• Ujian Sex

    Ujian Sex


    123 views

    Cerita Maya I Aku menghampiri dengan rasa tidak niat ke ruang dosen pak Heri, “Amel”, sebuah suara memanggil.

    “Hei Ratna!.”
    “Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?”, Ratna itu bertanya heran.
    “Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?.”
    “Idih jahat banget!”.
    “Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk
    dulu!”.
    “He-eh deh, sampai nanti!” Ratna berlalu.Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.
    “Masuk!”, Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.
    “Selamat siang pak!”.
    “Selamat siang, kamu siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
    “Saya Amel!”. “Aku..?”
    “Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?”.
    “Iya benar pak.”
    “Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”,
    Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.
    “Ada lagi?” tanya dosen itu.
    “Tidak pak, selamat siang!”
    “Selamat siang!”.

    Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut
    malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh! Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih
    berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak
    Heri, dosen berengsek itu.

    Rumah Pak Heri terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah
    lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap
    segar muncul.

    “Ehh! Amel, ayo masuk!”, sapa orang itu yang tak lain adalah pak Heri sendiri.
    “Permisi pak! Ibu mana?”, tanyaku berbasa-basi.
    “Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!”, sahut pak Heri ramah.
    “Sebentar ya, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan”.
    Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.

    Rumah Pak Heri tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat
    lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani
    berbulu, dan kursi sofa kelas satu.

    “Gimana sudah siap?”, tanya pak Heri mengejutkan aku dari lamunannya.
    “Eh sudah pak!”
    “Sebenarnya, sebenarnya Amel tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau….”,
    “Kalau! Kalau apa pak?”, aku bertanya tak mengerti.

    Belum habis bicaranya, Pak Heri sudah menuburuk tubuhku.

    “Pak, apa-apaan ini?”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.
    “Jangan berpura-pura Amel sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan
    kululuskan asalkan mau melayani aku!”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.

    Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-
    gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku.

    Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering
    membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk
    menaikkan harga diriku di mata Pak Heri.

    “Lepaskan, Pak jangan hhmmpppff!”, kata-kataku tidak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat
    mulut pak Heri.

    Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar. Namun entah mengapa aku
    justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur.

    Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa
    birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.

    Pak Heri seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan
    perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk
    merengkuh diriku.

    Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Heri, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu.
    Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi
    satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun
    merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya.

    Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aku
    tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.

    Merasa mendapat angin kini tangan Pak Heri bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku
    pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai. Jantungku berdegup kencang
    ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas.

    Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya
    yang nakal mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin kasar
    bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.
    Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu
    hingga berceceran di lantai. Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula
    Pak Heri melucuti kaos oblong dan sarungnya. Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang
    telah menegang, sebesar lengan Bayi. Cerita Maya
    Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit
    ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku.

    Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Heri berjalan
    mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku
    bebas tergerai sampai ke punggung.

    “Kau Cantik sekali Amel”, gumam pak Heri mengagumi kecantikanku.
    Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.

    Dengan lembut Pak Heri mendorong tubuhku sampai terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string,
    kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat.

    Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-
    lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu
    demikian memburu.

    Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di
    sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh
    menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.

    “Pak!”, rintihku memelas.

    “Pak, aku tak tahan lagi!”, aku memelas sambil menggigit bibir.

    Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Heri. Namun rupanya lelaki
    tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan
    tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi
    perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.

    “Paakk, aakkhh!”, aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Heri melampiaskan derita birahiku,
    kujambak rambut Pak Heri keras-keras.

    Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki ini
    membangkitkan gairahku. aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman
    dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi
    apa peduliku?

    Tiba-tiba Pak Heri melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang
    dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, namun
    tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati
    kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.

    Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak
    Heri ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian
    kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku.

    Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap,
    mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu
    bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.
    Beberapa saat kemudian Pak Heri melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul
    berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki
    tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Heri yang besar itu menggesek clitoris di liang
    senggamaku hingga aku merintih kenikmatan.

    Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan
    benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.

    Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak
    kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku,
    hingga badanku mengejang beberapa detik.
    Pak Heri cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan
    padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-
    pelan kemudian makin lama makin cepat.
    Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Heri menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan
    di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Heri menyetubuhi aku dengan cara
    itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-
    remas payudaraku. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.

    Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu
    menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Heri
    yang super itu, dan ini makin membuat Pak Heri tergila-gila.

    Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Heri membalik tubuhku hingga menungging di
    hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas
    kedua belah payudara aku yang kini menggantung berat ke bawah.

    Sebagai seorang wanita aku memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini aku kewalahan
    menghadapi Pak Heri. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia
    bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.

    Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya. Terus, terus,
    aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan
    rasa luar biasa itu.

    Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi, aku memekik keras sambil menjambak rambutnya.
    Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh
    ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Tapi masa
    bodohlah.

    Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Heri kemudian kembali mengambil inisiatif.
    kini gantian Pak Heri yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya
    mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar.

    Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh
    hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua
    cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.

    Namun beberapa saat kemudian, Pak Heri mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki tua
    itu bergetar hebat di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang
    kemaluanku dengan derasnya.

    Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur
    itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing
    terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.

    Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alami di sekujur tubuhku
    ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku.
    Hangat dan sedikit gatal menggelitik.

    Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, basah kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk
    menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu
    yang berlepotan di sana.

    “Bukan main Amel, ternyata kau pun seperti kuda liar!” kata Pak Heri penuh kepuasan.
    Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. aku sungguh sangat kelelahan,
    kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.

    Pak Heri kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan
    kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di
    lantai.

    Sambil berpakaian ia bertanya,

    “Bagaimana dengan ujian saya pak?.”
    “Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya”, sahut laki-laki itu pendek.
    “Kenapa tidak besok pagi saja?”, protes aku tak puas.
    “Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini aku minta agar kau tidak tidur dengan lelaki lain
    kecuali aku!”, jawab Pak Heri.

    Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia
    belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.

    “Aku tidak bisa janji!”, sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar
    mandi.

    Pak Heri hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.

    Aku sedang berjalan santai meninggalkan rumah pak Heri, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki
    itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok jika ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat
    jeblok biar dia bisa main denganku.

    Dasar, namun harus kuakui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan
    dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih
    sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur.
    Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang.
    Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.

    “Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan?”, katanya sambil membubuhkan nilai A
    di berkas ujianku.
    “Selama bapak masih bisa memberiku nilai A”, kataku pendek.
    “Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!”.
    “Terima kasih pak!” kataku sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.

    “Amel!” teriakan seseorang mengejutkan lamunanku.

    Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berjalan
    perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci muncul dari
    balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.

    “Masuklah Amel.”
    “Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!”, Aku masih mencoba menolak dengan halus.
    “Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Heri saja kau mau!”.

    Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.
    “Da,Darimana kau tahu?”.
    “Nah, jadi benar kan, padahal aku tadi hanya menduga-duga!”
    “Sialan!”, Aku mengumpat di dalam hati,

    harusnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini,
    rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu.

    Seperti tipikal orang Indonesia bagian daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur
    sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang
    dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar
    sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu.

    Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian, cukup menunjukkan
    bahwa dia ini orang yang memang punya duit. Namun, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.

    Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya
    jawara seperti itu membuat dia menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus.
    Dia itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani
    mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.

    “Gimana? Masih tidak mau masuk?”, tanya dia setengah mendesak.

    Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi
    kelihatannya aku tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak
    Heri, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku.

    Namun saat ini aku benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan masalah ini berlalu dariku.
    Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.

    Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya
    berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung
    menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.

    “Ke mana kita?”, tanyaku hambar.
    “Lho? Mestinya aku yang harus tanya, kau mau ke mana?”, tanya Dino pura-pura heran.
    “Sudahlah Dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?”, Suaraku sudah sedemikian pasrahnya.
    Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dia menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang
    duduk di belakangku tertawa.

    “Rupanya dia cukup mengerti apa kemauanmu Dino!”, Dia berkomentar.
    “Ah, diam kau Maki!” Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino
    kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.
    “Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Amel!”, pancing Dino.
    “Sesukamulah!”, Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.
    Dino tertawa penuh kemenangan.

    Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu mobil yang ditumpangi
    mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil
    lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir
    sekenanya tak beraturan.

    Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak
    lebih. Dindingnya polos. Demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan
    tengah itu, meski sebuah bar dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke
    taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya baru saja dimatikan dengan
    tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.

    Dari pintu samping kemudian muncul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih
    menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik. Keempat orang laki-laki
    itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule
    dengan rambutnya yang gondrong.

    Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan
    panjang tergerai sampai ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi
    dahinya.

    Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui
    dia memang cantik, seperti bintang film drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki
    itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka,

    Dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Katolik yang
    langsung bisa aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa bergaul dengan orang-orang
    ini.

    Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal
    orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu
    bernama Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata lapar membuat aku tanpa sadar
    menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku
    kenakan ini.

    Tampak tak sabaran Dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung.
    Kamar itu tidak berdaun pintu, sebenarnya lebih tepat disebut ruang penyangga antara teras dengan
    kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.

    Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang sudah acak-
    acakan. Di sudut terdapat dua buah kursi sofa besar dan sebuah meja kaca yang mungil. Di bawahnya
    berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar
    perempuan-perempuan telanjang.

    Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup
    gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, karena kemudian Dino menyalakan
    lampu.

    Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan. Dari blouse, kemudian rok
    bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik
    menghadap Dino.

    Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada Dino, namun
    Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku
    untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah
    tertawa terbahak-bahak.

    “Ayolah Amel, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki
    lain?.”
    “Kurang ajar kau Dino!” Aku mengumpat sekenanya.
    Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius.
    Dengan tatapan yang sangat tajam dia berujar,
    “Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan
    kejadian ini.”

    Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah aku lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang
    yang bertampang seram seperti ini. Tapi seperti yang dia bilang, aku tak punya pilihan lain. Seribu
    satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat aku pusing.

    Tubuhku tanpa sadar sampai gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku sudah kehabisan
    tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.

    Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih
    kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya
    terjatuh ke lantai.

    Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai
    kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian dalam
    mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.

    “Harum!”, katanya.
    Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.
    “36B!”, katanya pendek.
    Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.
    “BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!”, katanya seraya memberikan BH itu kepada Maki
    sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu.

    Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-
    apa lagi.

    Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku.
    Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas sampai ke
    punggung.

    “Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!”

    Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan
    memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, sehingga bagian punggung sampai ke tengkukku
    bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku.

    Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua
    belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai
    meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak
    bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.

    Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia menarik wajahku hingga bibirnya
    bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi.

    Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil
    lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.

    Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya aku
    menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi.

    Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku
    sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol
    juga.

    Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan
    mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan
    meremas kepala Dino yang berada di belakangku.

    Baca Juga Tak Kuat

    Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil
    pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.

    Mungkin karena merasa sudah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku,
    menghisapnya hingga aku menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke
    depan sampai akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku,

    Dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya. Pertama
    lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya
    mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas sampai pipinya kempot.

    Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit
    nyeri di bagian itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan
    oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap.

    Dipilin-pilinnya kesana kemari. Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat sampai putingnya menempel pada
    telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di
    kedua gunung kembarku yang putih dan padat.

    Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku justeru tenggelam
    dalam permaianan itu?

    Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya,
    permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan
    yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.

    “Amel,”
    “Ya?,”
    “Kau suka aku perlakukan seperti ini?”. Aku hanya mengangguk.

    Dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan.
    Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja
    sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.

    “Hsss, ah!”, Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana
    dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku.

    Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap
    dan ketika sudah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding
    dalam liang itu.

    Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di
    dalam liang gelap yang sudah basah itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak
    karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar.

    Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah
    gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang
    menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.

    “Nggghh!”, mulutku mulai meracau.

    Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan
    tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah.

    Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang
    bulat di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri
    mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke bagian selangkangannya. Disitu, aku
    melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam
    yang lebat di daerah pangkalnya.

    Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu. Aku
    tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah perbuatan yang sangat disukai para lelaki. Di
    mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.

    Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam
    mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah
    topi baja itu.

    Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku
    aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya
    bergetar hebat menahan rasa yang tak tertahankan.

    Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah
    mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang
    kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah.

    Konsentrasiku buyar ketika Dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik
    tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana
    dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seakan-akan ia takut aku akan memakainya kembali.

    Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang bagian bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa
    lagi. Si Makipun sampai berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari
    kejauhan.

    Namun beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku
    diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang
    kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah.

    Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.

    Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku
    menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa
    untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang
    vaginaku.

    Dengan perlahan namun pasti, kejantanan Dino meluncur masuk semakin dalam. Dan ketika sudah masuk
    setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku benar-benar berteriak
    karena terasa nyeri. Dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, Dino
    sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.

    Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga
    aku memekik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur
    nikmat yang tak terkira.

    Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga
    merasakan rasa nikmat yang tak terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku
    sampai menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku semakin mempererat
    pelukanku, Pedih, tapi aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.

    Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai
    tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama
    dengan orang yang aku benci.

    Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun Dino rupanya belum selesai. Ia
    kini membalikkan tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia
    ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.

    Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang,
    meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih
    memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.

    Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah
    telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan
    setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.

    Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. Dan Maki yang
    sedang memaksaku melakukan oral seks terhadap dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya
    ke depan untuk menikmati payudaraku.

    Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. Dengan dua orang yang mengeroyokku aku
    sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku merasa sangat terangsang dengan
    posisi seperti ini.

    Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di
    arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti
    kesulitanku mengalah dan hanya diam saja. Dino yang mengatur segala gerakan.

    Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya
    saat bermain seks ternyata mengakibatkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan
    sebelumnya. Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang
    dengan beruntun seperti tak berkesudahan.

    Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke
    dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding
    vaginaku. Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap
    keluar meleleh di salah satu pahaku.

    Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino. Masih dalam posisi doggy
    style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali sampai menyentuh bibir rahimku.
    Ia bisa mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar
    dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani Dino yang sangat banyak.

    Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino dengan nafas yang
    tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga.

    Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin
    lama semakin keras dan kasar hingga membuat aku merintih dan mengaduh tak berkesudahan.

    Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun langsung
    melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton adegan mesum yang
    sedang terjadi antara aku dan Maki.

    Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-
    gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.

    Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan
    tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito
    menggantikan Maki menggeluti tubuhku.

    Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak
    hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang
    bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-
    goyang di atasnya.

    Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan
    miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas.
    Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol
    diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin
    terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.

    Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-
    kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang
    tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku.

    Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di
    dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat.

    Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap
    menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan
    kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan sampai meluap keluar membasahi
    daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher. Cerita Maya

    Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu
    terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak
    karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat
    erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian
    kalinya.

    Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu
    juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa
    memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.

    Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. aku
    merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan
    terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar
    mandi.

    Aku berpapasan dengan Dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu
    sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu,
    di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak
    cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun.
    Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku.

    “Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?” tanyaku pada Dino.

    Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi aku segera
    beranjak menuju pintu itu.

    Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam
    apa kini. Yang membuat aku benci kepada diriku sendiri, walaupun aku merasa sedih, kesal, marah
    bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja
    selangkanganku basah lagi.

    Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan
    tubuhku agak berkurang aku menyudahi mandiku. Dengan berjalan tertatih-tatih aku melangkah keluar
    kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari
    rumah itu.

    Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang
    terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tak menyapanya karena memang sudah tidak
    ada keinginan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu,
    kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.

  • Tak Kuat

    Tak Kuat


    107 views

    Cerita Maya I  Aku yang berprofesi sebagai dokter sekarang sedang mewakili proyek perbaikan gizi yang mana tempatanya di kepulauan, jarak dari aku tempati ke prakter membutuhkan waktu 2 jamman, aku sudah mempunyai suami.Sepeninggalku, ternyata suamiku menunjukkan dirinya sebagai gay. Dia mempunyai pemuda simpanan teman tidur dan pemuas sex. Selama aku dinas di kepulauan, pemuda itu beberapa kali dibawa pulang menginap di rumah.

    Untuk menyembunyikan sikapnya, sehari-hari teman gaynya disimpan di luar, disewakan rumah. Kejadian ini memukul perasaanku. Segala upaya untuk menyadarkan suamiku ternyata tidak membawa hasil.

    Aku membawa kedukaanku di pulau dengan cara melayani masyarakat setempat. Untuk mengisi kekosongan waktu, aku buka praktek sebagai dokter umum. Suatu hari ketika jam praktek hampir usai, seorang pasien laki-laki tegap berkumis dan bercambang datang minta agar diperiksa. Ia memperkenalkan namamanya Fredo. Keluhannya sering pusing.
    Silakan Pak Fredo naik ke tempat tidur biar saya periksa, Segera aku memeriksa pernafasan, tekanan darah dan lain-lainnya. Ketika tanganku memegang tangannya yang berbulu lebat, ada perasaan canggung dan geli. Sewaktu Pak Fredo pamit, dia meninggalkan amplop biaya pemeriksaan. Ternyata isinya melebihi kewajaran tarip seorang dokter umum.

    Hari berlalu, ketika suatu malam saat aku akan mengunci kamar praktek, dihadapanku telah berdiri Pak Fredo.

    Dokter, apakah masih ada waktu untuk periksa saya ? Maaf saya datang terlalu malam karena ada pekerjaan tanggung

    Aku kaget karena kehadirannya tanpa aku ketahui. Dengan senyum geli aku membuka kembali ruang praktek sambil mempersilakan masuk.

    Dok, saya tidak mempunyai keluhan. Hanya saya ingin tahu apakah tekanan darah saya normal
    Demikian Pak Fredo mengawali pembicaraan.

    Saya bisa tidur nyenyak setelah makan obat dokter

    Sambil memerika, kami berdua terlihat pembicaraan ringan, mulai dari sekolah sampai hobi. Dari situ aku baru tahu, Pak Fredo telah dua tahun menduda ditinggal mati istri dan anak tunggalnya yang kecelakaan di Solo.

    Sejak saat itu hidupnya membujang. Ketika pamit dari ruang praktekku, Pak Fredo menawarkan suasana santai sambil menyelam di kepulauan karang.
    Dok, panoramanya sangat indah, pantainya juga bersih lho

    Aku setuju atas tawaran itu dan Pak Fredo akan menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.
    Dalam speed boath yang menyeberangkan kami, hanya berisi aku, Pak Fredo dan pengemudi kapal.

    Sesampainya disana, aku merasa canggung ketika harus berganti pakaian selam di hadapan laki-laki. Tapi aku juga belum tahu cara mengenakan pakaian selam jika tanpa bantuan Pak Fredo. Terpaksa dengan pakaian bikini aku dibantu Pak Fredo memakai pakaian renang. Tangan kekar berbulu itu beberapa kali menyentuh pundak dan leherku. Ada perasaan merinding.
    Tanpa terasa kegiatan menyelam menjadi kegiatan rutin. Bahkan pergi ke tempat penyelaman sering hanya dilakukan kami berdua, aku dan pak Fredo. Semakin hari jarak hubungan aku dengan Pak Fredo menjadi lebih akrab dan dekat.

    Kami sudah saling terbuka membicarkan keluarga masing-masing sampai dengan keluahanku mengenai suamiku yang gay. Dia tidak lagi memanggilku Bu Dokter, tapi cukup namaku, dik Nastiti.
    Musim barat hampir tiba, kami berdua di tengah perjalanan ke tempat penyelaman. Cerita Maya

    Tiba-tiba datang hujan dan angin sehingga gelombang laut naik-turun cukup besar. Aku mual, sehingga kapal dibelokkan Pak Fredo ke arah sisi pulau yang terlindung. Kami turun ke pantai, duduk di bangunan kayu beratap rumbia tempat para penyelam biasa istirahat sambil menikmati bekal. Hanya ada dua bangku panjang dan meja kayu di tempat itu.

    Angin kencang menyebabkan tubuh kami basah dan dingin. Aku duduk mepet ke Pak Fredo. Aku tidak menolak ketika Pak Fredo memelukku dari belakang. Tangan berbulu lebat itu melingkar dalam dada dan perutku.

    Dekapan itu terasa hangat dan erat. Aku memejamkan mata sambil merebahkan kepalaku di pundaknya, sehingga rasa mabuk laut mulai reda.

    Sebuah kecupan ringan melekat di keningku, kemudian bergeser ke bibir, aku berusaha menolak, tapi tangan yang melingkar di dadaku berubah posisi sehingga dengan mudah menyusup dalam BHku.

    Tiba-tiba badanku terasa lemas saat jari tangan itu membuat putaran halus di puting susuku. Bibir berkumis lebat itu menjelajah ke bagian sensitip di leher dan belakang telingaku. Persasaan nikmat dan merinding menjalar dalam tubuhku.

    Bibir itu kembali bergeser lambat menyusur dagu, bergerak ke leher, pundak dan akhirnya berhenti di buah dadaku. Aku tidak tahu kapan kaitan BH itu terbuka. Dorongan kuat muncul di vaginaku, ingin rasanya ada benda bisa mengganjal masuk.
    Tangan kekar itu akhirnya membopongku dan meletakkan di atas meja kayu. BHku telah jatuh di atas pasir, mulut dan tanggan Pak Fredo bergantian menghisap dan meremas kedua gunungku, kanan kiri.

    Aku bagaikan melayang, kedua tanganku menjambak rambut Pak Fredo. Kepalaku tanpa terkendali bergerak ke kanan dan kiri semakin liar disertai suara eluhan nikmat.

    Oooohhhhhaaoohhhha ooooohhhhaaaauuhhhhhh. Kedua tangannya semakin kencang meremas buah dadaku. Mulutnya bergeser perlahan ke bawah menelusur pusaraa.. terusa.vaginaku. Ahhhaa husssaa. ahhaa aahhhhhh.

    Ketika mulut itu menemukan klitorisku, jeritanku tak tertahan Auh..haha aahhha.. husssa.. sebuah benda lunak menyeruak bibir vaginaku. Bergerak perlahan dalam usapan halus serta putaran di dinding dalam, membuatku semakin melayang.

    Tanpa terasa eranganku semakin keras. Untuk menambah kenikmatan, aku angkat tinggi pantatku ke atas. Ingin rasanya benda itu masuk lebih dalam.

    Tapi aku hanya memperoleh dipermukaan. Ooohhhhaa..haahhaa haaahhahuuuaaaaa. t..earaua.sa..se..se..se..dikitaatas. Ooohhhaa.aahhh aaa.. Sebuah hisapan kecil di klitorisku memperkuat cengkeraman tanganku di pinggir meja.

    Baca Juga Birahi Tinggi

    Hisapan itu semakin lama semakin kuata. kuat dan kuata.. menjadikan kenikmatan tak terhinggaa. memuncul denyutan orgasme.

    Otot-otot disekitar vaginaku mengejang nikmat dan nikmat sekali. Sesekali nafasku tersengal aaaaaa..hhhhhhaaaaahuuuaaaa..aahhhhha.aahhhhaaa aaaahhhhhhhhaa. ahhhhaa huhhhhhhhaehhhhhh.

    Denyut itu menjalar dintara pangkal paha dan pantat ke seluruh tubuh. Orgasme yang sempurna telah aku dapatkan. Puncak kenikmatan telah aku rasakan.
    Lemas sekujur tubuhku, aku ingin dipeluk erat, aku ingin ada sebuah benda yang masih tertinggal dalam vaginaku untuk mengganjal sisa denyutan yang masih terasa. Tapi aku hanya menemukan kekosongan.

    Tangan-tangan berbulu itu dengan pelan membuka kembali pahaku. Kedua kakiku diangkat diantara bahunya. Kemudian terasa sebuah benda digeser-geser dalam vaginaku. Semula terasa geli, tapi kemudian aku sadar Pak Fredo sedang membasahi penisnya dengan cairan kawinku.

    Seketika aku bangun sambil menutup kedua kakiku. Aku mendorong badannya, dan aku menangis. Sambil membuang muka aku sesenggukan. Kedua tanganku menutup dada dan selangkangan. Pak Fredo tertunduk duduk dibangku menjauhi aku.

    Ia sadar aku tidak mau dijamah lebih dari itu. Sambil menelungkupkan badan di meja, tangisku tetahan. Pak Fredo mendekati dan dengan lembut ia membisikkan kata permintaan maaf. Diapun menyorongkan BH serta celana dalamku.

    Aku tetap menangis sambil menutup muka dengan kedua tanganku. Akhirnya pak Fredo pergi menjauh menuju kapal mengambil bekal.
    Kami duduk berjauhan tanpa kata-kata. Sekali lagi Pak Fredo mengajukan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulang kejadian itu. Ia menyerahkan botol air mineral kepadaku.
    Maafkan aku dik Nastiti, aku khilaf, aku telah lama tidak merasakan seperti ini sehingga aku khilaf. Aku minta maaf yah, aku harap kejadian ini tidak mengganggu persahabatan kita. Yuk kita minum dan makan siang, terus pulang
    Aku merasa iba pada Pak Fredo. Ternyata dengan tulus dia masih bisa menahan syahwatnya. Padahal bisa saja memaksa dan memperkosaku.

    Kesadaranku mulai pulih, emosiku mereda. Aku mulai berpikir pada kejadian tadi, bukankah aku telah terlanjur basah saat ini ? Bukankah bagian dari kehormatanku telah dijamah Pak Fredo ?

    Bukankah tubuhku yang paling sensitif telah dinikmati Pak Fredo ? Apa artinya mempertahankan kesucian perkawinan ? Bukankah aku tidak pernah menikmati rasa seperti ini dengan suamiku ? Bukankah aku telah kawin dengan seorang gay ? Yah aku telah diusir dari rumahku oleh teman gay suamiku.

    Tapi itu bukan salah suamiku. Ia terlahir dengan kelainan jiwa. Ia menjadi gay dengan menanggung penderitaan. Ia terpaksa memperistri aku hanya untuk menutupi gaynya. Aku ingin merasakan kenikmatan, tapi aku tidak ingin jadi korban, aku tidak ingin punya anak dari hubungan ini dengan Pak Fredo.

    Keberanianku mulai muncul. Aku melompat dan memeluk Pak Fredo. Kelihatan Pak Fredo ragu pada sikapku sehingga tangannya tidak bereaksi memelukku. Aku bisikan kata mesra.

    Pak, aku kepingin lagi, seperti tadi, tapi aku minta kali ini jangan dikeluarkan di dalam
    Maksud dik Nastitia..

    Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, tanganku meraba ke penisnya. Kemudian tanganku menyusup dalam celana renangnya. Sebuah benda yang tidur melingkar, tiba-tiba bangun karena sentuhanku

    Tapi jangan dikeluarkan di dalam ya Pak.

    Terima kasih.

    Senyum Pak Fredo berkembang. Kembali aku didekap, aku dipeluk erat oleh kedua tangan kekar. Aku benamkan mukaku di dada bidang berbulu.

    Tanpa komando aku duduk di atas meja sambil tetap memeluk Pak Fredo. Aku diam, mataku terpejam ketika pelan-pelan aku direbahkan di atas meja.

    Satu persatu pengikat BHku lepas sehingga tampaklah susuku yang masih sangat padat lengkap dengan putingnya yang berwarna coklat kemerahan dan sudah berdiri dengan pongahnya. ceritasexpembantu.com Kedua tangannya meraih dadaku, mulut hangat menyelusur gunungku, perlahan-lahan bergeser ke bawah, semakin ke bawah gerakkannya semakin liar.

    Gesekan kumis sepanjang perut membuatku menegang. Aku pasrah ketika celana dalamku ditarik ke bawah lepas dari kaki sehingga kini aku sudah benar-benar bagaikan bayi yang baru lahir tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhku.

    Mulut hangat itu kembali bermain lincah diantara bibir bawahku yang ditutupi rambut-rambut kemaluan yang berwarna hitam legam dan tumbuh dengan lebatnya disekeliling lubang kawinku dan clitorisku terasa sudah mengeras pertanda aku sudah dilanda nafsu kawin yang amat menggelegak.

    Kenikmatan kembali menjalar di rahimku. Auha.e.e.e.e.e.e.ea..haaahahaaahahaah. Auhhhhsssaa aku mengerang. Pak Fredo sambil berdiri di tepi meja mengusapkan benda panjang dan keras di klitorisku.

    Aaaahhhha..uhhh.. jeritan kecil tertahan mengawali dorongan penis Pak Fredo menyusup vaginaku. Pantatku diangkat tinggi dengan kedua tangannya ketika benda itu semakin dalam terbenam. Tanpa hambatan penis Pak Fredo masuk lebih dalam menjelajah vaginaku.

    Dimulai dengan gerakan pendek maju mudur berirama semakin lama menjadi panjang. Nafasku tersengal menahan setiap gerak kenikmatan. Aaaha.ahha..ahhaa.haaaaaaaaaaaa..haassssaa
    Entah berapa lama aku menerima irama gerakan maju mundur benda keras dalam vaginaku. Aku telah merasakan denyut orgasme. AuuuuuuuuhhhhhJeritan dan cengkeraman tanganku di pundak belakang penanda aku mencapai puncak orgasme.

    Gerakan benda itu dalam vaginaku masih tetap berirama, tegar maju mundur dan membuat gesekan dengan sudut-sudut sensitif. Tiba-tiba irama gerakan itu berubah menjadi cepat, semakin cepata.. suara eluhan Pak Fredo terdengar dan otot vaginaku kembali ikut menegang, yaha aku mau kembali orgasmea aaahhhhhhhhhhhhaa. aahhhha.

    Tiba-tiba benda dalam vaginaku ditarik keluar. Semprotan cairan hangat mengenai pahaku dan meleleh di atas meja. Pak Fredo mencapai puncak kenikmatan. Pak Fredo memenuhi janjinya, tidak mengeluarkan cairan mani dalam vaginaku. Aku lemasa..lemas sekali seperti tidak bertulang. Cerita Maya

    Aku didekap lembut dan sebuah ciuman di kening menambah berkurang daya kekuatanku.
    Tiga tahun kemudian setelah kejadian di pulau itu, aku telah menikmati hari-hari bahagiaku. Aku sekarang telah menjadi nyonya Fredo.

    Di pelukanku ada si mungil Indri, buah hati kami berdua. Setelah perceraian dengan suamiku, satu tahun kemudian aku menikah dengan Pak Fredo. Mantan suamiku mengirim berita ia sekarang sekolah di Australia.

    Tapi aku tahu semua itu hanya kamuflase, seperti dalam pengakuannya lewat telepon, mantan suamiku menetap di Sydney agar dapat memperoleh kebebasan menjadi kaum gay.

  • Birahi Tinggi

    Birahi Tinggi


    83 views

    Cerita Maya I Dia terlihat tidak bisa baca tapi kalau soal ngentot sungguh liar banget dia dicap sebagai playboy di
    kampungnya, sedikit percaya saya jika dia memliki nafsu besar terlihat punggungnya yang bongkok
    tangannya banyak bulu warna kulitnya coklat mengkilap jika terkena keringat.

    Biasanya ciri ciri tersebut mempunyai kont’ol yang gede sungguh jika kau dekat dengan dia gejolak
    birahiku tinggi, ditambah lagi selalu terlihat tonjolan bagian depan celanaya, ibu ibu di sekitarnya
    gatel juga jika ngobrolin pak Bagas(Kont’ol gede), hingga babu-babu genit sangat asyik kalau ngomongin
    bagaimana sepulang dari pasar tadi ngebonceng ojeknya Bagas.

    Mereka cerita soal baunya yang merangsang, soal senggolan dengan tangannya yang penuh bulu. Kadang-
    kadang mereka sengaja menempelkan susunya saat mbonceng ojek sepeda si Bagas. Sebaliknya si Bagas, dia
    juga termasuk banyak omong. Dia ceritakan kalau si Nem, babu Koh Abong demen banget nyiumin kontolnya.
    Dia enyotin kontolnya hingga pejuhnya muncrat ke mulutnya. Dia telan tuh pejuh, nggak ada sisanya.

    Bahkan dia juga cerita kalau Enci’nya (bininya) Koh Abong suka mencuri-curi pandang, dan menaik-
    naikkan alisnya kapan pandangannya berbenturan dengan mata Bagas. Dia lagi cari kesempetan atau alasan
    bagaimana bisa ketemu empat mata tanpa dilihat lakinya.

    Lain lagi Dety, orang Menado yang lakinya kerja di kapal yang hanya 6 bulan sekali lakinya pulang dari
    laut, itupun tidak lebih dari 1 minggu. Dety berbisik sama Atun temen gosipannya,

    ‘Uhh Tuunn, gue mau klenger deh rasanya’, suatu pagi dia buka omongan

    ‘Kenape emangnya?’, tanya Atun balik dengan logat Betawinya yang kental.

    ‘Gua baru ngrasain deh. Tuh kontol Bagas yang sedepa (mau cerita betapa panjangnya) bener-bener bikin
    semaput’.

    Kemudian dia ceritakan bagaimana tanpa sengaja suatu siang si Bagas kencing di kebon samping rumahnya.
    Sebagai perempuan yang kesepian karena jarang dapat sentuhan lakinya, dia iseng ngintip dari balik
    pohon angsana dekat dapurnya. Dia lihat saat Bagas merogoh celananya dan menarik kontolnya keluar.
    Dety bilang napasnya langsung nyesek. Dia plintirin pentilnya sembari ngintip Bagas kencing. Dia
    mengkhayal,

    ‘.. coba aku yang dia kencingin.. hhuuhh..’.

    Dan beberapa menit sesudah Bagas meninggalkan tempat, dengan gaya yang tidak memancing perhatian orang
    dia nyamperin tuh tempat kencingnya Bagas. Bagian terakhir ini dan selanjutnya nggak dia ceritakan
    sama si Atun.

    Dia amati batang pohon mangga yang dikencinginnya. Basah. Air liur Dety menetes keluar, jakunnya naik
    turun. Darahnya tersirap. Dan tanpa bisa menahan diri, tahu-tahu tangan kanannya sudah nyamperin tuh
    yang basah di batang pohon.

    Diusapnya basah kencing si Bagas di pohon itu. Matanya nglirik kanan-kiri-depan nggak ada orang lain,
    dia endus tuh basah di tangannya itu. Wuu.. pesing banget. Kemudian lidahnya menjulur menjilati basah
    kencing Bagas itu. Eddaann..

    Semua cerita-cerita itu terung terang membuat aku dipenuhi setumpuk obsesi. Kapaann memekku diterobosi
    kontolnya?! Dan dari kepalaku mengalir berbagai gagasan untuk menjebak Bagas.CeritaMaya

    Dan kalau sudah begini, mataku menerawang. Aku pengin jilatin batangnya, bijih pelernya sampai dia
    teriak-teriak keenakkan. Aku akan ciumin pentilnya. Kemudian ketiaknya. Aku akan jilatin semua
    lubang-lubang bagian tubuhnya.

    Wwwuu.. nafsu libidoku.. kenapa liar begini ssiihh..?!

    Suatu sore, karena ada beberapa bumbu dapur yang habis, aku pergi ke warung langgananku di pasar. Aku
    pikir jalan sih nggak begitu jauh saat tiba-tiba Bagas dari arah belakangku naik sepeda ojeknya
    nawarin,

    ‘Kemana bu? Saya anter?’.

    Terus terang aku langsung terkesiap dan .. gagap..,

    ‘Eehh kang Bagas (begitulah aku biasa memanggil orang lain akang atau kang sebagai tanda hormatku)
    ..eehh, ..bb ..boleehh, ..mau ke warung langganan nihh’.

    Seperti kebo yang dicocok hidungnya, aku nyamperin jok belakang sepedanya, naruh pantat di boncengan
    sepeda si Bagas.

    Seketika aku diserang obsesiku. Sementara Bagas nggenjot sepeda, agar tidak jatuh tanganku berpegangan
    pada sadel yang tentu saja menyentuh bokongnya. Ada setrum yang langsung menyerang jantungku. Deg,
    deg, deg. Aku dekatkan wajahku ke punggungnya hingga aku cium bau keringatnya.

    ‘Narik dari jam berapa mas?’, aku buka omongan,

    ‘Yaah nggak tentu bu. Hari ini saya mulai keluar jam 10.00 pagi. Soalnya pagi-pagi tadi tetangga minta
    bantu pasang kran air. PAM-nya nggak mau keluar’.

    Wwaaoo.., tiba-tiba ada ide yang melintas!

    ‘Apa yang nggak mau keluar ..?’, nada bicaraku agak aku bengkokkan.

    ‘Kenapa nggak mau keluar ..?’, untuk lebih memperjelas nada bicaraku yang pertama.

    Jawabannya nggak begitu aku dengar karena ramainya jalanan.

    ‘Ooo.., kirain apaan yangg.. nggakk keluarr..’.

    Dan tanpa aku sadari sepenuhnya, tanganku menjadi agresif, menepuki paha Bagas.

    ‘Kirain barang Mas Bagas yang ini nggak mau keluar’, mulutkupun tak lagi bisa kukendalikan dengan
    sedikit aku iringi sedikit ha ha hi hi.

    ‘Aahh, ibuu, ntarr dilihat orang lhoo’, sepertinya dia menegor aku. Kepalang basah,

    ‘Habiiss.., orang-orang pada ngomongin ini ssiihh..’, aku sambung omongan sambil tanganku lebih berani
    lagi, menepuki bagian bawah perutnya yang naik turun karena kaki-kakinya menggenjot sepeda. Dalam
    hatiku, kapan lagi kesempatan macam ini datang.

    ‘Siapa yang ngomoong buu..??’, dia balik tanya tapi nggak lagi ada tegoran dari mulutnya.

    Dan tanganku yang sudah berada di bagian depan celananya ini nggak lagi aku tarik. Bahkan aku kemudian
    mengelusi dan juga memijat-mijat tonjolan celananya itu.

    Aku tahu persis nggak akan dilihat orang, karena posisi itu adalah biasa bagi setiap orang yang
    mbonceng sepeda agar tidak terlempar dari boncengannya.

    ‘Ibu berani banget nih, n’tar dilihat orang terus nyampai-in ke bapak lho buu’.

    Aku tidak menanggapi kecuali tanganku yang makin getol meremas-remas dan memijat. Dan aku rasakan
    dalam celana itu semakin membesar. Kontol Bagas ngaceng. Aku geragapan, gemetar, deg-degan campur aduk
    menjadi satu.

    ‘Mas Jayuuss..’, suaraku sesak lirihh.

    ‘Bbuu.., aku ngaceng buu..’.

    Ooohh, obsesiku kesampaian.., dan aku jawab dengan remasan yang lebih keras.

    Terus terang, aku belum pernah melakukan macam ini. Menjadi perempuan dengan penuh nafsu birahi
    menyerang lelaki. Bahkan sebagai istri yang selama ini cinta dan dicintai oleh suaminya. Dan nggak
    perlu diragukan, bahwa suamiku juga mampu memberi kepuasan seks setiap aku bersebadan dengannya.

    Tetapi juga nggak diragukan pula bahwa aku ini termasuk perempuan yang selalu kehausan. Tidak jarang
    aku melakukan masturbasi sesaat sesudah bersebadan dengan suamiku. Biasanya suamiku langsung tertidur
    begitu habis bergaul.

    Pada saat seperti itu birahiku mengajak aku menerawang. Aku bayangkan banyak lelaki. Kadang-kadang
    terbayang segerombolan kuli pelabuhan dengan badan dan ototnya yang kekar-kekar. Telanjang dada dengan
    celana pendek menunjukkan kilap keringatnya pada bukit-bukit dadanya.

    Mereka ini seakan-akan sedang menunggu giliran untuk aku isepin dan kulum kontol-kontolnya. Wwoo,
    khayalan macam itu mempercepat nafsuku bangkit.

    ‘Kang Bagas, aku pengin ditidurin akang lho’, aku bener-bener menjadi pengemis. Pengemis birahi.

    ‘Jangan bu, ibu khan banyak dikenalin orang di sini’, jawabnya,

    yang justru membuat aku makin terbakar.

    ‘Kita cari tempat, nanti aku yang bayarin’, kejarku.

    ‘Dimana bu, aku nggak pernah tahu’.

    Iyyaa, tentu saja Bagas nggak pernah mikir untuk nyewa kamar hotel. Klas ekonominya tukang ojek sepeda
    khan kumuh banget.

    Saat nyampai di warung tujuan aku turun dari sepedanya,

    ‘Kang Bagas tungguin saya yah’, biar nanti aku kasih tahu kemana mencari tempat yang aman dan nyaman
    untuk acara bersama ini.

    ‘Nih tempatnya yang kang Bagas tanyain tadi, barusan aku pinjem pensil enciknya (pemilik warung) dan
    aku tulis tuh alamat hotel yang pernah aku nginap bersama suami saat nemenin saudara yang datang dari
    Surabaya.

    ‘Maapin bu, saya nggak bisa baca’,

    ahh.. aku baru ingat kalau dia buta huruf.., konyol banget nih.

    ‘OK kang, gini aja, besok akang tunggu saja aku di halte bis depan sekolah SD Mawar, tahu? Jam 10
    pagi, OK?’, dia ngangguk bengong.

    Walaupun nggak bisa baca rupanya dia tahu apa artinya ‘OK’.
    ‘Tt.. tapi bu.., n’tar ada yang ngliatin, n’tar diaduin ke suami ibu, n’tar..’,

    rupanya dia belum juga mengambil keputusan. Keputusan nekad. Ampuunn.. Aku jadinya nggak sabar.

    ‘Udahlah kang, ayyoo, sambil jalan..’, sementara hari udah mulai gelap, lampu jalanan sudah menyala.

    Pada jam begini orang-orang sibuk, kebanyakan mereka yang baru pulang kerja.

    Baca Juga Renang

    Kembali aku duduk di boncengan sepedanya. Dan kembali aku langsung merangkul pinggangnya hingga
    tanganku mencapai bagian depan celananya. Rupanya kontol Bagas udah ngaceng. Tangankupun langsung
    meremasi gundukkan di celananya itu.

    ‘Bbuu, enaakk..’, dia mendesah berbisik.

    ‘Makanya aayyoo kang.., aku juga pengin ini banget..’, jawabku sambbil memijat gundukkan itu.

    Beberapa saat kami saling terdiam, saling menikmati apa yang sedang berlangsung.

    ‘Buu, bagaimana kalau ketempat lain aja yang gampang bu??’, wwoo.. aku berbingar.

    Rupanya sambil jalan ini Bagas mikirin tempat.

    ‘Dimana?’, tanyaku penuh nafsu,

    ‘Di rumah kontrakan temen saya, kebetulan lagi kosong, yang punya rumah lagi mudik, lagian kebonnya
    lebar, nggak akan ada yang ngliatin, apa lagi gelap begini’.

    ‘Jadi kang Bagas maunya sekarang ini?’, aku agak terperangah, nggak begitu siap, n’tar suamiku nyariin
    lagi.

    ‘Habis kapan lagi bu? Sekarang atau besok-besok sama saja, lagian besok-besok mungkin di rumah itu
    udah ramai, pemiliknya udah pulang lagi’.

    Kalau menyangkut nafsu birahi riupanya Bagas ini nggak begitu bodoh. Cukup lama sebelum akhirnya aku
    menjawab,

    ‘Ayyolahh..’, sepeda ojek langsung berbalik, beberapa kali berbelok-belok masuk gang-gang kumuh.
    Nampaknya orang-orang ramai sepanjang jalan nggak mau ngurusin urusan orang lain. Mereka nampak tidak
    acuh saat kami melewatinya.

    Kemudian sepeda ini nyeberangin lapangan yang luas dibawah tiang tegangan tinggi sebelum masuk rumah
    kontrakkan yang diceritakan Bagas tadi. Di depan tanaman pagar yang rapat ada pintu halaman dari
    anyaman ambu, kami berhenti.

    Dari dalam ada orang yang bergegas keluar,

    ‘Min, ini mpok gua, baru dateng dari Cirebon, numpang istirahat sebentar sebelum nerusin ke Bekasi,
    rumah mertuanya.

    N’tar aku nggak pulang mau ngantar ke Bekasi ya?!’,

    aahh.., lihai banget nih Bagas, ngibulnya bener-bener penuh fantasi.. Aku salaman sama ‘Min’ tadi.
    Saat bersalaman, salah satu jarinya dia selipkan ke telapak tanganku kemudian mengutiknya. Kurang
    ajar, batinku, rupanya dia tahu kalau si Bagas sekedar ngibul. Rupanya cara macam ini sudah saling
    mereka kenali. Rupanya kibulan tadi justru untuk aku. Untuk menyakinkan aku bahwa tempat ini aman
    untukku.

    ‘Ayo bu, istrirahat dulu, mandi-mandi dulu, n’tar aku ikut ke Bekasi, biar nggak nyasar-nyasar’,
    uuhh..tukang kibulku.. yang.. sebentar lagi akan aku jilati kontolnya.

    Dan memang aku sudah jadi perempuan yang nekad, pokoknya harus bisa merasakan ngentot sama Bagas. Dan
    sekarang ini kesempatanya. Masa bodo dengan segala kibulan Bagas, masa bodo dengan tangan usil si
    ‘Min’ tadi.

    Nggak tahunya aku dibawa ke loteng. Dengan tangga yang nyaris tegak aku mengikuti Bagas memasuki
    ruangan yang sempit berlantai papan dengan nampak bolong sana-sini.

    Dalam ruangan tanpa plafon hingga gentingnya yang rendah itu hampir menyentuh kepala, kulihat tikar
    tergelar. Dan nampak bantal tipis kusam di ujung sana. Kuletakkan barang bawaanku.

    Tanpa menunggu ba bi Bu lagi Bagas langsung menerkam aku. Tangannya langsung memerasi bokongku
    kemudian susu-susuku. Akupun langsung mendesah.. Birahiku bergolak.. Darahku memacu.

    Aku menjadi sangat kehausan.. Tanganku langsung membuka kancing celana Bagas kemudian memerosotkannya.
    Dalam dekapan dan setengah gelagapan yang disebabkan kuluman bibir Bagas, aku merabai selangkangannya.

    Kontol yang benar-benar gede dan panjang ini kini dalam genggaman tanganku. Aku keras dan liatnya,
    denyut-denyutnya. Kontol yang hanya terbungkus celana dalam tipis hingga hangatnya aku rasakan dari
    setiap elusan tangan kananku. Kami saling melumat.

    ‘Bbuu, aku nafsu bangett bbuu..’, aku dengar bisikan desah Bagas di telingaku. Hhheehh..

    Kemudian tangan Bagas menekan pundakku supaya aku rebah ke tikar yang tersedia. Terus kami bergumul,
    dia menaiki tubuhku tanpa melepaskan pagutannya. Dan tanganku merangkul erat tubuhnya.

    Kemudian dia balik hingga tubuhku ganti yang menindih tubuhnya. Aku terus melumatinya. Lidahnya yang
    menjulur kusedoti. Ludahku di-isep-isep-nya.

    ‘Bbbuu, aayyoo ..aku udah nggak tahan nihh..’.
    Sama. Nafsu liarku juga sudah nggak terbendung. Aku prosotkan sendiri celana dalamku tanpa mencopot
    roknya.

    Sementara itu ciuman Bagas telah meruyak ke buah dadaku. Wwwuu.. Aku menggelinjang dengan amat sangat.
    Bulu-bulu bewok dan kumis yang tercukur rasanya seperti amplas yang menggosoki kulit halus dadaku.

    Dalam waktu yang singkat berikutnya kami telah sama-sama telanjang bulat. Bagas menindih tubuhku. Dan
    aku telah siap menerima penetrasi kontolnya ke vaginaku. Aku telah membuka lebar-lebar selangkanganku
    menyilahkan kontol gede Bagas itu memulai serangan.

    Saat ujung kemaluannya menyentuh bibir vaginaku, wwuuhh ..rasanya selangit. Aku langsung mengegoskan
    pantatku menjemput kontol itu agar langsung menembusi kemaluanku. Sungguh aku menunggu tusukkan batang
    panas itu agar kegatalan vaginaku terobati.

    Agak kasar tapi membuatku sangat nikmat, Bagas mendorong dengan keras kontolnya menerobos lubang
    kemaluanku yang sempit sekaligus dalam keadaan mencengkeram karena birahiku yang memuncak. Cairan-
    cairan pelumas yang keluar dari kemaluanku tidak banyak membantu. Rasa pedih perih menyeruak saraf-
    saraf di dinding vaginaku. Tetapi itu hanya sesaat.

    Begitu Bagas mulai menaik turunkan pantatnya untuk mendorong dan menarik kontolnya di luang
    kemaluanku, rasa pedih perih itu langsung berubah menjadi kenikmatan tak bertara. Aku menjerit kecil..
    tetapi desahan bibirku tak bisa kubendung. Aku meracau kenikmatan,

    ‘Enak banget kontolmu kang Bagass.. aacchh.. nikmatnyaa.. kontolmu Bagass.. oohh.. teruusszzhh..
    teruuzzhh.., uuhh gede bangett yaahh.. kangg.. kangg enakk..’ cerita ngentot terbaru

    Genjotan Bagas semakin kenceng. Bukit bokongnya kulihat naik turun demikian cepat seperti mesin pompa
    air di kampung. Dan saraf-saraf vaginaku yang semakin mengencang menimbulkan kenikmatan tak terhingga
    bagiku dan pasti juga bagi si Bagas. Dia menceloteh,

    ‘Uuuhh buu, sempit banget nonokmuu ..buu.., sempit bangeett.. bbuu enaakk bangett..’.
    Dan lebih edan lagi, lantai papan loteng itupun nggak kalah berisiknya. Aku bayangkan pasti si ‘Min’
    dibawah sono kelimpungan nggak keruan. Mungkin saja dia langsung ngelocok kontolnya sendiri (onani).

    Terus terang aku sangat tersanjung oleh celotehannya itu. Dan itu semangatku melonjak. Pantatku
    bergoyang keras mengimbangi tusukkan mautnya kontol Bagas. Dan lantai papan ini .. berisiknyaa.. minta
    ampun!

    Percepatan frekwensi genjotan kontol dan goyangan pantatku dengan cepat menggiring orgasmeku hingga ke
    ambang tumpah,

    ‘Kang .. kang.. kang..kang.. aku mau keluarrcchh.. keluarrcchh.. aacchh..’, aku histeris.
    Ternyata demikian pula kang Bagas. Genjotan terakhir yang cepatnya tak terperikan rupanya mendorong
    berliter-liter air maninya tumpah membanjiri kemaluanku. Keringat kami tak lagi terbendung, ngocor.

    Kemudian semuanya jadi lengang. Yang terdengar bunyi nafas ngos-ngosan dari kami. Dari jauh kudengar
    suara kodok, mungkin dari genangan air comberan di kebon.

    Aku tersedar. Dirumah pasti suamiku gelisah.

    ‘Kang Bagas, aku mesti cepet pulang nih ..’, Dia hanya melenguh CeritaMaya

    ‘..hheehh..’. Kulihat kontolnya ternyata masih tegak kaku keluar dari rimbunan hitam jembutnya
    menjulang ke langit. Apa mungkin dia belum puas?? Aku khawatir kemalaman nih.
    ‘Ayyoo kang, pulang dulu.., kapan-kapan kita main lagi yaahh ..’.

    Bagas bukannya bangun. Dia berbalik miring sambil tangannya memeluk tubuhku mulutnya dia tempelkan ke
    pipiki dan berbisik,

    ‘Buu, aku masih kepingin..’,

    ‘Nggak ah.., aku kan takut kemalaman, nanti suamiku nyariin lagi’.

    ‘Jangan khawatir bu.. Sebentar saja.. Aku pengin ibu mau ngisepin kontolku. Kalau diisepin cepat koq
    keluarnya dan aku cepat puas. Lihat aja nih, dianya nggak mau lemes-lemes. Dia nunggu bibir ibu
    nihh..’.

    Bagas menunjukkan kontolnya yang gede panjang dalam keadaan ngaceng itu.

    ‘Ayyoo dong buu.., kasian khan .., bbuu..?!’.

    Dia mengakhiri omongannya sambil bangkit, menggeser tubuhnya, berdiri kemudian ngangkangin dadaku
    lantas jongkok. Posisi kontolnya tepat di wajahku. Bahkan tepat di depan bibirku.
    ‘Aayyoo buu, isepin duluu.., ayyoo buu, ciumin, jilat-jilat..’.

    Aku jadi nggak berkutik. Aku pikir, biarlah, OK-lah, supaya cepat beres dan cepat pulang.

    Kuraih kontol itu, kugenggam dan kubawa kemulutku. Aku jilatin kepalanya yang basah oleh spermanya
    sendiri tadi. Aku rasain lubang kencingnya dengan ujung lidahku.
    ‘Aammpuunn.. Enakkbangett..’, Bagas langsung teriak kegatalan.

    Sambil tanganku mempermainkan bijih pelernya, kontol itu aku enyotin dan jilatin. Rupanya Bagas ingin
    aku cepat mengulumnya. Dan dia kembali mulai memompa. Kali ini bukan memekku tetapi mulutku yang dia
    pompa.

    Pelan-pelan tetapi teratur. Dan aku.., uuhh.. merasakan kontol gede dalam rongga mulutku.., rasa asin,
    amis, pesing dan asem berbaur yang keluar dari selangkangan, jembutnya, bijih pelernya.., nafsuku
    kembali hadir.

    Dan pompa Bagas mencepat. Aku mesti menahan dengan tanganku agar kontol itu tidak menyodok
    tenggorokanku yang akan membuatku tersedak. Tidak lama ..

    Tiba-tiba Bagas menarik kontolnya dan tangan kanannya langsung mengocoknya dengan cepat persis didepan
    muluku.

    ‘Ayoo bu, minum pejuhku.. Buu, ayo makan nih kontolkuu.. Ayoo buu..minumm..buu.. Bbbuu..’,
    kocokkan itu makin cepat. Dan reflekku adalah membuka mulut dan menjulurkan lidahku. Aku memang pengin
    banget, memang menjadi obsesiku, aku pengin minum sperma si Bagas. Dan sekarang ..

    Entah berapa banyak sperma Bagas yang tumpah kali ini. Kurasakan langsung ke mulutku ada sekitar
    banyak kali muncratan.

    Dan aku berusaha nggak ada setetespun yang tercecer. Uuuhh.., aku baru merasakan. Gurihnya sperma
    Bagas mengingatkan aku pada rasa telor ayam kampung yang putih dan kuningnya telah diaduk menjadi
    satu. Ada gurih, ada asin, ada tawarnya.. dan lendir-lendir itu ..nikmatnyaa..

    Saat pulang kuselipkan dalam genggaman si ‘Min’ lembaran Rp. 50 ribu. Mungkin semacam ongkos bungkam.
    Dia dengan senang menerimanya. Tak ada lagi jari ngutik-utik telapak tanganku.

    Bagas menurunkan aku di belokkan arah rumahku. Aku beri Bagas lembaran Rp. 100 ribu, tetapi dia
    menolak,

    ‘Jangan bu, kita khan sama-sama menikmati.., dan terserah ibu.., kalau ibu mau, kapan saja saya mau
    juga .. Tetapi saya nggak akan pernah mencari-cari ibu, pemali, n’tar jadi gangguan, nggak enak sama
    bapaknya khan?!’.

    Wah.., dia bisa menjaga dirinya dan sekaligus menjaga orang lain. Aku senang.

    Sesampai di rumah ternyata suamiku tidak gelisah menunggu istrinya. Kebetulan ada tamunya, tetangga
    sebelah teman main catur. Aku cepat tanggap,

    ‘Udah dibikinin kopi belum pak?!’ ..yang terdengar kemudian .. Skak!

  • Renang

    Renang


    73 views

    Cerita Maya I Aku kerja sebagai trainer berenang disatu sport hall yang berada di kawasan prumahan elit yang mayoritas penghuninya warga keturunan. Perumahannya mewah, rumahnya gak banyak tapi besar-besar. Sport Hallnya lengkap,lapangan tenis, gym,kolam renang,malah disediakan juga lapangan basket merangkap volley dan bulu tangkis.kalo peralatan untuk tenis meja ada didepan gym.

    Aku bekerja sebagai pelatih renang. asik juga ngajarin renang disitu karena yang ikutan belajar renang banyakan amoy, cantik, putih,mulus dan sexy lagi. Salah satu yang ikutan belajar renang dengan aku adalah Fang-fang. Amoy yang satu ini imut, tinggi 165, berat 47, toketnya 32C kayanya. kalo les dia pake baju renang yang terusan, model celana pendek dan blus lengan pendek, sehingga paha mulusnya gak bisa dilihat sampe selangkangannya. tapi dengan baju renang seperti itu, bodinya Fang-fang tetap paling menarik diantara amoy laennya yang belajar denganku.

    Dia belum kuliah, masih sekolah katanya, baru kelas 1 lagi, masih ABG banget. Kalo ngajarin renang, salah satunya adalah bagaimana bisa berlatih meragakan gerakan reang yang benar, sehingga aku menahan badan mereka di kedua tanganku. Karena didalem air, jadi gak terlalu berat menahan badan mreka dengan kedua tanganku yang kurentangkan kedepan.Ketika mereka melatih gerakan renangnya, badannya tentunya terguncang-terguncang, aku sering memanfaatkan kesempatan itu untuk meremas pelan toket mereka, tanganku tepat berada dibagian dada dan selangkangan. Tangan satunya cuma bisa meremas paha saja.

    Toket Fang-fang terasa kenyal ketika kuremas pelan, ketika itu sedang gilirannya melatih gerakan renangnya.Sehabis selesai, dia cuma tersenyum saja memandangiku, senyuman yang penuh arti, aku merasa dia tahu bahwa aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memerah toketnya walaupun pelan.

    “Om tadi grepe-grape Fang-fang ya”, bisiknya pelan sambil tersenyum.

    Aku kaget juga mendengar bisikannya, tapi melihat dia tersenyum ya keterkejutanku ilang dengan sendirinya.

    “Montok kamu Fang”, jawabku.
    “Ih si om genit”, katanya sambil mencubit perutku.
    “Ih nyubit diperut, ntar nyenggol lagi”, kataku.

    “Om mau disenggol? ntar fang-fang senggol deh”, katanya sambil mengelus selangkanganku.

    aku memang memakai celana renang model celana pendek yang longgar. Kaget juga ketika dia mengelus selangkanganku.

    “Om gede dan keras banget, om horny ya grepe2 Fang-fang”, katanya sambil senyum. Binal juga ni amoy pikirku.
    “Om, disini rame, om mau gak ngajarin Fang-fang renang dirumah”.
    “Jadi private dong”.
    “Gak apa, Fang-fang bayar tarif private om deh”.
    “Gak usah, dengan segala senang hati, om mau kok ngajarin Fang-fang dirumah. ada kolam renangnya dirumah?”.
    “Ada om, tapi gak sebesar disini, separuhnyalah”.
    “Trus Fang-fang mo ajak sodara”.
    “Gak om, Fang-fang sendiri”.
    “Mangnya bole ma ortu belajar dirumah”.
    “Ortu di spore kok om, kalo libur Fang-fang kesana”.
    “O itu”, pantes binal pikirku, bebas sendirian disini dan pastinya gak pernah kekurangan uang.
    “Trus kapan mo mulainya”.
    “Tiap ari juga boleh om”.
    “Hah, tiap ari”.
    “Iya biar cepet bisa, juga kalo dirumah kan lebih bebas katimbang disini rame”. Aku menduga ada udang dibalik bakwan ni dari ucapannya barusan.
    “Kalo tiap ari om susah ngatur jadwalnya ma disini. Bisanya cuma kalo om gak ngajar disini”.
    “Gitu juga boleh om, hari apa aja”. Kita buat kesepakatan hari belajar renangnya.

    Karena di sport hall aq ngajar 4 hari, makanya tinggal 3 hari sisanya.

    Pada hari yang sudah dijanjikan, aku kerumah Fang-fang, besar rumahnya. Dia membuka sendiri gerbang rumahnya, aku diajaknya masuk kedalam. Mobil bututku jadi ngerusak pemandangan indah di halaman rumahnya. Fang-fang langsung mengajakku ke dalem, rumahnya besar, jadi ruangannya juga serba besar dan mewah, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan serba besar dengan perabotan lengkap. Yang aku heran rumahnya sepi.

    “Kok sepi rumahnya Fang”.
    “Iya om, Fang-fang sendirian dirumah ini”.
    “Gak ada pembantu?”
    “ada tapi di counter mreka aja, mereka gak masuk kedalem rumah kalo gak perlu”.
    “O gitu, jadi bebas dong gak ada yang ganggu”.
    “Iya om hadi bebas grepe2 nya ha ha”, dia tertawa lepas.
    “O mau toh di grepe2″.
    “Fang-fang tuker baju dulu ya, tuh kolamnya di halaman blakang”.

    Aku menuju ke halaman blakang, Halaman tertutup tembok tinggi, ada pool kecil, tapi cukuplah untuk melatih gerakan tangan dan kaki. Untuk memperlancar ketrampilannya renangnya lebih efektif dikolam besar sesuai standard. Aku melepaskan pakaianku, tinggal hanya memakai celana gombrongku. Aku langsung nyemplung ke pool, semeter dalemnya.
    Fang-fang keluar hanya berbikini. aku sampe menelen ludah melihat pemandangan yang sangat merangsang. Bodinya yang seksi hanya ditutupi bikini minim, branya model ditaliin kebelakang, kayanya kekecilan untuk menampung toketnya yang ranum. CD nya model g string, tidak dapat menutupi jembutnya yang lebat.

    “Wah Fang, aku horny banget ni liat kamu pake bikini minim gini”.
    “apa lepas aja ya om”.
    “Nantilah, yang dikasi liat dikit2 kan lebih horny lagi”. Memang sempurna Fang-fang dilahirkan sebagai prempuan.

    Wajah cantik dengan mata yang menipit dihiasi dengan hidung yang mancung dan bibir yang mungil, sangat mengundang untuk dikulum. Rambutnya dipotong pendek seperti lelaki tetapi sangat serasi dengan wajahnya yang tirus itu, menambah kecantikannya. Kulitnya putih mulus, bodinya seksi banget. Selain toketnya yang membusung, pinggang ramping, perutnya rata sengan puser yang berbentuk garis keatas, Pantatnya yang bulet tidak tertutup apa2, karena dia mengenakan cd model gstring dimana bagian blakangnnya menyelip ke belahan pantatnya. Pantatnya bergoyang krkiri dan kanan mengikuti ayunan langkahnya. kontolku langsung meronta2 disuguhi pmandangan yang memabokkan itu.

    Dia pun ikutan nyemplung ke kolam dan langsung latihan. Aku menganjurkan latihan tangan dan kaki dilakukan sendiri2 sembari berpegangan ke pinggir kolam. Mula2 latihan kaki, aku membetulkan kalo gerakannya keliru. Cukup melelahkan karena dia latihan sendiri, sehingga gak ada jeda karena harus gantian dengan orang laen. Habis latihan kaki, sekarang latihan tangan dengan mencantolkan kaki pada pegangan dipinggir pool, ini lebih berat lagi karena sekalian sambil latihan mengambil napas. Sebentar latihan saja, dia dah kelelahan.

    Aku mengkoreksi gerakan tangannya dan minta dia mengulanginya lagi setelah jeda sbentar. Setelah itu latihan meluncur dengan gerakan kaki saja, dilanjutkan dengan gerakan tangan saja. Karena lebar kolam gak jauh, maka meluncur dengan gerakan kaki saja dengan mudah dilakukannya. Setelah benar, mulai meluncur dengan gerakan tangan saja, sedikit lebih berat karena daya luncurnya lebih lambat dengan hanya gerakan tangan dibanding dengan hanya gerakan kaki. Dia sbentar saja sudah kelelahan. aku kembali mengkoreksi gerakan tangannya dan minta dia untuk melakukannya lagi.

    Kunjungi Juga Kontol Mantanku

    Aku sengaja tidak menyentuh tubuhnya supaya napsuku tidak menggelegak naek, walaupun kontolku tetap saja menunjuk ke arah utara.

    “Wah om, cape banget ya latihan sendiri”.
    “Ya lah, kan jedanya lebi dikit, Tapi kan dengan waktu yang sama kamu bisa latihan lebih lama, lebih efektif. Di sport hall gerakan kamu gak bener2, sekarang baru sekali latihan aja dan bener kok. Memperlancarnya dikolam besar aja ya”.

    Dia tersenyum saja,

    “Capek om, istirahat ya”.

    Tanpa menunggu jawabannya dia keluar pool, aku hanya memandangi gerakan pantatnya yang sangat merangsang itu ketika dia menghilang kedalam rumah. Dia keluar lagi dengan membawa makanan dan minuman kaleng. Dia langsung telungkup di dipan dibawah payung. Aku segera keluar dari pool dan duduk disebelahnya.

    “Om, badan Fang-fang kok pegel2 ya, om sadis sih ngelatihnya”. Aku merasa dia mengundang aku untuk mulai beraktivitas.
    “Aku pijitin ya”.
    “Mangnya om bisa mijit, biasanya ngeremes”.
    “Dua2nya juga aku ahli”. Aku mulai memijit pundaknya, punggungnya, pinggangnya, pantatnya dan pahanya.

    Kembali ke pundak dan punggungnya.

    “Om kalo mengganggu branya dilepas aja”. Wah undangan to the point neh.

    Langsung aja kuurai ikatan bra yang dileher dan dipunggung, aku lebih leluasa memijat punggungnya, tanganku mulai menurun kesamping punggungnya, memijat dan sambil menyentuh toketnya. Fang-fang menoleh dan tersenyum, dia mengangkat punggungnya sehingga tanganku bisa menyelip kedadanya dan meremas2 toketnya yang ranum, pentilnya kuplintir2, ini menyebabkan dia melenguh,

    “om…”. Dengan gemas aku meremas2 toketnya,
    “Kamu berbalik deh Fang”.

    Dia membalikkan badannya, branya terlepas jatuh, aku menunduk kemudian perlahan aku mencium bibirnya. Dia menyambut ciumanku dengan mengemut bibirku juga. tanganku kembali mengarah ke toketnya, langsung saja kuremas dan kuplintir pentilnya. Aku melepas bibirku dan mulai menciumi telinganya dan terus ke lehernya. telinga dan leher merupakan salah satu dari sekian banyak titik sensitif di tubuhnya. Dia mulai melenguh menikmati ulahku, pentilnya mengeras karena terus kuplintir2.

    “om, …” lenguhku.
    “Kenapa Fang, udah gak tahan ya, pengen dilanjut…” kataku sambil tersenyum.
    “Jembut kamu lebat ya Fang, pasti napsu kamu besar ya”, kataku sambil mengemut2 pentilnya dan meremas toketnya. “Toketmu kenceng ya Fang, pentilnya gede, sering diemut ya.”

    Sambil menikmati remasanku, dia juga tidak tinggal diam, diremasnya kontolku dari luar celanaku.

    “om, ngacengnya sudah keras banget”, katanya.
    “Besar banget lagi”.
    “Mangnya kamu belon pernah ngerasin yang besar ya Fang?”.
    “kontol cowok Fang-fang gak segede om punya”.
    “Sering ngerasain kontol cowok kamu ya”.
    “enggak kok om, baru 4 kali”.
    “wah masi peret dong nonok kamu ya”.
    “La iyalah, kontol om sgitu gedenya, pasti sesek deh no nok Fang-fang kemasukan kontol gede om”.
    “Kamu kok ngajakin aku ke rumah napa si?”
    “Kata temen Fang-fang, maen ma om2 lebi nikmat, makanya Fang-fang jadi penasaran pengen nyoba”.
    “Mangnya ma cowok kamu gak nikmat”.
    “Nikmat si om, tapi kata temen Fang-fang sensasinya beda banget kalo ma om2, lebi nikmat gitu deh. Om kan beken diantara cewek yang om ajarin brenang”.
    “Apa katanya”. “Kata mereka om tu keren, macho banget,jangan ge er ya om”.
    “Macho? Mantan cowok?”
    “Ih, dibilangin bener2 malah becanda”, katanya sambil tersenyum. aku tidak menanggapinya Aku sudah tidak bisa menahan napsuku lagi.CeritaMaya

    Aku melepaskan celana pendekku, sehingga menyembullah kontolku sudah ngaceng dengan penuh.”Gedenya om”,katanya. Aku berbaring disebelahnya, dipannya cukup lebar untuk 2 orang berbaring bersebelahan. bibirnya kembali kucium dengan penuh napsu dan sambil meremas2 toketnya dan memlintir2 pentilnya.

    “Isep dong om..” pintanya sambil menyorongkan toketnya itu ke wajahku.

    Langsung toketnya kuisep dengan penuh napsu. pentilnya kujilati.

    “Ohh..Sstt..” erangnya keenakan.

    Aku mulai mengelus jembutnya yg nongol keluar dari CDnya, kemudian kususupkan ke dalam CDnya. Jariku langsung menyentuh belahan bibir nonoknya dan kugesek-gesekkan dari bawah ke atas. Gesekannya berakhir di itilnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. nonoknya langsung berlendir,

    “Oo.. Ooh! Uu.. Uuh!” desahnya sambil menekan tanganku satunya untuk terus meremas-remas toketnya.
    “om, Fang-fang udah gak tahan nih”.

    CDnya kudorong kebawah sampai terlepas dari kakinya. Dia mengangkat pantatnya untuk mempermudah aku meloloskan penutup terakhir tubuhnya. Kedua kaki kukangkangkan sehingga tampak jelas jembutnya yang lebat. Aku kembali meraba dan mengelus nonoknya.Aku menyelipkan jari ke belahan nonoknya yang sudah basah dan menyentuh dinding dalam nonoknya. “om..! Aduuh! Fang-fang sudah enggak tahan, udah pengen dimasukkin”, pintanya.

    Bukannya langsung memenuhi permintaannya, jariku beralih menggosok-gosok itilnya.

    “Aduuh! om..nakal!” serunya.

    Dia pun semakin tidak karuan, diremasnya kontolku yang sudah keras sekali. toketnya yang sudah keras sekali terus saja kuremas2, demikian juga pentilnya. “Ayo dong om dimasukin, Fang-fang sudah benar-benar enggak kuu.. at!” rengeknya lagi.

    Kemudian kumasukkan jariku ke dalam nonoknya yang sudah basah kuyup. nonoknya langsung kukorek2,dindingnya digaruk-garuk. Benjolan seukuran ibu jari yang tumbuh di dalam liang nonoknya kumainkannya dengan ujung jari hingga badannya tiba-tiba menggigil keras dan digoyang-goyangkannya pantatnya mengikuti permainan ujung jariku. Aku menelungkup diselangkangannya dan mulutku langsung mengulum bibir nonoknya. Cairan yang membasahi sekitar selangkangannya kujilati dan setelah bersih kembali kukulum bibir nonoknya.

    Kemudian giliran itilnya mendapat giliran kukulum dan kulumat dengan mulutku. Jari tanganku kembali menyeruak masuk ke dalam nonoknya, dia benar-benar hampir pingsan karenanya.Tubuhnya kembali terguncang hebat, kakinya jadi lemas semua, otot-otot perutnya jadi kejang dan akhirnya dia nyampe, cairan nonoknya yang banjir kutampung dengan mulut dan tanpa sedikit pun merasa jijik kutelan semuanya. Dia menghela napas panjang, aku masih dengan lahapnya melumat nonoknya sampai akhirnya selangkangannya benar-benar bersih kembali.

    Nonoknya terus kuusap2, demikian juga itilnya sehingga napsunya bangkit kembali.

    “Terus om..Enak..” desahnya.
    “Ayo dong om.. Fang-fang udah nggak tahan”. Tetapi aku masih tetap saja menjilati dan menghisap itilnya sambil meremas2 toket dan pentilnya.

    Dia kunaiki dan segera kuarahkan kontolku ke nonoknya. Perlahan kumasukkan kepala kontolku.

    “Enak om..” katanya dan sedikit demi sedikit aku meneroboskan kontolku ke nonoknya yang sempit.

    nonoknya terasa sesek karena kemasukan kontol besar, setelah kira-kira masuk separuh lebih, kontol mulai kuenjot keluar masuk. “Terus om.. kontol om enak” erangnya keenakan. Aku terus mengenjot nonoknya, dia menyorongkan dadanya ke mulutku.

    Pentilnya kuhisap. Belum berapa lama kuenjot, aku mengajak tukar posisi. Sekarang dia yang diatas Diarahkannya nonoknya ke kontolku yang tegak menantang. Dengan liar dia kemudian mengenjot tubuhnya naik turun. toketnya yang montok bergoyang mengikuti enjotan badannya. Aku meremas toketnya dan menghisap pentilnya dengan rakus.

    “om.. kontol om besar, keras banget..”, dia terus menggelinjang diatas tubuhnya.
    “Enak Fang?” “Enak om.. entotin Fang-fang terus om..”CeritaMaya

    Aku memegang pinggangnya yang ramping dan menyodokkan kontolku dari bawah dengan cepat. Dia mengerang saking nikmatnya. Keringatku menetes membasahi tubuhnya. Akhirnya, “Fang-fang nyampe om” jeritnya saat tubuhnya menegang merasakan nikmat yang luar biasa. Setelah itu tubuhnya lunglai menimpa tubuhku. Aku mengusap-usap rambutnya sambil mencium bibirnya.

    Setelah beberapa saat, kontolku yang masih ngaceng kucabut dari dari nonoknya. Dia kutelentangkan dan aku naik ke atasnya. Kembali nonoknya kujilati. Kedua lututnya kudorongkan sedikit ke atas sehingga bukit nonoknya lebih menganga, pahanya lebih kukangkangkan lagi, dan lidah kujulurkan menyapu celah-celah nonoknya. Lidah kujulurkan dan kugesekkan naik turun diujung itilnya.

    Dia hanya bisa merasakan nikmatnya sambil meremas- remas kontolku dengan penuh nafsu. Cairan lendir yang keluar kembali dari nonoknya dengan lahap kuhisap. ceritasexpembantu.com Bibirku terus mencium dan melumat habis bibir nonoknya. lidahku menjulur masuk ke dalam nonoknya dan sempat menyentuh dinding bagian dalamnya. Saking dalamnya mulutku menekan nonoknya, hidungku yang mancung menempel dan menekan itilnya.

    Dia kembali merasakan kenikmatan lebih, apa lagi saat wajah dengan sengaja kugeleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan dengan posisi hidungku tetap menempel di itilnya dan bibirku tetap mengulum bibir nonoknya sambil lidahku terus mengorek nonoknya. Dia tak kuasa membendung napsunya.

    “Oocch! om.. Teruu.. Uus! Fang-fang nyampe lagi om”, suaranya semakin parau saja.

    Digoyangkannya pantatnya mengikuti irama gesekan wajahku yang nyaterbenam di selangkangannya. Dijepitnya kepalaku dengan pahanya, badannya menggigil hebat bagaikan orang kejang. Dia menarik nafas panjang sekali, semua cairan nonoknya kuhisap dan kutelan dengan rakus sekali hingga habis.

    Kini aku membetulkan posisi sehingga berada di atasnya, kontolku sudah mengarah ke nonoknya. Dia merasakan sentuhan

    ujung kontolku di nonoknya, kepala kontolku terasa keras sekali. Dengan sekali dorongan, kepala kontolku langsung menusuk nonoknya. Kutekan sedikit kuat sehingga kepala kontolku terbenam ke dalam nonoknya. Walau kontolku belum masuk semua, aku merasakan getaran-getaran yang membuat otot nonoknya berdenyut, cairan yang membasahi nonoknya membuat kontolku yang besar mudah sekali masuk ke dalam nonoknya hingga dengan sekali dorongan lagi maka kontolku masuk kedalam sarangnya, blee.. ess.

    Begitu merasa kontolku sudah memasuki nonoknya, kubalik badannya sehingga kembali dia berada di atas, tubuhnya, didudukinya batang kontolku yang cukup panjang itu. Digoyangkannya pantatnya dan diputar-putarkan, dikocok naik turun hingga kontolku keluar masuk nonoknya, dia meremas- remas kedua toketnya. Lebih nikmat rasanya ngentot dengan posisi dia diatas karena dia bisa mengarahkan gesekan kontol besarku ke seluruh bagian nonoknya termasuk itilnya. Kini giliran aku yang tidak tahan lagi dengan permainannya, gelengan kepalaku menahan nikmat.

    “Fang, aku dah mau ngecret, boleh didalem Fang”.
    “Ngecretin didalem aja om, biar tambah nikmat. Kita nyampe sama-sama..om”, rintihnya sambil mempercepat kocokan dan goyangan pantatnya.
    “Aa..Aacch!” diapun nyampe lagi, kali ini secara bersamaan dengan aku, bibir nonoknya berkedutan hingga meremas kontolku.

    Pejuku dan lendir nonoknya bercampur menjadi satu membanjiri nonoknya. Karena posisinya berada diatas, maka cairan kenikmatan itu mengalir keluar merembes melalui kontolku sehingga membasahi selangkanganku, banyak sekali dan kurasakan sedikit lengket-lengket agak kental cairan yang merembes keluar itu tadi. Kami berdua akhirnya terkulai lemas.

    Posisinya tengkurap disampingku yang terkulai telentang.

    “om, pinter banget sih ngerangsang Fang-fang sampe berkali2 nyampe, udah gitu kontol om kalo udah masuk terasa sekali gesekannya, abis gede banget sih”, katanya.
    “nonokmu juga nikmat sekali Fang, peret banget deh, kerasa sekali cengkeramannya ke kontolku”, jawabku sambil memeluknya.
    “Beda sama cewek2ku”.
    “Wah om ceweknya banyak ya, dan semuanya udah om entot”.
    “La iya lah, kalo pacaran gak ngentot mana asik”.
    “Om kalo ngentotin pacar om dimana?”.
    “Dirumahnya atau di tempat kosnya. Aku suka nginep kalo ngentotin mereka”.
    “Asik dong om, terus maennya berapa kali”.
    “3 kali, kadang kalo aku lagi napsu banget sampe 4 kali”.
    “Wah nikmat dong, Fang-fang mau deh dientot sampe 4 kali om”. Karena cape abis kugarap diapun tertidur di kursi.

    Setelah beberapa lama tertidur, dia terbangun karena toketnya kuelus2.CeritaMaya

    “Cape ya Yang, sampe ketiduran gitu”.
    “Om manggil Fang-fang apa?”.
    “Yayang, kan kita lagi sayang2an. Juga jangan manggil aku om dong”.
    “Abis mesti manggil apa, kan biasanya Fang-fang manggilnya om”.
    “Panggil papah aja, biar mesra, Kekamar aja yuk Yang”, kataku sambil menarik tangannya.

    Dia menggandengku masuk kerumah setelah menyantap makanan dan minuman yang tadi dia bawa ke pool.

    “Mo lagi ya Pah”, tanyanya ketika sudah berada dikamarnya.

    Bibirnya langsung kucipok. Dia menyambut ciumanku. toketnya langsung mengeras.

    “Pah, aah”, napsunya mulai bangkit.

    Sambil meremas toketnya, aku menjilati toketnya, kusedot pentilnya sampai dia gemetar saking napsunya. Dia segera berbaring diranjang. Kakinya kubuka sambil kuelus2, tangan satuku masih meremas toketnya. Setelah itu selangkangannya kujilati,

    “Nih jembut lebat banget sih, tapi aku suka kok ngentotin abg yang jembutnya lebat, apalagi toketnya ranum seperti kamu”.
    “Napa Pah”, tanyanya terengah.
    “Cewek yang jembutnya lebat kan napsunya besar, suka binal kalo lagi dientot”.
    “Bukannya binal Pah, tapi menikmati”, jawabnya.

    Bibir nonoknya tetep kujilati, lidahku masuk ke nonoknya, dia jadi menggelinjang nggak terkontrol, wajahnya memerah terdongak keatas. kontolku sudah ngaceng dengan keras. Dia hampir tak dapat memegangnya dengan tangannya.

    “Dikocok Yang”, pintaku, dia nurut saja dan mengocok kontolku dengan gemas.
    “Yang diemut dong”, kataku keenakan.

    Aku berdiri disamping ranjang dan dia duduk sambil mengarahkan kontol yg ada digenggamannya ke arah mulutnya. Dia mencoba memasukkan kedalam mulutnya dengan susah payah karena besar sekali, jadi dijilatinya dulu kepala kontolku. Aku mendesah2 sambil mendongakkan kepala.

    “Kenapa pah”.
    “Enak banget, terus Yang, jangan berhenti”, ujarku sambil merem melek kenikmatan.

    Dia jilatin kontolku mulai dari kepala kontolku sampai ke pangkal batang, dia terusin ke biji pelirku, semua dia jilatin. Dia coba untuk memasukkan kedalam mulutku lagi, udah bisa masuk, udah licin terkena ludahnya. Aku memegangi kepalanya dengan satu tangan sambil memaju-mundurkan pantatku, mengentoti mulutnya. Sedang tanganku satunya lagi meremas toketnya sebelah kanan. Gerakanku semakin lama semakin cepat.

    Tiba2 aku menghentikan gerakanku. kontol kukeluarkan dari mulutnya. Aku menaiki tubuhnya dan mengarahkan kontolku ke toketnya,

    “Yang, aku mau ngerasain kontol ku kejepit toket kamu yang montok ya”. dia kemudian menjepit kontolku di antara toketnya.
    “Ahh.. Enak Yang”. Aku terus menggoyang kontolku maju mundur merasakan kekenyalan toketnya.

    Sampai akhirnya

    “Aduh Yang, sebentar lagi aku mau ngecret, keluarin di mulut kamu ya”.
    “Jangan pah, di n onok Fang-fang saja, kan lebi nikmat”, jawabnya.

    Aku mengarahkan kontolku ke nonoknya. Aku memasukkan kontolku yang besar dan panjang itu ke nonoknya. Pantatnya semain didorong2, sampai dia merem melek keenakan ngerasain nonoknya digesek kontolku. Aku mulai menggerakkan kontolku keluar dan masuk dinonoknya yang sempit itu. Secara naluri dia gerakkan pantatnya kekanan dan kekiri, mengikuti gerakan kontolku yang keluar masuk, wuihh tambah nikmat. Kulihat wajahnya menikmati sekali gesekkan kontolku di nonoknya. Selang beberapa saat, aku mengajak ganti posisi, dia pasrah aja.

