• Nikmatnya Si Dina

    Nikmatnya Si Dina


    104 views

    Cerita Maya | Amar adalah sosok seorang teman yang aku kenal paling selama ini, dia sangat peduli dengan keadaan temannya yang lagi terkena musibah. Dia tidak pernah membeda-bedakan dalam memilih teman tapi kalau menurutku dia lebih memilih bergaul dengan yang setara ekonominya, dia berpikiran kalau yang setara pasti lebih saling menghormati. Amar ini sudah mempunyai istri dan seorang anak perempuan. Istri Amar ini lebih muda dari Amar 5 tahun. Namanya Dina, orangnya cantik, putih bersih, badannya ideal dengan tinggi sekitar 167cm dan berat badan sekitar 60kg, terlihat tubuhnya begitu molek.

    Ceritanya begini, namaku Burhan, aku berteman dengan Amar saat aku sekantor sama dia disauatu perusahaan swasta dikotaku tinggal. Awalnya aku berteman seperti biasa dengan Amar, sampai pada akhirnya aku merasa nyaman berteman dengannya sehingga aku sering maen kerumahnya, hamper setiap malam selepas pulang kerja sekitar jam 9 malam aku selalu berkunjung kerumahnya untuk sekedr ngopi dan ngobrol-ngobrol saja sampai larut malam. Saat aku mulai sering maen kerumah Amar saat itu juga aku juga akrab dengan istrinya Amar yaitu Dina. Kami sering ngobrol bertiga dengan candaan-candaan biasa. Biasanya siih banyak teman-teman juga yang maen kerumah Amar tapi semakin lama semakin berkurang, mungkin pada merasa bosan, tinggal aku saja yang masih sering maen kerumahnya hingga aku dan istrinya pun sudah semakin akrab saja. Cerita Maya

    Setelah beberapa bulan kita sebagai teman sekantor karena suatu masalah akhirnya kita berdua (aku dan Amar) keluar dari kantor tersebut. Tapi Amar langsung mendapatkan pekerjaan lainnya, sementara aku masih saja naganggur. Walaupun aku dan Amar sudah tidak sekantor lagi tapi setiap malam aku masih sering maen kerumahnya dan bisa dipastikan hamper setipa hari. Pertemanan kitapun berjalan dengan apa adanya, aku juga berteman bbm dengan Dina, ketika Amar kerja kita juga sering bbm’an tanpa sepengatahuan Amar hanya untuk menghibur Dina yang gak ada kegiatan dirumahnya.

    2 bulan Amar bekerja, terjadi pengurangan pegawai secara besar-besaran dan ternyata Amar juga terkena pengurangan pegawai tersebut. Jadilah sekarang Amar menganggur. Mulai inilah aku setiap hari selalu berkumpul dengan Amar dan istrinya dan anak perempuannya yang masih kecil, sekitar 6 tahunan. Makin lama aku memandang Dina makin seksi sekali, tubuhnya semakin semok. Mungkin karena dipompa sama Amar setiap malam. Aku beruasaha menolak gejolak perasaanku kepada Dina, aku selalu berusaha menahannya. Aku maish bersikap biasa saja, tapi aku selalu mencuri-curi pandang kepada Dina karena Dina sering memakai pakaian yang seksi kalau dirumah. Aku sering melihat Dina hanya menggunakan daster diatas lutut tinggi, kadang juga hanya memakai hotpen saja, sehingga terlihat jelas lekuk tubuhnya yang angat eksotis.

    Payudaranya siiih aku lihat gak besar dan bahkan bisa dibilang kecil, aku tafsir sekitar 32B saja, sekitar satu genggaman tangan laki-laki dewasa saja, tapi terlihat sangat letat dan mungil menonjol dari pakaian strit yang ia gunakan sehari-hari. Aku jujur makin hari aku melihat penampilan Dina aku menjadi nafsu sama dia, aku ingin sekali berhubungan Sex dengannya tapi semua itu aku anggap tidak mungkin karena dia adalah istri teman baikku sendiri. Hingga suatu hari terjadi juga yang aku pikirkan.

    Waktu itu Amar yang telah berkeluarga tidak mungkin jika nganggur terus-terusan, maka ia berusaha melamar kerja disemua bidang. Akhirnya kurang lebih seminggu Amar mendapakan panggilan di Jakarta dan akhirnya keterima kerja disana. Aku yang mengantarkan Amar untuk berangkat keterminal beserta juga dengan istri dan anaknya. Saat aku mengantar Amar, aku dipesani Amar untuk membantu menjaga istrinya yang waktu Amar pergi istrinya tinggal dirumah orang tuanya, aku diminta untuk mengawasi setiap gerakan istrinya, dan aku menyanggupinya. Amar berjanji pada anak dan istrinya setiap 2 minggu sekali dia akan pulang, dan aku juga diminta untuk selalu menjemputnya diterminal saat dia pulang, aku pun sebagai teman pasti menyanggupinya. Dan berangkatlah Amar menuju kejakarta.

    Dan sejak saat itulah terjadilah kisahku dengan Dina istri Amar. Setiap hari aku selalu bbm’an dengan Dina dengan berawal dari bercanda-candaan saja. sempat juga aku maen kerumahnya saat Dina mengantarkan anaknya kesekolah, waktu itu anak Dina sudah TK. Selesai mengantar anaknya sekolah Dina pasti selalu pulang rumahnya untuk sekedar membersihkannya. Sementara aku sendiri ini masih saja menganggur, jadi aku bisa saja kapan saja mengawasi kegiatan Dina.

    2 bulan Amar pergi semuanya berjalan lancar-lancar saja, hingga menginjak bulan ketiga Amar menjadi jarang pulang, aku mengetahui itu dari cerita Dina. Hingga sekarang aku sering menemui Dina dirumahnya saat dia membersihkan rumahnya, hanya untuk menenangkan pikiran Dina yang sedih akibat perubahan sifat dari suaminya. Siang itu aku datang menemui Dina dirumahnya, lalu kamipun ngobrol seperti biasa, Dina bercerita dengan sedih. Aku menjadi bingung, sementara saat itu aku melihat Dina menggunakan pakaian yang seksi. Aku menjadi bingung antara Dina yang sedih dan juga aku yang sudah bernafsu.
    Kemudian aku menenangkannya pikiran Dina, aku berniat mengajaknya tour club motor untuk sekedar mencari hiburan agar Dina sendiri tidak suntuk dirumah terus tanpa hiburan. Dan Dina pun menyetujuinya tapi Dina bingung harus beralasan apa kepada suaminya saat pergi tour, aku bilang gak usah bilang tinggal anak kamu titipkan saja dirumah ibu kamu lalu kamu alasan mau pergi dengan temanmu dan nginep, gitu aja kan beres, Dina lalau mengangguk tanda dia setuju. Sabtu itu tiba, aku janjian sama Dina kalau aku akan menjemputnya disebuah supermarket kecil jam 3 sore, akhirnya persis jam 3 aku menjemputnya dan lalu bergegaslah aku untuk tour club motor tersebut.

    Sore itu Dina menggunakan pakaian yang sangat seksi, dia menggunakan jaket stritnya dan hanya menggunakan legging kremnya saja. Terlihat sangat besar bongkahan pantat Dina. Saat membonceng tak kusangka Dina terus berpegangan memelukku dari belakang dengan mesranya, aku pun diam saja karena aku juga menikmatinya. Saat diajalan aku hamper saja menabrak pengendara jalan lainnya, aku terpaksa mengremnya secara mendadak. Dan terasa tangan Dina menyentuh penisku yang dalam sekejap langsung berdiri tegang. Tapi dalam hatiku masih deg deg’an karena mau nabrak tadi. Akhirnya setelah kami agak merasa tenang akupun melanjutkan perjalanan, dan dalam perjalanan aku mengobrol dengan Dina.
    “Maaf ya Ta, tadi mau nabrak”
    “gak papa kok mas, yang penting kangak nabrak”
    “Iyha siiih tapi aku gak enak sama kamu, karena kamu jadi kaget dan takut”
    “gak papa kok mas, sekarang udah gak deg deg’an lagi kok”
    “Eeeehhh maaf ya mas tadi aku gak sengaja pegangnya” ucap Dina
    “Aaahhh gak papa kok Ta, aku malah seneng kali jika kamau pegang beneran” jawabku sambil ketawa
    “Aaahh mas Burhan bisa aja, nanti bisa gawat kalau aku pegang senjata mas,hehe” ucap Dina sambil sedikit ketawa
    Waaah ada sedikit sinyal niiihh pikirku “Ya kalau gawat ya nanti aku temenin deeh biar gak takut lagi” jawabku sambil ketawa lagi
    “Aaaaahhhhh mas Burhan deeeh” jawab Dina sambil menyaplek pundak aku

    Kami terus melakukan perjalanan, dan terasa malam pun tiba, tapi jaraknya masih lumayan jauh. Aku terus berkendara dan semakin kupercepat gasku biar cepet sampai acara tour itu. Jam menunjukan pukul 20.00, aku sudah sampai tempat tour, dan suasana disana sangat ramai sekali, tak terhitung ungkin bisa ribuan orang dang dari berbagai kota di Indonesia. Lalu akupun memarkirkan motor dan mengajak Dina untuk mencari makan, karena dari tadi perjalanan belum makan. Menujulah aku dan Dina kesebuah warung makan yang ada ditempat tour itu.

    Baca Juga Cerita Seks Model Majalah Porno

    Sambil kita makan kita juga menikmati music dangdut yang disajikan oleh panitia tour. Setelah kita makan aku mengajak jalan-jalan Dina untuk mencari klenik-klenik dari motor, tapi baru saja menginjak depo klenik Dina menepuk pundakku.

    “Mas aku kebelet pipis, anterin aku yuuuk mas”
    “Disini jauh dari pombensin Ta, emang kamu mau pipis dikebon Ta” ucapku
    “Yam au gimana lagi mas, aku sudah kebelet banget mas, ayo cepet mas, bawa aqua ya as buat bersihin nanti” pinta Dina
    “Ayolah kita cari tempat” ajakku sembari menggandeng tangan Dina

    Setelah aku muter-muter aku melihat ada rumah kosong tak jauh dari tempat acara tour “Naaahhh itu ada tempat kosong Ta, yoook kesitu aja daripada lebihjauh lagi” ajakku. Lalu aku menggeret tangan Dina yang sudah dari tadi menahan untuk kencing dan beberapa detik sampai juga, aku mengajak kebelakang rumah kosong itu.

    “udah sana buruan pipis, nanti keburu ngompol hlo Ta” kataku
    “Temenin mas, aku takut kalau sendirian, disitu kan gelap banget mas” ujar Dina
    “Udah ni aku senterin pake HP dari sini, gak papa tenang aja gak usah takut ada aku disini”jawabku kayak pahlawan

    Kemudian aku mengambil HP ku dan menyalakan senternya dan Dina “Mas jangan ngintip yaaa”. “Iyha tenang aja paling juga sedikit kok” jawabku bercanda. Setelah itu Dina langsung memlorotkan celana legging yang ia kenakan, terlihat sangat putih sekali pantat Dina dari kegelapan, aku menengak-nengok melihat suasana aman atau tidak, sekira aman aku akan berusaha mencumbu Dina malam itu juga “pikirku dalam sekejap”. “Suuuuuuuuurrrrrrrrrrrr………” suara air kencing terdengar Dina sangat keras sekali. Aku melihat Dina mulai membuka aqua untuk mencuci vaginanya yang habis kencing tadi. Dan tak terasa ternyata penisku juga sekarang sudah mulai tegang. Setelah Dina selesai membersihkan vaginanya dan mau memakai celana leggingnya, aku langsung saja menyergapnya dari belakang dengan keadaan celana Dina masih terbuka dibawah lutut.

    “Mas apa-apaan ini mas, mas mau ngapin aku” ucap Dina
    “Aku sudah horni sama kamu dari tadi saat melihat pantatmu Ta, aku minta itu kamu ya Ta” jawabku

    Tanpa menunggu jawaban dari Dina lagi aku langsung melumat bibir tipis Dina, pertama Dina melakukan perlawanan. Sebentar aku menciumi bibir Dina tanganku langsung memegang vaginanya yang sudah terbuka, langsung aku memegang klitoris Dina dan aku mainkan “Aaaaahhhhhhh…..Maaassss…Jaaaaa…Nggaaaaannn….Maaassss” ucap Dina. Tapi aku dengan tidak peduli masih terus memainkan klitoris Dina dan sekarang aku mulai memasukkan jari tanganku kedalam memek Dina “Aaaarrggghhh…..Maaassss…Sakiiiit Maaasss” desah Dina. Karenaaku sangat bernafsu maka aku mengocok memek Dina dengan cepat sekali.

    Kegelapan malam yang ditererangi lampu bolep 2 what itu menjadi suasana yang reman-remang tanpa menunggu lama setelah aku mengobok-obok memek Dina, aku langsung membuka celanaku dan membuakanya sedikit dan keluarlah penis besarku yang berukuran panjang sekitar 17cm dan berdiameter 5cm itu. Dengan sedikit memaksa aku langsung menundukkan tubuh Dina dan aku langsung mengujam memek Dina dengan penis besarku yang sudah tegak kencang “Bleeeeeesssssss” penisku masuk semua ke dalam memek Dina.

    “Oooooouuuuhhhhh,,,,Maaassss…Ooooouuuuhhhh….Pelaaaan…Maaassss” desah Dina ketika aku menyodokan penisku dari belakang. Semakin lama aku semakin mempercepat gerakanku “Sluuuuuppp….Sluuuuup….Sluuuupppp” bunyin benturan badan kita. aku sudah nafsu dari tadi tak kuasa menahannya terus memompa Dina semakin cepat, tak berapa lama tubuh Dina terasa bergetar dan “Ouuuuuhhhh….Maaaassss…..Akkkkk…..Akkkkkuuuuuuu….Keluaarrrr….Mas…..” rintih Dina. Dan aku juga merasakan ada sebuah cairan nyemprot penisku yang masih standbay dalam memek Dina.

    Setelah Dina sudah keluar aku mencabut penisku dari memek Dina lalu aku arahkan ke muka Dina, aku memintanya untuk mengulum penisku. Dengan aku berdiri dan Dina jongkok, Dina langsung mengulum penisku yang sedari tadi aku kocok dalam memek Dina belum terasa tanda akan orgasme. Karena kau tak sabar dengan kuluman Dina kemudian aku memegang kepala Dina dan kemudian aku memaju mundurkan peniskan didalam mulut Dina, hingga Dina tersedak karena penisku masuk terlalu dalam. Aku mengambil jaketku dan aku dudukan Dina diatas jaketku, aku menidurkan Dina. Aku mulai lagi memasukkan penisku ke dalam memek Dina. Cerita Maya

    “Plooook…..Ploooookkkk….Ploooookkkkk…..” aku langsung dengan cepat memompa memek Dina hingga terdengar benturan tubuh kita. “Oooooouuuhhh….Maaassss….Oooouuuuhhhh….Maaasssss” Dina terus mendesah kenikmatan, aku juga merasakan kenikmatan. Memek Dina yang sudah beranak satu masih terasa sempit seperti para gadis-gadis. Aku semakin bernafsu. Setelah kurang lebih 15 menit aku memompa memek Dina, aku merasakan kalau aku akan orgasme dan aku langsung mencabut penisku dan aku arahkan kemulut Dina, dan aku kocok sebentar penisku dan akhirnya “Crooooot….Crooooot…Crooooot…Croooooottt….Croooottttt…” banyak sekali pejuh kentalku menyemprot muka Dina, bahkan ada sebagian pejuhku yang masuk kedalam mulut Dina.

    Setelah pejuhku habis keluar, aku mengarahkan penisku kemulut Dina, aku ingin Dina membersihkan sisa pejuh yang masih nempel dipenisku dengan mulutnya. Dina pun mengulumnya hingga penisku bersih. Lalu aku mengambil tisu milik Dina yang ada didalam tas, dan aku membersihkan pejuhku yang kececeran di muka Dina. Dan aku menyuruh Dina untuk membersihkan mukanya dengan aqua yang masih tersisa tadi.

    Setelah itu kami kembali ke acara seperti biasa, sempat aku mengucapkan “Ta aku minta maaf ya, tadi aku khilaf, aku sudah nafsu banget Ta ngelihat kamu membuka celana kamu”. Tapi Dina diam saja tidak menjawabnya. Setelah acara selesai aku mengajak Dina untuk pulang tapi aku tidak pulag langsung karena waktu sudah larut bahkan dini hari, maka aku mengajak Dina untuk menginap disebuah motel sederhana. Kemudian kami masuk di motel tersebut dan akhirnya kembali aku mnyetubuhi Dina. Kali ini tempat, suasana yang nyaman maka kmai lebih menikmati persetubuhan itu, hingga akhirnya aku dan Dina tidur pulas dengan bugil.

    Samapi keesokan harinya sudah siang pukul 10, kami langsung mandi, dan tak lupa waktu mandi kami juga melakukan hubungan Sex lagi sebagai perpisahan. Dan setelah semua selesai akhirnya kami pulang kerumah, dan setelah kejadian itu aku dan Dina menjadi tidak akrab seperti dulu. tapi aku masih bersikap biasa saja didepan Amar. Sungguh hubungan Sex yang sangat istimewa dlam hidupku.

  • Model Majalah Porno

    Model Majalah Porno


    90 views

    Cerita Maya | Kejadian terjadi sekitar tahun 2002, namaku Agnes, umurku waktu itu baru 20 tahun namun aku sudah ditinggal papah dan mamahku karena mereka berdua meninggal karena kecelakaan pesawat yang mereka alami. Setelah papah dan mamahku meniggal, aku sama sekali tidak punya saudara yang harus aku tinggali untuk menjadi pembimbing kehidupanku selanjutnya.Namun setelah aku semalan berpikir pada siapa aku harus mengadu semuanya yang aku rasakan, tiba-tiba aku teringat oleh seorang teman papah yang sangat akrab dengan keluargaku dan tentunya denganku, namanya pak Yohanes. Dulu waktu papahku masih hidup, mereka saling bekerja sama dan pak Yohanes ini sering maen kerumahku jadi antara pak yohanes dengan mamahku dan aku sangat akrab sekali.
    Setelah nomer pak yohanes, aku segera menghubunginya dan aku mengajak pak Yohanes untuk bertemu dan membicarakan nasibku selanjutnya. Dan setelah aku bertemu dengan pak yohanes dan ngomong semua yang aku rasakan pak Yohanes menawarkan saya untuk tinggal di apartemennya dan beliau berjanji akan membiayai sekolah saya sampai saya lulus. Dalam keadaan bingung, akhirnya saya menerima tawaran beliau. Saya lalu tinggal di apartemen beliau, hanya berdua dengannya.

    Beberapa bulan kemudian saya tinggal dengannya, tiba-tiba pada suatu malam, Pak Yohanes masuk ke dalam kamar saya. Saat itu saya baru saja masuk kamar dan belum sempat menguncinya. Saya kaget karena beliau tidak mengetuk kamar saya dulu, dan pada saat itu saya hanya mengenakan daster kuning polos yang tipis. Di dalamnya saya tidak mengenakan BH dan hanya mengenakan celana dalam saja. Sejenak Pak Yohanes terkesiap melihat saya, namun beliau kemudian mendekati saya. Spontan saya memeluk bantal untuk menutupi dada saya.
    Pak Yohanes lalu berkata kepada saya, “Agnes, tolong Bapak, Nak, istri Bapak sudah lama meninggal, Bapak sudah lama tidak dilayani. Bapak tidak minta macam-macam. Bapak hanya minta agar Agnes bersedia melayani Bapak.”
    Wajahnya terlihat sayu dengan keringat di dahinya. Saya tidak tega melihatnya. Saya pikir beliau telah baik mau membiayai sekolah saya. Lagipula keperawanan saya telah hilang sejak saya masih kecil ketika jatuh dari sepeda.
    Pak Yohanes terus memandang dan menunggu jawaban saya, sedangkan saya tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Pak Yohanes meraih bantal yang saya peluk untuk menutupi dada saya dan meletakkannya di tempat tidur. Kemudian beliau diam dan memandang saya.

    Melihat saya diam, beliau lalu berkata, “Kalau Nak Agnes diam, Bapak rasa jawaban Agnes ‘iya’.” Beliau masih memandangi saya. Tiba-tiba beliau meraih dan memeluk tubuh saya dan mengusap-usap punggung saya. “Terima kasih, Nak.” beliau berkata sambil menatap hangat pada saya. Cerita Maya

    Setelah itu beliau mulai menciumi kening saya dan kedua pipi. Lalu menjulurkan lidah sambil mencium telinga dan bibir saya. Kubalas ciumannya, lidahnya bermain liar di dalam mulut saya, begitupun saya. Tangannya yang dari tadi memeluk punggung saya mulai turun mengelus-elus pantat dan meremasnya. Kemudian kepalanya turun ke leher saya, menciumi dada saya yang masih tertutup daster kuning. Saya mulai terangsang. Apalagi ketika mulutnya berhenti di puting saya yang hanya ditutupi daster kuning polos yang tipis itu. Beliau mengulum dan menggigit puting saya itu.

    “Uuh… aahh… Pak… Uh..!” saya sudah tidak kuat lagi.

    Geli rasanya dada ini dipermainkan seperti itu oleh Pak Yohanes. Spontan saya membuka 4 kancing daster yang terletak di depan itu, dan terlihatlah kedua bukit kembar saya yang montok itu, berukuran 36B dengan puting berwarna pink gelap dan mencuat menantang ke wajah Pak Yohanes. Beliau langsung melumatnya, menggigit kecil, kemudian memasukkan semua ke dalam mulutnya. Ternyata mulut Pak Yohanes lebar juga, buktinya bukit dada saya yang 36B masuk semua ke dalam mulutnya.

    “Aduuh… Pak, geli ah… enaa..gh..!” saya meraung-raung keenakan.

    Pak Yohanes menurunkan daster terus ke bawah dan sambil menciumi perut saya yang rata karena sering sit-up itu. Tangan kirinya bergerak menurunkan daster, dan tangan kanannya mengelus-elus pantat dan paha saya yang mulus. Setelah daster turun semua, tangan kirinya mengangkat kaki kanan saya dan melipatnya ke atas tempat tidur. Lalu beliau berjongkok dan tangan kirinya membuka sebagian kain celana dalam yang menutupi bukit kemaluan saya. Seketika itu langsung terlihatlah bukit kemaluan saya yang bulu-bulunya sedikit itu, sehingga beliau tidak perlu susah-susah menjilati kelentit saya.
    “Oohh… Pak… enaakkk..!” kata saya sambil memegangi kepalanya.

    Saya tidak perduli lagi siapa dia. Pak Yohanes terus menjilati kelentit saya dan memasuki satu jari tangan kanannya ke dalam vagina, dan menggerakkannya keluar masuk. Saya betul-betul keenakkan. Saya menggerakkan pantat turun naik mengikuti gerakan jarinya itu. Tiba-tiba sesuatu meledak dalam diri saya.

    “Aaa..gh… aku mau kelua… ar..!” air kenikmatan saya membasahi jari dan mulutnya. Beliau menghisapnya habis.

    Kemudian yang tidak disangka, beliau merobek sebagian kain celana dalam saya yang menutupi bukit kemaluan saya dan kemudian membuka celana dalamnya. Terlihatlah senjatanya yang besar ditumbuhi bulu-bulu yang sangat tebal. Saya sudah tidak tahan lagi melihatnya.

    “Ooh… masukkan, Pak, cepat Pak..!” kata saya sambil mengelus-elus bukit kemaluan saya yang telah basah itu.

    Ternyata Pak Yohanes pun sudah tidak kuat. Beliau langsung menghujamkan penisnya masuk ke dalam vagina saya.

    “Aaah… sakiit..! Enaaggh..!” kata saya yang mulai merasa nyeri tapi sangat enak di bagian bawah itu.

    Pak Yohanes menaik-turunkan penisnya dengan cepat. Ternyata melakukan sambil berdiri enak juga. Kedua tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Tangan saya pun tidak mau kalah dan meremas-remas kedua pantatnya. Tidak lama saya mendapat orgasme yang kedua, dan tidak lama kemudian beliau pun juga. Akhirnya kami tertidur berpelukan di tempat tidur. Keesokkan harinya, kami melakukannya lagi di kamar mandi. Kami masing-masing orgasme dua kali. Setelah itu saya pergi ke sekolah dan beliau pun pergi ke kantor.

    Sejak itu hidup saya berubah. Kami seperti selayaknya suami istri di dalam apartemen kami. Ternyata untuk orang seusianya, beliau masih sangat kuat melakukannya berjam-jam. Bahkan saya dilarangnya mengenakan baju bila di dalam apartemennya itu. Tapi saya selalu menggodanya dengan hanya mengenakan sehelai kain di tubuh. Misalnya, hari ini saya hanya memakai BH saja, sedangkan bagian tubuh yang lain polos mengoda. Lalu kemudian saya duduk di depannya dengan membuka lebar-lebar selangkangan, sehingga kemaluan saya menantang dirinya. Beliau selalu tidak tahan dan mengajak bermain lagi.
    Besok harinya saya hanya mengenakan celana dalam saja yang berwarna hitam dan bahannya bolong-bolong, sehingga bulu kemaluan yang sedikit itu keluar dan klitoris yang berwarna pink itu juga terlihat bila saya mengangkang, sedangkan payudara saya bergelantungan dengan indahnya di dada. Bila seperti itu, beliau lalu memeluk dan menggendong saya ke tempat tidur sambil mulutnya mengulum payudara dan menarik-narik putingnya. Ini kami lakukan hampir tiap hari seperti selayaknya pengantin baru sampai saya lulus SMA. Namun Pak Yohanes ini seperti tidak pernah mati kekuatannya untuk melakukan hubungan seks dengan seorang gadis belia seperti saya, dan saya selalu dibuat puas olehnya.

    Baca Juga Cerita Seks Mita Si Janda Montok

    Suatu hari ketika saya baru selesai mandi, seperti biasa saya keluar dari kamar tanpa menggunakan busana, dan sambil mengeringkan rambut yang masih basah, saya pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tanpa saya sadari, ternyata ada dua orang teman Pak Yohanes yang bertamu. Mereka berdua terlihat kaget melihat saya yang telanjang bulat itu. Begitu pun saya. Tapi rasa kaget saya tidak saya perlihatkan dan langsung saya pergi ke dapur cepat-cepat.
    Malam harinya ketika hendak tidur, Pak Yohanes berkata pada saya.

    “Agnes, mau gak jadi model..?” tangannya mengelus-elus puting saya.
    “Model..? Model seperti di majalah-majalah itu..?” tanya saya.
    “Yah, tapi ini berbeda. Begini, teman-teman Bapak yang tadi itu berasal dari Singapore. Yang satu namanya Pak Michel, yang satu lagi Pak Richard. Pak Michel sebenarnya orang Indonesia, tapi tinggal di Singapore. Beliau adalah editor majalahnya, sedangkan Pak Richard adalah direkturnya.”

    “Jadi maksudnya majalah Singapore..?”
    “Yah begitu. Mereka berdua setelah melihatmu menjadi tertarik dan menawarimu menjadi model. Tapi kamu tidak perlu ke Singapore. Kamu cukup tinggal di Indonesia, karena studio fotonya ada di Indonesia.”

    “Tapi Agnes malu, tadi Agnes telanjang di depan mereka.”
    “Em.., begini Agnes tidak perlu malu, karena.. eh… majalah mereka adalah majalah porno.. eh tapi itu terserah Agnes, mereka hanya menawari karena tertarik dengan Agnes. Kalau Agnes tidak mau, itu juga tidak apa-apa.”

    Saya mengerti. Mereka telah melihat tubuh saya dan mereka tertarik. Saya bingung sekali.

    “Honornya lumayan gede lho, Sal. Bapak tidak akan minta kok. Kalau Agnes nanti mau, honornya tetap buat Agnes, karena kan Agnes yang bekerja. Makanya Bapak terserah Agnes saja. Kalau mau dicoba saja.” lanjutnya.
    Saya mulai tertarik.
    “Agnes harus datang kemana, Pak..?” beliau tersenyum dan memberitahu alamatnya.

    Keesokkan harinya saya datang ke studio foto itu. Tempatnya seperti rumah biasa, cukup besar dengan pagar tinggi yang menutupi rumah tersebut. Seperti bukan kantor atau studio foto. Lalu saya masuk dan bertanya pada resepsionist hendak bertemu dengan Pak Richard. Seseorang mengantar saya ke kantor Pak Richard. Pak Richard terseyum menyambut saya. Ternyata beliau seorang pemuda berusia 30 tahunan. Tidak begitu ganteng tapi di tubuhnya yang putih ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Terlihat dari tangan dan dadanya yang bidang. Namun senyumnya terlihat menarik.
    “Selamat siang, Agnes, silakan duduk..!”
    Saya duduk di depan mejanya. Ia pun duduk.
    “Singkat saja, jadi kamu tertarik..?”
    “Iya, Pak.”
    “Jangan memanggilku Pak. Panggil aku Abang saja. Aku sebenarnya berasal dari Indonesia juga. Semua orang memanggilku Bang Richard.” saya tersenyum.

    “Oke, kita kembali ke pokok semula. Begini Agnes, untuk menjadi model ada beberapa syarat. Yang pertama, kami harus mengedit tubuhmu dulu.”
    “Mengedit tubuhku..?”
    “Yah, kami harus tahu bagaimana tubuhmu, apa kekurangannya dan kelebihannya. Kekurangannya akan ditutupi, kelebihannya akan ditonjolkan. Jadi nanti bila difoto akan baik jadinya. Mengerti..?”
    Saya mengangguk.
    “Sekarang buka seluruh pakaianmu, aku akan memanggil editor kami, Bang Michel.” Ia keluar dari ruangannya.

    Saya merasa kikuk. Tapi akhirnya saya buka baju satu persatu sampai tinggal BH dan celana dalam. Tiba-tiba masuklah Bang Michel dan Bang Richard.

    “Lho, kok, celana dalam dan BH-nya tidak dibuka..? Tidak perlu malu. Pekerjaanmu nanti tidak memerlukan baju. Kurasa, Pak Yohanes sudah menjelaskannya bukan..?”

    Saya mengangguk seperti orang bodoh. Lalu membuka celana dalam dan BH saya. Saya memang tidak perlu malu, toh mereka pun sudah melihat saya telanjang bulat di apartemen Pak Yohanes.
    Setelah telanjang bulat, saya berdiri menantang. Mereka melihat saya tanpa berkedip. Saya tahu ‘adek-adek’ mereka sudah berdiri melihat saya. Tiba-tiba saya merasa percaya diri. Ini merupakan permainan yang menyenangkan. Lagipula saya senang menggoda Pak Yohanes. Mengapa saya tidak bisa menggoda mereka juga? Saya lalu melepas jepitan rambut dan terurailah rambut saya yang sangat lebat dan indah. Saya berdiri menggoda di depan mereka sambil memainkan sedikit rambut saya di dalam mulut. Bang Michel mulai mendekat. Ia mengelus tangan saya, lalu pipi. Lalu ia memutari tubuh saya dan mengelus punggung dan pantat saya. Lalu tangannya mulai memegang payudara saya yang 36B itu beserta puting yang mencuat ke depan itu. Lalu ia berjongkok dan mengelus paha dan membuka selangkangan saya. Lalu ia berdiri lagi, tiba-tiba ia mencium leher saya.
    Tangannya meremas-remas kedua payudara saya. Saya mulai terangsang. Lalu tangan kirinya beralih ke selangkangan saya yang sudah mulai basah itu dan berhenti pada klitoris. Ia mengelus-elus klitoris saya. Tangan kanannya mengelus anus saya.

    “Uuhh.. eehh.. ahh..!” tidak sengaja saya meraung-raung, tanpa saya sadari ternyata Bang Richard telah ikutan menghisap puting saya dan tangan kanannya memegang puting yang satu lagi.
    Tangan kiri Bang Michel dimasukkan ke dalam vagina saya dan bergerak keluar masuk. Kami melakukannya sambil berdiri seperti ketika pertama kali saya melakukannya dengan Pak Yohanes. Saya benar-benar terangsang.

    Bang Michel mencium bibir saya dan memainkan lidahnya di mulut saya. Erangan saya tertahan di dalam mulutnya. Lalu Bang Michel berjongkok dan mencium klitoris dan memainkan lidahnya di sana, namun jarinya masih bermain di vagina. Posisi Bang Michel digantikan oleh Bang Richard yang mencium dan melumat-lumat bibir saya. Tiba-tiba saya merasa ada yang keluar. Walaupun erangan saya tertahan oleh bibir Bang Richard, tapi mereka tahu bahwa saya orgasme pertama kali dari getaran tubuh saya.

    Lalu Bang Michel membuka celananya, juga Bang Richard. Penis Bang Michel sangat besar dan hitam. Bang Richard pun juga besar tapi putih. Masih dalam posisi berdiri, Bang Michel memasukkan penisnya ke dalam anus saya. Rasanya sakit sekali. Saya mengerang kesakitan, namun tiba-tiba Bang Richard memasukkan penisnya ke vagina. Rintih saya berubah menjadi keenakan. Mereka berdua memainkan penis mereka keluar masuk anus dan vagina saya. Rasanya enak sekali disetubuhi dua pria sekaligus. Permainan kami cukup lama. Cerita Maya

    Saya sudah orgasme tiga kali ketika mereka berdua orgasme untuk pertama kalinya. Akhirnya mereka mencabut penis mereka dan merebahkan tubuh mereka di bangku sofa. Sedangkan saya bersenderan pada tembok dan memejamkan mata. Saya merasa lemas sekali melayani dua pria sekaligus. Tiba-tiba Bang Richard memegang bahu saya.

    “Kamu diterima, Agnes..!”

    Saya tadinya hampir marah karena untuk diterima saya harus melayani mereka berdua terlebih dahulu. Tapi ketika mengingat kenikmatan yang baru saja saya terima, saya dapat menahan amarah.

    Lalu hanya dengan mengenakan BH saja, saya dibawa Bang Michel ke sebuah ruangan yang berisi semacam bar di situ. Di dalamnya terlihat banyak wanita yang tidak menggunakan baju sama sekali. Ruangan itu ternyata jadi satu dengan studio fotonya, sehingga model-model yang merasa haus dapat langsung memesan minum di situ. Saya disuruh duduk di bangku bar yang tinggi dan disuruh mengisi lembaran formulir dan lembaran kerjasama. Lalu Bang Michel meninggalkan saya sendiri di situ.

    Ketika saya sedang mengisinya, seseorang mencolek saya dari belakang. Ketika saya menoleh, terlihat seorang pemuda memandang saya sambil tersenyum. Tanpa basa basi lagi, pemuda tadi mendekatkan wajahnya ke vagina saya dan menjilat klitoris saya. Saya kaget dan ingin menghindar. Tapi bangku bar yang tinggi yang membuat saya kesulitan menapakkan kaki saya ke lantai, sehingga membuat selangkangan saya yang tanpa celana dalam itu terbuka lebar membuat saya kesusahan untuk turun. Pemuda itu tetap menjilati selangkangan saya. Vagina saya yang masih merasa geli akibat serangan Bang Michel tadi akhirnya basah lagi dan saya mulai merasa keenakan.
    Tidak lama saya orgasme lagi di tempat duduk bar itu, sehingga tempat duduk yang terbuat dari kulit itu menjadi basah oleh cairan kenikmatan saya itu.

    “Salam kenal, Mbak. Saya Roy, model pria di sini. Mbak namanya siapa?” tanyanya kemudian.
    “Agnes” kata saya lemas.
    “Nanti kita akan selalu ketemu, dan kita pasti akan melakukannya lagi.”

    Saya tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan mulai mengisi formulir itu lagi.

    Tidak lama Bang Michel datang dan mengambil formulir yang telah saya isi itu. Ia menunjukkan honor saya dan pekerjaan saya. Untuk pertama kali pada hari pertama itu saya difoto bugil di depan banyak orang. Ternyata inilah pekerjaan baru saya. Menyenangkan sih, asal tidak hamil saja. Karena ketika difoto berpasangan, tidak jarang kami menyatukan alat kelamin kami, sehingga fotonya lebih bagus dan tidak terlihat kaku.
    Kadang-kadang saya juga main dengan Bang Michel atau Bang Richard atau kedua-duanya. Namun di rumah saya tetap menjadi ‘istri’ Pak Yohanes. Itulah pengalaman saya. Foto-foto saya banyak dipampang di majalah porno di Singapore, dan tentu saja tidak dijual bebas. Hanya golongan tertentu yang menerimanya.

  • Mita Si Janda Montok

    Mita Si Janda Montok


    133 views

    Cerita Maya | Kenalkan namaku rudi, aku adalah karyawan perusahaan swasta yang berada dikotaku. Umurku saat 35 tahun, aku sudah mempunyai istri namun aku belum mempunyai anak. Istriku juga bekerja disebuah perusahaan ekspor impor yang juga sibuk sendiri dengan urusan pekerjaannya. Tapi masalah ranjang istriku masih sangat binal meski aku sering mengajaknya ketika dia sedang lembur kerjaannya dirumah. Aku dan istriku tinggal disebuah komplek perumahan yang terbilang lumayan elit.

    Diperumahan Tersebut aku memiliki satu tetangga yang statusnya sudah janda karena suaminya sudah meninggal karena kecelakaan mobil yang dialaminya ketika sedang dinas luar kota. Sampai sekarang kira-kira sudah 2 tahun tetangga sebelah rumahku itu masih menjanda, namanya adalah Mita. Dia bekerja disebuah koperasi simpan pinjam. Umurnya maish seumuran denganku jadi dia masih terlihat segar, lagian Mita ini juga belum mempunyai anak. Bodinya masih sangat aduhai, buah dadanya besar dan menantang, pantatnya pun menjulang kebelakang seakan memberi tanda kalau Mita ini suka ditusuk memeknya dari belakang, hehehe…. Begini awalnya ceritaku ini..

    Suatu hari istriku pergi ke rumah ibu nya di luar kota, aku tidaku bisa menemani karna memang banyak pekerjaan di kantor. aku berpikir inilah kesempatanku mendekati mbak Mita, karena istriku akan di rumah ibunya selama seminggu, tapi apa cukup waktu segitu, cara demi cara aku pikirkan namun semuanya bakal buntu. Cerita Maya

    Keesokan harinya aku menyempatkan lari pagi, aku lihat rumah mbak Mita masih nyala lampunya, ah sepertinya dia masi tidur aku berputar memutari komplek,, tak lama kemudian aku melihat dia baru saja datang dengan mengendarai sepeda, membuka pagar rumahnya, suasana memang sepi sekali,aku pun berusaha mendekat.
    “hi mbak, darimana nih??” sapaku
    “dari rumah temen mas” wajahnya yang menantang menjawabku
    “nginep ya mbak?”
    “iya mas” sambil gugup dia menjawabku sepertinya dia masi malu waktu itu pernah ku lihat hanya berpakaian dalam.
    “ya sudah mbak capek kayaknya tuh mata masih merah, aku pulang dulu mbak, bersih2 rumah ga ada istri soalnya”

    “hehe iya, emangnya kemana mbak dian nya??”
    “lagi ke rumah ibunya mbak, kangen katanya”
    “ow… berapa hari mas?? kalo butuh bantuan bilang aj mas, sapa tau bisa bantu”
    “wah kebetulan tuh mbak” pikirku melayang untuk meminta puaskan nafsuku
    “kebetulan apa mas??”
    “ehhh ga kok mbak bercanda, ya sudah aku pulang dulu ya?? o ya tar kerja kah? kalo capek tar aku anter ga papa kok”
    “ga mas aku libur, lagi ga enak badan nih”

    Aku pun pergi menuju rumah, hubungan ini ga aku sia sia kan, sampai di rumah aku sms mbak Mita, ternyata nyambung juga hingga akhirnya sms an sampe malem, kata2 ku sudah mulai menjurus pada sex, tenryata mbak Mita sedikit ngebales meskipun akhirnya dia takut akan hubungan ku dengan istriku. namun aku jawab mumpung ga ada dia. Esok pagi Mita telpon aku.
    “mas tolong belikan obat donk, bisa kan?? pusing nih mau minta tolong sapa lagi aku ga taw”
    “ok sayang” jawbku
    “idih sayang di bom istrimu baru tau rasa lo”

    hari sabtu adalah hari libur aku pergi membeli obat. setelah dapat aku masuk ke rumah mbak Mita.

    “mbak ini obatnya”
    “iya mas bentar”

    jrennnnggggg mbak Mita memakai lingerie tapi agak tebal dikit lah berwarna biru muda, serentak senjataku bergejolak melihat tubuhnya yang putih serasa sengaja disuguhkan pada ku.

    “masuk mas, silahkan duduk dulu” celana dalam nya telihat samar2 di balik gaun tipis itu
    mataku bener2 dimanjakan olehnya.

    “silahkan diminum mas” sambil menyuguhkan teh dia merunduk dan belahan dadanya terlihat jelas. BH yang berwarna hitam telihat membungkus barang indah itu.

    “makasi mbak” mataku kembali terbelalak ketika melihat paha mulus saat mbak Mita duduk di depanku, mulailah pikiranku melayang

    “mas rud… mas rud… malah nglamun” suaranya membangunkanku dari lamunan ku
    “heh maaf mbak lagi berfantasi”
    “hayo fantasi apa? cerita di bbm itu ya ?? mas rudi ini bisa aja” sambil tertawa mbak Mita menyingkap rambutnya.

    “hhehe iya mbak diitnggal istri seminggu sih gini deh jadinya, apalagi mbak pakaiannya gitu, tambah deh”
    “hahhaha cuma kelihat paha aja udah melayang nih mas rudi”
    “banget mbak, hahaha”

    “mas maaf ya, aku sbenarnya sih g sakit, cuma akal akalan ku aja biar mas ke rumah, maaf ya ??
    “wah parah, kirain sakit beneran, kawatir nih, yang lebih parah lagi adek ni berdiri trus ngeliat paha ma dada, tanggung jawab donk?”

    “ye mulai deh minta ma bini sono” nadanya marah pada ku
    “becanda, gitu aja amarah”
    “iya ga papa, mas masukin tuh motor, temenin aku donk bentar aja mumpung ga ada bini mas katanya, haha”

    aku pun memasukkan motor ke garasi mbak Mita, lalu aku masuk kembali, aku di ajak ke sebuah ruangan yang bagus sekali.

    “mas ini aku namain ruangan surga, karna ini khusus kalo suami ku pulang, dia minta berhubungan disini, kedap suara soalnya ruangan ini mas, jadi meski teriak2 ga bakalan ada yang denger”

    Baca Juga Cerita Seks Dioral ABG

    “wow keren juga ya mbak, boleh dicoba tuh mbak,” sambil duduk di kursi saya memandang ruangan itu
    “itu disana ada kamar mandi, disini lah mas kalo aku lagi pengen puasin diri sendiri” mataku terbelalak ketika mbak Mita duduk dengan kaki terbuka, celana dalamnya tipis, shingga terlihat dengan jelas jembut dan kemaluannya.
    “eh iya mbak” sambil menahan aku menjawab
    “liat ini mas? jangan diliat aja dong mas, dari kemaren aku tau kok mas … kalo kamu pengen aku, itu yang lagi berdiri masukin donk kesini” sambil menunjuk ms v nya mbak Mita menantangku

    “hmmm siap ” saya pun langsung telanjang bulat
    “wow gede, enaku tuh, dah lama nih”

    aku langsung menunduk karna mbak Mita duduk sambil membuka kakinya di kursi, langsung kujilat kemaluannya

    “ooughhhh….ssssssssshhhhh mas inget istri…. ahhh enakkkk”

    celana dalam nya aku copot, lidahku tetap bergerilya di kemaluan mbak Mita, sesekali dia mencengkeram rambutku sesekali dia menjarit.

    “ooughhhhhhhhhhhhh fuck”

    Menit demi menit berlalu, jari pun telah aku masukkan, jari yang semula kering kini di lumuri cairan putih dan bening.

    “mas aku keluar kerasin……..oughhhhhhhhhh” Mita mencapai orgasme nya.

    Aku naik untuk mencumbu bibirnya, sambil kucopot BH yang menempel di dada nya, namun lingerie yang indah itu aku biarkan menghiasi tubuhnya, kecupan demi kecupan saling kita berikan, tangan ku bergerilya di gunung surganya, ku hisap pentilnya sesekali kugigit secara perlahan.
    “ough mas kamu ahli…ahhhhh sayang”
    “oouugh mas udah dulu” sambil mengangkat kepalaku Mita berdiri dan merunduk di depanku
    “kumakan ya mas penismu ini” sambil mengocok dia mendekatkan mulutnya ke penisku
    aku pun cuma bisa menganggukkan kepala
    “ouughhh sayang” desahku ketika penisku di lumat habis

    Menit demi menit aku di kulum nya, aku merasakuan sedikit lagi aku orgasme, aku mengangkat kepala Mita, kemudian dia lepaskan kulumannya

    “ada apa mas?”
    “ga papa aku mau orgasme berhenti bntar, pengen orgasme saat di dalam ini” sambil ku tunjuk vaginanya

    “itu tar aja, ga adil tadi aku keluar di mulut kamu, sekarang harus di mulut juga” langsung mengulum kembali penisku, di kocok sekeras munngkin

    “ouughhhhhh,,,, aku kluar… crotzzz” beberapa menit kemudian aku orgasme dalam mulut Mita, dia lari ke kamar mandi sambil memuntahkan sperma ku, meski dia menlean dikit tapi masih banyak spermaku yang di mulutnya.
    “widih masih siap tempur” sapanya dari kamar mandi, sambil meminum pil KB, kemudian Mita berjalan ke tepi kasur, dan membuka kakinya

    “hehe iya donk barang bagus nih” sambil kudekati Mita aku peluk sambil cium
    “buruan sayang ga tahan nih lubang dari tadi nganggur” tanpa pikir panjang langsung aku masukin

    “ooouughhhh” desahan bersama sambil bercumbu kembali, aku gerakukan maju mundur penis in terasa menghujam lubang sempit yang membuat saraf2 di otaku bekerja dengan senang

    “mas… oouughhhh ” desah Mita
    “mass…. kerasin donk…. ahhhhhh… shhhhhhh” desah Mita sambil menggoyang badannya

    aku kerasin doronganku dengan sekali2 aku dorong penuh sehingga rasanya penis ini menyentuh pangkal di dalam.

    “oouughhh masssss lov u….. ahhhhhhhhhh”

    setelah beberapa menit Mita menariku untuk di bawah tancapkan lah penisku kedalam vaginanya.

    “ouughhhhhhh”

    selang beberapa menit Mita orgasme, gesekan yang dilakukan sangat keras gerakan naik turunnya bener2 ajib, sampai terdengan suara.
    “plok..plok”
    “aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh maaaaaaaaaaaaassssssssss aku kluar….

    Cairan sperma ku banyak terasa mengalir di penisku. kemudian aku tarik Mita untuk berciuman
    setelah itu Mita aku ajak dogy style, nafsu yang menyelimuti kita menjadikan gaya ini sedikit brutal berulangkali Mita berteriak dan bunyi yang di sebabkan tumbukan antara paha ku dan pantatnya sangat keras. Beberapa menit aku angkat tubuh Mita menuju tembok, aku hujam di atas pangkuanku.
    “ouughhhhh luar biasa mas” desahnya sambil tersenyum.Cerita Maya

    selang beberapa menit aku merasakan hampir orgasme

    “sayang aku beri kamu anak ya?” kataku sambil menggendongnya untuk kembali berbaring

    “kalo bisa coba aja” candanya sambil memegang penisku untuk di arahkan ke lubangnya kembali
    aku pun kembali menghujam vaginanya dengan penis ku, keras dan cepat tapi kadang aku menurunkan ritme dengan pelan2 tapi menusuk

    “oughhhh masssssssss”

    aku tersenyum sambil meronta keenakan

    “mas aku mau keluar lagi……shhhhhhhhhh….. kerasin……..”
    “aku juga sayang….oughhhhhhhhhhhh” tambah cepet aku genjot Mita

    beberapa menit kemudian

    “oooouwwwwwwwwwwwwwwwwwhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh 3 kaaaaaaliiiiiiiiiiiiiii…. kumu hebat sayang” desah Mita sambil mengejangkan tubuhnya memelukku

    “ougggggggghhhhhhhh ini bentar lagi”

    “plok…ploookplok…plook……” suara penisku menghujam memeknya yang basah sekali.

    “crotzzzzzzzz…..zrotssssss” spermaku keluar di dalam vagina Mita, akhirnya aku bisa menikmati Mita dengan penuh…. kupeluk Mita dan ku ciumi dan kujilati dada nya.

    “mas jangan pulang dulu, aku masih butuh kamu nanti” ucapnya pada ku.

    aku pun tersenyum, lalu ku kecup keningnya. hari itu aku benar2 ga pulang ke rumah sampai keesokan harinya Hanya waktu istriku telpon … aku bilang lagi di rumah capek mau kemana2, begitu pula Mita, padahal setelah telpon itu selesai permainan liar kami berlanjut.
    ketika istriku di rumah, aku dan Mita masih sering ketemu dan melakukan hubungan ini di hotel, suatu saat Mita memintaku memberinya anak, meski aku tidak usah bertanggung jawab akan hal itu karena dia bilang kalo itu anak dr suaminya yang datang sehari sebelum itu… kini Mita sudah pindah dari komplek rumahku bersama anak hasil hubungan kami, namun komunikasi kami masih terjaga, sesekali kami bertemu di suatu kota untuk semata2 melakukan hubungan sex tidak lebih, dia tau aku sangat mencintai istriku.

  • Dioral ABG

    Dioral ABG


    96 views

    Cerita Maya | Perkenalkan namaku Maman, umurku sekarang sudah menginjak kepala empat, aku bekerja
    disebuah peruasahaan terkemuka dikota jogja karta. Aku sudah mempunyai istri dan 2 orang
    anak. Ditempatku bekerja aku bisa disebut sebagai kariawan yang berprestasi, karena setiap
    pekerjaan aku lakukan selalu tepat waktu dan selalu menunjukkan hasil yang maksimal
    sehingga membuat bosku merasa senang dan memberikan predikat tersebut kepadaku. bosku juga
    menyuruhku untuk mengikuti seminar agar kepandaian dan ketrampilanku meningkat, aku pun
    langsung menyutujinya.Dari seminar ini lah ceritaku dimulai. Ketika itu aku mengahdiri seminar didaerah jogja
    karta tepatnya didaerah sekitar gunung merapi selama seminggu. Di hotel yang sudah
    ditentukan panitia aku melihat banyak muda-mudi juga yang mengikuti seminar dari bebrapa
    perusahaan lain. Aku melihat hanya ada bebrapa saja yang seumuran denganku, yang lainnya
    aku lihat umurnya masih dangat muda-mda sekali sekitar 25-30 tahunan. Disitulah aku merasa
    senang, karena aku bisa melihat pemandangan gadis-gadis muda yang berpakaian super seksi
    dengan berbalutan rok mini, sehingga paha putih mulus gadis-gsdis itu bisa terlihat dengan
    jelas.

    Namun diantara gadis-gadis cantik yang ada diseminar itu, aku melirik satu gadis yang
    sosoknya sangat menarik perhatianku. Umurnya masis muda sekitar 27 tahunan, berwajah imut,
    berambut hitam panjang, hidungnya mancung, bibirnya tipis sekali dan juga tubuhnya yang
    sangat menggoda kaum lelaki. Payudaranya terlihat menonjol diluar kemeja putih setrit yang
    dikenakannya dan juga pantatnya yang bulat terlihat begitu ranum dibalik rok hitam mini
    yang dikenakannya. Sungguh aku sangat terpesona dengan gadis muda itu.
    Ketika acara istirahat siang mereka sudah pada ngobrol satu sama lain, saling curhat,
    saling mencari “jodoh” masing-masing. Dan pada malam kedua itu kelihatannya mereka sudah
    saling akrab bahkan hampir dari semua peserta pada malam itu sesudah pelajaran selesai
    kira-kira pukul 21. 30 WIB mereka memutuskan untuk jalan-jalan keliling sekitar penginapan
    sampai ke Gardu padang untuk melihat pemandangan alam di sekitar Gunung Merapi malam hari.
    Dan sungguh menakjubkan, pada malam terang bulan itu Merapi terlihat indah, gagah, namun
    menyimpan rahasia alam yang tak dapat diraba oleh panca indera. Dalam perjalanan malam
    itulah saya mulai menemukan “jodoh” untuk diajak bincang-bincang secara dengan dekat atau
    curhat bahasa populernya. Cerita Maya

    Sebut saja teman saya tadi Dilla. Masih muda sekitar 27 tahun, belum kawin katanya, namun
    sudah punya pacar. “Pacarku itu lho Om (begitu dia panggil saya) yang antar aku ke sini
    tempo hari”. “Oh, yang antar kamu tempo hari to Wuk” sahutku. Hari-hari selanjutnya
    semakin akrab aku memanggil dia dengan panggilan Wuk, dan dia memanggilku dengan Om. “Kok,
    panggil aku Om, gimana sih?” godaku. “Gini Om, soalnya dari perkenalan kemarin, Om umurnya
    sudah sebaya dengan umur Pak Lik atau Paman saya, jadi ya kupanggil saja Om. Nggak apa-apa
    kan?” sahutnya. “Oh, begitu to, oke deh” sahutku pula. Pada Ju’mat pertama, saya coba ajak
    Dilla untuk jalan-jalan setelah akhir pelajaran.

    Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 22. 00 WIB. “Wuk, belum ngantukkan?” tanyaku. “Belum
    Om, ada apa?” Dilla balas bertanya. “Yuk, kita jalan-jalan ke gardu pandang!” ajakku.
    “Siapa aja yang akan kesana Om?” tanyaknya lagi. “Aku nggak tahu, aku hanya ajak kamu
    jalan-jalan malam ini, kan besok malam Minggu diberi kesempatan pulang ke rumah masing-
    masing, jadi ini kesempatan malam terakhir minggu pertama untuk jalan-jalan. Kalau yang
    lain ada yang ikut aku nggak keberatan, kalau tak ada yang ikut pokoknya aku ajak kamu
    aja, mau kan?” aku coba merayu. “Gimana ya Om?” dia agak ragu menjawab. “Aku sih
    sebenarnya juga ingin jalan-jalan, tapi kalau hanya kita berdua gimana, ya, aku tak enak
    sama teman-teman yang lain”, lanjutnya. “Ya nggak usah dipikirkan, tuh mereka sudah
    membuat kelompok-kelompok sendiri!” sahutku pula.

    Dilla diam sebentar dan akhirnya memutuskan mau kuajak jalan-jalan malam itu, hanya
    berduaan saja. Sepanjang jalan aku dan Dilla ngobrol tentang keadaan kantor masing-masing,
    tentang keadaan alam, tentang keluarga, dan ngomong apa saja untuk menghilangkan kejenuhan
    selama perjalanan ke gardu pandang. Setelah jalan beberapa ratus meter melewati tanjakan
    dan tikungan tiba-tiba melewati tikungan yang cukup gelap karena lampu penerangan jalan
    yang mati. Dilla berhenti sebentar dan berkata” Om, gelap tuh jalan, gimana yuk balik
    aja”. “Balik, tanggunglah yau, kan gardu pandang tinggal beberapa puluh meter di depan,
    setelah tikungan itu kan?” sahutku. “Iya tapi kan cukup gelap, aku agak takut” sahutnya
    pula. “Nggak apa-apa, ada aku kok (gayaku sok berani), yuk terus!” sahutku sambil secara
    reflek menarik tangannya dan kugandeng terus melewati kegelapan. Dilla, terus mengikuti,
    malah memegangku semakin erat dan semakin dekat jaraknya tubuhnya dengan tubuhku.
    Tercium, bau parfum yang wangi dari tubuhnya. Hal ini semakin ingin aku menggandengnya
    lebih lama. Akhirnya aku dan Dilla melewati jalan gelap sambil bergandeng tangan terus
    sampat tempat gardu pandang. Disana sudah ada beberapa pasangan muda-mudi yang juda
    duduk-duduk sambil memandang keindahan Gunung Merapi. “Om, lepasin dong tangannya”
    pintanya. “Oh maaf, ya Wuk, aku sampai lupa, habis hangat sih” godaku. “Om, nakal, besuk
    kuberitahu lho istri om, biar dimarahi” sahutnya. “Eh, ngancam, ya? Besuk juga kuberi tahu
    pacarmu, hayo” balasku pula. Dilla mencubit tanganku, namun secara cepat kupegang
    tangannya erat-erat dan kutarik tubuhnya mendekati tubuhku, kutarik lagi hingga tubuh kami
    berdua berdekatan. “Ssst.. nggak usah ribut, nanti pada menengok dan melihat ke sini
    semua” bisikku di telinganya. Mata kami saling memandang, dan Dilla pun tersenyum.
    “Oke, Om, nggak usah lapor-laporan, ya” ucapnya pelan, kemudian aku pun membalas
    senyumnya. “Iya deh, Oreo, setujukan?” Akhirnya malam itu kami duduk-duduk untuk beberapa
    lama, ngobrol, sambil menikmati pemandangan dari gardu pandang, yang pada waktu itu Merapi
    telah diselimuti kabut cukup tebal. Jarum jam telah menunjukkan jam 1 malam waktu
    setempat, hawa di pegunungan itu semakin terasa dingin, satu persatu, sepasang demi
    sepasang, mereka mulai meninggalkan gardu pandang. Aku pun mengajak turun Dilla menuju
    tempat penginapan kami. “Om, dingin sekali ya, Om dingin nggak? tanyanya. “Ya dingin
    sahutku pula, gimana to? tanyaku pula. “Nggak apa-apa kok, yok kita turun” lanjutnya.
    Tanpa berkata ba, bi, bu, ku gandeng tangan Dilla, dia tak menolak, aku semakin berani
    untuk segera merangkulnya. “Gimana Wuk? hangat kan? tanyaku. “Om, nakal, besuk aku
    bilangan, sama istri Om” sahutnya. “Eit, kita kan udah janji, Oreo-kan” kataku pula.
    Akhirnya Wiwk diam saja kurangkul dan kudekap sepanjang perjalanan menuju penginapan,
    mungkin merasa hangat dan lebih tenang seperti yang kurasakan. “Lepasin Om tangannya”
    katanya setelah terlihat penginapan yang tinggal beberapa puluh meter. Kulepaskan tanganku
    dan aku sengaja menyenggol bukitnya yang ternyata cukup besar.

    Baca Juga Cerita Seks Ayahku

    Dilla hanya diam saja. “Dah.. Dilla..” kataku ketika kami berpisah dan menuju kamar
    masing-masing. “Dah.. Om, nakal” sahutnya sambil tersenyum. Sabtu sore itu kami diberi
    kesempatan untuk pulang mengengok keluarga masing-masing. Aku pulang sendiri, Dilla
    dijemput oleh pacarnya, yang ternyata juga tidak begitu ganteng. “Selamat jalan, ya,
    hati-hati” kataku sambil mengulurkan tanganku untuk bersalaman. Dilla pun menjawab
    “Terimakasih, Om, ini kenalkan, pacarku”. Aku pun terus bersalaman dan berkenalan dengan
    pacarnya. “Feri” katanya singkat. “Maman” jawabku singkat pula. “Senang ya punya pacar
    cantik, kok diajak pulang sore ini, mengapa tak nginap di sini aja berdua, sekaligus
    bermalam minggu di sini. Kalau mau nanti aku mintakan izin sama panitianya. Aku kenal kok
    sama ketua panitia kegiatan ini” godaku pula.

    Mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum malu. “Nggak usah lah yau, nanti ndak lupa
    daratan” sahut mereka berdua hapir bersamaan. “Oke, kalau gitu selamat jalan, dan sampai
    jumpa” aku berkata demikian sambil melambaikan tangan. Mereka berdua pun melambaikan
    tangan, menghidupkan mesin motornya dan melesat turun ke kota. Ketika aku masih bengong
    melihat Dilla dengan pacarnya sudah melesat pergi, tiba-tiba dari belakang di tepuk
    pundakku oleh Pak Bandung, salah seorang panitia yang telah kukenal sebelumnya. “Hayo! Dik
    Maman jangan bengong aja, dulu waktu muda kan pernah kayak gitu, ingat lho Dik Maman, anak
    dan istri telah menunggu dirumah untuk berakhir pekan” katanya.

    Aku pun terkejut, “Oh, nggak apa-apa kok Pak, saya cuma setengahnya tidak percaya, itu lho
    gadis cantik kayak gito kok pacarnya biasa saja, nggak ganteng, kalau dipikir-pikir justru
    lebih ganteng saya to Pak” jawabku pula. Dan sambil menghidupkan mesin aku langsung tancap
    gas turun gunung, mampir sebentar di warung pinggir jalan, membeli juadah tempe serta
    wajik untuk oleh-oleh anak istri yang telah menunggu di pondok mertua indah.

    Senin pagi itu para peserta kursus telah berdatangan lagi untuk melanjutkan menimba ilmu
    kearsipan. Kulihat Dilla juga telah datang dan tengah menikmati sarapan pagi yang memang
    telah disediakan oleh pihak panitia. Aku mendekat dan menyapa”Pagi Wuk, gimana kabarnya,
    gimana malam minggunya, asyikkan, saya tahu lho Wuk malam itu kamu tidak pulang ke rumah
    tapi entah bermalam dimana” kataku mencoba menebak-nebak sambil duduk didekat Dilla yang
    lagi sarapan pagi. “Ah, Om ini sok tahu, kalau ya terus mau apa, kalau tidak trus gimana”
    jawabnya agak ketus. “Ya, nggak apa-apa, wong aku cuma bercanda, kok” aku balas menjawab.
    “Gimana Wuk, nanti habis pelajaran malam kita jalan-jalan lagi, ya. Nanti jalan-jalan
    dengan route yang lain dengan kemarin, oke?” aku mengajak Dilla.

    Dilla pun mengangguk tanda setuju. Malam itu setelah pelajaran malam berakhir pukul 21. 30
    kami berdua jalan-jalan mengelilingi taman parkir, gardu pandang, telogo nirmolo, dan
    akhir berhenti duduk-duduk karang Pramuka. Saat itu Dilla memakai jaket tebal dan celana
    jeans ketat. Dalam keremangan malam terlihat bentuk kakinya yang indah sesuai dengan
    tinggi badannya. “Dingin Wuk?” tanyaku membuka percakapan. “Ya dingin, mana ada tempat di
    Kaliurang yang hangat” jawabnya. “Ada saja” jawabku “Dimana” tanyanya lagi “Ya, disini”
    jawabku sambil aku menggeser pantatku dan duduk berdekatan dengannya. “Dimana Om?” Dilla
    pun bertanya lagi “Ya.. disini, coba pejamkan mata sebentar!” perintahku.

    Dilla pun memejamkan mata. Pelan tapi pasti Dilla pun segera kupeluk dengan lembut dan
    ternyata hanya diam saja. “Dimana Om,? dia bertanya lagi “Disini” jawabku sambil terus
    mempererat pelukanku kepadanya. “Om, nakal” Dilla meronta tapi aku tetap meneruskan
    pelukanku bahkan semakin erat dan akhirnya perlahan-lahan dia menikmati juga kehangatan
    pelukanku bahkan membalas dengan pelukan yang tak kalah erat. Peluk dan terus peluk,
    kehangatan pun terus mengalir dan kuberanikan diri untuk mencium pipinya, mencium
    bibirnyanya. Dia ternyata menerima dan membalas ciumanku dengan hangat. “Oh.. Om..”
    desahnya pelan “Oh.. Wuk, cantik sekali kau malam ini” rayuku pula.

    Tanganku selanjutnya menelusuri tubuh dibalik jaketnya yang tebal. Aku sedikit kaget
    karena Dilla hanya memakai kaos “adik” singlet yang agak tebal. “Nggak usah terkejut Om,
    aku sering melakukan ini dengan pacarku” bisiknya. “Lho, katamu dingin, kok pakai
    singlet?” aku balas bertanya. “Iya, tadi dingin, tapi sekarang sudah agak hangat, kan ada
    pemanasnya” celotehnya pula. “oo begitu, baru hangatkan? Oke kalau begitu nanti kubuat
    kamu lebih hangat lagi, kalau perlu sampai panas” lanjutku sambil terus mengelus, meraba
    tubuhnya. Dan akhirnya sampai dibukit yang cukup besar dan kiranya mulai menegang.
    Tanganku berhenti sebentar dibukitnya yang kenyal, kemudian mulai kuremas-remas dengan
    kedua tanganku dari arah belakang. Dilla mulai melenguh kenakan.

    “Oh.. Om, terus-terusin Om.., Om.. teruus” Dilla terus merengek. Kemudian dia berbalik dan
    tangannya juga mulai mememeluk tubuhku semakin erat. Tangannya menuntun tanganku dari
    bawah kaosnya menuju bukitnya dan ternyata juga tidak memakai BH. Kuremas pelan-pelan dan
    semakin cepat seiring dengan rengekannya. Kami berdua saling berpelukan, saling berciuman,
    melumat bibir, saling meremas, entah berapa lama. Kami semakin tidak sadar kalau berada
    diruang terbuka. Disekeliling kami hanya pepohonan hutan cemara dikeremangan malam,
    diiringi suara cengkerik, belalang serta binatang malam lainnya, dipinggir tanah lapang
    itu. Kami pun tidak akan tahu seandainya disekeliling lokasi itu ada yang melihat baik
    sengaja mengintip atau tidak sengaja melewati daerah itu. Permainan terus berlanjut
    diudara terbuka itu. Dilla pun segera mengarahkan tangannya ke daerah selangkanganku,
    mengelus dari luar celanaku. Cerita Maya

    Tahu bahwa “adik”ku telah bangun, Dilla pun segera memelorotkan celanaku yang kebetulan
    waktu itu hanya memakai training. Segera dikeluarkannya batang kemaluanku yang telah tegak
    dan selanjutnya Dilla mengemot-emot, memainkan lidahnya dikepala kemaluanku dengan
    semangat. Hal ini membuatku lupa dengan istri dirumah yang belum pernah melakukan hal yang
    demikian. “Oh.. Wuk, terus Wuk, teruuss.. enak Wuk, teruuss..” Dan crot, crot, crot..,
    crot, crot.., crot.., muncratlah spermaku dalam mulutnya yang mungil dan sebagian lagi
    mengenai wajahnya yang cantik.

    Aku hanya memejamkan mata keenakan. “Enak Om?” tanyanya. Aku hanya mengangguk, mulut
    rasanya sulit berkata karena hampir tak percaya kejadian yang baru saja tadi. Ini adalah
    hubungan Sex ku yang pertama dengan selain istri, walaupun baru sebatas oral seks. Dan
    ternyata menimbulkan kesan lain yang mendalam selain juga mengasyikkan. “Aku bersihkan ya
    Om” dan tanpa berkata lagi Dilla mengulum-ulum batang kemaluanku, menjilat-jilat
    membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel sampai bersih, sih. “Oh, Wuk..” Sadar
    berada di alam terbuka, aku segera melihat jam tanganku. Jarum jam telah menunjukkan angka
    23. 15. Aku segera mengajak Dilla meninggalkan tempat itu.

  • Ayahku

    Ayahku


    157 views

    Cerita Maya | Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku
    kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih
    mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek
    bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu saat, pada saat
    aku duduk di kelas 2 SMA, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di kampung. Dia akan tinggal di
    sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak. Aku akan bisa bebas di rumah. Tak akan ada yang memaksa-maksa
    untuk belajar. Aku juga bebas pulang sore. Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.

    Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali mengadakan hubungan
    kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-
    buru sehingga aku tidak pernah orgasme. Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?

    Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan
    angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan berahi. Kami
    duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. “Ah..” kurangkul
    tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun
    mulai bermain di kedua bukitku. Aku benar-benar terangsang.

    Aku sudah bisa merasakan bahwa vaginaku sudah mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut
    bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya
    tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin membuang waktu, secara
    bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada
    Anton. Kulihat segera sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang. Cerita Maya

    Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu besar, tapi cukup
    keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang
    sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-
    merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu
    kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah.
    “Ah..” kumasukkan saja batang itu ke mulutku. Anton melepaskan celana dalamku lalu mempermainkan
    vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya
    klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku
    mempermainkan telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.

    “Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!” Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan
    membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satu-
    satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betul-betul bugil. Aku makin
    menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas
    tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah
    jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya,
    sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak
    tahan lagi.

    “Ton, ayo masukin saja.” “Sebentar lagi Nitt.” “Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!”
    Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.. “Bless..” batang itu masuk
    dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat
    sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga
    pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.
    Tiba-tiba, “Ah.. aku keluar..” Dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di atas perutku. “Shit!
    Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah,” rungutku dalam hati. Tapi aku berpikir, “Ah, tak
    mengapa, babak kedua pasti ada.” Dugaanku meleset. Anton berpakaian. “Nit, sorry yah.. aku baru ingat.
    Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak telat nih,” dia berpakaian dengan buru-buru. Aku
    betul-betul kecewa. “Kurang ajar anak ini. Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu
    saja.” Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal,
    kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring
    dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.

    Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat. “Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali,” pikirku.
    Tapi aku memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek. “Nita!” Oh.. ini bukan suara
    Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat. “Ayah!” aku sungguh-sungguh ketakutan,
    malu, cemas, pokoknya hampir mati. “Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan
    membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama
    ibumu.” Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, “Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal
    jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama,” aku menangis memohon.

    Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa. Kulihat wajahnya makin melembut. “Nit, Ayah tahu kamu tidak puas
    barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah dengar suara-suara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan
    Ayah lihat dari balik pintu, kamu sedang dientoti lelaki itu, jadi Ayah intip aja sampai siap
    mainnya.” Aku diam aja tak menyahut. “Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan
    terbongkar.” “Sungguh?” Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku. Dijilatinya permukaan
    payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku. Sementara tangannya sudah menjelajahi bagian bawahku yang
    masih basah. Ayah segera membuka bajunya. Langsung seluruhnya. Aku terkejut. Kulihat penis ayahku jauh
    lebih besar, jauh lebih panjang dari penis si Anton. Tak tahu aku berapa ukurannya, yang jelas
    panjang, besar, mendongak, keras, hitam, berurat, berbulu lebat. Bahkan antara pusat dan kemaluannya
    juga berbulu halus. Beda benar dengan Anton. Melihat ini saja aku sudah bergetar.

    Baca Juga Cerita Seks Pemuas Adik Tanteku

    Kemudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia berlutut di hadapanku lalu
    kepalanya berada diantara kedua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidah hangat sudah menggesek ke dalam
    vaginaku. Aduh, lidah ayahku menjilati vaginaku. Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut. Jilatannya
    dari bawah ke atas berulang-ulang. Kadang hanya klitorisku saja yang dijilatinya. Dihisapinya, bahkan
    digigit-gigit kecil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. “Oh.. oh.. enak, Yah di situ Yah, enak, nikmat
    Yah,” tanpa sadar, aku tidak malu lagi mendesah jorok begitu di hadapan ayahku. Ayah “memakan”
    vaginaku cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan nikmat yang sangat dahsyat, yang tak pernah kumiliki
    sebelumnya.

    “Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya,” aku tiba-tiba merasa lemas. Ayah mungkin tahu kalau aku
    sudah orgasme, maka dihentikannya menjilat lubang kewanitaanku. Kini dia berdiri, tepat di hadapan
    hidungku, penisnya yang besar itu menengadah. Dengan posisi, ayah berdiri dan aku duduk di sofa,
    kumasukkan batang ayahku ke mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. Kusedot dan kuhisap lagi.
    Begitu kulakukan berulang-ulang. Ayah ikut menggoyangkan pantatnya, sehingga batangnya terkadang masuk
    terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan kepala penisnya menyentuh kerongkonganku. Aku kembali sangat
    bergairah merasakan keras dan besarnya batang itu di dalam mulutku. Aku ingin segera ayah memasuki
    lubangku, tapi aku malu memintanya. Lubangku sudah betul-betul ingin “menelan” batang yang besar dan
    panjang.
    Tiba-tiba ayah menyeruhku berdiri. “Mau main berdiri ini,” pikirku. Rupanya tidak. Ayah berbaring di
    sofa dan mengangkatku ke atasnya. “Masukkan Nit!” ujar Ayah. Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke
    vaginaku. Ah.. sedikit sakit dan agak susah masuknya, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan. “Aduh
    pelan-pelan, Ayah.” Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibat sodokan
    ayah tadi. Kugoyang perlahan. Dengan perlahan pula batang itu semakin masuk dan semakin masuk.
    Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat. Lubang vaginaku betul-betul terasa penuh. Nikmat rasanya.
    Karena dikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang. Kusetubuhi ayahku dengan rakus. Ekspresi ayahku makin
    menambah nafsuku. Remasan tangan ayahku di kedua payudaraku semakin menimbulkan rasa nikmat. Kogoyang
    pantatku dengan irama keras dan cepat.

    Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah berkata, “Stop! Kita ganti posisi. Kamu nungging dulu.” “Mau apa
    ini?” pikirku. Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala penis di permukaan lubangku kemudian.. “Bless..”
    batang itu masuk ke lubangku. Yang begini belum pernah kurasakan. Anton tak pernah memperlakukanku
    begini, begitu juga Muklis, lelaki yang mengambil perawanku. Tapi yang begini ini rasanya selangit.
    Tak terkatakan nikmatnya. Hujaman-hujaman batang itu terasa menggesek seluruh liang kewanitaanku,
    bahkan hantaman kepala penis itupun terasa membentur dasar vaginaku, yang membuatku merasa semakin
    nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin keras dan makin cepat. Perasaan yang kudapat pun makin lama makin
    nikmat. Makin nikmat, makin nikmat, dan makin nikmat. Cerita Maya

    Tiba-tiba, “Auh..oh.. oh..!” kenikmatan itu meladak. Aku orgasme untuk yang kedua kalinya. Hentakan
    ayah makin cepat saja, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya. Seiring dengan itu dicabutnya penisnya
    dari lubang vaginaku. Dengan gerakan cepat, ayah sudah berada di depanku. Disodorkannya batangnya ke
    mulutku. Dengan cepat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan cepat. Tiba-tiba
    kurasakan semburan sperma panas di dalam mulutku. Aku tak peduli. Terus kuhisap dan kuhisap. Sebagian
    sperma tertelan olehku, sebagian lagi kukeluarkan, lalu jatuh dan meleleh memenuhi daguku. Ayah
    memelukku dan menciumku, “Nit, kapan-kapan, kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah.” Aku tak
    menjawab. Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku. Yang jelas aku pasti mau. Dengan
    pacarku aku tak pernah merasakan orgasme. Dengan ayah, sekali main orgasme dua kali. Siapa yang mau
    menolak?

    Sesudah itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi. Sementara mama masih sering marah, dengan
    nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin. Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya,
    yang menjadi ayahku itu, sering kugeluti dan kunikmati. Beginilah kisah permainanku dengan ayahku yang
    pendiam, tetapi sangat pintar di atas ranjang.

  • Pemuas Adik Tanteku

    Pemuas Adik Tanteku


    103 views

    Cerita Maya | Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi. Apalagi kenyataan yang ada di kampungnya, masih dengan mudah dihitung dengan jari orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi. Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat sederhana dan rata-rata berada digaris kemiskinan. Selain itu jarak antara perguruan tinggi yang ada sangat jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil angkot minimal lima kali, itu juga dengan bantuan kendaraan roda dua yaitu ojeg.

    Sangat beruntung bagi Arie bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya diceritakan di hadapan kedua orang tuanya. Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya.

    Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat Arie bertambah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung itu.

    “Arie..” sapa ibunya ketika Arie sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini ada surat dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang mungkin penegasan dari ayah Arie untuk menyakinkan bahwa anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya. Sebetulnya orang tua Arie sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Arie sangat jarang sekali bertemu maka orang tua Arie memberikan surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk sementara waktu.

    Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil.

    Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua Arie sebetulnya tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua Arie yang sering memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana. Menurut ibu Arie, Oomnya telah berganti istri sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.

    Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Arie dua tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada diatas limapuluh tahun.

    Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas manusia, Arie langsung masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah. Belakangan diketahui namannya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.

    “Selamat siang Pak,” Tegur Arie kepada salah satu satpam yang ada dua orang.
    “Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu,” jawab satpam yang bernama Asep.
    “Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?”
    “Bapak Budiman yang mana Dik,” tegas satpam Asep, karena melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh tahunan.
    “Anu Pak, apa ini PT. Rido,” tanya Arie menyusul keraguan satpam. Karena sebetulnya Arie juga belum pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi bisnis yang digelutinya.
    “Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini,” tegas satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.
    “Adik ini siapa,” tanya satpam kepada Arie, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.
    “Saya Arie Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang.”
    “Keponakan,” tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.

    Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri Arie sambil memberikan selamat datang di kota Bandung. “Arie.. Apa masih ingat sama Bapak,” kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.
    Mimik Arie jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.
    “Maaf Pak, Arie Sudah lupa dengan Bapak,” kata Arie sambil terus mengigat-ingat.
    Pak Dadi terus menerangkan dirinya, “Saya yang dulu sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Arie berumur kurang lebih lima tahun.”
    Arie jadi bingung, “Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun.”

    Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang lebih baru berumur 35 tahun. Cerita Maya

    “Aduh Dik Arie, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Arie karena harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Arie. Nah, sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu,” sambung Pak Dadi melihat ekpresi Arie yang sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal. Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar, “Jangan takut Dik Arie pokoknya kamu tidak akan ada masalah,” tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu semunya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa dibidang apapun.

    Mendengar itu Arie menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok mini. Keberadaan Arie sebagai keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah lagi dengan postur badan Arie yang atletis dan wajah yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati Arie dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.

    Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Arie dan ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk perusahaan, dan semua itu membuat Arie menjadi betah sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.

    Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan merek Mesri terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat mengah dan dijaga oleh satpam.

    Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi dan Istrinya. Sedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang dibawa Arie. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.

    Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi meninggalkan Arie, sedangkan Arie ditemani oleh Bi Enung menuju ruang tengah. Setelah Tante Rani datang sambil tersenyum menyapa Arie, Bi Enung pun meninggalkan Arie sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum untuk Arie.

    “Tante sudah menunggu dari tadi Arie,” bisiknya sambil menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat datang.

    “Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa”, lanjut Tante Rani yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh perhatian.
    “Tante sudah tahu bahwa Arie akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk.”
    Obrolan pun mengalir dengan punuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante Rani dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan Arie. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Arie membuat Arie salah tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala Arie pusing tujuh keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.

    “Nah, itu Yuni,” kata Tante Rani sambil membawa Arie ke ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Arie kepada Yuni. Mendapat teman baru dalam rumah itu Yuni langsung bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan sendiri. “Nanti Kak Arie tidurnya sama Yuni ya Kak.” Mendapat pertanyaan itu Arie dibuatnya kaget juga karena yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan Arie. Adik kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat cantik. Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Yuni yang meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, Arie hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur badannya padahal dalam pikiran Arie, ia sudah menaruh hati pada Yuni yang mempunyai wajah yang cantik dam putih bersih itu.

    Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante Rani, Arie masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar Yuni. Memang di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan Arie memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar Yuni berhadapan dengan kamar Arie.

    Setelah membuka baju yang penuh keringat, Arie melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikeruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.

    Hari-hari selanjutnya Arie semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena selain Tante Rani Yang ramah dan seksi, juga kelakuaan Yuni yang menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kemaluan Arie berdiri. Arie semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung yang bernama BIP. Tante Rani dengan mesranya menggandeng Arie, tapi Arie tidak risih karena kebiasaan itu sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang. Tapi yang membuat kaget Arie ketika di dalam mobil, Tante Rani mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu Arie kaget setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta dengannya.

    Arie tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering menghanyalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan Tante Rani. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante Rani dengan berani tiduran di atas paha Arie sambil terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Arie yang mengetahuinya.

    Sambil bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya melorot ke bawah. Arie dengan jelas dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante Rani yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu. Arie menelah ludah sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika Arie akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah meminta Arie untuk terus merabanya.

    Arie menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju rumahnya sambil berkata, “Aku tidak mungkin bisa melakukan itu Tante,” Tante Rani hanya berkata, “Arie, Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, masa Arie tidak kasihan sama Tante.” Tangan Tante Rani dengan berani membuka baju bagian atas dan memperlihatkan buah dadanya yang besar. Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap. Melihat Arie yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante Rani memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Arie jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.

    Kedekatan Arie dengan Yuni semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit Yuni selalu meminta bantuan Arie. Pada saat itu Yuni mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Arie. Pada saat itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Rani yang menolak melakukan itu. Arie keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Dengan jelas Yuni melihat batang kemaluan Arie yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, Yuni membalikkan badannya. Arie hanya tersenyum sambil berkata, “Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu,” goda Arie sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.

    Arie bergerak mendekati Yuni dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil. “Ahh, geli Kak Arie.. Kak Arie sudah pake celana yah,” tanya Yuni.
    “Belum,” jawab Arie menggoda Yuni.
    “Ahh, cepet dong pake celananya. Yuni mau minta tolong Kak Arie mengerjakan PR,” rengek Yuni sambil tangan kirinya meraba belakang Arie.
    Melihat rabaan itu, Arie segaja memberikan batang kemaluannya untuk diraba. Yuni hanya meraba-raba sambil berkata, “Ini apa Kak, kok kenyal.” Mendapat rabaan itu batang kemaluan Arie semakin menengang dan dalam pikirannya kalau dengan Yuni aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tenteku digarap olehku.

    Rabaan Yuni berhenti ketika batang kemaluan Arie sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya. Arie kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kemaluannya yang sudah menegang.

    Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluan Arie kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Yuni membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat Arie sudah memakai celana pendek. “Nah, gitu dong pake celana,” kata Yuni sambil mencubit dada Arie yang menempel di susu kecil Yuni. “Udah dong meluknya,” rintih Yuni sambil memberikan buku Matematikanya.

    Saling memeluk antara Arie dan Yuni sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketika Arie merasakan kenikmatan dalam memeluk Yuni, Yuni tidak merasakan apa-apa mungkin karena Yuni masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor. Arie langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi Arie segaja memilih itu karena Yuni sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kemaluan Arie terasa hangat dibuatnya. Dan memang seperti dugaan Arie, Yuni tiduran di dada Arie. Pada saat itu Yuni menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas. Yuni tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Arie.

    Sambil mengerjakan PR, pikiran Arie melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Yuni bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada Yuni. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh Arie dan Yuni.

    PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Yuni terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Yuni yang kecil. Pikiran Arie meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat. Ketegangan Arie semakin menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul Yuni yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi Arie menerangkan tersebut ada di bawah Yuni dan pinggul Yuni sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.

    Gerakan badan Yuni yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafas Arie naik turun. Yuni tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kemaluan Arie, malah Yuni semakin terus bermanja-manja dengan Arie yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran Arie semakin kalang kabut ketika Yuni mengerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya semakin berdiri menegang. Dengan pura-pura tidak sadar Arie meraba gundukan kemaluan Yuni yang terbungkus oleh CD putih. Bukit kemaluan Yuni yang hangat membuat Arie semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.

    “Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah.”
    Arie membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Yuni tepat menempel di batang kemaluan Arie. Dalam keadaan itu Yuni hanya mendekap Arie sambil terus berkata, “Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya.”
    “Boleh, tapi ada syaratnya,” kata Arie sambil terus merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Yuni yang masih terbungkus CD warna Putih. Pantat Yuni terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat Arie semakin panas dingin dibuatnya. Yuni hanya bertanya apa syaratnya kata Yuni sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya Arie. Dalam posisi seperti itu batang kemaluan Arie yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kemaluan Yuni yang terasa hangat. Arie tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut Yuni. Yuni hanya diam dan terus menghidar ciuman itu. “Kaak… apa dong syaratnya”, kata Yuni manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Arie. Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang Yuni tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun. “Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya.”

    Mendengar itu Yuni hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus pus-up 1000 kali. Konsenterasi Arie dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan Yuni yang sering terlepas karena Yuni yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya. Yuni terus mendekap badan Arie sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha Arie.

    Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Arie menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kemaluan Yuni. Arie semakin tidak tahan dengan kedaaan itu dan langsung meraba-raba pantat Yuni. Ketika Arie akan meraba payudara Yuni. Yuni bangkit dan terus melihat ke wajah Arie, sambil berkata, “PR-nya sudah Kaak.. Arie,” sambil Menguap.

    Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Arie, Yuni langsung memeluk Arie erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Arie begitu saja, Arie langsung memeluk Yuni berguling-guling sehingga Yuni sekarang berada di bawah Arie. Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu Yuni berkata, “Masa Kakak meluk Yuni nggak bosan-bosan.” Berbagai alasan Arie lontarkan agar Yuni tetap mau di peluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kemaluan Arie bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar, dan pada saat itu Yuni berhasil lepas dari pelukan Arie sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.

    “Aduh, Gila si Yuni masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan,” guman Arie dalam hati sambil terus memengang batang kemaluannya. Arie berusaha menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu tegang. “Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan Yuni cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang.”

    Arie memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya. Itulah pola pikir Arie yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa Yuni.

    Ketegangan batang kemaluan Arie terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan Arie keluar kamar sambil membakar sebatang rokok. Ternyata Tante Rani masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri. Tante Rani yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya. Keadaan itu terlihat karena Tante Rani duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan.

    Ketenganan Arie semakin memuncak melihat keidahan tubuh Tante Rani yang sangat seksi dan mulus itu.
    “Kamu kenapa belum tidur Ari,” kata Tante Rani sambil menuangkan segelas air susu untuk Arie.
    “Anu Tante, tidak bisa tidur,” balas Arie dengan gugup.
    Memang Tante Rani yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan Arie, ia tidak peduli dengan keberaan Ari malah ia segaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan Arie yang sudah sangat terangsang.

    “Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Arie.”
    “Tidak apa-apa Tante, Arie mengerti tentang hal itu,” jawab Arie sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah diluar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan Yuni yang membuat batang kemaluannya semakin menegang tidak tentu arah.
    “Oom ke mana Tante, kok tidak kelihatan,” tanya Arie mengisi perbincangan.
    “Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru,” jawab Tante Rani.
    Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante Rani, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya.

    Arie dan Tante Rani duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Arie, Tante Rani membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kemaluannya. Mata Arie melongo tidak percaya. Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Rani, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante Rani tidak menggunakan celana dalam. Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Rani terus menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa ada yang gatal.

    Melihat itu Arie semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya yang semakin menegang.
    “Kamu kenapa Arie,” tanya Tante Rani yang melihat wajah Arie keluar keringat dingin.
    “Nggak Tante, Arie cuma mungkin capek,” balas Arie sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante Rani.

    Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante Rani segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kemaluannya yang merekah. Melihat Arie semakin menegang, Tante Rani tersenyum dan mempersilakan Arie untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.

    Ketegangan Arie semakin memuncak dan Arie tidak berani kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu. “Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar.” Melihat Arie yang sangat tegang itu Tante Rani hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.

    Sebelum sampai ke paviliun belakang Arie jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu. Tidak segaja ia mendegar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. Arie terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. Arie mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah Arie dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.

    Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Arie melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan. Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki Arie. Astri terus mengulum batang kemaluan Pak Dadi. Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah melorot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak Dadi semakin mesra di kulum oleh Astri.

    Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri. Astri yang masih melekat di bandan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi.

    Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur. Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya. Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Arie semakin Panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante Rani memainkan kemaluan Arie yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.

    “Tante, kapan Tante datang”, suara Arie perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Rani terus menggandeng Arie menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kemaluan Arie yang sudah menegang sejak tadi. Sesampainya di ruang tengah, Arie duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Rani, sementara Tante Rani tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Arie dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kemaluan Arie yang sudah menegang.

    “Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah.” Tante Rani memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada diantara kedua selangkangan Arie terus digesek-gesek ke batang kemaluan Arie. “Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau,” goda Tante Rani, “Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi,” nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kemaluan Arie.

    Baca Juga Cerita Sex Mamaku

    Arie semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar batas kemanusiaan. “Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu.” Mendengar elakan Arie, Tante Rani malah tersenyum, “Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya.”

    Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu Oomku. Gerakan kepala Tante Rani semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kemaluan Tante Rani terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kemaluan gadis seumur Yuni.

    Arie sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Rani. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kemaluan Arie terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Rani membalikkan badan dan sekarang Tante Rani telungkup di atas sofa dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.

    Tangan Tante Rani terus memainkan batang kemaluan Arie dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. “Aduh punya kamu ternyata besar juga,” bisik Tante Rani mesra sambil terus memainkan batang kejantanan Arie dengan kedua tangannya. “Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apa pun Riee,” bisik Tante Rani dengan nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Arie semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.

    Mulut Tante Rani yang merekah telah mengulum batang kemaluan Arie dengan liarnya dan terlihat badan Tante Rani seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt. “Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini… ayo dong gerakin tanganmu.” Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Arie semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kemaluan Ari menegang. Arie mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang.

    Mendapakan perlakuan seperti itu, Tante Rani terus semakin menggila dan terus mengulum kepuyaan Arie dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante Rani yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kemaluan Arie. Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya Arie memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi Arie dan tantenya seperti huruf T.

    Tangan Arie semakin berani mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu. “Ahkkk, nikmat..” Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia merasakan akan orgasme. “Arie… Tante sudah tidak tahan lagi nich..” diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Arie sehingga Arie dibuatnya tidak berdaya.

    “Aduh . aduh.. Tante nikmat sekalii…” erang tantenya semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Rani merintih sambil mengerang. “Aduuh Rieee.. terus tekan-tekan pantat Tante..” desah Tante Rani sambil terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu. Arie meraba kemaluan tantenya, ternyata kemaluan Tante Rani sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya. “Ariee… nah itu terus Riee.. terus..” erang Tante Rani sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kemaluan Arie.

    “Kamu kok kuat sekali Riee,” bisik tante rRni dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kemaluan Arie. Tante Rani setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat Arie keluar sperma. Arie berguman, “Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras.”

    Melihat batang kemaluan Arie yang masih tegak Tante Rani semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju Arie yang masih melekat di badannya. ?Buka yaa Sayang bajunya,” pinta Tante Rani sambil membuka baju Arie perlahan namun pasti. Setelah baju Arie terbuka, Tante Rani membuka juga celana pendek Arie agar posisinya tidak terganggu.

    Lalu Tante Rani membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan Arie. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat terampil dalam memainkan batang kemaluan laki-laki.

    Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kemaluan Arie sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kemaluan Arie dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah. Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante Rani menggesek-gesek payudaranya di belahan batang kemaluan Arie. Dengan keadaan itu Arie mengerang kuat sambil berkata, “Aduh Tante.. terus Tante..” Mendengar erangan Arie, Tante Rani tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya. Melihat Arie yang akan keluar, Tante Rani dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kemaluan dengan sangat liar. Sehingga warna batang kemaluan Arie menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur. Arie menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata, “Terus Tante.. terus Tante..”, Dan Arie pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante Rani yang merekah. Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Rani kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kemaluan Arie yang membuat Arie meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.

    Melihat itu Tante Rani semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kemaluan Arie sampai keluar bunyi slurp…, slurp…, akibat sedotannya. Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan Arie, lalu Tante Rani kembali mengulum batang kejantanan Arie dengan mulutnya yang seksi.

    Melihat batang kemaluan Arie yang masih memberikan perlawanan, Tante Rani bangkit sambil berkata, “Gila kamu Rieee.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih menantangnya.” Mendengar tantangan itu, Arie hanya tersenyum saja dan terlihat Tante Rani mendekat ke hadapan Arie sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kemaluan Arie. Sebelum memasukkan batang kemaluan Arie ke liang kewanitaannya, Tante Rani terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan Arie pun membalasnya dengan hangat. Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante Rani semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kemaluan Arie sekarang tergeser ke belangkang sehingga batang kemaluan Arie tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.

    Mendapat perlakuan itu Arie mengerang kenikmatan. “Aduuh Tante…” sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama. “Clepp…” suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Rani mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Arie bergetar. Mata Tante Rani dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Rani telah berhasil menelan semua batang kemaluan Arie. Tante Rani pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.

    “Arieee…” rintihan Tante Rani semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan Arie. Tante Rani diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kemaluan Arie yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.

    “Riee, Tante sudah tidak kuat lagi… Sayang..” desah Tante Rani sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan permainan itu Arie mendesir, “Aduh Tante… terus Tante..” mendengar itu Tante Rani terus menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Arie dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kemaluan Arie dengan liang senggama Tante Rani. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kemaluan Arie jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman.

    Goyangan pantatnya semakin liar dan Arie mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante Rani dengan paha Arie menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan, “Prut.. prat.. pret..” Tangan Arie merangkul tantenya dengan erat. Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante Rani mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kemaluan Arie. Tante Rani mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante Rani berkata di dekat telingan Arie. “Arieee…” suara Tante Rani bergetar, “Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaaah”. “Iya Tante…” jawab Arie.
    Selang beberapa menit Arie merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui, “Kamu mau keluar yaaa.” Arie merangkul Tante Rani dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante Rani rangkulanya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kemaluan Arie. Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara Arie keluar dengan keras, “Tanteee.. Tanteee..” dan begitu juga Tante Rani mengerang keras, “Rieee…”. Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kemaluan Arie masuk ke dalam liang senggama Tante Rani.

    Akhirnya Arie dan Tante Rani diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante Rani. Masih dalam posisi Tante Rani duduk di pangkuan Arie. Tante Rani tersenyum, “Kamu hebat Arie seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan.”

    “Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa..” goda Tante Rani. Arie hanya tersenyum di goda begitu. Tante Rani lalu mencium kening Arie. Kurang lebih Lima menit batang kemaluan Arie yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante Rani, lalu Tante Rani bangkit sambil melihat batang kemaluan Arie. Melihat batang kemaluan Arie yang mengecil, Tante Rani tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kemaluan Arie tidak berdiri lagi. Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante Rani meraba-raba batang kemaluan Arie dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kemaluan Arie tidak mau berdiri lagi.

    “Aduh untung batang kemaluanmu Rieee… tidak hidup lagi,” bisik Tante Rani mesra sambil berdiri di hadapan Arie, “Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Rieee” lanjutnya sambil tersenyum dan Duduk di sebelah Arie. Sesudah Tante Rani dan Arie berpanutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.

    Pagi-pagi sekali Arie bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya Arie jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu Arie tidak ada kuliah. Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan diwaktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.

    Lalu Arie pun berjalan menuju kolam, tidak dibanyangkan sebelumnya ternyata Tante Rani ada di kolam sedang berenang. Tante Rani mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Arie. Tante Rani mengajaknya berenang. Arie hanya tersenyum dan berkata, “Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya.” Mendapat jawaban itu, Tante Rani hanya tersenyum, soalnya Tante Rani mengetahui Arie tidak menggunakan celana renang. “Sudahlah pakai celana dalam aja,” pinta Tante Rani. Tantenya yang terus meminta Arie untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru.

    Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kemaluan Arie yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh Arie sambil mendekati Tante Rani, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah Arie. Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Rani menjadi kejaran Arie yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Rani dapat juga tertangkap. Arie langsung memeluknya erat-erat, pelukan Arie membuat Tante Rani tidak dapat lagi menghindar.

    “Udah akh Arie.. Tante capek,” seru mesra Tante Rani sambil membalikkan badannya. Arie dan Tante Rani masih berada di dalam genangan kolam renang. “Kamu tidak kuliah Rieee,” tanya Tante Rani. “Tidak,” jawab Arie pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Rani. Terkena rabaan itu Tante Rani malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Arie. Mendapatkan perlakuan itu Arie menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga. “Sudah ah… Tante sekarang mau ke kantor dulu,” kata Tante Rani sambil sedikit menjauh dari Arie.

    Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Rani tertawa geli melihat Arie yang celana dalamnya telah melorot di antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang sudah bangkit dari tidurnya. “Kamu tidak sadar Arie, celana dalammu sudah ada di bawah lutut..” Mendengar itu Arie langsung mendekati Tante Rani sambil mendekapnya. Tante Rani hanya tersenyum. “Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi,” kata Tante Rani sambil meraba batang kemaluan Arie yang sudah menegang kembali.

    Mendengar itu Arie hanya melongo kaget. “Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja,” kata Arie sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante Rani yang berwarna merah. Mendapat perlakuan itu Tante Rani hanya diam dan ia terus mencium Arie sambiil berkata, “Iyaaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat.”

    Tante Rani membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul Arie. Batang kemaluan Arie langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Rani yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak Arie. Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante Rani telah melahap semua batang kemaluan Arie dan dirasakannya batang kemaluan Arie sudah menegang. Tante Rani menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong Arie sambil pergi dan terseyum manis meninggalkan Arie yang tampak kebingungan dengan batang kemaluannya yang sedang menegang.

    Mendapat perlakuan itu Arie menjadi tambah bernafsu kepada Tante Rani, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu Arie langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya.

    Setelah di kamar, Arie langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya. Dan langsung Arie teringat akan keberadaan kamar Yuni. Arie lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. “Yuni.. Yuni.. Yuni..” teriak Arie sambil mengetuk pintu kamar Yuni. “Masuk Kak Ariee, tidak dikunci.” balas Yuni dari dalam kamar.

    Didapatinya ternyata Yuni masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Arie dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.

    “Ada apa Kak Arie,” kata Yuni sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan Arie. “Anu Yuni.. Kakak mau ikut mandi karena kamar mandi Arie airnya tidak keluar.” Memang Yuni melihat dengan jelas bahwa badan Arie dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Yuni bukannya badan tapi Yuni memperhatikan diantara selangkangannya yang kelihatan mencuat.

    Iseng-iseng Yuni menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat Arie yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan Arie pun langsung memperlihatkannya sambil memengang batang kemaluannya, “Ini namanya penis.. Sayang,” kata Arie yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Yuni menutup wajahnya dengan selimut.

    Melihat batang kemaluan Arie yang sedang menegang itu Yuni membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuh Yuni yang membayangkan batang kemaluan Arie dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata Yuni terus memandang Arie yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kemaluannya.

    Akhirnya karena Yuni sudah dipuncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya .Dengan beraninya Yuni pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Arie. Melihat kedatangan Yuni ke kamar mandi, Arie hanya tersenyum. “Kamu juga mau mandi Yun,” kata Arie sambil mencubit pinggang Yuni.

    Yuni yang sudah dipuncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kemaluan Arie yang masih mengeras. “Kak boleh nggak Yuni mengelus-elus barang itu,” bisik Yuni sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar permintaan itu Arie langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya. Dalam pikiran Arie, Yuni sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi Arie langsung mendekatkan batang kemaluannya ke tangan Yuni dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan Yuni yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat Arie kesakitan.

    “Aduh.. jangan keras-keras dong Yuni, nanti batang kemaluannya patah.” Mendengar itu Yuni menjadi sedikit kaget lalu Ari membatunya untuk memainkan batang kemaluannya dengan lembut. Tangan Yuni dituntunnya untuk meraba batang kemaluan Arie dengan halus lalu batang kemaluan Arie didekatkan ke wajah Yuni agar mengulumnya. Yuni hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu Arie memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice crem, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut Yuni langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Arie lalu Yuni memasukkan semua batang kemaluan Arie ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Yuni terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.

    Setelah sedikit tenang, Yuni mengulum lagi batang kemaluan Arie tanpa diperintah sambil pinggul Yuni bergoyang menyentuh kaki Arie. Melihat kejadian itu Arie akhirnya menghentikan kuluman Yuni dan langsung mengangkat Yuni dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat Yuni dipeluk oleh Arie dan Yuni pun membalas pelukan Arie. Bibir Yuni yang polos tanpa liptik dicium Arie dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu Yuni untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh Arie. Bila Arie menjulurkan lidahnya maka Yuni pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Arie. Dengan permainan itu Yuni sangat menikmatinya apalagi Arie yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman.

    Kecupan Yuni kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas. “Pek.. pek..” suara bibir Yuni mengeluarkan suara yang membuat Arie semakin terangsang. Mendengar suara itu Arie tersenyum sambil terus memagutnya. Tangan Arie dengan terampil telah membuka daster putih yang dipakai Yuni. Dengan gerakan yang sangat halus, Arie menuntun Yuni agar duduk di pinggir ranjang dan Yuni pun mengetahui keinginan Arie itu. Bibir Yuni yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut Arie dengan posisi Yuni tertindih oleh Arie. Tangan Yuni terus merangkul Arie sambil bukit kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.

    Lalu Arie membalikkan tubuh Yuni sehingga kini Yuni berada di atas tubuh Arie, dengan perlahan tangan Arie membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Yuni. Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Yuni, Arie pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Yuni dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya. Erangan panjang keluar dari mulut Yuni. “Auuu…” sambil mendekap Arie keras-keras. Melihat itu Arie semakin bersemangat. Setelah Arie berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan Yuni, terlihat Yuni sedikit tenang iapun kembali membalikkan Yuni sehingga ia sekarang berada di atas tubuh Yuni.

    Arie menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kemaluan Yuni yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Yuni yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil. Kaki Yuni direnggangkan oleh Arie. Pagutan Arie beganti pada bibir kecil kepunyaan Yuni. Pantat Yuni terangkat dengan sendirinya ketika bibir Arie mengulum bukit kemaluan kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit kemaluan perawan membuat batang kemaluan Arie semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Arie kasihan melihat Yuni karena kemaluannya belum juga merekah. Jilatan bibir Arie yang mengenai klitoris Yuni membuat Yuni menjepit wajah Arie. Semburan panas keluar dari bibir bukit kemaluan Yuni. Yuni hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkanya.

    Lalu Arie merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah telalu lama menengang. Arie menarik tubuh Yuni agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki Yuni menyentuh lantai dan Arie berdiri diantara kedua paha Yuni.

    Melihat kondisi tubuh Yuni yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan Yuni yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat Arie menahan nafas. Arie berdiri, dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit kemaluan Yuni. Melihat itu Yuni sedikit kaget dan merasa takut Yuni menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat gejala itu Arie hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha Yuni sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluan Yuni. Sambil menggesek-gesek batang kemaluan, Arie kembali mendekap Yuni sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat Arie yang membuka tangannya, Yuni langsung merangkulnya dan mencium bibir Arie. Pagutan pun kembali terjadi, bibir Yuni dengan lahapnya terus memagut bibir Arie. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Yuni. “Aduhh… Kaak…” erang Yuni sambil merangkul tubuh Arie dengan keras. Arie meraba-raba bukit kemaluan Yuni dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang kemaluan Yuni, Arie mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan Arie masuk ke liang senggama Yuni. Yuni mengerang kesakitan, “Kak.. aduh sakit, Kak…”

    Mendengar rintihan itu, Arie membiarkan kepala kemaluannya ada di dalam liang senggama Yuni dan Arie terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Yuni dan Arie pun berjalan lagi. Dada Arie yang besar terus digesek-gesekkan ke payudara Yuni yang sudah mengeras. Yuni yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat.

    Kepala kemaluan Arie yang besar baru masuk ke liang kewanitaan Yuni, tapi jepitan liang kemaluan Yuni begitu keras dirasakan oleh batang kemaluan Arie. Sambil mencium telinga kiri Yuni, Arie kembali berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Yuni. “Aduh.. aduh.. aduh.. Kak,” Mendengar rintihan itu Arie berkata kepada Yuni. “Kamu sakit Yuni,” bisik Arie di telinga Yuni. “Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat..”

    Mendengar penjelasan itu, Arie terus memasukkan batang kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah masuk semua ke dalam liang senggama Yuni. Batang kemaluan Arie sudah masuk ke liang senggama Yuni hampir setengahnya. Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang kemaluan Yuni, kaki Yuni semakin diangkat dan tertumpang di punggung Arie. Tiba-tiba tubuh Yuni bergetar sambil merangkul Arie dengan kuat. “Aduhhh…” dan cairan hangat keluar dari bibir kemaluan Yuni, Arie dapat merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang tertancap di bukit kemaluan Yuni. Lipatan paha Yuni telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua. Cerita Maya

    Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Arie lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Yuni. Dengan satu kali hentakan. “Preeet…” Yuni melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan Arie. “Auh.. auh.. auh..” suara itu keluar dari mulut kecil Yuni setelah seluruh batang kejantanan Arie berada di dalam lembah kenikmatan Yuni. “Kak, Badan Yuni sesak, sulit bernafas,” kata Yuni sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya. Mendengar itu lalu Arie membalikkan tubuh Yuni agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan posisi itu Yuni seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh Arie sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya.

    Yuni dan Arie terdiam kurang lebih lima menit. “Yuni, sekarang bagaimana badanmu,” kata Arie yang melihat Yuni sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan. “Udah agak enakan Kak,” balas Yuni sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan serangan itu Arie langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Arie dari atas ke bawah.

    Lipatan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan Yuni dan Arie. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut Yuni tetap mengaduh, “Aduhhh…” Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Arie. Yuni dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat Arie kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kemaluan Yuni yang semakin menjepit seperti tang yang sedang mencepit paku agar paku itu putus. Beberapa menit kemudian Arie memeluk badan Yuni dengan eratnya dan batang kemaluannya berusaha ditekan ke atas membuat pantat Yuni terangkat. Semburan panas pun masuk ke bukit kemaluan Yuni yang kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang, Yuni mendesis kenikmatan sambil mengeram, “Aduhh… aduh.. Kak..”

    Selang beberapa menit Arie diam sambil memeluk Yuni yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah badannya merasa sudah agak baik, Arie membalikkan tubuh Yuni sehingga sekarang tubuh Yuni berada di bawah Arie. Batang kemaluan Arie masih menancap keras di lembah kemaluan Yuni meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki Yuni diangkat oleh Arie dan disilangkan di pinggul. Arie mengeluarkan batang kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Yuni. Mendapat hal itu mata Yuni tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke dalam liang senggama Yuni, turun naik batang kemaluan Arie di dalam liang perawan Yuni membuat Yuni beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia. Tarikan bukit kemaluan Yuni yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya Arie mengerang-erang sambil memeluk tubuh Yuni dan Yuni pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya.

    Arie mendekap Yuni sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Arie dan Yuni pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Arie memeluk Yuni tanpa adanya gerakan begitu juga Yuni hanya memeluk Arie. Dirasakan oleh Arie bahwa batang kemaluannya mengecil di dalam liang kemaluan Yuni dan setelah merasa batang kemaluannya betul-betul mengecil Arie menjatuhkan tubuhnya di samping Yuni. Arie mencium kening Yuni. Yuni membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Arie bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki Yuni.

    Mendengar itu Arie hanya tersenyum karena memang selama ini Arie mendambakan istri seperti Yuni ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan Yuni maka ia akan mendapatkan segalanya. Arie mengucapkan selamat bobo kepada Yuni yang langsung tertidur kecapaian dan Arie langsung keluar dari kamar Yuni setelah Arie menggunakan pakaiannya kembali.

