskan dirinya secepatnya. Acha meliuk-liukkan pinggul padatnya, tangannya satu menekuk ke atas dengan seksi, bahkan menyentak kakinya ke arah Paimin lalu berbalik dan menghadapkan pantat sekal putihnya persis di depan wajahnya. Paimin onani karena tak tahan dengan gadis obsesinya itu striptis di depan matanya, dengan dandanan Hot pula, mulut orang kampung itu langsung bergerak melahap, tetapi Acha sengaja nakal dengan mengelak, seperti kebiasaannya di depan Bos-bos. Paimin yang sudah tak tahan merasa dipermainkan langsung mendekatkan penisnya ke pantat Acha yang sedang bergoyang nakal itu, mengocoknya sebentar dengan cepat dan menekan kepala penis hitamnya, “Oookh…!!”kejan Paimin.

    CROOOTTT !! BLAARR !! JROOTT !! CROTT !!

    “Aaaanghh…Aaaaaaanngghh…”desah Acha seksi, dia tidak menyangka Paimin akan menyiram body seksinya yang sedang berputar itu. Kontan saja pantat Acha mandi sperma Paimin, Acha sudah terbiasa walau tak suka. Paimin puas dengan ejakulasi pertamanya. Nafsunya kembali naik cepat melihat pantat Acha yang belepotan sperma dia sendiri. Paimin melempar tubuh Acha ke ranjang hingga menungging di pinggir ranjang, dia menarik kakinya agar berpijak di lantai tetapi setengah badannya tetap di ranjang, Acha hanya menjerit pasrah menungging. Paimin menampari pantatnya hingga terceplak merah bergambar telapak tangan karena pantat Acha berkulit putih. Sambil menampar dia juga getol meremasnya, bahkan menelusuri halusnya paha Acha yang sering mandi susu itu centi demi centi.

    “Tuan…pelan-pelan Tuan…nanti kedengar.Aaaaakkh !!”

    Belum sempat Acha menyelesaikan kalimatnya sudah mendarat tamparan keras di pantat berkulit putihnya. Acha mulai resah gelisah, selain karena takut ketahuan, tubuhnya juga mulai terangsang oleh jari Paimin yang kini bermain dibelahan vaginanya. Sekarang Acha harus bekerja extra keras menahan lenguhan, desahan dan erangan. Acha menggigit sprei ketika jemari Paimin mengocok vaginanya dengan brutal diselingi tamparan di pantat sekalnya. Tangan gadis itu mencengkeram pinggiran ranjang dengan kuat, matanya mendelik dan tubuhnya menegang. “Aaaangghh…!!”

    Crrrtt…!! Creett !! Serrr…!! Acha orgasme.

    Dia mendapatkan orgasmenya dari orang kampung yang memerasnya dan sangat dibencinya itu, sungguh kontra sekali. Acha hanya bisa menurut ketika Paimin memintanya menjilat jemarinya yang berlumuran cairan orgasmenya sendiri. Tubuh gadis itu lemah akibat orgasme yang dialaminya, dan kini ia tak bisa menolak ketika Paimin menyepak kedua kaki Acha agar meregang lebar, penisnya yang sudah bangun dan menuntut persenggamaan melalui vagina Acha sudah mengancam di depannya. Paimin nampak ingin mendoggy Acha,

    Zreeekk !! penis Paimin pun mendobrak paksa vagina Acha untuk menerima dan menjepitnya. Mulut Acha terbuka dan menjerit kecil lalu buru-buru menggigit sprei kencang, untung saja musik yang keras membantu meredam jeritan singkatnya tadi.

    “Oookhh…enaknya Memek artis…emang laen rasanya..Eeenggh !!”celoteh Paimin.

    Paimin tampak menikmati jepitan dinding vagina Acha, tapi dia tak berlama-lama dan langsung bergerak brutal menyetubuhi Acha, sodokannya semakin lama semakin cepat dan kasar, tubuh Acha terpental-pental. Kaki jenjangnya yang berdiri tegak sudah mentok ke pinggir ranjang, karena terus menerus tersentak-sentak. Paimin menjambak rambut Acha dan menggenjotnya dengan lebih bertenaga, diselingi tamparan-tamparan di pantat Acha hingga menimbulkan bilur-bilur kemerahan. Tubuh Paimin serasa lebih hangat mengeras dan bergetar nikmat, dia mendekati ejakulasi dan menyodok Acha lebih sinting. Paimin mengangkat kedua kakinya dan naik ke ranjang Acha, dan menumbuk-numbuk artis ABG cantik itu hingga menungging tengkurap. Spring bed empuk dengan Per kualitas tinggi itu memudahkan penetrasi Paimin, sehingga waktu Paimin menekan penisnya dalam-dalam, tubuh Acha tertekan ke bawah lalu membal kembali ke atas. Sprei putih tempat tidur masih diremas dan digigitnya menahan birahi serta erangan nikmat dirinya. Tangan kanan Paimin mencengkram pundak Acha sekaligus menekan tubuh Acha agar tidak bisa bergerak dan bangun, tangan kirinya lanjut menjambak rambut kemerahan boundingannya, sehingga wajah cantiknya sedikit mendongak kebelakang menyamping, bertatap-tatapan dengan pemerkosanya. Acha sebenarnya ingin muntah melihat wajah Paimin. Buruk rupa, berkulit hitam, tubuhnya sedikit kurus, rambut kumal cocok dengan keadaan stressnya, liur dari bibir hitamnya yang bau menyengat hidung, hembusan nafas yang tak sedap menerpa wajah, melengkapi penderitaan yang menyelimuti Acha. Sedang asyik-asyiknya Paimin mendoggy Acha, tiba-tiba handphone Acha berbunyi.

    Deg…!!, jantung Acha berdegup. Disaat tersiksa birahi seperti ini, ada siksaan tambahan.

    “Aduh !! siapa sih…?! ganggu orang ngentot aja ! inget Non jangan coba omong macem-macem awas yah, kalo mau Master foto Non kembali, paham ?!”ancam si Paimin sambil menjambak rambut Acha, wajah Acha mendekat dipaksa menatap wajah jeleknya yang menyeramkan.

    Acha hanya mengangguk ketakutan, masih dengan penis melekat ketat di vagina, mereka bangkit untuk mengambil HP yang berbunyi di meja rias kamar itu. Acha sungguh bersusah payah berjalan dari tempat tidurnya ke meja rias itu, padahal jaraknya tidaklah jauh. Tentu saja dengan penis Paimin yang panjang dan sedang meraja di liang senggama miliknya, membuat Acha kesulitan menahan kenikmatan dikerjai Paimin. Paimin sendiri sedang merasakan nikmat di penisnya yang terjepit vagina Acha, sambil berjalan. Bahkan karena Paimin sedikit lebih tinggi dari Acha, ditambah panjang penisnya itu, memaksa Acha untuk berjalan sedikit menjinjit. Jarak yang dekat terasa jauh, waktu yang sebentar serasa panjang. Tak terasa pelecehan itu membuat vagina Acha kian banjir oleh lendirnya. Akhirnya, dengan perjuangan penuh..Acha berhasil sampai di dekat HPnya. Artis cantik itu menundukkan badan untuk mengambil HPnya, kontan posisinya menungging seksi. Jari lentik yang kukunya sering dihias kutek itu meraih HPnya, Acha melihat siapa yang menelpon, disitu tertera ‘Irwansyah My Love !!’. Acha bingung harus bagaimana. Ketika sedang bingung-bingungnya, Acha merasa tubuhnya yang sedang berposisi menungging itu tertarik kebelakang sedikit, dengan gerakan cepat dan tiba-tiba Paimin menyentak dan melesakkan penisnya dalam-dalam.

    “Huuungghh…!!”geram Paimin.

    Zreeeekk !! “Aaaaaakkh…!!”erang Acha refleks.

    Artis cantik itu tidak bisa meredam suaranya, karena dia takut terjeduk cermin rias di di depannya dan refleks memegang pinggiran meja rias, sebelahnya masih memegang HP.

    Acha merasa sodokan penis Paimin itu serasa menjebol vaginanya di kedalaman yang belum pernah terjangkau oleh penis-penis sebelumnya, karena begitu panjang penis orang kampung tersebut. Setelah tertancap sempurna, mereka kembali melenguh nikmat.

    “Heh…ayo jawab Perek !! Eeeenggh !”suruh Paimin dengan nada galak sambil melenguh nikmat karena penisnya menancap mantap di vagina Acha.

    (Sialan lo…gue juga dari tadi pengen jawab kalo elo ga nyentak gue kaya tadi !!), omel Acha dalam hati.

    “Ha..halo..Sayang..AMmppphh !! Acha langsung menutup mulut dengan tangannya dan menutup lubang bicara HP, karena Paimin mendudukkan diri tiba-tiba di meja rias itu. Paimin menjulurkan lidah karena merasakan betapa nikmat penisnya terjepit dan tertumbuk vagina Acha yang sangat legit itu.

    (Acha Sayang…mau aku jemput ato gimana ??), suara Irwansyah keluar dari HP.

    “E.eng..engga..usah.Aaaaaakkhh !”erang Acha yang kali ini tidak menutup lubang bicara HP, sulit karena Paimin dengan sengaja menyentaknya ke atas sambil memegangi tangan kiri Acha, sementara tangan kanan Acha memegang HP di telinganya.

    “Cha…Acha…kenapa kamu ?!”tiba-tiba Ibunya bertanya di depan pintu. Acha panik, dia pikir Ibunya masih tidur. Paimin sendiri juga kaget, dia tidak ingin sampai Ibunya Acha tahu. Ibunya pasti lebih memilih lebih baik foto itu tersebar, Paimin tertangkap dan Acha gagal diperkosa. “Jangan omong sembarangan Non..!!”ancam Paimin dengan wajah yang menakutkan. Acha yang masih haus ketenaran dan berpikir betapa memalukannya foto tersebut, terpaksa berbohong.

    “Eng..gapapa Mah…cuma kecoa…udah pergi !”dusta Acha.

    “Ooh, kirain kamu kenapa-napa…udah dua kali Mamah denger kamu teriak…bikin Mamah jantungan aja kamu, ya udah..“sahut Mamahnya.

    Geraman Paimin tidaklah sekeras erangan Acha, karena Paimin cenderung mendehem dan memfokuskan pada sodokan penis. Berbeda pada Acha yang posisinya sebagai receiver atau penerima sodokan, tentu kadar kerasnya erangan dari kasar atau dalamnya sodokan penis di vaginanya.

    (Halo..halo Sayang !! kenapa kamu teriak..??), tanya Irwansyah di Handphone.

    “E.engga apa-apa kok Yang…makasih ya !! oya aku berangkat sendiri aja, Dadah !”kata Acha buru-buru menutup pembicaraan untuk lepas dari derita birahi.

    (Oh ya udah, kirain kamu kenapa-napa..Ok..dadah…Muach !!”), ucap sayang Irwansyah.

    “Muach juga dadah…!!”balas Acha menutup pembicaraan di HP.

    “Acha Sayang, Mamah mau arisan dulu ya di sebelah..kamu jangan lupa nanti sore ada syuting…Mamah engga bisa nganter, Bi Ijah masih Mamah suruh belanja bentar lagi pulang…kalo Bi Ijah belum pulang kamu mau jalan, ya kamu gembok aja, Mamah, Bi Ijah sama Juwita ada kunci serep kok Ok !! istirahat yang cukup ya Dadah…!”kata sang Ibu.

    (Damn…gue lupa !! masa gue harus bawa orang aneh ini ke tempat syuting ?), pikir Acha dalam hati. “Daaah…!!”sahut Acha lantang, sementara pikirannya masih kalut.

    “Chaa…kok kamu belum nutup pintu garasi sih ?? untung aja engga kemalingan mobilnya !!”marah sang Ibunda Acha.

    “Iya Mah maaf…Acha ngantuk ! tolong ya !”dusta Acha lagi.

    “Ya udah, ngantuk sih ngantuk !”gerutu sang Ibu, sambil menutup pintu garasi.

    Setelah yakin Ibunya sudah keluar, Paimin menyeringai.

    “Non…ternyata acting Non bagus yah…saking bagusnya bisa dipake bohongin orang tua sendiri hak hak hak hak”.

    (Gue bohong terpaksa, karena lo maksa gituin gue sialan !!), maki Acha dalam hati.

    “Nah Non, bisa lanjut nih entotan kita”kata Paimin seraya menyeringai.

    Acha memandangi Paimin di kaca rias itu dengan penuh kebencian dan jijik, Acha tidak pernah membayangkan dapat disetubuhi oleh orang macam Paimin. Paimin menangkup kedua payudara Acha, meremasnya kencang dan menaik turunkan tubuh Acha dengan gencar. Vagina Acha dipaksanya menumbuk-numbuk penisnya yang mengacung. Paimin mencengkram kedua lengan Acha agar lebih mudah membetotnya menumbuk ke bawah, dimana tangan Acha masih menggenggam HP-nya. Ceritamaya

    Paimin yang menyenggamai Acha sambil menikmati wajah cantiknya di kaca rias, tidak bisa bertahan lama karena terlalu legit vagina Acha. Paimin mencengkram pundak Acha, menaik turunkan tubuhnya, Paimin menceracau jorok dan menggeram tak karuan menuju ejakulasinya.

    “Gila Memek lo…gila Memek loo…Gilaaaaaaaaaaakkkhhh !!”geram Paimin.

    Sambil menekan pundak Acha sehingga menumbuk penisnya yang terjepit dalam-dalam.

    Jleeeebbh !! “Iyyaaaaaaaahh…!!”erang Acha.

    CROOOOOOOTTTTSS !! CROOOTTT !! JRUOOOTTTT !! CROTT !!

    Tubuh hitam Paimin memeluk tubuh molek Acha yang berkulit putih sambil menembaki spermanya, Acha pun menyambut dengan sebuah lengkingan panjang, Paimin mengejat-ngejat berdehem nikmat di punggung mulus Acha, dia pasrah vaginanya dipenuhi sperma Paimin. Cairan putih pekat dan kental itu terasa hangat sekali dirasakan vaginanya. Acha masih bersender di tubuh hitam Paimin yang masih meresapi lenikmatan ejakulasi dari tubuh artis obsesinya. Ketika nafas Acha masih senin kamis, handphonenya kembali berbunyi walaupun kali ini hanya bunyi SMS.

    Tinutt !! Tinutt !!. Artis ABG Favorit pemirsa yang cantik jelita itu membaca isi SMS.

    Deg…!!, jantung Acha serasa terhenti, tangannya yang memegang HP gemetar, matanya yang jelita terbelalak. SMS itu dari Irwansyah.

    (Acha Sayang, sorry aku ada yang lupa ngingetin kamu ! nanti malam kamu abis syuting ditunggu makan malam sama keluarga aku, kamu engga lupa kan nyokap aku Ultah ? dan juga jangan lupa…ade sepupuku sukanya sama boneka babi, dia seneng juga sih waktu kamu beliin boneka beruang…ya itu kalo kamu mau beliin hadiah, engga beli juga engga apa apa…aku sengaja SMS takut kamu lagi nyetir di jalan Ok ?! ya udah dadah Muah !), isi SMS tersebut.

    Beberapa hal yang ditakuti Acha Pertama, dia syuting terpaksa membawa Paimin. Kedua, merayakan Ultah Ibu Irwansyah ikut membawa Paimin. Ketiga, dia membeli boneka di Mall juga terpaksa membawa Paimin ikut serta. Tentu hari ini dia berjanji penuh untuk melayani Paimin, tentu Paimin tidak perduli apapun kepentingan Acha hari ini. Acha bertambah kalut pikirannya, dia semakin ketakutan mendengar suara serak dari belakangnya.

    “Waah…asik nih gue bisa jalan-jalan ke Mall, ikut ke tempat syuting dan ngerayain Ultah bareng Artis sambil ngentot !!”kata Paimin menyeringai mesum ke arah Acha melalui media cermin, Acha menatap Paimin balik dengan wajah memelas di kaca rias itu. Acha semakin terasa bertambah tersiksa saja mendengar Paimin berkata.

    “Naah…sebelum berangkat pergi, tentu tubuh kita musti bersih kan Non…kalo begitu, yuk kita mandi dulu berdua ehehehe mumpung rumah Non sepi…!!”saran mesum Paimin dengan wajah menyeringai cabul.

    Acha menggeleng-gelengkan kepala, (Tidak…Tidak..Tidaaaaaakk !!), dalam hati Acha. Kemudian terdengarlah suara “Hak hak hak hak…!!” yang merupakan tawa menyebalkan Paimin.

    (TAMAT)

    Terima kasih kepada Mr. Shusaku Kato pemilik milis.
    Permohonan Maaf untuk kerabat, sahabat maupun fans Acha Septriasa.
    Cerita ini hanya sekedar berbagi fantasy, tidak bermaksud apapun ^o^.

  • Adik Ipar Ku

    Adik Ipar Ku


    190 views

    Ceritamaya | Sesampainya di rumah, selesai mandi kukenakan daster tidurku tanpa celana dalam, dan kusemprotkan parfum di tubuhku, siap menanti pria yang akan mengisi kebutuhan seksku. Kulihat kedua anakku sudah tidur pulas. Kemudian kira-kira jam 23:30 kumatikan lampu kamar dan kurebahkan tubuhku di tempat tidur terpisah dari tempat tidur anak-anakku. Sambil tidur-tidur ayam, kunantikan Ary masuk ke kamarku. Sekitar jam 01:00, kulihat pintu kamar yang sengaja tidak kukunci secara perlahan dibuka orang. Kulihat Ary dengan sarung masuk. Setelah ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, ia menuju tempat tidurku dan langsung menindih tubuhku dan menciumi wajah serta bibirku. Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi vaginaku. Ary berkata, “Wah sudah siap nih ya.. nggak pakai celana dalam..” Tak berapa lama Ary mengangkat dasterku dan mempermainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang vaginaku, membuatku melayang dan vaginaku cepat banjir. Ternyata Ary juga sudah siap dengan tidak memakai celana dalam. Digesek-gesekannya lontongnya yang sudah mengeras di pahaku sambil jari-jari tangannya mempermainkan vaginaku. Kubalas gerakan Ary dengan meremas-remas dan mengocok lontongnya. Nafsuku semakin naik, begitu juga Ary karena nafasnya terdengar semakin memburu. Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, “Oh.. oh.. Wita.. Ary sudah nafsu.. Wita haus kan.. Ary masukkan ya..” Aku pun sudah tidak tahan, “Oh Ri.. masukkan cepat lontongnya.. Wita sudah nggak tahan.. Ohh Ri..”

    Kemudian, “Slep..” kurasakan lontong Ary yang lebih besar dan panjang dibandingkan lontong suamiku itu masuk dengan mudah masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah benar-benar basah itu. Kurasakan lontongnya sampai menyentuh dinding vaginaku yang terdalam. “Oh.. Ri.. aduh enaknya Ri.. oh gede Ri..” aku merintih, sambil kupeluk erat tubuh Ary. Kudengar pula rintihan Ary sambil menurun-naikkan lontongnya di dalam vaginaku. “Oh.. oh.. agh.. Wita, enak sekali apem Wita.. oh.. aagh..” Dari cara permainannya, aku merasakan Ary belum berpengalaman dalam hal seks dan kelihatannya baru pertama kali ia berbuat begini. Mungkin karena begitu nafsunya kami berdua kurang lebih 10 menit menikmati hujaman lontong Ary, aku sudah mau mencapai orgasme. “Oh.. agh.. aduh Ri.. cepatkan tusukannya Ri.. Wita mau keluar.. oh..aagh..” Kurasakan Ary pun sudah mau orgasme. “Oh.. agh.. Mbak, Ary juga mau keluar.. oh.. aaghh..” Tak lama kemudian, berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang keluar dari penis Ary yang masih perjaka, keras dan berkali-kali memenuhi lubang vaginaku. Kami berdua berpelukan erat merasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kubisikkan di telinga Ary, “Terima kasih Ri, Mbak puas sekali..” Ary pun berbisik, “Aduh Wita, baru pertama kali ini Ary rasakan enaknya apem.. Wita puas kan..” tambahnya.

    Kemudian, Ary mencabut lontongnya dari dalam lubang vaginaku. Aku berusaha menahannya karena aku ingin nambah lagi. Ary berbisik, “Besok-besok aja lagi, sekarang Ary harus keluar.. takut ada orang yang bangun..” Setelah mengecup kening dan pipiku, Ary permisi keluar. Kubisikkan di telinganya, “Hati-hati ya Ri.. jangan sampai ketahuan orang lain..” Walaupun belum begitu puas, tapi hatiku bahagia bahwa Ary akan mengisi kesepian dan memenuhi kebutuhan seksku selama suami di luar kota. Dalam hati aku pun mengucapkan terima kasih kepada suamiku atas ijinnya dan pilihannya yang tepat.

    Setelah kejadian pertama ini, hubungan seksku dengan adik suamiku ini terus berlanjut. Sayangnya hal ini kami berdua lakukan di rumah, karena saat itu memang tidak pernah terpikir untuk main di luar misalnya di Motel. Saking puasnya menikmati permainan seks dari Ary, aku lupa akan jadwal kalender KB yang selama ini kugunakan. Sedangkan setiap kali Ary menyetubuhiku, spermanya selalu ditumpahkan di dalam vaginaku. Aku sendiri memang tidak menginginkan sperma Ary ditumpahkan di luar, karena justru merasakan semburan dan kehangatan sperma Ary di dalam vaginaku, merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Akibatnya setelah beberapa kali melakukan hubungan, aku sempat terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan kepada Ary, saat kami mengobrol berdua di paviliun. Khawatir benar-benar hamil, kuminta Ary mengantarku ke dokter untuk memeriksakannya. Pada mulanya Ary tidak setuju, dan ingin mempertahankan kehamilanku. Aku tidak setuju dan tetap ingin menggugurkannya.

    Adik Ipar KuKeesokan paginya dengan diantar Ary, aku memeriksakan diri ke suatu rumah sakit bagian kandungan. Ternyata hasil pemeriksaan tidak bisa keluar hari itu juga, dan harus menunggu tiga hari. Sampai dua hari setelah pemeriksaan dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak sabar dan khawatir jika ternyata aku benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan kepada Ary dan kuminta ia membantu membelikan satu botol bir hitam untukku. Keesokan harinya, Ary menyerahkan bir hitam itu kepadaku, dan malamnya kuminum. Tiga hari setelah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang.

    Setelah mens-ku selesai sekitar 7 hari, aku dan Ary melanjutkan lagi hubungan seks seperti biasanya. Praktis selama dua bulan ada 18 kali aku dan Ary berhasil melakukan hubungan seks yang memuaskan dengan aman tanpa ketahuan keluarga di rumah. Keinginan untuk melakukannya setiap hari sulit terlaksana, mengingat situasi rumah yang tidak memungkinkan. Dari sekian kali hubungan seksku dengan Ary, seingatku ada tiga kali yang benar-benar sangat memuaskan diriku. Selain kejadian yang pertama kali, hubungan seksku dengan Ary yang sangat memuaskan adalah sewaktu kami berdua melakukan di suatu siang hari dan saat malam takbiran. Kejadian di siang hari itu, yaitu saat aku selesai mandi dan bersiap-siap berhias diri mau pergi ke kantor. Saat itu kedua mertuaku dan adik-adik iparku yang lain sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Ary, yang kebetulan sudah pulang dari kantornya, karena hari Jumat. Kedua anakku asyik bermain dengan pengasuhnya.

    Tanpa sepengetahuanku, saat aku memakai make-up, tiba-tiba Ary masuk kamarku yang tidak terkunci. Setelah menutup pintu kembali dan menguncinya, dari belakang ia memelukku, melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, sehingga aku dalam posisi telanjang bulat. Diciumnya pundak belakangku, sambil tangannya memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan vaginaku. Akibatnya, aku tak tahan dan vaginaku cepat basah. Segera kubalikkan tubuhku dan kupeluk serta kulumat bibir Ary dengan penuh nafsu. Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang dan celana dalamnya. Kemudian aku jongkok di hadapannya, sambil meremas, menjilati, dan mengulum lontongnya dalam mulutku.

    Setelah kurasakan lontongnya semakin keras, kudorong tubuh Ary duduk di tepi tempat tidur. Kemudian aku berdiri membelakanginya, dan setengah jongkok kupegang dan kuarahkan lontongnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk merasakan nikmatnya lontong Ary yang telah masuk seluruhnya dalam lubang vaginaku. Sambil bergoyang itu, aku merintih dan berdesah, “Oooh.. aaghh..” Ary tak mau ketinggalan, ia membantu menurun-naikkan pinggulku dan kadang-kadang meremas-remas kedua buah dadaku. Kurang lebih tiga menit dengan posisi ini, terasa aku sudah mau orgasme. Kupercepat gerakan turun naik dan goyangan pinggulku, dan saat itu Ary merintih, “Oh.. oh.. Wita, Ary mau keluar.. oh..”

    Akhirnya berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan lontong Ary menyemprotkan spermanya dengan keras memenuhi lubang vaginaku. Tubuhku terasa terbang merasakan semprotan yang hangat dan nikmat itu. Kemudian kukeluarkan lontong Ary dari lubang vaginaku. Kulihat masih cukup keras. Dengan penuh nafsu kujilati, kuhisap lontong Ary yang masih basah diselimuti campuran sperma kami berdua.

    Tak berapa lama kemudian lontong Ary kembali keras. Kemudian kuminta Ary menyetubuhiku dari belakang. Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan posisi menungging, kusuruh Ary memasukkan lontongnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang. Betapa nikmatnya kurasakan lontong Ary menghunjam masuk ke dalam lubang vaginaku, kemudian sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Ary mempercepat tusukan lontongnya. Dari cermin yang berada di hadapanku, kulihat gerakan dan ekspresi wajah Ary yang sedang mempermainkan lontongnya di dalam lubang vaginaku. Situasi ini menambah naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit merasakan tusukan-tusukan lontongnya, aku tak tahan ingin orgasme lagi. Aku merintih, “Aduh.. oh.. agh.. Ri, tembus Ri.. aagh.. Wita mau keluar lagi, cepatkan Ri.. oh.. aaghh..” Ternyata Ary pun mau keluar. Ia pun merintih, “Oh.. augh.. Wita, Ary juga mau keluar.. aduh.. Wita.. bareng ya.. oh..” Beberapa saat kemudian, secara bersamaan aku dan Ary mencapai orgasme. Kurasakan kembali semprotan sperma Ary yang hangat dan nikmat lubang vaginaku.

    Setelah itu, kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku berkata, “Nakal ya..” Ary mencium pipi dan keningku kemudian pamit keluar. Kemudian aku pun keluar ke kamar mandi untuk membasuh vaginaku. Jam 14:00, jemputan mobil dari kantorku datang. Malamnya sesuai janji via telepon, kembali Ary masuk ke kamarku dan menyetubuhiku secara terburu-buru, karena khawatir ada yang memergoki. Walau dalam keadaan terburu-buru, persetubuhanku dengan Ary yang dilakukan setiap dini hari itu, cukup memuaskan, karena paling tidak setiap bersetubuh itu aku bisa orgasme minimal satu kali dan merasakan semprotan sperma Ary di dalam vaginaku.

    Selanjutnya, persetubuhanku dengan Ary yang benar-benar memuaskan dan menyebabkan aku lemas tak berdaya adalah saat malam takbiran. Pada malam itu, aku menginap di rumah orang tuaku. Sesuai janji via telepon Ary datang menjengukku. Kami berdua duduk mengobrol merayakan takbiran di rumah. Kedua orang tuaku menyuruhku menawarkan bir kepada Ary. Selesai acara TV, ayahku pergi keluar rumah dan ibuku masuk tidur. Kini di ruang tamu, tinggal aku dan Ary duduk berdua ngobrol sambil menikmati bir sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik. Kemudian aku pamit sebentar, melihat kedua anakku sekalian mengecek Ibuku. Aku mengganti bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana dalamku. Setelah kuketahui ibuku sudah pulas tidur dan keadaan aman, aku kembali ke ruang tamu, duduk di sebelah Ary. Tak lama kemudian Ary sudah memelukku, menciumiku sambil bertanya apa ibuku sudah tidur. Mengetahui ibuku sudah tidur, Ary mulai menggerayangi vaginaku dengan jari-jari tangannya sambil melumat bibirku. Aku menggelinjang dan merintih, “Oh.. Ri.. enak sekali.. Ri.. oh terus Ri..” Aku tak mau kalah dan kuremas-remas lontongnya dari luar celana yang membuat lontongnya semakin keras. Kemudian kusuruh Ary berdiri, kubuka reitsleting celana panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. Kulihat dan rasakan lontong Ary lebih keras dan besar dari biasanya.

    “Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ri lontongnya?” Ary berterus terang bahwa sorenya ia minum jamu kuat laki-laki sebagai persiapan untuk memuaskan diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum lontongnya dengan penuh nafsu. Karena tak tahan lagi, kudorong tubuh Ary duduk di sofa. Aku duduk di atas pangkuannya. Kemudian kupegang dan arahkan lontongnya ke dalam vaginaku. “Wow.. aduh Ri.. gede banget dan enak Ri, lontongnya.. aduh.. oohh..” aku mengerang. Sambil kulumat bibirnya, kunaik-turunkan pinggulku agar dapat merasakan gerakan, tusukan dan denyutan lontong Ary. Sekitar dua menit kugoyang, akhirnya aku mencapai orgasme karena tak tahan merasakan lontong Ary yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua merubah posisi dengan doggy style. Kurang lebih tiga menit, lagi-lagi aku tidak tahan dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Setelah beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Lontong Ary masih keras dan ia belum keluar sama sekali. Lagi-lagi, mungkin karena pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, aku mencapai orgasme yang ketiga kalinya.

    Dengan masih mempertahankan lontongnya yang keras dan panjang di dalam vaginaku, Ary menggendongku masuk ke kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas lantai yang sudah kusiapkan. Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat kalinya saat Ary menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah itu aku tak ingat lagi dan menyerah pasrah menerima tusukan-tusukan lontong Ary.

    Baca Juga : Ibu Dan Adek ku

    Mungkin lebih dari 10 kali aku mencapai orgasme, dan aku tak tahu berapa kali Ary keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang amat sangat pada diriku walau kakiku rasanya gontai dan lemas. Kurasakan juga kehangatan sperma Ary yang masih ada di dalam vaginaku. Tak disangka selingkuhku di malam takbiran dengan Ary adik suamiku adalah yang terakhir, karena beberapa hari kemudian, suamiku sudah kembali ke rumah.

    Sekembalinya suami di rumah, malam harinya suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah jadi selingkuh dengan Ary. Karena memang sudah diijinkannya, aku berterus terang mengaku. Pada mulanya suamiku agak marah, mungkin tersinggung, tapi akhirnya ia memaafkanku. Sejak saat itu hubunganku dengan Ary praktis terputus. Namun, Ary masih mencoba mendekatiku dan berusaha mengajakku untuk berhubungan lagi. Hal itu ia lakukan beberapa kali via telepon saat suamiku ke kantor. Walau sebenarnya aku sendiri masih menginginkannya, namun ajakan Ary tersebut terpaksa kutolak. Selain suasana rumah memang tidak memungkinkan, aku juga khawatir jika suamiku akan marah karena ia belum mengijinkan lagi.

    Peristiwa perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi pengalaman yang manis sampai saat ini. Lebih dari itu, jika suami mengungkit-ungkit lagi masalah ini dan minta aku menceritakannya kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, malah sebaliknya kasih sayang yang makin besar.

    Setiap kali akan meniduriku, untuk merangsang dirinya, suamiku selalu meminta aku untuk menceritakan kembali pengalaman selingkuhku dengan adiknya itu. Ia kerap bertanya posisi apa saja yang aku dan Ary lakukan saat berhubungan seks, berapa kali aku klimaks, bagaimana rasanya vaginaku menerima semburan sperma Ary dlsb. Untuk membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur. Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks suamiku semakin meningkat dan ia meminta aku mempraktekannya kembali dengan menganggap dirinya sebagai Ary. Terus terang, gairah seksku pun semakin meningkat saat harus membayangkan dan mempraktekan kembali cara-cara hubungan seksku dengan Ary.

    Ternyata perselingkuhan tidak selalu merusak keharmonisan rumah tangga. Mungkin ada benarnya jika orang menerjemahkan arti kata ‘selingkuh’ sebagai ‘selingan indah keluarga utuh’.

  • Adik Kelasku

    Adik Kelasku


    106 views

    Ceritamaya | Aku duduk di kelas 3 SMU saat ini. Namaku Nia, lengkapnya Lavenia, aku sangat terkenal di sekolah, teman-teman kagum akan kecantikanku, apalagi cowok-cowok, yang sering mengusilli aku dengan menggoda, aku sih cuek saja, soalnya aku juga senang sih. Aku punya sebuah “geng” di sekolah, Manda dan Lea adalah teman-teman dekatku. Kemanapun aku pergi mereka seperti biasanya selalu ada.
    Tahun ajaran baru kali ini sudah tiba, banyak adik-adik kelas baru yang baru masuk kelas 1. Sherry Andhina, nama gadis itu, ia baru duduk di kelas 1, tetapi ia sudah terkenal di sekolah ini. Bahkan ia bisa menyaingiku. Memang dia cantik, lebih cantik dari aku, kulitnya putih bersih terawat, dengan wajah agak kebule-bulean dan rambut sebahu, tubuhnya juga bagus, sintal, dan sexy. Baru 2 bulan bersekolah, nama Sherry sering jadi bahan pembicaraan cowok-cowok kelas 3 di kantin, ada yang naksir berat, bahkan kadang-kadang mereka suka berbagi fantasi seks mereka tentang Shery. Sherry tidak seperti aku, ia gadis pendiam yang nggak banyak tingkah. Mungkin itu yang membuat kaum cowok tergila-gila padanya.

    Semakin hari Sherry semakin terkenal, keegoisanku muncul ketika kini aku bukan lagi jadi bahan pembicaraan cowok-cowok. Kekesalanku pun memuncak kepada Sherry, akhirnya aku, Manda dan Lea merencanakan sesuatu, sesuatu untuk Sherry. Seperti aku, Sherry juga anggota cheerleaders sekolah, siang itu aku menjalankan rencanaku, aku bohongi Sherry untuk tidak langsung pulang sekolah nantinya, karena akan ada latihan cheers yang mendadak, ia menolak, namun dengan segala upaya aku membujuknya sampai ia mau.

    Sore itu, sekolah sudah sepi, tersisa aku, Manda, Lea, Sherry dan 4 orang penjaga sekolah. Aku pun mulai menjalankan rencana ku.
    “Kak, sampai kapan Sherry mesti nunggu disini?”
    “Udah tunggu aja, sebentar lagi!!”
    Sherry mulai kelihatan cemas, ia mulai curiga terhadapku.
    “Sudah beres Non” Tejo si penjaga sekolah melapor padaku.
    “Oke” jawabku.

    Rencana ini sudah kusiapkan dengan matang, sampai aku membayar 4 penjaga sekolah untuk mau bekerja sama denganku, bukan hal yang berat bagiku, aku anak orang kaya.
    “Ya udah, ikut gue sekarang!!” perintahku untuk Sherry.
    Dengan ragu-ragu, Sherry mengikuti aku, Lea dan Manda. Kubawa ia ke ruang olahraga sekolah, tempat dimana kita biasa latihan cheerleaders.

    Sherry menangis karena bentakan dari aku, Manda dan Lea, ia terlihat ketakutan, tetapi kami terus menekannya secara psikologis, sampai ia menagis.
    “Sherry salah apa Kak?” ia menangis terisak-isak.
    “Lo baru masuk sekolah 2 bulan aja udah banyak lagak, lo mau nyaingin kita-kita yang senior? hormatin dong!!” bentakku
    “Nggak kok Kak, Sherry nggak begitu”
    “Nggak apaan? Nggak usah ngebantah deh, Lo mau nyaingin kita-kita kan?!” Lea menambahkan bentakanku.

    Setelah puas membentak-bentak Sherry, aku memberi tanda kepada Manda. Tak lama kemudian 4 penjaga sekolah yang sudah kuajak bekerjasama itu masuk ke ruang olahraga, mereka adalah Tejo, Andre, Lodi dan Seto. Dari tadi mereka sudah kusuruh menuggu di luar. Sherry saat itu terkejut dan sangat ketakutan.
    “He.. he.. he.. ini dia Non Sherry yang ngetop itu” Seto berujar sambil tersenyum menyeringai.
    “Cantik banget, sexy lagi..” tambah tejo.
    Sherry gemetaran ia terlihat sangat takut.
    “Sikat aja tuh!!” perintahku pada 4 pria itu.
    “Oke, sip bos!! He.. he.. he..” Tejo menyeringai.

    Manda yang dari tadi diam mulai menyiapkan sebuah kamera handycam yang memang bagian dari rencanaku. Seto mencengkram tangan kanan Sherry, sementara Lodi mencengkram tangan kirinya. Tubuh Sherry mereka seret ke atas sebuah meja sekolah. Sherry terlihat sangat ketakutan ia pun menangis sambil menjerit-jerit minta tolong.
    “Gue duluan ya” Tejo mendekati Sherry.

    Sherry
    Sherry

    Aku hanya tersenyum melihat keadaan Sherry sekarang, aku puas melihat ia ketakutan.
    “Mau apa Pak? Tolong saya, ampun Pak?” Sherry memohon ampun.
    Tapi Tejo sudah tidak perduli lagi dengan permohonan Sherry, ia sudah dibakar oleh nafsu. Perlahan Tejo mendaratkan tangannya menyentuh payudara Sherry, Sherry menjerit ketakutan. Tanpa menghiraukan teriakan Sherry, Tejo meremas-remas payudara Sherry perlahan-lahan.
    “Yang kenceng Jo!!” perintahku.
    Tejo mengeraskan cengkramannya di buah dada Sherry. Sherry berteriak, ia nampak kesakitan, dan aku pun sangat menikmati ekspresi wajah Sherry saat itu. Dipenuhi nafsu yang membara, Tejo membuka seragam SMU sherry kancing demi kancing sampai payudara Sherry yang tertutup BH terlihat.