    Dia kusuruh nungging, dan kusoodokkan kontolku dari belakang ke nonoknya.

    “Enngghh…” desahnya tak keruan.

    Sambil menggoyang pantat maju mundur, aku memegangi pinggulnya dengan erat, dia merasa nikmat yang luar biasa. Tidak tahu berapa lama aku menggenjot nonoknya dari belakang seperti itu, makin lama makin keras sehingga akhirnya dia nyampe,

    “Pah, enjot yang keras, nikmat sekali rasanya”, jeritnya.

    Aku mengenjot kontolku lebih cepat lagi dan kemudian pejuku muncrat didalam nonoknya ‘crottt, croooth.., crooootttthh…’

    Dia merasa nonoknya agak membengkak akibat disodok 2 kali oleh kontolku yang besar itu.

    “Yang, nonok mu luar biasa deh cengkeramannya, nikmat banget Yang. Kerasa sekali gesekannya dikontol ku”, kataku sambil terengah2.

    Setelah istirahat beberapa saat, aku bertanya padanya

    “Gimana Yang? enak kan?”.
    “Enak sekali pah, rasanya nikmat sekali, nonok Fang-fang sampe sesek kemasukan kontol Papah, abis gede banget sih”, jawabnya.

    Aku mencabut kontolku yang sudah lemes dari nonoknya. kontolku berlumuran peju dan cairan nonoknya. Dia yang kelelahan hanya terkapar di ranjang. Tak lama kemudian dia tertidur lagi.

    Ketika dia bangun, aku dikamar mandi yang berada didalam kamarnya. Aku sedang membasuh muka biar segeran. Melihat dia masuk kamar mandi, aku segera memeluknya. kontolku udah ngaceng lagi.

    “Pah, kuat amat si, dah ngecret 2 kali masi ja ngaceng lagi, Belon puas ya pah”. sambil meremas2 toketnya, Lehernya kuciumi dengan penuh napsu.

    Itu membuat napsunya juga bangkit dengan cepat. Aku segera duduk di toilet dan dia kupangku dalam posisi memunggungiku. Kuarahkan kontolku ke belahan bibir nonoknya. kugesek-gesekkan ujung kontolku ke belahan bibir nonoknya. Kutempelkan ujung kontolku ke ujung itilnya dan kugesek-gesekkan naik turun. Kini nonoknya kembali mengeluarkan cairan bening.

    Kemudian kontolku yang sudah ngaceng keras kembali kumasukkan ke dalam nonoknya. Awalnya agak sulit juga kontolku masuk kedalam nonoknya karena posisi itu. Tetapi dengan sedikit bersusah payah akhirnya ujung kontolku berhasil menyeruak ke dalam nonoknya yang dibantunya dengan sedikit menekan badannya kebawah, dan kuangkat kembali pantatnya hingga lama kelamaan akhirnya berhasil juga kontolku amblas semua ke dalam nonoknya.CeritaMaya

    Dengan posisi begini membuat dia yang harus aktif mengocok kontolku dengan cara mengangkat dan menurunkan kembali pantatnya, sehingga nonoknya bisa meremas dan mengocok-ngocok kontolku. kontolku terasa sekali menggesek-gesek dinding bagian dalam nonoknya. Saat dia duduk terlalu ke bawah, kontolku terasa sekali menusuk keras nonoknya, nikmat yang kurasakan tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata lagi. nonoknya semakin lama semakin basah sehingga keberadaan kontolku dalam nonoknya sudah tidak sesesak tadi.

    Akhirnya diapun sudah tidak kuat lagi menahan napsunya. Dia tidak mampu lagi mengangkat dan menurunkan pantatnya seperti tadi, kini dia hanya bisa terduduk dalam posisi kontolku masih tertancap di dalam nonoknya. Digoyang-goyangkan saja pantatnya sambil duduk di pangkuanku. Kedua tanganku sedari tadi asyik meremas kedua toketnya. pentilnya kucubit dan kupilin-pilinnya sehingga menimbulkan sensasi tersendiri baginya. Aku tidak mampu bertahan lama merasakan goyang yang dia lakukan.

    “Aduuh..! Yang, hebat banget empotan nonok kamu! Aku hampir ngecret nich!” seruku sambil tetap memilin pentilnya. “Kita keluarin sama-sama pah” sahutnya sambil mempercepat goyangannya.

    Aku sudah benar-benar tidak mampu bertahan lebih lama lagi hingga kudorong dia sedikit ke depan sambil dia berdiri, sehingga posisinya menungging membelakangiku sambil berpegangan ke wastafel, tetapi kontolku masih menancap di dalam nonoknya. Aku berdiri sambil mengambil alih permainan, aku mengocok-ngocokkan kontolku keluar masuk nonoknya dalam posisi doggy style.

    “Aa.. Aacch!” kini giliranku yang menyeracau tidak karuan. pejuku langsung muncrat keluar memenuhi nonoknya.

    Bersamaan dengan itu, dia pun mengalami hal yang serupa, kurasakan kedutan nonoknya berkali- kali saat dia nyampe. Kami nyampe dalam waktu hampir bersamaan hingga nonoknya kembali penuh dengan cairan birahi kami berdua, saking penuhnya sehingga tidak tertampung seluruhnya. Cairan kami yang telah tercampur itu, meleleh keluar melalui celah nonoknya dan merembes keluar hingga membasahi perutnya karena posisinya masih setengah menungging saat itu.

    Kami pun mandi bersama-sama bagaikan sepasang pengantin baru. Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuh kami masing-masing dengan handuk. Aku segera memakai pakeanku, aku pamit untuk memulai aktivitas rutinku. Dia tersenyum sangat manis mengiringi kepergianku.

    “Pah, kapan papah ngasi kenikmatan kaya hari ini ke Fang-fang”.
    “Nanti kita atur lagi ya Yang”. Memang amoy bener-bener nikmat.

  • Kontol Mantanku

    Kontol Mantanku


    81 views

    Cerita Maya I Ketika aku jalan-jalan dengan temen-temen sekantor ke pasar seni, aku ketemu dengan mantan cowokku. Dia
    mengajakku untuk ngobrol terpisah dari temen2ku yang lain, aku pamitan dengan temen2ku. Kebetulan ketika
    itu suamiku gak ada dirumah, biasa keluar kota untuk tugas kantornya, jadi aku bebas mau pulang jam
    berapa juga. Dia mengajak aku makan dulu.

    Kontol Mantanku

    Kontol Mantanku

    Setelah makan, aku ngobrol dimobilnya yang diparkir di tepi pantai. Karena hari itu malam selasa, maka
    suasananya sepi, nggak banyak mobil yang parkir di pantai itu. Kebetulan sekali kaca mobilnya sangat
    gelap lapisannya, sehingga dari luar orang akan sukar ngintip ke dalam mobil. Mobil diparkir menghadap
    ke semak2 yang sangat rimbun sehingga dari kaca depanpun orang tidak dapat ngintip ke dalam mobil.
    Rupanya dia memang mencari tempat strategis. Malam itu sekitar pukul 21.30, walaupun keadaan didalam
    mobil gelap, kami masih dapat memandang wajah masing2.

    “Sin, kemana suami kamu”, tanyanya.
    “Dia sibuk sama kerjaannya”, jawabku.
    “Kasian deh kamu, coba kamu dulu sama aku terus, kamu gak akan kesepian seperti sekarang deh”, katanya
    lagi.
    “Abis dulu kamu kalo pacaran napsu banget sih, pengennya ngajak maen melulu”, jawabku lagi.
    “Kalo udah napsu kan harusnya terus maen Sin, supaya gak jadi odol”, katanya sambil tersenyum.
    “Apanya yang jadi odol”, tanyaku gak ngerti.
    “Kalo udah napsu, terus gak dikeluarin kan lama-lama bisa jadi odol didalem”, jawabnya sambil tertawa.
    “Dasar”, jawabku sambil mencubit pinggangnya.
    “Kamu dulu kan gak mau dielus2, maunya pacaran pasfoto doang”, katanya lagi.
    “Kok pas foto”, tanyaku gak ngerti.
    “Iya, yang dipegang cuma boleh dagu keatas seperti pasfoto, gitu”, jawabnya.

    Kamu sendiri udah nikah atau masih pacaran” jawabku membelokkan pembicaraan.

    “Aku masih sendiri, menclok dari satu kembang ke kembang lain”, jawabnya.
    “Terus ke semua kembang kamu minta kenikmatan dong”, tanyaku lagi.
    “La iya lah, soalnya kalo dapet kan nikmat”, jawabnya.
    “Terus kamu dikasi”, tanyaku lebih lanjut.
    “Seringnya sih dikasih, Kalo sekarang aku minta ke kamu dikasih gak Sin? Kamu kan jablay”, katanya
    sambil memelukku.

    Wajahnya dengan sangat perlahan-lahan didekatkan wajahku.

    Tanpa menunggu jawabanku, dia nekat mencium bibirku dengan penuh napsu. Aku kaget tapi tidak menolak
    malah menyambut ciumannya, tangannya segera menyambar toketku dan diremas2nya dengan gemas.

    “Sin, katanya lagi “aku pengen ngentotsama kamu”, katanya terus terang sambil terus meremes2 toketku.

    Kancing bajuku mulai dibukanya satu persatu, kemudian tangannya merogoh masuk kedalam braku. Toketku
    langsung diremesnya lagi, jari2nya kemudian memlintir pentilku. Aku menjadi terangsang karena ulahnya.
    “Ah, kamu nakal ih”, kataku manja. “Tapi kamu suka kan diremes2 begini. Aku boleh pegang nonok kamu ya
    Sin, udah kepengin nih aku”, katanya sambil membuka retsluiting celanaku. Cerita Maya

    Dia tidak menunggu lampu hijau dari aku tapi langsung action saja. Aku membiarkan tindakannya. Celanaku
    malah diplorotkan sampe kepaha sehingga kelihatanlah CDku yang tipis dan minim. dengan penuh napsu
    langsung tanggannya menerobos ke sela2 pahaku dan menggosok nonokku yang masih dilapisi CD. “Sin udah
    basah banget nonok kamu, kamu udah napsu ya, jembut kamu lebat banget Sin, nggak heran napsu kamu besar,
    Kamu belum pernah dientot di mobil kan Sin, kita ngentotnya dimobil aja ya”, katanya lagi.

    Aku bingung apakah membiarkan dia mengentoti aku atau tidak, dalam hati sih aku kepengen. Makanya aku
    membiarkan dia meraba seluruh tubuhku. Aku buka retsluiting celananya juga, menurunkan celananya,
    kemudian aku merogoh masuk CDnya, wow kontolnya ternyata besar dan panjang, ngacengnya sudah keras
    sekali. “Gede amat kontolmu” kataku.

    Kunjungi Juga Cerita Sex Terbaru.Net

    “Emangnya kamu belum pernah ngerasain kontol segede punyaku”, jawabnya bangga.
    “Gak segede kontolmu”, jawabku terus terang.
    “Wah kalo gitu nonok kamu masih sempit dong, cuma kelewatan kontol yang kecil, malem ini asik dong kita
    ya.

    Kamu mau kan aku entot”, katanya sambil tertawa. kontol dia tergolong besar juga, keker, melengkung
    keatas dan urat-uratnya nonjol-nonjol.

    “Wah!… pasti cewek kamu ngejerit kalo kamu entot dong”.
    “Iya, ngejerit keenakan. sebentar lagi kamu juga jerit-jerit, cewek yang jembutnya lebat kaya kamu kan
    binal banget kalo lagi dientot”, jawabnya.

    Singkat cerita, kami berdua pindah ke bangku belakang mobilnya. Baju dan celana ku dilepaskan dan dia
    langsung saja meremas2 kembali toketku. Nggak lama kemudian braku sudah dilepasnya. Dia mencium
    keningku, kemudian mataku. Aku terpejam menikmati ciuman dan remasannya ditoketku. Ciumannya turun ke
    hidungku, pipiku dan akhirnya mendarat di bibirku. Nafasku mulai agak memburu, kami berdua terbenam
    dalam ciuman yang hangat. Dia mengarahkan mulutnya ke leherku, ke pundak, lalu turun ke toketku yang
    sudah mengeras. Dia memainkan lidahnya dipentilku yang juga sudah mengeras, yang kiri dan kemudian yang
    kanan.

    “Aah enak”, kataku terengah karena napsuku yang sudah berkobar-kobar.

    Dia terus menciumi pentilku, kemudian turun ke perutku dan menciumi puserku, aku selalu kegelian kalo
    puserku dicium. Sambil mencium puserku, tangannya nyelip ke balik CD mini ku dan meraba nonokku.
    otomatis pahaku mengangkang supaya dia mudah mengakses nonokku.

    “Sin, ni jembut, lebat amat,” katanya sambil mengelus2 jembutku.

    Kemudian jarinya terbenam dinonokku dan terus mengilik2 itilku.

    “Sin nonokmu udah basah banget, kamu udah napsu sekali ya”, katanya.

    Aku tidak menjawab perkataannya hanya mengerang keenakan karena kilikan jarinya ke itilku makin cepat.
    Mulutnya kemudian menciumi jembutku dan kemudian lidahnya menggantikan fungsi jarinya mengilik itilku.
    Aku semakin tidak dapat menahan napsuku dan eranganku semakin keras. Dia langsung meremas kedua toketku
    dan memlintir2 pentilku.

    “aku udah pengen dientot nih, masukin dong kontol kamu”, kataku minta.

    Lidahnya terus saja menjilati itilku sehingga kembali aku mendesah keenakan.

    “Aah enak banget, padahal baru dijilat. Apalagi kalo disodok pake kontol gede kamu, lebih enak lagi,
    ayoo dong aku udah gak tahan nih”, aku terus merengek2 minta segera dientot.

    Dia merebahkan senderan bangku mobilnya sehingga aku menjadi berbaring, kakiku agak menekuk karena
    panjang mobilnya tidak mencukupi. Dia segera memposisikan dirinya kedekat kepalaku

    “Sin, aku pengen ngerasain dulu diemut sama kamu”, katanya sambil mendekatkan kontolnya ke mulutku.

    Segera kugapai kontolnya yang sudah ngaceng dan kumasukan kontolnya yang besar dan melengkung kedalam
    mulutku. Langsung kuemut dengan keras. Dia mendorong kontolnya keluar masuk pelan ke mulutku sambil
    mendesis. Aku emut kontolnya terus.

    “Sin diemut mulut kamuaja nikmatnya kaya begini, apalagi kalo diemut nonok kamu ya”, katanya sambil
    mempercepat enjotan kontolnya keluar masuk mulutku.
    “Sin, aku ngecret dimulut kamu ya”, katanya.
    “Jangan, dinonokku aja, aku udah pengen ngerasain kontol kamu keluar masuk nonokku”, jawabku.

    Dia melepaskan semua pakaiannya dan kemudian menarik CDku sampe lepas, kami sudah bertelanjang bulat.
    Dia memposisikan tubuhnya diantara kedua pahaku dan mengarahkan kontol gedenya ke nonokku. Aku rasakan
    kepala kontolnya mulai masuk perlahan, ditekannya lagi sedikit sehingga kontolnya mulai menyeruak
    sdiakit2 ke dalam nonokku. Nikmat banget rasanya nonokku kegesek kontolnya yang besar dan keras itu.
    Perlahan tapi pasti kontolnya nancep makin dalam ke nonokku. Kurasakan nonokku udah mulai basah karena
    gesekan kontolnya yang hampir masuk semua itu. Akhirnya dia mendesakkan kontolnya dengan cepat dan
    tiba-tiba sehingga nancap semuanya di nonokku.

    “ssshhhhh…..”, erangku sambil terpejam. Dia mulai mengenjot kontolnya keluar masuk nonokku dengan cepat
    dan keras.

    Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku
    kekiri, lalu kekanan, memutar, mengiringi enjotan kontolnya di nonokku. Aku meremas rambutnya, sesekali
    badannya kupeluk erat2. Tubuhku dan dia berkeringat karena dalam ruangan mobil mulai panas, namun aku
    tidak perduli karena sedang merasakan nikmat. Dia terus mengenjotkan kontolnya dengan cepat dan keras.
    Aku merasa sudah mau nyampe,

    “cepetean ngenjotnya, lebih keras lagi, enak banget kontolmu”, Kakiku kuangkat ke atas melingkari
    pinggangnya sehingga rasanya kontolnya nancep makin dalem di nonokku.

    Akhirnya “aahhhh”, kurasakan nonokku menegang dan mengejut-ngejut menjepit kontolnya.

    “Sin, nonokmu nikmat bangetnya bisa ngempot, baru kali ini aku ngerasain empotan nonok senikmat empotan
    kamu”, katanya sambil terus mengenjotkan kontolnya.
    “Aaahhhhh…. gila…. ini nikmat sekali… “, dia menancapkan kontolnya sedalam2nya ke nonokku dan ngecretlah
    pejunya.

    Terasa pejunya muncrat beberapa kali dalam nonokku, pejunya muncrat banyak sekali. Aku terkulai lemes,
    kupeluk dia

    “Sin, enak banget ngentot sama kamu, rasanya beda sama cewek lainnya yang pernah kuentoti”, katanya.
    “Aku juga nikmat, abis kontol kamu gede banget. A

    ku pengen lagi deh, kita cari kamar yuk. Biasanya selain di mobil kamu ngentotnya dimana” ajakku. Dia
    langsung mencabut kontolnya, mengambil tisu dan diberikannya kepadaku untuk mengelap nonok dan
    keringetku. Diapun menyeka keringat dan kontolnya dengan tisu. Tisu bekasnya dibuang ke luar jendela
    yang sudah dibuka sdikit supaya hawa didalem mobil tidak terlalu panas.

    Kami memakai pakaian kembali dan dia membawaku ke motel didekat pantai. Sampe dimotel, aku langsung
    masuk ke kamarnya. Iseng aku hidupkan TVnya, ternyata motelnya menanyangkan film biru, perempuan dengan
    wajah asia sedang nungging dientot sama bule. kontol si bule yang besar dan panjang keluar masuk nonok
    sicewek, dan ceweknya ber ah uh, seperti lazimnya film biru. Aku duduk di tempat tidur, napsu juga aku
    nonton filmnya, sementara dia sedang membereskan pembayaran sewa kamar.

    Kemudian dia duduk disebelahku di tempat tidur, ikut nonton. Aku merapatkan ke badannya, toketku sebelah
    kiri udah nempel di badannya. kontolnya kuraba, ternyata sudah ngaceng lagi dengan kerasnya. Dia
    membalas meremes toketku. Segera saja pakaianku dilepasnya semuanya. Langsung dia kembali meremes2
    toketku sambil mencium bibirku. Aku berbaring ditempat tidur, dia mulai menciumi toketku dan menghisap
    pentilku. Tangan satunya menjalar kebawah dan mengkilik2 nonok dan itilku. Aku merintih2 karena napsuku
    sudah naik lagi.

    Segera dia melepas pakaiannya sendiri dan berbaring disebelahku. kontolnya yang sudah keras sekali
    kuremes2 dan kukocok2. Dia memutar badannya ke posisi 69 dan mulai menjilati nonok dan itilku diantara
    pahaku yang sudah mengangkang lebar2. Jembutku dielus2nya sambil terus mengemut itilku. Aku sudah tidak
    dapat menahan napsuku yang sudah berkobar2. kontolnya segera kuemut2.

    Baca Juga : Sepupu Ayahku

    Akhirnya aku mengambil inisiatif menaiki badannya, menduduki kontolnya sehingga kontolnya kembali
    menyusup ke dalam nonokku, kutekan dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancep semuanya
    ke nonokku. Aku mulai mengenjot kontolnya dengan menaik-turunkan pantatku. kontolnya keluar masuk
    nonokku seirama dengan enjotan pantatku. Aku udah nggak tahan lagi, sehingga enjotanku makin cepet dan
    keras. Toketku diremas2nya, dan pentilku terkadang diemut2nya.

    “aku mau nyampe, enak banget kontolmu deh”, erangku dan akhirnya aku ambruk diatas badannya. Terasa
    nonokku kedutan meremes2 kontolnya.

    Dia segera berguling sehingga aku telentang dibawahnya. Dia meneruskan permainan dengan mengenjotkan
    kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Nikmat sekali, baru nyampe sudah dienjot dengan keras.
    Dia terus saja mengenjot nonokku dengan cepat dan keras,

    “Sin, tadi empotan nonokmu kerasa banget deh, lebih kerasa katimbang di mobil. Nikmat banget deh Sin
    ngentot sama kamu”. Nggak lama lagi akhirnya dia pun hampir nyampe,
    “Sin keluarin sama2 ya, aku hampir ngecret nih”. Aku tidak menjawab, kakiku melingkari pinggangnya dan
    kuteken keras2 sehingga kontolnya nancep dalem sekali di nonokku, sampai akhirnya aku bergetar karena
    nyampe lagi
    “nikmat banget, teken yang keras dong”.

    Dia mengenjotkan kontolnya sedalam2nya di nonokku dan melenguh

    “Sin, aku ngecret”. Terasa pejunya muncrat beberapa kali didalam nonokku.

    Oh nikmat banget rasanya, lemes banget badanku, aku memeluk dia erat2, dan dia akhirnya berbaring
    disebelahku, kontolnya berlumuran peju dan cairan nonokku.
    “lemes banget deh aku, ngentot sama kamu menguras tenaga ya”, kataku.
    “Ya udah, tidur aja dulu, nanti bangun tidur kita ngentot lagi”, jawabnya sambil memelukku.

    Karena lelah, aku tertidur dipelukannya.

    Aku tidak tau berapa lama tertidur dipelukannya. Ketika aku terbangun, dia sedang memandangi wajahku
    yang masih ngantuk itu.

    “Sin, kamu cantik sekali kalo sedang tidur, sayangnya kamu bukan istriku ya”.
    “Enggak jadi istri tapi kan udah melayani napsunya kamu”, jawabku tersenyum.

    Dia bangun dan masuk kamar mandi, keluar dari kamar mandi, dia membawa gayung, sabun dan handuk. Dia
    mulai membersihkan nonokku yang belepotan pejunya dan lendirku sendiri. Setelah bersih, dia masuk ke
    kamar mandi lagi, terdengar suara air yang dibuang dan keran yang dibuka. Tak lama kemudian dia keluar
    dari kamar mandi membawa gayung yang tadi, lengkap dengan sabun dan handuk. Rupanya dia mengganti air
    digayung. Dia duduk disebelahku dan mulai menyeka wajahku, terus kebawah, ke toketku, perutku, nonokku
    lagi, pahaku sampai ke telapak kakiku.

    Aku jadi merinding, apalagi ketika toket, puser, nonok dan pahaku dielus2nya dengan handuk basah.
    Apalagi ruangan dingin karena AC tetap menyala. Aku hanya terpejam saja, menahan gelinya usapan handuk.
    Selesainya dia berkata,

    “Gantian dong”. Aku segera membuang air yang ada digayung dan mengisinya dengan air yang baru.

    Aku kembali ke tempat tidur dan mulai mengelap wajah, leher, dada dan perutnya dengan handuk basah.
    kontolnya kukocok2 dan kepalanya kuemut2.

    “Enggak dilap malah diemut”, katanya.

    Aku tidak menjawab karena kepalaku sedang mengangguk2 sehingga kontolnya keluar masuk di mulutku. Cukup
    lama aku mengemut kontolnya, sampe pelan2 kontolnya mulai mengeras lagi. Segera kontolnya kukocok2
    dengan cepat sehingga ngaceng sempurna.

    “sudah siap tempur lagi nih kontolmu”. Dia tidak menjawab, tapi segera memeluk dan mencium bibirku.

    Tangannya segera meremas2 toketku dan kemudian kembali mengilik2 itilku. Dia tau bahwa napsuku akan
    cepat berkobar kalo itilku dikilik2, dia benar – nggak lama kemudian aku sudah napsu kembali dan pengen
    segera dientot. “aku udah pengen ngerasain kontolmu keluar masuk nonokku lagi, masukin dong”, aku
    merengek2.

    Dia akhirnya menaiki aku dan segera menancapkan kontolnya ke nonokku. Nikmat banget rasanya ketika
    kontolnya yang besar itu segera menyesaki nonokku karena sudah nancep semuanya kdealam nonokku. Dia
    mulai mengenjot kontolnya keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras. Aku mulai mengerang2 keenakan.
    Pantatku bergerak kekiri dan kekanan mengimbangi enjotan kontolnya. Toketku diremas2nya dengan kedua
    tangannya, dia bertumpu dengan sikutnya, hal ini menambah rangsangan buatku.

    “Akhhh… Oukkkhhh” seruku kenikmatan.

    Dia memelukku erat dan mempercepat enjotan kontolnya, makin lama makin cepat dan keras. Aku tidak dapat
    menahan serangannya lagi, sehingga akhirnya aku melolong “aku nyampe lagi, nikmat banget ngentot sama
    kamu deh”. nonokku terasa berdenyut2 meremas kontolnya sehingga dia pun meringis keenakan “Aah Sin,
    empotan nonok kamu kerasa banget. kontolku kaya sedang diemut dan diremes. Empotanmu hebat banget Sin”.
    Dia mencabut kontolnya dari nonokku, aku ditunggingkannya dan dia menancapkan kontolnya ke nonokku
    dengan keras, sekali enjot kontolnya sudah masuk semua.

    Kemudian dia mulai lagi mengenjot nonokku dari belakang. Aku nelungkup ke bantal menahan rasa nikmat
    yang luar biasa ketika dienjot kontolnya. Dia memegang pantatku sambil mengenjotkan kontolnya dengan
    cepat dan keras. Aku nggak tahan untuk nyampe lagi, luar biasa enjotannya yang begitu merangsang aku
    sehingga aku cepat sekali nyampe.

    “aku mau nyampe lagi, aakh”, seruku dan aku ambruk ke tempat tidur.
    “Sin, kamu cepet banget nyampenya, aku belum kerasa mau ngecret”, katanya.
    “Abis kontolmu enak banget, kamu pinter banget ngenjotnya. Terusin aja sampe kamu ngecret lagi
    dinonokku”, jawabku.

    Dia menelentangkan ku dan segera dinaikinya tubuhku. kontolnya kembali ambles dinonokku dan dia mulai
    mengenjotkan keluar masuk dengan cepat. Kalo ditekan, kontolnya ambles semua di nonokku, ooh nikmat
    banget rasanya. Dia dengan perkasa terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk. Setelah ngecret 2 kali
    dinonokku, ternyata dia bisa bertahan lebih lama. Kadang kontolnya dicabut dari nonokku, dan sebentar
    kemudian ditancepkannya kembali dengan keras sehingga dengan sekali sodok langsung nancep semuanya ke
    nonokku.

    “nikmat benget enjotanmu yang barusan, terus, yang keras”, aku merintih2.

    Dia meneruskan cara enjotannya. Aku kembali berteriak2 keenakan. Aku menggoyangkan pinggulku kekiri dan
    kekanan,.ketika kontolnya dicabut, pantatku refleks mengangkat keatas untuk mencegah kontolnya lepas
    dari nonokku. Dia mengubah gaya enjotannya,sehabis menjotkan kontolnya hingga masuk semua, dia menarik
    kontolnya separuh beberapa kali kemudian digentakkannya kembali sehingga nancep kebagian paling dalam
    dari nonokku.

    “Aaakh, makin lama dientot kamu makin nikmat rasanya, aku lemes banget deh”, kataku kepayahan.

    Dia terus mempermainkan nonokku dengan cara itu. Kemudian dia memelukku erat2, menciumi wajah dan
    bibirku. kontolnya tidak dienjotkan karena sudah nancep dalam sekali, tetapi digerak2kan. Lebih nikmat
    lagi rasanya karena seakan2 kontolnya sedang menggaruk2 nonokku.

    “pinter banget sih kamu kasih kenikmatan sama aku”, teriakku. Dia mulai lagi mengenjotkan kontolnya
    keluar masuk dengan keras dan cepat.

    Aku menggeliat2 keenakan sambil mengerang2. Aku membelitkan kakiku ke pinggangnya, supaya dia cuma bisa
    mengeluar-masukkan kontolnya ke nonokku tanpa bisa mencabutnya.

    “Sin, aku udah mau ngecret”, akhirnya dia melenguh.

    Kakiku yang melingkar dipinggangnya kuturunkan, aku mengangkang selebar2nya karena aku yakin dia akan
    mengenjotkan kontolnya lebih cepat dan keras lagi. Dia dengan terengah2 terus mengenjot nonokku, sampai
    akhirnya

    “Sin, aku ngecret”. Terasa pejunya muncrat beberapa kali dalam nonokku, dan bersamaan dengan itu akupun
    nyampe lagi “aakh nikmat banget malem ini, kamu luar biasa sekali sehingga aku nyampe 3 kali baru kamu
    ngecret”.

    nonokku terasa berdenyut2 meremas2 kontolnya. Keringatku bercampur dengan keringatnya yang membanjir
    walaupun AC dalam kamar menyala.Setelah denyut jantung kembali normal, kami masuk kamar mandi dan
    membersihkan diri.

    “Kita istirahat saja ya Sin, besok baru pulang”.
    “iya, aku lemes banget nih, tapi besok sebelum check out aku dientot lagi ya”

    Ketika aku terbangun kembali, kulihat di sudah terbangun dan turun dari ranjang ke kamar mandi.

    “Sin, tidur aja lagi masih gelap diluar”. Aku melihat arloji, jam 5 lewat.Tetapi aku merasa lapar,
    mungkin karena semalam kerja keras dengan dia. Dia kembali dari kamar mandi.
    “aku laper nih”, kataku. Dia tersenyum “Semalem kerja keras ya Sin”,
    “Iyalah, kamunya sih gak puas2 ngentotnya”, jawabku.
    “Tapi suka kan”, katanya lagi.
    “Suka banget, enak kok gak suka”, jawabku.

    Dia menelpon room service pesan makan pagi. Tidak lama kemudian, pesanannya datang. Aku segera masuk ke
    kamar mandi dan dia dengan hanya balutan handuk menerima dan membayar pesanan makanan itu. Setelah itu,
    walaupun masih gelap segera makanan kusantap dengan lahap. Sehabis makan aku masuk kekamar mandi
    membersihkan diri. “Sin, ngapain bebersih, kan sebentar lagi keringatan lagi”, katanya dari ranjang.

    Ketika keluar dari kamar mandi, dia sudah berbaring di ranjang sambil mengelus2 kontolnya. Aku berbaring
    disebelahnya dan segera mengelus2 kontolnya juga. Dia membiarkan aku mengelus2 kontolnya, kuremas2 dan
    mulai kukocok2. Nggak lama kemudian kontolnya mulai mengeras. Dia mulai mencium bibirku dengan napsu,
    toketku pun diremas2nya dengan gemas. Perlahan dia mulai menciumi toketku, pentilku menjadi sasaran
    emutannya, aku mendesah2 keenakan.

    “Terus dong, enak”, erangku. Bibirnya terus menjelajah kebawah, ke nonokku.

    Pahaku dikangkangkannya, sehingga belahan nonokku menganga. Dia mulai menjilati nonokku yang sudah
    basah. Aku tambah melenguh2 ketika itilku menjadi sasaran jilatannya yang berikut.

    “enak banget, aku udah napsu nih. Dientot dong”, pintaku. Dia tidak memperdulikan eranganku, malah
    itilku diemutnya, sementara tangannya terus meremas2 toketku dan memlintir2 pentilku. Rangsangan yang
    aku terima pagi buta itu makin besar sehingga akhirnya aku tidak dapat menahan diriku lagi, “aku nyampe
    aah”. “Cepat banget Sin, belum dientot”, jawabnya. Aku terkulai lemas karena sudah nyampe, kontolnya
    segera kuremas2 lagi. Dia kembali mencium bibirku dengan ganas, aku menyambut ciumannya. Lidahku segera
    melilit lidahnya dan dia menghisap lidahku yang masuk kemulutnya. Toketku terus diremas2nya.

    “Sin, isep kontolku dong”, pintanya, segera saja aku merubah posisi dan mulai menjilati kontolnya yang
    sudah keras banget ngacengnya.

    Kepala kontolnya mulai kuemut dan tak lama kemudian kepalaku mulai mengangguk2, mengeluar masukkan
    kontolnya ke mulutku. Gilirannya yang melenguh,

    “Enak banget Sin”. nonokku yang berasa dekat mulutnya kembali menjadi sasaran, Lidahnya segera menyerbu
    masuk dan mulai menjilat itilku lagi. Napsuku dengan cepat berkobar kembali.

    Aku direbahkannya dan tubuhnya langsung menindihku sembari menciumi bibirku. kontolnya diarahkan hingga
    berada tepat di depan mulut nonokku, digosok-gosokkannya kontolnya di lipatan nonokku. Sensasinya sangat
    mengenakkan, aku memeluknya erat sekali sambil terus mengerang nikmat. nonokku semakin basah dan
    perlahan kontolnya yang besar mendesak masuk ke dalam nonokku. Aku mengangkat kedua kakinya hingga
    selakanganku lebih terbuka lebar sehingga kontolnya dengan leluasa menerobos masuk nonokku. Aku
    mengeluh,

    “Aduh.., enak banget deh”. Saat itu kontolnya telah masuk semua, dia diam sejenak dan kemudian dengan
    perlahan mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk, semakin lama semakin kencang hingga memasuki nonokku
    sampe mentok. Cerita Maya

    Dia terus mengenjotkan kontolnya dengan penuh napsu sambil melumat habis bibirku dan meremas toketku
    yang mengeras. Ciumannya mulai turun ke leherku, aku mendesah kenikmatan.

    “aku hampir..” aku makin mendesah nggak karuan.

    Dia tidak memperdulikan eranganku, kontolnya terus dienjotkan keluar masuk nonokku dengan keras dan
    cepat. Aku terus mendesah desah, sementara enjotan kontolnya makin cepat saja kdealam nonokku.

    “haku mau lagi.. Ahh..”, rintihku. “Aku juga Sin..”, balasnya.

    Enjotannya dipercepat dan akhirnya pejunya muncrat memenuhi nonokku. Bersamaan dengan itu, aku mengejang
    keenakan. Aku nyampe berbarengan dengan dia. nonokku terasa berdenyut2 meremas2 kontolnya.

    “Enak banget Sin”, erangnya.

    Aku dipeluknya sambil mencium keningku, kon tolnya masih tertanam di nonokku sampai mengecil dengan
    sendirinya. Dia akhirnya mencabut kontolnya. Ranjang telah sangat basah oleh cairan kami berdua. Lalu
    kami berdua kembali tidur sambil berpelukan beberapa lama. Ketika bangun, segera dia mengajakku
    membersihkan diri, berpakaian dan cek out.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Sepupu Ayahku

    Sepupu Ayahku


    90 views

    Cerita Maya I Aku Sintia. Suatu hari aku diajak papaku dateng ke pertemuan keluarga papaku. Yang dateng tentunya para
    om dan tante sodara2 papaku. Aku dateng ndirian karena seperti biasa suamiku masi menggeluti istri
    pertamanya, kerjaannya maksudku. aku kan jadi istri kebrapa, gak tau deh aku. waktunya habis untuk
    ngurusin bisnisnya.
    Memang sih dari segi materi aku berkecukupan, malah lebih dari cukup, tapi dari segi yang lain aku
    miskin banget karena suamiku sangat sangat workaholik, jarang dirumah, kalo toh ada dirumah bawa kerjaan
    setumpuk sehingga kalo dah diranjang biasanya dia dah letoy banget, tinggal tidur. Karena itulah dah
    setahun lebih nikah aku belum hamil juga, maklumlah jablay.

    Sepupu Ayahku

    Sepupu Ayahku

    Ya sudah aku nerima aja dia begitu, aku gak nuntut apa-apa, aku menekuni kerjaanku saja sebagai
    marketing. Karena gak ada beban ngurus keluarga, prestasiku sebagai marketing luar biasa, bos ku seneng
    banget ama prestasiku, gak da klien yang sulit bagiku, slalu bisa aku tembus. Ditambah lagi, kata temen2
    aku, aku ni cantik, walaupun kulitku gelap, tapi bodi imutku dihiasi tonjolan bemper depan dan belakang
    yang proporsional dengan ukuran tubuhku, sehingga pastilah lelaki akn memandangi aku dari ujung rambut
    sampe ujung kaki dan berhenti ditempat2 yang menonjol.

    Mungkin karena fisikku yang menarik, aku berhasil mendapatkan order dari para klien walaupun aku gak
    diajak ketempat tidur oleh para klienku. Memang si mereka selalu nyerempet-nyerempet kearah ranjang tapi
    aku slalu menghindar dengan halus, paling mereka aku ajak makan sebagai entertainnya sebagai imbalan
    atas order yang mreka berikan keaku.

    Selama ini para klien menghormati prinsipku tidak bertransaksi diranjang, walaupun aku tau mreka ngarep
    sekali bisa menggeluti aku diranjang. Kadang aku pengen juga si maen ma klien, palagi kalo ketemu yang
    ganteng, tapi aku tahan ja. Ketika sekolah dulu profesorku bilang kalo kita jualan sembari jual diri,
    maka reputasi kita sebagai marketer akan hancur, yang ada reputasi sebagai perek, bispak atawa bisyar
    yang ada. Cerita Maya

    kembali ke laptop, eh salah, ntar dituduh ngejiplak tukul ikan arwana lagi. Kembali ke pertemuan
    keluarga. aku dateng karena diajak papaku. Aku bete disana karena yang dateng golongan om dan tante,
    kalo toh ada anak yang dibawa, umurnya jauh dibawah aku, jadi aku gak da temen ngobrol. Sehabis makan,
    aku duduk ja diruang tamu keluarga yang bikin acara sembari ngantuk. Salah satu om yang dateng bule,
    kata papaku dia anak tantenya papaku yang nikah ma bule, Ganteng banget si, dia menghampiri aku dan
    duduk disebelahku.

    “Ngantuk ya Sin”.
    “Iya om, penyakit orang kaya”.
    “Kok?” dia gak ngerti maksudku.
    “Iya kalo abis makan slalu ngantuk”.
    “bisa aja kamu”, katanya sembari tertawa,
    “napa kok bisa gitu hayo”.
    “Gak tau om”. “karena abis makan darah mengalir ke perut emuanya untuk ikut menikmati makanan yang
    masuk, mata gak kebagian arah, makanya jadi merem melek” Ganti aku yang ketawa, bisa juga ni om bule
    becanda.

    Si om dateng ndirian, “tante gak ikut om”.
    “Gak dia mah sukanya dateng ke pertemuan keluarganya saja, kalo keluargaku dia gak mo ikutan”.
    “O gitu, ya udah Sintia nemeni om aja deh ya”.
    “Kamu kok dateng ndirian, misua kemana”.
    “Kerja, kerja en kerja”.
    “Kasian, jablay dong kamu”. gaul juga ni si om bule.
    “Iya om, kluar kota atawa kluar negri mulu, ngurus kerjaannya”.
    “napa kamu gak ikut”.
    “Kan Sintia kerja juga”.
    “aku yang blay kamu mau gak”, katanya sembari tertawa.
    “Bole juga tu om”, aku nimpalin sembarangan.
    “bener ni”.
    “Ya benerlah om”, sengaja aku nantangin si om.

    Dia terdiam melihat kebinalanku dalam bicara.

    “Gak enaklah ma papa kamu”. Kayanya dia serius banget menanggapin guyonanku.
    “Hihi Sintia bencanda ditanggepinnya serius”.
    “O becanda toh, kirain beneran mau aku blay”.
    “Mau juga si”.
    “Gimana si, becanda pa setius si”.
    “Ya sersan ja deh”. Paan tu”.
    “Serius tapi santai”. Kirain sodaranya kolonel”.
    “Maksud om?”
    “Iya kirain ada sersan yang punya sodara kolonel”.
    “Jauh amir beda tingkatannya?’.
    “Amir? sapa tu”.
    “iya gantinya si amat, kan amat lagi cuti”. Dia tertawa lagi, asik juga becanda ma si om bule.

    Ketika pertemuan keluarga selesai, selesai jugalah obrolanku ma si om bule, kami bertukar kartu nama,
    tapi aku gak pernah dikontak ma si om, ya aku juga gak ngontak2 dia.

    Sampai satu siang, aku menjamu klienku makan siang di satu hotel bintang 5. Selesai makan, aku
    mengantarkan klienku keluar cafe, aku amprokan ma si om bule.

    “Sin, ngapain kamu dimari”.
    “Om ngomongnya betawi amir si”.
    “Ketularan yang dirumah. Kamu ngapain dimari”.
    “Makan ma klien, om ngapain”.
    “Aku juga menjamu klien, trus klien kamu mana?’”
    “Dah pulang om”.
    “Kok bisanya kebetulan ya, klienku juga dah pulang, yuk kita ngobrol dimejaku”. Aku pindah duduk
    dimejaku setelah memberi tahu waitress nya supaya gak dikira ngabur sebelum bayar.
    “Abis ini kamu ada acara gak Sin”.
    “Napa, mo blay Sintia ya”. Kamu serius mo aku blay”. Aku cuma senyum, bikin dia penasaran.
    “Sintia kan ponakan om, kok mo di blay juga si”.
    “Ya gak apa kan, saling membagi”.
    “membagi paan om”. “kenikmatan”. Aku tertawa, dalah hati aku pengen juga ngrasain kont0l bule yang
    katanya extra large itu.

    memekku basah juga membayangkan kalo dimasukin kont0l gede gitu. Dia mesen kopi buat kami berdua,

    “Minum kopi kan, ato masi mo makan”.
    “Dah kenyang om, ngopi bole juga, ditemeni orang ganteng si”.
    “memangnya aku ganteng?”
    “banget, kaya bintang holiwud”. Dia seneng aku bilangin ganteng.
    “Kamu dah lama gak disentuh suami ya Sin”. Aku hanya ngangguk.
    “Trus disentuih ma klien”. Aku ngegeleng,
    “trus gak pengen”.
    “pengen si, cuma gak ma klienlah, masak bisnis dicampur ma sahwat”.
    “Ya udah ma aku ja yuk, kita ke apartment kantorku aja abis ini. Kamu bawa mobil gak”.
    “Gak om, Sintia naek taksi aja, biar gak ribet cari parkir segala, dibayar kantor ini”.
    “Ya udah kamu bayar ja bill kamu dulu”. Aku memanggil waitress dan minta bill nya.

    si om njelasin ke waitressnya bahwa kopi yang aku minum dimasukin ke bill nya. Sambil menunggu proses
    bayar bill, kita ngobrol santai ja,

    “tante ntar marah kalo kita saling berbagi om”.
    “Dia kan gak taulah, lagian ni kan apartment kantor”.
    “Mangnya om mau ya ma Sintia”.
    “Iya sejak ketemu kamu ketika itu aku suka ngebayangin kaya apa nikmatnya kalo bisa ngegelutin kamu,
    kamu imut, trus kulit kamu gelap lagi. lebih eksotis katimbang yang putih kulitnya”.

    “Ih ngelanjor ya”.
    “Ya gak apa kan, skarang kan gak usah nglamun lagi, bisa beneran, mau ya Sin”. Aku kalah juga didesek
    terus, lagian napsuku pelan2 naek ngebayangin kont0l si om ngedobrak memekku yang dah lama juga gak
    dimasukin kont0l, palagi yang mo masuk katanya extra large. Aku ngangguk aja.

    Selesai urusan bill aku dan dia, dia menggandeng aku menuju ke tempat parkir, trus mobilnya mluncur
    meninggalakn hotel menuju ke apartmentnya.

    “Om kok dapet apartment ya”.
    “Iya kantor nyediain, tapi tante gak mo tinggal dimari, sempit katanya”.
    “Padahal yang sempit yang nikmat ya om”.

    “Iya kamu punya pasti sempit banget ya Sin, jarang dipake”. Apartmennya memang gak besar. Ruang
    keluarga, ruang makan dan pantri kering jadi satu ruang, diatas pantri kering ada sederetan lemari
    tempat nyimpen prabotan makan, dibagian bawah pantri ada tempat lagi untuk nyimpen prabotan masak,
    kemudian disisi laen ada kamar tidur utama yang besar dan 2 kamar yang lebih kecil. Kemudian ada kamar
    mandi, wc dan ada space untuk meletakkan mesin cuci dan dryernya, sehingga gak usah menjemur pakean
    lagi. Memang prabotannya lengkap si, sofa, tv plasma besar, sound system, lemari es, microwave oven,
    blender, toaster dan kompor gas.

    “Padahal lengkap gini ya prabotannya om” Mubazir dong ya”.
    “Ya gimana, gak mau kan gak bisa dipaksa, lagian prabotan ini standard untuk semua apartment kantor”.
    Kamar tidur utamanya ada ranjang besar, meja rias, tv plasma tapi gak besar serta lemari pakean. Sedang
    kamar tidur yang kecilan cuma diisi ranjang single dan lemari pakean saja. Aku duduk ja di sofa,

    “penyakit orang kayanya nyerang lagi ni om”.
    “Ya udah boboan di kamar ja”. Aku langsung menuju ke kamar utama, bed cover gak aku lepas, dan aku
    berbaring diranjang dengan kakiku menjuntai kelantai.

    Si om ngidupin ac biar gak sumuk udaranya, maklum dah lama gak dinyalakan acnya.

    “Yang bersihin siapa om”.
    “Ada cleaning service, kadang seminggu kadang 2 minggu sekali seluruh apartment dibersihkan. Aku gak
    pernah tidur dimari, jadi ya seprei segala dah lama gak diganti, mo diganti dulu?”
    “Gak usah lah om”, kataku sambil memejamkan mata, aku beneran ngantuk.

    Kurasakan ranjang bergoyang, aku membuka mata, si om berbaring miring diseblahku. Reflex akupun duduk.

    “Kok duduk, rebahan ja nape”. Aku masi risi ja berbaring diranjang bareng si om bule.
    “Santai aja Sin, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal” bisiknya sambil meremas
    pundakku.

    Remasan dan terpaan nafasnya saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa
    tanganku meremas ujung rok. Si om menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak
    ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya. “Remas aja paha aku Sin daripada rok” bisiknya lagi.

    Aku merasakan pahanya dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.

    “Ngga usah malu Sin, santai aja” lanjutnya lagi.

    Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak
    beranjak dari pahanya. Merasa mendapat angin, si om melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di
    atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku
    merinding. tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul
    begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangannya yang semakin menjadi-jadi.

    “Sin, aku suka deh liat leher sama pundak kamu” bisiknya seraya mengecup pundakku.

    Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu. Dia terus aja
    mengecup, bahkan semakin naik keleher,

    “Om.. ahh” desahku tak tertahan lagi.
    “Enjoy aja Sin” bisiknya lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.
    “Ohh om” aku sudah tidak mampu lagi menahan rangsangan yang perlahan merayapi tubuhku.

    Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulutnya di leher dan telingaku. Merasa tidak puas
    disingkapnya rok miniku, tangannya sudah berada dipaha dalamku, diselipkannya tangannya kedalam CD-ku
    membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan memekku dan.. akhirnya menyentuh itilku.

    “Aaahh.. sshh.. eehh” desahku merasakan nikmatnya elusan-elusannya, jarinya merayap tak terkendali ke
    bibir memekku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar,
    manakala kenikmatan semakin membalut diriku.

    Melihat aku sudah pasrah dia semakin agresif. Tangan satunya semakin naik hingga akhirnya meremas
    toketku ditambah dengan kehangatan mulutnya dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.

    “Agghh.. om.. ohh.. sshh” desahanku bertambah keras.

    Si om menyingkap tang-top dan bra sehingga toket 34b-ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus
    sementara tangan satunya tetep meraba-raba memekku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak
    terkendali dengan serangannya, tubuhku bergelinjang keras.

    “Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahanku berganti menjadi erangan-erangan.

    Dia melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan diranjang.

    “Sin kamu merangsang sekali deh, kulitmu gelap, toketmu kenceng dan memekmu imut banget”. Si om melumat
    bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan
    menghisap dengan liarnya. Dari bibirku, bibirnya merayap turun kearah toketku, pentilku yang kemerah-
    merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

    Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang. aku mulai
    meremas punggungnya, kujambak rambutnya dan merengek-rengek memintanya untuk tidak berhenti
    melakukannya.

    “Aaahh.. om.. teruss.. sshh.. enakk sekalii”
    “Nikmatin Sin.. nanti bakal lebih lagi” bisiknya seraya kembali menjilat dalam-dalam telingaku.

    Kemudian jilatannya turun ke pentilku, diemutnya sebentar dan menurun lagi kaearah puserku, lubang
    puserku diciuminya sehingga aku menggelinjang kegelian, lidahnya dijulurkannya menjilati lubang userku.

    “Om, geliiii…” lenguhku.

    Kemudian dia mulai menjilat pahaku, lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di memekku,
    lidahnya bergerak-gerak liar di itilku. aku seperti tersihir menjadi hiperaktif, pinggul kuangkat-
    angkat, ingin si om melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya memekku dengan
    menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama
    kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang,.

    “Aaagghh.. om… oohh” jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam memekku. Tubuhku
    melemas.. lungai. Si om menyudahi ‘hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan,
    sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami.

    Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan
    nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah. Ahh.. bibir dan lidah si om mulai lagi, tapi
    kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata si om sudah polos dan bulu-bulu lebat di
    tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Tapi aku belum melihat sebrapa gede kontolnya. Mataku terpejam.
    Gairahku bangkit merasakan lidahnya menjalar di pentilku yang kemudian diemutnya dengan rakus, membuat
    tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku. Kemudian ia membuka
    kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

    “Aaahh.. om.. nngghh.. aaghh” rintihku tak tertahankan lagi. Dia kemudian mengganjal pinggulku dengan
    bantal sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dimemekku. Kali ini ujung
    lidahnya sampai masuk kedalam liang memekku, bergerak-gerak liar diantara memek dan anus, seluruh
    tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit
    merasakan kenikmatan yang tiada taranya.

    Dia kembali melahap pentilku,yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari
    dada kiriku tangannya melesat turun ke memekku, dielus-elusnya itil dan bibir memekku. Tubuhku langsung
    mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari nya.

    “Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desisku tak tertahan.
    “Teruss.. om.. aakkhh” Aku menjadi lebih menggila waktu dia mulai memainkan lagi lidahnya di memekku.

    Tubuhku setengah melonjor di pinggir ranjang dengan kaki menapak kelantai, dia berlutut dilantai dengan
    badan berada diantara kedua kakiku. Mulutnya mengulum-ngulum memekku, tak lama kemudian dia meletakan
    kedua kakiku dibahunya dan kembali menyantap ‘segitiga venus’ yang semakin terpampang dimukanya. Tak
    ayal lagi aku kembali berkelojotan diperlakukan seperti itu.

    “Ssshh.. sshh.. aahh” desisku. “Oohh.. om.. nikmat sekalii.. Gigit.. om.. pleasee.. gigitt… Auuwww..
    pelan om gigitnyaa” Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda diriku, satu tanganku mencengkram
    kepalanya. tanganku yang lainnya meremas-remas toketku sendiri serta memilin pentilnya.

    Baca Juga : Della

    Beberapa saat kemudian kita berganti posisi, aku yang berlutut di lantai, baru aku lihatnya kontolnya
    yang extra large itu, besar panjang berwarna putih dan sudah keras sekali. kujilat batangnya yang besar
    dan sudah keras membatu itu, si om mendesah-desah merasakan jilatanku.

    “Aaahh.. Sin.. jilat terus.. nngghh” desahnya.
    “Jilat kepalanya Sin” aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.

    lidahku berputar dikepala kontolnya membuat dia mendesis desis. “Ssshh.. nikmat sekali Sin.. isep
    sayangg.. isep” pintanya disela-sela desisannya. Dia memanggilku sayang, mesranya. kepala kontolnya
    pertama-tama kumasukan kedalam mulut, dia meringis.

    “Jangan pake gigi Sin.. isep aja” protesnya, mulutku penuh kemasukan palkon yang gede itu sehingga
    gigiku menyentuh palkonnya yang sensitif itu. kucoba lagi, kali ini dia mendesis nikmat.
    “Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Sin” sebagian kontolnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku.

    Aku mengulum kontolnya, kepalaku turun naik, sekali-kali kujilat palkonnya bagai menikmati es krim.
    Setiap gerakan kepalaku sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa baginya.

    “Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg” desahnya,
    “Ohh.. sayangg.. enakk sekalii”. aku memvariasikan emutan dengan kocokan kontolnya yang separuhnya
    berada dalam mulutku.

    Beberapa saat kemudian si om mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kontolnya,
    tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan
    kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat
    kontolnya seperti dikocok-kocok. Dia bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..

    “Aaagghh.. nikmatt.. Sin.. aku.. kkeelluaarr” jeritnya, pejunya menyembur-nyembur keras didalam mulutku
    membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.

    Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku.

    “Sorry Sin, ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget”. Dia mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa
    peju dari mulutku.

    Dia memelukku dengan lembut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kecupan dibibir berubah menjadi
    lumatan-lumatan yang semakin memanas, kami pun saling memagut, lidahnya menerobos mulutku meliuk-liuk
    bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan
    telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja
    meluncur keluar dari mulutku. Luar biasa staminya, baru aja ngecret dimulutku, kontolnya dah kembali
    mengeras. Tak lama kemudian dia merayap naik keatas tubuhku, dia membuka lebih lebar kedua kakiku, dan
    kemudian kurasakan ujung palkonnya menyentuh mulut memekku yang sudah basah oleh cairan cinta.

    “Ohh.. om.. ngga tahann.. masukin dong” pintaku. tanganku menggapai batang kontolnya, kuarahkan kemulut
    memekku dan kugesekkan pada itilku.
    “Aaagghh” lenguhku panjang merasakan kenikmatan gesekan palkonnya pada itilku.

    Si om juga dah gak nahan lagi, ditekannya pelan sehingga palkon gedenya mulai melesak kedalam memekku.

    “Aauugghh.. om.. pelann” jeritku lirih. Dia menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan palkonnya
    dalam kehangatan liang memekku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-
    majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak
    dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukannya.

    “Ooohh.. om.. sshh.. aahh.. enakk om” desahku lirih.

    Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut memekku.
    Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.

    “Enak.. Sin” tanyanya berbisik. “Banget om.. oohh enakk.. om.. sshh”
    “Nikmatin Sin.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi.
    “Ooohh.. om.. ngghh”. Dia terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung palkonnya -dengan
    ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba dia menekan kontolnya
    lebih dalam membelah memekku.
    “Auuhh.. sakitt om” jeritku, dia menghentikan tekanannya.
    “Kont0l om extra large si, mem3k Sintia kan baru skali ini kemasukan yang gede gini”.
    “Pertama sedikit sakit Sin. nanti juga hilang kok sakitnya” bisiknya seraya menjilat dan menghisap
    telingaku.

    Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya kontolnya
    yang besar-keras dan hangat didalam rongga memekku. Dia kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan
    seluruh batang kontolnya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kontolnya dirongga memekku menimbulkan
    sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku
    menggelepar-gelepar.

    “Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk om.. empphh” desahku tak tertahan. “Ohh..Sin.. enak banget mem3k kamu.. oohh”
    pujibya diantara lenguhannya.
    “Agghh.. terus om.. teruss” aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kontolnya di
    memekku.

    Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan
    kami. Menit demi menit kontolnya menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai
    akhirnya tubuhku tak lagi
    mampu menahan letupannya.

    “Om.. oohh.. tekan om.. agghh.. nikmat sekali om” jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.

    Tubuhku mengejang, kupeluk dia erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang
    membanjiri relung-relung memekku. Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama.

    Beberapa menit kemudian dia mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya
    yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam
    kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang
    berbeda. Entah berapa kali memekku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi dia sepertinya belum ingin
    berhenti menjarah tubuhku. aku secara reflex mulai menggerakan pinggulku kekiri kekanan, karuan saja dia
    mengeliat-geliat merasakan kontolnya diurut-urut oleh memekku. Sebaliknya, kontolnya yang menegang keras
    kurasakan seolah mengoyak-ngoyak dinding dan lorong memekku.

    Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut. Selagi posisiku di atas kedua tangannya memainkan
    toketku. Apalagi ketika tanganku mulai bermain-main diitilku ndiri membuatku menjadi tambah meradang.
    Kutengadahkan kepalaku, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan. Pinggulku semakin
    bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kontolnya mengaduk-aduk
    seluruh isi rongga memekku. “Aaargghh.. Sin.. enak banget.. terus Sin.. goyang terus” erangnya.
    Erangannya membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas toketku sendiri. Ohh aku sungguh
    menikmati semua ini.

    Si om yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Akupun merangkak dan dia menggesek-gesek bibir
    memekku dengan
    palkonnya dari belakang. Tubuhku bergetar hebat, saat kont0l besarnya dengan perlahan menyeruak
    menembus bibir memekku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kontolnya serasa membakar tubuh,
    birahiku kembali menggeliat keras.

    Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis batang kontolnya didalam memekku. Namun hujaman-
    hujaman kontolnya yang begitu bernafsu dalam posisi ‘doggy’ dapat membuatku kembali merintih-rintih.
    Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi dia bahkan
    memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dimemekku dan Ibu jarinya dilubang anus
    membuatku mengerang-erang. “Ssshh.. engghh.. yang keras om.. mmpphh,…Enak banget om.. aahh.. oohh”
    Mendengar eranganku dia tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam
    menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.

    Sedang asiknya menikmati, dia mencabut kontolnya dan Ibu jarinya.

    “Om.. kenapa dicabutt” protesku.
    “Masukin lagi om.. pleasee” pintaku menghiba.

    Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludahnya berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak.
    Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya.

    Saat dia mulai menggosok palkonnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.

    “om.. pleasee.. jangan disitu” aku menghiba meminta dia jangan melakukannya.

    Dia tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu.
    Dibantu dengan sodokan jarinya dimemekku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan palkonnya sudah
    menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kontolnya membelah anusku dan
    tenggelam habis didalamnya.

    “Aduhh sakitt om.. akhh..!” keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikannya.
    “Rileks Sin.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya” bujuknya seraya mencium punggung dan satu
    tangannya lagi mengelus-elus itilku.

    Separuh tubuhku yang tengkurap sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengram dan
    mengigit bantal untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai
    menyukai kont0l kerasnya yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar
    disekujur tubuhku. Cerita Maya

    “Aaahh.. aauuhh.. oohh om” erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan kontolnya yang besar itu.

    Dia dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras dia menghujamkan kontolnya semakin aku
    terbuai dalam kenikmatan.

    Akhirnya dia mencabut kontolnya dari anusku dan merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala
    beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan
    bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kontolnya kembali kedalam memekku.

    Dia memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, dan melengkapinya dengan menghisap pentilku
    satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur
    tubuhku. Hantaman-hantamannya yang semakin buas sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya
    kurasakan sesuatu didalam memekku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.

    “Aaagghh.. ouuhh.. om.. tekaann” jerit dan erangku tak karuan. Dan tak berapa lama kemudian tubuhku
    serasa melayang, kucengram pinggulnya kuat-kuat, kutarik agar kontolnya menghujam keras dimemekku,
    seketika semuanya menjadi gelap pekat.
    “Aduuhh.. om.. nikmat sekalii” “Aaarrghh.. Sin.. enakk bangeett” Dia menekan dalam-dalam kontolnya,
    cairan hangat menyembur dimemekku.

    Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan
    hentakan-hentakan dimemekku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.

    “Sin, nikmat banget deh ngentotin kamu, mem3k kamu peret banget deh, kedutannya berasa banget”.
    “Sintia juga nikmat banget om dimasukin kont0l om yang super gede, penuh deh mem3k Sintia jadinya. Kalo
    om amblesin smuanya rasanya sampe ke perut deh, kapan om ngasi Sintia kenikmatan kaya gini lagi”. “Bisa
    diatur kok Sin”.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Della

    Della


    88 views

    Cerita Maya I Perkenalanku dengan Della terjadi pada sekitar tahun 1998. Della saat itu berusia 29 tahun, telah
    bersuami dengan 2 orang anak, tinggi 160 cm, 47 kg, bodi sangat sintal dan dada berukuran 36B. Sebagai
    seorang wanita keraton berdarah biru, Della adalah wanita yang lugu dalam hubungan sex namun dia adalah
    seorang wanita tipe penggoda dan berani dalam berpakaian.
    Tidak jarang dia ke kantor dengan menggunakan rok sangat mini hingga memperlihatkan bentuk kakinya yang
    indah dan jarang mengenakan BH. Hal ini aku ketahui dari ceritanya sendiri. Pada awalnya kami bersahabat
    akrab tanpa orientasi berhubungan sex. Dia punya seorang pacar selain suaminya. Sering kami membicarakan
    teknik-teknik bagaimana dia melakukan hubungan sex dengan sang pacar yang aku nilai masih konvensional.

    Della

    Della

    Beberapa kali kami pergi ke cafe-cafe sepulang kantor (kantor kami berlainan) sekedar melepas penat dan
    menunggu macet. Setiap kali mengunjungi cafe, mata para lelaki pada umumnya menoleh dan tidak sedikit
    yang berusaha untuk berkenalan. Beberapa di antaranya akhirnya memang dapat berkenalan. Aku tidak pernah
    melarang atau marah akan hal itu, malah aku bangga bahwa ternyata aku tidak salah memilih teman wanita
    untuk diajak jalan bersama.

    Kami mulai sering pergi ke diskotek sampai pulang pagi, kadang aku jemput dia ke rumahnya, dengan ijin
    sang suami tentunya. Pernah kami pergi bertiga pergi ke diskotek dengan suaminya, lalu Della dengan
    entengnya mencari seorang wanita di diskotek dan menyuruh wanita itu menemani suaminya, sedangkan Della
    berdua dengan aku di pojok lain diskotek itu.

    Pada pertengahan Agustus 99, hari Jumat siang aku telepon dia..

    “Del.., ntar malam kita jalan yuk..” ajakku.
    “Siapa takut, jemput di rumah ya.. Jam 10..” katanya.
    “H.. (suaminya) gimana.. Apa kita ajak saja..?” tanyaku.
    “Gak usah.. Biar kita bebas di sana..” katanya.
    “Eh.. Boleh order nggak?”
    “Apa?”
    “Lu pakai celana panjang ketat loreng itu ya, terus atasnya kemeja satin longgar dan hmm.. Jangan pakai
    BH ya..”
    “pakai celana dalam nggak nih.. He he he..” ujarnya
    “Terserah.. Kalau berani..”
    “Wah banyak orderannya ya.. OK dah.. See you at 10 tonight.. Bye..” langsung telepon ditutupnya.

    Malamnya Della telah siap. Dia tampak cantik dan sexy sekali dengan kemeja satin tipis tanpa lengan
    warna merah dengan bagian bawah diikat di perutnya hingga terlihat putingnya tercetak jelas di dadanya
    menonjol kencang, siapa pun yang melihat, pasti tahu bahwa dia tidak pakai BH apalagi dengan 2 kancing
    atasnya dibiarkan terbuka.
    Surprise, ternyata dia pakai rok sangat mini potongan pinggul, hanya 10 cm dari selangkangannya dengan
    bahan sutra berkibar-kibar karena bawahan yang lebar hingga samar-samar terlihat bulatan pantatnya yang
    polos tanpa garis CD.

    “Lu pakai CD nggak?” tanya Della padaku di perjalanan.
    “Ya pakai dong, kalo nggak kan nanti keliatan menggantung” ujarku.
    “Gak akan nggantung kalo ngaceng keras kan? Itu pun kalo bisa ngaceng lho, ha ha ha..” kata Della sambil
    mengusap penisku dari luar celana. Serr, terasa ada yang bergejolak di bagian bawah perutku.

    Untuk pertama kalinya dia meraba penisku selama persahabatan kami hampir 1 tahun.

    “Emangnya lu sanggup bikin gua ngaceng terus di sana..?” aku balik bertanya.
    “Heh.. Liat aja nanti, kalau aku nggak bisa, ntar aku minta bantuan cewe lain..” katanya enteng.
    “OK, kalau perlu gua buka nanti” ujarku perlahan.

    Selama ini memang aku belum pernah menunjukkan keinginan atau mengajak dia untuk berhubungan sex
    walaupun sering aku terangsang bila mendengar cerita-cerita dia atau pada saat saat kami pergi bersama
    dengan pakaiannya yang sexy dan agak terbuka.
    Setiba di tujuan sekitar pukul 22.30, tempat parkir yang biasa aku tempati di depan pintu utama belum
    penuh. Petugas valet langgananku seperti biasa sudah menunggu, tapi Della minta agar kami parkir sendiri
    saja sehingga aku terpaksa kembali memutar dan mengambil tempat di samping gedung, lajur parkir ketiga
    dari pintu masuk samping. Cerita Maya

    “Lho kok nggak berani?” celetuk Della.
    “Apanya nggak berani?” tanyaku heran.
    “Berani nggak lepas CD-nya, makanya gua minta lu parkir sendiri” tantangnya.

    Akhirnya aku lepas celana panjangku agar bisa melepas CD. Saat CD-ku terlepas, tangan kanan Della dengan
    cepat menggenggam penisku sebentar. Kembali serr.. terasa ada aliran darah menuju penisku yang
    membuatnya sedikit membesar. Tapi genggamannya yang tidak lebih dari 1 detik, membuat penisku surut
    kembali tanpa aku bisa bereaksi apapun.

    “Kok nggak sesuai dengan iklannya, katanya besar?” dia tersenyum.
    “Pegangnya jangan cuma sedetik dong, agak lama dikit..”, aku protes.
    “Ya udah, nanti di dalam kita bikin sensasi ya..”, aku belum bisa membayangkan, apa yang akan diperbuat
    Della di dalam nanti.

    Kami masuk lewat pintu samping menuju tangga dimana banyak para tamu yang sedang duduk di luar tempat
    karaoke di bawah diskotek yang kami tuju. Mulai dari pintu masuk terasa sekali bahwa semuanya baik
    lelaki maupun wanita yang kebanyakan pramuria matanya mendelik melihat Della, apalagi saat berada di
    tangga. Aku yakin bahwa bulatan pantat Della terlihat jelas sekali dari bawah. Keadaan tersebut tidak
    kami pedulikan bahkan dengan bangganya aku berjalan dan Della menggandeng lenganku sampai terasa buah
    dadanya tertekan di lengan kananku.

    Sesampai di dalam, kami mengambil tempat yang biasa kami tempati yaitu meja bundar tinggi di bagian
    depan kanan dekat dance floor. Ternyata beberapa teman kami telah berada di sana, 7 lelaki dan 5 wanita
    sehingga total ada 14 orang dengan mengambil 4 meja yang dibuat agak melingkar sehingga ada ruang di
    tengah tengah keempat meja tersebut
    Pada saat menghampiri mereka, para lelaki yang memang telah kenal dengan Della, berteriak sambil
    memandang tanpa berkedip..

    “Wah wah wah.. Gilee.. Ada angin apa nih si Della sampai mini begini pakaiannya, nanti striptease aja,
    berani nggak?” ujar Dino sambil bergurau.
    “Gilaa lu ya, striptease jangan di tempat umum gini dong, kalau setengah striptease boleh boleh aja
    nanti, kalau udah tipsy ya, tapi gua nggak tanggung kalo lu pada horny ya..” katanya sambil
    memperlihatkan mimik yang menggemaskan.
    “Del, mau bikin sensasi apa lagi nih..” Vivi dan Ratih terbengong bengong.
    “Bukan mau bikin sensasi, abis ada pesanan khusus untuk malam ini, gua nggak boleh pakai BH, jadi
    sekalian aja dah gua nggak pakai CD..”
    “Haahh..” tangan Vivi secara spontan meraba pantat Della, demikian pula tanganku yang berdiri di
    sampingnya.

    Ternyata dia pakai G-String tipis sehingga memang bulatan pantatnya sangat terbuka.
    Akhirnya kami larut dalam irama musik disco yang menggelegar, 2 botol XO dan 2 botol Chivas kami
    tenggak, beberapa sloki XO murni telah masuk ke perutku dan Della terlihat semakin berani meliuk-liukkan
    tubuhnya dengan gaya yang sangat merangsang, kadang berdansa bersamaku, kadang dengan Vivi ataupun
    dengan Dino dan yang lainnya.

    Semakin dia bergoyang, semakin terlihat jelas bentuk buah dadanya pun bergoyang, bahkan kadang sampai
    putingnya dapat terlihat jelas dari arah samping karena dengan kedua kancing yang terbuka, otomatis
    kancing ketiga berada di bawah buah dadanya.

    Pada saat kami berdansa, terasa bagian perut ataupun pantat Della selalu menekan dan menggesek gesek
    penisku hingga mengakibatkan ereksi, tapi dengan acuhnya dia tidak berkomentar, kadang sengaja aku tarik
    tangannya agar memegangnya, tapi dia menepiskan tanganku. Huh, aku semakin penasaran jadinya. Tanpa CD,
    dengan bahan celana lemas yang aku pakai, jelas terlihat bahwa penisku sudah berdiri tegak hingga dapat
    tertangkap oleh sudut mataku bahwa Vivi, Ratih dan lainnya kadang kadang melirik ke bawahku.

    Jam sudah menunjukkan pukul 23:30. kulihat Della sudah typsy sekali. Aku tarik dia. Sambil duduk aku
    peluk pinggangnya.

    “Del, kamu diam saja ya, gua mau kamu lebih sexy lagi, biar meja-meja sebelah makin melotot melihat
    kamu” bisikku sambil kujilat belakang daun telinganya. Dia menggelinjang sambil makin mempererat
    pelukannya ke tubuhku.
    “Whatever you want honey” bisiknya juga sambil menggigit ringan leherku.

    Aku dorong dia sedikit ke belakang, lalu aku buka seluruh kancing kemejanya dari atas sampai bawah
    sambil sekilas kuraba buah dadanya dari balik kemejanya dan aku ikat ujungnya di perut Della agak ke
    atas sampai sedikit di bawah buah dadanya, sehingga sebagian pinggir buah dada Della semakin terlihat
    jelas dari pinggir, apalagi dengan kemeja yang longgar, kadang kadang dengan goyangan yang meliuk-liuk,
    putingnya sampai terlihat keluar.

    Pada saat aku mengerjakan hal itu, tangan Della meremas-remas penisku dari luar celana hingga penisku
    semakin ereksi keras dan tegak, lalu dia kembali berbisik..

    “Ternyata promosinya nggak salah ya..” lirihnya di telingaku.

    Dibukanya ritsletingku dan digenggamnya penisku. Tangannya tidak muat untuk melingkari batang penisku.
    Diusapnya lubang penisku, aku sampai merinding keenakan, kepalanya ditundukkan dan dijilatnya kepala
    penisku sebentar, lalu ditutupnya kembali ritsletingku. Mataku menangkap Vivi dan Ratih melihat apa yang
    Della lakukan.
    Della terlihat sexy sekali dengan pakaian tersebut. Berdua dengan Vivi mereka turun ke dance floor
    hingga terlihat banyak sekali lelaki yang mengerubutinya. Dengan genitnya Della dan Vivi menggoda semua
    lelaki, tapi setelah 3 lagu Della kembali.

    “Vivi tadi bertanya, enak nggak ngewe sama lu” kata-kata vulgarnya mulai keluar, tapi justru manambah
    gairah bagi kami berdua.
    “Lu jawab apa” aku balik bertanya.
    “Gua bilang, belum pernah, jadi belum tau rasanya” dia terheran-heran.
    “Dia bilang, Jadi ngapain aja kalian selama ini” kata Della.
    “Gua cerita bahwa kita sering diskusi tentang ngewe, banyak teknik teknik yang lu ajarkan, tapi gua
    belum mempraktekannya, lantaran suami dan pacar gua yang konvensional” kata dia di pelukanku sambil
    kadang-kadang berciuman bibir.

    Aku hanya tertawa mendengarnya sambil meremas-remas pantatnya dan sesekali kumasukkan telunjukku ke
    belahan pantatnya untuk mencari anusnya.

    “Vivi bilang gua musti cepet cepet menguji kamu secara praktek, jangan hanya teori saja, kalau gua nggak
    mau, Vivi siap buat menguji. Dia tadi sudah liat penis lu, dia bilang punya Dino nggak ada apa apanya,
    ukuran sih OK, tapi ilmu belum tau” katanya.

    “Bilang aja ke Vivi, mendingan jangan berani coba gua, soalnya kalau sampai ketagihan celaka, kasihan si
    Dino, temen gue juga tuh” dengan PD-nya aku menantang.

    Della menarik tangan Vivi sehingga kami bertiga mengobrol dan Della menyampaikan pesanku pada Vivi..

    “Vi.. Dia OK, tapi kalau sampai lu yang minta nambah, lu musti mau jadi sex partner dia tiap saat” Wah,
    Della ngarang nih, pikirku.

    Tapi aku hanya tersenyum sambil terus bergoyang mengikuti irama lagu.

    “Kita liat aja, siapa yang minta nambah” protes Vivi.
    “Gue juga belum tau sih ilmu dia, selama ini kan cuma omong doang” sergah Della.

    Aku tarik Vivi, punggungnya menyandar di badanku dan pantatnya menekan penisku, kulingkarkan tanganku di
    perutnya sambil kutepuk bahu Della, mataku mengerling ke arah Dino, Della mengerti maksudku.

    “Vi.. Kamu di sini aja ya, gua pengen tau Dino bisa ngaceng nggak” kata Della sambil menghampiri Dino.
    Aku dan Vivi menonton aksi Della meliukkan pinggulnya di hadapan Dino semakin lama semakin rapat sampai
    akhirnya penis Dino terkena goyangan bagian bawah perut Della.

    Baca Juga : Bikin Ketagihan

    Rupanya Vivi terkena gairah atau karena tidak mau kalah karena cowoknya dirangsang sedemikian rupa oleh
    Della, atau mungkin juga karena tersengat listrik dari buah dadanya karena tangan kananku sudah naik
    dari perut dan meremas dada kirinya walau masih terhalang BH tipis. Kalah kenyal dibanding milik Della,
    tapi lebih besar, kuperkirakan 36C. Tangan Vivi merayap ke belakang lalu meremas-remas penisku dari luar
    celanaku.

    “Haah.. Gila lu ya, nggak pakai CD..”?, tanyanya kebingungan.
    “Della yang minta..” jawabku.
    “Lu berdua emang pada gila ya..” bisiknya sambil menolehkan mukanya ke belakang.

    Kesempatan itu aku gunakan untuk menangkap bibirnya lalu kami berciuman. Kumasukkan lidahku ke mulutnya
    mencari lidahnya sambil menghisap bibir atasnya. Sementara terasa putingnya bertambah keras pertanda dia
    telah terangsang. Sementara Della berciuman dengan Dino sambil tangan kanannya meremas-remas penis Dino.
    Akhirnya Vivi berbalik dan kembali kami berciuman dengan bergairah dan aku balas dengan meremas buah
    dadanya.

    “Vir, kata Della lu jago ya..” bisiknya di telingaku
    “Dia cerita apa?” tanyaku.
    “Della bilang, lu punya variasi dan teknik sexual yang tinggi, lidah kamu juga maut, mulanya dia tidak
    berminat, tapi sekali coba dia ketagihan, sekarang cowoknya mau ditinggalin tuh” ujarnya. Wah, aku jadi
    bingung mana yang benar nih..
    “Terus terang gua belum pernah main dengan dia, mungkin dia cuma promosi” kembali aku berbisik sambil
    berusaha merangsang leher dan telinga dia.
    “Ternyata dia benar, gua cuma mancing kok, nanti kalau Della sudah nyoba lu, giliran kedua dengan aku
    ya”.
    “Tanya dia dulu, boleh nggak?” ujarku sambil tertawa.
    “Della sudah OK, dia bilang kalau perlu sama sama”

    Della kembali bersama kami, terlihat Dino sibuk membetulkan letak penisnya karena berdiri jadi harus
    tegak ke atas arahnya. Melihat Vivi sedang meremas penisku, Della tidak mau kalah, lalu kedua tangan
    mereka secara bersama-sama memegang dan meremas penisku. Dengan posisi mereka di kanan kiriku, tidak ada
    yang melihat apa yang dilakukan tangan mereka. Della membuka resletingku dan mengeluarkan penisku,
    diambilnya tangan Vivi lalu digenggamkannya ke penisku. Vivi terkejut ketika menggenggam penisku tanpa
    bisa berkomentar.

    “Vi.., katanya mau ngisep?” kata Della.
    “Ngak dulu ah, nanti aja kapan-kapan” ujar Vivi.
    “Berani nggak lu lawan kita berdua?” tanya Della kepadaku. Aku sampai menggeleng gelengkan kepala. Sejak
    kapan Della menjadi liar begini. Aku hanya berkata..
    “Someday OK, but not now”

    Akhirnya aku dan Della pulang sekitar jam 2 pagi. Sesampai di mobil, dengan buas Della membuka celanaku,
    penisku diremas-remasnya, saat memasuki tol, kepalanya mulai hilang dari pandangan belakang, lidahnya
    sibuk menjilat, mengulum dan mengocok penisku dengan mulutnya. Terasa terkadang masih kena gigi dan cara
    kulumannya menyisakan ruang udara di mulutnya yang mengurangi kenikmatan bagi lelaki yang merasakannya.

    Aku ambil tangannya, aku hisap jari telunjuk dan jari tengahnya dengan cara tanpa menyisakan udara di
    mulutku. Ternyata Della langsung mengerti maksudku karena segera saja dia mengubah cara menghisap
    penisku.

    “Ngajarinnya teori melulu sih, nggak pakai praktek jadi masih bego, praktek dong.., hayo sekarang..
    Murid kan musti ujian praktek.. Dino juga tadi gila, tangannya masuk ke vagina gue..” rengeknya.

    Aku mengarahkan mobil ke apartemenku di kawasan S, aku memang mempunyai sebuah apartemen khusus untuk
    berkumpul bersama kawan-kawan dan sebagai tempat untuk petualangan sex-ku ini. Sesampai di apartemenku,
    Della dengan tidak sabar langsung memeluk dan mendorongku ke dinding sambil membuka kancing baju serta
    celanaku. Seketika aku telanjang bulat. Sedangkan Della yang sejak di mobil sudah melemparkan seluruh
    pakaiannya hingga tinggal mengenakan G-String, langsung masuk lift dari basement tempat parkir.

    Untung saja aku dapat tempat parkir persis di sebelah lift.
    Setelah kami masing-masing minum setengah gelas red wine, didorongnya tubuhku ke sofa, lalu dia
    berjongkok sambil menarik kakiku. Lidahnya menjalar di telapak kaki, seluruh jari-jariku dikulum dan
    dihisapnya hingga rasa gelinya tidak tertahankan, lalu naik ke betis, lutut dan bagian dalam pahaku.

    “Dell.. Ooh, enak Del.., ternyata lu jago ya” aku mengerang.
    “Baru segitu!!, Nikmati aja jangan kasih komentar dulu, ini belum apa apa..” katanya.

    Sesampai di selangkangan, dijilatnya buah pelirku dengan sangat bernafsu sampai aku merintih keenakan,
    lalu dia naik menuju perut. Dihisapnya putingku kanan kiri, diangkatnya tanganku sambil dijilat dan
    dihisapnya ketiakku, penisku hanya dipegang saja. Aku berteriak sejadi-jadinya karena memang di situlah
    titik kelemahanku. Lalu kami berciuman, bersilat lidah, berlomba saling memasukkan dan menghisap lidah
    kami pada mulut pasangan masing-masing.

    Kemudian tubuhku dibalikkan sehingga aku berada dalam posisi tengkurap dan dia naik menindih badanku
    dari belakang, dijilatnya mulai dari leher, lalu ke seluruh punggung dari ujung ke ujung dengan hawa
    nafsu birahi yang sudah sampai ubun-ubun, tak ada satu inchi pun yang terlewat dari lidahnya. Sampai di
    pantatku, lidahnya bermain main di ujung atas belahan pantatku sambil terkadang dihisapnya daerah itu
    hingga terasa nikmat yang amat sangat di daerah itu.
    Lalu lidahnya ditarik ke bawah menyusuri belahan bulatan pantatku dan tiba di selangkanganku. Aku
    berdebar penasaran menanti Della melanjutkan permainan lidahnya menuju puncaknya yaitu penisku. Tapi dia
    tidak melakukannya, malah

    lidahnya kembali menelusuri paha sampai kembali ke ujung telapak kakiku.

    Kali ini permainan mulut dan lidahnya di jari-jari kakiku lebih luar biasa dari yang tadi, masing-masing
    jari terutama jari manis dan jari tengah kakiku dipelintir di dalam mulutnya sambil kepalanya diputar ke
    kiri dan kanan.
    Kulihat jam, 30 menit sudah penisku berdiri tegak sempurna, sangat keras sampai pegal dan tergencet
    pada sofa, Della menyiksaku sedemikian rupa hingga ingin rasanya aku kocok sendiri penisku, tapi setiap
    kali aku angkat pantat dan memegang penisku, tanganku selalu ditepis oleh Della, dia mengatakan bahwa
    penisku akan digilirnya nanti.
    Akhirnya dia kembali naik menyusuri betis dan pahaku. Diangkatnya pantatku lalu diambilnya 2 buah
    bantal sofa dan disisipkannya di bawah pinggulku sehingga aku berada dalam posisi menungging, digigitnya
    bukit pantatku lalu dibukanya belahan pantatku dengan kedua ibu jarinya.

    Terasa ada daging hangat menempel di bibir lubang anusku dan berbeda dengan tadi, kali ini Della dengan
    perlahannya memutar-mutarkan ujung lidahnya di sekeliling bibir anusku. Rasanya luar biasa, penisku
    sudah sedemikian kerasnya sampai sampai hampir meledak rasanya.

    “Aaggh.. Oohh.. Del.. Enak amat..”

