• I Know What You Did Last Holiday Part 2

    I Know What You Did Last Holiday Part 2


    65 views

    Ceritamaya | Pada suatu pagi telepon di kamarku berbunyi, dengan malas kupaksakan diri mengangkatnya. Ternyata telepon itu dari Pak Riziek, tukang kebun dan penjaga villa-ku. Rasa kantukku langsung hilang begitu dia menyuruhku untuk segera datang ke villa, dia bilang ada masalah yang harus dibicarakan di sana. Sebelum kutanya lebih jauh hubungan sudah terputus. Hatiku mulai tidak tenang saat itu, ada masalah apa di sana, apakah kemalingan, kebakaran atau apa. Aku juga tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi saat itu karena saat itu kedua orangtuaku sedang di luar kota.

    Segera setelah siap aku mengendarai mobilku menuju ke villa-ku di Bogor, tidak lupa juga kuajak Rina, sahabatku yang sering pergi bareng untuk teman ngobrol di jalan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pak Riziek, seorang lelaki setengah baya berumur 60-an, rambutnya sudah memutih, namun perawakannya masih sehat dan gagah. Dia adalah penduduk desa dekat villa ini, sudah 4 tahun sejak ayahku membeli villa ini Pak Riziek ditugasi untuk menjaganya. Kami sekeluarga percaya padanya karena selama ini belum pernah villa-ku ada masalah sampai suatu saat akhirnya aku menyesal ayahku mempekerjakannya.

    Pak Riziek mengajak kami masuk ke dalam dulu. Di ruang tamu ternyata sudah menunggu seorang pria lain. Pak Riziek memperkenalkannya pada kami. Orang ini bernama Pak Usep, berusia 50-an, tubuhnya agak gemuk pendek, dia adalah teman Pak Riziek yang berprofesi sebagai juru foto di kampungnya. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung to the point menanyakan ada masalah apa sebenarnya aku disuruh datang.

    Pak Riziek mengeluarkan sebuah bungkusan yang dalamnya berisi setumpuk foto, dia mengatakan bahwa masalah inilah yang hendak dibicarakan denganku. Aku dan Rina lalu melihat foto apa yang ditunjukkan olehnya. Betapa terkejutnya kami bak disambar petir di siang bolong, bagaimana tidak, ternyata foto-foto itu adalah foto-foto erotis kami yang diabadikan ketika liburan tahun lalu, ada foto bugilku, foto bugil Rina, dan juga foto adegan persenggamaan kami dengan pacar masing-masing.

    “Pak.., apa-apaan ini, darimana barang ini..?” tanyaku dengan tegang.
    “Hhmm.. begini Neng, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-bersih, pas kebetulan di bawah ranjang Neng Dian saya lihat kok ada barang yang nongol, eh.. taunya klise foto asoynya Neng Dian sama Neng Rina, ya udah terus saya bawa ke Pak Usep ini untuk dicuci.” jawabnya sambil sedikit tertawa.
    “Apa, kurang ajar, Pak.. Bapak digaji untuk menjaga tempat ini, bukannya mengoprek barang saya..!” kataku dengan marah dan menundingnya.

    Aku sangat menyesal kenapa begitu ceroboh membiarkan klise itu tertinggal di villa, bahkan aku mengira barang itu sudah dibawa oleh pacarku atau pacar Rina. Wajah Rina juga ketika itu juga nampak tegang dan marah.
    “Wah.. wah.. jangan galak gitu dong Neng, saya kan nggak sengaja, justru Neng sendiri yang ceroboh kan?” mereka berdua tertawa-tawa memandangi kami.

    “Baik, kalau gitu serahkan klisenya, dan Bapak boleh pergi dari sini.” kataku dengan ketus.
    “Iya Pak, tolong kita bisa bayar berapapun asal kalian kembalikan klisenya.” tambah Rina memohon.
    “Oo.. nggak, nggak, kita ini bukan pemeras kok Neng, kita cuma minta..” Pak Usep tidak meneruskan perkataannya.
    “Sudahlah Pak, cepat katakan saja apa mau kalian..!” kata Rina dengan ketus.

    Perasan aneh mulai menjalari tubuhku disertai keringat dingin yang mengucuri dahiku karena mereka mengamati tubuh kami dengan tatapan lapar. Kemudian Pak Riziek maju mendekatiku membuat degup jantungku makin kencang. Beberapa senti di depanku tangannya bergerak mengelus payudaraku.

    “Hei.. kurang ajar, jangan keterlaluan ya..!” bentakku sambil menepis tangannya dan mendorongnya.
    “Bangsat.. berani sekali kamu, kalian kira siapa kalian ini hah..? Dasar orang kampung..!” Rina menghardik dengan marah dan melemparkan setumpuk foto itu ke wajah Pak Riziek.
    “Hehehe.. ayolah Neng, coba bayangakan, gimana kalo foto-foto itu diterima orangtua, pacar, atau teman-teman di kampus Neng? Wah bisa-bisa Neng berdua ini jadi terkenal deh..!” kata Pak Usep dan disusul gelak tawa keduanya.

    Aku tertegun, pikiranku kalut, kurasa Rina pun merasakan hal yang sama denganku. Nampaknya tiada pilihan lain bagi kami selain mengikuti kemauan mereka. Kalau foto-foto itu tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, dan reaksi pacarku, apalagi Rina yang berprofesi sebagai model pada majalah ***(edited), bisa-bisa karirnya tamat gara-gara masalah ini.

    Pak Riziek kembali mendekatiku dan meraba pundakku, sementara itu Pak Usep mendekati Rina lalu mengelilinginya mengamati tubuh Rina.
    “Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran..?” tanyanya sambil membelai rambutku yang sebahu lebih.
    Kupikir-pikir untuk apa lagi jual mahal, toh kami pun sudah bukan perawan lagi, hanya saja kami belum pernah bermain dengan orang-orang bertampang kasar seperti mereka.

    Akhirnya dengan berat hati aku hanya dapat menganggukkan kepala saja.
    “Ha.. ha.. ha.. akhirnya bisa juga orang kampung seperti kita merasakan gadis kampus, ada foto modelnya lagi..!” mereka tertawa penuh kemenangan.
    Aku hanya dapat mengumpat dalam hati, “Bangsat kalian, dasar tua-tua keladi..!”
    Pak Riziek memelukku dan tangannya meremas-remas payudaraku dari luar, lidahnya bermain dengan liar di dalam mulutku. Perasaan geli, jijik dan nikmat bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahiku yang mulai naik.

    Tangannya kini makin berani menyusup ke bawah kaos ketat lengan panjang yang kupakai, terus bergerak menyusup ke balik BH-ku. Degub jantungku bertambah kencang dan napasku makin memburu ketika kurasakan tangan kasarnya mulai menggerayangi dadaku, apalagi jari-jarinya turut mempermainkan putingku. Tanpa terasa pula lidahku mulai aktif membalas permainan lidahnya, liur kami menetes-netes di pinggir mulut.

    Nasib Rina tidak beda jauh denganku, Pak Usep mendekapnya dari belakang lalu tangannya mulai meremas payudara Rina dan tangan satunya lagi menaikkan rok selututnya sambil meraba-raba paha Rina yang jenjang dan mulus. Satu-persatu kancing baju Rina dipreteli sehingga nampaklah BH-nya yang berwarna merah muda, belahan dadanya, dan perutnya yang rata. Melihat payudara 36B Rina yang menggemaskan itu Pak Usep makin bernafsu, dengan kasar BH itu ditariknya turun dan menyembul lah payudara Rina yang montok dengan puting merah tua.

    “Whuua.. ternyata lebih indah dari yang di foto, mimpi apa saya bisa merasakan foto model kaya Neng Rina,” katanya.
    Pak Usep menghempaskan diri ke sofa, dibentangkannya lebar-lebar kedua belah kaki Rina yang berada di pangkuannya. Tangannya yang semula mengelus-elus pahanya mulai merambat ke selangkangannya, jari-jari besarnya menyelinap ke pinggir celana dalam Rina. Ekspresi wajah Rina menunjukkan rasa pasrah tidak berdaya menerima perlakuan seperti itu, matanya terpejam dan mulutnya mengeluarkan desahan.
    “Eeemhh.. uuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemhh..!”

    Kemudian Pak Usep menggendong tubuh Rina, mereka menghilang di balik kamar meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Setelah menaikkan kaos dan BH-ku, kini tangannya membuka resleting celana panjangku. Dia merapatkan tubuhku pada tembok. Aku memejamkan mata berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang sedang menggerayangi tubuhku ini adalah pacarku, Yudi. Tua bangka ini ternyata pintar membangkitkan nafsuku. Sapuan-sapuan lidahnya pada putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja.

    Sekarang kurasakan tangannya sudah mulai menyelinap ke balik CD-ku, diusap-usapnya permukaan kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu halus lebat itu.
    “Sshh.. eemhh..!” aku mulai meracau tidak karuan saat jari-jarinya memasuki vaginaku dan memainkan klistorisnya, sementara itu mulutnya tidak henti-hentinya mencumbu payudaraku, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh permainannya.
    “Hehehe.. Neng mulai terangsang ya?” ejeknya dekat telingaku.

    Tiba-tiba dia menghentikan aktivitasnya dan dengan kasar didorongnya tubuhku hingga terjatuh di sofa. Sambil berjalan mendekat dia melepas pakaiannya satu persatu. Setelah dia membuka celana dalamnya tampak olehku kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Gila, ternyata penisnya besar juga, sedikit lebih besar dari pacarku dan dihiasi bulu-bulu yang sudah beruban. Kemudian dia menarik lepas celanaku beserta CD-nya sehingga yang tersisa di tubuhku kini hanya kaos lengan panjang dan BH-ku yang sudah terangkat.

    Dibentangkannya kedua belah pahaku di depan wajahnya. Tatapan matanya sangat mengerikan saat memandangi daerah selangkanganku, seolah-olah seperti monster lapar yang siap memangsaku. Pak Riziek membenamkan wajahnya pada selangkanganku, dengan penuh nafsu dia melaahap dan menyedot-nyedot vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitorisku. Sesekali dia mengorek-ngorek lubang kemaluan dan anusku. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang diiringi erangan nikmat.

    Tidak lama kemudian akhirnya kurasakan tubuhku mengejang, aku mencapai orgasme pertamaku. Cairan cintaku membasahi mulut dan jari-jari Pak Riziek.
    “Sluurrpp.. sluurpp.. sshhrrpp..” demikian bunyinya ketika dia menghisap sisa-sisa cairan cintaku.
    Disuruhnya aku membersihkan jari-jarinya yang berlepotan cairan cinta itu dengan mengulumnya, maka dengan terpaksa kubersihkan jari-jari kasar itu dengan mulutku.

    “Memek Neng Dian emang enak banget, beda dari punya lonte-lonte di kampung Bapak,” celetuknya sambil menyeringai.
    “Sialan, masa gua dibandingin sama lonte kampung..!” umpatku dalam hati.
    “Nah, sekarang giliran Neng merasakan kontol Bapak ya..!” katanya sambil melepas kaos dan BH-ku yang masih melekat.
    Sekarang sudah tidak ada apapun yang tersisa di tubuhku selain kalung dan cincin yang kukenakan.

    Dia naik ke wajahku dan menyodorkan penisnya padaku. Ketika baru mau mulai, tiba-tiba telepon di dinding berbunyi memecah suasana.
    “Angkat teleponnya Neng, ingat saya tahu rahasia Neng, jadi jangan omong macam-macam,” ancamnya.
    Telepon itu ternyata dari Yudi, pacarku yang mengetahui aku sedang di villa dari pembantu di rumahku. Dengan alasan yang dibuat-buat aku menjawab pertanyaannya dan mengatakan aku di sini baik-baik saja.

    Ketika aku sedang berbicara mendadak kurasakan sepasang tangan mendekapku dari belakang dan dekat telingaku kurasakan dengus napasnya. Tangan itu mulai usil meraba payudaraku dan tangan satunya lagi pelan-pelan merambat turun menuju kemaluanku, sementara pada leherku terasa ada benda hangat dan basah, ternyata Pak Riziek sedang menjilati leherku. Penisnya yang tegang saling berhimpit dengan pantatku. Aku sebenarnya mau berontak namun aku harus bersikap normal melayani obrolan pacarku agar tidak timbul kecurigaan.

    Aku hanya dapat menggigit bibir dan memejamkan mata, berusaha keras agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Dasar sial, si Yudi mengajakku omong panjang lebar sehingga membuatku makin menderita dengan siksaan ini. Sekarang Pak Riziek menyusu dariku, tidak henti-hentinya dia mengulum, menggigit dan menghisap putingku sampai memerah.

    Akhirnya setelah 15 menit Yudi menutup pembicaraan, saat itu Pak Riziek tengah menyusu sambil mengorek-ngorek kemaluanku, aku pun akhirnya dengan lega mengeluarkan erangan yang dari tadi tertahan.
    “Heh, sopan dikit dong..! Tau ngga saya tadi lagi nelepon..!” marahku sambil melepas pelukkannya.
    “Hohoho.. maaf Neng, saya kan orang kampung jadi kurang tau sopan santun, eh.. omong-omong itu tadi pacar Neng ya? Tenang aja habis merasakan kontol saya pasti Neng lupa sama cowok itu..!” ejeknya dan dia kembali memeluk tubuhku.

    Disuruhnya aku duduk di sofa dan dia berdiri di hadapanku, penisnya diarahkan ke mulutku. Atas perintahnya kukocok dan kuemut penis itu, pada awalnya aku hampir muntah mencium penisnya yang agak bau itu, namun dia menahan kepalaku hingga aku tidak dapat melepaskannya.
    “Iseepp, isep yang kuat Neng, jangan cuma dimasukin mulut aja..!” suruhnya sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulutku.
    Sayup-sayup aku dapat mendengar erangan Rina dari dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka itu.

    I Know What You Did Last HolidayLama kelamaan aku sudah dapat menikmatinya, tangannya yang bergerak lincah mempermainkan payudaraku dan memilin-milin putingnya membuatku semakin bersemangat mengulum dan menjilati kepala penisnya.
    “Naahh.. gitu dong Neng, ayoo.. terus.. Neng jilatin ujungnya, eengh.. bagus..!” desahnya sambil menjambak rambutku.
    Selama 15 menit aku mengkaraokenya dan dia mengakhirinya dengan menarik kepalaku.

    Setelah itu dibaringkannya tubuhku di sofa, dia lalu membuka lebar-lebar kedua pahaku dan berlutut di antaranya. Aku memejamkan mata menikmati detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku.

    Penisnya meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati perkosaan ini, aku tidak perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah pembantuku.

    Sambil menyetubuhiku bibirnya tidak henti-hentinya melumat bibir dan payudaraku, tangannya pun selalu meremas payudara dan pantatku. Erangan panjang keluar dari mulutku ketika mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku sehingga kelihatan mengkilat. Tanpa memberiku kesempatan beristirahat dia menaikkan tubuhku ke pangkuannya. Aku hanya pasrah saja menerima perlakuannya.

    Setelah penisnya memasuki vaginaku, aku mulai menggerakkan tubuhku naik turun. Pak Riziek menikmati goyanganku sambil ‘menyusu’ payudaraku yang tepat di depan wajahnya, payudaraku dikulum dan digigit kecil dalam mulutnya seperti bayi sedang menyusu. Terkadang aku melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Aku terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakanku makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu sampai aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dengan lelaki muda dan tampan.

    Kali ini dia membalikkan badanku hingga menungging. Disetubuhinya aku dari belakang, tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali, atau mungkin sebelumnya dia sudah minum obat kuat atau sejenisnya, ah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting dia telah memberiku kenikmatan luar biasa.

    Sudah lebih dari setengah jam dia menggarapku. Tidak lama setelah aku mencapai klimaks berikutnya, dia mulai melenguh panjang, sodokanya makin kencang dan kedua payudaraku diremasnya dengan brutal sehingga aku berteriak merasakan sakit bercampur nikmat. Setelah itu dia menarik lepas penisnya dan naik ke dadaku. Di sana dia menjepitkan penisnya yang sudah licin mengkilap itu di antara kedua payudaraku, lalu dikocoknya sampai maninya menyempot dengan deras membasahi wajah dan dadaku.

    Aku sudah kehabisan tenaga, kubiarkan saja maninya berlepotan di tubuhku, bahkan yang mengalir masuk ke mulut pun kutelan sekalian. Sebagai ‘hidangan penutup’, Pak Riziek menempelkan penisnya pada bibirku dan menyuruhku membersihkannya. Kujilati penis itu sampai bersih dan kutelan sisa-sisa maninya. Setelahnya dia meninggalkanku terbaring di sofa, selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi karena sudah tidak sadarkan diri.

    Begitu aku bangun jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, aku menemukan diriku masih bugil, sisa-sisa sperma kering masih membekas pada wajah dan dadaku, sekujur tubuhku terutama dada penuh dengan bekas cupangan yang memerah. Aku melihat sekeliling, hening tanpa suara, entah kemana Rina dan kedua ‘kambing bandot’ itu. Aku tidak memikirkan apa-apa lagi, aku menuju kamar mandi karena ingin kencing, lalu kunyalakan shower dan kubersihkan tubuhku dari sisa-sisa persetubuhan tadi. Dalam hati aku masih merasa marah, kesal, dan sedih karena dijebak dan diperkosa seperti itu, namun setiap teringat yang barusan, aku malah ingin mengulanginya lagi.

    Sehabis mandi, kepenatan tubuhku terasa mulai berkurang, kuraih kimono kuning dan memakainya tanpa memakai apa-apa di baliknya. Ketika aku keluar kamar mandi masih belum merasakan tanda-tanda keberadaan mereka di sini, begitu juga kamar yang tadi dipakai Rina dan Pak Usep, di sana hanya kudapati ranjang yang sudah berantakan dan masih tercium aroma sperma bekas pertarungan tadi. Pakaian Rina dan Pak Riziek juga masih berceceran di ruang tamu. Terlintas di benakku saat itu kolam renang, ya mereka pasti di sana.

    Aku segera menuju kolam di belakang untuk memastikan. Dugaanku ternyata tepat, di sana terlihat pemandangan yang membuat darah bergolak. Di tepi kolam itu Rina sedang dikerjai oleh mereka berdua. Dia tengah memacu tubuhnya di atas penis Pak Riziek yang berbaring sambil meremasi dadanya, sementara mulutnya dijejali oleh penis Pak Usep yang berdiri di sampingnya, tubuh ketiganya basah oleh air kolam, langit senja yang berwarna kuning keemasan menambah erotisnya suasana.

    “Hai, Neng Dian udah bangun toh..!” sapa Pak Riziek.
    “Wah, saya udah lama nungguin Neng Dian, tapi tunggu ya, Neng Rina lagi asyik makan es mambo nih..!” sahut Pak Usep.
    Rina hanya dapat melirik sayu padaku karena mulutnya penuh oleh penis dan Pak Usep menahan kepalanya. Adegan mesum itu membangkitkan kembali nafsuku, selangkanganku terasa basah.

    5 menit kemudian Pak Usep mencabut penisnya dari mulut Rina dan mendekatiku.
    “Pak, kapan klisenya kalian kembalikan..?” tanyaku tidak sabar.
    “Tenang Neng, sekarang mau pulang juga sudah kemalaman, klisenya pasti kita kasih ke Neng besok,” jawabnya sambil menepuk bahuku.
    “Apa..! Besok..? Keterlaluan kalian..!” bentakku.
    “Jangan marah-marah gitu dong Neng, besok pagi saya janji pasti ngasih klisenya ke Neng,” katanya sambil memutari tubuhku.

    Kurasakan elusan Pak Usep pada paha belakangku, tangannya makin naik menyingkap kimonoku dan akhirnya meremas pantatku.
    “Hoi, Pak Riziek, ternyata nona majikanmu ini asoy bener, pahanya mulus, pantatnya juga wuiih.. montok..!” serunya pada temannya.
    Kupingku benar-benar panas mendengar ejekannya, namun dalam hati aku justru berharap dia berbuat lebih jauh.

    “Ooouuhh..!” demikian desahan pelan yang keluar dari mulutku ketika tangan Pak Usep sampai ke belahan kemaluanku.
    Jarinya membuka belahan itu dan meraih klistorisnya, daerah sensitif itu dimainkannya sehingga membuatku mendesah dan kedua kakiku terasa lemas tidak bertenaga. Dibaringkannya tubuhku pada kursi santai di tepi kolam itu. Tercium bau rokok murahan dari mulutnya ketika dia melumat bibirku, lidahnya mengelitik lidahku.

    Pak Usep melepaskan tali pinggangku sehingga kimonoku terbuka, ciumannya perlahan-lahan turun dari dagu dan leher menuju payudaraku. Sambil melumat payudaraku tangan yang satunya dengan kasar mengobrak-abrik vaginaku.
    “Aakkhh.. Pak, sakit.. pelan-pelan Pak..!” rintihku kesakitan.

    Aku melihat ke arah Rina yang sedang dikerjai Pak Riziek. Dia sedang dalam posisi dogie, Pak Riziek dari belakang melakukan penetrasi ke lubang anus Rina. Dia menjerit-jerit kesakitan ketika penis besar itu dengan paksa memasuki duburnya yang sempit. Bukannya kasihan tapi nampaknya Pak Riziek malah semakin bergairah melihat penderitaan Rina, ketika sudah masuk setengahnya dihujamkannya penis itu dengan keras, spontan tubuh Rina tersentak dan jeritan panjang yang memilukan keluar dari mulutnya.

    Baca Juga : I Know More What You Did Last Holiday Part 1

    Selanjutnya dengan ganas Pak Riziek menyodomi Rina sambil mendesis-desis menikmati penisnya terjepit dubur Rina yang sempit. Aku sangat kasihan melihat penderitaan Rina, tapi apa dayaku karena aku sendiri sedang dalam kesulitan. Kini Pak Usep membuka lebar kedua pahaku, tangan satunya memegang penisnya yang gemuk itu dan menggesek-geseknya pada bibir kemaluanku sehingga aku mendesah nikmat dan tubuhku menggeliat-geliat.

    Setelah vaginaku basah kuyup dia menekan penisnya hingga amblas seluruhnya. Aku melihat jelas bagaimana penis itu keluar masuk ke dalam vaginaku. Kenikmatan dahsyat telah melanda tubuhku hingga aku tidak kuasa untuk tidak mengerang. Suara desahan terdengar sahut menyahut di tepi kolam itu. Kemudian aku merasakan tubuhku bagaikan tersengat listrik, aku menjerit sekuat tenaga dan mempererat genggamanku pada pegangan kursi. Cairan kemaluanku muncrat dengan derasnya dan kurasakan tubuhku seperti lumpuh. Namun Pak Usep belum menyudahi perbuatannya.

    Sekarang dia memiringkan tubuhku dan mengangkat kaki kiriku, lalu dia meneruskan genjotannya pada tubuhku. Aku sudah setengah sadar ketika tiba-tiba sebatang penis sudah berada di depan wajahku. Kutengadahkan kepalaku dan kulihat Pak Riziek berdiri di sampingku dengan penisnya masih berdiri kokoh, tidak jauh dari situ nampak tubuh telanjang Rina yang sudah terkapar lemas. Tanpa membuang waktu lagi diraihnya kepalaku, mulutku penuh sesak oleh penisnya yang berlumuran aneka cairan itu.

    Tiba-tiba mereka menurunkan tubuhku dari kursi, kini aku berada di lantai dengan posisi anjing, kimonoku mereka lepas hingga aku bugil total. Pak Riziek mengambil posisi di belakangku lalu dia membuka duburku dan tangan satunya mengarahkan penisnya ke sana. Ooohh.. tidak, dia mau menyodomiku seperti yang dia lakukan pada Rina, masih terbayang olehku betapa brutalnya lelaki ini memperlakukan Rina barusan.

    “Jangan Pak, jangan di situ aduuh.. sakit.. ooh..!” rintihku memelas ketika dia memasukkan penisnya.
    “Aakkh.. akhh.. oougghh..” aku terus merintih-rintih, mataku terpejam merasakan kepedihan tiada tara sampai airmataku meleleh membasahi pipi.
    “Wah.., enak, lebih seret dari Neng Rina..!” kata Pak Riziek disambut gelak tawa mereka.
    Dia mulai menggenjot tubuhku sementara di depanku Pak Usep memaksaku mengkaraoke penisnya.

    “Udah jangan nangis, lu sebenernya keenakan kan..! Ayo emut nih kontol..!” perintahnya sambil menjambak rambutku.
    Aku benar-benar merasa terhina saat itu namun menikmatinya, perlakuan kasar ini mendatangkan kenikmatan tersendiri. Selain menyodomiku, Pak Riziek juga sesekali menampar pantatku hingga terasa panas dan sakit. Di tempat lain Pak Usep terus menahan kepalaku yang sedang mengulum penisnya sambil memaju-mundurkan pantatnya seolah sedang menyetubuhiku, wajahku makin terbenam pada bulu-bulu kemaluannya yang lebat.

    Tidak lama kemudian kurasakan penis Pak Usep dalam mulutku semakin berdenyut dan akhirnya tumpahlah spermanya di mulutku. Ehheek.. hhkk.. aku tersedak tapi kepalaku ditahan olehnya sehingga terpaksa cairan itu kutelan, sebagian meleleh keluar membasahi bibirku. Pada saat hampir bersamaan pula aku klimaks yang kesekian kalinya, tubuhku mengejang, aku ingin menjerit namun mulutku tersumbat penis Pak Usep sehingga hanya terdengar suara erangan tertahan dari mulutku yang berlepotan sperma dan airmataku makin membanjir.

    Beberapa menit kemudian akhirnya Pak Riziek ejakulasi, aku merasakan cairan hangat dan kental menyirami duburku. Aku merasa sangat lelah, napasku terengah-engah dan menangis terisak-isak apalagi saat kudengar mereka tertawa-tawa dan mengucapkan kata-kata yang merendahkan kami, makin panas saja telinga dan hatiku.

    Pak Riziek masuk ke dalam dan tidak lama kemudian ia kembali dengan 2 gelas air, disodorkannya gelas itu padaku dan Rina yang dibangunkannya dengan menyiram air kolam. Langit sudah gelap ketika itu, Pak Riziek keluar membeli makan malam untuk kami. Sambil menunggu Pak Usep beristirahat dengan berendam di kolam dangkal bersamaku dan Rina, tingkahnya seperti raja minyak saja, dia meminta Rina yang payudaranya montok melakukan pijat ala Thai, sedangkan aku digerayangi dan diciuminya seperti mainan. Sungguh benci aku padanya, tapi terpaksa harus bersikap manis agar dapat lekas bebas darinya.

    Malam harinya sebelum tidur kami main berempat sekaligus di ranjangku. Pak Usep berbaring, aku naik ke atas wajahnya berhadap-hadapan dengan Rina yang naik ke atas penisnya. Kami berdua sibuk mengkaraoke penis Pak Riziek yang mengacung di antara kami. Secara bergantian kami menjilati dan mengulum penis itu hingga memuncratkan maninya membasahi wajah kami. Sementara itu kurasakan vaginaku mulai banjir lagi akibat permainan lidah Pak Usep.

    Malam itu, setelah digarap habis-habisan akhirnya kami berempat tertidur kelelahan di kamar itu. Pagi harinya kembali aku digarap di bathtub oleh Pak Riziek ketika mandi bersama, aku dibuatnya klimaks dua kali dan dia semprotkan maninya dalam vaginaku.

    Setelah seharian menjadi budak seks, mereka akhirnya mengembalikan klise itu pada kami. Kami memeriksanya dengan seksama agar tidak mendapat kesulitan lagi di kemudian hari. Segera setelah itu kusuruh mereka hengkang dari villa-ku dan kami pun pulang ke Jakarta. Hari berikutnya Pak Riziek menghubungi ayahku untuk pamit mengundurkan diri dan sejak itu pula atas bujukanku dengan macam-macam alasan, keluarga kami tidak pernah lagi menyewa orang untuk menjaga villa.

    Aku masih dendam pada mereka yang telah memperdayaiku, namun terkadang aku merasa rindu mengulanginya, rindu tangan-tangan kasar itu menggerayangi tubuhku. Hingga detik ini belum seorang pun mengetahui peristiwa itu temasuk keluarga dan kekasih kami. Pengalaman pahit ini hanya kuceritakan pada pembaca CerpenSex.com sebagai curhat dan juga peringatan agar tidak ceroboh menyimpan rahasia pribadi supaya tidak mendapat kesulitan seperti kami.

  • I Know More What You Did Last Holiday Part 1

    I Know More What You Did Last Holiday Part 1


    44 views

    Ceritamaya | Kira-kira jam 9 pagi setelah berolahraga dan sarapan teleponku berbunyi, ternyata yang menelepon adalah teman dekatku, Dian. Dia mengajakku untuk menemaninya ke villanya di Bogor, katanya terjadi suatu masalah dan harus segera kesana. Hari itu kebetulan sedang liburan akhir semester, kupikir karena aku juga sedang nganggur apa salahnya kutemani Dian ke villanya.
    Jam 10 kurang terdengar klakson mobil Dian di depan rumahku, aku langsung bergegas keluar setelah pamitan pada orang di rumah. Kami tiba setelah beberapa jam perjalanan, disana kami disambut oleh penjaga villa Dian, Pak Riziek, seorang lelaki setengah baya berumur 60-an, rambutnya sudah memutih, namun tubuhnya masih sehat dan gagah, dia adalah penduduk desa dekat villa ini. Menurut Dian, Pak Riziek orangnya baik dan bisa dipercaya karena sudah 4 tahun dia bekerja pada keluarganya dan pekerjaannya selalu rapi.

    Berbeda denganku, sejak awal aku sudah berfirasat buruk pada orang tua itu, beberapa kali aku memergokinya sedang menatapi dengan tajam bagian tubuh tertentu dari Dian maupun teman wanita lainnya yang pernah berkunjung ke villa ini, termasuk juga diriku terlebih ketika kami sedang berenang di halaman belakang villa ini. Beberapa kali aku mengadukan hal ini pada Dian, namun tidak pernah ditanggapi serius, malah aku dianggap mudah berprasangka buruk. Hingga pada suatu saat firasat buruk itu benar-benar terjadi bahkan ikut menimpa diriku.

    Pak Riziek membawa kami ke ruang tengah dimana sudah menunggu seorang pria lain. Pak Riziek memperkenalkannya pada kami. Orang ini bernama Pak Usep, berusia 50-an, tubuhnya agak gemuk pendek, dia adalah teman Pak Riziek yang berprofesi sebagai juru foto di kampungnya. Tanpa membuang waktu lagi Dian langsung to the point menanyakan ada masalah apa sebenarnya yang telah terjadi. Pak Riziek mengeluarkan sebuah bungkusan yang dalamnya berisi setumpuk foto, yang katanya adalah pokok permasalahannya.

    Kami lalu melihat foto apa yang ditunjukkan olehnya. Betapa terkejutnya kami bak disambar petir disiang bolong, bagaimana tidak, ternyata foto-foto itu adalah foto-foto erotis kami pada pesta seks liburan tahun lalu, ada foto bugilku, foto bugil Dian, foto bugil teman-teman lainnya, juga foto adegan persenggamaan kami dengan pacar masing-masing yang diabadikan oleh pacar Dian dan Vira yang berprofesi sebagai fotografer.

    “Pak..apa-apaan ini, darimana barang ini??” tanya Dian dengan wajah tegang.
    “Hhhmm.. begini Neng, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-bersih, pas kebetulan di bawah ranjang Neng Dian saya lihat kok ada barang yang nongol, eh.. taunya klise foto asoynya Neng Dian sama Neng Rina, ya udah terus saya bawa ke Pak Usep ini untuk dicuci..” jawabnya sambil tertawa.
    “Apa..kurang ajar, Pak.. bapak digaji untuk menjaga tempat ini, bukannya mengoprek barang saya!!” bentak Dian marah dan menundingnya.
    “Wah..wah.. jangan galak gitu dong Neng, saya kan nggak sengaja, justru Neng sendiri yang ceroboh kan” mereka berdua tertawa-tawa memandangi kami.
    “Baik..kalau gitu serahkan klisenya, dan bapak boleh pergi dari sini” kata Dian dengan ketus.
    “Iya pak, tolong kita bisa bayar berapapun asal kalian kembalikan klisenya” aku ikut memohon.
    “Ooo..nggak, nggak, kita ini bukan pemeras kok Neng, kita cuma minta..” Pak Usep tidak meneruskan perkataannya. “Sudahlah Pak, cepat katakan saja apa mau kalian!” kataku tak sabaran.

    Perasan aneh mulai menjalari tubuhku disertai keringat dingin yang mengucuri dahiku karena tatapan mereka seolah menembus ke balik pakaian kami. Kemudian Pak Riziek maju mendekati Dian dan beberapa senti di depanku tangannya bergerak mengelus payudara majikannya.
    “Hei.. kurang ajar, jangan keterlaluan ya!!” bentak Dian sambil menepis tangannya dan mendorongnya.
    “Bangsat.. berani sekali kamu, kalian kira siapa kalian ini hah.. dasar orang kampung!!” aku naik pitam dan kulempar setumpuk foto itu ke wajah Pak Riziek, aku benar-benar tidak terima sahabatku diperlakukan seperti itu.
    “Hehehe..ayolah Neng, coba bayangkan, gimana kalo foto-foto itu diterima orang tua, pacar, atau teman-teman di kampus Neng, wah bisa-bisa Neng berdua ini jadi terkenal deh!!” kata Pak Usep dan disusul gelak tawa keduanya.

    Aku sungguh bingung bercampur marah tidak tahu harus bagaimana. Nampaknya tiada pilihan lain bagi kami selain mengikuti kemauan mereka. Kalau foto-foto itu tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, reaksi pacarku, dan juga karirku di dunia model bisa-bisa hancur gara-gara masalah ini.
    Saat itu Pak Usep sudah ada di dekatku dan berjalan mengitariku Pak Riziek mulai mendekati Dian lalu mengelus rambutnya dan bertanya “Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran?”, dengan sangat berat Dian akhirnya hanya menganggukkan pelan.

    Aku pun sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, dan setelah kupikir-pikir daripada reputasi kami hancur, lebih baik kami menuruti kemauan mereka, lagipula keperawanan kami toh sudah hilang dan akupun termasuk type cewek yang bebas, hanya saja aku belum pernah melayani orang-orang bertampang seram, dekil dan lusuh seperti mereka ini, juga perbedaan usiaku dengan mereka yang lebih pantas sebagai ayahku

    “Ha.. ha.. ha..akhirnya bisa juga orang kampung seperti kita merasakan gadis kampus, ada foto modelnya lagi!!” mereka tertawa penuh kemenangan.
    Segera tanpa membuang-buang waktu lagi Pak Riziek menyambar tubuh majikannya itu. Dilumatnya bibir mungil Dian dan tangannya beraksi meremas payudaranya yang masih terbungkus oleh kaos ketat. Saat aku tertegun menyaksikan Dian dipecundangi, mendadak kurasakan sepasang tangan kokoh mendekap pinggangku dari belakang.
    “Hhhmm..gimana neng? udah siap dientot?” kurasakan hembusan nafas Pak Usep di telingaku.

    Tangan gempalnya mulai meremasi payudara 36B ku, sementara tangan yang lainnya menyingkap rokku dan mulai mengelus-elus pahaku yang putih mulus. Aku tidak tahu harus berbuat apa, didalam hatiku terus berkecamuk antara perasaan benci dan perasaan ingin menikmatinya lebih jauh, aku hanya bisa menikmati perlakuannya dengan jantung berdebar-debar.

    Satu-persatu kancing bajuku dipereteli oleh Pak Usep sehingga nampaklah payudaraku yang masih terbungkus BH pink. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke bagian selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah klistorisku yang masih tertutup celana dalam.
    Dengan sekali sentakan kasar ditariknya turun BH-ku, “Whuua..ternyata lebih indah dari yang difoto, mimpi apa saya bisa merasakan foto model kaya Neng Rina” pujinya ketika melihat payudaraku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Kini dengan leluasa tangannya yang kasar itu menjelajahi payudaraku yang mulus terawat dengan melakukan remasan, belaian, dan pelintiran pada putingku.

    Tak jauh dariku Pak Riziek telah mendesak Dian ke arah tembok. Kaos dan bra-nya sudah terangkat sehingga menampakkan kedua gunung kembarnya yang indah. Penjaga villa bejad itu sedang asyik menjilati dan meremas-remas payudara sahabatku itu sambil tangan satunya merogoh-rogoh ke dalam celana Dian. Adegan itu membuatku marah sekaligus terangsang.

    Tiba-tiba Pak Usep menghempaskan diri ke sofa di belakangnya sehingga diriku ikut tertarik ke belakang dan jatuh di pangkuannya. Kemudian dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir celana dalamku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan bulu-bulu mencari liangnya seperti ular hendak memasuki sarangnya. Perasaan tidak berdaya begitu menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada buah dadaku, dan permainan jarinya pada vaginaku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai.

    Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan “Eeemmhh..uuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemmhh”.
    “Kita pindah ke kamar aja ya Neng, biar lebih afdol” usulnya.

    Sebelum aku sempat menjawab apa-apa tiba-tiba badanku sudah diangkat olehnya menuju ke kamar terdekat lalu dilemparnya dengan kasar di atas tempat tidur spring bed itu membuatku sedikit terkejut. Tanpa menutup pintu terlebih dahulu Pak Usep langsung membuka pakaiannya, begitu celana dalamnya terlepas benda didalamnya yang sudah mengeras langsung mengacung siap memulai aksinya.

    Aku memandang ngeri pada penis hitam itu, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu cukup lebar sesuai tubuhnya yang tambun, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Pak Usep yang sudah telanjang bulat mendekatiku sambil tertawa cengegesan. Aku menggeser mundur tubuhku sampai akhirnya terdesak diujung ranjang. Permohonanku agar dia menghentikan niatnya agaknya tidak membuatnya tergerak, malah membuatnya semakin bernafsu.

    Sekarang dia membuka tanganku yang menutupi dadaku. Dengan lembut dibelainya pipiku, lalu belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku dimana kurasakan pakaianku mulai terlepas satu persatu, terakhir dia menarik lepas celana dalamku hingga aku telanjang bulat. Dia mencium bagian dalam celana dalamku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir kemaluanku.
    “Enak, baru pejunya aja udah enak, apalagi memeknya” katanya.

    Aku jadi ngeri dan jijik dengan tingkahnya itu.
    Direngkuhnya aku dalam pelukannya. Tangannya bergerak melata seperti ular menjelajahi tubuhku.
    “Tenang aja neng, asal neng nurut pasti klisenya saya kembaliin, tapi kalo nggak..” dia melanjutkan kata-katanya dengan mengencangkan remasan pada payudara kananku sehingga aku merintih kesakitan “Aaakkhh..sakit pak!!”.
    Dia hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat reaksiku.
    “Uuuhh..sakit ya neng, mana yang sakit..sini bapak liat” katanya sambil mengusap-usap payudaraku yang memerah akibat remasan brutal itu. Dia lalu melumat payudaraku sementara tangan satunya meremas-remas payudara yang lain.

    Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, nampaknya aku harus melupakan sejenak rasa marah, jijik, dan benci untuk menikmati perkosaan ini karena perlahan-lahan akupun sudah mulai ‘merasakan enaknya’. Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang vaginaku sambil mulutnya terus melumat payudaraku, terasa putingku disedot-sedot olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai naik, jilatan itu mulai kurasakan pada leher jenjangku hingga akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu. Puuiihh..bau nafasnya sungguh tidak sedap, namun naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.

    Pak Usep lalu berlutut sehingga penisnya kini tepat dihadapanku yang sedang duduk bersandar di ujung ranjang.
    “Ayo neng, kenalan nih sama kontol bapak, hehehe..!” katanya sambil menggosokkan penis itu pada wajahku.
    Tercium bau yang memualkan ketika penisnya mendekati bibirku, sialnya lagi Pak Usep malah memerintahakan untuk menjilatinya dulu sehingga bau itu makin terasa saja. Karena tidak ada pilihan lain aku terpaksa mulai menjilati penis hitam yang menjijikkan itu mulai dari kepalanya sampai buah zakarnya, semua kujilati sampai basah oleh liurku. Entah mengapa lama-lama bau tidak enak itu tidak menggangguku lagi, justru aku semakin bersemangat melakukan oral sex itu.

    Kukeluarkan semua teknik menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking asiknya aku baru sadar bahwa posisi kami telah berubah menjadi gaya 69 saat kurasakan benda basah menggelitik klistorisku. Pak Usep kini berada di bawahku dan menjilati belahan kemaluanku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalam lubang itu sehingga kemaluanku makin lama makin basah saja. Aku disibukkan dengan penisnya di mulutku sambil sesekali mengeluarkan desahan. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada vaginaku, tubuhku mengejang dan cairan cinta menyembur dengan derasnya, aku telah dibuatnya orgasme. Tubuhku lemas diatas tubuh tambunnya dan tangan kananku tetap menggenggam batang penisnya.

    Setelah puas menegak cairan cintaku, Pak Usep bangkit berdiri di pinggir ranjang. Tangan kokohnya memegang kedua pergelangan kakiku lalu membentangkan pahaku lebar-lebar sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia sudah dalam posisi siap menusuk, ditekannya kepala penisnya pada vaginaku yang sudah licin, kemudian dipompanya sambil membentangkan pahaku lebih lebar lagi. Batang yang gemuk itu dipaksakannya masuk ke vaginaku yang cukup sempit sehingga aku merintih kesakitan. Namun hal itu bukannya membuatnya iba malahan terus mejejalkan penisnya lebih dalam lagi sampai akhirnya seluruh penis itu tertancap.
    “Ooohh..uueenak tenan, memeknya foto model emang beda!”
    Oh, aku benar-benar telah disetubuhi olehnya, oleh orang kampung yang bau dan kasar, orang yang sangat kubenci karena menjebakku, aku juga kesal pada diriku sendiri yang tak berdaya melawan malah terangsang.

    Puas menikmati jepitan dinding vaginaku, pelan-pelan dia mulai menggenjotku, maju mundur terkadang diputar seperti mengaduk adonan. Kurasakan semakin lama pompaannya semakin cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigiti jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari.

    Tampangku yang sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan gairahnya, buktinya dia menggenjotku dengan lebih bertenaga, bahkan disertai sodokan-sodokan keras yang membuatku makin histeris. Kemudian tangan kanannya maju menangkap payudaraku yang tergoncang-goncang. Syaraf-syaraf pada daerah sensitif di tubuhku bereaksi memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.
    Suasana panas terhenti sejenak saat terdengar telepon di ruang tamu berdering. Pak Usep menghentikan pompaannya dan menarik lepas penisnya dari vaginaku, benda itu nampak mengkilap karena basah oleh cairan cintaku. Akhirnya aku dapat mengatur kembali nafasku yang sudah tersengal-sengal.

    “Heh, siapa tuh.. ganggu acara orang aja, inget ya jangan berani omong sembarangan kalo mau klisenya kembali” ancamnya sambil menarik rambutku.
    Aku hanya mengangguk ketakutan lalu bangkit untuk menyambut telepon. Namun baru saja aku sampai di depan meja rias dekat pintu keluar, sudah terdengar suara “Halo..!” pertanda Dian sudah menerima telepon.
    Aku sempat kaget katika membalikkan badan tiba-tiba Pak Usep sudah berdiri di belakangku dan menyeringai “Yuk neng, kita terusin entotannya, kan teleponnya udah dijawab”.
    Aku memandangi bangsat ini dengan jijik, sosoknya yang pendek hanya sampai sebatas hidungku dengan perut buncit dengan kemaluan menggantung, dada berbulu, wajahnya pun jauh dari tampan, mirip tuyul yang sering kulihat di film-film, sungguh tidak pernah terbayangkan olehku aku dapat disetubuhi olehnya.

    Dia menggiringku ke arah meja rias lalu aku disuruh berbalik dan tanganku bertumpu pada sisi meja rias. Sekarang aku dapat melihat diriku melalui cermin di hadapanku dan dari belakang kulihat dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya.
    “Nah, ini baru namanya pantat” dia meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya. Saat dia mulai mengelus kemaluanku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah terlarang itu. Lewat cermin kulihat dia mulai mempersiapkan kembali penisnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir vagina dan anusku. Aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati semoga dia tidak menyerang anusku, karena aku sudah membayangkan ngerinya kalau batang yang kekar itu membobol pantatku.

    Kemudian dia menyelipkan penisnya di antara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat penis itu pelan-pelan memasuki vaginaku. Di tengah desisanku aku sempat mendengar suara bentakan Dian dari luar kamar, saat itu aku belum tahu apa yang terjadi karena akupun sedang sibuk dengan “siluman buncit” ini. Kakiku mengejang ketika menerima sodokan pertamanya yang dilanjutkan dengan sodokan-sodokan berikutnya. Cermin didepanku memantulkan bayangan wajahku yang sedang horny, mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangan kasar itu meremas-remas kedua payudaraku sambil sesekali dipermainkannya putingku yang sudah mengeras.
    “Ooohh.. enak banget si neng ini!” celotehnya.

    Tusukan-tusukan itu seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari vaginaku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah mencapai orgasme. Aku mengira dia juga akan segera memuntahkan maninya, ternyata perkiraanku salah, dia masih dengan ganas menyetubuhiku tanpa memberi waktu istirahat. Rambut panjangku dijambaknya sehingga kepalaku terangkat, kembali kulihat adeganku melalui cermin dimana tubuhku yang telah mandi keringat tergoncang-goncang, nampak pula payudara dan kalung pemberian pacarku terayun kesana-kemari.

    Sudah cukup lama aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan orgasme, justru aku mulai kembali menikmatinya.Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan, atau mungkin dia sudah minum obat kuat sebelumnya. Mendadak dia menarik lepas penisnya, aku sudah siap menerima semprotan spermanya, namun..oohh..tidak! penis itu masih mengacung dengan gagahnya.
    Dia lalu duduk di kursi meja rias, “Sini neng, bapak pangku!” suruhnya.

    Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, tanpa malu-malu lagi aku bahkan menuntun penisnya memasuki milikku. Harapanku adalah agar dia cepat selesai dan aku segera bebas dari derita birahi ini. Begitu kuturunkan pantatku langsung aku bergoyang di pangkuannya, Pak Usep pun membalas gerakkanku dengan menaik turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Wajahnya dibenamkan pada belahan dadaku, tangannya yang tadi mengelus-ngelus punggungku mulai meraba payudaraku, mulutnya menangkap payudara yang satu lagi. Susuku disedot dan dikulumnya dengan rakus, kumisnya yang terkadang menyapu permukaan dadaku memberi rasa geli dan sensasi yang khas.

    Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan.
    “Uuugghh..oohh..memek neng enak banget, nngghh..memek foto.. model..!!”.
    Desahanku bercampur baur dengan lenguhannya memenuhi kamar itu. Kepalaku tengadah disertai lolongan panjang dari mulutku saat mencapai klimaks berikut, cairanku kembali tercurah sampai membasahi kursi rias itu, secara refleks aku juga mempererat rangkulanku hingga wajahnya makin terbenam pada payudaraku. Kemudian dia melepaskanku dan menyuruhku berlutut di hadapannya, diraihnya kepalaku dan didekatkan pada pelernya yang lalu kujilati dan kusedot, rasanya sudah bercampur dengan rasa kewanitaanku.

    Ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilatinya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas “Ooohh..neng..bapak..keluar!” dan disusul ‘creett..creet..’ maninya menyemprot dengan deras ke wajah juga dadaku, lalu dengan paksa dijejalinya penis itu ke mulutku.
    “Telen pejunya neng..awas jangan dimuntahin!” perintahnya.

    Aku yang saat itu tidak siap tentu saja gelagapan menerima semprotan itu sehingga yang menyemprot dimulutku sebagian meleleh keluar di sekitar bibirku, sedangkan sisanya kutelan hingga tetes terakhir dan kurasakan batang itu mulai menyusut. Setelah itu Pak Usep mengolesi maninya yang berceceran di wajah dan dadaku sampai merata, sekarang tubuhku basah dan berkilau baik oleh peluh dan sperma.

    Dipapahnya tubuhku ke ranjang dan dibaringkan. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat.
    Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku “Memek neng enak banget, bapak jadi ketagihan nih!”, Dalam tidurku aku bermimpi pacarku mendatangiku lalu aku mengangis didekapannya dan mencurahkan seluruh kekesalanku padanya bahwa aku telah dijebak oleh dua bandot itu. Tiba-tiba kurasakan dia mulai menciumku sambil meremas buah dadaku seperti yang biasa kami lakukan, juga kurasakan jari-jarinya mulai menggelitik vaginaku. Aku mendesah nikmat, kubuka mata, Ahh..aku terbangun..

    Terkejut sekali aku. Begitu mata kubuka langsung nampak sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang terbuka lebar. Rupanya ini bukan sekedar mimpi, ketika kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok pacarku itu ternyata Pak Riziek, wajahnya berada dekat vaginaku sambil mengorek-ngorek liang itu dengan jarinya. Aku berusaha bangkit dengan sisa tenagaku, tubuhku sedikit bergeser. Kutepis tangan itu dari vaginaku dan langsung kurapatkan pahaku, buru-buru kuraih guling untuk menutupi tubuh telanjangku. Ketika menengok ke samping aku lihat Pak Usep sedang duduk beristirahat di kursi rias sambil mengisap sebatang rokok.

    “Kurang ajar, awas..minggir kamu!” aku marah dan membentaknya, tapi dia malahan tertawa.
    “He-he-he.. kurang ajar gimana neng? udah dientot aja masih jual mahal..dasar cewek sombong”.
    “Perjanjian kita kan udah selesai pak, sekarang mana klisenya..!!” timpalku ketus.
    “Eeiit.. selesai gimana neng.. bapak kan belum ngerasain memek neng”.
    Sungguh saat itu darahku mendidih, aku benar-benar marah karena merasa dipermainkan, kucoba menggertaknya. “Bangsat..kalian sebaiknya kembalikan sekarang juga atau..!!”.
    Namun dengan kalemnya dia menyela, “Atau mau lapor polisi ya neng? Sok aja..kalo neng mau ini tersebar, kita mah ga maksa neng kok” sambil menunjukkan selembar fotoku di kolam belakang bersama Dian dan 2 teman wanita lain yaitu Vira dan Liana, dimana kami berempat berpose tanpa busana.

    Ucapan itulah yang membuatku sadar bahwa posisiku sudah ’skak mat’, tidak ada pilihan lain selain membiarkan tubuhku menjadi alat pemuas nafsunya. Aku yang pada dasarnya tegar dan penuh percaya diri jadi takut membayangkan akibatnya kalau berontak, mau taruh dimana mukaku kalau skandal ini tersebar, padahal karirku sebagai model sudah mulai mapan dan mulai menapaki layar kaca sebagai pemain figuran. Aku juga tidak mau teman-temanku yang terlibat dalam foto-foto itu jadi ikut susah gara-gara kami, cukup sudah kami berdua yang jadi tumbal atas semua ini.

    9kusdc
    Dian

    Pak Riziek mengambil kesempatan ketika aku sedang bingung itu dengan menyingkirkan guling yang kupeluk. Dia merenggangkan pahaku sambil mengelus-elusnya, tanganku yang menutupi dada juga disibakkannya. Mulutku mengeluarkan desahan ketika jari-jarinya mulai menyentuh klistorisku dan mengelusnya. Elusannya pada rambutku turun ke pipi, dan terus menurun ke leher hingga berhenti di payudara kananku yang lalu dibelai dan diremasnya. Dia mendekatkan mulutnya pada payudaraku dan menangkapnya dengan mulutnya, namun tak sampai setengah menit dia lepaskan lagi, lalu mengendusi payudaraku.
    “Puuiihh..sialan lu Sep..lu tadi nyiramin peju di teteknya yah, pantes rada lengket trus baunya aneh!!” omelnya pada Pak Usep.
    Pak Usep ketawa cengegesan “Eh.. hehehe sory boss, gak sengaja tadi, abis kocokannya enak pisan sih, jadi aja muncrat kemana-mana”.
    “Iya tapi kira-kira dong tuh, kalo udah bau peju gini mana enak diemot” gerutunya.
    Aku diam-diam merasa puas “Rasain lu, makan tuh peju dasar goblok” ejekku dalam hati.
    “Kalo gitu kita mandiin aja di kolam belakang, kan sekalian kita juga bisa berenang” usul Pak Usep.
    “Hmm..iya yah lagian kapan lagi kita bisa berenang di sana mana ada cewek cantiknya lagi” Pak Riziek mengangguk setuju, matanya tidak lepas dari tubuhku sambil jakunnya turun naik.

    I Know More What You Did Last HolidayKemudian mereka menggiringku ke kolam belakang secara paksa untuk dibasuh dari ceceran sperma di tubuhku. Saat melewati ruang tengah aku melihat tubuh telanjang Dian yang terkulai lemas diatas sofa, daerah kemaluannya sudah basah, buah dadanya penuh bekas cupangan dan tumpahan sperma. Aku kasihan dan ingin melihat sejenak kondisi Dian, tapi tidak diijinkan oleh mereka.

    Sesampainya dipinggir kolam tiba-tiba salah seorang mendorong punggungku dari belakang hingga aku terdorong dan “Jbuurr..!!” aku tercebur ke kolam. Aku berenang ke atas dan segera timbul ke permukaan, kusibakkan rambut basahku ke belakang, melihat tubuh telanjangku yang telah basah oleh air kolam mereka semakin bergairah sehingga buru-buru ikut nyebur ke kolam dan mengerubungiku seperti semut mengerubungi gula. Tangan-tangan kasar itu mulai menjamahi tubuhku. Aku tidak tahu lagi siapa yang mengerjai kedua payudaraku, meremas-remas pantatku, memilin-milin putingku, dan mengusap-usap vaginaku karena kupejamkan mataku dan tubuhku menggelinjang menahan nikmat.

    Tak terasa aku sudah berada di tepi kolam daerah 1,5 meter. Tubuhku dihimpit oleh mereka dengan Pak Usep di belakang dan Pak Riziek di depan, keduanya memelukku sehingga posisiku seperti daging burger yang dijepit diantara 2 roti. Pak Riziek menciumi wajahku, sesampainya di bibir, dia langsung melumatnya, lidahnya mendesak-desak ingin masuk ke mulutku, birahiku yang kembali naik membuatku membuka mulutku mempersilakan lidahnya bermain-main di mulutku. Sesudah itu mulutnya terus turun sampai ke payudaraku yang sudah bersih dari cipratan mani, dia sudah tidak sabar ingin menikmati payudaraku yang sempat tertunda.

    “Enngghh..pak..!” desahku menahan geli bercampur nikmat ketika mulutnya melumat payudaraku secara bergantian. Aku merasakan putingku disedot, digigit pelan bahkan sesekali ditarik oleh mulutnya, sementara telapak tangan Pak Usep bercokol di kemaluanku terus saja menggosok-gosok bibir vaginaku. Di tengah keadaan pasrah dan tidak berdaya itu seakan-akan ada suatu perasaan nikmat yang aneh yang tidak pernah kurasakan selama ini.

    Beberapa saat kemudian dia merentangkan kedua pahaku, betisku dinaikkan ke bahunya “Neng Rina..bapak ewe sekarang ya!” kata Pak Riziek tidak sabaran.
    Aku melihat di bawah air sana, miliknya mulai mendesak masuk ke vaginaku, “Aaahhkk..ahh..pak..!” itulah yang keluar dari mulutku saat dia menekankan dalam-dalam penis supernya hingga amblas seluruhnya, aku meringis sambil mencengkram lengan Pak Usep yang memelukku.
    “Ooohh..” Pak Riziek juga mendesah setelah berhasil menancapkan kejantanannya di dalam kemaluanku.
    “Gimana boss?? seret ga memeknya??” tanya Pak Usep pada temannya.
    “Buset, seret amat nih memek, udah ga perawan tapi rasanya kaya perawan, pinter juga si neng ini ngerawatnya!” puji Pak Riziek sambil mulai menggenjot.
    “Lha iya dong boss, dia kan foto model, harus dirawat dong, udah kena peju aja masih wangi gini kok badannya hehehe..!”

    Baca Juga : Model Porno Singapore

    Aku mulai merasakan penis itu bergerak keluar masuk pada vaginaku, mula-mula gerakan itu lembut, namun lama-lama bertambah kencang dan kasar. Aku mendesah-desah tidak karuan ditambah lagi dari belakang Pak Usep bertubi-tubi mencupangi leher jenjangku serta mempermainkan payudaraku, pantatku meliuk-liuk ke kiri-kanan sehingga Pak Riziek makin kesetanan menggenjotku sampai air di sekitar kami beriak dengan dahsyat.

    “Akkhh.. oohh..ahh..eemmhh..!” eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat Pak Usep dari samping belakang. Akupun merespon cumbuannya, lidah kami saling beradu dengan liar. Aku sudah telanjur dilanda birahi, walaupun menolak, tubuhku berkata lain, aku merem melek menikmati cara mereka mengerjai tubuhku.

    Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya terasa dinding-dinding kemaluanku berdenyut makin kencang dan erangan panjang keluar dari mulutku disertai mengejangnya tubuhku sampai menekuk ke atas, otomatis kedua payudaraku pun makin membusung. Tubuhku lemas dalam pelukan mereka. Tapi keganasan Pak Riziek belum tampak mereda, dia masih bersemangat menyodokkan penisnya tanpa mempedulikan vaginaku yang masih terasa ngilu. Aku merasa lelah dan ingin istirahat sejenak maka kudorong tubuh Pak Riziek.
    “Udah dulu.. pak..cape..uuhh” aku memelas.

    Dia lalu menarik lepas penisnya dan menurunkan pahaku sehingga aku dapat sedikit bernafas lega. Kukira dia mengerti dan memberiku waktu, tapi dugaanku salah. Pak Riziek menarik rambutku lalu dibenamkannya kepalaku dalam air dibawa mendekati miliknya. Aku yang tidak siap tentu saja meronta-ronta melepaskan diri dan segera timbul ke permukaan.

    “Mau apa.. pak..jangan kelewatan ya!” protesku terengah-engah.
    “Ngga kok, cuma mau buktiin kata Pak Usep, katanya neng jago ngemot kontol, makanya bapak pengen neng ngemot kontol bapak”.
    Wajahku merah padam dan terdiam, kutatap mereka dengan tatapan penuh kebencian, namun tak dapat kupungkiri bahwa aku pun sempat merasa senang dengan perlakuan mereka.
    “Ayo.. sini dong neng, emutin yang punya bapak!”

    Aku melihat ke bawah air sana, batang kemaluan Pak Riziek yang baru saja mengacak-acak vaginaku, benda itu begitu panjang dan kokoh, lebih panjang daripada milik Pak Usep walaupun diameternya lebih kecil, dikelilingi bulu-bulu yang sudah agak beruban. Diraihnya tanganku dan didekatkan ke sana, akupun mulai menggenggamnya, walaupun sudah berumur tapi kemaluannya masih keras. Dia dengan berkacak pinggang sesekali mendengus ketika jari-jari lembutku mulai mengocok dan membelai buah zakarnya.

    “Gimana Pak Riziek? Bener kan ngocoknya dahsyat!?” kata Pak Usep di belakangku.
    “Wuuiihh..iya loh..tangannya halus banget..tangan sama memek sama enaknya” komentar Pak Riziek.

    Pak Usep pun mendekatiku dan meraih tanganku yang satu, lalu diletakkan pada penisnya. Kini penis Pak Usep berada ditangan kiriku dan penis Pak Riziek di tangan kananku, mereka merem melek menikmati pelayananku sambil sesekali membelai bagian-bagian terlarangku.

    “Hehehe kayanya si neng ini udah sering ewean ya, abis jago banget” kata Pak Usep.
    “Lha iya dong, masa ga liat yang di foto itu, lagian katanya cewek model kaya gini katanya bisa dipake asal ada duit, ya ga neng” ejeknya padaku sambil nyengir.
    “Wahahaha..kalo gitu kita untung banget bisa ngewe cewek model, gratis lagi” timpal Pak Usep.

    Hatiku benar-benar panas mendengar olok-olokkan mereka yang menghina dan merendahkanku itu, ingin rasanya menarik penis itu sampai putus mumpung masih dalam genggamanku, namun apa dayaku karena aku hanya seorang gadis yang tidak akan menang melawan mereka, lagipula sudah tanggung, lebih baik kubuat mereka puas dan setelah itu habis perkara.

    “Nah..sekarang bapak pengen ngerasain mulut neng, ayo.. emut tuh di bawah sana!” desaknya sambil mencengkram leherku.
    Sebelum kusetujui kepalaku sudah dibenamkan ke air. Di bawah air kuraih penisnya dan kumasukkan dalam mulutku, karena panjangnya, benda itu sampai mentok di tenggorokanku. Lidahku mulai menjilat dan mengulum, sementara kurasakan sebuah tangan mengelus dan meremas pantatku dari belakang. Gairahku makin naik, terlebih tangan itu terkadang menyelipkan jarinya pada vagina atau duburku.

    Aku makin liar mengemutnya berharap dia cepat keluar, karena aku sendiri sudah merasa sesak di air sementara tangannya menahan kepalaku di sana. Harapanku mulai nampak saat gerakan pantatnya makin cepat dan rambutku dijambaknya. Akhirnya beberapa semprotan kurasa menerpa langit-langit mulut dan tenggorokanku, terpaksa aku menelan spermanya, rasanya asin dan kental, hueek..!! Seiring dengan melemahnya cengkramannya aku segera timbul ke permukaan. Nafasku mengap-mengap rindu udara segar sehingga buah dadaku ikut naik turun seirama nafasku yang kacau.

    Mimik wajah Pak Riziek menunjukkan dia puas sekali berorgasme di mulutku. Kulihat penisnya sudah tidak setegang tadi lagi, ukurannya menyusut dan berkerut oleh keriput.Beberapa menit kami beristirahat, tak lepas dari olok-olokan dan omongan jorok mereka yang menjijikkan, juga tak lupa mereka menjamahi tubuhku. Setelah itu Pak Riziek menyuruhku naik ke pinggir kolam.

    “Gantian neng..sekarang bapak di bawah, neng di atas!”
    Tanpa diminta lagi aku mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di atas lantai marmer. Ada sedikit rasa senang karena ini merupakan salah satu posisi favoritku yang sering kulakukan bersama pacarku dan cowok-cowok yang kencan denganku. Aku tanpa ragu menuntun penisnya yang sudah kembali mengeras ke arah vaginaku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi payudaraku.

    Pak Usep menonton adeganku sambil tetap berendam di tepi kolam, kadang-kadang tangannya iseng merabai pahaku.
    “Ayo..goyang neng..oohh!” Pak Riziek sepertinya ketagihan dengan goyanganku, begitu juga Pak Usep, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia keluar dari kolam dan berdiri di sebelahku, penisnya mengacung di depan mukaku.
    “Emut neng..ayo buka mulutnya!” sambil menjejalinya ke mulutku.

    Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap penis Pak Usep. Saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmatiku, tiba-tiba pintu terbuka, Dian muncul dengan mengenakan kimono kuning, sepertinya dia baru selesai mandi karena rambutnya masih basah. Dia hanya bisa melongo melihat aku sedang dikerjai. Malu sekali aku dipecundangi di hadapan sahabatku sendiri, mulutku terisi penis sehingga aku hanya bisa berseru dalam hati, “Dian..tolong jangan liat sini, pergi kamu Dian!”

    Tetap dalam posisinya Pak Riziek menengok ke samping dan menyapa Dian, “Hai, Neng Dian udah bangun toh..!”.
    “Wah, saya udah lama nungguin Neng Dian, tapi tunggu ya, Neng Rina lagi asyik makan es mambo nih..!” sambung Pak Usep.
    Beberapa saat kemudian barulah Pak Usep mencabut penisnya dari mulutku, namun aku masih harus menyelesaikan urusanku dengan Pak Riziek. Pak Usep mendekati Dian, lalu terdengar Dian marah dan membentak-bentak Pak Usep soal klise. Namun Pak Usep dengan santainya menepuk pantat Dian. Dian yang sudah tidak bisa omong apa-apa lagi hanya bisa pasrah. Bagian bawah kimononya disingkap dan mulai digerayangi Pak Usep.

    “Hooi, Pak Riziek, ternyata nona majikanmu ini asoy bener, pahanya mulus, pantatnya juga wuiih.. montok..!”
    Pak Riziek sendiri tidak peduli dengan omongan temannya, dia sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku. 15 menit dalam posisi ‘woman on top’ sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti menggigil lalu “Aaahh..!!” Dengan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas menatap langit yang sudah menguning. Tubuhku melemas dan ambruk ke depan, ke dalam pelukannya. Dia peluk tubuhku sambil penisnya tetap dalam vaginaku, kami berdua basah kuyup oleh air kolam maupun keringat yang mengucur.

    Sementara itu tak jauh dari sini, Dian yang sudah terbaring di kursi santai sedang dicumbui habis-habisan oleh Pak Usep, kimononya sudah tersingkap kesana kemari sehingga auratnya terlihat.
    “Ganti posisi yah neng” katanya dekat telingaku.
    Lalu tubuhku diturunkan dan diperintahkan telungkup. Aku nurut saja, begitu juga ketika posisiku diatur seperti merangkak. Ternyata.. aahh.. dia mencoba menyetubuhiku dari belakang, dia ludahi duburku dan menekan-nekan jarinya di sana untuk membuka jalan bagi penisnya. Aku terkejut dan mencoba berontak “Jangan pak..jangan di situ.. sakit” ibaku.
    “Tahan dikit neng, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang sementara aku merintih-rintih.

    Ketika penis itu sudah masuk sebagian, mendadak di sentakkan pinggulnya dengan kasar sehingga dengan reflek aku menjerit histeris bagaikan srigala terluka. Jeritanku itu bukannya membuatnya kasihan malahan membuatnya makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan payudaraku yang menggantung diremas-remas dengan brutal. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan Pak Riziek, juga dengan rintihan Dian yang sedang disetubuhi Pak Usep dalam posisi telentang di kursi santai. Lama-lama rasa sakit oleh sodokkannya mulai sirna berganti dengan rasa nikmat, apalagi waktu dia tarik wajahku dan memagut bibirku, diciumnya aku dengan lembut, rasanya seperti dicium pacarku. Sungguh suatu perpaduan keras-lembut yang fantastis, dia perlakukan anus dan dadaku dengan kasar, tapi di saat yang sama dia perlakukan mulutku dengan lembut.

    Akhirnya kembali kukeluarkan cairan hangat dari vaginaku bersamaan dengan desahan orgasmeku. Permainan gila itu membuatku merem-melek kesetanan, tapi juga banyak menguras tenagaku, akupun ambruk dengan nafas yang kacau. Aku masih sempat melihat Pak Riziek menuju Dian dan Pak Usep yang masih bergelut sebelum pingsan yang kedua kalinya. Siraman air membangunkanku, Pak Riziek sudah disampingku menawarkan segelas air yang segera kuminum, langit sudah gelap dan arlojiku menunjukkan jam 7 kurang. Kuhampiri dan kupeluk Dian yang menangis sesegukan di tepi kolam, kuselimuti tubuh telanjangnya dengan kimononya, kuelus-elus punggungnya untuk menenangkannya. Omongan dan olok-olokkan mereka yang tidak senonoh itu tidak kuhiraukan, aku tetap memeluk Dian dan mataku menatap marah pada mereka.

    Pak Riziek keluar untuk membeli makanan. Sambil menunggu, Pak Usep menyuruh kami menemaninya berendam di kolam dan memijit tubuhnya. Dimintanya aku melakukan ‘Thai Massage’ pada punggungnya dan Dian disuruh memijati pundaknya sambil tubuhnya digerayangi. Tak lama, Pak Riziek kembali dengan empat bungkus nasi goreng dan beberapa sachet ‘Irex’ untuk persiapan nanti malam katanya. Kami hanya diijinkan memakai kimono tanpa apapun dibaliknya, jadi kalau tangan mereka lagi ‘gatal’ dengan mudah dapat menjamah tubuh kami.

    Malamnya sebelum tidur ‘pesta’ dilanjutkan. Kami main berempat sekaligus di kamar tempat aku dikerjai tadi. Aku bergoyang di atas penis Pak Usep yang sedang asyik menjilati vagina Dian yang menaiki wajahnya. Mulut kami sibuk melayani penis Pak Riziek yang mengacung diantara wajah kami, Dian memasukkan benda itu ke mulutnya dan aku mengulum buah zakarnya, demikian kami bergantian menjilati dan mengulumnya. Aku mencapai klimaks bersamaan dengan muncratnya sperma Pak Riziek yang membasahi wajah kami. Aku rebah di samping mereka dengan wajah belepotan sperma. Mereka mulai mengeroyok Dian, tubuhnya mereka olesi baby oil hingga nampak licin berkilau, Pak Riziek menusuk vaginanya sambil berbaring dan Pak Usep menusuk anusnya dari belakang.

    Melihat Dian yang meringis dan merintih itu aku jadi kasihan, maka dengan sempoyongan kudekati Pak Usep yang sedang menyodomi Dian, kutarik dan kutindih tubuh gendutnya, dengan sigap kulumat bibirnya dan kugenggam penisnya untuk kumasukkan ke vaginaku. Kuserang dia dengan gencar hingga dia menumpahkan spermanya di rahimku, untung saat itu aku sedang dalam masa ’safe’ sehingga tidak perlu takut hamil. Pokoknya malam itu kami digarap habis-habisan, bahkan membalas SMS pacarku pun sambil dientot, jadi aku ditindih Pak Riziek yang menaik-turunkan tubuhnya, sementara tanganku mengetik SMS di ponselku. Ironis memang, aku menulis kata-kata manis untuk pacarku namun disaat yang sama aku menikmati persetubuhan dengan lelaki lain.

    Mereka menyudahi ‘pesta’ ini sekitar jam 10 malam, kami berempat tertidur di ranjang itu tanpa busana. Pak Riziek tidur sambil menggenggam payudaraku, Pak Usep tidur sambil memeluk Dian. Besoknya sambil menunggu kamar mandi yang sedang dipakai Dian dan Pak Riziek, Pak Usep menyuruhku mengocok penisnya dengan payudaraku. Kujepit penisnya dengan daging kenyalku, pijatanku membuat pemiliknya merem melek keenakan sambil meremas rambutku. Beberapa menit kukocok dia dengan payudaraku sampai maninya muncrat di wajahku, tapi kali ini tidak terlalu banyak lagi.

    Setelah Dian dan Pak Riziek selesai mandi, kami melanjutkan mainnya di bawah siraman air hangat. Pak Usep membaluriku dengan sabun cair, tapi lebih tepat dibilang menggerayangi daripada menyabuni. “Buka pahanya neng, jembutnya mau bapak keramas!”, direnggangkannya pahaku dan tangannya yang bersabun mulai mengusapi kelaminku sampai berbusa. Sementara akupun menggenggam penisnya dan secara reflek mengocoknya.

    Dan usailah mimpi buruk ini, mereka akhirnya mengembalikan klise itu setelah puas menikmati kami. Kami memeriksa dengan teliti, apakah ada kekurangan atau tidak agar tidak bermasalah kemudian hari. Sebelum pergi ternyata Pak Riziek memintaku untuk terakhir kali meng-oralnya. Dengan jengkel aku mengeluarkan penisnya dari balik celananya, kukulum benda itu di hadapan Dian dan Pak Usep.

    Belakangan Pak Usep pun menyuruh Dian melakukan hal yang sama padanya. Tidak sampai 10 menit akhirnya dia ejakulasi disusul Pak Usep, kuusahakan agar maninya tidak meleleh keluar sebab aku sudah berpakaian lengkap dan tidak mau bajuku kotor oleh mani si bangsat ini, kuhisap kuat-kuat sampai dia melenguh panjang. Segera setelah itu Dian mengusir mereka dari villanya, meskipun diusir dengan galak, tapi mereka malah tersenyum puas dan tertawa-tawa.

    Tak lama sesudah peristiwa itu Pak Riziek mengundurkan diri. Sejak itu Dian kapok, tidak mau lagi menyewa orang untuk menjaga villanya. Pengalaman gila itu belum pernah kuceritakan pada keluarga maupun pacarku, hanya kami berdua saja yang tahu. Hari-hari pertama setelah itu aku sulit berkonsentrasi, yang terlintas di ingatanku hanya permainan kasar mereka ketika memperkosaku dan terkadang ada perasaan ingin mengalaminya lagi, tapi dilain sisi, perasaan halusku mengingatkan bahwa itu adalah perkosaan brutal yang tidak pantas diingat kembali, biarlah dari peristiwa ini kami dapat mengambil hikmahnya. Aku hanya bisa mencurahkan perasaanku yang bercampur aduk antara benci, dendam, rindu, dan horny ini melalui tulisanku ini, seperti yang pernah dilakukan oleh temanku beberapa waktu lalu.

  • Model Porno Singapore

    Model Porno Singapore


    46 views

    Ceritamaya | Saya adalah seorang model sebuah majalah porno di Singapore. Yah, seperti yang kedengarannya, bekerja di majalah porno sebagai model tidak membutuhkan baju yang bagus dan make-up yang tebal. Yang penting adalah menjaga tubuh agar tetap seksi juga perawatan wajah. Aku tidak perlu ke Singapore untuk difoto, karena di Jakarta juga terdapat studio foto untuk mengambil gambar model-model dari Indonesia yang kemudian dikirimkan dan diterbitkan di Singapore.

    Mungkin anda heran, bagaimana saya dapat terjun dalam dunia seperti itu. Baiklah, akan saya ceritakan masa lalu saya. Pada saat usia saya menginjak 16 tahun, kedua orangtua saya meninggal dalam kecelakaan. Saya sangat terpukul dengan kejadian itu. Pada saat itu saya sangat bingung dengan keadaan ini, karena saya tidak tahu harus kemana. Saya tidak punya keluarga lain selain keluarga saya sendiri, sementara saya adalah anak tunggal.

    Namun tidak lama kemudian, teman bisnis ayah saya, anggap namanya Pak Mori, berusia sekitar 50 tahun, datang menawarkan saya untuk tinggal di apartemennya dan beliau berjanji akan membiayai sekolah saya sampai saya lulus SMA. Dalam keadaan bingung, akhirnya saya menerima tawaran beliau. Saya lalu tinggal di apartemen beliau, hanya berdua dengannya.

    Beberapa bulan kemudian saya tinggal dengannya, tiba-tiba pada suatu malam, Pak Mori masuk ke dalam kamar saya. Saat itu saya baru saja masuk kamar dan belum sempat menguncinya. Saya kaget karena beliau tidak mengetuk kamar saya dulu, dan pada saat itu saya hanya mengenakan daster kuning polos yang tipis. Di dalamnya saya tidak mengenakan BH dan hanya mengenakan CD saja. Sejenak Pak Mori terkesiap melihat saya, namun beliau kemudian mendekati saya. Spontan saya memeluk bantal untuk menutupi dada saya.

    Pak Mori lalu berkata kepada saya, “Sally, tolong Bapak, Nak, istri Bapak sudah lama meninggal, Bapak sudah lama tidak dilayani. Bapak tidak minta macam-macam. Bapak hanya minta agar Sally bersedia melayani Bapak.”
    Wajahnya terlihat sayu dengan keringat di dahinya. Saya tidak tega melihatnya. Saya pikir beliau telah baik mau membiayai sekolah saya. Lagipula keperawanan saya telah hilang sejak saya masih kecil ketika jatuh dari sepeda.

    Pak Mori terus memandang dan menunggu jawaban saya, sedangkan saya tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Pak Mori meraih bantal yang saya peluk untuk menutupi dada saya dan meletakkannya di tempat tidur. Kemudian beliau diam dan memandang saya.
    Melihat saya diam, beliau lalu berkata, “Kalau Nak Sally diam, Bapak rasa jawaban Sally ‘iya’.”
    Beliau masih memandangi saya. Tiba-tiba beliau meraih dan memeluk tubuh saya dan mengusap-usap punggung saya.
    “Terima kasih, Nak.” beliau berkata sambil menatap hangat pada saya.

    Setelah itu beliau mulai menciumi kening saya dan kedua pipi. Lalu menjulurkan lidah sambil mencium telinga dan bibir saya. Kubalas ciumannya, lidahnya bermain liar di dalam mulut saya, begitupun saya. Tangannya yang dari tadi memeluk punggung saya mulai turun mengelus-elus pantat dan meremasnya. Kemudian kepalanya turun ke leher saya, menciumi dada saya yang masih tertutup daster kuning. Saya mulai terangsang. Apalagi ketika mulutnya berhenti di puting saya yang hanya ditutupi daster kuning polos yang tipis itu. Beliau mengulum dan menggigit puting saya itu.

    “Uuh.. aahh.. Pak.. Uh..!” saya sudah tidak kuat lagi.
    Geli rasanya dada ini dipermainkan seperti itu oleh Pak Mori. Spontan saya membuka 4 kancing daster yang terletak di depan itu, dan terlihatlah kedua bukit kembar saya yang montok itu, berukuran 36B dengan puting berwarna pink gelap dan mencuat menantang ke wajah Pak Mori. Beliau langsung melumatnya, menggigit kecil, kemudian memasukkan semua ke dalam mulutnya. Ternyata mulut Pak Mori lebar juga, buktinya bukit dada saya yang 36B masuk semua ke dalam mulutnya.
    “Aduuh.. Pak, geli ah.. enaa..gh..!” saya meraung-raung keenakan.