    “Gila!! Seksi banget nih toket, putih banget!!” sahut Tejo sambil tertawa gembira.
    Perlahan Tejo menyentuh kulit payudara Sherry, Sherry pun terlihat gemetaran.
    “Tolong jangan Pak!!” sahut Sherry memelas.
    Seluruh orang di ruangan ini sudah tidak sabar lagi menyuruh Tejo menanggalkan penutup payudara Sherry itu. Tejo pun akhirnya melepas BH yang menutupi keindahan payudara Sherry itu. Aku tergelak menahan ludah, payudara Sherry indah sekali, mulus, bersih dengan puting yang merah muda merekah, seksi sekali pikirku.
    “Abisin aja Pak!!” Lea meminta Tejo dengan wajah cemburu, ia sepertinya iri pada keindahan payudara Sherry.
    “Ok Sherry sayang, tenang aja ya? Nggak sakit kok, dijamin nikmat deh..” Tejo berseloroh, ia terlihat bernafsu sekali seperti halnya Lodi dan Seto yang masih memegangi tangan Sherry supaya ia tidak melawan, sementara Andre berdiri dibelakangku sambil memperhatikan dengan nafsunya.
    “Jangan Pak!! ampun Kak!! tolong Sherry..” Sherry memohon dengan wajah pasrah, namun aku tidak perduli.

    Sama sepertiku, Tejo juga tidak perduli dengan permintaan Sherry. Tejo mulai memainkan tangannya di payudara Sherry, ia mulai meremas perlahan-lahan sambil sesekali mengelus dan menekan-nekan puting payudara Sherry dengan jarinya. Lodi dan Seto tidak ketinggalan, mereka menikmati mulusnya kulit lengan Sherry dengan mengelusnya dan terkadang mencium dan menjilatinya, aku pun mulai merasa panas.
    “Ah.. cukup Pak.. ampun Kak..” Sherry mulai mendesah.
    Tejo kian bernafsu, ia memutar-mutar jarinya di sekitar puting payudara Sherry, akupun bisa membayangkan apa yang dirasakan Sherry ketika bagian sensitifnya dirangsang, ia pasti merasa kenikmatan.

    Melihat suasana yang panas itu, Andre akhirnya turun tangan, pria hitam bertubuh gendut itu maju mendekati Sherry. Andre dan Tejo saling berbagi payudara Sherry, kiri dan kanan, dengan nafsu mereka mulai memainkan lidah mereka menyapu kulit payudara Sherry dan menjalar dengan liar di sekitar puting payudara Sherry, kadang mereka melakukan hisapan dan gigitan kecil di puting payudara Sherry. Sherry mendesah sambil ketakutan, terlihat ia baru pertama kali diperlakukan seperti itu. Manda pun beraksi merekam seluruh kejadian yang menimpa payudara Sherry dengan seksama melalui handy cam-nya.

    Tejo menurunkan ciuman dan jilatannya ke perut Sherry yang juga indah dan mulus, aku cukup terkejut melihat pusar Sherry yang ditindik itu, terlihat seksi. Setelah puas mencium dan menjilati daerah pusar Shery. Tejo berhenti dan menyuruh Andre yang sedang menikmati puting payudara Sherry berhenti. Tejo lalu mulai menyingkap rok sekolah Sherry, sambil mengelus paha Sherry. Ia memainkan jarinya menelusuri halusnya paha Sherry yang mulus dan putih itu. Tangan Tejo perlahan naik menyentuh selangkangan Sherry yang ditutup celana dalam pink itu.
    “Jangan Pak!! Ampun!!” Sherry memohon pada Tejo. Andre pun ikut mendekat ke Tejo.
    “Wah, Celana dalam Non Sherry lucu sekali..” ejek Andre.

    Tejo yang sudah sangat nafsu perlahan membuka celana dalam Sherry. Tak berapa lama kemudian, Celana dalam itu sudah terlepas dari tempatnya.
    “Wow Non Sherry!! Vaginanya indah banget!!” Tejo tampak bersemangat.
    Vagina Sherry memang terlihat terawat, daerah selangkangannya putih, bersih, dan Sherry sepertinya tidak suka dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitar vaginanya, ia membiarkan vaginanya tertampang mulus tanpa rambut kemaluan. Perlahan tangan Tejo dan Andre menjelajahi paha, dan sekitar selangkangan Sherry. Sherry hanya bisa menggeliat kesana kemari menghadapi rangsangan itu.

    Tak lama kemudian tangan Tejo dan Andre, tiba di bagian vital Sherry. Dengan nafsu membara, Andre membuka bibir vagina Sherry, sementara Tejo memasukkan jarinya kedalam liang vagina Sherry. Perlahan jari tangan Tejo menyolok-nyolok vagina Sherry, dan makin lama gerakannya makin cepat. Tubuh Sherry nampak menegang, sambil mendongakkan wajahnya, Sherry mendesah perlahan.
    Tejo dengan pandai memainkan kecepatan jarinya menyolok-nyolok vagina Sherry, sementara aku dan teman-temanku memperhatikan kejadian itu. Setelah hampir 2 menit jari Tejo menembus liang vagina Sherry, dari bibir vagina Sherry kulihat cairan kewanitaan yang keluar, rupanya Sherry terangsang.
    “Wah Non, terangsang nih? Enak ya? Mau lebih cepat?”
    “Jangan Pak, tolong!!” Sherry memohon.
    Tejo tidak mempedulikan permohonan Sherry, Jarinya keluar masuk vagina Sherry dengan cepat.
    “Ahh.. stop Pak!! Tolong..!” Sherry kelihatan sangat terangsang, namun ia berusaha melawan.
    “Ahh..!” Sherry vaginiak pelan, sepertinya ia hampir mencapai orgasme sambil menahan kesakitan di lubang vaginanya.

    “Payah lo!! Baru segitu aja udah mau orgasme.. cuih.. ” aku meledek Sherry, aku membayangkan jika aku dalam posisi Sherry, pasti aku akan lebih lama lagi orgasme.
    “Dasar perek amatir, baru gitu aja udah mau orgasme!!” Lea ikut mengejek.
    Tejo menghentikan jarinya yang menyolok-nyolok vagina Sherry, nampaknya ia belum mau Sherry mencapai puncaknya. Namun aku sudah tak sabar, dendam di dadaku terus membara ingin mempermalukan Sherry. Kutarik jari Tejo keluar dari vagina Sherry, lalu kudorong tubuhnya menjauhi Sherry.
    “Lho Non.. saya belum puas nih..” Tejo terlihat bingung.
    “Sabar dulu!! Nanti lo dapat giliran lagi!!” bentakku pada Tejo.

    Adik KelaskuSaat kulihat Sherry dihadapanku, nafsu dan amarahku membara. Aku tak tahan lagi, kujongkokkan tubuhku hingga wajahku tepat menghadap vagina Sherry. Tertampang jelas keindahan vagina Sherry di mataku, bibir vaginanya yang memerah karena gesekan jari Tejo dan cairan yang membasahi sekitar selangkangannya membuat aku menahan ludah. Perlahan kudekatkan wajahku ke vagina Sherry, dan kucium harum vagina Sherry, Ia terlihat sangat merawat daerah vitalnya ini. Dengan penuh nafsu dan dendam, perlahan kubasuh vaginanya dengan lidahku.

    Semua yang ada disitu spontan terkejut, dan Sherry terlihat sangat kaget.
    “Waduuh.. Non Nia ternyata juga mau ngerasain vagina Non Sherry ya?” Andre berseloroh meledek.
    “Bilang dong Non dari tadi, kalo gini saya malah jadi tambah horni nih..” Tejo menimpali.
    Aku tak perduli dengan ledekan Tejo dan Andre, yang kupikirkan hanya satu, aku ingin membuat Sherry malu di tanganku.

    “Aaah.. Kak.. mau apa Kak? Jangan Kak..” Sherry mulai merasa terangsang lagi, perlahan kurasa otot selangkangannya menegang. Kubasuh vagina Sherry dengan jilatan lidahku, dan kujalari daerah selangkangannya dengan ciuman dan jilatan erotis. Kutelusuri bibir vagina Sherry dengan lidahku, sambil kubuka liang vaginanya dengan jariku supaya lidahku dengan leluasa menjalar di daerah sensitifnya.

    Tak berapa lama kutemukan klitoris Sherry, perlahan kujilat dan kuberi dia hisapan-hisapan kecil dari mulutku. Semua laki-laki yang ada diruangan ini kurasa sangat beruntung menyaksikan dua bunga sekolah ini terlibat aktivitas seksual.
    “Ahh.. ah.. ah..” Sherry tak sanggup berkata-kata lagi, ia hanya bisa berteriak kecil merasakan rangsangan di klitorisnya. Perlahan tubuh Sherry menggelinjang kesana kemari, keringatnya makin deras membasahi tubuh dan seragam sekolahnya. Sampai akhirnya kurasakan vagina Sherry memuncratkan cairan-cairan kewanitaan yang menggairahkan membasahi mulutku, tanpa kusadari akupun terangsang dan menghirup cairan kewanitaan Sherry dalam-dalam.

    Hampir 5 menit kunikmati vagina Sherry, daerah selangkangannya sudah sangat basah, sama seperti tubuhnya yang dibanjiri keringat. Sherry hanya bisa mendesah pasrah sambil menikmati rangsanganku. Tak berapa lama, kurasa otot vaginanya menegang, Sherry agak terhentak, lalu kedua tangannya tiba-tiba mencengkram pundakku, ia hampir mencapai puncak. Saat itu pula kuhentikan jilatanku, lalu menarik nafas istirahat. Sherry terkulai lemas, tubuhnya tergeletak tak berdaya diatas meja sambil perlahan mencoba mengumpulkan nafas. Tejo, Seto, Lodi dan Andre hanya bisa terpaku menatap aku dan Sherry, sementara Lea dan Manda terlihat puas melihat “siksaan”ku terhadap Sherry. Aku berdiri setelah istirahat sejenak.
    “Gilaa!! Non Nia hebat!! Saya jadi horni banget nih lihat cewek lesbian kayak gitu” Seto angkat bicara.

    Kutatap Sherry yang terkulai lemas dengan pandangan nafsu dan dendam.
    Kulebarkan kedua kaki Sherry sampai ia mengangkang. Kutarik pinggulnya sampai sisi meja. Kali ini akan aku buat ia orgasme. Kutanggalkan rok sekolahku lalu kulepas celana dalamku. Semua pria yang ada disitu tergelak menahan ludah, menanti kejadian selanjutnya. Kubuka seragam sekolahku karena udara sudah sangat panas, sambil kutanggalkan BH-ku, begitu juga dengan Sherry, kubuat ia telanjang bulat.

    Posisi kaki Sherry yang mengangkang membuat vaginanya melebar, membuka bibir vaginanya, dan itu membuatku terangsang. Kuangkat kaki kiriku keatas meja, lalu kudekatkan selangkanganku ke selangkangan Sherry. Posisi tubuhku dan Sherry Seperti dua gunting yang berhimpitan pada pangkalnya. Dengan nafsu yang membara kugesekkan vaginaku dengan vagina Sherry yang masih terkulai lemas itu.
    “Hmm.. aah.. cukup Kak.. aah..” Sherry mendesah memohon padaku.
    Tanpa perduli pada Sherry, aku yang sudah dibakar nafsu terus melaju. Sementara Pria-pria yang ada disana mulai mengeluarkan kemaluan mereka kemudian melakukan onani sambil menyaksikan aku dan Sherry. Semakin lama semakin kupercepat gesekkan vaginaku, sambil kulihat wajah Sherry yang cantik itu dengan nafas memburu, membuatku kian terangsang. Tubuhku dan Sherry bergerak seirama, kurasakan keringat mengucur dari tubuhku, serta vaginaku kian basah oleh cairan kewanitaanku yang bercampur dengan cairan kewanitaan Sherry. Selama hampir 5 menit kupacu tubuh Sherry, dan tiap detik pun kurasakan kenikmatan dan rasa dendam yang terbayar.

    Di tengah deru nafasku yang saling memacu dengan nafas Sherry, tiba-tiba kumerasa sesosok tubuh besar memelukku dari belakang. Ternyata itu Andre, pria hitam bertubuh gendut itu sudah telanjang bulat dan memeluk tubuhku sambil memainkan jemarinya di puting payudaraku.
    “Saya juga ikutan ya Non Nia? Habis Non Nia bener-bener hot sih” permintaan Andre kuturuti tanpa menjawab, sebab jarinya yang memilin puting payudaraku semakin membuat aku berenang dalam lautan kenikmatan.

    Baca Juga : Aku dan Kekasihku

    Kulirik Sherry yang menarik nafas terengah-engah dan kulihat tubuhnya mulai menggelinjang merasakan kenikmatan. Kupercepat gerakanku, sambil mencoba untuk mengatur nafas, tiba-tiba sebuah benda kurasa menyentuh pantatku lalu menelusup diantara belahannya. Aku mendengar Andre melenguh, ternyata benda itu adalah penisnya yang menegang dan berusaha meyodok lubang anusku.
    “Non Nia, saya nggak tahan lagi nih..” permintaan Andre kupenuhi, kubiarkan penisnya masuk ke lubang anusku.

    Dengan sedikit hentakan, penis Andre menerobos masuk anusku. Kurasakan benda itu berukuran besar, memenuhi lubang anusku.
    “Aaah.. lobang Non Nia masih rapet banget nih..” Andre mencoba menekan pinggulnya untuk memasukkan seluruh batang penisnya. Sambil terus kupacu tubuh Sherry, Andre juga mulai memompa penisnya di lubang anusku. Tak berhenti, Andre menjelajahi bagian atas tubuhku dengan tangannya.

    Kejadian ini berlangsung hampir 7 menit sebelum, Sherry berteriak kencang memperoleh puncak kenikmatannya. Tak berapa lama kemudian giliranku dan Andre yang mencapai orgasme bersamaan, ditandai semburan spermanya di lubang anusku. Aku sangat lelah, tubuhku basah oleh keringat, namun aku sangat puas, puas karena dendamku terbayar dan puas atas kenikmatan yang kuperoleh tadi. Kubiarkan Sherry beristirahat selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya “penyiksaan” ini dimulai lagi.

    Aku duduk menjauh dari Sherry, kali ini kuputuskan menjadi penonton saja. Tongkat komando kini dipegang Lea, ia kini yang memerintah semua yang ada disitu. Tejo, Lodi dan Seto mendekati tubuh Sherry yang tergeletak tak berdaya. Lea memberi tanda pada Seto yang dijawab dengan anggukan kepalanya. Seto memegang pinggul Sherry yang lemas itu kemudian memutar tubuhnya. Posisi Sherry kini telungkup dengan memperlihatkan bulatan pantatnya yang padat berisi.
    “Nah, Non Sherry siap-siap ya!” Seto berujar sambil mengangkat pinggul Sherry sampai ia dalam posisi menungging. Sherry cuma bisa menunggu siksaan apa lagi yang akan diterimanya dengan pasrah. Meski tubuh Sherry tampak lemas, ia masih saja menggairahkan. Seketika saja Sherry mendesah pelan, Seto dengan nafsunya meremas bongkahan pantat Sherry sambil mengelusnya.
    “Hajar aja!!” perintah Lea.

    Setelah mendengar perintah Lea, Seto yang sudah menunggu dari tadi langsung melesakkan penisnya yang menegang itu ke lubang vagina Sherry. Wajah Sherry terlihat terkejut sambil menahan sakit. Ukuran penis Seto yang besar memaksa masuk ke lubang vagina Sherry yang rapat itu. Sherry berteriak tiap kali Seto mendorong penisnya masuk.
    “Vagina Non Sherry rapet banget nih, aahh..” Seto berkata sambil mendorong penisnya lagi memasuki vagina Sherry.

    Setelah seluruh penis Seto masuk dalam lubang vagina Sherry, seto berhenti sejenak, ia membiarkan Sherry mengambil nafas sejenak. Namun Seto tidak membiarkan Sherry berlama-lama, perlahan-lahan ia mulai memompa penisnya didalam vagina Sherry. Gerakan Seto makin cepat, deru nafas Sherry dan Seto terdengar keras dibarengi gerakan mereka yang seirama. Sambil terus memompa penisnya, Seto memainkan tangannya menjelajahi pantat dan pinggul Sherry yang basah oleh keringat. Sekali lagi Lea memberi tanda, Seto mempercepat lagi gerakannya, membuat tubuh Sherry bergerak kian liar. Tejo maju menghampiri Sherry, ia berdiri di depan wajahnya. Tejo mengangkat tubuh Sherry sampai ia dalam posisi merangkak.

    “Aaah.. cukup Pak.. ah..” Sherry memohon pada Tejo.
    Dengan senyum mengejek Tejo memaksa Sherry membuka mulutnya. Dengan nafsu yang membara ia memaksa penisnya masuk ke bibir mungil Sherry.
    “Ayo isep penis saya Non!! isep!!” Paksa Tejo.
    Karena ketakutan, Sherry dengan pasrah menerima batangan penis Tejo menembus bibirnya. Besarnya penis Tejo nampak memenuhi seluruh mulut Sherry. Tak bisa kubayangkan betapa puasnya Tejo, ketika gadis SMU secantik Sherry kini sedang mengulum penisnya.

    Dari jauh kulihat Sherry menangis, airmata jatuh ke pipinya, ia merasa terhina dan jijik. Dendamku benar-benar terbalas, Sherry benar-benar menderita. Dibalik semua itu aku juga merasa kasihan padanya. Tejo mulai memompa penisnya, melakukan gerakan maju mundur dihadapan wajah Sherry. Kini mulut dan vagina Sherry telah dipompa dua batang penis. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat tubuh Sherry terlihat berkilau seksi. Hanya Lodi saja yang belum menikmati Sherry, kini ia naik keatas meja, lalu memposisikan dirinya diatas punggung Sherry seolah-olah ia sedang menaiki kuda. Lodi meletakkan penisnya diatas punggung Sherry, sambil kemudian ia gesekkan. Tangan lodi menjelajah kedua payudara Sherry yang tergantung.

    Tiga orang itu sekaligus menikmati tubuh Sherry, tak bisa kubayangkan perasaan Sherry saat ini. Vagina, mulut, punggung, payudara, hampir seluruh bagian tubuhnya dirangsang. Kulihat Seto berejakulasi di dalam liang vagina Sherry, sperma yang melimpah keluar dari penis Seto mengalir keluar melalui liang vagina Sherry, seketika itu juga Sherry bergumam sembari menaikkan pinggulnya, ia berorgasme. Setelah Seto puas membasahi vagina Sherry dengan spermanya, giliran Lea menggantikan posisi Seto. Dengan liar, Lea menjilati vagina Sherry yang masih basah oleh sperma Seto.

    Selang berapa menit kemudian Tejo berejakulasi, ia berteriak kencang memanggil nama Sherry sembari memuncratkan spermanya di wajah Sherry, kulihat Sherry menerima semburan sperma itu di sekitar bibir dan pipinya, bahkan ia menelannya, mungkin Sherry sudah pasrah dan memilih untuk menikmati kejadian ini.

    Setelah Tejo, giliran Lodi berejakulasi diatas punggung Sherry. Sperma lodi nampak membasahi kulit punggung Sherry yang putih mulus. Andre yang dari tadi diam, bergerak menggantikan Lea yang kini merubah posisi Sherry menjadi terlentang, lalu memegangi tangan Sherry keatas.
    Penis Andre yang ekstra besar itu menembus vagina Sherry, dan dengan liar memompa tubuh Sherry. Sherry yang sudah sangat lelah hanya mendesah pelan sambil menikmati. Hampir 10 menit Andre memompa penisnya didalam vagina Sherry sampai akhirnya gerakan Andre dipercepat, Sherry berteriak, pinggulnya naik, tubuhnya nampak bergetar, ia kembali berorgasme. Tidak lama kemudian Andre berejakulasi di luar vagina Sherry, ia membiarkan spermanya jatuh membasahi selangkangan Sherry.

    Suasana sunyi hanya terdengar desah nafas Sherry yang mencoba mengatur kembali nafasnya. Tubuhnya basah oleh keringat, selangkangannya dipenuhi sperma, Sherry hanya tergeletak diatas meja itu. Kubayar uang yang kujanjikan pada Tejo, Andre, Seto dan Lodi. Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan ini dengan senyum puas.

    “Nah, sekarang kapok kan lo?” bentak Lea kepada Sherry.
    “Makanya jangan macam-macam, kalo lo bilang-bilang kejadian ini sama siapapun, rekaman video tentang lo bakal gue sebar luas!! Terus lo bisa jadi bintang porno terbaru dan terkenal, he.. he.. he.. ” ancamku pada Sherry.
    “Sekarang lo bilang!! Gimana rasanya tadi?! Ayo jawab!!” bentak Lea.
    “Kok diem aja?! Ayo jawab tolol!!” bentakku.
    “Enak Kak..” jawab Sherry ketakutan.
    “Enak?! lo seneng dientot?!” bentak Lea lagi.
    “Iya Kak.. enak sekali.. nikmat..” Sherry menjawab.
    “Lo mau lagi?!” Manda yang dari tadi diam kini bicara.
    “Ma..mau Kak..” jawab Sherry.
    Aku, Lea dan Manda saling berpandangan sambil tersenyum. Ya, akhirnya Sherry kini menjadi bagian gengku, geng gila seks yang suka sekali mencari kenikmatan, haus akan hal-hal berbau seks. Dan si cantik Sherry, adik kelasku menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam petulangan seks ku selanjutnya.

  • Adik Kelasku Pemuas Seks Ku Di Sekolah

    Adik Kelasku Pemuas Seks Ku Di Sekolah


    131 views

    Cerita Maya | Aku duduk di kelas 3 SMU saat ini. Namaku Nia, lengkapnya Lavenia, aku sangat terkenal di sekolah, teman-teman kagum akan kecantikanku, apalagi cowok-cowok, yang sering mengusilli aku dengan menggoda, aku sih cuek saja, soalnya aku juga senang sih. Aku punya sebuah “geng” di sekolah, Manda dan Lea adalah teman-teman dekatku. Kemanapun aku pergi mereka seperti biasanya selalu ada.

    Cerita Sex Adik Kelasku Pemuas Seks Ku Di Sekolah

    Adik Kelasku Pemuas Seks Ku Di Sekolah

    Tahun ajaran baru kali ini sudah tiba, banyak adik-adik kelas baru yang baru masuk kelas 1. Sherry Andhina, nama gadis itu, ia baru duduk di kelas 1, tetapi ia sudah terkenal di sekolah ini. Bahkan ia bisa menyaingiku. Memang dia cantik, lebih cantik dari aku, kulitnya putih bersih terawat, dengan wajah agak kebule-bulean dan rambut sebahu, tubuhnya juga bagus, sintal, dan sexy. Baru 2 bulan bersekolah, nama Sherry sering jadi bahan pembicaraan cowok-cowok kelas 3 di kantin, ada yang naksir berat, bahkan kadang-kadang mereka suka berbagi fantasi seks mereka tentang Shery. Sherry tidak seperti aku, ia gadis pendiam yang nggak banyak tingkah. Mungkin itu yang membuat kaum cowok tergila-gila padanya. Cerita Maya

    Semakin hari Sherry semakin terkenal, keegoisanku muncul ketika kini aku bukan lagi jadi bahan pembicaraan cowok-cowok. Kekesalanku pun memuncak kepada Sherry, akhirnya aku, Manda dan Lea merencanakan sesuatu, sesuatu untuk Sherry. Seperti aku, Sherry juga anggota cheerleaders sekolah, siang itu aku menjalankan rencanaku, aku bohongi Sherry untuk tidak langsung pulang sekolah nantinya, karena akan ada latihan cheers yang mendadak, ia menolak, namun dengan segala upaya aku membujuknya sampai ia mau.

    Sore itu, sekolah sudah sepi, tersisa aku, Manda, Lea, Sherry dan 4 orang penjaga sekolah. Aku pun mulai menjalankan rencana ku.

    “Kak, sampai kapan Sherry mesti nunggu disini?”

    “Udah tunggu aja, sebentar lagi!!”

    Sherry mulai kelihatan cemas, ia mulai curiga terhadapku.

    “Sudah beres Non” Tejo si penjaga sekolah melapor padaku.

    “Oke” jawabku.

    Rencana ini sudah kusiapkan dengan matang, sampai aku membayar 4 penjaga sekolah untuk mau bekerja sama denganku, bukan hal yang berat bagiku, aku anak orang kaya.

    “Ya udah, ikut gue sekarang!!” perintahku untuk Sherry.

    Dengan ragu-ragu, Sherry mengikuti aku, Lea dan Manda. Kubawa ia ke ruang olahraga sekolah, tempat dimana kita biasa latihan cheerleaders.

    Sherry menangis karena bentakan dari aku, Manda dan Lea, ia terlihat ketakutan, tetapi kami terus menekannya secara psikologis, sampai ia menagis.

    “Sherry salah apa Kak?” ia menangis terisak-isak.

    “Lo baru masuk sekolah 2 bulan aja udah banyak lagak, lo mau nyaingin kita-kita yang senior? hormatin dong!!” bentakku

    “Nggak kok Kak, Sherry nggak begitu”

    “Nggak apaan? Nggak usah ngebantah deh, Lo mau nyaingin kita-kita kan?!” Lea menambahkan bentakanku.

    Setelah puas membentak-bentak Sherry, aku memberi tanda kepada Manda. Tak lama kemudian 4 penjaga sekolah yang sudah kuajak bekerjasama itu masuk ke ruang olahraga, mereka adalah Tejo, Andre, Lodi dan Seto. Dari tadi mereka sudah kusuruh menuggu di luar. Sherry saat itu terkejut dan sangat ketakutan.

    “He.. he.. he.. ini dia Non Sherry yang ngetop itu” Seto berujar sambil tersenyum menyeringai.

    “Cantik banget, sexy lagi..” tambah tejo.

    Sherry gemetaran ia terlihat sangat takut.

    “Sikat aja tuh!!” perintahku pada 4 pria itu.

    “Oke, sip bos!! He.. he.. he..” Tejo menyeringai.

    Manda yang dari tadi diam mulai menyiapkan sebuah kamera handycam yang memang bagian dari rencanaku. Seto mencengkram tangan kanan Sherry, sementara Lodi mencengkram tangan kirinya. Tubuh Sherry mereka seret ke atas sebuah meja sekolah. Sherry terlihat sangat ketakutan ia pun menangis sambil menjerit-jerit minta tolong.

    “Gue duluan ya” Tejo mendekati Sherry.

    Aku hanya tersenyum melihat keadaan Sherry sekarang, aku puas melihat ia ketakutan.

    “Mau apa Pak? Tolong saya, ampun Pak?” Sherry memohon ampun.

    Tapi Tejo sudah tidak perduli lagi dengan permohonan Sherry, ia sudah dibakar oleh nafsu. Perlahan Tejo mendaratkan tangannya menyentuh payudara Sherry, Sherry menjerit ketakutan. Tanpa menghiraukan teriakan Sherry, Tejo meremas-remas payudara Sherry perlahan-lahan.

    “Yang kenceng Jo!!” perintahku.

    Tejo mengeraskan cengkramannya di buah dada Sherry. Sherry berteriak, ia nampak kesakitan, dan aku pun sangat menikmati ekspresi wajah Sherry saat itu. Dipenuhi nafsu yang membara, Tejo membuka seragam SMU sherry kancing demi kancing sampai payudara Sherry yang tertutup BH terlihat.

    “Gila!! Seksi banget nih toket, putih banget!!” sahut Tejo sambil tertawa gembira.

    Perlahan Tejo menyentuh kulit payudara Sherry, Sherry pun terlihat gemetaran.

    “Tolong jangan Pak!!” sahut Sherry memelas.

    Seluruh orang di ruangan ini sudah tidak sabar lagi menyuruh Tejo menanggalkan penutup payudara Sherry itu. Tejo pun akhirnya melepas BH yang menutupi keindahan payudara Sherry itu. Aku tergelak menahan ludah, payudara Sherry indah sekali, mulus, bersih dengan puting yang merah muda merekah, seksi sekali pikirku.

    “Abisin aja Pak!!” Lea meminta Tejo dengan wajah cemburu, ia sepertinya iri pada keindahan payudara Sherry.

    “Ok Sherry sayang, tenang aja ya? Nggak sakit kok, dijamin nikmat deh..” Tejo berseloroh, ia terlihat bernafsu sekali seperti halnya Lodi dan Seto yang masih memegangi tangan Sherry supaya ia tidak melawan, sementara Andre berdiri dibelakangku sambil memperhatikan dengan nafsunya.

    “Jangan Pak!! ampun Kak!! tolong Sherry..” Sherry memohon dengan wajah pasrah, namun aku tidak perduli.

    Sama sepertiku, Tejo juga tidak perduli dengan permintaan Sherry. Tejo mulai memainkan tangannya di payudara Sherry, ia mulai meremas perlahan-lahan sambil sesekali mengelus dan menekan-nekan puting payudara Sherry dengan jarinya. Lodi dan Seto tidak ketinggalan, mereka menikmati mulusnya kulit lengan Sherry dengan mengelusnya dan terkadang mencium dan menjilatinya, aku pun mulai merasa panas.

    “Ah.. cukup Pak.. ampun Kak..” Sherry mulai mendesah.

    Tejo kian bernafsu, ia memutar-mutar jarinya di sekitar puting payudara Sherry, akupun bisa membayangkan apa yang dirasakan Sherry ketika bagian sensitifnya dirangsang, ia pasti merasa kenikmatan.

    Melihat suasana yang panas itu, Andre akhirnya turun tangan, pria hitam bertubuh gendut itu maju mendekati Sherry. Andre dan Tejo saling berbagi payudara Sherry, kiri dan kanan, dengan nafsu mereka mulai memainkan lidah mereka menyapu kulit payudara Sherry dan menjalar dengan liar di sekitar puting payudara Sherry, kadang mereka melakukan hisapan dan gigitan kecil di puting payudara Sherry. Sherry mendesah sambil ketakutan, terlihat ia baru pertama kali diperlakukan seperti itu. Manda pun beraksi merekam seluruh kejadian yang menimpa payudara Sherry dengan seksama melalui handy cam-nya.

    Tejo menurunkan ciuman dan jilatannya ke perut Sherry yang juga indah dan mulus, aku cukup terkejut melihat pusar Sherry yang ditindik itu, terlihat seksi. Setelah puas mencium dan menjilati daerah pusar Shery. Tejo berhenti dan menyuruh Andre yang sedang menikmati puting payudara Sherry berhenti. Tejo lalu mulai menyingkap rok sekolah Sherry, sambil mengelus paha Sherry. Ia memainkan jarinya menelusuri halusnya paha Sherry yang mulus dan putih itu. Tangan Tejo perlahan naik menyentuh selangkangan Sherry yang ditutup celana dalam pink itu.

    “Jangan Pak!! Ampun!!” Sherry memohon pada Tejo. Andre pun ikut mendekat ke Tejo.

    “Wah, Celana dalam Non Sherry lucu sekali..” ejek Andre.

    Tejo yang sudah sangat nafsu perlahan membuka celana dalam Sherry. Tak berapa lama kemudian, Celana dalam itu sudah terlepas dari tempatnya.

    “Wow Non Sherry!! Vaginanya indah banget!!” Tejo tampak bersemangat.

    Vagina Sherry memang terlihat terawat, daerah selangkangannya putih, bersih, dan Sherry sepertinya tidak suka dengan rambut-rambut yang tumbuh di sekitar vaginanya, ia membiarkan vaginanya tertampang mulus tanpa rambut kemaluan. Perlahan tangan Tejo dan Andre menjelajahi paha, dan sekitar selangkangan Sherry. Sherry hanya bisa menggeliat kesana kemari menghadapi rangsangan itu.

    Tak lama kemudian tangan Tejo dan Andre, tiba di bagian vital Sherry. Dengan nafsu membara, Andre membuka bibir vagina Sherry, sementara Tejo memasukkan jarinya kedalam liang vagina Sherry. Perlahan jari tangan Tejo menyolok-nyolok vagina Sherry, dan makin lama gerakannya makin cepat. Tubuh Sherry nampak menegang, sambil mendongakkan wajahnya, Sherry mendesah perlahan.

    Tejo dengan pandai memainkan kecepatan jarinya menyolok-nyolok vagina Sherry, sementara aku dan teman-temanku memperhatikan kejadian itu. Setelah hampir 2 menit jari Tejo menembus liang vagina Sherry, dari bibir vagina Sherry kulihat cairan kewanitaan yang keluar, rupanya Sherry terangsang.

    “Wah Non, terangsang nih? Enak ya? Mau lebih cepat?”

    “Jangan Pak, tolong!!” Sherry memohon.

    Tejo tidak mempedulikan permohonan Sherry, Jarinya keluar masuk vagina Sherry dengan cepat.

    “Ahh.. stop Pak!! Tolong..!” Sherry kelihatan sangat terangsang, namun ia berusaha melawan.

    “Ahh..!” Sherry vaginiak pelan, sepertinya ia hampir mencapai orgasme sambil menahan kesakitan di lubang vaginanya.

    “Payah lo!! Baru segitu aja udah mau orgasme.. cuih.. ” aku meledek Sherry, aku membayangkan jika aku dalam posisi Sherry, pasti aku akan lebih lama lagi orgasme.

    Baca Juga Cerita Seks Akibat Nonton Film Porno Bersama

    “Dasar perek amatir, baru gitu aja udah mau orgasme!!” Lea ikut mengejek.

    Tejo menghentikan jarinya yang menyolok-nyolok vagina Sherry, nampaknya ia belum mau Sherry mencapai puncaknya. Namun aku sudah tak sabar, dendam di dadaku terus membara ingin mempermalukan Sherry. Kutarik jari Tejo keluar dari vagina Sherry, lalu kudorong tubuhnya menjauhi Sherry.

    “Lho Non.. saya belum puas nih..” Tejo terlihat bingung.

    “Sabar dulu!! Nanti lo dapat giliran lagi!!” bentakku pada Tejo.

    Saat kulihat Sherry dihadapanku, nafsu dan amarahku membara. Aku tak tahan lagi, kujongkokkan tubuhku hingga wajahku tepat menghadap vagina Sherry. Tertampang jelas keindahan vagina Sherry di mataku, bibir vaginanya yang memerah karena gesekan jari Tejo dan cairan yang membasahi sekitar selangkangannya membuat aku menahan ludah. Perlahan kudekatkan wajahku ke vagina Sherry, dan kucium harum vagina Sherry, Ia terlihat sangat merawat daerah vitalnya ini. Dengan penuh nafsu dan dendam, perlahan kubasuh vaginanya dengan lidahku.

    Semua yang ada disitu spontan terkejut, dan Sherry terlihat sangat kaget.

    “Waduuh.. Non Nia ternyata juga mau ngerasain vagina Non Sherry ya?” Andre berseloroh meledek.

    “Bilang dong Non dari tadi, kalo gini saya malah jadi tambah horni nih..” Tejo menimpali.

    Aku tak perduli dengan ledekan Tejo dan Andre, yang kupikirkan hanya satu, aku ingin membuat Sherry malu di tanganku.

    “Aaah.. Kak.. mau apa Kak? Jangan Kak..” Sherry mulai merasa terangsang lagi, perlahan kurasa otot selangkangannya menegang. Kubasuh vagina Sherry dengan jilatan lidahku, dan kujalari daerah selangkangannya dengan ciuman dan jilatan erotis. Kutelusuri bibir vagina Sherry dengan lidahku, sambil kubuka liang vaginanya dengan jariku supaya lidahku dengan leluasa menjalar di daerah sensitifnya.

    Tak berapa lama kutemukan klitoris Sherry, perlahan kujilat dan kuberi dia hisapan-hisapan kecil dari mulutku. Semua laki-laki yang ada diruangan ini kurasa sangat beruntung menyaksikan dua bunga sekolah ini terlibat aktivitas seksual.

    “Ahh.. ah.. ah..” Sherry tak sanggup berkata-kata lagi, ia hanya bisa berteriak kecil merasakan rangsangan di klitorisnya. Perlahan tubuh Sherry menggelinjang kesana kemari, keringatnya makin deras membasahi tubuh dan seragam sekolahnya. Sampai akhirnya kurasakan vagina Sherry memuncratkan cairan-cairan kewanitaan yang menggairahkan membasahi mulutku, tanpa kusadari akupun terangsang dan menghirup cairan kewanitaan Sherry dalam-dalam.

    Hampir 5 menit kunikmati vagina Sherry, daerah selangkangannya sudah sangat basah, sama seperti tubuhnya yang dibanjiri keringat. Sherry hanya bisa mendesah pasrah sambil menikmati rangsanganku. Tak berapa lama, kurasa otot vaginanya menegang, Sherry agak terhentak, lalu kedua tangannya tiba-tiba mencengkram pundakku, ia hampir mencapai puncak. Saat itu pula kuhentikan jilatanku, lalu menarik nafas istirahat. Sherry terkulai lemas, tubuhnya tergeletak tak berdaya diatas meja sambil perlahan mencoba mengumpulkan nafas. Tejo, Seto, Lodi dan Andre hanya bisa terpaku menatap aku dan Sherry, sementara Lea dan Manda terlihat puas melihat “siksaan”ku terhadap Sherry. Aku berdiri setelah istirahat sejenak.

    “Gilaa!! Non Nia hebat!! Saya jadi horni banget nih lihat cewek lesbian kayak gitu” Seto angkat bicara.

    Kutatap Sherry yang terkulai lemas dengan pandangan nafsu dan dendam.

    Kulebarkan kedua kaki Sherry sampai ia mengangkang. Kutarik pinggulnya sampai sisi meja. Kali ini akan aku buat ia orgasme. Kutanggalkan rok sekolahku lalu kulepas celana dalamku. Semua pria yang ada disitu tergelak menahan ludah, menanti kejadian selanjutnya. Kubuka seragam sekolahku karena udara sudah sangat panas, sambil kutanggalkan BH-ku, begitu juga dengan Sherry, kubuat ia telanjang bulat.