    Della semakin bernafsu mendengar teriakanku dan rupanya masih belum selesai juga. Della dengan perlahan
    pula melesakkan ujung lidahnya yang keras ke dalam lubang anusku hingga mungkin ada kira kira 2 cm masuk
    ke dalam, lalu lidahnya diputar-putar di dalam anusku. Aku sampai menggeliat-geliatkan pantatku, tapi
    Della dengan sigapnya menahan pantatku agar lidahnya tidak terlepas dari lubang anusku.

    Setelah kira kira 2 menit, lalu dengan tiba-tiba, dia keluarkan lidahnya dan langsung menghisap lubang
    anusku sekeras kerasnya. Seketika itu pula aku berteriak. Kejang badanku seketika, rasanya aku hampir
    orgasme saat itu. Cara itu diulanginya lagi beberapa kali sampai aku berkata..

    “Udah Del.. Gua nggak tahan nih..”

    Tubuhku kembali dibaliknya dan dia langsung menjilat kepala penisku, lidahnya bermain di belahan kepala
    penisku, disapunya seluruh permukaan kepala penisku lalu perlahan dimasukkannya penisku ke dalam
    mulutnya hingga terlihat Della berusaha keras untuk membuka mulutnya yang mungil agar penisku bisa masuk
    seluruhnya. Mula-mula sedikit, dikeluarkannya, lalu dimasukkan lagi semakin lama semakin dalam sampai
    terasa di ujung tenggorokannya, kadang dia agak tersedak, tapi belum masuk semuanya. Dengan kocokan
    mulutnya yang maju mundur dan kepala yang berputar putar semakin cepat, akhirnya..

    “Del.. Gua mau keluar nih..” Kocokannya makin dipercepat. Akhirnya spermaku keluar di dalam mulutnya.
    “Jangan ditelan semuanya!” kataku.

    Kutarik kepalanya lalu kucium bibirnya, kusedot spermaku yang ada di mulutnya, lalu lidah kami bermain-
    main dengan spermaku cukup lama sampai bibir dan muka kami berdua belepotan sperma.
    Jam menunjukkan pukul 3:30 pagi. Nafasku memburu berbaring keenakan sambil Della kembali mengulum
    penisku yang mulai mengecil. Cerita Maya

    “Aah, Del.. Ngilu nih..” teriakku.
    “Gila nih kontol, kok ada ya yang kaya gini..” katanya sambil terus menjilati kepala penisku.
    “Sini dong memek lu, gua mau jilatin..” pintaku.
    “Hari ini gua bermaksud untuk ujian doang, nggak ada maksud buat ngewe, jadi gua mau minta hasil
    ujiannya sekarang, lulus nggak gua..” ujarnya sambil digigitnya penisku ringan.
    “Curang lu, emang lu pikir gua bisa cukup puas cuma gua doang yang keluar” aku protes.
    “Itu hukuman buat yang punya kontol kaya lu, lagian gua masih ragu, bisa nggak kontol lu masuk ke memek
    gua, soalnya punya laki sama cowok gua masih di bawah ukuran standar, lagian gua takut minta nambah he
    he he he.., ntar kalau gua minta nambah, lu nggak sempet sama Vivi lho..” ujarnya.
    “Kan mau sama-sama, kata Vivi..”
    “Sapa takut, sama gua aja lu udah kelojotan, apa lagi ditambah sama Vivi..”
    “Ratih juga mau tuh..” kataku sekenanya.
    “Emangnya dia juga tadi liat kontol lu waktu gua isep sebentar..”
    “Undang Dino juga nggak..?” tanyaku.
    “Kontolnya kecil, makanya Vivi lagi cari yang gede..” ujarnya.
    “Neh.., tapi belum tau goyangan memek lu ya, belum bisa kasih nilai..” kataku seakan menantang.”Kapan-
    kapan ujian lagi ya, soalnya gua juga penasaran sama kontol lu, musti sering praktek supaya bisa masuk
    ke mulut gua semuanya..” ujarnya.
    “Emangnya kontol gua mau dibuat latihan.. Yuk, pulang..” kataku.

    tar gua cariin yang lebih gede dari gua punya deh..”

    “Botol bir aja sekalian. Udahan, pulang yuk.., jadi gimana nilai gue..?” tanyanya.
    “Summa Cum Laude, buat mulut sama lidah lu kalau kaya tadi, nggak bakalan gampang cari gantinya d
    “Kalo dengar cerita lu, nggak nyangka lu hebat gitu kaya tadi.. Atau memang permainan lu kaya tadi?”
    tanyaku heran.
    “Itu kan yang lu ajarin sama gua, tadi itu pertama kalinya gue kaya gitu, memang gua pengen naklukin
    lu.. Jadi usaha keras.. Cowok gua nggak mau gua jilat anusnya, kontolnya kecil, udah masuk semua ke
    mulut gua, masih belum terlalu penuh”

    Lalu kami turun dari apartemen, Della mengenakan kaus oblongku. Rasa kecewa masih menyelimuti perasaanku
    karena baru kali ini aku tidak ‘bekerja’ sama sekali hingga kepuasan diriku berkurang. Sesampai di mobil
    baru dia mengenakan pakaiannya. Sepanjang perjalanan ke rumahnya di kawasan BGV, penisku tak pernah
    lepas dari tangannya sambil sesekali kepalanya menunduk untuk kembali menjilati kepada penisku.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Bikin Ketagihan

    Bikin Ketagihan


    97 views

    Cerita Maya I Cerita ini berawal ketika ane di mutasi perusahaan ke daerah Bogor karena kinerja ane di tempat asal kurang bagus..ane sempet putus asa dan yang lebih sedih ane harus pisah ma bokin yang ane sayangi..
    Tapi karena kebutuhan akhirnya ane ambil juga itu keputusan untuk mutasi.

    Bikin Ketagihan

    Bikin Ketagihan

    Sampai di Bogor ane dapet fasilitas kontrak rumah dari perusahaan,dan ane dapet di daerah pinggiran kota,lumayan lah type 36,ada 2 kamar dan perabotan udah ada di sana.

    Setelah 1 bulan berlalu ane kwalahan ngurusi itu rumah,maklum ane berangkat pagi,pulang malam,minggu pulang ke Bandung ketemu bokin ya jadinya itu rumah acak-acakan dan kotor banget.

    Ane ngerasa ga nyaman,dan ane mutusin untuk nyari orang buat ngurusi rumah.

    Ane sempatkan datangi salah satu yayasan penyalur di kota Bogor,ane pilih 1 orang yang ane pikir bisa kerja,orangnya biasa aja,masih muda,umur 20 tahun,aslinya dari daerah di Jawa Tengah,dan satu yang bikin ane pilih dia, dia kelihatan cekatan saat ane melihat cara praktek di beberapa orang yang di tawarkan.

    Sebenarnya kalau ane emang niat macem-macem,ane bisa aja pilih yang genit, karena ada beberapa orang yang matanya tuh menunjukan kalo “pilih gw aja” dan sedikit centil.

    lanjut..

    Ane minta Susi (sebut aja begitu) diantar ke rumah hari sabtu,karena ane pikir hari minggu ane akan pergi dan ane minta Susi untuk bersihin rumah.

    Hari sabtu malam orang yayasan datang mengantar Susi,dan ane lunasi biaya administrasi,lalu jadilah Susi bekerja di rumah ane.

    Hari minggu ane tinggal dia di rumah, untuk bersih-bersih dan cuci baju ane yang udah menggunung.

    Hari senin pagi ane datang ke rumah,ane seneng banget rumah udah bersih,rumput-rumput di bersihin depan rumah. Baju ane pun udah pada wangi disetrika ma doi.

    Karena ane puas,ane kasih doi uang jajan 50 ribu, dia seneng banget, ane bilang itu diluar gaji dan uang makan. Ane kasih dia uang makan karena ane ga pernah makan di rumah,jadi di rumah gak pernah masak.

    Hari-hari berlalu, ane emang tidak pernah memandang status orang dari pekerjaannya, walaupun Susi adalah pembantu, tapi dia sering cerita tentang pribadi, tentang orang tua di kampung dll.

    Dari situ ane tau bahwa ortu Susi cerai,dan Susi di paksa bekerja untuk menghidupi keluarga, ane juga tahu bahwa Susi di kampung punya pacar, dan pacarnya itu sering telepon tiap hari, Susi kadang mengeluh juga karena pacarnya ini sering minjem duit tapi ga di bayar.

    Ane sering nasihati dia supaya lebih hati-hati dalam pacaran, lebih-lebih cowok kayak gitu. Dan dia pun mengangguk.

    Kami tiap malam nonton tv bareng,kadang becanda,bahkan ke mall bareng untuk belanja sabun dsb..kadang kalau ane lagi ada duit ane beliin dia baju karena ane tahu bajunya itu2 aja.. Cerita Maya

    skip..

    tak terasa sudah 3 bulan Susi kerja di rumah,dan kelihatan dia sangat betah,terlihat dari badan dia yang sekarang jd lebih gemuk di banding saat pertama datang..tp hal itulah yang mengganggu pikiran ane..body nya justru bikin ane gusar..toketnya yang dulu kelihatan kecil tp sekarang malah kelihatan nyembul…bokongnya yang dulu biasa aja sekarang jd menarik…haduh…ane pikir bahaya ni..tp ane buang jauh2 perasaan itu..

    Diam2 ane suka ngintip dia kalo habis mandi…kadang ane juga curi2 pandangan ke arah pahanya kalau dia lg pake baju daster dan duduk sembarangan…

    Suatu hari ane dapet tugas dari kantor untuk mengurus proyek di kalimantan,ane pun harus pergi selama 2 minggu..ane pergi dan sebelumnya ane pamit ke Susi berpesan supaya hati2 jaga rumah selama ane pergi..

    Di kalimantan ane sms menanyakan kabar,dan ane beranikan untuk sms yang bernada memancing..seperti “km udah mandi belum Susi manis?”…dan dia pun membalas dengan “udah aa sayang”…

    Dan ane pancing2 dia denga sms bahwa sebenarnya ane suka ma dia…tp takut di tolak karena Susi udah punya cowok..
    Tak di sangka Susi membalas dengan sms yang sangat mengagetkan “aa kenapa ga bilang,Susi juga suka banget ma aa,tp Susi takut,Susi kan cuma pembantu”..

    wah..ini yang ane tunggu…ane tlp dia..dan kita pun ngobrol panjang lebar tentang seringnya ane curi2 pandang…dll…

    Ane pun pulang ke Bogor,ane langsung menuju rumah..Susi menyambut dengan senyuman malu…ane pun mencubit lengannya..tanda kangen..

    Ane beranikan mengajak Susi ngobrol malam itu…kami pun ngobrol..tp terlihat sekali Susi sangat kaku dan tidak seperti biasanya…ane bertanya “kenpa sus”…”ga apa2 a” Susi menjawab..

    Ane duduk mendekati Susi..dia sangat terlihat gelisah..ane dekatkan bibir ane ke bibir Susi..Susi sedikit menghindar..tp ane udah pengen banget mencium Susi..ane sedikit memaksa dan kami pun berciuman…ane mainkan lidah ane di di bibir Susi…kami pun bergumul mesra dengan hangatnya…di temani hujan bibir kami saling bermain…
    Malam itu tak terjadi apa2..ane ga ingin buru2 melakukan sesuatu..ane takut Susi akan minta pertanggungan jawab bila ane exe dia malam itu..

    esok hari nya sepulang kerja ane langsung mandi…kami pun ngobrol..sudah mulai cool…suasananya udah mulai seperti biasa lg..Susi nonton tv,ane di sebelahnya,yang berbeda adalah sekarang susu udah berani duduk dekat2 nempel ke ane..
    Ane membuka pembicaraan..ane bertanya tentang hubungan Susi dengan pacarnya di kampung sejauh apa hubungan yang mereka lakukan..

    Susi bercerita bahwa mereka memang sering berciuman..dan Susi juga pernah pegang punya cowoknya..begitu pula sebaliknya…sambil berpura2 cemburu aku pun pergi ke kamar..

    Susi mengejar ane ke kamar..dia minta maaf..dan bilang bhwa Susi masih perawan…

    Ane bilang gak percaya…karena blm membuktikannya..kami pun sedikit ngadu argument..dan ane minta pembuktian kalo Susi memang masih benar perawan..

    Tak di sangkan Susi langsung membuka daster yang di pakainya…”Susi akan buktikan kalau Susi memang masih perawan”..kata Susi

    “jangan sus,aku ga berani tanggung jawab kalo sampai terjadi sesuatu”ane bilang begitu
    “aa ga usah mikirin tanggung jawab,yang penting Susi kan buktikan kalau memang Susi masih perawn”,Susi mendekati ane hanya mengenakan BH dan CelDam…

    Baca Juga : Selingkuhan Ayah

    Ane konak gan…ga tahan..melihat secara langsung apa yang selama ini ane inginkan…oh shit…ane bingung..
    di tengah kebingungan ane,bibir Susi sudah melumat bibir ane…kita berciuman di pinggir tempat tidur…tangan ane secara replex mulai bergerilya menuju gunung kembar Susi…ane ga kuaaaaaat (dalam hati ane menahan nafsu ini)..

    Ane terus belai toket Susi…ane buka bra yang membungkusnya..ane rebahkan Susi di ranjang..Susi tersenyumm..oh..

    ane mulai melumat pentil susunya…tangan ane mulai bergerilya di paha Susi…Susi pun melenguh “ohhh”…

    tangan ane menuju selangkangan Susi…bermain si pinggiran celana dalam yang masih membungkus meki Susi..ane terus benjilati puting susu Susi yang mulai keras…tangan ane pun membuka celana dalam yang di pkai Susi…Susi melenguh kembali..”oooohhhh”….

    Ane secara cepat membuka celana pendek dan kaos ane…ane pun membuka CD yang ane pakai…

    kembali ane lumat bibir Susi…tangan ane mulai mengelus pinggiran meki Susi…Susi pun men desah “aaaaahhhh”…
    Tangan ane mulai menyibak meki Susi yang di tumbuhi bulu yang tidak terlalu tebal…jari ane menari2 mengelus klitoris Susi…Susi pun tambah mendesah “AAAAAAHHHH”…

    Jari ane bermain2 di bibir lobang meki Susi…bibir ane bermain di toketnya…dan tangan Susi pun mulai mengeleus2 konto ane yang udah keras n panas…

    “aa..punya aa gedee…” Susi berbisik..

    Ane tersenyum sambil kembali melumat bibir Susi dan memainkan jari di mekinya…

    Bibir ane pindah ke toketnya….lalu turun menjilati perutnya…dan sampailah di pertigaan selangkangan Susi…

    Ane buka perlahan belahan paha Susi…ane pun mulai merunduk…ane sibak kedua belahan meki Susi…dan lidah ane mulai bermain di bibir meki Susi…oooh…mantapnya meki perawan…

    “AA..AAAAAhhh”..Susi mendesah ketika bibir mekinya ane jilati…lidah ane mulai menusuk2 lobang mekinya…dan sekali2 lidah ane bermain di klitoris Susi…
    “aa”ooooooughhhh…..”..Susi mendesah semakin keras…

    ane menjilati mekinya -+ 15 menit..ane pun kembali melumat toket Susi….pentilanya ane jilati melingkar..jari ane terus bermain di bibir meki Susi yang mulai basah di bajiri cairan kenikmatan….

    Susi terus mendesah..

    “ouwgh..aa…ouwgh..aa…”dia memanggil ane dalam desahannya..

    Tak menunggu lama,ane siapkan rudal konti ane yang udah keras banget…ane arahkan ke meki Susi yang udah basah…ane lebarkan pahanya…ane taptkan di lobangnya..dan ane tekan pelan2….

    “aa…ouwgh…”Susi mendesah….
    “aa…sakit”….”ouwgh”…Susi sedikit meringis ketika konti ane mulai masuk ke mekinya…konti ane semakin dalam…
    “aa…sakit…”…
    “oughwwhhh”..Susi mndesah sambil menutup matanya….

    Ane cabut pelan2…ane tekan lagi…ane cabut lagi…ane tekan lagi…dan seterusnya….

    “owgh..aa…oegh…owgh…ooooooh…”desahan Susi semakin terdengar…

    Ane pun mengenjot konti ane di mekinya…dan tiba2 keluarlah darah keperawanan dari lobang meki Susi….
    …ane genjot lagi lebih cepat…darah semakin banyak….ane genjot terus…

    “aa…sakiiiiiit….owwwuuuuuuuggggghhh”.. .Susi mendesah sambil terpejam matanya..

    Ane genjot terus…”sabar sayang…bentar lagi sakitnya hilang”…ane menimpali sambil terus menggenjot..
    konti ane keluar nasuk di meki Susi….sampai darah perawannya tak lagi keluar…

    Ane goyang2 di dalam mekinya…ane hujam lebih dalam…

    “oooooooooooowwwwwwwghhhhhh”…Susi menjerit…mekinya semakin licin…menandakan Susi udah mendapatkan O…dan ane pun memepercepat genjotan ane….”ooowwgghhh”….Susi menjerit kenikmatan…Susi mencengkeram pundak ane…..tangannya mencakar bokong ane…dan “croooooooot”….ane pun orgasme…..sperma ane memenuhi lobang meki Susi….

    Ane memeluknya…dan Susi pun tersenyum…”percaya kan kalo Susi masih perawan?” tanya Susi pada ane

    “iya aku percaya”…ane pun tersenyum…dan kami pun berpelukan…

    Ane minta Susi supaya kencing dulu…dan membersihkan mekinya…ane pengen malam ini 5 ronde..hehehe…

    kami pun bermain hingga pagi hari…esoknya ane ajak Susi ke bidan yang jauh dari rumah ane…ane minta Susi untuk KB…Susi pun KB suntik…dan kami pun hingga sat ini masih berhubungan.. Cerita Maya

    1 yang membuat ane ga bisa lepas dari Susi…mekinya wangi…dan nikmat banget saat di oral…beda dengan bokin ane yang kadang ada bau tak sedapnya…

    Ane jd jarang pulang ke Bandung,ane malah tiap minggu menghabiskan waktu bermain sex seharian bareng Susi…semua gaya udah kami mainkan…bahkan anal sudah kami praktekan…

    Susi tak pernah minta ane menikahi dia..karena dia pun tak mungkin memutuskan hubungan dengan pacarnya di kampung yang sudah di jodohkan oleh ortunya…entah sampaia kapan kami begini…tp jujur..nikmat sex bukan karena status..tp karena barang…hehehe

    Buat agan2 yang suka maen ma pembokatnya,saran dari ane,pembokat juga manusia,yang butuh kasih sayang dan materi,selain gaji 750rb ane kasih tambahan 1 jt perbulan buat Susi plus uang jajan 50 rb tiap hari agar meki yang mantap itu di jaga dan di rawat demi kepentingan bersama..dan satu lagi,buatlah komitment agar sang pembokat tidak menuntut anda menikahinya..dan ini adalah hal yang paling penting!!!- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Selingkuhan Ayah

    Selingkuhan Ayah


    107 views

    Cerita Maya I mengenai kisah perselingkuhanku dnegan Cindy cewek cantik dan genit selingkuhan bokapku. Ternyata bokapku jago juga bisa dapetin cewek cakep seperti ini. Berikut cerita selangkapnya.
    Indra pulang lebih awal berhubung dia dihubungi oleh kakaknya untuk segera pulang, misterius banget beritanya. Selama dalam perjalanan pulang hatinya galau dan cemas, apakah terbaca oleh kakaknya no hp si Budi di iklan kamar kost. Sesampainya Indra di rumah, terlihat muka masam kakak perempuannya,hmmm.. gawat.

    Selingkuhan Ayah

    Selingkuhan Ayah

    “Ada apa kak? Kok kelihatannya gawat?” Tanya Indra cemas, semoga saja bukan masalah Budi.
    “Tadi Vera nelpon, Papa kita sepertinya berselingkuh dengan salah satu pegawainya”

    Indra merasa lega (rumah kost maksiatnya masih bisa terus beroperasi), tetapi dia kebingungan mendengarnya, kok bisa sih bokapnya selingkuh dengan pegawainya, setahu dia sistem perekrutan pegawainya sama dengan konsep kakaknya, tidak boleh ada yang lebih cantik dari Nyokap dan Kakaknya, kalau lebih muda yah lumrah, lagian si Vera kakak perempuan sulungnya menjabat sebagai seketaris dan asisten Bokapnya, semua pegawai biasanya di sensor dulu olehnya, kok bisa kebobolan atau Bokapnya sekarang sudah rabun tua, jelek terlihat cantik di matanya?

    “Jadi si Vera nangkep basah Papa lagi berduaan sama selingkuhannya?” Indra bertanya sambil berusaha untuk tidak membayangkan Bokapnya yg sama kurusnya dengan dia tetapi lebih bungkuk badannya dan telah beruban sedang menggenjot cewek ceking , atau barangkali gembrot di kantornya.
    “Tidak, hanya saja Papa menyuruh Vera untuk memberikan bonus untuknya mobil yang lebih mewah dari standard bonus pegawai lain,” Kakak Indra mencak-mencak, ” Papa juga terlalu sering meeting dengan kliennya bersamanya tanpa melibatkan Vera, Mama juga curiga akan hal ini, Vera ingin kita menyelesaikan masalah ini, kasihan Mama,”

    “oh.. Gituh” Indra merasa dia harus ikut prihatin,” jadi rencana kalian gimana,”

    “Vera setuju dengan Papa bahwasannya prestasi Cindy ,pegawai genit itu memang bagus, dan berhubung kliennya dari Jakarta, maka sudah seharusnya dia mendapatkan mobil tersebut dan pindah ke Jakarta agar bisa lebih dekat dengan kliennya, hi..hi.. kita buka kantor khusus hanya untuk dia saja..jadi tidak menganggu moral kerja pegawai lain dan papa akan kesulitan menemuinya lagi..hi..hi.” Kakak Indra tertawa sinis mirip tokoh2 wanita jahat ala sinetron tv .

    “Papa setuju?” Indra bertanya,” Dan kenapa tidak dipecat saja daripada susah-susah pindahin dia,”

    “Hm..rencananya sih begitu, tetapi klien yg dibawanya memberikan kontrak jumlah besar pada kita, dan menurut Vera pemilik perusahaan itu Ortu daripada Ipar Cindy, jadi kita tidak mau beresiko diputuskan kontrak, malah bisa2 Besan Cindy merasa kita membalas jasa baik Cindy bila dia kita pindahkan ke sini dan dapat kantor khusus untuknya…hi..hi..” Indra merinding mendengar tawa licik kakaknya.

    “wah.. hebatnya rencana kalian, berarti sudah beres donk ,” Indra sudah tak sabar ingin kembali ke rumah kostnya dan menggarap Desy,” jadi sudah bereskan , .. saya mau lanjutkan belajar bareng Budi”

    “Hei,.. jangan egois gituh,” kakak Indra menatap tajam,” Dia sudah diberangkatkan tadi siang oleh Vera, kamu jemput dia sekarang dan kamu carikan dia tempat tinggal sementara, cari saja hotel murahan sementara dulu, ntar besok kamu carikan rumah sewa sekalian yg bisa dijadikan kantor untuknya,”

    “Lho.. kok hotel?” Indra yg kesal karena tidak bisa balik ke rumah kost mereka menyela,” Bukankah kita sudah ada kandang buat orang jelek di sebelah rumah Ini,”

    Kakak Ipar Indra sedari tadi diam saja tiba2 saja memuncratkan kopi yg diminumnya saat mendengar perkataan terakhir Indra, kakak Indra melotot pada Indra lalu mendelik matanya pada suaminya yg tak sanggup menahan tawanya, terbahak2 dia dan menghindar berlari ke kamar mandi. Cerita Maya

    “Kamu ,…huhh.. dasar anak durhaka… kamu tidak sayang Mama”Muka Kakak Indra merah padam menahan marah hingga mukanya yg tidak cantik menjadi jelek ( apa bedanya yah?)
    “Iyah…yah….Gue berangkat,.. “ Indra buru2 kabur meninggalkan kakaknya yg belum berhenti mengomel2 . I

    ndra tidak peduli bahwa dia tadi lupa menanyakan manifest penerbangan Cindy pada kakaknya, segera berangkat ke airport, dia kesal banget karena tidak berkesempatan menggarap Desy gara2 Cindy, hm… yg ini gimana orangnya,.. Indra penasaran dengan selera Bokapnya, kalo wajahnya tebak Indra pasti dibawah kategori, cuman Bodynya saja yg bisa dinilai seperti kebanyakan pegawai lainnya. Sesampainya di Airport baru teringat olehnya data2 Cindy tidak ada, ogah dia menelpon kakaknya Indra lalu mengikuti jejak penjemput lainnya, dia menuliskan nama Cindy dan nama perusahaan Bokapnya di kertas dan bergabung dengan mereka di pintu keluar domestik.

    Saat Indra baru ingin berjongkok karena merasa akan lama di sana, dari kerumunan sekelompok orang melangkah keluar seorang wanita cantik, sepertinya baru saja diajak oleh orang2 itu foto bareng, artis kali yah Indra berpikir. Wanita itu berjalan kearah Indra yg tertegun karena sepertinya artis penyanyi kris Dayanti mendekatinya, Indra melihat2 ke kiri kanan dan belakangnya, takut ntar ke ge.er.. an, manatau aja ada cowok ganteng di belakangnya yg menjemput artis itu. Artis itu semakin mendekat ke Indra yg mulai berdebar2 gugup, lalu Artis itu berkata padanya dan menyodorkan tangannya bersalaman,

    “hai.. saya Cindy.. kamu pasti Indra putera tunggal pak Mulyono kan?”
    “hah..iii…iii..yyahh..?” gugup Indra menjawab dan mulutnya ternganga melongo memandangi sang Artis.
    “Ka..kamu Bu..bu..kan Kris dayanti?” Indra kebingungan bertanya.
    “hi.. hi.. kamu lucu Indra… saya Cindy, kalo mau dianggap kris dayanti juga boleh” Cindy tertawa.

    Indra yg masih takjub dengan penampilan Cindy lalu menyalaminya dan membantunya membawa kopernya yg gede, dia berjalan ke areal parkir diikuti oleh Cindy di belakangnya, sepanjang perjalanan mata semua orang menatap mereka. Sesampainya di mobil Indra lalu memasukkan koper Cindy dan Cindy membuka pintu penumpang depan, Indra masuk dan menghidupkan mobil, sambil terus melirik ke Cindy setiap kesempatan. Dalam hati Indra terus memikirkan bagaimana bisa Vera kebobolan memasukkan cewek secantik artis ini bekerja padanya,.. hm .. rupanya mata Bokapnya belum rabun,. Dia saja kalo ada kesempatan pasti habis digarapnya cewek secakep artis ini.

    “Kamu mirip dengan papa kamu yah, berarti dulu Pak Mulyono pasti seganteng kamu,” Cindy memecahkan keheningan dalam mobil, “ Kurusnya juga sama..hi..hi..”
    “eh..engg..ah masa sih gue ganteng?” Indra membusungkan dadanya bangga.
    “I..yah dong.. kamu sembunyikan saja sih.. dengan kacamata kamu , ntar.. kalo kita jalan2 bareng saya pilihkan kacamata yg cocok buat kamu,” Cindy menggoda Indra.
    “wah.. gue percaya saja sama Mbak Cindy, “ Hidung Indra kembang kempis dipuji Cindy, “mbak Cindy juga cantik,.. tadi saya Kira artis Kris Dayanti,”
    “Oh.. yah pantesan tadi banyak yg ngajak saya foto bareng..hi..hi.. rupanya saya dikira artis penyanyi” Cindy tertawa lepas sehingga payudanya yg ukurannyapun mirip sang artis berguncang, glek Indra menelan ludah melihatnya.

    Indra yg tak tahan penasaran akhirnya memberanikan diri menanyakan pada Cindy, bagaimana wanita secantik Cindy bisa nyasar ke perusahaan Bokapnya. Cindy yg mulanya diam sejenak lalu meminta Indra berjanji menjaga rahasiannya sebelum diceritakan, disanggupi oleh Indra. Cindy rupanya melakukan operasi plastik pada seluruh wajahnya, hidungnya dimancungkan dan pipinya sengaja di kempotkan sehingga lesungnya jelas terlihat dan melakukan liposucktion di beberapa bagian tubuhnya sehingga mendapatkan bentuknya yg aduhai seperti sekarang ini, Dia sengaja memesan dokter bedah plastik tersebut untuk membuatnya semirip mungkin dengan artis penyanyi idolanya.

    Dalam hati Indra menertawakan kakaknya yg kebobolan,.. tak pernah terpikirkan oleh mereka kemajuan zaman yg bisa mengubah wajah seseorang dari jelek menjadi cantik, seharusnya mereka juga ikutan dioperasi plastik..he..he.. biar perusahaan Bokapnya bisa lebih bersinar daripada sekarang yg lebih mirip LPT (Lembaga Perawan Tua) saking banyaknya pegawai jelek yg pada jomblo.

    “Aku mau dibawa kemana nih Indra?” Tanya Cindy kemudian.
    “eng… Tadi dipesan kakak gue tuk bawain kamu ke hotel duluan…, ntar besok baru nyari Ruko untuk kamu jadiin rumah dinas dan kantor kamu,” gelagapan Indra menjawab saat dia lihat Cindy merengut sewaktu dia bilang hotel.
    “Huh kakak kamu ituh, cemburuan banget,” Cindy merengut,
    ” Saya tidak suka ke hotel, masa saya di tinggal seorang diri di sana , sayakan takut, Indra temenin saya yah,” Glek,.. tentu saja Indra mau, tetapi yg keluar dari mulutnya,
    ” Bisa mencak2 Sella kakak saya kalo gue gak pulang malam ini, apalagi kalo tahu gue nginap bareng kamu,”
    “hi..hi.. kamu takut yah sama kakak kamu, lebih berani Papa kamu donk kalo gituh,”tantang Cindy.
    “Lho.. jadi beneran kamu memang selingkuh sama Papaku?” Indra kaget.
    “lha..iyalah.. perawan saya Papamu yg renggut,” Cindy sengaja mencemberutkan wajahnya, padahal dalam pikirannya terbayang nikmat saat bersetubuh dengan Papa Indra.
    “waduh, nekat juga yah Papa gue,” Indra nyegir, dalam otaknya yg sudah ngeres membayangkan nikmatnya melahap Selingkuhan bokapnya seperti cerita stensilan yg sering dia baca semasa kecil.
    “Hm.. bagus kagak permainan Papa gue?” Indra mulai memancing.Cindy kaget melihat senyum nakal Indra menggodanya lalu membalas,
    “Mantep dong, punya Papamu anunya panjang,”
    “Oh yah,.. hm.. masak sih,.. tapi biasanya orang bilang buah jatuh tidak jauh dari pohon lho,” Indra tertawa makin ngeres otaknya setelah melihat sepertinya Cindy juga mulai terbawa suasana.

    Baca Juga : Desahan Seorang Pembantu

    ( suasana saling pengen lahap-melahap gituh)

    “Hm,.. kalo tidak Nampak mana terbukti,” Cindy melirik ke selangkangan Indra,” Makanya elu nginap saja malam ini bareng gue dan buktikan donk..hi..hi..”
    “wah..wah..nantang gue nih,” Indra semakin bingung , Dia sebenarnya sudah pengen menikmati Cindy tetapi kalo tidak pulang malam ini Sella kakaknya pasti curiga dan bisa ngadu sama nyokapnya. I

    ndra diam dan berpikir, terbesit diotaknya ide untuk membawa Cindy ke rumah kostnya, lha di sana dia kan ada yg nemani, dan dia bisa pulang sehabis menggarap Cindy..hm.. ide bagus menurutnya.

    “Kalo gitu, gimana kalo saya bawa kamu ke rumah kost saja, disana sedikit rame, jadi kamu tidak perlu takut,” Indra lalu lanjut berkata,” di sana ramah2 penghuninya, yg punya temen karib gue, kamarnya bersih dan mewah kok, ada acnya lagi tiap kamar,gimana mau?”
    “kamu ikut nginapkan?” Cindy bertanya dengan suara manja.
    “Eng.. saya temani sampe malam saja yah,..toh ntar gue kenalin sama mereka,.. jadi kamu kan ada yg nemani gituh,.. pokoknya gue atur deh kamu jangan sampe kecewa malam ini,” Indra keluarkan jurus wajah penuh perhatian dan pengertian palsunya.
    “janji yah..Indra,” Cindy tersenyum tanda setuju.

    Sepanjang perjalanan ke rumah kost Indra mereka ngobrol dan tentunya makin lama makin ngeres arah obrolannya membuat Cindy makin berani mengelus2 Indra dan merebahkan dirinya pada Indra, layaknya sepasang kekasih. Saat Indra membawa Cindy ke dalam rumah yg berteriak paling keras kaget adalah si Desy, sama seperti yg lainnya dia mengira Indra membawa pulang kris Dayanti. Indra mengenalkan Cindy pada Desy, Ayu dan Budi. Mereka sebenarnya mau ngobrol dengan Cindy, tetapi Indra lalu membawa masuk Cindy ke kamar yg masih kosong dengan beralasan pada mereka Cindy lelah, padahal dia sudah tak sabar ingin melahapnya.

    Begitu pintu tertutup, Indra langsung meletakkan kopernya dan langsung memeluk Cindy dan menciumnya, dan dibalas oleh Cindy penuh nafsu. Budi menggigit bibir bawah Cindy dan memainkan lidahnya dalam mulutnya, saat lidah Cindy membalas masuk dalam mulut Indra langsung menyedot dan menggigit halus, hm.. Cindy merasakan nikmatnya permainan bibir Indra, 1-0 untuknya dibanding Bokapnya. Tangan Cindy lalu mulai membuka kancing baju Indra, tetapi Indra lalu menyambung membuka sendiri dan celananya cepat, Cindy juga menelanjangi dirinya. Mereka lalu merebahkan diri ke atas ranjang baru yg belum dilapisi sprei oleh Ayu.

    Indra bergerak meremas lembut payudara Cindy dan memainkan lidahnya pada puting Cindy, dijilatinya, lalu di gigit lembut, dan diemut2. Hm… Cindy mendesah kuat, 2-0 untuk Indra, permainan lidahnya Indra nikmat sekali, Cindy yg hanya pernah bersetubuh dengan Bokap Indra merasakan awalnya saja sudah sangat nikmat bersama Indra gimana selanjutnya, dia mendesah terangsang hebat. Indra bergerak turun dan memainkan lidahnya pada kelentit vagina Cindy, lalu bibir vaginanya dan lubang duburnya berganti2an.

    Indra lalu memasukkan jarinya kedalam lubang Vagina Cindy, tangannya mengobel dan mengelus2 dinding dalam vagina Cindy, yg membuatnya mendesah makin Kuat dan mengelinjang. Cindy takjub dengan permainan oral Indra yg baru dia rasakan, seumur dia tak pernah merasakan sensasi yg begitu nikmat, hm..gila.. tak mungkin lagi ngasi angka, Indra menang mutlak dibanding Bokapnya, Cindy memejamkan matanya menikmati.

    Saat Indra berhenti Cindy yg masih memejamkan mata merasakan nikmat dengan mulutnya yg memang lagi menganga merasa ada sesuatu yg memasukinya, dia terbelalak saat melihat yg masuk dalam mulutnya Zakar panjang Indra. Hm.. permainan apa pula sekarang Indra lakukan, Cindy lalu merasakan hangat dan denyutan zakar Indra dalam mulutnya, ditambah sodokan Indra sehingga kepala zakar Indra menabrak2 dining tenggorokannya, hm..nikmat juga permainan ini,

    “hm.. hm..” Cindy mendesah dengan zakar Indra dalam mulutnya, dimainkan lidahnya pada zakar Indra sehingga dia semakin merasakan denyutan zakar Indra.

    Sesaat kemudian Indra mencabut zakarnya dan menyuruhnya nungging, Cindy turuti dan dia rasakan zakar Indra memasuki lubang vaginanya,.. hm.. nikmat sekali dan terasa olehnya dinding lubang vaginanya merasakan hangat dan denyutan zakar Indra hingga terasa dalam sekali, lebih dalam nikmatnya daripada zakar Bokapnya.

    “oh….ah..ah…arghh” Cindy mendesah kuat menikmati zakar Indra yg sekarang bergerak maju mundur dalam vaginanya, perlahan dan kemudian makin cepat, Cindy juga makin mempercepat desahannya ..oh..nikmat sekali dia rasakan saat itu.

    Sayup-sayup suara desahan dan erangan Indra dan Cindy terdengar sampai ruang keluarga yg senyap karena Desy sepertinya sudah kecapekan membual, Budi mengajak mereka tidur, Ayu bingung,

    “Mas Budi ngajak Ayu atau mbak Desy?” tanya Ayu.
    “Maunya aku yah kalian berdua “ jawab Budi yg berusaha mengelak cubitan Desy,
    “iih.. maunya… hi..hi.?” Desy tertawa.

    Budi lalu merangkul Ayu dan menggandeng Desy berjalan ke kamarnya. Budi yg terbiasa tidur hanya berkolor ria membuka baju dan celananya, Ayu yg tidak tahu mengenai itu mengira Budi bersiap2 untuk bertarung, Ayu lalu menelanjangi dirinya sendiri dan naik ke atas ranjang dan tangannya lalu menyusup masuk kolor dan meremas2 zakar Budi. Desy terkejut melihat Ayu yg begitu agresif, tidak mau kalah lalu ikut bertelanjang ria, ah.. masak gue kalah sama cewek udik, Desy berkata dalam hati. Desy lalu naik ke ranjang dan mencium puting Budi dan memainkan lidahnya pada putingnya.

    Budi yg awalnya kaget dengan tindakan kedua cewek tersebut tidak jadi menolak, dia lalu menikmati permainan kedua cewek tersebut apalagi saat Ayu memasukkan zakarnya ke dalam mulutnya dan menghisap serta memainkan lidahnya pada kepala zakarnya langsung merem melek kenikmatan. Desy lalu mencium Budi penuh nafsu dan mengarahkan tangan Budi ke vaginanya, Budi lalu mengelus dan memasukkan jarinya ke lubang vagina Desy dan menggerakan jarinya maju mundur cepat membuat Desy mendesah menikmatinya. Tangan Budi lalu meremas2 payudaranya dan memainkan jarinya pada puting Desy, sesekali Budi memindahkan tangannya mengobel2 lubang vagina Ayu yg telah bergeser ke arahnya.

    Ayu yg melihat zakar Budi telah mengeras lalu cepat2 berganti posisi menaiki tubuh Budi dan memasukkan zakar budi dalam Lubang Vaginanya , dia takut terserobot Desy. Ayu lalu mendesah dan menggerakkan pinggulnya maju mundur dan memutar mencari posisi yg dia rasa paling mantap menikmati zakar Budi. Desy yg kheki melihat gerak cepat Ayu lalu menaiki tubuh Budi juga dan mengarahkan Vaginanya ke wajah Budi, dia rasakan ciuman dan jilatan lidah Budi pada kelentit dan bibir vaginanya,..hm.. nikmat sekali , dia lalu meraih tangan budi dan menuntunnya meremas payudaranya.

    Ayu yg memandangi punggung Desy mengeliat nikmat tidak mau kalah meraih tangan Budi yg lain dan meletakkannya pada payudarnya, oh.. ah.. sengaja dia mendesah kuat saat tangan Budi meremas payudaranya dan memainkan putingnya. Desy tidak mau kalah, dia juga ikut mendesah makin kuat sehingga suara desahan mereka memenuhi kamar,

    “oh.. ah.. ah…arh…..oh..”

    Desy yg tidak mau terserobot lagi membalikkan tubuhnya dan kali ini pantat montoknya yg menghadap ke wajah Budi, Desy kembali mendesah saat Budi kembali memainkan lidahnya, kali ini dia rasakan geli2 nikmat lidah Budi bergerak menjilati dari bibir anusnya hingga kelentitnya. Desy sekarang menatap ke arah wajah cantik Ayu, dia melihat hidung mancung Ayu dan bibir mungilnya ternganga mendesah menikmati zakar Budi, hm..emang manis wajah pembokat ini, tanpa sadar Desy yg sudah terangsang lalu gemas memeluk Ayu dan mencium bibirnya, Ayu kaget tetapi dia tidak menolak saat merasakan sensasi nikmat ciuman Desy,hm.. sama nikmatnya dengan ciuman kedua jurangan mudanya, Ayu lalu membalas ciuman Desy.

    Kedua tangan Ayu lalu bergerak meremas buah payudara Desy, lalu satu tangan turun dan mengelus2 vagina Desy, Budi heran karena tiba2 saja Desy menjauhkan vaginanya dari wajahnya, dia lalu melihat kedua cewek tersebut berciuman dan saling meremas payudara masing2 diatas tubuhnya, Budi kaget, tetapi dia menikamati pemandangan di depannya, kedua tangannya lalu menopang kepalanya agar bisa melihat dengan nyaman. Tangan Desy mengelus2 atasan vagina Ayu dan memainkan jarinya pada kelentit Ayu, sementara jari Ayu mengobel2 lubang vagina Desy. Tangan Budi lalu bergerak mengelus2 punggung Desy lalu bergerak memutar ke depan dan meremas2 payudara Desy.

    Ayu melepaskan Ciuman Desy dan mendesah makin kuat dan makin cepat menggoyang pinggulnya, lalu dia memekik merasakan dahsyat nikmat orgasmenya, Ayu merebahkan dirinya ke samping Budi dan memeluk Budi dan tangannya mengelus2 dada Budi dan sesekali dia mencium dan memainkan lidahnya pada puting Budi. Desy lalu mengantikan posisi Ayu, sekarang dia menghadap ke Budi dan mulai menggoyangkan pinggulnya dengan zakar Budi dalam lubang vaginanya. Desahannya cepat mengikuti goyangan pinggulnya. Tangan Budi lalu meraih payudara besar Desy yg juga berguncang cepat mengikuti gerakan pinggulnya, diremas2nya payudara Desy. Cerita Maya

    Sesaat kemudian Desy memekik nikmat, dia lalu naik dan melihat mengambil kolor Budi lalu melap zakar Budi kemudian dia mulai melakukan oral pada zakar Budi dengan tangannya dia mengocok2 zakar Budi. Ayu tidak mau ketinggalan lalu ikut mengerumuni zakar Budi, berganti2 an Ayu dan Desy saling menjilati zakar Budi membuat Budi mengerang nikmat, saat erangan Budi makin kuat, Desy yg tahu Budi hampir mencapai klimaksnya lalu mendorong Ayu dan merebut zakar Budi dan memasukkannnya ke dalam mulut. Desy langsung menyedot kuat saat dia rasakan semburan sperma Budi dalam mulutnya, Budi langsung melolong kuat kenikmatan. Begitu selesai Ayu dan Desy tertawa terbahak2 mengenang aksi mereka barusan, Budi tersenyum senang. Mereka lalu tertidur seranjang dalam kamar master room.

    Sementara di kamar yg lain Cindy yang memekik merasakan nikmatnya orgasme dengan zakar Indra dalam vaginanya dengan kedua tangan Indra yg meremas2 payudaranya, hm.. nikmat sekali dia rasakan, sepertinya dua kali lebih nikmat dibandingkan dia orgasme saat masturbasi, sedangkan dengan Bokap Indra, dia tidak pernah orgasme, bokap Indra terlalu cepat nembak,sedangkan anaknya,.. wow.. masih belum nembak. Dia lalu makin mempercepat gerakan pinggulnya agar Indra segera nembak. Indra akhirnya menembakkan spermanya dengan posisi Cindy diatasnya, sepanjang permainan mereka terus berganti2 gaya, Indra sengaja melakukan banyak gaya tersebut untuk memamerkan bahwa dia lebih jago memuaskan cewek dibanding Bokapnya.

    “oh..ah..arghh..” Budi mengerang nikmat saat dia menembakkan spermanya, sementara Cindy memelankan goyangannya lalu berhenti dan memeluk Indra dan berusaha membujuk Indra agar tidak pulang malam itu, dia masih ingin orgasme lagi bareng Indra sekali lagi.

    Indra yg sudah melampiskan Birahinya pada Cindy malam itu, sedangkan siang sebelumnya pada Ayu mampu mengontrol dirinya, tidak terpengaruh dengan suara manja Cindy, dia janji besok sepagi mungkin dia datang dan memberikan orgasme kepada Cindy terlebih dahulu sebelum kuliah. Indra meninggalkan Cindy saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, sepanjang perjalanan pulang Indra merancang skenario untuk kakaknya agar dia tidak curiga saat dia pulang begitu larut malam.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Desahan Seorang Pembantu

    Desahan Seorang Pembantu


    105 views

    Cerita Maya I Namanya Tinah, dari kampung. Suaminya meninggal tahun kemarin, hampir berbarengan dengan salah satu
    anaknya juga. Kini satu – satunya anaknya tinggal dengan ibunya di desa. Tinah berwajah cukup manis;

    Desahan Seorang Pembantu

    Desahan Seorang Pembantu

    lumayan tinggi untuk ukuran perempuan kita; rambut sepundak lebih; hampir seumur adikku. Ia sebagian
    besar bertugas mengasuh anaknya adikku yang masih di bawah balita, walau juga membantu satu temannya
    bersih – bersih rumah. Kondisi psikologisnya yang seperti itu membuatnya sering terlihat diam dan kurang
    dapat memahami apa yang diperintahkan adikku, kasihan memang.
    Aku sering berkunjung ke rumah adikku,Karena suaminya sering ke luar kota, sehingga aku terkadang
    diminta untuk menemani atau bila mereka sedang ke luar kota bersama maka aku yang menjaga rumah. Sikapku
    terhadap Tinah dan temannya biasa saja, tidak ada yang khusus. Mereka pun demikian. Tinah berpakaian
    biasa – biasa saja bila di rumah adikku. Berkaos dan bercelana selutut, kadang memakai rok. Terkadang
    kaos yang dipakai Tinah sedikit longgar. Sehingga jika ia menundukkan badan, sedikit terlihat belahan
    dada bahkan gunung kembarnya yang masih tertutup BH. Wajar jika aku kadang – kadang mataku mencuri –
    curi kesempatan itu. Ukurannya biasa saja, 32 mungkin.

    Saat itu aku sedang diminta untuk menjaga rumah adikku, karena keluarganya akan pergi hingga sore dan
    Tinah tinggal di rumah, karena kondisi perutnya yang kurang baik. Menjelang keberangkatan keluarga adik,
    aku sudah datang di sana.

    “Mas..Tinah di rumah, perutnya agak kurang beres. adikku memberi tahu.
    “Oo..ya“, jawabku. Tak berapa lama mereka telah berangkat.

    Aku bergegas memasukkan sepeda motor ke dalam rumah. Tinah lalu mengunci pagar. Aku masuk rumah lalu
    cepat – cepat duduk di depan komputer, browsing, karena suami adikku memasang internet untuk mendukung
    pekerjaannya. Mengecek email; cari info ini itu dlsb..he3x. 10 menit kemudian Tinah menyajikan segelas
    es teh untukku.

    “Makasih ya Tin“, ucapku.
    “Iya Pak..silakan diminum“, kata Tinah.

    Pembantu – pembantu adikku memang dibiasakan memanggil “Pak“ pada saudara – saudara majikannya, padahal
    terdengar sedikit asing di telinga. Tinah lalu kembali ke dapur, aku lalu meminum es tehnya, Cerita Maya

    “Hah..segernya“, cuaca sedikit panas walau agak mendung.

    Tinah kembali memasuki ruang keluarga, merapikan mainan – mainan anak adikku. Posisi meja komputer dan
    mainan yang bertebaran di lantai selisih dua kotak. Semula aku belum ngeh akan hal itu. Semula mataku
    menatap layar komputer di situs DS. Saat Tinah mulai memasukkan kembali mainan – mainan ke keranjang,
    baru aku menyadarinya. Sesekali aku meliriknya.

    “Sedikit putih ternyata anak ini. Bodynya biasa aja sih, langsing dan kayaknya masih padat. Wah..ini
    gara – gara masuk situs DS jadi mikir macem – macem..hi3x“, pikiranku berkata – kata.

    Karena jarak kami yang lumayan dekat, maka ketika Tinah bersimpuh di lantai merapikan mainan di
    keranjang, otomatis kaosnya yang sedikit longgar memperlihatkan sebentuk keindahan yang terbungkus
    penutup warna biru. Tinah jelas tidak tahu kenakalan mataku yang sedang menatap sebagian keindahan
    tubuhnya.

    “Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar,
    “Ke kamar mandi mbetulin posisi penis nih..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar
    Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi.

    Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan penis. Agak susah juga kencing dengan
    penis yang sedikit tegang.

    “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut.
    “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.

    Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer, melanjutkan ngubek – ubek DS.

    “Cari camilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani kesibukan
    nge – net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai kacang dan diatasnya
    kulapis dengan selai blueberry,
    “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak
    antar ruangan agak dekat.

    Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, Tinah sedang di
    kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang
    melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan Tinah bertatapan mata, tidak ada sesuatu,
    biasa saja. Kumakan roti sambil n – DS lagi.

    Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin Tinah sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi.

    “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku
    belum minum air putih, walau telah ada es teh.

    Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada
    air yang mengucur dari dispenser. Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana.

    ”Lah..pintunya kok sedikit mbuka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin
    ngintip aku”.

    Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya
    baru aku ngeh..Tinah sedang mandi.

    ”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat
    bin masalah.
    Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi Tinah. Tiba –
    tiba

    ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar keributan di sana.
    ”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.
    ”Pak..Pak”, Tinah memanggilku.
    ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”.
    ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya Pak..cepet ya Pak..atau..”, tidak terdengar lanjutan
    kalimatnya.

    Sejak Tinah bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi.

    ”Atau..Bapak yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya.

    Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir.
    ”Cepet Pak..kecoaknya di dekat kloset. Bapak masuk aja..nggak pa – pa. Nggak saya laporin ke Bapak sama
    Ibu”, Tinah tahu keraguanku.
    ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa rame”, jawabku.
    ”Nggak Pak..bener. Aduh..cepet Pak..dia mau pindah lagi”, Tinah kembali meyakinkanku dan meminta aku
    cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi.
    ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. Sambil tetap menimbang, take it or leave it. Aku menaruh
    gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu.

    Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya.

    ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu diriku.
    ”Masuk aja Pak”, Tinah tetap membujukku.

    Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dibuka lebih lagi
    oleh Tinah.

    Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak,

    ”..tuh Pak mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk.

    Tinah berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha;
    pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua.
    Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian dada, warna biru, yang disangga tangan
    kirinya. Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak.

    ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3
    langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.

    ”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan.

    Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi.

    ”Terima kasih ya Pak..sudah nolongin”.
    ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan Tinah tersenyum.
    ”Bapak nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar Tinah.
    ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”.
    ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang
    tubuh Tinah.

    Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf Pak..ini
    sabunnya”. Tinah mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami
    mau tidak mau bersentuhan.

    ”Makasih ya”, ujarku.

    Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya.

    ”Bapak nggak..sekalian mandi”, tanya Tinah.
    ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”.
    ”Iya..nanti di rumah”.
    ”Nggak di sini saja Pak?”.
    ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”.
    ”Di kamar mandi ini saja Pak..”.
    ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”.
    ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung Bapak sudah nolongin saya”. Matanya memohon.

    Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala.

    ”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku.
    ”Bapak nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya Pak..di sini saja”, dia memahami
    kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.

    Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga
    sesekali ke pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di
    meja makan. Posisi Tinah masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap
    agak terbuka. Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok.

    ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku.

    Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi.

    “Nggak usah Pak..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab Tinah.

    Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd –
    ku.

    “Bapak nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya.
    “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir.

    Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya. Sengaja
    kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata Tinah sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan
    tenang Tinah menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih
    ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang penis sambil
    kuelus.

    Tinah lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan.

    “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak
    item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku
    makin mengembang dan itu jelas dilihat Tinah.

    Baca Juga : Gadis Hiper

    Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. Tinah lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak
    membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur.

    “Bapak saya mandiin dulu ya”, kata Tinah.
    “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum.

    Tinah lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak. Mengambil lagi segayung,
    diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher;
    pundak; dada dan tangan kananku. Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri;
    perut; penis; bola – bolaku.

    “Uhh..gimana bisa nahan penis nggak ngembang”.

    Bagaimana tidak, saat menggosok penis dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya
    senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga.
    Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya.
    Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan
    depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun.
    Sedikit diremas oleh Tinah. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya,

    “biar Tinah yang pegang kendali”.
    “Balik badan Pak”, perintahnya.

    Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; pantat; lalu paha dan kaki
    sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok penis dan bola – bolaku dan meremasnya.

    “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“. Kembali air mengguyur tubuh belakangku,
    sebanyak 3x.

    Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin
    berdebar.

    “Sudah selesai Pak“, kata Tinah. “Makasih ya Tin“.
    “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?“, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi.
    “Nngg..nggak usah Pak..ngrepoti Bapak“.
    “Ya nggaklah..jadi imbang kan“. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh depannya. Ia hanya
    menatapku.

    Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi tergeletak di pinggir bak mandi kuambil dan aku basahi.
    Kugosok leher; pundak; dan kedua tangannya. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke dada; kedua susu dan
    pentilnya; serta perut. Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit pentil –
    pentilnya. Tinah juga menatapku. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – an kumainkan pentil –pentilnya,
    lalu sedikit kuremas susu kirinya. Bibirnya sedikit membuat huruf o kecil dan

    “ohh..hhmm“. Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya.

    Vagina luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah cukup
    membuat matanya makin meredup. Air segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x. Kugosok dan kuremas
    sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan Tinah memegang pinggir bak mandi, mulai
    erat.

    Kumainkan lagi pentil – pentilnya….,Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian.
    Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya.

    “Ouuh Paakk..“, Tinah mulai mendesah. Kukecup bibirnya lembut,
    “nanti dilanjut lagi“. Matanya seakan bernada protes, tapi Tinah diam saja.

    Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; pantat.
    Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku menyusuri tubuh depannya lagi
    dari pinggang belakangnya. Tinah sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua tanganku di dua susunya. Aku
    senang bermain – main di susu yang bagus atau masih ok. Seluruh belakang lehernya aku cium dan kecup,
    begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan

    ”kamu diam saja ya..cup”.
    ”Geli Paakk..”, Tinah mendesah lagi.

    Dua pucuk bunganya makin mengencang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari
    gelombang radio. Dua tangan Tinah mencengkeram paha depanku.

    ”Aahh..hmmppff”, erangnya.

    Tangan kananku mengambil segayung air, kuguyur ke tubuh depannya. Kali ini kuusap – usap vagina luarnya
    dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di susu kanan Tinah.

    Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan seiring kecupan dan ciumanku di
    belakang leher dan daun – daun telinganya. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah
    menghangat dan sedikit basah.

    ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat.

    Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku
    kutekan – tekankan di lubang kencingnya.

    ”Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”.

    Kuku – kuku jemari Tinah terasa menggores dua paha depanku.

    ”Kenapa Tinah..hmm..kamu sendiri yang memulai kan”, bisikku.

    Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1
    masukkan lidah. Tinah terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian ia menikmatinya. Ganti tangan
    kananku melakukan hal yang sama. Tinah hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan

    ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang.

    Vagina dalamnya makin hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya
    menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi
    vaginanya.

    ”Jjanggann Ppakk..jorok..”, dengan dua tangannya menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”,
    jari telunjuk kanan kuletakkan di bibirnya. Dua tangannya kusandingkan di samping kiri dan kanan
    tubuhnya.

    Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku
    kuarahkan menatapnya. Tinah agak malu rupanya, tetapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku makin intens
    menyerang vagina luar dan dalamnya.

    ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang makin menjadi. Karena tak tahan
    dengan seranganku, dua tangannya meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu.

    Cairan lavanya makin keluar. Dua tanganku mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali
    kumasukkan ke vagina dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya.

    ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppfffs ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas
    dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit
    manis.

    Kudekap erat Tinah dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku tetap diusap –
    usap oleh Tinah.

    Ia menarik kepalaku dan menciumnya ganas. Lambat laun Tinah dapat belajar dariku. Tangan kanannya
    meremas dan menarik – narik penisku.

    ”Panjang ya Pak”, tanya Tinah.
    ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku.
    ”Aahh Bapak..”, jawabnya dengan memainkan bola – bolaku.

    Tinah merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang penis dan menciumnya. Mungkin ia belum pernah
    meng – oral suaminya dulu sebab penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas.

    ”Kamu mau ngemut burungku Tin..kayak ngemut permen lolly ? Tapi kalo belum pernah ya nggak usah..nggak
    pa – pa”. Tinah menatapku dan kubelai rambutnya.

    Dengan wajah ragu didekatkannya penisku di bibirnya. Tinah mulai membuka mulut, sedikit demi sedikit
    penisku memasuki mulutnya. Tinah menatapku lagi, meminta penjelasan langkah selanjutnya.

    ”Sekarang..kamu maju mundurkan dengan dipegang tanganmu. Yaa..gitu..oohh..hhmm”. Rupanya muridku cepat
    mengerti penjelasan gurunya.

    Rambut dan kepalanya kubelai dan kuremas – remas.

    ”Lalu..lidahmu kamu puter – puter di kepala penis atau di lubang kencing yang bergaris panjang
    ituuu..yyyahhhh..sssuuudddaahh pppiiinnnttteeerrr kkkaaammuu Tttiinnnn”.

    Kuangkat kepalanya dari penisku dan kami berciuman dengan panas. Saling meremas susu; pantat dan kelamin
    masing – masing. Lalu kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi. Dua tangannya kuletakkan di pinggir
    bak mandi. Kembali aku bermain – main di gunung Tinah. Penisku yang telah panas dan mengacung sekali
    kudekatkan ke vaginanya. Kukecup – kecup pundak dan leher belakangnya. Ikat rambutnya aku lepas sehingga
    dirinya terlihat makin seksi kala menggeliat – geliat dan rambutnya tergerai ke sana kemari.

    Aku geser – geserkan penis di pintu surgawinya, sengaja aku mempermainkan rangsangan pada Tinah.

    ”Oohh..Ppaakk..mmaassuukkkiinn..Pppaakkk”, pintanya. ”Kamu mau burungku kumasukkin..hmm.. ?”.
    ”Iyyyaa..Pppaakkk..aaayyyoo Pppaakk..”, rintihnya makin kencang. Kumasukkan penis pelan – pelan.
    ”Eemmppff..”, erangnya.

    Lalu kuhentakkan pelan hingga penisku terasa menyentuh dinding belakang.

    ”Ooouuggghh..Pppaakkkk..mentok Pppaakk”. Aku menggerakkan tubuh pelan – pelan, kunikmati jepitan dinding
    – dindingnya yang masih kuat.

    Dua tanganku tak henti bermain di dadanya. Kumainkan irama di vaginanya dengan hitungan 1 – 2 pelan 3
    kuhentakkan dalam – dalam.

    Lalu tangan kananku meraih kepalanya seperti tadi dan kucium panas bibirnya. Dinding vagina Tinah makin
    hangat dan banjir sepertinya. Dua tangannya mencengkeram erat pinggir bak mandi.Sekarang tanpa hitungan,
    kumasuk keluarkan penis cepat dan kuat. Cerita Maya

    ”Oohh..oohh…hhmmppffftt..”, erang Tinah berulang. Sedang aku sedikit menggeram dan
    ”oouugghhh..hhmmppff..mpekmu enaknya Tttiinn..”.
    ”Bbuurrruunnggg Bbbaapppakk jjjuugggaaa”. Jarak pinggangku dan pantat Tinah makin rapat.

    Tangan kanan kuusap – usapkan di vaginanya. Dalam kamar mandi hanya ada suara tetes air satu – satu
    serta desah, bunyi beradunya paha dan pantat dan erangan kami.

    ”Pppaaakkk..sssaaayyyaa mmaaauu..ooohhh..”.
    ”Tttuunnggguu Tttiiinnn..aaakkkuuu jjjuuggggaa..Di dalam apa di llluuaarrr”, tanyaku.
    ”Dddaalllammm aajjjaaa Pppaakkkk..oobbaattnyaa mmassihh aaddaa..”, jawab Tinah.

    Mendengar itu serangan makin kufokuskan. Segala yang ada di tubuhnya aku remas. Dua tangan Tinah tak
    tahan di pinggir bak mandi dan mencengkeram paha serta pantatku. Bibirku dicarinya lalu

    ”hhhmmmpppfffttt..”. Pantatku diremas kuat – kuat.

    Bibirnya dilepas dariku dan ”ooouuggghhh..”, desah Tinah panjang. Lava yang hangat terasa mengaliri
    penisku yang masih bekerja. Kepalanya tertunduk menghadap air di bak mandi. Kudekap erat tubuh depannya.
    Kukecup dan kugigit leher belakangnya. Lalu tangan kiriku meraih kepalanya dan kucium dalam – dalam.
    Dengan satu hentakan dalam kumuntahkan magma berkali – kali.

    ”Ooouugghhh Tttiinnaahhh..hhhmmm..”. kepalaku tertunduk di pundaknya dengan tangan kiri di susu sedang
    yang kanan di vaginanya.

    Lama kami berposisi seperti itu. ”Makasih ya Tin..kamu baik sekali. Enak banget tubuhmu”, kataku dengan
    membalikkan badannya dan kucium mesra bibirnya. Penis kumasukkan lagi, masih ingin berlama – lama di
    hangatnya vagina Tinah.

    ”Saya yang terima kasih Pak. Sudah lama saya pingin tapi sama orang nggak kenal kan nggak mungkin
    Pak.Burung Bapak pas di mpek saya”, Tinah menjawab dan mencium bibirku pula.
    ”Mpekmu masih kuat nyengkeramnya..dan panas”. Kubelai – belai kepalanya,
    ”kok bisa kamu pingin ngajak main sama aku ? Malah aku yang takut kamu laporin”. Sambil mengusap – usap
    punggungku, ”Tadi waktu saya bersihin mainan adik, saya liat gambar di komputer. Terus waktu Bapak
    kencing tadi kan lupa nutup pintu..keliatan burung Bapak yang agak gede pas keluar dari celana”.
    ”Oo gitu..nakal ya kamu.

    Bener kamu masih nyimpen obatnya ?”, sambil kucubit pipinya.

    ”Masih kok Pak..sisa yang dulu”, jawab Tinah.

    Makin lama terasa penisku yang mengecil. Kucium dalam – dalam lagi bibirnya,

    ”sekarang..mandi yang beneran”.
    ”Heeh..iya Pak”, Tinah menjawab sambil tersenyum manis.

    Ia lalu memelukku erat. Aku membalasnya dengan memeluk erat dan mengusap – usap punggung serta kepalanya.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Gadis Hiper

    Gadis Hiper


    73 views

    Cerita Maya I Beberapa tahun yang lalu, Jaka, saat itu 29 tahun, adalah satu eksekutif muda di suatu perusahaan ternama di Jakarta. Istrinya, Dewi, saat itu 24 tahun, adalah ibu rumah tangga yang aktif di beberapa kegiatan organisasi. Mereka dikaruniai 1 orang anak. Siang itu di ruangan kerja Jaka, Wenny, sekretaris Jaka sedang menghadap Jaka untuk menyerahkan beberapa berkas laporan.

    Gadis Hiper

    Gadis Hiper


    “Berkas sudah aku serahkan semua. Ada perlu apa lagi Pak?” tanya Wenny sambil tersenyum manja.
    “Ada..” kata Jaka.
    “Apa?” tanya Wenny lagi sambil tetap tersenyum.
    “Nanti jam istirahat kita makan dimana?” tanya Jaka sambil tersenyum.
    “Ich, dasar.. Mau lagi ya?” tanya Wenny sambil tetap tersenyum.
    “Kan baru kemarin aku kasih..” kata Wenny lagi.
    “Kamu menggairahkan sih..” kata jaka sambil meremas pantat Wenny.
    “Ya sudah nanti siang kita ke tempat biasa saja, ya?” tanya Jaka. Wenny mengangguk.
    “Suamimu belum pulang, ya?” tanya Jaka.
    “Belum. Dia masih di Semarang. Wah kalau dia ada disini, mana bisa kita berduaan. Dia pasti ajak aku makan siang bersama,” kata Wenny.
    “Ya sudah kalau begitu. Bereskan semua kerjaan kamu..” kata jaka.
    Wenny lalu meninggalkan ruangan tersebut. Tengah harinya Jaka dan Wenny terlihat meluncur ke sebuah hotel. Setelah check-in, mereka segera masuk ke kamar.

    “Aku selalu merindukan kamu,” kata Jaka sambil memeluk pinggang Wenny lalu mencium bibirnya.

    Wenny membalasnya dengan panas. Lidah Wenny bermain liar di dalam mulut Jaka, sementara tangannya meremas selangkangan Jaka yang sudah terlihat menggembung.

    “Ohh.. Kamu sangat pintar dan memuaskan.. Mmhh,” bisik Jaka sambil meremas pantat Wenny.
    “Cepat buka bajunya..” kata Wenny kepada Jaka sementara dia sendiri mulai melucuti semua pakaiannya. Cerita Maya

    Setelah keduanya telanjang, tangan Wenny menarik tangan Jaka ke ranjang lalu mendorongnya agar telentang. Dijilatinya puting susu Jaka lalu turun ke perut, sementara tangannya meremas dan mengocok kontol Jaka yang sudah tegang.

    “Ohh sayang..” desah Jaka sambil terpejam.
    “Ohh.. Mmhh..” desah Jaka makin keras terdengar ketika kontolnya terasa hangat dan nikmat berada dalam kuluman mulut Wenny.
    “Terus, Wen.. Teruss..” bisik Jaka sambil terpejam dan menggoyangkan pinggulnya.

    Setelah beberapa lama, Wenny menghentikan hisapannya pada kontol Jaka. Dia bangkit lalu naik dan mencium bibir Jaka. Kemudian dalam posisi mengangkangi wajah Jaka, Wenny mendekatkan memeknya ke mulut jaka.

    “Jilati, sayang..” bisik Wenny. Lidah Jaka tak lama kemudian sudah bermain di belahan memek Wenny.
    “Oww..” desah Wenny sambil terpejam sambil menggoyangkan pinggulnya.
    “Oh sayangg.. Ohh..” desah Wenny keras ketika kelentitnya dijilat lidah Jaka.
    “Terus sayang.. Terusshh..” desah Wenny sambil mendesakkan memeknya ke mulut jaka.

    Lalu digoyang pinggulnya lebih cepat sambi Jaka agak gelagapan tak bisa bernafas.

    “Ohh.. Ohh.. Ohh..” jerit Wenny ketika terasa ada yang menyembur di dalam memeknya.
    “Nikmat sekali sayang..” kata Wenny tersenyum sambil menurunkan badannya dan berbaring di samping Jaka.

    Jaka yang sudah bernafsu, langsung bangkit lalu membuka kaki Wenny lebar sehingga memeknya tampak terbuka. Diarahkan kontolnya ke lubang memek Wenny. Dengan sekali tekanan, bless.. Kontol Jaka sudah masuk ke dalamnya. Wenny terpejam menikmati nikmatnya rasa yang ada ketika kontol jaka dengan perkasa keluar masuk di dalam memeknya.

    “Ohh.. Fuck me!” desah Wenny sambil menatap mata Jaka.
    “Aku selalu bergairah kalau melihat kamu di kantor..” kata Jaka di sela-sela persetubuhan itu.
    “Kenapa?” tanya Wenny sambil tersenyum.
    “Karena kamu sangat sexy..” kata jaka lagi sambil terus memonpa kontolnya.
    “Aku pengen ganti posisi..” kata Wenny.

    Jaka menghentikan gerakan dan mencabut kontolnya dari memek Wenny. Wenny kemudian bangkit lalu nungging.

    “Cepat masukkan, sayang..” kata Wenny.

    Jaka mengarahkan kontolnya ke lubang memek Wenny yang jelas terbuka. Lalu, blep.. blep.. blep.. Kontol jaka kembali keluar masuk memek Wenny.

    “Ohh..” desah wenny sambil memejamkan matanya.

    Setelah beberapa lama, Jaka makin cepat mengeluar masukkan kontolnya ke memek Wenny. Kemudian Jaka mendesakkan kontolnya dalam-dalam sampai amblas semua ke dalam memek Wenny. Crott! Crott! Crott! Air mani Jaka muncrat di dalam memek Wenny banyak.

    “Ohh.. Enak sekali sayang..” kata Jaka sambil mencabut kontolnya.
    “Hisap, sayang..” kata Jaka.

    Wenny lalu bangkit kemudian tanpa ragu kontol Jaka dijilat membersihkan sisa air mani di batangnya. Kemudian mulutnya langsung mengulum dan menghisap kontol Jaka.

    “Sudah sayang..” kata Jaka, lalu mencium bibir Wenny mesra.

    Setelah berpakaian dan merapikan diri, mereka segera pergi untuk makan siang dan melanjutkan pekerjaan di kantor. Sore harinya, Jaka pulang ke rumah. Dewi dan anaknya menyambut gembira kepulangan Jaka. Setelah mandi, Jaka duduk dengan Dewi di ruang keluarga sambil memangku anaknya.

    “Mau makan, tidak?” tanya Dewi.
    “Nanti sajalah.. Aku masih kenyang,” sahut Jaka.
    “Nanti hari Minggu kita ajak anak kita berenang ya?” ajak Dewi.
    “Boleh..” jawab Jaka pendek sambil membuka-buka koran.

    Malam harinya, di tempat tidur, Dewi yang sedang naik birahi, sedang memeluk tubuh Jaka yang sedang memejamkan matanya.

    “Ayo, dong..” bisik Dewi.
    “Apa sih?” kata Jaka sambil tetap memejamkan matanya.
    “Aku pengen..” kata Dewi memohon.
    “Aku capek seharian kerja, sayang.. Besok lagi ya..” kata jaka sambil mengecup bibir Dewi lalu kembali memejamkan matanya.

    Dewi yang merasa kecewa hanya diam. Hari Minggu, sesuai dengan rencana, Jaka dan Dewi pergi ke kolam renang untuk mengantar anaknya. Disana sudah banyak yang berenang. Tua muda, laki perempuan. Setelah Dewi berganti pakaian renang dengan anaknya, mereka langsung masuk kolam. Jaka hanya duduk di pingir kolam melihat istri dan anaknya.

    “Tidak ikut berenang, Mas..” tanya seorang pria mengagetkan Jaka.
    “Eh, tidak.. Males,” kata Jaka sambil melirik ke orang tersebut.
    “Kenalkan, saya Edi..” kata pria itu.
    “Jaka,” kata Jaka sambil bersalaman.

    Jaka menatap Edi. Sangat ganteng dan tubuh Edi sangat bagus seperti orang yang sering fitness. Juga terlihat celana renang mininya sangat menggembung bagian depannya pertanda dia punya kontol yang besar.

    “Boleh saya duduk disini?” kata Edi.
    “Oh, boleh.. Boleh..” kata Jaka.

    Edi duduk berhadapan dengan Jaka. Jarak mereka cukup dekat. Mereka bicara ngalor ngidul tentang keluarga, pekerjaan dan lain-lain. Pada mulanya Jaka biasa saja, tapi entah kenapa lama-kelamaan Jaka sangat suka pada wajah ganteng Edi. ceritasexpembantu.com Ditatapnya lekuk wajah Edi yang sempurna. Ada perasaan berdesir di hatinya. Apalagi ketika melihat Edi tersenyum, jaka merasa sangat ingin mengecup bibirnya. Jaka akhirnya menjadi salah tingkah.

    “Kenapa, Mas?” tanya Edi sambil tersenyum.

    Dengan sengaja tangannya menggenggam tangan Jaka. Jaka berdesir darahnya. Entah kenapa ada perasaan senang ketika tangannya digenggam.

    Baca Juga : Kado Istimewa

    “Tidak apa-apa..” kata Jaka sambil menatap Edi.

    Mereka saling bertatapan selama beberapa saat. Hati Jaka benar-benar tak menentu ketika saling bertatapan sambil digenggam tangannya.

    “Kita bicara di tempat yang lebih nyaman saja, Mas..” kata Edi.

    Jaka diam sambil melirik anak istrinya yang sedang berenang. Jaka bangkit lalu menghampiri mereka di tepi kolam.

    “Aku keluar sebentar dengan dia ya, sayang? Ada sedikit bisnis..” kata jaka sambil menunjuk Edi.

    Edi tersenyum dan mengangguk ke Dewi ketika Dewi meliriknya. Dewipun tersenyum.

    “Jangan lam-lama ya..” kata Dewi.
    “Iya,” kata Jaka sambil bangkit lalu menghampiri Edi.
    “Kemana kita?” tanya Jaka.
    “Kita bicara di tempat parkir saja biar tenang..” kata Edi sambil melangkah diikuti Jaka.

    Jaka terus menatap tubuh dan bokong Edi dari belakang. Darahnya semakin berdesir. Setelah Edi berganti pakaian, mereka lalu menuju tempat parkir.

    “Di dalam mobil saya saja kita bicara,” kata Edi sambil membuka pintu mobil berkaca gelap.
    “Lebih tenang dan nyaman,” kata Edi lagi.

    Merekapun segera masuk.

    “Saya suka kepada Mas.. Mas cakep,” kata Edi sambil mengenggam tangan Jaka.

    Jaka terdiam sambil menatap Edi. Hatinya berdebar disertai dengan munculnya satu gairah aneh ketika menatap Edi. Edi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jaka. Tak lama bibirnya mengecup bibir Jaka. Jaka terdiam, tapi perasaannya sangat senang. Lalu tak lama Jaka membalas kecupan bibir Edi. Ciuman mereka makin lama makin liar disertai permainan lidah..

    “Buka celananya, Mas.. Waktu kita tidak banyak, anak istri Mas menunggu,” kata Edi sambil dia sendiri melepas celana pendek dan celana dalamnya.

    Tampak kontolnya sudah tegak. Jaka agak ragu untuk melepas celananya. Edi tersenyum lalu tangannya segera membuka sabuk dan resleting celana Jaka. Kemudia diperosotkannya celana Jaka sampai lepas. Celana dalam Jaka tampak menggembung. Edi lalu melepas celana dalam Jaka.

    “Kontol Mas sangat besar,” kata Edi sambil meremas kontol Jaka.

    Jaka terdiam sambil merasakan suatu sensasi kenikmatan ketika kontolnya dikocok oleh sesama lelaki. Apalagi ketika mulut Edi telah mengulum kontolnya. Jaka terpejam sambil meremas rambut Edi.

    “Ohh..” desah Jaka. Edi terus menjilat, menghisap, dan mengocok kontol Jaka.
    “Gantian, Mas..” kata Edi.

    Sambil menempatkan diri di kursi. Dengan agak ragu, karena pertama kali, Jaka menggenggam kontol Edi yang tegang berdenyut. Matanya terus menatap kontol yang digenggamnya.

    “Kocok, Mas..” bisik Edi.

    Jaka secara perlahan mengocok kontol Edi. Edi terpejam menikmatinya. Lama kelamaan Jaka makin asyik menikmati permainan tersebut. Dengan gairah yang makin lama makin tinggi, tangannya terus mengocok kontol Edi. Lalu tanpa ragu lidahnya mulai menjilati kepala kontol Edi. Ada cairan bening asin dan gurih terasa. Jaka terus melumat kontol Edi dan menghisapnya sambil sesekali mengocoknya.

    “Ohh.. Nikmatthh..” desis Edi sambil meremas rambut Jaka.

    Tak lama tubuh Edi mengejang. Didesakan kepala Jaka hingga kontolnya hampir masuk semua ke mulut Jaka. Lalu, crott! crott! Air mani Edi muncrat di dalam mulut Jaka. Jaka langung melepaskan kulumannya. Perutnya terasa mual ketika air mani Edi muncrat di dalam mulutnya. Banyak air mani di dalam mulut Jaka yang akan diludahkan.

    “Jangan diludahkan!” kata Edi sambil dengan cepat melumat bibir Jaka.

    Dihisapnya semua air mani di mulut Jaka sampai habis lalu ditelan. Lalu dilumatnya lagi bibir Jaka. Mereka berciuman liar sambil saling kocok kontol. Tak lama kemudian Edi naik ke pangkuan Jaka. Diarahkan lubang anusnya ke kontol Jaka. Setelah masuk. Secara perlahan tubuh Edi naik turun sambil matanya terpejam menikmati nikmatnya kontol jaka di anusnya. Sementara Jaka juga terpejam sambil menggerakan kontolnya keluar masuk anus Edi.

    “Ohh.. Sshh..” desis Jaka merasakan nikmatnya kontol keluar masuk anus Edi.
    “Enak, Mas?” bisk Edi.

    Jaka tak menjawab. Hanya pejaman mata dan desahan kenikmatan saja yang keluar dari mulutnya.

    “Aku mau keluarrhh..” bisik Jaka. Gerakannya makin cepat.
    “Keluarkan.. Puaskan..” bisik Edi.

    Jaka memegang pinggang Edi lalu didesakan ke kontolnya hingga kontol Jaka masuk semua ke anus Edi. Croott! Croott! Croott! Air mani Jaka muncrat di dalam anus Edi.

    “Ohh.. Nikmat sekali..” kata Jaka lemas sambil memeluk tubuh Edi.

    Edi bangkit lalu mulutnya segera menjilat dan menghisap kontol Jaka yang berlumuran air mani sampai habis. Setelah itu mereka berciuman..

    “Kapan kita bisa bertemu lagi,” kata Edi sambil berpakaian.
    “Kapanpun kamu mau,” kata Jaka sambil berpakaian pula lalu menyerahkan kartu namanya kepada Edi.

    Setelah berciuman mesra sebentar, Edi segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Jaka segera kembali menemui keluarganya di kolam renang.

    “Bisnis apa sih?” tanya Dewi.
    “Lumayanlah sebagai sampingan, siapa tahu berhasil,” kata Jaka.

    Dewi diam karena dipikirnya jaka benar-benar berbisnis dengan Edi. Begitulah, sejak saat itu Jaka telah benar-benar menjadi petualang seks yang hampir melupakan keluarganya. Telah sangat banyak wanita yang dikencaninya, juga sangat banyak laki-laki yang dipacarinya. Tapi tetap Jaka menjadikan Edi sebagai kekasih utamanya. Memang secara materi, Jaka selalu memberikan apapun dan berapapun yang Dewi butuhkan. Tapi tidak secara batiniah.. Dewi sebetulnya sudah mulai merasa jenuh dan tersiksa akan kehampaan batinnya.

    Sampai suatu ketika.. Hari Minggu itu Jaka pamit kepada Dewi untuk bertemu Edi di suatu tempat demi kepentingan bisnis. Sebenarnya Jaka menemui Edi di suatu motel untuk berkencan. Setelah check-in, mereka segera masuk kamar.

    “Lama amat sih, Mas,” kata Edi sambil memeluk Jaka lalu melumat bibirya.

    Jaka tidak menjawab, hanya balasan lumatan bibirnya saja yang menandakan kalau Jaka bergairah. Sambil tetap berciuman, tangan Edi dengan cepat membuka semua kancing baju dan resleting celana Jaka.

    “Buka bajunya, Mas..” kata Edi tak sabar.

    Jaka lalu melepas semua pakaiannya sambul tersenyum. Setelah Jaka telanjang, Edi langsung jongkok lalu mengulum kontol Jaka dengan bernafsu.. Begitulah, mereka memacu birahi saat itu tanpa menyadari ada seorang wanita dan anak kecil yang duduk menunggu di depan kamar mereka. Cerita Maya

    Dialah Dewi.. Sebetulnya Dewi sudah lama mendengar selentingan tentang kelakuan Jaka. Tapi Dewi tetap bertahan karena rasa cintanya kepada Jaka masih besar kala itu, juga karena tidak ada bukti. Setelah selesai melampiaskan nafsu birahi mereka, Jaka dan Edi berciuman lalu segera berpakaian. Sambil berpegangan tangan dan tersenyum penuh arti, mereka membuka pintu kamar untuk pulang. Ketika pintu terbuka.. Jaka terkesiap darahnya tanpa bisa bicara sepatah katapun. Matanya nanar menatap Dewi dan anaknya.

    “Aku sudah lama mendengar kelakuan kamu dari teman-teman kamu..” kata Dewi dengan nada datar bergetar menahan amarah.
    “Kalau kamu berhubungan hanya dengan perempuan, aku masih bisa memaafkan kamu..” kata Dewi dengan suara mulai terbata-bata.
    “Tapi tidak dengan kelakuan menjijikan ini!” suara Dewi mulai meninggi sambil berderai air mata.
    “Aku minta cerai!!” bentak Dewi.
    “Sekarang juga aku mau pulang ke rumah orang tua.. Jangan temui aku dan anakmu lagi!” bentak Dewi lagi.
    “Aku akan kirim gugatan cerai untuk kamu tanda tangani lewat pengacara..” kata Dewi lagi sambil segera menarik tangan anaknya dan berlari ke jalan untuk memanggil taksi.

    Jaka dan Edi hanya diam mematung..

    Menurut penuturan Jaka, tak lama kemudian mereka resmi bercerai. Sampai detik ini rasa rindu Jaka kepada Dewi, dan

    terutama rindu kepada anaknya sangatlah besar dan sangat menyiksa batinnya. Jaka sangat ingin untuk bisa kembali bersama mereka.

    Pernah beberapa kali Jaka mencoba untuk mengubah kebiasaan yang selama ini dijalaninya, tapi tidak membuahkan hasil. Sudah beberapa psikiater dan pemuka agama yang dimintai pertolongannya, tapi tetap nihil. Keinginan dan hasratnya untuk bercinta dengan wanita dan juga lelaki sangatlah tidak bisa dibendung.. Batinnya sudah tersiksa oleh rasa rindu akan keluarga dan keinginan untuk berubah, tapi raganya tidak bisa membendung gairahnya..

    Semua nasihat yang sangat mudah diucapkan oleh orang yang dimintai tolong, ternyata sangat susah dilakukan.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Kado Istimewa

    Kado Istimewa


    82 views

    Cerita Maya I Halo pembaca perkenalkan namaku Alex. Well, langsung saja kali ya. Ceritaku ini bermula kira-kira 5
    tahun yang lalu. Saat itu umurku masih 16 tahun, yaah mendekati 17 tahun. Aku ingat betul karena
    ceritaku ini terjadi berdekatan dengan ulang tahunku, dan mungkin sedikit berhubungan dengan ulang
    tahunku itu.