    Arie masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante Rani dibuat kaget karena Arie langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya. “Tante sudah pulang,” tanya Arie. Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya. Lalu Arie membuka kulkas untuk mencari air putih. “Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang,” jawab Tante Rani sambil tersenyum. “Bagaimana sekarang Arie burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya..” Mendapat ejekan itu, Arie langsung kaget. “Ah Tante, mau cari sangkar di mana,” jawab Arie mengelak. “Arie kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama Yuni dan Tante.”

    Mendengar itu, Arie langsung diam dan ia akan menikahi Yuni seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante Rani tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada Arie sambil meraba batang kemaluan Arie yang sudah tidak kuat untuk berdiri. Melihat batang kemaluan Arie yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante Rani tersenyum. “Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa… Buktinya burung kamu tidak mau berdiri,” goda Tante Rani. “Ahh nggak Tante, biasa saja kok.”

    Tante Rani meninggalkan Arie, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Yuni dengan Arie dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena Yuni masih dibawah umur.

  • Mamaku

    Mamaku


    246 views

    Cerita Maya | Nama saya David, umur saya 14 tahun dan saya tinggal hanya berdua dengan Mama yang berumur 30 tahun. Sewaktu masih pacaran secara tidak sengaja Papaku menghamili Mamaku, dan mereka memutuskan untuk
    menikah secepatnya (MBA). Dari yang Mama ceritakan kepadaku, Papaku adalah seorang yang sangat penuh
    kasih sayang dan membanggakan tetapi Papaku telah meninggal dunia disaat saya masih bayi dan
    menjadikan Mamaku sebagai orang tua tunggal untuk ku.

    Mamaku melakukan pekerjaan yang baik jika memang menurut dia baik, tetapi pekerjaannya sebagai guru SD
    tidak bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Tapi kami berdua dibuat sangat kuat karena
    keadaan tersebut, kami membeli satu kamar tidur di sebuah peternakan seseorang yang letaknya diluar
    kota, kamar tidur tersebut memang kecil, tapi setelah kami pikir kamr tersebut terasa nyaman. Segala
    kebutuhanku mengenai materi dan harta yang tidak bisa dipenuhi oleh Mamaku, dia sampaikan kepadaku
    dengan penuh kasih sayang, sehingga membuatku mengerti. Dia tidak pernah keluar malam, ke pesta,
    diskotik (clubbing), semenjak saya lahir, karena dia tidak mau meninggalkan saya seorang diri dirumah.

    Sama seperti bagian dalamnya, bagian luar Mamaku pun terlihat sangat baik, ramah, sopan dan cantik.
    Meskipun Mamaku mempunyai kepribadian seperti seorang Biarawati, dia juga terlihat sebagai,”BINTANG
    FILM PORNO”! Lebih tepatnya Mamaku sangatlah Cantik dan menawan. Dia adalah wanita yang sungguh –
    sungguh menjadi impian seorang anak laki – laki untuk mimpi basah. Mamaku mempunya tinggi badan 167 cm
    dengan berat badan yang sangat proporsional, bisa dibayangkan pasti sangat sexy. Dia sangat bahenol
    dengan rambutnya yang pirang panjang tergerai sangat natural, dengan warna kulit yang sempurna sedikit
    putih kecoklatan, tampak wajah yang sangat menarik, dengan bola mata besar berwarna biru yang sangat
    terlihat ke Ibu-an, leher yang jenjang dan ramping, dan disempurnakan dengan ukuran buah dadanya 36DD,
    dan juga perut yang sangat langsing ditambah kaki panjangnya yang sangat sexy.

    Tetapi yang sangat menggemaskan adalah pantatnya yang sangat sexy. Penampilan sexy-nya akan membuat
    anda mengira Mamaku adalah wanita Latin 100%. Pantatnya besar, tetapi sangat padat, anda bisa
    membayangkannya jika anda melihatnya langsung, dan membayangkan meremasnya dengan sangat lembut,
    itupun jika anda tahan untuk meremasnya dengan pelan. Untuk merawatkecantikan tubuhnya, Mamaku adalah
    wanita yang suka fitnes, senam aerobic. Setiap hari setelah jam kerja dia joging ke tempat fitnes
    sejauh 2 km, dan sesampainya disana dia selalu terus me-maintain kecantikan tubuhnya, dari paha,
    pantat, perut dan lengan agar terlihat tetap sexy. Kegiatan berlatih fitnes inilah yang membuat tubuh
    Mamaku terlihat tanpa ada cela,atau bisa dikatakan sempurna disetiap kondisi. Cerita Maya

    Sesuatu yang kami tunggu – tunggu yang dari pekerjaan Mamaku sebagai Seorang Guru adalah liburan musim
    panas, dan kami selalu menghabiskan liburan musim panas bersama. Meskipun sudah lama saya mengetahui
    Mama saya adalah wanita yang cantik, tetapi baru liburan musim panas kali ini saya mempunyai perasaan
    ketertarikan sexual terhadap Mamaku sendiri. Mungkin karena diriku selalu bertemu dengan Mama dirumah
    setiap hari, atau mungkin saja saya baru menginjak umur pubertas seorang Remaja Laki – laki. Lain
    kata, Nafsu saya untuk berhubungan sex dengan Mama sangat besar, dan didukung dengan liburan musim
    panas yang sangat Panjang.

    Suatu hari disaat Mama pergi ke tempat fitnes, aku membuat rencana agar bisa lebih dekat dengan Mama.
    Sepeti yang saya katakan sebelumnya, kami hanya mempunyai satu kamar tidur, tetapi Mama membeli dua
    buah tempat tidur yang berukuran sedang, agar kami bisa tidur bersama dengan lega tetapi berbeda
    tempat tidur. Dengan suatu rencana, aku masuk ke dalam kamar dan mematahkan satu tempat tidur dengan
    meloncat diatasnya, dan sekarang aku bisa tidur satu ranjang dengan Mama. Lalu Mama pulang dalam
    keadaan capek seperti biasa dia pulang dari tempat fitness.

    Lalu aku langsung bilang,” Mam, aku tidak sengaja merusak tempat tidur ku”.
    Mama : “ Gimana caranya, koq bisa kamu patahkan, Sayang”?
    Aku : ” Aku tidak tahu Mam, ketika aku berbaring dan tiba – tiba Krakk.., tempat tidur itu patah”.
    Mama : ” Ooo gitu, yasudah tidak apa – apa, mungkin karena sudah tua juga Tempat tidurnya”.
    Mama : “ Tapi kamu gak apa – apa kan Sayang, ada yang sakit”?
    Aku : “ Aku sehat – sehat aja Mam, gak ada yang sakit koq.”
    Mama : “ Syukurlah kalau begitu, tetapi kita belum ada uang untuk menggantikan dengan tempat tidur
    yang baru, berarti untuk sementara waktu kita harus tidur bersama di satu tempat tidur”. Mama
    mengatakan hal tersebut, dengan sedikit malu dengan rona merah di pipinya.
    Aku : “ Gak apa – apa Mam, kita bisa mempergunakan uang tersebut untuk hal yang lebih penting.”
    Mama : “ Terima kasih Davie Sayang, utuk pengertian mu”. Mama terlihat senang.
    Aku : “ gpp Mam, sepertinya Mama terlihat sangat Letih, Mau dipijitin”?
    Mama : “ Wow, itu ide yang cemerlang, sayang, Tunggu ya Mama mandi dulu, mama gak mau kamu jadi kena
    keringat Mama “.

    saya masuk ke kamar, dan menyalakan TV selama menunggu Mama Mandi. Saya menyalakan TV dengan suatu
    alasan, agar saya bisa menonton TV sewaktu saya melakukan Pijatan kepada Mama, dan sewaktu Mama Tidur
    saat dipijat. Sambil menunggu Mama Selesai Mandi saya membayangkan, hal – hal yang sangat merangsang
    pikiran saya, dan akhirnya Penis saya menjadi keras. Setelah menunggu beberapa saat, Mama keluar dari
    kamar mandi dengan hanya menggunakan Kimono. Dan Dia terlihat sangat Menakjubkan.

    Aku : “ Langsung berbaring aja Mam di tempat tidur, selanjutnya biar aku yang urus”.
    Mama : “ Oh, sayang kamu Manis sekali sih mau ngelakuin ini ke Mama, mijitin Mama gini, Terima kasih
    lho Sayang”. Dia mengatakan hal itu sambil membaringkan tubuhnya, dengan tengkurap di atas Ranjang.
    Aku : “ gpp Mam, cuman itu koq yang bisa aku lakukan buat Mama”.

    Aku langsung berada diatasnya dan mulai memasukan tangan kedalam kimononya melalui pundaknya. Dan
    Seperti yang saya harapkan,”Dia sudah tidak mengenaka Bra”!! Dan itu menandakan Mama sudah sepenuhnya
    telanjang, di balik kimononya!! Aku mulai menurunkan secara perlahan – lahan kimononya dari pundaknya
    dan mulai memijit Pundak serta Punggungungnya.” Bisa dikatakan, membelai ya, atau mengosok punggungnya
    secara halus”.

    Mama : “ Oooh…itu enak sekali sayang”, desah Mama kepadaku.

    Sampai setelah beberapa menit kuturunan tangan-ku dengan memasukan nya lebih dalam kebawah ke
    Pinggangnya dan mulai memijat pinggang belakangnya yang sangat ramping. Kimononya sudah ku buka
    perlahan – lahan kuturunkan sambil aku memijit punggung bawah di bagian pinggang belakang. Dari
    belakangnya aku bisa melihat dua buah dada payudara mamaku dari samping yang tergencet tempat tidur,
    karena dia tidur tengkurap. Payudara Mama terlihat sangat padat dan sangat montok, dan aku sangat
    ingin sekali meremasnya. Lalu aku mulai memijat bagian samping perut Mamaku dan mulai menyelipkan
    tangan ku ke perut depan dan mulai meminyakinya, selagi dia masih dalam keadaan tengkurap, karena
    memang Nafsuku yang sudah sangat tak tertahankan, maka aku mulai mengelus dan sudah bukan memijat. Aku
    susuri pinggangnya lalu ketulang rusuknya sampai akhirnya aku dapat merasakan buah dadanya dari
    samping, dan pada saat itu aku belai dan sedikit aku tekan, “Uuuchhh….ini sangat hebat”, dan aku
    sangat amat terangsang dan Penisku sudah sangat tegang sekali.

    Tiba – tiba mama berkata,” Terima kasih sayang, cukup untuk hari ini, Mama mau bersih – bersih lalu
    berpakaian dan bersiap untuk tidur”, dengan cepat dia bangun dan meninggalkan ruangan.

    Aku : “ Aduh sial, dia udah tidak mau dipijit lagi, kamu terlalu berhasrat David, Sabarlah” Kataku
    dalam hati.

    Mungkin ternyata Mama tahu niat-ku, yang berusaha merabanya untuk melampiaskan birahiku kepadanya.
    Maka dari itu dia langsung bangun dari tempat tidur dan pergi dari ku. Sedangkan aku sudah tegang dan
    Penis ku sudah sangat menegang.

    Beberapa menit kemudian Mama keluar dari kamar mandi dengan memakai T-shirt dan Celana pendek. Sejak
    kejadian tadi, aku tertangkap basah ingin merabanya, aku tidak berani untuk melakukan hal yang tidak
    Pantas seperti menyentuhnya. Dan kami naik ke tempat tidur dan mulai untuk tidur dengan membelakangi
    satu sama lain. Aku tetap terjaga selama satu jam dan terus terbayang tubuh Mamaku, dimana setelah
    semua kejadian tadi aku tidur satu tempat tidur dengan Dewi dari Khayangan yang sangat cantik dan sexy
    yang berada di sebelahku dengan jarak yang sangat dekat tidak sampai satu meter!! Uuuchhh…Penisku
    tidak berhenti Berkedut!!! Setelah beberapa jam, dan aku mengetahui Mama sudah tertidur, aku mulai
    mengumpulkan keberanian. Aku memberanikan diri untuk membalikan badanku sehingga sekarang aku
    berhadapan dengan punggung Mama. Dengan sangat perlahan – lahan dan sangat hati – hati aku mulai
    menggapai Celana pendek Mama dan mulai menariknya secara perlahan kebawah sedikit demi sedikit, agar
    Mama tidak terbangun dari tidurnya.

    “Sialan”, Dia memakai Celana dalam, aku berpikir Mama tidak memakai celana dalam, atau karena mau
    tidur aku berharap dia memakai celana dalam yang longgar, kecil dan tipis ternyata dia memakai celana
    dalam yang menurutku cukup ketat dan sangat tertutup. Aku mencoba menurunkan celana dalam itu pelan
    dan perlahan, tapi sangat susah dan tehalang dan terganjal Pantatnya yang cukup besar. Tapi aku tidak
    kehabisan akal, aku melakukan upaya lain dengan cara menarik agak keras tapi sangat perlahan dan
    dengan sedikit goyangan yang lembut, agar si Mama tidak terbangun dari tidurnya. Denga keadaan celana
    dan celana dalam Mama yang sudah ku turunkan sedikit dan terlihat Pantatnya yang sangat montok, padat,
    dan berisi, dengan sangat lega aku melihat kearah Mama dan berpikir dia masih tetap tertidur sangat
    lelap. Dengan sangat hati – hati dan dengan memperhatikan kelembutan, aku colek salah satu dari
    sepasang pantat Mama yang sangat sexy itu dengan jariku untuk mengetahui Mama terbangun atau tidak.
    Aku melakukan colekan ini beberapa kali dalam beberapa menit, sebelum aku memulai untuk meremas –
    remas dan meraba kedua Pantat Mamaku yang Montok, padat berisi dan sangat sexy itu. Penisku sudah
    sangat keras, dan rasanya ingin memberontak keluar dari Celana. Akibat remasan – remasan dan rabaan
    tersebut, aku merasakan bahwa Penisku mulai membujuku untuk melakukan remasan tersebut lebih keras
    lagi dan lagi dan lagi. Karena remasan ku yang terlalu keras dan terlalu bernafsu, Mamapun mengerang,
    “Hmmmm……”, aku kaget setengah mati dan aku melihat tangan Mama mulai bergerak. Aku berhenti melakukan
    remasan, tetapi aku tidak memindahkan tangan ku dari Pantat mama, karena aku berpikir jika aku
    pindahkan maka dia akan benar – benar terbangun dan mengetahui bahwa anaknya sedang meraba Pantatnya,
    dan mungkin mama akan berpikir bahwa celananya turun secara tidak sengaja akibat gerakan dari
    tidurnya. Tapi lebih di kagetkan lagi bahwa ternyata Mamaku, menarik keatas lagi celana dalamnya dan
    celananya untuk kembali menutupi Pantatnya yang bahenol itu dan dia kembali tidur, dengan keadaan
    sekarang tanganku berada di dalam celananya dengan posisi memegang pantatnya. “Uuuccchhh……”, dalam
    hati aku berbicara dengan degupan Jantung yang semakin menggema. Dengan kejadian itu, berarti Si Mama
    setengah tidur atau tidak sepenuhnya terbangun, dan yang perlu diketahui dengan keadaan tanganku di
    dalam celananya sama saja tidak ada yang menghalangi tanganku untuk meraba Pantatnya. Setelah beberapa
    saat diam, aku mulai meraba dan meremas pantatnya dengan sangat lembut walau tidak terlihat jelas tapi
    aku merasakan hal yang sangat menakjubkan. Lalu aku mulai memberanikan diri untuk membelah pantatnya
    denga jari – jari ku dan mulai menyusupkan jariku kedalam belahan bongkahan pantatnya dan jariku
    menemukan suatu lipatan yang berbentuk seperti lingkaran,”Hmmm…ini lubang anus Mama”, kataku dalam
    hati. Dan aku mulai melakukan gerakan jariku dengan mengosok lubang anusnya dengan lembut, dan
    melakukan gerakan memutar jariku di bibir anusnya. Lalu terdengar suara rintihan mengerang dari mama,”
    Mmmmm…..sssshhhhh….”, yang menurut aku itu adalah desahan kenenakan , dengan sangat kaget aku langsung
    menarik tanganku keluar dari Celananya dan pura – pura tidur. Dan Mama benar2 terbangun, dan
    mengatakan :

    Mama : “ David, apakah itu tadi kamu sayang”?

    Dengan penuh ketakutan saya, tetap berpura-pura tidur dan tidak menjawab pertanyaannya. Saya
    membayangkan pertanyaannya tadi, bahwa dia sebenarnya ingin mengatakan,” Sial David kenapa kau
    hentikan , Sebenarnya aku juga Ingin bersetubuh”. Lalu dia kembali Tidur, setelah melihat aku tidur,
    dan kali ini kami tidur denga posisi berhadap hadapan.

    Pertanyaan yang keluar dari Mulut Mama tadi, sangat mengangetkan diriku. Selama hidupku aku belum
    pernah sama sekali mendengar Mama berbicara dan melontarkan pernyataan tentang sex, atau yang berbau
    sex. Dan pernyataan itu membuatku benar – benar terangsang. Sampai dengan beberapa saat, dan setelah
    saya yakin Mama sudah kembali terlelap tidur, saya mulai beraksi kembali dengan mulai memasukan tangan
    saya kedalam t-shirtnya melalui celah baju dari bagian perut dan langsung mengarah ke bagian
    Payudaranya yang juga sangat padat, kencang dan montok, aksi ku kali ini untuk mengetahui, apakah Mama
    memakai BH atau tidak. Sekarang aku sudah mulai berani untuk menggerayanginya, semenjak pernyataan
    Mama tadi, dan pernyataan tersebut memmbuatku semakin menggila dan sangat bernafsu kepadanya.
    “Ternyata Mama memakai BH-nya”, kataku dalam hati. Lalu aku mulai menggeser tanganku yang berada di
    dalam bajunya secara perlahan kearah Punggung, untuk mencari kancing BH-nya. Aku menemukan kancingnya,
    dan aku segera membukanya dengan sangat perlahan,”klik”. Setelah terbuka aku langsung mengarah kan
    tanganku ke depan bagian Payudaranya, walaupun tidak sepenuhnya terbuka, tetapi setidaknya sudah
    longgar, dan tanganku bebas untuk meremas payudaranya, aku mulai meremas Payudaranya yang telanjang
    dibalik remasan tanganku, secara lembut dan mulai memainkan salah satu putingnya, Sssshhhh…., Mama
    memang benar-benar sangat sexy dan montok, aku merasakan darahku berdesir seperti dalam kegairahan
    yang sangat besar. Ternyata Mama mulai menyadari remasan ku terhadap Payudaranya, dan dia kembali
    terbangun. Kali ini aku tidak mempuyai kesempatan untuk memindahkan tangan ku atau menarik keluar
    tangan ku dari dalam bajunya, tetapi aku tetap pura-pura tidur dengan mengorok pelan. Lalu Mama
    mengatakan :

    Mama : “ Hmmmm….Kasian anaku sayang ini, Pasti dia sedang bermimpi basah tentang Gadis yang dia suka,
    lebih baik aku berpura –pura tidur saja, kalau aku bangunkan, pasti dia malu”.

    Lalu Mama kembali tidur dengan membalikan badannya, memunggungi diriku, tetapi dengan sangat terkejut,
    dia tidak memindahkan tanganku dari Payudaranya, dia tetap membiarkan tanganku di Payudaranya dan
    membiarkan tanganku membelai lembut Payudaranya. Dan aku pun melanjutkan remasan – remasan lembut di
    Payudaranya. Sampai pada akhirnya, kami tertidur lelap dan benar – benar mengantuk.

    Pagi harinya ketika aku bangun, Mama sudah tidak ada di sampingku. Aku bangun beranjak dari tempat
    tidur, dan menemukan sepucuk surat dari Mama, yang bertuliskan ; “ David sayang, hari ini Mama pergi
    ke Sekolah, untuk mengajar hari terakhir sebelum liburan Musim Panas, setelah itu Mama akan pergi ke
    tempat fitnes seperti biasa, di lemari es ada Pizza untuk sarapan, mama akan kembali kerumah jam 8
    malam nanti, Muach – Mama-“.

    Baca Juga Cerita Seks Adikku

    Aku mulai mengingat kejadian semalam, kejadian terindah, terhebat yang pernah aku alami didalam
    hidupku. Hal yang terbaik adalah, tidak tahu mengapa aku bisa menyentuh, meraba bagian tubuh Mama
    dengan bebas, dan sepertinya Mama pun tidak menghalangiku untuk melakukan hal itu. Mungkin saja dia
    percaya kepadaku, bahwa aku memang sedang bermimpi basah di usiaku yang sedang puber atau memang
    sebenarnya Mama pun dari lubuk hatinya juga menginginkannya. Aku sangat ingin mempraktekan teori-teori
    ku terhadap Mama. Dimana saat dia pulang nanti, aku akan menawarkan kepadanya untuk memijatnya satu
    badan penuh seluruh badan, dan melihat apa yang akan terjadi padanya jika dia ku pijat seluruh
    Badanya, apakah dia akan terangsang?

    Aku menghabiskan siang itu dengan menonton TV, dan melakukan beberapa pekerjaan, tapi tetap saja aku
    berpikir dengan menghayal jika aku berhubungan sex dengan Mama. Tapi dengan menghayal seperti itu, aku
    tetap tidak mau beronani, aku mau mayimpan sperma ku, berjaga – jaga, siapa tahu Mama yang natinya
    akan sangat terangsang dengan pijitanku, mau berhubungan Sex denganku. Waktu berjalan terasa sangat
    lambat hari itu, dan membuatku teramat sangat menderita menahan nafsu terhadap Mamaku. Aku maenghitung
    mundur waktu, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik sebelum Mama sampai kerumah. Akhirnya
    Pintu rumah terbuka dari luar pada jam 8.30 Malam, dan ternyata itu Mama. Akhirnya datang juga.

    Mama : “ Malam Sayang, maaf agak terlambat pulang, tadi aku mampir ke sebentar ke Toko”.
    Aku : “ Hai Mam,Oooh ok tidak apa – apa Mam….Mmmm ..sepertinya Mama mengalami hari yang sangat
    panjang, dan Mama terlihat sangat letih mau aku pijitin lagi Mam”?

    Langsung saja aku katakana kata – kata ini untuk merealisasikan teori – teori ku, dan juga aku katakan
    hal ini, sebelum kata – kata ini terdengar sebagai ungkapan yang putus asa.

    Mama : “ Uuummm…..Ok sayang”. Nandanya terdengar lebih berhati – hari dari nada suaranya kemarin,
    ketika aku tawarkan dia untuk memijitnya.

    Mendengar nada bicaranya yang lebih berhati – hati , aku mencoba untuk tetap tenang dan santai saja
    dengan tidak menunjukan kegairahan terhadapnya, lalu aku langsung membalas kata persetujuannya untuk
    dipijat.

    Aku : “ Mam, nanti dipijatnya gak usah pakai apa – apa ya, telanjang aja, Mama Lepas semua pakaian
    Mama di Kamar Mandi terus Mama masuk sini langsung telanjang aja, jadi aku bisa dengan mudah Mijitin
    seluruh badan Mama”.

    Mama : “ David, itu sangat tidak Pantas, Masa Mama harus Telanjang di depan kamu”. Mamaku menyahutku
    dengan nada yang agak keras.

    Mama : “ Mama jadi aneh sama kamu, dan Mama mulai berpikir, kenapa kamu sepertinya senang dan tertarik
    sekali untuk hal Pijit memijit?? Sudahlah, gak usah Pijit Mama, tidak dipijit pun Mama akan Baik-baik
    saja.” Dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

    Aku : “ Jangan, Jangan Mam Ayo dong Pliss…, biarkan aku memijat Mama.” Aku mengatakan itu kepada Mama
    dengan penuh harapan dan keputus asaan, serta merayunya.

    Aku : “ Maaf Ma, aku pikir dengan keadaan Telanjang, Mama akan merasa lebih nyaman untuk dipijat,
    Yasudah Mam, Mama pakai saja pakaian yang Mama suka, tapi aku merasa harus tetap memijit Mama, karena
    Mama telah berbuat banyak kepadaku dengan penuh kasih sayang, aku merasa berhutang kepada Mama”.
    Rayuan ku kepada Mama.

    Mama : “ Iya sayang, iya….Mama Mandi dulu ya, sehabis itu baru kamu pijitin Mama…Hmmpfff…Manja sekali
    kamu David”.

    Setelah mendengar rayuanku, akhirnya Mama melunak dan kembali tersenyum kepada, aku berpikir, Bahwa
    rayuanku berhasil. Setelah Menunggu selama 15 Menit, akhirnya Mama keluar dar kamar mandi dengan
    menggunakan Kimononya seperti biasa. Aku ingin sekali menanyakan kepada Mama, apakah dia memakai
    pakaian dalam di balik Kimononya, tetapi akhirnya aku tahu hal yang lebih baik untuk mengetahuinya,
    Mama pakai pakaian dalam atau tidak.

    Aku : “ Ok Mam, berbaringlah, aku akan memberikan pijatan yang lama dan nyaman ke badan Mama, dan aku
    juga akan memijat dari kaki Mama, karena Mama berlari cukup jauh aku gak mau Mama mengalami kejang di
    Kaki”.

    Mama : “ Uummm, Ok…. Tapi kamu Mijatnya tidak boleh lebih dari betis ya, hanya sebatas sampai bagian
    bawah Paha aja”. Dengan nada suara yang cukup tinggi.

    Mama mulai berbaring tengkurap, dan menurunkan kimononya sebatas pinggang. “Sial, ternyata Mama
    memakai BH yang sangat ketat dan sangat tertutup”, aku begumam di dalam hati. Aku mulai memijatnya
    dari Pundaknya, lalu naik ke leher, dan turun ke Punggung dan membiarkan Mama mulai merasa sangat
    nyaman di pijat dan terasa sangat relax. Sebelum aku mengatakan, sesuatu untuk bisa mendapatkannya.

    Aku : “ Mam, Tali BH-nya menghalangi pijatan di Punggung, kira-kira Mama mau melepaskan kancingnya
    atau tidak”?

    Mama : “ Tentu saja Sayang, buka saja…” Dia mengatakan dengan penuh kenyamanan.

    Pijitan ku sudah benar – benar membuat Mama sangat nyaman dan yang pastinya karena Mama merasa sangat
    nyaman, pertahanannya pun jadi hilang sedikit demi sedikit. Aku melepas kaitan BH-nya dan menyuruh
    agar Mama sedikit mengangkat tubuhnya dan bergeser, agar aku bisa melepaskan seluruh BH-nya, dan bukan
    hanya melepas kancing/kaitan BH-nya. Setelah berhasil melepas secara keseluruhan BH, langsung saja aku
    lemparkan BH-nya ke lantai. Ternyata karena perbuatanku melepas BH-nya, dia merasa aneh, dan
    mengatakan :

    Mama : “ Kenapa dilepas semua David, tadi katanya hanya mau melepas kaitan kancingnya saja, kenapa
    sekarang kamu lepas semua”? Dengan nada suara datar.

    Aku : “ Oiya Mam, kenapa aku lepas semua ya…,Uummmm…tapi yasudah lah Mam ditaro di lantai saja, aku
    agak susah untuk mengambilnya kembali”.

    Mama tidakmengatakan sepatah kata pun. Aku pikir ini adalah sebuah kata,”Ya” dari Mama, dan aku tetap
    melanjutkan pijatanku. Sekarang aku memulai untuk memijat kakinya an perlahan lahan naik dan semakin
    keatas. Dengan cepat aku berpindah sampai akhirnya memijat melewati betisnya, menggulung kimononya
    sedikit lebih keatas dan dengan tepat dan cepat memijat bagian atas kakinya yang terlihat memang
    sangat sehat dan menggairahkan. Aku pijat semakin keatas, sambil aku naikan semakin keatas kimononya
    dan sekarang aku lepas kimononya dari tubuhnya dan meletakan kimono itu disebelahnya. Dan sekali lagi
    Mama tidak mengatakan apap –apa terdiam membisu. Ternyata Hari ini Mama tidak menggunakan Celana dalam
    yang sangat tertutup dan ketat, dia mengenakan Celana dalam Model Tali tapi tidak terlalu tipis, lebih
    tepatnya Mama memakai celana dalam thong warna hitam, dan celana dalam thong itu benar – benar
    memperlihatkan bentuk keindahan Pantatnya yang sangat Bulat, padat, montok, sexy dan terlihat sangat
    Bahenol. Aku tidak bisa menahan dan membendung gairah ini, aku memulai memijat, lebih tepatnya meraba
    secara keras pantat Mama-ku yang terasa sangat halus di telapak tangan ku sehalus pipi Bayi. Tiba-tiba
    ibu berkata :

    Mama : “ Jangan…jang..an…Pijat disitu sayang”. Dengan pandangan agak melamun dan dengan nada suara
    yang datar.

    Aku mendengarkan perkataannya, dan memindahkan tangan ku ke punggungnya yang ramping dan mulai
    membelainya. Dengan belaianku Mama mulai mendengkur dengan dengkuran yang sangat menikmati. Nafsuku
    sudah mulai tidak terbendung lagi, aku membuka Kaosku dan terlihatlah tubuhku yang atletis dan dengan
    perlahan aku mulai berada diatasnya dengan berlutut dan dengan tubuh Mama berada di bawahku. Aku mulai
    mengendus rambut mama, punggung dan bagian tubuhnya yang sangat bahenol dengan hidungku. Dan mulai
    menggerakan bibirku keatas dan kebawah di punggungnya dengan sedikit hembusan nafas, sambil sedikit
    mengecup punggungnya dan memberi sedikit kecupan di leher. Dan dia kembali mendengkur, dan mencoba
    bertahan, melawan nafsu yang memang telah menyerangnya. Aku kembali menciumi punggungnya sampai
    akhirnya aku mengarah ke bawah dan mendapatkan pantatnya, ku cium kedua pantatnya dengan lembut satu
    persatu yang memang memancing gairah dengan balutan celana dalam thong-nya. Aku singkapkan celana
    dalamnya dengan gigiku dan terlihatlah bongkahan pantat yang sangat menggairahkan, aku mulai meremas
    Pantatnya satu persatu dan membuka pantatnya sehingga terlihatlah lubang anus Mamaku, dan akupun tidak
    sungkan untuk menjilatnya, kujilat dengan lidahku mengikuti bibir lubang anus itu, secara melingkar,
    perlahan dan sangat lembut. Lalu Mama mulai mengeluarkan desahan, merintih nikmat…seperti Kemarin
    malam, waktu aku raba anusnya dengan jariku, tetapi kli ini erangannya lebih membuatku semakin
    bernafsu. Saat ini dia mengetahui, apa yang tidak dia bayangkan sebelumnya Terjadi.

    Mama : “ Ssshhhhhh…..aakhhhh….hmpfff….Ooohh Davie sayang…Terusss…sayang”. Mamaku mengerang dengan
    hebatnya.

    Setelah Mama mengerang dan sangat bernafsu, aku sengaja berpindah dari jilatan di lubang anusnya dan
    lanjut mencium lehernya. Dan ternyata Mama membalikan badannnya yang sebelumnya memunggungi aku, dan
    aku langsung menjilat, menciumi lehernya dan langsung mencium bibirnya. Setelah dengan lembut mencium
    dan mengecup bibirnya, Mama mulai membuka mulutnya dan kami berciuman sangat penuh dengan gairah dan
    nafsu biarahi yang memang sudah sangat tidak bisa dibendung lagi. Sambil berciuman aku mulai meraba
    putting susu payudara Mama, dan membuat Mama semakin menggila dalam berciuman, aku raba dengan jariku
    dan memainkan putting susunya, dan membuat putting susu Mama semakin mengeras. Aku memindahkan mulutku
    ke Puting susu Mama sebelah kanan dan mulai menjilatnya menghisap dengan lembut tapi dengan penuh
    nafsu dan perlahan kuturunkan tangan ku ke vagina Mama yang sudah sagat basah, dengan lembut kesentuh
    vagina Mama dan mulai membelainya dengan penuh kelembutan.

    Mama : “ Ooooohhhh…Davie….sayang….Aaaaakhhhh….ssshh hh….Mmmpffff….sayang, berhentilah menyiksaku…
    sayang…aku sudah tidak tahan lagi…”.

    Untuk sementara waktu, dengan seketika aku membebaskan tanganku dari vagina Mama, untuk melepas
    celanaku, dan terlihatlah Batang penisku yang memang sudah sangat mengeras dengan panjang 18 cm dan
    berdiameter hampir 4 cm. Secara langsung Mama melihat Batang penisku, dan Mama sangat terkejut dengan
    itu.

    Mama : “ Oooo yesss….Davie…Masukin aja langsung ya sayang, Mama sudah lama sekali tidak merasakan
    penis ada di dalam vagina Mama….”

    Mendengar Mamaku mengatakan hal itu dengan penuh nafsu dan kegilaan birahi yang sangat tinggi, aku pun
    sempat terpikir sejenak mengenai hal yang selama ini aku pikirkan akhirnya terjadi dan aku akan sangat
    menikmatinya.

    Aku : “ Mam, tapi kita gak punya kondom sama sekali”.
    Mama : “ David, cepat masukan penismu kedalam Vagina Mama sayang”!!!
    Aku : “ Tapi nanti jika Maammma…Hamil bagaimana..”??
    Mama : “ Tenang, besok pagi Mama akan meminum pil KB sayang, setiap pagi Mama selalu minum pada saat
    masa subur Mama, Jadi ….MASUKAN PENISMU SEKARANG!!!!!” Dengan Nada berteriak.

    Tidak perlu Mama bilang dua kali, aku sudah memasukan penisku kedalam Vagina Mama, dan mulai ku pompa
    keluar masuk penisku di Vagina Mama. Vagina Mama terasa sangat sempit dan hangat, dan rasanya seperti
    mengalami kegembiraan yang luar biasa, bisa menyetubuhi Ibu Kandung ku sendiri yang sangat cantik Luar
    dalam. Sementara terus kupompa penisku sedalam-dalamnya ke vagina Mama, aku juga tidak berhenti
    menghisap dan menjilati payudara Mama, dan kembali berciaman bibir dengan Mama dan sekali lagi kami
    berada di dalam gairah nafsu berciuam yang sangat hebat, sementara penisku terpompa sangat hebat
    kedalam Vagina Mama. Tanganku juga tidak berhenti meremas payudaranya dan sesekali meraba bibir lubang
    anusnya dengan sedikit menggelitik kecil, sementara cairan-ciran vagina mama sudah mulai membasahi
    mengalir ke anusnya akibat Pompa-an dari penisku, Oooohhh….ini enak sekali Mam, lebih dari nikmat…
    aarghhhh Mmmaaammm….., aku terus memopa penisku sedalam dalamnya ke vagina Mama, dan akhirnya aku
    mengangkat Mama dan mendorongnya keatas ku. Sekarang Mama berada diatas ku, dengan Penis yang tetap
    menancap pada liang Vaginanya. Cerita Maya 

    Mama : “ Oooooohhhh…..Davie….aakkkhhhhh….Sayang….Ma ma sudah tidak bisa tahan sayaang, Maammma
    keluar…Shhhhh…akkhhhhh”. Mama berteriak, seketika itu juga mengalirlah cairan kewanitaan dari Vagina
    Mama.

    Aku : “ Ya Mam…aaaakkhhhhh….Mam….hangat sekali…ssshhhh, aku juga bisa merasakanya Mam”. Aku merasakan
    semprotan hangat cairan keawanitaan nya di Penisku dan itu teramat sangat nikmat, dan cairan itu
    keluar melalui celah vaginanya yang terus kupompa dengan kencang dengan penisku.

    Mama : “ Ya Ampun Davie…..Akkkhhh sayang, enak banget lho itu….Papamu Pun belum pernah membuat Mama
    Orgasme sampai seperti ini”. Kata Mama sambil berdiri dan berbaring di sebelahku, dan sambil
    memperhatikan Penisku yang masih Ereksi dengan kerasnya.

    Mama : “ Oohh Davie, Maaf sayang Sory, kamu belum keluar, ya ampun sayang, tapi tenang Mama ada cara
    …Hmmm….sekarang bangun”!! Dengan mengedipkan mata genitnya kearahku.

    Mendengar perintah Mama, aku pun berdiri dan Penisku pun tetap tegang dengan kerasnya. Mama berlutut
    di depan ku. Saya tahu apa yang akan di perbuat Mama, dan saya sebagai anak laki sangat gembira
    sekali, karena memang ini juga yang saya tunggu. Mama mulai menciumi Kepala penisku dengan bibir nya,
    dengan sedikit jilatan nakal di batang penisku, lalu mama mulai memasukan Penisku kedalam mulutnya dan
    megulumnya. Aku melihat tatapan matanya yang berwarna biru kepadaku sewaktu dia mengulum Penisku dan
    menatap wajahku. Tatapan bola matanya yang biru, seakan akan berubah dari tatapan bola mata seorang
    wanita yang bersih dari dosa, menjadi tatapan wanita nakal yang sedang gila dengan gairah nafsunya.
    Aku : “ Ooohhh….ini enak sekali Mam…sepertinya aku …..Aaakhhh”.
    Mama : “ Mmmm…hmmmm…..sshhh”

    Aku merasakan kehangatan mulut Mama, yang menjalar ke seluruh tubuhku melalu Penisku, Mama dengan
    ganasnya menghisap Penisku dan mengocok nya dengan mulutnya. Aku hanya bisa berharap, mudah2an ini
    berlangsung lama. Tetapi tiba, aku merasakan sesuatu yang akan meledak dari Penisku, dan ternyata aku
    tidak bisa membendungnya, dan Spermaku ku tersemprot kedalam Mulut dan tenggorokan Mama.

    Aku : “ Aaaakkkkkkk…yesss, Mam…uccchhh…Aduh, maaf Mam, aku udah gak tahan ”. Mama menghisap seluruh
    sperma yang aku semprotkan ke mulut dan tenggorokannya, tanpa ada sisa sedikitpun.

    Mama : “ Hmmm…slurppp…Mmmm…aaahhh, tidak apa – apa sayang….aaakkhhh, gimana enak”?

    Aku : “ Luar biasa Mam….Fuiiihhhhh”.

    Mama : “ Menurut Mama, Orgasme kamu tadi sepertinya belum klimaks kan sayang,,,Ucchhh kasian sayangku
    ini, berarti Mama masih berhutang sama kamu, kapan pun kamu mau bercinta bilang ya sama Mama ya
    Sayang”!! Mama mengatakan sambil tersenyum nakal dan mengedipkan matanya.

    Aku beristirahat sejenak, setelah orgasme yang baru saja ku alami, untuk memulihkan badanku, yang
    pasti memulihkan libidoku terhadap Mama, tapi pemandangan disebelahku yaitu si Mama yang masih
    tergeletak telanjang di ranjang membuatku kembali terangsang dan membuat Penisku kembali mengeras. Aku
    meperhatikan kemolekan Pantat Mama, dan membayangkan usaha Mama untuk memuaskanku, dan memompa
    Vaginanya sekuat mungkin agar penisku tertancap masuk lebih dalam lagi ke dalam Vaginanya. Melihat
    Posisi Mama seperti ini membuat Penisku keras kembali. Sebelum ku tancapkan Penisku ke Vagina Mama
    kali ini, aku melihat Mama yang terlihat sangat Sexy dan menggairahkan di segala posisi bercinta dan
    aku pikir aku menjadi penganggum setia kecantikan dan kesexyan Mama.

    Setelah kupandangi Mama, langsung saja aku arahkan Penisku ke Vagina Mama, yang sudah agak kering,
    aku gesek dengan Penisku perlahan dan mebuatnya basah kembali, walau tidak sebasah yang sebelumnya.
    Mamaku hanya tebaring tengkurap pasrah, Dia pasrah tapi tetap menatangku. Kali ini persetubuhan ku
    dengan Mama, menurutku akan lebih memuaskan ku dari persetubuhan sebelumnya, karena Pantatnya yang
    montok itu akan menjadi bantalan untuk setiap tancapan demi tancapan yang akan kuberikan kepada Vagina
    Mama.

    Aku memegang dan agak mengangkat Perut Mama yang sedang tengkurap, agar Mama agak sedikit Menungging,
    dan kutegakkan punggungnya dengan memegang Payudaranya, dan sekarang Mama sudah siap dengan Posisi
    Doogie Style. Langsung aku tancapkan Penisku ke dalam Vagina Mama, yang belum terlalu Basah, dan Mama
    berteriak, karena memang agak Perih mungkin, tetapi aku merasakan kenyamanan yang luar Biasa dari
    sebuah Vagina yang sangat sempit dan menggigit. Tapi Mama pAsrah saja, karena memang Mama merasa
    berhutang untuk membuatku Orgasme.

    Saya pompa Penisku secepat dan sedalam mungkin ke dalam Vagina Mama, dan Payudaranya terlihat
    bergoyang sangat hebat, dan hal itu membuatku semakin bernafsu dan bernafsu. Payudara yang sangat
    besar padat tetapi lunak, dan saya masih tidak percaya bahwa Payudaranya yang bergoyang itu membuat
    Mama terlihat seperti Pelacur yang alami dan menjadi pelacur Pribadiku saat ini. Aku setubuhi Mama
    lebih lama dari persetubuhan kami yang pertama, saya berharap agar persetubuhan ini tak akan pernah
    berakhir, sampai aku merasa Mama sepertinya orgasme untuk yang kedua kalinya dan itu memang benar,
    karena dia mengatakan bahwa dirinya orgasme secara beturut turut kali ini.

    Aku lepas Penisku dari Vagina Mama, dan aku baringkan Mama dalam keadaan terlentang, aku masukan Lagi
    penisku dengan posisi aku diatas Mama dan akhirnya aku menyemprotkan Spermaku ke Dalam Vagina Mama
    dimana tempat dahulu aku dilahirkan, yang mungkin tidak pernah anak laki-laki lain rasakan. Mama ku
    langsung tumbang, karena sangat kecapean, dan memejamkan matanya sejenak, dan aku diam sejenak
    merasakan sperma ku masuk semakin dalam ke vagina Mama, dan akhirnya tertumpah kembali keuar melalui
    celah Vagina Mama yang masih tertancap oleh Penisku.

    Mama : “ Oohh,..ini sangat menakjubkan sayang”. Bisik mama di kupingku, dan dia terlihat sangat letih.
    Aku : “ Terima kasih Mam, Jadi kita bisa, melakukannya lagi setiap malam”.
    Mama : “ Oh Davie Sayang, Setiap malam dan setiap Hari”. Kami Tertawa bersama.
    Aku : “ Wah…kalau begitu, Mama harus lebih sering Minum Pill KB di pagi hari”!! Kami kembali tertawa
    bersama.
    Mama : “ Ya,..kamu benar sayang.” Mama Menjawab dengan sedikit termenung.

    Tanpa kusadari ternyata Vagina Mama, menjadi basah lagi, dan tanpa kusadari Penisku sudah terpompa
    kembali oleh Vagina Mamaku. Dan Kami melakukannya terus, sampai akhirnya kami kelelahan dan tidur
    bersama dengan penis tetap tertancap di dalam vagina Mama.

  • Adikku

    Adikku


    144 views

    Cerita Maya | Sekarang aku sudah menikah dan mempunyai anak, kali ini aku akan berbagi pengalamanku dengan adik kandungku yang mana mencoba menikmati memekku.

    Perkenalkan namaku Monic umurku saat ini 23 tahun, dan kejadian ini terjadi 1 tahun kemarin dengan adikku yang berumur 17 tahun, aku anak ke dua dari 3 saudara yang pertama dia sudah menikah ikut suaminya dan aku dan adikku amasih ikur dengan orang tua.

    Aku sendiri berperawakan sedang, tinggiku 160cm berat badan 52kg, orang bilang aku montok, terutama pada bagian pinggul/pantat. Payudaraku termasuk rata-rata 34 saja. Kulitku yang putih selalu menjadi perhatian orang-orang bila sedang berjalan keluar rumah.

    Aku mempunyai seorang pacar berusia 2 tahun diatasku, dia adalah kakak kelas kuliahku. Aku dan pacarku berpacaran sudah 2 tahun lebih, dan selama itu paling jauh kami hanya melakukan petting, sailng raba, saling cium dan saling hisap.

    Pacarku sangat ingin menerobos vaginaku jika saat petting, tapi aku sendiri tidak ingin hal itu terjadi sebelum kami menikah, jadi aku mengeluarkan air maninya dengan cara swalayan, yaitu mengocok kontolnya. Aku juga kerap dipaksa menghisap kontol pacarku yang mana sebenernya aku agak jijik melakukannya.

    Keseringan petting dengan pacarku membuatku menjadi haus akan belaian lelaki dan selalu iingin disentuh, sehari saja tidak dibelai rasanya tersiksa sekali… entah kenapa aku jadi ketagihan… Sampai akhirnya kau sendiri melakukannya dengan tanganku sendiri dikamarku sendiri. Sering aku meraba-raba payudaraku sendiri dan mengusap-usap memeku sendiri sampai aku orgasme.

    Inilah kesalahan ku, aku tidak menyadari kalau selama ini adikku John sering mengintip aku… ini aku ketahui setelah dia mengakuinya saat berhasil membobol keperawananku, kakaknya sendiri.

    Awal mulanya, ketika itu aku, mamaku dan adikku John pergi ke supermarket 500m dekat rumah. Karena belanjaan kami banyak maka kami memutuskan untuk naik becak. Saat itu aku memakai celana panjang ketat setengah lutut, dan karena kami hanya naik satu becak, aku memutuskan untuk di pangku adikku, sedangkan mamaku memangku belanjaan.

    Diperjalanan yang hanya 500m itu, ketika aku duduk di pangkuan adikku, aku merasakan sesuatu bergerak-gerak dipantatku, aku sadar bahwa itu kontol adikku, keras sekali dan berada di belahan pantatku. Aku membiarkannya, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan. Cerita Maya

    Bahkan ketika di jalan yang jelek, semakin terasa ganjalan dipantatku. Karena aku juga sangat rindu belaian pacarku yang sudah 3 hari tidak ke rumah, diam diam aku menikmatinya.

    Sejak kejadian itu, aku sering melihat dia memperhatikan tubuhku, agak risi aku diperhatikan adikku sendiri, tapi aku berusaha bersikap biasa.

    Suatu hari, aku dan pacarku melakukan petting di kamarku… Aku sangat terangsang sekali… dia meraba dan membelai-belai tubuhku. Sampai akhirnya pacarku memaksakku membuka celana dalamku dan memaksaku untuk mengijinkannya memasukkan kontolnya ke memekku. Tentu saja aku keberatan, walaupun aku sangat terangsang tapi aku berusaha untuk mempertahankan keperawananku.

    Dalam ketelajanganku aku memohon padanya untuk tidak melakukannya. Dan anehnya aku malah berteriak minta tolong. Hal ini di dengar oleh adikku John, dia langsung menerobos kamarku dan mengusirnya, saat itu juga pacarku ketakutan, karena memang badan adikku jauh lebih besar.

    Aku lansung menutupi tubuhku yang telanjang dan aku yakin adikku melihat ketelajanganku. Dan pacarku sendiri langsung memakai pakaiannya dan pamit pulang.

    Sejak itu, pacarku jadi jarang ke rumah. Dari selentingan teman-teman ku, pacarku katanya mempunyai teman cewe lain yang sering jalan dengannya. Tentu saja aku sedih mendengarnya, tapi aku juga merasa beruntung tidak ternodai olehnya.

    Suatu malam aku berbincang-bincang dengan adikku, aku berterima kasih padanya karena dia telah menggagalkan pacarku menodaiku. Aku kaget ketika adikku ngomong bahwa, aku ngga bisa menyalahkan pacarku karena memang bodyku sexy sekali dan setiap laki-laki pasti ingin merasakan tubuhku. Ketika kutanya, jika setiap lelaki, apakah adikku juga ingin merasakan tubuhku juga… dia menjawab:

    “Kalau kakak bukan kakakku, ya aku juga pengen, aku kan juga lelaki”

    aku sangat kaget mendengar jawabannya tapi aku berusaha itu adalah pernyataan biasa, aku langsung aja tembak, “emang adik pernah nyobain cewe?”

    dia bilang “ya, belum kak”…. itulah percakapan awal bencana itu.

    Malam harinya aku membayangkan bercinta dengan pacarku, kau merindukan belaiannya… lalu aku mulai meraba-raba tubuhku sendiri… tapi aku tetap tidak bisa mencapai apa yang aku inginkan… sekilas aku membayangkan adikku… lalu aku memutuskan untuk mengintip ke kamarnya… Malam itu aku mengendap-endap dan perlahan-lahan nak keatas kursi dan dari lubang angin aku mengintip adikku sendiri.

    Aku sangat kaget sekali ketika melihat adikku dalam keadaan tak memakai celana dan sedang memegan alat vitalnya sendiri, dia melakukan onani, aku terkesima melihat ukuran kontolnya, hampir 2 kali pacarku, gila kupikir, kok bisa yah sebesar itu punya adikku.

    Dan yang lebih kaget, di puncak orgasmenya dia meneriakkan namaku… Saat itu perasaanku bercampur baur antar nafsu dan marah… aku langsung balik kekamarku dan membayangkan apa yang baru saja aku saksikan.

    Pagi harinya, libidoku sangat tinggi sekali, ingin dipuaskan adikku tidak mungkin, maka aku memutuskan untuk mendatangi pacarku. Pagi itu aku langsung kerumah pacarku dan kulihat dia sangat senang aku datang ditariknya aku ke kamarnya dan kami langsung bercumbu… saling cium saling hisap dan perlahan-lahan baju kami lepas satu demi satu sampai akhirnya kami telanjang bulat.

    Gilanya begitu aku melihat kontolnya, aku terbayang kontol adikku yang jauh lebih besar darinya… sepert biasa dia menyuruhku menghisap kontolnya, dengan terpaksa aku melakukannya, dia merintih-rintih keenakkan dan mungkin karena hampir orgasme dia menarik kepalaku.

    “Jangan diterusin, aku bisa keluar katanya”

    lalu dia mula menindihi ku dan dari nafasnya yang memburu kontolnya mencari-cari lubang memekku… begitu unjung kontolnya nempel dan baru setengah kepalanya masuk, aku kaget karena dia sudah langsung orgasme, air maninya belepotan diatas memekku… “Ohhhhh…” katanya.

    Dia memelukku dan minta maaf karena gagal melakukan penetrasi ke memekku. Tentu saja aku sangat kecewa, karena libidoku masih sangat tinggi.

    “Puaskan aku dong… aku kan belum…” rengekku tanpa malu-malu.

    Tapi jawabannya sangat menyakitkanku… “Maaf, aku harus buru-buru ada janji dengan sisca” katanya tanpa ada rasa ngga enak sedikitpun.

    Aku menyembunyikan kedongkolanku dan buru-buru berpakaian dan kami berpisah ketika keluar dari rumahnya.

    Diperjalanan pulang aku sangat kesal dan timbul kenginanku untuk menyeleweng, apalagi selama diperjalanan banyak sekali lelaki yang mengodaku dar tukang becak, kuli bangunan sampai setiap orang di bis.

    Begitu sampai rumah aku memergoki adikku yang akan pergi ke sport club, dia mengajakku untuk ikut dan aku langsung menyanguppinya karena memang aku juga ingin melepaskan libidoku dengan cara berolah raga.

    Di tempat sport club, kam berolah raga dari senam sampai berenang dan puncaknya kami mandi sauna. Karena sport club tersebut sangat sepi, maka aku minta adikku satu kamar denganku saat sauna.

    Saat didalam adikku bilang “kak, baju renangnya ganti tuh, kan kalau tertutup gitu keringatnya ngga keluar, percuma sauna”

    “Abis pake apa” timpalku, “aku ngga punya baju lagi”

    “Pake celana dalem sama BH aja kak, supaya pori-porinya kebuka” katanya

    Pikirku, bener juga apa katanya, aku langsung keluar dan menganti baju renangku dengan BH dan celana dalam, sialnya aku memakai celana dalam G-string putih sehabis dari rumah pacarku tadi… Tapi “ah, cuek aja.. toh adikku pernah liat aku telanjang juga”.

    Begitu aku masuk, adikku terkesima dengan penampilanku yang sangat berani… kulihat dia berkali-kali menelan ludah, aku pura-pura acuh dan langsung duduk dan menikmati panasnya sauna.

    Keringat mencucur dari tubuhku, dan hal itu membuat segalanya tercetak didalam BH dan celana dalamku… adikku terus memandang tubuhku dan ketka kulihat kontolnya, aku sangat kaget, dan mengingatkanku ke hal semalam ketika adikku onani dan yang membuat libidoku malah memuncak adalah kepala kontolnya muncul diatas celana renangnya.

    Aku berusaha untuk tidak melihat, tapi mataku selau melirik ke bagian itu, dan nafasku semakin memburu dan kulihat adikku melihat kegelisahanku. Aku juga membayangkan kejadian tadi pagi bersama pacarku, aku kecewa dan ingin pelampiasan.

    Dalam kediaman itu aku tidak mampu untuk bertahan lagi dan aku memulainya dengan berkata:

    “Ngga kesempitan tuh celana, sampe nongol gitu”

    “Ia nih, si otong ngga bisa diajak kompromi kalo liat cewe bahenol” katanya

    “Kasian amat tuh, kejepit. Buka aja dari pada kecekik” kataku lebih berani. cerita ml sedarah

    “Iya yah…” katanya sambil berdiri dan membuka celananya…Cerita Sex Pembantu

    Aku sangat berdebar-debar dan berkali-kali menggigit bibirku melihat batang kemaluan adikku yang begitu besar.