    Posisi kaki Sherry yang mengangkang membuat vaginanya melebar, membuka bibir vaginanya, dan itu membuatku terangsang. Kuangkat kaki kiriku keatas meja, lalu kudekatkan selangkanganku ke selangkangan Sherry. Posisi tubuhku dan Sherry Seperti dua gunting yang berhimpitan pada pangkalnya. Dengan nafsu yang membara kugesekkan vaginaku dengan vagina Sherry yang masih terkulai lemas itu.

    “Hmm.. aah.. cukup Kak.. aah..” Sherry mendesah memohon padaku.

    Tanpa perduli pada Sherry, aku yang sudah dibakar nafsu terus melaju. Sementara Pria-pria yang ada disana mulai mengeluarkan kemaluan mereka kemudian melakukan onani sambil menyaksikan aku dan Sherry. Semakin lama semakin kupercepat gesekkan vaginaku, sambil kulihat wajah Sherry yang cantik itu dengan nafas memburu, membuatku kian terangsang. Tubuhku dan Sherry bergerak seirama, kurasakan keringat mengucur dari tubuhku, serta vaginaku kian basah oleh cairan kewanitaanku yang bercampur dengan cairan kewanitaan Sherry. Selama hampir 5 menit kupacu tubuh Sherry, dan tiap detik pun kurasakan kenikmatan dan rasa dendam yang terbayar.

    Di tengah deru nafasku yang saling memacu dengan nafas Sherry, tiba-tiba kumerasa sesosok tubuh besar memelukku dari belakang. Ternyata itu Andre, pria hitam bertubuh gendut itu sudah telanjang bulat dan memeluk tubuhku sambil memainkan jemarinya di puting payudaraku.

    “Saya juga ikutan ya Non Nia? Habis Non Nia bener-bener hot sih” permintaan Andre kuturuti tanpa menjawab, sebab jarinya yang memilin puting payudaraku semakin membuat aku berenang dalam lautan kenikmatan.

    Kulirik Sherry yang menarik nafas terengah-engah dan kulihat tubuhnya mulai menggelinjang merasakan kenikmatan. Kupercepat gerakanku, sambil mencoba untuk mengatur nafas, tiba-tiba sebuah benda kurasa menyentuh pantatku lalu menelusup diantara belahannya. Aku mendengar Andre melenguh, ternyata benda itu adalah penisnya yang menegang dan berusaha meyodok lubang anusku.

    “Non Nia, saya nggak tahan lagi nih..” permintaan Andre kupenuhi, kubiarkan penisnya masuk ke lubang anusku.

    Dengan sedikit hentakan, penis Andre menerobos masuk anusku. Kurasakan benda itu berukuran besar, memenuhi lubang anusku.

    “Aaah.. lobang Non Nia masih rapet banget nih..” Andre mencoba menekan pinggulnya untuk memasukkan seluruh batang penisnya. Sambil terus kupacu tubuh Sherry, Andre juga mulai memompa penisnya di lubang anusku. Tak berhenti, Andre menjelajahi bagian atas tubuhku dengan tangannya.

    Kejadian ini berlangsung hampir 7 menit sebelum, Sherry berteriak kencang memperoleh puncak kenikmatannya. Tak berapa lama kemudian giliranku dan Andre yang mencapai orgasme bersamaan, ditandai semburan spermanya di lubang anusku. Aku sangat lelah, tubuhku basah oleh keringat, namun aku sangat puas, puas karena dendamku terbayar dan puas atas kenikmatan yang kuperoleh tadi. Kubiarkan Sherry beristirahat selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya “penyiksaan” ini dimulai lagi.

    Aku duduk menjauh dari Sherry, kali ini kuputuskan menjadi penonton saja. Tongkat komando kini dipegang Lea, ia kini yang memerintah semua yang ada disitu. Tejo, Lodi dan Seto mendekati tubuh Sherry yang tergeletak tak berdaya. Lea memberi tanda pada Seto yang dijawab dengan anggukan kepalanya. Seto memegang pinggul Sherry yang lemas itu kemudian memutar tubuhnya. Posisi Sherry kini telungkup dengan memperlihatkan bulatan pantatnya yang padat berisi.

    Tiga orang itu sekaligus menikmati tubuh Sherry, tak bisa kubayangkan perasaan Sherry saat ini. Vagina, mulut, punggung, payudara, hampir seluruh bagian tubuhnya dirangsang. Kulihat Seto berejakulasi di dalam liang vagina Sherry, sperma yang melimpah keluar dari penis Seto mengalir keluar melalui liang vagina Sherry, seketika itu juga Sherry bergumam sembari menaikkan pinggulnya, ia berorgasme. Setelah Seto puas membasahi vagina Sherry dengan spermanya, giliran Lea menggantikan posisi Seto. Dengan liar, Lea menjilati vagina Sherry yang masih basah oleh sperma Seto.

    Selang berapa menit kemudian Tejo berejakulasi, ia berteriak kencang memanggil nama Sherry sembari memuncratkan spermanya di wajah Sherry, kulihat Sherry menerima semburan sperma itu di sekitar bibir dan pipinya, bahkan ia menelannya, mungkin Sherry sudah pasrah dan memilih untuk menikmati kejadian ini.

    Setelah Tejo, giliran Lodi berejakulasi diatas punggung Sherry. Sperma lodi nampak membasahi kulit punggung Sherry yang putih mulus. Andre yang dari tadi diam, bergerak menggantikan Lea yang kini merubah posisi Sherry menjadi terlentang, lalu memegangi tangan Sherry keatas.

    Penis Andre yang ekstra besar itu menembus vagina Sherry, dan dengan liar memompa tubuh Sherry. Sherry yang sudah sangat lelah hanya mendesah pelan sambil menikmati. Hampir 10 menit Andre memompa penisnya didalam vagina Sherry sampai akhirnya gerakan Andre dipercepat, Sherry berteriak, pinggulnya naik, tubuhnya nampak bergetar, ia kembali berorgasme. Tidak lama kemudian Andre berejakulasi di luar vagina Sherry, ia membiarkan spermanya jatuh membasahi selangkangan Sherry.

    Suasana sunyi hanya terdengar desah nafas Sherry yang mencoba mengatur kembali nafasnya. Tubuhnya basah oleh keringat, selangkangannya dipenuhi sperma, Sherry hanya tergeletak diatas meja itu. Kubayar uang yang kujanjikan pada Tejo, Andre, Seto dan Lodi. Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan ini dengan senyum puas. Cerita Maya

    “Nah, sekarang kapok kan lo?” bentak Lea kepada Sherry.

    “Makanya jangan macam-macam, kalo lo bilang-bilang kejadian ini sama siapapun, rekaman video tentang lo bakal gue sebar luas!! Terus lo bisa jadi bintang porno terbaru dan terkenal, he.. he.. he.. ” ancamku pada Sherry.

    “Sekarang lo bilang!! Gimana rasanya tadi?! Ayo jawab!!” bentak Lea.

    “Kok diem aja?! Ayo jawab tolol!!” bentakku.

    “Enak Kak..” jawab Sherry ketakutan.

    “Enak?! lo seneng dientot?!” bentak Lea lagi.

    “Iya Kak.. enak sekali.. nikmat..” Sherry menjawab.

    “Lo mau lagi?!” Manda yang dari tadi diam kini bicara.

    “Ma..mau Kak..” jawab Sherry.

    Aku, Lea dan Manda saling berpandangan sambil tersenyum. Ya, akhirnya Sherry kini menjadi bagian gengku, geng gila seks yang suka sekali mencari kenikmatan, haus akan hal-hal berbau seks. Dan si cantik Sherry, adik kelasku menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam petulangan seks ku selanjutnya.

  • Adikku

    Adikku


    261 views

    Cerita Maya | Sekarang aku sudah menikah dan mempunyai anak, kali ini aku akan berbagi pengalamanku dengan adik kandungku yang mana mencoba menikmati memekku.

    Perkenalkan namaku Monic umurku saat ini 23 tahun, dan kejadian ini terjadi 1 tahun kemarin dengan adikku yang berumur 17 tahun, aku anak ke dua dari 3 saudara yang pertama dia sudah menikah ikut suaminya dan aku dan adikku amasih ikur dengan orang tua.

    Aku sendiri berperawakan sedang, tinggiku 160cm berat badan 52kg, orang bilang aku montok, terutama pada bagian pinggul/pantat. Payudaraku termasuk rata-rata 34 saja. Kulitku yang putih selalu menjadi perhatian orang-orang bila sedang berjalan keluar rumah.

    Aku mempunyai seorang pacar berusia 2 tahun diatasku, dia adalah kakak kelas kuliahku. Aku dan pacarku berpacaran sudah 2 tahun lebih, dan selama itu paling jauh kami hanya melakukan petting, sailng raba, saling cium dan saling hisap.

    Pacarku sangat ingin menerobos vaginaku jika saat petting, tapi aku sendiri tidak ingin hal itu terjadi sebelum kami menikah, jadi aku mengeluarkan air maninya dengan cara swalayan, yaitu mengocok kontolnya. Aku juga kerap dipaksa menghisap kontol pacarku yang mana sebenernya aku agak jijik melakukannya.

    Keseringan petting dengan pacarku membuatku menjadi haus akan belaian lelaki dan selalu iingin disentuh, sehari saja tidak dibelai rasanya tersiksa sekali… entah kenapa aku jadi ketagihan… Sampai akhirnya kau sendiri melakukannya dengan tanganku sendiri dikamarku sendiri. Sering aku meraba-raba payudaraku sendiri dan mengusap-usap memeku sendiri sampai aku orgasme.

    Inilah kesalahan ku, aku tidak menyadari kalau selama ini adikku John sering mengintip aku… ini aku ketahui setelah dia mengakuinya saat berhasil membobol keperawananku, kakaknya sendiri.

    Awal mulanya, ketika itu aku, mamaku dan adikku John pergi ke supermarket 500m dekat rumah. Karena belanjaan kami banyak maka kami memutuskan untuk naik becak. Saat itu aku memakai celana panjang ketat setengah lutut, dan karena kami hanya naik satu becak, aku memutuskan untuk di pangku adikku, sedangkan mamaku memangku belanjaan.

    Diperjalanan yang hanya 500m itu, ketika aku duduk di pangkuan adikku, aku merasakan sesuatu bergerak-gerak dipantatku, aku sadar bahwa itu kontol adikku, keras sekali dan berada di belahan pantatku. Aku membiarkannya, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan. Cerita Maya

    Bahkan ketika di jalan yang jelek, semakin terasa ganjalan dipantatku. Karena aku juga sangat rindu belaian pacarku yang sudah 3 hari tidak ke rumah, diam diam aku menikmatinya.

    Sejak kejadian itu, aku sering melihat dia memperhatikan tubuhku, agak risi aku diperhatikan adikku sendiri, tapi aku berusaha bersikap biasa.

    Suatu hari, aku dan pacarku melakukan petting di kamarku… Aku sangat terangsang sekali… dia meraba dan membelai-belai tubuhku. Sampai akhirnya pacarku memaksakku membuka celana dalamku dan memaksaku untuk mengijinkannya memasukkan kontolnya ke memekku. Tentu saja aku keberatan, walaupun aku sangat terangsang tapi aku berusaha untuk mempertahankan keperawananku.

    Dalam ketelajanganku aku memohon padanya untuk tidak melakukannya. Dan anehnya aku malah berteriak minta tolong. Hal ini di dengar oleh adikku John, dia langsung menerobos kamarku dan mengusirnya, saat itu juga pacarku ketakutan, karena memang badan adikku jauh lebih besar.

    Aku lansung menutupi tubuhku yang telanjang dan aku yakin adikku melihat ketelajanganku. Dan pacarku sendiri langsung memakai pakaiannya dan pamit pulang.

    Sejak itu, pacarku jadi jarang ke rumah. Dari selentingan teman-teman ku, pacarku katanya mempunyai teman cewe lain yang sering jalan dengannya. Tentu saja aku sedih mendengarnya, tapi aku juga merasa beruntung tidak ternodai olehnya.

    Suatu malam aku berbincang-bincang dengan adikku, aku berterima kasih padanya karena dia telah menggagalkan pacarku menodaiku. Aku kaget ketika adikku ngomong bahwa, aku ngga bisa menyalahkan pacarku karena memang bodyku sexy sekali dan setiap laki-laki pasti ingin merasakan tubuhku. Ketika kutanya, jika setiap lelaki, apakah adikku juga ingin merasakan tubuhku juga… dia menjawab:

    “Kalau kakak bukan kakakku, ya aku juga pengen, aku kan juga lelaki”

    aku sangat kaget mendengar jawabannya tapi aku berusaha itu adalah pernyataan biasa, aku langsung aja tembak, “emang adik pernah nyobain cewe?”

    dia bilang “ya, belum kak”…. itulah percakapan awal bencana itu.

    Malam harinya aku membayangkan bercinta dengan pacarku, kau merindukan belaiannya… lalu aku mulai meraba-raba tubuhku sendiri… tapi aku tetap tidak bisa mencapai apa yang aku inginkan… sekilas aku membayangkan adikku… lalu aku memutuskan untuk mengintip ke kamarnya… Malam itu aku mengendap-endap dan perlahan-lahan nak keatas kursi dan dari lubang angin aku mengintip adikku sendiri.

    Aku sangat kaget sekali ketika melihat adikku dalam keadaan tak memakai celana dan sedang memegan alat vitalnya sendiri, dia melakukan onani, aku terkesima melihat ukuran kontolnya, hampir 2 kali pacarku, gila kupikir, kok bisa yah sebesar itu punya adikku.

    Dan yang lebih kaget, di puncak orgasmenya dia meneriakkan namaku… Saat itu perasaanku bercampur baur antar nafsu dan marah… aku langsung balik kekamarku dan membayangkan apa yang baru saja aku saksikan.

    Pagi harinya, libidoku sangat tinggi sekali, ingin dipuaskan adikku tidak mungkin, maka aku memutuskan untuk mendatangi pacarku. Pagi itu aku langsung kerumah pacarku dan kulihat dia sangat senang aku datang ditariknya aku ke kamarnya dan kami langsung bercumbu… saling cium saling hisap dan perlahan-lahan baju kami lepas satu demi satu sampai akhirnya kami telanjang bulat.

    Gilanya begitu aku melihat kontolnya, aku terbayang kontol adikku yang jauh lebih besar darinya… sepert biasa dia menyuruhku menghisap kontolnya, dengan terpaksa aku melakukannya, dia merintih-rintih keenakkan dan mungkin karena hampir orgasme dia menarik kepalaku.

    “Jangan diterusin, aku bisa keluar katanya”

    lalu dia mula menindihi ku dan dari nafasnya yang memburu kontolnya mencari-cari lubang memekku… begitu unjung kontolnya nempel dan baru setengah kepalanya masuk, aku kaget karena dia sudah langsung orgasme, air maninya belepotan diatas memekku… “Ohhhhh…” katanya.

    Dia memelukku dan minta maaf karena gagal melakukan penetrasi ke memekku. Tentu saja aku sangat kecewa, karena libidoku masih sangat tinggi.

    “Puaskan aku dong… aku kan belum…” rengekku tanpa malu-malu.

    Tapi jawabannya sangat menyakitkanku… “Maaf, aku harus buru-buru ada janji dengan sisca” katanya tanpa ada rasa ngga enak sedikitpun.

    Aku menyembunyikan kedongkolanku dan buru-buru berpakaian dan kami berpisah ketika keluar dari rumahnya.

    Diperjalanan pulang aku sangat kesal dan timbul kenginanku untuk menyeleweng, apalagi selama diperjalanan banyak sekali lelaki yang mengodaku dar tukang becak, kuli bangunan sampai setiap orang di bis.

    Begitu sampai rumah aku memergoki adikku yang akan pergi ke sport club, dia mengajakku untuk ikut dan aku langsung menyanguppinya karena memang aku juga ingin melepaskan libidoku dengan cara berolah raga.

    Di tempat sport club, kam berolah raga dari senam sampai berenang dan puncaknya kami mandi sauna. Karena sport club tersebut sangat sepi, maka aku minta adikku satu kamar denganku saat sauna.

    Saat didalam adikku bilang “kak, baju renangnya ganti tuh, kan kalau tertutup gitu keringatnya ngga keluar, percuma sauna”

    “Abis pake apa” timpalku, “aku ngga punya baju lagi”

    “Pake celana dalem sama BH aja kak, supaya pori-porinya kebuka” katanya

    Pikirku, bener juga apa katanya, aku langsung keluar dan menganti baju renangku dengan BH dan celana dalam, sialnya aku memakai celana dalam G-string putih sehabis dari rumah pacarku tadi… Tapi “ah, cuek aja.. toh adikku pernah liat aku telanjang juga”.

    Begitu aku masuk, adikku terkesima dengan penampilanku yang sangat berani… kulihat dia berkali-kali menelan ludah, aku pura-pura acuh dan langsung duduk dan menikmati panasnya sauna.

    Keringat mencucur dari tubuhku, dan hal itu membuat segalanya tercetak didalam BH dan celana dalamku… adikku terus memandang tubuhku dan ketka kulihat kontolnya, aku sangat kaget, dan mengingatkanku ke hal semalam ketika adikku onani dan yang membuat libidoku malah memuncak adalah kepala kontolnya muncul diatas celana renangnya.

    Aku berusaha untuk tidak melihat, tapi mataku selau melirik ke bagian itu, dan nafasku semakin memburu dan kulihat adikku melihat kegelisahanku. Aku juga membayangkan kejadian tadi pagi bersama pacarku, aku kecewa dan ingin pelampiasan.

    Dalam kediaman itu aku tidak mampu untuk bertahan lagi dan aku memulainya dengan berkata:

    “Ngga kesempitan tuh celana, sampe nongol gitu”

    “Ia nih, si otong ngga bisa diajak kompromi kalo liat cewe bahenol” katanya

    “Kasian amat tuh, kejepit. Buka aja dari pada kecekik” kataku lebih berani. cerita ml sedarah

    “Iya yah…” katanya sambil berdiri dan membuka celananya…Cerita Sex Pembantu

    Aku sangat berdebar-debar dan berkali-kali menggigit bibirku melihat batang kemaluan adikku yang begitu besar.

    Tiba-tiba adikku mematikan mesin saunanya dan kembali ke tempatnya.

    “Kenapa dimatiin” kataku

    “Udah cukup panas kak” katanya

    Memang saat juga aku merasa sudah cukup panas, dan dia kembali duduk, kami saling memandang tubuh masing-masing. Tiba-tiba cairan di memekku meleleh dan gatal menyelimuti dinding memekku, apalagi melihat kontol adikku.

    Akal warasku datang dan aku langsung berdiri dan hendak keluar, tapi adikku malah mencegahku
    “nanti kak”. cerita ml sedarah

    “Kan udah saunanya ” timpalku, aku sangat kaget dia berada tepat di depanku dengan kontol mengacung ke arahku, antara takut dan ingin.

    “Kakak udah pernah gituan belum kak” kata adikku

    “Belum” kataku, “emang kamu udah..?” lanjutku

    “Belum juga kak, tapi pengen nyoba” katanya

    “Nyoba gimana???? Nantikan juga ada saatnya” kataku berbalik kearah pintu dan sialnya kunci lokerku jatuh, ketika aku memungutnya, otomatis aku menunggingi adikku dan buah pantatku yang besar menempel di kontolnya.

    Baca Juga Cerita Seks Keluarga

    Gilanya aku malah tetap diposisi itu dan menengok ke arah adikku. Dan tak kusangka adikku memegang pinggulku dan menempelkan kontolnya dibelahan pantatku yang hanya tertutup G-string.

    “Oh kak…. bahenol sekali, aku pengen nyobain kak” katanya dengan nafas memburu.
    cerita ml sedarah
    “Aw… dik ngapain kamu” timpalku tanpa berusaha merubah posisiku, karena memang aku juga menginginkannya.
    “Pengen ngentot kakak” katanya kasar sambil menekan batangnya kepantatku.

    Aku menarik pantatku dan berdiri membelakanginya, “Aku kan kakakmu John, inget dong”

    Adikku tetap memegang pinggulku “tolong kak.. asal nempel aja.. nga usah dimasukkin, aku ngga tahan banget”

    “Tolong kak,” katanya memelas. Aku di suruh nagpain juga mau kak, asal bisa nempelin aja ke memek kakak”.

    Pikiranku buntu, aku juga punya libido yang tak tertuntaskan tadi pagi.. dan membayangkan pacarku menunggangi sisca, libidoku tambah naik.. “Persetan dengan pacar brengsek” batinku.

    “Jangan disini” pintaku.

    “Sebentar aja kak, asal nempel aja 1 menit” katanya meremas pinggulku.

    “Kakak belum siap” kataku.

    “Kakak nungging aja, nanti aku panasin” katanya.cerita ml sedarah

    Bagai terhipnotis aku menuruti apa katanya, sambil memegang grendel pintu, aku menungginginya dan dengam pelan-pelan dia membuka G-stringku dan melemparkannya. Dan dia jongkok di belakangku dan gilanya dia menjulurkan lidahnya menjilat memeku dari belakang…

    “Oh… ngapain kamu dik…” kataku tanpa melarangnya.

    Dia terus menjulurkan lidah dan menjilati memekku dari belakang.. ohhhh… gila pikirku… enak banget, pacarku saja ngga mau ngejilatin memekku, adikku sendiri dengan rakus menjilati memekku

    “Gila kamu dik, enak banget, belajar dimana” rintihku…

    Tanpa menjawab dia terus menjilati memekku dan meremas remas bokongku sampai akhirnya lama-lama memekku basah sekali dan bagian dalam memekku gatal sekali…

    Tiba-tiba dia berdiri dan memegang pinggulku..

    “Udah panas kak” katanya mengarahkan kontolnya kepantatku dan memukul-mukul kepala kontolnya kepantatku.

    “udah….” kataku sambil terus menungging dan menoleh ke arah adikku…
    “Jangan bilang siapa-siapa yah dik” kataku.

    Adikku berusaha mencari lubang memekku dengan kepala kontolnya yang besar… dia kesulitan…
    “Mana lubangnya kak..” katanya.

    Tanpa sadar aku menjulurkan tangan kananku dan menggengam kontolnya dan menuntun ke mulut goaku. Cerita Maya

    “Ini dik” kataku begitu tepat di depannya, “gesek-gesek aja yah dik”.

    “Masukin dikit aja kak” katanya menekan kontolnya.

    “aw… dik, gede banget sih” kataku, “pelan-pelan….”.

    Begitu kepala kontolnya membuka jalan masuk ke memekku, adikku pelan-pelan menekannya.. dan mengeluarkannya lagi sedikit sedikit… tapi tidak sampai lepas… terus ia lakukan sampai membuat aku gemas….

    “Oh.. dik…. enak…. dik…. udah yah…” kataku pura-pura…..

    “Belum kak…. baru kepalanya udah enak yah….”

    “Memang bisa lebih enak…???” kataku menantang.

    Dan…. langsung menarik pinggulku sehingga batang kontolnya yang besar amblas ditelan memekku”
    Aku merasakan perih luar biasa dan “aw…. sakit dik…” teriakku.

    Adikku menahan batangnya didalam memekku …. “Oh…kak…nikmat banget…..” dan secara perlahan dia menariknya keluar dan memasukannya lagi, sungguh sensasi luar biasa. Aku merasakan nikmat yang teramat sangat, begitu juga adikku…

    “Oh, kak… nikmat banget memekmu..” katanya.

    “Ssssshhhh… ia dik… enak banget” kataku.

    Lima belas menit dia mengenjotku, sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang sangat panjang dan nikmat disusul erangan adkku sambil menggengam pinggulku agar penetrasinya maksimum.

    “Oh.. kak.. aku keluar.. nikmat banget…” katanya

    Sejenak dia memelukku dari belakang, dan mulai mencabut kontolnya di memekku…
    “Ma kasih kak” katanya tanpa dosa dan memakaikan celanaku lagi.

    Aku bingung bercampur menyesal dan ingin menangis. Akulangsung keluar dan membersihkan diri sambil menyesali diri.. “kenapa adikku????”

    Dalam perjalanan pulang adikku berulang-ulang minta maaf atas perbuatannya di ruangan sauna… Aku hanya bisa berdiam merenungi diriku yang sudah tidak perawan lagi…

    Kejadian itu adalah awal petualangan aku dan adikku, Karena dua hari setelah itu kembali kami besetubuh, bahkan lebih gila lagi.. kami bisa melakukannya sehari 3 sampai 5 kali sehari semalam.

    Setahun sudah aku di tunggangi adikku sendiri sampai ada seorang kaya, kenalan bapakku melamarku, dan kami menikah. Untungnya suamiku tidak mempermasalahkan keperawananku.

    Akhirnya aku di karunia seorang anak dari suamiku, bukan dari adikku.. karena aku selalu menjaga jangan sampai hamil bila bersetubuh dengan adikku.

    Sampai sekarang aku tidak bisa menghentikan perbuatanku dengan adikku, yang pertama adikku selalu meminta jatah, di lain pihak aku juga sangat ketagihan permainan sex nya.

    Demikian kisah nyataku dengan adikku.

  • Affair dengan Fifi, Putri Mitra Bisnisku

    Affair dengan Fifi, Putri Mitra Bisnisku


    131 views
    A.W./ Ncek Ang (mukanya sensor, malu ah!)

    A.W./ Ncek Ang (mukanya sensor, malu ah!)

    Ceritamaya | Aku seorang pengusaha kaya di tanah air, namaku kusebut dengan inisial saja, AW (umur ya hampir 70 tahun lah, malu ah nyebut tepatnya hehehe), soalnya gak enak karena namaku belakangan ini sering disebut-sebut dalam berita negatif, padahal aku hanya melakukan penyuapan, itu kan biasa di negeri ini, lagipula bukan aku sendiri kok yang melakukannya, ya ga? Cerita ini kutulis di penjara setelah aku ditahan gara-gara skandal terbesarku yaitu kriminalisasi pimpinan KPK (padahal bilang aja fulusnya kurang kek jadi ga usah ngerepotin kaya gini). Pasti para pembaca bertanya-tanya, di penjara kok ada komputer buat ngetik, internetan pula. Ya bisa lah masa ya bisa dong? orang yang penjara kelas VIP kaya orang-orang seperti saya ini apa sih yang gak mungkin? Yang kelas teri aja bisa liburan ke Bali dan luar negeri kok. Dalam kesempatan ini aku mau ingin bercerita tentang pengalaman seksku dengan seorang gadis yang adalah putri dari mitra bisnisku. Sungguh gadis itu terbilang cantik, kulitnya putih mulus halus menggairahkan, pahanya juga padat berisi, apalagi kalau dia pakai celana pendek pahanya makin menggairahkan kepingin rasanya meraba raba dan menciumnya. Aku sering meneguk liur kalau melihatnya saat bertamu ke rumahnya karena ia sering berpakaian minim. Pasti halus kulitnya dan enak kalau dicium pangkal pahanya dan selangkangannya pasti enak dan harum, beda dengan punya istriku yang sudah bangkotan dan sudah tidak kencang itu. Pokoknya aku nafsu banget apalagi kalau celananya pendek sekali hampir kelihatan pangkal pahanya dan cdnya kadang kelihatan sedikit. Ingin aku merasakan kelembutan cdnya kucium dan kulumat lumat. Fifi namanya, umurnya kurang lebih 25 tahun, masih belum kawin dan punya pacar pasti dia mendambakan kehangatan laki-laki. Aku dan keluarganya sangat akrab, kerap aku ke rumahnya membicarakan bisnis dengan ayahnya. Dia biasa memanggilku Cek Ang karena perbedaan umur kami jauh sekali. Sungguh aku bernafsu melihatnya kalau dia duduk cuek saja meskipun celana pendeknya tertarik ke atas makin kelihatan pangkal pahanya, putih mulus bak pualam apalagi kalau duduk di lantai buka laptop di meja tamu sambil bersila makin kelihatan selangkangannya merangsang saja mau rasanya mukaku kubenamkan ke selangkangannya, pasti hangat dan harum baunya. Kepingin sekali aku mencium aromanya.

    Suatu sore aku ke rumahnya untuk membicarakan urusan bisnis dengan papanya. Saat itu papanya belum pulang. Pembantu yang mempersilakanku masuk dan menunggu mengatakan hanya ada Fifi di rumah. Tidak lama aku menunggu di ruang tamu, dia baru saja keluar dari kamar mandi habis mandi, rambutnya masih dililit handuk dan tubuhnya memakai kaos longgar dan celana pendek. Langsung pikiranku jadi mupeng ingin merasakan kelembutan dan bau tubuhnya lewat pakaian bekasnya yang mungkin masih ada di kamar mandi. Aku pamit mamanya pura-pura mau pipis, betul dugaanku, di kamar mandi pakaiannya masih ada di dalam keranjang pakaian kotor. Aku memang ada kecenderungan fetishisme, waktu masih SD masih anak ingusan dulu juga aku pernah mencuri celana dalam pembantuku yang baru selesai mandi, padahal pembantuku itu gendut seperti Okky Lukman tapi aku menikmatinya, tidak heran waktu kecil dulu teman-temanku menjulukiku Ang**** si otak peler, hak…hak…hak!! (bangga lagi) Kuambil kaos itu dan kuciumi bagian ketiaknya harum baunya, bhnya kucium nikmat juga celana panjangnya kucium selangkangannya. Lalu yang kunanti-nantikan adalah cdnya merah muda dari kain lembut kulihat dengan teliti ada rontokan jembutnya 2 helai. Aku mendekatkan kain segitiga itu ke hidungku dan menciumnya, kuhirup dalam-dalam menikmati aroma vaginanya lalu kujilati dan kuisep isep. Puas rasanya dapat merasakan bekas vaginanya yang sudah lama aku angan-angankan. Tak terasa aku orgasme, apalagi dengan umur setua diriku, cepat sekali aku memuncratkan sperma. Wajahku celingak-celinguk memastikan tidak ada yang melihat wajahku yang lagi mupeng abis menciumi celana dalam Fifi, kalau ada wartawan mengambil gambarku waktu begini walah, bisa mati jantungan aku, malunya lebih-lebih dari disorot kamera waktu di kursi pengadilan (kan banyak koruptor lain masih bisa cengengesan sambil melambaikan tangan waktu duduk di situ kok, buat apa malu?) Semakin ingin aku mencoba langsung mencium vaginanya, kapan-kapan aku akan berusaha mendapatkannya. Nanti akan kurayu dan pasti dia pun ingin merasakan kehangatan laki-laki. Besoknya aku ke rumahnya lagi, kedua orang tuanya lagi pergi, dia sendirian buka laptop di meja tamu sambil duduk di lantai dengan kaki satu ditekuk keatas. Makin merangsang aku melihatnya selangkangannya makin nampak, juga cdnya tapi dia tetap cuek saja karena aku sudah akrab dengan keluarganya. Ceritamaya

    ”Fi lagi ngapain? Mana papa?” kataku basa basi sambil duduk di kursi di sampingnya,

    “Belum pulang Ncek, tunggu aja dulu ya!” jawabnya sambil tersenyum ramah

    “Lagi bikin tugas Fi?” tanyaku

    ”Ohh ngga Ncek, ini aku lagi mau cari barang untuk kantorku” katanya sambil buka internet

    Mataku tak lepas-lepasnya melihat pahanya yang mulus itu. Dia sepertinya tahu kalau aku melihatnya tapi dia tetap saja duduk begitu malah makin dibukanya kakinya tanpa sengaja. Makin napsu aku mau kubenamkan saja mukaku ke pangkuannya.merasakan kehangatan selangkangannya. Panas dingin aku dibuatnya, napsuku mengebu-gebu ingat cdnya kulumat lumat itu, kalau aku punya penyakit jantung bisa kumat pastinya.

    Fifi

    Fifi

    Kuberanikan diriku bertanya,

    ”Fi, pernah kamu lihat situs-situs porno di internet?”

    Dia menolehku dan menjawab “Ndak pernah Cek, takut merangsang aku” katanya malu.

    ”Oohh…Ncek mau minta tolong kamu sebenernya sih” kataku.

    “Minta tolong apa Cek?” tanyanya

    ”Gini, Ncek kan sudah tua nih, masalah seks perlu referensi lebih banyak, kamu bisa kasih liat gak beberapa situs di internet ke Ncek” aku menggiringnya untuk itu agar ia terangsang sehingga gampang mencumbunya.

    ”Hhhmm….ndak ah Cek, malu aku, gak enak nih” katanya dengan muka agak merah.

    ”Ayo lah Fi, sebentar aja Ncek pengin liat” rayuku lagi, “Ncek kan temen papa kamu, gak bakal apa-apa kok!”

    Dengan agak malu-malu ia mulai mengetikkan sebuah alamat website dan membuka situs itu.

    ”Wah bagus ya body cewek itu, terus yg lain lagi Fi” aku komentari gambar cewek bugil yang terpampang di layar.

    Kurasa ia mulai terangsang melihat gambar hardcore itu.

    ”Hihihi, kok gede gitu ya punya orang bule itu, sudah ya Ncek, malu ah”

    “terus Fi sekarang buka filmnya” aku terus menyemangatinya

    Aku lalu duduk di bawah samping belakangnya sambil kunikmati dari dekat pahanya. Tercium bau tubuhnya harum ketiaknya putih mulus.makin tak tahan aku. Layar memperlihatkan film adegan threesome seorang cewek bule dengan dua cowok. Fifi terpana menontonnya. Disuruhnya aku menutup pintu depan, katanya nanti kelihatan orang lain ndak enak. Makin senang aku sekarang tiba waktu nya mencumbunya, kupegang tangannya kuelus elus diam saja dia sudah mulai terangsang, napasnya memburu bibirnya dikatupkan, wangi nafasnya ingin segera aku mau melumat mulutnya, tapi aku tak berani takut dia kaget, masih belum waktunya sabar saja pikirku, toh sebentar lagi aku akan dapat menikmatinya.

    ”Seru ya Fi, orang bule itunya gede-gede, ceweknya pasti keenakan tuh” kataku merangsangnya.

    ”hiii hii,ceweknya keenakan ya? Jadi pengen pipis nih Cek” bisiknya

    ”Pipis aja dulu Fi, nanti kamu ngompol lo” godaku sambil kulepas tanganku.

    Ia pun buru-buru ke toilet dekat situ. Lantai tempat dia duduk agak basah rupanya dia sudah orgasme, kuusap dengan tangan dan kukuciumi cairan itu, hmmm…enak. Tak lama kemudian ia kembali dari toilet. Kembali dia duduk lagi melanjutkan nonton, rupanya dia menikmati juga. Kupegang lagi tangannya kuelus lengannya, kucium bahunya makin mendesah napasnya, lalu kucium belakang lehernya,

    ”geli Cek, aku…jangan cium aku Cek” katanya pura-pura menolak ciumanku.

    ”Fi, Ncek juga terangsang lo, pegang ini” kataku sambil meraih tangannya ke penisku kuusap usapkan tangannya.

    ”Cek itunya bangun keras sekali, hiii…besar lo punya Ncek“ katanya malu-malu sambil menarik tangannya

    Aku makin senang karena dia tak menolak tangannya kuusap-usapkan tadi. Pasti dia sudah terangsang, kupeluk dia dan aku mulai meraba pahanya wah lembut sekali, dia diam saja pahanya kuraba raba aku terangsang sekali. Kembali tangannya kuusap-usapkan ke penisku dan dia mulai meremas pelan. Berani juga cewek satu ini pikirku pasti sudah pengalaman, lalu tangannya kusuruh masuk ke dalam celanaku. Dia menolak, aku tak memaksanya. Diremas begini saja aku sudah senang. Kuelusi pahanya sampai ke atas sehingga dia mendesah kegelian, kucium lengannya dekat ketiaknya wangi baunya kuangkat tangannya mau kucium ketiaknya tapi dia tak mau. Malu-malu kucing juga nih cewek, bikin aku tambah nafsu saja. Penisku tegang sekali lalu dia kutarik duduk di pangkuanku kucium pipinya dan lehernya juga belahan dadanya,

    ”Hihihi…geli Cek, sudah… suuudah ah…geli aku” ia tertawa kecil sambil mendesah

    Kegelian dia rupanya baru kali ini akibat leher mulusnya tersapu oleh jambang kasarku. Terus kucium dadanya dia tak menolak lagi malah tangannya naik merangkul pundakku ketiaknya sudah di depan hidungku aromanya wangi mulus sekali lalu kucium kubenamkan hidungku ke ketiaknya. Harumnya membuatku makin terangsang

    ”Aahh…Cek…ssshhh” desahnya.

    Aku memberanikan diri mencium bibirnya, karena sudah terangsang berat, tanpa perlawanan kukecup bibirnya, lidahnya kuhisap dan lidahku juga dihisapnya, kami saling menghisap seru sekali. Rupanya ciuman begini dia senang dan enak katanya, seperti yang kuduga, ia gadis yang berpengalaman dalam seks

    Baca Juga : Interconnected Hearts: Hot Love in Cool Villa

    Kuelus elus payudara di dalam bajunya dan kuremas remas pelan tak lupa pahanya kuelus lagi sampai ke atas di selangkangannya halus dan hangat. Senang aku bisa merasakan kehangatan selangkangannya. Dia sudah tidak pakai cd, mungkin sudah dilepasnya tadi karena basah dan ditinggalnya di kamar mandi. Kuusap tepi vaginanya yang basah, rambutnya tidak begitu lebat terus kuusap bibir vaginanya lembut sekali. Mau rasanya aku sekarang menjilatnya,

    ”eees ohh omm seee enak geli” desahnya

    Makin dibukanya kakinya supaya aku leluasa mengusapi kewanitaannya. Kuraba kelentitnya yang sensitif sehingga makin mengelinjang dia. Makin enak dan geli katanya sambil tangannya menekan tanganku untuk jariku meraba belahan vaginanya. Enak betul meraba raba vaginanya yang basah, tanganku basah sekali, penisku juga enak merasakan kehangatan pantatnya. Tak tahan aku akhirnya orgasme juga di celanaku. Aku pamit dulu mau pipis ke kamar mandi. Kucium tanganku yang basah oleh cairan vaginanya. Enak baunya, lalu kujilat, di dalam kamar mandi kulihat cdnya mini warna putih digantungan lalu kucium, tak ada bau kencing tapi bau aroma cairan vaginanya sedap sekali baunya kucium sampai puas. Kuhirup baunya dalam-dalam. Lagi-lagi penyakit fetishismeku kumat lagi. Lalu kuambil saja dan kumasukkan celana dalam itu kantongku untuk kukoleksi (asal tau saja di kamarku aku menyimpan banyak koleksi celana dalam loh, baik milik pembantu rumah tanggaku, pelacur dan wanita-wanita panggilan yang pernah kutiduri, bahkan ada satu milik waria yang pernah kuajak main sekitar 20 tahun lalu, huak hak hak hak!!). Saat aku kembali ke depan, dia masih menonton film hasil unduhan dari internet itu.