    Kado Istimewa

    Kado Istimewa

    Hari itu adalah tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku yang ke 17. Saat itu aku dan Mamaku sedang
    makan malam berdua. Oh iya ada yang hampir kulupakan. Sejak umur 15 tahun aku tinggal berdua dengan
    Mamaku. Orangtuaku bercerai ketika aku berumur 15 tahun. Dan aku memilih untuk ikut Mama. Entah kenapa
    tapi sejak kecil aku memang lebih dekat ke Mama. Mungkin karena Mama sangat sayang kepadaku.

    Aku dan Mama tinggal di sebuah rumah yang lumayan besar. Maklumlah, Kakekku (dari pihak Mama) adalah
    pengusaha yang sangat sukses. Dan Mama adalah penerusnya. Oh iya sebagai gambaran, saat itu Mamaku masih
    berusia 33 tahun. Hari ulang tahun Mama terpaut dua minggu dari hari ulang tahunku. Mama mempunyai wajah
    yang sangat cantik. Berkulit kuning langsat yang menambah kecantikannya. Dengan tinggi dan berat sekitar
    165 cm dan 45 kg membuat Mama terlihat sangat ideal. Sedangkan buah dada Mama kuperkirakan berukuran 36
    yang nantinya ternyata terbukti perkiraanku salah. Cerita Maya

    Kembali ke cerita awal. Pada saat asyik-asyiknya aku melahap makan malamku, Mama tiba-tiba berkata,
    “Ton, besok kamu kan ulang tahun.”
    Aku yang lagi enak-enaknya makan sih hanya mengangguk saja. Melihat aku yang tidak begitu menanggapinya,
    Mama berkata lagi, “Kalo Mama nggak salah umurmu udah 17 tahun kan?”
    Dan seperti tadi, aku pun hanya mengangguk-angguk saja sambil tetap melahap makanan di depanku.

    “Lex, Mama ingin ulang tahunmu besok menjadi ulang tahun yang berkesan buatmu. Jadi kamu boleh meminta
    kado apa saja yang kamu mau.”
    Aku yang mulai tertarik dengan ucapan Mama pun bertanya, “Apa saja Ma..?”
    “Iya, apa saja yang kamu mau,” jawab Mama.
    Dengan hati-hati aku bertanya lagi, “Ma, Toni kan udah gede.”
    “Betul, Mama tau itu. Lalu..?” tanya Mama penuh selidik.
    “Alex rasa udah waktunya Alex tau yang namanya.. seks,” kataku dengan hati-hati.

    Kulihat Mama agak terkejut dengan perkataanku barusan. Tapi setelah dapat menguasai keadaan, Mama pun
    tersenyum sambil bertanya, “Apa nggak ada kado lain yang lebih kau inginkan dari pada itu, Lex..?”
    “Tadi Mama bilang boleh minta apa saja, kok sekarang jadi menolaknya. Kalo Mama nggak mau ya udah. Beri
    aja Alex kado sweater atau baju seperti ulang tahun Alex yang udah-udah.” kataku dengan wajah agak
    muram.

    “Wow, tunggu dulu donk Sayang. Kan Mama belon bilang mau apa nggak. Jadi jangan ngambek dulu donk.” kata
    Mama dengan wajah sabar.
    “Jadi.. boleh nggak, Ma..?” tanyaku dengan tidak sabar.
    “Setelah Mama pikir, bolehlah. Buat anak tercinta sih apa saja boleh kok Sayang..” jawab Mama.
    “Terima kasih Ma. Alex sayang banget sama Mama.” jawabku dengan antusias.

    Baca Juga : Minta Di Ngentot

    Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seperti malam kemarin, aku dan Mama lagi makan malam berdua. Malam
    itu Mama terlihat cantik sekali.
    Mama tiba-tiba berkata, “Alex, kamu udah siap menerima kado istimewamu..?” tanya Mama dengan tersenyum
    manis.
    Aku yang memang sudah tidak sabar langsung saja menjawab, “Ya jelas siap donk, Ma.”

    Setelah selesai makan Mama menggandengku ke ruang televisi.
    “Duduk di sini Sayang. Tunggu sebentar ya..!” kata Mama sambil menyuruhku duduk di permadani.
    Mama lalu masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian Mama keluar dari kamar. Aku terkejut, karena sekarang
    Mama hanya memakai baju tidur yang sangat seksi dan menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Di tangannya,
    Mama memegang beberapa buah CD. Mama lalu menuju ke VCD player lalu memasang CD yang dibawanya.

    Setelah diputar, ternyata itu adalah VCD XX, VCD yang pertama kuingat berjudul ‘ChowDown’. Setelah duduk
    di sebelahku, Mama memandangiku sambil berkata, “Kamu udah siap Lex..?” tanya Mama.
    “Udah dari tadi Ma.” jawabku.

    Mama pun mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu sedetik kemudian Mama mulai mencium bibirku. Dengan
    refleks aku pun membalas ciumannya. Dan tidak lama kedua lidah kami pun bertautan.
    “Mmmh.. mmhh.. mm..” hanya desahan saja yang terdengar kini dengan diiringi desahan-desahan dari film
    yang diputar di TV.
    Aku memeluk Mama erat-erat sambil tetap berciuman. Mama pun terlihat sudah sangat terangsang.

    Tidak lama tanganku pun mulai menggerayangi tubuh Mama. Tangan kiriku mulai meremas-remas payudara Mama
    dari luar baju tidurnya. Sedangkan tangan kananku mulai meraba-raba selangkangan Mama.
    “Ahh..!” teriak Mama ketika tanganku menyentuh vaginanya.

    Setelah sekitar 20 menit kami saling berciuman dan saling meraba, Mama melepaskan pelukan dan ciumannya.
    Lalu Mama menuntun tanganku untuk membuka bajunya. Tanpa diminta dua kali, tanganku pun mulai beraksi
    melepas baju tidur Mama dari tubuhnya. Sekarang Mama hanya memakai BH dan celana dalam saja. Mama
    tersenyum padaku lalu mendekatiku. Dan tidak lama, tangan Mama mulai berusaha melepas pakaian yang
    kukenakan. Aku hanya menurut saja diperlakukan begitu. Dan kini pun hanya tinggal CD saja yang melekat
    di tubuhku.

    Dengan tubuh yang sama-sama setengah telanjang, aku dan Mama kembali berpelukan sambil berciuman. Hanya
    desahan saja yang terdengar di ruangan. Lalu perlahan tanganku membuka kaitan BH Mama. Melihat aku yang
    kesulitan membuka BH-nya, Mama tersenyum, lalu tangannya membantuku membuka BH-nya. Sekarang buah dada
    Mama yang indah itu pun terpampang jelas di depanku.

    “Tetek Mama gede banget sih. Toni suka deh,” kataku sambil meraba payudara Mama.
    “Jangan diliatin aja donk Sayang..! Dijilat dan disedot donk Sayang..!” pinta Mama.
    Tanpa dikomando dua kali, aku langsung saja menjilati payudara Mama yang sebelah kanan. Sedangkan
    tangan kananku meremas-remas payudara Mama yang sebelah kiri.
    “Aahh.. Ohh.. *****..!” teriak Mama ketika buah dadanya kujilat dan kusedot-sedot.

    Secara bergantian payudara Mama kusedot dan kujilati, sedangkan tangan kanan Mama meremas-remas batang
    penisku dari luar CD-ku. Dan tanpa sadar, Mama berusaha melepaskan CD-ku. Aku pun tidak mau kalah.
    Setelah puas menggarap payudara Mama yang besar itu, aku pun berusaha melepaskan CD Mama. Melihat
    kelakuanku yang tidak mau kalah, Mama hanya tersenyum saja. Sesaat kemudian kami berdua sudah telanjang
    bulat. Aku hanya dapat menelan ludah melihat tubuh indah Mama. Di selangkangan Mama, terlihat bulu-bulu
    yang tertata rapi membentuk segitiga.

    “Lex, kont*l kamu gede bauanget,” kata Mama takjub melihat batang penisku yang sudah menegang.
    “Masa sih Mam..?” tanyaku seakan tidak percaya, “Tapi tetek Mama juga gede kok. Emang tetek Mama itu
    ukuran berapa..?” tanyaku lagi.
    “Ukuran 38B, emang kenapa si Lex. Kamu suka kan..?” tanya Mama.
    “Ya jelas donk Mama sayang, mana mungkin Toni nggak suka.” jawabku, dan tanganku kembali meremas
    payudara Mama sambil menggigitnya.
    “Aauwww..!” teriak Mama, “Kamu nakal Sayang, masa tetek Mama digigit..?” kata Mama manja.
    “Ma’af, Ma. Alex nggak sengaja.” jawabku sekenanya.
    “Nggak apa-apa kok Sayang, Mama suka kok. Kamu boleh memperlakukan Mama sesukamu.” kata Mama sambil
    tangan kanannya masih meremas-remas kemaluaku.

    Dan tidak lama Mama pun berjongkok, lalu tersenyum. Mama mendekatkan wajahnya ke kemaluanku, lalu mulai
    mengeluarkan lidahnya.
    “Uuhh.. aahh.. enak Mam..!” aku berteriak ketika lidah Mama mulai menyentuh kepala penisku.
    Mama masih menjilati penisku, mulai dari pangkal sampai ujung kepala penisku. Dan kedua bijiku pun
    tidak terlewatkan oleh lidah Mama. Aku hanya memejamkan mata sambil mendesah-desah memperoleh perlakuan
    seperti itu.

    Setelah sekitar sepuluh menit, aku merasa kemaluanku berada di sebuah lubang yang hangat. Aku pun
    membuka mataku dan melihat ke bawah. Ternyata sekarang separuh penisku sudah masuk ke mulut Mama.
    “Aahh.. oohh.. yeeahh.. enaakk ba..nget Maa..!” teriakku lagi.
    Kuperhatikan penisku diemut-emut oleh Mama tanpa mengenai giginya sedikit pun. Lidah Mama bergerak-
    gerak dengan lincah seperti ular.

    Dan sekarang kulihat Mama menyedot-nyedot bulu kemaluaku seperti mau dikeramasi.
    “Maa.. enak Maa..!” aku hanya dapat berteriak.
    Aku merasa ada yang mau keluar dari penisku, aku tidak tahan lagi, dan seerr.. Aku kaget juga, kupikir
    yang keluar tadi adalah sperma, tapi tidak tahunya adalah air kencingku yang menyembur sedikit.
    “Wah, ma’af Ma. Toni nggak sengaja.” kataku buru-buru dengan napas yang masih terengah-engah.

    Tapi apa yang terjadi, Mama malah menjilati air kencingku yang berleleran. Gila.., sensasi yang
    kurasakan sangat luar biasa. Dan tiba-tiba Mama menarik tanganku dan mengajakku ke kamar mandi. Kamar
    mandi kami dapat dibilang sangat besar dan mewah. Sudah itu wangi lagi. Mama menuntunku menuju jacuzi,
    lalu Mama pun berlutut lagi. Batang penisku dikocok-kocok di depan wajahnya, terus disedot-sedot seperti
    makan es krim.

    “Ayo Sayang..! Sekarang kencingi Mamamu ini..!” kata Mama.
    Aku kaget juga. Tapi aku memang sudah tidak tahan lagi ingin kencing. Aku pun mengerahkan semua tenaga
    untuk kencing. Kulihat mulut Mama menganga dan lidah Mama seperti ular menelusuri kepala penisku.
    Dan ketika kulihat mulut Mama tepat di depan batang penisku, “Maa.., Alex mo pipiis..!” teriakku.
    Kulihat air kencingku menyembur kencang sekali dan seerr.., masuk ke dalam mulut Mama.

    Kuperhatikan mata Mama merem sambil mulutnya terus menganga menerima siraman air kencingku. Kepalang
    tanggung, akhirnya kumasukkan juga penisku ke mulut Mama sehingga air kencingku memancar dan muncrat
    keluar lagi berleleran di tubuh telanjang Mama.
    “Enak nggak Ma..?” tanyaku setelah aku selesai kencing.
    Mama memandangku dengan manja, sedangkan mulutnya masih mengulum batang kemaluanku.

    Setelah itu kedua bijiku pun dijilatinya.
    “Kamu mau tau rasanya, Lex..?” tanya Mamaku setelah melepaskan kulumannya dari penisku.
    “Boleh aja, Ma.” jawabku penuh semangat.
    Mama lalu menyuruhku tidur telentang di lantai kamar mandi. Aku mengikuti saja perintah Mama.

    Mama lalu berdiri dengan kedua kakinya berada di kiri kanan kepalaku. Dan sesekali kakinya digosok-
    gosokkan ke wajahku. Dan meskipun ada air kencingku yang berleleran di kaki Mama, aku tidak merasa jijik
    untuk menjilati kaki Mama. Setelah itu Mama perlahan-lahan mulai jongkok. Kuperhatikan pantat seksi Mama
    mulai mendekati wajahku. Aku menunggu dengan sabar sampai sesaat vagina Mama benar-benar berada tepat di
    atas mulutku.

    Lubang kemaluan Mama terlihat sudah berlendir bertanda Mama sudah terangsang. Kujilati lubang kemaluan
    dan lubang anusnya secara bergantian. Mama menguakkan bibir vaginanya secara perlahan sampai-sampai aku
    dapat melihat lubang kemaluannya mengembang.
    “Mama mau kencing nih. Minuumm.. Sayang..!” Mama merintih dengan sangat keras.
    Seerr.., dari lubang kencing Mama memancar cairan yang bening dan panas sekali, masuk ke mulutku dengan
    deras.

    Entah karena sudah nafsu atau karena apa, kutelan saja cairan yang rasanya asin dan agak pahit yang
    keluar dari kemaluan Mama. Suara erangan kepuasan menggema di dalam kamar mandi itu.
    “Bagaimana rasanya Sayang, enak bukan..?” tanya Mama sambil matanya terpejam menahan nikmat karena
    vaginanya kujilat-jilat.
    “Enak banget, Ma.” jawabku singkat.

    Setelah itu Mama berdiri lalu duduk di sebelahku. Kedua kakinya dikangkangkan sehingga aku dapat melihat
    vaginanya dengan jelas.
    “Sayang, sekarang kamu jilatin mem*k Mama ini..!” kata Mama sambil menunjuk ke arah vaginanya.
    Setelah itu Mama tidur telentang di lantai kamar mandi. Aku langsung saja menuju bagian bawah pusar
    Mama. Kudekatkan wajahku ke vagina Mama, lalu kukeluarkan lidahku dan mulai menjilati vaginanya.

    “Ahh.. fuuckk.. yeaahh.. shiitt.. hisapnya itilnya Sayang..!” Mama hanya dapat meracau saat kujilati
    vagina dan klitorisnya kuhisap-hisap.
    “Ohh.. Aahh.. fuuck.. mee.. yeaahh.. masukin kont*lmu sekarang Sayang..! Mama udah nggak tahan..!” pinta
    Mama memohon.
    Aku pun perlahan bangun dan mensejajarkan tubuhku dengan Mama. Kugenggam batang penisku, lalu
    perlahan-lahan kudorong pantatku menuju vagina Mama.

    Ketika memasuki liang senggamanya, Mama berteriak-teriak, apalagi ketika separuh penisku mulai
    menelusuri dinding vaginanya. Baru pertama kali aku merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini.
    Rasanya seperti diurut-urut, enak seperti dielus-elus daging basah dan kenyal.
    “Aahhkk enak se..kali.. Sayang..! Fuuck.. me.. hardeer.. honey..!” jeritan Mama memenuhi kamar mandi.

    Setelah sekitar 10 menitan, aku mencabut batang kemaluanku dari lubang vagina Mama. Mama terlihat sangat
    kecewa ketika aku melakukan itu. Dan tidak lama kemudian aku meminta Mama untuk berganti posisi. Kuminta
    Mama untuk menungging. Lalu dari belakang kuremas-remas pantat Mama yang semok itu. Lalu kuarahkan
    batang penisku ke bibir vagina Mama. Setelah kurasa tepat, lalu kusetubuhi Mama dari belakang dengan
    doggie style.

    “Aduhh.. enak.. sekali Sayang..! Kamu.. pin..tarr.. Sayang..!” jerit Mama ketika kusetubuhi dari
    belakang.
    Sedangkan aku pun tidak kalah hebohnya dalam berteriak, “Maa.. mem*k.. nya.. e..naak..!”
    Rupanya gaya itu membuat Mama sudah tidak tahan lagi, sehingga sesaat kemudian, “Sayang Mama mau
    sam..paai.. Aahh..!”
    Mama berteriak keras sekali, dan aku yakin kalau kami tidak berada di rumah itu, orang lain pasti
    mendengar teriakan Mama.

    Aku merasakan penisku seperti disiram cairan hangat. Walau kusadari Mama sudah mencapai puncaknya, aku
    tetap saja memompa batang penisku di dalam vagina Mama. Malah semakin giat karena sekarang liang Mama
    sudah licin oleh cairan Mama.
    Dan tidak lama, “Maa.. Alex.. mau sampaaii nih..!” kataku ketika aku merasa mau orgasme.
    “Cabut kont*lmu Sayaang..!” perintah Mama.
    Segera saja batang kemaluanku kucabut dari liang Mama yang masih menungging.

    Mama lalu berbalik kepadaku dan memegang batang penisku. Lalu dibukanya mulutnya dan Mama pun mulai
    mengulum kemaluanku.
    “Aahh.. oohh..!” hanya desahan itu yang keluar dari mulutku.
    Dan, creet.. croott.. crot..! air maniku menyemprot sebanyak sepuluh kali ke dalam mulut Mama. Mama
    tidak langsung menelan spermaku, melainkan memainkan spermaku di dalam mulutnya seperti orang yang
    sedang berkumur. Dan sebelum ditelan, Mama membuka mulutnya dan menunjukkan spermaku yang ada di dalam
    mulutnya itu. Baru setelah itu pejuku ditelan sampai habis.

    Belum selesai sampai di situ, Mama menjilat-jilat batang penisku dan membersihkan sisa sperma yang masih
    menempel di kemaluaku. Rasanya ngilu, nyeri plus gimana gitu. Setelah itu kami berdua menuju ke ruang
    TV. Aku dan Mama duduk bersebelahan dalam keadaan telanjang bulat.

    “Bagaimana kadonya, Lex..?” tanya Mama ketika sudah agak tenang.
    “Luar biasa, Ma. Nggak ada kado yang sehebat tadi. Terima kasih, Ma.” sahutku.
    “Mama bahagia kalo kamu puas. Sebenarnya Mama juga menginginkannya kok.” jawab Mama.
    “Lalu kenapa Mama nggak minta ke Alex..?” tanyaku lagi.
    “Iya ya, kalo tau kamu punya kont*l segitu gedenya Mama pasti udah minta sejak dulu. Tapi nggak apa-apa
    kok, kan belon terlambat. Betul kan..?” sahut Mama sambil tersenyum manis padaku.
    “Iya Ma. Tapi Ma, setelah ini masih ada ronde selanjutnya kan..?” tanyaku.
    “Kalo kamu masih kuat, ya pasti donk Sayang..!” jawab Mama manja.
    “Alex sayang banget sama Mama,” kataku.
    “Mama juga sayang banget sama Alex.” jawab Mama.

    Setelah berisrirahat secukupnya, kami berdua melanjutkan persetubuhan kami sampai jam dua pagi. Setelah
    itu kami berdua tidur dalam keadaan telanjang bulat. Dan keesokan harinya aku dan Mama, yang kebetulan
    lagi tidak masuk kerja, berada di rumah dalam keadaan telanjang bulat selama sehari penuh. Dan tidak
    terhitung berapa kali kami bersetubuh. Sampai sekarang aku masih tinggal dengan Mama dan masih setia
    menyetubuhi Mama setiap hari, selama Mama tidak haid.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Minta Di Ngentot

    Minta Di Ngentot


    81 views

    Cerita Maya I Hari itu hari minggu, Riski, anak sma kelas 2 itu memilih dirumah saja. Seperti biasanya ia memilih menyalakan tv dan duduk disofa, sambil mendengar suara mesin jahit milik ibunya. Riski Berjam jam hanya duduk menonton acara di tv.

    Minta Di Ngentot

    Minta Di Ngentot

    “Riski, mandi sana, udah sore, jangan nonton tv terus”,
    “iya bu, bentar” Lalu riski segera mandi. Usai mandi, ia segera memakai pakaian lagi, namun ia melihat ibu dan ayahnya tampak akan keluar rumah.
    “Bu, mau kemana?”,
    “Anaknya kakakmu sakit, ibu sama ayah mau kerumahnya, kamu jaga rumah ya”,
    “iya bu”,
    “nanti ada yang ngambil jahitan itu ditas hitam disana”,
    “Oke deh, aman” Lalu Segera Anak SMA itu ditinggal ayah dan ibunya keluar rumah.
    Beberapa menit kemudian anak sma itu mendengar suara bel, tepat pukul 16:00. Saat ia buka pintu, tampak seorang perempuan yang tampaknya berumur 20 tahun an, cantik dan tampak sexy sekali, memakai tanktop dan hotpants saja.

    “Dek, ibunya ada?”,
    “Tadi keluar sama ayahku, mbak ini siapa?”,
    “Saya Efrisha, anu, saya mau ngambil jahitan”,
    “Ooh, silahkan masuk mbak” Lalu Riski mengambil tas hitam itu dan memberikannya kepada cewek cantik itu.

    Riski mulai tertarik pada cewek itu, terlihat tanktopnya itu menahan buah dada montok didalamnya, anak sma ini jadi mulai memikirkan yang aneh aneh.

    “Mbak, dicoba aja dulu…”,
    “iya deh, saya coba dimana nih?”,
    “Dikamar saja mbak, sini sini” Lalu tas hitam itu dibawa kekamar, lalu Efrisha yang cantik itu masuk kekamar.

    Riski sebenarnya ingin masuk juga, namun ia memilih diluar saja. Beberapa menit kemudian Riski dipanggil mbak Efrisha,

    “Dek.. masuk sini dong…” Riski malah lompat dengan gembira mendengar suara itu.
    “Iya mbak bentar” Riski lalu masuk kedalam kamar.

    Saat ia membuka pintu, si anak SMA itu kaget bukan main, Efrisha yang montok itu sedang melihat cermin, terlihat cewek sexy itu memakai BH dan celana dalam saja!

    “Dek, pas gak sih ini?” Ternyata di dalam tas hitam itu tadi ada beberapa BH, celana dalam, dan pakaian lain.

    Buah dada montok cewek sexy itu terlihat tidak muat diBH itu, juga pahanya yang mulus membuat Riski menelan ludah.

    “mm..mm..pas kok mbak”,
    “Tapi rasanya kok kekecilan ya?”,
    “coba yang lain aja mbak” Lalu Cewek itu melepas bhnya, buah dadanya sekarang bisa dilihat seluruhnya oleh Riski, terlihat buah dada itu sangat mempesona, dengan puting merah muda.

    Baca Juga : Kuala Lumpur

    Efrisha mengambil bh lainya, tapi ia tampak kesulitan,

    “Dek, bantuin dong” , Deg duer! Riski makin gembira,
    “Bantu ngapain mbak?”,
    “Tolong itu yang belakang benerin” Lalu Riski mendekat, anak SMA itu lalu membantu menyatukan pengait bh dipunggung cewek sexy itu.

    Terlihat bh yang satu ini lebih besar, sehingga tampak pas dengan buah dada montok Efrisha. “Naah, ini baru pas dek” Efrisha memutar mutar badannya dan menunjukan kemolekan tubuh indahnya kepada anak sma itu. Terlihat Riski hanya bisa melongo melihat seorang bidadari yang setengah telanjang itu mempertontonkan kemontokan tubuhnya. Cerita Maya

    “Eeh, kamu kok bengong sih dek?”,
    “eeh…ndak itu…anu… mbak keliatan cantik aja” Efrisha terlihat tersenyum, lalu mendekati Riski, Cewek montok itu lalu melihat celana anak sma itu, terlihat ada yang menonjol.
    “Hmmm, kamu jadi terangsang ya gara gara body montok ku? Ckckck” Lalu Efrisha duduk dan membuka celana Riski, Sontak anak Sma itu jadi semakin senang.
    “Mbak… kok celanaku dibuka sih?”,
    “Gara gara aku nih, adikmu jadi tegang, mbak ya harus tanggung jawab dong” Lalu celana dalam Riski diturunkan, Penis anak SMA itu pun langsung tegak didepan wajah Cewek cantik itu.
    “woow, masih sma udah segini penis kamu, hmm”. Riski langsung merasakan kenikmatan luar biasa, penisnya sekarang sedang asyik dikocok tangan halus Efrisha.
    “Mmm…mbak…itu…aku…”,
    “Enak kan dek? Mbak jago loh kalau ngurusin yang beginian, hehe…ooumm” Penis anak SMA itu sekarang sudah dikulum mulut cewek sexy itu, terlihat Riski menikmati sekali keberuntungannya itu.
    “aduh….enak mbak…mmmf”,
    “mmm…mmm…slruup…mmm…hehe…mmm”. Croot croot, Riski menumpahkan spermanya dimulut imut cewek itu.
    “mmmf…slruuup…Nikmat banget pejuhmu..” Lalu Efrisha melepas BH dan Celana dalamnya, dan melompat keatas kasur. “Mbak, kok mbak Efrisha bugil sih?”,
    “Halah, kamu gak usah malu malu, mau nikmatin ini gak?”, Cewek sexy itu memegang kedua buah dada montoknya dan mengangkatnya seraya meminta untuk diremas oleh Riski.
    “mmm…mau mbak…”,
    “Hehe, siniii… toketku minta diremas nih…” Lalu Riski melepas pakaiannya dan menuju kasur.

    Segera anak SMA itu pelan pelan memegang buah dada montok Efrisha yang sedang tiduran dikasur.

    “gimana dek?”,
    “mmm…kenyal banget kak”,
    “iya dong, semua pria pria yang kenal aku seneng banget pegang buah dada ku….aaahn”, Buah dada montok itu kini mulai dielus elus dan juga diremas tangan RIski,

    Riski kemudian memilih meniduri mbak Efrisha itu, kini ia ada diatas tubuh mulus itu. Lalu sekarang Riski sudah asyik menjilati buah dada montok itu, Efrisha mulai mendesah dan juga menggigit bibirnya sendiri.

    “aaahn…mmm…putingku cobain juga dek, uuuuhf” Segera puting merah muda itu kini dijilati dan digigit kecil si Riski yang sangat senang bermain buah dada itu.

    Penis Anak SMa itu berdenyut denyut mengelus selangkangan mulus Efrisha, terlihat perut Efrisha sudah basah karena cairan bening dari penis Riski. Buah dada Montok itu masih diputar putar tangan Riski.

    “mbak, aku mau cium bibirnya mbak…”,
    “iih, nakal, hehe, sini…uuumm” Sekarang Riski sudah asyik bercumbu dengan cewek secantik Efrisha yang lebih tua darinya.

    Lidah mereka saling beradu mengobok obok mulut lawannya.

    “mmm…slruup…mmm..cuup…mmm..aaaah”. Sungguh adegan mereka sangat menggairahkan, Anak SMA seperti riski bisa meniduri si cantik Efrisha.
    “Dek… ayo dong memek aku disodok, sudah basah banget nih…” Efrisha membuka vaginanya dengan jarinya, Riski kemudian memegang penisnya dan mengarahkannya kelubang senggama itu.
    “Dek, masih perjaka kan?”,
    “iya mbak, kenapa mbak?”,
    “yey, aku dapet keperjakaanmu dong, kamu…aaaahn!” Penis RIski ternyata sudah setengah masuk dimemek yang masih sempit itu,

    perlahan lahan penis itu digerakkan kedalam, dan blees, penis itu sudah tenggelam didalam vagina Efrisha.

    “Ouuuh!! Yeess…ayo dek…genjot aku dek…oooh!” Segera Riski menyodok Memek yang sudah tidak perawan itu dengan gerakan maju mundur yang terlihat makin cepat.
    “oooh…penisku dipijet pijet mbak…oooh…enak banget…”,
    ”aaahn…mmmf…terus dek…ooooh”. Penis itu semakin cepat menyodok memek Bidadari itu, Riski juga asyik memegang buah dada yang ikut bergoyang karena hentakan penisnya.
    “aaahn…oooh…yeesss…kontolmu hebat banget dek…mmmf…aaahn” Suara desahan yang sangat menggairahkan itu diselingi bunyi tabrakan selangkangan anak SMA dengan cewek sexy itu.
    “sini dek.. coba lubang lain juga yach..mmf” Penis itu lalu dicabut, Efrisha kemudian menuntunnya menuju lubang pantatnya, Segera penis itu sudah mulai masuk kedalam.
    “sempit banget ini mbak..waaah..oooh”,
    “Sodok juga tuh dek…mmmf…yees” Penis itu sudah asyik mengoyak lubang anus Efrisha.

    Sekarang Riski memegangi pantat Efrisha yang montok itu, buah dada yang kenyal itu sedang asyik bergoyang goyang layaknya buah ranum yang mau jatuh.

    “oooooh….yes….mmmf…aaaahn….hebat kamu dek…aaahm”,
    “mbak, aku mau…keluarin…itu…”,
    “Keluarin didalem…yees….aaaaahn!” Crooot crooot crooot, Tubuh anak SMA itu ikut bereaksi bersama penis yang memuntahkan sperma didalam lubang pantat mbak Efrisha.

    Saat penis Riski dicabut, terlihat spermanya tumpah keluar. Kemudian Efrisha menarik Riski dan memeluknya, lalu menciumnya. Cerita Maya

    “cuup, makasih ya dek… udah mau main sama mbak, udah lama gak dientot sih..hehe”,
    “iya mbak, aku juga makasih, udah dibolehin menikmati tubuh montokmu”,
    “dasar kamu, hehe, kamu rapiin kamarnya, nanti ketahuan ibumu bisa dimarahin loh, hehe”.

    Lalu mereka segera memakai pakaian lagi, dan juga membersihkan kamar itu.

    “Udah ya dek, makasih ya buat hari ini, jahitannya kau bawa pulang yach”,
    “iya mbak sama sama, hati hati ya..” Lalu Efrisha dengan senyuman manisnya perlahan pergi.

    Riski baru ingat kalau cewek cantik dan montok itu belum bayar jahitannya, tapi ia biarkan saja, ia yang mengganti uangnya. Berhasil meniduri cewek secantik dan semontok itu membuatnya sangat gembira.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Kuala Lumpur

    Kuala Lumpur


    61 views

    Cerita Maya I Aku ditugaskan kantor untuk ikut meeting di regional office di KL. Tentunya kesempatan langka, sehingga
    langsung ku iya kan tanpa minta ijin suami terlebih dulu. Di rumah, walaupun dia ngomel karena aku
    langsung ok, tapi dia gak ngelarang. Jadi berangkatlah aku ke KL. Meeting yang melelahkan selama 2 hari.

    Kuala Lumpur

    Kuala Lumpur

    Aku minta ijin extent 2 hari di KL, biaya menjadi tanggunganku. Yang penting tiket kan dah dibayar
    kantor.
    Selama meeting ada staf regional office yang mendekatiku terus. Orang lokal sih, ganteng dan badannya
    atletis, typeku banget. Bahasa Indonesianya lancar, maklum lah dia keturunan Jawa. Ketika dia tau aku
    extent, dia senang sekali. Dia juga bilang mau menemani aku. Aku sih ok saja. Sore hari setelah selesai
    meeting, dia mengajakku jalan2 disekitar hotel tempat aku menginap.

    “Mau belanja Sin”, tanyanya ketika melewati department store yang besar.
    “Sintia mau beli bikini”, jawabku. Aku memilih bikini yang seksi dan mini.
    “Ini bagus gak mas”, tanyaku.
    “Bagus, sexy sekali,” jawabnya. Aku memlihi beberapa bikini, kemudian aku mencari pakaian, juga daleman
    yang seksi, minim dan tipis.

    Dalemannya juga model bikini, yaitu yang ditaliin bra dan cd nya. Setelah itu aku diajaknya cari
    makanan. Kenyang, karena sudah ngantuk aku mengajak kembali ke hotel. Di kamar, kita ngobrol ngalor
    ngidul.

    “Sin, bikininya gak dicoba”, tanyanya sambil tersenyum.
    “Kenapa, mas pengen liat Sintia pake bikin, ntar napsu lagi”, jawabku centil.
    “Masak sih, aku napsu liat kamu pake bikini. Coba deh kamu pake, ntar kita liat aku napsu atau tidak”,
    jawabnya gak mau kalah.

    dia melotot melihat aku muncul dengan bikiniku yang minim dan seksi itu. Toketku seakan mau tumpah dari
    branya yang minim sekali. Demikian pula jembutku berhamburan dari cd bikini yang model g string itu.

    “Udah ya mas, kalo kelamaan ntar mata mas loncat keluar lagi. Mana badan Sintia pegel2 lagi”, kataku
    lagi”.
    “Sin, duduk disebelahku, kamu mau gak aku pijitin”, tanyanya sambil menarik tanganku.

    Akupun duduk membelakanginya. Dia mulai memijit pelan keningku dari belakang. Tak terasa dari kening
    turun ke kuduk. Aku hanya terpejam saja menikmati pijitannya, turun lagi ke pundak. Cerita Maya

    “Enak mas”, kataku.
    “Memangnya mas pernah jadi tukang pijit ya”, godaku.

    Dia diam saja, tapi tangannya meluncur ke toketku. Jarinyanya mulai menelusuri toketku, dielus2nya
    dengan lembut.

    Aku terdiam, napasku mulai memburu terengah. Jarinya diselipkan ke braku dan mengkilik2 pentilnya.
    Pentilku langsung mengeras,

    “Maas”, lenguhku.

    Dia langsung saja meremes2 toketku dengan penuh napsu. Aku bersandar di dadanya yang bidang. Dia mulai
    menciumi leherku sementara kedua toketku terus saja diremes2, sehingga napsuku makin berkobar. Kemudian
    dia minta aku berbalik sehingga kami duduk berhadapan. Aku tak menunggu lama, dia segera mengecup
    bibirku. Kubalas dengan ganas. Bibirku dikulumnya, lidahnya menjalar didalam mulutku sementara tanganku
    segera turun mencari kontolnya. Kuusap2, terasa sekali kontolnya sudah ngaceng berat, keras sekali.
    Segera ikat pinggangnya kubuka, celananya kubuka. Dia berdiri sehingga celana panjangnya meluncur ke
    lantai. kontolnya yang besar panjang itu nongol dari bagian atas CD nya yang mini. Kami segera bergelut.
    Dia terus meremas-remas toketku sementara aku mengocok kontolnya.

    “Mas keras banget, gede lagi”, kataku sambil jongkok didepannya, melepas cdnya dan menciumi kontolnya
    dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya.
    “Aah Sin, kamu pinter banget bikin aku nikmat”, erangnya.
    “aaaduuuuuhh…. Sin…..enak banget emutanmu”. kontolnya kujilati seluruhnya kemudian kumasukkan ke
    mulutku, kukulum dan kuisep-isep. Kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kon tolnya di mulutku.

    Akhirnya dia gak tahan lagi. Aku dibaringkannya diranjang. Sambil terus meremas2 toketku tangan satunya
    nyelip ke balik cd bikiniku yang g string itu. Otomatis pahaku mengangkang, sehingga dia dengan mudah
    mempermainkan jembutku yang lebat.

    “Mas, geli”, erangku.
    “geli apa nikmat Sin”, tanyanya.
    “Dua2nya mas, Sintia dien tot dong mas, udah kepengin banget nih”, kataku to the point.

    Tangannya menyusup ke punggungku sambil mengecup bibirku. Tali pengikat braku ditariknya sehingga
    toketku membusung menantang untuk diremas dan dikenyot pentilnya, tanpa penutup lagi. Ikatan CD bikiniku
    ditariknya dengan mulutnya sehingga lepaslah semua penutup tubuhku yang minim.

    “Sin kamu napsuin banget deh”, katanya. DIa langsung saja menindihku.

    kontolnya diarahkan ke belahan nonokku yang sudah basah dan sedikit terbuka, lalu dia menekan kontolnya
    sehingga kepala kontolnya mulai menerobos masuk nonokku. Aku mengerang keenakan sambil memeluk
    punggungnya. Dia kembali menciumi bibirku. Lidahnya menjulur masuk mulutku lagi dan segera kuisep2.
    sementara itu dia terus menekan pantatnya pelan2 sehinggga kepala kontolnya masuk nonokku makin dalam
    dan bless…… kon tolnya sudah masuk setengahnya kedalam nonokku.

    “Aah, kontol mas nikmat banget mas”, erangku sambil mencengkeram punggungnya.

    Kedua kakiku kulingkarkan di pinggangnya sehingga kontol besarnya langsung ambles semuanya di nonokku.

    “Mas, ssh, enak mas, terusin”, erangku.

    Aku menggeliat2 ketika dia mulai mengeluarmasukkan kontolnya di nonokku. Aku mengejang2kan nonokku
    meremes2 kontolnya yang sedang keluar masuk itu.

    “Sin, nikmat banget empotan nonok kamu”, erangnya.

    Dia memelukku dan kembali menciumi bibirku, dengan menggebu2 bibirku dilumatnya, aku mengiringi
    permainan bibirnya dengan membalas mengulum bibirnya. Terasa lidahnya menerobos masuk mulutku. Dia
    mengenjotkan kontolnya keluar masuk makin cepat dan keras, aku menggeliatkan pinggulku mengiringi keluar
    masuknya kon tolnya di nonokku. Setiap kali dia menancapkan kontolnya dalam2 aku melenguh keenakan.
    Terasa banget kontolnya menyesaki seluruh nonokku sampe kedalem. Karena lenguhanku dia makin bernapsu
    mengenjotkan kontolnya. Gak bisa cepet2 karena kakiku masih melingkar dipinggangnya, tapi cukuplah untuk
    menimbulkan rangsang nikmat di nonokku.

    Baca Juga : Memek Teman Kos

    Kenikmatan terus berlangsung selama dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk, akhirnya aku gak
    tahan lagi. Jepitan kakiku di pinggangnya terlepas dan kukangkangkan lebar2. Posisi ini mempermudah
    gerakan kontolnya keluar masuk nonokku dan rasanya masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian aku
    memeluk punggungnya makin keras

    “Mas, Sintia mau nyampe mas”.
    “Kita bareng ya Sin”, katanya sambil mempercepat enjotannya.
    “Mas, gak tahan lagi mas, Sintia nyampe mas,aakh”, jeritku saking nikmatnya.

    Kakiku kembali kelingkarkan di pinggangnya sehingga kontolnya nancep dalam sekali di nonokku. nonokku
    otomatis mengejang2 ketika aku nyampe sehingga bendungan pejunya bobol juga.

    “Akh Sin, aku keluar Sin, akh”, dia mengerang sambil mengecretkan penjunya beberapa kali di no nokku.

    Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh dengan keringat, aku dipeluknya sementara kontolnya
    masih tetep nancep di nonokku. aku menikmati enaknya nyampe. Setelah gak ngos2an, dia mencabut kontolnya
    dari nonokku.kontolnya berlumuran lendir nonokku dan pejunya sendiri. Dia berbaring disebelahku.

    “Sin, kamu nikmat banget deh kalo dientot. Kamu yang paling nikmat dari semua perempuan muda yang pernah
    aku entot”, katanya sambil mengelus2 pipiku.

    Hari sudah gelap ketika kami selesai ngentot. Aku merasa lapar lagi,padahal tadi menjelang sore baru
    makan.

    “Mas, Sintia laper lagi mas”, kataku.
    “Iya Sin, aku juga laper lagi nih, abis kerja keras sih”, jawabnya.
    “Mandi yuk” ajaknya.

    Kami bercanda-canda di kamar mandi seperti anak kecil saling menggosok dan berebutan sabun, dia kemudian
    menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Aku duduk dipangkuannya dan tangannya mengusap2 pahaku.

    “Kamu cantik sekali, Sin”, rayunya.

    Tangannya pidah ke bukit nonokku mempermainkan jembutku yang lebat. Dia bisa melakukan itu karena aku
    mengangkangkan pahaku. Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku.

    “geli mas”, kataku ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya
    meremes2 toketku.
    “toket kamu besar ya Sin, kenceng lagi”, katanya.
    “mas suka kan”, jawabku.
    “ya Sin, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabnya sambil terus meremes2 toketku..

    DIa kemudian mencium bibirku. Akhirnya usailah kemesraan di kamar mandi. Kami saling mengeringkan badan,
    berpakaian – aku mengenakan pakaian yang dibelikannya tadi. “bagus gak mas”, kataku memamerkan pakain
    baruku.

    “Bagus Sin, kamu pake apa juga bagus, kamu cantik banget sih”. jawabnya.
    “Kalo gak pake baju mas”, kataku lagi.
    “lebih bagus lagi, napsuin”, jawabnya.
    “Makan yuk”. Kami keluar kamar sambil berpelukan, mencari tempat yang romantis untuk makan malam.

    Sehabis makan, kami jalan2 untuk mennikmati suasana malam di KL. Hampir tengah malem baru balik ke
    hotel.

    Di kamar, aku kembali mengenakan bikiniku yang lain, dia sudah berbaring diranjang hanya mengenakan cd.
    kontolnya yang belum aku apa2in sudah nga ceng berat, nongol keluar dari bagian atas cd minimnya. Aku
    menjatuhkan dirinya dipelukan dadanya yang bidang. Segera dia mengecup bibirku, beralih ke leherku dan
    kemudian turun ke toketku. Toketku diremes2nya, aku terengah, napsuku berkobar lagi. Braku disingkapkan
    sehingga pentilku nongol dan diemutnya. Ikatan braku diuraikannya sehingga dia makin mudah meremas toket
    dan mengemut pentilku. Tangan satunya menjalar kebawah, menyelip ke balik cd bikiniku yang minim dan
    langsung menerobos lebatnya jembutku dan mengilik2 itilku.

    “aakh mas, pinter banget ngerangsang Sintia”, erangku. Aku mengangkangkan pahaku supaya kilikannya di
    itilku makin terasa.

    Kilikan di itilku membuat aku makin liar. Tanganku mencari kontolnya, kuremes dan kepalanya yang nongol
    kukocok2. Aku bangkit dari pelukannya dan membuka cdnya. kontolnya langsung tegak berdiri dengan
    kerasnya. kon tolnya kuraih, aku jilati. Pertama cuma kepalanya aku masukkan ke mulutku dan kuemut2. Dia
    meraih pantatku dan menarik aku menelungkup diatasnya.

    Ikatan cdku dilepasnya sehingga terpampanglah nonokku di depan mukanya. Dia mulai menjilati nonokku, aku
    menggelinjang setiap kali dia mengecup bibir no nokku. Dengan kedua tangannya, dia membuka nonokku
    pelan2, terasa lidahnya menjulur menjilati bagian dalam bibir nonokku. Aku melepaskan emutanku di kon
    tolnya dan mengerang hebat,

    “Mas aakh”. Pantatku menggelinjang sehingga mulutnya melekat erat di nonokku.
    “Terus mas aakh”, erangku lagi, kemudian terasa itilku yang menjadi sasaran berikutnya, aku makin
    mengerang keenakan.

    nonokku makin kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya aku udah napsu banget. Cukup lama dia
    mengemut itilku dan akhirnya

    “Mas, Sintia nyampe mas, aakh”, erangku.
    “Mas nikmat banget deh, belum dientot udah nikmat begini maas”. Aku memutar badanku kesamping dan
    berbaring disebelahnya.

    Dia bangun dan mencium bibirku. Dia mengambil soft drink dan diberikannya kepadaku. Aku minum sedikit
    untuk meredakan napasku yang ngos ngosan.

    Kemudian aku dinaikinya, ditancapkannya kontolnya kenonokku dan didorongnya masuk pelan2,

    “Mas, enak, masukin semuanya mas, teken lagi mas, akh”, erangku merasakan nikmatnya kontolnya nancep
    lagi di nonokku.

    Dia mengenjotkan keluar masuk, ketika kontolnya sudah nancep kira2 separonya, dia menggentakkan
    pantatnya kebawah sehingga langsung aja kontolnya ambles semuanya di nonokku.

    “Mas, aakh”, erangku penuh nikmat.Dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk makin cepet, sambil menciumi
    bibirku sampe akhirnya,
    “Mas, Sintia nyampe mas, ooh”, aku mengejang2 saking nikmatnya. nonokku otomatis ikut mengejang2. Dia
    meringis2 keenakan karena kontolnya diremes2 nonokku dengan keras, tapi dia masih perkasa.

    Kemudian dia mencabut kontolnya dan minta aku nungging. Dia menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan
    gemas dia menjilati dan mengusapi pantatku. Mulutnya terus merambat ke selangkanganku. Aku mendesis
    merasakan sensasi waktu lidahnya menyapu naik dari nonokku ke arah pantatku. Kedua jarinya membuka bibir
    nonokku dan dia menjulurkan lidahnya menjilati bagian dalem nonokku. Aku makin mendesah gak karuan,
    tubuhku menggelinjang. Ditengah kenikmatan itu, dia dengan cepat mengganti lidahnya dengan kontolnya.
    Aku menahan napas sambil menggigit bibir ketika kontol besarnya kembali nancep di nonokku..

    “Mas”, erangku ketika akhirnya kontolnya ambles semuanya di nonokku.

    Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk, mula2 pelan, makin lama makin cepat dan keras. Aku
    kembali mendesah2 saking enaknya. Toketku diremes2nya dari belakang, tapi enjotan kontolnya jalan terus.
    Ditengah kenikmatan, dia mengganti posisi lagi, dia duduk di sofa dan aku duduk dipangkuannya
    membelakanginya. kontolnya sudah nancep semuanya lagi di nonokku.

    Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu menolehkan kepalaku sehingga dia langsung
    melumat bibirku. Aku semakin cepat menaik turunkan badanku sambil terus ciuman dengan liar. Tangannya
    gak bosen2nya ngeremes toketku. Pentilku yang sudah keras itu diplintir2nya. Gerakanku main liar saja,
    aku makin tak terkendali menggerakkan badanku, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga kon tolnya
    nancep dalem banget. “Mas, Sintia dah mau nyampe lagi mas, aduh mas, enak banget”, erangku.

    Tau aku udah mau nyampe, dia mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga kontolnya yang masih perkasa
    lepas dari nonokku.

    “Kok brenti mas”, tanyaku protes. Aku ditelentangkan lagi diranjang, aku dinaikinya dan kembali
    ditancepkannya kontolnya kedalam nonokku.

    Dengan sekali enjot, kontolnya sudah ambles semuanya. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk
    dengan cepat. nonokku mulai berkontraksi, mengejan, meremes2 kontolnya, tandanya aku dah hampir nyampe.
    Dia makin gencar mengenjotkan kontolnya, dan

    “Mas, Sintia nyampe mas, akh”, jeritku.

    Diapun merasakan remesan no okku karena nyampe. enjotannya makin cepat saja sehingga akhirnya,

    “Sin…” dia berteriak menyebut namaku dan terasa pejunya ngecret dengan derasnya di nonokku.

    “Mas, nikmat banget ya malem ini”, tanyaku.

    Dia mencabut kon tolnya dan terkapar disebelahku. Tak lama kemudian aku terlelap karena lemes dan
    nikmat. Aku terbangun karena sinar matahari yang menerangi kamar. Dia ternyata sudah rapi dan
    membangunkanku dengan membuka tirai jendela.

    “Enak bener tidurnya Sin, aku mau kerja. Nanti malem aku balik lagi ya”, katanya sambil meninggalkan
    kamar. Aku masih terbaring bermalas2an di ranjang.

    Aku masih terkapar beberapa lama di ranjang, kemudian aku mandi dan turun ke coffee shop untuk makan
    pagi. Di coffee shop aku terpesona melihat pemandangan di kolam renang, kolam dengan air yang membiru
    dan dikelilingi pepohonan rindang sehingga teduh sekali di sekitar kolam renang. Saat itu kolamnya masih
    sepi. Timbul ide ku untuk bermalas2an di kolam renang saja. Aku kembali kekamar, mengenakan bikiniku
    yang tidak terlalu minim untuk menyembunyikan jembutku agar tidak terlalu ngintip keluar, aku mengenakan
    sarung dan turun lagi ke kolam renang.

    Aku memilih tempat yang strategis sehingga dapat mengawasi seluruh kolam, pesan minuman dan berbaring
    saja didipan, sarung kulepaskan. Aku mengenakan kacamata hitam. Pesanan minumanku datang dan langsung
    kucicipi. Kemudian aku hanya berbaring saja melamun, lama2 kantuk kembali menyerangku, sehingga tanpa
    terasa aku tertidur lagi. Tidak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada suara yang
    menggeser dipan disebelahku. Aku melihat ada cowok ganteng banget dan badannya kekar. Ngantukku langsung
    hilang melihat ketampananannya. Walaupun wajahnya bule, tapi kulitnya gak putih tapi agak kecoklatan dan
    rambutnya hitam. Dia cuma pake celana pendek gombrong. Dadanya telanjang dan berbulu.

    “Sori, aku mengganggu tidurmu?”, tanyanya sambil tersenyum.
    “Namaku Mike, kamu?”. Dia bicara bahasa Inggris.

    Aku membuka kacamataku, mataku masih memperlihatkan keterpesonaannku. Dia hanya tersenyum kutatap
    seperti itu.

    “Bisa cakap Melayu?” tanyaku.
    “Bisa, walaupun tidak lancar. Ibuku orang Malay. Aku tinggal di Singapore dan berada di KL untuk satu
    urusan. Kamu sendiri?”, jawabnya sambil bertanya.
    “Aku Sintia, aku keseini untuk ikut meeting, meeting sudah selesai kemarin dan sekarang sedang santai,
    jawabku. “Boleh aku temani?” tanyanya lagi.
    “Dengan senang hati”, jawabku.
    “Sintia, kamu cantik dan seksi sekali”, katanya memuji.
    “Aku suka sekali sama prempuan Malay, kulitnya tidak putih dan montok2″, katanya sambil tersenyum.

    Kami terlibat dalam obrolan yang seru,ngantukku langsung hilang. Tanpa terasa sudah menjelang siang. Dia
    mengajakku makan siang,

    “pesan saja dan kita makan di sini, OK?” tanyanya.
    “OK”, jawabku.

    Kami pesan makanan dan terus ngobrol sampai pesanan makanan datang. Selesai makan, dia mengajakku
    nerusin ngobrol di kamarnya. Aku sudah menduga apa maksudnya. Aku mengiyakan saja, memakai sarungku dan
    mengikuti dia naik kekamarnya.

    Di kamar,dia berbaring diranjang dan aku duduk disebelahnya.

    “Sin, aku napsu sekali liat badan kamu”, katanya terus terang.

    Langsung kulirik daerah kontolnya, kelihatannya sudah mulai ngaceng karena kelihatan ngegelembung. Dia
    mengelus2 punggungku, terus tangannya pindah mengelus pahaku, merayap makin dalam sehingga menggosok
    nonokku dari luar CD bikiniku. Aku mengangkangkan pahaku sehingga jarinya menggosok2 belahan nonokku,
    tetap dari luar cd.

    “Ssh Mike”, erangku.
    “Sin, kamu maukan ngentot dengan aku”, tanyanya sambil tersenyum, jarinya terus saja mengelus belahan
    nonokku dari luar.

    Dia mulai menjilati pahaku, jilatannya perlahan menjalar ketengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei
    ketika kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku yang disingkirkan
    dengan jarinya lalu menyentuh bibir nonokku. Bukan hanya bibir nonokku yang dijilatinya, tapi lidahnya
    juga masuk ke liang nonokku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak. Tangannya yang terus mengelus
    paha dan pantatku mempercepat naiknya napsuku. Sesaat kemudian, dia menarik lepas ikatan cd bikiniku.
    Matanya seperti mau copot melihat nonokku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi..

    Dia mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai
    permukaannya yang ditumbuhi jembut yang lebat. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke toketku,
    darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik braku kemudian meremas
    toketku dengan gemasnya.

    “Sin, toket kamu besar dan keras. Jembut kamu lebat sekali, pasti napsu kamu besar ya” tanyanya dekat
    telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.

    Aku hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Dia makin getol, jari-
    jarinya kini bukan hanya mengelus nonokku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup braku yang sebelah
    kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas toketku dengan pentil yang sudah mengeras. Aku
    merasakan kontol keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Dia kelihatan sangat
    bernafsu melihat toketku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin pentilnya.
    Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cupnya.

    Ketika dia menciumi leherku, terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu
    lidahnya menyapu kulit leherku disertai kecupan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan
    merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada toketku mengencang atau jarinya mengebor nonokku
    lebih dalam. Kecupannya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas
    gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku,
    dia menciumiku dengan gemas. Dia bergerak lebih cepat dan melumat bibirku. Mulutku mulai terbuka
    membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya
    sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi, aku memainkan lidahku di dalam
    mulutnya.

    Setelah puas berciuman, dia melepaskan dekapannya dan melepas kolor celana pendeknya. Maka menyembullah
    kontolnya yang sudah ngaceng dari tadi. Aku melihat takjub pada kontol yang begitu besar dan berurat,
    belum pernah aku melihat kontol sebesar dan sepanjang kontolnya. Ini kontol terbesar dan terpanjang yang
    pernah kulihat. Kebayang besarnya kenikmatan yang akan aku dapatkan kalo kontol extra besar itu keluar
    masuk di nonokku. Akupun pelan-pelan meraih kon tolnya, ya ampun tanganku tak muat menggenggamnya,
    sungguh fantastis ukurannya.

    “Ayo Sin, emutin kontolku” katanya.

    Kubimbing kontol dalam genggamanku ke mulutku , uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya.
    Terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu
    mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain mengemut tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati biji
    pelirnya. “Uaahh.. ennakk banget, kamu udah pengalaman yah” ceracaunya menikmati emutanku, sementara
    tangannya yang bercokol di toketku sedang asyik memelintir dan memencet pentilku. Tangan kanannya tetap
    saja mempermainkan nonok dan itilku. Aku menggelinjang gak karuan, tapi kontolnya tetap saja aku emut.
    Aku hanya bisa melenguh tidak jelas karena mulutku penuh dengan kontolnya yang besar.

    “Sin, kita mulai aja ya. Aku udah gak tahan nih pengen menikmati nonok kamu”, katanya.

    Dia menelentangkanku, ikatan braku dilepasnya dengan sekali tarikan. Dia mengambil posisi ditengah
    kangkanganku, kontolnya yang besar dan keras diarahkannya ke nonokku yang sudah makin basah. Aku
    menggeliat2 ketika kurasakan betapa besarnya kontol yang menerobos masuk nonokku pelan2. nonokku
    berkontraksi kemasukan kontol gede itu. “Sin, nonok kamu peret banget”, katanya sambil terus menekan
    masuk kontolnya pelan2.

    “abis kontol kamu besar sekali. nonok Sintia belum pernah kemasukan yang sebesar kontol kamu, masukin
    terus Mike, nikmaat banget deh rasanya”, jawabku sambil terus menggeliat.

    Setengah kontolnya telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh kontolnya telah ada di dalam
    nonokku. Aku hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami kenikmatan tiada
    tara. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan pelan, makin lama makin cepat karena
    enjotannya makin lancar. Terasa nonokku mengencang meremas kontolnya yang nikmat banget itu. Tangannya
    mulai bergerilya ke arah toketku. ToketKu diremas perlahan, seirama dengan enjotan kontolnya di nonokku.
    Aku hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, Pinggulku mengikuti goyangan pinggulnya. kontolnya terus saja
    dikeluar masukkan mengisi seluruh relung nonokku..

    Sambil mengenjotkan kontolnya, dia mengemut pentilku yang keras dengan lembut. Dimainkannya pentil kanan
    dengan lidahnya, namun seluruh permukaan bibirnya membentuk huruf O dan melekat di toketku. Ini semua
    membuat aku mendesah lepas, tak tertahan lagi. Dia mulai mempercepat enjotannya. Aku makin sering
    menegang, dan merintih,

    “Ah… ah…” Dalam enjotannya yang begitu cepat dan intens, aku menjambak rambutnya,
    “Aaahhh Mike, Sintia nyampee,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulutku.

    Aku udah nyampe. Tanganku yang menjambak rambutnya itu pun terkulai lemas di pundaknya.

    Dia makin intens mengenjotkan kontolnya. Bibirku yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun
    dilumatnya, dan aku membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan
    kanannya tetap berada ditoketku, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan pentilku. Terasa nonokku
    mencengkeram kontol gedenya.

    “Uhhh,” dia mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, kontolnya menghujam keras ke dalam
    nonokku, mengiringi muncratnya pejunya. Tepat saat itu juga aku memeluknya erat sekali, mengejang, dan
    menjerit,
    “Aahhh”. Kemudian pelukanku melemas.

    Aku nyampe untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ngecretnya pejunya. Setelah dengusan
    napas mereda, dia mencabut kon tolnya dari no nokku dan terkapar disebelahku.

    “Mike, kon tol kamu lemes aja udah gede, gak heran kalo nga ceng jadi gede banget. Bener kata temen
    Sintia, makin gede kon tol yang masuk, makin nikmat rasanya”, kataku.
    “memangnya kontol yang biasanya masuk ke nonok kamu kecil2 ya Sin”, tanyanya.
    “Gede2 sih Mike, tapi gak ada yang segede kontol kamu, tapi nikmat banget deh”, jawabku sambil menguap.
    “Iya Sin, aku sering ngentot dengan perempuan Malay, tapi dengan kamu yang paling nikmat. nonok kamu
    kenceng sekali njepit kontolku dan empotannya luar biasa”, katanya memuji.

    Aku cuma tersenyum, Tak lama kemudian aku terlelap. Aku terbangun karena hpku berbunyi, ternyata sms
    dari temanku yang memberi tahu bahwa dia tidak bisa menemani aku malem ini. Gak masalah, karena aku
    sudah mendapat penggantinya.

    “AYo mandi, abis itu kita cari makan dan menikmati night life di KL”, katanya sambil bangkit dari
    ranjang menuju kamar mandi.

    Gak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan giliranku untuk membersihkan diri. Setelah rapi
    berpakaian, dia mengajakku keluar, ternyata sudah gelap. Dia mencari tempat makan yang romantis ditepi
    laut, Habis makan dia mengajakku ke pub untuk melewatkan malam. Lewat tengah malam baru kami kembali ke
    hotel.

    Aku membuka pakaianku dan hanya mengenakan daleman yang tipis berbaring diranjang, diapun segera melepas
    pakaiannya meninggalkan cd nya saja dan berbaring disebelahku. kemudian tangannya mulai meremas-remas
    pantatku dengan gemas. setelah itu tangannya mulai menyusup ke dalam cdku dan meremas kembali pantatku
    dari dalam. Kemudian, dia mengangkat satu kakiku dan menahannya selagi tangan satunya meraih nonokku.

    “Ohh.. Mike,” rintihku. kurasakan napsuku mulai naik, Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang
    nonokku yang mulai basah.

    Nafasku juga mulai cepat dan berat. ia membuka cdku dan membuka lebar-lebar pahaku sehingga nonokku
    terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya. dengan sigap tangannya kembali meraih no nokku dan
    meremasnya. Dia menjilati telingaku ketika tangannya mulai bermain diitilku. Napsuku sudah tak
    tertahankan lagi. Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telingaku menambah nafsuku. Dia
    terus menekan-nekan itilku dari atas ke bawah. aku meracau tak karuan.

    “Ahh.. Shh.. Mike” desahku bernafsu. Jarinya dengan lihai menggosok-gosok dan menekan itilku dengan
    berirama.

    Rasanya bagaikan melayang dan desahanku berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit
    kemudian, aku nyampe.

    “Mike, nikmat banget, belum dientot saja sudah nikmat,” desahku, tanganku meremas tangannya yang sedang
    bermain di itilku dengan bernafsu.

    Di luar perkiraanku, dia malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Dia merentangkan kedua pahaku.
    Kurasakan jilatan lidah di bibir nonokku, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku. Jilatan
    itu menjalar ke itilku, kurasakan gigitan lembut di itilku yang kian merangsang napsuku. Aku melenguh
    keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh dia untuk terus dan tak berhenti. Melihat
    reaksiku, dia terus menggesekan jarinya di liang nonokku yang sudah membanjir..

    Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-menerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian
    kurasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya tak lama kemudian. nonokku mengeluarkan cairan deras bening,
    aku nyampe untuk kedua kalinya.

    “mike, ooh”, lenguhku. Dia membuka braku dan meremas toketku dengan sangat keras.

    Aku melenguh sakit, kemudian pentilku yang menjadi sasaran berikutnya, dipilin dan dicubitnya pelan.
    Napsuku kembali berkobar, nonokku kembali membasah,

    “mike, entotin Sintia sekarang, Sintia udah napsu banget Mike”, erangku.

    Diapun mencopot cdnya, kontol besarnya sudah ngaceng berat mengangguk2. Dia menggesekkan kepala kon
    tolnya ke bibir nonokku yang sudah basah. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidahnya di
    nonokku sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihan keras kenikmatan.

    “Ahh! Mike..Ohh.. entotin Sintia” racauku.

    Dengan perlahan ia memasukkan kepala kontol ke dalam nonokku, segera dia menyodok-nyodok kontolnya
    dengan kuat dan keras di nonokku. Rasanya nikmat sekali. Dia mendesah terus-menerus memuji kerapatan dan
    betapa enaknya nonokku. kontolnya yang panjang dan besar terasa menyodok bagian terdalam nonokku hingga
    membuatku nyampe lagi.

    “Mike, Sintia nyampe Mike, aakh nikmatnya”, erangku.

    Kemudian dia membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan kontolnya ke dalam nonokku dari
    belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding nonokku yang masih
    sensitif.

    “Oh Sintia..nonokmu bagaikan sorga, ” Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, dia ngecret
    didalam nonokku.

    Pejunya terasa dengan kuat menyemprot dinding nonokku. Dia menjerit-jerit nikmat dan badannya
    mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas toketku dan menarik-narik pentilku. Setelah reda, dia
    berbaring di sebelahku dan menjilati pentilku. Pentilku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas.
    Tampaknya dia ingin membuatku nyampe lagi. Tangannya kembali menjelajahi nonokku, namun kali ini jarinya
    masuk ke dalam nonokku. Dia menekan-nekan dinding nonokku.

    Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan dia tampaknya senang sekali hingga jarinya
    kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali!
    nikmatnya tak tertahankan. Ternyata itulah G-Spot. Aku tidak bertahan lama dan akhirnya nyampe lagi
    untuk kesekian kalinya. Badanku mengejang dan nonokku kembali berlendir.

    “Mike nikmat banget deh malem ini”, kataku.

    Pinter banget dia merangsang aku dan membuat aku nyampe, baik pake kontolnya maupun pake jarinya. Segera
    akupun tertidur kelelahan.

    Ketika kau terbangun hari udah siang, dia masih saja mendengkur disampingku. Aku bangun ke kekamar mandi
    untuk kencing, cuci muka dan sikat gigi. Ketika kembali ke ranjang dia masih saja mendengkur. Aku
    ngintip dibalik korden kamar, matahari udah tinggi juga. Aku melihat jam tanganku, udah jam 8 lewat.
    Korden kusibakkan, dia terbangun karena silau, matanya dipicingkan untuk mengurangi silaunya sinar yang
    masuk kamar. kulihat kontolnya sudah tegak seperti tiang bendera. dia ke kamar mandi, terdengar kloset
    berbunyi, rupanya dia kencing. gak lama lagi terdengar dia menyikat gigi. ketika dia kembali ke kamar,
    aku udah berbaring di ranjang lagi menantikan serangan pagi. aku melihat kontol besarnya masih aja
    ngaceng dengan kerasnya walaupun dia udah kencing. Dia duduk disampingku dan mencium bibirku.

    “Pagi sayang, kita main lagi yo”, ajaknya.

    Kembali dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan
    ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya
    lebih mepet lagi. Tangannya mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh
    celah di pangkal pahaku. nonokku digelitik-gelitik. Aku menggelepar merasakan jari-jarinya yang nakal.
    Bibir kulepas dari bibirnya.

    “Hmmhhh…enak, Mike.” jeritku. jari-jarinya tambah nakal, menusuk lubang nonokku yang sudah berlendir dan
    mengocoknya. Aku tambah menjerit-jerit.
    “Mike…hhh…masukkin kontol kamu, Sintia udah nggak tahan..hhhh…hhh…” Dia segera memposisikan diatasku
    yang sudah telentang mengangkang.

    kontolnya ditancapkan ke nonokku, aku melenguh keenakan,

    Baca JUga Cerita Sex Panti Pijat

    “Mike kontol kamu nikmat banget deh”. kontolnya didorongnya lagi sampai mentok.
    “Mike..oohhh..nikmatnya” jeritku. kontolnya dikocok keluar masuk nonokku. aku mulai mengejang-ngejang
    lagi dan bibirku tak henti-henti menyuarakan kenikmatan.

    Kurang lebih dua puluh menitan akhirnya dia ngecret. Ugh, rasanya enak bener…! pejunya berhamburan
    keluar, bermuncratan dan menembak-nembak didalam nonokku. Aku sendiri sudah beberapa kali nyampe sampe
    nonokku mengejang-ngejang keenakan. Lendir dari nonokku membanjir…meleber di paha, betis dan pantatku.
    Aku menggeletak lemas. Aku dan dia sama-sama mandi keringat. Nafasnya terengah-engah tak beraturan.

    Dalam nada tersengal-sengal aku minta lagi,

    “Sintia masih kepengen lagi…”. dia merebahkan badannya di sampingku.

    Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya. Dia menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah,
    membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang
    pinggulnya sampai kontolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di nonokku. Bosen ciuman, bibir dan
    lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes banget ngeliat pentilku yang
    lumayan gede, kecoklat-coklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat pentilku dengan rakus sampai Aku
    ngerasa geli.

    Pentil sebelah kanan digigitnya dengan lembut, lidah nya menggelitik pentilku di sela-sela gigi
    depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli dan nikmat.
    Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir nonokku
    mengalir dan terasa basah di perutku. Cerita Maya

    “Mike, gantian Sintia yang ngemut kontol kamu ya”, kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku
    mulai beraksi.

    Kupegang kon tolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan,

    “Enak Sin, terus..” Lidahku mulai merambat ke kepala kontolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di
    lubang kencingnya.

    Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang kontolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus
    biji pelernya.

    “Sin…” gumamnya pelan.
    “enak banget, geli-geli nikmat”. Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu.

    Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan kontolnya masuk ke dalam mulutku. kontolnya kuisep kenceng-
    kenceng, lalu dengan mulut kukocok kontolnya turun naik turun

    “uuuuggggghhhh…sedap enak…mmmmhhhh…”, erangnya.

    Aku lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan pantatku ke mukanya. Dia
    nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati nonokku yang berlendir dan merekah merah itu. bibirnya
    menyedot lubang nonokku, menghisap lendirnya. lidahnya dimasukin ke dalam lubang nonokku, menjilati
    dinding-dinding basah, sementara jarinya mempermainkan itilku. Aku mengerang-ngerang dengan kontolnya di
    mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari nonokku membajir membasahi mukanya. Aku melepaskan
    kontolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari belakang. Waktu kontolnya masuk, aku hanya
    merintih pelan. kontolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang-ngejang
    menahan nikmat..

    Tangannya ikut nimbrung merangsang itilku. Kocokan kontol di nonokku dan kilikan jarinya di itilku
    membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali nonokku berkontraksi karena aku
    nyampe, tapi dia terus mengocok kontolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan nonokku membecek,
    meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kali di ronde ke dua itu, dia akhirnya ngecret
    lagi.

    “Mike, nikmat banget pagi ini, lebih nikmat dari semalem, aku sampe berkali2 nyampe baru kamu ngecret”,
    lenguhku lemes.

    Dia mencabut kon olnya dari nonokku dan memesan agar makan pagi dikirim ke kamar untuk 2 orang. Aku
    segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ketika aku sedang membilas badanku terdengar bel pintu,
    pasti makan pagi sudah siap. Selesai mandi aku keluar, makan pagi sudah tersedia di meja, Mike sedang
    menikmati makan paginya. Segera aku nimbrung. Selesai makan, aku pamit kembali ke kamarku. “Sudah
    waktunya aku untuk beberes dan ke airport”, kataku. Dia memelukku,

    “Terima kasih untuk malam yang indah bersamamu. Kalo kamu ke Singapore, jangan lupa untuk kontak aku
    agar kita bisa mengulangi kenikmatan ini”. dia menciumku, lama sekali. Di kamarku aku beberes barang2 ke
    koper, kemudian aku check out dan menuju bandara.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Memek Teman Kos

    Memek Teman Kos


    73 views

    Cerita Maya I Meskipun tinggal di Jakarta dan digaji besar, aku lebih suka tinggal di perkampungan. Kosku berada di wilayah Jakarta Selatan dekat perbatasan Tangerang. Lokasinya yang nyaman dan tenang, jau dari hiruk pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2002. Sudah 7 tahun lebih aku belum pernah pindah.

    Memek Teman Kos
    Tetangga-tetangga pun heran mengapa aku betah tinggal disitu padahal bu kostku terkenal orangnya kolot dan masih memegang tradisi lama. Orangnyapun alim dan tidak suka anak kostnya berbuat macam-macam dan kalau ketahuan sudah pasti diusir dari rumah kostnya. Rumah kostku 2 lantai yang disewakan hanya 5 kamar dengan ukuran sedang dan kostnya baik untuk putra maupun putri, yang masih single maupun yang sudah berkeluarga.

    Kamar mandi kost disedakan ada 2 didalam rumah 1 dan yang diluar juga ada. Ibu koskupun tinggal disitu cuman tinggal di kamar sebelah dalam bersama anak semata wayangnya Mas Rano. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2005, Rumah kost hanya terisi dua satu untukku dan sebelahnya lagi keluarga Mas Tarno berasal dari Yogyakarta.

    Mas Tarno usianya 2 tahun diatasku jadi waktu itu sekitar 26 tahun. Istrinya bernama Firda seumuran denganku. Firda orangnya manis putih bersih tinggi sekitar 165 cm ukuran buah dadanya sekitar 34-an. Mereka sudah dikaruniai 1 orang anak masih berumur 2 tahun bernama Rara. Mas Tarno orangnya penggangguran.

    Jadi untuk keperluan, Firda-lah yang bekerja dari pagi sampai malam di sebuah Supermarket terkenal (supermarket ini sering dikenai sanksi oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha lho!!!….hayo tebak siapa bisa..hahahaha….) sebagai SPG sebuah produk susu untuk balita. Karena keperluannya yang begitu banyak, Firda (menurut pengakuannya) sampai meminta pihak manajemen untuk bisa bekerja 2 shift.

    Tentunya keluarga macam ini sering cek-cok. Firda mengganggap Mas Tarno orangnya pemalas bisanya hanya minta duit untuk beli rokok. Padahal jerih payah Firda seharusnya untuk beli susu buat Rara putrinya. Mas Tarno pun sering membalas omelan-omelan Firda dengan tamparan dan tendangan bahkan dilakukan didepan anaknya.

    Aku sendiri tidak betah melihat pertengkaran itu. Suatu saat, Mas Tarno dapat pekerjaan sebagai ABK dan tentunya harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang cukup lama. Firda senangnya bukan main mendengarnya. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Pada malam itu, aku ngobrol dengan Firda dikamarnya sambil nonton TV.

    Si Rara muter-muter sambil bermain maklum umur segitu masih lucu-cucunya.

    “Sekarang sepi ya, Nit….nggak ada Mas Tarno.” kataku
    “Lebih baik gini, Ted. Enakan kalo Mas Tarno nggak ada.” Keluh Firda kepadaku.
    “Emangnya Kenapa?” tannyaku.
    “Mas Tarno tuh kerja nggak kerja tetep nyusahin. wajar khan kalo aku minta duit ke Mas Tarno? Aku khan istrinya. Eh,
    Dianya marah-marah. Besoknya aku diomelin juga ama ibu mertuaku. Katanya aku nggak boleh minta duitnya dulu biar bisa buat nabung. Gombal!!! Aku nggak percaya Mas Tarno bisa nabung!!!” Dia jawab dengan marah-marah.
    “Sabar ya…” Aku mencoba untuk menenangkannya apalagi Rara dah minta bobo’.

    “Seandainya Mas Tedy yang jadi suamiku mungkin aku tidak akan merana. Mas Tedy dah dapat pekerjaan tetap dan digaji besar sedangkan suamiku, Mas Tarno hanya pekerja kasar di kapal itupun baru sebulan sebelumnya penggangguran.” Keluhnya. “Udah…jangan berandai-andai….biarkan hidup mengalir saja.” Jawabku sekenanya. “Mas, ….. Tiba-tiba Firda duduk disebelahku mengapit tangganku dan menyandarkan kepalanya. Aku sungguh terkejut.

    Aku tahu Firda butuh kasih sayang, butuh belaian, butuh perhatian. Bukan tendangan dan tamparan. Aku balas dia dengan pelukan di bahunya. Sayang sekali WaFirda semanis Firda disia-siakan oleh laki-laki. Tapi Aku juga laki-laki normal punya nafsu terhadap waFirda. ceritasexpembantu.com Justru inilah kesempatanku untuk mengerjai Firda apalagi ibu kostku menjengguk keluarganya di Surabaya selama seminggu dan baru berangkat kemarin malam dan Mas Rano dapat jatah kerja Shift malam di sebuah Mall. Yuhuyyy…akhirnya kesempatan itu tiba!!!

    Kutoleh Firda yang saat itu sedang memakai daster, tanpa basa basi aku langsung merengkuh tubuh Firda yang montok itu kedalam pelukanku dan langsung kucium bibirnya yang tipis itu. Firda memeluk tubuhku erat erat, Firda sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya menyelusup diantara bibirku.

    Tanganku asyik meremas susu Firda yang tidak seberapa besar tapi kencang, pentilnya kupelintir membuat Firda memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Firda, dan seperti biasanya Firda sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu ternyata Firda memang sudah merencanakannya tanpa sepengetahuanku.

    Tubuh Firda benar benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya semampai, putih dengan susu yang pas dengan ukuran tubuhnya ditambah nonok yang tak berambut mencembung.

    “Eh gimana kalo si Rara bangun?” tanyaku.
    “Tenang aja Mas Tedy, Susu yang diminum Rara tadi dah aku campurin CTM.” Jawabnya dengan gaya yang manja.

    Benar-benar persiapan yang sempurna. Ketika kubentangkan bibir nonoknya, itilnya yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku, Firda langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot baju dan celanaku sehingga penisku yang sepanjang 12 cm langsung mengangguk angguk bebas.

    Ketika kudekatkan penisku ke wajah Firda, dengan sigap pula Firda menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. Kulihat bibir Firda yang tebal itu sampai membentuk huruf O karena penisku yang berdiameter 3 cm itu hampir seluruhnya memadati bibir mungilnya, Firda sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum penisku ia berkali kali melirik kearahku.

    Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis Firda ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Firda yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya, maka Firda melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya. Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Firda merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling penisku, mulai dari pelirku, terus naik keatas sampai keliang kencingku semuanya dijilatinya, bahkan Firda dengan telaten menjilati liang duburku yang membuat aku benar benar blingsatan.

    Aku hanya dapat meremas remas susu Firda serta merojok nonoknya dengan jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Firda ini, kusuruh dia berhenti tetapi Firda tak memperdulikanku malahan ia makin lincah mengeluar masukkan penisku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Firda dengan pijatan pijatan lembut dibatang penisku seakan akan dia ingin memeras air maniku agar keluar sampai tuntas.

    Ketika Firda merasa kalau air maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Firda. Firda langsung berbaring disampingku dan berbisik “Mas Tedy diam saja ya, biar saya yang memuaskan Mas !” Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku sendiri itu.

    Dengan tubuh telanjang bulat Firda mulai memijat badanku yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan Firda benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut penisku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, penisku ngaceng lagi, mungkin karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora.

    Aku juga makin bernafsu melihat susu Firda yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba nonoknya ternyata itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Firda juga masih bernafsu hanya saja penampilannya sungguh kalem . Melihat penisku yang sudah tegak itu, Firda langsung mengangkangi aku dan menepatkan penisku diantara bibir nonoknya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya penisku habis ditelan nonoknya itu.

    Setelah penisku habis ditelan nonoknya, Firda bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung penisku menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Firda. Setiap kali Firda menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa diujung penisku itu.Cerita Maya

    Putaran pantat Firda membuktikan kalau Firda memang jago bersetubuh, penisku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus dihisap hisap oleh dinding nonok Firda. Hebatnya nonok Firda sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Firda sama sekali tak terangsang oleh permainan ini.

    Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa Firda juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku makin lama makin tak tahan dengan gerakan Firda itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan nonoknya.

    Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik penisku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki nonok Firda. Firda menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga penisku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari nonok Firda.

    Rojokanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung penisku, sementara Firda sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Firda dan menghisap pentilnya yang kaku itu, ketika Firda memintaku untuk menggigiti susunya, tanpa pikir panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh gairah, Firda makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi lagi kurasakan nonok Firda mengejang dan menyemprotkan cairan hangat membasahi seluruh batang penisku.

    Ketika aku mau menarik pantatku untuk memompa nonoknya, Firda dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk bagian yang paling dalam dari nonoknya sementara pantatnya bergoyang terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. Dengan suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Firda menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Firda menyuruhku mencabut penisku.

    Ketika penisku kucabut, Firda langsung menjilati penisku sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih. Penisku saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang penisnya. Firda sesekali menjilati ujung penisku dan juga buah pelirku.

    Ketika Firda melihat penisku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan penisku, tetapi kali ini Firda yang menuntun penisku bukannya ke liang nonoknya melainkan ke liang duburnya yang sempit itu. Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya liang dubur Firda, ketika penisku sudah menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Firda menyuruhku memaju mundurkan penisku, aku mulai menggerakkan penisku pelan pelan sekali.

    Kurasakan betapa ketatnya dinding dubur Firda menjepit batang penisku itu, terasa menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku. ceritasexpembantu.com Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan penisku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap.

    Firda menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi menggerakkan penisku menyelusuri dinding dubur Firda itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Firda juga mencengkeram pundakku. Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak.

    Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Firda, kulihat penisku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Firda langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya penisku itu, aku tahu kali ini dia tak mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau ada kotorannya yang melekat.

    Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah, pijatan Firda benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini. Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Firda terus memijit tubuhku.

    Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Firda masih saja telanjang bulat, penisku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Firda yang sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Firda pun mulai meremas remas penisku yang tegang itu. “Yuk kita ke kamar mandi” ajakku “Sapa takut…..” Aku menarik tangan Firda keluar kamar sambil bugil tapi aku sempatkan menyambar 2 buah handuk kemudian berjalan mengendap masuk , takut ketahuan tetangga sebelah rumah dan mengunci pintu kamar mandinya dari dalam. ” Nit…kamu seksi banget..” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum.

    Firda membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding kamar mandi. Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya. Firda mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya.

    Tapi kali ini tidak ada waktu, karena sudah menjelang pagi. Firda mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Firda ke bak mandi. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya. Bulu kemaluannya rapi sekali. Kujilati liangnya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat.

    Baca Juga : Pembantu Sexy

    Kumasukan dua jari tanganku ke dalam liangnya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam liangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan tetangga sebelah rumah dengar karena dinding kamar mandi bersebelahan tepat dengan dinding rumha tetangga.

    Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati liangnya.

    ” Ahhh…ahhh….Mas…Arghhhh..uhhh….Maaasss….” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2.

    Dan jari-jariku makin mengocok liangnya. Semenit kemudian, Firda benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya.

    Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat. Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, Ia duduk bersimpuh dan mengulum penisku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. Firda melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku.

    Ia bergerak- gerak sendiri mengocok penisku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.

    Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Firda tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,

    ” Oh…gitu Mas..gigit seperti itu…aghhh…” Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku.

    Tapi tampaknya Firda makin terangsang.Penisku terus memompa liangnya dengan cepat, dan kurasakan liangnya semakin menyempit… Penisku keluar masuk liangnya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Firda merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku.

    ” Ah Maass…Ehmm… Arghh…Arghhh…Ohhhhh uhhhhhh…” Firda orgasme untuk kesekian kalinya dan terkulai ke bahuku.

    Karena aku masih belum keluar, aku mencabut penisku dari liangnya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap toilet. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Firda tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk penisku ke liangnya dari belakang.

    Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan. Aku mulai memompa liangnya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya.

    Penisku makin cepat menusuk2 liangnya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan Firda naik turun sesuai irama kocokanku, dan penisku semakin tegang dan terus menghantam liangnya dari belakang.

    Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat. Penisku terasa makin becek oleh cairan liangnya.

    “Firda..aku juga mau keluar nih….”
    ” oh tahan dulu…kasih aku….penismu….tahan!!!! “Firda langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok penisku dengan rakus.

    Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya.

    ” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan.

    Firda menyedot penisku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung penisku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok penisku dengan gerakan makin pelan. Cerita Maya

    Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Firda berlutut dan menjilati seluruh penisku dengan rakus. Setelah Firda menjilat bersih penisku, ia memakaikan handukku, lalu memakai handuknya sendiri. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi.

    Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah kejadian itu aku sama Firda semakin gila-gilaan dalam bermain seks sampai dengan ibu kosku kembali dari Surabaya tentunya aku hanya bisa melakukannya di malam hari.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Pembantu Sexy

    Pembantu Sexy


    83 views

    CeritaMaya | Walaupun sudah empet rasanya untuk nyari pembantu lagi, tapi apa boleh buat, aku dan istriku sama-sama
    pekerja kantoran jadi untuk urusan pekerjaan rumah tangga sudah tentu kami berdua tidak punya cukup
    waktu untuk melakukannya apalagi urusan menjaga anak? Beruntung selang beberapa hari sejak pembantuku yg
    terakhir itu ku berhentikan mertuaku mengabari bahwa pembantu yg sedang bekerja dirumahnya punya saudara
    yang sedang butuh pekerjaan. Singkat kata aku-pun langsung menerima pembantu yg ditawari mertuaku itu
    untuk bekerja di rumahku.