    Pak Mori menurunkan daster terus ke bawah dan sambil menciumi perut saya yang rata karena sering sit-up itu. Tangan kirinya bergerak menurunkan daster, dan tangan kanannya mengelus-elus pantat dan paha saya yang mulus. Setelah daster turun semua, tangan kirinya mengangkat kaki kanan saya dan melipatnya ke atas tempat tidur. Lalu beliau berjongkok dan tangan kirinya membuka sebagian kain CD yang menutupi bukit kemaluan saya. Seketika itu langsung terlihatlah bukit kemaluan saya yang bulu-bulunya sedikit itu, sehingga beliau tidak perlu susah-susah menjilati kelentit saya.

    “Oohh.. Pak.. enaakk..!” kata saya sambil memegangi kepalanya.
    Saya tidak perduli lagi siapa dia. Pak Mori terus menjilati kelentit saya dan memasuki satu jari tangan kanannya ke dalam vagina, dan menggerakkannya keluar masuk. Saya betul-betul keenakkan. Saya menggerakkan pantat turun naik mengikuti gerakan jarinya itu. Tiba-tiba sesuatu meledak dalam diri saya.
    “Aaa..gh.. aku mau kelua.. ar..!” air kenikmatan saya membasahi jari dan mulutnya. Beliau menghisapnya habis.

    Kemudian yang tidak disangka, beliau merobek sebagian kain celana dalam saya yang menutupi bukit kemaluan saya dan kemudian membuka CD-nya. Terlihatlah senjatanya yang besar ditumbuhi bulu-bulu yang sangat tebal. Saya sudah tidak tahan lagi melihatnya.
    “Ooh.. masukkan, Pak, cepat Pak..!” kata saya sambil mengelus-elus bukit kemaluan saya yang telah basah itu.
    Ternyata Pak Mori pun sudah tidak kuat. Beliau langsung menghujamkan penisnya masuk ke dalam vagina saya.
    “Aaah.. sakiit..! Enaaggh..!” kata saya yang mulai merasa nyeri tapi sangat enak di bagian bawah itu.

    Model Porno SingaporePak Mori menaik-turunkan penisnya dengan cepat. Ternyata melakukan sambil berdiri enak juga. Kedua tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Tangan saya pun tidak mau kalah dan meremas-remas kedua pantatnya. Tidak lama saya mendapat orgasme yang kedua, dan tidak lama kemudian beliau pun juga. Akhirnya kami tertidur berpelukan di tempat tidur. Keesokkan harinya, kami melakukannya lagi di kamar mandi. Kami masing-masing orgasme dua kali. Setelah itu saya pergi ke sekolah dan beliau pun pergi ke kantor.

    Sejak itu hidup saya berubah. Kami seperti selayaknya suami istri di dalam apartemen kami. Ternyata untuk orang seusianya, beliau masih sangat kuat melakukannya berjam-jam. Bahkan saya dilarangnya mengenakan baju bila di dalam apartemennya itu. Tapi saya selalu menggodanya dengan hanya mengenakan sehelai kain di tubuh. Misalnya, hari ini saya hanya memakai BH saja, sedangkan bagian tubuh yang lain polos mengoda. Lalu kemudian saya duduk di depannya dengan membuka lebar-lebar selangkangan, sehingga kemaluan saya menantang dirinya. Beliau selalu tidak tahan dan mengajak bermain lagi.

    Besok harinya saya hanya mengenakan CD saja yang berwarna hitam dan bahannya bolong-bolong, sehingga bulu kemaluan yang sedikit itu keluar dan klitoris yang berwarna pink itu juga terlihat bila saya mengangkang, sedangkan payudara saya bergelantungan dengan indahnya di dada. Bila seperti itu, beliau lalu memeluk dan menggendong saya ke tempat tidur sambil mulutnya mengulum payudara dan menarik-narik putingnya. Ini kami lakukan hampir tiap hari seperti selayaknya pengantin baru sampai saya lulus SMA. Namun Pak Mori ini seperti tidak pernah mati kekuatannya untuk melakukan hubungan seks dengan seorang gadis belia seperti saya, dan saya selalu dibuat puas olehnya.

    Suatu hari ketika saya baru selesai mandi, seperti biasa saya keluar dari kamar tanpa menggunakan busana, dan sambil mengeringkan rambut yang masih basah, saya pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tanpa saya sadari, ternyata ada dua orang teman Pak Mori yang bertamu. Mereka berdua terlihat kaget melihat saya yang telanjang bulat itu. Begitu pun saya. Tapi rasa kaget saya tidak saya perlihatkan dan langsung saya pergi ke dapur cepat-cepat.

    Malam harinya ketika hendak tidur, Pak Mori berkata pada saya, “Sally, mau gak jadi model..?” tangannya mengelus-elus puting saya.
    “Model..? Model seperti di majalah-majalah itu..?” tanya saya.
    “Yah, tapi ini berbeda. Begini, teman-teman Bapak yang tadi itu berasal dari Singapore. Yang satu namanya Pak Ramen, yang satu lagi Pak Davis. Pak Ramen sebenarnya orang Indonesia, tapi tinggal di Singapore. Beliau adalah editor majalahnya, sedangkan Pak Davis adalah direkturnya.”

    “Jadi maksudnya majalah Singapore..?”
    “Yah begitu. Mereka berdua setelah melihatmu menjadi tertarik dan menawarimu menjadi model. Tapi kamu tidak perlu ke Singapore. Kamu cukup tinggal di Indonesia, karena studio fotonya ada di Indonesia.”
    “Tapi Sally malu, tadi Sally telanjang di depan mereka.”
    “Em.., begini Sally tidak perlu malu, karena.. eh.. majalah mereka adalah majalah porno.. eh tapi itu terserah Sally, mereka hanya menawari karena tertarik dengan Sally. Kalau Sally tidak mau, itu juga tidak apa-apa.”
    Saya mengerti. Mereka telah melihat tubuh saya dan mereka tertarik. Saya bingung sekali.

    “Honornya lumayan gede lho, Sal. Bapak tidak akan minta kok. Kalau Sally nanti mau, honornya tetap buat Sally, karena kan Sally yang bekerja. Makanya Bapak terserah Sally saja. Kalau mau dicoba saja.” lanjutnya.
    Saya mulai tertarik.
    “Sally harus datang kemana, Pak..?” beliau tersenyum dan memberitahu alamatnya.

    Keesokkan harinya saya datang ke studio foto itu. Tempatnya seperti rumah biasa, cukup besar dengan pagar tinggi yang menutupi rumah tersebut. Seperti bukan kantor atau studio foto. Lalu saya masuk dan bertanya pada resepsionist hendak bertemu dengan Pak Davis. Seseorang mengantar saya ke kantor Pak Davis. Pak Davis terseyum menyambut saya. Ternyata beliau seorang pemuda berusia 30 tahunan. Tidak begitu ganteng tapi di tubuhnya yang putih ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Terlihat dari tangan dan dadanya yang bidang. Namun senyumnya terlihat menarik.

    “Selamat siang, Sally, silakan duduk..!”
    Saya duduk di depan mejanya. Ia pun duduk.
    “Singkat saja, jadi kamu tertarik..?”
    “Iya, Pak.”
    “Jangan memanggilku Pak. Panggil aku Abang saja. Aku sebenarnya berasal dari Indonesia juga. Semua orang memanggilku Bang Davis.” saya tersenyum.
    “Oke, kita kembali ke pokok semula. Begini Sally, untuk menjadi model ada beberapa syarat. Yang pertama, kami harus mengedit tubuhmu dulu.”
    “Mengedit tubuhku..?”
    “Yah, kami harus tahu bagaimana tubuhmu, apa kekurangannya dan kelebihannya. Kekurangannya akan ditutupi, kelebihannya akan ditonjolkan. Jadi nanti bila difoto akan baik jadinya. Mengerti..?”
    Saya mengangguk.

    “Sekarang buka seluruh pakaianmu, aku akan memanggil editor kami, Bang Ramen.” Ia keluar dari ruangannya.
    Saya merasa kikuk. Tapi akhirnya saya buka baju satu persatu sampai tinggal BH dan CD. Tiba-tiba mesuklah Bang Ramen dan Bang Davis.
    “Lho, kok, CD dan BH-nya tidak dibuka..? Tidak perlu malu. Pekerjaanmu nanti tidak memerlukan baju. Kurasa, Pak Mori sudah menjelaskannya bukan..?”
    Saya mengangguk seperti orang bodoh. Lalu membuka CD dan BH saya. Saya memang tidak perlu malu, toh mereka pun sudah melihat saya telanjang bulat di apartemen Pak Mori.

    Baca Juga : Kuli Tua Versus Ex Model

    Setelah telanjang bulat, saya berdiri menantang. Mereka melihat saya tanpa berkedip. Saya tahu ‘adek-adek’ mereka sudah berdiri melihat saya. Tiba-tiba saya merasa percaya diri. Ini merupakan permainan yang menyenangkan. Lagipula saya senang menggoda Pak Mori. Mengapa saya tidak bisa menggoda mereka juga? Saya lalu melepas jepitan rambut dan terurailah rambut saya yang sangat lebat dan indah. Saya berdiri menggoda di depan mereka sambil memainkan sedikit rambut saya di dalam mulut. Bang Ramen mulai mendekat. Ia mengelus tangan saya, lalu pipi. Lalu ia memutari tubuh saya dan mengelus punggung dan pantat saya. Lalu tangannya mulai memegang payudara saya yang 36B itu beserta puting yang mencuat ke depan itu. Lalu ia berjongkok dan mengelus paha dan membuka selangkangan saya. Lalu ia berdiri lagi, tiba-tiba ia mencium leher saya.

    Tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Saya mulai terangsang. Lalu tangan kirinya beralih ke selangkangan saya yang sudah mulai basah itu dan berhenti pada klitoris. Ia mengelus-elus klitoris saya. Tangan kanannya mengelus anus saya.
    “Uuhh.. eehh.. ahh..!” tidak sengaja saya meraung-raung, tanpa saya sadari ternyata Bang Davis telah ikutan menghisap puting saya dan tangan kanannya memegang puting yang satu lagi.
    Tangan kiri Bang Ramen dimasukkan ke dalam vagina saya dan bergerak keluar masuk. Kami melakukannya sambil berdiri seperti ketika pertama kali saya melakukannya dengan Pak Mori. Saya benar-benar terangsang.

    Bang Ramen mencium bibir saya dan memainkan lidahnya di mulut saya. Erangan saya tertahan di dalam mulutnya. Lalu Bang Ramen berjongkok dan mencium klitoris dan memainkan lidahnya di sana, namun jarinya masih bermain di vagina. Posisi Bang Ramen digantikan oleh Bang Davis yang mencium dan melumat-lumat bibir saya. Tiba-tiba saya merasa ada yang keluar. Walaupun erangan saya tertahan oleh bibir Bang Davis, tapi mereka tahu bahwa saya orgasme pertama kali dari getaran tubuh saya.

    Lalu Bang Ramen membuka celananya, juga Bang Davis. Penis Bang Ramen sangat besar dan hitam. Bang Davis pun juga besar tapi putih. Masih dalam posisi berdiri, Bang Ramen memasukkan penisnya ke dalam anus saya. Rasanya sakit sekali. Saya mengerang kesakitan, namun tiba-tiba Bang Davis memasukkan penisnya ke vagina. Rintih saya berubah menjadi keenakan. Mereka berdua memainkan penis mereka keluar masuk anus dan vagina saya. Rasanya enak sekali disetubuhi dua pria sekaligus. Permainan kami cukup lama.

    Saya sudah orgasme tiga kali ketika mereka berdua orgasme untuk pertama kalinya. Akhirnya mereka mencabut penis mereka dan merebahkan tubuh mereka di bangku sofa. Sedangkan saya bersenderan pada tembok dan memejamkan mata. Saya merasa lemas sekali melayani dua pria sekaligus. Tiba-tiba Bang Davis memegang bahu saya.
    “Kamu diterima, Sally..!”
    Saya tadinya hampir marah karena untuk diterima saya harus melayani mereka berdua terlebih dahulu. Tapi ketika mengingat kenikmatan yang baru saja saya terima, saya dapat menahan amarah.

    Lalu hanya dengan mengenakan BH saja, saya dibawa Bang Ramen ke sebuah ruangan yang berisi semacam bar di situ. Di dalamnya terlihat banyak wanita yang tidak menggunakan baju sama sekali. Ruangan itu ternyata jadi satu dengan studio fotonya, sehingga model-model yang merasa haus dapat langsung memesan minum di situ. Saya disuruh duduk di bangku bar yang tinggi dan disuruh mengisi lembaran formulir dan lembaran kerjasama. Lalu Bang Ramen meninggalkan saya sendiri di situ.

    Ketika saya sedang mengisinya, seseorang mencolek saya dari belakang. Ketika saya menoleh, terlihat seorang pemuda memandang saya sambil tersenyum. Tanpa basa basi lagi, pemuda tadi mendekatkan wajahnya ke vagina saya dan menjilat klitoris saya. Saya kaget dan ingin menghindar. Tapi bangku bar yang tinggi yang membuat saya kesulitan menapakkan kaki saya ke lantai, sehingga membuat selangkangan saya yang tanpa CD itu terbuka lebar membuat saya kesusahan untuk turun. Pemuda itu tetap menjilati selangkangan saya. Vagina saya yang masih merasa geli akibat serangan Bang Ramen tadi akhirnya basah lagi dan saya mulai merasa keenakan.

    Tidak lama saya orgasme lagi di tempat duduk bar itu, sehingga tempat duduk yang terbuat dari kulit itu menjadi basah oleh cairan kenikmatan saya itu.
    “Salam kenal, Mbak. Saya Roy, model pria di sini. Mbak namanya siapa?” tanyanya kemudian.
    “Sally” kata saya lemas.
    “Nanti kita akan selalu ketemu, dan kita pasti akan melakukannya lagi.”
    Saya tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan mulai mengisi formulir itu lagi.

    Tidak lama Bang Ramen datang dan mengambil formulir yang telah saya isi itu. Ia menunjukkan honor saya dan pekerjaan saya. Untuk pertama kali pada hari pertama itu saya difoto bugil di depan banyak orang. Ternyata inilah pekerjaan baru saya. Menyenangkan sih, asal tidak hamil saja. Karena ketika difoto berpasangan, tidak jarang kami menyatukan alat kelamin kami, sehingga fotonya lebih bagus dan tidak terlihat kaku.

    Kadang-kadang saya juga main dengan Bang Ramen atau Bang Davis atau kedua-duanya. Namun di rumah saya tetap menjadi ‘istri’ Pak Mori. Itulah pengalaman saya. Foto-foto saya banyak dipampang di majalah porno di Singapore, dan tentu saja tidak dijual bebas. Hanya golongan tertentu yang menerimanya.

  • Kuli Tua Versus Ex Model

    Kuli Tua Versus Ex Model


    71 views

    Ceritamaya | Didikan dan dorongan dari orang tuaku mampu menghantarkanku menjadi orang yang memiliki status sosial dan ekonomi lumayan dibandingkan keadaan keluargaku sebelumnya ketika aku masih kecil. Maklum kami berasal dari keluarga yang cukup bersahaja.

    Aku selalu disuruh belajar dan belajar. Kata mereka, bila ingin memperbaiki tingkat kehidupan maka kita harus giat belajar sehingga kelak setelah memiliki ilmu yang tinggi dan lulus dari perguruan tinggi, rejeki akan lebih mudah didapat. Orang tuaku ada benarnya meskipun sekarang banyak sekali sarjana menganggur, kalah sama yang berani mengambil kesempatan apa saja biarpun tidak tinggi sekolahnya. Namun sesungguhnya ada kekurangannya juga. Setelah menyandang gelar S1 di salah bidang keteknikan aku beruntung dengan amat mudahnya mendapatkan pekerjaan yang bergengsi.

    Namun seperti yang telah kusebutkan tadi, aku begitu terobsesi dengan isi otak belaka, namun tidak dalam hal kepandaian bergaul. Lebih parah lagi dalam hal bergaul dengan cewek. Asli seperti layaknya murid TK bila dibandingkan dengan para pria dewasa lainnya. Di samping memiliki masalah dalam psikologi, kelemahan lain yang juga kritis yang kuidap adalah masalah fisiologi.

    Aku lemah. Aku terlalu acuh dan menganggap remeh masalah olah tubuh. Dampaknya adalah aku tidak memiliki kekuatan fisik yang prima yang seharusnya dimiliki oleh seorang pria. Tubuhku memang tidak kerempeng, namun kurang berotot dan bertenaga, dan celakanya lagi untuk urusan seks aku tidak terlalu ‘jantan’. Bila melihat wanita
    cantik aku hanya sekadar ngiler saja tanpa berani bertindak lebih jauh, takut mengecewakan. Akhirnya aku hanya mampu dari ke hari membayangkan mereka saja. Selebihnya onani, itupun paling seminggu sekali, bila kantong pejuhku sudah kurasa penuh.

    Tapi biarlah, tidak semua yang kita inginkan di dunia bisa kita dapatkan, Tuhan telah sangat adil membagi karunia-Nya. Ada yang diberi kelebihan rejeki, ada yang diberi kelebihan penampilan fisik, dan ada yang diberi kelebihan kekuatan fisik.

    Sesungguhnya semua itu tergantung juga dari cita-cita, tempaan hidup, ataupun keadaan yang kadang tak dapat dihindari atau dikehendaki sebenarnya. Mungkin semua orang ingin kaya, namun berhubung satu dan lain hal
    mereka tidak beruntung mendapatkannya. Akan tetapi sebenarnya bila mereka pasrah dan mampu berpikir positif
    untuk menggali kelebihan-kelebihan dari kekurangan-kekurangannya (seperti setali dua uang, di satu sisi ada plus pasti di sisi lain ada minusnya), mereka akan menemukan keunggulan tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh orang yang mereka anggap ‘beruntung’.

    Begitulah kehidupan, kebanyakan orang hanya mampu mendongak ke atas, selalu berkeluh kesah memprihatini diri sendiri atas kelebihan orang lain.

    Sementara aku saat ini memiliki pandangan lain, aku suka iri melihat para pria perkasa yang akibat tempaan hidupnya yang berat justru membuat mereka memiliki kekuatan fisik yang prima, sekaligus memiliki pesona seksual yang luar biasa bagi lawan jenis.

    Aku merasa bahwa kelebihan materiku paling hanya dapat menyilaukan mata wanita, tapi tidak benar-benar mampu membuat mereka bertekuk lutut. Mereka mudah dekat denganku karena statusku, namun aku merasa mereka tidak benar-benar di ‘dekatku’ setelah merasakan ‘keintiman’ denganku.

    Sehingga pada suatu ketika aku menemukan metode yang kuanggap dapat memuaskan hasratku, meskipun tidak secara langsung namun ternyata luar biasa kenikmatan yang dapat kuraih, yaitu memuaskan diri dengan meminjam kemampuan orang lain.

    Inilah sebagian kisah-kisahku dalam mendapatkan kepuasan seksual tetapi tidak secara langsung melakukannya
    sendiri, alias kepuasan sekunder.

    Menyutradari
    Suatu pagi di hari Sabtu ketika sedang jalan-jalan cari angin untuk menumpas kejenuhan dan kepenatan kerja beberapa bulan ini aku mencoba rute ke arah pelabuhan yang selama ini belum pernah kucoba. Memasuki tol dalam kota aku menuju arah pelabuhan Tanjung Priok. Rencanaku adalah melihat-lihat suasana pelabuhan. Mengamati kapal berlabuh atau berlayar, kesibukan bongkar muat, atau hal-hal lainnya yang benar-benar baru.

    Kuparkir mobil di areal parkir lalu aku mendekati anjungan sambil bersedeku di pagar. Hawa semilir pelabuhan masih segar di pagi hari. Kesibukan pelabuhan sudah mulai.

    Pertama kuamati kapal besar yang berlabuh. Nampaknya kapal barang, karena lebih banyak barang yang turun
    ketimbang manusia. Tiba-tiba terlintas kilat sesuatu di kepalaku. Aha, kenapa tidak kucoba? Lalu mulai kuteliti satu per satu para kuli pelabuhan. Ada beberapa yang tua, namun kebanyakan masih muda. Badan mereka rata-rata kekar berotot. Rata-rata berkulit gelap mungkin karena tertempa teriknya matahari pelabuhan selama bertahun-tahun. Tapi bagaimana caranya? Aku sedang mendebat diriku sendiri. Ah, macam mana mereka bisa menolak penawaranku.

    Lalu aku mencoba menyeleksi secara diam-diam, siapa diantara mereka yang hendak kupilih sebagai calonnya. Yang tua? Sebenarnya nggak masalah, toh mereka nampaknya juga masih jantan. Yang muda, tentu saja memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar untuk rencanaku nanti.

    Akhirnya kupilihlah yang agak tua, sekitar 50 tahunan, dengan pertimbangan yang tua lebih berpengalaman dan lebih mampu mengendalikan permainan. Di samping itu itung-itung membantunya secara finansial, kasihan
    tua-tua masih banting tulang menjadi kuli. Nah sekarang tahapan selanjutnya adalah melobi dan merayu si Bapak
    agar bersedia menjadi aktor dalam permainan erotis ini.  “Pagi?”, sapaku mencoba ramah. “Pagi juga”, bapak ini agak terkejut dan grogi ketika disapa seorang perlente seperti diriku ini (hehe memuji diri sendiri) hingga menimbulkan sejuta pertanyaan baginya, tiba-tiba ada orang asing yang menyapanya.
    “Boleh ngomong sebentar, 5 menit aja Pak”.
    “O.. Oh ya boleh, boleh, ada apa Den?”.
    “Panggil aja Prakosa, jangan pakai Dan-Den segala”,
    gurauku. Mencoba mencairkan ketegangan.
    “Gini Pak, saya mau minta tolong tapi saya juga khawatir
    akan Bapak tolak mentah-mentah.”

    Bapak ini menunggu kalimatku selanjutnya, lalu nggak tahan akhirnya bertanya.

    “Pertolongan apa, Nak Prakosa?”.
    “Istri Bapak ada di mana? Di kampung atau dibawa ke
    Jakarta sini?”.
    “Ah ya ditinggal di kampung saja Pak, susah kalau dibawa
    ke sini. Berat hidup di Jakarta Pak.”

    Oho, ada peluang nih.

    “Lah berapa lama Bapak tidak ketemu istri?”, pancingku.
    “Sebulan, kadang lebih. Emang kenapa ya Nak?”.
    “Nggak kok, apakah Bapak tidak terlalu lama berpisah
    dari istri”, kukupas halus naluri dasar seorang manusia,
    khususnya pria.
    “Heh heh.. Bapak tahulah maksud Nak Prakosa. Habis
    gimana yah, memang masalah makan jadi nomor satu bagi
    saya. Jadi harus berjauh-jauhan dari istri agar ada yang
    bisa dimakan. Daripada kumpul, kami mau makan apa?”.
    “Okelah gini Pak, singkat kata aja ya, saya mau membantu
    Bapak untuk menyalurkan kekangenan Bapak kepada istri
    atau wanita tepatnya.”
    “Waduh, Bapak nggak punya duit lebih untuk begitu-begitu
    Nak.”
    “Oh tidak, tidak, Bapak tidak perlu mengeluarkan biaya.
    Nanti biarlah saya yang membiayai semua ini bahkan ada
    tips buat Bapak. Jadi tinggal Bapak bilang saja bersedia
    nanti sisanya biar saya yang urus. Gimana, mau nggak
    Pak?”

    Hampir aku kejedot rantai kapal yang besar-besar itu ketika si bapak akhirnya meng-aprove proposalku. Laki-laki mah di mana-mana sebenarnya sama saja, sulit menolak penawaran menggiurkan seperti ini. Aku sudah bergairah duluan ketika membayangkan bakal ada adegan panas antara ‘Beauty and the beast’. Permainan kontras yang mampu melecut gairahku.

    Kuputuskan segera mengontak sang pemeran wanita pagi-pagi supaya tidak keburu dibooking orang. Begitu mendapat konfirmasi atas kesediaannya untuk menyediakan waktunya malam ini, maka bergegas pula kukontak sebuah hotel kelas sedang. Yang penting tempatnya agak terlindung dari keramaian. Si bapak akan kujemput duluan sore-sore dari tempat kerjanya sesuai janjiku untuk mengurus semuanya. Sementara pemeran wanita akan datang sendiri tanpa perlu dijemput.

    Aku biasa membeli tabloid-tabloid panas yang banyak tersedia di ibukota. Aku suka memelihara gairahku akan
    wanita dengan berlangganan membeli filem bokep, tabloid atau majalah panas yang berisi info mengenai esek-esek
    di ibukota. Dengan seringnya berlangganan membeli tabloid semacam itu, aku jadi banyak mendapatkan
    informasi mengenai agen-agen yang menyediakan wanita untuk melayani syahwat para lelaki/wanita.

    Jam 20.00 aku dan si bapak telah berada di dalam kamar hotel setelah makan malam, kami mengobrol berbagai hal
    sambil menunggu kedatangan wanita cantik pesananku. Tentu saja tarif sekelas dia lumayan mahal, di atas
    rata-rata tarif wanita panggilan lainnya. Tapi biarlah, fantasi kadang meminta ongkos besar.

    Tit.. tit.., HP-ku berbunyi, kuangkat..

    “Yes dear, dah nyampe?”.
    “Udah di bawah Mas, di kamar berapa?”, terdengar suara
    riang. Professional sekali. Semua dilayani dengan riang
    asal sesuai tarif.
    “315, ke kiri dari lift ya.”
    “OK Mas..”

    Kulihat si bapak agak grogi juga, kutenangkan bahwa semua ini dilandasi alasan komersial belaka. Jadi tidak perlu takut akan ditolak. Siapa tahu malah si wanita setelah malam ini akan menjadi ketagihan kataku. Kan malah lebih enak nanti-nanti dapet layanan rutin gratisan dari si Mbak, gurauku. Banyak kok wanita yang menginginkan seks sejati, yang benar-benar mampu membuat si wanita terkapar dalam orgasme sejati. Dan itu tidak ada kaitannya dengan siapa bapak, tetapi apa yang bapak dapat lakukan untuk memuaskan si wanita. Si bapak mulai kendor ketegangannya.

    Ting.. tong.., Kubuka pintu kamar.

    “Hai”, salamnya.
    “Hai juga, sendiri apa dianter?”, kutanya basa basi.
    “Dianter dedemit apa, hehehe”, cair sekali suasananya.

    Semoga semuanya berjalan lancar. Ini semua demi kepentinganku, menyalurkan hasrat seksualku yang lagi
    menuntut.

    Kuamati dandanannya cukup berkelas, bahkan tidak nampak norak bak pelacur kelas jalanan, maklum eks model.
    Memang yang kupilih adalah eks model untuk memastikan kualitas kecantikannya. Sebenarnya banyak juga yang
    cantik-cantik yang bukan model, tetapi daripada seperti memilih kucing dalam karung mendingan cari kepastian aja
    deh. Kulit putih mulus, tinggi langsing dengan dada menjulang, hidung mancung dan wajah oval. Klop sebagai the beauty.

    Dia sempat agak kaget ketika ada orang lain di situ, Bapak itu, yang duduk di kursi pojok ruangan. Bapak itu anteng saja dan tidak menatap sama sekali sang aktris.

    “Della, ehm sori ya kita perlu bicara sebentar”, aku mulai menceritakan semuanya sejak masalahku sampai hasratku yang dapat dipenuhi melalui cara ini. “Tenang aja Mas, no problem, it’s all about money, Dear. But it’s better when he could make me satisfied. Who knows.”

    Kuli Tua Versus Ex ModelAku lega sekali, malah dia mulai menatap bapak itu dengan tatapan tajam dan mengundang. Kudekati si bapak dan memberitahukan bahwa wanitanya oke-oke saja malah penasaran ingin menikmati tubuhnya. Si Bapak mulai bangkit dan berani menatap Si Wanita.

    Aku duduk di pojok dan mempersilakan keduanya melakukan adegan sesuai dengan inovasi mereka sendiri. Keduanya duduk di tepian ranjang. Sengaja tadi si Bapak tidak kusuruh mandi dulu, badannya masih berkilau-kilau
    berkeringat meskipun sudah agak lama terkena AC kamar hotel. Biarlah mereka yang memutuskan untuk mandi  atau tidak.

    Si Bapak masih canggung, Si Wanita yang membimbing. Dipegangnya tangan Si Bapak lalu ditimpakan di pangkuannya sambil diiringi dengan lembut tatapan merayu seorang wanita. Badannya mencondong sehingga tetek sebelahnya yang gede itu telah berkenalan dengan lengan Si Bapak yang kokoh.

    Nah, Harimau sudah menggeliat mulai terpancing dari tidurnya. Direngkuhnya pundak Della. Dibelai-belai, dan tangan satunya mulai mengusap-usap paha. Della menggelinjang karena tangan kasar itu sangat efektif
    meraba ujung-ujung sarafnya.
    Della sedang mencoba dunia baru. Dunia bawah tanah yang tidak pernah ditengok sebelumnya. Rasa penasaran
    membangkitkan gairahnya. Roknya berbelah tinggi, hingga ketika duduk pahanya sudah terpampang telanjang sampai pangkal. Si Bapak yang bibirnya hitam kasar mendekat menuju pipi. Nafas nampak mulai memburu dan bertekanan, otot-otot mukanya mulai bangkit menonjol dan mengeras.

    Pemandangan erotis yang luar biasa ini ditangkap oleh mata Della sangat mengkilik-kilik nurani kewanitaannya.
    Ingin ia melayani dan memuaskannya. Naluri bawaan setiap wanita. Aku ikut mulai menghangat.

    Ketika Della mulai membuka kancing baju batik lusuh Si Bapak satu-persatu dari ujung atas, bibir hitam dan
    tebal Si Bapak sedang mulai menyapu-nyapu pipi mulus Della. Pipi Della merona hangat dialiri darah yang terpacu oleh jantung yang meningkat detaknya.

    Permainan semakin meningkat dengan mulai naiknya usapan telapak lebar dan kasar Si Bapak menuju pangkal paha. Della meremang. Tubuhnya menjadi makin merapat, teteknya ingin mendapatkan tekanan-tekanan yang lebih kuat dari tubuh si laki-laki perkasa. Setengah kesadarannya mulai meninggalkan dirinya. Ia ingin semua tubuhnya dirajam tangan-tangan kasar itu.

    Dibelai-belainya lengan-lengan Si Bapak, menyelami betapa perkasanya lelaki ini. Darahnya berpacu kencang. Mukanya semakin merona merah memberitakan tentang hasrat. Ciuman-ciuman menjilat berpindah ke arah leher di belakang telinga Della, lenguhan-lenguhan kecil menjadi tak terbendung. Semuanya dari dalam dirinya
    ingin keluar bebas. Aku spanning. Tak sedetikpun kulewatkan adegan real bokep di depan mataku.

    Tangan kiri Della mulai menjemput pangkal paha Si Bapak dan mulai mengusap-usap kelelakiannya. Kadang diselingi dengan menekan-nekan. Si Bapak mulai melenguh-lenguh juga. Otot-otot wajahnya semakin tegas dan menebal. Lalu menggulati dengan penuh tubuh Della, merengkuh kuat.

    Yes, luar biasa. Kaki kiri Della sudah menumpang di atas paha kiri Si Bapak. Mereka mulai berpagutan sambil duduk
    di tepian ranjang, bibir hitam tebal berbau rokok lisong melawan bibir mungil mulus merah merekah milik Della. Sensasional sekali.

    Adegan ciuman dan saling melumat berlangsung, berpagut beradu lidah. Dua kutub dunia sedang berpadu di kamar hotel ini. Karena berasal dari dua kutub ekstrim maka tarikannya luar biasa kuat. Sedotan-sedotan kuat mengiringi permainan pemanasan. Kuasa birahi mulai menancapkan kukunya pada dua makhluk yang sedang
    bercumbu ini.

    Della tidak tahan dan sekarang mulai penuh mengangkangi dengan duduk di atas pangkuan Si Bapak. Punggungnya
    dijamah dan diusap-usap sampai batas leher belakang dengan tangan-tangan tua namun masih kekar dan berotot
    itu. Della merinding sehingga bulu kuduknya meremang. Urat-urat tuanya yang menonjol yang sedang menggarap
    punggung Della membangkitkan kesan visual yang luar biasa.

    Adegan dilanjutkan dengan saling kulum kembali dan kedua lidah berlawanan jenis itu saling menggenjot dan berpagut. Kecipak-kecipak bunyi ludah menyemangati keduanya. Rasa jijik telah musnah dirontokkan oleh
    birahi yang menyeruak paksa. Libido mengambil kendali.

    Si Bapak mengamati Della yang telah mulai banyak memejamkan mata dalam penghayatan. Della sudah dalam
    kekuasaannya. Si Bapak masih memegang kendali. Belum terlarut, pengalaman dan usia membuatnya menang angin.

    Adu mulut disudahi dengan menurunnya serangan Si Bapak menuju tetek-tetek Della. Kepala Della mulai terayun-ayun ke belakang dengan mata yang sayu-sayu mengawang. Rambut ikalnya yang sepanjang bahu terburai dari ikatannya. Kaki-kaki putih langsingnya kokoh mengapit dan sudah nampak tegang.

    Dari samping aku dapat melihat bagian depan Della telah ditelanjangi, tetek-teteknya telah dikupas keluar dari Bra-nya sehingga tetek-teteknya malah kelihatan tambah mencuat karena tersangga oleh Bra-nya yang masih menggantung kencang. Tetek-teteknya luar biasa mulus dan kencang, putingnya mengeras merah tua, dan sekarang sedang disedot-sedot rakus oleh Si Bapak.

    “Enak Neng?”, pertanyaan yang tidak perlu diajukan.

    Della sudah mulai menggelepar pasrah. Semua sarafnya telah bersedia untuk meneruskan penjelajahan.

    “Eehhm.. Ehh..”, hanya lenguhan-lenguhan Della yang keluar sebagai tanda penerimaan yang tidak dibuat-buat.

    Sensitivitas kewanitaannya telah terangsang sempurna. Pantatnya ditekan-tekankan di atas gundukan kelelakian Si Bapak yang telah menjulang karena vegynya kini telah ikut mulai gatal dan geli karena dipengaruhi hormon syahwatnya.

    Pergerakan olah asmara merangkak dengan irama yang mengalir alami. Lalu tiba-tiba tangan kiri Si Bapak menyelinap dari belakang pantat Della, masuk ke dalam CD-nya dan menjangkau liang kewanitaan Della. Si Bapak ahli mengaparkan wanita agar semakin tenggelam dalam kuasa nafsunya sendiri. Semua dirangsangnya maka wanita akan mabuk birahi. Semakin liar Della menggolek-golekkan kepalanya.

    “Oohh yess.. Arrgghh.. Fuck me.. Ooh my old man..”, rintihan-rintihan erotis menggema di ruangan.

    Si Bapak mengangkat Della dengan entengnya (biasanya mengangkat beras sekwintal, Della paling 55 Kg). Lalu
    direbahkannya telentang di ranjang. CD Della dilolosi. Rok dan bajunya masih dibiarkan belum dilepas. Roknya
    disingkap. Nampak di depan matanya sebuah keindahan dunia. Selangkangan yang bersih mulus dilengkapi dengan
    rambut-rambut kemaluan yang dipotong rapi. Di tengah-tengahnya bersemayam lubang kenikmatan berwarna
    merah dadu. Si Bapak terpana.

    “Memek kayak Neng ini bagus benget ya, indah sekali dan wangi. Bapak ingin melahapnya Neng. Boleh ya Neng?”.

    Tanpa persetujuan Della lalu dengan rakusnya mulut Si Bapak mulai mencomot vegy Della.

    “Bapak akan menjilati memek Neng sampai luber yaah..”, Della mengangguk dan memohon.

    Si Bapak menguakkan paha-paha putih Della lebar-lebar lalu menenggelamkan kepalanya di antara keduanya. Bau wangi vegy yang terawat Della menyergap hidungnya.

    “Wangi sekali memek Neng, oohh sedapnya.”
    “Ooggh yess.. Fuckkerrh.. Ssucck mmee..”, pantatnya
    terangkat-angkat ketika mulut Si Bapak mengulum bibir vegy Della.

    Lidahnya mulai dimainkan keluar-masuk di liang kenikmatan Della. Kadang melesak dalam-dalam dalam rangka memburu dan mencari itil, bila ketemu terus disodok-sodokkan sampai membikin gila Della. Tangan Della terbang kian kemari, mencengkeram kepala Si Bapak agar menekan lebih kuat, menjambaki rambut sendiri, lalu lurus mencengkeram sprei kuat-kuat. Begitu berulang-ulang dan bergantian. Kaki-kaki langsing putihnya telah  enumpang di atas pundak Si Bapak berkelojot-kelojot.

    “Giillaa.. Ennaakkh.. Baanngeet.. Teruss.. Paakk.. Ayyoohh..”, hentakan-hentakan pantatnya naik turun menandakan nafsunya sedang memuncak luar biasa. Dan yang lebih luar biasa permainan pemanasan telah berlangsung setengah jam lebih. Aku menelan ludah dan melotot. Kukeluarkan kontolku dan kukocok.

    Lalu si Bapak menghentikan permainan lidahnya. Bajunya dilepas, celananya, CD-nya, dan jreenng, kontol hitamnya
    telah mencuat tegak berkilau-kilau, luar biasa besar dan panjang. Made in nature. Alam yang menciptakannya. Aku
    iri hati.

    Lalu si Bapak menaiki ranjang, disorongkannya kontol supernya ke mulut Della, Della menyongsong nafsu. Tersedak. Lalu mulai menjilatinya. Meludah. Mulai menjilati kembali. Ketika batang sudah mengkilat lalu
    bless, dimasukkan ke mulutnya. Monyong mulutnya menampung lingga segede itu. Tegar dan kokoh. Tangan kiri Bapak menjangkau ke belakang, mencari vegy Della. Lalu dicolokkannya. Dengan jari tengahnya lalu vegy Della yang telah agak kuyup dikocok-kocok. Della menjerit-jerit.

    “Buussyeett.. Arrghh.. Aadduhh.. Aaghh.. Aahh “, Della mulai menggila kembali. Kedua lubang Della disenggamai
    bersamaan. Mulut dan vegy-nya. “Ayyoo neengg.. Teruss.. Aahh.. Ahh..”, Si Bapak rupanya sudah mulai fly juga. Dimajumundurkan kontolnya sehingga mulut Della termonyong-monyong. “Seddott.. Seddott.. Neng..”.

    Fantasi dikulum bidadari menerbangkan jiwanya menuju kesempurnaan kenikmatan yang dirasakan oleh saraf-saraf alat senggamanya. Kekuasaan virtual bahwa telah mampu menindih dan akan menyetubuhi seorang bidadari dari negeri awang-awang telah menghantar birahinya melampaui batas kesadaran. Ekstase. Osilasi pantatnya semakin akseleratif, kepala Della terpental-pental maju mundur. Dan crroott.. Crroott luar biasa pejuh yang
    diproduksinya.

    “Oohh neenngg.. Tellan.. Teellaan.. Pejuhh.. Baappaak.. Yaagghh”, sambil terhentak-hentak kelojotan Si Bapak mengangkat kepala Della dan menekan kontolnya agar tidak lepas dari mulut Della.

    Della gelagapan tetapi menikmati menyeruput pejuh yang banjir di mulutnya. Menjilat-jilat lalu menelannya. Aku belum keluar, pegel sedari tegang terus belum ada hasil. Aku masih menginginkan adegan senggama kelamin  Vs. Kelamin.

    Baca Juga : Nikmatnya Diperkosa

    Lalu robohlah sosok tua Si Bapak menggelosor di samping Della setelah nyaris 1 jam permainan berlangsung. Menelentang menatap langit-langit kamar, nafas ngos-ngosan dengan dada kembang kempis. Della belum klimaks. Della melap mulutnya lalu menuju toilet. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan bertelanjang.
    Menghampiri Si Bapak, mengangkanginya, lalu mulai mengocok batang kontol Si Bapak. Memanasi Si Bapak, dia
    ingin ikut dituntaskan. Penyelesaian atas dirinya adalah  keharusan.

    Si Bapak semakin terpana, tubuh yang begitu indah menginginkan dirinya. Putih bak salju, lembut dan mulus. Badan ramping, tinggi, tetek besar, perut rata, pinggang kecil, pantat padat montok, usia masih belia. Tiada
    cacat atas dirinya. Alangkah merasa beruntungnya Si Bapak. Sudah menikmati tubuh bidadari seindah ini masih
    dibayar pula. Seumur-umur tidak pernah terbayangkan sama sekali bakal dianugerahi keajaiban seperti ini.

    Kontol Si Bapak diusap-usapkan ke bibir vegynya. Dia ingin disetubuhi dengan sempurna, vegynya ingin dimasuki.

    Mereka berdua telanjang kini. Si Bapak di bawah, Della mengangkang dan sedang mengocok. Tangan Si Bapak merengkuh tetek-teteknya, meremas-remas, memilin-milin putingnya, lalu mengenyot-ngenyotnya. Della masih panas, tetapi dia masih belum diklimakskan. Vegynya meneteskan cairan-cairan, nampak lebih kuyup dari sebelumnya.

    Dibangkit-bangkitkan kembali gairah lelaki tua di bawahnya. Dan tanpa menunggu lama kontol Si Bapak mulai dialiri darah kembali sehingga mulai meregang. Della senang. Semakin ditekuninya kocok-kocokannya. Dijilatinya tetek-tetek Si Bapak. Tangannya kadang mengelus pangkal kontol, area penuh saraf, Si Bapak mulai mendengus.

    Direngkuhnya agar Della mendekat, dikulum puting-puting teteknya, lalu mereka berpagutan kembali. Tangan-tangan berotot Si Bapak bergeser meremas-remas pantat montok Della. Diusap-usapnya bibir vegy Della, lalu diselipkan jari tengah kedua tangannya melesak ke lubang vegy Della. Della menjerit.

    Ketegangan kontol Si Bapak telah sempurna kembali, Della menuntunnya menuju lubang miliknya. Diusap-usapkan terlebih dahulu memutari sekeliling bibir vegynya. Della terpekik-pekik dan meregang-regang. Lalu dijebloskannya kontol itu pelan dan pasti.

    “Ehhg.. Egghh..”, pantatnya naik turun, maju mundur, mengebor seluruh titik-titik kenikmatannya.

    Matanya terpejam dengan bibir yang menganga dan mendesah-desah histeris. Pantatnya diputar-putar, mencari persinggungan kontol dengan saraf di dalam lubangnya yang paling sensitif. Bila ketemu lalu dia terpekik dan dipercepat kocokannya. Si Bapak terbawa gairah kembali sehingga pantatnya pun ikut diputar dan digoyang-goyangkan. Membikin Della semakin gila.

    Berhubung Si Bapak telah sempat orgasme maka permainan ini akan memakan waktu lama. Hal ini bakal  enyenangkan dan memuaskan Della sampai titik darah penghabisan. Della terus mengocok-ngocokkan vegynya. Kepalanya bergoyang dan tergolek-golek liar ke kanan-kiri. Desahannya semakin keras.

    “Auh.. Auh.. Emmfh..”, keringat di punggungnya mengalir deras. Mukanya berleleran peluh. Della masih butuh waktu.

    Gesekan-gesekan vegynya dinikmati detik demi detik. Bibir-bibirnya digigitnya sendiri. Dia ingin berlama-lama memanjakan vegynya mendapatkan desakan-desakan kontol perkasa. Dia tidak ingin cepat berlalu, dia menahan diri. Vegynya berkedut, dia pelankan genjotannya. Bila sudah agak rileks dimulakannya lagi gesekan vegy-nya. Dia ingin menikmati semalaman vegy-nya dijajah kontol langka milik Pak Tua ini. Dia tidak ingin kehilangan  esempatan. Sudah setengah jam dia memanjakan vegy-nya.

    Lalu tiba-tiba Della menghentikan kocokannya dan meregang, kepalanya melengkung dengan tangan mencengkeram dada Si Bapak kuat-kuat, badannya menggigil lalu menyentak-nyentak. Orgasmenya telah tiba.

    “Ehh.. Ugghh.. Ehhmm.. Ohh.. Oohh.. Oogghh”, lolongnya dan..

    Crott.. Croott cairan menyemprot dari lubang vegynya. Seperti air kencing mengalir deras keluar. Jari-jari Si Bapak segera menyapu cairan itu dan menjilatinya. Dia ingin menikmati cairan kewanitaan Della. Seperti apa rasa cairan seorang bidadari.

    “Enak nih pejuh Neng.”

    Si Bapak belum orgasme, lalu dengan cepat bangkit dan ditunggingkan Della. Dengan amat nafsu disodoknya vegy
    Della dari belakang.

    “Ohh.. Neng.. Ooh.. Oohh.. Oohh.. Neengg”, Si Bapak meracau histeris sambil memacu kontolnya menembusi vegy
    dengan cepat dan bertenaga.

    Berkecipak-kecipak suara vegy Della dihajar kontol Si Bapak yang masih kokoh dan tegang itu. Tangan kekarnya
    kadang menepuk pantat bahenol dan padat Della sampai merah kulitnya, Della meringis-ringis antara nikmat dan
    perih. Penderitaan kadang diserap wanita sebagai bagian dari kenikmatan. Terlebih secara bersamaan dirinya sedang tenggelam dalam birahi. Adonan yang menimbulkan kenikmatan ekstra.

    “Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..”, Della mulai bergairah kembali. Vegynya berdenyut-denyut menyekap kontol Si
    Bapak sehingga dari mulut Si Bapak mencerocos erang-erangan kenikmatan. “Emmppoott.. Neengghh.. Ennaakk.. Bbanngeet.. Adduuhh.. eeehghh..”, semakin liar sodokan Si Bapak, sampai pantat Della merah-merah karena hantaman-hantaman paha Si Bapak.

    Kontol diayun untuk menyodok sedalam-dalamnya. Keduanya tercerai dari kesadaran kembali. Erangan dan ceracau terlontar di luar kendali akal. Aku mulai mendaki dan kupercepat kocokan tanganku, aku masih duduk dengan resleting terbuka.

    Lalu kulihat dengan kasar Della ditelentangkan dan diangkat satu kakinya yang kanan dan dipegangi. Lurus ke
    atas. Didekatkan kontolnya kembali, dengan tubuh tegak sejajar kaki kanan Della, Si Bapak memajukan dan menghujamkan kontolnya lalu mulai mengayuh kembali.

    Keduanya berpacu kembali, berliter-liter keringat telah membanjir keluar dari tubuh keduanya sampai sprei basah
    kuyup. Tetek-tetek Della tergoncang-goncang hebat. Si Bapak rupanya telah gemas dan geram dalam luapan birahi
    yang lebih mendera dari permainan pertama. Hunjaman-hunjaman kontolnya kuat dan menyentak. Della entah telah berada di mana saat ini, mungkin dia sudah lenyap tenggelam di dasar samudera kenikmatan purba. Matanya hanya membeliak-beliak dengan erangan-erangan yang sudah semakin menghilang. Kenikmatan paling puncak
    telah tinggal sejengkal. Dan..

    “Oohggh.. Aaghh.. Eegh.. Eeghh.. Eeghh.. Maauuhh.. Nyampaihh.. Neenngghh.”

    Della tidak sempat menanggapi lagi karena dia sudah melampaui batas kesadaran, kenikmatan kali ini yang dia rasakan sudah tak terukur. Kata-kata sudah lenyap tak bermakna. Lalu keduanya bersamaan nyaring berteriak..

    “Aahh!!”.

    Keduanya melengkungkan tubuh masing-masing ingin saling memasuki, Si Bapak mencoba menembuskan kontolnya sampai ke tempat terdalam milik Della, Della ingin mencakup seluruh milih Si Bapak. Keduanya melipat dan saling mengatupkan dirinya dengan kuat-kuat ingin berpadu tak teruraikan.

    Orgasme sempurna telah dilampaui. Mereka menggelepar. Diam membisu masih meringkuk dan berpadu. Aku juga
    keluar sudah, sambil duduk di kursi. Pengalaman luar biasa yang pernah kualami. Kontras membuat kekuatan tak
    terkira.

    Kami lalu tertidur. Kira-kira jam 5 pagi aku terbangun karena terganggu suara berisik, rupanya kedua makhluk didepanku sedang memacu birahi kembali. Kulihat Della sedang mengangkangi kembali Si Bapak, dengan posisi
    membelakangi. Della telah menemukan sang pemuas nafsunya. Dia seolah ingin menghabiskan hidupnya disenggamai Si Bapak tua sang kuli pelabuhan yang kekar dan kokoh itu. Aku yakin mereka pasti akan sering bertemu setelah malam ini. Aku senang karena Si Bapak bakal tidak kesepian di ibukota ini bila sedang dilanda birahi.

    Sejak menikmati adegan Si Bapak dengan Eks Model itu membuatku keranjingan untuk mencoba mengadakan kembali acara-acara begini namun dengan aktor dan aktris yang berbeda.

  • Nikmatnya Diperkosa

    Nikmatnya Diperkosa


    74 views

    Ceritamaya | Untuk mempersingkat waktu, maka saya akan langsung saja menceritakan cerita baru. Namun perlu diingat bahwa ini hanya sebuah cerita fiktif dan bukan cerita nyata. Dilarang keras untuk berpikir bahwa cerita ini nyata. karena cerita ini memang fiktif belaka.

    Namaku Winie, umurku sudah 35 tahun dengan dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. Waktu menikah umurku masih 19 tahun dan sekarang anakku yang paling tua sudah berumur 15 tahun sedang yang bungsu berumur 13 tahun. Kedua anakku disekolahkan di luar negeri semua sehingga di rumah hanya aku dan suami serta dua orang pembantu yang hanya bekerja untuk membersihkan perabot rumah serta kebun, sementara menjelang senja mereka pulang. Suamiku sebagai seorang usahawan memiliki beberapa usaha di dalam dan luar negri. Kesibukannya membuat suamiku selalu jarang berada di rumah. Bila suamiku berada di rumah hanya untuk istirahat dan tidur sedang pagi-pagi sekali dia sudah kembali leyap dalam pandangan mataku. Hari-hariku sebelum anakku yang bungsu menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu menuntut ilmu di luar negeri terasa menyenangkan karena ada saja yang dapat kukerjakan, entah itu untuk mengantarkannya ke sekolah ataupun membantunya dalam pelajaran. Namun semenjak tiga bulan setelah anakku berada di luar negeri hari-hariku terasa sepi dan membosankan. Terlebih lagi bila suamiku sedang pergi dengan urusan bisnisnya yang berada di luar negeri, bisa meninggalkan aku sampai 2 mingguan lamanya.
    Aku tidak pernah ikut campur urusan bisnisnya itu sehingga hari-hariku kuisi dengan jalan-jalan ke mall ataupun pergi ke salon dan terkadang melakukan senam. Sampai suatu hari kesepianku berubah total karena supirku. Suatu hari setibanya di rumah dari tempatku senam supirku tanpa kuduga memperkosaku.

    Seperti biasanya begitu aku tiba di dalam rumah, aku langsung membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kakiku menaiki anak tangga yang melingkar menuju lantai dua dimana kamar utama berada. Begitu kubuka pintu kamar, aku langsung melemparkan tasku ke bangku yang ada di dekat pintu masuk dan aku langsung melepas pakaian senamku yang berwarna hitam hingga tinggal BH dan celana dalam saja yang masih melekat pada tubuhku. Saat aku berjalan hendak memasuki ruang kamar mandi aku melewati tempat rias kaca milikku. Sesaat aku melihat tubuhku ke cermin dan melihat tubuhku sendiri, kulihat betisku yang masih kencang dan berbentuk mirip perut padi, lalu mataku mulai beralih melihat pinggulku yang besar seperti bentuk gitar dengan pinggang yang kecil kemudian aku menyampingkan tubuhku hingga pantatku terlihat masih menonjol dengan kencangnya.

    Kemudian kuperhatikan bagian atas tubuhku, buah dadaku yang masih diselimuti BH terlihat jelas lipatan bagian tengah, terlihat cukup padat berisi serta, “Ouh.. ngapain kamu di sini!” sedikit terkejut ketika aku sedang asyik-asyiknya memandangi kemolekan tubuhku sendiri tiba-tiba saja kulihat dari cermin ada kepalanya supirku yang rupanya sedang berdiri di bibir pintu kamarku yang tadi lupa kututup.

    “Jangan ngeliatin.. sana cepet keluar!” bentakku dengan marah sambil menutupi bagian tubuhku yang terbuka.
    Tetapi supirku bukannya mematuhi perintahku malah kakinya melangkah maju satu demi satu masuk kedalam kamar tidurku.
    “Aris.. Saya sudah bilang cepat keluar!” bentakku lagi dengan mata melotot.
    “silakan ibu teriak sekuatnya, hujan di luar akan melenyapkan suara ibu!” ucapnya dengan matanya menatap tajam padaku.
    Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan sedang turun dengan lebat, memang ruang kamar tidurku cukup rapat jendela-jendelanya hingga hujan turun pun takkan terdengar hanya saja di luar sana kulihat dedaunan dan ranting pohon bergoyang tertiup angin kesana kemari.

    Detik demi detik tubuh supirku semakin dekat dan terus melangkah menghampiriku. Terasa jantungku semakin berdetak kencang dan tubuhku semakin menggigil karenanya. Aku pun mulai mundur teratur selangkah demi selangkah, aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu sampai akhirnya kakiku terpojok oleh bibir ranjang tidurku.
    “Mas.. jangan!” kataku dengan suara gemetar.
    “Hua.. ha.. ha.. ha..!” suara tawa supirku saat melihatku mulai kepepet.
    “Jangan..!” jeritku, begitu supirku yang sudah berjarak satu meteran dariku menerjang tubuhku hingga tubuhku langsung terpental jatuh di atas ranjang dan dalam beberapa detik kemudian tubuh supirku langsung menyusul jatuh menindih tubuhku yang telentang.

    Aku terus berusaha meronta saat supirku mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya. Perlawananku yang terus-menerus dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kakiku untuk menendang-nendangnya terus membuat supirku juga kewalahan hingga sulit untuk berusaha menciumi aku sampai aku berhasil lepas dari himpitan tubuhnya yang besar dan kekar itu. Begitu aku mendapat kesempatan untuk mundur dan menjauh dengan membalikkan tubuhku dan berusaha merangkak namun aku masih kalah cepat dengannya, supirku berhasil menangkap celana dalamku sambil menariknya hingga tubuhku pun jatuh terseret ke pinggir ranjang kembali dan celana dalam putihku tertarik hingga bongkahan pantatku terbuka. Namun aku terus berusaha kembali merangkak ke tengah ranjang untuk menjauhinya. Lagi-lagi aku kalah cepat dengan supirku, dia berhasil menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi.

    “Aris.. Jangan.. jangan.. mas..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis.
    Rupanya supirku sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu supirku dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang masih berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk. Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan kaki kananku.

    “Saya ingin mencicipi ibu..” bisiknya dekat telingaku.
    “Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan suara nafas yang sudah memburu.
    “Tapi saya majikan kamu Ris..” kataku mencoba mengingatkan.
    “Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam berarti saya sudah bebas tugas..” balasnya sambil melepas ikatan tali BH yang kukenakan.
    “Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku.
    “Tapi malam ini Bu Winie harus mau melayani saya,” katanya sambil terus mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku merinding dan geli.

    Nikmatnya DiperkosaSetelah supirku melepas pakaiannya sendiri lalu tubuhku dibaliknya hingga telentang. Aku dapat melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama kemudian supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku lalu mengikatkan tali lagi pada perutku. Tubuhku kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian kepala ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya. Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku bersandar pada dadanya yang bidang dan terlihat otot dadanya berbentuk dan kencang sedangkan tangan kanannya meremasi kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu.

    “Aris.. jangan Ris.. jangan!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya.
    Namun Aris, supirku tidak memperdulikan perkataanku sebaliknya dengan senyum penuh nafsu terus saja meraba-raba pahaku.
    “Ouh.. zzt.. Euh..” desisku panjang dengan tubuh menegang menahan geli serta seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.
    Apalagi telapak dan jemari tangannya berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku.
    “Mass.. Eee” rintihku lebih panjang lagi dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya mulai mengusap-usap belahan bibir vaginaku. Tangan Mas Aris terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir vaginaku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.

    Tangannya yang terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir vaginaku membuat birahiku jadi naik dengan cepatnya, apalagi sudah cukup lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan lagi dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk. Entah siapa yang memulai duluan saat pikiranku sedang melayang kurasakan bibirku sudah beradu dengan bibirnya saling berpagut mesra, menjilat, mengecup, menghisap liur yang keluar dari dalam mulut masing-masing.

    “Ouh.. Winie.. wajahmu cukup merangsang sekali Winie..!” ucapnya dengan nafasnya yang semakin memburu itu.
    Setelah berkata begitu tubuhku ditarik hingga buah dadaku yang menantang itu tepat pada mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti setelah mulutnya dengan langsung memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil sekali-kali menarik-narik dengan giginya.

    Entah mengapa perasaanku saat itu seperti takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk di dalam hati, namun ada perasaan nikmat yang luar biasa sekali seakan-akan ada sesuatu yang pernah lama hilang kini kembali datang merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah. “Bruk..” tiba-tiba tangan Mas Aris melepaskan tubuhku yang sedang asyik-asyiknya aku menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang sedang melambung dan melayang-layang itu hingga tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku. Tidak berapa lama kemudian kurasakan bagian bibir vaginaku dilumat dengan buas seperti orang yang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Cukup lama mulutnya mencumbu dan melumati bibir vaginaku terlebih-lebih pada bagian atas lubang vaginaku yang paling sensitif itu.

    “Aris.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. riss..” rintihku panjang dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan tangannya pun mulai rebutan dengan bibirnya. Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecil kemaluanku dan mengorek-ngorek isi dalamnya.
    “Ouh.. Ris..” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri.
    “Sabar Win.., saya suka sekali dengan lendirmu sayang!” suara supirku yang setengah bergumam sambil terus menjilat dan menghisap-hisap tanpa hentinya sampai beberapa menit lagi lamanya.
    Setelah puas mulutnya bermain dan berkenalan dengan bibir kemaluanku yang montok itu si Aris lalu mendekati wajahku sambil meremas-remas buah dadaku yang ranum dan kenyal itu.

    “Bu Winie.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desah. “Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa masuk belahan bibir vaginaku.
    “Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..”
    “Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang amat sangat sampai-sampai terasa duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. Akhirnya batang penis supirku tenggelam hingga dalam dibalut oleh lorong kemaluanku dan terhimpit oleh bibir vaginaku.

    Beberapa saat lamanya, supirku dengan sengaja, penisnya hanya didiamkan saja tidak bergerak lalu beberapa saat lagi mulai terasa di dalam liang vaginaku penisnya ditarik keluar perlahan-lahan dan setelah itu didorong masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan sekali seakan-akan ingin menikmati gesekan-gesekan pada dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu. Makin lama gerakannya semakin cepat dan cepat sehingga tubuhku semakin berguncang dengan hebatnya sampai, “Ouhh..”
    Tiba-tiba suara supirku dan suaraku sama-sama beradu nyaring sekali dan panjang lengkingannya dengan diikuti tubuhku yang kaku dan langsung lemas bagaikan tanpa tulang rasanya. Begitu pula dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku.

    Baca Juga : Nikmatnya ‘Pentungan’ Para Peronda

    “Sialan kamu Ris!” ucapku memecah kesunyian dengan nada geram.
    Setelah beberapa lama aku melepas lelah dan nafasku sudah mulai tenang dan teratur kembali.
    “Kamu gila Ris, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku lagi sambil memandang tubuhnya yang masih terkulai di samping sisiku.
    “Bagaimana kalau aku hamil nanti?” ucapku lagi dengan nada kesal.
    “Tenang Bu Winie.., saya masih punya pil anti hamil, Bu Winie.” ucapnya dengan tenang.
    “Iya.. tapi kan udah telat!” balasku dengan sinis dan ketus.
    “Tenang bu.. tenang.. setiap pagi ibu kan selalu minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkan dengan obatnya jadi Bu Winie enggak usah khawatir bakalan hamil bu,” ucapnya malah lebih tenang lagi.
    “Ouh.. jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Ris..” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya.
    “Bagaimana Bu Winie..?”
    “Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Ris..” kataku masih dengan nada kesal dan gemas.
    “Maksudnya, tadi waktu di Entotin enak kan?” tanyanya lagi sambil membelai rambutku.
    Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh supirku, namun dalam hati kecilku tidak dapat kupungkiri walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan organsime dua kali.

    “Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi.
    “Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Aris!” kataku dengan menggerutu karena tanganku sudah pegal dan kaku.
    “Nanti saja yach! Sekarang kita mandi dulu!” ucapnya sambil langsung menggendong tubuhku dan membawa ke kamar mandi yang berada di samping tempat ranjangku. Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih terikat itu diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding. Setelah itu supirku menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air hingga tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu. Melihat tubuhku yang sudah basah dan terlihat mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi lalu Aris supirku berjongkok dekatku dan kemudian duduk di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas.

    Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, dia mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil. Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di dalam botol dan menumpahkan pada tubuhku lalu dia mulai menggosok-gosok tubuhku dengan telapak tangannya. Pinggulku, perutku lalu naik ke atas lagi ke buah dadaku kiri dan kemudian ke buah dadaku yang kanan. Tangannya yang terasa kasar itu terus menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kits. Sesekali dia meremas dengan lembut buah dada dan punting susuku hingga aku merasa geli dibuatnya, lalu naik lagi di atas buah dadaku, pundakku, leherku lalu ke bahuku, kemudian turun lagi ke lenganku.
    “Ah.. mas..” pekikku ketika tangannya kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangannya menutup bibir vaginaku.
    Kurasakan telapak tangannya menggosok-gosok bibir vaginaku naik turun dan kemudian membelah bibir vaginaku dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan dan kembali menggosok-gosokkannya hingga sabun Lux cair itu menjadi semakin berbusa.

    Setelah memandikan tubuhku lalu dia pun membasuh tubuhnya sendiri sambil membiarkan tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku lalu menggendongku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terlebih dahulu.
    “Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapnya sambil supirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya lalu ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk aku berbicara. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan kehangatan yang demikian memuncak, karena keegoisan suamiku yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Memang dalam hal keuangan aku tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti kudapatkan, namun untuk urusan kewajiban suami terhadap istrinya sudah lama tidak kudapatkan lagi.

    Entah mengapa perasaanku saat ini seperti ada rasa sedang, gembira atau.. entah apalah namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja walaupun dalam hati kecilku juga merasa malu, benci, sebal dan kesal. Supirku cukup lama meninggalkan diriku sendirian, namun waktu kembali rupanya dia membawakan masakan nasi goreng dengan telor yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu tubuhku disandarkan pada teralis ranjang.
    “Biar saya yang suapin Bu Winie yach!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya.
    “Kamu yang masak Ris!” tanyaku ingin tahu.
    “Iya, lalu siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si Wati kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata supirku.
    “Ayo dicicipi!” katanya lagi.

    Mulanya aku ragu untuk mencicipi nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang sudah terasa lapar, akhirnya kumakan juga sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya cukup lumanyan juga rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.
    “Bolehkan saya memanggil Bu Winie dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tissue.
    “Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku.
    “Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.”

    Kalau saya boleh manggil Mbak Winie, berarti Bu Winie eh.. salah maksudnya Mbak Winie, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta.
    “Terserah kamu saja ” kataku.
    “Sudah nggak capai lagi kan Mbak Winie!” sahut supirku.
    “Memang kenapa!?” tanyaku.
    “Masih kuatkan?” tanyanya lagi dengan senyum binal sambil mulai meraba-raba tubuhku kembali.
    Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya menunduk malu, tadi saja aku diperkosanya malah membuatku puas disetubuhinya apalagi untuk babak yang kedua kataku dalam hati. Sejujurnya aku tidak rela tubuhku diperkosanya namun aku tidak mampu untuk menolak permintaannya yang membuat tubuhku dapat melayang-layang di udara seperti dulu saat aku pertama kali menikah dengan suamiku.

  • Nikmatnya ‘Pentungan’ Para Peronda

    Nikmatnya ‘Pentungan’ Para Peronda


    73 views

    Ceritamaya | Aku adalah seorang mahasiswi yang memiliki nafsu seks yang cukup tinggi. Sejak keperawananku hilang di SMA aku selalu ingin melakukannya lagi dan lagi. Kalau dipikir-pikir, entah sudah berapa orang yang menikmati tubuhku ini, sudah berapa penis yang pernah masuk ke vaginaku ini, aku juga menikmati sekali nge-seks dengan orang yang belum pernah aku kenal.

    Nah ceritanya begini, aku baru saja pulang dari rumah temanku seusai mengerjakan tugas kelompok salah satu mata kuliah. Tugas yang benar-benar melelahkan itu akhirnya selesai juga hari itu. Ketika aku meninggalkan rumah temanku langit sudah gelap, jam menunjukkan pukul 8 lebih.

    Yang kutakutkan adalah bensinku tinggal sedikit, padahal rumahku cukup jauh dari daerah ini lagipula aku agak asing dengan daerah ini karena aku jarang berkunjung ke temanku yang satu ini. Di perjalanan aku melihat sebuah pom bensin, tapi harapanku langsung sirna karena begitu mau membelokkan mobilku ternyata pom bensin itu sudah tutup, aku jadi kesal sampai menggebrak setirku, terpaksa kuteruskan perjalanan sambil berharap menemukan pom bensin yang masih buka atau segera sampai ke rumah.

    Ketika sedang berada di sebuah kompleks perumahan yang cukup sepi dan gelap, tiba-tiba mobilku mulai ngadat, aku agak panik hingga kutepikan mobilku dan kucoba menstarternya, namun walupun kucoba berulang-ulang tetap saja tidak berhasil, menyesal sekali aku gara-gara tadi siang terlambat kuliah jadi aku tidak sempat mengisi bensin terjebak tidak tahu harus bagaimana, kedua orang tuaku sedang di luar kota, di rumah cuma ada pembantu yang tidak bisa diharapkan bantuannya.

    Tidak jauh dari mobilku nampak sebuah pos ronda yang lampunya menyala remang-remang. Aku segera turun dan menuju ke sana untuk meminta bantuan, setibanya di sana aku melihat lima orang di sana sedang ngobrol-ngobrol, juga ada dua motor diparkir di sana, mereka adalah yang mendapat giliran ronda malam itu dan juga 2 tukang ojek.

    “Ada apa Non, malam-malam begini? Nyasar ya?”, tanya salah seorang yang berpakaian hansip.

    “Eeh.. itu Pak, Bapak tau nggak pom bensin yang paling dekat dari sini tapi masih buka, soalnya mobil saya kehabisan bensin”, kujawab sambil menunjuk ke arah mobilku.

    “Wah, kalo pom bensin jam segini sudah tutup semua Non, ada yang buka terus tapi agak jauh dari sini”, timpal seorang Bapak berkumis tebal yang ternyata tukang ojek di daerah itu.

    “Aduuhh.. gimana ya! Atau gini aja deh Pak, Bapak kan punya motor, mau nggak Bapak beliin bensin buat saya, ntar saya bayar kok”, tawarku.

    Untung mereka berbaik hati menyetujuinya, si Bapak yang berkumis tebal itu mengambil jaketnya dan segera berangkat dengan motornya. Tinggallah aku bersama 4 orang lainnya.

    “Mari Non duduk dulu di sini sambil nunggu”.

    Seorang pemuda berumur kira-kira 18 tahunan menggeser duduknya untuk memberiku tempat di kursi panjang itu. Seorang Bapak setengah baya yang memakai sarung menawariku segelas air hangat, mereka tampak ramah sekali sampai-sampai aku harus terus tersenyum dan berterima kasih karena merasa merepotkan. Kami akhirnya ngobrol-ngobrol dengan akrab, aku juga merasakan kalau mereka sedang memandangi tubuhku, hari itu aku memakai celana jeans ketat dan setelan luar berlengan panjang dari bahan jeans, di dalamnya aku memakai tanktop merah yang potongan dadanya rendah sehingga belahan dadaku agak terlihat. Jadi tidak heran si pemuda di sampingku selalu berusaha mencuri pandang ingin melihat daerah itu.

    Kompleks itu sudah sepi sekali saat itu, sehingga mulai timbul niat isengku dan membayangkan bagaimana seandainya kuberikan tubuhku untuk dinikmati mereka sekalian juga sebagai balas budi. Sehubungan dengan cuaca di Jakarta yang cukup panas akhir-akhir ini, aku iseng-iseng berkata, “Wah.. panas banget yah belakangan ini Pak, sampai malam gini aja masih panas”. Aku mengatakan hal tersebut sambil mengibas-ngibaskan leher bajuku kemudian dengan santainya kulepaskan setelan luarku, sehingga nampaklah lenganku yang putih mulus. Mereka menatapku dengan tidak berkedip, agaknya umpanku sudah mengena, aku yakin mereka pasti terangsang dan tidak sabar ingin menikmati tubuhku.

    Si pemuda di sampingku sepertinya sudah tak tahan lagi, dia mulai memberanikan diri membelai lenganku, aku diam saja diperlakukan begitu. Salah satu dari mereka, seorang tukang ojek berusia 30 tahunan mengambil tempat di sebelahku, tangannya diletakkan diatas pahaku, melihat tidak ada penolakan dariku, perlahan-lahan tangan itu merambat ke atas hingga sampai ke payudaraku. Aku mengeluarkan desahan lembut menggoda ketika si tukang ojek itu meremas payudaraku, tanganku meraba kemaluan pemuda di sampingku yang sudah terasa mengeras.

    Melihat hal ini kedua Bapak yang dari tadi hanya tertegun serentak maju ikut menggerayangi tubuhku. Mereka berebutan menyusupkan tangannya ke leher tanktop-ku yang rendah untuk mengerjai dadaku, sebentar saja aku sudah merasakan kedua buah dadaku sudah digerayangi tangan-tangan hitam kasar. Aku mengerang-ngerang keenakan menikmati keempat orang itu menikmatiku.

    “Eh.. kita bawa ke dalam pos aja biar aman!”, usul si hansip.

    Mereka pun setuju dan aku dibawa masuk ke pos yang berukuran 3×3 m itu, penerangannya hanya sebuah bohlam 40 watt. Mereka dengan tidak sabaran langsung melepas tank top dan bra-ku yang sudah tersingkap. Aku sendiri membuka kancing celana jeansku dan menariknya ke bawah. Keempat orang ini terpesona melihat tubuhku yang tinggal terbalut celana dalam pink yang minim, payudaraku yang montok dengan puting kemerahan itu membusung tegak. Ini merupakan hal yang menyenangkan dengan membuat pria tergiur dengan kemolekan tubuhku, untuk lebih merangsang mereka, kubuka ikat rambutku sehingga rambutku terurai sampai menyentuh bahu.

    Si hansip menyuruh seseorang untuk berjaga dulu di luar khawatir kalau ada yang memergoki, akhirnya yang paling muda diantara mereka yaitu si pemuda itu yang mereka panggil Mat itulah yang diberi giliran jaga, Mat dengan bersungut-sungut meninggalkan ruangan itu. Si hansip mendekapku dari belakang dan tangannya merogoh-rogoh celana dalamku, terasa benar jari-jarinya merayap masuk dan menyentuh dinding kewanitaanku, sementara di tukang ojek membungkuk untuk bisa mengenyot payudaraku, putingku yang sudah menegang itu disedot dan digigit kecil.

    Kemudian aku dibaringkan pada tikar yang mereka gelar disitu. Mereka bertiga sudah membuka celananya sehingga terlihatlah tiga batang yang sudah mengeras, aku sampai terpana melihat batang mereka yang besar-besar itu, terutama punya si hansip, penisnya paling besar diantara ketiganya, hitam dan dipenuhi urat-urat menonjol.

    Nikmatnya ‘Pentungan’ Para PerondaCelana dalamku mereka lucuti jadi sekarang aku sudah telanjang bulat. Aku langsung meraih penisnya, kukocok lalu kumasukkan ke mulutku untuk dijilat dan dikulum, selain itu tangan lembutku meremas-remas buah zakarnya, sungguh besar penisnya ini sampai tidak muat seluruhnya di mulutku yang mungil, paling cuma masuk tiga perempatnya. Si tukang ojek mengangkat sedikit pinggulku dan menyelipkan kepalanya di antara kedua belah paha mulusku, dengan kedua jarinya dia sibakkan kemaluanku sehingga terlihatlah vagina pink-ku di antara bulu-bulu hitam.

    Lidahnya mulai menyentuh bagian dalam vaginaku, dia juga melakukan jilatan-jilatan dan menyedotnya, tubuhku menggelinjang merasakan birahi yang memuncak, kedua pahaku mengapit kencang kepalanya karena merasa geli dan nikmat di bawah sana. Bapak bersarung menikmati payudaraku sambil penisnya kukocok dengan tanganku dan payudaraku yang satunya diremasi si hansip yang sedang ku-karaoke.

    Aku sering melihat sebentar-sebentar Mat nongol di jendela mengintipku diperkosa teman-temannya, nampaknya dia sudah gelisah karena tidak sabaran lagi untuk bisa menikmati tubuhku. Tak lama kemudian aku mencapai orgasme pertamaku melalui permainan mulut si tukang ojek pada kemaluanku, tubuhku mengejang sesaat, dari mulutku terdengar erangan tertahan karena mulutku penuh oleh penis si hansip.

    Cairanku yang mengalir dengan deras itu dilahap olehnya dengan rakus sampai terdengar bunyi, “Slurrpp.., sluupp..”. Puas menjilati vaginaku, si tukang ojek meneruskannya dengan memasukkan penisnya ke vaginaku, eranganku mengiringi masuknya penis itu, cairan cintaku menyebabkan penis itu lebih leluasa menancap ke dalam.

    Aku merasakan nikmatnya setiap gesekannya dengan melipat kakiku menjepit pantatnya agar tusukannya semakin dalam. Bapak bersarung menggeram-geram keenakan saat penisnya kujilati dan kuemut, sedangkan si hansip sekarang sedang meremas-remas payudaraku sambil menjilati leher jenjangku. Aku dibuatnya kegelian nikmat oleh jilatan-jilatannya, selain leher dia jilati juga telingaku lalu turun lagi ke payudaraku yang langsung dia caplok dengan mulutnya

    Beberapa saat lamanya si tukang ojek menggenjotku, tiba-tiba genjotannya makin cepat dan pinggulku dipegang makin erat, akhirnya tumpahlah maninya di dalam kemaluanku diiringi dengan erangannya, lalu dia lepaskan penisnya dari vaginaku. Posisinya segera digantikan oleh si hansip yang mengatur tubuhku dengan posisi bertumpu pada kedua tangan dan lututku. Kembali vaginaku dimasuki penis, penis yang besar sampai aku meringis dan mengerang menahan sakit ketika penis itu.

    “Wuah.. memek Non ini sempit banget, untung banget gua hari ini bisa ngentot sama anak kuliahan.. emmhh.. ohh..”, komentar si hansip.

    Sodokan-sodokannya benar-benar mantap sehingga aku merintih keras setiap penis itu menghujam ke dalam, kegaduhanku diredam oleh Bapak bersarung yang duduk mekangkang di depanku dan menjejali mulutku dengan penisnya, penis itu ditekan-tekankan ke dalam mulutku hingga wajahku hampir terbenam pada bulu-bulu kemaluannya. Aku sangat menikmati menyepong penisnya, kedua buah zakarnya kupijati dengan tanganku, sementara di belakang si hansip mengakangkan pahaku lebih lebar lagi sambil terus menyodokku, si tukang ojek beristirahat sambil memain-mainkan payudaraku yang menggantung. Si Bapak bersarung akhirnya ejakulasi lebih dulu di mulutku, dia melenguh panjang dan meremas-remas rambutku saat aku mengeluarkan teknik mengisapku, kuminum semua air maninya, tapi saking banyaknya ada sedikit yang menetes di bibirku.

    “Wah, si Non ini.. cantik-cantik demen nenggak peju!”, komentar si tukang ojek melihatku dengan rakus membersihkan penis si Bapak bersarung dengan jilatanku.

    Tiba-tiba pintu terbuka, aku sedikit terkejut, di depan pintu muncul si Mat dan si tukang ojek berkumis tebal yang sudah kembali dari membeli bensin.

    “Wah.. ngapain nih, ngentot kok gak ngajak-ngajak”, katanya.
    “Iya nih, cepetan dong, masa gua dari tadi cuma disuruh jaga, udah kebelet nih!”, sambung si Mat.
    “Ya udah, lu dua-an ngentot dulu sana, gua yang jaga sekarang”, kata si tukang ojek yang satu sambil merapikan lagi celananya.

    Segera setelah si tukang ojek keluar dan menutup pintu, mereka berdua langsung melucuti pakaiannya, si Mat juga membuka kaosnya sampai telanjang bulat, tubuhnya agak kurus tapi penisnya lumayan juga, pas si tukang ojek berkumis melepas celananya barulah aku menatapnya takjub karena penisnya ternyata lebih besar daripada punya si hansip, diameternya lebih tebal pula.

    “Gile, bisa mati kepuasan gua, keluar satu datang dua, mana kontolnya gede lagi!”, kataku dalam hati.

    Si hansip yang masih belum keluar masih menggenjotku dari belakang, kali ini dia memegangi kedua lenganku sehingga posisiku setengah berlutut. Si Mat langsung melumat bibirku sambil meremas-remas dadaku, dan payudaraku yang lain dilumat si tukang ojek itu. Nampak Mat begitu buasnya mencium dan memain-mainkan lidahnya dalam mulutku, pelampiasan dari hajat yang dari tadi ditahan-tahan, aku pun membalas perlakuannya dengan mengadukan lidahku dengannya.