    ”Ciuman tadi enak ya Fi?” tanyaku dan dijawabnya dengan mengangguk tersipu sipu

    Kupeluk dia lagi dan dia balas memelukku. Dilumatnya lagi bibirku. Sekarang aku mau merasakan aroma vaginanya langsung dan kusuruh dia berdiri. Kucium pahanya lembut dan halus sekali kugesek gesek hidungku enak sekali kucium terus ke atas sampai pangkal pahanya,

    ”ohh ssshh geli Cek, ehh geli geli eeeem!!” ia mendesah keenakan.

    Sekarang aku mau cium selangkangannya. Kududukkan dia di sofa, kakinya kunaikan sebelah dia menurut saja. Kukuakkan kedua kakinya, selangkangannya sungguh mengairahkan sekali, mulus dan agak merah muda kulitnya tak sabar lalu kucium kubenamkan hidungku kuhirup aromanya nikmat sekali, hangat dan lembut sehingga makin terangsang aku. Tak puas-puasnya aku menikmati selangkangannya. Ini yang aku idam-idamkan dari dulu, akhirnya berhasil juga kunikmati. Sungguh senang aku rayuanku mengena, sebenarnya untuk mendapat kenikmatan seksual mudah saja bagiku dengan uang berlimpah, tapi itu untuk para pelacur, sedangkan untuk gadis seperti ini kenikmatannya bertambah bila berhasil melakukan pendekatan padanya. Tampaknya dia senang juga sambil merintih dan mendesah.

    ”Fi, nikmat ya? enak ya? mulus sekali selangkanganmu” komentarku.

    ”He ehm enak Cek, duh Fifi jadi becek nih!” terasa vaginanya basah,

    Tanpa penolakan kulepas celananya beserta celana dalamnya, sungguh indah vaginanya belum pernah aku lihat vagina semulus ini. Kulitnya putih mulus rambutnya tidak lebat, bibirnya yang masih tipis merekah merah muda warnanya lalu kucium vaginanya. Amboi…aromanya enak sekali. Dia tersenyum lihat aku mencium vaginanya, katanya dia memang paling suka vaginanya diciumi, sensasional sekali katanya. Celana pendeknya juga kucium pada bekas vaginanya. Dia duduk di sofa dan aku berlutut di antara pahanya, kuangkat kedua kakinya, kutatapi vaginanya merekah merah muda. Tak tahan aku melihatnya tak sabar mau melahapnya. Kucium dari tepi dulu lalu belahan vaginanya aromanya enak dan kubenamkan hidungku meski basah tambah nikmat aromanya kuhirup kunikmati aromanya. Makin mendesah dia vaginanya kugesek dengan hidungku.

    ”Cek aaahhhh jilat Cek, ndak tahan aku ooohh!!” desahnya

    Kepalaku ditekannya ke vaginanya yang berkedut kedut. Mulai kujilat vaginanya, kusapu dari bawah dekat anusnya sampai atas di kelentitnya, terus kujilat-jilat kadang anusnya yang masih mulus itu kujilat. Geli katanya kalau aku pas menjilat anusnya. Cairan kewanitaannya makin banyak berleleran, kujilati dan kutelan air vaginanya yang gurih itu. Enak rasanya lidahku kumasukkan sampai dalam dan menjilat-jilatnya makin dalam sehingga makin mengelinjang tubuhnya. Vaginanya berkedut kedut dan otot perutnya menegang, terpejam matanya sambil bibirnya menahan gejolak napsu. Bibir vaginanya kusapu dengan bibirku. Betul-betul kulumat habis vaginanya, kutampung seluruh vaginanya dengan mulutku, kuisep-isep, nikmat sekali rasanya. Tak puas-puas aku menelan cairannya. Dia puas sekali katanya tak terkira rasanya.

    “Ooh Fifi kamu memang cantik dan semok” pujiku

    Setelah puas melahap vaginanya, sekarang giliranku minta dipuaskan penisku yang tegang merana tak ada yang meremas remas. Sambil kupeluk dan kucium, dia kusuruh meremas penisku. Ia pun meremasnya dari luar celana saja. Aku tak puas maka kubuka celanaku. Katanya penisku besar dan hangat diremas remas dan dielusi kepalanya lalu dikocoknya. Enak sekali merasakan kelembutan tangannya. Kusuruh dia menjilatnya dia agak malu-malu. Sambil tersenyum nakal, dia mulai mengesek geseknya ke pipinya dan diciumnya. Supaya dia tambah napsu melumat penisku, kuraba raba vaginanya, jariku kumasukkan ke vaginanya yang hangat dan basah lalu kumainkan klitorisnya. Dia dengan ahli menjilati batang penisku terus sampai kepalanya, lubang kencingnya, dijilatnya. Enak dan geli sekali rasanya. Oohh nikmat. Kutanya bagaimana rasanya? asin tapi enak jawabnya. Kemudian ia mulai mengemut penisku dengan bibirnya dan sekali kali digigit pelan, dimasukkannya sampai separuh penisku dan lidahnya menjilat jilat di dalam. Penisku diurut dengan bibirnya yang tipis itu. Nikmatnya sampai aku rasanya mau orgasme dan kusuruh dia berhenti takut ejakulasi dini dalam mulutnya, maklum sudah umur segini.

    Sebetulnya aku kepingin muncrat di dalam supaya spermaku tertanam dalam tubuhnya tapi aku takutnya dia hamil dan meminta pertanggung jawabanku walah kan berabe nanti. Kusuruh mengocok saja dengan tangannya.

    “Enak Cek ngemut kontolnya, Fifi tambah horny nih!” katanya.

    Kemudian aku minta penisku dijepit dengan selangkangannya supaya orgasme dan kusuruh dia duduk di atasku pangkuanku. Dia mau saja tapi jangan dimasukkan katanya takut hamil. Kupangku dan kuselipkan penisku lalu kusuruh dia jepit, enak sekali penisku bergesekan dengan vaginanya. Daerah kewanitaan yang basah itu tambah licin, oh nikmat sekali sambil kuremas-remas payudaranya dan ketiaknya kuciumi dari belakang. Diapun menekan nekan penisku pada vaginanya dan digesek-gesek ke kelentitnya sambil maju mundur penisku terasa diurut selangkangannya

    “Uuuhh…enak nih Cek, Fifi mau keluar lagi!” desahnya

    Makin licin saja vaginanya, lalu aku tak bisa menahan orgasmeku, dan melenguh nikmat

    “Ooohh…Ncek keluar Fi…uuuhhhh!” keluarlah spermaku membasahi jembutnya.

    Dia mau menjilati penisku yang masih memuncratkan sisa sperma. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil dari depan sana.

    “Wah Cek…papa pulang!” katanya buru-buru turun dari pangkuanku dan memunguti pakaiannya.

    Aku juga buru-buru berpakaian lagi sebelum mitra bisnisku itu masuk rumah. Fifi bersikap biasa dan wajar selama aku mengobrol bisnis dengan papanya. Itu adalah kali pertama hubungan gelapku dengannya. Pertemuan kami berikutnya adalah tiga hari kemudian, saat itu aku ke rumahnya lagi, aku sengaja ke sana karena tahu papanya sedang urusan di luar kota. Yang membukakan pintu adalah Fifi sendiri, ia senyum-senyum senang tahu aku datang tapi tak bisa mencumbunya karena mamanya ada. Dia pakai celana pendek seperti biasanya tapi waktu duduk sengaja diangkat sedikit untuk menggodaku. Dia duduk di bawah sambil buka laptop dengan duduk bersila, makin merangsang aku melihat pangkal pahanya kelihatan cdnya juga. Aku pun serba salah mau langsung mencumbunya tapi ada mamanya. Aku hanya dapat menikmati kemulusan pahanya dengan mencuri curi melihatnya, takut mamanya curiga.

    Kadang sengaja dia meraba raba pahanya sendiri dan meraba selangkangannya vaginanya juga

    “Cek…Fifi sudah basah nih!” katanya pelan ketika menyuguhkan minuman padaku

    Duh aku tak tahan ingin segera mau mencumbunya. Kubisiki dia supaya cdnya dilepas di kamar mandi, dia kebingungan dengan apa maksudku tapi ahirnya mengerti juga. Setelah dia dari kamar mandi tak lama kemudian aku ke sana dan menemukan cdnya ada di gantungan. Memang basah dia sudah orgasme dan langsung kucium harum bau aroma vaginanya nikmat sekali, kucium kuhirup kunikmati aromanya dan kujilat kuisepi sampai napsuku terpuaskan. Dia tersenyum melihatku kembali dari kamar mandi dan sekarang vaginanya kelihatan karena dia sudah tak pakai cd lagi. Makin terangsang aku membayangkan kewanitaan di balik celana ketatnya itu.

    “Cek…cdku diciumin ya? kemarin cdku hilang apa diambil?” bisiknya.

    ”ya Fi, Ncek isepin cdmu, abis aku napsu lihatnya, ya cdmu Ncek ambil juga kemarin, gapapa kan Fi?”

    “Buat apa sih Cek?”

    “Buat aku koleksi, pssstt…jangan bilang-bilang papamu Ncek suka koleksi ginian ya” jawabku

    Dia senyum nakal tapi senang juga kalau aku mencium cdnya. Kemudian mamanya menawari aku pisang, lalu kumakan satu. Fifi juga ambil satu dengan pelan-pelan dia menjilati dulu pisang itu sambil menggodaku dengan dimasukkan ke mulutnya tidak langsung dimakan tapi diemutnya seperti dia ngemut penisku seraya tangannya meraba raba vaginanya. Benar-benar nakal putri rekan bisnisku ini, ia berakting seakan akan sedang melumat penisku. Aku pun tersenyum melihatnya dan ikut terangsang seolah olah dia sedang melumat penisku, pintar juga dia menggodaku. Kunjunganku saat itu tidak sempat untuk berbuat lebih jauh padanya karena mamanya terus di rumah, aku hanya ngobrol saja dengan mamanya sambil curi-curi pandang mengaguminya. Dua hari kemudian Fifi meneleponku, dia bilang mamanya pergi agak lama dan aku disuruh datang ke rumahnya.

    “Weleh berani juga nih anak, gak malu-malu mengajak teman papanya yang umurnya beda jauh darinya untuk datang” pikirku sambil geleng-geleng kepala

    Akupun cepat-cepat ke rumahnya dan dia pakai baju terusan kayak kemeja besar tapi kayak rok mini sehingga pahanya yang mulus itu makin tampak menggairahkan. Langsung kupeluk dan kuciumi dia, kulumat bibirnya, kucium lehernya dan belahan dadanya sambil kuremas remas, kucium ketiaknya juga. Tak sabar juga dia mulai meremas penisku katanya dia napsu sekali mau bercumbu. Dia minta bercumbu di ruang makan lalu kupangku dia, kancing bajunya kubuka semua tapi tak kulepas sudah terbuka semua ternyata ia tak pakai bh tapi masih pakai cd. Kucium tubuhnya kunikmati aromanya wangi sekali, kuremas payudaranya dan kuisep-isep, cdnya kuremas remas hingga basah bagian tengahnya. Kumasukkan tanganku ke dalam cdnya kuraba vaginanya kelentitnya kupijit pelan sehingga ia makin menggelinjang keenakan.

    ”Oohh…uuugh enak nikmat Cek, terus teruus,dimasukin Cek ooooh!!” erangnya menahan napsu.

    Kulumat payudaranya yang tidak terlalu besar itu semua ke mulutku. Jariku mulai masuk ke vaginanya dan kukorek-korek di dalam kuputar putar sambil klitorisnya kupijit pijit sampai mengeras. Sungguh hangat lubang vaginanya dan basah pula. Sekarang kusuruh dia berdiri setengah duduk di meja makan dan satu kakinya dinaikkan ke kursi. Pemandangan sangat menakjubkan dengan cd warna hitam kontras dengan tubuhnya yang putih dan selangkangannya merah muda. Kuciumi pahanya sampai naik ke pangkalnya, nikmat dan halus putih mulus. Tak puas-puasnya kuciumi selangkangannya yang semakin becek itu. Aromanya enak memabukkan, kubenamkan hidungku dalam-dalam dan kuhirup serta kunikmati aromanya. Sungguh nikmat rasanya, memang vaginanya sangat berlendir, beruntung sekali aku dapat menikmatinya. Kujilat jilat dan kuhisep basahnya, tak sabar dia lalu cdnya dikuakkan untuk aku mulai menjilat vaginanya. Lidahku menjilat cairannya dan kusapu dengan bibirku. Kujilat sampai dalam lidahku bermain di dalam lobangnya sambil bibirku melumat bibir vaginanya.

    ”Cek Ang…..oooohh Fifi mau maaau keluuuar!!” desahnya saat mencapai puncak

    Cairannya keluar deras dan kutampung dengan mulutku lalu kubalik dia membelakangiku, kucium bawah pantatnya belahan pantatnya, kucium kucium dari belakang vaginanya. Cdnya kutarik ke atas masuk belahan vaginanya bibirnya menonjol keluar makin indah lalu kujilat dari depan sampai ke belakang sampai anusnya. Setelah dia melorotkan cdnya, kusosor vaginanya dan anusnya kusapu dengan mulutku, kujilat jilat sensasi rasanya. Dia bilang sangat enak sekali tak terkira rasanya. Sekarang giliran dia mau memuaskan aku dan ganti aku yg berdiri sementara dia berlutut di bawah sambil melorotin celanaku. Sekarang tak ragu lagi dia menjilat dan mengisapnya, disedotnya penisku sambil kepalanya maju mundur. Seluruh penisku masuk mulutnya, lidahnya menjilat jilat di dalam. Betapa enak dan nikmat rasanya diemut dara cantik ini.

    Semakin lama semakin pintar ia memainkan penisku dan makin bernapsu. Sungguh dia sangat menikmati penisku yang katanya enak juga walau sudah keriput dan tidak terlalu gede. Rasanya aku mau orgasme dan pas dia menyedot dengan keras spermaku keluar. Tubuhku mengejang ketika spermaku muncrat tanpa tertahankan, makin disedotnya lagi dan kutuntaskan spermaku keluarnya sampai habis. Spermaku yang memenuhi mulutnya ditelannya tanpa ragu.

    “Mmmm….gurih Cek, tapi kok cepet banget keluarnya?” godanya nakal

    Sialan, aku merasa terhina juga nih dibilang gitu, ya maklum lah usia sudah setua ini ya wajarlah sebentar langsung crot. Dia menelan spermaku dan menjilati penisku hingga bersih sehingga makin bernafsu aku padanya. Setelah istirahat sebentar sambil penisku dilapnya dengan bajunya lalu diremasnya hingga mulai tegang lagi penisku. Dengan bernafsu ia kembali memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan mengemutinya. Sekarang aku kepingin dijepit dengan selangkangannya dari depan sambil berdiri. Kuselipkan penisku dan dirapatkannya kakinya sambil kugesek maju mundur. Vaginanya basah makin licin penisku bergesekan dengan vaginanya. Enak sekali rasanya, sambil mendesah dia melumat bibirku dengan napsu. Dia sudah orgasme lagi dan dia kepingin penisku dimasukkan ke vaginanya. Kemudian aku gesek-gesekkan kepala penisku ke belahan vaginanya aku mau orgasme lagi.

    ”Oooh enak Cek masuk masukkan cepet!!” baru masuk kepalanya saja aku sudah keluar, spermaku membasahi lubang vaginanya.

    ”Cek kok cepet sih, belum masuk lo tadi” katanya kecewa.

    ”lain kali Fi, kalo kamu kepingin kita langsung maen aja ya, supaya aku dak cepet keluar” kataku menghiburnya.

    Kemudian kami saling membersihkan diri di kamar mandi dan berpakaian kembali. Dia berkata walau agak kecewa karena aku mengalami ‘edi tansil’ (ejakulasi dini tanpa hasil) tapi ia cukup puas bercumbu dan petting tadi. Aku juga sebenarnya puas karena telah berhasil menikmati vaginanya dengan penisku walaupun sudah keluar baru sebentar, tapi juga menyesal atas ketidakperkasaanku. Ini juga salah satu sebab istriku tidak puas ketika bercinta. Ia mencari kepuasan dengan berselingkuh dengan sopirnya, setelah hubungan gelap mereka kuketahui kami kini tinggal pisah rumah, tidak resmi bercerai untuk menjaga statusku agar tidak malu. Bah, Ang**** si otak peler, kok begini menyedihkan ya nasibmu? Aku meratapi diri. Lain kali aku akan bersiap-siap dulu sebelum bertemu putri rekan kerjaku ini agar bisa kusetubuhi dan kunikmati vaginanya sampai puas.

    ################################

    Suatu hari masih siang aku telepon dia mengajaknya bercinta lagi. Dia menyambut ajakanku dan minta dijemput dari sebuah mall, kali ini ia mau melakukannya di hotel. Ia berkata bahwa ia sudah siap dengan pil anti hamil. Aku makin senang saja karena tak lama lagi aku dapat menikmati tubuhnya luar dalam. Dengan bersemangat aku menjemputnya di tempat yang dimaksud. Ku miscall dia begitu sampai di depan mall, tak lama kemudian ia keluar dan menghampiri mobilku. Dia begitu cantik hari ini dengan kaos lengan pendek dan celana panjang yang mencetak pahanya yang ramping. Langsung kami menuju ke sebuah hotel yang biasa menjadi langgananku untuk main gila. O iya hotel ini juga pernah kupakai menjebak seorang petinggi KPK yang kuanggap membahayakan bisnisku. Seorang wanita caddie yang bekerja di tempat golf langganan pejabat itu kubayar untuk merayu dan menjebaknya. Kuatur sedemikian rupa hingga kasusnya rumit dan berbelit-belit sehingga perhatian mereka padaku teralihkan. Usahaku membuahkan hasil karena kini pejabat itu telah dijatuhkan dan dikenai tuduhan pembunuhan karena cinta segitiga dengan wanita itu. Setelah check in, kami masuk kamar. Begitu pintu tertutup langsung kupeluk dan kucium mesra dia, kurebahkan ke ranjang dan kuciumi seluruh tubuhnya. Tanganku menaikkan kaosnya dan menyingkap branya.

    “Eittt…tar dulu Cek, Fifi mau mandi dulu ah, biar seger!” ia mendorong dadaku sebelum aku melucutinya lebih jauh.

    Dia mengajakku ikut mandi bareng dan memandikannya. Dengan gerakan erotis ia membuka pakaiannya hingga tinggal cdnya yang merah muda. Wow aku melongo sambil memegangi dadaku, takut jantungku kumat melihat pemandangan yang luar biasa ini. Kembali kudekap dan kuciumi tubuhnya yang wangi dan segar sekali walau belum mandi. Sambil berciuman ia melucuti pakaianku hingga lepas semuanya, terlihat sekali tubuhku yang sudah tua dan keriput kontras dengan tubuhnya yang masih muda dan mulus. Kemudian kami pun mandi berdua, kusabuni badannya dari atas sampai kakinya seperti memandikan bayi. Setelah menyabuninya, ganti aku disabuni sama dia, tak lupa penisku disabuni sambil dikocok kocok. Sungguh puas dapat mandi dengan bidadari cantik ini, tubuh licin kami saling bergesekan menimbulkan sensi nikmat. Anus dan vaginanya kusabuni juga lalu berdua saling membilas di shower dan saling melumat bibir tak lupa payudaranya kulumat, lalu selangkangannya kujilat kusapu dengan bibirku tepi vaginanya kujilat jilat tubuhnya bergetar menahan nikmat.

    “Aaah…mau keluar nih cek!” desahnya

    Kusuruh dia keluar di mulutku saja aku mau merasakan cairan kewanitaannya yang gurih. Aku pun jongkok dan menaikkan satu kakinya ke bahuku, kepalaku menengadah vaginanya pas di mulutku.

    Kujilat terus hingga lidahku masuk vaginanya membuat organ kewanitaannya semakin berdenyut dan akhirnya… .seeeeer cairan bening itu keluar tepat di mulutku. Hangat dan enak, kuteguk semua cairan itu sambil kusapu bibir vaginanya dengan bibirku. Wah sensasi yang luar biasa, seumur umur aku belum pernah merasakan yang segurih ini, punya istriku yang udah bangkotan itu? Lewat!! Dia tersenyum tahu aku meneguk cairan klimaksnya

    “Gimana rasanya Cek?” tanyanya

    “Huehehe…uenak Fi, pasti itu kamu rajin dirawat ya?” jawabku

    Setelah klimaks di kamar mandi kami saling mengeringkan tubuh dengan handuk dan keluar dari kamar mandi, tadinya mau kugendong sih tubuhnya tapi aku takut encokku kumat, kan malah jadi berantakan semua deh acaranya hak…hak…hak!! Aku mendorong tubuhnya hingga terhempas di atas ranjang, aku langsung menerkamnya dan kuciumi seluruh tubuhnya sampai pantat dan anusnya juga tidak lolos dari kecupanku. Giliran vaginanya kucium lebih lama untuk menikmati aromanya, ketiaknya juga kucium lama karena harum dan lembut. Dia juga menawarkan diri menjilat penisku. Lalu kami posisi 69 saja supaya sama-sama enak mendapat kenikmatan dobel, aku enak dapat menikmati vaginanya dan penisku enak disedotnya juga Dia dapat dobel sambil menikmati penisku vaginanya juga enak kujilat jilat. Sungguh nikmat dan asik, dia melumat lumat penisku dengan lahap, rupanya dia memang suka dan doyan melumat penis. Cairan kewanitaanya sudah banyak keluar dan membuat mukaku basah kuyup. Dia makin asik menghisap hisap penisku, enak rasanya karena dia makin pintar melumat penisku sampai aku dibawa ke puncak kenikmatan. Puas sekali dia dapat orgasme berkali kali, sudah banyak air vaginanya kuteguk. Kini dia kepingin bersetubuh, ia berbaring telentang dengan kaki dibuka lebar seolah mengajakku untuk melakukannya. Hehehe…kali ini gak akan ‘edi tansil’ lagi seperti kemaren itu karena aku sudah mempersiapkan diri dengan viagra impor sebelum menjemputnya tadi. Khasiat obat itu begitu terasa karena hingga kini penisku masih tegang dan belum orgasme. Awas Fi…akan kubalas ejekan kemaren itu dengan membuatmu berkelejotan nikma. Aku menggesekkan kepala penisku ke lubang vaginanya sambil kumasukkan sedikit demi sedikit,

    ”Eeennggh…sakit Cek, pelan pelan…jangan kasar!!” erangnya.

    Meskipun vaginanya sudah tidak perawan tapi terbilang sempit dan legit, maka kudorong penisku lebih bertenaga hingga dia meringis kesakitan, lalu kusuruh dia duduk di atasku supaya dia sendiri dapat menyesuaikan masuknya dengan vaginanya.

    Digesek gesekkan bibir vaginanya dengan penisku dulu untuk melicinkan lubang vaginanya kemudian dia angkat pantatnya lalu turun lagi diangkat dan turun lagi perlahan. Makin masuk makin lama makin dalam masuknya, kunikmati saat-saat penisku mulai masuk oooh penisku masuk semua sampai pangkalnya wah enak vaginanya seret dan menjepit. Sungguh enak vaginanya, akhirnya aku dapat juga menikmati vagina putri mitra bisnisku ini. Dia berhenti bergerak sambil matanya terpejam mukanya memerah, bibir bawahnya digigit sendiri menikmati vaginanya kemasukan suatu benda asin. Enak dan nikmat terasa vaginanya terganjal meski agak perih tapi nikmat katanya. Tubuhnya sudah menyatu dengan tubuhku, vaginanya berkedut kedut, penisku terasa diremas remas. Dia bergidik gemetar mengelinjang dan makin menekan ke bawah, rupanya dia orgasme. Setelah dia dapat menyesuaikan dan vaginanya sudah basah sekali lalu dia mulai bergerak naik turun keluar masuk penisku dalam vaginanya wah nikmat sekali. Makin cepat dia naik turun sambil payudaranya kulumat lumat dan kuhisap. Dia mengerang kenikmatan

    “Aaaahhh…aaahhh…enak Cek, nnggghhh!!” desahnya makin seru, goyangnya juga makin dahsyat

    Wah pinter juga dia bersetubuh, goyangannya itu benar-benar ahli, tidak kalah dari wanita panggilan impor yang pernah kucicipi. Berkali kali dia orgasme sampai basah sekali lalu dia cabut penisku dan diemutnya penisku yang berlumuran cairan vaginanya hingga bersih lalu dimasukkannya lagi ke vaginanya.

    ”Ooooh enak…nikmat Cek” digoyangnya naik turun lagi tubuhku

    Kusuruh dia jongkok supaya tambah enak makin terasa enjotannya. Kulumat bibirnya, liurnya kuhisap, kupeluk dia dengan erat. Pantatnya tetap naik turun, sekarang gantian aku di atas, kunaikkan kakinya ke pinggangku lalu kuenjot enjot sambil kakinya menekan pinggangku. Kulumat payudaranya, putingnya kusedot dengan bernafsu. Makin erat rangkulannya, desahnya makin bernapsu, keringatnya bercucuran sehingga tubuhnya makin licin. Betul-betul tubuhnya menyatu dengan tubuhku dalam kenikmatan. Aku hampir mencapai puncak dan kutanya dia apa mau kukeluarkan di dalam. Dia mengiyakan supaya dia dapat merasakan semburan spermaku, dia tak takut hamil sebab tadi dia sudah minum pil anti hamil. Menanti saat-saat spermaku menyembur di dalam tubuhnya makin nikmat dan akhirnya spremaku keluar juga setelah sekitar setengah jam kugenjot dia. Enak sekali mengisi tubuhnya dengan spermaku, dia makin memelukku erat dengan tubuh mengelinjang merasakan semburan spermaku pada liang vaginanya. Kami pun terkulai lemas penuh kepuasan. Ceritamaya

    .”Gimana Fi? Asyik kan?”tanyaku sambil kucium pipinya

    “ooh enak Cek, Ncek Ang kuat banget hari ini, Fifi puas loh!” katanya dengan ngos-ngosan setelah bersetubuh.

    Masih ada waktu karena aku hari ini cukup senggang, enaknya tidur sebentar untuk memulihkan tubuh tuaku.

    Sebelum tidur bersama dia mandi dulu untuk membersihakan tubuh lalu kami tidur berangkulan. Sunguh nikmat tidur merangkul tubuh telanjangnya yang hangat dan lembut. Setengah jam kami tidur badan terasa segar kembali dan dia sudah mulai meremas remas penisku dengan posisi 69, vaginanya masih mulus kemerah merahan meski lobangnya agak membesar, tapi kalau dijilat masih tetap enak lidahku bisa bebas menjilat dalamnya. Kami bersetubuh sebentar sebelum pulang, kugenjot dia dengan gaya doggie

    ”Iyaahh…yahhh enak trus genjot genjot Cek!!” erangnya keenakan, ”Cek…Fifi maaauuu keluar eeeghhh!!”

    Vaginanya berkedut kedut dan aku pun mau keluar juga, crot keluar sudah spermaku kutuntaskan sampai habis. Lega dan enak sekali, dia juga sangat puas hari itu. Kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu makanan yang kupesan lewat telepon. Dalam obrolannya ia menceritakan beberapa pengalaman seksnya dengan sejumlah pria. Wah…wah, ternyata ia juga pernah terlibat seks dengan GT, seorang petugas pajak yang pernah mengurus pajak perusahananku juga pernah terlibat hubungan sesama jenis denganku (oppppsss…jadi ketahuan deh, hehehe malu ah, iya nih terus terang selain gila perempuan, aku Ang**** si otak peler juga sebenarnya suka dengan sesama pria loh). Dengan GT aku pernah melakukannya sehingga mendapat diskon untuk jasanya memanipulasi pajak. Psstt…cukup mupengers di sini aja ya yang tau rahasiaku ini, jangan bilang-bilang lagi apalagi ke wartawan, nanti tambah heboh beritanya ya heheheh…Setelah makan kami kembali melakukan seks kilat, dia rupanya napsunya besar juga, tak puas-puasnya mau bersetubuh lagi mumpung ada kesempatan dan waktunya sedang lenggang. Ronde kali ini kami hanya melepaskan pakaian bawah saja, lalu ia duduk berhadapan dan memelukku dengan erat. Pantatnya kubantu menekan vaginanya, penisku terasa menyentuh sesuatu di dalam. Dia bergoyang makin seru sambil berteriak teriak pelan saking nikmatnya. Gundukan vaginanya hangat nempel perutku jembutnya bergesekan dengan jembutku. Tidak terlalu lama kami mencapai orgasme bersamaan. Setelah beres-beres aku kembali meminta cd nya untuk kukoleksi, dan ia mengiyakan sehingga dia pulang tak pakai cd. Sebelum keluar dari kamar hotel ia menciumku sebagai tanda perpisahan, setelah di luar hotel kami berpisah seolah tidak saling kenal. Hehehe…sungguh hari yang memuaskan, dalam usia setua ini masih bisa menikmati wanita muda yang segar seperti si Fifi ini.

    Selanjutnya kami beberapa kali mengulangi perbuatan itu, baik di hotel maupun di rumahnya kalau sedang sepi. Hingga ketika aku terkena kasus pertengahan 2010 lalu, aku sempat lama tidak bertemu dengannya, karena repot ngurusin pengadilan ini itu. Setelah pengadilan yang bertele-tele seperti dagelan itu aku dijatuhi hukuman penjara. Awalnya sih memang aku ditempatkan di sebuah bekas rumah sakit, ya tau sendiri lah kan waktu itu baru saja heboh penjara mewah AS, si ratu suap yang baru saja dibebaskan kemaren itu, jadi untuk memberi kesan baik ke publik gitu loh hehehe….di penjara ternyata aku tidak kesepian dan banyak bertemu partner kriminalku, misalnya GT, si petugas pajak itu, SD, si polisi korup tapi sok suci yang juga pernah terima suap dariku, juga beberapa mantan pejabat lain yang kini menjadi tahanan. Di penjara karena kurangnya perempuan kami sering pesta orgy sesama jenis, terutama dengan GT, itu tuh my partner in crime waktu menggelapkan pajak itu, ternyata dia itu kekasih lelaki AB, seorang pengusaha dan politikus terkenal di Indonesia, pantas saja kasusnya menggantung terus, wong bekingnya aja orang kuat kok. Bahkan pada akhir 2010 lalu setelah GT kepergok plesiran ke Bali, aku sempat pergi plesiran dengannya ke Thailand, Macau, dan Malaysia. Di Pattaya, Thailand, yang terkenal dengan hiburan esek-eseknya kami bersenang senang di sebuah klub gay terkenal di sana, ternyata orang setua diriku ini juga masih menarik kaum gay setempat maupun bule loh hehehhee….Tapi dasar si GT ini emangnya banci kamera, dia kan banyak foto-foto tuh di tempat menarik yang kami kunjungi, foto-foto tadi dia pasang di FB nya untuk diperlihatkan pada saudara dan teman, eh tapi gak tau bagaimana deh, foto-foto itu akhirnya tersebar di internet, untung tidak ada yang sedang bersamaku, kalau ada wah tambah parah deh. Oke deh mupengers sekalian sampai segini dulu ceritaku, aku masih harus mendekam di penjara VIP ku ini, waktu aku menutup tulisan ini aku sedang dioral oleh GT, uh asik juga hihihihi…udah dulu ya. Wah dan baru kemaren penjara tempat kami ditahan kedatangan 17 dari 19 politisi (2 lagi kan wanita jadi di penjara lain) yang tertangkap KPK terkait suap pemilihan gubernur BI nih, wah bakal tambah peserta nih acara gay orgy di sini, sipp!! Oh iya, untuk Fifi sori ya Ncek udah lama gak ketemu kamu soalnya sekarang Encek lebih suka sama pedang daripada sarungnya nih, hehehhe

    SEKIAN

    By: Susan Lonte.

     

  • Agnes Monica XXX: Birth Of The Slut Queen

    Agnes Monica XXX: Birth Of The Slut Queen


    157 views

    Sebelum cerita ini dimulai, mari kita tengok dulu beberapa cerita tentang Agnes yang telah terposting di blog ini. Bukan maksud pengarang untuk beriklan atau dan lain sebagainya. Namun bila anda jeli, dalam semua cerita tersebut agnes telah kehilangan perawannya ditambah dengan nafsu sexnya yang besar. Meskipun dibalik penampilannya yang tenang dan aksi panggung yang seksi namun tidak menjurus ke seronok itu, ternyata Agnes adalah seorang “Slut Queen”. Namun tidakkah pembaca semua bertanya “Kok bisa ya Agnes kayak gitu?”. Nah, dalam cerita inilah, pengarang mebeberkan sedikit rahasia permulaan kebinalan Agnes yang cantik dan seksi ini. Untuk selanjutnya silahkan disimak di bawah.

    #############################

    Once Upon a time in a gym

    Ceritamaya | Suatu malam dalam sebuah gym di Jakarta, terdengar suara musik dan teriakan bersemangat.
    “Thre, two, one, jump, thre, two, one, stop. Gimana Nes? Ok gak menurutmu?” tanya seorang laki-laki kurus nan gemulai.
    “Nah, keren ini mas daripada yang tadi” sahut Agnes tersenyum, “ok, guys, kalian udah denger? Yuk sekarang kita latihan lagi, pake gerakan yang terakhir tadi ya!”
    Ternyata yang berbicara dengan Agnes adalah instruktur tarinya. Rupanya Agnes sedang berlatih koreografi untuk video klip barunya.
    “Yaaaa Omm….” sahut para penari latar serempak menggoda instruktur mereka.
    “Hus, ses tahu!” canda sang instruktur pula, dan merekapun tertawa terbahak-bahak
    “Ok segini dulu ya Nes, kamu perlu istirahat. Kamu abis konser lo” kata sang Instruktur.
    “Ok, mas makasih ya” sahut Agnes menurut
    Meskipun sebenarnya ia ingin sekali menyelesaikan koreografi barunya sesegera mungkin. Namun, ia pernah cedera akibat kengototannya itu. Kali ini ia tidak bisa membantah lagi. Segera ia menuju shower untuk membasuh badannya dan berganti pakaian.
    “Semua, Agnes duluan ya!” teriak Agnes riang.
    “Yoahh….” jawab lainnya ramah.