    Pembantu Sexy

    Pembantu Sexy

    Namanya Nia, orangnya masih lugu, umurnya-pun masih 16 tahun dan dia baru 1 tahun pengalaman menjadi
    pembantu rumah tangga. Waktu awal-awal bekerja dirumahku aku tidak terlalu memperhatikan dia karena
    kupikir ah mungkin sama saja dengan pembantu2 sebelumnya. Namun setelah satu bulan bekerja mau tidak mau
    terlihat juga sifat-sifat aslinya…

    Diluar dugaan, Nia ternyata anak yang sungguh rajin bekerja. Dia penuh dengan inisiatif dan juga telaten
    menjaga anakku yang baru berumur 2 tahun itu. Aku sempat tersenyum gembira karena merasa dia adalah
    pembantu yg selama ini aku harapkan. Aku pun merasa sayang bila suatu saat nanti kehilangan dia dari
    rumahku. Karena ya tadi itu, sangat susah mencari pembantu yg sesuai harapan di jaman sekarang ini. CeritaMaya

    Niatku untuk membuat Nia betah bekerja dirumah aku sampaikan juga kepada istriku dan diapun langsung
    setuju karena memang, istriku juga merasa Nia adalah pembantu yang tepat bagi keluarga kami.

    Untuk membuatnya betah bekerja, semua kebutuhan bulananya kami penuhi. Dari uang jajan harian, hal-hal
    kecil seperti sabun mandi dan odol sampai parfum dan handbody yg seharusnya hanya untuk kecantikan-pun
    tidak segan-segan kami belikan untuknya. Benar saja, Nia begitu betah bekerja di rumahku dan tak terasa
    sudah 1 tahun dia bekerja tanpa ada tanda-tanda kalau dia jenuh atau tidak senang bekerja untuk
    keluargaku.

    Karena semua kebutuhan termasuk alat-alat kecantikanpun kami berikan kepada dia, Nia menjadi rajin
    merawat diri. Nah, suatu waktu ketika aku, anakku dan dia sedang pergi jalan-jalan ke sebuah mall,
    terbersit niatku untuk menyenangi dia dengan mengajaknya ke salon untuk memotong rambutnya yg sdh
    kelewat panjang dan kurang terurus itu. Awalnya dia menolak karena merasa malu dan tidak enak, tapi
    karena aku paksakan akhirnya dia mau juga.

    1 jam menunggu dia di Salon aku habiskan dengan anakku di sebuah playland yang ada di mall itu. Begitu
    selesai akupun kembali ke salon untuk menjemput Nia. Tapi Ya ampun….. Aku begitu kaget melihat dia dan
    rambutnya yang baru di potong itu berdiri di depanku… Dia begitu cantik! Ya, cantik! Bukan hanya manis,
    tapi benar2 cantik sekali sampai aku terdiam menganga beberapa detik seperti layaknya orang yg baru saja
    melihat keajaiban.

    Perjalanan pulang dari mall, aku tidak begitu konsen menyetir. Dari td aku selalu mencuri-curi pandang
    untuk memperhatikan Nia dengan penampilan barunya itu. Potongan rambutnya pendek sebahu, rapih dan
    berkilau. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang putih dan mulus itu… Eh tunggu dulu? Putih dan
    mulus?? Apa aku tidak salah lihat? Seingatku dia dulu biasa saja, kusam malahan? Apa karena produk2
    kecantikan itu memberikan efek yg sedemikian rupa? Atau rambutnya yg panjang yg selama ini secara tidak
    langsung menyembunyikan kecantikannya? Atau mungkin aku saja yang selama ini tdk memperhatikan dia
    dengan baik?? Ahhhhhh… Bodo amat lah. Yang jelas ada wanita muda dan cantik sedang duduk disampingku..
    Tidak, bukan hanya itu. Tapi dia akan selalu ada serumah denganku kan?.

    Lampu merah masih menyala. Ada angka 90 tertulis di panel LED yang terletak diatasnya menadakan cukup
    waktu bagiku untuk lebih detil lagi melirik si cantik Nia yg sedang kerepotan mengatur duduk si kecil di
    pangkuannya. Ku perhatikan wajahnya sekali lagi dengan rasa yang masih tidak percaya. Memang ternyata
    aku tidak salah lihat tadi. Dia benar2 cantik sekali…

    Lalu perlahan-lahan pandanganku mulai penasaran melirik turun ke arah lehernya yg juga jadi terlihat
    jelas karena potongan rambut barunya itu. Oh my god, Lehernya ternyata jenjang… Mungkin karena dia rajin
    bekerja jadi otomatis tubuhnya-pun terbentuk proporsional dengan sendirinya. Tidak heran memang.

    Puas melihat lehernya yg jenjang itu, bola mataku kembali penasaran. Kali ini mulai turun lagi dari
    lehernya yg indah itu menuju bagian dadanya yg ternyata juga membuat aku terpana… Oh shit! Dadanya
    begitu padat dan berisi. Cukup besar untuk umurnya yang baru 16 tahun itu. Malah lebih besar dari punya
    istriku sepertinya? Ada apa ini? Apa aku sedang bermimpi? Kenapa baru sekarang aku ngeh dengan fisik
    pembantuku ini??

    Malam itu jadi malam yang paling menyiksa buatku. Walau sudah mencoba mengalihkan pikiran ke hal-hal
    yang lain tapi tetap saja, yang kupikirkan hanyalah wajah cantik Nia dari td. Lama2 lamunankupun mulai
    menjurus ke arah yang tidak2. Aku mulai membayangkan kalau saat ini yg sedang tidur disampingku ini
    adalah Nia dan bukan istriku.

    Aku mulai berangan-angan untuk bisa sekedar merasakan hangat tubuhnya dipelukanku..Cerita Sex Pembantu

    Hari demi hari berlalu aku semakin penasaran dibuatnya. Nia begitu lugu. Oh ya, dia ternyata sudah 17
    tahun loh. Aku lupa kalau sampai saat ini dia sudah bekerja setahun lebih di keluargaku. Dia sudah
    dewasa tentunya kan? Artinya semakin matang penampilannya dimataku.

    Aku mulai mencari cara dan kesempatan agar bisa bersentuhan dengannya. Saat dia lagi di dapur misalnya. ceritasexpembantu.com Memang dapurku itu kebetulan cukup sempit untuk lebih dari 1 orang berada didalamnya. Tapi dengan dalih
    mau mengambil gelas dan piring aku usahakan bisa masuk untuk sekedar bisa memeluk Nia dari belakang
    walau terkesan hanya demikian.

    Tidak puas dengan hanya bersentuhan seperti itu aku mulai berpikir lebih jauh… Ah ide kecil pun akhirnya
    muncul di kepalaku yg mulai ngeres ini. Bagaimana kalau aku pura2 saja merasa pegal2 dan minta Nia untuk
    memijatku. Hmmmm… Ide yg masuk akal sepertinya ya?

    Diluar dugaan, Nia ternyata dengan enteng menerima permintaanku untuk dipijat. Dia bilang waktu di
    kampung dia memang sering disuruh memijat orang tuanya. Wuahhhh…rasa-rasanya ingin teriak girang sekali
    saat itu. Ideku ternyata disambut dengan mulusss…

    Dengan bertelanjang dada, punggunggu dipijat Nia dengan lembutnya. Harus kuakui kalau dia memang bukan
    pemijat professional. Tapi bukan itu kan yg aku harapkan kan? Aku cuman ingin merasakan sensasi sentuhan
    jari2 Nia di tubuhku dan untungnya memang itu yg kudapatkan saat ini.

    Setelah puas merasakan hangatnya tangan Nia yang telaten itu aku tiba2 punya ide yg lebih konyol lagi.
    Aku minta dia untuk memijat dadaku. Ya dadaku! Aneh memang kalau dia pemijat professional pasti akan
    bertanya2 mungkin.

    Nia dari awal memijat punggungku dari belakang. Aku duduk bersila sedangkan dia setengah berdiri dengan
    kedua kakinya di tekuk di lutut. Saat itu aku berpikir bila kusuruh dia memijat dadaku maka mau tidak
    mau tubuhnya akan menempel dengan punggunggku agar tangannya dapat menggapai dadaku dr belakang. Dan
    benar saja… Oh dear, gunung kembar, padat dan berisi itu akhirnya menyentuh bagian belakang kepalaku…
    Hangat… seperti melayang rasanya…

    Semakin Nia berusaha memijat dadaku dari belakang maka semakin aktif dada montoknya itu menggesek2
    belakang kepalaku. Owhhh semakin terlena aku dibuatnya karena merasakan seolah kepalaku sedang ikut
    dipijat. Bukan dengan tangan, tapi dengan kedua payudara montoknya yang kuidam-idamkan itu!

    Selama 10 menit kubiarkan kepalaku digesek-gesek oleh payudaranya. Untungnya Nia begitu lugu untuk
    berpikir bahwa aku sedang menikmati pijatan payudaranya itu dan dengan semangat terus memijat2 dadaku
    dengan aktif. Seperti disurga rasanya…

    Bukan hanya kepalaku yg mulai pusing memikirkan ide2 konyol berikutnya tapi “kepala” di bawahku-pun
    sudah mulai bergeliat memberontak. Ahhh… That’s it! Aku sudah tidak tahan lagi dan ini berarti aku ingin
    lebih!

    Secara tiba2 aku tarik tangan nia dari dadaku dan ku remas lembut telapak tangannya.

    “Sudah ya pak?” Tanyanya, berpikir bahwa tindakan yang baru saja aku lakukan itu menandakan kalau aku
    ingin meyudahi pijatannya.
    “Emm… Iya Nia, tapi saya mau kamu pijetin saya yg lain” balasku agak sedikit kagok.
    “Oh iya pak, mau dipijet yang mana lagi?” Tanyanya tanpa rasa curiga sedikitpun

    Sudah kepalang tanggung, ku tarik telapak tangannya dan kuarahkan masuk ke dalam celana pendekku sampai
    jarinya menyentuh barang kemaluanku yg dari tadi sudah berdiri tegak mengacung.

    Baca Juga : Kamar 315

    Nia kaget bukan main, secara reflek ditariknya tanggannya keluar dari celanaku. Tapi karena tanganku
    masih memegang erat pergelangan tanggannya, tangan Nia tidak bisa sepenuhnya keluar.

    “Bapak jangan begini Pak! Nia ngga mau” pintanya dengan memelas seperti ingin menangis.

    Jantungku mulai deg2an. Aku mulai berpikir dengan logika, aduh bagaimana ini? Bagaimana kalau nanti dia
    melapor ke istriku? Bisa hancur rumah tanggaku yang baru seumur jagung ini? Hadooohhh… Tapi kalaupun aku
    sudahi sampai disini belum tentu juga dia tidak akan melapor?? Ahhh.. Benar2 kepalang tanggung
    sepertinya!

    “Kenapa Nia? Ga papa koq. Saya cuman minta dipijet aja” dengan suara pelan dan kubuat semanis mungkin.
    “Pak Nia takut… Nanti Nia dimarahi Ibu” balasnya dengan masih memelas.
    “Ga lah Nia, kan ibu ga tahu? Ya kamu jangan bilang2 ke dia nanti. Kan kamu tahu sendiri ibu orangnya
    bagaimana?”

    Kali ini ada sedikit nada ancaman di suaraku dengan harapan dia terlalu lugu untuk tidak menyadari
    ancamanku yg tidak masuk akal itu.

    “Ehhhh… Iy..iya Pak….” jawabnya lirih.

    Sepertinya ancamanku termakan olehnya. Nia memang begitu segan dengan istriku karena bila ada sesuatu yg
    istriku tdk suka maka dia tidak segan2 untuk memarahi pembantuku itu.

    Ku tarik kembali tangan Nia dan kuarahkan jari2nya untuk menggengam batang kemaluanku. Kali ini dia diam
    saja. Sangking diamnya malah tangan kecilnya itu tidak melakukan apa2 terhadap kemaluanku.

    “Ayo Nia, koq kamu diam aja. Kan saya minta dipijetin” pintaku dengan nada memaksa.

    Jari2nya pun mulai bergerak tidak beraturan. Ah memang terlalu lugu pembantuku yang satu ini…

    Nia perlahan-lahan mulai mengerti apa yang ku maksud. Tangannya yang mungil itu mulai menggenggam batang
    kemaluanku dengan penuh dan mengocoknya pelan. Aku pandu dia dengan desahan kecilku. Setiap dia
    melakukan pijatan yang benar aku sengaja mendesah lebih keras agar dia tahu aku menikmati itu.

    5 menit berlalu, pijatan Nia semakin sempurna. Batang kemaluanku semakin mengeras dan berharap
    diperlakukan lebih lagi olehnya. Sepertinya bila aku meminta lebihpun dia akan terpaksa memenuhinya
    pikirku saat itu.

    “Udah Nia. Kita pindah ke kamar saya aja ya. Ga enak posisi saya begini nanti malah saya pegal2 lagi”
    ajakku dengan nada tetap memaksa.

    Tanpa menunggu jawaban dari dia, aku langsung berdiri berjalan ke arah kamarku lalu tidur bersandar
    diatas springbed tempat aku dan istriku biasa tidur.

    Berselang beberapa detik kemudian Nia masuk menyusul. Wajahnya tertunduk. Tidak begitu jelas kulihat
    wajahnya apakah dia sedang menyembunyikan matanya yg kemungkinan sedang basah dengan air mata. Ah, aku
    tidak mau ambil pusing. Aku tarik tanggannya kembali dan aku arahkan dia duduk berlutut di samping
    pinggul kiriku. Tangannya ku arahkan kembali untuk meremas batang kemaluanku yang kini dengan jelas
    mengacung bebas di hapannya.

    Nia kembali memijat naik turun dan meremas2 batang kemaluanku tanpa kusuruh. Sudah paham betul
    sepertinya dia sekarang.

    “Pijetnya agak sedikit cepat ya…” pintaku seperti memelas karena sedang keenakan dengan apa yg sedang
    Nia lakukan.

    Dia masih diam saja, tapi menuruti dengan baik.

    “Oohh…ahhh… Enak Nia” desahku tak karuan.

    Lama2 puncak kenikmatan itu mulai berangsur-angsur datang. Sebentar lagi aku akan orgasme. Tapi memang
    dasar otakku sudah ngeres betul. Ku pegang leher Nia dan kupaksa menunduk ke arah kemaluanku itu dengan
    harapan dia mau mengulumnya.

    “Kamu hisap2 ya! Buruan!” pintaku memaksa.

    Mungkin karena takut, langsung dilahapnya kepala kemaluanku itu yang membuat aku sempat menggelinjang
    sedikit karena merasakan hangatnya mulut dan air liur Nia. Ohhhh nikmat tiada tara….

    Kuluman demi kuluman membuat batang kemaluanku semakin berdenyut2 kencang. Arghhh aku ingin tahan lebih
    lama lagi tapi ternyata tidak bisa. Kombinasi pijatan keras di batang kemaluanku dan hisapan2 kencang
    mulut Nia akhirnya membuat aku orgasme. Crot! Cairan hangat itu melimpah keluar dan memenuhi mulut Nia
    seketika. Nia terkaget bukan main, dia terbatuk tersendak dan menarik wajahnya menjauhi batang
    kemaluanku. Kubiarkan saja, karena kupikir aku tidak ingin membuatnya menderita lebih dari ini lagi…

    Nia berlari ke kamar mandi, dan kudengar dia muntah2 berusaha mengeluarkan spermaku yang sepertinya
    tertelan olehnya.

    Ku tunggu sampai pintu kamar mandi terbuka dan dia keluar. Nia kaget melihat aku sudah berdiri di
    depannya. Bisa kulihat matanya sembab seperti habis menangis.

    “Nia, kamu ga papa kan. Jangan sampe kamu cerita sama ibu ya! Soalnya bukan hanya saya, kamu juga pasti
    akan di amuk ibu nanti kalau kamu cerita! Paham!” Teriakku dengan nada yg tidak terlalu tinggi.
    “Iya pak… Nia ga cerita” balasnya lirih.
    “Tapi nanti kalau Nia hamil bagaimana pak? Nia takut…” Dengan lugunya dia bertanya.
    “Hamil? Ga bakalan lah Nia. Hamil itu kalau saya masukin punya saya kedalam punya kamu itu dan saya
    keluarin seperti yg saya keluarin tadi di mulut kamu. Baru kamu bisa hamil!”.
    “Iy…iya pak.. Maaf” balasnya dengan pelan terkagok-kagok lalu menunduk.
    “Ya sudah, kamu istirahat saja sana. Nanti besok2 kalau saya minta dipijetin kamu sudah tahu kan?”
    Sambungku sambil berjalan melengos tanpa menunggu jawaban darinya.

    Aku-pun kembali masuk ke kamar tidurku. Sambil merebahkan diri kuingat2 kembali sensasi yang baru saja
    kurasakan… Oooh nikmatnya bikin kemaluanku mulai berdiri kembali. Ku kocok2 sampai muncrat dan akupun
    mulai tertidur pulas…..

    Besok aku pikirkan lagi bagaimana caranya menikmati pembantuku yang cantik ini…

    Sudah seminggu lebih semenjak kejadian kemarin itu berlalu tapi aku mencoba bersikap seperti biasa
    kepada Nia. Walaupun begitu, tidak dapat kupingkiri kalau Nia memang jadi berbeda dari biasanya. Setiap
    berpapasan atau disaat aku meminta dia mengerjakan sesuatu, yang biasanya dijawab dengan riang kini
    dijawab hanya dengan anggukan kecil saja. Sempat khawatir juga kalau dia tiba-tiba retak dan memblowup
    kejadian kemarin itu ke istriku. Waduh aku tidak bisa membayangkan apabila hal tersebut terjadi…

    Aku jadi berpikir keras bagaimana agar situasi ini bisa kembali kondusif, karena bila kubiarkan seperti
    ini tentu ujung-ujungnya istriku pasti akan ngeh juga kan?

    Hal pertama yang muncul dipikiranku saat itu cuma satu, aku sepertinya harus melakukan pendekatan secara
    persuasif ke dia. Siapa tahu dengan membelikan sesuatu yang menyenangkan hatinya, dia bisa melupakan
    atau minimal mengalihkan pikirannya dari kejadian tersebut.

    Jumat itu sebelum pulang dari kantor, aku minta izin kepada istriku untuk pulang malam karena harus
    singgah ke rumah temanku dulu di daerah Blok M, padahal rencanaku saat itu sebenarnya ingin membelikan
    beberapa pasang baju untuk Nia.

    Ngubek-ngubek mencari baju yang cocok dan pas untuk seorang wanita ternyata tidak segampang yang aku
    kira. Duuhh.. sudah beberapa puluh pakaian yang aku pilih2 tapi rasa-rasanya masih belum ketemu yang
    cocok menurut anggapanku. Beruntung saat itu ada seorang remaja putri yang kira2 seumuran dengan Nia mau
    membantuku memilih baju yang tepat. Fiuhhh… akhirnya dapat juga apa yang kubutuhkan…

    Besoknya ketika istriku pergi keluar untuk hangout bareng teman2nya, tanpa membuang2 waktu aku langsung
    memanfaatkan situasi tersebut untuk mendekati Nia yang sedang sibuk memasak didapur. Sepertinya dia
    sedang mempersiapkan menu makan siang untukku. CeritaMaya

    “Nia, kamu masak apa hari ini?” Tanyaku dengan penuh perhatian.
    “Anu,pak, masak ikan tongkol disambelin sama tumis kangkung” jawabnya gelisah.
    “Oh ya udah klo begitu.. Eh kamu sudah mandi blom? Kalau sudah nanti habis masak tolong pijetin saya
    lagi ya? Sudah seminggu nih saya blom dipijet2 lagi sama kamu.”

    Kali ini sengaja kutunggu sampai dia menjawab pertanyaanku agar aku bisa melihat seperti apa responnya.

    “Iy..iya pak, nanti Nia mandi dulu…” Jawabnya pelan dan terbata2 tanpa memandang ke arahku.

    Hmmm… Terus terang aku masih meraba2 tentang perasaannya saat itu tapi nantilah pasti akan aku korek2
    terus sampai aku tahu seaman apa sebenarnya posisiku saat ini.

    Padahal baru 15 menit aku tunggu dia selesai memasak tapi aku sudah tidak sabar saja antara ingin tahu
    perasaan dia terhadapku dan selain itu tentunya aku juga sudah kangen merasakan jari2 kecilnya bermain
    dengan adik kecilku. Ahh.. Aku tetap harus menunggu beberapa menit lagi karena dia harus mandi terlebih
    dahulu. Damnnn…

    Bunyi cipratan air kamar mandi membuatku semakin gelisah. Aku benar2 sudah tidak sabar untuk menunggunya
    lebih lama lagi karena otakku saat itu sudah dipenuhi dengan ide2 gila yang ingin segera aku
    realisasikan bersama pembantu cantikku ini. Lalu tiba2 ide cemerlang pun muncul. Ku ambil handphone
    blackberryku dan dengan cepat ku aktifkan fitur video recordingnya. Walau perasaan deg2an karena takut
    ketahuan, dengan hati2 kuarahkan lensa kamera blackberryku ke atas ventilasi kamar mandi dimana Nia
    sedang asyik mengguyur tubuh telanjangnya.

    Shit! Sangking deg2annya aku jadi tidak berani lama2 untuk merekam moment tersebut. Segera ku turunkan
    tanganku dan kumatikan mode rekamnya untuk mengecek apakah gambar yang kumaksud terekam dengan baik atau
    tidak. Wow! Ternyata spyshot yg kulakukan itu lumayan sempurna. Bisa kulihat jelas bodynya yg aduhai
    walau hanya dari belakang. Lalu payudaranya yang montok itu terlihat begitu kenyal dan menggoda sehingga
    membuat adik kecilku langsung berdiri dengan tegak perkasa.

    Ohhh Nia, ingin rasanya ku dobrak pintu kamar mandi ini dan ku entot kamu saat itu juga sayang…

    “Saya tunggu di kamar ya!” Teriakku semangat saat Nia baru keluar dari kamar mandi, tapi dia tidak
    menjawab atau mungkin suaranya terlalu kecil untuk ku dengar saat itu.

    Tak berapa lama kemudian Nia sudah berada di kamarku, sedangkan aku sedang berbaring menunggunya.

    “Sini kamu sandaran disini” tanganku menunjuk kearah sandaran springbed.
    “Tolong pijetin kepala saya dulu ya”.

    Tapi tetap tak terdengar sepatah katapun yg keluar dari mulutnya walaupun dia menuruti perintahku itu.

    Nia duduk bersandar sedangkan aku dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun langsung merebahkan tubuhku
    diatas tubuhnya. Kepalaku dengan sengaja kuposisikan tepat diantara kedua payudaranya sehingga bisa
    kurasakan kembali hangat dan empuknya gunung kembar itu menjepit kedua sisi kepalaku. Emhhhh…. Nyaman
    dan hangat sekali rasanya…- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Kamar 315

    Kamar 315


    77 views

    CeritaMaya | “Temui aku di Hotel xxx kamar 315, tapi sebelumnya telpon dulu ya Dik Sakti, siapa tahu Mbak Ratna
    sedang keluar sebentar…” begitulah pembicaraan yang singkat yang maknanya dapat aku pahami dengan cepat.

    Kamar 315

    Kamar 315

    Oh ya, perkenalanku dengan mbak ratna kurang lebih setengah tahun, tapi selama setengah tahun tersebut,
    kami hanya sebatas berteman, karena perbedaan tempat yang cukup jauh, aku di kota S sedangkan Mbak Ratna
    di kota J. Dia mengenalku dari Mbak Vian, ya semoga pembaca masih ingat dengan kisahku di “Gelora Di
    Kolam Renang”. Tapi aku tidak tahu apa hubungan antara Mbak Vian dengan Mbak Ratna, menurut Mbak Vian
    sih hanya teman dari “milist groups” (aku lupa namanya), di situ Mbak Vian cerita tentang hubunganku
    dengannya. Dan Mbak Ratna minta bagaimana agar bisa dikenalkan denganku.

    Singkat cerita, pertemanan setengah tahun berjalan sebatas kirim e-mail dan telepon, tapi tentu saja dia
    yang telepon duluan. Mbak Ratna adalah seorang janda beranak 2, dia bekerja di bidang Public Service
    sebuah perusahaan finance di kota J, tidak jelas bagaimana ia menjanda, yang pasti mantan suaminya orang
    melayu. Dari yang kubayangkan selama ini lewat pembicaraan telepon, fisiknya sedang-sedang saja, hanya
    suaranya, ya.. suaranya yang aku ingat selalu, berat dan serak, mungkin karena dia perokok berat.

    Berbekal uang recehan, aku datang ke hotel xxx, dan melalui public phone, aku telepon ke kamar 315.
    Cukup lama nada dering telepon aku dengar dan tidak ada yang mengangkat, tiba-tiba…

    “Hallo…” lho kok suara laki-laki? pikirku.
    “Maaf Mbak Ratna ada?”
    “Sebentar, dari siapa ini?”
    “Sakti, saya sudah janji untuk bertemu sore ini,”
    “Tante, ada orang namanya Sakti, katanya mau ketemu…”

    Terdengar suara mengeras memanggil nama Ratna. Tante? Siapakah gerangan laki-laki ini?

    “Ya Dik Sakti, aduh maaf Tante masih terima Hand Phone dari teman di J, langsung aja deh naik.”

    Begitu pintu terbuka, aku kaget, ternyata bayanganku tentang Mbak Ratna meleset seratus persen! Usianya
    37 tahun, sedangkan aku saat itu masih berumur 25 tahun, kulitnya coklat, tidak cantik, cenderung gemuk
    tinggi tubuhnya yang 160 cm dengan berat 75 kg.

    “Wah maaf ya, kenalin ini saudara Mbak di S, namanya Andi, dia anak dari kakak Mbak yang paling tua,
    kebetulan sedang kuliah di sini ambil jurusan… apa Di?”
    “Manajemen,” jawab Andi singkat sambil berjabat tangan formal sekali.
    “Semester berapa kamu Di?”
    “Baru semester dua kok Tante.”
    “Oh ya ini Sakti, dia yang membantu Tante urusan kantor di S,” jawabnya menutup-nutupi yang sebenarnya,
    dan aku mendukung apa yang dikatakannya.
    “OK deh Tante, karena sudah ada Mas Sakti, Andi permisi dulu, besok keretanya jam berapa sih, biar Andi
    antar sama mama sekalian,” tawaran Andi dijawab singkat Mbak Ratna.
    “Ah, nanti aku telepon Mbak Ning deh, sekalian besok minta dijemput main ke rumahmu, salam buat mama dan
    papa ya, sampai ketemu besok.”

    Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam,

    “Sampai dimana tadi Sakti… oh ya, selamat berjumpa deh dengan Mbak Ratna? Bagaimana menurut Dik Sakti?
    Mbak Ratna gemuk ya? Hayoo jujur saja, nggak perlu bohong?”
    “Iya, untuk ukuran Mbak Ratna memang tergolong gemuk, tapi nggak apa kok, lagian kami sudah akrab kan
    setengah tahun ini,” aku mencoba mencairkan suasana.

    Mbak Ratna menyulut sebatang rokok Mild dan menawariku,

    “Terima kasih, aku lebih suka Dji Sam Soe Filter,” sambil ikut merokok kepunyaanku sendiri.
    “OK, sengaja aku tidak cerita fisik Tante, takut kalau Dik Sakti nggak mau ketemu.”
    “Ah Mbak Ratna salah mengira aku, aku tidak melihat wanita dari fisiknya kok, gemuk, kurus, cantik atau
    tidak, China atau Pribumi, pendek atau tinggi, yang penting ‘permainan’-nya.”

    Tiba-tiba aku langsung nyerocos.

    “Lagi pula, aku juga tidak tampan dan bertubuh atletik kan? aku hanya laki-laki biasa yang beruntung
    bisa menemani beberapa wanita yang maaf lho Tante… seperti… Mbak Ratna ini.”

    Tiba-tiba, belum selesai rokok satu batang, Mbak Ratna langsung merangkulku dan melumat bibirku.
    Didekapnya tubuhku, dan terasa sesak nafasku karena tubuhnya yang gemuk langsung menindihku di tempat
    tidur. “Dik Sakti, sudah sembilan bulan ini Mbak Ratna belum merasakan sentuhan laki-laki, tolong Mbak
    Ratna ya… oohhkkk,” suaranya yang berat dan serak memecahkan kesadaranku untuk ikut melayani
    permainannya.

    Baca Juga : Waitres Hot

    Bayangan tubuhnya yang gemuk sudah hilang dari pikiranku, karena untuk pertama kali ini, aku menemui
    wanita yang berani langsung tanpa pemanasan. Dan ciumannya aku akui sangat panas (mungkin karena
    sembilan bulan puasa). Belum selesai permainan pertama, Mbak Ratna sudah mulai menanggalkan pakaiannya
    satu persatu. Dan hebatnya, sambil melepas pakaian, tangannya yang satu tidak berhenti meraba kemaluanku
    yang masih rapat tertutup celana. Aku sudah tegang sejak ia mempermaikan kemaluanku.

    “Ookkhhhh, Sakti, tunjukkan dong sama Mbak, kemaluan kamu, sudah tegang tuh… okkkhh yeesss,”

    Tidak sampai 1 menit, kami berdua sudah polos. Tubuh yang gemuk itu, berukuran payudara sedang-sedang
    saja, tetapi rambut kemaluannya jelas terawat sekali, panjang, lebat tetapi lurus, dan sudah basah
    karena terangsang. Batang kemaluanku langsung saja dituntun ke mulutnya, dan hisapannya… “Aaauu, pelan-
    pelan Mbak, sakiiit!” rupanya Mbak Ratna terlalu terburu-buru. Kubimbing dia untuk bermain pelan-pelan. CeritaMaya

    “Terus Mbak! yaaa, teerrusss, ohh, pelan Mbak, ohh terus, nah begitu,” sambil mukanya maju-mundur,
    burungku terus dijilati seperti es krim.

    Tidak perlu lama-lama menunggu, aku mulai ikut mempermainkan bibir kemaluannya. Karena sudah basah, aku
    tidak perlu kerja keras untuk mengajaknya memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Dan
    rupanya Mbak Ratna masih ingin mengulum batang kemaluanku, walaupun sudah amat sangat keras dan tegang,
    apa boleh buat, aku hanya bisa menunggu giliran untuk menusuk lubang kemaluan yang sudah sangat basah
    itu.

    “Ohhk my God, Mmmbakk,” suaraku bergetar, karena sudah ingin memuntahkan sperma.

    10 menit hanya mengulum saja, segera kupercepat gerakan, dan agak tersedak Mbak Ratna semakin liar
    menghisap kemaluanku. Dan aku mengeluarkan sperma di mulut Mbak Ratna, tidak banyak, tapi cukup untuk
    memuaskan nafsuku yang pertama. Aku klimaks hanya dengan oral seks saja, dan Mbak Ratna masih mengulum
    habis sekalian membersihkan sisa sperma di kemaluanku. Dan lima menit kemudian, burungku sudah mulai
    bereaksi kembali. Kali ini Mbak Ratna semakin bernafsu, dan belum tegang benar, aku sudah
    dikangkanginya, posisiku di bawah, dan Mbak Ratna di atasku. Wah, aku hampir sulit bernafas, sepertinya
    (sialan) kali ini aku benar-benar habis dikuasai permainan Mbak Ratna.

    Dengan dibimbing tangan kiri Mbak Ratna, burungku digenggam dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Mmhh…
    hangat terasa dan diikuti suara gesekan kemaluan dan dinding kemaluan sebelah dalam. Mbak Ratna mulai
    bergerak naik-turun, dan aku pasif saja menyaksikan apa yang sedang dikerjakan.

    “Oh ya… ohhkk yaaa, uuuchhh,” Mbak Ratna sangat aktif sekali, gerakannya semakin tidak teratur, kini
    mulai bergerak maju-mundur, dan kadang-kadang menghentak, dan setengah melompat, seolah-olah ingin
    menancapkan burungku dalam-dalam ke lubang kemaluannya yang sudah sangat licin.
    “Dik Sakti adduhhh, gimana ini, oohhh ssshitt, aauuwww, ohhkk,” entah teriakan apa lagi yang kudengar,
    Mbak Ratna semakin buas memainkan pinggulnya, tetapi sangat berirama dengan keluar-masuknya batang
    kemaluanku ke lubang kemaluan Mbak Ratna.

    Tiba-tiba Mbak Ratna berputar membelakangiku dengan posisi masih di atas, dan batang kemaluanku
    tertancap di lubang kemaluannya, Mbak Ratna bertumpu dengan kedua kakinya dengan posisi jongkok kembali
    menaik-turunkan tubuhnya, ohhhkkk, sangat aktif sekali. Kini aku hanya melihat bagian pantatnya saja,
    sambil sesekali melihat gerakan kemaluanku yang sudah basah dilumuri cairan dinding kemaluan Mbak Ratna
    tampak keluar-masuk di lubang yang nikmat sekali.

    “Oocchh, please… huuhhh… hhuhhh… ooohh ohhhh,” gerakannya makin cepat, dan kini jelas sangat tidak
    beraturan.

    Kasur seperti bergerak dihantam gelombang oleh permainan Mbak Ratna sedang aku hanya rebahan menikmati
    permainannya. Dan tiba-tiba, dia memperlambat gerakannya dengan hujaman ke bawah yang sangat keras,
    dengan demikian burungku menusuk sangat dalam ke mulut kemaluannya.

    “Aauuhh,” sedikit sakit karena dipaksa.

    Semakin lambat gerakan Mbak Ratna, tetapi suaranya makin kencang (semoga tidak terdengar sampai keluar).

    “Yeess… yesss.. yeess… uuhhh, aakkhh, aakhhh, oohhh, oh.. oh.. oh.. ohh.. yees, ouucchh.. oouucch,
    please, pleease… pleeeassee, aaoucchh, shhitt!” Hening, dalam sekali batang kemaluanku menusuk ke lubang
    kemaluan Mbak Ratna, dan dibiarkan tetap di dalam, sementara Mbak Ratna menggeliat, seolah ada gerakan
    otomatis di dinding kemaluannya yang mengurut-urut batang kemaluanku dengan gerakan menjepit dan
    melebar, menjepit kembali dan tiba-tiba hangat terasa, seperti ada cairan tambahan. CeritaMaya

    Ya, aku sampai pada puncak klimaksku, ketika dalam diam tersebut, ada gerakan otomatis dari dinding
    kemaluan Mbak Ratna, seolah-olah meremas kemaluanku dengan sangat teratur dan diselingi desiran cairan
    kental yang membuat licin, sehingga batang kemaluanku terasa berdenyut-denyut dipompa oleh dinding
    kemaluan Mbak Ratna. Dan kejadian yang singkat ini berlangsung kurang dari setengah jam, adalah
    permainanku yang terakhir di kota S. Sekarang aku sudah di J, sekota dengan Mbak Ratna.

    Tetapi sejak di kota J ini, justru aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Mbak Ratna. Sejak kejadian
    yang pertama dengan Mbak Ratna, kami masih sempat bercinta 3 kali di kemudian hari, dan seperti
    permainan kami yang pertama, aku hanya diam saja menyaksikan permainan Mbak Ratna yang agresif dan
    kutunggu sesuatu yang istimewa, gerakan dinding kemaluannya, yang belum pernah kutemui dengan wanita
    yang lain.

    Ketika pembaca membaca pengalamanku ini, aku beruntung dapat meneruskan hobiku di kota J ini, karena
    selalu saja ada pembaca yang ingin berkenalan dengan mengirimkan e-mail ke alamatku. Dan dari perkenalan
    tersebut, walaupun tidak semuanya, ada beberapa yang berani mencoba untuk bercinta denganku. Dan kepada
    pembaca yang ingin berkenalan dan siapa tahu juga tertarik untuk mencoba, aku tunggu e-mailnya. Salam
    buat Ratna (yang melepas keperjakaanku, baca kisahku selanjutnya, Anggi, Mbak Vian (cewek Chinese yang
    seksi), Mbak Ratna (yang liar) yang sudah berbagi kepuasan denganku.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Waitres Hot

    Waitres Hot


    80 views

    CeritaMaya | Aku sudah sampe division 7 di sekolah perhotelan yang aku tekuni. Pada division ini semua mahasiswa
    wajib melakukan on the job training selama satu division yang backbone hasilnya akan dituangkan menjadi
    karya tulis akhir pada division 8 dan diuji untukmenentukan kelulusan mahasiswa tersebut. Kebetulan aku
    dapet tempat job trining yang asik, di satu auberge bintang 5, Tidak di hotelnya sih tapi di resto cina
    yang ada di auberge tersebut.
    Aku mulai job trainingku dengan jadwal yang telah disusun sekolah bersama auberge itu.

    Waitres Hot

    Waitres Hot

    Teman-temanku 1 angkatan banyak yang job trining disitu, masing-masing ditempatkan terpisah. kami akan
    belajar untuk mengetahui semua aktivitas auberge dan resto yang ada di auberge itu, jadi akan di rotasi.
    Waktu 1 division sebenarnya gak cukup untuk mempelajari semua aktivitas auberge dan resto tetapi
    ditentukan berdasar skala prioritas saja seperti abode keeping, allowance service, advanced appointment
    serta aliment and beverage. Di resto cina itu aku diputer dari bagian yang batten mendasar yaitu cuci
    piring dan peralatan masak, ke dapur dan akhirnya melayani tamu.

    Cerita ini berawal ketika aku bertugas melayani tamu makan. Walaupun aku trainee, aku diperlakukan sama
    dengan karyawan lain termasuk pembagian waktu kerja, kadang dapat about-face siang kadang malam. Suatu
    malam, resto lumayan penuh dengan tamu.

    Disatu meja, aku melihat ada seorang bapak-bapak, sejak dia datang aku merasa kalo tu bapak selalu
    memandangi aku. Orangnya 40an lah, ganteng juga, atletis, suka aku ngeliatnya. Sengaja kalo aku lewat
    mejanya aku menatap matanya sambil tersenyum, tu bapak juga senyum-senyum memandangiku. CeritaMaya

    Menjelang dia selesai makan, ketika aku nambahi minumannya, dia menunjuk pada tissue yang dilipat, aku
    mengambilnya sambil mengangkat piring dan gelas bekan makan. Setelah aku meletakkan pting gelas kotor
    ditempatnya, aku membuka lipatan tissue itu, ada tulisan,

    “Din, kasi tau bell no hp kamu, boleh ya”. Dibawahnya dia tuliskan namanya dan no hp nya.

    Dia tau namaku karena semua karyawan resto termasuk aku diberi name tag. Aku ke toilet sebentar dan
    ditoilet aku mengirim sms ke no hp tu bapak. Kenapa di toilet, karena kami dilarang menerima telpon ato
    mengirim sms di ruang makan. Tak absolutist terasa ada getaran di hpku, si bapak pasti membalasnya,
    tetapi aku gak bisa membaca smsnya karena sibuk, si bapak meninggalkan resto, dia memandangiku sambil
    tersenyum, aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih, tatacara di resto ketika tamu pergi meninggalkan
    resto. Ketika istirahat, aku membuka smsnya,

    “Din, kita jalan yuk setelah kamu kerja, aku seneng deh ngeliat kamu, cantik, seksi pula dibanding
    waitress lainnya”. Memang seragam karyawan seksi, pasti dia tertarik ma bentuk pantatku, dasar lelaki,
    dimana aja ngeliatin bodi prempuan ja kerjanya.

    Ya gak apa si, itu kan kodrat lelaki, aku juga seneng sih ada yang muji aku cantik dan seksi, memang sih
    dari umur aku yang batten muda dari semua waitress yang ada.

    Sengaja kubalas smsnya,

    “memang bapak mo ajak Dina kemana. Dina kerja sampe restonya tutup pak, jam 10an”. Dia menjawab,
    “dibales artinya mau bell diajak jalan, gak mesti cepet pulang kan, kita adhere out ja menhabiskan
    malam. Aku tunggu kamu di lobi auberge ya”.
    “Maaf pak, karyawan gak boleh keluar lewat antechamber hotel, mesti lewat pintu karyawan dibelakang
    hotel. Bapak nunggu Dina di pintu keluar gedung parkir aja, Bapak drive sendiri kan”.

    “So pastilah drive sendiri, gak mampu bayarin sopir”.
    “Gak mampu bayar supir pa gak mo ketauan yang dirumah”.
    “Di apartmenku gak ada siapa-siapa kok, aku kan tinggal sendiri”.
    “Kok sendiri, blon nikah? Perjaka tua dong”, aku gak sungkan2 ngegodain si bapak.
    “Bukan, aku dah pisah dan keluargaku tinggal dikota asalnya”.
    “O gitu pak, sori gak maksud menyinggung”.
    “Gak ancestor kok say, ntar kita accept fun deh, dah gak sabar neh nunggu kamu selesai kerja”.
    “Segitu ngebetnya sih, mangnya mo ngapain Dina”.
    “Gak diapa2in, cuma disayang2 dan berbagi”.
    “Berbagi apaan pak”.
    “Kenikmatan”. Wah to the point sekali dia, gak apa jugha sih, aku kan dah absolutist gak ngerasain
    kenikmatan dari lelaki sejak udahan ma cowokku.
    Kembali aku bersibuk ria setelah waktu istirahatku habis, gak kerasa dah waktunya resto tutup, kami
    masih harus menunggu.

    Di pub kita benerbener accept fun, aku gak minum alkohol, jadi si om pun gak pesen minuman beralkohol
    sama sekali, kami guyon ja sambil mendengarkan musik.

    “Kamu dah sering ya Din maen ma om2″.
    “Belon pernah om”. “Biasanya maen ma sapa”.
    “Ma cowok Dina om”. “Asik dong, kluar diluar pa pake kondom”.
    “Didalem om, polos”.
    “Gak takut?”
    “Kan Dina dikasi obati antiny om”. Si om kemudian ngajakin aku turun ketika lagunya slow.

    Aku didekapnya erat, sambil menggoyang badan pelan sekali,

    “Aku kesengsem liat kamu deh Din, kamu cantik dan seksi sekali”, dia mulai melancarkan gombalannya,
    berbisik di telingaku.

    Karena dia berbisik sembari meniup2 telingaku, aku jadi menggelinjang.

    “Napa Din kok menggelinjang, belon diapa2in”.
    “Abis om bisiknya sembari ditiup sih, kan geli”.
    “Kirain dah napsu”.
    “Yang napsu kan om, toked Dina ja digesek2 ma dada om terus”.
    “Iya Din aku dah napsu nih, ketempatku aja yuk nerusinnya”. Aku iyain ajakannya, aku juga dah pengen
    ngerasain gimana gaya om2 kalo maen, tiupan di telinga, ciuman lembut di leher dan tokedku yang digesek2
    dadanya yang bisang menaikkan voltageku juga. suami istri.

    Maklum duda kali ya, jadi dia memperlakukan aku kayak aku ini dah jadi istrinya.

    “Om romantis ya”. Dia cuma tersenyum mendengar ucapanku, pipiku dikecupnya pelan.
    “Om sering ya bawa abg”, tanyaku sambil tersenyum.
    “Suka juga”, jawabnya. Ya accustomed lah, lelaki seperti dia kan perlu menyalurkan kebutuhan biologisnya
    dan seumur dia pasti pengen dengan prempuan yang masih abege.

    Di apartment, kita duduk di sofa, dia mengambilkan minuman dan menyalakan TV. Kami tak banyak bicara
    karena perhatian tertuju ke tv, tapi aku makin berdebar2 menunggu apa yang akan terjadi. Akhirnya dia
    pindah duduk di sampingku, menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangan kanannya di atas
    perutku sambil memasukkan tangannya kebalik t shirt yang kukekankan dan mengilik2 puserku.

    “Yang…” katanya lirih di telingaku. Merinding aku mendengarnya memanggil aku yang.
    “Napa om…”, belum selesai aku menjawab, kurasakan bibirnya sudah menyentuh leherku, terus menyusur ke
    pipiku.

    Tubuhnya bergeser merapat, bibirku dilumatnya dengan lembut. aku juga mengulum bibirnya. Sensasi yang
    belum pernah kudapat dari cowokku dulu. Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan
    tangannya menyelusup kedalam t shirtku dan meremas lembut dadaku yang masih terbungkus bra. Ohh..,
    dadaku ternyata tercakup seluruhnya dalam tangannya. Dan aku rasanya sudah tidak kuat menahan gejolak
    napsuku, padahal baru awal pemanasan.

    Bibirnya mulai meneruskan jelajahannya, sambil melepaskan t shirtku, leherku dikecup, dijilat kadang
    digigit lembut. Sambil tangannya terus meremas-remas dadaku. Kemudian tangannya menjalar ke punggungku
    dan melepas kaitan braku sehingga dadaku bebas dari penutup. Bibirnya terus menelusur di permukaan
    kulitku. Dan mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-
    kadang seolah seluruh dadaku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa
    geli tapi nikmat, napsuku makin berkobar karena elusan tangannya.

    Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. meqiku yang pasti sudah basah sekali.
    Absolutist hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting jins ku dan menariknya
    ke bawah, aku mengangkat pantatku utnk mempermudah dia melepaskan jinsku. Tinggalah CD miniku ku yang
    tipis yang memperlihatkan buluku yang lebat, saking lebatnya buluku muncul di kiri kanan dan dibagian
    atas dari cd mini itu. buluku lebih terlihat jelas karena CD ku sudah basah karena cairan meqiku yang
    sudah banjir. Dibelainya celah meqiku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh klitku karena ketika
    dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah meqiku dengan leluasa.

    Jarinya mulai sengaja memainkan klit-ku. Dan akhirnya jari itu masuk ke dalam meqiku. Oh, nikmatnya,
    bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke
    perutku. Dan akhirnya sampailah ke meqiku. Kali ini diciumnya buluku yang lebat dan aku rasakan bibir
    meqiku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali meqiku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang bibirnya
    dihisap, kadang klitku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua
    bibir meqiku sambil menghisap klitku.

    Dia benar benar mahir memainkan meqiku. Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku
    mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan klitku dengan
    mulutnya, kuremas-remas rambutnya yang mulai menampakkan ubannya dibalik cat rambut yang mulai memudar,
    aku merasakan nikmatnya nyampe hanya dengan bibir dan lidahnya. Dia terus mencumbu meqiku, rasanya belum
    puas dia memainkan meqiku hingga napsuku bangkit kembali dengan cepat. “Pak, Dina sudah pengen dienjot.”
    kataku memohon sambil kubuka pahaku lebih lebar.

    Tapi dia bangkit, mengangkat badanku yang sudah lemes dan dibawanya ke kamar. Di kamar, aku dibaringkan
    di tempat tidur ukuran besar dan dia mulai membuka bajunya, kemudian celananya. Aku terkejut melihat
    batangnya yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CDnya, gak kebayang ada batang sebesar punya
    dia, soalnya batang yang biasa aku lihat ya batang cowokku, rasanya sudah besar tapi gak ada apa2nya
    dibanding batang si om. Kemudian dia juga melepas CD nya. Sementara itu aku dengan berdebar terbaring
    menunggu dengan semakin berharap.

    batangnya yang besar dan panjang dan sudah maksimal tegangnya, tegak hampir menempel ke perut. aku
    merinding apakah muat batang segitu besarnya di meqiku yang biasanya cuma kemasukan batang yang jauh
    lebih kecil. Dan saat dia pelan-pelan menindihku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar
    meqiku menunggu masuknya batang added gede itu.

    Aku pejamkan mata. Dia mulai mendekapku sambil terus mencium bibirku, kurasakan bibir meqiku mulai
    tersentuh ujung batangnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir meqiku
    terdesak menyamping. Terdesak batang besar itu. Ohh, benar benar kurasakan penuh dan sesak liang meqiku
    dimasuki batangnya. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Mili per mili. Pelan sekali terus masuk
    batangnya. Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus..Akhirnya ujung
    batang itu menyentuh bagian dalam meqiku, maka secara refleks kurapatkan pahaku. Ternyata sangat
    mengganjal sekali rasanya, besar, keras dan panjang. Dia terus menciumi bibir dan leherku.

    Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas dadaku. Tapi konsentrasi kenikmatanku tetap pada batang
    besar yang mulai dienjotkan halus dan pelan. Mungkin dia menyadarinya, supaya aku tidak kesakitan. Aku
    benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar
    benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan batang besar itu.

    Tiba tiba, serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya
    meremas-remas dadaku lebih kuat. Napsuku naik lagi dengan cepat, saat kembali dia memainkan batangnya
    semakin cepat. Uhh, sekali lagi aku nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali aku berteriak
    lebih keras lagi. Dia terus memainkan batangnya dan kali ini dia ikut menggelepar, wajahnya menengadah.
    Satu tangannya mencengkeram lenganku dan satunya menekan dadaku. Aku makin meronta-ronta tak karuan.
    Puncak kenikmatan diikuti semburan mani yang kuat di dalam meqiku, menyembur berulang kali. Oh, terasa
    banyak sekali mani kental dan hangat menyembur dan memenuhi meqiku, hangat sekali dan terasa sekali mani
    yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat.

    Baca Juga : Menantu Yang Mengoda

    Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meremas lembut dadaku sambil mencium
    wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

    “Yang, kamu luar biasa, meqimu peret dan nikmat sekali” pujinya sambil membelai dadaku.
    ”Om juga hebat. Bisa membuat Dina nyampe beberapa kali, dan baru kali ini Dina bisa nyampe dan merasakan
    batang raksasa. Hihi..”
    “Oo gitu ya Yang, Jadi kamu suka dengan batangku?” godanya sambil menggerakkan batangnya dan membelai
    belai wajahku. “Ya om, batang om nikmat, besar, panjang dan keras banget” jawabku jujur. Dia tidak
    langsung mencabut batangnya.

    Menjelang pagi, aku bangun masih dalam pelukannya. Katanya aku tidur nyenyak sekali, sambil membelai
    rambutku. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Dibimbingnya
    aku ke kamar mandi, saat berjalan rasanya masih ada yang mengganjal meqiku dan ternyata masih ada mani
    yang mengalir di pahaku, mungkin saking banyaknya dia memuncratkan maninya di dalam meqiku. Dalam
    bathtub yang berisi air hangat, aku duduk di atas pahanya.

    Dia mengusap-usap menyabuni punggungku, dan akupun menyabuni punggungnya. Dia memelukku sangat erat
    hingga dadanya menekan dadaku. Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilku bergesekan dengan
    dadanya yang dipenuhi busa sabun. Pentilku semakin mengeras. Pangkal pahaku yang terendam air hangat
    tersenggol2 batangnya. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali.

    Aku di tariknya sehingga menempel lebih erat ke tubuhnya. Dia menyabuni punggungku. Sambil mengusap-
    usapkan busa sabun, tangannya terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Dia mengusap-usap pantatku
    dan diremasnya. batangnya pun mulai tegang ketika menyentuh meqiku. Terasa bibir luar meqiku bergesekan
    dengan batangnya. Dengan usapan lembut, tapak tangannya terus menyusuri pantatku. Dia mengusap beberapa
    kali hingga ujung jarinya menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan meqiku.

    “Om nakal!” desahku sambil menggeliat mengangkat pinggulku.

    Walau tengkukku basah, aku merasa bulu roma di tengkukku meremang akibat nikmat dan geli yang mengalir
    dari meqiku. Aku menggeliatkan pinggulku. Ia mengecup leherku berulang kali sambil menyentuh bagian
    bawah bibir meqiku. Tak absolutist kemudian, tangannya semakin jauh menyusur hingga akhirnya kurasakan
    lipatan bibir luar meqiku diusap-usap. Dia berulang kali mengecup leherku. Sesekali lidahnya menjilat,
    sesekali menggigit dengan gemas.

    “Aarrgghh.. Sstt..Sstt..” rintihku berulang kali.

    Lalu aku bangkit dari pangkuannya. Aku tak ingin nyampe hanya karena jari yang terasa kesat di meqiku.
    Tapi ketika berdiri, kedua lututku terasa goyah. Dengan cepat dia pun bangkit berdiri dan segera
    membalikkan tubuhku. Dia tak ingin aku terjatuh. Dia menyangga punggungku dengan dadanya. Lalu
    diusapkannya kembali cairan sabun ke perutku. Dia menggerakkan tangannya keatas, meremas dengan lembut
    kedua dadaku dan pentil ku dijepit2 dengan jempol dan telunjuknya. Pentil kiri dan kanan diremas
    bersamaan. Lalu dia mengusap semakin ke atas dan berhenti di leherku.

    “Om, absolutist amat menyabuninya” rintihku sambil menggeliatkan pinggulku.

    Aku merasakan batangnya semakin keras dan besar. Hal itu dapat kurasakan karena batangnya makin dalam
    terselip dipantatku. Tangan kiriku segera meluncur ke bawah, lalu meremas bijinya dengan gemas. Dia
    menggerakkan telapak kanannya ke arah pangkal pahaku. Sesaat dia mengusap usap bulu lebatku, lalu
    mengusap meqiku berulang kali. Jari tengahnya terselip di antara kedua bibir luar meqiku. Dia mengusap
    berulang kali. klitku pun menjadi sasaran usapannya.

    “Aarrgghh..!” rintihku ketika merasakan batangnya makin kuat menekan pantatku.

    Aku merasa lendir membanjiri meqiku. Aku jongkok agar meqiku terendam ke dalam aibersihkan celah
    diantara bibir meqiku dengan mengusapkan 2 jariku.

    Ketika menengadah kulihat batangnya telah berada persis didepanku. batangnya telah tegang berat. Kuremas
    batangnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala batangnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat
    ketika aku menjilati kepala batangnya. Dia meraih bahuku karena tak sanggup lagi menahan napsunya.
    Setelah berdiri, kaki kiriku diangkat dan letakkan di pinggir ablution tub.

    “Aarrgghh..!” rintihku ketika kurasakan batangnya kembali menghunjam meqiku.

    Aku terpaksa berjinjit karena batang itu terasa seolah membelah meqiku karena besarnya. Terasa meqiku
    sesek kemasukan batang besar dan panjang itu. Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia
    memainkan batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal
    pahanya berbenturan dengan pantatku.

    “Aarrgghh.., aarrgghh..! Om.., Dina nyampe..!” Aku lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya.

    Rupanya dia juga tidak dapat menahan maninya lebih absolutist lagi.

    “Aarrgghh.., Yang”, kata nya sambil menghunjamkan batangnya sedalam=dalamnya.
    “Om.., sstt, sstt..” kataku karena berulangkali ketika merasa tembakan mainya dimeqiku.
    “Aarrgghh.., Yang, enaknya!” bisiknya ditelingaku.
    “Pak.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya dienjot om”, jawabku karena nikmatnya nyampe.

    Dia masih mencengkeram pantatku sementara batangnya masih nancep dimeqiku. Beberapa saat kami diam di
    tempat dengan batangnya yang masih menancap di meqiku.

    Kemudian Dia membimbingku ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air
    hangat. Akhirnya terasa juga perut lapar yang sudah minta diisi. Setelah selesai dia keluar duluan,
    sedang aku masih menikmati shower.

    Selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan masih bertelanjang bulat aku keluar. Di ruang makan,
    dia sudah menyiapkan makan berupa sandwich dan kentang goreng lengkap dengan teh dan kopi. Aku
    dipersilakan minum dan makan sambil mengobrol,

    “Kok ada sandwich dan kentang goreng om”
    “aku makan paginya ya kaya gini. Aku beli ja kentangnya yang dibekuin, tinggal diangetin dan digoreng
    deh”. Setelah aku makan, dia lalu memintaku duduk di pangkuannya.

    Aku menurut saja. Terasa kecil sekali tubuhku. Sambil mengobrol, aku dimanja dengan belaiannya.
    diraihnya daguku, dan diciumnya bibirku dengan hangatnya, aku mengimbangi ciumannya. Dan selanjutnya
    kurasakan tangannya mulai meremas-remas lembut dadaku, kemudian tangannya menelusuri antara dada dan
    pahaku. Nikmat sekali rasanya, tapi aku sadar bahwa sesuatu yang aku duduki terasa mulai agak mengeras.
    langsung aku bangkit. Aku bersimpuh di depannya dan ternyata batangnya sudah mulai tegang, walau masih
    belum begitu mengeras. Kepala batangnya langsung aku kulum sambil lidahku berputar di leher kepala
    batangnya.

    Tapi hanya bisa sesaat, sebab dengan cepatnya batangnya makin membengkak dan dia mulai menggeliat dan
    berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh.

    “Om hebat ya baru muncrat di meqi Dina sudah tegang lagi, kita lanjut yuk om”, kataku yang juga sudah
    terangsang.

    Rupanya dia makin tak tahan menerima rangsangan lidahku. Maka aku ditarik dan diajak ke tempat tidur.
    Dia membuka kakiku dan langsung menelungkup di antara pahaku.

    “Aku suka melihat meqi kamu Yang” ujarnya sambil membelai bulu buluku yang lebat.
    “Mengapa?”
    “Sebab bulumu lebat dan cewek yang bulunya lebat napsunya besar, kalau dienjot jadi bifold seperti
    kamu, juga tebal bibirnya”. Aku merasakan dia terus membelai buluku dan bibir meqiku.

    Kadang-kadang dicubit pelan, ditarik-tarik seperti mainan. Aku suka meqiku dimainkan berlama-lama, aku
    terkadang melirik apa yang dilakukannya. kadang kadang disentuh sedikit klit-ku, membuat aku penasaran.
    Tak sadar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa penasaran. Maka saat aku mengangkat pinggulku,
    langsung disambut dengan bibirnya. Terasa dia menghisap lubang meqiku yang sudah penuh cairan. Lidahnya
    ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk meqiku, dan saat dihisapnya klit-ku dengan ujung
    lidahnya, cepat sekali menggelitik ujung klitku, benar benar aku tersentak. Terkejut kenikmatan, membuat
    aku tak sadar berteriak..

    “Aauuhh!!”. Benar benar hebat dia merangsangku, dan aku sudah tak tahan lagi.
    “Ayo bell om, Dina pingin dienjot lagi” ujarku sambil menarik bantal.

    Dia langsung menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan batang gedenya ke arah meqiku. Aku masih
    sempat melirik saat dia memegang batangnya untuk diarahkan dan diselipkan di antara bibir meqiku.
    Kembali aku berdebar. Dan saat kepala batangnya telah menyentuh di antara bibir meqiku, aku menahan
    nafas untuk menikmatinya. Dan dilepasnya dari pegangan saat kepala batangnya mulai menyelinap di antara
    bibir meqiku dan menyelusup lubang meqiku hingga aku berdebar nikmat. Pelan-pelan ditekannya dan dia
    mulai mencium bibirku lembut.

    Kali ini aku lebih dapat menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. Kurapatkan pahaku supaya
    batangnya tidak terlalu masuk ke dalam. Dia langsung menjepit kedua pahaku hingga terasa sekali
    batangnya menekan dinding meqiku. batangnya semakin masuk. Belum semuanya masuk, Dia menarik kembali
    seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulku naik mencegahnya agar tidak lepas. Beberapa kali
    dilakukannya sampai akhirnya aku penasaran dan berteriak-teriak sendiri.

    Setelah dia puas menggodaku, tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan memainnya hingga
    aku kewalahan. Dan dengan hentakan keras serta digoyang goyangkan, tangan satunya meremas dadaku,
    bibirnya dahsyat menciumi leherku. Akhirnya aku mengelepar-gelepar. Dan sampailah aku kepuncak. Tak
    tahan aku berteriak, terus Dia menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya aku melewati
    puncak kenikmatan. Absolutist sekali. Tak kuat aku meneruskannya.

    Aku memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras tenagaku dengan orgasme
    berkepanjangan. Akhirnya dia pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku terkulai lemas sekali,
    keringatku bercucuran. Hampir pingsan aku menerima kenikmatan yang berkepanjangan. Benar-benar aku tidak
    menyesal capital dengan dia, dia memang benar-benar hebat dan mahir dalam main, dia dapat mengolah
    tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara.

    Lamunanku lepas saat pahanya mulai kembali menjepit kedua pahaku dan dirapatkan, tubuhnya menindihku
    serta leherku kembali dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meremas dadaku. Pelan-
    pelan mulai dienjotkan batangnya. Kali ini aku ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di
    seluruh bagian tubuhku. Tangannya terus menelusuri permukaan tubuhku. Dadanya yang berbulu merangsang
    dadaku setiap kali bergeseran mengenai pentilku. Dan batangnya dipompakan dengan sepenuh perasaan,
    lembut sekali, bibirnya menjelajah leher dan bibirku. Ohh, luar biasa.rangsangan di klit-ku. Maka jebol
    lah bendungan, aku mencapai puncak kembali. Kali ini terasa lain, tidak cheat seperti tadi. CeritaMaya

    Puncak kenikmatan ini terasa nyaman dan romantis sekali, tapi tiba tiba dia dengan cepat memain lagi.
    Kembali aku berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, aku meronta sekenaku. Gila,
    batinku, dia benar-benar membuat aku kewalahan. Kugigit pundaknya saat aku dihujani dengan kenikmatan
    yang bertingkat-tingkat. Sesaat dia menurunkan gerakannya, tapi saat itu dibaliknya tubuhku hingga aku
    di atas tubuhnya. Aku terkulai di atas tubuhnya. aku keluarkan batangnya dari meqiku. Dan kuraih
    batangnya.

    Tanpa pikir panjang, batang yang masih berlumuran cairan meqiku sendiri kukulum dan kukocok. Dan
    pinggulku diraihnya hingga akhirnya aku telungkup di atasnya lagi dengan posisi terbalik. Kembali meqiku
    yang berlumuran cairan jadi mainannya, aku makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian batangnya.
    Dipeluknya pinggulku hingga sekali lagi aku orgasme. Dihisapnya klitku sambil ujung lidahnya menari
    cepat sekali. Tubuhku mengejang dan kujepit kepalanya dengan kedua pahaku dan kurapatkan pinggulku agar
    bibir meqiku merapat ke bibirnya. Ingin aku berteriak tapi tak bisa karena mulutku penuh, dan tanpa
    sadar aku menggigit agak kuat batangnya dan kucengkeram kuat dengan tanganku saat aku masih menikmati
    orgasme.

    “Yang, aku mau muncrat yang, di dalam meqimu ya”, katanya sambil menelentangkan aku.
    “Ya, om”, jawabku.

    Dia menaiki aku dan dengan satu hentakan keras, batangnya yang besar sudah kembali menyesaki meqiku. Dia
    langsung memain batangnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja tubuhnyapun
    mengejang. Pantat kuhentakkan ke atas dengan kuat sehingga batangnya nancap semuanya ke dalam meqiku dan
    akhirnya crot .. crot ..crot, maninya muncrat dalam beberapa kali semburan kuat. Herannya, muncratnya
    yang ketiga masih saja maninya keluar banyak, memang luar biasa backbone Bapak. Dia menelungkup diatasku
    sambil memelukku erat2.

    “Yang, nikmat sekali capital sama kamu, meqi kamu kuat sekali cengkeramannya ke batangku”, bisiknya di
    telingaku. “Ya om, Dina juga nikmat sekali, tentu saja cengkeraman meqi Dina terasa kuat karena batang
    om kan gede banget.Rasanya sesek deh meqi Dina kalau om neken batangnya masuk semua. Kalau ada
    kesempatan, Dina dienjot lagi ya om”, jawabku.
    “Ya sayang”, lalu bibirku diciumnya dengan mesra.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Menantu Yang Mengoda

    Menantu Yang Mengoda


    138 views

    CeritaMaya | Berdiri di depan pintu rumahku, menantu perempuanku, Mirna, mendekatkan kepalanya ke arahku dan berbisik,
    “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.” Dia memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu
    berjalan menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok menempatkan bayinya
    pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, dia terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan
    istrinya tercintanya terhadap Ayah kandungnya.

    Menantu Yang Mengoda

    Menantu Yang Mengoda

    Mirna melenggang di jalan kecil depan rumah dengan riangnya bagai seorang gadis remaja yang menggoda.
    Yoyok tak mengetahui ini juga, ini semua dilakukan istrinya hanya untukku…

    Mungkin kalian semua mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi kenyataannya apa yang Mirna lakukan
    ini tidak hanya sekali ini saja. Dan sejak aku tak terlalu terkejut lagi, aku merasa ada sesuatu yang
    hilang jika dia tidak melakukannya saat berkunjung ke rumahku.Aku merasa ada getaran pada penisku, dan
    sebagai seorang laki-lakii biasa yang masih normal, pikiran ‘andaikan… yang wajar menurutku selalu hadir
    di benakku.
    Mirna adalah seorang wanita yang bertubuh mungil, tapi meskipun begitu ukuran tubuhnya tersebut tak
    mampu menutupi daya tarik seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia mempunyai
    rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, dia sering mengikatnya dengan bandana. Dia memiliki energi dan
    keuletan yang sepengetahuanku tak dimiliki orang lain. Sebuah keindahan nan elok kalau ingin
    mendiskripsikannya. Dia selalu sibuk, selalu terlihat seakan dikejar waktu tapi tetap selalu terlihat
    manis. Dia masuk dalam kehidupan keluarga kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah terlihat
    sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.

    Yoyok bertemu dengan mirna saat masih kuliah di tahun pertama. Mirna baru saja lulus SMU, mendaftar di
    kampus yang sama dan ikut kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas sebagai
    pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti yang sering mereka bilang, cinta pada pandangan pertama.

    Mereka menikah di usia yang terbilang sangat muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna 19 tahun. Setahun kemudian
    bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami.
    Suasana saat itu semakin membuat kami dekat. Mirna mempunyai selera humor yang sangat bagus, selalu
    tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering terlihat bercanda dengan Yoyok, mereka benar-benar
    pasangan serasi. Dia selalu memberi semangat pada Yoyok yang memang memerlukan hal itu.

    Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa serta bayi meraka. Mereka telah mengontrak rumah
    sendiri, meskipun tak terlalu besar. Aku pikir mereka merasa kalau aku membutuhkan seorang teman, karena
    aku seorang lelaki tua yang akan merasa kesepian jika mereka tak sering berkunjung. Disamping itu, aku
    memang sendirian di rumah tuaku yang besar, dan aku yakin mereka suka bila berada disini, dibandingkan
    rumah kontrakannya yang sempit.

    Ibunya Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum Mirna masuk dalam kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa
    mereka, aku benar-benar akan jadi orang tua yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku, dan
    bila aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi pekerjaanku di perkebunan
    serta kunjungan mereka, telah menyibukkanku. Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk
    untuk mencari wanita untuk mengisi sisa hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan kerinduanku pada sosok
    wanita. Tak terlalu.

    Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami sangat menyayanginya. Dan kehidupan
    terus berjalan, Yoyok melanjutkan pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja sebagai Teller di
    sebuah Bank swasta.

    Kunjungan mereka padaku tak berubah sedikitpun, cuma bedanya sekarang mereka sering membawa beberapa
    bingkisan juga. Tentu saja, diasamping itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan makanan
    bayi.

    Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang saat Yoyok masih di kelasnya. Dia duduk disana
    menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu caranya,
    tapi pemandangan itu entah bagaimana telah menggelitik kehidupan seksualku. CeritaMaya

    “Ngomong-omong… kapan Ayah akan segera menikah lagi?” dia bertanya dengan getaran pada suaranya.

    “Aku tak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu membutuhkan kehadiran seorang wanita
    dalam hidupku.

    Lagipula, aku telah memiliki kalian yang menemaniku.”

    “Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara soal seks.” matanya mengedip kearahku saat dia
    bicara.
    “Apa?”“Ayah tahu, seks.” dia hampir saja tertawa sekarang.
    “Ketika seorang lelaki dan wanita sudah telanjang dan memainkan bagiannya masin-masing?”
    “Ya, aku tahu seks,” aku membela diri.
    “Lagipula kamu pikir darimana suamimu berasal?”
    “Yah, aku hanya khawatir kalau Ayah sudah melupakannya. Maksudku, apa Ayah tak merindukan hal itu?”
    “Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah terlalu tua untuk hal seperti itu.”
    “Hei! Lelaki tak pernah bosan dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan putramu.”
    “Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai seorang istri yang cantik.”
    “Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap Ayah membutuhkannya,” dia menekankan suaranya pada kata
    ‘Ayah’.
    “Terima kasih sudah ngobrol,” kataku, masih terdengar sengit.

    Ada sedikit jeda pada perbincangan itu, saat dia masih menekan kehidupan seksualku. Aku pikir bukanlah
    urusannya untuk mencampuri hal itu meskipun kadang aku membayangkannya juga.

    Dia pandang bayinya, yang akhirnya tertidur, dan memberinya sebuah senyuman rahasia, sepertinya mereka
    berdua akan berbagi sebuah rahasia besar.
    Masih memandangnya, tapi dia berbicara padaku, “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”

    “Apa!!!?”
    “Aku serius.” Mirna menatapku.
    “Kalau Ayah menginginkan aku… Ayah adalah seorang lelaki yang tampan. Ayah membutuhkan seks. Disamping
    itu, aku bersedia, kan?”

    Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang menggoda ini tidak sedang main-main. Tapi tetap saja tak
    mungkin aku melakukannya dengan istri dari anak kandungku sendiri.

    “Terima kasih atas tawarannya, tapi kupikir aku akan menolak tawaranmu.” suaraku terdengar penuh dengan
    keraguan saat mengucapkannya.

    Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku tak bisa menduga apa yang sedang dirasakannya. Dia tetap terlihat
    menawan, dan aku merasa Yoyok sangat beruntung.Dia bicara dengan pelan.

    “Dengar, Yoyok tak akan tahu. Maksudku, aku tak akan mengatakannya kalau Ayah juga menjaga rahasia. Dan
    bukan berarti aku menawarkan diriku pada setiap lelaki yang kutemui. Aku bukan wanita seperti itu dan
    aku bisa mengatur agar sering berkunjung kemari. Dan aku tahu Ayah menganggapku cukup menarik kan, sebab
    aku sering melihat Ayah memandangi pantatku.”

    Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak terlalu tinggi, tapi dia memiliki bongkahan pantat yang
    indah diatas kedua kakinya.

    “Ya, kamu memang memiliki pantat yang indah. Tapi itu bukan berarti kalau aku ingin berselingkuh dengan
    menantuku sendiri.”

    Dia berhenti sejenak, tapi Mirna kelihatannya tak akan menyerah begitu saja.

    “Yah, tapi jangan lupa.
    “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”

    Dan itulah awal dari semua ini.

    Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan selalu berusaha untuk menggodaku,
    membuat puting sususnya menyentuh dadaku saat dia menyerahkan bayinya padaku untuk ku gendong. Atau dia
    masukkan jarinya di mulutnya saat Yoyok tak melihat, dan menghisapnya dengan pandangan penuh kenikmatan
    ke arahku. Suatu waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain dengan bayinya, dia
    memandangku tepat di mata, tersenyum, dan menyentuh pangkal paha di balik celana jeansnya. Aku tak akan
    melupakan hal itu.

    Dan dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk berduaan denganku walaupun sesaat, dan dia memberiku
    ciuman singkat yang penuh gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.

    “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik di belakang Yoyok saat suaminya itu sedang memasukkan
    DVD pada player.
    “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik saat mendekat untuk menyodorkan minuman padaku.
    “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia membisikkannya setiap kali dia berpamitan.

    Dan sekarang, aku bukanlah terbuat dari batu, dan aku tak akan bilang tingkah lakunya itu tidak
    memberikan pengaruh terhadapku. Mirna sangat manis dan mungil, dan meskipun setelah melahirkan bayi
    pertamanya tak membuat tubuhnya berubah seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing, dan manis, dan
    dia menawarkan dirinya untuk kumiliki. Tapi aku tak akan memulai langkah pertama untuk tidur dengan
    menantuku sendiri, tak perduli semudah apapun itu.
    Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku sendiri.

    Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk melihat pertandingan bola. Aku mengambil
    beberapa kaleng minuman dan sedang berada di dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan saat Mirna
    muncul dari balik pintu itu.

    “Hai!” sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur.
    “Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?”
    “Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk keluarga kecil kita, dan aku punya beberapa wortel untuk
    cucuku. Aku pikir dia akan suka dan warnanya sama dengan kesebelasan yang akan bertanding nanti, kan?”

    Mirna tertawa dan berkata. “Aku rasa dia tak akan perduli. Disamping itu bukankah ada hal lain yang
    lebih baik yang bisa Ayah kerjakan untukku?”

    “Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku akan lakukan apa yang menurutku akan disukai oleh cucuku.”
    aku memandangnya.

    Mirna berdiri di sana memakai bandana merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu.

    Dia memakai kaos yang sedikit ketat yang bahkan tak sampai ke pinggangnya, dan pusarnya mengedip padaku
    dibalik kaosnya. Kancing jeansnya membuatnya kelihatan seperti anak-anak diera bunga tahun 60an, dan dia
    memakai sandal dengan bagian bawah yang tebal yang menjadikannya lebih tinggi sepuluh centi. Kuku
    kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi terlihat dengan sangat menarik dibalik
    denimnya.

    Baca Juga : Mahasiswa Gembel

    Dia selalu suka mengenakan perhiasan, dan dia memakainya pada leher, telinga, pergelangan tangan dan
    bahkan di jari kakinya. Dia membuatku berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku dapat memacari
    gadis sepertinya. Mungkin suatu waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan mencari gadis-gadis.
    Khayalanku terhenti saat menyadari kalau Yoyok dan bayinya tidak mengikutinya masuk.

    “Mana anggota keluargamu yang lainnya?” aku bertanya ingin tahu.

    “Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk membeli peralatan mesin cuci yang rusak.
    Dia ingin membawa serta anaknya. ‘Perjalanan ke toko perkakas yang pertama bersama Ayah’ kurasa yang
    dikatakannya padaku.” dia tersenyum.
    “Apa Ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko perkakas?”
    “Aku tak ingat,” aku berkata dengan garing.

    Mirna mendekat padaku, dan menaruh tangannya melingkari leherku.

    “Ini kesempatan Ayah. Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”

    Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku lama dan liar. Aku ingin
    mendorongnya, tapi aku tak tahu dimana aku harus menaruh tanganku. Aku tak mau menyentuh pinggang
    telanjang itu, dan jika aku menaruh tanganku di dadanya aku pasti akan menyentuh puting susunya. Saat
    aku masih terkejut dan bingung, aku temukan diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama, dan aku
    merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai tumbuh dalam diriku.

    Akhirnya aku menghentikan ciuman itu dan mundur dan melepaskan tangannya dari leherku.

    “Kita tak bisa melakukannya.” aku mencoba menyampaikannya dengan lembut, tapi aku takut itu kedengaran
    seperti rajukan.
    “Ya kita bisa.” Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan mendorong bibirku ke arahnya.

    Ada gairah yang lebih lagi dalam ciuman kali ini, dan akhirnya penerimaanku. Kali ini saat kami
    berhenti, ada sedikit kekurangan udara diantara kami berdua, dan aku semakin merasa sedikit bimbang.

    Mirna memandangku dengan binar di matanya dan sebuah senyuman di bibirnya.

    “Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tak mendapatkan wanita setahun belakangan ini, dan
    Ayah tak mempunyai tempat untuk melampiaskannya. Dan aku menginginkan Ayah. Jadi tunggu apa lagi…”Pada
    sisi ini aku tak mampu berkomentar.

    Aku menginginkannya. Tapi aku tak dapat meniduri menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan dia. Aku
    merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku jadi sedikit terkejut saat menyadari
    diriku membalas ciumannya dengan rakus.

    “Mmmmm. Itu lebih baik,” katanya saat kami berhenti untuk mengambil nafas.

    Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku saat menciumku kembali lalu
    dia mundur. Jadi dia bisa melihat saat dia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan
    merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat terlihat jadi tampak lebih besar di
    genggaman tangannya yang kecil. Setahun sudah tak disentuh oleh wanita , dan bereaksi dengan cepat,
    menjadi keras dan cairan pre-cumnya keluar saat dia mengocoknya dengan lembut.

    Mirna mundur dan duduk. Saat kepalanya turun, dia menempatkan bibirnya di pangkal penisku yang basah.
    “Aku rasa aku menyukai bentuknya,” bisiknya sambil menatap mataku.

    Lalu kemudian dia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ke dalam
    dan lebih dalam lagi penisku masuk dalam mulutnya yang lembut, hangat dan basah, dan aku merasa berada
    di dalam vagina yang basah dan kenyal saat lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasa telah berada
    sedalam yang ku mampu, bibirnya menyentuh rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah di mana jauh
    di tenggorokannya. Penisku tanpa terasa mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan arah dengannya,
    dan bersiap untuk menyetubuhi wajahnya.

    Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan suara seperti sedang mengemut permen. Saat
    dia bangkit untuk menciumku lagi, aku mengarahkan tanganku diantara pahanya. Aku gosok jeansnya dan dia
    menggeliat karenanya.

    “Mmmm, itu pasti nikmat,” katanya.
    “Tapi biar aku membuatnya jadi lebih mudah.”

    Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya, memperlihatkan celana dalam katunnya
    yang bergambar beruang kecil. Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami melihat ke
    bawah pada area gelap dibawah sana dimana kewanitaannya bersembunyi, dan kemudian aku sentuh perutnya
    yang kencang dan terus menurunkan celana dalamnya.

    Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya dibalik celana dalamnya. Vaginanya
    serasa selembut pantat bayi, dan aku sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa
    basah dan licin oleh cairan kewanitaannya dan membuatku kagum karena itu tak menimbulkan bekas basah di
    luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap dibalik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras,
    dia memejamkan matanya dan menekan berlawanan arah dengan jariku.

    Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami untuk sebuah ciuman intensif berikutnya
    sedangkan tangannya yang lain mengocok penisku dan tanganku terus bergerak dalam lubang basahnya. Saat
    kami berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan,

    “Yoyok datang.” Aku segera melepasnya dan menuju jendela. Ya, mobil Yoyok terlihat di jalan sedang
    menuju kemari.

    Mirna pasti melihatnya dari balik bahuku saat kami saling mencumbui leher. Tiba-tiba perasaan bersalah
    datang menerkam karena hampir saja ketahuan. Aku tak percaya apa yang hampir saja kami lakukan. Dengan
    tergesa-gesa aku kenakan kembali celanaku, tapi Mirna menghentikanku dan menangkap tanganku dan
    melanjutkan kocokannya.

    “Hei, tidak boleh. Tak semudah itu Ayah boleh mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama untuk ini.”
    “Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!”

    Mirna mengeluarkan penisku dan berjalan ke arah meja dapur.

    “Ini perjanjiannya,” katanya.
    “Aku tak akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru saja kita lakukan kalau Ayah dapat dapat
    mengeluarkan seluruh sperma Ayah dalam vaginaku sebelum dia sampai kemari.” Sambil berkata begitu, dia
    menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja itu.“Dia segera datang!” hampir saja aku
    teriak.“Tidak.”

    Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan untuk itu dan dia memandangku lewat bahunya.
    “Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia memerlukan beberapa menit.
    Sekarang kemarilah dan setubuhi aku.”

    Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan dia memohon padaku agar segera memasukkan diriku
    dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku tak terusik
    saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan, dan di bawahnya, bibir vaginanya yang merah,
    terlihat mengkilap basah. Kakinya tak sejenjang model, tapi lebih kecil dan terasa pas, dan aku
    membayangkan bercinta dengannya beberapa jam.

    Tangannya bergerak kebelakang diantara pahanya dan menempatkan tangannya pada vaginanya. Dengan dua
    jarinya dilebarkannya bibir vaginanya hingga terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah mudanya
    mengundang penisku agar segera masuk.

    “Ayo,” katanya.
    “Ambil aku.”

    Aku tak tahu apa dia sedang bercanda saat mengatakannya. Yoyok atau bukan, rangsangan ini lebih dari
    cukup untuk mereguk birahinya. Aku melangkah ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di
    kewanitaannya. Saat aku mendorong penisku melewati lubang surganya yang sempit, aku dapat merasakan jari
    Mirna menahan bibir madunya agar tetap terbuka, dan dia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan
    memasukkan diriku padanya.

    Mirna telah sangat basah hingga aku dengan mudah melewati vagina mudanya yang sempit. Aku mulai
    mengayunkan barangku di dalamnya, sebagian didorong oleh nafsu akan tubuh menggairahkannya dan sebagian
    oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami. Mirna mengerang, dan aku dapat merasakan jarinya menggosok
    kelentit dan bibir vaginanya sendiri. Nafasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan dariku,
    dia segera orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia mencengkeram pinggiran meja
    dengan kuat, dan letupan orgasmenya menggoncang kami berdua saat aku menghentaknya.

    Itu cukup untuk menghantarku. Aku tak berhubungan dengan wanita dalam setahun ini, dan aku belum pernah
    mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku menahan nafas dan mendorong seluruh kelaki-lakianku ke dalam
    dirinya. Kami mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh di dalam surganya. Serasa aku
    telah mengguyurnya dengan sperma yang panas dan berlebih. Dia mengerang dalam nikmat, menggetarkan
    pantatnya di seputar penisku saat aku mengosongkan persediaan benihku. Dia melemah seiring dengan
    habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti bergerak, kecuali untuk mengambil nafas. CeritaMaya

    Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, aku keluarkan diriku dari tubuhnya dengan
    bunyi plop yang basah, lalu mundur menjauh dan mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring
    tertelungkup di atas meja merasakan kehangatan campuran cairan birahi kami, pantat telanjangnya masih
    tetap memanggilku. Aku lihat spermaku dan cairannya mulai meleleh keluar dari bibir surganya.