    Baca Juga : Istriku Selingkuh

    Kumis si tukang ojek yang lebat itu terasa sekali menyapu-nyapu payudaraku memberikan sensasi geli dan nikmat yang luar biasa. Si Bapak bersarung sekarang mengistirahatkan penisnya sambil mencupangi leher jenjangku membuat darahku makin bergolak saja memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Ketika aku merasa sudah mau keluar lagi, sodokan si hansip pun terasa makin keras dan pegangannya pada lenganku juga makin erat.

    “Aaahh..!”, aku mendesah panjang saat tidak kuasa menahan orgasmeku yang hampir bersamaan dengan si hansip, vaginaku terasa hangat oleh semburan maninya, selangkanganku yang sudah becek semakin banjir saja sampai cairan itu meleleh di salah satu pahaku. Tubuhku sudah basah berkeringat, ditambah lagi cuaca yang cukup gerah.

    Setelah mencapai klimaks panjang mereka melepaskanku, lalu si Bapak bersarung berbaring di tikar dan menyuruhku menaiki penisnya. Baru saja aku menduduki dan menancapkan penis itu, si tukang ojek menindihku dari belakang dan kurasakan ada sesuatu yang menyeruak ke dalam anusku.

    Edan memang si tukang ojek ini, sudah batangnya paling besar minta main sodomi lagi. Untung daerah selanganku sudah penuh lendir sehingga melicinkan jalan bagi benda hitam besar itu untuk menerobosnya, tapi tetap saja sakitnya terasa sekali sampai aku menjerit-jerit kesakitan, kalau saja ada orang lewat dan mendengarku pasti disangkanya sedang terjadi pemerkosaan.

    Dua penis besar mengaduk-aduk kedua liang senggamaku, si Bapak bersarung asyik menikmati payudaraku yang menggantung tepat di depan wajahnya. Si Mat berlutut di depan wajahku, tanpa disuruh lagi kuraih penisnya dan kukocok dalam mulutku, tidak terlalu besar memang, tapi cukup keras. Kulihat wajahnya merah padam sambil mendesah-desah, sepertinya dia grogi

    “Enak gak Mat? Kamu udah pernah ngentot belum?”, tanyaku di tengah desahan.
    “Aduh.. enak banget Non, baru pernah saya ngerasain ngentot”, katanya dengan bergetar.

    Aku terus mengemut penis si Mat sambil tanganku yang satu lagi mengocok penis supernya si hansip. Si Mat memaju-mundurkan pantatnya di mulutku sampai akhirnya menyemprotkan maninya dengan deras yang langsung kuhisap dan kutelan dengan rakus. Tidak sampai dua menit si tukang ojek menyusul orgasme, dia melepas penisnya dari duburku lalu menyemprotkan spermanya ke punggungku. Si Bapak bersarung juga sepertinya sudah mau orgasme, tampak dari erangannya dan cengkeramannya yang makin erat pada payudaraku. Maka kugoyang pinggulku lebih cepat sampai kurasakan cairan hangat memenuhi vaginaku. Karena aku masih belum klimaks, aku tetap menaik-turunkan tubuhku sampai 3 menit kemudian aku pun mencapainya.

    Setelah itu si Bapak bersarung itu keluar dan si tukang ojek yang tadi berjaga itu kembali masuk.

    “Aduh, belum puas juga nih orang.. bisa pingsan gua lama-lama nih!”, pikirku

    Tubuhku kembali ditelentangkan di atas tikar. Kali ini giliran si Mat, dasar perjaka.. dia masih terlihat agak canggung saat ke mau mulai sehingga harus kubimbing penisnya untuk menusuk vaginaku dan kurangsang dengan kata-kata

    “Ayo Mat, kapan lagi lu bisa ngerasain ngentot sama cewek kampus, puasin Mbak dong kalo lu laki-laki!”.

    Setelah masuk setengah kusuruh dia gerakkan pinggulnya maju-mundur. Tidak sampai lima menit dia nampak sudah terbiasa dan menikmatinya. Si hansip sekarang naik ke dadaku dan menjepitkan penisnya di antara kedua payudaraku, lalu dia kocok penisnya disitu. Aku melihat jelas sekali kepala penis itu maju mundur di bawah wajahku. Si tukang ojek berkumis menarik wajahku ke samping dan menyodorkan penisnya.

    Kugenggam dan kujilati kepalanya sehingga pemiliknya mendesah nikmat, mulutku tidak muat menampung penisnya yang paling besar di antara mereka berlima. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi, tubuhku dikuasai sepenuhnya oleh mereka, aku hanya bisa menggerakkan tangan kiriku, itupun untuk mengocok penis si tukang ojek yang satu lagi. Tubuhku basah kuyup oleh keringat dan juga sperma yang disemburkan oleh mereka yang menggauliku.

    Setelah mereka semua kebagian jatah, aku membersihkan tubuhku dengan handuk basah yang diberikan si hansip lalu memakai kembali pakaianku. Mereka berpamitan padaku dengan menepuk pantatku atau meremas dadaku. Si tukang ojek berkumis mengantarku ke mobil sambil membawa sejerigen bensin yang tadi dibelinya. Setelah membantuku menuangkan bensin ternyata dia masih belum puas, dengan paksa dilepaskannya celanaku dan menyodokkan penisnya ke vaginaku.

    Kami melakukannya dalam posisi berdiri sambil berpegangan pada mobilku selama 10 menit. Untung saja tidak ada orang atau mobil yang lewat disini. Setibanya di rumah aku langsung mengguyur tubuhku yang bau sperma itu di bawah shower lalu tidur dengan perasaan puas.

  • Istriku Selingkuh

    Istriku Selingkuh


    110 views

    Ceritamaya | Setelah , Aku memarkirkan mobilKu , Aku melihat jam tanganKu pukul 5.00 sore . Kantornya telah sepi . Memang tadi waktu Aku telpon dari kantorKu , Dia tak mau di jemput , Akan meeting sama direksinya . Tapi Aku mau memberinya kejutan , Akan mengajaknya makan malam di resto . Aku mengunggu istriKu di mobil .

    Yah , Aku namaku Joko Santoso . umurKu 29 tahun . Sedangkan istriKu bernama Sherly berumur 27 tahun . Kulitnya putih , matanya sipit , cantik sekali . Dan Kami baru menikah 3 tahun . Belum memiliki keturunan . Aku sangat mencintainya . Aku tak mau kehilangannya .
    15 menit berlalu , Akhirnya Aku turun dari mobil dan masuk kekantor istriKu . Semua ruangan kantor rata rata sudah gelap , karena lampu telah di padamKu . Tapi ruang kantor istriku masih menyala , Jendelanya tertutup tirai . Aku mendekat dan mendengar suara cekik kikan . Aku mengitip dari sela sela tirai .

    KepalaKu seperti di hantam palu besar . Aku melihat Ganda , sedang menjilati buah dada istriKu . Dan istriKu , mengelijing ,dan mendesah ” ashh.. Gan… geli….” Suaranya pelan . Pak Ganda adalah GM , yang berarti jabatannya di atas istriKu . IstriKu sering menceritakan tentang Pak Ganda . Dan Dia pernah memperkenalkan Ku pada Pak Ganda ini . Tapi Aku tak menyangKa…

    Ingin Aku masuk ke ruangan itu , dan memukuli Pak Ganda . Tapi Aku urungkan , Aku memilih menonton saja , Aku mau lihat sampai di mana kelakuan istriKu . Tak lama setelah puas Pak ganda menjilati buah dada istriKu , Pak Ganda membuka celananya . dan dia duduk di meja . penisnya terlihat ngaceng . Harus aku akui ******nya , lebih besar dari Ku .

    IstriKu tanpa malu malu , langsung menciumi penisnya . Lalu menjilati dan mengemotnya . IstriKu terlihat sangat nafsu , Dia mengocok batang penisnya , dan mulutnya mengemut kepala penisnya . Se ingatKu selama tiga tahun menikah dengannya Sherly tak pernah menservis Ku seperti ini . Aku melihatnya , dan tanpa Aku rasa penisku mendaji tegang . Aku mengelus ngelus peniskuKu sendiri , dan membayangkan kalau Sherly sedang menjilati penisKu .

    Setelah itu , Pak ganda berdiri , lalu melepas seluruh pakaian istriKu . IstriKu lalu duduk di meja , hanya memakai celana dalam merah , yang Aku belikan waktu hari Valentin . Pak Ganda lalu menciumi istriku , dan berbisik . ” kamu cantik sekali Sheerly , Aku ingin menjilati vaginamu dan bersetubuh dengan sayang , boleh ya sayang…” . Sherrly menciumnya dan berkata ” Boleh aja Mas Ganda….” . Lalu Pak Ganda melepas celana dalam istriKu .

    Dan menjilati vagina istriku dengan penuh nafsu . IstriKu mengelijing , matanya terpejam , menikmati jilatan Pak Ganda . Aku memang tahu , istriku paling suka di oral . Dan Dia tak akan tahan , pasti sebentar saja orgasme . Pak Ganda dengan rakusnya menjilati vagina istriKu . Aku mendengar samar samar desahan istriKu ” ahhh mas , ahh udah gatel banget , mas Aku mau keluarr…..” . Tak lama istriku mengejang . Tubuhnya bergetar . ” Mas masukin sekarang , ayo mas , Gatel nih..” .

    JantungKu berdegup keras , penisnya yang besar itu mulai di masukan ke lobang vagina istriku . Dengan penisku yang lebih kecil dari penis pak Ganda saja, Aku merasa liang vagina nya sempit , Apa lagi penis pak Ganda yang besar . Dan ” Ahhh , pelan pelan mas , sakit…” kata istri Ku .
    Dan pak Ganda mulai bergoyang ,dengan irama birahi yang mengebu , Istriku mengelijing . Istriku nampak sangat menikmati penis besar pak Ganda . Kulit pak Ganda yang Hitam , tampak kontras dengan Sheerly yang putih . Aku terus saja mengelus elus sendiri penisku yang ngaceng itu .

    Pak Ganda terus saja mengoyang istriKu dengan nafsu . dan beberapa saat kemudian , Pak Ganda ejakulasi di liang vagina istriKu . Dan Aku juga ejakulasi , tanganKu basah akibat sspermaKu sendiri . Aku melihat mereka segera rapi rapi , istriku melap vagina nya pakai tisuue dan , Aku buru buru lari ke mobil .

    Aku segera meng HP istriKu . ” sayang , aku di kantormu nih …” . Aku berkata seakan akan tak tahu apa apa dan tak terjadi apa apa . IstriKu berkata ” Oh ..iya kebenaran Mas , rapatnya juga sudah selesai….” .

    Aku berpikir , pantas selama ini istriku selalu memakan obat anti hamil , alasannya belum siap punya momongan . Pikiran Ku kacau , Aku yakin istriKu tidak hanya main dengan Pak Ganda .

    Aku membawa juga istriKu ke restoran . Dia makan dengan lahap , sedangkan Aku .. nafsu makanKu menurun . Tapi Aku tetap berpura pura tak tahu apa apa .

    Istriku SelingkuhMalamnya saat istriKu tertidur pulas , Aku masih terjaga . Aku perlahan membuka celana dalam istriKu . Aku melebarkan kakinya . Menatap vagina istriKu yang tadi habis di goyang sama Pak Ganda . Aku menguak bibir vaginanya , terasa sedikit lembab. penisku jadi ngaceng . Aku memjilati memeknya . Istriku mengeliat , tapi tak bangun .

    Lalu Aku memasukan penisKu ke liang vaginanya . Istriku mengeliat , tapi matanya terpejam . Aku merasakan memek istriku tetap sempit . Aku terus mengoyangnya . Aku merasakan makin lama vaginanya makin basah .

    Istriku tetap memejamkan matanya , hanya suara desahan desah lemah , keluar dari bibirnya yang sexy. Aku terus mengoyangnya sampai Aku ejakulasi . Aku memakaikan celana dalamnya lagi , lalu Aku tertidur .

    Cerita ini sambungan dari istriku selingku 1 .
    Ada juga yang suka dengan cerita jenis ini , ada juga yang jenis pemerkosaan.
    saya sendiri merasa , saya lebih cocok dengan jenis pemerkosaa . Walau saya juga bisa berimajinasi , menelurkan cerita jenis tukar pasangan .

    Ini cerita lanjutan saya , kerja tak boleh separoh , harus sampai selesai .
    Let’s Swing babe .

    ********************

    Istriku Selingkuh 2
    Ceritamaya | Esoknya keadaanku , tak berubah . Aku terus berpura pura tak tahu apa apa . Berhari hari , selanjutnya setiap kali aku bercinta , anehnya aku malah terus membayangkan melihat istriku bercinta dengan pak Ganda .

    Di kantor aku jadi lebih pendiam , aku merasa ada yang berubah pada diriku . Sekarang ini aku malah sering horny , membayangkan istriku bercinta dengan orang lain , dangan siapa saja , bahkan dengan dua atau tiga pria .

    Kadang , Aku berpikir untuk menceraikannya , Tapi tidak , Aku mencintainya , Aku tak bisa kehilangannya . Aku harus mengakui , aku juga sering jajanan di luar tanpa sepengetahuan istriKu . Tapi bagaimana ini . Aku mau istriku berkata jujur padaKu tapi apa mungkin .

    Suatu saat weekend Aku berbicara dengan Sheerly , Aku bertanya ” Sayang , kanapa sih , koq kamu mau menikah denganKu ..? ” . ” Ah Mas gimana sih , yah saya sangat mencintai Mas …” . Aku tersenyum dan membelai rambutnya yang hitam terurai . Aku menatap istriku , cantik sekali dia.

    Lalu Aku berkata ” eh kamu kenal sama si Gatot kan ” . Lalu Sheerly berkata ” iyah , kenal teman sekantor kamu yang ganteng itu kan…” .

    ” iyah , benar , Dia itu sering nanyain kamu loh , Dia itu tergila gila sama kamu ..” kataKu . ” Masa sih mas …” kata Sheerly bersemangat . “Iyah , benar” kataKu. Sheerly diam . ” Eh mau gak , kalo misalnya kamu selingkuh dengan dia …. ” kataKu tiba tiba , yang aku sendiri tak berpikir seperti itu.

    Aku sendiri tak sadar , mengapa mulutku sampai keluar kata kata itu .

    ” AHH.. Mas gila yah ,.. masak istri sendiri di suruh selingkuh sama teman sendiri .. ” katanya marah . Dalam hati Aku berkata ” dasar munafik….” . Tanpa Aku sadari membicarakan ini malah membuatKu birahi .

    Aku mencari cara , Aku memaikan kata kata . Aku berkata ” Sheerly , Aku kan suruh kamu main dengan nya , bukan menikahinya , kalau Aku suruh kamu menikah itu namanya selingkuh , kan cuma begituan doang sih …” .

    Dia menatapku , lalu berkata ” jadi , kalau Aku main sama lelaki lain , itu bukan selingkuh , Mas gak marah…?”

    Arah pembicaraan makin mendekat ke sasaran . Aku berkata ” selama Aku tahu ,kamu main sama siapa , dan Aku bisa melihatnya , ok ok saja buatKu..” . ” ha .. Yang bener Mas , Mas gak marah…? ” tanyanya makin penasaran .

    ” engak , kalo marah buat apa aku tawari kamu main sama Gatot …” kataKu . ” tapi , tapi… Mas…” kata Sheerly . Aku berkata ” tapi ..apa…sayang…..” .

    ” Tapi mana mungkin cowok selingkuhanKu mau di liatin sama Mas , kalo lagi main sama Aku….” Katanya . Ha , kena loh , tanpa sadar Dia mengakui punya cowok selingkuhan .

    Aku berkata ” Mau , asal kamu bilang siapa nama cowok selingkuhan kamu ..” . Langsung muka sheerly merah padam , ” eh.. aku … Aku tak punya cowok selingkuhan…” . Aku tak mau membuatnya tak enak suasana hatinya .

    Aku langsung merubah arah pembicaraan , ” Nah , kalau Gatot itu mau , gimana ” kataKu . Sheerly Diam ” Ohhh …” katanya kemudian . Aku berkata lagi ” Nah jadi mau gak main sama Gatot…?” . ” Ah.. egak..Mas gila yah…” katanya .

    Kesabaranku habis , lalu Aku berkata ” masa sih kamu cuma mau main sama Pak Ganda…” . ” Mas .. apa apa menuduhku sama Pak Ganda …” katanya tak mengakui .

    Aku menceritakan semuanya . Sheerly menunduk dan menangis . ” Mas , baiklah Aku salah , Aku siap kamu cerai Kan …” . Aku mencium keningnya ” Sayang , mana mungkin Aku menceraikan kamu , kamu tahu Aku sangat mencintaimu , Aku tak bisa hidup tanpamu…” kataKu .

    Sheerly tetap menunduk dan menangis , entah apa yang dipikirnya . Aku berkata lagi ” Aku kan sudah bilang , kamu kan cuma main sama Pak Ganda , tapi kau tak cintainyaKan, Kamu tetap cinta sama saya kan sayang…?” . Sheerly menjawab terbata bata ” Iya , Mas saya masih tetap mencintai Mas…” .

    Aku mencium keningnya lagi ” maaf sayang , aku telah membuatMu menangis ..” . Lalu Aku menceritakan semuanya . ” Mas , jadi Mas malah nafsu , melihat saya di main sama Pak Ganda …? ” katanya . ” Iya , benar aku tak bohong , itu sebabnya Aku mau melihat kamu main sama Gatot , tapi kalau kamu tak mau , yah sama siapa deh yang kamu suka…” kataKu lagi .

    Pembicaraan kita makin terbuka , Sheerly mulai berani berkata blak blakan

    ” Bener yah Mas , tidak marah , tidak cemburu dan tidak menceraikan saya …janji..”katanya . Aku bilang janji.

    Lalu Sheerly berkata ” gimana sama Pak Ganda lagi…” . ” Tapi dia tak akan mau kalau Aku tontonin “kataKu . Sheerly berkata dengan genitnya ” Mas ngitip aja …” . Setelah berpikir untung rugi , Aku setuju , lagian ini kan pertama kali dia selingkuh dengan izin suaminya , jadi biarlah dia yang lead the game ,pikirKu .

    Pas ini week end . Aku lalu menyewa viila . Aku cari yang kamarnya dua . dan Aku mendapatkannya . Karena Villa itu Villa tua dinding terbuat dari kayu . Sudah banyak yang berlubang . Jadi dari kamar sebelah Aku bisa melihat jelas seluruh kamar yang akan di pakai Sheerly .

    Aku mengatur , Supaya Sheerly mengudangnya datang ke Villa . Dan dasar Pak Ganda juga mupeng , walaupun sedang beristirahat , sama anak dan istrinya mau juga datang . Akhinrya mobil pak ganda tiba , Dan dia langsung masuk ke Villa itu .

    ” Sayang , maaf yah Aku tak bisa lama lama , istriku menunggu .. tapi aku akan membuat kamu puas deh ..” katanya . Sheerly pun berkata ” iyah , Mas Aku juga , paling 2 jam lagi Mas Joko balik , dari kolam pemancingan .. jadi kita cepat saja yah..” . Lalu mereka masuk ke kamar . Aku menanti dengan deg.. deg..kan.

    Pak Ganda segera melepas seluruh pakaian , tinggal kolor hitannya . Aku bisa melihat di balik kolornya sudah menyembul penisnya yang ngaceng itu . Aku terus memperhatikannya , Lalu Dia menghapiri istriKu dan menjilati leher istriKu . Istriku mendesah desah . Lalu Pak ganda mulai membuka baju atasanNya . lalu Branya . Dan mulai menjilati tetenya .

    Sheerly mengelijing . Aku melihatnya dengan menahan nafsuKu . Sheerly mendesah desah , tak peduli padahal dia tahu suaminya sedang mengintip. Pak Ganda dengan lahapnya terus menjilati buah dada ranum istriKu .

    Pentilnya juga di sedot sedot . Sheerly makin mengelijing. Aku bisa jelas melihat putting istriku makin mengacung , yang menandakan dia horny berat , dan Aku yakin vaginanya sudah banjir .

    Lalu aku melihat , tangan Pak Ganda mulai menyusup masuk ke rok mini istriKu . Sheerly mengelijing ” Ahhhhsss .Mas , ahhh Sheerly jadi gatel nih ” . Pak Ganda melepas rok mininya . Lalu jarinya kembali ,bermain di selangkangannya .

    Aku benar benar penasaran . ******ku ngaceng sekali . Aku mengambil HP Ku . Lalu Aku SMS dia . Aku suruh dia ke kamar sebelah sebentar .

    Setelah Sheerly membaca SMS ku , lalu dia berkata ” Maaf , mas Aku ke WC dulu , perutku tiba tiba sakit ..” . Tanpa banyak berkata istriku , meninggalkan Pak Ganda sebentar . Sheerly masuk ke kamar . Aku langsung melumat bibirnya . Aku Nafsu sekali . Lalu menyelipkan tanganKu ke celana dalamnya . Aku meraba vaginanya , Wah vaginanya benar benar basah .

    Aku lalu menyuruhnya kembali ke kamar sebelah . Karena Aku melihat Pak Ganda mulai gelisah . Dan Begitu melihat Sheerly kembali langsung dia memeluknya lagi .

    ” Sayang isepin k-o-n-t-o-lKu dong ..” katanya . Pak Ganda melepas kolornya , dan berbaring di ranjang . Lalu Istriku memegang penisnya dengan nafsu . Lalu mengulumnya . Kelapa Sheerly kemudian ,mulai naik turun .

    Istriku SelingkuhPak Ganda , mendesah keenakan . Dan IstriKu terlihat begitu nafsu menyedot penis hitam dan besar milik Pak Ganda . Aku melihatnya dengan penisKu yang mengaceng tegang. Lama Aku melihatnya , sampai Pak Ganda berkata ” Ahh.. Aku sudah gak tahan …” . Lalu Dia merebahKan IstriKu , melepas celana dalamnya .

    ” Mas , jilatin dulu dong , i-t-i-l sheerly , gatel nih ….” Kata Sheerly . Pak Ganda tersenyum ,” oh mau yah ” , Pak Ganda mulai menjilati vagina istriKu . Dan IstriKu mengeliat geliat ke enakan . ” Ohhh terus Mas terus gatel banget nih i-t-i-l nya terus….. ” . Dan Pak Ganda , makin Asik terlihat menjilati vagina istriKu .

    Aku menurunkan resleting celanaKu , dan membiarkan penisku mengantung bebas .Sambil perlahan Aku memegang batang penisku sendiri.

    Sheerly makin mendesah desah ” Ahhh.. terus terus , Aku hampir keluar nih…” . Pak Ganda masih menjilaitnya . Dan ” Ahhh Aku keluar…..” . Istriku mengelepar . dan kejang . Pak Ganda yang sudah tak tahan , langsung memasukan penisnya . ” Auww , pelan pelan Mas..”kata Sheerly .

    Dan Pak Ganda mengoyang . membuat IstriKu menjerit jerit mengila ” Aww ohh ngilu ohh ” . Pak Ganda terus mengoyangnya . Aku melihat dari belakang buah zakarnya bergoyang goyang . Terus mengoyang IstriKu . Dan IstriKu tampak mengelijing , dan mengeram . ” Ahh , Mas terus… , terus…mas…” Kata istriku tak malu malu .

    Kira kira 10 menit lamanya , vagina istriKu di blender penis besar pak Ganda ,dan ” OHHH….. Aku keluar..Shreely ….” . Tamapak pak Ganda , membenamkan penisnya dalam dalam , di liang istriku . Perlahan Pak Ganda mencabut penisnya . terlihat lelehan spermanya keluar dari lobang vagina istriku .

    ” Mas , sudah mas pergi , nanti suami ku kembali loh ” kata istriku . Lalu pak Ganda segera , berpakaian , Dia segera pergi . Sedangkan Aku segera ke kamar istriKu Istriku masih terbaring lemas di ranjang .

    Aku menatap vaginanya yang membengkak , dan di penuhi sperma pak Ganda .
    ” Wahh , Kamu puas gak sayang…” kataKu . Shreely tak menjawab , tapi tersenyum

    Aku membuka celanaKu , Dan penisKu yang ngaceng itu , Aku sodorkan di mulutnya . ” Sayang , sedotin yang enak yah , kaya tadi kamu nyedotin k-o-n-t-o-l pak Ganda…” . IstriKu tersenyum , lalu menyedot penisKu .

    Dia menyedotnya nafsu sekali . Nah ini baru istriku , kataKu dalam hati . Istriku terus menyedot penisKu . Ini luar biasa , baru kali ini , istriku meyedot penisku dengan begitu nafsu .

    PenisKu di kocok , di jilat dan di sedot . Nafsu birahi yang Aku tahan dari tadi Akhirnya terlepas . Aku keluar , spermaku muncrat membasahi mulutnya. Rasa nikmat ini luar biasa… ” Sayang , Aku nikmat sekali…..” kataKu sambil mencium keningnya .

    Setelah beberapa saat , penisKu kembali bangun . Aku berkata ” Sayang , mas mau e-n-t-o-t kamu boleh gak ? ” . ” ah Mas , setiap saat , kapan mau mau ” kata istriku . Istriku bangkit , ” mas saya cuci dulu yah ” .

    Aku menarik tangannya , tak usah sayang ,Aku mulai memasukan penisKu . tanpa merasa jijik oleh sperma pak Ganda yang masih belepotan di vagina istriKu. . Sheerly mendesah ” Ahh , Iya h… terus , Aku enak , Mas… terus…” .

    Aku terus mengoyangnya . Dan Sheerly terus mendesah desah ” Ahhh teruss enak…enak…” katanya . Aku terus mengoyangnya . kira kira 5 manit , Sheerly mengejang ” Mas , Aku kelurrr….” . tubuhnya kejang , dan mengelijing… . Wah baru kali ini Dia mencapai orgasme dengan cepat , ketika Aku bercinta dengannya .

    Aku bertahan , diam sesaat , membirakan istriku menikmati orgasmenya , lalu kembali mengoyangnya .Dengan ritme yang lembut , dan perlahan ritme itu aku naikkan. Aku memcoba bertahan , aku ingin dia orgasme kembali .

    Setiap kali aku sudah mendekati puncakku , aku diam sebeentar , dan bergerak lagi , sampai kembali Sheerly mencapai titik puncaknya . Kembali Sheerly mengejang . Dan Aku pun juga menyemburkan benihKu dalam lobangnya .

    Sheerly memelukKu ..” Mas , tadi itu Aku nikmat sekali….” Katanya . Aku tersenyum , Aku tahu kataKu dalam hati . ” Mas , benarkan mas tak akan menceraikan Ku ” . katanya. Aku tersenyum saja . Sheerly menatapku , ada keraguan di hatinya.

    ” mas , kalau mas mua menceraikan saya , saya rela ” katanya . Aku mencium keningnya . ” sayang , kamu itu wanita yang perfect buatku , aku sangat mencintaimu , we will be together forever and ever , till death do us part ” .

    Baca Juga : Burung Mudaku

    Aku tertidur pulas , tak ada rasa cemburu , tak ada rasa amarah . yang ada hanya rasa puas .

    Hari hari , selanjutnya Istriku malah jujur samaKu .Dia berjanji tak mau lagi main sama cowok lain tanpaKu . Jika hasrat , sexnya meninggi dan lagi sangat mood , dia memintaKu ,untuk main seperti itu .

    ” Sayang , masa sih , Ganda terus , memang engak ada cowok lain.. Aku aja bosen , masa kamu engak bosen sih… coba k-o-n-t-o-l lain..dong….” kataKu.

    Sheerly berkata ” engak ada mas , benar , selingkuhan ku cuma Ganda…” . Aku diam . Lalu istriKu berkata ” ayo dong Mas , atur supaya Aku bisa main sama Ganda , lalu nanti baru kita n-g-e-n-t-o-t , lagi pengen nih..” .

    ” Gimana kalau dengan Si Gatot .. ” kataKu . ” Aku kan ngak gitu kenal , mas engak enak…” katanya ragu .

    ” Iyah , tapi kan bisa aja kenalan dulu.. emang kamu tak suka. ” kataKu lagi .
    ” Bukannya tak suka , Aku sih suka , tapi nanti dianya yang gak suka sama Aku …” . ” Aku kan pernah bilang Gatot itu tergila gila padaMu ..” . IstriKu diam .
    ” Gimana Aku atur yah , main bertiga sama Gatot , … kaya di bokep gitu…” .
    ” Ihh… Mas..ah… terserah mas deh…” kata istrikKu lagi .

    Akhirnya Aku menelpon Gatot temanKu , Aku atur . Aku suruh dia Booking hotel dan langsung menunggu di Kamar . Gatot sudah Ok . Lalu Aku menyuruh IstriKu berpakaian se sexy mungkin . IstriKu memakai baju terusan . Baju itu pendek . 10 cm di atas lututnya . Aku yang melihatnya saja nafsu .

    Sesampainya , Gatot langsung menyalami istriKu . ” Wah sexy sekali kamu Sheerly ” katanya . Aku lalu berbisik ” tuh , kan kamu tak percaya…” .

    Lalu Aku berkata ” Gatot kamu cumbui dulu Sherrly yah , yang mesra..” kataKu . Lalu Gatot membawa Sherrly duduk di ranjang . Sheerly Agak canggung , mungkin baru kenal Gatot . Lalu Gatot segera , membelai belai rambutnya ” rambut halus sekali …” . Dan Gatot melumat bibirnya . Istriku pun menolak dan membalasnya .

    Mereka saling berciuman . tangan Gatot perlahan mulai bergerilya meraba buah dada nya . Sheerly , mendesah pelan ” Asshhh… ahhh……” . Sheerly tidak memakai BH . Aku sengaja memang . Tadi Aku melepas BHnya di mobil .

    Karena Gatot merasa Sheerly tak memakai BH maka Gatot tampak semakin nafsu . Dan dia meraba raba bukit kembar istriKu dengan nafsu . Dan Sheerly pun makin mendesah ,” asshh….ahhh….ahh….” .

    Sambil bibir mereka tetap menempel , tangan Gatot menyusup masuk ke baju Istriku . Sheerly pun mengelijing ” ahhhss….ahhh….ahh…..” . Aku makin konak , penisku rasanya mau mencuat keluar .

    Sheerly tampaknya sudah bisa menerima Gatot . Lalu perlahan Gatot melepas pakaiannya . Lalu mulaia melumat buah dada istriku penuh nafsu .
    Sheerly mengelijing dan mendesah kenikmatan ” ahhhh….ashh….hh…. ahhh… Mas Gatot.. Aku nafsu nih jadinya…” . Gatot menyedot nyedot pentilnya . petil istriKu tampak keras dan tegang . Aku lalu mendekat dan duduk di sebelah istriKu .

    Aku membuka lebar kakinya . Aku raba selangkangan celana dalamnya . Celana dalamnya mulai basah . Aku tak mau keduluan Gatot . Aku membuka celana dalam istriKu . Aku jilati itilnya . Sheerly menjerit kenikmatan ” AHHH. Mas Enak , i-t-i-lnya dong aduh Gatell… ” . Tangannya memegang kepalaKu dan di tekan ke vaginanya . Sedang Gatot terus memainkan buahdadanya .

    Aku terus memainkan klitorisnya dengan lidahKu . Lobang vaginanya Aku sodok dengan jariKu . Berlendir sekali . dan sebentar saja istriKu mengejang ” Mas… Aku tak kuat , ahh udah gatel banget ” . Dia mencapai orgasme dengan dasyat .

    Aku melepaskannya . Juga Gatot . IstriKu tergeletak ngos ngosan . ” Gatot , gantian jilati memeknya ” kataKu .

    Lidah gatot langsung bermain di memeknya . Sheerly mengelijing kembali . ” Ahhh… udah , ngilu Mas.. ahh… e-n-t-o-t aja e-n-t-o-t.. aku….” Pintanya . Tapi Gatot terus menjilatnya . Tak peduli istriku meronta . Gatot menahan paha istriku ,dan terus membiarkan lidahnya menari di klitoris istriku , sampai istriku kembali kejang lagi . Dia orgasme lagi .

    Lalu Gatot membuka pakaiannya , penisnya ternyata lumayan besar .Gatot mengarahkan penisnya ke mulut istriku . Sheerly langsung melahap ****** itu , dengan nasfu sekali . Menyedotnya . Tapi itu tak lama , rasanya Gatot sudah tak sabar , ingin mencicip vagina istriKu .

    Lalu perlahan penisnya di tekan masuk liang sagama istriKu . ” Ahh ,pelan pelan mas ” ,desah istriKu . Dan Gatot pun mulai goyang . IstriKu mulai mendesah desah dalam kenikmatannya .

    Aku membelai belai rambut istriku . mencium bibirnya nafsu . ” enak tidak sayang k-o-n-t-o-l Gatot…” kataKu . ” enak , ahh…ahh… enak… k-o-n-t-o-l mas Gatot enak….” Katanya . Kata katanya menbuat Gatot makin nafsu . Gatot lalu me*******nya makin cepat , dan menekan makin dalam . ” Ahhh.. gila… terus….. aku gatel aku gatel banget mas .” .

    Aku membuka celanaKu . Aku sodorkan penisku ke mulut istriku . Dan Sheerly mengemot penisKu nafsu sekali . Yah baru kali ini Sheerly mendapat pengalaman ini , saat dia main dengan cowok lain , dan mulutnya mengulum penis suaminya . Seperti di film bokep .

    Gatot terus , mengocok penisnya dalam lobang vagina Sheerly . Dan istriku pun makin nafsu mengemot penisKu.

    Kemudian Sheerly meleguh ” Auuuwwa, Maas Aku keluarrr…….” Tubuhnya kejet kejet . Dan melepas penisku dari mulutnya . Aku mengocok penis yang sedang tanggung Ku dan Sroottt.. spermaKu memuncrat keluar . Dan Gatot mempercepat irama gerakan penisnya . Istriku mengeliat seperti penari ular.

    ” ahhh…ohh…..” Lalu Gatot menembakan spermanya dalam lobang vagina istriku .

    Kami bertiga sama sama lelah . Kami beristirahat , sambil makan . Sambil bercanda dan berbincang bincang . Istriku , sudah bisa menerima Gatot . dan dari cara bercandanya pun tak jauh dari hal hal porno .

    Kami mulai menjadi horny kembali . Gatot yang sudah mulai horny . Sambil duduk di sofa dia memperlihatkan penis besarnya mengacung . IstriKu menatapKu , seperti minta izin sama Aku . Aku berkata ” Sedot deh…” .

    Istriku menungging dan mengemot penisl Gatot yang duduk di sofa .

    Melihatnya penisku juga ikut ngaceng . Pantat istriKu yang menunging indah sekali Aku menghapirinya , aku melebarkan kakinya , Aku meraba vaginanya yang basah . Dengan menunduk Aku membelah pantanya , menjilati klitorisnyanya . IstriKu mengelijing dan melepaskan penis Gatot dari mulutnya ” Oahhh…ahhhhh…” .

    Gatot bertata ” kenapa sayang……” .
    ” oh…Ashshh… itilku jadi gatel .. di jilati suami Ku… ohh Masss… ” . desah istriku dengan genit .

    Aku terus menjilati klitorislnya . Dan Sheerly mengelijing dan terus mengemot penis Gatot . Aku terus menjilati klitorisnya yang semakin membesar karena nafsu .

    Sheerly tetap asik mengemot dan menjilati penis Gatot . Lalu Aku mulai mengesek kepala penisKu ke belahan istriku dari belakang istriku . Dia mengelijing ” Ahhh ..ahhh masukin aja mas masukin aja….” .

    Aku tekan penisKu dalam posisi istriku menunging . Terasa sekali vaginanya menjepit erat penisKu .

    Aku terus mengoyangnya , dan Sheerly menggelijing dan mendesah desah …” Ahhh , Mas.. terus.. tekan…. ” Dan Aku terus mengoyangnya dengan nafsu . Kira kira 10 menit , Sherrly mengejang ” Ahhh , Mas aku keluar……” tubuhnya kejang .

    Aku semakin nafsu , ada kebanggan tersendiri buatku , dapat membuat istriku orgasme . Aku terus menggoyangnya , sampai Aku juga keluar . dan Gatot pun keluar . Kita sama sama puas hari itu .

    Aku suka sekali , banyak yang bilang Aku gila , tapi tak peduli , yang penting Aku menikmatinya . Sekarang , Aku dan Istriku makin terobsesi , untuk bermain dengan cara ini .

  • Burung Mudaku

    Burung Mudaku


    69 views

    Ceritamaya | Sebut saja namaku Haryani, saat menikah aku tidak tahu kalau ternyata suamiku masih berstatus suami sah orang lain, namun belakangan kuketahui nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya dia pun mengakui kalau sudah punya anak isteri, namun apalah artinya aku yang lemah dan bodoh ini jika harus bersikeras untuk menuntutnya. Kendatipun aku tahu akan sangat menyakiti isteri sahnya, jika ia mengetahui. Suamiku adalah seorang perwira yang mempunyai kedudukan penting di sebuah propinsi (tidak kusebut tempatnya). Usianya sudah mencapai 55 tahun dan aku sendiri baru mencapai 27 tahun. Fasilitas yang diberikan dan ketakutanku lah yang membuatku sangat tak berdaya untuk menentang keberadaanku. Aku dibelikan sebuah villa yang sangat mewah yang terletak tidak begitu jauh dari kota tempat suamiku bertugas. Semua fasilitas yang diberikan kepadaku sangatlah mewah bagiku, aku mendapatkan sebuah mobil pribadi, telepon genggam dan perangkat entertainment di rumah. Namun ini semua ternyata masih kurang, aku ingin punya momongan, aku ingin dicintai dan disayangi. Kenyataannya aku hanya tempat persinggahan saja. Belakangan kudengar bahwa suamiku juga punya WIL lain selain aku, malahan kadang ia juga jajan kalau sedang keluar kota, kabar ini kudapatkan dari isteri ajudannya sambil wanti-wanti agar aku tutup mulut. Aku sendiri memang sudah kenal dekat dengan keluarga ajudan suamiku, namun demikian sampai saat ini rahasia ini masih tersimpan cukup rapi. Bagaimanapun juga aku kesal dan sedih dengan kondisi seperti ini, sehingga timbul niatku untuk berperilaku serupa.

    Pada suatu hari suamiku bertindak ceroboh dengan menitipkan anak bungsunya kepadaku, beliau memperkenalkanku sebagai ipar ajudannya. Anak itu memanggilku Mbak maklum dia masih SMP dan usinya pun masih 14 tahun. Wajahnya, perilakunya persis bapaknya, nilai kesopanannya agak kurang bila dibanding dengan anak-anak di kampungku. Maklumlah ia adalah anak pejabat tinggi. Jam 21.00 bapaknya telepon, meminta Alex (sebut saja nama anak itu begitu) untuk tidur di rumah karena bapak ada urusan. Aku jadi curiga pasti dia ada kencan dengan orang lain. Alex pun belum tidur, ia lagi asyik nonton televisi di ruang keluarga. Akhirnya timbul niat burukku untuk memperdaya Alex, namun bagaimana caranya? aku dihadapkan pada jalan buntu. Akhirnya spontan kumasukkan VCD-VCD porno ke dalam player untuk saya hidangkan kepada Alex. Aku hidupkan oven selama 3 menit yang kebetulan isinya adalah daging yang sudah masak sejak siang tadi. Langsung saja kurayu dia untuk menyantapnya sehingga kami pun menyantap daging panggang dan sambal kecap bersama-sama. Sambil basa-basi kutanyakan sekolahnya, tampaknya kemampuannya di sekolah biasa-biasa saja, terbukti dengan kekurang antusiasannnya bicara tentang sekolah. Ia lebih suka bicara tentang video game dan balap motor.

    Burung MudakuKupegang tengkuknya dan kupijit sambil kukatakan, “Kamu pasti capek, sini Mbak pijitin…” Dia pun diam saja, maklum dia adalah anak yang manja. Kuraih remote control dan kutekan play untuk CD yang pertama, film-filmnya adalah jenis vivid dengan tema seks yang cukup halus. Tampaknya Alex sangat menyukainya, ah pucuk di cinta ulam pun tiba. Sambil kupijit sekujur tubuhnya, kuamati roman mukanya. Kukatakan tidak usah malu, karena itu hanya film saja (tidak sungguhan). Muka Alex tegang, setiap ada adegan orang berpelukan (cuma berpelukan) aku suruh dia telentang untuk pijatan bagian depan. Sambil telentang Alex tetap memperhatikan film yang tampaknya mulai disukainya itu. Kini acara di film mulai ke adegan yang cukup panas, seorang wanita melepas pakaiannya sehingga tinggal pakai celana dan BH dalam saja. Alex semakin tegang dan agak kupercepat tanganku mengarah ke pangkal pahanya. Pura-pura kupijit pahanya dengan menyentuh kemaluannya, dia terkejut ketika kemaluannya yang tegang kesentuh tanganku. Pucat pasi mukanya, namun kunetralisir dengan mengatakan “Tenang Alex, semua orang sama, adalah hal yang sangat wajar bila seseorang terangsang. Karena semua orang mempunyai nafsu.” “Malu Mbak”, jawab Alex. Kalau orang banyak malu, tapi Alex kan sendirian cuma sama Mbak. Mbak nggak malu kok. Dengan berkata demikian kubuka bajuku sehingga aku hanya pakai BH saja. Akupun heran juga kagum, anak seumur dia juga bisa tegang dan tampak tidak berdaya, jauh dari sikap sehari-hari yang agak arogan. Namun aku mulai menyukainya tanpa memikir yang jauh ke depan mengingat bapaknya sendiri juga berbuat serupa terhadap saya. Film terus berputar, tubuh Alex terasa hangat malah aku khawatir kalau dia sakit, dia tampak pucat entah takut apa bagaimana, aku tidak tahu.

    Alex hanya melirik buah dadaku tanpa berani menatap langsung, dia tetap memperhatikan film dengan seksama. Saat kupegang lagi kemaluannya dia hanya diam saja, tak kusia-siakan kesempatan ini kuremas kemaluan yang berukuran agak kecil itu. Akupun sudah tidak memperhatikan film lagi, kubuka celana Alex dan kuperhatikan kemaluannya. Tampak bersih dan mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, aku semakin bernafsu melihatnya. Langsung kuterkam dengan mulutku dan kumulai menjilatnya, Alex hanya terdiam sambil kadang pinggulnya bergerak menikmatinya. Kuhisap kemaluannya dan dia pun teriak Uh.. Mbak.. kubiarkan anak kecil itu menggelinjang, kubimbing tangannya ke payudaraku. Ah, dia malah meremas kuat sekali. Kumaklumi dia sangat lugu dalam hal ini, aku tidak menyesal malah menyukainya. Aku hisap terus, dia pun semakin bergerak tidak karuan sambil teriak-teriak ah, uh, ah, uh. Kemudian dia teriak keras sambil tubuhnya gemetar disusul oleh cairan hangat dari kemaluannya. Aku telan cairan asin dan pekat ini tanpa rasa jijik sedikit pun, dan dia pun diam lemas terkulai. Kupeluk dia, dan kubisikkan kata-kata, “Enakkan”, sambil aku tersenyum, dia balas pelukanku dan hanya bicara “Mbak..” Aku bimbing dia ke kamar mandi dan kumandikan dengan air hangat, burung kecilku masih tidur dan aku yakin nanti akan bangun lagi.

    Baca Juga : Jaksa

    Kemudian kami pun tidur bersama di depan televisi di atas karpet, dia tampak kelelahan dan tidur pulas. Aku pun puas meski tidak sampai coitus. Menjelang subuh aku bangun, dan kulihat dengan seksama tubuh Alex yang sedang tidur telanjang. Nafsuku bangkit lagi dan kucoba membangunkan burung kecil itu, ternyata berhasil dan kuulangi lagi perbuatan tadi malam dengan pertambahan Alex meningkatkan variasi permainan. Tampaknya Alex mulai mengikuti naruninya sebagai makhluk bernafsu, ia mungkin meniru adegan film tadi malam. BH-ku dibuka dan dijilati, aku pun merasakan kenikmatan dari anak bau kencur, kubayangkan anak dan bapaknya mengerjaiku seperti sekarang, ah tak mungkin. Aku tuntun tangan Alex ke kemaluanku yang sejak tadi malam belum tersentuh sama sekali. Kubimbing tangannya menggesek-gesek kemaluannya dan ia pun memahami keinginanku. Gerakan-gerakan Alex dan servicenya kepadaku masih sangat kaku, mungkin perlu beberapa kali aku melatihnya. Tiba-tiba ia menarik paksa celana dalamku dan BH-ku pun dilucuti. Kubiarkan dia berkreasi sendiri, tampak wajahnya masih tegang tapi tidak setegang tadi malam dan ia pun mulai tidak sopan kepadaku, ah biarlah. Aku didorong hingga telentang, dan ia pun langsung menindihku. Dicobanya memasukkan burung kecil itu ke dalam kemaluanku, namun berkali-kali ia tidak berhasil. Ia pun semakin penasaran, ah suami kecilku ini mesti banyak belajar dariku.

    Kubimbing kemaluannya memasuki kemaluanku dan ia pun menggesek-gesekkannya. Terasa nafsuku merasuk ke sekujur tubuhku, kini penantianku tadi malam hampir tercapai dan ah nikmat sekali, suami kecilku bisa memuaskanku kali ini. Dengan cepat aku bangun dan kuhampiri burung kecil yang masih menantang itu, kuhisap dalam-dalam, dia pun mengerang kenikmatan dan terus menerus kuhisap hingga badannya bergetar dan lagi-lagi air liur burung kecil yang hangat itu menjadi bagian dari dagingku. Hari sudah terang, dan segera kami mandi air hangat bersama-sama. Aku merasa puas dan Alex hanya diam saja, entah apa yang dipikirkan. Menyesalkah? aku tidak tanya. Kenyataannya kisah ini masih berlangsung, sekarang Alex sudah SMA dan masih tetap dalam bimbinganku.

    Pagi harinya bapaknya Alex (yang juga suamiku) datang dan dengan tanpa menaruh curiga sedikitpun. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan burung muda.

  • Jaksa

    Jaksa


    73 views

    Ceritamaya | ” naikan rokmu sedikit” kata jaksa sibutar butar menyeringa sambil memandang betis mulus nia.
    ” pak, jangan pak ” kata Nia kebingungan.
    ayo, naikan sedikit ibu Nia ” kembali jaksa itu memerintah.

    Nia, ibu rumah tangga ini kebingungan tdk tahu harus berbuat apa.
    bila pak jaksa tdk dituruti kemauannya, nia takut suaminya akan dituntut hukuman berat.

    Nia menegok kekiri dan ke kanan. di salah satu sudut ruangan di pengadilan negeri jakarta, hanya ada nia dan jaksa sibutar butar.
    tempat itu sebenarnya adalah ruang arsip yg hanya bisa diakses dari ruang sebelah. jejeran arsip yg tinggi seperti di perpustakaan.
    ruangan itu memiliki jendela. dari tempat duduk nia disamping pak jaksa bisa melihat orang hilir mudik.
    maklum hari iru hari rabu, di pengadilan sedang banyak sidang.
    namun, orang2 tdk ada yg sampai menengok ke jendela u mengintip kejadian itu.
    nia menghela nafas panjang. minggu deppan suaminya anton akan dituntut oleh pak jaksa u kasus kepemilikan 20 butir inex.
    tak terbayang oleh nia kalau anton sampai dituntut hukuman berat.

    nia sdh menyerahkan sejumlah uang kpd pak jaksa.
    namun, nampaknya uang saja tdk cukup.
    pak jaksa mau lebih.

    di usianya yg baru 30 puluh, nia dg anak satu ,berwajah seperti rini s bono, masih memiliki tubuh mulus.
    moyang periangan ini memang mantan pragawati terkenal ibukota.
    dg tinggi 175 cm, badan berisi dan buah dada yg masih ranum.
    kakinya yg jenjang dan mulus merupakan daya tarik luar biasa u lawan jenisnya.

    perlahan nia mulai menaikan rok yg dia kenakan. posisi Nia disamping pak jaksa sangat tdk menguntungkan.
    mata sibutar butar melotot saat nia menaikan roknya secara perlahan lahan.
    betis membunting spt padi dg paha yg mulus, membuat tangan pak jaksa tdk tahan u mengelus elusnya.

    ugh..jangan,,pak..kata nia saat dia mersakan tangan kasar lelaki itu menjamah pahanya.

    tapi tangan itu terus saja bergerilya.
    kont*l pak jaksa dibalik seragamnya berdiri tegak.
    jaksa itu tiba2 berdiri dan mendekati wajahnya ke nia.

    cium aku ibu nia” katanya.

    jangan pak ” kata nia

    saya sdh bersuami’ lanjutnya.

    cium aku atau …….kata pak jaksa mengancam.

    nia terpaksa mencium tipis bibir pak jaksa.
    tangan pak jaksa memeluk tubuh nia dan menciumnya dg penuh nafsu.
    lidah lelaki hidung belang itu dg liarnya menjelajahi mulut nia.
    mau tak mau maia terpaksa melayani ciuman jahanam itu.

    pak jaksa kemudian duduk dan membuka resleting celananya.
    nongolah kont*lnya yg lumayan besar dan panjang.

    tolong ibu nia berjongkok” kata lelaki itu.

    nia tambah bingung
    tapi ia tahu harus melakukannya.
    nia berjongkok dan perlahan disodori batang kont*l bp jaksa.
    nia memegang batang itu dg gemetar dan menengok kearah jendela takut ada yg melihat. orang2 berlalu lalang seakan tak acuh.

    nia memberanikan diri u menjilati penis lelaki yg bukan suaminya itu.

    oh..
    oh….Nia…..enak sayang” desis pak jaksa

    hisap terus batang kont*lku ibu anton…..katanya lagi.

    Nia terpaksa menjilati dan mengulum batang itu.
    selama lima menit nia melayanibatang itu.
    pak jaksa berkali kali menekan kepala nia agar menyedot kont*lnya lebih dalam.
    baju atas nia, sdh terbuka. buah dadanya yg beasar dan padat keluar dari sarangnya saat di pencet dan dirogoh jaksa jahanam itu.
    putingnya yg mancung kelihatan kencang menantang.

    eh puting2 ibu Nia sdh kenceng”

    sdh nafsu juga ya bu” kata pak jaksa
    pak…tolonglah..ampuni saya…kata nia memelas

    sudah ya pak” mohon ibu muda itu.

    “belum ibu nia….” kata jaksa itu. sambil memainkan puting2 ibu nia.

    buah dada ibu putih besar dan kenyal” kata pak jaksa sambil meremas remasnya.

    ” duduk di pangkuanku bu” kata lelaki itu memerintah.

    pakkkk….kata nia merengek.

    duduk kataku ” bentak si jaksa

    Nia berdiri dan terpaksa duduk di pangkuan pak jaksa.

    pak…. aku takut….
    nanti orang diluar melihat kita..” kata nia ketakutan.

    pak jaksa malah memelorotkan celananya ke kakinya sambil mendudukan ibu nia.
    dipeluknya tubuh isteri pak anton itu dg penuh nafsu.

    buah dada nia yg jelas keluar dari branya diremas remasnya.
    perlahan tangan pak jaksa mencari resluiting rok ibu nia.
    tanpa ampun, rok itu dilepaskannya.
    nia menutup mata menahan malu.
    sekarang hanya tinggal cd dan baju atas yg sdh berantakan.
    paha mulus dg kaki yg jenjang benar2 pemandangan yg luar biasa bagi lelaki manapun.

    tanpa membuang waktu, diciumnya tengkuk ibu nia.
    lidahnya menjelajahi leher dan telinga wanita itu.
    setelah itu dg pelan tp pasti tangan lelaki itu menyelip di balik cd wanita itu.
    terasa gumpalan daging lembut diantara selanhgkangan Nia.

    ugh…..

    oooohhhhh

    kata nia. saat tangan pak jaksa menyentuh halus clitorisnya.

    dijelajahinya secara perlahan daging mentah itu.

    kacang ibu nia dikocok perlahan oleh pak jaksa.

    diam diam nia mulai merasakan nafsu birahinya meningkat.
    selama sepuluh menit tangan itu mengocok mem*k ibu nia.
    mem*k nia pun mulai basah.

    entah bagaimana mulanya tahu2 cd ibu Nia sdh melorot dan batang kont*l yg sedari tadi kencang menempel di pinggangnya sdh menembus vagina nia yg basah.

    Nia lupa dimana dia berada.

    ugh..ugh…desis ibu muda itu penuh nafsu

    setiap kali kont*l itu masuk ke mem*knya yg dalam.

    tanpa diperitah lagi. Nia menaik turunkan tubuhnya yg sdh gatal itu.

    lewat jendela nia menyaksikan orang2 berlalu lalang.

    selama lebih dari lima belas menit nia menaik turunkan tubuhnya.
    udara ruangan yg pengap menyebabkan mereka berkeringat.
    nia dan pak jaksa sudah lupa daratan
    pompaan nia di kont*l pak jaksa menimbulkan sensasi yg luar biasa buat pak jaksa.
    pak jaksa tdk menyangka dapat menyetubuhi istri orang. bangsat itu benar2 menikmati setiap genjotan nyonya muda itu.

    Baca Juga : Aline

    Nia mulai menikmati batang kont*l pemerkosanya.
    karena terhanyut dlm nafsu birahi yg membakar, Nia kemudian tanpa malu lagi berdiri dan tangannya bertumpu di meja.

    pak jaksa tersenyum

    ibu sudah gatel ya?
    nia diam saja. dia merasakan kegatelan yg luar biasa di selangkangannya. nia ingin dientot doggy. wanita ini sdh lupa bahwa dia adalah isteri anton.

    ahhh..ahhhh …….desis nia kegatelan.

    ketika batang kont*l pak jaksa kembali masuk dan menghujam vagina basah Nia

    plaakkk..plaakk..” terdengar suara batang kont*l lelaki itu menghantam mem*k Nia.
    setelah sepuluh menit pak jaksa menarik dg kasar rambut ibu nia.

    ohhh… ohhhh…bu nia..
    oh..bu..enak…buuuu…
    entot bu….

    entot…….entottttt……entooooooooooot.
    seraya menjambak keras rambut ibu anton, pak jaksa sibutarbutar menyemprotkan spermanya keliang cinta ibu muda itu dg kencangnya.

    ohhh,,ohhh…pak

    ohhh…
    ohhhh.. pakkkkk

    rupanya nia pun mencapai orgasme juga.

    tubuh kedua insan itu berkelojatan di puncak persetubuhan mereka.
    keringat mengalir deras. baju seragam dan baju ibu muda itu basah kuyup.

    entah berapa lama meraka terdiam.
    batang kont*l pak jaksa masih menancap di vagian Nia dan sperma nya mulai meleleh membasahi paha ibu itu.

    air mata nia mulai meleleh menahan malu bukan kepalang. apa kata anton seandainya suaminya itu mengetahui kejadian ini.
    namun dibalik penyesalan itu, nia harus mengakui jaksa bangsat ini benar2 mampu memuaskan libidonya. sangat jauh dibandingkan anton yg hanya bertahan 5 menit setiap kali mereka melakukan hubungan suami isteri. sodokan sodokan batang kont*l sibutar butar masih luar biasa enaknya.

    tiba2 pintu dari sebelah ruangan terbuka.
    kedua insan yg masih dlm posisi senggama terkejut luar biasa.

    pak Hamid, kanit arsip berusia 55 thn berdiri tegak memandang mereka.
    beliau tdk menyangka ruangan arsipnya dipake u bercinta.
    ada aroma marah yg luar biasa di mata orang tua itu.

    setelah kejadian itu, jaksa sibutar butar diskors dan tdk boleh menangani perkara oleh atasannya.
    ada laporan lisan dari pengadilan negeri ke kejaksaan tinggi atas tindakannya yg tdk senonoh itu

    sedangkan Nia dibebaskan dari segala tuduhan

    tepat sebulan kemudian. Nia menerima telpon dari seseorang.
    nomernya tdk nia kenal.

    ya…siapa?

    selamat siang bu” Nia” terdengar suara diseberang.

    siapa ya? tanya Nia

    “Hamid bu. saya Hamid. masih ingat bu?” suara diseberang terdengar dg nada ceria.

    Nia lemas mendengar suara itu.

  • Aline

    Aline


    49 views

    Ceritamaya | Malam itu, Aline sedang berdua dengan pacarnya, Faiz. Kedua meluncur ke sebuah
    daerah pinggiran di kota S. Daerah itu dikenal dengan sebutan “goyang goban”.
    Disana tempatnya luas, lapang tetapi gelap. Oleh karena itulah banyak dimanfaatkan
    oleh kalangan muda-mudi untuk menyalurkan hasrat seksual mereka secara darurat.
    Cukup dengan membayar goban (lima puluh ribu rupiah), sepasang muda-mudi bisa
    segera crot. Tinggal memilih lokasinya saja. Tetapi tentu aktifitasnya didalam
    mobil, karena daerah itu sebenarnya adalah tanah lapang.

    “Malam, bang.”, sapa Faiz saat memasuki daerah itu. Beberapa orang yang sedang
    asyik merokok dan ngopi memandang dia. Lalu salah seorang berdiri dan mendekat
    ke mobil Kijang tersebut.
    Tanpa banyak bicara Faiz segera menyodorkan selembar uang lima puluh ribu rupiah
    ke preman tersebut. Sambil menghisap rokoknya, pemuda tanggung dengan tubuh yang
    agak kurus itu melongok kedalam mobil.
    “Agak rame lho. Jadi pilih yang dalam aja.”. Ujarnya.
    “Ceweknya mas?”, tanyanya sambil mengantongi uang goban itu. Faiz mengangguk.
    “Cakep mas.”, ujarnya lagi. Faiz tersenyum kecil. Dia lalu segera menjalankan
    mobilnya masuk ke daerah “telarang” itu. Melalui kaca spion mobilnya, Faiz dapat
    melihat preman tadi tertawa-tawa dengan teman-temannya sambil menunjuk kearah
    mobilnya.
    Benar juga. Sudah ada beberapa mobil yang terparkir rapi ditempat itu. Karena
    lampu depannya masih menyala, secara sepintas Faiz dapat melihat beberapa adegan
    panas didalam mobil yang pas kena sorot lampunya. Ada yang sedang mem-blow job
    cowoknya, ada juga cewek yang sedang disetubuhi cowoknya. Pemandangan yang
    semakin menggairahkan Faiz tentunya. Tetapi dia tidak berani secara terang-
    terangan menyorot mobil-mobil tersebut. Bisa-bisa digebukin ama preman yang
    jaga disana.
    Tak lama kemudian, dia mendapat lokasi yang bagus. Didepannya banyak berjejer
    pohon sono yang rindang. Faiz lalu mematikan mesin mobilnya dan membuka sedikit
    jendelanya agar ada udara segar yang masuk.
    “Yuk, say.”, ujar Faiz dengan genit. Aline cuman tersenyum lalu mencium kekasihnya
    dengan mesra. Keduanya lalu pindah ke kursi belakang, karena lebih luas.
    Setelah itu, Faiz dengan segera menciumi Aline dengan penuh nafsu. Sudah sekitar
    1 bulan ini dia tidak menikmati tubuh pacarnya, karena Aline lagi liburan ke
    Amrik bersama orang-tuanya. Jadi nafsunya sudah sangat bergolak. Aline balas
    menciumi kekasihnya itu. Tangan Faiz tidak lupa meremas-remas dengan cepat
    payudara Aline yang menonjol dibalik kaus ketatnya itu.
    Sudah beberapa menit mereka berciuman. Faiz lalu meraba-raba paha Aline yang mulus
    itu dan mulai bergerilya masuk kedalam. Aline memejamkan mata, merasakan geli
    sekaligus nikmat, saat jemari Faiz menggosok celana dalamnya dan lalu menusukkan
    jarinya kedalam vaginanya.
    “Ah…”, erang Aline. Faiz terus menciumi leher Aline sambil jarinya merogoh masuk
    kedalam vagina Aline dan mengkocoknya dengan cepat. Vagina itu terasa semakin
    basah dan hangat.
    “Enak say?”, ujar Faiz sambil terus melumat leher Aline. Sang cewek cuman
    mengangguk lemah saja, menikmati rangsangan yang diberikan pacarnya itu.
    Pada saat sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya. Sontak
    hal ini membuat Faiz dan Aline kaget. Dengan perlahan Faiz membuka kaca jendelanya
    lalu melongok keluar.
    “Mas. Buka pintunya sebentar.”, ujar salah seorang preman yang mendekat tadi. Faiz
    memandangi sekitarnya. Karena gelap, dia tidak dapat melihat dengan jelas. Namun
    yang pasti, ada 3 orang yang sedang mengerumuni mobil mereka. Merasa gelagat yang
    kurang enak, Faiz berusaha menutup kaca jendela dan berniat untuk kabur. Namun
    salah seorang preman tersebut menyadari rencana Faiz dan segera melayangkan
    tinjunya. Plak ! Faiz terguling didalam mobil. Aline berteriak tertahan. Dengan
    cepat, preman tersebut memasukkan tangannya kedalam mobil melalui jendela yang
    terbuka dan membuka kunci pintunya.
    Singkat cerita, mereka membawa Aline dan Faiz ke sebuah gubuk bambu yang letaknya
    tidak jauh dari lokasi mereka memparkir mobil. Gubuk itu hanya diterangi oleh
    lampu petromaks, ukurannya tidak terlalu besar. Didalamnya ada sebuah kasur yang
    sudah butut. Salah seorang preman itu lalu menohok perut Faiz dan melemparnya
    ke lantai. Fiaz mengerang kesakitan. Aline cuman bisa gemetar sambil menutup
    mulutnya.
    “Hehe…punya cewek cantik cuman mau dinikmati sendiri. Enak aja.”, ujar
    Adi, salah seorang preman itu. Kedua preman yang lain tertawa mendengarnya.
    Salah seorang diantara mereka sedang memegang botol bir yang tinggal sedikit.
    Hm…lagi mabuk rupanya.
    Adi lalu mendekati Faiz dan melucuti seluruh pakaiannya. Setelah itu, dia
    membuang pakaian itu ke luar gubuk, mengikat Faiz dan meninggalkan Faiz yang
    sedang kesakitan dalam keadaan telanjang.AlineKetiga preman itu lalu berbalik dan memandangi Aline yang sedang berdiri ketakutan.
    “Wow…nonik ini cantik sekali. Putih dan seksi lagi.”, goda Somat.
    Aline cuman diam sambil menangis sesenggukan. Dia melihat Somat memandangi dirinya
    kayak belum pernah liat cewek sebelumnya. Tiba-tiba timbul penyesalan didalam
    dirinya. Ngapain juga pake baju seksi. Aline memakai kaus tanktop putih tipis
    yang ketat, dengan BH hitam. Ditambah rok mini jeans kesukaannya.
    Somat lalu mendekat dan mulai meraba-raba tubuhnya. Dengan cepat Aline menepis
    tangan itu. Ketiga preman itu cuman tertawa melihatnya. Lalu tiba-tiba Somat
    memeluk Aline dari belakang dan langsung meremas-remas payudara Aline.
    “Aduh…sakit. Lepaskan…Jangan mas…jangan…”, ujar Aline memelas. Air mata-
    nya menetes dengan deras. Dia tidak rela tubuhnya disentuh oleh preman-preman
    ini. Tetapi dia tak mampu melawan. Somat nampak merem-melek meremasi payudara
    Aline yang seksi itu.
    “Oh…uenak banget. yeah…”, ujarnya sambil menggesek-gesekkan penisnya ke
    pantat Aline. Adi tidak tinggal diam. Dia juga mendekat lalu menarik Aline
    dari Somat. Dengan buas dia lalu menciumi bibir Aline yang tipis dibalut
    lipstik pink itu.
    “Oh…ga mau……ga mau….”, pintanya memelas. Tetapi dia tidak mampu melawan.
    Preman yang satunya lagi, si Rohim, nampak sudah melepas seluruh pakaiannya dan
    mulai mengkocok penisnya sendiri, melihat kedua temannya mengerjai gadis cantik
    itu.
    Karena sang korban masih melawan, Somat dengan kesal mengeluarkan gobang dari
    balik bajunya dan menempelkannya ke leher Aline.
    “Loe bisa diam kagak? Mau gue gorok kayak sapi ya?”, ancamnya serius. Aline cuman
    menggelengkan kepala sambil menangis. Mungkin saking takutnya, tanpa sadar
    Aline sampai ngompol !
    Somat menyadari hal ini. Dia lalu tertawa lepas, demikian juga kedua temannya.
    “Haha…udah deh non. Kamu diam aja. Ok? Ga apa-apa kok. Kami cuman pengen coba
    aja. Masa seumur hidup kagak pernah? Cowokmu kan sama dengan kita, tapi dia
    pernah. Masa kita kagak boleh?”. Sahutnya lagi.
    “Mau kan non?”, tanya Somat lagi. Aline menggeleng dengan lemah. Somat lalu
    menempelkan lebih keras gobangnya. “Mau ngga? Aku gorok sekarang.”, ancamnya
    sambil pelan-pelan menggeserkan goroknya dileher Aline. Aline merasa ancaman
    si Somat ini nggak main-main. Jadi dia cuman pasrah aja, sambil menangis
    sesenggukan.
    “Nah…gitu donk non. Sip.”, ujar Adi sambil melepas seluruh pakaiannya,
    yang kemudian diikuti oleh Somat. Aline diam saja sambil menutup matanya. Dia
    tidak menyangka hal seperti ini bakal dialaminya.
    Somat lalu mendekati Aline dari belakang dan kembali meremasi payudara
    gadis itu dengan gemas. Aline mengeritkan dahi, menahan sakit.
    “Duh…sakit mas.”, ujar Aline tetapi tidak digubris oleh Somat yang terus
    meremas payudaranya sambil merem-melek keenakan.
    Adi lalu menyuruh somat berhenti dan dia lalu mengangkat tanktop putih ketat
    Aline sehingga tampaklah payudara Aline yang indah, terbungkus oleh BH hitam
    transparan berenda.
    “Bujubuset. Asyik banget dadamu, moy.”, ujar Adi kegirangan. Somat lalu
    menciumi punggung Aline dengan buas, sedang Adi langsung menyergap kedua bukit
    kembar itu dengan sama buasnya. Aline merasa kesakitan.
    Tak sabar, Adi lalu mengangkat cup BH hitam Aline.
    “Wuah….seksi banget.”. Putih Aline yang merah muda terlihat menonjol di ujung
    payudaranya yang berukuran 34B. Dia lalu dengan buas menyedot puting payudara
    Aline sambil tangannya yang lain memilin puting satunya. Aline mengerang.
    Dia mulai merasakan sedikit getaran kenikmatan saat putingnya disedot dengan
    kasar oleh Adi.
    Somat lalu berdiri didepan Aline, bersebelahan dengan Adi. Lalu keduanya dengan
    rakus menyedot dan melumat kedua payudara Aline secara bergantian. Adi terkadang
    memainkan lidahnya di daerah puting Aline, sedang Somat terus menetek dengan ganas.
    Payudara indah yang putih mulus itu sekarang penuh dengan air liur kedua preman itu.
    Aline mengerang semakin jelas. Entah, menurut ceritanya, dia mulai merasakan
    kenikmatan saat payudaranya dinikmati oleh preman tersebut.

    Baca Juga : Pengalaman Akhir Tahun

    Sambil terus menetek, Somat mulai menarik resleting rok jeans Aline dan melepasnya.
    Mereka lalu berhenti menyedot puting Aline dan melihat pemandangan seksi dibawahnya.
    Mereka melihat sebuah CD hitam transparan yang berenda juga, menutup lubang vagina
    Aline. Mata kedua preman itu takjub. Aline cuman pasrah saja. Dia memandangi
    gubuk itu dan melihat si Rohim masih mengkocok penisnya perlahan.
    “Uh…Seksi banget non.”, ujar Somat. Dia lalu menarik Aline keatas kasur butut
    itu dan menidurkannya terlentang. Adi lalu dengan cepat menciumi daerah paha kanan
    Aline, sedangkan Somat dengan asyiknya menciumi dan menjilati belahan vagina Aline
    yang masih tertutup CD hitam transparan tersebut. Jarinya tak lupa memilin-milin
    puting payudara Aline.
    “Uh…ah…”, erang Aline. Tak bisa dipungkiri, walaupun dia dalam kondisi diperkosa,
    Aline merasakan getaran kenikmatan seksual yang semakin tinggi.
    “Haha…Konak juga loe ya non…Dibilang apa.”, goda Adi. Aline diam saja sambil
    memejamkan mata, membiarkan dirinya dinikmati oleh preman tersebut.
    Somat lalu melorot CD hitam tersebut. Wow…Terlihat sebuah vagina yang GUNDUL !
    Tercukur rapi. “Wah…Non rupanya ga suka ada bulunya ya…”, goda Somat lagi.
    Dia lalu dengan cepat memainkan lidahnya didalam belahan vagina Aline yang semakin
    becek itu.
    Lalu, Adi segera memberi isyarat kepada Somat untuk mulai. Somat lalu berdiri. Adi
    memposisikan Aline supaya lebih enak disetubuhi. Dengan cepat dia menindih gadis
    cantik itu dan memposisikan penisnya divagina Aline.
    “Duh…aku ga mau bang. Jangan bang…”, ujar Aline perlahan. Adi cuman menyeringai
    saja. Dia lalu memposisikan penisnya dan menusuknya dengan cepat kedalam vagina Aline.
    “Oooooooo…uenaknya. Becek uhh…”, teriak Adi saat penisnya menembus vagina Aline.
    “Aduh…bang. Sakit… !”, teriak Aline kesakitan. Bibir vaginanya melesak kedalam
    saat penis Adi menusuknya. Penis Adi memang cukup besar, sehingga “merepotkan” vagina
    Aline didalam menerimanya.
    Adi lalu terus menghunjamkan penisnya yang besar itu dan mengkocoknya dengan ganas.
    Aline cuman bisa menangis kesakitan, sedang Adi merem melek menahan nikmatnya
    menyetubuhi gadis itu. Payudara Aline yang putih terguncang kedepan dan kebelakang,
    mengikuti irama persetubuhan Adi yang kasar.
    Selama beberapa menit Adi menyetubuhi gadis ini. Erangan kesakitan dan tangis Aline
    tidak mengurangi gairah ketiga preman itu. Justru hal ini membuat mereka semakin
    bergairah.
    “Uh…enak man….enak man…”.
    Tak lama kemudian, Adi mengalami orgasme. Dengan menjambak rambut Aline,
    dia menyemprotkan spermanya didalam vagina Aline. Dia lalu kelojotan selama beberapa
    detik dan lalu rebah kecapaian diatas Aline.
    Dia lalu mencabut penisnya dan terlihat sedikit lelehan spermanya keluar melalui
    belahan vagina Aline. Aline menangis memegangi vaginanya yang terasa sakit dan
    ngilu. Adi tertawa melihatnya, “Giliranmu, Mat. Gile. Enak banget.”.
    Somat lalu menarik dengan kasar lengan Aline keatas sehingga memperlihatkan ketiaknya
    yang putih. Somat dengan gemas menciumi ketiak Aline dan menjilatnya penuh nafsu.
    “Uh…sip.”, ujarnya.
    Dia lalu memposisikan penisnya dan bersiap untuk memperkosa Aline.
    “Aduh…sakit bang. Jangan ya bang…”, pinta Aline memelas.
    Somat tidak menggubrisnya, dan dengan sebuah hunjaman yang dalam, dia menusukkan
    penisnya kevagina Aline.
    “Ahhhhhhh………”, teriak Somat keenakan.
    “Aduh…bang ! sakiiiiit !”, teriak Aline kesakitan. Penis Somat katanya berukuran
    lebih besar ketimbang Adi, sehingga bibir Aline semakin melesak kedalam saat dikocok.
    Untung ada tambahan pelumas, yaitu sperma dari Adi. Kalo nggak, bakal pingsan dah
    Aline.
    Somat lalu memegang kedua pinggang Aline dan menariknya ke depan dan belakang. Dia
    mengkocok penisnya yang besar itu didalam vagina Aline.
    “Oh…ya….sip…uh…”, erang Somat keenakan. Aline cuman kembali menangis merasakan
    sakit di vaginanya.
    “Uh…Him, Rohim. Sumpel mulutnya supaya ga nangis melulu.”, tukas Somat sambil
    terus memperkosa Aline dengan buas. Rohim yang dari tadi udah nunggu jatah dengan
    segera memasukkan penisnya ke mulut Aline.
    “Huek…”, Aline sedikit tersedak ketika mulutnya dimasuki penis Rohim. Uh…Bau.
    “Ayo, diemut non.”, perintah Rohim. Aline cuman bisa pasrah. Sambil melelehkan air
    mata, dia emut penis Rohim yang hitam besar itu. Rohim mengerang keenakan. Tangannya
    tidak diam tetapi meremasi payudara Aline yang indah itu.
    “Ah….ah….Aaaaaaaaaaahhhhh”. Sekitar 5 menit kemudian Somat mengalami orgasme.
    Dia mengkocok penisnya dengan ganas didalam vagina Aline sambil kelojotan menyemprotkan
    spermanya kedalam rahim gadis ini.
    Rohim lalu mendorong Somat yang kelelahan dan mencabut penisnya dari mulut Aline. Penis
    hitam berurat itu terlihat licin terlumuri oleh ludah Aline.
    “Nah…giliran gue menikmati vaginamu, Moy.”, kata Rohim menyeringai.
    “Duh…jangan bang. Sakit…”, sekali lagi Aline mengiba.
    Rohim tidak menghiraukan. Dia lalu memposisikan penisnya. Ah, vagina Aline terlihat
    memerah. Sedikit bengkak. Terlihat noda merah darah yang keluar bersama-sama dengan
    lelehan sperma Adi dan Somat. Kayaknya mereka menyetubuhi Aline terlalu keras sehingga
    melukai vaginanya.
    Dengan buas pula, Rohim menusukkan penisnya kedalam vagina Aline. Penis itu nampak
    mudah sekali masuk. Aline juga tidak terlalu merasakan sakit seperti sebelumnya.
    “Wah. Itunya udah ga enak, bang. Udah longgar banget. Brengsek.”, Umpat Rohim, diikuti
    tawa Adi dan Somat yang sedang tiduran kecapaian. Rohim lalu mencabut penisnya.
    Aline merasa sedikit lega. Artinya dia ngga bakal tersiksa lagi.
    Rohim lalu menarik lengan Aline dan memangkunya. Dia lalu memasukkan penisnya kedalam
    vagina Aline dalam posisi duduk. Aline mengerang, kali ini dia merasa enak saat penis
    Rohim menembus vaginanya. Entah kenapa. Padahal sebelumnya dia merasa sakit.
    Rohim lalu menyedot puting Aline sambil menggenjot vaginanya. Tangannya juga meremasi
    payudara putih itu denagn penuh nafsu. Aline cuman menggigit bibirnya. Mereka lalu
    bersetubuh dalam posisi memangku selama beberapa menit. Tak lama kemudian, Aline merasa
    ada getaran aneh merasuki dirinya. Tubuhnya bergetar. Oh my. Dia merasa bakal
    orgasm ! Tidak mungkin ! Masa dia menikmati pemerkosaan ini. Tetapi tubuhnya berkata
    lain. Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak berteriak. Namun, saat orgasm
    itu benar menyergap, Aline seakan lupa segala. Sambil berciuman bibir dengan Rohim,
    dia berteriak menyambut puncak kenikmatan yang dirasakannya. “Ah……bang….”.
    Ketiga preman itu langsung tertawa-tawa lebar, mengejek. Aline merasa malu, tetapi
    memang hal itu tidak bisa dikendalikannya. Rohim lalu mencabut penisnya dari vagina
    Aline. “Anumu udah ga enak, non. Longgar.”.
    Dia lalu memutar posisi Aline tetapi tetap memangkunya sehingga Rohim memandangi
    punggung gadis cantik ini. Dia lalu pelan-pelan memasukkan penisnya yang besar itu
    kedalam anus Aline.
    “Duh…jangan disitu bang. Sakit bang. Sakiittt…Awaaaaaauuuuw !”, teriak Aline.
    Rohim dengan cepat menghunjamkan penisnya kedalam anus Aline. “Oh ya…Ini baru
    enak. Seret. Oh……Ah….”, erang Rohim penuh kenikmatan. Tangannya memegang
    payudara Aleine yang meremasnya dengan gemas dari belakang, sambil mengkocok
    penisnya didalam anus gadis ini.
    “aduh….sakit bang….”, erang Aline kesakitan. Rohim cuman merem melek merasakan
    kenikmatan seksual yang dirasakannya. Tak lama kemudian, dia menyemprotkan sperma
    kedalam anus Aline dengan cepat. “Ohh………….”.
    Setelah puas, dia lalu mencabut penisnya dan tiduran kecapaian disamping teman-
    temannya.
    Aline menangis, merasakan sakit di lubang dubur dan di lubang vaginanya. Setetes
    darah keluar dari anusnya.
    Beberapa menit kemudian, ketiga preman itu lalu berpakaian. Mereka menyuruh Aline
    juga segera berpakaian. Dengan menangis sesenggukan, gadis manis itu mengenakan
    kembali pakaiannya. Faiz disuruh mengambil sendiri pakaiannya. Ketiganya lalu
    menghilang dibalik kegelapan malam.

  • Pengalaman Akhir Tahun

    Pengalaman Akhir Tahun


    46 views

    Ceritamaya | Cerita ini merupakan pengalaman saya sendiri dan bukan fiktif. dan terjadi
    menjelang pergantian akhir tahun 2004 kemarin bersama teman2 ku.