    ########################
    The Lost Prisoner

    Joni Bleki

    Joni Bleki

    Krosak…Krak…net…tot…tet….tot…Seseorang berlari di tengah kegelapan. Di belakangnya terdengar sirine saling bersahutan. Diapun mempercepat larinya, membelok masuk ke gang, dan dengan lincah bak kucing dia mampu meloncati pagar setinggi dua meter dalam dua langkah. Polisi yang mengejarnyapun kewalahan, ada yang turun memanjat pagar tersebut, ada yang memutar mobilnya mencari jalan lain. Namun terlamabat, dia telah lolos. Siapakah dia? Dia adalah Blek. Nama bekennya Joni Bleki (Bleki karena kulitnya hitam legam). Joni adalah perampok ahli dan seorang preman kelas kakap. Namun naas saat aksi terakhirnya merampok toko emas ketahuan oleh polisi. Dia dan kedua temannya Krebo item yang selalu membantunya mebongkar berbagai kunci toko maupun ATM, serta Bruno Condet yang pandai mengintai setiap target operasi mereka, serta selalu mengawasi daerah sekitar seperti siluman ketika kedua temannya beraksi, segera berpencar dengan Joni menjadi umpan karena dia yang paling gesit dan lincah seperti kancil. Mereka berjanji untuk bertemu di tanjung priok dan berencana melarikan diri ke sebuah pulau kecil tidak jauh dari Jakarta untuk bersembunyi. Terus ia pacu larinya tidak peduli walaupun nafas sudah tersengal. Dia pun sadar, suara sirine tidak lagi terdengar. Ia pun kini menghentikan larinya. Menengok ke kanan dan kiri, ada beberapa mobil terparkir di sebuah parkiran. Namun ada satpam yang menjaganya.
    “Hhh…. gak masalah, cuman dua orang satpam gembrot.” pikirnya.
    Dengan perlahan ia mengedap-endap menghampiri mobil berwarna hitam BMW dan cekatan ia mengeluarkan alat-alatnya. Tidak sampai semenit ia telah masuk ke kursi belakang sebuah BMW hitam. Segera ia menyesuaikan diri agar tidak terlihat. Perlahan pula ia tutup pintu mobil itu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ceritamaya

    ###############################
    Bad Surprise

    Malam itu Agnes segera menuju ke mobilnya di parkiran. Ingin ia segera pulang melepas lelah. Segera setelah ia masuk ke mobilnya, BMW hitam, ia segera memacu mobilnya. Memacunya cukup kencang setelah melewati pintu tol. Tiba-tiba
    “Jangan bergerak!” seseorang menodongkan pistol ke kepala Agnes. “Jangan bergerak, diam, dan terus kendarai mobilmu. Sedikit saja kau mengacau, kepalamu ini akan kubuat lubang!” bisik Joni Bleki garang.
    Agnes pun mengangguk, terkejut bercampur shok dan ketakutan. Nafasnya memburu dan dadanya naik turun.
    “Siapa kamu?” kata Agnes.
    “Bukan urusanmu sayang” kata Joni lagi sembari melirik ke arah spion depan melihat korbannya “Oho… ternyata ini mobilmu cantik” seringainya licik.
    Agnes merasa tak nyaman dengan seringai Joni. Ia merasa lebih segera mencari cara untuk kabur.
    “Orang ini pasti rampok, kalau aku kasih uang mudah-mudahan aja dia pergi” pikirnya.
    “Pak, bapak mau apa? Kalo bapak mau uang, ini di tas saya ada banyak, bapak juga bisa ambil jam saya. Tapi tolong bebaskan saya, kalau bapak juga mau mobil, bapak bisa ambil ini mobil.” Agnes memelas.
    Joni pun meliriknya. Ia perhatikan Agnes dari wajah hingga pahanya yang mulus berbalut hotpants.
    “Tenang aja cantik, kamu aman bersamaku, asal kamu menuruti apa kataku, kamu lebih berguna hidup cantik. Sekarang, ada belokan di depan, kamu belok kanan, awas jika kamu mengacau” ancam Joni seraya menodongkan pistolnya.
    Agnespun menurut, ia mengikuti semua petunjuk jalan yang diberi Joni dengan pistol tertodong dikepalanya. Tiba-tiba Joni berkata,
    “Ini peluru kaliber .45, mudah nembus kursi kulit bagusmu sayang, jangan kamu bilang-bilang sama penjaga tol, awas, saya mengawasimu dari belakang, jangan kau buka kacamu lebar-lebar.” ancamnya ketika melihat pintu tol dari jauh.
    “Selamat malam nona”, sapa penjaga tol tersebut ramah.
    “Malam pak”, jawab Agnes agak getir.
    “Eh non Agnes, langsung aja Non”, kata petugas tersebut.
    “Loh gak bayar pak?” sahut Agnes.
    “Gak papa non, saya penggemar non, oh iya non, ati-ati di jalan, jangan brenti sembarangan, aye denger tadi ada rampok dikejar-kejar polisi, sampe sekarang masih buron. Terus, setau ane nih, tuh rampok suka membunuh semua orang yang ngeliat dia ngrampok. Ih serem… non.” teroco petugas tersebut.
    Jantung Agnespun berdegub mendengar perkataan petugas tersebut. Ingin dia berteriak namun tiba-tiba dia merasakan sebuah benda menekan pantatnya. Perlahan ia melihat moncong pistol terarah padanya dari kegelapan.
    “Iya mas makasih ya”, segera ia meninggalkan pintu tol.
    “Bagus cantik, jangan sampai kau macam-macam denganku kalau tak mau nyawamu melayang” sahutnya sembari bangkit dari sela-sela tempat duduk.
    Tampaknya cukup pintar juga Joni ini bersembunyi.
    “Pak saya mohon jangan bunuh saya” Agnes kembali memelas.
    “Diam lu!”, Bentak Joni, “Kalo lu lakuin yang gua perintahin, lu bakalan selamet. Paham!!”.
    “Paham Pak” sahut Agnes terisak.

    ###############################
    Escape Point
    Krebo Item, Bruno Condet & Sarno
    Kini Mobil BMW tersebut melaju kencang dan berbelok melalui beberapa tikungan sesuai petunjuk Joni. Akhirnya mereka sampai di sebuah pelabuhan. Joni sengaja membawa mobil tersebut melalui belakang pelabuhan. Ada spot yang aman dimana dia sudah menyogok penjaganya untuk tidak di utak-atik, Joni pun mengeluarkan sapu tangan,
    “Nah cantik, kamu tutup matamu sekarang kalau kamu ingin selamat” bentak Joni.
    Agnes pun menurut, mengira bahwa sang rampok segera ingin pergi tanpa ketahuan wajahnya secara jelas. Namun Joni memiliki rencana lain, segera ia mengoleskan obat bius ke sapu tangannya dan ia bekapkan ke wajah Agnes. Agnes pun meronta, namun dalam beberapa detik tubuhnya lemas, ia pun pingsan.
    “Kamu lebih berguna hidup sayang, kamu harus berterima kasih padaku, kamu akan kujadikan budakku hahahaha….” tawanya seram.
    Ia pun segera membawa Agnes, meninggalkan tas dan tak lupa mematikan hape Agnes. Segera ia mengendap-endap, memasuki lubang di pagar kawat yang memang telah sengaja disiapkan oleh petugas yang ia suap.
    “Kemane aje lu Blek, lama bener” Kata seseorang menyapa Bleki dalam keremangan. “Diem lu Krebo, gua udah susah payah jadi decoy nih. Susah goblok lari dari mobil polisi.” Sembur Joni.
    “Wei, sabar Blek, kan udah perjanjian. Tapi santai barang selamat di dalam, sekarang kita tinggal goa aja, tuh Sarno udah nungguin, jangan sampe temen-temen dia curiga kalo dia bantu kita.” Kata Krebo.
    “Semua udah siap Bo?” Tanya Joni.
    “Udah gua beresin semua, kita tinggal berangkat, eh apa tuh di pundak lu?” tanya Joni.
    “Oh ini? Ini cem-ceman kita nanti Bo, ok punya” seringai Joni dan Krebo pun turut tersenyum. “Ayo kita berangkat nanti aku ceritakan di kapal” Kata Joni lagi
    Dalam perjalanan laut Joni menceritakan kisahnya lari dari kejaran polisi dengan bersembunyi di mobil Agnes. Lalu ia mengancamnya untuk mengantarkan dia ke pelabuhan. Namun melihat Agens Monica seorang aktris cantik dan seksi membuat pikiran Joni berubah untuk tidak membunuhnya. Joni berpikir kapan lagi dapat menyetubuhi artis paling hot se ibukota ini.
    “Laut aman Det?” Kata Krebo pada si sopir kapal.
    “Beres Bos” sahut Codet.
    “Eh Jon, la itu gimana mobil korban kita?” tanya Krebo.
    “Beres Bo, tadi udah aku suruh Sarno urus tuh mobil. Bakal dia buang ke jurang nanti. Bo kali ini kita stop dulu aksinya. Polisi dah mulai waspada Bo, kalau tadi Codet nggak ngawasi dengan bener, bisa tewas kita semua.” kata Joni.
    “Hmmm….. boleh juga ide lo, apalagi ada” sahut Krebo melirik Agnes yang kini terikat di kapal.
    “Tapi sebelumnya kita “Bungkam” dia dulu hahaha…” tawa Joni licik.

    ###############################
    Nude Photos

    Selama di perjalanan laut, Joni dan Krebo mengerjai Agnes yang sedang pingsan. Mereka telanjangi Agnes sehingga tidak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Kemudian mereka pun turut telanjang dan bergantian berfoto dengan kamera hape milik condet bersama Agnes yang sedang pingsan. Namun mereka licik. Hanya wajah Agnes saja yang mereka perlihatkan dalam foto tersebut. Mereka tidak berlama-lama berfoto, takut meraba-raba tubuh seksi Agnes yang kencang dan menggoda. Mereka sadar itu akan membangunkan Agnes dan membuat keributan di tengah kapal boat kecil mereka. Segera mereka memakaikan baju Agnes dan mengikatnya. Tak sampai 4 jam mereka telah sampai di sebuah pulau di lepas pantai Jawa. Meskipun pulau ini dekat dengan pulau Jawa, namun jarang ada orang singgah di pulau itu.  Kalaupun singgah, hanya di pantai saja, tidak sampai masuk ke dalam hutan. Mereka memanfaatkan kondisi pulau yang sepi dan jarang dikunjungi orang tersebut untuk menyembunyikan harta mereka serta diri mereka hingga keadaan aman. Merekapun berjalan masuk ke dalam hutan. Tak jauh dari pantai terdapat sebuah rumah cukup besar, namun tersembunyi dibalik hutan. Mereka segera meletakkan barang-barang hasil rampokan mereka serta membaringkan Agnes di sebuah ranjang. Kemudian mereka menutup pintu dan menguncinya.
    “Ndet, jangan lupa kalo lu nanti ke kota, lu pantau situasi dan beli nih barang-barang buat si budak itu” seringai Joni.
    “Beres bro, pokoknya nanti aku pulang kita pesta, lu didik dia dulu cara ngelayanin gue” balas Condet menyeringai.

    #############################
    Worst Nightmare Ever

    “Mmmhhh…, eh, apa-apaan nih, dimana nih? Tolong…. Tolong…..tolong….” Agnes terbangun dan kaget mendapati tangan dan kakiknya terikat di sebuah ruangan.
    Ia menangis terisak-isak dan berteriak meminta tolong. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan ada dua orang berperawakan tinggi dan hitam masuk ke ruangan itu, wajah mereka sangatlah buruk, membuat Agnes terkejut dan membelalakkan mata kepada mereka.
    “Selamat siang nona manis, eh udah bangun rupanya” seringai Krebo pada Agnes.
    “Si… siapa kalian..!!!” teriak Agnes ketakutan.
    “Hahaha… gak nyangka gue bakal sembunyi di mobil Agnes Monica yang seksi ini” tawa Bleki dari belakang Krebo.
    “Ka.. kamu…” Agnes terkejut, “Bukankah aku sudah mengantarkanmu, sekarang lepasin aku,” isak Agnes memelas.
    “Hahaha…, janjiku hanya tidak membunuhmu sayang, kalo lo mau idup, lo harus mau jadi budak kami Hahaha…” bentak Bleki pada Agnes.
    Mendengar itu, Agnes merasa bak disambaer petir di siang bolong, ia menangis,
    “Jangan… jangan… pergi… atau…..” .
    “Atau apa cantik? Silakan kamu teriak-teriak, ini di tengah hutan, tidak ada yang mau dengerin teriakanmu cantik Hahahaha….” bentak Krebo.
    Melihat korbannya sudah tidak berdaya, Bleki pun mendekati Agnes.
    “Jangan pak…” isak Agnes lagi.
    Bleki tidak memperdulikan isak tangis Agnes, ia memegang kaki Agnes dengan kencang dan meraba-raba paha mulus Agnes. Krebo pun tak mau ketinggalan, ia segera mendekat dan meraba-raba payudara Agnes.
    “Weh sekel juga ya punya lo, wakakaka.” seringai Krebo tak mempedulikan isak tangis Agnes,
    “Jangan Pak, jangan!”.
    Krebo tidak mempedulikan Agnes memelas, ia langsung mencium bibir mungil Agnes dengan ganasnya, napas alkoholiknya membuat Agnes kesuilitan bernapas. Bleki pun mengambil pisau lipat dari sakunya, ia segera merobek kaos putih Agnes, menarik lepas bra Agnes dengan paksa
    “Auh…” lenguh Agnes kesakitan.

    Baca Juga : Pretty Receptionist Ellen: The Naughty Punishment

    Wreeeekkk…. kini ia mengarahkan rabaannya pada payudara mungil Agnes sebelah kanan, sementara lidahnya segera menggelitik puting Agnes sebelah kiri, membuat Agnes meronta-ronta dan mencoba menendang mereka.
    “Bajingann…” bentak Krebo, “ Eh lonte, asal lo tau ya, kami semua punya foto bugil lo, kalo lo gak nurutin kata-kata kami, kami sebar nih foto-foto lo di internet, biar lo mampus.” bentaknya kesal, dan membanting print-printnan foto yang ia cetak tadi pagi.
    Agnes pun terkaget, hatinya berdegub bertambah kencang bak genderang perang. Dia pun kembali terisak membayangkan jika foto itu sampai tersebar.
    “Bagus, sekarang lo harus nurutin semua apa perintah kita.” sahut Krebo sambil melepas ikatan tali pada Agnes. “Sekarang lo minum nih obat, ini obat anti hamil, biar lo gak hamil di sini.” bentaknya.
    Agnes menurut dan meminum sebutir kapsul yang dikeluarkan Krebo dari sakunya.
    “Bagus, sekarang lepas hotpants sama CD lo, kami pingin liat lo bugil” tambahnya.
    “I… Iya pak” kata Agnes.
    Agnes kini mulai melepas hotpantsnya. Bleki menelan ludah melihat pemandangan Agnes mengenakan celana dalam putih saja. Agnes meneruskan dengan menarik perlahan CDnya turun. Kini ia benar-benar telah bugil dengan muka merah dan kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi payudara dan vaginanya.
    “Eh lonte, ngapain lo tutupin? Buka tangan lo! Mau mampus lo!” teriak Bleki seraya menunjuk foto Agnes.
    “Baik Pak” Isak Agnes memerah dan membuka tangannya.
    “Eh lonte, panggil kami semua tuan! Mengerti!” tambah Bleki galak.
    “Baik tuan” Kata Agnes. “Bagus, sekarang aku pingin liat memek lo, sekarang lo nungging kayak anjing, paham!” tawa Krebo.
    Agnes pun menunggingkan pantat seksinya, memperlihatkan lubang surgawinya yang merah muda ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus.
    “Bo, yang ini bagianku dulu, lo bagian depan sonoh” kata Bleki tak sabar.
    “Hehehe…beres” Krebo segera mendekati mulut Agnes.

    Dia segera melepas celananya dan memukul-mukulkan batang kemaluannya ke muka Agnes.
    “Gila besar punya ini orang, item, bau lagi” isak Agnes dalam hati.
    Penis Krebo berwarna hitam, sepanjang 30 cm, tapi diameternya tidak terlalu besar. Yang agak membuat Agnes eneg adalah bulunya yang ternyata juga kribo.
    “Nah lonte, sekarang lo jilatin nih penis gue, kayak lo jilatin lollipop, terus lo emut-emut” bentak Krebo.
    Agnespun mulai menjilati Penis Krebo. Ia menjilatinya seperti anak kecil menjilati permen. Ia tempelkan lidahnya mulai dari batangnya, kemudian ia seret lidahnya ke atas menyusuri lekuk penis Krebo yang hitam,
    “Bagus, gitu lonte. Sekarang lo emut kontol gue” seringai Krebo.
    Agnespun menurut, segera ia kulum penis Krebo dan menaik turunkan kepalanya seolah mesin penghisap debu.
    “Bagus, sekarang taruh lidah lo di lubang kencing gue, terus lo emut ampe gue puas” perintah Krebo.
    Agnes pun menurut. Bagi Agnes ini sangatlah menjijikkan, tapi bagi Krebo, penisnya mendapatkan sensasi dari pijatan-pijatan mulut Agnes dan tekanan lidah Agnes pada lubang kemihnya. Ketika Agnes sedang fokus melayani Krebo, tiba-tiba ia terkejut karena Bleki  baru saja mengelus bibir vaginanya. Ingin ia berteriak, namun Krebo yang tanggap segera mencengkeram kepala Agnes dan memaju mundurkannya membuat Agnes hampir tersedak.
    “Ohohoho… kupikir semuar artis ibukota itu lonte, pada gak perawan, tapi ternyata lo masih perawan, hahaha…” Bleki yang baru saja mengobok-obok vagina Agnes tertawa begitu membuka vagina Agnes dan melihat selaput daranya yang masih utuh.
    Blekipun kembali mengobok-obok vagina Agnes. Dirabanya klitoris Agnes dan dipilin-pilinnya dengan keras membuat Agnes kaget dan tersedak penis Krebo.
    “Mmmpphhh….mmmppphhh” desah Agnes tersumbat penis.
    Blekipun mulai memasukkan jari-jarinya lebih dalam lagi. Ia korek setia mili lembah kenikmatan Agnes mencari tonjolan-tonjolan G-Spot Agnes. Tidak lama kemudian, Bleki menemukannya. Ia menyeringai dan segera menggosokkan jari jemarinya ke dalam G-Spot Agnes dengan cepat. Serangan-serangan yang Bleki lakukan membuat Agnes terangsang hebat.

    Agnes berteriak-teriak walaupun mulutnya tersumpal penis Krebo sementara tubuhnya melenting-lenting. Hingga akhirnya; “Crrrroottt….Crrshhh…..Mmpphhhh….” Tubuh Agnes melenting ke depan, otot-otot vaginanya menegang menjepit erat jemari Bleki, dan sekelompok nectar lezat mengalir deras dari vagina Agnes bak air terjun. Sementara Bleki melepaskan jemarinya dan segera menempelkan mulutnya pada vagina Agnes untuk menyeruput nektar kesukaannya.
    “Sruuupppsss…sssrppppss… Ah.. eh lonte memek lo wangi juga ya, hahaha…” teriak Bleki seraya menyeruput vagina Agnes dengan rakusnya.
    Lidahnya bahkan menelusuri setiap mili vagina Agnes, memastikan tidak ada nectar yang terbuang. Sementara itu Agnes merasa lemas akibat orgasme hebat yang melandanya tadi sementara tubuhnya masih berkelojotan menikmati sisa-sisa orgasme yang dahsyat. Melihat korbannya lemas, membuat Bleki bertambah semangat. Ia segera meremas pantat Agnes, menamparnya beberapa kali, dan mengangkatnya sedikit ke atas. Lalu ia segera menyiagakan penisnya untuk menghujami vagina Agnes. Sementara itu Agnes yang tenaganya terkuras hanya mampu pasrah dan mengiba. Namun Krebo segera menjambak rambut Agnes dan membuatnya mengulum penisnya.
    “Dasar lonte, lo itu budak kami, lo harus turuti apa perintah kami. Lah… Entar lo juga suka ama kontol dan peju kami, sekarang lo nikmatin aja, dasar Lonte.” Bentak Krebo.
    Bleki yang sudah sangat bernafsu segera menghujamkan penisnya pada vagina Agnes.
    “Slebb…Ngghh….” jeritan Agnes teredam oleh penis Krebo.
    Tubuhnya melenting ke atas. Air mata mengalir dari sela-sela matanya dan darah segar tanda bobolnya kesucian dirinya membahasi paha dan penis milik Bleki. Agnes hanya mampu menangis meratapi kesuciannya yang telah hilang. Kini rasa sedih dan sakit bercampur aduk dalam dirinya. Kini penis seorang penjahat kotor telah merenggut keperawanan dan mengisi penuh vaginanya. Bleki kini menikmati remasan vagina perawan Agnes yang baru saja ia bobol.
    “Ahh… lonte, enak banget memek lo, ssseeempiittt…memek artis terkenal memang nikmattt… hahaha….” tawa Bleki kegirangan.

    Kedua tangannya meremas-remas dan menampar pantat sexy Agnes. Setelah puas, ia pun menggenjot Agnes dengan perlahan dan berirama. Setiap tusukan ke lima ia menekankan penisnya hingga mentok mencium pintu rahim Agnes. Sementara kini tangan kanannya berpindah membelai-belai payudara mungil Agnes yang bergelantungan, sementara tangan kirinya masih sibuk meremasi pantat padat Agnes. Perlahan namun pasti vagina Agnes mulai menerima rangsangan ini. Perlahan rasa sakit mulai tergantikan oleh perasaan nikmat dan horny yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Vaginanya mulai basah akibat lendirnya yang mulai banjir melumasi  otot-otot penis perkasa Bleki. Agnes sudah konsen pada isapannya, penis Krebo dibiarkannya mengacung di depan mukanya, sementara itu ia mendesah-desah keenakkan.
    “Akhhhh…. Uhhh…. Ohhhh… Ssshhhh….Awwhhh…” Agnes terkejut, ia menggigit bibir mungil seksinya.
    Bleki kini mengganti iramanya dengan menarik perlahan penisnya lalu membenamkannya dengan cepat hingga penisnya mencium pintu rahim Agnes. Berulangkali Bleki melakukannya membuat Agnes kelojotan tak karuan. Serangan bertubi-tubi pada pintu rahim membuat sang pintu mulai membuka. Penis Bleki yang tadi tidak masuk sepenuhnya kini amblas menyeruak seluruhnya kedalam rahim Agnes membuat Agnes berteriak, matanya mebelalak, dan punggungnya melenting seksi
    “Hhhiiiaaaahhhhhhhh…..” teriaknya.
    Bersamaan dengan itu vaginanya mulai berkedut-kedut, otot-ototnya menegang, cairan menyembur, namun tertahan oleh desakan Penis Bleki yang perkasa, membuat mengalir merayap melalui selangkangan Agnes dan paha Bleki. Sementara Bleki masih membenamkan penisnya pada rahim Agnes. Agnes mengalami orgasme hebat karena mengalami sensasi tak terkira saat rahimnya dimasuki oleh penis Bleki, ia mendapatkan multi orgasme yang belum pernah ia rasakan. Tubuhnya ambruk, dan ia berkelojotan tak karuan. Sementara itu Bleki masih memegang pinggul Agnes. Kini Bleki membalik tubuh Agnes dengan penis masih tertanam dalam vaginanya. Ia mulai menggenjot Agnes dengan tempo cepat. Bunyi kecipak penis yang menghujami vagina yang telah becek menggema dalam ruangan. Agnes telah pasrah, tenaganya telah habis terkuras pada orgasmenya yang kedua. Ia hanya bisa pasrah Bleki menggarapnya dengan tempo cepat. Sementara tangan kirinya menyentil-nyentil putingnya yang sebelah kanan dan lidah Bleki memainkan dan menjilati payudara mungil Agnes, serta mengigiti putingnya yang sebelah kanan.  Kedua putingnya kini yang merah muda kini telah mengeras oleh serbuan Bleki.

    “Aaakkkhhhhh……” Agnes pun menjerit horny mengalami orgasme hebatnya yang ketiga.
    Refleks kakinya ia lingkarkan pada pinggul Bleki dan ia peluk kepala Bleki, membuat penis Bleki semakin terbenam pada rahim Agnes dan ia makin ganas mengigiti putting Agnes. Semburan lendir kewanitaanya pun mengucur dari sela-sela vaginanya yang terisi oleh penis Bleki. Seluruh otot di badannya bergetar kelojotan membuat Bleki horny dan segera mencium bibir seksi Agnes. Sensasi diperkosa oleh orang yang tak dikenalnya, ditambah serangan-serangan dahsyat pada organ kewanitaannya membuat otot-otot vagina Agnes semakin mengencang. Meremas-remas dan memijat penis Bleki seolah memintanya untuk mengeluarkan maninya. Bleki yang tentu saja sangat terangsang oleh perlakuan Agnes tidak kuat menahan gempuran otot-otot vagina Agnes. Ia pun menyemburkan spermanya dengan deras ke dalam rahim Agnes. Sensasi rahimnya terisi penuh oleh penis Bleki, sperma yang muncrat, serta ciuman pada bibir, dan remasan tangan pada payudaranya membuat Agnes mendapatkan multi orgasme. Tubuhnya kembali bergetar hebat tak keruan, vaginanya bak berubah seolah mesin vacuum yang harus memompa habis isi penis Bleki. Usai semburan penis Bleki yang terakhir. Ia menarik keluar penisnya yang separuh loyo. Ia lalu menyodorkan penisnya yang masih belepotan peju ke mulut Agnes.
    “Bersihin nih kontol gua lonte,” Bentaknya pada Agnes.
    Agnes yang lemas setelah digempur oleh Bleki hanya menurut dan mengulum penis Bleki pada mulutnya, membersihkan sisa-sisa sperma berbau khas dari penis Bleki. Sementara itu Krebo tertawa-tawa melihat Agnes yang masih berkelojotan keenakan.  Krebo yang dari tadi menahan Horny melihat persetubuhan Bleki dengan Agnes kini mulai meminta jatah. Dia siagakan penisnya pada lubang kenikmatan Agnes. Sementara Agnes hanya mampu merintih pelan. Agnes pasrah membayangkan tubuh moleknya bakalan ditusuk-tusuk oleh penis Krebo yang lebih tebal dan berurat ketimbang Joni. Memang tidak sepanjang milik Joni, namun cukup untuk mengisi penuh liang senggamanya. Perlahan ia merasakan kepala penis Krebo memasuki liang senggamanya. Namun setelah seluruh kepala penisnya amblas, Krebo menyentakkan pinggulnya membuat penisnya menusuk liang vagina Agnes, membuat penisnya mencium pintu rahim Agnes. Agnes Monica mendesah antara horny dan sakit. Punggungnya kembali melenting ke atas membuat payuudaranya membubung dengan indah dan langsung diremasi oleh Krebo yang bertambah horny melihat pemandangan itu. Bagi Agnes sisa-sisa kenikmatan gempuran Bleki masih tersisa dalam memorinya, nafsunya masih di ujung kepala.

    Hanya sebentar saja rasa sakit itu hilang, sisa-sisa sperma Bleki yang luber dan multi orgasmenya tadi telah membantu vaginanya menerima penis Krebo. Namun tetap saja, penis Krebo terlalu tebal untuk mengisi vagina Agnes. Membuat Agnes mampu merasakan setiap urat dan otot penis Bleki yang terbenam di dalam vaginanya. Sementara itu, Krebo yang sudah sangat bernafsu segera menusuk-nusukan penisnya dengan cepat, sementara kedua tangannya masih meremas-remas dan mempermainkan putting payudara Agnes. Otak Agnes kini dipenuhi oleh serbuan rangsangan-rangsangan Krebo. Rasa kagetnya mendapat penis Krebo menghujami liang senggamanya, menggesek-gesek seluruh liang vagina dan G-spotnya dengan brutal. Sensasi yang ia dapat dari rangsangan puting payudaranya. Krebo kini bahkan memilin-milin putting Agnes yang sebelah kanan dan mengigiti putingnya yang sebelah kiri dengan ganas. Meskipun secara nalar Agnes menolak perkosaan tersebut, namun naluri alamiahnya lebih jujur. Agnes benar-benar horny. Tubuhnya kembali berkelojotan menghadapi gemuran Krebo yang tak kenal ampun. Ternyata jauh didalam dirinya, Agnes adalah seorang sluties. Tanpa sadar ia mulai menerima perkosaan brutal yang kini menimpa dirinya. Kini Agnes mulai mendesah-desah horny. Agnes segera meraih orgasmenya yang pertama saat disetubuhi Krebo. Kembali Agnes berteriak, mendesah dan melentingkan tubuhnya ke atas. Agnes bahkan memeluk dan menyambut french kiss Krebo dengan ganas sementara tubuhnya masih bergetar karena orgasme. Krebo tidak puas hanya dengan posisi misionaris. Kini ia mengangkat tubuh Agnes, menaruh tanganya pada pinggul Agnes. Kini Krebo menggendong Agnes dan menyetubuhinya dalam posisi berdiri, ia langsung menggenjot Agnes dengan cepat membuat penis beruratnya semakin menghujami liang senggama Agnes lebih dalam. Sementara mulutnya tidak pernah lepas dari putting payudara dan bibir Agnes.
    “Oughh… yess… ahhh…,” Agnes mendesah-desah dengan keras.
    Tiba-tiba Krebo menghentikan genjotannya,
    “Uuhhh… ohhh… terusin pak,” lenguh Agnes tanpa sadar.
    Mendengar apa yang baru saja ia katakan membuat jantung Agnes seolah berhenti seketika. Agnes merasa jijik dengan dirinya. Bagaimana mungkin Agnes takluk pada dua orang rendahan macam mereka. Namun kenyataannya tubuh Agnes lebih jujur. Agnes sebetulnya menikmati persetubuhan itu. Namun gengsinya yang tinggi membuatnya teralih. Krebo yang mendengar pengakuan Agnes pun tertawa terbahak-bahak. Ia bahkan menghina Agnes,
    “Lonte… lonte… ternyata lo doyan kontol juga ya?  Hahaha…kenapa lo gak jujur aja dari awal lonte… Hahahaha…”

    Agnes hanya terdiam, pikirannya campur aduk, air mata mengalir dari ujung matanya. “Heh lonte, klo lo gak mau jujur, gua bakalan siksa memek lo sampe lo jujur,” bentak Krebo.
    Segera ia genjot Agnes dengan tempo cepat, membuat Agnes kembali mendesah-desah dan kelojotan. Penis tebalnya kembali mengoyak-koyak liang kenikmatan Agnes, membuat nafsu Agnes kembali ke ujung kepala. Namun, tepat sebelum Agnes mengalami orgasmenya, Krebo menghentikan genjotannya, membuat nafsu Agnes yang sudah di ubu-ubun kembali turun. Kemudian Krebo kembali mengoyak vagina Agnes dengan brutal dan kembali menghentukannya ketika Agnes akan orgasme. Berkali-kali Krebo menyiksa Agnes dengan liciknya sehingga akhirnya Agnes pun menyerah. Ia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun saat Krebo menghentikan genjotannya. Agnes kini memelas pada Krebo, memohon padanya untuk terus menyetubuhinya. Perasaan horny yang nanggung dan orgasme yang tak kunjung tiba membuatn pikiran Agnes tersiksa. Agnes pun terisak memohon,
    “Hhhh…. Ssshhh… teruss…pliss”.
    “Lonte… lo mohon dulu pake bahasa yang nakal, kalo gua enak dengernya, gua puasin memek lo hahaha…” bentak Krebo.
    “Tuan, Agnes mohon, tolong beri hukuman pada memek Agnes yang nakal ini” isaknya memelas.
    “Hahaha… lonte… lonte… akhirnya jujur juga lo” teriak Krebo penuh kemenangan.
    Krebo kembali menggenjot Agnes dengan brutal membawa Agnes mencapai sebuah multi orgasme dari kumpulan-kumpulan orgasme yang tersimpan tadi. Vagina Agnes kini benar-benar telah banjir. Penis Krebo yang keluar masuk vagina Agnes kini terlihat mengkilat. Namun tampaknya vaginanya masih terisi penuh oleh penis Krebo yang kembali mengantarkan orgasme bagi Agnes dalam waktu 10 menit. Melihat Agnes yang kini terkapar pasrah dalam dekapannya membuat Krebo makin ganas. Tusukan penisnya makin cepat, mencapai kecepatan maksimum. Tubrukan antara pantat Agnes dengan pinggulnya membuat suara becek yang khas. Agnes bertambah kelojotan mendapatkan serangan maksimum dari Krebo.

    Agnes tanpa sadar kini telah memeluk Krebo dan menciumnya. Sementara itu vaginanya terus menerus banjir orgasme akibat ulah Krebo. 15 menit setelah itu, Krebo menggeram. Ia mencengkeram pantat Agnes dengan keras dan menghujamkan penisnya dalam-dalam pada vagina Agnes membuat kepala penisnya kini membuka sedikit lubang pada rahim Agnes. “Sprutt… sprutt…sprutt…” lahar panasnya kini mengisi rahim Agnes. Bersamaan dengan itu Agnes kembali meraih multi orgasme. Ia tempelkan dadanya pada tubuh Krebo sementara itu ia masih terus mencium Krebo dengan ganasnya. Kini hanya nafsulah yang menguasai pikiran Agnes. Agnes tidak peduli lagi dengan keadaannya. Agnes hanya ingin terpuaskan pada saat itu. Setelah semua laharnya telah mengalir ke rahim Agnes, Krebo pun mencabut penisnya dari vagina Agnes. Krebo menyodorkan penisnya di depan mulut Agnes. Agnes paham apa yang harus ia lakukan, dengan lemas segera Agnes menjilati sisa-sisa sperma yang bercampur dengan cairan kewanitaanya. Agnes menjilati penis Krebo hingga bersih. Bleki yang tadi hanya melihat persetubuhan Agnes kini telah bangkit. Penisnya yang berotot mengacung tegak mendekati Agnes yang terlentang pasrah. Bleki segera mengangkat pinggul Agnes dan menyiagakan penisnya. Perlahan Bleki memasukkan penisnya ke dalam liang kenikmatan Agnes. Agnes hanya mendesah-desah tak keruan, vaginanya masih banjir, dan kini penis berotot Bleki telah siap untuk memuaskannya. Agnes kembali merasakan penis berotot Bleki memasuki liang kenikmatannya perlahan. Ketika penis Bleki hampir mentok, ia menyentakkannya membuat Agnes menggelinjang ke depan dan mendesah dengan keras. Bleki mendiamkan penisnya selama beberapa saat, lalu ia mengangkat pinggul Agnes dan berdiri. Bleki menggerakkan penisnya perlahan, ia kini menggarap Agnes dalam posisi berdiri. Dalam posisi itu, tentu saja penis Bleki menusuk makin dalam ke dalam liang kenikmatan Agnes. Tiba-tiba Bleki menghentikan sodokannya. Bleki melirik kearah Krebo dan berujar,
    “Masih lowong satu Bo, ha ha ha…”
    Agnes tersentak mendengarnya. Namun apa daya, ia sudah lemas dan kepalang tanggung. Tubuh Agnes telah benar-benar “on”. Krebo berjalan mendekati Agnes. Matanya yang berkilat-kilat dan penisnya telah kembali mengacung tegak, siap menggarap lubang anus Agnes. Ceritamaya

    Segera Krebo tempelkan kepala penisnya pada lubang anus Agnes. Perlahan penis Krebo kini mulai menyeruak masuk ke dalam anus Agnes. Sementara Agnes merintih kesakitan, matanya mulai menitikkan air mata. Perasaan hornynya kini telah berkurang karena rasa sakit. Ingin Agnes melawan dan berteriak, namun Agnes sudah kehabisan tenaga akibat di garap dua penis perkasa tadi. Agnes kini hanya pasrah dan menitikkan air mata.
    “Bleshh…” penis Krebo kini telah amblas seluruhnya dalam anus Agnes. Krebo sengaja mendiamkan penisnya, ia kini sedang beradaptasi dengan anus Agnes, dan meracau menikmati sempitnya dan hangatnya lubang anus Agnes. Sementara itu Bleki kembali menggoyangkan pinggulnya membuat penisnya kembali menghujami liang kenikmatan Agnes. Tak berapa lama Krebo turut menggoyangkan pinggulnya. Beruntung cairan kenikmatan Agnes banjir mebasahi daerah sekitar anus. Membuat penis Krebo mendapat pelumas untuk leluasa bergoyang. Rasa sakit yang tadi mendera Agnes kini telah berkurang. Mulai tergantikan oleh rasa nikmat yang mengalir dari lubang anus dan liang kewanitaanya. Agnes yang tadi merintih-rintih sakit, kini mulai kembali mendesah-desah. Sementara itu, Krebo dan Bleki yang kini sudah dapat beradaptasi mulai menaikkan ritme mereka. Tubuh Agnes yang lemas tak berdaya dalam dekapan mereka kini terlenting-lenting oleh tusukan dua penis perkasa itu. Hanya dalam lima menit Anges mengalami banjir orgasme dibarengi dengan desahan hebat.
    “Ha ha ha… Lonte, akhirnya lo jujur juga” bentak Krebo penuh kemenangan, “Molot atas lo mang terserah mau bacot apa, tapi molot bawahmu itu yang paling jujur ha ha ha…Lonte pembohong kayak lo mang pantas kena hukuman ha ha ha…”.
    Sebenarnya perkataan-perkataan kasar mereka membuat Agnes ingin menangis, namun Agnes tidak mampu. Tangisannya tertelan oleh gelombang birahi yang kini telah melandanya. Yang keluar dari mulut Agnes kini adalah desahan-desahan nikmat. Sementara itu vaginanya terus menerus banjir orgasme akibat dari tusukan-tusukan kasar kedua rampok tersebut.

    ”Gilee Bo, memek nih tambah sempit memek nih lonte, gue mau keluar Bo”, racau Bleki keenakan.
    “Sa…sama Blek, gue juga mau nyampe nih.” timpal Krebo.
    Mereka berdua semakin mempercepat tusukannya. Setelah satu menit, keduanya menusukkan kedua penis mereka dalam-dalam.
    “Crroootttt….crottt…crrooott…” sperma keduanya menyeruak mengisi anus dan rahim Agnes.
    “Aaahhhh….sshhh….oohhhhhh….ohhhhh….” Agnes berteriak mendesah, tubuhnya kembali terlenting.
    Agnes kembali mendapatkan orgasme yang dahsyat. Setelah beberapa menit barulah tubuh Agnes ambruk kedalam pelukan Bleki.
    “Hahaha… gila nih Lonte, tubuhnya masih kelejotan. Gimana rasanya di perkosa dua kontol super heh lonte!!” bentak Bleki mengejek.
    Namun Agnes tidak menjawab. Yang terdapat di dalam pikirannya saat ini adalah rasa nikmat yang mengantarkannya hingga langit ke tujuh. Bleki dan Krebo tertawa melihat Agnes hanya kelojotan. Mereka segera mencabut penis mereka dan membawa Agnes menuju sebuah kamar mandi. Di sana, mereka membasuh tubuh Agnes dan menyabuninya. Mereka tetap ingin Agnes bersih dan wangi sehingga membangkitkan gairah mereka untuk memperkosa Agnes. Namun acara mandi tersebut juga dibarengi dengan rabaan-rabaan kearah daerah sensitifnya. Bahkan bibir Agnespun tak luput dari ciuman maut keduanya. Hanya saja mereka menahan diri untuk  tidak kembali memperkosa Agnes. Kali ini cukup bagi mereka. Krebo menggotong Agnes kembali ke kamarnya. Dia memakaikan kembali baju Agnes. Namun kali ini tanpa pakaian dalamnya. Setelah itu ia kembali mengikat tangan dan kaki Agnes dan mebiarkannya terlelap pada sebuah ranjang empuk di pojokan ruangan tersebut. Agnes yang terlalu kecapaian langsung terlelap. Ia merasa tidak punya tenaga lagi untuk berteriak ataupun bergerak. Kini ia mulai menutup matanya perlahan dan terlelap.

    To be continued…
    By: J. Andreas

  • Akibat Berenang Bugil

    Akibat Berenang Bugil


    113 views

    Ceritamaya | Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Imam, penjaga vilaku membukakan pintu garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew…akhirnya aku bisa melepaskan kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka kusuruh Pak Imam pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Imam sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan. Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.

    “Punten neng, kalau misalnya ada perlu, bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja” pamitnya
    Setelah Pak Imam meninggalkanku, aku membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali, Pak Imam memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku dan menuju ke kolam. Ceritamaya

    Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin. Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku langsung terjun ke kolam. Aahh…enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini, tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe…)

    20 menit lamanya aku berada di kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.

    Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat mengenali orang itu, dia adalah Muklas, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar 30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku
    “Sstt…mendingan neng nurut aja, di sini udah ga ada siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam !” ancamnya
    Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku
    “Hehehe…udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama neng !” katanya sambil matanya menatapi dadaku
    “Ngentot ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, ga usah kaya maling gitu !” kataku sewot

    Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita berenang di sini. Mengetahui Pak Imam sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuatku BT (birahi tinggi).
    “Heh, katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, daritadi pegang-pegang doang beraninya !” tantangku
    “Hehe, iya neng abis tetek neng ini loh, montok banget sampe lupa deh” jawabnya seraya melepas baju lusuhnya
    Badannya lumayan jadi juga, walaupun agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air, Listrik, dan Bangunan).

    Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya.
    “Eenghh…terus Klas…ooohh !” desahku sambil meremasi rambut Muklas yang sedang mengisap payudaraku.
    Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Muklas yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Muklas melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

    Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya.
    “Gua ga tahan lagi Klas, sini gua emut yang punya lu” kataku
    Si Muklas langsung bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai, kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

    Baca Juga : Para Peronda Malam

    Mulutku terisi penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
    “Eemmpp…emmphh…nngg…!!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku juga basah kecipratan maninya.

    Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu terbuka dan Pak Imam muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan semua ini pada ortuku.
    “Eehh…maaf neng, bapak cuma mau ngambil uang bapak di kamar, ga tau kalo neng lagi gituan” katanya terbata-bata
    Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan berjalan ke arahnya
    “Ah…ga apa-apa Pak, mending bapak ikutan aja yuk !” godaku
    Jakunnya turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.

    Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya
    “Neng, tetek neng gede juga yah…enak yah diginiin sama bapak ?”sambil tangannya terus meremasi payudaraku.
    Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya mengerang keenakan
    “Wah, Pak Imam sama majikan sendiri aja malu-malu !” seru si Muklas yang memperhatikan Pak Imam agak grogi menikmati oral seks-ku.

    Muklas lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Muklas pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada penis Pak Imam makin bersemangat.

    Rupanya aku telah membuat Pak Imam ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Muklas menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Imam menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Imam. Bersamaan dengan itu pula genjotan si Muklas terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.

    Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
    “Neng, boleh ga bapak masukin anu bapak ke itunya neng ?” tanya Pak Imam lembut
    Saya cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi “tapi neng istirahat aja dulu, kayanya neng masih cape sih”
    Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Muklas duduk di sebelah kiriku dan Pak Imam di kananku. Kami ngobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku menikmatinya kok.

    “Neng, bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi belum rasain itunya neng” kata Pak Imam mengambil posisi berlutut di depanku.
    Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Muklas yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
    “Aahh…Pak cepet masukin dong, udah kebelet nih !” desahku tak tertahan
    Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh.

    “Wah…seret banget memeknya neng, kalo tau gini udah daridulu bapak entotin” ceracaunya
    “Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu alim” kataku dalam hati
    Setelah 15 menit dia genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Pak Imam memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak dirasakannya. Ceritamaya

    Goyangan kami terhenti sejenak ketika Muklas tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke wajah Pak Imam. Muklas membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana
    “Aduuh…pelan-pelan Klas, sakit tau…aww !” rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya.
    Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Muklas menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Muklas malah makin buas menggenjotku. Pak Imam melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

    Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Imam erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Imam. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Imam, dan Muklas menjambak rambutku. Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap.

    Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh…ternyata mereka mengikutiku dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
    “Wah…kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.
    Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.

    Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Imam dan Muklas dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya, harap sabar yah, soalnya kan aku juga sibuk tidak bisa menulis terus.

  • Akibat Dimanja

    Akibat Dimanja


    152 views

    Ceritamaya | Aku memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Aku anak lelaki satu-satuya. Dan juga anak bungsu. Dua kakakku perempuan semuanya. Dan jarak usia antara kami cukup jauh juga. Antara lima dan enam tahun. Karena anak bungsu dan juga satu-satunya lelaki, jelas sekali kalau aku sangat dimanja. Apa saja yang aku inginkan, pasti dikabulkan. Seluruh kasih sayang tertumpah padaku.

    Sejak kecil aku selalu dimanja, sampai besarpun aku terkadang masih suka minta dikeloni. Aku suka kalau tidur sambil memeluk Ibu, Mbak Lisa atau Mbak Indri. Tapi aku tidak suka kalau dikeloni Ayah. Entah kenapa, mungkin tubuh Ayah besar dan tangannya ditumbuhi rambut-rambut halus yang cukup lebat. Padahal Ayah paling sayang padaku. Karena apapun yang aku ingin minta, selalu saja diberikan. Aku memang tumbuh menjadi anak yang manja. Dan sikapku juga terus seperti anak balita, walau usiaku sudah cukup dewasa.

    Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indri menikah. Aku tidak rela Mbak Indri jadi milik orang lain. Aku benci dengan suaminya. Aku benci dengan semua orang yang bahagia melihat Mbak Indri diambil orang lain. Setengah mati Ayah dan Ibu membujuk serta menghiburku. Bahkan Mbak Indri menjanjikan macam-macam agar aku tidak terus menangis. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.

    Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. Padahal aku sudaH punya mobil. Tapi memang sudah lama aku ingin dibelikan motor. Hanya saja Ayah belum bisa membelikannya. Kalau mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. Bahkan aku sampai tertawa sendiri. Habis lucu sih.., Soalnya waktu Mbak Indri menikah, usiaku sudab 21 tahun.

    Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Dan kebetulan sekali aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup keren. Di kampus, sebenarnya ada seorang gadis yang perhatiannya padaku begitu besar sekali. Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dan aku selalu menganggapnya sebagai teman biasa saja. Padahal banyak teman-temanku, terutama yang cowok bilang kalau gadis itu menaruh hati padaku.

    Sebut saja namanya Linda. Punya wajab cantik, kulit yang putih seperti kapas, tubuh yang ramping dan padat berisi serta dada yang membusung dengan ukuran cukup besar. Sebenarnya banyak cowok yang menaruh hati dan mengharapkan cintanya. Tapi Linda malah menaruh hati padaku. Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak peduli, tetap menganggapnya hanya teman biasa saja. Tapi Linda tampaknya juga tidak peduli. Perhatiannya padaku malah semakin bertambah besar saja. Bahkan dia sering main ke rumahku, Ayah dan Ibu juga senang dan berharap Linda bisa jadi kekasihku.

    Begitu juga dengan Mbak Lisa, sangat cocok sekali dengan Linda Tapi aku tetap tidak tertarik padanya. Apalagi sampai jatuh cinta. Anehnya, hampir semua teman mengatakan kalau aku sudah pacaran dengan Linda, Padahal aku merasa tidak pernah pacaran dengannya. Hubunganku dengan Linda memang akrab sekali, walaupun tidak bisa dikatakan berpacaran.

    Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aku selalu mengajak Bobby, anjing pudel kesayanganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Perlu diketahui, aku memperoleh anjing itu dan Mas Herman, suaminya Mbak Indri. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herman. Padahal tadinya aku benci sekali, karena menganggap Mas Herman telah merebut Mbak Indri dan sisiku. Aku memang mudah sekali disogok. Apalagi oleh sesuatu yang aku sukai. Karena sikap dan tingkah laku sehari-hariku masih, dan aku belum bisa bersikap atau berpikir secara dewasa.

    Tanpa diduga sama sekali, aku bertemu dengan Linda. Tapi dia tidak sendiri. Linda bersama Mamanya yang usianya mungkin sebaya dengan Ibuku. Aku tidak canggung lagi, karena memang sudah saling mengenal. Dan aku selalu memanggilnya Tante Maya.

    “Bagus sekali anjingnya..”, piji Tante Maya.
    “Iya, Tante. diberi sama Mas Herman”, sahutku bangga.
    “Siapa namanya?” tanya Tante Maya lagi.
    “Bobby”, sahutku tetap dengan nada bangga.

    Tante Maya meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi kebanggaan aku meminjaminya. Sementara Tante Maya pergi membawa Bobby, aku dan Linda duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda dengan gagah. Tidak banyak yang kami obrolkan, karena Tante Maya sudah kembali lagi dan memberikan Bobby padaku sambil terus-menerus memuji. Membuat dadaku jadi berbunga dan padat seperti mau meledak. Aku memang paling suka kalau dipuji.

    Oh, ya.., Nanti malam kamu datang..”, ujar Tante Maya sebelum pergi.

    “Ke rumah..?”, tanyaku memastikan.
    “Iya.”
    “Memangnya ada apa?” tanyaku lagi.
    “Linda ulang tahun. Tapi nggak mau dirayakan. Katanya cuma mau merayakannya sama kamu”, kata Tante Maya Iangsung memberitahu.
    “Kok Linda nggak bilang sih..?”, aku mendengus sambil menatap Linda yang jadi memerah wajahnya. Linda hanya diam saja.
    “Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Maya mengingatkan.
    “Iya, Tante”, sahutku.

    Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Linda. Suasananya sepi-sepi saja. Tidak terlihat ada pesta. Tapi aku disambut Linda yang memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja. Tante Maya dan Oom Joko juga berpakaian seperti mau pesta. Tapi tidak terlihat ada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aku sendiri. Dan memang benar, ternyata Linda berulang tahun malam ini. Dan hanya kami berempat saja yang merayakannya.

    Perlu diketahui kalau Linda adalah anak tunggal di dalam keluarga ini. Tapi Linda tidak manja dan bisa mandiri. Acara ulang tahunnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Selesai makan malam, Linda membawaku ke balkon rumahnya yang menghadap langsung ke halaman belakang.

    Entah disengaja atau tidak, Linda membiarkan sebelah pahanya tersingkap. Tapi aku tidak peduli dengan paha yang indah padat dan putih terbuka cukup lebar itu. Bahkan aku tetap tidak peduli meskipun Linda menggeser duduknya hingga hampir merapat denganku. Keharuman yang tersebar dari tubuhnya tidak membuatku bergeming.

    Akibat DimanjaLinda mengambil tanganku dan menggenggamnya. Bahkan dia meremas-remas jari tanganku. Tapi aku diam saja, malah menatap wajahnya yang cantik dan begitu dekat sekali dengan wajahku. Begitu dekatnya sehingga aku bisa merasakan kehangatan hembusan napasnya menerpa kulit wajahku. Tapi tetap saja aku tidak merasakan sesuatu.

    Dan tiba-tiba saja Linda mencium bibirku. Sesaat aku tersentak kaget, tidak menyangka kalau Linda akan seberani itu. Aku menatapnya dengan tajam. Tapi Linda malah membalasnya dengan sinar mata yang saat itu sangat sulit ku artikan.

    “Kenapa kau menciumku..?” tanyaku polos.
    “Aku mencintaimu”, sahut Linda agak ditekan nada suaranya.
    “Cinta..?” aku mendesis tidak mengerti.

    Entah kenapa Linda tersenyum. Dia menarik tanganku dan menaruh di atas pahanya yang tersingkap Cukup lebar. Meskipun malam itu Linda mengenakan rok yang panjang, tapi belahannya hampir sampai ke pinggul. Sehingga pahanya jadi terbuka cukup lebar. Aku merasakan betapa halusnya kulit paha gadis ini. Tapi sama sekali aku tidak merasakan apa-apa.

    Dan sikapku tetap dingin meskipun Linda sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Semakin dekat saja jarak wajah kami. Bahkan tubuhku dengan tubuh Linda sudah hampir tidak ada jarak lagi. Kembali Linda mencium bibirku. Kali ini bukan hanya mengecup, tapi dia melumat dan mengulumnya dengan penuhl gairah. Sedangkan aku tetap diam, tidak memberikan reaksi apa-apa. Linda melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tidak percaya kalau aku sama sekali tidak bisa apa-apa.

    “Kenapa diam saja..?” tanya Linda merasa kecewa atau menyesal karena telah mencintai laki-laki sepertiku.

    Tapi tidak.., Linda tidak menampakkan kekecewaan atau penyesalan Justru dia mengembangkan senyuman yang begitu indah dan manis sekali. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku.

    Terasa padat dan kenyal dadanya. Seperti ada denyutan yang hangat. Tapi aku tidak tahu dan sama sekali tidak merasakan apa-apa meskipun Linda menekan dadanya cukup kuat ke dadaku. Seakan Linda berusaha untuk membangkitkan gairah kejantananku. Tapi sama Sekali aku tidak bisa apa-apa. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku.

    “Memangnya aku harus bagaimana?” aku malah balik bertanya.
    “Ohh..”, Linda mengeluh panjang.

    Dia seakan baru benar-benar menyadari kalau aku bukan hanya tidak pernah pacaran, tapi masih sangat polos sekali. Linda kembali mencium dan melumat bibirku. Tapi sebelumnya dia memberitahu kalau aku harus membalasnya dengan cara-cara yang tidak pantas untuk disebutkan. Aku coba untuk menuruti keinginannya tanpa ada perasaan apa-apa.

    “Ke kamarku, yuk..”, bisik Linda mengajak.
    “Mau apa ke kamar?”, tanyaku tidak mengerti.
    “Sudah jangan banyak tanya. Ayo..”, ajak Linda setengah memaksa.
    “Tapi apa nanti Mama dan Papa kamu tidak marah, Lin?”, tanyaku masih tetap tidak mengerti keinginannya.

    Linda tidak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Memang aku seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar gadis ini. Bahkan aku tidak protes ketika Linda mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku. Bukan hanya itu saja, dia juga melepaskan celanaku hingga yang tersisa tinggal sepotong celana dalam saja Sedikitpun aku tidak merasa malu, karena sudah biasa aku hanya memakai celana dalam saja kalau di rumah.

    Linda memandangi tubuhku dan kepala sampai ke kaki. Dia tersenyum-senyum. Tapi aku tidak tahu apa arti semuanya itu. Lalu dia menuntun dan membawanya ke pembaringan. Linda mulai menciumi wajah dan leherku. Terasa begitu hangat sekali hembusan napasnya.

    “Linda..”

    Aku tersentak ketika Linda melucuti pakaiannya sendiri, hingga hanya pakaian dalam saja yang tersisa melekat di tubuhnya. Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok tubuh sempurna seorang wanita dalam keadaan tanpa busana. Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku berdebar menggemuruh Dan ada suatu perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyelinap di dalam hatiku.

    Baca Juga : I Know What You Did Last Holiday Part 2

    Sesuatu yang sama sekali aku tidak tahu apa namanya, Bahkan seumur hidup, belum pernah merasakannya. Debaran di dalam dadaku semakin keras dan menggemuruh saat Linda memeluk dan menciumi wajah serta leherku. Kehangatan tubuhnya begitu terasa sekali. Dan aku menurut saja saat dimintanya berbaring. Linda ikut berbaring di sampingku. Jari-jari tangannya menjalar menjelajahi sekujur tubuhku. Dan dia tidak berhenti menciumi bibir, wajah, leher serta dadaku yang bidang dan sedikit berbulu.

    Tergesa-gesa Linda melepaskan penutup terakhir yang melekat di tubuhnya. sehingga tidak ada selembar benangpun yang masih melekat di sana. Saat itu pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang. Bahkan kepalaku terasa pening dan berdenyut menatap tubuh yang polos dan indah itu. Begitu rapat sekali tubuhnya ke tubuhku, sehingga aku bisa merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya. Tapi aku masih tetap diam, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda mengambil tanganku dan menaruh di dadanya yang membusung padat dan kenyal.

    Dia membisikkan sesuatu, tapi aku tidak mengerti dengan permintaannya. Sabar sekali dia menuntun jari-jari tanganku untuk meremas dan memainkan bagian atas dadanya yang berwarna coklat kemerahan. Tiba-tiba saja Linda. menjambak rambutku, dan membenamkan Wajahku ke dadanya. Tentu saja aku jadi gelagapan karena tidak bisa bernapas. Aku ingin mengangkatnya, tapi Linda malah menekan dan terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Saat itu aku merasakan sebelah tangan Linda menjalar ke bagian bawah perutku.

    “Okh..?!”.

    Aku tersentak kaget setengah mati, ketika tiba-tiba merasakan jari-jari tangan Limda menyusup masuk ke balik celana dalamku yang tipis, dan..

    “Linda, apa yang kau lakukan..?” tanyaku tidak mengerti, sambil mengangkat wajahku dari dadanya.

    Linda tidak menjawab. Dia malah tersenyum. Sementara perasaan hatiku semakin tidak menentu. Dan aku merasakan kalau bagian tubuhku yang vital menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak. Sedangkan Linda malah menggenggam dan meremas-remas, membuatku mendesis dan merintih dengan berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Tapi aku hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda kembali menghujani wajah, leher dan dadaku yang sedikit berbulu dengan ciuman-ciumannya yang hangat dan penuh gairah membara.

    Memang Linda begitu aktif sekali, berusaha membangkitkan gairahku dengan berbagai macam cara. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yang kini sudan polos.

    “Ayo dong, jangan diam saja..”, bisik Linda disela-sela tarikan napasnya yang memburu.
    “Aku.., Apa yang harus kulakukan?” tanyaku tidak mengerti.
    “Cium dan peluk aku..”, bisik Linda.

    Aku berusaha untuk menuruti semua keinginannya. Tapi nampaknya Linda masih belum puas. Dan dia semakin aktif merangsang gairahku. Sementara bagian bawah tubuhku semakin menegang serta berdenyut.

    Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dengan suara tertahan akibat hembusan napasnya yang memburu seperti lokomotif tua. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang d ibisikkannya. Waktu itu aku benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Walau sudah berusaha melakukan apa saja yaang dimintanya.

    Sementara itu Linda sudah menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih mulus. Linda berada tepat di atas tubuhku, sehingga aku bisa melihat seluruh lekuk tubuhnya dengan jelas sekali.

    Entah kenapa tiba-tiba sekujur tubuhku menggelelar ketika penisku tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembab, hangat, dan agak basah. Namun tiba-tiba saja Linda memekik, dan menatap bagian penisku. Seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. Sedangkan aku sama sekali tidak mengerti. PadahaI waktu itu Linda sudah dipengaruhi gejolak membara dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.

    “Kau..”, desis Linda terputus suaranya.
    “Ada apa, Lin?” tanyaku polos.

    “Ohh..”, Linda mengeluhh panjang sambil menggelimpangkan tubuhnya ke samping. Bahkan dia langsung turun dari pembaringan, dan menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil memandangiku yang masih terbaring dalam keaadaan polos, Linda mengenakan lagi pakaiannya. Waktu itu aku melihat ada kekecewaan tersirat di dalam sorot matanya. Tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya kecewa.

    “Ada apa, Lin?”, tanyaku tidak mengerti perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba.
    “Tidak.., tidak ada apa-apa, sahut Linda sambil merapihkan pakaiannya.

    Aku bangkit dan duduk di sisi pembaringan. Memandangi Linda yang sudah rapi berpakaian. Aku memang tidak mengerti dengan kekecewannya. Linda memang pantas kecewa, karena alat kejantananku mendadak saja layu. Padahal tadi Linda sudah hampir membawaku mendaki ke puncak kenikmatan.

  • Akibat Foto Bugil Aku Ngentot Tante Eva Montok

    Akibat Foto Bugil Aku Ngentot Tante Eva Montok


    284 views

    Cerita Maya | Aku baru selesai mandi sore dan mulai membuka buku untuk dibaca, Tetapi kulihat seseorang memasuki halaman dan aku segera menguakkan korden agar lebih jelas siapa yang memasuki halaman itu. Aku kaget dan gembira, ternyata yang datang adalah Eva, temanku yang kuliah di Surabaya, semester pertama, usianya sekitar 19 tahun.

    Cerita Sex Akibat Foto Bugil Aku Ngentot Tante Eva Montok

    Akibat Foto Bugil Aku Ngentot Tante Eva Montok

    “Hai, kamu sukanya bikin kejutan. Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau datang?” kataku basa-basi. “Kalau bilang dulu mau nyediain apa..”

    Setelah basa-basi kutawarkan mandi dulu agar hilang capeknya. Selesai mandi, ia membereskan kembali tasnya. Sepintas ia melihat dinding di sekeliling kamarku, yang penuh dengan gambar telanjang. Dia tersenyum dan berkomentar. Cerita Maya

    “Bagaimana kalau ada anak-anak yang masuk ke kamar ini”, aku jawab bahwa kamar ini khusus untuk orang yang sudah dewasa.

    “Kalau begitu ada gambar yang lebih porno lagi dong..”

    “Ada, mau lihat?”Sebelum menjawab, kuambilkan beberapa foto porno kegemaranku yang kusimpan di dalam lemari pakaianku.“Mau lihat, nggak apa-apa kok untuk pelajaran aja.”

    Dengan ragu-ragu ia terima juga foto-foto kategori XXX, dan dilihatnya dengan cermat, entah apa yang berkecamuk di dalam hatinya aku tidak tahu, tapi terlihat ekspresinya begitu tenang sekali. Entah karena sudah terbiasa, atau karena begitu pandainya ia menyembunyikan perasaannya.

    “Gimana, komentar dong.”
    “Ada filmnya nggak?”

    “Nggak ada, tapi kalau yang asli justru ada”, kataku sambil bergurau.“Yang asli mana, coba” aku terkejut mendengar pernyataannya, sampai-sampai aku hampir tidak bisa menjawabnya.“Eh, ada tapi itu anu..” aku jadi gugup, sambil kuarahkan jariku ke arah kemaluanku.“Tapi apa Mas..”“Tapi harus ada gantinya, barter gitulah.”“Tapi kalau yang ini aku nggak punya”, sambil ujung jarinya menunjukkan kemaluan pada gambar yang ia pegang.“Yang semacam juga nggak pa-pa”“Yang bener nih”, sambil tangannya bersiap-siap mau memegang daerah terlarangku yang masih terbungkus celana.“He-eh bener”, kujawab saja sekenanya, aku kira hanya gertakan saja dia mau memegang kemaluanku. Betapa kagetku ternyata tangannya benar-benar memegang kemaluanku dari luar celana.

    Aku tidak bisa bilang apa-apa, selain menikmatinya dengan perasaan senang. Secara refleks kuraih kepalanya dan kudekap sambil dalam hati berkecamuk memikirkan peristiwa ini. Kalau pacar atau orang lain aku tidak bingung, tetapi ini adalah temanku yang sewaktu kecil sering bermain bersama. Tetapi karena ia terus mengusap kemaluanku dari luar celana, aku buang pikiran itu jauh-jauh keraguanku. Keputusanku adalah menikmati saja peristiwa ini.

    Kucium keningnya, pipinya dan bibirnya. Sambil kugerayangi punggungnya, lehernya, pinggangnya, pantatnya dan terakhir buah dadanya. Sebagai penjajakan saja apa reaksinya. Ternyata ia diam saja, bahkan semakin keras memegang selangkanganku. Terus kuciumi bibirnya sampai nafasnya memburu. Kubuka kausnya, dan aku melihat kulit tubuh yang tidak pernah terkena matahari itu demikian menimbulkan birahiku. Kubuka BH-nya dan tambah kagum aku atas keindahannya. Kuelus buah dadanya yang kenyal dan sekali-kali kupencet putingnya yang membuat nafasnya makin memburu. Begitu aku berusaha mencium buah dadanya, ia mundur sambil menarik tanganku ke arah tempat tidur.

    Dalam keadaan telentang tampaknya ia sudah siap menerima tindakanku berikutnya, buah dadanya yang menantang bergelantungan. Sebelum aku mendekatkan diri, aku melepaskan pakaianku hingga tuntas, sehingga batang kejantananku yang sudah membesar tergantung-gantung mengikuti gerak dan langkahku. Bersamaan dengan itu ia melepaskan juga pembungkus tubuhnya yang masih tersisa, sehingga kami benar-benar sudah telanjang bulat.

    Tubuhnya benar-benar mulus, tidak ada cacat, payudaranya sedang, masih kencang, puting susunya coklat tua, mendekati hitam, perutnya ramping, lipatan kecil di perutnya menunjukkan belum begitu banyak lemak di situ, pinggulnya sedang, bulu kemaluannya tipis, sehingga bibir kemaluannya yang mengatup dengan rapi terlihat begitu indahnya.

    Baca Juga Cerita Seks Aku Menjadi Budak Seks Untuk Tante-Tante

    Ia raih batang kemaluanku, dan aku mendekatkan diri sehingga mudah baginya untuk mengulum dan menjilati batang kejantananku. Sementara tanganku tanpa kusadari sudah meraih bibir kemaluannya yang sudah basah. Kuelus-elus bibir kemaluannya sambil kucari dan sesekali kusentuh klitorisnya. Dan kumasukkan jari tengahnya menggapai dasar kemaluannya. “Jilat kepalanya”, aku berbisik kepadanya. Dengan sigapnya ia segera tahu maksudku. Ia segera mulai menjilati kepala kemaluanku yang semakin membesar saja dan mengkilap oleh jilatan. Rasa geli dan nikmat bercampur jadi satu. Birahiku benar-benar sudah sampai di ujung, ingin segera mengikuti naluriku untuk segera memasukkan ke dalam liang senggamanya. Tetapi nanti dulu, kuciumi dulu tubuh Eva, dari mulai bibir, telinga, leher, buah dada, perut dan liang kewanitaannya.

    Kujilat-jilat klitorisnya yang membuat dia menggelinjang ke kanan kiri tidak karuan, pantatnya dia angkat tinggi-tinggi sehingga aku mempunyai ruang yang baik untuk melakukan kegiatanku menjilati klitorisnya yang sekilas kulihat semakin bengkak dan merah.

    Sampai suatu saat tubuhnya makin menegang sambil berteriak menyebutkan sesuatu yang tidak jelas, bersamaan dengan itu membanjirlah cairan bening dari liang kewanitaannya. “Aku sampai Mas, aku sampai Mas…” begitulah ucapan yang kutangkap dengan nafas terengah-engah.

    Kemudian kuambil posisi untuk menyetubuhinya, kemaluanku yang sudah tegang dan membesar di ujungnya kusiapkan di depan pintu gerbang kewanitaannya. Dengan bimbingan tangannya, kumasukkan kemaluanku sampai habis tertelan oleh liang kenikmatannya. Kembali ia mengerang, sambil memelukku dengan keras. Sejenak kudiamkan saja batang kejantananku di dalam. Kurasakan pijitan liang kewanitaannya sangat membuatku semakin nikmat. Batang kejantananku masih kudiamkan terendam di situ.

    Eva mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, sampai kusentuh dasar kemaluannya yang terasa seperti benjolan yang semakin keras menyentuh-nyentuh kepala kemaluanku. Semakin nikmat rasanya, sehingga aku sendiri tidak tahan lagi dengan gesekan dan pijitan dari liang senggamanya sehingga otot-otot pada tubuhku menegang dan bersamaan dengan itu, tanpa kusadari keluar maniku membasahi dan menghangatkan dasar kemaluannya.

    Kurasakan Eva lagi-lagi mencapai orgasme. Kali ini lebih panjang erangannya, semakin kuat ia memelukku dan gerakan tubuhnya semakin tidak teratur.

    Kutancapkan dalam-dalam kemaluanku, hingga kami saling berpelukan. Beberapa detik kemudian kami terkulai. Aku masih belum ingin mencabut kemaluanku yang bersarang dengan damai di liang sorganya. Kubalik tubuhku sehingga ia menjadi menindihku. Eva benar-benar puas dan sangat-sangat kelelahan. Beberapa menit kemudian ia sudah tertidur dengan pulas. Kemaluanku yang sudah melemah masih berada di dalam liang kewanitaannya. Cerita Maya

    Aku pun tertidur, dengan perasaan lega. Tengah malam kami bangun dan bermain lagi sampai puas. Tiap bangun bermain lagi. Sampai akhirnya kami benar-benar tertidur hingga jam 10 pagi. Karena di rumah tempat kost-ku cukup tesedia makanan instan. Sehingga hari itu kami bisa melakukan dengan sepuas-puasnya, dan kami merasa tidak perlu lagi memakai baju di dalam rumah. Memasak air, menyapu mencuci piring selalu diselingi dengan adegan percintaan. Sampai sore hari ia berpamitan kembali ke Surabaya melanjutkan kuliahnya.

    Sejak saat itu ia sering ke kotaku. Sampai ia mempunyai pacar dan menikah.

  • Akibat Lembur

    Akibat Lembur


    102 views

    PERHATIAN:

    • Cerita ini hanya untuk hiburan semata.
    • Cerita ini fiktif adanya. Jika terjadi kesamaan nama, tempat dan kejadian, itu hanya sebuah kebetulan.
    • Cerita ini TIDAK bertujuan untuk menjelekkan/ mendiskreditkan suku/etnis tertentu. Hanya sebuah cerita yang diilhami cerita/film seks antar ras.

     


    Pendahuluan

     

    Rita

    Rita

    Ceritamaya | Sejak peristiwa tiga bulan yang lalu dengan kedua buron yang membobol rumahnya, kehidupan Rita menjadi agak berubah. Terutama prilaku seksnya. Sejak saat itu, libidonya seperti tidak pernah terpuaskan. Selain karena suaminya jarang ada di rumah karena harus melakukan tugas ke luar kota, suaminya juga sering menolak berhubungan intim dengan Rita dengan berbagai macam alasan. Rita dapat mengerti, mungkin suaminya sangat lelah karena pekerjaan. Tetapi ketika mereka ada kesempatan untuk melakukannya, suaminya hanya mengejar kepuasannya sendiri dan tidak peduli dengan Rita. Hal ini yang membuat Rita frustasi. Untuk melupakan dan menekan libidonya, Rita berusaha untuk menyibukkan diri dalam pekerjaannya di kantor, bahkan ia suka bekerja sampai larut malam.

    ###########################

    Di Kantor

    Waktu menunjukkan pukul 08.45 ketika Rita tiba di kantornya yang berupa ruko berlantai 4 di daerah Jakarta Barat.

    “Selamat Pagi, bu,” sapa seorang laki-laki tua berpakaian satpam

    “Selamat Pagi, juga Pak Darius,” balas Rita sambil tersenyum kepada laki-laki tua yang bernama Darius itu. Pak Darius adalah pria Papua pensiunan tentara. Umurnya 65 tahun. Ia sudah menduda sejak 10 tahun yang lalu, istrinya meninggal akibat penyakit malaria. Dari istrinya, ia tidak memiliki keturunan. Alasan itu yang mendorong Pak Darius bertekad untuk merantau ke Jakarta setelah pensiun, karena ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di Papua, tanah kelahirannya. Tubuh tambunnya yang masih tegap walaupun sudah berumur dan pengalamannya sebagai tentara membuat Pak Darius di terima menjadi satpam di kantor tempat Rita bekerja sejak 2 tahun yang lalu. Pagi itu Rita mengenakan kemeja putih yang dilapisi dengan setelan blazer dan rok span ketat bewarna hitam. Setelah membalas sapaan Pak Darius, Rita lansung menuju ruang kantornya yang berada di lantai 3. Wangi parfum tubuhnya menyebarkan keharuman ketika melewati Pak Darius, membuatnya terpana. Sudah lama Pak Darius sangat mengagumi Rita, selain sifat Rita yang tidak sombong dan mudah bergaul, kecantikan dan kemolekan tubuhnya sering membuat Pak Darius berpikiran ngeres tentang Rita, sehingga memancing dorongan seksual yang selama ini dipendamnya. Tanpa terasa waktu jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.45, Rita tidak menyadari aktifitas di luar ruang kantornya sudah sepi. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan dari pintunya, dari balik pintu tampak bebrapa anak muda. Ceritamaya

    “Ci, kami pulang duluan ya….,” kata seorang wanita muda.

    “Oooo…..iya, hati-hati ya, “ jawab Rita.

    “Cici belum mau pulang?” tanya seorang lagi.

    “Belum, kalian pulang dulu deh, gak apa-apa koq, cici masih tanggung nih,” balas Rita.

    “Kalau begitu kita duluan yaa, bye cici Rita,” seru mereka bergantian.

    “Bye, hati-hati ya kalian,” sambung Rita

    “Iya, ci, Trima kasih,” jawab mereka sambil meninggalkan ruangan kantor Rita.

    Tidak lama kemudian, pintu ruangan Rita kembali diketuk. Kali ini yang muncul dari balik pintu adalah seorang pria setengah baya, ia adalah Pak Gunawan, atasan Rita.

    “Kamu belum pulang, Rit,” tanya Pak Gunawan.

    “Belum, pak, tanggung,” jawab Rita.

    “Kamu koq dari kemarin-kemarin jawabnya begitu terus.” Rita hanya tersenyum kecut mendapat teguran dari atasannya. “Kerja keras itu bagus, dan saya menghargainya, tetapi jika kerja sampai lupa waktu begini namanya sudah kebablasan, nanti kalau kamu sakit bagaimana, kan bapak juga yang repot.”

    “Repot kenapa, pak?” tanya Rita.

    “Ya repot donk, orang kepercayaan bapak nggak ada,” jawab Pak Gunawan.

    Rita tersipu malu mendengar pujian dari Pak Gunawan.

    “Oke, sekarang beresin berkas-berkas kerjamu, dan pulang, biar Pak Darius bisa kunci-kunci kantor,” perintah Pak Gunawan.

    “Tapi tanggung pak, sedikit lagi selesai koq,” jawab Rita memohon.

    “Baik, tinggal sedikit lagi khan?” tanya Pak Gunawan menegaskan. Rita mengangguk. “Setelah kamu selesai jangan lupa minta Pak Darius periksa dan kunci semua ruangan. Bapak pulang dulu, kamu nanti pulang nyetir hati-hati,” kata Pak Gunawan.

    “Siap, pak!” jawab Rita membuat Pak Gunawan tersenyum lalu meninggalkan Rita di ruangannya.

    Waktu kini sudah menunjukkan pukul 20.45, ketika tiba-tiba seseorang masuk dan mematikan lampu ruangan kerja Rita.

    “Eh…eh…masih ada orang pak,” seru Rita. Seketika lampu lansung dinyalakan kembali, dan orang yang mematikan lampu memperlihatkan diri dari balik pintu.

    “Pak Darius.. jangan dimatiin dulu dong, Pak, tanggung nih kerjaan saya,” kata Rita.

    “Maaf, Bu Rita, saya cuma habis ngontrol, tadi saya pikir Pak Gunawan yang terakhir pulang,” jawab Darius.

    “Memang semua orang sudah pulang pak?” tanya Rita sekali lagi.

    “Semua orang sudah pulang, bu, tinggal ibu sendiri. Makanya saya kira tadi ibu sudah pulang juga. Melihat kantor ibu lampunya nyala, saya pikir si Ujang lupa matiin lampu lagi,” Pak Darius menjelaskan.

    “Ooo…begitu, bukan salah Ujang koq pak, memang saya masih ada kerjaan, jadi saya pengin selesaikan sekarang juga.”

    “Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, bu Rita, saya mau ngecek ruangan yang lain, maaf kalau saya mengganggu kerja ibu,” kata Pak Darius.

    Rita

    “Tunggu dulu, Pak, duduk saja dulu temenin saya sebentar. Saya sedang nyelesaiin kerjaan nihh… Bentar ya, Pak?” kata Rita.

    “Silahkan, Bu.”

    Kemudian Rita sejenak meninggalkan pekerjaannya untuk istirahat sebentar.

    “Silahkan duduk dulu, pak.”

    Lalu Darius pun duduk di sofa panjang yang terdapat di dalam ruang kerja Rita.

    “Pak, kita ngopi dulu yuk….. biar nggak ngantuk,” Rita menawarkan.

    “Boleh, bu, terima kasih,” jawab Pak Darius.

    “Manis atau pahit, pak?”

    “Sedang aja, bu, terima kasih,” jawab Pak Darius.

    Lalu Rita membuat dua cangkir kopi, satu untuknya dan satu lagi untuk Pak Darius. Tidak beberapa lama kemudian Rita membawa dua cangkir tersebut dan meletakkannya di meja untuk disajikan kepada Pak Darius. Tanpa disadarinya, ketika dia menunduk untuk meletakkan kedua cangkir kopi ke meja, kemeja kerjanya yang satu kancing atasnya sengaja tidak dikancing, menjuntai ke bawah membuat sebuah celah lebar yang memungkinkan siapapun yang ada di depannya dapat melihat ke dalamnya. Secara tak sengaja mata Pak Darius menangkap pemandangan indah tersebut dan tertegun menatap apa yang ada di balik baju itu. Sepasang payudara putih mulus dan padat dan masih terbungkus BH warna hitam berenda terlihat jelas menggantung indah. Belahan payudara Rita yang padat tampak sangat meransang. Disengaja atau tidak, gejolak birahi Pak Darius yang sudah lama ditinggal istrinya, langsung meninggi membuat tubuhnya panas dingin dan gemetar. Rita tidak sadar kalau cara berpakaiannya membuat Pak Darius blingsatan menahan dorongan seksualnya yang setiap saat siap meledak. Rita sendiri kemudian mulai memperhatikan kalau Pak Darius seperti sedang melamun. Dilihatnya Pak Darius kelihatan gelisah seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
    “Pak..,” Rita menegur pelan. “Bapak nggak apa-apa kan?”
    Untuk beberapa detik Pak Darius seperti melamun seolah pikirannya berada di tempat lain. Baru setelah Rita mengulangi pertanyaannya kembali, Pak Darius langsung tersadar.
    “Eeh.. iya…ma-maaf bu, A.. apa tadi..? tanyanya gugup menyembunyikan keadaan dirinya yang sesungguhnya.
    “Bapak nggak sakit kan..?” tanya Rita lagi. “Dari tadi saya lihat Bapak gelisah sekali.”
    “Eh.. tidak.. um.. yah.. ,” Pak Darius menjawab kebingungan. “Memang.. tadi sih Bapak agak nggak enak badan,” jawabnya berbohong. Sesekali pandangannya melirik ke tubuh sintal Rita.
    “Wah.. saya jadi nggak enak, sudah mengganggu bapak, mungkin bapak tadi pengen cepat istirahat ya?” kata Rita.
    “Oh.. nggak.. nggak apa-apa kok, Bu,” Pak Darius menjawab cepat. “Saya senang bisa menemani, atau kalau mungkin membantu ibu Rita,” Katanya tenang meskipun pada saat yang sama, otaknya mulai sibuk memikirkan sebuah siasat.