    Tiba-tiba adikku mematikan mesin saunanya dan kembali ke tempatnya.

    “Kenapa dimatiin” kataku

    “Udah cukup panas kak” katanya

    Memang saat juga aku merasa sudah cukup panas, dan dia kembali duduk, kami saling memandang tubuh masing-masing. Tiba-tiba cairan di memekku meleleh dan gatal menyelimuti dinding memekku, apalagi melihat kontol adikku.

    Akal warasku datang dan aku langsung berdiri dan hendak keluar, tapi adikku malah mencegahku
    “nanti kak”. cerita ml sedarah

    “Kan udah saunanya ” timpalku, aku sangat kaget dia berada tepat di depanku dengan kontol mengacung ke arahku, antara takut dan ingin.

    “Kakak udah pernah gituan belum kak” kata adikku

    “Belum” kataku, “emang kamu udah..?” lanjutku

    “Belum juga kak, tapi pengen nyoba” katanya

    “Nyoba gimana???? Nantikan juga ada saatnya” kataku berbalik kearah pintu dan sialnya kunci lokerku jatuh, ketika aku memungutnya, otomatis aku menunggingi adikku dan buah pantatku yang besar menempel di kontolnya.

    Baca Juga Cerita Seks Keluarga

    Gilanya aku malah tetap diposisi itu dan menengok ke arah adikku. Dan tak kusangka adikku memegang pinggulku dan menempelkan kontolnya dibelahan pantatku yang hanya tertutup G-string.

    “Oh kak…. bahenol sekali, aku pengen nyobain kak” katanya dengan nafas memburu.
    cerita ml sedarah
    “Aw… dik ngapain kamu” timpalku tanpa berusaha merubah posisiku, karena memang aku juga menginginkannya.
    “Pengen ngentot kakak” katanya kasar sambil menekan batangnya kepantatku.

    Aku menarik pantatku dan berdiri membelakanginya, “Aku kan kakakmu John, inget dong”

    Adikku tetap memegang pinggulku “tolong kak.. asal nempel aja.. nga usah dimasukkin, aku ngga tahan banget”

    “Tolong kak,” katanya memelas. Aku di suruh nagpain juga mau kak, asal bisa nempelin aja ke memek kakak”.

    Pikiranku buntu, aku juga punya libido yang tak tertuntaskan tadi pagi.. dan membayangkan pacarku menunggangi sisca, libidoku tambah naik.. “Persetan dengan pacar brengsek” batinku.

    “Jangan disini” pintaku.

    “Sebentar aja kak, asal nempel aja 1 menit” katanya meremas pinggulku.

    “Kakak belum siap” kataku.

    “Kakak nungging aja, nanti aku panasin” katanya.cerita ml sedarah

    Bagai terhipnotis aku menuruti apa katanya, sambil memegang grendel pintu, aku menungginginya dan dengam pelan-pelan dia membuka G-stringku dan melemparkannya. Dan dia jongkok di belakangku dan gilanya dia menjulurkan lidahnya menjilat memeku dari belakang…

    “Oh… ngapain kamu dik…” kataku tanpa melarangnya.

    Dia terus menjulurkan lidah dan menjilati memekku dari belakang.. ohhhh… gila pikirku… enak banget, pacarku saja ngga mau ngejilatin memekku, adikku sendiri dengan rakus menjilati memekku

    “Gila kamu dik, enak banget, belajar dimana” rintihku…

    Tanpa menjawab dia terus menjilati memekku dan meremas remas bokongku sampai akhirnya lama-lama memekku basah sekali dan bagian dalam memekku gatal sekali…

    Tiba-tiba dia berdiri dan memegang pinggulku..

    “Udah panas kak” katanya mengarahkan kontolnya kepantatku dan memukul-mukul kepala kontolnya kepantatku.

    “udah….” kataku sambil terus menungging dan menoleh ke arah adikku…
    “Jangan bilang siapa-siapa yah dik” kataku.

    Adikku berusaha mencari lubang memekku dengan kepala kontolnya yang besar… dia kesulitan…
    “Mana lubangnya kak..” katanya.

    Tanpa sadar aku menjulurkan tangan kananku dan menggengam kontolnya dan menuntun ke mulut goaku. Cerita Maya

    “Ini dik” kataku begitu tepat di depannya, “gesek-gesek aja yah dik”.

    “Masukin dikit aja kak” katanya menekan kontolnya.

    “aw… dik, gede banget sih” kataku, “pelan-pelan….”.

    Begitu kepala kontolnya membuka jalan masuk ke memekku, adikku pelan-pelan menekannya.. dan mengeluarkannya lagi sedikit sedikit… tapi tidak sampai lepas… terus ia lakukan sampai membuat aku gemas….

    “Oh.. dik…. enak…. dik…. udah yah…” kataku pura-pura…..

    “Belum kak…. baru kepalanya udah enak yah….”

    “Memang bisa lebih enak…???” kataku menantang.

    Dan…. langsung menarik pinggulku sehingga batang kontolnya yang besar amblas ditelan memekku”
    Aku merasakan perih luar biasa dan “aw…. sakit dik…” teriakku.

    Adikku menahan batangnya didalam memekku …. “Oh…kak…nikmat banget…..” dan secara perlahan dia menariknya keluar dan memasukannya lagi, sungguh sensasi luar biasa. Aku merasakan nikmat yang teramat sangat, begitu juga adikku…

    “Oh, kak… nikmat banget memekmu..” katanya.

    “Ssssshhhh… ia dik… enak banget” kataku.

    Lima belas menit dia mengenjotku, sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang sangat panjang dan nikmat disusul erangan adkku sambil menggengam pinggulku agar penetrasinya maksimum.

    “Oh.. kak.. aku keluar.. nikmat banget…” katanya

    Sejenak dia memelukku dari belakang, dan mulai mencabut kontolnya di memekku…
    “Ma kasih kak” katanya tanpa dosa dan memakaikan celanaku lagi.

    Aku bingung bercampur menyesal dan ingin menangis. Akulangsung keluar dan membersihkan diri sambil menyesali diri.. “kenapa adikku????”

    Dalam perjalanan pulang adikku berulang-ulang minta maaf atas perbuatannya di ruangan sauna… Aku hanya bisa berdiam merenungi diriku yang sudah tidak perawan lagi…

    Kejadian itu adalah awal petualangan aku dan adikku, Karena dua hari setelah itu kembali kami besetubuh, bahkan lebih gila lagi.. kami bisa melakukannya sehari 3 sampai 5 kali sehari semalam.

    Setahun sudah aku di tunggangi adikku sendiri sampai ada seorang kaya, kenalan bapakku melamarku, dan kami menikah. Untungnya suamiku tidak mempermasalahkan keperawananku.

    Akhirnya aku di karunia seorang anak dari suamiku, bukan dari adikku.. karena aku selalu menjaga jangan sampai hamil bila bersetubuh dengan adikku.

    Sampai sekarang aku tidak bisa menghentikan perbuatanku dengan adikku, yang pertama adikku selalu meminta jatah, di lain pihak aku juga sangat ketagihan permainan sex nya.

    Demikian kisah nyataku dengan adikku.

  • Keluarga

    Keluarga


    180 views

    Cerita Maya | Hai namaku Siti Zubadiyah. Umurku 17 tahun. Saat ini aku sedang berada di dapur membantu ummi menyiapkan hidangan makan siang. “Kresh…kresh…kreshh…,” bunyi daun selada kupotong kecil-kecil. Hari ini aku dan ummi akan menyiapakan gado-gado untuk makan siang kami sekeluarga.
    “Kresh….aduh!” pekikku kaget saat pisau yang kugunakan mengiris jariku. Darah pun mengalir keluar dengan cepat. Rasanya perih senut-senut.
    “Aduuhh..ummi..aku kepotong…,” ucapku meminta perhatiannya.
    “Aduh..kenapa gak hati-hati..,” balas beliau seraya menghampiriku.“Kan gak sengaja..ummi….”
    “Ada apa ini ribut-ribut” Tiba-tiba abi muncul di dapur memerika apa yang sedang terjadi.
    “Jari Siti kepotong tadi…,” jawabku cemberut.
    “Mana…Sini abi liat…..”
    “Tuuuuu….berdarah kan…”
    “OOooo..ini mah gak apa-apa..luka kecil.”

    Lalu abi menghisap ujung jari telunjukku membuatku langsung deg-degan dan pipiku jadi terasa panas. Aku terbuai masuk ke dalam awang-awang imajinasiku. Isinya aku sensor, cuma untuk yang sudah cukup umur.
    “Dah, tuh kan sudah gak keluar darah lagi,” ucap Abi membuyarkan lamunanku.
    “AH iyah…,” timpalku seraya buru-buru menarik tanganku.
    “Gimana dah gak apa-apakan,” tanya ummi dan membelai kepalaku yang berjilbab sambil mengecek keadaan jariku.
    “Su..sudah baik ummi…”
    “Ya…selesaikan kan potongnya ya..”

    Aku mengangguk dan kembali menyelesaikan pekerjaan memasakku.
    Mungkin kalian bingung, kenapa aku deg-degan waktu dihisap jariku oleh abiku. Sebenarnya entah sejak kapan aku sudah melihat abi sebagai sosok laki-laki sempurna idaman. Mungkin sejak SMU1? Entah lah…abi itu orangnya rajin beribadah dan menyayangi keluarganya. Itulah yang membuatku…jatuh cinta pada beliau. Bukan cinta anak kepada bapaknya, tetapi cinta seorang wanita kepada seorang pria.

    Kalau ada kesempatan aku selalu mencoba berada di dekat-dekat beliau, misalnya saat sedang nonton di ruang TV, aku suka bermanja-manja gitu. Terus kalau sampai dia peluk aku dan kepalaku di letakkan di dadanya yang bidang dan jilbabku dibelai-belai, rasanya gimaaa gitu.

    Kadang aku sengaja pakai kaos yang agak ketat, biar agak sedikit menggoda abi. Akibatnya Abi jadi suka menegurku dan menasihatiku. Aku sih senyum-senyum saja di dalam hatiku, wong aku sengaja, biar dia lihat. Tappi aku senang ditegur, sebab itu artinya dia memperhatikan tubuhku.
    Ssttt…sebenarnya ada lagi yang suka aku lakukan sembunyi-sembunyi terhadap beliau, yaitu kalau abi sampai ketiduran saat nonton TV. Telapak tangannya kuletakkan di dadaku terus kutekan-tekan agar meremas-remas payudaraku. Shhh…asik banget….

    Kadang juga aku iseng, kupegang daerah kemaluannya dan kupijit pelan-pelan. Ternata bisa berubah jadi gede juga saat ia lagi tidur. Pernah tuh mungkin karena kelamaan mainin burungnya, sampai keluar cairannya. Langsung celananya jadi basah, licin dan panas. Untung dia tidak bangun.

    Selain itu aku juga suka sembunyi-sembunyi mengintip abi sedang bersenggama dengan ummi melalui lubang kunci. Betapa ia begitu gagah dan kuat, membuat ummi selalu lemas lunglai di atas kasur usai bercinta.
    Otot tangan dan kakinya beigtu kekar bisa mengangkat dan mengentot ummi dalam posisi menggendong. Bahkan beliau bisa memutar tubuh ummi, hingga mereka melakukan posisi 69 sambil berdiri.
    Dan batang abi itu lho…aku suka merinding kalau ngeliatnya. Besar…panjang…berurat. Kalau sampai masuk ke dalam lubangku…mmhh….pasti…

    Hingga suatu hari ada satu kejadian di rumah, abi sedang membetulkan meja. Ia bertelanjang dada. Melihat punggungnya yang lebar aku jadi agak srr…sr…gitu gimana…susah jelasinnya dan entah apa yang merasukiku, aku menghampirinya dan dengan nekat mencium tepat di bibirnya.
    Tentu hati kecil aku berharap respon yang positif. Tapi apa lacur ternyata kenyataannya sesuai dengan akal sehatku..beliau sangat terkejut dan langsung menamparku. PLAK!
    Perih sekali rasanya pipi kiriku. Sakitnya sih tak seberapa dengan rasa sakit di hatkui. Sakit karena ditolak dan malu.

    Aku menangis sejadi-jadinya, membuat abi kebingungan. Aku berlari menuju ke kamarku. Ummi yang melihatku melintas, memanggilku, “Siti! Siti! kenapa kamu!?” Ia mengejarku. Sebelum aku sempat menutup pintu ummi sudah duluan masuk ke dalam kamarku.

    Beliau dengan lemah lembt menanyakan apa yang terjadi sambil mengajakku duduk di atas kasur. Tentu saja aku hanya diam saja.

    Ummi yang tidak berhasil mengorek keterangan dariku keluar kamar dan menanyakannya kepada abi yang berdiri tepat di depan pintu kamarku. Aku hanya bisa mendengar bisik-bisik.
    Sementara aku terisak-isak dan air mata membasahi pipi.
    Tak lama kemudian ummi kembali masuk, menghampiriku dan menhela nafas panjang.
    “Ummi sudah dengar semuanya dari Abi.”
    Aku memeluk ummi. Aku takut ia marah. Umi hanya membelai kepalaku yang terutup jilbab, lalu berkata, “Kemari nak, ikut Ummi…”
    Aku diam saja. Tak tahu apa maunya.
    Di depan kamar, mataku dan mata abi bertemu. Aku langsung tertunduk tak berani melihat beliau. Aku hanya terus mengikuti ummi yang mengajakku masuk ke kamarnya.
    “Duduk disitu,” kata ummi menunjuk kasur, “Ummi mau ganti baju dulu.”
    Aku menurut dan duduk tepiannya.
    Kuperhatikan ummi mulai mengganti gamisnya dengan baju lain. Lama-lama aku dapat melihat, kalau ia berganti dengan baju seragam SMU dengan jilbab masih ia kenakan.
    Aku bingung. Lagipula buat apa ummi menyimpan baju seragam sekolah.
    “Ummi ngapain pakai baju sekolah?” Cerita Maya
    Beliau tak langsung menjawab hingga selesai berganti baju. Lalu ummi duduk di sebelahku dan tersenyum. “Nanti kamu tahu.”
    Tiba-tiba abi lalu muncul dari balik pintu. lalu ia menutupnya dan menguncinya.
    “Siti! kemari!” perintah abi dengan suara lantang.

    Aku agak takut. Nada suaranya begitu keras. Tetapi baru aku hendak bangkit, ummi menahanku dan mengisyaratkan agar aku duduk. Sementara ia bangkit berdiri dan mendekati abi. Aku rada bingung, kenapa umi yang menghampirinya, kan yang dipanggil aku.
    “Ya, abi ada apa?” tanya ummi.
    Aku bingung kenapa ummi manggil abi dengna sebutan abi? Biasanya, suamiku.
    Tiba-tiba abi memeluk ummi dan mengerayanginya payudaranya di depanku. Ada apa ini? tanyaku kebingungan dalam hati. Refleks aku menutup wajahku, tetapi tetap mengintip dari sela-sela jari-jariku.
    “Siti sayang….”
    “Abi…abi…jangan…siti kan anak abi…”
    Abi menarik rok abu-abu ummi hingga seperuti, sehingga daerah kewanitaan dan pahanya kelihatan.
    “Abi dah lama ingin entot Siti….”
    Lalu abi memasukkan tangannya ke dalam CD ummi dan mengusap-usapa kemaluannya.
    “Ahhh…ah…jangan abi…aku kan…anak abi…..jangan pegang kemaluan SIti..”
    Ummi memberontak dan berlari ke atas tempat tidur. Disana abi menerkamnya dan mengangkanginya.
    “Siti…sekarang hisap batang abi ya…”
    Aku melongo, saat abi mengeluarkan kejantanannya. Nafasku jadi tak berarturan.
    “Ayo nak…hisap batang abi….,” ujar abi seraya memasukkan penis raksasanya ke dalam mulut ummi. Ia menggoyang-goyankan pinggulnya, hingga batangnya turut keluar masuk.
    Aku terpana melihat kedua orang tuaku begituan di depanku.
    Sepeti biasa abi dengan bertenaga menggarap ummi. Lalu ia melihat ke arahku sambil berkata, “”SShhh…ahhh… Siti sayang
    sama abi kan… kalau memang sayang kulum terus titit abi…”
    Aku tak percaya mendengar kata-kata abi kepadaku. Jadi ceritanya ummi sedang berperan sebagai diriku, dan abi sedang meng… aku..
    “Shhh…ah….ahhh…dikit lagi….dikit lagi….teruss….”
    Pantat abi bergerak semakin cepat. Ia pegang jilbab ummi.
    “AKkkhhh….keluar…aku keluar…anakku…”

    Saat abi mencapai klimaks ia tekan penisnya masuk. Bibir ummi sampai menyentuh pangkal batangnya. Alis abi mengenyit dan melenguh keras, “AAhhhhh…!” Abi mengejan.
    “Uhuk..” ummi terlihat keselak.
    Penis abi segera dicabut dari mulut ummi. Pada saat dtarik melewati bibir ummi, ujungnya masih menyembur cairan sperma. Akibatnya cairan putih itu ada yang terlontar mengenai wajahku. Aku cuma bisa melongo.
    Kedua orang tuaku tampak lelah dan terbaring di kasu. Ummi meraih tanganku.
    “Siti…kami itu kalau melakukan hubungan suami istri kadang suka role play….dan abi sukanya berpura-pura sedang melakukan hubungan badan sama kamu. Jadi sebenarnya….abi itu…tertarik kok sama kamu…”
    Aku terkejut mendengar pengakuan ummi.
    Kamar itu menjadi hening beberapa saat.
    Kuhampiri abi yang terbaring di atas kasur yang sudah agak lecek.
    “Abi, apakah itu benar?” tanyaku.
    Abi mengangguk.

    Rasanya waktu itu seperti tertimpa durian, jantung berdebar-debar, senang banget, horni, pokoknya serba campur aduk kayak gado-gado.
    “Boleh Siti cium abi?”
    Beliau mengangguk lagi.
    Kudekatkan kepalaku dengannya. Kulekatkan bibirku ke bibirnya. Hatiku terasa beigtu berbunga. Tidak ada penolakan. Bahkan ia membalas setiap kecupan-kecupanku.
    “Kasih lihat abi, kemaluan Siti…”
    Jantungku deg-degan mendengar permintaan abi.
    Aku berdiri dan kuturunkan celana panjangku. Peralhan aku kangkangi wajah abi dan kubuka lebar kedua pahaku di hadapannya. Pipiku langsung terasa panas, mungkin sudah seperti memerah kepiting rebus.
    “Kok CDnya gak dibuka?” bisik Abi seraya mengesampingkan pinggir celana dalamku.
    Birahiku benar-benar bergejoak saat itu. Apalagi….deg….dapat kurasakan jari abi meraba-raba labiaku. Lalu sebuah jari menembus masuk ke dalam lubangku.

    Baca Juga Cerita Seks Ngentot Dengan TKW

    AKu langsung mengadah ke atas sambil menggigit bibir. Inikah kenikmatan yang selalu dirasakan ummi setiap kali bercinta dengna abi.
    Abi menarik kedua pahaku dan meletakkan bibir vaginaku di bibirnya.
    “AAAAhhh….,” lenguhku saat kurasakan lidah tak bertulang menyapu-nyapu kemaluanku.
    “Owh abi..Siti sayang ABIII…,” teriakku sambil menggoyang-goyankan pinggulku.
    Tiba-tiba ummi memelukk dari belakang dan menangkup kedua buah dadaku dari balik gamisku.
    “Enak sayang dijilat abi?”
    “Enak ummi, dadaku diremas ummi juga enak…”
    Di telingaku ummi berbisik, “ummi jadi terangsang ngeliat Siti sama abi..”
    Aku menengok ke samping dan memadang raut wajah ummi yang terlihat birahi. Kuselipkan tanganku ku belakang dan menyentuh vaginanya yang berbulu di balik rok abu-abunya.
    “Owhh…Siti…” Raut wajah ummi berubah. Kuusap-usap bibir vaginanya.
    “Ummi mau lesbian sama Siti?”
    “Iyah…lesbian ibu anak…” langsung ummi melumat bibirku dan payudaraku diremas dengan gerakan berputar.
    Seumur hidup aku gak pernah berpikir akan melakukan hal ini dengan kedua orang tuaku. Tapi kami bertiga sedang dilanda nafsu, dan rasanya sangat mengasyikkan. Merasakan bercumbu dengan ummi dan membiarkan daerah paling privatku dijilat oleh abi.
    Abi tiba-tiba berhenti dan bilang ke kami ia mau berdiri dari tempat tidur.
    “Siti…”
    “IYa abi?”
    “Ingat waktu kecil abi suka gendong kamu?”
    “Ingat…”
    “Ayo kemari abi gendong seperti dulu…”

    Aku tersenyum dan bangkit berdiri. Aku lompat ke pelukan abi dengan tangun bergelayut di lehernya dan kaki merangkul tubuhnya. Akku kembali bernostalgia masa-masa dulu sambil memejamkan mata.
    Saat aku sedang merasakan masa lalu. Tahu-tahu Kemaluanku merasakan sebuah batang yang besar dan keras menembus lubang senggamaku.
    Aku mebelalak. Abi dengan keras menghentakkan pinggulnya. Aku merasakan rasa sakit, karena aku masih perawan.
    Akibat daya tarik gravitasi dengan kekuatan hentakan abi. Dua kali hentak, selaput daraku langsung robek.
    “Sakiiit abiiii.”
    “Sabar…sedikit lagi pasti enak…”
    Abi sungguh kuat menggendongku, dan dengan kekuatan kaki dan pinggul, disentak-sentaknya batangnya di dalam lubangku. Tubuhku sampai melompat-lompat naik turun. Sakit pun berubah jadi kenikmatan.
    “Shhh….ahhh..ahhhh..shhh…”
    “Anak abi sudah dewasa sekarang…dah bisa memberikan kepuasan seks..”
    Aku bangga mendengar pujiannya.
    “Enakkah kemaluan Siti?”
    “Enak…legit….legit banget” seraya bicara seperti itu abi mempercepat hentakan-hentakan pinggulnya.
    “Clep! clep! clep! clep!” Vaginaku benar-benar dibuat basah oleh abi, aku hanya bisa pasrah bergelantungan di lehernya, sementara kedua kaki terbuka lebar dan ditahan oleh tangannya.
    Gerbang pertahananku yang ditengah, diserangnya bertubi-tubi. Rasanya seperti pasukan yang sedang digempur habis-habisan dan ditakdirkan untuk kalah.
    Semakin lama gesekan batang abi dengan didnding vaginaku dan klitorisku menggiring kenimkatan ke arah puncak.
    “AAAhhh….Abi…Siti…Siti….Akhhh!”
    Tubuhku kelojotan beberapa kali mencapai orgasme.
    Abi membawa tubuhku ke atas tempat tidur. Lalu ia menarik ummi dan mengangkat rok abu-abunya hingga seperut. Lalu ia menyuruh ummi untuk menungging dengan kemaluannya tepat di diatasku
    “Istriku, bikin aku tuntas ya…”
    “Iya suamiku…”
    Abi memasukkan batangnya ke dalam lubang kemaluan ummi dan mereka bersenggama di atasku. Aku dapat melihat dengan jelas penis abi yang panjang dan besar itu keluar masuk melewati bibir vagina ummi. Cerita Maya
    “Siti, lihat abi setubuhi ummi yah..”
    “Iyah…” jawabku sambil menelan ludah
    Abi tidak buang-buang waktu ia langsung memompa tubuh ummi dengan kecepatan penuh. “Owhh..owh sayang…,” lenguh ummi. Buah zakar ayah bergoyang-goayng maju mundur.
    Kadang cairan mereka berdua menetes di mulutku. Kujilat saja.
    5 menit mereka begituan, Ummi berteriak, “AAAAHHHhhh!!”
    Rupanya abi masih bisa bikin ibu orgasme. Cairan pun menetes makin banyak ke wajahku. Luar biasa, beliau memang perkasa.
    “Istriku kocok penisku, cepaat!”
    Ummi membalikan tubunya dan meraih kontol abi serta mengocoknya. Sementara beliau mengarahkan batangnya ke arah wajahku.
    “AAhh..ahh..yeah…terus…terus…”
    batang yang mengkilap itu begitu dekat dengan wajahku. Cairan-cairan putih tampak semakin sering dan banyak keluar dari ujungnya. Makin lama makin mulai menetens….tahu-tahu Crot! Crot! Crot!. Cairan kental seputih susu menyembur dari ujung penis Abi membasahi mukaku. Banyak sekali.
    “AAhhh…akhirnya…”
    Abi lalu membenamkan penisnya di mulutku.
    “Bersihin sayang…”
    Dengan lidah kujilat bersih batang abi.

  • Ngentot Dengan TKW

    Ngentot Dengan TKW


    101 views

    Cerita Maya | Empat tahun lalu aku masih tinggal dikota B. Waktu itu aku berumur 26 tahun. Aku tinggal dirumah sepupu, karena sementara masih menganggur aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara tak disengaja aku kenal seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa angkutan barang pasar yang kebetulan aku yang mengemudikannya. Bu Murni namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang memang agak jauh dari pasar tempat dia berjualan kain-kain dan baju.

    Sesampai dirumahnya aku bantuin dia mengangkat barang-barangnya. Mungkin karena sudah mulai akrab aku enggak langsung pulang. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Dari dalam aku mendengar suara seperti memerintah kepada seseorang..

    “Pit.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Murni.

    Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Murni tadi. Yang ada tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia tersenyum..

    “Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..” begitu dia menyapaku.
    “I.. Iya.. Makasih..” balasku.

    Masih sambil senyum dia balik kanan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku masih tertegun sambil memandangnya. Seperti ingin tembus pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai, jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku.

    Tak seberapa lama Bu Murni keluar. Dia sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia pakai kesehariannya..

    “Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..” kata Bu Murni.
    “Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya. Aku manggut-manggut..
    “O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh-jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya.

    Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Murni sambil berlari kecil ke arahku..

    “Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit mau ikut sampai terminal bis. Dia mau ambil surat-surat dirumah kakaknya. Tungguin sebentar ya..”

    Aku tidak jadi menstater dan sambil membuka pintu mobil aku tersenyum karena inilah saatnya aku bisa puas mengenal si Pipit. Begitulah akhirnya aku dan Pipit berkenalan pertama kali. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau. Cerita Maya

    “Pit.., namamu Pipit. Kok nggak ada lesung pipitnya..” kataku ngeledek. Pipit juga tak kalah ngeledeknya.
    “Mas aku kan sudah punya lesung yang lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Pipit..

    Di situ aku mulai berani ngomong yang sedikit nakal, karena sepertinya Pipit tak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. Pantas saja dia berani merantau keluar negeri, pikirku.

    Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada anaknya yang masih kecil kira-kira 7 tahunan dirumah. Pipit menyuruhnya memanggilkan ibunya.

    “Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya? susulin sana, bilang ada Lik Pipit gitu yah..”

    Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain adalah kakaknya Pipit. Selagi Ugi sedang menyusul ibunya, aku duduk-duduk di dipan tapi di dalam rumah. Pipit masuk ke ruangan dalam mungkin ambil air atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Pipit keluar dengan segelas air putih ditangannya.

    “Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir mobil..” katanya.

    Diberikannya air putih itu, tapi mata Pipit yang indah itu sambil memandangku genit. Aku terima saja gelasnya dan meminumnya. Pipit masih saja memandangku tak berkedip. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Tak disangka, malah tangan Pipit meremas jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan satunya kuraih, kugenggam. Pipit menatapku.

    “Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Pipit setengah berbisik.
    Agak sedikit malu aku, tapi kujawab juga, “Abis, .. Kamu juga sih..”

    Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat didadaku. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh bibirnya. Merasa tidak ada protes, langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya basah-basah madu. Tanganku mendekap tubuhku sambil kugoyangkan dengan maksud sambil menggesek buah dadanya yang mepet erat dengan tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Pipit seperti mendesah lirih, mungkin mulai terangsang kali..

    Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di bawah perutku sesekali aku sengaja kubenturkan kira-kira ditengah selangkangannya. Sesekali seperti dia tahu iramanya, dia memajukan sedikit bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya.

    Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai memuncak ketika tanpa malu lagi Pipit menggelayutkan tangannya dipundakku memeluk, pantatnya goyang memutar, menekan sambil mendesah. Tanganku turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar menekan dengan tonjolan penisku yang menegang tapi terbatas karena masih memakai celana lumayan ketat. Ingin rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil ibunya sudah datang kembali.

    Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi yang ternyata sendirian berkata seperti pembawa pesan.

    “Lik Pipit, Ibu masih lama, sibuk sekali lagi masak buat tamu-tamu. Lik Pipit suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana mau main banyak teman. sudah ya Lik..”

    Habis berkata begitu Ugi langsung lari ngeloyor mungkin langsung buru-buru mau main dengan teman-temannya. Aku dan Pipit saling menatap, tak habis pikir kenapa ada kesempatan yang tak terduga datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami hanya berdua saja disebuah rumah yang kosong ditinggal pemiliknya.

    “Mas, mending kita tunggu saja yah.. sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir.. Tapi Mas Wahyu ada acara nggak nanti berabe dong..” berkata Pipit memecah keheningan.

    Dengan berbunga-bunga aku tersenyum dan setuju karena memang tidak ada acara lagi aku dirumah.

    “Pit sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil menarik lengan dengan lembut.
    “Eh, kamu cantik juga yah kalau dipandang-pandang..”

    Tanpa ba-Bi-Bu lagi Pipit malah memelukku, mencium, mengulum bibirku bahkan dengan semangatnya yang sensual aku dibuat terperanjat seketika. Akupun membalasnya dengan buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong mengarahkannya ke dipan untuk kemudian merebahkannya dengan masih berpelukan. Aku menindihnya, dan masih menciumi, menjilati lehernya, sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma sejuk. Tangannya meraba tonjolan dicelanaku dan terus meremasnya seiring desahan birahinya. Merasa ada perimbangan, aku tak canggung-canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati buah dada keras kenyal berukuran 34 putih mulus dibalik bra-nya.

    Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di depan mataku dua tonjolan seukuran kepalan tangan aktor Arnold Swchargeneger, putih keras dengan puting merah mencuat kurang lebih 1 cm. Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku, kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati mengitari diameternya kumainkan lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat lagi, bergantian kanan dan kiri. Pipit membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem melek lidahnya menjulur membasahi bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil lebih keras meremas penisku yang sudah mulai terbuka resluiting celanaku karena usaha Pipit.

    Baca Juga Cerita Sex Pembantu Muda Yang Panass

    Tanganku mulai merayap ke sana kemari dan baru berhenti saat telah kubuka celana panjang Pipit pelan tapi pasti, hingga berbugil ria aku dengannya. Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Pipit mulai tak beraturan ketika jilatanku kualihkan dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa merah, betapa nikmatnya. Clitoris Pipit yang sebesar kacang itu kuhajar dengan kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir-plintir dengan segala keberingasanku. Bagiku Mecky dan klitoris Pipit mungkin yang terindah dan terlezaat se-Asia tenggara.

    Kali ini Pipit sudah seperti terbang menggelinjang, pantatnya mengeras bergoyang searah jarum jam padahal mukaku masih membenam diselangkangannya. Tak lama kemudian kedua paha Pipit mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam di meckynya, menegang, melenguhkan suara nafasnya dan…

    “Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Pipit.. Mas.. Pipit.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan itu semakin kupagut-pagut, kusedot-sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga sempit Pipit itu. Iri sekali rasanya kalau aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku, kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak terlalu susah karena memang Pipit tidak perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang mendahului aku, itu bukan satu hal penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk kenikmatan bersamanya. Lagipula aku memang orang yang tidak terlalu fanatik norma kesucian, bagiku lebih nikmat dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet seperti itu.

    Kembali ke “pertempuranku”, setengah dari penisku sudah masuk keliang vagina sempitnya, kutarik maju mundur pelan, pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil meremas buah dada Pipit. Rupanya Pipit mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun tanggap dan memenuhi keinginannya. Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Pipit mempercepat proses penggoyangan aku kegelian. Geli enak tentunya. Semakin keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam.

    Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan lagi setelah bertubi-tubi menusuk, menukik ke dalam sanggamanya disertai empotan dinding vagina bidadari calon TKW itu, aku setengah teriak berbarengan desahan Pipit yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian puncak orgasme kami berdua datang. Aku dan Pipit menggelinjang, menegang, daan.. Aku orgasme menyemprotkan benda cair kental di dalam mecky Pipit. Sebaliknya Pipit juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Tubuhku serasa runtuh rata dengan tanah setelah terbang ke angkasa kenikmatan. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Pipit.

    “Kamu gila Pit.. Bikin aku kelojotan.. Nikmat sekali.. Kamu puas Pit?”
    Pipit hanya mengangguk, “Mas Wahyu.., aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya..

    Sadar kami berada dirumah orang, kami segera mengenakan kembali pakaian kami, merapihkannya dan bersikap menenangkan walaupun keringat kami masih bercucuran. Aku meraih gelas dan meminumnya. Cerita Maya

    Kami menghabiskan waktu menunggu kakaknya Pipit datang dengan ngobrol dan bercanda. Sempat Pipit bercerita bahwa keperawanannya telah hilang setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada kenikmatan saat itu karena berupa perkosaan yang entah kenapa Pipit memilih untuk memendamnya saja.

    Begitulah akhirnya kami sering bertemu dan menikmati hari-hari indah menjelang keberangkatan Pipit ke Malaysia. Kadang dirumahnya, saat Bu Murni kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun.

    Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku pindah ke Jakarta. Khabar terakhir tentang Pipit aku dengar setahun yang lalu, bahwa Pipit sudah pulang kampung, bukan sendiri tapi dengan seorang anak kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang tentangku sendiri masih berpetualang dan terus berharap ada “Pipit-Pipit” lain yang nyasar ke pelukanku. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..

  • Pembantu Muda Yang Panass

    Pembantu Muda Yang Panass


    128 views

    Cerita Maya | Sebulan ini kami kerepotan soalnya yang biasanya membersihkan rumah pulang kampung, aku telepon dia untuk balik lagi kesini katanya sudah tidak bisa karena dia menjaga orang tuanya yang sudah tua di kampungnya, sedikit pusing juga tidak ada pembantu dirumah.

    Tapi memang nasib sedang mujur atau beruntung tak lama kemudian satu hari orang tua mendapatkan penggantinya, sebut saja nama Sania dia berasal dari desa Jawa tengah dia tamatan SD wajahnya yang lugu tapi memberi khas wajah desa yang oriental di usianya yang masih 18 tahun wajahnya begitu cantik.

    Awalnya istri aku tidak setuju akan pembantu ini karena dia tau kalau suaminya kadang kumat menjelma menjadi buaya darat hehe, tapi dengan segala cara aku meyakinkan istriku dengan berbagai alasan yang masuk akal.

    Sudah sebulan Sania menjadi pembantu dirumah aku, dia cukup gesit melakukan semua pekerjaannya dari ngepel, mencuci pakain, membantu memasak dan lain sebagainya, hampir satu minggu ini aku amati terus pekerjaan sungguh teliti dia jika melakukan sesuatunya, tapi lama kelamanaan wajah Sania semakin cantik.
    Sehingga aku melihat bodynya yang seksi bibirnya yang sensual, dagunya yang lancip membuat aku betah dirumah, saat itu di bulan Agustus 2015 tepatnya hari Sabtu karena memang di kerjaanku kalau sabtu dan minggu libur aku sengaja unutk bangun ebih awal dari hari sebelumnya, dan istriku kalau hari sabtu belum tentu libur karena dia bekerja di bidang jasa.

    Aku putuskan untuk langsung mandi biar fresh aku baru ingat kalau uair PAM di tempat ku ini sudah empat hari ini mati, yang biasanya aku mandi di kamar mandi dalam terpaksa aku mandi di kamar mandi satunya, saat keluar dari kamar aku mendengar suara air yang mengacur siapa lagi kalau bukan Sania, dia sedang mandi di belakang penampungan air PAM.

    Kamar mandi ke dua pun aku lihat ternyata belum ada airnya jadi aku terus berjalan menuju dapur untuk mendidihkan air untuk membuat kopi biar segar, karena letak dapur dan penampunga air pam bersebelahan hanya terutup pintu aku iseng aja unutk mengintip Sania yang sedang mandi dan Waooooww tubuhnya bugil telanjang.

    Tak disangka dia sedang asyk menyabuni tubuhnya aku lihat payudaranya yang tidak begitu besar tai menantang terlihat putingnya yang coklat masih keras dan kencang membikin rodalku yang di dalam celana langsung menunjukan kejantananya.

    Sayangnya karena dia mandinya jongkok, meqinya nggak begitu keliatan bro, selesai mandi doi pakai handuk sambil deg-deg an takut ketahuan Aku keluar dari dapur menuju ruang tamu dan tanpa sepengetahuan doi.
    Aku ikutin dari belakang menuju kamarnya, dan Aku intip lagi ohh… ternyata dia punya kebiasaan kalo mo Subuhan gak pake apa-apa cuma jubah luar aja(tau kan maksud Aku) yg nutupin seluruh badannya.

    Pagi hari itu juga Aku gak nahan, sambil ngebayangin si Sania, Aku paksa istri Aku ngelayanin sampai 2 kali hahaha …gak kuat bro.

    Hari-hari selanjutnya Aku jadi rajin bangun pagi dan walau PAM udah lancar lagi, tp Aku masih bisa ngintip Sania dikamarnya sehabis dia mandi.
    Kebiasaan ngintip itu, bikin menambah ngeres otak Aku, dan keinginan mo menyetubuhi Sania makin bertambah besar.

    Hari itu mungkin hari Naas bagi Sania, tp hari beruntung buat Aku bro… hari itu hari Minggu pagi buta, Bini Aku sepulang kerja hari sabtu ada acara di kantornya sampai malam, akhirnya bilang nggak pulang ke rumah, dia pulang ke rumah orang tuanya yang nggak begitu jauh dari kantornya.

    Kesempatan neh, setan & iblis mulai main-main di otak Aku. seperti biasa, Sania bangun pagi terus langsung mandi, kali ini Aku nggak ngintip dia mandi.

    Tapi langsung masuk ke kamarnya, sambil deg-deg an nunggu dia selesai mandi yang ditunggu akhirnya datang juga…(kayak acara di TV ). ceritasexpembantu.com pas dia lagi buka handuk tanpa bra bre bro lagi dengan tenaga yang dipinjemin setan, Aku langsung peluk dan Aku cium, doi gelagepan dan tentunya kaget bukan kepalang.

    “hhp..hppp” Sania berusaha untuk berontak tapi tau sendiri Setan ma Iblis udah nurunin ilmunya ma Aku, jadi doi gak bisa apa2 hehehe, mula-mula Sania Aku ancam, bahwa Aku udah punya photo bugilnya dan akan Aku sebarin ke kampungnya kalo dia nggak mau diem (padahal sih bohong, mana berani Aku moto doi, ketahuan bini berabe hehehe…) dan juga Aku ancam kalo dia gak mo nurut Aku bisa keras ma dia, dan Aku janji kalo dia nurut Aku akan tambah gajinya, akhirnya dengan terpaksa doi Nurut.

    “Pak… saya mau diapain”

    “sttt diem aja … pokoknya kamu taunya enak..”

    “Jangan perkosa saya pak!” kata Sania memelas

    “Siapa yang mau perkosa kamu, saya nggak akan perkosa kamu kok…saya cuma pengen cium aja”kata Aku untuk berusaha nenangin dia.

    Karena Aku udah yakin Sania gak berontak lagi, mulai bibir Aku yang dari tadi melahap ganas bibirnya, menjelajah kesekitar buah dadanya yang putih mulus dan bagai buah mangga mengkel itu.

    Baca Juga Cerita Seks Pembantu Bohay

    Sekitar agak lama juga Aku nyiumin dan menghisap buah dada dan putingnya Sania, sambil tangan Aku membelai belai lembut bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat.

    “Pak.. jangan pak… saya belum pernah begini” ujar Sania, walau begitu tubuhnya mulai bereaksi.

    “Udah tenang aja gak papa kok…” jari tanganku mulai masuk pelan-pelan di sekitar bibir vaginanya puting susunya bertambah tegang.
    “Pakk..jangannn.” namun tanngannya berkata lain, tangannya memegangi kepalaku yang asyik menyedot dan memainkan putting susunya, seakan didekapnya, tidak mau dilepaskan

    Setelah puas dengan buah dadanya aku dorong dia ke tempat tidur dan mulailah menjelajah vaginanya uhh.. bersih bro vaginanya (ye..abis mandi, gimana gak bersih. dengan gemas Aku lahap dan Aku isep bibir meqinya, kadang Aku sedot. Sania meracau gak jelas.Cerita Maya

    “ehmmm pakk…teruss..pak” sudah banyak cairan bening memenuhi rongga meqinya, dan lidah Aku terus bermain di dalam meqinya sambil tangan Aku berusaha untuk membuka celana Aku sendiri.

    Mr. P Aku udah tegang dari tadi, setelah Aku lihat Sania udah horny banget, pelan pelan Aku pasang pengaman di Mr. P Aku dan Aku tempelin Mr.P Aku ke Miss V nya perlahan-lahan Aku masukin, ternyata walau udah banyak cairan susah juga Bro…maklum perawan hehehe…, kirain reaksi Sania nggak mau, ternyata karena udah horny kali ya, dia malah Bantu ngepasin Punya Aku ke Ms. V nya.

    “Pak…sakit pak, perihh…”

    “iya sakit sedikit, ntar juga enaknya banyak”

    Akhirnya dengan perjuangan keras bobollah keperawanan Sania, beserta lumatan bibir Aku ke bibirnya yang seksi itu, Mr. P Aku maju mundur tak kenal lelah,
    “Gimana sekarang udah enak kan?”

    “Hhee.. ehh….”

    Beberapa menit kemudian.

    “Pak .. eh.. Pak….saya…saya mau Pipis “ sambil merem melek akhirnya kakinya mengejang dan tangannya mencegkeram pundak Aku keras banget.
    Sania mencapai orgasme, mungkin untuk yang pertama kalinya. Dan Aku lihat dia lemas, tapi Aku gak perduli Aku kocok terus Mr. P Aku di dalam meqinya yang udah banyak cairan bercampur darah.

    “Ampun pak…ampunn…Sania capek”

    “Sebentar lagi sayang…” nggak sadar Aku ngomong sayang biasanya cuam ke bini,
    Tidak lama berselang Aku juga mencapai Orgasme.

    “Surt… Bapak juga dah mau keluar nehhh…”Cerita Maya

    “Ehmmm… crot..crot”

    Seluruh badan Aku lemas, dan Aku rebah disamping Sania yang kelihatan menangis.

    “Pak… Sania takut nih”

    “Tenang…kamu gak bakalan hamil kok, dan nggak bakalan ada yang tahu…”

    Hari berganti hari, perbuatan kayak gini Aku ulang setiap ada kesempatan dan Sania dengan rela sekarang ngelayanin Aku, dan yang pasti Aku selalu siap pakai pengaman demi keamanan Rumah tangga Aku juga tentunya.
    Gaji yang Aku janjiin juga nggak lupa Aku tepatin, jadi lah Sania pengasuh yang multi fungsi, bisa ngasuh anaknya dan Bapaknya.

  • Pembantu Bohay

    Pembantu Bohay


    110 views

    Cerita Maya | Floren adalah wanita setengah baya yang mempunyai tubuh sangat seksi dan bahenol dan Damar
    adalah suaminya yang juga pemegang saham terbesar suatu perusahaan. Mereka berdua sangat
    kaya sekali. Namun dibalik semua harta yang dimilikinya itu mereka belum mendapatkan
    momongan sejak menikah 4 tahun yang lalu. Nmaun mereka menganggap itu biasa saja karena
    keduanya termasuk Pasutri yang hobi dengan Sex bebas. Hanya dengan Sex bebas lah hubungan
    suami istri itu bisa langgeng sampai sekarang.

    Mereka sering melakukan fantasi Sex dengan teman-teman mereka sendiri, dan yang anehnya
    mereka sangat meikmatinya tanpa ada rasa cemburu sedikitpun. Karena mereka sering
    melakukan hubugan Sex antara Damar dengan teman Floren dan Floren dengan teman Damar. Bisa
    dikatakan hubungan keluarga yang satu ini sungguh indah untuk disimak.
    Setelah pembantu lama Floren dan Damar pension, maka mereka dibuat bingung dengan rumah
    yang tidak ada mengurus. Lalu Damar meminta istrinya Floren untuk mencari pembantu kesuatu
    agen. Setelah beberapa hari Floren ke agen penyalur pembantu itu, Floren tidk menemukan
    tipe pembantu yang cocok untuk bekerja dirumahnya. Dan keesokan harinya saat Floren sedang
    bekerja Floren dihubungi oleh agen tersebut memebritahukan ada pendatang baru dan meminta
    Floren untuk mengeceknya. Dan Floren pun langsung menuju agen tersebut.
    Setalah sampai, Floren langsung diantarkan kesuatu ruangan dimana disitu sudah menanti
    seorang wanita muda yang sangat cantik sekali, kulitnya putih dengan tubuh yang sintal.
    Namanya Yuyun, Usianya juga masih muda 23 tahun, dan tanpa menuggu lama Floren pun
    langsung menyetujuinya. Dan setelah Floren menyelesaikan administrasinya Floren pun
    akhinrya membawa Yuyun masuk didalam mobilnya. Didalam perjalan pulang menuju rumah
    Floren, Floren menanyakan status Yuyun. Yuyun pun menjawab kalau Yuyun adalah seorang
    janda yang ditinggal suaminya nyelweng dengan wanita lain.
    Tak berapa lama akhirnya Floren sampai dirumah. Langusng saja diantarkannya Yuyun menuju
    kamar yang akan ditempatinya. Floren memberikan kamar yang lumayan bagus untuk seorang
    pembantu. Ada tv besar lengkap dengan dvd nya dan ruangan yang cukup besar. Yuyun pun
    senang dengan kamar yang dikasih majikannya itu kepadanya. Setelah mengantarkan Yuyun
    kekamarnya, Floren pun meninggalkan Yuyun dan kembali kekantor.
    Selesai memasukan mobilnya digarassi,Damar berpapasan dengan Yuyun yang sedang menyapu
    halaman. Yang langsung disapa oleh Yuyun dengan agak menunduk.

    “Selamat sore tuan” sapa Yuyun dengan ramah.
    “Oh..ya..ya..sore,sore kamu tentu Yuyun ya, kapan datang” tanya Damar dengan agak gugup
    karna terpana dengan kemolekan tubuh Yuyun.
    “Tadi siang tuan, dijemput oleh nyonya diterminal” jawab Yuyun.
    “Oh, begitu, tapi tolong jangan panggil saya tuan, kau bisa panggil aku Om atau bapak”
    “Ma-af tuan.. eh..Om, ma-af Om” jawab Yuyun gugup.
    Damar segera menemui Floren yang sudah menunggu didalam,dan seraya memuji.

    “Ah, gila bahenolnya. hebat juga kamu dapetin tuh cewek, aku langsung horny nih Lin”
    “Dasar kamu Penis nakal begitu ngeliat cewek montok langsung semaput” sambil tangan nya
    meremas Penis suaminya itu.
    “Aduuh… kau main remes aja aku jadi tambah konak nih”. Sambil meremas kemaluan milik
    suaminya Floren berbisik lembut diteliga Damar
    “Sabar sayang kita akan pesta nanti malam menikmati ayam kampung dari Sukabumi itu” seraya
    dia berikan kecupan lembut kebibir suaminya. Cerita Maya

    Sekitar pukul 21.00 setelah mereka selesai makan malam Floren memasuki kamar Yuyun dengan
    mengenakan sepatu lars tinggi berwarna merah serta celana dalam sexy dan BH berwarna merah
    dengan rias wajah yang menantang serta rambut disasak seperti wanita dalam film-film Blue.
    Yuyun serta merta merasa kaget hampir tidak mengenali myonyanya tersebut.
    “Ya, ampun, ada apa nyah” pekiknya.
    “Tenang Yun kita akan melakukan permainan yang mengasyikan yang tentu kau pun akan
    menyukainya ” Dengan lembut Floren mejelaskan,sambil jari jemarinya yang lentik serta
    dihias pewarna kuku itu mengusap usap piggul Yuyun.
    “Permainan apa nyah ? ” “Nanti kamu akan tahu sendiri, sekarang mari aku bantu mengenakan
    pakaian yang aku berikan padamu” Yuyun masih terheran-heran ketika Floren mulai membantu
    mengenakan stoking serta menghias wajahnya dengan mike up yang menantang . Sambil memberi
    meke-up pada wajah Yuyun mata Floren tertuju pada beberapa celana dalam yang tergeletak
    diatas meja tv.
    “Rupanya kau telah menonton film-film itu Yun, bagaiman asyik enggak..?” tanya Floren
    sehingga Yuyun tampak malu-malu. “Habis iseng sih nyah, makanya saya stel film itu,
    dikampung kadang-kadang juga suka nonton dirumah tetangga, yah, namanya juga janda, iseng
    nyari hiburan.” Jawab Yuyun polos.
    “Kamu mau Yun, melakukan seperti yang ada difilm itu.?” Tanya Floren,sehingga Yuyun tampak
    semakin kikuk mendengar pertanyaan Floren
    “Ah, nyonya bisa aja, saya kan janda nyah sama siapa saya akan melakukannya”
    “Kalau sama suamiku kamu mau Yun?” hampir terbelalak Yuyun mendengar ajakan nyonyanya itu,
    bagaimana mungkin dia berhubungan badan dengan tuannya sementara nyonyanya tahu.
    “Lihatlah dirimu dicermin itu kau tampak sexy pasti suamiku tergila gila melihatmu “ Yuyun
    terheran-melihat penampilannya didepan cermin namun dalam hati timbul rasa bangga melihat
    betapa sexy dan menggairahkan dirinya dengan penempilan seperti itu mirip seperti wanita-
    wanita difilm porno yang tadi siang ia tonton.

    Ketika Yuyun terpesona dengan dirinya, Floren menuntun Yuyun keruang utama dan disana
    Damar sudah menunggu dengan hanya mengenakan celana dalam. Damar tampak seperti tersihir
    melihat penampilan Yuyun sehingga benda yang berada didalam celana dalamnya tampak semakin
    menonjol.
    “Woow.. sangat luar biasa begitu sexy dan sangat menantang” pujinya Yuyun tampak tersipu
    malu namun juga merasa terangsang melihat Damar yang berwajah tampan serta berbadan
    atletis hanya mengenakan celana dalam sehingga tampak menggairahkan bagi seorang janda
    kesepian seperti dirinya.

    Floren segera mengecup bibir suaminya dan saling berpilin lidah sambil tangan Floren
    meremas remas Penis Damar yang sudah menegang, lalu Floren melorotkan celana dalam Damar
    dan mendorong Damar kesofa sehingga Damar terduduk disofa dengan Penis mengacung Floren
    segera membelai belai Penis Damar dan menjilatiya , sementara Yuyun memandaginya sambil
    berdiri , Floren sambil berjongkok semakin gencar mengulum Penis Damar. Lalu menarik
    lengan Yuyun.
    “Yuyun kau berjongkok disini pegang Penis ini dan lakukan seperti yang aku lakukan, jangan
    sungkan-sungkan kau bebas melakukan apapun yang kau mau” Lalu dengan ragu Yuyun memegang
    kemaluan Damar dan memasukannya kedalam mulutnya mula-mula ia agak canggung namun nafsu
    yang sudah begitu besar membuat ia tak peduli ia telan habis Penis itu seperti yang ia
    lihat difilm Blue. Sementara Damar terus merem melek meYunan nikmat. Cerita Maya

    Floren menghampiri Damar dan melumat lidah Damar seraya berbisik.
    “Bagaima sayang telah kau rasakan mulut wanita desa itu dengan Penismu ”
    “Zzzzzz…..aaaaaaaahhh…!! sedaaap sekali lin Penisku serasa diawang-awang ..aaaaaeehh
    teruuuss naah enaakk niiihh. ”

    Yuyun semakin bersemangat mengulum Penis Damar lalu lidahnya turun kebawah dan menjilati
    biji pelirnya serta mengisap-hisap buah telur milik Damar. Dan Damar semakin meracau tak
    karuan. Floren segera berdiri disofa dan mengarahkan memeknya kewajah Damar.

    “Hisap memekku sayang “ perintah Floren , segeralah Damar melumat memek Floren sambil
    Penisnya dihisap Yuyun. Floren memejamkan matanya saat Damar menjilati dan melumat
    memeknya sambil tangannya memegang tembok dibelakang sofa.
    “Iya, terus rud, jilati memekku aiiih.. ah..ah iya terus rud, itilnya rud… itilnya kau
    jilat uuuuuhh..asyiiiik” Damar semakin bersemangat mendengar racauan Floren ia semakin
    bernafsu melumat memek Floren yang sudah basah tersebut.

    Sementara Yuyun dengan penuh nafsu dia lumat terus batang Penis Damar. satu tahun menjadi
    janda tanpa perYun sekalipun melakukan hubungan badan membuat dia sangat haus sekali
    dengan permainan sex apalagi ditambah dengan seringnya ia menonton vcd porno bertambah
    saja menumpuk nafsu birahinya yang iya pendam selama setahun, selama dikampung apabila ia
    habis menonton vcd porno ingin sekali ia melakukan adegan-adegan yang ada difilm tersebut
    namun tak perYun kesampaian.