    Malam sabtu sekitar jam 16.00 wib temanku Ninuk (bukan nama asli) menelpon
    ku dan mengatakan akan mengajakku jalan2 malam nanti dan kebetulan pacarku
    masih ada tidak bisa datang ke kotaku di Bandung, dia sedang melaksanakan
    tugas kerjanya di Surabaya. dan saya sudah berhubungan dengan pacar saya
    (Mas Agus) sekitar 2 tahunan, terus terang dengan dia lah pertama kali aku
    melakukan ML di kotaku.
    Sedangkan Ninuk adalah teman dekatku, dia berkulit putih, rambut sebahu,
    hidung mancung dan berbadan sexy, dan dia seorang yang anti dengan namanya
    cowo, yang aku tau dan aku rasa bahwa dia emang senang dengan saya, dan
    saya tau dari cara dia memandang saya bila saya ganti baju dan selesai
    mandi. Pernah juga dia memamerkan payudaranya ke aku untuk membandingkan,
    aku akui memang Ninuk memiliki payudara yang besar 36B, sedangkan aku
    hanya 34A.

    Janji yang dibuat untuk mengajak aku dia tepati dan jam 20.00 wib dia
    datang ke rumah dan berpamitan dengan ibuku untuk mengajak aku ke
    villanya.
    Dengan berpakaian celana jeans dan kaos ketat serta jaket aku pergi dan
    menaiki mobil sedan corono merah. aku sempat menanyakan lokasi dan acara
    disana, kami berdua sambil bergurau dan bercanda dalam perjalan, sampai
    akhirnya pembicaraan kami menjurus ke masalah sex, dan dia mengajak
    melakukan permainan gila untuk kami berdua, yaitu siapa yang berani
    melepas kaos dan bh dalam perjalan ke villa katanya.
    Aku bilang gila…, emang sih kaca mobilnya gelap tampak dari luar, tapi
    kaca depankan tidak dan apalagi kalau ada sinar lampu mobil yang
    berlawanan, pasti akan terlihat,..kataku.

    Itulah tantangan…, kata Ninuk sambil tertawa
    Dan ahirnya kendaraan kami menepi di daerah agak gelap, aku lupa daerah
    itu. Dan dengan cueknya Ninuk melepas kaos dan bhnya, dan melemparnya ke
    kursi belakang. Merasa tertantangi akupun melepas juga kaos dan bhku.
    Gila pikirku.. udah udara dingin dan tanpa busana lagi.

    Setelah itu kendaraan mulai melaju, dan benar … setip ada kendaraan yang
    berlawan aku selalu menutupi dadaku. dan ini yang membuat Ninuk merasa
    jengkel. dan akhirnya disepakati kita akan begini sampai villa, dan bila
    mana ada yang malu dan menutupi maka akan kena sangsi akan disuruh bugil
    seluruhnya. akupun menyanggupi..Ok kataku.

    Dalam perjalan itu, Ninuk selalu memandang senyum padaku dan akupun dengan
    menyilangkan tangan dipahaku tetap mamandang ke depan. dan Ninuk pun
    sembari menyetir kadang kala memegang payudaraku, sembari bercanda. akupun
    ,merasa geli dan risih. Tapi Ninuk malah memegang tanganku dan aku disuruh
    mencoba memegang payudaranya. Aku beranikan diri, aku pegang dan aku raba,
    dan kadang kala aku remas dan aku mainkan putingnya yang kemerahan.. Ninuk
    pun menikmati sembari menyetir dan memintaku untuk mengisap putingnya…,
    Aku yang juga merasa horny akhirnya mengikuti perintah itu.
    Aku isap putingnya dan aku remas2 … Achhh..Ninukpun menikmati apa yang
    aku lakukan.

    Bila mana ada kendaraan lewat dan berhenti aku hentikan kegiatanku, dan
    melanjutkan lagi bila kendaraan sudah berjalan.
    Pukul 22.00 aku dan Ninuk tiba di villa Kencana milik orang tuanya,
    klakson dibunyikan dan terlihat ada anak muda memakai sarung lari ke pintu
    gerbang dan membukanya.
    Aku yang masih dalam keadaan tanpa busana terlihat sungkan dan Ninuk pun
    tertawa.., cuek aja, dia orang kepercayaan papaku dan tidak macam2, kata
    Ninuk.

    Mobil kami masuk kedalam garasi dan kami masuk malalui pintu garasi
    keruang utama…, kami hanya mengenakan celana jeans dan tanpa busana
    masuk kedalam, memang keadaan sepi dan lampu dinyalakan oleh Ninuk.
    Kami duduk dan diruang tamu, dan Ninuk pun langsung bersandar dikursi,
    tapi tiba2 ada ketukan pintu yang membuat aku kaget, dan Ninuk pun
    mempersilahkan masuk. Ternyata anak muda tadi,akupun malu dan menutupi
    dadaku.. dan diapun tertunduk, dan menghampiri Ninuk yang sedang santai
    dikursi, terlihat Ninuk pun tanpa malu mempertunjukkan payudaranya, dan
    kayaknya sudah terbiasa.
    “Oh, iya Kang Dirman,..tolong buatkan aku dan temanku air wedang jahe yang
    hangat ya” perintah Ninuk.
    ” Iya Non…,sambil berlalu menuju dapur.

    Akupun yang lelah dalam perjalan juga merebahkan tubuhku dikursi dan
    meletakkan bantal kursi didadaku, dan tak lama pun aku merasa ada tangan
    yang mengelus wajah dan pipiku,.. dan aku kaget..tapi secara sadar dan
    tidak, bibirku di kulum dan tubuhku ditindih.., setelah aku liat ternyata
    Ninuk yang melakukan itu.

    “Ayolah Yan.., aku suka sekali sama kamu,.. sembari membisikkan
    ditelingaku.

    Dan dia terus melakukan ciuman di wajah dan leherku,..akupun merasakan
    nikmat yang selama jarang diberikan oleh mas Agus, dan akupun diam
    merasakan tangan Ninuk yang bermain di payudaraku dan mengisap putingku.
    dan ternyata setelah aku rasakan dan tangaku menyentuh pinggulnya ternyata
    Ninuk telah dalam keadaan bugil.
    Dia menggesekkan vaginanya di celana jeans aku,.dan cukup lama dia
    melakukan itu.

    ” Yan.. bukanya celana kamu.., biar kita sama2 merasakan kenikmatan malam
    ini,..” dengan wajah yang memelas.

    Dan celanaku dibuka dengan CD ku sekalian dan terpampang vagina ku yang
    polos tanpa rambut, memang aku rajin dalam mengurus rambut vagina, aku
    mencukur 2 hari sekali setiap mandi.

    Ninuk terus menciumi tubuhku dan terus turun ke pangkal pahaku dan
    disibaknya vagina dan dimainkan klistorisku,.aku merasa nikmat dan
    memejamkan mataku dengan membayangkan Mas Agusku yang jauh disana.

    DAn tak lama aku rasakan vaginaku terasa bedenyut dan nikmat, ternyata
    Ninuk memainkan lidahnya di vaginaku dan menusuk dengan jarinya, aku
    merasakan nikmat yang tiada duanya dan aku serasa ingin ditusuk oleh penis
    Mas Agusku.., tapi apa daya dia tak ada.

    Dan semakin kegilaan ini terjadi.. datang Kang Dirman pemuda lugu itu
    dengan membawa dua gelas wedang jahe, dan dengan wajah tersenyum
    memperhatikan kami berdua yang sedang dilanda birahi.

    Karena akupun sudah dikendalikan dengan nafsu, aku pun cuek dan tetap
    menikmati yang dilakukan Ninuk, dan akupun bermohon kepada Ninuk agar
    Vagina dimasukan dengan jarinya lebih dalam,..Achh..

    Kang Dirman pun karena sudah melaksanakan tugasnya dia kembali ke ruang
    dapur, tapi aku tetap memperhatikan pemuda lugu dan hitam itu menuju ke
    dapur.

    Ninukpun dengan nakalnya tetap mempermainkan vagina ku dengan jarinya dan
    dia membalikkan badannya dengan berputar dan diatas wajahku vaginanya
    diletakkan, aku pun mengerti dan akupun karena belum pernah melakukan ini
    hanya memainkan vaginanya dengan cara menusuk dan mempermainkan vagina
    Ninuk dengan jari saja dan terlihat cairan bening yang keluar di vagina
    Ninuk yang telah membasahi vagina.

    Tak kala aku melirik ruang dapur aku melihat Kang Dirman dengan cara
    mengintip dari balik pintu dan memperhatikan aku, dan betapa kagetnya
    bahwa KAng Dirman pun dalam keadaan bugil dan sedang meloco penisnya, dan
    ternyata penis KAng Dirman terlihat besar panjang dan hitam, tidak seperti
    Mas Agus,..aku pun yang sedang dilanda birahi dan mencoba melambaikan
    tanganku ke Kang Dirman.

    “Nuk, gimana kalau kita ajak sekalian Kang Dirman kamu, karena aku sudah
    ngga tahan dimasukin vaginaku dengan penis, aku sudah gatal Nuk,” serasa
    aku membisikkan ditelinga Ninuk.

    Ninuk pun setuju,..

    Kang Dirman pun datang, dan mendekati aku,..dan Ninuk tetap memainkan
    vagina aku dengan jari dan lidahnya.
    Kang Dirman aku tarik tangannya dan aku menyuruh memegang payu daraku,
    achh…dia meremas dan mempermaikan putingku dan mengisapnya..

    akupun dengan meraih penis KAng dirman, dan ..Gila ternyta cukup besar dan
    kokoh dengan urat nya keluar dan kepala penisnya yang besar bagai bola
    kasti..

    Baca Juga : Terjebak Profesi

    aku mencoba menarik dan mempermainkan penis itu dan mencoba aku masukan ke
    mulutku, dan ternyata tidak seluruhnya penis itu masuk, hanya kepalanya
    aja yang bisa aku masukan dan aku mainkan lidahku di batang penis Kang
    Dirman.

    Ninuk yang tau aku sudah birahi membiarkan aku bergumul dengan kang Dirman
    dan duduk disebelah kursiku. dan akupun dengan Kang Dirman melakukan
    persetubuhan didepan Ninuk..

    Tak kala penis Kang dirman dimasukan serasa aku ingin robek vaginaku, dan
    achhhh….gila sakitnya, lain dengan yang dilakukan oleh Mas Agus bila
    bersetubuh dengan aku,..bleesss … langsung masuk, tapi dengan Kang
    Dirman, aku merasa sakit yang luar biasa dengan penis yang besar itu.

    KAng Dirman berusaha memasukan penisnya dengan memakai ludah sebagai
    pelicin, dan beberapa kali gagal untuk memasukkan tapi setelah dipaksa
    akhirya masuk juga, dan aku merasa seperti diganjal barang yang besar
    lobang pipisku.. dan Kang Dirman menarik secara perlahan dan mendorongnya
    lagi ke dalam vaginaku, dan tak kemudian amblas semua batang penis Kang
    Dirman..akupun merasa kenikmatan yang sungguh luar biasa, dibanding dengan
    MAs Agusku.

    Aku yang tak kuasa dengan goyangan dan batang penis Kang dirman terasa
    mendekati klimaks, dan ternyata benar aku sudah beberapa kali merasakan
    air kenikmatanku muncrat berapa kali dan Kang dirmanpun belum juga
    mengakhiri klimaksnya dan tetap memompa vaginaku.

    Ninuk yang memperhatikan hati dengan Kang Dirmanpun memainkan vaginanya
    dengan jari, dan matanya merem melek serasa mengkhayal dan kakinya dibuka
    lebar, terlihat cairan beningnya semakin banyak mengalir.

    Kang dirman pun dengan gagahnya masih saja mempermainkan penisnya dan
    akhirnya dipercepat memompanya, dan..achhh.achh
    ….creeeeet.cret..crett… maninya ditumpahkan di tubuhku. dan akupun
    serasa nikmat bercampur perih divaginaku menerima tubuh hitam ini diatas
    tubuhku.

    Aku terkulai lemas, dan tak bertenaga. Kang dirman kembali ke ruang dapur,
    dan Ninuk sendiri sudah tak terlihat, dan ternyata baru memasuki kamar
    mandi.

    Aku memeriksa vagina dan ternyata ada darah bercampur mani Kang dirman
    divagina ku, aku menyesal dan berterima kasih, telah dapat merasakan penis
    yang besar dan nikmat itu.

  • Terjebak Profesi

    Terjebak Profesi


    52 views

    Ceritamaya | Meli (beda orang sih, tapi sama namanya) adalah salah seorang teman wanita saya.
    Bukan good friend, sih. Cuman sekedar friend aja. Kadang-kadang, dia dan gerombolan
    cewek-ceweknya hanging out di sebuah cafe bersama saya. Yah, kongkow-kongkow ngalor
    ngidul.

    Dia adalah salah satu temen wanita saya yang memilih jalan hidup yang ekstrim, yaitu
    menjadi wanita panggilan alias bisyar alias pelacur.
    Why did she choose to become prostitute? No one know. Dibesarkan dalam sebuah keluarga
    middle-class, seharusnya dia tidak kesulitan didalam masalah finansial. So, alasan
    klasik “butuh duit” kayaknya bisa dicoret. Ada teman saya yang bilang, maybe dia
    tuh patah hati berat sehingga jadi begitu. Ada juga yang bilang dia hiperseks, dll.
    Ga tau mana yang benar. Yang pasti, gue pernah pake dia dan memang OK. Hahaha…
    Wajah lumayan dengan body yang OK. Hah…memang cukup pantas dengan harganya yang
    bikin kantong tipis. Terakhir gue pake diberi gratis, soalnya temen dhewe. Hehehe.
    Waktu pertama kalinya, gua kena biaya kenikmatan 500rb, sekitar 2 tahun yang lalu.

    OK. Enough about the introduction.

    Sore itu, begitu selesai kuliah, Meli langsung menuju keluar kampus, menunggu jemputan
    dari supirnya. Dia sudah tidak sabar untuk kembali kerumah buat tidur. Malamnya dia ada
    kencan dengan salah satu pelanggannya, seorang mahasiswa dari sebuah PTN di kotanya.

    Setelah supirnya datang, dia lalu naik ke mobil dan langsung meminta supirnya untuk
    mengantarnya kerumah dengan segera.
    “Pak Yudi, tolong segera ke rumah ya. Saya capek banget.”, pintanya dengan pelan.
    “OK, Non. Sampeyan santai saja.”, sahut supirnya.
    Meli lalu memejamkan mata. Hm, supirnya ternyata ngebut. Terasa banget mobilnya
    ber-”manuver” kekanan dan kekiri, diselingi oleh lengkingan klakson dari
    kendaraan-kendaraan lain. Haha…Seru juga.

    Setelah beberapa menit kemudian, sampailah Meli kerumahnya. Terlihat beberapa orang
    masih sibuk bekerja. Orang tua Meli adalah seorang pengusaha mebel dan tak jarang
    rumahnya dijadikan Workshop dadakan saat gudang tempat memproduksi barang sudah penuh.
    Rumahnya kalau dibilang besar juga nggak, namun dibilang kecil juga nggak. Lumayanlah.
    Garasi dan taman belakangnya yang sering dijadikan workshop dadakan ini untuk
    memproduksi mebel.

    Meli lalu segera menuju ke kamarnya dilantai dua dan segera mandi, membersihkan badannya
    yang terasa penat. Setelah selesai mandi, dia segera merebahkan tubuhnya ke ranjang dan
    tidur. Tak lupa sebelumnya dia menyetel jam weker agar berdering tepat pukul 18:00. Ada
    pelanggan yang siap membayarnya nanti malam.

    Setelah berapa lama dia tertidur, Meli sedikit tersadar. Matanya masih terpejam. Dia
    merasakan dinginnya udara AC yang menerpa kakinya. Setelah beberapa detik kemudian,
    kesadaran otaknya mulai pulih. Dia lalu bangun dan menuju ke lantai bawah untuk mencari
    makanan, perutnya lapar.

    Dibawah, ada tiga orang pekerjanya yang sedang asyik merokok dan mengobrol di taman belakang,
    persis disebelah dapur. Begitu melihat Meli turun, mereka terus memandangi gadis amoy itu
    tanpa berkedip sambil sesekali berbisik. Mali diam saja walau didalam hati dia merasa sebal.
    Ketiga orang ini adalah mandor para pekerja, jadi mereka sering pulang telat/lembur.

    Saat menuju ke dapur, Abdul, salah seorang pekerjanya sedang memasak mie instan.
    “Mau makan, Non?”, sapa Abdul.
    “He eh. Laper.”, sahut Meli singkat.

    Didik yang tadinya sedang duduk di taman belakang lalu berdiri dan menuju ke lemari es.
    Sewaktu melewati Meli, tangannya mencolek pantat anak majikannya ini sambil berkata, “Ih,
    pantat kamu seksi banget, Non.”.

    DHIENG ! Sontak Meli melolot sambil menunjukkan jarinya kearah Didik, “Eh. Kamu jangan
    kurang ajar ya. !”. Didik ini memang dasar bandel. Diperlakukan begitu, dia tambah ingin
    berbuat lebih jauh, “Ala non…Masa begitu aja kagak boleh. Situ kan udah pengalaman.”,
    ujarnya enteng. Abdul dan Soleh tertawa kecil mendengarnya.

    Diliputi oleh amarah, Meli lalu membentak, “Apa maksudmu, Aku laporkan Papi baru tahu ya.
    Kamu dan kalian semua bakal dipecat dan jadi pengangguran !”.

    “Lho..mau laporan? Aku juga nanti lapor ke Bapak kalo non ini ternyata Pelacur !”

    GUBRAK ! Sebuah kalimat sederhana dari Didik, namun membuat Meli mati kutu. “Where the hell
    that these morons know from?”, pikir Meli.

    “Heh. Sudah kurang ajar, berani ngomong yang ga karuan. Awas ya. Aku telepon Papi !”, ancam
    Meli. Dengan santai Didik lalu berkata, “Lho ya terserah Non. Aku juga nanti lapor gitu.”.
    Lalu dengan panjang lebar Didik bercerita bagaimana dia tahu kalau Meli ini bisa dibooking.

    Meli langsung diam seribu bahasa.

    Abdul lalu mendekat dan dengan usil dia menyenggol payudara Meli dengan sikunya.
    “Ups. Sori. Kan udah biasa, Non.”. Mereka bertiga lalu tertawa. Dengan menahan malu, Meli
    lalu berlari meninggalkan mereka sambil menangis. Didik lalu berteriak, “Tenang Non. Rahasia
    situ aman kok!”.

    Sejak saat itu, Meli sering sekali diusilin oleh mereka, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka
    memegang kartu trufnya, yang kalau sampai dibongkar, dia bisa diusir dari rumah mengingat
    Papinya adalah orang yang masih memegang budaya kuno yang kolot. Hm…

    Beberapa minggu kemudian….

    Meli melihat jam di dinding kamarnya. “Hm, masih pukul 3 sore.”, pikirnya. Lalu dia memutuskan
    untuk kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang dan meneruskan tidurnya.
    Dasar. Sehabis pulang dari kuliah tadi, bukannya ganti baju malah langsung tidur. Hm…

    Entah berapa lama kemudian, dia kembali terbangun dari tidurnya. Setelah kesadarannya pulih,
    dia lalu membuka matanya. Waduh, betapa terkejutnya dia melihat Abdul didalam kamar. Yang
    bikin dia tambah kaget adalah si Abdul lagi melepas celana panjangnya.

    “Hei. Loe ngapain begitu?”, pekik Meli.
    Abdul kaget setengah mati, sampai dia hampir saja terjatuh sewaktu melepas celana panjangnya. Dia
    lalu terpaku, tidak bisa berkata apa-apa.
    “Keluar kamu, brengsek !”, pekik Meli lagi.
    “I-i-i-ya non. A-ku…”, kata Abdul sambil terbata-bata, saking kagetnya.
    “K E L U A R !!!!”, teriak Meli. Tanpa banyak bicara, Abdul segera keluar kamar tanpa sempat
    memakai kembali baju dan celananya.

    Belum hilang rasa kaget Meli atas kehadiran Abdul yang “tak diundang” tadi , tiba-tiba terdengar
    ketokan di pintu kamarnya dan tanpa sempat dia jawab, masuklah ketiga mandor pekerja ayahnya itu.
    “Mau apa kalian?”, ujar Meli dengan ketus. “Keluar, Cepat !”.

    Abdul yang berdiri disebelah Didik hanya menundukkan kepala. Soleh cuman diam saja, sedang Didik
    yang sedang merokok menjawab, “Ala non. Kok judes banget sih.”. Meli diam saja sambil menatap
    tajam kearah Didik.

    Didik lalu menutup pintu dan merogoh saku celananya. Setelah itu, dia mendekat kearah Meli dan
    meletakkan segepok uang diranjang. “Tuh, non. Ada uang 600rb. Taripnya non kan?”, ujarnya enteng.

    “Nah, gimana? Beres kan. Daripada aku bicara ke Bapak, mending non mau saja. Toh saya kan bayar.”,
    ujar Didik sambil duduk ditepi ranjang. Meli tidak menjawab. Didalam hatinya berkecamuk dua
    hal. Dia sama sekali tidak ingin melayani mandornya ini, namun dia juga takut kalo sampai
    rahasia dia terbongkar.

    “Hehe…Mau kan non? Saya pengen deh ama cewek kayak kamu. Pengen coba. Itu tuh duit hasil urunan
    kami bertiga lho. Diambil dari Gaji bulan kami dari Bapak.”, ujar Didik. Meli ingin sekali berkata
    tidak (100%), namun bagimana jika Didik memakai “kartu truf” dirinya? Bingung 1000 keliling.

    Selama beberapa menit, kesunyian melingkupi kamarnya Meli. Tak seorangpun berbicara. Diam seribu
    bahasa. Sama-sama menunggu reaksi dari “lawannya”. Didik terus menyedot dan mengepulkan rokoknya
    dengan cepat, mungkin untuk menutupi kegelisahan dirinya.

    Tak lama kemudian, Didik meletakkan rokoknya yang tinggal separuh ke meja riasnya Meli. Lalu dengan
    pelan dia mendekati anak majikannya ini. Pelan2 dipegangnya tangan kanan Meli. Hm, no reaction.
    Lalu pelan2 diciumnya pipi Meli. Hm…still no reaction. Meli just sit still. Didik lalu menarik
    selimut yang dipakai Meli untuk menutupi tubuhnya. Nampak Meli masih memakai baju kuliahnya tadi
    pagi, sepotong kaus ketat pink dengan lengan yang pendek. BH hitam yang dipakainya terbayang dibalik
    kausnya itu. Pemandangan ini membuat ketiga mandor ayahnya tidak bisa mengedipkan mata.

    Karena merasa tidak ada perlawanan, Didik lalu mulai menciumi leher Meli yang putih. Pertama dia
    menciumnya dengan pelan, takut ada tamparan yang melayang. Namun sedikit demi sedikit, ciumannya
    semakin dalam dan cepat. Tangan kanan Didik kemudian meraih payudaranya Meli dan meremasnya dengan
    gemas. Meli mengaduh pelan, dadanya terasa sedikit nyeri.

    Didik semakin kesetanan menciumi lehernya Meli. Dia lalu menempatkan Meli didepan pangkuannya dan
    membiarkan wajahnya menatap ke punggung gadis ini. Dengan penuh nafsu, Didik lalu menggesek-gesekkan
    penisnya di pantat Meli sambil kedua tangannya terus meremasi payudara Meli dengan gemas.
    “Oh ya…sip…”, erang Didik. Dia semakin erat memeluk Meli dan menggesek-gesekkan penisnya dengan
    semakin cepat. Tak puas hanya dari luar, Didik lalu memasukkan tangannya ke balik kaus ketat gadis ini
    dan meremasnya.

    “Oh yap. sip…uh…enak non…Dul, rene-o koen. Jok meneng wae…”, kata Didik sambil terengah-engah.
    Abdul yang dari tadi mengamati pemandangan itu segera mendekat. Soleh hanya menonton sambil senyum-
    senyum saja. Dia tetap didepan pintu kamarnya Meli. Mungkin tugasnya adalah untuk menjaga pintu. Haha…
    kasian deh loe.

    Dengan ragu-ragu, Abdul lalu menciumi bibir Meli. Meli diam saja sambil matanya menerawang. Lama kelamaan,
    Abdul semakin berani dan melumat bibir indah Meli dengan penuh gairah. Dia lalu meraih tangan Meli yang
    menempatkannya persis dipenisnya yang masih tertutup celana dalam saja. Pertama-tama dia yang membuat
    gerakan mengkocok, tetapi lambat-laun Meli sendiri yang mengkocok penisnya. Abdul semakin terangsang dan
    sekarang bisa fokus menikmati wajah dan leher Meli, bergantian dengan Didik. Sedangkan penisnya sudah
    dikocok oleh Meli dengan cepat.

    “ah…Ah…”, desah Meli, gelagapan juga diserang oleh dua lelaki ini.

    “uh…payudara non seksi sekali. ah…enak non.”, erang Didik.
    “Tenan ta?”, tanya Abdul sambil mencari buah dada Meli dan lalu meremasnya berkali-kali. “Uh, tenan Di.
    Kenyal banget. sip…”, ujarnya serambi melumat bibirnya Meli. “Soleh, sampeyan gilirannya mengko wae ya.”.
    Soleh cuman tertawa kecil sambil terus menonton kedua temannya mengerjai anak majikan mereka.
    Abdul lalu melepas CD-nya dan membiarkan Meli memegang penisnya yang sudah menegang. Meli lalu mengkocoknya
    dengan cepat, membuat Abdul mengerang nikmat. Setelah beberapa detik dikocok, Abdul lalu mendekatkan penisnya
    ke bibir Meli yang tipis itu, dan memaksanya untuk dikulum. Meli terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan
    penis Abdul “menyetubuhi” bibirnya. Dia lalu menyedot penis itu dengan enggan.
    “Oh ya. Enak non. Yang keras donk kalo sedot.”, pinta Abdul. Meli diam saja sambil terus menyedot penis Abdul
    didalam mulutnya.

    Beberapa menit kemudian, Didik menghentikan gesekan penisnya yang di pantat Meli. Nampaknya dia hendak
    ejakulasi sehingga ditahan dulu. Abdul yang tadi asyik dioral Meli juga lalu menghentikan
    aktifitasnya. Didik lalu menarik tangannya dari balik kaus Meli dan berdiri dari ranjang.
    Dia melepas seluruh pakaiannya sehingga telanjang bulat.

    Didik kembali duduk keranjang dan menarik keatas kaus ketat yang dipakai Meli,
    tak lupa juga mencopot BH hitam dan celana dalam hitam yang masih menutupi tubuh gadis berkulit putih ini.
    Abdul terus menyaksikan “prosesi” pelepasan kaus tadi sambil mengkocok penisnya yang sudah menegang.

    Soleh tertawa ringan, lalu berkata, “Wik, adekmu gedhe-men to Di.”. Didik hanya menyeringai sambil berkata,
    “Aku lak wis ngomong toh, leh. Mbah ***** kuwi pancen OK. Adek awak dhewe iki iso dipompa kayak ngene.”.
    Mereka bertiga lalu tertawa-tawa. Meli memang sempat terbelakak melihat besarnya penis dari Didik. Dari
    informasi yang dia ceritakan, ukurannya sekitar 20an cm (Really?) dengan diameter diatas rata-rata.
    Mengacung kayak pedang para Musketeers. Hahaha. Sedang ukuran penisnya Abdul normal-normal saja, cenderung
    kecil.

    “Dul, aku dhisik yo.”, kata Didik sambil menahan nafsu. “We…Ora iso, Mas. Aku dhisik.”, ujar Abdul dengan
    cepat. Mereka lalu bertengkar kecil sendiri. Meli hanya diam saja sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan
    kedua tangannya. Dia ingin sekali menolak, namun sekarang ada perasaan berbeda yang melingkupi pikirannya.

    Akhirnya, biar segera ada keputusan, mereka lalu setuju suit. Satu-dua-tiga, dan Didik yang menang. Hehehe…

    Dengan senyum kemenangan, didik lalu menarik kedua tangan Meli dan merebahkan tubuh gadis amoy ini keranjang.
    Dia lalu segera menindihnya. Dia menciumi bibir dan leher Meli dengan penuh nafsu. Meli hanya bisa pasrah
    sambil matanya menerawang. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

    Tak membuang waktu lagi, Didik lalu memposisikan penisnya yang – wow – itu kedepan lubang vagina Meli dan mulai
    menusuknya. “Ah…”, tubuh Meli tersentak kedepan saat penis Didik membelah liang vaginanya.
    “Uh…Sakit mas!”, iba Meli. Didik memandang sebentar wajah Meli yang meringis menahan sakit, lalu tanpa ampun
    dia meghunjamkan seluruh batang penisnya kedalam vagina Meli.

    “Aduh….ahhhhh !”, erang Meli kesakitan. Tubuhnya tersentak kedepan dengan cepat. Walaupun vaginanya sering
    “dipakai”, namun baru kali ini dia mendapat serangan rudal yang cukup besar. Didik merem-melek merasakan
    sensasi kenikmatan yang luar biasa. Lalu dia segera mengkocok penisnya di vagina Meli dengan cepat. Kedua
    tangannya yang hitam pekat itu memeluk tubuh gadis ini dan bibirnya terus melumat lehernya Meli.

    Terjebak Profesi“Aduh mas…sakit mas. Pelan-pelan…auh…”, erang Meli lagi. Tangan Meli memegang paha Didik, berusaha
    menahan “serangan” lelaki ini agar tidak terlalu dihunjamkan kedalam vaginanya. Didik sebenarnya kasihan juga,
    namun rangsangan seksual yang dia rasakan menutup iba-nya. Tubuh Meli nampak terguncang kedepan dan kebelakang
    dengan cepat. Bunyi gesekan penis dengan vagina terasa sangat menggoda. Abdul terus mengkocok penisnya sambil
    memandangi temannya yang sedang menyetubuhi anak majikan mereka ini.

    “Ah…C*k, uenak tenan, memeknya, c*k. Ah…ya. yap…sip…”, ujar Didik penuh nikmat, disertai sedikit
    umpatan “tradisional”-nya. Meli terus menutup matanya menahan sakit. Akhirnya, beberapa menit kemudian, Didik tak
    kuasa menahan ejakulasinya.

    “Sip…aku metu non…sip…”. Dengan hunjaman terakhir kearah vagina Meli, penis Didik menyemprotkan seluruh
    sperma yang ada kedalam liang kewanitaannya. Terlihat tubuh Didik bergetar, matanya tertutup setengah, merasakan
    sebuah kenikmatan yang luar biasa, menyerbu saraf-saraf otak dan tubuhnya.

    Setelah puas, dia lalu mencabut penisnya, disertai dengan sebuah rintihan pelan dari Meli. Terlihat spermanya
    meleleh keluar dari dalam liang vagina gadis malang ini. Didik lalu merebahkan tubuhnya disamping Meli sambil
    mencium bibirnya. Meli langsung membuang muka. Didik cuman terkekeh melihatnya.

    Abdul lalu menarik turun Didik sambil berkata, “Wes. Saiki aku rek.”. Lalu dia dengan cepat menindih kembali
    gadis amoy itu dan memasukkan penisnya kedalam vagina Meli. Dia lalu mulai mengkocok penisnya dengan cepat.

    “Lho…kok longgar begini. J*nc*k. Mestinya aku dhisik, sak durunge sampeyan mas.”, omel Abdul sambil
    sementara menghentikan kocokan penisnya. Soleh dan Didik cuman tertawa lebar mendengarnya. Meli hanya bisa
    pasrah, membiarkan tubuhnya dinikmati oleh kedua mandor Bapak-nya ini.

    Abdul kemudian kembali mengkocok penisnya. Diangkatnya kedua lengan Meli lalu diciuminya ketiak Meli dengan
    penuh nafsu. “Uh..ketiaknya seksi, rek.”, ujarnya penuh nafsu. Lagi-lagi ucapannya itu membuat Soleh dan
    Didik tertawa lebar.

    Untuk lebih menikmati tubuh gadis ini dengan lebih baik, Abdul lalu memegang kepala Meli dan menciumi bibirnya
    sambil terus membiarkan penisnya menikmati beceknya liang vagina Meli. Mereka terus berciuman bibir dengan
    penuh nafsu. Meli nampaknya melayani ciuman ini, karena kedua tangannya sekarang memeluk tubuh Abdul dan
    membiarkan dirinya disetubuhi.

    Setelah kira-kira lima menit kemudian, Abdul melenguh dan berkata. “OH…aku meh metu non.”. Mereka lalu
    kembali berpelukan dan berciuman bibir dengan panas. Tak lama kemudian, Abdul menyemprotkan spermanya kedalam
    vaginanya Meli. Sewaktu mengalami ejakulasi, dia terus menciumi bibir Meli sambil tangannya meremas payudara
    gadis itu. Tubuhnya tersentak kedepan beberapa kali, menyemprotkan benih dirinya ke liang rahim anak majikannya.
    Setelah puas, Abdul lalu melepaskan pelukan dan ciumannya, mencabut penisnya dan merebahkan tubuhnya keranjang,
    melepaskan kepenatan tubuhnya.

    Tak lama kemudian, Abdul dan Didik segera berpakaian, membiarkan Meli bugil diatas ranjang, kelelahan dan
    penuh keringat.

    “Makasih non. Lain kali kita begini lagi ya…”, ujar Didik yang disambut tawa kedua temannya. Meli diam saja.
    Ketiganya lalu pamit dan keluar kamar dengan perasaan puas.

    Meli hanya diam. Dia lalu bangun dari tempat tidur. Diambilnya tissue dan dengan cekatan dia membersihkan
    vaginanya dari lelehan sperma lelaki yang telah menikmati tubuhnya. Setelah itu, dia mengambil uang 600rb yang
    tadi diberikan oleh mandornya.

    Dia memandangi uang-uang tersebut, pecahan 100rb sebanyak 6 lembar. Setelah merenung selama beberapa waktu,
    akhirnya dia memasukkan uang tersebut kedalam dompetnya, bangun dari tempat tidur dan hendak menuju ke kamar mandi
    untuk membersihkan badan.

    “Aduh..”, rintihnya pelan. Oh, Vaginanya terasa sakit dan perih. Setelah dia periksa dengan cermat, Meli melihat
    bahwa vaginanya memerah dan ada bercak darah. Hm…Nampaknya vaginanya terluka. Dengan menahan sakit, dia lalu
    berjalan tertatih-tatih kekamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.

    Keesokan harinya….

    “Lho…Kamu kenapa, Mel. Kok jalannya begitu?”, tanya ayahnya dengan heran melihat putrinya berjalan dengan
    sedikit aneh.
    “Ga papa, kok. Kaki aku kram, sehabis senam kemarin.”, ujarnya singkat.
    “Oh. Begitu.”, sahut ayahnya.

    Sewaktu dihalaman depan, dia berpapasan dengan Didik yang sedang mengangkut kayu.
    “Pagi, Non.”, sapanya sopan. Meli tidak menjawab dan hanya melengos saja.
    “Jalannya kok gitu. Sakit ya? Entar kapan-kapan saya pelan2 deh.”, goda Didik lagi, disambut tawa Abdul dan
    yang ternyata ada dibelakang mereka.
    Meli tambah kesal, lalu dengan cepat dia menaiki mobil dan memacunya ke kampus.

    #################

    Cerita ini merupakan kelanjutan dari pengalaman salah seorang teman. Jika ada yang
    belum tahu, teman saya ini namanya, sebut saja, Meli. Dia adalah salah seorang “escort
    girl” high class yang saya kenal. Kalo ketemu dia, jangan pernah keluar kata “pelacur”
    atau “bispak” atau “bisyar” lho. Bisa-bisa BT tuh si doi dan loe-loe pada batal crot dah.

    Sore itu, saya mengantar pulang Meli sehabis dari Gym. Waktu itu dia memakai tanktop
    setali berwarna hitam polos ketat dengan celana pendek. Seksi deh pokoknya. Sesampainya
    didepan rumah, tiba-tiba meli memegang tanganku dan berkata, “Jim, muter-muter dulu
    yuk.”. Dia menatap rumahnya yang masih banyak para tukang kayu ayahnya bekerja.
    “Ha? Kenapa memangnya? emang loe kagak capek neh?”, tanyaku heran.
    “Wis ta. Muter-muter aja dulu disini, atau kemana kek.”, ujarnya sedikit gusar.

    Weleh…weleh…memangnya kenapa sih kalau langsung pulang? Pake acara muter-muter
    segala. Mana BBM mahal lagi. Hehehe…Tapi biarpun aku ngomel2 dalam hati, tetap aku
    turuti dia muter-muter didalam kompleks perumahan yang memang luas itu. Perumahan ini
    terletak di sebelah barat kota S, cukup terkenal.

    Setelah hampir 1 jam muter-muter, kami memutuskan untuk kembali kerumah. Mungkin dia
    kasihan juga melihat aku yang kecapaian sehabis fitnes. Belum maem lagi neh…
    Begitu sampai didepan, nampak dia menghela nafas.

    “Emang kenapa sih, Mel? Sampe rumah kok malah ga suka. Kan enak bisa tidur…”.
    “Itu kan menurutmu, Jim. Tuh lemburannya belum selesai. Si Didik dkk pasti belom

    pulang.”.

    Oh. Aku langsung mengerti.

    “Gini aja. Apa mau gua temani kamu? Pasti mereka ga bakal berani macam-macam lagi.”,
    tawarku. Meli diam saja, lalu dia menyahut, “Ga usah deh, Jim. Paling ya gapapa.”.
    “Are you sure, gorgeous?”, godaku. Meli tersenyum kecil dan mengangguk pelan.
    Dia lalu turun dari mobil dan aku segera pulang kerumah. Pikiranku cuman satu
    waktu itu: T I D U R !!! Capek tau…

    Meli melepas sandalnya lalu kemudian masuk kedalam rumah dan cepat-cepat melangkah menuju
    kamarnya yang berada di lantai 2. Dia berjalan dengan cepat namun tanpa suara, berjinjit.
    Meli berharap tak seorangpun dari karyawannya menyadari bahwa dia telah pulang.
    Bisa repot kalo mandor-mandor gatel yang mengerjainya dulu tahu kalo dia udah pulang.

    Tetapi begitu sampai dilantai atas, ternyata dia melihat Didik, Soleh dan seseorang yang
    tidak dikenal sedang duduk-duduk di lantai atas. Mereka masih tahu diri rupanya, tidak
    duduk di sofa ruang tamu atas. Hehehe…
    Begitu melihat Meli naek, ketiga lelaki itu langsung berdiri dan menyapa dengan ramah.
    “Sore, Non.”, sapa Didik ramah. Soleh dan temannya juga menyapa ramah.
    Meli cuman diam saja. Dia lalu berjalan semakin cepat menuju kamarnya.
    “Pokoknya gua masuk kamar lalu dikunci, beres deh.”, pikirnya.

    Namum Didik segera menghadang langkahnya, dan berkata, “Duh, jangan kesusu non.
    Bentar aja.”. Kedua teman Didik yang lain tetap berdiri sambil menatap mereka
    dengan tegang.

    “Mau apa sih?”, ujar Meli ketus.
    “Duh. Non ini ketus banget. Kita cuman mau pake non kok. Mereka sih, bukan saya. Pengen
    nyoba katanya.”, sahut Didik.
    “Ga ah. Gue lagi ga mood.”, kata Meli dingin.
    “Lho…Trus kapan non mood? Kita sekarang bayar full kok.”, ujar Didik, sedikit memelas.

    Dia lalu berpaling kepada temannya dan berkata, “Ayo. Ndi duitnya?”.
    Soleh segera merogoh koceknya dan mengeluarkan beberapa lembar 50ribuan. Teman Didik yang
    lain juga mengambil sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan pecahan 100ribuan.

    “Nih, non. Mereka udah siap, masing-masing 600rb. Malam ini non ga ngapa-ngapain udah
    dapat 1,2 juta. Lumayan toh.”, ujar Didik sambil tersenyum. Sambil mengumpulkan uang
    dari teman-temannya dia menambahkan, “Mereka udah mandi kok non. Jadi udah bersih. Aku
    tahu sampeyan suka cowok yang bersih kan?”. Didik lalu mendekat menyerahkan segepok
    uang yang cukup tebal.

    Dengan segan Meli menerima uang itu, lalu dihitungnya. Ketiga lelaki hidung belang
    itupun menunggu dengan tegang. Yap, tepat satu juta dua ratus ribu rupiah.

    “Nah, bagaimana non?”, ujar Didik pelan.

    Baca Juga : Sales Promotion Girl

    Meli lalu berpaling kepada mereka dan berkata, “Ya udah. Nang cepet muncrat sana.”
    sambil masuk kedalam kamar. Sontak terdengar tawa dari ketiga cowok tersebut. Didik
    berkata kepada Soleh, “Wes, dijamin uenak. Putih, seksi lagi. Hahaha…”. Lalu mereka
    ikutan masuk kedalam kamar.

    “Non, kenalin. Ini koncoku, bukan karyawan sini sih. Dia nyambut gawe di kontraktor,
    staf pembelian. Namanya Rahmat. Ga cocok ama orangnya ya mbak? Jeneng keren wong ga
    keren.”, sahut Didik sambil tertawa.

    Meli cuman tersenyum kecil. Mereka lalu bersalaman.

    “Wah, mbak-nya cakep dan seksi, apalagi pake baju begitu. Saya jadi adem panas.”, ujar
    Rahmat spontan. Terdengar teman-temannya cekikikan. Meli lalu memasukkan segepok uang
    itu kedalam dompetnya. Kedua “calon pelanggannya” menunggunya dengan gelisah.

    Setelah selesai, Meli cuman berdiri saja memandang mereka. Ketiga cowok gatel itu nampak
    juga bingung dan ragu-ragu mau ngapain. Bisikan demi bisikan sayup bisa didengar oleh

    Meli.
    “Ayo, wes nang maen sana.”
    “Sopo dhisik?”
    “Wah, emboh. Wes sampeyan dhisik Dik.”
    “We…aku ora melu bayar kok. Duit entek.”, ujar Didik sambil meringis.
    “Sampeyan lak durung pernah. Wes dhisikan.”
    “Lha trus piye?”, ujar Soleh bingung.
    “Yo mboh.”
    Meli cuman diam saja memandangi para lelaki itu berbisik-bisik sendiri. Bah, kayak anak
    kecil aja mereka ini. “Jadi ga nih? gue mau pigi.”, ujar Meli enteng.
    “Ya bentar non. Awak dhewe jek rembukan.”, sahut Soleh gugup. Waduh, mau crot aja pake
    musyawarah. Hehehe…Meli sebel juga melihat ketiga cowok itu. Kok pake acara malu-malu.

    Mungkin Didik jadi BT juga melihat ulah teman-temannya. Dia lalu dengan tegas berkata,
    “Wes. Ngewe wae. Rahmat, sampeyan dhisik. Sampeyan lak jek joko. Jarene pengen pertama
    kali ama amoy. Tuh, wes keturutan. Nang cepet maen sono.”. Soleh tergelak mendengarnya,
    sedang Rahmat cuman meringis.

    “Non, Mas Rahmat iki jek joko. Jadi durung pengalaman. Sampeyan alon-alon ae ya?”, ujar
    Didik. “Gombal jek joko. Bullshit !”, sahut Meli ketus.
    “Lhe, beneran mbak. Sumpah. Elek-elek ngene aku jek joko iki.”, ujar Rahmat serius.
    Meli diam saja.

    “Wes. Kalian segera maen. Aku dan Soleh cuman melihat aja dulu.”, ujar Didik sambil
    diiyakan Soleh. Mereka lalu duduk di lantai sambil memandangi Rahmat yang nampak gugup.
    Meli diam saja sambil berkacak pinggang.

    Tak lama kemudian, dengan kikuk Rahmat mendekati Meli dan mulai menciuminya. Kedua
    tangannya memeluk punggung gadis itu sambil diusap-usap. Entah maksudnya apa. Soleh dan
    Didik tertawa kecil menyaksikan pertunjukan hot itu sudah dimulai.

    Mereka berciuman bibir selama beberapa saat. Meli cuman menanggapi dengan pasif saja.
    Setelah puas melumat bibir gadis ini, Rahmat lalu menciumi payudaranya yang masih
    dibalut tanktop ketat. Diremas-remasnya dengan gemas, lalu Rahmat menjilati belahan
    payudara Meli yang tidak tertutup tanktop. Nafasnya semakin memburu.

    “Mbak, buka baju donk.”, pinta Rahmat yang lalu disoraki oleh kedua temannya yang sedang
    asyik mengamati mereka. Meli memperingatkan mereka agar tidak terlalu ribut, takutnya
    banyak orang yang dengar. Didik dan Soleh lalu tersadar dan meminta maaf.

    Perlahan Meli menarik tanktop hitamnya itu dan melepasnya, lalu meletakkannya perlahan
    diatas meja rias. Dia juga melepas celana pendek jeans yang dipakainya. Rahmat
    membelalakan mata. Didepannya ada seorang gadis yang seksi, memakai bra merah dengan cd
    merah juga. Yang bikin menggoda, baik BH maupun CD-nya itu transparan dan berenda.

    “Wow, seksi sekali mbak ini.”, celutuk Rahmat sambil menelan ludah. Dia lalu mendekat dan
    mencium habis seluruh belahan payudara Meli. Setelah puas dia lalu berusaha melepas
    kaitan BH dibagian belakang, namun beberapa kali mencoba tidak bisa.

    “Yo ngene iki nek ga pengalaman. Lepas BH ae ora iso.”, tawa Soleh dan Didik bersamaan.
    Meli cuman tersenyum lalu melepas sendiri kait BH-nya, tak lupa dia juga melepas CD-nya.
    Biar cepet selesai, mungkin demikian pikir Meli. Rahmat nampak terpesona untuk yang kedua
    kalinya. Dia lalu dengan segera melepas kemeja kerjanya dan celananya. Nampak penisnya
    sudah menggantung keras.

    Rahmat lalu menidurkan Meli keatas ranjang dan mulai menindihnya. Dengan bibirnya, Rahmat
    menjilati tubuh gadis seksi ini dari atas kebawah. Disedotnya puting Meli dengan penuh

    nafsu, sampai Meli berteriak kesakitan.

    Mungkin karena tidak sabar ingin melepas keperjakaannya, Rahmat segera memposisikan
    penisnya yang sudah menegang itu pas didepan vagina “escort girl” ini. Lalu hanya dengan
    sekali dorong, dia sudah berhasil menyetubuhi gadis amoy ini. “Oh……”, erang Rahmat
    penuh nikmat. Meli cuman menggigit bibirnya, merasakan sebuah penis asing memasuki liang
    vaginanya.

    Diliputi rasa nikmat yang tiada tara, Rahmat segera menggenjot Meli dengan penuh nafsu.
    Dengan ganas dia mengkocok penisnya didalam vagina Meli sambil mengerang penuh nikmat.
    Dia memegang pinggang Meli dan menariknya kedepan dan kebelakang, disesuaikan dengan
    irama kocokan penisnya. Meli hanya bisa mengerang, merasakan sedikit sakit di
    selangkangannya.

    Dari ceritanya, tidak sampai 2 menit, Rahmat tiba-tiba mengejang dan berteriak
    “Oh…Ah…” dan menyambut orgasmenya.

    Penisnya menyemprotkan sperma dengan cepat didalam vagina Meli ini. Ya, dia mencapai
    orgasme. Meli hanya mengerutkan dahi, menahan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya.
    Rahmat menggoyangnya terlalu kasar sehingga dia tidak bisa ikut menikmati.

    Setelah puas, dia lalu mencabut penisnya dan tidur merebah disebelah Meli.
    “Oh, nikmat sekali anumu Mbak. Sip…”, ujarnya terengah-engah.

    Meli diam saja. Dia lalu bangun dan mengambil beberapa tissue dan hendak membersihkan
    vaginanya yang dipenuhi oleh cairan sperma Rahmat. Tiba-tiba Soleh yang sudah bugil naik
    keatas ranjang dan berkata, “Mbak, ga usah dibersihkan. Biarin aja. Biar tambah becek.”.
    Meli cuman memandang lelaki ini dengan heran. Tapi tanpa banyak bicara, Soleh segera
    menindih Meli dan mendorong Rahmat agar turun dari ranjang.

    “Wes. Minggiro sampeyan. Iki giliranku.”, kata Soleh sambil terkekeh-kekeh. Dengan loyo
    Rahmat segera turun dari ranjang dan tiduran dilantai sambil tetap bugil. Rasa nikmat
    masih melekat diseluruh tubuhnya.

    Sama seperti Rahmat, Soleh nampaknya juga tidak sabar ingin menikmati anak gadis
    majikannya ini. Lalu dia menusukkan penisnya kedalam vagina Meli dan setelah masuk
    kedalam, dia segera mengkocoknya dengan cepat.

    Meli hanya mengerang. Dia merasakan sedikit nikmat sekaligus nyeri. Soleh dengan ganas
    menggoyang tubuhnya. Kedua tangan lelaki ini merengkuh payudaranya dan meremasnya dengan
    gemas, sambil terus menyetubuhinya. Erangan demi erangan memenuhi kamar tidur Meli.

    Soleh lalu mengangkat kedua lengan Meli dan menciumi ketiaknya dengan penuh nafsu. Dia
    menjilati daerah itu dengan lidahnya, menikmati setiap incinya. Lalu dia mengarahkan
    lidahnya dan menjilati puting buah dada Meli dengan cepat, memilin puting yang satunya,
    sambil terus mengkocok penisnya. Meli hanya mengerang sambil menggigit bibirnya. Rasa
    nyeri di selangkangannya masih belum hilang.

    Setelah puas memainkan payudara Meli, Soleh segera memeluknya dari atas, lalu dengan
    tempo yang semakin cepat, dia menyetubuhi anak majikannya ini dengan ganas.

    “Ah…Ah…aduh…”, erang Meli merasakan nyeri yang semakin menyengatnya. Soleh tidak
    memperdulikan hal itu, dia terus saja menyetubuhi gadis itu sambil menciumi lehernya.
    Sekilas Meli melihat Didik sudah bugil juga namun dia tidak mendekat. Dia hanya duduk di
    kursi sambil mengkocok penisnya sendiri, bermasturbasi. Rahmat masih tetap tidur di
    lantai kamar, berharap bisa segera memulihkan tenaganya. Penisnya yang loyo terkulai
    dan mengecil dipahanya.

    Nah, kemudian ini nih bagian yang paling seru.

    Saat mereka lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba pintu kamar Meli terbuka lebar. Adik perempuan
    Meli, sebut saja Meiling, nyelonong masuk sambil membawa beberapa buku kuliah.
    “Cie, kamu jek inget integral double nggak? Aku ajarin ….”

    Rekan-rekan, bayangkan betapa kagetnya si Meiling, SEKALIGUS para cowok dan Meli itu

    sendiri.

    Meiling melihat kakak perempuannya (dipanggilnya “Cie Cie”) sedang disetubuhi
    oleh seorang lelaki. Dia mengenal lelaki itu, namanya Soleh, salah seorang mandor tukang
    yang bekerja pada ayahnya.

    Rahmat yang sedang tiduran dilantai langsung bangun sambil mengambil apa aja yang bisa
    digunakan untuk menutup bagian bawah tubuhnya. Terlihat dia hanya berhasil mengambil
    tanktop hitam Meli dan menutup bagian penisnya.

    Soleh, saking terkejutnya, dia langsung mengumpat dan mencabut penisnya dari vagina Meli
    dan menggunakan bantal untuk menutup tubuhnya. Didik, yang posisinya paling dekat dengan
    pintu sempat terjungkal kelantai saking kagetnya. Dia lalu dengan cepat membanting pintu
    untuk menutupnya. Suasana didalam kamar yang tadinya penuh nafsu seksual sekarang berubah
    menjadi tegang. Semua mata memandang Meiling.

    “Cie…?”, ujar Meiling pelan. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Meli segera
    duduk diranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut dan memandang adiknya dengan mata yang
    berkaca-kaca.

    “Cie ?”, tanya Meiling lagi. Kali ini nadanya bergetar. Tak lama kemudian meleleh air
    matanya. Soleh dan Rahmat memandang Meiling dengan tegang, begitu juga dengan Didik.
    Lalu Meiling segera membalikkan badan dan hendak keluar kamar. Namun Didik dengan cepat
    memegang lengannya dan menariknya dengan keras sehingga dia jatuh ke lantai.

    “Me…Meme. Didik, kamu jangan apa-apakan memeku ya. Awas kamu ya !”, teriak Meli
    dengan keras. Didik diam saja, pandangannya tajam kearah Meiling.
    “Cie…”, tangis Meiling sambil menutup kedua mata dengan tangannya. Didik berdiri pas
    didepan dia, sambil bugil tentunya. Meli dengan cepat turun dari ranjang dan memeluk
    adik wanitanya itu.

    “Jangan kamu sentuh adikku.”, Teriak Meli dengan ketus. Meiling menangis sesenggukan.

    “Didik, piye? Pengen coba adiknya pisan?”, goda Soleh. Meli memandang Soleh dengan tajam.

    “Hei. Apa kamu kayak cie cie kamu juga?”, tanya Didik dengan agak keras.
    Meiling tidak menjawab, dia tetap menangis sesenggukan.
    “Hei. Jawab. Kamu kayak cie cie kamu juga apa nggak?”, tanya Didik lagi, lebih keras.
    “Kayak apa seh…Aku ini ngga ngerti…”, teriak Meiling sambil menangis.

    “Cie cie kamu kan cewek bayaran. Kami lagi pake dia.”, sahut Soleh enteng.
    Ucapan Soleh itu membuat jantung Meiling seakan berhenti berdetak. Dia memandang

    kakaknya,
    hendak meminta jawaban, sekaligus kebenaran. Kedua bersaudara itu saling berpandangan
    sesaat. Tanpa menjawab, Meli kembali memeluk adiknya sambil menangis.

    “Tuh. Kami nggak memperkosa kakak kamu. Jadi kamu ga boleh marah sama kita.”, ujar Didik
    yang kemudian diiyakan dengan cepat oleh Rahmat dan Soleh.
    “Nah, kamu kayak kakak kamu apa nggak?”, ujar Didik lagi, sekarang nadanya lebih lembut.
    Meiling menggeleng dengan lemah. Wong memang dia ini gadis baik-baik kok. Saya tau betul.

    Didik lalu menarik Meli dan mendorongnya ke ranjang. Soleh segera mendekapnya sambil
    menciuminya. Meli berusaha meronta, tetapi Didik mengancam akan menyakiti adiknya kalo
    dia terus melawan. Akhirnya dia diam saja. Soleh tentu segera “bekerja” lagi, dia kembali
    menciumi leher Meli dan meremasi kedua payudaranya dengan gemas.
    Meiling merasa muak melihat pemandangan itu dan dia membuang muka. Hatinya hancur. Kakak
    perempuan yang selama ini dia sayangi ternyata seorang pelacur. Hm…

    “Apa kamu masih perawan?”, tanya Didik dengan tegas. Meiling memandang lelaki itu dengan
    jijik sambil berkata, “Apa urusanmu?”.

    BRAK !
    Tiba-tiba Didik dengan keras menghantamkan tinjunya ke kursi sehingga membuat kaget

    seluruh isi kamar. Soleh pun sampai menghentikan cumbuannya ke Meli.

    “Jawab ! Apa kamu masih perawan?”, tanya Didik lagi dengan keras.

    Dengan menangis, Meiling menganggukkan kepala. Yah. Dia memang gadis baek-baek, Dik.

    “Wo..Sip, Dik. Entuk perawan amoy malam iki.”, celutuk Soleh ringan, disambut tawa

    Rahman.
    Meli berusaha berontak tetapi pelukan Soleh terlalu kuat.

    Melihat jawaban Meiling, Didik lalu berkata, “Ya udah. Kamu keluar sana. Tapi jangan
    bilang sama papa kamu apa yang kamu liat malam ini. Ngerti?”. Meli langsung menatap Didik
    seakang tidak percaya. Tidak hanya dia, tetapi semua orang menatapnya dengan tidak
    percaya. Meiling segera bangun dari duduknya. Dia memberesi buku-buku kalkulus yang tadi
    berserakan sambil menangis sesenggukan.

    Soleh segera protes, “Lho…kok dilepas, Dik? ono perawan dilepas. kon iki gob…”.
    Belum selesai berbicara, Didik menjawabnya dengan keras, “Hei. Kita ini mungkin brengsek,
    tetapi bukan Bajingan. Ngerti? Aku ga mau merusak gadis baek-baek. Inget, sampeyan juga
    dhuwe anak perempuan neng deso. Gelem ta anak sampeyan diperkosa?”. Soleh langsung diam.
    Ucapan Didik tadi benar-benar Skak-mat.

    “Udah, kamu keluar saja. Ingat, jangan bilang papa kamu. Ngerti?”, ujar Didik.
    Meiling hanya mengangguk lalu dengan cepat keluar kamar. Dia lalu duduk di kursi sofa
    ruang tamu atas sambil menangis, dia menunggu kakaknya.

    Didalam kamar, terlihat Soleh sudah mulai menyetubuhi Meli, menuntaskan apa yang tadi
    tertunda sesaat. Meli diam saja membiarkan tubuhnya dinikmati oleh pegawai papanya. Dia
    merasa sangat lega, adik perempuannya aman dari serangan, setidaknya untuk saat ini.

    Beberapa menit kemudian, pintu kamar Meli terbuka. Meiling melihat ketiga lelaki tersebut
    keluar dari sana, Soleh, Didik dan Rahmat. Soleh keluar ruangan sambil menjilati jari
    tengahnya, yang dipenuhi lendir.

    “Lho, kok masih disini mbak?”, sapa Didik. Meiling diam saja sambil membuang muka.
    Didik lalu duduk disebelah Meiling. Merasa jijik, Meiling segera memposisikan duduknya
    agar menjauh. Soleh dan Rahman tertawa kecil. “Dik, jok sampeyan badhok dhewe yo.
    Bagi2.”. Keduanya pun segera turun tangga, meninggalkan Dik dan Meiling sendirian di
    lantai atas.

    Merasa tidak nyaman, Meiling segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar

    Meli. Didik menghela napas.

    “Mbak, jaga baek-baek tuh perawan. Jangan diumbar kayak cie cie kamu.”. Meiling lalu
    menghentikan langkahnya dan memandang Didik dengan tajam.
    “Maksudmu?”

    “Ya nggak ada.”, ujar Didik sambil berdiri lalu menuju tangga.
    “Jangan jadi pelacur kayak cie cie kamu. Cari lelaki yang baik dan jadikan suami. OK?”.
    Meiling hanya diam saja, memandang Didik yang langsung turun tangga.

    Setelah itu, dia masuk kedalam kamar dan melihat Meli, yang masih bugil, sedang menangis.
    Dia lalu mendekat dengan perasaan haru. Dibelainya kepala kakak perempuannya itu. Tak
    terasa, dia ikut hanyut dalam suasana haru dan dia meneteskan air matanya. Mereka berdua
    lalu menangis.

  • Sales Promotion Girl

    Sales Promotion Girl


    47 views

    Ceritamaya | Panggil saja nama samaranku adalah Shinta. Tubuhku berkulit Putih mulus dengan tinggi 168 cm, orang bilang wajahku mirip bintang film Diana Pungky. Dengan kecantikanku ini banyak teman temanku sekampus yang tergila gila padaku tapi semuanya tidak ku perdulikan karena aku hanya konsentrasi pada pelajaran kuliah.

    Cerita ini bermula ketika Perusahaan expor-impor milik ayahku mengalami kebangkrutan karena selisih mata uang Dolar dan rupiah begitu tinggi sehingga ayahku menanggung hutang ratusan juta rupiah pada rekanan bisnisnya.Karena tak kuat menanggung stres akibat tekanan, ayahku meninggal dunia karena Hypertensi akut. Rumah dan 2 mobil kami terpaksa dijual untuk melunasi hutang hutang tersebut.Aku dan Ibuku ahirnya pindah kerumah kontrakan dengan sisa uang yang ada untuk modal hidup.Hal ini merupakan pukulan berat bagiku Karena dari kecil aku sudah terbiasa hidup senang dan mewah tetapi aku berusaha untuk berdaptasi.Dengan terpaksa Sementara waktu aku hentikan dulu kuliahku karena aku harus kerja untuk menambah pendapatan.Dengan modal wajah yang cantik plus body yang putih mulus aku dapat diterima sebagai SPG di perusahaan otomotif ternama di Jakarta. Di sini aku mempunyai teman akrab sesama SPG bernama Selly, orangnya juga cantik dengan tubuh tinggi semampai seperti Pragawati.Kami berdua sangat dikenal oleh para karyawan karena selain ramah juga pintar memikat pelanggan agar membeli kendaraan mewah yang kami promosikan, Sebagian besar mereka adalah para pria Pengusaha, apalagi dengan baju seragam ketat dan di padu dengan rok mini yang menampakkan keindahan kaki kami sampai keatas lutut menjadi daya tarik utama setiap stand pameran otomotif. Sebenarnya aku cukup risih juga dipandangi oleh para pembeli tetapi terpaksa kulupakan karena itulah cara kami menjual Mobil mewah.

    Diantara para SPG memang sering kudengar dari cerita Selly bahwa banyak diantaranya yang berlaku negatif yaitu selain mempromosikan barang otomotif juga bersedia diajak kencan oleh para Pembeli. Selly pun mengakui bahwa dirinya juga pernah melakukanya untuk menambah penghasilan, tapi hanya pelanggan tertentu saja yang ia layani. Aku hanya geleng geleng kepala mendengarnya karena selama ini aku tak berminat mencampuri urusan orang maka aku tidak memperdulikannya, yang penting aku tidak terbawa oleh arus mereka. Setelah beberapa bulan bekerja, musibah kedua menimpa kami lagi, Ibuku yang sudah tua mendadak kambuh lagi penyakit ginjalnya, kali ini lebih parah karena sudah lama tidak kontrol kesehatan lagi. Menurut dokter ibuku harus segera menjalani operasi ginjal dalam minggu ini atau tidak ada harapan lagi bila ditunda. Yang membuatku jadi pusing adalah masalah biayanya yang besar. Seluruh tabunganku yang ada hanya cukup untuk biaya rumah sakitnya saja sedang untuk operasinya masih butuh belasan juta rupiah. Hal ini aku ceritakan pula pada Selly teman baikku siapa tahu dia dapat menolongku.

    “Biaya operasi ibumu memang tinggi sekali, aku tak punya uang banyak untuk membantumu, tapi cobalah minta bantuan om Liem direktur perusahaan kita bekerja, karena dia pernah juga membantuku.” ujar Selly memberikan solusinya. Om Liem memang direktur pemilik perusahaan otomotif tempatku bekerja orangnya agak gemuk pendek WNI keturunan usianya 50-an, dengan pakaianya selalu rapi dan necis. Sebenarnya Aku paling tidak suka menjumpai orang ini, walaupun sudah tua tapi matanya selalu jelalatan bila melihat para karyawati SPGnya yang menggunakan seragam promosi yang ketat dan Rok mini yang tinggi, bahkan dia pernah dengan sengaja meraba pahaku ketika berpapasan dengannya di ruang ganti pakaian tapi segera kutepis dan kutinggal pergi.

    “Silahkan Masuk..!” terdengar suara dari balik pintu yang kuketuk… , eeh… Shinta, silahkan duduk Shinta… Tanpa ragu akupun duduk dikursi tamu yang berhadapan dengan meja kerja Om Liem yang mewah.
    “ada yang bisa kubantu… ?” tanya Om liem sambil menatap nakal kearahku. Aku jadi agak gugup dan sedikit berkeringat. Tanpa membuang waktu aku ceritakan masalahku untuk meminjam uang untuk biaya operasi ibuku sebesar 20 juta rupiah. Sejenak kulihat Om Liem berdiam diri, tapi kulihat lagi dia tersenyum licik sambil menatap tubuhku dalam dalam.
    “Mhmmm..itu hal yang mudah, kamu bisa dapatkan uang itu tanpa harus meminjam… tapi harus ada imbalannya… “kata Om Liem sambil berkedip nakal.

    “Saya tidak mengerti, imbalan apa yang Om Maksudkan ?” kataku agak serius.
    “Begini, Om Liem akan berikan uang sejumlah itu tanpa meminjam, tetapi sebagai imbalannya beri aku keperawananmu.”kata Om Liem singkat sambil tersenyum kurang ajar. Aku tertegun tak percaya mendengar permintaannya, benar benar ******* siTua ini umpatku dalam hati.
    “Aku tidak bersedia..!” kataku ketus sambil berdiri dan keluar dari kantornya.
    “Aku menunggumu bila berubah pikiran Shinta… !” selintas masih sempat kudengar suara Om Liem sebelum pergi… dasar *******, kataku lagi. Dirumah kutumpahkan semua kekesalanku dengan menangis sepuas puasnya, sepertinya aku tak punya pilihan lagi, bila tidak segera dioperasi ibuku akan meninggal tapi dipilihan lain aku harus menyerahkan keperawananku pada Bandot licik yang mengincar keindahan tubuhku. Tak ada cara lain untuk mendapatkan uang sebesar itu, Demi kesembuhan ibuku ahirnya kuputuskan untuk menjumpai Om Liem lagi keesok harinya. Dengan memakai seragam SPG dan rok mini yang ketat, jam 10 pagi aku datangi lagi ruangan kantor Om Liem.

    “he..he… he… akhirnya kau datang juga Shinta cantik, apakah kau sudah siap melayaniku diranjang..he.he..he..?” Om Liem tertawa penuh kemenangan. Aku hanya diam saja menerima ejekan itu.
    “Baiklah, Om Liem bisa menikmati tubuhku setelah kupastikan ibuku di operasi hari ini..”jawabku dengan berat hati.
    “Oke, No Problem “Om Liem menuliskan selembar cek dengan nominal sesuai yang ia janjikan kemarin kemudian didepanku dia menelpon rumah sakit untuk memastikan operasi hari ini.Segera aku masukan cek itu kedalam tas kecilku, aku memang membutuhkannya.

    “Semuanya sudah beres, sekarang kau tepati janjimu nona cantik, mari ikut aku..”kata Om Liem sambil menggandengku keluar ruangan.
    “*******… kali ini engkau menang.!” kataku dalam hati sambil mengikutinya masuk kedalam kemobil. Om Liem ternyata membawaku kesebuah hotel terkenal di Jakarta pusat. Sepertinya Om Liem sudah sering datang kemari, Setengah ketakutan aku melangkah masuk kehotel tersebut. Debaran jantungku semakin kencang ketika Om Liem menggandengku menuju kamar VIP dilantai lima. Beberapa pasang mata pegawai hotel nampak menatap kami, mungkin aneh dipandang seorang gadis muda cantik berjalan digandeng lelaki tua bangka menuju kamar hotel mereka pasti sudah tahu apa yang akan terjadi pada gadis cantik itu… ahh terlalu beruntung situa ini dapat kuda tunggangan yang aduhai. Aku terpaku diam berdiri didepan pintu kamar 508 yang sudah dibuka Om Liem, rasanya aku ingin segera lari dari tempat ini.

    “Ayo masuk Shinta.., kita selesaikan urusan kita.”kata Om liem sambil menarik lenganku dan menutup pintu kamar Hotel. Begitu pintu terkunci Om Liem Langsung memelukku merapat ketembok, rupanya napsunya sudah tak tertahankan lagi melihat kemulusan kulit tubuhku. Aku sedikit berontak ketika Tangan Om Liem mulai meraba pahaku yang putih, Mataku melotot marah padanya. Hampir saja kutampar wajahnya yang klimis itu.

    “Ingat perjanjian kita Shinta, keinginanmu sudah aku penuhi.. sekarang aku bebas menikmati keindahan tubuhmu.!” kata Om Liem sambil kembali mengangkat rok miniku sehingga menampakan kemulusan pahaku lalu menjamahinya. ..oughhhh..aaahh.. entah kemana keangkuhan dan kesombonganku selama ini, Kali ini aku tak berdaya melawannya, aku memang sudah terikat perjanjian itu dan tubuhku saat ini adalah miliknya. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika kurasakan tangan Om Liem mulai rajin menyusuri pahaku sampai kepangkal atas.. aah, Rasanya aku ingin menagis saja tapi air mataku tak ada yang keluar.
    “ooh… aahhhh… “suara napasku tak sanggup lagi kutahan ketika tangan Om liem mulai menyusup kedalam celana dalamku dan bermain disana. Om Liem tersenyum senang melihat Shinta tampak pasrah dalam pelukannya. Selama ini Shinta selalu angkuh bila didekatinya bahkan pernah mempermalukannya dihadapan para SPG yang lain. Setelah puas menjamahi selangkanganku, Om Liem lalu melepasku dan mengajakku berjalan kedalam ruang Utama yang lebih luas. Sambil berjalan mengikutinya aku merapikan kembali Rok miniku yang mulai acak acakan akibat jamahan Tangan Om Liem. Kulihat Sebuah Ranjang yang besar dan mewah di tengah ruangan ini.

    “Kamu tunggu disini dulu, aku mau minum Viagra biar bisa menjebol gawangmu.”kata Om Liem Sambil berkedip nakal. Aku memalingkan muka pura pura tidak mendengar perkataannya. Begitu Om Liem pergi Aku segera membuka tas kecilku, dari dalam tas itu kukeluarkan sebutir pil kontrasepsi yang sudah aku persiapkan dari rumah dan segera menelannya karena aku tak mau hamil akibat perbuatan Om Liem. Tampaknya Om Liem sudah biasa menyewa kamar hotel ini, Tak berani kubayangkan sudah berapa banyak gadis muda cantik yang sudah digarapnya diranjang itu. Temanku Selly yang cantikpun pernah cerita bahwa dirinya juga pernah digarap Om Liem disebuah kamar hotel bintang lima beberapa kali. Selera Om Liem Cukup tinggi pada perempuan cantik. Aku meletakkan tasku diatas meja kecil ketika kulihat Om Liem Yang bertubuh gemuk pendek mendekatiku.

    “Aku Sudah siap mejebol perawanmu nona cantik ..he..he”kata Om Liem sambil mulai memelukku, tangannya meraba payudaraku yang membusung kencang. Aku tak mampu menghindar lagi ketika mulutnya dengan bernapsu melumat lumat bibir merahku. Perasaan geli, jijik dan takut bercampur menjadi satu. Tapi ******* ini memang sudah sangat berpengalaman menaklukkan wanita. Tangannya kini makin berani menyusup ke dalam baju ketat lengan pendek yang kupakai, terus bergerak menyusup kebalik BH-ku, beberapa kancing bajuku lepas. Degub jantungku bertambah kencang dan napasku makin memburu ketika kurasakan tangan kasarnya mulai menggerayangi dadaku, apalagi jari-jarinya turut mempermainkan puting susuku. Aku hanya mandah saja ketika Om Liem mulai menjamah tiap jengkal tubuhku, aku sudah terikat perjanjian. Sambil menyupangi leherku yang putih bersih tangannya mulai menaikkan rok mini yang kupakai sambil meraba-raba pahaku yang jenjang dan mulus. Satu-persatu kancing bajuku dipretelinya tanpa dapat kucegah sehingga BH-ku yang berwarna merah muda, belahan dada, dan perutku yang rata nampak jelas menantang. Tanganku tak mampu menutupinya lagi. Melihat payudaraku yang kencang itu Om Liem makin bernafsu, dengan kasar BH itu dibukanya lepas dan menyembul lah payudaraku yang putih mulus dengan puting susu berwarna merah mu

    “wah..tubuhmu memang benar benar mulus dan indah Shinta.., sungguh beruntung aku dapat menikmatinya… he..he..” mata om liem melotot memandangi buah dadaku. Secara reflek tanganku berusaha menutupi payudaraku yang terbuka itu tetapi Om Liem yang sudah berpengalaman langsung menangkap kedua tanganku dan membentangkannya lebar lebar. Mataku terpejam tak sanggup menahan malu, selama ini belum pernah ada laki laki yang berani menjamahku karena aku sangat galak menjaganya, tapi kali ini aku tak berdaya menolaknya. Tubuhku mengelinjang gelinjang menahan birahi karena cumbuan Om Liem pada dadaku, secara bergantian Om Liem menghisap hisap kedua puting susuku yang kenyal itu bagaikan bayi yang kehausan.

    “oohh… oohhhh… ooohhhhhh”suara rintihanku tak dapat lagi kutahan. Bandot tua ini benar benar pintar merangsangku. Kemaluanku mulai terasa basah dibuatnya. Perlahan kurasakan Om Liem mulai membuka resleting rok miniku dan melorotkannya kebawah, tak lama celana dalamkupun menyusul lepas sehingga tubuhku yang indah sudah tak tertutup selembar benangpun. Aku mengeluh pasrah ketika Om Liem mendorongku hingga jatuh terlentang diatas kasur. Sambil berjalan mendekat dia melepas pakaiannya satu persatu. Setelah dia membuka celana dalamnya tampak olehku kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Gila.., ternyata penisnya besar juga, aku tak berani menatapnya. Dibentangkannya kedua belah pahaku di depan wajahnya. Tatapan matanya sangat mengerikan saat memandangi daerah selangkanganku yang ditubuhi bulu bulu halus, seolah-olah seperti monster lapar yang siap memangsaku. Om Liem membenamkan wajahnya pada selangkanganku, dengan penuh nafsu dia melahap dan menghisap hisap vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitorisku. Aku terpekik pekik kecil dibuatnya, Bandot tua ini benar benar ingin menikmati kecantikan tubuhku luar dalam. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang geli diiringi erangan nikmat yang terpaksa. Sampai akhirnya kurasakan otot tubuhku mengejang dahsyat, aku mencapai orgasme pertamaku. Cairan vaginaku tak dapat lagi kubendung.

    “Sluurrpp… sluurpp.. sshhrrpp..” demikian bunyinya ketika Om Liem menghisap sisa-sisa cairan Vaginaku.
    “Cairan Orgasme gadis perawan adalah resep awet mudaku selama ini..”kata Om Liem tersenyum puas.
    “Luar biasa Nikmatnya Vaginamu, sekarang saatnya kau nikmati pula penisku ini Shinta..”kata Om Liem sambil menyodorkan batang penisnya yang tegang ke muka ku.

    “Jangan… aku tak mau… !” kataku sambil berusaha menolak batang kemaluannya tapi Om Liem mengancam dan terus memaksakan penisnya masuk kemulutku sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulutku. Pada awalnya aku tetap menolak, namun dia menahan kepalaku hingga aku tidak dapat melepaskannya. Terpaksa kuturuti pula kemauannya kuhisap kuat kuat penisnya hingga matanya merem melek kenikmatan .Harga diriku benar benar jatuh saat ini, Aku dipaksa melayaninya dengan Oral. Tak terasa sudah 15 menit aku mengkaraoke Om Liem, Penisnya sudah semakin besar dan keras, dia mengakhirinya dengan menarik kepalaku.

    “Sekarang saatnya Aku pecahkan perawanmu Shinta..”kata Om Liem sambil menindih tubuhku dan membuka lebar-lebar kedua pahaku . Aku memejamkan mata menunggu detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku. Menyadari kalau aku masih perawan, Om Liem tak hanya melebarkan kedua pahaku. Namun dengan jari jemari tangannya Om Liem kemudian membuka kedua bibir vaginaku, kemudian dengan perlahan dipandunya batang penisnya yang sudah tegang kearah lubang vaginaku yang sudah terbuka.Setelah dirasa tepat, perlahan Om Liempun menekan pantatnya kebawah.

    “Auuw ..Akhh… auuww..! ” Aku memekik kesakitan sambil meronta ketika batang penis Om Liem mulai memasuki lubang kewanitaanku. Keringatku bercucuran membasahi tubuhku yang telanjang bulat, Keperawananku yang selama ini kujaga mulai ditembus oleh Om Liem tanpa sanggup kucegah lagi. Aku meronta ronta kesakitan… Om Liem yang sudah berpengalaman tak ingin serangannya gagal karena rontaanku segera tangan menahan pantatku, lalu dengan cepat, ditekan pantatnya kembali kedepan sehingga separuh batang kelakiannya pun amblas masuk kedalam Vaginaku.

    “Aakkhhh… !” Aku memekik kesakitan bersamaan dengan jebolnya keperawananku. Hancur sudah kehormatanku ditangan bandot tua itu. Sesaat aku masih meronta ronta pelan, namun karena pegangan kedua tangan Om liem dipantatku sangat kuat hingga rontaanku tiada arti. Batang penis terus menerobos masuk mengkoyak koyak sisa sisa Perawanku. Tangisanku mulai terdengar lirih diantara desah napas Om Liem yang penuh birahi.Tubuhku yang putih mulus kini tak berdaya dibawah himpitan tubun Om Liem yang gendut.Sesaat Om Liem mendiamkan seluruh batang penisnya terbenam membelah Vaginaku sampai menyentuh rahimku, perutku terasa mulas dibuatnya.

    “ha..ha..ha… tak perlu menangis nona cantik, kau sudah kuperawani saat ini, lebih baik nikmati saja ******ku ini.” ejek Om Liem sambil mulai menggoyang pantatnya maju mundur perlahan. Penis Om Liem kurasakan terlalu besar menusuk Vaginaku yang masih sempit, setiap gesekan penis Om Liem menimbulkan rasa nyeri yang membuatku merintih rintih, tetapi buat Om Liem terasa nikmat luar biasa karena Penisnya tercepit erat oleh memek Shinta yang masih rapat dan baru ditembus perawannya. Inilah nikmatnya makan gadis perawan muda yang selama ini membuat Om Liem jadi ketagihan. Semakin lama batang Penis Om Liem Semakin lancar keluar masuk menggesek Vaginaku karena cairan pelumas Vaginaku mulai keluar secara alamiah, rasa sakit dikemaluanku semakin berkurang, rintihanku perlahan mulai hilang berganti dengan suara napas yang berirama dan terengah engah. Tua bangka ini ternyata memang pintar membangkitkan nafsuku. hisapan hisapan lidahnya pada putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Bagai manapun juga aku adalah manusia normal yang juga punya napsu birahi, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh permainannya, tak ada guna menolak. lebih baik kunikmati saja perkosaan ini.