    Aku palingkan muka dan melihat Yoyok hampir sampai di pintu belakang, bayi di tangan yang satu dan
    belanjaan di tangan lainnya.

    Aku berbalik dan memohon pada Mirna.

    ” Ayolah!” kataku.
    “Kamu telah dapatkan keinginanmu. Dia hampir sampai kemari.”

    Mirna bangkit, tatapan matanya masih kelihatan linglung. Dia bergerak ke depanku, menjadikanku sebagai
    penghalang dari pandangan suaminya saat dia dengan tergesa-gesa memakai celananya.

    “Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?” tanya Yoyok sambil membuka pintu.
    “Ya,” aku menjawab dari balik punggungku saat aku diam untuk menghalangi Mirna yang menaikkan
    resletingnya.

    Setelah dia selesai, aku segera berbalik untuk menyambut Yoyok.

    “Ini,” katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya diatas meja dapur.
    “Urus ini, aku akan mengambil popok bayi.” Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan aku
    menghampiri Mirna. Dia masih terlihat sedikit linglung.
    “Hampir saja,” kataku.
    “Sini, biar aku yang menggendongnya.”Aku berikan bayinya.

    Mirna memberiku pemandangan seraut wajah dari seorang wanita yang puas sehabis bersetubuh, dan memberiku
    ciuman hangat yang basah.

    “Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui,”katanya.
    “Apa itu?”Kalau aku ingin, bisakah aku mendapatkannya besok?”

    Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya melongo bengong. Dia yakin kalau akan bersedia…- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Mahasiswa Gembel

    Mahasiswa Gembel


    73 views

    CeritaMaya | Sosok cewek cakep muncul dari balik pintu mobil jazz merah hati dihalaman parkir kampus fakultas ekonomi, bodynya it’s ok , tinggi semampai dengan rok diatas lutut yang memperlihatkan kemulusan pahanya berjalan dengan langkah seksi menuju kerumunan cewek-cewek yang asyik ngobrol sambil cekikikan, pandangan cowok-cowok yang lagi kongkow-kongkow tertuju pada sosok seksi itu, mulut ternganga mengagumi kencantikannya.
    Gileeeeeee, bening banget nih cewek, puji cowok-cowok yang ngiler keblinger memperhatikan barang bagus yang lagi berjalan.

    Mahasiswa Gembel

    Mahasiswa Gembel

    ” Hai teman-teman….!!!,” sapa sosok cewek tadi sambil ikut gabung dikerumunan beberapa cewek yang lagi asyik ngobrol.
    ” Hai Agnes..!!!,” sambut kerumunan cewek-cewek.

    Ya, itulah Agnes dengan nama lengkap Agnes Paramitha Handayani, seorang mahasiswi semester 5 jurusan ekonomi.

    Dia adalah primadona kampus sekaligus seorang model. Hampir semua cowok kampus pada naksir, wajar dan alami karena ceweknya bening banget. Tapi tak satupun dapat merebut hatinya. Karena kejombloannya, dikampus berkembang kasak-kusuk gosip bahwa pacar agnes mungkin ada diluar kota ato luar negeri, istri simpanan orang kaya dan yang paling ekstrim ada yang bilang kalo Agnes lesbian, gila tuh gosip. Namanya juga gosip, semakin digosok semakin sip.

    Semua gosip ditanggapi oleh Agnes dengan hanya senyum. Sering Sherly temen deketnya bertanya :

    ” Siapa sih nes pacar kamu ?.” Jawabannya selalu:
    ” ngak punya”. Soal pacaran sih udah pernah dialami 2 kali, semuanya dia putusin tanpa sebab dan alasan.

    Agnes menjalani pacaran dengan cowok hanya sekedar suka dengan cowok yang dipacari tapi tanpa dasar cinta. Belum pernah dia mengalami yang namanya jatuh cinta yang katanya membuat sang pujaan terbayang dipikiran terus, membuat orang merasakan kangen berat, rasanya ingin selalu dekat. Nah itu yang belum dia rasain, gimana sih rasanya ngagenin seseorang. Hal itu sama sekali belum pernah dia rasakan.

    Mobil yang ia kendarai agak oleng, bagian belakang terasa kelojotan lalu ia menepi kepinggir jalan, begitu turun dilihatnya ban belakang gembos, ”gawat nih, bocor” keluhnya dalam hati. Agnes berencana mo minta tolong orang yang lalu lalang dijalan, belum sempat minta tolong tiba-tiba disampingnya ada cowok dengan sepeda butut warna hitam menawari jasa menolong Agnes. ” Bannya bocor ya mbak, boleh saya tolong.” tegur cowok itu dengan ramah. So pasti Agnes ngak nolak, emang ini yang ditungguin. ”Boleh mas” sahut Agnes.

    ” Punya ban serep ama dongkrak trus kunci-kunci,” tanya cowok tersebut
    ” Ada mas,” sahut Agnes lalu membuka jok belakang mobil.

    Cowok itu lalu mengambil ban serep selanjutnya dongkrak dan box tempat kunci-kunci. Selama cowok itu ngerjain ban mobil, Agnes sempat agak terheran-heran mengamati wajah cowok sipenolong dari samping. Rasanya dia pernah liat tuh cowok, tapi dimana ? kalo ngak salah dikampus tempat kuliahnya. Yaa bener dikampus, kalo ngak salah ada cowok satu-satunya dikampus kalo kuliah pake sepeda butut. Ngak salah lagi deh, pasti bener nih cowok satu kampus dengan dirinya, cuman semester dan jurusannya yang ngak tau. CeritaMaya

    Sambil termenung menebak-nebak cowok penolong dia dikagetkan suara cowok misterius :

    ” Beres mbak…!!!.”
    ” Ooh ii…yaa, makasih atas bantuannya mas ,” ujarnya agak terbata karena kaget.

    Lalu Agnes membuka tas tentengnya mengeluarkan uang dan diberikan ke cowok sipenolong.

    ” Makasih mbak, ngak usah repot-repot,” jawab cowok sipenolong sambil ngambil sepeda butut yang diletakkan disamping mobilnya, langsung ngeloyor pergi. Baik bener nih cowok, bisik hati Agnes.

    Jam 7 pagi Agnes udah dikampus, tumben pagi amat datang padahal jadwal kuliahnya nanti jam 11 siang. Entah kenapa hari ini Agnes ingin cepat-cepat kekampus, ia ingin memastikan pikirannya kalo cowok yang nolongnya itu kuliah di fakultas ekonomi. Ia tetap didalam mobil memperhatikan cowok cewek kampus yang datang. Lama ia mengamati, cowok yang ditungu ngak nongol-nongol, Agnes sempet kesel juga dengan kelakuannya yang rada aneh, kenapa dirinya hari ini mau-maunya jadi seorang spionase gara-gara tuh cowok. Dan Agnes tersenyum sendiri atas keanehannya.

    Sekitar jam 10.15 mata Agnes terbelalak senang, yang ditungu-tunggu datang. Diamati sosok cowok sedang ngenjot sepeda butut dengan celana blue jean belel dan bolong didengkul, tas kain terselempang di bahu serta pake topi ngak kalah belel nya dengan celana, perlahan menuju tempat parkir, lalu ia turun menyandarkan sepeda dipohon waru besar yang diperkirakan berumur 40 tahun. Cowok itu berjalan dengan cuek tanpa tengok kanan kiri menuju kantin, cepat-cepat Agnes turun dari mobil menuju kantin.

    Dikantin Agnes celingak-celinguk mencari keberadaan cowok misterius, dilihatnya sang cowok ada dipojok meja kantin duduk sendirian sambil asyik makan pisang goreng dan teh botol. ceritasexpembantu.com Agnes menuju pantri kantin mengambil aqua botol lalu menghampiri cowok misterius dan duduk didepannya. Mata cowok-cowok yang ada dikantin pada ngiri ngeliat Agnes duduk didekat cowok misterius.

    ” Hai, makasih atas bantuannya kemaren,” sapa Agnes
    ” Hai juga,” sahutnya agak cuek sambil masih makan pisang goreng.
    ” Aku Agnes ,” Agnes memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya
    ” Heru,” sahutnya menyambut salaman tangan Agnes masih sambil tetap makan pisang goreng.
    ” Kuliah disini ya,” sambung Agnes
    ” Ya,” Jawabnya pendek
    ” Semester berapa?” tanya Agnes mencoba mengakrabkan diri.
    ” Tujuh,” jawabnya singkat. Ternyata Heru kakak tingkatnya. Dan dugaannya bener kalo dia satu kampus dengan dirinya.
    ” Jurusannya ?” tanya Agnes lagi, dia sendiri bingung kenapa kog mau tau tentang cowok aneh ini.
    ” Akuntasi,” jawabnya singkat lagi
    ” Sama dong, padahal kita satu kampus kog jarang ketemu ya,” lanjut Agnes untuk mengakrabkan diri
    ” Sebab kita satu jurusan jadi sama-sama belajar angka hitungan yang selisih terus susah balancenya.”

    Agnes tersenyum mendengar jawaban Heru, dia tau maksudnya jarang ketemu karena mata kuliah yang diambil berbeda dengan jadwal berbeda pula meskipun ada yang sama jam kuliahnya. Lumayan jawaban yang agak panjang artinya dia ngak cuek lagi.

    ” Tapi sekarang balance kan.”
    ” Ya sih tapi masih perlu diaudit lagi apakah balance nya sekedar cuman dipaskan aja,”
    ” Ngak capek kuliah pake sepeda,” tanya Agnes mengalihkan topik obrolan
    ” Ngak, malah enakan naik sepeda daripada naik mobil, lebih sehat dan lebih capek naik mobil.”
    ” Kog bisa gitu ?”
    ” Iya dong, kalo sepeda bannya gembos enak didorong, kalo mobil bannya gembos, capek deh,” jelas Heru.

    Agnes tersenyum lagi mendengar omongan Heru

    ” Naik mobil kan tinggal injak gas udah beres, kalo sepeda kan harus ngegenjot dulu.”
    ” Gini deh, Agnes pilih, enakan dinjak ato di genjot.”

    Ngak nyadar Agnes tertawa cekikan mendengar omongan Heru. Cowok-cowok yang ada dikantin pada memperhatikan tawa Agnes yang membuat mereka tambah iri melihat keakraban mereka berdua. Dalam hati mereka, kenapa cowok gembel yang
    satu ini yang dideketin Agnes.

    ” Udah ya nes, aku duluan,” Heru pamit pada Agnes lalu keluar kantin.
    ” Silahkan, makasih ya atas bantuannya,” jawab Agnes.

    Agnes hari ini perasaannya sudah lega, karena dia ngak lagi penasaran ama tuh cowok. Tapi diam-diam ia mengagumi cowok ini, biasanya kalo ia ngobrol dengan cowok kampus, mereka selalu ingin berlama-lama ngobrol dengannya. Tapi yang ini enggak. Malah duluan ngeloyor pergi. Besoknya Agnes pagi-pagi lagi datang kekampus, ia nuggu Heru datang, ia ingin sekali lebih lama ngobrol dengan cowok aneh ini. Entah mengapa hatinya ingin dekat dengan cowok aneh itu.

    Hari ini jam 11 siang Agnes ada jadwal fashion show di hall room hotel Grand Adelia sebuah hotel bintang lima, ia bergegas menaiki mobilnya, sekarang sudah jam 8.30 sedangkan peragawati harus datang minimal 2 jam sebelum acara untuk dirias dan mencocokan busana yang akan diperagakan. Begitu sampe dihotel, Agnes berlari kecil menuju belakang panggung, disana teman-teman sesama peragawati udah pada ngumpul dan dirias. ” Sorry mbak agak lat,” sapa dia ke mbak Yani yang merupakan manager agencynya.

    ” Ngak pa pa nes, masih sempet kog,” jawab mbak Yani maklum
    ” Makasih mbak.”
    ” Oh ya nes, kamu dan lia ada tugas khusus.”
    ” Tugas khusus apa mbak.”
    ” Gini nes, hari ini ulang tahun ke 4 hotel ini, sebelum fashion ada acara sambutan pemilik hotel yang sekaligus manager hotel, setelah sambutan ada acara potong tumpeng.”
    ” Trus mbak?”
    ” Nanti lia memandu manager hotel memotong tumpeng dan kamu menyiapkan piring yang akan dipake meletakkan potongan nasi tumpeng lalu kamu suapkan secara perlahan ke mulut manager,” jelas mbak yani
    ” Siap mbak.”
    ” Tolong panggil lia, kita kepanggung,” ajak mbak Yani yang akan memberi arahan acara potong tumpeng.

    Agnes dan Lia berdiri diatas panggung disamping meja tempat nasi tumpeng yang ditata begitu indah, pastilah bagus, namanya juga hotel bintang lima so pasti kokinya profesional bo.

    Acara sudah dimulai dan 2 lagu telah dilantunkan oleh penyanyi, kini tiba saatnya acara sambutan, MC menyebutkan nama manager hotel :

    ” Kepada bapak Heru Wicaksono dengan hormat kami persilahkan naik panggung untuk memberi sambutan,” Agnes sempat kaget mendengar nama Heru disebutkan, ia teringat akan sosok cowok yang baru dikenal dan menolongnya yang dikampus digelari teman-temannya mahasiswa gembel karena penampilannya acak-acakan.
    ”Ah, kebetulan aja namanya sama Heru tapi nama belakang Wicaksono kan lain,” pikir Agnes.

    Begitu matanya tertuju sosok cowok muda berdiri dari sofa deretan depan dibawah panggung dengan pakain jas warna coklat tua, penampilannya rapi, wajahnya ganteng berwibawa dengan senyum tersunging menambah kegantengannya, tiba-tiba jantungnya berdegup keras dan matanya tidak berkedip memperhatikan sosok cowok yang berjalan menaiki panggung, cowok itu mirip Heru yang barusan dikenalnya. Pak Heru Wicaksono memberi sambutan, mata Agnes terus tak berkedip memperhatikan Pak Heru Wicaksono yang sedang memberi sambutan dengan kata-kata yang enak, santai namun berwibawa menandakan kalo orangnya cerdas.

    ” Nes, ready,” lia berbisik ke Agnes yang masih terlihat bingung.

    Lia memegang tangan Pak Heru Wicaksono yang telah diberinya pisau untuk memotong tumpeng, setelah terpotong bagian atas yang berbentuk kerucut potongan tumpeng diletakkan kepiring yang dipegang oleh Agnes dan tiba saatnya Agnes menyuapkan potongan tumpeng dengan sendok ke Pak Heru Wicaksono. Sempat mata mereka bertatapan sejenak, pak Heru Wicaksono tersenyum dan Agnes membalas senyum dengan dada berdegup. Sendok berisi nasi tumpeng ia suapkan kemulut pak Heru Wicaksono dengan perasaan campur baur ngak karuan, tangannya agak gemetar, Agnes grogi banget dan untung sendoknya ngak jatuh waktu menyuapi pak Heru Wicaksono.

    Begitu acara pemotongan tumpeng selesai, Agnes kembali kebelakang panggung dan langsung menuju toilet. Ia termenung ditoilet untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba jadi kisruh ngak jelas juntrungannya. ceritasexpembantu.com Apakah pak Heru Wicaksono itu adalah Heru si mahasiswa gembel. Entahlah, Agnes bingung sendiri memikirkan sosok Heru. Begitu hatinya rada tenang Agnes menuju ruang ganti baju. Siap melaksanakan tugas profesinya sebagai peragawati. Tiap giliran ia memperagakan busana, saat posisi tidak berlengang lengok dalam posisi diam tepat didepan tengah panggung ia memberi senyum manis kepada pak Heru Wicaksono yang duduk didepan bawah panggung.

    Sudah lima hari perasaan Agnes selalu gelisah karena lima hari ini Agnes tidak melihat si gembel. Mau nanya ketemen-temennya Heru ia malu, maka ia hanya diam sambil berharap esok masih ada waktu.

    ” Nes, beberapa hari ini kog wajahmu murung gitu sih?” tegur Sherly
    ” Tau Sher, lagi suntuk aja,”
    ” Suntuk kenapa”
    ” Tau deh ”

    Kalo ditanya gitu, biasanya Agnes cepet-cepet mengalihkan topik obrolan kelain.
    Agnes mendadak gembira begitu ia melihat Heru memasuki gerbang kampus, ia bergegas turun dari mobil menghampiri Heru yang lagi markir sepeda bututnya.

    ” Kemana aja kamu Her, udah lima hari ngak ada,”
    ” Biasa deh Nes, sibuk ngurusin sawah ”
    ” Lho, kog ngurusin sawah ?” Agnes nanya sambil kebingungan sendiri mendengar Heru jawab tadi
    ” Ya iyalah Nes, habis mo ngurusin kamu, ya ngak mungkin lah,”
    ” Yang bener Her, jangan boong gitu.”
    ” Apa untung ruginya aku boong ama kamu Nes.”
    ” Ngak ada sih, tapi aku serius nih.”
    ” Aku juga serius Nes, ada apa sih, apa perlu bantuan masang ban gembos.”
    ” Jangan canda terus ah.”
    ” Habis, aku mo ngomong gimana lagi ”
    ” Bener kamu ngurusin sawah ? jawab yang jujur Her,”
    ” Bener, kalo ngak percaya entar kubawah ketempat aku kerja.”
    ” Kapan?, aku mo buktikan kalo Heru boong.”
    ” Bulan depan deh, udah ya, entar kita ngobrol lagi, bentar lagi dosen masuk takut ngak keburu.” selesai ngomong gitu Heru ngeloyor pergi, tinggal Agnes yang kebingungan.

    Agnes bener-bener dibikin Heru ngak karuan pikirannya, tiap hari menjelang tidur yang dipikirin heru, besoknya Heru, besoknya lagi-lagi Heru. Cape deh. Dan tadi siang Heru minta nomor HP dan alamat rumahnya dan ia meminta Agnes untuk nunguin dirumah. Malam ini yang bertepatan malam minggu ia akan datang mengajak ketempat dia bekerja. Agnes setuju banget karena ia penasaran, disamping itu diam-diam ia menyukai Heru. Ada getar aneh dan rasa senang kalo melihat Heru. Ia duduk diberanda rumah menunggu sepeda butut Heru datang sambil melamun kemana-mana yang topiknya hanya heru, heru dan heru. ”Apakah ini yang namanya jatuh cinta?” bisik hatinya

    Baca Juga : Rama, the Lucky Bastard: Revenge of the Angel

    Agnes terpaku diam, begitu melihat mobil BMW warna hitam memasuki halaman rumah yang sengaja pintu pagarnya dia buka agar tamu yang ditunggu datang tidak repot lagi membuka pintu pagar, yang muncul dibalik pintu adalah si gembel Heru. Matanya terpaku memandang Heru dengan pakaian rapi tapi santai dengan senyumnya yang menawan, begitu tampan bersahaja. Gile, cakep banget si gembel.

    ” Malam Agnes,” sapa Heru
    ” Maa..lam,” sahut Agnes luar biasa gugupnya. Heru senyum-senyum memandang Agnes yang terbengong-bengong.
    ” Masuk Her,” lanjut Agnes begitu bengongnya hilang.
    ” Makasih, tapi sebentar aja ya, aku kan janji mo bawa kamu ke sawah,” jawab Heru dengan canda
    ” Ya deh, bentar ya aku pamit dulu ama pembantuku, semua dirumah lagi liburan kepuncak jadi penghuninya kosong tinggal aku ama pembantu,”

    Agnes masih tertegun saat memasuki hotel Grand Adelia dan tak terasa tau-tau ia sudah berada disebuah ruangan besar, disitu ada meja kerja besar, sofa, kursi tamu, kulkas besar, dispenser.

    ” Silahkan duduk Nes, mo minum apa,” kata Heru menyuruh Agnes duduk sambil menawari minuman
    ” Terserah aja deh,” jawab Agnes. Heru membuka kulkas mengambil beberapa minuman. Agnes hanya terdiam memperhatikan ruang kerja yang besar dan suasananya amat nyaman.
    ” Di minum Nes,” Heru menawari Agnes yang masih dalam keadaan duduk terpaku
    ” Makasih Her,” sahut Agnes dengan suara setengah berbisik
    ” Kenapa bingung Nes,” tanya Heru sambil senyum-senyum memperhatikan Agnes kebingungan
    ” Jadi yang kamu maksud sawahmu ya disini ini,” tanya Agnes
    ” Iya, inilah sawahku tempatku bekerja,” jelas Heru
    ” Kenapa kamu bo’ongin aku Her,” Agnes tiba-tiba merajuk dan ngak nyadar tangannya memukul-mukul dada si gembel.

    Heru hanya tersenyum lalu dipegang tangan Agnes dengan lembut agar berhenti memukul kemudian dia mengangkat dagu Agnes dihadapkan kewajahnya sambil berkata :

    ” hanya Agnes cewek satu-satunya yang pernah aku bawa kesini untuk melihat sawahku.” mendengar kalimat Heru perasaan Agnes berbunga-bunga, senang bercampur baur dengan perasaan tak menentu yang ia sendiri ngak ngerti.

    Begitu tergetar hatinya. Matanya menatap sayu kearah mata Heru si mahasiswa gembel yang ternyata adalah Heru Wicaksono. Orang aneh yang menyita pikirannya, ia selalu memikirkan sosok si mahasiswa gembel tiap hari, saat mau tidur, saat bangun tidur dan saat-saat sedang ngak ada kegiatan, lamunannya selalu kesosok aneh ini. Ada suatu kerinduan yang timbul dihatinya. Tanpa disadari bibirnya terasa hangat, begitu merasakan kehangatan bibir cowok gembel, Agnes tidak tahan lagi menahan gejolak cintanya.

    Disambutnya ciuman Heru dengan mesra, tangannya melingkar keleher Heru. Mereka berciuman, saling melumat bibir. Ia belum pernah merasakan ciuman yang begitu hangat menggairahkan. Namun saat dia begitu bergairah menyambut ciuman si gembel, Heru melepaskan ciumannya.

    Lalu berkata :

    ” Aku cinta kamu Nes,” bisik Heru mesra dengan tatapan mata yang tajam dimatanya.
    ” Aku juga Her, aku sayang kamu,” jawab Agnes tersenyum bahagia.

    Mereka berciuman kembali, pelukan Agnes makin kuat dileher Heru. Lidah Heru menjelajah kerongga mulutnya, Agnes hanya bisa mendesah. Makin bergelora mereka beradu bibir dan lidah, tangan Heru sambil mencium meraba-raba paha dan payudara montok miliknya, Agnes pasrah karena ia amat sangat menikmati cumbuan Heru. Tangannya sendiri kini ikut aktif meraba-raba gemas punggung dan pantat si gembel.

    Ia makin mendesah saat CDnya dielus-elus Heru tepat dimemeknya :

    ” aaahh….aaahhhh….aaaahhh….!!!” Heru menciumi leher jenjangnya tanpa melepas rabaan maut disekitar selangkangan dan payudara Agnes.

    Mereka makin horny. Agnes membiarkan Heru melepas pakaiannya, sedangkan ia sendiri ikut melepas kancing baju Heru. Begitu masing-masing bagian atas terbuka, Heru membaringkan Agnes disofa panjang. Heru terkesima memandang dada Agnes yang mulus indah dihiasi dua gundukan gunung dengan pentil mencuat tegak menantang. Perlahan Heru menciumi gundukan gunung, lalu ia remas hangat, kemudian pentil yang mencuat ia kulum gemas. Agnes makin ngak tahan mendapat cumbuan maut Heru, birahinya makin bergejolak. Ia biarkan Heru menarik rok lalu CDnya. Kini ia telanjang bulat. Ia pasrah, ia sangat menikmati gejolaknya.

    Heru memainkan vaginanya yang ia jaga keperawanannya, mulut dan lidah Heru terus bermain di labia mayoranya, kemudian clitoris Agnes dijilat, dimainkan dengan lidahnya. Luar biasa sensasi kenikmatan yang dirasakan Agnes. Birahi Heru makin tinggi, lalu ia lepaskan celana dan CDnya dan mereka sama-sama bugil. Heru membalikan posisinya, kini wajahnya menghadap vagina dan Agnes menghadap tongkat Heru. Agnes yang sudah diselimuti napsu birahi, ia raih tongkat Heru lalu ia cium, ia jilati dan ia kulum. Agnes belum pernah melakukan hal ini, tapi ia hanya tau dari film BF yang ia setel dikamarnya. Kini ia langsung praktek, ternyata nikmatnya luar biasa.

    Makin rakus aja Agnes melahap tongkat Heru demikian juga Heru makin gila mempermainkan vagina dan penghuninya si kacang kecil.

    ”Aaaahhh…..aaahhh….oooohhh…oohhhh,” desahan mereka yang digelayuti napsu birahi.

    Desahan dan rintihan mereka tak tertahankan lagi, Heru berbalik lagi, kini ia menindih Agnes dan kaki Agnes ia kakangkan, secara perlahan ia gesek-gesekan tongkatnya kebibir vagina dan clitorisnya. Agnes menjerit nikmat : ” Herrr…..terusss….terrruussss!!!” namun tiba-tiba Heru mencabut tongkatnya disaat kepala tongkat masuk vagina. Ia berdiri dan menghentikan aktivitas mencumbu Agnes.

    ” Ke..napaaaa..Her…?,” tanya Agnes dengan suara ngos-ngosan diliputi birahi tinggi
    ” Maafkan aku Nes, aku ngak bisa merusak kamu,” ujar Heru sepertinya menyesalkan kelakuannya terhadap Agnes.
    ” Aku juga Her, aku rela kog perawanku untuk Heru,” Agnes ngomong ngak perduli lagi dengan keperawanannya yang ia jaga selama ini. Ia rela untuk Heru, bukan untuk dua pacarnya yang dulu.

    Heru yang begitu ia dambakan, apapun yang ia perbuat ia sangat rela. Ya karena ia telah mendapatkan orang yang bener-bener dicintai bukan sekedar suka.

    ” Suatu saat nanti kalo kita jodoh, kita akan menikmati cinta kita seutuhnya, saat ini kita cukup menikmati sebatas yang ada tanpa merusak kehormatan kita” Ujar Heru.

    Mendengar itu, Agnes agak malu. Luar biasa si gembel ini, begitu bijaksana perkataannya. Disaat napsu laju bergejolak bisa mengerem lajunya. Dan Agnes ngak tahan menahan tangisnya, dipeluknya Heru yang sama-sama masih telanjang, ia menangis sejadi-jadinya. CeritaMaya

    Ia malu, ia senang, ia bahagia, ia kagum, semua perasaan itu mengaduk menyatu dihatinya. Heru mengelus-elus rambutnya sambil membisikan kata :

    ” sudah sayang, nanti kalo emang jodoh, begitu kuliahku kelar, Agnes akan kulamar.” Mendengar perkataan itu, Agnes makin memeluk Heru dengan erat seakan takut lepas dari tanggannya.

    ” Janji yaa, Agnes akan setia nunggu,” bisik Agnes masih terisak. Heru menganguk.

    Kampus ekonomi menjadi gempar, heboh luar biasa. Agnes sang primadona kampus telah takluk ditangan si mahasiswa gembel. tiap kuliah tidak lagi naik mobilnya tapi berboncengan sepeda butut dengan si mahasiswa gembel, tangannya selalu melingkar mesra diperut si gembel. Kemana-mana mereka selalu berdua. Tak peduli teman-temannya kebingungan melihat kemesraannya dengan si mahasiswa gembel. Apalagi Sherly temen paling deket. ” Ngak salah pilih kamu Nes,” tanya Sherly. Agnes hanya menjawab pertanyaan Sherly dengan gelengan kepala yang artinya ngak salah pilih. ”Biarin mereka bingung,” bisiknya dalam hati sambil tersenyum bahagia.- Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas Indonesia, Cerita Hot Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Sex Pembantu.

  • Rama, the Lucky Bastard: Revenge of the Angel

    Rama, the Lucky Bastard: Revenge of the Angel


    73 views

    Nasib anak kost tak kenal
    Mengikuti mata kuliah
    Ya nasib anak kost rajin belajar
    Agar hidup tak susah la yaw ya nasib

    Aku makan tiap hari
    Kadang hanya makan mi
    Gimana nggak kurang gizi

    Wesel datang tak pasti
    Ibu kost tak mau mengerti
    Nagih sewa bulan ini ..

    Hidup sangat sedih .. uhh
    Nasib anak kost ya nasib anak kost 2x

    Kupernah punya janji
    Ketemu dengan doi
    Cewek kecenganku kini

    Kuketuk pintu pasti
    Keluar dosen wali
    Ternyata pacar si doi

    Hidupku jadi sepi karena
    Mikir si doi
    Sampai aku lupa mandi

    Badan bau terasi
    Tak ada mahasiswi yang mau padaku ini .. uh

    Ingin bunuh diri uh .. nasib anak kost
    Nasib anak kost..

    Gulungan roll pita film seluloid mulai berputar tersendat mengeluarkan derik suara pilu dari roda penggerak pemutar film yang sudah karatan. Sesaat tertampilkan gambar yang masih terselingi dengan grain dan leak di layar yang sudah terkembang.  Perlahan-lahan terlihat teras di sebuah rumah kost. Kamera men-shoot adanya seseorang yang sedang menatap layar handphone yang tengah dipegangnya dengan wajah murung.  Tak jauh darinya tampak seorang cowok yang sedang asyik memainkan batang rokok diantara sela jarinya.


    #######New Short Message RecievedFrom: Bokap^^gue^^gauLOpen >> Yes>> kLik
    Originally Posted by Bokap^^gue^^gauL 

    Rama
    Rama

    Rama hanya bisa menghela nafas panjang dan prihatin setelah membaca sms dari Ayahanda tercinta di kampung halaman. Rama termenung dalam diam. Dia membayangkan Bapaknya sedang berjuang mati-matian untuk membiayainya kuliah. Pesan singkat yang baru saja dibaca tadi merupakan sebuah pukulan telak yang tepat bersarang di hati dan perasaan. Disaat dirinya tengah semangat-semangatnya kuliah, berita buruk menghampirinya. Rama pun bingung tak tahu harus bagaimana lagi.. Fyuuuhh!!!“Sabar ya, Sob. Pasti ada jalan keluar kok..” ucap Sholihun, teman satu kostnya berusaha menenangkan Rama seraya menepuk-nepuk bahunya.“Iya, Hun. Thanks. Tapi gue bingung.” Jawab Rama masih tidak bersemangat dengan tatap mata menerawang kosong.“Iyaa juga sih. Misal gue yang ada diposisi lu, pasti bingung juga… Ngg.. Mmm…..” tiba-tiba diatas kepala Sholihun ada gambar bohlam lampu yang menyala terang.. Twink!!“Eeh, Sob. Gue ada ide nih.” Bilang Sholihun ngeden mencoba melontarkan ide.“Apaan?”“Gimana kalo lu nyoba aja ngirim lamaran ke Production House. Yaah, siapa tahu ada peluang buat elu.” Akhirnya Sholihun lega setelah melontarkan ide.“Gue belon lulus, Hun. Ngelamar pake ijazah apa dong?” sahut Rama pasrah dan terheran dengan usul Sholihun.“Gini, Sob. Untuk sementara lu ngelamar pake ijazah SMA dulu aja yang dikasih lampiran bahwa lu juga kuliah di IKJ jurusan Sinematografi. Nah siapa tahu aja di PH itu membutuhkan karyawan. Yaah, meskipun hanya sebagai tenaga kasar kek, driver kek, ataupun OB yang penting bisa menghasilkan duit untuk membiayai kuliah elu.” jelas Sholihun gamblang dengan sedikit gambling.“Hmm.. Ide bagus juga sih sebenernya. Tapi gue kok ga yakin yaa? Eeh, tapi tumben lu bisa mikir positif, Hun. Biasanya kan yang lu pikirin cuma paha mulus Shasa Grey, Meki merah Stoya, atau toked mengkelnya Ashley Brooke. Hahaa!!” kicau Rama mengingatkan hobi Sholihun dan tentunya hobinya sendiri.“Wew, brengsek!! Tapi lu kan yang sebenernya ngerusak anak baek-baek kaya gue. Semprul lu!!” Sholihun pun sewot ga terima dituduh sebagai cowok otak belang.“Gimana mau yakin, nyoba aja belon??” imbuh cowok yang juga ditakdirkan menjadi anak rantau seperti halnya Rama.“Hahaa!! oke deh, okee. Btw, thanks yaa Hun, dah nenangin dan ngasih masukan buat gue.” Bilang Rama setelah tergelak.“Yoii, Sob.”“Eeh Ram. Gue pinjem bokepnya Shasa Grey yang baru dong!”Nhaah lhoh, GubraakK..!!
    #######
    Sebagai seorang mahasiswa yang hidup di kota besar memang harus dituntut untuk selalu kreatif dalam men-siasati problematika kebutuhan hidup, apalagi bagi seorang mahasiswa bernama Ramangga a.k.a Rama, penyandang predikat sebagai anak rantau, yang mencoba menaklukkan ganas dan kerasnya kehidupan rimba ibukota yang penuh dengan serigala pemangsa dan ular berbisa. Hmm.. Hukum dan Undang-undang rimba memang masih berlaku di dalamnya, di antara para makhluk-makhluk penghuninya. Mahasiswa IKJ jurusan kampung rambutan-kampung melayu ini memang cerdik, tangguh, dan dipersenjatai dengan akal bulus dalam memanfaatkan berbagai kesempatan walaupun dalam keadaan terjepit. Eeh salah, salah.. Mahasiswa jurusan Sinematografi ding. Penampilan Rama sebenernya memang lumayan keren, meskipun pas-pasan. Dia punya ciri khas dengan balutan kaos yang dirangkap dengan kemeja flanel kotak-kotak ala Kurt Cobain khas style fashion distro. Tongkrongan tubuhnya sekitar 175cm. Bersenjatakan disiplin ilmu yang dimiliki dan dikuasainya, Rama mencoba mempertaruhkan nasib seperti halnya pelaku Russian Roullate yang mempertaruhkan nyawa. Dia mengadu nasib dengan memasukkan lamaran pekerjaan sebagai tenaga freelance atau serabutan di salah satu sebuah Production House yang sudah terkenal di negeri ini, SinemArt. Apapun pekerjaannya selama itu mengasyikkan dan sesuai dengan kata hatinya, Rama akan senantiasa menjalani dengan senang dan sepenuh hati. Pertamanya dia ditolak mentah-mentah oleh salah seorang security yang lagaknya belagu di depan gerbang sebuah bangunan rumah Production House, yang mengatakan bahwa tidak ada lowongan pekerjaan. Akan tetapi dengan tidak mengenal kata putus asa dan sedikit berakal bulus, Rama tetap ngeyel bin nekat untuk memasukkan berkas lamarannya. (Bondo nekat euy!!)“Sudah dibilang ga ada lowongan pekerjaan kok masih aja ngeyel sih.” gerutu Pak satpam bertubuh tambun seraya menatap wajah Rama lekat-lekat.Rama yang sedang ditatap pun hanya cengar-cengir kuda memasang tampang melaskolis. Titik-titik peluh mulai menghiasi keningnya. Sesekali dengan punggung telapak tangan kiri, Rama mencoba mengusap peluh yang akan segera menetes ke pipi. Tenggorokannya mulai kering karena haus, bibirnya pun tampak pecah-pecah. Pilu . . .“Tolong dong Pak, yaa. Saya bener-bener butuh pekerjaan untuk biaya kost dan kuliah saya…kebun singkong Bapak saya yang di kampung gagal panen. Tanaman jagung dimakan hama jadi ga ngehasilin apa-apa. Tolong yaa Pak, pleaseee..” ratap Rama bener-bener sempurna, seperti ratapan anak tiri yang sangat menyedihkan menyayat hati, dan perasaan jiwa bagi siapa saja yang mendengarkannya.“Suram sekali hidupmu, Nak..” kata Pak satpam seraya menerawang keatas langit biru sambil tangan kiri mengusap perutnya yang buncit. Mungkin satpam bertubuh tambun itu juga teringat masa sulit ketika masih hidup di kampung.“Seperti itu suram ya Pak? jadi gimana dong, Pak? kerja serabutan juga ga papa deh asal halal.” rengeknya lagi.“DIIIIN!!.. DIINNN!!”  Suara klakson dari Range Rover Evoque kelir merah terang mengagetkan Rama dan Pak satpam yang sedang tawar menawar pekerjaan. Lebih tepatnya eyel-eyelan.“Ada apa Pak Supri??” tanya seseorang dengan penampilan perlente setelah keluar dari dalam mobil.“Ooh.. Ngg.. Ii.ini Pak, ada yang mau ngelamar pekerjaan.” Jawab satpam sedikit tergeragap.Lelaki berpakaian bagus itu berjalan mendekat kearah Pak Supri dan Rama.

    “Anak muda, memang kamu mau kerja apaan? Hmm??” lelaki itu bertanya dengan penuh wibawa.“Emm.. Apa saja Pak. Serabutan juga boleh yang penting bisa menghasilkan.” Sahut Rama tegas.“Siapa namamu? dan kenapa kamu melamar pekerjaan ke sini?”“Saya Rama, Pak. Saya mencoba melamar pekerjaan disini karena sesuai dengan disiplin ilmu yang saya punya dan untuk mengisi waktu senggang selama kuliah. Dari pada keluyuran ga penting, mending berusaha mencari freelance kerjaan untuk bayar kuliah dan kost.” Jawab Rama terus terang.“Ooh begitu?” ucap lelaki perlente itu sembari memperhatikan raut wajah Rama, dan langsung manggut-manggut setelah mendengarkan penjelasan dari cowok yang baru saja mendapat berita buruk dari bapaknya yang ada di kampung. Kerut di wajah lelaki berpakaian bagus itu terlihat seakan-akan berusaha mengingat-ingat sesuatu.“Hmm… Feelingku mengatakan, bahwa anak muda ini tekadnya kuat. Keliatan juga tipe pekerja keras dan ulet. Dengan bimbingan ditangan orang yang tepat, dan dengan potensi yang dimilikinya aku yakin, suatu saat akan jadi ‘orang’ dia…” pikirnya“Sebentar Rama.” Ucap lelaki itu berjalan menjauh, seraya mengeluarkan smartphonenya untuk menelepon seseorang.Sembari menunggu sang pengendara Range Rover Evoque itu selesai ber-telephone, Rama pun berbincang-bincang dengan Pak Supri satpam di Production House itu.“Emang siapa dia, Pak?” tanya Rama penasaran.“Dia itu owner ni PH. Namanya Pak Robert.”“Ouw gitu ya pak? Pertamanya keliatan serem tapi ternyata ramah juga orangnya..”“Pak Robert emang ramah sama siapa saja, maka para karyawannya pada betah kerja di sini. Eeh tuh, Pak Robert dah jalan ke sini lagi..” kata Pak Supri sambil berbisik kepada Rama.“Begini Rama. Setelah aku hubungi bagian Production, kebetulan memang lagi membutuhkan tambahan tenaga. Tapi, yang tersedia cuma sebagai tenaga serabutan. Baik di lighting, equipment tools, roadish, ataupun driver. Gimana?” Kata Pak Robert memberitahu.“Gapapa, Pak. Saya akan dengan senang hati menjalankannya.”“Kamu bisa bawa mobil juga?”“Bisa, Pak. Saya bisa nyetir juga kok.” Jawab Rama dengan raut muka hampir gembira.“Oke. Taruh berkas lamaranmu di Front Office dan mulai besok kamu bisa langsung bekerja.” bilang Pak Robert dengan tenang diakhiri dengan senyum yang mengembang.“Hah!! Bener, Pak??” tanya Rama tak percaya.“Bener, Rama..”“Wah, makasih Pak. Makasih banyak ya Pak..” sahut Rama dengan raut muka gembira dan tangannya segera menyalami Sang Big Boss, Pak Robert dan Sang Security, Pak Supri.“Sama-sama, Rama. Selamat bergabung di SinemArt..”
    #######
    Rama segera mengabarkan berita baik ini kepada sohibnya, Sholihun, yang secara tidak langsung sudah membantunya mencari jalan keluar.“Waah, benerkan apa yang gue bilang..” kata Sholihun tampak bangga karena idenya goal.“Thanks berat, Hun. Pokoknya gue akan selalu berbagi rejeki deh.” Janji Rama tulus.“Bener nih?”“Iyaa lah, Hun.”“Serius?”“Pastinya dong!!” sahut Rama mantap.“Asyiiik!! Sukses yaaa.. Eeh Ram, Gue pinjem bokepnya Shasa Grey yang baru dong!” dan Sholihun pun mengajukan permintaan.“HAAHHH!!”
    #######
    Hari berganti hari, kadang ada suka kadang ada duka, dan cacian. Namun itu semua tak jadi soal buat Rama. Lima bulan sudah Rama menikmati hari-harinya bekerja di Production House milik Pak Robert, yang berhubungan dengan dunia layar kaca.  Sebagai seorang beginner, pada awalnya Rama yang ditempatkan di bagian umum ini merasa kagok karena tugas utamanya hanyalah bantu sana bantu sini, disuruh ngangkut ini ngangkut itu, disuruh beliin rokok, merapikan kostum, mengolor kabel sampai kesetrum juga pernah, dan lain sebagainya. Bisa dikatakan pekerjaan kasar namun bagi Rama semua itu bukanlah pekerjaan kasar melainkan pekerjaan mulia. Dengan pembawaan yang selalu ceria, cowok yang masih terdaftar sebagai mahasiswa IKJ itu tetap melakukan pekerjaannya dengan senang hati. Dia juga ga mau menyerah, berpangku tangan, dan menyia-nyiakan waktunya selama bekerja di PH begitu saja. Dengan kepandaian dan akal bulus yang dimiliki, maka di setiap ada kesempatan dan waktu luang, atau pun ketika break shooting, Rama segera bertanya kesana kemari tanpa malu untuk belajar mengenai segala sesuatu hal yang berhubungan dan saling berkaitan erat dengan studinya Sinematografi, kepada Mas Budi, Mbak Shinta, dan para crew lain yang sudah berpengalaman. Mas Budi adalah salah salah satu crew yang bisa melihat potensi besar yang dimiliki Rama. Maka, dia pun sedikit demi sedikit mengajarkan Rama tentang bagaimana men-set sound effect, kemudian mengenai pencahayaan atau yang lebih dikenal dengan lighting, penulisan naskah, bagaimana ber-improvisasi, dan bahkan tak lupa juga tentang pentingnya enginering pun dijejalkan di otak Rama. Karena peluang untuk memperdalam ilmu sangat banyak, Rama pun minta izin kepada Mbak Shinta untuk meminjam beberapa buku mengenai dunia layar film. Membaca, mempelajari, dan menelaah lembar demi lembar ilmu yang tertulis dengan tinta hitam diatas kertas putih pada sebuah buku adalah aktivitasnya di sela-sela break shooting. Rama memang seorang pemuda yang easy going juga ramah. Memiliki skill tinggi dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang berada sekitarnya, pinter melontarkan joke-joke segar yang menghibur di kala kejenuhan tengah melanda para crew adalah ahlinya, maka tak heran jika dalam waktu singkat dia sudah begitu akrab dengan para crew dan para artis sinetron ftv yang dikontrak oleh SinemArt. Dimana ada Rama, pasti disitu ada gelak tawa bahagia. Melihat kecantikan dan kemulusan body para artis yang berpakaian minim pun mau ga mau membuat Rama selalu kerepotan dalam usaha mengamankan tonjolan yang ada di selangkangannya. Statusnya kalo ga siaga, pasti waspada bahkan bisa mencapai tahap awas!! Pemandangan indah berupa belahan dada yang mulus putih menggoda, kulit paha yang licin tanpa cela, lekuk tubuh ramping yang berbalutkan baju-baju ketat yang seksi pun selalu sukses membuat darah mudanya menggelegak. Nafsunya begitu membuncah, seperti ketika beberapa minggu yang lalu Rama tidak sengaja melintas di depan kamar ganti artis, dimana dia melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh mulus dan bongkahan daging sepasang payudara ranum yang sekel punya Adelia Rasya terjuntai bebas setelah lepas dari kungkungan bra di saat sedang berganti kostum. Maka tak ayal lagi, sabun Giv di kamar mandi kost-nya pun senantiasa menjadi teman akrab untuk bercengkrama dalam melepaskan nafsu birahi, selepas pulang kerja. Rama memang menyendirikan sabun yang dipakainya. Untuk mandi dia memakai sabun Lifebuoy, sedangkan untuk ngocok alias coli dia lebih suka pake sabun Giv.  Ga percaya? Tanya aja sama Ramangga, Please Try This At Home, You’ll Get More Satisfaction and More Sensation.“Lebih lembut, busanya juga lebih banyak kalo gue coli pakai sabun Giv.” Begitu katanya kepada Sholihun beberapa saat lalu, ketika sedang ngobrol berpukar pikiran mengenai sabun apa yang paling asoy untuk coli, di halaman kost sambil mantengin cewek-cewek cantik anak kampus yang jalan berseliweran.
    Saat ini, PH milik Pak Robert sedang syuting program acara “Jalan-jalan Bersama Seleb.” Dan kebetulan artis yang membintangi adalah Olla Ramlan dan Ratna Galih. Dua selebritis tanah air yang cantik dan seksi menggairahkan dengan lekukan tubuh yang sempurna, dimana Rama nge-fans banget dengan kedua artis cantik itu. Tidak jarang keduanya dijadikan fantasi liar oleh Rama dalam rangka pelepasan cairan peju yang bersumber dari kantung peler kontolnya. Kalo sabun giv nya abis, Rama pun pelan-pelan pergi menyelinap ke arah dapur ibu kost untuk mencuri ketimun. Jadi sebenernya ga cuma kancil aja sih yang suka mencuri ketimun. (Ga percaya? tanya Rama lagi dweeh . . .  tuuh kan cengangas-cengenges die nye . . .) Bahkan pernah juga ada kejadian konyol pada saat lampu kost blackout, libidonya tetap menuntut penyaluran. Sialnya sabun Giv kesayangan jatuh ke dalam lubang wc sewaktu dipinjem sama Sholihun –karena Sholihun selalu BRUTAL ketika menjamas pusakanya- maka ditengah kegelapan dia pun berjalan mengendap-endap ke arah dapur untuk kembali mencuri ketimun. Namun sayang, untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak. Karena terburu-buru, yang diambil bukannya ketimun tapi malahan pegangan cobek untuk menguleg sambal. Sholihun yang mengetahui hal tersebut langsung ngakak tujuh hari tujuh malam tiada henti. Huaaaa, elu kok bego banget seeh, Ramaaa…!!!! bisa penyet pusaka elu, dodooL!!“Rama, selain membantu kameramen, berhubung Pak Karta izin ga masuk maka lu sementara juga ngerangkep jadi driver untuk acara “Jalan-jalan Bersama Seleb.” Job Discriptionnya, lu cuma nganter ke tempat-tempat tujuan selama ada di Bandung bersama crew yang lainnya. Lembang, Tangkuban perahu, Cihampelas, dan kuliner di Kampung Daun. Misal ada sisa waktu, dan si Olla sama Ratna pengen jalan-jalan dan belanja lu anterin aja deh.” Perintah Pak Basuki, Produser merangkap sutradara pada program acara “Jalan-jalan Bersama Seleb.”“Siaap, Boss!!” jawab Rama penuh semangat.“Ajiiib dah!!! Duuch senangnya hatiku bisa satu mobil dengan Olla Ramlan juga Ratna galih. Gue dah ga tahan pengen ngeliat tungkai paha telanjang mereka yang muyuuus dan belahan dada yang pastinya juga akan mereka umbar dengan hanya mengenakan baju-baju ketat belahan rendah. Yesss . . .!!!”
    #######Novotel Bandung, Sunday Morning.

    Ramangga a.k.a Rama tampak antusias sedang mempersiapkan tunggangannya, Honda Freed kelir cokelat milik inventaris perusahaan. Sambil bersiul-siul kecil, Rama pun mengeluarkan sebungkus rokok yang ternyata tinggal satu batang. Kebanyakan crew juga tinggal di hotel, tapi ada beberapa yang pulang ke rumah karena memang ada sebagian crew yang asli Bandung.“Mana nih si Olla sama Ratna. Lama banget..” gumam Rama tak sabar berkali-kali menolehkan wajahnya kearah pintu masuk lobby hotel.“Uuughh!! Gimana yaa penampilan Olla sama Ratna? Hmm..” gumam Rama sudah mulai berfantasi, tangan kanannya pun segera membetulkan letak batang penisnya yang belum apa-apa sudah siaga 1. “Hai ganteeng. Met pagi!!” seru Olla dan Ratna hampir berbarengan.Rama menoleh ke arah dua cewek cantik yang terlihat segar dengan sapuan cosmetic minimalis menghiasi wajah. Balutan busana yang terlihat modis dan minim pun menggoda sepasang mata Rama. Cowok yang mengambil jurusan Sinematografi di IKJ langsung terbengong takjub dengan kehadiran dua Bidadari yang sedang tersenyum geli melihat Rama yang sedang melongo dengan mata tak berkedip bertamasya ke sekujur tubuh berlekuk seksi punya Olla Ramlan dan Ratna galih. Tegukan ludahnya yang ketiga pun tak terelakkan.“Biasa aja kalee, Rama sayaaang.. Ga usah melongo gitu ahh liat tubuh seksi kita berdua. Hihihiii…” goda Olla Ramlan dengan mimik wajah menggoda.“Iyaa neh, Rama. Awas mengeras loh! Weekz!!” sahut Ratna Galih seraya menyelipkan lidahnya yang merah di sudut bibir menggoda Rama.“HAHAHAA!!” tawa kedua bidadari itu langsung meledak.Dan Ramangga pun langsung terjatuh dari keterpesonaannya yang lagi terbang tinggi walau baru nyampe langit ke tiga, belum ke tujuh. Olla Ramlan dengan rok terusan santai warna pastel sejengkal diatas lutut tampak sungguh menggoda, karena di bagian dada rok terusan yang dipakainya berbentuk huruf V lebar dengan dua utas tali kecil yang terkait di pundak kanan kirinya yang berkulit putih. Sebagian bongkahan dari payudara ranumnya tampak menyembul gemesin. Tatto dari tubuhnya juga turut menambah fantasi Rama. Sedangkan Ratna Galih sendiri juga tak kalah seksi dalam menampilkan keelokan bentuk tubuh yang dimiliki. Hot pants jeans setengah paha rada belel membungkus erat tungkai kakinya, sehingga kulit putih licin yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu lembut itu begitu merangsang nafsu seks Rama. Dengan kaos ketat tanpa lengan warna cerah yang pendek, lekukan tubuh yang sintal dan kontur sepasang payudara yang bertengger di dadanya pun terbentuk indah memancing gairah. Kulit lingkar pinggangnya pun acap kali mengintip nakal menggoda mata Rama.“Eeh!.. Ooh. Hehe. Dah pada siap yaah?” Rama pun menjawab dengan terbata-bata.“Belon!! Ya udah lah. Gimana sih? Yuuk..” kali ini yang menjawab adalah Ratna, dan mereka langsung memasuki mobil.
    Kedua selebritis cantik itu memang sudah akrab dengan sosok Rama, karena mereka berdua sering mendapat job dari SinemArt didalam proyek penggarapan ftv ataupun sinetron. Otomatis mereka berdua juga sering ketemu dan ngobrol bersama cowok trendy dengan potongan rambut ala Andika, Kangen Band itu. Dengan kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, Rama pun bukan seperti makhluk asing yang membahayakan bagi diri Olla maupun Ratna. Makanya tadi mereka dengan berani sempat ber-flirting ria terhadap Rama.“Ke lembang dulu kan, Say?” tanya Olla Ramlan seraya menyilangkan batang kaki kanannya di atas kaki kiri.“Tepat sekali. Seratus untuk nona Olla..” jawab Rama sambil menengok ke belakang untuk sekedar melirik kulit paha putih punya Olla yang sebelah kanan, yang tersingkap sampai seperempat paha.“Eeh.. Eeehh, seratus sih seratus, Ram. Tapi kalo nyetir matanya kedepan dong. Bukannya malah ngintip paha mulus gue. Gimana siih?!” Olla Ramlan pun pura-pura mendamprat Rama dengan nada merajuk.“Iyaa neeh sopirnya ganjen. Emang pak sopir belon pernah liat cewek seksi yaah? Hihihi.. Huu katrok! Terus, kalo liat cewek bugil juga belon donk berarti? Hahaa..” goda Ratna Galih menimpali ucapan Olla Ramlan.Piass!!! Raut wajah Rama pun memerah malu karena kedapatan mencuri kehalusan dan kemulusan kulit para penumpangnya.“Duuch yang lagi ketangkap basah mencuri pandang. Malu niih yeeew? Hihihiii..” kikikan nakal dan manja terucap keluar dari bibir berlipstick warna natural dari kedua seleb yang sedang diantar Rama ke Lembang.“Hahaa!! bisa aja Mbak berdua..” ujar Rama terdengar garing seraya membetulkan posisi alat kawinnya yang sungsang di dalam celana dalam Calvin Klien warna kuning menyala KW 7+.. Belum lagi bisa bernafas lega dan menetralkan warna wajahnya yang memerah, tiba-tiba aja gantian Ratna yang langsung berceloteh tanpa basa-basi.“Eeh! Hayoo! Tangan kiri lu kenapa tuh, Rama? Kok gerak-gerak di selangkangan? Salah parkir ya?”“Waka.. Wakaa!!” derai tawa Olla dan Ratna ala Shakira pun silih berganti menghantam dan menghancur leburkan perasaan Rama, mahasiswa IKJ itu.Sebentar kemudian Olla dan Ratna tampak saling berbisik, dan kemudian tersenyum nakal bersama. Sepasang tanduk iblis pun muncul . Hiii seyeeemmmmm!!“Anjriiit dah!! Digarap terus gue. Keroyokan lagi. Huuft.. Mana haruf parfumnya bikin gue semakin konak. Seet dah!! Jadi pengen coli neeh . . .” kata Rama dalam hatiSelama kedua selebriti itu sibuk syuting dengan kehebohan dan keceriaan yang mereka ciptakan, Rama pun hanya mampu memandangi bidadari-bidadari penggoda iman itu di belakang Mas Ridwan, selaku kameramen yang meng-shoot Olla dan Ratna. Sesekali tangan kanan maupun tangan kirinya tampak sibuk mengelus tonjolan batang penis yang tampak menggelembung. Setelah dari Lembang mereka meneruskan perjalanan ke arah Tangkuban perahu, kemudian ke Cihampelas, dan berakhir dengan acara makan malam di Kampung Daun. Semua crew termasuk Olla dan Ratna numpang mandi di restauran tersebut sekalian ganti baju. Selama makan malam, atmosphere yang ada memang sangat mengasyikkan. Tertawa, saling ejek sesama crew pun memancing derai tawa satu sama lain. Tampak Olla menerima sesuatu bungkusan plastik hitam dari salah seorang crew dengan gerak mencurigakan. Ratna Galih pun terlihat sibuk bertelephone entah dengan siapa. Setelah acara makan malam bersama selesai, kedua selebritis itu memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota Bandung dan tentunya diantar Ramangga. Sementara yang lainnya udah pada berpencar sendiri-sendiri.
    #######Di tengah kota Bandung, Paris Van Java…