    Hingga pada akhirnya ia berada disini dan segala impianya itu bisa ia wujudkan disini
    dengan pria setampan Damar, maka seluruh nafsu birahi ia tumpahkan disini sambil terus
    melumat Penis Damar tangan kirinya mengobel-ngobel memeknya sendiri hingga memeknya tampak
    basah. Hampir sepuluh menit Yuyun meghisap Penis Damar dan Damar mennjilati memek Floren,
    dan Floren segera turun dari sofa dan segera menungging dilantai yang telah dipasang
    karpet permadani tersebut.

    “Ayo rud! entot memekku dari belakang ” sambil tangannya menggosok-gosok memeknya.
    Damar segera mengarahkan Penisnya tepat dimulut memek Floren lalu dia tekan seluruhnya
    memek Floren yang sudah basah tersebut. Floren memejamkan mata saat batang rudal Damar
    menembus liang memeknya serasa nikmat menjalari tubuh Floren hingga mulutnya berkicau
    tiada henti.
    “Zzzzz..aaaaahhhh, uuh..uuh terus rud. Goyang terus rud yang kenceng rud ooooohh..yea
    oooohh..yea memekku terasa nyaman sekali rud. eenaaaaak tenaan. ” Damar terus menancapkan
    batang Penisnya dengan sekuat tenaga kelobang memek Floren, irama yang terdengar dari
    memek Floren sangat erotis karna memek Floren sudah basah cloooob….clooob ….clooob
    sleeb..sleeb…sleeb begitu seterusnya secara berirama sehingga Yuyun degan terpana
    menyaksikan bagaimana Penis Damar menusuk-nusuk memek Floren . Yuyun memelihat dari jarak
    hanya sekitar 10 cm sehingga dengan jelas dia dapat melihat betapa indahnya saat Penis
    Damar keluar masuk memek Floren, sambil tangannya mengobel ngobel kemaluannya sendiri ia
    sudah tidak sabar ingin merasakan hantaman Penis Damar.

    Floren sambil menikmati hantaman Penis Damar ia menyaksikan apa yang diperbuat Yuyun lalu
    tersenyum dan berkata “Yuyun kamu jangan ngeliatin aja dong, kamu jilatin Penis suamiku,
    jangan malu-malu kan sudah aku bilang kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, kau
    praktekan apa yang perYun kamu lihat divcd porno ” Sebenarnya memang itu yang diinginkan
    oleh Yuyun maka tanpa ragu-ragu ia hisap buah pelir Damar sambil terus batang Penis Damar
    keluar masuk memek Floren.

    Baca Juga Cerita Seks Majikan Yang Kesepian

    Maka serasa ganda kenikmatan yang dirasakan oleh Damar yaitu kenikmatan memek Floren dan
    kenikmatan hisapan mulut Yuyun di buah pelirnya. Damar memejamkan mata sambil menusuk-
    nusukan Penisnya kememek Floren “Aahh, asssiiik terus Yun hisapi biji pelerku nikmaaaaat
    iya teruuuuss kalau perlu kau telan semua. Sssssss…. Aaaaahhh” Yuyun terus melumat pelir
    Damar sambil sesekali menjilati batang Penis Damar yang masih terselip diantara memek
    Floren.

    Melihat keinginan Yuyun untuk menjilati batang Penisnya maka Damar segera mencabut
    Penisnya dari memek Floren, Penis tersebut sudah basah oleh cairan memek Floren, dan ia
    masukan kemulut Yuyun.

    “Hisap Penisku Yun aku tau kau sangat menginginkannya ” dengan rakus Yuyun langsung
    melumat batang Penis Damar yang telah basah oleh cairan memek Floren tersebut. hanya
    beberapa saat Damar langsung menusukan kembali kedalam lubang memek Floren, ia kocok
    beberapa kali lalu ia keluarkan kembali dan ia masukan lagi kedalam mulut Yuyun, Yuyun
    menghisapnya beberapa saat untuk kemudian Damar menusukan lagi kedalam memek Floren ia
    kocok beberapa kali lalu ia keluarkan dan dimasukan kembali kemulut Yuyun untuk dihisap,
    begitu serusnya secara berirama.
    Hingga pada akhirnya Floren berteriak.

    “Aaaaaahhh terus rud kocok yang kuat aku mau keluar niiih ” Damar terus menghatam memek
    Floren dengan sekuat tenaga dan dengan irama yang sangat cepat, dan akhirnya Floren sampai
    pada puncaknya.
    “Aaaaaaaaaaahhh….aaaasyyyyyyiiik ennnnnnnaaaaaaaaak ooooooooohh….” Begitu banyak cairan
    yang keluar dari memek Floren sehingga menimbulkan bunyi yang indah saat Penis Damar
    mengocoknya jrrrrrrrooot….jrrooooot….clloook…cloook…clooop
    Floren tersenyum puas sambil terus menugging dan Damar masih menghantam memeknya
    Lalu Floren berseru. “Stop rud, sekarang kau giliran mengentot memek Yuyun ” Floren segera
    bangkit dan mendorong tubuh Yuyun hingga terlentang dilantai. Cerita Maya

    “Yun sekarang kau akan merasakan nikmatnya batang Penis suamiku, aku tau kau sudah tidak
    sabar bukan..? sambil tangan Floren mengobel-ngobel memek Yuyun.
    “Iya nyah aku sudah kepingin sekali nyah ” lalu Floren meraih Penis Damar dan dihisapnya
    beberapa saat lalu berbisik kepada Damar.
    “Sekarang kau entot memek wanita desa ini rud ” sambil tangan nya membelai Penis Damar
    yang sudah tegang ia berikan kecupan mesra pada suaminya.
    “Selamat menikmati sayang ” lalu ia tuntun batang Penis Damar kearah lubang memek Yuyun
    yang mengangkang ia tekan Penis Damar hingga masuk seluruhnya liang memek Yuyun.

    Yuyun terpejam saat batang Penis Damar menembus kelubang memeknya nikmat yang sudah lama
    tidak ia rasakan kini ia rasakan kembali dengan pria yang setampan Damar dan batang Penis
    yang begitu besar.

    “Aaaaahhhh asyyyyyyik …terussss, legit Ooom. enaaak , sssssssssess….aaaaahhh. enaak
    Eeeuuuuuuuyy” terus Yuyun meracau tanpa rasa canggung karna rasa canggung nya telah
    terbenam oleh rasa nafsu dan nikmat yang begitu menggelora. Damar menggigit bibir bawahnya
    karna merasakan legitnya memek Yuyun yang belum perYun ia rasakan sebelumya.

    “Bagaimana rud enak memeknya ?” bisik Floren.
    “Luar biasa lin, gurih sekali barang wanita kampung ini aaaaaahhh…..aaaaahhh…. zzzzzz…
    aaahhh”

    Floren mengecup bibir Damar sambil tangan nya membantu mendorong pantat Damar agar lebih
    tandas masuk kememek Yuyun. Yuyun terus meracau tak karuan dengan logat sunda yang masih
    kental sambil pantatnya ia goyang mengimbangi hantaman Penis Damar.

    “Enaaak eeuuyy aaaaaahhh, ayu atuh Oom. geol yang kuat ” Damar tak tahan melihat sexy nya
    tingkah laku Yuyun lalu ia lumat dengan rakus bibir Yuyun dan mereka saling berpilin
    lidah, Yuyun dengan nafsu langsung menyambut ciuman Damar sambil ia cengkram kepala Damar
    dengan kedua tangan seolah-olah tidak ingin ia lepaskan.

    Melihat adegan itu Floren segera berinisiatif untuk menjilati batang Penis Damar yang
    keluar masuk memek Yuyun sambil sesekali ia jilati juga memek Yuyun sehingga Yuyun
    merasakan semakin nikmat saat lidah Floren menjilati bibir memeknya.

    “Iya nyah assyik nyah jilatin terus nyah geli euy” Mendengar perkataan Yuyun, Floren
    semakin bersemangat menjilati bibir memek Yuyun dan juga itilnya sehingga Yuyun semakin
    blingsatan.

    Hampir lima menit Damar menggojlog memek Yuyun dan memek Yuyun tampak semakin basah oleh
    cairan birahinya. Sementara Floren mulai menjilati biji pelir Damar dan juga lubang anus
    Damar tak luput dari jilatannya sehingga Damar merasa geli-geli nikmat saat ujung lidah
    Floren menggelitik lubang anusnya.

    “Iya enaak lin terus kau jilati lubang pantatku aaahhh….aaaaahhh…geli, lin ”

    Rasa nikmat yang dirasakan Damar dari dua sisi yaitu dari batang Penisnya yang menembus
    memek Yuyun dan lubang pantatnya yang dijilati Floren, membuat ia tidak tahan dan akhirnya
    sampailah pada klimaksnya disertai jeritan panjang Damar.

    “Aaaaaaaaaaaaaah aku keluar liiiin…” Disusul pula secara bersamaan oleh jeritan Yuyun yang
    mencapai orgasme.

    “Aduuuuh ennaaaak euuuy.. ” sehingga susana sangat riuh pada saat detik-detik kenikmatan
    tersebut.

    Dan Damar segera mengeluarkan batang Penisnya, Floren dengan cepat menyambut cairan air
    mani yang keluar dari Penis Damar dengan mulutnya, begitu banyak sperma yang keluar
    sehingga mulut Floren serasa penuh oleh cairan gurih-gurih asin itu. sperma tersebut
    menghiasi juga pipi dan dagu Floren, Yuyun pun segera bangkit dan menjilati sisa-sisa
    sperma dari batang Penis Damar.

    Melihat Yuyun menghisap-hisap Penis Damar untuk mendapatkan sisa-sisa sperma, Floren
    segera tanggap dan ia tarik rambut Yuyun sehingga Yuyun tertengadah lalu Floren
    menumpahkan sebagian sperma Damar yang berada dimulutnya kedalam mulut Yuyun, Yuyun dengan
    rakus langsung menelannya bahkan sperma yang melekat didagu dan pipi Floren ia jilati
    pula. Floren dan Yuyun akhirnya saling berpilin lidah dan saling berciuman untuk menikmati
    sperma yang ada dimulut masing-masing.

    Damar terduduk disofa sambil menyaksikan atraksi yang erotis yang diperagakan oleh Floren
    dan Yuyun. Dan akhirnya Yuyun bersandar dibawah sofa sambil melepas lelah dengan meminum
    segelas Orange juice. Floren bercelentang diatas karpet sambil menikmati rokok Sampoerna A
    mild kesukaannya. Sementara Damar duduk disofa sambil menenggak sekaleng bir Heineken.

    Kira-kira setengah jam mereka melepas lelah sambil berbincang-bincang dan menyantap
    makanan kecil, tubuh mereka sudah mulai pulih kembali, Floren segera menangkap batang
    Penis Damar dan menghisapnya lalu memberikannya pada Yuyun

    “Yun ini, ayo kau hisap kita akan segera melakukan permaian kedua yang lebih mendebarkan
    dan yang belum pernah kau alami sebelumnya, dan pasti kau akan menyukainya pula” Yuyun
    segera menghisap Penis Damar dengan bersemangat, dan Floren membisikan sesuatu pada Damar.
    “Ayo rud, kita segera akan melakukan Anal sex, anusku sudah tidak tahan menerima hantaman
    batang rudalmu”
    “Iya sayang aku pun sudah tidak tahan untuk menikmati lubang anusmu yang legit itu ” bisik
    Damar pula.sambil mengobel lubang anus Floren.

    Lalu Floren terlentang diatas karpet sambil mengangkang dan menusuk-nusukan jari
    telunjuknya kedalam lubang anusnya sendiri sambil sesekali mengoleskan air liur pada
    lubang anusnya.

    “Bagaimana Yuyun apakah sudah siap batang Penis yang kau hisap itu untuk menghantam lubang
    anusku, cepat aku sudah tidak tahan nih.”

    “Iya, sebentar nyah” Lalu Yuyun segera mengeluarkan batang Penis Damar dari mulutnya dan
    segera menuntunnya kearah lubang anusnya.

    Damar segera menekan Penisnya kedalam lubang dubur Floren serasa peret dan enak, batang
    Penisnya serasa dijepit oleh anus Floren dan Florenpun memejamkan matanya meYunan
    nikmatnya batang Penis Damar menusuk nusuk anusnya Cerita Maya

    “Aaaaaaahhh…asssyyyik terus rud hantam lobang pantatku auh..auh..iya, iya”

    Damar terus menggenjot Penisnya secara berirama sambil memejamkan matanya dan tersenyum
    nikmat merasakan batang Penisnya yang dijepit oleh anus Floren, serasa nikmat membawa
    tubuhnya keawang-awang.

    Yuyun terpana menyaksikan Penis Damar yang begitu besar menembus tanpa ampun kedalam
    lubang dubur Floren, namun Floren tampak merasa nikmat yang luar biasa. Sungguh permainan
    yang belum perYun dirasakan oleh Yuyun sebelumnya namun Yuyun sering menyaksikannya dvd
    porno, dan ia ingin sekali mencobanya dengan Damar.

    Yuyun segera menjilati biji pelir Damar dari belakang sambil sesekali ia jilati pula
    batang Penis yang terselip diantara lubang pantat Floren, sampai pada akhirnya ia jilati
    pula lubang dubur Damar, mula-mula ia agak jijik namun setelah beberapa saat ia mulai
    merasakan kenikmatan tersendiri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, maka dengan rakus
    ia jilati terus lubang dubur Damar sampai ia tancapkan ujung lidahnya kedalam dubur
    tersebut, Menerima aksi Yuyun yang atraktif tersebut membuat Damar semakin merasakan
    kenikmatan yang luar biasa, lubang duburnya serasa digelitik benda lembut saat Yuyun
    menancapkan ujung lidahnya kedalam dubur Damar. Sementara Damar memejamkan mata saat
    menikmati dubur Floren dan juga lubang duburnya yang dijilati oleh Yuyun.

    “Aaaaah…. Asyyyiiiiik jilatin terus lubang pantatku Yun, masukan seluruh lidahmu kedalam
    anusku, serasa sukmaku melayang…sseess..aah ”

    Floren memeluk leher Damar dan melumat bibir Damar dan mereka saling beradu lidah dalam
    menikmati permainan tersebut.

    “Aaahh teruuuus rud, goyang terus batang Penismu kedalam lubang pantatku, tandaskan
    seluruhnya rud, biarkan sukmaku melayang karna nikmat yang kau berikan ini” Damar terus
    menghantam dubur Floren dengan kekuatan penuh, sementara lidah Yuyun masih terus
    bergerilya didalam lubang anus Damar.

    Pada menit kesepuluh permainan tersebut, mereka merubah posisi, kini Damar telentang
    dikarpet, sementara Floren diposisi atas dengan berjongkok membelakangi wajah Damar,
    setelah Yuyun menghisap beberapa saat batang Penis Damar lalu Floren mulai memasukannya
    kembali kedalam lubang pantatnya dan langsung memompanya sambil berjongkok dengan irama
    yang mula-mula lambat hingga lama kelamaan sangat cepat

    “Hihh …hihhh..hihh.. rasakan goyanganku ini rud semoga kau menikmatinya”
    “Iya terus lin enak sekali Penisku serasa tersedot oleh lubang anusmu”

    Kemudian Damar segera memerintahkan Yuyun untuk memberikan memeknya kemulutnya, maka
    segera saja Yuyun berjongkok diatas wajah Damar dan Damar dengan rakus segera menjilatinya
    sehingga Yuyun menggigit bibir bawahnya sambil matanya terpejam karna merasakan nikmat
    “Aaaaaah…asyiiiik om, geli-geli enaaaak terus Oom. emmmmmmm..aaahhh” Yuyun terus meracau
    sambil menjambak rambut Damar, dan Damarpun tidak hanya menjilati memek Yuyun tetapi ia
    mulai pula menjilati lubang dubur Yuyun, sehingga Yuyun semakin merasa nikmat dan juga
    agak geli saat ujung lidah Damar menggelitiki lubang dubur Yuyun , sehingga ia sesekali
    tertawa manja saat merasakannya “Aiiihh…auuw…geli Oom.hiii..hiii..hiii…aiihh.. auuw..auuw…
    hiii…hiii..hiii tapi asyiik om, geli-geli enak, terus om.. terruuuuss.. mmmmmmm..ahhhh.”

    Lebih dari sepuluh menit Floren memompa batang Penis Damar dengan lubang anusnya sambil
    berjongkok membuat peluh ditubuhnya bertambah deras hingga ia merasa kehabisan tenaga dan
    menghentikan kegiatan tersebut. Lalu ia berbisik kepada Yuyun “Yun, sekarang giliran
    lubang pantatmu yang menerima hantaman Penis Damar, apakah kamu sudah siap, Yun…?” seraya
    mengecup bibir Yuyun dengan mesra.

    “ Iya, nyah saya sudah tidak sabar ingin merasakannya nyah ”
    “Damar, apakah kau sudah siap untuk mengentot lubang pantat Yuyun yang masih perawan itu”
    bisik Floren kepada Damar.
    “Ow.. tentu sayang, aku sudah tidak sabar untuk memerawani lubang anus wanita desa yang
    seksi dan mulai nakal ini”

    Lalu Floren segera telentang dan memerintahkan Yuyun untuk menungging diatas tubuhnya.

    “Kau akan merasakan sesuatu yang menakjubkan dalam hidupmu Yun, saat melakukan permainan
    ini”
    dan Yuyunpun segera menungging diatas tubuh Floren yang telentang dengan posisi memek
    Yuyun tepat berada diatas wajah Floren dan posisi memek Floren berada didibawah wajah
    Yuyun, seperti posisi 69.

    Lalu Floren segera menjilati lubang dubur Yuyun dan mencolok-colok nya dengan jari
    telunjuk sambil mengoleskan air ludah kedalam dubur Yuyun, Lalu Damar segera memasukan
    batang Penisnya kedalam mulut Floren untuk kemudian Floren menghisapnya dengan rakus
    beberapa saat kemudian ia keluarkan batang Penis Damar dari mulutnya dan mulai ia arahkan
    Penis Damar kelubang dubur Yuyun

    “Selamat menikmati sayang” bisik Floren dan Damar pun langsung menekan batang Penis nya
    kearah anus Yuyun yag telah basah oleh air ludah Floren, ia tekan dengan lembut dan penuh
    perasaan karna memang agak sulit memasukan batang Penisnya kedalam lubang pantat yang
    masih perawan seperti Yuyun.

    Beberapa kali sempat meleset dan akhirnya berhasil juga tembus berkat usaha Floren
    membantu menuntunnya serta melumasinya dengan air ludah. Pada saat tembus kedalam lubang
    duburnya, Yuyun sedikit meringis karna merasa agak perih, namun kira-kira beberapa detik
    kemudian ia mulai merasakan kenikmatannya sehingga ia tampak memejamkan matanya merasakan
    nikmat.

    “Mmmmmmmmm..aaaaahhh.. asyyiiiiiik..terus om, entot lobang dubur saya om, enaaak….” Yuyun
    menikmati tusukan batang Penis Damar yang menghantam lubang anusnya sambil menjilati memek
    Floren yang berada dibawah wajahnya.

    Yuyun benar-benar merasakan petualangan yang mengasyikan dan ia benar-benar menikmati itu
    semua. Damar menikmati keperawanan anus Yuyun sambil memejamkan matanya, sambil sesekali
    meringis karna anus Yuyun serasa masih begitu sempit dan peret karna belum perYun
    dimasukan oleh batang Penis, berbeda dengan lubang anus Floren yang sudah sering dihantam
    oleh berbagai macam Penis. Sehingga Damar tidakbisa menggoyang batang Penisnya dengan
    terlalu keras, namun harus penuh kelembutan dan penuh perasaan.

    Floren beraksi dengan menjilati pangkal Penis Damar yang masih tersisa diluar anus Yuyun
    serta menjilati lubang memek Yuyun secara bergantian, sambil merasakan kenikmatan lubang
    memeknya yang dijilati oleh Yuyun. Hampir sepuluh menit Damar menikmati anus Yuyun, dan
    Damar segera mengeluarkan batang Penisnya dan ia masukan kemulut Floren untuk dihisap,
    Floren menghisapnya dengan rakus, aroma anus Yuyun masih terasa melekat pada Penis Damar
    sehingga menambah rasa kenikmatan tersendiri bagi Floren hingga dengan lahap ia melahap
    Penis Damar tersebut. Hanya beberapa detik kemudian Damar memasukan Penisnya kembali
    kedalam dubur Yuyun, lalu ia pompa beberapa kali dan ia keluarkan lagi dan dimasukan
    kembali kedalam mulut Floren untuk dihisap oleh Floren, begitu seterusnya untuk bebeberapa
    kali.Cerita Maya

    karna Damar mengerti Floren sangat suka menikmati Penis yang baru saja dikeluarkan dari
    lubang anus. Aroma anus yang melekat pada batang Penis sangat membangkitkan gairah bagi
    Floren, itulah yang dikatakan oleh Floren kepada Damar beberapa waktu lalu.

    Akhirnya, setelah Yuyun menerima hantaman Penis Damar yang bertubi-tubi pada lubang
    duburnya, dan juga jilatan lidah Floren pada lubang memeknya, sampailah Yuyun pada puncak
    kenikmatannya disertai dengan jeritan yang keras.

    “Aaaaaaaaaaaaaaaahhh….. enaaaakk… Euiiiiiiiiiiiiiiiyy.” Maka tumpahah cairan hangat yang
    bening keluar dari lubang memek lYun, dan Floren dengan rakus langsung menghirup cairan
    tersebut dan menelannya. Beberapa saat kemudian disusul oleh jeritan Damar yang telah
    mencapai klimaks.
    “Aaaaaaaah… aakku.. keluar lin…” dan Damar segera menarik keluar batang Penisnya dan
    dikeluarkan air maninya diatas lubang dubur Yuyun.

    “Crrroooot……crrrrroottt…crooot….” Banyak sekali sperma Damar yang keluar memenuhi sekitar
    lubang anus Yuyun, dan dengan rakusnya Floren segera menjilati sperma disekitar lubang
    dubur Yuyun tersebut dan ditelannya sampai habis, sampai dijilatinya kedalam lubang dubur
    Yuyun dengan harapan masih tersisa air mani Damar.

    ” Mmmmmm…nyeemmm…nyeemm..nyeemm. gurih sekali air manimu rud, apalagi bercampur dengan
    aroma dubur Yuyun serasa nikmat tiada tara…” sambil terus menjilati sisa-sisa air mani
    Damar yang terselip didalam lubang anus Yuyun.

    Yuyun terkapar lemas diatas tubuh Floren yang masih menjilati lubang anusnya. Yuyun
    terkapar lemas namun senyum bahagia tampak terlukis diwajahnya karna benar-benar ia
    merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang belum perYun ia rasakan sebelumnya dan tak akan
    perYun ia lupakan sampai kapanpun. Dan ia berharap ini jangan cepat-cepat berakhir, karna
    ia ingin terus merasakan kenikmatan seperti ini lagi.

  • Majikan Yang Kesepian

    Majikan Yang Kesepian


    131 views

    Cerita Maya | Pak Jaka adalah laki-laki 50 tahunan yang dulunya bekerja sebagai tentara, namun sekarang
    pak Jaka dipecat karena kasus kedisiplinan karena pak Jaka sering gak berangkat dinas
    hanya untuk urusan yang gak penting-penting.

    Pak Jaka ini memiliki tubuh yang sangat kekar, berkulit lumaya hitam dan tentunya wajah yang seram. Seusai dia dipecat dai
    tentara, dia sekarang bekerja jadi satpam disebuah rumah yang sangat besar dan sangat
    megah sekali, hampir seperti istana, namun pak Jaka disitu bekerja sendirian. Pak Jaka
    saat ini bekerja pada pengusaha emas yang kaya raya. Dia juga mempunyai majikan perempuan
    yang bernama Tari. Dia masih lumayan muda sekitar 30 tahunan dengan tubuh yang gak perlu
    dibicarakan lagi, karena wajah dan tubuhnya sangat menggaTarihkan dan membuat nafsu setiap
    laki-laki.

    Setelah kurang lebih setahun pak Jaka bekerja dirumah megah itu, pak Jaka setiap malam
    mendapati kedua majikannya sedang berhubungan intim. Yang biasanya pak Jaka hanya dapat
    melihat tubuh seksi majikannya itu terbalut pakaian, sekarang setiap malam pak Jaka dapat
    melihat langsung tubuhnya yang seksiitu telanjang bulat. Ketika pak Jaka mengintip kedua
    majikannya sedang bersetubuh pak Jaka membayangkan kalau dia yang ada diposisi majikan
    laki-lakinya itu dan menikmati tubuh majikan wanitanya itu. namun pak Jaka mendesah karena
    semua itu hanya khayalan dan tak mungkin akan terjadi.

    Baca Juga Cerita Seks ABG Dan Pembantu Yang Seksi

    Hingga suatu malam, saat itu sedang gerimis. Pak Jaka duduk sendirian didalam pos. beda
    dengan yang lain, pos pak Jaka ini sangat lengkap seperti kamar pribadi. Kemudian pak uang
    dikagetkan dengan datangnya manjikan wanitanya. Majikan wanitanya sengaja mendatangi pak
    Jaka untuk menghilangkan jenuhnya, ia berjalan-jalan di halaman itu dan membawa makanan
    kecil untuk Jaka. Ia ke ruang satpam dan duduk didalamnya, Jaka menjadi salah tingkah.
    “Bu, saya tidak enak sama Ibu. Masak Ibu duduk di ruang ini?” kata Jaka. “Ohhh… ndak apa-
    apa la, Pak? Masak… duduk saja ndak boleh? “Saya takut nanti Pak Rudi marah,” jawab Jaka.
    “Oooo itu to… Mas Rudi sekarang sedang di Kanada. Jadi, ndak apa kok, pak,” terang Tari.
    “Kalau Pak Jaka keberatan saya disini, Bapak saja yang ke dalam, kan kita bisa bicara-
    bicara, Pak?” kata Tari. “Baiklah, Buk,” kata Jaka, “Tapi hari akan hujan tampaknya.” Lalu
    Tari berjalan kedalam rumahnya dan diikuti Jaka di belakang. Dari belakang ia perhatikan
    terus pinggul majikannya itu yang saat itu memakai celana tidur dan blouse dari sutra. Di
    dalam salah satu ruangan di rumah itu, Tari dan Jaka berbincang- bincang tentang berbagai
    hal, sampai tentang masalah dalam kamar tidur Tari dan Rudi. Sedang hari saat itu di
    luaran hujan deras.

    Karena suasana dan dinginya malam itu, ditambah lagi pembicaraan yang terlalu menyentuh
    tentang urusan ranjang, membuat Jaka mengetahui rahasia kamar Tari dan Rudi itu. Jaka
    merasa mendapatkan peluang untuk masuk ke dalam pribadi Tari. Dengan berbagai cara dan
    rayuan, Jaka pun telah dapat mengenggam tangan Tari dan memeluknya. Dengan cara yang
    lembut ia dapat mencium bibir Tari yang mungil itu. Tari sedikit menyesal karena ia telah
    jatuh dalam kelembutan yang diberikan Pak Jaka. Dengan kelihaian Jaka mempermainkan Tari,
    maka Tari dapat ia giring kedalam salah satu kamar di rumah itu. Di kamar yang
    diperuntukan bagi tamu itu, Tari ia tuntun. Di dalam kamar itu ia baringkan Tari dengan
    hati-hati dan ia raba buah dada Tari tanpa membuat Tari merasa menyesal. Lalu ia buka
    blouse tidur dan BH yang menutupi dada Tari satu persatu.Cerita Maya

    Di belahan dada Tari ia singgah untuk memilin puting dan mengggigit dada Tari hingga
    memerah. Tari saat itu tidak sadar bahwa ia telah punya suami dan jatuh terlalu dalam.
    Dengan tangannya, Jaka membuka celana tidur Tari dan lalu celana dalamnya sehingga
    terlihat bulu-bulu halus yang tertata rapi menutupi rongga vagina Tari. Dengan leluasa
    jari tangan Jaka masuk dan mempermainkan lobang vagina Tari hingga Tari ingin cepat
    dituntaskan. “Ahggggggggghhhhh, Pakkk…. Cepat, Pak…” Dengus Tari saat itu. Lalu Jaka
    membuka seluruh pakaiannya sehingga ia pun kini telah telanjang bulat. Jaka yang selama
    ini hanya melihat Tari telanjang saat bersenggama denga suaminya, kini dapat melihat
    sendiri dari dekat dan merasakan langsung kehangatan tubuh Tari yang selama ini hanya bisa
    ia bayangkan. Jaka pun lalu membuka kedua kaki Tari hingga kedua kaki yang jenjang itu
    tertaut di kedua bahunya yang bidang. Ia arahkan penisnya yang tegak, siap untuk masuk ke
    dalam vagina Tari yang masih kecil itu.

    Dengan sedikit dipaksa, amblaslah penis Pak Jaka kedalam lobang itu. Tari hanya bisa
    menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyilu dan perih saat dimasuki kemaluan Jaka.
    Beberapa saat lamanya Jaka terus menggenjot dan memajumundurkan penisnya di dalam vagina
    Tari hingga Tari merasakan nikmat dan orgasme. Lalu Jaka pun memuncratkan maninya di dalam
    vagina Tari. Ia biarkan saja tumpah di dalam tubuh nyonya majikannya itu. Sambil penisnya
    tetap tertanam di dalam vagina Tari, Jaka pun diam di atas tubuh Tari melepas lelahnya
    hingga ia tertidur. Tari pun tergolek bersimbah keringat. Saat itu keringat Jaka telah
    bercampur dengan keringat Tari. Tidak ada lagi yang membatasi kulit mereka. Tubuh Tari
    masih terhimpit dibawah dalam keadaan lemas dan puas. Malam itu Pak Jaka melakukannya
    sebanyak dua kali lagi dan Tari pun tidak sempat menolaknya. Sejak saat itu, bila ada
    kesempatan, di salah satu kamar rumah itu Tari maupun Jaka berpacu dalam bTarihi. Rudi
    tidak tahu dan hanya mereka berdualah yang menyimpan rahasia itu, hingga saat ini.

  • ABG Dan Pembantu Yang Seksi

    ABG Dan Pembantu Yang Seksi


    110 views

    Cerita Maya | Sebut saja namaku Fredi, umurku saat ini 36 tahun, aku sudah mempunyai istri dan seorang
    Silvik. Kehidupanku juga sudah sangat mapan dengan jabatanku sebagai manager sebuah
    perusahaan besar. aku mempunyai kebiasaan yang lain daripada yang lain dengan sering kali
    mengajak tukar pasangan kepada teman-temanku. Dan sering juga aku diajak tukar pasangan
    dengan teman-temanku. Namun yang aku tukarkan bukan istriku tapi gadis-gadis ABG yang aku
    kencani. Teman yang paling sering mengajaku untuk bertukar pasangan adalah Juna, jadi kita
    sudah tau selera kita masing-masing.

    Malam itu setelah aku mengencani seorang gadis ABG muda, aku membawanya kesebuah hotel dan
    terus menikmati tubuhnya yang sangat bergairah. ABG ini namanya Nita, umurnya masih 23
    tahun, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih, memeknya masih ditumbuhi bulu-bulu
    halus, klitoris yang merah merona, membuat persetubuhanku malam itu sangat memuaskanku
    hingga aku tertidur lelap karena 10 rondeku bersama dengan Nita.
    Pagi harinya setelah aku terbangun aku mendapatkan penawaran dari Juna, dia mengajakku
    untuk bertukar pasangan dengannya karena Juna tau kalau semalam aku habis meniduri seorang
    ABG. Tanpa memakai lama, aku langsung menyetujui ajakan Juna untuk bertukar pasangan
    dengan syarat wanita yang dibawa Juna harus menarik dan bergairah, lalu aku meminta Juna
    untuk mengirimkan foto wanita yang akan ditukarkan. Tak berapa lama Juna mengirimkan
    sebuah foto wanita yang sangat menarik sekali. Kulitanya putih, bibirnya tipis, wajahnya
    imut, dan yang pasti bentuk tubunya sangat menarik perhatianku. Tanpa lama aku lansgung
    menelpon Juna dan langsung menyuruh Juna kehotel tempatku semalam meniduri Nita.
    Pagi harinya setelah aku terbangun aku mendapatkan penawaran dari Juna, dia mengajakku
    untuk bertukar pasangan dengannya karena Juna tau kalau semalam aku habis meniduri seorang
    ABG. Tanpa memakai lama, aku langsung menyetujui ajakan Juna untuk bertukar pasangan
    dengan syarat wanita yang dibawa Juna harus menarik dan bergairah, lalu aku meminta Juna
    untuk mengirimkan foto wanita yang akan ditukarkan. Tak berapa lama Juna mengirimkan
    sebuah foto wanita yang sangat menarik sekali. Kulitanya putih, bibirnya tipis, wajahnya
    imut, dan yang pasti bentuk tubunya sangat menarik perhatianku. Tanpa lama aku lansgung
    menelpon Juna dan langsung menyuruh Juna kehotel tempatku semalam meniduri Nita.
    Sambil menunggu Juna datang, aku melihat Nita udah bangun. “Ada apa om, mau maen lagi
    gak”, katanya sambil tersenyum. “Belum puas semalem ya Nit. Temen om tadi nelpon ngajakin
    om tuker pasangan. Nita mau gak maen ama temennya om. Dia juga ahli kok nggarap cewek abg
    kaya Nita”, jawabku. “Kalo nikmat ya Nita sih mau aja”, Nita bangun dari tempat tidur dan
    masuk kamar mandi.
    Aku menyusulnya. Sebenarnya aku napsu lagi ngeliat Nita yang masih telanjang bulat, tetapi
    karena Silvi mau dateng ya aku tahan aja napsuku. Kita mandi sama sambil saling menyabuni
    sehingga Penisku ngaceng lagi. “Om, kontolnya ngaceng lagi tuh, maen lagi yuk”, ajak Nita
    sambil ngocok kontolku. “Kan Nita mau maen ama temennya om, nanti aja maennya.
    Temen om ama ceweknya lagi menuju kemari”, jawabku. Sehabis mandi, kita sarapan dulu. Nita
    tetep aja bertelanjang bulat sementara aku cuma pake celSilvi pendek saja. Selesai makan
    aku menarik Nita saung dipinggir kolam renang yang ada dibelakang rumahku. Nita kupeluk
    dan kuciumi sementara tanganku sibuk meremes2 toket montoknya. Nitapun gak mau kalah,
    kontolku digosok2nya dari luar celSilvi ku.
    Sedang asik, Juna dan Silvi datang. Juna sudah biasa kalo masuk rumahku langsung nyelonong
    aja kedalem, karena kami punya kunci rumah masing2. Silvi ternyata cantik juga, seperti
    bintang sinetron berdarah arab yang aku lupa namanya. Silvi make pakean ketat, sehingga
    toketnya yang besar tampak sangat menonjol. Pantatnya yang besar juga tampak sangat
    menggairahkan. Silvi terkejut melihat Nita yang bertelanjang bulat. Kuperkenalkan Nita
    pada Juna, Juna langsung menggandeng Nita masuk ke rumah.
    “An, Juna bilang dia nikmat banget ngentot sama kamu, Memek kamu bisa ngempot ya, aku jadi
    kepingin ngerasain diempot juga”, kataku sambil mencium pipinya. “An, kamu napsuin banget,
    tetek besar dan pantat juga besar”. “Nita kan juga napsuin pak”, jawabnya sambil duduk
    disebelahku di dipan. “Jangan panggil pak dong, panggil om. Kan saya belum tua”, kataku
    sambil memeluknya. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai bagian belakang
    telinganya.
    Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis,
    hidungnya yang mancung lalu bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium
    bibirnya. Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima
    lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif
    menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan.
    Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi.
    Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga jempolku bisa
    menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu
    lehernya seiring telapak tanganku meraup toketnya. Silvi menggeliat bagai cacing
    kepSilvisan terkena terik mentari.Cerita Maya
    Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat lidahku menjulur menikmati
    lehernya yang jenjang. “Om….” Silvi memegang tanganku yang sedang meremas toketnya dengan
    penuh napsu. Bukan untuk mencegah, karena dia membiarkan tanganku mengelus dan meremas
    toketnya yang montok.”Sil, aku ingin melihat toketmu”, ujarku sambil mengusap bagian
    puncak toketnya yang menonjol. Dia menatapku. Silvi akhirnya membuka tank top ketatnya di
    depanku. Aku terkagum-kagum menatap toketnya yang tertutup oleh Bra berwarna merah.
    Toketnya begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasnya yang
    memburu. Sambil berbaring Silvi membuka pengait Branya di punggungnya. Punggungnya
    melengkung indah. Aku menahan tangan Silvi ketika dia mencoba untuk menurunkan tali Bra
    nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan Bra nya yang longgar karena tanpa pengait
    seperti itu membuat toketnya semakin menantang. “toketmu bagus, Sil”, aku mencoba
    mengungkapkan keindahan pada tubuhnya.

    Perlahan aku menarik turun cup Branya. Mata Silvi terpejam. Perhatianku terfokus ke
    pentilnya yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu
    runcing dan kaku. Kuusap pentilnya lalu kupilin dengan jemariku. Silvi mendesah. Mulutku
    turun ingin mencicipi toketnya. “Egkhh..” rintih Silvi ketika mulutku melumat pentilnya.

    Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit pentilnya lalu kuisap kuat-
    kuat sehingga membuat Silvi menarik rambutku. Puas menikmati toket yang sebelah kiri, aku
    mencium toket Silvi yang satunya yang belum sempat kunikmati. Rintihan-rintihan dan
    desahan kenikmatan keluar dari mulut Silvi. Sambil menciumi toket Silvi, tanganku turun
    membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari
    lembah di bawah perut Silvi.

    Kubelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba
    Vaginanya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Silvi. Aku secara
    tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping dipan. Silvi tertegun sejenak
    memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka jeans warna hitamnya. Aku
    masih berdiri sambil memandang tubuh Silvi yang tergolek di dipan, menantang. Kulitnya
    yang tidak terlalu putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar.

    Celana jeans ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada
    bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna. Puas
    memandang tubuh Silvi, aku lalu membaringkan tubuhku disampingnya. Kurapikan untaian
    rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Silvi. Kubelai lagi
    toketnya. Kucium bibirnya sambil kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. Silvi
    menelannya.

    Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans Silvi
    yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan
    Silvi yang masih tertutup celSilvi dalamnya. jari tengah tanganku membelai permukaan
    celSilvi dalamnya tepat diatas Vaginanya, basah. Aku terus mempermainkan jari tengahku
    untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuh Silvi. Pinggul Silvi perlahan bergerak
    ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.

    aku menyuruh Silvi untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Tangan kanan Silvi berhenti
    pada permukaan kancing celananya. Silvi lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting
    celana jeansnya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga jembut keriting
    yang tumbuh di sekitar Vaginanya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya. Aku
    membantu menarik turun celana jeans Silvi. Pinggulnya agak Nitaikkan ketika aku agak
    kesusahan menarik celana jeans Silvi. Akupun melepas celana pendekku. Posisi kami kini
    sama-sama tinggal mengenakan celana dalam.

    Tubuhnya semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu
    menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal. Kami berpelukan. Kutarik tangan kirinya
    untuk menyentuh Penisku dari luar celana dalamku. “Oh..” Silvi menyentuh Penisku yang
    tegang. “Kenapa, Sil?” tanyaku. Silvi tidak menjawab, malah melorotkan celana dalamku.
    Langsung Penisku yang panjangnya kira-kira 19cm serta agak gemuk dibelai dan digenggamnya.

    Belaiannya begitu mantap menandakan Silvi juga begitu piawai dalam urusan yang satu ini.
    “Tangan kamu pintar juga ya, Sil,”´ ujarku sambil memandang tangannya yang mengocok
    Penisku. “Ya, mesti dong!” jawabnya sambil cekikikan. “Om sama Nita semalem maen berapa
    kali?” tanyanya sambil terus mengurut-urut Penisku. “Kamu sendiri semalem maen berapa kali
    sama Juna?” aku malah balik berrtanya. Mendapat pertanyaan seperti itu entah kenapa
    nafsuku tiba-tiba semakin liar.

    Silvi akhirnya bercerita kalau Juna napsu sekali tadi malem menggeluti dia. Mau berapa
    kali Juna meminta, Silvi pasti melayaninya. Mendengar perjelasan begitu jari-jariku masuk
    dari samping celana dalam langsung menyentuh bukit Vagina Silvi yang sudah basah.
    Telunjukku membelai-belai i tilnya sehingga Silvi keenakan. “Kamu biasa ngisep kan, An?”
    tanyaku. Silvi tertawa sambil mencubit Penisku. Aku meringis.

    “Kalo punya om mana bisa?” ujarnya. “Kenapa memangnya?” tanyaku penasaran. “Nggak muat di
    mulutku,” selesai berkata demikian Silvi langsung tertawa kecil. “Kalau yang dibawah,
    gimana?” tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam Vaginanya. Silvi merintih
    sambil memegang tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang Vaginanya. Aku merasakan
    Vaginanya berdenyut menjepit jariku. Ugh, pasti nikmat sekali kalau Penisku yang diurut,
    pikirku. Segera celana dalamnya kulepaskan.

    Perlahan tanganku menangkap toketnya dan meremasnya kuat. Silvi meringis. Diusapnya lembut
    Penisku keras banget. Tangannya begitu kreatif mengocok Penisku sehingga aku merasa
    keenakan. Aku tidak hanya tinggal diam, tanganku membelai-belai toketnya yang montok.
    Kupermainkan pentilnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba
    jembut lebat di sekitar Vagina Silvi. kuraba permukaan Vagina Silvi.

    Jari tengahku mempermainkan itilnya yang sudah mengeras. Penisku kini sudah siap tempur
    dalam genggaman tangan Silvi, sementara Vagina Silvi juga sudah mulai mengeluarkan cairan
    kental yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengobok-obok Vaginanya. Kupeluk tubuh
    Silvi sehingga Penisku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba
    pantatnya yang montok. Silvi membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku.Cerita Maya

    Kedua telapak tanganku meraih pantat Silvi, kuremas dengan sedikit agak kasar lalu aku
    menaiki tubuhnya. Kaki Silvi dengan sendirinya mengangkang. Kuciumi lagi lehernya yang
    jenjang lalu turun melumat toketnya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap
    lekuk dan tonjolan pada tubuh Silvi. Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan
    Penisku ke bibir Vaginanya. Silvi mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam.

    Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Silvi
    menatap aku, matanya penuh nafsu seakan memohon kepadaku untuk memasuki Vaginanya.”Aku
    ingin mengentotmu, Sil” bisikku pelan, sementara kepala Penisku masih menempel di belahan
    Vagina Silvi. Kata ini ternyata membuat wajah Silvi memerah. Silvi menatapku sendu lalu
    mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun
    Penisku yang perlahan menyusup ke dalam Vagina Silvi.

    Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti Penisku membelah
    Vaginanya yang ternyata begitu kencang menjepit Penisku. Vaginanya begitu licin hingga
    agak memudahkan Penisku untuk menyusup lebih ke dalam. Silvi memeluk erat tubuhku sambil
    membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan.

    Namun aku tak peduli. “Om, gede banget, ohh..” Silvi menjerit lirih. Tangannya turun
    menangkap Penisku. “Pelan om”. Soalnya aku tahu pasti ukuran Penis Juna tidaklah sebesar
    yang kumiliki. Akhirnya Penisku terbenam juga di dalam Vagina Silvi. Aku berhenti sejenak
    untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding Vagina
    Silvi.

    Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang
    begitu sempurna. Kulumat bibir Silvi sambil perlahan-lahan menarik Penisku untuk
    selanjutnya kubenamkan lagi. Aku menyuruh Silvi membuka kelopak matanya. Silvi menurut.
    Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati Penisku yang keluar masuk
    dari dalam Vaginanya. “Aku suka Vaginamu, Sil.. Vaginamu masih rapet” ujarku sambil
    merintih keenakan.

    Baca Juga Cerita Seks Pembantu Plus – Plus

    Sungguh, Vagina Silvi enak sekali. “Kamu enak kan, Sil?” tanyaku lalu dijawab Silvi dengan
    anggukan kecil. Aku menyuruh Silvi untuk menggoyangkan pinggulnya. Silvi langsung
    mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. “Suka
    Penisku, Sil?” tanyaku lagi. Silvi hanya tersenyum. Penisku seperti diremas-remas ditambah
    jepitan Vaginanya. “Ohh.. hh..” aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba
    mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku.
    Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan Penisku ke dalam
    Vagina Silvi.

    Kuperhatikan Penisku yang keluar masuk dari dalam Vaginanya. Dengan posisi seperti ini aku
    merasa begitu jantan. Silvi semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar
    erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Silvi
    yang semakin tidak terkendali. “Sil.. enak banget, kamu pintar deh.” ucapku keenakan.
    “Silvi juga, om”, jawabnya. Silvi merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan.
    Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, “aduh” yang diucapkan terputus-putus.

    Aku merasakan Vagina Silvi semakin berdenyut sebagai pertanda Silvi akan mencapai puncak
    pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan
    dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya
    rangsangan yang kualami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu
    posisi saja. Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari Silvi hampir nyampe. Kuremas
    toketnya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit pentilnya.

    Kuhisap dalam-dalam. “Ohh.. hh.. om..” jerit Silvi panjang. Aku membenamkan Penisku kuat-
    kuat ke Vaginanya sampai mentok agar Silvi mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya
    melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat
    terbenam diantara toketnya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak sanggup untuk
    bertahan lebih lama lagi. “Siiiilll, aakuu.. keluaarr, Ohh.. hh..” jeritku.

    Silvi yang masih merasakan orgasmenya mengunci pinggangku dengan kakinya yang melingkar di
    pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan peju hangat dari Penisku. Kurasakan tubuhku
    bagai melayang. Secara spontan Silvi juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang
    berada di belahan dada Silvi kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya.

    Telapak tanganku mencengkram toket Silvi. Kuraup semuanya sampai-sampai Silvi kesakitan.
    Aku tak peduli lagi. Pejuku akhirnya muncrat membasahi Vaginanya. Aku merasakan nikmat
    yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Silvi pada saat aku mengalami orgasme.
    Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Silvi. Penisku masih berada di dalam
    Vagina Silvi. Silvi mengusap-usap permukaan punggungku. “Silvi puas sekali dien tot om,”
    katanya. Aku kemudian mencabut Penisku dari Vaginanya. Dari dalam Juna keluar sudah
    berpakaian lengkap. “Pulang yuk An, sudah sore”, ajaknya.

    Aku masuk kembali ke kamar. Nita ada di kamar mandi dan terdengar shower nyala. Aku bisa
    mendengarnya karena pintu kamar mandi tidak ditutup. Tak lama kemudian, shower terdengar
    berhenti dan Nita keluar hanya bercelSilvi pendek. Ganti aku yg masuk ke kamar mandi, aku
    hanya membersihkan tubuhku. Keluar dari kamar mandi, Nita berbaring diranjang telanjang
    bulat. “Kenapa Nit, lemes ya dientot Juna”, kataku. “Lebih enak ngentot sama om, Penis om
    lebih besar soalnya”, jawab Nita tersenyum. “Malem ini kita men lagi ya om”.

    Hebat banget Nita, gak ada matinya. Pengennya dien tot terus. “Ok aja, tapi sekarang kita
    cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem”, kataku sambil berpakaian.
    Nita pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah
    hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu.

    Di kamar kita langsung melepas pakaian masing-masing dan bergumul diranjang. Tangan Nita
    bergerak menggenggam Penisku. Aku melenguh seraya menyebut namanya. Aku meringis menahan
    remasan lembut tangannya pada Penisku. Nita mulai bergerak turun naik menyusuri Penisku
    yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjuknya mengusap kepala Penisku yang
    sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya.

    Kembali aku melenguh merasakan ngilu akibat usapannya. Kocokannya semakin cepat. Dengan
    lembut aku mulai meremas-remas toketnya. Tangan Nita menggenggam Penisku dengan erat.
    Pentilnya kupilin2. Nita masukan Penisku kedalam mulutnya dan mengulumnya. Aku terus
    menggerayang toketnya, dan mulai menciumi toketnya. Napsuku semakin berkobar.

    Jilatan dan kuluman Nita pada Penisku semakin menggSilvis sampai-sampai aku terengah-engah
    merasakan kelihaian permainan mulutnya. Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawSilvin
    dengan posisi tubuhku. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku.
    Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahku menyentuh Vaginanya dengan lembut.
    Tubuhnya langsung bereaksi dan tanpa sadar Nita menjerit lirih. Cerita Maya

    Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahku di Vaginanya. Kedua pahanya
    mengempit kepalaku seolah ingin membenamkan wajahku ke dalam Vaginanya. Penisku kemudian
    dikempit dengan toketnya dan digerakkan maju mundur, sebentar. Aku menciumi bibir
    Vaginanya, mencoba membukanya dengan lidahku. Tanganku mengelus paha bagian dalam. Nita
    mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakinya yang tadinya merapat. Aku menempatkan diri
    di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Penis kutempelkan pada bibir Vaginanya.
    Kugesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Nita merasa ngilu bercampur
    geli dan nikmat. Vaginanya yang sudah banjir membuat gesekanku semakin lancar karena
    licin.

    Nita terengah-engah merasakannya. Aku sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala Penisku
    menggesek-gesek itilnya yang juga sudah menegang. “Om.?” panggilnya menghiba. “Apa Nit”,
    jawabku sambil tersenyum melihatnya tersiksa. “Cepetan..” jawabnya. Aku sengaja mengulur-
    ulur dengan hanya menggesek-gesekan Penis. Sementara Nita benar-benar sudah tak tahan lagi
    mengekang birahinya. “Nita sudah pengen dien tot om”, katanya.

    Nita melenguh merasakan desakan Penisku yang besar itu. Nita menunggu cukup lama gerakan
    Penisku memasuki dirinya. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, Penisku juga
    panjang. Nita sampai menahan nafas saat Penisku terasa mentok di dalam, seluruh Penisku
    amblas di dalam. Aku mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan
    mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam Vaginanya membuat Penisku keluar
    masuk dengan lancarnya. Nita mengimbangi dengan gerakan pinggulnya.

    Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotanku. Gerakan kami semakin lama semakin
    meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting
    enjotanku mencapai bagian-bagian peka di Vaginanya. Nita bagaikan berada di surga
    merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Penisku menjejali penuh seluruh Vaginanya, tak
    ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan Penisku sangat terasa di seluruh dinding
    Vaginanya. Nita merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini.

    Nita mengakui keperkasaan dan kelihaianku di atas ranjang. Yang pasti Nita merasakan
    kepuasan tak terhingga ngen tot denganku. Aku bergerak semakin cepat. Penisku bertubi-tubi
    menusuk daerah-daerah sensitivenya. Nita meregang tak kuasa menahan napsuku, sementara aku
    dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulku naik turun, ke kiri dan ke kanan. Erangannya
    semakin keras. Melihat reaksinya, aku mempercepat gerakanku. Penisku yang besar dan
    panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat.

    Aku pun demikian. Nita meraih tubuhku untuk didekap. Direngkuhnya seluruh tubuhku sehingga
    aku menindih tubuhnya dengan erat. Nita membenamkan wajahnya di samping bahuku. Pinggul
    nya diangkat tinggi-tinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan menekannya
    kuat-kuat. Nita meregang. Tubuhnya mengejang-ngejang. “om..”, hanya itu yang bisa keluar
    dari mulutnya saking dahsyatnya kenikmatan yang dialaminya nersamaku. Aku menciumi wajah
    dan bibirnya. Nita mendorong tubuhku hingga terlentang. Dia langsung menindihku dan
    menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhku. Kembali diemutnya Penisku yang masih tegak itu.
    Lidahnya menjilati, mulutnya mengemut. Tangannya mengocok-ngocok Penisku. Belum sempat aku
    mengucapkan sesuatu, Nita langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan
    masing-masing berada di samping kiri dan kSilvin tubuhku. Vaginanya berada persis di atas
    Penisku. “Akh!” pekiknya tertahan ketika Penisku dibimbingnya memasuki Vaginanya.

    Tubuhnya turun perlahan-lahan, menelan seluruh Penisku. Selanjutnya Nita bergerak seperti
    sedang menunggang kuda. Tubuhnya melonjak-lonjak. Pinggulnya bergerak turun naik.
    “Ouugghh.. Nit.., luar biasa!” jeritku merasakan hebatnya permainannya. Pinggulnya
    mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tanganku mencengkeram kedua toketnya,
    kuremas dan dipilin-pilin. Aku lalu bangkit setengah duduk. Wajah kubenamkan ke dadanya.

    Menciumi pentilnya. Kuhisap kuat-kuat sambil kuremas-remas. Kami berdua saling berlomba
    memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC.
    Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Nita berkutat
    mengaduk-aduk pinggulnya. Aku menggoyangkan pantatku. Tusukan Penisku semakin cepat
    seiring dengan liukan pinggulnya yang tak kalah cepatnya.

    Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya,
    selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang
    bertambah liar dan tak terkendali. AKu merasa pejuku udah mau nyembur. Aku semakin
    bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, Nita pun
    merasakan desakan yang sama. Nita terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai
    mengejang, mengerang panjang.

    Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejuhku nyemprot begitu kuat dan banyak
    membanjiri Vaginanya. Nita pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya.
    Sambil mendesakan pinggulnya kuat-kuat, Nita berteriak panjang saat mencapai puncak
    kenikmatan berbarengan denganku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan
    erat. “om, nikmaat!” jeritnya tak tertahankan. Nita lemes, demikian pula aku. Tenaga
    terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! akhirnya
    kami tertidur kelelahan.