    “Ooooh… , oooouugh… , aahhmm… , ssstthh!” .erangan panjang keluar dari mulutku yang mungil. akhirnya aku biarkan diriku terbuai dan larut dalam goyangan birahi Om Liem. Aku memejamkan mata berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang sedang mencumbui tubuhku ini adalah lelaki muda idamanku. Penisnya kini mulai meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati perkosaan ini, aku tidak perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah Bandot tua yang sudah merenggut kehormatanku.

    Sales Promotion GirlDarah perawanku kurasakan mulai mengalir keluar membasahi seprai dibawah pantatku. Rasa sakitku kini mulai hilang. Sambil bergoyang menyetubuhiku bibirnya tidak henti-hentinya melumat bibir dan pentil susuku, tangannyapun rajin menjamahi tiap lekuk tubuhku sehingga membuatku menggeliat geliat kenikmatan .Rintihan panjang ahirnya keluar lagi dari mulutku ketika mulai mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku yang polos itu sehingga kulitku yang putih bersih kelihatan mengkilat membuat Bandot itu semakin bernapsu menggumuliku. Birahi Om Liem semakin menggila melihat tubuhku yang begitu cantik dan mulus itu tergeletak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang cukup besar itu. Sungguh ironi memang, gadis muda secantik aku terpaksa mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan kekasihku, akan tetapi dengan orang asing yang sedang memperkosaku.

    Tanpa memberiku kesempatan beristirahat Om Liem merubah posisi bersetubuh. Tubuhku ditariknya duduk berhadapan muka sambil mengangkang pada pangkuannya, Dengan sekali tekan penis Om Liem yang besar kembali menembus vaginaku dan terjepit erat dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangan kiri Om Liem memeluk pinggulku dan menariknya merapat pada badannya, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penis Om Liem menerobos masuk ke dalam kemaluanku. Tangan kanan Om Liem memeluk punggungku dan menekannya rapat-rapat hingga kini pinggulku melekat kuat pada pinggul Om Liem .
    “Ouughh..oohhh… ooohhhh… “Aku merintih halus ketika kurasakan batang penis Om Liem amblas seluruhnya hingga menyentuh rahimku. Rintihanku semakin keras saat Bandot itu mulai melumati buah dadaku sehingga menimbulkan perasaan geli yang amat sangat setiap kali lidahnya memyapu nyapu puting susuku . Kepalaku tertengadah lemas ke atas, pasrah dengan mata setengah terkatup menahan kenikmatan yang melanda tubuhku sehingga dengan leluasanya mulut Om Liem bisa melumati bibirku yang agak basah terbuka itu. Setelah beberapa saat puas menikmati bibirku yang lembut dia mulai menggerakkan tubuhku naik turun.

    “Hmm… Jepitan Memekmu sungguh nikmat sekali Shinta… beda dengan perempuan lain yang sering aku setubuhi… “suara Om Liem sayup sayup kudengar ditelingaku.Aku tak memperdulikannya lagi, saat ini tubuhku tengah terguncang guncang hebat oleh goyangan pinggul Om Liem yang semakin cepat. Terkadang Bandot ini melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Aku dipaksa terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakannya makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu.

    Dan ketika klimaks kedua itu sampai, aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dengan lelaki muda dan tampan. Walau pun sudah tua tapi Om Liem masih mampu menaklukan gadis muda sepertiku. Kali ini dia membalikkan badanku hingga posisi tubuhku menungging lalu mengarahkan kemaluannya diantara kedua belah pahaku dari belakang. Dengan sekali sentak Om Liem menarik pinggulku ke arahnya, sehingga kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluanku. “Oooooouh… ouuuhhgh!” untuk kesekian kalinya penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginaku dan Om Liem terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang gendut itu menempel ketat pada pantat mulusku.

    Selanjutnya dengan ganasnya Om Liem memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vaginaku yang masih rapat itu. Inilah pengalaman pertamaku dijamah oleh laki laki yang sudah sangat berpengalaman dalam bersetubuh, Walaupun berusaha bertahan aku ahirnya kewalahan juga menghadapi Om Liem yang ganas dan kuat itu. Bandot tua itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir satu jam ia menggoyang dan menyetubuhiku tetapi tenaganya tetap prima. Tangannya terus bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali, mungkin karena sebelumnya dia sudah minum obat kuat Viagra, aah… entahlah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting aku sudah melunasi perjanjianku dengan menyerahkan kegadisanku sebagai imbalan uang yang kubutuhkan.

    Aku pasrah saja ketika tubuhku kembali di terlentangkan Om Liem diatas kasur dan digumulinya lagi dengan penuh birahi. Rasanya tak ada lagi bagian tubuhku yang terlewatkan dari jamahannya. ******* itu ternyata tidak mau rugi sama sekali, kesempatan menyetubuhiku itu dimanfaatkan sebaik mungkin, Tak henti hentinya Om Liem melahap kedua buah dadaku yang terguncang-guncang terkena hentakan batang kemaluannya. Dengan rakus disedot-sedotnya puting susuku dengan kuatnya yang kiri dan kanan bergantian, mataku terpejam pejam dibuatnya, sungguh Om Liem menikmati puting susuku yang baru tumbuh itu dengan bernapsu. Tidak lama setelah aku mencapai klimaks berikutnya, dia mulai melenguh panjang, sodokanya makin kencang dan kedua payudaraku diremasnya dengan brutal sampai aku terpekik. Setelah itu dia nenekan penisnya dalam dalam hingga batang kemaluannya terbenam seluruhnya sampai menyentuh rahimku. aku berteriak kesakitan dan berusaha meronta tetapi Om Liem membekap bibirku dengan mulutnya sambil tangannya memeluk rapat pinggangku sehingga aku tak mampu bergerak lagi. Sambil meleguh panjang Om Liem menembakkan air maninya kedalam rahimku dengan deras tanpa ada perlawanan lagi dariku.

    Beberapa saat kemudian suasana jadi hening senyap hanya suara napas Om Liem terdengar naik turun diatas tubuhku yang masih menyatu dengan tubuhnya. Aku sudah kehabisan tenaga tak mampu bergerak lagi dan kurasakan maninya menyembur nyembur hangat memenuhi rahimku, semoga saja aku tidak hamil pikirku dalam hati. Beberapa saat kemudian Om Liem mulai bangkit dan mencabut kemaluannya dari tubuhku, dengan senyum kepuasan karena telah berhasil menikmati kecantikanku luar dalam. Tanganku segera bergerak selimut untuk menutupi tubuhku yang polos itu.Tak perlu kau tutupi lagi tubuhmu itu, aku sudah tahu dan merasakan semuanya… he..he… “Om Liem masih sempat mengejek sambil meninggalkanku terbaring lemas di atas ranjang, aku diam saja tak perduli ejekannya mentalku masih mengalami shok berat akibat kehilangan keperawanan. Vaginaku masih terasa sakit akibat paksaannya bersetubuh. Bercak bercak darah perawanku mulai mengering disela sela pahaku yang putih bercampur dengan sperma Om Liem yang menetes keluar dari dalam kemaluanku.

    “Benar benar *******… lelaki tua itu” kataku geram dalam hati. Air mataku jatuh menetes membasahi pipiku, tapi apa yang harus disesalkan, semuanya telah terjadi sesuai dengan kesepakatan yang kubuat.Tubuhku kini telah ternoda. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur, dengan selimut yang melilit ditubuhku aku memunguti kembali pakaianku yang tercecer dilantai, segera aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selintas kulihat Om Liem duduk menggenakan kimono disofa sambil menikmati sebatang cerutu dibibirnya.Om Liem tersenyum memandang tubuhku, Aku memalingkan muka dan mempercepat langkahku masuk kekamar mandi.

    Baca Juga : Memperkosa Sampai Hamil Ibu Cantik

    Aku mengenakan kembali baju dan rok miniku setelah lebih setengah jam membersihkan tubuhku . Dalam keadaan rapi Aku keluar dari kamar mandi, Kulihat Om Liem masih duduk di Sofa sambil memegang botol minuman.
    “Aku ingin pulang Om… perjanjian kita sudah selesai..!” kataku sambil meraih tas kecil milikku diatas meja.
    “Belum selesai Shinta… aku masih belum puas… !” kata Om Liem sambil berdiri menghampiriku.
    “Tapi..bukankah Om Liem tadi sudah mendapatkan keperawananku..sesuai dengan kesepakatan kita..!” kataku sambil menepiskan tangan Om Liem yang berusaha menjamah dadaku.

    “Memang benar..tapi aku merasa belum puas..!” kata Om Liem tersenyum kurang ajar.
    “Aku tak mau lagi Om… aku mau pulang … !kataku sambil melangkah cepat menuju pintu keluar kamar.
    “Shinta… aku akan menelpon ke Bank dan membatalkan cek yang kuberikan padamu bila kamu menolaknya..!” Ancam Om Liem sedikit keras. Langkahku jadi terhenti karena ancamannya, pikiranku jadi kalut, ******* ini benar benar licik.. Bila aku menolaknya dan Om Liem membatal cek itu dengan menelpon bank, maka akan sia sialah pengorbananku ini. Om Liem kembali mendekatiku dan meyentuh bahuku.

    “Bagaimana, kau bersedia melayaniku lagi..?tanyanya sambil meraih pinggangku yang langsing. Aah… benar benar sialan tua bangka ini, aku tak berdaya menolaknya .Kupikir pikir untuk apa lagi jual mahal, toh aku sudah tidak perawan lagi. Akhirnya dengan berat hati aku hanya dapat menganggukkan kepala .
    “Sekali ini saja Om… “kataku singkat.
    “Oke… no problem..”kata Om Liem senang sekali.

    Tanpa basa basi lagi Om Liem langsung membuka kancing kancing bajuku dan melepaskannya kelantai sehingga nampaklah BHku yang berwarna merah jambu. Dengan kasar BH itu ditariknya lepas sehingga buah dadaku yang putih bersih kembali terbuka lebar menampakan kemulusan kulitku yang tersembunyi. Aku memaki maki dalam hati tanpa mampu berbuat sesuatu untuk mencegahnya. Buah dadaku yang sudah terbuka lebar itu langsung diserang Om Liem dengan bernapsu, lumatan lumatannya makin menggila.Tubuhku menggelinjang gelinjang geli menahan birahi karena serangannya.” Ooughh… aahhh..ooughh..” Hisapan hisapan lidahnya pada puting susuku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku memejamkan mata pasrah berusaha menikmati perasaan itu, kubayangkan yang sedang mencumbui tubuhku ini adalah pria muda.

    “Sshh.. aaahhh… eemhh..!” aku mulai meracau tidak karuan saat jari-jarinya menyusup kedalam celana dalamku dan menusuk kemaluanku sambil memainkan klistorisku, sementara itu mulutnya tidak henti-hentinya menciumi payudaraku, sadar atau tidak aku kembali terbawa nikmat oleh permainannya. Perlahan lahan kurasakan tangan Om Liem mulai beraksi melepaskan resleting rok miniku dan melorotkannya kebawah, detak jantungku semakin keras, tak lama celana dalamkupun menyusul lepas sehingga dalam sekejap tubuhku sudah telanjang bulat. Sesaat mata Om Liem melotot memandangi tubuh polosku yang tampak putih bersih. Kemudian Om Liem yang bertubuh pendek meraih pinggangku yang ramping dan menuntunnya berjalan menuju kamar tidur utama. Aku hanya menurut saja kembali dibawa Om Liem kedalam kamar tidur, aku sudah menduga bahwa Om Liem ingin kembali mengerjai dan menikmati tubuhku yang putih mulus diatas kasur yang lembut itu, … aaaah… bandot ini sangat beruntung sekali… mendapatkan tubuhku tanpa perlawanan.

    Setelah membaringkanku diatas kasur, Om Liem segera membuka kimono yang dipakainya dengan tergesa gesa. Ternyata Om liem tak menggenakan apa apa dibalik kimononya. Aku memalingkan mukaku ketika Om Liem mulai membuka kedua pahaku lebar lebar sehingga bibir vaginaku terbelah luas menantang. Rupanya Om Liem sudah tak sabar ingin segera menyetubuhiku. Dengan pasti batang penisnya yang sudah tegang dari tadi mulai diarahkan kebibir kemaluanku yang sudah terbuka.
    “Pelan pelan Om… masih sakit… !” kataku berbisik sambil menahan napas ketika kurasakan penis Om Liem mulai menembus bibir vaginaku yang masih sempit.. Sambil membuka lebar kedua pahaku Om Liem mulai mendorong penisnya keselangkanganku kuat kuat.
    “auuww..aaahkhhh… !!aku memekik keras menahan yeri saat batang kemaluan Om Liem yang keras itu dengan paksa memasuki lubang kemaluanku yang masih sempit. Untuk kedua kalinya aku tak kuasa menolak Penis Om Liem yang tegang memasuki kemaluanku dalam dalam. Rasa nyeri masih terasa walaupun tidak sesakit ketika pertama kali Om Liem menembus perawanku..

    “He..he..Jepitan Memekmu sungguh nikmat sekali Shinta, lebih nikmat dari pada gadis gadis lain yang sudah pernah aku perawani… he..he… payudaramupun lebih kenyal dan berisi..”kata Om Liem sambil mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun menggauliku. Aku diam saja mendengar ejekannya, saat ini badanku mulai terguncang guncang seirama dengan goyangan tubuh Om Liem yang menindih tubuhku.

    “Oohh..ooohhhh… oooohhhhhh… “suaraku tak dapat kutahan lagi ketika gerakan Om Liem semakin cepat memacu tubuhku hingga tersentak sentak dengan keras.Birahiku jadi terangsang lagi, cairan vaginaku mulai banyak keluar sehingga Penis Om Liem kini sudah lancar keluar masuk vaginaku. Sambil tangannya mencengkram buah dadaku, goyangan Om Liem semakin menggila.
    “Oooouuh… oooohhhhhhhh… Om Liem… “Tubuhku semakin menggeliat geliat tak karuan ketika buah dadaku kembali dilumat lumat Om Liem dengan ganasnya. Gesekan Batang penis Om Liem semakin terasa nikmat. Ahirnya aku tak dapat bertahan lebih lama lagi, tubuhku mengejang lagi, aku mengalami Orgasme lebih dulu.
    “He..he… nikmat khan, bersetubuh denganku..?” kata Om Liem senang karena berhasil membuatku mencapai Orgasme. Aku memejamkan mata menahan malu telah diperdayainya hingga mengalami orgasme. Bandot tua ini memang bukan tandinganku, Pengalamanya sangat jauh dibandingkan aku yang baru hari ini mengenal Sex, sehingga dengan mudah dia dapat menaklukanku.
    “Sekarang giliranku untuk bersenang senang nona cantik… “kata Om Liem sambil merubah posisi tubuhku berbalik seperti orang merangkak. Rupanya Om Liem ingin menembakku dari belakang. Aku hanya dapat pasrah mengikuti kemauan bandot ini. Tepat di hadapanku terdapat kaca rias yang besar didinding, sehingga aku dapat melihat tubuhku telanjang bulat serta dibelakangku terlihat Om Liem sedang mengagumi kemulusan tubuhku.

    “Tak kusangka tubuhmu benar benar sempurna Shinta, kamu sungguh cantik sekali, beruntung sekali aku dapat memerawanimu… he..he… !” Om Liem tertawa sambil menyelipkan penisnya lagi di antara kedua kakiku lewat belakang. Dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju.

    “Oohhh.., oouugghh.., aaahhhhh.. Aakkhh..!” Suaraku kembali terdengar ketika penis Om Liem dengan paksa menembus tubuhku dari belakang. Dengan bernapsu Om Liem kembali menggoyangku maju mundur sehingga buah dadaku yang menggantung ikut terguncang guncang berirama. Sambil terus menggoyangku tangan Om Liem yang bebas kembali meremas remas buah dadaku yang menggantung lepas. Melalui cermin besar didepanku, terlihat Om Liem sedang menggauli tubuh telanjangku, selintas nampak seperti seorang bidadari sedang diperkosa habis habisan oleh iblis hidung belang. Karena sepertinya tidak berimbang sekali, yang satu gadis muda cantik dan satunya lagi bandot tua.

    “aaahhh… aaahhh… oouugghh ” Gerakan Om Liem Semakin cepat menyodok nyodok rahimku, rasanya aku sudah tak kuat lagi, tampaknya Bandot Tua itu juga sudah akan mencapai klimaxs. Tiba tiba Om Liem membalikan posisi tubuhku sehingga aku kembali terlentang dihadapannya. Sambil menindihku Om Liem kembali menghujamkan penisnya kedalam kemaluanku dengan kuat.
    “Ooouugghh… !!” Om Liem nampak menikmati jeritanku ketika dia menghunjamkan lagi penisnya ke vaginaku yang telah basah oleh cairan licin. Sambil terus menggenjot tubuhku, bibir Om Liem kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang ku yang terkulai lemas tertengadah ke atas. Suara hisapannya bergema keras diruangan ini. Gerakan dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Aku hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah “Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. ooohh..!” sementara tubuhku telah lemah dan semakin kepayahan. Akhirnya badan Om Liem pun menegang sambil mendekapku kuat kuat .

    “Aaahhhh… Sakit Ommm… !” kataku sambil berusaha melepaskan pelukannya yang kuat tapi Om Liem malah menekan kemaluannya dalam dalam tak perduli dengan jeritanku Dan “Akkh… Crooot.., crooooott..!” Om Liem berejakulasi di rahimku, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari belahan Vaginaku. Om Liem nampaknya menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati bibirku yang terbuka kepayahan . Om Liem mengerang kenikmatan di atas tubuhku yang sudah lemas, sementara rahimku terus menerima semburan sperma yang cukup banyak. Badan Om Liem menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu.

    Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhiku habis habisan serta merengut keperawananku yang selama ini menjadi Primadona SPG di perusahaanya. Senyum puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh ku yang tergolek tak berdaya di bawah pelukannya. Om Liem pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan, tubuhnya tampak lemas diatas tubuhku. Perlahan kudorong tubuh gemuknya kesamping agar tak membebani tubuhku. Ahirnya akupun tertidur kelelahan dipelukan Om Liem setelah beberapa ronde tadi melayani napsu birahinya yang tak putus putus. Sore harinya kembali aku digarapnya di kamar mandi ketika dipaksa mandi bersama, sambil berdiri merapatkan punggungku ketembok Om Liem kembali menggoyangku, sebelah kakiku diangkatnya keatas sehingga penisnya leluasa keluar masuk vaginaku, aku merintih rintih kecil dibuatnya. Sore itu aku terpaksa melayaninya sampai Bandot itu mendapatkan kepuasan dan dia semprotkan semua maninya dalam vaginaku.

    Setelah puas mengerjaiku barulah Om Liem mau melepaskanku dan mengantarkanku pulang. Sepanjang Jalan, aku hanya diam membisu disamping Om Liem yang mengemudikan mobil, Aku masih sakit hati padanya yang telah berhasil memperdayaiku, Tubuhku habis habisan dikerjainya, Vaginaku masih terasa sakit akibat paksaannya bersetubuh, bagian tubuhku yang tersembunyipun penuh dengan warna merah bekas cupangannya terutama dibagian buahdada dan paha putihku. Yang lebih menyakitkan lagi Om Liem mengambil celana dalamku tanpa dapat kutolak, katanya setiap gadis yang berhasil diperawaninya akan dikoleksi celana dalamnya bersama bercak-bercak darah perawan yang masih menempel.Sudah puluhan koleksi disimpannya. Terpaksa Saat itu aku pulang dengan menggunakan rok tanpa celana dalam.

    “Bila kamu butuh uang lagi, kamu bisa hubungi aku lagi Shinta… tentunya kamu tak keberatan khan, memberikan kenikmatan tubuhmu itu… he..he… “kata Om Liem sebelum aku turun dari mobilnya. Aku diam saja sambil berlalu darinya, sudah pukul 6 sore saat aku tiba didepan rumahku.

    Ternyata hampir seharian aku dikerjai bandot tua itu. Suatu saat akan kubalaskan dendamku ini, akan kuhabiskan hartanya, tunggulah tak akan lama lagi waktu itu akan tiba, kau harus bayar mahal kenikmatan yang kau dapat dari kemulusan tubuhku.

    Inilah pengalaman pertamaku yang kuceritakan secara vulgar buat pembaca, lain waktu aku akan ceritakan lagi kehidupan sexualku setelah kejadian ini dimana aku mulai terjerumus kedunia gadis panggilan High class, para pelangganku adalah pejabat dan pengusaha ternama di Jakarta.

    Tak ada pelanggan yang kecewa dengan kecantikan dan kemulusan tubuhku plus layanan istimewa. Hanya lelaki berduit saja yang dapat menjamah keindahan tubuhku ini.

  • Memperkosa Sampai Hamil Ibu Cantik

    Memperkosa Sampai Hamil Ibu Cantik


    116 views

    Ceritamaya | Nama saya Juandy Wijaya, berusia 25 tahun. Saya sangat suka membaca cerita – cerita tentang pemerkosaan dan menonton film yang berbau pemaksaan ketika ngentot. Dan saya tidak pernah menyangka akan mengalami pengalaman yang luar biasa, yang awalnya hanya berada di dalam imajinasi saya saja yang sekarang menjadi kenyataan dan membuat saya lumayan sadis dan gila. Sebagai perkenalan saya lebih akrab dipanggil Andy oleh orang di dekat saya, dengan wajah lumayan dan modal dompet yang memudahkan bagi saya untuk menggaet wanita nakal dan matre ke atas ranjang.

    Namun saya cukup susah dalam merebut hati wanita yang saya cintai yang pastinya tipikalnya wanita cantik dan baik hati. Lama kelamaan saya justru tertarik akan sensasi pada wanita-wanita yg berbeda, wanita yang baik, lembut, wanita stengah baya atau wanita cantik yang berpakaian sopan. Awalnya itu semua hanya fantasi saya saat nyoli atau pada saat menyewa pecun yang sangat mudah saya dapatkan, hingga semua imajinasi saya menjadi kenyataan, salah satunya yang ingin saya ceritakan saat ini saat saya memperkosa seorang ibu muda yang cantik hingga akhirnya wanita itu hamil. Begini ceritanya…

    Peristiwa ini terjadi ketika malam itu saya pulang dari diskotik. Kala itu sudah menunjukkan pukul 3, saya memilih cepat pulang karena bertemu salah seorang anak kampus saya. saya cuma tidak ingin teman2 dikampus tau betapa bajingan saya sebenarnya. Sebelum pulang saya menyempatkan mampir ke salah satu restaurant siap saji.yah seperti biasanya diramaikan oleh para muda-mudi pecinta dugem yang kelaparan setelah berjoget dan mabuk bersama di diskotik. Sebuah pemandangan yang membosankan menurut saya. Tapi tidak disangka malam itu berbeda,di depan saya mengantri seorang ibu muda dengan umur sekitar 30an dengan suaranya yang lembut menelpon anaknya dirumah bilang kalau dia sedang menuju pulang.

    Ketika beranjak pergi dia pun tersenyum manis kepada saya,entah karena ketahuan kalau saya mencuri pandang. Dasar jodoh ketika di parkiran pulang,si cantik itu terlihat stress melihat ban mobilnya kempes. saya pikir ini kesempatan saya, yaa minimal kenalan lah.. hehehehe….

    Saya : Permisi mbak..kenapa mobilnya ??

    Target : Eh ini dek, ban mobil saya kempes. mana ban serapnya ga ada. kamu tau tempat tambal ban terdekat ngga ?

    Saya : wah kalau daerah sini ga ada mbak,ada Cuma sekitar 5 km dari sini, itupun sudah tutup barangkali

    Target : Aduh gimana ya ? padahal saya buru-buru karena anak saya sendirian di rumah

    Saya : gini aja mbak, kalau mbak berkenan saya bantu biar saya antar aja mbaknya.. mobilnya mbak kunci dan titip disini aja. disini aman kok mbak, kebetulan yang punya restauran ini teman saya,nanti saya bantu urus, besok biar saya antar mobil mbak kerumah.gimana ? oh ya kenalin saya Juandi mbak

    Target : aduh gimana ya dek ? nggak ngerepotin ? ngga usah aja.. biar mbak naik taksi aja..

    Saya : takut ngerepotin apa takut saya jahat mbak ? hheee..tenang aja..saya Cuma niat nolong kok mbak..mbak bisa pegang omongan saya..

    Target : mmm.. iya deh.aduh maaf ya dek udh ngerepotin

    Dijalan kami pun saling bercerita,akhirnya saya tahu kalau mbak cantik ini bernama Maya, berusia 32 tahun. Salah seorang karywati bank swasta. Suaminya sedang dinas di luar kota. Setelah sampai di rumah mbak Maya, saya ditawari masuk namun saya menolak dan berjani akan mengantar mobil si Maya besok pagi. Sesampai dirumah, saya hanya terfikirkan betapa menggairahkannya si Maya, wajahnya yang cantik, kulitnya yg putih bersih, dan yang bikin saya sangat bernafsu adalah payudaranya yang proporsional. Sampai pagi saya tidak bisa tidur, bahkan saya mencoba menyoli namun tetap terbayang betapa nikmatnya saat kontol saya dihisap si Maya, betapa legitnya vagina mbak Maya, betapa menggairahkan nya desahan dan teriakan minta ampun mbak Maya…

    Akhirnya saya putuskan untuk melancarkan aksi pemerkosaan pertama saya besok.

    Keesokan harinya,saya langsung menuju restaurant teman saya, setelah urusan mobil mbak Maya selesai saya dengan menggunakan mobil mbak Maya langsung menuju rumahnya di salah satu kawasan elit. Namun saat saya sampai dirumahnya, rumahnya kosong.. Saya telpon si Maya ternyata dia sedang mengantar anak nya ke tempat les. Sambil menunggu saya kembali memikirkan rencana busuk saya, si Maya pasti akan saya perkosa dan bakal saya rekam untuk jaga2 supaya dia tidak melapor kepada siapapun. Membayangkan nya saja penis saya semakin tegang.

    Beberapa menit kemudian mbak Maya datang dengan motor maticnya, Pagi itu mbak maya mengenakan kemeja berwarna pink dengan roknya..

    Maya : Aduh udah lama dek Andy ?

    Saya : ah ngga mbak,baru aja

    Maya : ayo masuk dulu..sekarang g boleh nawar ya..harus mampir dulu

    Saya : heehehe ..iya mbak

    Memperkosa Sampai Hamil Ibu CantikSesampainya didalam kami pun bercerita mulai dari cerita mbak maya tentang keluarganya dan juga tentang saya. tidak terasa sejam berlalu dan mbak maya akan mengantar saya kembali ke restoran utk mejemput mobil saya.. Saat itu saya sangat gugup dalam melancarkan aksi saya…

    Maya : Bentar ya Ndy,mbak ke kamar bentar ambil hp

    Saya : iya mbak..

    Ketika Maya berjalan kekamar saya beranikan diri untuk memukul tengkuknya dari belakang dua kali lalu menggotongnya ke kamar, antara setengah sadar maya sadar niat jahat saya..

    Maya : apa2an ini ndy.. kamu jangan kurang ajar ya.. toloooongg.. toloongg….

    Saya : sssttt.. diam sayang.. karena saya kurang ajar tolong ajari saya ya…

    Maya : bajingan, toloooong… tolooongg….

    Sayapun dengan sigap membuka paksa kemeja maya,breettt..breettt dgn bebrapa hentakan terlihatlah belah payudara putih yang sangat mulus di balik bra hitam berenda milik Maya,sayapun segera mencium menjilat dan meremas payudara maya dengan ganas

    Saya : mmmm…enak mbak ? sllphhh…slpp

    Maya : Bajingaaan toloongg..ampuuunn..apa salah saya Ndy ?? arrragg bajingan… aarghhh…

    Saya : salah mbak Cuma satu, mbak itu terlalu cantik.. hahahaha..

    Baca Juga : Di Dalam Kamar Kost

    Setelah puas bermain dengan payudaranya saya buka rok nya dan celana dalamnya lalu saya tusuk memeknya saya gelitik sekali – kali saya jilat

    Maya : ohhh…aargghh…lepaskan …lepas Ndy..lepaskannn…..

    Saya : iya sayang,nanti saya lepaskan penis saya ke memek mbak maya…sabar ya saayang…hahhahaa

    Maya : aarrhhh tolong.. bajingan lepaskan sayaaahh….

    Saya : hahhahaaa…teriak sayang ayo berteriak

    Maya : bajingann kamu aarrrrhhhh.. tidaaak aargghhh…

    Saya : dasar tante girang, sok nolak ternyata muncrat juga

    Setelah Maya mencapaii orgasme pertamanya, dia kelihatan cukup shock dan lemas, dan saya pun mulai beraksi kembali

    Saya : Okee sayang,sekarang giliran kamu yg kerja yah… Saya pun menyodorkan penis saya yang sangat tegang ke wajah maya yang telah basah oleh air mata..

    Saya : ayo pelacur !!! hisap kontol gue

    Maya : hmmmpphh..ngga mauu..mmppphhh..cuihhh

    Saya pun mencubit hidung maya sampai dia kehabisan nafas.. ketika mulutnya menganga mengambil nafas ketika itulah penis saya masuk ke mulutnya

    Saya : aaarrghhh nikmat sayang.. ayo kulum ( sambil membelai rambut maya dan memaju mundurkan kepalanya ) ketika itu lah saya merekam adegan tersebut

    Maya : slllpphh….sllppphhh…

    Lama kelamaan maya mulai tenang dan mengulum penis saya dengan baik,bahkan sambil mengocok penis saya maya menatap saya dengan pandangan nakalnya. Saya tau ini taktik maya agar saya keluar,lelah dan menyudahi pemerkosaan ini. Tapi taktik maya ini terbaca… Setelah merasa hampir keluar saya menyuruh maya berhenti..

    Saya : STOP !!! it’s show time honey !!!

    saya pun mendorong maya yang berlutut dan membuka kakinya terlihatlah vaginanya yang tanpa bulu dan imut seperti orangnya. Kelihatannya masih lumayan legit

    Saya : Ayo sayang..siap berpesta ??? mmm..

    Maya : saya mohoon jangann…. saya akan oral kamu tapi toloong jangan masukkan..

    Saya : hahhahaa..eenak saja,,,terima ini sayang…arrrrggg

    Dengan sekali hentakan amblaslah penis saya ke vagina maya. rasanya sangat legit seperti kontol saya dipijit.. dan yang pastinya berbeda dengan pelacur yang selama ini saya bayar.

    Saya : Oohhh nikmatnya sayang..ayo ngangkang dikittt,,,,arrghhh…aaagghhh..

    Maya : lepaskan bajingan ..aaarghh…ahhhh..ahhh…lepasss…saya akan bayar kamu berapa pun tapi tolong lepaskan saya…ahhh

    Saya : pllllaashh..saya pun menampar maya.Dasar pelacur saya tidak butuh uang kamu…diam dan layani saya kalau tidak ingin mati…argghh..nikmatnya ahhh..ahhhh

    Maya ; hikss..tolong.. toloongg ahhh….hiksss

    Saya : hahahaha ayo Maya lihat mata saya,,,tatap ayah anakmu nanti hahhahaa ahhhh

    Maya : ahhh tidak andi ahhhh saya keluar ahhh,,bajingaaaannn

    Saya : ahhh ayo sayang arghh ahhhh,,,tahan sayang kita keluar bareng

    Maya : ahhh tidak saya mhon janggaannn,,,jangan keluar di dalam.. jangannn ahhh jangan cbut.. cabuuuutt… jangan di daaalaaaamm ohhh tidaaaaakkkkk

    Saya : ahhhh saya keluar sayang ahhh crooooott….crooooooottttttttttt

    Maya : hiksss…bajingan kamu… bajingannnn bangsaaaatt hiksss…hiksss

    Saya : makasih ya sayang..titip anak saya ya..hahhahaahha..

    Maya : bangsat kamuuuu.. saya akan laporkan ke polissii

    Saya : silahkan sayang, kecuali kamu ingin rekaman mu saat mengulum kontol saya tersebar di kantormu atau bahkan di internet

    Maya : bajinggaaannnn !!! baiklah tapi tolong jangan beritahu siapa – siapa

    Saya : tergantung sayang muachhhh saya pun mengecup bibir sexynya,makasih sayang….

    Setelah itu saya pulang meninggalkan maya yang tertidur pasrah bugil diatas ranjangnya.. Setelah itu saya tidak pernah mendengar kabar tentang Maya,dan saya pun tidak ingin tau kabarnya sampai suatu hari tiga bulan setelah kejadian itu Maya sms saya yang isinya : Ndy..saya hamil..dan ini anak kamu,tapi hanya kita yang tau,,suami ku pun tidak curiga sama sekali.aku hanya ingin kamu tau kalau kelak aku akan melahirkan anakmu meski kamu tidak mengetahuinya.. dan anak ini kelak lebih baik tidak tau kalau ayahnya bajingan seperti kamu..

  • Di Dalam Kamar Kost

    Di Dalam Kamar Kost


    61 views

    Ceritamaya | Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Biasa teman-temanku memanggilku Nana (nama lengkap/aslinya ga usah disebut yah), lahir tahun 83. Tubuhku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar tubuh 86/60/90. Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong ,dan kulit putih karena aku WNI keturunan. Saat ini masih kuliah di fakultas sastra di salah satu universitas swasta di Bandung dan ngekost tidak jauh dari kampusku. Aku termasuk gadis yang sering ke salon dan modis, maka aku sudah tidak asing dengan tatapan nakal cowok-cowok di kampus kalau aku memakai pakaian yang ketat atau agak seksi, apalagi ketika ngedugem dimana aku memakai pakaian yang lebih terbuka. Dalam percintaan, secara jujur kuakui aku bukan type yang setia. Aku sudah mempunyai pacar yang sedang kuliah di Amerika sehingga kami jarang bertemu, kami sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan aku mencintainya, tapi darah muda dalam diriku melibatkanku dalam beberapa hubungan one night stand dengan teman kuliah maupun teman dugem, bagiku semua itu hanya hubungan badan tanpa merubah perasaanku pada pacarku.

    Kisahku ini terjadi pada pertengahan tahun 2004 yang lalu yaitu libur akhir semester. Waktu itu teman kostku sudah banyak yang pulang, di kostku hanya tersisa seorang pria, dan dua wanita termasuk diriku. Yang dua itu tidak pulang karena ikut semester pendek, tapi aku belum pulang karena waktu itu di rumahku tidak ada siapa-siapa berhubung kedua  orangtuaku sedang menghadiri pernikahan di kota lain dan kakakku satu-satunya sudah dua tahun yang lalu menikah dan ikut suaminya. Jadi pemikiranku lebih baik kutunda kepulanganku sampai papa dan mamaku pulang 2-3 hari lagi, daripada kesepian di rumah mendingan kuisi waktuku untuk having fun bersama teman-temanku di Bandung. Malam itu aku ngedugem di salah satu tempat dugem di jalan Cihampelas. Teman-temanku mencekoki minuman sementara aku tidak kuat minum, mereka bilang untuk merayakan kenaikan IPK-ku. Aku mabuk sehingga dalam perjalanan pulang dengan mobil Ocha aku numpang ke WC di rumah Risa waktu sampai di rumahnya karena tidak tahan mau muntah. Setelah muntah akupun masih pusing-pusing sehingga terpaksa aku minta Risa untuk menginap di rumahnya semalam saja daripada pulang ke kost dalam keadaan sempoyongan, kan ga enak dilihat.

    Singkat cerita akupun menginap di rumah Risa malam itu dan baru terbangun besoknya, hari Minggu jam sebelasan. Kepalaku masih agak berat.

    “Lu orang sih, nyuruh gua minum terus, aduh kaya mau mati aja kemarin rasanya tau !” omelku pada Risa.

    “Hihihi, gapapa lah Na sekali-kali aja, kan kita baru selesai semester nih !” jawabnya tertawa kecil mengingat keadaanku kemarin.

    Akhirnya setelah makan sedikit, Risa mengantarku pulang ke kostku di daerah Sukamekar. Kumasuki pintu gerbang kostku, suasanya sepi seperti beberapa hari terakhir. Di depan pos jaga aku berpapasan dengan Gungun, pegawai/ penjaga kostku yang berusia dua puluhlimaan sedang ngobrol-ngobrol dengan dua orang pemuda yang kira-kira sebaya dengannya, aku tidak tahu siapa mungkin temannya yang penduduk sekitar sini. Aku tersenyum kecil sebagai basa-basi dan mereka membalasnya.

    Terasa sekali mereka memandangi tubuhku yang masih memakai pakaian seksi semalam berupa sebuah rok putih sejengkal di atas lutut dan tank top berdada rendah yang memperlihatkan sedikit belahan dadaku. Aku mempercepat langkahku ke tangga, di dekat tangga akupun berpapasan lagi dengan pegawai kostku yang lain, si Acep yang masih berusia SMA, sekitar enambelas tahun, orangnya agak culun, berambut cepak dan kerempeng, dia sering bertugas membelikan barang pesanan dan mengantar makanan untuk kami, para penghuni disini.

    “Eh…Neng, baru pulang yah !” sapanya sambil cengengesan.

    Aku hanya menjawab iya saja lalu menaiki tangga, instingku mengatakan kalau dia berusaha mengintip rokku yang mini ketika aku naik, sempat terlihat sekilas olehku ketika sampai di lantai dua dan membelok. Sampai di kamar, aku langsung membuka pakaianku dan masuk ke kamar mandi, langung kubuka shower dan kuguyur tubuhku dengan air dingin, segar sekali rasanya, udara di luar waktu itu lagi panas ditambah lagi panas alkohol masih sedikit terasa dari dalam tubuhku.

    Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun sambil mengelap rambutku dengan handuk. Kuambil celana dalam kuning dan kupakai. Aku tidak menemukan baju barongku yang biasa kupakai tidur di gantungan di pintu, baru ingat kalau baju itu sudah kutaruh di tempat cucian. Karena malas mencari baju lain di lemari, akupun lantas melempar diriku ke kasur. Biar saja tidur hanya dengan celana dalam, apalagi cuacanya lagi panas, kipas anginnya juga kumatikan. Kututupi tubuhku dengan selimut dan kupeluk guling kesayanganku untuk melanjutkan tidurku yang masih belum puas ditambah masih sedikit pening, maklumlah orang ga kuat minum di suruh minum banyak ya gini nih jadinya. Entah berapa lama aku tertidur lelap sekali sampai kurasakan ada rasa geli pada tubuhku, secara refleks tanganku menepis dan menggulingkan tubuh ke arah lain. Namun perasaan itu datang lagi dengan lebih hebat, kali ini juga kurasakan pada paha dan dadaku seperti ada yang mengenyot. Kali ini aku terbangun dan kaget sekali melihat ternyata benar-benar ada orang yang sedang mengenyot dadaku dan seseorang lainnya sedang menjilati pahaku. Spontan akupun menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Ketika aku meronta, gerakanku langsung terkunci oleh tangan-tangan yang memegangi kedua tangan dan kakiku.

    Aku mengedip-ngedipkan mata memperjelas pandanganku, aku makin terperanjat dengan keempat wajah menyeringai diatasku, wajah yang tak asing bagiku. Yang dua adalah pegawai kostku, Gungun dan Acep dan dua orang temannya yang kutemui di bawah tadi. Aku tidak habis pikir bagaimana mereka bisa masuk sini, padahal pintu sudah kukunci, tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu, sekarang harusnya memikirkan apa yang harus kulakukan menghadapi situasi ini.

    “Halo Neng, maaf yah kita masuk sini diam-diam abis ga tahan liat body Neng yang bahenol !” kata Gungun.

    “Emmphh…eemhhh !” aku berusaha berteriak walau mulut masih dibekap sambil meronta ketika Gungun meraba payudaraku.

    “Udahlah Neng, ga usah ngelawan terus, disini lagi gak ada siapa-siapa kok !” sahut orang yang membekapku yang berambut agak bergelombang dan matanya besar.

    Di Dalam Kamar KostDalam situasi makin kritis seperti ini aku mulai berpikir ulang, aku pernah membaca berita tentang pembunuhan di kost, melawan mereka yang sedang kalap mungkin saja malah mencelakakanku, bukankah lebih baik pasrah saja menuruti mereka. Lagipula aku ini kan bukan perawan dan pria yang pernah main denganku bukan hanya pacarku, bedanya cuma mereka sama-sama WNI keturunan dan yang empat ini bukan. Yah, anggap saja tambah pengalaman seks lah, begitu pikirku positif. Yang masih membuatku risau adalah apakah aku sanggup melawan empat orang sekaligus mengingat seumur hidup aku selalu bermain konvensional satu lawan satu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk mencoba rasanya digangbang. Seiring dengan birahiku yang mulai naik, rontaanku pun berangsur-angsur berkurang berganti menjadi kepasrahan. Darahku berdesir dan bulu-buluku merinding ketika tangan-tangan itu menggerayangi tubuhku, ciuman dah jilatan juga menghujani tubuhku. Salah seorang teman Gungun tadi menarik lepas celana dalamku. Keempat orang itu menelan ludah menyaksikan keindahan tubuhku yang sudah telanjang bulat, terutama Acep sepertinya ini baru pertama kali dia melihat tubuh wanita secara nyata.

    “Anjrit, jembutnya lebat banget euy !” kata Gungun sambil merabai kemaluanku yang berbulu lebat tapi rapi, karena sering kucukur rapi tepiannya agar tidak keluar-keluar kalau memakai baju renangku yang seksi.

    Teman Gungun yang rambutnya gondrong sebahu menciumi payudaraku, digigit dan disedot-sedotnya putingku yang sensitif. Kuncian mereka terhadapku mengendur dan tangan yang membekap mulutku juga sudah lepas. Kepalaku menggeleng-geleng ketika Gungun mau menciumku, tapi dia lalu memegangi kepalaku sehingga aku tak bisa lagi menghindari mulutnya. Rangsangan yang datang bertubi-tubi membuatku semakin horny dan mulutku pun membuka menerima serangan lidah Gungun, mau tak mau aku harus beradaptasi dengan bau mulutnya. Kumainkan lidahku mengimbangi lidahnya yang menari-nari di mulutku. Ketika asyik berciuman dengan Gungun setidaknya ada dua jari yang bermain di vaginaku, aku tidak tahu siapa itu karena aku biasa memejamkan mata kalau berciuman agar lebih menghayati, selain itu tangan yang menggerayangiku ada empat pasang sehingga tidak sempat mengenalinya satu-satu.

    Lama juga Gungun menciumiku, itu dia lakukan sambil tangannya menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, hampir lima menit kira-kira, begitu mulutnya lepas aku akhirnya lega bisa kembali menghirup udara segar walau dengan nafas sudah memburu.Ketika kubuka mata, kulihat di sebelah kananku teman Gungun yang matanya besar itu sedang mengenyoti payudaraku dengan rakusnya, dia sudah membuka pakaiannya, aku melihat penisnya yang sudah tegang itu menggantung di selangkangannya, bentuknya panjang dengan kepalanya disunat. Iihhh…geli sekaligus terangsang membayangkan aku harus mengulum dan dimasuki benda itu. Si Acep sedang menjilat dan meraba tubuh bagian sampingku (sekitar perut, paha, dan dada), dia juga masih memakai kaos oblongnya tapi celananya sudah dibuka, penisnya yang juga bersunat lumayan juga untuk seumuran dia. Ternyata yang daritadi mengorek vaginaku adalah si pemuda gondrong, kini dia bahkan mendekatkan wajahnya ke sana dan uuhh…lidahnya menyentuh bibir vaginaku dan terasa menggelitik nikmat tubuhku sampai menggeliat karena itu. Aku bingung apa yang kualami saat itu termasuk perkosaan atau bukan, dibilang ya bisa juga karena awalnya mereka yang memaksa, tapi dibilang tidak juga bisa karena toh aku juga mulai menikmatinya.

    “Memeknya enak, wangi loh mmm…ssluurrpp !” sahut si gondrong di bawah sana.

    “Oh, ya…nanti juga saya mau nyicipin yah, makannya cepet !” kata Gungun.

    “Jangan lama-lama yah, nanti kita kebagiannya bau jigong lu” timpal si mata besar

    Kini Acep sudah mencaplok payudaraku dengan mulutnya, walau kelihatan culun jilatannya membuat putingku makin menegang. Gungun juga membuka pakaiannya hingga telanjang. Wah, anunya juga ga kalah gede dari kedua temannya, tinggal milik si gondrong saja yang belum kulihat karena dia masih sibuk menjilat vaginaku. Aku harus mengakui enak sekali diperlakukan seperti ini, dalam seks satu lawan satu aku tidak pernah merasakan bagian-bagian sensitifku dimainkan dalam saat bersamaan.

    “Uuhh-eeemm….aaahh !” aku tak tahan untuk tidak mendesah ketika lidah si gondrong menyapu bibir vaginaku, bukan cuma itu, jarinya pun ikut keluar masuk di sana.

    Hal itu berlangsung sekitar lima menit lamanya, kemudian Gungun mengambil posisinya.

    “Hayo sini, saya juga mau rasain, gantian dong !” katanya menyuruh si gondrong menyingkir.

    Langsung Gungun melumat bagian selangkanganku itu dengan bernafsu, tangannya memegangi kedua pahaku sambil mengisap dan menjilat, mulutnya terbenam di kerimbunan bulu kemaluanku, gayanya seperti makan semangka saja. Serangannya lebih mantap dari si gondrong yang cenderung monoton, lidah si Gungun sepertinya agak panjang sehingga ketika menyusup ke dalam vagina benda itu menyentuh klitorisku juga menjilati dinding kemaluanku, kontan akupun makin menggelinjang tak karuan. Ketiga orang lainnya tertawa-tawa dan berkomentar jorok melihat reaksiku, mereka pun makin bersemangat mengerjaiku. Payudaraku sedikit nyeri ketika dipencet-pencet si mata besar dengan gemasnya. Si gondrong yang kini sudah membuka bajunya berlutut di sebelahku memegangi penisnya untuk disodorkan padaku.

    “Diisep Neng, enak loh !” suruhnya sambil menggosokkan kepala penis itu ke wajah dan bibirku.

    Walau sebenarnya geli dengan kemaluannya yang hitam dengan kepala kemerahan itu, aku tertantang juga untuk mencobanya, maka kugenggam batang itu dengan tangan kiri dan kuawali dengan menyapukan lidah pada kepala penisnya. Dia langsung mendesah keenakan karenanya. Entah kekuatan apa yang membuatku demikian liar, padahal sebelumnya dekat-dekat orang seperti mereka saja aku enggan, apalagi untuk ML.

    Awalnya aku sangat tidak nyaman dengan aroma penisnya, namun mau tidak mau aku harus membiasakan diriku. Aku berusaha tidak menghirupnya dan kuemuti dalam mulut sambil sesekali mengocok dengan tangan, kesempatan itulah yang kupakai untuk mengambil udara segar. Sementara rasa geli pada vaginaku kian menjalari tubuhku, rasanya seperti mau pipis. Tubuhku menggelinjang, aku tidak tahan lagi dan mencapai orgasme pertamaku, dari vaginaku keluarlah lendir yang dijilatinya dengan lahap.

    “Eh-eh, gantian dong, saya juga mau ngerasain pejunya si Neng !” kata si Acep

    Acep menggantikan posisi si Gungun, dia menjilati sisa-sisa cairan kemaluanku. Jilatannya tidak selihai Gungun, maklum karena dia masih hijau, baru pertama kalinya menikmati wanita. Dia lebih suka menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya yang memberi rasa geli. Sekarang Gungun berlutut di sebelah ku dan meraih tanganku digenggamkan ke penisnya. Keras dan hangat, begitulah kesan pertama begitu jari-jariku melingkari batang itu. Mulailah aku mengocok penis itu dengan tangan kiriku dan yang kanan memegangi milik si gondrong sambil mengoralnya. Si mata besar masih menyusu dengan nikmatnya pada payudaraku, sepertinya dia ketagihan dengan payudaraku yang montok itu.

    Acep tidak lama menjilati vaginaku, posisinya digantikan oleh si mata besar yang tidak sabar menunggu giliran, karena paling kecil diapun mengalah pada temannya. Si mata besar mencium vaginaku dengan bernafsu dan terkesan terburu-buru. Aku dibuatnya semakin bergairah melayani kedua penis yang menodongku, secara bergantian kukocok dan kuoral menirukan apa yang pernah kulihat di film porno di rumah temanku. Rasa jijikku pada penis hitam yang kepalanya seperti jamur itu perlahan-lahan sirna. Gungun mengungkapkan ekspresi nikmatnya dengan meremas payudaraku yang digenggamnya, sedangkan si gondrong sambil menekan-nekan penisnya ke mulutku ketika gilirannya dioral seolah tidak rela melepaskannya. Ditambah lagi Acep sedang asyik memainkan putingku, benda mungil berwarna merah kecoklatan itu dia pilin-pilin dengan jarinya sesekali juga dijilati. Si mata besar pun tidak lama-lama menjilati vaginaku, dia lalu bangkit berlutut diantara kedua pahaku dan menempelkan kepala penisnya di bibir vaginaku.

    Kuhentikan sejenak aktivitas terhadap dua penis dalam genggamanku untuk memperhatikan penis si mata besar mendesak memasuki vaginaku. Kutahan nafasku sambil menggigit bibir, proses penetrasi itu kuresapi dalam-dalam. Setelah masuk sebagian dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menghujam sampai mentok, spontan aku pun menjerit kecil dan merapatkan pahaku.

    “Waaah…enak pisan, sempit oi !” katanya setelah berhasil membobol vaginaku.

    Tanpa buang waktu lagi dia menggenjotku, penis itu keluar-masuk vaginaku. Aku meneruskan kocokanku terhadap si gondrong dan Gungun, rasa nikmat yang menjalari tubuhku semakin membuatku bersemangat mengocok kedua penis itu. Si Acep juga makin seru mengisapi payudaraku sampai basah kuyup oleh ludahnya juga oleh ludah orang-orang yang tadi mengisapnya. Tak lama kemudian, ketika aku sedang mengulum penis Gungun, sesuatu yang basah dan hangat menerpa wajah dan leherku dari samping. Ow, ternyata si gondrong sudah keluar, kulepas sejenak penis Gungun dari mulutku, semprotan berikutnya makin membasahi wajahku begitu aku menengok menghadap todongan benda itu.

    “Uhh…isepin yah Neng !” lenguhnya seraya menjejali mulutku dengan penisnya.

    Dalam mulutku penis itu masih menyemburkan isinya dan itu kuhisapi tanpa memikirkan rasa jijik lagi walaupun baunya yang agak menyengat, mungkin karena saking terangsangnya sampai tidak sadar aku jadi seliar itu. Sampai sejauh ini ponselku yang kutaruh di meja sana sudah berdering sekali dan dua SMS sudah masuk, kubiarkan saja karena tanggung. Aku dapat merasakan penis si gondrong menyusut dalam mulutku dan pemiliknya terengah-engah.

    “Yee, payah lu, belum nojos udah ngecrot  !” ledek Gungun pada temannya.

    “Enak pisan sih anjrit, sampe ga tahan !” balas si gondrong

    Sekarang si mata besar mengajak ganti posisi, mereka lalu membalikkan tubuhku hingga telungkup. Akhirnya ganti posisi juga pikirku, aku sudah gerah daritadi berbaring telentang sambil dikerjai mereka, punggungku panas sekali rasanya dan benar saja keringatku sudah membasahi sprei dibawahku tadi. Perutku diangkat dari belakang hingga posisiku seperti merangkak. Kutengokkan kepalaku ke belakang dan kulihat si mata besar kembali memasukkan penisnya ke vaginaku.

    Tusukan-tusukan kembali kurasakan, kali ini lebih cepat dan dalam. Di depanku si Acep berlutut minta giliran merasakan mulutku. Akupun membuka mulut mempersilakan batang itu memasukinya. Kuemut benda itu tanpa menghiraukan lagi baunya, tidak terlalu besar tapi cukup keras, namanya juga barang ABG. Aku melirik ke atas melihat anak itu merem-melek menikmati kulumanku, lucu juga reaksinya yang amatiran itu.

    “Gimana Cep, asyik ga diemot kontolnya ?”

    “Si Acep udah gede euy !”

    Celoteh-celoteh yang ditujukan pada si Acep itulah yang sempat kudengar waktu itu. Sambil terus mengoral Acep, akupun selalu menggoyang pantatku mengikuti genjotan si mata besar, terus terang rasanya enak sekali seperti diaduk-aduk. Payudaraku yang menggelayut sedang dipegang-pegang si gondrong yang sedang mengistirahatkan penisnya. Tangan kananku menggenggam penis si Gungun dan mengocoknya pelan.

    “Pelan-pelan aja kocoknya Neng, ga pengen cepet-cepet ngecrot sih !” demikian katanya.

    Sibuk sekali aku jadinya dan udara sekitarku serasa makin panas karena dikerubuti empat orang ini, mana badannya lumayan bau lagi. Hanya birahi yang meninggilah yang mengalihkanku dari semua itu.

    Sekitar lima belas menit menggenjotku, si mata besar sepertinya mau keluar, kelihatan dari sodokannya yang makin cepat.

    “Annjjiiinngg…aaahhh !” lenguhnya panjang diiringi semprotan spermanya di dalam vaginaku yang tak bisa kutolak.

    Sialan juga nih orang pikirku, sembarangan main buang di dalam, ga minta ijin atau omong dulu kek padahal gak pake kondom, untung waktu itu aku tidak dalam masa subur, kalo iya kan amit-amit harus hamil sama orang-orang ginian. Begitu penisnya lepas, aku merasa cairan hangat meleleh membasahi paha atasku. Gungun langsung mengambil alih posisinya menusukkan penisnya padaku seolah dapat membaca apa yang ada dalam hati kecilku yang masih ingin digenjot karena belum mencapai klimaks alias tanggung. Si Acep yang masih kuoral nampaknya makin menikmati saja, tanpa sadar dia memaju-mundurkan pinggulnya seakan sedang menyetubuhi mulutku. Dia mengeluarkan spermanya dalam mulutku saat Gungun menggenjotku dengan ganasnya sehingga aku tidak bisa konsentrasi mengisap penis itu, maka cairan itupun meleleh sebagian di pinggir bibirku.

    Baca Juga : Olga Lydia XXX

    Setelah Acep melepas penisnya yang telah kubersihkan dari mulutku, lengan Gungun mengangkat dadaku sehingga kini aku berlutut, Gungun tidak berhenti menggenjotku sambil menopang tubuhku dengan lengannya yang melingkari perutku. Si mata besar sambil mengistirahatkan senjatanya menggerayangi payudaraku yang membusung dalam posisi itu. Si gondrong memintaku kembali mengoral penisnya yang sudah mulai bangkit lagi, sepertinya dia suka dengan pelayanan mulutku. Kugenggam penisnya yang disodorkan padaku, ih…masih lengket-lengket bekas spermanya tadi, sedikit jijik aku dibuatnya namun juga tak kuasa menolaknya. Serta merta kumasukkan benda itu kemulutku, kujilati sisa-sisa spermanya hingga bersih. Di dalam mulutku benda itu semakin mengeras dan bergetar.

    “Pelan-pelan aja Neng, buat persiapan ngejos di bawah nanti !” katanya.

    Tak lama kemudian tubuhku kembali mengejang, seperti ada yang mau meledak di bawah sana. Aku melepas kulumanku untuk melepaskan desahan yang tak bisa kutahan lagi, lendirku pun kembali keluar bersamaan dengan tubuhku. Orgasme kali ini terasa lebih panjang, Gungun masih menggenjot sampai 2-3 menit kemudian hingga akhirnya diapun menghujam penisnya lebih dalam dan mempererat pelukannya. Dia menggeram dan memuntahkan spermanya ke dalam vaginaku, hangat kurasakan di dalam sana. Kami break sebentar sekitar lima menitan. Saat itu Gungun dan Acep memperkenalkan dua orang itu kepadaku, yang gondrong namanya Amad dan yang matanya melotot itu namanya Ifud, memang benar keduanya adalah teman mereka yang tinggal di pemukiman penduduk tak jauh dari sini.

    Gungun juga bercerita bagaimana mereka bisa masuk sini. Ternyata mereka iseng mengintipku waktu keluar dari kamar mandi tanpa busana tadi lewat lubang angin diatas pintu kamarku dengan memakai bangku tinggi. Tadinya sih hanya sekedar mau ngintip, tapi tak lama kemudian waktu Amad dan Ifud mau pulang mereka ingin ngintip yang terakhir kali dan menemukanku telah terlelap hanya dengan memakai celana dalam dan selimut yang tersingkap. Situasi kost yang sedang sepi dan nafsu setan mendorong mereka berencana memperkosaku. Maka setelah yakin aku benar-benar tidur, Gungun mencongkel kaca nako yang tepat di sebelah pintu lalu meraih grendel sehingga mereka bisa masuk dan terjadilah seperti ini. Aku sebenarnya marah mendengar semua itu, lancang sekali mereka berbuat begitu, ini kan pemerkosaan namanya, tapi mau marah gimana juga toh aku menikmatinya, salahku juga berpakaian mencolok di depan mereka. Aku menatapi mereka satu-persatu yang memandangi tubuh telanjangku dengan tatapan kesal sekaligus berhasrat. Tidak tau mau omong apa deh, soalnya perasaanku benar-benar campur aduk sih.

    “Bentar yah, mau cuci muka dulu” kataku sambil bangkit dan melangkahkan kakiku dengan gontai ke kamar mandi.

    Di sana aku mencuci mukaku dari cipratan sperma agar aroma yang menyengat itu hilang. Keluar dari kamar mandi, kembali aku duduk di kasur dikelilingi mereka. Sudah tanggung untuk dihentikan, jadi kuikuti saja deh permainan mereka. Kali ini si Acep yang masih hijau itu minta diajari cipokan.

    “Boleh yah Neng, soalnya saya pengen ngerasain dicium cewek itu kayak apa sih, apalagi cewek cakep kaya Neng” pintanya, mukaku memerah karena malu dan juga tersanjung akan pujiannya.

    “Cium-cium-cium !” teman-temannya yang lain menyorakinya

    “Sssttt…jangan keras-keras dong, ada yang tau gimana !” kataku memperingatkan sehingga mereka mengurangi volumenya.

    Aku memejamkan mataku seperti kebiasaanku berciuman menunggu Acep menciumku, pertama-tama aku merasa bahuku dipegang lalu menempellah bibirnya dengan bibirku. Teknik ciumannya benar-benar amatiran, kaku dan membosankansekali, sehingga aku yang berinisiatif memainkan lidahku baru dia mulai bisa membalasnya, aku melingkarkan tangan memeluknya dan percumbuan kami makin panas.

    Selama percumbuan itu juga aku merasakan tangan-tangan lain berkeliaran di sekujur tubuhku, mengelusi punggung, paha, payudara, dll. Tidak jelas siapa yang melakukan karena aku memejamkan mata, yang jelas darahku mulai bergolak lagi karena belaian ditambah kometar-komentar jorok mereka. Ada seseorang memelukku dari belakang dan menjilati leherku, oohh…benar-benar sensasional, demikian rasanya pertama kali dikeroyok. Lama juga aku berciuman sambil digerayangi, nafasku sampai naik-turun ga karuan karenanya. Setelah itu si Amad gondrong meminta jatahnya, dia berbaring telentang dan menyuruhku membenamkan penisnya pada vaginaku. Akupun naik ke atas penisnya, benda itu kugenggam dan kueluskan pada kemaluanku dulu supaya nafsu si Amad mendidih. Kemudian baru aku mulai menjebloskannya perlahan-lahan.

    “Ahhh…eeegghh !” desahku saat memasukkan penis itu, aku memejamkan mata dengan bibir membuka.

    Setelah terasa mentok, akupun perlahan menaik-turunkan tubuhku. Amad juga mendesah kenikmatan karena penisnya dihimpit dinding vaginaku.

    Gerak naik-turunku semakin cepat sehingga payudaraku ikut bergoncang-goncang. Dengan aku yang memegang kendali, si Amad kelihatan kelabakan, dia mendesah-desah gak karuan. Kelihatan sekali pengalaman seksnya masih dibawahku. Dia julurkan tangannya meraih payudara kiriku, sepertinya dia gemas melihat payudaraku yang juga naik-turun itu. Dua orang lainnya duduk menonton liveshow kami, Gungun sebelumnya telah turun ke bawah untuk memeriksa keadaan dan berjaga-jaga di pos jaga dekat gerbang. Tak lama kemudian si Ifud mendekatiku dan berdiri di sebelah menyodorkan penisnya yang langsung kugenggam. Jadilah aku bergaya woman on top sambil mengocoki penis Ifud. Amad, ternyata tidaklah setangguh yang kukira, tampang boleh sangar kaya preman, tapi dia orgasme dalam waktu yang relatif singkat, isi penisnya tertumpah dalam vaginaku. Aku paling senang ML di saat safe seperti ini, bebas dari rasa was-was walau pasanganku buang di dalam. Tanpa malu-malu lagi, kupanggil si Acep agar menuntaskan birahiku. Aku duduk di kasur membuka kedua pahaku seakan mempersilakan anak itu menusuknya, aku harus membimbing penisnya memasuki vaginaku karena ini pertama kalinya bagi dia.

    Setelah kepalanya menekan bibir vaginaku, kusuruh dia mendorong pantatnya.

    “Ohhh…yess !” desahku ketika penis perjaka itu menghujam ke dalam.

    Selanjutnya yang kurasakan adalah gesekan-gesekan antara penisnya dengan dinding kemaluanku. Acep pun semakin menikmati persetubuhan pertamanya itu dengan makin cepat menusuk-nusukkan penisnya hingga akhirnya kitapun orgasme bersama atas bimbinganku tentang mengatur tempo genjotan. Sisa waktu sekitar sejam lebih kedepan aku terus disetubuhi mereka baik secara bergilir maupun barengan. Hingga akhirnya kami semua pun kelelahan bersimbah peluh. Wajahku sekali lagi belepotan sperma karena salah seorang membuangnya di sana ketika orgasme. Sejak itu mereka sering memintaku melakukan hal yang sama lagi, terutama Acep dan Gungun. Terkadang memintanya agak memaksa pula. Memang sih awal-awalnya aku cukup menikmati, tapi lama-lama kesal juga karena mereka makin gak tau diri, misalnya pernah satu malam Gungun mengetuk pintu minta jatah lagi, sehingga mengganggu tidurku.

    Aku sampai pernah marah dan mengancam akan melapor ke pemilik kost sehingga mereka agak ngeper, terutama setelah Gungun keceplosan ngomong tentang itu ke pamannya yang menengoknya dari kampung, sehingga pria paruh baya itu juga sempat minta jatah padaku (kalau sempat akan kuceritakan juga). Aku tidak ingin hal ini tercium kemana-mana, apalagi sampai ‘kecelakaan’ gara-gara mereka, maka kuputuskan setelah sewaku habis bulan itu, aku pindah ke kost lain yang agak jauh dari tempat itu hingga saat ini. Terkadang terbesit di benakku ingin mengulangi lagi keroyokan seperti itu, tapi ah…tidaklah, terlalu berisiko tinggi terhadap imej dan kesehatan nantinya. Bulan September lalu aku sempat bertemu lagi dengan si Gungun ketika sedang berjalan di dekat kost lamaku itu, kelihatannya di baru dari membeli sesuatu.

    “Neng, udah lama yah !” sapanya sambil senyum cengengesan.

    Aku membalas dengan senyum kecil saja sambil terus melangkah agak jutek.

    “Siapa tuh Na ? masa lu kenal sama yang gituan ?” tanya seorang temanku yang jalan bareng.

    “Ohh, itu cuma babu di kost lama gua, masih inget gua juga dia yah” jawabku santai.

    “Naksir ke lu kali” timpal temanku yang lain disusul tawa kami.

  • Olga Lydia XXX

    Olga Lydia XXX


    47 views

    Ceritamaya | “Ya, jadi menurut bapak kira-kira berapa lama ya selesainya??”

    “Paling 2 sampai 3 hari non…Kalau mau hari ini juga kita bisa mulai bongkar, jadi bisa hemat waktu juga…Gimana Non Olga??” Jawab bapak-bapak separuh baya itu

    “Boleh pak, tapi saya ada perlu hari ini,gapapa saya tinggal pak??” jawab wanita yang dipanggil Olga.

    “Oh, gapapa Non, urusan disini jadi tanggung jawab saya..Non tenang aja..”

    “Ga bukan masalah itu, saya percaya koq ma bapa,.Kan dulu rumah mama juga

    bapak yang beresin,..Soal pembayaran gimana pak,..??”

    “Ya, kita minta 50% aja dulu bisa??Buat belanja bahan nich non.sama urusan

    ma pihak apartement gimana,nanti kita dimarahin lagi kerja disini??” jawab

    mandor itu..

    “Oke tapi untuk pembayaran tunggu saya pulang ya pak. Paling jam empat saya sudah pulang, urusan maintenance sudah saya urus pak, ga masalah, ke tetangga juga sudah saya omongin”

    “Oh, kalo gitu kita kan enak kerja-nya,..Ya sudah non kalo non mang ada pekerjaan, bisa ditinggal, pokoknya Non tau rapi saja…hehehe”

    “Oke, kalo gitu saya tinggal ya pak, pemotretan-nya jam 12 soalnya..Takut telat..” Kata wanita itu sambil mengangkat tasnya..

    Dia tampak tergesa-gesa sekali, Ya, wanita tinggi putih berwajah oriental itu memang Olga, Olga Lydia, foto model, aktris dan presenter yang cukup terkenal di Indonesia.

    “Hati-hati Non,..”

    “Ya makasih Pak, tolong tunggu saya ya pak..” ingatnya

    “Baik Non” jawab mandor itu,..

    Olga pun bergegas keluar dari apartementnya, para pekerja berjumlah dua orang plus seorang mandor itu pun segera melakukan pekerjaannya, merenovasi dan

    memperbaiki beberapa saluran air di apartement itu.

    “Bagus ya pak apartementnya” Kata salah satu dari pekerja

    “Ya bagus lah, namanya juga punya artis, hehehe” jawab mandor itu.

    “Udah lama pak kenal ma keluarga dia?” tanya mandor berkumis dan kekar

    itu, umurnya kira-kira 50an.

    “Dari kecil Ded, dah lama juga kenal keluarganya, jadi kerja yang bener ya. Ga enak gue kalo asal jadi aja..”

    “Ya pasti pak, tenang aja.hehehe” jawab pekerja bernama Dedi itu.

    “Ya bapak tinggalin aja disini biar kita yang urus dulu, kan bapak bisa belanja cat dulu, siapa tau kita bisa mulai cat sore” Kata seorang pekerja yang sedang merokok,..

    “Oke gue tinggal, tapi lu jangan ngerokok aja Bakrie, takut kena karpet ya”

    “Siap Boss..” jawab pria 30an berambut cepat dan berbibir tebal itu sambil mematikanrokoknya..

    ###

    Di pinggiran kolam renang, sebuah rumah mewah, terlihat beberapa orang mempersiapkan alat-alat pemotretan, dari dalam rumah keluarlah Olga dan beberapa asisten serta Darwis Triadi, salah satu fotografer terkenal di tanah air.

    “Gimana??Udah beres alat-alatnya??masa mindahin dari dalem keluar aja lama??” tanya Darwis ke krunya.

    “Sudah Boss, nich lagi test aja,..” Jawab salah satu kru..

    “Oke Olga bisa dimulai sekarang??”

    “Sip Darwis, lagian gue dah risih nich..Hehehe” sambil melepas selendang yang

    menutupi bagian pinggangnyya kebawah.

    Olga dengan swimsuit merahnya kini sudah masuk set pemotretan itu dengan dibantu beberapa assisten-nya untuk mempersiapkan pose yang diinginkan Darwis. Kipas angin pun dinyalakan untuk membuat kesan rambutnya yang tertiup angin. Tak lama pemotretan itu pun dimulai, beberapa scene, dan mereka mulai berpindah-pindah set.

    “Ya bagus, coba angkat tangan kiri kamu, jangan liat ke kamera..natural aja”

    Klik !!!

    “Ya bagus, Liat kesini, majukan kaki kiri kamu, ya bungkuk sedikit..”

    Klik !!!

    “Lightening pindah kebelakang, Ya tahan sebentar pose itu, senyum sedikit, yaa..”

    Klik !!!

    “Oke Thanks, Olga sip banget, ini saya usahain jadi cover ya…sayang banget kalo ga jadi cover..” Kata fotografer itu,..

    “Oooo..bayaranya nambah donk,.hehehe, Ga becanda, Gue liat donk hasilnya ya, jangan naek cetak dulu baru lu kasih gue,..” jawab Olga.

    “Oke santai, kamu tau gimana saya kerja kan..”

    “Hahaha, ya udah, dah beres kan gue tinggal ya??”

    “Oke ga masalah thanx ya..Bye-bye”

    “Sip, take care ya..Bye”

    Olga pun segera menuju ruang ganti pakaian di rumah itu, scene di kolam renang itu, memaksanya untuk berpose dengan swim suit, Sopan sich, tapi pemotretan ini jarang sekali dia lakukan. Di ruang ganti itu ada Anna, sahabat Olga yang juga seorang model.

    “Gmana Lyd??” tanyanya.

    “Ga tau gue juga belum liat hasilnya, lu tahu sendiri si Darwis, belum perfect buat dia mana mungkin dikasih liat ke kita?? Jawab Olga..

    “Hahaha, iya juga yee.Lupa gue,..Mau kemana nich kita??”

    “Aduh sory Ann, gue musti buru-buru balik, mau ke ATM dulu, gue mau ambil duit, apartemen gue kan lagi dibenerin, gila keran bocor terus, sekalian lapis cat lagi…”

    “Ohhh, jadi nich dibenerin, terus yang jaga siapa??Besok aja kita masih ada satu roll lagikan..”

    “Ah tenang aja,..Hari ini gue tinggal, besok sich nyo gue yang jaga.”

    “Yawda lu ati-ati aja barang lu ya..”

    “Rabu lu jadi kan ke tempat, gue ga da Job juga kan kita??”

    “Oce dech, tar gue dateng dech lusa ya..,Gue cabut dulu nich, Biasa Roby dah nunggu..”

    “Yawda TitiDJ Na,..”

    “Hahaha, Lu juga ye, Bye..” Jawab Anna, sambil membuka pintu ruang ganti itu, Olga pun segera mengambil pakaiannya di loker, Dia segera berganti pakaian, Tak lama Olga pun selesai dan segera keluar dari ruang ganti itu. Setelah berpamitan pada Darwis dan beberapa kru, Olga pun segera meninggalkan lokasi pemotretan itu.

    ###

    Olga Lydia XXXPukul 4.20 Olga sudah kembali, setelah mengambil Uang di ATM untuk membayar 50% biaya perbaikan apartement-nya. Sesampainya di apartementnya, Ibu Olga sudah disana, selain itu beberapa bagian ruangan apartement itu sudah dilapis ulang, Pekerjaan-nya cukup rapi juga…Dia segera menghampiri ibunya di dapur..

    “Kapan dateng Mi??”

    “Dah pulang, tadi jam 2an lah…Minum dulu jus di lemari es tuch…”

    “Makasih Mi, tar dech..Nginep kan Mi???”

    “Iya, tapi besok sore mami pulang, kasian Papi kamu sendiri,..”

    “Yee, kenapa papi ga diajak kesini aja sekalian??” Jawab Olga sambil mengambil jus

    “Tau sendiri kan Papi mu itu, lebih seneng burung daripada nyenengin Mami mu..”

    “Dasar Mami..hehehe,..Pak Jabir mana Mi ??”

    “Diatas kayaknya..Dia lagi bongkar pipa ma anak buahnya..”

    “Oh, Olga keatas dulu ya Mi, sekalian bayar Uang muka nich,..Mami belum dinner kan?”

    “Belum, mau Mami masakin??”

    “Ga usah mi, nanti kita makan aja diluar, mami dah mandi??”

    “Belum, yawda Mami mandi dulu dech..”

    “Oke..aku naek dulu ke atas..” kata Olga yang dibalas senyuman oleh maminya..Ia pun segera naik ke tingkat 2, menemui si mandor Jabir.

    “Gimana Pak untuk hari ini??” tanya Olga.

    “Ya Non liat sendiri, buat pipa ini juga udah ketemu penyakitnya, cuman kita ga bawa peralatannya, mungkin besok kita urus dech Non,kita lagi ngikis cat aja dulu besok di Cat ulang, kalo sekarang ga keburu,..” Jawab Pak Jabir

    “Oh yawda, ini pembayaranya pak, 50% dulu,..Dihitung Pak,..” Sambil menyodorkan amplop berisi uang tunai..

    “Ah, percayalah bapak ma Non,..Habis ngikis cat di ruangan ini kita pamit dulu ya Non, sudah jam 5 juga..”

    “Oke Pak, ga masalah, beresin aja dulu pak, Saya tinggal ya?”

    “Silahkan Non..”

    Olga pun segera turun, tak lama rombongan pak Jabir pun menyelesaikan pekerjaannya. Mereka berpamitan dengan Olga dan ibunya, yang sedang berbincang sambil menonton televisi..

    “Sudah sana mandi, katanya mau makan,..’ Tegur Ibu Olga,..

    “Iya Mi, baru pada pulang sich ga tenang ada mereka..Hehehe..”

    “Dasar, bagus dech, kamu itu wanita, jaga baik-baik harga diri kamu Olga.”

    “Iya Mi, ya Olga mandi dulu ya.”

    “Ya sudah, besok kamu ada acara ??”

    “Besok aku musti ke agency, kenapa Mi??”

    “Ya sudah kamu mandi saja dulu, nanti malam ada yang mau Mami bicarakan..”

    “Yawda dech, aku mandi dulu Mi..”

    Sejam kemudian Olga pun sudah berdandan, maminya yang sudah siap dari tadi sudah menunggunya di ruang tamu, mereka pun pergi makan malam, menyantap makanan Eropa di sebuah restoran elit, Pukul 10 lewat mereka kembali ke apartement Olga.

    “Mami mau tidur??” tanya Olga,.

    “Ga sich, kamu mau tidur sayang ?” Jawab ibunya..

    “Ngantuk sich mi, tapi katanya ada yang Mami mau omongin..”

    “Oh iya, ampir Mami Lupa,.Gini tentang issue belakangan ini tentang kamu nak,.”

    “Ah itu lagi, Mami percayakan ma Aku ??”

    “Iya Mami juga ga percaya, tapi Mami mau dengar dari kamu langsung”.

    “Oke dech, aku ga da hubungan apapun dengan pejabat itu..Oke Mi..Percayakan

    ma aku”..Kata Olga sambil mengacungkan 2 jarinya, seperti bersumpah.

    “Iya kamu ga usah gitu lah, mami percaya koq ma Kamu sayang..Mami cuma

    kuatir aja, kamu kan tahu itu pejabat + kamu juga tau kan dia udah berkeluarga, jangan sampai kamu nganggu hidup orang lain, kita juga dari keluarga berada, ga perlu mikirin harta kaya Orang lain,..” ingat ibu-nya

    “Iya Mi, Makasih ya,..Tidur yuk Mi”

    “Ya sudah kamu tidur saja dulu, Mami nunggu telepon Papi-mu,..”

    “Oc, dech Mi, Tar tidur bareng aku aja ya,..Nitez mi..”

    “Ya sudah nanti mami nyusul sayang..”

    Olga pun meninggalkan Ibunya di ruang keluarga, tak lama dia pun tertidur..

    Keesokan harinya,”Pagi Mih,..Aku dah telat nich, aku musti cepet-cepet ke agency, Mami dah makan kan??” Tanya Olga..

    “Udah kamu tenang aja,..Kamu pulang jam berapa??”

    “Mami mau pulang jam berapa, nanti aku yang anter aja??”

    “Ga usah, nanti Mami naik taksi saja,..Paling jam tujuhlah, nunggu Pak Jabir pulangkan..”

    “Ooh, kalau gitu tunggu aku ya Mi, aku ga malem koq pulanganya,..”

    “Kamu beresin aja pekerjaan kamu, mami sich gampang…”

    “Ya pokoknya Mami tunggu aja, aku kan masih kangen.”

    “Ya sudah, Mami tunggu kamu ya sayang..”

    “Oke dech,..Mam aku pergi dulu ya ?”

    “Eeeeh, Gak sarapan dulu sayang ??”

    “Telat Mih,..”

    “Udah minum dulu susunya ya..”

    “Yawda dech,..Aku pergi ya…” Ujar Olga setelah meminum susunya sambil meninggalkan Apartementnya

    Sepulangnya dari Agensy, Olga pun melihat pekerjaan rumahnya yang sudah 75 % rampung, tampaknya pekerjaan ini akan selesai lebih cepat dari jadwal. Masih jam limasore, ketika ibunya minta ditemani ke minimarket, maka Olga turun mengantar ibunya.

    ###

    “Sayang ya Pak, Non Olga jarang Disini..” Ujar Bakrie.

    “Ya mau ngapain juga dia disini…” Jawab Jabir..

    “Ya kan lumayan pak, baru hari ini aja dia dirumah, ma temen-nya lagi..’ sambung Dedi.

    “Lu pada ngeres aja..Pengen liat paha-nya aja lu pada ya??” Canda pak Jabir.

    “Iya lah, normal toh Pak, namanya juga laki-laki” Kata Bakrie yang disambut tawa keduanya.

    “Ayo, siap geser yah, hati-hati loh !” Pak Jabir mulai memberi perintah pada anak buahnya untuk menggeser sebuah lemari yang awalnya digeser kembali ke tempat semula.