    Tampak kemudian tangan Rita memegangi pundaknya, lehernya terasa pegal setelah sekian lama bekerja di depan layar laptopnya.

    “Kenapa, bu?” tanya Pak Darius.

    “Leher saya rasanya pegal-pegal, sepertinya saya terlalu lama bekerja di depan komputer,” jawab Rita sambil tersenyum kecut.

    “Kalau begitu, biar saya pijati, Bu,” kata Pak Darius sigap.

    “Orang-orang bilang, pijatan saya enak lho,” katanya lagi mempromosikan diri sambil kedua tangannya mengacungkan jempol. Rita tersenyum mendengar promosinya.

    “Bener nih? Boleh donk saya coba pijatannya,” jawab Rita.

    Rita kemudian duduk membelakangi Pak Darius. Dari belakang Pak Darius mulai melakukan pijatan terhadap Rita. Jari-jarinya yang besar dan hitam mulai melakukan pijatan, diawali dengan bagian kepala. Beberapa saat kemudian tangannya turun ke bagian pundak Rita. Jari-jari Pak Darius dengan piawai melakukan pijatan. Rita tampak menikmati pijatan Pak Darius, dia harus mengakui pijatan Pak Darius memang mantap. Pijatan laki-laki tua itu dapat mengendurkan ketegangan di otot leher dan bahunya. Sambil memijat, Pak Darius mengajak ngobrol Rita tentang kehidupannya di Papua, tentang pekerjaanya, dan apa saja yang bisa jadi bahan obrolan. Demikian pula Rita. Secara diam-diam, Pak Darius memperhatikan tubuh Rita dari belakang. Kemejanya yang yang agak ketat dapat menggambarkan kemolekan tubuhnya, apalagi BHnya yang berwarna hitam tampak jelas membayang di balik kemeja kerjanya yang bewarna putih bersih. Begitu pula dengan pinggul dan pantatnya yang masih tertutup oleh rok span ketat bewarna hitam, sehingga dapat memperlihatkan dengan jelas lekuk pinggulnya yang aduhai tersebut. Seketika otak kotor Pak Darius bekerja membayangkan tubuh Rita jika tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Saat itu juga, penisnya mengeras. Setelah beberapa saat dipijat oleh Pak Darius, Rita merasakan pegal-pegal di otot leher dan bahunya telah sirna. Rita pun tak segan untuk memuji pijatan Pak Darius.

    “Waahhh…..pijatan bapak top deh…,” puji Rita sambil menunjukkan jempol tanggannya. “Pegalnya sudah hilang……terima kasih yaa, pak.”

    “Kembali, bu,” jawab Pak Darius. Sekilas Rita melihat benjolan di bawah celana di daerah selangkangan Pak Darius. Ia jadi teringat milik Black yang pernah dirasakannya. Ada hasrat kenikmatan yang dulu ia rasakan bersama kedua napi itu yang ingin diulanginya kembali. Tapi Rita cepat-cepat membuang pikiran kotor tersebut. Pak Darius menangkap tatapan Rita ke daerah selangkangannya. Dari tatapannya, ia tahu Rita tampaknya juga menginginkannya. Lalu mereka berdua kembali mengobrol. Obrolan mereka tentang apa saja. Karena telah merasa akrab maka sesekali mereka ngomong kesana kemari dan lama kelamaan menjurus ke masalah seks. Rita tahu seharusnya ia tidak boleh membicarakan hal ini dengan Pak Darius, selain karena tidak pantas Pak Darius adalah orang asing dalam hidupnya, ia hanya seorang satpam yang ia kenal di kantornya. Namun entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Demikian pula Pak Darius bercerita apa adanya. Lalu Pak Darius menggeser duduknya, Rita pun membiarkan Pak Darius duduk di sampingnya. Pak Darius tampak gugup karena sedang mencari jalan dari mana ia akan mulai merayu Rita yang saat itu duduk bersamanya di sofa panjang itu. Dalam pikiran Pak Darius terus berkecamuk mencari cara agar bisa melaksanakan keinginannya itu. Ia terlihat gelisah dalam duduknya. Kegelisahan di wajah Pak Darius itu tertangkap oleh Rita.

    “Ada apa pak? Kelihatannya bapak gelisah ada yang dipikirkan ya?” tebaknya.

    Dengan keringat yang mulai membasahi dahinya Pak Darius pun menjawab.

    “Oh…nggak apa-apa,….maksud saya ngak ada apa-apa koq….” Pak Darius tampak sedikit panik.

    Lalu mereka berdua terdiam cukup lama. Setelah beberapa saat, Pak Darius mulai membuka suara, memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Kali ini Pak Darius sudah membulatkan tekad. Ia tidak akan berhenti apapun yang terjadi! Ia sudah tidak tahan lagi. Tubuh Rita terlalu indah untuk dibiarkan begitu saja melenggang di depan matanya! Ia harus mencicipinya! Sekarang juga! Peduli amat jika nanti dia bakal diadukan Rita kepada Pak Gunawan kemudian dipecat atau bahkan dipenjara! Biar bagaimanapun Pak Darius berusaha menahan diri, dia tetaplah seorang lelaki normal yang membutuhkan kehangatan seorang wanita dalam dekapannya. Godaan yang datang dari wanita ini terlalu berat untuknya.

    “Bu?… saya sebenarnya merasa bersalah jika mengatakannya. Ibu tidak marah kan jika saya mengatakannya?” jawab Pak Darius.

    “Lah…nggak lah pak… ada apa sih?” tanya Rita.

    “Begini lho, bu…,” terang Pak Darius “Sejak saya kenal ibu…saya jadi mengagumi ibu. Keramahan dan kebaikan ibu membuat saya kagum dan lama kelamaan membuat saya suka dengan ibu. Apalagi jika saya..selalu dekat ibu.., sss…saya jadi tidak tahan akan godaan yang selalu datang,” terangnya “Dan lagian ibu begitu cantik.… terus terang saya tidak tahan.. bu,” katanya polos sambil meraih tangan Rita.

    Saat itu Rita masih membiarkan Pak Darius meraih tangan dan meremas jemarinya yang halus dan lembut itu. Bulu kuduknya pun merinding, namun ia masih mentolerir tindakan satpamnya itu yang ia anggap orang tua yang harus ia hormati. Namun mendengar pengakuan jujur Pak Darius itu, mimik wajah Rita menjadi bersemu merah menahan kaget. Ia tahu maksud dari perkataan satpamnya itu. Iapun tidak menduga kata-kata yang keluar dari mulut orang yang selama ini ia anggap sebagai pelindung dan pembantunya itu.

    “Jangan, Pak….. masak bapak begitu sih?” kata Rita sambil melepaskan tanganya dari genggaman Pak Darius.

    “Oooh…… maaf ya, Bu,” kata Pak Darius.

    “Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak rasa dalam diri saya yang selalu datang itu bu, apa salah saya secara langsung mengeluarkan uneg-uneg bu?” jawab Pak Darius pada Rita sambil mendekat. Lalu Pak Darius melingkarkan tangannya ke bahu Rita. Rita buru-buru melepaskan tangan Pak Darius dari bahunya.

    “Pak!……Apa-apaan ini? Apa..yang bapak inginkan pak..? Jangan pak! Saya tidak ingin berkhianat dan menyeleweng dari suami yang saya cintai. Saya takut pak? Ini dosa besar pak? Apalagi kita berdua bukan suami istri..!!” terang Rita sambil menahan marah dan rasa kecewa yang amat dalam. Orang yang selama ini ia kenal begitu sopan tutur katanya dan perbuatannya, tiba-tiba malam ini menjadi begitu kurang ajar.

    “Bapak tahu sendiri khan?” terang Rita. Mendengar kata-kata itu, Pak Darius malah terus mendekat kearah tempat duduk Rita.

    “Bu…!” jawab pak Darius. “Saya menyayangi ibu?”

    “Saya tahu ibu tidak bahagia… saya yakin bisa mengisi kegersangan bathin.. ibu itu… meskipun saya tidak seganteng dan sekaya suami ibu.” terang pak Darius.

    “Kenapa bapak bisa bilang saya tidak bahagia? Apa hak dan urusan bapak? Bagi saya… kebagiaan itu telah saya rasakan dan saya tidak menuntut yang macam-macam….” terang Rita dengan sengit.

    “Saya tahu ibu tidak pernah bahagia sebagai wanita apalagi dengan urusan di atas ranjang… bathin ibu selalu gersang, benar khan? Ibu jangan munafik dan menyembunyikan masalah itu, bu?” serang Pak Darius.

    “Apa itu yang dikatakan bahagia? Bu…. jangan ibu sembunyikan gejolak yang ibu miliki itu. Ibu masih muda, cantik dan berkecukupan. Saya bisa memberi apa yang tidak ibu dapatkan dari suami ibu….” kata Pak Darius dengan kurang ajar.

    “Dari mana bapak tahu, saya tidak bahagia dalam masalah ranjang? Apa yang membuat bapak berpikir begitu?” jawab Rita ketus.

    “Lah dari cerita ibu tadi. Pembicaraan ibu tadi menjurus-jurus ke arah sana kan?” jawab Pak Darius. Mendengar jawaban Pak Darius, Rita menyesal telah membicarakan hal-hal yang menjurus ke masalah seks. Pada kenyataannya, apa yang yang dikatakan Pak Darius tentang hubungan di atas ranjang dengan suaminya memang benar, tapi Rita berusaha keras untuk menyangkalnya.

    “Lagipula, tadi saya perhatikan, ibu ngeliatin barang saya. Saya tahu, jauh di dalam diri ibu, ibu ingin merasakan barang saya kan? Ibu ingin sekali merasakan kehangatan yang dapat saya berikan dengan barang punya saya ini kan?” sambung Pak Darius sambil memegang selangkangannya. Rita tersentak kaget, ia tidak menyangka Pak Darius tadi memperhatikannya ketika ia secara tidak sengaja menatap daerah selangkangannya. Tapi apa yang dikatakan Pak Darius barusan juga benar, dalam benaknya Rita ingin sekali menikmati penis besar milik Pak Darius, ia ingin kembali menikmati kepuasan seksual seperti yang diperolehnya dari kedua narapaidana 3 bulan yang lalu.

    Lalu tiba-tiba Pak Darius berdiri dan melepaskan sabuknya, lalu melepaskan kancing dan resluiting celana birunya, lalu memelorotkannya hingga sebatas mata kaki, hingga tampaklah penisnya yang hitam besar sudah mengeras dan mengacung.

    “Pak…apa-apaan ini!” seru Rita, tapi matanya terus menatap selangkangan Pak Darius. Rita terpana menatap penis Pak Darius mengacung tegak ke arahnya. Penis hitam itu terlihat begitu kokoh dengan urat-urat di sekujur batangnya dan kepala penisnya yang hitam kemerahan.

    “Ibu boleh pegang kok kalau mau….,” ejek Pak Darius. Rita tak menjawab, tanda menolak walaupun sebenarnya Rita ingin sekali memegang penis yang besar dan panjang itu, tapi ia harus menjaga wibawa dan gengsinya agar Pak Darius tidak semakin melecehkannya.

    Lalu Pak Darius kembali merangkulkan tangannya ke bahu wanita cantik itu dan kembali ditepis oleh Rita. Pak Darius pun maklum, tetapi ia tetap bertekad untuk mewujudkan impiannya untuk dapat menggauli Rita yang ia kagumi kemolekan tubuhnya dari dulu. Pak Darius tidak mau menyerah, ia lalu terus mendekat kearah Rita, sambil berkata.

    “Buuuu… Saya merasa suka dengan Ibu.” Rita hanya terdiam. Namun tangannya masih di genggam Pak Darius.

    Lalu Pak Darius mendekatkan mulutnya dan ia tiupkan nafasnya ke tengkuk Rita. Rita bergidik, ia merasa khawatir dengan sikap orang ini. ia kenal baik dan orang ini seperti ingin sesuatu darinya. Jelas sekali bahwa Pak Darius menghendaki hubungan yang intim antara pria dan wanita.

    “Kita bisa melakukannya dengan diam-diam, bu. Selama ibu masih bisa menutup rahasia itu siapapun tidak akan tahu,bu..?” bisik Pak Darius ke telinga Rita berusaha membujuk.

    Lalu Rita menjauh.

    “Lagipula sudah tidak ada siapapun di gedung ini kecuali ibu dan saya, kita bisa melakukannya di sini, tidak ada yang akan tahu,” sambung Pak Darius.

    “Saya akan memenuhi semua permintaan ibu. Kita saling membutuhkan dan menguntungkan lah. Saya dapat memuaskan dahaga ibu, dan ibu dapat memuaskan hasrat saya yang sudah terpendam sekian lama, bagaimana?” kembali Pak Darius mencoba untuk menawar.

    Sesaat Rita bimbang. Rita kini dilanda dilema. Di satu sisi perasaan Rita berusaha mengingatkannya agar segera tersadar dari godaan dan teringat pada suaminya, ia tidak mau mengkhianati suaminya lagi. Rita sudah merasa berdosa ketika dulu telah menerima dan terhanyut dalam permainan seks liar dengan dua orang asing di rumahnya.Namun terdapat sisi yang lain lagi, sisi yang lebih menuntut dan lebih kuat mengeluarkan semua pancaran nafsu birahi yang selama ini ia simpan, tubuhnya membutuhkan pemuasan, dahaga yang selama ini ia rasakan ingin sekali dilampiaskan. Kepuasan yang ia harapkan datang dari suaminya tidak kunjung ia dapatkan.

    Rita dengan ragu membiarkan Pak Darius meraih dan meremas tangannya. Lalu Pak Darius meraih bahu Rita dan memandang matanya dalam-dalam. Setelah itu Pak Darius kembali meraih tangannya dan menarik Rita ke pelukannya. Rita ingin berontak namun ia segan dan merasa serba salah. Dalam dirinya, ia ingin memuaskan nafsu birahinya yang selama ini tidak pernah terpuaskan, tapi di lain pihak ia tidak mau melakukan kesalahan seperti 3 bulan yang lalu. Merasa mendapat kesempatan, Pak Darius tidak menyia-nyiakannya

    Karena suasana mendukung, dimana hanya tinggal mereka berdua yang berada di dalam kantor berbentuk ruko 4 lantai itu, ditambah suasana hujan lebat di luar gedung kantor mereka, maka Rita mulai terhanyut dalam pelukan Pak Darius yang seusia dengan ayahnya. Rita awalnya menolak ketika dari Pak Darius mulai memeluk tubuhnya dari belakang dan merabai sekujur tubuhnya. Pak Darius kemudian membalikkan tubuh Rita agar memudahkan mereka untuk berciuman bibir sambil berpelukan. Jarak mereka kini begitu dekat sehingga Rita bisa merasakan hembusan nafas Pak Darius pada wajahnya. Rita menepis tangan pria itu ketika hendak meraba payudaranya.
    “Kenapa Bu? bukannya ibu juga pengen kan…?” ejek Pak Darius
    “Bajingan!” umpatnya dalam hati.

    Dengan berat hati diapun membiarkan payudaranya dipegang oleh Pak Darius. Pria itu juga mengendusi daerah lehernya yang jenjang. Wangi badan Rita yang bercampur parfum menaikkan birahinya sehingga bibir tebalnya langsung menciumi pipi wanita cantik itu. Rita memejamkan mata menahan jijik, kumis dan brewok pria tua itu yang keriting menyapu wajahnya yang mulus. Dia memalingkan muka ke arah lain ketika bibir laki-laki tua itu makin merambat ke bibirnya.
    “Jangan…emmhh !” baru mau memalingkan wajah kedua kalinya, Pak Darius sudah melumat bibirnya dan meredam protesnya.

    Spontan bulu kuduk Rita berdiri karena jijik, dia meronta berusaha melepaskan diri, namun entah mengapa ada hasrat menggebu-gebu yang menginginkan tubuhnya dimanja sehingga perlawanannya pun hanya setengah tenaga. Bibirnya yang tadinya dikatupkan rapat-rapat mulai mengendur sehingga lidah laki-laki tua itu masuk dan bermain-main dalam mulutnya. Perasaan Rita campur aduk antara marah, jijik dan terangsang, apalagi Pak Darius terus menggerayangi tubuhnya dari luar pakaian. Berangsur-angsur rontaannya berkurang hingga akhirnya pasrah menerima apapun yang dilakukan pria itu. Rita mulai membalas cumbuan pria itu, lidahnya kini bertautan dengan lidahnya. Desahan tertahan terdengar di antara percumbuan yang makin panas itu.

    Merasa lawannya telah takluk, Pak Darius mempergencar serangannya. Pak Darius mendorong pelan tubuh Rita sehingga tubuh sintal tersebut bersandar di sandaran tangan sofa. Pagutan bibir pun kini terlihat semakin liar terjadi antara keduanya.

    “Aaah…tubuh Ibu wangi,” Pak Darius berbisik di telinga Rita setelah beberapa saat lalu menelusuri leher dan pundaknya.

    “Oohh……,” Rita hanya melenguh pelan karena desahan Pak Darius terasa geli dan nikmat di sekujur tubuhnya. Mereka pun kembali berciuman. Rita memejamkan matanya dan ekspresi wajahnya memancarkan kenikmatan dan kepasrahan yang luar biasa. Mau tidak mau, suka tidak suka, tubuh Rita memang merindukan sentuhan laki-laki karena suaminya jarang memberikan kepuasan seksual kepadanya.

    Tubuh mereka berdekapan begitu erat, Rita dapat merasakan penis Pak Darius yang mengeras tanpa celana mengganjal selangkangannya. Tangan Pak Darius yang tadinya cuma meremas payudara dari luar mulai menyusup masuk lewat sela-sela kemeja yang mana satu kancingnya telah terbuka dan langsung menyusupi cup BHnya dan tangan satunya masih tetap meremasi pantatnya.

    “Eennghh…..!” Rita makin mendesah merasakan jari-jari besar itu menyentuh putingnya serta memencetnya. Lidahnya semakin aktif membalas lidah Pak Darius hingga masuk ke mulut pria itu menyapu rongga mulutnya, tangannya pun tanpa disadari memeluk tubuh tegapnya. Nafasnya makin memburu dan gairahnya makin naik. Mulut Pak Darius turun ke dagunya, bawah telinga, dan leher. Tangan laki-laki tua itu yang satu lagi ikut menyusup lewat bawah kemejanya sehingga kini pakaian itu setengah tersingkap. Sambil mempermainkan kedua payudara wanita itu, Pak Darius menciumi leher jenjangnya. Dengan penuh penghayatan disedotnya kulit leher samping yang putih mulus itu.
    “Sshhh…jangan terlalu depan Pak…eeemm…ntar bekasnya keliatan” Rita mengingatkannya dengan suara lirih.
    “Gak usah kuatir Bu, saya juga ngerti kok,” katanya.
    Rita semakin mendesah, pipinya bersemu merah ketika merasakan lidah pria itu yang basah pada telinganya, menggelitik dan memancing gairahnya.

    Merasa tidak ada lagi penolakkan dari Rita, maka Pak Darius meningkatkan serangannya kearah payudara Rita yang masih tertutup kemeja dan BH itu. Sebelah tangannya meraih payudara kiri Rita. Amat terasa sekali kelembutan dan kehalusannya. Rita hanya memejamkan matanya. Rasa penolakan dan bangkitnya nafsu saling muncul di kepalanya. Namun Rita seakan tidak mampu untuk mengadakan penolakan. Iapun lalu meraih kepala Pak Darius yang berambut tipis, keriting dan beruban sehingga terlihat ketuaannya itu. Kemejanya telah acak-acakan karena kenakalan tangan Pak Darius.

    “Ooohh… oohh…,” tangan Pak Darius terus membelai sekujur tubuh wanita cantik tersebut. Sambil berciuman tangan Pak Darius mulai bergerilya melepasi satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Rita sehingga BHnya yang berwarna hitam berenda mulai terlihat. Rita yang kini mulai terbakar birahi membiarkan Pak Darius melakukan aksinya sampai akhirnya kancing terakhir terbuka. Tangan Pak Darius pun kini dapat menggenggam payudara padat yang masih tertutup BH hitam berenda tersebut.

    “Kenyal dan padat!,” Pak Darius berkomentar ketika tangannya semakin gencar meremasi bongkahan daging montok Rita. Pak Darius kembali langsung menyusupkan tangannya ke dalam cup BH itu menyentuh payudaranya.

    “Aaaahhh…!,” Rita mendesah lirih ketika Pak Darius meremas payudaranya, lalu kedua tangannya melepaskan kemeja wanita cantik tersebut dan membiarkan jatuh ke lantai beralaskan karpet itu, memperlihatkan dengan jelas payudaranya yang masih tertutup BH dan perutnya yang rata.

    Tubuh putih Rita terlihat mulai berkeringat karena gejolaknya, padahal hawa dalam ruangan itu cukup dingin karena AC dinyalakan. Aroma tubuh Rita memancing Pak Darius untuk terus menikmati inci demi inci sekujur tubuh wanita cantik yang merupakan atasannya itu. Begitupun yang terjadi pada diri Rita, ia tidak lagi sadar tentang apa yang akan terjadi pada dirinya saat itu. Segenap syaraf akal sehatnya seakan lumpuh dan melupakan dengan siapa ia bergumul saat ini. Dalam keasyikan dua jenis mahluk berlainan jenis yang berbeda usia dan status itu akhirnya membuat mereka sangat dekat.

    Pak Darius kembali mengincar bibir lembut Rita. Kini kembali keduanya saling pagut dan saling mengadu lidah.

    “Sudah Pak…jangan disitu !” Rita semakin mendesah waktu Pak Darius hendak merogohkan tangannya lewat bawah rok spannya. Pak Darius tidak mempedulikan kata-kata Rita yang berusaha mencegah tangannya bermain di daerah selangkangan Rita. Bahkan tangan kanan Pak Darius saat ini sudah masuk ke dalam rok span Rita. Sambil tetap berpagutan bibir, laki-laki tua itu dengan leluasa dapat memainkan jari-jari tangannya di permukaan vagina Rita yang masih terbungkus celana dalam. Tangan-tangan nakal Pak Darius pun kini mulai melepaskan kaitan dan menurunkan resluiting rok span yang dikenakan Rita. Sedetik kemudian rok span pendek itu pun meluncur turun ke lantai. Tanpa terasa keadaan tubuh Rita semakin tidak beraturan. Bagian penting dari tubuhnya kini hanya tertutup BH dan celana dalam saja.

    Tangan Pak Darius kembali meremas payudara Rita, sedangkan tangannya yang satu lagi mulai menyusup lewat atas celana dalamnya. Rita menggerakkan tangannya menahan tangan pria itu yang ingin masuk. Namun penolakan itu dilakukannya hanya dengan setengah hati karena walaupun merasa dilecehkan di saat yang sama dia juga sudah terhanyut dalam pemanasan yang dilakukan oleh Pak Darius.

    Setelah menyentakkan perlahan tangannya, pegangan Rita pun lepas dan langsung ia menyusupkan langannya ke balik celana wanita itu. Pak Darius merasakan bulu-bulu lebat yang tumbuh pada permukaan vaginanya juga sedikit basah pada bagian belahannya.
    “Oohh…mmmhh…tolong hentikan !” desahnya antara mau dan tidak.
    Desahan itu membuat Pak Darius semakin bernafsu, dengan nakal jari-jari besarnya menggerayangi daerah sensitif itu.

    “Aahh…aahh…saya mohon…nngghh….jangan teruskan” desahnya.
    “Hehehe…Ibu ini masih pura-pura aja, udah becek gini masih sok menolak” ejek Pak Darius.

    Pak Darius melebarkan kedua paha Rita sehingga dapat lebih menjelajahi vaginanya lebih luas. Rita tersentak saat jari pria itu memasuki liang vaginanya melalui sela-sela celana dalamnya dan mulai mengorek-ngoreknya. Tubuhnya mengejang dan kelojotan ketika jari Pak Darius menyentuh klitorisnya. Digesek-geseknya klitorisnya dengan jari sehingga membuat wanita itu semakin seperti cacing kepanasan.
    Rita yang sudah pasrah hanya bisa mendesah saja merasakan jari-jari pria itu mengaduk vaginanya. Perlahan-lahan tapi pasti, Rita mulai teransang

    “Aaakkhh…aahh!” Rita semakin tidak tahan karena jari-jari Pak Darius semakin cepat keluar masuk vaginanya.

    “Ooohh…!” tak terasa Rita mendesah merasakan gerakan lincah jari Pak Darius pada klitorisnya yang membuatnya serasa melayang. Rita merasakan ada suatu sensasi aneh dalam dirinya, walaupun jijik dan tidak rela, dia menginginkan pria tua ini terus melakukannya. Matanya membeliak-beliak dan vaginanya semakin berlendir tanpa bisa ditahannya. Setelah sekitar lima menit Pak Darius merogoh-rogoh celana dalam Rita dengan diselingi beberapa ciuman, Pak Darius kemudian secara tiba-tiba menarik jarinya dari vagina wanita cantik itu lalu bangkit berdiri. Rita tampak kecewa Pak Darius menghentikan jarinya secara tiba-tiba ketika ia sedang merasakan kenikmatan dan sedikit lagi mendekati klimaks. Nampak lendir kewanitaan Rita membasahi jari-jari besar Pak Darius, lalu lak-laki tua itu menjilati cairan yang membasahi jarinya.

    Merasa tanggung dan terlanjur teransang, Rita berdiri dan langsung mendorong dada laki-laki tua dengan kedua tangannya hingga tubuh tambun itu terjungkal ke belakang dan kembali terduduk di sofa. Rita langsung berlutut di depan Pak Darius, kedua tangannya membuka lebar-lebar selangkangan pria tua itu. Sejenak Rita terpana melihat keperkasaan penis Pak Darius yang hitam berurat itu, lalu dia menggerakkan tangannya menggenggam penis itu, rasanya hangat dan berdenyut, lalu tangannya mulai mengocok batang itu secara perlahan.
    “Hoo…ho…kayanya sudah nafsu gitu Bu,” ejek Pak Darius.
    “Sudahlah Pak, nikmati saja atau enggak sama sekali” jawab Rita ketus. Pak Darius sontak terdiam.

    Rita lalu membungkukkan tubuhnya lalu dengan bernafsu menjilati seluruh batang penis Pak Darius, terkadang buah pelirnya pun diemut. Dengan cekatan wanita cantik itu memberikan pelayanan oral kepada sang satpam. Dengan lidahnya dia jilati kepala penis itu sehingga batang itu beserta badan pemiliknya bergetar.
    “Oohhh…enak…aaahhh… banget Bu, udah pengalaman yah keliatannya !” desah Pak Darius saat menerima serangan pertama dari wanita cantik itu. Rita terus melakukan aktivitasnya tanpa menghiraukan celotehan laki-laki tua itu, yang terpikir di benaknya kini adalah pemuasan birahi secara total.

    “Jepitan rambutnya saya lepas yaa, bu,” kata Pak Darius sambil tangannya melepaskan jepitan di rambut Rita yang disanggul ke atas. Rita yang di bawah sana membiarkan jepitannya dilepas sehingga rambut panjangnya tergerai, sedangkan dirinya terus mengoral dan mengocok penis lelaki tua itu secara bergantian. Sesekali tangan Rita mengocok-ngocok batang penis tersebut ketika ia memainkan lidahnya pada zakar Pak Darius.

    Kemudian Rita menyibak rambut panjangnya dan membuka mulut mengarahkan penis itu ke mulutnya. Pak Darius mengerang nikmat. Beberapa detik pertama Rita membenamkan penis itu dalam mulutnya, batang penis itu dikulum-kulum dalam mulutnya dan juga diputar-putar dengan lidahnya, tangannya pun memijati buah zakarnya dengan lembut.

    Di dalam lidahnya bergerak mengitari penis itu dan ujungnya, Pak Darius sendiri mengerang-ngerang merasakan sensasi pada penisnya. Kepala Rita kini mulai maju-mundur sambil menyedoti penis itu, terasa asin dan aromanya tidak sedap, tapi Rita sudah tidak peduli lagi, lidahnya bergerak liar menyapu batang dan kepala penisnya yang mirip jamur. Dia mengintensifkan permainannya terhadap penis itu, gerakan menyedot dan menjilat divariasikannya dengan lihai.

    Sembari duduk, Pak Darius kadang terlihat aktif mengocok-ngocokkan batang penisnya ke dalam mulut Rita. Wanita cantik itu pun berusaha bertahan agar tidak tersedak karena beberapa kali ujung penis pria tua itu terasa menyentuh kerongkongannya. Rita mengisapi kepala penis Pak Darius tanpa canggung, kadang lidahnya menjilati ujungnya sehingga pria tambun itu belingsatan keenakan.
    “Aarghh…saya…mau keluar, stop dulu Bu…stop !” erang pria tua itu.

    Rita tidak mempedulikan kata-kata Pak Darius, Rita yang menyadari lawan mainnya akan segera keluar mempergencar serangannya, kepalanya maju mundur semakin cepat, ia terus menghisap, menggulum lalu mengocok batang penis milik pria tua itu, hingga pada akhirnya Pria tua yang tambun itu mencapai ejakulasi. Cairan putih kental menyembur deras dari penisnya dalam genggaman Rita, mengenai wajah, dada dan perutnya yang rata. Rita tersenyum puas berhasil mengerjai Pria tua mesum ini.

    Rita mengambil tissue yang disediakan di meja untuk membersihkan cairan sperma dari wajah dan tubuhnya. Lalu Rita bangkit berdiri untuk mulai melepaskan penutup yang masih melekat di tubuhnya. Awalnya, ia melepaskan sepatu kerja tanpa hak yang sedari tadi masih ia kenakan. Kemudian kedua tangannya bergerak perlahan ke belakang punggungnya berusaha untuk meraih kait BH yang terdapat di belakang punggungnya. Kemudian kedua tanganya mulai meloloskan tali BH dari kedua pundaknya yang mulus, lalu perlahan BH hitam berenda yang berukuran 34C itu merosot dari tempatnya. Sepasang payudara yang putih mulus mencuat telanjang, payudara yang bulat padat dan kenyal dengan puting berwarna coklat muda. Rita membungkuk dan tangannya berusaha meraih dan melepas lembaran terakhir yang melekat di tubuhnya,lalu kedua jari-jarinya bergerak secara perlahan ke samping kiri dan kanan pinggulnya, jari-jarinya diselipkan disamping Cd yang juga berwarna hitam, kemudian secara perlahan memelorotkan ke bawah. Kini Rita sudah bediri telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.

    Melihat pemandangan erotik itu membuat Pak Darius terbengong-bengong. Dia tidak menyangka, akhirnya ia dapat melihat secara nyata kemolekan tubuh Rita tanpa busana. Karena selama ini,hal tersebut hanya menjadi fantasi seksualnya ketika ia masturbasi di kamar mandi atau toilet kantor. Sesaat Pak Darius menikmati kemolekan tubuh telanjang Rita yang ada di hadapannya. Wajah oriental yang cantik dihiasi dengan rambut panjang sebahu, payudara yang kencang dan montok, perut yang rata tanpa lipatan, pinggang yang lansing, pinggul yang indah serta kakinya yang jenjang. Benar-benar sempurna, seperti mimpi menjadi kenyataan pikirnya dalam hati.

    “Hey…koq malah bengong….buka bajunya!” perintah Rita membuat Pak Darius tersadar dari lamunannya. Buru-buru laki-laki tua itu melepas celana yang sudah melorot di mata kakinya serta sepatu yang dipakainya. Lalu kemeja putih seragam satpam dan kaus dalamnya menyusul. Kini Pak Darius juga dalam keadaan telanjang bulat.

    Sesaat Rita memperhatikan tubuh telanjang Pak Darius, wajah jeleknya yang dihiasi brewok yang lebat dapat dikatakan jauh dari tampan, tubuhnya yang tegap dan gempal, berperut agak gendut dan berkulit hitam legam, bulu lebat tumbuh hampir di sekujur tubuhnya. Rita membandingkan fisik Pak Darius yang tidak jauh berbeda dengan Black, narapidana yang pernah menidurinya.

    Pak Darius menhampiri tubuh telanjang Rita, matanya seakan tidak berkedip melihat tubuh telanjang Rita.

    “Wow, tetek ibu gede juga yah, montok dan kenceng lagi, kayanya enak dipake nyusu, boleh ya bu” pintanya dengan kedua tangannya hendak menjamah kedua payudara Rita yang montok.
    “Pak, please deh, ternyata bapak tuh banyak omong!” jawab Rita ketus sambil tangannya meraih kepala lelaki tua itu, menarik dan memaksanya sehingga wajahnya menempel di payudaranya. Tanpa membuang waktu lagi, Pak Darius segera melumat payudara kanan Rita yang kenyal itu dengan gemas. Kepala Pak Darius segera turun ke bawah, bibirnya yang tebal melumat tanpa ampun puting susu yang sedari tadi terlihat menantang. Bibir pria tua itu lalu mencium dan lidahnya menjilat seluruh area buah dadanya. Rita mendorong dadanya ke depan agar Pak Darius bisa lebih leluasa menikmati payudaranya. Gigi pria tua itu bahkan menggigiti daerah ujung pentilnya, membuat sensasi kenikmatan menjalar dari dada ke seluruh tubuh, bahkan jari kaki Rita sampai merenggang karena keenakan!

    “Oooooh!” lenguh Rita menahan nikmat.

    Pak Darius bisa merasakan tubuh Rita yang gemetar dan menggelinjang karena rangsangan hebatnya pada puting payudaranya. Dengan sigap lidah Pak Darius melingkari pentil yang masih menonjol keluar. Hal ini membuat Rita makin salah tingkah, tubuhnya melengkung ke belakang, matanya terpejam, sambil terus mendorong payudaranya ke mulut pria tua itu yang terus meransangnya.

    Pak Darius kembali menurunkan kepalanya ke payudara kiri Rita. Dengan sigap ia menangkup puting kiri Rita dengan mulutnya dan kembali menyebarkan sengatan kehangatan ke seluruh tubuh wanita cantik itu. Rita itu hanya bisa megap – megap menggapai nafas ketika gigi Pak Darius mengunyah puting payudaranya, setelah pentil itu menonjol, lidah Pak Darius ganti menjilati sisi areolanya.

    Merasa sudah menguasai diri Rita, Pak Darius kemudian menarik tangan Rita dan menggiring Rita kembali ke sofa panjang yang empuk itu. Di sofa itu lalu ia baringkan tubuh yang sangat cantik dan menggoda itu dengan hati-hati. Ritapun menurut saat dibimbing Pak Darius untuk rebah di sofa yang biasa ia pakai untuk bertemu tamu atau kliennya.

    Rita terbaring dalam keadaan tubuh yang basah oleh keringatnya sendiri akibat reaksi dari rangsangan yang diberikan Pak Darius. Pak Darius perlahan-lahan mendekati Rita yang tergolek lemas di sofa. Pria tua itu kembali memainkan payudara Rita.

    “Ahh…”, Rita mendesis merasakan perasaan aneh karena belaian pada payudaranya, jari-jari pria tua itu juga memencet putingnya sehingga seperti bulu kuduknya berdiri semua.
    “Eengghh..!”, desisnya lebih keras ketika tangan Pak Darius meremas payudaranya.

    Lelaki tua itu kemudian kembali menjilati puting payudara Rita dengan lidahnya. Ujung lidahnya kadang menyentil-nyentil ujung puting payudara itu, sesekali Pak Darius mengulum dan mengenyot payudara Rita.. Seketika Rita merasa tubuhnya seperti meremang, dia bergerak dengan gelisah dan megelinjang tak terkendali. Sesekali kakinya menggeliat kecil seperti menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam tubuhnya.
    “Ahhhh… Ohhhhh…”, Rita mulai mengeluarkan desahan-desahan tertahan.

    Pak Darius tahu Rita sudah mulai kembali terangsang karena itu dia makin gencar melakukan serangan di setiap jengkal kemulusan tubuh Rita. Kemudian lidah Pak Darius menyusuri perut Rita yang rata, terus ke bawah dan ketika sampai di daerah selangkangan, pria tua lalu merangkul pinggang ramping itu membawa tubuhnya lebih mendekat. Paha mulus itu lalu dia ciumi inci demi inci sementara tangannya mengelusi paha yang lain. Rita merinding merasakan sapuan lidah dan dengusan nafas pria itu pada kulit pahanya membuat gejolak birahinya makin naik.

    Pak Darius lalu membuka paha Rita, lalu membenamkan wajahnya pada vagina wanita itu. Tubuh Rita menggelinjang begitu lidah Pak Darius yang panas dan kasar itu menyapu bibir kemaluannya, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir merasakan sensasinya.

    “Aahhh… aahhh…!”, Rita mendesah menikmati saat lidah Pak Darius menelusuri gundukan bukit kemaluannya. Rita melebarkan kakinya sehingga memberi ruang lebih luas bagi Pak Darius untuk menjilatinya. Tubuh Rita seperti kesetrum ketika lidah Pak Darius yang hangat membelah bibir kemaluannya memasuki liangnya serta menari-nari di dalamnya. Rita semakin tak kuasa menahan kenikmatan itu, tubuhnya bergerak tak karuan sehingga Pak Darius harus memegangi tubuhnya.

    “Aahhh…aaahh…oohh,”desahnya dengan tubuh bergetar merasakan lidah Black memainkan klitorisnya.

    Sekitar lima belas menitan Pak Darius menikmati vagina Rita sedemikian rupa, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris wanita itu menghanyutkannya dalam permainan liar ini.

    “Oookkkhhhhh…. aahhhhhhh…,” Rita mengerang kuat-kuat dengan tubuh mengejang.