  • Pembantu Plus – Plus

    Pembantu Plus – Plus


    132 views

    Cerita Maya | Namaku Yenni, umurku sekarang 28 tahun, aku sudah menikah dan aku mempunyai seorang anak.
    Aku menikah pada saat umurku yang masih muda 23 tahun. Waktu itu ekonomi masih sedang-
    sedang saja, belum sesulit sekarang. Sementara suamiku hanya bekerja disebuah bengkel
    motor yang tak pasti penghasilannya, sementara kebutuhan semakin lama semakin banyak.

    Dengan penghasilan suamiku yang pas-pas an tentunya sangat kurang untuk mencukupi
    kebutuhan hidup kami. Dan aku memutuskan untuk bekerja, tapi mau bekerja apa dengan masih
    mempunyai tanggungan anak kecil yang tak bisa aku tinggalkan. Setiap malam aku selalu
    kepikiran dengan hal itu, sampai membuatku tak dapat tidur. Kemudian aku membicarakan
    masalah ini dengan suamiku dan aku meminta ijin untuk bekerja dan suamiku pun
    mengijinkannya asalkan anakku tidak terlantar.
    Suatu hari saat aku sedang pergi kepasar, aku bertanya pada teman-temanku yang ada
    dipasar, aku bertanya apakah ada suatu pekerjaan untukku. Dan salah satu temanku langsung
    berkata kemaren aku ditawari pekerjaan oleh seseorang tapi keliatannya sekarang orangnya
    tidak sedang disini, biasanya orang itu ada diwarung depan. Namanya mas Yudi, kalau gak
    salah dia sering dimintai orang-orang mencarikan pembantu, besokkalau orangnya datang
    kesini aku kasih tau kamu “kata temenku”. Ya gak papa deeh, besok kalau dia kesini kamu
    cepet hubungi aku ya “kataku”.
    Keesokan harinya sekitar jam setengah 10 aku ditelpon temanku mengabarkan kalau mas Yudi
    sudah ada diwarung dan aku disuruh untuk langsung menuju pasar. Tak memakai lama aku
    langsung berangkat kepasar, dan tak lama ketika aku sudah sampai aku langsung diantarkan
    oleh temanku menemui mas Yudi dan “Mas yudi ini temanku yang sedang mencari pekerjaan”
    kata temanku. “Oowwhhh iya, nama kamu siapa neng??” tanya mas Yudi. “Yenni mas, ada
    pekerjaan untuk saya mas??” tanyaku. “begini saja, gak enak kalau ngomong disini, mending
    ngomong dirumahku saja, kamu bawa motor??” tanya mas Yudi. “Enggak mas, aku naek sepeda
    soalnya rumahku gak jauh dari sini mas” jawabku. “Yaudah kamu bonceng aku saja, rumahku
    juga gak terlalu jauh dari sini kok, paling Cuma 15 menit saja” ajak mas Yudi.
    Langsung mas Yudi mengambil mengambil motornya dan aku juga langsung memboncengnya, dan
    kita langsung menuju rumah mas Yudi. Setelah benar 15 menit perjalanan sampailah aku
    dirumah mas Yudi, terlihat rumahnya lumayan besar, terlihat sangat bagus dekorasinya.
    Kemudian aku disuruh masuk rumahnya, dan dipersilahkan duduk. “mbak mau minum apa??” tanya
    mas Yudi. “Apa saja mas, air putih juga gak papa kok mas” jawabku. Mas Yudi kemudian
    mengambilkan aku segelas air putih dan kami mulai mengobrol. “Emang mas mau menawarkan
    pekerjaan apa kepadaku mas??” tanyaku. “Kamu mau gak jadi pembantuku, dirumahku ini sudah
    gak ada pembantu jadi aku agak susah mengurus rumah ini” “ kata mas Yudi. “Jam kerja nya
    mas??” tanyaku. “Ya biasa saja lah, mulai jam 8 dan kamu bisa pulang jam 5 sore, gimana??”
    tanya mas Yudi. “Tapi aku boleh bawa anak kan mas, soalnya anakku ini gak bisa ditinggal
    mas soalnya gak ada yang mengurusnya dirumah” tanyaku.

    “Iyha gak papa kok, tapi kalau bisa kalau kamu bekerja ankmu ditidurkan saja biar gak
    mengganngu kerjamu” jawab mas Yudi. “Lha aku bisa mulai kerja kapan mas??” tanyaku. “besok
    kamu bisa langsung mulai kerja, kamu juga lihat kan, nie rumah sudah berantakan dan kotor
    gak ada yang ngurus” jawab mas Yudi. “Iyha bisa mas, lha istri mas dimana??” tanyaku. “Aku
    sudah bercerai dengan istriku setahun yang lalu dan anakku ikut mamahnya semua, jadi ya
    aku sendirian dirumah” jawab mas Yudi. “Ooowh begitu mas, maaf mas Yenni gaktau mas”
    ucapku. “Aaaahhh gak papa kok, santai aja kali” ucap mas Yudi. Akhirnya setelah kita
    sepakat aku meminta mas Yudi untuk mengantarku kembali kepasar karena sepedaku masih
    dipasar.Cerita Maya

    Sampai dirumah aku ngomong sama suamiku dan suamiku pun hanya mengangguk tanda dia
    menyetujui pekerjaanku. Dan keesokan harinya setelah aku masak untuk sarapan suamiku aku
    langsung berangkat menuju rumah mas Yudi.sesampai dirumahnya mas Yudi sedang berda diteras
    rumahnya sambil minum secangkir kopi sambil merokok menyambutku, pagi itu aku berangkat
    terlalu pagi, setengah 8 aku sudah sampai rumah mas yudi. Dan “Kok pagi sekali kamu Yenn,
    ini kan juga belum jam 8” sambut mas Yudi. “Iyha gak papa pak, aku juga sudah terbiasa
    bangun pagi” jawabku. “yaudah sana masuk aja, kerjakanlah apa yang harus kamu kerjakan,
    pastinyakamu udah mengerti kan dan satu lagi, jangan panggil aku pak, panggil mas saja??”
    ujar Mas Yudi. “Iyha maaf mas” jawabku.

    Kemudian aku langsung masuk rumah mas Yudi dan langsung memulai pekerjaanku. Setelah aku
    fikir matahari sudah mulai keluar aku melihat mas Yudi masuk rumahnya, saat itu aku sedang
    ngepel lantai rumahnya dan anakku sudah aku tinggal dikamar belakang karena sudah tidur.
    Ketika mas Yudi masuk rumah dia menghampiriku “Anakmu sudah tidur ya Yenn??” tanyanya.
    “Iyha mas, aku tidurkan dikamar belakang” jawabku. Setelah mendengar jawabanku mas Yudi
    pergi meninggalkanku dan aku kembali melanjutkan perkerjaanku. Seminggu aku bekerja sikap
    mas Yudi masih biasa-biasa saja, seperti apa adanya.
    Hari senin waktu itu, ketika suamiku hendak pergi ke bengkel, dia pamit akan pulang larut
    malam, karena ada motor yang harus dilemburnya karena pemiliknya minta hari itu juga
    selesai. Dan kemudian setelah pekerjaan rumah selesai aku langsung berangkat kerumah mas
    Yudi. Saat aku sampai dirumah mas Yudi dan masuk rumahnya aku dikagetkan dengan
    penglihatanku, aku melihat mas Yudi sedang duduk diruang tamu sedang melihat TV dengan
    tanpa kaos dan hanya menggunakan celana boxer saja. Terlihat sesuatu gundukan besar berada
    dibalik boxer mas Yudi, tapi aku membuarkannya saja dan langsung menuju dapur. Aku sempet
    kepikiran apakah gundukan besar itu mungkin Penis mas Yudi sebesar itu, ucapku dalam hati.
    Sambil aku mencuci piring dan kepikiran apa yang aku lihat tadi.

    Setelah aku selesai mencuci piring aku langsung menuju belakang rumah untuk mencuci baju-
    baju mas Yudi. Tak berapa lama saat aku mencuci aku dikagetkan dengan suara “Eheeem…kamu
    cantik juga ya Yenn, beruntung juga laki-laki yang menikahi kamu” kata mas Yudi.
    “Aaaahhh…. Mas bisa aja” jawabku sambil tersipu. “Beneran kamu cantik dan seksi Yenn, anak
    kamu udah tidur kan??” tanya mas Yudi. “Sssss…uuu….Sudah mas” jawabku singkat karena pas
    aku jawab dan menengok kebelakang aku melihat tonjolan besar dari boxer mas Yudi. “Kenapa
    kaget gitu Yenn, kamu gak papa kan??” ucap mas Yudi. Sambil terus melihatnya “Enggg…
    Nnngggak papa kok mas, Yenni baik-baik saja” Jawabku. Yaudah aku mau mandi dulu ya Yenn,
    nanti kalau aku memerlukanmu aku akan memanggilmu” mas Yudi pamit dan langsung pergi
    menuju kamar mandi. Aku sejenak tertegun dengan apa yang kulihat tadi, sangat besar
    sekali, tak sebesar punya suamiku.

    Baca Juga Cerita Seks Nara Pembantu Bahenol

    Setelah kurang lebih satu jam, sekarang mengepel suma lantai rumah mas Yudi, saat aku
    mengepel ruang depan rumah mas Yudi, suara tedengar begitu keras memanggilku dari kamar
    mas Yudi “Yeeeennnn…Yeeeennn….Yeeennnniiiii” panggil mas Yudi. Aku dengan segera
    melepaskan lap pel aku langsung menuju kamar mas Yudi “Iyha mas, ada yang bisa saya bantu
    mas” tanyaku dari pintu kamar. “Sini masuk, tolong oleskan minyak ini dipinggangku” pinta
    mas Yudi. Aku segera masuk kamarnya, tercium aroma yang sangat harum sekali dikamarnya dan
    aku langsung mengambil minyak yang akan aku oleskan. Ketika aku sudah duduk di ranjang mas
    Yudi, mas Yudi malah berdiri dan “tunggu sebentar ya” mas yudi beranjak menuju pintu aku
    kira mau mengambil apa tapi ternyata mas Yudi mengancing pintu kamarnya dan mengambil
    kuncinya.
    “Mas mau ngapain aku, kok kamarnya dikunci begitu”tanyaku dengan sedikit takut
    “Gak papa kok Yenn, aku Cuma ingin kamu puaskan saja kok, mumpung anakmu tidur” jawab mas
    Yudi sambil tersenyum penuh nafsu
    “Jangan mas, jangan lakukan itu kepadaku mas” pintaku pada mas Yudi
    Tanpa menjawab mas Yudi langsung menuju kearahku dan langsung menarik tanganku
    “Ayooo Laaah Yeenn, sebentar saja, sudah lama aku tidak dipuaskan oleh wanita Yenn” ujar
    mas Yudi
    “Jaaaa…Ngggaaaaan mas” aku terus berontak

    Tapi dengan kekuatan mas Yudi mendekapku aku sudah tak bisa bergerak lagi, mas Yudi
    langsung menciumi bibirku dengan buasnya. Dengan wajahnya yang dipenuhi dengan hawa nafsu
    mas Yudi langsung meremas payudaraku dan masih dengan menciumiku. Aku masih saja berontak,
    tapi aku tetap saja tak berdaya melawan kekuatan mas Yudi yang sangat kekar. Dengan
    liarnya mas Yudi langsung memasukkan tangannya didalam kaosku dan langsung meremas-remas
    toketku. Aku yang sudah tak berdaya akhirnya hanya menikmati saja perlakuan dari majikanku
    itu. Setelah mas Yudi mengetahui kalau aku sudah pasarah mas Yudi dengan buasnya langsung
    membuka kaosku sekalian membuka pengait BH ku dan sekarang aku sudah telanjang dada.
    Mas Yudi dengan lahapnya langsung melumat putting coklatku yang sudah membesar
    “Aaaahhh….Aaaahhh….Maaasss” desahku saat mas Yudi melumat putingku. Mas Yudi menjilati
    semua badanku dengan lidahnya, sehinga aku sendiri lama-lama menjadi kebawa suasana dan
    aku juga sudah menjadi birahi. Setelah puas dengan toketku sekarang tangan mas Yudi menuju
    vaginaku, dielus-elusnya vaginaku dari luar celana dalamku sambil terus menciumiku dan
    kadang meluat payudaraku. Saat tangannya menyentuh klitorisku “Ouuuhh…Maass” aku mendesah.
    Mas Yudi menjadi semakin bersemangat sehingga mas Yudi langsung melepas rok dan sekalian
    mecopot celana dalam yang aku pakai, sehingga telanjanglah sudak aku sekarang.Cerita Maya

    Mas Yudi langsung turun menuju vaginaku, dan dia langsung menghisap klitorisku dan saat
    bibirnya menyentuh klitorisku aku pun langsung mengerang “Ooouuugghh….Aaaarrggghhh…
    Ooouughh…Maaaaasss”. Aku belum pernah mendapatkan perlakuan yang seperti ini dari suamiku.
    Mas Yudi memainkan lidahnya di klitorisku sambil sesekali lidahnya masuk dalam memekku,
    dengan polah mas Yudi yang seperti aku tak kuasa menahan desahan serta eranganku yang
    terus keluar dari mulutku “Ouuuugghh…Maaasss….Geelllliiii…Maaasss….Aaaarrrgghhh”. Tapi
    tanpa memperdulikan eranganku mas Yudi terus melanjutkan jilatannya, sekarang ditambah
    jilatan mas Yudi diirngi dengan jari mas Yudi yang masuk dalam memekku, aku semakin tak
    kuasa menahannya. Dan setelah kurang lebih 15 menit mas Yudi memainkan memekku dengan
    lidah dan jarinya aku mengerang lagi “Aaaaggghhh…Maaasss….Yeennniii…Maaauuu….Keluaaarrr…”
    mas Yudi kemudian melepaskan vaginaku dari mulutnya dan sekejap cairan spermaku keluar
    mengucur dari memekku, aku orgasme utuk yang pertama kalinya.

    Aku pun terkulai lemas, tapi mas Yudi gak mau tahu dia langsung mebuka boxer dan celana
    dalamnya dan keluarlah Penis yang sangat besar sekali dan sangat panjang. Dia langsung
    mengarahkan Penisnya didepan mulutku dan meminta “Isep sebentar ya Yeeen, Gantian” ujar
    mas Yudi. Mas Yudi langsung memegang kepalaku dan langsung memasukkan penisnya dimulutku.
    Besar sekali penisnya, sampai memenuhi semua ruang mulutku. Dimaju-mundurkan penisnya
    dalam mulutku, aku yang tak pernah melakukan itu hanya terdiam dengan mengikuti permainan
    mas Yudi. Mas Yudi memintaku menjilati kepala penisnya, dan aku pun menurutinya.
    “Aaaaahhhh….Niiiik..Maaattt….Baaangeeet Yeeen…” desah mas Yudi. Aku pun lalu kembali
    mengulum penisnya sembari sesaat menjilati penis mas Yudi.

    Setelah kurang lebih 10 menit aku menjilati Penis mas Yudi, mas Yudi menarik Penisnya dari
    mulutku dan mecium bibirku dan langsung mengrahkan Penisnya diliang Vaginaku. Mas Yudi
    menggesek-gesekan kepala penisnya di memekku, geli aku rasa tapi aku menikmatinya. masYudi
    dengan pelan-pelan mulai memasukkan Penisnya, terasa sangat besar sekali “Ouuuhhh….”
    Desahku. Mas Yudi memaju mundurkan kepala Penisnya dalam memekku, semakin lama semakin
    kedalam dan akhirnya “Bleeeeeesssssss….” Seluruh penis mas Yudi masuk dalam vaginaku dan
    aku iringi dengan desahanku “Oooouuggghhhh…..”. mas Yudi mulai memaju mundurkan Penisnya
    dengan pelan-pelan dan saking besarnya Penis mas yudi aku tak henti terus mendesah
    kenikmatan.

    Semakin lama mas Yudi menyodok memekku semakin kencang, “Oooouuuuhhh….Aaaggghhhh…
    Ooouuuggghhh…Aaaagghh…” aku semakin mengerang saat sodokan mas Yudi semakin keras.
    “Ploooookk…Ploook…Ploook….” Suara benturan tubuh kami yang sudah basah karena keringat.
    Sekitar 15 menit mas Yudi memompaku aku tak kuasa menhannya dan akhirnya
    “Oooouugghhhh….Maaassss…” aku keluar untuk yang kedua kalinya, tapi dengan kuatnya mas
    Yudi belum kelihatan akan orgasme.

    Mas Yudi kemudian membalikkan tubuhku sehingga sekarang aku dalam posisi nungging. Dengan
    segera mas Yudi memasukkan Penisnya dan langsung menyodokkan penisnya dengan keras tanpa
    mempedulikan aku yang lemas. “Aaaggghhh….Ouuugghhh…Aaagghhh…” aku terus mengerang menimati
    sodokan dari mas Yudi. Sambil meremas toketku mas yudi lebih bersemangat menyodoku, akupun
    dengan gairahku juga ikut mendorong memekku maju mundur. Dan setelah kurang lebih 15 menit
    mas Yudi menyodokku dari belakang, mas Yudi mempercepat sodokannya dan
    “Aaaaggghhhh….Aaagghhhh…Ouuuggghhh…Ooouuugghhh….Yeeennniiiii…” mas Yudi mencabut penisnya
    dari memekku dan menghadapkan Penisnya di mukaku. Dan “Crroooot…Crooott…Crooot..” banyak
    sekali pejuh mas Yudi menghujam mukaku. Tak terhingga pejuh mas Yudi menyemprot mukaku
    bahkan sebagian ada yang masuk dalam mulutku. Dan setelah mas Yudi keluar mas yudi
    terkulai lemas diranjang dan akupun mengikutinya dengan tidur disampingnya.

    Setelah 5 menit beristirahat, mas Yudi menyuruhku untuk membersihkan sperma yang
    diwajahku. Aku oun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan badanku dari sperma dan air
    ludah bercampur keringat ditubuhku. 10 menit aku mandi dan selesai mas Yudi kembali
    memanggilku kembali “Yeeennn….Kesini Yeen…”. “Ada apa lagi mas??” tanyaku. Mas yudi
    menyodorkan sebuah amplop kepadaku dan “Ini untuk kamu Yeennn karena kmau sudah memuaskan
    aku hari ini, makasih ya Yeen” ujar mas Yudi. Dengan tanpa menjawab aku meraih amplop
    tersebut.

    Setelah hari itu, seminggu sekali pasti aku dan mas Yudi melakukan hubungan Sex, dan
    semakin lama mas Yudi tidak memberikan aku algi uang, tapi aku selalu melayaninya akrena
    aku sendiri juga merasa puas dengan permainan mas Yudi.

  • Nara Pembantu Bahenol

    Nara Pembantu Bahenol


    138 views

    Cerita Maya | Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri, namaku Riyo umurku saat ini 27 tahun, aku sudah
    mempunyai seorang istri dan seorang anak laki-laki yang gantengnya sama kayak aku. Aku
    sendiri memilki perawakn tinggi, badan sixpack, dan cirri-ciri anakku dari kecil sudah
    sangat terluhat jika nanti kalau dia dewasa pasti akan sama denganku waktu dewasa.
    Meskipun umurku masih dibilang muda, namun aku sudah mempunyai usaha yang sudah besar dan
    aku juga sudah mempunyai kariawan. Kehidupan keluargaku sampai saat ini berjalan
    haromonis, hingga kelahiran anak pertamu tadi membuatku menjadi tidak terurus karena
    istriku diminta oleh orangtuanya karena alasan anak perempuanya masih perlu banyak belajar
    mengurus bayi.

    Sejak saat itulah kehidupanku tak terurus lagi. Aku sering gak sarapan pagi meskipun sudah
    disiapkan oleh seorang pembantuku karena aku tak nafsu makan. Ohh ya dirumahku ada satu
    pembantu muda yang menurutku perawakannya sama persis gadis-gadis Abg bandung yang
    cantik-cantik dan seksi-seksi. Namanya Nara, berasal dari desa namun memiliki tubuh
    seperti gadis kota. Dengan tinggi sekitar 165cm dengan kulit putih bersih dan juga tubuh
    yang bahenol. Pantatnya juga sangat menggoda sekali untuk kaum laki-laki.
    Karena seringnya istriku jarang pulang sehingga aku lebih sering tinggal bersama
    pembantuku, segala keperluanku semuanya sudah diatur oleh pembantuku, mulai dari
    menyiapkan makan, menyiapkan pakaianku untuk ke kantor dan segala-galanya disiapkan
    olehnya. Hanya satu yang dia tidak bisa membantu yaitu tentang urusan seks. Memang untuk
    urusan yang satu itu jika aku lagi kepingin aku menyuruh istriku pulang dan aku
    melakukannya sampai sama-sama puas, tapi bagaimana kalau istriku tidak bisa pulang atau
    dia lagi kedatangan “tamu” bulanannya? Itulah yang menjadi kendala bagiku, lagi-lagi aku
    harus bermasturbasi (beronani) sendiri sambil menonton VCD porno atau membaca buku porno,
    sambil mengelus-elus alat vitalku yang kian mengeras, tak terasa lama-lama aku jadi
    mengocoknya sampai akhirnya.. “Cret.. cret..” air maniku keluar.
    Malah pernah suatu kali aku lagi kepingin berat, ternyata istriku tidak bisa pulang,
    karena hari itu dia benar-benar capek sekali habis pulang kantor. Dan kalau begini
    urusannya pasti harus beronani ria lagi deh, maka cepat-cepat aku memutar film porno yang
    baru kupinjam dari temanku di kantor. Sambil menonton aku memainkan batang kemaluanku yang
    sudah menegang, tapi sampai tanganku pegal aku belum orgasme juga, maka aku pindah ke
    kamar tidurku dan melepaskan semua pakaian yang melekat di badanku hingga aku benar-benar
    polos alias bugil.

    Aku tidak sadar kalau pintu kamarku tidak tertutup rapat tidak tahunya pembantuku itu
    rupanya dari tadi mengintipi aku. Memang biasanya kalau aku sedang onani atau aku sedang
    bermain bersama istriku, pembantuku kusuruh jangan masuk ke ruang keluarga. Rupanya dia
    jadi curiga, sedang apa aku di sana dan rupanya dia sering mengintipiku tanpa kusadari.
    (Oh ya, belum kukasih tahu ya, pembantuku itu orangnya memang agak cantik, pendidikannya
    SMP, badannya langsing, rambutnya sebahu, kulitnya putih bersih, (mirip seperti artis
    siapa ya..) tingginya sama seperti istriku, umurnya baru 19 tahun, kalau dilihat sekilas
    sepertinya dia tidak cocok deh jadi pembantu mungkin cocoknya jadi istri keduaku kali ya.
    Statusnya juga tidak jelas, janda bukan perawan juga bukan, karena dia pernah dikawinkan
    oleh orang tuanya, dengan lelaki yang sudah berumur sekitar 55 tahun dan baru kawin 5 hari
    dia kabur dari rumah suaminya, karena tidak tahan dengan perlakuan suaminya yang sering
    meminta yang tidak-tidak, dia bercerita kepada istriku. Istriku malah menanyakan lagi yang
    tidak-tidak bagaimana sih maksudnya. Cerita Maya

    “Itu loh Bu (Ibu adalah panggilan untuk istriku) aku disuruh nungging eh tahu-tahu pantat
    saya ditusuk sama kontol suami saya, wah.. sakitnya bukan kepalang Bu, malah sehabis
    digituin oleh suami saya jadi tidak bisa tahan lagi kalau saya sakit perut tau-tau
    langsung berak aja, habis lubangnya jadi gede kali dan tidak bisa balik lagi, padahal kan
    sudah ada tempatnya Bu, eh malah cari-cari lubang yang lain, ini aja juga lubang memek
    saya jadinya gatal terus maunya dipegangin aja, padahal kan saya juga sudah kasih tau ke
    suami saya masukinnya di lubang memek aja Mas, jangan di pantat soalnya sakit sekali Mas
    dan saya jadi tidak bisa nahan berak, tapi dia masih aja nusuknya di lubang pantat, coba
    aja Ibu bayangin selama 5 hari pantat saya ditusukin terus, dari pada digituin seNarap
    hari mendingan saya kabur aja ke Jakarta.”

    Aku tahu itu karena aku sering “nguping” pembicaraan istriku dengan pembantuku yang cantik
    itu. Aku baru sadar kalau pembantuku itu “ngintipi” aku, ketika dia ngintip rupanya dia
    sambil masturbasi juga, baju roknya diangkat ke atas tanpa pakai celana dalam, jari tangan
    kanannya dimasukkan ke dalam liang kemaluannya, matanya sambil merem-melek dan tanpa
    disengaja rupanya dia telah mendorong pintu kamarku yang memang tidak tertutup rapat, aku
    kaget setengah mati karena tahu-tahu dia sudah berdiri di depan kamar sambil masturbasi
    dan dia juga tidak kalah kagetnya karena ketahuan mengintipku, maka dia langsung bilang,
    “Maaf ya Pak tadi saya tidak sengaja menyentuh pintu kamar Bapak, saya lagi mau nyapuin
    lantai.”
    Memang sih di sebelah dia ada sapu lantai, aku langsung saja jawab, “Itu tangan kanan kamu
    kenapa pegangin memek terus, emangnya takut hilang?” rupanya dia tidak sadar bahwa baju
    roknya masih terangkat ke atas dan tanpa celana dalam sehingga dengan jelas aku dapat
    memandangi kemaluannya yang indah disertai bulu-bulu halus yang baru mulai tumbuh. “Eh..
    anu.. Pak, tidak apa-apa,” jawabnya, dan buru-buru ia menutupi dengan baju roknya dan aku
    pun dengan gerakan refleks menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang masih telanjang.
    “Nara sini deh bisa tolong pijitin saya, badan saya pada sakit nih,” kataku sambil pura-
    pura mengalihkan pembicaraan.
    Sambil ragu-ragu akhirnya ia menghampiriku dan berdiri di dekat ranjang. “Ayo Nara pijitin
    dong! jangan diam saja,” dan akhirnya dia pun mau memijiti badanku. Setelah beberapa lama
    dia pun bertanya kepadaku.

    “Pak, tadi Bapak lagi ngapain sih, kok sambil telanjang?”
    “Ah.. tidak, saya lagi pakai obat biar tetap kuat,” jawabku seenaknya.
    “Memangnya kalau tidak pakai obat, tidak kuat ya Pak?”
    “Sembarangan, emangnya kamu kamu coba,” kataku lagi, “Laah kamu sendiri ngapain, lagi
    nyapu kok tangannya dimasuk-masukin ke memek?”
    “Ah.. nggak Pak, ini memek saya dari pagi gatal terus maunya dipegang-pegang aja..”
    Coba sini saya periksa, jangan-jangan kamu terkena penyakit lagi.”

    “Ah jangan Pak, saya malu, biar saya garuk sendiri aja, tapi ngomong-ngomong Bapak juga
    lagi ngapain, kok telanjang sendirian?”
    “Ah, tidak, saya juga dari pagi lagi gatal nih.”
    “Ibu nggak datang ya Pak?””Tidak, Ibu kecapean kali. Habis di kantornya lagi banyak
    kerjaan.”
    “Pak, kalau saya garukin mau nggak Pak?”
    “Ia sini garukin saya, tapi pelan-pelan ya.”
    “Tenang saja Pak kalau soal garuk-menggaruk saya sudah ahli Pak, soalnya saya pernah
    diajari oleh bekas suami saya.”

    Tanpa buang waktu lebih lama dia langsung mengusap-usap batang kemaluanku yang dari tadi
    sudah berdiri tegak, dan tanpa disuruh dia juga langsung menciumi batang kemaluanku serta
    menjilatinya persis seperti anak kecil dibelikan es krim.
    “Eh Nara, (SeNarawati nama pembantuku) kamu kok pintar banget sih, belajar dari mana?”
    “Maaf ya Pak, saya sering ngintip Bapak waktu lagi nonton film porno, jadi saya sudah tau
    caranya, cuma saya masih ragu apakah Bapak mau berbuat begitu sama saya, soalnya saya kan
    cuma pembantu.”

    “Pembantu kan cuma jabatannya tapi kalau memeknya kan sama aja.”
    “Iya Pak tapi saya pernah dipesan oleh Ibu. Kamu jangan coba-coba ngerayu suami saya ya,
    nanti saya keluarin kamu, makanya Pak, Bapak jangan bilang-bilang sama Ibu ya, nanti kalau
    saya dikeluarin bagaimana, saya mau tinggal di mana Pak.”

    Baca Juga Cerita Seks Memekku Untuk Pria Lain

    “Iya deh, saya juga tidak bakalan bilang sama Ibu. Pokoknya begini aja deh kalau ada Ibu
    kamu tidurnya di kamar kamu tapi kalau tidak ada Ibu kamu tidurnya di sini aja sama saya.”
    “Iya deh Pak, tapi saya tidak kuat tidur di kamar ini soalnya AC dingin sih Pak.
    “Nantikan ada saya, kalau sudah dipelukin juga nggak dingin lagi.”

    Memang sih dari dulu juga aku sudah punya niat mau “gituin” dia kalau lagi tidak ada
    istriku daripada ngocok sendiri. Tapi aku masih ragu, jangan-jangan dia “ngaduin” macam-
    macam ke istriku, wah.. bisa gawat tuh. Tapi tidak tahunya malah kebalikan dia malah suka,
    kalau tahu dia suka, dari dulu saja, jadi tidak usah onani sendiri betul tidak teman-
    teman? Soalnya aku terus terang saja paling tidak suka sama cewek-cewek WTS, soalnya
    bukanya apa-apa, penyakitnya itu yang paling repot dan juga bayarannya yang mahal.
    Ya, paling tidak kalau kita mau yang bersih, bayarannya yang “gope” ke atas kalau yang
    “gope” ke bawah itu mah tidak bisa dijamin kebersihannya, malah pernah temanku main yang
    harga bookingannya Rp.350.000 katanya bersih tapi tidak tahunya tetap saja kena penyakit.
    Daripada buang-buang duit dan cari penyakit buat cuma “ngecret” doang mendingan ngocok
    sendiri. Memang sih waktu dulu aku masih kerja di PT.XX gajiku sangat berlimpah, aku cuma
    kasih ke istriku setengahnya dan sisanya kusimpan sendiri. Dia memang tidak tahu kalau
    gajiku dua kali lipatnya, belum tunjangan-tunjangan lainnya seperti uang makan, uang
    transport, uang perbaikan mobil, uang kopi dan lain-lain, pokoknya yang dia tahu gajiku
    cuma segitu, sudah mencangkup segala-galanya. Cerita Maya

    Itu saja dia juga masih bisa menyimpan setengahnya dari gaji yang kuberikan seNarap
    bulannya. Wah kalau dipikir-pikir waktu dulu aku benar-benar “happy” banget deh, hampir
    Narap minggu aku “main” dengan cewek dengan tarif yang high class. Kalau dihitung-hitung
    sudah berapa puluh juta uang yang dibuang percuma untuk “ngecret” doang. Sambil terus
    melamun batang kemaluanku terus dihisap serta dijilati oleh Nara pembantuku. Tiba-tiba dia
    berkata.
    “Kok, ngelamun Pak, pasti keenakan ya..”
    “Iya, habis kamu tidak dari dulu sih bilang kalau kamu juga suka ngeseks..”
    “Iya Pak, saya juga nyesel tidak dari dulu bilang ke Bapak, habis saya takut sih..”
    “Eh, Nara ngomong-ngomong waktu dulu, kalau kamu lagi kepingin bagaimana..?
    “Ya.. saya main sendiri Pak, kadang-kadang kalau saya ke pasar saya beli ketimun Pak buat
    main sendiri..”

    “Wah.. berarti ketimun yang kamu sering masak bekas kamu pakai ya..?”
    “Tidak Pak, kan saya beli ketimunnya banyak Pak, lagian kalau habis dipakai untuk itu
    biasanya ketimunnya bonyok Pak..”
    “Tapi pernah kan kamu kasih saya timun yang hancur? waktu itu kamu bilang timunnya hancur
    gara-gara tas plastik bawaan kamu putus hayyoo..”

    “Iya deh Pak, saya minta maaf lagi, soalnya waktu itu saya kepengen berat Pak, jadi saya
    pakai dulu ketimunnya, sehabis saya main saya pergi lagi ke pasar untuk beli ketimun eh..
    sudah kehabisan Pak, jadi saya pakai saja yang itu, soalnya Bapak kalau makan kan musti
    ada lalapannya. Tapi tidak usah kawatir Pak, timunnya sudah saya cuci bersih kok Pak..”

    “Tapi rasanya lain ya Naraa, saya juga sudah curiga..”
    “Lain bagaimana Pak?”
    “Ya, rasanya lebih enak dan gurih, pasti karena sudah kecampur dengan lendir kamu..”
    “Ah.. masa Pak, kalau begitu lain kali sebelum dimakan saya pakai dulu ya Pak, soalnya
    sayang kan dari pada dibuang.”

    “Ya lain kali ngapain kamu pakai ketimun lagi, kan kamu bisa bilang ke saya nanti saya
    kasih ketimun saya yang lebih enak dan empuk.”
    “Ia Pak, kok Bapak punya gede banget sih Pak, kayak ketimun saja, punyanya bekas suami
    saya saja tidak segini besar Pak, wah.. pasti enak banget ya Pak kalau dimasukin ke memek
    saya. Pak tangan Bapak jangan diam saja dong Pak, mainin memek saya dong, soalnya memek
    saya juga sudah gatal Pak dari tadi.”

    “Lah.. tadi saya mau garukin katanya kamu bisa garuk sendiri..”
    “Ya kan tangan saya sudah sibuk garukin punya Bapak, jadi saya tidak sempat Pak..”
    “Ya sudah kamu naik dong ke ranjang saya dan baju kamu juga dicopot semuanya, saya saja
    sudah telanjang kok kamu masih pakai baju..”
    “Iya Pak..”
    “Nara, kalau begitu kita main 69 aja ya, supaya bisa sama-sama saling jilatin..”

    “Aaahh.. Enak banget Pak.. terus Pak.. achh.. ohh.. ahh.. Pak kita masukin aja yuk Pak,
    saya sudah tidak tahan nih.. Kayaknya saya sudah mau keluar.. Aaahh.. haayyoo Pakk masukin
    ajaa.. saya sudah tidak tahan niihh..”

    Tapi aku masih terus tahan tidak mau langsung dimasukin dulu, aku mau bikin dia gila dan
    ketagihan, aku masih terus menjilati serta mengisap klitorisnya yang bikin dia tergila-
    gila.

    “Aaahh.. haayoo Pakk masukin ajaa.. saya sudahh nggak tahaan niihh.. Aaahh.. haayyoo Pakk
    masukin ajaa..”

    Tanpa buang waktu dan disuruh lagi, dia langsung membalikkan badan dan dia naik di atas
    badanku serta dimasukannya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya yang sudah basah
    akibat lendir kenikmatan.

    “Aaahh.. haayoo Pakk masukin biar dalam Pak! terus Paakk dorong Pak dari bawah ini musti
    masuk semua ke dalam memek saya Paakk jangaan disisain Pakk..”

    Sambil terus menggoyangkan pantatnya dia berusaha memasukkan batang kemaluanku yang besar
    dan panjang ini. Aku tidak tinggal diam, aku berusaha mendorongnya kuat-kuat batang
    kemaluanku ke dalam liang kemaluannya tapi rasanya sudah tidak bisa masuk lagi karena
    sudah mentok, karena batang kemaluanku panjangnya 20 cm dengan diameternya 4 cm sedangkan
    lubang kemaluannya mungkin kedalamannya cuma sekitar 16-17 cm jadi tidak bisa masuk
    semuanya.
    “Pak.. sekarang ganNaran dong saya yang di bawah, Bapak yang di atas supaya lebih
    bervariasi gitu..” sambil batang kemaluanku masih menancap pada lubang kemaluannya, aku
    merubah posisi yang tadinya aku di bawah sekarang aku di atas sehingga aku lebih leluasa
    memandangi tubuhnya yang mulus tanpa dibungkus sehelai benang pun yang baru pertama kali
    aku melihatnya. Memang payudaranya tidak sebasar milik istriku tapi aku justru lebih
    bergairah melihat payudara yang baru tumbuh dengan puting susunya yang masih kemerah-
    merahan.Cerita Maya

    “Ayo dong Pak.. dorong yang kencang, jangan ngelamun terus, ayoo aahh saayaa sudah nggaak
    tahaan niihh aahh.. sshh.. aahh sayaa sudah mau keluar nihh.. ini Pak, susu saya juga
    diisepin dong..”
    Memang dari tadi aku lebih banyak pasif dari pada aktifnya sehingga dia lebih banyak
    protesnya maka aku pun langsung mengisap puting susunya yang sebelah kanan dan yang
    selelah kiri kumainkan dengan tanganku. Sementara untuk yang bagian bawah itu urusan
    kemaluanku.

    “Ssshh.. aahh.. enak ya Nara, lubang kamu masih sempit walaupun sudah banyak lendirnya..”
    “Iyaa.. terruuss Paakk dorong lagi yang kencang, aahh.. sshh.. sayaa sudah enggak taahan
    nih..”

    Tiba-tiba aku mencabut batang kemaluanku dari lubang kemaluannya.

    “Kenapa dicabut Pak? Hayo masukin lagi Paak.. cepat Paakk!”
    “Tunggu Nara, saya mau pakai kondom dulu, soalnya saya takut nanti kamu hamil..”
    “Iya Pak, ceepett Pak pakainya, saya sudah tidak tahan nih mau keluarr..”
    Sesudah memakai kondom maka aku pun memasukkan kembali batang kemaluanku ke dalam lubang
    kemaluannya, tiba-tiba..
    “Acch..”

    Dia memelukku erat sekali sampai aku susah sekali bernafas.

    “Aaahh.. aahh.. saya sudah tidak tahan Pak, saya mau keluaarr aahh.. sshh.. wah eenaak
    sekali Pak, aachh.. aahh tapi Bapak belum keluar ya?”
    “Iya saya juga sebentar lagi.. makanya saya pakai kondom supaya saya bisa keluarin di
    dalam. Nara sekarang kamu nungging ya, saya mau masukin dari belakang..”
    “Ah jangan Pak, nggak mau ah nanti pantat saya sakit.”
    “Tidak, saya juga tidak mau masukin di pantat, saya masukinnya di memek kamu tapi kamu
    nungging ya..”
    “Begini Pak..”
    “Iya..”

    Ternyata dengan posisi nungging lubang kemaluannya semakin sempit, lebih terasa
    gesekannya. Dan akhirnya aku pun mengakhiri permainanku karena aku pun sudah orgasme.

    “Aahh.. Terima kasih Nara kamu sudah membantu saya..”
    “Terima kasih juga Pak, Bapak juga telah membantu saya, rupanya kita sama-sama kesepian ya
    Pak.”
    “Iya dan hobi kita juga sama ya Nara, suka mencari kenikmatan dengan berseks ria.”
    “Iya Pak, saya juga capai sekali Pak..”

    “Iya sudah kamu tidur di sini saja sekalian temani saya tidur.”
    “Iya deh Pak, tapi dipelukin ya Pak, saya kedinginan nih..”
    “Iya deh.. Oh ya Nara, bagaimana kalau besok kita ke klinik..”
    “Emangnya mau apa Pak, gatal saya sudah sembuh kok Pak.”

    “Bukan maksud saya kamu pakai kontrasepsi aja, jadi saya tidak harus pakai kondom terus,
    kan kamu juga tidak enak kalau ada plastiknya, nanti kalau ditanya sama dokternya bilang
    aja kamu istri saya dan kamu tidak mau hamil dulu karena kamu masih sekolah.”
    “Iya deh Pak, kita atur aja Pak, supaya kita sama-sama bisa enak.”

    Dan sejak malam itu kalau istriku tidak ada di rumah, maka Nara yang selalu menemaniku
    tidur. Tapi sayang Lebaran nanti dia mau pulang kampung untuk menengok orang tuanya, dan
    dia berjanji akan kembali ke Jakarta, tapi aku ragu apakah dia diperbolehkan kembali ke
    Jakarta oleh orang tuanya? Kita lihat saja nanti, yang pasti dalam beberapa minggu aku
    pasti kesepian lagi.

  • Memekku Untuk Pria Lain

    Memekku Untuk Pria Lain


    157 views

    Cerita Maya | Aku adalah seorang ibu rumah tangga biasa umurku 28 tahun namaku Niya aku mempunyai suami yang namanya
    Jono dan bekerja sebagai kuli bangunan yang jika ada proyek dia bekerja, kalau tidak ada proyek Jono
    hanya diam dirumah saja, umurku dan suamiku sama jadi aku tidak mengandalkan pemasukan dari suamiku
    saja.

    Aku sudah menyuruh dia untuk bekerja di pabrik tapi dia tidak mau, sudah 4 tahun ini pernikahan kami
    belum dikarunia anak, karena suamiku juga tidak mau bekerja jadi hutang kami disana disini banyak.
    Sampai suatu ketika ada seseorang yang datang dirumahku marah marah karena hutang suamiku belum
    dilunasinya.

    Pada saat itu aku hanya bisa menemani Jono di sisinya menghadapi kata-kata kasar orang yang dihutangi
    oleh Jono. Aku sendiri melihat gelagat yang aneh dari orang itu. Sambil marah-marah matanya seringkali
    tertangkap olehku sedang melirik ke arahku.

    Aku sendiri memang mempunyai tubuh yang cukup bagus menurutku. Tinggi 170cm (termasuk tinggi untuk
    perempuan lokal), berat 60kg, kulit sawo matang, dengan ukuran dada 36. Kehidupan seks kami tidaklah
    bermasalah walaupun tidak bisa dibilang istimewa. Jono selalu dapat memuaskanku walaupun dia adalah
    seorang yang konservatif yang selalu bermain dengan gaya yang itu-itu saja. Cerita Maya

    Beberapa hari setelah rumah kami didatangi oleh orang yang menagih hutang, aku melihat orang tersebut
    di jalan ketika aku mau pergi ke rumah saudaraku. Tadinya aku akan meminjam uang dari saudaraku untuk
    menutupi hutang Jono pada orang tersebut, tapi ditengah jalan aku mempunyai pikiran lain. Aku ikuti
    orang tersebut untuk mengetahui dimana rumahnya.

    Tadinya niatku hanya untuk mengetahui saja, tapi akhirnya aku mempunyai niat lain. Aku putuskan untuk
    menggadaikan tubuhku untuk melunasi hutang-hutang suamiku kepada orang itu. Setelah aku mantap dengan
    niatku, beberapa hari kemudian aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah orang tersebut.

    Rumah orang itu memang sangat besar dan sangat mewah. Setelah berhasil mengatasi rasa gugupku akhirnya
    kuberanikan diri untuk memencet bel. Tak lama kemudian seorang lelaki kurus yang kupikir adalah
    pesuruh di rumah itu keluar.

    “Nyari siapa bu?”

    “Hmm. Bapaknya ada?” tanyaku pada lelaki tersebut.

    “Ibu siapa? Biar saya sampaikan ke Bapak.”

    “Bilang aja dari istrinya pak Jono.” Akhirnya pesuruh itu masuk ke dalam rumah dan tak lama berselang
    dia keluar lagi untuk membukakan pagar.

    “Tunggu aja di ruang tamu bu.” Katanya padaku.

    Langsung saja aku menuju ke arah yang ditunjuknya. Sebuah pintu dari kayu jati dengan ukiran yang
    sangat cNiyak. Belum juga aku sampai ke depan pintu, pintu tersebut sudah dibuka dari dalam. Rupanya
    yang membukakan pintunya adalah orang yang kucari.

    Orang dengan perawakan kurang lebih 180cm dan kuperkirakan beratnya 75kg. Aku perkirakan umurnya
    sekitar 50 tahun. Berkulit hitam dan terlihat masih segar. Kesan angker yang ditunjukkannya pada saat
    menagih hutang tidak ada sama sekali pada saat aku datang.

    Justru aku menangkap kesan ramah dan sopan dari dia. Dia langsung menjabat tanganku sambil menyebut
    namanya.

    “Totok. Mari masuk bu…”

    “Niya” Jawabku langsung ketika melihat dia kebingungan.

    “Oh iya. Bu Niya silahkan masuk” Aku langsung masuk menuju ruang tamu. Dan Pak Totok langsung
    memersilakan aku untuk duduk.

    “Mau minum apa bu Niya?”

    “Ah gak usah repot-repot pak” jawabku dengan gaya basa-basi bangsa timur.

    Akhirnya Pak Totok menyuruh pembantunya untuk membuatkan sirup. Sambil menunggu minuman datang pak
    Totok memulai pembicaraan, sekaligus untuk mencairkan suasana yang kaku. Seolah-olah dia tahu kalau
    aku gugup dan grogi bertemu dengannya.

    Kuakui dia adalah sosok yang bisa membuat pembicaraan menjadi santai. Ditambah lagi mungkin dengan
    wawasan yang cukup luas sehingga dia sepertinya tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan layaknya
    penyiar radio yang selalu ngoceh sepanjang jam siaran. Semakin jauh kami berbicara justru aku semakin
    kehilangan rasa gugupku yang tadi menghinggapi.

    Obrolan kami sempat terhenti karena pembantu pak Totok datang membawakan minuman pesananan majikannya.

    “Silahkan diminum bu Niya”

    “Oh iya pak. Terima kasih.” Tak lama langsung saja kuteguk minuman yang disuguhkan.
    “Koq sepi ya pak? Istri bapak lagi keluar?” Tanyaku unuk memulai obrolan kembali.

    “Istri saya sudah lama meninggal.”

    “Oh maaf pak, saya gak tahu”

    “Oh gak apa-apa. Oh iya bu Niya sudah berapa lama menikah dengan pak Jono?”

    “Tiga tahun pak. Tapi ya gitu deh pak. Mas Jono gak pernah punya kerjaan tetap. Jadi makin lama makin
    numpuk aja hutangnya. Ditambah lagi sampai sekarang kami belum juga punya anak” kataku sekalian curhat
    sedikit ke pak Totok.

    Setelah disinggung soal hutang, pak Totok akhirnya menanyakan perihal hutang suamiku. Dan dia juga
    bercerita bahwa sebenarnya suamiku tidak hanya berhutang kepadanya tapi juga ke teman-teman pak Totok.

    Jujur saja aku kaget, karena selama ini suamiku tidak pernah berkata jujur perihal hutangnya. Rupanya
    pak Totok sudah menyimpan rencana sendiri yang kurang lebih mirip dengan rencanaku.

    Dan akhirnya rencana itu disampaikan kepadaku, bahwa hutang suamiku bisa lunas dengan catatan aku mau
    diajak bercinta dengannya.

    Pengurangan hutang suamiku satu juta setiap aku melayaninya. Dan itu berlaku juga untuk hutang suamiku
    dengan teman-temannya yang ternyata ada dua orang lagi. Dan ternyata suamiku berhutang sepuluh juta ke
    setiap orangnya. Ini berarti aku harus bercinta tiga puluh kali, dengan setiap orangnya aku layani
    sepuluh kali.

    Aku sempat berpikir juga melihat keadaan yang seperti itu, tapi demi melunasi hutang suamiku akhirnya
    aku sanggupi permintaannya. Akhirnya aku disuruh kembali lagi keesokan harinya, karena hari itu Pak
    Totok sudah mempunyai janji dengan rekan bisnisnya.

    Sebelum pulang aku menanyakan apakah teman-temannya berkenan dibayar hutangnya dengan tubuhku? Dan Pak
    Totok berhasil meyakinkan bahwa teman-temannya pasti akan satu suara dengannya.

    Akhirnya keesokan harinya aku datang kembali ke rumah Pak Totok. Hari itu aku untuk pertama kalinya
    berdandan bukan untuk suamiku, tapi untuk laki-laki lain. Aku datang dengan pakaian tetap casual saja.

    Toh pikirku nantinya pakaian ini juga tidak berguna karena ketika aku menunaikan tugasku baju ini
    harus dilepas. Yang jelas aku mempersiapkan mentalku untuk hal ini. Karena ini juga untuk pertama
    kalinya aku akan disetubuhi oleh laki-laki yang bukan suamiku.

    Dan yang jelas aku juga mempersiapkan vaginaku. Semua bulu-bulu yang tumbuh disekitar vaginaku kucukur
    habis, sehingga vaginaku bisa terlihat dengan jelas.

    Sesampainya di rumah Pak Totok aku disambut dengan hangat, Pak Totok mencium punggung tanganku dan
    kedua pipiku. Diriku agak canggung menerima perlakuan yang diberikan kepadaku, karena dia bukan
    suamiku.

    Tetapi aku sendiri tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Saat itu aku merasa
    diperlakukan layaknya seorang perempuan. Dia tidak menunjukkan bahwa dia hawa nafsunya, tapi justru
    menunjukkan sikap seorang lelaki dewasa yang membuatku sedikit “terbius” oleh perlakuannya.

    Baca Juga Memperkosa ABG Pengantin Baru

    Setelah sambutan hangatnya aku langsung diajak menuju kamarnya. Kamar yang cukup mewah bagiku. Dan
    rupanya Pak Totok telah menyulap kamarnya menjadi begitu indah. Wangi bunga telah memenuhi seisi
    kamarnya.

    Ketika aku masih terpesona dengan kamarnya yang mewah tiba-tiba dia memelukku dari belakang. Refleks
    dan sedikit terkejut membuat diriku agak memberontak. Tetapi dia meyakinkan diriku untuk tenang dan
    menikmati saja saat-saat tersebut. Dia mulai menciumi leher dan kupingku yang jelas membuatku
    terangsang. Lalu dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan.

    “Boleh kupanggil Niya saja?” tanyanya padaku.

    “Hmm.. boleh aja pak”

    “Wah. Jangan panggil pak dong. Panggil saja Totok. Supaya lebih mesra.”

    “Iya Totok. Boleh aja kalau kamu mau panggil aku Niya.” aku mulai menikmati keadaan.

    “Hmm.. Niya. Sebenarnya ada satu lagi kejutan untukmu hari ini.”

    “Apa itu?” Belum dia menjawabnya tiba-tiba pintu kamar terbuka.

    Lalu ada dua orang memasuki kamar tersebut. Hal itu jelas saja membuat aku kaget.

    “Ini dia kejutannya. Ada dua orang lagi temanku yang dihutangi suamimu yang ingin ikut bermain dengan
    kita.”

    “Tapi Totok…”

    “Tenang saja. Kalau kau melayani kami sekaligus maka bayarannya dinaikkan menjadi 1,5 juta untuk
    sekali main. Tidak lagi satu juta.”

    Sebenarnya aku agak keberatan juga dengan keadaan itu. Tapi karena suasana yang tercipta sudah
    kunikmati akhirnya aku menyetujuinya. Kedua temannya memang berbeda sekali dengannya.

    Temannya yang satu bernama Melki, keturunan Arab mempunyai dan berkulit putih. Sedangkan yang satunya
    bernama Hans, keturunan Cina. Tapi yang jelas ketiganya mempunyai postur tubuh yang sama. Tinggi besar
    dan tegap. Beda sekali dengan suamiku yang tingginya kira-kira sama denganku dan mempunyai tubuh yang
    tidak sebagus mereka.

    Jujur saja diam-diam aku mulai mengagumi mereka bertiga dan mulai membayangkan disetubuhi oleh mereka
    bertiga. Aku sudah lagi tidak peduli dengan suasana romNiyas di kamar Pak Totok, tapi aku sudah mulai
    membayangkan suasana liar yang akan terjadi berikutnya.

    Tiba-tiba saja Pak Totok sudah mulai mencium bibirku. Aku yang dari tadi sedang menghayal jelas
    terkejut, walaupun tidak lama dan langsung membalas ciuman dari Pak Totok.

    Tak lama berselang Melki dan Hans langsung bergabung. Melki datang dari belakangku dan langsung
    menciumi leherku sedangkan Hans langsung ke tujuan dengan meremas kedua dadaku. Hal ini jelas saja
    membuat nafsuku meledak. Aku tidak tahan untuk tidak bersuara, dan akhirnya akupun mulai mengeluarkan
    desahan dari mulutku.

    Setelah itu bajuku dan celana panjang yang aku pakai mulai dilepas dari tubuhku sehingga terlihat bra
    dan cd yang aku kenakan. Hal ini jelas saja membuat mereka bertiga tambah liar untuk menjamah tubuhku.

    Dan tak lama berselang bra dan cdku pun ikut lepas dari tubuhku sehingga aku benar-benar bugil. Sudah
    tidak ada lagi perasaan canggung dan malu di diriku. Yang ada hanya nafsu yang sudah berada di ubun-
    ubun.

    Setelah itu mereka bertiga pun melepas pakaiannya masing-masing. Dan aku benar-benar tidak bisa
    menyembunyikan rasa kagetku ketika mereka bertiga sudah bugil. Karena mereka semua mempunyai ukuran
    penis yang sangat besar bagiku.

    Panjang penisnya sekitar 20 cm dan berdiameter kira-kira 4-5 cm. Aku sendiri tidak dapat membedakan
    secara pasti punya siapa yang paling besar. Karena ukuran penis mereka yang hampir sama. Tapi yang
    jelas berbeda sekali dengan punya suamiku yang hanya sekitar 13cm dengan diameter 2 cm.

    Aku dihadapkan dengan tiga penis raksasa. Perasaan takut dan penasaran bercampur aduk di diriku. Takut
    karena belum pernah melihat penis dengan ukuran sebesar itu. Penasaran karena perempuan mana yang
    tidak mau vaginanya dimasuki penis seperti itu.