    Honda freed yang ditumpangi mereka bertiga tampak melaju santai membelah suasana malam di kota Kembang. Rama berusaha untuk tidak mupeng ketika berada didalam satu mobil dengan dua seleb cantik yang begitu seksi itu meski lonjoran penisnya sudah menuntut keadilan berkali-kali. Memang, godaan yang dirasakannya semakin menguat dari pada waktu siang hari tadi. Aura yang terpancar di sekelilingnya membuat bulu kuduk Rama juga sesekali merinding, terlebih ketika dua makhluk sensual beraroma wangi itu secara sengaja lebih mendekatkan tubuh ke arah dirinya.“Huaa!! Gue udah ga kuat. Gue udah ga tahaan lagi nih!! Hiiii… Apa gue melambaikan tangan ke arah kamera aja yaa?” gumam Rama dalam hati. (Heh monyet dekil!! Emang lu pikir ini acara [masih] Dunia Lain, apa!??)Paras dari kedua cewek yang dibawa Rama berkeliling walking around memang sama-sama cantik, menarik, dan sama-sama bikin gemes. Keduanya mempunyai body yang aduhai, dan menggiurkan. Sepasang buah dadanya pun tak kalah menantang antara satu sama lain, dan memiliki ukuran yang hampir sama. Dari segi postur tubuh, tinggi badan Ratna terlihat sedikit lebih tinggi dari Olla. Rambut keduanya yang panjang dibiarkan tergerai indah ke belakang. Ratna malam itu mengenakan kaos ketat warna merah dengan bawahan rok kain lebar yang pendek seperti yang biasa dipakai para cheerleader. Sedangkan bidadari satunya, Olla Ramlan mengenakan tanktop putih sebagai pembalut tubuh rampingnya yang berlekuk. Ooh shit!! Olla Ramlan sangat nakal dan begitu berani malam ini. Setelah melepas sweater cotton combed warna biru tinta, ternyata di balik tanktop putih yang dipakai Olla yang musex itu sudah tanpa bra, braless. Sepasang puting dari kedua buntalan susunya yang mengkel dan kenceng tercetak jelas dari balik tanktop.“Mbak Olla udah punya pacar lagi belum sih?” tanya Rama iseng pada Olla Ramlan yang duduk di kabin depan sebelah kiri.Mata Rama terus berusaha keras melirik ke arah puting imut yang sangat bikin geregetan untuk segera di gigit-gigit kecil. Sialnya kedua mata Rama yang melirik kearah dada Olla sempet ga bisa balik kembali normal alias sempet juling temporary. Untung setelah berkedip, mata nakal itu sudah kembali ke jalan yang lurus.“Ada deeh, mau tahuu aja!! Kenapa emangnya, Say? Mau jadi pacar gue? Hmm..?” jawab Olla sekaligus memberikan penawaran yang menantang.“Hehehee.. Mbak Olla bisa aja..” jawab Rama tersipu diiringi kekehan khasnya, karena berhasil mengusap kedua toked Olla yang begitu membusung tanpa tersanggah bra. Tapi mengusapnya cuma lewat pandangan mata aja siih. Hihihiii…“Kalo Mbak Ratna sendiri gimana?” tanya cowok bergaya rambut ala Kangen Band itu kepada Ratna Galih.“Baru putus gue. Sekitar dua bulan yang lalu. Eh jendelanya dibuka aja yaa..” Jawabnya enteng seraya mengeluarkan dan menyulut ESSE favorit dengan lighter.
    “Rokoknya, Rat..” pinta Olla.Setelah membakar rokok dan menghembuskan asap melalui bibirnya yang tipis menggoda, Olla langsung berucap,“Lu pacarin aja si Ratna, Ram. Enak loh bisa nyicipin memm..” belum sempet ngelanjutin ucapannya, Olla langsung kena jitak Ratna.”Wadauw!!”“Rese’ ahh, lu!!”Rama pun tertawa begitu mendengar kicauan polos dari mulut Olla. Olla pun tertawa ngakak, sampai-sampai sepasang buah susunya yang bulat sekel itu berguncang dan berayun. Bahkan ketika dia merundukkkan tubuh seksinya karena ga kuat menahan tawa, Rama pun bisa melihat puting di ujung tokednya yang berwarna pink gelap dari balik tanktop yang dikenakannya. Uughhh!!!“Seneng lu yaa pada!” gerutu Ratna Galih.“Eh Rama, tapi mending lu pacarin aja deh si Olla. Dia tentunya lebih pengalaman dari pada gue kan? Sekali lu ngerasain empotannya, beuh! Ga kukuuuu!! Hahahaa!!” balas Ratna semakin menjurus, dan tentunya membuat penis Rama semakin ga keurus.“Wew!! Sialan lu, Rat. Duuh, gue jadi horny neh kebayang sama yang dulu-dulu.” Sungut Olla dengan wajah yang bersemu merah.“Lu kate, gue ngga ape? Enak kali ya kalo ‘ehemm-ehemm’ di Lembang. Hihihii..” timpal Ratna nakal.“Mbak Olla kebayang sama yang dulu-dulu nich yeew?? Kebayang apanya sih? Uhuuiyy, ga nahaan!!” ledek Rama dengan memasang cengiran kuda.“Lhoh Mbak Ratna mau juga toh ehemm-ehemm sama Mbak Olla?? Huaa!! Apa kata dunia nanti?? Hahaa!!” imbuh Rama dengan menggidikkan bahunya yang kalo diartikan, ‘ga bangeet deh..’Rama memang cerdik dan sekarang akal bulusnya tengah dilancarkan. Memang sengaja dia tadi meledek dan memanas-manasi kedua cewek cakep itu untuk bertindak agar semakin liar dan jalang. Tentunya berujung satu kesimpulan, eM eL dengan keduanya.“Kurang asem ya lu, Ram. Berani-beraninya ngeledek gue. Dari pada lu belon pernah kan? Huu.. Awas lu yaa ntar..” sahut Olla mendendam dan keki dengan ucapan Rama.“Iyaa neh Rama. Sok-sok-an banget. Perlu dikasih pelajaran neh, biar kapok dan ga berkutik lagi! Hahaa..” timpal Ratna Galih seraya tertawa.“Becanda Mbak. Rama cuma becanda kok.” Jawab Rama sambil senyam-senyum.“Nah lhoh pura-pura melas kan dia, Rat. Eh tapi ide bagus tuh nginep di cottage Lembang. Tapi pejantannya siapa yaa enaknya? Hmm?” tanya Olla seraya melirik kearah Rama yang raut wajahnya berubah meram padam.“Rama aja deh gimana? Ehh.. Bentar-bentar, tapi Rama punya titit ga yaaw?” Hahaa!!” seloroh Ratna ngasal yang membikin Rama semakin salah tingkah.
    Tanpa berkata-kata dan begitu tiba-tiba,“Waddauoww!!” Rama berteriak kaget sambil menyentakkan pinggulnya ke atas karena tangan sebelah kiri Olla langsung melingkar tepat di penis Rama dan langsung membetotnya.“Hahahaa! Punya titit juga dia, Rat. Udah keras euy!!” pekik Olla histeris.“HAHAHAA!!!”Ratna dan Olla pun tergelak ngakak, sementara Rama hanya mengerinyitkan kening menahan rasa ngilu karena penisnya di betot cewek cantik yang duduk di samping kirinya itu.“Kita putar balik ke Lembang lagi aja, Say..” perintah Ratna dan langsung disanggupi Ramangga.“Nah sebelum nyampe Lembang, enaknya mabok asap dulu aja deh. Hihihi..” kata Olla nakal.“Mabuk asap? Maksud lu??” tanya Ratna Galih heran.“Tarraaaa…” Olla Ramlan pun mengeluarkan tas plastik hitam yang berisi sebuah amplop, yang tadi sewaktu acara makan malam diberikan oleh salah seorang crew kepada dirinya.“Waah gila, asyiik neh. Cannabis Sativa, Jack!! Woi Rama!! Lu doyan juga kan?” pekik Ratna heboh, setelah mengetahui isi dari amplop yang ternyata adalah beberapa linting remahan daun surga.“Doyan dong, mana sini..” jawab Rama sembari melirik kearah batang paha putih mulus kepunyaan Ratna Galih.“Ntar, gue sulut dulu..” sahut Ratna Galih cepat.“Eh, tapi ngomong-ngomong dapet dari mana nih daun favorit Bob Marley?” tanya Ratna penasaran.“Tadi gue nitip sama Mas Agus, salah satu crew. Kan dia tahu seluk beluk dunia underground Bandung..” jelas Olla.Kemudian, Ratna pun segera mengambil satu linting, dan langsung memantikkan api dari lighternya untuk membakar lintingan daun surga yang bisa bikin tinggi itu.“Huuuuffttt, mantap. Uhhu.uukk!!” bilang Ratna dan langsung terbatuk karena begitu semangat menghisap melalui lubang hidungnya.“Hei!! Pelan-pelan napa? Coba sini gue rasain..” Olla pun tanpa berlama-lama langsung mengambil lintingan cimeng dari tangan Ratna, dan dia pun juga langsung menghisapnya. Sementara itu, Rama menutup semua jendela mobil.“Pffhuufft!! Dahsyat abyiis nih barang!” ujar Olla sehabis merasakan asap dari Cannabis Sativa yang mulai membakar paru-paru dan otaknya.“Niih, Rama. Cobain deh.” tawar Olla.
    Rama pun ikutan menghisap dalam-dalam sampai tidak ada asap yang keluar sedikit pun melewati mulut atau hidungnya. Semua mengendap di dalam pembuluh darah.“Tinggi, mari kita terbang semakin tinggi!!” suara bernada riang sontak terdengar keluar dari mulut Rama.Efek dari Cannabis Sativa adalah bahwa dia bisa merubah mood, emosi, dan perasaan para pemakainya untuk semakin meledak secara drastis dan cepat. Misal pemakainya dalam keadaan sedih, maka Cannabis Sativa mampu untuk mem-program emosi si pemakai untuk jauuuh lebih sedih, bahkan sampai menangis. Jikalau pemakainya sedang merasakan happy, maka Cannabis Sativa pun akan men-transformasikan rasa happy itu lebih menggelora lagi. Efek berikutnya adalah si pemakai akan merasakan haus yang berlebihan. Kedua bidadari cantik yang berbalut baju-baju terbuka nan seksi itu kini saling bergantian menghisap daun surga dengan cepat. Mereka happy, mereka pun semakin bertambah gila. Olla dan Ratna, dua seleb cantik yang baru aja menyelesaikan syuting itu juga mulai menggoyangkan tubuh seksinya mengikuti alunan music Hip-Hop yang terdengar dari speaker mobil. Olla Ramlan, mantan istri Alex Tian yang mempunyai tampang binal itu pun segera menampilkan liukan erotisnya, bahkan tak jarang kedua puting imut di ujung putingnya yang sudah menegang semakin menyeplak jelas dari balik tanktopnya. Ratna Galih yang kelahiran Djoja pun tak mau kalah dengan liuk erotis Olla. Dia yang duduk di jok tengah sesekali dengan gerakan nakal yang sensual tak segan-segan untuk meraba dan meremasi tokednya sendiri, seakan-akan sedang memamerkan kemampuan dirinya dalam ber-striptis. Raut wajahnya pun sangat ngacengin. Rama berulang kali mengintip tingkah laku Ratna yang liar dari kaca spion tengah mobil dan artis cantik itu pun tampak cuek bebek meski dia juga tak jarang menangkap basah karyawan SinemArt yang sedang melotot juga melongo melihat aksi hot dirinya. Dileletkannya lidah yang merah menyala itu kearah spion tengah mobil dengan gerakan mengulik sesuatu, dimana Rama tengah mupeng berat memperhatikan. Sebentar lagi pasti nafsu angkara birahi cowok bertinggi badan 175cm itu meledak menggelegar. Penis yang berada di selangkangan Rama pun ikut menggeliat erotis mana kala dirinya terjebak di dalam mobil bersama dua bidadari cantik yang tengah horny.“Gila lu, Rat!! Hot banget tarian lu. Anjriit, makin konak gue..” ucap Olla dan langsung mengusap lembut menyelusuri penis Rama sambil tersenyum bitchy.“Uughh!!” Rama mulai melenguh, ketika lonjoran penisnya juga diurut-urut oleh telapak tangan Olla.“Enak, Rama?? Hmm? Udah keras banget nih kontolnya. Hihii..” bilang Olla vulgar sembari menghisap lintingan daun surga untuk yang kesekian kalinya.“Aduuh! Jangan melakukan pornoaksi dulu dong. Gimana sih?!” sela Ratna Galih sewot.“Tenang, hottie..” sahut Olla.“Auuw!! Ii..iiihh, apaan ini juga??” pekik Ratna Galih tertahan tatkala buah payudara yang mengacung mengkel miliknya kena remas oleh tangan kanan Olla.“Hihihiii…” kikikan iblis bertanduk Olla pun terdengar.
    #######
    Tak terasa Honda Freed yang mereka kendarai sudah memasuki kawasan cottage daerah Lembang. Setelah urusan administrasi beres, mereka bertiga pun berjalan kearah cottage yang berada di bagian paling belakang. Tampak juga mobil-mobil para penyewa cottage parkir berjejer rapi.“Eh Olla. Lu duluan aja sama Rama. Gue ngadem bentar, nyegerin otak dulu yaa. Pening banget, gila. Ntar gue nyusul deh.” Keluh Ratna seraya memegangi keningnya.“Mangkanya jangan kebanyakan nyedot tadi. Huu..” balas mantan istri Alex Tian mencibir Ratna.Rama hanya terkekeh melihat Ratna yang sudah terlalu tinggi. Tangan kirinya menenteng bagpack gede yang berisi baju ganti.“Waah, apa benar yaa? Gue akan menyetubuhi satu diantara kedua bidadari impian gue? Moga-moga aja deh, pleasee..” harap Rama dengan gelisah.Setelah membuka pintu cottage, Rama dan Olla pun segera masuk. Ruangannya luas, isinya lux, dan kamarnya juga tertata cukup rapi. Yaa iyalah, cottage kelas wahid gitu loh. Fasilitasnya pun juga komplit dong tentunya. Ada wifi, tv plasma 32inc dengan indovision , kamar mandi dalam lengkap dengan bath up hot and cold water, ranjang ukuran king size yang tampak empuk, seperangkat sofa, dan juga mini bar.“Nyantai aja lu disini ya, Ram. Gue ganti baju dulu.”, kata Olla sambil mengerlingkan matanya dengan genit.“Yooaa!!”“Ngapain neeh enaknya. Ooh iya nyetel acara music aja..” gumam Rama seraya mencari channel music.Tak berapa lama, suara music terdengar keras membisingi ruangan cottage yang mereka sewa. Rama berjalan kearah mini bar dan mengambil dua botol Guiness Stout dingin. Ditengggaknya pelan-pelan air ber-alkohol itu untuk melepas rasa dahaga.“Huaaahh..” Rama pun merebahkan badannya di atas ranjang, dan menggeliatkan tubuhnya yang penat.“Waah nyaman banget nih rebahan di kasur empuk setelah penuh aktivitas seharian..” gumam Rama.Beberapa saat kemudian, Olla Ramlan terlihat keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah kembali segar. Dia sekarang mengenakan baju model kemben warna hijau tipis tanpa tali di pundak dan tetap setia untuk tidak memakai bra, sehingga puting imutnya pun tetap terlihat jelas tercetak.  Untuk bawahan, Olla mengenakan women boxer yang sangat pendek, yang hanya mampu menutupi seperempat dari batang pahanya yang putih mulus. Hmm.. Bener-bener bikin konak deh tubuh sang bidadari ini. Indah dan menggairahkan. Olla pun segera menuju ‘ranjang pengantin’ dengan menggoyangkan tubuh mengikuti irama lagu dari tv, sebelum akhirnya mendarat dan merebahkan tubuh wanginya yang sensual itu di sebelah Rama.“Glek!.. Gleekk!” terdengar tenggakan Guiness Stout.“Aakkhhh, paiiit!!” suara Ola yang kepahitan langsung terdengar.“Hehehee..” Rama terkekeh melihat raut lucu wajah Olla yang meringis dan dia segera beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil, bersih-bersih, sekalian mengganti celana panjang dengan celana kolor tanpa celana dalam.  Gundukan di selangkangannya sudah menggelembung menuntut kepastian jatah.“Sabar yaah. Malam ini lu gue kasih tenderloin steak yang lezat, dah! Ga cuma sabun Giv aja..” gumam Rama berbicara kepada jagoan berototnya yang sudah mengeras sedari tadi.
    Rama keluar dari kamar mandi dan langsung ikut merebahkan tubuh disamping Olla Ramlan.“Heh Rama, jelek! Tadi lu dah ngeledekin gue kan? Sekarang waktunya pembalasan, tau ga lu!! Kalo bahasa filmnya tuh, Revenge of the Angel..”Dan tanpa menunggu jawaban Rama yang terlihat masih shock dengan apa yang akan terjadi, Olla langsung memeluk mesra cowok bertinggi 175cm itu ke dalam dekapannya. Bibirnya yang tipis ber-lipstick pink tipis segera memagut bibir Rama dengan lembut dan sedikit romantis. Tak lupa juga Olla pun mengelomoh dan memainkan lidahnya yang merah basah ke dalam mulut Rama.“Ouughh!! Aaghhh!!” desah Rama kontan terdengar mana kala jari halus telapak tangan artis cantik itu juga mulai mengusap-usap penisnya yang sudah tegang dari balik celana kolor.“Enaak, yaah? Duuch dah ga pake celana dalam sekalian. Hihii..” tanya Olla seraya memperhatikan ekspresi kenikmatan dari wajah Rama.Seiring dengan ciumannya yang begitu hot, Olla pun mulai merayapkan tangannya masuk ke dalam celana kolor Rama untuk menangkap sesuatu yang keras, dan segera mengocok lembut lonjoran kontol yang sudah tegang sempurna itu.“Uummphhfff!!”Rama pun mencoba untuk memulai melakukan serangan balasan setelah alat kawinnya di-invasi secara kurang ajar oleh Olla. Diturunkannya baju kemben warna hijau tipis tanpa tali yang Olla pake. Seketika itu juga sepasang toked nya yang mulus dan dibalut kulit yang putih langsung menjuntai keluar menunjukkan pesonanya.“Bagus banget tokednyaa. Mana masih kenceng lagi..” gumam Rama kagum ketika melihat sepasang payudara indah Olla yang bergelantungan.“Suka, sayang?? Hmm..?” bisik Olla Ramlan dengan wajah senang karena keindahan buah dadanya mampu menyihir mata Rama.Rama hanya menganggukkan kepala seraya ditelusurinya pelan-pelan gundukan buah dada itu untuk merasakan kehalusan kulitnya, sebelum meremas dan mengurut daging payudara itu dari pangkal sampai ujung.“Nggghhh!! Aaghh!! Ra.Rammaaa!! uughhh!” artis cantik itu melenguh ketika tangan Rama memilin puting segar dan menekan-nekannya dengan lembut. Sesekali juga ditarik-tariknya.Gairah binal Olla sudah terbangun. Dia segera melolosi celana kolor Rama, sehingga telapak tangannya pun semakin leluasa dalam mengocok dan mengurut batang kontol yang berukuran standar orang indonesia. Intensitas kocokan Olla semakin cepat. Kadang gerakannya berubah pelan dan sangat lembut.“Gue bener-bener kangen yang namanya kontol.” gumam Olla.Dengan gerakan yang cepat, Olla pun nungging di dekat penis Rama yang sudah mengeluarkan cairan pre-cum diujungnya. Dicium mesra kepalanya, dijilati dengan telaten setiap batang berurat itu, lalu perlahan mulai dimasukkannya batang Rama ke dalam mulutnya yang mungil berbibir tipis.
    “Ouughh yesshhh!! En.nakk bah.ngetshhh!!” rengek Rama keenakan dengan service oral Olla.Olla Ramlan memang sudah lama tidak merasakan yang namanya ngentot, maka dari itu, ketika mendapatkan Rama, dia pun mencoba untuk bener-bener menikmati dan meresapi yang namanya penis. Dengan keahliannya yang sudah sangat terlatih, alat kawin Rama pun terus menerus dikulum-kulum, disedot, tanpa lupa membelitkan lidahnya yang hangat disepanjang lonjoran berhelm nazi itu.“Aagghhhh, Mba.aak O.Ollaaa!! Nik..mattt bangettshh, sayanggghh!!” ujar Rama terbata-bata merasakan belitan lidah bercampur ludah yang hangat dan berasa geli.Olla terlihat tersenyum puas mengetahui bahwa Rama begitu merasa keenakan dengan service mulutnya. Sekarang, cewek bertubuh seksi dan ber-tatto itu mengocok kontol Rama seraya jari tangannya yang lentik memainkan buah pelir. Tak berapa lama kemudian, mulut seksinya juga turut menjilati, dan menyedot buah pelir itu dengan penuh nafsu.“Uughh!! Sshhh!! Mba.aak.. Aaghh ngi..luuu!!” ceracau Rama ketika merasakan sedotan Olla yang terus-terusan mengulik buah pelirnya.“Hehee.. Tapi enakkan?” sahut Olla cepat sambil menatap wajah Rama yang semakin bertambah merah.Olla tetap semakin asyik bermain dengan penis beruratnya Rama. Dia terus mengulum dan mempompakan mulut mungilnya untuk mengocok kontol naik turun mengangguk-angguk dengan cepat. Hidup Rama saat ini penuh kenikmatan. Sambil berbaring, dia juga memerah dan mengurut sepasang payudara ranum milik Olla yang menggantung indah di dada yang berkulit putih.“Mmphh!.. Ngghhh.. Uumphhfff!! Uhuukk!.. Uhuukkk!” Olla Ramlan sempat tersedak, saat dia mencoba menelan batang penis Rama ke dalam mulut mungilnya.Setelah puas mengarap buah dada berukuran sedang milik Olla yang bergelantungan, Rama mulai mengarah pada woman boxer Olla dan langsung mengelus di bagian selangkangan tepat di bibir belahan vagina.“Sshhh!! Ouughh!! Ra.Ramaa..” Olla pun mendesah seraya menggoyangkan pinggul saat belahan vaginanya tersentuh jari tangan Rama.Untuk lebih bisa merasakan nikmat, maka Olla pun langsung melepas boxer bersama celana dalamnya sekaligus. Vaginanya terlihat merekah tembem dihiasi bulu bulu tipis yang dipotong rapi membentuk segitiga kecil. Bibir lipatan vagina itu berwarna putih kemerahan, masih rapet, dan sudah mengkilat basah oleh cairan birahinya sendiri.“Ouughh yesshh, Ram.aaa!! Aaghh! Uuughhh!! Sshhh!!” desahan Olla semakin tidak karuan. Tubuh putihnya menggelinjang ketika Rama mengulik-ulik tonjolan clitoris.
    Perlahan, Rama juga mulai memasukkan jari tangannya ke dalam rongga vagina, dan memutar-mutarkan dalam kehangatan vagina chubby yang bergerinjal. Olla terlihat semakin panas dan liar dalam memanjakan penis Rama. Terus-terusan mengulum, mengelomoh, dan merayapkan lidahnya yang merah basah disetiap inci kulit bagian batangnya. Rasa hangat dan basah dari mulutnya juga semakin membangkitkan nafsu cowok yang mengambil jurusan di sinematografi itu. Rama mengocokkan jarinya yang sudah tenggelam di dalam vagina chubby Olla Ramlan dengan cepat, sehingga memaksa artis cantik itu melepas kontol Rama sambil memperlihatkan wajah sayu dan matanya yang sendu. Suara berkecipak terdengar menghiasi malam mereka di Lembang.“Sshhh!!.. Aaagghhh!!.. Uumphhff!! En..nnyak bang.ngetshh!! Ram.Ramaaa..” desis Olla dan segera menyambar batang penis Rama untuk dikocoknya kembali.“I’m so Hornyyy, Ra.maaa!! Ouughhh yesshhh!!” kicau Olla sambil menggigit bibirnya menahan kenikmatan korekan jari Rama didalam kehangatan vaginanya.Lagi asyik-asyiknya mendayung sampan birahi di lautan nafsu, tiba-tiba Rama dan pasangan mesumnya, artis cantik Olla Ramlan dikagetkan oleh suara seorang perempuan.“Ooo.. Ooo, kamu ketahuan, pas lagi ngentot, bersama Ramaa!! Hihiii..” kata Ratna Galih dengan nada suara seperti lirik salah satu grup band, sambil tersenyum dan memperhatikan vagina Olla yang sedang diobok-obok oleh jari Rama.“AauuwW!!” pekik Olla Ramlan kaget karena mendapati Ratna Galih sedang memperhatikan gerakan jari Rama yang langsung tercabut dari himpitan vaginanya.“Dasar kutu kupret lu!! Sialan, bikin kaget aja sih. Huuh!!” sahut Olla keki dan langsung ilfil.“Hahaha!! Sukuriin. Duuch kasiaan deh. Emang enak, lagi pemanasan mo ngentot digangguin. Hihihiii..” goda Ratna diakhiri dengan kikikan keledai.Rama tampak cuek aja dengan kehadiran Ratna malah inilah yang sangat diharapkannya. Tangan kanannya tetap mengocok-kocok batang penisnya sendiri sambil menatap wajah cantik Ratna yang juga sesekali melirik kearah tonggak kejantanannya. Ketika kedua bidadari itu masih saling ejek, Rama pun melirik nakal ke arah sepasang payudara Ratna yang berbentuk bulat, padat, dan terpampang jelas dari balik kaos ketat warna merah yang dikenakannya. Dua tungkai batang pahanya yang putih mulus berbalut rok pendek lebar itu juga sepertinya memang sengaja untuk dipamerkan. Birahi Rama pun semakin terbang tinggi tak terkendali. Setelah beradu mulut dengan Ratna, dengan cueknya Olla juga langsung beralih beradu mulut dengan Rama, dengan mencium dan memagut bibirnya dengan ganas. Tanpa ampun, dilumat-lumatnya bibir cowok yang satu kostan dengan Sholihun itu seakan-akan takut ga akan ada lagi yang namanya kenikmatan.  Olla juga memasukkan lidahnya ke dalam mulut Rama. Nafsu artis cantik yang sudah lama berpisah dengan suaminya itu semakin membara. Lidah merah Rama pun dengan meyakinkan saling beradu dengan lidah basahnya. Nafsu Olla Ramlan, cewek ber-tatto itu tampaknya juga sudah tak terbendung.
    Dia langsung meraih kembali lonjoran penis Rama yang tetap tegang mengeras, dan mengocokkan tangannya naik turun dengan cepat. Olla tampak sudah tidak peduli lagi dengan kehadiran Ratna yang sedang menonton adegan persetubuhan dirinya dengan Rama.“Sshhh!! Uughhh!! Aaughhh!!” Olla mendesah dan melenguh tiada henti.Di saat sedang berasyik masyuk dengan Olla, Rama pun melirik bidadari satunya lagi, Ratna Galih, yang berada di di dekatnya. Waow!! Ternyata cewek bahenol itu tengah menikmati prosesi persenggamaan yang dilakukannya bersama Olla. Sambil terus menyaksikan Rama dan Olla mengumbar nafsu, tanpa sadar Ratna sudah memasukkan tangannya sendiri ke dalam rok super pendek ala cheerleader yang membelit pinggulnya, dan sekarang terlihat sesuatu yang bergerak-gerak di baliknya. Olla melepaskan deep kissnya, kemudian meminta Rama untuk sedikit mundur, untuk mempermudah melucuti celana kolor yang masih terongok di betis. Olla pun langsung melebarkan tungkai kaki Rama, nungging dengan wajah tepat di depan batang penis berurat itu, dan langsung memasukkan alat kawin Rama ke dalam kehangatan mulutnya. Oral season again and again. Uughh!! Selomotan mulut dan bibir Olla semakin bertambah ganas dan liar.“Emang enak main sendiri, Mbak Ratna? Weeekzz!! Hihihiii..” goda Rama kepada Ratna yang sedang asyik bermain dengan kelaminnya sendiri.“Huuh!!” dengus Ratna sebal, karena dirinya yang lagi masturbasi diliatin dan diledekin oleh Rama.“Mau ga dibantuin, Mbak? Enak loh. Sini mendekat ke Rama, ga usah malu-malu. Toh kita udah sama-sama dewasa dan saling menbutuhkan kan?” ucap Rama dengan lihai meng-akal bulusi Ratna.Mendengar kata-kata bijak dari seorang pemuda perantauan itu, Ratna pun tersenyum. Keragu-raguan dalam dirinya pun sirna. Dengan pasti, partner Olla dalam acara “Jalan-jalan Bersama Seleb” itu mendekatkan tubuh wanginya yang seksi tepat di sebelah Rama. Rama mencoba menge-test kesungguhan Ratna Galih dengan mencium bibir ranumnya. Ternyata reaksi yang didapat sangat positif dan sangat menggembirakan. Karena Ratna membalas ciuman yang dilancarkan Rama dengan penuh antusias. Rama dan Ratna sudah memulai saling memagut dan melumat, sementara itu Olla Ramlan masih terlihat sibuk dengan aktivitasnya sendiri, yaitu mengulum, mengelamuti, dan mengocok batang penis Rama. Demi melihat Olla yang begitu bernafsu dalam melahap penis, Ratna segera melepas kaos ketat dan bra yang membungkus dua buah dadanya, dan langsung mengarahkan telapak tangan Rama untuk segera menjamah gundukan sekel sepasang payudaranya yang ranum. Dengan senyum penuh kemenangan, Rama pun mengelus payudara yang juga berkulit putih mulus, yang berukuran sedikit lebih besar dari milik Olla.“Ouughh. Gila!! Kenyalnya sama dengan milik Olla..” batin Rama seraya mengurut dan meremas payudara Ratna.“Uummphhh!! Ouughhh!! Aaa..Aaghh!!” Ratna mulai mendesah disela-sela ciuman dengan mata yang masih melirik ke arah Olla yang asyik bermain oral.
    Tak tahan, dia pun melepaskan ciumannya, dan langsung segera bergabung dengan Olla. Menungging dengan wajah menghadap tepat di depan penis Rama.“Hihii.. Pengen yaah? Nih rasain kontol Rama, enak banget loh.” Kata cewek dengan beberapa hiasan tatto di tubuhnya, setelah melepaskan jepitan bibirnya dan mengarahkan perangkat kawin Rama ke mulut Ratna Galih.Tak perlu menjawab pernyataan Olla, Ratna langsung menyambut penis berurat Rama dengan tari-tarian lidahnya. Menguaskan lidah di sekujur batangnya, menyentil lubang pipis, dan juga mengulik nakal batang leher bagian bawah. Ketika mengetahui bahwasanya Rama menggelinjang-gelinjang penuh nikmat disertai rasa geli yang memabukkan, cewek cantik bertubuh aduhai itu pun segera memasukkan batang penis itu ke dalam kehangatan mulutnya. Dikempot-kempotkan pipinya ketika menyedot kontol Rama seakan berusaha memipihkan benda yang berbentuk lonjong itu. Sedangkan lidah lancip Olla dengan sensual merayap pelan diatas permukaan kulit kantung buah pelir.“Adduuhhh!! Nikk..matt bahh.ngeetsshhh!! Uughhh yeeshhh!!” celoteh Rama sambil menikmati begitu dahsyatnya teknik permainan oral kedua bidadari yang kerasukan nafsu syahwat itu.“Mbak Ratna, pantatnya siniin dong..” pinta Rama lirih.Tanpa berbicara karena masih asyik menarikan lidahnya di batang penis Rama, Ratna pun menggeser posisi nunggingnya, dan mengarahkan pantat semoknya ke arah Rama.Tanpa basa-basi lagi, Rama dengan cepat melepas rok super pendek yang membelit pinggang ramping dara ayu kelahiran Djogja itu, maka dalam sekejap terpampanglah dengan nyata dan sangat jelas vagina yang sudah kelihatan basah. Masih rapat dan tampak peret. Bulu jembutnya pun dicukur habis sehingga bentuk kemaluan Ratna tampak bener-bener menggiurkan. Clitorisnya yang kemerahan juga sudah menampakkan diri.“Oouughh, Ram.Ramaaa.. Sshhh!!” desis Ratna mulai menikmati pijitan jari Rama pada clitorisnya.Yeaah!! Kedua bidadari cantik nan seksi itu bagaikan duet komposer jenius yang mengendalikan sebuah seni orkestra birahi. Mereka berdua sangat kompak dan saling bergantian dalam memainkan dawai-dawai nada yang berupa lonjoran kontol Rama. Secara bersamaan dan simultan, keduanya menjulurkan lidah untuk menjilat dan menyusrup penis Rama dari sisi kiri dan kanan secara intens.“Ouughh en.nyaakK, Mbakk Rat.naaa!! Aaaghh!! Sshh!! Mba.aak Ollaaa jug.juga.aa pinteerrr!! Umphhfff!!” ceracau Rama tidak karuan didalam menghadapi keliaran kedua cewek cantik itu.
    Sesekali Ratna Galih menyedot dan menghisap dengan kuat kepala penis Rama, dan Olla yang membelit-belitkan lidah dengan erat bak ular piton meremukkan tubuh mangsanya. Atau kadang Olla yang mengulum batang, sedangkan Ratna yang mengelomoh buah pelir. Bahkan, mereka pun bisa bersamaan pula dalam menjilati kepala penis sambil sesekali ber-french kiss. So bitchy and so naughty when two angel get starving. Sungguh sangatlah fantastis rasa nikmat yang mendera seluruh syaraf di dalam tubuh Rama ketika penis tegangnya terus menerus dipermainkan seenaknya oleh dua artis cantik itu. Setelah dirasa cukup ber-foreplay, Ratna pun mengambil posisi dengan berdiri di hadapan Rama yang terbaring pasrah di atas ranjang. Pemuda yang tinggal di kost bersama Sholihun itu terkesima dan ternganga saat melihat keindahan tubuh cewek cantik yang sudah telanjang bulat tanpa ditutupi selembar benang pun. Kulit tubuhnya putih mulus tanpa noda sedikitpun. Sepasang tokednya terlihat kencang mengacung, dan bongkahan daging pantatnya pun montok menggairahkan tanpa guratan scretch. Mengetahui teman duetnya sudah mempersiapkan diri, Olla pun segera bangkit, dan melepas baju kembennya yang masih menggulung di pinggang. Olla juga memamerkan keindahan dan keseksian tubuhnya yang tak kalah dengan tubuh Ratna. Dua buah payudaranya yang sekel dan tampak mengacung itu memang tidak sebesar milik Ratna, tapi tetap aja sama-sama padat dan membulat sempurna. Kedua tubuh polos yang singset,ramping, dan sangat menggugah birahi setiap pria itu sudah siap untuk ditelan Rama. Atau Rama kah yang akan ditelan oleh keduanya?? Sedangkan Rama sendiri sudah sangat siap menghadapi kedua bidadari nakal itu. Kaos yang masih menempel ditubuhnya segera dia lucuti sendiri, sehingga kini terlihatlah ketiga tubuh telanjang bulat anak manusia yang siap untuk melakukan pesta. Pesta seks yang tentunya akan sangat nikmat dan menguras tenaga.“Gue duluan yaah, Say?” kata Ratna dengan wajah yang sudah dipenuhi nafsu kepada Olla.“Oke, Sweety. Take your time!” jawab Olla seraya mempersilahkan Ratna untuk menggali kenikmatan terlebih dahulu bersama Rama.Ratna langsung beringsut membuka dua tungkai kakinya, mengangkang, dan sedikit demi sedikit mulai menurunkan pinggulnya, lalu jemari tangannya yang lentik, yang berkutek biru memegang dan mengocok penis Rama beberapa kali sebelum mengarahkan masuk tepat pada lubang vaginanya yang mulus tanpa bulu jembut.“Auww!! Shhh!! Uugghhh!! Kerashh bang.ngetshh!!” Ratna memekik kecil dan langsung mendesah dengan kening mengerenyit ketika kepala penis Rama mulai menyusup di celah lipatan bibir vaginanya.“Ouughhh!! Sempiiit MbaakK, memm.. meekK nya.aahhh!!” lenguh Rama saat kepala penisnya perlahan-lahan terhimpit merasakan jepitan kuat bibir vagina Ratna yang mengempot-empot.
    Tak tahan melihat proses penetrasi yang dilakukan Rama atas Ratna, Olla langsung berbaring menyamping di sebelah Rama, dan menyodorkan buah dada mengkel miliknya ke mulut cowok dengan potongan rambut ala Andika Kangen Band yang menganga menahan nikmat, saat penisnya berusaha untuk menancap lebih dalam di vagina Ratna. Puting mungil Olla yang berwarna merah segar itu terus menggodanya sehingga Rama langsung mengulum dan menyeruput liar. Lidahnya meliuk lincah diatas gundukan payudara dan menguaskan rasa nikmat bagi pemiliknya. Sesekali karena gemas, maka digigit-gigit kecil puting imut itu.“Aaughh, Raammaaa!! Mmphh!! Nik.nikmaa.aaatt!!” Olla Ramlan mendesah nikmat.Pada saat yang hampir bersamaan, Ratna terus masih berusaha menyesuaikan kondisi kepala penis Rama yang sudah menyusupi di bibir vaginanya. Ditekannya pinggul itu ke bawah“SLEEPHHH!!”“Aauuwhh!!” pekik Ratna ketika setengah dari batang penis Rama yang dihiasi urat-urat itu tergelincir bertambah dalam.Ratna pun mencoba untuk mengerakkan tubuh seksinya naik turun secara perlahan dalam usahanya untuk membenamkan seluruh lonjoran penis Rama ke dalam vaginanya. Tubuhnya tampak menggeliat saat menahan sesuatu yang sedang membelah rongga kemaluannya.“Uughhh!! Yesshhh!! Mmphhfff!! Ke.kerashh se.sekaliii kon.tool nyaa.aaahh!!” Ratna mulai berucap vulgar disela-sela desahannya.“Mem.. Memeek, MbakK Rat.Ratna.aahhh! j.juga perr.eettt bang.ngetshh!! Oughh!!” balas Rama tatkala batangan penis kebanggaan yang selama ini dipuaskan oleh busa dari sabun Giiv itu tercelup seutuhnya ke dalam vagina Ratna yang gurih.Dara ayu yang sedang dihantam nikmatnya bersenggama itu langsung menggerakkan tubuh sedikit lebih cepat, menguleg-ulegkan vagina sempitnya itu untuk menggilas penis Rama yang menyesaki rongga alat kawinnya. Kedua jari tangan kiri dan kanan Ratna tampak gemas saat memilin kedua puting susu Rama seraya menaik-turunkan pinggulnya.“PLOOKK!.. PLOKK!.. CLEEPHH!.. CLEPPH!!” suara benturan pantat bahenol Ratna yang mulus berbenturan dengan selangkangan Rama tampak terdengar merdu.“Aaghhh!!..Aakhh!.. Uughhh!!.. Uughh!.. Shhh!!. Kon.tohll lu, kerrashh bangetsshhh!! Oughh yesshh!!” desah keenakan yang beruntun terus terucap tatkala Ratna menusukkan vaginanya untuk menyetubuhi penis Rama.Olla terlihat meneguk ludah saat kedua matanya memperhatikan penis Rama berulang kali membelah vagina Ratna. Ingin juga mendapatkan kenikmatan yang lebih, ia pun tanpa merasa malu dan sungkan langsung mengangkangkan vaginanya yang memerah basah oleh cairannya sendiri tepat di depan mulut Rama.“Lick my pussy! Lick my tight pussy, Ramaa!!” perintah Olla dengan wajah yang sayu menggairahkan.Rama terkekeh dengan ulah nakal Olla, dan langsung meluluskan permintaan artis cantik itu dengan menjulurkan lidahnya untuk menguas bibir vaginanya dari bawah ke atas berulang kali.“LHEEPHH!.. LHEPHH!!” lidah Rama pun langsung berkreatif dengan mencumbu clitoris Olla. Manuver lidahnya sangat lihai dan bervariasi. Kadang mengulik-kulik tonjolan daging sebesar kacang berwarna merah itu, sesekali pula lidahnya juga berputar melingkari clitoris Olla.
    Aroma khas vagina langsung menyeruak ke indera penciuman Rama. Sangat memabukkan meski bukanlah Black Label. Kedua telapak tangan Rama pun tak lupa dan tak tinggal diam untuk meremas-remas daging susu Olla serta memelintiri putingnya.“Ssshhh!! Uughhh!! Ram.Ramaaa, lu pinte.eerr bangetshhh! Terr.terruussshhh Ramaa.aaa, terusshh!! Aaaghh!!” Olla merengek-rengek minta agar vagina beserta isinya dijilat Rama.Meski dadanya sesak dan nafasnya terengah-engah dikarenakan oleh kedua tubuh bugil Bidadari cantik yang menunggangi tubuhnya secara bersamaan, Rama tetap berusaha memanjakan vagina Olla dengan tarian lidahnya yang terus berdansa di sepanjang celah vagina, dan menyedot clitoris yang semakin membengkak. Rama juga meng-kaku-kan lidah, dan mulai menusukkannya ke dalam lubang vagina yang bibirnya sudah direnggangkan oleh jari lentik Olla sendiri.“Aaa.aaghhh shitt!! Uughh yeshh! Mmphhff!! G.guee.eee haa.aampirrr.. Ouughh! Aaghh!!” erang Olla terbata-bata dan terus menggoyang serta menguleg-kan pantat berpinggul bahenol seiring gerakan lidah kaku Rama yang keluar masuk menyetubuhi vaginanya“G.Guee.eee!! guee.eee, dapettshhh!! Aaa..aaakkhhhhh!!!!! Shiiittt!!” Olla berteriak kencang. Artis cantik itu mendesah panjang, tubuhnya yang mulus berkilat karena peluh itu berkelojotan dan menggelinjang. Vagina peretnya yang mengedut itu dihentak-hentakkannya dimulut Rama.“SHEEERR!.. SSHEEEEERR!!!.. SSHHEEEEEERRRRRRR!” cairan orgasme Olla pun sukses mengucur mengalir keluar dari celah lipatan bibir vaginanya yang terus mengedut berwarna merah. Walau terlihat gelagapan, Rama tetap bersemangat untuk menghisap dan menyeruput setiap tetes cairan gurih yang diproduksi oleh vagina Olla.“Nikmaat bangeet, Ramaa.. Uughhh!!” ucap Olla ngos-ngosan dan nampak puas dengan orgasme pertamanya.“Enaak, Mbak Olla?? Hehee..” tanya iseng Rama dengan wajah merem melek karena batang penisnya masih terus kena uleg oleh vagina Ratna.“Bangeetshhh!! Jawab Olla seraya merundukkan tubuh telanjangnya, sehingga dua buah payudaranya yang kenyal itu menggelantung menimpa wajah Rama. Berasa anget dan liciiin.“Auww!! Auww!! Uughh!!” pekik Olla tiba-tiba dan menolehkan kepalanya ke belakang.Karena posisinya yang merunduk itu otomatis pantat Olla yang membulat putih menghadap ke arah Ratna, dan dengan iseng Ratna pun mencolok-colokkan jari telunjuknya ke dalam vagina Olla yang sedang basah dan merekah setelah mendapatkan orgasme.“Hihihiii.. Duuh yang udah ngeluarin pejuuu.. Heeghh!” ujar Ratna dengan kikikan keledainya seraya memutar-mutarkan jari telunjuknya yang tenggelam di dalam vagina Olla, semakin lebih dalam lagi.
    “Uuughh, Raaaat!! Sshhh!!” desis Olla dengan tubuh bergetar.“PLOOPHH” Ratna pun mengeluarkan jari telunjuknya dari dalam vagina Olla. Jarinya tampak mengkilat basah terkena cairan orgasme teman sejawatnya itu, dan tanpa ragu dengan memasang wajah yang sangat bitchy, dikelamutinya jari telunjuknya sendiri. Uuughhh!! Ga nahaaan.Sampai detik ini Ratna masih bersemangat memompa kontol Rama untuk menjajah keperetan kemaluannya. Permainan otot-otot kegel dari vaginanya pun membuat batang penis Rama serasa digigit dan diremas-remas dengan kuat. Variasi serangan dari Ratna juga sangat menggetarkan seluruh tubuh Rama. Kadang kala Ratna memompakan penis yang tengah membelah tubuhnya itu sambil mengulegkan bongkahan pantat bohaynya. WaoW!! Sungguh liar dan sangat binal gerak olah tubuh seksi Ratna. 10 menit berselang, Ratna menghentak dan menancapkan dalam-dalam lonjoran penis Rama seluruhnya di dalam kemaluannya yang peret. Tubuhnya bergetar, dan mengejang kaku.“Aaarrghhhh!!! Ouughh yesshhh!! Aaakkhhh!!” gerungan suara yang keluar dari mulut cewek cantik itu menandakan bahwa dia sudah mendapat puncak orgasme seperti halnya OllaRama bisa merasakan adanya cairan hangat yang melelehi penisnya yang masih tertancam di dalam vagina Ratna.“PLOOPHH!!” Ratna melepas penis Rama yang masih perkasa mengacung keras, dan dia pun tumbang ke samping tubuh Rama.“Anjriiit!! Gue sebenernya udah mau ngecrot, untung bayang-bayang wajah jelek Sholihun sewaktu coli membuat gue bisa bertahan. Pokoknya harus bisa menikmati memek kedua artis ini sepuas mungkin.. ““Gilaa nih kontol. Kuaat bangeeet.” Puji Olla seraya mengocok penis Rama yang terasa licin.“Langsung yaa, Rama. Gue dah pengen banget nyicipin kontol..” imbuh Olla tanpa menunggu jawaban dari Rama.Kerena kulit punggungnya terasa panas setelah berbaring cukup lama dalam memuaskan hasrat Olla dan Ratna, maka Rama pun bangkit dan merebahkan tubuh putih berlekuk Olla Ramlan. Mengerti dan paham akan maksud Rama, Olla pun langsung mengangkangkan tungkai kakinya lebar-lebar. Waow!! Menggairahkan bangeeettt. Terlihat Rama meneguk ludah ketika memandang seonggok daging mentah yang berada di tengah-tengah kedua pangkal paha Olla. Setelah menempatkan posisi tubuhnya ditengah kedua paha Olla, Rama pun mengarahkan batang penisnya yang masih basah oleh cairan Ratna ke lubang senggama Olla. Dengan sekali tusukan dan sedikit hentakan, maka batang penisnya berhasil sukses amblas terbenam masuk ke vagina Olla.
    “BLEEEEESSHHHH!”“Adduu..uuhhh!! Auuwhh!! Aaghh!!” Olla memekik kemudian menggigit bibir bawah untuk menahan nyeri, pada saat penis karyawan SinemArt itu menghujam dalam sampai pangkal di dalam vaginanya.“Oouughhh!! Mem.meekk, Mba.aak Ollaa.aaahhh, pere..eetshhh bangettss..shhhh!!!” puji Rama tulus ketika merasakan jepitan yang sangat ketat dari rongga vagina yang bergerinjal lembut kepada batang penisnya.“Oooouuggghhhhh, Ramaaaa!! Per.riiihhhhh!!” rengek Olla merasakan sensasi perih pada kewanitaannya.Olla mengerenyitkan kening dan menyipitkan kedua matanya. Kepalanya menggeleng kekanan dan ke kiri menahan nikmat pada saat Rama mulai mengayuhkan pinggulnya untuk memompa vaginanya.“Oughh! Oughh!! Aaaghh! Aaghhh!! Mmphhfff!!” desah seksi Olla terdengar seiring gerakan Rama yang maju mundur menyodokkan penisnya.Kepala Olla yang tadinya menggeleng kekanan dan kekiri kini berubah menjadi mendongak ke atas, bersamaan dengan mulut Rama yang melahap dan mencumbu sepasang buah dadanya yang berayun-ayun menggemaskan seirama dengan gerakan tubuhnya yang terhentak oleh goyang pinggul Rama, ketika menusukkan penisnya.“Aahhh!! Mmphff!! Sshhhh!! Uughhh!!” desahannya semakin tak karuan, kedua tangannya mencengkeram kain sprei. Sesekali pandangan matanya yang sayu menatap wajah Rama yang mengakibatkan darah muda dan gairahnya semakin terbakar hebat.“PLOOK!.. PLOOOKKK!!.. PLOOKK!.. PLOOOKHHH!!” suara benturan selangkangan Rama yang menumbuk selangkangan Olla nyaring terdengar. Kantung buah pelir Rama pun ikut menepuk-nepuk lubang anal Olla yang terlihat terawat bersih dan berbulu halus. Rama menegakkan tubuh, kemudian mengangkat sepasang tungkai kaki Olla, meletakkannya di atas pundak, dan langsung mengocok vagina peret itu melalui pompaannya.“Sshhh! Mba.aak Ollaa.. Uughhh!!” ceracau Rama saat merasakan batang penisnya di sedot-sedot vagina artis cantik yang masih men-janda itu.“En.naakK yahh? Heeghh!” ucap Olla seraya mengetatkan cengkeraman otot vaginanya pada batang penis Rama.“Aaaghhhh Mbaa.aakKKK!!” jerit Rama ketika penisnya terbetot hebat.Ratna beranjak bangkit dari rebahan, setelah mendapati puncak orgasmenya tadi. Artis muda yang tak kalah cantik dengan Olla itu pun segera menarik kepala dan menghadapkan wajah Rama ke arah sepasang payudaranya yang kenyal. Ditaruhnya muka Rama di tengah belahan dadanya, dan segera Ratna pun menggilingkan buah dadanya yang membusung itu menggilas wajah Rama dengan cara mengeser-geserkan dada ke kanan dan ke kiri.“Ooughh yeaahhh!! Ter.terrusshhh Ram.Ramaa.aahhh!! Uughh!!.. Sshh!!” desah Ratna penuh rasa nikmat ketika payudaranya dihisap dan dikelomoh oleh mulut Rama.Sementara mulut dan lidahnya menikmati hangatnya payudara Ratna, pinggulnya pun masih tetap menggoyang dan menyetubuhi Olla dengan cepat.“CLEEPHH!.. CLEEEPHHH!!.. CLEEPHH!!”Tak berapa lama kemudian, Olla terlihat mendongakkan kepala semakin tinggi dan menjerit kuat.
    “AAA..AAGGHHH!! GU.GUEE.EE DAPEEEETT!!.. AAA.AAGHH!! SSHHH!! U..UDAAH DULU RAM.MAA.. UUGHH!!.. UDAAAH, UDAAH! STOOPP!”  Olla meminta Rama menghentikan kocokan penisnya, akan tetapi Rama yang tahu akan rasa nikmat saat penis yang sedang mengocok vagina yang tengah berkedut mencapai puncak orgasme adalah yang ternikmat, maka cowok penggemar barang-barang distro itu pun tak menggubris perintah Olla. Terus dan tetap mengocok juga memompakan penisnya dalam-dalam dengan full speed, seraya mulutnya men-cupangi bongkahan daging payudara Olla.“CROOOPHH!.. CROOOPHHH!!.. CROPHH!!. CCROOOOPHHH!”Suara vagina yang terojok batang penis, yang sekarang tengah banjir oleh cairan pemiliknya sendiri itu terdengar menyayat gairah.“Aaaghhh shitt!! Sshhh!!” ceracauan Olla seperti orang gila.Tubuhnya yang telanjang bulat dan berkilat penuh peluh itu terus menghentak kesana kemari, menggelinjang liar tak beraturan mana kala penis Rama masih tiada henti dalam menghunjam keperetan vaginanya yang sekarang tampak memerah bengkak.“OUUGHH YEESHHH!! GUEE.EE DAPPEETHH LAGII.IIHHHH!! AAA.AAARRGGHHHH!!!!” lolongan panjang penuh kepuasan nan menggidikkan pun terucap dari mulut Olla saat puncak orgasme meluluhlantakkan dirinya lagi.Rama mendiamkan penisnya sesaat, untuk merasakan kedutan dan empotan hangat yang kuat dari otot-otot vagina Olla, sebelum akhirnya mencabutnya.“PLOOOPHHH!!” dan diikuti leleran peju Olla yang mengalir keluar. Rama sudah sinting dan tidak bisa mengendalikan nafsunya lagi, maka Ratna yang sedang tertegun dengan orgasme dahsyat Olla itu segera dimintanya untuk nungging.“Anjriiitttt! Kuat bangeet sih kontol lu, Ram..” ujar Ratna terkagum-kagum seraya memposisikan pantatnya menungging untuk dikawin Rama dari arah belakang.“Hehehee.. Latihan rutin laah, Mbak..” sahut Rama singkat.Rama juga tidak menyangka kalo ternyata efek dari latihannya selama bertahun-tahun akan memberikan kekuatan penisnya untuk bertahan lebih lama dalam bercinta. Setiap kali pipis, Rama selalu menahan 5 detik, kemudian dikeluarkan sedikit, tahan lagi 5 detik, keluarkan lagi, tahan lagi 5detik, keluarkan lagi dan selalu begitu seterusnya.“Eeh bentar, posisinya gini aja biar deh biar makin ngonakin. Hihihiii..” kata Ratna nakal seraya menunggingkan pantat semoknya menghadap Rama dengan posisi tubuh merangkak di atas tubuh bugil Olla yang licin berkeringat.“Uughh!! Gila lu, Rat.” Sahut Olla saat mengetahui polah Ratna.
    Rama tertegun dengan posisi yang sedang dilakukan cewek cantik itu, dimana kedua vagina peret saling berdekatan satu sama lain. Yang satu mulus tanpa bulu jembut, yang satunya lagi berbulu halus membentuk segitiga dengan celah yang basah memerah bengkak akibat sodokan batang penis Rama. Dengan binal, sesekali Ratna juga menggesekkan vagina tanpa bulu jembut miliknya di atas vagina Olla naik turun.“C’moon, boy!! Fuck me!! Sshhh!”“PLAAK.. PLAAAKK!” dan Ratna juga menampar-nampar bulatan buah pantatnya yang berkulit putih sebelah kanan.Rama tak mampu untuk berlama-lama lagi, cowok rantau itu segera menempelkan ujung kepala penisnya tepat di lubang vagina Ratna, yang dengan nakal juga malah menggoyang-goyangkan pantatnya. Dengan berpegangan pada pinggang ramping berkulit lembut cewek kelahiran Djogja itu, Rama pun langsung menancapkan penisnya yang berurat ke dalam vagina Ratna sekali hentak dengan gaya doggy syile. “SLEEEEEPPHHHH!” masuklah lonjoran batang penis Rama tertelan seutuhnya ke dalam vagina Ratna.“Oooghhh, Ram.maaa.aaa!!.. Uumphhfff!! Nghhh!!” rengekan manja dari Ratna terdengar bergetar.“Aaa.aaarrghhh, Mbaak Ratnaa.aa!! mem.meekK nyaa.aaahhh!! makiiin sem.sempiiitshhh!!!” kicau Rama yang merasakan bahwasanya jepitan vagina tanpa bulu itu semakin ketat.Setelah mendiamkan penisnya untuk merasakan pijatan-pijatan vagina Ratna, beberapa saat kemudian dengan masih berpegang pada pinggang Ratna yang licin terkena keringat, Rama pun menggerakkan dan menghunjamkan batang penisnya keluar masuk menyumpal vagina itu. Gerakannya cepat dan semakin bertambah cepat. Telapak tangannya mengusap bulir keringat yang menghias dikulit punggung Ratna yang putih mulus dan licin mengkilat terkena keringat.“Aaghh!!.. Uughhh!.. Aaaghh!!” Ratna yang cantik itu terus mendesah seirama dengan gerakan tubuh Rama yang menghentak dari belakang. Bongkahan pantatnya juga bergoyang erotis mengimbangi sodokan Rama. “PLOOK!.. PLOOK!!.. PLOOKKK!.. PLOOKKK!!” suara benturan seksi antara selangkangan Rama dengan pantat padet Ratna Galih pun tak terelakkan. Sembari menikmati vagina peretnya dipompa dari belakang, Ratna menengokkan kepala dan wajahnya ke belakang menatap raut muka Rama yang merem melek keenakan. Dengan gaya yang so bitchy, dimasukkan jari telunjuknya itu ke dalam mulut dan kemudian disedot juga dikelamutinya sambil tersenyum manja nan menggoda.“Ssshhhh! Uughhh!! Ram.maa.aaa!! en.naakK bangetshhh!!” ucap Ratna dalam desahan yang manja tatkala goyang pinggul Rama yang menghunjamkan batang penisnya sekanin keras dan cepat.“PLOOOPHH!!” setelah 20kali tusukan, dengan cepat Rama mencabut penisnya dari vagina Ratna, dan segera menancapkan ke dalam vagina Olla.
    “BLEESHHH!!”“Aaauughhhh!! Ram.Rammaa.aaa.. Gilaa.aaaa luu.uughh!!” jerit Olla yang terdengar panjang ketika dirinya tidak menyangka bahwa penis Rama akan kembali menyumbat dan memompanya.“Uughh!! Mba.aak Ollaa.. Mem.memmeekk nya liciiiiin!! Sshhh!!” desah Rama yang menggocekkan batang kemaluannya dengan cepat.25kali batang penisnya menghunjam dalam di vagina Olla. Dan tak lama kemudian..“PLOOOPHHH!!”“BLEESHHH!!!”“Ooughh yesshhh!! Ramaa.aaa!!” lenguh nikmat keluar dari mulut Ratna, saat vaginanya kembali tersumpal batang milik Rama dan langsung terkocok dengan cepaat.“SLEEPHHH!!.. SLEEEPHHH!!.. SLEEPHH!!.. SSLEEPPHHHH!!”Sekitar 7 menit berselang, karena sudah tak kuat dengan aura seksi dari sosok cantik yang bernama Ratna Galih, Rama pun mulai menggeram. Gerakan pinggulnya semakin kacau tak beraturan, dan penisnya pun bertambah besar di dalam kehangatan vagina sempit nan gurih kepunyaan dara ayu itu.“Mbaak Ratnaa.aaa!! Ram.maa.aa mau kelua.aargghhhh!! Uughh!” kata Rama gagu.“Bareeeng, Ra.Ramaaa!! Oughh yesshhh!!” sahut Ratna cepat.Dan akhirnya, saat-saat yang ditunggu Rama pun tiba…“AAA…AAKKHHHH!!!.. CROOTTHHH!!.. JRROOTHHH!!.. SHEERRRHHH!!!!.. SHEERHH!.. “SHEERRHHHH!.. CCROOOTTHHHH!!.. CROOTHH!!”Cairan sperma Rama segera mengguyur rahim Ratna dan cairan orgasme cewek seksi itu pun melelehi batang penis yang masih tertancap di dalamnya. Uughh hangaaat dan sangat nikmat. Tapi Rama buru-buru mencabut penisnya. “PLOOPHHH!!” dan mengarahkan penis yang basah penuh lendir itu ke mulut Olla yang tampak sudah menganga menunggu cairan kental dan hangat milik Rama.“CROOTH!.. CROOTHHH!.. CRROOTHH!” sisa sperma Rama yang tampak kental itu menyemprot masuk kedalam mulut mungil Olla dan segera ditelan, terbukti dari gerakan tenggorokannya yang naik turun tengah menelan sesuatu. Sementara sisa-sisa cairan peju yang berceceran di sudut bibir, dibersihkannya dengan menyapukan lidah yang menjulur keluar.“Huuft!! Akhirnya gue berhasil ngentot serta mejuhin memek dan mulut dari Bidadari favorit gue..” kata Rama dalam hati“Gila! Kuat banget sih lu, Rama. Puas banget deh ngentot sama lu, meski memek gue jadi nyeri nih..” puji Ratna dengan tubuh berbaring menelentang di atas kasur.“Iyaa neh. Ga nyangka juga gue, kalo ternyata Rama bener-bener mantap kontolnya. Gila!! Wah bakalan nagih nih..” timpal Olla seraya memeluk Rama.“Aahhh bisa aja Mbak Olla sama Mbak Ratna nih. Gak segitunya kale, Mbaak. Ya udah yuuk bobo abareng. Sini Rama kelonin biar anget, pules, dan mimpi indah. Besok kan kudu balik ke Jakarta.” Kata cowok beruntung bernama Rama ini dengan tarikan nafas mulai teratur.
    “Eeh, sebelum bobo, poto dulu yuuk..” celetuk Olla seraya mengambil handphone nya.“YuukK!!” sahut Ratna antusias, sedangkan Rama hanya tersenyum melihat ulah centil para bidadari.“Cheese!! Cekrekk! Cekrekk!!”Bak Raja Minyak yang diapit oleh selir-selir yang cantik, Rama pun diapit mesra oleh Olla Ramlan dan Ratna Galih. Setelah kelar berfoto-foto ria, Rama beringsut untuk mengatur posisi tubuhnya yang telentang senyaman mungkin, agar supaya kedua Bidadari cantik yang baru saja merelakan tubuh indahnya di gagahi cowok penyuka mentimun ini merasa nyaman dan damai dipelukannya.  Dengan masih bertelanjang bulat, ketiganya pun mulai menjemput impian.
    ######################
    Rama menjalani dua kehidupan yang berbeda dan dengan dua resiko yang berbeda pula. Sebagai mahasiswa dan sebagai karyawan serabutan. Kehidupan Rama di kota Jakarta berubah total semenjak dia mengambil kerja sampingan di PH milik Pak Robert. Perubahan dan putaran nasib yang begitu cepat, siapa sangka beberapa bulan yang lalu Rama tengah dilanda krisis keuangan dan nyaris aja putus kuliah karena Bapaknya yang tinggal di kampung halaman menghentikan kiriman uang.  Tapi, saat ini Rama lah yang senantiasa mengirimkan uang hasil ngobyeknya di SinemArt ke kampung. Bapaknya bersuka cita setelah diberi tahu oleh Rama bahwa dia sekarang bekerja sampingan di sebuah Production House sambil menyelesaikan kuliahnya di IKJ. Taraf kehidupan keluarganya di kampung pun beranjak membaik setelah kegagalan panen kala itu. Sebenarnya bukan cuma uang semata yang didapatkan Rama, kenikmatan surga dunia pun menghampiri dirinya setiap saat tanpa harus dia susah-susah mencarinya.  Surga dunia yang berupa tubuh-tubuh seksi yang sangat menggairahkan milik artis-artis cantik silih berganti menghampirinya. Tidak perlu menggunakan pelet atau mantra dari Mbah Dukun, melainkan dengan kemampuan intelektualnya dalam berkomunikasi, bersosialisasi, dan ketajaman ssi yang dimilikinya. Hmm.. Tentu juga dengan sedikit melancarkan akal bulus yang dia punya.“Kasian Sholihun coli melulu ngebayangin artis-artis idolanya. Gue yakin nasib kontolnya pasti suram. Hmm.. Besok gue ajak dia ber-threesome sama artis idolanya deh..” gumam Rama merasa sangat prihatin, ketika mendapati sohib kentalnya, Sholihun, tengah asyik coli seraya berfantasi dengan menatap lekat foto-foto seksi Nadine Candrawinata di dalam kamar kost.
    <Gambar terhenti perlahan><Close up: wajah Rama dan Sholihun><Layar: fade out to black><Back sound musik terdengar mengalun>
    Nasib anak kost tak kenalMengikuti mata kuliahYa nasib anak kost rajin belajarAgar hidup tak susah la yaw ya nasib
    Aku makan tiap hariKadang hanya makan miGimana nggak kurang gizi
    Wesel datang tak pastiIbu kost tak mau mengertiNagih sewa bulan ini ..
    Hidup sangat sedih.. uhhNasib anak kost ya nasib anak kost 2x
    Kupernah punya janjiKetemu dengan doiCewek kecenganku kini
    Kuketuk pintu pastiKeluar dosen waliTernyata pacar si doi
    Hidupku jadi sepi karenaMikir si doiSampai aku lupa mandi
    Badan bau terasiTak ada mahasiswi yang mau padaku ini .. uh
    Ingin bunuh diri uuuh.. nasib anak kostNasib anak kost..
    By: ClothingK

  • Dejavu, Second Chance??

    Dejavu, Second Chance??


    68 views

    Prologue

    Taman yang indah dengan air mancur di tengah-tengahnya, air mancur yang indah berbentuk seorang dewi yang menuangkan air dari gucinya dikelilingi oleh malaikat-malaikat kecil seperti cupid yang membawa busur dan anak panahnya. Pemandangan yang sangat familiar untuk Ellis, dia coba mengingat-ingat kapan dia menikmati pemandangan ini. Pikirannya menerawang kembali saat dia menimba ilmu di negri paman Sam, ini adalah taman kecil yang berada di salah satu sudut Central Park.
    Di tempat ini pula dia pertama kali bertemu dengan Jack, pria tampan yang mengisi hari-harinya dengan keceriaan dan tawa. Jack, pria berumur 29 tahun yang bekerja sebagai pengacara terkenal di kota new jersey yang selalu setia menemani Ellis dalam masa-masa susahnya dan membagi keceriaan bersamanya.

    “Jack … dimana kamu?” bisik Ellis lirih. 
    Ellis mulai merasakan ada sesuatu yang janggal, Central Park terasa sepi sekali, tidak ada kehidupan, tidak ada suara, tidak ada sirine polisi yang meraung tiap 5 menit, tidak ada tupai-tupai yang bermain dan tiada pula burung-burung yang rajin berkicau seakan menyampaikan gosip-gosip yang didengarnya. Tiba-tiba semuanya memudar, pandangan Ellis terasa kabur, kabut pekat seakan mengambang di depan matanya dan Ellis seakan terbawa oleh kabut ke sebuah ruangan. Seakan silau oleh lampu TL yang terang, Ellis menutupi matanya dan mulai memperhatikan keadaan sekitarnya, meja metal di tengah-tengah ruangan dengan dua kursi yang saling berhadapan, cermin besar di belakangnya. Meja itu terlihat kokoh dengan kaki-kakinya yang tertanam di lantai. Ruangan itu adalah ruang interogasi FBI tempatnya bekerja, tiba-tiba Ellis menyadari bahwa dia telah menamatkan akademi polisinya dengan gemilang dan langsung ditawari pekerjaan di FBI, di umurnya yang baru menginjak 21 dialah salah satu anggota FBI termuda. Ellis tidak hanya memiliki bakat menonjol, tubuhnya pun seindah patung Aphrodite di tengah-tengah Central Park. Lekukan tubuh yang sangat menggiurkan, ramping, kulitnya yang putih bersih dengan rambut hitam berkilat lurus mengembang sebahu dan selalu terlihat rapih. Dadanya termasuk cukup besar dengan ukuran 34D terlihat sangat menonjol apabila dibandingkan dengan ukuran tubuhnya yang termasuk ramping dengan perut rata dan cukup berotot.
    Ellis memiliki tubuh campuran baik dari wajahnya sampai bentuk tubuhnya, ayahnya berasal dari Jepang sedangkan ibunya adalah orang bule asli berambut pirang dengan tubuh yang tidak kalah menggiurkannya dengan anaknya. Ingatannya membawanya kembali ke saat-saat briefing akan adanya penyalahgunaan dan pencurian kartu kredit besar-besaran yang diduga bahwa pusatnya berada di salah satu negara Asia Tenggara. Tepatnya Indonesia dan dugaan semula bahwa jaringan itu besar sekali sampai mencakup seluruh Asia Tenggara. Cukup besar untuk menarik perhatian FBI karena tidak sedikit perusahaan asing yang terlibat didalamnya, claim asuransi dari bank-bank luar negri terkenal yang semakin menjamur membuat FBI mengirimkan agent-agent terbaiknya untuk menginfiltrasi dan membabat bos-bos dari jaringan network pencuri tersebut.Keberhasilan team Ellis di Thailand dan China membuat bangga FBI sehingga mereka tidak ragu lagi untuk membabat sampai ke pusatnya yaitu di Indonesia, yang merupakan kesalahan mereka yang terbesar ….

    ####################################
    Indonesia

    Team Ellis tiba di bandar udara Ahmad Yani Semarang dengan pesawat pribadi milik FBI, Fokker kecil bermotor jet ganda itu mendarat tanpa ada masalah sama sekali. FBI sudah menyewa sebuah gudang tua bertempat sedikit diluar kota, di tempat yang cukup sepi dan jauh dari kediaman. Dua buah mobil Mitsubishi Pajero Sport putih dan hitam tampak mendekati markas sementara FBI itu. Dari dalam Pajero Putih keluarlah 3 orang lelaki tegap, mereka mengenakan baju santai dan celana pendek, mereka adalah Chris dan Robert, rekan sekerja Ellis dan Bernard yang merupakan pilot Fokker itu. Dari dalam Pajero Hitam keluarlah Ellis dan 2 orang lelaki, yang satu bernama Patrick, dia adalah teknisi serba guna dan ahli network sedangkan yang satunya lagi bernama Wong, dia adalah orang Chinese blasteran yang lahir di Amerika. Wong adalah ahli komunikasi dan infiltrasi. Gudang itu cukup bersih walaupun pengap dan panas sekali karena memang tidak dilengkapi oleh AC. Berbeda dengan tempat persembunyian mereka sebelumya yang paling tidak dilengkapi AC di kamar tidurnya. Ellis membuka pintu depan dan memandang berkeliling. Gudang tua itu adalah bekas penyimpanan mobil rongsokan, tak heran apabila lantainya agak berbau oli. Gudang tersebut dibagi dua, sepertiga gudang itu adalah daerah tempat tinggal, terdapat dua kamar dengan dua buah ranjang besar, dapurnya terletak disebelah kamar dan di belakang dapur tersebut adalah kamar mandi dan WC yang menjadi satu.Setelah melihat sekeliling dan memberi instruksi pada anak buahnya, Ellis dan Bernard sang pilot berangkat menuju kota untuk membeli bekal dan alat-alat pembersih. Dengan berbekal peta yang penuh coretan dan tanda-tanda dari informan mereka yang menggambarkan dengan jelas dimana letak semua tempat-tempat penting di kota tersebut, mereka meninggalkan crew yang bekerja dengan cekatan untuk memasang semua peralatan mereka. Mobil putih itu meluncur menuju Simpang Lima, tanpa ada hambatan mereka mencapai tujuan dalam waktu sekitar setengah jam. Dengan mobil yang penuh sesak dijejali barang-barang belanjaan mereka yang luar biasa banyaknya itu mereka kembali meluncur ke tempat persembunyian mereka. Di tengah jalan mereka sempat membeli makan malam dan mereka meneruskan perjalanan kembali. Sesampainya di gudang tua itu merekapun bersama-sama menurunkan semua barang-barang belanjaan mereka, sebuah kulkas kecilpun tak lupa mereka beli. Ruangan kosong itu sudah berubah 180 derajat, kabel-kabel berkeliaran dimana-mana, meja-meja sudah dipenuhi oleh peralatan elektronik yang terhubung dengan pemancar satelit militer yang terpasang diatap gudang itu. Keesokan harinya operasi pembasmian dimulai, dengan modus operandi yang sama seperti operasi sebelumnya yang membuahkan hasil gemilang, mereka memulai dari mencari informasi. Setelah merasa mendapatkan cukup informasi, mereka memulai proses infiltrasi, dengan berlaku seolah-olah mereka busines group dari luar negri yang juga bergerak di bidang pencurian kartu kredit, mereka ingin bekerja sama dan hanya mau berbicara dengan pimpinan pusat.

    Abah Rohmat
    Abah Rohmat

    Pimpinan tertinggi jaringan itu adalah Abah Rohmat, seorang lelaki di umur sekitar 55 tahunan, rambutnya sudah mulai beruban, tubuhnya tegap dan penuh bekas luka, wajahnya buruk dan terkesan galak. Dia adalah pimpinan yang disegani anak buahnya, terlihat sekali bahwa wibawanya tinggi terhadap bawahannya. Hal itu membuat Ellis dan timnya yakin sekali bahwa apabila mereka berhasil membabat Abah Rohmat, jaringan itu pasti langsung bubar. Pajero sport hitam itu melaju menerobos malam, Ellis dan Chris berbincang-bincang membahas skenario penyergapan dan pembunuhan Abah Rohmat, mereka sudah membina hubungan yang cukup kuat menurut mereka, lagipula mereka sudah berada di Indonesia selama 3 bulan, pimpinan pusat FBI sudah beberapa kali menanyakan kapan mereka akan mendengar hasil misi ini. Mereka cukup memahami bahwa ini adalah operasi yang sangat berbahaya, oleh karena itu pula mereka ingin misi ini segera berakhir dari kedua belah pihak, baik pusat maupun team Ellis.
    “Guys, kalian sudah sia …..” napas Ellis tercekap saat dia membuka pintu gudang dan mendapati gudang itu berantakan, alat-alat canggih mereka hancur berantakan dan yang lebih mengejutkan lagi adalah cipratan darah segar dimana-mana.
    Tiba-tiba Ellis merasakan pukulan di tengkuknya dan selanjutnya semua menjadi gelap. Ellis merasakan kepalanya terasa berat, kesadarannya mulai pulih kembali. Dengan mengerjap-erjapkan matanya Ellis mencoba membiasakan diri dengan ruangan yang terlihat asing baginya. Dia merasa aneh pada dirinya, pakaian yang dikenakannya sudah hilang entah dimana, Ellis hanya mengenakan G-string hitam yang hampir tidak menutupi apa-apa, payudaranya yang besar dan tegak menantang dengan putingnya dan aerolanya yang merah muda terekspos, udara di ruangan itu terasa panas dan pengap, tak ada jendela satu pun disana, dia mengira-ira bahwa dia disekap di ruangan bawah tanah.Dia melihat di dinding sebelah kanannya ada ranjang besi tanpa kaki-kaki yang terlihat rapat dengan dinding di belakangnya, di keempat sudutnya ada ikatan dari kulit. Tak jauh dari ranjang itu terdapat kuda-kuda kayu dengan rantai-rantai di atasnya. Pada kuda-kuda itu terdapat alat yang dapat bergetar dengan tonjolan-tonjolan kecil dari karet. Ada pula pasung dan masih banyak lagi alat-alat yang membuat Ellis bergidik.
    “Ah rupanya bidadari satu ini sudah siuman, kalian anjing-anjing FBI mengira bahwa kalian itu pandai ya? Hahahahaha …” terdengar tawa Abah Rohmat dengan nada yang jelas-jelas menghina.
    Abah Rohmat terlihat memasuki ruangan itu bersama dua orang bawahannya. Mereka memasuki ruangan hanya dengan mengenakan celana dalam, bawahan Abah Rohmat yang satu bertampang sama buruknya dengan Abah Rohmat tetapi buncit dan yang satunya lagi terlihat kurus dan bertubuh lebih tinggi dari keduanya, tampangnya tidak lebih baik dari keduanya, kulit mereka sama-sama hitam karena sering terbakar matahari.
    “Semenjak kedatangan kalian di Indonesia kami sudah memata-matai kalian, harus kuakui kalian cukup hebat karena dapat menggulung partner kami di Thailand dan China. Rupanya kalian sudah terlalu berbangga diri sehingga kalian cukup lengah, atau memang kalian memang bodoh?”
    “Apa … apa yang terjadi dengan rekan-rekanku?” tanya Ellis
    “Jangan khawatir, mereka sudah kukirim ke alam baka, kami ingin informasi dan hal itu bisa kami dapatkan darimu” jawab Abah Rohmat.
    “Oh Tuhan … kalian memang biadab!” teriak Ellis sambil menangis setelah mengetahui kalau semua rekan-rekannya sudah dibunuh oleh Abah Rohmat.
    “Sekarang kamu akan memberi tahu kami akses kode ke database FBI, posisimu cukup tinggi jadi kamu pasti memiliki clearance yang lumayan tinggi, sebutkan nama pengguna dan kata sandinya!!” hardik Abah Rohmat.

    Jali
    Jali

    Ellis terkejut karena Abah Rohmat tahu bahwa dirinya cukup berpangkat di FBI, dengan clearance level milik Ellis, Abah Rohmat bisa saja dengan mudah menghapus nama-nama yang termasuk daftar cekal FBI atau mereka juga bisa membuat nama-nama tertentu masuk dalam daftar special FBI sehingga mereka tidak perlu melewati custom atau memiliki visa untuk dapat masuk ke negri paman Sam. Sadar dengan apa yang mereka mungkin rencanakan, Ellis memutuskan untuk menutup mulutnya. Gemas karena Ellis tidak menjawab pertanyaan yang diajukannya, Abah Rohmat memerintahkan si buncit Daro dan si tinggi Jali untuk membawa Ellis ke arah kuda-kuda kayu dan mengikat kedua tangan Ellis menjadi satu dengan borgol rantai yang tergantung diatas kuda-kuda tersebut. Kaki Ellis berlutut mengangkangi kuda-kuda itu, celana dalamnya sudah dirobek-robek sehingga vaginanya langsung menyentuh karet bergerinjal-gerinjal itu, kedua tangannya terikat keatas dan dengan posisi tersebut payudara Ellis terlihat semakin tegak mencuat kencang menantang. Dengan hanya menjentikkan jarinya Daro dan Jali sudah tahu bahwa mereka boleh melakukan apa saja yang mereka inginkan. Abah Rohmat sendiri mengambil tempat duduk di depan mereka dan sambil menikmati tontonan di depannya tangannya mengusap-usap penisnya yang mulai terangsang. Daro mulai menjilati putting payudara Ellis dan sekali-kali digigit-gigitnya puting yang tegak menantang itu sementara Jali mengambil sebuah kotak yang seperti remote itu dan mulai memutar tombol yang bertuliskan vibration.
    “Hkkkk …. Eeehhhmmmmm ….. mmmmhhhh ….” 
    Nafas Ellis tercekat karena dia mulai merasakan rasa nikmat dari puting payudaranya yang digigiti Daro dan juga dari karet di vaginanya yang mulai bergetar perlahan-lahan. Jali yang tidak puas dengan ekspresi Ellis segera memutar tombol vibration hingga setengah kekuatan dan memutar tombol yang bertuliskan heater juga sampai setengahnya. Ellis mulai tidak tahan untuk tidak mengerang seiring dengan getaran yang makin menguat dan dia mulai merasakan vaginanya mulai panas. Butir-butir keringat terlihat bertonjolan di sekujur tubuh putih mulus yang menggeliat-geliat dalam rangsangan-rangsangan kenikmatan yang di terimanya secara bertubi-tubi. Jali menempatkan diri di belakang Ellis dan tangannya meremasi payudara Ellis yang kini bebas karena Daro sudah melepaskan kulumannya dari puting Ellis dan sekarang melumat bibir Ellis yang merekah karena menahan gejolak birahinya. Ellis yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan lelaki mulai blingsatan dan tubuhnya terasa sensitif sekali. Tangan-tangan Jali dan Daro yang menggerayangi tubuhnya yang putih mulus mengkilat berkeringat itu semakin cepat membawanya ke gerbang orgasme. Jari jemari Daro tidak tinggal diam, klitoris Ellis yang sudah membengkak di usap-usapnya sambil sesekali di pencet-pencetnya klitoris Ellis yang membuat yang empunya mengerang-erang dengan penuh kenikmatan.
    “OOHHHH….. AAAHHHH…. AAARRGGGHHHHH….. SHHH ….. HHGGHHHH…..” Teriakan keras Ellis menggaung di ruangan itu, setelah 15 menit penuh dengan rangsangan-rangsangan akhirnya Ellis tidak tahan lagi dan orgasme pertamanya pun meledak dengan kuatnya. Punggungnya menekuk membusur, kuluman Daro terlepas hingga Daro terjungkal ke belakang, begitu pula Jali yang saking kagetnya sampai mengumpat-umpat sambil meloncat ke belakang. Abah Rohmat tertawa tergelak-gelak melihat pertunjukan yang menggelikan itu. 

    Sementara tubuh Ellis terlihat mengejang-ejang selama satu menit dan akhirnya tergolek lemas, Ellis merasakan sakit di pergelangan tangannya yang terborgol dan menopang tubuhnya.
    “Jali, kita harus memberi tamu kita pelayanan kita yang sebaik-baiknya” kata Abah sambil jari telunjuknya mengungkit keatas seperti memberi kode.
    Jali yang mengerti maksudnya segera memungut remote kuda-kuda itu dan memutar semua tombol kontrolnya ke maksimum. Kuda-kuda itu segera bergetar dengan dahsyatnya, begitu pula pemanasnya semakin terasa panas. Tubuh Ellis tersentak kaget, Ellis berteriak-teriak seperti orang gila karena vaginanya yang sudah terasa sensitif itu kini dirangsang dengan ganasnya oleh mesin kuda-kuda itu, kepalanya menengadah, pergelangan tangannya terasa sakit oleh borgol yang membelenggu tangannya. Butiran-butiran peluh terlihat membanjiri tubuh basah mengkilat itu bagaikan anak sungai yang berlomba-lomba menuruni gunung, kaki Ellis bergetar-getar oleh rangsangan-rangsangan itu.
    “OOHHHH … TIDDDAAAKKKK …. AAAAHHHHH …. AARRRGGGHHH …. GGGHHH …. HHHHAAAHHHHHH….. UUUGGHHHHHHH…. AAAAAAAAAAA ….” Akhirnya Ellis mendapatkan orgasme susulannya setelah 6 menit mesin itu berpacu merangsang Ellis, orgasme yang tak kunjung reda selama 5 menit selanjutnya benar-benar terlihat dampaknya pada tubuh Ellis, seakan-akan tubuhnya menginginkan yang lebih lagi, orgasme demi orgasme menghantam Ellis bagaikan palu yang seakan-akan ingin meluluh lantakkan tubuhnya dan hampir merenggut kesadarannya.
    Abah menjentikkan jarinya dan Daro serta Jali segera mematikan mesin itu dan membebaskan pergelangan tangan Ellis. Dengan nafas terengah-engah dan tubuh yang masih bergetar-getar Ellis segera ambruk setelah tidak ada lagi yang menyangga tubuhnya.
    Abah Rohmat yang sudah bugil itu menghampiri tubuh basah bersimbah keringat itu, mengangkatnya untuk memindahkannya ke kasur yang ada di lantai itu. Kepala Ellis bersandar di dada Abah sementara tangan Abah sibuk meremasi payudara Ellis.
    “Wah kenyal sekali, nikmat sekali wanita ini” kata Abah sambil lidahnya menjilati leher Ellis yang bermandikan keringat itu. Ellis hanya dapat mengerang lirih ketika jari jemari Abah menggosok-gosok vaginanya dan memencet-mencet klitorisnya sementara lidahnya sudah turun ke ketiak Ellis dan merambati payudaranya dan akhirnya mengenyoti puting payudara Ellis.
    “AAAHHHHH …..” teriakan Ellis terdengar pilu saat Abah menggigit kuat-kuat puting payudara Ellis. Abah yang sudah dibakar nafsu akhirnya mengubah posisi dan mendudukkan Ellis berhadap-hadapan dengannya, kepala penisnya perlahan-lahan membelah vagina Ellis saat tubuh Ellis yang licin melorot dari pelukan Abah.
    “Ahhh … hmmmm ….. nnggghhhh ….” Kenikmatan yang dirasakan vagina Ellis yang dirojok oleh penis yang kokoh, besar dan panjang itu ternyata direspon secara tak terduga oleh tubuh Ellis.
     Tanpa disadarinya tubuhnya bergerak sendiri mencari kenikmatannya, dengan kakinya menjepit pinggul Abah Rohmat, tubuh Ellis bergerak naik turun menggenjot penis Abah yang serasa dijepit dengan kencangnya oleh liang surgawi milik gadis muda itu. Daro dan Jali yang tidak mau ketinggalan segera menempatkan diri mereka di sekeliling Abah bagaikan anjing yang meminta jatah makanan.

    Setelah 15 menit dengan posisi saling menunggang, Abah membalik tubuh Ellis dan Abah Rohmat berbaring tiduran sementara Ellis mengulum penis Abah dengan mulutnya. Jali mengangkangi Ellis dengan penisnya menggosok-gosok punggung Ellis sambil kedua tangannya meremasi payudara Ellis yang menggantung bebas.
    “Hmmmhhh … hhhmmmm …. Mmmm ….” Ellis hanya bisa mengerang-erang penuh kenikmatan saat vaginanya disodok-sodok dengan kencang dari belakang oleh Daro. Payudaranya terpental-pental maju mundur oleh gerakan Daro yang lumayan brutal, Jali tidak tahan lagi dan meremas-remas buntalan payudara Ellis dengan gemasnya. Tangan Abah merenggut rambut Ellis dan memaksa kepala Ellis untuk maju mundur lebih cepat lagi, Ellis pun berkali-kali tersedak dan menggapai-gapai mencari udara saat kepalanya terbenam di selangkangan Abah dan penis Abah merojok tenggorokannya. Daro berbaring sambil penisnya masih tetap mengocok vagina Ellis dan Jali mengambil posisi di belakang Ellis, tanpa ampun lagi penisnya merojok masuk membelah anus Ellis yang masih kering disertai oleh teriakan Ellis yang teredam penis Abah. Abah sendiri merasa lebih nikmat karena getaran-getaran yang ditimbulkan oleh tenggorokan Ellis. Posisi itu bertahan selama 20 menit dan sementara ketiga pria itu belum juga mendapatkan orgasmenya, Ellis sendiri sudah 4 kali orgasme, tubuhnya berkali-kali mengejang dan menggeliat dalam kenikmatan. Akhirnya Ellis tidak tahan lagi oleh siksaan kenikmatan yang diterimanya secara bertubi-tubi dan dengan satu erangan keras Ellis mencapai orgasme kelima dan terkuatnya.
    “HHHHOOOOOHHHHH …. AAAAHHGGHHHHH ….. UHHNMMHHHH ….” punggung Ellis melengkung ke atas, keringatnya yang membanjir menetes-netes dari dagu, puting dan perutnya menghujani tubuh Abah yang berada di bawahnya.
    Mata Ellis mendelik ke atas dan kulumannya pada penis Abah terlepas, pada saat yang sama ketiga pemerkosanya juga mendapatkan orgasme mereka, punggung Ellis terhujani sperma Jali, mukanya terhujani sperma Abah dan dari vaginanya menetes sperma Daro yang tidak tertampung lagi saking banyaknya. Setelah orgasme panjangnya, Ellis pun ambruk tergeletak tak sadarkan diri. Ketiga pemerkosanya hanya tertawa tergelak-gelak sambil meludahi tubuh Ellis yang terkapar terengah-engah bersimbah keringat dan sperma ketiga pemerkosanya. Ellis merasa dunia berputar dan dia melihat tubuhnya yang pingsan dan bermandikan keringat itu digotong oleh Jali dan Daro ke ruangan kecil dengan satu selang air, tubuhnya yang tak sadarkan diri itu disemprot air oleh keduanya dan dibersihkan dari keringat dan sperma. Ellis mendengar percakapan mereka dengan jelas.
    “Wah pegawai FBI ternyata nikmat juga ya?” 
    “Dengan tubuh seperti ini pasti dia tidak ada masalah naik pangkat, cukup ngentotin bosnya, hahahaha …”
    “Wah abah masih belum puas nih sepertinya, dia belum mendapatkan kode sandinya, jangan-jangan dia akan mengalami siksaan ranjang?”

    Daro
    Daro

    Lalu semuanya kembali gelap dan berputar-putar, saat Ellis membuka matanya, tubuhnya sudah terikat terlentang berdiri dengan ranjang besi tanpa kasur itu menempel di punggungnya. Tubuh Ellis terasa bersih, rupanya selama dia tidak sadarkan diri, tubuhnya yang lengket karena sprema dan keringatnya maupun keringat para pemerkosa itu sudah dibersihkan.
    “Sudah bangun rupanya, banyak yang takluk di siksaan ranjang, mari kita lihat apakah kamu bisa bertahan, ha ha ha ha ….” Abah tertawa-tawa hingga perutnya yang buncit terlihat terguncang-guncang.
    Abah mencengkeram belakang rambut Ellis dan wajahnya tiba-tiba terlihat bengis, nafasnya terasa berhembus di pipi Ellis.
    “Aku beri kamu kesempatan terakhir sebelum menjalani siksaan yang lebih ganas lagi, sebutkan kata sandi database FBI atau kita lihat seberapa tahannya dirimu.”
    “Aku tak akan menghianati kepercayaan dan negaraku, you all can go to hell for all I care!” Ellis menolak memberikan kata sandi kepada Abah, hal itu benar-benar membuat Abah marah besar.
    “Jali! Pegangi wanita jalang ini, sebentar lagi dia akan menjadi pelacur paling rendah, ha ha ha” Jali yang kelihatannya sudah tidak asing lagi dengan penyiksaan ini langsung tahu bahwa dia harus memegangi kepala Ellis sementara Daro memegangi lengan Ellis.
    Abah mengambil tabung yang berisi cairan bening, menusukkan jarum suntik melalui membran karet yang menjaga agar isinya tetap steril dan mengisi tabung suntik itu dengan cairan bening tersebut. Setelah penuh dan memastikan bahwa tidak ada lagi udara dalam tabung maupun jarum suntik itu, Abah mendekati Ellis dan menusukkan jarum suntik itu ke leher Ellis, langsung ke aortanya. Abah mengosongkan isi tabung suntik itu diiringi oleh mata Jali dan Daro yang terbelalak melihat hal itu, rupanya dosis yang diberikan pada Ellis kali ini melebihi dosis biasa. Ellis merasa tubuhnya aneh, keringat mulai membanjir keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya, tubuhnya terasa gatal ingin disentuh. Putingnya mencuat keluar lebih kencang daripada biasanya, klitorisnya mengembang dan terasa gatal pula. Kepalanya terasa pening bukan main. Ellis mulai menggeliat-geliat resah, tangannya sudah ingin menyentuh tubuhnya sendiri, meremas-remas payudaranya dan menggosok vaginanya tetapi posisi tubuhnya yang terikat erat membuatnya tak berdaya. Jali terlihat memasuki ruangan sambi membawa dildo besar berwarna hitam yang ditancapkan pada gergaji listrik sehingga jika gergaji tersebut dinyalakan dildo itu juga akan ikut bergerak maju mundur dengan kecepatan tinggi. Cairan vagina Ellis sudah membanjir keluar karena afrodisiac yang disuntikkan pada tubuhnya membuat dildo itu masuk dengan mudahnya menembus liang vaginanya.
    “HHHGGG …. Aaahhhh …. aaahhhhh ….. aaaahhhhhhh” Ellis tercekat dan berteriak-teriak ketika dildo itu dinyalakan dan mulai mengocok vaginanya dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu singkat Ellis sudah mendapatkan orgasme berturut-turut yang tidak dapat diredam karena dildo itu terus mengocok vaginanya. Keringatnya sudah menetes-netes membasahi lantai dibawahnya, tubuhnya bergetar-getar tanpa dapat dikontrol. Ketika dildo itu berhenti Ellis sudah tidak kuat lagi berdiri, tubuhnya ambruk dengan lemas dengan hanya bergantung pada kedua tangannya yang terikat di ranjang besi itu.

    Selama satu jam berikutnya siksaan demi siksaan terus diterima Ellis, mereka entah melumat-lumat payudaranya, menempelkan alat pijat getar di putingnya dan klitorisnya, bahkan mengocok vagina Ellis dengan dildo yang ditempelkan pada mesin bor listrik.
    Vaginanya sudah memar-memar dan terlihat membengkak karena siksaan demi siksaan yang terus diterimanya, orgasme demi orgasme yang menghantam makin menjebloskan Ellis ke dalam lembah kelam. Akhirnya semua menjadi gelap bagi Ellis  
    Tik. Tik tik tik. Tik…, air hujan mengguyur semakin deras, ellis merasakan tubuhnya serasa remuk, lelah, putus asa menghinggapi dirinya tapi ia tetap bertahan walaupun sudah kesulitan untuk membuka kedua matanya.
    Abah memaki panjang lebar, “sialan, brengsek.., masih tetap membandel..!! Jali.. ikat dia…,kita lanjutkan besok…!!! ” dengan kasar Jali mengikat kedua tangan ellis kebelakang, “besok ?? !! tapi bah… saya masih pengen…” Jali cengengesan. “ Ahh, terserah…, aku capek” Abah tidak mempedulikan Jali dan daro dan meninggalkan mereka.
    “Stop it, pleaseee, no more, no more…” Ellis memohon
    “haaaa ?? !! no more ?? di film – film juga biasanya mah cewe bule kuat begituan.. iya ngak ro…?” 
    “Bener , malahan bisa ngadepin banyak cowo…, di genjot sana sini, jungkir balik kaya akrobat…”
    “Hssssshhhh ouchhhh…its hurtt” Ellis meringis saat Jali menjewer gemas bibir vaginanya.
    “Ngaha ha ha ha ha…, sakit ya…, kalo ngak mau sakit, nihhh lu isep batang gw” Tangan Jali menjambak rambut dan menarik kepala ellis agar segera melakukan “tugasnya”, sementara Daro merenggangkan kedua paha ellis , mulut Daro mengecup ngecup paha ellis bagian dalam dan terus naik mengejar selangkangan ellis, mulut Daro terbuka lebar kemudian bagaikan seekor ikan hiu ganas yang kelaparan ia menerkam vagina gadis itu, melumat liar dan menghisap rakus menikmati cairan lendir lendir vagina ellis yang menggeliat lemah saat nafsu birahinya kembali bergolak semakin panas.
    “Hmmmoufffhhh, hmmmouufffhhhhh” kedua mata Ellis mendelik delik saat batang Jali mendesak masuk kedalam tenggorokannya, 
    Mata Jali merem melek akibat rasa nikmat saat dinding tengggorokan Ellis berkontraksi kuat meremas – remas benda panjang di selangkangan laki laki itu. Daro mulai mengambil posisi menyerang, kedua kaki ellis mengangkang keatas dicengkram oleh tangan daro, batang yang berurat itu kembali menempel di vagina ellis, dengan sekali sodok Daro membenamkan batang kemaluannya tubuh moleknya yang bersimbah peluh berpeluk kembali terguncang dengan hebat saat batang milik Daro melesat keluar masuk mengocoki belahan sempit diselangkangan gadis itu yang memar kemerahan, aura mesum menyelimuti ketiga orang yang tengah asik “bekerja”

    “No more!!, no more dimulut doang..!!! he he he, buktinya sekarang lu ketagihan ngisepin kontol gue kan… nga ha ha ha ha”Jali keenakan saat Ellis menjilati batang kemaluannya, batang lidah ellis seperti sedang mengikir menjelajahi lekukan – lekukan “topi” diselangkangannya, kemudian mulutnya bergerak turun naik mengecupi batang perkasa yang semakin menegang.
    “ahhh, ahhhhh crettt crrrrrttttt” wajah ellis merona menahan nikmatnya gelombang klimaks , bibirnya meringis menikmati sentakan kuat aliran nafsu yang menggebu merayapi urat-urat syaraf disekujur tubuhnya hingga ia menggigil hebat.
    Bagaikan gila tiba tiba Daro dan Jali menerkam Ellis, mereka menyusu dengan rakus sambil menggerayangi lekuk liku tubuh si gadis, buah ranum yang empuk empuk kenyal di dada ellis menjadi santapan bagi kerakusan dua orang laki laki liar yang berebut menikmati kehangatan tubuhnya, erangan dan rintihan lirih ellis menjadi pemicu kegarangan jali dengan kasar Jali menyeret ellis dan memposisikan tubuh gadis itu menungging, ujung kemaluan jali mencongkel congkel belahan Vagina yang berlendir kemudian mangarah pada kerutan lubang anus yang mengkerut saat ujung benda diselangkangan Jali menoelnya.
    “BLOSSSHHHHH….”
    “HEGGGHHH Akhhhhhh…, AOWWWWW,, Amphunn aWwwwwkkkkhhh, .”
    Pedih sekali rasanya saat batang Jali merangsek kasar, jeritan dan erangan silih berganti keluar dari bibir ellis , tanpa ampun Jali menghentak hentakkan batangnya menyodomi ellis, kedua tangan jali mencengkram kuat kuat pinggangnya yang ramping, pekikan dan jerit kesakitan memanjakan telinga jali yang asik menunggangi ellis sementara Daro meraih dan meremas-remas buah dada Ellis yang terayun mengikuti irama sodokan kasar penis Jali.
    “Uhhh, Auggghhh heeennnggghhh aaaaaa…..”
    Sambil menarik tubuh Ellis, Jali menjatuhkan diri ke belakang, Mata Daro melotot melihat belahan Vagina Ellis yang merekah sementara batang Jali menancap kuat pada lubang anusnya, dengan senyuman mesum Daro mulai bergerak mensandwich Ellis.
    “Oooooo, Ooooohhhhhhhh….”
    “HA HA HA HA HA…”
    Suara lenguhan keras ellis disambut oleh suara tawa bejat Jali dan Daro, liang anus dan liang Vagina Ellis menyempit diisi sesak oleh dua batang yang berusaha bergerak dengan susah payah, merayap berusaha masuk lebih dalam kedalam “sarungnya” masing masing, dengus nafas yang memburu terdengar keras , suara lenguhan tertahan mendirikan bulu roma dan geliatan lemah seorang gadis bertubuh putih  molek terlihat indah di antara jepitan tubuh – tubuh berkulit gelap yang tengah menikmatinya.
    “ohhhhhhhh cruttt crutttt…nnggggghhh” entah untuk yang ke seberapa kali Ellis mencapai puncak klimaks sementara Jali dan Daro masih sibuk mengasah batang kemaluannya menikmati anus dan vagina sicantik hingga akhirnya terasa semburan lahar panas dan pelukan kuat kedua laki-laki itu yang seakan ingin melumat keindahan tubuh yang lunglai tak berdaya dan akhirnya ketiganya terengah dengan nafas tersenggal.

    “Ellisss.. Ellissss…”
    Antara sadar dan tidak Ellis membuka kedua matanya, ia seperti mendengar suara Jack, 
    “Jjaccckk. Toloooonggg akuuu…”
    “Ellis…, ikut aku.. Ellisss…”
    “aku tidak sanggup Jack, aku kesakitan, lelahhh…, sakit sekali Jackk”
    “Ayo Ellis.. ayoooo…, aku tahu kau sanggup Ellis..”
    Entah mendapat kekuatan dari mana tiba – tiba ellis berontak, sikunya menghantam ke belakang pada leher Jali sementara tinjunya mengarah pada dada Daro, Jali yang masih termegap hanya dapat mengeluh keras kemudian terkapar pingsan, sementara Daro terjungkal kebelakang “BRUKKKKK…”
    “sialan….. “ 
    Bagaikan macan betina Ellis menerkam Daro, kedua tangannya meelingkari leher laki-laki itu dan lututnya menghantam tepat keselangkangannya, “DUGGG…” “HUUUUNGGGGHHH” Daro melenguh keras, kedua matanya melotot dan kedua tangannya menekap sesuatu yang menggantung di selangkangan.
    “Ellis.., Ellis..”
    “j-jackkk.. kau dimana ?? Ohhhh…”
    Dengan tubuh tergontai Ellis berpegangan pada dinding, dengan hati-hati ia menaiki anak tangga, 
    “krokkkk.. krokkkk.. kroooooook” suara orang yang sedang mengorok terdengar semakin keras, ellis mengendap memungut botol bir kosong , dengan sekali kemplang, disikatnya kepala Abar yang mendelik terbangun dari tidurnya”BUKKKKKKK “ 
    “hegggghhhh croottttttt….” Abah mengalami mimpi basah yang ngak tuntas karena sudah keburu kelenger.
    “ellisssss… ELLLISSSSS….” suara jack yang memanggil terdengar semakin jelas, 
    Ellis menolehkan kepalanya kearah kaca jendela, seraut wajah di balik jendela seperti membuat semangat dan tenaganya pulih, “Itu JACK”, kaki Ellis melangkah semakin cepat mengejar sosok bayangan Jack, aneh..!! berapa cepatpun ia berusaha mengejar, sosok Jack yang terlihat berjalan tetap tidak terkejar olehnya hingga suatu saat dan di suatu tempat, Jack berhenti.
    “J-jack.. hhh .. aku rindu sekali… akuu…”Ellis memeluk Jack erat-erat dan dengan lembut Jack membalas pelukannya, detik demi detik berjalan lambat seolah memberikan kesempatan bagi kedua insan untuk saling melepas kerinduan, 
    “Ohhh…!” Ellis seperti teringat sesuatu, Jack masih hidup ?? bukankah ?? karena terkejut Ellis melepaskan pelukannya dan mundur ke belakang, ingatannya seolah menyadarkan ellis, akan sesuatu, kontan saja Ellis pucat pasi.

    “NEW YORK —  A US Airways jet crash  Thursday between Manhattan and New Jersey after a flock of birds apparently struck its engines —  no one Survived” dan salah seorang korbannya adalah Jack.

    “Jack ?? bukankan kau sudah….”
    “Diitttttttt…… “Dengan spontan Ellis menoleh ke arah kanan, matanya silau oleh lampu sebuah mobil yang melaju kencang, dan…………
    “Ellis.. Ellis…?? “
    “Jack ?? “
    “Apakah kau baik-baik saja ??”
    “aku ?? ini ? ini dimana Jack ?”
    “Lohhh… ?? apakah kau lupa empat ini ? ini tempat dimana kita pertama kali bertemu…, benar- benar keterlaluan…, mana hidungmu biar aku cubit… ha ha ha” jack mencubit hidung ellis yang mancung, karena ellis yang masih terdiam dan pucat pasi , jack menghentikan candaannya, dengan nada khawatir jack kembali bertanya 
    “Ellis…??whats wrong ? Are you ok ? “
    “i…, no., noo, I,m ok, fine..”
    Seorang pelayan memecah keheningan, menu ini, adalah menu yang sama dengan ingatan Ellis, makan malam yang romantis bersama Jack, semuanya seperti diputar ulang dan Ellis dapat mengingatnya, ia merasa pernah mengalami hal yang sama.

    ——————
    Dejavu : meaning “all over again”) is the experience of feeling sure that one has already witnessed or experienced a current situation 
    ———————
    Dan kini lampu berubah redup, Jack berdiri di atas panggung dan bernyanyi dengan suara emasnya.”Unchained melody” ya lagu itu lagu kesukaan Ellis.

    Oh, my love my darling I’ve hungered for your touch  a long lonely time  and time goes by so slowly and time can do so much are you still mine? I need your love I need your love  Godspeed your love to me  
    Lonely rivers flow to the sea, to the sea  to the open arms of the sea lonely rivers sigh ‘wait for me, wait for me’  I’ll be coming home wait for me   
    Oh, my love my darling  I’ve hungered for your touch  a long lonely time  and time goes by so slowly  and time can do so much are you still mine? I need your love I need your loveGodspeed your love to me
    Jack menghampiri Ellis dan berlutut, sebuah cincin , ya Ellis melihat sebuah cincin 
    “Ellis.., jadilah istriku..”
    “maaf Jack.., aku.. akuu…”
    “kenapa ? apakah kau tidak mencintaiku ?”
    “Bukan itu….”
    Kejadian hari itu kembali berulang, Ellis kembali harus memilih, antara karier dan cinta, apakah ia akan menerima cinta Jack hari itu ataukah ia akan memilih untuk menjadi agen FBI, cita-citanya yang diperjuangkan dengan keras dan kini ada di depan mata.
    “aku belum siap Jack.. aku…”
    “Tidak apa. Apa sayang… aku mengerti…” Jack tersenyum dan kemudian mengecup kening Ellis, canda dan tawa saling berganti dalam kemesraan yang membuat iri orang yang melihatnya, Jack yang jauh dari kata tampan tampak mesra dengan Ellis yang cantik menggoda. Kulit Jack yang hitam tampak kontras dengan kulit Ellis yang putih, keduanya bergandengan tangan menuju mobil, Jack mengantar ellis pulang entah kenapa semakin lama Ellis semakin gelisah. Ia tambah gelisah saat Jack berencana naik pesawat terbang, apakah kejadian itu akan berulang kembali, apakah kesepian yang mendalam itu akan benar-benar terjadi?? Setengah jam kemudian mereka sampai dirumah Ellis.
    “yaaa.., tadinya jika kamu menerima lamaranku, aku berencana mengajakmu menemui pamanku di ranch miliknya, setelah orang tuaku meninggal, hanya dialah satu-satunya yang menjagaku selama ini…., tapi… rencana berubah… “
    “maafkan aku Jack….”. batin Ellis berkecamuk 
    “no, no, its okay, I will always love …, and waiting for you.” Jack mengecup kening Ellis kemudian ia turun dan mengantarnya sampai ke depan pintu rumah gadis cantik itu, Dari depan pintu rumah Ellis terus menatap punggung Jack yang akan masuk ke dalam mobil
    “Jackkkk.. tunggu…..”
    “Ellis ? “
    “Aku menerima lamaranmu Jack.. aku …”
    “ohhh Elllis…..sungguhkah ?”
    “ya Jack.., Sungguh….” 

    Di kemudian hari , ellis duduk dengan santai dikursi sofa , jantungnya berdebar keras saat melihat tajuk utama koran hari ini …

    “NEW YORK —  A US Airways jet crash  Thursday between Manhattan and New Jersey after a flock of birds apparently struck its engines —  no one Survived”

    “Good morning…” seseorang keluar dari dalam kamar
    “morning jack…”Ellis balas menyapa, ia tersenyum
    Jack batal menjadi pengacara dan membantu pamannya mengurus sebuah ranch yang kini berkembang dengan pesat. Seorang negro bertubuh kekar memeluk tubuh putih yang sedang duduk santai di sofa dengan hanya mengenakan g-string berwarna merah. 
    “You’re so sexy, baby …” Jack memuji Ellis sambil tangannya meremas payudara putih berputing merah muda yang kenyal dan padat itu dengan disertai erangan lembut sang empunya. 
    Ellis memalingkan wajahnya dan bibirnya yang merah ranum berpagutan dengan bibir tebal Jack, keduanya saling memagut dalam gairah, lidah mereka saling bertemu, membelit dan bertarung. Tangan Ellis melingkar di leher Jack dan menariknya tiduran di sofa. Dua sejoli itu memadu cinta sepanjang hari bagaikan tiada hari akhir, saling menikmati setiap detik yang mereka miliki.

    Mungkingkah dejavu adalah kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang kita lakukan ??  the answers is yours…

    Minami & Yohanna

  • Dewi Menaklukkan Empat Perampok

    Dewi Menaklukkan Empat Perampok


    67 views
    Hujan deras di malam ini membuat semua orang malas untuk pergi keluar, suasana malam ini sangat dingin semakin menambah alasan untuk orang-orang tidak pergi keluar rumah, begitupula dengan suasana sekitar rumah Dewi, para tetangga kiri-kanan dan di depan rumah Dewipun enggan untuk keluar rumah, tidak ada satupun dari para satpam yang meninggalkan pos jaga mereka, tidak seperti biasanya mereka selalu terlihat mengobrol di jalanan komplek perumahan mewah itu. Ternyata tidak semua orang malas berada di luar rumah, sebuah mobil minibus berjalan perlahan memasuki komplek perumahan mewah itu, tidak ada seorangpun yang menyadari mobil itu memasuki komplek perumahan mewah itu, karena derasnya hujan sehingga suara mobil itu tidak terdengar oleh seorangpun apalagi lampu mobil itu tidak dinyalakan, seolah-olah sedang mencari alamat ke empat orang di dalam mobil itupun menengok ke kiri dan kanan jalan, terlihat mobil itupun berhenti di depan rumah Dewi.
    “Nampaknya rumah ini yang paling bagus, boss,” kata salah satu orang di dalam mobil itu.
    “Hhmmmm…. Rumah baguskan belum tentu isinya bagus juga,” kata orang yang dipanggil boss.
    “Tapi boss, kita coba dulu masuk ke situ kalau tidak bagus kita pindah ke rumah yang lainnya,” sahut yang satunya lagi.
    “Hhhmmm…baiklah… kita coba masuk kerumah yang ini dulu, baru kalau tidak bagus kita pindah ke rumah yang lainnya, gua jalanin ilmu sirep gua, hhhmmmm..kalau gua jalanin dari sini dengan rumah-rumah sebesar ini paling ilmu gua bisa bikin tidur sekitar 10 rumah, jadi kita harus gerak cepat kalau tidak ada yang bagus dalam rumah ini, ilmu gua bisa bertahan hanya sampai subuh saja, begitu kedengaran adzan subuh ilmu gua pasti hilang pengaruhnya, sekarang jam 9 malam jadi waktu kita lumayan banyak, untuk masuk ke setiap rumah-rumah yang kena pengaruh ilmu sirep gua,” kata orang yang dipanggil boss itu.
    “Beres Boss,” kata ketiga orang lainnya serempak.
    Terlihat sang Boss mulutnya berkumat-kamit merapal ajian ilmu sirepnya, di dalam pos jaga, Marno dan Dayat yang kebetulan sedang tugas di malam ini terlihat sedang asyik menonton acara TV, keduanya terlihat tertawa-tawa menyaksikan lawakan-lawakan di acara TV tersebut, mereka tidak menyadari kehadiran sebuah mobil di depan rumah Dewi ini, karena suara hujan yang keras berjatuhan di genteng pos mereka yang kadang-kadang dibarengi suara guntur yang menggelegar serta suara TV mereka yang keras. Tak lama mulai terlihat Marno dan Dayat menguap berkali-kali, kantuk mulai menyerang mereka, kelopak mata mereka terasa berat, tanpa mereka sadari keduanya jatuh tertidur dengan lelapnya, mereka berdua sudah terpengaruh oleh ilmu sirep yang dilancarkan orang yang di dalam mobil minibus itu.