    Lelaki tua itu terus menyedoti bibir vagina Rita sehingga tubuhnya makin menggelinjang. Orgasme pertama setelah sekian lama terasa begitu dahsyat. Rasa dahaga selama 3 bulan ini terasa terlampiaskan. Rita tersenyum.

    Tapi Rita belum puas. Ia masih ingin merasakan benda di selangkangan Pak Darius yang hitam, besar dan panjang itu memasuki dirinya. Pak Darius pun berpikiran sama, ia masih ingin merasakan kehangatan tubuh molek Rita.

    Perlahan Darius mulai menarik kedua belah kaki jenjang Rita ke arah luar sehingga terpentang lebar membuat vaginanya terkuak. Laki-laki tua itu pun segera menyiapkan ‘senjatanya’. Awalnya Pak Darius memberi ludah pada telapak tangannya, secara perlahan ia menggenggam batang penisnya dan secara perlahan mulai mengocoknya. Penis hitamnya yang besar lambat laun kembali mengacung tegak siap untuk di masukkan.

    Pak Darius lalu membuka lebar kedua kaki Rita yang masih mengangkang sehingga berada di kedua sisi pinggulnya yang kekar. Kemudian laki-laki tua itu menempelkan ujung kepala penisnya ke vagina Rita. Setelah penis Pak Darius mengeras sepenuhnya dalam genggamannya, dia lalu mengarahkan penisnya yang panjang dan hitam legam itu ke arah bibir vagina Rita, siap untuk dibenamkan ke dalamnya.

    Baca Juga : The Amulet

    Pak Darius berusaha memasukkan penisnya secara hati-hati, ia tidak mau Rita kesakitan sehingga dapat menyebabkan Rita berubah pikiran. Pak Darius secara perlahan mendorong penisnya masuk ke dalam vagina Rita.

    “Aahhh !!” Rita mendesah nikmat merasakan batang yang kokoh itu menerobos masuk memberi kenikmatan. Dia merasakan penis itu begitu besar dan keras, tidak kalah dari milik Black dan Obenk yang pernah dirasakannya. Ternyata perkiraan Pak Darius salah, Rita tidak merasakan rasa sakit dan ia pun tidak menemui kesulitan yang berarti ketika penisnya memasuki vagina Rita, membuat laki-laki tua itu jadi bingung dan penasaran.

    “Kayanya ibu pernah selingkuh yaaa….soalnya saya nggak yakin kontol suami ibu segede punya saya,” kata Pak Darius sedikit menghina. Mendapat hinaan seperti itu, Rita mencapai batas kesabarannya dan lansung mendorong tubuh gempal itu dari atas tubuhnya dan melepaskan diri dari Pak Darius, lalu menjawab dengan ketus.

    “Begini saja, pak…..kalau bapak masih pengen terus, tolong jangan bawa-bawa suami saya dan tolong jangan banyak tanya-tanya!” jawab Rita ketus.

    Mendengar omelan Rita, Pak Darius hanya dapat meminta maaf dan mengangguk memberi persetujuan.

    “Ma…ma…maaf, bu Rita, maafkan kelancangan saya,” kata Pak Darius menyadari kebodohannya dapat mengacaukan keinginannya meniduri Rita.

    Rita memerlukan waktu beberapa saat untuk menenangkan diri kembali dan berusaha memaafkan perkataan Darius tadi serta melupakan kemarahannya. Rita berusaha untuk kembali rileks agar ia dapat kembali menikmati tindakannya ini.

    Setelah Rita dapat kembali rileks, ia kembali berbaring di sofa dan membiarkan Pak Darius kembali menindihnya. Pak Darius kemudian kembali memasukkan penisnya ke vagina Rita dan mulai menggerakkan pantatnya secara perlahan maju mundur untuk menggenjot kemaluannya ke dalam liang vagina Rita. Selain itu kedua tangannya memegangi pinggang Rita agar tetap di tempatnya. Birahi Rita yang tadi sempat terhenti, kini kembali meninggi mengikuti naluri seksnya. Rita menikmati genjotan Pak Darius yang makin lama makin cepat itu. sementara kedua tangannya kebelakang sambil meremas-remas pegangan sofa.

    Sementara Rita semakin menikmati persetubuhan itu, dia mulai mengimbangi gerakan Pak Darius dengan menggerakkan pantatnya sendiri maju mundur. Respon yang diberikan Rita membuat Pak Darius makin bersemangat. Rita merasakan batang penisnya menyentuh seluruh rongga vaginanya, terasa sangat penuh, sampai akhirnya Rita merasakan penis pria tua itu berdenyut denyut di dalam rongga vaginanya dan Rita sendiri sudah akan mencapai klimaks.

    Tiba-tiba Pak Darius melepaskan penisnya lalu meminta Rita untuk menungging di atas sofa. Rita yang sudah sangat teransang hanya menurut saja. Rita menungging dengan kedua tangannya berpegangan pada sandaran tangan sofa. Lalu Pak Darius kembali memasukan penisnya ke dalam vagina Rita dari belakang dengan gaya doggy style. Kedua tangan kekarnya memegang pinggul Rita dan menariknya hingga posisi pantat Rita kini merapat dengan pinggul laki-laki tua itu, membuat penisnya terbenam seluruhnya di dalam vaginanya. Rita mendesah lirih, matanya terpejam sambil menggigit bibirnya sendiri dan badannya kembali menegang keras. Lalu mulailah Pak Darius menggenjot kembali vagina Rita dengan kedua tangan memegangi pinggul Rita. Dia mulai memaju-mundurkan kemaluannya mulai dari irama pelan kemudian makin cepat sehingga membuat tubuh Rita tersodok-sodok dengan kencangnya.

    “Aahh.. aahh.. aahhh.. oohh….. oohh..”, Rita kembali mendesah saat Pak Darius menggenjotnya lagi. Tubuhnya sekarang basah oleh keringat. Payudaranya yang kenyal menggantung indah bergoyang-goyang seirama genjotan Pak Darius. Perlahan Pak Darius,mulai menjamah payudara Rita dari belakang, sambil terus menggenjot vaginanya, laki-laki tua itu juga meremas-remas payudara Rita. Erangan-erangan Rita semakin keras, badan dan kepala semakin bergoyang-goyang tidak beraturan mencari titik-titik nikmat di dalam vaginanya. Rita menjerit-jerit merasakan penis Pak Darius menggenjot vaginanya dengan cepat, kepalanya bergoyang keras ke kiri dan ke kanan, matanya terpejam sambil menggigit bibirnya, menahan nikmat yang luar biasa. Selama hampir 20 menit lamanya Pak Darius menyetubuhi Rita, sungguh sebuah ketahanan yang luar biasa membuat Rita secara diam-diam takjub.Tak tahan mendapat rangsangan sedemikian hebat, tubuh Rita mengejang.

    Tapi Pak Darius belum mau selesai, ia kemudian memegang pinggul Rita dari belakang dan mulai mempercepat pompaan penisnya pada vagina Rita.
    ”Aahh… uuuhhh… aaaggghhh… uuuggghhhh…..”, terdengar jeritan tertahan Rita disertai deru nafasnya yang terengah-engah. Badan Rita terguncang-guncang keras maju mundur, tangannya dengan keras mencengkeram sandaran tangan sofa, kedua payudaranya yang padat bergoyang cepat, kepala terdongak ke atas dan bibirnya terkatup rapat antara menahan sensasi yang ia rasakan dalam vaginanya. Tubuh Rita yang telah mandi keringat tergoncang-goncang dan kedua payudaranya terayun kesana-kemari.

    Rita hanya bisa mengerang-erang merasakan kenikmatan pada vaginanya.
    ”Aaaaahhhh……. oohhhh…. aahhkkhhhh… ooohhhhh…..”,desah Rita. Gerakan liar Rita membuat Pak Darius makin bernafsu, ia semakin cepat memompa vagina Rita. Rita sengaja melebarkan kakinya bahkan menyodorkan pantatnya memberikan kesempatan kepada Pak Darius untuk terus memompa vaginanya dengan lebih cepat lagi.

    “Aaahh…… oohhh…”,Rita mulai meracau dengan mata tertutup.

    “Aggghhhhhh… ,” Rita mengerang kuat, seluruh energinya tumpah keluar saat kembali mengalami orgasme, sedangkan di saat yang sama Pak Darius masih terus mengenjot vagina Rita.

    “Bapak ….sudah… mau… keluar nih, mau di luar…atau di …dalamm,..bu,”tanya Darius tanpa menghentikan sodokannya.

    “Ter……serahhhh…..di dalam juga….engh…engh….nggak pa-pa….engh…engh…saya lagi aman koq,” jawab Rita sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru diperoleh- nya.

    “Aaaaaaarrrrgghhhh ..,” laki-laki tua itu juga mengerang, badannya melengkung ke atas sambil wajahnya menunjukkan ekspresi puas luar biasa dan kemudian spermanya menyembur bagitu banyak di dalam rongga rahim Rita. Akhirnya tubuh kedua insan yang baru saja melakukan persenggamaan itu melemas kembali. Pak Darius selama beberapa saat membiarkan tubuhnya tetap menindih tubuh putih mulus Rita tanpa melepaskan penisnya dari vaginanya, mencoba merasakan sebanyak mungkin kenikmatan dari tubuh wanita cantik itu sepuasnya.
    Tidak lama kemudian, Pak Darius melepaskan penisnya dari vagina Rita. Tampak senyum penuh kepuasan menghiasi wajah kedua insan berbeda suku serta umur yang terpaut jauh. Keduanya lalu terduduk lemas di sofa. Rita tanpa malu-malu lagi menyenderkan kepalanya di dada Pak Darius yang berbulu lebat.

    “Maaf yaa Pak,…..kalau tadi saya judes,” kata Rita membuka percakapan “Karena pada dasarnya saya tidak suka orang lain mencampuri urusan pribadi saya.”

    “Gak apa-apa koq, bu. Memang salah saya, kata-kata saya tadi memang kelewatan, dan saya berpikir ibu pantas untuk marah,” jawab Pak Darius.

    “Lagipula apa yang selama ini saya bayangkan sudah terlampiaskan,” sambung Pak Darius.

    “Maksud bapak?……Selama ini bapak sudah merencanakan hal ini?” tanya Rita curiga.

    “Bb…bukan, bukan….yang tadi spontan koq, bu. Maksud saya, sejak pertama mengenal ibu sekitar setahun yang lalu, saya selalu mengagumi ibu. Terutama keramahan ibu, membuat ibu berbeda dengan karyawan yang lain. Selain itu kecantikan dan kemolekan ibu membuat saya sering berpikiran ngeres, sehingga selama ini saya suka membayangkan ibu telanjang seperti ini sambil onani di toilet atau di kamar saya. Awalnya saya tidak ada maksud sampai nekat seperti ini. Tapi tubuh montok ibu yang selalu kebayang di kepala saya, membuat saya nekat. ” terang Darius dengan jujur.

    Rita menghargai kejujuran Pak Darius, lagipula di sisi lain ia juga menginginkannya setelah menunggu sekian lama.

    “Apalagi saya sudah lama saya tidak ngerasai ngewe dengan perempuan sejak ditinggal istri saya. Mau maen sama perek, takut kena AIDS,” sambung Pak Darius.

    Penjelasan Pak Darius membuat Rita tersenyum geli. Lalu mereka kembali tenggelam pada percakapan yang akrab seperti sebelumnya.

    Sambil mendengarkan cerita, tangan Rita meraih penis hitam Pak Darius yang sudah melemas, di elusnya secara perlahan-lahan. Elusan lembut jemari Rita pada penis Pak Darius membuat penisnya kembali tegak berdiri, sehingga sang sang satpam itu bergetar dan menggelinjang tak kuasa menahan nafsu. Hal itu membuat Rita tersenyum tertahan. Sembari menikmati elusan lembut jemari Rita pada penisnya, pandangan matanya tak ingin lepas dari kesempurnaan Rita, wajah cantik lembut dengan rambut yang terurai indah, kulit putih mulus yang memancarkan keharuman mewangi, payudara sempurna yang sintal dan menggairahkan, pinggang ramping, pantat bulat. Rita diam saja tanpa mempedulikan kekaguman Pak Darius kepadanya dan meneruskan memainkan kemaluan pria tua itu.

    Pak Darius buru – buru sadar dari rasa kagum yang membuatnya terbengong – bengong dan segera kembali ke posisi semula, ia menyenderkan kepalanya ke belakang dan membiarkan wajah Rita yang berada di dekat penisnya. Saat itulah, tanpa malu – malu pria tua itu meraba-raba tubuh Rita membuat wanita cantik itu menggelinjang, wanita muda yang statusnya adalah istri orang itupun tak kuasa menahan desahan demi desahan yang terus menerus keluar dari bibir mungilnya.

    “Auhhhhhmmm, paakkk… jangan… aaaaahhhh…” tangan Rita tak beranjak dari penis Pak Darius, terus meremas dan mengocok penisnya yang besar dan hitam sementara sang satpam terus memainkan tangannya dengan lihai di tubuh dan payudara Rita. Melihat Rita keenakan, Pak Darius terus memainkan jari-jari tangannya di payudara dan ketiak Rita

    “Aaaahh, paaaakkkkk… ouuuhhh, jahaaaat… geli ahhhh!!”

    Rita masih memejamkan mata, ia membiarkan saja tangan Pak Darius bergerak nakal menyusuri setiap inci tubuh telanjangnya.

    “Pak…..?”

    “Iyaaa….,bu?” jawab Darius

    “Pak… aku ingin… mmm… boleh aku…?” tanya Rita malu – malu. “Mmm……Mau nggak bapak bercinta lagi dengan saya?

    “Jelas mau donk, bu, tapi eehhmm….boleh nggak….?”tanya Pak Darius ragu-ragu.

    “Boleh apaan, Pak?” Rita memotong tidak sabar.

    “Eng…anu…boleh ngga saya pengen coba gaya lain ya, seperti di film-film be-ep barat?” jawab Pak Darius.

    “Terserah bapak deh, yang penting saya pengen ngerasain penis bapak lagi,” jawab Rita.

    “Siiiipp bos,” jawab Darius mantap.

    Lalu Pak Darius mengatur posisi Rita sedemikian rupa sehingga wanita cantik itu kini duduk berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya wajah Rita yang cantik itu, wajah itu terlihat sangat penuh birahi, membuat Pak Darius merasa kenikmatannya bertambah.

    “Sekarang ibu yang goyang ya…,” kata Pak Darius. Rita mengangguk dan menyambut ajakan Pak darius dengan senyum penuh birahi. Lalu kaki Rita sekarang melingkari pinggul Pak Darius, lalu keduanya bergantian menggerakkan pinggulnya membuat kemaluan mereka yang bersatu kembali terbenam dalam sensasi seksual yang menggebu.

    Rita mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sementara laki-laki tua itu mengimbanginya dengan mencengkeram pantat Rita dan mendorong pantatnya maju mundur. Sementara bibirnya yang tebal sibuk menyusu pada payudara Rita sambil sesekali mengulum dan menjilati putingnya. Rita mendesah penuh kenikmatan diperlakukan sedemikian rupa. Dan Pak Darius membalas aksi Rita dengan memagut bibirnya kemudian menelusuri leher dan belahan payudara montok wanita cantik itu dengan ciuman-ciuman.

    Selama beberapa menit berikutnya yang terdengan hanyalah gesekan penis Pak Darius di dalam vagina Rita diiringi dengan desahan erotis Rita. Sementara Pak Darius tanpa henti terus mengaduk-aduk vagina wanita cantik itu membuatnya semakin merasa nikmat, pelan-pelan birahi Rita kembali meninggi dan akhirnya mengimbangi setiap gerakan Pak Darius, membuat mereka bisa berpadu dengan serasi dalam mencapai puncak kenikmatan seksual.

    Masih tidak puas dengan gaya itu, Pak Darius lalu melepaskan penisnya dan bangkit dari posisi duduk kemudian membaringkan tubuh Rita di lantai yang dilapisi karpet tipis itu, lalu dia menindihnya kembali. Diciuminya Rita dengan penuh nafsu. Lidah Pak Darius terus menyapu-nyapu bibirnya yang tipis dan akhirnya memasuki mulutnya, liurnya pun tercampur dengan liur Rita. Bau nafasnya yang tidak sedap tidak membuat Rita terganggu. Pak Darius dengan lihainya kembali membangkitkan gairah Rita dengan menggerayangi tubuhnya.

    Naluri seks Rita bereaksi dengan mengimbangi serbuan mulut Pak Darius, digerakkannya lidahnya membalas lidah pria tua itu yang menjelajahi mulutnya. Sesaat kemudian, mulut Pak Darius turun ke dadanya dan langsung menyambar putingnya, tangannya mempermainkan payudaranya yang satunya. Dengan cepatnya nafsu Rita naik lagi, dia mendesah sambil menggigiti jari, sesekali merintih kalau sang satpam itu menggigitnya. Sebentar saja wilayah dada Rita sudah basah bukan cuma oleh keringat tapi juga oleh air liur Pak Darius.

    Pak Darius secara perlahan kembali membuka kedua belah paha Rita dan menempatkan dirinya diantara kedua pahanya dan mengarahkan penisnya ke vagina wanita cantik itu. Digosok-gosokkannya kepala penisnya yang mirip jamur itu pada bibir vagina Rita, membuatnya menggelinjang kegelian. Gairah Rita dengan cepat naik lagi, dia menggenggam penis hitam Pak Darius yang panjang dan besar dan menuntunnya pada liang senggamanya. Badan Rita bergetar begitu penis itu kembali menusuknya, tangannya mencengkram erat bahu Pak Darius. Pria tua itu merasa sangat puas melihat ekspresi wajah Rita yang meringis dan merintih-rintih, Pak Darius melakukannya dengan kombinasi kasar dan halus yang tepat sehingga Rita menikmati hubungan badan keduanya malam ini. Setelah masuk sebagian, Pak Darius menekan pantatnya hingga penisnya pun terdorong masuk ke vagina Rita.

    “Aaahhh…..aaahhh !” terdengar desahan nikmat Rita ketika penis itu memasuki dirinya.
    Pak Darius pun mulai menaik-turunkan tubuhnya diatas tubuh telanjang Rita. Wanita cantik itu menggigit bibir bawah menahan nikmat, sesekali mulutnya mengeluarkan desahan. Kedua tangannya memeluk Pak Darius, kedua kakinya juga melingkari pinggang laki-laki tua itu. Bibir tebal Pak Darius menelusuri leher jenjangnya, selain itu lidah itu juga menggelikitik telinganya.

    “Aahh…ahhh…memek ibu enak banget,” kata Pak Darius dekat telinga Rita.
    Pak Darius semakin cepat menggerakkan pinggangnya naik turun, nafas keduanya memburu dan mendesah tak karuan.

    Pak Darius melepaskan penisnya lagi, kemudian memindahkan posisi Rita sehingga wanita cantik itu sekarang tiduran sambil menyamping, Pak Darius memindahkan posisi tubuhnya ke belakang Rita sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping di atas lantai berkarpet tipis itu. Pak Darius kembali memasukkan penisnya ke vagina Rita lewat belakang, kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Rita.

    Tangan kiri Pak Darius melalui sela-sela ketiak kiri Rita, dapat dengan bebas meremas-remas kedua payudara montok Rita. Pak Darius menggenjot penisnya dengan cepat, tangan kirinya secara bergantian meremas kedua payudara dan klitoris Rita. Rita kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Rita mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat vaginanya penuh sesak oleh penis Pak Darius yang hitam, besar dan panjang itu.

    Pak Darius kembali mengubah posisi Rita. Kali ini Rita dimintanya tengkurap, sehingga payudaranya yang montok menempel di atas karpet tipis itu. Rita merasakan sensasi yang aneh ketika puting payudaranya menyentuh permukaan karpet yang kasar. Pak Darius membuka ke dua belah kaki Rita agar mudah memasukkan penisnya dalam posisi demikian, lalu kembali memasukkan penisnya lewat belakang. Rita belum pernah melakukan seks dengan posisi yang dianggap primitif ini. Pak Darius menggenjot vagina Rita dari belakang dengan tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Rita semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Jari-jari Rita mencakar-cakar permukaan karpet dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Rita semakin membahana di ruangan itu.

    Darah dalam tubuhnya mengalir makin cepat, akal sehatnya mulai tertutup oleh naluri seks yang liar karena keperkasaan penis satpam kantor ini serta kelihaiannya mempermainkan nafsunya. Walaupun udara di luar makin dingin disertai angin kencang dan guntur, suasana di ruangan itu makin panas. Sementara itu Pak Darius terus menggenjot Rita, tusukan-tusukannya makin keras sehingga tubuh wanita cantik itu tersentak-sentak dan jeritan-jeritan tertahan keluar dari mulutnya. Rita juga menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama genjotan Pak Darius, dia merasakan kenikmatan yang berbeda yang dari yang biasanya. Rita pasrah tubuhnya diapakan saja oleh satpam itu.

    “Oohh…ohhh…saya nggak tahan lagi Pak, mau keluar !” desah Rita ketika merasa sudah diambang klimaks.Mendengar itu Pak Darius semakin bersemangat menggenjotnya hingga akhirnya tubuh Rita mengejang tak lama kemudian.

    “Ooooohhhh….aaaaaaaahhh !!” Rita mendesah panjang dan tubuhnya bergetar hebat, dia merasakan cairan vaginanya seperti tumpah semua. Pak Darius masih terus melancarkan serangannya, cairan yang meleleh dari vagina Rita makin melicinkan gerakan penisnya sehingga otomatis sodokannya pun makin cepat, terdengar bunyi decak cairan setiap penis itu menyodoknya.

    “Aahh…ahh…keluar bu Rita, …Bapak keluar juga….uuggghh !” lenguh Pak Darius ketika menyemburkan spermanya yang hangat dan kental di dalam rahim wanita cantik itu. Semprotan cairan itu makin lemah seiring dengan pompaan Pak Darius yang mulai turun kecepatannya. Rita terkapar lemas di atas lantai yang berkarpet itu, keringat telah membasahi tubuhnya, nafasnya terputus-putus. Pak Darius masih menindih tubuhnya menikmati sisa-sisa klimaksnya. Ruangan kantor Rita yang tadinya berisik karena suara bercinta itu sementara hening dan hanya terdengar suara nafas terengah-engah.

    Tak lama kemudian, Pak Darius mengulingkan tubuhnya ke samping tubuh Rita, keduanya terbaring lemas dengan tubuh yang basah oleh keringat dan nafas yang masih terengah-engah. Rita menengok ke arah Pak Darius yang terbaring di sebelahnya di atas lantai bekarpet tersebut.

    “Terima kasih, pak,…..sudah lama saya tidak merasakan kepuasan seksual seperti ini, bapak betul-betul luar biasa…..,” kata Rita memecah keheningan.

    “Ibu Rita…juga hebat, bapak sampai keenakan…,” jawab Pak Darius sambil nyengir.

    “Bapak yang hebat, di umur bapak yang di atas 60 tahun, stamina bapak masih ok,” puji Rita.

    Setelah terbaring dan beistirahat selama beberapa saat, mata Rita lalu melirik jam dinding yang ada di kantornya.

    “Astaga sudah hampir jam 12 malam…,” seru Rita terkejut ketika melihat jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.34 malam.

    “Saya musti pulang, sudah kemalaman,” kata Rita sambil bangun dari pembaringannya.

    Lalu Rita berdiri, kemudian membereskan dan memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai kantornya. Rita mulai mengenakan kembali pakaiannya satu persatu.

    “Di luar masih hujan bu, buat apa pulang buru-buru?” tanya Pak Darius mulai kembali menggoda.

    “Lagipula berbahaya membawa kendaraan malam-malam begini dalam keadaan hujan deras seperti ini.”

    “Tunggulah sampai hujannya berhenti, jadi ibu lebih aman pulangnya,” kata Pak Darius berusaha menahan kepulangan Rita.

    Rita baru selesai mengenakan BH dan celana dalamnya kembali ketika Pak Darius mengitari sejenak tubuh Rita, mengamati kembali kesempurnaan tubuh yang langsing itu. Tatapan Pak Darius yang jalang itu menyebabkan Rita malu sendiri, wajahnya memerah. Tak bisa lagi menahan nafsunya, Pak Darius kembali mendekap tubuh Rita dari belakang.

    “Pak jangan,…sudah aahhh,….sudah malam !” Rita berusaha menolak ketika tangan itu mulai merambahi payudaranya.

    “Sudahlah, bu,…di luar hujan nya masih gede,…bahaya,” Pak Darius berusaha mencari alasan untuk menahan Rita.

    Kemudian tangannya mencengkram buah dada Rita dari luar BHnya dan meremasinya dengan gemas, rambut panjangnya dia sibakkan ke kiri dan menghirup aroma tubuhnya yang harum. Rita mulai terangsang ketika lidah Pak Darius menyapu telak lehernya sehingga membuat bulu kuduknya merinding. Laki-laki tua itu meneruskan rangsangannya dengan menjilati telinga Rita, lidahnya didorong-dorong ke lubang telinganya menyebabkan Rita menggelinjang dan meronta kecil antara menolak dan terangsang.

    “Jangan…jangan, ahhh…ahh !” katanya menghiba

    Tangan kanannya kini mulai bergerilya lewat bawah menyentuh perut Rita yang rata dan kemudian menyusup ke balik BH-nya. Rita menggeliat karena tangan kasar itu terasa geli di payudaranya yang halus, terlebih ketika Pak Darius menggesekkan jarinya pada putingnya. Sambil merasakan kepadatan dan kehalusan payudara Rita, Pria tua itu terus menciumi lehernya yang jenjang. Rita hanya bisa menggigit bibir bawah dengan mata terpejam menerima serbuan-serbuan erotis pria tua ini. Sekarang tangan satunya bergerak ke bawah perut menyusup ke dalam celana dalamnya, dirasakannya kembali bulu-bulu lebat yang menyelimuti daerah kewanitaannya.

    Tangannya mula-mula hanya mengelus-elus permukaanya, lalu sebentar kemudian jarinya mulai merayap masuk ke belahannya mengaduk-aduk bagian dalamnya. Hal ini membuat tubuh Rita bergetar dan nafasnya semakin tidak teratur, rupanya dia sudah tak kuasa menahan diri lagi. Mulutnya menceracau tak jelas dan kakinya terasa lemas, kalau saja tidak didekap pria tua itu, mungkin tubuhnya kehilangan topangan. Pak Darius meningkatkan serangannya untuk membuat wanita cantik itu kembali takluk sepenuhnya dengan cara memainkan klitorisnya, daging kecil itu dia gesekkan pada jarinya dan sesekali dipencet-pencet sehingga pemiliknya tersentak dan mengerang, Rita tinggal pasrah saja membiarkan Pak Darius mengocok-ngocok vaginanya dengan jarinya.

    “Haha…mulai teransang lagi ya bu?….Liat udah basah gini !” ejeknya dekat telinga Rita.

    Beberapa saat kemudian, Pak Darius mengeluarkan tangannya dari celana Rita, jari-jarinya basah oleh lendir vagina. Dia lantas mengangkat Rita dengan kedua lengan kokohnya. Rita yang sudah kembali teransang hanya pasrah mau diapakan saja oleh Pak Darius.

    Mengetahui wanita cantik itu telah kembali teransang, Pak Darius membaringkan tubuh Rita pada meja yang biasa dipakai sehari-hari untuk bekerja. Dibaringkannya tubuh itu diatas meja dengan kedua kaki terjuntai. Begitu menurunkan tubuh wanita cantik itu, Pak Darius dengan agak terburu-buru langsung mencopot BH Rita yang baru dikenakan sesaat, lalu dilemparkan ke belakang.

    Mulut Rita mulai membuka dan secara refleks menyambut lidah Pak Darius dan beradu dengan panasnya. Merasa “korbannya” sudah kembali berhasil dijinakkan, Pak Darius mengalihkan tangannya untuk mengelusi payudaranya yang montok. Nafas Rita sudah putus-putus ketika Pak Darius melepas ciumannya. Pak Darius dengan rakus melumat daging kenyal itu dengan mulutnya, dikenyot dan dijilati, sementara tangannya meremasi yang sebelahnya. Rita sedikit meringis di tengah desahannya karena payudaranya terasa sakit oleh remasan Pak Darius yang agak kasar.

    “Ooohh…!” desahnya ketika Pak Darius menyentil-nyentilkan lidahnya pada putingnya yang sensitif, kadang disertai gigitan kecil yang membuatnya makin menggelinjang.

    Setelah puas menyusu, Pak Darius menarik celana dalam Rita hingga lepas dari tempatnya, sehingga kedua paha mulus dan kemaluannya yang berbulu lebat pun kembali terlihat. Rita hanya bisa pasrah saja ketika celana dalamnya kembali dilepas, berikut hawa dingin dari AC menerpa tubuhnya yang kembali telanjang bulat.

    Kemudian Pak Darius mengambil posisi diantara kedua kaki Rita yang terjuntai dari lutut ke bawah. Bibir kemaluan Rita masih nampak rapat dan kencang. Wajah Pak Darius kini makin mendekati daerah itu, aroma kemaluannya semakin terasa dan membuatnya makin bergairah. Diambilnya sebuah kursi dan dia duduk tepat di depan vagina Rita. Kedua tungkai kaki Rita yang menjuntai diangkatnya dan diletakkan di bahunya. Matanya menatap tajam kearah kemaluan yang sudah basah itu, hembusan nafasnya makin terasa bersamaan dengan wajahnya yang makin mendekat.

    Sementara mata Rita terpejam tapi mendadak matanya melebar disertai desahan dari mulutnya ketika lidah kasar pria tua itu menyapu bibir kemaluannya. Tubuh Rita mengejang ketika lidah Pak Darius menyentuh klitorisnya.
    “Aaaaaahhhhh…Pak !” desahan halus keluar dari mulutnya saat Pak Darius menyapukan lidahnya pada bibir kemaluannya.

    Lidah Pak Darius semakin liar saja, kini lidah itu memasuki liang vaginanya dan bertemu dengan klitorisnya. Badan Rita bergetar seperti tersengat listrik dengan mata merem-melek Bukan saja menjilati, Pak Darius juga memutar-mutarkan telunjuknya di liang itu, sementara tangan lainnya mengelusi paha dan pantatnya yang mulus.

    “Oooooohh…!” tak terasa Rita mendesah demikian karena merasakan jilatan panjang pada klitorisnya yang membuatnya serasa melayang. Matanya membeliak-beliak dan vaginanya semakin berlendir tanpa bisa ditahannya. Tangan Pak Darius juga turut bekerja merabai paha dan pantatnya yang putih mulus itu.

    Sekitar 10 menit lebih Pak Darius memperlakukan Rita demikian, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris wanita itu menghanyutkannya dalam permainan liar ini.
    Sampai pada akhirnya tubuh Rita mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas.

    “Uuuuugggghhhh….” erang Rita menandakan dia mengalami orgasme. Rita tidak percaya dirinya menyerah secepat itu terhadap ransangan pria tua ini. Pak Darius tanpa ragu-ragu melahap cairan orgasme itu dengan rakus, dia menyedoti bibir vagina Rita sehingga membuat tubuh wanita itu semakin menggelinjang.

    Setelah puas menjilati vagina Rita, Pak Darius kembali mengarahkan penisnya yang sudah menegang, hitam dan panjang. Digenggamnya batang itu untuk diarahkan ke vagina Rita. Hangat dirasakan Rita saat kepala penis itu menyentuh bibir vaginanya disusul rasa geli yang ditimbulkan dari gesekan-gesekan penis itu pada kemaluannya, hal ini menyebabkan birahi Rita bangkit kembali.

    Tanpa menunggu lebih lama lagi, Pak Darius menekan ujung penisnya ke liang senggamanya. Dengan satu sentakan, batang kemaluannya melesak ke dalam vagina Rita, tubuhnya menegang hingga melengkung ke atas menampakkan guratan tulang rusuknya. Suara hujan deras di luar sana seolah menambah dramatis suasana. Tubuh Rita tergoncang-goncang di atas meja itu, mulutnya tak bisa menahan desahan yang keluar. Tangan Pak Darius dengan leluasa memegang, meraba dan meremas payudara telanjang wanita cantik itu, bahkan laki-laki tua itu sambil menggenjot kedua tangannya meremasi sepasang payudara itu.

    Pak Darius menyodok-nyodok vagina Rita hingga menyentuh g-spotnya. Batang itu makin lancar keluar-masuk karena vagina Rita juga makin licin oleh lendirnya. Pak Darius lalu mengangkat punggung Rita hingga dia terduduk di tepi meja kemudian dipagutnya bibir wanita itu.

    Pria tua itu menyetubuhinya dengan ganas sehingga payudara Rita nampak tergoncang-goncang seirama hentakan tubuhnya. Matanya merem-melek merasakan tusukan penis Pak Darius yang datang bertubi-tubi. Dia mengarahkan pandangannya ke depan dan dilihatnya wajah kasar brewokan itu sedang menatapnya dengan takjub. Pria itu terus menyetubuhinya sambil berpegangan pada kedua pahanya. Rita melingkarkan tangan kirinya ke leher Pak Darius dan tangan kanannya bertumpu di meja.
    “Ah…iyah Pak…aahh-ah-terus !” Rita menceracau demikian secara refleks.

    Selanjutnya bibir Pak Darius bergeser ke pipinya, sapuan kumis dan brewoknya yang keritingnya terasa pada wajahnya yang halus hingga bertemu dengan bibir Rita yang tipis. Desahannya pun teredam karena mulutnya dilumat oleh Pak Darius. Mulut Pak Darius yang lebar itu seolah-oleh ingin menelan Rita, lidahnya yang kasar itu menjelajahi rongga mulutnya membuatnya agak gelagapan.

    Kali ini Rita diturunkan dari meja, karena saking terangsangnya, Rita menurut saja apa yang diminta pria tua itu. Pak Darius mengatur posisi Rita berdiri dengan pantat agak ditunggingkan dan tangannya bertumpu pada meja di depannya. Dengan posisi demikian, penis Pak Darius kembali memasuki vaginanya dari belakang. Lalu Pak Darius kembali memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada kedua payudara Rita. Mulutnya sibuk menciumi pundak dan lehernya membuat Rita serasa melayang. Ditariknya wajah Rita hingga menengok ke belakang dan begitu wajahnya menoleh bibir tebal Pak Darius langsung memagut bibirnya, Ritapun ikut membalas ciumannya, lidah mereka saling membelit dan beradu, air liur mereka menetes-netes di pinggir bibir. Kedua tangan Pak Darius mendekap dadanya, telapak tangannya menggerayangi kedua payudaranya montoknya yang bergoyang-goyang itu.

    “Uugghh…oohh !” desah Rita dengan mencengkram pinggiran meja dengan kuat saat penis itu kembali melesak ke dalam vaginanya.
    Tangan laki-laki tua itu memegang dan meremas pantatnya sambil menyodok-nyodokkan penisnya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Rita menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan Rita membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara wanita cantik itu dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal itu.

    “Aahhh…mau keluar Pak, sodoknya yang kuat Pak…oohhh…oohhh!” Rita menceracau tak karuan karena kenikmatan itu dirasanya semakin memuncak. Sontak Pak Darius mempercepat dan menyodok penisnya dengan penuh nafsu. Sebuah desahan panjang diiringi tubuhnya yang mengejang menandakan ia telah mencapai puncak kenikmatannya.

    “Aahhh…aaaaaaaaaahhh !!” akhirnya Rita kembali mencapai klimaksnya, vaginanya semakin banjir saja karenanya. Gelombang orgasme bagaikan mengangkatnya ke langit ketujuh, matanya merem-melek tidak tahu bagaimana lagi mengekspresikan kenikmatan itu selain dengan desahan panjang. Tubuhnya ambruk lemas di atas meja, namun pria tua di belakangnya itu tampak belum akan orgasme, ia masih terus menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas. Pak Darius masih terus melancarkan serangannya, cairan yang meleleh dari vagina Rita makin melicinkan gerakan penisnya sehingga otomatis sodokannya pun makin cepat, terdengar bunyi decak cairan setiap penis itu menyodoknya.Pria tua itu menyusul tidak begitu lama dari orgasme Rita, penisnya dia tekan lebih dalam sambil melenguh panjang melepaskan spermanya di dalam rahim wanita itu. Pak Darius menurunkan tempo permainannya, dia tidak ingin buru-buru keluar. Ceritamaya
    “Ibu Rita emang enak banget dientot !” komentarnya kemudian mulutnya nyosor ke depan dan memagut bibir Rita.
    Rita yang masih lemas tidak kuasa menolak ciuman itu, malah dia membalas sapuan lidah Pak Darius dengan bergairah.

    Bersamaan menurunnya intensitas permainan mereka, hujan di luar ruangan berangsur-angsur mereda.

    “Kayanya hujannya sudah berhenti, saya mau pulang ya Pak,” kata Rita lalu kembali memunguti dan mengenakan pakaiannya satu per satu.

    “Tolong jaga rahasia ini, Pak. Ini hanya antara kita berdua. Kalau sampai bocor….jangan harap Bapak bisa menyentuh dan berbicara lagi dengan saya!” kata Rita lagi sambil mengenakan pakaiannya.

    “Tenang saja bu Rita, rahasia ini hanya kita berdua yang tahu. Saya akan memuaskan ibu bila ibu butuhkan, demikian pula sebaliknya,”terang Pak Darius.

    “Ok kalau begitu saya pulang dulu, terima kasih atas semuanya Pak Darius,” jawab Rita sambil membereskan pakaian dan perlengkapan kerjanya.

    “Sama-sama, bu,” Pak Darius membalas.

    Tidak lupa Pak Darius mengantar Rita hingga naik ke mobilnya. Di situ mereka berpisah untuk malam ini untuk bertemu lagi di hari-hari berikutnya. Sejak saat itu, dimulailah petualangan seks Rita dengan Pak Darius. Mereka selalu mengulangi permainan panas mereka, kapan atau di manapun ada kesempatan.

    By: Mike Deng