    Setelah semuanya bugil mereka membimbingku untuk jongkok, dan setelah itu mereka semua mengelilingiku.
    Mereka minta dioral secara bergNiyaan. Lalu kulakukan permintaan itu dengan senang hati walaupun agak
    bersusah payah.

    Aku sering mengoral suamiku, tetapi yang ini beda. Tiga penis dengan ukuran jauh dari penis suamiku.
    Ukuran penis mereka membuat aku agak gelagapan dan sedikit sesak nafas awalnya. Tapi lama-lama
    akhirnya aku bisa menguasai keadaan juga.

    Ketika aku mengoral penis pak Totok kedua tanganku mengocok penis Hans dan Melki, begitu seterusnya.
    Jika satu sedang kuoral maka yang dua lagi kebagian kocokan tanganku.

    “Aarrrgghhh nikmat sekali seponganmu Niya” ucapan itu terlontar dari Melki ketika mendapat giliran
    dioral olehku.

    Hans mendapat giliran terakhir untuk kuoral. Dan ketika giliran Hans mereka membimbingku ke arah
    tempat tidur. Rupanya mereka memintaku untuk mengoral Hans sambil terlentang sementara penis Hans
    berada di atas mulutku.

    Ketika sedang asik-asiknya menikmati penis Hans, tiba-tiba kurasakan rangsangan hebat di kedua
    payudaraku dan di vaginaku. Rupanya Melki sedang asik menggerayangi kedua payudaraku. Dia sedang asik
    meremas dan menjilati kedua payudaraku.

    Sedangkan Pak Totok berada di selangkanganku, dia terlihat asik menjilati vaginaku. Terang saja aku
    mengoral Hans sambil mengerang (ingin berteriak tidak bisa karena mulutku disumpal penis Hans)
    keenakan karena perlakuan kedua orang tadi terhadap dua tempat sensitif di tubuhku.

    Tak lama kemudian Hans melepaskan penisnya dari mulutku lalu bergabung dengan Melki untuk menikmati
    payudaraku. Melki menggarap payudara kiriku sedangkan Hans yang kanan pak Totok tetap menjilati
    vaginaku. Hal ini membuatku terangsang hebat sehingga tidak tahan lagi untuk berteriak dan meracau.

    “Aarrrrgghhh, nikmat banget… teruuussss… aaarrgghhh… aayoo teruusss” Akhirnya aku sampai juga
    pada orgasmeku yang pertama.

    Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu menempel di bibir vaginaku. Setelah kulirik ternyata pak Totok
    sudah siap memasukkan penisnya itu ke dalam vaginaku. Aku merasakan penis pak Totok semakin lama
    semakin mendesak vaginaku.

    Aku merasa seperti perawan lagi karena begitu susahnya penis pak Totok memasuki vaginaku. Terang saja
    susah, penis sebesar itu mencoba masuk ke dalam vaginaku yang biasanya hanya dimasuki penis Jono yang
    sekarang menjadi biasa bagiku.

    Terbantu oleh vaginaku yang sudah basah akhirnya penis pak Totok berhasil masuk juga. Perlahan-lahan
    pak Totok mulai menggoyangkan penisnya keluar masuk di vaginaku.

    “Arrrghhh Totok… terus… cepetin donkk.. ent0tin…” aku sudah meracau tak karuan karena penis pak
    Totok yang menghadirkan kenikmatan yang luar biasa.

    Ditambah lagi Hans dan Melki yang masih sibuk dengan kedua payudaraku. Akhirnya setelah dirasa lancar
    pak Totokpun mulai mempercepat goyangannya. Baru beberapa goyangan saja aku sudah orgasme lagi padahal
    kulihat pak Totok masih kuat menggoyang penisnya. Makin lama makin cepat dan cepat sampai akhirnya aku
    tak tahan dan sampai pada orgasme ku yang kesekekian kali.

    Setelah agak lama terasa goyangan pak Totok semakin cepat dan cepat kemudian sampai pada goyangan dia
    yang terakhir, tubuhnya mengejang keras sekali, suaranya melenguh setengah berteriak. Dan aku bisa
    merasakan kalau dia orgasme.

    Semburan spermanya di dalam vaginaku terasa sekali. Tak lama berselang pak Totok mencabut penisnya dan
    aku didatangi oleh Hans dan Melki yag tampak sudah tidak sabar. Aku lihat Hans membawa baby oil.

    “Untuk apa?” tanyaku.

    “Sudahlah nikmati saja” begitu kata Hans.

    Karena memang gairahku masih diatas akhirnya aku tidak pedulikan lagi.

    Tak lama mereka memintaku untuk berposisi doggy style, dan aku iyakan saja toh aku juga terbiasa
    dengan gaya itu. Tapi betapa kagetnya ketika kurasakan Hans menumpahkan baby oil di lubang pantatku
    dan di penisnya lalu kemudian berusaha memasukkan penisnya itu ke pantatku.

    Tadinya aku ingin berontak, tetapi Melki memegangi tubuhku dengan erat supaya tidak berontak. Terasa
    sedikit sakit ketika penis Hans mencoba untuk memasuki lubang pantatku tetapi kemudian setelah masuk
    terasa nikmat yang luar biasa juga. Tidak kalah dengan nikmatnya ketika masuk ke vagina.

    Lalu Hans kemudian mulai untuk menggoyang penisnya di dalam pantatku. Ketika sudah lancar dan baru
    beberapa saat Hans meminta merubah posisi tanpa melepaskan penisnya dari pantatnya. Kami berdua
    terlentang dan bertindihan dengan aku diatasnya.

    Sehingga makin kurasa Penis itu bergerilya di lubang pantatku. Tak lama kemudian Melki menghampiri
    kami dan sudah siap dengan penisnya yang sudah berdiri tegak dan diarahkan ke vaginaku yang terbuka
    menantang. Akhirnya Melki memasukkan penisnya ke dalam vaginaku berbarengan dengan Hans dia
    menggoyangkan penisnya keluar masuk vaginaku.

    Sebuah pengalaman luar biasa yang belum aku alami sebelumnya. Aku disetubuhi dua laki-laki secara
    bersamaan. Benar-benar terasa nikmat sekali, ditambah lagi keduanya ditambah pak Totok merupakan sosok
    lelaki gagah, tampan dan enak dipandang.

    Pergumulan kami bertiga tak terasa membuatku orgasme berkali-kali, karena rasa nikmat yang luar biasa.
    Dan akhirnya Melki dan Hans secara bersamaan mencapai orgasmenya. Hans mengerluarkan spermanya di
    dalam pantatku sedang Melki di dalam vaginaku.

    Setelah itu kami berempat mebersihkan diri, dan rupanya di meja makan sudah disiapkan makanan untuk
    kami berempat. Setelah kami makan akhirnya aku izin untuk pulang dan tidak lupa membuat janji untuk
    pertemuan berikutnya dengan mereka.

    Setelah kejadian itu aku merasakan tidak nafsu lagi dengan Jono ketika dia mengajakku untuk
    bersetubuh. Aku hanya berusaha menjalankan kewajibanku saja. Tetapi jujur saja aku tidak merasa puas.
    Karena aku sudah menemukan sesuatu yang lebih diluar sana.

    Dan setelah semua hutang-hutang Jono lunas aku sering kali mendatangi mereka atau salah satu dari
    mereka untuk minta disetubuhi. Aku sudah sampai pada taraf ketagihan yang luar biasa. Pada akhirnya
    akupun jujur kepada Jono tentang hal yang selama ini terjadi. Cerita Maya

    Dia terkejut, tapi tak biasa marah karena aku melakukan itu untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah
    kutanyai apakah dia ingin menuntut cerai diriku, dia tidak mau menceraikanku dengan alasan dia masih
    sayang. Aku memberikan syarat kepada Jono yaitu, aku bebas bersetubuh dengan ketiga orang itu kapanpun
    dan dimanapun aku mau tanpa harus dicemburui. Akhirnya Jono menyetujuinya, karena masih menyayangiku.

    Pernah suatu saat ketika Jono pulang ke rumah dia mendapati diriku sedang bersetubuh dengan ketiga
    pria tersebut. Ketika dia akan pergi justru dia dipaksa untuk duduk dan menyaksikan kami oleh pak
    Totok, Hans dan Melki.

    Bahkan dia juga ditelanjangi oleh mereka didepanku. Mereka sengaja melakukan itu hanya untuk
    membandingkan ukuran penis mereka dan Jono dan memang penis Jono menjadi terlihat kecil sekali.
    Sebenarnya aku kasihan melihatnya diperlakukan seperti itu.

    Tetapi karena hawa nafsu yang sudah menguasai diriku, maka tak kuacuhkan dia dan aku hanya melayani
    penis-penis raksasa yang dapat memuaskan vaginaku.

  • Memperkosa ABG Pengantin Baru

    Memperkosa ABG Pengantin Baru


    104 views

    Cerita Maya | Minggu kemarin aku mempunyai tetangga baru yang tinggal disamping rumahku. Setelah aku tanya-tanya ternyata yang pindah disamping rumahku tersebut adalah pasnagan suami istri yang baru saja menikah. Yang laki-laki namanya Nisfi umurnya sekitar 35 tahunan dan yang wanita namanya Diah umurnya sekitar 24 tahunan. Ketika aku pertama melihat mereka berdua aku sudah mengetahui kalau jarak umur antara mereka berdua sangat jauh, terlihat dari wajah laki-lakinya yang sudah menua.Namun aku sangat tertarik sekali dengan wanitanya yang bernama Diah tersebut Dia sudah muda, cantik, dan juga memiliki tubuhyang sangat aduhai dengan postur tinggi sekitar 167cm, berat badan 57kg, dan tubunya dihiasidengan buah dada yang lumayan besar sekitar 36B dan juga pntatnya yang sangat menggoda, tidak terlalu besar namun terlihat sangat padat dan berisi. Sungguh aku sangat nafsu pada Diah.

    Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku. Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual dengan lelaki lain?

    Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan, menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka berhayal tentang penyimpangan seksual. Cerita Maya
    Sekaligus juga akhirnya melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Diah! Wuah! Tapi itulah memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku. Sesuatu yang membuatmu mulai hari itu, secara diam-diam melakukan pengamatan dan penelitian intensif terhadap pasangan suami istri muda tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan dan bercengkrama. Kapan saja si Suami bepergian ke luar kota lebih dari satu malam, karena tugas perusahaannya sebuah distributor peralatan elektronik yang cukup besar. Dengan kata lain, kapan Diah, wanita dengan sepasang buah dada dan pinggul yang montok sintal itu tidur sendirian di rumahnya.
    Untuk diketahui, pasangan ini tidak punya pembantu. Saat itulah yang bakal kupilih untuk momentum memperkosanya. Menikmati bangun dan lekuk-lekuk tubuhnya yang memancing gairah, sambil menguji daya tahan kesetiaannya sebagai istri yang bisa kukategorikan lumayan setia. Sebab setiap suaminya bepergian atau sedang keluar, wanita ini hanya mengunci diri di dalam rumahnya. Selama ini bahkan dia tak pernah kulihat meski hanya untuk duduk-duduk di terasnya yang besar. Itu ciri Ibu Rumah Tangga yang konservatif dan kukuh memegang tradisi sopan-santun budaya wanita timur yang sangat menghormati suami.
    Meski mungkin mereka sadar, seorang suami, yang terkesan sesetia apapun, jika punya peluang dan kesempatan untuk bermain gila, mudah terjebak ke sana. Aku tahu suaminya, si Nisfi selalu bepergian keluar kota satu atau dua malam, setiap hari Rabu. Apakah benar-benar untuk keperluan kantornya, atau bisa jadi menyambangi wanita simpanannya yang lain. Dan itu bukan urusanku. Yang penting, pada Rabu malam itulah aku akan melaksanakan aksi biadabku yang mendebarkan. Semua tahapan tindakan yang akan kulakukan terhadap wanita yang di mataku semakin menggairahkan itu, kususun dengan cermat.
    Aku akan menyelinap ke rumahnya hanya dengan mengenakan celana training minus celana dalam, serta baju kaos ketat yang mengukir bentuk tubuh bidangku. Buat Anda ketahui, aku pria macho dengan penampilan menarik yang gampang memaksa wanita yang berpapasan denganku biasanya melirik. Momen yang kupilih, adalah pada saat Diah akan tidur. Karena berdasarka hasil pengamatanku, hanya pada saat itu, dia tidak berkebaya, cuma mengenakan daster tipis yang (mungkin) tanpa kutang. Aku tak terlalu pasti soal ini, karena cuma bisa menyaksikannya sekelebat saja lewat cara mengintip dari balik kaca jendelanya dua hari lalu. Kalau Diah cuma berdaster, berarti aku tak perlu disibukkan untuk melepaskan stagen, baju, kutang serta kain yang membalut tubuhnya kalau lagi berkebaya. Sedang mengapa aku cuma mengenakan training spack tanpa celana dalam, tahu sendirilah.

    Aku menyelinap masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur yang terbuka petang itu. Saat Diah pergi mengambil jemuran di kebun belakangnya, aku cepat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan barang-barag elektronik yang terdapat di sudut ruangan dapurnya. Dari sana, dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri, wanita itu kuamati sebelum dia masuk ke kamar tidurnya. Dengan mengenakan daster tipis dan ternyata benar tanpa kutang kecuali celana dalam di baliknya.

    Si Istri Setia itu memeriksa kunci-kunci jendela dan pintu rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara acara televisi cukup nyaring. Nah, pada saat dia akan masuk ke kamar tidurnya itulah, aku segera memasuki tahapan berikut dari strategi memperkosa wanita bertubuh sintal ini. Dia kusergap dari belakang, sebelah tanganku menutup mulutnya, sedang tangan yang lain secara kuat mengunci kedua tangannya. Diah terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan ulah para bajingan, aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga mengutarakan permintaan maaf.
    “Maafkan saya Mbak. Saya tidak tahan untuk tidak memeluk Mbak. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbak. Dan saya bersumpah hanya melakukan ini sekali. Sekali saja,” bisikku membujuk dengan nafas memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa.

    Diah tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat kakiku menutup pintu kamarnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding.
    “Kalau Mbak ribut, akan ketahuaan orang. Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib. Semua ini tidak akan diketahui orang lain. Saya bersumpah merahasiakannya sampai mati, karena saya tidak mau diketahui orang lain sebagai pemerkosa,” bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan tubuhnya.

    Tahapan selanjutnya, adalah menciumi bagian leher belakang dan telinga wanita beraroma tubuh harum merangsang itu. Sedang senjataku yang keras, tegang, perkasa dan penuh urat-urat besar, kutekankan secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat Diah semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan dan meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan pria kekar yang sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.

    Aksi menciumi dan menekan pantat Diah terus kulakukan sampai lebih kurang sepuluh menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik, dengan gerakan secepat kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya segera kutarik sampai sobek ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa yang akan kulakukan, belahan pantatnya segera kubuka dan lubang anusnya kujilati secara buas. Diah terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit kemudian menyelinap masuk diantara selangkangannya dari belakang dan meraba serta meremas bagian luar kemaluannya, tapi membiarkan bagian dalamnya tak terjamah.

    Strategiku mengingatkan belum waktunya sampai ke sana. Aksi menjilat dan meremas serta mengusap-usap ini kulakukan selama beberapa menit. Diah terus berusaha melepaskan diri sambil memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal. Aku memang sudah jadi binatang bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa celana, telanjang sebagian.

    “Akan kulaporkan ke suamiku,” ancamnya kemudian dengan nafas terengah-engah.

    Aku tak menyahut sambil bangkit berdiri serta menciumi pundaknya. Lalu menempelkan batang perkasaku yang besar, tegang dan panas diantara belahan pantatnya. Menekan dan memutar-mutarnya dengan kuat di sana. Sedang kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas dan memainkan puting buah dada besar serta montok wanita yang terus berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.

    “Tolong Mas Dartam, lepaskan aku. Kasihani aku,” ratapnya.

    Aku segera menciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk membujuk, sekaligus memprovokasi.

    “Kita akan sama-sama mendapat kepuasan Mbak. Tidak ada yang rugi, karena juga tidak akan ada yang tahu. Suamimu sedang keluar kota. Mungkin juga dia sedang bergulat dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti dirimu,” bujukku mesra.
    “Kau bajingan terkutuk,” pekiknya dengan marah.

    Sebagai jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu (ciri yang sangat kusenangi) kali ini kupeluk kuat-kuat, lalu kuseret ke atas ranjang dan menjatuhnya di sana. Kemudian kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya, ketiak yang berbulu halus dan basah oleh keringat milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.

    “Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan aku.”

    Wanita itu menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot turun lebih ke bawah lalu berputar-putar di bukit kemaluannya yang ternyata menggunung tinggi, mirip roti. Sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih dan mulusnya yang menjepit rapat, berusaha kubuka.

    Baca Juga Tubuhku Di Jamah

    Diah dengan kalap berusaha bangun dan mendorong kepalaku. Kakinya menendang-nendang kasar. Aku cepat menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul yang liar itu secara telak membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika itu terjadi. Kalau aku semaput, wanita ini pasti lolos. Setelah berjuang cukup keras, kedua paha Diah akhirnya berhasil kukuakkan. Kemudian dengan keahlian melakukan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori dan berpraktek selama ini, lubang dan bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan bibirku.

    Tanpa sadar Diah terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku menempel kuat di klitorisnya yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai sapuan dan dorongan lidah ke bagian-bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sambil tanganku terus mengusap, meremas dan memijit-mijit kedua buah dadanya. Diah menggeliat, terguncang dan tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu. Kepalanya digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak, atau apa.
    Sambil melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan permukaan perut si Istri Setia ini. Dari sana aku bisa mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya, terhadap gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan gelombang di bagian atas perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Diah akan merasa lebih terangsang dan nikmat.

    Gelombang rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Diah secara fisik dan emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta kepalanya bergerak semakin resah. Tak ada suara yang keluar, karena wanita ini menutup bahkan menggigit bibirnya. Geliat tubuhnya bukan lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin) gambaran dari seseorang yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang kali kurasakan kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah.

    Ternyata benar analisa otak kotorku beberapa pekan lalu. Bahwa sesetia apapun seorang Istri, ada saat di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan seksual yang dilakukan dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung, intensif serta tersembunyi oleh seorang pria ganteng yang ahli dalam masalah seks. Diah telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidakberdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif dan ahli di seluruh bagian sensitif tubuhnya.

    Aksiku selanjutnya adalah dengan memutar tubuh, berada di atas Diah, memposisikan batang kejantananku tepat di atas wajah wanita yang sudah mulai membara dibakar nafsu birahi itu. Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannyadengan lidah dan bibir terus menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya.
    Paha Diah sendiri, entah secara sadar atau tidak, semakin membuka lebar, sehingga memberikan kemudahan bagiku untuk menikmati kelaminnya yang sudah membanjir basah. Mulutnya berulangkali melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu kulakukan dengan intensif dan penuh nafsu, sehingga berulang kali kurasakan paha serta tubuh wanita cantik itu bergetar dan berkelojotan.

    Beberapa menit kemudian mendadak kurasa sebuah benda basah yang panas menyapu batang kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha, apalagi itu kalau bukan lidah si Istri Setia ini. Berarti, selesailah sudah seluruh perlawanan yang dibangunnya demikian gigih dan habis-habisan tadi. Wanita ini telah menyerah. Namun sayang, jilatan yang dilakukannya tadi tidak diulanginya, meski batang kejantananku sudah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan mulutnya untuk menelan bagian kepalanya yang sudah sangat keras, besar dan panas itu.
    Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuh. memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku. Aku mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata dan lehernya. Kemudian kedua belah ketiaknya. Diah menggelinjang liar sambil membuang wajahnya ke samping. Tak ingin bertatapan denganku.

    Buah dadanya kujilati dengan buas, kemudian berusaha kumasukan sedalam-dalamnya ke dalam mulutku. Tubuh Diah mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya. Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang sanggamanya semakin menganga merah.

    “Mbak Mar sangat cantik dan merangsang sekali. Hanya lelaki yang beruntung dapat menikmati tubuhmu yang luar biasa ini,” gombalku sambil menciumi pipi dan lehernya.

    “Sekarang punyaku akan memasuki punya Mbak. Aku akan memberikan kenikmatan yang luar biasa pada Mbak. Sekarang nikmatilah dan kenanglah peristiwa ini sepanjang hidup Mbak.”

    Setelah mengatakan hal itu, sambil menarik otot di sekitar anus dan pahaku agar ketegangan kelaminku semakin meningkat tinggi, liang kenikmatanwanita desa yang bermata bulat jelita itu, mulai kuterobos. Diah terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.

    Untuk sesaat, tubuhku juga ikut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada saat liang kewanitaan wanita ini berdenyut-deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke depan, dengan pantat semakin ditekan ke bawah, membuat pangkal atas batang kejantananku menempel dengan kuat di klitorisnya. Diah melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk coitus yang membara itu kulakukan.
    Diah kembali terpekik sambil meronta dengan mulut mendesis dan melengguh. Tembakan batang kejantananku kulakukan semakin cepat, dengan gerakan berubah-ubah baik dalam hal sudut tembakannya, maupun bentuknya dalam melakukan penetrasi. Kadang lurus, miring, juga memutar, membuat Diah benar-benar seperti orang kesurupan. Wanita ini kelihatanya sudah total lupa diri. Tangannya mencengkram pundakku, lalu mendadak kepalanya terangkat ke atas, matanyaterbeliak, giginya dengan kuat menggigit pundakku.

    Dia orgasme! Gerakan keluar-masuk batang kejantananku kutahan dan hanya memutar-mutarnya, mengaduk seluruh liang sanggama Diah, agar bisa menyentuh dan menggilas bagian-bagian sensitif di sana. Wanita berpinggul besar ini meregang dan berkelonjotan berulang kali, dalam tempo waktu sekitar dua puluh detik. Semuanya kemudian berakhir. Mata dan hidungnya segera kuciumi. Pipinya yang basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku.

    Tubuhnya kupeluk semakin erat, sambil mengatakan permintaan maaf atas kebiadabanku. Diah cuma membisu. Kami berdua saling berdiaman. Kemudian aku mulai beraksi kembali dengan terlebih dahulu mencium dan menjilati leher, telinga, pundak, ketiak serta buah dadanya. Kocokan kejantananku kumulai secara perlahan. Kepalanya kuarahkan ke bagian-bagian yang sensitif atau G-Spot wanita ini. Hanya beberapa detik kemudian, Diah kembali gelisah.
    Kali ini aku bangkit, mengangkat kedua pahanya ke atas dan membentangkannya dengan lebar, lalu menghujamkan batang perkasaku sedalam-dalamnya. Diah terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.

    “Mas…” bisiknya.

    Aku mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokanbatang kejantananku kutingkatkan semakin cepat dan cepat, sehingga tubuh Diah terguncang-guncang dahsyat. Pada puncaknya kemudian, wanita ini menjatuhkan tubuhnya di tilam, lalu menggeliat, meregang sambil meremas sprei. Aku tahu dia akan kembali memasuki saat orgasme keduanya.
    Dan itu terjadi saat mulutnya melontarkan pekikan nyaring, mengatasi suara Krisdayanti yang sedang menyanyi di pesawat televisi di samping ranjang. Pertarungan seru itu kembali usai. Aku terengah dengan tubuh bermandi keringat, di atas tubuh Diah yang juga basah kuyup. Matanya kuciumi dan hidungnya kukecup dengan lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kuat. Kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut semakin kuat. Aku tahu, ini saat yang baik untuk mempersiapkan orgasmeku sendiri.

    Tubuh Diah kemudian kubalikkan, lalu punggungnya mulai kujilati. Dia mengeluh. Setelah itu, pantatnya kubuka dan kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya ikut terbuka. Jilatan intensifku segera kuarahkan ke sana, sementara jariku memilin dan mengusap-usap klitorisnya dari belakang.

    Diah berulang kali menyentakkan badannya, menahan rasa ngilu itu. Namun beberapa menit kemudian, keinginan bersetubuhnya bangkit kembali. tubuhnya segera kuangkat dan kuletakkan di depan toilet tepat menghadap cermin besar yang ada di depannya. Dia kuminta jongkok di sana, dengan membuka kakinya agak lebar.

    Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan ke kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Diah kembali terpekik. Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, sehingga aku khawatir suaranya bisa didengar orang di luar.

    Wanita ini kelihatannya sangat terangsang dengan style bersetubuh seperti itu. Selain batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos dan menggesek bagian-bagian sensitifnya, dia juga bisa menyaksikan wajahku yang tegang dalam memompanya dari belakang. Dan tidak seperti sebelumnya, Diah kali ini dengan suara gemetar mengatakan dia akan keluar. Cerita Maya

    Aku cepat mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang. menelentangkannya di sana, kemudian menyetubuhinya habis-habisan, karena aku juga sedang mempersiapkan saat orgasmeku. Aku akan melepas bendungansperma di kepala kejantananku, pada saat wanita ini memasuki orgasmenya. Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Diah meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak.
    Maka orgasmeku segera kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lambat namun lebih kuat serta merasuk sedalam-dalamnya ke liang kewanitaan Diah. Kedua mata wanita itu kulihat terbalik, Diah meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan tangisnya segera muncul. Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis.
    Aku memejamkan mata sambil memeluknya dengan kuat, merasakan nikmatnya orgasme yang bergelombang itu. Ini adalah orgasmeku yang pertama dan penghabisanku dengan wanita ini. Aku segera berpikir untuk berangkat besok ke Kalimantan, ke tempat pamanku. Mungkin seminggu, sebulan atau lebih menginap di sana. Aku tidak boleh lagi mengulangi perbuatan ini. Tidak boleh, meski misalnya Diah memintanya.

  • Tubuhku Di Jamah

    Tubuhku Di Jamah


    89 views

    Cerita Maya | Kehidupan dalam rumah tanggaku berjalan baik baik saja untunglah aku mendapat suami yang pengertian dan saying terhadap keluarga semua kebutuhan hampir dari kahir dan batin terpenuhi, aku dibesarkan dari lingkungan yang taat agama adat jawanya selanjutanya aku dan mas Abraham setelah kuliah memutuskan untuk menikah kerena sudah 4 tahun kita pacaran jadi melanjutkan ke jenjang yang serius.

    Bersyukur kehidupanku berkecukupan ayahku yang pekerjaannya sebagai pamong di daerahku dan orang tua mas Abraham adalah bisnismen di kota dan menetap di Jakarta, akhirnya kita menikah dan selama 1 tahun kami merencanakan untuk menunda momongan memang rencananya begitu mas Abraham masih ingin beduaan dan aku serius juga dalam pekerjaanku tanpa diganggu oleh momongan dulu.

    Mas Abraham ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan dan ingin tetap menikmati kehidupan berdua dulu tanpa di ganggu anak dulu. Saat ini usiaku menginjak 27 tahun. tinggiku 158cm dan rambut sebahu. kulitku kata teman2ku sawo matang, karena jika putih pasti kalah denagn orang chines.

    Tidak heran selama aku kuliah dulu di daerah surakarta,banyak teman sekampusku yang coba endekati, namun hatiku terpaut pada Mas Abraham saja. Bukan materi yang aku kejar pada dirinya, namun karena sikapnya yang santun thdp aku.

    Teman2 bilang aku terlalu pilih2,namun semua itu salah, dan kebetulan Mas Abraham datang kekostku slalu pake BMW kadang mercy milik orang tuanya. Tapi aku lebih suka jika ia datang dan jemput pake sepeda motor saja.

    Bukan apa2, di kampungku orangtuaku juga punya mobil seperti itu. Kehidupan sexualku normal dan Mas Abrahampun tau ttg seleraku. Ia amat mengerti kapan kami bisa berhubungan badan dan kapan tidak. Akupun tidak mau Mas Abraham terlalu memporsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya. Sebagai wanita jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah saja.

    Kami tinggal di surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua Mas Abraham. Di rumah yang luas dan asri ini, kami tinggal dan ditemani dua orang pembantu suami istri.

    Kedua pembantu itu telah lama ikut dengan orang tua Mas Abraham. Umur mereka kira2 65 tahun. yang perempuan bernama mak imah dan pak bidin. Kami mempercayakan rumah kepada mereka jika kami pergi kerja.

    Setiap hari aku kekantor kadang diantar Mas Abraham dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu saat aku pulang kantor dan mau kerumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda yang dikemudikan oleh seorang pria paro baya.

    Pria itu jatuh dan aku karena takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku kearah rumah. Sesampai dirumah aku, masukkan mobil dan diam di kamar. Masih terbayang olehku saat, pria itu jatuh dan memanggil manggil aku untuk berhenti, namun aku tancap gas. Cerita Maya

    Dirumah perasanku tak tenang dan itu aku diamkan saja dari Mas Abraham. setelah kejadian itu besoknya aku minta diantar kekantor dengan Mas Abraham. hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan pria yang ku tabrak itu. sampai2 Mas Abraham heran akan sikapku yang berubah dingin dan gelisah.

    Lalu Mas Abraham menanyakan sebab perubahan sikapku itu. Akupun berterus terang dan Mas Abraham memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk menagmbil seorang sopir, untuk mengantarku. Akupun setuju, sebab aku memang trauma sejak saat itu menyetir sendiri.

    Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang dicari Mas Abraham itu. Alangkah kagetnya aku, soalnya itu adalah orang yang aku tabrak tempo hari. Iapun kaget, namun aku berusaha menagatur sikapku, aku yakin iapun masih ingat denganku saat ku tabrak.

    Supaya Mas Abraham tak curiga pada orang yang ku tabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Aku pikir itung2 balas jasa ataskesalahanku saat itu. Namanya Pak Hardi, umurnya kira2 66 tahun, namun masih kuat dan sehat.

    Sejak saat itu aku slalu diantar Pak Hardi kemana aku pergi, baik kekantor atau belanja. Setiap pagi ia telah ada di rumah, dan siap2 membersihkan mobilku.

    Sedang suamiku telah akrab dgn Pak Hardi. Suatu hari saat mengantar aku kekantor sambil bincang2 Pak Hardi, bilang padaku. Bu.. kalau ndak salah ibu dulu, nabrak saya dengan mobil ini kan?.. tanyanya.

    Aku terdiam dan Pak Hardipun berkata, ibu,,, kejam dan tidak bertanggung jawab. Lalu ku jawab… maaf pak.. waktu itu memang saya salah,, saya tergesa gesa saat itu, jawabku.

    Alahhhh kalian orang kaya memang begitu.. menganggap orang lain sampah, lanjutnya.. Lalu ku jawab.. jangan gitu pak? saya waktu itu benar2 khilaf kataku lagi. Lalu ia diam… Aku… pun diam saja saat itu, hingga sampai di rumah.

    Sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain dan aku tidak ambil pusing. Aneh memang kenapa sejak saat Pak Hardi bertanya kepadaku saat itu, aku merasakan adanya sensasi tersendiri dalam hatiku saat menatap matanya.

    Perasaanku kepada Pak Hardi serasa ingin terus bersama dengannya. Jika ia pulang sore harinya,aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Perasanku kepada Mas Abraham biasa saja.

    Jum’at sore saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta Pak Hardi untuk mampir dulu untuk singgah di sebuah restoran. Disitu aku mengambil tempat agak kesudut dan suasananya amat romantis.

    Pak Hardi kuajak makan. kami duduk berhadap hadapan, ia pandangngi terus mataku. Akupun demikian seperti aku memandang mas hedra. Tanpa ada kata2 ia genggam jemariku saat itu, aku merasa tenang seperti gadis remaja dengan pasangannya.

    Pak Hardi lalu meraih tanganku dan menciumnya. Baru kali ini, tanganku di pegang orang selain suamiku dan ada rasa hangat yang mengalir di sekujur tubuhku. Beberapa saat kami menikmati suasana yang tak aku hendaki itu terjadi.

    Setelah itu kami keluar dari restoran itu dan menuju kemobil. Dalam mobiku itu, aku terdiam dan bingung akan kejadian barusan, otakku tidak berjalan sebagai mana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku dan ia dengan bebasnya meraih dan meremas tanganku.

    Baca Juga Keperawananku Kuserahkan Untuk Bapak Kos

    Dalam mobil sebelum berjalan, Pak Hardi menoleh kearahku,dan kembali meraih jemariku dan lalu ia rengkuh tubuhku lalu ia kecup bibirku. aku kembali seperti orang linglung. Sesampai dirumah aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu.
    Alangkah kurang ajarnya sopirku itu, bisik hatiku. Malam harinya, dengan separo hati, aku layani suamiku dengan apa adanya. Tidak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan saat Mas Abraham mencumbuku dan mensebadaniku. Hatiku slalu terbayang wajah Pak Hardi.

    Kalau pikiranku sehat saat itu, aku berpikir apa istimewanya Pak Hardi? gak ada rasanya. tapi aku slalu terbayang wajahnya, sampai2 saat suamiku saat berada diatas tubuhku saat melakukan hubungan badan, aku kira Pak Hardi yang diatas tubuhku, tapi untunglah aku masih bisa mengusai diri.

    Besoknya aku seperti biasa diantar olehnya, dan ia tambah berani dengan meraba paha dan dadaku, tangannya aku tepiskan, namaun ia hanya senyum. Setiap hari, matanya tidak luput memandangku dari ujung rambut sampai kaki.

    Entah kenapa setiap hari, ada2 saja yang ia pegang dari tubuhku, kadang dadaku, paha, kadang ia cium bibirku. Namun aku tidak berontak. Suatu ketika saat pulang kantor, mobil tidak ia arahkan kerumah tapi, kerumahnya di kawasan kartosuro.

    Disana, suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Entah kenapa akau, mau saja diajak turun dan amsuk kerumahnya, yang dikelilinggi pohon2 besar. Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang telah tua.

    Dalam rumah itu hanya ada dipan beralaskan tikar dan sebuah bantal. Lalu Pak Hardi menutup pintu rumah itu dan menyilahkan aku duduk di pinggiran dipan itu. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun dan didindingnya ada semacam tulang2 dan bau menyan.

    Pak Hardi kebelakang dan tidak lama kemudian muncul dan duduk di sampingku. Bu… beginilah keadaan saya, katanya… oooo.. ndak apa lah pak? jawabku. Lalu tiba2 saja ia lingkarkan tangannya di bahuku.

    Aku merasa tidak enak.. buk… saya,,, ingin… merasakan kehanagatan tubuh ibu,,, katanya. Dulunya istri saya masih hidup jika tidak ibu tabrak saya saat itu, saya masih bisa menolongnya, namun ibu, membuat saya terlambat.. dan istri saya mati, terangnya.

    Sekarang ibu,, lah yang menggantikannya… lanjutnya lagi. Aku diam saja saat itu, aku begitu karena pikiranku sudah kosong dan dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan lepaskan.

    Setelah berkata begitu, satu persatu pakainanku jatuh kelantai dan setiap inci tubuhku ia raih dan remah hingga aku tidak berpenutup lagi.

    Aku ia baringkan di dipan kayu itu, lalu ia buka pakaiannya hingga, sama2 bugil denganku. saat itu aku sebelumnya hanya berpakaian kantor. lalu ia raih inci demi inci setiap rongga di tubuhku.

    Dan akhirnya ia hujamkan kejantanannya kekemaluanku berkali kali. ,hingga derit dipan itu terdengar. Aku hanya mendengus dan merasa terus dijadikan kuda pacu.

    Tubuh mulusku dijamah Pak Hardi berulang ulang, hingga akhirnya ia pancarkan cairan hangat itu didalam kemaluanku, ada rasa hangat dan tegang saat ia sampai klimaks. Aku pun tanpa kusadari dari tadi telah pula klimax.

    Tubuhku saat itu penuh dengan keringat dan bercampur dengan keringat Pak Hardi. Aku mersakan perih dan nyilu pada selangkanganku karena kejantanan Pak Hardi panjang dan besar juga. hampir seluruh kulit tubuhku merah2 dan putingku serasa panas akibat gigitan Pak Hardi.

    Beberapa saat kemudian aku di suruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. Lalu aku pulang diantarkanya dengan mobilku.

    Dalam mobil aku merasa sesal telah mengkhianati Mas Abraham, namun apa dayaku, sebab Pak Hardi amat berkuasa terhadap tubuhku, hingga ia berhasil menelanjangngi dan menyetubuhi ku.

    Sejak saat itu, bila ada waktu saat aku pulang kantor, Pak Hardi slalu menytubuhiku dan kadang jika suamiku ke jakarta, ia dengan seenaknya tidur di rumahku dan kamipun bersebadan dengan Pak Hardi di atas ranjang kami dengan Mas Abraham.

    Setiap ia menggauliku aku slalu merasakan puas dan pegal2 pada selangkangannku. Para pembantuku tidak curiga atas tindakan kami itu. Pak Hardi pun tampaknya bisa menutup mulut kedua pembantuku.

    Hampir selama 6 bulan aku menjadi bulan2an nafsu Pak Hardi, itu, akupun merasakannya. Namun aku sedikit tenang, aku tidak bakalan hamil, karena aku sudah memasang spiral.

    Dan itu aku sadari, karena hampir setiap berhubungan sex dengan Pak Hardi, ia slalu mengeluarkan air maninya dalam rahimku.

    Dan memang aku sempat mencium bau tidak enak saat ia berada diatas tubuhku. Bau keringatnya amat busuk, namun aku slalu mengganti sprei ranjangku setiap ia meniduriku, sebab bau keringatnya akan tinggal di kain sprei itu. kamarpun aku semprot dengan wewangian dan acnya slalu menyala. Cerita Maya

    Dan sekian lama barulah aku mengetahui dari seorang teman bahwa Pak Hardi adalah seorang dukun dan aku telah di guna- gunainya.

    Atas saran dan bantuan seorang orang pintar di tempat rekan kerjaku itu, kini aku telah terbebas dari guna-guna Pak Hardi. Iapun lalu, aku pecat dan ia sempat mengancamku, akan membongkar hubungan sexku dengan ku kepada suamiku.

    Dengan minta duit sekitar 10 juta dari tabunganku aku, minta dia keluar. Sejak saat itu ia tidak pernah muncul lagi.

  • Keperawananku Kuserahkan Untuk Bapak Kos

    Keperawananku Kuserahkan Untuk Bapak Kos


    98 views

    Cerita Maya | Perkenalkan namaku Tasya, saat ini umurku 27 tahun, aku bekerja disalah satu perusahaan telekomunikasi. Aku akan menceritakan kejadian yang aku alami sekitar 5 tahun yang lalu saat aku masih kuliah. Waktu itu umurku baru 22 tahun, dan aku masih kuliah dikota B. Karena aku bukan asli kota B maka aku terpaksa ngekos. Setelah aku mencari informasi dari teman-teman yang baru aku kenal dikampus, aku dikasih tau tempat kos-kosan yang katanya bebas dan nyaman. Dan segeralah aku menuju tempat kos-kosan itu. sesampainya disana aku aku melihat sebuah rumah besar, terlihat juga muda-mudi seumuranku keluar masuk kos-kosan tersebut.Setelah aku bertanya salah seorang wanita yang hendak keluar kos, aku diajak masuk dan diantarkan ketemu sama yang punya kos. Sampai didalam kos aku disuruh menunggu sejenak, dan takberapa lama setelah aku menunggu, akhirnya datanglah seorang laki-laki setengah baya sekitar 40 tahunan dengan pakaian yang rapid an juga wajah yang ganteng. Setelah beberapa lama membecirakan tentang harga kos dan juga ketentuan-ketentuan kos akhirnya terjadi kesepakatan dan hari itu juga aku ngekos disitu.
    Singkat cerita, Sejak kemarin aku tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di sana ada seorang laki-laki setengah baya yang sering kukagumi. Memang usiaku saat itu baru menginjak dua puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan apapun kalau aku menyukai laki-laki yang jauh di atas umurku.
    Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup keras. Tidak, dia tidak melihatku dari luar sana. Oom Edy mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, teman sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Edy istrinya yang karyawati perusahaan perbankan.
    Memang Oom Edy sejak 5 bulan terakhir terkena PHK dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri. Oom Edy telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai memijit-mijit badanku. Ah.. andaikan Oom Edy yang melakukannya. Cerita Maya
    Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Oom Edy sedang mandi, kubayangkan tubuhnya tanpa baju di kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat, hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku. “Masuk..!” kataku. Tak berapa lama kulihat Oom Edy sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju mandi. Senyumnya mengambang “Bagaimana Tasya? Ada kemajuan..?” dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan kiriku dan mulai memijit-mijit.
    “Tasya mau dibuatkan susu panas?” tanyanya.
    “Terima kasih Oom, Tasya sudah sarapan tadi,” balasku.

    “Enak dipijit seperti ini?” aku mengangguk. Dia masih memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa nyaman juga menaikkan birahiku. Disingkirkannya selimut yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang kuning langsat terbuka, bahkan ternyata dasterku yang tipis agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha, aku tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu.
    “Tasya kakimu mulus sekali ya.”
    “Ah.. Oom bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi,” balasku sekenanya.

    Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam saja, aku menikmatinya, birahiku makin lama makin bangkit.

    “Tasya, Oom jadi terangsang, gimana nih?” suaranya terdengar kalem tanpa emosi.
    “Jangan Oom, nanti Tante marah..”

    Mulutku menolak tapi wajah dan tubuhku bekata lain, dan aku yakin Oom Edy sebagai laki-laki sudah matang dapat membaca bahasa tubuhku. Aku menggeTasyajang ketika jari tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat vaginaku yang terbungkus celana dalam. Dan… astaga! ternyata di balik baju mandinya Oom Edy tidak mengenakan celana dalam sehingga penisnya yang membesar dan tegak, keluar belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan otot di sekeliTasyagnya dan kepala yang licin mengkilat. Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan nafsuku.
    Oom Edy membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh gairah. Separuh tubuhnya sudah menindih tubuhku, kemaluannya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya telah berpindah ke buah dadaku. Dia meremas dadaku dengan lembut sambil menghisap bibirku. Tanpa canggung lagi kurengkuh tubuhnya, kuusap punggungnya dan terus ke bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut. Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup ke balik dasterku yang tanpa BH, remasan jarinya sangat ahli, kadang putingku dipeTasyatir sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.

    Baca Juga Memek Perawan Desa

    Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya. Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum dibelainya wajahku.

    “Tasya kau cantik sekali..” dia memujaku.
    “Aku ingin menyetubuhimu, tapi apakah kamu masih perawan..?” aku mengangguk lemah.

    Memang aku masih perawan, walaupun aku pernah “petting” dengan kakak iparku sampai kami orgasme tapi sampai saat ini aku belum pernah melakukan persetubuhan. Dengan pacarku kami sebatas ciuman biasa, dia terlalu alim untuk melakukan itu. Sedangkan kebutuhan seksku selama ini terpenuhi dengan masturbasi, dengan khayalan yang indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak iparku dan yang kedua adalah Oom Edy induk semangku, yang sekarang setengah menindih tubuhku. Sebenarnya andaikata dia tidak menanyakan soal keperawanan, pasti aku tak dapat menolak jika ia menyetubuhiku, karena dorongan birahiku kurasakan melebihi birahinya. Kulihat dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu, dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan tenang, lembut dan sabar. Justru aku lah yang kurasakan meledak-ledak.
    “Bagaimana Tasya? kita teruskan?” tangannya masih mengusap rambutku, aku tak mampu menjawab.
    Aku ingin, ingin sekali, tapi aku tak ingin perawanku hilang. Kupejamkan mataku menghindari tatapannya.
    “Oom… pakai tangan saja,” bisikku kecewa.

    Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh dasterku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga telah telanjang utuh. Seluruh tubuhnya mengkilat karena keringat, batang kemaluannya panjang dan besar berdiri tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka selangkanganku lebar-lebar. Kulihat vaginaku telah merekah kemerahan bibirnya mengkilat lembab, klitorisku terasa sudah membesar dan memerah, di dalam lubang kemaluanku telah banjir oleh lendir yang siap melumasi setiap barang yang akan masuk.
    Oom Edy membungkuk dan mulai menjilat dinding kiri dan kanan kemaluanku, terasa nikmat sekali aku menggeliat, lidahnya menggeser makin ke atas ke arah klitoris, kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan. Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di atas klitorisku yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Oom Edy melakukan sedotan kecil di klitoris, kadang disedot kadang dipermainkan dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa, seluruh kelamin sampai pinggul, gerakanku makin tak terkendali.
    “Oom… aduh.. Oom… Tasya mau keluar….” Kuangkat tinggi-tinggi pantatku, aku sudah siap untuk berorgasme, tapi pada saat yang tepat dia melepaskan ciumannya dari vagina. Dia menarikku bangun dan menyorongkan kemaluannya yang kokoh itu ke mulutku. ” Gantian ya Tasya.. aku ingin kau isap kemaluanku.” Kutangkap kemaluannya, terasa penuh dan keras dalam genggamanku. Oom Edy sudah terlentang dan posisiku membungkuk siap untuk mengulum kelaminnya. Aku sering membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya.

    Birahiku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal kemaluannya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung penisnya yang mengkilat berkali-kali. “Ahhh… Enak sekali Tasya…” dia berdesis. Kemudian kukulum dan kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal kemaluannya kuelus dengan jariku. Suara desahan Oom Edy membuatku tidak tahan menahan birahi. Kusudahi permainan di kelaminnya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di atas tubuhnya, kemaluannya persis di depan lubang vaginaku. “Oom, Tasya masukin dikit ya Oom, Tasya pengen sekali.” Dia hanya tersenyum. “Hati-hati ya… jangan terlalu dalam…” Aku sudah tidak lagi mendengar kata-katanya. Kupegang kemaluannya, kutempelkan pada bibir kemaluanku, kusapu-sapukan sebentar di klitoris dan bibir bawah, dan… oh, ketika kepala kemaluanya kumasukkan ke dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi kemaluannya, ujung kemaluannya masih menancap dalam lubang vaginaku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal dariku atau darinya.

    Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung kemaluannya yang sangat besar terasa menggeser bibir dalam dan pangkal klitoris. Kudorong pinggulku ke bawah makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh batang kemaluannya sudah melesak dalam kemaluanku. Kukocokkan kemaluannya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti yang sering aku dengar dari temanku ketika keperawanannya hilang, padahal sudah separuh. Kujepit kemaluannya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas kembali berulang-ulang. “Oh.. Tasya kau hebat, jepitanmu nikmat sekali.” Kudengar Oom Edy mendesis-desis, payudaraku diremas-remas dan membuatku merintih-rintih ketika dalam jepitanku itu.

    Dia mengocokkan kemaluannya dari bawah. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke bawah, terus ke bawah sehingga penis Oom Edy sudah utuh masuk ke vaginaku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah kenikmatan yang meledak-ledak.Dari posisi duduk, kurubuhkan badanku di atas badannya, payudaraku menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Oom Edy erat-erat. Tangan kiri Oom Edy mendekap punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap bokongku dan anusku. Aku makin kenikmatan. Sambil merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok dari bawah. Cerita Maya
    Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil makin keras dan akhirnya meledak. “Ahhh…” Kutekan vaginaku ke penisnya, kedutannya keras sekali, nikmat sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam vagina terasa cairan hangat, menyemprot dinding rahimku. “Ooohhh…” Oom Edy juga ejakulasi pada saat yang bersamaan. Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan kemaluannya masih memenuhi vaginaku. Kurasakan vaginaku masih berkedut dan makin lemah. Tapi kelaminku masih menyebarkan kenikmatan. Pagi itu keperawananku hilang tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal.

  • Memek Perawan Desa

    Memek Perawan Desa


    80 views

    Cerita Maya I Pergaulan dikota yang membuatku menjadi liar hingga sampai-sampai aku bisa mengenal yang
    namanya berhubungan Sex. Berawal dari teman-temanku yang cerita tentang betapa nikmatnya
    melakukan hubungan Sex dengan seorang wanita, nikmatnya mencium memek perawan, nikmatnya
    penis dikulum sampai ngecrot, dan lain-lain masih banyak lagi teman-temanku bercerita
    kepadaku. namun selama ini aku hanya bisa melihat video porno saja dan melampiaskannya
    saja dikamar sambil mengocok penisku sendiri. Hingga akhirnya aku bisa merasakan benar apa
    yang dikatakan teman-temanku, kalau ngentot seorang gadis perawan itu sangat nikmat
    sekali.Sebut saja bi minah, pembantu yang sudah tua dan sudah lama bekerja sebagai
    pembantu dirumahku. Bahkan bapak dan ibuku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.Suatu ketika bi minah minta ijin kepada bapak dan ibuku untuk untuk pulang kedesanya,
    karena adiknya yang didesa sedang sakit dan bi minah harus merawatnya, jadi dia harus
    pulang. Namun bi minah tidak pulang begitu saja, sebelum bi minah pulang, bi minah
    menyuruh anak perempuannya untuk datang kerumahku untuk menggantikan pekerjaannya selagi
    bi minah pulang. Cerita Maya
    Anak bi minah ini masih sangat muda sekali, umurnya masih belasan tahun. Sebut saja
    namanya aryani, panggilannya yani. Meskipun dia berasal dari desa, namun dia memiliki
    kulitan seperti orang kota yang perawatan. Dia memiliki kulit putih bersih, serta badannya
    langsing bagus, aku dapat melihatnya kemolekan tubuh aryani dibalik baju desa yang
    dipakainya. Setelah seminggu aryani tinggal dirumahku, aku semakin akrab dengannya karena
    pada saat itu aku sedang liburan sekolah, makanya aku sering dirumah, toh juga ada
    pemandangan yang enak dirumah. Kalau pekerjaan aryani sudah selesai semua kami sering
    ngobrol banyak ngalor ngidul kayak sudah kenal lama.
    Hingga akhirnya suatu pagi bapak dan ibuku bilang kepadaku untuk jaga rumah karena bapak
    dan ibuku ingin pergi ketempat saudara dan pulangnya larut malam. Bapak dan ibuku juga
    berpesan kepada aryani untuk melayani semua yang aku inginkan karena kebiasaanku pada
    ibunya aryani juga begitu, aryani pun mengangguk ketika mendengar pesan dari ibuku. Aku
    pun sangat senang sekali, karena dengan aryani melayaniku aku akan bisa menggodanya dengan
    bebas, dan aku akan berusaha membuktikan apa benar yang dikatakan teman-temanku tentang
    nikmatnya berhubungan Sex.
    Setelah ibuku pergi, aku langsung memanggil aryani.
    “Yani, sini temenin aku ngobrol sambil aku makan, ” kataku ketika melihat Aryani
    melintas. “Kamu sekolah kelas berapa Yan ?

    “SMP kelas 3, mas. Tapi tidak tahu tahun depan apa bisa melanjutkan ke SMA, ” katanya
    polos.

    “Di kampung sudah punya pacar apa belum ? Atau apa malah sudah dilamar ? ” tanyaku lagi.

    “Belum mas, sungguh !” jawab Aryani. “Kalau mas sendiri, pasti sudah punya pacar ya ?”

    “Gadis kota mana mau sama aku, Ya ? ” kataku mulai mengeluarkan rayuan gombal. “Lagipula
    aku sukanya gadis yang masih polos seperti kamu. “

    “Ah mas, bisa saja, ” katanya malu-malu, “Aku kan cuma anak seorang pembantu. “

    “Yan, aku sudah selesai makan. Nanti setelah beres-beres kamu temenin aku ke ruang atas
    ya. Soalnya aku kesepian, bapak dan ibu baru pulang malam hari, ” kataku sambil bergegas
    naik ke lantai atas sambil mikir gimana ya bisa ngadalin si Aryani.
    Kutunggu-tunggu Aryani tidak naik-naik ke lantai atas. Akhirnya dia datang juga, rupanya
    habis mandi, karena tercium wangi sabun luks. Segera kusuruh ia duduk menemaniku nonton
    VCD. Sengaja kuputar film pinjeman temanku yang biasanya kuputar kalau bapak/ ibu tidak di
    rumah. Kupilih yang tidak terlalu vulgar, supaya Aryani jangan sampai kaget melihatnya.
    Adegan yang ada paling cuma percintaan sampai di ranjang tanpa memperlihatkan dengan
    detail.

    Baca Juga Bos Sange

    Rupanya adegan-adegan itu membuat Aryani terpengaruh juga, duduknya jadi tidak bisa diam.
    “Mas. sudah ya nontonnya, aku mau ke bawah, ” katanya.
    “Tunggu dulu, Yan, aku mau ngomong, ” kataku yang telah dapat ide untuk menjeratnya, “Kamu
    takut tidak bisa melanjutkan sekolah apa karena biaya ? Kalau cuma itu, soal sepele, aku
    akan membantumu, asal …”

    “Asal apa mas, ” katanya bersemangat.

    “Asal kamu mau membantu aku juga, ” kataku sambil pindah ke dekatnya. Segera kuraih
    tangannya, kupeluk dan kucium bibirnya. Aryani sangat kaget dan segera berontak sambil
    menangis.