    Karena terlalu bertenaga mendorongnya tiba-tiba sebuah koper kecil diatasnya jatuh dan terbuka sehingga isinya berceceran keluar.

    “Hadoh, gimana sih lu, dorong pelan-pelan aja ngapain pake tenaga gitu !” Pak Jabir mengomeli Bakrie dan Dedi, “untung orangnya lagi kebawah, cepet-cepet beresin lagi sebelum dia balik”

    Mereka pun buru-buru memunguti barang-barang yang tercecer dari koper yang terbuka itu, isinya adalah beberapa album foto. Ada sebuah album foto yang terbuka, jadi bagaimanapun isi album itu terlihat oleh mereka yang sedang berusaha merapikan semua album ini kembali ke dalam koper.

    “Eh lihat Pak Jabir, non Olga itu cantik sekali ya.. mana kulit perutnya putih mulus gini. Bener bener amoy dah”, kata Bakrie memandang foto Olga di album itu sambil menelan ludah. “Gimana halusnya ya? Jadi pingin ngerasakan nih”, timpal Dedi yang kini ikut memandangi foto sexy Olga yang memakai bikini. Pak Jabir mau tidak mau tertarik juga untuk melihat. Reaksinya tak jauh beda, ia menelan ludah dan malah melamun membayangkan Olga kecil yang dulu ia lihat, sekarang sudah menjadi wanita yang menggairahkan di dalam foto foto itu.

    “Pak? Pak Jabir? Lagi ngelamun apa pak? Melamun non Olga ya?”, senggol Dedi melihat pak Jabir yang terus memandang foto Olga dari tadi, membuat pak Jabir tersadar dari lamunannya. “Hush.. mau tau saja. Sudah cepat, kita kembalikan semua, nanti non olga marah lagi melihat koper ini terbongkar seperti ini!”, kata pak Jabir. Sambil terus memasukkan album album foto itu, Bakrie berkata, “Kalo bisa besok aku kepingin melihat lihat koleksi foto non Olga ah”.

    Tepat selesai Bakrie mengatakan itu, tinggal 1 album  foto yang tersisa di luar koper yang dipegang pak Jabir, tapi ia  tak segera memasukkan album itu ke dalam koper. Album itu terkunci, dan di covernya ada tertulis ‘Popular, Edisi Lanjutan’. Pak Jabir berkata, “yang foto bikini tadi, aku memang pernah lihat di sebuah majalah waktu dipanggil pertama sama non Olga untuk merenovasi apartemen ini. Kalau membaca ini, jadi ingat nama majalah itu popular. Jadi penasaran juga, memangnya lanjutannya foto sexy ini seperti apa ya?”

    “Wah kalau dikatakan lanjutan, apa ya? Lanjutan dari pakai pakaian lengkap, terus bikini. Terus ya mungkin tinggal pakaian dalam ya…terus, bugil kali ya?” kata Bakrie yang mulai ngeres pikirannya. Mereka diam sejenak, tiba tiba Dedi mengeluarkan obeng dari sakunya. “Kita buka saja daripada penasaran mikirin apa isinya”, katanya dengan yakin. Pak Jabir sempat berpikir untuk mencegah, tapi akhirnya rasa penasarannya mengalahkan moralnya. Ia meminjam obeng Dedi dan mulai berusaha membongkar kunci yang ternyata tak semudah itu dilakukannya.

    Akhirnya dengan tak sabar, pak Jabir mencongkel kunci itu, dan saat album itu terbuka, ketiga orang ini terpana. Tak pernah pak Jabir membayangkan, akan bisa melihat foto dari Olga Lidya dengan berbagai pose erotis. Balutan bikini itu makin lama makin tak menyembunyikan keindahan tubuhnya yang amat ideal, foto-foto itu memang satu seri dengan foto-foto seksi Olga yang pernah ditampilkan di majalah Popular itu, latar belakang dan pakaian renang yang dipakainya pun sebagian sama persis, namun dalam album itu posenya lebih menantang, misalnya posenya di tangga kolam renang dengan pakaian renang berwarna perak itu kini dipeloroti atasnya sehingga menampakkan payudaranya yang berukuran sedang dan montok. Foto-foto itu tentu bukan untuk konsumsi umum, Olga memang sengaja membuatnya untuk koleksi pribadinya saja sehingga disimpannya pun di tempat khusus ditambah dengan album foto berkunci. Ketika semua sedang terperangah, tiba-tiba pak Jabir menutup buku itu, membuat yang lain bersiap protes. Pak Jabir segera menjelaskan tindakannya ini pada kedua orang itu.

    “Kita jangan lihat buku ini di sini. Nanti kita pamit ke non Olga untuk malam dulu di warung bawah, seolah olah kita sudah lapar. Di, kamu sembunyikan album ini di jaketmu”, kata pak Jabir. Dedi segera membungkus album itu di jaketnya yang butut. Bakrie yang memang agak lebih bodoh ini bertanya, “Kita ngapain pakai makan lagi? Masih kenyang lah! Bukannya tadi kita  makan siangnya telat sampai jam tiga lebih?”. ‘plak’, pak Jabir memberikan tamparan ringan pada kepala belakang Bakrie. “Pakai otak sedikit! Tapi.. sudalah.. kalo kamu sih mending gak usah ikut mikir, nanti tambah kacau. Yang jelas kalau mau enak, diam dan ikuti saja aku dan Dedi”, kata pak Jabir, tepat ketika Olga masuk ke ruangan itu.

    “Non Olga, sepertinya kami harus makan dulu, sudah terlalu lapar nih. Kami ke warung bawah sebentar Non”, kata pak Jabir pada Olga. Tanpa prasangka apapun, Olga mengiyakan saja, kebetulan juga Olga sudah ingin mandi. Maka setelah mereka bertiga keluar, Olga segera masuk ke kamar mandi. Sementara itu, di bawah, pak Jabir berhenti pada ujung lorong yang ada lampunya. Di sana, mereka meneruskan membuka-buka album itu. “Gila bener.. mulus amat”, kata Bakrie yang tak bisa melepaskan pandangan matanya dari foto tubuh Olga yang sudah nyaris telanjang bulat dengan pose yang menggoda. Pose-pose telanjang itu sesungguhnya sangat elegan dan artistik tidak seperti pose-pose bugil asal ngangkang dengan muka mupeng yang mengundang birahi ala penthouse atau hustler, namun orang-orang seperti mereka mana mungkin mengerti yang namanya artistic nude, bagi mereka bugil = porno dan ujungnya membangkitkan birahi.

    Dedi tidak bisa bicara lagi, dengan gelisah ia menanti pak Jabir yang sudah hampir tak bisa menguasai diri, tangannya gemetar ketika membalik halaman demi halaman album itu, hanya untuk melihat tubuh indah Olga yang sudah tak tertutup sehelai benangpun. Di beberapa pose, kemaluannya hanya terlindung telapak tangannya, sementara kedua payudaranya yang indah menggelantung bebas, sungguh menantang orang yang melihat foto itu. Mata mereka melotot dengan mulut melongo menatapi pose Olga yang sudah tidak tertutup sehelai benangpun sedang duduk di bibir kolam dengan kaki disilang, seluruh lekuk tubuhnya terlihat jelas kecuali kemaluannya yang tersembunyi di balik lipatan kaki.

    “Buka lagi dong, mau liat yang keliatan memeknya, mau tau jembutan ga !” pinta Dedi yang penasaran melihat kemaluan Olga.

    Akhirnya mereka dapat menyaksikan seluruh keindahan tubuh Olga dalam sebuah pose bugil frontal dimana Olga sedang berdiri di bawah siraman shower, kedua tangannya menyibak rambutnya ke belakang sehingga payudara dan vaginanya yang berbulu tipis terekspos jelas. Setelah melihat halaman terakhir, mereka bertiga berusaha menenangkan diri.

    “Yah, kok ga ada yang ngangkang sih, padahal pengen yang lebih jelas” Bakrie sepertinya tidak puas dan ingin melihat lebih dari itu.

    “Gini, kita kembali ke atas terus lihat perkembangan situasi di sana. Jangan bertindak gegabah” kata Pak Jabir

    Dedi dan Bakrie menurut saja pada kata kata sang bos. Bakrie sempat bertanya, “pak Jabir, bisa tidak kita mencicipi servis non Olga?” Dedi menimpali, “Buku ini kita pakai saja buat memojokkan non Olga pak”. Pak Jabir manggut manggut, “Iya, kan tadi aku sudah bilang. Kita lihat situasinya. Kalau memungkinkan, kenapa tidak?”. Mereka mulai merencanakan bagaimana mereka bisa membuat Olga talkluk di tangan mereka. Setelah rencana dirasa bisa diterapkan, mereka kembali ke atas, bersiap untuk membuat Olga jatuh dalam derita.

    ###

    Ketika sampai, mereka melihat Olga sedang melihat lihat hasil kerja mereka. Olga yang sudah mandi, kini memakai pakai baju rumah yang santai, kaus singlet putih tanpa lengan yang hampir menunjukkan belahan dadanya, lengannya yang putih mulus terekspos jelas. Warna putih pada kaus itu membuat warna pink bra Olga sedikit membayang. Celana pendek mini yang dikenakan Olga membuat mereka hampir tak bisa mengalihkan pandangan mereka dari paha Olga yang terpampang jelas. Untung saja pak Jabir menguasai keadaannya, ia menyapa Olga yang masih belum menyadari keberadaan mereka. “Malam non Olga”, kata pak Jabir diikuti rekan rekannya, dan Olga membalik badan melihat mereka semua yang keringatan. Rupanya ketika di bawah tadi, mereka sudah begitu terbakar nafsu, tapi tentu saja Olga tak mengetahui semua itu.

    “Wah bapak bapak… habis makan apa sampai keringatan gitu? Kepedasan ya.. saya ambilkan minum dulu ya”, kata Olga sambil berlalu ke dapur. Mereka bertiga tahu, kini kesempatan jelas terbuka. Pintu yang dari tadi terus terbuka itu ditutup oleh Bakrie, Pak Jabir memposisikan diri ke dekat jendela, sementara Dedi pura pura mengemasi peralatan pertukangannya, dan Bakrie yang selesai menutup pintu, ikut membantu Dedi. Tiba tiba, “Ded! Albumnya!”, kata Bakrie melihat jaket Dedi ternyata tak menutupi album itu seluruhnya. Terdengar langkah Olga yang sudah akan kembali dari dapur, membuat Dedi panik karena album itu diluar jangkauannya. Tapi sekali ini, otak Bakrie lumayan jalan, ia melepas bajunya dan melempar ke jaket Dedi, lemparannya tepat sasaran dan menutupi album itu, tepat ketika Olga memasuki ruangan itu.

    Baca Juga : Kakak Kelasku

    “Nih, diminum dulu. Silakan bapak-bapak”, kata Olga sambil tersenyum manis, lalu duduk di kursi yang ada di tengah ruangan itu, sambil mengistirahatkan tubuhnya yang lumayan capai setelah melewati urusan kerja yang panjang dengan agency siang tadi. Mereka bertiga mengambil minum itu, lalu mengelilingi Olga dengan jarak yang lumayan jauh, jadi tidak sampai mencurigakan Olga. Sambil minum, pak Jabir memulai obrolan ringan, seperti yang tadi direncanakan di bawah. “Non Olga, gimana dengan hasl kerja kami? Nggak buruk kan”, tanya pak Jabir. Olga segera menjawab, “Oh.. baik kok pak, saya puas kok”.

    “Kalau gitu, kali kali ada kenalan non Olga yang butuh renovasi, tolong non Olga kenalkan pada kami ya”, kata Dedi. Bakrie menimpalin, “Kenalan non Olga juga artis ya? Iya.. enak ya jadi artis”. Olga hanya tersenyum kecil, lalu menjawab, “Iya deh, nanti kalo ada teman saya yang butuh bantuan bapak bapak, saya pasti mengenalkan pada kalian. Dan tentang artis, ada enaknya, ada nggak enaknya juga lah. Apalagi, kalau ada rekan artis lain yang iri, kadang menggunakan segala cara untuk saling menjatuhkan”. Pak Jabir menyambung, “contohnya RUU APP itu ya, non Olga?”. Olga segera merespon, “Betul, itu salah satu contohnya! Untungnya salah satu tokoh yang mengusung ini kebongkar rahasianya kalo ternyata moralnya juga nggak bener. Jadi pelan pelan suara suara yang pro jadi surut sendiri, karena itu merupakan satu pukulan telak buat kubu pro RUU APP”

    Pak Jabir dan yang lain tertawa, kemudian Dedi bertanya, “iya non, saya jadi ingat. Dulu non Olga termasuk yang keras menentang RUU APP itu ya? Kenapa non”. Ditanya begini, Olga sempat menerawang, kemudian Olga menjawab, “iya. Cuma gara gara ego orang yang sok suci yang berselisih dengan seorang artis wanita, memanfaatkan popularitasnya yang waktu itu belum jatuh, melontarkan ide yang jelas mengorbankan hak hak kaum wanita. Laki laki yang nggak bisa menahan diri untuk berpikiran atau berbuat mesum, wanita yang disalahkan dengan alasan penampilan atau perbuatan yang mengundang hasrat. Itu kan keterlaluan? Lelucon yang sama sekali tidak lucu dari berbagai lelucon yang pernah saya dengar!”, kata Olga berapi-api.

    “Untung saja, seperti yang saya katakan tadi, orang yang sok suci yang mengusung hal itu kebongkar rahasianya. Pintar sekali menutupi kalau dia itu punya hasrat yang begitu menggebu, dengan cara berkoar koar tentang moral dan RUU APP. Padahal, sudah punya banyak istri, masih pakai kawin siri sama artis muda. Itu kan menunjukkan kalau dirinya amat tidak tahan godaan hawa nafsu. Dengan kemunafikannya yang sudah kelewat batas itu, maka saya merasa harus memprotes keras”, kata Olga lagi pada mereka bertiga yang manggut manggut, jelas mereka mengerti siapa tokoh yang dimaksud oleh Olga. Tiba tiba Olga merasa risih, ia menyadari sejak tadi mata mereka bertiga memandang tubuhnya seolah olah ingin menelanjanginya. Selain itu, ia satu satunya wanita di sini, di antara 3 kuli yang salah satunya bahkan telanjang dada. Ia sudah akan mengakhiri percakapan ini, ketika Jabir bertanya, “Protes yang Non Olga maksud itu, dengan cara berpose seksi di majalah Popular?”

    Olga makin merasa risih, dan berusaha menjelaskan dengan halus, “Pak, kalau yang di majalah Popular itu, menurut saya bukan pose seksi yang bersifat porno pak, tapi itu bersifat seni.” Bakri mengambil album yang sejak tadi disembunyikan di bawah tumpukan baju dan jaket, sambil menunjukkan ke Olga dia berkata, “pose seni itu, termasuk yang di buku ini non Olga?”. Olga tersentak, jantungnya serasa berhenti berdetak melihat album yang harusnya ada di dalam koper di atas lemari itu, tak tahu harus menjawab atau berbuat apa. Melihat Olga yang hanya bisa diam, pak Jabir meneruskan, “Nggak salah juga kalau non Olga menentang RUU APP mati matian, kiranya non Olga nggak suka ya difoto seperti itu…”. Olga menguatkan diri dan memotong kata kata pak Jabir, “Kalian ini kok bisa nggak tahu aturan gitu sih, seenaknya saja melihat lihat koleksi pribadi orang lain. Foto itu hanya untuk…”, dan Bakrie langsung memotong, “untuk ditampilkan di majalah Playboy?”

    Olga yang sudah terpojok, dengan putus asa setengah berteriak, “Kalian jangan macam macam! Kembalikan buku itu pada saya!” Berkata begitu, Olga segera berdiri dan berusaha meraih buku itu dari tangan pak Jabir, tapi kedua tangannya sudah dipegang dan ditelikung ke belakang oleh Bakrie dan Dedi. “Aduh… lepaskan saya… to..”, Olga yang hampir berteriak minta tolong langsung tersadar dirinya dalam posisi yang tidak menguntungkan melihat pak Jabir mengeluarkan albumnya ke jendela. Sekali album itu jatuh ke bawah, entah apa yang terjadi dengan reputasinya, maka Olga hanya bisa menatap mereka dengan lemas. Pak Jabir mengerti bahwa Olga sudah tak berdaya, ia mulai melancarkan intimidasinya. “Non Olga, kami sudah melihat tubuh non Olga di dalam album ini. Tapi tentu saja lebih menyenangkan lagi kalau kami bisa melihat bentuk asli dari tubuh non Olga. Nah, non mau kan nunjukin tubuh non pada kami secara langsung di sini?”. Berkata demikian, pak Jabir menutup album yang tadi sempat pura pura akan dilempar keluar, dan menaruhnya di meja telepon dekat jendela itu.

    “Tentu saja saya tak perlu menjelaskan lagi pada non Olga, bagaimana dengan album ini jika non Olga berani macam macam. Sekali saya lempar ke bawah, orang orang di sanaakan dapat gempar, dan besoknya infotainment di TV tak akan ketinggalan memberitakan hal ini juga”, kata pak Jabir dengan ketenangan yang tidak dibuat buat, Olga memang sudah terlihat menyadari nasibnya ada di tangan para kuli yang sekarang sedang bersiap untuk melumatnya habis babisan. Tapi Olga masih mencoba mencari celah untuk lolos dari keadaan ini. “Bapak bapak, tolonglah. Saya punya duit, kalian mau dibayar berapa?”. Pak Jabir segera menjawab, “Kalau soal duit, itu gampang. Non memang harus bayar kami untuk tutup mulut. Tapi non juga harus tahu, kami semua ingin mencicipi servis non juga”. Olga menyadari ia sudah tak punya harapan lagi, dan tertunduk lemas. “Lepaskan pegangan kalian. Non Olga, sekarang non boleh pilih. Non mau buka baju non sendiri dengan sukarela, atau kami bantuin non untuk membukanya,” kata pak Jabir. Olga yang sudah dilepaskan oleh Dedi dan Bakrie, tertunduk menggigit bibir menahan tangis, dan mulai melepasi bajunya dengan terpaksa.

    Kaus dan celana pendeknya sudah terjatuh ke lantai. Kini Olga hanya mengenakan bra dan celana dalam, membuat mereka bertiga tertegun memandangi tubuh Olga yang putih mulus tanpa cacat. Mereka menunggu tapi Olga tak melanjutkan melepas semuanya. Kini Olga mulai menggigil dan melipat kedua tangan memeluk dirinya sendiri, bukan karena hawa dingin AC di ruang itu, tapi selain malu yang amat sangat, ia membayangkan tubuhnya akan dinikmati oleh ketiga kuli bejat ini.

    “Lho non Olga, kok pilih kasih sama yang jadi fotografer itu. kami kan juga mau liat yang ada di dalam beha dan celana dalam non.”, kata Bakrie.

    “Lagi dong” sambung Dedi

    Pak Jabir menimpali, “Lanjut.. lagi”. Mereka bertiga bersahut sahutan seolah sedang menonton aksi striptease. Olga mulai menangis, ia tak bisa berpikir lagi apa yang harus dilakukannya. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, mereka bertiga mulai mendekati Olga yang mundur mundur ketakutan. Olga jatuh terduduk ke sofa yang tadi memang didudukinya. Dalam kepanikannya, Olga mulai memohon, “Sudah pak.. saya mohon, jangan begini”. Tapi semua itu hanya usaha yang sia sia, mana mungkin tiga orang priayang sudah begitu bernafsu mau melepas wanita cantik menggiurkan seperti Olga?

    “Tenang non Olga. Pokoknya non Olga nurut saja, maka kami nggak akan berbuat kasar. Lagipula, ingat soal album tadi. Jadi sebaiknya non Olga layani kami tanpa berbuat yang macam macam”, kata pak Jabir dingin. Olga hampir menjerit ketika bra yang masih melekat di payudaranya ditarik ke belakang hingga kedua tangannya terangkat ke belakang, dan bersamaan dengan itu celana dalamnya juga dilorotkan hingga kini Olga sudah telanjang bulat. Mata mereka bertiga hampir copot melihat keindahan payudara dan vagina Olga yang sudah pasrah dan hanya bisa menangis. “Lho non Olga, kok nangis terus sih? Di TV katanya cuma bisa mimpi.. hahaha..”, ejek Bakrie. Pak Jabir mendekat dan berkata, “cup cup.. non Olga jangan nangis. Sini bapak cium ya”. Bibir Olga dilumat oleh pak Jabir dengan penuh nafsu, sementara kedua rekan pak Jabir mulai meraba raba tubuh Olga sambil sesekali meremasi payudara yang indah itu.

    Bakrie yang semenjak tadi berdiri saja, kini berjongkok di antara kedua belah paha Olga. Pria itu tampak mengagumi keindahan sepasang paha yang sudah lama dikaguminya, paha itu dielus dan dijilatinya alam Olga. Kini kemaluan Olga yang di tumbuhi oleh bulu-bulu halus itu menjadi sebuah pertunjukan gratis bagi orang-orang kampung ini..

    “Gila memek-nya aja putih gini, wangi lagi…” ejek Bakrie

    “Ya iyalah, kalo ga mana bisa jadi artis atau model” sahut Dedi.

    Ejekan ini kontan membuat wajah Olga memerah, namun perasaan itu tidak berlangsung lama, salah satu jari Bakrie mulai menggelitik kemaluan Olga. Tubuh Olga mulai bergerak-gerak, belum lagi sapuan lidah di leher dan telinganya yang juga mulai meningkatkan birahinya. Jemari Bakrie makin lancar mengesek-gesek kemaluan Olga karena dibantu oleh cairan kemaluannya yang mulai keluar, terlebih lagi sesekali pria itu memijit klitorisnya sehingga makin merangsang artis cantik itu..

    Olga terus mendesah tertahan sambil sesekali melayani lidah Pak Jabir. Dedi yang memainkan puting susu Olga mulai menjilati benda mungil yang sensituf itu, terkadang dia menyusu sambil menggigit puting kemerahan itu. Olga pun makin hanyut dalam birahinya. Wajah Bakrie semakin terbenam pada vaginanya, tubuh Olga menggeliat ketika dirasakannya lidah pria itu mulai menyapu bibir vaginanya. Dengan rakus Bakrie menjilati vagina Olga yang sudah becek itu. Setiap sapuan lidahnya membuat darah Olga makin berdesir dan tubuhnya menggeliat. Pak Jabir yang sejak tadi berciuman dengannya juga ikut menggerayangi payudara yang satunya. Tangan kasar itu meremas-remas serta memilin-milin puting susunya sehingga semakin mengeras. Nafas Olga semakin memburu seiring dengan semakin hotnya percumbuan itu. Suara kecupan-kecupan beserta desahan tertahan terdengar dari mulut mereka yang saling beradu. Mau tak mau Olga tak dapat menyangkal lagi bahwa dirinya telah terbuai dalam perkosaan ini. Dia tidak dapat menahan sensasi nikmat pada vaginanya yang sedang dijilati Bakrie, lidah pria itu bergerak liar seperti ular menjilati dinding vagina dan klitorisnya. Olga semakin tidak tahan lagi dengan siksaan birahi ini, sepasang paha mulusnya makin mengencang mengapit kepala si Bakrie dan cairan orgasmenya mengalir deras di sela-sela vaginanya. Cairan itu segera diseruput Bakrie dengan rakusnya sehingga tubuh Olga makin menggelinjang.

    Pak Jabir melepaskan lumatan bibirnya setelah puas menciuminya selama sepuluh menitan, sebuah percumbuan yang cukup lama. Olga langsung bernafas tersenggal-senggal mengambil udara segar dan juga sisa orgasmenya barusan. Ketiga kuli bangunan itu menatapnya dan tersenyum puas melihat reaksi Olga yang baru saja mencapai klimaks pertamanya.

    “Hehehe…gimana Non Olga ? Enak kan ?” ejek Pak Jabir.

    “Non kerangsang juga yah, gile sampe becek gini !” sahut Bakrie di antara kedua pahanya yang baru menegakkan kepala.

    “Gimana Krie rasanya ?” tanya Dedi pada temannya.

    “Wuihh…enak tenan, pejunya artis, gurih banget deh !” komentar pria itu.

    Wajah Olga memerah dan kupingnya terasa panas mendengar kata-kata mereka yang tak senonoh itu, namun disisi lain dirinya juga sangat menikmati percumbuan dan orgasme barusan. Pak Jabir menyuruh kedua anak buahnya membereskan meja ruang tamu dan mereka segera menyingkirkan gelas-gelas bekas minum tadi dan sebuah pot bunga kecil diatasnya.

    “Aah…mau apa Pak ?” tanya Olga ketika si mandor itu mengangkat tubuhnya.

    “Santai aja Non, cuma mindahin aja supaya lega” jawabnya santai

    Tubuh telanjang Olga kini diletakkan diatas meja ruang tamu dari bahan fiber itu dengan kaki terjuntai ke bawah. Ketiga kuli itu berdiri mengelilinginya dan menatapnya dengan pandangan lapar. Olga kini bagaikan sebuah makanan nikmat yang siap disantap bulat-bulat. Mereka lalu mulai membuka pakaiannya masing-masing sampai bugil. Olga terhenyak melihat alat vital mereka yang rata-rata besar dan hitam. Rasanya sudah lemas dulu membayangkan ketiga batang itu mengaduk-aduk vaginanya.

    Pak Jabir mengambil posisi diantara kedua pahanya, kemudian ia berlutut dan membenamkan wajahnya pada selangkangan Olga sama seperti bawahannya tadi. Tubuh Olga pun kembali menggeliat karena lidah pria itu segera menjilati vaginanya dan libidonya pun naik lagi. Jurus menjilat Pak Jabir lebih lihai daripada Bakrie tadi, ia membuka bibir vagina Olga dengan kedua jarinya sehingga lidahnya dapat menjelajah lebih leluasa dan menyentil-nyentil klitorisnya. Dedi berdiri disamping kepalanya sambil menyodorkan penis yang telah tegang itu ke wajahnya.

    “Ayo sepongin Non” perintahnya sambil menepakan penis-nya ke wajah Olga.

    “Ga mau Pak, saya belum pernah” iba Olga, jijik sekali baginya kalau harus mengulum

    penis bau itu, mana hitam dan kepalanya memerah lagi.

    “Oh jadi mau ya albumnya kita lempar ke bawah sana terus diliat orang-orang ?” ancam Dedi yang makin tak sabar.

    “Aaah, jangan Pak, baa…baaik dech saya mau” jawab Olga ketakutan.

    Dengan gemetaran, Olga meraih penis Dedi, dengan ragu-ragu dia mulai membuka mulutnya dan mulai memasukan penis itu kemulutnya. Belum sempat penis itu masuk kemulutnya, Dedi yang sudah birahi tinggi menyodokan penisnya ke mulut Olga yang membuatnya kalang kabut

    “Mmmmph!” setelah beberapa detik baru Olga dapat menyesuaikan dirinya dengan benda asing dimulutnya.

    Penis itu sungguh menyesakkan baginya belum lagi baunya yang tidak sedap itu. Olga terpaksa memaju-mundurkan kepalanya yang ditahan oleh Dedi, setidaknya dengan demikian sedikit lebih lega.

    “Wuuuiihh…asyik banget nih sepongannya, baru pernah gua disepong artis, mimpi apa gua semalem” gumam Dedi sambil merem-melek keenakan.

    “Makannya jangan cuma BBM, baru bisa mimpi !” timpal Bakrie yang penisnya sedang dikocok dengan tangan Olga.

    Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar komentar Bakrie yang menirukan slogan yang biasa diucapkan Olga dalam Republik Mimpi, sebuah program televisi yang dipandunya. Pak Jabir tidak berlama-lama menjilati vagina Olga, baru lima menit saja dia sudah bangkit dan menyangkutkan kedua betis Olga ke bahunya yang lebar sambil mengarahkan penisnya ke vagina model cantik berusia 31 tahun itu.

    “Pak, pelan-pelan, jangan kasar dong” pintanya melepas sebentar penis Dedi dari mulutnya.

    “Tenang aja Non, yang penting enak kan” jawab Pak Jabir yang disambut tawa mereka.

    Perlahan-lahan mandor itu mulai menancapkan penisnya pada vagina Olga, lumayan sulit karena vagina Olga, walau sudah tidak perawan, terlalu sempit untuk menerima penis sebesar itu. Selama proses penetrasi itu baik Pak Jabir maupun Olga mengerang-ngerang merasakan alat kelamin mereka beradu dan saling bergesekan. Dedi dan Bakrie tertawa-tawa dan menyoraki menyaksikan prosesi ‘pencoblosan’ itu.

    “Uuiii…seret banget, memeknya artis emang beda !” kata Pak Jabir ketika penisnya menancap setengahnya.

    Kemudian pria itu mendorong-dorongkan penis itu agar semakin dalam memasuki vagina Olga. Model cantik itu mengerang panjang ketika Pak Jabir menyodokkan penisnya hingga menyentuh g-spot nya.

    “Asyik ya Pak ngentotin sama terkenal ?” tanya Bakrie

    “Iya, aaahhh, enak banget…jauh lebih enak dari lonte-lonte di kampung” jawab Pak Jabirsambil terus menggenjot.

    Cemoohan itu membuat wajah Olga makin memerah, masa dia dibandingkan dengan lonte kampung, namun dia mulai tidak perduli, kini ia terkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya secepatnya. Dia masih harus mengoral penis Dedi dan mengocoki si Bakrie. Tak lama kemudian Bakrie minta giliran dioral karena sudah ngiler melihat reaksi temannya yang demikian menikmati sepongan Olga.

    “Gantian bentar dong Ded, kayanya enak banget tuh, ayo Non gantian” katanya seraya menjenggut rambut Olga dan menghadapkan wajahnya pada penisnya, “yuk, isep yang enak, jangan dia doang dong !”

    Olga pun kini melayani penis Bakrie yang ukurannya lebih pendek sedikit dari Dedi sehingga Olga sedikit bersyukur karenanya. Pada saat itu tubuhnya terguncang hebat akibat sentakan-sentakan Pak Jabir.

    “Mmmm…mmhhh…eennggg !” di tengah oral seks ia tak sanggup menahan desahannya.

    Mandor itu semakin liar menyodoki vaginanya dengan penisnya, semakin lama vagina Olga semakin basah sehingga batang itu semakin lancar keluar masuk di liang itu.Sesekali Pak Jabir menjilati kakinya yang mulus yang disangkutkan di bahunya, hal itu memberikan sensasi geli pada Olga. Ia semakin tak berdaya terhadap mereka yang menjarahi tubuhnya dengan liar, ia bahkan telah hanyut dan menikmatinya walau itu diluar kehendaknya.

    Dedi melepaskan tangan Olga yang sedang mengocok penisnya karena tidak ingin buru-buru keluar. Ia lebih memilih menikmati kemolekan tubuh model cantik itu sambil menunggu Pak Jabir selesai menggarapnya. Pria berkumis tipis itu berlutut di samping tubuh Olga, mulutnya mendekat dan mulai menjilati payudara wanita itu. Darah Olga semakin berdesir karena sapuan dan sentilan lidah Dedi pada payudaranya. Setelah menyusu sebentar, dikecupi dan dijilatinya lekuk-lekuk tubuh Olga yang indah itu sambil tangannya meraba-raba bagian pinggul dan pahanya yang kencang dan berkulit halus.

    “Uuhhh…asyik Non iya…iyahhh…isep terus, ntar keluar telan yah !” nampak si Bakrie makin berkelejotan menikmati penisnya dioral.

    Ia menggerakkan pinggulnya seolah seperti menyetubuhi mulut wanita itu karena sebentar lagi akan mencapai klimaks. Olga sebenarnya kelabakan atas perlakuannya itu, berkali-kali wajahnya terbenam di selangkangan pria itu yang berbulu lebat dan berkali-kali pula kepala penis itu menyentuh tenggorokannya, namun karena kepalanya dipegangi oleh pria itu, ia pun hanya bisa pasrah saja.

    “Aaarrggghhh !” pria itu mengerang dan menumpahkan spermanya di mulut Olga.

    Cairan putih kental itu sebagian tertelan olehnya sedangkan sisanya meleleh keluar di pinggir bibirnya. Aromanya begitu menusuk sehingga ia buru-buru menelan cairan itu agar tidak terlalu berasa. Semburan sperma itu mulai berkurang seiring penis Bakrie yang menyusut di mulut Olga. Setelahnya, pria itu masih memintanya menjilati penis itu hingga bersih.

    Lima menitan kemudian, giliran Pak Jabir berejakulasi, dia menekan-nekan penisnya lebih dalam sambil mulutnya menceracau.

    “Uuhhh…eeennghh !” lenguh pria itu seperti kerbau liar, kedua tangannya makin erat mencengkram betis Olga.

    “Oohhh…oohh…sudah, jangan…aaahh !” Olga juga mendesah tak karuan karena ia juga merasakan gelombang birahinya meledak.

    Olga pun kembali mencapai puncak, cairan kewanitaannya meleleh semakin membasahi vaginanya. Tubuhnya mengejang dan menekuk ke atas tak terkendali. Namun itu semua belum selesai karena Pak Jabir masih terus menyetubuhinya sampai dua-tiga menit ke depan. Akhirnya barulah si mandor itu orgasme dan menyemburkan lahar hangatnya di dalam vagina Olga. Frekuensi genjotannya menurun dan akhirnya berhenti lalu penis itu tercabut dari vaginanya, nampak lelehan sperma bercampur cairan kewanitaan membasahi selangkangan wanita cantik itu begitu penis itu terlepas.

    “Liat nih si Non Olga Lydia, tadi sok jual mahal gak taunya enjoy juga main sama kita-kita” ejek Dedi yang duduk di sampingnya sambil meremas payudaranya.

    “Lu liat ga Ded tadi, gua ngecrot di mulutnya, di mulut artis, gile ga kebayang bisa dapet kesempatan gini hehehe !” kata Bakrie dengan bangga.

    Pak Jabir yang baru orgasme tidak berkomentar apa-apa, ia hanya terduduk di sofa dengan lemas dan nafas terengah-engah, sebuah senyum puas tersungging di wajahnya.

    Sementara Olga yang sudah mulai pulih dari orgasmenya merasa dirinya sudah hancur, tidak pernah disangka olehnya dirinya akan menjadi objek pemerkosaan kuli-kuli bangunan seperti mereka. Kata-kata tak senonoh yang terlontar dari mulut mereka membuat kupingnya panas, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia juga menikmatinya. Olga pun menangis tersedu-sedu mengingat penderitaan yang dialaminya, ia menyalahkan diri sendiri karena kalau tahu begini album koleksi pribadi itu dia simpan di tempat lain yang lebih tersembunyi dan juga sangat kesal pada mereka yang berani lancang mengoprek barang pribadinya.

    “Hayo Non Olga, sekarang sama saya, jangan nangis melulu !” Dedi meraih bahunya.

    Pria itu duduk di kursi panjang dan menepuk kedua pahanya sebagai tanda menyuruh Olga naik ke pangkuannya. Dengan terpaksa, Olga pun turun dari meja ruang tamu dan mendekati pria itu. Ia naik ke pangkuan Dedi dengan posisi berhadapan, Dedi menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vagina Olga. Dibimbingnya Olga menaiki penisnya hingga vagina wanita itu menelan penisnya.

    “Nnggghh…aaahhh Bang !” lenguh Olga saat penis itu tertancap makin dalam.

    Cairan yang membasahi selangkangannya berfungsi sebagai pelumas yang memperlancar masuknya penis Dedi yang besar dan berurat itu. Olga menggeliat dan matanya terpejam merasakan penis itu tertanam seluruhnya pada vaginanya, rasanya sesak sekali dan juga sangat keras. Sensasi nikmat menjalari tubuhnya ketika Dedi mulai menggerakkan pinggulnya perlahan sehingga penisnya bergesekan dengan dinding vaginanya.

    Sambil menggenjot, tangan Dedi menggerayangi tubuh Olga mulai dari punggung, pantat, payudara, dan paha.

    “Wah…wah, mulus banget Non, bikin gemes aja” puji Dedi sambil menghirup tubuhnya.

    “Aakkhh…sakit Bang, jangan keras gitu dong !” rintih Olga karena kedua buah dadanya diremas dengan brutal.

    Mulut pria itu juga tak henti-hentinya menjilat dan mencupangi payudaranya yang montok itu hingga meninggalkan jejak ludah dan bekas-bekas cupangan. Dirangsang sedemikian rupa, Olga semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Ketika Dedi tidak lagi menyentakkan pinggulnya, Olga menggerakkan sendiri pinggulnya mencari kenikmatannya. Tak lama kemudian tubuh Olga berkelejotan, otot betis dan pahanya mengejang, nafasnya semakin memburu sambil terus merintih keras dan panjang. Setelah mencapai klimaks tubuhnya kembali lemas di pelukan Dedi yang tersenyum puas karena telah berhasil menaklukan sang model cantik itu. Kedua rekan Dedi yang sedang duduk beristirahat juga tertawa dan mengejek melihat adegan itu.

    “Weleh, hot banget Non goyangannya, ketagihan nih ceritanya ? Kenapa ga jadi artis bokep aja Non, pasti laku keras deh !” sahut Pak Jabir

    “Non Olga ternyata suka ngebor juga, si Inul aja kalah hot hahaha !” timpal Bakrie.

    “Asyik kan Non, ngentot sama saya, enak ga ?” tanya Dedi masih yang menaik-turunkan pinggulnya dengan perlahan. “liat tuh Non dibawah sana, banjir gitu”

    Olga terdiam lemas tidak bisa berkata apa-apa menanggapi cemoohan mereka yang melecehkan harga dirinya itu. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan tulang-tulangnya seperti mau copot karena lelahnya.

    “Gimana rasanya Non, jawab dong !” kata Dedi sambil terus menyentak pinggulnya menyodoki vagina Olga.

    “Ampun Bang…iya enak, tapi tolong udah dong” kata Olga dengan lemas dan mengiba.

    “Ded ke kamar aja, lebih lega, gua masih belum nyicipin memeknya nih !” ajak Bakrie.

    “Ayo aja, sekalian rasain enaknya seranjang sama artis hehe” Dedi mengiyakan, “yuk Non kita ke kamar Non, pegangan yang benar yah, jangan nyalahin kalau tar jatoh”

    Olga dengan pasrah menuruti apa kata tukang bangunan itu, ia memeluknya dengan erat dan sepasang kakinya melingkari pinggangnya. Setelah mengumpulkan tenaga, Dedi berdiri sambil mengangkat tubuh Olga yang memeluknya, penisnya masih tertancap pada vaginanya. Bagi seorang yang terbiasa dengan kerja kasar seperti Dedi, tidak terlalu sulit mengangkatnya. Pria itu menopang tubuh Olga dengan memegang kedua pantatnya sambil berjalan dengan hati-hati menuju ke kamar. Sambil berjalan sesekali Dedi menyentakkan pinggulnya sehingga membuat Olga mendesah nikmat.

    “Wei, ati-ati lo, gituan sambil jalan kalo jatuh patah tulang nyaho deh” goda Bakrie

    Merekapun tiba di kamar Olga yang tertata rapi dan beraroma pengharum ruangan yang sedap. Dedi membaringkan tubuh Olga di atas ranjangnya dengan hati-hati, dia sendiri berlutut diantara kedua paha mulus itu. Setelah itu dia melanjutkan genjotannya dengan lebih bernafsu, Olga mengerang sambil meremasi sprei di bawahnya. Kedua kuli lainnya mengerubutinya dan tangan-tangan kasar mereka menjamahi lekuk-lekuk tubuhnya yangindah. Pak Jabir dengan gemas melihat payudara Olga yang bergoyang-goyang langsung melumat dan menggigiti puting yang sudah mengeras itu. Olga merintih sambil menjambak rambut pria itu, gigitan pria itu menimbulkan rasa nyeri bercampur nikmat baginya. Pada saat yang sama Bakrie melumat bibirnya sehingga mau tak mau Olga harus melayani permainan lidah pria itu.

    Kira-kira sepuluh menit kemudian Dedi sudah akan ejakulasi, terlihat dari genjotannya yang makin ganas dan lenguhannya. Tubuh Olga ikut terguncang dengan hebat karena sodokan-sodokan kerasnya. Dengan satu hentakan keras disertai erangan panjang Dedi menyemprotkan spermanya di dalam vagina Olga. Mata Olga pun merem-melek menahan nikmatnya semburan cairan hangat itu di dalam vaginanya. Genjotan Dedi berhenti dan penisnya yang masih belum dicabut mulai menyusut, dia bernafas ngos-ngosan sambil berpegangan pada kedua betis wanita itu yang terangkat ke atas.

    “Hhhsshh…hhhh…uenaknya, memek artis emang top” kata Dedi yang nampak puas.

    Lidah Pak Jabir menari-nari di leher Olga, wajah cantiknya perlahan tampak sayu menikmatinya. Namun ia tetap malu mengakuinya, bagaimana mungkin dia bisa menikmati diperlakukan begini oleh tiga orang yang lebih rendah status sosialnyadibanding dirinya.

    “Udah kan Ded ? misi dulu dong, sekarang gua, udah kebelet pengen nyicipin punya Non Olga, tiap nonton Republik Mimpi gua udah ngidam nih” Bakrie menyuruh temannya menyingkir untuk mendapat jatahnya.

    Bakrie membalik tubuh Olga dan menunggingkan pantatnya hingga Olga bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangannya. Tanpa buang waktu lagi ia langsung menekan penisnya membelah vagina Olga. Penis itu mulai memompa vaginanya, terdengar bunyi berdecak dan tepukan setiap kali pria itu menyodok penisnya. Goyangan mereka semakin cepat, nampak payudara Olga yang menggantung itu terayun-ayun.

    Pak Jabir berlutut di hadapan Olga, ia menjenggut rambutnya sehingga kepalanya terangkat. Sebatang penis hitam yang basah itu telah mengacung ke arah wajahnya begitu wajahnya terangkat. Mandor itu menjejali mulut Olga dengan penisnya sebelum wanita itu sempat protes.

    “Mmmm..mmmhh !” nampak Olga kelabakan ketika penis itu dimasukkan secara paksa ke mulutnya, baunya yang tidak enak itu menambah deritanya.

    “Jilat Non, mainin lidahnya, uuuhh…ya gitu !” kata Pak Jabir sambil memegangi kepalanya.

    Susah payah Olga menggerakkan lidahnya mengelilingi kepala penis yang seperti jamur itu, ia merasakan ada sedikit asin ketika lidahnya menyentuh lubang kencingnya, sempat terasa jijik memang, tapi di tengah keroyokan seperti ini ia tidak sempat berlama-lama memikirkan hal itu. Di belakangnya Bakrie terus menghela tubuhnya seperti menunggang kuda. Payudaranya pun tidak luput dari tangan Bakrie dan Dedi yang sedang mengistirahatkan penisnya. Putingnya ditarik-tarik, dipencet atau dipelintir memberi sensasi nikmat yang luar biasa walau di luar kehendaknya. Dua penis perkasa memompanya dari dua arah berlawanan membuatnya pasrah tanpa bisa melawan. Cairan hasil persetubuhan di sekitar selangkangannya sudah meluber kemana-mana dan meleleh di pahanya yang mulus. Syukur bagi Olga, Pak Jabir tidak berlama-lama menyetubuhi mulutnya, 6-7 menit saja pria itu sudah mengubah posisi dengan duduk berselonjor dan bersandar pada kepala ranjang, pegangannya pada kepala Olga juga mengendur. Kali ini dia memerintahkan agar Olga yang memanjakan penisnya sementara dia sendiri menikmati dengan santai.

    “Eeehhmm…sedap!” Pak Jabir mendesah nikmat ketika jari-jari lentik Olga menggenggam penisnya, lidahnya menyapu kepala penisnya yang memerah itu.

    Olga setidaknya merasa lega karena dengan begini ia bisa mengambil nafas setelah setelah mulutnya disenggamai setengah mati sampai bernafas pun sulit. Ia kini berusaha agar Pak Jabir puas dengan pelayanan tangan dan mulutnya agar tidak menyetubuhi mulutnya seperti tadi lagi. Tusukan-tusukan pada vaginanya dan rangsangan dari tangan-tangan yang menggerayangi tubuhnya membuatnya larut dalam birahi dan tidak malu-malu lagi menunaikan tugasnya melayani penis si mandor. Tak lama kemudian penis di dalam mulutnya itu semakin berdenyut-denyut, Pak Jabir menahan kepala Olga sehingga ia mulutnya kembali dipenuhi penis.

    “Uuuuhh !” erang Pak Jabir sambil memuntahkan spermanya dalam mulut Olga.

    Sperma si mandor ini sangat kental dan aromanya lebih menusuk daripada milik si Bakrie tadi. Olga hampis saja memuntahkan cairah itu tapi pria itu tidak melepas kepalanya sehingga mau tidak mau ia harus menelan cairan itu. Baru setelah batang itu menyusut dan tidak menyemburkan sperma lagi Pak Jabir melepaskan kepalanya. Olga langsung terbatuk-batuk dan mengambil nafas, sementara di belakangnya Bakrie masih menyetubuhinya, kuat sekali staminanya, ada mungkin setengah jam ia memacu tubuhnya. Akhirnya kurang dari lima menit setelah diberi minum sperma oleh Pak Jabir, barulah pria berambut cepak itu mencabut penisnya. Dia buru-buru menuju ke dekat kepala Olga dan menyelipkan tangannya ke bawah kepala serta mengangkatnya.

    “Buka mulutnya Non !” perintahnya sambil satu tangannya mengocok penisnya.

    Dan cret…cret…penis itu menembakkan isinya dan mengenai wajah cantik Olga sebelum ia sempat membuka mulut karena masih lelah.

    Banyak sekali sperma Bakrie yang muncrat membasahi wajah Olga, setelah berhenti ia masih menyuruh Olga membersihkan penisnya dengan lidah. Mereka tertawa-tawa mengejek melihat Olga yang sudah tak berdaya dan takluk itu.

    “Ini Non, ayo dijilat, biar ga mubazir!” perintah Bakrie setelah mencolek sperma di pipi Olga dan menyodorkan jari itu di depan mulutnya..

    Jijik sekali rasanya ketika dia diperintahkan seperti itu, apalagi jemari Bakrie kini tinggal beberapa centi di depan mulutnya. Dengan terpaksa dan rasa takut Olga mulai membuka mulutnya, dan memasukan jemari bersperma Bakrie itu ke mulutnya. “Mmmm…!” dengan rasa jijik yang ditahannya, Olga mulai menjilati jemari itu sampai bersih.

    “Enak kan Non ? gurih begitu” ujar Bakrie.

    “Uiii…Non Olga demen minum peju juga yah !” sahut Dedi disambut gelak tawa teman-temannya.

    Mereka beristirahat sekitar lima menitan, selama itu tangan mereka tidak pernah absent mencolek atau menjamahi tubuh Olga yang sudah basah oleh keringat, kata-kata tidak senonoh juga terlontar dari mulut mereka, namun ia sudah pasrah, harga diri apa lagi yang perlu dipertahankan toh baru saja direnggut mereka. Setelah cukup istirahat Dedi berbaring dan meraih lengan Olga menyuruhnya naik ke penisnya.

    “Naik sini Non, saya demen banget sama goyangan Non, jadi ketagihan nih !” suruhnya.

    Tanpa harus diperintah lagi, Olga meraih penis yang sudah tegak itu lalu mengarahkannya ke vaginanya. Perlahan-lahan ia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk membelah bibir vaginanya sambil mengeluarkan desahan dari mulutnya. Mulailah ia menaik turunkan tubuhnya disana, matanya terpejam dengan wajah menengadah ke atas, payudaranya diremas oleh pria itu.

    Olga menggerakkan sendiri tubuhnya mengikuti birahi yang membara dalam dirinya. Kemudian ia merasakan sepasang tangan kekar mendekapnya dari belakang meraih payudaranya, sebuah ciuman mendarat di lehernya.

    “Sori ganggu bentar nih, numpang nyoblos yah, kan masih ada satu lubang lagi !” kata Pak Jabir yang memeluknya dari belakang itu.

    Olga langsung merinding mendengar kata-kata si mandor, satu lubang lagi ? berarti dia bermaksud bermain belakang, tidak…pasti rasanya sakit sekali, seumur-umur ia belum pernah merasakan bagian itu ditusuk apalagi oleh penis yang besar seperti itu.

    “Nggak Pak, tolong jangan disitu….saya ga mau !” Olga memohon dengan terbata-bata ketika pria itu mendorong tubuhnya ke depan sehingga pantatnya nungging.

    Dedi yang berbaring telentang di bawahnya langsung mendekap punggungnya ketika ia meronta.

    “Kenapa ngga mau Non ? Asik kok, sakitnya cuma sebentar” kata Pak Jabir santai sambil mengarahkan penisnya dubur Olga.

    “Tidak, aahh…aduh, pelan-pelan Pak, aahhh !” rintih Olga merasakan benda tumpul menekan anusnya memaksa masuk.

    “Ini juga udah pelan-pelan non, santai aja” kata Pak Jabir.

    Olga cuma bisa meringis dan merintih menahan nyeri dalam dekapan Dedi. Nyerinya tak tertahankan sampai air matanya keluar. Setelah tarik-dorong berapa saat akhirnya penis itu masuk juga ke pantatnya. Ia merasakan dua lubang dibawahnya penuh sesak, rasa sakit dari pantatnya masih terasa sehingga ia menangis menumpahkan deritanya.

    Olga sedang dalam posisi disandwitch oleh kedua buruh bangunan itu, mereka mulai memacu tubuhnya. Desahan Olga bercampur isak tangisnya memenuhi kamar ini, ia tak pernah menyangka akan mengalami pemerkosaan brutal seperti ini gara-gara album foto itu. Namun bila dipikir lebih jauh diperlakukan seperti ini baginya jauh lebih baik daripada kalau album itu dilempar ke bawah dan ditemukan orang-orang lalu menjadi berita panas di infotainment atau tabloid gosip, reputasinya akan hancur dimata seluruh rakyat dan kalau sudah begitu bunuh diri pun malah akan semakin menghancurkan namanya. Daripada menanggung semua akibat mengerikan itu terpaksa Olga merelakan diri dikerjai habis-habisan oleh mereka. Ia mencapai klimaks lagi ditengah genjotan kedua orang itu, namun mereka terus menyetubuhinya tanpa mempedulikannya. Kini ditambah lagi Bakrie yang maju dan menodongkan senjatanya di wajah Olga. Begitu wanita itu membuka mulut, Bakrie langsung menjejalinya dengan penis. Air matanya terus mengalir selama disetubuhi tiga arah itu. Pak Jabir meledak lebih dulu di anusnya, mungkin karena sempitnya. Setelah menumpahkan spermanya ia pun mencabut penisnya sambil mendesah nikmat. Dengan mundurnya Pak Jabir, Dedi lebih leluasa menggarap tubuhnya, ia berguling ke samping hingga tubuhnya berada di atas Olga lalu mencabut penisnya dan naik ke dada wanita itu. Ia meletakkan penisnya di antara payudara Olga lalu menjepitnya dengan kedua gunung itu. Nampak wajah Olga meringis lagi merasakan remasan pada dadanya. Pria itu lalu memaju-mundurkan penisnya diantara himpitan payudara itu. Pada saat yang sama Olga juga menggerakkan tangannya mengocok penis Bakrie yang berlutut di sebelah kepalanya, ia mengocoknya dengan cepat dengan harapan pria itu segera menyudahi aksinya.

    Dedi akhirnya orgasme di dada Olga, ketika keluar ia meremas kedua payudara Olga kuat-kuat sehingga membuatnya merintih kesakitan. Spermanya tumpah kemana-mana mengenai wajah, leher dan dadanya. Disusul tak lama kemudian Bakrie juga orgasme oleh kocokan tangan Olga, spermanya menyemprot di wajah model cantik itu sehingga membuatnya semakin basah, sebagian mengenai rambutnya. Mereka semua ambruk kelelahan, suara nafas yang ngos-ngosan terdengar bersamaan dengan hembusan AC. Olga telah luluh lantak, rambutnya kusut berantakan, tubuhnya bersimbah peluh dan ceceran sperma, vagina dan anusnya rasanya panas sekali. Ia mendengarkan obrolan ketiganya dengan sesama mereka dan juga komentar cabul terhadap dirinya.

    “Puas banget gua malem ini biar nih badan pegel-pegel !” kata Bakrie

    “Iya tuh musti dipuas-puasin kapan lagi coba ngentotin artis kaya gini” Pak Jabir menimpali.

    “Gak nyangka yah bisa asik gini, ini sih bukan BBM namanya, tapi BCM” kata Dedi.

    “BCM ? apa tuh ?” tanya teman-temannya.

    “Bukan Cuma Mimpi” jawabnya lalu mereka tertawa-tawa, “ya gak Non hehehe” tangannya meraba dada Olga sambil iseng meratakan ceceran sperma disitu.

    Olga hanya diam saja karena untuk bersuara pun ia masih terlalu lelah, suaranya seakan telah habis untuk mendesah dan menjerit ketika orgasme tadi.

    Pak Jabir keluar dari kamar lalu ia masuk lagi tak lama kemudian sambil membawa segelas air. Ia menyelipkan tangan ke bawah punggung Olga lalu menegakkan badannya,gelas itu ditempelkannya ke bibir wanita itu dan menyuruhnya minum. Cukup pengertian juga pria setengah baya itu. Olga langsung meneguk air di gelas itu sampai habis, air itu sungguh menyejukkan tenggorokannya yang telah kering serta memberi sedikit tenaga pada tubuhnya.

    “Kasian si Non Olga jadi acak-acakan gitu, kita mandiin aja yuk !” ajak Bakrie sambil cengengesan.

    “Boleh juga tuh, sekalian kita juga mandi, gerah nih udah keringetan gini, jadi bisa mandi bareng artis juga kan” Dedi menyambut girang ajakan itu.

    “Oh God, please jangan lagi” keluh Olga dalam hatinya, ia membayangkan akan dibantai lagi di kamar mandi bila mandi bareng mereka.

    “Aduh udah dong, saya udah ga kuat lagi saya mohon” katanya dengan suara lemas ketika Dedi memapah tubuhnya hendak menurunkan dari ranjang.

    “Mandi doang Non biar seger, biar Non tidurnya juga enak” kata Pak Jabir menenangkan.

    “Bener Non, kita kan tanggung jawab, udah bikin Non berantakan gini masa ga dibersihin lagi hehehe !” goda si Bakrie.

    Di kamar mandi Bakrie meletakkan tubuh Olga yang masih lemas itu di atas lantai marmer putih bermotif flora dengan posisi duduk bersandar ke tembok. Pak Jabir menyalakan kran shower dan mengatur suhunya sehingga air hangat menyiram Olga hingga basah. Guyuran air yang segar itu membuat kepenatan tubuhnya berkurang, ia menggerakkan tangan menyeka wajahnya yang lengket oleh sperma.

    Olga tidak peduli lagi ketiga pasang mata mereka sedang memandangi tubuhnya yang sudah basah. Pak Jabir mengulurkan tangannya membantunya berdiri,

    “Yuk Non, Non ga usah repot-repot kok, biar kita aja yang mandiin, kan Non juga masih cape” katanya.

    Ia mengangkat wajah memandang pria itu, sungguh seksi dan menggairahkan sekali ia dalam keadaan basah seperti itu, dengan ragu diangkatnya tangan membalas uluran tangan mandor itu. Kemudian ia mengangkat tubuhnya perlahan-lahan dengan tenaga yang mulai pulih, punggungnya masih bersandar ke tembok karena belum cukup tenaga untuk menopang tubuhnya dengan kedua kaki. Mandor itu berdiri di hadapannya dan kedua bawahannya di samping kiri dan kanannya, semua mata memandangnya, Olga tidak tahu lagi apa yang akan terjadi, sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya. Pak Jabir mengambil botol sabun cair dari rak disampingnya dan ditumpahkannya cairan kental berwarna pink ke tubuhnya.

    “Ayo bersihin !” perintahnya.

    Segera tangan-tangan mereka menggosoki tubuhnya, mereka meratakan sabun cair itu ke seluruh tubuhnya hingga licin berbusa. Mereka jadi begitu lembut sekarang, beda sekali dengan beberapa saat lalu yang begitu brutal menggangbangnya. Elusan-elusan mereka ditambah lagi lembutnya busa sabun, membuat Olga merasa rileks dan terbuai.

    “Album saya Pak, tolong kembaliin yah !” pinta Olga pada Pak Jabir yang kebagian tugas menyabuni wajah dan payudaranya.

    “Nanti Non, seudah renovasi selesai pasti saya kembaliin, saya sumpah kok” jawab Pak Jabir sambil menggosok memutar sepasang payudaranya.

    “Please Pak, kembaliin sekarang juga, saya gak mau kalau sampai ketauan orang lain lagi” suaranya makin memelas.

    “Tenang aja Non, pasti saya simpan baik-baik sampai dikembaliin nanti, dijamin gak ada seorangpun yang bakal nyentuh tuh album” Pak Dahlan memencet putingnya hingga ia mendesis.

    “Iya Non tenang aja, kita juga ga mau kena perkara kalau sampai albumnya bocor lagi, pasti kita jaga baik-baik kok” Bakrie yang sedang mengkramas rambutnya dari belakang menambahkan.

    “Kita simpan dulu biar kita bisa sama-sama senang, tul ga Non Olga ?” Dedi yang sedang jongkok menyabuni daerah paha dan kemaluannya ikut nimbrung.

    “Sama-sama seneng apanya, dasar tengik !” maki Olga dalam hati.

    Olga menghela nafas panjang, ia hanya bisa berharap kuli-kuli bejat ini menepati janjinya seusai renovasi nanti, masa ia selamanya jadi budak orang-orang seperti mereka. Ia tidak bisa menahan desahannya ketika jari Dedi mengorek vaginanya.

    “Biar bersih Non hehehe” katanya dengan senyum memuakkan.

    Usai menyabuni dan mengkramas Olga mereka kembali mengarahkan shower ke tubuhnya untuk membilasnya.

    Mereka lalu membasuh diri mereka sendiri, kecuali satu, si Dedi, ia masih saja berjongkok dan mengobok-obok vagina Olga.

    “Aahh…udah Bang, jangan gitu lagi !” Olga hanya bisa mendesah sambil mendorong-dorong kepala pria itu.

    “Wei, belum cukup juga apa, besok kita masih harus kerja, simpen tenaga dong !” tegor mandor itu sambil menoel kepala Dedi.

    “Sabar dikit Pak, saya tadi kan belum sempat nyicipin sininya Non Olga, cuma jilat-jilat dikit aja kok, boleh kan Non ?” jawabnya seraya mengangkat paha kanan Olga ke bahunya, tanpa menunggu diiyakan ia membenamkan wajahnya ke kemaluan Olga yang baru dicuci bersih.

    Lidah Dedi bergerak liar menjilati bibir vagina dan dinding bagian dalamnya sehingga wanita itu tidak tahan untuk tidak mendesah. Kali ini dia bermain gentle, sambil menjilat tangannya membelai-belai paha, pinggul dan payudaranya. Kelembutan ini membuat Olga yang baru saja dikasari tadi serasa mendapat air di setelah berhari-hari di gurun.

    “Aaahh !” akhirnya ia kembali mengeluarkan cairan kewanitaanya.

    Dedi langsung mengisapinya dengan rakus. Olga menggelinjang menahan nikmat dan geli karena lidah Dedi terus mengais-ngais seolah tak pernah puas. Akhirnya pria itu menurunkan pahanya dan bangkit. Baru sekarang ia membasuh tubuhnya, dengan buru-buru ia menyabuni diri lalu membilasnya sementara teman-temannya saat itu sudah mengelap tubuh masing-masing.

    Akhirnya ketiga kuli bangunan itu telah berpakaian kembali dan membereskan peralatan mereka. Mereka pamitan pada Olga yang hanya memakai handuk kuning yang dililit di tubuhnya, satu-satunya handuk yang tergantung di gantungan baju kamar mandinya. Dengan langkah gontai ia mengantar mereka ke pintu, ia hanya membukakan pintu setengah sambil sembunyi di baliknya karena hanya memakai handuk. Mereka pamitan dengan mengecup bibirnya atau menyentuh tubuhnya sebelum keluar. Orang terakhir, si Bakrie bahkan lebih kurang ajar, sebelum keluar ia dengan sengaja menarik handuk yang melilit di tubuhnya lalu membuka pintu lebar-lebar, kontan Olga pun menjerit kecil sambil menutupi tubuh dengan tangan, mereka malah tertawa-tawa melihatnya.

    “Tenang, sepi kok Non, ga ada wartawan !” ejek Bakrie sambil melemparkan kembali handuk itu padanya.

    Ia menutup pintu dengan kesal, tidak dibanting karena takutnya memancing perhatian tetangga. Dalam hatinya berkecamuk perasaan marah dan sedih, di kamarnya ia langsung menjatuhkan diri ke ranjang tanpa memakai baju. Disana ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk bantal, kepenatannya membuatnya tertidur dengan posisi demikian, tengkurap dengan memeluk bantal. Ia baru bangun keesokan harinya ketika matahari masuk ke jendela kamarnya yang tirainya belum sempat ditutup. Ia berharap baru bangun dari mimpi buruk, namun ternyata tidak, semua nyata, ranjang itu masih berantakan spreinya kusut sana sini bekas pergumulan kemarin, bekas-bekas cupangan masih membekas di tubuhnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, untung hari ini Jumat dan tidak masuk pagi. Kemudian terdengarlah bel berbunyi tanda ada tamu.

    “Ya, siapa ?” tanyanya lewat speaker sebelum mempersilakan masuk.

    “Kita Non, kangen gak ?” kata suara di seberang sana dengan nada ceria.

    Olga langsung lemas mendengar suara yang tak asing itu, penderitaannya akan segera dimulai lagi.

  • Kakak Kelasku

    Kakak Kelasku


    44 views

    Ceritamaya | Mula mula gue ingin memperkenalkan diri. Nama gue Daron. Gue ada kesempatan belajar di Malaysia karena ayah gue bekerja di sana. Ketika itu gue berumur 15-16 kira-kira kelas 1 SMA. Pertama kali masuk skolah ada upacara bendera. Waktu lagi kenalan ama temen-temen baru ada cewe’ datang dari arah pintu gerbang dengan terburu-buru, soalnya semua murid sudah berbaris. Gue liatin tuh cewe’..”OK jugak nih..”. Setelah gue tanya temen gue ternyata die kakak kelas. Umurnya 17an kira-kira kelas 3 SMA. Namanya Molly.
    “Cute juga nama doi”.
    Tiba -tiba dari belakang ade rekan sekelas megang bahu gue.
    “Ngapain loe nanyain tentang kakak gue?”.
    Buset dah, kaget gue. Gue cuma takut dipukulin soalnya die ‘gangster’ di sekolahan.
    “Ah..enggak kok. Nanya doank” kata gue dengan gementar.

    Balik dari sekolah gue terus ngebayangin tuh cewe. Gue nggak bisa ngilangin die dari pikiran gue. Gila cantik banget. Bibirnya yang kecil dan tipis, buah dadanya yang montok (mungkin boleh dibilang lebih besar dari ukuran teman sebayanya), betisnya yang putih dan mulus, pokoknya absolutely perfect. Gue cuma bisa ngebayangin kalo-kalo die mau ama gue.

    Di suatu pagi yang cerah (gue belajar kalimat kayak gini waktu kelas 4 SD), gue ama nyokap pergi ke deretan toko-toko di deket rumah. Maksudnya sih mau nyari toko musik, soalnya gue mau belajar main gitar. Setelah kira-kira 1 bulan baru gue tau bahwa guru gitar gue sama ama adiknya Molly. Terus guru gue tu nyaranin kita berdua ngadain latihan bersama di rumahnya. Gue girang banget. Mungkin ada kesempatan gue ngeliatin wajah cantik kakaknya. Yah.. walaupun kagak “buat” ngeliat wajahnya juga udah cukup.

    Waktu liburan semester adiknya (biar lebih gampang gue tulis Jason) ngundang gue ke rumahnya untuk latihan gitar barengan. Terus gue tanya ada siapa aja di rumahnya.
    “Gue ama kakak gue doank kok” jawabnya. Wah.. berdebar-debar nih rasanya. Tapi gue juga rasa diri gue sendiri bodoh. Soalnya die aja kagak kenal gue, malahan cuma ngobrol sekali-sekali melalui chatting. Tapi gue ngak peduli.

    Jason sebenarnya belom mastiin kapan gue bisa dateng ke rumahnya. Tapi gue ngak peduli dateng ke rumahnya hari itu karena gue cuma ada waktu hari itu. Sampai di depan pagarnya gue neken bell. Kelihatannya sepi. Tiba-tiba pagar terbuka (pagar automatik nih) terus kakaknya muncul.
    “Nyari siapa?”.
    “Jason” gue bilang.
    “Wah, maaf, Jasonnya nggak ada tuh.”
    Wah.. sekarang baru gue sadar suara Molly ternyata lembut lagi ‘cute’.
    “Oh.. ya udah, terima kasih.”
    Gue muterin badan gue, belagak mau pergi gitu. Tiba-tiba suara yang lembut itu terdengar lagi.
    “Eh.. nggak masuk dulu? Daripada capek bolak-balik mendingan tunggu di sini.”
    Wah!! Peluang emas!

    Terus gue masuk dan dihidangin minuman dingin ama Molly. Terus dia duduk dihadapan gue ngajakin gue ngobrolin sesuatu. Dalam sekelip mata, pemandangan di depan gue menjadi sangat indah. Kebetulan dia memakai baju T-Shirt tipis dan skirt pendek jadi gue bisa ngeliat bahagian pahanya yang putih mulus. Sekali-sekala gue ngelirik ke bagian dada dan pahanya. Gue rasa sih dia tau tapi dia belagak nggak peduli.
    “Kapan Jason balik?” tanya gue.
    “Nggak tau kayaknya sih nanti jam 6″
    Gue ngelirik jam tangan gue. Sekarang jam 2 petang.

    Kira-kira selama 15 menit kami ngobrol kosong. Tiba-tiba ntah gimana jam di meja sebelahnya jatuh. Kami terkejut dan dia terus membereskan benda-benda yang berselerak. Dari belakang gue bisa ngeliat pinggulnya yang putih mulus. Tiba tiba jeritan kecilnya menyadarkan lamunan gue. Ternyata jarinya terluka kena kaca. Naluri lelaki gue bangkit dan terus memegang jarinya. Tanpa pikir panjang gue isep aja darah yang ada di jarinya. Waktu darahnya udah beku gue mengangkat wajah gue. Ternyata selama ini die ngeliatin gue. Tiba-tiba dia ngomong
    “Ron, kok lu ganteng banget sih?”
    Gue hanya tersipu-sipu. Terus gue diajakin ke tingkat atas untuk ngambil obat luka. Waktu duduk di sofa, gue usapin aja tuh ubat ke jarinya. Tiba-tiba datang permintaan yang tidak disangka-sangka.
    “Ron, cium gue dong, boleh nggak?”.
    Gue bengong doank nggak tau mo jawab apaan. Tapi bibirnya udah deket banget ama bibir gue. Langsung gue lumat bibir mungilnya. Dia memejamkan matanya dan gue nyoba untuk mendesak lidah gue masuk ke dalam mulutnya. Dia membalas dengan melumat bibir gue. Tanpa sadar tangan tangan gue udah merayap ke bagian dadanya dan meremas-remas payudaranya yang montok dari luar pakaiannya. Dia mendesah lirih. Dan mendengarnya, ciuman gue menjadi semakin buas.

    Kakak KelaskuKini bibir gue turun ke lehernya dan kembali melumat dan menggigit-gigit kecil lehernya sambil tangan gue bergerak ke arah skirt pendeknya dan berusaha meraba-raba pahanya yang putih dan mulus. Tiba-tiba tangannya membuka resleting celana gue dan coba meraih anu gue. Gue semakin ganas. Gue elus-elus celana dalamnya dari luar dan tangan gue satu lagi meremas-remas payudaranya yang montok. Dia mendesah dan melenguh.

    Akhirnya gue berhenti melumat bibir dan lehernya. Gue coba melepaskan t-shirtnya yang berwarna pink. Tetapi tangannya mencegah.
    “Ke kamar gue aja, yuk!”
    Ajaknya sambil menuntun tangan gue. Gue sih ikut aja. Gue kunci pintu kamarnya dan langsung gue raih t-shirtnya hingga dia hanya mengenakan bra putih dan skirt birunya. Gue kembali melumat bibirnya dan coba membuka kaitan branya dari belakang. Sekarang die bener-bener telanjang dada. Langsung gue lumat payudaranya. Gue remas-remas dan gue jilatin puting kiri dan kanannya.

    Tanpa disadari dia mengerang.
    “ummh..ahh..!”
    Gue malah lebih bernafsu. Tiba-tiba tangannya yang lembut meraih penis gue yang sangat besar. Kira-kira 14 cm panjangnya. Dia langsung mengelus-elus dan mulai mengocok penis gue itu. Gue mengerang
    “Ahh..Molly..terusin..ahh!”

    Kira-kira 15 menit gue melumat payudaranya. Sekarang gue nyoba ngebuka skirt hitamnya. Setelah terlepas gue tidurin dia di ranjang dan kembali melumat bibirnya sambil mengusap-usap vaginanya dari luar CDnya dan tangan gue yang satu lagi memelintir puting payudara kanannya.
    “Ahh.. Daron.. ummhh!” Erangnya.

    Akhirnya kami berdiri. Dia melepaskan baju dan celana gue dan meraih penis gue yang sangat tegang. Dia nyuruh gue duduk. Terus dia jongkok di depan gue. Dia nyium kepala penis gue dan menjilatnya. Kemudian die berusaha mengulum dan menghisap penis gue yang besar. Gue mengerang keenakan.
    “Ummhh..Molly..!!”
    Akhirnya gue nggak tahan dan menyuruhnya berhenti. Gue nggak mau keluar terlalu awal.

    Terus perlahan-lahan gue lepasin celana dalam putihnya dan memandang sebuah lubang berwarna merah jambu dengan bulu-bulu yang halus dan tidak terlalu banyak di sekelilingnya. Langsung gue tidurin dan gue kangkangin kakinya. Kelihatan vaginanya mulai merekah. Gue yang udah nggak tahan terus menjilati dan menghisap-hisap bahagian selangkangan dan menuju ke arah vaginanya. Gue isep dan jilatin klitorisnya. Molly menggelinjang keenakan sambil mendesah dan mengerang.
    “Awwhh.. uhh.. Darroonn..!!
    Tiba tiba orgasme pertamanya keluar. Tubuhnya menggelinjang dan dia menjambak rambut gue dan sprei di ranjangnya.

    Baca Juga : Nasib PRT

    Kemudian gue melebarkan kedua kakinya dan mengarahkan penis gue ke arah lubang kenikmatannya. Sebelum gue masukkin gue gesekin dulu penis gue di pintu lubang vaginanya. Dia mendesah kenikmatan. Akhirnya gue dorong penis gue ke dalam vaginanya. Terasa agak sempit kerana baru 1/3 dari penis gue masuk. Perlahan-lahan gue tarik lagi dan gue dorong sekuat-kuatnya. Ketiga kalinya baru berhasil masuk sepenuhnya.

    “Aawwhh..sakit, Ron!!”
    Dia mengerang kesakitan. Maka gue berhenti sejenak nunggu rasa sakit dia hilang. Akhirnya gue mulai bergerak maju mundur. Semakin lama gerakan gue semakin cepat. Terasa penis gue bergesekan dengan dinding vaginanya. Kami berdua mengerang kenikmatan.
    “Ahh..Molly..enakk!!”
    “Mmhh..awwhh..Ron, terus, cepet lagi!”
    Gue semakin bernafsu dan mempercepat genjotan gue. Akhirnya dia menjerit dan mengerang tanda keluarnya orgasme ke dua.

    Lantas kami berdiri dan gue puter badannya hingga membelakangi gue (doggy style). Gue tundukkin badannya dan gue arahin penis gue ke arah vaginanya dan gue genjot sekali lagi. Kedua payudaranya berayun-ayun mengikut gerakan genjotan gue. Gue pun meremas-remas pantatnya yang mulus dan kemudian ke depan mencari putingnya yang sangat tegang. Kami berdua banjir keringat.

    Gue puter putingnya semakin keras dan payudaranya gue remas-remas sekuat-kuatnya.
    “Ahh, Daron..gue pingin keluar..!!” jeritnya.
    Terus gue percepat gerakan gue dan die menjerit untuk orgasmenya yang kali ketiga. Gue pikir-pikir gue ni kuat juga ya.. Tapi gue juga merasa mo keluar sekarang. Gue nggak sampai hati ngeluarin sperma gue di vaginanya. Langsung gue cabut penis gue dari vaginanya dan gue puter badannya. Gue arahin penis gue ke mulutnya yang langsung mengulum dan melumat penis gue maju mundur. Gue mengerang kenikmatan
    “Akhh..Mol, gue keluar..!!”
    Gue semburin sperma gue didalam mulutnya dan ditelannya. Sebagian mengalir keluar melalui celah bibirnya. Terus penis gue dibersihin dan dijilatin dari sisa-sisa sperma.

    Kemudian gue ngeliat jam di meja. Pukul 5.30!! Mati kalau nggak cepet-cepet. Selepas kami memakai baju semula dia ngucap terima kasih ke gue.
    “Makasih, Ron! Belum pernah gue ngrasa sebahagia ini. Sebenarnya dari pertama kali gue ngeliat loe gue udah suka” Katanya.
    “Oh, emang mungkin jodoh kali soalnya waktu ngeliat loe di gerbang sekolah gue juga udah suka.” kata gue.
    “Tapi gimana dengan adik loe?”
    “Nggak apa-apa, dia juga nggak bakalan marah. Adik gue bentar lagi datang. Jadi latihan bareng nggak?”
    “Nggak, ah. Males, udah letih latihan tadi” kata gue sambil tersenyum.
    Dia pun balas tersenyum. Akhirnya gue balik rumah dengan perasaan gembira. Mimpi gue udah tercapai.

  • Nasib PRT

    Nasib PRT


    80 views

    Ceritamaya | Kisahku mungkin biasa saja, yakni tentang prt (pembantu rumah tangga) yang diperkosa majikannya. Memang tidak ada yang istimewa kalau cuma kejadian semacam itu, namun yang membuat kisahku unik adalah karena aku tidak hanya diperkosa majikanku sekali. Namun, setiap kali ganti majikan hingga tiga kali aku selalu mengalami perkosaan. Baik itu perkosaan kasar maupun halus. Aku akan menceritakan kisahku itu setiap majikan dalam satu cerita.
    Begini kisahku dengan majikan pertama yang kubaca lowongannya di koran. Dia mencari prt untuk mengurus rumah kontrakannya karena ia sibuk bekerja. Aku wajib membersihkan rumah, memasak, mencuci, belanja dll, pokoknya seluruh pekerjaan rumah tangga. Untungnya aku menguasai semuanya sehingga tidak menyulitkan. Apalagi gajinya lumayan besar plus aku bebas makan, minum serta berobat kalau sakit.

    Manajer sekitar 35 tahunan itu bernama Pak S, asal Medan dan sedang ditugasi di kotaku membangun suatu pabrik. Mungkin sekitar 2 tahun baru proyek itu selesai dan selama itu ia mendapat fasilitas rumah kontrakan. Ia sendirian. Istri dan anaknya tak dibawa serta karena takut mengganggu sekolahnya kalau berpindah-pindah.

    Sebagai wanita Jawa berusia 25 tahun mula-mula aku agak takut menghadapi kekasaran orang etnis itu, namun setelah beberapa minggu akupun terbiasa dengan logat kerasnya. Pertama dulu memang kukira ia marah, namun sekarang aku tahu bahwa kalau ia bersuara keras memang sudah pembawaan. Kadang ia bekerja sampai malam. Sedangkan kebiasaanku setiap petang adalah menunggunya setelah menyiapkan makan malam. Sambil menunggu, aku nonton TV di ruang tengah, sambil duduk di hamparan permadani lebar di situ. Begitu suara mobilnya terdengar, aku bergegas membuka pintu pagar dan garasi dan menutupnya lagi setelah ia masuk.

    “Tolong siapkan air panas, Yem,” suruhnya suatu petang, “Aku kurang enak badan.” Akupun bergegas menjerang air dan menyiapkan bak kecil di kamar mandi di kamarnya. Kulihat ia menjatuhkan diri di kasurnya tanpa melepas sepatunya. Setelah mengisi bak air dengan air secukupnya aku berbalik keluar. Tapi melihat Pak Siregar masih tiduran tanpa melepas sepatu, akupun berinisiatif.
    “Sepatunya dilepas ya, pak,” kataku sambil menjangkau sepatunya.
    “Heeh,” sahutnya mengiyakan. Kulepas sepatu dan kaos kakinya lalu kuletakkan di bawah ranjang.
    “Tubuh bapak panas sekali ya?” tanyaku karena merasakan hawa panas keluar dari tubuhnya. “Bapak masuk angin, mau saya keroki?” tawarku sebagaimana aku sering lakukan di dalam keluargaku bila ada yang masuk angin.
    “Keroki bagaimana, Yem?” Baru kuingat bahwa ia bukan orang Jawa dan tidak tahu apa itu kerokan. Maka sebisa mungkin kujelaskan.