    Saat mobil minibus itu berhenti di depan rumah Dewi, Dewi baru saja selesai mandi dan sedang memakai cream malam di depan meja riasnya, tubuhnya yang seksipun belum mengenakan satu helai kainpun, selesai memakai cream malamnya Dewi merasakan kantuk yang sangat kuat menyerang dirinya, dia merasakan kelopak matanya sangat berat untuk dibuka, karena sudah tidak tahan lagi akhirnya diapun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang bulat, terlihat Dewi sudah tertidur dengan lelapnya, Dewi sudah tidak memperdulikan dirinya belum mengenakan pakaian tidurnya karena rasa kantuknya yang sangat kuat mendera dirinya ini. Rasa kantuk yang sangat kuat ini dirasakan pula oleh para pembantunya, merekapun tertidur dengan lelapnya, bukan hanya orang-orang di rumah Dewi saja yang terserang kantuk yang sangat kuat itu, tetapi orang-orang di rumah-rumah di sekitar rumah Dewipun terserang rasa kantuk ini dan merekapun jatuh tertidur tanpa menyadari bahwa mereka semua telah terkena ajian sirep orang yang di dalam mobil minibus itu. Kira-kira seperempat jam setelah melancarkan ajian sirepnya, salah satu dari keempat orang itu keluar dari mobil dengan mengenakan payung, orang tersebut perlahan-lahan menghampiri gerbang rumah Dewi, dari celah pintu gerbang orang tersebut mengintip keadaan di balik pintu gerbang itu, matanya langsung tertuju kearah pos satpam, dan orang tersebut melihat ke dua satpam rumah Dewi sudah terkulai, orang inipun tersenyum lalu tanganya menyusup masuk ke dalam pintu gerbang kecil itu dan menarik grendel pintu gerbang kecil itu, diapun masuk ke dalam gerbang, setelah berada di dalam dia menutup pintu gerbang kecil itu, orang tersebut menuju ke pos satpam dan memastikan bahwa ke dua orang satpam yang ia lihat itu benar-benar tertidur, setelah yakin kedua satpam itu tertidur pulas, dia lalu membuka pintu gerbang utama rumah Dewi dan memberi tanda kepada orang di dalam mobil untuk memasukkan mobilnya. Mobil minibus itupun memasuki pekarangan rumah Dewi, orang itupun menutup kemabli pintu gerbang utama rumah Dewi setelah mobil minibus itu berada di dalam pekarangan rumah Dewi, sang sopir memarkir mobilnya di bawah awning di depan garasi rumah Dewi, terlihat setelah menutup pintu gerbang utama itu orang tersebut segera menghampiri ketiga rekannya yang saat itu keluar dari mobil.
    “hehehehehe…hebat boss, ilmumu hebat, pada ngorok dach tuch satpam, perlu gua ikat gak boss,” kata orang itu.
    “hehehehehe…iyach dong gak percuma gua berguru sepuluh tahun, gak perlu mereka gak akan bangun biar ada gempa sekalipun, mereka semua bisa terbangun kalau mendengar adzan subuh saja, dan tidak akan menyadari bahwa mereka baru saja terkena ajian gua,” kata si Boss.
    “Ayo sekarang kita masuki rumah ini, kita lakukan dengan cepat, kalau hasilnya kurang memuaskan, kita bisa garap rumah yang lainnya,” lanjut si Boss.
    “Siap boss,” ketiga orang itu menjawab serempak.
    Ke empat orang itu mulai memasuki rumah Dewi melalui pintu garasinya, satu per satu ruangan di rumah Dewi mereka masuki dan mereka periksa semuanya tanpa terlewat, satu per satu setiap lemari dan laci mereka geledah, mereka menggeledah dengan teliti tanpa mengobrak-abrik isi dari lemari atau laci, nampaknya mereka sudah sering melakukan perampokan, terlihat dari cara mereka yang tenang tidak tergesa-gesa dan tidak mengobrak-abrik isi lemari atau laci, sehingga si empunya baru menyadari mereka kerampokan adalah saat mereka membutuhkan barang-barang mereka, dan nampaknya juga mereka tidak memperdulikan dengan barang-barang elektronik, yang mereka incar adalah perhiasan-perhiasan.

    Ruangan demi ruangan telah selesai mereka geledah, perhiasan yang telah mereka dapatkan saat ini tidaklah terlalu banyak karena mereka hanya mendapatkan dari kamar anak tirinya Dewi dan dari ruang kerjanya saja, terlihat wajah mereka menampakkan kekecewaan dengan hasil yang telah mereka peroleh saat ini, yang tertinggal belum mereka geledah hanya 1 ruangan lagi, dan ruangan itu adalah kamar tidurnya Dewi, mereka berempat sangat berharap dari ruangan yang tersisa ini mereka akan mendapatkan lebih banyak lagi perhiasan agar mereka tidak perlu menjarah rumah-rumah yang lainnya, 1 rumah sudah cukup untuk malam ini bila mereka memperoleh perhiasan yang cukup untuk dibagi berempat. Ke empat orang inipun bergegas masuk kedalam kamar tidur Dewi, orang terakhir menutup pintu kamar tidur Dewi dan menguncinya, mereka selalu melakukan hal tersebut sekedar berjaga-jaga saja apabila ada orang yang terbangun dari ajian boss mereka walaupun boss mereka bilang bahwa tidak ada yang bangun sebelum adzan subuh, saat ke empat orang itu menyusup masuk ke dalam kamar tidur Dewi itu, mereka menjadi tertegun saat melihat di atas tempat tidur tergolek sesosok tubuh wanita telanjang, ke empatnya hampir berbarengan menelan air liur mereka masing-masing. Ke empat pasang mata mereka terbelalak saat melihat tubuh telanjang Dewi, mereka melihat sepasang bukit kembar Dewi yang mengkal seperti tak pernah tersentuh oleh tangan lelaki bergerak perlahan naik turun seiring dengan nafas Dewi yang sedang terlelap tidur, mereka juga melihat gundukan hitam yang terawat di atas belahan vaginanya, kemaluan mereka segera menggeliat bangun melihat pemandangan seperti ini yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka. Keempat orang ini bukanlah baru pertama kali melihat perempuan telanjang, sudah sering mereka melihat tubuh-tubuh telanjang, tapi baru pertama kali ini mereka melihat tubuh telanjang yang semulus ini dan kedua payudaranya yang sangat indah, ke empat orang ini berpandangan mata, di wajah mereka tersungging senyuman, nampak ke empat orang itu menghampiri tempat tidur Dewi, rupanya mereka lupa dengan tujuan mereka yaitu merampok rumah Dewi ini, saat ini dalam pikiran mereka adalah ingin melampiaskan nafsu birahi mereka pada tubuh telanjang Dewi, ke empat orang ini bagaikan singa-singa lapar yang mendapatkan suguhan daging yang siap di santap, tanpa ada yang memberi aba-aba ke empat orang itu serempak melucuti pakaian yang mereka kenakan. Dengan tubuh yang sudah telanjang bulat dan dengan kemaluan yang sudah berdiri ngaceng, ke empatnya kembali berpandangan sambil menyeringai, malam ini mereka mendapatkan durian runtuh karena mereka akan menikmati tubuh mulus si empunya rumah, mereka tahu bahwa tubuh telanjang yang berada di depan mata mereka adalan si empunya rumah karena mereka lihat dari bentuk dan besarnya kamar tidur ini, tapi yang mereka tidak sangka adalah si empunya rumah ini sangat cantik dan memiliki tubuh yang seksi, dan secara kebetulan juga mereka mendapatkan nyonya rumah ini tertidur dalam keadaan telanjang bulat serta sendirian di kamar tidurnya.


    rampok
    Amir, Abdul, Komar & si Boss

    Tubuh telanjang ke empat orang itu dengan senjata masing-masing yang teracung menghampiri tubuh telanjang Dewi yang sedang terlelap tidur, tubuh Dewi dengan mudah mereka geser ke tengah tempat tidur, salah satu dari ke empat orang itu yang selalu dipanggil boss oleh yang lainnya segera menghampiri bagian bawah tubuh Dewi, kedua kakinya Dewi di buka lebar-lebar, sehingga bibir vagina Dewi terpampang dengan jelas oleh mata mereka, kedua tangan si boss mulai merambah bibir vagina Dewi dan mulai menguakkan vagina Dewi, sehingga lubang senggama Dewi yang berwarna merah muda terpampang di mata si boss rampok itu, terlihat lubang senggama Dewi begitu kecil si bosspun menyeringai melihat hal itu.
    “Gila…lubang memeknya masih rapet nich, kecil bener seperti lubang memek perawan aja,” kata si Boss.
    “masa sich boss, dia kan punya suami masa lubang memeknya kecil,” kata si orang yang membuka pintu gerbang.
    “Loe lihat aja sendiri kalau gak percaya Dul,” kata si boss.
    “Hahahaha…si Abdul bukan gak percaya boss, tapi dia pengen lihat tuch,” kata orang yang satunya lagi.
    “Ehhh…kan bukan gua aja yang pengen lihat, loe sama si komar pasti pengen juga lihat kan,” kata si Abdul.
    “Lha kalau gua sih pasti pengen lihat yang di bilang si boss, kalau si Amir sich gak mau lihat, hehehehe…dia sih mau masukin kontolnya aja tuch,” kata si Komar
    “hehehe…kalau itu sich pasti, tapi gua juga penasaran ama perkataan si boss tuch, masa sich orang yang punya suami lubang memeknya kecil, seperti gak pernah dientot aja ama lakinya,” kata si Amir.
    “Ckckckckkckck…..” ketiga orang itu berdecak setelah menyaksikan lubang memek Dewi yang betul-betul kecil seperti tidak pernah di terobos kemaluan lelaki saja.
    “Khan…bener yang gua bilang, ini suaminya pasti udah impoten, punya istri bahenol seperti begini gak pernah dipakai,” kata si Boss.
    “kita aja yang bantuin suaminya boss, biar nich nyonya bisa ngerasain enaknya di entot,” kata si Abdul.
    “Hehehehe….tenang Dul, gua dulu baru udah gitu giliran kalian ngerasain nich memek,” kata si boss.
    “Untuk sekarang kalian nikmatin saja dulu minuman pembukanya, giliran jangan rebutan,” kata si boss sambil menunjuk kedua payudara Dewi.
    Komar, Amir dan Abdul berunding menentukan siapa yang duluan mengenyot-ngenyot susu Dewi, akhirnya mereka memutuskan Amir dan Komar yang bertugas mengenyoti payudara Dewi sementara Abdul kebagian bibir Dewi, Dewi mendesah dalam tidurnya saat kedua mulut Amir dan Komar menyerang kedua buah dadanya, Amir menyerang payudara Dewi yang sebelah kiri sementara yang sebelah kanan di serbu dengan penuh nafsu oleh Komar, kedua orang itu menghisap-hisap kedua putingnya Dewi dengan rakus sementara tangan merekapun tidak mau ketinggalan meremas-remas payudaranya yang mengkal.

    “Hhhhmmmm…sslrrrpppp….gilaaaa…bosss…teteknya aja masih mengkal bener nich… hhmmmm…sssllrrrppp..hhhmmm…sslrrrppp….tetek perawan aja kalah mengkalnya…. Hhhmmmm…ssllrrrppp….kayanya nich tetek di kasih silikon nich,” kata Amir di tengah kesibukannya menghisap-hisap payudara Dewi.
    “Iyaachhh…bosss…bener…kata si Amir…wuiiihhh…beruntung bener nich kita malam ini,” Komar menimpali perkataan Amir.
    “yach udah nikmatin aja rejeki nomplok ini, gak akan ketemu dua kali yang model beginian sich, gua mau nikmatin ngejilat memeknya yang sempit,” kata si boss.
    Lidah si boss mulai menjulur ke bibir vagina Dewi, dengan penuh nafsu bibir vagina Dewi mulai dijilatinya, diselingi dengan hisapan-hisapan lembut di kelentitnya Dewi, terdengar Dewi mendesah kembali di dalam tidurnya, suara desahan Dewi bercampur aduk dengan suara sruputan ketiga orang itu yang sedang asyik menghisap-hisap kedua tetek dan kelentit Dewi, sementara Abdul hanya pasrah mendapatkan bibir Dewi, dia hanya bisa mengoles-oleskan kemaluannya di bibir Dewi yang sedang mendesah, entah Dewi sedang bermimpi apa saat ini. Kedua putingnya Dewipun sudah mencuat, karena hisapan Amir dan Komar, kedua putingnya itu sudah mengeras, lidah Amir dan Komarpun menari-nari di kedua putingnya Dewi itu, sementara si bosspun melihat kelentitnya Dewi sudah menongol keluar dari persembunyiannya akibat hisapan-hisapannya, memek Dewipun sudah mulai basah oleh air ludah si boss dan cairan precumnya Dewi, si boss sudah merasakan vagina Dewi yang sedang di jilatinya itu mengeluarkan cairan precumnya, karena lidahnya sudah merasakan vagina itu menjadi asin.
    “hhhmmmm….sslllrrrppp….gila…nich..memek..wangi bener…gurih lagi rasanya…bener-bener jarang dipake nich memek….kasihan bener nich cewek..gak pernah disentuh ama lakinya….” Kata si boss di tengah kesibukannya menjilati vagina dan menghisap klitoris DewiSi boss tidak tahu bahwa vagina Dewi sudah mendapatkan servis dari Ki Jaya sehingga vaginanya seperti tidak pernah dipake dan memeknya selalu wangi.
    “Boss, gimana kalau ini cewek boss bikin sadar, biar punya gua bisa diemut-emut mulutnya nich,” kata Abdul.
    “Sabar Dul, nanti juga dia akan sadar sendiri, ilmu sirep gua bukan hanya sirna kalau ngedengin adzan subuh tapi juga hilang dengan sendirinya bila yang terkena ilmu sirep gua, lubang memeknya dimasukin kontol gua, jadi sabar ntar begitu kontol gua mulai masuk ke dalam lubang memeknya, dia akan sadar dengan sendirinya,” jelas si boss.
    “Yach udah cepet masukin tuch kontol, biar kontol gua juga bisa ngerasain diemut-emut bibir nich cewek,” kata Abdul lagi.
    “hehehehehe…gak sabaran bener loe,” kata si boss.
    Si bosspun mulai bersimpuh di depan selangkangan Dewi, dia mulai mengarahkan kemaluannya ke vagina Dewi, kepala penisnya mulai ia selipkan di belahan vagina Dewi,
    Sssllleeeeeeppppppp….nampak kepala penisnya mulai hilang dalam jepitan vagina Dewi, si boss melenguh panjang bersamaan dengan lenguhan Dewi yang masih tertidur itu.
    “ooouuugghhhhh….gilaaaa….memeknya bener-bener rapet….,” lenguh si Boss merasakan jepitan vagina Dewi yang sangat ketat menjepit kepala penisnya.
    Kedua tangan si boss mulai memegangi bagian dalam paha Dewi dan menekannya keluar sehingga kedua kaki Dewi semakin mengangkang, lalu dengan perlahan dia mulai melesakkan penisnya menerobos lubang senggama Dewi, si boss merasakan betapa sempitnya lubang senggama Dewi ini, dinding vaginanya menempel ketat pada batang kemaluannya, si boss ini merasakan enak yang sangat luar biasa, lenguhan panjangnya terdengar saat dia menekan masuk kemaluannya itu.
    “Ooooooooohhhhhh…mak dirodok, memeknya peret sekali…..ooooohhhhhhhh…kontol gua …oooooooooohhhhh….kejepit sekali……” lenguh si boss.
    Betul apa yang dibilang si boss, saat kemaluan si boss mulai menerobos lubang vagina Dewi, perlahan-lahan Dewi mulai membuka matanya dan Dewi terkejut saat melihat tubuh telanjang Abdul dan batang kemaluannya yang menempel di bibirnya, ia berusaha bergerak tapi usahanya sia-sia karena tubuh, tangan dan kakinya berada dalam cengkraman ke 4 orang itu, Dewi baru menyadari bahwa bukan hanya Abdul saja yang ada dalam ruangan ini, tetapi ada 3 orang lagi yang berada dalam ruangan ini dan tubuh merekapun tanpa penutup sehelai kainpun. Dewi heran dengan kehadiran ke empat orang tak dikenal ini di kamar tidurnya dan dalam keadaan bertelanjang bulat, dan ia bertambah heran karena saat ini dia merasakan lubang vaginanya tersumpal oleh kemaluan salah satu dari keempat orang ini, dalam hatinya dia sebetulnya merasa senang karena malam ini vaginanya sedang tersumpal oleh kemaluan lelaki, tapi dia pura-pura berontak mencoba untuk melepaskan sumpalan kemaluan tersebut di lubang vaginanya, tapi rontaannya tidak membuahkan hasil karena ke empat orang ini memegangi dengan kuat, tubuh mereka tidaklah besar tapi berotot dan keempat tubuh mereka banyak dihiasi dengan tatoo, wajah mereka semua sangat menyeramkan jauh dari tampan, Dewi menyadari bahwa rumahnya saat ini kemasukan perampok yang saat ini sedang berada di dalam kamar tidurnya, dan salah satu dari mereka sedang membenamkan kemaluannya ke dalam lubang vaginanya.
    “Eeeehhh…mau apa kalian….lepaskan aku…jangan…jangan…tolong ambil yang kalian mau tapi jangan perkosa aku, heeeeggghhhh,” kata Dewi sambil masih berusaha meronta dan melenguh saat si boss membenamkan dalam-dalam penisnya di dalam lubang vaginanya.
    “Sssstttt…tenang…neng…tenang…biarpun kamu berteriak sekuat-kuatnya tidak akan ada yang mendengar dan tidak akan ada yang datang untuk menolong, jadi nikmatin aja titit-titit kami ini, hehehehehehe…kamu pastikan merasa kesepian tidak pernah ada yang memberikan kehangatan….sama..hehehehe…tidak pernah ada yang menengoki memekmu, jadi biar kami yang memberikan itu semua sama kamu,” kata Abdul sambil berusaha memasukkan penisnya ke dalam mulut Dewi.

    Dewi masih berusaha meronta dan kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan menghindari penis si Abdul yang sedang berusaha untuk memasuki mulutnya, sementara Amir dan Komar menahan dengan kuat kedua tangan Dewi, dan mulut mereka masih menyerang kedua payudara dan putingnya, dan si boss yang saat ini sedang merasakan penisnya terbenam dalam vagina Dewipun memegangi dengan kuatnya kedua kakinya, kedua tangannya yang berotot memegangi dengan kuat kedua paha Dewi dan menekannya kearah luar sementara itu pantatnya mulai memompa maju-mundur, dan si boss mulai merasakan ketatnya dinding vagina Dewi bergesekan dengan batang kemaluannya yang keluar-masuk seirama dengan gerakan maju-mundur pantatnya.
    ”oooooggghhhh…gila…neng…memekmu bener-bener rapet sekali nich, eecchhhh… berdenyut lagi.. uuuiiiiihhhh….kontolku seperti diremas-remas sama memekmu nich…. Oooohhhhh….goblok bener nich suamimu neng, punya memek begini gak pernah dipakai, biarlah gua aja yang makai dan menikmati memek sempit ini,” lenguh si boss.
    Abdul masih berusaha memasukkan penisnya ke dalam mulut Dewi, dengan dengkulnya dan tangan kirinya dia menahan kepala Dewi agar tidak bisa bergoyang kekiri dan kekanan, lalu tangan kanannya memegangi kontolnya dan menekankan ke bibir Dewi, karena mulut Dewi masih tertutup akhirnya dia memencet hidung Dewi sehingga Dewi gelagapan berusaha nafas dengan mulutnya, saat mulutnya Dewi terbuka dengan sigap Abdul memasukkan penisnya ke dalam mulut Dewi.
    “Gggggllluuuuupppp……” Dewi gelagapan saat penis Abdul menerobos mulutnya.
    “Oooooohhhhh….ayo neng emut-emut kontolku ini……jilatin kontolku…ayooo…gak usah malu-malu…kan kamu jarang dapet kontol neng, ini mumpung ada jadi nikmatin ajach..hehehehehehe,” Abdul terkekeh saat berhasil memasukkan penisnya ke dalam mulut Dewi.
    Diserang oleh ke empat orang ini Dewi sebetulnya merasa senang, dia berpikir malam ini dia akan dapat menikmati 4 batang kemaluan mereka, tapi karena mereka bukanlah orang-orang yang ia kenal, maka dia tetap pura-pura berusaha menolak sambil dia mulai merasakan enak vaginanya disodok-sodok oleh kemaluan si boss, Dewi berusaha tidak memperlihatkan dan mengeluarkan suara-suara desahan, karena dia ingin merasakan perkosaan yang sedang di alaminya ini, perbuatan kasar mereka memberikan sensasi kenikmatan yang berbeda. Memang perbuatan-perbuatan ke empat orang ini kasar-kasar, si boss yang sedang mengeluar-masukkan penisnya di vagina Dewi, sodokan-sodokan yang di lakukannya terbilang kasar terutama saat dia menghujamkan batang itu ke dalam lubang Dewi, gerakan keluar masuknya tidak bisa dibilang halus, entah karena si boss ini mantan residivis jadi perbuatannya kasar atau karena dia sangat bernafsu sekali menyetubuhi Dewi, penisnya keluar masuk di lubang senggama Dewi dengan cepat dan kasar, Dewi ingin mendesah keenakan tapi dia berusaha untuk menahan mulutnya tidak mengeluarkan suara desahan.

    Amir dan Komarpun perlakuan mereka di kedua payudara Dewi sangat kasar, remasan-remasan tangan mereka sungguh kasar entah karena tangan mereka yang kasar atau karena mereka memang kasar karena mereka juga bekas residivis, terlihat kedua payudara Dewi yang mengkal itu memerah bekas jari-jemari tangan mereka, kedua putingnya Dewipun tak luput dari perlakuan kasar mereka, kedua putingnya Dewi terlihat semakin mencuat dan mengeras akibat perlakuan kasar mereka, kedua putingnya Dewi sering mereka tarik-tarik menggunakan mulut mereka dan dihisap-hisap dengan kuatnya. Abdulpun begitu juga, kontolnya sering ia pukul-pukulkan di bibirnya Dewi, dan saat di dalam mulut Dewi iapun menyodok-nyodokkan kontolnya itu dengan kasar, terlihat pipi Dewi sering melembung akibat sodokan kontolnya, Dewipun sering gelagapan saat Abdul menyodok-nyodokkan kontolnya itu, tapi Dewi sendiri merasakan enak dan sakit di perlakukan begitu oleh mereka.
    “Sudddaaahhhh…hentikaan…jangan…aaaduuuuhhh…sakiitt…saakiiittt…toooloongg…hentikan…aaddduuuhhhh…..to loooonnggg…hentikkaaannn….suddaaahhh…adduuuhhh…amp uuuunnn….sakiiiittt….” Dewi pura-pura merintih kesakitan tapi sangat menikmati permainan mereka.
    “Oooohhhhh…aaachhh…neng…nikmatin…aja….hehehhehe….o oooohhhhh….memekmu bener-benerrr…..enaaak….belum pernah gua nikmatin memek yang seenak punyamu neng….oooohhhhhh….” si boss mendesah keenakan.
    “Iyaaachhh..nich…bosss…..mulutnya…juga enak…lembut di kontolku…..hehhehehe…. boss…cepetan dach tuch ngentotin memeknya…gua juga pengen ngerasain batang gua di jepit memeknya nich….oooooooohhh….” kata si Abdul.
    “Emang loe doang yang pengen ngerasain jepitan memeknya Dul, gua juga pengen nich, hehehehehehe…..toketnya….mengkal sekali nich….hhhhmmm…sslllrrpppp…. putingnya udah ngaceng nich boss….nampaknya si eneng nich sudah terangsang juga….hhhmmm. ….sssllrrrppppp…..sakit tapi enak yach neng….hehehehhe…..hhhmmm…sssllrrrpppp…,” kata Amir yang sibuk dengan tetek Dewi.
    “hooh….gua juga pengen…nich…kontolku udah ngaceng bener nich….pengen masuk ke dalam memeknya…..masa…gua cuman ngisepin toketnya doang…..nich putingnya juga udah ngaceng gua isepin….hehehhee…..” kata si Komar yang sama-sama sibuk di payudara yang satunya.

    Selama ini belum pernah Dewi mendapat perlakuan kasar seperti sekarang dia alami, biasanya lelaki yang menyetubuhinya memperlakukannya dengan lembut, walaupun Bambang pernah memperkosanya tapi tidak sekasar yang mereka lakukan sekarang ini, Dewi merasakan sakit tapi juga enak, dia ingin mendesah dan merintih-rintih, tapi dia berusaha menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara desahan atau rintihan. Abdul dan bossnya semakin gencar mengeluar-masukkan kemaluan mereka di mulut dan vagina Dewi, keduanya seperti sedang berlomba untuk mencapai puncak kenikmatan mereka, gerakan mereka berdua bertambah cepat, Dewi semakin bertambah gelagapan meladeni kemaluan Abdul yang keluar masuk di mulutnya, pipinya Dewi terlihat menggembung dan mengempis dengan cepat juga seirama dengan keluar masuk penis Abdul, gerakan merekapun sudah mulai tidak beraturan, nampaknya Abdul dan sang boss akan segera mencapai puncak kenikmatan mereka.
    “Oooohhhh…neeeenngg….enaaaknya…ngentotin memeeekkmuuu…..oooohhhh… gua udah gak tahan lagi nich….ooohhhh…gua mau ngecreeett…..oooohhhh…neeenggg enak. Guaaaa keluaaaarrr…aaacchhhh….neengg….terimmaaa…pejuh guaaa…nichhh…aahhh sedaaaappp…..” si boss mengerang panjang.
    Creeeettt….creeeettt…creeettt….creeetttt…kontol si boss menembakkan air maninya di dalam rongga senggama Dewi, Dewi merasakan betapa hangatnya cairan sperma si boss ini, terlihat si boss menekan dalam-dalam penisnya bersamaan dengan muncratnya air maninya itu, tubuh si boss mengejang saat menembakkan spermanya.
    Creeeettt….creeeettt….ccreeettt….creeettt….sperma Abdulpun ikutan muncrat di dalam mulut Dewi, bertepatan dengan penisnya memuntahkan lahar kenikmatannya Abdulpun menekan penisnya ke dalam mulut Dewi, Dewi bertambah gelagapan saat penis itu masuk lebih dalam di mulutnya sehingga menyentuh anak tekaknya dan Dewipun tersedak saat sperma si Abdul mulai membanjiri kerongkongannya.
    “Neeengg….gua juga ngecret nich…oooohhh….telan pejuhku….neng….oooohhhh…” Abdul mengerang menyambut puncak kenikmatannya.
    “Uuhuuk…uuuhukk…..aaarrrgghhh….uuuhuukkk…uuhuuukkk ….” Dewi tersedak saat kerongkongannya diterjang sperma si Abdul.
    Setelah tetes terakhir air mani mereka menetes keluar, keduanya hampir berbarengan mencabut kemaluan mereka masing-masing dari mulut dan vagina Dewi, sang boss melihat lubang senggama Dewi empot-empotan seperti pantat ayam, dan dari dalam lubang vagina Dewi mengalir cairan putih kepunyaannya, spermanya mengalir keluar perlahan-lahan seolah-olah sedang dipompa keluar oleh lubang senggama Dewi yang sedang empot-empotan itu.
    “Boss…giliran kita nich…ngerasain memeknya dong,” kata si Amir
    “Mar, gua duluan yach ngentotin memeknya si eneng ini, hehehehe loe terakhir aja yach,” lanjut si Amir, sambil memposisikan tubuhnya di depan selangkangan Dewi.
    “Waahhh….masa gua terakhir sich, kita barengan aja Mir, loe ngentot memeknya, biar gua yang entot boolnya….hehehehe…pasti enak juga tuch….gua pengen nyobain kaya di film-film tuch…pasti bool si eneng masih perawan,” kata si Komar.
    “Yach udah kalau loe mau ngentotin bool si eneng, berarti si eneng harus naikin gua, ayo neng buruan, gua udah gak tahan pengen ngerasain sempitnya memekmu..hehehehe… tadikan lubang atas dan bawah loe udah ngerasain kontol-kontol boss gua dan si Abdul, sekarang lubang depan dan belakang ngerasain kita punya…hehehehhe,” kata si Amir sambil menarik tangan Dewi untuk bangun dan menindih tubuhnya.

    Si Abdul dan sang boss membantu Amir dengan memposisikan tubuh Dewi diatas tubuh si Amir, dan memposisikan selangkangan Dewi diatas selangkangan Amir, Amir mendapatkan bantuan dari si Abdul dan sang boss, melepaskan pegangannya pada Dewi dan mulai memegangi penisnya sendiri, dia pegangi penisnya sehingga berdiri tepat berhadapan dengan vagina Dewi, kepala penisnya dia arahkan ke lubang vagina Dewi dan diselipkannya…sssslllleeeeeeppppp…kepala penis itu pun terjepit oleh vagina Dewi, 
    “Uuuaaaahhhh…bener….kata si boss nich…memeknya rapet…hehehehe…Dul…tekan tubuh si eneng kebawah dong… hehehehe….biar si ujangku masuk kedalam memeknya” kata si Amir.
    Si Abdul dengan dibantu si boss mulai menekan tubuh Dewi kebawah, dan..bblllleeesssss penis si Amir tertelan seluruhnya oleh vagina Dewi, Komar yang melihat vagina Dewi sudah menelan penis Amirpun mulai menghampiri mereka, didorongnya tubuh Dewi hingga jatuh dalam pelukannya. Amir segera memeluk tubuh Dewi dengan erat sehingga Dewi sulit untuk berontak, lalu Komar menyelipkan penisnya ke lubang anus Dewi….ssslleeeeppppppp…..kepala penisnya mulai menyeruak masuk di lubang anus Dewi, tanpa menunggu lama lagi Komar yang memang sudah sangat bernafsu itu segera menghentakkan kontolnya kuat-kuat, bbbblllleeeeeeesssssssss……penis itu masuk seluruhnya di dalam lubang anus Dewi.
    “Aaadddduuuhhhhh……..saaakiiittt…..aaduuuuhhh….ssud aaahhh…cabut…pantatku sakit adduuuhhh….aampuuunn…sudaah…ammpuuunn…jangan…terus in..aduuhh….” Dewi berpura-pura kesakitan padahal dia sedang merasakan keenakan di terobos oleh kedua batang kemaluan mereka.
    “Wuuihhh….emang belon pernah ada yang pakai nich boolnya si eneng, asli masih rapet-pet…hehehehhee…beruntung gua dach dapatin lobang yang masih perawan…uuuhhhh gillaaaa….ngempot juga nich bool kaya boolnya ayam…hahahahaha…Mir…enak juga nich dapetin bool si eneng” Kata si Komar
    “Uuuuhhh…memeknya tambah sempit aja nich, gara-gara kontolmu nyumpalin boolnya tuch, emang enak nich memek si eneng, jarang dipake ama lakinya kita yang beruntung jadinya ngerasain rapetnya memek si eneng…hehehehe…” kata si Amir.
    “Mar, boolnya masih perawan tar gua mau nyobain juga ach….memeknya masih rapet seperti memek perawan, eeehhh…boolnya juga gak pernah ada yang pakai, komplit dach si eneng nich punya dua lubang yang satu jarang dipake yang atunya masih perawan…” kata si boss.
    “iyach nich boss, sepertinya baru kita nich yang pakai, rapet bener nich boolnya…enak boss, boolnya juga ngempot nich boss….uuuuiiihhh…nikmaaaaat….ooooohhhh….” kata Komar lagi sambil mulai mengeluar masukkan kontolnya itu dalam lubang anusnya Dewi.
    Dengan kedua tangan memegangi pinggang Dewi, Komar mulai memaju-mundurkan tubuhnya Dewi dengan cepat, sehingga kedua batang kemaluan mereka dengan cepat keluar masuk di dalam lubang memek dan anus Dewi, Komar dan Amir melenguh keenakan merasakan sempitnya lubang-lubang Dewi, Dewi sendiri merasakan enak disetubuhi oleh mereka ini,
    sssrrrttttt…blleeeess….srrrrttt…bbleesss….sssrrtt… .bleesssss nampak kedua batang kemaluan Amir dan Komar bagaikan piston mesin keluar masuk di kedua lubang Dewi dengan cepatnya.
    “Uuuggghhh….bener…enak..nich..si eneng…ooohhh…kontolku kejepit bener nich ama memek si eneng….oooohhh….hhhmmmm….ssslllrrrppp….ooohh…hhhmm m…ssllrrrppp …oooohhh….hhhmm….sssllrrrpppp….” Amir melenguh sambil mulutnya sibuk menghisap-hisap payudara Dewi yang tepat bergantungan di depan wajahnya, kedua tangannya juga ikut meremas-remas kedua gunung kembar Dewi itu.
    “Adduuuhhh….sudaaaahhh…saaakiiittt….aaaduuuhhh…aaa mmppuuunn…saaakiitt… sudaaaahhh…baaanggg….caabuuuttt…punya kaliann….aaduuuhhh…” Dewi merintih pura-pura kesakitan padahal dia merasakan enak yang luar biasa disetubuhi oleh mereka dengan kasar dan cepat.
    “Eeehh…neng…nikmatin aja batang-batang kita ini….hehehee….ntar juga gak sakit lagi yang ada malah enak, oooohhh…..neng…ooohhh…boolmu enak…bener nich…ooohhh… jarang dipake sich si eneng…jadi kesakitan dientot kita-kita….hehehhee….oooohhh…. sedaaaaapppp….nikmaaaattt….ooooohhh…,” Komarpun melenguh keenakan.
    “Gimana neng, enak gak dientot oleh dua orang sekaligus….hahahahaha…pasti enak yach, kasihan si eneng biasanya jarang di entot yach, sekarang begitu dientot sekaligus dua orang yang ngentotin…pasti enak…yach…” si boss berkata pada Dewi, sambil memegangi dagu Dewi.
    “Ampuun..baannggg…ampppuunnn….sudaaaahhh…baang…jan gann perkosa saya lagi aaddduuuhhhh…sakkkiiittt…..” Dewi berkata pura-pura minta di hentikan entotan mereka di kedua lubangnya, tapi dalam hatinya dia memohon untuk jangan berhenti mengentotin dirinya.
    “Hahahahaha…kenapa minta berhenti….kan si eneng jarang dientot ama lakinya, biar kita aja yach yang bantuin ngentotin….kasihan kan tuch memek kaga pernah ada yang tengokin ama ngairin….hahahahaha…tenang neng…waktu kita masih panjang…kita akan bikin eneng puas,” kata si boss lagi.
    Sementara itu Komar semakin cepat menggerakkan tubuh Dewi maju mundur, sehingga penisnya dan penis Amir semakin bertambah cepat keluar-masuk di kedua lubang Dewi. Dewipun semakin merintih-rintih berpura-pura kesakitan, Komar dan Amirpun melenguh-lenguh keenakan merasakan jepitan lubang anus dan vagina Dewi yang sempit, sementara itu Abdul dan sang boss mulai terangsang, batang-batang kemaluan mereka mulai bangun kembali, nafsu birahi mereka timbul kembali menyaksikan aksi kedua teman mereka yang sedang menggarap tubuh sexy Dewi.

    “Addduuuuhhh….sudaaaahh…ssuddaaahh…ampppuunnn….tol ong hentikan…aduuuhhh aamppuunn…” Dewi merintih pura-pura kesakitan padahal sedang merasa keenakan di genjot oleh batang-batang kemaluan Amir dan Komar.
    “Aaaacchhhh…neng…kalau enak bilang enak ajach ngerasain di entot kita-kita, oooohhh sedaaappp…nikmaaatt…bosss…mulutnya bawel juga tuch minta dientot juga kali…. Hehehehe….masukin aja kontolmu tuch kedalam mulutnya, lagian kontolmu udah ngaceng lagi tuch boss…hehehehe…biar si eneng nich makin ngerasa keenakan… ooohhhhhh….” Kata si Komar sambil mengerang keenakan.
    Terlihat si boss menghampiri wajah Dewi, kontolnya yang sudah ngaceng itu di sodorkan ke mulutnya Dewi, dan dengan cepat penisnya masuk kedalam mulut Dewi yang sedang merintih-rintih pura-pura kesakitan, sekarang ke tiga lubang Dewi sudah terisi oleh batang-batang kemaluan mereka, dan si boss hanya memegangi kepala Dewi saja karena tubuh Dewi yang bergerak maju-mundur akibat dorongan tangan si Komar di pinggang Dewi, sehingga sang boss tidak perlu repot untuk memaju-mundurkan penisnya di mulut Dewi.
    “Uuaaaahhh….lembutnya nich bibir si eneng, ayo neng kenyot-kenyot kontolku…mending tuch mulut di pakai ngenyotin kontolku daripada merintih kesakitan melulu…hehehe… oooohhh…sedaaappp….yaaacchhh…kenyot…ayooo jangan malu-malu kenyot…..ooohhh nikmatnya mulutmu neng,” kata si boss yang merasakan enak kontolnya keluar-masuk di mulut Dewi.
    “hhmmmm….hhhmmmm….hhhmmmm…..ggllleeekkkk…..hhhmmm m…gllleekkkk….” Dewi bergumam.
    Ketiga batang kemaluan mereka yang memenuhi ketiga lubangnya membuat Dewi semakin keenakan, tetapi sampai saat ini Dewi tetap pura-pura kesakitan, dia pura-pura tidak mau meladeni permainan mereka padahal sesungguhnya Dewi merasakan nikmat luar biasa merasakan perlakuan kasar mereka ini, sebetulnya dia ingin berteriak kepada mereka untuk mempercepat sodokan-sodokan mereka di kedua lubangnya. Ia sudah mendekati puncak kenikmatannya, lubang vaginanya semakin berdenyut, gelegak lahar kenikmatannya sudah di ambang pintu bersiap untuk muncrat keluar, tetapi Dewi harus bersabar untuk tidak memperlihatkan pada mereka bahwa dirinya akan segera mencapai puncak kenikmatannya akibat sodokan-sodokan batang kemaluan mereka sampai dia yakin ke empat orang itu betul-betul takluk dan tunduk pada dirinya. Komar semakin menggila, kedua tangannya semakin cepat mendorong dan menarik tubuh Dewi, dibarengi dengan gerakan pantatnya yang menghujam saat dia menarik pinggang Dewi, sehingga penisnya menghujam dalam-dalam di lubang anus Dewi, Komar merasakan puncak birahinya akan segera ia raih, gerakannyapun semakin bertambah cepat dan kasar, Amir sendiri terlihat mengangkat pantatnya saat Komar menarik tubuh Dewi, sehingga penisnya juga semakin menyeruak masuk di lubang senggama Dewi,
    Amirpun merasakan hal yang sama puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh.
    “Mar…cepetin gerakan tanganmu itu…oooohhh…gua mau ngecret…nich…aaahhh…gak tahan lagi nich kontolku dijepit memeknya neng ini……enaaaakkk…beneerr…cepet…Mar. cepet….uuuuuggghhh……gilaaaaa…..memeknyaa….oooogghh h….guaaaaa…ngecret..
    Dach…oooohhh……neng…terima…pejuhku…nich….oooohhhh…. ,” Amir mengerang menyambut puncak kenikmatannya.
    Ccreeeeettt….ccreeett…creeeeett….ccreeett….ccreeet t…..kontolnya Amir memuntahkan lahar kenikmatannya di dalam relung senggama Dewi, Dewi merasakan dinding rahimnya menjadi hangat oleh semburan sperma Amir.
    “udah ngecret…loe….Mir….oooouuugghhh…enak…gua juga mau ngecret nich…kontolku juga..enaaakkk dijepit boolnya….ooohhh…neng….gua juga mau keluar…nich….ooohhh.. enak…ngentotin boolmu neng….aaahhh…..neng…terimaaaa….spermaku…nich….aaah h nikmaaaaat….aaaahhh…..neng…..aaahhh….neng…..” Komarpun mengerang saat penisnya menyemburkan air maninya membasahi lubang anus Dewi.
    Creeeettt…creeettt….creeettt…creettttt….creeettt…. penis Komar menembakan sperma di lubang anus Dewi, Dewi merasakan hangat di dinding duburnya. Saat Komar dan Amir mencapai puncak kenikmatannya, ia sendiripun mengalami puncak kenikmatannya, hanya ia menahan agar tidak mengeluarkan erangan nikmat saat mencapai puncak kenikmatannya tersebut, tanpa disadari oleh Amir dinding vagina Dewi berdenyut kencang saat menyemburkan lahar kenikmatannya, Amir juga tidak menyadari batang kemaluannya menjadi hangat karena saat itu dia sedang meresapi nikmatnya batang kemaluannya mengeluarkan spermanya. Sssrrrrr…sssrrrr…sssrrrrrr… .vagina Dewi menyemburkan lahar kenikmatannya membanjiri lubang senggamanya dan membasahi penis Amir yang sedang berada dalam jepitan vaginanya.
    “hehehehe…giliran kita lagi nich ngentotin si eneng ini….ayo Dul, giliran kita bikin si eneng ini puas dientot…gua mau nyobain boolnya….hehehehe…memeknyakan udah gua cobain tadi, sekarang gua mau nyobain jepitan liang boolnya nich….” Kata si boss.
    “Ayoo…bos…gua juga pengen ngerasain jepitan memeknya, tadi gua cuman di emut pake mulutnya sekarang gua pengen kontolku ini di emut memeknya…hehehehe…” jawab si Abdul.
    Abdul mulai merebahkan tubuhnya, kontolnya yang sudah sangat tegang dia pegangi dengan tangannya sehingga tegak mengacung, tanpa membuang waktu lagi si boss menarik tubuh Dewi dan menaikkan ke atas tubuh si Abdul. Abdul langsung menempatkan kontolnya ke selangkangan Dewi, kepala penisnya bersentuhan dengan bibir vagina Dewi, dan mulai menekan bibir vagina Dewi. Si boss mengarahkan lubang senggama Dewi agar tepat berhadapan dengan penis si Abdul, setelah melihat kepala penis Abdul berada tepat di posisinya dengan sekali hentakan si boss menekan pantat Dewi ke bawah sehingga penis Abdul lenyap di telan lubang senggama Dewi, Dewi melenguh panjang akibat sentakan sekaligus tersebut.i Abdulpun mengerang keenakan saat penisnya langsung tenggelam di lubang senggama Dewi.

    “aaaaaaawwwww…,” lenguh Dewi.
    “Uuuuggghhhh…gilaaaa….bosss…bener-bener…rapet..nich…. memek…..uuuuuggghhhh kontolku kejepit sekali…..uuuugghhh…enaaaakk….bosss…enaaakkk…memek si eneng nich…hehehehe…gak percuma kita ngerampok rumahnya dapet memek begini sich…” kata si Abdul.
    “Khan gua bilan dari tadi…emang memeknya si eneng ini rapet sekali….hehehehe…tahan jangan goyang dulu loe…gua mau masukin kontolku nich…hehehehehe…..ke boolnya… coba rapetnya sama gak sama memeknya….tahan….neng…hehehhe..terima nich kontolku…hehehehe….” Kata si boss sambil menempatkan kontolnya di lubang anus Dewi.
    Sleeepppp….kepala penis si boss terselip di lubang anus Dewi, dan dengan sekali hentakan kuatnya menancapkan penisnya ke dalam anus Dewi sementara kedua tangannya memegangi pinggang Dewi dan menahannya agar tidak maju saat dia menyodokkan penisnya itu …blleeeessssssss…. penis si boss pun tenggelam di dalam lubang anus Dewi.
    “Aaaarrrgghhh…..aaaadddduuuhhhh…..aaaaddduuuuuhhhh …..” Dewi kembali melenguh.
    “Ooouuugggghhh….gilaaaa…nich boolnya rapet jugaaa….biar udah dimasukin kontol si Komar tapi masih rapet sekali…oooouuggghhhh…..” Si Boss mengerang.
    “Hooh….memeknya juga masih rapet nich boss, padahal udah kontol-kontol kalian udah menyodok-nyodoknya….hehehehehe….apalagi sekarang kontolmu sedang ada di boolnya jadi tambah sempit nich memek….gak rugi kita boss masuk ke rumah ini….” Kata si Abdul.
    “Ssshhhhh…Tahan….jangan gerak dulu kalian…ssshhhhh,” tiba-tiba Dewi berkata pada si boss dan si Abdul saat si boss hendak menggerakkan pinggangnya.
    Anehnya si boss langsung menuruti perkataan Dewi, nampaknya ilmu Ki Jaya sudah mengena pada diri si boss, merasakan bahwa si boss menghentikan gerakannya. Dewi tahu bahwa ilmu Ki Jaya sudah bekerja pada mereka semua.
    “Mulai sekarang kalian harus patuh samaku,” lanjut Dewi.
    “Iyach neng….yang penting kita di kasih kenikmatan sama si eneng aja dach,” jawab mereka serempak.
    “Baiklah, sekarang kalian berdua entotin aku sampai puas….” Kata Dewi sambil tersenyum.
    “Baik…neng…akan kami lakukan..permintaan si eneng….kami akan bikin si eneng merem-melek….” kata si boss sambil menyeringai.

    Dewi mulai memaju-mundurkan pantatnya sehingga kedua batang kemaluan yang sedang menyumpal kedua lubangnya itupun keluar masuk dengan sendirinya. Si boss dan Abdul dibuatnya merem-melek oleh gerakan Dewi tersebut, Abdul mulai mengimbangi permainan Dewi, kedua payudara Dewi yang jadi sasaran serangannya. Gunung kembar yang bergoyang di depan matanya segera ia raih dan Abdul mulai meremas-remas keduanya dengan penuh nafsu dan kasar, membuat Dewi melenguh-lenguh menikmati remasan-remasan kasar tangan Abdul di kedua payudaranya, tak hanya kedua tangannya saja yang bergerak mulutnyapun mulai ikut membantu menyerang kedua bulatan dan kedua putingnya, silih berganti kedua putingnya dan bongkahan itu ia hisap-hisap kuat. Si boss tidak mau ketinggalan kedua tangannya mulai meremas-remas pantat Dewi kadang-kadang menampar-nampar pantat itu sehingga kedua bongkahan pantat Dewi yang putih menjadi kemerahan akibat tamparan-tamparan telapak tangan si boss. Dewi semakin melenguh menikmati permainan kasar kedua orang ini.
    “Ooouugghhh…teruuuss…terusss…yacch….tampar…pantatk u…ooohh…hisaaapp..tetekku…oooohhh…terusss..tteruuu sss…aaachhh…nikmat…oooggghhh….tekan lebih dalam kontolmuuuu…ooouugghh…iyyaaaachhh…begituuuu…puaskk annn…akuu….” Lenguh Dewi.
    Dorongan tubuh Dewi kebelakang di sambut dengan gerakan si boss yang memajukan pantatnya sehingga batang kemaluannya melesak lebih dalam di lubang anus Dewi, membuat Dewi tambah keenakan akibat ulah si boss itu, belum lagi dengan tamparan-tamparan halus yang silih berganti menghajar bongkahan pantat Dewi kiri dan kanan, Komar dan Amir yang menyaksikan aksi Dewi yang heboh mulai kembali terbangkit nafsu birahinya, batang kemaluan mereka perlahan-lahan mulai bangkit kembali, tak menunggu lama batang kemaluan mereka sudah ngaceng sempurna, Dewi yang sedang menikmati kedua lubangnya disodok-sodok penis Abdul dan si boss melihat batang kemaluan Komar dan Amir yang kembali ngaceng.
    “Ehh..kaliaaan….kemariii…cepatt…..aku pengen ngemutin kontol-kontol kalian….oooohhh aaaccchhh…ssshhh….cepppaaatt…yang lebih keraaaass…aacchhh..tekaaan…yang lebih kerasss…lebih dalamm…ooouuugghhh….” Dewi mengerang.
    Tanpa disuruh dua kali kedua orang itu menghampiri Dewi yang sedang asyik berguncang-guncang menikmati sodokan-sodokan kedua teman mereka, Komar mengambil posisi di sebelah kiri Dewi sedangkan Amir di sebelah kanan Dewi, hampir berbarengan keduanya mengasongkan penisnya masing-masing kehadapan Dewi, sambil masih asyik memaju-mundurkan pantatnya, kedua tangan Dewi mulai meraih kedua batang kemaluan Komar dan Amir, kedua tangannya mulai mengocok-ngocok batang kemaluan mereka, mulutnyapun mulai ikut bermain, batang kemaluan Komar yang mendapat giliran pertama di emut oleh mulut Dewi. Komarpun melenguh merasakan emutan mulut Dewi di penisnya, sementara Amir mendesah merasakan kocokan tangan Dewi, puas dengan ngemutin penis Komar, giliran penis Amir yang diserbunya, begitulah silih berganti kedua batang kemaluan Komar dan Amir di emut-emut dan dijilat-jilat oleh mulut dan lidah Dewi, keduanya merem-melek menerima perlakuan Dewi pada batang-batang kemaluan mereka.

    Malam itu Dewi betul-betul merasa puas sekali bersetubuh melawan ke empat orang ini, silih berganti penis-penis mereka mengisi semua lubang-lubang yang dimilikinya, jika si boss sedang memakai vaginanya maka si Amir yang ngentotin lubang anusnya, lalu mulutnya di isi oleh penis si Komar, jika si Abdul sedang menyodominya maka giliran si Komar menyodok vaginanya dan si boss menyodok-nyodok mulutnya. Entah berapa kali lahar kenikmatan Dewi tumpah malam ini melayani nafsu birahi para lelaki perampok itu. Begitupula dengan ke empat orang perampok itu entah sudah berapa kali penis-penis mereka memuntahkan air maninya di dalam relung-relung vagina Dewi. Persetubuhan yang mereka lakukan akhirnya terhenti saat mau memasuki adzan subuh, akhirnya ke empat orang itu meninggalkan rumah Dewi setelah terlebih dahulu meninggalkan nomor HP mereka kepada Dewi, bila suatu saat Dewi membutuhkan mereka untuk apa saja mereka akan datang untuk membantu Dewi, dan merekapun keluar dari rumah Dewi dengan tangan kosong, tanpa membawa sesuatu benda apapun dari rumah Dewi, tapi atas jasa-jasa mereka yang telah memberikan kepuasan kepada Dewi, Dewi menghadiahi mereka sejumlah uang.

    By: Yan19

  • Enam Sembilan

    Enam Sembilan


    61 views

    Ceritamaya | 6 orang wanita cantik dan seksi duduk terikat di atas kursi yang terletak di tengah ruangan yang sangat besar seperti sebuah aula. Mereka telah sadar dari pingsan dan kini mengamati sekeliling ruangan itu. Di sebelah kanan mereka ada sebuah pintu yang berukuran sangat besar, sedangkan di sebelah kiri mereka ada 6 buah pintu yang berukuran normal. Di sekeliling tembok banyak terdapat angka 666 yang merupakan lambang sebuah organisasi hitam misterius terbesar di Indonesia, anggotanya merupakan orang-orang penting dan mereka lah yang mengendalikan Indonesia di belakang layar.  Mereka berenam saling memandang dengan penasaran dan sedikit terkejut karena ternyata mereka saling mengenal satu sama lain. Belum habis rasa kaget mereka tiba-tiba mereka kembali dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dengan keras. Pintu besar di sebelah kanan mereka terbuka lebar dan dari sana keluar orang-orang yang berpakaian serba hitam serta memakai jubah yang menutupi seluruh tubuh mereka. Salah satu dari mereka mendekati enam wanita itu, tangan kanannya menggenggam beberapa buah kunci sedangkan tangan kirinya menjinjing sebuah alat yang menyerupai radio. Alat itu diletakkannya di lantai dan tiba-tiba keluar suara serak laki-laki saat ditekan salah satu tombolnya.
    ‘Selamat datang 6 wanita terpilih, selamat mengikuti turnamen antar selebritis wanita yang telah menginjak tahun keenam. Turnamen ini akan menguji stamina dan daya tahan kalian sebagai seorang wanita. Aturannya sangat mudah, ada 6 buah kunci yang dibawa oleh salah satu teman saya yang kini berdiri di hadapan kalian, tiap orang mengambil sebuah kunci secara acak dan gunakan untuk masuk ke salah satu pintu yang ada di sebelah kiri kalian. Setelah kalian masuk maka akan ada skenario yang harus dihadapi, siapa yang bisa melaluinya dan sampai ke pintu selanjutnya paling cepat maka akan menjadi pemenangnya, hadiah untuk pemenang telah menunggu di baliknya sedangkan yang kalah akan terkurung di ruangan mereka sampai batas waktu 6 jam berakhir. Saya sebagai pimpinan organisasi sekaligus pencetus kegiatan tahunan ini mengucapkan semoga sukses dan dengan ini saya nyatakan turnamen ini resmi dimulai.’
    Suara itu berakhir bersamaan dengan menyalanya lampu di atas pintu dan menunjukkan angka-angka dari tiap pintu. Tiap pintu memiliki warna yang berbeda sesuai dengan warna lampu di atasnya. Di atasnya lagi ada huruf digital yang menyala dan berbunyi “6 hour, 6 women, 6 key, 6 door, 6 stage and 6 scenario”. 6 orang wanita itu telah terlepas dari ikatannya, mereka telah berada di depan pintu yang sesuai dengan kunci masing-masing. Setelah saling memandang satu sama lain dengan agak ragu akhirnya mereka membuka pintu di hadapan mereka dan satu-persatu masuk ke dalamnya.

    ########################

    Peserta pertama yang masuk adalah peserta nomer tiga, dia memasuki pintu yang berwarna putih sesuai dengan warna tanktopnya. Wanita yang memiliki tinggi badan 158 cm dan berat badan 48 kg itu melangkah dengan gontai menuju ke sebuah ruangan yang ternyata sangat dikenalnya. Dibalik pintu yang dibukanya ternyata ruangan audisi Master Chef Indonesia, namun ruangan itu kosong dan tidak ada satu pun peserta yang sedang beraksi di sana. Wanita yang dikenal dengan panggilan Chef Marinka itu pun berdiri termangu di ruangan besar yang kosong, meskipun usianya sudah menginjak kepala 3 namun wajahnya masih cantik dan kulitnya putih mulus. Marinka terkejut saat pintu di ujung ruangan mendadak terbuka dan muncullah salah satu kompatriotnya, seorang Chef pria yang sudah berumur, Chef Degan menghampirinya sambil tersenyum lebar. Marinka sedikit takjub karena Degan tidak memakai setelan jas seperti biasanya melainkan hanya mengenakan celana boxer dan bertelanjang dada sehingga menampakkan dadanya yang bidang.
    “Ada apa ini chef?” tanya Marinka dengan agak curiga.
    “Selamat datang di ruangan MasterSex Indonesia” jawab Degan sambil tertawa lebar.
    “Maksudnya?” tanya Marinka lagi.
    Sebelum Marinka selesai berkata Degan telah menerjangnya hingga terjatuh ke lantai. Ditahannya kedua tangan Marinka ke atas hingga tidak bisa melawannya, namun Marinka masih belum mau kalah, dia meronta-ronta untuk mencoba membebaskan diri dari sergapan Degan. Sayangnya tenaga dari tubuh mungil Marinka tidak berarti apa-apa dibanding Degan yang tinggi dan besar. Degan mencumbu leher Marinka dengan tenang seolah tidak mempedulikan perlawanan Marinka, sementara lama-kelamaan rontaan dari Marinka semakin melemah. Degan berhenti sejenak untuk melepaskan kalung emas dan kalung warna-warni Marinka yang menganggu aksinya, Marinka mengambil kesempatan itu untuk mendorong tubuh Degan dengan kedua tangannya yang dilepaskan sesaat oleh Degan. Degan yang tidak siap dengan serangan itu terdorong sedikit dan membuat Marinka bisa melepaskan diri darinya. Untungnya dengan sigap ditangkapnya salah satu ujung rompi Marinka yang melambai di dekatnya, Marinka tidak menghiraukan itu dan terus berlari menjauh hingga rompinya tertarik sampai terlepas darinya. Marinka berlari menuju ke pintu putih yang tadi dia buka. Setelah sampai ternyata pintu itu tidak memiliki pegangan pintu, bahkan lubang kuncinya juga sudah tidak ada. Degan tertawa dari kejauhan melihat wajah bingung Marinka. Marinka kembali berlari, kali ini menuju ke arah pintu satunya tempat Degan keluar tadi. Namun kali ini Degan mengejarnya dan berhasil menangkapnya lagi sebelum dia sampai ke pintu. Keduanya tersungkur ke lantai, Degan segera menindih tubuh Marinka agar dia tidak kabur lagi. Degan kembali menahan kedua tangan Marinka ke atas hingga ketiaknya yang putih dan mulus terbuka lebar. Degan menjilati ketiak Marinka yang sedikit basah oleh keringat, dengan ganas dijilatnya kedua ketiak Marinka bergantian hingga menjadi semakin basah. Marinka hanya bisa berteriak-teriak minta tolong dan minta ampun. Jilatan Degan kini sudah menjalar ke bagian leher, salah satu tangannya melepaskan tangan Marinka dan beralih ke arah dada Marinka. Marinka menggunakan tangannya yang terlepas untuk memukul dan melawan serangan Degan, tapi tentu saja Degan tidak menghiraukannya, tangannya malah asyik meremas payudara Marinka dari balik tanktopnya. Lidah Degan kini menyusuri belahan dada Marinka yang terlihat menggiurkan, kedua tangan Marinka kini telah terlepas karena kedua tangan lebih memilih untuk menyusup ke dalam tanktop Marinka. Ditariknya bra Marinka hingga terlepas dan dibuangnya bra yang berukuran 34b itu ke lantai. Meskipun melawan rupanya Marinka tersulut nafsu juga, terbukti dari puting payudaranya yang menjeplak di tanktop putihnya. Segera saja Degan menghisap puting Marinka dengan liar sementara kedua tangannya masih meremas gunung kembar Marinka. Ceritamaya

    Marinka yang telah terbuai oleh birahinya hanya diam menikmati setiap perlakuan dari Degan, tanpa terasa tanktop putihnya telah terlepas dan memperlihatkan kedua payudara indahnya beserta kulit tubuhnya yang putih dan mulus. Degan telah menyusuri tiap inci tubuh Marinka bagian atas, kini dia ingin beralih ke bagian bawah. Dia pun beralih ke bawah dan mencoba membuka celana pendek Marinka. Namun Marinka seakan tersadar kembali, dengan cepat ditendangnya perut Degan hingga dia terjatuh ke belakang. Marinka bergegas menuju ke pintu tanpa mempedulikan tubuh bagian atasnya yang terbuka, kedua payudaranya berguncang mengikuti hentakan kakinya. Marinka segera membuka pintunya dan dibaliknya telah menunggu dua orang pria yang sudah sama-sama tidak memakai pakaian sama sekali. Yang satu berwajah agak Chinese dan berkulit putih, satunya lagi berwajah garang dengan tubuh penuh tattoo, mereka adalah Chef Arnold dan Chef Juna. Mereka berdua segera menyeret Marinka dan membawanya kembali ke tengah ruangan. Degan tertawa melihat wajah ketakutan Marinka yang kembali kepadanya dengan diseret oleh dua orang laki-laki. Marinka kembali terbaring di lantai, Arnold dan Juna memegangi kedua tangannya dengan erat. Degan berjongkok di hadapannya dan melepaskan celana pendek dan celana dalamnya yang berwarna putih juga. Kini Marinka benar-benar telanjang bulat, sama dengan keadaan 3 laki-laki itu. Vagina Marinka yang ditumbuhi rambut-rambut halus di sekitarnya segera dilahap oleh Degan, sedangkan Arnold dan Juna berbagi payudara Marinka. Ketiga pria itu menjamah setiap daging mulus Marinka dengan penuh nafsu, Marinka yang tidak kuasa melawan hanya bisa pasrah.  Degan meminta kedua rekannya untuk minggir sebentar untuk memberinya ruang. Dibaliknya posisi tubuh Marinka hingga seperti bayi yang mau merangkak. Dalam sekejap dihujamkan penisnya yang telah menegang ke dalam vagina Marinka yang telah basah kuyup dari belakang. Degan memulai aksi doggystyle-nya dengan cepat dan membuat Marinka sedikit terengah-engah keenakan. Arnold turun ke bawah tubuh Marinka dan memainkan kedua payudara Marinka yang bergelantungan. Satunya diremas dengan tangan dan satunya dilahap dengan mulutnya. Juna yang masih berdiri mendekati wajah Marinka dan mengarahkan penisnya ke dalam mulut mungil Marinka. Dijejalkannya penisnya yang berukuran paling besar diantara mereka bertiga hingga Marinka sedikit tersedak. Marinka tidak kuasa lagi menahan rangsangan yang dideranya, berulang kali dia mendesah keenakan dan vaginanya telah beberapa kali mencapai klimaksnya namun belum ada tanda-tanda kapan mereka bertiga akan menghentikan permainannya.

    #######################

    Farrah Quinn

    Farrah Quinn

    Peserta kedua adalah peserta nomer empat yang berada tepat di sebelah kanan Marinka. Dia masuk ke pintu berwarna coklat yang senada dengan warna tanktop dan juga warna kulitnya. Wanita ini kenal cukup dekat dengan Marinka dan kebetulan mendapat pintu yang berdekatan juga. Wanita ini seumuran dengan Marinka, hanya saja dia memiliki postur lebih tinggi dan lebih besar. Wanita yang juga seorang chef terkenal ini memasuki ruangan yang gelap gulita, dengan perlahan dia berjalan dan meraba-raba ke arah tembok untuk mencari saklar lampu. Wanita yang dikenal dengan nama Farah Quinn ini terkejut karena tiba-tiba lampu menyala sebelum dia menemukan saklarnya. Dua orang laki-laki tak dikenal telah berada di sampingnya dan menyeretnya ke atas meja. Empat orang muncul dari balik pintu berwarna putih di ujung ruangan. Dua orang tak dikenal dan dua orang yang sangat dikenal dan dicintainya, suami dan anaknya. Mereka berdua diikat di atas kursi oleh dua orang tak dikenal yang baru datang itu dan mulut mereka diplester, mereka menatap sedih ke arah Farah sementara kedua orang itu bergabung bersama dua orang lainnya yang berada di dekat Farah. Keempat orang itu memakai jubah hitam dan hanya menampakkan wajah mereka. Dua orang berwajah lokal, seorang bule berkulit putih dan seorang negro.
    “Siapa kalian?” hardik Farah kepada mereka.
    “Kita rekan kerja suamimu” sahut pria gundul berwajah lokal.
    “Mau apa kalian?” teriak Farah kepada mereka yang semakin mendekatinya.
    Mereka berempat tidak ada yang menjawab pertanyaan Farah melainkan malah menyergap Farah bersamaan. Farah dibaringkan di atas meja bundar besar, kedua tangannya dicekal oleh si bule sementara si negro menahan kedua kakinya. Si gundul mengeluarkan gunting dari balik jubahnya, sedangkan pria satunya yang berambut gondrong mengeluarkan cutter. Si gundul menggunting celana jins pendek Farah hingga terlepas dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna hitam dan berenda. Si gondrong menggunakan cutternya untuk memotong tanktop coklat Farah dan terlihat pula bra hitam yang membungkus gundukan montok di dada Farah.
    “Wah, lumayan nih, 34c” teriak si gondrong setelah melihat bra Farah.
    “Gak usah banyak omong, langsung sikat aja” ujar si gundul cepat.
    Si gondrong segera memotong bra hitam Farah hingga gundukan payudaranya menyembul keluar dan terbebas dari penutupnya, hampir bersamaan dengan si gundul yang menggunting celana dalam Farah dan membuat vagina Farah yang dipenuhi rambut lebat disekitarnya menjadi terekspos. Pakaian Farah berserakan di lantai sementara tubuhnya terbuka lebar tanpa tertutup sehelai kain pun. Farah meneteskan air mata melihat pandangan sedih dari suami dan anaknya, dia berteriak memaki-maki mereka berempat. Empat pria itu tidak mendengar teriakan Farah karena mereka asyik menikmati pemandangan indah tubuh telanjang Farah di depan mereka. Si gondrong segera melumat kedua payudara Farah dengan rakus bersamaan dengan lidah si gundul yang telah menjelajahi lembah kenikmatan Farah. Awalnya Farah berteriak-teriak memaki mereka berdua, namun lama-kelamaan teriakan itu berubah menjadi desahan kenikmatan. Farah tak kuasa menahan serangan dari duet si gundul dan si gondrong yang beraksi menjebol pertahanannya.  Setelah menghujani sekujur tubuh Farah dengan remasan dan jilatan akhirnya duet gundul-gondrong pun bertukar posisi dengan si bule dan si negro. Keduanya membuka jubah hitam mereka dan ternyata mereka tidak memakai apapun di baliknya. Penis si negro yang berukuran di atas rata-rata segera menyodok liang Farah yang terbuka di hadapannya. Awalnya agak kesulitan masuk namun dengan sedikit goyangan akhirnya penis si negro berhasil menembus liang Farah yang agak becek. Si negro menggenjot vagina Farah dengan perlahan seolah menikmati iramanya. Di depannya, si bule yang berwajah cukup tampan sedang asyik melahap bibir Farah yang sensual dan menggoda. Farah yang memang sudah terkena percikan asmara pun membalas ciuman si bule. Mereka berdua berciuman dengan ganas, kedua lidah mereka saling berpaut dan beradu dengan sengit hingga menimbulkan suara kecipak yang cukup keras. Kedua tangan si bule tidak mau kalah, keduanya beradu melawan gundukan kembar Farah yang kenyal, diremasnya dengan lembut senada dengan tusukan si negro.

    #############################

    Magdalena

    Magdalena

    Lain tempat lain cerita, peserta ketiga yang masuk adalah peserta nomer satu yang telah melewati pintu berwarna merah yang terletak di pojok kiri. Peserta ini juga mengenakan pakaian yang sewarna dengan pintunya. Dia mengenakan gaun panjang selutut tanpa lengan, dengan masih mencangklong tasnya dia menuju ke dalam ruangan yang agak remang-remang dan berbau tidak enak. Wanita cantik yang usianya hampir mendekati kepala tiga itu memiliki tinggi badan 160 cm dan berat badan 50 kg. Posturnya yang ideal ditambah dengan kulitnya yang putih dan mulus melengkapi wajahnya yang sedikit Chinese. Wanita yang dikenal dengan nama Magdalena ini sering menghiasi layar kaca dengan wajah cantik dan tubuh indahnya. Dia masih berjalan melewati koridor ruangan yang cukup panjang dan agak gelap. Perlahan namun pasti akhirnya dia sampai di ujung koridor, lampu menyala terang dari ruangan di ujungnya. Lena masuk ke ruangan itu dan langsung terkejut sampai jatuh ke lantai. Sesosok makhluk aneh berdiri di hadapannya, kelihatannya merupakan kombinasi antara manusia dengan gurita. Seonggok kepala menempel di tubuh kecil yang tidak memiliki tangan dan kaki melainkan tentakel panjang yang ujungnya berbentuk seperti penis manusia namun lubang di ujungnya bisa membuka dan menutup seperti menghisap udara.
    “Kamu pasti terkejut dengan wujudku ya?” teriak makhluk itu kepada Lena.
    “Iya, siapakah,, eh, apakah kamu?” tanya Lena dengan wajah ketakutan.
    “Aku adalah salah satu hasil percobaan dari organisasi 666 yang berhasil” jawab makhluk itu sambil tertawa terbahak.

    Baca Juga : Butuh Uang

    Lena terdiam membisu, banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya namun tidak ada satu pun yang bisa dikatakannya. Lena hanya duduk mematung di hadapan makhluk itu. makhluk itu berhenti tertawa, wajahnya menyeringai seperti wajah pemburu yang bertemu mangsanya. Dengan cepat dua buah tentakelnya melesat ke arah Lena dan menarik tubuh Lena mendekatinya. Lena yang kaget dengan tarikan mendadak itu mencoba berteriak namun dalam sekejap salah satu tentakel makhluk itu membungkam mulutnya hingga suaranya tidak keluar sama sekali. Dua buah tentakelnya yang menyeret Lena tadi sekarang mengangkat kedua tangan Lena ke atas sampai tubuh Lena melayang di udara. Dua tentakel lain kini membelit kaki Lena yang meronta-ronta di udara mencari pijakan. Dua tentakel lain mendarat di tanah dan menjadi pijakan makhluk itu, sementara satu tentakel yang tersisa menjelajahi tubuh Lena dan berhasil melepaskan semua pakaiannya.  Lena melayang di udara dalam keadaan bugil, empat tentakel mencengkram kaki dan tangannya dengan erat. Sebuah tentakel yang tadinya menutup mulut Lena kini menyepong payudara Lena yang berukuran 34D bergantian. Lubang tentakel yang agak besar itu membuka dan menutup seolah menghisap payudara Lena. Saat membuka seolah mengulum sebelah payudara Lena, saat menutup lubangnya seukuran dengan puting Lena yang berwarna merah kecoklatan dan seolah sedang menjepitnya. Mulut Lena yang telah terbebas kini melenguh keenakan saat kedua payudaranya dikerjai oleh tentakel itu. Tentakel satunya yang tadi merobek-robek pakaian Lena kini berkutat di sekitar selangkangan Lena yang mulus tanpa ada rambut sedikitpun. Tentakel itu bergerak perlahan seolah mengusap sela-sela paha Lena, Lena mulai menggelinjang saat tentakel itu menghisap vaginanya, makin lama makin keras hisapannya sampai Lena mengerang keras membebaskan birahinya. Beberapa kali vagina Lena mengeluarkan cairan kenikmatannya hingga daerah sekitarnya sedikit becek. Tentakel itu kemudian menyusup ke liang vagina Lena perlahan, Lena menjerit histeris bahkan sampai pingsan saat tentakel itu memasuki lembah kehangatannya.

    #################################

    Aura Kasih

    Aura Kasih

    Di tempat lain peserta nomer dua juga telah memasuki pintunya. Pintu berwarna biru langit yang berkilau. Peserta yang satu ini diculik saat berada di ruang ganti, alhasil dia hanya mengenakan celana dalam pink bertali saja dan tanktop ketat warna abu-abu. Wanita yang menjadi peserta termuda ini masih berumur 25 tahun namun tubuhnya tidak kalah seksi dibanding yang lain. Wanita yang akrab dipanggil Aura Kasih ini memiliki tinggi 170 cm dan berat 50 kg, payudaranya yang montok berukuran 34d menjeplak di tanktopnya. Aura berjalan dengan hati-hati memasuki ruangan yang terang benderang. Ruangan itu kosong dan tidak ada apa-apa di sekitarnya, di ujung satunya ada dua buah pintu yang membuka secara bersamaan saat Aura mencapai tengah ruangan. Dua makhluk aneh muncul di hadapan Aura, bagian atasnya tubuh manusia dan bagian bawahnya adalah tubuh kuda, lengkap dengan penisnya yang berukuran luar biasa. Tanpa basa-basi dua manusia berwajah kembar itu menerjang Aura yang masih berdiri kebingungan, dalam sekejap Aura telah kehilangan semua kain yang membungkus tubuhnya. Dua centaur itu bergerak sangat cepat sampai Aura tidak sempat lagi berkata apa-apa. Yang dia tahu mereka berdua telah berbagi tugas untuk menjamah tubuhnya, satunya bagian atas dan satunya bagian bawah. Aura sama sekali tidak memberikan perlawanan dan malah menikmati setiap rangsangan dari kedua centaur yang berwajah kembar dan memiliki penis yang sama-sama ekstra. Tanpa sadar Aura telah berada dalam posisi doggystyle dengan satu centa menyodok vaginanya dari belakang sambil menepuk pantat sekalnya, sementara yang satunya menghujam mulutnya dengan penis berukuran abnormal sambil meremas kedua payudara montoknya yang menjuntai ke bawah. Puting payudara Aura yang berwarna merah kecoklatan telah menegang, rambut-rambut halus di sekitar vaginanya juga telah basah kuyup terkena campuran cairan Aura dan salah satu centaur. Aura mulai kehabisan tenaga melayani kedua centaur itu, namun sayangnya keduanya sama sekali tidak merasa lelah, bahkan belum ada keringat yang mengucur dari mereka. Aura dengan terpaksa terus menerima serangan mereka berdua.

    #############################

    Baby Margaretha

    Baby Margaretha

    Di pintu kelima yang berwarna hijau rumput masuklah peserta lain yang tidak kalah menarik. Wanita yang satu ini adalah seorang model pendatang baru yang cukup terkenal. Dengan ukuran tubuh 165-50 dilengkapi dengan payudara 36c membuat tubuhnya terlihat padat dan berisi. Wanita yang bernama Baby Margaretha ini diculik saat berada di lokasi pemotretan, usianya masih 29 tahun namun pengalamannya sebagai model cukup banyak. Dia sering berpose seksi di majalah-majalah pria dewasa namun tidak ada yang tahu kalau dia masih perawan dan bahkan belum pernah punya pacar.  Baby masuk ke dalam ruangan yang ternyata sebuah lapangan rumput yang cukup luas, baby berjalan menuju sebuah pohon besar yang rindang dan di sana ada seorang anak kecil yang sedang duduk. Baby telah berada di depan anak kecil itu dan ternyata dia seorang laki-laki, dia agak ketakutan saat melihat Baby mendekatinya. Baby yang tidak pernah dilihat seperti itu menjadi penasaran dan mencoba berbicara dengan anak kecil itu.
    “Dek, kenapa takut sama mbak?” tanya Baby.
    “Pakaian mbak aneh” jawab anak itu.
    “Aneh apanya?” tanya Baby lagi sambil duduk di sebelah anak itu.
    “Aku gak pernah liat pakaian kayak gitu soalnya” jawab anak itu lagi.
    “Ini pakaian dalem dek, emang begini kok” sahut Baby lagi.
    “Aku boleh megang gak mbak?” tanya anak itu.
    “Boleh aja dek” jawab Baby sambil tersenyum.
    Anak kecil itu meraba-raba pakaian dan tubuh Baby perlahan, tanpa sadar Baby merasakan hawa aneh menjalar di tubuhnya, dia menikmati setiap sentuhan anak kecil itu sambil memejamkan mata, tanpa sadar ternyata seluruh pakaiannya telah dilucuti oleh anak kecil itu hingga dia telanjang bulat. Saat Baby membuka mata ternyata anak kecil itu telah hilang dan berganti menjadi lima orang pria dewasa yang telah asyik menjamah tiap jengkal tubuh montok Baby. Baby yang telah terpacu birahinya tidak memikirkan apa-apa lagi selain kenikmatan yang baru dirasakannya. Mereka berlima tersenyum saat melihat vagina Baby mengeluarkan darah saat disodok oleh salah satu penis mereka. Mereka menjadi semakin ganas melumat tubuh montok Baby, sementara Baby hampir tidak sadarkan diri dan terbuai oleh rasa nikmat yang dideranya.

    #######################

    Sefti Sanustika

    Sefti Sanustika

    Ruangan terakhir bernomer enam yang terletak di pojok kanan berwarna hitam kelam. Seorang wanita berkerudung masuk ke dalamnya, dengan memakai kacamata hitam dan tas hitam. Pakaiannya yang serba tertutup tidak mampu menyembunyikan tubuhnya yang montok. Dengan ukuran tubuh 160-50 namun payudaranya berukuran 36d dan terlihat mencuat dari balik kemeja lengan panjangnya. Meskipun sudah berumur namun kecantikan dari istri tersangka kasus suap ini masih memancar.  Sefti Sanustika berjalan santai memasuki pintu hitam itu dan ternyata di baliknya ada sebuah terminal bus yang tidak begitu besar, hanya ada sebuah bus di sana. Sefti segera bergegas menuju bus itu dan menaikinya. Di dalamnya sudah ada banyak penumpang yang memenuhi tempat duduk, sebagian tampak berdiri di tengah. Sefti ikut berdiri di bagian belakang bus dan bus pun melaju pelan seolah tadi hanya menunggu kedatangan Sefti. Satu jam telah berlalu, bus masih melaju menyusuri jalan dan tidak terjadi apa-apa pada diri Sefti. Sementara teman-temannya yang lain telah mengikuti scenario mereka masing-masing. Marinka telah dihajar oleh tiga orang chef rekannya sendiri. Marinka kini berada dalam posisi terjepit diantara tiga pria, Arnold yang berada di bawahnya menyodok vaginanya dari bawah, Juna berada di belakang Marinka dan menusuk anus Marinka dengan penisnya yang besar, sementara Degan yang telah puas menikmati kedua lubang tadi kini sedang di-oral dengan ganas oleh Marinka. Rekan Marinka yang berada di sebelah ruangannya, Farah tengah kesulitan melayani nafsu empat orang pria sekaligus, kini gantian suami dan anaknya yang menangis melihat Farah keenakan melawan empat orang yang berbeda-beda itu. Di ruangan pertama Lena masih tidak sadarkan diri setelah dihajar oleh monster tentakel, cairan tentakel yang berbau amis menyebar di sekujur tubuhnya. Di ruangan kedua Aura sedang menikmati detik demi detik bersama dua centaur tampan berwajah kembar berpenis besar. Sementara di ruangan kelima Baby sudah tidak sadarkan diri di tengah kepungan lima buah penis dari berbagai sudut. Sefti melihat jam tangannya dan tidak terasa sudah dua jam berlalu, seorang kernet menghampiri Sefti dan bertanya kepadanya. Ceritamaya
    “Mau kemana mbak?” tanya kernet itu.
    “Gtw mas, saya pengen pulang tapi gtw ini sekarang dimana” sahut Sefti pelan.
    Kernet itu tidak berkata apa-apa lagi tetapi malah menggerayangi punggung Sefti. Sefti ingin berteriak tetapi tiba-tiba dia seperti kehilangan suara, dia ingin melawan tetapi seketika tenaganya serasa hilang. Dia pun hanya berdiri seperti patung dan membiarkan kernet itu meraba punggungnya. Semua penumpang yang lain seperti tidak bisa melihat mereka berdua dan membiarkan saja kernet itu meraba tubuh Sefti. Tangan kernet itu perlahan bergerak ke depan, tubuhnya mendekat ke tubuh Sefti dan memeluknya dari belakang. Kedua tangannya meremas payudara montok Sefti yang masih terbungkus kemeja. Sefti ingin melawan tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa seperti tidak punya kuasa lagi atas tubuhnya.

    Kernet itu telah mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya dan merobek bagian depan kemeja Sefti sehingga kedua payudara besarnya yang terbungkus bra hitam pun menyembul keluar. Tangan kernet itu menyusup ke dalam dan melepaskan bra hitam Sefti sehingga gundukan payudaranya yang berukuran 36d terbebas dari sarangnya. Kedua putingnya yang berwarna coklat agak kehitaman pun terlihat jelas oleh penumpang yang berada di depannya, namun penumpang itu tidak bereaksi apa-apa seolah tidak melihatnya. Kernet itu tidak berhenti sampai di sana, kini dia melorotkan legging hitam Sefti hingga ke mata kaki, dia sedikit terkejut karena ternyata Sefti tidak memakai celana dalam sehingga bagian bawahnya kini terpampang jelas. Pantatnya yang sekal membusung tepat di depan penis kernet itu, dengan cepat kernet itu membuka celananya hingga penisnya terbebas dan segera menyusup ke sela pantat Sefti. Bersamaan dengan masuknya penis kernet itu ke dalam vagina Sefti tiba-tiba seolah keadaan menjadi normal kembali. Suara dan tenaga Sefti telah kembali, begitu juga kesadaran para penumpang di dalam bus yang semuanya laki-laki. Pria di depan Sefti tepat segera menjilati vagina Sefti yang terpampang di depan wajahnya, bekas-bekas rambut yang dicukur membuat daerah sekitar vagina Sefti sedikit geli dan kini menjadi basah terkena liur dari pria itu. Pria lainnya seolah antri di sekeliling Sefti untuk bergantian menikmati tubuhnya. Dan tanpa terasa semua pria dalam bus telah bergantian menikmati setiap lubang yang dimiliki Sefti, semua pria itu terkapar tak berdaya di tempat duduk masing-masing, sementara Sefti masih berdiri di tempatnya semula walau dalam kondisi tubuh yang acak-acakan. Tak terasa hampir 4 jam berlalu, lima orang peserta telah terkapar tak sadarkan diri di tempat masing-masing sementara Sefti masih berdiri tegak di dalam bus. Bus berhenti di sebuah terminal, Sefti turun meninggalkan para pria yang tergeletak penuh kepuasan di tempat duduk masing-masing. Sebuah pintu yang menyala menunggu Sefti di ujung terminal. Dengan semangat Sefti menuju ke sana dan membuka pintu itu. Dibaliknya sudah menunggu beberapa orang berjubah hitam, ada sebuah piala dan secarik kertas yang berada di atas meja di tengah ruangan. Dua orang berjubah hitam mendekat ke arah meja dan membuka tudung mereka. Seorang lelaki tua yang berwajah familiar dan seorang pria yang sangat dikenal oleh Sefti berada di sana. Suaminya Ahmad Fathanah terseyum menghampirinya sambil memberikan piala emas besar dan secarik kertas. Sefti membaca tulisan di piala yang berbunyi “The Strongest Women in Indonesia”, dia sedikit tersenyum dan mengedip ke suaminya. Kemudian dia membaca secarik kertas yang dibawakan suaminya itu, dia sangat terkejut sambil memandang ke lelaki tua di belakang suaminya. Kertas itu bertuliskan “Selamat, anda menjadi istri kesembilan dari Eyang Subur”

    By: Dark Satan