    “Yani, kamu pikir aku akan memperkosamu ? ” kataku lembut. “Aku cuma mau supaya kamu
    bersedia menjadi pacarku. “
    Ia membelalak tidak percaya. Sebelum ia sempat mngucapkan apa-apa kuserbu lagi, tapi kali
    dengan lebih lembut kukecup keningnya, lalu bibirnya. Kugigit telinganya, dan kuciumi
    lehernya. Aryani terengah-engah terbawa kenikmatan yang belum pernah dialami sebelumnya.
    Ingin rasanya segera kurebahkan dan kutiduri, tapi akal sehatku mengatakan jangan
    terburu-buru. Menikmati kopi panas harus ditiup-tiup dulu sebelum direguk. Kalau langsung
    bisa lidah terbakar dan akhirnya malah tidak dapat apa-apa.
    Perlahan-lahan dari menciumi lehernya aku turun ke bagian atas dadanya, dan kubuka kancing
    dasternya dari belakang tanpa setahunya. Tetapi ketika akan kuturnkan dasternya ia
    tersadar dan mau protes. Segera kubuka baju kaos t-shirt ku sambil mengatakan udara sangat
    panas. Ia tersipu melihat dadaku yang bidang, hasil rajin fitness.
    “Yan kamu curang sudah lihat dadaku, sekarang biar impas aku juga mau lihat kamu punya
    dong. “

    “Ah jangan mas, malu, ” katanya sambil memegang erat bagian depan dasternya.
    “Bajunya doang yang dibuka, Yan. kalau malu behanya nggak usah, ” kataku sambil
    menyerbunya lagi dengan ciuman. Yani tergagap dan kurang siap dengan serbuanku sehingga
    aku berhasil membuka dasternya. Segera kuciumi bagian seputar payudaranya yang masih
    tertutup beha berwarna hitam.
    “Aduh mas, mhm, enak sekali, ” katanya sambil menggelinjang. Tanganku pun bergerilya
    membuka pengait behanya.

    Tetapi ketika kulepaskan ciumanku karena hendak membuka behanya ia kembali tersadar dan
    protes.
    “lho mas janjinya behanya tidak dibuka”
    Tanpa menjawab segera kuserbu payudaranya yang tidak besar tetapi sangat indah bentuknya,
    dengan puting yang kecil berwarna coklat muda. Kukulum payudara kanannya sambil kuemut-
    emut. Ia tidak dapat berkata-kata tetapi menjerit-jerit keenakan. Terdengar alunan suara
    erangan yang indah, ” mph, ehm, ahhh, ‘ dari bibirnya yang mungil. Jemariku segera mulai
    menjelajah selangkangannya yang masih tertutup celana dalam yang juga berwarna hitam.
    Rupanya hebat sekali rangsangan demi rangsangan yang Ayryani terima sehingga mulai keluar
    cairan dari Memeknya yang membasahi celana dalamnya.
    “Oh mas, oh mas, eemmmph, enak sekali, ” lenguhnya. Tanpa disadarinya jariku sudah
    menyelinap ke balik celana dalamnya dan mulai menari-nari di celah kewanitaannya. Jariku
    berhasil menyentuh klitorisnya dan terus kuputar-putar, membuatnya badannya gemetaran
    merasakan kenikmatan yang amat sangat. Sengaja tidak kucolok, karena itu bukan bagian
    jariku tetapi adik kecilku nanti.

    “Ahhh !” jerit Aryani, dibarengi tubuhnya yang mengejang. Rupanya ia sudah mencapai
    klimaksnya. Tak lama tubuhnya melemas, setelah mengalami kenikmatan pertama kali dalam
    hidupnya. Ia terbaring di sofa dengan setengah telanjang, hanya sebuah celana dalam yang
    menutupi tubuhnya.
    Segera aku berdiri dan melepaskan celana panjang serta celana dalamku, pikirku ia masih
    lemas, pasti tidak akan banyak protes.

    “Lho mas, kok mas telanjang. Jangan mas, jangan sampai terlalu jauh, ” katanya sambil
    berusaha untuk duduk. “

    “Yan, kamu itu curang sekali. Kamu sudah merasakan kenikmatan, aku belum. kamu sudah
    melihat seluruh tubuhku, aku cuma bagian atas saja, ” kataku sambil secepat kilat menarik
    celana dalamnya.

    “Mas, jangan ! ” protesnya sambil mau memertahankan celana dalamnya, tetapi ternyata kalah
    tangkas dengan kecepatan tanganku yang berhasil melolosi celana dalamnya dari kedua
    kakinya. Terlihatlah pemandangan indah yang baru pertama kali kulihat langsung. Memeknya
    masih terkatup, dan baru ditumbuhi sedikit bulu-bulu jarang. Adik kecilku langsung
    membesar dan mengeras.
    Segera kuciumi bibirnya kembali dan kulumat payudaranya. Aryani kembali terangsang. Lalu
    sambil kuciumi lehernya Kunaiki tubuhnya. Kubuka kedua kakinya dengan kedua kakiku, “mas,
    jangan, oh !” katanya. Tetapi tanpa memperdulikan protesnya kulumat bibirnya agar tidak
    dapat bersuara. Perlahan-lahan torpedoku mulai mencari sasarannya. Ah, ternyata susah
    sekali memasukkan burung peliaraanku ke sangkarnya yang baru. Bolak-balik meleset dari
    sasarannya. Aku tidak tahu pasti di mana letaknya sang lubang kenikmatan.
    “Mas, jangan, aku masih perawan, ” protes Aryani ketika berhasil melepaskan bibirnya dari
    ciumanku.

    “Jangan takut sayang, aku cuma gesek-gesek di luar saja, ” kataku ngegombal sambil
    memegang torpedo dan mengarahkannya ke celah yang sangat sempit.
    Ketika tepat di depan gua kewanitaannya, kutempelkan dan kusegesk-gesek sambil juga
    kuputar-putar di dinding luar Memeknya. “Mas, mas, mphm, oh, uenak sekali, ” katanya penuh
    kenikmatan. Kurasakan cairan pelumasnya mulai keluar kembali dan membasahi helmku.
    Lalu mulai kepala helmku sedikit demi sedikit kumasukkan ke dalam Memeknya dengan
    menyodoknya perlahan-lahan, “Aw mas, sakit ! Tadi katanya tidak akan dimasukkan, ” protes
    Aryani, ketika kepala helmku mulai agak masuk. “Nggak kok, ini masih di luar. Udah nggak
    usah protes, nikmatin aja, Yan !” kataku setengah berbohong sambil terus bekerja.
    Sempit sekali lubangnya si Yani, sehingga susah bagiku untuk memasukkan torpoedoku
    seluruhnya. Wah kalau begini terus, jangan-jangan si otong sudah muntah duluan di luar,
    pikirku. Sambil sedikit demi sedikit memaju-mundurkan torpedoku, kugigiti telinganya
    dengan gigitan kecil-kecil. Tiba-tiba kugigit telinganya agak keras, Yani terpekik, “Aw !”
    Saat itu dengan sekuat tenagaku kusodok torpedoku yang berhasil tenggelam semuanya di
    Memeknya Aryani. Cerita Maya
    Gerakan pantatku semakin menggila memaju-mundurkan torpedoku di dalam Memek Aryani. Tetapi
    tidak kutarik sampai kelaut, takut susah lagi memasukkannya. Rupanya rasa sakit yang
    dialami Aryani tergantikan dengan rasa nikmat. Yang keluar dari bibir mungilnya hanyalah
    suara ah, uh, ah, uh setiap kali ku maju mundurkan torpedoku, menandakan ia sangat
    menikmati pengalaman baru ini.

    Torpedoku semakin menegang. Keringat bercucuran dari tubuhku, Akupun melngalami kenikmatan
    yang selama ini hanya kuimpikan. Sekitar selangkanganku terasa ngilu. Rupanya aku sudah
    mendekati klimaks. Gerakan pantatku semakin cepat, terasa jepitan Memek perawan desa ini
    semakin kencang juga. Empuk sekali rasanya setiap kali torpedoku terbenam di dalamnya.
    Terasa hampir meledak torpedoku, siap memuntahkan lahar panasnya ke dalam surga kenikmatan
    Aryani. Dengan sekut tenaga kubenamkan torpedoku sedalam-dalamnya dan croooot, croooot,
    crooot ! Air maniku muncrat ke dalam rahim Aryani, Terdengar lenguhan panjang dari bibir
    mungil Aryani. Rupanya kami mencapai orgasme bersamaan. Tubuhkupun jatuh terbaring di atas
    tubuhnya penuh dengan kenikmatan. Kami berdua terbaring tak berdaya. Tubuh lemas, tetapi
    masih terasa kenikmatan yang sampai ke ubun-bubun.

  • Bos Sange

    Bos Sange


    91 views

    Cerita Maya I Aku baru kerja 4 bulan di perusahaan asing di Jakarta bos saya namanya M Richard yang berasala dari
    USA umurnya 45 tahun dengan waktu yang cepat kami semua karyawan sudah kenal dekat dengan Mr. Rich
    biasanya dipanggil seperti itu.
    Hobi kita sama yaitu bermain golf perusahaan kami bergerak di bidang advertising katanya teman
    sekantor istri dari sibos cantik tubuhnya seksi kayak bintang Hollywood, karena aku belum pernah
    melihat istri si Bos, hanya meilhat fotonya yang terpampang di ruangannya.

    Meja kantor saya memang aku desain dengan nyaman dan aku selipakn foto aku dan istriku Nindy yang
    berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto itu,
    secara spontan dia memuji kecantikan Nindy dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Richard sering
    melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

    Suatu hari Richard mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek,
    sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.

    “Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nindy juga, sekalian makan malam”.

    “Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

    “Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

    “Okelah!”, kataku.

    Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nindy. Pada mulanya Nindy agak segan juga untuk
    pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan
    tetapi setelah kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nindy
    mau juga pergi.

    “Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

    “Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yang mau didiskusikan”.

    “Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas.
    Kalau melihat Nindy, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang,
    dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.

    Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku
    mengenakan kemeja batik, sementara Nindy memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan
    tergerai tanpa hiasan apapun.

    Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu
    terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi
    sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.

    “Oh Diko dan Nindy yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard”. Cerita Maya

    Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis
    dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.
    “Hallo Mam.., kenalin, ini Nindy istriku”.

    Setelah Nindy berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam,
    sementara Richard mengajakku ke teras balkon apartemennya.

    “Gini lho Dik.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani
    nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

    “Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih,
    ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.

    Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.
    Senyum Richard segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

    “Eh Dik.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

    “Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

    “Seksi nggak?”.

    “Lha.., ya.., jelas dong”.

    “Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu
    gimana?”.

    Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan
    tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu.

    Sambil masih tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, “Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nindy dan
    Lillian pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada
    saya.., aman kok!”.

    Membayangkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa
    menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue
    film.

    Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nindy dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar,
    rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Richard telah melanjutkan dengan
    pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Nindy sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

    Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka style yang aneh-aneh,
    maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat
    terangsang!”.

    “Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar
    dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Richard.

    “Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.
    Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan
    senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.

    Kemudian lanjut Richard meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yang atur. Ngomong-ngomong
    my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

    “Nanti minuman Nindy aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”,
    saya agak terkejut juga, apakah Richard akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau
    begitu tidak rela aku.

    Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat-
    cepat menambahkan,

    “Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya,
    “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nindy di sampingku”.

    Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Richard. Setelah makan malam selesai
    kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat
    halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan
    keringatnya lebih banyak keluar.

    Melihat tanda-tanda itu, Richard mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nindy, “Nin.., mari
    duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nindy, Richard segera
    berdiri, menarik kursi Nindy dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah.
    Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku.

    “Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang
    makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Richard mulai bergerilya di pundak dan punggung
    Nindy, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.

    Sementara Nindy kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya
    terdengar desahan setiap kali tangan Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit
    pundaknya.

    Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut,
    dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi
    panjang tersebut.

    Terlihat tindakan Richard semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan
    kancing kemeja batik Nindy hingga kancing terakhir. BH Nindy segera menyembul, menyembunyikan dua
    bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya.

    Kelihatan mata Nindy terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga,

    “Apakah Nindy telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nindy pingsan
    atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Richard?”.

    Nindy tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu
    berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nindy seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan
    Richard dikulitnya dan ciuman nafsu Richardpun disambutnya dengan gairah.

    Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung,
    aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Richard yang sedang duduk di
    sampingku.

    Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok
    Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya
    sedang mengerjai wanita mungil.

    Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari
    tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu, “aahh..,
    aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

    Sementara itu di ruang sebelah, Richard telah meningkatkan aksinya terhadap Nindy, terlihat Nindy
    telah dibuat polos oleh Richard dan terbaring lunglai di sofa.

    Badan Nindy yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya
    yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang
    membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka
    dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Richard.

    Kemudian Richard menarik Nindy berdiri, dengan Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard
    menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Nindy, yang dengan
    matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian
    yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka.

    Menunjukan Nindy menikmati benar permainan dari Richard terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari
    Richard berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Richard meremas-remas puting
    susunya, terlihat seluruh badan Nindy yang bersandar lemas pada badan Richard, bergetar dengan hebat.

    Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus
    berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan
    melepaskan bajuku sendiri.

    Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus
    seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah
    mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang.

    Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku kalah jauh dan kalau aku
    langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai
    teknik yang lain dari lain.

    Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara
    kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

    Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah
    vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya.

    Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan
    dengan suara keras,

    ” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya
    menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat
    bersamaan suara Nindy terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah,

    “Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat
    Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nindy sekarang telah telentang di atas
    sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha Nindy
    yang sudah terpentang dengan lebar.

    Kepalanya terbenam diantara kedua paha Nindy yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard
    sedang mengaduk-aduk kemaluan Nindy yang mungil itu. Terlihat badan Nindy menggeliat-geliat dan kedua
    tangannya mencengkeram rambut Richard dengan kuat. ‘’

    Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan
    dan dari mulutnya terdengar erangan,

    “Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot
    penisku.

    “Aahh.., Dik.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan
    ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan
    hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia
    mencapai organsme.

    Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap
    lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih
    jauh.

    Ketika aku menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nindy kini
    telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi
    sofa, punggung Nindy bersandar pada sandaran sofa.

    Sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak
    Richard. Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nindy yang telah terpentang
    lebar.

    Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang
    berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yang
    kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

    Terlihat Richard memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan
    Nindy yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nindy dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata
    Richard yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya.

    Kedua tangan Nindy kelihatan mencoba menahan badan Richard dan badan Nindy terlihat agak melengkung,
    pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard pada bibir vaginanya.

    Akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nindy dan tangan kirinya tetap menuntun
    penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nindy, sambil mencium telinga kiri Nindy, terdengar
    Richard berkata perlahan,

    “Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-
    geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke
    arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat
    seakan-akan menahan kengiluan.

    Richard, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nindy yang
    telah basah itu, biarpun kedua tangan Nindy tetap mencoba menahan tekanan badan Richard.

    Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over
    size, langsung saja Nindy berteriak kecil,

    “Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis,
    mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nindy yang mengangkang itu terlihat menggelinjang.

    Kepala penis Richard yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nindy, kedua bibir
    kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Richard, sehingga belahan kemaluan Nindy terlihat
    terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Richard itu.

    Kedua bibir kemaluan Nindy tertekan masuk begitu juga clitoris Nindy turut tertarik ke dalam akibat
    besarnya kemaluan Richard.

    Richard menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Nin.., saya sudah
    menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.

    “aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih..,
    sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.

    Nindy mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di
    pungung Richard.

    “Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nindy masih merasa sakit”,
    sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban Nindy, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya ke
    dalam lubang vagina Nindy yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

    Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nindy, terlihat muka Nindy
    meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup
    erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

    Terdengar Richard bertanya lagi, “Niinn.., sakit.., yaa?”, Nindy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,
    sambil kedua tangannya meremas bahu Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam,
    masuk ke dalam lubang kemaluan Nindy.

    Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya.
    Ketika penis Richard telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nindy, terlihat Nindy telah
    pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Richard.

    Akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Richard menekan lebih
    dalam lagi, kembali terlihat wajah Nindy meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat
    menggeletar,

    Tetapi karena Nindy tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja,
    “Blees”, Richard menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan
    memepetin pinggul Nindy rapat-rapat pada sofa.

    Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nindy, “Aduuh”, sambil kedua tangannya
    mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke
    atas menahan tekanan penis Richard di dalam kemaluannya.

    Baca Juga Selingkuh

    Richard mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nindy sejenak, agar tidak menambah sakit
    Nindy sambil bertanya lagi,

    “Niinn.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Nindy dengan mata
    terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang,

    “aagghh.., kit!”, lalu Richard mencium wajah Nindy dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat
    Richard bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nindy dalam
    pelukannya.

    Tak selang lama kemudian terlihat badan Nindy bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan
    panjang,

    “Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Nindy bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada
    pantat Richard, Nindy mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badan Nindy
    terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Richard yang masih tetap berayun-ayun
    itu.

    aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh
    penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

    “Dik.., ayo aku mau kamu”, suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian sama
    dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan
    Lillian masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku
    hendak menerobos masuk.

    “Lill.., kok masih rapet yahh”. Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos
    liang vaginanya. “Aagghh”, mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit.

    Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan
    gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan
    penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa
    liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

    “Ahh.., ahh”, Lillian makin keras teriakannya.

    “Ayo Dik.., terus”.

    “Enakk.., eemm.., mm!”.

    Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Lill.., boleh di dalam..,
    yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

    “mm..”.

    Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan
    sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.

    “Nih.., Lill.., terima yaa”.

    Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian
    dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan
    maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian.

    Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat
    maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan
    kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya,
    “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

    Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan
    erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa
    yang baru kami alami.

    Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan
    isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati
    penisku hingga bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping
    Lillian.

    Kini kami menyaksikan bagaimana Richard sedang mempermainkan Nindy, yang terlihat tubuh mungilnya
    telah lemas tak berdaya dikerjain Richard, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Richard
    terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan.

    Mulai saat ini Richard mengerjai Nindy dengan sangat brutal dan kasar. Nindy benar-benar dipergunakan
    sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Richard menyakiti Nindy, tetapi dilihat dari
    ekspressi muka dan gerakan Nindy ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nindy atas
    apa yang dilakukan oleh Richard terhadapnya.

    Richard mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nindy berjongkok diantara kedua
    kakinya, kepala Nindy ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nindy sambil
    memegang belakang kepala Nindy.

    Dia membantu kepala Nindy bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut
    Nindy. Kelihatan Nindy telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh
    Richard, hal ini dilakukan Richard kurang lebih 5 menit lamanya.

    Richard kemudian berdiri dan mengangkat Nindy, sambil berdiri Richard memeluk badan Nindy erat-erat.
    Kelihatan tubuh Nindy terkulai lemas dalam pelukan Richard yang ketat itu. Tubuh Nindy digendong
    sambil kedua kaki Nindy melingkar pada perut Richard dan langsung Richard memasukkan penisnya ke dalam
    kemaluan Nindy.

    Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nindy terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Richard
    menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Nindy terlihat
    seperti anak kecil dalam gendongan Richard.

    Kaki Nindy terlihat merangkul pinggang Richard, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Richard.
    Richard berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nindy. Pantat Nindy terlihat merekah dan
    tiba-tiba Richard memasukkan jarinya ke lubang pantat Nindy.

    “Ooohh!”. Mendapat serangan yang demikian serunya dari Richard, badan Nindy terlihat menggeliat-geliat
    dalam gendongan Richard. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

    Ketika Richard merasa capai, Nindy diturunkan dan Richard duduk pada sofa. Nindy diangkat dan
    didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nindy terkangkang di samping paha Richard dan Richard
    memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nindy dari bawah.

    Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Richard memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan
    Nindy yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Richard menyentuh paha Nindy.

    Kedua tangan Richard memegang pinggang Nindy dan membantu Nindy memompa penis Richard secara teratur,
    setiap kali penis Richard masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di
    pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis
    Richard. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

    Kemudian Richard mendorong Nindy tertelungkup pada sofa dengan pantat Nindy agak menungging ke atas
    dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Richard akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi
    yang paling disukai oleh Nindy.

    Dari belakang pantat Nindy, Richard menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nindy dan mendorong
    penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nindy dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua
    penisnya amblas ke dalam vagina Nindy.

    Jari jempol tangan kiri Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nindy setengah berteriak,
    “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Richard yang dahsyat itu. Badan Nindy dicoba ditarik
    ke depan, tapi Richard tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nindy dan
    mengikuti arah badan Nindy bergerak.

    Nindy benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan
    sudah berubah menjadi teriakan, “Ooohhmm.., aaduhh!”. Richard mencapai payudara Nindy dan mulai
    meremas-remasnya.

    Tak lama kemudian badan Nindy bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari
    mulutnya terdengar,

    “Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Nindy mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Richard mendorong habis
    pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nindy, penisnya terbenam seluruhnya
    ke dalam kemaluan Nindy dari belakang.

    Sementara badan Nindy bergetar-getar dalam orgasmenya, Richard sambil tetap menekan rapat-rapat
    penisnya ke dalam lubang kemaluan Nindy, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya
    yang berada di dalam lubang vagina Nindy ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nindy sampai ke
    sudut-sudutnya.

    Setelah badan Nindy agak tenang, Richard mencabut penisnya dan menjilat vagina Nindy dari belakang.
    Vagina Nindy dibersihkan oleh lidah Richard. Kemudian badan Nindy dibalikkannya dan direbahkan di
    sofa. Richard memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nindy ikut aktif membantu memasukkan
    penis Richard ke vaginanya.

    Kaki Nindy diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Richard. Richard terus menerus memompa vagina Nindy.
    Badan Nindy yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Richard, yang terlihat oleh saya hanya pantat
    dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Richard.

    Kadang-kadang terlihat tangan Nindy meraba dan meremas pantat Richard, sekali-kali jarinya di masukkan
    ke dalam lubang pantat Richard. Cerita Maya

    Gerakan pantat Richard bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan
    cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nindy, tiba-tiba,

    “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak,
    Richard menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nindy ke sofa, sehingga penisnya
    terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nindy.

    Pantat Richard terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nindy, sambil
    kedua tangannya mendekap badan Nindy erat-erat. Dari mulut Nindy terdengar suara keluhan, “Sssh..,
    sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

    Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Richard kemudian merebahkan diri di atas badan Nindy
    yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nindy. Nindy melihat ke saya dan
    memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat.

    Aku tidak bisa melihat ekspresi Richard karena terhalang olah tubuh Nindy. Yang jelas dari sela-sela
    selangkangan Nindy mengalir cairan mani. Kemudian Nindypun seperti kebiasaan kami membersihkan penis
    Richard dengan mulutnya, itu membuat Richard mengelinjang keenakan.

    Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat
    bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.

  • Selingkuh

    Selingkuh


    146 views

    Cerita Maya I Kami baru melakukan pernikahan tapi dalam 4 bulan ini brlum ada tanda tanda hamil, setelah konsultasi ke dokter katanya sih baik baik saja , mungkin karena kita dulu sering clubbing suka minumk minum dan merokok acara tersebut biasa kami lakukan setiap malam minggu dan selama 4 tahun itu kami pacaran.Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku, maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku tidak merasa sendirian di rumah.

    Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami.

    Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga.

    Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost. Cerita Maya

    Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam.

    Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.

    Suatu hari suamiku datang dari luar kota, dia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.

    Suamiku bertanya, “Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana.”

    “Semua pada pulang karena liburan nasional, tapi yang bule nggak, karena perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target”, balasku mesra.

    Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita santai di ruang tamu,

    “Nich sekali-kali kita reuni seperti di diskotik”, kata suamiku, “Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya..”

    Sambil sedikit senyum, kujawab, “Kangen ya.. emang cuman kamu yang kangen..”

    Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.

    “Nich minum dulu obatnya biar nanti seru..” kata suamiku.

    Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.

    “Lho kok empat sih.. nanti over lho”, kataku manja.

    “Ach.. biar cepat reaksinya”, balas suamiku sambil tertawa kecil.

    Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi langsung bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja.

    Kulihat suamiku mulai terangsang, dia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih montok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.

    “Auh..” erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar.

    Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak kuat aku menahannya.

    “Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich..” sambil mencari posisi yang tepat aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan,

    “Bless..”, batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku.

    “Ach.. terus Mas.. aku kangen sekali..”, dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.

    Perasaanku aneh sekali, aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa orang, seakan-akan semua lubang yang aku punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam.

    Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seakan-akan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali.

    Sampai akhirnya aku keluar terlebih dahulu,

    “Ach.. Mas aku keluar ya.. udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas”,desahku mesra.

    “Aku juga ya.. ntar kamu agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich..” Mani kental yang hangat banyak sekali masuk ke dalam liang kenikmatanku.

    Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, aku yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.
    Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di mulut suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir.

    Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, aku pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.

    Ketika subuh aku terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi aku telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku.

    Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi aku tidak bertanya tentang kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi aku masih bertanya-tanya kenapa kok aku bisa pindah ke dalam sendirian.

    Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks seperti semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang.

    Aku pun disuruhnya minum lagi tapi aku cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda.

    Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan kalau obatnya sudah bereaksi kamu harus tidur, dan aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.

    Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost aku bersihkan.

    Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.

    Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar seperti di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangatlah keheranan, aku mengambil cucian itu.

    Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut seketika ketika melihat aku ada di kamarnya. Langsung aku seakan-akan tidak tahu harus berkata apa.

    “Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor”, kataku dengan sedikit gugup.

    “Suamimu sudah berangkat lagi?” jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan seperti itu aku sangat kaget. Dan kujawab, “Kenapa?”.

    Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di bagian vitalnya, si bule itu berkata, “Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang.

    Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, ceritasexpembantu.com dengan sangat penuh nafsu aku telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka aku langsung memindahkan kamu ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu.

    Mula-mula aku hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya aku meniduri kamu.” Cerita Maya

    Dengan rasa kaget aku mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa aku bisa pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit

    “Trus saya.. kamu apain”, tanyaku dengan sedikit penasaran

    “Kutidurin kamu dengan penuh nafsu, sampai mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu”, jawab si bule.

    “Oic.. bahaya nich, ntar kalo hamil gimana nich”, tanyaku cemas.

    “Ya.. nggak pa-pa dong”, jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.
    Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku.

    Baca Juga Pijatan Pembangkit Birahi

    “Ach.. jangan dong.. aku masih capek semalaman”, kataku tapi tetap saja dia meneruskan niatnya, aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang telah aku minum sewaktu ada suamiku.

    “Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh”. Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku.

    Akhirnya basah juga aku, karena masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku.

    Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, aku mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.

    “Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon”, desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, aku berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku.

    Dan akhirnya, “Bless..” masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang kewanitaanku, aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang.

    Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.

    “Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja”, ucapku tapi dia masih bernafsu.

    Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama sampai akhirnya aku keluar.

    “Jhon.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon..” desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.

    “Aku juga mau keluar.. auh..” balasnya sambil mendesah.

    Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar.

    Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu.

    Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, aku takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu dan akhirnya bertengkar, tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.

    Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi. Dan akhirnya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit.

    Tapi suamiku berkata, “Terusin aja nggak pa-pa kok, aku sayang sama istriku.. kalau istriku suka begini.. ya terpaksa aku juga suka.. ayo kita main bareng”.

    Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun akhirnya si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan.

    Dengan penuh nafsu suamiku langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan akhirnya dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali akhirnya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. “Bless..”, batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. “Aduh.. pelan-palan Mas..”, seruku.Cerita Maya

    Kira-kira hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung dan akhirnya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, dia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule.

    Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku.

    Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon..”

    Akhirnya si bule pun keluar, “Auch.. keluar nich..” ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule.

    Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas.

    Sesudah itu aku menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu saat aku ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak.

    “Kalau kamu mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kamu jangan sampai disakiti olehnya”. Sejak saat itupun bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule.

    Saya sekarang sendirian di ruang elektronik, lampu sudah saya hidupkan kembali, sambil merokok dan menunggu Fanny kembali ke ruang ini, saya termangu-mangu. “Aduh, sekarang dia panggil saya Mas, padahal saya bossnya, belum lagi kalau dia hamil”.

  • Pijatan Pembangkit Birahi

    Pijatan Pembangkit Birahi


    122 views

    Cerita Maya I Awalnya Pada hari selasa, kebetulan aku ama istri aku cuti kerja, lalu kami berniat untuk cari makan siang. Di dekat tempat makan tersebut, ternyata ada 1 ruko pijat reflexi.Di tempat reflexi tersebut menurut penjelasan pemijatnya tidak hanya kaki saja yg di pijat tapi juga seluruh badan, dari pundak kepala, pundak sampai kaki, dan pemijat nya semua laki-laki. Kebetulan pada hari biasa masih sepi dan cuma ada 2 pemijat.

    Ditempat itu ada 2 bilik kamar yg hanya ditutup kain untuk yang mau dipijat semuanya dan tempat beberapa tempat duduk untuk yang mau dipijat kakinya saja .

    Kita berdua akhirnya masuk kesana untuk coba pijat reflexinya, tp karena aku laper banget, makanya aku suruh istri aku masuk dan aku cari makan.

    Sebelum pergi aku liat dulu seperti apa sih dipijatnya, istri aku yg memang hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, memang keliatan seksi sekali. Istri aku kemudian berbaring dengan santai dan pertama2 memang dipijit telapak kaki, setelah beberapa saat memperhatikan kemudian aku pamitan untuk cari makan di keluar.

    Setelah selesai makan, aku balik lagi ke tempat refleksi itu, dan aku liat tidak ada orang lagi di depan, jadi aku langsung masuk ke dalam, karena tidak mau menggangu aku hanya duduk2 di depan bilik kamar istri aku.

    Sekilas aku dengar suara leguhan istri aku, tp itu mungkin karena enak di pijit, tapi karena penasaran akhirnya aku coba intip di balik kain bilik kamar tsb. ternyata istri aku memang sedang menikmati pijatan sang pemijat. Pemijat tsb. mulai memijat paha istri aku yang putih, pemijat itu meminta agar istri aku tidur tengkurap mengharap tempat tidur.

    Lalu pemijat itu trus memijat paha istri aku, kemudian meminta dengan sopan agar celana pendek nya di buka saja, karena agak menggangu. Istri aku pertama menolak, tp karena di kasih keterangan yang menyakinkan akhirnya celana istri aku dibuka juga, tp dengan syarat ditutup selimut.

    Waktu aku liat istri aku buka celana, langsung jantung aku berdebar kencang, ada perasahaan suka melihat istri aku di sentuh oleh lelaki lain.

    Setelah ditutupi kain putih, si pemijat juga langsung mulai memijat di daerah paha, aku liat sempat menyentuh pantat nya dan daerah V nya, istri aku mungkin percaya sama si pemijat atau memang sedang menikmati, krn dia tidak protes sama sekali, dan ini membuat si pemijat trus memijat daerah paha dan sekitarnya. Melihat itu aku jadi tambah gila, sambil menggosok si adik yg memang sudah tegang berat.

    Si pemijat mungkin sengaja atau tidak, membuat kain penutupnya agak terjatuh, sehingga dia bisa melihat langsung paha istri aku yang putih mulus, dengan dibungkus cd saja.

    Sempat si pemijat terdiam melihat pemandangan tsb. dan gau perhatikan juga ada tanda basah di cd istri aku. Tanpa sadar istri aku , mungkin juga keenakan, trus dipijat tanpa dilindungi kain, ini membuat si pemijat makin berani mencoba meijat daerah pantat dan selankangan istri aku.

    Akhirnya si pemijat mengambil kembali kain yg jatuh dan menutupi badan istri aku lagi, tp yg buat aku kaget, si pemijat meminta istri aku untuk membuka bajunya karena akan di pijat daerah punggung dan leher, setelah di beri penjelasan akhirnya istri aku membuka bajunya sambil masih tiduran, jadi si pemijat tidak melihat krn ditutupi kain. Cerita Maya

    Istri aku sekarang hanya menggunakan bh dan cd saja, ntah apa yang membuat dia berani spt itu, apa ada hipnotis ya? tp aku sangat menikmati pemandangan ini. setelah beberapa saat memijat daerah punggung, si pemijat meminta ijin untuk membuka kain krn ingin dikasih minyak punggungnya, istri aku hanya mengganguk saja, tp tanpa sadar kali, si pemijat juga membuka bra istri aku dan anehnya istri aku diam saja.

    Lalu si pemijat mulai menggosok punggung istri dan aku intip si pemijat juga kadang2 melihat pinggiran tete istri aku yg keliatan dan juga sempat menyentuh nya, krn bh nya sdh terlepas ke samping. Kemudian si pemijat memijit leher dengan sentuhan yang lembut, kayakya ini membuat istri aku terangsang, terdengar dari suaranya yang mendesah.

    Melihat situasi itu si pemijat kemudian mencoba membuka kain dan mulai memijat daera pantat adn sekitarnya dan ini membuat istri aku tambah terangsang keliatan sekali cd nya yg ada tanda basah.

    Kemudian si pemijat dengan sopan membuka cd istri aku tanpa ijin lagi, dan dia memulai aksinya dengan menggosok gosok daerah selangkangan istri aku.

    Istri aku sempat bilang jangan tapi si pemijat itu dengan lembut mengatakan tidak apa2 nikamati saja. Aku bingung kok istri aku nurut saja, ada perasaan cemburu tp masih kalah dengan rangsangan hebat melihat istri aku di sentuh oleh orang lain (apa ini kelainan ya?).

    Si pemijat sambil membuka celananya dengan 1 tangan krn tangan yg 1 lagi masih menggosok2 daerah clitoris di selangkangan istri aku.

    Terlihat kontol si pemijat sudah ngaceng berat dan ukurannya cukup besar dengan bulu2 yg tidak terlalu lebat, mungkin baru di cukur, ketika akan membuka baju nya, si pemijat mengkat pantat istri aku sedikit dan langsung menjilat nya.

    Sehinggan dia dapat membuka bajunya. Istri aku yang di jilat meki nya langsung keliatan spt tersengat aliran listri, dan tidak berapa lama kemudian keliatan istri aku mengejang krn klimaks nya.

    Si pemijat tersenyum sinis, krn telah berhasil membuat istri aku klimaks. Setelah sama2 telanjang kemudian si pemijat membalikan badan istri aku, sehinggan kelihatan lah payudaranya yg indah dengan putih berwarna hitam yg sdh menegang,

    Tapi dengan masih malu2 istri aku menutupi dadanya dan bilang takut suaminya datang, dan dengan halus si pemijat bilang tidak usah takut krn aku masih sendang makan di luar. Akhirnya karena rangsangan yang hebat .

    Istri aku membuka tangannya dan oleh si pemijat tangan istri aku di pegang ke samping kepala istri aku, sehinggan dengan leluasa si pemijat bisa melihat dada adn ketiak istri aku yang mulus dan wangi. Si pemijat mungkin penggemar ketiak karena ketiak istri aku di jilat dan di ciumi terus, sehingga istri aku kegelian dan terangsang hebat.

    Kemudian si pemijat mulai melepas tangan istri aku tp posisi tangannya tetap terlentang di samping kepala, lalu mulai menciumi payaudara istri aku yang masih kencang krn kami blm mempunyai anak. Istri aku keliatan sangat menikmati puting nya di isap dan di jilat.

    Setelah selesai menikmati payudara istri aku di mulai menjilat vagina istri aku yg sdh basah, krn mungkin sdh tidak tahan, akhirnya si pemijat ingin memasukkan kontol nya tp sebelumnya dia melap vagina istri aku.

    Mungkin karena sdh basah dengan cairan vagina dan ludah nya. ketika mau masuk istri aku keliatan agak kaget mungkin karena agak sakit sebab kontolnya si pemijat lebih besar dari aku punya, mungkin itu yang ingin dirasakan oleh istri aku.

    Istri aku pernah bilang kontol aku ngak besar dan dia kurang menikmatinya, tp mau gimana lagi, krn sdh dikasih seperti ini. Si pemijat akhirnya berhasil memasukan kontolnya dan mulai menyodoknya serta tidak lupa menciumi payudara istri aku dan juga ketiaknya secara bergantian.

    Aku yang sdh tidak tahan akhirnya mengocok dan mengeluarkan mani aku di sapu tangan yg aku bawa. Si pemijat setelah 10 menit keliatan mau klimaks, istri aku bilang jangan di buang didalam, akhirnya si pemijat mencabut kontolnya dan membuang mani nya di badan istri aku, sampai kena ke muka istri aku. Istri aku keliatan puas sekali.

    Setelah istrihat sebentar aku liat mereka langsung beres2 dan si pemijat dengan mesra me lap air main di tubuh dan muka istri aku serta memakaikan bh istri aku dengan meremas remas lagi dan mencium leher istri aku dengan mesranya.

    karena takut aku dateng maka, mereka membereskan semuanya dengan rapi, aku diam diam langsung keluar, dan kemudian masuk lagi, aku liat istri aku dengan wajah cerah, sedang duduk dibangku ruang tunggu dan mengajak aku pulang.

    Berawal dari sahabatku Arman yang bercerita tentang seorang tukang pijat yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya.

    Arman bercerita dengan cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Daru, kakek usia kepala tujuh melakukan pijatan super pada istrinya. Hasilnya sungguh luar biasa. Aku jadi ingin mencobanya..

    “Tapi loe harus inget, waktu dipijat sama Pak Daru istri loe harus bugil total. Mau nggak dia?” Arman bertanya padaku.

    “Hah? Dipijat bugil? Nanti istri gue diapa-apain ama dia?

    “Ya enggak laah.. Loe juga ada disitu koq. Lagian Pak Daru itu udah tua banget. Udah gitu dia juga pemijat profesional. Gue jamin ngga masalah. Tapi istri loe harus setuju dulu.”

    “Nanti gue coba tanya dia deh..”

    “Pokoknya sip banget deh!”

    Malamnya aku bicarakan hal itu dengan Vie istriku. Aku ceritakan apa yang kudengar dari Arman sambil memeluk tubuh mungilnya. Mulanya dia tertarik tetapi ketika mendengar bahwa ia harus telanjang bulat mukanya langsung merah padam.

    “Malu ah.. telanjang di depan orang lain” protesnya.

    “Tukang pijatnya udah tua. Lagipula menurut Arman istrinya bilang dipijatnya enak dan tangannya sama sekali tidak menyentuh atau meraba memek koq”

    “Ih..” muka Vie semakin merah.

    “Kenapa khusus cewek?”

    “Nggak tau juga. Tapi coba dulu deh. Siapa tahu nanti ketagihan.”

    Vie mencubit perutku, tapi akhirnya mau juga dia mencoba. Besoknya kuhubungi Arman untuk menanyakan cara menghubungi Pak Daru. Setelah itu kucoba menghubungi Pak Daru dari nomor HP yang kudapat dari Arman.

    Singkatnya Pak Daru akan datang ke rumahku esok malamnya dengan perlengkapannya. Setelah itu kuberitahu Vie. Esok malamnya sesuai janji Pak Daru tiba di rumahku. Perawakannya kurus hitam dan kelihatannya memang sudah tua sekali.

    Apa bisa dia melakukan pijat? Aku terheran-heran sendiri sementara Vie hanya melirikku dengan pandangan ragu.

    Kami menuju ke ruang tamu dalam dan aku menyingkirkan meja tamu untuk mendapatkan tempat yang luas. Aku sudah memastikan kalau pembantu kami Darsih sudah masuk ke kamarnya. Sejenak basa-basi, Pak Daru langsung “To the point” menghamparkan selimut tebal di lantai.
    “Silakan Ibu berbaring tengkurap di atas sini” katanya sambil menunjuk selimut sebagai alas.
    “Maaf, tapi saya minta Ibu melepas pakaian” sambungnya lagi.
    Wajah Vie merona merah. Dia kelihatan nervous karena itu aku membantunya melepas dasternya sehingga hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.
    “Untuk sementara begitu saja. Silahkan, Bu” Pak Daru memotong.
    Vie berbaring tengkurap diatas selimut. Pak Daru mengeluarkan dua botol kecil obat yang menurutnya adalah obat ramuan rahasia turun temurun.

    Kemudian ia membuka yang bertutup hijau dan menggosokkan minyak tersebut pada kedua telapak tangannya. Ia mulai memijat bagian belakang hingga samping kepala Vie dengan perlahan. Aku duduk menyaksikan.

    Entah kenapa saat itu aku mulai terangsang membayangkan nantinya tubuh istriku akan dijamah oleh kakek tua ini. Tentu saja di bawah sana penisku menegang.

    Pijatan di kepala beralih ke tengkuk Vie yang mulus dan dipenuhi rambut halus. Nampaknya Vie merasa enak dengan pijatan Pak Daru di kepala dan tengkuknya. Ternyata kakek tua ini hebat pijatannya.

    Dari tengkuk diteruskan ke bahu Vie yang terbuka dan dilanjutkan ke lengan sampai telapak tangan. Setelah itu Pak Daru meminta agar istriku melepas tali bra di punggungnya.

    Vie melepas kaitan branya sehingga bra tersebut sudah tidak menutupi tubuh Vie dan hanya tergeletak diantara selimut dan kedua susunya yang tergencet sehingga menyembul ke samping. Pak Daru mengolesi punggung Vie dengan minyak dari botol pertama dan mulai mengurut serta memijat punggung. Vie tampak menikmati pijatan ini.

    “Maaf Bu, tapi selanjutnya celana dalam harus dilepas. Bagaimana kalau suami Ibu yang melepasnya?” Pak Daru tiba-tiba berkata.

    Wajah Vie memerah lagi. Aku mengikuti permintaan Pak Daru melepas celana dalam Vie tanpa mengubah posisinya yang tengkurap. Pantat Vie yang indah dan celah vaginanya terlihat jelas membuat penisku semakin tegang.

    Pak Daru melumuri dua bongkahan pantat Vie dengan minyak dan segera memijat dengan perlahan. Kali ini Vie mengeluarkan suara tertahan. Jelas Vie mulai terangsang birahinya dengan pijatan Pak Daru.

    Apalagi ketika Pak Daru memijat pangkal paha bagian dalam, tarikan nafas Vie berubah menjadi lebih berat dan matanya terpejam.

    Pak Daru tetap memijat seperti tidak terjadi apa-apa. Kakek tua itu memijat pantat, paha dan kemudian betis hingga akhirnya melakukan pijat di telapak kaki.
    “Ini adalah salah satu tahap penting dalam pijatan ini” Pak Daru menjelaskan.

    “Terdapat titik-titik penting di telapak kaki untuk meningkatkan gairah” lanjutnya.
    Kemudian ia mengambil botol minyak kedua bertutup merah yang dari tadi belum pernah dipakainya.

    Digunakannya untuk memijat telapak kaki Vie. Kali ini pijatannya sangat intensif dan memakan waktu cukup lama. Terkadang Vie merintih, mungkin pijatan si kakek cukup kuat.

    “Maaf Bu, untuk tahap berikutnya saya akan memijat di daerah bagian depan tubuh. Sebaiknya Ibu duduk bersila membelakangi saya dan menghadap ke arah Pak Saldy agar saya tidak melihat tubuh bagian depan Ibu.” kata Pak Daru setelah selesai memijat kaki istriku.
    Kali ini kelihatannya Vie sudah mulai terbiasa dan kemudian ia mengambil posisi duduk bersila membelakangi Pak Daru. Tubuh indah Vie yang telanjang bulat berhadapan denganku. Pak Daru kembali menggosokkan minyak kedua pada telapak tangannya. Pak Daru terlebih dahulu meminta persetujuan aku dan Vie.

    “Saya minta izin kepada Pak Saldy dan Ibu Vie untuk melakukan pijatan di tubuh bagian depan Ibu Vie..”

    “Silakan, Pak Daru” jawabku

    “Silakan..” jawab Vie.

    Langkah pertama Pak Daru adalah melumuri bagian sekitar vagina Vie dengan minyak dari botol bertutup merah dan mulai melakukan pijatan di daerah itu dari belakang. Walaupun tidak menyentuh vagina, tetapi tangannya memijat mencakup pangkal paha, pinggul depan, termasuk daerah yang ditumbuhi bulu kemaluan.

    Mulut Vie sedikit terbuka. Aku tahu Vie merasakan nikmat disamping rasa malu. Pijatan Pak Daru pasti membuat birahinya naik ke ubun-ubun.

    Beberapa kali tangannya terlihat seakan hendak menyusup ke dalam celah vagina Vie yang membuat Vie menahan nafas tetapi kemudian beralih. Bulu kemaluan Vie dibasahi oleh minyak pijat Pak Daru sementara Vaginanya basah oleh cairan nafsunya.
    Pak Daru melanjutkan pijatannya ke bagian perut Vie, dan memijat perut terutama bagian pusar sehingga membuat Vie kegelian. Hanya sebentar saja, setelah itu Pak Daru meminta Vie mengangkat tangannya.

    “Maaf Bu, tapi ini adalah tahap terakhir dan saya harus memijat di bagian ketiak dan payudara. Coba angkat kedua tangan Ibu.”

    Vie mengangkat tangan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Pak Daru memulai pijatannya di daerah ketiak dari belakang.
    “Ihh.. geli pak..” Vie menggelinjang.

    “Ditahan Bu. ”

    Pak Daru mengabaikan Vie yang sedikit menggeliat menahan geli dan melanjutkan pijatannya di ketiak Vie. Setelah itu Pak Daru mengambil minyaknya lagi dan dituangkan ke telapak tangannya.

    Selanjutnya dari belakang tangannya meraup kedua gunung susu milik Vie yang langsung membuat Vie mendesah. Pak Daru melakukan massage lembut pada susu Vie yang sudah tegang.

    Terkadang kakek itu melakukan gerakan mengusap. Jari-jari terampil yang memijat pada kedua susunya membuat Vie sangat terangsang dan lupa diri, mengeluarkan suara erangan nikmat.

    Aku melotot melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara istriku yang berusia 27 tahun, mulus, kenyal, dan berlumur minyak sedang dicengkeram dan diusap oleh tangan kasar hitam seorang kakek berusai 70-an, membuatku sangat bernafsu.

    Baca Juga Ujian Sex

    Berbeda dengan Pak Daru yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa, Vie merintih dan mendesah. Posisinya sudah berubah tidak lagi duduk bersila, tetapi duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang sudah becek kepadaku sambil tangannya mencengkeram rambut.

    “Ukhh..” kali ini Vie mendesah keras. Aku sangat terangsang mendengarnya. Ingin sekali aku menggantikan Pak Daru memijat susu Vie.

    Pak Daru menarik puting susu Vie dengan telunjuk dan jempolnya dengan perlahan sehingga membuat Vie mengeluarkan suara seperti tercekik. Sampai akhirnya Vie merintih pelan, panjang. Vaginanya banjir. Hebat sekali pijatan si kakek ini.

    “Saya rasa sudah cukup. Silakan Ibu mengenakan pakaian. Sementara itu ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Saldy” Pak Daru menyudahi aksinya.

    “Ya Pak?”

    Pak Daru menyerahkan sebuah botol kecil berisi carian kepadaku.

    “Apa ini, Pak Daru?”

    “Pijatan saya itu membuat gairah seorang wanita meledak-ledak tetapi orgasmenya akan menjadi lebih cepat. Selain itu ini adalah ramuan untuk membuat susu wanita tetap kencang dan padat. Usapkan dengan gerakan memeras. Saya yakin Pak Saldy bisa.” bisiknya sambil tersenyum.

    Setelah itu aku membayar Pak Daru dan ia pamit pulang. Vie sudah mengenakan pakaiannya lagi.

    “Eh.. buka lagi bajunya. Aku mau coba hasil pijatan Pak Daru.” kataku.

    Vie tidak menjawab, tetapi dari sinar matanya aku tahu saat ini dia sedang dalam gairah yang tinggi. Mukanya merah dan nafasnya memburu. Aku segera meraihnya dan mencium bibirnya. Ciuman yang ganas karena aku sendiri sejak tadi menahan nafsuku melihat tubuh Vie yang sedang dipijat.

    Vie membalas tak kalah bernafsu sambil melucuti pakaiannya sendiri dan langsung melucuti pakaianku sehingga kami berdua telanjang bulat di ruang tamu.

    “Senggamai aku.. aku ingin segera kamu masuk ke sini” Vie meracau sambil menunjuk vaginanya yang sudah basah kuyup sejak tadi.

    “Beres sayang.. ”

    Aku segera memutar tubuhnya menghadap dinding dan mencoba menyetubuhinya dari belakang. Vie segera mengambil posisi tangan bertumpu pada dinding. Dengan perlahan-lahan penisku menerobos vaginanya yang sempit dan licin.

    Adalah proses yang sangat nikmat luar biasa saat penis memasuki vagina. Aku pejamkan mataku merasakan sensasinya sementara Vie merintih nikmat. Sampai akhirnya seluruh penisku masuk de dalam vaginanya yang panas berlendir dan nikmat.

    “Aahh..” Vie menghela nafas, tubuhnya bergetar.

    Nikmat sekali. Vaginanya yang panas itu mencengkeram penisku dengan kuat. Jepitannya lebih hebat dari biasanya. Sementara dengan sudut mataku aku melihat kalau ternyata pembantu kami, Darsih, sedang mengintip dari balik dinding ruang tamu. Aku bisikkan ke telinga Vie tentang hal itu.

    “Masa bodoh. Biar dia nonton kamu entotin aku.” Vie balas berbisik.

    “Okee..”

    Aku gunakan kakiku untuk mengambil bajuku dan mengeluarkan botol pemberian Pak Daru dengan tanganku tanpa melepas penisku yang sudah menancap. Lalu aku tuangkan pada tanganku.

    “Apa itu..?” tanya Vie heran.

    “Ini minyak dari Pak Daru, bagus buat payudara kamu”

    “Ya udah.. cepetan! Terserah kamu mau ngapain. Yang penting garap aku sampai kamu puas.”
    Aku segera mengusapkan tanganku yang berlumur minyak itu pada kedua susunya yang bergelantungan bebas.

    Lalu aku mulai mengocok vaginanya dengan lembut. Vie menghelas nafas dengan keras. Akh.. nikmat sekali rasanya sambil meremas daging kenyalnya. Tangan kanan di susu kanan, tangan kiri di susu kiri.

    Seiring kupercepat sodokanku, kumainkan puting susunya dan sesekali kuremas miliknya itu dengan lebih kuat. Rasanya menjadi lebih dahsyat terutama karena kami mengetahui bahwa kami bersanggama sambil ditonton Darsih secara sembunyi-sembunyi. Mungkin dia mengintip sambil onani, aku tidak perduli.

    “Mhh.. terus.. aah.. ” Vie merintih terengah-engah. Seiring gerakan keluar masuk penisku di vaginanya semakin intens, Vie menggeliat.

    Aku lepaskan tanganku dari payudaranya, membiarkan kedua daging menggairahkan itu bergelantung bergoyang-goyang mengikuti sodokan penisku. Tanganku berganti menggosok-gosok vaginanya yang berlepotan cairan nafsunya.

    Sesekali kugesek klitorisnya sehingga Vie menjerit keenakan. Tiba-tiba tubuh Vie menyentak dan vaginanya terasa menyempit membuat penisku seperti diperas oleh dinding kenikmatannya.

    Lalu Vie melepaskan orgasmenya disertai erangan panjang dan kemudian ia terkulai. Benar kata Pak Daru, Vie orgasme cepat sekali. Aku terus menyodok vaginanya mengabaikan tubuhnya yang lemas. Tak lama Vie bangkit kembali nafsunya dan mulai merintih-rintih.

    “Saldy sayaang.. aku.. ingin kamu.. entotin aku dengan kasaar..” Vie meracau membuat aku tercengang.

    “Nanti kamu kesakitan..” jawabku cepat disela kenikmatan.

    “Biaar.. masa bodoh.. aku sukaa.. aa.. ahh”

    “As you wish.. Istriku yang cantiik..”

    Aku keluarkan sebagian besar penisku dari vaginanya, kemudian dengan satu hentakan cepat dan kasar aku sodok ke dalam. Penisku terasa ngilu dan nikmat.

    “Eaahh..” Vie menjerit keras.

    “Aah..iya..ah.. begiituu..”

    Aku lakukan gerakan tadi berulang diiringi jeritan-jeritan Vie. Berisik sekali.. mungkin tetangga mengira aku sedang menyiksa Vie.

    Entah apa yang ada di pikiran Darsih yang sedang mengintip.

    “Teruuss.. sayaang.. remas susuku ini.. dengan kuat.. akh! Aku.. ingin merasakan.. tenagamu.. uuhh..”

    Aku meraih susunya yang sejak tadi hanya berayun-ayun, kemudian sesuai keinginannya aku remas dengan kuat sambil terus menyodok vaginanya dengan kasar. Lagi-lagi Vie menjerit keras. Aku yakin ia kesakitan tapi bercampur nikmat. Cerita Maya

    “Lebih kuaatt.. lebih kuat dari itu..” Vie setengah berteriak.

    “Jangan ngaco.. sayang..”

    “Ngga apa ap.. aa.. aah..!”

    Vie kembali orgasme. Sudah kepalang tanggung, aku ingin mencapai puncak secepatnya. Kukocok dengan cepat vagina Vie sampai pinggangku pegal. Vie mendesah lemah.

    “Keluarin.. yang banyak di dalam..” katanya pelan.

    “Aku.. sedang subur.. biar jadi anak..”

    Tak lama aku merasakan denyutan di penisku yang menandakan aku sudah mendekati puncak. Dan akhirnya penisku menyemprotkan sperma yang sangat banyak dan berkali-kali ke dalam rahim Vie. Kami berdua jatuh berlutut di lantai sementara penisku masih bersarang di vaginanya.

    “Anget..” Vie menggumam.

    “Apanya?” tanyaku terengah-engah.

    “Sperma kamu, di rahimku..”

    “Emang biasanya dingin ya?”

    “Yang sekarang lebih..”

    Aku mengusap rambutnya, dan memeluknya dengan sayang. Sementara itu Darsih sudah menghilang. Puas sudah dia melihat “Live show” kami. Setelah itu kami berdua membersihkan tubuh kami, terutama Vie yang tubuhnya penuh minyak.
    Tetapi setelah selesai mandi Vie kembali ganas dan “Memperkosa” aku. Gila! Aku benar-benar KO malam itu.. kalah telak!