    “Coba saja, tapi kalau sakit aku tak mau,” katanya. Aku menyiapkan peralatan lalu menuangkan air panas ke bak mandi.
    “Sekarang bapak cuci muka saja dengan air hangat, tidak usah mandi,” saranku. Dan ia menurut. Kusiapkan handuk dan pakaiannya. Sementara ia di kamar mandi aku menata kasurnya untuk kerokan. Tak lama ia keluar kamar mandi tanpa baju dan hanya membalutkan handuknya di bagian bawah. Aku agak jengah. Sambil membaringkan diri di ranjang ia menyuruhku, “Tolong kau ambil handuk kecil lalu basahi dan seka badanku yang berkeringat ini.” Aku menurut. Kuambil washlap lalu kucelup ke sisa air hangat di kamar mandi, kemudian seperti memandikan bayi dadanya yang berbulu lebat kuseka, termasuk ketiak dan punggungnya sekalian.
    “Bapak mau makan dulu?” tanyaku.
    “Tak usahlah. Kepala pusing gini mana ada nafsu makan?” jawabnya dengan logat daerah, “Cepat kerokin aja, lalu aku mau tidur.”

    Maka ia kusuruh tengkurap lalu mulai kuborehi punggungnya dengan minyak kelapa campur minyak kayu putih. Dengan hati-hati kukerok dengan uang logam lima puluhan yang halus. Punggung itu terasa keras. Aku berusaha agar ia tidak merasa sakit. Sebentar saja warna merah sudah menggarisi punggungnya. Dua garis merah di tengah dan lainnya di sisi kanan.
    “Kalau susah dari samping, kau naik sajalah ke atas ranjang, Yem,” katanya mengetahui posisiku mengerokku kurang enak. Ia lalu menggeser ke tengah ranjang.
    “Maaf, pak,” akupun memberanikan diri naik ke ranjang, bersedeku di samping kanannya lalu berpindah ke kirinya setelah bagian kanan selesai.
    “Sekarang dadanya, pak,” kataku. Lalu ia berguling membalik, entah sengaja entah tidak handuk yang membalut pahanya ternyata sudah kendor dan ketika ia membalik handuk itu terlepas, kontan nampaklah penisnya yang cukup besar. Aku jadi tergagap malu.
    “Ups, maaf Yem,” katanya sambil membetulkan handuk menutupi kemaluannya itu. Sekedar ditutupkan saja, tidak diikat ke belakang. Sebagian pahanya yang berbulu nampak kekar.
    “Eh, kamu belum pernah lihat barangnya laki-laki, Yem?”
    “Bbb..belum, pak,” jawabku. Selama ini aku baru melihat punya adikku yang masih SD.

    “Nanti kalau sudah kawin kamu pasti terbiasalah he he he..” guraunya. Aku tersipu malu sambil melanjutkan kerokanku di dadanya. Bulu-bulu dada yang tersentuh tanganku membuatku agak kikuk. Apalagi sekilas nampak Pak S malah menatap wajahku.
    “Biasanya orang desa seusia kau sudah kawinlah. Kenapa kau belum?”
    “Saya pingin kerja dulu, pak.”
    “Kau tak ingin kawin?”
    “Ingin sih pak, tapi nanti saja.”
    “Kawin itu enak kali, Yem, ha ha ha.. Tak mau coba? Ha ha ha..” Wajahku pasti merah panas.
    “Sudah selesai, pak,” kataku menyelesaikan kerokan terakhir di dadanya.

    “Sabar dululah, Yem. Jangan buru-buru. Kerokanmu enak kali. Tolong kau ambil minyak gosok di mejaku itu lalu gosokin dadaku biar hangat,” pintanya. Aku menurut. Kuambil minyak gosok di meja lalu kembali naik ke ranjang memborehi dadanya.
    “Perutnya juga, Yem,” pintanya lagi sambil sedikit memerosotkan handuk di bagian perutnya. Pelan kuborehkan minyak ke perutnya yang agak buncit itu. Handuknya nampak bergerak-gerak oleh benda di bawahnya, dan dari sela-selanya kulihat rambut-rambut hitam. Aku tak berani membayangkan benda di bawah handuk itu. Namun bayangan itu segera jadi kenyataan ketika tangan Pak S menangkap tanganku sambil berbisik, “Terus gosok sampai bawah, Yem,” dan menggeserkan tanganku terus ke bawah sampai handuknya ikut terdorong ke bawah. Nampaklah rambut-rambut hitam lebat itu, lalu.. tanganku dipaksa berhenti ketika mencapai zakarnya yang menegang.
    “Jangan, pak,” tolakku halus.

    “Tak apa, Yem. Kau hanya mengocok-ngocok saja..” Ia menggenggamkan penisnya ke tanganku dan menggerak-gerakkannya naik turun, seperti mengajarku bagaimana mengonaninya.
    “Jangan, pak.. jangan..” protesku lemah. Tapi aku tak bisa beranjak dan hanya menuruti perlakuannya. Sampai aku mulai mahir mengocok sendiri.
    “Na, gitu terus. Aku sudah lama tak ketemu istriku, Yem. Sudah tak tahan mau dikeluarin.. Kau harus bantu aku.. Kalau onani sendiri aku sudah sulit, Yem. Harus ada orang lain yang mengonani aku.. Tolong Yem, ya?” pintanya dengan halus. Aku jadi serba salah. Tapi tanganku yang menggenggam terus kugerakkan naik turun. Sekarang tangannya sudah berada di sisi kanan-kiri tubuhnya. Ia menikmati kocokanku sambil merem melek.

    “Oh. Yem, nikmat kali kocokanmu.. Iya, pelan-pelan aja Yem. Tak perlu tergesa-gesa.. oohh.. ugh..” Tiba-tiba tangan kanannya sudah menjangkau tetekku dan meremasnya. Aku kaget, “Jangan pak!” sambil berkelit dan menghentikan kocokan.
    “Maaf, Yem. Aku benar-benar tak tahan. Biasanya aku langsung peluk istriku. Maaf ya Yem. Sekarang kau kocoklah lagi, aku tak nakal lagi..” Sambil tangannya membimbing tanganku kembali ke arah zakarnya. Aku beringsut mendekat kembali sambil takut-takut. Tapi ternyata ia memegang perkataannya. Tangannya tak nakal lagi dan hanya menikmati kocokanku.
    Sampai pegal hampir 1/2 jam aku mengocok namun ia tak mau berhenti juga.
    “Sudah ya, pak,” pintaku.
    “Jangan dulu, Yem. Nantilah sampai keluar..”
    “Keluar apanya, pak?” tanyaku polos.
    “Masak kau belum tahu? Keluar spermanyalah.. Paling nggak lama lagi.. Tolong ya, Yem, biar aku cepat sehat lagi.. Besok kau boleh libur sehari dah..”

    Nasib PRTIngin tahu bagaimana spermanya keluar, aku mengocoknya lebih deras lagi. Zakarnya semakin tegang dan merah berurat di sekelilingnya. Genggaman tanganku hampir tak muat. 15 menit kemudian.
    “Ugh, lihat Yem, sudah mau keluar. Terus kocok, teruuss.. Ugh..” Tiba-tiba tubuhnya bergetar-getar dan.. jreet.. jret.. cret.. cret.. cairan putih susu kental muncrat dari ujung zakarnya ke atas sperti air muncrat. Aku mengocoknya terus karena zakar itu masih terus memuntahkan spermanya beberapa kali. Tanganku yang kena sperma tak kupedulikan. Aku ingin melihat bagaimana pria waktu keluar sperma. Setelah spermanya berhenti dan dia nampak loyo, aku segera ke kamar mandi mencuci tangan.
    “Tolong cucikan burungku sekalian, Yem, pake washlap tadi..” katanya padaku. Lagi-lagi aku menurut. Kulap dengan air hangat zakar yang sudah tak tegang lagi itu serta sekitar selangkangannya yang basah kena sperma..
    “Sudah ya pak. Sekarang bapak tidur saja, biar sehat,” kataku sambil menyelimuti tubuh telanjangnya. Ia tak menjawab hanya memejamkan matanya dan sebentar kemudian dengkur halusnya terdengar. Perlahan kutinggalkan kamarnya setelah mematikan lampu. Malam itu aku jadi sulit tidur ingat pengalaman mengonani Pak S tadi. Ini benar-benar pengalaman pertamaku. Untung ia tidak memperkosaku, pikirku.

    Namun hari-hari berikut, kegiatan tadi jadi semacam acara rutin kami. Paling tidak seminggu dua kali pasti terjadi aku disuruh mengocoknya. Lama-lama akupun jadi terbiasa. Toh selama ini tak pernah terjadi perkosaan atas vaginaku. Namun yang terjadi kemudian malah perkosaan atas mulutku. Ya, setelah tanganku tak lagi memuaskan, Pak S mulai memintaku mengonani dengan mulutku. Mula-mula aku jelas menolak karena jijik. Tapi ia setengah memaksa dengan menjambak rambutku dan mengarahkan mulutku ke penisnya.

    “Cobalah, Yem. Tak apa-apa.. Jilat-jilat aja dulu. Sudah itu baru kamu mulai kulum lalu isep-isep. Kalau sudah terbiasa baru keluar masukkan di mulutmu sampai spermanya keluar. Nanti aku bilang kalau mau keluar..” Awalnya memang ia menepati, setiap hendak keluar ia ngomong lalu cepat-cepat kulepaskan mulutku dari penisnya sehingga spermanya menyemprot di luar mulut. Namun setelah berlangsung 2-3 minggu, suatu saat ia sengaja tidak ngomong, malah menekan kepalaku lalu menyemprotkan spermanya banyak-banyak di mulutku sampai aku muntah-muntah. Hueekk..! Jijik sekali rasanya ketika cairan kental putih asin agak amis itu menyemprot tenggorokanku. Ia memang minta maaf karena hal ini, tapi aku sempat mogok beberapa hari dan tak mau mengoralnya lagi karena marah. Namun hatiku jadi tak tega ketika ia dengan memelas memintaku mengoralnya lagi karena sudah beberapa bulan ini tak sempat pulang menjenguk istrinya. Anehnya, ketika setiap hendak keluar sperma ia ngomong, aku justru tidak melepaskan zakarnya dari kulumanku dan menerima semprotan sperma itu. Lama-lama ternyata tidak menjijikkan lagi.

    Demikianlah akhirnya aku semakin lihai mengoralnya. Sudah tak terhitung berapa banyak spermanya kutelan, memasuki perutku tanpa kurasakan lagi. Asin-asin kental seperti fla agar-agar. Akibat lain, aku semakin terbiasa tidur dipeluk Pak S. Bagaimana lagi, setelah capai mengoralnya aku jadi enggan turun dari ranjangnya untuk kembali ke kamarku. Mataku pasti lalu mengantuk, dan lagi, toh ia tak akan memperkosaku. Maka begitu acara oral selesai kami tidur berdampingan. Ia telanjang, aku pakai daster, dan kami tidur dalam satu selimut. Tangannya yang kekar memelukku. Mula-mula aku takut juga tapi lama-lama tangan itu seperti melindungiku juga. Sehingga kubiarkan ketika memelukku, bahkan akhir-akhir ini mulai meremasi tetek atau pantatku, sementara bibirnya menciumku. Sampai sebatas itu aku tak menolak, malah agak menikmati ketika ia menelentangkan tubuhku dan menindih dengan tubuh bugilnya.
    “Oh, Yem.. Aku nggak tahan, Yem.. buka dastermu ya?” pintanya suatu malam ketika tubuhnya di atasku.
    “Jangan pak,” tolakku halus.
    “Kamu pakai beha dan CD saja, Yem, gak bakal hamil. Rasanya pasti lebih nikmat..” rayunya sambil tangannya mulai mengkat dasterku ke atas.
    “Jangan pak, nanti keterusan saya yang celaka. Begini saja sudah cukup pak..” rengekku.
    “Coba dulu semalam ini saja, Yem, kalau tidak nikmat besok tidak diulang lagi..” bujuknya sambil meneruskan menarik dasterku ke atas dan terus ke atas sampai melewati kepalaku sebelum aku sempat menolak lagi.
    “Woow, tubuhmu bagus, Yem,” pujinya melihat tubuh coklatku dengan beha nomor 36.

    Baca Juga : Sang Penyanyi Sexy

    “Malu ah, Pak kalau diliatin terus,” kataku manja sambil menutup dengan selimut. Tapi sebelum selimut menutup tubuhku, Pak S sudah lebih dulu masuk ke dalam selimut itu lalu kembali menunggangi tubuhku. Bibirku langsung diserbunya. Lidahku dihisap, lama-lama akupun ikut membalasnya. Usai saling isep lidah. Lidahnya mulai menuruni leherku. Aku menggelinjang geli. Lebih lagi sewaktu lidahnya menjilat-jilat pangkal payudaraku sampai ke sela-sela tetekku hingga mendadak seperti gemas ia mengulum ujung behaku dan mengenyut-ngenyutnya bergantian kiri-kanan. Spontan aku merasakan sensasi rasa yang luar biasa nikmat. Refleks tanganku memeluk kepalanya. Sementara di bagian bawah aku merasa pahanya menyibakkan pahaku dan menekankan zakarnya tepat di atas CD-ku.

    “Ugh.. aduuh.. nikmat sekali,” aku bergumam sambil menggelinjang menikmati cumbuannya. Aku terlena dan entah kapan dilepasnya tahu-tahu payudaraku sudah tak berbeha lagi. Pak S asyik mengenyut-ngenyut putingku sambil menggenjot-genjotkan zakarnya di atas CD-ku.

    “Jangan buka CD saya, pak,” tolakku ketika merasakan tangannya sudah beraksi memasuki CDku dan hendak menariknya ke bawah. Ia urungkan niatnya tapi tetap saja dua belah tangannya parkir di pantatku dan meremas-remasnya. Aku merinding dan meremang dalam posisi kritis tapi nikmat ini. Tubuh kekar Pak S benar-benar mendesak-desak syahwatku.
    Jadilah semalaman itu kami tak tidur. Sibuk bergelut dan bila sudah tak tahan Pak Siregar meminta aku mengoralnya. Hampir subuh ketika kami kecapaian dan tidur berpelukan dengan tubuh bugil kecuali aku pakai CD. Aku harus mampu bertahan, tekadku. Pak S boleh melakukan apa saja pada tubuhku kecuali memerawaniku.

    Tapi tekad tinggal tekad. Setelah tiga hari kami bersetubuh dengan cara itu, pada malam keempat Pak S mengeluarkan jurusnya yang lebih hebat dengan menjilati seputar vaginaku meskipun masih ber-CD. Aku berkelojotan nikmat dan tak mampu menolak lagi ketika ia perlahan-lahan menggulung CD ku ke bawah dan melepas dari batang kakiku. Lidahnya menelusupi lubang V-ku membuatku bergetar-getar dan akhirnya orgasme berulang-ulang. Menjelang orgasme yang kesekian kali, sekonyong-konyong Pak Siregar menaikkan tubuhnya dan mengarahkan zakarnya ke lubang nikmatku. Aku yang masih belum sadar apa yang terjadi hanya merasakan lidahnya jadi bertambah panjang dan panjang sampai.. aduuhh.. menembus selaput daraku.
    “Pak, jangan pak! Jangan!” Protesku sambil memukuli punggunya. Tetapi pria ini begitu kuat. Sekali genjot masuklah seluruh zakarnya. Menghunjam dalam dan sejurus kemudian aku merasa memiawku dipompanya cepat sekali. Keluar masuk naik turun, tubuhku sampai tergial-gial, terangkat naik turun di atas ranjang pegas itu. Air mataku yang bercampur dengan rasa nikmat di vagina sudah tak berarti. Akhirnya hilang sudah perawanku. Aku hanya bisa pasrah. Bahkan ikut menikmati persetubuhan itu.

    Setelah kurenung-renungkan kemudian, ternyata selama ini aku telah diperkosa secara halus karena kebodohanku yang tidak menyadari muslihat lelaki. Sedikit demi sedikit aku digiring ke situasi dimana hubungan seks jadi tak sakral lagi, dan hanya mengejar kenikmatan demi kenikmatan. Hanya mencari orgasme dan ejakulasi, menebar air mani!

    Hampir dua tahun kami melakukannya setiap hari bisa dua atau tiga kali. Pak S benar-benar memanfaatkan tubuhku untuk menyalurkan kekuatan nafsu seksnya yang gila-gilaan, tak kenal lelah, pagi (bangun tidur), siang (kalau dia istirahat makan di rumah) sampai malam hari sebelum tidur (bisa semalam suntuk). Bahkan pernah ketika dia libur tiga hari, kami tidak beranjak dari ranjang kecuali untuk makan dan mandi. Aku digempur habis-habisan sampai tiga hari berikutnya tak bisa bangun karena rasa perih di V-ku. Aku diberinya pil kb supaya tidak hamil. Dan tentu saja banyak uang, cukup untuk menyekolahkan adik-adikku. Sampai akhirnya habislah proyeknya dan ia harus pulang ke kota asalnya. Aku tak mau dibawanya karena terlalu jauh dari orang tuaku. Ia janji akan tetap mengirimi aku uang, namun janji itu hanya ditepatinya beberapa bulan. Setelah itu berhenti sama sekali dan putuslah komunikasi kami. Rumahnya pun aku tak pernah tahu dan akupun kembali ke desa dengan hati masygul.

  • Sang Penyanyi Sexy

    Sang Penyanyi Sexy


    55 views

    Ceritamaya | Malam itu aku dinner dengan clientku di sebuah cafe. Sebuah band tampil menghibur pengunjung cafe dengan musik jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan cukup baik. Aku memperhatikan sang penyanyi. Seorang gadis berusia kira-kira 26 tahun. Suaranya memang sangat jazzy.

    Gadis ini wajah tidak terlalu cantik. Tingginya kurang lebih 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya sekitar 36B. Kelebihannya adalah lesung pipitnya. Senyumnya manis dan matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.

    “Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bersama band akan menemani anda semua. Jika ada yang ingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau jika ingin request lagu.. silakan”.

    Penyanyi yang ternyata bernama Felicia itu mulai menyapa pengunjung Cafe. Aku hanya tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan client menyita perhatianku. Sampai kemudian telingaku menangkap perubahan cara bermain dari sang keyboardist. Aku melihat ke arah band tersebut dan melihat Felicia ternyata bermain keyboard juga.

    Felicia bermain solo keyboard sambil menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang sangat sederhana. Aku menikmati semua jenis musik dan berusaha mengerti semua jenis musik. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya.

    Felicia ternyata bermain sangat aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafe yang mampu bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba aku menjadi sangat tertarik dengan Felicia. Aku menuliskan request laguku dan memberikannya melalui pelayan cafe tersebut.

    “The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menuliskan nomor HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lama kemudian aku mendengar suara Felicia.
    “The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”

    Bahasa tubuh Felicia menunjukkan bahwa dia ingin tahu dimana aku duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Jadi, dengan jelas Felicia bisa melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku.

    Dia mulai memainkan keyboardnya. Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku pun menatapnya. Untuk menggodanya, aku mengedipkan mataku. Aku kembali berbicara dengan clientku. Tak lama kudengar suara Felicia menghilang dan berganti dengan suara penyanyi pria. Kulihat sekilas Felicia tidak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

    “Felicia.” tampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.
    “Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”
    “Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa ingin tahu HP-ku?”
    “Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku terus terang. Kudengar tawa ringan dari Felicia.
    “Rayuan ala Boy, nih?”
    “Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang pantas buatmu yang memang sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapa? Aku antar pulang ya?”
    “Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau dengan temanmu?”
    “Oh.. dia clientku. Sebentar lagi dia pulang kok. Aku hanya mengantarnya sampai parkir mobil. Bagaimana?”
    “Okay.. Aku tunggu ya.”
    “Okay.. See you soon, sexy..”

    Aku melanjutkan sebentar percakapan dengan client dan kemudian mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Setelah clientku pulang aku kembali ke cafe. Waktu masih menunjukkan pukul 23.30. Masih 30 menit lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea.

    30 menit aku habiskan dengan memandang Felicia yang menyanyi. Mataku terus menatap matanya sambil sesekali aku tersenyum. Kulihat Felicia dengan percaya diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik hingga membuatku ingin mencumbunya.

    Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, aku sengaja menyalakan AC mobil cukup besar sehingga suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia tampak menggigil.

    “Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Felicia sambil meraih tombol AC untuk menaikkan suhu. Tanganku segera menahan tangannya. Kesempatan untuk memegang tangannya.
    “Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku baru bisa. Kalau kamu naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.

    Aku memang ingin membuat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia bisa mengerti. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia diam saja.

    “Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tidak menolak.
    “Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz juga ya?”
    “Hampir semua musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku melihat penyanyi jazz wanita yang bisa bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”
    “Haha.. Ini malam pertama aku main keyboard sambil menyanyi.”
    “Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak memakai scale altered dominant ya?” aku kemudian memainkan tangan kiriku di tangannya seolah-olah aku bermain piano.
    “What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu bisa main piano yah?” Felicia tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.
    “Yah, dulu main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah Felicia.
    “Tinggal dengan siapa?” tanyaku ketika kami masuk ke rumahnya. Ya, aku menerima ajakannya untuk masuk sebentar walaupun ini sudah hampir jam 1 pagi.
    “Aku kontrak rumah ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”

    Felicia masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Felicia memang memancingku? Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri hanya dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada sebuah kaos. Kukira Felicia akan berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai dia tersenyum.

    “Maaf.. Aku mau tanya kamar mandi dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru aku yang gugup melihat pemandangan indah di depanku.
    “Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk aja.”

    Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku melihat ada sebuah keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi malah memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja juga permainanku. Tapi aku yakin Felicia akan tertarik. Beberapa kali aku membuat kesalahan yang kusengaja. Aku ingin melihat reaksi Felicia.

    “Salah tuh mainnya.” komentar Felicia. Dia ikut bernyanyi.
    “Ajarin dong..” kataku.

    Sang Penyanyi SexyDengan segera Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Felicia berdiri membelakangiku. Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan.

    Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

    “Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.
    “Oh ya..” aku berdiri.

    Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!

    “Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.

    Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau marah ya aku terima saja. Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. Ternyata Felicia malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!

    Felicia membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Felicia juga membuka kaos dan celanaku.

    Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.

    “Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.
    “Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku dan meremasnya.

    Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Felicia duduk, aku hanya bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak bisa kuraih. Felicia tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku!

    Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali. Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.

    Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.

    Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin panas.

    Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sementara bibirku melumat makin ganas bibir Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan pinggang, punggung dan bahu Felicia. Dari bahasa tubuhnya, Felicia sangat menikmati pijatanku.

    “Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.

    Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku. Aku merasakan payudara Felicia makin tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

    “Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.
    “Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.
    “Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.
    “Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

    Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan akhirnya kuat. Tak lama kemudian Felicia kemudian membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.

    “Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku mulai beraksi.

    Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Felicia dengan terampil mengikuti tempo kocokanku. Kamu bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan kenikmatan.

    Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

    “Agh.. Agh..” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.
    “Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.

    Baca Juga : Tante Ani

    Rupanya Felicia adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat. Beberapa saat kemudian aku berhenti.

    Mengatur nafas dan mengubah posisi kami. Felicia menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.

    “Hey.. Perih tau!” teriak Felicia. Aku tertawa.
    “Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya geli.

    Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.

    “Aku mau nyampe, Felicia..”
    “Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.
    “Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Felicia berteriak makin keras.
    “Yes.. Aku juga hampir sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”

    Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

    “Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Felicia makin bergetar hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.
    “Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.

    Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan kemudian perutnya. Aku membuatnya kegelian ketika hidungku bermain-main di perutnya.

    Kemudian kuangkat dia. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.

    “Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”

    Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.

    Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.

    “Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Felicia. Tadi malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.
    “Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.
    “Hi Gladys..” sapaku.

    Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan celana pendek Felicia dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku harus pulang.

  • Tante Ani

    Tante Ani


    65 views

    Ceritamaya | Umurku sekarang sudah 30 tahun. Sampai sekarang aku masih hidup membujang, meskipun sebenarnya aku sudah sangat siap kalau mau menikah. Meskipun aku belum tergolong orang yang berpenghasilan wah, namun aku tergolong orang yang sudah cukup mapan, punya posisi menengah di tempat kerjaku sekarang. Aku sampai sekarang masih malas untuk menikah, dan memilih menikmati hidup sebagai petualang, dari satu wanita ke wanita yang lain. Kisahku sebagai petualang ini, dimulai dari sebuah kejadian kira-kira 12 tahun yang lalu.

    Waktu itu aku masih duduk di kelas 3 SMU. Hari itu aku ada janji dengan Agus, sahabatku di sekolah. Rencananya dia mau mengajakku jalan-jalan ke Mall xxx sekedar menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh digojlok latihan sepak bola habis-habisan. Sejam lebih aku menunggu di warung depan gang rumah pamanku (aku tinggal numpang di rumah paman, karena aku sekolah di kota yang jauh dari tempat tinggal orangtuaku yang di desa). Jalan ke Mall xxx dari rumah Agus melewati tempat tinggal pamanku itu, jadi janjinya aku disuruh menunggu di warung pinggir jalan seperti biasa.

    Aku mulai gelisah, karena biasanya Agus selalu tepat janji. Akhirnya aku menuju ke telepon umum yang ada di dekat situ, pengin nelpon ke rumah Agus, memastikan dia sudah berangkat atau belum (waktu itu HP belum musim bro, paling juga pager yang sudah ada, tapi itupun kami tidak punya).

    “Sialan.. telkom ini, barang rongsokan di pasang di sini!,” gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus.

    Setelah uring-uringan sebentar, akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Agus. Keputusan ini sebenarnya agak konyol, karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Mall xxx tujuan kami, belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Agus. Tapi, kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu. Akhirnya, setelah titip pesan pada penjual di warung kalau-kalau Agus datang, aku langsung menyetop angkot dan menuju ke rumah Agus.

    Sesampai di rumah Agus, kulihat suasananya sepi. Padahal sore-sore begitu biasanya anggota keluarga Agus (Papa, Mama dan adik-adik Agus, serta kadang pembantunya) pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, kulihat pembantu di rumah Agus keluar dari pintu samping.

    “Bi.. Bibi.. kok sepi.. pada kemana yah?” tanyaku. Aku terbilang sering main ke rumah Agus, begitu juga sebaliknya

    Agus sering main ke rumah pamanku, tempatku tinggal. Jadi aku sudah kenal baik dengan semua penghuni rumah Agus, termasuk pembantu dan sopir papanya.

    “Eh, mas Didik.. pada pergi mas, pada ikut ndoro kakung (juragan laki-laki). Yang ada di rumah cuman ndoro putri (juragan wanita),” jawabnya dengan ramah.
    “Oh.. jadi Agus ikut pergi juga ya Bi. Ya sudah kalau begitu, lain waktu saja saya ke sini lagi,” jawabku sambil mau pergi.
    “Lho, nggak mampir dulu mas Didik. Mbok ya minum-minum dulu, biar capeknya hilang.”
    “Makasih Bi, sudah sore ini,” jawabku.

    Baru aku mau beranjak pulang, pintu depan tiba-tiba terbuka. Ternyata Tante Ani, mama Agus yang membuka pintu.

    “Bibi ini gimana sih, ada tamu kok nggak disuruh masuk?”, katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu.
    “Udah ndoro, sudah saya suruh duduk dulu, tapi mas Didik nggak mau,” jawabnya.
    “Eh, nak Didik. Kenapa di luaran aja. Ayo masuk dulu,” kata Tante Ani lagi.
    “Makasih tante. Lain waktu aja saya main lagi tante,” jawabku.
    “Ah, kamu ini kayak sama orang lain saja. Ayo masuk sebentar lah, udah datang jauh-jauh kok ya balik lagi. Ayo masuk, biar dibikin minum sama bibi dulu,” kata Tante Ani lagi sambil melambai ke arahku.

    Aku tidak bisa lagi menolak, takut membuat Tante Ani tersinggung. Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras, sementara Tante Ani masih berdiri di depan pintu.

    “Nak Didik, duduk di dalem saja. Tante lagi kurang enak badan, tante nanti nggak bisa nemenin kamu kalau duduk di luar.”
    “Ya tante,” jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan.
    “Agus ikut Om pergi kemana sih tante?” tanyaku basa-basi setelah duduk di sofa di ruang tamu.
    “Pada ke *kota X*, ke rumah kakek. Mendadak sih tadi pagi. Soalnya om-mu itu kan jarang sekali libur. Sekali boleh cuti, langsung mau nengok kakek.”
    “Ehm.. tante nggak ikut?”
    “Besuk pagi rencananya tante nyusul. Soalnya hari ini tadi tante nggak bisa ninggalin kantor, masih ada yang mesti diselesaiin,” jawab Tante Ani.
    “Emangnya Agus nggak ngasih tahu kamu kalau dia pergi?”
    “Nggak tante,” jawabku sambil sedikit terheran-heran. Tidak biasanya Tante Ani menyebutku dengan “kamu”. Biasanya dia menyebutku dengan “nak Didik”.
    “Kok bengong!” Tanya Tante Ani membuatku kaget.
    “Eh.. anu.. eh..,” aku tergugup-gugup.
    “Ona-anu, ona-anu. Emang anunya siapa?” Tante Ani meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah. Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat, sehingga rasa jengahku tidak berkepanjangan.
    “Mas Didik, silakan tehnya dicicipin, keburu dingin nggak enak,” kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku.
    “Makasih Bi,” jawabku pelan.
    “Itu tehnya diminum ya, tante mau mandi dulu.. bau,” kata Tante Ani sambil tersenyum. Setelah itu Tante Ani dan pembantunya masuk ke ruang tengah. Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk.

    Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu, sampai akhirnya Tante Ani nampak keluar dari ruang tengah. Dia memakai T-shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut. Harus kuakui, meskipun umurnya sudah 40-an namun badannya masih bagus. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya meskipun sudah mulai ada kerut di sana-sini, tapi masih jelas menampakkan sisa-sisa kecantikannya.

    “Eh, ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu. Heran ya liat nenek-nenek.”
    “Mati aku!” kataku dalam hati. Ternyata Tante Ani tahu sedang aku perhatikan. Aku hanya bisa menunduk malu, mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus.
    “Heh, malah bengong lagi,” katanya lagi. Kali ini aku sempat melihat Tante Ani tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu kalau dia tidak marah.
    “Maaf tante, nggak sengaja,” jawabku sekenanya.
    “Mana ada nggak sengaja. Kalau sebentar itu nggak sengaja, lha ini lama gitu ngeliatnya,” kata Tante Ani lagi.

    Meskipun masih merasa malu, namun aku agak tenang karena kata-kata Tante Ani sama sekali tidak menunjukkan sedang marah.

    “Kata Agus, kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya?” Tanya Tante Ani.
    “Eh, iya tante. Pertandingan antar SMU se-kota. Tapi masih dua minggu lagi kok tante, sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan,” Aku sudah mulai tenang kembali.
    “Pelajaran kamu terganggu nggak?”
    “Ya sebenarnya lumayan menggangu tante, habisnya latihannya belakangan ini berat banget, soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran. Tapi, sekolah juga ngasih dispensasi kok tante. Jadi kalau capeknya nggak ketulungan, kami dikasih kesempatan untuk nggak ikut pelajaran. Kalau nggak begitu, nggak tahu lah tante. Soalnya kalau badan udah pegel-pegel, ikut pelajaranpun nggak konsen.”
    “Kalau pegel-pegel kan tinggal dipijit saja,” kata Tante Ani.
    “Masalahnya siapa yang mau mijit tante?”
    “Tante mau kok,” jawab Tante Ani tiba-tiba.
    “Ah, tante ini becanda aja,” kataku.
    “Eh, ini beneran. Tante mau mijitin kalau memang kamu pegel-pegel. Kalau nggak percaya, sini tante pijit,” katanya lagi.
    “Enggak ah tante. Ya, saya nggak berani tante. Nggak sopan,” jawabku sambil menunduk setelah melihat Tante Ani nampak sungguh-sungguh dengan kata-katanya.
    “Lho, kan tante sendiri yang nawarin, jadi nggak ada lagi kata nggak sopan. Ayo sini tante pijit,” katanya sambil memberi isyarat agar aku duduk di sofa di sebelahnya.

    Penyakit gugupku kambuh lagi. Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jari-jariku.

    “Ya udah, kalau kamu sungkan biar tante ke situ,” katanya sambil berjalan ke arahku. Sebentar kemudian sambil berdiri di samping sofa, Tante Ani memijat kedua belah pundakku. Aku hanya terdiam, tidak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu.

    Setelah beberapa menit, Tante Ani menghentikan pijitannya. Kemudian dia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku agar menunggu. Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Tante Ani setelah itu. Yang aku tahu, aku sempat melihat bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping, yang tidak lama kemudian disusul Tante Ani yang keluar lagi dari ruang tengah.

    “Bibi tante suruh beli kue. Kue di rumah sudah habis,” katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak sempat kuucapkan. “Ayo sini tante lanjutin mijitnya. Pindah ke sini aja biar lebih enak,” kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang disuruh Tante Ani. Kemudian aku disuruh duduk menyamping dan Tante Ani duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi.

    “Gimana, enak nggak dipijit tante?” Tanya Tante Ani sambil tangannya terus memijitku. Aku hanya mengangguk pelan.
    “Biar lebih enak, kaosnya dibuka aja,” kata Tante Ani kemudian. Aku diam saja. Bagaimana mungkin aku berani membuka kaosku, apalagi perasaanku saat itu sudah tidak karuan.
    “Ya sudah. Kalau gitu, biar tante bantu bukain,” katanya sambil menaikkan bagian bawah kaosku. Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante Ani membuka kaosku.

    Setelah itu Tante Ani kembali memijitku. Sekarang tidak lagi hanya pundakku, tapi mulai memijit punggung dan kadang pinggangku. Perasaanku kembali tidak karuan, bukan hanya pijitannya kini, tapi sepasang benda empuk sering menyentuh bahkan kadang menekan punggungku. Meski seumur-umur aku belum pernah menyentuh payudara, tapi aku bisa tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu adalah sepasang payudara Tante Ani.

    Tante AniBeberapa lama aku berada dalam situasi antara merasa nyaman, malu dan gugup sekaligus, sampai akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup bagian depan celanaku. Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu adalah tangan Tante Ani.

    “Tante.. ” kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu. Tante Ani seperti tidak mempedulikanku, dia malah sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku. Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya aku mulai bisa melihat dan merasakan Tante Ani mengelus penisku dari luar CD-ku.

    Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan. Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi, aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante Ani sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai-belainya. Setelah itu aku lebih sering memejamkan mata sambil sekali-kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante Ani.

    Tak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan. Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat. Ketika aku melirik lagi, kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante Ani, sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku. Aku hanya bisa terpejam sambil mendesis-desis keenakan. Beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante Ani melepaskan penisku dari mulutnya, tapi mempercepat kocokan pada batang penisku.

    “Sssshhhh.. creettt… creett… ” Sambil mendesis menikmati sensasi rasa yang luar biasa aku merasakan cairan hangat menyemprot sampai ke dadaku, cairan air mani ku sendiri.
    “Ah, dasar anak muda, baru segitu aja udah keluar,” Tante Ani berbisik di dekat telingaku. Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante Ani, yang aku tahu tangannya tidak berhenti mengelus-elus penisku. “Tapi ini juga kelebihan anak muda. Udah keluarpun, masih kenceng begini,” bisik Tante Ani lagi.

    Setelah itu aku lihat Tante Ani melepas T-Shirtnya, kemudian berturut-turut, BH, celana dan CD-nya. Aku terus terbelalak melihat pemandangan seperti itu. Dan Tante Ani seperti tidak peduli kemudian meluruskan posisi ku, kemudian dia mengangkang duduk di atasku. Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi, kali ini di arahkan ke selangkangan Tante Ani.

    “Sleppp…. Aaaaahhhhh… ” suara penisku menembus vagina Tante Ani diiringi desahan panjangnya. Kemudian Tante Ani bergerak turun naik dengan cepat sambil mendesah-desah. Mulutnya terkadang menciumi dada, leher dan bibirku.

    Ada beberapa menit Tante Ani bergerak naik turun, sampai akhirnya dia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit-jerit kecil dengan liarnya. Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak lama kemudian…

    “Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…….. ,” Tante Ani melenguh panjang, bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali. Setelah itu Tante Ani terkulai, merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku.

    “Terima kasih Dik…,” bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku.

    Sejak kejadian itu, aku mengalami syok. Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku. Sulit membayangkan seandainya Agus mengetahui kejadian itu. Perubahan besar mulai terjadi pada diriku, aku mulai sering menyendiri dan melamun.

    Namun selain rasa takut dan bersalah, ada perasaan lain yang menghinggapi aku. Aku sering terbayang-bayang Tante Ani dia telanjang bulat di depanku, terutama waktu malam hari, sehingga aku tiap malam susah tidur. Selain seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang telah Tante Ani lakukan padaku.

    Perubahan pada diriku ternyata dirasakan juga oleh paman dan bibiku dan juga teman-temanku, termasuk Agus. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Situasi seperti itu berlangsung sampai seminggu lebih yang membuat kesehatanku mulai drop akibat tiap malam susah tidur, dan paginya tetap kupaksakan masuk sekolah. Akibat dari itu pula, akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku, karena kondisiku tidak memungkinkan lagi untuk mengikuti latihan-latihan berat.

    Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah. Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku. Sebenarnya persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota, namun aku memilih halte yang lebih sepi agar tidak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku.

    Saat asyik berjalan sambil menunduk, aku dikejutkan mobil yang tiba-tiba merapat dan berhenti agak di depanku. Lebih terkejut lagi saat tahu itu mobil itu mobil papanya Agus. Setelah memperhatikan isi dalam mobil, jantungku berdesir. Tante Ani yang mengendari mobil itu, dan sendirian.

    “Dik, cepetan masuk, ntar keburu ketahuan yang lain,” panggil Tante Ani sambil membuka pintu depan sebelah kiri.

    Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa-apa.

    “Cepetan sini!” kali ini suara Tante Ani lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan.
    “I.. Iya.. tante,” akhirnya aku menuruti panggilan Tante Ani, dan bergegas masuk mobil.
    “Nah, gitu. Keburu ketahuan temen-temenmu, repot.” kata Tante Ani sambil langsung menjalankan mobilnya.

    Di dalam mobil aku hanya diam saja, meskipun aku bisa sedikit melihat Tante Ani beberapa kali menengok padaku.

    “Tumben kamu nggak bareng Agus,” Tanya Tante Ani tiba-tiba.
    “Enn.. Enggak tante. Saya lagi pengin sendirian saja. Tante nggak sekalian jemput Agus?” aku sudah mulai menguasai diriku.
    “Kan, emang Agus nggak pernah dijemput,” jawab Tante Ani.
    “Eh, iya ya,” jawabku seperti orang bloon.

    Setelah itu kami lebih banyak diam. Tante Ani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di sebuah komplek pertokoan Tante Ani melambatkan mobilnya sambil melihat-lihat mungkin mencari tempat parkir yang kosong. Setelah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari tempat yang agak jauh dari pusat pertokoan, Tante Ani mengajak aku turun.

    Setelah turun, Tante Ani langsung menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas. Terlihat dia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar, kemudian langsung memanggilku supaya ikut naik taksi. Setelah masuk taksi, Tante Ani memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya diam, kemudian dia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya, entah kecapaian atau apa. Kira-kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota.

    “Dik, kamu masuk duluan, kamu langsung aja. Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante. Nanti tante nyusul,” kata Tante Ani memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku agar keluar.

    Kemudian aku masuk ke hotel, aku memilih langsung mencari petunjuk yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis. Dan memang tidak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci. Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar, namun hanya duduk-duduk saja di situ.

    Kira-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar, ternyata Tante Ani. Dia langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang.

    “Agus bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya?!” tanyanya tanpa ba-bi-bu dengan nada agak tinggi.
    “I.. iya tante,” jawabku pelan.
    “Kamu juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu, nggak pernah main lagi sama Agus,” Tante Ani menyemprotku yang hanya bisa diam tertunduk.
    “Kamu tahu, itu bahaya. Orang-orang dan keluargaku bisa tahu apa yang sudah terjadi.. ,” kata-kata Tante Ani terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan.
    “Tapi.. saya nggak pernah ngasih tahu siapa-siapa,” kataku.
    “Memang kamu belum ngasih tahu, tapi kalau ditanyain terus-terusan bisa-bisa kamu cerita juga,” katanya lagi sambil sesenggukan. “Apa yang terjadi dengan keluarga tante jika semuanya tahu!”

    “Tante memang salah, tante yang membuat kamu jadi begitu,” kata Tante Ani, kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya. “Tapi kalau kamu merasakan seperti yang tante rasakan..” terputus lagi.

    “Merasakan apa tante?”

    Akhirnya Tante Ani cerita panjang lebar tentang rumah tangganya. Tentang suaminya yang sibuk mengejar karir, sehingga hampir tiap hari pulang malam, dan jarang libur. Tentang kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kesibukan suaminya, serta beratnya menahan hasrat biologisnya akibat dari semua itu.

    “Kalau kamu mau marah, marahlah. Entah kenapa, tante nggak sanggup lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah minggu kemarin. Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa, yang penting kamu sudah tahu masalah tante. Sekarang kalau mau pulang, pulanglah, tante yang ngongkosin taksinya,” kata Tante Ani lirih sambil membuka tasnya, mungkin mau mengeluarkan dompet.

    “Nggak.. nggak usah tante.. ” aku mencegah.
    “Saya belum mau pulang, saya nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan.”

    Entah pengaruh apa yang bisa membuatku seketika bisa bersikap gagah seperti itu. Aku hampiri Tante Ani, aku elus-elus kepalanya. Hilang sudah perasaan sungkanku padanya. Tante Ani kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku.

    Baca Juga : Nafsu Sang Majikan

    Setelah beberapa lama, aku duduk di samping Tante Ani. Kuusap-usap dan sibakkan rambutnya. Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir. Pelahan kucium keningnya. Kemudian, entah siapa yang mulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu. Ternyata, kalau tidak sedang merasa sungkan atau takut, aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku.

    Cukup lama kami berciuman bibir, dan makin lama makin liar. Aku mulai mengusap punggung Tante Ani yang masih memakai baju lengkap, dan kadang turun untuk meremas pantatnya. Tante Ani pun melakukan hal yang sama padaku.

    Tante Ani sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian lengkap. Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU-ku, kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku. Kemudian dia melepaskan pelukanku dan berdiri. Pelan-pelan dia membuka pakain luarnya, sampai hanya memakai CD dan BH. Meskipun aku sudah melihat Tante Ani telanjang, tapi pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh membuat nafsuku bergejolak, meskipun masih tertutup CD dan BH. Aku langsung berdiri, kupeluk dan kudorong ke arah dinding, sampai kepala Tante Ani membentur dinding, meski tidak begitu keras.

    “Ah, pelan-pelan doonnng,” kata Tante Ani manja diiringi desahannya desahannya.

    Aku semakin liar saja. Kupagut lagi bibir Tante Ani, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yang masih memakai BH. Tante Ani tidak mau kalah, bahkan tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku. Kemudian, diteruskannya dengan menginjaknya agar bisa melorot sempurna. Aku bantu upaya Tante Ani itu dengan mengangkat kakiku bergantian, sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat.

    Setelah itu Tante Ani membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang. Rupanya dia tahu aku kesulitan untuk membuka BH-nya. Sekarang aku leluasa meremas-remas kedua buah dada Tante Ani yang cukup besar itu, sedang Tante Ani mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang.

    Kemudian tante setengah menjambak Tante Ani mendorong kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri. Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku, kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku.

    “Aaaaahh….. oooouhghhh… ” desahan Tante Ani makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku.

    Beberapa kali aku isap puting susu Tante Ani bergantian, mengikuti sebelah mana yang dia maui. Setelah puas buah dadanya aku mainkan, Tante Ani mendorong tubuhku pelan ke belakang. Kemudian dia berputar, berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang. Sampai di pinggir ranjang, Tante Ani sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang dia telentang dengan aku menindih di atasnya, sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai. Setelah itu, dia berusaha melorotkan CD-nya, yang kemudian aku bantu sehinggap Tante Ani kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku.

    Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku. Tante Ani yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak saya menatapku. Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat nampak benar menantang, seperti menyembul didukung oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Bibir vaginanya nampak mengkilap terkena cairan dari dalamnya. (Waktu itu aku belum bisa menilai dan membanding-bandingkan buah dada, mana yang kencang, bagus dan sebagainya. Paling hanya besar-kecilnya saja yang bisa aku perhatikan).

    “Sini sayaangg.. ,” panggil Tante Ani yang melihat aku berdiri memandangi tiap jengkal tubuhnya. Aku menghampirinya, menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Tapi, Tante Ani menahanku. Nampak dia menggeleng sambil memandangku. Kemudian tiba-tiba kepalaku didorong kebawah. Terus didorong cukup kuat sampai mulutku persis berada di depan lubang vaginanya. Setelah itu Tante Ani berusaha agar mulutku menempel ke vaginanya. Awalnya aku ikuti, tapi setelah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku, aku agak melawan.

    Mengetahui aku tidak mau mengikuti kemauannya, dia bangun. Ditariknya kedua tanganku agar aku naik ke ranjang, ditelentangkannya tubuhku. Sempat aku melihat bibirnya tersenyum, sebelum di mengangkang tepat di atas mulutku.

    “Bleepp… ” aku agak gelagapan saat vagina Tante Ani ditempel dan ditekankan di mulutku. Tante Ani memberi isyarat agar aku tidak melawan, kemudian pelan-pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku, sambil mulutnya mendesis-desis tidak karuan. Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante Ani, sudah mulai familiar dan bisa menikmatinya. Bahkan, secara naluriah, kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante Ani.

    “Oooohhh… sssshhh… pinter kamu sayang… oh… ” gerakan Tante Ani makin cepat sambil meracau. Tiba-tiba, dia memutar badannya. Kagetku hanya sejenak, berganti kenikmatan yang luar biasa setelah penisku masuk ke mulut Tante Ani. Aku merasakan kepala penisku dikulum dan dijilatinya, sambil tangannya mengocok batang penisku. Sementara itu, vaginanya masih menempel dimulutku, meskipun gesekannya sudah mulai berkurang. Sambil menikmati aku mengelus kedua pantat Tante Ani yang persis berada di depan mataku.

    Setelah puas dengan permainan seperti itu, Tante Ani mulai berputar dan bergeser. Masih mengangkang, tapi tidak lagi di atas mulutku, kali ini tepat di atas ujung penisku yang tegak.

    “Sleep.. blesss… ooooooooooooohhhhhh,” penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante Ani diikuti desahan panjangnya, yang malah lebih mirip dengan lolongan.

    Tante Ani bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tidak karuan. Tidak seperti yang pertama waktu di rumah Tante Ani, kali ini aku tidak pasif. Aku meremas kedua buah dada Tante Ani yang semakin menambah tidak karuan racauannya. Rupanya, aksi Tante Ani itu tidak lama, karena kulihat tubuhnya mulai mengejang. Setengah menyentak dia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku.

    “Ooooooooohhh…. Aaaaaaaaahhh….. ” Tante Ani ambruk, terkulai lemas setelah mencapai puncak.

    Beberapa saat dia menikmati kepuasannya sambil terkulai di atasku, sampai kemudian dia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku, dan menarik tubuhku agar gantian menindihnya.

    Sekaraang gantian aku mendorong keluar-masuk penisku dari posisi atas. Tante Ani terus membelai rambut dan wajahku, tanpa berhenti tersenyum. Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku, karena terasa ada bendungan yang mau pecah.

    “Tanteeeeee……. Oooooohhh……. ” gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam-dalam. Tante Ani menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya, saat aku mencapai puncak.

    Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, aku dan Tante Ani terus ngobrol sambil tetap berpelukan yang diselingi dengan ciuman. Waktu ngobrol itu pula Tante Ani banyak memberi tahu tentang seks, terutama bagian-bagian sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor bagian-bagian sensitif itu.

    Setelah jam 4 sore, Tante Ani mengajak pulang. Aku sebenarnya belum mau pulang, aku mau bersetubuh sekali lagi. Tapi Tante Ani berkeras menolak.

    “Tante janji, kamu masih terus bisa menikmati tubuh tante ini. Tapi ingat, kamu harus kembali bersikap seperti biasa, terutama pada Agus. Dan kamu harus kembali ke tim sepakbola. Janji?”

    “He-em,” aku menganggukkan kepala.

    “Ingat, kalau kamu tepat janji, tante juga tepat janji. Tapi kalau kamu ingkar janji, lupakan semuanya. Oke?” Aku sekali mengangguk.

    Sebelum aku dan Tante Ani memakai pakaian masing-masing, aku sempatkan mencium bibir Tante Ani dan tak lupa bibir bawahnya. Setelah selesai berpakaian, Tante Ani memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan.

    Sejak itu perasaanku mulai ringan kembali, dan aku sudah normal kembali. Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku, yang untungnya masih diterima. Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak. Dan Tante Ani menepati janjinya. Dia benar-benar telah menjadi pasangan kencanku, dan guru sex-ku sekaligus. Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah tempat, dari hotel satu ke hotel yang lain, bahkan kadang-kadang keluar kota. Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati-hati, agar tidak diketahui orang lain, terutama keluarga Tante Ani.

    Sejak itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dalam pergaulanku dengan teman-teman cewek. Aku yang awalnya dikenal pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai dikenal sebagai play boy. Sampai lulus SMU, beberapa cewek baik dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari, dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke tempat tidur. (Lain waktu, kalau sempat saya ceritakan petualangan saya tersebut).

    Begitulah kisah awalku dengan Tante Ani, yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya. Sampai saat ini, aku masih berhubungan dengan Tante Ani, meskipun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali. Meskipun dari segi daya tarik seksual Tante Ani sudah jauh menurun, namun aku tidak mau melupakannya begitu saja. Apalagi, Tante Ani tidak pernah berhubungan dengan pria lain, karena dianggapnya resikonya terlalu besar.

    Begitulah, Tante Ani yang terjepit antara hasrat seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial yang harus selalu dijaga.

  • Nafsu Sang Majikan

    Nafsu Sang Majikan


    80 views

    Ceritamaya | Hingga kini, kisah ini masih sering terlintas dalam benak dan pikiranku. Entah suatu keberuntungankah atau kepedihan bagi si pelaku. Yang jelas dia sudah mendapatkan pengalaman berharga dari apa yang dialaminya.

    Sebut saja namaya si Jo. Berasal dari kampung yang sebenarnya tidak jauh-jauh sekali dari kota Y. Di kota Y inilah dia numpang hidup pada seorang keluarga kaya. Suami istri berkecukupan dengan seorang lagi pembantu wanita Inah, dengan usia kurang lebih diatas Jo 2-3 tahun. Jo sendiri berumur 15 tahun jalan.

    Pada suatu hari nyonya majikannya yang masih muda, Ibu Rhieny atau biasa mereka memanggil Bu Rhien, mendekati mereka berdua yang tengah sibuk di dapur yang terletak di halaman belakang, di depan kamar si Jo.

    “Inah.., besok lusa Bapak hendak ke Kalimantan lagi. Tolong siapkan pakaian secukupnya jangan lupa sampai ke kaos kakinya segala..” perintahnya.
    “Kira-kira berapa hari Bu..?” tanya Inah.
    “Cukup lama.. mungkin hampir 1 bulan.”
    “Baiklah Bu..” tukas Inah mahfum.

    Bu Rhien segera berlalu melewati Jo yang tengah membersihkan tanaman di pekarangan belakang tersebut. Dia mengangguk ketika Jo membungkuk hormat padanya.

    Ibu Rhien majikannya itu masih muda, paling tua mungkin sekitar 30 tahunan, begitu Inah pernah cerita kepadanya. Mereka menikah belum lama dan termasuk lambat karena keduanya sibuk di study dan pekerjaan. Namun setelah menikah, Bu Rhien nampaknya lebih banyak di rumah. Walaupun sifatnya hanya sementara, sekedar untuk jeda istirahat saja.

    Dengan perawakan langsing, dada tidak begitu besar, hidung mancung, bibir tipis dan berkaca mata serta kaki yang lenjang, Bu Rhien terkesan angkuh dengan wibawa intelektualitas yang tinggi. Namun kelihatan kalau dia seorang yang baik hati dan dapat mengerti kesulitan hidup orang lain meski dalam proporsi yang sewajarnya. Dengan kedua pembantunya pun tidak begitu sering berbicara.

    Hanya sesekali bila perlu. Namun Jo tahu pasti Inah lebih dekat dengan majikan perempuannya, karena mereka sering bercakap-cakap di dapur atau di ruang tengah bila waktunya senggangBeberapa hari kepergian Bapak ke Kalimantan, Jo tanpa sengaja menguping pembicaraan kedua wanita tersebut.

    “Itulah Nah.. kadang-kadang belajar perlu juga..” suara Bu Rhien terdengar agak geli.
    “Di kampung memang terus terang saya pernah Bu..” Inah nampak agak bebas menjawab.
    “O ya..?”
    “Iya.. kami.. sst.. pss..” dan seterusnya Jo tidak dapat lagi menangkap isi pembicaraan tersebut. Hanya kemudian terdengar tawa berderai mereka berdua.

    Jo mulai lupa percakapan yang menimbulkan tanda tanya tersebut karena kesibukannya setiap hari. Membersihkan halaman, merawat tanaman, memperbaiki kondisi rumah, pagar dan sebagainya yang dianggap perlu ditangani. Hari demi hari berlalu begitu saja. Hingga suatu sore, Jo agak terkejut ketika dia tengah beristirahat sebentar di kamarnya.

    Tiba-tiba pintu terbuka, “Kriieet.. Blegh..

    ” pintu itu segera menutup lagi.

    Dihadapannya kini Bu Rhien, majikannya berdiri menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat ia mengerti.

    “Jo..” suaranya agak serak.
    “Jangan kaget.. nggak ada apa-apa. Ibu hanya ada perlu sebentar..”
    “Maaf Bu..

    ” Jo cepat-cepat mengenakan kaosnya.

    Barusan dia hanya bercelana pendek. Bu Rhien diam dan memberi kesempatan Jo mengenakan kaosnya hingga selesai. Nampaknya Bu Rhien sudah dapat menguasai diri lagi. Dengan mimik biasa dia segera menyampaikan maksud kedatangannya.

    “Hmm..,” dia melirik ke pintu.
    “Ibu minta kamu nggak usah cerita ke siapa-siapa. Ibu hanya perlu meminjam sesuatu darimu..”
    Kemudian dia segera melemparkan sebuah majalah.
    “Lihat dan cepatlah ikuti perintah Ibu..

    ” suara Bu Rhien agak menekan.
    Agak gelagapan Jo membuka majalah tersebut dan terperangah mendapati berbagai gambar yang menyebabkan nafasnya langsung memburu. Meski orang kampung, dia mengerti apa arti semua ini. Apalagi jujur dia memang tengah menginjak usia yang sering kali membuatnya terbangun di tengah malam karena bayangan dan hawa yang menyesakkan dada bila baru nonton TV atau membaca artikel yang sedikit nyerempet ke arah “itu”.

    Sejurus diamatinya Bu Rhien yang tengah bergerak menuju pintu. Beliau mengenakan kaos hijau ketat, sementara bawahannya berupa rok yang agak longgar warna hitam agak berkilat entah apa bahannya. Segera tangan putih mulus itu menggerendel pintu.

    Kemudian.., “Berbaringlah Jo.. dan lepaskan celanamu..

    “Agak ragu Jo mulai membuka.
    “Dalemannya juga..” agak jengah Bu Rhien mengucapkan itu.

    Dengan sangat malu Jo melepaskan CD-nya. Sejenak kemudian terpampanglah alat pribadinya ke atas.

    Lain dari pikiran Jo, ternyata Bu Rhien tidak segera ikut membuka pakaiannya. Dengan wajah menunduk tanpa mau melihat ke wajahnya, dia segera bergerak naik ke atas tubuhnya. Jo merasakan desiran hebat ketika betis mereka bersentuhan.
    Naik lagi.. kini Jo bisa merasakan halusnya paha majikannya itu bersentuhan dengan paha atasnya. Naik lagi.. dan.. Jo merasakan seluruh tulang belulangnya kena setrum ribuan watt ketika ujung alat pribadinya menyentuh bagian lunak empuk dan basah di pangkal paha Bu Rhien.

    Tanpa memperlihatkan sedikitpun bagian tubuhnya, Bu Rhien nampaknya hendak melakukan persetubuhan dengannya. Jo menghela nafas dan menelan ludah ketika tangan lembut itu memegang alatnya dan, “Bleesshh..

    Dengan badan bergetar antara lemas dan kaku, Jo sedikit mengerang menahan geli dan kenikmatan ketika barangnya dilumat oleh daging hangat nan empuk itu.

    Dengan masih menunduk Bu Rhien mulai menggoyangkan pantatnya. Tangannya menepis tangan Jo yang secara naluriah hendak merengkuhnya.

    “Hhh.. ehh.. sshh.. ” kelihatan Bu Rhien menahan nafasnya.
    “Aakh.. Bu.. saya.. saya nggak tahan..” Jo mulai mengeluh.
    “Tahann sebentar.. sebentar saja..

    ” Bu Rhien nampak agak marah mengucapkan itu, keringatnya mulai bermunculan di kening dan hidungnya.

    Sekuat tenaga Jo menahan aliran yang hendak meledak di ujung peralatannya. Di atasnya Bu Rhien terus berpacu.. bergerak semakin liar hingga dipan tempat mereka berada ikut berderit-derit. Makin lama semakin cepat dan akhirnya nampak Bu Rhien mengejang, kepalanya ditengadahkan ke atas memperlihatkan lehernya yang putih berkeringat.

    “Aaahhkhh..

    Sejurus kemudian dia berhenti bergoyang. Lemas terkulai namun tetap pada posisi duduk di atas tubuh Jo yang masih bergetar menahan rasa. Nafasnya masih memburu.

    Beberapa saat kemudian, “Pleph..

    ” tiba-tiba Bu Rhien mencabut pantatnya dari tubuh Jo.

    Dia segera berdiri, merapihkan rambutnya dan roknya yang tersingkap sebentar.
    Kemudian, “Jangan cerita kepada siapapun..

    ” tandasnya, “Dan bila kamu belum selesai, kamu bisa puaskan ke Inah.. Ibu sudah bicara dengannya dan dia bersedia..” tukasnya cepat dan segera berjalan ke pintu lalu keluar.

    Jo terhenyak di atas kasurnya. Sejenak dia berusaha menahan degup jantungnya. Diambilnya nafasdalam-dalam. Sambil sekuat tenaga meredam denyutan di ujung penisnya yang terasa mau menyembur cepat itu. Setelah bisa tenang, dia segera bangkit, mengenakan pakaiannya kemudian berbaring.

    nafasnya masih menyisakan birahi yang tinggi namun kesadarannya cepat menjalar di kepalanya. Dia sadar, tak mungkin dia menuntut apapun pada majikan yang memberinya hidup itu. Namun sungguh luar biasa pengalamannya tersebut. Tak sedikitpun terpikir, Bu rhien yang begitu berwibawa itu melakukan perbuatan seperti ini.

    Dada Jo agak berdesir teringat ucapan Bu Rhien tentang Inah. Terbayang raut wajah Inah yang dalam benaknya lugu, tetapi kenapa mau disuruh melayaninya..? Jo menggelengkan kepala.. Tidak..

    biarlah perbuatan bejat ini antara aku dan Bu Rhien. Tak ingin dia melibatkan orang lain lagi. Perlahan tapi pasti Jo mampu mengendapkan segala pikiran dan gejolak perasaannya. Beberapa menit kemudian dia terlelap, hanyut dalam kenyamanan yang tanggung dan mengganjal dalam tidurnya.

    Perlakuan Bu Rhien berlanjut tiap kali suaminya tidak ada di rumah. Selalu dan selalu dia meninggalkan Jo dalam keadaan menahan gejolak yang menggelegak tanpa penyelesaian yang layak. Beberapa kali Jo hendak meneruskan hasratnya ke Inah, tetapi selalu diurungkan karena dia ragu-ragu, apakah semuanya benar-benar sudah diatur oleh majikannya atau hanyalah alasan Bu Rhien untuk tidak memberikan balasan pelayanan kepadanya.

    Hingga akhirnya pada suatu malam yang dingin, di luar gerimis dan terdengar suara-suara katak bersahutan di sungai kecil belakang rumah dengan rythme-nya yang khas dan dihafal betul oleh Jo. Dia agak terganggu ketika mendengar daun pintu kamarnya terbuka.

    “Kriieet..
    ” ternyata Bu Rhien.

    Nampak segera melangkah masuk kamar. Malam ini beliau mengenakan daster merah jambu bergambar bunga atau daun-daun apa Jo tidak jelas mengamatinya. Karena segera dirasakannya nafasnya memburu, kerongkongannya tercekat dan ludahnya terasa asin. Wajahnya terasa tebal tak merasakan apa-apa.

    Nafsu Sang MajikanAgak terburu-buru Bu Rhien segera menutup pintu. Tanpa bicara sedikitpun dia menganggukkan kepalanya. Jo segera paham. Dia segera menarik tali saklar di kamarnya dan sejenak ruangannya menjadi remang-remang oleh lampu 5 watt warna kehijauan. Sementara menunggu Jo melepas celananya, Bu rhien nampak menyapukan pandangannya ke seantero kamar.

    “Hmm.. anak ini cukup rajin membersihkan kamarnya..” pikirnya.

    Tapi segera terhenti ketika dilihatnya “alat pemuasnya” itu sudah siap.
    Dan.., kejadian itu terulang kembali untuk kesekian kalinya. Setelah selesai Bu Rhien segera berdiri dan merapihkan pakaiannya. Dia hendak beranjak ketika tiba-tiba teringat sesuatu.

    “Oh Ibu lupa..” terhenti sejenak ucapannya.

    Jo berpikir keras.. kurang apa lagi..? Jujur dia mulai tidak tahan mengatasi nafsunya tiap kali ditinggal begitu saja, ingin sekali dia meraih pinggang sexy itu tiap kali hendak keluar dari pintu.
    Lanjutnya, “Hmm.. Inah pulang kampung pagi tadi..” dengan wajah agak masam Bu Rhien segera mengurungkan langkahnya.

    “Rasanya tidak adil kalau hanya Ibu yang dapat. Sementara kamu tertinggal begitu saja karena tidak ada Inah..”

    Jo hampir keceplosan bahwa selama ini dia tidak pernah melanjutkan dengan Inah. Tapi mulutnya segera dikuncinya kuat-kuat. Dia merasa Bu Rhien akan memberinya sesuatu. Ternyata benar.. Perempuan itu segera menyuruhnya berdiri.

    “Terpaksa Ibu melayani kamu malam ini. Tapi ingat.., jangan sentuh apapun. Kamu hanya boleh melakukannya sesuai dengan yang Ibu lakukan kepadamu..”

    Kemudian Bu Rhien segera duduk di tepi ranjang. Dirainya bantal untuk ganjal kepalanya. Sejuruskemudian dia membuka pahanya. Matanya segera menatap Jo dan memberinya isyarat.

    “..” Jo tergagap. Tak mengira akan diberi kesempatan seperti itu.

    Dalam cahaya kamar yang minim itu dadanya berdesir hebat melihat sepasang paha mulus telentang. Di sebelah atas sana nampak dua bukit membuncah di balik BH warna krem yang muncul sedikit di leher daster. Dengan pelan dia mendekat. Kemudian dengan agak ragu selangkangannya diarahkan ke tengah diantara dua belah paha mulus itu. Nampak Bu Rhien memalingkan wajah ke samping jauh.. sejauh-jauhnya.

    “Degh.. degh..” Jo agak kesulitan memasukkan alatnya.

    Karena selama ini dia memang pasif. Sehingga tidak ada pengalaman memasukkan sama sekali. Tapi dia merasakan nikmat yang luar biasa ketika kepala penisnya menyentuh daging lunak dan bergesekan dengan rambut kemaluan Bu Rhien yang tebal itu. Hhh..

    Nikmat sekali. Bu Rhien menggigit bibir. Ingin rasanya menendang bocah kurang ajar ini. Tapi dia segera menyadari ini semua dia yang memulai. Badannya menggelinjang menahan geli ketika dengan agak paksa namun tetap pelan Jo berhasil memasukkan penisnya (yang memang keras dan lumayan itu) ke peralatan rahasianya.

    Beberapa saat kemudian Jo secara naluriah mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur.

    “Clep.. clep.. clep..
    ” bunyi penisnya beradu dengan vagina Bu Rhien yang basah belum dicuci setelah persetubuhan pertama tadi.
    “Plak.. plak.. plakk..,” kadang Jo terlalu kuat menekan sehingga pahanya beradu dengan paha putih mulus itu.
    “Ohh.. enak sekali..” pikir Jo.

    Dia merasakan kenikmatan yang lebih lagi dengan posisi dia yang aktif ini.

    “Ehh.. shh.. okh..,” Jo benar-benar tak kuasa lagi menutupi rasa nikmatnya.

    Hampir beberapa menit lamanya keadaan berlangsung seperti itu. Sementara Jo selintas melirik betapa wajah Bu rhien mulai memerah. Matanya terpejam dan dia melengos ke kiri, kadang ke kanan.

    “Hkkhh..” Bu Rhien berusaha menahan nafas.

    Mulanya dia berfikir pelayanannya hanya akan sebentar karena dia tahu anak ini pasti sudah diujung “konak”-nya.
    Tapi ternyata, “Huoohh..,” Bu Rhien merasakan otot-otot kewanitaannya tegang lagi menerima gesekan-gesekan kasar dari Jo.

    Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terbangkitkan nafsunya.

    Baca Juga : Memuaskan Cewek Hiperseks

    Jo terus bergoyang, berputar, menyeruduk, menekan dan mendorong sekuat tenaga. Dia benar-benar sudah lupa siapa wanita yang dihadapannya ini. yang terfikir adalah keinginan untuk cepat mengeluarkan sesuatu yang terasa deras mengalir dipembuluh darahnya dan ingin segeradikeluarkannya ..

    “Ehh..” Bu Rhien tak mampu lagi membendung nafsunya.

    Daster yang tadinya dipegangi agar tubuhnya tidak banyak tersingkap itu terlepas dari tangannya, sehingga kini tersingkap jauh sampai ke atas pinggang. Melihat pemandangan ini Jo semakin terangsang. Dia menunduk mengamati alatnya yang serba hitam, kontras dengan tubuh putih mulus di depannya yang mulai menggeliat-geliat, sehingga menyebabkan batang kemaluannya semakin teremas-remas.

    “Ohh.. aduh.. Bu..,” Jo mengerang pelan penuh kenikmatan.

    Yang jelas Bu Rhien tak akan mendengarnya karena beliau sendiri tengah berjuang melawan rangsangan yang semakin dekat ke puncaknya.

    “Okh.. hekkhh..” Bu Rhien menegang, sekuat tenaga dia menahan diri, tapi sodokan itubenar-benar kuat dan tahan.

    Diam-diam dia kagum dengan stamina anak ini.

    Akhirnya karena sudah tidak mampu lagi menahan, Bu Rhien segera mengapitkan kedua pahanya, tanganya meraih sprei, meremasnya, dan.., “Aaakkhh..

    ” dia mengerang nikmat. Orgasmenya yang kedua dari si Jo malam ini. Sementara si Jo pun sudah tak tahan lagi. Saat paha mulus itu menjepit pinggangnya dan kemudian pantat wanita itu diangkat, penisnya benar-benar seperti dipelintir hingga, “Cruuth..

    crut.. crut..

    ” memancar suatu cairan kental dari sana. Jo merasakan nikmat yang luar biasa. Seperti kencing namun terasa enak campur gatal-gatal gimana.”Ohk.. ehh.. hh,” Jo terkulai. Tubuhnya bergetar dan dia segera mundur dan mencabut penisnya kemudian terhenyak duduk di kursi sebelah meja di kamarnya. Wajahnya menengadah sementara secara alamiah tangannya terus meremas-remas penisnya, menghabiskan sisa cairan yang ada disana. Ooohh.. enak sekali..

    Di ranjang Bu Rhien telentang lemas. Benar-benar nikmat persetubuhan yang kedua ini. Beberapa saat dia terkulai seakan tak sadar dengan keadaannya. Bongkahan pantatnya yang mengkal dan mulus itu ter-expose dengan bebas. Rasanya batang kenyal nan keras itu masih menyumpal celah vaginanya. Memberinya sengatan dan sodokan-sodokan yang nikmat. Jo menatap tubuh indah itu dengan penuh rasa tak percaya. Barusan dia menyetubuhinya, sampai dia juga mendapatkan kepuasan. Benarkah..?

    Sementara itu setelah sadar, Bu Rhien segera bangkit. Dia membenahi pakaiannya. Terlintas sesuatu yang agak aneh dengan anak ini. Tadi dia merasa betapa panas pancaran sperma yang disemburkannya. Seperti air mani laki-laki yang baru pernah bersetubuh.

    “Berapa jam biasanya kamu melakukan ini dengan Inah, Jo..?” tanya Bu Rhien menyelidik.

    Jo terdiam. Apakah beliau tidak akan marah kalau dia berterus terang..?

    “Kenapa diam..?”

    Jo menghela nafas, “Maaf Bu.. belum pernah.”

    “Hah..

    ? Jadi selama ini kamu..?”

    “Iya Bu. Saya hanya diam saja setelah Ibu pergi.”
    “Oo..,” Bu Rhien melongo.

    Sungguh tidak diduga sama sekali kalau itu yang selama ini terjadi. Alangkah tersiksanya selama ini kalau begitu. Aku ternyata egois juga. Tapi..?, masa aku harus melayaninya. Apapun dia kan hanya pembantu. Dia hanya butuh batang muda-nya saja untuk memenuhi hasrat sex-nya yang menggebu-gebu terus itu. Selama ini bahkan suami dan pacar-pacarnya dulu tak pernah mengetahuinya. Ini rahasia yang tersimpan rapat.

    “Hmm.. baiklah. Ibu minta kamu jangan ceritakan ke siapapun. Sebenarnya Ibu sudah bicara sama Inah mengenai masalah ini. Tapi rupanya kalian tidak nyambung. Ya sudah.. yang penting sekali lagi, pegang rahasia ini erat-erat.. mengerti..?” kembali suaranya berwibawa dan bikin segan.
    “Mengerti Bu..,” Jo menjawab penuh rasa rikuh.

    Akhirnya Bu Rhien keluar kamar dan Jo segera melemparkan badannya ke kasur. Penat, lelah, namunnikmat dan terasa legaa.. sekali.

  • Memuaskan Cewek Hiperseks

    Memuaskan Cewek Hiperseks


    62 views

    Ceritamaya | Cerita cewek yang berusia 22 tahun ini memiliki postur tubuh yang ideal dan menggoda. Dengan tinggi 165 cm dan berat tubuh sekitar 50 kg membuat tubuhnya proporsional. Belum lagi ukuran Payudara-nya yang berukuran 34B membuat pria manapun ingin melepas hasrat seks mesum dengannya.

    Kulit hitam manis dan rambutnya sedikit ikal menambah keindahan tubuhnya. Banyak bagian seksi dari cewek yang akan bugil disaat beradegan seks mesum dengannya. Cewek yang selalu menggoda untuk dikecup, dicumbu dan dicium sepuasnya dan melepas gejolak birahi seksual pria. Inilah cerita sex mesum tentang cewek hiperseks selengkapnya.

    Lily, berusia 22 tahun. Dia adalah sahabat baik Ria. Posturnya 165 cm/50 kg. Payudaranya berukuran 34B. Orangnya hitam manis, rambutnya ikal. Matanya tajam setiap kali berbicara seakan-akan menyelidiki isi hati lawan bicaranya. Bibirnya penuh, tidak tebal, tidak tipis, sangat seksi. Menurutku, bagian terseksi dari Lily ada pada bibirnya. Sangat menggoda untuk dikecup, dicumbu dan dicium sepuasnya. Apalagi kalau Lily menggunakan lip gloss agar membuat bibirnya selalu tampak basah. Benar-benar menggoda. Wajahnya sangat innocent alias bertampang tak punya dosa, tampak lugu sekali.

    Tapi jangan salah, di balik wajahnya yang imut, ada nafsu yang membara. Ada hasrat sex yang selalu menggebu. Tiada hari baginya tanpa memikirkan sex. Aku mengetahuinya setelah Lily berterus terang padaku apa yang dia rasakan. Lily bercinta pertama kali di kelas 3 SMP, pada saat usianya masih 15 tahun. Sejak usia 12 tahun, dia sudah melakukan masturbasi dan lalu pacar pertamanya mendapatkan kegadisannya. Lily tidak pernah menyesali setiap momen seksualnya. Dia selalu menikmatinya.

    Suatu hari aku menerima SMS dari nomor handphone Ria..

    “Hai Boy.. Lagi ngapain? Aku Lily. Kenalin yah! Aku sahabatnya Ria. Aku pengen kenal denganmu. Kalau kamu bersedia, hubungi aku di nomor 081xx ya! Thanks” Aku segera membalasnya. Tetapi melalui nomor Ria.
    “Hai lily.. Kamu sekarang dengan Ria? Mana si Ria? Aku mau dia SMS aku” Saat itu aku lebih ingin bertemu Ria karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya.
    “Ria lagi mandi. Boy, kamu SMS di hape-ku saja ya” Balas Lily.

    Yah, aku tahu kebiasaan Ria. Kalau mandi lama sekali. Boros air, boros sabun, boros shampoo, boros listrik, boros waktu.. Pokoknya boros. Tidak percaya? Bayangkan, dia mandi selama 45-60 menit! Ria sendiri yang bercerita padaku. Aku sampai terheran-heran. Atau aku saja yang kurang pengetahuan tentang lamanya wanita mandi ya? Dibandingkan dengan lama mandiku yang hanya 10 menit, si Ria jauh lebih lama. Akhirnya aku memutuskan untuk ber-SMS dengan Lily saja.

    “Ada apa kok manta SMS di HP-mu? Kan sama aja di HP-nya Ria..?” tanyaku.
    “Ah.. Biar lebih privacy saja. Boy, gila.. Ria udah cerita tentang apa yang kalian lakukan di kamar ini!” Aku jadi terkejut. Wah, Si Ria suka membocorkan rahasia rupanya. Tapi aku jadi maklum pada saat mengingat bahwa si Lily ini memang sobat baiknya. Ya, tidak apalah.

    “Cerita apa lagi? Dia puas nggak?” tanyaku pada Lily.
    “Puas, man! Katanya lo jago banget kissing-nya. Jago banget foreplay-nya! Jangan kepala besar ya!”, jawabnya.
    “Wah.. Kalau kepala besar sih enggak. Kalo penis besar iya.. Haha..” balasku usil.
    “Tapi katanya lo ga tahan lama ya? Ga lama lo udah keluar ya?” Bum!! Aduh malunya aku. Si Ria, tega-teganya pengalaman pertamaku diceritakan begitu.
    “Ah, itu kan ML pertamaku. Wajar dong aku gak tahan lama. Kalau sekarang sih udah jago!” balasku membela diri. Cowok mana yang rela dikatakan tidak tahan lama?
    “Ah yang bener.. Sekarang udah tahan lama nih?” goda Lily. Aku jadi penasaran dengan si Lily ini.
    “Emangnya kamu sendiri udah berani ML?” pancingku.
    “Yah, elo.. Boy. Ya udahlah! Gue terus terang aja ama lo. Gue suka banget tahu!”

    Perkataan si Lily membuat penisku ereksi. Keterusterangannya sangat langka kutemui. Biasanya wanita akan menutupi hasratnya. Apalagi pada cowok yang baru pertama ditemuinya. Tapi si Lily ini.. Berani sekali!

    “Oh ya? Paling lo omong kosong doank..” pancingku lebih jauh.
    “Hehe.. Lo mancing gue ya, Boy? Gak usah gitu.. Ntar malam telepon gue ya!”

    Siang sampai malam aku bekerja sambil sesekali memikirkan Lily. Dunia ini memang luas, penuh keunikan. Dulu, hanya membicarakan hal yang berbau seksual saja sangat tabu. Tapi sekarang dengan kebebasan media, dengan kecepatan informasi yang hampir tanpa filter, siapa pun bisa mencari dan mendapatkan apa saja yang ia inginkan termasuk sex. Informasi tentang sex bisa dengan sangat mudah didapatkan di internet. Tak heran dalam waktu singkat, budaya ‘sex itu tabu’ telah terkikis.

    Aku sangat yakin bahwa wanita seperti Lily, yang sangat menikmati sex, sangat banyak di Indonesia, tetapi hanya sedikit yang berani berkata, “Ya, saya suka dan menikmati sex”. Tetapi lambat laun, aku percaya bahwa jumlah wanita seperti Lily akan semakin berkembang.

    Malamnya aku menelepon Lily. Kami berbicara banyak hal. Tapi memang pembahasan utama kami adalah sex. Lily mengakui dirinya hipersex. Tetapi dia tidak suka berganti-ganti pasangan. Dia punya pasangan tetap. Frekuensinya saja yang sering. Hampir setiap hari Lily bercinta. Gila.., aku bayangkan pasti lelah sekali setiap hari bercinta. Lalu kami pun membuat janji untuk bertemu di rumahnya.

    Dari rumah aku mandi, menggosok gigi, menyiapkan dua buah kondom, handheld desinfectant dan merapikan bulu-bulu di wajahku. Aku memang tidak suka memelihara kumis dan jenggot. Kurang bersih kesannya. Walaupun kucukur habis, tetap saja terlihat kalau aku berbakat punya kumis. Justru terlihat seksi, kata Ria dan Ita. Dengan sedikit parfum, kaos putih bersih dan jeans biru, aku berangkat ke rumah Lily. Di sepanjang perjalanan aku menebak-nebak setangguh apa Lily, bagaimana aksinya di ranjang. Apakah agresif, pasif atau jangan-jangan suka yang aneh-aneh di atas ranjang seperti menyakiti dan disakiti?

    Memikirkan Lily dan perilaku sex-nya membuat penisku berdenyut-denyut. Di bayanganku sudah menari-nari sosok wanita telanjang yang akan bercinta denganku. Yang akan kugumuli, yang akan kucumbu, kenikmati sepuasnya. Ah.. sebentar lagi aku akan bercinta.. Sebentar lagi aku akan menghunjamkan penisku ke vagina Lily. Sebentar lagi..

    Lily tinggal serumah dengan neneknya. Orang tuanya bekerja di luar negeri. Sewaktu aku datang, neneknya sedang pergi. Pembantunya sedang menyeterika baju sambil menonton televisi. Lily menemuiku dengan memakai celana pendek dan kaos you can see. Seksi sekali. Darahku berdesir setelah menyadari bahwa Lily tidak memakai bra. Wah.., jangan-jangan dia tidak pakai celana dalam juga, pikirku. Lily segera menggandeng tanganku dengan mesra. Matanya melirikku nakal. Busyet nih anak, menggemaskan sekali, pikirku lagi.

    “Udah makan, Say..?” tanyanya sambil jarinya menohok lembut perutku.
    “Hm.. Udah. Kamu?” jawabku. Aku meremas jarinya.
    “Ouch.. Kok diremas sih? Kalau yang ini udah makan?” tanyanya sambil mengayunkan tangannya menyentuh penisku dengan cepat. Ugh.., penisku bereaksi. Lily ini pintar sekali menggodaku. Aku tertawa ringan. Memang penisku belum ‘makan’ cukup lama.
    “Kita masuk kamarku aja yuk.. Ada televisi di kamar” ajak Lily. Aku melirik pembantu Lily yang juga sedang melihatku. Kulihat pembantu Lily tersenyum padaku sambil terbatuk-batuk. Wah, sudah tahu gelagat dia rupanya, pikirku.

    Kamar Lily cukup luas. Ada televisi, lemari es, AC dan kamar mandi. Mirip dengan kamar hotel. Aku menarik nafas panjang membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi aku peroleh.

    “Hayo.. Mikir apa?” goda Lily sambil memelukku dari belakang.

    Pintu telah terkunci. Kurasakan kamar Lily sangat dingin karena AC. Pelukan Lily terasa hangat di punggungku. Bahaya sekali.. Dengan segala godaan dan stimulasi yang dilakukan Lily, membuat pikiranku sudah penuh dengan fantasi sex. Sangat berbahaya karena jika fantasi itu aku ikuti terus, aku akan mudah dikalahkan Lily nantinya. Aku berusaha rileks menenangkan pikiranku. Aku berusaha tenang.

    “Gak mikir apa-apa kok.. Kamu sendiri mikir apa?” tanyaku. Aku mengambil remote dan menyalakan televisi. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang. Spring bednya enak sekali. Sambil memeluk guling aku acuhkan Lily. Aku memilih menonton TV. Lily ikut berbaring di sampingku.
    “Aku mikirin kamu Boy.. Sejak tadi malam aku gelisah” bisik Lily.

    Lily sengaja membisikkan kata-kata itu di telingaku hingga membuat telingaku merinding. Ugh.., Lily menjilat telingaku! Aku sangat sensitif di telinga, sehingga jilatannya di telingaku seketika membangkitkan birahiku. Mataku refleks memandangnya. Lalu Lily menciumku. Bibirnya yang seksi itu melumat-lumat bibirku. Oh.., dia tidak juga berhenti. Terus menerobos masuk, menghisap bibirku. Lidahnya menari-nari di rongga mulutku, mencari lidahku yang juga mulai menggeliat. Aku mulai meresponsnya. Kubalas hisapannya. Kubalas jilatannya. Kubalas dengan penuh semangat.

    Aku menyukai cara Lily menciumku. Tegas dan kuat sekali cumbuannya. Caranya memadukan bibirnya yang penuh dengan lidahnya yang lincah menunjukkan pengalamannya dalam bercumbu. Nikmat sekali ciumannya. Nafasnya juga menunjukkan ketenangannya. Lily tidak terburu-buru tetapi dahsyat dalam mencumbu. Dia mampu mengatur nafasnya dengan luar biasa. Hembusan nafasnya semakin menghangatkan suasana. Apalagi matanya tidak pernah terpejam. Dia menatapku terus dengan berani.

    Aku melepaskan ciuman kami lalu bangkit berdiri dan minum. Aku harus mengatur ritme karena penisku sudah mau meledak rasanya. Aku sangat terangsang karena itu aku harus menenangkan diri. Baru minum seteguk, Lily sudah merengkuhku kembali, membaringkanku dan aku ditindihnya. Lily kembali mencumbuku dengan tubuhnya di atas tubuhku.

    Luar biasa, Lily semakin berani. Ciumannya semakin kuat dan cepat. Kadang dia menyerbu leherku. Menjilat dan sesekali menggigitku. Kemudian kembali mencium telingaku. Tangannya juga tidak tinggal diam. Menjambak rambutku dan memegang kuat wajahku. Hebat, aku salut dengan lily. Wanita yang satu ini bisa memaksimalkan potensinya. Ciumannya di bibirku juga tidak monoton. Ada saja variasi gerakannya. Caranya menekan bibirku, caranya menghisap dan menjilat juga bervariasi. Nikmat sekali.

    Memuaskan Cewek HiperseksPerlahan aku merasakan pantat Lily bergerak. Dengan tenang Lily menggesek penisku dari luar. Saat itu kami masih sama-sama berpakaian. Wow.., ini adalah pengalaman pertamaku. Kurasakan penisku menggeliat bangkit. Semakin lama semakin tegang dan keras. Gesekan Lily membuat penisku berdenyut-denyut nikmat.

    “Enak, kan.. Boy?” bisik Lily. Ya kuakui enak sekali.
    “Enak.. Tapi apa vaginamu bisa merasakan? Kamu kan masih memakai celana?” tanyaku ingin tahu. Aku tidak yakin Lily merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan.
    “Bisa Boy, tapi aku harus menggesek dan menekan agak keras..” jawabnya.

    Aku mencoba mengikuti alur permainannya. Sebetulnya aku sudah ingin menelanjanginya. Gesek menggesek begini memang nikmat, tapi tetap saja jauh lebih nikmat bercinta langsung. Aku mulai bergerak mengambil posisi duduk. Tanganku bergerak menarik kausnya. Benar, Lily tidak memakai bra. Payudaranya langsung kusambut dengan mulutku. Aku benamkan mukaku ke belahan payudaranya. Menghisap putingnya dan tanganku mulai meremas payudaranya.

    Lily juga menarik kausku. Perlahan Lily mulai membalas mencium dadaku. Menjilat putingku dan tangannya menarik lepas celanaku. Penisku menyembul dengan gagah. Direngkuh oleh tangan halus Lily. Penisku mulai diremas dan dikocok oleh tangan Lily. Tangannya juga memijat naik turun dari kepala ke pangkal penisku. Oh.., nikmatnya, aku sudah lama menantikan saat-saat nikmat seperti ini.

    Aku bergerak menuju selangkangan Lily. Kulepas celananya. Benar dugaanku, dia sudah tidak memakai celana dalam. Kurasakan vaginanya sudah basah. Vagina Lily bersih dari bulu. Rupanya ia mencukur habis bulu kemaluannya. Kami pun mengambil posisi 69. Aku membuka kaki Lily lebar-lebar dan mulai menjilati vaginanya. Pelan.. Aku menikmati vaginanya. Tanganku juga dengan terampil merangsang vaginanya. Mencari klitoris dan g-spotnya.

    Penisku sendiri kumasukkan ke mulut Lily. Sambil naik turun, penisku bercinta dengan mulut Lily. Cukup sulit ternyata posisi 69. Tidak semudah yang sering kulihat di film-film biru. Baru beberapa menit aku sudah lelah berada di atas tubuh Lily. Kami berganti posisi. Tetap 69 hanya saja posisiku di bawah. Dengan posisi ini Lily lebih aktif menggarap penisku. Oralnya hebat. Tangannya mampu bekerja sama dengan mulutnya hingga membuat penisku keenakan. Kami benar-benar melakukannya tanpa suara. Bagaimana bisa bersuara sementara mulut kami sedang sibuk mengoral satu sama lain? Hanya desahan nafas kami yang memburu.

    Pikiran tenang adalah kunci bercinta. Setelah berhasil menguasai pikiranku, aku jadi rileks. Oral dari Lily kunikmati dengan santai. Hasilnya, aku tidak merasakan gerakan orgasme dari penisku. Aku jadi tahan lama. Lily sendiri tampaknya tidak kuat menahan gempuran oralku. Vaginanya semakin basah dan akhirnya dia mengalami orgasme. Cairan orgasmenya cukup banyak. Tubuh Lily mengejang beberapa saat menikmati orgasmenya. Mulutnya melepas penisku.

    “Aahh.. Hebat Boy. Oralmu dahsyat! Enak sekali!” puji Lily.

    Pengalaman memang membuatku semakin hari semakin hebat. Aku terus merangsang Lily. Kali ini kami kembali ke posisi normal. Aku memeluknya dari atas. Tubuhku menindih tubuh Lily. Tanganku tetap merangsang vaginanya. Sementara mulut kami kembali bercumbu. Di sela-sela cumbuan, aku mengajaknya bicara.

    “Kok cepat, tadi udah nyampe?” tanyaku. Aku memang heran dengan Lily yang mudah orgasme dengan oral saja. Tidak selama Ria, Ita atau Tante Yeni.
    “Iya.. Aku memang mudah orgasme. Jadi, buat aku multi orgasme, Boy..” jawab Lily.

    Wah, beruntung sekali pria yang bisa bercinta dengan Lily. Tidak perlu susah payah membuat Lily orgasme. Aku kembali mencium Lily. Kali ini seluruh tubuhnya aku cium dan jilati. Mulai dari seluruh wajah, telinga, leher, payudara, perut, punggung, pantat, tangan dan kakinya! Semua aku jilat dan cium dengan lembut. Cukup makan waktu lama dan menguras energiku. Tapi hasilnya, Lily mulai menggeliat menandakan birahinya mulai naik kembali. Aku harus sabar dan dengan tekun merangsangnya. Titik lemah Lily adalah di vagina dan perutnya. Jadi aku memfokuskan merangsang tubuhnya di dua titik itu. Pelan, refleks kaki Lily mulai terbuka lebar. Vaginanya sangat merah. Tanpa bulu kemaluan membuatnya tampak segar. Aku sengaja menatapnya agak lama seakan meneliti pusat kenikmatan dunia itu.

    “Aduh.. Malu.. Jangan dilihatin gitu dong..” rajuk Lily. Tapi itu cuma basa-basi. Kulihat Lily sangat menikmati vaginanya kuamat-amati.
    “Indah sekali, Lily. Seksi sekali..” komentarku.

    Ya, aku dengan bebas bisa mengamati vaginanya. Merah menggoda menantang. Terhidang sejelas-jelasnya di depanku. Vagina Lily tiba-tiba seakan hidup dan berkata, “Tunggu apa lagi? Ayo masuk!” Aku menahan nafas. Penisku juga sudah berontak ingin menerjang masuk.

    Perlahan, penisku menembus vaginanya. Mulai kugerakkan tubuhku bercinta dengan Lily. Setiap gesekan penisku di vagina Lily kunikmati. Lily dengan terampil mengimbangi gerakanku. Tubuh kami bergerak selaras. Menyatu. Kami bercinta! Setiap kali penisku menggesek vaginanya, Lily mendesah. Lama-kelamaan suara Lily semakin keras. Aku juga tidak segan mengeluarkan desahanku.

    “Arg.. Arg.. Ya, terus.. Enak.. Kamu luar biasa..”
    “Oh.. Terus.. Ya.. Ouch.. Oh..”

    Berbagai macam kata yang tidak terkontrol keluar dari mulut kami. Kami terus saling memacu birahi. Memburu kenikmatan tiada tara. Penisku terasa panas. Denyutannya semakin menjadi-jadi. Jika ambang orgasme tiba, aku berhenti sejenak. Kami berganti posisi. Kemudian bercinta lagi. Ganti posisi lagi. Bercinta lagi.. Enak sekali. Kami sama-sama tahan lama.

    Baca Juga : Semprot di Mulutku Sayang

    Kini aku memangku Lily. Agak sakit terasa di penisku ketika Lily menurunkan tubuhnya hingga membuat penisku menembus vaginanya. Desahan Lily semakin keras. Kami berlomba mencapai finish.

    “Kamu siap, Boy? Aku punya jurus rahasia..” tanya Lily.
    “Jurus apa..?” aku penasaran.

    Tiba-tiba kurasakan vagina Lily menjepit penisku. Agh.. Enak sekali. Vaginanya seperti membesar dan mengecil, menjepit dan melepas penisku. Aku seperti dibawanya terbang semakin tinggi. Melayang semakin tinggi. Kenikmatan yang kurasakan semakin memuncak. Setiap detil tubuhku penuh dengan keringat kenikmatan. Begitu pula dengan Lily. Tubuhnya bergetar dan bergoyang menikmati percintaan kami.

    Tak lama kemudian aku mulai merasakan gelombang orgasmeku datang. Aku kembali menahan diri. Kucabut penisku dan kami berganti posisi menjadi doggy style. Kembali aku memasukkan penisku. Lily menungging membelakangiku. Pantatnya penuh dan seksi. Aku menghunjamkan dan mengocok penisku dengan cepat dan kuat.

    “Keluarin di mana nih?” tanyaku memastikan dimana aku harus orgasme.
    “Di dalam saja. Aku udah minum obat kok..”
    “Arg.. Argh..” Hanya desahan nafas kami yang semakin memburu. Kami sudah bercinta cukup lama. Lily tangguh juga. Dia tampak sangat menikmati ini semua. Wajahnya memerah dilanda birahi.
    “Ayo lebih kuat dan cepat, Boy.. Aku sudah hampir sampai..” ajak Lily.

    Yah ini mungkin sudah saatnya. Aku memacu lebih cepat. Desahan nafas dan lenguhan kami makin cepat. Aku terus memompa penisku. Maju mundur, putar, maju mundur.. Terus sampai akhirnya kurasakan orgasmeku makin dekat. Lily juga semakin dekat.

    “Iya.. Terus.. Terus..” teriak Lily.

    Aku berusaha mati-matian menahan agar tidak orgasme duluan. Otot-ototku berjuang memperlama ereksiku. Agh.. Nampaknya aku mulai tidak tahan. Sudah terlambat untuk menghentikan ini semua. Sebentar lagi aku akan orgasme.. Srr.. Crot.. Sr.., aku orgasme sampai tubuhku terkejang-kejang. Ada hentakan-hentakn di tubuhku saat aku orgasme. Tapi aku masih tetap menghunjamkan penisku. Aku ingin mengantar Lily mencapai orgasme keduanya.

    “Ah.. Arh.. Argghh.. Ya.. Ya..”

    Akhirnya tubuh Lily bergetar sangat kuat. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat dan menariknya! Matanya terpejam dan mulutnya terbuka lebar mengeluarkan jeritan panjang.. Lily orgasme! Aku nyaris gagal membuatnya orgasme yang kedua kalinya. Untung sekali aku bisa bertahan cukup lama. Aku berjanji akan lebih baik lagi lain kali.

    “Wah.. Maaf Lily.. Kamu kuat sekali. Aku nyaris tidak bisa membawamu orgasme yang kedua..” aku minta maaf dengan tulus sambil memeluknya.
    “Wah.., aku yang makasih sekali ama lo, Boy. Kamu kuat lho.. Kita bisa orgasme sama-sama.. Aku senang sekali..” jawabnya melegakan hatiku.

    Aku kembali menciumnya. Ini adalah after orgasm service-ku. Aku membelai-belai tubuhnya dan meremasnya dengan ringan. Memijat tengkuk dan punggungnya. Kami kemudian bercakap-cakap. Dengan jujur Lily mengakui bahwa dia sangat membutuhkan sex. Baginya memang sex adalah faktor utama. Dia mengakui tidak bisa hidup tanpa sex. Kemudian sampailah aku pada pertanyaanku..

    “Kalau disuruh memilih pria yang sex hebat tapi dengan pribadi buruk atau pria dengan pribadi luar biasa tapi sex buruk, kamu pilih mana?” Lily terdiam. Bingung.
    “Gimana ya.. Mestinya aku mau pilih yang sex-nya hebat aja deh. Tapi kok ya tidak yakin. Itu pilihannya mengikat tidak? Maksudku.. Sampai pernikahan ya?”
    “Iya.. Keputusan yang mengikatmu sampai tua. Sampai mati.” jawabku.
    “Aduh.. Pusing. Yang mana ya? Sex hebat tapi kalau tiap hari di sakitin, ditinggal selingkuh, tidak diberi nafkah, anak-anak ditelantarkan.. juga percuma. Tapi biar semua baik, kalau tanpa sex ya nggak enak.. Gimana ya. Eh, tapi dia tidak impoten kan?”
    “Kalau tidak impoten gimana, kalau impoten gimana?”
    “Kalau tidak impoten, nggak apa-apa. Aku pilih yang pribadinya baik deh. Sex buruk bisa aku ajarin. Asal jangan impoten permanen.” Lily mulai menemukan jawabannya.
    “Kalau impoten?” desakku. Ini adalah pertanyaan yang paling sulit dipilih.
    “Wah.. Benar-benar bingung aku. Kalo gitu aku pilih yang sex-nya hebat aja deh. Mungkin pelan-pelan pribadinya bisa tambah baik..” jawab Lily. Pilihan yang masuk akal.

    Aku lega kembali mendapatkan jawaban detil. Informasi kembali kudapatkan dari Lily. Yah.. Aku masih harus bertanya pada Tante Yeni dan Ria

  • Semprot di Mulutku Sayang

    Semprot di Mulutku Sayang


    57 views

    Ceritamaya | Aku lihat sekali lagi catatanku. Benar, itu rumah nomor 27. Pasti itu rumah Om Andri, kerabat jauh ayahku. Kuhampiri pintunya dan kutekan bel rumahnya. Tidak lama kemudian dari balik pintu muncul muka yang sangat cantik.

    “Cari siapa Mas?” tanyanya.
    “Apa betul ini rumah Om Andri? nama saya Dodi.”
    “Oh.. sebentar ya, Pa.. ini Dodinya sudah datang”, teriaknya ke dalam rumah.

    Kemudian aku dipersilakan masuk, dan setelah Om Andri keluar dan menyambutku dia pun berkata dengan ramah,

    “Dodi, papimu barusan nelpon, nanyain apa kamu sudah datang. Ini kenalin, anak Om, namanya Rani, terus anterin Dodi ke kamarnya, kan dia cape, biar dia istirahat dulu, nanti baru deh ngobrol-ngobrol lagi.” Aku datang ke kota ini karena diterima disalah satu Universitas, dan oleh papi aku disuruh tinggal dirumah Om Andri. Rani ternyata baru kelas 1 SMA. Dia anak tunggal. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165 cm, tapi mukanya sangat lucu, dengan bibir yang agak penuh. Di sini aku diberi kamar di lantai 2, bersebelahan dengan kamar Rani.

    Aku  sudah 3 bulan tinggal di rumah Om Andri, dan karena semuanya ramah, aku jadi betah. Lebih lagi Rani. Kadang-kadang dia suka tanya-tanya soal pelajaran sekolah, dan aku berusaha membantu. Aku sering mencuri-curi untuk memperhatikan Rani. Kalau di rumah, dia sering memakai daster yang pendek hingga pahanya yang putih mulus menarik perhatianku. Selain itu buah dadanya yang baru mekar juga sering bergoyang-goyang di balik dasternya. Aku jadi sering membayangkan betapa indahnya badan Rani seandainya sudah tidak memakai apa-apa lagi.

    Suatu hari pulang kuliah sesampainya di rumah ternyata sepi sekali. Di ruang keluarga ternyata Rani sedang belajar sambil tiduran di atas karpet.

    “Sepi sekali, sedang belajar yah? Tante kemana?” tanyaku.
    “Eh.. Dodi, iya nih, aku minggu depan ujian, nanti aku bantuin belajar yah.., Mami sih lagi keluar, katanya sih ada perlu sampai malem.”
    “Iya deh, aku ganti baju dulu.”

    Kemudian aku masuk ke kamarku, ganti dengan celana pendek dan kaos oblong. Terus aku tidur-tiduran sebentar sambil baca majalah yang baru kubeli. Tidak lama kemudian aku keluar kamar, lapar, jadi aku ke meja makan. Terus aku teriak memanggil Rani mengajak makan bareng. Tapi tidak ada sahutan. Dan setelah kutengok ke ruang keluarga, ternyata Rani sudah tidur telungkup di atas buku yang sedang dia baca, mungkin sudah kecapaian belajar, pikirku. Nafasnya turun naik secara teratur. Ujung dasternya agak tersingkap, menampakkan bagian belakang pahanya yang putih. Bentuk pantatnya juga bagus.

    Memperhatikan Rani tidur membuatku terangsang. Aku merasa kemaluanku mulai tegak di balik celana pendek yang kupakai. Tapi karena takut ketahuan, aku segera ke ruang makan. Tapi nafsu makanku sudah hilang, maka itu aku cuma makan buah, sedangkan otakku terus ke Rani. Kemaluanku juga semakin berdenyut. Akhirnya aku tidak tahan, dan kembali ke ruang keluarga. Ternyata posisi tidur Rani sudah berubah, dan dia sekarang telentang, dengan kaki kiri dilipat keatas, sehingga dasternya tersingkap sekali, dan celana dalam bagian bawahnya kelihatan.

    Celana dalamnya berwarna putih, agak tipis dan berenda, sehingga bulu-bulunya membayang di bawahnya. Aku sampai tertegun melihatnya. Kemaluanku tegak sekali di balik celana pendekku. Buah dadanya naik turun teratur sesuai dengan nafasnya, membuat kemaluanku semakin berdenyut. Ketika sedang nikmat-nikmat memandangi, aku dengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata Om Andri sudah pulang. Aku pun cepat-cepat naik kekamarku, pura-pura tidur.

    Dan aku memang ketiduran sampai agak sore, dan aku baru ingat kalau belum makan. Aku segera ke ruang makan dan makan sendirian. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin Om dan Tante sedang tidur. Setelah makan aku naik lagi ke atas, dan membaca majalah yang baru kubeli. Sedang asyik membaca, tiba-tiba kamarku ada yang mengetuk, dan ternyata Rani.

    “Dodi, aku baru dibeliin kalkulator nih, entar aku diajarin yah cara makainya. Soalnya rada canggih sih”, katanya sambil menunjukkan kalkulator barunya.
    “Wah, ini kalkulator yang aku juga pengin beli nih. Tapi mahal. Iya deh, aku baca dulu manualnya. Entar aku ajarin deh, kayaknya sih tidak terlalu beda dengan komputer”, sahutku.

    “Ya sudah, dibaca dulu deh. Rani juga mau mandi dulu sih”, katanya sambil berlalu ke teras atas tempat menjemur handuk. Aku masih berdiri di pintu kamarku dan mengikuti Rani dengan pandanganku. Ketika mengambil handuk, badan Rani terkena sinar matahari dari luar rumah. Dan aku melihat bayangan badannya dengan jelas di balik dasternya. Aku jadi teringat pemandangan siang tadi waktu dia tidur.

    Kemudian sewaktu Rani berjalan melewatiku ke kamar mandi, aku pura-pura sedang membaca manual kalkulator itu. Tidak lama kemudian aku mulai mendengar suara Rani yang sedang mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kembali imajinasiku mulai membayangkan Rani yang sedang mandi, dan hal itu membuat kemaluanku agak tegang. Karena tidak tahan sendiri, aku segera mendekati kamar mandi dan mencari cara untuk mengintipnya, dan aku menemukannya.

    Aku mengambil kursi dan naik di atasnya untuk mengintip lewat celah ventilasi kamar mandi. Pelan-pelan aku mendekatkan mukaku ke celah itu, dan ya Tuhan… aku! Melihat Rani yang sedang menyabuni badannya, mengusap-usap dan meratakan sabun ke seluruh lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah, jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

    Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya, putingnya yang kecoklatan, perutnya yang rata, pantatnya, bulu-bulu di sekitar kemaluannya, pahanya, semuanya sangat indah. Dan kemaluanku pun menjadi sangat tegang.Tapi aku tidak berlama-lama mengintipnya, karena selain takut ketahuan, juga aku merasa tidak enak mengintip orang mandi. Aku segera ke kamarku dan berusaha menenangkan perasaanku yang tidak karuan.

    Malamnya sehabis makan, aku dan Om Andri sedang mengobrol sambil nonton TV, dan Om Andri bilang kalau besok mau keluar kota dengan istrinya seminggu. Dia pesan supaya aku membantu Rani kalau butuh bantuan. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Tidak lama kemudian Rani mendekati kita.

    “Dodi, tolongin aku dong, ajarin soal-soal yang buat ujian, ayo!” katanya sambil menarik-narik tanganku. Aku mana bisa menolak. Aku pun mengikuti Rani berjalan ke kamarnya dengan diiringi Om Andri yang senyum-senyum melihat Rani yang manja. Beberapa menit kemudian kita sudah terlibat dengan soal-soal yang memang butuh konsentrasi.

    Rani duduk sedangkan aku berdiri di sampingnya. Aku bersemangat sekali mengajarinya, karena kalau aku menunduk pasti belahan dada Rani kelihatan dari dasternya yang longgar. Aku lihat Rani tidak pakai beha. Kemaluanku berdenyut-denyut, tegak di balik celana dan kelihatan menonjol.

    Aku merasa bahwa Rani tahu kalau aku suka curi melihat buah dadanya, tapi dia tidak berusaha merapikan dasternya yang semakin terbuka sampai aku bisa melihat putingnya. Karena sudah tidak tahan, sambil pura-pura menjelaskan soal aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel ke punggungnya. Rani pasti juga bisa merasakan kemaluanku yang tegak. Rani sekarang cuma diam saja dengan muka menunduk.

    “Rani, kamu cantik sekali..” kataku dengan suara yang sudah bergetar, tapi Rani diam saja dengan muka semakin menunduk. Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aku jadi makin berani mengusap-usap pundaknya yang terbuka, karena tali dasternya sangat kecil. Sementara kemaluanku semakin menekan pangkal lengannya, usapan tanganku pun semakin turun ke arah dadanya.

    Aku merasa nafas Rani sudah memburu seperti suara nafasku juga. Aku jadi semakin nekad. Dan ketika tanganku sudah sampai kepinggiran buah dada, tiba-tiba tangan Rani mencengkeram dan menahan tanganku. Mukanya mendongak kearahku.

    “Dodi aku mau diapain..” Rintihnya dengan suara yang sudah bergetar. Melihat mulutnya yang setengah terbuka dan agak bergetar-getar, aku jadi tidak tahan lagi. Aku tundukkan muka, kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya.

    Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan bibirnya yang sangat hangat, kenyal, dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan penuh perasaan, dan Rani membalas ciumanku, tapi tangannya belum melepas tanganku. Dengan pelan-pelan badan Rani aku bimbing, aku angkat agar berdiri berhadapan denganku. Dan masih sambil saling melumat bibir, aku peluk badannya dengan gemas. Buah dadanya keras menekan dadaku, dan kemaluanku juga menekan perutnya.

    Pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajah ke dalam mulutnya, dan mengait-ngait lidahnya, membuat nafas Rani semakin memburu, dan tangannya mulai mengusap-usap punggungku. Tanganku pun tidak tinggal diam, mulai turun ke arah pinggulnya, dan kemudian dengan gemas mulai meremas-remas pantatnya. Pantatnya sangat empuk. Aku remas-remas terus dan aku semakin rapatkan kebadanku hingga kemaluanku terjepit perutnya.

    Tidak lama kemudian tanganku mulai ke atas pundaknya. Dengan gemetar tali dasternya kuturunkan dan dasternya turun ke bawah dan teronggok di kakinya. Kini Rani tinggal memakai celana dalam saja. Aku memeluknya semakin gemas, dan ciumanku semakin turun. Aku mulai menciumi dan menjilat-jilat lehernya, dan Rani mulai mengerang-erang. Tangannya mengelus-elus belakang kepalaku.

    Tiba-tiba aku berhenti menciuminya. Aku renggangkan pelukanku. Aku pandangi badannya yang setengah telanjang. Buah dadanya bulat sekali dengan puting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya. Dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Rani mengerang lagi lebih keras sambil mendongakkan kepalanya, dan menekan pantat dan dadanya ke arahku. Nafsuku semakin naik. Aku ciumi susunya dengan ganas, putingnya aku mainkan dengan lidahku, dan susunya yang sebelah aku mainkan dengan tanganku.

    “Aduuhh.. aahh.. aahh”, Rani semakin merintih-rintih ketika dengan gemas putingnya aku gigit-gigit sedikit.

    Badannya menggeliat-geliat membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Tangan Rani kemudian menelusup kebalik bajuku dan mengusap kulit punggungku.

    “Dodiii.. aahh.. baju kamu dibuka dong.. aahh..” Akupun mengikuti keinginannya. Tapi selain baju, celana juga kulepas, hingga aku juga cuma pakai celana dalam. Mulutnya kembali kucium dan tanganku memainkan susunya.

    Penisku semakin keras karena Rani menggesek-gesekkan pinggulnya sembari mengerang-erang. Tanganku mulai menyelinap ke celana dalamnya. Bulu kemaluannya aku usap-usap, dan kadang aku garuk-garuk. Aku merasa vaginanya sudah basah ketika jariku sampai ke mulut vaginanya. Dan ketika tanganku mulai mengusap clitorisnya, ciumannya di mulutku semakin liar. Mulutnya mengisap mulutku dengan keras.

    Clitorisnya kuusap, kuputar-putar, makin lama semakin kencang, dan semakin kencang. Pantat Rani ikut bergoyang, dan semakin rapat menekan, sehingga penisku semakin berdenyut. Sementara clitorisnya masih aku putar-putar, jariku yang lain juga mengusap bibir vaginanya. Rani menggelinjang semakin keras, dan pada saat tanganku mengusap semakin kencang, tiba-tiba tanganku dijepit dengan pahanya,dan badan Rani tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.

    “aahh aahh Dodiii.. adduuuhh aahh aahh aahh”,

    Dan setelah beberapa saat akhirnya jepitannya berangsur semakin mengendur. Tapi mulutnya masih mengerang-erang dengan pelan.

    “Dod.. aku boleh yah pegang punya kamu”, tiba-tiba bisiknya di kupingku. Aku yang masih tegang sekali merasa senang sekali.
    “Iyaa.. boleh..” bisikku. Kemudian tangannya kubimbing ke celana dalamku.
    “Aahh…” Akupun mengerang ketika tangannya menyentuh penisku. Terasa nikmat sekali. Rani juga terangsang lagi, karena sambil mengusap-usap kepala penisku, mulutnya mengerang di kupingku. Kemudian mulutnya kucium lagi dengan ganas. Dan penisku mulai di genggam dengan dua tangannya, di urut-urut dan cairan pelumas yang keluar diratakan keseluruh batangku.

    Badanku semakin menegang. Kemudian penisku mulai dikocok-kocok, semakin lama semakin kencang, dan pantatnya juga ikut digesekkan kebadanku. Tidak lama kemudian aku merasa badanku bergetar, terasa ada aliran hangat di seluruh tubuhku, aku merasa aku sudah hampir orgasme.

    “Raannniii.. aku hampir keluar..” bisikku yang membuat genggamannya semakin erat dan kocokannya makin kencang.
    “Aahh.. Ranniii.. uuuhh.. aahh..” akhirnya dari penisku memancar cairan yang menyembur kemana-mana. Badanku tersentak-sentak.

    Sementara penisku masih mengeluarkan cairan, tangan Rani tidak berhenti mengurut-urut, sampai rasanya semua cairanku sudah diperas habis oleh tangannya. Aku merasa sperma yang mengalir dari sela-sela jarinya membuat Rani semakin gemas. Spermaku masih keluar untuk beberapa saat lagi sampai aku merasa lemas sekali.

    Akhirnya kita berdua jatuh terduduk di lantai. Dan tangan Rani berlumuran spermaku ketika dikeluarkan dari celana dalamku. Kita berpandangan, dan bibirnya kembali kukecup, sedangkan tangannya aku bersihkan pakai tissue. Dan secara kebetulan aku melihat ke arah jam.

    “Astaga, sekarang sudah jam 11! Wah, sudah malam sekali nih, aku ke kamarku dulu yah, takut Om curiga nanti..” kataku sembari berharap mudah-mudahan suara desahan kita tidak sampai ke kuping orang tuanya. Setelah Rani mengangguk, aku bergegas menyelinap ke kamarku.Malam itu aku tidur nyenyak sekali.

    Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Aku pun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku tidak bisa konsentrasi sedikit pun, yang kupikirkan cuma Rani. Aku pulang ke rumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk.

    “Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..”
    “Eh.. apa? Iya, iya aku tidak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, aku pun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kita pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia pakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku tidak bisa lepas melirik kepahanya.

    Sesampainya di bioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket kupeluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang menonton tidak begitu banyak, dan di sekeliling kita tidak ditempati.

    Kami segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian kudekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut.

    Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja kuselinapkan ke balik behanya, dan susunya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung dihisap dengan kuat oleh Rani. Tanganku pun semakin gemas meremas susunya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.

    Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya kusingkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi kupingku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah.

    Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Kuelus-elus pelan-pelan, kuusap dengan penuh perasaan, kemudian kuputar-putar, semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badannya tersentak-sentak beberapa saat.

    “Dodi.. aduuuhh.. aku tidak tahan sekali.. berhenti dulu yaahh.. nanti di rumah ajaa..” rintihnya. Aku pun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.
    “Dodi.. sekarang aku mainin punya kamu yaahh..” katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol.

    Kubantu dia dengan kubuka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak.

    “Dodi.. ini sudah basah.. cairannya licin..” rintihnya di kupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan.

    Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya.

    “Rani.. teruskan sayang..” kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi.

    Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.

    “Rani.. aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..” kataku dengan suara yang tidak yakin, karena masih keenakan.
    “Waahh.. Rani belum mau berhenti.. punya kamu ini bikin aku gemes..” rengeknya.
    “Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..!” ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai.

    Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh yah nyiumin ininya yah..” Aku pengin segera sampai kerumah.

    Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan kuciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani kubimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri kuciumi bibirnya, kulumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya.

    Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi susunya yang masih dibalut beha. Dengan tak sabar behanya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga kuturunkan dan semuanya teronggok di karpet.

    Badannya yang telanjang kupeluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. Penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya.

    Uuuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kita yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kita saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi susunya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelusi penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

    Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat di depan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak.

    Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke kepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku.

    Aku semakin mengerang, dan karena tidak tahan, kudorong penisku sampai terbenam kemulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ketenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin nikmat. Isapan mulutnya dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuat aku merasa sudah tidak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.

    Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap menghisap penisku. Maka aku pun tidak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa.

    Spermaku langsung ditelannya dan dia terus menghisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya tidak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam.

    “Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik.
    “Ah.. aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu.”

    Kemudian ujung hidungnya kukecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan kuciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kami mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi susunya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri.

    Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian ke bawah lagi sampai merasakan bulu kemaluannya, kuelus dan kugaruk sampai mulutnya menciumi kupingku.

    Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi susunya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan vaginanya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan vaginanya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris dan vaginanya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya kuputar-putar terus, juga mulut vaginanya bergantian.

    “Ahh.. Dodiii.. aahh.. terusss… aahh.. sayaanggg..” mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Aku pun segera menurunkan kepalaku ke arah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya kulipat ke atas, kupegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga vagina dan clitorisnya terbuka di depan mukaku.

    Aku tidak tahan memandangi keindahan vaginanya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan vaginanya. Cairan vaginanya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi mulut vaginanya dengan ganas, dan lidahku kuselip-selipkan ke lubangnya, kukait-kaitkan, kugelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya kuputar dengan lidah, kuhisap, kusedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.

    “Dodii.. aku tidak tahan.. aduuhh.. aahh.. enaakk sekaliii.. ” rintihnya berulang-ulang.

    Mulutku sudah berlumuran cairan vaginanya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian kulepaskan mulutku dari vaginanya. Sekarang giliran penisku kuusap-usapkan ke clitoris dan bibir vaginanya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan di vaginanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut membantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.

    “Raniii.. aahh.. enakkk.. aahh..”
    “aahh.. iya.. eeennaakkk sekaliii..”

    Semprot di Mulutku SayangKita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke mulut vaginanya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke vaginanya.

    “Aduuuhh.. Dodii.. saakiiitt.. aadduuuhh.. jaangaann..” rintihnya
    “Tahan dulu sebentar… Nanti juga hilang sakitnya..” kataku membujuk

    Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian kutekan lagi, kukeluarkan lagi, kutekan lagi, kemudian akhirnya kutekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah tidak bisa bersuara.

    Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan kukeluarkan lagi, kudorong lagi, kukeluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini kudorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka kuciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding vaginanya.

    Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kami saling menghisap dengan kuat. Kita sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka aku pun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, semakin cepat, semakin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat.

    “Dodii.. aduuuhh.. aahh.. teruskan sayang.. aku hampir niihh..” rintihnya.
    “Iya.. nihh.. tahan dulu.. aku juga hampirr.. kita bareng ajaa..” kataku sambil terus menggerakkan penis semakin cepat.

    Tanganku juga ikut meremasi susunya kanan dan kiri. Penisku semakin keras, kuhunjam-hunjamkan ke dalam vaginanya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa vaginanya juga menguruti penisku di dalam. Penisku kutarik dan kutekan semakin cepat, semakin cepat.. dan semakin cepat.. dannn..”Raaniii.. aku mau keluar niihh..””Iyaa.. keluarin saja.. Rani juga keluar sekarang niiihh.”Aku pun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding vaginanya dengan keras.

    Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Vaginanya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami vaginanya.

    “aahh… aahh.. aahh..” kita sama-sama mengerang, dan vaginanya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya tidak akan berakhir.

    Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan vaginanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa tersisa sedikitpun.

    “aahh.. aahh.. aduuuhh…” Kita sudah tidak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.

    Ketika sudah mulai kendur, kuciumi Rani dengan penis masih di dalam vaginanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Kuciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur.

    Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek karena penisku. Dan ketika penisku kucabut dari sela-sela vaginanya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kita terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

    Aku terbangun sekitar jam 11 malam, dan kulihat Rani masih terlelap di sampingku masih telanjang bulat. Segera aku bangun dan kuselimuti badannya pelan-pelan. Kemudian aku segera ke kamar mandi, kupikir shower dengan air hangat pasti menyegarkan. Aku membiarkan badanku diguyur air hangat berlama-lama, dan memang menyegarkan sekali. Waktu itu kupikir aku sudah mandi sekitar 20 menit, ketika aku merasa kaget karena ada sesuatu yang menyentuh punggungku. Belum sempat aku menoleh, badanku sudah dilingkari sepasang tangan.

    Ternyata Rani sudah bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa kuketahui. Tangannya memelukku dari belakang, dan badannya merapat di punggungku.

    “Aku ikut mandi yah..?” katanya.

    Aku tidak menjawab apa-apa. Hanya tanganku mengusap-usap tangannya yang ada di dadaku, sambil menenangkan diriku yang masih merasa kaget. Sambil tetap memelukku dari belakang, Rani mengambil sabun dan mulai mengusapkannya di dadaku. Nafsuku mulai naik lagi, apalagi aku juga merasakan susunya yang menekan punggungku.

    Usapan tangan Rani mulai turun ke arah perutku, dan penisku mulai berdenyut dan berangsur menjadi keras. Tidak lama kemudian tangan Rani sampai di selangkanganku dan mulai mengusap penisku yang semakin tegak. Sambil menggenggam penisku, Rani mulai menciumi belakang leherku sambil mendesah-desah, dan badannya semakin menekan badanku.

    Selangkangan dan susunya mulai digesek-gesekkan ke pantat dan punggungku, dan tangannya yang menggenggam penisku mulai meremas-remas dan digerakkan ke pangkal dan kepala penisku berulang-ulang sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

    “Raniii oohh.. nikmat sekali sayang.”
    “Dodiii uuuhh”, erangnya sambil lidahnya semakin liar menciumi leherku.

    Aku yang sudah merasa gemas sekali segera menarik badannya, dan sekarang posisi kita berbalik. Aku sekarang memeluk badannya dari belakang, kemudian pahanya kurenggangkan sedikit, dan penisku diselinapkan di antara pahanya, dan ujungnya yang nongol di depan pahanya langsung di pegang lagi oleh Rani. Tangan kiriku segera meremasi susunya dengan gemas sekali, dan tangan kananku mulai meremasi bulu kemaluannya.

    Kemudian ketika jari tangan kananku mulai menyentuh clitorisnya, Rani pun mengerang semakin keras dan pahanya menjepit penisku, dan pantatnya mulai bergerak-gerak yang membuat aku semakin merasa nikmat. Mukanya menengok ke arahku, dan mulutnya segera kuhisap dengan keras. Lidah kami saling membelit, dan jari tanganku mulai mengelusi clitorisnya yang semakin licin. Kepala penisku juga mulai dikocok-kocok dengan lembut.

    “Rani aku tidak tahan nih aduuuhh.”
    “Iya Dod.. aku juga sudah tidak tahan.. uuuhh.. uuuhh.”

    Badan Rani segera kubungkukkan, dan kakinya kurenggangkan. Aku segera mengarahkan dan menempelkan ujung penisku ke arah bibir vaginanya yang sudah menganga lebar menantang.

    “Dodi.. cepat masukkan sayang cepat uuhh ayoo.” Aku yang sudah gemas sekali segera menekan penisku sekuat tenaga sehingga langsung amblas semua sampai ke dasar vaginanya. Rani menjerit keras sekali. Mukanya sampai mendongak.
    “aahh.. kamu kasar sekali.. aduuhh sakit aduuhh..” Aku yang sudah tidak sabar mulai menggerakkan penisku maju mundur, kuhunjam-hunjamkan dengan kasar yang membuat Rani semakin keras mengerang-erang. Susunya aku remas-remas dengan dua tanganku.

    Tidak lama kemudian Rani mulai menikmati permainan kita, dan mulai menggoyangkan pantatnya. Vaginanya juga mulai berdenyut meremasi penisku. Aku menjadi semakin kasar, dan penisku yang sudah keras sekali terus mendesak dasar vaginanya. Dan kalau penisku sedang maju membelah vaginanya, tanganku juga menarik pantatnya ke belakang sehingga penisku menghunjam dengan kuat sekali. Tapi tiba-tiba Rani melepaskan diri.

    “hh sekarang giliranku aku sudah hampir sampai.” katanya. Kemudian aku disuruh duduk selonjor di lantai di antara kaki Rani yang mulai menurunkan badannya. Penisku yang mengacung ke atas mulai dipegang Rani, dan di arahkan ke bibir vaginanya.

    Tiba-tiba Rani menurunkan badannya duduk di pangkuanku sehingga penisku langsung amblas ke dalam vaginanya. Kita sama-sama mengerang dengan keras, dan mulutnya yang masih menganga kuciumi dengan gemas.

    Kemudian pantatnya mulai naik turun, makin lama makin keras. Rani melakukannya dengan ganas sekali.

    Pantatnya juga diputar-putar sehingga aku merasa penisku seperti dipelintir.

    “Dodii.. aku.. aku.. sudah.. hampirrr, uuuhh…” Erangnya sambil terus menghunjam-hunjamkan pantatnya. Mulutku beralih dari mulutnya ke susunya yang bulat sekali. Putingnya kugigit-gigit, dan lidahku berputar menyapu permukaan susunya. Susunya kemudian kusedot dan kukenyot dengan keras, membuat gerakan Rani semakin liar.

    Tidak lama kemudian Rani menghunjamkan pantatnya dengan keras sekali dan terus menekan sambil memutar pantatnya.

    “Sekaranggg aahh sekaranggg Dodi, sekaranggg”, Rani berteriak-teriak sambil badannya berkelojotan.

    Vaginanya berdenyutan keras sekali. Mulutnya menciumi mulutku, dan tangannya memelukku sangat keras. Rani orgasme selama beberapa detik, dan setelah itu ketegangan badannya berangsur mengendur.

    “Dod, makasih yah.., sekarang aku pengin ngisep boleh yah..?” katanya sambil mengangkat pantatnya sampai penisku lepas dari vaginanya. Rani kemudian menundukkan mukanya dan segera memegang penisku yang sangat keras, berdenyut, dan ingin segera memuntahkan air mani. Mulutnya langsung menelan senjataku sampai menyentuh tenggorokannya.

    Tangannya kemudian mengocok pangkal penisku yang tidak muat di mulutnya. Kepalanya naik turun mengeluar-masukkan penisku. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Ujung penisku yang sudah sampai di tenggorokannya masih aku dorong-dorong. Tanganku juga ikut mendesakkan kepalanya. Lidahnya memutari penisku yang ada dalam mulutnya. “Raniii isap terus terusss hampirr terusss yyyaa sekaranggg sekarangg.. issaapp..”, Rani yang merasa penisku hampir menyemburkan sperma semakin menyedot dengan kuat.

    Dan…”aahh.. sekaranggg.. sekaranggg.. issaappp..” spermaku menyembur dengan deras berkali-kali dengan rasa nikmat yang tidak berkesudahan. Rani dengan rakusnya menelan semuanya, dan masih menyedot sperma yang masih ada di dalam penis sampai habis. Rani terus menyedot yang membuat orgasmeku semakin nikmat. Dan setelah selesai, Rani masih juga menjilati penisku, spermaku yang sebagian tumpah juga masih di jilati.

    Kemudian setelah beristirahat beberapa saat, kami pun meneruskan mandi sambil saling menyabuni. Setiap lekuk tubuhnya aku telusuri. Dan aku pun semakin menyadari bahwa badannya sangat indah. Setelah itu kami tidur berdua sambil terus berpelukan.

    Pagi-pagi ketika aku bangun ternyata Rani sudah berpakaian rapi, dan dia cantik sekali. Dia mengenakan rok mini dan baju tanpa lengan yang serasi dengan kulitnya yang halus. Dia mengajakku belanja ke Mall karena persediaan makanan memang sudah habis. Maka aku pun segera mandi dan bersiap-siap.

    Di perjalanan dan selama berbelanja kita saling memeluk pinggang. Siang itu aku menikmati jalan berdua dengannya. Kita belanja selama beberapa jam, kemudian kita mampir ke sebuah Café untuk makan siang. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang kita ngobrol-ngobrol tentang semua hal, dari masalah pelajaran sekolah sampai hal-hal yang ringan.

    Ketika ngobrol tentang sesuatu yang lucu, Rani tertawa sampai terpingkal-pingkal, dan saking gelinya sampai kakinya terangkat-angkat. Dan itu membuat roknya yang pendek tersingkap. Aku pun sembari menyetir, karena melihat pemandangan yang indah, meletakkan tanganku ke pahanya yang terbuka.

    “Ayo.. nakal yah..” kata Rani, bercanda.
    “Tapi suka kan?” kataku sambil meremas pahanya. Kami pun sama-sama tersenyum. Mengusap-usap paha Rani memang memberi sensasi tersendiri, sampai aku merasa penisku menjadi tegang sendiri.
    “Dodi.. sudah kamu nyetir saja dulu, tuh kan itunya sudah bangun.. pingin lagi yah? Rani jadi pengin ngelusin itunya nih..” kata Rani menggodaku. Aku cuma senyum menanggapinya, dan memang aku sudah kepingin mencumbunya lagi.
    “Dodi, bajunya dikeluarin dong dari celana, biar tanganku ketutupan. Dipegang yah?” Aku semakin nyengir mendengarnya. Tapi karena memang kepingin, dan memang lebih aman begitu dari pada aku yang meneruskan aksiku.

    Sambil menyetir aku pun mengeluarkan ujung bajuku dari celanaku. Kemudian tanpa menunggu, tangan Rani langsung menyelinap ke balik bajuku, ke arah selangkanganku. Tangannya mencari-cari penisku yang semakin tegang.

    “Ati-ati, masih siang nih, kalau ada orang nanti tangan kamu ditarik yah!” kataku. Rani diam saja, dan kemudian tersenyum ketika tangannya menemukan apa yang dicari-cari. Tangannya kemudian mulai meremas penisku yang masih di dalam celana. Penisku semakin tegang dan berdenyut-denyut.

    Karena terangsang juga, Rani mulai berusaha membuka ritsluiting celanaku, dan kemudian menyelinapkan tangannya, dan mulai memegang kepala penisku. Cairan pelumas yang mulai keluar diusap-usapkan ke kepala dan batang penisku.

    “Dodi.. aku pengin ngisep ininya.. aku pengin ngisep sampai kamu keluar dimulutku..” katanya sambil agak mendesah. Aku juga ingin segera merasakan apa yang dia ingini. Yang ada di otakku adalah segara sampai di rumah, dan segera mencumbunya.

    Tapi harapan kita ternyata tidak segera terwujud karena sesampainya di rumah, ternyata orang tua Rani sudah pulang. Kita cuma saling berpandangan dan tersenyum kecewa.

    “Eh, sudah pada pulang yah..” Rani menyapa mereka.
    “Iya nih, ada perubahan acara mendadak. Makanya sekarang cape banget. Nanti malem ada undangan pesta, makanya sekarang mau istirahat dulu. Kamu masak dulu saja ya sayang.. sudah belanja kan?” kata maminya Rani.
    “Iya deh, sebentar Rani ganti baju dulu. Eh, Dodi, katanya kamu pengin belajar masak, ayo, sekalian bantuin aku”, kata Rani sambil tersenyum penuh arti. Aku cuma mengiyakan dan ke kamarku ganti pakaian dengan celana pendek dan T-shirt. Kemudian aku ke dapur dan mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke lemari es.

    Tidak lama kemudian Rani menyusul ke dapur. Dia pun sudah berganti pakaian, dan sekarang memakai daster kembang-kembang. Tante juga ikut-ikutan menyiapkan bahan makanan dan Rani mulai mengajariku memasak.

    “Sudah Mami istirahat saja sana, kan ini juga sudah ada yang ngebantuin..” kata Rani.
    “Iya deh, emang Mami cape banget sih, sudah yah, Mami mau coba istirahat saja”, kata Maminya Rani sambil keluar dari dapur. Aku yang sedang memotongi sayuran cuma tersenyum. Setelah beberapa saat, Rani tiba-tiba memelukku dari belakang, tangannya langsung ditelusupkan ke dalam celanaku dan memegang penisku yang masih tidur.

    “Eh.. kok ininya bobo lagi.. Rani bangunin yah?” tangannya dikeluarkan kemudian Rani mengambil salad dressing yang ada di depanku, masih sambil merapatkan badannya dari belakangku.

    Kemudian salad dressingnya dituangkan ke tangannya, dan langsung menyelinap lagi ke celana dan dioleskan ke penisku yang langsung menegang. Sambil merapatkan badannya, susunya menekan punggungku, Rani mulai meremasi penisku dengan dua tangannya. Nikmat yang aku rasakan sangat luar biasa. Aku segera melingkarkan tangan ke belakang, meremas pantatnya yang bulat itu.

    Tanganku aku turunkan sampai ke ujung dasternya, kemudian kusingkapkan ke atas sambil meremas pahanya dengan gemas. Ketika sampai di pangkal pahanya, aku baru menyadari kalau Rani ternyata sudah tidak memakai celana dalam. Maka tanganku menjadi semakin gemas meremasi pantatnya, dan kemudian menelusuri pahanya ke depan sampai ke selangkangannya. Jari-jariku segera membuka belahan vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya yang sudah sangat basah terkena cairan yang semakin banyak keluar dari vaginanya. Tangan Rani juga semakin liar meremas, meraba dan mengocok penisku.

    “Rani.. sana diliat dulu, apa Om dan Tante memang sudah tidur..” kataku berbisik karena merasa agak tidak aman.

    Rani kemudian melepaskan pegangannya dan keluar dapur.

    Tidak lama kemudian Rani kembali dan bilang semuanya sudah tidur. Aku segera memeluk Rani yang masih ada di pintu dapur, kemudian pelan-pelan pintu kututup dan Rani kupepet ke dinding. Kita berciuman dengan gemasnya dan tangan kita langsung saling menelusup dan memainkan semua yang ditemui. Penisku langsung ditarik keluar oleh Rani dan aku segera menyingkap dasternya ke atas, kemudian kaki kirinya kuangkat ke pinggulku, dan selangkangannya yang menganga langsung kuserbu dengan jari-jariku.

    Baca Juga : Joki 3 In 1 Plus Plus

    Tangan Rani menuntun penisku ke arah selangkangannya, menyentuhkan kepala penisku ke belahan vaginanya dan terus-terusan menggosok-gosokkannya. Untuk mencegah agar Rani tidak mengerang, mulutnya terus kusumbat dengan mulutku. Kemudian karena sudah tidak tahan, aku segera mengarahkan penisku tepat ke mulut vaginanya, dan menekan pelan-pelan, terus ditekan, terus ditekan sampai seluruh batangnya amblas.

    Kaki Rani satunya segera kuangkat juga ke pinggangku, sehingga sekarang dua kakinya melingkari pinggangku sambil kupepet di dinding. Kita saling mengadu gerakan, aku maju-mundurkan penisku, dan Rani berusaha menggoyang-goyangkan pantatnya juga. Vaginanya berdenyutan terasa meremasi batang penisku. Tidak lama kemudian aku merasa Rani hampir orgasme.

    Denyutan vaginanya semakin keras, badannya semakin tegang dan isapan mulutnya di mulutku semakin kuat. Kemudian aku merasa Rani orgasme. Kontraksi otot vaginanya membuat penisku merasa seperti diurut-urut dan aku juga merasa hampir mencapai orgasme. Setelah orgasme, gerakan Rani tidak liar lagi, dia cuma mengikuti gerakan pantatku yang masih menghunjam-hunjamkan penisku dan mendesakkan badannya ke dinding.

    Kemudian sementara penisku masih di dalam dan kaki Rani masih di pinggangku, aku melangkah ke arah meja dapur dan duduk di salah satu kursi, sehingga sekarang Rani ada di pangkuanku dengan punggung menyandar di meja dapur. Selama beberapa saat kita cuma berdiam diri saja. Rani masih menikmati sisa kenikmatan orgasmenya dan menikmati penisku yang masih di dalam vaginanya.

    Sementara aku menikmati sekali posisi ini, dan menikmati melihat Rani ada di pangkuanku. Tanganku mengusap-usap pahanya dan menyingkapkan dasternya ke atas sampai melihat bulu kemaluan kami yang saling menempel. Belahan vaginanya kubuka dan aku melihat pemandangan yang sangat indah. Penisku hanya kelihatan pangkalnya karena seluruh batangnya masih di dalam vagina Rani, dan di atasnya aku melihat clitorisnya yang sangat basah.

    Jari-jariku mulai mengusap-usap clitorisnya sampai Rani mulai mendesis-desis lagi, dan pantatnya mulai bergerak lagi, berputar dan mendesakkan penisku menjadi semakin masuk. Aku merasa vaginanya mulai berdenyutan lagi meremas-remas penisku. Karena gemas, kadang-kadang clitorisnya kupelintir dan kucubit-cubit.

    Kemudian dasternya kusingkap semakin ke atas sampai aku melihat susunya yang menantangku untuk segera memainkannya. Dengan tak sabar segera susunya yang kiri kulumat dengan mulutku, yang membuat kepala Rani mendongak merasakan kenikmatan itu. Sambil melumati susunya, lidahku juga memainkan putingnya yang sudah sangat tegang. Kadang-kadang putingnya juga kugigit-gigit kecil dengan gemas. Tanganku dua-duanya meremasi pantatnya yang bulat.

    “Ya Tuhan Dodiii aahh aahh”, rintihnya di kupingku, sambil kadang menjilati dan menggigit kupingku.
    “Dodii.. aahh.. aku hampir dapet lagii.. ahh.., terus gitu sayang”, rintihnya dengan gerakan yang semakin liar.

    Pantatnya semakin keras menekan dan berputaran, yang membuat penisku juga seperti dipelintir dengan lembut.

    Aku pun menuruti dan terus memberikan kenikmatan dengan terus memainkan susunya bergantian yang kiri dan kanan, dan tanganku juga ikut memainkan puting susunya, sampai Rani tiba-tiba menggigit kupingku dengan keras dan setelah menghentakkan pantatnya dia memelukku dengan eratnya.

    “hh Dodddiii.. hh. hh.” Aku merasakan Rani orgasme untuk kedua kalinya dan lebih hebat dari yang pertama.

    Denyutan vaginanya keras sekali dan berlangsung selama beberapa detik, dan kenikmatan yang aku rasakan membuatku merasa sudah hampir orgasme. Tapi setelah orgasme, ternyata Rani masih ingat keinginannya untuk menghisap penisku.

    “Dodi.. jangan dikeluarin dulu.. nanti di mulutku saja yah”.

    Maka setelah turun dari pangkuanku, Rani segera jongkok di depanku dan langsung mengulum penisku. Lidahnya memutari batangnya dan mulutnya menyedot-nyedot membuat aku merasa orgasmeku sudah sangat dekat. Tanganku memegang belakang kepala Rani, dan kutekan agar penisku semakin masuk di mulutnya, kemudian aku juga membantu memasuk-keluarkan penisku di mulutnya, dan

    “aahh Rani aku keluarrr terus isaappp.. aahh..” dan memang Rani dengan lahapnya terus menghisap spermaku yang langsung berhamburan masuk ke tenggorokannya. Penisku yang masih mengeluarkan sperma terus disedot dan dikenyot-kenyot dan pangkal penisku juga terus-terusan dikocok-kocok. Orgasmeku kali ini kurasakan sangat luar biasa.

    Setelah itu kita kembali berciuman, dan kembali meneruskan memasak.

    “Dodi.. makasih yah, tapi aku belum puas, habis kurang bebas sih, entar malem lagi yah..!” aku yang merasa hal yang sama cuma mengangguk.
    “Ran, aku nanti malem pengin menikmati seluruh tubuhmu.”
    “Maksudmu..? apa selama ini belum?”
    “Aku pengin melakukan hal yang lain sama kamu.., tunggu saja..”
    “Ihh.. apaan sih.., Rani jadi merinding nih”, kata Rani sambil memperlihatkan bulu-bulu tangannya yang memang berdiri, dan sambil tersenyum aku mengelusi tangannya. Kemudian badannya kupeluk dari belakang dengan lembut. Aku merasa bahagia sekali.

  • Joki 3 In 1 Plus Plus

    Joki 3 In 1 Plus Plus


    53 views

    Ceritamaya | Satu hari aku mengendarai mobilku memasuki daerah 3in1, seperti biasa aku mencari 2 joki supaya bisa melaju di restricted zone ala jakarta dengan aman. Pagi itu, mataku terpana karena ada satu joki prempuan yang laen dari yang laen. Pakeannya sih seperti yg laen, pake t shirt dan jeans, tapi toketnya itu lo, montok banget, wajahnya juga lumayan cantik.

    Sebelum disamber pengendara lain, segera aku menepi, dia masuk dan aku mengajak seorang anak kecil untuk melengkapi 3 orang di mobil. Mobil pun melaju.

    “Namanya siapa?” aku membuka pembicaraan.
    “Ayu, om”.
    “Gak sekolah”, karna wajahnya masih abg banget.
    “Lepas smu, gak ada kerjaan om, jadi ya sementara ngejoki dulu aja.
    “Kok gak skolah?”
    “Gak ada dana om, om mau skoalin Ayu”. Aku hanya senyum saja. Tiba-tiba tangannya mengelus pahaku. Aku kaget juga, agresif banget ni prempuan.
    “Waduh ramah ya”.
    “Kok ramah, om”.
    “Iya rajin menjamah”. Napa. gak bole ya om”.
    “Boleh kok, jadi pengen ramah juga ni”.
    “Ya elus aja om, Ayu gak apa kok”. Aku gak perduli si anak yang dibangku blakang mendengar percakapan kita ini atao tidak, biar dia blajar cepet jadi gede. Akupun mengelus pahanya, dia menghentikan aksinya biar tangannya gak bertabrakan dengan tanganku.

    Tanganku menjalar sampe ke selangkangannya, dia sedikit mengangkangkan pahanya, sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku. Karena tempatnya sempit aku gak bisa mengakses selangkangannya, walaupun dia sudah berusaha mengangkangkan pahanya.

    “Sering dielus kalo lagi ngejoki ya”. “Sering om”.
    “Terus berlanjut gak”.
    “Kadang berlanjut tapi seringnya enggak”.
    “Kalo berlanjut kemana”.
    “Ya tergantung yang bawa om. Om mo bawa Ayu kemana”. Agresif juga jualannya ni prempuan.
    “Kamu dah pengalaman ya, umur kamu belon 20 kan”.
    “Ya abis gimana, si om nya yang ngajakin masa Ayu tolak si. Tua amat om 20, masih dibawah itu kok om”.

    Saat itu, mobil sudah sampe dibatas akhir 3in1. Aku memberi tip pada anak kecil yang duduk dijok blakang, tapi Ayu tidak beranjak dari tempat duduknya.

    “Kita mo kemana om”.
    “Kamu maunya kemana”.
    “Om gak sibuk kan, beliin Ayu pakean ya om”. Wah matre juga ni.
    “Gak usah yang mahal om, deket sini kan ada dept store R, disitu murah kok om, lagi sale lagi”. Memang dept store R tu posisinya untuk menengah ke bawah. Ya udah, gak matre matre banget kok, pikirku, maka mobil mengarah ke dept store yang disebut Ayu.

    Sesampainya disana, dept store sepi, maklum pagi dan hari kerja lagi. Gak apa sih, malah enak belanjanya, gak desek2an. Ayu dengan agresifnya menggandeng tanganku menuju ke kounter pakean prempuan. Dia memilih jins, t shirt, asesoris.

    “Gak beli daleman Ay”, bisikku.
    “Bole ya om”. “Bole aja, beli g string Ay”.
    “Ayu skarang pake om. Beli yang model Ayu belon punya ya om”. Dia menuju ke kounter pakean dalem prempuan. Aku hanya menunggu dari jauh, risih rasanya ikutan masuk ke kounter khusus prempuan itu. Ayu keliahatannya milih2 beberapa, sepertinya dia belon punya.
    “Setelah selesai aku membayar semua pakean yang dibelinya. Karena ada diskon yang lumayan besar, gak terlalu mahal lah pakean yang Ayu beli.
    “Om, Ayu beli g string yang ada lobangnya”.
    “Jadi bisa langsung masuk ya Yu, gak usah dilepas lagi”.
    “Ih om, tau aja”, katanya sambil tersenyum.

    Cukup lama rupanya Ayu menghabiskan waktu untuk belanja pakean, karena saat kami keluar dept stor jam dah menunjukkan waktu untuk ngisi bahan bakar.

    “Ay, cari makanan yuk”.
    “Di basement ada food court, kesana aja om, mur mer’.
    “apaan tu”. “ah om kurang gaul neh, murah meriah”.
    “Kamu sering kesini ya Ay, sampe apal semua tempat blanja dan makan”.
    “Ya yang terjangkau buat Ayu kan disini om”.
    “Kamu blanja sendiri?”
    “Kadang ditemenin, tapi sering sendiri”.
    “Blanjanya abis dapet tip besar ya Ay”.
    “Om tau aja”. Kami memilih makanan.
    “Ay, pusing ni, jualannya banyak banget, Ayu yang milihin ya, aku ikut aja”.
    “Iya deh, om duduk aja disini, pokoknya om akan makan apa juga yang Ayu beli ya”. Aku mengeluarkan uang, tapi Ayu bilang
    “bayarnya nanti kok om, ditagih ma petugas kounternya”. Ayu memilih makanan untuk kami ber2, tak lama dia kembali.
    “Kamu sering jalan ma om2 ya Ay”.
    “Ya yang Ayu jokiin aja si om, juga gak semua yang Ayu jokiin ngajakin Ayu jalan”.
    “Kamu suka ngelus2 mreka juga”.
    “La iyalah om, kalo gak agresif gitu mana om tertarik ma Ayu”.
    “Aku mah dah tertarik ma kamu sejak kamu berdiri di pinggir jalan”.
    “Masak sih om, mangnya om tertarik ma apanya Ayu”.
    “Toket kamu Ay, montok banget, jadi pengen nyusu”.
    “Ih si om, siang2 dah genit”.
    “Mangnya kalo genit gak bole siang ya Ay”.
    “Bole aja si om”. Pembicaraan terhenti karena pesanan makanan mulai berdatangan.
    “Kebanyakan gak om, om suka kan ma pilihan Ayu”.
    “Suka banget Ay, orangnya aku juga suka kok”.

    Ayu cuma tersenyum, selama makan kami becanda aja sembari ngobrol kesana kemari. Aku membayar bill semua makanan dan minuman itu, selesai makan Ayu langsung ngajak jalan lagi.

    “Om, abis makan gini Ayu suka ngantuk deh”. “Jadi mo BBS nih”. “apaan tu om”.
    “Katanya gaul, bobo bobo siang”.
    “Terserah om deh, Ayu ngikut aja”.
    “Ke apartmenku ya”. “siapa takut, Ayu blon pernah diajak ke apartmen deh om”.
    “Biasanya kemana Ay”
    “Seringnya ke motel om, short time aja”.
    “Kan di motel bisa 6 jam”.
    “Tapi paling banter 2 jam udahan om, kan si om nya masi ada acara laennya”.
    “Kerja maksud kamu”. “Kali”. Mobil kuarahkan ke apartmenku.

    Joki 3 In 1 Plus PlusSesampe di apartmen, Ayu langsung aja melepaskan t shirt dan jinsnya. Kayanya gak mo buang2 waktu. Aku terpana melihatnya hanya memake daleman kaya gitu. Toketnya yang besar seperti mo melompat keluar dari bra nya yang kayanya kekecilan. Yang lebi menarik, Ayu pake g string yang tipis merewarang, sehingga jembutnya yang lebat berbayang dan berhamburan keluar dari kiri-kanan dan bagian atas g stringnya.

    “Wah kamu napsuin banget Ay, toket kamu besar, jembut kamu lebat gitu. Pasti napsunya besar ya Ay”.
    “Om tau aja si, pengalaman ma abg ya om”. Aku udah dalam keadaan telanjang. Aku segera memeluknya dan kutarik ke kamar. diapartmen cuma ada kami berdua.

    Branya sebentar saja dah kulepas. Toketnya yang ranum menantang sekali dengan dua pentil yang mencuat. Aku mencium kecil pipi kanannya. Dia tersenyum, kemudian membalas mencium kecil bibirku. Aku pun meraba toketnya. Dia menutup mata merasakan kenikmatan tersebut, kemudian aku mencium bibirnya, sambil sesekali kuhisap bibir bawahnya dan lidahku menjelajah ke rongga giginya dan menghisap lidahnya.

    Dia benar benar menikmatinya, kedua tanganku sudah berada pada dua toket ranumnya. Kuremas remas sambil kupelintir kedua pentilnya dengan ibu jari dan telunjukku. Dia terkadang bergetar tubuhnya ketika kombinasi yang kulakukan yaitu meremas sambil memuntir pentilnya. “Ah, om pinter deh bikin Ayu terangsang ya”, katanya.

    Aku membaringkan tubuhnya diranjang dan langsung kutindih sambih terus meremas dan mencium bibirmya. kontolku yang sudah ngaceng keras menggesek bibir luar nonoknya dan gerakan kami seperti orang yang sedang ngen tot. Aku mendorong kebawah, dia mendorong pula pantatnya keatas. Aku tarik pinggangku, dia pun demikian. Mukanya bersemu merah menahan napsunya.

    Langsung kujilati pentil yang memerah muda, karena napsu sambil aku menyedot pentilnya dengan keras. Dia menggigit bibir sendiri menahan napsunya yang kian memuncak. Kakinya sudah menyepak kesana kemari. Sambil menjilat, aku memperhatikan gundukan di bawah pusar yang mumbul dengan jembut yang menyembul keluar. Pinggulnya bergerak tak menentu, “Hhh, om..hh enak”, erangnya.

    Mendapat respon seperti itu tanganku mulai turun menjelajah dari toketnya ke arah perut, mengusap daerah pusar, kemudian turun lagi kebawah pusar yang ditumbuhi jembut, kemudian meraba daerah selangkangannya yang empuk. Aku tekan sekali sekali sambil kuremas. Hal ini menyebabkan gerakan pinggulnya yang makin panas. Aku dapat melihat butiran butiran keringat napsu yang menetes dari dahinya yang sedang membasahi rambut panjangnya. Kami langsung berpelukan sambil berciuman panjang.

    Setelah pelukan plus ciuman aku rasa cukup, tanganku mulai bermain ke arah selangkangannya dengan mengusap lembut naik turun melewati belahan nonoknya. Dari luar cdnya aku bisa merasakan bahwa didalam sudah lembab sekali, tentu banyak cairan yang sudah keluar dari nonoknya. Karena dia menggunakan g string yang memang kurang bahan untuk menutupi nonoknya, jariku dengan mudahnya dapat masuk melalui samping selangkangan dan bermain di sana. Sesekali jariku bermain pada bibir nonoknya agak lama, dia meliukan pinggangnya bergoyang goyang.

    Baca Juga : Di Entot Guru Bahasa Inggris

    Aku tetap tenang mengelus, sesekali seluruh jariku masuk dan meremas nonoknya dengan lembut. Hal ini membuat dia melenguh keras. Sambil tanganku meremas nonoknya, tangan kiriku masih terus aktif meremas toketnya baik yang kiri maupun yang kanan sambil mengisap bibir dan salah satu pentil yang nganggur. Jari tengahku mulai mengilik itilnya. Benar saja, itilnya sudah membesar dan basah. dia menggeliat tak tentu arah sambil mendesah,

    “Oh.. om enak sekali”.
    “G string mu kubuka ya biar kamu nggak kegencet, liat tuh g string kamu kekecilan nggak bisa nampung pantat kamu yang bulat besar sama no nok kamu yang tembem, lagian kamu juga udah basah”, jawabku sambil melepasnya, dan kali ini aku benar benar melihat dia dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, dengan keadaan napsu yang memuncak.

    Bukan main indahnya bentuk nonoknya, dia mempunyai jembut yang lebat dan halus semua warna hitam. Jembutnya nampak rapih, karena dalam keadaan lurus tidak keriting seperti wanita kebanyakan. Aku mulai menyusuri ke arah pusarnya terus turun dan berhenti tepat dinonoknya. Dia sedikit jengah dan berkata,

    “Oh, om jangan liat kayak gitu dong.. Ayu kan malu” sambil tangannya mencoba menutupi.

    Tapi dengan cepat tanganku menahannya dan langsung bibirku mencium bibir luar nonoknya sambil kuhisap-hisap kedua belah bibir nonoknya. Dia benar benar kelojotan,

    ” Ah om, oh.. enak banget, hmm.. oh iya bener gitu.. ohh..
    “Aku menyapukan lidahku naik turun sambil tak lupa itilnya aku emut emut dan didalam bibirku aku kedut kedutkan.
    Lidahku mulai merangsek masuk ke dalam nonoknya yang memang benar benar sudah basah.

    Dalam keadaan tersebut kepalanya tersentak kekiri dan kekanan menahan luapan napsu. Aku bisa melihat dan merasakan dia hampir nyampe, dan aku mulai menuntun kontolku yang sudah siap tempur. Kedua belah kakinya aku lebarkan sambil tangan kiriku mempermainkan itilnya dengan ibu jari dan tangan kananku mengarahkan kontolku ke nonoknya. Ketika kontolku bertemu dengan nonoknya, kepala kontolku langsung seperti dihisap oleh nonoknya. Aku peluk dia sambil sedikit aku goyangkan tanpa mendorong masuk kontolku ke dalamnya.

    Cukup kepalanya saja yang terjepit di dalam nonoknya. Pinggulnya mengimbangi gerakanku yang naik turun menggesek nonoknya. Kepala kontolku benar benar dijepit erat oleh nonoknya. Dia merem melek keenakan, dan tangannya memelukku dan mengimbangi gerakanku.

    “om, kon tol om enak banget sih hangat kena no nok Ayu.” Setelah kurang lebih tiga menit kami seperti itu, aku merasakan pantatnya naik lebih tinggi, seakan akan ingin lebih merasakan kontolku.

    Maka akupun mulai sedikit demi sedikit mendorong lebih dalam, sehingga seluruh kontolku terbenam di dalam nonoknya. Dia mulai meracau lagi, “Oh om..enak banget kon tol om masuk semua ke dalem no nok Ayu.. hh. dorong lagi biar makin dalem masuknya..” Sambil memompa aku bertanya,

    “Ay.. kontolku lagi ngapain no nok Ayu?”
    “Hhh, skh.. hh kon tol om lagi ngentotin no nok Ayu,” jawabnya sambil meremas pantatku gemas. Aku pura pura tidak mendengar ingin dia mengulang lagi kata katanya,
    “Ha.. lagi ngapain?”
    “Lagi dientot ..ohh nikmatnya..” Aku bertanya lagi,
    “Emang Ayu mau aku en tot?” Dia menyahut,
    “Iya jadi ketagihan nih dien tot sama om, abis kon tol om mantap, nikmat, enak rasanya.” Sambil begitu aku benar-benar merasakan jepitan-jepitan halus dari dinding nonoknya. nonoknya mempunyai jepitan yang kuat, kontolku di dalam seperti dirayapi oleh jutaan semut, jadi seperti terkena setrum kecil, tapi hangat dengan sebentar-bentar no nok tersebut mencucup kembang kempis menyedot seluruh kontolku.

    Setelah lebih 20 menit, dia sudah hampir nyampe.

    “Ayo om, Ayu udah mau nyampe, enjot terus, iya teken biar kena i til Ayu oh.. benar begitu .. aduh, enak bener ngen tot ama om.”

    Akupun merasakan intensitas kedutan nonoknya makin tinggi, dan sepertinya akupun sudah ingin ngecret juga.

    “Oh, Ay.. enak banget nonokmu ada empot ayamnya, rasanya legit, rapet, peret, oh, aku mau ngecret, gimana nih didalam atau diluar,” kataku.
    “Didalem aja om biar enak, Ayu juga mau ngerasain di* peju om, mungkin besok lusa dapet haid, jadi aman,” desahnya yang juga menahan napsu yang siap meledak beberapa saat lagi.

    Akhirnya aku merasakan kontolku diremas kuat sekali oleh otot nonoknya, gerakan pinggulnya terhenti, sambil pantatnya ditinggikan, aku mengocok kontolku, lagi dia menggeram dan..

    “Oh om Ayu nyampe, ouh..ahh. nggh ahh enak.. enak hh..” Aku pun tak tahan kontolku diremas dan disedot oleh nonoknya, dengan satu dan dua kali sentakan kontolku menyemprotkan peju kedalam nonoknya.

    Ketika aku menyemprotkan peju, nonoknya menyedot kencang hingga kami berdua merasakan nikmat luar binasa. Puas aku selesai ngecret dan begitu juga dia, ketika aku ingin melepas kontolku, dia mencegahnya.

    “Biarin didalam dulu sampe ngecil dan keluar sendiri yah.”

    Akhirnya kami berbaring menyamping dengan kontolku masih nancep didalam nonoknya, masih dapat aku rasakan kedutan dalam nonoknya namun sudah melemah, dan kontolku mulai berangsur-angsur mengecil dan akhirnya lepas dengan sendirinya dari nonoknya. Dia terkulai lemes dan bermandikan keringat. Aku berbaring disebelahnya. Dia meremes2 kontolku yang berlumuran peju dan sudah lemes. Gak lama diremes2, napsuku timbul lagi, kontolku mulai ngaceng lagi.

    “om, Ayu dientot lagi dong, tuh kontolnya sudah ngaceng lagi. om kuat banget seh, baru ngecret udah ngaceng lagi”.

    Aku diam saja, dia berinisiatif menaiki tubuhku. Disodorkannya pentilnya ke mulutku, segera pentilnya kukenyot2, napsunya mulai memuncak lagi. Dia menggeser ke depan sehingga nonoknya berada didepan mulutku lagi.

    “om, jilat dong no nok Ayu, itilnya juga ya om”. Aku mulai menjilati nononknya dan itilnya kuhisap, kadang kugigit pelan,
    “Aah, om, diemut aja om, jangan digigit”, desahnya menggelinjang.

    Dia gak bisa menahan diri lagi. Segera nonoknya diarahkan ke kontolku yang sudah tegang berat, ditekannya sehingga kontolku kembali amblas di nonoknya. Dia mulai menggoyang pantatnya turun naik, mengocok kontolku dengan nonoknya. Aku memlintir pentilnya, dia mendesah2. Karena dia diatas maka dia yang pegang kendali, bibirku diciumnya dan aku menyambutnya dengan penuh napsu. Pantatnya makin cepat diturun naikkan.

    Aku dengan gemas menggulingkannya sehingga kembali aku yang segera mengenjotkan kontolku keluar masuk nonoknya. Dia mengangkangkan pahanya lebar2, menyambut enjotan kontolku, dia gak bisa nahan lebih lama lagi, tubuhnya makin sering menggelinjang dan nonoknya terasa berdenyut2, “Om, aah”.

    Akhirnya dia nyampe lagi, dia tergolek lemes, tapi aku masih saja menggenjot nonoknya dengan cepat dan keras, dia mendesah2 kenikmatan. Aku bisa membuat dia nyampe lagi sebelum akhirnya dengan satu enjotan yang keras kembali aku ngecretkan pejuku di nonoknya.

    Nikmat nya. Aku menciumnya,

    “Ay, nikmat banget deh ngen tot sama kamu”.
    “iya om, Ayu juga nikmat banget, kalo ada kesempatan Ayu mau kok dien tot lagi sama om”.
    “Bole aja Ay, ampe lupa nyobain g string kamu yang belubang bawahnya”.
    “Laen kali ya om, ntar Ayu pake deh tu g string”